Page 17

Angkutan umum tidak seperti kendaraan pribadi yang dapat berhenti di setiap titik yang kita inginkan (door to door) sehingga aktivitas berjalan kaki menjadi tidak terhindarkan bagi kita yang menggunakan moda transportasi umum. Menurut standar internasional, dan juga standar Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, jarak ideal untuk tempat perhentian bus adalah 400 meter, dan bisa jadi kurang jika memang jabatan penumpang dalam durasi itu sangat tinggi. Jika syarat-syarat mendasar ini tidak terpenuhi, maka jangan heran jika masyarakat enggan menggunakan angkutan umum. Masyarakat tidak merasakan kepuasan, namun disisi lain mereka tetap harus melakukan kegiatan untuk melakukan perjalanan dalam rangka memenuhi kebutuhan dan tanggung jawab profesional mereka, dan industri otomotif seolah menjadi dewa penolong, apalagi jika menawarkan kredit murah untuk kepemilikan sepeda motor, sebagaimana yang terjadi di Indonesia. Kita dapat mengambil dua contoh dari Indonesia. Akhir 2014 lalu, Pemprov DKI Jakarta merilis temuan bahwa pengguna angkutan umum di DKI Jakarta tinggal 20-25% saja (www. okezone.com), sedangkan di Daerah Istimewa Yogyakarta sendiri, pengguna angkutan umum perkotaan juga berada pada angka yang tidak jauh berbeda dengan DKI Jakarta. Bisa jadi mereka yang masuk dalam 20-25% itu adalah mereka yang “terpaksa� menggunakan angkutan umum reguler seperti belum memiliki kendaraan pribadi atau pelajar yang belum cukup umur untuk memiliki SIM. Sisanya, sebanyak 75-80% lebih memilih menggunakan moda kendaraan pribadi. Hal ini baik dari sisi industri otomotif karena mampu meningkatkan tingkat produksi kendaraan bermotor namun menghasilkan dampak lain yang sangat tidak baik : peningkatan kemacetan lalu lintas, tingkat polusi, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) dan juga peningkatan level stress masyarakat di kawasan perkotaan. Dengan menurunnya tingkat keterisian (load factor) angkutan umum, maka yang rugi sebenarnya bukan hanya sektor angkutan umum. Bahwa kemudian pelaku usaha angkutan umum menjadi turun pendapatannya itu sudah jelas, namun melanjutkan perihal kemacetan sebagaimana yang telah penulis sampaikan di-

paragraf sebelumnya, ini harus kita elaborasi lebih jauh. Secara kasat mata, kemacetan memang benar menyebabkan peningkatan tingkat polusi, peningkatan konsumsi BBM dan stress. Tapi pernahkah kita membayangkan bahaya ekonomi yang timbul dari kemacetan? Yang pertama, jika dalam satu hari seseorang seharusnya mampu menghadiri tiga atau empat pertemuan bisnis, namun karena macet di jalan, ia hanya mampu menghadiri dua atau bahkan satu pertemuan saja. Artinya ada peluang bisnis yang tertunda atau bisa saja malah batal. Berapa nilai kontrak bisnis yang harus melayang atau tertunda karena kemacetan? Atau kalaupun tertunda, maka tentunya harus melakukan penjadwalan ulang untuk proses koordinasi, negosiasi dan persiapan lainnya, ini juga perlu biaya lagi. Maka akan menjadi sulit untuk melakukan pengembangan ke tahap selanjutnya karena adanya penundaan ini, yang diakibatkan oleh kemacetan. Kedua, kemacetan menghambat arus distribusi barang dan jasa. Pihak produsen terpaksa menyediakan anggaran lebih untuk menunjang proses distribusi, mulai dari biaya operasional kendaraan termasuk bahan bakar, biaya personel yang mengoperasikan armada hingga biaya lainnya seperti biaya parkir dan retribusi. Bayangkan jika kondisi lalu lintas lancar, maka para perusahaan dan korporasi akan mampu memutar anggaran transportasi untuk memperkuat modal internal atau investasinya. Dengan adanya investasi, maka badan usaha bersangkutan dapat memperkuat dan mengembangkan usahanya. Ini akan membuka peluang tumbuhnya lapangan kerja baru sehingga bisa mengurangi tingkat pengangguran dan meningkatkan taraf hidup masyarakat. Ketiga, kemacetan menyebabkan ekonomi biaya tinggi bagi semua kalangan karena dengan bertambahnya waktu di jalan, secara otomatis juga harus menyediakan dana lebih untuk bahan bakar dan perawatan kendaraan karena waktu operasional kendaraan juga bertambah. Untuk negara yang memiliki kebijakan subsidi BBM seperti Indonesia, peningkatan konsumsi BBM juga berarti peningkatan kebutuhan dana subsidi BBM. Selain itu juga beban psikologis yang, jika sudah menjadi stress mungkin melebihi nilai uang, karena harus berjuang menempuh kema16

Namaste indonesia 5  

Edisi terbaru buletin NAMASTE INDONESIA dengan Tema : "Incredible India"