Issuu on Google+

KEAJAIBAN SYUKUR: SEBUAH PENDEKATAN PSIKOLOGI QUR’ANI Muhamad Ali Mustofa Kamal NIM: 125113025 PROGRAM PASCASARJANA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO 2013

ABSTRAK ďƒ’

The Light of the Qur'anic psychology about gratitude is comprehensive evidence that behavior vital role in the formation of an individual / private in the narrow sense and the community in a broad sense. In its development, the evidence of miracles thanks (The Power of Hamdalah, The Power of Gratitude) and various psychological studies associated with many experienced by various individuals. Behavior gratitude covers issues of faith (theology) and emotional (mental), where people take an active role to control it, whether directed toward obedience to God the giver of pleasure, indulgence or even reverse its passions and desires are unlimited to the wishes of satan. Psychological problems that overshadow the human soul to be grateful actualized in the good deed done continuously, consciously or unconsciously will lead to a sense of satisfaction and happiness in life. Attitude of gratitude ", has shown that with daily notes of gratitude for kindness received, people are becoming more regular exercise, less complaining of symptoms of disease, and feel better overall life.

ďƒ’

Keyword: gratitude, mental issue, obedience, attitude

PROLOG

Dimensi Psikologi Islam diantaranya dilakukan dengan telaah kritis atas konsep-konsep dan teori-teori psikologi yang dipandang menyimpang dari pandangan Islam ďƒ’ Menurut Jamaludin Ancok, wilayah kajian Psikologi Islam lebih berbicara tentang manusia terutama masalah kepribadian manusia yang bersifat filosofis, teoritis, metodologis dan pendekatan problem dengan didasari sumbersumber formal Islam (al-Qurâ€&#x;an dan Hadis), akal, indera serta intuisi. ďƒ’

Pada perkembangannya, psikologi Islam menempatkan agama, dalam hal ini sumber al-Qur’an dan Hadis sebagai pijakan keilmuan. Beberapa rumusan karakter/ perilaku manusia di dalam al-Qur’an, diantaranya adalah persoalan syukur, yang memegang kendali sekaligus sebagai prinsip perilaku manusia yang memiliki hubungan kausalitas terhadap berbagai kondisi psikologis manusia. Al-Qur’an menyebut manusia sebagai al-Basyar dan al-Insan. Istilah al-Basyar lebih mengedepankan pengertian fisik dan hewani, sedangkan al-Insan mengandung pengertian makhluk psikologis yang memiliki tabi’at kemesraan, lupa dan bergejolak (QS.alMa’a>rij [70]:19-21). Persoalan syukur memiliki rantai psikologis dengan berbagai perilaku manusia. Syukur mempengaruhi aspek hati nurani manusia. Perilaku syukur akan mengawal tabi’at seorang manusia menjadi orang berbudi pekerti yang luhur dan berada dalam jalur kebaikan. Dan kebalikannya, dengan tidak bersyukur, dalam hal ini kufur (ingkar), maka akan menggiring tabi’at manusia (dalam hal ini nafsu) kedalam jalur keburukan dan keluar dari jalur kebaikan.

ďƒ’

Syukur yang merupakan lawan kata dari kufur adalah suatu persoalan teologis namun juga kental dengan persoalan psikologis. Penggambaran al-Qurâ€&#x;an tentang syukur secara komprehensip merupakan bukti perilaku tersebut memegang peran vital dalam pembentukan sebuah individu/ pribadi dalam arti sempit dan masyarakat dalam arti luas. Pada perkembangannya, bukti-bukti tentang keajaiban syukur (The Power of Hamdalah, The Power of Gratitude) dan berbagai penelitian psikologis yang berhubungan dengannya banyak dialami oleh berbagai individu, yang merupakan sebuah realitas yang cukup menarik untuk dibahas secara mendalam.

PEMBAHASAN 1.

2. 3.

Wawasan Syukur dalam al-Qurâ€&#x;an: Pengertian dan Konsep Dimensi Syukur: Teologis vis Emosional Pengaruh Syukur dan Fenomena di Masyarakat.

PEMBAHASAN

WAWASAN SYUKUR DALAM AL-QUR’AN: PENGERTIAN DAN KONSEP

PENGERTIAN SYUKUR 

Syukur adalah istilah Arab ‫ الشكز‬yang sudah mengakar kuat dalam perbendaraan kata bahasa Indonesia. Makna kata syukur tersebut adalah identik dengan makna hamdalah )‫(الحمد هلل‬, yaitu ucapan terima kasih yang diwujudkan dengan ucapan dan perbuatan. Kata syuku>r (‫)ش ُك ْور‬ ُ adalah bentuk (sighat) mashdar dari kata kerja

syakara – yasykuru- syukran – wa syukuran – wa َ ‫ش‬ syukranan ( ‫شك ُُز‬ َ – ‫ش ْك َزانًا‬ ْ َ‫ك َز – ي‬ ُ ‫ش ُك ْو ًرا – َو‬ ُ ‫ش ْك ًزا – َو‬ ُ ).

Kata kerja ini berakar dengan huruf-huruf syin (‫ش ْين‬ ِ ), kaf (‫) َكاف‬, dan ra’ (‫) َراء‬, yang mengandung beberapa makna antara lain ‘pujian atas kebaikan’ dan ‘penuhnya sesuatu. Amatullah Armstrong, The Mystical Language of Islam, (Queensland: A.S.Noordeen, 1995), hlm.216

Menurut Ibnu Faris bahwa kata syukur memiliki empat makna dasar, yaitu: 1. Pujian karena adanya kebaikan yang diperoleh, yakni merasa ridha dan puas sekalipun hanya sedikit, di dalam hal ini para pakar bahasa menggunakan kata syukur untuk kuda yang gemuk namun hanya membutuhkan sedikit rumput. 2. Kepenuhan dan ketabahan, seperti pohon yang َ ‫ش‬ tumbuh subur dilukiskan dengan kalimat ‫ك َز ُة‬ َ ‫ج َزة‬ (syakarat al-syajarah). َ ‫الش‬ َّ 3. Sesuatu yang tumbuh di tangkai pohon (parasit). 4. Pernikahan atau alat reproduksi.

Dari keempat makna tersebut, M.Quraish Shihab menganalisis bahwa kedua makna terakhir dapat dikembalikan dasar pengertiannya kepada kedua makna terdahulu, yakni, makna ketiga sejalan dengan makna pertama yang menggambarkan kepuasan dengan yang sedikit sekalipun, sedangkan makna keempat sejalan dengan makna kedua karena dengan pernikahan atau alat reproduksi dapat melahirkan anak. Dengan demikian, makna-makna dasar tersebut dapat diartikan sebagai penyebab dan dampaknya sehingga kata syukur (‫)ش ُك ْور‬ ُ mengisyaratkan, “Siapa yang merasa puas dengan yang sedikit maka ia akan memperoleh banyak, lebat, dan subur”. Dalam pemahaman yang terakhir ini, selaras dengan penegasan al-Qur‟an surah Ibrahim[14]: 7

Sedikit berbeda dengan Raghib al-Ashfahani menyatakan bahwa kata syukur mengandung arti „gambaran di dalam benak tentang nikmat dan menampakkannya ke permukaan‟. Pengertian ini diambil dari asal kata syukur (‫)ش ُك ْور‬ ُ –seperti dikemukakan di atas– yakni َ ‫)ش‬, kata syakara (‫ك َز‬ yang berarti „membuka‟ َ sehingga ia merupakan lawan dari kata kafara/kufur (‫ َك َف َز‬/‫) ُك ُف ْور‬, yang berarti „menutup‟, atau „melupakan nikmat dan menutup-nutupinya‟. Jadi, membuka atau menampakkan nikmat Allah antara lain di dalam bentuk memberi sebahagian dari nikmat itu kepada orang lain, sedangkan menutupinya adalah dengan bersifat kikir.

Kata syukur (‫)ش ُك ْور‬ ُ di dalam berbagai bentuknya ditemukan sebanyak 75 kali tersebar di dalam berbagai ayat dan surat di dalam al-Qur‟an. Kata syukuran (‫)ش ُك ْو ًرا‬ ُ sendiri disebutkan hanya dua kali, yakni pada Surat al-Furqan[25]: 62 dan Surat al-Insan[76]: 9. Kata syukuran (‫)ش ُك ْو ًرا‬ ُ yang pertama digunakan ketika Allah menggambarkan tentang penciptaan malam dan siang silih berganti. Keadaan silih berganti itu menjadi pelajaran bagi orang-orang yang ingin mengambil pelajaran dan ingin bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah. Di dalam menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir berpendapat bahwa Allah SWT menjadikan malam dan siang silih berganti dan kejar-mengejar, yang kesemuanya itu adalah tanda-tanda kekuasaan Allah yang hendaknya direnungkan dan diperhatikan oleh orang-orang yang ingat kepada-Nya atau yang hendak bersyukur kepada-Nya. Kata syukuran (‫)ش ُك ْو ًرا‬ ُ kedua yang terdapat di dalam Surat al-Insan[76]: 9 digunakan oleh al-Qur‟an ketika Allah menggambarkan pernyataan orang-orang yang berbuat kebajikan serta telah memberi makan kepada orang-orang fakir dan miskin yang tiada lain yang mereka harapkan kecuali keridaan Allah; dan mereka tidak akan pernah mengharapkan dari mereka yang diberi itu, balasan serta ucapan terimakasih atas pemberian itu. M. Quraish Shihab menukilkan bahwasanya adalah sahabat Ali bin Abi Talib dan istrinya, Fatimah, putri Rasulullah SAW memberikan makanan yang mereka rencanakan menjadi makanan berbuka puasa kepada tiga orang yang membutuhkan, dan ketika itu mereka membaca ayat di atas. Karena itu, dari sini dipahami bahwa manusia yang meneladani Allah di dalam sifat-sifat-Nya dan mencapai peringkat terpuji adalah yang memberi tanpa menanti syukur; di dalam arti, balasan dari yang diberi, atau ucapan terimakasih.

َ ‫)ش‬ Adapun kata syakara (‫ك َز‬ َ yang merupakan antonim dari kata kafara (‫ ) َك َف َز‬maka bentukan dari kedua kata ini pun sering diperhadapkan di dalam al-Qur‟an, antara lain pada Surat Ibrahim[14]: 7. Jadi, hakikat syukur adalah “menampakkan nikmat”, sedangkan hakikat kufur adalah “menyembunyikan nikmat”. Menampakkan nikmat antara lain berarti menggunakannya pada tempatnya dan sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemberinya. Di samping itu, kufur berarti juga menyebutnyebut nikmat serta memberikan pemberian dengan lidah/ umpatan (QS.al-Dhuha[93]: 11). Demikian pula pada QS.al-Baqarah[2]: 152, para mufasir menjelaskan bahwa ayat yang disebut terakhir ini mengandung perintah untuk mengingat Allah tanpa melupakannya, patuh kepada-Nya tanpa menodainya dengan kedurhakaan. Syukur yang demikian lahir dari keikhlasan kepada-Nya.

KONSEP SYUKUR Imam Raghib al-Ashfahani mengelompokkan kategorisasi syukur mencakup tiga sisi yaitu: 1. syukur dengan hati, yakni kepuasaan batin atas anugerah. 2. syukur dengan lidah, yakni dengan mengakui anugerah dan memuji pemberinya. 3. syukur dengan perbuatan, yakni dengan memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahannya.

Kata syuku>r (‫)ش ُك ْور‬ ُ juga berarti ‘puji’; dan bila dicermati makna syukur dari segi pujian maka kiranya dapat disadari bahwa pujian terhadap yang terpuji baru menjadi wajar bila yang terpuji melakukan sesuatu yang baik secara sadar dan tidak terpaksa. Dengan begitu, setiap yang baik yang lahir di alam raya ini adalah atas izin dan perkenan Allah. Apa yang baik dari kita, pada hakikatnya adalah dari Allah semata; jika demikian, pujian apapun yang kita sampaikan kepada pihak lain, akhirnya kembali kepada Allah juga. Imam Asy Syinqithi memahami, bahwa makna syukur sebagai representasi hamdalah ini tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, artinya dalam semua dimensi oleh alam semesta ini termasuk manusia, ungkapan syukur dan pujian ini semata-mata hanya ditujukan kepada Allah SWT Sang Pencipta Alam semesta.

Di dalam hal ini, al-Qur‟an memerintahkan umat Islam untuk bersyukur adalah setelah menyebut beberapa nikmat-Nya sebagaimana dalam QS.alBaqarah[2]:152 dan QS.Luqman[31]: 12. Oleh karena itu, kita diajarkan oleh Allah untuk mengucapkan “Alhamdulillah” (‫م ُد ِهلل‬ َ ‫)اَ ْل‬, di dalam ْ ‫ح‬ arti „segala puji (hanya) tertuju kepada Allah‟. Namun, ini bukan berarti bahwa kita dilarang bersyukur kepada mereka yang menjadi perantara kehadiran nikmat Allah. Misalnya, al-Qur‟an secara tegas memerintahkan umat manusia agar mensyukuri Allah dan mensyukuri kedua orang tua kita, yang menjadi perantara kehadiran kita di muka bumi ini (QS.Luqman[31]: 14).

Pada sisi lain, al-Qur‟an secara tegas menyatakan bahwa manfaat syukur adalah kembali kepada orang yang bersyukur, sedangkan Allah sama sekali tidak memperoleh, bahkan tidak membutuhkan sedikit pun dari syukur makhluk-Nya (QS.al-Naml[27]: 40). Akan tetapi, karena kemurahan Allah, Dia menyatakan diri-Nya sebagai Syakirun ‘Alim ( ‫شاكِ ٌز‬ َ ‫م‬ َ di dalam QS. al-Baqarah[2]:158 dan Syakiran ٌ ‫)ع ِل ْي‬ ‘Alima (‫ما‬ ً ‫)شاكِ ًزا َعلِ ْي‬ َ di dalam QS.an-Nisa‟[4]:147, yang keduanya berarti „Maha Bersyukur lagi Maha Mengetahui‟; di dalam arti, Allah akan menganugerahkan tambahan nikmat berlipat ganda kepada makhluk yang bersyukur.

Di dalam al-Qur’an, selain kata syuku>r (‫)ش ُك ْور‬ َ ُ ditemukan juga kata syaku>r (‫)ش ُك ْور‬. Kata yang disebut terakhir ini berulang sebanyak sepuluh kali, tiga di antaranya merupakan sifat Allah dan sisanya menjadi sifat manusia. Kata al-syaku>r secara bahasa berasal dari kata ‚syakara‛ yang berarti pujian atas kebaikan. Allah yang memiliki nama yang agung (Asma>’ al-Husna) al-Syaku>r, artinya Allah menghargai dan memberi balasan atas seluruh amal kebaikan hamba-nya.

ďƒ’

Imam al-Ghazali mengartikan syaku>r sebagai sifat Allah adalah bahwa Dia yang memberi balasan banyak terhadap pelaku kebaikan atau ketaatan yang sedikit; Dia yang menganugerahkan kenikmatan yang tidak terbatas waktunya untuk amalan-amalan yang terhitung dengan hari-hari tertentu yang terbatas.

M. Quraish Shihab menegaskan bahwa ada juga hambahamba Allah yang syaku>r, walau tidak banyak, sebagaimana firman-Nya di dalam QS.Saba’ [34]:13. Dari sini, tentu saja makna dan kapasitas syakur hamba (manusia) berbeda dengan sifat yang disandang Allah. Manusia yang bersyukur kepada manusia/makhluk lain adalah dia yang memuji kebaikan serta membalasnya dengan sesuatu yang lebih baik atau lebih banyak dari apa yang telah dilakukan oleh yang disyukurinya itu. Syukur yang demikian dapat juga merupakan bagian dari syukur kepada Allah. Sebab, berdasarkan hadis Nabi Saw:

)‫هللا (رواه أبو داود والتزمذي‬ َ ‫اس ل‬ َ ‫شك ُِز ال َّن‬ ْ َ‫م ْي‬ ْ َ‫م ي‬ ْ َ‫ن ل‬ ْ ‫ َو َم‬ َ ‫شك ُِز‬  Artinya: Siapa yang tidak mensyukuri manusia maka dia tidak mensyukuri Allah). (HR. Abu Daud dan At-Turmuzi).

ďƒ’

Hadis tersebut mengandung arti bahwasanya siapa yang tidak pandai berterima kasih (bersyukur) atas kebaikan manusia maka dia pun tidak akan pandai mensyukuri Allah karena kebaikan orang lain yang diterimanya itu bersumber dari Allah juga. Jadi, syukur manusia kepada Allah dimulai dengan menyadari dari lubuk hatinya yang terdalam betapa besar nikmat dan anugerah-Nya, disertai dengan ketundukan dan kekaguman yang melahirkan rasa cinta kepada-Nya serta dorongan untuk bersyukur dengan lidah dan perbuatan.

Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa kata syukur (‫)ش ُك ْور‬ ُ dan kata-kata yang seakar dengannya di dalam al-Qur‟an meliputi makna „pujian atas kebaikan‟, „ucapan terimakasih‟, atau „menampakkan nikmat Allah ke permukaan‟, yang mencakup syukur dengan hati, syukur dengan lidah, dan syukur dengan perbuatan. Di dalam hal ini, syukur juga diartikan sebagai „menggunakan anugerah Allah sesuai dengan tujuan penganugerahannya‟.

DIMENSI SYUKUR: TEOLOGIS VIS EMOSIONAL

Agama Islam menyuruh para pemeluknya bertahmid (membaca hamdalah), dan menjadikan kalimat Alhamdulillah untuk melahirkan rasa syukur kepada Allah SWT sebagai kalimat puji dan syukur. Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur‟an surah alBaqarah[2]:152,  Terma syukur adalah kebalikan dari kufur yang identik dengan persoalan nikmat/ anugerah dari Allah SWT. Perilaku syukur yang dituangkan dengan kalimat tahmid adalah bentuk ibadah seluruh makhluk di alam semesta ini (surat alIsra‟[17]:44). 

Menurut Ibnu Taimiyah, pujian adalah puncak dari syukur dan istigfar. ďƒ’ Ibnu Qayyim al-Jauziyah menjelaskan bahwasanya pengucapan hamdalah merupakan representasi dan bentuk syukur atas segala nikmat dari Allah yang telah dianugerahkan kepada setiap hamba (umat manusia), bentuk ketaâ€&#x;atan dan sebagai tanda keyakinan iman dan kemantapan ihsan seseorang. ďƒ’

Pengejawantahan pujian yang merupakan puncak syukur dan tauhid tergambar secara utuh dalam surat al-Fatihah yang merupakan induk dari alQur‟an. Makna Alhamdu (segala puji) adalah memuji orang, karena perbuatannya yang baik yang dikerjakannya dengan kemauan sendiri. Yang dimaksudkan memuji disini adalah kepada Allah yaitu dengan menyanjungNya karena perbuatannya yang baik. Lain halnya dengan syukur yang berarti: mengakui keutamaan seseorang terhadap nikmat yang diberikannya. Kita menghadapkan segala puji bagi Allah ialah karena Allah menjadi sumber dari segala kebaikan yang patut dipuji (surat al-Mu‟min[40]:65).

Perilaku syukur memegang peran yang sangat prinsip dalam diri manusia dan menyangkut persoalan mental. ďƒ’ Dalam pandangn Socrates, mental memiliki karakter yang lebih subjektif. ďƒ’ Disamping karakter positifnya sebagai pencapaian manusia, mental menjadi landasan bagi prestasi pemikiran belakangan yang menumbuhkan ide-ide dan pemikiran akan sebuah keinginan. ďƒ’

ďƒ’ Gagasan

Sigmund freud (18561939) yang menawarkan konsep Psikoanalisa sebagai sistem ilmu jiwa dan bukan suatu cabang ilmu jiwa atau psikiatri. Psikoanalisis tampaknya bisa digunakan untuk menganalisa perilaku syukur manusia.

Gagasan struktur psikis yang ditawarkan oleh freud, diantaranya adalah: 1) Struktur kepribadian: id, ego dan superego. 2) Kesadaran dibedakan atas kesadaran, ambang kesadaran, dan ketidak-sadaran. 3) Dinamika proses ketika ada kebutuhan atau konflik kebutuhan dimana ego menjadi pengatur sesuai prinsip realitas, dengan adanya proses represi, yang dapat berakibat terjadi hambatan, simtom dan kecemasan. 4) Ketidaksadaran akan berisi hal-hal yang sudah direpresi. 5) Kebutuhan yang direpresi bukannya menjadi tidak ada, melainkan tetap aktif hanya menunggu kesempatan untuk muncul kembali ke kesadaran. 6) Dengan cara terselubung atau mengambil bentuk lain kekuatan yang direpresi muncul kembali ke kesadaran dengan sensasi yang samasama menyakitkan. 7) Bentuk lain dari gagasan yang ditekan, disebut juga sebagai simtom, aman dari serangan pertahanan diri ego. 8) Sublimasi merupakan suatu cara untuk mengatasi rasa bersalah karena adanya gagasan patogenik, yaitu dengan mengarahkan pada tujuan yang lebih tinggi yang bebas dari penolakan.

Perbuatan bersyukur seseorang dapat digolongkan kedalam dua dimensi, yakni dimensi keimanan (teologis) dan dimensi emosional (psikologis).

DIMENSI KEIMANAN (TEOLOGIS) ďƒ’

Dimensi keimanan pada perilaku syukur merupakan murni hidayah dari Allah, karena Allah yang membolak-balikkan hati manusia, menjadikan setiap hamba bisa bersyukur atas segala karunia dan nikmatnya, baik nikmat yang dapat dihitung maupun yang tak dapat dihitung. Penegasan Allah tentang sedikitnya golongan manusia yang bersyukur (QS.Sabaâ€&#x;[34:13), mengindikasikan bahwasanya hegemoni antara tabiâ€&#x;at syukur dan kufur adalah sebuah sunnatullah. Unsur-unsur kebaikan yang mendorong perilaku syukur akan menutupi faktor emosional yang menuruti hawa nafsu dan angkara murka yang ujung-ujungnya adalah ketidakpuasan atas nikmat dan karunia dari Sang Pencipta yang mendorong manusia menutupi (mengkufuri) nikmat pemberian-Nya.

DIMENSI EMOSIONAL (PSIKOLOGIS) ďƒ’

dimensi emosional dari perilaku syukur seorang hamba/ manusia, sebagaimana konsep struktur ego dan emosional yang ditawarkan oleh Freud adalah bentuk emosional sesaat yang membawa hati dan keinginan manusia memenuhi kebutuhan yang beujung pada rasa ketidakpuasan atas nikmat dan karunia Allah. Dalam hal ini, manusia memandang urusan dunia sebagai tujuan akhir dan memposisikan melihat kemewahan dunia adalah dengan kepala tegak ke atas, artinya melihat ke atas terhadap nikmat dan kekayaan orang lain, dan ini menyebabkan sisi ketidak puasaan yang tak berujung. Dengan bahasa sederhana, ego yang melebihi ambang batas, akan berujung pada perilaku dan tabiâ€&#x;at tidak puas akan anugerah nikmat dan karunia Allah yang mendorong orang lupa akan eksistensi dan tujuan dari kehidupan itu sendiri yaitu beribadah kepada Allah. Ini lah faktor pendorong seseorang berbuat ingkar/ kufur kepada nikmat-nikmat yang dianugerahkan Allah, sehingga dalam dirinya merasa tidak diperhatikan oleh Allah.

PENGARUH SYUKUR DAN FENOMENA DI MASYARAKAT.

BEBERAPA HASIL PENELITIAN TENTANG KEAJAIBAN SYUKUR (GRATITUDE) ďƒ’

ďƒ’

Penelitian Alex M Wood dkk (2009) mengindikasikan bahwasanya rasa syukur yang dipraktekkan dalam bentuk perilaku kebaikan mempengaruhi mental positive seseorang. penelitian Sara B. Algoe (2012), University of Virginia, Amerika Serikat (AS), Orang yang menerapkan perilaku syukur cenderung lebih baik pola kehidupan sosial kemasyarakatannya. Hasil penelitian mutakhir beliau yang lain menunjukkan bahwa sikap berterima kasih atau bersyukur akan mendorong terjalin dan terbinanya persahabatan antar manusia.

BEBERAPA HASIL PENELITIAN TENTANG KEAJAIBAN SYUKUR (GRATITUDE) 

Penelitian Profesor Psikologi asal University of California, Davis, AS, Robert Emmons, sekaligus pakar terkemuka di bidang penelitian “sikap bersyukur”, telah memperlihatkan bahwa dengan setiap hari mencatat rasa syukur atas kebaikan yang diterima, orang menjadi lebih teratur berolah raga, lebih sedikit mengeluhkan gejala penyakit, dan merasa secara keseluruhan hidupnya lebih baik.

ďƒ’

ďƒ’

Perilaku syukur yang dituangkan dalam bentuk sikap terima kasih atau kepada Allah teraktualisasikan dalam bentuk ibadah dan peningkatan takwa kepada Allah. Meminjam istilah dalam ilmu tasawufnya adalah bahwa ucapan, sikap dan perbuatan terima kasih kepada Allah SWT berupa pengakuan yang tulus atas nikmat dan karunia yang diberikan-Nya. Nikmat yang diberikan Allah SWT kepada manusia sangat banyak dan bentuknya bermacam-macam, apakah nikmat tersebut dapat kita hitung maupun yang tidak terhitung (QS.Ibrahim[14]: 34). Setiap detik yang dilalui manusia dalam hidupnya tidak pernah lepas dari nikmat Allah SWT. Nikmatnya sangat besar dan banyak sehingga bagaimanapun juga manusia tidak akan menghitungnya (QS.alNahl[16]:18).

ďƒ’ Sejak

manusia lahir ke dunia dalam keadaan tidak tahu apa-apa, kemudian diberi Allah pendengaran, penglihatan, dan hati (QS.al-Nahl[16]:78) sampai meninggal dunia menghadap Allah SWT di akhirat kelak ia tidak akan lepas dari nikmat Allah SWT.

ORIENTASI NIKMAT Secara garis besar nikmat itu dapat dibagi dua, yaitu: 1. Nikmat yang menjadi tujuan; 2. Nikmat yang menjadi alat untuk mencapai tujuan.

Nikmat dan tujuan utama yang ingin dicapai oleh umat Islam ialah kebahagian di akhirat. Adapun ciri-ciri nikmat ini adalah: (1) kekal, (2) diliputi oleh kebahagian dan kesenangan, (3) sesuatu yang mungkin dapat dicapai, dan (4) dapat memenuhi segala kebutuhan manusia. ďƒ’ Sedangkan nikmat yang kedua meliputi: (1) kebersihan jiwa dalam bentuk iman dan akhlak yang mulia; (2)"kelebihan tubuh", seperti kesehatan dan kekuatan; (3) hal-hal yang membawa kesenangan jasmani, seperti harta, kekuasaan, dan keluarga; dan (4) hal-hal yang membawa sifat-sifat keutamaan, seperti hidayat, petunjuk, pertolongan dan lindungan Allah SWT. ďƒ’

ďƒ’ Menurut

Imam al-Ghazali, syukur merupakan salah satu maqam (derajat) yang paling tinggi dari sabar, khauf (takut) kepada Allah SWT, dan lain-lain. Adapun perilaku syukur itu sendiri merupakan maqam yang mulia dan pangkat yang tinggi sebagaimana firman Allah SWT yang bermaksud dalam surah al-Nahl:114,

ďƒ’

Sebagaimana konsep syukur menurut Raghib al-Ashfahani, tentang cara bersyukur kepada Allah yaitu (1) bersyukur dengan hati, yaitu mengakui dan menyadari sepenuhnya bahwa segala nikmat yang diperoleh berasal dari Allah SWT dan tiada seseorang pun selain Allah SWT yang dapat memberikan nikmat itu; (2) bersyukur dengan lidah, yaitu mengucapkan secara jelas ungkapan rasa syukur itu dengan kalimah al-hamdulillah (segala puji bagi Allah); dan (3) bersyukur dengan amal perbuatan, yaitu mengamalkan anggota tubuh untuk halhal yang baik dan memanfaatkan nikmat itu sesuai dengan ajaran agama.

ďƒ’

Yang dimaksud dengan mengamalkan anggota tubuh ialah menggunakan anggota tubuh itu untuk melakukan hal-hal yang positif dan diridai Allah SWT, sebagai perwujudan dari rasa syukur tersebut. Misalnya, jika seseorang memperolehi nikmat harta benda, maka ia mempergunakan harta itu sesuai dengan jalan Allah SWT. Jika nikmat yang diperolehinya berupa ilmu pengetahuan, ia akan memanfaatkan ilmu itu untuk keselamatan, kebahagian, dan kesejahteraan manusia dan diajarkan ilmunya kepada orang lain; bukan sebaliknya, ilmu yang diperolehi digunakan untuk membinasakan dan menghancurkan kehidupan manusia. Wujud dari syukur kepada Allah SWT yang nyata ialah melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan Allah SWT.

ďƒ’

(1) (2) (3)

(4)

(5)

(6)

(7)

Untuk anggota tubuh, misalnya, Imam Ghazali menegaskan bahawa mensyukuri anggota tubuh yang diberikan Allah SWT meliputi tujuh anggota yang penting, yaitu Mata, mensyukuri nikmat ini dengan tidak mempergunakannya untuk melihat hal-hal yang maksiat; (2) telinga, digunakan hanya untuk mendengarkan hal-hal yang baik dan tidak mempergunakannya untuk hal-hal yang tidak boleh didengar; lidah, dengan banyak mengucapkan zikir, mengucapkan puji-pujian kepada Allah SWT, dan mengungkapkan nikmat-nikmat yang diberikan Tuhan sesuai dengan firman Allah SWT dalam surah ad-Dhuha ayat 11: " Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)" ; tangan, digunakan untuk melakukan kebaikan-kebaikan terutama untuk diri sendiri, mahupun untuk orang lain, dan tidak mempergunakannya untuk melakukan hal-hal yang haram; perut, dipakai hanya untuk memakan makanan yang halal/baik dan tidak berlebih-lebihan (mubazir). Makanan itu dimakan sekadar untuk menguatkan tubuh terutama untuk beribadat kepada Allah SWT; kemaluan (seksual), untuk dipergunakan di jalan yang diridai Allah SWT (hanya bagi suami istri) dan disertai niat memelihara diri dari perbuatan yang haram; kaki, digunakan untuk berjalan ke tempat-tempat yang baik, seperti ke masjid, naik haji ke Baitullah (Ka'bah), mencari rezeki yang halal, dan menolong sesama umat manusia.

ďƒ’

ďƒ’

Di samping hal-hal tersebut, syukur kepada Allah SWT dilakukan pula dalam bentuk sujud syukur setelah seseorang mendapat nikmat dalam bentuk apa sahaja, mahupun kerana lulus dari musibah dan bencana. Sujud ini hanya dilakukan sekali dan di luar sembahyang. Bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat yang diberikan-Nya merupakan kewajiban manusia, baik dilihat dari sudut fitrahnya, maupun berdasarkan nas syar’i atau hukum Islam (Al-Qur'an dan hadis). Manfaat yang diperolehi dari tindakan bersyukur itu sebenarnya dirasakan oleh manusia yang bersangkutan, antara lain untuk mengekalkan nikmat yang ada dan menambahkan nikmat lain yang berlimpah ruah. Sebagaimana firman Allah dalam surah Ibrahim[14]: 7

ďƒ’

ďƒ’

Ayat tersebut Maksudnya, apabila orang bersyukur atas nikmat Allah SWT, maka akan diberikan-Nya tambahan nikmat. Sebaliknya, orang yang tidak mau bersyukur (kufur nikmat) akan mendapat siksa yang pedih. Oleh karena itu hendaknya, setiap manusia tidak melihat kesenangan orang lain yang telah dikurniakan-Nya dalam segala macam kenikmatan dengan pandangan iri hati dan kagum, karena itu akan menyebabkan manusia tersebut menghina nikmat Allah yang diterimanya serta memperkecilkan karunia itu. Dan sudah selayaknya, manusia tidak lalai untuk mensyukuri nikmat Allah terhadapnya. Hal ini mungkin menyebabkan nikmatnikmat itu dicabut oleh Allah SWT serta dipindahkan dari dirinya. Sebaiknya, hendaklah manusia ridha terhadap bagian yang telah ditentukan Allah bagi dirinya, serta tidak lupa mensyukuri segala nikmat-nikmat yang dikaruniakan untuknya.

EPILOG

ďƒ’

Perilaku syukur adalah persoalan mental dimana manusia berperan aktif untuk mengendalikannya, apakah diarahkan kepada ketaatan kepada Allah Sang Pemberi nikmat, atau malah sebaliknya mengumbar keinginan dan hawa nafsu yang tak terbatas menuruti keinginan syetan. Persoalan psikologis yang menaungi jiwa manusia untuk bersyukur yang teraktualisasikan dalam perbuatan kebaikan yang dilakukan secara kontinue, secara sadar maupun tak disadari akan mengantarkan kepada rasa kepuasan dan kebahagiaan dalam kehidupannya.[ ]

‫مـع الـس ـ ـ ـ ـ ـ ــالمــة‬ ‫انــا تعب ــان ونعـس ـ ـ ـ ــان‬ ‫يا اخي !!! عفوا‬


Keajaiban Syukur: Sebuah Pendekatan Psikologi Qur'ani