Page 1

Edisi 133 JUNI 2013

Nasib IOM FKIP Belum Jelas

MTV/Cecil

Ketidakjelasan dana IOM merebak sejak diberlakukannya UKT tahun 2012. Tuntutan mahasiswa tentang kejelasan dana IOM masih belum menemukan titik terang. Mahasiswa Pendidikan Bimbingan dan Konseling 2011, Cahyo Adit Sucipto, mengungkapakan bahwa masih terdapat kerancuan dalam sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) di UNS. Masih ada pungutan diluar SPP yang ditarik oleh pihak fakultas, seperti dana Ikatan Orangtua Mahasiswa (IOM). Pada kenyataannya saat ini UNS telah menggunakan sistem UKT yang tidak membolehkan adanya pungutan lain selain SPP, bahkan sejak tahun 2012 penarikan uang IOM sudah dilarang. Seperti pernyataan Staff Ahli Keuangan UNS, Muhtar, S.Pd., M.Si., ketika UKT diterapkan maka tidak ada tarikan dana lagi yang dipungut oleh pihak fakultas di luar Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP), sehingga Surat Keputusan (SK) nya adalah SK uang kuliah secara keseluruhan. UNS sendiri telah mulai memberlakukannya sejak tahun 2012. Muhtar pun menambahkan bahwa beradasarkan UU No.1 tahun 2004 tentang perbendaharaan negara pasal 16, fakultas tidak memiliki otoritas untuk menerima uang, dalam hal ini termasuk dana IOM. Melihat semua hal di atas, Cahyo menegaskan bahwa perlu ada kejelasan akan IOM. Wacana SK IOM Adanya pelaksaanaan UKT dan kemudian mucul wacana SK pemberhentian penarikan dana IOM, timbul kesenjangan di mata mahasiswa, “kalau IOM dihapus, ya sudah. Harusnya yang sudah bayar uangnya dikembalikan dan yang belum bayar ya tidak usah membayar,” ujar Cahyo, Jum'at (24/5). Alqaan Maqbullah Ilmi selaku Presiden BEM periode 2012/2013 juga mengungkapkan hal yang sama, “bagi saya itu tidak adil ya, bagaimana dengan yang sudah bayar? Apa mau dikembalikan

‘’

Kalau IOM dihapus, ya sudah. Harusnya yang sudah bayar uangnya dikembalikan dan yang belum bayar ya tidak usah membayar Mahasiswa Pendidikan BK 2011

atau bagaimana?”, Senin, (13/5). Alqaan berasumsi bahwa hal ini adalah feedback dari dis-kusi HMP dan HMJ mengenai permasa-lahan kejelasan dana IOM yang Bersambung ke halaman 3...

Seorang mahasiswa menunggu dibukanya perpustakaan FKIP, Senin (27/5). Perpustakaan FKIP, sering sepi penggunjung karena keterbatasan pengelolaan dan jumlah koleksi yang ada.

Pengelolaan Perpustakaan FKIP Kurang Optimal Mahasiswa keluhkan pengelolaan perpustakaan FKIP yang belum optimal. Kurangnya dana dan sumber daya pengelola diduga menjadi penyebab utamanya.

Pengelolaan perpustakaan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) pada kenyataannya belum berjalan optimal. Keluhan demi keluhan disuarakan oleh mahasiswa, salah satunya adalah Mahasiswi Prodi Sosiologi-Antropologi 2012, Putri Anggraeni. Ketika ditemui Kamis (23/5) lalu, dirinya mengaku tidak puas dengan koleksi buku yang terdapat di perpustakaan FKIP yang menurutnya tidak lengkap. Keluhan senada juga diungkapkan mahasiswa Pendidikan Sejarah 2012, Muhammad Anggie Farisqi Prasadana, “dulu saya pernah meminjam buku tentang ‘Ali bin Abi Tholib’, bukunya kayak dimakan rayap. Terpaksa adanya itu, kita benarbenar butuh, yah dipinjem. Tapi saya gak mempermasalahkan soal itu, yang penting masih jelas dibaca,” tuturnya, Selasa (21/5).Menurut penelusuran crew Motivasi, memang masih banyak buku lain yang juga belum bisa ditemui di perpustakaan FKIP, salah satunya buku untuk Program Pendidikan (Prodi) Bahasa Jawa. “Sebenarnya sudah ada mas, hanya saja masih di gudang belum kami proses. Jadi belum bisa dikeluarkan di katalog buku,” jelas Kepala Perpustakaan FKIP, Sukamto, Rabu (22/5).

Sukamto menambahkan, salah satu upaya dalam menangani keterbatasan koleksi buku tersebut, yaitu adanya kebijakan baru yang mewajibkan para wisudawan/wati untuk menyumbangkan buku seharga minimal Rp 50.000,- setiap orangnya, sehingga diperkirakan setiap tahun akan ada penambahan jumlah sekitar 250 buku di perpustakaan FKIP. Fasilitas Namun di sisi lain masih ada keluhan yang belum juga menemui titik terang, Mahasiswa Prodi Sosiologi-Antropologi 2011, Edo Johan Pratama berpendapat bahwa komputerisasi perpustakaan FKIP masih kurang maksimal, namun ia mengaku pelayanan keamanan barang sudah sangat bagus, Rabu (22/5). Dari sekian fasilitas yang ada di perpustakaan, mahasiswa merasa masih banyak di antaranya yang kurang memadai. Namun Sukamto mene-gaskan bahwa pihak perpustakaan sudah menyediakan fasilitas yang dibutuhkan, hanya saja kesadaran mahasiswa dalam mendukung fasilitas tersebut dirasanya masih kurang. Contohnya rak sepatu yang sudah disediakan pihak perpustakaan tidak dimanfaatkan dengan baik, sehingga sepatu-sepatu berserakan dan menimbulBersambung ke halaman 3...


Edisi 133 JUNI 2013

Dok. Pribadi

Redupnya Manfaat Perpustakaan FKIP Perpustakaan adalah bagian vital pada suatu lembaga pendidikan. Vitalnya keberadaan perpustaakaan membuat asumsi bahwa berdirinya universitas harus juga dibarengi dengan adanya sebuah perpustakaan. FKIP sebagai bagian dari UNSpun juga memiliki perpustakaan tersendiri. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana pemanfaatan perpustakaan fakultas ini? Jika dibandingkan, peran yang seharusnya dan sangat bertolak belakang kondisi lapangan. Mahasiswa menilai perpustakaan FKIP kurang dalam berbagai hal, semisal koleksi buku, ataupun tempat yang kurang luas, Mahasiswa FKIP seakan enggan masuk kedalam perpustakaan FKIP, terkadang buku yang mereka cari tidak ada disana. Bahkan petugas perpustakaan pun mengeluhkan SDM yang minim untuk melayani hampir seluruh mahasiswa FKIP. Idealnya, perpustakaan FKIP harus mampu menunjang kegiatan akademik mahasiswa FKIP. Lalu jika seperti ini yang terjadi, apakah manfaat perpustaakn FKIP menjadi menurun? Inilah yang harusnya dibenahi dan diperhatikan. Koordinasi baik dari tingkat pusat hingga fakultas tentang pengelolaan perpustakaan harus ditingkatkan. Pihak-pihak terkaitpun harusnya mampu melihat kebutuhan akademik mahasiswa, karena manfaat perpustakaan imbasnya adalah pada mahasiswa. Jika hal ini mampu dijalankan, peran perpustakaan FKIP akan kembali ke jalan yang paling ideal untuk kegiatan akademik mahasiswa, bukan sekedar untuk pemanis eksistensi fakultas maupun unversitas. Redaksi_ Edisi 133 JUNI 2013

Edisi 133 JUNI 2013

Nasib IOM FKIP Belum Jelas

MTV/Cecil

Nasib IOM FKIP Belum Jelas

Edisi 133 JUNI 2013 MTV/Cecil

Nasib IOM FKIP Belum Jelas

MTV/Cecil

Pengelolaan Perpustakaan FKIP Kurang Optimal Pengelolaan Perpustakaan FKIP Kurang Optimal

Pengelolaan Perpustakaan FKIP Kurang Optimal

‘’ Mahasiswa Pendidikan BK 2011

‘’ Mahasiswa Pendidikan BK 2011

Bersambung ke halaman 3...

Bersambung ke halaman 3...

Bersambung ke halaman 3...

Bersambung ke halaman 3...

‘’ Mahasiswa Pendidikan BK 2011

Bersambung ke halaman 3...

Bersambung ke halaman 3...

Redaksi AK-47 menerima Karya Mahasiswa berupa Opini, Persepsi, dan Surat Pembaca. Kirim tulisan beserta foto dan identitas diri ke motivasi_uns@yahoo.com atau lansung ke sekre LPM Motivasi FKIP UNS. Redaksi berhak mengedit naskah sepanjang tidak mengubah substansi tulisan.

Dok.Pribadi

Pesan untuk Mahasiswa dari Pilgub Jateng 2013

Pemilihan Gubernur Jawa Tengah (Pilgub Jateng) 2013 yang baru saja berlangsung pekan kemarin meninggalkan beberapa catatan bagi para pengamat politik. Angka golput yang mencapai 49% merupakan catatan yang miris dalam sejarah berlangsungnya pemilihan umum di Tanah Air. Faktor Tingginya Golput Jika mau menilik secara mendalam besarnya angka golput yang muncul ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, sosialisasi yang kurang dari KPU atau dari para calon sendiri terhadap masyarakat Jawa Tengah secara keseluruhan. Diakui memang bahwa sosialisasi menjadi hal yang sangat penting bagi suksesnya penyelenggaraan proses demokrasi. Kedua, keapatisan masyarakat terhadap proses demokrasi di Tanah Air yang kian meningkat. Hal ini bisa dibuktikan dengan ketidakpercayaan dari sebagian masyarakat ketika banyaknya wakil-wakil mereka di negeri ini cenderung tidak amanah dan tidak bisa menepati “janji-janji manis” yang dulunya mereka sampaikan kepada rakyat. Ketiga, tesis dari Daniel Bell dalam bukunya “The End of Ideology: On the Exhaustion of Political Ideas in the Fifties” terbitan tahun 1960 yang mungkin juga diyakini oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Matinya ideologi dalam ranah politik juga bisa dianggap sebagai titik acuan kenapa keapatisan terhadap proses politik dan demokrasi kian melonjak. Namun yang

sekarang muncul justru partai-partai itu tendensi ideologinya hanya berjuang untuk uang. Naif sekali. Inilah yang kemudian mungkin juga menjadi dasar masyarakat untuk memilih golput. Harapan kepada Mahasiswa Di sinilah peran penting mahasiswa untuk menyadarkan kepada masyarakat tentang pentingnya ikut andil dalam proses demokrasi. Mahasiswa yang masih bersih dari kepentingan praktis seharusnya juga mampu bersikap cerdas dan juga mencerdaskan bukan malah menjerumuskan serta menumbuhkan bibit-bibit suram di Indonesia. Kampus sebagai ruang aktualisasi para intelektual muda yang bebas dari segala kepentingan praktis juga harus terus didampingi dan diawasi “kebersihannya”. Karena sungguh naif sekali jika sejak mahasiswa, doktrin-doktrin politik praktis seperti kondisi perpolitikan belakangan ini yang cenderung kotor sudah diterapkan. Mau jadi apa bangsa ini jika sistem yang kotor ini masih saja disambung napasnya. Mahasiswa kelak diharapkan mampu memutus lingkaran setan ini. Serta yang lebih penting lagi adalah menumbuhkan jiwa-jiwa kepemimpinan yang berkarakter, mempunyai idealisme tinggi, berdekasi, jujur, dan amanah dalam diri setiap mahasiswa. Mahasiswa adalah calon pemimpin bangsa yang dinanti-nantikan mampu membuat perubahan besar untuk Indonesia yang lebih baik. Semoga gubernur terpilih mampu membuat Jateng menjadi lebih baik. Semoga!

Ahmad Rodif Hafidz Mahasiswa Teknik Sipil Fakultas Teknik UNSl

Surat Pembaca

Dewan Mahasiswa (DEMA), Saya kecewa. Salah alamat menyampaikan aspirasi padamu. Saya mahasiswa Jurusan Matematika FMIPA UNS. Sebagai Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) UNS , saya Mengambil pelajaran dari sikap kritis mahasiswa yang dimotori maka sejak awal April 2013 perhatian saya tertuju pada Ormawa bernama Syiar Kegiatan Islam (SKI) FMIPA UNS. Setelah saya pelajari, ternyata tak ada SK yang menjadi dasar pelantikan kepengurusannya, 7 Maret 2013 lalu. Sebagai anggota KBM UNS, saya malu dan menyayangkan, jika terdapat kepengurusan Ormawa yang illegal (tidak sah). Pada 22 April 2013, surat pertanyaan saya layangkan kepada Dewan Pertimbangan Organisasi SKI. Tidak ada respon, maka tanggal 3 Mei 2013, surat aspirasi saya sampaikan kepada DEMA FMIPA UNS. Sama, tidak ada respon. Pada 20 Mei 2013, berpedoman

pada ART KBM UNS, saya putuskan menggugat legalitas kepengurusan SKI FMIPA UNS periode 2013. Surat gugatan diterima oleh Ketua DEMA UNS di Gd. Porsima Lantai II pukul 11.08 WIB. Cukuplah saya dikecewakan oleh DEMA FMIPA UNS periode 2013 yang enggan merespon aspirasi kendati tiga kali surat sudah dilayangkan. Semoga DEMA UNS tak demikian. Saya lebih memilih berkirim dan menyampaikan surat daripada SMS personal karena menjunjung tinggi etika berkomunikasi sekaligus wujud hormat pada Dewan Mahasiswa.

Putra Rifandi Matematika/FMIPA UNS


Edisi 133 JUNI 2013

Sambungan Dari Hal. 1 Kejelasan Dana IOM...

hasilnya sudah disampaikan ke jajaran pimpinan fakultas, hingga akhirnya muncul wacana bahwa tidak ada lagi penarikan dana IOM. Dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa mahasiswa yang belum mengetahui tentang wacana tersebut dan terdapat kesimpang-siuran mengenai wacana ini. Seperti yang diungkapkan Mahasiswa Pendidikan Matematika 2010, Arini Mayan Fa'ani, “nggak tau ya tentang wacana SK IOM itu,” Sabtu (25/5). Ketika crew Motivasi berusaha mengonfirmasi perihal adanya wacana bahwa SK pemberhentian penarikan dana IOM, Pembantu Dekan III, Drs. Amir Fuady, M.Hum belum bisa memberikan keterangan. Dekan FKIP UNS, Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd., pun menolak memberikan keterangan terkait wacana SK IOM saat dtemui crew Motivasi dikantornya, Kamis, (30/5). Kejelasan Dana Terkait dengan pembagian dana

IOM, Alqaan memberikan keterangan bahwa dana IOM tidak dibagi begitu saja. Pihak ormawa harus membuat proposal kegiatan yang kemudian disetujui oleh BEM, dan nantinya akan dipertimbangkan pencairan dananya oleh ketua IOM, Drs. Marzuki. Alqaan melanjutkan bahwa sebenarnya masih ada sisa dari dana IOM, namun belum diketahui sisa dana tersebut akan dialokasikan untuk apa. Berbeda dengan pendapat Alqaan, ketika ditemui Jum’at (24/5) lalu, Pengurus Himpunan Mahasiswa Bimbingan dan Konseling (Himabiko), Fandy Kurniawan mengungkapkan bahwa ketika dirinya menemui ketua IOM untuk pengajuan dana acara BK Fair, Marzuki mengatakan bahwa dana IOM sudah tidak ada lagi, sehingga sampai saat ini dirinya kebingungan mencari dana untuk acara tersebut. Alqaan juga menambahkan perihal IOM sebenarnya tidak mempunyai payung hukum, yang artinya tidak ada aturan dari negara yang membahas mengenai IOM.

Ia menjelaskan, IOM ada karena dana khusus untuk kegiatan kemahasiswaan FKIP masih kurang. Ada 22 prodi, 10 UKM, dan 6 jurusan, masing-masing punya agenda sendiri, jika hanya mengandalkan uang fakultas pasti kurang, maka perlu ada dana IOM. Mahasiswa berharap dengan adanya wacana pemberhentian penarikan dana IOM, seharusnya keadilan bagi mahasiswa yang sudah membayar maupun yang belum membayar juga diperhatikan. Hal tersebut sesuai penuturan salah satu pengurus UKM Lingkar Studi Pendidikan (LSP), Wahyuni, jika wacana ini akan dilaksanakan lebih baik dana IOM bagi mahasiswa yang sudah membayar dikembalikan saja, Jum’at (24/5). Cahyo pun menam-bahkan,“SK-nya harus segera dikeluarkan agar terdapat kejelasan mengenai IOM”. Afzal_ Cahya_ Ema_ Fransisca

Sambungan Dari Hal. 1 Perpus FKIP...

kan bau yang mengganggu. Lain lagi dengan, Anggie, ia menginginkan pihak fakultas menyediakan tambahan ruang untuk perpus. Menurutnya ruangan yang ada masih sangat kurang, “soalnya kalau pagi sampai dhuhur itu ramai, jadi gaduh dan kurang bisa konsentrasi,” tuturnya. Menanggapi hal ini, Sukamto juga menyadari perpustakaan FKIP membutuhkan penambahan ruang, bahkan beliau merasa bangunan perpustakaan tersebut perlu dipisah dari gedung perkuliahan. Dana Berdasarkan keterangan dari salah satu petugas perpustakaan, Aris Suprihadi, A.Md, pihak fakultas hanya ikut andil dalam hal pengadaan buku di setiap tahunnya, tetapi tidak mengalokasikan dana khusus untuk biaya pengelolaan perpustakaan, Selasa (21/5). Biaya perawatan buku hingga saat ini hanya berasal

dari uang denda. Nominal Rp.4000,- yang harus dibayar saat mengurus kartu keanggotaan perpustakaan FKIP juga dirasa mahal oleh mahasiswa, berbeda dengan perpustakaan pusat UNS yang hanya mengenakan biaya Rp.2000,-. Saat dikonfirmasi mengenai hal ini, Aris menjelaskan bahwa hal tersebut dikarenakan adanya keterbatasan alat, berbeda dengan pihak perpustakaan pusat yang sudah mempunyai alat secara mandiri.

Kurang SDM Kurangnya sumber daya pengelola perpustakaan menyebabkan pengelolaan buku yang semrawut. Tidak mengherankan apabila pengolahan koleksi buku, termasuk katalogisasi menjadi sangat lambat. Selain itu masalah ini juga berdampak pada kurang terstrukturnya pembagian kerja pegawai perpustakaan yang mengakibatkan pengelolaan perpustakaan berjalan kurang optimal. “Jadi kerjanya campur aduk, ya mengurusi peminjaman, katalogisasi, ngurusi tas,” terang Sukamto. Jumlah pegawai perpustakaan yang hanya terdiri dari 4 orang membuat Sukamto merasa perlu ada tambahan petugas perpustakaan agar mempermudah pengelolaan. “Pegawainya itu kalau bisa yang basic-nya pustakawan,” tandasnya.

Riri_Tika_Meita Agus Eko Cahyono

Pempinan Umum: Imron, Sekretaris Umum : Novelia A, Staf Sekum : Istiqomah, Pradita, Eka Sari, Bendahara Umum : Winda, Pempinan Redaksi: Janah, Sekertaris Redaksi: Ayu, Kabiro AK-47: Wildan, Kabiro Online: Nurul R, Staf Online : Dina Ema, Fransisca, Editor: Nurlatifah, Risna, Reporter: Agus Eko, Cahya Hati, Tsabita, Meita A, Afzal, Arisanti, Swastika, Pempinan Litbang : Amanda, Sekretaris Litbang : Aditya Day, Kabiro Pengkaderan : Esdaniar, Staf Pengkaderan : Sekar, Hesti, Rifen, Haniatul, Kabiro Risdok : Afifah, Staf Risdok : Puji, Sri Lestari, Ningrum, Dai, Kabiro Jarkom : Tegas, Staf Jarkom : Intan, Doni, Saifudin, Pempinan Perusahaan : Allutfi, Sekretaris Perusahaan : Siti, Kabiro Iklan : Silmi, Staf Iklan : Hasna, Fanni, Tuti, Maryati, Desi, Fitriana, Kabiro Produksi Distribusi : Aditya Rist Staf Produksi Distribusi: Tami, riky, Titi, Twindy, Kabiro Artistik: Fajar R, Staf Artistik : Cecillia S, Apri. Alamat Redaksi: Gedung KBM Lt. 1 FKIP, UNS, SURAKARTA, E-mail: motivasi_uns@yahoo.com, Web : lpmmotivasiuns.com Blog: radikalpersma.blogspot.com, Facebook : LPM MOTIVASI FKIP UNS, Twitter : @motivasiuns


Wawancara Utama

Edisi 133 JUNI 2013 MTV/Repro

Kepala Perpustakaan FKIP UNS: “Sekarang dari fakultas ada pembelian buku besar-besaran sekitar 500 juta, itu ditaruh di gudang sana jadi belum sempat diurus.� Berikut adalah hasil wawancara crew LPM MOTIVASI FKIP UNS dengan Kepala Perpustakaan FKIP UNS, Sukamto pada hari Rabu (22/5) terkait pengelolaan perpustakaan FKIP UNS. kita turunkan atau kalau saya punya gagasan pakai kartu mahasiswa saja sudah cukup, jadi tidak usah daftar tidak apa-apa.

Mengapa koleksi buku di Perpustakaan FKIP terbatas? Ya itu pas kebetulan saja, ketika cari di perpustakaan pusat ada. Kalau masalah pendidikan saya kira banyak sekali disini (Perpustakaan FKIP-red), kecuali untuk bidang ilmu khusus belum ada, jadi harus cari di perpustakaan pusat. Untuk memperbaharui koleksi buku bagaimana prosedurnya? Mulai wisuda periode 130 tahun 2012 setiap mahasiswa diwajibkan menyumbang buku seharga 50 ribu, sehingga kalau harganya 100 ribu atau lebih bisa ditanggung 2 mahasiswa. Kalau dulu kan menyumbang dalam bentuk uang , tapi setelah berunding dengan bidang Pembantu Dekan1 akhirnya kami memilih kebijakan ini. Jadi tiap tahun mereka (lulusan FKIP-red) bisa menyumbang sekitar 250 buku. Sekarang dari fakultas ada pembelian buku besar-besaran, dengan dana sekitar 500 juta, tetapi sampai saat ini hanya ditaruh digudang dan belum diurus. Mengapa pembuatan kartu lebih mahal dari perpustakaan pusat? Dana Rp 4000,- itu untuk membeli kertas barcode, untuk kartu anggota, laminating, beli stiker. Nanti kira-kira bisa

Apa saja kendala pengelolaan perpustakaan? Kalau saya rasa kurang nyaman, jadi pertama masuk itu rasanya panas. Itu Air Conditioner (AC)-nya kurang memadai, ruang luas AC-nya hanya 2, idealnya kan 4-6 agar bisa adem. Apakah ada dana perawatan buku? Tidak ada, kalau buku dana dari fakultas. Untuk perawatan kita mandiri. Bagaimana dengan pengadaan buku untuk prodi baru misal Pendidikan Bahasa Jawa dan Pendidikan TIK? Itu kebetulan sudah dibelikan,dan termasuk dalam pembelian dari dana fakultas tadi. Itu sebagian belum sempat diproses. Apakah ada koordinasi dengan perpustakaan pusat? Ada, sering kami mengadakan pertemuan, seminar-seminar, paguyuban. Jadi paguyuban pustakawan itu memperbincangkan masalah kemajuan perpustakaan fakultas dan pusat. Dulu rutin tiap tiga bulan sekali tapi sekarang sedang vakum. Jadi acaranya itu seperti arisan, petugas perpustakaan se-UNS dan tempatnya berpindah-pindah, jadi disini (perpustakaan FKIP-red) juga punya kesempatan untuk mengadakan pertemuan.

081914491xxx Saya mau tanya, sebenarnya untuk penyaluran dana beasiswa Bidik Misi (BM) UNS itu sendiri bagaimana mekanismenya? Kalaupun per tiga bula kenapa selalu di akhir periode? Banyak dari saya dan teman-teman saya kesulitan untuk mengatur keuangan kami dengan mekanisme penyaluran dan BM yang bisa dibilang tidak jelas itu. Terima kasih. Alif (FMIPA-UNS) Bagaiman jam malam di UNS? Khusunya untuk wanita? Apakah di UNS sesungguhnya ada aturan tentang jam malam kampus?

Dibanding dengan perpustakaan fakultas lain, apakah kondisi perpustakaan FKIP sudah layak? Saya kira sama, malahan di Fakultas Kedokteran ruangannya sempit, lebih banyak sini koleksinya. Di Fakultas Hukum saja juga tidak begitu banyak. Di sini lebih baik dibandingkan dengan fakultas lain. Apakah ada rencana memperluas ruangan? Sebenarnya perlu juga, tapi dengan keadaan seperti ini sudah maksimal. Mungkin nanti ada gagasan supaya gedungnya terpisah sendiri, jadi khusus perpustakaan. Bukannya jadi satu seperti ini dengan gedung kuliah, hal tersebut bisa dipikirkan. Bagaimana dengan rencana peningkatan kualitas? Untuk jumlah buku sudah cukup, satu periode saja sekitar 250 buku, kalau satu tahun berapa?. Nanti pekerjaannya juga jadi nambah kalau bukunya banyak. Apa harapan Bapak ke depannya? Harapan ke depan kalau bisa gedung perpustakaan sendiri dan tenaganya ditambah, jadi bisa optimal. Pegawainya itu kalau bisa yang basic-nya pustakawan, jadi lebih enak, mengerjakannya bisa lebih cepat. Disini pegawainya hanya ada empat termasuk saya, jadi kerjanya campur aduk, ya mengurusi peminjaman, katalogisasi, mengurusi tas. Jadi kurang optimal. Meita_Agus_Swastika

KORAN AK-47

Korannya Mahasiswa

UNS


Poling

Edisi 133 JUNI 2013

78% Responden : Koleksi Buku Perpustakaan FKIP Belum Memenuhi Kebutuhan Mahasiswa FKIP Perpustakaan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNS merupakan sarana penyedia koleksi buku khusus untuk mahasiswa dan dosen FKIP. Perpustakaan FKIP memiliki peran sebagai pusat informasi, ilmu pengetahuan, dan pendukung dalam proses pendidikan. Sebagai pengguna perpustakaan FKIP, mahasiswa dan dosen FKIP memiliki kesempatan untuk memanfaatkan fasilitas yang ada di perpustakaan FKIP. Beberapa koleksi buku yang tersedia di perpustakaan FKIP dapat dipinjam dengan syarat-syarat tertentu bagi pengguna perpustakaan FKIP yang telah memiliki kartu anggota perpustakaan FKIP, tetapi terdapat beberapa buku yang tidak dapat dipinjam dan hanya boleh dibaca di dalam ruang perpustakaan FKIP. Koleksi buku yang terdapat di dalam perpustakaan FKIP telah ditempatkan dalam rak-rak yang sesuai dengan kategori buku tersebut. Di perpustakaan FKIP, tidak hanya terdapat koleksi buku untuk referensi, ada pula koran serta majalah yang up to date untuk menambah wacana pengguna perpustakaan FKIP. Menanggapi hal ini, crew LPM Motivasi FKIP UNS bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) berusaha menggali pengetahuan mahasiswa FKIP UNS mengenai perpustakaan FKIP melalui polling yang disebar dengan teknik random sampling (pengambilan sampling secara acak). Penyebaran polling dilaksanakan pada 25 Mei 2013 sampai 27 Mei 2013 dengan jumlah responden 111 mahasis-

Sampling eror 7%

wa. Adapun pertanyaan-pertanyaan yang diajukan adalah sebagai berikut : 1. Apakah koleksi buku yang ada di perpustakaan FKIP sudah memenuhi kebutuhan Anda sebagai mahasiswa FKIP? 2. Menurut Anda, apakah koleksi buku yang ada sudah terawat dengan baik? 3. Menurut Anda, apakah pelayanan petugas perpustakaan FKIP sudah baik? Berdasarkan hasil rekapitulasi polling yang dihimpun, pada pertanyaan pertama mengenai sudahkah koleksi buku yang ada di perpustakaan FKIP memenuhi kebutuhan mahasiswa FKIP, sebanyak 15% responden atau 17 mahasiswa menjawab sudah memenuhi, sebanyak 78% responden atau 86 mahasiswa menjawab belum memenuhi, dan sebanyak 7% responden atau 8 mahasiswa merupakan sampling eror. Mahasiswa Pendidikan Fisika, Uul berkomentar, “koleksi buku di perpustakaan FKIP sudah memenuhi kebutuhan saya tetapi masih kurang banyak referensinya.” Berbeda dengan Uul, mahasiswa Pendidikan Kimia, Fera beropini, “belum banyak buku yang tersedia di perpustakaan FKIP. Selain itu, buku yang dibutuhkan mahasiswa untuk referensi dalam perkuliahan tergolong buku yang masih edisi lama dan jumlahnya pun terbatas .” Pada pertanyaan kedua mengenai sudahkah kondisi buku yang ada terawat dengan baik, sebanyak 26% responden atau 29 mahasiswa menjawab sudah baik, sebanyak 66% responden atau 73 mahasiswa menjawab belum baik, serta sebanyak 8% responden atau 9 mahasis-

wa merupakan sampling eror. Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Antropologi, Arga berpendapat, “koleksi buku yang ada sudah bersih dan rapi.” Sementara itu, mahasiswa Pendidikan Biologi, Arief Aditya Fuadi mengungkapkan, ”penataan buku masih kurang tertata rapi dan terdapat beberapa buku yang diletakkan di rak yang tidak sesuai dengan kategori buku tersebut.” Pada pertanyaan ketiga mengenai pelayanan petugas perpustakaan FKIP, sebanyak 38% responden atau 42 mahasiswa menjawab sudah baik, sebanyak 47% responden atau 52 mahasiswa menjawab belum baik, sebanyak 10% responden atau 11 mahasiswa menjawab tidak tahu, dan sebanyak 5% responden atau 6 mahasiswa merupakan sampling eror. Mahasiswa Pendidikan Ekonomi, Bani berpendapat, ”semua petugas perpustakaan telah melayani pengunjung perpustakaan FKIP dengan ramah dan sesuai kebutuhan mereka.” Berbeda dengan Bani, mahasiswa Pendidikan Ekonomi, Bakhrul R beropini, “petugas perpustakaan FKIP belum menunjukkan sikap yang ramah, kurang senyum, dan kurang cekatan dalam melayani pengunjung perpustakaan FKIP. Petugas perpustakaan FKIP juga lebih cepat menutup perpustakaan FKIP dari jadwal yang ditetapkan. Tolong hal ini lebih dibenahi lagi, terutama dalam hal pelayanan.”

Litbang_

Sudah 15%

Sampling eror 8% Sudah 26% Belum 78%

*Hasil polling tidak merepresentasikan seluruh suara mahasiswa FKIP UNS

66% belum


Edisi 133 JUNI 2013

UNS Seminggu

Launching Forum Angkatan 2012 (STA12S) (AK-47, FKIP UNS) Sabtu, (25/5) puluhan mahasiswa FKIP UNS mengikuti acara Launching Forum Angkatan Muslim 2012 di gedung F, FKIP UNS. Dalam acara tersebut juga diadakan Seminar dan Dialog Pendidikan dengan tema ”Bangkitkan Pendidikan Indonesia! Menuju Indonesia Emas” yang menghadirkan dua pembicara, yaitu: Yus Ibnu Yasin (Trainer ESQ) dan Sukarmin, S.Pd, M.Pd, Ph.D (Kajur P.MIPA). Forum angkatan muslim 2012 diberi nama STA12S (Silaturahmi Angkatan 2012 Solid). Acara launching forkat (forum angkatan) dihadiri sekitar 250 mahasiswa FKIP UNS angkatan 2012. “Forum angkatan ini dibuat untuk mewadahi angkatan 2012, khususnya mahasiswa muslim sebagai forum komunikasi dan tujuanya untuk mempererat silaturahmi antar mahasiswa FKIP,” tutur panitia forum angkatan 2012 Desi Dwi Ratnasari. Koordinator forum angkatan 2012 putri, Wulan Nur Janah berharap bahwa forum angkatan tersebut kedepannya berlanjut dengan kegiatan-kegiatan positif. Istiqomah_

Pelantikan HMP PLB FKIP UNS (AK-47, FKIP UNS) Senin (30/5), Himpunan Mahasiswa Prodi Pendidikan Luar Biasa (HMP PLB) mengadakan pelantikan pengurus periode 2013-2014. Acara yang diketuai oleh Rizky Astuti itu bertempat di Ruang Sidang Gedung A Lantai 2 dimulai pada pukul 15.00 WIB tersebut berlangsung lancar. Ketua Prodi PLB, Drs. Hermawan M. Si, Ketua HMP PLB Demisioner, Dimas Arif Dewantoro dan tamu undangan dari UKM serta Himpunan Mahasiswa lainnya juga datang dalam acara ini. Tetapi hanya sedikit perwakilan dari HMP maupun UKM yang datang untuk menyaksikan acara pelantikan. Acara diakhiri dengan sambutan ketua HMP PLB periode 2013/2014, Muhammad Fajar. dalam sambutannya Muhammad Fajar berharap agar kedepannya HMP PLB lebih maju dan berkembang. Aditya Day_

Tribute to Drs. Sudarsono, M.Hum MTV/Cecil

Pekan Sejarah (AK-47, FKIP UNS) Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UNS bekerjasama dengan Magister Pendidikan Sejarah Program Pascasarjana UNS, mengadakan Pekan Sejarah yang dibuka Senin (27/5) dengan Pasar Buku di depan mini market Tania. Selasa (28/5) diskusi Buku dengan judul Gayatri Rajapatni: Perempuan di Balik Kerajaan Majapahit dengan pembicara Dr. Niken Wirasanti M. Hum. dan Drs. Herimanto M. Pd., M. Si., serta hadir sebagai moderator, Musa Pelu, S. Pd., M. Pd. Rabu (29/5), Seminar Nasional Menggugat Historiografi Indonesia dengan pembicara Dr. Asvi Warman Adam dan Prof. Dr. Hariyono, dan Seminar Nasional Penelitian dan Penulisan Sejarah Lokal dengan pembicara. Beberapa cara ini berlangsung meriah, terlihat dari antusias peserta yang mengikuti rangkaian acara pekan sejarah. Hal ini sesuai denagn pernyataan, bendahara pekan sejarah, Fina Rika Istanti, bahwa acara ini bisa dikatakan sukses dan ramai, terlihat dari penjualan buku pada pasar buku yang diadakan penjualannya mencapai 199 buku. Nurlatifah_

Pelantikan BEM FKIP UNS (AK-47,FKIP UNS) Jumat (31/5) Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan atau BEM FKIP UNS menggelar pelantikan pengurus baru periode 2013/2014, dengan nama kabinet pembaharu. Acara yang diselenggarakan di aula gedung F FKIP UNS itu di hadiri oleh pembantu dekan III, Drs. Amir Fuady, M.Hum dan juga dihadiri oleh delegasi dari HMP, HMJ, UKM se-FKIP, serta dari BEM se-UNS. Dalam sambutannya Amir Fuady berharap bahwa dengan dilantiknya kepengurusan baru dapat memberikan kontribusi yang maksimal bagi mahasiswa FKIP. Inti dari pelantikan ini adalah Serah jabatan dari presiden BEM periode 2012/2013 yaitu Alqaan Maqbullah Ilmi kepada presiden BEM FKIP yang baru yaitu Arif Fauzi Kurniawan, yang berlangsung dengan khidmat. Pada periode ini ada lima kementrian yang dilantik, berbeda dari pelantikan periode sebelumnya yang berjumlah tujuh kementrian. Arif selaku Presiden BEM FKIP 2013/2014 berharap dengan dilantiknya kabinet pembaharu ini dapat menyumbangkan halhal baru sesuai dengan namanya. Puji_

(AK-47, FKIP UNS) Pembukaan Pameran Seni Rupa Tribute To Drs. Sudarsono, M.Hum yang digelar pada Senin (27/5) merupakan rangkaian acara yang berlangsung sampai (28/5) di gedung E, FKIP UNS. Pameran ini diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Prodi Seni Rupa sebagai wujud apresiasi kepada alm. Sudarsono. Dalam pameran ini tersaji karya seni rupa dua dimensi maupun tiga dimensi dari mahasiswa prodi seni rupa yang memvisualisasikan sosok alm. Sudarsono. Pameran ini dibuka oleh Kepala Jurusan PBS dan Kepala Prodi Seni Rupa, kemudian dilanjutkan dengan sharing tentang sosok sang dosen, alm. Sudarsono baik dari kalangan mahasiswa, rekan dosen dan juga keluarga beliau. Setelah acara sharing selesai, dilanjutkan dengan pemotongan pita oleh istri alm. Drs. Sudarsono, M.Hum yang menandakan bahwa Pameran Tribute To Drs. Sudarsono, M.Hum resmi dibuka bagi para pengunjung. Acara berlanjut dengan penampilan musik band dari beberapa mahasiswa seni rupa sampai selesai. Cecil_

Workshop Pelatihan Kepenulisan “Proposal Penelitian” SIM (AK-47, UNS) Kamis (23/5), UKM Studi Ilmiah Mahasiswa (SIM) menggelar acara Workshop Pelatihan Kepenulisan. Acara berlangsung di Aula Gedung Kemahasiswaan (Mawapusat) Lt. 2 dengan pembicara Krisnawan, mahasiswa Pendidikan Teknik Mesin (PTM) 2008. Ia merupakan mahasiswa FKIP yang telah mengikuti berbagai kompetisi nasional maupun internasional. Workshop dipimpin oleh moderator, Linggar Kharismaya dan pembawa acara Dara Maytisa , dihadiri para anggota dan pengurus SIM kurang lebih 30 orang. Acara yang diketuai oleh mahasiswa Pendidikan Ekonomi 2011, Nunung Adik Permana ini membahas tentang proposal penelitian, karya tulis dan essay. Meita_


Nylekit

Edisi 133 JUNI 2013

Begog: “Masih Harus Bayar IOM?” Akhir-akhir ini suasana Kota Solo begitu panas. Rasanya seperti matahari hanya berjarak satu jengkal diatas kepala Begog. Akan tetapi hal itu tidak memperburuk semangat Begog yang sangat menggebu-gebu. Terlihat jelas ketika ia berjalan kaki dari Perpustakaan UNS menuju ruang kuliahnya di Gedung B FKIP UNS. Udara panas membakar jadi terasa sangat menyejukkan baginya. Dalam perjalanan ia bertemu dengan seseorang yang sangat ia kenal. “Itu Njenik bukan yah? Kok mukanya gak kayak biasanya, dari awal aku bertemu dia selalu cerah ceria,” gumamnya. Ya, Njenik. Gadis yang telah mencuri hatinya. Tak mau berlama-lama menebak karena takut jam kuliahnya segera dimulai, dengan sedikit ragu dan ekspresi muka penuh penasaran, Begog menghampiri sang gadis disudut teras Gedung Ungu itu. “siang.........,” sapanya sambil membungkukkan badan menatap sang gadis. “Eh, kamu Gog!” jawab Njenik kaget, tersentak dengan suara khas Begog yang lumayan garang itu. “Ada apa to Gog, kamu ini loh ngagetin aja, udah kaya hantu di siang bolong, huh!” Sentak Njenik yang kala itu masih mengatur nafasnya yang tak karuan karena kaget. “Gak apa-apa kok Nik, aku penasaran aja, soalnya kamu hari ini gak kayak biasanya, emang kenapa toh kayaknya serius banget?” tanya Begog mencair-

kan suasana. “Aku lagi gak enak kuliah nih, kayak nyesel masuk sini,” ucap Njenik asal nyeplos. Begog yang sedari tadi begitu semangat sontak begitu kaget mendengar pernyataan Njenik tersebut. “Hah, Nyesel? Gak enak Kuliah? Apa-apaan kamu ini Nik? Baru semester dua udah malas-malasan gitu, terus kenapa pake nyesel segala? Harusnya kita itu bangga, UNS kan World Class University,” Begog mencoba menyemangati Njenik. “Iya sih Gog katanya gitu. Masalahnya, UNS udah memeberlakukan sistem UKT tapi aku denger-denger masih ada juga yang disuruh bayar IOM, buat keluargaku yang serba pas-pasan kan sangat memberatkan,” ungkapnya dengan muka memelas. Begog kemudian berfikir sejenak, mengumpulkan informasi sejenis yang dirasanya pernah ia ketahui sebelumnya, lalu kembali memulai perbincangan. “Nik, namanya aja Uang Kuliah Tunggal, kata TUNGGAL harusnya sudah bisa menegaskan gak akan ada lagi pungutan biaya apapun di luar itu,” terang Begog yakin. “Tapi Gog, dari dulu udah ada iuran IOM, walaupun SK yang mengaturnya gak jelas tapi kita gak bisa wisuda nanti kalau gak bayar IOM,” air muka Njenik semakin terlihat mengkhawatirkan. Dirinya penasaran akan kejelasan perkara yang tak kunjung transparan itu, berharap Begog dapat memberikan pencerahan kepadanya. “Hmmmm......, masih harus bayar IOM

Sukamto (Kepala Perpustakaan FKIP): Sebenarnya sudah ada mas, hanya saja masih di gudang (buku-red) belum kami proses. Jadi belum bisa dikeluarkan di katalog buku. Bungkam: Jadi kalau pinjam buku itu di pepustakaan atau cari di gudang? Mahasiswa butuh pak. Aris Suprihadi, A.Md (Petugas perpustakaan): Biaya perawatan buku hingga saat ini hanya berasal dari uang denda Bungkam: Padahal mahasiswa FKIP itu berkarater kuat dan cerdas, jadi pasti tertib pengembaliannya. Putri Anggraeni (Mahasiswi Prodi Sosiologi-Antropologi 2012): Dulu saya pernah meminjam buku tentang “Ali bin Abi Thalib”, bukunya kayak dimakan rayap. Bungkam: Bukunya itu untuk mahasiswa atau untuk rayap sih? Alqaan Maqbullah Ilmi (Presiden BEM periode 2012/201): Bagi saya itu tidak adil ya, bagaimana dengan yang sudah bayar? Apa mau dikembalikan atau bagaimana? Bungkam: Kalau dirasa tidak adil mahasiswa harus bagaimana ya? Cahyo Adit Sucipto (Mahasiswa Pendidikan BK 2011): SK-nya harus segera dikeluarkan agar terdapat kejelasan mengenai IOM. Bungkam: Berarti selama ini belum jelas?

ya?”, Begog tak mampu berkata-kata. Masih menerawang, sebab memang pihak universitasnya hingga saat ini masih enggan memberi gambaran atas kejelasannya. Sejurus kemudian Kiko sang aktifis Organisasi pun datang. Ia yang sejak tadi memperhatikan keduanya malah senyumsenyum sendiri dari jauh. Mungkin baginya, mereka bagai dua anak ayam hilang yang galau mencari induknya. Dengan penuh percaya diri, dari kejauhan Kiko melambaikan tangan yang diiringi dengan langkahan kakinya menuju Begog dan Njenik. “Hai, lagi pada ngapain nih, serius amat?” sapa Kiko penuh percaya diri. “Kebetulan banget kamu datang ko, aku pengen nanya tentang kejelasan IOM di tengah pemberlakuan sistem UKT,” tanya Njenik. “Oh itu, setahu saya dalam sistem UKT udah gak ada lagi pungutan biaya dalam bentuk apapun untuk perkuliahan, termasuk IOM. Beradasarkan UU No.1 tahun 2004 tentang perbendaharaan negara pasal 16, Fakultas tidak memiliki otoritas untuk menerima uang,” Jelas Kiko dengan sumber yang meyakinkan. “Tuh kan nik, apa ku bilang,” sambar Begog lega. Njenik tersenyum, dan dengan penuh semangat akhirnya mereka bertiga berjalan bersama menuju gedung perkuliahan masing-masing.

Nurlatifah_


Edisi 133 JUNI 2013 Dok. Motivasi

Perjuanganku lebih mudah untuk melawan penjajah, tetapi perjuanganmu lebih berat karena melawan bangsamu sendiri. -Soekarno-

J

akarta (1908), Sutomo dan kawan-kawannya mendirikan Perkumpulan Budi Utomo. Seperti melawan arus, perkumpulan ini mencanangkan pemuda sebagai motornya dan orangtua menjadi nahkodanya. Supaya kapal tidak terdampar di laut karang dan selamat sampai pelabuhan, begitulah filosofinya. Terbukti peranan pemuda mampu menjaga keseimbangan “kapal” hingga ikrar Sumpah Pemuda dikumandangkan. Kini sudah lebih dari seabad semangat kebangkitan itu bergema. Jika boleh berargumen, “Jangan sampai semangat kebangkitan ini hilang tanpa bekas.” Masih terekam jelas dalam ingatan, gegap gempita perayaan 100 tahun kebangkitan nasional. Sorot mata bangsa ini tertuju di Gelora Bung Karno, mengagumi kemegahan perayaan yang spektakuler. Kilatan cahaya perayaan mengubah

Resolusi Kebangkitan Nasional malam ibu kota menjadi terang benderang. Rakyat diberikan “tontonan” gratis gaya nasionalis. Kala itu SBY dan JK berdampingan mesra menatap megahnya perayaan. Disaksikan jutaan pasang mata, putra-putri terbaik bangsa menyuguhkan pertunjukan apik nan memesona. Segenap lapisan hanyut dalam suka cita dan kebanggaan. Lima tahun berlalu, perayaan tak semeriah dulu. Namun, cita rasa kebangkitan tetaplah sama, yang lebih utama adalah esensi dari kebangkitan nasional itu sendiri, bukan gemerlap pesta perayaan. Bung Karno pernah berujar, “Perjuangan sekarang lebih berat karena melawan bangsa sendiri.” Seperti itulah kondisi saat ini, bangsa ini berjuang memaknai kebangkitan nasional, menanamkan nasionalisme pada tiap-tiap sendi urat nadinya, tapi justru “dihantam” oleh bangsanya sendiri. Sejarah mencatat, sejak proklamasi hingga kini, selalu muncul pergerakan-pergerakan yang mengancam stabilitas nasional. Belum lagi catatan korupsi, kolusi dan nepotisme yang justru dilakukan oleh anak bangsa sendiri. Jika sudah demikian, bagaimana mungkin bangsa ini bisa bangkit? Kebangkitan bukanlah sebatas ucapan atau angan-angan, ia adalah harga mati. Indonesia bisa bangkit, bisa menjadi Macan Asia atau bahkan dunia. Bangsa ini tidak seharusnya “mati” karena bangsanya sendiri. Tidak ingatkah bangsa ini, akan tiap tetes darah para pahlawan yang mengorbankan nyawa demi membela ibu pertiwi? Pantaskah kita “menghancurkan” hasil perjuangan mereka. Jika mereka bisa hidup kembali, pastilah kita sudah mendapat sumpah serapah.

Sudah bukan saatnya kita terbuai dengan prediksi-prediksi para pakar akan kegemilangan bangsa ini 10 atau 20 tahun ke depan, sudah bukan saatnya lagi kita mengharapkan kedatangan Ratu Adil. Kebangkitan butuh reaksi bukan sebatas aksi. Harga Mati Kebangkitan adalah harga mati yang harus segera dicapai. Sudah sekian lama Indonesia mati suri dalam kesunyian, seperti macan ompong yang hilang dayanya. Sang macan tertidur di hamparan daging segar yang menanti untuk ditelan. Tetapi sang macan nampaknya enggan beranjak dari empuknya tumpukkan daging, hingga macan-macan lain datang untuk merebut daging tersebut. Begitulah gambaran bangsa ini, terlalu nyaman dininabobokan hingga tak sadar sumber daya mulai menipis. Tak dapat dipungkiri, jalan menuju kebangkitan nasional tidaklah mulus-mulus saja. Seperti musuh dalam selimut, bangsa sendiri menyimpan potensi menjegal jalan kebangkitan. Jika sudah demikian, resolusi adalah alternatif pasti. Bangkit bukan sekedar melawan dominasi asing, tetapi juga menyadarkan “kebusukan” bangsa sendiri yang menghambat laju kebangkitan. Kebangkitan harus diterapkan dalam setiap lini. Selamat hari kebangkitan nasional, hidup Indonesia!

Novelia Ardini Sekretaris Umum LPM Motivasi FKIP UNS Periode 2013/2014

AK 47 Edisi 133 LPM Motivasi FKIP UNS  

Klik disini untuk mengetahui perkembangan informasi yang aktual dan faktual di Universitas Sebelas Maret hanya di koran AK-47 edisi 133 Juni...

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you