Page 1


EDITORIAL Saudara-saudara terkasih, Natal datang lagi. Apa kesan kita tentang Natal? Dunia merayakan Natal setahun sekali dengan menyematkan kalimat “Damai di bumi” – sebuah announcement yang sudah terlalu biasa kita baca di setiap bulan Desember. Apakah damai menyirami bumi hanya setahun sekali? Jika benar demikian, betapa merana dan menderitanya dunia karena gersang dan kerontang. Pada setiap Natal, kita mendengar lagu ‘Silent Night’ mendayu begitu syahdu lewat penyanyi sopran atau instrumentalia. Lagu ini selalu mengingatkan kita betapa nestapanya malam yang sunyi itu ketika Yesus dilahirkan. Tetapi ajaib, kenestapaan itu justru membawa kabar baik, kabar damai kepada para gembala yang hidupnya juga nestapa, dan tidak kepada Herodes yang duduk jemawa di istananya. Malam kudus sunyi senyap, di kandang Efrata terang besar turunlah, kata lagu itu. Di situlah damai itu memilih tempatnya untuk dilahirkan. Damai lebih suka datang dalam kesunyian dan menyapa yang nestapa. Bukan kenestapaan lahiriah, tetapi kenestapaan batiniah dimana ada hati yang membutuhkan. Mestinya kita merayakan Natal dengan hati yang nestapa karena sadar bahwa kita membutuhkan Sang Damai itu untuk mengisi setiap ruang kosong di hati kita. “Berbahagialah mereka yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah,” kata Sang Damai itu. Apakah kita benar-benar menghidupi damai itu dan menyiramkannya kepada bumi yang gersang dan kerontang? Sayang sekali, Natal sering kita agungkan hanya melalui perayaan yang gegap-gempita, sedangkan damai yang menjadi esensi Natal kita singkirkan di pojok yang gelap. Kita yang setiap tahun memasang tulisan “Damai di bumi” di dinding gereja harusnya menjadi ‘peace ambassador’ - dimulai dari diri kita, lalu keluarga kita dan mengalir terus menyentuh orang-orang terdekat. Ini bukan momen setahun sekali tetapi harus kita hidupi setiap saat. Jika setiap ruang di keluarga kita memancarkan damai ke luar rumah, maka dunia ini niscaya akan teduh, bukan? “What can you do to promote world peace? Go home and love your family,” kata Mother Teresa. Selamat Natal. Selamat membaca, semoga setiap tulisan yang ada disini memberi inspirasi bagi saudarasaudara. Tuhan Yesus memberkati kita. Salam, Redaksi 2

Penasehat: Pdt Joni Sugicahyono, M.Div Pembina: GI Feri Irawan, M.Div Koordinator Literatur: Yahya Soewandono Pemimpin Redaksi: Titus Jonathan Wakil Pemimpin Redaksi: Elasa Noviani Editor: Hendro Suwito, Yati Alfian Creative Design : Juliani Agus, Arina Palilingan Koordinator Narasumber: Anton Utomo Koordinator Liputan: Edna Pattisina Desk Public Figure: Deirdre Tenawin Desk Pemuda & Remaja: Nico Tanles Tjhin Illustrator: Ricky Pramudita, Thomdean Penulis: Anton Utomo, Arina Palilingan, Elasa Noviani, Erwin Tenggono, Edna Pattisina, Hendro Suwito, Humprey, Nico Tanles Tjhin Kontributor: GI. Chandra Arifin, Pdt. Paulus Surya, Gandadinata Thamrin, Rajumi Sitompul, Pingkan Palilingan, Lily Ekawati, Mindra J Citra, Jacynda Darmawan, Lislianty Lahmudin, Kristiyani Sinjaya, Binsar Nainggolan, Sherly Gautama Alamat Redaksi: Sub bidang literatur GKY BSD Jl. Nusaloka E8/7 BSD Tangerang Telp/ Fax: 021-5382274 Email: nafiri@gkybsd.org Kirimkan KRITIK, SARAN, SURAT PEMBACA dan ARTIKEL anda ke alamat redaksi ataupun lewat e-mail di atas

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


FOKU S

26 34

DAFTAR ISI Suara Gembala Enlightenment Quote 2 Zaman Capture Refleksi Liputan Khusus Serpihan Perjalanan Corner Kick Kesaksian Lentera Misi Perspektif Teropong One Moment Shoot English Corner The Youngsters Event Notes

Candle Light Komik NAFIRI Hahaha! Rekomendasi Buku Rekomendasi Musik Rekomendasi Film

4 10 17 40 52 68 76 86 92 102 108 114 122 126 130 136 46 74 106 134 148 91 101 150 140 144 148

Menghidupi Damai Ketika Dunia Kehilangan DAMAI Damai, Akankah Sekadar Menjadi Utopia?

Menghidupi Damai di Dunia yang Menderita Lagu Terakhir di ATLANTIK PUTRA NABABAN Tekanan yang Berbuah Sukacita KEBAKTIAN DOA TRANSFORMASI IMAN di Negero Kimchi Bibit Harapan Mulai Bertunas NOVIA & PAULUS Hariadi Tuhan Memakai Mereka, Walau Berpendidikan Rendah Ketika YESUS Tidak Lagi Menjadi Fokus Utama Gila Loe Casting & Cermin Henry Sutrisno Secularised Christmas Revisited Nyemplung ke Organisasi Sejak Sekarang FAMILY DAY Pasutri GKY BSD KKR YOUTH se-Tangerang HUT KW ke-20 GKY Gading Serpong Ada Apa dengan Natal Bang ARIF Sentilan

THOUGHT

60

Pdt FREDDY LAY

POTR ET

18

TAZRI GUNARSO

NAFIRI DESEMBER 2013

3


Menghidupi Damai di Dunia yang

Menderita

/ Pdt. Joni Sugicahyono / 4

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


/ Lukas 2:8-20 /

“...damai sejahtera di bumi di antara

manusia yang berkenan kepada-Nya.� (Lukas 2:14b)

M

enjelang akhir tahun 2013 ini dunia dilanda bencana yang besar, siklon Haiyan yang merupakan siklon terdahsyat di dunia, melanda Filipina dengan kecepatan lebih dari 300 km/jam. Ribuan rumah, ladang dan mobil hancur. Ribuan orang menjadi korban baik luka-luka maupun tewas karena amukan topan ini. Filipina menderita, dunia ikut berduka. Di Tanah Air, letusan gunung Sinabung di kabupaten Tanah Karo, Sumut yang dahsyat mengakibatkan ribuan orang mengungsi ke tempat-tempat penampungan. Rakyat Sumut menderita.

Belum reda berita-berita tentang bencana-bencana alam ini, beritaberita terbaru dipenuhi dengan berbagai kekerasan dan kejahatan manusia: pembunuhan isteri yang direncanakan suaminya sendiri, tawuran anak-anak pelajar yang merenggut nyawa, penculikan warga negara asing, penyelundupan TKI, sebuah bus mini Polda Jatim yang ditumpangi puluhan anggota Sabhara terbalik di Wonokromo, Surabaya, dll. Semua berita ini saya baca dalam satu hari. Semuanya ini jelas menggambarkan penderitaan manusia yang tdiak ada habis-habisnya dalam dunia ini. NAFIRI DESEMBER 2013

5


Muncul pertanyaan di benak kita: mungkinkah ada kedamaian di dunia yang penuh penderitaan ini? Kedamaian di dalam dunia sudah menjadi impian banyak manusia yang menghadapi realita penderitaan. Banyak orang yang merindukan kedamaian tetapi tidak menginginkan Tuhan. Seperti lagu “Imagine”nya almarhum musisi Inggris, John Lennon. Lennon memimpikan kedamaian akan terjadi di dunia jika tidak ada surga, tidak ada neraka, dan tidak ada agama, artinya tidak ada Tuhan. Dan ia yakin tidak sendirian, ada banyak orang lain seperti dirinya. Jelas ini seperti sebuah mimpi di siang bolong. Tidak mungkin ada kedamaian bagi manusia jika manusia meninggalkan Tuhan. Berita Natal pertama yang dibawa malaikat di malam itu kepada para gembala di padang di Betlehem, tanah Palestina 2.000 tahun yang lalu adalah sebuah berita yang dinanti-nantikan oleh manusia segala zaman akan kedatangan kedamaian itu. Tiba-tiba para malaikat muncul di hadapan mereka. Lukas 2:1012 malaikat itu berkata: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu 6

Kristus Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” Tanda ini menjadi tanda yang jelas karena sangat jarang ada bayi lain yang lahir dan dibaringkan dalam palungan. Palungan adalah tempat bagi makanan ternak di kandang. Lukas 2:13-14, “Dan tibatiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara surga yang memuji Allah, katanya: ‘Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.’ ” Mungkinkah akan ada damai di bumi? Di dunia ini tidak akan ada damai sejahtera. Mengapa? Karena di dunia ini ada pihak yang jahat. Dan pihak yang jahat menentang pihak yang baik. Itulah sebabnya akan selalu ada perang di dunia ini. Selama kerajaan Allah belum menegakkan kuasanya atas bumi dan melenyapkan kejahatan dari bumi, kejahatan masih akan ada dan penderitaan terjadi. Orang-orang yang memimpikan bahwa ia dapat menegakkan damai sejahtera di muka bumi ini dengan teknologi dan kekuatan senjata belum memahami persoalan yang

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


ada. Karena kejahatan tidak dapat dikalahkan dengan kekuatan senjata. Kita tidak akan dapat menyingkirkan kejahatan dengan kekuatan senjata. Tidak akan berhasil. Kita tidak dapat memakai sarana fisik untuk menegakkan kedamaian. Kedamaian tidak dapat ditegakkan di bumi dengan kekuatan manusia, kekuatan militer, atau kekuatan ekonomi. Lihatlah bagaimana negaranegara dengan kategori maju dan makmur justru diisi oleh masyarakat dengan tingkat stres, depresi dan bunuh diri yang tinggi. Sedemikian parahnya tingkat gangguan mental yang dialami masyarakat di negara-negara maju itu. Tidak ada senjata yang dapat diandalkan untuk mengatasi kejahatan. Boleh saja manusia mengembangkan bom hidrogen, bom atom, atau bom pemusnah masal jenis apa pun itu, akan tetapi tetap saja dia tidak dapat mengembangkan senjata yang bisa mengalahkan kejahatan. Hanya di dalam Kristus ada damai sejahtera. Hanya dia yang memiliki kuasa untuk mengatasi kejahatan. Tidak ada satu pun cara bagi kita untuk menegakkan damai sejahtera di dunia ini selama kejahatan masih ada. Kita bisa saja menikmati suatu masa dalam dunia yang tanpa peperangan, karena negara-negara yang bersaing itu

tidak cukup kuat untuk mengalahkan lawannya. Di permukaannya saja kita menikmati gencatan senjata, akan tetapi kita tidak akan pernah memiliki damai sejahtera dalam arti yang sesungguhnya. Itu sebabnya di Matius 10:34 Yesus berkata, “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.� Secara sekilas tampaknya kalimat Yesus ini bertolak belakang dengan pesan yang disampaikan oleh para malaikat. Akan tetapi tidak demikian maksudnya. Perhatikanlah bahwa pesan yang dibawakan oleh para malaikat itu berbunyi: “Damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya�, bukan sekadar damai sejahtera di atas bumi. Alkitab tidak pernah menjanjikan damai sejahtera bagi bumi, melainkan damai sejahtera bagi orang yang benar, bagi orang yang berkenan kepada Allah dan yang mengasihi kebenaran. Kedatangan Yesus ke dunia ini sebenarnya justru meningkatkan peperangan melawan kejahatan. Itulah sebabnya Dia tidak datang membawa damai melainkan pedang, karena yang baik dan yang jahat tidak dapat disatukan. Setelah Yesus datang ke bumi, konflik antara NAFIRI DESEMBER 2013

NAFIRI DES 13 FINAL.indd 7

7

12/15/13 12:01 AM


yang baik dan yang jahat malahan semakin meruncing karena kekuatan kebaikan yang besar sedang hadir di bumi. Alasan mengapa konflik itu semakin meruncing disampaikan oleh Yesus di Yohanes 3:19, yaitu karena manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang. Itulah sebabnya mengapa tidak akan ada damai sejahtera. Selama manusia belum diubah, maka keadaan dunia ini tidak akan dapat diubah. Percuma saja berusaha mengubah suatu negara tanpa mengubah manusianya. Kita bisa saja mengubah perekonomiannya, angkatan perangnya, pendidikannya, akan tetapi selama manusianya sendiri masih manusia berdosa maka tidak akan ada damai. Tidak akan ada damai sejahtera di muka bumi ini sebelum kerajaan Allah hadir secara genap. Itulah sebabnya mengapa kita diajarkan berdoa, “Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga” (Matius 6:10). Saat datangnya kerajaan adalah saat berhentinya kejahatan manusia yang lebih menyukai kegelapan daripada terang. Hanya setelah kehendak Allah terlaksana maka akan ada damai sejahtera. Lalu di mana posisi kita sebagai orang Kristen? Posisi kita sederhana 8

saja. Jikalau kita orang benar maka kita pasti akan menderita di dunia ini. Semakin benar kita, maka semakin keras penolakan dan aniaya yang akan kita hadapi. Bersyukurlah kepada Allah kalau kita mengalami hal ini. Karena itu berarti bahwa kita masuk ke dalam golongan anak-anak Tuhan yang baik. Berbahagialah mereka yang menderita karena kebaikan dan kebenaran. Seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu.” (Yoh 15:18, Yoh 15:19 ). Damai Sejahtera Datang ke Dunia ini Hanya di dalam Hati Namun meskipun konflik yang terjadi itu sangatlah hebat, tetapi damai sejahtera yang ada di dalam hati sangatlah indah. Itu sebabnya mengapa Yesus berkata kepada murid-muridnya di Yohanes 16:33, “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” Artinya, kita dapat menikmati damai sejahtera yang sangat indah di dalam Kristus. Kita bersyukur kepada Allah akan adanya damai sejahtera yang sangat indah di

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


dalam hati ini. Di luar, kita berhadapan dengan masalah, konflik, kesukaran, kepahitan dan kecaman. Akan tetapi di dalam, ada damai sejahtera yang tak bisa diambil oleh orang lain. Itulah sebabnya mengapa ketika berada di penjara, Rasul Paulus bisa bersukacita. Saat kita mempelajari surat Filipi, kata kunci di surat itu adalah sukacita. Mengapa seseorang dapat bersyukur begitu rupa saat di penjara? Karena adanya damai sejahtera yang luar biasa di dalam hati ini. Di luarnya, dunia sedang bergejolak, akan tetapi di dalam, hati Paulus dijaga, dilindungi oleh damai sejahtera dari Allah. Rasul Paulus berkata di dalam Filipi 4:7, “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Apakah kita ingin menikmati damai sejahtera? Inginkah kita menikmati damai sejahtera hari ini? Mari kita pahami bahwa tanpa kekudusan maka tidak akan ada damai sejahtera. Jadi, bereskanlah lebih dulu hubungan kita dengan Allah. Bersihkanlah segala dosa. Akui segala dosa dan katakan, “Tuhan, ubahlah sikap hati saya. Ampunilah saya. Jadikanlah saya mencintai apa yang baik dan benar.”

Kedua, damai sejahtera itu hanya ada di dalam Kristus. Mendekatlah kepada Kristus; berpeganglah padaNya. Tanpa Dia, mustahil kita dapat memiliki damai sejahtera. Ketiga, damai sejahtera datang ke dunia ini di dalam hati kita. Ini karena di luar ada kejahatan. Yang jahat akan selalu menyerang dan mengganggu yang baik. Bersiaplah untuk masuk ke dalam konflik. Bersukacitalah di dalam konflik itu karena dengan demikian kita tahu bahwa kita berada di pihak yang baik dan itulah sebabnya mereka yang jahat terus menentang kita dan berusaha membuat kita menderita. Maka pesan yang disampaikan oleh para malaikat di saat Natal pertama tiba dapat menjadi kenyataan di dalam hidup kita. “...damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya. “ Selamat menyambut dan merayakan natal tahun ini dengan menjadi orang yang berkenan kepada Tuhan, niscaya damai sejahtera natal akan datang mememelihara hati dan pikiran kita.” Amin. Soli Deo Gloria

NAFIRI DESEMBER 2013

9


IGHT EN

E

NL

MEN

T

Entah apa yang ada di benak Wallace Henry Hartley ketika ia memainkan lagu “Nearer, My God, to Thee� dengan gesekan biolanya yang menyayat hati di tengah malam yang dingin tanggal 15 April 1912. Peristiwa itu sudah terjadi lebih dari 100 tahun yang lalu, namun namanya tak pernah tidak disebut setiap kali orang membicarakan tenggelamnya kapal Titanic.

/ Titus Jonathan /

10

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


LAGU TERAKHIR di ATLANTIK NAFIRI DESEMBER 2013

11


Wallace Henry Hartley

I

a adalah pemimpin band yang sehari-hari bertugas menghibur para penumpang first class di kapal mewah itu. Selain itu, tugasnya adalah memainkan musik di waktu dinner, setelah dinner dan di kebaktian hari Minggu selama Titanic berlayar mengarungi samudera dari Southampton, Inggris ke New York, Amerika.

12

Hartley, yang waktu itu berumur 33 tahun, adalah seorang Kristen Methodist yang taat. Di masa kecilnya ia adalah anggota paduan suara anak-anak di gerejanya. Ia mulai diperkenalkan dengan musik ketika belajar musik di George Street WesleyanSchool, Colne, Inggris dan memperdalam biola. Karirnya sebagai pemain biola membawanya dari satu kapal pesiar ke kapal pesiar lainnya sampai akhirnya ia diterima menjadi bandmaster di kapal mewah Titanic. Ketika ia akan memulai pelayarannya, ia pamit dan mengucapkan salam perpisahan kepada tunangannya, Maria Robinson.

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Ia tak tahu bahwa hari itu benarbenar pertemuannya yang terakhir dengan tunangannya. Karena, 4 hari setelah Titanic berlayar dengan anggun, hari Minggu tanggal 14 April 1912 jam 23.40, Titanic menabrak gunung es (iceberg) di samudera Atlantik. Gunung es itu merobek lambung kapal dan menyebabkan lima kompartemen di kapal itu bocor dan mulai terisi air. Betapa malangnya, sebab Titanic didesain untuk tetap bisa bertahan mengapung walaupun empat kompartemen terisi air. Seandainya lambung kapal yang robek itu tidak menerus ke kompartemen ke-5, Titanic tak bakal tenggelam. (kompartemen kapal adalah ruangruang yang disekat-sekat di bagian bawah kapal dengan tujuan agar jika terjadi kebocoran dari badan kapal, maka air laut yang masuk akan terlokalisir dalam kompartemen yang berada tepat di bagian yang bocor itu sehingga kapal tetap mengapung sementara kebocoran bisa diperbaiki atau ditambal). Kebocoran lima kompartemen itu begitu cepat menyedot air laut untuk masuk, dan hanya dalam waktu 45 menit, lambung kapal itu telah terisi sekitar 13.000 ton air yang tak

sanggup diatasi oleh pompa-pompa kapal yang kapasitasnya hanya 1.700 ton per jam. Ketika kapal sudah mulai miring, nahkoda kapal Kapten Edward Smith tahu benar bahwa Titanic tak mungkin tertolong. Pelan tapi pasti, air menggenangi ruang demi ruang. Semua penumpang panik dan berlari menuju sekoci, lalu saling berebut. Dapatkah kita membayangkan suasana pada malam itu? Sebanyak 2.229 penumpang berlarian menghindari air yang bergerak pelahan mengepung mereka. Dinginnya samudera Atlantik seakan menjadi hangat oleh tangis dan jerit ketakutan serta teriak orang-orang yang saling berebut untuk mencari selamat sendiri-sendiri. Dalam situasi genting itu, Wallace Hartley, dengan 7 orang anggota band-nya, datang ke First Class Lounge lalu memainkan musik untuk menenangkan penumpang yang panik. Ketika keadaan semakin memburuk, Hartley dan anggotanya menuju ke geladak dan kembali memainkan musiknya. “Aku dengar mereka terus memainkan lagu-lagu sementara semua orang berlarian untuk menyelamatkan diri,� kata salah seorang yang selamat.

NAFIRI DESEMBER 2013

13


Survivor yang lain, Mrs. John Murray Brown, menyaksikan bahwa mereka seakan tidak peduli ketika air semakin menggenang dan merayap naik sampai ke lutut mereka. “The band played marching from deck to deck, and as the ship went under I could still hear the music,” kata Mrs. Brown.

Entah apa yang ada di benak Hartley. Ia tidak berpikir untuk menyelamatkan diri. Mungkin hatinya pilu menyaksikan orang-orang, terutama wanita dan anak-anak, juga orang-orang tua, tak bisa berbuat apa-apa selain menangis. Sebagai musisi, Hartley tak mengerti tata-cara dan aturan keselamatan di laut. Ia bukan Pendeta yang bisa berkhotbah, dan dalam situasi seperti itu, barangkali khotbah juga tak mampu menundukkan kepanikan. Hartley hanya bisa bermain musik dan ia ingin berbuat sesuatu untuk menenangkan mereka. Maka ketika sudah banyak lagu ia mainkan, ia lalu menggesek biolanya dan memainkan “Nearer, my God, to Thee”.

Nearer, my God, to Thee, nearer to Thee. E’en though it be a cross, that raiseth me, Still all my song shall be. Nearer, my God, to Thee, Nearer, my God, to Thee, Nearer to Thee!

14

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Kita tak pernah tahu mengapa ia memilih lagu itu. Udara Atlantik begitu dingin menusuk di tengah malam itu ketika ia melihat masih begitu banyak penumpang belum terangkut sekoci sementara air semakin meninggi dan Titanic semakin miring. Hartley benar-benar tak memikirkan dirinya. Yang dipikirkannya adalah bagaimana membuat orangorang itu tenang. Betapa saya kagum kepada Hartley, kagum atas ketiadaan selfishness pada dirinya. Ia hanya seorang pemain biola, tetapi egonya ia tanggalkan untuk sebuah pengorbanan. Dalam keadaan paling sulit, bukankah biasanya yang akan nampak terlebih dahulu dari seseorang adalah selfishness? Selfishness memang tidak menjahati orang dengan menyerang atau membunuh, tetapi selfishness sama jahatnya dengan kejahatan lain karena di dalamnya terkandung perasaan mau menang sendiri, tidak peduli nasib orang lain bahkan tega melihat orang lain celaka asal dirinya tidak. Tanpa sadar, sikap selfishness ini yang sering mewarnai pola hidup kita sehari-hari, bukan? Ketika kita di jalanan waktu berkendara, ketika kita di kantor, di rumah, bahkan di gereja, kita sering lupa ada orang lain yang layak

untuk kita dahulukan. Apakah kita tidak mau tahu barangkali kepentingan orang lain lebih urgent daripada kepentingan kita? Kita selalu merasa kepentingan kita yang lebih urgent sehingga ingin dilayani lebih dulu dan ingin menjadi yang pertama tanpa mau mengalah. Tidakkah kita mau mengerem keinginan kita sedikit saja dan mempersilakan orang lain untuk mengambil bagian kita karena mungkin ia lebih membutuhkan daripada kita saat ini? Andaikan hidup ini kita jalani dengan sikap saling mendahulukan orang lain, mungkin dunia akan berputar sedikit melambat dan bergerak sedikit lebih relaks. Dunia kita saat ini begitu terburu-buru karena kita terus menginjak pedal gas akibat segala sesuatu kita anggap urgent dan kritis. Sekitar jam 2 tengah malam, ketika air laut semakin bergelora menguasai semua ruangan, dan ketika sudah tak memungkinkan lagi memainkan musik, Hartley menghentikan lagunya. Itulah lagu terakhir di samudera Atlantik malam itu, yang menjadi saksi tentang seorang anak manusia yang rela mengorbankan dirinya untuk orang lain. Sesudah Hartley mengemasi biolanya dan memasukkannya ke dalam leather case, ia dan anggota band-nya NAFIRI DESEMBER 2013

15


membubarkan diri. Sayup-sayup terdengar Hartley berucap perlahan: “Gentlemen… I bid you farewell..” Lalu ia dan teman-temannya menghilang di kerumunan. Dan Titanic yang naas itu terbelah menjadi dua bagian, kemudian pelahan tenggelam ke kedalaman samudera Atlantik membawa lebih dari 1.500 penumpang yang tak kebagian sekoci. Waktu itu jam 2.20 tengah malam. Tubuh Hartley ditemukan oleh tim pencari tanggal 4 Mei 1912, masih berpakaian seragam band-nya, lengkap dengan sepatu hitam dan kaos kaki hijau. Sekitar 30.000 pelayat memadati Chapel tempat jenasahnya dibaringkan hingga ke pemakaman. Di situlah paduan suara kembali menyanyikan “Nearer, my God, to Thee” dalam kesyahduan untuk mengenangnya.

Dan 100 tahun berlalu begitu cepat… Pada tanggal 19 Oktober 2013, dalam sebuah lelang di Inggris, biola milik Hartley yang ditemukan berdekatan dengan mayatnya yang terapung di samudera Atlantik, laku seharga 1,46 juta dollar atau lebih dari 16 milyar rupiah. Nilai fantastis itu tentu bukan hanya karena biola kuno itu sudah berumur lebih dari 100 tahun, tetapi karena biola itu menyimpan kisah luar biasa yang ditorehkan oleh pemiliknya: W.H.H (Wallace Henry Hartley) – A man with no selfishness *) Lagu “Nearer, my God, to Thee” diciptakan oleh Sarah Flower Adams (1805 – 1848). Lagu ini ada di buku KPPK no. 405.

There in my Father’s home, safe and at rest, There in my Savior’s love, perfectly blest, Age after age to be, Nearer, my God, to Thee, Nearer, my God, to Thee, Nearer to Thee!

16

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


us what we are; “theyTdigrialsup teach the soil, and let us see what we are made of.”

Charles Spurgeon

19 Jun 1834 – 31 Jan 1892

(Charles Spurgeon, kelahiran Inggris, adalah seorang teolog Baptis yang dikenal sebagai tokoh Reformed Baptist. Ia menentang teologi liberal yang sudah menggejala di jamannya. Ia menulis artikel berjudul “Down-grade” yang mengkritik gereja yang men-downgrade Alkitab dan prinsip Sola Scriptura, yang menyebabkan gereja bersikap pragmatis. Termasuk di dalamnya adalah kecamannya soal teori evolusi dari Charles Darwin).

L

ihat saja di istana waktu ada pelantikan pejabat. Mereka bersumpah dengan kitab suci ditaruh di kepala, tetapi apa yang mereka perbuat setelah itu? Kita kelihatannya saja beragama. Saya dari dulu tidak setuju ada pelajaran agama di sekolah. Jaman saya sekolah dulu hanya diberikan pelajaran budi pekerti, tapi saya tidak pernah dengar teman-teman seangkatan saya terlibat korupsi. Nggak ada. Makanya memperbaiki Indonesia harus dimulai dari sekolah. ” Prof. Dr. J.E. Sahetapy, SH, MA. (Saat diwawancarai oleh NAFIRI untuk NAFIRI edisi Juni 2012 – tentang bagaimana memperbaiki Indonesia yang sedang dirusak oleh korupsi para pejabat). NAFIRI DESEMBER 2013

17


P

TRET

TAZRI GUNARSO

Jauh Sebelum Saya Mengenal-NYA, I A LEBIH DULU MENGENAL SAYA / Arina Palilingan /

18

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Anak Buruh Tani yang Serba Kekurangan

S

etiap orang memiliki kisah hidup unik untuk dibagikan. Tazri Gunarso, seorang pengusaha yang lebih dikenal sebagai sosok yang aktif melayani di Bidang Misi saat ini pun mempunyai cerita menarik. Namun jalan yang ia lewati tidaklah semulus yang kita bayangkan. Kepada tim NAFIRI pada 24 Oktober, Tazri membagikan kisah hidupnya yang berawal di desa kecil.

Tazri ialah anak kedua dari tiga bersaudara, dilahirkan pada 19 Oktober 1957 di suatu desa di Tangerang. Ia berasal dari keluarga yang sama sekali tidak mengenal Kristus. Kedua orang tua Tazri pada waktu itu adalah buruh tani yang sama sekali tidak memiliki lahan. Papa dan Mama Tazri yang dengan tekun mengerjakan lahan petani lain mulai dari menanam hingga menuai padi yang menjadi beras untuk dibagikan, hanya diberikan 20% dari hasil yang didapatkan sementara pemilik tanah berhak atas 80% hasil tuaian. Mengakui dirinya lahir dari keluarga petani yang ‘luar biasa miskin’ lantas tidak membuat Tazri malu. Tazri justru mengagumi semangat kerja keras orangtuanya dan bangga atas usaha mereka hingga bisa membesarkan dan menyekolahkan ketiga anaknya. Hidup susah di desa kecil sangat berdampak pada sulitnya mendapatkan akses pendidikan. Sekolah seringkali sulit untuk dijangkau dan harus ke desa lain. Tazri sempat mendapatkan pendidikan hingga kelas 3 SD di kelas kecil di dekat kecamatan NAFIRI DESEMBER 2013

19


tempat ia tinggal, namun akhirnya ia pindah untuk meneruskan pendidikan ke SD Negeri Ranca Iyuh, Panongan untuk mendapatkan ilmu sekolah yang lebih baik. Tazri kemudian melanjutkan pendidikan SMP Persiapan Negeri di Curug. Yang mengajar pada waktu itu adalah instruktur-instruktur penerbang yang terbeban untuk meluangkan waktu demi membagikan ilmu. Melihat orang tuanya yang banting tulang demi mensejahterakan keluarga, Tazri bertekad ingin lepas dari kehidupan yang serba berkekurangan. Tazri pun sadar akan pentingnya ilmu pengetahuan sehingga ia melanjutkan pendidikannya di STM Pemda Tangerang dengan jurusan mesin. Dengan mulai maraknya industri yang mulai masuk ke Tangerang, Tazri melihat hal ini sebagai bekal yang berharga untuk mendapatkan kesempatan bekerja di kemudian hari. Mengenang masa-masa bersekolah dulu, Tazri menyadari akan pertolongan Tuhan yang luar biasa. Selama duduk di bangku STM, Tazri hanya membayar biaya sekolah untuk satu semester saja. Selebihnya, sekolah dijalaninya dengan gratis karena Tazri berhasil menjadi murid teladan yang memiliki prestasi terbaik se-STM. (Uang ujian yang waktu itu hanya Rp. 32.000 pun malah dikembalikan!). 20

“Saya tidak disukai oleh beberapa anggota keluarga saya. Anak buruh petani kok ‘belagu’ ingin sekolah tinggitinggi,” ungkapnya mengingat bahwa pada saat itu untuk melanjutkan sekolah ke jenjang SMA memang luar biasa sulit.

Ingin Langsung Bekerja Selulus dari STM, TTazri yang bertekad untuk langsung bekerja pergi ke Jakarta. Ia sempat bekerja di pabrik kabel di Bogor yang berkantor di Sawah Besar milik salah seorang kerabatnya.

Pernikahan Tazri dan Fan Lin tahun 1982

kecil saya “Dariyangmasa susah sampai saya sekarang,

TUHAN yang pimpin..“

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Setelah beberapa tahun bekerja, Tazri dipertemukan dengan istrinya, Lie Fan Lin pada tahun 1977. “Saya berasal dari keluarga yang lebih miskin,” tutur Fan Lin. “Hidup begitu sulit setelah keluarga kami ditinggal Papa yang meninggal waktu saya umur 13 tahun.” Fan Lin yang adalah anak ke-3 dari 6 bersaudara itu mengaku tidak lulus SD dan malah sering disuruh menjajakan makanan di depan sekolah oleh orang tuanya. Cinta di antara keduanya mulai bersemi hingga keduanya memutuskan menikah pada tahun 1982 setelah 5 tahun menjalani masa pacaran. Keduanya masih belum mengenal Kristus pada saat itu. Menikah pun masih menggunakan adat Kong Hu Cu yang kental.

Kehidupan pernikahan Tazri dan Fan Lin yang bahagia saat ini pun ternyata diawali dengan perjuangan. Setelah menikah, mereka berdua kembali pindah ke Tangerang. Tazri sempat merintis usaha kecil yaitu ternak ayam dan bengkel AC. Sayangnya, bisnis tersebut tidak bertahan lama sehingga setelah 2 tahun berjalan, Tazri terpaksa “gulung

Isteri dan anak pertama

Ultah anak ke-2 NAFIRI DESEMBER 2013

21


tikar” pada tahun 1984. Kedua pasangan lalu terpaksa tinggal di Jakarta dan hidup secara pas-pasan. “Kami dipinjami rumah saudara kami di Jakarta. Tapi rumah tersebut begitu kecil. Tidur pun kami harus gelar kasur, pagi harinya kasur itu digulung kembali karena ruangan sangat sempit.” Merasa bahwa ia perlu bangkit kembali, Tazri kemudian mencari pekerjaan demi mendukung kelayakan hidupnya dan istrinya. Tazri diperhadapkan dengan dua perusahaan pengelasan (welding) yang pada saat itu menginginkan jasanya sebagai pekerja. “Satu merupakan perusahaan importir terkenal, satu lagi pabrik yang masih baru berdiri. Saya waktu itu bergumul, tetapi masih menggunakan logika manusia saya karena belum mengenal Tuhan,” ujarnya. Tazri pun memutuskan untuk masuk ke perusahaan pabrik

di Daan Mogot yang berkantor di Sawah Besar yaitu PT Alam Lestari Unggul. Disitu Tazri belajar banyak hal. Pada tahun yang ke-3, ketekunannya dalam bekerja sekaligus belajar lalu mengangkat jabatannya dari salesman menjadi supervisor. Pada akhirnya ia berhasil menjadi area manager yang diberi tanggung jawab atas wilayah Indonesia Timur. Lewat pekerjaan inilah, kehidupan perekonomian Tazri mengalami perubahan cukup besar. Gaji yang diterimanya sudah termasuk tinggi, dan ia pun sudah bisa membeli mobil dan menyicil rumah di Cimone. Tazri dan Fan Lin sempat bergumul cukup lama karena 7 tahun setelah menikah mereka belum juga dikarunia seorang anak. Sang istri yang pada saat itu mulai terpukul makin menambah beban pikiran Tazri. Segala usaha sudah dicoba oleh mereka namun hasilnya tetap nihil. Pada saat itu, belum pernah terpikirkan oleh Tazri dan Fan Lin untuk menaikan doa permohonan kepada Tuhan.

saya sama “Logikasekali mati... tapi hati saya terus berdoa“

22

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Penginjilan Terselubung Tazri belum mengenal Tuhan hingga tahun 1988. Sampai selama itu, perubahan kehidupan yang ia rasakan memang begitu ajaib, namun ia masih belum merasakan adanya kuasa besar dibalik semua kesuksesannya. Cara kerja Tuhan memang luar biasa. Tim marketing yang adalah temanteman dekat Tazri di kantor pada saat itu di sering mengajak Tazri untuk mengikuti seminar yang diadakan oleh Pdt. Stephen Tong. Tazri yang pada dasarnya suka belajar, secara spontan bersemangat untuk ikut lantaran mendengar kata “seminar”. “Padahal di balik itu, teman saya sebenarnya sedang menginjili saya. Saya pun tidak mengerti apa pun yang Pendeta bicarakan. Saya hanya tahu tempat dan nyanyiannya bagus.”

Bersama keluarga

Pada akhirnya Roh Kudus membukakan hati Tazri waktu ia mengikuti persekutuan yang dipimpin oleh Ev. Esther Caroline. Hati Tazri mulai terusik saat sang Penginjil menyampaikan firman Tuhan dan menantang para jemaat untuk menerima Yesus. Tazri disadarkan bahwa ia adalah orang berdosa yang tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Hanya Yesuslah yang sanggup untuk menghapus dosa manusia. Walau terdengar tidak masuk akal, Tazri yang selama ini selalu mengandalkan kepintarannya dalam berlogika, merasa hatinya diketuk oleh Tuhan. “Logika saya sama sekali mati waktu itu,” jelasnya. “Saya tidak berdiri untuk menanggapi tantangan tersebut, tapi hati saya terus berdoa.” Tazri menerima Tuhan pada tahun 1988. Ia dan istri kemudia menjadi Kristen setelah ikut kelas katekisasi dan dibaptis di gereja GKY Cimone pada 8 Januari 1989. “Semua yang terjadi dalam hidup saya itu memang benar-benar anugerah. Sebelum saya mengenal Tuhan pun ternyata ada pemeliharaan Tuhan. Dari masa kecil saya yang susah sampai saya sekarang, Tuhan yang pimpin.” Pada tahun 1989, Tuhan mengaruniakan seorang putri kepada Tazri dan Fan Lin. Aldora Gunarso lahir NAFIRI DESEMBER 2013

23


dan beberapa tahun kemudian, Evan Thadius menyusul di tahun 1992, dan melengkapi keluarga kecil Tazri.

Mendirikan dan Merintis Usaha Pribadi Setelah menerima Kristus sebagai Juruselamat pribadi, Tazri merasakan betul campur tangan Tuhan yang nyata dalam kesehariannya. Selalu ada Tuhan dalam segala keputusan dan kejadian dalam hidup Tazri. Nama lengkap Nama Tionghoa Tempat/Tgl lahir Menikah Nama Isteri Nama anak

: : : : : :

Pada tahun 1989, Tazri bersama dengan ketiga teman kantornya memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan untuk memulai bisnis sendiri. Walaupun mengawali usaha dengan susah payah, Tazri terus bertekun mengerjakan usaha impor di bidang alat-alat pengelasan. Tazri membuka beberapa cabang di Cibubur, Cimone Jatake dan Balaraja, semuanya langsung dikelola olehnya dan teman-

Tazri Gunarso Tan Boen Kwie Tangerang, 19 Oktober 1957 1982 Lie Fan Lin (1959) Aldora Gunarso (1989) Evan Thadius (1992)

biodata

Riwayat Pendidikan : SD Negeri Ranca Iyuh - Panongan SMP Persiapan Negeri - Curug SMA Pemda TTangerang Riwayat pekerjaan : PT. Angka Wijaya Sakti (General Affairs) - Jakarta PT. Alam Lestari Unggul (Marketing) - Jakarta PT. Multi Jaya Serasi (Direktur) - Jakarta UD. Bina Mekanika Welding (Owner) - Tangerang PT. Cahaya Elang Mas (Direktur) - Tangerang Pelayanan : Majelis Sub. Bid. Pemerhati, GK GKY Cimone Koordinator Kebaktian Umum ke-2, GKY BSD CGF Leader Wilayah XV, GK GKY BSD Anggota Bidang Misi, GKY BSD 24

(1970) (1973) (1976) (1977 - 1982) (1984 - 1992) (1992 - 2004) (2007 - sekarang) (2010 - sekarang) (2003 - 2009) (2013 - sekarang) (2011 - sekarang) (2010 - sekarang)

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


temannya. Ia lalu berhasil membuka pabrik dan mendirikan PT Cahaya Elang Mas yang memproduksi pipa paralon, kusen paralon, selang paralon, dan bermacam-macam barang serta bahan bangunan lainnya. Kepercayaan antara ia dan teman-temannyalah yang melandasi kesuksesan usahanya hingga bertahan hingga saat ini. Melalui bisnis pribadi inilah, Tazri mengalami kehidupan ekonomi yang jauh lebih baik.

Bersyukur Melalui Pelayanan Dari desa kecil menjadi direktur. Tidak pernah ada di benak Tazri bahwa ia akan menjadi seorang yang sukses. Yang selalu diingatnya adalah bahwa semua yang terjadi ialah karena Tuhan dan anugerah Tuhan semata. Berkat yang ia terima selama ini tidak mungkin bisa terbalas. Maka dari itu, Tazri merasa adalah suatu kewajibannya untuk melayani di gereja. Tazri tidak pernah menolak jika ditawari untuk melayani. Ia sempat menjabat menjadi Majelis di Bidang Pemerhati di GKY Cimone selama 7 tahun sebelum menjadi Koordinator KU 2 di GKY BSD, mengikuti CGL Wilayah XV, hingga menjadi anggota di Bidang Misi pada tahun 2010 sampai sekarang.

“Saya tidak mau hanya seperti tamu dan tidak berbuat apa-apa untuk Tuhan. Satu-satunya cara saya mengucap syukur atas kebaikan Tuhan ya dengan melayani di gereja.� TTazri pun adalah seorang yang rajin mengikuti persekutuan doa. Dulu ia begitu haus akan ilmu, tapi sekarang ia mengaku lebih haus akan firman Tuhan. Dengan mengikuti persekutuan, membaca buku rohani, menghadiri seminar dan mendengarkan rekaman kotbah, Tazri bahkan masih menganggap bahwa pengenalannya akan Allah masih jauh dari sempurna. Hidup memang sebuah perjuangan untuk seorang Tazri Gunarso. Tapi berkat yang ia dapatkan jauh melebihi apa yang ia bayangkan. Tazri kerap kali mengingatkan Dora dan Evan bahwa hidup adalah anugerah berharga dari Tuhan. Tidak pernah bosan ia menceritakan masa kecilnya yang susah kepada kedua anaknya dan bersaksi akan kebaikan Tuhan. Melalui hubungan yang mendalam denganNya, Tazri semakin mengerti bahwa anugerah Tuhan begitu besar dalam kehidupannya, karena ia sadar bahwa jauh sebelum ia mengenal Dia, Allah sudah mengenalnya lebih dulu dan memelihara hidupnya

NAFIRI DESEMBER 2013

25


f

kus

MENGHIDUPI DAMAI Ketika Dunia Kehilangan Damai

26

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


DUNIA YANG KEHILANGAN DAMAI

Sebuah lagu yang syairnya masih sangat familiar di telinga: Ke gunung tinggi ‘ku naiknaik-naik mencari damai Ke lembah curam ‘ku turun-turun-turun mencari damai Namun akhirnya damai, tiada ‘ku dapati juga ...

L

agu ini, mewakili kebanyakan orang yang hidup dalam dunia. Banyak orang mencari damai. Banyak orang rela melakukan apa saja asalkan mendapatkan damai, walaupun kenyataannya damai tidak didapati bahkan banyak orang yang bergerak makin jauh dari damai.

/ GI. Chandra Arifin Kahardinata, M.Div /

Setiap orang menginginkan damai. Sekitar 70 tahun yang lalu, dunia berusaha mewujudkan damai dan banyak negara mengembangkan senjata nuklir. Sekarang dunia menginginkan damai maka pemimpin negara bernegosiasi dengan pemimpin negara lain untuk memusnahkan senjata nuklir secepat mungkin. Tahun 1990, Rev. David Holwick dalam kotbahnya di First Baptist Church, mengutip sebuah artikel “Canadian Army Journal” menyatakan bahwa sejak 3600 SM, dalam dunia terjadi 14.531 peperangan, dan sekarang sudah bertambah. Terdapat 3,64 miliar manusia yang terbunuh akibat perang-perang itu.

14.531 peperangan... 3,64 miliar manusia terbunuh akibat perang-perang itu NAFIRI DESEMBER 2013

27


Dalam gedung PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa) tertulis kata-kata dari Yesaya 2:4, “... maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang.� Sungguh sebuah impian yang luar biasa, tetapi setiap saat kita dapat mendengar teriakan orang yang mencari damai di setiap sudut dunia. Setiap orang menginginkan damai. Banyak orang mencoba menemukannya melalui narkotik atau minuman keras. Banyak orang mencoba menemukan damai itu melalui meditasi atau mengasingkan diri. Ada juga yang mencoba melalui agama dengan segala ritualnya. Tetapi kenyataannya orang yang sama, banyak yang bunuh diri karena putus asa dengan pencarian mereka. Damai menjadi sesuatu yang sulit diwujudkan sejak manusia berdosa. Alkitab memberitahu kita bagaimana dosa merebut damai dari manusia.

28

Ketika Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, mereka takut untuk bertemu Allah (Kej. 3:10). Keturunan wanita akan terdapat permusuhan dengan ular (Kej. 3:15). Manusia harus bersusah payah mengelolah tanah untuk kebutuhan hidup mereka (Kej. 3:17-18). Pada keturunan pertama manusia, terjadi pembunuhan antara saudara, yaitu Kain membunuh Habel (Kej. 4:8). Demikian damai direbut dari manusia, mulai dari damai dengan Allah, damai dengan diri sendiri, damai dengan alam dan damai dengan sesama. Dosa merebut damai dari manusia, dan sejak saat itu dunia tidak mengenal damai yang sejati. Raja Damai dalam Dunia yang Kehilangan Damai Sejak manusia jatuh dalam dosa, maka kedamaian menjadi sesuatu yang sangat sulit, bahkan mustahil, terwujudkan dalam dunia ini. Dunia seolah merasa damai sebagai sesuatu yang asing. Keadaan damai dimana semua orang hidup dengan aman. Semua orang mendapatkan penghasilan yang berlebih untuk keperluan hidup mereka sehingga dapat makan dengan kenyang. Peperangan tidak pernah terjadi. Rasanya hal-hal itu sesuatu yang sangat sulit, bahkan mustahil terjadi.

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Manusia tidak dapat hidup dalam ketaatan kepada Tuhan, sehingga damai sulit tercipta Sampai suatu ketika, firman Tuhan datang melalui Musa kepada orang Israel. Dalam Imamat 26:16, Tuhan menyatakan: “Janganlah kamu membuat berhala bagimu, dan patung atau tugu berhala janganlah kamu dirikan bagimu; juga batu berukir janganlah kamu tempatkan di negerimu untuk sujud menyembah kepadanya, sebab Akulah TUHAN, Allahmu. Kamu harus memelihara hari-hari Sabat-Ku dan menghormati tempat kudus-Ku, Akulah TUHAN. Jikalau kamu hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada perintah-Ku serta melakukannya, maka Aku akan memberi kamu hujan pada masanya, sehingga tanah itu memberi hasilnya dan pohon-pohonan di ladangmu akan memberi buahnya. Lamanya musim mengirik bagimu akan sampai kepada musim memetik buah anggur dan lamanya musim memetik buah anggur akan sampai kepada musim menabur. Kamu akan makan makananmu sampai kenyang dan diam di negerimu dengan aman tenteram. Dan Aku akan memberi damai sejahtera di dalam negeri itu, sehingga kamu akan berbaring dengan tidak dikejutkan oleh apapun; Aku akan melenyapkan binatang buas dari negeri itu, dan pedang tidak akan melintas di negerimu.� dan contoh dalam rancangan damai Tuhan menganugerahkan damai Tuhan. Tetapi kembali dosa merebut kepada manusia dalam sebuah relasi damai itu. Manusia (Israel) tidak dapat dengan diri-Nya. Kondisi damai dalam hidup dalam ketaatan kepada Tuhan, dan melalui ibadah dan ketaatan sehingga damai menjadi sesuatu yang kepada Tuhan. Israel dipilih sebagai alat sangat sulit tercipta. NAFIRI DESEMBER 2013

29


Alkitab menceritakan perjalanan panjang manusia (Israel) dalam usahanya menciptakan damai. Ada yang berusaha mendapatkan damai dengan cara dan kekuatan sendiri. Ada yang mencari damai dengan mengharapkan bantuan dari orang lain atau negara lain. Tetapi terselip juga, sekelompok orang yang mendapatkan damai dalam relasi dan ketaatannya kepada Tuhan. Walaupun dalam jumlah yang sedikit dan waktu yang singkat, tetapi sejarah manusia (Israel) menceritakan bahwa masih ada orang-orang yang hidup berdamai dengan Tuhan, dengan diri sendiri, dengan alam sekitarnya dan dengan sesama. Pencobaan dan permasalahan tetap datang, tetapi orang-orang itu menjalani hidupnya dengan damai. Terdapat beberapa contoh dalam Alkitab, yaitu: Henokh, sahabat Tuhan yang menjalani hidup damai bersama Tuhan sepanjang hidupnya. Ayub, walaupun terdapat pergumulan yang hebat dan dia berhasil melewatinya, tetapi secara keseluruhan Ayub menjalani hidupnya dengan damai. Daniel, walaupun menghadapi banyak perlawanan dan berganti banyak raja yang dilayani, tetapi dapat dikatakan Daniel menjalani hidupnya dengan damai.

30

Dalam perjalanan manusia mencari dan mempertahankan damai, Tuhan memberikan lagi sebuah anugerah dalam bentuk sebuah janji. Dalam Yesaya 9:5-6, Tuhan berfirman: “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya.� T Tuhan menjanjikan seorang Raja Damai, yang akan membawa terang bagi orang yang berjalan dalam kegelapan (Yes. 9:1), yang akan membawa sukacita sehingga semua orang akan bersorak sorai (Yes. 9:2), yang akan melepaskan orang dari tekanan sang penindas (Yes. 9:3). Tetapi sepanjang penantian itu, manusia (Israel) terus berjuang mencari dan mempertahankan damai.

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Tuhan menjanjikan seorang Raja Damai. Tetapi damai yang dibawa Yesus, Sang Raja Damai, merupakan damai yang paradoks Sampai akhirnya janji itu digenapi dan diberitakan. Dalam Lukas 2:1014, malaikat datang memberitakan kelahiran sang Raja Damai: “Lalu kata malaikat itu kepada mereka: ‘Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.’ Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: ‘Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.’”

Allah menggenapi janji-Nya sekaligus menegaskan kembali rencana damai-Nya. Jika kepada Israel, Tuhan menyatakan bahwa damai hanya diperoleh melalui dan dalam relasi serta ketaatan kepada Allah. Maka melalui malaikat-Nya, Tuhan menyatakan bahwa damai dianugerahkan kepada manusia yang berkenan kepada-Nya. Kembali Tuhan menegaskan bahwa relasi dan ketaatan menjadi kunci bagi hidup damai, damai dengan Tuhan, damai dengan dirinya sendiri, damai dengan alam sekitar, dan damai dengan sesama. TTetapi damai yang dibawa Yesus, Sang Raja Damai, merupakan damai yang paradoks, ketika Dia berkata: “Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.” (Lukas 12:51-53) NAFIRI DESEMBER 2013

31


Tuhan Yesus tahu bahwa dosa menjadi penghalang damai, bahkan dosa merebut damai itu dari manusia. Tuhan Yesus tahu bahwa damai hanya bisa diwujudkan jika dosa dikalahkan, karena dosa seteru dari damai. Sama seperti Tuhan Yesus mendapat pertentangan dalam mengalahkan dosa, demikian juga kita dalam hidup berelasi dan menaati Tuhan akan mendapatkan pertentangan. Jika kuasa dosa diatasi dengan pengorbanan diri-Nya sendiri, maka relasi dengan Tuhan dan ketaatan kepada-Nya juga membutuhkan pengorbanan. Sejak semula dan terus diulang bahwa relasi dengan Tuhan dan hidup dalam ketaatan kepada-Nya membuat kita mendapatkan damai. Kita juga mendapat kesan yang sama ketika Rasul Paulus menyatakan bahwa salah satu rasa dari buah Roh adalah damai. Sekali lagi ditegaskan bahwa damai hanya bisa diperoleh dalam sebuah relasi dan ketaatan. Sudahkan kita memperoleh damai? Tergantung apakah kita hidup berelasi dengan Tuhan dan hidup dalam ketaatan kepada-Nya atau tidak.

32

Menghidupi Damai di Dunia yang Kehilangan Damai Menghidupi damai menjadi sulit, ketika kita menyadari bahwa kita hidup di dunia yang telah kehilangan damai. Tetapi menghidupi damai menjadi sesuatu yang sangat menarik perhatian dunia kita, karena dunia kita sedang kehilangan dan sangat membutuhkan damai. Ketika Tuhan Yesus berkata: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.� (Matius 5:9) Sekali lagi, Alkitab menegaskan bahwa damai hanya terjadi dalam sebuah relasi, karena istilah “anak-anak Allah� adalah gambaran sebuah relasi dengan Tuhan. Seorang yang sudah menjalani hidup sebagai anak-anak Allah akan mengalami damai. Tetapi lebih dari itu, seorang yang sudah mengalami damai akan membawa damai bagi dunia yang sedang kehilangan dan sangat membutuhkan damai. Walaupun sangat sulit, tetapi kita bisa menghidupi damai di dunia ini. Allah memberikan metodenya yaitu hidup berelasi dengan Tuhan dan hidup dalam ketaatan kepada-Nya. Allah memberikan Sang Raja Damai yaitu Tuhan Yesus untuk menyelesaikan dosa yang menjadi seteru damai.

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Allah mengaruniakan Roh Kudus untuk menghasilkan damai dalam hidup kita. Dan Allah memanggil kita untuk membawa damai bagi dunia yang sedang kehilangan dan sangat membutuhkan damai. Menghidupi damai bukan hanya bagi diri kita sendiri, karena Tuhan punya misi yang besar dengan damai. Tuhan ingin manusia kembali hidup damai dengan Tuhan, hidup damai dengan dirinya sendiri, hidup damai dengan alam sekitarnya dan hidup damai dengan sesama. Untuk hidup seperti itu, manusia membutuhkan Sang Raja Damai. Menyelesaikan lagu di atas: Ke gunung tinggi ‘ku naik-naik-naik mencari damai Ke lembah curam ‘ku turun-turunturun mencari damai Namun akhirnya damai, tiada ‘ku dapati juga Kecuali hanya di dalam Yesus Tuhan

Manusia diciptakan dalam damai. Dan manusia yang sudah jatuh dalam dosa dipanggil untuk hidup damai di dalam dan melalui Sang Raja Damai. Dan kita yang sudah dianugerahkan damai dipanggil untuk membawa damai bagi dunia yang sedang kehilangan dan sangat membutuhkan damai. Sesungguhnya berbahagialah orang yang membawa damai... *) Penulis lulus Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang, dan sekarang bertugas di Gereja Kristus Yesus (GKY) jemaat Bumi Serpong Damai (BSD) Tangerang.

Walaupun sulit, kita bisa menghidupi damai di dunia ini, yaitu hidup berelasi dengan Tuhan dan dalam ketaatan kepada-Nya

NAFIRI DESEMBER 2013

33


f

kus

Damai,

Akankah Sekadar Menjadi Utopia? 34

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


M / Pdt. Paulus Surya /

Di setiap tempat dan zaman, manusia berusaha untuk hidup dalam kedamaian. Damai dengan sesama, damai dengan alam, dan damai dengan diri sendiri. Apakah usaha manusia untuk hidup dalam kedamaian ini berhasil?

a n u s i a tampaknya tidak mampu untuk hidup dalam kedamaian atau keharmonisan satu sama lain. Menurut website Polynational War Memorial, selama 113 tahun sejak 1900, telah terjadi sedikitnya 249 perang. Perang di sini didefinisikan sebagai konflik bersenjata di mana lebih dari 1.000 orang tewas. Sepanjang tahun 2013 dunia kita dipenuhi dengan berita-berita yang bertolak belakang dengan kedamaian. Ada berita tentang perang yang masih terjadi di Syria dan beberapa negara Timur Tengah; ancaman nuklir dari Korea Utara dan Iran; kasus terorisme dan kekerasan di Kenya, Amerika, Inggris; penyadapan informasi oleh Amerika yang mengganggu kerja sama antar negara. Itu ditambah lagi dengan adanya bencana-bencana alam di Amerika, China, Filipina, dan lainnya. Website My Divorce juga menyatakan di Australia angka perceraian sangat tinggi. Dari tiga perkawinan, satu berakhir dengan perceraian. Dan angka perceraian yang tinggi ini juga menjadi fenomena di berbagai negara di dunia, termasuk di Indonesia. Daftar ini belum termasuk orang-orang yang karena masalah hidupnya yang berat menjadi NAFIRI DESEMBER 2013

35


depresi, bahkan kemudian ada yang bunuh diri. Dalam kenyataan hidup seperti ini mungkin kita akan bertanya-tanya, “Apa yang sedang terjadi dengan dunia ini? Mungkinkah ada kedamaian sejati selama kita hidup di dunia ini? Ataukah kedamaian sejati hanya sekedar akan menjadi utopia?” Usaha dari Agama atau Kepercayaan Tujuan dari tiga agama atau kepercayaan besar dari Timur adalah bagaimana supaya kita manusia bisa hidup dalam kedamaian atau keharmonisan. Tujuan dari Taoisme adalah hidup damai atau harmonis dengan alam. Tujuan dari Buddhisme adalah hidup damai atau harmonis dengan diri sendiri. Tujuan dari Konfusianisme (dan pada dasarnya semua agama lainnya di dunia ini) adalah hidup damai atau harmonis seseorang dengan yang lain. 36

Apa yang dikatakan Alkitab akan hal ini? Alkitab mengajarkan bahwa kita tidak mungkin dapat hidup damai atau harmonis satu dengan yang lain, kita tidak mungkin dapat hidup damai atau harmonis dengan alam, dan kita tidak mungkin dapat hidup damai atau harmonis dengan diri sendiri, kecuali kita hidup damai atau harmonis dengan Tuhan. Kebutuhan utama dan terbesar kita manusia adalah damai dengan Allah. Inilah masalah utama kita yaitu kita tidak hidup damai atau harmonis dengan Allah; sebaliknya, kita berseteru dengan Allah. Kita hidup menjadi musuh Allah. Tidak adanya keharmonisan atau kedamaian seseorang dengan masyarakat, alam, dan diri sendiri adalah hasil dari masalah yang jauh lebih dalam, yaitu tidak berdamai dengan Allah.

‘Sebab itu, kita yang dibenarkan karen iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah karena Tuhan kita, Yesus Kristus.” (Roma 5:1)

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Bagaimana bisa Hidup Berdamai dengan Allah? 1 . Kita telah dibenarkan Kata “dibenarkan” adalah sebuah istilah hukum yang biasa dipakai dalam pengadilan. Kata ini menggambarkan apa yang hakim lakukan di akhir suatu sidang. Bila seseorang didakwa melakukan pelanggaran, setelah semua bukti dipaparkan dan dipertimbangkan, maka hakim akan memutuskan apakah dia bersalah dan kemudian menghukum dia, atau memutuskan tidak bersalah dan membebaskan dia. Bila seseorang terbukti tidak bersalah dan dibebaskan, kita katakan dia dibenarkan. “Dibenarkan” adalah kebalikan dari “dihukum”. “Membenarkan” berarti menyatakan seseorang tidak bersalah dan membebaskannya. Alkitab mengajarkan bahwa Allah adalah hakim atas seluruh dunia dan suatu hari kelak kita akan berdiri di hadapan Allah untuk diadili. Bagaimana Allah yang benar bisa menyatakan bahwa kita orang berdosa, pelanggar hukum dan pemberontak menjadi tidak bersalah? Bagaimana Allah bisa membenarkan kita orang berdosa? 2 . Kita telah dibenarkan melalui iman dalam Yesus Mengapa perlu Natal? Mengapa Yesus perlu datang dan lahir ke dalam dunia ini? Mengapa Yesus yang datang ke dunia ini harus mati disalib? Alkitab mengajarkan bahwa kita tidak mungkin dibenarkan oleh apa pun yang kita lakukan (Roma 3:20; Yesaya 64:6a). Kita hanya mungkin dibenarkan Allah dengan apa yang Kristus telah lakukan bagi kita. Oleh sebab itu Yesus harus datang ke dalam dunia ini untuk melakukan apa yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia. Kita telah menjalani kehidupan yang egois dan berdosa tetapi Kristus telah menjalani hidup yang sempurna dan berkenan pada Allah. Kita layak dihukum mati karena dosa-dosa kita, tetapi Yesus mati disalib untuk dosadosa kita sekalipun Dia tidak pernah berdosa. Lebih dari 2700 tahun yang lalu Yesaya berkata: “Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilurbilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing NAFIRI DESEMBER 2013

37


kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.� (Yesaya 53:5-6) kita di-PHK pada usia lima puluhan, Yesus mati disalib karna atau ketika kita berjuang setiap hari menanggung dosa-dosa kita. dengan sakit-penyakit, atau saat Kemudian pada hari ketiga Dia bangkit anak perempuan kita memberitahu dari antara orang mati, menang atas bahwa suaminya telah meninggalkan dosa dan maut, dan sekarang Dia dia? Pendek kata, mungkinkah kita memerintah dari sorga sebagai Raja mengalami kedamaian saat problema atas segala raja dan Tuhan atas segala hidup yang berat ada dalam hidup tuhan. Dia memanggil kita untuk kita? berhenti memberontak, berhenti hidup Di dunia yang telah jatuh dalam dalam dosa dan menyerahkan diri dosa, masalah dan penderitaan adalah kepada-Nya. Penyerahan diri kepada bagian dari kehidupan manusia. Yesus ini Alkitab sebut sebagai iman Dan sebagai orang Kristen kita yang menyelamatkan. Bagi kita yang tidak terhindar dari masalah yang beriman sungguh-sungguh kepadadihadapi orang lain. Ujian adalah hal Nya, maka kebenaran Yesus yang normal dalam hidup ini. Kita semua sempurna diperhitungkan kepada kita. menghadapi kekecewaan, frustrasi dan keputusasaan. Kadang kita dapat Damai Sejahtera Sejati dalam jatuh dan kehilangan semangat hidup. Yesus Pada waktu seperti ini kita perlu Bagaimana pemahaman mengingatkan diri kita sendiri akan bahwa kita telah dibenarkan Allah kebenaran Injil dan hubungan kita akan membuat kita dapat hidup dengan Tuhan. dalam damai di dunia yang penuh Artinya, kita perlu melatih iman ketidakdamaian ini? Mungkinkah kita kita. Kita adalah anak-anak Allah. mengalami kedamaian sejati pada Sebagai anak-anakNya kita harus saat kita mengidap kanker stadium hidup berdasarkan iman dan bukan akhir, atau menanggung caci maki dari penglihatan mata jasmani. Iman bos yang tidak menyenangkan, atau dapat diibaratkan seperti sebuah kuatir akan anak-anak kita yang tidak teleskop yang memungkinkan kita taat dan nakal? Bagaimana kita dapat untuk melihat melampaui keadaan mengalami damai dari Tuhan ketika kita kepada Kristus. Ketika mata 38

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


jasmani kita hanya dapat melihat pencobaan dan kesulitan, badai dan topan, kelelahan dan nyeri, kemandulan dan keputusasaan, iman akan memampukan kita melihat penyelamatan dan kemenangan , ketenangan dan kedamaian, Tuhan dan kemuliaan. Iman kepada Yesus akan memampukan kita untuk melihat sang Raja Damai, Yesus Kristus.

Iman yang benar akan memampukan kita mengalami kedamaian sejati ditengah segala problema hidup ini. Saat kita beriman kepada Kristus, kedamaian bukanlah utopia. Kedamaian bukan sesuatu yang hanya akan menjadi khayalan semata. Kedamaian dapat menjadi bagian dalam hidup kita di dunia ini melalui iman kepada Yesus Kristus.

Maka tepatlah Firman Tuhan yang mengatakan bahwa kedatangan Yesus Kristus ke dunia ini (Natal) sungguh-sungguh membawa kita bisa menjalani hidup yang penuh kedamaian: akan menjumpai seorang bayi • “…Dan inilah tandanya bagimu: Kamu ak dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan. Dan tibatiba tampaklah bersama-sama dengan malaik malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: KKemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” (Lukas 2:12-14) • “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: PPenasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kek Kekal, al, Raja Damai.” (Yesaya 9:5) • “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberik Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” (Yohanes 14:27) Selamat Natal 2013 *) Penulis adalah Gembala jemaat Westminster Presbyterian Church, Perth, Australia NAFIRI DESEMBER 2013

39


40

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


PUTRA NABABAN

As Working for The Lord / Deirdre Tenawin /

Dua puluh tahun berkecimpung di dunia jurnalistik, membuat nama Putra Nababan tak lagi asing di telinga masyarakat Indonesia. Predikat “Presenter Berita & Informasi Favorit� versi Panasonic Gobel Awards pun pernah disandangnya selama empat tahun berturut-turut (2009-2012). Presenter kondang yang kini menjabat sebagai Pemimpin Redaksi di Metro TV ini juga pernah menghebohkan dunia pertelevisian tatkala mewawancarai langsung Presiden Amerika Serikat, Barack Obama di Gedung Putih, sebuah pencapaian yang membawa namanya semakin melambung tinggi. NAFIRI DESEMBER 2013

41


A

k a n tetapi, dibalik kesuksesannya, kepada tim NAFIRI, Putra Nababan dengan rendah hati mengaku bahwa semua pencapaiannya tidak lepas dari campur tangan Tuhan. Baginya, setiap hari yang dilewatinya adalah keajaiban Tuhan. Jika menilik masa lalunya, Putra merasa apa yang dicapainya saat ini sangat tidak masuk akal.

Putra bercerita semasa duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia kerap kali terlibat tawuran sementara nilai rapornya selalu ‘kebakaran’. Sampai-sampai ibunya merasa malu kalau harus ke sekolah mengambil rapor. Bahkan karena takut dirinya mati di jalan akibat tawuran, orang tua Putra terpaksa mengirimnya ke Amerika untuk melanjutkan Sekolah Menengah Atas (SMA). Di sana Putra mengambil kuliah jurnalistik karena terinspirasi oleh ayahnya, Panda Nababan, yang adalah seorang jurnalis senior. 42

“Apa yang kamu lihat pada Putra Nababan yang sekarang ini sebenarnya gak masuk akal. Saya sendiri saksi hidupnya. (Coba) kamu wawancara ibu saya, bapak saya, gak masuk akal. Benerbener gak masuk akal,” akunya.

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Tidak Percaya Putra merasakan betul Tuhan menyelamatkan dirinya. Tuhan masih memberinya kesempatan untuk lulus sekolah dan kuliah. Ia juga diberi kesempatan untuk pulang ke Indonesia dan bekerja hingga seperti sekarang. “Kemampuan saya itu terbatas. Muka saya dibanding orang-orang, banyaklah yang lebih ganteng dari saya. Bicara saya juga terbata-bata. Ilmu saya juga gak hebat-hebat banget. Tapi di tengah banyaknya kelemahan saya itu, Tuhan benar-benar pimpin. Jadi yang kamu lihat ini adalah kerja Tuhan. Saya gak ada hebat-hebatnya kok. Tuhan sangat baik, itu saja.” Memang, Putra mengaku kalau dirinya adalah seorang pekerja keras dan juga selalu bekerja cerdas karena ia memegang prinsip Firman Tuhan “Whatever you do, work at it with all your heart, as working for the Lord” (Kolose 3:23). Akan tetapi ia merasa bukan itu yang membuatnya bisa seperti hari ini. “Bukan karena itu, tetapi karena seluruhnya adalah belas kasihan Tuhan sama saya. Dia mau pake saya. Dia mau tuntun saya dan Dia mau pimpin saya, itu karena pilihan Dia. Bukan saya pilih Dia loh. Dia pilih saya,” tegas Putra.

Putra merasakan bagaimana Tuhan telah memimpin langkah hidupnya sejak ia lahir. Dia lahir sebagai seorang Kristen tradisionalis, dimana ayah dan ibunya sudah percaya pada Tuhan Yesus dan berjemaat di HKBP (Huria Kristen Batak Protestan). Beberapa bulan setelah lahir, Putra pun dibaptis dan ia tumbuh sebagai anak Tuhan yang sangat rajin ke Sekolah Minggu. “Tapi bahwa betul-betul merasakan sentuhan Tuhan, betul-betul merasakan kebutuhan akan Tuhan, saya tumbuh bersama istri saya, sama-sama,” ungkapnya. Setelah menikah dengan Mira M. Sirait, Putra merasa diarahkan oleh Tuhan untuk beribadah di GRII (Gereja Reformed Injili Indonesia) bersama sang istri. Putra merasa sangat senang karena di sanalah mereka belajar mengenal Tuhan lebih dalam. Jika di awal-awal pernikahannya, ia dan istri pergi ke gereja hanya sebagai kewajiban saja dan bahkan ia sibuk memikirkan tempat makan yang akan didatangi setelah pulang gereja, kini semuanya berubah.

NAFIRI DESEMBER 2013

43


Terus Bergumul

Kini mereka betul-betul punya kerinduan untuk mendengarkan Firman Tuhan. Mereka betul-betul menanti hari Minggu karena ingin mendengar dan menyimak khotbah. Bahkan untuk itu, Putra sering menggeser acara kantor agar tidak jatuh di hari Minggu dan menghindari kunjungan ke luar kota jika tidak terlalu penting. Kerinduan itu pula yang membuat Putra selalu berusaha menyediakan waktu untuk bersekutu dengan Tuhan meski di tengah-tengah kesibukannya. Baginya, berdoa adalah kunci paling utama untuk mengetahui kehendak Tuhan. Putra selalu mencoba untuk berkomunikasi dengan Tuhan dalam doa-doa dan perenungannya, baik di pagi hari maupun malam hari. Pada pagi hari, sebelum berdiri dari tempat tidur, ia selalu berdoa terlebih dahulu. Baru setelah itu ia merenungkan Firman Tuhan bersama keluarga di rumah atau dalam perjalanan menuju kantor. 44

Salah satu pokok doa yang paling sering didoakan oleh Putra adalah para hamba Tuhan yang sedang mengabarkan Injil di seluruh pelosok dan kota-kota besar di Indonesia, karena dalam pergumulannya, ayah dari Aubriel dan Gabriel ini seringkali merasa apa yang dilakukannya setiap hari seperti tidak ada artinya. Ia merasa apa yang dilakukannya belum tentu diterima Tuhan. “Seringkali kita berdalih bahwa kita sudah melayani Tuhan dimana kita ditempatkan, tapi apakah betul kita sudah melakukan itu? Hanya Tuhan yang tahu dan terkadang kita tidak tahu. Apakah saya selama 20 tahun jadi wartawan itu adalah bagian dari pelayanan saya bagi Tuhan, saya gak boleh berasumsi ya. Kita harus merendahkan hati, terus bergumul, berdoa sama Tuhan dan selalu terbuka kalau Tuhan gerakkan hati kita untuk berganti haluan. Itu yang jadi pergumulan saya: Betul gak di tempat ini.�

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Bersama ayah, jurnalis senior Panda Nababan yang juga angggota Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P)

Putra mengibaratkan keadaan salah mengerti panggilan Tuhan dalam hidup ini seperti seorang pembantu yang setiap hari cuma menyediakan teh panas bagi majikannya padahal majikannya ingin si pembantu menyiapkan air panas untuk mandi, bukan teh panas. Pembantu macam apa yang menyediakan teh setiap hari padahal majikannya tidak meminumnya? Menurutnya, ada yang perlu untuk kita renungkan,“Apa yang kita lakukan sebenarnya Tuhan butuh gak?

Apakah yang kita lakukan ini hanya untuk kenyamanan kita sendiri saja dan kita anggap Tuhan butuh? Janganjangan Tuhan gak butuh. Itu ngeri loh! Itu seperti halnya Saulus berpikir dia membela Tuhan dengan mengejarngejar orang Kristen, dengan membantai orang Kristen. Dia pikir dia bela Tuhan, gak tahunya dia menyakiti hati Tuhan. Itu ngeri. Pernah gak kamu terpikir kayak gitu? Nah itu yang jadi pergumulan saya setiap saat.� Putra Nababan terus bergumul akan panggilan Tuhan dalam hidupnya sementara ia pun berusaha memuliakan Tuhan dalam setiap ucapan, tindakan dan arahannya kepada pimpinan serta rekan-rekan di kantor. Selain itu, ia juga mencoba untuk fokus terhadap pekerjaan dan keluarganya. Meski, ia menyadari bahwa dibalik usahanya untuk memuliakan Tuhan, dirinya masih memiliki banyak kekurangan dan belum cukup mencerminkan wajah dari Tuhan yang lemah lembut namun tajam. “Apakah saya sudah memuliakan Tuhan? I hope so. Tapi apakah Tuhan merasa sudah dimuliakan itu pergumulan saya sama Tuhan setiap hari, setiap saat,� katanya

NAFIRI DESEMBER 2013

45


EVENT NOTES

Family Day Pasutri GKY BSD

/ Lislianty Lahmudin, Mindra J Citra,

Jacynda Darmawan /

Program Growing Kids God’s Way (GKGW) Pasutri GKY BSD angkatan ke-5 tak terasa sudah selesai tahun ini. Program yang diikuti 45 keluarga ini juga diikuti beberapa jemaat dari luar GKY BSD (Gereja St. Monika, Abba Love, dan Christ Cathedral). Ini bisa terjadi karena mereka mendengar sharing dari beberapa mantan peserta program GKGW yang sudah merasakan berkat luar biasa bagi keluarga mereka.

46

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


S

ebagai puncak acara, 37 keluarga mengikuti Family Day dengan menginap semalam di Villa Bukit Pinus, Ciawi, 14 – 15 Oktober 2013. Acara Family Day kali ini dikemas dengan sangat menarik. Sesi pertama bertema “Membangun Keluarga Sehat” dibawakan oleh Ibu Charlotte dan Bapak Hardja Priatna dengan sangat berkesan dan menyentuh. Para peserta diajak kembali merefleksi apakah keluarga mereka sudah termasuk kategori keluarga sehat. Selain itu para suami diajak untuk kembali menyadari pentingnya peran mereka sebagai ayah dalam mendidik anak dan ditantang untuk membuat komitmen dengan menandatangani ‘Janji Ayah’. Acara ini begitu mengharukan, karena tampak hampir semua ayah sungguh bertekad bahkan banyak yang mencucurkan air mata. Saat membacakan janji, mereka didampingi istri masing-masing yang berjanji akan memberi dukungan penuh bagi suami dalam menjalankan fungsi dan peran sebagai ayah. Sesi pertama ini ditutup dengan acara berdansa suami-istri. Tampak semua pasangan sangat menikmati momen berdansa berduaan itu karena mungkin saja seumur pernikahan mereka belum pernah berdansa berdua saja. NAFIRI DESEMBER 2013

47


Acara khusus pasangan suami istri tanpa anak-anak ini dapat berlangsung dengan baik karena bantuan dari Tim MEBIG yang meng-handle semua anak balita sampai kelas 6 SD; sedangkan GI. Martin Manurung memimpin anak remaja yang tak kalah serunya. Keesokan harinya, acara dimulai dengan senam aerobik ringan dan dansa poco-poco. Setelah dibuat bugar, acara makan pagi diawali dengan renungan masing-masing keluarga yang dipimpin oleh sang ayah. Dalam acara makan pagi ini, para ayah melayani anggota keluarganya dengan mengambilkan sarapan. Setelah kenyang secara jasmani dan rohani, dimulailah sesi kedua yang dibawakan oleh GI. Chandra Arifin tentang pentingnya keluarga dan bagaimana orang tua perlu punya hati yang siap untuk mendengarkan curhat (complaint) anak-anaknya. Hal yang penting setelah curhat, yaitu adanya rekonsiliasi antara orang tua dan anak. Sementara itu dua sesi yang dibawakan oleh GI. Martin Manurung sangat bermanfaat dan menjadi turning point bagi para remaja yang menghadiri acara ini. Banyak pelajaran, teguran. dan juga nasihat yang mereka terima. Salah satunya adalah bagaimana kita harus menerima keluarga kita dengan sepenuh hati, bagaimanapun bentuk pengajarannya. Keluarga adalah bagian terpenting dalam hidup ini, karena keluarga adalah komunitas terkecil, pondasi utama, dan tempat pertama kita dibentuk. Allah menghendaki keluarga hidup rukun dan saling menopang. Dari sharing yang menutup acara Family Day, ada sukacita yang dirasakan bersama bahwa ternyata program GKGW ini membawa begitu banyak berkat bagi masing-masing keluarga. Ada banyak perubahan konsep didikan dan pertobatan yang terjadi. Berikut ini cuplikan dari sharing tersebut : • John dan Ida (Gereja Christ Cathedral) John dan Ida mengerti ‘bahasa kasih’ masing-masing setelah mengikuti GKGW, dan jika ada kesempatan, mereka pun membagikan kepada teman-teman di kantor. Konsep memukul anak dengan rotan pun telah mengubah John, yaitu bahwa rotan adalah cara terakhir dalam mendisiplinkan anak. 48

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


• Stefen – Cecil (GKY Gading Serpong) Bagi Stefen, pada awalnya mendidik dan mengurus anak adalah urusan istri saja, suami tinggal terima beres. Dari GKGW Stefen menjadi sadar bahwa ayah memegang peran penting dalam mendidik anak, bukan sekedar pencari nafkah. Dahulu, sebelum ikut program GKGW, saat istri bercerita (curhat) tentang masalah anak, Stefen cuma menjawab “Yah…kamu uruslah...” Tetapi, setelah mengikuti program ini, mereka bersama-sama berdiskusi untuk mencari solusinya. • Alfons – Jessica (Gereja Katolik St. Monica) Pasutri yang aktif dalam kelompok “Pemulihan Keluarga” ini begitu rindu mencari konsep “How to Parenting”. Gayung bersambut, mereka pun ikut program GKGW ini yang diketahuinya dari sekolah anaknya. Alfons berkata bahwa “Mandat Ayah” serasa menampar dirinya. Mendidik anak itu ada caranya Tuhan, bukan cara kita. Dia belajar bahwa hubungan suami-istrilah yang harus menjadi prioritas, bukan anak sebagai ‘pusat’.

• Sumitro – Hilda (Gereja Abba Love) Pasutri yang memiliki latar belakang keluarga yang berbeda ini merasakan berkat yang luar biasa walaupun harus investasi waktu mereka selama 2 tahun mengikuti program GKGW ini. Sumitro diingatkan terus untuk secara konsisten menjalankan “Mandat Ayah” dengan sungguh-sungguh. Sedangkan Hilda, yang memiliki latar belakang keluarga yang keras dalam mendidik anak, jadi mengerti untuk mengubah pola didikan yang tidak sesuai dengan cara Tuhan.

NAFIRI DESEMBER 2013

49


• Hanny – Vera (GKY BSD) Belajar GKGW mengingatkan Hanny tentang masa lalunya yang bermasalah dengan papanya hingga ke masa SMA sehingga pelariannya adalah sibuk dalam kegiatan-kegiatan gereja. Namun setelah belajar tentang “Mandat Ayah”, dia sadar akan pentingnya peran ayah. Dia juga diingatkan mengenai corong disiplin yang harus diterapkan dengan benar.

• Benny – Grace (GKY BSD) Pasutri ini belajar sabar dalam memahami dan bersimpati pada pergumulan anaknya dalam masalah pelajaran. Dalam Family Day ini, Benny sangat terkesan pada “Janji Ayah” dan bertekad untuk menjadi ayah yang lebih baik.

• Leo – Dahlia (GKY BSD) Villa Bukit Pinus dirasakan tempat yang sangat menunjang acara Family Day. Mereka senang melihat anak-anak bergembira dan mempunyai banyak teman. Acara penutupan dikemas sederhana namun ‘hit to the core’. Leo ingin sekali menjadikan “Janji Ayah” sebagai falsafah hidup dan rindu agar para ayah lebih sering berkumpul dan berbagi.

• Hentje (wakil dari laoshi anak-anak program GKGW Plus) Pada awal dibentuknya program GKGW Plus untuk anak ini, para guru begitu gentar karena tidak memiliki pengalaman mengajar. Bagi Hentje pribadi, kegentarannya adalah harus menghadapi sekitar 30 anak dengan karakter yang berbeda-beda, padahal ia sendiri hanya memiliki seorang anak. Namun dia sangat bersyukur dan bersukacita tatkala melihat perubahan positif dari anak-anak yang diajarnya. 50

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


• GI. Martin Manurung (pendamping Remaja di Family Day) Guru Injil yang cepat akrab dengan anak-anak Remaja ini menyampaikan isi hati para remaja, yaitu agar para orangtua konsisten terhadap aturan yang ditetapkan dan dapat berkomunikasi lebih jelas kepada anak remajanya.

• Mindra - Juliani (Mentor) Sebagai mentor yang semua mentee-nya berasal dari luar GKY BSD, mereka terpacu untuk tidak bermalas-malasan; apalagi para mentee-nya sangat rajin dan antusias. Kelompok ini tidak pernah absen dalam pertemuan kelompok kecil. Acara kumpul selalu dibarengi dengan makan-makan yang seru. Mereka sangat kompak, sampai pergi bersama berburu dan camping; sehingga hal ini membuat mereka lebih akrab lagi.

• GI. Chandra Arifin ( Pembina Pasutri ) “Memulai dengan benar” merupakan prinsip paling mendasar yang berlaku dalam semua hal, terlebih ketika berkaitan dengan pendidikan anak. Alkitab sangat menekankan peran ayah sebagai kepala keluarga dalam proses pendidikan dan pertumbuhan rohani anak bahkan seluruh anggota keluarga. Ketika kita mengerti anak adalah milik Tuhan yang dikaruniakan kepada kita, maka setiap kita perlu mempertanggungjawabkan anakanak kita dihadapan Tuhan.

Sangat menyenangkan melihat banyak keluarga bersama-sama mengusahakan hal-hal di atas dalam keluarga masing-masing. Teruslah berjuang bersama Tuhan. Marilah kita saling menopang satu sama lain. Bersama Tuhan dan saudara seiman, kita mengerjakan tanggung jawab kita sampai selesai waktunya. Tuhan Yesus memberkati kita semua... NAFIRI DESEMBER 2013

51


REFLEKSI

Tekanan dan Kesulitan yang Berbuah

Sukacita

/ Binsar Nainggolan / 52

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


NAFIRI DESEMBER 2013

53


Sehari menjelang Natal, 24 Desember 1952, ketika berlangsungnya Perang Korea, Charlie, seorang Kristen, tentara Angkatan Udara Amerika Serikat, ditugaskan oleh komandannya untuk memperbaiki radio komunikasi yang rusak di perbatasan Korea Utara-Korea Selatan. Dalam Perang Korea, Amerika Serikat beserta sekutunya membantu Korea Selatan bertempur melawan Uni Sovyet (Rusia) dan China yang membantu Korea Utara. 54

D

e n g a n hati yang galau karena seharusnya bisa merayakan Natal dengan tenang, Charlie akhirnya berangkat bersama rekannya. Sebagai perbekalan, mereka membawa dua kotak ransum, beberapa bungkus rokok dan yang paling penting adalah dua botol Canadian Bourbon (CB) sebagai minuman penghangat tubuh di tengah dinginnya suhu akibat musim salju, sekaligus untuk perayaan Malam Natal. Di markas Angkatan Udara, rokok dan CB sangat mudah didapat tetapi bahan makanan lainnya sangat terbatas, kondisi sebaliknya di markas Angkatan Darat bahan makanan begitu melimpah, sedangkan rokok dan CB sangat langka. Jadi merupakan sesuatu yang lumrah jika antar personil AU dan AD saling barter atau menukar perbekalan.

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Sore harinya setelah menyelesaikan tugas memperbaiki alat komunikasi di zona tempur, Charlie tertegun melihat begitu banyaknya anak-anak kecil Korea Utara yang kehilangan orang tuanya akibat perang sedang mengemis, meminta-minta makanan kepada tentara Amerika. Tetapi tentara disana tidak dapat berbuat banyak, akibat keterbatasan makanan di markas Angkatan Udara. Lalu ia berdoa, bertanya kepada Tuhan apa yang bisa diperbuatnya untuk anak-anak tersebut. Charlie diingatkan dengan perbekalan yang dibawanya. Lalu ia berangkat ke markas Angkatan Darat, menukar rokok dan CB yang dibawanya dengan makanan. Ia membagikan makanan tersebut kepada anak-anak sambil merayakan Natal. Charlie digerakan hatinya untuk menolong anak-anak yang notabene adalah warga negara Korea Utara yang seharusnya menjadi musuh dalam tugas ketentaraannya. Ia menukar kenikmatan yang seharusnya ia dapat melalui rokok dan CB, dengan kebahagiaan anak-anak yatim piatu Korea Utara karena mendapatkan makanan untuk mengisi perut mereka yang kosong. Bagi dia inilah makna Natal yang sesungguhnya dan ia bersyukur mendapat penugasan yang berbahaya di saat malam Natal.

Dalam Kitab Matius 5 : 38-41 Tuhan Yesus berkata : Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil Jika kita meyimak perintah tersebut di atas dengan akal manusia yang amat sangat terbatas ini, apakah mungkin kita bisa melakukannya? Apakah ada manusia yang mampu menjalankannya? Fakta yang terjadi selama ini adalah kita akan membalaskan setiap perlakuan buruk agar yang bersangkutan menerima ganjaran yang setimpal akibat perbuatan tidak menyenangkan kepada kita alias supaya impas.

NAFIRI DESEMBER 2013

55


Umat Kristen di Indonesia sering merasa mendapat perlakuan tidak adil baik dari pemerintah maupun dari umat agama mayoritas. Pendirian gereja diatur dengan Surat Keputusan Bersama Dua Menteri yang mewajibkan minimal enam puluh tanda tangan warga umat beragama mayoritas untuk mendirikan rumah ibadah kaum minoritas. Seseorang di pedalaman Kalimantan bercerita bagaimana sulitnya ia mengumpulkan tanda-tangan, karena di perkampungan itu sulit ditemui penduduk beragama mayoritas. Juga

tentang penyegelan GKI Yasmin di Bogor yang begitu menghebohkan hingga ke manca negara, serta pemukulan dan penikaman pendeta dan jemaat HKBP Bekasi oleh anggota sebuah organisasi massa. Tapi apakah semua itu bisa menjadi alasan kita untuk mengeluh kepada Tuhan?

Bangunan HKBP Setu yang telah dibongkar 56

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Saya ingin membandingkan keadaan kekristenan di Indonesia dengan di Korea. Tidak ada katakata yang cukup tepat untuk menggambarkan karya Allah yang luar biasa bagi negeri Korea. Penginjilan di China dan Jepang sudah dua abad lebih dulu dibandingkan di Korea, tetapi perkembangan kekristenan di China dan Jepang tidak sepesat Korea. Saat ini diperkirakan satu dari tiga penduduk Korea Selatan adalah pengikut Kristus. Pengenalan akan Kristus rakyat Korea ternyata tidak dimulai dari orang asing, tetapi melalui seorang Korea bernama Lee Sung Hoon, anak diplomat yang sedang belajar di Beijing, yang menyerahkan dirinya untuk dibaptis secara Katolik sekitar tahun 1780-an. Lee selanjutnya menyebarkan doktrin Katolik di negeri Korea. Sepanjang tahun 1800-1867 perkembangan kekristenan terhambat akibat penyiksaan dan pembantaian umat oleh pemerintah karena menolak penyembahan roh-roh leluhur. Diperkirakan 8.000-9.000 orang Kristen tewas hingga tersisa sekitar 500 orang.

Baru sekitar tahun 1880-an misionaris protestan dari Amerika datang ke Incheon - Korea Selatan, Horace J Allen seorang dokter yang diutus oleh gereja Presbyterian. Kemudian disusul kedatangan Pendeta Horace G. Underwood utusan Gereja Presbyterian dan Pendeta Henry G. Appenzeller utusan Gereja Methodist ke Pyongyang, Korea Utara. Masyarakat Korea Utara memiliki budaya yang lebih terbuka dalam menerima perubahan dibandingkan Korea Selatan. Sehingga saat Pdt. Underwood mengunjungi Pyongyang, ia sudah bertemu dengan beberapa pengikut Kristus yang aktif memberitakan Injil disana tanpa ada yang mengorganisirnya. Kala itu alkitab Perjanjian Baru sudah diterjemahkan kedalam bahasa Korea, sehingga memudahkan pemberitaan Injil. Jadi awalnya kekristenan di Korea Utara lebih berkembang dibandingkan di Korea Selatan, mayoritas orang Kristen ada di Korea Utara. Perubahan terjadi setelah meletusnya perang Korea tahun 1950-1953, akibat serangan Korea Utara ke Korea Selatan. Gereja-gereja di Pyongyang dan kota-kota sekitarnya dihancurkan oleh tentara Korea Utara beserta sekutunya. Pemerintah NAFIRI DESEMBER 2013

57


Korea Utara yang beraliran komunis melarang gereja dan peribadatannya, sehingga banyak orang Kristen Korea Utara hengkang ke Korea Selatan. Bahkan tidak sedikit yang mati syahid karena mempertahankan imannya kepada Kristus. Perang Korea belum secara resmi berakhir karena perjanjian damai belum ditanda-tangani. Hanya berupa gencatan senjata. Jadi bisa dikatakan sampai sekarang perang Korea “masih berlangsung”. Orang Korea Selatan masih dilanda ketakutan akan kemungkinan serangan tiba-tiba dari Korea Utara, yang giat mengembangkan senjata nuklir dan telah beberapa kali diuji coba. Tapi apakah rakyat Korea Selatan berdiam diri saja meratapi keadaan ini? Atau apakah mereka mengutuk pemerintah Korea Utara yang menganiaya saudara-saudara mereka? TTernyata orang Korea Selatan mengimani dan mempraktekkan perintah Tuhan Yesus dalam Matius 5 diayatnya yang ke- 44 :

Mereka mengasihi dan berdoa untuk orang Kristen di Korea Utara termasuk untuk pemerintah yang berniat menganiaya mereka. Setiap ada provokasi unjuk kekuatan militer oleh tentara Korea Utara, gerejagereja di Korea Selatan mengadakan kebaktian doa khusus untuk Korea Utara, di luar kebaktian doa rutin yang diadakan setiap hari oleh pihak gereja. Semangat untuk berdoa orang Kristen Korea Selatan sangat luar biasa, ribuan orang hadir dalam suatu kebaktian doa yang saya hadiri. Maka tidaklah mengherankan jika Tuhan memberkati mereka luar biasa, baik dalam hal rohani maupun jasmani. Tidak dapat dipungkiri kemajuan ekonomi rakyat Korea Selatan tumbuh pesat seiring dengan pertumbuhan orang Kristen dan Gereja. Karena tekanan demi tekanan yang diterima pengikut Kristus di Korea dilawan dengan semangat doa, kekristenan disana berkembang luar biasa.

“ Tetapi Aku berkata kepadamu:

Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” 58

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Bagaimana dengan kekristenan di Indonesia? Jika dibandingkan dengan Korea, tekanan kepada kita relatif lebih ‘ringan’. Apakah tekanan yang menimpa gereja dan orang Kristen sepanjang tahun ini dan tahun sebelumnya hanya membuat kita bersedih ? Apakah semangat kasih dan doa bergelora dalam tubuh dan jiwa kita untuk mengatasi tekanantekanan tersebut? Kiranya di Natal kali ini, di hari peringatan kelahiran Sang Raja Damai, menjadi momentum bagi kita semua untuk lebih giat berdoa. Berdoa dengan semangat yang bernyala-nyala agar kondisi umat Kristen dan rakyat Indonesia pada umumnya dipulihkan Tuhan dari keterpurukan dan Misi Pemberitaan Injil semakin menjangkau semua suku di Indonesia agar setiap orang bisa mendengar Kabar Baik Kristus. Seperti Kristus yang tekun berdoa hingga menjelang akhir hayatnya, kiranya The Power of Prayer atau kekuatan doa menjadi kekuatan kita dalam menghadapi segala tekanan dan penderitaan, baik hari ini, esok, bahkan sampai selama-lamanya *) Penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi (STT) Cipanas, program Magister Divinitas

yang “Doa orangbenar,

bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” Yakobus 5 : 16 b

Daftar Pustaka Moffet, Samuel Hugh, A History of Christianity in Asia. New York: Orbis Book, Mary Knoll, New York, 2005. Moffett, Samuel Hugh. The Christians of Korea. New York: Frienship Press, 1962 Ruck, Anne. Sejarah Gereja Asia. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997. Sukamto. 2006. Rahasia Keberhasilan Gereja di Korea-Telaah Komprehensif Tentang Laju Pertumbuhan Gereja di Korea. Yogyakarta: ANDI

NAFIRI DESEMBER 2013

59


Ketua Sinode GKY

Pdt. Freddy Lay 60

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


GKY Jangan

Beri Kesan Kita

Gereja Konglomerat / Edna Pattisina /

M

asuk ke ruang kerja Ketua Sinode GKY P d t . Freddy Lay di lantai delapan, GKY Mangga Besar, tidak terasa seperti masuk ruang kerja pendeta yang penuh buku agama. Mata malah terpaku pada kaligrafi Cina, kecapi, dan yang paling menyolok, koleksi kerang. Ada kerang di keranjang, ada kerang di dinding. Ada kerang besar, ada kerang sangat kecil. NAFIRI DESEMBER 2013

61


“Kerang itu luar biasa. Itu salah satu yang mengingatkan luar biasanya Sang Pencipta, yaitu melakukan yang tidak bisa dilakukan manusia. Keunikan tiap-tiap cangkang, hikmat Sang Pencipta. Yang kita tahu sepertinya sudah banyak, padahal masih banyak yang kita belum tahu.� Wawancara yang dilakukan oleh tim NAFIRI pada tanggal 6 November itu pun bergulir, dari pertanyaan-pertanyaan serius, sampai seperti berbicara dengan teman lama. Sampai nyaris lupa waktu. Nafiri (NF): Bedanya jadi Ketua Sinode dan Gembala ? Pdt. Freddy Lay (FL): Jadi gembala itu sifatnya lebih pribadi lepas pribadi. Anggota jemaat itu tidak bisa diperlakukan sebagai organisasi, tapi lebih pada memahami mereka. Selain itu, sifatnya butuh ketelatenan. Kalau Ketua Sinode lebih pada organisasi. Kita harus pegang aturan mainnya. Setiap jemaat gereja kulturnya beda. Dari personal ke organisasi. Sebelumnya pastoral ministry, sekarang strategi pengembangan dan policy, aturan gimana. NF: Apa ada persamaannya ? FL: Soal memahami. Peraturan bukan tujuan, tapi alat. Kita juga harus lihat hal-hal tertentu yang perlu pemahanan. Miriplah dengan gembala. Misalnya ada gereja yang mau beli aset, perlu diberitahu dulu prosedurnya. Ada yang bilang, kalau harus prosedur dulu telat. Kita jadi disudutkan ke posisi yang harus. Tujuan mereka tetap baik. Tapi aturan harus diluruskan. Kalau tidak bahaya. Baru tadi, BSD kirim surat, Gading Serpong akan dedikasi gedung. Kalau mau dedikasi gedung, Sinode diundang. Nah itu harus ada berita acaranya. Padahal, mereka belum pernah rundingan dengan kita. Kalau kita gak hadir, dibilang kurang perhatian. Tapi, kalau kita hadir, salah juga. Tapi ini kita bisa lihat sebagai tidak sengaja. Pasti maksudnya baik. Saya telepon Pak Joni untuk menjelaskan. Jadi, acaranya dianggap syukuran aja, antara BSD dan Gadng Serpong. Kalau dedikasi itu lebih macam-macam. Butuh hikmat. 62

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


NF: Penangan setiap GKY sama ? FL: Ada sistemnya. Dalam jumlah tertentu itu jemaat didewasakan, minimal 250-300 orang. Sebelum didewasakan, dalam masa bimbingan diserahkan pada jemaat yang memberikan bimbingan. Seperti pos PI Gading Serpong, dibimbing BSD. Ada syarat jumlah SDM yang cukup. Target GKY ? NF: Apa kendala Sinode GKY sekarang? FL: Pemahaman soal kebersamaan kita. Misalnya antara BSD, Mangga Besar, dan Puri. Secara konkret, apa kesatuan kita ? Seakan kita hanya satu organisasi. Padahal, harus diterjemahkan lebih dari sekedar itu. Misalnya proyek pengembangan bersama. Gimana jemaat satukan kekuatan untuk pelayanan bersama. Seperti pelayanan sosial atau proyek tertentu. NF: Apa ada program khusus untuk kebersamaan? FL: Ini yang kita tingkatkan lewat 3C. Consolidation, ada banyak peraturan yang harus direview apa masih relevan. Aturan ditentukan oleh jemaat, bukan Sinode. Yang penting tujuannya tercapai. Jadi ada pembinaan sistematik. Corporation, gimana GKY BSD bisa sinergi dengan Mangga Besar. Misalkan kita perhatikan NTT dan Papua. Ada beban yang sama. Kita mulai pelayanan-pelayan itu. Lalu Colaboration. Itu lebih luas. GKY banyak rekan gereja-gereja lain, Sinode lain. Misalnya, Gereja Kristus, kita sudah mulai. Beberapa bulan terakhir ini, ketuaketua sinode sering ngopi bersama. Kami saling berbagi proyek, apa dan siapa yang bisa bantu. Ternyata, semua punya kerinduan yang sama. Sekarang kita lagi bantu proyek besar GKI di Mentawai. Kita nggak usah bikin proyek lagi di sana. Sementara, di NTT kita ada, mereka yang bantu. NF: Untuk GKY, masalah ada di mana ? FL: Kita lebih mikirin kepentingan diri sendiri dibandingkan kepentingan kebersamaan. Saya duluan, saya butuh ini. Saya kurang ini, saya kurang besar. Saya‌ saya‌. dan saya. GKY belum melakukan sebagaimana yang bisa dilakukan. Pengembangan ke luar masih jauh sekali. Ini termasuk penginjilan dan sosial. Kalaupun ada, dilakukan sendiri-sendiri. Ekspansi secara gedung. Padahal kita harus ekspansi pelayanan. Misalnya, gereja BSD tidak cukup dipakai lagi. Beli tanah. Terus beli lagi. Kurang ini dan itu. NAFIRI DESEMBER 2013

63


Harusnya, kita mulai di daerah yang baru buka. Kita harus mulai dengan perintisan, church planting. Misalnya, jemaat kita di daerah lain. Jangan ke BSD tapi kita bikin gereja di tempat dia. Jangan takut, kalau jumlah berkurang. Kita jangan ’jumlah oriented’. Kita harus GKY A, GKY B, GKY C, di tempat-tempat yang banyak. Lebih baik tersebar. Pembangunan gedung-gedung cukuplah. Ganti strategi. Kita lihat, berapa biaya yang kita habiskan untuk sebuah gedung, hanya untuk dinikmati oleh segelintir orang. Jadi sifat gedung harus murah tapi fungsional. Tidak harus megah seperti istana, tapi fungsional aja. Kebutuhan tidak jadi masalah. Tapi jangan berlebihan. Itu tidak cocok untuk konteks sekarang. NF: Bagaimana kita menjawab pelayanan ke luar, terutama dalam bidang kesehatan dan pendidikan ? FL: Secara sinodal ada bidang pelayanan sosial. Hal ini memang harus ditanamkan sejak awal. Rumah sakit, klinik, sekolah harus di balik itu ada misi. Kita datang ke Kalimantan, bawa gereja, orang tidak peduli. Tapi kalau kita bangun sekolah, itu berarti kita ada perhatian pada masyarakat. Kita ada kontribusi pada masyarakat. Walau keyakinan iman berbeda, mereka bisa respek pada sumbangsih lembaga keagamaan yang lain. Jadi sebetulnya Ipeka harus lihat ini sebagai tantangan. Ipeka harus berkembang masuk ke segmen yang beda, tapi jangan lupakan yang lain. Sekarang pendidikan banyak dijadikan komersil. Tapi kita jangan lupa misi kita di balik memulai satu sekolah harus terus dijalankan. NF: Tapi Ipeka tetap mahal bagi warga GKY ? Tidak ada dispensasi ? FL: Yang bisa dapat dispensasi itu hanya uang masuk. Beberapa tahun ini saya sudah kasih rekomendasi untuk di bawah 50 persen. Untuk hamba Tuhan juga. Tapi untuk uang sekolah tidak bisa. Jemaat bisa kontak diakonia gerejanya sendiri, kalau anaknya benar-benar potensial. Di Ipeka ada untuk anak-anak yang terpandai.

64

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


NF: Bagaimana GKY melihat suasana kontemporer ? Di Eropa banyak gereja ditutup. FL: Ada pemikiran, generasi muda banyak meninggalkan gereja. Padahal, bisa dilihat juga, gereja yang meninggalkan anak muda. Gereja kurang memahami. Gereja kurang relevan. Irama kehidupan, corak kehidupan berubah. Tapi gereja berjalan di tempat. Beberapa waktu lalu, ada rapat Sinoda gereja soal ruangan untuk remaja. Sebenarnya, jawabannya, sebelum ada ruangan, kita punya ruang hati nggak untuk remaja? Kita peduli nggak? Anak-anak akan tahu siapa yang mengasihi mereka. Problem, mereka berkurang di persekutuan. Pelayanan Kategorial kan sifatnya sementara. Tidak selamanya seseorang itu pemuda. Kita masih seperti dulu, Komisi pemuda udah kayak kebaktian, paling ada ceramahnya. Tinggal dikasih Pengakuan Iman Rasuli, kebaktian pemuda jadi kebaktian umum hari Minggu. Tidak spesifik pada apa yang mereka butuhkan? pembinaan yang gimana? Peran pembina sangat penting, harus turun ke bawah. NF: Apa ada kaitan dengan gaya? Musik misalnya? FL: Kompleks sekali. Sesuatu yang bukan esensi, kita jadikan pembahasan esensi. Kita lupa hal yang lain. Musik adalah ekspresi. Butuh pembinaan juga, kalau musik ini nggak boleh, terus yang bagaimana. Sampai sekarang saya tidak pernah menjudge, alat musik mana yang termasuk dosa dan tidak berdosa. Alat musik itu netral. Tapi kita gak ada orang untuk lakukan pembinaan yang bagus, langsung judge ke kesimpulan. Kita phobia ke gaya, karena diidentifikasikan ke aliran yang di luar. Tapi barangkali walau kita tidak judge itu keliru, kita belum siap untuk lakukan pembinaan musik. Sehingga kita tak berani mencoba, jadi bebas tak terbatas. Itu salah satu juga. Saya pernah ingin tahu, beli musik gereja yang kontemporer. Ternyata bagus juga. NF: Gimana peran orang Kristen untuk masuk ke dunia politik? FL: Itu tergantung panggilan tiap orang berbeda. Baik itu sebagai politisi, polisi, guru, pedagang, ibu rumah tangga itu semua profesi tapi juga pelayanan ke masyarakat. Semua itu berbagai profesi. Gimana kita masuk ke masyarakat kalau kita tidak ada orang untuk melayani masyarakat. NAFIRI DESEMBER 2013

65


NF: GKY awalnya mayoritas Tionghoa, tetapi sekarang sudah banyak suku lain. Gimana pendapat Bapak? FL: Puji Tuhan. Itu artinya gereja kita sudah lebih bisa membaur. Tapi GKY memang punya beban ke masyarakat Tionghoa. Setiap budaya punya spesifikasi sendiri. Contohnya, makanan. Prinsipnya, pelayanan harus menjangkau semua suku bangsa. Tapi GKY memang punya panggilan untuk memberi pelayanan para kalangan Chinese. Kita masih tetap bisa bahasa Mandarin. Sekarang sudah sedikit. Saya dulu belajar sendiri. Saya bukan Chinese educated secara formal. Pendidikan informal itu serius. Termasuk ungkapkan statemen dengan baik, menulis dengan benar. Sampai ada tulisan kaligrafi Cina. Barangkali juga karena hobi. NF: Apa harapan Bapak ke depan? FL: Melakukan 3C tadi. Kita belum pernah definisikan mulia dan misioner. Janganjangan mulianya kita itu kita yang ngakuin. GKY jangan kasih kesan ini gereja konglomerat seakan-akan buka cabang. Pengertian buka cabang itu nggak bagus. Harusnya kita katakan itu pelayanan. Terutama ke daerah-daerah yang belum bisa dijangkau. Kehadiran gerja itu sebagai kehadiran Tuhan. Itu pengertian saya tentang mulia. Pengertian misioner itu sejauh mana jangkauan pelayanan kita, tidak jadi permusuhan, dan bertentangan dengan kita. Jangan sampai orang merasa kita saingan. Di daerah-daerah tertentu jangan buka gereja. Di NTT misalnya, sudah banyak gereja. Tinggal gimana kita bantu mereka. Misalnya, pertanian, pemberdayaan. Kemiskinan itu membelenggu, keterbelakangan dan miskin. Orang kalau miskin jadi tak berdaya. Kita mulai dengan pelatihan-pelatihan. Seperti PPMT. Kita tidak hanya datang membawa simbol agama dan label gereja, tapi datang untuk membantu untuk bertumbuh. Curch planting kita harus ada strategi. Contoh, pertumbuhan hotel-hotel di Bali itu luar biasa. Sedangkan GKY hanya satu. Kita perlu perkembangan pelayanan di sana. Gereja sekarang di Kuta, bisa kita adakan di Seminyak. 66

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


NF: Harapan untuk masing-masing anggota jemaat ? FL: Kita pasti terbatas. Sesuai dengan talenta kita. Kita syukuri apa yang kita punya dan kembangkan. Secara bersama, pertumbuhan GKY, kita pikirkan, hitung saya satu bagian. Tidak usah tinggi hati, tapi tidak usah rendah diri. Ibu rumah tangga, bisa jadi saksi. Didik anak yang betul. Suatu hari anaknya jadi gubernur. Ibu Musa, siapa yang tahu. Tapi karena didikannya, Musa jadi bisa menolak kemegahan yang semu

“Pembangunan gedung-gedung cukuplah. Ganti strategi. Kita lihat, berapa biaya yang kita habiskan untuk sebuah gedung, hanya untuk dinikmati oleh segelintir orang. Jadi sifat gedung harus murah tapi fungsional. Tidak harus megah seperti istana, tapi fungsional saja.� NAFIRI DESEMBER 2013

67


LIPUTAN

KHUSUS

KEBAKTIAN DOA

Indahnya Saat Berdoa Bersama di Rumah Tuhan Menghadiri Kebaktian Doa hari Rabu dan Sabtu, perlukah? Bukankah cukup hari Minggu saja? Mungkin sebagian dari kita berpikir demikian, atau ada juga yang berpikir untuk apa berdoa di gereja, apakah tidak bisa hanya di rumah saja? 68

/ Humprey

& Deirdre Tenawin /

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


T etaplah

berdoa

I Tesalonika 5 : 17

W

a j a r apabila kita berpikir demikian, Namun alangkah baiknya kita mengenal dulu lebih jauh apa sih Kebaktian Doa itu. Novia Purnomo, yang menjabat sebagai Majelis Bidang Kebaktian Doa di tahun yang keempat, yaitu di periode yang kedua (satu periode tiga tahun) menjawab: “Format atau bentuk Kebaktian Doa seperti kebaktian pada umumnya. Namun bedanya di kebaktian umum lebih banyak khotbah, sedangkan di Kebaktian Doa lebih banyak doanya, termasuk doa sambil berlutut.” Kebaktian Doa yang dibagi menjadi dua jadwal, yaitu hari Rabu dan Sabtu ini mempunyai format yang kurang lebih sama (puji-pujian, renungan Firman, doa syafaat, dan doa pribadi), namun berbeda dalam hal durasinya. Pada hari Rabu, Kebaktian Doa berlangsung mulai pukul 19.00 – 20.30 WIB (1,5 jam), sedangkan pada hari Sabtu berlangsung mulai pukul 06.30 – 07.30 (1 jam) dimana renungan Firman relatif lebih singkat dibanding renungan pada Kebaktian Doa hari Rabu. Adapun variasi tema khotbah pada Kebaktian Doa Rabu, yaitu: •Minggu ke-1: khotbah ekspositori Perjanjian Baru(PB). Sekarang membahas surat 1 Korintus. •Minggu ke-2: berkolaborasi dengan Bidang Pembinaan memakai format yang disebut Mini Seminar, mengundang Pembicara luar, temanya tentang topik-topik yang cukup populer dan ada sesi tanya jawab. •Minggu ke-3: khotbah berseri, oleh Bapak Gembala. Sekarang temanyanya adalah Pengakuan Iman Rasuli •Minggu ke-4: khotbah ekspositori Perjanjian Lama (PL). Sekarang membahas kitab Keluaran. •Minggu ke-5: membahas tema–tema doa, biasanya doa dari tokohtokoh Alkitab. NAFIRI DESEMBER 2013

69


Tema khotbah pada hari Sabtu diambil dari buku GEMA (Gerakan Membaca Alkitab), yang pada hari tersebut dipaparkan penjelasan mengenai bacaan Alkitab, sehingga jemaat dapat lebih mengerti isi Alkitab. Melalui Kebaktian Doa hari Rabu maupun Sabtu diharapkan agar jemaat bertumbuh melalui Firman dan doa, sedangkan temanya dibuat berseri (bersambung) dengan tujuan agar jemaat bisa memiliki pemahamansecara utuh akan Firman Tuhan

Sangat Penting Mengapa nampaknya akhir-akhir ini para hamba Tuhan, majelis dan aktivis makin gencar mengajak jemaat untuk ikut Kebaktian Doa? Jawabannya adalah karena semua menganggap doa itu sangat penting. Menurut Gembala kita, Pdt. Joni Sugicahyono, dasar segala sesuatu adalah doa. Mau menciptakan event sebagus apa pun, kalau tanpa doa artinya itu hanya mengandalkan kekuatan sendiri. Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan kesadaran jemaat akan pentingnya Kebaktian Doa, mulai dari ajakan, lewat publikasi di kebaktian umum, brosur-brosur, dan juga setiap hari Rabu mengirimkan broadcast pesan lewat BBM dan SMS. Lewat acara khusus Kebaktian Doa seperti saat Imlek, gereja dapat mengarahkan kepada jemaat khususnya jemaat keturunan Tionghoa - yang biasanya bingung - menyangkut tradisi mana yang boleh dan tidak boleh untuk dilakukan sebagai orang Kristen. Perlahan tapi pasti, jumlah jemaat yang mengikuti Kebaktian Doa semakin meningkat. Dulu mungkin majelis yang menangani Kebaktian Doa bisa merasa stres, karena yang datang hanya 30-an orang, itupun mayoritas majelis dan aktivis. Namun, sekarang jemaat yang datang Kebaktian Doa rata-rata di atas 100 orang. Nampaknya perjalanan kunjungan ke gereja-gereja di Korea mulai menumbuhkan kesadaran di antara para majelis dan akitivis, dimana mereka makin memahami tumbuh pesatnya jemaat di Korea adalah karena doa. Jemaat di Korea ini menyadari betul adanya hutang Injil, dikarenakan ada yang lebih dulu menginjili mereka. Dengan demikian, jemaat Korea tersebut tidak perlu dipaksa lagi untuk ikut Kebaktian Doa.

70

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Mereka konsisten mengikutinya karena memang terpancar dari hati mereka sendiri. Mungkin kapan-kapan jemaat kita diajak juga ya? (Ini kata hati penulis). Mudah-mudahan efek sehabis dari perjalanan ke Korea ini tidak hanya sesaat, tetapi membekas dalam hati para majelis dan aktivis kita sehingga mereka tetap rajin datang dan melayani sampai selamanya. Selain Novia Purnomo yang menjabat Majelis bidang Kebaktian Doa, pengurus lainnya adalah Triana di bagian Sekretariat, Liliana sebagai Koordinator Kebaktian Doa Sabtu, Lina Iwang sebagai Koordinator Kebaktian Doa Rabu, Inge sebagai Bendahara, Siu Mei di bagian Konsumsi, sedangkan Pembinanya adalah GI. Eliyani Sugicahyono. Secara rutin, biasanya ada pertemuan tiga bulan sekali untuk evaluasi dan menerima masukan-masukan. Siu Mei, salah satu pengurus Kebaktian Doa di bagian konsumsi, kadang sedih karena aktivis/pengurus belum rajin datang, majelis pun demikian. Harusnya justru mereka yang memberi contoh, walau dia mengamati bahwa akhir-akhir ini sudah ada kemajuan yang cukup signifikan. Beberapa orang ketika diajak untuk ikut kebaktian doa mengatakan bahwa mereka bisa berdoa sendiri di rumah masing-masing. Padahal berdoa di gereja itu berbeda dengan berdoa di rumah karena berdoa bersama dengan saudara seiman di gereja dipandu oleh Hamba Tuhan, lebih detail dan ada pokok-pokok doanya, Mungkin banyak jemaat yang belum tahu bahwa biasanya hamba Tuhan menyediakan waktu 30 menit sebelum dan 30 menit sesudah Kebaktian Doa untuk jemaat yang memiliki pergumulan khusus yang bersifat pribadi dan perlu berdoa bersama hamba Tuhan.

Kriteria Aktivis Hal yang masih jadi pergumulan bagi Novia adalah agar para majelis dan pengurus bisa rajin ikut Kebaktian Doa. Dia mengutip istri Gembala kita, GI. Eliyani Sugicahyono, yang sering menekankan bahwa doa itu penting. Doa membuat kita bisa Dekat dengan

Suasana kebaktian doa hari Sabtu NAFIRI DESEMBER 2013

71


Kebaktian doa hari Rabu

Isi Hatinya Tuhan. Menurut beliau sebenarnya ikut Kebaktian Doa itu adalah salah satu kriteria pengurus dan majelis, karena merupakan dasar untuk melayani. Novia pun mengingatkan agar guru-guru sekolah minggu pun lebih banyak digerakkan untuk ikut Kebaktian Doa. Memang saat ini belum digalakkan doa berantai, kunjungan atau besuk dari pengurus Kebaktian Doa, ataupun ‘menara doa’ di mana jemaat bisa setiap hari berdoa di gereja. Namun setiap pagi ada doa pagi bersama hamba Tuhan dan ada jemaat yang ikut bergabung. Selain itu, sesudah Kebaktian Doa jemaat bisa mengobrol dan saling mengenal sambil menikmati snack yang disediakan. Hal ini tampaknya sejalan dengan tema 2014 yaitu “Mengalami Kasih Persaudaraan”. Begitu pula dengan adanya puasa pada hari Rabu di minggu pertama, maka jemaat pun dapat buka puasa bersama sebelum mengikuti Kebaktian Doa. Kesadaran tiap pengunjung Kebaktian Doa memang berbeda-beda. Jemaat yang menyadari pentingnya kebaktian doa bahkan ada yang tetap berusaha hadir walaupun letih baru pulang kerja jauh di Jakarta. Tantangannya memang bagaimana menumbuhkan kesadaran ini. Di Kebaktian Doa, bila ada hal yang ingin didoakan maka jemaat dapat mengisi kartu doa yang dapat dimintakan dari usher. Sesi kesaksian diadakan apabila ada yang memiliki pergumulan dan ingin membagikan hal yang dapat membangun antar sesama jemaat. Jemaat yang ingin bersaksi, terlebih dahulu menghubungi Novia, GI. Eliyani atau ketua CGF (Caring Group Fellowship) masing-masing. 72

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Something Missing Komposisi jemaat yang datang umumnya berkisar dari usia menengah hingga jemaat Kaleb (manula). Akhir-akhir ini banyak pula jemaat suami istri yang membawa anaknya ikut Kebaktian Doa. Yang masih dinantikan antara lain adalah para pemuda dan remaja untuk hadir saat Kebaktian Doa. Beberapa jemaat yang setia datang dalam kebaktian doa berkata bahwa apabila bila tidak datang dalam kebaktian doa, rasanya ada something missing. Sungguh mereka menyadari dan menikmati indahnya saat-saat berdoa bersama di Rumah Tuhan. Pernah ada jemaat yang mendoakan mamanya agar percaya pada Tuhan Yesus, yang didorong oleh gerakan 111 (satu orang bawa satu jiwa dalam satu tahun), dan Tuhan menjawab doanya sehingga mamanya itu percaya kepada Tuhan Yesus. Novia pun ternyata sejak dulu sudah datang ke Kebaktian Doa, bahkan sebelum terpilih sebagai Majelis bidang Kebaktian Doa. Dia merasakan manfaat Kebaktian Doa, apalagi saat kehamilan-nya mengalami masalah, ternyata jemaat banyak yang membantu mendoakan. Demikian juga dia mendapatkan banyak hal dari renungan Firman-Nya. Novia bersama dengan mamanya, Siu Mei yang sedang menggendong Josiah

Jadi kesimpulannya, maukah kita menyempatkan diri untuk datang ke Kebaktian Doa minimal satu minggu sekali? Rindukah kita akan Firman-Nya dan berkomunikasi dengan Tuhan Yesus? Maukah kita merasakan suasana yang berbeda saat berdoa? Datang dan nikmatilah indahnya saat berdoa bersama di Rumah Tuhan, setiap hari Rabu dan Sabtu. Tetaplah Berdoa ( I Tesalonika 5 : 17), Tuhan memberkati

NAFIRI DESEMBER 2013

73


EVENT NOTES EVE

/ JACYNDA DARMAWAN

a b i , perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuanperempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu? ’ ...Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: ‘Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.’” (Yohanes 8:4b-5, 7b) Sabtu, 16 November 2013, KKR Pemuda GKY se-Tangerang yang bertemakan “Be Chosen To Be Holy” berhasil ‘menampar’ para pemuda yang datang. Acara ini dihadiri oleh sekitar empat ratus orang pemuda dari GKY BSD, Gading Serpong, Pamulang, Cimone, Gerendeng, Karawaci, VTI, dan juga dari luar GKY. Pada kesempatan menulis kali ini, aku akan lebih banyak membahas mengenai isi dari khotbah yang disampaikan Pdt. Benny Solihin. Seringkali kita dengan mudahnya menghakimi orang. Ambil saja contoh sederhana yang sadar tidak sadar pasti pernah kita lakukan. Saat Worship Leader atau Liturgis beberapa kali salah menyanyikan lirik lagu, dengan cepat kita berbisik pada teman di sebelah: “Pasti dia kurang persiapan”. Atau saat kita sedang serius mendengarkan khotbah dan tiba-tiba ada orang yang dengan tidak sengaja menjatuhkan barang sehingga menimbulkan suara dan memecah konsentrasi, dalam hati kita mengumpat: “Aduh, mengganggu banget sih”. Serta masih banyak contohcontoh lainnya yang tidak pernah kita sadari. Yohanes 8:2-11 menceritakan tentang orang-orang Farisi yang tiba-tiba datang kepada Yesus, membawa seorang perempuan yang tertangkap basah berbuat zinah. Mereka dengan sok suci seenaknya menghakimi perempuan itu. “Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. 74

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Apakah pendapatMu tentang hal itu?” tanya mereka pada Yesus. Mereka bermaksud untuk mencobai Yesus dan mencari alasan agar dapat menangkap -Nya, karena menjawab ya salah, tidak juga salah. Orang-orang Farisi mengira mereka akan berhasil menjebak Yesus. Tetapi kenyataannya, Hikmat-Nya jauh melampaui mereka, dan juga kita semua. Yesus menjawab: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Mari ambil waktu sejenak untuk merenung. Bukankah kita seringkali sama seperti orang-orang Farisi tersebut? Seharusnya kita malu. Ketika bibir kita dengan otomatis berkata, “Pasti dia kurang persiapan”, coba kita ingat-ingat, apakah tadi kita bersungguh-sungguh saat teduh sebelum kebaktian dimulai? Ketika dalam hati kita mengumpat, “Aduh, mengganggu banget sih,” apakah kita yakin bahwa kita tidak pernah mengganggu orang? “Terus? Jadi maksudnya kita gak boleh mengkritik orang?” Bukan begitu. Mengkritik orang itu sah-sah saja. Malahan, kritik sangat dibutuhkan agar kita bisa memperbaiki

Pdt Benny Solihin

diri. Tapi jangan lupa disertai saran agar kritik kita bisa membangun dan tidak menyakiti hati orang. Kalau tidak, kita seperti melihat kuman di seberang lautan padahal gajah di pelupuk mata tidak kita lihat. Firman ini mau berkata bahwa kemunafikan tidaklah lebih ringan daripada perzinahan, dan malah jauh lebih berbahaya. Berbahaya? Ya, berbahaya karena kita melakukannya setiap hari tanpa menyadarinya sedikitpun. Kawan, Tuhan jijik melihat kemunafikan. Jadi, bagi kita yang sudah mendapat teguran ini, janganlah kita sekedar “Iya yah” namun tidak melakukan apa-apa. Mari berubah! Mari belajar menahan bibir, mengolah apa yang ingin kita katakan, cross-check apakah kita layak menyampaikannya, barulah ungkapkan pesan tesebut dengan baik-baik kepada orang yang kita maksudkan NAFIRI DESEMBER 2013

NAFIRI DES 13 FINAL.indd 75

75

12/15/13 12:02 AM


SERPIHAN PERJALANAN

Transformasi Iman di Negeri Kimchi / Anton Utomo /

N

e g e r i yang terletak di Semenanjung Korea ini ternyata tidak hanya menawarkan pesona K-Pop dan kecanggihan produk berteknologi tinggi belaka. Di balik kecantikan negeri empat musim ini, ternyata Tuhan berkarya luar biasa kepada lebih dari 60 juta penduduknya. Kekristenan berkembang pesat selama beberapa dekade terakhir, khususnya setelah perang Korea berakhir, yang memecah Korea menjadi dua negeri yang berseteru sampai saat ini. NAFIRI sempat bergabung dengan rombongan Hamba Tuhan, majelis dan aktivis GKY BSD dan GKY Gading Serpong mengunjungi Korea Selatan selama seminggu pada 11 - 17 Oktober lalu. Berikut adalah cuplikan perjalanan di negara yang indah itu. 76

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Lord, nothing is visible at this moment. Lord, You have planted us on this barren and poor land, where not even a single tree can grow tall enough. Only stubbornly stained darkness can be seen. Only Korean people chained with poverty and superstition can be seen. They don’t even know why they are chained, what suffering is They just distrust us and express anger to us as we tell them how to take away their suffering, which is not suffering to them. Yet, Lord! We will obey. We believe that You begin Your work as we humbly obey. And that the day will come when our spiritual eyes will see Your work According to Your Words,”Faith is being sure of what we hope for and certain of what we do not see..” Although there is no church to worship You, no school to study, Although this land is filled with doubt suspicion, contempt, and disdain, we believe that in the future this land will BECOME A LAND of BLESSING. (petikan doa Underwood, seorang misionari Inggris yang pernah berkarya di Korea pada awal abad 20)

Refreshing dan nostalgia ala Winter Sonata di pulau Naminara NAFIRI DESEMBER 2013

77


Perang yang Menyerakkan Sanak Keluarga Hari hampir tengah malam saat pesawat Korean Air yang membawa 34 peserta dari GKY BSD dan Gading Serpong terbang menuju Korea Selatan. Pesawat mendarat di Bandara Incheon, sekitar 48 km di barat Seoul, ibukota Korea Selatan, pada pagi hari berikutnya. Udara musim gugur yang sejuk segera menerpa kami saat keluar bandara menuju bus yang telah disiapkan. Pdt. Suh Sung Ming yang akan memandu kami selama di Korea, menyambut kami dengan ramah. Apalagi beliau tidak asing dengan wajah-wajah jemaat GKY BSD karena sering berkhotbah di gereja kita pada masa lalu saat masih melayani di Indonesia. Dengan menggunakan bus milik Shin Sung Presbyterian Church, kami memulai perjalanan di Korea.

Di perbatasan 78

Di hari pertama di Korsel kami diajak menyaksikan jejak perjalanan bangsa Korea yang kini terpecah menjadi dua negara. Perang Korea selama 3 tahun (1950-1953) telah memisahkan sanak keluarga menjadi dua bangsa yang menapaki jejak berbeda dengan hasil akhir yang sungguh berbeda pula. Korea Utara yang komunis dan totaliter kini kering dan gersang, rakyatnya dilanda kemiskinan dan kelaparan. Negeri itu menjadi salah satu yang termiskin di dunia. Sedangkan Korea Selatan berkembang menjadi negara makmur dengan industri mobil dan teknologi komunikasi yang termaju di dunia. Bagaimana mungkin kedua rakyat sebangsa dengan bahasa dan budaya yang sama mengalami ‘nasib’ yang sangat bertolak belakang? Perjalanan ke Tongil Jeonmangdae (perbatasan dengan Korea Utara) sedikit banyak mengungkapkan karakter kedua bangsa yang dapat menjawab pertanyaan tersebut. Ketika sampai di perbatasan, kami melihat sebuah tulisan terpampang besar : “End of Separation, Beginning of Unification”. Belakangan kami mengerti bahwa bagi orang Korea Selatan, kerinduan mereka yang terbesar adalah bersatunya kembali kedua bangsa

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


menjadi satu negara. Di setiap gereja, hal utama yang selalu didoakan adalah bersatunya kembali kedua Korea. Untuk menjalin hubungan baik dengan pihak Utara, pemerintah Korea Selatan pun kerap mengirimkan bantuan pangan dan peralatan industri. Pabrikpabrik yang menampung puluhan ribu rakyat Korea Utara juga didirikan di perbatasan dengan modal Korea Selatan. Namun, tampaknya inisiatif baik ini hanya bertepuk sebelah tangan. Permusuhan dan dendam yang diwarnai kecemburuan sosial telah membutakan para pemimpin Korea Utara. Kota Pyongyang, salah satu kota tempat lahirnya kekristenan di Korea, tetap menjadi kota anti asing dan anti Kristen. Bukti agresivitas dan kebencian Utara juga kami saksikan melalui terowongan-terowongan yang dibuat militer Korea Utara menembus tanah sampai ke wilayah Korea Selatan. Konon, karena tanpa sengaja seorang petani Korea Selatan melihat lubang-lubang terowongan dan segera melaporkannya, rencana agresi itu dapat digagalkan. Tuhan melindungi rakyat Korea Selatan dari serangan musuh yang kejam!

Maka, ketika kami berdiri di perbatasan memandang ke arah Utara, terbayanglah kekerasan, kekejaman dan hati yang gelap menguasai negeri itu. Sementara di Selatan, saudara-saudara mereka terus berdoa dan menyatakan kasih sambil terus membuang dendam dan kebencian di hati mereka. Bagi kami, inilah sebabnya Tuhan memberkati rakyat Korea Selatan, sedangkan yang sebaliknya terjadi kepada saudara mereka di Utara. Malam itu, juga tiga malam berikutnya, kami bermalam di sebuah seminari yang telah berusia lebih dari 100 tahun. PCTS (Presbyterian College Theological Seminary), sebuah komplek seminari dan penginapan yang cukup besar, berawal didirikannya pada tahun 1905 di Pyongyang. Kini, seminari ini telah menghasilkan sarjana teologi terbanyak di Korea, salah satunya adalah Pdt. Suh Sung Ming, pemandu dan pembimbing kami.

Pdt. Suh Sung Ming – kehilangan isteri namun tak pernah kehilangan iman dan beban misi untuk Indonesia NAFIRI DESEMBER 2013

NAFIRI DES 13 FINAL.indd 79

79

12/15/13 12:02 AM


Gereja-Gereja nan Indah Mempesona Hari kedua diisi dengan kunjungan dan kebaktian di tiga buah gereja dengan karakter pelayanan yang spesifik. Awalnya, sebagian dari kami berpikir, ini akan menjadi hari yang panjang dan membosankan. Bayangkan! Mengikuti tiga kebaktian dalam satu hari! Namun, jauh dari bayangan semula, ternyata sampai berakhirnya kebaktian ketiga pada sore hari, kami tetap bersemangat, penuh sukacita dan sangat terberkati. Banyak pengalaman baru yang kami saksikan dan pelajari, yang memperkaya wawasan dan menguatkan iman kami.

Kami mengawali hari dengan beribadah di Yoido Full Gospel Church, gereja terbesar di dunia dengan jumlah anggota jemaat 750.000 jiwa. Kebaktian ke-2 yang kami ikuti pada pukul 9 pagi, dihadiri ribuan jiwa. Gereja yang megah ini disemarakkan dengan empat ratus anggota paduan suara dan dilengkapi dengan International Section bagi orang asing. Di tempat duduk di bagian ini, kami menggunakan headset yang dapat diset ke dalam 10 bahasa, termasuk bahasa Indonesia.

Gereja Yoida, gereja segala bangsa

80

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Pdt. Yonggi Cho yang menjadi gembala sidang selama berpuluh tahun, kini telah memasuki masa emeritus dan digantikan oleh Pdt. Young Hoon Lee. Pdt. Lee menyampaikan Firman Tuhan yang sederhana namun menyentuh, tentang kesabaran dan kerendahan hati. Setelah mengunjungi gereja Yoido yang sangat besar, kebaktian selanjutnya yang kami ikuti dilangsungkan di gereja yang lebih kecil, namun dengan karakter pelayanan misi yang sangat kuat. Kebetulan, pada hari itu ada kebaktian khusus bagi pengunjung baru di gereja Sindangjoongang, gereja kedua yang kami datangi. Sebelum mengikuti ibadah yang diadakan pada pk 11.30, kami diterima di ruang khusus yang dilengkapi semacam kafetaria, lengkap dengan peralatan pembuat kopi dan minuman. Ternyata,

di ruang itulah biasanya gereja menerima tamu-tamu baru yang pertama kali mengunjungi gereja ini. Dengan ramah para aktivis gereja melayani kami. Makanan kecil dan berbagai minuman tak putus-putusnya tersaji di meja kami. Kebaktian khusus yang kami ikuti berlangsung meriah namun hikmat. Seorang mantan petinju yang juga penyanyi seriosa menyampaikan kesaksian dengan santai diselingi beberapa kali lengkingan suara emasnya membahana di ruang gereja. Pengunjung gereja yang sebagian besar mungkin belum mengenal Tuhan, nampaknya menikmati jalannya ibadah yang mengalir ringan tanpa liturgi ketat itu. Di akhir ibadah, Sang Gembala sidang menyampaikan khotbah singkat sebagai penutup. Sebelum meninggalkan gereja Sindangjoongang, kami sempat dijamu makan siang bersama di ruang lain yang berfungsi sebagai ruang makan, lengkap dengan dapur dan beragam peralatannya. Beberapa pengurus gereja juga turut menemani kami makan siang, berbaur dalam meja yang sama. Belakangan kami baru menyadari bahwa hampir semua gereja memiliki ruang makan lengkap dengan dapurnya. Ciri khas keramahtamahan Korea!

Dapur gereja Sindangjoongang NAFIRI DESEMBER 2013

81


Setelah meninggalkan gereja Sindangjoongang, bus membawa kami ke gereja lain yang lebih kecil, namun memiliki kekhasan lain dalam pelayanannya. Di gereja Shinsung ini, Pdt. Joni diberi kesempatan menyampaikan firman Tuhan. Pdt. Kim, sebagai asisten Pdt. Suh yang memandu rombongan kami, sore itu berperan sebagai penterjemah. Walaupun memiliki ‘hanya’ 1.400 jemaat, namun gereja Shinsung telah berperan besar dalam penginjilan ke luar Korea. Para misionari telah diutus gereja ini ke berbagai negara, diantaranya: Mongolia, Turki, dan Indonesia. Ibadah dalam bahasa Mongolia dan Filipina juga telah berlangsung lama di gereja ini, untuk menjangkau para pekerja migran dari negara-negara tersebut. Kelebihan lain yang dimiliki gereja ini adalah program pembinaan berjenjang bagi para aktivis dan majelis. Tidak kurang dari 102 minggu kelas pembinaan yang harus ditempuh sebelum seseorang diangkat menjadi majelis. Hebatnya, antusiasme jemaat yang bersedia melayani tidak pernah berkurang walaupun harus melewati kelas pembinaan yang sangat panjang.

82

Gereja Shinsung

Kala Kesetiaan dan Ketekunan Berbuah Nyata Hari keempat di Korea kami bangun pagi-pagi benar. Tujuannya hanya satu, mengikuti Kebaktian Doa Pagi di Gereja Myungsung, yang sudah termasyhur dan menjadi pembicaraan orang Kristen dimana pun. Gereja Myungsung adalah gereja Presbyterian terbesar di dunia, didirikan oleh Pdt. Kim San Wan, yang memulainya pada tahun 1980 dari sebuah bangunan mirip ruko. Kim San Wan adalah teladan hidup dalam hal doa, kesetiaan dan kerendahan hati. Pernah hanya memiliki 1 baju di awal pelayanannya, bahkan kehilangan anaknya karena sakit dan tak memiliki uang untuk berobat, kini ia memimpin sebuah gereja dengan ribuan jemaat. Sering dikisahkan bagaimana ia sendiri yang membunyikan lonceng gereja pada pagi buta sebelum memulai kebaktian doa. Kini, kebaktian doa

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


di gereja Myungsung dilangsungkan sampai tiga kali setiap paginya, dihadiri tak kurang dari 2.500 jemaat setiap kebaktian.

Pagi itu kami kami mengikuti doa pagi yang kedua pada pukul 6.00. Doa pagi pertama dilangsungkan pada pukul 5.00 di ruang yang berbeda. Saat kami hadir setengah jam sebelumnya, belum banyak jemaat yang hadir. Sebagai tamu dari Indonesia, kami dipersilakan duduk di barisan depan, sejajar dengan tamu lain dari RRC. Gereja ini memiliki tim penterjemah juga, sehingga melalui headset kami dapat mengikuti jalannya ibadah doa yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Saat kebaktian dimulai bangku-bangku di ruang kebaktian hampir penuh terisi. Pdt. Kim sendiri yang menyampaikan firman Tuhan pagi itu. Khotbahnya yang singkat menekankan pentingnya

Gereja Myungsung NAFIRI DESEMBER 2013

83


Mereka Tidak Mati Sia-sia kerendahan hati bagi anak-anak Tuhan. Khotbah sederhana itu nampak sangat bermakna dan menyentuh, mengingat gaya hidup Pdt. Kim sendiri yang sejalan dengan apa yang disampaikannya. Khotbah singkat diakhiri dengan doa syafaat yang singkat pula. Namun, saat kebaktian berakhir, banyak jemaat yang masih tetap tekun berdoa dengan beragam ekspresi. Sebagian bahkan menghampiri mimbar dan berlutut di kaki mimbar. Sebagian lagi tetap di tempat duduknya tapi melanjutkan doa mereka dengan khusyuk. Kehidupan doa yang ditekankan di gereja ini tampaknya telah mendarah daging pada sebagian besar jemaatnya.

Sebelum kepalanya dipenggal oleh tentara Korea, misionari Inggris Thomas sempat berdoa di tepi sungai Taedong. Ia berdoa agar siapa pun yang minum air sungai Taedong akan menerima Kristus dalam hidupnya di masa yang akan datang. Ia juga sempat memberikan sebuah kitab suci kepada tentara yang mengeksekusinya. Impian lebih dari 100 tahun yang lalu itu kini telah terwujud. Kota Pyongyang di aliran sungai Taedong pernah menjadi pusat kekristenan sebelum perang Korea berlangsung. Dari sana injil diberitakan sampai ke seluruh semenanjung Korea. Pada tahun 1984, memperingati 100 tahun masuknya injil ke Korea, ada kurang lebih 2 juta jemaat berkumpul di Pulau Yoido untuk mengikuti KKR selama 5 hari penuh. Semua gambar, ilustrasi dan

Museum para martir 84

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


foto perjalanan kekristenan di Korea yang dibasahi oleh darah para martir terpajang apik di Museum Martir Korea (The Korea Martyr’s Memorial) yang kami kunjungi hari ini. Kisah para martir sejak masa kerajaan Korea, penjajahan Jepang dan perang Korea membuktikan bahwa ribuan orang Kristen, baik orang Korea maupun misionari asing, telah mempertahankan iman mereka terhadap berbagai bentuk penganiayaan. Itulah yang memotivasi banyak orang Kristen di Korea saat ini untuk membalas pengorbanan pendahulunya dengan giat mengabarkan injil, bukan saja di Korea, tapi sampai ke seluruh dunia. Sampai saat ini mereka telah mengirimkan lebih dari 25.000 misionari ke seluruh dunia, jumlah terbanyak kedua setelah Amerika Serikat.

Membawa Pulang ‘Api’ yang Menggerakkan Hati Lebih dari sekedar terpesona oleh keramahan orang Kristen di Korea yang menyambut kami di setiap tempat, kami kagum oleh kesetiaan, ketekunan dan konsistensi orang Kristen Korea dalam beribadah, berdoa dan melakukan tugas

penginjilan. Bukan hanya gereja besar yang mengirimkan misionari ke seluruh dunia, namun gereja sedang dan kecil pun juga turut berperan ‘menjangkau’ dunia lewat pemberitaan kabar baik. Sebenarnya, injil memasuki tanah air kita lebih dulu dibandingkan ke Korea. Di sebagian daerah di Indonesia, sudah lebih dari 200 tahun kabar baik diberitakan. Namun, mengapa perkembangan kekristenan di Indonesia tak sepesat di Korea? Bila hanya ada ratusan orang percaya di Korea seratus tahun lalu, kini sekitar 30% penduduk di Korea Selatan adalah pengikut Kristus. Bila kita menganggap tantangan di Indonesia lebih berat dibandingkan di Korea, cobalah simak petikan doa Underwood tadi. Tantangan yang dihadapi Underwood tidak asing bagi kita, bukan? Mari panjatkan doa, agar ‘bara api’ yang diperolah di Korea, boleh dibawa ke tanah air, untuk membakar semangat kita dalam melayani Tuhan dan jemaat lebih sungguh lagi. Kiranya Tuhan membangkitkan gereja-gereja di tanah air, termasuk GKY BSD dan GKY Gading Serpong, untuk menjadi berkat bagi Negara dan bangsa kita

NAFIRI DESEMBER 2013

85


86

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Beberapa waktu lalu, karena diundang kakak yang akan mantu di Singapura dan paspor kami sudah kadaluarsa, kami harus membuat paspor baru. Karena kami sudah pernah mengurus sendiri pembuatan paspor pada tahun 2005, kami langsung menuju kantor imigrasi di Tangerang.

/ Hendro Suwito /

S

i n g k a t kata, proses pembuatan paspor berjalan dengan lancar. Tiga hari kerja sudah jadi dan dengan membayar biaya resmi yang sudah ditentukan kantor imigrasi. Selama prosesnya tidak ada pegawai imigrasi atau biro jasa yang melakukan pendekatan untuk menjadi calo. Prosesnya jauh lebih ‘bersih’ dibanding delapan tahun lalu. Di salah satu stasiun televisi pada bulan Oktober lalu, Direktorat Jendral Imigrasi bahkan menayangkan iklan bahwa kantornya sedang berjuang mempersingkat layanan pembuatan paspor menjadi satu hari kerja saja…dan tentunya dengan biaya resmi; tanpa pungli. Pemda DKI Jakarta, sejak dimotori oleh Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama, juga telah secara konsisten menjalankan pemerintahan yang jauh lebih transparan dan terus melakukan proses ‘bersih-bersih’ agar korupsi dan pungli minggat. Basuki yang bergereja di lingkungan GK GKY bahkan diganjar dengan Bung Hatta Anti-Corruption Award akhir Oktober lalu. Dia bersama Nur Pamudji, direktur utama PLN, dianugerahi penghargaan ini karena dianggap telah aktif berjuang memerangi korupsi. Jokowi telah menerima penghargaan yang sama saat masih menjadi Walikota Solo. NAFIRI DESEMBER 2013

87


Fenomenal Nur Pamudji juga telah melakukan serangkaian tindakan fenomenal untuk menanamkan nilai-nilai baru di PLN. Dia merombak berbagai sistem yang ada dengan memangkas interaksi tatap muka antara nasabah dengan staf PLN. Tujuannya adalah memerangi KKN dan suap-menyuap. Mau menambah daya, tinggal telepon atau mengirim email dan langsung mendapat nomor registrasi dengan informasi besarnya biaya yang harus dibayar lewat bank. Tidak ada lagi pat-gulipat. Dia terus menumbuhkan rasa bangga para stafnya sebagai karyawan PLN yang bersih dari korupsi, termasuk memperkenalkan logo dan slogan dengan nilai-nilai baru kepada semua staf.

88

Nur juga memotong jalur pengadaan berbagai peralatan yang dibutuhkan PLN dan bahkan bisa membeli trafo-trafo besar dengan harga asli yang ternyata hanya sekitar 50 persen saja dibanding harga-harga yang harus dibayar sebelumnya lewat calo-calo berdasi. Akibatnya, anggaran dapat dihemat dan dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan. Karena cukup sering masuk-ke luar stasiun kereta api, seperti di Gambir-Jakarta, kami juga merasakan adanya perubahan-perubahan kecil yang justru terasa sangat radikal. Toilet umum di lingkungan stasiun tidak lagi ‘dijaga’ oleh orang-orang tertentu yang nongkrongi kotak uang. Biasanya, setiap orang yang masuk toilet dan seeerrr berarti harus menyediakan seribu atau bahkan dua ribu. Tulisan besar juga dipasang di bagian strategis: Toilet Gratis.

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Pengumuman dan semangat baru yang digalang Ignasius Jonan ini juga saya jumpai di stasiun Tawang di Semarang dan rasanya juga di semua stasiun lain. Semangat untuk menjalankan praktik pemerintahan atau manajemen yang bersih semacam ini tentunya belum berjalan di semua kantor pemerintahan atau BUMN. Bahkan kita akhir-akhir ini dibuat terkagetkaget dengan ditangkapnya petinggi lembaga hukum paling utama dan juga pimpinan-pimpinan di departemen, provinsi, kabupaten, dan kantor walikota. Di satu sisi, kita merasa sangat down karena korupsi masih demikian menggurita di berbagai tempat. Tetapi, di sisi lain kita juga diajak untuk lebih optimis bahwa ada tindakan yang jauh lebih nyata untuk memerangi penyelewengan wewenang di berbagai sektor.

sudah demikian lama kita impikan akan mulai berwujud dalam waktu dekat. Profil Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah yang dimuat Kompas 4 November lalu menambah hembusan angin segar akan adanya Indonesia baru yang sedang bertunas. Bupati di Sulawesi Selatan ini, yang baru terpilih kembali, telah memberantas tengkulak di desa-desa melalui pembentukan badan usaha milik desa (Bumdes) yang dijalankan oleh tokoh masyarakat bersama kepala desa. Bumdes-bumdes semacam ini, bekerjasama dengan koperasi simpan pinjam, menampung hasil usaha para petani dengan harga jauh lebih tinggi dari harga yang dipatok para tengkulak. Para petani memperoleh pemasukan jauh lebih besar dan para tengkulak gulung tikar.

Mulai berwujud Kisah-kisah lembaga dan para tokoh di awal tulisan ini membawa secercah harapan akan munculnya Indonesia dengan wajah yang jauh berbeda pada tahun-tahun yang akan datang. Ada rasa optimis yang bersemai di sanubari kita bahwa negara Indonesia sejahtera yang NAFIRI DESEMBER 2013

89


Doktor lulusan Jepang ini juga membuka pasar ekspor bagi berbagai komoditi daerahnya. Gemuruh upayanya untuk memacu produktivitas masyarakat telah memangkas pengangguran dari sekitar 12 persen menjadi kurang dari 4 persen dan angka kemiskinan dari 12 persen menjadi 7,5 persen dalam lima tahun terakhir. Indonesia memang masih bergumul untuk menciptakan sebuah negeri yang damai yang bisa membawa kesejahteraan bagi para warganya. Rasanya kita semua,

90

sebagai para pengikut Kristus, punya tugas dan panggilan yang sama dengan warga lainnya untuk ikut berjuang menciptakan Indonesia baru yang bisa membawa kesejahteraan, terutama bagi mereka yang saat ini masih sangat terpinggirkan. Di mana Anda dan saya ingin atau dapat berperan serta? Kita bisa mulai dari hal-hal yang dapat kita lakukan mulai hari ini juga. Syukuri hari-hari kita dengan lebih berani menjalani dan mempraktikkan hidup yang lebih ‘bersih dan lurus’. Terus berjaga dan berjuang bersama Kristus dan biarlah terangmu makin bercahaya... Terus membangun integritas kita sebagai pengikut Kristus, baik dalam hal besar dan kecil, sepanjang perjalanan kehidupan kita

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


NAFIRI DESEMBER 2013

91


KESAKSIAN “Saya paling takut kalau mengambil keputusan yang tidak di jalur kehendak Tuhan,” kata Novia di tengah perbincangan dengan tim NAFIRI.

92

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Novia Purnomo & Paulus Hariadi

Karya Tuhan adalah Masterpiece,

Tak Ada Produk Gagal / Elasa Noviani /

NAFIRI DESEMBER 2013

93


H

a ti yang senantiasa memilih untuk taat kepada Allah ini terpancar jelas di setiap kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Di tengah dunia modern yang serba praktis, yang setiap orang mengejar kemudahan, kenikmatan, dan kenyamanan, pasangan ini memilih untuk tetap mempercayai jalur Allah, sekalipun mereka tahu bahwa jalanNya tak selalu mudah.

Tekad Tidak Menikah yang Dibatalkan Sebenarnya sejak masa remaja, Novia sudah bertekad untuk tidak menikah. Dilahirkan di tengah keluarga bukan Kristen yang kurang harmonis, ia mengalami tahun-tahun traumatis ketika ayahnya meninggalkan ibu dan keluarganya demi wanita lain. Bahkan ketika menjadi pengurus Kompas – Komisi Pemuda-Dewasa (sekarang KP2), Novia mengaku paling kesulitan jika disuruh menjadi PIC acara-acara yang bertemakan seputar relasi kaum muda (Valentine day, dan lain-lain.) Namun suatu hari Firman Tuhan (yang disampaikan oleh ibu Liena Suwito) membuat dia berpikir ulang mengenai tekadnya untuk tetap single. “Waktu itu dikatakan bahwa setelah kita menjadi orang Kristen, keputusan 94

untuk menikah atau tidak, bukan lagi di tangan kita, tetapi segala sesuatu harus kita tanyakan apa yang menjadi kehendak Tuhan,” cerita Novia. Sejak itu, dia mulai membuka diri dan serius menggumulkan kehendak Tuhan tentang teman hidup. Novia mendoakan kriteria suami yang mempunyai karakter dan value of life yang sama, lalu bergumul agar Tuhan menyatakan kehendak-Nya dengan jelas. “Saya tidak ingin main perasaan, supaya jangan blur apakah ini kehendak Tuhan atau perasaan saya sendiri,” kata Novia. Dia mengaku sampai menjelang hari pernikahan pun dia masih terus bertanya kepada Tuhan sebab dia takut salah melangkah. Sebelum menikah, Paulus tidak pernah tahu bahwa Novia yang ramah ini ternyata sedang mencomblangi Paulus dengan salah seorang sahabatnya. Setelah bertahun-tahun bergumul untuk teman hidup, baru kali ini hati Paulus terpikat oleh seorang wanita. Saat itu usianya sudah mendekati 40 tahun. “Waktu itu Novia menjadi worship leader di Kebaktian Doa, dan saya mulai tertarik,” katanya. Sebenarnya tidak sedikit wanita yang sudah diperkenalkan oleh teman dan keluarganya kepada Paulus, tetapi sebagian besar bukan anak Tuhan.

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Sejak Paulus menerima Kristus dalam suatu KKR “Campus for Christ” tahun 1989, dia terus bertumbuh, sehingga dia mengutamakan standar yang dari Allah dalam memilih teman hidup. Setelah bergumul, Paulus yang pemalu ini memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya kepada Novia. Dia mengirimkan bunga di hari ulang tahun Novia.

Mendapat Anugerah, Bergumul dalam Anugerah Mereka menikah tahun 2010. Setelah menanti selama kurang lebih 8 bulan, Novia akhirnya dinyatakan hamil oleh dokter. Pada pemeriksaan di bulan pertama dan kedua, dokter menyatakan bahwa kandungannya normal. Tetapi ketika mereka kontrol untuk yang ketiga kalinya, yaitu di usia kandungan 13 minggu, barulah dideteksi adanya masalah. Ternyata Novia mengandung bayi kembar identik (satu sel telur) dengan kasus langka yang disebut: Twin to Twin Transfer Syndrome (TTTS), yaitu dua bayi yang hanya mempunyai satu plasenta, sehingga harus berbagi supply makanan dan oksigen.

Pada kembar identik umumnya setiap bayi memperoleh makanan dari plasentanya masing-masing. Salah satu janin Novia terdeteksi sudah meninggal pada usia rawan. Usia kandungan 12-13 minggu adalah saat pembentukan sel-sel otak. Jadi dokter menyarankan agar kehamilan Novia di-terminate, sebab kemungkinan janin yang hidup pun akan mengalami kerusakan otak saat dilahirkan karena teracuni oleh janin yang meninggal. Paulus dan Novia sangat bergumul dan bingung menghadapi keadaan ini. Mereka mencari second opinion dari berbagai dokter. Ratarata dokter ahli mendeteksi hal yang sama yaitu TTTS dan memperingatkan bahwa hal ini akan membahayakan calon ibu (pengentalan darah) dan janin yang hidup. Bahkan ada dokter yang dengan tegas memberi resep untuk segera menggugurkan kandungannya, dan diberi waktu tiga hari untuk memutuskan apakah akan dilakukan aborsi atau tidak. “Saya bingung seberapa jauh harus saya pertahankan janin ini,” kata Novia. “Kami tidak takut anak kami akan brain damage atau apa, kami lebih takut kalau membuat keputusan yang tidak sesuai dengan rencana Tuhan,” lanjutnya. NAFIRI DESEMBER 2013

95


Bagi Paulus, konsep Firman Tuhan mengenai hal ini sangat jelas, “Waktu itu kami bergumul sekali, sebab bayi pun adalah nyawa yang sudah dianugerahkan oleh Tuhan, jadi kita tidak berhak untuk menterminate atau tidak, walaupun saya tahu ke depannya akan sangat berat,” ujarnya. “Patokan saya adalah, jika itu membahayakan nyawa Novi, barulah boleh kita hentikan kehamilan ini.” Dalam kebingungannya, mereka mencari nasihat dari orang-orang yang dewasa secara rohani. Mereka sangat dikuatkan untuk memilih jalan yang sesuai dengan rencana Tuhan. Mama Novia menguatkan, katanya: “Nov, Tuhan cuma kasih anak yang spesial kepada orang tua yang spesial.”

Kehamilan Novia ternyata tidak mudah. Menginjak 20 minggu, dia terkena virus Rubella, bahkan ketika sedang mengajar, dia kadangkadang hampir pingsan. Mereka sempat mempertanyakan kepada Tuhan apakah ini semacam petunjuk untuk mengikuti nasihat dokter untuk menggugurkan. “Saya menangis di hadapan Tuhan, saya katakan: Tuhan, selama ini saya selalu berusaha ikut kehendak Tuhan, tetapi kenapa kehamilan saya susah sekali? Saya ngga mau married, tetapi karena saya tahu ini kehendak Tuhan maka saya ikutin. Kondisi kehamilan sebagian besar orang tidak bermasalah, tetapi kok kehamilan saya bermasalah... Tuhan tolong saya.., saya takut salah ambil keputusan,” cerita Novia dengan

Saya tidak marah kepada Tuhan, saya

mempertanyakan ...”

96

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


jujur disertai derai air mata. “Saya tidak marah kepada Tuhan, saya mempertanyakan,” lanjutnya. Tetapi setelah itu dia menyadari bahwa begitu banyak yang sudah Tuhan lakukan buatnya. Harus bed rest seminggu di rumah karena Rubella itu dipakai Tuhan untuk memperkenalkan diri-Nya. Dia semakin yakin kalau Tuhan mengijinkan sesuatu terjadi, Dia pasti memberi kekuatan. Di usia kandungan 30 minggu, dokter mendeteksi lingkar kepala janin ternyata jauh lebih kecil dari yang seharusnya (microcephaly). Minggu itu menjadi minggu yang berat bagi Novia, sampai dia lupa akan hari ulang tahunnya. Ketika ia tiba di sekolah, ternyata murid-muridnya mengadakan surprise party buat dia. Mereka menyiapkan kue bertuliskan: ”Don’t worry, Miss Novia, everything gonna be OK.” Novia dan Paulus semakin dikuatkan. Mereka memang berharap agar terjadi mujizat, tetapi iman mereka tetap disertai dengan penyerahan kepada Allah. “Kalau ini kehendak Tuhan, pasti Tuhan akan tolong kami,” kata mereka mengungkapkan iman berkali-kali. Mereka menamai anak itu: Josiah Sean yang berarti ‘Allah menyembuhkan dan menyatakan kemurahan-Nya’.

Tuhan Tidak Pernah Berkata: “Uppss...” Ketika Josh (panggilan Josiah) dilahirkan, dokter memperkirakan umurnya hanya akan mencapai 5 hari. “Malam harinya saya bergumul, kok orang lain setelah melahirkan senang, tetapi kok saya sedih dan kuatir mendengar vonis dokter bahwa umurnya hanya 5 hari,” kata Novia. Tetapi Roh Kudus dengan penuh kasih mengingatkan: “Memang siapa yang tahu umur orang? Banyak yang sehat-sehat saja juga bisa tiba-tiba meninggal.” Dalam perenungan itu Novia kembali menempatkan landasan imannya hanya kepada Tuhan. Selain lahir dengan kepala yang kecil, Josh juga memiliki kaki yang bengkok (club feet), sehingga harus di-gips sebagai upaya untuk “meluruskan” ke posisi yang normal. Proses dengan gips tersebut sempat membuat Josh sulit tidur dan rewel karena pasti rasanya sakit. “Pernah suatu kali saya doa: Tuhan, tolong supaya Josh jangan nangis, saya ngga tahan, dan Tuhan kabulkan doa saya. Josh tau-tau berhenti nangis dan dia ngelihatin saya,” kata Novia. “Momen itu membuat saya kuat”.

NAFIRI DESEMBER 2013

97


Tidak mudah mempertahankan keyakinan mereka untuk taat kepada Allah. Ketika memeriksakan keadaan Josh, seorang dokter memarahi Novia. “Kamu kan sudah diberitahu oleh dokter kandungan mengenai resikonya, kamu bodoh sekali mempertahankan anak seperti ini, harusnya di-terminate saja dari dulu, kamu tahu ngga biayanya tuh ngga nahan. Ngga mungkin gaji kamu sebagai guru dan suami kamu yang karyawan mampu menanggung,” cerita Novia. Waktu itu Novia hanya bisa menangis sambil menyampaikan keyakinannya bahwa kalau Tuhan yang memberi anaknya hidup, Tuhan pula yang akan memampukan mereka. Dalam hati Novia bertekad untuk tidak membawa Josh ke dokter tersebut lagi. Delapan bulan kemudian, Josh tersedak dan demam tinggi. Terpaksa Novia membawanya kepada dokter itu lagi karena dia ahlinya. Dokter tersebut kaget karena Josh masih hidup dan gemuk, padahal secara teori anak seperti Josh tidak mungkin gemuk. Akhirnya Tuhan malah memakai dokter tersebut untuk bermurah hati kepada mereka dengan membebaskan biaya dokternya. Mereka sempat bergumul karena ada spot putih di mata Josh dan sepertinya Josh tidak bereaksi terhadap 98

bunyi. Beberapa dokter memvonis Josh tidak bisa melihat, tetapi karena anugerah Tuhan Josh sekarang dapat melihat walaupun mungkin tidak terlalu jelas, dan telingannya pun normal. Hanya karena keterbatasan motoriknya maka Josh lambat berekspresi. Memang dibandingkan dengan anakanak seusianya, Josh yang sekarang berusia 20 bulan, perkembangannya sangat lambat. Namun Novia mensyukuri setiap momen kemajuan Josh. “Bahkan anak kita bisa tertawa pun sudah merupakan anugerah,” kata Novia. “Saya menunggu 8 bulan untuk bisa melihat Josh tertawa”. Ketika ditanya apakah Novia menyesal memilih taat untuk menikah, atau mungkin iri dengan orang-orang yang anaknya normal? Novia menjawab: “Saya tidak pernah menyesal sama sekali sebab saya sudah ada di track yang benar.” Mereka yakin bahwa Tuhan yang akan memelihara, dan memberi kekuatan. “Terus terang sejak punya Josh kami mengalami Tuhan dalam sekali. Tuhan terasa begitu dekat, tidak sekedar teori,” lanjut Novia. Mereka merasakan hari demi hari pimpinan Tuhan ketika Tuhan membuka jalan melalui orangorang. Tuhan bekerja lewat situasi yang ada, dan lewat Firman-Nya. Mereka belajar untuk terus bergantung kepada

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Tuhan. Terkadang ketika keadaan terasa sulit dan mereka mulai down, mereka mengingat begitu banyak kasih dan kebaikan Allah, bagaimana Tuhan sudah menolong mereka sehingga tidak ada lagi alasan untuk mengeluh. “Setelah ngejalanin harihari yang telah lewat, kalau dihitung secara akal manusia ngga mungkin cukup untuk membiayai Josh sampai sejauh ini, tetapi Allah membuktikan bahwa pertolongan-Nya tak pernah terlambat,” kata Novia. “Banyak keajaiban yang kami alami”. Sekali waktu ketika Josh harus ganti gips, tiba-tiba ada orang yang memberi angpao pas sejumlah harga gips. Mereka hampir tidak perlu mengeluarkan uang untuk keperluan Josh seperti diapers, baju, dan lain-lain di awal kelahiran Josh. Banyak orang yang memberi, bahkan ada orangorang yang belum pernah mereka kenal

tiba-tiba menitipkan sesuatu. Demikian juga ketika mereka merencanakan untuk memeriksakan kaki Josh di Singapore, Tuhan mengirim orangorang yang menyediakan akomodasi dan hal-hal yang mereka perlukan tanpa diminta. ““Awalnya saya sangat bergumul untuk menerima sesuatu dari orang. Saya sempat nangis di hadapan Allah, masak sekarang saya harus jadi orang yang dikasih-kasih, rasanya seperti suatu penghinaan,” kata Novia. “Tetapi mungkin Tuhan ingin membentuk karakter saya supaya belajar rendah hati,” lanjutnya. “Mungkin ini waktunya saya untuk mengerti rasanya diberi oleh orang lain, dan saya berdoa agar suatu saat saya pun punya kesempatan untuk memberi.”

“...

menghadapi masalah seberat apa pun, kalau cara pandang kita berlandaskan konsep kekekalan, maka kita akan dikuatkan dan

tidak akan membawa penyesalan.”

NAFIRI DESEMBER 2013

99


Novia menyadari bahwa Allah makin membentuk kesabarannya melalui keberadaan Josh. Sejak lahir, karena kakinya bengkok, untuk memakaikan diapers pun susah, menyuapi Josh juga membutuhkan kesabaran karena keterbatasan motoriknya. Dalam kedewasaan rohani yang semakin matang, Novia dan Paulus tidak pernah memandang pemberian Tuhan atas Jos sebagai suatu kemalangan, sebaliknya, Tuhan membuka kesempatan bagi mereka untuk menolong keluarga-keluarga yang nyaris bercerai karena mempunyai anak dengan kebutuhan khusus. Seperti kata pemazmur dalam Maz. 139:13 bahwa Allah yang menenun Josh sejak di dalam kandungan. Josh adalah masterpieceNya, karena diciptakan oleh Sang Maestro. Allah Sang Maestro itu tidak pernah salah menenun. Sekalipun secara manusia, Josh seakan adalah produk gagal, namun bagi Tuhan tidak ada sesuatu pun rencana-Nya yang

gagal. Ketika Allah mencipta, Ia tak pernah berkata: “Uppss...” Memang banyak orang memandang sinis kepada sosok seperti Josh, tetapi Tuhan mengasihinya, dan Ia adalah Tuhan yang bertanggung jawab. Pernyataan Paulus di akhir perbincangan kami menunjukkan kedewasaan rohaninya: “Bagi saya menghadapi masalah seberat apa pun, kalau cara pandang kita berlandaskan konsep kekekalan, maka kita akan dikuatkan dan tidak akan membawa penyesalan. Sebab suatu saat saya harus mempertanggungjawabkan semuanya di hadapan Tuhan Sang Pemberi hidup ini.” Tak seorang pun yang tahu bagaimana Allah akan memakai Josiah nantinya. Yang pasti Allah tidak salah memilih keluarga dimana Dia menitipkan masterpiece-Nya

…”Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga dia dilahirkan buta?” Jawab Yesus: “Bukan dia dan bukan juga

orang tuanya, tetapi karena pekerjaanpekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia…” (Yoh. 9:2-3)

100

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


NAFIRI DESEMBER 2013

101


Selama 7 hari di minggu pertama bulan Oktober 2013, kami mengadakan sebuah refreshing bagi 17 orang alumni sebuah Pusat Latihan Misi di Papua yang diberi nama Mission Training Centre (MTC). Saudara-saudara tersebut tinggal di daerah yang terpencil di pedalaman Papua yang hanya bisa dijangkau dengan transportasi pesawat misi, dan jarak antar kampung hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

S

elama 2 tahun para siswa di tempat ini digembleng dengan firman Tuhan, dan diberi pelatihan kesehatan, pertanian, peternakan, pertukangan, administrasi gereja, bahasa Indonesia dan sebagainya. Para siswa MTC umumnya berasal dari pendidikan Sekolah Dasar, Sekolah Alkitab berbahasa daerah tamatan SMP dan hanya sebagian kecil yang tamat dari SMA. Setelah lulus mereka kembali ke kampung masing-masing dengan pengetahuan dan ketrampilan yang baru. Para lulusan yang sudah melayani lebih dari 4 tahun kami rasa perlu diberi kesempatan untuk dibekali kembali 102

beberapa materi pelatihan dan berbagai ketrampilan baru melalui acara refreshing tersebut. Acara refreshing kami kemas sedemikian rupa dengan tujuan supaya pada waktu kembali ke tempat pelayanan mereka mendapat semangat baru dan motivasi baru. Untuk mempersiapkan materi refreshing, kami bekerja sama dengan tenaga pengajar misi setempat yang telah berpengalaman dalam hal penyajian dalam berbagai bentuk metoda seperti ceramah, diskusi simulasi dan lain-lain. Materinya antara lain bagaimana memberitakan Injil kepada perorangan, berkomunikasi

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


yang efektif, membangun kerjasama dalam tim, memelihara kerukunan dalam keluarga, membina pertumbuhan anak di jalan Tuhan, dan cara mengelola keuangan keluarga. Di tengah berlangsung pembinaan, kami juga mengadakan perbincangan dengan para alumni terutama yang berkaitan dengan pelayanan mereka di lapangan. Ada banyak informasi yang kami dapatkan baik itu berupa tantangan maupun halhal yang membuat kita sangat kaget dan kagum. Di pedalaman para alumni tidak mendapat fasilitas yang bersifat rutin misalnya tunjangan pelayanan seperti uang, beras atau apa pun. Mereka umumnya melayani bersama para hamba Tuhan setempat dengan melakukan pekerjaan dan pelayanan sebagaimana layaknya sebuah

keluarga. Selain menjadi penginjil di pedalaman para alumni juga ada yang berstatus sebagai gembala jemaat, ketua pemuda dan guru. Mereka bekerja di ladang, memelihara ternak babi, ayam dan ikan di daerah yang airnya memungkinkan. Di pedalaman tidak ada alat transportasi sehingga semua jarak ditempuh dengan berjalan kaki. Jika ada yang sakit, masyarakat pedalaman sangat mengharapkan kehadiran mereka sebagai hamba Tuhan untuk mendoakan. Dilemanya, jika jarak tempuh hanya 1 atau 2 jam, tidak masalah. Tetapi jika harus lebih dari 5 jam, akan membutuhkan waktu yang panjang dan tidak jarang harus bermalam di tempat si sakit. Demikianlah mereka dengan pendidikan yang tergolong sangat sederhana tetapi tugas dan tanggung jawab yang mereka emban sangat berat. Tetapi karena Tuhan memberi NAFIRI DESEMBER 2013

NAFIRI DES 13 FINAL.indd 103

103

12/15/13 12:03 AM


hati yang peduli, mereka terus bersemangat melayani Tuhan melalui berbagai kegiatan. Mereka adalah pelayan Tuhan yang setia. Terlalu banyak kisah suka-duka yang mereka sampaikan dalam pelayanan di pedalaman. Kami sempat mewancarai beberapa orang, diantaranya adalah Elius, 37 tahun, tidak tamat SD. Elius sekolah Alkitab Bahasa Daerah selama 4 tahun dan sudah menjadi anggota MTC selama 2 tahun. Ia melayani di daerah luar sukunya dan sudah membuka sebuah pos pelayanan. Elius sudah membaptis sebanyak 34 orang dewasa. Seorang muda yang lain, Tinus, 33 tahun, hanya berpendidikan Paket B (Setara SMP). Tinus sudah aktif di MTC selama 2 tahun dan saat ini menjadi Wakil Gembala daerah di tempat gereja asalnya. Ia sudah membaptis 199 orang. 104

Leo, tamatan SD, selama 4 tahun sekolah Alkitab Bahasa Daerah dan sudah 2 tahun aktif di MTC. Ia membuka ladang pelayanan baru di tengah-tengah masyarakat yang belum ada gereja, dan saat ini gereja sudah berdiri dengan jumlah jemaat 230 orang. Saat ini Leo juga merangkap sebagai Kepala Sekolah SD tetapi karena ijazahnya hanya SD, ia tidak bisa diangkat menjadi Pegawai Negeri. Arias, 35 tahun, tamatan SLT SLTA dan sudah menjadi anggota MTC selama 2 tahun. Ia melayani di daerah asal, membantu hamba Tuhan setempat, membuka sebuah pos PI dengan jumlah jemaat sekitar 225 orang dan mengajarkan fiman Tuhan dan pelajaran sekolah kepada anak SD. Sebenarnya masih ada beberapa pelayan Tuhan alumni MTC yang umumnya melayani di pedalaman, namun pada kesempatan ini hanya dapat kami sajikan kesaksian dari 4 orang tersebut. Apa yang terjadi pada saat ini di daerah pelayanan misi mungkin diluar pemikiran kita terutama yang berdomisili di daerah perkotaan. Bagaimana mungkin seorang yang kurang berpendidikan bisa memberitakan Injil, memenangkan orang untuk Kristus dan membaptis puluhan bahkan ratusan orang dalam kondisi fasilitas yang sangat minim?

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Mereka bahkan mendirikan gereja di berbagai tempat di pedalaman. Keberhasilan tersebut adalah karena Tuhan membuka jalan bagi pemberitaan Injil-Nya. Apakah pendidikan menjadi tidak perlu? Tentu tidak. Pendidikan yang baik pasti sangat mendukung pemberitaan Injil apalagi pada zaman ini dibutuhkan penginjilan yang holistik bagi miliaran manusia yang belum pernah mendengar berita tentang karya Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus. Pada acara refreshing tersebut, para hamba Tuhan alumni MTC tersebut mendapat tawaran untuk turut serta dalam Konvensi Injil Nasional (KIN) yang diselenggarakan oleh sebuah Badan Misi Nasional di Jakarta. Mereka sangat berharap untuk bisa mengikutinya. Selain ingin sekali melihat ibu kota Negara sekaligus mendapat pembinaan dari hamba Tuhan tingkat Nasional. Mereka sungguh-sungguh berdoa dan berharap bisa berangkat ke Jakarta. Karena keterbatasan untuk memahami pengisian formulir,

mereka (sebanyak 7 orang) minta tolong kepada saya untuk membantu pengisian formulir. Panitia menyediakan tiket pesawat pulang pergi Jayapura- Jakarta (PP) . Mengingat biaya tiket yang demikian besar untuk satu orang (sekitar Rp4 juta), maka andaikata bisa diterima satu orang saja sudah sangat bersyukur. Demikianlah hari demi hari berlalu. Dua minggu kemudian saya mendapat informasi dari mereka bahwa semua yang mengirim formulir tersebut dipanggil untuk ikut acara KIN di Jakarta. Saya terperangah dan sangat terkejut. Saya menyadari iman saya begitu kecil. Pemikiran saya anak-anak kami ini tidak tamat SMA, bagaimana mungkin mereka bisa diterima untuk acara nasional seperti itu? Berbicara bahasa Indonesia saja terbata-bata, sementara di tempat lain banyak Hamba Tuhan yang bergelar S.Th. bahkan M.Th. yang harusnya lebih berpeluang dibandingkan anak-anak kami. Pada harinya 7 orang tersebut berangkat ke Jakarta dan mengikuti acara dari awal hingga selesai. Tak disangka materi yang diberikan pada acara KIN sangat membantu pribadi mereka menjadi Penginjil di daerah terpencil. Inilah karya Tuhan yang ajaib.

( bersambung ke hal 121 ) NAFIRI DESEMBER 2013

NAFIRI DES 13 FINAL.indd 105

105

12/15/13 12:03 AM


EVENT NOTES

HUT ke-20 Komisi Wanita GKY BSD

Mewarisi Kecantikan Batin / Kristiyani Sinjaya /

Terpujilah Tuhan yang telah memimpin gereja-Nya, memberkati Komisi Wanita GKY BSD hingga di usianya yang ke-20 tahun.

106

I

ba d a h pengucapan syukur diadakan pada hari Jumat, 4 Oktober 2013 dengan dihadiri 191 orang dan perwakilan dari 11 Komisi Wanita GKY se-Jabodetabek. Seluruh rangkaian acara dirancang sebagai ungkapan syukur atas segala pemeliharaan Tuhan dan ajakan agar Ibu-Ibu menjadi WITA – Wanita Idaman Tuhan Allah yang boleh terus bersinar dan bercahaya bagi dunia, serta memancarkan kemuliaan Tuhan.

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Salah satu adegan drama tentang Ratu Ester

Pengurus baru KW 2013 - 2014

Sebuah drama digelar untuk mengilhami WITA agar boleh belajar dari kehidupan Wasti dan Ester. Wasti seorang ratu yang sangat cantik dan sadar betul akan kecantikan dan kedudukannya namun menjadi sombong, tinggi hati dan sibuk dengan urusannya sendiri serta menolak titah Raja, suaminya. Sehingga akhirnya Wasti dicampakkan. Sementara Ester seorang wanita biasa yang terpilih dalam pemilihan permaisuri Raja. Bukan saja memiliki kecantikan fisik, tetapi juga memancarkan kecantikan batin yang luar biasa indahnya. Sikap Ester membuat Raja dan orang-orang yang melihatnya, menaruh kasih sayang kepada Ester.

Kecantikan fisik saja tanpa adanya kecantikan batin membuat wanita mudah sekali untuk digeser dan dicampakkan. Demikianlah WITA juga boleh memiliki kecantikan batin, karena percaya atas pemeliharaan Tuhan dan memiliki hati yang mengasihi Tuhan, keluarga, dan gereja-Nya. Biarlah di usianya yang ke-20 tahun ini Komisi Wanita GKY BSD semakin bergerak maju, giat kerja bagi Yesus dan membawa jiwa-jiwa kepada-Nya. Amin

NAFIRI DESEMBER 2013

NAFIRI DES 13 FINAL.indd 107

107

12/15/13 12:03 AM


108

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


M

enurut Horton, maksud dari kata “Tanpa Kristus” bukanlah berarti Kristus tidak hadir, namun fokus Karya Kristus sudah bukanlah fokus utama. Banyak gereja yang lebih berfokus pada apa yang terjadi di dalam diri kita, aktivitas kita, daripada fokus pada Allah dan karyaNya di dalam Yesus Kristus. Kristus dianggap sebagai seorang teladan atau pembimbing untuk memperbaiki diri atau situasi, dan bukannya sebagai Tuhan dan Juruselamat bagi manusia. Roh Kudus telah dianggap sebagai pembangkit listrik yang dapat menyalurkan energi supaya kita bisa menjadi diri kita yang terbaik. Menyebar luas “Berbuat lebih banyak, berusaha lebih keras.” inilah berita yang telah menyebar luas di seluruh aliran gereja saat ini terutama di Amerika, bahkan termasuk gereja Injili dan reformed, menurut Michael Horton. Ada begitu banyak pengkhotbah teori kemakmuran dan penginjilpenolong diri sendiri (self help/selfimprovement) seperti Robert Schuller, T.D. Jakes, Benny Hinn, Joel Osteen dan Joyce Meyer yang menarik bagi obsesi batiniah Amerika untuk berdiri tegak di atas kaki kita sendiri. Semua nama-nama tersebut adalah nama besar pemimpin gereja Injili di Amerika.

Karena banyak gereja yang mau tampil lebih relevan, praktikal, sukses dan disukai banyak orang, akhirnya gereja menjadi serupa dengan dunia. Yesus dianggap sebagai seorang guru dan contoh, bukan Anak Allah yang telah mati dan bangkit bagi orang berdosa. Penekanan ada di WWJD (What Will Jesus Do?) dan bukan pada WDJD (What Did Jesus Do?). WDJD mengingatkan kita akan Karya dan Kedaulatan Kristus. Sedang WWJD adalah spekulasi pribadi. Banyak gereja memakai pesanpesan pragmatis dan membicarakan psikologi populer, politik, atau moralisme (bagaimana menolong atau meningkatkan diri dan hidup menuju kemenangan) sebagai ganti Injil. Gereja memberi nasihat baik, tapi melupakan Kabar Baik yang utama, yaitu Injil. Para pengkhotbah tersebut telah meremehkan dosa dengan menggeser fokusnya dari suatu pelanggaran terhadap Allah sebagai Hakim (dengan konsekuensi kekal) menjadi suatu kesalahan atau kegagalan terhadap diri sendiri yang menghalangi pencapaian kekayaan dan kebahagiaan saat ini. Karena Horton menghabiskan cukup banyak waktu mempelajari dan membahas pelayanan Osteen yang sangat populer di Amerika, saya akhirnya menjadi penasaran. Saya membuka situs Osteen dan NAFIRI DESEMBER 2013

NAFIRI DES 13 FINAL.indd 109

109

12/15/13 12:03 AM


mendengarkan khotbah- khotbah Osteen. Setiap kali sebelum berkhotbah, dia mengajak jemaatnya untuk berdoa. Doanya selalu sama dan sudah dihafalkan oleh seluruh jemaat. Serentak mereka berdoa: ”Inilah Alkitabku. Saya dapat melakukan apa yang dikatakan Alkitab. Saya akan diajarkan Firman Tuhan. Saya mengaku bahwa pikiranku siaga dan hatiku menerima dan saya tidak akan pernah sama lagi. Saya akan segera menerima bibit Firman Tuhan. Saya tidak akan pernah sama lagi.” Walaupun sudah mendengarkan kritik dari Horton, saya cukup surprise setelah membuka sendiri situs Osteen. Doanya bukanlah doa yang berbicara kepada Tuhan. Namun lebih berupa proklamasi kepada diri sendiri. Setelah itu saya mendengar isi khotbah-khotbahnya. Persis seperti kritikan Horton, fokus khotbahnya adalah ke dalam diri sendiri. Dia juga memakai ayat-ayat Alkitab untuk mendukung pemikirannya. Kehidupan Terbaik Menurut Horton, sasaran pengkhotbah demikian adalah membuat orang mengikuti prinsipprinsip praktisnya supaya mereka bisa menikmati kehidupan terbaik dan kebahagiaan mereka saat ini di sini, bukan di sorga. Dengan melakukan hal-hal tertentu, mereka bisa 110

menentukan apakah berkat Allah akan tercurah pada mereka. Keselamatan bukan lagi tentang manusia diselamatkan dari penghakiman dosa oleh Allah, tetapi mengenai memiliki kehidupan terbaik sekarang ini. Horton menekankan lagi akar masalah pesan-pesan semacam ini adalah kegagalan menyadari keseriusan dari dosa. Injil dibelokkan dari apa yang telah Allah lakukan bagi manusia ((Allah turun kepada kita) menjadi apa yang bisa manusia lakukan untuk meningkatkan diri (kita naik kepada Allah). Manusia dianggap pada dasarnya baik dan jika kita berusaha lebih keras dengan potensi yang Tuhan berikan, maka kita bisa hidup penuh kebahagiaan dan sukses. Padahal bagi Allah, “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak.” (Rom 3:10). Yesaya 64:6 “...segala kesalehan kami seperti kain kotor...” Horton memberikan banyak contoh-contoh khotbah dan buku rohani yang fokus utamanya hanya pada manusia. Menurut Horton hanya ada dua agama di dalam dunia ini: Pertama, agama perjuangan manusia untuk naik kepada Allah melalui usaha-usaha dan pengalamanpengalaman yang saleh. Kedua, Kabar Baik tentang turunnya Allah dengan penuh belas kasihan kepada kita di dalam Anak-Nya.

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Horton juga mengupas pandangan Joyce Meyer. Menurut Meyer, esensi kekristenan bukanlah setumpuk peraturan; Injil adalah soal mengasihi Allah dan sesama. Tetapi Horton menekankan bahwa mengasihi Allah dan sesama pada intinya adalah hukum Taurat, bukan Injil. Pandangan Meyer sudah masuk ke gereja liberal hingga konservatif. Mereka tidak sadar bahwa kasih adalah rangkuman dari hukum Taurat. Bukan hanya tidur dengan

dan sesama jauh lebih sulit untuk dilakukan dengan sempurna. Galatia 3:10b “T “Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat.” Ini seharusnya membuat kita sadar akan ketidakberdayaan total kita. Bukannya malah membangkitkan kebenaran diri sehingga menghindarkan kita dari Kristus. Kabar baiknya, kata Paulus, “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi

istri sesama Anda, tetapi memiliki hawa nafsu di dalam hati Anda; bukan hanya membunuh, tetapi membenci sesama; bukan hanya mencuri, tetapi tidak membagikan materi Anda kepada sesama Anda: kata Yesus itulah yang dituntut oleh hukum Taurat dari kita. Jadi salahlah kalau berpendapat bahwa Allah dulu menuntut setumpuk peraturan, tapi kini hanya menyuruh kita mengasihi Dia dan sesama. Sebenarnya justru mengasihi Allah

kutuk karena kita” (Gal 3:13). Lalu Horton membahas mengenai hukum dan Injil yang sering kali dibingungkan. Kalau tidak ada hukum Taurat yang datang dari Allah, maka manusia tidak akan menyadari dosa-dosanya. Justru melalui hukum Tauratlah, manusia menjadi sadar akan ketidakmampuannya untuk hidup kudus dan benar di hadapan Tuhan. Intinya, hukum Taurat adalah apa yang perlu diperbuat dan Injil adalah apa yang telah diperbuat bagi kita. NAFIRI DESEMBER 2013

111


Penulis (kanan) bersama Michael Horton (tengah) pada acara kelas intensif yang diadakan oleh Horton

Keduanya tidak bertentangan. Kasih kita kepada Allah dan sesama adalah esensi dari hukum Taurat, tapi kasih Allah kepada kita dalam Yesus Kristus adalah esensi dari Injil. Beberapa waktu yang lalu, Horton mendengar sebuah khotbah yang diakhiri dengan tuntutan, “Apakah Anda akan mengerjakan hal-hal besar bagi Allah?” Mudah bagi orang percaya untuk terputus akan makanan rohani dari gereja karena berpikir mereka harus menjadi seorang yang bekerja keras bagi Tuhan seperti Paulus. Padahal Yesus mengundang, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

112

Melupakan Rajanya Propaganda yang memanggil kita mengerjakan hal-hal besar bagi Allah telah menjenuhkan jutaan orang yang mengaku Kristen. Kita lupa bahwa Allah mengundang kita ke gereja supaya Dia bisa memberi kita makanan rohani oleh Firman dan Sakramen yang merupakan sarana-sarana anugerah. Kemudian Allah mengutus jemaat yang telah menerima jaminan akan anugerah Allah yang ajaib ke dalam dunia sebagai garam dan terang. Kita begitu sibuk melakukan hal-hal bagi kerajaan sorga, namun kita melupakan Rajanya dan apa yang telah dan sedang dilakukan-Nya bagi kita.

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Betapapun kita berusaha, kita adalah tetap manusia yang berdosa. Kabar baiknya adalah kebenaran Kristus itu lebih besar daripada dosa kita. Ketika kita diampuni di dalam Kristus, kita terus melangkah di dalam ketaatan yang tidak sempurna, namun dipimpin oleh Roh. Gereja perlu lebih menekankan topik keberdosaan manusia dan karya keselamatan Allah melalui Kristus, dan mengurangi topik tentang kita dan perbuatan kita. Berita sentral kekristenan adalah Injil dan bukan sekedar nasihat baik. Secara pribadi buku ini telah sangat membantu saya selalu berpegang teguh pada Kabar baik Yesus Kristus. Tantangan Horton kepada gereja-gereja di Amerika membuat kita sadar bahwa gereja di mana pun perlu berhati-hati dengan trend masa kini yang berorientasi pada moralisme, nasihat baik, dan usaha manusia yang terlepas dari iman pada Kristus. Menurut saya buku ini sangat penting untuk dibaca oleh jemaat dan terutama pemimpin gereja. Gereja bisa lebih waspada dan fokusnya tidak bergeser dari Injil, yaitu Kabar Baik tentang Kristus. Di dalam bukunya ini – Kekristenan Tanpa Kristus (terbit 2008), Horton sendiri menulis di prakata bahwa dia hanya akan membeberkan masalah yang sedang melanda gerejagereja di Amerika. Dan dia berjanji untuk memberikan solusinya di bukunya yang berikut. Dia menepati janjinya dengan menerbitkan buku berikutnya di tahun 2010. Apakah solusi atas Kekristenan tanpa Kristus ini? Secara ringkas ada di judul buku barunya: Hidup yang Digerakkan oleh Injil (The Gospel Driven Life). Saya mendorong kita semua untuk membaca kedua buku yang menggugah ini. Soli Deo Gloria Penulis adalah seorang ibu rumah tangga, lulusan University of San Francisco (USF) San Francisco, USA di bidang Finance, sekarang tinggal di Gading Serpong – Tangerang. NAFIRI DESEMBER 2013

NAFIRI DES 13 FINAL.indd 113

113

12/15/13 12:03 AM


TER

O PONG

/ Drs Gandadinata Thamrin MM., MA. /

B

tu yang lalu, sa u kt a w a p e b e ra rforming di kelas ‘Pe ya sa a dapat sw mahasi gaimana kita a B : n ka ya r salah n Arts’ mena ngandung unsu e m g n ya jaman ilm lm-f Pada situasi ? mengetahui fi e m is rn e bagai d o post-m n buat kita se va le re h u g satu ciri dari g ari n su memulainya d ertanyaan ini ta p i ki in ri a g n M ra i. ka in l se i ha untuk mengert orang Kristen rkenal. sebuah film te Superhero Pembela kebenaran Siapa yang tidak kenal kenal film ‘Spiderman’ ini; tokoh yang digambarkan sebagai super hero, pembela yang lemah dan kaum tertindas juga sebagai pembela kebenaran. Memakai kostum laba-laba dan dapat merayap di dinding vertikal bahkan dapat melayang melompat dengan

114

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


memakai jaring laba-laba yang keluar dari tangannya. Tokoh super hero ini berasal dari seorang mahasiswa yang tergigit seekor labalaba eksperimen yang terlepas dari suatu laboratorium pemerintah. Gigitan itu membuat otot-otot mahasiswa ini menjadi kuat dan dapat bergerak dengan reflek yang cepat; pancainderanya menjadi lebih peka beberapa kali lipat. Bahkan dari bekas gigitan laba-laba tersebut dapat mengeluarkan suatu jaring yang lentur dan dapat menahan beban yang begitu besar. Atau mungkin di tahun 80 an, semasa saya masih SMA, film super hero ‘Superman’ (yang diperankan Christopher Reeve) menghiasi banyak cover buku tulis, kotak pensil, tas belajar, cangkir dan botol minum. Tokoh ini digemari dan dipuja oleh anak-anak remaja dan pemuda di seluruh dunia. Bahkan banyak orangtua sekalipun senang menonton film yang satu ini. Film ini bercerita tentang Kebaikan mengalahkan Kejahatan, tokoh-tokoh ini bukan saja sosok yang baik hati, tetapi juga mempunyai karakter-karakter yang jujur, ramah, murah hati, sopan, bertanggung jawab, dan dapat dikatakan sebagai pahlawan. Film-film seperti ini memberikan suatu bobot ‘nilai’ yang dapat diajarkan kepada kita bahwa seharusnya kita mempunyai nilai-nilai karakter yang baik dan benar seperti tokoh di atas. Bila kita memperhatikan lebih serius mengenai nilai yang dituangkan dalam film tersebut maka dapat kita melihat bahwa Kebaikan atau kebenaran (si Baik) akan mengalahkan Kejahatan atau yang tidak benar (si Jahat) sehingga pada akhir dari film tersebut Kebaikan (si Baik) akan menjadi pemenangnya. Dan si Jahat akan kalah, musnah atau mati. Bagaimana kalau sutradara secara tiba-tiba mengubah film tersebut dengan mengakhiri cerita tersebut dengan kemenangan dari si Jahat dan kematian buat si Baik?? Maka kemungkinan besar film tersebut akan mendapatkan cemooh dari penonton, mungkin juga film tersebut tidak akan laku di pasaran. NAFIRI DESEMBER 2013

115


Atau mungkin saja sebaliknya bahwa film-film yang bercerita tentang kemenangan si Baik menjadi sesuatu yang membosankan, karena kita sudah tahu bagaimana akhir ceritanya. Akhirnya sang sutradara mulai mengubah dan menambahkan suatu bentuk cerita yang lebih menarik dan tidak membosankan penonton, di mana si Jahat tidak selamanya harus kalah dan mati. Unsur manusianya mulai diperhitungkan dengan sejarah latar belakang si Jahat bahwa karakter jahat yang ada pada dirinya bukan karena kemauannya tetapi lebih karena kondisi situasi yang membentuk dia sejak kecil sehingga unsur baiknya tertekan dan unsur jahat menjadi menonjol. Bila saja ada kemungkinan ‘kondisi situasi’ berpihak padanya maka si Jahat pun akan menjadi si Baik sehingga sutradara mengakhiri cerita tersebut bahwa si Jahat belum tentu harus kalah atau mati dan si Baik belum tentu harus menang. Ada juga film yang bercerita tentang si Jahat yang sudah bosan menjadi jahat dan selalu kalah, akhirnya dia berubah menjadi baik agar menjadi pemenangnya. Tetapi setelah menjadi si Baik dia pun bosan karena tidak ada lawannya sehingga dia menciptakan suatu musuh yang hebat agar dia merasakan lawan yang sepadan dengannya. Yang serba relatif Walaupun cerita di atas menjadi menarik untuk ditonton, apakah ‘nilai’ yang akan kita bawa pulang setelah film ini selesai? Konsep ‘nilai’ apakah yang sedang ditanamkan dalam film seperti ini? Kalau kebenaran sudah tidak lagi menjadi pemenang, siapakah yang harus menjadi pemenangnya? Kalau si Baik dan kebaikan tidak selalu harus menang maka siapakah yang harus menjadi pemenang? Itu artinya bahwa si Jahat dan kejahatan menjadi pemenangnya. Di sinilah si Baik tidak lagi menjadi mutlak benar dan si Jahat tidak lagi menjadi mutlak salah; bisa benar bisa salah, bisa menang bisa juga kalah. Bila semua itu tidak lagi mutlak maka lawan dari situasi dan kondisi ini dapat dikatakan sebagai ‘relatif’.

116

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


‘Relatif’ inilah yang merupakan salah satu ciri dari post modernism, dan di sinilah standar ‘nilai’ jadi diragukan karena bisa begini bisa begitu, bisa oke bisa nggak, bisa benar bisa salah, bisa menang bisa kalah, bisa sana bisa sini, namanya juga ‘relatif’. Tentunya hal ini menunjukkan standar ‘nilai’ ganda, yang dapat dipakai dalam segala situasi apapun asalkan diri kita senang dan setuju, atau sesuai dengan pendapat kelompok mayoritas atau sesuai dengan pendapat masyarakat umumnya. Kita ambil contoh ekstrem saja (cerita ekstrem pertama). Seumpama dalam kelas saya ada dua mahasiswi yang masuk kelas dengan memakai pakaian yang tidak senonoh (maaf, ‘terbuka’) untuk mengikuti kelas ‘Performing Arts’, maka seketika itu juga saya akan mengusir mereka untuk keluar dari kelas karena etika dan sopan santun berpakaian mereka buruk sekali dan dalam hati saya mengatakan, “Gila loe ya?” Pada pertemuan kedua, ternyata mereka hadir kembali dalam kelas dengan memakai ‘terbuka’ bersama teman yang lainnya sebanyak 10 orang, maka saya tidak dapat menahan diri lagi dan mengusir mereka dengan mengatakan, “Kalian sudah gila ya.” TTetapi pada pertemuan ketiga ternyata hampir 50% dari mahasiswa yang hadir dalam kelas memakai pakaian dalam dan seenaknya masuk kelas dan mendengarkan kuliah saya dan tidak menggubris peringatan saya bahkan teman-teman kelas pun mengatakan, “Dunia sudah gila.” NAFIRI DESEMBER 2013

117


PERTEMUAN #4

#5

#6...

#7...

118

Sayangnya mereka mempunyai opini yang berbeda dan menganggap ini adalah pembaharuan estetik dan demi umur manusia juga bumi ini. Ini dalam rangka go green bukan pornografi. Pornografi jangan dilihat dari pakaian yang dikenakan, itu semua tergantung dari konsep pikiran tiap-tiap orang, kalau pikirannya porno ya jadinya pornolah. Maka pada pertemuan selanjutnya pendapat ini mempengaruhi mahasiswa dalam kelas sehingga 95% yang masuk dalam kelas semua memakai pakaian terbuka bahkan ada yang hanya memakai pakaian dalam minim termasuk saya sendiri yang mengajar dalam kelas. Sekarang siapa yang gila? Yang 95% kah atau yang 5%nya? Sekarang perhatikan cerita ekstrem kedua: Ada kelas yang berlangsung kegiatan belajar dengan satu dosen dan 30 mahasiswanya. Mulanya saat pertemuan pertama hingga ketiga semua berjalan lancar. Pada pertemuan keempat, ada satu mahasiswa yang tidak bisa hadir karena sakit dan menaruh tape recorder di atas mejanya, kelas tetap berjalan lancar. Pertemuan kelima ada lima mahasiswa yang tidak bisa hadir dan ada lima tape recorder di atas meja mahasiswa. Pertemuan keenam ada 20 tape recorder di meja mahasiswa dan kelas berjalan dengan dosen. Pertemuan ketujuh tidak ada mahasiswa sama sekali hanya 30 tape recorder dengan dosen yang sedang mengajar. Dan terakhir tidak ada seorang pun dalam kelas hanya ada 30 tape recorder di seluruh meja mahasiswa dan satu tape recorder di meja dosen. Kalau melihat gambarnya secara langsung kita akan tersenyum, tetapi pernahkah kita berpikir, konsep apa yang sedang diterapkan? Atau kita hanya mengatakan “Gila loe ya.� Kedua cerita ekstrim ini tidaklah mungkin terjadi dalam dunia sekarang ini tetapi entahlah beberapa tahun yang akan datang. Itu sebabnya saya akan memberikan contoh yang lebih realistis saja untuk memahami konsep ‘relativisme’ ini.

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Contohnya, ada teman saya yang mau memperpanjang SIM dan dia datang jam 07.30 agar mendapatkan nomer antrian yang pertama. Ternyata benar, saat sampai di kantor tersebut dia mendapati dia orang pertama yang datang dan belum ada yang mengantri. Bahkan petugas pun belum pada datang. Setelah mengisi formulir dan melengkapi data, dia menunggu untuk dipanggil ujian tertulis. Dia berpikir sebelum makan siang dia dapat dipanggil bukan hanya ujian tertulis tetapi juga ujian prakteknya. Sayangnya sejak dimulainya pemanggilan ujian tertulis hingga dia menghitungnya lebih dari 25 nama, tetap saja dia belum mendapatkan panggilan. Maka dia menanyakan hal itu kepada petugas, dan oleh petugas disuruh menunggu karena berkasberkasnya sedang diperiksa. Dengan kesal dia menunggu hingga setelah lewat jam makan siang. Tiba-tiba dia bertemu dengan salah satu temannya yang juga mau memperpanjang SIM. Saat mereka mengobrol, tiba-tiba temannya dipanggil untuk sesi pemotretan sementara dia pun dipanggil untuk masuk dalam ruang ujian tertulis. Selesai ujian, temannya menunggu untuk mengambil SIM barunya, sedangkan dia baru dijadwalkan untuk ujian praktek keesokan harinya karena tidak ada mobil untuk praktek. Saat temannya selesai, temannya sempat berkata kepadanya: �Gila loe ya hari gini masih ikut ujian tertulis SIM?� Dan memang hari itu hanya sekian persen dari orang yang memperpanjang SIM termasuk dia sendiri yang ikut tes tertulis. Selebihnya sudah lewat calo. Dia merasa hari itu menjadi salah satu orang gila di sana. Nah contoh yang lebih masuk akal ya. Hal yang biasa kalau kita memakai calo untuk mengurus surat-surat atau dokumen lainnya karena ini hal yang biasa dilakukan di dalam masyarakat kita. Walaupun kita tahu standar ‘nilai’ yang ada termasuk dalam rangka pemerintah yang ingin memberantas KKN atau pungli, tetapi secara tidak sadar kita pun ikut masuk di dalamnya dengan NAFIRI DESEMBER 2013

119


alasan lebih mudah, lebih cepat, lebih hemat waktu, dan tidak ribet. Dan secara tidak sadar juga konsep ‘relativisme’ ikut berperan dalam hidup kita ini. Tidak harus ikut mayoritas Kembali lagi kepada film-film yang kita tonton. Kita ambil contoh film-film kekerasan yang menyuguhkan banyak percikan darah, pembunuhan manusia yang sadis, bahkan bila kita perhatikan akhirakhir ini, banyak film yang menonjolkan tokoh utama anak-anak kecil yang dapat beraksi menjadi pahlawan atau penjahat dengan membunuh lawan-lawannya secara keji. Bila kita menganggap hal ini biasa, berarti kita sudah membiarkan pikiran kita untuk menyetujui kekerasan yang dilakukan oleh seorang anak kecil pada film tersebut. Unsur-unsur inilah secara halus (tidak terasa) masuk dalam alam pikiran kita yang menjadi salah satu ciri jaman post modernism. Dan kalau kita membiarkan itu terus terjadi dalam pikiran kita maka iblis akan mengambil kesempatan dengan mengatakan, “Ah itu sih hal biasa koq”, banyak orang (mayoritas) yang melakukannya dan menontonnya. Akibatnya kita ikut menjadi bagian mayoritas yang menyetujui dan ikut dalam degradasi standar nilai kristiani yang seharusnya kita pertahankan sebagai orang Kristen. Dan secara perlahan ini akan menghancurkan sistematik Christian World View kita dan ikut hanyut dalam aliran deras Postmodernisme. “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintahpemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulupenghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara” (Efesus 6:10-12). Kiranya Tuhan memberkati dan melindungi kita. Amin *) Penulis adalah Dosen Performing Arts Universitas Pelita Harapan (UPH), Karawaci, Tangerang

120

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


( sambungan Lentera Misi dari hal 105 ) Dari kesaksian mereka setelah mengikuti KIN, beberapa hal penting yang perlu kami bagikan adalah: a. Saat ini Injil terus diberitakan di wilayah Papua bahkan di muka bumi, baik dikerjakan oleh lembaga maupun perseorangan dari berbagai tempat. b. Tuhan bisa berkarya melalui orang yang setia menjalankan misi-Nya tanpa dibatasi oleh pendidikan. Contoh di atas menjadi bukti apa yang terjadi di pedalaman Papua sebagai karya Tuhan. c. Peran semua orang Kristen di seluruh dunia saat ini sangat dibutuhkan dalam keberhasilan pemberitaan Injil Kristus bagi bangsa-bangsa terutama mereka yang belum pernah mendengar berita keselamatan. d. Mari kita gunakan kesempatan yang Tuhan berikan untuk turut menjadi pendukung misi Pekabaran Injil di seluruh dunia, mulai dari yang dekat dengan kita, keluarga kita, rekan kerja kita, mitra bisnis kita dan lain-lain. Kiranya Tuhan memampukan kita *) Penulis adalah aktifis misi di Yayasan Berkat yang memfokuskan pelayanan misi di Papua.

PESERTA REFRESHING

NAFIRI DESEMBER 2013

121


1

moment

ona us J / Tit

S

Barkhad Abdi

122

than

ebuah cerita dalam film, teater aatau tau drama selalu memerlukan peran antagonis, dan apabila suatu cerita menghilangkan peran ini, maka cerita tersebut tidak akan menarik. Selain tidak menarik, cerita yang demikian sebenarnya mengingkari kehidupan nyata, karena dalam hidup ini memang selalu ada yang berperan antagonis. Bahkan dalam diri kita pun, yang antagonis itu ada, bukan? Dalam diri manusia ada dua pihak yang selalu bertentangan, hitam dan putih Anda bercita- saling berjuang cita menjadi mengalahkan. Hidup tidak pemain film tapi mungkin hanya punya tampang satu warna, pas-pasan? Jangan karena tawa berkecil hati. selalu ditemani Siapa bilang jadi aktor tangis, senang atau aktris harus punya selalu ditemani dan hitam modal tampang yang sedih, selalu ditemani ganteng atau cantik? putih.

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA

/


“If

you want to make beautiful music, you must play the black and the white notes together,” kata Presiden Amerika Richard Nixon.

Itulah kombinasi yang sempurna dan tak bisa kita elakkan. Kalau demikian, bagaimana dengan kombinasi “wajah ganteng dan wajah jelek”? Teman-teman saya bilang: “Ganteng atau cantik itu relatif, tetapi jelek itu absolut”. Wah. George Herbert, teolog Anglican Inggris yang lahir tahun 1593 pernah mengatakan: “He that is not handsome at 20, nor strong at 30, nor rich at 40, nor wise at 50, will never be handsome, strong, rich or wise.” Aduh, kalimat inilah yang memudarkan harapan saya untuk menjadi pemain film, karena dulu waktu saya masih tinggal di kampung, para wanita kalau memuja pria ganteng akan berkata: “Wuiih…ganteng sekali kayak bintang pilem..”. Maka pada waktu itu judgement yang berlaku umum adalah, kalau mau menjadi bintang pilem itu harus ganteng atau cantik. Jadi saya urung untuk main film karena tidak ada harapan wajah saya akan ‘ter-upgrade’, saya juga tidak mau operasi plastik. Satu-satunya hiburan saya cuma kalau sedang berada di rumah. Coba tanyakan ke istri saya siapa pria paling ganteng di dunia, mudah-mudahan ia menyebut nama saya (I hope so). Kalau ia tak menyebut nama saya, ah tidak apa-apa juga, karena anak saya sudah sering memuji saya, misalkan ketika saya mengenakan pakaian tertentu, spontan ia berseru: “Papi cakep!” Haha. Walaupun pujian itu membuat saya agak tersanjung, tetapi saya tetap minder kalau disuruh duduk jejeran dengan George Clooney, Kevin Costner atau Daniel Craig. Kalau saya disuruh duduk jejeran, saya milih duduk dengan Sutan Bhatoegana atau Tukul Arwana saja. Sudahlah, soal wajah lebih baik kita kembalikan kepada keyakinan kita saja. Tetapi sejujurnya, walaupun Barkhad Abdi (kedua dari kiri) sebagai saya tidak ingin mengomentari perompak Somalia di film Captain Phillips wajah orang, saya tetap tergoda untuk membandingkan antara NAFIRI DESEMBER 2013

123


Tom Hanks dan Barkhad Abdi yang membintangi film Captain Phillips. Siapa yang lebih ganteng antara Tom Hanks dan Barkhad Abdi? Terus-terang saya bingung. Pasalnya, tiba-tiba nama Barkhad Abdi meroket dengan cepat dan menjadi buah bibir. Ia bahkan mencuri perhatian lebih daripada Tom Hanks sendiri. Kehadirannya dinanti banyak orang di banyak talk show televisi di Amerika. Media-media terkenal berebut mewawancarainya. Semua orang memuji karena perannya yang sangat pas sebagai bajak laut (perompak) Somalia. Film itu sendiri berdasarkan kisah nyata pembajakan kapal cargo Maersk Alabama yang terjadi di tahun 2009. Barkhad Abdi asli orang Somalia. Ketika masih kanak-kanak, ia adalah seorang anak yang mengalami banyak peristiwa traumatik akibat perang saudara di negaranya. Di rumahnya di Mogadishu, setiap malam ia mendengar wanita yang berteriak karena diperkosa. Waktu ia berumur 7 tahun, keluarganya pindah ke Yaman. Hidupnya penuh gejolak dan penderitaan sampai akhirnya pada usia ke-14, mereka sekeluarga menang lottery green card yang kemudian membawa mereka ke Amerika Serikat dan tinggal bersama-sama dengan para imigran Somalia di Minneapolis. Di sanalah Barkhad belajar bahasa Inggris hingga ia bisa bekerja sebagai sopir. Suatu hari ia melihat ada iklan di televisi di mana sebuah film yang akan dibintangi oleh Tom Hanks sedang mengadakan casting untuk mencari pemeran bajak laut Somalia. Sebagai orang asli Somalia yang sudah sangat biasa dan memahami soal-soal perompakan kapal, ia pun mendaftar. Direktur casting-nya begitu terpesona ketika melihat perawakan Barkhad Abdi. Dengan perasaan yang excited dibawalah Barkhad menghadap sang sutradara, Paul Greengrass. Sang sutradara langsung meminta Direktur casting-nya untuk menyetop proses rekrutmen karena sudah mendapat orang yang pas. “Barkhad just had a great charisma and a sense of menace,� kata Greengrass. “But also something sort of different, some sort of humanity in there

Barkhad Abdi bersama Tom Hanks (kanan) dan Paul Greengrass (kiri) pada acara screening film Captain Phillips untuk Academy Award 124

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


too. You feel him in all his violence but also his desperation, and that’s good,” sambungnya. Jadi tampang seperti punya Barkhad itulah yang memang sedang dicari, plus karakternya yang benar-benar pas sebagai sosok perompak yang nekat, pandangannya kosong, kumal dan gembel mencerminkan seorang dari negeri yang sedang dikoyak perang. Dunia film telah menemukan great talent pada diri Barkhad Abdi. Ia bahkan dicalonkan untuk menerima Oscar. Itulah keadilan Tuhan ketika mencipta. Ia selalu memperlengkapi ciptaan-Nya.

“I really believe that everyone has a talent, ability, or skill that he can mine to support himself and to succeed in life,” kata Dean Koontz, seorang novelis Amerika. Di Gereja kita, GK GKY BSD, banyak kawan kita menjadi pemain drama baik pada acara besar seperti Natal dan Paskah, maupun acara yang skalanya biasa-biasa saja. Para aktor dan aktris tersebut tampil dengan bagus, bahkan terkadang memancing emosi penonton hingga penonton mengusap matanya. Tetapi sayangnya, kita kekurangan pemeran tokoh antagonis. Pemeran Saulus yang menganiaya orang-orang Kristen misalnya, bisa sangat dramatis jika diperankan oleh orang seperti Barkhad (Hmm…tapi dimana mencarinya ya?) Setiap orang dilengkapi talenta oleh Tuhan, dan bagi yang suka seni acting, hendaknya terus memupuk semangat dan menambah skill-nya. Anda tidak perlu berkecil hati walaupun punya wajah yang pas-pasan. Kalau Anda merasa minder dengan wajah Anda, ingatlah Barkhad Abdi, lalu berdirilah di depan cermin Aktor dan aktris GKY BSD NAFIRI DESEMBER 2013

125


HENRY SUTRISNO

Pengurus Rumah Tangga Gereja Harus Ada 126

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Seorang gembala mengenal dombadombanya, seorang majikan mengenal karyawannya, seorang atasan mengenal bawahannya. Demikian hal yang pertama kali terbersit dari seorang figur bernama Henry Sutrisno yang melayani di GKY BSD sebagai Majelis bagian Personalia, yang berada di bawah Bidang Sarana Prasarana (Sarpras). Ditanya mengenai siapa saja nama satpam, koster (semacam asisten yang membantu di gereja), staf keuangan, staf multimedia dan karyawan-karyawan yang berada di lingkungan GKY BSD, beliau ternyata hafal namanya satu per satu.

/ H u m p re y /

S

e p e r t i halnya bagian Personalia di perusahaan yang mengatur seluk-beluk kepegawaian, bagian Personalia di gereja pun mengatur tentang segala hal yang menyangkut karyawan di gereja. Kalau begitu, apa saja yang dikerjakan? Tentu segala sesuatunya dimulai dari kebutuhan akan karyawan terkait permintaan dari user (pengguna) yang memerlukan tenaga bantuan di bidangnya, misal Majelis bidang Ibadah perlu tambahan staf multimedia, maka beliau akan menghubungi Henry untuk mencari karyawan. Namun baik user maupun Henry tetap sama-sama mencari kandidat yang terbaik. Dalam menjalankan tugasnya Henry selalu berkoordinasi dengan Fang-fang (Arum Tratiningsih), majelis yang menangani bidang Sarpras. NAFIRI DESEMBER 2013

127


Lalu bagaimana proses penerimaan dan seleksinya? Bila telah ada surat lamaran atau kandidat karyawan, maka Henry akan menghubungi user yang memerlukan tenaga kerja tersebut, selanjutnya akan di-interview interview dulu oleh user tersebut, dan setelah user tersebut setuju dan cocok dengan kandidat tersebut, selanjutnya bagian Personalia akan langsung memanggil dan mengurus urusan kepegawaiannya, seperti: job description (uraian tugas), gaji, tunjangan kesehatan dan perjanjian kerjanya (sesuai standar yang telah digariskan dari Sinode GKY). Khusus mengenai hal berobat, Henry selalu menyarankan pengobatan di Klinik GKY BSD. Siapa yang menilai prestasi atau performance setiap karyawan? Yang pasti user-nya, dan juga aktivis atau bagian lain yang terlibat. Bila banyak keluhan mengenai karyawan tersebut terkait pekerjaannya yang kurang baik, maka Henry akan menegur karyawan yang bersangkutan, dan biasanya akan dibawa dalam rapat pleno BPMJ (Badan Pekerja Majelis Jemaat) untuk memutuskan apakah akan diberi kesempatan lagi atau diambil tindakan tegas lainnya. 128

Mengenai pelatihan atau training saat ini belum ada, hanya berupa bimbingan dari karyawan yang lama ke karyawan yang baru. Adapun, mengenai turnover (perputaran atau keluar masuk) karyawan sangat rendah di GKY BSD, bahkan ada satpam dan koster yang sudah bekerja lebih dari 10 tahun. Menangani bidang Personalia selama 1,5 tahun ini bukannya tanpa kendala, walaupun sampai saat ini beliau masih dapat menanganinya. Namun, Pengurus Rumah Tangga Gereja harus ada. Hal ini sangat ditekankan berkali-kali oleh Henry karena sangat perlu, dan dibenarkan pula oleh Fang-Fang, bahwa hal kepengurusan rumah tangga gereja seharusnya ditangani dengan lebih serius. Fang-fang dan Henry berkata, misal saat menangani adanya renovasi atau perbaikan-perbaikan biasanya langsung panggil tukang, begitupun dengan pembelian barang dipercayakan begitu saja dengan koster, padahal mungkin ada barangbarang di gudang yang sudah pernah dibeli, namun kurang terawat dan terkoordinasi, karena belum ada penanggungjawabnya. Akibatnya tentu biaya membengkak, padahal hal tersebut sebenarnya mungkin

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


“B ila banyak keluhan mengenai karyawan tersebut terkait pekerjaannya yang kurang baik, maka Henry akan menegur karyawan yang bersangkutan, dan biasanya akan dibawa dalam rapat pleno BPMJ (Badan Pekerja Majelis Jemaat) untuk memutuskan apakah akan diberi kesempatan lagi atau diambil tindakan tegas lainnya.� bisa diatasi dengan adanya Pengurus Rumah Tangga yang walaupun bertambah satu orang karyawan, namun bisa menekan biaya-biaya dengan lebih baik. Kiranya hal ini bisa menjadi pertimbangan dan perhatian bagi GKY BSD. Sebagai bahan evaluasi, Henry pun terkadang kumpul-kumpul dan menanyakan ada kendala-kendala atau keluhan-keluhan apa saja yang terjadi. Ternyata didapati adanya keluhan akan jemaat yang sehabis makan menaruh atau membuang sampah sembarangan, mungkin karena berpikir ada bagian kebersihan, padahal kan bisa saja jemaat membantu untuk menaruh di tempatnya agar lebih mudah dibersihkan. Ada pula keluhan akan jemaat yang menolak diatur parkirnya. Namun sejauh ini Henry selalu menekankan untuk selalu bersikap sopan dengan jemaat-jemaat. Selamat melayani, Henry. Tuhan memberkati NAFIRI DESEMBER 2013

129


aving Christmas in the West is probably one of those wishes that top our bucket lists. Indeed, thanks to globalisation, we Indonesians have come to adapt to the perception that Christmas isn’t Christmas if it isn’t white. White Christmas – with gleaming snow-coated settings where one could wallow in the snow and make snow angels as the Jack Frost 130

nipping at one’s nose, to quote the song – is a celebrated phenomenon in tropical Asian countries. I have always had a mental image of how Westerners spend their Christmas Eve: a family and their relatives gathered in the sitting room, with flickering flames from the fireplace delivering warmth to the entire room. They chattered and

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


embraced one another while each of them hold a cup of hot chocolate. Outside the window, snow fell. I’m completely sure this mental image of Christmas is not uncommon to us all. Unfortunately, this image has caused me to stereotype all Western countries as having snow on Christmas. Several friends of mine who text me Christmas greetings often make a similar mistake as I did before I came to study in Australia. They often say, “Lucky you, having a white Christmas in Australia!” I can only reply bitterly, “I wish.” Australians celebrate Christmas on summer. On December they have summer, and on July they have winter. I’m not going to start a lecture on the reason behind this phenomenon; to start one would be amiss (but if you’re still curious, go check Google). This is the reason why Australia has Christmas in July, where people throw parties – let me just quote Wikipedia here – that mimic Christmas celebrations. In a sense, even though it isn’t December 25th yet, people celebrate “early Christmas” just to get a feel of the wintry atmosphere. Has this caused Christmas to be bound on trivial things such as weather? Partly, yes. Sure we often hear Indonesians say, “It doesn’t feel like Christmas here [Indonesia] because it’s terribly panas!” I hope I

don’t appear all too judgmental; I too, have found myself trapped invariably in the similar hole as others. Should we, then, be concerned about this at all? Is the weather to be blamed over our decreasing Christmas spirits? The meaning of Christmas spirit itself has become degraded from a highly theologized matter into mere festivities. From what I have observed, here in Australia only a minority of people reflect back to the birth of Jesus on Christmas. The Australian Government is often said inherently Christian. However, Christianity is nothing more than just a title. In fact, it is now commonly held among folks that Australia has transitioned into a post-Christian country – an era where Christianity is already left as a history.

Bourke Street

NAFIRI DESEMBER 2013

NAFIRI DES 13 FINAL.indd 131

131

12/15/13 12:03 AM


Mere ”entertainment” Christmas in Australia has fallen into a trap we could call “culture”. For example, Melbourne’s Carols by Candlelight is an event where thousands of Melburnians gather in an open space to sing along the famous carols. We see here, how Christmas has become – if I may quote from the event’s website – a mere “entertainment” which surely would “delight” people. Last year, my friends and I attended a public Christmas carol in an outer suburb of Melbourne’s CBD. The event was in the park with a big stage to host various performances. It was a family event, indeed; it was hard to spot another young adults other than us. Another thing I noticed

from the carols were the songs that were brought, which suggest less Christian messages. My thoughts came upon two things afterwards: first, Christmas is often a familybound event. And second, the real message of Christmas – the birth of Jesus Christ to redeem sinful humans –has often been overlooked. This has caused Christmas to be distinguished into two sides, the birth of Jesus as the “Christian” aspect and the “festivity” aspect. The festivity aspect leads us to the irony of getting into Christmas spirit by revelling oneself in bottles of spirits. Bars and clubs are inundated by endless flocks of revellers. There’s nothing new with clubs swarmed by mass of local people;

Carols by Candlelight 132

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Melbourne Town Hall

what is more surprising is finding out that Indonesians have significantly contributed to the incomes of this growing business, even those who are Christians. I always feel I’ve been living in a safe bubble throughout my entire life that hasn’t been exposed to this trend. I thank God as I humbly admit that I’ve been raised according to His Words since I was small, and have been living in communities that nurture God-like behaviours. However, an excessive pride has consumed me because I know God has saved me. I have become judgmental towards people; I judge them based on their sins. Even Christians are not immune from sin. I, myself, couldn’t escape easily from peer pressure as well. Sometimes it is inevitable that I have to compromise the Christian values that I’ve inherently believed. This isn’t only a problem in Western countries, but in Indonesia too. Santa Claus, Rudolph the reindeer, Christmas tree, and mistletoe have gained more popularity than Jesus in our country. Christmas is a culture and tradition people want to preserve, but has lost its core meaning. This is no different with those who entertain themselves with gleaming orange peels but throwing away its nutritional flesh. In contrast with the festivities today, two thousand years ago, Mary and Joseph had trouble finding a place to deliver Jesus. Even now, Jesus still knocks our very hearts to receive Him while the world turns away from Him. Why don’t we set our hearts right first before trifling with Christmas festivities? Let us welcome the coming of our humble King and be merry for his wonderful deeds! *) The author studies in Faculty of Arts, majoring in Journalism at Monash University, Victoria, Australia

NAFIRI DESEMBER 2013

NAFIRI DES 13 FINAL.indd 133

133

12/15/13 12:03 AM


EVENT NOTES

Ibadah Syukur Mempersembahkan Gereja GKY Gading Serpong

/ Marcella Theodora Halim

Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersoraksorai dan bersukacita karenanya! (Mazmur 118:24)

D

a n hari itu pun tiba! Hari Minggu 10 November 2013 yang dinantinantikan jemaat GKY Gading Serpong, dimana gedung gereja GKY Gading Serpong dipersembahkan kepada Kristus Sang Kepala Gereja. Mengangkat tema ‘For God and God Alone’, hanya kepada Dia dan bagi Dialah gereja ini dipersembahkan, untuk kelak dijadikan-Nya sebagai bait tempat Allah sendiri dimuliakan. Acara tepat dimulai pukul 17.00. Prosesi diawali dengan pujian syukur, pembacaan Alkitab, doa syukur, dan 134

diresmikan dengan pengguntingan pita oleh Pdt. Bambang S.N. selaku SekUm Sinode GKY, Pdt. Joni Sugicahyono selaku Gembala GKY BSD, serta Bpk. Handi selaku Ketua Majelis GKY BSD. Setelah itu prosesi dilanjutkan dengan pembukaan pintu gereja oleh Gembala GKY Gading Serpong G.I. Martin Ghazali dan Bpk. Danny Halim selaku Ketua Panitia Pembangunan. Peserta prosesi disambut oleh jemaat yang tengah berdiri, dilatari alunan prelude dari KPPK 14 “Sungguh Besar Kau Allahku”. Suasana begitu khidmat mengingatkan anugerah Tuhan Yesus Kristus yang tak terukur bagi gereja dan jemaat-Nya. Pukul enam kurang lima belas, Pdt. Joni Sugicahyono menyampaikan Firman Tuhan. Beliau mengutip dua buah pasal dari Lukas 17 ayat 7 – 10 dan Roma 11 ayat 36. Disampaikan dalam khotbahnya bahwa kendala terbesar dalam melayani dan mengikut Tuhan adalah diri sendiri. Seringkali kita sebagai manusia lalai dalam menyangkal diri. Pada sebuah pelayanan, hendaknya kita

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Pengguntingan pita tanda dipersembahkannya gereja GKY GS kepada Tuhan

jangan tinggi hati atas kemampuan kita atau keberadaan kita sehingga suatu pekerjaan Tuhan dapat berhasil. Kita bukanlah siapa-siapa. Hanya kepada Dia dan milik Dialah segala kemuliaan. Acara dilanjutkan dengan persembahan pujian oleh Liv Theos, diikuti dengan pemutaran video sejarah awal diadakannya ibadah gereja GKY Gading Serpong di ruko Financial Gading Serpong yang sempat disewa selama dua tahun empat bulan. Melalui perjalanan panjang yang berliku akhirnya GKY Gading Serpong genap memiliki tempat ibadah tetap di ruko Agricola. Pada acara ini Sekum Sinode GKY yaitu Pdt. Bambang S.N. memberikan kata sambutan yang menyatakan bahwa beliau bersyukur jemaat telah memiliki sebuah tempat ibadah yang tetap mengingat bukan hal mudah untuk mendapatkan izin pembangunan gereja. Selanjutnya kata sambutan juga disampaikan oleh Bpk. Handi Widjaja. Beliau mengingatkan para jemaat untuk senantiasa bahu-membahu di dalam membangun rumah Tuhan. Terakhir,

Gembala GKY Gading Serpong GI. Martin Ghazali memimpin doa dimulainya prosesi

Bpk. Danny Halim membawakan sebuah kesaksian dan sambutan mengenai liku-liku sepanjang masa-masa pembangungan gereja dilaksanakan sampai akhirnya dapat diselesaikan dan menjadi tempat ibadah tetap bagi jemaat GKY Gading Serpong. Acara terakhir sebelum warta penggembalaan, doa syafaat, doxology dan doa berkat, adalah pemberian apresiasi oleh G.I. Martin Ghazali kepada seluruh jemaat yang telah berpartisipasi dan pemberian plakat kepada seluruh panitia pembangunan gereja GKY Gading Serpong. For GOD and GOD Alone! Hanya bagi Kristus sang Kepala Gerejalah semua ini kami persembahkan! Haleluya! NAFIRI DESEMBER 2013

NAFIRI DES 13 FINAL.indd 135

135

12/15/13 12:03 AM


• KE •

/ Nico Tanles Tjhin

ita anak muda pasti sudah tidak asing lagi mendengar kata “organisasi”. Kata tersebut familiar buat kita karena organisasi ada di mana-mana. Di pemerintahan, perumahan, perusahaan, restoran, pusat perbelanjaan, rumah sakit, Gereja, sekolah, keluarga, dan bahkan di kalangan preman-preman jalanan pun terdapat organisasi. Tapi apakah kita udah tau arti dari kata “organisasi” sebenarnya? Hewan macam apakah “organisasi” itu? Ada berbagai macam definisi dari kata “organisasi”. Namun sederhananya, organisasi adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang tersusun dalam sebuah struktur hirarki dan mereka bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam artikel ini, organisasi yang dimaksud adalah organisasi yang sifatnya formal 136

dan terbuka untuk kalangan muda baik di dalam institusi pendidikan maupun di luar. Apabila memperhatikan sekeliling kita, ada begitu banyak kesempatan untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan organisasi formal. Di sekolah kita pasti ada yang namanya pengurus OSIS, pengurus kelas, pengurus PMR, pengurus Pramuka, dll. Kalau di kampus ada yang namanya Badan Eksekutif Mahasiswa, Majelis Perwakilan Mahasiswa, Himpunan Mahasiswa Jurusan, dan organisasi kemahasiswaan lainnya. Begitu juga di Gereja, kita mempunyai kesempatan untuk bergabung menjadi pengurus Komisi Remaja atau Pemuda. Juga, sekarang sudah makin banyak organisasi yang berada di luar institusi pendidikan atau Gereja, seperti organisasi komunitas go green misalnya.

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Dari sekian banyak kesempatan, apakah kita sudah mengambil peran dalam menjadi organisator? Mungkin sebagian dari anak-anak muda menganggap bahwa ikut kegiatan organisasi hanya membuang waktu, tenaga, dan pikiran. Mereka enggan mengambil risiko. Atau mungkin beberapa orang tua melarang anaknya untuk berorganisasi karena menurut mereka hasilnya nihil. Padahal ketika berbicara organisasi, kita berbicara sesuatu yang sifatnya jangka panjang. Berikut adalah manfaat jangka panjang yang bisa didapatkan dari pengalaman berorganisasi:

Mengembangkan jiwa kepemimpinan. / Di dalam organisasi, kita akan belajar memimpin diri sendiri dan orang lain. Kepemimpinan sama seperti berenang, kita tidak akan bisa berenang hanya dengan membaca buku tentang teori cara berenang. Kepemimpinan harus dilakukan dan dilatih. Jangan ragu menjadikan organisasi sebagai ladang untuk memanen keahlian mempimpin. Mengasah kemampuan time management. / Seseorang yang awalnya tidak mampu mengatur waktu dengan baik, ia mau tidak mau harus mengatur waktu yang ada ketika mulai berorganisasi. Mungkin pada awalnya akan mengalami kesusahan karena harus beradaptasi dengan rutinitas baru (lebih sibuk), tapi lama kelamaan dunia organisasi akan membentuk kebiasaan mengatur waktu dengan lebih baik. Menjadi orang yang lebih bertanggung jawab. / Pada saat mengambil komitmen untuk berorganisasi, secara otomatis kita akan memegang tanggung jawab lebih. Kita akan berusaha menyelesaikan tugas-tugas tersebut sampai selesai karena di dalam organisasi terdapat sistem reward and punishment. Berani dan mampu berkomunikasi dengan baik. / Kita akan belajar bagaimana menggunakan bahasa yang efektif dan efisien. Berbagai macam bentuk komunikasi akan kita temukan dalam organisasi. Beda media beda bahasa. Contoh: bahasa pada saat rapat berbeda dengan bahasa pada saat menyampaikan pidato, bahasa di telephone berbeda dengan bahasa tatap NAFIRI DESEMBER 2013

NAFIRI DES 13 FINAL.indd 137

137

12/15/13 12:03 AM


muka langsung, bahasa membuat surat perjanjian berbeda dengan bahasa email atau SMS. Memperluas network. / Dengan mengikuti organisasi kita akan berkenalan dan berteman dengan orang-orang baru. Networking merupakan salah satu faktor terbesar dalam menentukan kesuksesan kita di masa depan. Apabila kita bergaul dengan orang-orang yang sukses, kita akan cenderung terpacu untuk menjadi sukses juga. Mempertajam kemampuan mengambil keputusan dan berpikir kritis. / Akan banyak masalah-masalah yang muncul dalam organisasi. Seringkali masalah yang muncul sifatnya kompleks. Semakin sering kita menghadapi masalah, semakin terbiasa pula kita mengambil keputusan taktis untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Semakin lama kita akan semakin mampu berpikir kritis terhadap sebuah permasalahan dan menilainya secara objektif. Menambah percaya diri dalam memasuki dunia kerja. / Setelah menyelesaikan studi dan masuk ke dalam dunia kerja, akan terlihat perbedaan antara orang-orang yang pada saat sekolah atau kuliah aktif di dalam organisasi dengan orang-orang yang tidak pernah ikut organisasi. Organisator akan lebih percaya diri karena sudah pernah menjalani hal serupa sebelumnya. Organisasi di dunia pendidikan bisa diumpamakan dengan simulasi dunia kerja.

Hidup adalah pilihan bukan? Pada saat kuliah, kita juga yang menentukan pilihan atas hidup kita. Kita bisa memilih buat jadi anak “kupu-kupu� alias kuliah-pulang-kuliah-pulang atau bisa juga jadi anak “kura-kura� alias kuliah-rapat-kuliah-rapat. Jika setiap habis kelas kita memilih untuk langsung pulang, kita bisa hang out dengan teman-teman lainnya. Atau 138

kita masih bisa bersantai-santai di rumah melepas kepenatan dunia kampus. Tetapi konsekuensinya kalian akan melewati empat tahun masa kuliah dengan gitu-gitu aja, nothing really special and meaningful. Di sisi lain, jika kita memilih untuk menambah aktivitas organisasi setelah selesai kelas, mungkin kita akan lebih capek dan pulang lebih

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Pilihlah organisasi yang tepat untuk berkembang dan memberikan dampak positif bagi sekitar.

larut dari yang lain. Namun perlu diingat bahwa semua manfaat dari pengalaman berorganisasi yang sudah dijabarkan di atas adalah berharga. Kita tidak akan merasakan pengorbanan ekstra yang kita berikan selama empat tahun menjadi sia-sia. Lagipula, dengan time management yang baik, kita tetap bisa meluangkan waktu untuk bersantai dan jalan-jalan dengan keluarga maupun teman. Ketika mengikuti organisasi, kita harus berhati-hati agar tidak salah motivasi. Banyak yang mempunyai motivasi untuk mendapatkan popularitas dan eksistensi. Bahkan ada juga yang berniat mendapatkan profit pribadi dari surplus keuangan acara yang organisasi selenggarakan. Apabila kita memiliki motivasi yang salah, dipastikan kita tidak akan mempunyai ketahanan atau komitmen yang kuat dalam menjalani organisasi. Ketika menghadapi masalah-masalah, motivasi yang salah akan cenderung membuat kita mengambil keputusan yang salah pula. Pastikan ketika kita

masuk ke sebuah organisasi, motivasi yang ada pada kita adalah murni untuk kebaikan. Organisasi yang baik adalah organisasi yang berfungsi sebagai wadah untuk memberikan perubahan positif bagi sekitarnya. Di dalam organisasi kita seharusnya dibentuk menjadi pribadi yang berkembang dan berkembang, bukan mengalami kemunduran. Organisasi yang sehat terdiri dari anggota-anggota yang bekerja bukan untuk kepentingan pribadi melainkan kepentingan bersama. Pilihlah organisasi yang tepat untuk berkembang dan memberikan dampak positif bagi sekitar. Setelah membaca artikel ini, diharapkan kita mempunyai pandangan lebih luas terhadap organisasi. Terlibat di dalam organisasi pada saat menjadi murid atau mahasiswa/i memang tidak wajib. Tetapi apabila kita sudah aktif di organisasi sejak dini, peluang kita untuk meraih kesuksesan di dunia kerja akan lebih besar. Persiapkan masa mudamu dengan sebaikbaiknya, buang rasa malas, hilangkan rasa takut, dan nyemplung ke organisasi dari sekarang!

NAFIRI DESEMBER 2013

NAFIRI DES 13 FINAL.indd 139

139

12/15/13 12:03 AM


REKO

MENDA

BUKU

u ku ini mengajak kita untuk hidup lebih bermakna dengan ikut berperan memperluas kerajaan Allah, menjadi apa yang disebut: “Seorang kalangan dalam�. Penulis menyatakan bahwa seharusnya kita memahami panggilan untuk dapat turut serta dalam apa yang masih Allah kerjakan sampai sekarang yaitu mengumpulkan orang-orang yang akan menjadi warga kerajaan-Nya. Panggilan ini seharusnya dapat dijalankan dalam jaringan relasi kita, dimana kita duduk sebagai kalangan dalam. 140

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Tetap berbaur dan berjalan bersama masyarakat umum tanpa mereka tahu bahwa kita adalah warga kerajaanNya adalah gagasan keseluruhan dari buku ini (Fil 2:15). Penulis menguraikan 4 rintangan yang biasa kita semua hadapi. Rintangan pertama tentang rasa takut. Takut ketika kita mengkomunikasikan iman kita, lalu ada penolakan sosial. Ketakutan merupakan sesuatu yang wajar, bahkan rasul Paulus di suratnya pada orang percaya di Korintus menyatakan,”… Aku juga datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar…” Paulus meminta saudara-saudaranya untuk bergabung mengatasi ketakutan itu dengan doa. Rintangan kedua yaitu pertanyaan tentang perilaku orang percaya. Bagaimana jika kita diminta untuk melakukan sesuatu yang menurut kita salah? Alkitab membagi dengan perilaku yang selalu salah yaitu perbuatan daging (Gal 5:19-21), perilaku yang selalu benar yaitu buahbuah roh (Gal 5:22-23). Rintangan ketiga adalah menemukan waktu dalam kehidupan yang tak punya waktu. Inilah sebagian besar dari kita, sepenuhnya terserap oleh kesibukan namun semakin terisolasi di dalam kehidupan kita. Rintangan

keempat yaitu berhubungan dengan ketidakcakapan pribadi kita. Kita sering tergoda untuk berpikir bahwa kita perlu sedikit lagi waktu sampai kita “cukup baik” untuk manjadi kalangan dalam. Sesungguhnya hal itu tidak pernah tiba. Tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa seseorang tidak layak menjadi kalangan dalam bagi orang lain. Setelah mengetahui rintanganrintangan diatas, penulis menjelaskan lebih lanjut tujuh pola hidup yang seharusnya menjadi bagian dari gaya hidup seorang kalangan dalam. Pola hidup pertama: mengambil prakarsa-prakarsa kecil. Sebagai warga kerajaan Allah kita dipanggil untuk melakukan hal-hal kecil yang berbeda dari orang lain, menyapa dengan kasih, mengampuni, berdamai, memperhatikan dan siap membantu orang sekitarnya. Pola hidup kedua: berdoa dan memberi tanggapan. Pada waktu kita mendoakan seseorang dan punya kesempatan untuk memberikan gambaran tentang Kristus, kita mungkin tidak dapat menyentuh hati mereka karena itu bagian yang dikerjakan oleh Allah pada waktu-Nya. Pola hidup selanjutnya, yang ketiga: melayani orang lain. Menjamu makan dan menyediakan makan merupakan salah satu contoh NAFIRI DESEMBER 2013

NAFIRI DES 13 FINAL.indd 141

141

12/15/13 12:03 AM


“ melayani yang paling umum. Pola hidup keempat: mempercakapkan iman. Tidak semua orang dilahirkan dengan kemampuan komunikasi yang baik, namun kabar baiknya adalah keahlian ini dapat dikembangkan. Pada saat yang tepat, kita dapat mulai mengajak beberapa teman yang belum percaya untuk ikut datang di pertemuan kelompok percaya. Pola hidup kelima: bermitra. Dalam bermitra dengan anggota keluarga atau teman yang punya kerinduan sama tersedia dukungan dan dorongan untuk memenangkan orang yang belum percaya. Pola hidup keenam: membiarkan Kitab 142

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Suci berbicara. Dalam satu kelompok yang berisi orang-orang yang belum percaya, tujuan kita adalah memberi kesempatan pada mereka untuk melihat apa yang dikatakan Alkitab tentang kehidupan dan maknanya. Pola hidup ketujuh: membidani kelahiran baru. Tugas kita sebagai kalangan dalam adalah untuk menaburkan benih sementara Roh Kudus menghancurkan tanah yang keras, menyingkirkan batu-batu dan menyiangi rumput-rumput liar. Dan sementara kita terus bekerja, akan tiba saatnya bagi kelahiran baru. Orang-orang yang tadinya tidak percaya namun dimenangkan sebagai warga kerajaan Allah. Akhirnya, penulis menyimpulkan hidup sebagai kalangan dalam bukanlah berarti menambah satu kegiatan lagi dalam hidup kita yang sudah begitu padat, tapi lebih kepada menjalani kehidupan kita dari sudut pandang perintah Tuhan yaitu mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati kita, jiwa kita dan akal budi kita, dan mengasihi sesama seperti diri kita sendiri. Hidup kita tidak lagi sama ketika kita sudah memutuskan untuk bermitra dengan Allah sebagai seorang kalangan dalam, dimulai dari rumah, dengan pasangan (Ef 5:22 dan Ef 5:25) dan anak-anak kita (Ul 6:7). Allah bermaksud menaburkan kita di atas “tanah� yaitu orangorang yang meratap, berduka, dan putus asa, untuk menghasilkan buah penghiburan, pujian, dan kekuatan. Kerajaan Allah tumbuh diantara kita, memperkuat jalannya dari kehidupan ke kehidupan, dari generasi ke generasi. Dari yang semula kecil, lemah, pada akhirnya menjadi sesuatu yang sangat kuat. Dimulai dari seorang kalangan dalam

NAFIRI DESEMBER 2013

NAFIRI DES 13 FINAL.indd 143

143

12/15/13 12:03 AM


REKO

M

USIK SOJOURN MUSIC

144

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


TRACK LIST 1. Hark the Heral Angels Sing • 05:14 2. O Glorious Hour • 04:08 3. A Voice is Sounding • 05:13 4. Go Tell It on the Mountain • 03:01 5. Joy Joy • 04:59 6. O Come, O Come, Emmanuel • 04:27 7. Knocking at Your Door • 05:30 8. This is The Christ • 04:44 9. Silent Night • 03:59

ojourn journ Music yang adalah bagian dari Sojourn Community Church di Louisville, Kentucky memang kurang dikenal di dunia musik mainstream rohani. Meski demikian, Sojourn ialah grup musik berbakat dengan berbagai latar belakang aliran; mulai dari pop, jazz, country, bahkan rock. Mereka memiliki pemain bass, perkusi dan gitaris yang begitu terampil. Penggabungan ketiga instrumen tersebut seringkali mendominasi hampir semua judul lagu-lagu mereka. Kombinasi talentatalenta para personil tersebutlah yang membuat Sojourn dapat menghasilkan musik rohani yang terdengar begitu istimewa karena kaya akan aransemen. A Child is Born ialah debut album Natal Sojourn yang terdiri dari lagu-lagu Natal klasik dan juga musik original mereka. Alunan nada familiar dari “Hark the Herald Angels Sing”, “Go Tell It on the Mountain”, “O Come, O Come, Emmanuel”, yang dimainkan

dengan menonjolkan dentuman bass dan gebukan drum langsung dengan mudah dapat disukai oleh penikmat musik manapun. Didukung dengan suara berkarakter dari vokalis, lagu seperti “A Voice is Sounding” juga merupakan salah satu track kuat yang mendukung kualitas album Sojourn secara keseluruhan. A Child is Born kemudian ditutup manis dengan rendisi lagu Natal klasik “Silent Night”. Secara keseluruhan, Sojourn menunjukan talenta musik mereka yang dengan unik dan berani mereka gunakan untuk memuliakan Tuhan. Dan Natal kali ini rasanya bisa semakin dimeriahkan oleh nyanyinyanyian dari album A Child is Born. Sayangnya, CD maupun kaset A Child is Born memang sulit didapatkan secara fisik. Namun versi digital album ini tersedia untuk di download di website mereka di http:// sojournmusic.bandcamp.com/ dengan harga $9USD; atau di iTunes Indonesia seharga Rp. 45.000 saja NAFIRI DESEMBER 2013

145


SI DA

R

M EKO EN

SUTRADARA: Martin Scorsese GENRE: Drama Biopik STUDIO: Paramount Pictures PEMAIN: Leonardo DiCaprio, Jonah Hill, Matthew McConaughey, Kyle Chandler, Jean Dujardin, Jon Bernthal www.TheWolfofWallStreet.com

D

/ Humprey

i tengah hiruk pikuknya suasana Natal, terutama di belahan bumi sebelah barat sana, akhirnya film The Wolf of Wall Street dijadwalkan untuk ditayangkan pada tanggal 25 Desember 2013. Apa yang menarik dari film ini, selain karena film ini disutradarai oleh sutradara peraih Oscar, Martin Scorsese? Ternyata yang tentunya tidak kalah menarik, pemeran utamanya adalah Leonardo DiCaprio yang tentunya sudah kita kenal dan percayai aktingnya lewat film-filmnya seperti Titanic, Gangs Of New York, Shutter Island, The Aviator, The Departed, dan segudang film yang pernah dibintanginya. Cerita film ini sendiri dibuat berdasarkan kisah nyata yang diambil dari buku yang ditulis sendiri oleh

146

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Martin Scorsese

Jordan Belfort, dan naskahnya ditulis ulang oleh Terence Winter. Film ini mengisahkan tentang Jordan Belfort (DiCaprio), seorang pialang saham di Wall Street yang juga merupakan mantan penjahat kerah putih, dimana sebagai seorang pialang saham Long Island, di tahun 1990-an ia harus dipenjara 20 bulan karena menolak bekerja sama dalam sekuritas kasus penipuan besarbesaran yang melibatkan korupsi di Wall Street dan di dunia korporasi perbankan. Selain itu film ini juga bakal menceritakan tentang kehidupan Belfort yang disibukkan oleh rutinitas pialang saham, kegemarannya berpesta, dan kecanduannya terhadap alkohol dan narkoba.

Di tengah kehidupan kita di dunia ini sebagai anak Tuhan, mampukah kita sebagai Jordan Belfort bertahan dan menolak bekerjasama dalam kejahatan yang mungkin menggoda iman kita sehari-hari? Wakil Gubernur DKI, Bapak Basuki Tjahaya Purnama mungkin salah satu contoh nyatanya, dimana sebagai anak Tuhan beliau tetap bertahan akan serangan lawan-lawan politik yang berusaha menjatuhkannya. Memang saat menonton film ini, bimbingan orang tua mutlak diperlukan, karena budaya film Barat yang kurang sesuai dengan budaya Indonesia, namun tetap saja film ini direkomendasikan untuk mengingatkan dan menjadi inspirasi kita sekalian untuk selalu memegang teguh integritas kita sebagai anak Tuhan dimanapun kita berada. Selamat menyaksikan dan selamat Natal 2013 NAFIRI DESEMBER 2013

NAFIRI DES 13 FINAL.indd 147

147

12/15/13 12:03 AM


C

DLE LI

AN

GHT

Jadi, setelah Natal berlalu apakah Natal yang sibuk yang akan kita ingat? Atau kegembiraan menikmati nuansa Natal hanya secara fisik? Wah, kalau begini, Tuhan Yesus akan sedih sekali melihat kita. Yesus datang ke dunia ini bukan untuk diabaikan oleh kita yang sibuk. Dia tidak lahir dalam palungan yang indah seperti yang terpajang di mal, apalagi ditemani kado-kado Natal warna-warni yang indah. Makna Natal jauh lebih indah dari itu. Tuhan Yesus datang untuk kita, untuk ikut merasakan penderitaan yang kita alami, memulihkan jiwa kita, menjadi jalan pendamai kita dengan Allah. Coba lihat Pak Jokowi Gubernur DKI Jakarta, seorang pemimpin yang merakyat. Dia adalah pemimpin tetapi dia mau terjun langsung ke tengah-tengah rakyatnya dan merasakan apa yang dirasakan rakyatnya, lalu mencoba mencari solusi untuk masyarakat. Oleh karena itu, rakyat kecil sangat menyukai dia karena kerendahan hatinya. Kita sebagai umat Allah seharusnya lebih berbahagia karena memiliki Allah yang mau turun ke dunia demi kita. Bukan demi diri-Nya lho, tapi demi kita! Wooww.. Sungguh hebat dan besar Allah kita bukan? Jadi, coba kita renungkan kembali, apa makna Natal bagi Sebulan sebelum kita? Semoga Natal tidak Natal = sibuk sibuk sibuk! berlalu begitu saja karena Hampir tiap minggu ada latihan dan kesibukan kita persiapan untuk acara Natal. Saking

O

148

liv

li ia Rus

sibuknya sampai-sampai kerjaan saya cuma bolak-balik dari rumah ke gereja. Sebulan sebelum Natal = senaaang... Senang karena ada banyak dekorasi Natal di jalan-jalan, di mal, bahkan pelayan restoran mengenakan kostum lucu bernuansa Natal, dan lagu-lagu Natal yang indah selalu diputar di berbagai tempat.

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


Ja s o n R

W

nl es

Tjhin

Natal adalah hari di mana kita memperingati dan merayakan kelahiran Kristus ke dalam dunia, hari yang membawa sukacita ke dalam in dunia bagi tiap orang percaya. Setiap ner Ta tahun kita merayakan Natal bersama di gereja dan kita menikmati setiap rangkaian acara yang telah disusun sedemikian rupa sehingga menciptakan suasana yang damai di dalam hati. Beberapa tahun terakhir saya diberikan kesempatan untuk ambil bagian dalam pelayanan perayaan Natal di GKY BSD, bermain drama, bernyanyi di paduan suara, dan menyambut jemaat gereja sebagai usher. Dari tiap kesempatan itu saya rasakan sukacita di balik keletihan yang saya alami saat kuliah. God brings joy to every man’s heart. Menurut saya, menutup tiap tahun dengan sebuah Natal.. perayaan Natal itu berkat Itu hari yang bakal sibuk banget. banget dari 3-4 bulan sebelum hari H (kadang bisa lebih lama). Setelah itu, tentu ada harapan bisa dapat hadiah Natal dari apa yang naldi udah kita lakukan. setelah kesibukan itu lewat, maka y e saya akan terkapar dan menunggu tahun baru untuk refreshing. Natal 10 tahun terakhir kebanyakan selalu begini. Kadang saking sibuknya, sampai lupa siapa yang ulang tahun. Yang ulang tahun itu Tuhan Yesus yang 2000 tahun lalu merendahkan diri jadi manusia lho! Dia yang ulang tahun, tentu yang punya acara Dia juga. Ini bukan acara milik Hamba Tuhan, gereja, panitia, dan jemaat, tapi acaranya Tuhan. Jadi karena Ini acara milik Tuhan Yesus, sudah seharusnya kita fokus sama Dia. Bahkan, karena dia yang ulang tahun, kita yang harusnya kasih hadiah. Sangat ga tahu diri kalo kita masih ngarep dapet hadiah. Emang siapa yang ulang tahun? 149


H H H

!

Redaksi NAFIRI menyambut sumbangan humor untuk rubrik Nafiri HAHAHA! Silakan mengirimkan tulisan ke email: naf iri@gky b sd .org 150

MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA


MENGHIDUPI DAMAI DI DUNIA YANG MENDERITA  

Buletin Nafiri Desember 2013 - Media Informasi, Komunikasi dan Edukasi Gereja Kristus Yesus Jemaat Bumi Serpong Damai (GKY BSD) - Indonesia

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you