Page 105

lingkungan non-Kristen, muncul dan dipakai Tuhan. Seperti Nehemia di masa Perjanjian Lama, ia memimpin pembangunan kembali gereja dan membangkitkan iman jemaat yang goyah karena penindasan dan penganiayaan. Bapa Kama, Tukang Es Cendol, Tukang Nginjil Seperti judul yang tertera dalam buku HUT GKP ke-77, demikianlah seorang bapak yang sederhana telah berjuang dan dipakai Tuhan untuk mempertahankan kehidupan jemaat yang tercerai-berai dan terancam. Kama lahir di Panguragan, Indramayu, sebagai warga pribumi dalam lingkungan Islam tradisional. Ia mulai tertarik kepada kekristenan saat ikut panen raya bersama di Juntikebon. Perkenalannya dengan jemaat Kristen dan Pdt. Kesra Yunus yang bertugas di sana, membuatnya tertarik mengenal Kristus, dan akhirnya bersedia dibaptis pada tahun 1934, setelah bergaul dan belajar selama tiga tahun. Sebagai pengikut Kristus yang baru, ia sangat bersemangat belajar, sehingga selama enam bulan diikutinya kursus Injil di Gereja Juntikebon. Sejak tahun 1942, Kama ditugaskan membantu pelayanan Pdt. Usman Sarin di gereja Tamiyang. Inilah perjumpaan pertamanya dengan jemaat yang kelak akan didampinginya melewati berbagai badai dan terpaan gelombang kehidupan yang berat. Saat Pdt. Usman Sarin dibunuh dan rumahnya dibakar pada 14 November 1951, Kama menyaksikan dengan ketakutan dan hati yang hancur, sama seperti jemaat lainnya. Namun, di sini dimulailah perjuangan gigih Bapa Kama. Untuk menghidupi keluarganya yang serba kekurangan beliau berjualan es cendol sambil terus berusaha memberikan penguatan dan pelawatan terhadap warga jemaat yang tercerai-berai ke pelbagai tempat. Dengan sabar dan tidak mengenal lelah, satu persatu warga jemaat dikuatkan dan diajak kembali untuk terus percaya pada Tuhan Yesus Kristus hingga akhirnya kegiatan peribadahan GKP Rehoboth Tamiyang dimulai kembali berkat kegigihan “Bapa Kama�, seorang tukang es cendol yang tetap setia dalam mengemban amanat Kristus yakni mengabarkan berita kabar sukacita. Terpaan kehidupan belum usai, bahkan lebih berat lagi. Pada 31 agustus 1957, gerombolan pengacau DI/TII kembali ‘menghancurkan’ hati jemaat Tamiyang dengan cara membumihanguskan gereja, menembaki dan membakar rumah-rumah jemaat, dan puncaknya menembak mati anggota jemaat, di antaranya Saryati dan Narka. Tujuan mereka adalah memusnahkan kekristenan di desa Tamiyang dan menyebarkan ketakutan pada warga sehingga tak ada Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 105

105

6/20/16 9:26 PM

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS  

Buletin Nafiri Juni 2016 - Media Informasi, Komunikasi dan Edukasi Gereja Kristus Yesus Jemaat Bumi Serpong Damai (GKY BSD) - Indonesia

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS  

Buletin Nafiri Juni 2016 - Media Informasi, Komunikasi dan Edukasi Gereja Kristus Yesus Jemaat Bumi Serpong Damai (GKY BSD) - Indonesia

Advertisement