Page 1


Saudara-saudara terkasih, Rick Warren dalam bukunya yang sangat terkenal (The Purpose Driven Life) menuliskan: “Your identity is in eternity, your homeland is heaven .… Imagine if you were asked by your country to be an ambassador to an enemy .... As an ambassador you would not be able to isolate yourself from the enemy. To fulfil your mission, you would have to have contact and relate to them. But you suppose became so comfortable with this foreign country that you fell in love with it. Your loyalty and commitment would change. Your role as an ambassador would be compromised. Instead of representing your home country, you would start acting like the enemy ….” Seperti ungkapan tentang medan perang, “Kalau tidak membunuh, dibunuh; kalau tidak menyerang, diserang,” demikian juga kalau kita tidak memikirkan bagaimana menjadi transformator di komunitas kita, mungkin kita akan terseret arus dunia ini dan malah ditransformasi olehnya. Tema Nafiri edisi kali ini adalah: “Menjadi Transformator Dalam Komunitas”. Kita bisa membaca dalam “Lentera Misi”, Dokter Geary yang mendedikasikan beberapa dekade hidupnya untuk mentransformasi masyarakat Serukam. Penulis “Percikan” juga menceritakan mengenai sosok anak Tuhan yang hidupnya menjadi transformer bagi keluarganya. Rubrik “Serpihan Perjalanan” mengangkat kisah tentang Korea Selatan dimana keberadaan 14,5 juta orang percaya Kristus di sana telah memberikan pengaruh dalam denyut kehidupan baik di masyarakat maupun kebijakan negara. Sementara tokoh “Potret” mencoba mengaitkan ilmu kimianya untuk menggarami lingkungan kerjanya dengan kesaksian hidup dan doa. Kita tidak mungkin menjadi transformator apabila kita sendiri belum ditransformasi. Hanya Kristus yang mampu menjadi Transformator kita. Narasumber “Thought” mengawali pergaulannya yang karib dengan Sang Transformator di usia yang tidak muda lagi, dan dia menyimpulkan, “Perjumpaan dengan Tuhan selalu bersifat anugerah.” Mengutip istilah penulis “Fokus”, Tuhan menempatkan kita untuk menjadi ‘transformers’ di lingkungan kita dengan kekuatan ‘Sang Transformer’. Selamat membaca, semoga setiap tulisan yang ada disini memberi inspirasi bagi saudara-saudara. Tuhan Yesus memberkati kita.

Salam, Redaksi

2

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 2

Penasehat Pdt Joni Sugicahyono, M.Div. Pembina GI Feri Irawan, M.Div. Majelis sub. bid. Literatur Kevin Kowinto Pemimpin Redaksi Elasa Noviani Wakil Pemimpin Redaksi Nico Tanles Tjhin, Arina Palilingan Editor Hendro Suwito, Titus Jonathan Proof Reader Yati Alfian Creative Design Juliani Agus, Arina Palilingan, Christina Citrayani, Kezia Rusli, Abby Stefanus, Gabriel Neferet, Glory Amadea Illustrator Ricky Pramudita, Thomdean Fotografer Yahya Soewandono Penulis Anton Utomo, Deirdre Tenawin, Elasa Noviani, Erwin Tenggono, Edna C. Pattisina, Feri Irawan, Hendro Suwito, Humprey, Nico Tanles Tjhin, Sarah A. Palilingan, Titus Jonathan Kontributor Andriani Yuwana, Gandadinata Thamrin, Jaffray Sandang, Jason Reynaldi, Jesslyn Catherine, Joni Sugicahyono, Kristiyani Sinjaya, Lily Ekawati, Lislianty Lahmudin, San Guan Alamat Redaksi Sub bidang literatur GKY BSD Jl. Nusaloka E8/7 BSD Tangerang Telp/ Fax: 021-5382274 Email: nafiri@gkybsd.org

Kirimkan KRITIK, SARAN, SURAT PEMBACA dan ARTIKEL anda ke alamat redaksi ataupun lewat e-mail di atas

6/20/16 9:25 PM


F oku s

26 Menjadi ‘Transformers’ dalam Kehidupan Nyata 48 Apakah Kita Telah Menjadi Transformator yang Berani? 10 Enlightenment I Was Wrong 86 Corner Kick Sunset atau Sunrise?

62 Thought

102 Teropong Bertahan dalam Lintasan Zaman

Hendra G Mulia

4 16 42 54 74 78 94 116 124 130 140 158 162 170

Suara Gembala Air Hidup Pemuas Dahaga Jiwa Potret Yuliana Matiur & Jonathan Ramli Perspektif PELAYANAN, PENGABDIAN, dan PROFESIONALISME di GEREJA View Point Lima Tahun, Tiga hari, dan Selamanya Refleksi Konflik dalam membangun nilainilai Kristen dalam suatu komunitas Percikan Menjadi Transformer dalam Komunitas Gagal Ginjal Kesaksian Hanny - Fera Serpihan Perjalanan Jika Kim Jong-un sebel dengan istrinya Luar Jendela Di California Tuhan mengujiku dan menguatkanku Sh oo t Indawati Kamil Utomo Lentera Misi Surga di Pedalaman Kalimantan Barat Mandarin Corner

34 C a p t ur e

Igor Saykoji 25 Quote 2 Zaman 148 Rekomendasi Buku The ME I Want To Be Komik 123 Bang ARIF 129 Sentilan 138 NAFIRI Hahaha

112 134 152 174

Event Notes Malam Syukur Pembangunan Gereja Jumat Agung & Paskah 2016 Retret Komisi Wanita Malam Misi & Budaya

心系圣殿

Liputan Khusus (哈该书 1:1—14) PPMT MINTIN: MELAYANI, MELATIH dan MENYEJAHTERAKAN English Corner Maybe Later

NAFIRI JUN 16 print.indd 3

Nafiri JUNI 2016

3

6/20/16 9:25 PM


4

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 4

6/20/16 9:25 PM


/ Pdt. Joni Sugicahyono /

ayat bahasan Yohanes 4:1–14

K

e s e p i a n merupakan realitas kehidupan yang dihadapi banyak orang. Satu dari setiap empat orang mempunyai permasalahan dengan kesepian. Kesepian bukanlah hal yang baru, hal ini sudah ada sejak lama, bahkan sekarang ini dimana zaman sudah semakin maju dengan maraknya berbagai hiburan, ternyata banyak jiwa-jiwa yang justru dilanda kesepian.

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 5

5

6/20/16 9:25 PM


Dari mana datangnya kesepian? Apakah kita diciptakan untuk mengalami kesepian? Tentu tidak! Dalam Kitab Kejadian 1–3, disebutkan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah; untuk mewakili Allah mengelola ciptaan-Nya, menguasai bumi, beranak cucu, berkuasa atas ciptaan-Nya; dan manusia diberi seorang penolong yang sepadan. Manusia ditempatkan di Taman Eden yang begitu melimpah berkat jasmani dan rohani, dan yang terpenting adalah Tuhan Allah hadir berkomunikasi secara langsung dengan mereka. Ini adalah gambaran hidup berlimpah berkat, dengan adanya kehadiran Allah. Sedikit pun tidak ada gambaran kesepian. Namun sayangnya semua itu rusak karena manusia tidak taat dan jatuh dalam dosa. Manusia berdosa tidak bisa menerima kehadiran Allah yang Maha Suci. Ketika Allah hadir, manusia malah bersembunyi dan lari dari persekutuan dengan Tuhan. Ingatlah ... saat kita melarikan diri dari Allah pada saat itulah kita jatuh ke ‘pelukan kesepian’ yang sangat dalam. Saat kita pergi dari hadapan Allah, kita datang kepada kesepian hidup yang tak berujung. Perempuan Samaria yang diceritakan dalam Yohanes 4:1–14 mengalami kesepian seperti ini, jiwanya terisolasi. Mengapa demikian? 1. Ia adalah seorang perempuan, yang dalam budaya Yahudi dianggap memiliki derajat lebih rendah daripada kaum pria. 2. Ia adalah orang Samaria, yang dihindari oleh orang Yahudi. 3. Ia seorang Samaria yang mempunyai reputasi buruk dan tercemar di kalangannya 6

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 6

6/20/16 9:25 PM


Perempuan Samaria ini mengambil air di sumur saat siang hari yang sangat terik, dimana saat itu adalah saat yang sepi–tidak ada orang. Oleh karena kehidupannya yang berdosa, maka ia menghindar untuk bertemu dengan orang lain. Inilah bukti bahwa kehidupannya yang terisolasi membuatnya mengalami kesepian.

Apa akibat dari kesepian? 1. 2.

Secara fisik: mengalami depresi. Di Amerika, lebih dari separuh pasien jantung bersumber dari depresi, hal ini karena sebelumnya mereka mengalami kesepian yang sangat mendalam. Secara emosional dan psikologis: gelisah, insomnia, pecandu obatobatan, dan bunuh diri. Dalam suatu penelitian di Amerika, delapan puluh persen pasien psikiater datang dengan kesepian yang mendalam. Fakta bahwa delapan puluh orang di dunia ini bunuh diri dalam satu jam saja, sungguh tragis dan ironis di era informasi dan globalisasi yang mengatakan dunia menjadi semakin dekat– namun jiwa manusia semakin jauh dari kelimpahan hidup.

Tuhan tidak menciptakan kita untuk hidup sendiri dalam kesepian, tetapi Tuhan menciptakan kita agar memiliki relasi yang indah dengan Tuhan dan orang di sekitar kita, untuk hidup dengan daya kreasi menikmati ciptaan-Nya ini. Ironis jika manusia yang telah disediakan dengan berlimpah itu namun tidak bisa menikmatinya, malah dibelenggu oleh kesepian yang tidak ada habisnya. Apakah kesepian itu? Kesepian adalah saat kita tetap merasa seorang diri walaupun di sekeliling kita banyak orang. Kesepian (loneliness) berbeda dengan sendirian (alone). Alone = ‘sendiri’, dimana orang sengaja memisahkan diri secara fisik, namun tidak merasa kesepian. Contohnya saat Yesus sengaja memisahkan diri untuk sendirian berdoa kepada Bapa. Loneliness = merasa terasing secara emosional dan psikologis, merasa tidak penting, tidak berguna. Kesepian merupakan kehausan jiwa yang disebabkan karena hidup ini diisi dengan ‘air sumur dari dunia’, sehingga tidak bisa memuaskan. Terus-menerus kehausan. Seperti yang dikatakan Tuhan Yesus, “Barangsiapa minum air ini ia akan haus lagi ....” Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 7

7

6/20/16 9:25 PM


Banyak orang di dunia mengatakan di saat aku punya keluarga dan pekerjaan yang baik, banyak uang dan sukses maka apa pun bisa kubeli untuk memuaskan hidupku. Dulu aku tidak punya apa-apa sehingga tidak ada yang bisa kubeli sehingga tidak puas. Tapi sekarang apa pun bisa kubeli sampai puas. Aku sudah puas! Saudara, apakah ini benar? Tentu saja tidak! Ini hanyalah kebohongan besar dari dunia! Nabi Yesaya dalam Yesaya 55:1–2 mengatakan, “... kamu belanjakan uangmu tapi tidak beli roti. Kamu bekerja keras tapi pekerjaanmu tidak pernah membuatmu puas. Engkau tetap kesepian ....” Dengan uang kita bisa membeli makanan tapi bukan makanan rohani, perut kenyang tapi jiwa tetap kosong. Dengan uang kita bisa memperoleh banyak teman, tapi bukan sahabat sejati. Dengan uang kita bisa mengundang orang banyak untuk berpesta, namun tidak bisa mengobati kesepian dalam jiwa ini. Semuanya itu tetap membuat jiwa kita kelaparan. Kesepian berarti kita kekurangan gizi rohani, karena hidup diisi dengan hal-hal sementara yang tidak bernilai kekal. Yesus datang menawarkan kepada kita sesuatu yang dapat memuaskan dahaga jiwa kita. Yesus berkata, “Barangsiapa minum air ini ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selamalamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” (Yohanes 4:13–14).

8

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 8

6/20/16 9:25 PM


Tuhan menawarkan kepuasan sejati, tetapi manusia berdosa memilih kepuasan yang selalu kurang, yaitu mencari kepuasan melalui hiburan duniawi. Bagaimana cara mengatasi kesepian? Kesepian bukan masalah sosial dan psikologis, namun masalah relasi rohani. Oleh sebab itu orang yang kesepian dapat mulai mengalami kesembuhan batin melalui percaya pada Yesus Kristus. Yesus dapat memperbaiki relasi kita yang telah hancur dengan sesama, diri sendiri, dan dengan Tuhan. Hanya Yesus yang mampu membersihkan hati kita dari dosa, memberi kekuatan untuk mengatasi kesepian, memberi hidup yang penuh makna. Karena hanya Yesuslah satu-satunya yang sudah mati dan bangkit, dan menjadikan kita ciptaan baru. Tuhan Yesus menawarkan kita sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh kesenangan apa pun dari dunia ini. Ia menawarkan sesuatu yang berharga yang dapat memuaskan dahaga jiwa kita, secara cuma-cuma tanpa bayaran. Itulah kasih karunia Tuhan yang sangat besar dan tidak terbatas. Saudara, maukah kita menyambut undangan Yesus ini? Rindukah Saudara dipuaskan dengan air hidup yang tidak habis-habisnya–mengalami hidup yang limpah dan memiliki kepuasan yang sejati? Amin

(Khotbah Pdt. Joni Sugicahyono pada Kebaktian Umum II, tanggal 1 Mei 2016; disarikan oleh Lislianty Lahmudin). Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 9

9

6/20/16 9:25 PM


10

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 10

6/20/16 9:25 PM


/ GI Feri Irawan /

Dan Anda baru saja menemukan kesalahan dalam salah satu kata di kalimat yang baru saja saya tulis.

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 11

11

6/20/16 9:25 PM


e b a g i a n orang melakukan kesalahan-kesalahan kecil, seperti salah ketik (populer dengan sebutan “typo”) dalam chat di media sosial, dan sebagian lainnya melakukan kesalahan yang cukup fatal, seperti melakukan manipulasi data dengan tujuan korupsi. Untuk urusan typo di medsos, saya jagonya. Entah mengapa jari-jari tangan ini seperti tidak berkompromi dengan ukuran tombol di keyboard gadget yang pas-pasan di jari. Akibatnya, saya sering salah mengetik huruf “a” jadi “s” atau “y” jadi “u”. Jika boleh dikategorikan, urusan typo ini bisa masuk dalam kesalahan yang kecil. Buktinya, belum pernah ada orang yang khusus menegur dan menasihati saya gara-gara typo ini. Dan saya harap tidak.

Sebagian orang dengan gentle mengakui kesalahan yang dilakukannya. Bahkan, meski melakukan kesalahan kecil yang sangat-sangat dimaklumi, masih saja merasa tidak enak di hati sehingga harus berkali-kali meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi karena kesalahannya. Akibatnya, justru gara-gara keseringan meminta maaf membuat kata maaf terasa gampangan dan murahan. “Kalo minta maaf saja sudah cukup, buat apa ada polisi?” begitulah kira-kira sindiran ala Dao Ming Ze dalam serial Meteor Garden yang ngetop abis belasan tahun lalu. Namun kebalikannya, sebagian lain memilih diam dan berpura-pura seakanakan orang lain tidak menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya. Kalau yang model begini mungkin menganggap sebuah pengakuan dan kata maaf adalah barang antik yang nggak boleh sembarangan tercetus keluar dari bibirnya.

12

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 12

6/20/16 9:25 PM


Rapat-Rapat Entah apa kira-kira alasan di balik susahnya seseorang mengakui kesalahannya, tetapi pengalaman menyembunyikan kesalahan ini pernah dilakukan oleh seorang Raja Daud ketika berzinah dengan Batsyeba, istri Uria, yang sengaja dikirimkan ke garis depan medan perang oleh Raja Daud, sehingga mati terbunuh dalam peperangan. Kesalahan itu disimpannya rapat-rapat selama beberapa waktu, sampai akhirnya Tuhan mengirim nabi Natan menegur sang Raja. Meski merasa kebakaran jenggot, tetapi syukurnya Raja Daud mengakui kesalahannya di hadapan Tuhan Allah. Dan sebagai hukumannya, anak yang dilahirkan dari hasil perzinahannya itu mati setelah tujuh hari kelahirannya. Sebagian pemimpin besar dunia sepertinya setali tiga uang dengan perilaku Raja Daud yang enggan mengakui kesalahannya sebelum akhirnya terungkap. Sebut saja nama mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton dan skandal seksnya dengan Monica Lewinsky, hingga presiden Barack Obama yang ditulis oleh CNN Indonesia, April 2016 lalu. Obama mengakui bahwa kesalahan terbesarnya selama menjabat Presiden Amerika Serikat adalah campur tangan negaranya dalam konflik di Libya tahun 2011, dimana Amerika tidak melakukan perencanaan yang cukup dalam intervensi militernya, terutama setelah Muammar Gaddafi digulingkan dan terbunuh pada Oktober 2011. Mungkin sebagian dari kita masih ingat skandal keuangan dan perzinahan yang dilakukan oleh seorang pendeta televisi yang sangat terkenal di Amerika era 90-an, Jim Bakker. Akibat skandal ini, Jim harus mendekam di penjara dan diceraikan oleh istrinya. Menariknya, dalam salah satu artikel inspirasi, Jim Bakker akhirnya dengan gentle mengakui semua kesalahannya dalam buku yang ditulisnya dengan judul I Was Wrong (cek artikel Jim Bakker di http://inspirroni. blogspot.co.id/2011/06/pendeta-jim-bakker-dan-teologi.html). No body’s perfect. Everyone makes mistakes. Dan tentu saja, termasuk saya dan Anda (juga melakukannya).

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 13

13

6/20/16 9:25 PM


Serangan Balik Tentu bukan hal yang mudah ketika seseorang mengambil keputusan untuk mengakui kesalahannya. Butuh kebesaran dan kerendahan hati. Mana ada sih, orang yang membuka aibnya sendiri di depan banyak orang? Yang ada, orang lainlah yang membuka aib sesamanya, seperti yang terjadi pada Raja Daud, Bill Clinton ataupun Jim Bakker. Atau sebagian memilih untuk self defense demi mejaga ‘kehormatannya’. Lucunya, semakin seseorang defense dengan berbagai alasan dan argumen, bahkan dengan teknik ‘serangan balik’ untuk mengalihkan persoalan diri ke persoalan orang lain, semakin memperjelas seberapa menyedihkannya orang yang tak berani mengakui kesalahannya. Peringatan firman Tuhan dalam Amsal 28:13–14 harusnya perlu untuk kita renungkan bersama. Raja Salomo memberikan nasihat,“Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi. Berbahagialah orang yang senantiasa takut akan TUHAN, tetapi orang yang mengeraskan hatinya akan jatuh ke dalam malapetaka.”Sebenarnya inti nats ini bukan pada kita harus mengakui pelanggaran yang kita sembunyikan, tetapi pada ajakan untuk semantiasa takut akan Tuhan yang membawa berkat. Jika kita menghormati Tuhan, tentu saja kita rindu hidup menyenangkan Tuhan dengan kebenaran yang kita usahakan ketimbang menimbun pelanggaran, lalu menyembunyikannya sampai membusuk. Celakanya, bau busuk biasanya lebih peka di hidung orang lain ketimbang hidung sendiri. Ribuan Gembok Aaron Stern dalam What’s Your Secret? Mengatakan bahwa tidak ada cara lain bagi kita agar terbebas dari rasa jaim yang menghancurkan kita, kecuali membuat pengakuan. Dimulai dengan membongkar ‘bagasi’ kita (tempat kita menyembunyikan kebusukan itu). Dan membongkar ‘bagasi’ adalah proses seumur hidup kita. Bagian kita cukup sebuah pengakuan, dan bagian Tuhan adalah pengampunan. 14

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 14

6/20/16 9:25 PM


Semudah itu? Seharusnya jawabannya “ya”, tetapi bagi saya dan Anda yang sudah terlanjur menyimpan kesalahan dan terbiasa nyaman dengan perilaku jaim (istilah gaul, singkatan dari jaga image), tentu akan lebih bergumul untuk menjalani sebuah pengakuan kesalahan. Kita sudah terlanjur mengunci ‘bagasi’ kita dengan ribuan ‘gembok’ yang bahkan sebagian telah kita hilangkan kuncinya. Dan benar kata Stern, bagian ini adalah proses seumur hidup kita. No body’s perfect. Everyone makes mistakes. Untungnya, untuk setiap pengakuan kesalahan, Tuhan selalu memberi pengampunan sebagai kesempatan kedua bagi kita, tidak peduli apakah manusia memberikan kesempatan kedua atas kesalahan kita. Butuh kebesaran dan kerendahan hati untuk bisa berkata, “I was wrong.”

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 15

15

6/20/16 9:25 PM


Yuliana Matiur dan Jonathan Ramli

16

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 16

6/20/16 9:25 PM


/ Hendro Suwito /

D

engan dukungan penuh dari istrinya Yuliana Yohanna Matiur, Jonathan Ramli mulai merintis usaha sendiri di bidang perdagangan bahan kimia sejak tahun 1998/1999 pada saat situasi ekonomi masih bergolak akibat krisis moneter. Untuk mewadahi kegiatan bisnisnya, mereka membuka kantor di daerah Ciputat. Kegiatan bisnis mereka secara umum berjalan cukup baik. Tetapi, ada juga masa krisis yang pernah menguji ketahanan mental dan kesediaan mereka untuk bergumul dan bersandar pada kuasa dan kasih Tuhan.

Produk-produk yang mereka ageni adalah bahan-bahan kimia yang sangat khusus; seperti bahan kimia untuk memproduksi disinfektan, industri makanan, dan industri pakan ternak. Suatu saat, mereka mendapat pesanan suatu produk industri dalam jumlah besar dari salah satu perusahaan. Begitu barang yang dipesan dari produsen di luar negeri datang, ternyata calon pembeli mendadak membatalkan pesanannya. “Waduh, ‘duit mati’ nih,” keluh Jonathan. Semua barang pesanan itu terpaksa ditempatkan di kantor mereka di Ciputat. “Kantor kami sampai penuh dengan tumpukan barang yang sulit laku (karena penggunanya Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 17

17

6/20/16 9:25 PM


18

produk susu yang diproduksi produsen dalam negeri ke pembeli di luar negeri,” kenang Jonathan. Produk dalam jumlah yang cukup besar itu dibeli dengan mata uang rupiah dan dijual dalam mata uang dolar yang saat itu kursnya sedang melonjak secara drastis. Berkat Tuhan yang luar biasa ini membuat Jonathan dan Yuli mempunyai modal yang cukup memadai dan semakin mantap ketika mereka merintis usaha sendiri. Melalui peristiwa-peristiwa nyata dalam perjalanan kehidupan semacam ini, iman-percaya Jonathan dan Yuli pada kasih dan penyertaan Tuhan semakin bertumbuh dan berkembang. Perusahaan Kimia Jonathan, yang sangat suka dengan dunia science, lahir tahun 1967 dari sebuah keluarga Kristen yang tinggal di daerah Subang, Jawa Barat. Pada tahun 1984, dia kuliah di jurusan MIPA di ITB Bandung. Setelah lulus, dia bergabung sebagai karyawan perusahaan kimia di Jakarta. Tugas Jonathan banyak berhubungan dengan perusahaan-perusahaan

“ Kuasa doa benar-benar luar biasa

hanya industri-industri yang sangat khusus).” Tampaknya ada salah satu kompetitor yang melakukan banting harga dan mengambil alih pesanan yang seharusnya dipasok oleh perusahaan Jonathan-Yuliana. “Saya mau jalan masuk ke dalam kantor saja susah karena penuh tumpukan barang,” kenang Yuli, nama panggilan Yuliana. Setelah beberapa waktu barang tetap numpuk di kantor, Jonathan sempat mengeluh kepada istrinya, “Ma, ... saya jual rugi saja ya ....” “Saya doa dulu,” tanggap Yuli, berusaha untuk tetap tegar. “Nanti juga pasti laku.” Dan Yuli pun dengan sungguhsungguh memanjatkan keluh kesahnya kepada Tuhan. “Saya pegang tumpukan barang di kantor sambil berdoa meminta pertolongan Tuhan.” Keajaiban pun terjadi: hanya dalam hitungan hari, semua barang itu sudah berpindah ke pabrik pembelinya. “Satu kilo pun tidak ada yang tersisa,” Yuli bersama Jonathan mengungkapkan kisahnya kepada Nafiri saat berbincang di rumahnya bulan April lalu. “Kuasa doa benar-benar luar biasa.” Jonathan juga terkenang dengan jalan yang dibukakan Tuhan saat krismon sedang melanda pada tahun 1997/1998. “Saya bisa mengekspor

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 18

6/20/16 9:25 PM


kimia yang lain. “Kami banyak memasok barang-barang ke perusahaan-perusahaan lain.” Yuli lahir di Jakarta tahun 1968. Ayahnya dari suku Batak sedangkan ibunya orang Belanda yang sebelumnya tinggal di Semarang. Orangtuanya, khususnya Mamanya, sudah mengenalkan ke tujuh anaknya pada kasih Kristus sejak mereka masih kecil, termasuk pada Yuli, anaknya yang ketiga. Setelah lulus dari SMAN 27, Yuli melanjutkan kuliah di STIE Perbanas mendalami bidang akuntansi. Selesai kuliah, dia bekerja di sebuah perusahaan kimia di Jakarta. Perusahaan tempat Yuli bekerja cukup banyak mendapat pasokan produk dari perusahaan di mana Jonathan bekerja. “Itu yang membuat saya kenal dengan Yuli,” kata Jonathan membuka kisah kasih mereka. Ketika benih cinta mulai bersemi di antara mereka berdua, satu tembok penghalang harus mereka hadapi: ayah Yuli yang sangat strict dalam mendidik anak-anaknya. “Ayah saya mendidik anak-anak kayak didikan militer,” kata Yuli. Ayahnya adalah ahli di bidang hukum dan berkarya di Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhannas). Itu sebabnya dia banyak bergaul dengan kalangan militer.

Ada beberapa pemuda yang sebelumnya mencoba mendekati Yuli dan saudaranya, tetapi banyak yang langsung mundur ketika berhadapan dengan ayahnya. “Ayah saya dikenal sangat keras.” Ketika Jonathan makin serius mendekati dirinya dan hubungan mereka semakin berkembang, Yuli semakin khawatir. “Saya agak laranglarang dia (untuk datang ke rumah dan bertemu Papa saya). Saya takut karena awalnya Papa tidak setuju.” Ternyata Jonathan tidak sama dengan pria-pria lain yang mudah menyerah. “Harus berani kalau benar-benar cinta,” tandas Jonathan. “Cinta saya memang hanya untuk dia (katanya sambil melirik istrinya dengan mesra).” Dan begitulah, dengan penuh keyakinan, Jonathan menemui Papa Yuli. Dan setelah berkenalan dan berbincang-bincang, semuanya ternyata berjalan dengan sangat cair dan lancar. Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 19

19

6/20/16 9:25 PM


“Ternyata dengan saya dia baik sekali. Dia menerima saya dengan baik; sama sekali tidak seperti apa yang digambarkan orang-orang.” Pada tahun 1994, setelah sekitar empat tahun berpacaran, mereka berdua menikah. Dari pernikahan mereka lahirlah Steven Zakharia Joram (1997) dan Stephannie Zeta Joram (2001). Dengan lahirnya Steven, setelah bekerja selama enam tahun, Yuli memutuskan untuk sepenuhnya mengatur kehidupan keluarganya, khususnya mendampingi pertumbuhan anak-anaknya, dan tentunya sambil mendukung usaha yang dirintis oleh suaminya. Yuli sangat mengutamakan pendidikan rohani bagi kedua anaknya, sama seperti apa yang dulu dia serap dari Mamanya. Dia banyak mendampingi anak-anaknya dalam menumbuhkan kedisiplinan dan sukacita dalam melakukan saat teduh di pagi hari. Dari Yuli, yang suka musik dan bisa memainkan keyboard, kedua

20

anaknya juga tertarik mendalami bidang musik, khususnya piano. Menjalankan Kepercayaan Sejak pindah ke daerah Serpong, keluarga ini memutuskan bergabung dengan GKY BSD. Yuli akhirnya ikut bergabung dengan Komisi Wanita. “Awalnya saya sekedar ingin dengardengar firman Tuhan saja; tidak pernah terpikir untuk menjadi pengurus.” Ternyata, Tuhan punya rancangan yang berbeda. Yuli bukan hanya dipilih menjadi pengurus, tetapi bahkan akhirnya didaulat menjadi ketua Komisi Wanita. “Ibu Eliyani yang mendorong saya (untuk lebih aktif di KW),” kata Yuli. Dan Yuli pun dengan sungguhsungguh menjalankan kepercayaan yang diberikan kepadanya. “Selama ikut kegiatan KW, saya memang banyak sekali mendapat berkat rohani.” Awalnya, pada tahun 2013–2014, Yuli ditunjuk menjadi pengurus di seksi pelawatan. Dia kemudian diangkat menjadi sekretaris KW dan akhirnya dipercaya menjadi ketua KW pada tahun 2015. Yuli bersyukur karena persekutuan Komisi Wanita di GKY BSD boleh mengalami perkembangan yang sangat baik dalam beberapa tahun terakhir ini. “Persekutuan mingguan Komisi Wanita sekarang dihadiri

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 20

6/20/16 9:25 PM


sekitar seratus orang,” katanya. Semua ini boleh terjadi hanya karena kemurahan Tuhan. “Kegiatan-kegiatan di KW ikut membentuk saya sehingga bisa menjadi istri dan mama yang lebih baik bagi keluarga saya,” kata Yuli dengan nada yang jauh dari keinginan berpromosi. Steven dan Stefannie juga aktif melayani di gereja, khususnya di bidang musik. Steven sedang berada di Berlin menjalani masa prauniversitas. Dia berencana untuk mendalami bidang musik, khususnya piano klasik. Stefannie masih di SMA dan sedang mengambil ancangancang profesi yang akan diterjuninya di masa depan. Yang jelas, ketika ditanya oleh ayahnya apakah dia mau mendalami bidang sains, jawabnya pendek dan jelas, “Nggak mau.” Steven dan Stefannie agaknya tidak ingin mengikuti jejak ayahnya yang menurut mereka ‘terlalu serius’. Jonathan sebenarnya memang berharap ada salah Kegiatan-kegiatan di KW ikut satu anaknya yang membentuk saya sehingga bisa akan mendalami bidang sains, menjadi istri dan mama yang lebih impiannya saat masih muda. Tetapi, baik bagi keluarga saya.... sepertinya kedua

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 21

21

6/20/16 9:25 PM


anaknya tidak ingin terjun di bidang ini. “Mudah-mudahan ada cucu saya nanti yang akan jadi scientist,” dia masih berharap. Dunia Jonathan memang sangat kental dengan sains. Tetapi, walau bidang studinya di bidang sains, dia akhirnya lebih memilih bidang sains hanya sebagai landasan untuk bidang pekerjaan yang dia terjuni. Buku-buku bacaannya di kala senggang tetap didominasi oleh dunia sains, seperti bio-tekhnologi hingga astronomi, ilmu tentang bintang dan alam semesta. Garam Dunia Bisnis perdagangan bahan kimia yang dirintis Jonathan dan Yuli sejauh ini berjalan cukup baik. Perusahaannya sekarang menangani sekitar dua puluh principal (produsen) bahan kimia, antara lain dari Swiss, khususnya untuk produkproduk tertentu. Selain itu, bersama tim kerjanya yang aktif melakukan penelitian, perusahaannya juga mulai memproduksi 22

ekstrak santan yang bentuk dan rasanya benar-benar seperti kelapa muda. “Masih dijual secara online,” kata Jonathan. Dunia kimia sangat disukai Jonathan sehingga dia juga banyak mengambil intisari bidang yang disukainya itu sebagai landasan untuk makin memperkokoh imannya kepada Tuhan. “Kita disuruh oleh Tuhan untuk menjadi garam dunia. Garam atau NaCl adalah benda yang sebenarnya sangat sederhana dan sama sekali tidak istimewa,” kata Jonathan. “Tetapi, dengan proses elektrolisa–yang saya ibaratkan sebagai pertolongan Roh Kudus–NaCl bisa menjadi sodium hidroksida atau soda api. Ini adalah zat yang sangat kuat sebagai pembersih (cleaner).” Jadi, oleh Jonathan, peran sebagai garam dunia itu dimaknai sebagai peran untuk ikut membersihkan dunia ini dari lumpur dosa. Sementara itu, unsur HCl,yang bisa didapat dari NaCl,merupakan bahan disinfektan yang sangat kuat; mempunyai daya basmi yang sangat kuat terhadap kuman-kuman. “Tuhan ingin

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 22

6/20/16 9:25 PM


“Saya berlatar belakang IPA bidang sains. Saya banyak menemukan keunikan dari rumus-rumus kimia yang sebenarnya bisa dimaknai secara spiritual,

kita berperan dalam membasmi ‘kuman-kuman’ yang disebarkan oleh roh jahat,” katanya memaknai. Sebaliknya, dia menambahkan, garam juga tidak boleh dikonsumsi secara berlebihan karena bisa mengakibatkan dehidrasi dan hipertensi. “Saya berlatar belakang IPA bidang sains. Saya banyak menemukan keunikan dari rumusrumus kimia yang sebenarnya bisa dimaknai secara spiritual,” tambah Jonathan yang beberapa tahun terakhir ini mulai aktif berkebun. Benar-Benar Menyegarkan Awalnya, dia membeli sebidang tanah di daerah Rumpin, Bogor, sebagai research farm untuk meneliti kegunaan produk-produk kimia yang dia ageni. Tetapi, akhirnya kebun itu dijadikan sarana refreshing bagi Jonathan dan keluarganya. Dia membangun rumah kecil di kebun

yang dikelola dengan sistem bagi hasil dengan beberapa petani setempat. Dia secara berkala datang ke kebun untuk menikmati suasana desa dan lingkungan yang berbeda. “Saya sangat suka berada di kebun; benar-benar menyegarkan,” kata Jonathan, apalagi pulangnya dia bisa membawa pepaya California, cabai hijau, dan singkong yang dia ambil dari kebunnya sendiri. Yuli mengakui bahwa suaminya mempunyai ‘tangan yang dingin’, apa saja yang dia tanam selalu ‘jadi’ alias berhasil. Yuli dan Jonathan terus menjalani kehidupan mereka dengan penuh syukur pada Tuhan. “Kesulitan-kesulitan selalu ada saja. Kita hadapi dengan tetap bersyukur,” katanya

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 23

23

6/20/16 9:25 PM


Nama Lengkap Nama Panggilan Tempat/Tanggal Lahir Nama Pasangan Nama Anak

: Yuliana Yohanna Matiur : Yuli : Jakarta, 28 Juli 1968 : Jonathan Ramli : Steven Zakharia Joram Stephannie Zeta Joram

Riwayat Pendidikan SDN Johar Baru Jakarta SMPN 2 Jakarta SMA N 27 Jakarta STIE Perbanas Jakarta

Lulus tahun 1981 Lulus tahun 1984 Lulus tahun 1987 Lulus tahun 1991

Riwayat Pekerjaan • PT Panca Kusuma Aneka Kimia 1991 - 1992 • PT Aneka Kimia Inti 1992 - 1994 • PT Wigas Santana 1994 - 1996 Riwayat Pelayanan • Pengurus Komisi Wanita Sie Pelawatan • Sekretaris Komisi Wanita • Ketua KW

2013 - 2014 2014 - 2015 2015 - sekarang

“ Kesulitan-kesulitan selalu ada saja. 24

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 24

Kita hadapi dengan tetap bersyukur,

6/20/16 9:25 PM


“ “ Dokter Johannes Leimena (1905–1977) lahir di Ambon. Ayahnya meninggal ketika dia masih lima tahun. Ketika pamannya yang kepala sekolah dipindah ke Cimahi, Jawa Barat, Leimena kecil nekat menyelinap ke kapal agar bisa ikut serta. Dia akhirnya lulus sekolah kedokteran STOVIA (School Tot Opleiding Van Indische Artsen) di Jakarta pada tahun 1930. Sejak kuliah, Leimena sudah aktif berorganisasi. Dia mendirikan dan menjadi ketua pertama Christelijke Studenten Vereeniging yang kemudian bermetamorfosis menjadi GMKI pada tahun 1950. Dia juga menjadi Ketua Partai Kristen Indonesia (1950–1957). Om Jo, panggilan akrabnya, pernah beberapa kali menjabat sebagai adalah Menteri Kesehatan Pertama dan terlama (21 tahun) dan beberapa kali menjabat dan juga sebagai Wakil Perdana Menteri pada tahun 1960-an. Leimena, yang di kemudian hari diangkat menjadi Pahlawan Nasional; adalah tokoh Kristen yang sederhana, berbudi luhur, dan memiliki iman yang teguh.

“ “ (Saat diwawancarai Nafiri untuk edisi September 2010, khususnya tentang peran orang Kristen untuk menjadi ‘terang dan garam’ bagi dunia) Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 25

25

6/20/16 9:26 PM


26

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 26

6/20/16 9:26 PM


/ GI Jason Reynaldi Priatna /

ilm Transformers yang diperkenalkan oleh Michael Bay pada tahun 2007 membuat banyak anak muda terkagum-kagum. Kekuatan film ini terletak pada teknologi animasinya yang super keren.

Setiap robot memiliki kemampuan untuk berubah dan menyesuaikan bentuk tubuh mereka dengan beragam model bendabenda yang ada di bumi; seperti kendaraan darat, pesawat terbang, hewan, dan alat-alat elektronik modern. Mereka juga dapat mengubah massa berat tubuh mereka sendiri (seperti membesar atau mengecil), atau beberapa hal lain, seperti bergabungnya satu robot dengan robot lain. Kemampuan untuk mengubah diri dan mengubah benda lain menjadi keunikan film ini. Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 27

27

6/20/16 9:26 PM


Yah, film memang beda dengan kenyataan. Tetapi, kalau film ini boleh digunakan sebagai acuan, bolehlah kita bertanya pada diri sendiri: Mampukah kita ini juga menjadi ‘transformer’ bagi orang-orang yang ada di sekitar kita? Orang-orang Kristen sedang hidup di dunia yang diwarnai berbagai kebobrokan. Paulus sudah mengingatkan agar kita tidak menjadi serupa dengan dunia ini (Roma 12:2). Peringatan itu jelas dikarenakan adanya pengaruh dunia yang sangat besar bagi kekristenan. Dewasa ini, ada gereja-gereja yang ikut berpolitik secara kurang etis, beberapa gereja sudah membuka kesempatan untuk memberkati pernikahan sesama jenis, bahkan tidak sedikit gereja yang pecah karena berbagai alasan, seperti pecahnya Uni Soviet di masa lalu. Pilihan bagi kita sebenarnya sangat jelas: diubah dan larut oleh kuasa dunia ini, atau memilih untuk tetap teguh di dalam kebenaran dan bahkan bisa ikut mengubah dunia. Dan jika kita tertarik untuk ikut membawa perubahan bagi dunia, mari kita belajar dari Sang Guru Agung Yesus Kristus. Sangat Signifikan Yesus membawa perubahan besar di dalam diri seorang Zakheus (Lukas 19). Pada saat itu Yesus melintasi kota Yerikho diikuti oleh begitu banyak orang. Rasa ingin tahu Zakheus begitu tinggi untuk melihat Yesus. Badannya yang pendek menjadi keterbatasannya untuk melihat Yesus. Akhirnya ia berpikir jalan mana yang kemungkinan akan dilewati Yesus dan mencari tempat tinggi untuk ia panjat. Setelah melihat pohon ara, tanpa berpikir panjang ia langsung memanjat dan menunggu Yesus lewat. Begitu hidupnya bertemu dengan Yesus, perubahan sangat signifikan langsung terjadi pada Zakheus. Mari kita amati beberapa hal yang Yesus lakukan untuk membawa perubahan dalam diri Zakheus. Pertama, Yesus peka dan peduli pada orang-orang disekitarnya. Ia peduli pada orang-orang tertolak yang sangat membutuhkan penerimaan dan kasih. Zakheus adalah kepala pemungut cukai, orang Yahudi pengkhianat karena bekerja untuk penjajah (Romawi). Dia bukan hanya pekerja biasa melainkan pemimpin dari orang-orang tertolak lainnya.

28

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 28

6/20/16 9:26 PM


Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 29

29

6/20/16 9:26 PM


Yesus tahu kebutuhan jiwanya tidak dapat dipenuhi oleh uang, sehingga Yesus datang untuk mencukupi kebutuhan jiwanya. Ia datang untuk menginap, dan Zakheus menyambutnya dengan sukacita. Dia yang tadinya berpikir hanya mau melihat Yesus saja (karena berpikir akan ditolak sama seperti orang lain memperlakukan dia), berubah menjadi ingin kenal Yesus dan berbincang banyak. Dia bahkan memutuskan mengembalikan uang yang dia dapatkan secara tidak benar dan memulai kehidupannya dengan cara yang baru. Kepekaan dan kepedulian Yesus telah mengawali transformasi total pada kehidupan Zakheus. Yesus juga peka ketika melihat lima ribu orang lebih yang sudah demikian lama mendengarkan dia berkhotbah. Dia peduli pada kebutuhan fisik mereka untuk makan. Mereka pun akhirnya dikenyangkan oleh-Nya. Mother Teresa membawa perubahan besar di Kalkuta, India. Di sana banyak orang miskin yang hidup dalam penderitaan. Selain itu, agama mayoritas saat itu mengajarkan reinkarnasi. Banyak orang sakit tidak dipedulikan, karena mereka percaya setelah mati akan kembali hidup. Mother Teresa menyadari banyak orang membutuhkan pertolongan. Namun ia tahu bahwa kesadaran saja belum cukup. Dia pergi menolong ribuan orang sakit dan akhirnya membawa perubahan besar di sana. Dia bukan hanya datang, membagikan bantuan, dan pergi lagi. Tetapi, dia tinggal hingga sekitar empat puluh tahun bersama dengan mereka. Dia merawat dan ‘memanusiakan’ mereka yang sakit dan sedang menjelang ajal.

30

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 30

6/20/16 9:26 PM


Setiap perubahan biasanya harus diawali dengan kepekaan dan kepedulian. Sikap apatis membuat begitu banyak orang tidak peka lagi terhadap kebutuhan demikian banyak orang di sekitarnya. Beberapa waktu terakhir; saya sempat melihat seorang muda yang membantu orang tua menyeberang jalan, memberikan tempat duduk kepada orang lain di commuter line, dan hal-hal kecil lain semacam ini. Semua itu adalah refleksi kepekaan dan kepedulian yang sangat positif. Coba dengan hati lebih peka dan peduli kita perhatikan keluarga kita, tetangga, teman di kantor, dan semua orang yang Tuhan izinkan bertemu dengan kita. Bisa jadi, kita akan mampu melihat demikian banyak di antara mereka yang sangat membutuhkan uluran kasih kita ... dan hidupnya sudah siap untuk diubahkan. Gila Jabatan Kedua, berani menerima risikonya. Ketika Yesus masuk ke rumah Zakheus, kepala pemungut cukai, semua orang bersungut-sungut (ayat 7). Alasannya karena Yesus menginap di rumah orang berdosa. Walaupun hanya menginap; tetapi orang-orang tentu berpikir jauh seperti menjalin kerja sama, atau mau makan malam enak, atau pikiran negatif lainnya. Banyak orang yang tadinya kagum menjadi ill-feel ketika melihat Yesus masuk ke dalam rumah orang yang gila jabatan dan rakus itu. Menarik jika diperhatikan bukan sedikit orang, bukan juga banyak orang, tetapi semua orang yang bersungut-sungut (sesuai bahasa aslinya). Memang penulisnya bisa saja memakai istilah yang hiperbol (dilebih-lebihkan), tapi setidaknya dapat disimpulkan bahwa banyak sekali orang yang bersungut-sungut. Hari-hari ini, Pak Basuki Tjahaja Purnama alias Pak Ahok, seorang Kristen keturunan Tionghoa, sedang berusaha mengubah kota Jakarta, ibu kota negara kita yang permasalahannya bejibun dan selama ini sulit ditangani secara tuntas. Kita dapat dengan gamblang melihat banyak yang membenci beliau. Tetapi, Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 31

31

6/20/16 9:26 PM


banyak juga yang mendukung, termasuk para relawan gerakan Teman Ahok (mungkin Anda termasuk). Dan, bisa jadi, kelompok ‘musuh’ yang tidak mudah dihadapi adalah orang-orang di dalam pemerintahan itu sendiri. Melalui kisah Pak Ahok, kita tahu bahwa ada risiko yang harus ditanggung oleh orang yang ingin melakukan sebuah perubahan. Hal yang sama sudah dikatakan Yesus lebih dari dua ribu tahun lalu, “Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu.” Jika kita memilih untuk bersahabat dengan dunia ini, kita akan mudah terpengaruh dan akhirnya gagal mengemban panggilan kita untuk menjadi terang dan garam dunia. Ketiga, yang terakhir, adalah mengerjakan sampai tuntas. Apa definisi tuntas? Apakah sampai kedamaian meliputi seluruh dunia? Tentu tidak. Target akhir kita adalah kasih Kristus disampaikan sampai ujung bumi. Kisah Zakheus ditutup dengan perkataan Yesus, “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” Yesus belum dikatakan tuntas ketika berhasil membuat Zakheus membagibagikan hartanya kepada banyak orang. Target Yesus adalah kehidupan Zakheus mengalami transformasi dan dimenangkan secara tuntas.

32

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 32

6/20/16 9:26 PM


Titik Sempurna Banyak orang berpikir: “Seandainya negara ini lebih …”, “Seandainya kota ini lebih …”, Seandainya gereja ini lebih …”, “Seandainya pendeta ini lebih …”, dan perubahan lainnya. Namun apakah negara ini akan mencapai titik sempurna sampai tidak ada yang mengeluh? Apakah gereja ini akan mencapai titik sempurna sampai semua jemaatnya dapat beribadah dengan baik? Semuanya tidak mungkin terjadi selama masih ada manusia berdosa di dalamnya. Kita dihadapkan pada dunia yang terus diwarnai oleh kekisruhan politik, konflik, peperangan, dan kemerosotan moral. Ketika manusia berdosa mencoba melakukan perubahan dari usahanya sendiri, tidak akan terjadi perubahan yang sejati. Hanya perubahan yang didasarkan pada kuasa Injil dan kasih Kristus yang akan melahirkan transformasi yang kekal. Inilah misi Yesus bagi dunia ini, yaitu untuk menghadirkan perubahan yang sejati dan tuntas. Dalam kisah-kisah dongeng masa kecil, kita mengenal tongkat peri yang memiliki kuasa untuk mengubah banyak benda. Peri dalam kisah Cinderella dapat mengubah buah labu menjadi kereta, tikus menjadi pengendara kereta, dan baju lusuh menjadi gaun pesta yang indah gemerlapan. Sangat menarik untuk memiliki kemampuan seperti itu. Namun kita tidak memiliki tongkat sakti seperti itu. Kalau kenyataannya demikian, apa yang bisa kita andalkan untuk bisa mengubah hati dan kehidupan orang lain? Thank God! Kita tidak sedang bekerja sendirian. Roh Kudus yang jauh lebih hebat dari pada tongkat peri yang akan menyertai kita agar mampu mengubah banyak hal di dunia ini. Kota Niniwe yang sangat jahat akhirnya bertobat. Seorang pembunuh diubahkan menjadi penginjil dengan komitmen demikian luar biasa (Paulus). Bahkan beberapa waktu lalu sempat beredar berita adanya anggota kelompok radikal–yang saat ini sedang menghancurkan banyak kehidupan di dunia– memutuskan untuk menjadi pengikut Yesus. Di sekeliling kita, kita bertemu dengan orang-orang percaya yang telah mengalami transformasi melalui perjumpaan dengan Tuhan. Semua perubahan itu semata-mata hanya karena kuasa Roh Kudus. Sekarang semuanya kembali kepada diri kita masing-masing. Maukah kita bekerja sama dengan Tuhan untuk menjadi para transformers bagi dunia ini? / GI Jason Reynaldi Priatna STh. adalah lulusan Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Saat ini melayani di GKY BSD Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 33

33

6/20/16 9:26 PM


IGOR SAYKOJI:

34

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 34

6/20/16 9:26 PM


/ Deirdre Tenawin /

Ignatius Rosoinaya Penyami (disingkat Igor) atau yang lebih dikenal dengan nama Saykoji adalah salah satu rapper ternama di Indonesia. Lagunya berjudul “So What Gitu Loh”, “Jomblo“, dan “Online“ telah melambungkan karir penyanyi asal Balikpapan ini di kancah musik nasional. Namun siapa yang menyangka, nama SAYKOJI yang digadang Igor sebagai nama panggungnya itu ternyata menyimpan sebuah cerita tentang masa lalunya.

Mengapa Saykoji Saat masih duduk di bangku SMP, Igor sering mengalami bullying dari teman-teman sebayanya lantaran ia kurang menonjol dalam bidang olahraga maupun prestasi akademik. Igor pun kemudian tumbuh sebagai anak yang penyendiri dan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan mendengarkan musik. Hal itu membuatnya sering dipanggil dengan julukan “Psycho” yang memilki arti orang dengan pikiran yang tidak normal. Namun, justru dari julukan itulah nama Saykoji (“Psycho G”) muncul.

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 35

35

6/20/16 9:26 PM


Meski terasa berat dan pahit, Igor memilih untuk tidak pernah menyerah dan berhenti. Ejekan dan cemooh yang pernah diterimanya, dipakainya sebagai motivasi dan inspirasi dalam berkarya. Bahkan dari pengalaman-pengalamannya itulah lahir lagu berjudul “Jalan Panjang” yang mengekspresikan perasaannya yang pernah diremehkan dan dikecilkan. “Akhirnya saya sadar bahwa itu semua adalah proses dari sebuah jalan panjang yang pasti nantinya ada ujungnya,” tutur Igor. Kini, tahun demi tahun telah berlalu dan langkah kaki Igor semakin dekat dengan ujung perjalanan panjangnya itu. Kesabaran dan ketekunannya berbuah manis. Bukan hanya dikenal sebagai rapper berbakat tanah air, Igor juga acap kali muncul di layar kaca dan layar lebar. Bahkan hari-hari ini, ia sedang sibuk mempersiapkan single terbarunya berjudul “Boke Lagi” yang rencananya akan rilis pada awal bulan Juni 2016. Bukan hanya itu, Igor 36

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 36

6/20/16 9:26 PM


Saykoji juga sedang sibuk menulis lagu, promo, manggung, serta menjalankan bisnis music production-nya yang memproduseri beberapa musisi dari genre lain dan mengerjakan scoring film. Album rohani juga sedang dipersiapkan oleh Igor bersama rekannya Guntur Simbolon.�Yang pasti bukan Disciples namanya, meskipun hampir sama konsepnya. Belum ada gambaran jelasnya akan seperti apa, cuma lagi dikerjakan. Ada satu atau dua lagu yang mulai jadi, cuma belum dirilis aja,� ungkap Igor. Aktif di Yayasan Sosial Segudang kesibukan dalam karirnya tidak membuat ayah dari dua orang anak ini kekurangan waktu untuk melayani Tuhan. Ketika tim Nafiri menemui Igor di gerejanya, ia sedang bertugas menjaga stan pameran sebuah yayasan sosial. Kepada tim Nafiri, Igor berbagi cerita tentang apa yang sedang dikerjakannya bersama organisasinya, yang bergerak di bidang kemanusiaan, empowering dan chance untuk orang-orang Indonesia di daerah tertinggal.

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 37

37

6/20/16 9:26 PM


Di yayasan sosial ini, Igor berperan aktif dalam membuat konten media visual. Ia bertanggung jawab mendokumentasikan, mengedit video, dan menyiapkan materi tentang kegiatan organisasinya. “Jadi ya keahlian aku di situ, aku pake supaya orang bisa lihat konten dan apa yang sedang dikerjain oleh yayasan.” Harapannya, ada banyak orang yang tergerak untuk bergabung dalam perjuangan menolong mereka yang butuh pertolongan. Untuk mendukung pelayanan yayasan sosial ini, Igor juga menelurkan sebuah album musik bernama Heart Vibes Project, dimana hasil dari penjualan album ini disalurkan ke yayasan. Album Heart Vibes berisikan lagu-lagu rohani populer yang telah diremake temponya menjadi lebih hip-hop oleh Igor. “Awalnya sebenarnya dibuat lebih modern, lebih dance buat nemenin orang-orang yang mau olahraga. Tapi memang akhirnya masuknya ke warna yang lebih modern lagi, yaitu untuk orang-orang yang memang suka dengerin musik-musik gereja dengan warna yang modern.”

38

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 38

6/20/16 9:26 PM


Membuat Video Khotbah di Atas Gunung Semeru dan Rinjani Belum lama ini, Igor Saykoji juga membuat video khotbah di atas Gunung Semeru dan Rinjani bersama Pastor Jose Carol. Video khotbah yang mengambil tema “Living Large” ini menekankan poin-poin memiliki hidup yang besar menurut Alkitab. “Saya sama Pastor Jose kebetulan memang sama-sama suka naik gunung. Apa yang pararel dari cerita isi khotbah itu dengan pengalaman di gunung, itu kita gabung, terus kita kasih musik. Kasih, ketaatan, kebijaksanaan, penguasaan diri. Itu semua dibikin pararel dengan cerita yang sama waktu isuisu seperti itu kita hadapi di gunung.” Lebih lanjut Igor bercerita,“Contohnya kasih, kasih kita sama pendaki yang lain gimana? Orang gak punya air, kita kasih atau enggak? Pengetahuan juga. Untuk naik gunung kita harus punya pengetahuan. Gak mungkin kita naik gunung pakai sandal. Kita harus tahu di gunung seperti apa, baju seperti apa yang harus kita bawa. Penguasaan diri. Nah, naik gunung kalau kita dikit-dikit haus, kita gak bisa tahan diri, banyak minum, lama-lama airnya habis dan kita kesusahan di tengah jalan.” Meski terlibat aktif di berbagai bidang pelayanan di gerejanya, Igor menganggap pelayanan di gereja tidak lebih penting dibandingkan apa yang bisa dilakukannya dalam kehidupan sehari-hari. “Di gereja, ya kita melayani jemaat yang ada, tetapi konteks terbesar ibadah kita adalah waktu kita pelajari sesuatu dari gereja dan kita lakukan di kehidupan sehari-hari di luar gereja, itu menurut saya ibadah dan pelayanan yang lebih nyata. Buat saya kekristenan itu lebih dari cuma sekedar status kita melayani, tetapi di luar gereja kita ngapain?” Menurut Igor, yang paling penting ialah apa yang dia dapat lakukan di luar gereja dari apa yang dia dapat dari gereja. Pelayanan di gereja hanya dinikmati oleh orang gereja, sedangkan yang paling penting adalah bagaimana menjadi berkat bagi orang lain di luar gereja. Igor pun kemudian bertanya, “Dalam keseharian ketika kita bertemu orang yang bukan orang Kristen, apakah kita membantu mereka, terlepas mereka baik atau enggak sama kita?” Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 39

39

6/20/16 9:26 PM


Menolak Menggugurkan Anak Igor Saykoji telah menjadi Kristen sejak lahir karena keluarganya sudah percaya Kristus. Tetapi ia mengaku baru benar-benar mengenal Tuhan Yesus ketika menempuh pendidikan SMA di salah satu asrama di Batu Malang. Di situlah Igor pelan-pelan mengalami pertumbuhan rohani. Bagi Igor, Tuhan Yesus adalah wujud nyata kasih. Kasih yang Tuhan Yesus punya adalah kasih yang mengasihi semua orang, siapa pun itu tanpa terkecuali. Igor banyak belajar dari bagaimana cara Tuhan Yesus menghadapi Zakheus dan mendoakan orang-orang yang telah menyakitinya. Kasih Tuhan Yesus itu juga dirasakan Igor, ketika ia dan istrinya bergumul untuk kelahiran anak kedua mereka. Kala itu, istri Igor, Tessy, sedang mengandung anak kedua mereka. Karena ketidaktahuan Tessy atas kehamilannya itu, ia mengkonsumsi sebuah obat kulit yang ternyata berbahaya bagi janin, selama kurun waktu dua minggu. Begitu Tessy tahu kalau dirinya sedang hamil, mereka pergi ke dokter dan disarankan agar anak itu digugurkan karena kemungkinan besar mengalami cacat. Waktu itu Igor dan Tessy mengalami guncangan yang hebat dan mereka sangat bergumul. Igor dan istrinya berlutut, berdoa, hingga memutuskan bersama untuk mempertahankan anak itu. Mereka sadar bahwa anak itu adalah pemberian Tuhan, sehingga mereka berjanji bersama di hadapan Tuhan untuk memelihara anak itu apa pun yang terjadi padanya. “Kita bilang kita gak mau gugurin. Kita hentikan obat itu, kita rawat. Dan bener anaknya lahirnya baik-baik aja. Kalau kita gugurin, kita gak akan tahu kalau anak ini jadi anak perempuan yang baik, manis, lucu banget, dan gak ada cacatnya sama sekali,� tutur Igor. Anak itu kemudian mereka beri nama Anezka Gabrielle Penyami yang kini telah berusia lima tahun. Sementara kakaknya, Aaron Miguel Penyami berusia delapan tahun. Jika mengingat perjalanan hidupnya sejauh ini, Igor semakin menyadari bahwa imannya kepada Kristus itu membawanya kepada kemenangan demi kemenangan, dan ia semakin mengerti rencana Allah dalam hidupnya dibukakan dari satu peristiwa ke peristiwa selanjutnya

40

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 40

6/20/16 9:26 PM


Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 41

41

6/20/16 9:26 PM


42

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 42

6/20/16 9:26 PM


/ Nico Tanles Tjhin /

Â

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 43

43

6/20/16 9:26 PM


44

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 44

6/20/16 9:26 PM


Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 45

45

6/20/16 9:26 PM


46

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 46

6/20/16 9:26 PM


Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 47

” 47

6/20/16 9:26 PM


e r u b a h a n selalu bergulir mengiringi perjalanan manusia dan zaman. Setiap peristiwa yang berlangsung di muka bumi seolah menyiratkan bahwa segala sesuatu yang sudah digenggam manusia tidak akan pernah langgeng dan mau tidak mau manusia harus siap menghadapi segala perubahan yang terjadi.

48

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 48

6/20/16 9:26 PM


/ GI. Jaffray Sandang /

Namun dalam kenyataannya berhadapan dengan perubahan tidaklah mudah, paling tidak ada tiga alasan besar mengapa orang tidak mau berubah, yaitu: 1. Zona kenyamanan, dimana seseorang yang sudah terlalu menikmati kehidupannya, akan sangat sukar melepaskan kenyamanannya meskipun dirinya tahu ada sesuatu yang lebih di depannya. 2. Takut akan perubahan itu sendiri, dimana seseorang tidak mau mengambil resiko, jangan-jangan melakukan sesuatu yang baru hanya menghabiskan waktu dan tidak menghasilkan apa-apa. 3. Sumber konflik baru, dimana seseorang tidak mau berurusan dengan orang yang tidak setuju dengan pendapat dia, atau dengan kata lain jangan sampai karena ‘perubahan’ itu membuat hubungan menjadi tidak harmonis.

Perubahan memang kadang menakutkan; harus mengubah paradigma yang sudah bertahun-tahun melekat dalam diri kita, bertemu orang-orang yang baru, melakukan hal yang berbeda, dan bahkan tantangan kehidupan yang lebih besar.

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 49

49

6/20/16 9:26 PM


Transformator vs Stagformator Beberapa tahun terakhir ini kata “transformasi” menjadi tren dan selalu menjadi topik yang dibicarakan di kalangan gereja dan komunitas-komunitas Kristen. Kata transformasi berasal dari dua kata dasar, trans dan form. Trans berarti dari satu sisi ke sisi yang lainnya (across), atau melampaui (beyond). Form menurut pengertian di sini berarti bentuk. Dengan kata lain transformasi mengandung arti perubahan bentuk yang lebih dari, atau melampaui perubahan bungkus luar saja. Ada dua kata dalam Perjanjian Baru yang sepadan dengan kata transformasi, yaitu : Pertama, Alaso dalam Kisah Para Rasul 6:14; 1 Korintus 15:51–52 artinya “mengubah” atau “membuat berbeda”. Kedua, Metamorfoo dalam Roma 12:2 artinya “berubah”, “berganti sosok”, dan “perubahan secara bertahap”. Transformasi adalah hasil proses perubahan, buah dari kerja keras. Atau dengan kata lain transformasi adalah perubahan yang bersifat menyeluruh dan mengarah kepada tujuan yang lebih baik dan lebih berguna. Dunia sekarang ini sedang berteriak membutuhkan para transformator yang bisa memberikan perubahan dan pengaruh yang lebih baik lagi. Tidak terlepas dari kehidupan berkeluarga, gereja, kota, negara, perusahaan, dan lain sebagainya juga membutuhkan transformator. Gereja adalah alat atau agen transformasi dari Allah, dan Allah sendirilah ‘Sang Transformator’ itu. Kita dapat mengharapkan bahwa gereja akan menjadi suatu komunitas yang memberikan pengaruh bagi keluarga, tempat pekerjaan, kota, dan bangsanya. Gereja benarbenar akan menjadi garam dunia, terang dunia, dan sebuah kota di atas bukit (Matius 5:13,14).

50

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 50

6/20/16 9:26 PM


Namun dalam kenyataannya begitu banyak orang Kristen yang belum menyadari bahwa Tuhan menempatkan mereka di dalam sebuah komunitas. Harusnya kita bisa menjadi transformator dan bukannya menjadi stagformator. Transformasi dalam sebuah komunitas terjadi karena kehadiran orang percaya. Komunitas ialah lingkungan hidup tempat di mana seseorang berinteraksi dengan orang lain. Dalam berinteraksi akan ada saling mempengaruhi yang bersifat negatif ataupun positif. Kehadiran orang Kristen di komunitasnya seharusnya memberi nilai yang positif dan menjadi berkat, karena untuk itulah kita dipanggil dan dipilih. Orang Kristen dapat menjadi agen transformator di komunitas mereka. Tuhan menghendaki anak-anakNya menjadi orang yang berpengaruh di komunitas mereka karena mereka semakin serupa dengan Kristus dan bukannya menjadi serupa dengan dunia (2 Korintus 3:18; Roma 12:2). Urutannya harus benar, bukan lingkungan dulu yang berubah, melainkan diri kita dan perilaku kita, kemudian terjadi perubahan lingkungan kita. Mulai Mentranformasi Diri Sendiri Dulu Ada seorang raja muda yang sangat ambisius. Ia memiliki cita-cita sebelum ia berumur tujuh puluh tahun, yakni sebelum dia menyerahkan takhta kerajaannya kepada putranya, ia mencanangkan kerajaannya harus mengalami perubahan total ke arah yang lebih baik. Misalnya rakyat yang miskin menjadi makmur, tanahnya yang gersang menjadi subur, rakyatnya yang begitu liar menjadi rakyat yang penurut, dan sebagainya. Namun singkat cerita sampai raja yang sudah berumur empat puluh tahun belum ada terjadi perubahan yang signifikan. Sehingga ia berpikir mungkin untuk mengubah seluruh kerajaannya begitu susah. Akhirnya dia berkeinginan pada saat umurnya yang kelima puluh, dia bisa mengubah satu kota di mana dia tinggal. Namun sampai umur yang kelima puluh, keadaan kotanya tidak kunjung lebih baik dalam banyak aspek dan tidak terjadi perubahan yang berarti. Namun raja itu pun tidak mau menyerah dan kalah. Ia menargetkan kembali, jika kotanya susah diubah, pada usianya yang keenam puluh tahun, ia menargetkan sesisi keluarganya berubah menjadi lebih baik. Tetapi sekali lagi apa yang menjadi harapan dia tidak tercapai. Keluarganya susah diajak untuk berubah, dan akhirnya raja ini baru sadar, sebelum mengubah orang lain, seharusnya dirinya sendiri lebih dahulu yang harus berubah. Akhirnya ia kembali Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 51

51

6/20/16 9:26 PM


mencanangkan, pada usia yang ketujuh puluh tahun, hidupnya harus sendiri yang berubah, dan hal itu benar-benar terjadi, hidupnya jauh lebih baik. Namun sangat disayangkan satu hari setelah ulang tahunnya yang ketujuh puluh, raja itu meninggal dunia. Tentunya dia tidak bisa lagi berbuat sesuatu untuk rakyatnya. Dari kisah ini kita belajar, jangan pernah kita bermimpi menjadi transformator dalam sebuah komunitas jikalau diri kita sendiri belum mengalami transformasi itu sendiri. Berapa banyak di antara pejabat-pejabat di Indonesia yang dahulu berkoar-koar menantang korupsi, tetapi dalam kenyataannya mereka adalah orang-orang yang melakukan korupsi. Hal ini terjadi karena mereka belum mengalami transformasi karakter kejujuran dan integritas hidup. Oleh sebab itu, kebanyakan orang memikirkan bagaimana cara mengubah dunia, tetapi hanya sedikit orang yang berpikir bagaimana cara mengubah diri sendiri. Dalam Pengkhotbah 9:14–15, diceritakan ada seorang miskin yang sanggup menyelamatkan kotanya. Dia bukanlah orang kaya dan terkenal. Dia hanyalah orang yang memberanikan diri untuk mengubah situasi kota yang dalam keadaan bahaya. Dia seorang yang peduli dan cinta akan kotanya. Dia memiliki Tuhan dalam hidupnya. Di dalam kesederhanaanya dia menggunakan hikmat Tuhan untuk menyelamatkan kotanya. Orang seperti inilah yang disebut transformator. Menjadi transformator tidak harus memiliki kekayaan yang banyak dan kedudukan yang tinggi, tetapi membutuhkan sebuah keberanian yang dikuasai oleh hikmat Tuhan untuk melakukan sebuah perubahan dalam komunitas. Tuhan tidak pernah mempertanyakan kemampuan atau ketidakmampuan kita, Ia hanya menanyakan kesediaan hati kita, keberanian kita. Karena takut akan perubahan, takut mengambil resiko, takut dipermalukan, atau takut seseorang akan mengkritik sasaran anda, semua itu adalah musuh dari transformator sejati . Namun tidak dapat dipungkiri juga bahwa perwujudan transformasi dalam sebuah komunitas bisa juga dimulai dan diprakarsai oleh seorang atau sekelompok orang yang mempunyai karakteristik memimpin, mendobrak, dan mengubah. Jika komunitas Kristen ingin melakukan transformasi, maka kita perlu leaders dan orang-orang yang patut menjadi contoh dan menjadi pendorong terhadap terjadinya proses transformasi. Paling tidak ada beberapa indikator yang harus ditunjukkan oleh seorang leaders/transformator, yaitu kemampuannya untuk mentransformasi visi, nilai-nilai, ide, pengetahuan, dan keteladanan hidup. Jika hal-hal itu bisa diwujudkan, maka obsesi kita terhadap komunitas dimana kita berada akan mengalami transformasi dari waktu ke waktu. 52

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 52

6/20/16 9:26 PM


Transformator Sejati Gandhi adalah seorang transformator, ada harga yang harus dibayar untuk membuat orang menurut arahannya. Gandhi adalah sosok manusia yang berintegritas, rakyat India melihat bukti apa yang dia ucapkan dan apa yang dia lakukan. Gandhi adalah orang besar yang bisa saja menjadi kaya raya tetapi dia tidak mempergunakannya. Gaya hidupnya selaras atas ajarannya tentang Ahimsa dan Swadesi. Dia memakai pakaian dari kain dan benang yang dipintalnya sendiri dan itu menjadi simbol bagi orang banyak untuk membangkitkan rasa nasionalismenya. Perjuangan dengan cara demikian membawa rakyat India kepada kemerdekaan, dan transformasi itu terjadi. Hal ini menjadi otokritik bagi kita sebagai orang Kristen, apakah kehadiran kita dalam sebuah komunitas sudah memberikan dampak yang signifikan atau belum. Seorang transformator senantiasa menjadi sumber inspirasi bagi komunitasnya. Ia memiliki cara berpikir yang selalu diubahkan oleh Tuhan. Paulus menasihatkan jemaat di Filipi (Filipi 2:5)dan Roma (Roma 12:2) supaya memiliki cara berpikir yang seperti Yesus. Apabila kita ingin memulai sebuah transformasi yang besar mulailah mengubah cara berpikir kita. Musa sebagai transformator dalam sejarah kehidupan bangsa Isreal melewati proses paradigma berpikir yang tidak mudah. Empat puluh tahun pertama dibentuk di Istana Firaun dan kemudian empat puluh tahun berikutnya dibentuk di Padang Gurun. Dan barulah setelah itu Tuhan memanggil Musa memimpin Bangsa Israel keluar dari Mesir menuju Tanah Kanaan. Tempat-tempat dan momenmomen pembentukan Tuhan kepada Musa sangat mempengaruhi cara berpikir dia, sehingga dalam perjalanan bangsa Isarel menuju ke Tanah Kanaan selalu memberikan inspirasi dan spirit bagi umat-Nya. Komunitas di mana kita berada memerlukan transformator-transformator yang sudah lebih dulu ditransformasi oleh Kristus. Tetapi tidak hanya sampai pada dirinya saja, tetapi transformator yang sejati harus mempengaruhi dan menjadi signifikan bagi komunitas di mana dia berada. Jangan takut mengambil risiko, jikalau hal itu adalah kehendak Tuhan, Dia akan membela kita. Seseorang tidak akan pernah menemukan lautan-lautan baru jika ia tidak memiliki keberanian untuk meninggalkan daratan / Penulis meraih gelar M.Min. dari Sekolah Tinggi Teologi Amanat Agung (STTAA) Jakarta. Saat ini melayani sebagai Pembina Rohani Komisi Pemuda GKY Villa Tangerang Indah (VTI) Nafiri JUNI 2016 53

NAFIRI JUN 16 print.indd 53

6/20/16 9:26 PM


54

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 54

6/20/16 9:26 PM


/ Edna C. Pattisina /

e b u t saja nama ibu itu Junie. Ini memang bukan nama sebenarnya, karena saya tidak minta izin beliau untuk menceritakan kisahnya. Saya bertemu dengan Junie beberapa waktu lalu dalam misi bakti sosial yang diadakan gereja Katedral di Jakarta.

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 55

55

6/20/16 9:26 PM


Sebenarnya, pada awalnya, sosok Junie tidak menarik perhatian saya. Sosoknya relatif tinggi dan kurus. Ia suka memakai baju dan celana yang warnanya tidak mencolok mata. Ia juga tidak banyak bicara walaupun dengan ceria selalu ikut setiap rombongan berfoto bersama. Junie juga bukan pemeran utama, tidak seperti dokter-dokter yang selalu menjadi inti dari rombongan bakti sosial. Namun, justru lewat kesederhanaan Junie ini, saya justru bisa belajar banyak. Junie mau mengerjakan apa saja yang diperlukan dalam acara baksos ini. Sebenarnya tidak ada pembagian kerja yang jelas bagi para awam. Yang pasti hanya dokter yang merawat pasien, sementara yang lain berinisiatif mengerjakan yang belum dikerjakan. Ada yang mengatur antrian pasien, membagikan obat, sampai menyapu lantai, atau mengajak ngobrol pasien-pasien yang datang. Junie mengambil peran di belakang layar. Dengan tekun ia mempersiapkan kartu pendaftaran pasien dan memasukkan obat ke kantong plastik sesuai dengan resep yang ada. Ia malah dengan sengaja mandi pagi-pagi buta, dengan alasan biar rombongan tidak terlambat menyambut pasien garagara kelamaan antre mandi. Bersusah Payah Junie tidak banyak mengeluh, termasuk tentang tempat tidur rombongan yang berhimpit-himpitan seperti dendeng, dan makanan yang sering terlambat, dan nyamuk yang merajalela. Junie hanya mengerjakan bagian yang diberikan padanya. Terkadang geli juga melihat Junie yang sudah berusia hampir enam puluh tahun ini bersusah payah berkomunikasi dengan penduduk lokal.

56

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 56

6/20/16 9:26 PM


“Ibu, matanya minus berapa?” kata Junie. “Tidak pernah ke dokter Ibu,” kata pasien. “Lho, selama ini tidak pernah pakai kacamata?” “Tidak.” “Untuk apa mau pakai kacamata?” “Biar bisa baca Alkitab, Ibu,” jawab pasien. “Wah bagus sekali ya,” kata Junie antusias. Ia memilihmilihkan kacamata dari ukuran minus yang berbeda-beda dan mencobakannya ke pasien yang juga seorang ibu-ibu paruh baya. Satu per satu dicoba, sambil Junie menyodorkan contoh bacaan. Namun si ibu NTT tetap menggeleng dengan gelisah. “Tidak jelas,” katanya. Junie menyodorkan kacamata lain. “Tidak jelas juga,” katanya. Sampai kacamata ketujuh, Junie lalu bertanya, kapan terakhir ibu NTT bisa jelas membaca karena mungkin ia terkena katarak atau penyakit mata lainnya. “Belum pernah. Tapi saya ingin baca Alkitab.” Seketika Junie terkesiap. “Lho, jadi Ibu tidak bisa membaca?” “Ya tidak bisa. Tapi teman saya bilang, kalau pakai kacamata jadi bisa baca Alkitab,” kata ibu NTT yakin. Junie pun tersenyum. Ia sendiri tidak terlalu bisa membaca aksara Latin. Selama ini ia berjualan bacang untuk menopang hidupnya yang sendiri, tanpa suami. Maka dengan susah payah, pelan-pelan ia menjelaskan pada ibu NTT itu soal urusan membaca. Ibu NTT pun akhirnya pulang tanpa membawa kacamata, tapi dengan sekantong obat untuk sakit darah tingginya. Sekilas saya melihat mereka saling mengucapkan selamat tinggal walaupun dengan bahasa yang tidak terlalu nyambung.

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 57

57

6/20/16 9:26 PM


Lucu-Lucu Baru belakangan saya mengenal Junie karena tidak sengaja sempat bercakap-cakap berdua dengannya. Menjelang kepulangan kami setelah tiga hari baksos, ia berjalan-jalan di sekitar kompleks rumah pastor dan bertemu saya yang sedang mencari titik untuk memotret. Tak saya sangka, ibu yang pendiam ini memulai percakapan. “Senang enggak ikut baksos?” “Senang Bu. Ini pertama kali saya ikut baksos,” jawab saya. “Wah sama, saya juga. Banyak yang lucu-lucu yah,” katanya. “Iya. Apalagi sebelumnya saya enggak kenal dengan satu pun anggota rombongan.” “Iya yah. Kalau saya sudah lama kenal. Kok bisa kamu ikut sih?” tanyanya. Saya pun menceritakan bagaimana saya diajak teman saya untuk ikut. Belakangan, teman saya batal karena ayahnya sakit. Namun, karena saya sudah minta izin cuti dari kantor dan ingin jalan-jalan ke NTT, akhirnya saya ikut saja. Dengan basa-basi pun saya bertanya balik. “Kalau Ibu, kenapa bisa ikut?” “Oh, saya sudah lima tahun menabung dan berdoa untuk bisa ikut baksos,” jawabnya. Jawaban itu membuat saya terperangah. Ada orang yang tekun menunggu lima tahun untuk ikut baksos selama tiga hari. Menit-menit selanjutnya Junie bercerita dengan penuh semangat. Tidak seperti gayanya yang biasanya kalem, saat itu ia terdengar tegas tapi juga bersemangat. Ia bercerita, bahwa sudah lima tahun ia rindu untuk ikut serta dalam baksos ke NTT. Ia ingin bisa menolong umat Katolik di NTT yang miskin dan kurang fasilitas kesehatan. Ia tidak muluk-muluk bercerita tentang pentingnya penginjilan, atau Amanat Agung, atau pelayanan. Ia hanya ingin datang ke NTT dan membantu umat yang ada di NTT. 58

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 58

6/20/16 9:26 PM


Setiap tahun kelompok dari Katedral berangkat, ia hanya bisa mendukung dalam doa. Padahal, hatinya tergerak ingin berangkat. Apa daya, uang tabungan dari hasil berjualan bacang tidak kunjung cukup untuk perjalanan ke NTT yang kurang lebih menghabiskan biaya antara dua sampai dengan tiga juta rupiah. Sebab lain, ia juga kerap sakit-sakitan. Ia khawatir kalau tibatiba sakit di NTT. Pasalnya, pasien bisa saja datang sejak pukul tujuh pagi, dan konon juga pernah sampai jam sebelas malam. Belum lagi kalau ada insiden-insiden, seperti hujan deras atau listrik mati. Maklum, ‘rumah sakit’ yang dipakai adalah ruangan bekas asrama di sebelah rumah pastor. Ia bercerita, tahun ini uangnya juga sebenarnya tidak cukup. Tabungannya hanya mencapai setengah dari total biaya perjalanan. “Tapi tiba-tiba ada beasiswa,” katanya dengan senyum. Ia bercerita bahwa entah dari mana tiba-tiba ada yang mendanai dia untuk berangkat. Tahu-tahu ketua panitia mengatakan kalau memang ia mau ikut, ia tidak usah membayar penuh, karena sudah ada yang menutupi biaya perjalanan. Ia tidak tahu siapa orang itu. Namun, doanya akhirnya terkabul untuk ia bisa melayani orang-orang NTT dengan tangannya sendiri, bertemu dan bercakap-cakap dengan mereka secara langsung, bahkan berdoa bersama. “Berkat Tuhan luar biasa,” katanya. Menjalankan Kewajiban Masalah memang masih ada, seperti urusan kesehatan, dan terutama jualan bacangnya yang harus ia tinggal. Ia lalu berdoa lagi. Tuhan pun memberikan padanya tubuh yang sehat, bahkan kuat untuk bisa ikut membantu di baksos. Sementara soal bacang, Junie memutuskan untuk meliburkan diri.

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 59

59

6/20/16 9:26 PM


Cerita Junie membuat saya tercenung beberapa saat. Kita sering secara tidak sadar menyamakan kerja pelayanan seperti sumbangan atau derma. Memberikan sesuatu ke gereja dari kelebihan yang ada. Entah itu kelebihan waktu, uang, atau tenaga. Atau juga bisa dilihat sebagai usaha mengabarkan Amanat Agung, sesuai tugas sebagai orang Kristen. Rasanya lega kalau sudah melaksanakan tugas-Nya. Intinya,ikut pelayanan adalah saat kita memberi atau menjalankan kewajiban sebagai orang Kristen. Hal ini tentu tidak salah. Namun, Junie memberikan persepsi lain. Bisa melayani adalah anugerah. Tuhan yang memberi kesempatan, kemampuan, tenaga, waktu; dan terutama Ia mau memakai kita yang penuh kekurangan ini untuk pekerjaan-Nya. Berkat-Nya masih ditambah dengan bertemu teman-teman baru seperti Junie yang tidak saja memberikan persekutuan teman seiman, dan persepsi baru, bahkan pertemuan dengan Tuhan lewat percakapan-percakapan sederhana. Itu belum cukup. Tuhan memberikan sukacita yang hanya bisa ditemukan dalam ruang-ruang hubungan pribadi kita denganNya. Apalagi kalau sampai ada satu jiwa yang tidak seiman yang kemudian pertama kali menyebut nama Yesus. Tidak hanya malaikat yang bersorak-sorai, tapi juga hati kita ikut dipenuhi sukacita. Berkat yang tak akan terlupakan selamanya

60

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 60

6/20/16 9:26 PM


Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 61

61

6/20/16 9:26 PM


Tentang spiritualitas Kristen, ritual agama, menikmati Tuhan tanpa metode, dan keindahan relasi dengan Tuhan. 62

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 62

6/20/16 9:26 PM


/ Lily Ekawati /

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 63

63

6/20/16 9:26 PM


im Nafiri berhasil menemui Pdt. Hendra G Mulia di sela-sela kesibukannya sebagai dosen SMC (SAAT Ministry Center) pada tanggal 4 Mei 2016 lalu. Berkantor di Gedung Agung Podomoro Land (APL) Jakarta Barat, begitu masuk ke ruang kantor beliau, kami melihat lemari yang penuh dengan buku-buku. Menitikberatkan tentang tema spiritual dalam kekristenan, Pdt. Hendra menjelaskan dengan sederhana namun mendalam, diiringi dengan beberapa senandung beliau, tanpa terasa waktu sudah berjalan satu jam lebih. Berikut petikan wawancaranya:

Nafiri (NF): Bapak banyak mendalami tema-tema tentang spiritual Kristen. Apakah ada alasan khusus untuk hal itu? Hendra G Mulia (HM): Alasannya ya ... pada waktu saya di gereja, saya banyak melihat orang Kristen yang sudah berpuluh tahun mengaku menjadi Kristen, tapi tidak menunjukkan perubahan apa-apa ... apakah dia menjadi lebih rohani, lebih rajin, lebih giat melayani, lebih cinta Tuhan? Ternyata tidak. Jadi hal itu membuat saya bertanya-tanya, kenapa bisa begitu ya .... Dan jika jemaat sudah beribadah selama 25 tahun, dikhotbahin 25 tahun dan tidak berubah, yang salah siapa, jemaatnya atau hamba Tuhannya? Menurut saya, itu salah hamba Tuhannya. 64

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 64

6/20/16 9:26 PM


NF: Apakah Bapak melakukan riset mengenai hal itu? Secara spesifik riset kepada seorang Kristen tertentu? HM: Tidak ada riset khusus, tapi bisa lihat secara langsung. Saya tanya ke satu orang, berapa lama kamu kenal Tuhan? Dan apa perubahan yang kamu alami dengan mengenal Tuhan dan jadi orang Kristen? Sederhananya, saya kenal seorang Kristen sepuluh tahun lalu, saya lihat dia sekarang ... apakah ada perbedaannya? Perubahan apa yang bisa ia katakan? Apakah ia makin cinta Tuhan? “In what way kamu makin cinta Tuhan?” Sama seperti kalau saya bertanya pada diri sendiri ... apa perubahan yang saya kerjakan ketika saya sudah kenal Tuhan sekian lama? Saya rasa mungkin saja tidak ada perubahan yang signifikan. Jadi itu sudah pasti ada sesuatu yang salah. Di manakah letak kesalahannya? Mestinya salah di pembinaan kerohaniannya. Kalau salah, harusnya bagaimana? Pembinaan kerohanian seperti apa yang benar? Saya banyak membaca buku ini itu, meskipun kurang lengkap di sini ya .... Karena pertanyaan-pertanyaan seperti itulah saya jadi ingin belajar kenapa, apa alasannya; sampai akhirnya di tahun 2010 saya punya kesempatan belajar di Amerika ... saya belajar khusus spirituality. Pelajaran biasa-biasa; tapi saya banyak sekali baca buku–perpustakaan di sana luar biasa bagus–saya bisa mendapat banyak sekali bahan, dan Tuhan juga memberikan saya pengalaman yang membuat pemahaman saya utuh tentang apakah spirituality itu.

Tahun 2006, Pdt. Hendra berdoa minta pada Tuhan secara khusus untuk hidup menikmati dan berjalan bersama Tuhan. Empat tahun kemudian saat beliau belajar di Amerika, Tuhan memberikan pengalaman luar biasa. Pada studi di Amerika tahun 2010 itu, beliau tidak mengambil gelar, karena hanya ingin mendalami subjek tertentu yaitu spirituality. “Saya mau belajar yang saya mau saja, kalau saya ambil gelar, musti belajar semua subjek yang diperlukan, termasuk subjek yang saya enggak mau belajar,“ jelasnya. Dalam proses mendalami spirituality, Pdt. Hendra akhirnya menemukan pemahaman utuh dalam dua tahun, melalui banyak sekali buku yang ia baca dan juga pengalaman perjumpaan dengan Tuhan. Kerinduannya untuk dapat membagikan kebenaran tentang spiritualitas Kristen, membuatnya bertekad kembali ke Indonesia, Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 65

65

6/20/16 9:26 PM


meskipun sebenarnya ia sudah melayani di Amerika. Ia rindu untuk membagikan tema spirituality ini kepada gereja-gereja di Indonesia, karena menurutnya ini adalah hal yang sangat penting namun kurang mendapat perhatian di dalam gereja.

NF: Jadi menurut Bapak korelasi antara pemahaman tentang spiritual dengan perubahan manusianya dilihat dari mana ya? HM: Hmmm ... tentu hal ini tidak dapat secara pasti diukur secara kuantitatif, seperti ada buku Spiritual check up, tidak mudah untuk mengukur secara kuantitatif spiritual seseorang, pasti ukurannya adalah kualitatif. Tapi saya rasa, untuk seseorang yang pernah encountering (mengalami perjumpaan) dengan Tuhan, pasti ia mempunyai kedekatan dengan Tuhan, ia akan punya kepekaan terhadap suara Tuhan. Jika ia punya itu, maka ia akan punya kerinduan untuk

“... Seseorang yang pernah encountering dengan Tuhan, pasti punya kedekatan... kepekaan... kerinduan untuk mencari dan mengalami Tuhan terus menerus dalam kehidupannya. “

66

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 66

6/20/16 9:26 PM


mencari lagi dan lagi, dan mengalami Tuhan terus menerus dalam kehidupannya. Tidak bisa dengan hanya melihat apakah sekarang ia menjadi lebih sabar, lebih baik sebagaimana; tapi saya yakin dia bisa lebih memperhatikan Tuhan, memprioritaskan hal rohaninya, lebih senang berdoa, dan baca Alkitab; gejalagejala seperti itulah merupakan kemajuan spiritualnya. NF: Dalam konteks Kristen, apakah ada hubungan antara kehidupan spiritual dengan proses kelahiran baru? HM: Lahir baru adalah salah satu perjumpaan kita dengan Tuhan, kita mau terima Tuhan dan disadarkan akan dosa-dosa kita, bertobat, apa pun bentuk pertobatan kita. Itu sebabnya saya suka tanyakan pada jemaat: Yang mana punya kerohanian lebih baik, orang yang ketemu Tuhan sepuluh tahun atau yang baru sebulan? Pasti yang sebulan. Kenapa? Karena yang berjumpa sudah sepuluh tahun sudah tidak berapi-api lagi. Sedangkan yang baru sebulan masih benar-benar hangat, masih senang sekali. Tapi setelah kita diinjili, kita bertobat, dianjurkan baca Alkitab, tapi pakai program ... program baca Alkitab setahun, sedangkan Alkitab itu adalah surat cinta Tuhan untuk kita nikmati, bukan sesuatu yang bisa diprogram dan ditarget. Membaca Alkitab harusnya menjadi sesuatu yang kita kunyah dengan pelan-pelan dan nikmati. Seperti makanan kita kunyah, pelan-pelan, menikmati rasa dari apa yang kita makan. Saat Petrus dan murid-murid mendapat curahan Roh Kudus dan kemudian dengan berapi-api menginjili, juga tidak pakai program. Kerinduan itu harusnya adalah sesuatu yang “burst out from inside out� (meledak dari dalam keluar). Doa, baca Alkitab, misi, pekabaran Injil harusnya menjadi sesuatu yang tidak diprogram; dari dalam meledak keluar, bukan sebaliknya. NF: Tapi untuk menuju jemaat yang bertumbuh tanpa disuruh-suruh mau baca Alkitab, berdoa, menginjili; bagaimana metodenya? HM: Nah, mendekat pada Tuhan tidak pernah ada metode. Hanya kalau bicara masalah prosedur, pada saat seseorang bertemu Tuhan, kenapa hanya satu kali pertama yang berapi-api? Dan mungkin setelahnya tidak berasa lagi? Saya ingat, lagu “In The Garden� misalnya, itu adalah lagu himne lama yang benar-benar punya arti dalam. Dalam lagu ini, penulis benar-benar menikmati kehidupannya bersama Tuhannya, tiap hari berjalan bersama. Jadi bagaimana? Harusnya kita Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 67

67

6/20/16 9:26 PM


harus ketemu Tuhan tiap hari, kembali pada cinta yang semula, baca Alkitab, berdoa, saat teduh. Bukan dilakukan karena program. (Lalu Pdt. Hendra menyanyi perlahan lagu “In the Garden�)

I come to the garden alone, While the dew is still on the roses, And the voice I hear, falling on my ear, The Son of God discloses. And He walks with me and He talks with me, And He tells me I am His own, And the joy we share as we tarry there, None other has ever known.

NF: Apa alat ukur dan apakah ada metode untuk mengukur level kehidupan spiritual seseorang? HM: Buat saya yang dimaksud dengan spiritualitas Kristen, orang yang rohani seperti apa? Menurut saya sederhana saja: Adalah seberapa banyak kamu jalan hari ini bersama Tuhan? Berapa banyak kamu menghabiskan waktu untuk Tuhan. Kita sering ga nyadar ketika sibuk, sudah lupa sama Tuhan. Seberapa banyak kamu sadar bahwa kamu sedang berjalan dengan Tuhan, seberapa besar itulah kerohanian kamu. NF: Kita sering mendengar dari atas mimbar kadang-kadang hamba Tuhan menyebut tentang latihan spiritual .... Apa yang dimaksud dengan latihan spiritual ya Pak? Apakah terminologi latihan benar-benar ada? HM: Harus ingat, God is a person. Tuhan adalah personal. Kita sebagai pribadi ingin bertemu dengan Tuhan yang adalah pribadi, ini perbedaan paling utama kekristenan dengan agama lain. Tidak bisa dimetodekan. Perjumpaan dengan Tuhan selalu bersifat anugerah. Jika kamu mencari Tuhan dan sungguh-sungguh mencari Tuhan, maka Ia akan muncul seperti fajar (Hosea 6:3). Antara inisiatif Tuhan dengan usaha kita ada titik temunya. Saya berdoa dari tahun 2006, tapi Tuhan memberikan pengalaman yang utuh di tahun 2010, 68

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 68

6/20/16 9:26 PM


empat tahun saya mencari momen berjalan bersama Tuhan setiap hari. Jadi bahkan keinginan kita untuk mendekat pada Tuhan, sebetulnya pasti dari Tuhan juga, semuanya adalah anugerah Tuhan. Wahyu 3:20, “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok, jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk dan mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” menuntut tindakan kita yaitu membukakan pintu. Tuhan janji akan masuk dan makan, menunjukkan keintiman kita dan Tuhan. Makanya, kalau kita sudah dekat sama Tuhan, kita juga tidak akan pernah sombong, yang ada kita ingin menangis karena kita tidak layak, begitu hina, Tuhan mau menemui kita. Pada waktu kita benar-benar ketemu Tuhan, langsung kita lihat betapa berdosanya kita, seperti Petrus yang tersungkur di depan Yesus, dan meminta Tuhan pergi daripadanya karena merasa tidak layak (Lukas 5:8). NF: Apakah ada hubungan juga antara kehidupan rohani seberapa banyak kita berjalan bersama Tuhan dengan iman? HM: Iman menurut saya juga anugerah dan pemberian Tuhan, iman tanpa perbuatan adalah mati. Iman itu bukan hanya sekedar percaya kosong, pada waktu kita mengimani bahwa Tuhan berjalan bersama kita, meskipun kita tidak lihat Dia secara langsung tapi kita akan punya sense terhadap hal tersebut. Iman membuat sesuatu yang kita imani menjadi kenyataan. That is faith. Saya suka sekali lagu “It Is Well With My Soul”. Di bait keempatnya ada satu kalimat: ... haste the day when the faith shall be sight .... Pada ujungnya iman sendiri akan hilang karena digantikan dengan kenyataan.

Menikmati perjalanan hidup seutuhnya bersama Tuhan semakin beliau rasakan lebih-lebih pada enam tahun terakhir ini sampai sekarang. “Saat itu saya berumur 58, jadi ... andaikan Tuhan memberikan saya kesempatan hidup sampai berumur 70 tahun, saya hanya punya kesempatan menikmati hidup yang indah bersama Tuhan dua belas tahun lagi. Saya menyesal sebenarnya, mengapa tidak sejak dulu, mengapa tidak sejak muda ... seandainya saya bisa lebih awal menikmati,” kata Pdt. Hendra. Sukacita yang ia alami ketika berjalan bersama Tuhan, tidak akan bisa diceritakan. “Lagu ‘In The Garden’ itu dari tahun 1950an dan sering sekali saya mendengar, tapi baru ketika saya mengalami sendiri Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 69

69

6/20/16 9:26 PM


baru saya mengerti arti pada kalimat ’the joy we share as we tarry there’,” tutur beliau. Kekristenan itu sangat indah, hanya sering kita menjalaninya dengan miskin. Menikmati sukacita berjalan bersama Tuhan, saya tidak bisa menjelaskan betapa indahnya. NF: Pengalaman spiritual yang seperti Bapak alami begitu personal, artinya tidak bisa diajarkan ya? HM: Kami berusaha mengajarkan silent prayer, tidak meminta apa-apa, hanya merasakan Tuhan. Dan kita juga tidak menjamin apakah silent prayer satu tahun penuh bisa mengalami Tuhan secara pribadi. Kita di SAAT membuat beberapa program, salah satunya yang namanya SPRING (Spiritual Renewal In God)– berusaha mendekatkan manusia pada Tuhan. Tergantung kita juga, apakah kita mau terbuka di hadapan Tuhan. Kalau kita tidak mau membuka diri pada Tuhan, Tuhan tidak akan paksa dengan ‘menggedor’ kita. Umumnya Tuhan ga akan menggedor kalau kita tidak membukakan, tapi ada perkecualian, contohnya Paulus. Ia mau membunuh orang Kristen, lalu Tuhan menampakkan diri padanya, dan akhirnya jadi rasul. Saya tidak mau mengatakan hal ini sebagai sebuah metode. Jika ada satu hal yang dapat membuat kamu lebih bisa dekat pada Tuhan, silakan dipakai. Kami di sini kemarin baru selesai mengadakan SPRING dengan GKY Puri, GKY Kelapa Gading, GKY Green Ville, Camp Pemuda Gereja Elyon Surabaya. Kami yang bikin program seluruhnya. NF: Seperti tadi Bapak bilang, menikmati berjalan bersama Tuhan, apakah Bapak tidak khawatir lagi tentang apa pun juga karena yakin Tuhan selalu menggandeng kita? HM: Bukan, persoalan tetap ada, namun cara menghadapinya yang berbeda. Karena kita berjalan sama Tuhan, kalau dulu kita menghadapi sendiri meskipun habis itu berdoa kepada Tuhan. Kekhawatiran masih ada, dan kadang juga menyedihkan Tuhan. Ada seorang rekan saya awam bukan pendeta, tapi dia bikin saya kagum. Dia bisa menghadapi kesulitan dan fitnah yang menyakitkan dan hampir terpancing untuk marah, tapi demi pekerjaan Tuhan dia menekan semua emosi itu, dan menghadapi dengan tenang. Jadi kita belajar menyerahkan hidup kita sepenuhnya sama Tuhan, bahwa kita tidak sendiri, Ia memegang terus tangan kita, dan Tuhan bekerja. 70

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 70

6/20/16 9:26 PM


NF: Kalau di agama lain, contoh Buddha dan Islam, kental sekali dengan ritual-ritual, apakah ada hubungan antara ritual dengan usaha untuk meng-upgrade kerohanian? HM: Saya menyoroti satu hal, yaitu meditasi. Sebab di Buddha dan Hindu ada meditasi. Kita harus sangat hati-hati dalam hal ini. Musa melempar tongkat di hadapan Firaun menjadi ular, ahli sihir juga bisa melakukan yang sama. Iblis selalu akan membuat hal yang sama, imitasinya. Meskipun ular Musa menelan ular-ular para ahli sihir, mereka bisa melakukan hal yang sama. Buddha, Hindhu, New Age, kebatinan, dasarnya sama ... panteisme: All is god, god is all. Ujung-ujungnya roh kosmos atau energi. Satu-satunya perbedaan, kita bertemu Personal God yang tidak ada di mereka, mereka bertemu roh yang tidak jelas. Katolik sekarang juga ada Anthony de Mello yang menggabungkan meditasi Hindu dengan cara Katolik. Semua seolah-olah memberikan pengalaman yang sama, seperti ketika kita berdoa ada rasa damai, mereka juga mendapat rasa damai ketika bermeditasi, tetapi apakah itu damai yang sejati? NF: Kami dengar Bapak baru-baru ini ke Jerman untuk memimpin retret di sana. Apa kegiatan yang dilakukan di sana? Apa tujuan yang ingin dicapai? Bisa Bapak ceritakan pengalaman perjalanan spiritual tersebut? HM: Ya, kemarin bersama Ibu Charlotte dan Ibu Ria mengadakan ceramah di sana. Terus hari selanjutnya saya dan Ibu Rahmiati membuat SPRING di sana. Yang ikut orang-orang Indonesia dan juga orang Indonesia yang menikah dengan orang Jerman. Dari beberapa kota di Jerman mereka datang kumpul sekitar dua ratus orang. Tempat retret sekitar tiga jam dari Berlin. Mereka sangat enjoy karena dikira hanya acara ceramah, tapi ternyata bisa belajar sangat banyak dengan mengikuti SPRING itu. NF: Kalau di tokoh Alkitab siapa yang Bapak lihat benar-benar mempunyai spiritual yang tinggi dan benar-benar berjalan dengan Tuhan? HM: Henokh. Eksplisit ditulis di dalam Alkitab, ia bergaul dengan Allah dan diangkat oleh Tuhan. Hanya ada dua yang mengalami itu yaitu Henokh dan Elia; meskipun tokoh-tokoh lain seperti Daud, Musa juga kita tahu mereka berjalan bersama Tuhan. Daud punya hubungan yang sangat intim dengan Tuhan, Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 71

71

6/20/16 9:26 PM


meskipun dosanya besar, tapi ia benar-benar menyesal dan minta ampun sama Tuhan. Dibandingkan dengan Saul yang dosanya ‘tidak seberapa’–hanya tidak mau menunggu nabi Samuel–tapi ia tidak menyesal dan tidak bertobat. NF: Bapak bilang, untuk membaca Alkitab seharusnya tidak pakai program, bagaimana kira-kira caranya supaya bisa melakukan dengan menjiwai tidak seperti ditarget? HM: Saya rasa harus dari dalam dulu ya. Kalau hanya baca kita akan cenderung belajar saja untuk mendapat pengetahuan. Tapi kalau dalam diri kita ada kerinduan untuk mendekatkan diri pada cinta Tuhan. Apa sih sebenarnya yang Tuhan ingin katakan pada kita? Sederhana, seperti lagu “Satu Hari di Pelataran Tuhan”. Tidak perlu macam-macam mikirnya, benarkah kita datang ke gereja satu hari lebih senang daripada seribu hari di tempat lain? Karena banyak dari kita yang dengar khotbah lama sedikit saja di gereja sudah galau dan ingin cepat pulang. NF: Dalam konteks dengan anak-anak, apakah harus dilatih juga untuk secara teratur baca Alkitab supaya suatu hari bisa mencapai spiritualitas Kristen yang bertumbuh? HM: Yang harus dibangkitkan adalah kecintaan pada Tuhan, jangan baca Alkitab menjadi suatu obliglation, khawatirnya suatu hari malah akan menimbulkan kebencian terhadap Alkitab. Kesaksian yang orangtua hadirkan dan ceritakan tentang pengalaman rohani orangtua dalam silent prayer juga bisa menjadi dorongan buat anak-anak sendiri. Sama dengan doa, tidak usah paksa anak-anak doa tiap hari, ceritakan apa yang kita rasakan ketika kita berdoa pada Tuhan; betapa damainya, betapa senangnya bisa bicara pada Tuhan, indahnya bersama Tuhan; berikan dalam bentuk pengalaman-pengalaman, jangan kewajiban. NF: Apa yang ingin Bapak capai dalam lima sampai dengan sepuluh tahun mendatang jika Tuhan mengizinkan? HM: Saya mau tetap berbagi dengan gereja-gereja tentang spiritualitas, tapi saya tidak punya rencana khusus, saya mau menyerahkan pada Tuhan. Banyak yang tidak saya rencanakan, tiba-tiba Tuhan bukakan untuk melayani camp pemuda gereja ini, gereja itu, juga seperti perjalanan kemarin ke Jerman, ternyata SPRING yang kita bawa bisa menjadi berkat di sana. Di mana Tuhan kasih saya beban, saya siap menjalankan 72

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 72

6/20/16 9:26 PM


“Yang harus dibangkitkan adalah kecintaan pada Tuhan, ... ceritakan apa yang kita rasakan ketika kita berdoa pada Tuhan; betapa damainya, betapa senangnya bisa bicara pada Tuhan, indahnya bersama Tuhan; berikan dalam bentuk pengalaman-pengalaman, jangan kewajiban.�

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 73

73

6/20/16 9:26 PM


Konflik

Dalam Membangun

Nilai-Nilai Kristen Dalam Suatu Komunitas

74

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 74

6/20/16 9:26 PM


/ Erwin Tenggono /

B

u d a y a menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari, baik itu berupa nilai yang kita percaya, norma-norma hingga atribut yang ada. Tanpa kita sadari, budaya itu telah menjadi satu pegangan kita dalam menjalankan kehidupan komunitas dan seakan menjadi satu tembok pemisah antara diri kita dan pihak di luar kita. Bagi kita yang ingin memasuki satu komunitas, tentunya kita berusaha memahami budaya yang ada. Bahkan dalam kitab Kisah Para Rasul 17, saat kunjungan Rasul Paulus di Atena, menjelaskan bagaimana Rasul Paulus berusaha memahami budaya yang ada dan apa yang menyebabkan budaya itu timbul.

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 75

75

6/20/16 9:26 PM


Pada kehidupan berkomunitas, kita cenderung akan nyaman apabila kita mempunyai satu nilai yang sama. Tanpa kita sadari, kita akan mengadopsi nilai tersebut agar kita bisa diterima dalam komunitas itu. Lalu bagaimana dengan panggilan kita sebagai manusia baru, orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya? (Kolose 3:12). Bagaimana kita berinteraksi dengan mereka, khususnya dalam komunitas yang sangat berbeda dengan nilai dan tata cara yang kita anut? Di satu sisi kita harus memahami mereka, pada sisi lain kita harus membangun jembatan antara nilai yang kita anut dengan nilai yang mereka anut. Bagaimana kita harus bersikap? Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam namaKu, diberikan-Nya kepadamu. (Yohanes 15:16) Kita dipilih Tuhan, dan kita telah ditetapkan untuk menghasilkan buah. Bukankah ini suatu panggilan kepada kita semua? Bukankah panggilan ini menjadi dasar dalam kita berinteraksi dengan budaya dalam suatu kehidupan komunitas kita? Kita bisa belajar dari Rasul Paulus dalam bersikap dan menyatakan iman Kristennya (lihat Kisah Para Rasul 17:22–34). Apakah semua ini mudah? Hal ini pula yang menjadi satu diskusi singkat saya dengan seorang rekan. Banyak orang berpendapat, kita yang duduk di jabatan eksekutif ataupun pengusaha yang mempunyai banyak tim akan mudah merubah atau membentuk satu budaya dengan nilai-nilai Kristen yang baik dalam komunitas kita. Bagi saya tidak mudah sama sekali. Kadangkala yang terjadi justru sebaliknya, kita cenderung melebur dengan nilai-nilai dalam komunitas itu. Karena ada manfaat ekonomis, hubungan baik ataupun rasa diterima hingga demi sebuah reputasi dan image dari diri kita atau perusahaan.

76

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 76

6/20/16 9:26 PM


Kita dipilih-Nya untuk menghasilkan buah. Biarlah kita senantiasa mengandalkan kasih karunia-Nya dan terus mencari-Nya agar kita dimampukan dalam membentuk ataupun merubah nilai nilai dalam komunitas itu, sehingga karya kita dapat menjadi satu hal yang memuliakan Allah dalam hidup kita. Seperti yang tertulis:

Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. Ibrani 12:1–2

Marilah kita terus mencoba untuk menghasilkan buah-buah yang terbaik dalam komunitas, dengan bersandar pada -Nya melalui karya Roh Kudus dalam hidup kita, Tuhan memberkati. Selamat merayakan hari Pentakosta

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 77

77

6/20/16 9:26 PM


a a t saya disodori tema “Transformer dalam Komunitas� maka langsung teringat akan sosok Alm. Ibu Wir (Wirjati) yang sering tampil sebagai pemain dalam drama di gereja tempo dulu: sosok yang hangat, murah senyum, dan penuh ketegaran dalam hidupnya. Sosok ini tidak pernah hilang dari lembaran hidup saya.

78

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 78

6/20/16 9:26 PM


/ Gandadinata Thamrin /

Ibu Wiryati dan Andre pada tahun 2002 setelah lima belas tahun dialisis.

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 79

79

6/20/16 9:26 PM


Seperti yang dituturkan oleh Ibu Lisa (salah seorang anak almahumah) bahwa beliau memiliki anak laki-laki yang divonis menderita gagal ginjal sejak berumur dua puluh tahun bernama Warta (panggilannya Andre). Vonis yang dijatuhkan pada tanggal 17 Agustus 1987 itu membuat keluarga begitu terkejut dan tidak mengerti penyebabnya. Mereka bertanya-tanya apakah gagal ginjal itu disebabkan kecelakaan motor sehingga fungsi ginjalnya menjadi rusak? Tetapi keluarga ini menjalaninya dengan penuh ketabahan dan kesetiaan. Alm. Andre harus menjalani dua puluh tahun dialisis tiga kali seminggu hingga akhir hayatnya (umur empat puluh tahun). Di saat pergumulan soal kondisi Andre, pada tahun 2005 Ibu Wir divonis menderita kanker payudara dan harus menjalani kemoterapi sambil menemani Andre menjalani dialisis. Ini perjalanan hidup yang berat bagi seseorang yang sakit tapi harus mengurus anaknya yang sakit juga. Pergumulan seorang Ibu Wir pun belum berkesudahan. Saat bergumul dengan sakitnya beliau harus kehilangan dua anak lakilakinya sekaligus pada tahun yang sama yaitu tanggal 10 Juli 2007, yaitu ketika anak pertamanya, Michael Sugihantoro–kakak Andre– meninggal karena serangan jantung setibanya dari pelayanan di Menado, dan di tahun yang sama tiga bulan kemudian, pada tanggal 14 Oktober 2007 Andre menyusul kakaknya kembali ke pangkuan Bapa. Akhirnya sosok ibu yang tegar ini menyusul mereka tiga tahun kemudian pada tanggal 28 Juli 2010 ke rumah Bapa.

80

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 80

6/20/16 9:26 PM


Pertemuan yang Mengubah Sikap Hati Bersyukur saya dan istri dapat berkenalan dengan sosok Ibu Wir yang luar biasa ini dan sosok ini pun yang menguatkan istri saya, Lenny, saat pertama kali dialisis 30 Desember 2007. Yang menarik adalah pertemuan dengan beliau dan Andre di kursi rodanya pada Januari 2008 itu memberikan inspirasi, kekuatan dan konsep pikir yang baru bagi saya dan Lenny. Banyak kalimatnya memberikan kami semangat hidup yang luar biasa dan melalui beliau Tuhan bekerja sebagai transformer (perubah) dalam hidup kami berdua. Tentunya selain mereka, teman-teman yang lainnya khususnya teman gereja (teman-teman sepelayanan) yang membantu menopang kami. Dua Kalimat Ajaib yang Menguatkan Ada dua kalimat ajaib yang keluar dari sosok ini, kalimat yang menguatkan kami berdua. Yang pertama, pertemuan dengan Ibu Wir bukan suatu pertemuan dialog yang panjang, saya masih ingat bagaimana sambutannya yang hangat dan senyumnya saat kami datang ke rumahnya dan kebetulan beliau baru pulang dari kemoterapi. Dari wajahnya terlihat rasa lelah tetapi masih semangat menyambut kami. Setelah dipersilakan duduk maka beliau bertanya apa kabar? Kami pun terdiam sejenak, lalu saya mengatakan Lenny sudah dialisis. Ibu Wir pun terdiam tapi kembali bertanya, “Sudah berapa lama?� dan kami berdua menjawabnya hampir dua minggu. Kemudian situasi tegang selama beberapa detik, kami semua terdiam sesaat sampai akhirnya Ibu Wir berdiri dan duduk di samping Lenny dan mengatakan, “Ganda ... Lenny, ini adalah awal perjalanan panjang yang akan kalian tempuh walau tidak terlihat ujungnya tetapi percayalah dan yakin bahwa Tuhan yang memimpin perjalanan ini.� Lalu kami pun terdiam, hening dan istri saya menangis. Saya pun menangis seperti anak kecil. Walaupun kami berdua sering menangis berdua tetapi tangisan tersebut merupakan tangisan yang keluar dari ekspresi hati kami yang terdalam. Kami begitu lama terisak-isak.

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 81

81

6/20/16 9:26 PM


Kemudian saat kami menangis seperti anak kecil, tiba-tiba dari dalam keluar Andre dengan kursi rodanya. Entah apa yang menjadi perasaan kami saat itu, yang jelas ini menambah keras suara tangis kami seperti ‘koor’ berempat. Yang kedua, Kami menceritakan semua isi hati kami pada beliau dan dengan tenang beliau mendengarkan baik-baik tanpa menyela sedikit pun, hingga setelah kami selesai bicara, beliau mengatakan, “Ganda, Lenny, sekarang mulailah mencari dan mengenal sesama penderita gagal ginjal serta persoalannya bila ada kesanggupan. Bantulah mereka dalam doa kalian, dan bila kalian perlu bantuan jangan sungkan untuk cari saya.� Jujur kami tidak mengerti kalimat yang disampaikan oleh Ibu Wir. Secara spontan dalam pikiran kami mengapa harus mencari, mengenal, mendoakan mereka? Bukankah Lenny yang sakit? Kalimat ini kami simpan dalam hati untuk kami renungkan terus. Apa yang Dapat Dilakukan oleh Seorang yang Sakit? Mengapa kalimat tersebut dapat melegakan hati kami berdua? Karena kalimat tersebut keluar dari dua orang Ibu dan Anak yang sedang sakit dan itu memberikan kekuatan yang luar biasa. Dalam Buku The Power of Empathy, Arthur P. Ciaramicoli, Ed.D., Ph.D & Katherine Ketcham mendefinisikan empati sebagai sebuah kapasitas untuk memahami dan merespons pengalaman unik orang lain. Empati adalah jembatan yang menghubungkan jurang antara dua manusia. Menggapai orang lain berarti kita ikut terlibat dalam pengalaman yang berarti dalam hidup ini; perasaan syukur, rendah hati, toleran, mengampuni, dan mengasihi. Inilah yang dilakukan oleh seorang Ibu Wir dengan perjalanan hidupnya menjadi kesaksian bagi kami berdua. Apa yang diucapkan oleh Ibu Wir bukan merupakan teori belaka tetapi hasil dari pergumulannya selama dua puluh tahun lebih, dan bersama anaknya Andre telah membuat kalimat tersebut menjadi sakti, empati, dan bermakna. Itulah yang dilakukan oleh Tuhan melalui seorang yang sakit. Dan inilah Ibu Wir sang transformer itu. 82

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 82

6/20/16 9:26 PM


Transformer yang Lain Dalam perjalanan hidup kami, masih banyak transformertransformer lain. Seorang yang kami kenal, Pak Subandi, telah memberi semangat kepada kami dan sesama penderita gagal ginjal lainnya. Walaupun mereka sedang sakit, mereka seakan lupa akan keadaan mereka dan memberikan motivasi kepada orang lain untuk melihat hidup ini dari sudut pandang yang lebih baik sesuai 1 Petrus 2:21, “Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu supaya kamu mengikuti jejak-Nya� maka sikap hati dan konsep pikir kita harus berubah bahwa apa pun keadaan kita seharusnya kita dapat menerima keadaan terburuk kita sebagai orang Kristen dan memberikan kabar baik kepada semua orang termasuk sesama penderita juga. Apa yang telah dilakukan oleh Ibu Wir merupakan kesaksian hidup semua orang. Beliau tidak pernah berkhotbah ataupun bersaksi di depan mimbar tetapi perjalanan hidupnya sudah menjadi cerita dan saksi hidup bagi orang lain bahwa dia adalah seorang murid yang setia. Munculnya Terapi Kelompok Tidak Sengaja Setelah pertemuan itu tidak serta merta semua persoalan hidup kami menjadi beres, tetapi masih banyak pergumulan yang harus kami lalui sampai hari ini. Setiap persoalan sulit muncul maka kami teringat akan kalimat Ibu Wir yang kedua agar kami mencari teman sesama penderita di rumah sakit untuk mencari informasi dan berbagi cerita. Kami pun menjalin pertemanan dengan sesama penderita gagal ginjal dan berbagi pengalaman yang ada serta mengikuti suatu klub penderita gagal ginjal dimana dalam setiap pertemuan kami mendapatkan informasi dan kekuatan. Kegiatan ini menjadi rutin di sosial media setiap harinya. Kadang kami lupa akan pergumulan kami karena begitu antusias berinteraksi dengan orang yang memiliki keadaan dan situasi serta masalah yang sama.

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 83

83

6/20/16 9:26 PM


Secara tidak sadar sebenarnya kami sedang melakukan terapi kelompok yang memberi manfaat kepada para anggota. Hal ini sangat bermanfaat dan tahun 1900 Joseph Pratt, seorang terapis telah mengadakan terapi kelompok penderita TBC dan hasilnya cukup memuaskan dimana dalam pertemuan tersebut komunikasi terapeutis berlangsung untuk menguatkan para anggotanya. Kemudian pada tahun 1910, Jacob Moreno yang merupakan seorang psikiater dari Rusia menggunakan role play atau drama untuk membantu anggotanya mengembangkan interaksi dan spontanitas pasien dengan membawa masalahnya pada pertemuan kelompok tersebut. Selanjutnya terapi kelompok berkembang pesat dengan beberapa jenis terapi seperti psikoanalisa, psikodrama (role play), analisis transaksional, terapi perilaku kelompok, T group, Encounter group dan lain-lain. Persekutuan Keluarga sebagai Wadah Komunitas dan Terapi Kelompok Cara hidup Jemaat mula-mula menunjukkan dimana mereka bertekun dalam pengajaran dan dalam persekutuan, saling membantu dan mendoakan (Kisah Para Rasul 2:41–47) serta makan bersama dengan gembira dan tulus hati. Dalam persekutuan ini dimungkinkan terjadi terapi kelompok, dimana setiap jemaat saling mendukung, membantu dan mendoakan sesama jemaat yang sedang kesulitan dan dalam pergumulan hidup. Disini terjadi dialog dan komunikasi yang sifatnya terapeutik (menyembuhkan) walaupun terapi kelompok masih diperlukan keahlian, persyaratan, dan pengetahuan lebih lanjut untuk mendalami terapi kelompok ini.

84

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 84

6/20/16 9:26 PM


Dalam suatu persekutuan setiap anggotanya diharapkan menjadi transformer bagi dirinya sendiri (ke dalam–inside impact) dan memberi dampak bagi orang lain (keluar–outside impact) termasuk juga mereka yang menjadi anggota dari suatu komunitas tertentu (seperti ikatan penderita gagal ginjal Indonesia atau lainnya). Mereka dapat menjadi transformer bagi penderita gagal ginjal dan secara tidak langsung menjadi cermin yang baik bagi orang lain. Di dalam tangan Tuhan tiada yang mustahil bahwa Tuhan bekerja melalui pergumulan dan penderitaan dengan maksud-Nya yang mulia. Amin

/ Gandadinata Thamrin,SE., MM., MA., adalah Dosen Universitas Pelita Harapan (UPH) Karawaci, Tangerang.

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 85

85

6/20/16 9:26 PM


86

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 86

6/20/16 9:26 PM


/ Humprey /

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 87

87

6/20/16 9:26 PM


Namun, bukan itu yang ingin saya bahas kali ini. Kebetulan bos saya beberapa kali menekankan bahwa saya sebagai Generasi Y harus memiliki terobosan dalam mengembangkan jaringan bisnis. ‘Berselancarlah’ saya ke internet, membaca-baca apa itu Generasi Y…. Ada perbedaan literatur dan cara pandang, tetapi pada intinya Generasi Y adalah generasi yang lahir sekitar tahun 1980-an, tergila-gila pada teknologi dan media sosial, memiliki rencana sejak umur dua puluhan, reaktif kritis dan kontributif terhadap perubahan lingkungan, menekankan teamwork, concern terhadap materi serta hubungan pertemanan dan keluarga. Ada juga yang namanya Generasi X, generasi yang lahir 1965-an, dengan budaya yang dominan adalah budaya pop dan adanya ledakan informasi yang besar. “Kerja untuk hidup” adalah falsafahnya. Generasi yang lebih tua adalah generasi Generasi Baby Boomers (lahir sesudah tahun 1945-an), saat mulai ada televisi. Ada pula Generasi Pertama yang lahir sebelum tahun 1945, yang masih sangat tradisional dan belum banyak mendapat pengaruh negatif. Apakah Anda pikir saya akan membahas tentang perbedaan antar generasi? Lagi-lagi Anda keliru. Itu hanya pengantar singkat dari apa yang akan saya kemukakan. Yang akan saya bahas adalah tentang perkembangan bisnis seiring perubahan generasi, yang pernah booming pada masanya, namun sedikit banyak tergerus dimakan perkembangan zaman. Bisnis atau pekerjaan apakah yang sedang Anda geluti? Apakah Anda pengusaha atau karyawan? Apakah Anda yakin bisnis atau pekerjaan itu akan long lasting/bertahan lama?

88

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 88

6/20/16 9:26 PM


Seiring perkembangan generasi di atas, berikut adalah lima jenis bisnis atau pekerjaan yang pernah ‘sunrise’/ngetren pada masanya, namun kini telah menjelang atau sudah memasuki masa ‘sunset’ (terbenam), khususnya di Indonesia bagian Barat dan sebagian Indonesia bagian Tengah:

1

Wartel “Halo? Mawar (ilustrasi nama), ada Om?” Ingat masa-masa ini? Pergi ke telepon umum atau wartel, bertelepon ria dengan si dia atau orangtua di kampung halaman? Orang yang menjawab di seberang sana pun harus pergi dulu ke tetangganya yang sudah punya telepon di rumahnya. Duh mewah bener punya telepon sendiri. Koin setumpuk sudah disiapkan, buku telepon lengkap terisi, tutup pintu sambil lihat angka billing (tagihan) berbentuk panel angka yang terus bergerak naik. Membayar mahal tapi puas, berjalan jauh tapi rindu terobati. Sekarang? Sudah jarang kayaknya kita lihat wartel ataupun kotak telepon yang masih terawat baik. HP (handphone) dongggg zamannya sekarang … terselip rapi di kantong atau tas atau bahkan ditenteng kemana-mana dan bisa dihubungi di mana saja. Bisnis wartel ini saya kategorikan ‘sunset’ alias sudah terbenam.

2

Warnet Chatting pakai mIRC. Kalau Anda masih mengenal chatting itu, artinya itu cikal bakalnya bisnis chatting berkembang di tahun 1999-an. Itu adalah sejenis chatting dengan server global untuk mengobrol, tukaran foto, dan berkenalan. Internet di kala itu masih barang mewah, dengan tarif penggunaan internet bervariasi dengan paket per jam Rp6.000–Rp12.000 tergantung fasilitas Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 89

89

6/20/16 9:26 PM


warnet dan kecepatan koneksi internetnya. Bisnis ini meredup sekitar tahun 2008-an seiring dengan semakin banyaknya pengguna internet di rumah-rumah, semakin murah tarif serta semakin banyak tumbuhnya penyedia internet, dan bervariasinya paket data internet di handphone. Namun, bisnis war-games (rental game online)/rental PS masih ada setitik peluang saat ini karena lebih seru kalau main game bersama-sama dan berteriak bersama-sama, walau juga sudah hampir redup karena orang bisa bermain di rumah. Intinya bisnis ini sudah hampir menghilang dari peredaran.

3

Rental Kaset Video Masih ingat bila kita ingin nonton film silat? Siap-siaplah booking ke tempat rental, ada lima puluh kaset … pas udah mau minjem kaset ke-enam belas sampai dengan ke-dua puluh, eh nomor delapan belas lagi disewa orang lain … kesal sekali rasanya. Teringat pula seorang engkong teman saya yang pipis di kamar mandi sambil kepalanya melongok keluar menonton film silat .… Lanjut dan berkembang ke arah VCD sekitar tahun 2008-an, rental VCD dan DVD orisinal masih cukup banyak, namun sekarang ini sudah tinggal sejarah. DVD bertebaran di mana-mana … ehmm saya gak bahas itu orisinal atau bajakan ya …hehe .... Kesimpulannya, rental video ini sudah hilang ditelan zaman.

90

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 90

6/20/16 9:26 PM


4

Kantor Pos Kapan terakhir kali Anda ke kantor pos untuk berkirim kartu pos, wesel, atau surat cinta? Duluuuu banget ‌. Sekarang ini kita ke kantor pos untuk kirim surat lamaran, surat undian (kalau masih ada), beli perangko, bayar tagihan, atau kirim barang (masih ada sih yang lewat pos). Tapi bisa dibilang, bisnis ini berusaha survive di tengah himpitan perkembangan teknologi dan komunikasi. Oleh karena itu saya masih kategorikan bisnis ini tidak jadi ‘sunset’ namun bertransformasi, sehingga namanya mungkin bisa diubah menjadi sejenis one-stop business solution, dan sebagainya.

5 Agen Perjalanan Hubungi dulu teman di agen, ambil atau minta dikirimkan berlembar-lembar tiket pesawat, yang kadang tulisan karbonnya amburadul alias susah terbaca, nego harga termurah di kantor travel atau agen tiket. Itu yang kita lakukan dulu saat mau bepergian ke luar kota atau luar negeri. Untung Rp5.000–Rp20.000 per tiket dulu masih bisa diraih. Sekarang, tinggal buka internet, buka web travelxxxx, cari harga hotel dan pesawat termurah, booking, transfer, print e-ticket dan e-voucher-nya, selesai. Tinggal berangkat. Bahkan ada pula yang kode tiketnya bisa langsung dikirim via SMS atau WhatsApp. Info dari seorang pemilik agen perjalanan, mereka umumnya masih bisa bertahan dengan menggratiskan program aplikasi pemesanan tiket dan berharap lebih dari program paket tur domestik dan mancanegara. Bisnis ini masih saya kategorikan hampir punah, walau masih berusaha bertahan di tengah gempuran media online. Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 91

91

6/20/16 9:26 PM


Pembahasan seperti di atas mungkin pernah Anda pikirkan atau mungkin pernah Anda baca dengan berbagai variasi dan perkembangannya. Masih banyak bisnis-bisnis lain yang bisa dicantumkan, namun saya tuliskan top five-nya saja versi saya sendiri. Mungkin bisa benar atau tidak, demikianlah pandangan awam saya, namun bila Anda berada di bisnis tersebut mulailah berbenah diri dan berinovasi sedini mungkin. Tanpa Perlu Disuruh Tidak hanya bisnis yang bisa mengalami ‘sunrise dan sunset’. Iman kita pun bisa mengalami puncak dan lembah. Saya pribadi merasakan ‘sunrise’ adalah saat intens bersekutu dengan Tuhan di bangku SMP. Saat itu saya hampir setiap hari ke gereja untuk latihan vocal group dan kebetulan tim kami sangat rindu untuk bersekutu, sehingga tim persekutuan kecil kami yang awalnya hanya bermula dari dua sampai dengan tiga orang, berkembang menjadi lima puluhan orang. Setiap orang membawa jiwa tanpa perlu disuruh atau diajak. Kakak-kakak pembimbing banyak yang tergerak melihat banyak teman-teman yang ingin bersekutu. Tanpa perlu diminta, mereka menjadi sukarelawan-sukarelawan gereja yang mau meluangkan waktunya melayani, berdiskusi tentang pemahaman Alkitab, walaupun saat itu gereja kami belum mencanangkan program seperti itu. Hubungan horizontal dengan teman-teman sangat dekat dan saling menguatkan, bahkan sampai kami berada di bangku kuliah dan masa awal-awal bekerja. Iman kami bertumbuh sangat pesat, kami banyak sekali mendapatkan pelajaran dan sharing yang berharga, hal-hal pribadi dan dosa-dosa pribadi banyak diakui dan dituntaskan saat itu tanpa perlu merasa takut dan menjaga gengsi. Saat teduh dan hubungan dengan Tuhan rasanya seperti mengobrol dengan seorang sahabat, bisa cerita apa saja, jawaban Tuhan terdengar dengan jelas dan intim. Rindu rasanya bisa mengalami saat-saat seperti itu. Apakah Anda juga pernah mengalami ‘sunrise’ atau puncak iman seperti itu? Sayangnya, seperti halnya bisnis yang terus berkembang seperti bacaan di awal, kadang iman kita juga bisa mengalami ‘sunset’. Kota metropolitan ini memang menyediakan segalanya. Pekerjaan dan hiburan semua ada, sibuk dan kejar-kejaran dengan waktu. Hubungan individualis dan egoistis sangat kental terasa. Hamba Tuhan harus dengan giatnya menghimbau dan mengingatkan untuk ikut kebaktian doa, membawa jiwa, datang saat ibadah khusus di tengah minggu. 92

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 92

6/20/16 9:26 PM


Sangat Berkesan Saat teduh? Boro-boro … mungkin sempat mungkin tidak, bolong-bolong sepertinya. Teman untuk bisa berbagi dan bersekutu bersama, yaaa ada cuma masih jaim (jaga image) karena belum terlalu dekat kan? Apakah Anda saat ini mengalami iman ‘sunset’ seperti itu? Ada sebuah puisi yang sangat berkesan untuk saya, mungkin banyak orang yang telah membacanya, namun izinkanlah saya berbagi untuk mereka yang belum pernah membacanya. “Suatu hari aku bangun lebih pagi, dan bergegas memasuki hari itu. Terlalu banyak yang harus kukerjakan, sehingga tiada waktu untuk berdoa. Masalah datang menimpaku, dan setiap tugas terasa semakin berat. Aku heran, “Mengapa Tuhan Yesus tidak menolongku dan mengirim malaikatnya untuk menjaga aku?” Dia menjawab dan mengingatkan aku, “Engkau tidak memintanya.” Aku ingin melihat sukacita dan keindahan, tetapi hari begitu kelabu dan mendung. Aku heran mengapa Tuhan Yesus tidak memberikannya. Jawab-Nya, “Tetapi engkau tidak mencarinya.” Aku mencoba untuk masuk ke dalam hadirat-Nya, kugunakan seluruh kunci pada pintu-Nya, Tuhan Yesus dengan manis dan kasih-Nya menegurku, “Anakku, engkau tidak mengetuk.” Aku bangun lebih pagi hari ini, berdiam, dan merenung sejenak memasuki hari ini. Terlalu banyak yang harus kukerjakan, aku mau ambil waktu untuk berdoa.”

Hari ini, saat engkau membaca tulisan ini, ingatlah Tuhan tidak jauh darimu, Dia hanya sejauh doa. Ingatlah selalu lagu yang diambil dari Ratapan 3:22–23, “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” Biasakanlah kita bersaat teduh setiap pagi, mengobrol dengan-Nya, dekat dengan hadirat-Nya, ikutlah dalam persekutuan dengan sesama orang beriman, libatkan Tuhan dalam setiap aktivitasmu, temukan iman ‘sunrise-mu’ dan pertahankan itu. Bangkitlah bila iman kita mulai ‘sunset’ digempur kesibukan kota besar yang kian mempesonamu. Berjuanglah dan kiranya Tuhan mendapatkan kita tetap setia sampai akhirnya. Amin Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 93

93

6/20/16 9:26 PM


94

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 94

6/20/16 9:26 PM


/ Elasa Noviani /

a d i s remaja, yang berperan sebagai malaikat utama yang cantik dalam drama Natal 2002 GKY BSD, kini sudah menjadi seorang ibu. Fera Hidayat menikah dengan Hanny Setiawan pada tahun 2011 dan dikaruniai seorang anak laki-laki, Steve Isaac Setiawan.

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 95

95

6/20/16 9:26 PM


96

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 96

6/20/16 9:26 PM


Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 97

97

6/20/16 9:26 PM


98

MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 98

6/20/16 9:26 PM


Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 99

99

6/20/16 9:26 PM


100 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 100

6/20/16 9:26 PM


Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 101

101

6/20/16 9:26 PM


Menelusuri jejak umat Tuhan di tanah Sunda sungguh menarik. Setelah liputan Nafiri ke gereja Palalangon, Cianjur, pada edisi Natal 2015 lalu; kami berkesempatan mengunjungi ‘saudara kembar’nya, yaitu GKP Tamiyang di desa Jakamulya, yang biasa lebih dikenal dengan GKP Rehoboth, di Desa Jakamulya Blok Rehoboth, Kecamatan Kroya, Kabupaten Indramayu, medio April lalu. Di tengah lingkungan penduduk dan otoritas daerah yang kadang kurang bersahabat, mereka tetap kokoh berdiri selama seratus dua tahun, setia mewarisi keteguhan iman para leluhur yang sebagian bahkan menjadi martir bagi pekabaran Injil di tanah Sunda yang keras. Nafiri juga berkesempatan mengunjungi sebuah gereja peninggalan Belanda di kota Cirebon, yang laporannya disajikan pada kolom terpisah. 102 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 102

6/20/16 9:26 PM


/ Anton Utomo /

Atas kebaikan seorang jemaat GKY BSD, rombongan Nafiri ‘berkelana’ ke Indramayu dan Cirebon selama dua hari. Kami menginap di hotel milik keluarga Pak Arief Leo, jemaat yang bermurah hati itu; dalam suasana hotel yang nyaman, bersih, dan penuh kehangatan keluarga di Jatibarang, kota kecil yang berjarak tiga puluh kilometer sebelah timur Cirebon. Dari tempat inilah, kami mengatur jadwal selama perjalanan dua hari yang melelahkan namun penuh kenangan. Sambutan amat hangat kami terima pula saat tiba di GKP Rehoboth. Bapak Arya Darma selaku Ketua Majelis bersama para pengurus gereja telah menyiapkan makan siang yang nikmat untuk kami santap bersama. Selanjutnya, sambil meninjau gedung gereja dan berbagai fasilitasnya yang terletak di pedesaan sejauh empat jam perjalanan dari Jakarta, kami mulai perbincangan yang akrab di ruang kebaktian utama. Ada Martir di Tamiyang “Gereja Kristen Pasundan Tamiyang Rehoboth”, demikianlah nama lengkap gereja yang kami kunjungi siang itu. Gereja ini didirikan pada tahun 1914 oleh misionaris dari NZV (Nederlandsche Zendings Vereeniging), Badan Pekabaran Injil Hindia Belanda, yang pada masa itu banyak mengabarkan Injil di kalangan pribumi di Jawa Barat dan Banten. “Tamiyang” berarti bambu sumpit (pring tulup dalam bahasa Indramayu), yaitu perkakas dari bambu yang pada masa itu digunakan sebagai senjata membunuh hama babi hutan. Sedangkan nama Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 103

103

6/20/16 9:26 PM


Rehoboth diambil dari Kitab Kejadian 26:22b, yang artinya sumur perdamaian dan sumur kesejukan. Sejak pemekaran desa oleh pemerintah, wilayah lokasi gereja berada di desa Jakamulya, dan bukan masuk wilayah desa Tamiyang lagi. Itulah mengapa komunitas di sana lebih suka menyebut nama gerejanya dengan GKP Rehoboth tanpa ada embel-embel “Tamiyang� agar tidak salah alamat. Seperti gereja rintisan lainnya di masa itu, jemaat awalnya didatangkan dari daerah kantong Kristen lain di Jawa Barat dan Banten yang mengalami tekanan masyarakat karena imannya. Semula bangunan gereja dibuat sederhana dengan tiang bambu dan atapnya dari ilalang. Mata pencaharian jemaat pada awalnya adalah membuka lahan untuk bertani padi atau berkebun palawija. Seiring dengan perkembangan jemaat , Penginjil Van de Weigh sebagai gembala jemaat memprakarsai pendirian gedung gereja yang megah dan membuat aturan setiap anggota jemaat pada hari Minggu tidak diperkenankan bekerja di ladang atau sawah. Hari Minggu digunakan hanya untuk ibadah dan kegiatan gereja. Sebelum Indonesia merdeka, sekitar tahun 1940, Van de Weigh mendatangkan seorang hamba Tuhan pribumi dari Purwokerto yang bernama Pdt. Usman Sarim. Beliau datang bersama keluarga dan beberapa anggota jemaatnya. Van de Weigh kemudian bertugas di Jemaat Juntikebon, yang tak terlampau jauh letaknya dari Tamiyang. Kondisi keamanan di Indonesia yang tak menentu selepas kemerdekaan, membuat kehidupan jemaat di Tamiyang juga tak nyaman. Pada tahun 1949, Van de Weigh dibunuh secara keji oleh gerombolan DI/TII. Beliau kemudian dimakamkan di Juntikebon. Menyusul pergolakan dan kekacauan di Jawa Barat, Pdt. Usman Sarin juga ditembak mati pada tahun 1951 oleh gerombolan yang sama. Belum cukup puas, rumah Pdt. Usman juga dibakar dan diratakan dengan tanah. Saat jemaat dicekam teror dan ketakutan, Tuhan memakai seorang jemaat sederhana menenangkan jemaat dan mengurus kebutuhan mereka. Pak Kama, tukang cendol yang berasal dari 104 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 104

6/20/16 9:26 PM


lingkungan non-Kristen, muncul dan dipakai Tuhan. Seperti Nehemia di masa Perjanjian Lama, ia memimpin pembangunan kembali gereja dan membangkitkan iman jemaat yang goyah karena penindasan dan penganiayaan. Bapa Kama, Tukang Es Cendol, Tukang Nginjil Seperti judul yang tertera dalam buku HUT GKP ke-77, demikianlah seorang bapak yang sederhana telah berjuang dan dipakai Tuhan untuk mempertahankan kehidupan jemaat yang tercerai-berai dan terancam. Kama lahir di Panguragan, Indramayu, sebagai warga pribumi dalam lingkungan Islam tradisional. Ia mulai tertarik kepada kekristenan saat ikut panen raya bersama di Juntikebon. Perkenalannya dengan jemaat Kristen dan Pdt. Kesra Yunus yang bertugas di sana, membuatnya tertarik mengenal Kristus, dan akhirnya bersedia dibaptis pada tahun 1934, setelah bergaul dan belajar selama tiga tahun. Sebagai pengikut Kristus yang baru, ia sangat bersemangat belajar, sehingga selama enam bulan diikutinya kursus Injil di Gereja Juntikebon. Sejak tahun 1942, Kama ditugaskan membantu pelayanan Pdt. Usman Sarin di gereja Tamiyang. Inilah perjumpaan pertamanya dengan jemaat yang kelak akan didampinginya melewati berbagai badai dan terpaan gelombang kehidupan yang berat. Saat Pdt. Usman Sarin dibunuh dan rumahnya dibakar pada 14 November 1951, Kama menyaksikan dengan ketakutan dan hati yang hancur, sama seperti jemaat lainnya. Namun, di sini dimulailah perjuangan gigih Bapa Kama. Untuk menghidupi keluarganya yang serba kekurangan beliau berjualan es cendol sambil terus berusaha memberikan penguatan dan pelawatan terhadap warga jemaat yang tercerai-berai ke pelbagai tempat. Dengan sabar dan tidak mengenal lelah, satu persatu warga jemaat dikuatkan dan diajak kembali untuk terus percaya pada Tuhan Yesus Kristus hingga akhirnya kegiatan peribadahan GKP Rehoboth Tamiyang dimulai kembali berkat kegigihan “Bapa Kama�, seorang tukang es cendol yang tetap setia dalam mengemban amanat Kristus yakni mengabarkan berita kabar sukacita. Terpaan kehidupan belum usai, bahkan lebih berat lagi. Pada 31 agustus 1957, gerombolan pengacau DI/TII kembali ‘menghancurkan’ hati jemaat Tamiyang dengan cara membumihanguskan gereja, menembaki dan membakar rumah-rumah jemaat, dan puncaknya menembak mati anggota jemaat, di antaranya Saryati dan Narka. Tujuan mereka adalah memusnahkan kekristenan di desa Tamiyang dan menyebarkan ketakutan pada warga sehingga tak ada Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 105

105

6/20/16 9:26 PM


lagi yang mau mengikut Kristus. Kali ini semua jemaat harus mengungsi ke Haurgelis, Bandung, bahkan Jakarta; demi menyelamatkan nyawa mereka. Untuk kedua kalinya Kama berjuang keras menenangkan jemaat untuk tetap setia dalam beribadah dan berupaya menghimpunkan kembali warga jemaat di perantauan. Beliau pun berupaya agar gedung gereja yang sudah menjadi puingpuing dibangun kembali. Hal ini bukan perjuangan yang mudah. Namun dengan kekuatan dan pertolongan Tuhan, gedung gereja dapat dibangun kembali di desa Babakan Jati Haurgeulis. Setelah keadaan semakin aman, gedung gereja di Tamiyang juga mulai dibangun kembali, tentu awalnya amat sederhana dan bersifat darurat. Sedikit demi sedikit pembangunan dilanjutkan, dan seiring berjalannya watu, bahkan sampai saat ini, Nafiri menyaksikan, pembangunan masih terus berlangsung. Bagaimana kelanjutan kehidupan Bapa Kama? Karena Bapa Kama berasal dari Panguragan, sementara warga jemaat asal Panguragan dan dibaptiskan di Juntikebon dan Babakan Jati Haurgeulis telah kembali ke kampung halamannya dan tak ada yang melayani, maka BP Sinode GKP menugaskan Bapa Kama untuk kembali ke Panguragan yang ditetapkan sebagai Pos Kebaktian GKP dan berinduk ke GKP Jemaat Cirebon. Tahun 1976 Bapa Kama pensiun dari jabatannya walau tetap setia dalam pelayanannya di Panguragan sampai akhir hayatnya.

106 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 106

6/20/16 9:26 PM


GKP Tamiyang Menjawab Tantangan Zaman Dikepung puluhan desa yang berbeda keyakinan dan hidup dalam tekanan politik lokal yang kerap kurang bersahabat, GKP Tamiyang tetap bertahan dalam keheningan. Gereja yang bertekad mengubah namanya menjadi GKP Rehoboth ini terus berbenah dan membangun walau dengan sumber daya yang tak melimpah. Pak Arya Darma, ketua majelis gereja, sempat menjelaskan bahwa mayoritas jemaat gereja adalah petani dan peladang yang bekerja serabutan dalam pekerjaan nonformal. Begitu sulit menjadi PNS bagi orang Kristen di kabupaten ini, bahkan dari ribuan PNS yang ada, seingatnya hanya empat orang yang beragama Kristen di Indramayu. Walau hanya memiliki sumber daya minimal, Tuhan terus memimpin kehidupan GKP Tamiyang. Kekompakan jemaat ditunjukkan saat merenovasi gedung gereja pada tahun 2001. Tanpa banyak bantuan pihak luar; seluruh jemaat bergotong-royong menyumbang bata (seribu buah per kepala keluarga), material bangunan lain, dan tenaga mereka sendiri untuk mempercepat pembangunan; sehingga dapat diselesaikan pada tahun 2002. Gereja ini juga memiliki berbagai fasilitas yang terbilang cukup lengkap untuk sebuah gereja di desa. Ruang sekolah minggu dengan perpustakaan yang menyediakan beragam buku bacaan tampil rapi dengan tampilan menarik. Sekolah taman kanak-kanak sudah didirikan sejak beberapa tahun lalu di area milik gereja. Sebuah koperasi simpan pinjam yang bernama Pelita Kasih juga sudah resmi berjalan untuk menunjang aktivitas ekonomi jemaat. Pemberdayaan usaha kecil juga dikerjakan dengan mendidik jemaat menerima order rajutan dari pabrik garmen di Bandung. Kaum muda juga tak kalah bersemangatnya memajukan gereja. Beberapa remaja

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 107

107

6/20/16 9:26 PM


yang melek internet membuat halaman Facebook, Twitter, dan beragam media sosial lainnya. Keberadaan gereja ini juga bahkan sudah tertera dalam Google Maps, memudahkan para pengunjung dari luar kota seperti Nafiri menemukan lokasi gereja yang memang agak jauh di pedalaman. Kendati memiliki sebagian jemaat yang cukup aktif, beragam tantangan dan hambatan banyak mewarnai GKP Tamiyang. Setiap minggunya hanya 100 jiwa yang beribadah di gereja. Bahkan di musim panen dan rendeng (musim hujan), hanya 50–60 jiwa hadir di gereja. Sebenarnya anggota jemaat tercatat tak kurang dari 85 KK (260 jiwa). Memotivasi jemaat untuk hadir setiap minggu merupakan tantangan tersendiri bagi para majelis. Tantangan besar lainnya adalah ketiadaan pendeta untuk menggembalakan jemaat di GKP Tamiyang. Sepanjang keberadaannya di masa modern, hanya pada tahun 2000–2011 gereja ini memiliki seorang pendeta–yang telah memberikan banyak perubahan baik di bidang pelayanan, maupun hubungan gereja dengan masyarakat dan pemerintah. Saat ini hanya ada seorang Vikaris (Guru Injil) yang memimpin jemaat. Ketika Nafiri berkeliling, tampak sebuah sisi tembok sedang dibangun, gerbang pintu di tembok itu juga belum ada. Memang masih banyak pekerjaan pembangunan yang tertunda. Luas area gereja yang kini tinggal tiga ribu meter persegi (tadinya satu setengah hektar) masih perlu banyak pembenahan dan pembangunan untuk kepentingan seluruh jemaat. Sebagai sesama tubuh Kristus, tentu kita sebagai gereja dan pribadi dapat berpartisipasi membantu saudara seiman kita di pedalaman yang membutuhkan fasilitas ibadah memadai. Bersyukur, bidang diakonia dan misi gereja kita telah turut ambil bagian pula membagikan berkat Tuhan bagi jemaat GKP Tamiyang Rehoboth.

108 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 108

6/20/16 9:26 PM


Dalam perjalanan ke Indramayu dan Cirebon selama dua hari, kami juga berkesempatan mengunjugi sebuah gereja tua peninggalan Belanda di kota Cirebon. Pdt. Edward Tureay (Edo) yang ramah menerima kami di kantor gereja, dan menghabiskan waktu beberapa jam dalam perbincangan yang seru dan hangat.

Menurut Pdt. Edo, sebenarnya tak ada tanggal dan tahun pasti pendirian gereja tua ini. Peninggalan tertua adalah sebuah prasasti penguburan yang bertahun 1788. Artinya lebih dari 228 tahun yang lalu, gereja ini sudah berdiri sebagai rumah ibadah pejabat dan warga belanda yang tinggal di kota Cirebon. Jadi, inilah gereja keempat tertua di Indonesia, seru Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 109

109

6/20/16 9:26 PM


Pdt. Edo. Beruntung, Nafiri sudah mengunjungi gereja tertua pertama, yaitu gereja Sion di Jl. Pangeran Jayakarta, Jakarta (lihat laporannya pada Nafiri edisi Juni 2015). Di masa datang, Nafiri akan tampilkan pula gereja tertua kedua di Indonesia, yaitu gereja Tugu, yang terletak di Tanjung Priok, Jakarta. Bila perlu, gereja tertua ketiga yang terletak di kota Ambon, Maluku akan Nafiri kunjungi. Sama seperti Gereja Sion, salah satu keunikan gereja ini adalah hadirnya prasasti dan kuburan para pejabat Belanda di masa lalu. Selain di halaman gereja, sebagian kuburan juga ada di dalam gereja. Mimbar berbentuk cawan dan beratapkan mahkota juga terlihat di gereja yang kini bernama GKP Jemaat Bethel, Cirebon, ini. Menurut Pdt. Edo, hampir sebagian besar struktur dan interior gereja adalah peninggalan asli masa awalnya. Hanya jendela-jendela yang maha besar sudah harus diganti karena lapuk dan rusak. Walaupun tak sebesar Gereja Sion di Jakarta, gedung gereja yang denahnya mirip peti mati ini menawarkan pesona tersendiri bagi pecinta bangunan kuno. Di kemudian hari gereja ini diwariskan kepada Gereja Kristen Pasundan, yang sudah menggunakannya sejak tahun 1949 saat ditinggalkan penduduk Belanda dan dibiarkan kosong beberapa lama. Cikal bakal GKP sendiri telah berkiprah di Cirebon sejak tahun 1864, saat para penginjil Belanda melakukan penginjilan kepada penduduk pribumi dan

110 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 110

6/20/16 9:26 PM


Tionghoa di Indonesia. Disampaikan oleh Pdt. Edo, warga Tionghoa pertama yang dibaptiskan adalah seorang dermawan yang bernama Ibu Saleber. Empat tahun kemudian, lima orang Jawa dibaptiskan pula pada tanggal 27 September 1868. Tanggal itulah yang kini digunakan sebagai hari ulang tahun GKP Cirebon. Saat ini, jemaat GKP Cirebon sebagian besar adalah etnis Ambon, Menado, dan Jawa. Dengan jumlah jemaat sekitar 200 orang (123 KK), gereja ini mengadakan sekali ibadah setiap minggunya. Tercatat ada dua pos yang dibinanya di sekitar Cirebon, salah satunya di Kancana Girang–daerah terpencil di Kuningan, yang perlu waktu empat jam untuk mencapainya dari kota Cirebon. Sungguh tantangan yang tak mudah bagi hamba Tuhan dan majelis untuk membina gereja di lokasi yang sangat sulit dicapai itu

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 111

111

6/20/16 9:26 PM


Malam Syukur Pembangunan Gereja

p s a r G

o p p O e Th

y t i n u rt

112 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 112

6/20/16 9:26 PM


M

a l a m itu hujan deras mengguyur pelataran parkir GKY BSD yang sebagian beralih fungsi menjadi tenda yang di dalamnya terdapat booth-booth makanan seperti bakso, sate, minuman, dan makanan lain. Udara yang dingin di luar tidak membuat para jemaat kehilangan semangat untuk menikmati kebersamaan Malam Syukur tanggal 2 April ini. Kursikursi dalam ruang kebaktian sebagian besar terisi oleh jemaat yang penuh syukur karena penantian mereka selama ini untuk segera membangun gedung gereja sudah terjawab.

A

cara malam itu diawali dengan pujian “Bangkit dan Bangunlah�, lagu tema pembangunan gereja yang diciptakan oleh Juan Panca Wijaya dan Miriam Chandra. Jemaat menyanyikannya dengan hati bersukacita dan bertepuk tangan. Benar-benar lagu pembuka yang menyenangkan! Setelah lagu tema dinyanyikan, Bapak Juan Panca Wijaya selaku Ketua Panitia Pembangunan menjelaskan secara singkat sejarah gereja GKY BSD. Ada sesuatu yang menarik yang dikatakan olehnya malam itu, "Mungkin pada suatu hari kita sudah ngga ada, tapi keramik yang kita persembahkan untuk gereja itu masih ada di sana dan menjadi saksi hidup untuk menyatakan kemuliaan Tuhan." Pembangunan gereja akan diawali dengan ground breaking pada tanggal 4 Juni 2016 dan direncanakan selesai pada tanggal 30 November 2017. Melihat project timeframe seperti itu, maka acara Natal tahun 2017 akan dilaksanakan di gedung gereja baru. Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 113

113

6/20/16 9:26 PM


Pak Handi Widjaja selaku Ketua Majelis juga turut bercerita mengenai sulitnya mendapatkan izin gereja di BSD ini. Sejauh ini, baru dua gereja yang mendapatkan izin dari Badan Koordinasi Pembangunan Ruang Daerah, yaitu GKI di Giri Loka dan Gereja Katholik Santa Monica. Dengan anugerah Tuhan akhirnya GKY BSD mendapatkan IMB pada tanggal 5 Februari 2016, beberapa hari sebelum ulang tahun ke-23 GKY BSD.

114 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 114

6/20/16 9:26 PM


Firman Tuhan dibawakan oleh Pdt. Freddy Lay (Ketua Sinode GKY) dengan mengambil ayat dari Matius 26:6–13 yang mengisahkan seorang perempuan yang mengurapi Yesus dengan minyak wangi yang mahal. Wanita ini merasa bahwa mungkin itu adalah kesempatannya satu-satunya yang ia miliki untuk bisa memberikan yang terbaik yang dimilikinya, dan ia menangkap kesempatan itu. Pdt. Freddy menguraikan, jika kesempatan pembangunan gereja mungkin hanya terjadi sekali dalam seumur hidup kita, mengapa kita tidak memberikan yang terbaik untuk Tuhan?

S

elesai khotbah dari Pdt. Freddy, selanjutnya Pdt. Joni Sugicahyono selaku Gembala Jemaat melakukan pembukaan penutup maket gedung gereja. Setelah itu jemaat dan para hamba Tuhan pun mengambil dan mengisi kartu komitmen persembahan untuk membangun bait Tuhan. Acara ditutup dengan pujian dari seluruh anggota paduan suara. Mulai dari anak-anak sekolah minggu hingga dewasa. Puji Tuhan, acara berlangsung lancar dan banyak jemaat yang berpartisipasi dalam pembangunan rumah Tuhan

/ Jesslyn Catherine /

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 115

115

6/20/16 9:26 PM


116 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 116

6/20/16 9:26 PM


/ Titus Jonathan /

ertengahan Maret 2016 yang lalu saya ditugaskan oleh kantor ke Korea (Selatan) untuk bertemu dengan rekan bisnis. Selama tiga hari di Seoul jadwal saya rutin saja; meeting sampai sore, kembali ke hotel, dan malamnya blusukan ke beberapa tempat. Saya penasaran ingin mengenal lebih dekat kekristenan di Korea Selatan yang kabarnya paling progresif di dunia. Benarkah iman Kristen memberi dampak positif bagi kehidupan rakyat Korea yang jumlahnya sekitar lima puluh juta penduduk itu?

Di bulan Maret, Seoul sudah berada di penghujung musim dingin. Walaupun musim dingin akan segera berganti, di mana-mana orang masih mengenakan mantel dan jaket tebal. Ketika saya keluar dari Incheon International Airport hendak membeli tiket bus menuju ke hotel di daerah Myeongdong, saya disambut oleh dinginnya udara dua derajat Celcius menusuk kulit. Kulit saya yang tipis ini serta-merta kaget karena hanya dibalut dengan jaket seadanya saja. Sepanjang perjalanan; dari dalam bus saya melihat orang-orang kantoran mengenakan setelan jas lengkap sedang berduyun-duyun menuju halte MRT, berjalan di trotoar, atau naik sepeda onthel. Naik sepeda onthel dengan berjas dan berdasi merupakan pemandangan biasa di Seoul di bulan itu. Saya dijemput oleh rekan Korea di hotel untuk kemudian bersama-sama menuju kantornya di Seongnam, pinggiran kota Seoul. Kami berjalan menuju halte bus. Udara dingin tidak mau tahu sama sekali jari-jari saya yang seakan membeku. Saya menyesal tidak membawa sarung tangan. Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 117

117

6/20/16 9:26 PM


Berjalan di tengah kota yang dingin sebenarnya cukup mengasyikkan, karena tak ada keringat yang bikin badan kita lengket. Kota Seoul terlihat sibuk tapi tidak terburu-buru. Orang-orang berjalan dengan langkah biasa saja. Di antara keriuhan kendaraan saya masih menangkap suara para pejalan kaki mengobrol. Di mana-mana terlihat pohon-pohon yang tinggal ranting tanpa daun di ujung musim dingin itu. Sebentar lagi daun-daunnya yang meranggas itu akan mulai bersemi, berwarna-warni, berkilau ditimpa cahaya matahari yang hangat. Ranting-ranting pohon tak berdaun itu tampak mempercantik kota. Lekukan rantingnya terselip di antara rumah-rumah dan kantor-kantor yang berderetderet, berjejer di tepi jalan dan berlomba tinggi dengan tiang-tiang listrik yang tegak lurus ke atas.Keindahan ranting tak berdaun itu semakin mempesona seperti lukisan dengan background langit yang diarsir dengan arsiran tipis warna biru muda bercampur putih. Damai di langit Seoul. Suasana kantor di perusahaan rekan Korea tersebut tampak sederhana. Berada di sebuah gedung bertingkat, kantor tersebut didesain dengan rapi dan kreatif. Walaupun tidak bisa dikatakan mentereng dan ‘wah’ sebagai perusahaan di bidang internet services yang berfokus di layanan instant messaging kelas dunia, suasana kantornya yang simpel itu tetap terkesan elegan. Kami meeting hingga sore hari kemudian pulang. Walaupun Korea sudah maju pesat sekali, rakyat kebanyakan masih tidak bisa berbahasa Inggris. Pada setiap meeting yang saya ikuti, mereka selalu menyiapkan penerjemah. Di restoran juga sama. Ketika saya masuk restoran dan bermaksud menanyakan apakah menu makanan mengandung babi (sebab beberapa teman seperjalanan saya adalah Muslim), pemilik restoran itu tidak mengerti dan hanya menjawab dengan bahasa isyarat. Ketika sore datang dan senja perlahan merayap memasuki kota, angin berhembus lebih kencang menerpa tubuh saya yang sedikit menggigil. Beberapa ratus meter dari hotel tempat saya menginap di daerah Myeongdong, kerumunan orang-orang kantoran keluar dari gedung-gedung sambil mengancingkan mantel tebal dan merapatkan jaket ke tubuh. Mereka menjejali jalanan untuk sekadar jajan makanan ringan, belanja barang-barang terutama kosmetik, maupun makan malam. Tempat itu tak pernah sepi sekalipun waktu sudah mendekati jam dua belas malam. Melihat keramaian kota hingga larut malam seperti itu, terlebih melihat para wanita muda yang bebas ‘keluyuran’ di malam hari, kita dapat menyimpulkan bahwa kota itu memberikan rasa aman bagi warganya. 118 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 118

6/20/16 9:26 PM


Saya mencoba untuk mencari petunjuk geliat kekristenan di antara masyarakat. Tapi saya tidak menemukannya. Bayangan saya sebelumnya bahwa kekristenan di Korea telah menjadi penggerak transformasi sehingga diadopsi menjadi life style masyarakatnya rupanya tak tampak. Setiap kali makan di restoran, saya berharap ‘paling tidak’ melihat mereka melipat tangan untuk berdoa. Namun tak ada tanda-tanda. Rekan Korea saya seorang perokok yang santai, yang menjalani hidupnya dengan bebas. Dari data statistik, komposisi orang Kristen di Korea ‘hanya’ 18 persen dari total populasi penduduk, jadi sekitar 9 juta. Jumlah pemeluk Katolik 11 persen atau 5,5 juta. Jika digabung, jumlah mereka yang percaya Kristus sebesar 14,5 juta. Pemeluk Buddha lebih banyak yaitu 23 persen atau 11,5 juta, sedangkan komposisi yang terbesar adalah mereka yang tidak beragama apa pun, yaitu 46 persen atau 23 juta orang. Apakah jumlah 14,5 juta orang yang percaya Kristus itu memiliki pengaruh dalam denyut kehidupan Korea baik di masyarakat maupun kebijakan Negara? Secara kasat mata mungkin tidak terlihat, tapi saya yakin jumlah ini lebih dari cukup untuk menghindarkan Korsel dari malapetaka yang mengintai mereka dari jarak yang sangat dekat. Warga Seoul dan rakyat Korea mustahil tidak mengerti, bahwa di bagian Utara mereka, 194 kilometer dari jantung kota Seoul, pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un selalu mengintip mereka dari celah kota Pyongyang. Rudalrudal balistik baik berjarak pendek, sedang, dan jauh sudah diuji coba dan telah terpasang rapi; siap meluncur menuju sasaran setiap saat jika memang dikehendaki. Ibaratnya, tinggal menunggu tombol dipencet dengan satu jari, maka lumatlah Seoul dan Korea Selatan.

Peluncuran rudal jarak jauh Korea Utara, 7 Februari 2016.

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 119

119

6/20/16 9:26 PM


Kim Jong-un sedang briefing para jenderalnya.

Uji coba rudal telah rutin dilakukan dan menjadi lebih intensif pada beberapa bulan terakhir ini.Jika rudal Korut yang paling kecil saja berjarak jelajah seribu kilometer, maka Jong-un cukup menggunakan rudal kecil saja, dan Seoul akan luluh lantak. Apalagi dengan rudal jarak jauh yang sudah diuji coba yang berjarak jelajah 8.000–10.000 km, maka pangkalan militer Amerika di Pasifik akan lenyap. Bukan hanya dengan serangan rudal, sejauh ini paling tidak sudah ada empat tunnel (terowongan) yang digali oleh tentara Korut dengan jalur menuju jantung Korsel. Seandainya tidak ketahuan, Korsel akan tergagap karena sergapan mendadak oleh tentara Korut dari bawah tanah yang tak pernah diperhitungkan. Terowongan itu sanggup menampung serbuan tentara Korut secara masif dengan jumlah aliran dua ribu tentara per jam. Jika jumlah tentara aktif Korut yang selalu siaga tempur saja sebanyak 700 ribu ditambah 4,5 juta tentara cadangan, maka dengan sekali serbu riwayat Korsel akan tamat dalam waktu maksimal dua minggu (Catatan: Jumlah tentara Indonesia ‘hanya’ 400 ribu personel padahal jumlah penduduknya sepuluh kali lipat dari Korut). Rekan Korea saya mengatakan bahwa ia tak terlalu khawatir dengan ketegangan dan provokasi itu. Entahlah, apakah ia benar-benar yakin akan kedaulatan Tuhan atas nasib bangsa Korea atau karena ia tahu bahwa ada jutaan orang Kristen Korea yang selalu berdoa untuk keselamatan bangsanya.Logika pragmatis ini masuk akal. Jangankan 14,5 juta, oleh satu orang saja pun, sebuah bangsa bisa diselamatkan. Kisah Ester dan Mordekhai di Perjanjian Lama telah mengukir sejarah betapa oleh satu orang pemrakarsa doa yang didukung doa massal dari pengikut-pengikutnya maka sebuah bangsa bisa terluput dari pemusnahan. Di hari ketiga saya di Seoul, sebenarnya saya bermaksud untuk mampir ke Demilitarized Zone (DMZ), sebuah area garis batas 120 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 120

6/20/16 9:26 PM


Demilitarized Zone (DMZ)

yang membentang sejauh 204 kilometer yang memisahkan Korea Selatan dan Korea Utara sejak berakhirnya perang Korea tahun 1953. Tapi niat saya urung karena tidak cukup waktu untuk mengurus perjalanan ke sana, sebab walaupun DMZ ini terbuka untuk publik, tetapi hanya yang mengantongi izin saja yang diperbolehkan. DMZ disebut sebagai The world’s most dangerous border karena dijaga super ketat oleh tentara dari dua belah pihak–dengan senjata aktif yang siap menembak siapa pun yang berani melintasi garis batas. Tentara akan menembak tanpa tembakan peringatan terlebih dahulu. Beberapa insiden pernah terjadi di DMZ, baik insiden berdarah maupun psywar soal adu tinggi tiang bendera. Insiden yang disebut ‘flagpole war’ itu Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 121

121

6/20/16 9:26 PM


dimulai ketika tentara Korut memasang tiang bendera. Tentara Korsel juga memasang tiang bendera setinggi 100 meter, lebih tinggi daripada tiang bendera Korut. Tidak terima tiang benderanya kalah tinggi, tentara Korut kemudian memasang tiang bendera yang lebih tinggi lagi hingga 160 meter. Untungnya, tentara Korsel tidak meladeninya lagi. Jangan dikira perang tidak bakal meletus hanya gara-gara urusan tiang bendera. Kim Jong-un, yang saat ini dipuja sebagai the supreme leader atau pemimpin agung rakyat Korea Utara, lebih garang dari ayahnya, Kim Jong-il, bahkan lebih menakutkan daripada kakeknya, Kim Il-sung. Ketika ayahnya memimpin selama 17 tahun, ia ‘hanya’ mengeksekusi 10 orang, sedangkan Jong-un yang baru memimpin 5 tahun sudah mengeksekusi 70 orang penting dan petinggi Negara. Bahkan pamannya sendiri, Jang Song Thaek, yang disebut sebagai mentornya sendiri dan menjadi orang kedua paling berpengaruh setelah dirinya, dieksekusi tanpa ampun di tahun 2013. Jika 70 orang penting, termasuk pamannya sendiri dengan mudah dieksekusi mati, apakah sulit bagi Jong-un untuk memencet tombol peluncur rudal karena satu alasan tertentu? Negara superpower seperti Amerika pun tidak berani gegabah mengambil tindakan, sebab, sedikit saja kesalahan diplomatik yang membuat Jong-un tersinggung, maka tombol itu bisa saja dipencet. Nasib Korsel benar-benar hanya sejauh tombol. Untungnya, masih banyak orang Kristen di Korsel yang berdoa. Ketika kembali ke Jakarta, di dalam pesawat Korean Air yang saya tumpangi, saya sempat berpikir, bagaimana jika Jong-un sedang marah atau sebel dengan istrinya, dan tombol itu ada di dekatnya?

“Older men declare war. But it is youth that must fight and die.” – Herbert Hoover

122 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 122

6/20/16 9:26 PM


Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 123

123

6/20/16 9:26 PM


A Steven Bradley Wong

ku kuliah semester empat jurusan Teknik Sipil di California State University, Northridge, Amerika Serikat. Sewaktu aku masih di Indonesia, aku cukup aktif terlibat dalam pelayanan di Komisi Remaja GKY BSD. Hal inilah yang membantuku bertumbuh dalam iman. Kebersamaan dengan teman-teman seiman juga cukup membantuku untuk tetap hidup menjadi orang Kristen yang benar. Setidaknya pembentukan kerohanian yang ada selama inilah yang membuatku tetap bertahan menjadi orang Kristen di tengahtengah pergaulan di Amerika yang bisa membuat aku jauh dari Tuhan. Di sini aku tinggal bersama mahasiswamahasiswa lainnya di asrama kampus. Aku lebih sering memakai waktuku untuk mengatasi homesick yang kurasakan, seperti melakukan video call bersama keluarga dan teman-teman supaya aku

124 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 124

6/20/16 9:26 PM


tetap bisa keep in touch dengan mereka. Walaupun demikian, tidak jarang pula rasa homesick masih sering muncul. Untungnya, aku mempunyai keluarga yang cukup besar dan sebagian dari mereka ada yang tinggal tidak jauh dariku. Maka dari itu, cukup sering aku mengunjungi mereka pada saat weekend dan pergi ke gereja bersama di Christian Life Church, La Crescenta yang lokasinya tidak jauh dari rumah saudaraku. Selain itu, aku juga memakai sebagian waktuku untuk beberapa komunitas yang rutin kuikuti. Beberapa di antaranya adalah ISI (International Students Inc.), NSCS (National Society of

Collegiate Scholars), dan sebuah perkumpulan pelajar Indonesia yang belum lama terbentuk. Di komunitas ini kami rutin bertemu setiap dua minggu dan berdiskusi tentang berbagai hal seputar kehidupan kami. Komunitaskomunitas ini telah membuat aku memiliki pandangan yang semakin luas tentang hal-hal baru yang belum pernah kuketahui. Sejak aku berangkat kuliah dua tahun lalu, aku telah menemukan berbagai hal yang berbeda dan cukup mengagetkan jika dibandingkan dengan hal-hal yang kuhadapi di Indonesia. Salah satu perbedaan yang utama adalah bagaimana lifestyle orang-orang di Amerika Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 125

125

6/20/16 9:26 PM


pada umumnya–sebagian besar berasal dari lingkungan universitasku. Bukanlah hal yang aneh apabila aku menemukan orang-orang di kampusku yang rutin berpesta saat weekend dan mengkonsumsi alkohol hingga muntah dan sakit kepala di pagi harinya. Contoh lainnya, aroma ganja juga sering tercium pada saat aku berjalan di lorong asramaku. Bahkan, salah satu mentor di asramaku sempat menganjurkan seorang teman yang hobi merokok untuk berpindah ke ganja karna dianggap lebih ‘aman’. Semua ini dianggap biasa oleh sebagian besar orang di sekitarku. Jujur, aku sempat kaget saat menyadari perbedaan-perbedaan ini, karena inilah kali pertamaku melihatnya secara langsung. Namun, seiring

berjalannya waktu, aku menjadi semakin terbiasa dan rasa kagetku mulai berkurang saat dihadapkan dengan kenyataan baru yang belum pernah kuketahui sebelumnya. Selain dari lingkungan universitasku, aku juga mengamati realita aneh yang terjadi di sekitarku. Ada gereja yang mendukung LGBT dan meragukan firman Tuhan. Belum pernah pula sebelumnya aku mendengar sebuah peraturan di beberapa sekolah yang tidak mengizinkan muridnya untuk berdoa karena dianggap menyinggung sebagian orang. Semakin lama aku tinggal di sini, semakin banyak pula hal-hal aneh yang kutemui. Namun, dalam dua tahun terakhir ini juga aku telah

126 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 126

6/20/16 9:26 PM


menemukan beberapa hal baik yang cukup menarik bagiku. Tuhan terus menguatkanku dan memberikanku kesempatan untuk selalu membangun relasi dengan-Nya. Aku diberikan kesempatan untuk mempunyai teman-teman baru yang memiliki latar belakang yang berbedabeda. Aku percaya, semua pengalamanku di sini telah Tuhan izinkan untuk terjadi; supaya aku mempunyai pandangan yang semakin luas, mempersiapkanku untuk masa depanku, ataupun untuk mengasahku supaya aku menjadi apa yang Ia kehendaki. Memang, cukup berat dan membingungkan bagiku untuk menghadapi semua ini. Kerap aku merasa imanku mulai goyah dan aku hanya bisa pasrah dan bersandar pada Tuhan. Namun, dari hal-hal yang terjadi, aku semakin sadar bahwa hidup selalu dipenuhi dengan pilihan-pilihan yang harus kuambil. Tuhan seringkali mengizinkanku untuk memilih jalan mana yang mau kujalani. Bagaimana aku mau menjalani hidupku, atau bagaimana aku menghadapi hal-hal yang terjadi

di hidupku, itu semua kembali lagi pada pilihanku sendiri. Jujur, seringkali aku sempat bingung tentang pilihan-pilihan yang harus kuambil. Tidak jarang aku takut dengan konsekuensi dari setiap tindakan yang kuambil. Akan tetapi Tuhan juga selalu mengingatkanku bahwa Ia telah memberikan Roh Kudus untuk tinggal di dalam setiap orang percaya, begitupun di dalamku. Ia selalu setia membimbingku untuk terus berjalan bersamaNya dan melakukan kehendakNya. Aku selalu diingatkan bahwa hanya Tuhanlah satusatunya yang selalu setia dan tidak pernah mengecewakan setiap orang yang berharap dan percaya kepada-Nya. Kedua hal inilah yang sampai sekarang membuatku terus bersandar dan berharap kepada Tuhan untuk menghadapi segala sesuatu di sekitarku. Sebagai contoh, aku memang bukan seorang alkoholik, akan tetapi aku cukup penasaran untuk mengkonsumsi alkohol. Namun di saat yang bersamaan, aku juga takut kalau-kalau aku malah menjadi kecanduan ketika aku sudah Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 127

127

6/20/16 9:26 PM


mengkonsumsinya. Anehnya, cukup sering aku ditawari sebotol alkohol oleh beberapa temanku. Padahal mereka tahu bahwa secara legal di California saja umurku belum diperbolehkan. Memang sempat terpikir untuk menerimanya karena memang ada rasa penasaran yang timbul, tapi entah mengapa ada rasa yang mengganjal yang menganjurkanku untuk tidak mengambilnya. Sebab toh memang, aku belum pernah mencobanya selama aku di Indonesia walaupun secara umur aku sudah legal. Aku takut akan konsekuensi yang kudapat apabila aku menerimanya, tapi di saat yang sama aku juga penasaran. Tidak mudah memang untuk memilih jalan yang akan kuambil, seakanakan semua serba salah. Pada akhirnya aku hanya bisa memilih satu yang pasti, yakni bersandar pada Tuhan. Aku menolak untuk mengkonsumsi alkohol dengan alasan bahwa aku tidak minum alkohol.

Memang, hal ini langsung selesai dan tidak terjadi apa-apa ketika aku memilih untuk menolaknya. Namun entah mengapa sering kali aku diuji dengan kejadiankejadian seperti ini. Anehnya lagi, hal serupa ini juga sempat terjadi lagi beberapa kali, namun dengan objek yang berbeda, seperti rokok atau vape. Dari pengalamanku ini, aku belajar bahwa memang Tuhan mengizinkanku untuk diuji. Tuhan mau terus mengasahku agar aku tidak mudah terbawa arus. Selain itu, aku juga jadi sadar bahwa Ia rindu agar aku terus bersandar dan berharap kepada-Nya dalam segala keadaan. Aku percaya Tuhan punya rencana yang baik yang Ia persiapkan bagi masa depanku. Terlebih lagi, aku juga berharap agar kiranya semua pengalaman ini bisa membuatku menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarku

128 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 128

6/20/16 9:26 PM


Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 129

129

6/20/16 9:26 PM


130 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 130

6/20/16 9:26 PM


/ Humprey /

u d a h lama saya mendengar nama Dokter Inda, walaupun saya awalnya menyangka namanya adalah Dokter Indah, karena begitulah saya mendengar orangorang biasa memanggilnya. Ternyata pertama kali berjumpa, kesan saya seindah namanya, seorang dokter yang cantik dan ramah. Indawati Kamil Utomo, itu nama lengkapnya, sudahkah Anda mengenalnya? Kalau belum, mari kita simak bincang-bincang berikut ini:

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 131

131

6/20/16 9:26 PM


132 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 132

6/20/16 9:26 PM


Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 133

133

6/20/16 9:26 PM


134 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 134

6/20/16 9:26 PM


R

angkaian Ibadah Paskah tahun ini sudah dimulai sejak hari Rabu, 23 Maret 2016, dengan Kebaktian Doa Tumpang Tangan oleh tim doa yang terdiri dari hamba Tuhan dan Majelis (BPMJ). Sebanyak lima puluh orang maju untuk didoakan oleh tim doa dalam ibadah khusyuk yang dihadiri oleh 168 jemaat, diwarnai lantunan pujian oleh Komisi Wanita yang membuat suasana semakin syahdu, menghantarkan jemaat memuji Tuhan dan berjumpa dengan-Nya dalam doa-doa pribadi.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Kebaktian Jumat Agung tahun ini (25 Maret 2016) juga berupa ibadah gabungan GKY BSD, Pamulang, dan Gading Serpong. Bertempat di UPH Grand Chapel Karawaci, ibadah berlangsung sejak pukul 9.00 pagi sampai pukul 12.30. Firman Tuhan pada ibadah yang bertema “No Cross no Glory” itu dibawakan oleh Ev. Arlens Kauntu dari Manado. Paduan Suara Sanctus gabungan ketiga gereja turut mengisi acara, demikian pula drama oleh GKY BSD dan Pamulang. Drama “Sang Pencari Kebenaran” yang menceritakan pergumulan Nikodemus menemukan dan Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 135

135

6/20/16 9:26 PM


mempercayai Sang Kebenaran, telah menyentuh jemaat lewat pagelaran selama 45 menit yang menampilkan kilas balik saat manusia ‘mengadili’ Tuhan lewat konspirasi dan persengkokolan para pemuka agama dan penguasa di masa itu. Dalam khotbahnya, Ev. Arlens Kauntu juga mengajak kita merenungkan kembali pengorbanan Tuhan Yesus karena pengkhianatan, kemunafikan, dan kejahatan manusia yang harus ditanggung-Nya di atas kayu salib. Dalam Ibadah Jumat Agung juga diadakan Perjamuan Kudus yang dilayani oleh Pdt Joni Sugicahyono. Juga disampaikan kesaksian oleh Imelda Saputra, penulis artikel buku Kristen dan renungan harian, dimana

melalui keterbatasan fisik yang Tuhan izinkan namun tetap dipakai menjadi berkat bagi banyak orang. Kebaktian gabungan tahun ini dihadiri tak kurang dari 1.630 jemaat. Ibadah Paskah (Minggu, 27 Maret 2016) diadakan dua kali, pukul 7.00 dan pukul 10.00. Sore harinya, pada pukul 17.00, diadakan KKR Paskah. Semua kebaktian pada hari itu juga dilayani oleh Ev. Arlens Kauntu sebagai penyampai firman Tuhan. Ibadah Paskah yang bertajuk “I Know My Redeemer Lives” dimeriahkan oleh rangkaian pujian oleh Paduan Suara anak-anak The White Lily Symphony dan Fidelis yang menyampaikan “Berita Kebangkitan untuk Bangsa-

136 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 136

6/20/16 9:26 PM


Bangsa”, disampaikan dalam berbagai bahasa dan kostum tradisional dan internasional. Pada kesempatan itu keluarga Pdt. Woo berkenan melantunkan pujian dalam bahasa Korea dan Ibu Maya Marpaung menyanyikan pujian dalam bahasa Belanda. Tak lupa dibagikan dua telur Paskah kepada setiap jemaat supaya dapat dibagikan pula kepada orang lain di luar gereja. Rangkaian Ibadah Paskah ditutup dengan KKR yang bertema “Save Me at the Cross”. Puji Tuhan, banyak orang boleh dilayani melalui altar calling dan Tuhan menyentuh setiap pribadi yang telah berkomitmen menjadi pengikut Kristus seumur

hidup mereka. Paduan Suara Sion turut melayani dalam KKR yang dimeriahkan pula oleh penyanyi Nikita melalui serangkaian pujian yang indah. Ibadah Paskah sebanyak tiga kali kebaktian tersebut secara total dihadiri oleh 1.470 orang.

“Segala Kemuliaan hanya bagi Tuhan!!”

/ Andriani Yuwana & Anton Utomo / Photografer: Arief & Peter

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 137

137

6/20/16 9:26 PM


138 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 138

6/20/16 9:26 PM


/ Thomdean /

(dari berbagai sumber) Redaksi NAFIRI menyambut sumbangan humor untuk rubrik Nafiri HAHAHA! Silakan mengirimkan tulisan ke email: nafiri@gkybsd.org Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 139

139

6/20/16 9:26 PM


Sebagian besar penduduk Kalimantan Barat sangat familier dengan ‘Rumah Sakit Serukam’. Dan banyak diantara mereka telah mendapatkan pertolongan, kesembuhan, kesegaran jiwa raga, dan semangat hidup yang baru setelah bersinggungan dengan pelayanan rumah sakit misi yang satu ini. “Rumah Sakit Serukam” sebenarnya punya nama resmi: Rumah Sakit Umum Bethesda.

Lokasinya di desa Serukam, sekitar lima puluh kilometer di timur kota Singkawang. Dari kota Pontianak, dibutuhkan sekitar empat–lima jam perjalanan darat untuk sampai di desa kecil ini. Bethesda adalah rumah sakit kategori C dan memiliki seratus tempat tidur untuk rawat inap. Bangunan rumah sakitnya jauh dari kesan mewah, tetapi punya lingkungan yang cukup asri dan teduh. Pada bulan April 2016 sebuah

140 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 140

6/20/16 9:26 PM


/ Hendro Suwito /

Para dokter dan perawat yang melayani di Bethesda akhir tahun 1960-an

gedung bedah yang baru sudah selesai dibangun dan diharapkan akan semakin meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan bagi masyarakat. Walaupun terletak di lokasi ‘yang jauh dari mana-mana’, tetapi rumah sakit misi ini ternyata masih terus menjadi salah satu favorit bagi banyak penduduk di Kalbar; apalagi yang tinggal di dusundusun, desa-desa, dan kota-kota dalam radius seratus kilometer dari Serukam. Banyak orang yang mbela-mbelain membawa anggota keluarganya untuk berobat atau dioperasi di Bethesda walaupun harus menempuh perjalanan berjam-jam.

Banyak di antara para pasien merupakan generasi kedua, ketiga dan bahkan keempat yang terus setia mendatangi Bethesda jika ada masalah dengan kesehatannya. Apa yang telah membuat rumah sakit ndeso yang di sekitarnya masih banyak hutan belantara ini demikian dekat di hati masyarakat? Dua Nona-Nona Klinik Bethesda sebenarnya sudah dirintis oleh misionaris John Bremen pada tahun 1950an di dusun Sei (Sungai) Betung, sekitar sepuluh kilometer di timur Serukam. Tetapi, pelayanannya baru mulai berjalan lebih Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 141

141

6/20/16 9:26 PM


Jalan berlmpur antara Singkawang dan Sungai Betung pada tahun 1960-an

profesional setelah diambil alih dan diteruskan oleh Conservative Baptist Foreign Mission Society (CBFMS) pada tahun 1960/1961. Dua orang perawat asing dikirim ke klinik ini, termasuk Gertrude Davis yang sebelumnya melayani di Congo. Pada tahun 1964, CBFMS mengirim Dokter Wendell Geary dan istrinya Marjorie, seorang perawat. Dokter Geary dan Marjorie, bersama kedua anak balitanya, tinggal di rumah sederhana berdinding gedek (anyaman bambu) dan beratap rumbia. Walaupun fasilitas sangat terbatas dan listrik juga belum ada,

Dokter Wendell Geary, perintis pelayanan di Bethesda Serukam pada tahun 1960-an

hadirnya Dokter Geary langsung membawa perubahan total pada pelayanan Bethesda. Jenis-jenis layanan semakin meningkat dan profesional. Adanya dokter dari luar negeri yang melayani di dusun menjadi sensasi tersendiri. Pasien dengan berbagai penyakit mulai berdatangan. Walaupun jaringan jalan masih sulit dan sering menjadi kubangan lumpur di musim hujan, mereka dibawa ke Sungai Betung untuk mendapat pengobatan. Seiring dengan meningkatnya layanan, beberapa perawat dari luar negeri datang membantu. Suami-istri dokter, Bert dan Beth Ferrell,ikut bergabung pada tahun 1967. Bangunan klinik akhirnya

142 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 142

6/20/16 9:26 PM


diperluas untuk menampung pasien yang semakin meningkat, bisa seratus hingga dua ratus orang per hari. Sejak tahun 1965, beberapa anak muda lokal ikut bergabung dan dilatih Dokter Geary, Marjorie, dan kawan-kawan untuk menjadi perawat. Pada akhir 1960-an, tercatat ada dua belas pemuda-pemudi lokal yang melayani sebagai perawat. Secara berseloroh, mereka diibaratkan seperti dua belas murid Tuhan Yesus. Dokter Geary, Marjorie, dan kawan-kawan juga sering berjalan kaki ke dusun-dusun terpencil di pedalaman untuk memberi penyuluhan tentang kesehatan dan mengobati warga yang sakit. Semakin Dicintai Dokter Geary dan keluarga, yang semula hanya berencana melayani selama empat tahun, akhirnya semakin jatuh hati pada masyarakat pedalaman Kalimantan Barat yang memang masih sangat membutuhkan layanan kesehatan yang berkualitas. Selain Dokter Geary, suamiistri Dokter Bert dan Beth Ferrell,

ikut mendukung pelayanan di Bethesda sejak 1967.Kesungguhan hati, profesionalisme layanan, perhatian tulus pada pribadi pasien dan keluarganya, dan biaya yang sangat ringan membuat Bethesda semakin dicintai masyarakat. Sejak akhir 1960-an, Dokter Geary dan kawan-kawan mulai merintis pembangunan rumah sakit yang lebih representatif. Serukam dipilih sebagai lokasi rumah sakit yang baru. Pada awal 1970-an, pembangunan fisik pun dimulai. Di samping kompleks rumah sakit juga dibangun airstrip yang bisa didarati pesawat ringan. Pada tahun 1973, saat pembangunan rumah sakit sedang sibuk-sibuknya, kabar buruk pun datang. Dokter Geary dan keluarga diminta segera meninggalkan Indonesia oleh pemerintah. Mereka pun terbang ke Jakarta dan akanmelanjutkan perjalanan ke Amerika. Untunglah, pada saat-saat terakhir,perintah itu dibatalkan. Dokter Geary dan keluarga kembali ke pedalaman Kalbar dengan penuh rasa syukur dan takjub akan kasih dan kuasa Tuhan. Pada bulan Februari 1974, Gubernur Kalimantan Barat Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 143

143

6/20/16 9:26 PM


Lima dokter Indonesia pertama yang mendukung pelayanan di Bethesda

Kadarusno secara khusus terbang ke Serukam untuk meresmikan gedung rumah sakit yang baru. “Saya pegang ‘ekornya’ supaya Dokter Geary tidak jadi pulang dan bisa terus menolong masyarakat di sini,” ujar Pak Kadarusno dalam pidatonya. Tampaknya dia ikut berperan dalam pembatalan ‘pengusiran’ Dokter Geary. Rumah Sakit Bethesda di Serukam, dengan fasilitas yang jauh lebih baik, langsung menjadi rujukan bagi banyak masyarakat; bahkan hingga dari Singkawang, Sambas, Sanggau, dan bahkan dari Pontianak. Beberapa dokter

luar negeri, seperti Mel Michaelian dan Dan Crawford, ikut bergabung memperkuat pelayanan. Sekolah perawat, yang dirintis Marjorie dan kawan-kawan sejak tahun 1970, menjadi tulang-punggung dalam menyiapkan perawat-perawat yang memiliki kemampuan teknis dan mau melayani dengan hati. Dokter Geary dan kawankawan terus mengasah ilmu melalui buku-buku kedokteran terbaru dan mengikuti pelatihan di luar negeri. Itu sebabnya, tim dokter Bethesda dikenal punya kemampuan menangani berbagai penyakit, termasuk operasi-

144 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 144

6/20/16 9:26 PM


operasi, yang cukup kompleks. Ditunjang komunikasi radio SSB dengan puluhan desa lain, pesawat ringan yang dioperasikan lembaga misi MAF aktif menerbangkan pasien-pasien dari desa-desa terisolir. Karena penerbangan makin sering dilakukan, pesawat MAF bersama crew-nya secara khusus ditempatkan di Serukam. Heaven in the Jungle Para dokter dan perawat bekerja tanpa mengenal waktu agar dapat melayani para pasien yang berdatangan, secara cepat dan profesional. Semangat pelayanan yang didasari oleh kasih Kristus dan bersumber dari hati yang tulus serta penuh dedikasi membuat layanan di Bethesda Serukam terasa sangat berbeda dengan rumah sakit-rumah sakit lain. “Begitu kita masuk ke lingkungan Bethesda, rasanya seperti separuh sakit-penyakit kita sudah langsung sembuh,” ujar Samuel Junaedi, seorang pemilik toko di Singkawang yang sudah berkali-kali berobat ke Bethesda. Hanya dalam beberapa tahun setelah dibuka, nama ‘Rumah Sakit Serukam’ langsung melekat dalam

benak banyak orang di Kalimantan Barat. Bethesda bahkan sering disebut-sebut sebagai heaven in the jungle–surga di tengah belantara. Pada akhir 1970-an, izin bagi dokter asing untuk bekerja di Indonesia makin diperketat. Itu sebabnya ada kekhawatiran bahwa Bethesda bisa ditutup kalau izin para dokter asing tidak bisa diperpanjang. Dokter Geary dan kawan-kawan berkeliling ke Pulau Jawa mengajak dokter dan calon dokter Indonesia untukbergabung melayani di Serukam. Pada bulan Januari 1982, Dokter Sri “Wiwiek” Sjamsudewi dan seorang temannya datang untuk praktek lapangan di Bethesda. Temannya hanya bertahan tiga bulan; tidak tahan tinggal dan melayani di dusun terpencil yang ‘tidak ada apa-apanya’. Dokter Wiwiek, lulusan Universitas Atma Jaya Jakarta, justru menemukan jalan hidup yang dirancang Tuhan bagi dirinya. Dokter Indonesia pertama di Bethesda ini terus melayani di Serukam selama puluhan tahun hingga pensiun. Tak lama setelah Wiwiek, beberapa dokter Indonesia ikut bergabung; seperti Willy Ken, Husin Basir, Francisca Badudu, dan Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 145

145

6/20/16 9:26 PM


Dokter Geary dan Marjorie, yang sudah pensiun, berfoto bersama para dokter senior dan yunior yang melayani di Bethesda

Rosita Siregar. Willy Ken, pemuda Dayak yang berasal dari dusun terpencil di Belitang Hulu-Kalbar. Nilai-Nilai Pelayanan Sejak pertengahan 1980an, para dokter Indonesia juga mulai ditunjuk untuk memimpin Bethesda. Francisca Badudu dipilih menjadi direktur Bethesda tahun 1986. Pada tahun 1988, Willy Ken ditunjuk menggantikan Francisca yang harus kembali ke Bandung untuk menikah dan melanjutkan studinya.

(Francisca akhirnya menjadi ahli bedah perempuan pertama yang mendalami bidang onkologi. Walaupun tidak lagi di Serukam, dia terus menghidupi semangat dan komitmen pelayanan yang dia serap dari Dokter Geary dan kawan-kawan.) Setelah para dokter Indonesia generasi pertama itu, berpuluh-puluh dokter lain terus berdatangan ke Serukam untuk ikut melayani. Salah satu dokter yang pernah ikut merasakan bimbingan Dokter Geary adalah Dokter Nora Prasetyo, jemaat GKY

146 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 146

6/20/16 9:27 PM


BSD yang melayani di Serukam tahun 2012–2014. Walaupun Dokter Geary sudah cukup lama pensiun, dia masih tinggal di Serukam dan terus berbagi nilai-nilai pelayanan dengan para dokter muda, termasuk Dokter Nora. Dokter Geary, yang dikenal luas sebagai perintis BethesdaSerukam, melayani hingga sekitar lima puluh tahun di pedalaman Kalimantan Barat sebelum akhirnya pulang kampung ke Minnesota bersama Marjorie. Putra bungsunya, Paul Geary, seorang dokter ahli penyakit dalam, aktif meneruskan karya pelayanan ayahnya. Dokter Paul setiap tahun meluangkan waktu beberapa bulan di Serukam untuk melayani dan membantu mengembangkan Bethesda. Pelayanan Rumah Sakit Bethesda sekarang hampir sepenuhnya dijalankan oleh dokter-dokter dan staf Indonesia. Edy Ariston Lubis, dokter spesialis mata, sudah beberapa tahun dipercaya menjadi direktur Bethesda. Dokter Edy dan kawankawan terus berupaya memegang teguh nilai-nilai pelayanan misi yang diteladankan oleh Dokter Geary dan kawan-kawan.

Rumah sakit di pedalaman ini terus berjuang menjalankan misinya untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan membagikan kasih dan kuasa Kristus bagi masyarakat. Bethesda juga mulai aktif mendukung dan mengembangkan SDM rumah sakit misi lain di Indonesia yang sedang berjuang untuk meningkatkan kualitas pelayanannya. Satu–dua jam di pagi hari, dengan volume sangat lembut, lagu-lagu merdu mendayu Herlin Pirena dan penyanyi gospel yang lain mengalun melalui jaringan radio di lingkungan Bethesda. Rasa teduh dan damai pun menyusup memenuhi relung-relung hati para pasien dan semua yang melayani di rumah sakit ndeso ini. Segala sakit-penyakit dan kepenatan jiwa seakan menguap ke angkasa; digantikan kesegaran semilir angin sejuk yang bertiup dari perbukitan hijau di belakang Bethesda. Benar-benar heaven in the jungle

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 147

147

6/20/16 9:27 PM


ASI ND

KOME RE

The Me I Want to Be Judul buku: The Me I Want to Be (Menjadi Diri Anda yang Terbaik Menurut Versi Allah) Pengarang: John Ortberg Jumlah halaman: 312 halaman

Dalam kehidupan kita sebagai makhluk sosial, banyak sekali orang di sekeliling kita yang menginginkan kita untuk berubah sesuai agenda mereka. Bos kita menginginkan kita makin produktif, perusahaan kartu kredit ingin kita lebih banyak berutang, restoran ingin kita lebih banyak makan; dan jika kita berusaha untuk menjadi ‘diri saya yang itu’, kita akan menjadi orang yang tidak akan pernah merdeka. Berusaha menjadi diri kita seperti yang diinginkan orang

lain adalah cara hidup yang hampa. Bahkan sebetulnya kita sendiri juga tidak tahu bagaimana harus berubah, karena bukan kita yang menciptakan diri kita sendiri. Satu-satunya pribadi yang bisa melakukan perubahan secara sempurna atas diri kita adalah Allah. Dia tahu seperti apa versi terbaik dari diri kita. Inilah kabar baik yang disampaikan oleh Pendeta John Ortberg lewat buku setebal 312 halaman ini. Buku ini kaya dengan contoh pergumulan priba-

148 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 148

6/20/16 9:27 PM


dinya maupun orang-orang di sekelilingnya; sehingga buku ini sangat layak dibaca, bahkan berulang-ulang. Sebelum Paulus bertemu dengan Yesus, ia adalah seorang radikal yang cerdas dan penuh gairah untuk menganiaya jemaat Tuhan; setelah bertemu dengan Yesus ia adalah seorang radikal yang cerdas dan penuh gairah untuk mengorbankan diri bagi jemaat Tuhan. Seperti inilah, jika Allah menolong kita untuk bertumbuh; Ia tidak membuang ‘bahan mentah’ kita, Ia mengarahkannya. Kehidupan yang bertumbuh kembang itu mungkin terjadi ketika kita tetap terhubung dengan Allah. Ketika fokus utama kita adalah menikmati kebersamaan dengan Dia, segala sesuatu akan berada di tempat yang semestinya, dan kita menjadi diri kita yang sejati, seperti sebuah perabot tua yang dipulihkan kembali keindahannya. Allah menciptakan kita dengan temperamen, karunia, dan talenta yang unik; berbeda dari manusia lainnya, dan jalan pertumbuhan kita sama sekali tidak akan mirip dengan jalan siapa pun. Satu-satunya cara kita untuk menjadi orang yang sesuai

dengan rancangan Allah adalah hidup dengan Roh Allah mengalir melalui diri kita, seperti suatu aliran air hidup. Pertumbuhan dalam diri kita dimulai dengan roh kita yang diberi kuasa oleh Roh Allah, membuat kita melakukan kebajikan dan menanggalkan dosa. Kemudian yang ada adalah pikiran kita, yang ditandai dengan sukacita dan damai sejahtera. Damai sejahtera tidak diperoleh dari menemukan danau yang tanpa badai, tapi dengan memiliki Yesus dalam perahu. Penulis mengatakan satu hal yang mutlak kebenarannya: Allah itu ada. Dan Dia bukan Anda. Inilah permulaan dari hikmat. Ketika kita tidak yakin dengan apa yang harusnya kita lakukan, kita harus meletakkan kehidupan kita di tangan Allah. John Calvin berkata bahwa satu-satunya tempat perlindungan yang aman adalah ‘tidak memiliki kemauan lain, hikmat lain; kecuali mengikuti Tuhan kemana pun Ia menuntun.’ Berserah semacam ini jelas berbeda dengan sikap pasif. Kehendak Allah bagi hidup kita mencakup mengolah kreativitas, menentukan pilihan, dan berinisiatif. Berserah bukan berarti menjadi keset, namun kita seringkali Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 149

149

6/20/16 9:27 PM


harus bertarung melawan tantangan status quo. Berserah berarti mengakui dengan sukacita dan sukarela bahwa Allah itu ada dan Dia bukan saya. Yesus bukan datang untuk menata kembali bagian luar kehidupan kita menurut cara yang kita inginkan, namun Yesus datang untuk menata kembali bagian dalam kehidupan kita menurut cara yang Allah inginkan. Bagaimana kita dapat menemukan cara untuk bertumbuh dijelaskan secara rinci dalam bab-bab selanjutnya. Kita adalah maha karya-Nya, yang dikerjakan dengan kecakapan tangan yang tidak akan sama dengan ketika Allah membentuk orang lain. Allah tahu apa yang diperlukan setiap ciptaan-Nya. Alkitab menceritakan tentang Allah yang memberi Musa masa rehat empat puluh tahun, memberi Daud kecapi dan tarian, dan Dia memberi Paulus pena dan gulungan kitab. Ia bersikap keras pada anak muda yang kaya, lembut pada wanita yang tertangkap basah sedang berzinah, sabar pada murid-murid, ramah pada anak-anak, menyerang den-

gan kata-kata tajam pada ahli Taurat. Allah tidak pernah menumbuhkan dua orang dengan cara yang persis sama. Allah juga menghadirkan orang lain untuk membentuk kita, orang yang menurut kita adalah orang sulit. Keberadaan orang-orang sulit dalam hidup kita dipakai Allah untuk menolong kita menjadi versi terbaik dari diri kita. Seperti tokoh hebat dalam Alkitab yang memiliki orang yang sulit dalam hidup mereka. Musa memiliki Firaun, Elia memiliki Izebel, Ester memiliki Haman, Yakub memiliki Laban, Daud memiliki Saul, Yohanes Pembaptis memiliki Herodes, dan bahkan Yesus memiliki Yudas. Bertumbuh kembang termasuk di dalamnya adalah memperbaiki pikiran kita. Dalam hidup kita yang seringkali dipenuhi kecemasan, Allah menginginkan kita hidup dengan keyakinan akan kuasa-Nya, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Doa merupakan disiplin rohani yang paling mendasar sehubungan dengan menanggalkan kecemasan dan mengenakan damai sejahtera.

150 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 150

6/20/16 9:27 PM


Penulis membagi kategori utama dalam kehidupan seseorang mencakup: hubungan, kehidupan finansial, pekerjaan, emosi, kebiasaan, keputusan moral, kesehatan dan penampilan fisik, kefanaan; dan paling tidak pasti ada satu masalah di antaranya. Kadang kita berdoa untuk apa yang seharusnya kita doakan–perdamaian dunia dan misi–tapi sesungguhnya pikiran kita mengembara ke hal-hal yang memang sungguh-sungguh kita pikirkan. Hati yang suka menutup-nutupi keadaanlah–bukan hati yang egois–yang paling sulit untuk berubah. Selama kita punya masalah yang belum diselesaikan, keinginan yang belum terpenuhi, dan iman sebesar biji sesawi; kita sudah punya seluruh bahan yang memadai untuk kehidupan doa yang penuh gairah. Menjadi versi terbaik diri kita, mulai dari satu arahan sederhana: Pikirkanlah pemikiran yang mulia! Pikiran kita seharusnya dicondongkan ke arah keyakinan, kasih, dan sukacita. Tugas paling penting dalam kehidupan kita bukanlah apa yang kita kerjakan, melainkan menjadi orang seperti apakah kita.

Dengan pertolongan Allah; kita akan dapat bertumbuh kembang menjadi manusia-manusia yang bijaksana dan mendatangkan berkat bagi sesama, dan kita mampu melakukannya di tengah keadaan yang paling tidak kita harapkan dan paling buruk sekalipun. Pada akhirnya, apa pun masalah yang kita hadapi merupakan cara Tuhan untuk menumbuhkan kita menjadi pribadi-pribadi yang makin sesuai dengan versi rancangan-Nya

TENTANG PENULIS John Ortberg adalah pendeta Park

di Menlo Presbyterian

Church

di

Menlo

Park, California. Banyak buku laris yang sudah

ditulisnya

antara lain: When the Game is Over, It All Goes Back in the Box, God is Closer than You Think, The Life You’ve Always Wanted, dan masih banyak judul lainnya. Ia dan istrinya memiliki tiga orang anak.

/ Lily Ekawati Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 151

151

6/20/16 9:27 PM


Retret

Komisi Wanita etelah empat tahun berlalu, Komisi Wanita kembali berkesempatan untuk mengadakan retret yang diadakan tanggal 29–30 April 2016 di Wisma Agape, Desa Gadog, tak jauh dari Bogor, Ciawi. Tema retret kali ini adalah ”Wanita GKY-BSD (Giat Kerja bagi Yesus dan Bertumbuh Setia Dinamis)”.

152 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 152

6/20/16 9:27 PM


Rangkaian acara dikemas semenarik mungkin supaya 101 wanita yang ikut serta dalam retret ini dapat disegarkan dan dibangunkan kembali kerohaniannya. Ev. Lily Soewandi dari Bandung mengisi sharing firman Tuhan dalam dua sesi. Teladan yang luar biasa ditularkan oleh Pembicara; di dalam usia yang tidak lagi muda, tetapi tetap memiliki semangat berkobar-kobar dalam melayani Tuhan. Sesi pertama bertopik “Wanita GKY� (Giat Kerja bagi Yesus) mengajak wanita untuk bukan out-of-date, tetapi menjadi wanita yang up-date untuk terus rajin PA di gereja dan belajar segala hal yang positif; menjadi wanita yang dengan tangannya membangun keluarganya, dan tidak menjadi wanita bodoh yang justru menghancurkan dengan tangannya. Betapa penting untuk menjadi wanita yang baik, berjerih lelah, tidak malas, dan membawa damai sejahtera.

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 153

153

6/20/16 9:27 PM


Wanita GKY dengan tujuan supaya rohani dapat ditingkatkan, melatih otot rohani menjadi terampil, dan membawa jiwa datang pada Tuhan. Wanita GKY bukan untuk menonjolkan diri, tetapi bekerja dengan berpusat kepada Tuhan Yesus karena Dialah Juruselamat kita dan yang tetap bersama kita. Manusia bisa bosan dan menyingkirkan kita, tetapi Tuhan akan tetap tinggal bersama kita. Hanya dengan sikap hati bersyukur kepada Tuhan, menyadari semua adalah anugerah Tuhan dan selalu memuliakan Tuhan, maka wanita dapat dengan giat dan semangat bekerja bagi Yesus. Sesi kedua dengan topik “Wanita BSD� (Bertumbuh, Setia, Dinamis) mengajak wanita untuk tidak saja memperhatikan pertumbuhan jasmani, intelek, dan moral; namun juga memperhatikan pertumbuhan secara rohani. Mereka didorong untuk tekun berdoa, berserah kepada Tuhan, dan merenungkan firman Tuhan. Menjadi wanita yang luar dan dalam sama, sehingga dapat mencerminkan firman Tuhan dalam kehidupan. Setia dalam melayani dan setia dalam segala perkara; baik kecil, besar, kelihatan, tidak kelihatan. Walaupun kadang tidak ada yang mengapresiasi akan apa yang kita lakukan, harus tetap setia melayani Tuhan karena Dia yang akan mengapresiasi apa yang kita kerjakan. Dinamis dalam menggunakan talenta yang Tuhan sudah berikan untuk mengembangkan pekerjaan Tuhan, saling mengisi dan kerjasama yang baik satu dengan lainnya. 154 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 154

6/20/16 9:27 PM


Setelah sesi kedua berakhir, dalam suasana hening dan khidmat, para peserta retret berjalan beriringan menuju ruang terbuka untuk memasuki acara Api Unggun yang dipimpin oleh GI. Eliyani Sugicahyono. Mereka ditantang untuk mengasihi Yesus dengan segenap hati dan menyingkirkan segala dosa dan penghalang yang selama ini masih menjadi penghalang. Acara ini diakhiri dengan lomba yel-yel dari dua belas kelompok di Komisi Wanita. Senam Sehat Bersama mengawali hari kedua, kemudian dilanjutkan Doa Pagi dengan perenungan firman Tuhan oleh GI. Eliyani. Para peserta juga bergembira bersama dengan tiga macam lomba: Estafet Bola Sarung, Makan Krupuk Tertutup, dan Lomba Raden Ajeng Kartini ala GKY. Lomba-lomba ini bukan sekedar untuk ber-haha-hihi saja, tetapi untuk menciptakan kekompakan dalam kelompok dan agar tercipta kedekatan antar seluruh peserta. Atmosfer kebersamaan dan sukacita sangat terasa dalam acara lomba ini.

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 155

155

6/20/16 9:27 PM


156 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 156

6/20/16 9:27 PM


“We are One” menutup rangkaian acara retret KW. Dua belas ketua kelompok memasuki ruangan dengan membawa umbul-umbul nama masingmasing kelompok (Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, dan Maleakhi). KW terdiri dari dua belas kelompok namun “Kami adalah Satu” untuk saling membangun dan mendukung menjadi Wanita GKYBSD. Kebulatan hati untuk menjadi Wanita GKYBSD dituangkan dalam bentuk tekad-tekad dan ditempelkan di Pohon Tekad. Akhirnya pujian ‘Sayonara’ menutup seluruh rangkaian acara retret. Para Wanita pulang ke rumah dengan penuh sukacita, semangat, dan gairah untuk menjadi Wanita yang Giat Kerja bagi Yesus dan berjuang untuk Bertumbuh, Setia, Dinamis. Terpujilah nama Tuhan! / Kristiyani Sinjaya /

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 157

157

6/20/16 9:27 PM


心系圣殿

心系圣殿

(哈该书 1:1—14)

(哈该书 1:1—14)

158 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 158

6/20/16 9:27 PM


/ Shang Guan Jin Xia / Mahasiswa program MDiv. Mandarin STT Bandung

圣殿历史历代以来都是以色列敬拜上 帝的中心,甚至以色列人有一个观点,圣 殿在,上帝在,圣殿不在,上帝就不与他 们同在,所以每一个时代当中,上帝的殿 都是以色列民所爱慕的,因为爱上帝的殿, 就表达出对上帝的爱。但是对于哈该书时 期的这一批以色列人,他们大部分生长在 巴比伦,对于上帝殿没有太多的认知,因 此对于圣殿的重建,他们几乎毫无所谓, 虽然领受上帝的异象回到了自己家乡建造 圣殿,但是他们遇到一点的困难就想要放 弃,他们每一个人都专顾自己的小家,以 至于上帝说:这殿仍然荒凉,你们自己还 住天花板的房屋吗?

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 159

159

6/20/16 9:27 PM


这句话是一位慈爱天父的呼喊,这一句话也是一位父亲的 责备。对于今天的基督徒而言,这一句话同样带着天父上帝责 备,今天放眼观看,神家的殿极其荒凉,无人照看,每一个基 督徒都在忙着自己的小家,看不见神家的需要,看不见羊群的 需要,甚至上帝的仆人也是如此,今天很多口称自己是上帝仆 人,也都在追求世上的物质享受,追求更好的房子、车子,追 求更多的金钱享受,最求更高的地位权势,谁是真心爱主的人 呢?今天神家多么需要工人,多少的人没有听到福音,多少的 人需要帮助,多少的人在哭泣没有人安慰,但是今天让我们看 看自己吧!我们在做什么,每一个礼拜在享受在自我陶醉的生 活当中,有好的牧师讲道给我们听,有好的圣所可以聚会,有 好的房子可以居住,有漂亮的车子可以旅行,有充足的金钱可 以环游世界。谁今天还会为主放下一切,奉献自己的一生来忠 心的侍奉主呢?今天真正愿意与以赛亚同说:主啊!我在这里, 请差遣我的人在哪里?(赛 6:8 下)。今天真正愿意和保罗同说: 无论是希利尼人,化外人,聪明人,愚拙人,我都欠他们的债 (罗 1:14)。这样的人在哪里!

160 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 160

6/20/16 9:27 PM


主内肢体们,上帝的仆人们,伟大的属灵领袖们,让我们 悔改吧!把更多的爱,更多的年日,更多的经历放在上帝的身 上吧!神的家需要你的付出,生活在黑暗当中的人需要你的付 出,生活战争饥荒当中的人需要你的付出,生活在疾病苦难当 中的人需要你的付出。你愿意吗?心系圣殿,就是心系神的家; 心系圣殿,就是心系上帝的心意。上帝的心意就是:他愿意万 人得救,明白真道(提前 2:4)。你愿意以基督的心为心吗? (腓 2:5)。

主啊!愿你十架的大爱,激励凡是愿意为你的家付出的人。 使我们的人生真的能够与你同工、同行、同乐。 阿们

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 161

161

6/20/16 9:27 PM


162 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 162

6/20/16 9:27 PM


/ Kevin Kowinto /

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 163

163

6/20/16 9:27 PM


a d a tanggal 7 April 2016, di langit Borneo yang biru, sebuah tarian Dayak menyambut pembukaan program MILITAN PPMT Mintin angkatan pertama yang berlokasi di Jalan Trans Kalimantan Kilometer 22, Desa Mintin, Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Doa peresmian dimulainya program MILITAN PPMT Mintin dipimpin oleh Ketua Sinode GKY, Pdt. Freddy Lay, yang segera melanjutkan pembukaan tirai papan nama PPMT bersama dengan Bapak Tjiandra Widjaja Wong (Ketua Bidang Misi Sinode GKY), Pdt. Joni Sugicahyono (Gembala Sidang GKY BSD), dan Bapak Handi Widjaja (Ketua Majelis GKY BSD).

164 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 164

6/20/16 9:27 PM


Peresmian angkatan pertama program MILITAN yang merupakan kependekan dari “Melayani, Melatih dan Mensejahterakan” itu dihadiri oleh Badan Pengurus dan hamba-hamba Tuhan Sinode GKY, Gembala Sidang dan Majelis Jemaat GKY BSD, Sinode gereja– gereja sahabat, Penyelenggara Kristen Kabupaten Pulang Pisau, Kepala Desa Mintin, Kepolisian setempat; TokohTokoh masyarakat dan 33 orang peserta pelatihan yang berasal dari GBI Mintin, GMII, Gereja Sidang Jemaat Allah, GBIS, Gereja Bethel Apostolic Propetik, Gereja Kemah Injil Indonesia, Lembaga Pelayanan Injil Gereja Toraja, GKE; serta beberapa pengurus dan jemaat GKY BSD. Setelah upacara pembukaan tirai papan nama PPMT - Mintin, seluruh tamu undangan disambut dengan tarian Dayak menuju lokasi pengguntingan pita yang dilakukan oleh Pdt. Freddy Lay, Pdt. Bambang Nugroho (Sekum Sinode GKY), Bapak Tjiandra Widjaja Wong, Pdt. Haryanto Khouw , Pdt. Joni Sugicahyono, Bapak Handi Widjaja, Bapak Dicky Laksono (Ketua Bidang Misi GKY BSD), Pdt. Aprilianto Rumbun (Penyelenggara Kristen Kabupaten Pulang Pisau), dan Bapak Rusmagau (Kepala Desa Mintin). Setelah menyaksikan pengguntingan pita seluruh tamu undangan dan peserta pelatihan memasuki ruang ibadah mengikuti Ibadah Pembukaan. Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Freddy Lay dengan pesan, “Keberadaan kita di dunia ini bukan sesuatu yang berlebihan, yang boleh ada atau tidak ada, tetapi keberadaan kita di dunia ini adalah merupakan Terang dan Garam yang akan memuliakan Allah di Sorga.” Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 165

165

6/20/16 9:27 PM


Usai firman Tuhan dilanjutkan dengan Perjamuan Kudus yang dipimpin oleh Pdt. Joni Sugicahyono dan pemutaran video profil pelayanan dan penyelenggaraan PPMT di wilayah lain di Indonesia serta kesaksian dari alumni peserta PPMT wilayah lain yang turut menguatkan dan menyemangati peserta program MILITAN PPMT- Mintin. Strategi yang diterapkan pada program MILITAN ini secara umum adalah: a. Diprioritaskan di daerah kantong Kristen. b. Fokus kepada para pemimpin gereja di pedesaan/ pedalaman. c. Berfungsi meng-upgrade dan memaksimalkan mereka secara holistis (aspek rohani dan jasmani). d. Meningkatkan kesejahteraan mereka, supaya menduplikasikan kepada jemaat yang dilayani. e. Melatih dalam keahlian yang berkaitan dengan pertanian, peternakan, perikanan yang sesuai dengan keunggulan daerah lokal setempat. f. Melakukan follow-up dan pendampingan sebagai langkah kongkrit pengembangan alumni setelah mendapatkan pelatihan. g. Melalui pelayanan program MILITAN ini, sinode-sinode di kantong Kristen dapat dipersatukan. 166 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 166

6/20/16 9:27 PM


Bapak Dicky Laksono menambahkan dan menegaskan bahwa dalam penerimaan peserta pelatihan, dilakukan seleksi yang ketat meliputi: a. Setiap peserta adalah pemimpin gereja setempat. Setiap jemaat mengirimkan dua atau tiga peserta supaya dapat saling mendukung. b. Setiap peserta yang ikut pelatihan harus memiliki lahan sendiri dan lahan yang digarap yang dapat diusahakan baik untuk pertanian atau peternakan atau perikanan. c. Lokasi peserta saling berdekatan, selain memudahkan follow up setelah pelatihan juga memudahkan peserta saling memberi semangat dan tukar informasi, serta mobilisasi dan pengangkutan hasil panen. Keberhasilan program pada dasarnya adalah keberhasilan komunitas/bukan individual. Kurikulum program MILITAN meliputi: a. Spirituality-Based Training, sebuah pelatihan keterampilan untuk mengembangkan spritualitas dan karakter peserta. b. Leadership-Based Training, sebuah pelatihan keterampilan untuk pengembangan kepemimpinan dan memperkuat keterampilan pelayanan. c. Skill-Based Training, sebuah pelatihan keterampilan untuk pertanian, perternakan, dan perikanan. d. Enterpreneurship-Based Training, sebuah pelatihan keterampilan untuk mengembangkan kewirausahaan terpadu dan kemandirian finansial.

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 167

167

6/20/16 9:27 PM


Fasilitator/pengajar program MILITAN angkatan pertama ini dibawakan oleh Haggai Institute Indonesia, Langham Preaching Indonesia juga hamba-hamba Tuhan antara Lain: Pdt. Joni Sugicahyono, Pdt. Haryanto Khouw, Pdt. Sepnath “Cheppy” Tupamahu, Pdt. Habel Paidjo, Pdt. Totok Yhoedasetyo, GI. Chandra Arifin, GI. I Wayan, dan juga anak-anak Tuhan yang terbeban dan berintegritas antara lain: Bapak Saut Sitompul (motivator), Bapak Sutimin, Bapak Pollung Siagian, Bapak Kartiarso, Bapak Eddy Kristianto, Bapak Chandra Wijaya, Bapak Suwito Rahardjo, Bapak Andreas Sujono, Bapak Agata Paradiso, Bapak Rajumi Sitompul, dan lainnya. Upacara penyematan rompi dan topi sebagai tanda penerimaan peserta program MILITAN Angkatan Pertama dilakukan Pdt. Freddy Lay, Pdt. Bambang Nugroho, Bapak Tjiandra Widjaja Wong, Pdt. Joni Sugicahyono, Bapak Handi Wijaya, dan Bapak Dicky Laksono kepada perwakilan peserta yakni Pdt. Cuanly dari GBI Mintin, Pdt. Yosep dari GBAP, Pdt. Samuel Situmorang dari GBIS, Pdt. Stevan dari GSJA, Pdt. Wahyu Parangrang dari LPIGT, dan Pdt. Petrus Ndun dari GKII. Sambutan yang mewakili Sinode GKY disampaikan Pdt. Bambang Nugroho dengan suatu pesan, ”Strategi yang paling tepat dalam menyejahterakan masyarakat adalah melalui pelayanan di desa.” Bapak Tjiandra Widjaja Wong juga menyampaikan sambutannya dan mengingatkan, “ Banyak orang yang diberikan anugerah Tuhan, namun belum tentu semua akan menerima anugerah itu, hanya mereka yang memutuskan ikut, itulah mereka yang menerima anugerah Tuhan.” Bapak Handi Widjaja dalam sambutannya merindukan, “Bahwa program MILITAN PPMT Mintin ada saat ini, telah melalui proses, pergumulan dan doa yang panjang sejak 2009. Dan akhirnya kita percaya Tuhan yang pimpin, maka semua peserta akan 100% menyelesaikan pelatihan selama 40 hari dan terlebih dapat sungguh-sungguh memuliakan Tuhan.” Pdt. Aprilianto Rumbun (Penyelenggara Kristen Kabupaten Pulang Pisau) dalam sambutannya menyambut baik pelatihan yang diselenggarakan program MILITAN ini dan berharap, ”Agar program ini dapat menyejahterakan masyarakat setempat dan seluruh peserta dapat mengikuti dengan sungguh-sungguh selama 40 hari dan dapat membagikan kepada orang lain di tempatnya.” Dan terakhir sambutan 168 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 168

6/20/16 9:27 PM


disampaikan oleh Bapak Rusmagau (Kepala Desa Mintin) mengatakan, “Desa Mintin dapat lebih maju, lebih sejahtera dan lebih dapat bersaing dengan desa lain dengan kegiatan dan pelatihan yang diberikan melalui program MILITAN PPMT Mintin ini.� Tanpa terasa waktu, acara demi acara berjalan dengan lancar dan hikmat. Semua tamu undangan dan peserta mendapat berkat firman Tuhan yang berlimpah. Acara diakhiri dengan tarian Dayak yang memukau dan ditutup dengan santap siang bersama

Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. (Lukas 10:2)

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 169

169

6/20/16 9:27 PM


170 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 170

6/20/16 9:27 PM


/ Sarah Amanda Palilingan /

“How long will you lie there, you sluggard? When will you get up from your sleep?” Proverbs 6:9 (NIV) Have you ever experienced those days where you just want to lie in bed all day with your laptop on streaming movies? Spend hours on Youtube watching makeup tutorials until, who knows, 1 AM? Or staring at your algebra homework on Saturday night and think, “Nah, maybe later.” and ended up doing it Monday morning 5 minutes before class? We might think, “Hey, I need some time for myself too. I’ve been studying for hours and now I need some nap!” Don’t get me wrong, I’m not saying we shouldn’t get some rest or have a little time for ourselves. I, myself demanded some sleep after working on my essay until 3 AM. (“3 AM?!” Yep. You’ll understand once you’re in college…). God encourages us to take good care of our body. Why? Because, He lives in us (1 Corinthians 6:19-20). Not only through our spiritual lives we will be a witness to the world, but also through our physical being. It’s not a sin to have a good time after a long hours of schoolwork. But, it’s wrong when we set aside our work completely to comfort ourselves instead with things that are irrelevant with what we’re supposed to do. For example, how many times have we decided to check Instagram first thing when we wake up instead of saying our morning prayer and read the Bible? Or decided to lay on the sofa eating chips all day rather than getting some work done? Instead of reaching for more potato chips maybe we should consider reaching for that dusty Bible on the shelf. Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 171

171

6/20/16 9:27 PM


Since the beginning of time, we are created to work for the LORD.

“The LORD God took the man and put him in the Garden of Eden to work it and take care of it.” Genesis 2:15 (NIV)

It doesn’t say, “God took the man and put him in the Garden of Eden to rest and get used to the new place.” or “God took the man and put him in the Garden of Eden to chill and eat some papayas.” No! God wants us to work. Sure, we have those days where we just “don’t feel like doing it”. We just don’t feel like attending our Sunday service. We just don’t feel like talking to God, even for a few minutes. Imagine this, God doesn’t want to listen to our prayer because He just doesn’t feel like it. God decided to not sacrifice His Son, Jesus, to redeem our sin because He thought, “Hey, maybe later. Just not today!”. Side note, how is it that we want to go to heaven and spend eternity with God, if we can’t even spend a few minutes with Him here on earth?

You see that a person is considered righteous by what they do and not by faith alone. James 2:24 So, does not finishing my homework means I don’t have faith in Jesus? Will God hate me for sleeping during classes at school?

172 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 172

6/20/16 9:27 PM


First of all, Jesus doesn’t hate us, He hates our sins. Secondly, once we’re used to being lazy, it becomes a habit. We tolerate our laziness and forgot that it’s a sin. However, that’s not the end. Remember that our God is merciful and forgiving (Daniel 9:9). It’s not too late to come to Him for strength, joy in what He want us to do and the will to change. Sure it’s a struggle to turn off our phone, get up and go for a morning run. It’s a struggle to stay awake during sermon when you spent the night before working on your assignments. It’s a struggle to stop saying “maybe later” when it comes to finishing our homework earlier. I know because there are times when I’m still caught in this “maybe later” syndrome. The struggle is real. But as long as God is with me, nothing is impossible

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 173

173

6/20/16 9:27 PM


174 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 174

6/20/16 9:27 PM


a l a m M i s i d a n B u d a y a ini diadakan pada Minggu Misi di tanggal 16 April 2016. Acara yang bertema “Pandanglah Ladang Sudah Menguning dan Matang untuk Dituai� ini dimulai dengan penjelasan mengenai Pusat Pelayanan Misi Terpadu (PPMT) di Mintin, Kalimatan Tengah. Dalam penayangan video; dijelaskan bahwa PPMT adalah sebuah pelatihan holistik dimana para misionaris yang akan dikirim oleh gereja ke ladang-ladang misi harus dibekali terlebih dahulu dengan program pelatihan dalam bidang karakter, keterampilan, dan entrepreneurship. PPMT akan membentuk dan mempersiapkan hamba Tuhan sehingga ketika mereka diterjunkan ke ladang misi, mereka sudah mampu berswasembada dan memenuhi kebutuhan hidup sendiri, bahkan dapat merangkul masyarakat setempat untuk membangun kehidupan dan penghidupan.

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 175

175

6/20/16 9:27 PM


Usai penjelasan mengenai PPMT, Ev. Eveline, seorang misionaris bersaksi mengenai pelayanannya di Myanmar yang diberi judul "The Mission of God". Selama empat tahun ia melayani di negara yang orang Kristennya tidak sampai lima persen itu. Walaupun penuh dengan pergumulan dan pengorbanan dalam pelayanan ini, semuanya tidak menyurutkan langkahnya untuk tetap memenuhi panggilan Tuhan melakukan pelayanan lintas budaya tersebut. Harapannya, Tuhan menjamah bangsa Myanmar dan semakin banyak yang terbuka mata hatinya untuk mengikut Yesus. Setelah pembacaan kitab Roma 10:13– 15, acara diisi oleh Paduan Suara Sanctus yang menyanyikan pujian "Semua Harus Pergi". STT SAPPI dari Cianjur kemudian mengisi acara dengan tari budaya yang berasal dari Borneo dan suku Dayak, yaitu tari Binua Garantung dan Kambang Banggel. Tarian tersebut menceritakan mengenai muda-mudi masyarakat Dayak yang rajin menanam berbagai jenis tumbuhan dan memanennya. STT SAPPI juga mempresentasikan mengenai sekolah teologi dan pelayanannya.

176 MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS

NAFIRI JUN 16 print.indd 176

6/20/16 9:27 PM


Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Buby Ticoalu dengan mengambil nas dari Yohanes 4:34, "Kata Yesus pada mereka, 'Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.’" Poin penting dalam firman ini adalah bagaimana kita taat sepenuhnya kepada Allah, memprioritaskan Tuhan, dan melakukan kehendak-Nya. Pdt. Buby berharap gerejagereja sekarang ini jangan hanya menjadi gereja yang nyaman tanpa visi dan misi. Gereja harus taat dan menginjil keluar, seperti Kristus yang taat dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh Bapa sampai selesai . / Jesslyn Catherine /

Nafiri JUNI 2016

NAFIRI JUN 16 print.indd 177

177

6/20/16 9:27 PM


MENJADI TRANSFORMATOR DALAM KOMUNITAS  

Buletin Nafiri Juni 2016 - Media Informasi, Komunikasi dan Edukasi Gereja Kristus Yesus Jemaat Bumi Serpong Damai (GKY BSD) - Indonesia

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you