Page 1

REAKSI PASAR MODAL INDONESIA TERHADAP PERISTIWA NON EKONOMI (STUDI KASUS PERISTIWA BOM KUNINGAN 9 SEPTEMBER 2004) Sandi Herigita K Universitas Jember ABSTRAKSI Penelitian ini bertujuan untuk mengamati reaksi harga saham ketika terjadi peristiwa non ekonomi ledakan bom di kawasan Kuningan Jakarta (Event Study). Penelitian ini bertujuan untuk mengamati apakah ada abnormal return yang signifikan pada periode event. Selain itu juga untuk melihat variasi keuntungan yang diperoleh dan perubahan aktivitas perdagangan pasar sebelum dan sesudah event. Hipotesis yang digunakan adalah perbandingan variabel-variabel abnormal return, trading volume activity dan security return variability antara sebelum dan sesudah event. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan 100 hari waktu estimasi dan 21 hari periode pengamatan. Saham yang dijadikan sampel dipilih 36 saham sesuai kriteria yang ditentukan. Data yang digunakan adalah data sekunder dari Internet, Media Massa, ICMD, BI, Pojok BEJ dan data lain yang mendukung. Jenis data yang digunakan yaitu Closing Price, ILQ 45, Suku Bunga Deposito dan jumlah saham yang diperdagangkan. Hasil penelitian adalah terjadi abnormal return yang signifikan pada beberapa hari bursa sebelum dan setelah event, yaitu pada hari (-6), (-2), (+2) dan (+8). Namun demikian pengaruhnya relatif kecil karena kejadian tersebut dirasa sudah menjadi hal yang biasa bagi investor akibat seringnya peristiwa serupa yang telah mendahuluinya. Uji beda dua rata-rata yang dilakukan pada abnormal return, Variabilitas return saham dan aktivitas volume perdagangan menunjukkan hasil yang tidak signifikan. Artinya tidak terdapat perbedaan secara statistik pada ketiga variabel tersebut antara sebelum peristiwa bom dan sesudahnya. Kesimpulannya bahwa tidak terjadi perubahan yang signifikan pada variabel yang diteliti pada periode event. Jadi dapat dikatakan bahwa, peristiwa bom Kuningan tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perubahan harga dan kegiatan di Pasar Modal Indonesia. Kata Kunci : Abnormal Return, Security Return Variability, Trading Volume Activity. Bom Kuningan. I.

PENDAHULUAN

Pasar modal sebagai suatu instrumen ekonomi, tidak lepas dari berbagai pengaruh lingkungan. Pengaruh lingkungan ekonomi mikro seperti kinerja perusahaan, perubahan strategi perusahaan (misalnya kebijakan merger maupun divestasi), pengumuman laporan keuangan atau deviden perusahaan, selalu mendapat tanggapan dari para pelaku pasar di pasar modal. Selain itu, perubahan lingkungan ekonomi makro yang terjadi, seperti perubahan suku bunga tabungan dan deposito, kurs valuta asing, inflasi, serta berbagai regulasi dan deregulasi ekonomi yang dikeluarkan pemerintah turut berpengaruh pada fluktuasi harga dan volume perdagangan di pasar modal. Selama dua tahun terakhir, risiko politik dan ekonomi di Indonesia menjadi sangat tinggi dan selalu silih berganti atau bahkan datang pada momen yang sama (Kompas.com). Investor meyakini bahwa kondisi politik di Indonesia saat ini menjadi cermin utama akan proses


pemulihan ekonomi secara nasional. Bahkan menurutnya, kondisi politik dianggap lebih dominan dalam mempengaruhi perubahan-perubahan positif dan negatif di pasar modal maupun pasar uang daripada indikator makro ekonomi. Berbagai isu seperti kepedulian terhadap lingkungan hidup, Hak Asasi Manusia, serta peristiwa-peristiwa politik kerap kali menjadi faktor utama pemicu fluktuasi harga saham di bursa efek seluruh dunia. Bahkan tidak jarang faktor-faktor politis berpengaruh langsung terhadap fluktuasi harga saham. Hal ini disebabkan karena peristiwa politik sangat erat kaitannya dengan stabilitas ekonomi suatu negara dan merupakan resiko politik (political risk) yang akan dihadapi oleh investor dalam melakukan investasinya, sehingga peristiwa-peristiwa yang berskala internasional seperti pemilihan presiden, pemilihan umum, pertikaian, terorisme dan lain-lain cenderung mendapat respon dari pelaku pasar (Marwan, 1998). Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas, maka permasalahan utama dalam penelitian ini adalah : 1. Apakah peristiwa bom Kuningan tersebut menghasilkan abnormal return yang signifikan bagi investor? 2. Apakah rata-rata abnormal return sebelum peristiwa berbeda dengan rata-rata abnormal return sesudah peristiwa? 3. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan pada variabilitas return saham sebelum dan sesudah peristiwa? 4. Apakah ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata aktivitas/ volume perdagangan sebelum dan sesudah peristiwa? II.

TINJAUAN PUSTAKA

Event Study dikembangkan untuk menganalisis reaksi pasar terhadap suatu peristiwa yang informasinya dipublikasikan. Peristiwa tersebut meliputi peristiwa ekonomi maupun peristiwa non ekonomi untuk mengetahui ada tidaknya abnormal return yang diperoleh pemegang saham. Selain itu event study juga dapat digunakan untuk menguji kandungan informasi dari suatu peristiwa atau pengumuman. Jika suatu peristiwa atau pengumuman mengandung informasi maka diharapkan pasar akan bereaksi pada waktu pengumuman diterima oleh pasar. Reaksi pasar ditunjukkan dengan adanya perubahan harga sekuritas, biasanya diukur dengan menggunakan konsep abnormal return. Pengujian ini melibatkan kecepatan reaksi dari pasar dalam menyerap informasi yang dipublikasikan. (Treisye, 2002: 274) Beberapa penelitian yang mengamati pergerakan harga saham di BEJ dikaitkan dengan peristiwa politik dilakukan oleh Ahmad Syafei (2002) mengenai reaksi pasar modal Indonesia terhadap hancurnya gedung WTC di NewYork (peristiwa 11 September 2001). Hasilnya menunjukkan bahwa terjadi korelasi antara peristiwa tersebut dengan aktivitas pasar modal Indonesia. Hal ini dapat diketahui dari adanya perbedaan rata-rata abnormal return dan volume perdagangan sebelum dan sesudah peristiwa. Study serupa lainnya juga dilakukan oleh Treisye (2002) yang meneliti dampak pergantian presiden 23 Juli 2001 terhadap pasar modal. Hasil yang didapat menunjukan reaksi dari pasar modal atas peristiwa diluar kegiatan ekonomi yang memiliki skala nasional tersebut karena dipandang sebagai good news. Hal ini dapat terlihat dari signifikansi hasil yang diperoleh pada 3 hari bursa yaitu pada hari (-7), (-2) dan (+2). Penelitian tersebut mengindikasikan bahwa BEJ semakin sensitif terhadap munculnya berbagai informasi yang relevan, termasuk peristiwa politik. Berdasarkan permasalahan dan tujuan dari penelitian ini, maka dikembangkan hipotesis alternatif sebagai berikut : Ha1 : Peristiwa bom Kuningan menghasilkan abnormal return yang signifikan bagi investor. Ha2 : Rata-rata abnormal return sebelum peristiwa berbeda dengan rata-rata abnormal return sesudah peristiwa.


Ha3 : Terdapat perbedaan yang signifikan antara variabilitas return saham sebelum dan sesudah peristiwa. Ha4 : Terdapat perbedaan yang signifikan pada rata-rata aktivitas/ volume perdagangan sebelum dan sesudah peristiwa.

III. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan adalah event study dengan pendekatan pada sisi abnormal return, variabilitas return dan volume perdagangan saham. Penelitian ini merupakan studi yang mempelajari reaksi pasar modal dengan mengamati pergerakan harga saham untuk mengetahui apakah ada abnormal return yang diperoleh pemegang saham akibat dari suatu peristiwa tertentu dan apakah terjadi perubahan variabilitas return saham dan volume perdagangan akibat peristiwa tersebut. Populasi dalam penelitian ini adalah saham-saham yang listed di Bursa Efek Jakarta. Saham-saham yang dijadikan sampel dalam penelitian adalah saham-saham yang membentuk Indeks LQ45. Metode penentuan sampel yang digunakan adalah metode purposive sampling dengan kriteria sebagai berikut : 1. Terus menerus tercantum dalam daftar Indeks LQ45 pada rentang waktu periode pengamatan (tidak keluar dari Indeks) 2. Saham memiliki nilai beta positif dan lebih dari 0,5. 3. Selain itu saham-saham yang dijadikan sampel adalah saham-saham yang mempunyai data cukup untuk keperluan analisis data. Rentangan waktu yang digunakan dibagi menjadi dua periode yaitu : periode estimasi 100 hari dan periode pengamatan meliputi hari H-10, hari H peristiwa, dan H+10. Perhitungan hari yang digunakan adalah hari efektif Bursa Efek Jakarta dengan hari libur meliputi hari Sabtu, Minggu, hari besar Agama dan Nasional. Penggunaan rentang waktu pengamatan tersebut dimulai sejak 30 Maret 2004 sampai dengan 27 September 2004, akibatnya terdapat 2 daftar Saham perusahaan tercatat yang masuk dalam penghitungan Indeks LQ-45, yaitu periode Februari 2004 sampai dengan Juli 2004 dan periode Agustus 2004 sampai dengan Januari 2004. Definisi Operasional Variabel 1. Abnormal return saham (ARit) adalah keuntungan hasil yang tidak normal untuk saham i pada periode t didefinisikan sebagai selisih antara tingkat pengembalian sesungguhnya (actual return) dengan tingkat keuntungan yang diharapkan (expected return). (Suad Husnan, 1996:257) ARit = Rit – E(Rit) Dimana : ARit = Abnormal return saham i pada periode t Rit = Actual return untuk saham i pada periode t, dan E(Rit) = Expected return untuk saham i pada periode t 2. Resiko Sistematis pada saham i ( â ) dapat diperoleh dengan menggunakan formulasi (Suad Husnan, 1996:184) : ∑ ( Rmt − Rf )( Rit − Rf ) − n( Rmt − Rf )(Rit − Rf ) âi= ∑ ( Rmt − Rf ) 2 − n( Rmt − Rf ) 2 3. Security Return Variability (SRV) adalah rata-rata variabilitas keuntungan sebelum peristiwa yang merupakan analisis untuk melihat apakah pasar secara keseluruhan menilai bahwa sebuah informasi itu informatif dan mengakibatkan perubahan pada distribusi return saham pada waktu peristiwa terjadi. Pengujian ini juga untuk melihat ketidakpastian/ asimetri info (Suad Husnan, 1996:111)


( ARit ) 2 Varian ( ARit ) Trading Volume Activity (TVAit) adalah aktivitas volume perdagangan saham i pada periode t, didefinisikan sebagai pebandingan antara jumlah saham i yang diperdagangkan pada periode t dengan jumlah total saham i yang beredar pada peiode t. (Suad Husnan, 1996:112) ∑ Saham i yang ditransaksikan pada waktu t TVAit = ∑ Saham i yang beredar pada waktu t SRVit =

4.

5.

Peristiwa Politik Dasar utama pemilihan peristiwa politik untuk diteliti adalah peristiwa politik yang terjadi di dalam negeri yang berskala nasional dan menjadi sorotan luas di media massa, baik cetak maupun elektronik serta berpengaruh terhadap kondisi perekonomian nasional. Peristiwa kasus bom di depan kedutaan besar Australia yang terletak di kawasan Kuningan Jakarta pada tanggal 9 September 2004 sangat mengejutkan semua pihak karena menyusul dua kejadian serupa yaitu bom bali dan bom di Hotel JW Marriott. IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Sampel Penelitian ini menggunakan sampel 35 saham yang listed di BEJ. Sampel tersebut merupakan saham yang terdaftar pada indeks LQ 45 selama periode pengamatan. Tabel 4.1 dibawah menunjukkan kriteria pengambilan sampel pada saham-saham LQ 45. Tabel: 4.1 Kriteria Pemilihan Sampel. -

-

Perusahaan Yang masuk dalam kelompok LQ 45 Periode September 2004 Perusahaan yang tidak tercantum terus-menerus dalam LQ 45 selama periode pengamatan Perusahaan yang tercantum secara terus-menerus dalam LQ 45 selama periode penelitian (30 Maret 2004 sampai dengan 27 September 2004) Perusahaan dengan nilai beta negatif dan atau bernilai dibawah 0,5 Perusahaan yang tidak pernah keluar dari Indeks LQ 45 selama periode pengamatan dan memiliki beta positif lebih dari 0,5 (Jumlah sampel penelitian)

45 6 39 4 35

Perhitungan variabel terikat dalam penelitian ini yaitu expected return saham E(Ri) dilakukan dengan menggunakan kofisep capital asset pricing model (CAPM). Perhitungan ini melibatkan rate of return saham (Ri), rate of return pasar (Rm), risk free rate of return (Rf), dan koefisien beta saham. Perhitungan Ri; Rm, Rf , expected return dan abnormal return dapat dilihat pada lampiran. Data Rf yang diperoleh adalah tingkat suku bunga deposito I bulanan pada Bank Indonesia dari bulan Maret 2004 hingga September 2004. Agar data yang diperoleh tersebut sesuai dengan jenis data yang digmakan dalam penelitian ini yaitu data harian, maka tingkat suku bunga deposito tersebut disesuaikan terlebih dahulu. Penyesuaian tersebut dilakukan dengan mengubah tingkat suku bunga pertahun menjadi per hari, dengan cara membagi suku bunga dengan 360 (asumsi 1 tahun 360 hari).


Pengujian Hipotesis 1. Pengujian t-one Sample terhadap abnormal return Tabel 4.3 : Hasil uji t-one sample terhadap abnormal return. Hari t Sig. (2-tailed) AAR CAAR -10 1.804663 0.079992 0.009596 0.009596 -9 -1.036695 0.307195 -0.003622 0.005974 -8 0.325530 0.746775 0.001294 0.007268 -7 -1.242072 0.222710 -0.009514 -0.002246 -6 -2.139348 0.039672 -0.009405 -0.011651 -5 -0.411465 0.683314 -0.001305 -0.012956 -4 0.824251 0.415542 0.002559 -0.010397 -3 0.746900 0.460258 0.002443 -0.007954 -2 2.098713 0.043344 0.009758 0.001804 -1 1.524038 0.136748 0.007433 0.009236 0 0.726150 0.472716 0.003956 0.013193 1 -0.499466 0.620668 -0.002223 0.010970 2 -2.321994 0.026357 -0.012638 -0.001669 3 0.341754 0.734639 0.001440 -0.000228 4 -1.468104 0.151267 -0.004076 -0.004305 5 0.259939 0.796479 0.000840 -0.003464 6 -0.751623 0.457449 -0.003241 -0.006705 7 1.114424 0.272913 0.011708 0.005003 8 2.240359 0.031711 0.014611 0.019614 9 -0.018338 0.985477 -0.000062 0.019551 10 -1.740047 0.090897 -0.007232 0.012319 Dengan membandingkan nilai sig (2-tailed) dengan tingkat signifikansi penelitian sebesar 5%. Jika nilai sig (2-tailed) lebih kecil dari 0,05 berarti rata-rata abnormal return tersebut secara statistik tidak sama dengan nol, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat abnormal return pada periode tersebut. Hal ini dapat dilihat dari nilai sig. (2-tailed) yang bernilai dibawah 0,05, yang terjadi pada 2 hari sebelum event dan 2 hari setelah event yaitu pada hari ke (-6) dan (-2) sebelum peristiwa, juga pada hari H+2, dan H+8 setelah peristiwa. Pada hari bursa tersebut mempunyai ratarata abnormal return positif terbesar pada hari H+8 sebesar 0,014611 dengan nilai sig (2-tailed) sebesar 0.031711 sedangkan rata-rata abnormal return negatif terbesar terjadi pada hari H+2 sebesar - 0,012638 dengan nilai sig (2-tailed) sebesar 0,026357. Tingkat signifikansi juga dapat dilihat dengan membandingkan nilai t signifikansi dengan t tabel (0,05: 35) yaitu sebesar 2,0345. 0.025 0.020 0.015 0.010 0.005 0.000 -0.005

-1 0

-8

-6

-4

-2

0

2

4

-0.010 -0.015 AAR

CA A R

6

8

10


2. Uji t beda dua rata-rata abnormal return Hasil uji beda dua rata-rata abnormal return sebelum dan sesudah peristiwa Sebelum Sesudah Rata-rata 0.000924 Rata-rata -0.000087 Standar Dev. 0.007008 Standar Dev. 0.008147 t-hitung 0.321080 Sig (2-tailed) 0.755481 Pada pengujian hipotesis kedua didapatkan nilai t-hitung sebesar 0,321 dengan nilai sig (2-tailed) sebesar 0,755. Dari nilai yang diperoleh pada pengujian tersebut dapat disimpulkan bahwa rata-rata abnormal return sebelum peristiwa secara statistik tidak berbeda dengan rata-rata abnormal return setelah peristiwa. Artinya secara keseluruhan peristiwa Kuningan tidak membawa dampak signifikan pada perubahan return investor selama periode pengamatan. Hal tersebut disebabkan karena pasar secara umum bereaksi netral terhadap adanya peristiwa bom di kawasan Kuningan Jakarta. Perilaku harga saham yang dicerminkan oleh rata-rata return yang diterima investor adalah tidak berbeda secara stastitik. Respon pasar secara keseluruhan cenderung normal seperti biasanya karena menganggap bahwa peristiwa tersebut sudah biasa terjadi sebelumnya. Isu bom yang sering terdengar menimbulkan persepsi yang biasa pada para investor sehingga tidak begitu mendapat respon lebih dari pasar modal Indonesia. 3. Uji t beda dua rata-rata Security Return Variability (SRV) Dari pengujian yang dilakukan didapatkan nilai sig. 0,773 lebih besar dari Îą yaitu 5%. Dari hasil perhitungan tersebut dapat dinyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan secara signifikan antara variabitlias saham sebelum dengan sesudah peristiwa. Dari hasil uji beda dua rata-rata terhadap variabilitas pendapatan saham didapatkan tidak adanya perbedaan yang signifikan antara rata-rata variasi abnormal return sebelum dan sesudah peristiwa. Artinya peristiwa bom Kuningan tidak berpengaruh signifikan terhadap variasi pendapatan yang diperoleh investor pada rentang waktu pengamatan. Hal tersebut disebabkan karena adanya kesamaan pandangan mengenai sebuah informasi dan terjadi simetrivitas informasi yang diterima oleh para pelaku pasar saat event terjadi. Informasi yang ada diserap sempurna oleh pasar melalui berbagai mass media baik cetak maupun elektronik. Sebelum Sesudah Hari Avrg SRV Hari Avrg SRV Rata-rata 0.934846 Rata-rata 0.990684 Standar Dev. 0.301702 Standar Dev. 0.342055 t-hitung -0.296078 Sig (2-tailed) 0.773889 4. Uji t beda dua rata-rata trading volume activity (TVA) Dari pengujian yang dilakukan didapatkan nilai sig. 0,246833 lebih besar dari Îą =5%. Berdasarkan nilai yang diperoleh dari uji beda dua rata-rata tersebut tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa rata-rata aktivitas volume perdagangan sebelum dan setelah peristiwa tidak berbeda secara statistik. Artinya peristiwa bom Kuningan tidak berpengaruh signifikan pada perbedaan rata-rata volume perdagangan pada rentang waktu pengamatan. Investor lebih bisa mengenali pasar yang ada sehingga tidak terjadi panic selling akibat adanya peristiwa ledakan bom tersebut. Anggapan investor, peristiwa bom Kuningan akan identik dengan peristiwa bom lain sebelumnya dimana hanya berdampak pada fluktuasi harga saham dalam waktu dekat saja.


Sebelum Hari Avrg TVA Rata-rata 0.001918 Standar Dev. 0.000591 t-hitung Sig (2-tailed)

Sesudah Hari Avrg TVA Rata-rata 0.002654 Standar Dev. 0.001453 -1.238576 0.246833 V.

SIMPULAN

Penelitian dengan menggunakan pendekatan event study pada peristiwa Bom Kuningan 9 September 2004 memberikan simpulan sebagai berikut. 1. Peristiwa bom di kawasan Kuningan Jakarta sebagai suatu peristiwa politik mempunyai dampak terhadap pasar modal Indonesia. Terdapat reaksi negatif berupa terjadinya abnormal return negatif yang signifikan pada hari ke-2 setelah event yaitu sebesar -0,012 dengan tingkat signifikansi 0,0263, namun demikian dalam beberapa hari sudah kembali normal. Ini ditunjukkan dengan meningkatnya rata-rata abnormal return yang signifikan pada hari ke-8 setelah peristiwa yaitu sebesar 0,0146 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,031. Secara umum dapat dituliskan bahwa peristiwa bom Kuningan menghasilkan abnormal return saham yang signifikan bagi investor pada beberapa periode pengamatan. 2. Dari hasil pengujian beda dua rata-rata, terhadap rata-rata abnormal return menghasilkan nilai t hitung sebesar 0,321 dengan tingkat signifikansi 0,755. Ini menunjukkan bahwa perilaku harga saham yang dicerminkan oleh rata-rata return yang diterima investor adalah tidak berbeda secara stastitik antara sebelum peristiwa dan sesudah peristiwa. 3. Dari hasil uji beda rata-rata terhadap variabilitas pendapatan saham didapatkan nilai t hitung 0,296 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,773889. Ini berarti bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada rata-rata variabilitas pendapatan investor antara sebelum dan sesudah peristiwa. 4. Pengujian terhadap rata-rata trading volume activity memberikan hasil nilai t hitung sebesar 1,238 dengan nilai signifikansi sebesar 0.246. Dari hasil yang diperoleh tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan secara statistik antara volume perdagangan saham sebelum dan sesudah peristiwa. Secara umum penemuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia reaktif hanya pada peristiwa tertentu yang relevan. Peristiwa bom Kuningan Jakarta adalah peristiwa yang dirasa sudah biasa terjadi sebelumnya. Peristiwa tersebut merupakan informasi yang telah sering terjadi sejak awal tahun 2004 menyusul peristiwa serupa lainnya di Indonesia. Informasi yang telah tersebar luas tersebut dapat diserap cepat oleh pasar hingga tidak terjadi asimetri informasi antar pelaku pasar modal dan menyebabkan terjadi kesamaan pandangan terhadap keadaan pasar. Investor lebih mengutamakan pandangan pada analisis fundamental daripada prinsip spekulasi sesaat. Beberapa saran yang dapat diajukan adalha sbb: 1. Perlunya kesadaran bersama dari berbagai pihak guna memulihkan kondisi perekonomian dan negara sehingga perdagangan di pasar bursa selalu aktif dan bergairah 2. Bagi penelitian yang akan datang khususnya yang berbasis event study, pemilihan event penelitian untuk lebih selektif karena tidak semua event mengandung muatan informasi (Information Content). 3. Investor hendaknya lebih jeli dalam melihat pergerakan harga saham akibat adanya suatu kejadian (event).


REFERENSI Ahmad Syafe’I, 2002, Reaksi Pasar Modal Indonesia Terhadap Hancurnya Gedung World Trade Centre di New York (Peristiwa 11 September 2001). Skripsi S1, Universitas Jember Giantina, 2002, Pengaruh Sidang Tahunan MPR 1-7 Nopember 2001 Terhadap Perubahan Harga Saham, Skripsi S1, Universitas Jember. Suad Husnan, 1996, Manajemen Keuangan : Teori dan Penerapan (Keputusan Jangka Panjang), Buku I, Edisi IV, BPFE, Indonesian Capital Market Directory 2004, Yogyakarta -----------------, 1994, Dasar-dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas, Edisi kedua, UPP-AMP YKPN, Yogyakarta Indonesian Capital Market Directory Marwan Asri, 1998, Reaksi Pasar Modal Indonesia Terhadap Peristiwa Politik Dalam Negeri, KELOLA Gajah mada University Bussiness Review, Vol. V, No. 11, MM-UGM, Yogyakarta Treisye AL, 2002, Reaksi Pasar Modal Terhadap Peristiwa Pergantian Presiden Republik Indonesia 23 Juli 2001 : Kajian Terhadap Return Saham LQ-45 di PT. Bursa Efek Jakarta, Simposium Nasional Akuntansi, Semarang www.JSX.co.id, Website situs resmi Pasar Modal Indonesia www.BI.go.id, Website situs resmi Bank Indonesia www.Kompas.com, Website situs mass media

Jurnal Bom Kuningan  

Jurnal Student Grant TPSDP

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you