Page 57

“Ibu, matanya minus berapa?” kata Junie. “Tidak pernah ke dokter Ibu,” kata pasien. “Lho, selama ini tidak pernah pakai kacamata?” “Tidak.” “Untuk apa mau pakai kacamata?” “Biar bisa baca Alkitab, Ibu,” jawab pasien. “Wah bagus sekali ya,” kata Junie antusias. Ia memilihmilihkan kacamata dari ukuran minus yang berbeda-beda dan mencobakannya ke pasien yang juga seorang ibu-ibu paruh baya. Satu per satu dicoba, sambil Junie menyodorkan contoh bacaan. Namun si ibu NTT tetap menggeleng dengan gelisah. “Tidak jelas,” katanya. Junie menyodorkan kacamata lain. “Tidak jelas juga,” katanya. Sampai kacamata ketujuh, Junie lalu bertanya, kapan terakhir ibu NTT bisa jelas membaca karena mungkin ia terkena katarak atau penyakit mata lainnya. “Belum pernah. Tapi saya ingin baca Alkitab.” Seketika Junie terkesiap. “Lho, jadi Ibu tidak bisa membaca?” “Ya tidak bisa. Tapi teman saya bilang, kalau pakai kacamata jadi bisa baca Alkitab,” kata ibu NTT yakin. Junie pun tersenyum. Ia sendiri tidak terlalu bisa membaca aksara Latin. Selama ini ia berjualan bacang untuk menopang hidupnya yang sendiri, tanpa suami. Maka dengan susah payah, pelan-pelan ia menjelaskan pada ibu NTT itu soal urusan membaca. Ibu NTT pun akhirnya pulang tanpa membawa kacamata, tapi dengan sekantong obat untuk sakit darah tingginya. Sekilas saya melihat mereka saling mengucapkan selamat tinggal walaupun dengan bahasa yang tidak terlalu nyambung.

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 57

57

6/20/16 9:26 PM

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS  

Buletin Nafiri Juni 2016 - Media Informasi, Komunikasi dan Edukasi Gereja Kristus Yesus Jemaat Bumi Serpong Damai (GKY BSD) - Indonesia

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS  

Buletin Nafiri Juni 2016 - Media Informasi, Komunikasi dan Edukasi Gereja Kristus Yesus Jemaat Bumi Serpong Damai (GKY BSD) - Indonesia

Advertisement