Page 118

Berjalan di tengah kota yang dingin sebenarnya cukup mengasyikkan, karena tak ada keringat yang bikin badan kita lengket. Kota Seoul terlihat sibuk tapi tidak terburu-buru. Orang-orang berjalan dengan langkah biasa saja. Di antara keriuhan kendaraan saya masih menangkap suara para pejalan kaki mengobrol. Di mana-mana terlihat pohon-pohon yang tinggal ranting tanpa daun di ujung musim dingin itu. Sebentar lagi daun-daunnya yang meranggas itu akan mulai bersemi, berwarna-warni, berkilau ditimpa cahaya matahari yang hangat. Ranting-ranting pohon tak berdaun itu tampak mempercantik kota. Lekukan rantingnya terselip di antara rumah-rumah dan kantor-kantor yang berderetderet, berjejer di tepi jalan dan berlomba tinggi dengan tiang-tiang listrik yang tegak lurus ke atas.Keindahan ranting tak berdaun itu semakin mempesona seperti lukisan dengan background langit yang diarsir dengan arsiran tipis warna biru muda bercampur putih. Damai di langit Seoul. Suasana kantor di perusahaan rekan Korea tersebut tampak sederhana. Berada di sebuah gedung bertingkat, kantor tersebut didesain dengan rapi dan kreatif. Walaupun tidak bisa dikatakan mentereng dan ‘wah’ sebagai perusahaan di bidang internet services yang berfokus di layanan instant messaging kelas dunia, suasana kantornya yang simpel itu tetap terkesan elegan. Kami meeting hingga sore hari kemudian pulang. Walaupun Korea sudah maju pesat sekali, rakyat kebanyakan masih tidak bisa berbahasa Inggris. Pada setiap meeting yang saya ikuti, mereka selalu menyiapkan penerjemah. Di restoran juga sama. Ketika saya masuk restoran dan bermaksud menanyakan apakah menu makanan mengandung babi (sebab beberapa teman seperjalanan saya adalah Muslim), pemilik restoran itu tidak mengerti dan hanya menjawab dengan bahasa isyarat. Ketika sore datang dan senja perlahan merayap memasuki kota, angin berhembus lebih kencang menerpa tubuh saya yang sedikit menggigil. Beberapa ratus meter dari hotel tempat saya menginap di daerah Myeongdong, kerumunan orang-orang kantoran keluar dari gedung-gedung sambil mengancingkan mantel tebal dan merapatkan jaket ke tubuh. Mereka menjejali jalanan untuk sekadar jajan makanan ringan, belanja barang-barang terutama kosmetik, maupun makan malam. Tempat itu tak pernah sepi sekalipun waktu sudah mendekati jam dua belas malam. Melihat keramaian kota hingga larut malam seperti itu, terlebih melihat para wanita muda yang bebas ‘keluyuran’ di malam hari, kita dapat menyimpulkan bahwa kota itu memberikan rasa aman bagi warganya. 118 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 118

6/20/16 9:26 PM

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS  

Buletin Nafiri Juni 2016 - Media Informasi, Komunikasi dan Edukasi Gereja Kristus Yesus Jemaat Bumi Serpong Damai (GKY BSD) - Indonesia

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS  

Buletin Nafiri Juni 2016 - Media Informasi, Komunikasi dan Edukasi Gereja Kristus Yesus Jemaat Bumi Serpong Damai (GKY BSD) - Indonesia

Advertisement