Issuu on Google+

Dari Redaksi Diterbitkan Oleh : UKM JURNALISTIK Divisi penerbitan Universitas Muria Kudus Periode 2012 – 2013 Pelindung Rektor UMK Pengarah Pembantu Rektor III Dewan Redaksi Zamhuri, S.Ag Penanggung Jawab Sri Haryati Pemimpin Umum Karmila Sari Sekretaris Umum Ulum Minnafiah Bendahara Annisa Puspa Dhara Pemimpin Redaksi Septianti Sekretaris Redaksi Rizka Haryani Redaktur Pelaksana Titik Malikah Fotografer Mukhlisin Reporter Onik R., Farah Dina Y., Naili S. M., Elsya, Lina, Yusrifah, Tri Puji A., Nurus S., Idni Irsalina, Weny R., Hanif, Khoir, Erlina, Khurotul lailis, Dian, Miftahul Ulum.

Pena Kampus

D

alam kehidupan berbangsa dan Negara, andil masyarakatmutlak diperlukan. Hal tersebut bertujuan agar suatu negara berjalan dengan baik. Sehingga diperlukan pemikiran, gagasan,serta ide-ide kritis dalam rangka perbaikan bangsa ini. Begitu pun, bagi mahasiswa. Mereka yang sering digadang - gadang sebagai agen perubahan (agent of change) di negara ini seharusnya mampu memberiwarna yang berbeda di tengah masyarakat. Tentunya, tokoh akademis memiliki cara berbeda dalam menuangkan pemikiran tersebut. Salah satunya keberadaan Pers Maha­siswa Pena Kampus (PEKA) Uni­ver­sitas Muria Kudus. Melalui dunia tulis-menulis, berbagai aspirasi pun dapat tersampaikan. Bukan hanya menyajikan kritik, fakta dan realita juga disuguhkan. Libur panjang merupakan sebuah momok tersendiri bagi para pegiat organisasi kampus. Tak kecuali bagi Tim Redaksi Majalah PEKA XX. Di tengah suasana sepi kampus, libur semester genap, kami tetap berusaha keras dalam proses pembuatan majalah ini. Belum lagi momentum Ramadan disambut dengan ritual dan ibadah. Narasumber sulit ditemui tampaknya hambatan kecil bagi kami. Namun, kami pantang menyerah. Semua itu kami jadikan penyemangat untuk menyelesaikan penerbitan kali ini. Tim redaksi senantiasa kami andalkan. Dengan sepenuh usaha dan ikhtiar,kami berusaha menyajikan informasi baru dan aktual. Pada Edisi XX ini, PEKA Laporan

Utama (Laput) dengan tema “Pasar Modern Kepung Pasar Tradisional di Kudus”. Sektor perdagangan di Kota Kudus notabenenya Kota terkecil di Jawa Tengah tetap ramai. Perekonomian di Kudus salah satu alasan para penguasaha retail besar untuk mendirikan mall dan minimarket. Baru-baru ini, Kudus diramaikan dengan pusat perbelanjaan hypermart dan swalayan. keberadaa pusat perdagangan tersebut menjadi ancaman bagi pasar tradisional. Bicara Laporan Khusus (Lapsus), kami berusaha melakukan penelusuran terhadap salah satu mata kuliah wajib di UMK yakni ‘Kuliah Kerja Lapangan (KKL)’. Kami berusaha melakukan wawancara dengan sejumlah sivitas kebijakan di bidang kurikulum dan sejumlah pemangku kebijakan di masing-masing fakultas. Apakah pelaksanaan KKL memberi e­sensi bagi mahasiswa atau tidak. Selain Laput dan Lapsus, Majalah PEKA tetap menghadirkan berita Seputar Kampus, Wacana, dan Opini dari sivitas UMK, Resensi, Puisi, dan Cerpen. Tak ketinggalan, rubrik Lifestyle ada warna dan kesan baru. Salam hangat kami sampaikan kepada semua pembaca setia Majalah PEKA ini. Baik mahasiswa baru, lama, maupun seluruh sivitas akademika. ‘Tak ada gading yang tak retak’, begitu tamsilnya. Saran serta kritik konstruktif kami harapkan. Agar majalah tercinta ini selalu menjadi pilihan terbaik bagi para pembaca. Selamat membaca! Edisi XX September 2012

1


Daftar Isi

8

Surat Pembaca

PEDAGANG TRADISIONAL DI TENGAH KEPUNGAN RETAILER

Pedagang pasar tradisional hanya bisa pasrah. Retailer besar pasar modern kian mengepung dari segala penjuru Kota Kudus. Mall dan minimarket semakin mudah dijumpai di perkotaan hingga pelosok desa. Pedagang pasar tradisional pun semakin tersisih.

14 Berbeda Penerapan, Tujuan Musti Dimaksimalkan Penerapan mata kuliah Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Universitas Muria Kudus (UMK) berbeda di beberapa fakultas. Mulai dari jumlah Satuan Kredit Semester (SKS), model, serta sistematika. Dari keenam fakultas yang ada, berbeda kurikulum. Misalnya di Fakultas Pertanian (FP) yang meniadakan KKL dan Fakultas Psikologi (FPsi) mewajibkan, tapi menerapkan dengan nol SKS.

Bukan Cara Tepat Mengatasi Stres

26

Perkembangan usaha di depan kampus Universitas Muria Kudus (UMK) cukup menjanjikan. Hal ini karena selalu ramai dan menjadi peluang bisnis menggiurkan. Sebagian warung tersebut, ada yang menawarkan fasilitas tambahan berupa karaoke.

2

Edisi XX September 2012

Dari Redaksi.............................................................. 1 Daftar Isi..................................................................... 2 Surat Pembaca.......................................................... 3 Gapura - Memberikan Peran Mahasiswa.................................... 5 Laporan Utama - Miliki Pangsa Pasar Sendiri......................................... 7 - Pedagang Tradisional di Tengah Kepungan Retailer...................................................... 8 - Ada Peraturan yang Harus Dipatuhi............................ 9 - Tetap Lestarikan Pasar Tradisional di Kudus.............. 11 Opini - Pasar Tradisional di Tengah Kepungan - Pasar Modern di Kabupaten Kudus............................. 12 Laporan Khusus - Berbeda Penerapan, Tujuan Musti Dimaksimalkan.... 14 - Masih Perlu, Konsep Harus Ditinjau Ulang................ 16 - Butuh Perhatian Lebih................................................. 17 Karikatur.................................................................... 20 Opini - Kuliah Kerja Lapangan dan Kompetensi..................... 21 Tokoh - Pilih Lokasi Jauh, Padahal Perusahaan Lokal Kelas Internasional........................................... 22 - Berikan Mahasiswa Pengalaman Lebih...................... 24 Lifestyle - Bukan Cara Tepat Mengatasi stres............................. 26 Sudut Kampus - Hobi Perlu Dioptimalkan dan Dikembangkan............. 28 - Sosialisasikan PKM untuk Memacu Mahasiswa......... 29 - Diskusi dan Pementasan Puisi Alam........................... 29 - Pentas Monolog Tiga koma......................................... 30 - TEYLIN; Memunculkan Pembelajaran Anak............. 30 - KRS Online, Lebih Mudah.......................................... 31 - Menggagas Ruang Terbuka Hijau............................... 32 Bahasa - Bahasa Ibu VS Bahasa Dominan................................. 33 Opini - Dilematika ala Mahasiswa........................................... 35 - Pendidikan Sebagai Proses Pemerdekaan.................... 36 Resensi - Pesan Soegija untuk Bangsa........................................ 37 - Petualangan Tiga Anak Pemulung............................... 38 - Tentang Hujan Lalu..................................................... 39 Wacana - Modernisasi Teknologi Pertanian................................ 40 - Menumbuhkan IKM di Kudus..................................... 42 Budaya - Dandangan Bukan Sekadar Pasar Malam.................... 43 Memoar - Mengejar Mimpi di USA............................................. 45 Sastra Puisi............................................................................... 47 Cerpen............................................................................ 50 Pena Kampus

Butuh Singkronisasi Antar Bidang Setelah menunggu beberapa tahun, akhirnya Universitas membuat sistem baru di bidang kemahasiswaan yakni portal akademi terealisasi. Mempermudah dan mempercepat segala proses yang harus ditempuh mahasiswa di awal semester seperti Kartu Hasil Studi (KHS), Kartu Rencana Studi(KRS), Jadwal kuliah dan lain-lain melalui sistem online yang flexibel. Hanya saja perlu juga dipertimbangkan oleh pihak kampus saat mencanangkan program tersebut adalah sosialisasi dan singkronisasi antar bidang. Seperti yang saya alami sekitar tanggal 25 kemarin, mahasiswa FKIP beramai-ramai menyerbu sekretariat untuk mengumpulkan KHS yang telah kami cetak. Sungguh disayangkan sekali, dosen bahkan pihak sekretariat pun kurang tahu mengenai peran mereka dalam sistem baru tersebut. Hal tersebut tentu menimbulkan tanda tanya besar di benak para mahasiswa, kalau pihak dosen dan sekretariat saja tak tahu, kemana lagi mereka harus mencari tahu? Mahasiswa hanya butuh kejelasan, bila terjadi keterlambatan dalam proses yang merugikan mahasiswa, siapkah pihak universitas bertanggung jawab? Karenanya, kami sangat berharap pihak universitas mengadakan sosialisasi secara terbuka dimasing-masing fakultas. Memberikan informasi yang jelas mengenai langkah apa saja yang harus ditempuh, agar tak rancu lagi mengenai perbedaan sistem yang lama dan baru. Semoga pihak terkait bisa memahami dan mengatasi keadaan ini. Sobatini, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris, Semester 3

Parkir UMK Tidak Rapi dan Sempit Sepanjang perjalanan menuju kampus para penggendara disuguhi udara yang sejuk, kanan kiri dihiasi pepohonan yang meneduhkan. Namun, saat memasuki gerbang Universitas Muria Kudus (UMK) kenyamanan itu perlahan menghilang. Selain udara berubah menjadi panas, jalannya pun juga sempit karena banyak motor yang diparkir di pinggir jalan. Rupanya tempat parkir yang telah disediakan oleh pihak universitas kurang dari cukup, mengingat setiap tahun jumlah mahasiswanya selalu bertambah. Jadi mahasiswa tidak segan parkir sembarangan, karena tempat parkirnya tetap itu itu saja, sedangkan mahasiswanya bertambah. Oleh karena itu mahasiswa dengan asyik membawa kendaraan mereka menuju gedung fakultas. Jika kita amati di depan gedung pasti dihiasi dengan motor yang berjejeran tanpa aturan. Sebenarnya masih cukup jika untuk pejalan kaki, namun bagi para mahasiswa yang menggendarai motor tidaklah layak disebut jalan untuk motor. Contohnya di depan gedung Orange, pada hari-hari

Pena Kampus

tertentu senin misalnya, pasti sesak dengan jumlah motor yang diparkir dari ujung jalan sampai ujung lagi. Tidak tanggung-tanggung jalan yang hanya seberapa itu dibuat tempat parkir untuk tiga lap motor, sehingga penggendara motor lain susah melaju dijalan itu. Setiap jalan kini telah disulap menjadi tempat parkir yang praktis, tanpa mengambil karcis. Seyogyanya pihak universitas mengambil solusi supaya jalan tidak menjadi tempat parkir sembarangan. Sediakanlah kawasan yang bebas parkir, bebas dari gerombolan motor yang menjadikan jalan semakin sempit. Siti Anisah, Mahasiswa semester 3 PBI

Ayo Membaca Sejenak ketika masuk di kawasan Universitas Muria Kudus (UMK) terlihat begitu banyak mahasiswa yang asyik bersendau gurau. Sebaliknya, hal tersebut jarang kita temui di Perpustakaan UMK yang cukup besar. Mahasiswa masih kurang tertarik dengan menghabiskan waktu untuk membaca atau sekedar membuka-buka buku. Padahal, dengan membaca banyak manfaat yang kita peroleh. Pengetahuan semakin luas juga mengasah pikiran kita . Selain itu, dari membaca kita dapat menemukan permasalahan-permasalahan baru dan memecahkannya. Sehingga nalar kritis mahasiswa dapat muncul dari membaca. Setidaknya, kini pihak universitas telah memberikan fasilitas buku bacaan. Hal tersebut dapat kita lihat pada setiap program studi terdapat perpustakaan. Perpustakaan pusat Universitas juga menyediakan berbagai macam buku untuk melengkapi. Bagi mahasiswa yang tidak sempat pergi ke perpustakaan mereka juga dapat memanfaatkan layanan WiFi yang disediakan pihak kampus. Maka dengan mudah mahasiswa dapat browsing ataupun men­down­load Ebook. De­ngan begitu, bukan tanpa alasan mahasiswa malas untuk membaca. Kawan, ayo kini saatnya kita warnai kembali kampus kita deng­ an geliat baca maha ­­siswanya. Se­hi­ngga dalam m e m­b e r i k a n opini atau peni­ laian pun kita ber­ pedoman pada re­ fe­ rensi bahan bacaan yang kita baca. Membaca memberikan banyak manfaat bagi kita. Semoga bermanfaat. Zicha, Mahasiswa semester 5 jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.

Edisi XX September 2012

3


Surat Pembaca

Kami Juga Butuh Sosialisasi PKM Universitas dengan jumlah mahasiswa yang cukup ba足 nyak ini seharusnya bisa membantu peran mahasiswa untuk melakukan penelitian. Penelitian bagi mahasiswa bisa dibuat dalam bentuk Progam Kreatifitas Mahasiswa (PKM) atau yang lain. PKM yang difasilitasi oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) untuk mengasah budaya menulis dikalangan mahasiswa. Selain itu, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah tiap tahunya juga memfasilitasi pembuatan PKM. Namun sayang, sosialisasi pembuatan PKM di UMK terkesan dikhususkan bagi mahasiswa yang mendapat beasiswa Peningkatan Potensi Akademik (PPA) dan Bantuan Belajar Mahasiswa (BBM) saja. Sedangkan bagi mahasiswa yang tidak mendapatkan beasiswa, tidak bisa mengikutinya. Memang, mahasiswa yang mendapatkan beasiswa PPA dan BBM diwajibkan untuk membuat PKM. Namun, tidak ada salahnya jika panduan pembuatan PKM bisa disosia足 lisasikan kepada semua mahasiswa sejak dini. Sosialisasi ini bisa dilakukan ketika Sapamaba oleh pihak Lembaga Pendidikan (Lemdik) UMK. Sehingga mulai semester satu, mahasiswa bisa membuat PKM serta tahu panduanya. Selain itu, diharapkan bisa membudayakan menulis dikalangan mahasiswa UMK sejak dini. Alfi Muhimmatul Fauziyyah (PGSD semester 5)

Rektor UMK tiga kali? Tak terasa sudah hampir dua periode atau delapan tahun kita dipimpin oleh bapak Sarjadi sebagai rektor di Universitas Muria Kudus(UMK). Berbagai kemajuan sudah nampak dirasakan oleh seluruh sivitas setelah dipimpin oleh beliau, diantaranya berbagai pembangunan gedung-gedung bertingkat yang terus berlanjut, terakhir yaitu pembangunan gedung megah fakultas pertanian dan psikologi. Tak hanya itu, rencana mendirikan fakultas kedokteran yang saya de足 ngar, juga merupakan terobosan yang sangat mengagumkan. Namun, berbagai prestasi yang beliau raih juga tak luput dari berbagai wacana-wacana yang spekulatif. Contoh ada yang bilang bahwa beliau tidak pernah berkomunikasi langsung dengan mahasiswa, namun pendapat itu pernah ditampik oleh salah satu sahabat saya bahwa beliau juga sering berkomunikasi dengan berbagai perwakilan mahasiswa. Tapi pertanyaan saya mahasiswa yang mana? Apakah wakil mahasiswa tersebut sudah mewakili sebgaian besar suara mahasiswa ya?. Satu hal yang paling mencengangkan ketika saya dengar bahwa ada wacana beliau akan menjadi Rektor Universitas Muria Kudus untuk yang ke tiga kali. Berarti beliau akan menjabat Rektot UMK selama total 12 tahun. Kira-kira apa yang menjadi pertimbangannya? Karena yang saya tahu bahwa dalam statuta UMK menjelaskan batas maksimal jabatan seorang rektor adalah selama dua periode. Maksimal presiden di republik kita selama dua periode. Gubernur di provinsi kita dua periode. Begitupun juga dengan Bupati di daerah kita. Lalu, mengapa harus tiga periode? Danny Lutvi Hidayat, Presiden BEM FKIP 2011/2012

4

Edisi XX September 2012

Gapura

Butuh reward Sebagai agent of change, mahasiswa mempunyai andil besar dalam memajukan bangsa. Pemikiran kritisnya selalu dinanti-nanti untuk mengubah citra negara yang sedang terpuruk akibat maraknya kasus korupsi. Kiprah mahasiswa dalam mengontrol jalannya pemerintahan merupakan tonggak perubahan suatu Negara. Reformasi yang dilakukan mahasiswa empat belas tahun lalu adalah bukti aktualisasi mahasiswa untuk mewujudkan suatu perubahan bagi bangsa. Dalam menuangkan berbagai pemikiran kritisnya, mahasiswa melakukan beragam cara. Diantaranya dengan berdemonstrasi dan tulis menulis di media. Ironisnya, gairah menulis di lingkungan Universitas Muria Kudus masih belum terlihat. Namun, ketika semangat mahasiswa mengemukakan opini di media cetak maupun online mulai menunjukkan eksistensi nya, tak ada reward sedikitpun dari pihak universitas. Padahal tulisan yang terbit di media tersebut juga membawa identitas kampus yang akan semakin dikenal masyarakat luas. Ini juga bagian dari publikasi perguruan tinggi. Meski tanpa penghargaan dari kampus, nyatanya masih banyak mahasiswa yang terus melanjutkan perjuangannya menulis di media massa. Namun, alangkah baiknya jika pihak universitas menunjukkan kepeduliannya terhadap peserta didiknya agar atmosfir tulis-menulis semakin terasa. Dengan menulis, menunjukkan kita telah berada pada zaman peradaban. Jadi, ada reward maupun tidak, mari tetap menulis. Ullum Minnafiah, Mahasiswa Semester 5 Pendidikan Bahasa Inggris

Butuh Lebih Banyak Kegiatan Keagamaan Selain pendidikan umum, mahasiswa juga membutuhkan pendidikan keagamaan untuk mengisi kerohaniannya. Universitas Muria Kudus (UMK) memiliki dua UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang bergerak di bidang keagamaan. UKM tersebut adalah Formi (Forum Mahasiswa Islam) dan PMKK (Persatuan Mahasiswa Kristen Katolik). Saya merasa lingkungan UMK kekurangan kegiatan keagamaan. Saya tahu kegiatan keagamaan hanya diadakan ketika bertepatan dengan hari-hari besar agama. Selain itu kegiatan agama hanya bersifat intern untuk organisasi itu sendiri. Saya yang memeluk agama Islam sering menantikan kegiatan yang diadakan oleh organisasi Formi. Salah satunya adalah Kajian Annisa yang menjadi salah satu kegiatan rutinnya. Kajian yang khusus untuk kaum wanita ini memberikan informasi dan pendidikan yang dibutuhkan oleh muslimah muda. Dilihat dari banyaknya peserta yang hadir pada setiap diselenggarakannya acara ini, terbukti bahwa acara ini cukup diminati oleh kalangan pemuda khususnya mahasiswi UMK. Namun sangat disayangkan pelaksanaan acara ini memiliki intensitas waktu yang cukup lama. Seharusnya kegiatan seperti ini lebih sering diadakan untuk menambah wawasan mahasiswa. Demikian juga dengan kegiatan-kegitan lain yang dapat menambah keimanan kita. Elsya Vera Indraswari Mahasiswa semester V jurusan Sistem Informasi Fakultas Teknik Pena Kampus

istimewa

Memberikan Peran Mahasiswa Oleh : Septianti

D

unia kampus tidak dapat lepas dari kurikulum dan berbagai hal yang terkait dengan pengemba足 ngan sumber daya manusia. Untuk menciptakan perkuliahan yang efektif dan kondusif diperlukan kerjasama dari berbagai pihak baik itu di internal ataupun eksternal kampus. Kurikulum Student Centered Learning (SCL) yang diterapkan di Universitas Muria Kudus menuntut mahasiswa untuk lebih aktif dalam proses perkuliahan. Sehingga SCL ini Pena Kampus

diharapkan bisa diaplikasikan diberbagai program kuliah yang ada di UMK. Ada tiga mata kuliah yang menjadi syarat kelulusan mahasiswa, yakni Kuliah kerja lapangan (KKL), Praktek Kerja Lapangan (PKL), dan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Ketiga mata kuliah tersebut bersifat lapangan, yang tentunya dalam pelaksanaannya perlu persiapan yang matang. Dengan begitu program yang sudah ditetapkan kampus bisa berhasil dan ada manfaatnya untuk

mahasiswa. Sekarang ini pelaksanaan program KKL di UMK sekarang ini menjadi tanggung jawab dari masing-masing Program Studi (Progdi). Mulai dari beban Sistem Kredit Semester (SKS), persiapan hingga pelaksanaan di handle secara langsung dari pihak progdi. Universitas hanya sebatas pembuat kebijakan secara umum. Disamping itu masing-masing program studi juga berbeda cara kerjanya. Edisi XX September 2012

5


Gapura Mulai dari penentuan beban Sistem Kredit Semester (SKS) berbeda-beda setiap progdi. Alasan perbedaan tersebut murni dari keputusan progdi. Universitas menyerahkan kebijakan berapa muatan SKS pada tiap fakultas. Peran Mahasiswa Target mencapai kegiatan yang diharapkan, efektif, efisien dan mengena, mutlak diperlukan peran dan keterlibatan dari mahasiswa. Pelaksanaannya sendiri dari setiap progdi terdapat panitia pelaksana yang berasal dari dosen itu sendiri. Namun, selain itu Mahasiswa mempunyai hak dalam merencanakan kegiatan yang orientasinya lebih banyak kepada mahasiswa tersebut. Setidaknya peran mahasiswa disini dapat berupa urun rembug atau pemberian saran dalam menentukan program. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara memberikan polling pada mahasiswa yang mewakili suara dari semua mahasiswa. Dengan hal tersebut nantinya tidak ada unsur kekecewaan dan

Laporan Utama ketidakpuasan baik dari pihak mahasiwa atau pelaksana lainnya. Padahal, dari peran mahasiswa tersebut diharapkan dapat menjadikan wahana mahasiswa untuk belajar mempersiapkan suatu kegiatan. Selain itu, mahasiswa juga memiliki wawasan dalam menentukan lokasi yang akan dijadikan tempat KKL. Dalam hal ini, diharapkan dari keikutsertaan mahasiswa menjadikan kepuasan dari kedua belah pihak. Mahasiswa sebagai subjek dan Dosen sebagai fasilitator. Partisipasi mahasiswa dalam persiapan pelaksanaan program dapat berupa, masukan tempat praktek lapangan. Hal itu dapat dilaksanakan dengan cara meminta pertimbangan kepada mahasiswa tempat mana yang mendukung program studinya. Artinya, yang dapat digunakan untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat di universitas. Berkaitan dengan hal tersebut, maka perlu dipertegas kurikulum yang mengatur pelaksanaan program-program di

kampus. Karena banyak juga di beberapa progdi yang pelaksanaannya banyak yang hanya rekreasi belaka. Sedangkan manfaat yang terkait dengan pembelajaran bagi mahasiswa kecil sekali. Maka seyogyanya dalam memilih program juga harus cerdas pula dalam memutuskan dengan berbagai pertimbangan. Terlepas antara polemik perbedaan pelaksanaan program-program dari kampus. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, bahwa program yang ditetapkan dari kampus seyogyanya melibatkan peran serta dari mahasiswa. Karena persiapan dan pelaksanaannya nantinya juga melibatkan mahasiswa. Agar dikemudian hari tidak terjadi halhal yang dianggap merugikan kepada salah satu pihak. Kiranya perlu aturan yang jelas tentang tujuan, alur pelaksanaan program. Agar tujuan programprogram dari kampus tidak hanya se­ bagai kebiasaan dan ritual saja, namun dapat tercapai dengan baik dan bermanfaat bagi mahasiswa.

Bergabunglah Bersama

PEKA PENA KAMPUS Unit Kegiatan Mahasiswa Jurnalistik Divisi Penerbitan

Pilih Produktif atau Selamanya Menjadi Fosil Hidup? 6

Edisi XX September 2012

Pena Kampus

Miliki Pangsa Pasar Sendiri Reporter: Karmila Sari dan Lina Fusha

M

atahari sudah meninggi, namun Misriyah (50) masih sibuk melipat baju-baju dagangannya. Sesekali ia menengok ke arah kanan dan kiri. Mungkin saja ada pembeli mampir ke kiosnya yang berukuran 6 meter x 2 meter di Pasar Jember Kudus tersebut. Lorong pasar terlihat lengang, Kamis (19/7). Lalu lalang yang terlihat, keba­ nyakan hanya para pedagang yang saling berkunjung ke kiosnya satu sama lain. Sesekali mereka saling melempar candaan untuk mengisi waktu menunggu pembeli. Begitulah kesibukan para pedagang. Semenjak menjamurnya toko modern, minimarket, ruko-ruko di sepanjang jalan dan swalayan, membuat pasar tradisional kian hari kian kehilangan pengunjungnya. “Dulu setiap hari libur, Jumat dan Minggu, pasar ramai terus. Tidak seperti tahun-tahun sekarang. Sepi,” keluh Misriyah, pedagang di Pasar Jember Benar saja, baru terlihat satu pembeli yang mampir ke kios Misriyah selama setengah jam reporter Pena Kampus (PEKA) berbincang dengannya. “Itu sudah langganan saya dari dulu. Ya se­ perti ini lah. Empat tahun terakhir sejak banyak swalayan berdiri, pasar menjadi sepi,” ungkapnya. Tak jauh dari pasar itu memang berdiri sebuah swalayan besar. Berbeda dari toko modern yang menawarkan kenyamanan dan penataan yang menarik dan bersih, kondisi pasar tradisional tak banyak mengalami perubahan. Udara panas, kumuh, pelataran becek, bau amis dan busuk dari beraneka rupa sampah pasar menjadi pemandangan biasa. Tak heran kondisi itu membuat anak muda enggan menginjakkan kaki di pasar tradisional. Hal itu diamini, Leni, warga Mejobo. “Kalau di pasar panas, beda dengan di sini (swalayan – Red). Adem.” Ujarnya, sembari memilih baju lebaran di sebuah swalayan di Kudus. Memang, kondisi pasar tradisional dan pasar modern ibarat bumi dan langit. Memasuki pasar modern, lantainya bersih, aroma wangi dan ber-AC, menjadi daya pikat tersendiri. Selain itu, pelayanannya pun cepat, sesuai dengan sifat konsumen sekarang yang demen segalanya serba instan. Pena Kampus

Data Pasar Kelas Nama Pasar Ia

Pasar Kliwon

Ib

Pasar Bitingan dan Pasar Jember

II

Pasar Mijen, Pasar Piji, Pasar Kalirejo, Pasar Jekulo, dan Pasar Wergu

IIIa

Pasar Brayung dan Pasar Barongan

IIIb Pasar Wates, Pasar Undaan Kidul, Pasar Besito, Pasar Ngemplak, Pasar Jurang, Pasar Prapat, Pasar Ngablak (Tanjung Rejo), Pasar Doro, Pasar Kedungdowo, Pasar Langgar Dalem, Pasar Ploso, Pasar Karangbener. Sumber: Disperindag Kabupaten Kudus

mila/peka

M. Poerwodiono Umi, warga Jekulo, mengaku lebih suka ke pasar modern. Alasan kenyamanan menjadi hal utama baginya. “Tempatnya bersih dan tidak ada tawar-menawar juga, jadi aman. Beda dengan di pasar. Kalau di pasar biasanya saya khawatir keblondrok harganya,” ungkapnya. Namun, hal itu tak serta-merta berarti bahwa pasar tradisional kehilangan pengunjungnya. Lia, seorang pelajar madrasah aliyah di Kudus mengaku masih suka berbelanja di pasar tradisional. Ia mengaku masih sering ke swalayan, namun hanya untuk melihat-lihat model pakaian ataupun barang-barang terbaru saja. “Kalau beli-beli, enakan di pasar. Murah,” katanya. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Kudus M. Poerwodiyono menyebutkan, pasar merupakan tempat bertemu dan berkumpulnya penjual dan pembeli. Untuk itu, pihaknya pun selalu berupaya untuk meningkatkan kondisi pasar untuk kenyamanan penjual dan pembeli. Kabupaten Kudus memiliki 23 pasar tradisional (lihat grafis). Menanggapi banyaknya pasar modern yang dikhawatirkan bisa menggeser pesona pasar

tradisional di Kudus, pihaknya menilai bahwa pasar modern tidak akan membuat pasar tradisional tersingkir. Menurutnya, setiap pasar memiliki pangsa pasarnya tersendiri. Poerwodiyono mencontohkan. Seperti pasar Kliwon, pasarnya para tengkulak yang merupakan pasar rujukan para pedagang kecil untuk kulaan (baca;berbelanja) barang dagangannya. Poerwodiyono menambahkan, berdasarkan pengelolaannya, pasar tradi­ sional dibedakan menjadi pasar daerah dan pasar desa. Pasar daerah dikelola langsung oleh pemerintah daerah. Sementara pasar desa, pengelolaannya dilakukan oleh desa dimana pasar ter­ sebut berdiri. Pasar daerah di Kabupaten Kudus masing-masing Pasar Kliwon, Pasar Bitingan, Pasar Jember, Pasar Barongan dan Pasar Wergu. Sedangkan lainnya merupakan Pasar Desa. Mochammad Kaden, Kasi Pengelola Pasar Daerah Disperindag Kabupaten Kudus menambahkan setiap pasar memiliki pangsanya sendiri. “Pasar tradisional biasanya itu rujukan bagi masyarakat yang berpenghasilan menengah kebawah karena harga produknya terjangkau. Sementara pasar modern kebanyakan menjadi rujukan bagi masyarakat berpenghasilan menengah keatas,” terangnya. Alasan lain menurut Kaden, yang membuat pasar tradisional tidak akan tersingkir, karena biasanya pasar tradi­ sional memiliki ciri khas tersendiri. Ciri khas itu berguna untuk menarik konsumen atau pembeli. Misalnya, Pasar Kliwon. Pasar ini identik dengan barang-barang hasil konveksi (pakaian). Selain itu, penjualannya kebanyakan menggunakan sistem grosir, membuat pasar ini digunakan seba­ gai rujukan masyarakat Se-karisidenan Pati untuk kulaan barang dagangannya. Selama ini pemkab pihaknya terus mengupayakan untuk meningkatkan kondisi pasar. “Tahun ini ada Rp 6,1 miliar untuk dana revitalisasi pasar. Sedangkan untuk Pasar Kliwon yang baru saja kebakaran, dianggarkan Rp 15 miliar yang diambil dari dana APBD,” bebernya. Edisi XX September 2012

7


Laporan Utama

Laporan Utama

Pedagang Tradisional di Tengah Kepungan Retailer Reporter : Weny Rahmawati

P

edagang pasar tradisional hanya bisa pasrah. Retailer besar pasar modern kian mengepung dari segala penjuru Kota Kudus. Mall dan minimarket semakin mudah dijumpai di perkotaan hingga pelosok desa. Pedagang pasar tradisional pun semakin tersisih. Bisnis pasar modern yang dimiliki retailer besar mengalami pertumbuhan yang sangat pesat beberapa tahun ini. Berdasarkan rilis lensaindonesia.com, pertumbuhan pasar modern Indonesia mencapai 31,4 persen. Sedangkan, pasar tradi­sional pertumbuhan justru minus 8,1 persen. Siti Arofah (50), pedagang sembako di Pasar Kliwon Kudus, mengaku omzet penjualannya anjlok drastis. “Sebelum maraknya minimarket dan mall, penjualan di kios dapat mencapai lebih dari Rp 1 jutah sehari. Sekarang Rp 500 ribu saja susah di dapat,” ujarnya. Persaingan dirasa semakin berat oleh pedagang tradisional di tengah iming – iming banjir diskon terus di pasar modern. Jor-joran diskon itu kontan saja menarik konsumen untuk berbelanja di pasar

modern ketimbang di pasar tradisional. “Sekarang konsumen lebih pintar membandingkan harga produk. Bahkan selisih seratus atau dua ratus rupiah, mereka akan memilih berbelanja di minimarket atau mall,” terang Siti. Kusnan (45), pedagang sembako Pasar Bitingan Kudus juga merasakan dampaknya. Namun, Kusnan lebih bersikap pasrah dalam menjalankan usahanya ini. “Wong cilik ya manut sama wong nduwur. Pengene Protes tapi ya gak berani. Jadi manut wae mbak, “ ujarnya. Lelaki paruh baya itu bahkan maklum dengan kondisi pasar saat ini. Di era globalisasi pasar juga ikut mengalami perubahan. Terutama adanya perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin modern. Jam buka pasar modern pun semakin menyulitkan pasar tradisional. Bahkan sejumlah minimarket ada yang buka hingga 24 jam nonstop. Kemudahan akses yang ditawarkan pasar modern ini membantu masyarakat yang hanya memiliki waktu berbelanja di malam hari. Bukan hanya dimanjakan fasilitas,

Weny/Peka

TERMENUNG : Kusnan, Pedagang pasar bitingan Kudus termenung di depan barang dagangannya.

8

Edisi XX September 2012

konsumen pasar modern pun dijamin mendapat produk berkualitas. “Jika begini terus, masyarakat akan lebih memilih pasar modern dibandingkan dengan pasar tradisional. Bukan hanya fasilitas yang memadai, tapi harga murah dan produk berkualitas sudah nyentel di pikiran masyarakat,” tuturnya. Dulu belanja hanyalah peristiwa membeli barang, membayar lalu pulang. Sekarang banyak pelanggan yang memanfaatkan momen belanja tersebut sebagai momen berkumpul bersama keluarga. Sering dijumpai sekeluarga nge-mall bersama belanja kebutuhan bulanan. Namun ada saja hal-hal non teknis yang membuat pasar tradisional tetap dibutuhkan. Dia mencontohkan ada satu hal yang tidak dapat diberikan pasar modern kepada pelanggan, yakni toleransi berhutang. Sikap toleransi berhutang hanya dapat di jumpai di pasar tradisional. Masalah keuangan mepet seringkali menjadi permasalahan pelik bagi setiap keluarga. Oleh karena itu, para ibu rumah tangga sering berhutang di pasar tradisional untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari. Sikap pengerten inilah yang juga semakin mempererat tali persaudaraan di Indonesia. Hal ini tentu saja tidak dapat kita temui di pasar modern. Di pasar modern semuanya serba cash. Kekhasan pasar tradisional lainnya seperti rasa kekeluargaaan juga tidak dijumpai di pasar modern. Sering pembeli curhat masalah hidupnya kepada pedagang. Pedagang pun juga tak sungkan memberi nasehat atau sekadar mende­ ngar curhatan tersebut. Hal inilah yang tetap menjadi kebanggaan di pasar tradisional walupun para pedagangnya hanya bisa pasrah akan pasar modern yang kian mengepung. Semangat dagang masih tetap berlanjut mengingat berdagang adalah jalan satu – satunya me­ reka mencari nafkah. “Kerja dan kerja, biarlah Allah yang memutuskan rejeki saya sampai mana,” tutur Kusnan.

Pena Kampus

sri/peka

BERJAJAR : Sejumlah ruko di Kudus tampak berjajar.

Ada Peraturan yang Harus Dipatuhi Reporter : Sri Haryati dan M Hanif

T

ak sulit mencari deretan toko modern hingga swalayan di jalanan Kota Kudus. Dari arah manapun, pusat-pusat perbelanjaan akan mudah ditemukan di pinggir-pinggir jalan. Lokasinya pun saling berdekatan. Coba saja melintas di jalan HOS Cokroaminoto dari arah terminal ke pusat Kota Kudus. Sampai di kawasan tugu identitas Kudus saja, berderet toko modern seperti Alfamart dan Indomaret hingga swalayan besar seperti Matahari dan Kudus Extention Mall (Hypermart). Padahal tak jauh dari pusat belanja

Pena Kampus

modern itu, sudah lama berdiri pasar tradisional Bitingan. Sugiarti (23), salah seorang pedagang Pasar Bitingan me­ ngaku resah dengan pembangunan pasar modern. Terlebih jarak pasar swalayan sangat dekat dengan tempatnya membuka usaha. Omzetnya pun terus anjlok alam beberapa tahun terakhir. Sugik, begitu ia akrab disapa, mengaku sempat ikut gerakan demonstrasi bersama pedagang lainnya menolak pembangunan Hypermart, Mei lalu. Namun, usahanya sangat sia-sia karena Pemerintah tidak menggubrisnya.

Pelaksana Tugas Kepala Pelayanan Perijinan Terpadu (KPPT) Kudus Eko Djumartono memiliki pandangan lain. Sejak awal pembangunan, pedagang dan warga dlibatkan dalam proses perizinan. Mereka pun diajak survei ke swalayan serupa Semarang. Setelah mereka mengetahui harga di Hypermart jauh lebih mahal daripada di pasar, mereka pun menyetujuinya dengan catatan harga di Hypermart harus lebih mahal dari harga yang ada di pasaran agar tidak mematikan usaha di pasar tradisional. Edisi XX September 2012

9


Laporan Utama

Laporan Utama

Tetap Lestarikan Pasar Tradisional di Kudus Reporter : Septi dan Rizka

K

Weny/Peka

PASAR MODERN : Memberikan keleluasaan kepada konsumennya untuk memilih barang. Saat mengurus izin HO, ada syarat“Intinya mereka tidak terlalu masalah dengan pendirian Hypermart dan syarat yang harus dipenuhi seperti dafselama peraturannya dipatuhi, maka tar tenaga kerja dan peralatan yang didinas perijinan akan mengijinkan,” te- pergunakan, surat pernyataan tetangga, surat pernyataan penggunaan gasnya. tanah dan gambar situasi dan Tingginya tingkat konData Pasar denah perusahaan. sumsi warga Kudus menjadi Modern sampai Persetujuan tetangga alasan masuknya investor unawal bulan yang dimaksud dalam surat tuk membangun pasar modAgustus: pernyataan tetangga meern. Sejak tahun 2004/2005, Kota 12 liputi, kanan, kiri, depan pasar modern mulai marak di Kaliwungu 8 dan belakang yang paling Kudus. Sampai saat ini jum- Jati 5 berdekatan. Persetujuan itu lah pasar modern tercatat seJekulo 4 penting untuk melindungi banyak 45 pasar. Jumlah ini Gebog 3 masyarakat sekitar sehingga melebihi pasar yang dikelola Dawe 2 tidak merasa terganggu de­ pemerintah atau pasar tradisBae 5 ional yang hanya sebanyak ngan keberadaan pasar mo­ Mejobo 3 23 pasar. dern tersebut. 3 Saat mendirikan pasar Undaan “Semuanya di atur dalam 45 modern, kata Eko, ada beber- Total Peraturan Daerah Tingkat apa perijinan yang harus diII Kudus Nomer 6 Tahun penuhi yaitu Ijin Mendirikan Bangunan 1999 tentang Retribusi Izin Gangguan (IMB), Ijin gangguan atau HO (donan- sebagaimana diubah dengan Peraturan si), Surat Ijin Usaha Pedagangan (SIUP) Daerah Kabupaten Kudus No.5 Tahun 2004,” jelasnya. dan Daftar Tanda Perusahaan (DTP).

10

Edisi XX September 2012

Eko mengatakan, Pemkab Kudus sangat terbuka dengan masuknya investasi termasuk pasar modern. Adanya pasar modern justru memberikan banyak pilihan kepada masyarakat. Bagi yang ingin praktis (one stop shopping) pasar modern bisa menjadi solusinya. Sedangkan, bagi masyarakat yang menginginkan harga yang murah dapat mengunjungi pasar tradisional. Tapi hal itupun dikendalikan oleh pemerintah dalam artian kebersihan di jaga keamanan dijaga, kenyamanan juga dijaga. Mengenai pembatasan jarak, Eko mengakui bahwa di daerah-daerah lain memang sudah ada pembatasan jarak antara pasar tradisional dan pasar mo­ dern antara 500 meter hingga satu kilometer. Sedangkan, di Kudus sendiri belum ada peraturan daerah yang me­ ngatur hal itu. Di dalam peraturan menteri perdagangan memang menyinggung hal itu, namun tidak menyebutkan jarak minimal Cuma tertulis memperhatikan jarak pasar traditional. Pena Kampus

udus kian ramai oleh pasar mo­dern. Suasana belanja yang Nyaman, Bersih dan Bagus menjadikan sebagian masyarakat lebih memilih berbelanja di Pasar Modern. Berbeda dengan kondisi di pasar tradisional yang identik dengan kondisi kotor, kumuh dan sesak. Menurut Wakil Ketua Komisi B Dewan Perwakilan Daerah Kabupaten Kudus Nor Hadi, pasar tradisional merupakan aset daerah yang harus dipertahankan. Sebab sebagian besar pe­ dagangnya merupakan warga asli daerah kudus. “Kami di DPRD terus berupaya melestarikan, mendukung dan memfasilitasi pasar tradisional yang ada,” katanya. Untuk mempertahankan minat masyarakat agar tetap menyambangi pasar tradisional, berbagai upaya telah dilakukan oleh pihak pemerintah daerah. Diantaranya adalah pemberian anggaran revitalisasi. “Terutama pada pengembangan fisik pasar yang masih perlu ditata ulang se­per­ti pasarpasar yang

dok.agus

Nor Hadi bertempat di Jekulo, Mejobo, dan Kaliwungu” tam­bahnya. Dana tersebut harapannya dapat menjadikan pasar tradisional menjadi lebih baik. Yakni seperti pembangunan akses jalan masuk, infrastuktur dan perbaikan gedung. Tujuannya agar pasar tradisional dapat bersaing dengan pasar Modern. Pihaknya juga rutin melakukan monitoring. Hal itu bertujuan untuk melihat kondisi nyata pasar, serta melakukan evaluasi apa yang harus diperbaharui. Sedangkan untuk meningkatkan kualitas produk, kini telah ada beberapa paguyuban yang merupakan perkumpulan dari Pedagang Kaki Lima (PKL) dan pedagang pasar di tiap-tiap Pasar Tradisional.

PASAR KLIWON : Salah satu pasar tradisional di Kudus.

“Melalui paguyuban tersebut, pihak pemerintah dapat memberikan fasilitas tambahan seperti tenda bagi PKL dan penyediaan pinjaman modal lunak.” tambahnya. Pembinaan juga dilakukan pemerintah melalui pemberian saran dan masukan untuk memperbaiki kualitas produk, agar dapat bersaing dengan pasar Modern. Jika pengelolaan pasar tradi­ sional dapat berjalan dengan baik, ditandai adanya kerjasama antara pemerintah dan pedagang, bukan tidak mungkin jika pasar tradisional dapat menggeser minat masyarakat terhadap pasar modern. Nor Hadi menambahkan, dinas pa­ sar beserta pedagang harus terus bekerja sama dalam menjaga pasar. Diantaranya dengan menjaga kebersihan dan kualitas barang dagangan. Ia yakin pasar tradi­ sional dapat bersaing dan memberikan apa yang di butuhkan oleh masyarakat. Selama ini yang membedakan pasar tradisional dengan pasar modern adalah manajemen dan fasilitas. Jam operasional pasar modern hingga 24 jam. Menurutnya selama ini belum ada peraturan yang me­ ngatur tentang jam buka pasar modern. Harga barang yang dipatok di pasar modern lebih tinggi dibandingkan pasar tradisional. Untuk itu tidak sedikit pula pengunjung dari kalangan menengah keatas yang lebih suka berbelanja di pasar tradisional. Tergantung gaya hidup masyarakat masing-masing untuk memilih pasar tradisional atau pasar modern. Selama ini menurutnya tidak ada masalah dalam proses ijinnya. Kalaupun ada sengketa dengan masyarakat, dapat terselesaikan secara baik. Pihaknya berharap bahwa nantinya pasar tradisional di kudus jumlahnya dapat bertambah dan berkembang. Karena Pasar Tradisional merupakan lapangan kerja bagi masyarakat Kudus.

Mukhlisin/Peka

Pena Kampus

Edisi XX September 2012

11


Opini

Opini

Pasar Tradisional di Tengah Kepungan Pasar Modern di Kabupaten Kudus Dr. H. Mochamad Edris., MM*)

Pasar tradisional semakin terjepit oleh menjamurnya pasar modern, Jumlah pasar modern sudah lebih banyak dari pasar tradisional.

S

ejak jaman dahulu pasar tradi­ sional memegang peranan pen­ ting dalam menggerakkan ekonomi rakyat. Ia berfungsi sebagai muara dari produk-produk yang dihasilkan rakyat di sekitarnya. Aktifitas produksi ini mampu menyerap lapangan kerja yang sangat berarti bagi masyarakat. Tetapi sekarang mengalami penurunan fungsi, karena sebagian besar telah diambil alih oleh pasar modern, kecuali daerah Kabupaten / Kota yang mempu­ nyai Kebijakan khusus melindungi pasar tradisional seperti di Kota Surakarta. Berdasarkan data dari Dinas Per­­da­ gangan dan Pengelolaan Pasar Ka­­ bu­ paten Kudus tahun 2012 jumlah pasar tradisional berjumlah 23 terdiri Pasar Daerah (Pasar Kliwon, Bitingan, Jember, Wergu). Pasar Desa ( Pasar Barongan, Jekulo, Ngablak, Karangbener, Bra­ yung, Doro, Prapat, Ngemplak, Wates, Undaan Kidul, Kalirejo, Mijen, Kedungdowo, Ploso, Langgar Dalem, Piji, Besito, Jurang. Taman Bojana de­ ngan jumlah Pedagang yang terserap sebanyak 11.450 pedagang. Sedangkan Jumlah pasar Modern sejumlah 37 unit terdiri dari Matahari Dept Store Tbk, Ramayana Lestari Sentosa Tbk, Ada Swalayan, hypermart Kudus Extention Mall, dan 33 Minimarket yang saat ini meluas hingga ke pelosok-pe­losok desa. Pada za­ man penjajahan Belanda, hampir di seluruh pelosok negeri ini, dibangun pasar tradisional dengan arsitektur yang baik, ruang terbuka yang luas, estetis dan sangat sesuai dengan kebutuhan. Tetapi sekarang Pasar tradi­ sional identik dengan tempat yang ku­ muh, semrawut, becek, bau, dan sumpek. Bukan itu saja, pasar tradisional

12

Edisi XX September 2012

dok pribadi

selalu diwarnai dengan kemacetan dan bahkan aksi pencopetan serta penipuan. Banyak pengunjung ketika memasuki pasar tradisional merasa tidak nyaman karena pelayanan yang tidak memuaskan, performance penjual yang tidak menarik, adu urat syaraf dalam tawar menawar yang tidak jarang berujung pada cekcok antara penjual dan pembeli. Akibatnya bagi sebagian kalangan, khususnya kaum menengah ke atas dan para remaja bersikap untuk menghindari berbelanja di pasar tradisio­nal. Berbelanja di pasar tradisional dapat menurunkan gengsi. Padahal, bila seorang pedagang mampu menaklukkan hati pembeli de­ ngan gaya yang lemah lembut dan sopan, justru akan meningkatkan nilai tambah terhadap produk atau barang yang ditawarkan. Si pembeli akan dengan senang hati membeli pro­duk yang ditawarkan meski sebenarnya dengan harga yang tidak terlalu murah. Seiring dengan majunya pereko­ nomian secara global, serta pendapatan masyarakat yang semakin meningkat terdapat kecenderungan masyarakat

lebih suka berbelanja di pasar yang dikelola secara modern. Mereka merasa nyaman, tidak perlu tawar menawar, performance penjual cukup menarik, ruangan ber AC dan tata ruang menarik. dilengkapi elevator, lift, bagi gedung yang bertingkat, yang sangat membantu konsumen untuk mempercepat dan mempermudah mobilitas di dalam mencari barang-barang yang di­ butuhkan, area parkir yang cukup luas semakin memudahkan konsumen membawa pulang hasil belanjaannya sehingga aktivitas berbelanja pun benar-benar nyaman, aman dan tanpa hambatan. Di Pasar modern, konsumen le­ bih mudah mendapatkan barang yang dibutuhkan (pemajangan barang per kategori), mu­ dah dicapai dan relatif lengkap, informasi produk tersedia melalui mesin pembaca, serta adanya ke­ ranjang belanja dan keranjang dorong. Bagi konsumen yang akan membeli pakaian, pengelola/pasar modern sudah menyediakan kamar pas untuk mencoba produk tersebut apakah cocok untuk dikenakan. Kamar pas ini memiliki daya pikat tersendiri sehingga produk yang dibeli ketika dibawa pulang ke rumah sudah benar-benar sesuai pilihan dan cocok bagi si konsumen. Di sam­ ping fasilitas-fasilitas utamanya terse­but, gedung department store belakangan ini dilengkapi pula dengan fasilitas lainnya, seperti arena bermain untuk anak-anak dan area jajanan pasar (food court). Kecenderungan masyarakat untuk lebih menyukai berbelanja pasar modern telah dimanfaatkan secara maksimal oleh kaum bermodal dan investor besar yang cermat melihat peluang bisnis. Sekretaris Jenderal Asosiasi Peda­ gang Pasar Se­luruh Indonesia (APPSI), Ngadiran, mengatakan, minimarket ada­ l­ah jenis rayap pasar yang paling membahayakan. Mereka peru­sak tatanan ekonomi kerakyatan yang paling nyata. Di Kabupaten kudus kini menjamur mini Pena Kampus

market yang sebetulnya sudah melebihi kapasitas hingga terjadi persaingan tidak sehat di antara sesama pengelola mini market terse­ but. Di setiap setiap Kecamatan terdapat Indo Mart dan Alfa Mart yang letaknya bersisian atau ber­ seberangan jalan dan bahkan ada beberapa yang berjualan 24 jam. Terjadi persaingan yang tidak sehat antara pasar tradisional dengan pasar modern, dan antar pasar modern, dalam merebut hati para pembeli. Sudah dapat ditebak siapa pemenangnya, pasti pasar tradi­sional kalah jauh dengan gerai ritel modern. Persaingan itu sangat tidak sehat karena gerai ritel modern mempunyai akses produk yang rapi dan jalur yang tersistem sehingga harga lebih kompetitif. Sementara hal tersebut ti­ dak dimiliki pedagang pasar tradisional. Untuk produk tertentu, harga barang yang dijual di pasar modern, khususnya minimarket yang ada di kecamatan dan Desa, tidak berbeda jauh dari pasar tradisional. Produk dan harganya hampir sama atau bahkan sedikit lebih murah dibanding pasar tradisional di antaranya adalah bahan makana­n tahan lama dan alat-alat dapur. Dengan demikian, banyak masyarakat yang mengalihkan tujuannya ke pasar modern yang nyaman dan menyenangkan, ketimbang harus berbecek-becek di pasar tradisional yang panas dan kumuh. Pemberian kondisi yang demikian merupakan “pembunuhan perlahan-lahan” atas eksistensi pasar tradisional.

Pena Kampus

Pemerintah Kabupaten Kudus perlu melakukan upaya-upaya agar pasar tradisional dapat hidup dan diminati oleh seluruh lapisan masyarakat. Salah satu upaya yang harus dilakukan agar pasar tradisional tidak semakin terpuruk atau bahkan mati adalah memberda­ yakan perbelanjaan (toko modern) ya­ng sudah ada untuk ditata dan agar tidak saling mematikan. Pasar tradisional dan pasar modern harus mampu bersinergi sehingga terjadi simbiosis mutualisme, yaitu hubungan yang saling menguntungkan diantaranya dalam hal pengadaan barang, permodalan, manajemen pedagang, manajemen pengelolaan pasar, serta upaya mengadakan event tertentu yang mampu menarik pengunjung berbelanja di pasar tradisional. Salah satu langkah yang harus ditempuh oleh Pemda Kudus adalah membuat dan me­ nerapkan aturan yang berpihak kepada pedagang kecil (UMKM) dengan membatasi pasar/ toko-toko modern, khususnya minimar­ ket karena minimarket lah yang menggerus warung dan pedagang p­asar tradisional. Kewenangan pembatasan pasar modern ini hanya ada pada pejabat Pemda Kabupaten/Kota karena Peraturan Presiden No 112 tahun 2007 dan Peraturan Menteri Dalam Negeri No 53 tahun 2008 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern, kuncinya ada di perizinan yang diterbitkan oleh pejabat Pemda s­etempat.

Hal lain agar pasar tra­disional tidak mati adalah ketersediaan komoditi yang diperda­gangkan sehingga perlu adanya distribution centre, branding product, dan quality product di setiap pasar yang potensial atau wilayah tertentu yang dikelola secara profesional. Perlu dibentuk Forum Ko­munikasi yang terdiri atas unsur pejabat terkait, asosiasi peda­gang, asosiasi ritel modern, asosiasi pemasok, asosiasi pabrikan dan pemangku hajat lain yang terkait guna membantu Pemda dan pelaku usaha terkait. Tujuannya agar kedepan tidak ada lagi yang merasa terdzalimi, melainkan bagaimana bisa hidup berusa­ha saling memperkuat dan membawa keberkahan. Upaya penyelamatan pasar tradisional harus dilakukan pe­merintah secara maksimal. Pasar tradisio­nal tidak boleh dibiarkan mati karena pasar tradisional lebih sesuai dengan karakter bangsa ia adalah representasi dari ekonomi rak­ yat, ekonomi kelas bawah, serta tempat bergantung para pedagang skala kecilmenengah, tumpuan bagi para petani, peternak, atau produsen lainnya selaku pemasok. Bagaimana pun masih banyak masyarakat Indo­ nesia yang membutuhkan pasar tradisional. Saatnya kini Pemda Kabupaten Kudus lebih peduli dengan memberikan sentuhan terhadap Pasar Tradisional melalui regulasi, kebijakan dan langkah-langkah kongkrit. *Staf pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Kudus

Edisi XX September 2012

13


Laporan Khusus

Laporan Khusus

Berbeda Penerapan, Tujuan Musti Dimaksimalkan Reporter : Annisa Puspa Dhara, Idni Irsalina, Onik Rianasari

P

enerapan mata kuliah Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Universitas Muria Kudus (UMK) berbeda di beberapa fakultas. Mulai dari jumlah Satuan Kredit Semester (SKS), model, serta sistematika. Dari keenam fakultas yang ada, berbeda kurikulum. Misalnya di Fakultas Pertanian (FP) yang meniadakan KKL dan Fakultas Psikologi (FPsi) mewajibkan, tapi menerapkan dengan nol SKS. Surat keputusan Rektor tentang Pedoman Akademik No. 078/AK.UMK/ Kep/A.01.01/X/2000 menjadi salah satu dasar Kuliah Kerja Lapangan (KKL). KKL merupakan mata kuliah untuk mengaplikasikan teori yang diperoleh dalam perkuliahan ke lapangan. Prakteknya, semua penetapan kurikulum pembelajaran ini ditentukan langsung oleh fakultas melalui Kepala Program Studi (Kaprogdi). Hal ini menunjukkan perlu atau tidaknya mata kuliah KKL ditentukan oleh fakultas, begitupun dengan pembebanan SKS. Fakultas memiliki wewenang untuk menentukan beban SKS untuk mata kuliah KKL melalui kesepakatan pihak fakultas dan program studi. Tujuan dari KKL ini agar mahasiswa dapat memadukan antara teori yang sudah diperoleh dengan kinerja di lapa­ngan. Lebih difokuskan, agar mahasiswa dapat mencermati dunia kerja yang dibutuhkan oleh lapangan, sehingga mahasiswa lebih siap untuk terjun ke lapangan setelah lulus kuliah. Pembantu Dekan I Fakultas Teknik (PD I FT) Rhoedy Setiawan mengatakan, KKL mempunyai tujuan lain, untuk me­ ngenalkan mahasiswa dengan komitmenkomitmen organisasi perusahaan dan le­ bih mengakrabkan antar mahasiswa. “Praktiknya, ada yang mengenalkan mahasiswa dengan cara observasi

14

terhadap objek yang dituju. Secara umum tujuan utama dari KKL adalah memberikan pengalaman praktek kepada mahasiswa sebagai link and match, khususnya memadukan teori yang diperoleh dengan praktek di lapangan,” katanya. Dia menjelaskan, di Fakultas Teknik ada dua model pelaksanaan KKL, KKL plus wisata dan KKL praktek murni tanpa wisata. Untuk menentukan model ini, mahasiswa dapat memilih di antara dua opsi tersebut melalui poling yang disediakan Progdi. “Selama ini yang terjadi di Fakultas Teknik, mahasiswa masih lebih banyak memilih KKL plus wisata. Karena wisata menjadi momen keakraban di antara mahasiswa,” tuturnya. Selain model pelaksanaan, di FT pelibatan mahasiswa juga terjadi saat menentukan tujuan objek KKL hingga biro perjalanan. Dengan pelibatan ini,

permasalahan biaya yang selama ini selalu menjadi polemik antara dosen dan mahasiswa dapat teratasi. Rhoedy mengatakan, pengalaman yang ada, di FT pernah memberikan pilihan kepada mahasiswa untuk hanya mengikuti KKL saja tanpa mengikuti wisatanya. “Kalau mahasiswa hanya mengikuti KKL saja, mahasiswa hanya membayar akomodasi sekitar 70 persen dari total biaya KKL,” jelas Rhoedy. Untuk pembebanan Satuan Kredit Semester (SKS) mata kuliah praktek ini, di FT hanya cukup membebankan satu SKS. Ini karena di FT, mahasiswa harus menempuh 147 SKS selama kuliah serta telah banyak mata kuliah praktek dan keterampilan yang wajib ditempuh. Dia menambahkan, kesiapan mahasiswa juga menjadi pertimbangan. Untuk itu, KKL di FT dilaksanakan di

Fitri Nugraheni dhara/peka

Edisi XX September 2012

Pena Kampus

semester V, setelah mahasiswa menempuh mata kuliah etika profesi. “Ini bertujuan, agar mahasiswa sudah menguasai etika profesi yang harus mereka terapkan dalam praktek kerja,” terangnya. Sementara itu, menurut PD I Fakultas Ekonomi (FE) Fitri Nugraheni, sejauh ini pelaksanaan KKL di UMK memberikan dampak yang baik bagi mahasiswa. “Mahasiswa dapat memperoleh ilmu dan pengalaman melalui KKL ini. Dengan kata lain, mahasiswa tidak menjadi katak dalam tempurung,” tuturnya.   Berbeda dengan di FT, di FE KKL dibebankan dengan dua SKS dan menjadi mata kuliah wajib tempuh. Prosedur pelaksanaan mata kuliah ini tak jauh beda dengan di FT. Hanya saja, di fakultas ini belum pernah menawarkan dua mo­ del seperti di FT. “Di FE khusus Progdi Manajemen, saat pembekalan lebih di fokuskan pada empat konsentrasi, yakni manajemen SDM (Sumber Daya Manusia, Red), manajemen operasional, manajemen pemasaran, dan manajemen keuangan. Sedangkan untuk Progdi Akuntansi, fokus pada dua konsentrasi, akuntansi manajemen dan akuntansi biaya,” bebernya. Untuk tugas laporan hasil KKL, di FE ada perubahan sistematika dari tahun-tahun sebelumnya. Sebelumnya, hanya laporan dua lembar yang ditulis tangan dan dikumpulkan kepada dosen pembimbing lapangan. Sedangkan untuk beberapa tahun belakangan, laporan berubah menjadi tugas kelompok dengan format makalah yang di seminarkan khusus dan umum. Dia menjelaskan, seminar khusus yang dimaksudkan, khusus dari Progdi untuk seluruh kelompok. Kemudian dipilih makalah terbaik untuk di seminarkan di seminar umum, diikuti semua Progdi yang ada di FE. “Selain itu, mulai tahun ini akan ada ujian KKL,” ujarnya. Di fakultas ini persoalan biaya sering menjadi polemik. Karena mahasiswa merasa terbebani biaya terlalu mahal. “Untuk masalah biaya dari fakultas memberikan dispensasi. Berupa pembayaran dapat diangsur sebelum dan setelah KKL dengan perjanjian di atas kertas,” jelasnya. Terpisah, PD I Fakultas Pertanian (FP) Untung Sudjianto menyatakan, ada empat manfaat dari KKL. “Pertama, mahasiswa dapat membandingkan antara teori yang diperoleh dengan penerapannya di objek yang dikunjungi, serta dapat memberikan kajiannya. Kedua, mahasiswa dapat memperoleh keterampilan kinerja. Pena Kampus

Doc. Mila

KKL : Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UMK saat berada di depan Istana Giri Bangun Bali. Ketiga, mahasiswa dapat melihat praktek kerja langsung, sehingga dapat menjadi bekal saat terjun ke dunia kerja. Terakhir, dapat menambah wawasan, kreasi, dan jari­ngan,” paparnya. Hal berbeda diungkapkan Sekretaris Fakultas Psikologi (FPsi) Latifah, meski dipandang memberikan manfaat, namun ada satu hal kekhawatiran. Yakni saat mahasiswa merasa sudah mengeluarkan biaya besar, lalu berpikir pasti akan dengan mudah mendapat nilai bagus. Sehingga mereka tidak sungguh-sungguh dalam mengikuti KKL, karena lebih memikirkan wisata. Berbeda dengan fakultas lain, di FPsi tidak membebankan SKS untuk KKL. Namun, di fakultas ini terdapat dua KKL, KKL kecil dan besar. “KKL kecil dilakukan saat mahasiswa me­ ngambil suatu mata kuliah yang membutuhkan praktek terjun ke lapangan langsung. Bisa dilakukan di lebih dari satu mata kuliah dan tidak diwajibkan. Sedangkan KKL besar, serupa dengan di fakultas lainnya,” ungkap sekretaris fakultas berkacamata ini. Hal berbeda juga berlaku di Fakultas Hukum (FH). Selama ini fakultas ini memilih selalu memaksimalkan ke­ giatan KKL dibanding wisata. PD I FH Kristiyanto mengungkapkan, objek yang dituju biasanya pusat-pusat pemerintahan yang ada di Jakarta. Seperti DPR RI dan lembaga pengawas pelayanan publik. “Malam harinya para dosen

menghadirkan narasumber di penginapan, guna memberikan pengetahuan baru bagi mahasiswa. Mahasiswa hanya diberi ke­ sempatan di hari terakhir untuk berkunjung ke tempat wisata,” ungkapnya. Banyak mahasiswa yang beranggapan jika biaya KKL terlalu mahal. Terlebih lagi, bila pemberitahuannya mendadak tanpa ada sosialisasi terlebih dahulu. Untuk itu, beberapa fakultas seperti FPsi, FT, FE, FH, dan FKIP selalu memberitahukan adanya KKL di awal semester. Sehingga mahasiswa dapat mempersiapkan dari awal dan tidak merasa terlalu terbebani. Namun tahun ini ada sedikit perbedaan di FKIP, khususnya pada Progdi Bahasa Inggris (PBI). Kurikulum terbaru yang diterapkan mulai angkatan 2010, mengharuskan setiap mata kuliah memiliki standar kompetensi yang jelas. PD I FKIP Rismiyanto mengatakan, KKL di FKIP sempat akan dihapuskan, karena dianggap tidak terlalu dibutuhkan. Namun mengingat kompetensi untuk praktek di lapangan dibutuhkan, rencana ini justru menjadi mata kuliah penting mulai angkatan tersebut. Dia menambahkan, untuk lo­ kasi KKL sepenuhnya ditentukan oleh Progdi. “KKL merupakan mata kuliah wajib (intrakulikuler), seperti halnya mata kuliah Pendidikan Agama. Sehingga dosenlah yang menentukan materi apa yang akan diberikan. Bukan mahasiswa yang memilih,” jelasnya. Edisi XX September 2012

15


Laporan Khusus

Laporan Khusus

Masih Perlu, Konsep Harus Ditinjau Ulang Reporter: Titik Malikah dan Rizka Haryani

K

egalauan muncul bagi sebagian mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) menginjak semester V. Ini lantaran akan menghadapi Kuliah Kerja Lapangan (KKL) dengan biaya tak murah, tetapi dirasa kurang efektif. Namun sebagian yang lainnya, menyambutnya dengan ceria lantaran KKL menjadi momen rekreasi. Sama seperti mata kuliah lain, KKL juga sebenarnya mempunyai tujuan. Mahasiswa tidak cukup hanya mendapatkan teori-teori yang diberikan dosen di kelas saja. Mereka perlu me­ ngetahui bagaimana teori tersebut dite­ rapkan. Untuk mengimbangi antara hard skill dan soft skill, mahasiswa butuh wawasan ilmu dari berbagai objek yang bisa dilakukan melalui program KKL. Menurut Pembantu Rektor I UMK Masluri, KKL merupakan serangkaian mata kuliah lapangan seperti Praktek Kerja Lapangan (PKL) dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang harus ditempuh mahasiswa. “Dari KKL mahasiswa akan mendapatkan pengalaman lapa­ ngan dari pengamatannya,” tuturnya. Namun berbeda dengan PKL dan KKN yang mengharuskan mahasiswa melakukan praktek, dalam KKL mahasiswa hanya melihat bagaimana teori-teori yang selama ini didapatkan di kelas dite­ rapkan. Masluri mencontohkan, Program Studi (Progdi) Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) bisa mengunjungi suatu sekolah sebagai objek kunjungan KKL. Di sekolah ter­ sebut, mahasiswa dapat mengamati pro­ ses pengajaran, sarana yang digunakan, bagaimana peran siswa, dan sebagainya. “Namun selama ini, pelaksanaan KKL tidak sesuai dengan semestinya. Karena lebih membesarkan rekreasi daripada pembelajaran. Banyak manfaat yang bisa diperoleh mahasiswa selain hanya wisata, jika sesuai prosedur. Jadi, konsepnya yang masih perlu ditinjau ulang dan di masing-masing progdi dibutuhkan pedoman khusus tentang pelaksanaannya,” ungkap Masluri. Masluri menambahkan, mahasiswa perlu dilibatkan untuk pemilihan objek

16

Edisi XX September 2012

KKL. Hal ini bertujuan untuk melatih mereka dalam mengorganisasikan suatu program. “Yang terpenting beberapa kompetensi yang ingin dicapai bisa terpenuhi lewat objek tersebut. Jadi tidak mutlak semua kebijakan dari panitia atau dosen,” tegasnya. Oleh karena itu, lanjutnya, dari pemilihan objek, masing-masing progdi harus memprioritaskan pembelajaran dan menunjang kompetensi mahasiswa. Karena dari objek tersebut, mahasiswa akan menimba ilmu yang belum didapatkan dari kampus. Perlu Ada Tahapan KKL memiliki bobot satuan kredit semester (SKS). Untuk itu, menurut Masluri, KKL juga harus melalui bebe­ rapa kali tatap muka seperti mata kuliah yang lain. “Jika tiap semester dilalui enam belas kali tatap muka, KKL pun harus ditempuh dengan berbagai tahap,” cetusnya. Dia mengatakan, pelaksanaan KKL akan lebih efektif jika melalui tahap pembekalan, kunjungan lapangan, pembuatan laporan, diskusi, dan seminar hasil laporan. Jadi tidak hanya kunjungan dan selesai di pembuatan laporan saja. Dia menjelaskan, pembekalan dilakukan untuk persiapan serta penjelasan mengenai objek dan kegiatan yang akan dijalani mahasiswa. “Pembekalan bisa dilakukan di awal tatap muka oleh dosen pembimbing. Setelah itu baru dilaksanakan kunjungan

lapangan,” terangnya. Pelaksanaan kunjungan lapangan sendiri, diharapkan mahasiswa bisa pandai menempatkan diri. Ada saatnya mereka harus fokus pada pembelajaran dan saat rekreasi sebagai sampingan. Melalui KKL, selain dapat menjalin hubungan kekeluargaan dengan sesama mahasiswa, juga dapat berinteraksi de­ngan masyarakat luar. Setelah kunjungan lapangan, lanjutnya, ada output yang harus dipenuhi mahasiswa berupa laporan. “Sebelum penyusunannya, mahasiswa harus terlebih dahulu mendapatkan bimbingan dosen. Hal ini terkait dengan sistematika penulisan yang harus dijelaskan,” jelasnya. Kemudian, ada share laporan me­ ngenai kegiatan dan hasil yang didapat saat kunjungan lapangan. Sidang dapat berupa presentasi oleh mahasiswa, la­ yaknya sebuah skripsi yang disidangkan. Dengan begitu, laporan yang dibuat mahasiswa nantinya tidak sia-sia. Jika proses KKL melalui tahaptahap tersebut, dosen dapat dengan le­ luasa memberikan penilaian mahasiswa. “Dalam KKL keaktifan mahasiswa pun dinilai. Mulai dari awal pembekalan, kunjungan, hingga presentasi laporan. Jadi, KKL masih perlu dilaksanakan di setiap progdi sebagai langkah awal dalam program praktikum di lapangan. Hal ini juga bertujuan agar mahasiswa tidak hanya mengejar IP (indeks prestasi, Red) tinggi saja,” katanya.

Sri/Peka

KUNJUNGAN : Mahasiswa PBI UMK sedang asyik memilih koran saat berkunjung di koran bali. Pena Kampus

Doc. Mukhlisin

BERSIAP : Mahasiswa Teknik Informatika UMK bersiap menuju Trans Studio Bandung.

Butuh Perhatian Lebih Oleh: Tim Peka

K

uliah Kerja Lapangan (KKL) masih menjadi mata kuliah wajib di beberpa universitas, termasuk di Universitas Muria Kudus (UMK). Namun hingga saat ini, pelaksanaan KKL belum memiliki keserasian. Entah disengaja atau tidak, masih ada perbedaan rumusan dan kebijakan di setiap fakultas tentang mata kuliah ini. Mulai dari beban Sistem Kredit Semester (SKS), waktu pelaksanaan (di semester berapa dilaksanakan), hingga sistem pelaksanaannya dan biaya yang dikenakan berbeda-beda di beberapa fakultas. Sebagai contoh, beban SKS pada KKL. Di beberapa program Studi telah membebaskan SKS (0 SKS). Anggapan tentang mahalnya biaya KKL yang harus dikeluarkan mahasiswa untuk KKL, menjadi latar belakang untuk membebaskan beban SKS. Pena Kampus

Namun, masih di beberapa program studi yang masih memberikan beban SKS, di samping biaya KKL yang menurut sebagian mahasiswa sudah mahal. Entah apa yang menjadi pertimbangan para pemangku kebijakan. Di mata kuliah yang memang diwajibkan bagi seluruh mahasiswa, namun aturan yang diterapkan berbeda di setiap beberapa fakultas. Untuk mengetahui lebih dalam pendapat dari mahasiswa di UMK, tentang seberapa penting KKL di terapkan. Redaksi Pena Kampus (PEKA) melakukan jajak pendapat atau pembacaan tentang keefektifan pelaksanaan KKL di Kampus Gondang Manis-julukan UMK. Model pembacaan ini, dengan menyebar 346 kuosioner di enam fakultas. Meliputi, KIP, Ekonomi, Teknik, Pertanian, Hukum, dan Psikologi. Sampel yang disebar jumlahnya tidak

sama di setiap fakultas. Sebab, jumlah mahasiswa berbeda dengan mengguna­ kan random sampling di setiap fakultas. Jawaban responden memang tidak mewakili keseluruhan institusi. Namun paling tidak memberikan sedikit gambaran mengenai pandangan mahasiswa tentang KKL. Data yang diperoleh tergantung dari tingkat kejujuran reponden. Pada item pertama, kami mena­ nyakan tentang pengetahuan mahasiswa UMK tentang mata kuliah KKL. Hasil jawaban item ini, 65 persen mengaku tahu, sementara 29 persen lainnya me­ ngatakan kurang tahu, dan hanya 6 per­ sen menjawab tidak tahu tentang mata k­uliah tersebut. Dilanjutkan pertanyaan kedua, yang bermuara tentang dari mana mahasiswa mengetahui tentang mata kuliah KKL. Jawaban tertinggi, 39 persen me­ ngaku mengetahui dari dosen. Sedikit di Edisi XX September 2012

17


Laporan Khusus

Laporan Khusus

bawahnya, 37 persen dari teman. Serta 20 persen lainnya, mengenal KKL dari media Informasi. Namun ada juga yang tidak menjawab, 4 persen. Dari 20 persen mahasiswa yang mengetahui dari media Informasi. Di­ mung­ kinkan dapat menunjukkan, bebera­pa mahasiswa UMK telah membuka wawasannya dengan mendapatkan informasi dari media. Hal itu pula, membuktikan bahwa media informasi sangat berperan banyak di dunia mahasiswa, tentunya. Kami teruskan dengan pertanyaan berikutnya, “Apakah Anda sudah mengambil mata Kuliah KKL?” Diperoleh 39 persen mahasiswa yang sudah meng­ ambil mata kuliah KKL. Sedangkan 50 persen responden mengaku belum me­ ngambil mata kuliah tersebut. Lainnya, 5 persen tidak mengetahuinya. Sedangkan 6 persen sisanya tidak menjawab. Poin selanjutnya, menanyakan keefektifan pelaksanaan KKL di UMK. Ternyata, hanya 21 persen yang menjawab efektif. Responden lain, 29 per­ sen menjawab kurang efektif. Jawaban terbanyak, lebih memilih tidak menjawab dengan 43 persen. Sementara 7 persen lainnya, memilih poin ekstrim pelaksanaan KKL di UMK selama ini tidak efektif. Sebagian besar dari responden yang tidak menjawab, dikarenakan mereka belum mengambil mata kuliah KKL.

Selain itu, perbedaan di setiap fakultas dalam menentukan pada semester be­ rapa mata kuliah ini dijadwalkan, juga menjadi kerancuan mahasiswa dalam memberikan pendapatnya. Dilanjutkan mengenai pertanyaan beban biaya yang dikenakan pada mahasiswa, untuk mata kuliah yang sebagian mahasiswa dianggap cenderung dibuat plesir ini. Jawaban terbesar dengan 33 persen responden menjawab, biaya yang dikeluarkan belum sesuai dengan pelaksanaan di lapangan. Sementara itu, 14 persen mengaku tidak sesuai biaya yang dibebankan dengan pelaksanaannya. Hanya 18 persen yang menjawab sudah sesuai antara pelaksanaaan dan beban biaya yang dibebankan. Lainnya, 35 persen tidak menjawab dikarenakan belum melaksanakan KKL. Setiap mata kuliah yang dirumuskan tentunya berharap dapat mempengaruhi kualitas mahasiswanya. Begitu juga di UMK, saat berlanjut ke pertanyaan tentang peran KKL terhadap kualitas mahasiswa. Jawaban terbanyak berpendapat berpengaruh, dengan 51 per­ sen. Jawaban lebih tegas dengan sangat berpengaruh ada 23 persen. Prosentase yang sama, 23 persen menyatakan tidak berpengaruh KKL terhadap kualitas mahasiswa di UMK. Sedangkan sisanya 3 persen, tidak menjawab. Selanjutnya, pertanyaan mengarah pada manfaat yang di dapatkan setelah

mengikuti KKL. Jawaban sangat mencolok, 73 persen diberikan untuk pilihan “ada manfaatnya”. Sedangkan, hanya 7 persen menyatakan KKL tidak ada manfaatnya. Sedangkan, 18 persen menjawab tidak tahu. Serta 2 persen sisanya, memilih item “tidak menjawab”. Antara manfaat dan seberapa pen­ ting mata kuliah KKL bagi mahasiswa ada suatu keterkaitan. Kami juga menanyakan kepada responden tentang seberapa penting KKL bagi mahasiswa. Jawaban terbanyak, dengan 70 persen menyatakan penting. Disusul 22 persen responden yang menyatakan kurang penting. Hanya 5 persen berpendapat tidak penting. Selebihnya, 3 persen dari responden tidak menjawab. Demikian sekilas gambaran pandangan mahasiswa UMK tentang mata kuliah KKL. Sebagian besar mahasiswa yang sudah melaksanakan KKL, berpendapat pelaksanaan KKL kurang efektif. Namun, sebagian besar pula dari responden yang berasumsi bahwa mata kuliah KKL penting bagi mahasiswa. Dari hal tersebut menjadi tanggung jawab bersama, utamanya pembuat kebijakan di kampus dan pelaksana kurikulum untuk dapat memberikan perhatian dengan membenahi pelaksanaan KKL. Pembenahan penting, karena mata kuliah ini dianggap penting bagi mayoritas responden. Sehingga dapat dijalankan secara efektif.

Selamat Datang Mahasiswa Baru

Tahukah anda tentang mata kuliah KKL?

Frequency

Percent

Menurut anda apakah biaya KKL sudah sesuai dengan pelaksanaannya?

Tahu

223 64.45086705

Ya

63 18.20809249

Kurang Tahu

100

28.9017341

Belum

116 33.52601156

Tidak Tahu

22

6.358381503

Tidak

47 13.58381503

Tidak Menjawab

1

0.289017341

Tidak Menjawab

120

Dari mana anda mengetahui mata kuliah KKL?

34.68208092

Apakah mata kuliah KKL berpengaruh terhadap kualitas mahasiswadi UMK?

Dosen

135 39.01734104

Sangat Berpengaruh

Teman

128 36.99421965

Berpengaruh 176 50.86705202

Media Informasi

70

20.23121387

Tidak Berpengaruh

81

23.41040462

Tidak Menjawab

13

3.757225434

Tidak Menjawab

9

2.601156069

Apakah anda sudah mengambil mata kuliah KKL? Sudah

135 39.01734104

Belum

173 50

Tidak Tahu

16

4.624277457

Tidak Menjawab

22

6.358381503

80

23.12138728

Menurut Anda, adakah manfaat yang didapat setelah mengikuti KKL? Ada

253 73.12138728

Tidak Ada

25

7.225433526

Tidak Tahu

63

18.20809249

Tidak Menjawab

5

1.445086705

Angkatan

2012/2013

Menurut anda apakah pelaksanaan KKL selama ini sudah efektif?

    Menurut Anda seberapa penting KKL bagi mahasiswa?

Efektif 71 20.52023121

Penting

243 70.23121387

Kurang Efektif

100

28.9017341

Kurang Penting

77

22.25433526

Tidak Efektif

26

7.514450867

Tidak Penting

17

4.913294798

Tidak Menjawab

149

43.06358382

Tidak Menjawab

9

2.601156069

Universitas Muria Kudus Cerdas & Santun 18

Edisi XX September 2012

Pena Kampus

Pena Kampus

Edisi XX September 2012

19


Karikatur

Opini

Kuliah Kerja Lapangan dan Kompetensi Oleh: Agung Dwi Nurcahyo Penulis adalah Dosen prodi Pendidikan Bahasa Inggris, FKIP UMK

K

urikulum Berbasis Kompetensi (KBK) telah menjadi acuan dari pelaksanaan kegiatan akademik di Universitas Muria Kudus. KBK merupakan kurikulum yang menitik beratkan pada pendekatan Student Centered Learning (SCL). Ini berarti pengemba­ngan kompetensi mahasiswa merupakan sasaran utama dari kegiatan pembelajaran. Visi-Misi universitas dan program studi pun terus diupayakan agar selalu selaras dengan target kompetensi yang tergambar dalam profil lulusan tiap program studi. Sebagai konsekuensi logisnya semua komponen pembelajaran harus merujuk pada KBK, termasuk pelaksanaan pembelajaran dari setiap

mata kuliah juga harus mencerminkan upaya tercapainya target kompetensi mahasiswa. Kuliah Kerja Lapangan (KKL) adalah bagian dari mata kuliah lapangan yang menitik beratkan pada pelaksanaan pembelajaran di luar kelas dalam bentuk site visit (kunjungan tempat, instansi atau lembaga) atau kegiatan lapangan di mana kunjungan atau ke­giatan tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu pengalaman belajar (learning experience) untuk mempertajam dan memperkuat kompetensi yang sudah mereka asah di dalam kelas. Dengan demikian, seyogyanya Kuliah Kerja Lapangan (KKL) harus terus dilihat dari sisi korelasinya terhadap kompetensi utama (core competency) masing-masing program studi. Mengenai kemasan kegiatan KKL tentunya dapat diintegrasikan de­ ngan kunjungan wisata (tourism visit), sehingga unsur fun dari kegiatan kuliah lapangan tersebut tetap ada. Namun, perlu diupayakan agar muatan kunjungan wisata jangan sampai mendominasi sehingga tidak terkesan bahwa KKL itu identik dengan hanya jalan-jalan saja. Mungkin, kata study tour cukup cocok untuk meng­ istilahkan kegiatan KKL, de­ngan asumsi ke­ giatan ter­sebut me­ngandung unsur education dan entertainment, atau dengan akronim yang lain bisa kita sebut edutainment, gabungan dari kata education dan entertain­ment, yaitu kegiatan pembelajaran yang diiringi kegiatan kunjungan wisata. Pertanyaan yang se­ring muncul di kalangan me­ ngenai KKL, adalah berapa biaya yang diperlukan

untuk kegiatan ter­ sebut? Tentunya ini cukup realistis dan wajar, namun ada pertanyaan yang terkadang terlupakan untuk diajukan, yaitu apa yang kita dapatkan dengan kegiatan KKL ter­sebut dan apakah kegiatan KKL itu dapat memperkuat kompetensi yang sudah kita latih di dalam kelas? Ketika kita fokus pada pertanyaan kedua dan ketiga tersebut, maka kita tidak akan terjebak pada polemik pembiayaan KKL. Jadi, yang harus kita lakukan terlebih dahulu adalah mengidentifikasikan je­ nis-jenis kegiatan atau tempat kunjungan KKL yang sesuai dengan kompetensi jurusan atau program studi baru kemudian kita membahas piranti-piranti yang lain yang diperlukan, termasuk pembiayaan. Mengingat KKL adalah program yang menjadi bagian dari mata kuliah, maka pelaksanaan ke­giatan tersebut sudah semestinya dikoordinir oleh program studi (jurusan). Yang tentunya, dengan tetap menyerap dan menga­ komodasi masukan-masukan dari mahasiswa sebagai peserta didik. Dengan mempersepsikan KKL seba­ gai kegiatan pembelajaran lapangan yang tidak bisa dilepaskan dari upaya pengembangan kompetensi mahasiswa, maka, insya Allah, kegiatan KKL akan dapat menjadi kegiatan yang terarah dan juga menye­nangkan serta dapat mengenalkan para mahasiswa dengan realitas di lapangan. Sehingga, mahasiswa akan mendapatkan gambaran mengenai prospek kompetensi mereka di dalam masyarakat atau secara khusus dalam dunia kerja. Dengan demikian, sudah saatnya kita mengkaitkan setiap kegiatan kampus kita, termasuk KKL, dengan kompetensi yang tercermin di dalam visi, misi, dan profil lulusan dari program studi kita masing-masing.

mila/peka

20

Edisi XX September 2012

Pena Kampus

Pena Kampus

Edisi XX September 2012

21


Tokoh

Tokoh serahkan kepada mahasiswa yang diambil dari keputusan bersama.

KKL Mulai Bergeser dari Haluan

Pilih Lokasi Jauh, Padahal Perusahaan Lokal Kelas Internasional Reporter: Ulum Minnafiah & Nurus Satiah Kuliah Kerja Lapangan (KKL) yang dilaksanakan pada semester empat dan lima ini menuai berbagai kontroversi. Mata kuliah yang bertujuan meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam menerapkan ilmunya di lapangan kini bahkan dianggap mulai bergeser dari haluan. Berbagai persiapan mengenai kegiatan tersebut biasanya telah diatur Program Studi (Progdi) di setiap fakultas dengan atau tanpa persetujuan mahasiswa. Namun tidak bagi Arif Susanto, dosen Teknik Informatika yang menjadi panitia KKL di Fakultas Teknik tahun lalu ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengurus berbagai hal mengenai KKL. Berikut ini wawancara tim reporter Pena Kampus (Peka) dengan Arif Susanto.

Menurut anda , KKL itu mata kuliah yang bagaimana? Mata kuliah terapan dimana mahasiswa bisa melihat langsung dunia kerja dan sarana-prasarana yang mungkin tidak ada di kampus. Benarkah mata kuliah KKL masuk dalam kurikulum setiap perguruan tinggi? Masuk atau tidaknya mata kuliah ini dalam kurikulum merupakan tanggungjawab fakultas. Perguruan tinggi (PT) hanya memberikan koridor, sehingga masuk tidaknya itu tergantung masing-masing PT. Meskipun mata kuliah tersebut nol sistem kredit semester (SKS), tidak lantas dihapus. Sepenting apakah mata kuliah KKL? Secara global tidak penting, karena itu merupakan pemborosan ketika tidak memaksimalkan tujuan atau esensi KKL. Namun bisa menjadi penting jika mahasiswa bisa mencermati lebih teliti apa itu esensi KKL. Lalu, apa sebenarnya esensi KKL? KKL itu kan penerapan ilmu di lapangan, jadi mahasiswa mengintegrasikan apa yang telah mereka pelajari selama ini. Tidak hanya sekedar berkunjung di sebuah instansi atau perusahaan tertentu lalu selesai.

Misalnya? Kita lihat dari kacamata TI saja. Perusahaan pasti membutuhkan programer, teknisi mesin, dan juga teknisi komputer. Kita juga memiliki jurusan Sistem Informasi (SI), Teknik informatika (TI), Teknik Elektronik (TE), dan Teknik Mesin yang nantinya akan melahirkan fresh graduate yang perusahaan butuhkan. Jika melihat peluang tersebut, mahasiswa bisa langsung mengaplikasikan ilmu yang telah diajarkan saat kuliah ketika KKL. Jika satu perusahaan saja bisa mencakup semua jurusan yang ada di Fakultas Teknik, mengapa pelaksanaannya tidak digabung dalam kegiatan bersama? Kalau saya lihat, pelaksanaan KKL yang tidak dijadikan satu karena sifat egoisme masing-masing Progdi. Alasan yang dinyatakan karena bidangnya berbeda sehingga perusahaan yang dikunjungipun berbeda pula. Jika hanya mencermati bidang-bidangnya saja, apakah semua mahasiswa bisa lulus semua? Pola berfikir terbuka juga diperlukan dalam hal ini, ubah mindset untuk kemajuan. Apa alasan anda mengambil keputusan untuk melimpahkan kegiatan tersebut kepada mahasiswa, karena mungkin keputusan itu kurang popular? Saya ingin melatih kemandirian mahasiswa, meliarkan ide-ide mereka, memberikan kebebasan berfikir sekaligus tanggungjawab. Agar mereka bisa merasakan sendiri bagaimana mengatur persiapan KKL.

Jadi, apa hal yang terpenting dari kegiatan tersebut? Ya seperti yang saya katakan tadi, bagaimana mengarahkan mahasiswa untuk memanfaatkan peluang kesempatan yang ada. Kalau melihat potensi yang ada, sebenarnya mahasiswa lah yang dibutuhkan perusahaan.

22

Mukhlisin/Peka

Edisi XX September 2012

Apakah menyerahkan tanggungjawab sepenuhnya pada mahasiswa? Tentu tidak, saya masih tetap membimbing dan mengarahkan mereka. Namun semua keputusan saya Pena Kampus

Bagaimana persiapan yang dilakukan mahasiswa? Saya selalu menghimbau mereka agar tidak grusa-grusu dalam mengambil keputusan. Namun sebelum berangkat sudah ada koridor yang harus kolaborasikan, yang terpenting tidak hanya sekedar jeng-jeng. Contohnya, pertama, mereka kumpulkan mahasiswa yang terkumpul dalam Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) untuk rapat kegiatan KKL, koordinasi panitia yang bertanggungjawab. Selanjutnya, mereka tentukan tempat tujuan dan yang terakhir memilih agen tour dari pelelangan yang dilakukan. Untuk pemilihan tempat tujuan KKL berdasarkan apa? Awalnya saya beri kebebasan mahasiswa untuk memilih, saya tanya apa tujuan utamanya. Jika memang ingin belajar serius saya sarankan untuk perusahaan yang sesuai dengan bidang ilmunya. Tapi pada kenyataannya tempat tujuan yang dipilih justru yang dekat dengan lokasi wisata. Bagaimana tanggapan anda? Saya sudah pernah mengusulkan perusahaan yang berada di dekat kampus, karena perusahaan di Kudus cukup besar dan berskala international, sehingga kualitasnya juga tidak perlu diragukan lagi. Tapi pada prakteknya justru perusahaan yang berlokasi jauh yang menjadi target utama. Apakah pelaksanaanya memang harus jauh dari kampus? Tidak, kita bisa memanfaatkan perusahaan yang ada di lokal terutama Kudus sendiri. Selain penghematan biaya juga bisa menyerap tenaga kerja, namun rencana ini belum juga terealisasi. Kalau di Kudus mungkin tidak bisa sekaligus berwisata. Jika melihat minimnya pengalaman mahasiswa dalam hal pemilihan agen wisata. Bagaimana pelelangan agen tour sebagai penyedia jasa yang diselenggarakan mahasiswa? Waktu itu HMJ mengundang beberapa agen tour untuk mempresentasikan fasilitas yang mereka tawarkan. Mahasiswa masih bingung bagaimana mengatur waktunya, mempertemukan seluruh agen tour dalam satu ruang dan masing-masing tour menawarkan berbagai kelebihan mereka. Atau satu persatu agen tour mempresentasikan secara bergantian. Namun saya menyarankan opsi yang pertama saja. Tentu saja mereka akan berlomba memberikan harga yang serendah mungkin. Dengan begitu kita bisa mengetahui agen tour mana yang menawarkan ongkos minim dengan fasilitas plus bagi mahasiswa. Namun dalam prakteknya tak sesederhana itu. Bagaimana mengkoordinasikannya? Memang benar, biasanya fasilitas yang ditawarkan saat presentasi tak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Konkretnya seperti apa? Misalnya saat awal penawaran, agen tour berjanji seluruh mobil akan masuk perusahaan. Tapi pada kenyataannya mobil tetap tidak bisa masuk. Mahasiswa berjalan jauh dari luar perusahaan. Seharusnya agen tour menuruti kita, bukan kita yang menuruti mereka. Kita yang bayar, jadi bagaimana kita bisa menekan biro tersebut untuk menepati apa yang telah dijanjikan sebelumnya. Cobalah kita hitung, dari dua ratus mahasiswa yang Pena Kampus

membayar sebesar Rp 800 ribu. Jika ditotal mencapai Rp 160 juta. Berkunjung ke perusahaan kan gratis, itu termasuk kebutuhan perusahaan untuk publikasi. Jadi bisa kita bayangkan berapa laba yang diraup biro perjalanan terpilih. Menurut berbagai pengalaman anda mengajar di berbagai Universitas, apakah pelaksanaan KKL di UMK sudah efektif? Masalah efektif tidaknya itu tergantung sudut pandang yang menilai. Kita ibaratkan saja pesta pernikahan yang telah dipersiapkan sematang mungkin, ketika perayaannya yang sudah sesuai rencana dan terkonsep serta mewah, masih saja ada orang yang mencibirnya. Lalu, bagaimana jelasnya KKL yang efektif itu? Pelaksanaan KKL dinilai efektif apabila pengintegrasian ilmu yang didapat itu maksimal. Tidak hanya sekedar berkunjung, berwisata, dan membuat laporan saja. Tapi bagaimana cara menyatukan mahasiswa, menguatkan teamwork mereka. Apa benar tidak ada aturan yang mengatur pembagian waktu secara proporsional antara kegiatan berkunjung ke perusahaan dan wisata? Itulah masalahnya. Tidak ada aturan, sehingga pengambil kebijakan dengan mudah membuat jadwal sesuai keinginan masing-masing. Memporsikan tujuan wisata lebih banyak dibandingkan waktu kunjungan. Hitung saja berapa prosentase perbandingan waktu antara kunjungan formal dan wisata. Sebenarnya tergantung pemangku kebijakan, ada yang memang belajar serius, namun ada juga yang hanya menggunakan KKL sebagai alih-alih refreshing. Jadi pelaksanaanya diporsikan lebih banyak di wisatanya, sehingga KKL hanya sebagai topeng. Melihat hal tersebut, apa yang anda lakukan? Saya sudah pernah membicarakan hal ini kepada Progdi maupun mahasiswa yang bertanggungjawab waktu itu. Jika tujuan utamanya bersenang-senang mohon tidak usah memakai embel-embel KKL sebagai alasan. Kalau benar hanya sekedar jalan-jalan, jangan dicampur adukkan dengan belajar. Kasian orangtua wali mahasiswa. Apalagi tidak semuanya dari kalangan atas atau berduit. Ada kalangan menengah hingga bawah. Jika kegiatan tersebut dipaksakan dan tidak menghasilkan manfaat maksimal, sia-sialah ongkos yang dikeluarkan dari kerja keras para orangtua wali. Seolah-olah mereka dibohongi, jika saya memposisikan diri saya sebagai orangtua wali, saya pun akan kecewa. Bagaimana tanggapan pengambil kebijakan mengenai pendapat anda tersebut? Ada yang setuju, namun ada juga yang tidak sependapat. Alasan yang dikemukakan oleh pihak yang tidak sependapat adalah menuruti keinginan mahasiswa itu sendiri. Saya rasa kegiatan ini diselenggarakan bukan hanya menuruti kemauan mahasiswa, tapi mempertimbangkan manfaat yang didapat. Jika hanya berwisata, lalu apa bedanya antara generasi berpendidikan dengan yang tidak mengeyam pendidikan? Apa harapan Anda untuk pelaksanaan KKL ke depan? Saya berharap KKL yang dilaksanakan tahun ini dan ke depannya bisa lebih memaksimalkan belajar ketimbang sekedar berplesiran. Dengan mempertimbangkan faktor biaya dan minimnya jumlah SKS pada mata kuliah tersebut. Edisi XX September 2012

23


Tokoh

Tokoh

Libatkan Mahasiswa Dalam Pengerjaan Proyek

Berikan Mahasiswa Pengalaman Lebih Reporter ; Nurus satiah dan Ulum minnafiah

B

ekerja dengan melibatkan mahasiswa merupakan hal menarik bagi Dosen Prodi Teknik Informatika (TI) Universitas Muria Kudus (UMK), Arif Susanto. Berbagai proyek yang didapatkannya banyak yang melibatkan mahasiswa, tujuannya untuk mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan mahasiswa maupun bagi dirinya sendiri. Dengan melibatkan mahasiswa dalam proyek yang didapatkannya, secara otomatis meng­ ajarkan mahasis­ wa untuk hi­ dup mandiri. Sehingga pembelajaran bagi mahasiswa tidak hanya didapat dari perkuliahan, tapi juga dari luar perkuliahan. ”Untuk hi­dup, kita butuh pengelaman dari luar,” ka­tanya.

Dok.pribadi

24

Edisi XX September 2012

Dosen yang berdomisili di Semarang ini disibukkan dengan berbagai proyek yang dikerjakan bersanma mahasiswanya. Kebanyakan proyek terkait Ilmu Teknologi, seperti pemprograman database PLN, pemetaan daerah dengan sistem informasi geografis dan teknologi, informasi data di rumah sakit maupun perusahaan. Hasilnya pun cukup me­ muaskan, karena dari ke­ giatan tersebut bisa untuk menambah financial mahasiswa. Namun, yang terpen­ ting bukan nominal uangnya, meliankan pengetahuan yang didapat dari pembelajaran tersebut. ”Jadi mahasiswa itu tidak hanya belajar kemudian selesai begitu saja, tapi juga aplikatif dan mendapatkan hasil berupa rupiah yang bisa memacu semangat untuk belajar lebih,” terangnya. Penghasilan yang di peroleh Arif Susanto bersama tim dalam mengerjakan proyek paling tinggi proyek senilai Rp 780 juta. Bahkan, barub a r u ini dia

memenagkan proyek yang bernilai Rp 1,3 miliar. ”Hasil dari semua itu saya bagi kepada mereka (mahasiswa) sesuai dengan job masing-masing,” paparnya. Keuntungan yang diraih dipergunakan untuk melunasi modal pinjaman dari bank beserta bunganya, supplier, serta perawatan peralatan yang digunakan. Setelah di potong biaya-biaya tersebut baru didapatkan laba bersih yang dibagikan kepada seluruh mahasiswa yang ikut andil dalam pengerjaan proyek. Sejak 2010 lalu, antusias mahasiswa untuk mengikuti kegiatan belajar sangat tinggi. Namun seiring berjalannya waktu seleksi alam terjadi, adang menyusut, terkadang pula bertambah. Pasang surut semangat mahasiswa membuat Arif Susanto serius untuk menangani masalah ini. Sehingga dia harus mempertegas suasana belajar, tidak boleh hanya sekedar membahas tugas kuliah saja. Karena kegemarannya melibatkan mahasiswa, dia pun mengontrak rumah yang disinggahi bersama lima mahasiswa untuk beljar dan bekerja. Di rumah kontrakan itu, dia terus membagi ilmu kepada mahasiswa yang memang berminat untuk mencari ilmu. Dengan adanya kontrakan itu, mahasiswa memiliki tempat untuk belajar di luar kampus, karena keterbatasan tempat di kanpus. Untuk para mahasiswa yang benarbenar memiliki niat kuatr belajar, dia akan terus membimbing. Baginya, belajar untuk menciptakan karya-karya baru, mencari dan terus menggali potensi-potensi yang ada. ”Saya paling menghargai ketika menghargai orang yang benar-benar berproses dari nol,” ungkapnya. Selain berbagi dalam penerapan teknologi, suami Ida K. Wulandari ini juga memiliki banyak kegiatan Pena Kampus

berwirausaha. Seperti wirausaha di bidang peternakan sapi, bandeng dan rumput laut. Karena menurutnya, mahasiswa Teknik Informatika tidak hanya berkutat dengan teknologi komputer saja, tapi juga mampu bergelut dengan usaha yang berbasis masyarakat. Disinggung soal motivasinya meni­ ngkatkan kualitas sumber daya manusia di kampus, terutama mahasiswa jurusan TI karena dia menganggap masih mempunyai hutang jasa dengan dosen pembimbingnya yang bernama Jasi Eko. Dosennya tersebut meminta agar ia bisa mengamalkan ilmunya kepada 400 mahasiswa. Sehingga dia harus memenuhi janji itu dengan membagikan pengetahuan yang dimilikinya. Namun pengetahuan yang dibagi kepada mahasiswanya, dirasa masih kurang banyak. Sehingga diharapkan kedepan sharing ilmu bisa lebih banyak dibandign sebelumnya. ”Dulu, dosen saya saat itu tidak hitunghitungan, itu yang menjadikan pembelajaran sangat berharga dalam diri saya untuk berbagi ilmu,” ujarnya. Selain mengajarkan mahasiswa berwirausaha sesuai bidangnya, dosen yang pernah mengajar di UNAKI Semarang

ini juga merekrut siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang sudah menguasai materi tersebut. Berbagai keuntungan dari kerjasama ini adalah memberikan nilai plus kepada sekolah, dengan catatan jika siswanya mampu menyelesaikan kerjanya dengan baik. Siswa tersebut bertambah pengalaman dan penghasilan juga. Kerjasama ini

jelas sangat menguntungkan kedua belah pihak. Ia berharap kepada mahasiswa agar jeli melihat peluang yang ada. Terus kreatif dan inovatif dalam hal pengetahuan dan praktik kerja. Mahasiswa merupakan aset yang paling berharga dan produktif, potensi mahasiswa untuk maju terus ia galakkan

Curriculum vitae Nama

: Arif Susanto, ST.M.KOM

Tempat, tanggal lahir

: Yogyakarta, 3 April 1971

Alamat

: Jl.Candi Mutiara l/1210 Semarang

Email

: ariefpjl@gmail.com

Pengalaman Organisasi

: 1. LPPSP SEMARANG

2. PT. WISMA KARMAW SEMARANG

3. PT.PIRANTI BAKTI NUSANTARA JAKARTA

4. PENGDA SQUOSH JATENG

Jenjang Pendidikan

: S1 Institut Sains dan Teknologi Akprind Yogyakarta S2 STIBI Jakarta

Nama Istri

: Ida K Wulandari, S.Kom

Jumlah Anak

: 1 (satu)

Makanan Kesukaan

: Durian

Moto Hidup

: Nasib ditentukan dari kegagalan yang pernah dialami

Pesan Untuk Mahasiswa

: Tidak usah menjadi pintar, tetapi jadilah kaya dan cerdas.

Selamat atas diresmikannya gedung baru FAK. PERTANIAN & FAK. PSIKOLOGI Universitas Muria Kudus Pena Kampus

Edisi XX September 2012

25


Lifestyle

Lifestyle

Lampiaskan Stres Lewat Karaoke

Bukan Cara Tepat Mengatasi Stres Reporter: Naili Sayyidatul M dan Elsya Vera Indraswari

Aktifitas mahasiswa dengan tugas padat butuh refreshing demi menghindarkan stres. Di antara­ nya dengan karaoke menjadi tempat pelampiasan. Namun karaoke yang satu ini, bukanlah yang dengan label negatif seperti kebanyakan, karena hanya berkonsep warung dengan tambahan fasilitas bernyanyi.

P

erkembangan usaha di depan kampus Universitas Muria Kudus (UMK) cukup menjanjikan. Hal ini karena selalu ramai dan menjadi peluang bisnis menggiurkan. Sebagian warung tersebut, ada yang menawarkan fasilitas tambahan berupa karaoke. Sebagian mahasiswa mengaku aktivitas karaoke di warung tersebut dapat menghibur, bahkan dapat menghilangkan stres. Salah satunya, Erlin Wahyudi. Mahasiswa semester V Sistem Informasi Fakultas Teknik ini, mengaku sering men-

gunjungi warung karaoke bersama teman-temannya. Karaoke menjadi sarana untuk menghibur diri dite­ ngah kesibukan kuliah. “Biasanya saat ada waktu luang dan saat suntuk atau stres ngajak teman-teman untuk karaoke,” ungkapnya. Dia menambahkan, saat stres dia memilih lagu-lagu bernada tinggi untuk menumpahkan emosinya. Hal itu akan lebih baik daripada melampiaskan emosi de­ ngan kemarahan. Dalam sepekan, laki-laki yang akrab disapa Pendek ini dapat berkunjung ke warung karaoke tiga sampai empat kali. “Sekali datang bersama temanteman bisa nyanyi sampai 25 lagu. Namun juga tergantung uang juga,” ucapnya sambil tersenyum. Pendek lebih memilih tempat karaoke di sekitar UMK, karena tempatnya terbuka dan dekat, serta tidak suka karaoke dengan room seperti karaoke pada umumnya. Sehingga tidak terkesan negatif. Lain halnya dengan Riza Zauhatul Muniroh. Mahasiswa semester IX jurusan Bahasa Inggris FKIP ini, mengaku berkunjng ke tempat karaoke hanya sekitar tiga sampai empat kali sebulan. Itupun hanya saat kumpul bareng rekan-rekannya, refreshing, atau mengekspresikan rasa lewat lagu. Riza menuturkan, dengan karaoke dapat meredakan stres atau beban dalam fikiran. Dengan mengekspresikan rasa lewat lagu, sedikit membantu mengurangi masalah yang berkaitan denga psikologis. Selain itu, juga banyak mendapat kenalan mahasiswa lain atau lintas profesi. Biasanya satu kali berkunjung, dia dan teman-temannya bisa memesan lebih dari 15 lagu. “Satu orang biasanya menyanyikan tiga sampai empat lagu, bayarnya biasanya patungandan tidak ada budget khusus. Hanya menyesuaikan kantong saja,” jelasnya. Tidak hanya tempat karaoke yang ada di depan kampus yang ia sering kunjungi. Dia juga mengaku sering ke tempat karaoke luar kawasan kampus, seperti di rumah makan Sultan Chicken yang berkonsep warung, bukan room.

dok. ulum. m

26

Edisi XX September 2012

Peluang Bisnis Keberadaan warung karaoke di sekitar kampus UMK memang ditujukan untuk kalangan mahasiswa. Berbeda dengan tempat karaoke Pena Kampus

yang menyediakan fasilitisa “plusplus”. Warung karaoke hanya menyediakan makanan, minuman, dan snack bagi mahasiswa yang juga ingin mengisi perutnya. Salah satu warung karaoke di depan UMK, Cafe Kas. Cafe ini ramai dikunjungi mahasiswa ini, juga menyediakan free hotspot area. Pemilik Cafe Kas, Slamet Siswanto mengatakan, cafe yang baru dibuka sekitar dua bulan ini memasang tarif Rp 1000 per lagu. Tarif ini disesuaikan dengan kantong mahasiswa. Slamet menambahkan, dirinya berusaha tetap menjaga kode etik agar tidak terjadi hal-hal negatif di cafenya. “Dilihat dari luar, Cafe Kas memang terlihat gelap, karena agar tidak silau dan tampilan LCD terlihat jelas,” imbuhnya. Pria yang pernah menjadi dosen Sistem Informasi (SI) Fakultas Teknik (FT) ini mengatakan, sebenarnya bisnis karaoke miliknya hanya sampingan dari bisnis utama warung makan. Karena dirasa prospek bisnis karaoke juga menjanjikan, dia mengembangkan warungnya dengan karaoke. “Saya rasa bisnis ka­ raoke kemungkinan matinya kecil, sehingga berinisiatif mengembangkannya,” tambahnya. Cafe ini buka mulai pukul 09.00 hingga pukul 21.00 ini, memiliki pelanggan yang kebanyakan mahasiswa, karena memang berlokasi di depan kampus UMK. Meski tak sedikit pula dari kalangan pelajar dan umum. Slamet menuturkan, mahasiswa yang datang ke cafenya hanya untuk sekedar menyalurkan hobi menyanyi atau sekadar kumpul bareng teman. “Kadang saya tanya ke mahasiswa. Ada yang ngaku datang kesini gara-gara tugas akhirnya ditolak, lalu melupakan kesalnya di sini (Cafe Kas, Red),” tuturnya. Karaoke Termasuk Emosional Coping Salah satu dosen Fakultas Psikologi, Dwi Astuti mengemukakan, karaoke menjadi salah satu cara yang dilakukan mahasiswa untuk mengelola emosi dengan metode pelepasan emosi negatif. Dia menerangkan, ada dua metode pengelolaan emosi. Pertama, dengan coping stress yakni fokus langsung pada masalah yang menyebabkan stres. “Cara ini menuntut kita untuk segera menyelesaikan masalah yang menjadi penyebab stres. Sehingga masalah tersebut segera terselaikan,” tambahnya. Kedua, emosional coping dengan pengelolaan emosi. Metode ini dapat dilakukan dengan cara relaksasi, sublimasi (menyalurkan ke arah positif) seperti membuat puisi, melukis, atau hal-hal positif lainnya. “Sholat khusu’ dan dzikir khusu’ bagi kaum muslim termasuk dalam metode ini. Karena sholat merupakan salah satu relaksasi,” tandasnya. Demikian juga dengan meditasi yang dilakukan dengan bersemedi, menyepi, dan ibadah lain yang dianjurkan oleh

Pena Kampus

Weny/peka

agama-agama tertentu. “Jadi pada intinya semua agama sama, ketika kita mendekatkan diri kepada tuhan, itu termasuk pengelolaan emosi. Hanya saja dari segi ilmu disebut sebagai relaksasi,” ungkapnya. Dia menjelaskan, untuk menangani stres harus tahu penyebabnya. Ada yang dikarenakan faktor keluarga, teman, atau lingkungan sekitar. Dikemukakan pada teori Albert Ellis, untuk mengurangi stres, dapat melalui terapi humor yang salah satunya dengan cara menyanyi dan dengan dukungan sosial. “Metode inilah yang digunakan mahasiswa dengan berkaraoke. Jadi mereka melakukan katarsis atau pengurangan emosi negatif ini selain dengan menyanyi. Selain itu, juga dengan berkumpul dengan teman-teman,” tambah dosen yang baru mengajar tiga bulan ini. Lebih lanjut, dia menerangkan, dukungan sosial menjadi salah satu cara mengeliminisasi stress, ka­ rena dengan bertemu dengan orang-orang yang disukai akan memicu keluarnya hormon oksitosin. Hormon ini berguna untuk menghambat stres. “Sama halnya ketika kita makan coklat. Coklat juga dapat memacu keluarnya hormon ini,” terangnya. Dosen yang biasa disapa Wiwik ini menyimpulkan, karaoke hanya sebagai salah satu bentuk cara, tapi bukan jurus jitu untuk menghilangkan stres. Jadi, setelah karaoke belum tentu stres itu hilang, karena masalah yang dihadapi belum selesai. Hal lain yang bisa dilakukan untuk mengurangi stress, menurut dosen penyuka sayur dan buah ini, de­ ngan mencari kesibukan lain yang jauh berbeda. Seperti ikut organisasi, kumpul diskusi bareng dengan teman. Jadi, bisa refreshing dengan melakukan hal baru yang jauh berbeda dengan rutinitas penyebab stres. Wiwik berpesan, agar mahasiswa tidak menunda mengerjakan tugas yang diberikan. “Tugas yang tidak segera diselesaikan akan menumpuk dan akan menjadi beban yang sangat berat. Parahnya lagi dapat menyebabkan stress bagi mahasiswa,” jelasnya.

Edisi XX September 2012

27


Sudut Kampus

Sudut Kampus

Dari Hobi Berbuah Prestasi

Hobi Perlu Dioptimalkan dan Dikembangkan Biodata Nama : Muhajirin Halifudin TTL : Kudus, 23 Juli 1987 Alamat : Jalan Flamboyan RT III/RW II Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog. Jenjang Pendidikan : 1. SDN 3 Karangmalang 2. MTs Ma’ahid Kudus 3. SMK Budi Utomo Jombang, Jawa Timur Pengalaman Organisasi : 1. IPSI Kabupaten Kudus sebagai pelatih 2. Perguruan PERSINAS ASAD Pemkab Kudus Makanan Kesukaan : Makanan Indonesia Motto Hidup : Semangat untuk menjadi yang terbaik untuk semuanya Pesan : lestarikan budaya bangsa Email : potcepot44@yahoo.com

Prestasi - Juara II kejuaraan antar perguruan Se-Jawa Barat pada 2008 - Juara I Porkab Kabupaten Kudus 2010 - Juara II Kejurnas Persinas ASAD Solo 2010 - Juara I Kejurprov Se Jateng Di wonogiri 2011 - Juara III Pra PON di NTB 2012

28

dok.ulin

Edisi XX September 2012

L

atihan secara kontinyu dan mengiktui berbagai evan membuat Muhajirin Halifudin, atlit silat menuai banyak prestasi. Terakhir, dia mampu lolos dalam Pra Pekan Olahraga Nasional (PON) pada 2012 di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Juara I Kejurprov Se Jateng di Wonogiri pada 2011. Mahasiswa semester 7 Jurusan Bimbingan Konseling (BK) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) berawal dari hobi yang dilihat saat masa kecilnya. Namun dia mulai serius menekuni silat ketika duduk di bangku SMP. ”Awalnya saya melihat temantemannya latihan silat,” kata pria kelahiran Kudus, 23 Juli 1987 ini. Latihan silat tak hanya dilakukannya di Kudus, sebelumnya dia pernah latihan di perguruan silatnya di Jombang. Setelah selesai latihan di Jombang, dia pun pindah ke Kabupaten Kudus dan mengikuti even lomba silat. Setelah dirasa hasil cukup memuaskan, dia pun kemudian sering mengikuti berbagai pertandingan silat, jika dihitung dia pernah mengikuti lebih dari 15 even silat yang di­ selenggarakan pemerintah maupun instansi lainnya. Kebanyakan bisa meraih hasil yang cukup memuaskan. Even pertama yang diikuti bahkan membawanya di Kejurda ASAD di perguruannya sen­ diri dan di Kejurnas meraih juara pertama. Selain itu, pada tahun 2007 dia juga lolos di piala Gubernur Jateng dan 2008 di kejuaraan an­tar perguruan Se-Jawa Barat dan berhasil meraih juara kedua. Dengan mengikuti banyak event yang ada, membuatnya semakin berpengalaman dalam silat, terutama ketika pengalaman

ketikan bertanding. Muhajirin mengatakan medali dan piagam yang didapatkannya hanya sebuah perhargaan ataupun kenang-kenangan, yang terpenting justru bisa menjadi motivasi bagi peserta lain di perguruan silatnya. ”Dari prestasi ini, saya juga mendapatkan beasiswa untuk membantu kuliah saya,” imbuhnya. Untuk mencapai prestasi silatnya maupun bidang lain, dibutuhkan bakat. Namun, bakat tak selamanya dapat menghasilkan suatu prestasi. ”Karena bakat yang dimiliki seseorang perlu dioptimalkan dan dikembangkan agar menjadi sebuah prestasi yang luar biasa,” ujarnya. Dari hobi yang dioptimalkan dan dikembangkan, setiap orang bisa memiliki prestasi membanggakan, baik dibidang akademik maupun non akademik. Diperlukan juga suatu latihan, pengetahuan, pengalaman serta motivasi agar terealisasi dalam wujud nyata, yakni berupa pencapaian suatu prestasi yang membanggakan. Adanya jadwal kuliah dan juga latihan silat, sampai sejauh ini dia tidak mempunyai kendala ataupun jadwal bentrok. Karena untuk jadwal latihan telah diatur sendiri agar tak mengganggu kuliahnya. Sehingga mutlak dibutuhkan cara membagi wantu agar antara silat dan kuliah bisa berjalan beriringan. Selian jadwal kuliah dan latihan yang padat, dia juga mempunyai beberapa pekerjaan tidak tetap, tetapi bisa menambah finansial untuk membiayai kuliahnya. ”Semua harus berjalan dengan baik, karena keduanya sama-sama penting,” ungkapnya Dia menambahkan, mahasiswa perlu menyadari, dengan mengikuti kegiatan di luar jam kuliah, seperti mengoptimalkan hobi yang dimiliki sebenarnya menyenangkan. Selain itu juga bisa juga menambah wawasan dan pengalaman. (Dian/PEKA) Pena Kampus

Sosialisasikan PKM untuk Memacu Mahasiswa

Mukhlisin/Peka

ANTUSIAS : Peserta terlihat antusias saat sosialisasi PKM yang dilaksanakan di gedung rektorat lt 4 UMK.

S

osialisasi seputar Program Krea­ tivitas Mahasiswa (PKM) di Ruang seminar lantai IV gedung rektorat Universitas Muria Kudus (UMK) bagi penerima beasiswa PPA, BBM, dan POSDAYA dilaksanakan pada Sabtu (14/7). Kegiatan ini memberikan arahan kepada mahasiswa tentang bagaimana menyusun proposal PKM. “Kegiatan ini merupakan rutin setiap tahun dilaksanakan, terkait dengan harapan dari UMK agar peserta PKM akan semakin banyak yang bisa mengikuti PIMNAS,” terang ketua panitia Ir.Supari, M.Si. Acara Pelatihan Penyusunan Pro­ posal PKM 5 bidang yang meliputi PKM-P, PKM- K, PKM-M, PKM-T/ KC, dan PKM-AI/GT kali ini diisi oleh

Budi Gunawan, ST,MT dan Rina Fiati, ST.MCs yang merupakan dosen UMK. “ Mereka dipilih karena memang berkompeten di bidangnya, selain itu mereka juga berpengalaman dalam membimbing peserta PKM” ujar Supari. Selain memberikan materi tentang bagaimana menyusun sebuah proposal yang baik dan benar, dosen-dosen pemateri tersebut juga diharapkan untuk dapat membangkitkan motivasi mahasiswa. “ Seperti pak Budi, yang kita ketahui merupakan dosen muda yang berprestasi terutama dibidang pembuatan proposal tingkat dosen. Dengan pengalaman beliau, mahasiswa dapat terpacu untuk memiliki prestasi yang sama” tandasnya. Mahasiswa penerima beasiswa PPA

BBM pada tahun ini mencapai 150 anak. “ Jika masing-masing anak menjadi ketua PKM dan menggaet mahasiswa non-beasiswa maka akan banyak proposal yang akan dikirim. Dengan begitu, peluang proposal yang lolos akan semakin besar” jelas PD III fakultas pertanian tersebut. Mahasiswa UMK diharapkan untuk bisa mengirimkan proposal PKM sebanyak mungkin. Beliau mengungkapkan bahwa setiap tahun ada beberapa proposal PKM yang lolos hingga tingkat DIKTI. “Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan kontinuitas akan proposal PKM yang lolos akan dipertahankan” ujarnya. (Rizka Haryani/ PEKA)

Diskusi dan Pementasan Puisi Alam

S

ekumpulan penikmat sastra meramaikan acara yang diselenggarakan oleh Muria Research Center (MRC) Indonesia yang bekerjasama dengan Kelompok Penulis Sastra (Keloepas), teater COIN dan AURA Universitas Muria Kudus (UMK) serta teater SMA NU Hasyim Asy’ari pada acara yang berlangsung pada Sabtu (30/06). Kegiatan tersebut mengangkat tema “ Bermuara pada Alam”. “Latar belakang diadakan pentas puisi adalah untuk aksi social dalam rangka hari lingku­ngan yang jatuh pada 5 juni lalu,” ujar Sulistiyanto selaku panitia acara. Pena Kampus

Kegiatan ini diawali dengan pembacaan puisi oleh Imam Khanafi (Koordinator Keloepas) dan Solehudin (mahasiswa STINU, jepara). Setelah usai, lima perempuan dari Teater Magnet SMA NU Hasyim Asy’ari membacakan puisi berjudul “Muria juga Nyawa”. Selanjutnya, Teater Coin Fakultas Ekonomi UMK juga melanjutkan puisinya dengan judul “Bumi Hancur”. Acara diskusi pun menjadi suguhan akhir dari panitia. Diskusi dengan MRC membahas tentang lingkungan. “Ada harapan bagi manusia untuk sadar ter­ hadap lingkungan, bahwa lingkungan

kita sudah banyak yang mengalami kerusakan,” jelas ketua panitia tersebut. Menurut Sulistiyanto peran aktif dari pemuda sangat diperlukan untuk kelestarian lingkungan. Jika tidak dipe­ rhatikan, akan dikhawatirkan lingkungan akan semakin rusak dan bencana ada di mana-mana. Dan mereka juga ikut menjaga lingkungan, karena lingkungan ini adalah bahaya nyata yang sudah di rasakan, tetapi entah apa, masih banyak orang yang belum menyadari hal ini, dan melakukan hal yang bermanfaat untuk alam. Pungkas, pria asal kudus tersebut. (Septi/ PEKA) Edisi XX September 2012

29


Sudut Kampus

L

Pentas Monolog Tiga Koma

angit Senin (02/07/12) mulai meme­ rah, namun antusias para penonton di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK) tak memudar. Dengan sabar mereka menanti pentas monolog teater Tiga Koma yang mendapat peringkat ke-8 di Pekan Seni Daerah, di Universitas Negeri Semarang (Unnes). “Sebenarnya pentas monolog ini sudah pernah dipentaskan saat Pekan Seni Daerah di Unnes dan menduduki peringkat ke-8 dari 28 peserta. Karena itu kami berfikir kenapa tidak kita pentaskan lagi di tempat sendiri,” ujar Najib, ketua panitia pementasan monolog tersebut. Pemilihan naskah yang diangkat tersebut merupakan keputusan bersama dari anggota Tiga Koma. “Pemilihan naskah, kenapa memilih demokrasi? Karena tema tersebut sedang marak. Terbukti dalam ajang Pentas Seni Daerah banyak sekali yang mengangkat demokrasi. Pentas monolog ini juga disutradarai oleh giok dari teater Putu, Kaliwungu,” cerita Yulian Atmaja selaku aktor. Pentas monolog yang merupakan bagian dari rangkaian acara sinau bareng Tiga Koma. Menurut tokoh

J

Septiana/Peka

AKSI PEMENTASAN : Tokoh utama ”Gareng” sedang melakukan pementasan di auditorium UMK. utama pentas ini, Yulian Atmaja, sistem demokrasi yang ada di Indonesia masih belum jelas. Dia mencontohkan dengan mudahnya orang menyuap untuk menyelesaikan masalah. “Banyak yang berkoar-koar soal

demokrasi. Tapi dia tidak tahu apa itu demokrasi sebenarnya. Demokrasi tidak seperti itu, ada money politik dan lain sebagainya.” Ujar pria yang akrab di sapa Penceng tersebut. (Shobatini/Peka)

K

KRS Online, Lebih Mudah

abar gembira bagi mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK). Mahasiswa akan lebih mudah dalam menerima informasi akademik. Portal akademik, merupakan sistem baru yang dimiliki UMK untuk akses informasi lewat internet. Hal tersebut dikatakan oleh Mukhamad Nurkamid, ketua UPT Perencana Sistem Informasi (PSI) UMK. ”Dengan sistem ini, mahasiwa akan entri dan mengisi Kartu Rencana Studi (KRS),” tambahnya. Pelaksanaan KRS online baru dilaksanakan tahun ini karena butuh kesiapan yang sangat matang dari pihaknya. Mulai dari infrastuktur, manajemen, Sumber Daya Manusia (SDM), maupun hal yang lain. ”Jika tidak ada kesiapan dari server, alur bisnis, content management, maka teknologi yang sudah ada dan bisa dikatakan canggih ini tidak akan terpakai,” katanya. Untuk mengetahui kesiapan sistem ini, UPT-PSI sebagai penanggung ja­ wab melakukan simulasi terlebih dahulu.

Simulasi sendiri dipergunakan untuk mengetahui kesiapan sistem maupun untuk mengetahui hal – hal apa saja yang perlu diperbaiki dari sistem tersebut. ”Hal tersebut kami lakukan agar saat sistem di gunakan, mahasiswa untuk mengisi KRS secara online tidak mengalami kendala atau gangguan,” jelasnya. Menambahkan penjelasannya tentang simulasi, Nurkamid, hal tersebut juga akan mengarah apakah mahasiswa UMK siap untuk dalam sistem baru tersebut. Karena menurutnya, dalam sistem baru ini terdapat banyak perbedaan dengan sistem yang lama. ”Jika pada sistem lama, mahasiswa harus mengisi KRS dan melakukan bimbingan baru entri, sedangkan pada sitem yang baru, merupakan kebalikan dari sistem lama,” paparnya. Lebih lanjut Ia juga mengatakan, sistem ini dikembangkan juga untuk memberikan kemudahan bagi mahasiswa. Sehingga, mahasiwa tidak perlu lagi meluangkan berjam - jam hanya untuk entri

data. ”Sistem KRS online tersebut dapat diakses dari rumah, warnet, maupun dari kampus. Sehingga lebih mudah bagi mahasiswa untuk mengisi KRS dan entri data,” ungkapnya. Nurkamid, juga membandingkannya dengan sistem yang dulu, sitem KRS online yang sekarang lebih teratur dan terjadwal. Karena setiap program studi memiliki jadwal masing – masing untuk mengisi KRS dan entri data. ”Masing – masing program studi hanya memiliki waktu dua hari untuk melakukan hal tersebut. Hal ini dilakukan agar server tidak terlalu sibuk, sehingga tidak terjadi loading lama,” tambah dosen teknik informatika tersebut. Nurkamid berharap, agar nantinya sistem ini dapat melayani mahasiswa dengan baik dan dapat meringankan pekerjaan pengguna. ”Selain itu sistem KRS online yang baru ini dapat di gunakan sebaik - baiknya, sehingga dapat berjalan dengan tertib,” harapnya. (Tri Puji/Peka)

TEYLIN; Memunculkan Pembelajaran Anak

urusan pendidikan bahasa inggris (PBI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muria Kudus (UMK) menggelar acara u Seminar Nasional Teaching English For Young Learners In Indonesia (TEYLIN) pada Senin dan Selasa (10-11/07). “Acara yang berjalan dua hari ini merupakan bentuk dari respon baik pihak universitas khususnya FKIP terhadap kebijakan tentang penga­jaran bahasa inggris untuk anak-anak atau tingkat dasar,” ungkap ketua panitia seminar, Mutohhar Seminar ini, menurut Mutohar, memiliki tujuan selain untuk merespon terhadap isu-isu pengajaran bahasa inggris ditingkat dasar juga digunakan untuk memberikan sumbangsih ide atau pemikiran untuk lebih memperbaiki pengajaran

30

Sudut Kampus

Edisi XX September 2012

bahasa inggris baik teori maupun prakteknya tehadap anak-anak. “TEYLIN tahun ini adalah yang kedua, yang pertama diadakan pada 19 juli 2011 dan rencana tahun depan ada TEYLIN ketiga tingkat internasional”, jelasnya Ada perbedaan yang diusung pada acara tahun ini dengan tahun lalu. Jika tahun lalu lebih mengarah bagaimana menaknai pentingnya pengajaran bahasa inggris, sedangkan tahun ini lebih menyoroti dari sisi dampak pengajaran bahasa inggris kepada anak. “Acara ini memang sedikir berbeda dengan tahun kemarin,” tambahnya. Selain itu ada tambahan acara berupa culture trip yang memperkenalkan budaya kretek di Kudus kepada para peserta. “Acara tersebut di isi dengan

mengunjungi salah satu perusahaan rokok di Kudus,” tambah Mutohar. Mutohhar menambahkan bahwa seminar yang ditujukan untuk semua akademisi, guru dan pembuat kebijakan ini diharapkan memunculkan ide-ide dan pemikiran bagaimana seharusnya pembelajaran untuk anak-anak itu dilakukan. Tapi tidak hanya ide-ide dari perguruan tinggi di indonesia melainkan dapat melibatkan para profesional, pakar dan ahli di dalam pengajaran bahasa inggris untuk anak-anak. Sepakat dengan Mutohar, Itje Chodijah sebagai salah satu presenter, TEYLIN tahun ini lebih fokus mem­ bahas tentang mencari solusi bagaimana pengajaran bahasa inggris kepada anakanak di Indonesia. (Yusrifah/Peka)

Pena Kampus

Pena Kampus

Edisi XX September 2012

31


Bahasa

Sudut Kampus

Bahasa Ibu VS Bahasa Dominan Oleh : Ahdi Riyono (Dosen Linguistik pada Progdi Pendidikan Bahasa Inggris, FKIP, UMK)

U

ngkapan ‘’bahasa sebagai cermin kepribadian bangsa’’ patut kita jadikan sebagai bahan renungan. Mengingat bahwa setiap bahasa yang hidup (baca: living language) memiliki keunikan dan potensi sebagai penjaga norma, adat istiadat, sopan santun, dan alat komunikasi yang efektif bagi penuturnya. Salah satunya adalah bahasa Ibu (bahasa daerah). Bahasa Ibu sebagai bahasa pertama tentu memiliki daya pengaruh yang sangat kuat terhadap perkemba­ ngan intelektual dan mental seorang anak bila dibanding­kan dengan bahasa lain. Potensi besar ini ternyata sering tidak disadari atau bahkan dilupakan oleh orangtua dan pemangku

Weny/Peka

TAK RIMBUN : Kurangnya lahan hijau di kampus UMK.

Menggagas Ruang Terbuka Hijau

L

ingkungan yang baik dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap penghuninya, begitu pun sebuah kampus. Lingkungan kampus yang nyaman dan baik sangatlah penting untuk mendorong kualitas prestasi mahasiswanya. Hal tersebut diungkapkan Supari, dosen Fakultas Pertanian, Universitas Muria Kudus (UMK), ketika ditemui di kantornya, beberapa waktu lalu. ”Kampus yang bersih dan nyaman dapat mendorong aktifitas belajar mahasiswa, dengan menyediakan ruang tersendiri guna dapat menjadi tempat yang nyaman untuk aktifitas akademik, misalnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) atau sebuah taman,” tambahnya. Menurutnya, UMK belum sanggup menyediakan ruang yang secara khusus

32

Edisi XX September 2012

difungsikasn sebagai RTH. ”Kampus kita sudah terlihat sangat rindang, tapi belum adanya lahan khusus untuk RTH tersebut, mungkin karena keterbatasan lahan yang dimiliki,”ujarnya. Supari, menegaskan meski belum memiliki taman, UMK sudah berupaya untuk mengefisiensikan ruang – ruang yang ada, guna ditanami beberapa tumbuhan hijau. Misalnya, penanaman tumbuh – tumbuhan disamping gedung perkuliahan atau disepanjang jalan menuju gedung fakultas. ”Melihat hal tersebut masih dirasa kurang, karena belum adanya taman khusus sebagai RTH,” katanya. Malik Khoirul Anam, mahasiswa semester V, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), mengungkapkan RTH di kampus sudah cukup bagus. ”Jika dibandingkan saat awal saya

menjadi mahasiswa dengan sekarang, kampus sudah lebih hijau dengan beberapa tumbuhan,” tambah Anam. Bagi Anam, lingkungan yang hijau dan sejuk dapat menyokong kegiatannya dalam menjalankan aktifitas seba­ gai mahasiswa seperti diskusi. ”Saya sangat suka kegiatan seperti diskusi terutama jika harus berada diluar kelas. Agar kegiatan tersebut semakin efektif, kita membutuhkan adanya lingkungan hijau di kampus seperti adanya sebuah taman,” harapannya. Selain itu Anam juga berharap bahwa kedepannya UMK dapat menyediakan ruang tersendiri seperti taman yang enak buat diskusi. ”Tempat duduk atau gazebo yang sudah ada terlalu sempit untuk kegiatan diskusi mahasiswa,” paparnya. (Titik M/Peka) Pena Kampus

kebijakan. Para orangtua lebih bangga bila anak-anak mereka dapat berbahasa kedua dan asin­g daripada berbahasa Ibu atau daerah. Dunia di abad ke-21 memang memiliki tantangan yang berbeda dengan abad sebelumnya. Hegemoni bahasa Inggris sebagai alat komunikasi internasional mendorong bangsa-bangsa berkembang membuat kebijakan mewajibkan bahasa asing tersebut diajarkan dan dipakai dalam dunia pendidikan. Di Indonesia muncul sekolah-sekolah berlabel RSBI/SBI yang cenderung mendegradasikan peranan bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Pakar Pendidikan Bahasa UPI Abdul Chaer dalam Kom­pas (Rabu, 25 April 2012) berpendapat bah­wa penggunaan bahasa asin­ g di RSBI/SBI tida­ k baik untuk pem­ binaan bahasa Indonesia. Prak­ tisi pendidikan Darmaningtyas mengatakan, kebijakan RSBI/SBI salah kaprah dengan memandang bahasa Inggris lebih bergengsi dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Dari pandangan kedua pakar tersebut kita dapat menarik benang merah bahwa kebijakan RSBI/SBI tentu berakibat lebih buruk lagi terhadap perkembangan bahasa dan Sastra daerah. Bukti penelitian yang dilakukan oleh Arni binti Zainir dan Coleman terhadap kasus program dua bahasa (bilingual) di Malaysia menjelaskan siswa yang belajar IPA dan Matematika dengan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar menunjukkan prestasi jauh lebih buruk dalam Ujian Nasional (UN) dibandingkan dengan mere­ka yang menggunakan

bahasa Melayu sampai akhir program (Associated Press Malaysia, 8 Juli 2009). Hal yang sama juga ditunjukkan hasil penelitian dari Pinnock (2009). Hal tersebut terjadi tentu bukan karena bahasa Inggris yang tidak se­ suai, namun lebih terhadap pengajaran bahasa Inggris yang tidak tepat dan kebijakan yang tidak komprehensif dalam pengembangan multilingualisme dalam pendidikan. Memasukkan Bahasa Ibu (daerah­ ) dalam program mul­tilingual (ane­k­a bahasa) secara praksis sering di­anggap tidak la­ku. Akibatnya pe­­­mangku kebija­kan cenderung eng­gan dan abai dalam usaha pe­lestarian dan pemertahanan bahasa Ibu. Kebijakan yang tidak memihak itu justru mengabaikan pendidikan yang berkeadilan dari masyarakat yang tidak berbahasa dominan (Non-Dominant Language), serta mengantarkan nasib bahasa ibu kini kian tambah sekarat. Padahal trend dunia saat ini adalah ‘think globally, act locally’. Artinya, bahasa Ibu/daerah sangat pen­ting diperhatikan dan dijaga keberlangsungannya demi menjaga keunggulan suatu bangsa. Ada beberapa alasan kenapa bahasa Ibu berperan penting dalam mengembangkan daya unggul bangsa di Abad ke-21 ini. Menurut Didi Suherdi (2010), Guru Besar Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), peran penting tersebut antara lain; (1) mengembangkan keahlian dalam pembelajaran, (2) melestarikan ‘warisan budaya kelompok etnis’, dan (3) menjamin keadilan bagi anggota yang berasal dari kelompok bahasa yang tidak dominan. Peran penting ini sebagai bukti bahwa bahasa Ibu memiliki keunggulan dalam bidang pendidikan multilingual sebagai dasar pembentukan sikap dan berpikir

mukhlisin/peka

Pena Kampus

Edisi XX September 2012

33


Bahasa kritis. UNESCO menyebutnya sebagai MTB-MLB (Mother tongue-based multilingual Education). Salah satu keuntungan pemakaian bahasa Ibu dalam proses pembelajaran ditahun-tahun awal sekolah adalah banyaknya konsep penting, nama benda, peristiwa serta pengalaman yang berkesan yang bias diungkapkan secara gampang dengan bahasa Ibu. Para pakar mencatat bahwa pada usia 4 atau 5 tahun, setiap anak normal telah menguasai tatabahasa ibu dengan sempurna dan mampu berbicara dengan jelas dan lancar dengan suara yang enak didengar (Bowen, 1998 dalam Didi Suherdi, 2010). Dengan kata lain, anak-anak mampu mengungkapkan ide, pikiran perasaan dengan bahasa ibu mereka. Bahasa mereka sudah berfungsi untuk mendukung semua kegiatan yang diperlukan pada kehidupan di usia mereka. Seperti apa yang dikatakan Paiget anak usia 2-7 tahun memiliki rasa keingin tahu an yang tinggi sehingga mereka mulai banyak bertanya, mulai menggunakan penalaran sederhana.

Opini Bahasa ibu juga terbukti ampuh sebagai prediktor yang efektif untuk perkembangan bahasa kedua dan keberhasilan pendidikan (young 2003; Cummins, 2000 danDutcherdan Tucker, 1995). Anak-anak dapat berpartisipasi aktif dan berlatih berpikir tingkat tinggi dalam proses belajar-mengajar. Dengan kata lain, dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan bahasa ibu, anak-anak akan lebih dapat berpartisipasi, terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Sebaliknya, suasana berbeda ditemukan di ruang kelas yang siswanya diajar dengan bahasa kedua atau asing, mereka cenderung kurang aktif, minder atau kurang percaya diri. Hal ini bukan karena siswanya lamban belajar atau kurang berbakat, tetapi lebih karena siswa belum merasa nyaman dengan bahasa yang dipakai oleh guru. Pemaksaan penggunaan bahasa kedua atau asing akan mengorbankan kebahagian psikologis anak serta kematangan dan keberaksaraan bahasa Ibu, investasi dan warisan budaya mereka.

Di Indonesia bahasa ibu hanya dipakai sebagai pilihan yang longgar, terutama ketika siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi pengajaran (Maryanto, 2009; Sugiono, Evarinayanti, dan Suherdi, 2009). Para guru hanya melakukan alih kode atau campur kode sebagai upaya untuk mengatasi masalah komunikasi. Dengan model seperti ini, peranan bahasa ibu sangat sedikit, padahal sebagaimana yang telah dijelaskan tadi, bahasa ibu memiliki kemampuan yang sangat besar dalam membantu siswa. Situasi seperti ini menyebabkan hampir semua bahasa ibu/daerah di Indonesia sekarang dalam kondisi ‘lumpuh’ terutama di kalangan penutur muda. Dengan demikian, upaya-upaya peles­ tarian bahasa ibu perlu terus di­ tingkatkan. Dengan cara menggunakan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar pada pendidikan tingkat pertama dasar dan upaya pendokumentasian dengan penelitian juga harus terus didorong agar eksistensi bahasa ibu tetap lestari dan terjaga dari kepunahan.

PT. Hartono Istana Teknologi 34

Edisi XX September 2012

Pena Kampus

Dilematika Ala Mahasiswa Oleh: Arif Choirul Amir

D

alam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, gerakan mahasiswa seringkali menjadi cikal bakal perjuangan nasional, seperti yang tampak dalam lembaran sejarah bangsa. Sejak tahun 1908 sampai 1998, mahasiswa menjadi penyeimbang pemerintah yang represif, diktator dan bertindak semena-mena. Mengapa harus mahasiswa? Mungkin hal inilah yang menjadi faktor utama mengapa mahasiswa yang selalu menjadi aktor peradaban dan tulang punggung perjuangan bangsa dalam membangun peradabannya, (Kompasiana, 2012) Mungkin ada banyak pertanyaan yang akan muncul. Mengapa harus mahasiswa? Berdasarkan karakteristik alamiahnya, mahasiswa memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan elemen masyarakat lainnya. Sebagai seorang yang memiliki jiwa muda, mahasiswa merupakan sosok berkarakter masih memegang kemurnian idealisme dalam berjuang. Mereka tak segan menyuarakan pendapat dan kritik mereka terhadap siapa pun yang mereka anggap menyimpang. Selain mahasiswa sebagai insan akademis menjalankan proses dalam pendidikan tinggi. Sehingga masyarakat beranggapan bahwa ilmu yang mereka dapatkan merupakan senjata pamungkas untuk mengabdikan diri ke masyarakat. Mahasiswa juga dikenal kreatif dalam membangun ilmu yang didapatkannya serta menerapkannya ke masyarakat. Secara fisik mahasiswa memiliki kondisi yang fresh untuk berpikir dan bertindak. Mahasiswa juga memiliki keingintahuan dan sikap kritis terhadap kondisi di sekitarnya. Dengan modal intelektual yang dipunyai, ia senantiasa mampu memperjuangkan masyarakat agar menjadi lebih baik. Mengutip pernyataan Bapak Prok­ mator, Soekarno, mengakui kemampuan yang dimiliki pemuda mahasiswa. “Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncang dunia”. Begitu lah kenyataan dan fakta yang tak bisa ditolak oleh siapapun. Namun saat ini tampaknya mahasiswa kehilangan jati dirinya. Jika dulu mahasiswa terlihat garang Pena Kampus

terhadap birokrasi dan bahkan menjadi momok aparat birokrasi itu, gerakan mahasiswa terasa mandul. Idealisme yang telah diagung-agungkan masa lampau akhirnya mulai tergerus oleh zaman. Mahasiswa seakan tak berdaya lagi di hadapan para birokrasi. Salah satu penyebab yang saya yakini, kenapa mahasiswa tak lagi berdaya di hadapan birokrasi, karena mahasiswa saat ini tak sejalan dan setujuan dalam kehidupan di dunia kampus. Di kampus mahasiswa mengkotak-kotakkan diri dalam dua blok. Sebut saja blok mahasiswa ‘idealis’ dan blok mahasiswa ‘apatis’. Dua blok ini yang saya yakini selalu bersengketa di kampus manapun. ‘Mahasiswa aktifis’ menganggap ‘mahasiswa apatis’ sebagai mahasiswa yang tidak peka, pragmatis, oportunis, pengkhianat intelektual, atau belum menyadari hakikatnya sebagai mahasiswa. Sebaliknya ‘mahasiswa apatis’ menganggap ‘mahasiswa aktivis’ sebagi orang-orang yang tidak ada kerjaan, yang sok ikut campur, keras kepala, cari ketenaran dan mengidap penyakit sok pahlawan. Jumlah mahasiswa cenderung apatis dan hedonis lebih banyak daripada mahasiswa yang mau berdiskusi dan senantiasa menyuarakan hak-hak rakyat. Memang. Dilematika gerak dan langkah mahasiswa tersebut tak dapat kita salahkan sepenuhnya kepada mahasiswa itu sendiri. Dari kedua blok ini, mahasiswa apatis jumlahnya lebih ba­ nyak. Jika diprosentasekan, di setiap kampus diseluruh Indonesia mahasiswa blok Apatis ada 80 persen. Sedangkan mahasiswa pro perjuangan sekitar 20 persen. Dalam kasus ini, kita tak bisa menghakimi kawan mahasiswa yang tak peduli terhadap persoalan rumit bangsa ini. Mungkin karena tuntutan hidup yang tak menganjurkan mahasiswa untuk berlama-lama di kampus. Kuliah hingga lima tahun atau lebih saat

ini, bukan sebuah hal yang patut untuk dibanggakan. Setiap tahun ongkos kuliah semakin mahal dari tahun ke tahun. Sehingga pilihan cuma kuliah dan kuliah. Tidak untuk yang lainnya. Sejatinya, mahasiswa merupakan kekuatan besar yang telah mencatatkan namanya pada panggung sejarah di negeri ini. Gerakan mahasiswa di Indonesia adalah kegiatan kemahasiswaan yang ada di dalam maupun di luar perguruan tinggi yang dilakukan untuk meningkatkan kecakapan, intelektualitas dan kemampuan kepemimpinan. Tinta emas yang telah digoreskan mahasiswa terdahulu mampu membawa perubahan dalam bangsa ini. Sejarah gerakan mahasiswa ini, layaknya kita jadikan se­bagai bahan refleksi kita semua. Menjadi seorang mahasiswa sebenarnya memiliki peran dan tanggung jawab sekaligus melanjutkan pendahulu kita yang sudah menancapkan tombak perubahan untuk negeri ini. Presiden BEM Universitas Muria Kudus 2011/2012

Mukhlisin/peka

Edisi XX September 2012

35


Resensi

Opini

Pendidikan Sebagai Proses Pemerdekaan Oleh : Malik Khairul Anam

S

eiring berjalannya waktu, pendidikan di Indonesia mengalami berbagai peristiwa dari masa ke masa. Di masa orde lama, pendidikan diarahkan ke arah sosialis. Dimana pendidikan merupakan hak semua kelompok masyarakat, tanpa memandang kelas atau status sosial. Di masa orde baru pendidikan lebih kepada alat pembenaran bagi kepentingan penguasa dan kroni-kroninya. Dunia kampus pun dibungkam dan dipasung kreativitasnya agar tidak bersuara lantang dan membahayakan para penguasa dan kroni-kroninya. Di masa pasca reformasi nampaknya pendidikan belum beranjak dari keterpurukan. Pendidikan justru diarahkan menuju pendidikan yang komersialis. Pendidikan dianggap sebagai produk kapitalis yang diharapkan mampu memberikan keuntungan sebesarbesarnya bagi para pemilik modal. Dalam UUD 1945 Pasal 31 Ayat (1) yang menetapkan “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”. Pergeseran yang terjadi pada pendidikan era reformasi adalah hubungan negara dan masyarakat mengalami perubahan cukup besar, serta telah menyimpang dari ketentuan konstitusi. Karena pengaruh globalisasi yang ditunggangi oleh kepentingan pasar, berakibat pendidikan bukan lagi sebagai upaya mecerdaskan bangsa atau proses pemerdekaan manusia, tetapi mulai bergeser menuju komodikasi pasar. Mengacu pada ketetapan konstitusi diatas, semakin jelas bahwa negara seharusnya bertanggung jawab dalam pelaksanaan pendidikan bagi setiap warganya. Jadi, seharusnya pendidikan untuk semua Education for all. Namun, pada realitanya justru pendidikan lebih terlihat komersil, biaya pendidikan yang semakin mahal berakibat pada semakin sulitnya pendidikan dijangkau oleh semua orang. Ditambah lagi dengan kondisi dalam pembelajaran di lembaga-lembaga sekolah maupun perkuliahan dirasa juga kurang mencerminkan pendidikan sebagai alat pencerdasan maupun pemerdekaan. Metode pembelajaran di lembagalembaga pendidikan sekarang, justru lebih

36

Edisi XX September 2012

Dok.pribadi

berorientasi pada pendidikan keahlian saja, yang hanya fokus dalam mempersiapkan para lulusan yang siap kerja. Ini akan berdampak pada pola pikir peserta didik yang semakin pragmatis dan instan. Peserta didik terfokus hanya bidang yang mereka pelajari dan kecenderungan orientasi pada sertifikat atau ijazah. Secara tidak langsung sikap apatis akan terbentuk dalam karakter peserta didik. Sikap acuh yang mendasari karakter peserta didik ini, akan sangat fatal bagi perkembangan masyarakat menuju kesejahteraan. Di balik derasnya arus globalisasi yang ditumpangi kepentingan kapitalisme, akan semakin mengancam semua bidang di negeri ini, baik politik, ekonomi, sosial, budaya, dan lain sebagainya. Ancaman dari luar maupun dalam telahmenyerang semua bidang di dalam negeriini. Hal ini tidak dapat dibendung melalui gerakan nyata yang dibekali kekritisan analisa peserta didik, justru akan semakin ter­ perosok, terseret derasnya arus. Krisis nurani dan jatidiri adalah fakta yang menyelimuti generasi Indonesia hari ini. Lunturnya rasa kemanusiaan, solidaritas sosial, mencintai produk

dan budaya sendiri adalah suatu hal yang memprihatinkan dan perlu dibenahi bersama. Hal ini perlu ada pembenahan yang serius dalam metode pembelajaran. Ki Hadjar Dewantara berpendapat,“Pendidikan itu berupaya sekuat tenaga menanamkan rasa persaudaraan, persamaan, kesetiakawanan, dan kebersamaan hidup senasib seperjuangan tanpa memandang kelas sosial, baik agama, ras, suku, adat, serta membela bangsa dalam segala bentuk penindasan. Pendidikan pun bermuara guna melahirkan rasa mencintai segala aset bangsa agar dijaga, agar dapat dimanfaatkan bagi kemakmuran bangsa”. Pendidikan salah satu alat mencerdaskan dan memerdekakan bagi semua warga negara. Tanggung jawab guru me­ngajar juga tidak hanya semata-mata untuk bekerja mencari nafkah, tetapi juga harus benar-benar mengajar, mengayomi, dan dengan rasa kepedulian demi terciptanya generasi yang kritis dan peduli akan lingkungan. Comenius berkata,”pendidikan yang layak bagi anak didik tidaklah mencekoki berbagai kata-kata, kalimat, dan ide-ide dalam kepala mereka yang diulurkan bersama beragam pengarang, tapi pendidik harus mampu membuka pemahaman mereka terhadap dunia luas sehingga aliran kehidupan bisa jadi me­ ngalir dari pikiran mereka seperti halnya daun, bunga, dan buah yang tumbuh dari kuncup sebuah pohon”. Pendidikan harus kembali pada hakikat dan fungsinya sebagai alat pencerdas dan pemerdeka bagi semua warga negara.Peran pendidikan jelas sangat pen­ ting dalam pembentukan karakter dari generasi ke generasi dan membentuk kesalehan individu, menuju kesalehan sosial. Tugas negara adalah menyelenggarakan pendidikan yang layak dan mudah dijangkau bagi semua warga negara. Dengan tujuan, pendidikan yang akan menjadi dasar muara kaki melangkah dalam menapaki kehidupan berbangsa dan bernegara.Semoga bermanfaat. Mahasiswa PBI FKIP UMK Pena Kampus

Pesan Soegija untuk Bangsa Diresensi Oleh Ahmad Miftahul Ulum*

S

oegija, salah satu ikon semangat nasionalisme bagi bangsa Indonesia di tahun 1940-an. Dia selalu mementingkan kepentingan bangsa dan rela mengalahkan kepentingan pribadinya, bahkan rela mengorbankan dirinya. Dimana Romo Kanjeng Mgr. Soegijapranata SJ berhasil melakukan diplomasi damai yang tegas, untuk mengembangkan ke-Indonesia-an di pentas politik dunia internasional. Soegija, lahir 25 November 1896, di Soerakarta, Jawa Tengah. Nama lengkapnya, Mgr. Albertus Soegijapranata. Keluarganya terbilang cukup mapan, bahkan lebih dari cukup. Ia bukan rakyat biasa, melainkan bagian dari Abdi Dalem Kasunanan Surakarta. Karena dasar latar keluarga itulah, ia berkesempatan masuk ke suatu sekolah yang cukup prestise. Dari sekolah Kolose Xaverius Muntilan, Soegija mendapatkan kesempatan bersekolah memperdalam ilmu ke Eropa. Ia direstui oleh gurunya, Romo Frans van Lith –bernama lengkap Franciscus Georgius Josephus van Lith. Frans van Lith merupakan pendiri sekolah Kolose Xaverius Muntilan. Tergabung sebagai Yesuit Oirschot, Belanda. Paus Yohanes Paulus II memercayainya sebagai penopang kristen di Jawa, khususnya di Jawa bagian tengah, saat Paus ter­ sebut berpidato di Yogyakarta, 1989. Frans van Lithalah orang yang mampu menyelaraskan ajaran kristen terhadap tradisi-tradisi Jawa –selayaknya Nomensen dalam penyebaran Kristen Protestan di tanah Batak. Di tangannyalah banyak orang pribumi masuk ke dalam ajaran Kristen, awalnya mencapai 170-an orang, di Kulon Progo. Ketika Romo Kanjeng (saat itu masih frater atau calon pastor) sedang belajar ilmu filsafat dan teologi di Oudenbosch, Belanda (1923-1926), para pemuda Indonesia di Belanda (Indische Vereeniging atau Perhimpunan India) juga sedang giat membantu perjuangan bangsa di tanah air. Sehingga nurani kebangsaan Soegija ikut serta dalam perjuangan tersebut. Mereka merumuskan identitas mereka, walau sekolah di Belanda, hati tetap Indonesia.(hal48) Kedatangan jepang mengubah keadaan secara derastis, diantaranya: me­ ngubah nama Batavia menjadi Jakarta, menurunkan bendera merah-putih-biru Pena Kampus

(350 tahun berkibar), merobohkan patung Jan Pieterzoon coen dan monumen anjing Pudel di atas keju Edam di Waterloopein, Jepang juga mela­ rang berbahasa Belanda. Politik Jepang adalah menghapus pengaruh Barat di tanag jajahannya, termasuk Kristen. Salah satu strategi jepang adalah mempertajam konflik agama. Tahun 1938 jepang mensponsori Islam dunia di Tokyo, mengundang delegasi dari Indonesia. Jepang juga menunding Kristen sebagai kolaborator Belanda dan kekerasan yang terjadi sampai pertempuran kemerdekaan. Tiba-tiba terdengar isu, bahwa soegija telah di tangkap tentara Jepang. Ini membuat rakyat merasa was-was, karena beberapa pastor di hukum mati jepang(18 September 1943) tetapi isu tersebut tidak terjadi. Pada hari itu juga, soegija berkeliling menyuruh umat katolik keluar dari persembunyian. Di saat keadaan mulai gentar, terdapat berita bahwa AS mengebom Hiroshima dan Nagasaki, jepang pun menyerah tanpa syarat. Pada tanggal 17 Agustus 1945: Indonesia merdeka. Harapan besar muncul di tengah rakyat: kita akan bebas dan merdeka. Akan tetapi, kemerdekaan tak semudah yang dibayangkan. Di Semarang, tentara Jepang tidak mau menyerahkan senjata. Perang pun berkobar selama berhari-hari. Bersamaan dengan itu, kekacauan terjadi di mana-mana: penjarahan, kelaparan, dan lain-lain. Lagi-lagi, Romo Soegija punya adil besar: ia berusaha bernegosiasi agar terjadi gencatan senjata. Romo Soegija juga aktif berhubu­ ngan dengan pemimpin Republik: Bung Karno, Sjahrir, dan Sri Sultan

Judul Buku Penulis Buku Penerbit Cetakan Tebal ISBN-13

Hamengkubuwono IX. Romo Kanjeng sering memberikan usulan-usulan kepada pemimpin Republik itu. Dan, se­bagai bentuk dukungan kepada Republik, Romo Soegija memindahkan keuskupan dari Semarang ke Jogjakarta. Gaya diplomasi Romo Soegija juga cukup mumpuni. Ia berhasil menyeret Vatikan sebagai negara Eropa pertama yang mengakui kemerdekaan RI. Kedatangan perwakilan Vatikan ke Jogjakarta, Ibukota Republik, ditemani langsung oleh Romo Soegija ketika bertemu Bung Karno. Dalam buku ini, ’Soegija’ seakan lebih banyak membawa pesan untuk pemimpin dan bangsa Indonesia sekarang. Bagaimana memajukan harkat dan martabat rakyat. Itu merupakan pesan singkat untuk pemimpin dan elit sekarang. kalau kamu jadi pemimpin, jangan lupa bahwa darah para pejuanglah yang menjadi pupuk bagi tanah negeri ini. Ini sesuai dengan pesan Romo Soegija sendiri: “Apa artinya menjadi bangsa merdeka jika kita gagal mendidik diri sendiri.”kamu harus mengusahakan agar negara menjamin hak warganya tanpa memandang suku dan agama apa mereka.” Buah karya Ayu utami mengombinasikan dengan baik, bagaimana ia dapat mengambarkan kisah soegija dengan detail, yakni menggunakan sumbersumber yang valid dan memadukan dengan foto-foto yang menarik. dan di kemas dengan bagus, mulai dari cover, huruf dan kertas bergambar. Sehingga terasa menarik untuk di baca. *Peresensi mahasiswa Universitas Muria Kudus

: Soegija 100% Indonesia : Ayu Utami : Kepustakaan Populer Gramedia : Pertama, Mei 2012 : 139 halaman : 978-979-91-0454-0

Edisi XX September 2012

37


Resensi

Resensi penulis, dimana ia terus saja menciptakan sesuatu yang baru sehingga meski kita sudah membacanya hampir setengah buku, ending novel tersebut pun belum bisa ditebak. Berkali – kali, penulis mengajak pembaca untuk menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Novel ini begitu menarik untuk dibaca. Setiap lembarnya memberikan ketegangan tersendiri bagi pembaca. Dari satu petunjuk beralih ke petunjuk yang lain. Inilah yang membuat ikatan emosional antara novel tersebut dengan pembaca.

Diresensi oleh Titik Malikah* Judul Penulis Penerbit Cetakan Tebal

: Trash (Anak - Anak Pemulung) : Andy Mulligan : PT. Gramedia Pustaka : Pertama, Juli 2012 : 256 halaman

Petualangan Tiga Anak Pemulung

S

iapapun pasti menjadi gerang jika melihat seseorang tanpa rasa bersalah menumpuk uang yang bukan menjadi hak miliknya. Seperti itulah yang dirasakan oleh Jose Angelico, seorang yatim piatu dari kalangan bawah, Ia pun kemudian memutuskan untuk mengambil kembali uang tersebut kepada penduduk yang membutuhkan. Seolah sudah memprediksi hal tersebut, ia pun meninggalkan petunjuk dalam sebuah catatan dan kunci yang tersimpan didalam sebuah tas yang dibuangnya di tumpukan sampah. Tas tersebut suatu hari ditemukan Raphael. Tas tersebut harganya lebih dari 10.000 peso, karena para polisi datang ke daerah mereka dan membayar para pemulung untuk mencari tas itu. Hadiah dijanjikan bagi siapa pun yang menemukan tas itu. Melihat hal tersebut bersama sahabatnya, Gardo, mereka meminta bantuan Tikus (alias Jun – Jun) untuk menyembunyikan tas itu beserta isinya. Ketiga sahabat tersebut tau arti pentingnya isi dalam tas itu. Mereka pun memutar otak untuk memecahkan arti catatan itu. Petualangan pun dimulai. Kehidupan tiga sahabat (Raphael, Gardo, dan Tikus) yang hidup sebagai anak pemulung. Tumpukan sampah merupakan bagian dari kehidupan mereka. Bagi para pemulung, benda yang dibuang dan tak berarti bagi orang lain merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi mereka. Tumpukan sampah laksana gunung yang menyimpan tambang emas yang begitu luar biasa berharganya. Masa depan pun bergantung dari apa yang mereka peroleh dari tumpukan itu. Plastik, kertas yang akan tersulap menjadi

38

Edisi XX September 2012

uang setelah mereka kumpulkan dan menjualnya, begitu juga dengan barang lainnya. Ya, kesemuanya menjadi tumpuan hidup dan masa depan mereka. Meski hanya mengumpulkan sampah. Hal tersebut ternyata bukanlah suatu hal yang mudah. Sampah memang terlihat melimpah, namun tidak setiap hari mereka memperoleh apa yang me­ reka inginkan itu. Bahkan untuk menebak apa yang akan mereka temukan setiap harinya saja begitu sulit. Itulah kehidupan yang diceritakan dalam novel berjudul Trash karya Andy Mullighan. Petualangan Raphael tak pernah menduga bahwa dia akan menemukan sebuah tas berisi uang dalam dompet. Tapi ternyata, bagi Raphael, ada yang lebih berharga dibanding uang tersebut. Sebuah peta yang terlipat rapi dengan sebuah kunci didalamnya, itu yang terpenting dalam tas itu. Ia meyakini bahwa apa yang baru saja ia temukan akan membawanya kedalam sebuah petualangan yang besar, menarik serta dapat mengombang -am­ bingkan hidupnya. Bagi Raphael, penemuannya itu merupakan suatu yang special dan misterius. Sehingga Ia memutuskan untuk menyimpannya. Bahkan ketika polisi di daerahnya menawarkan hadiah bagi siapa yang berhasil menemukan tas tersebut. Ia tetap saja bergeming dan tetap bersikap dengan diam. Akhirnya tiga sahabat memutuskan untuk bertualang. Petualangan dimulai dengan menaiki kereta api guna mencari loker bernomor 101 sesuai dengan apa yang tertera pada kunci tersebut. Setelah mereka menemukan loker

itu, mereka dihadapkan kembali pada tantangan yang baru yaitu mengirimkan pesan kepada Gabriel Olondriz, Tahanan 746229, sel blok 34K sayap selatan penjara Colva. Kali ini mereka dibuat bertanya – ­tanya kembali dengan isi surat yang terdapat deretan angka – angka dimana tak satupun dari mereka yang mampu mengartikannya. Sama sekali tidak ada petunjuk untuk memecahkan kode tersebut. Di tengah petualangan ketiga sahabat tersebut, terbesit menganai siapa sebenarnya Jose Angelico, sang pemilik catatan. Ia sudah meninggal di penjara atas tuduhan perampokan enam juta dollar, milik seorang wakil presiden, Zapanta. Jose sendiri merupakan yatim piatu yang diadopsi oleh Gabriel Olondriz. Jose sendiri sudah 18 tahun bekerja di rumah senator Zapanta tersebut. Terlepas dari siapa Jose Angelico, a­rwah Jose seolah memberikan kekuatan tersendiri bagi ketiga sahabat ter­sebut untuk terus melanjutkan petualangan mereka. Meneruskan langkah menemui Gabriel Olondriz, guna menerjemahkan deretan angka – angka tersebut yang didalamnya menyimpan pesan rahasia. Pesan mengenai keberadaan uang enam juta dollar yang dirampok oleh koruptor. Jika kita membaca novel ini, sejak awal terlihat bahwa penulis mencoba membawa pembaca kedalam sebuah teka-teki mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Berawal dari sebuah peta dan kunci bernomor 101, kini pembaca digiring menuju tokoh baru bernama Gabriel Olodriz serta deretan-deretan angka yang menyimpan sebuah pesan. Pembaca digiring untuk terus menjadi penasaran. Disinilah titik kelihaian Pena Kampus

P

Pembaca tidak akan berhenti sampai ia selesai membaca seluruh isi novel tersebut. Mengangkat kisah anak-anak para pemulung dan apa yang ditemukannya yang mengarah kepada sebuah rahasia yang akan merubah hidup mereka. Novel ini menjadi layak untuk dibaca oleh semua kalangan baik itu anak – anak hingga dewasa. Selain bercerita mengenai korupsi dan kehidupan anak – anak pemulung, novel ini juga mengandung sebuah pesan sederhana. Ada banyak sampah yang kita

hasilkan dan akan berakhir di pembuang akhir. Melihat hal tersebut kita harusnya mengurangi sampah pribadi. Semoga novel ini dapat menjadi pembelajaran bagi para anak bangsa agar terus berusaha dan tidak berputus asa guna mencapai apa yang mereka inginkan dan menjadi seorang yang amanah, ditengah – tengah keterpurukan bangsa. Semoga. *Perensensi aktif di Forum Kuman Baris, Bahasa Inggris, FKIP, UMK

Tentang Hujan Lalu

esan hujan sungguh agung. Cerita selalu mengabadi. Kisah tentang komitmen, gairah, cinta, mitos selalu ada di­sela – sela hujan. Merasakan setiap tetes air hujan seperti merasakan setiap frame yang akan terlukis.

Setelah hujan pelangi datang. Pelangi paham apa yang ingin dia perlihatkan setelah hujan, jika rintik besar itu menyapa memberikan tanda bahwa delapan warna pelangi tidak akan hadir untuk hari ini. Namun, hujan tetap bercerita. Dalam buku kumpulan cerita berjudul Perempuan yang Melukis Wajah, berisi sebelas cerita, yang ditorehkan oleh delapan penulis untuk hujan. Beberapa cerita mengisahkan tentang hujan dan memaknai arti hujan itu sendiri. Hujan yang telah membuat beberapa penulis menjadi presentasi kisahnya. Hujan membuat me­ reka dan pembaca terjebak dengan segala kenikmatan yang ada. Mungkin begitu, itu yang saya rasakan. Seperti cerita Hujan, Malaikat dan Ibu, yang ditulis oleh Fajar Nugros, hujan yang sangat mengharukan. Dalam cerita tersebut sosok ibu yang sering bercerita tentang dongeng tentang hujan. Cerita dalam cerita yang diramu oleh seorang ibu mengesahkan dan berkata dengan

dongeng tersebut bahwa hujan itu berkah. Selain itu cerita Perempuan yang Melukis Wajah, karya tangan Karmin Winarta, terlihat berbeda dengan kisah – kisah yang ada. Mungkin itulah yang membuat redaksi memilih cerita ini se­bagai judul buku ini juga. Kisah yang sa­ngat romantis. Cerita yang tak kalah dengan kisah Dewa Zeus atau Romeo and Juliet. Dalam kisah Perempuan yang Melukis Wajah diceritakan ada seorang perempuan bernama Briant yang hampir menikah. Calon suaminya bernama Among. Kisah mereka tak sampai. Ada kejanggalan kenapa terjadi hal tersebut. Calon suaminya itu berada di rumah sakit. Setiap hari Briant berbicara hanya dengan foto Among serta melukis wajah Among di sekujur tubuhnya, hanya untuk meratapi nasib yang Dia alami. Ia benar – benar menjadikan tubuhnya sebagai kanvas. Hingga suatu ketika Briant akhirnya berada di sebuah kamar dengan seragam khusus orang sakit jiwa. Ada satu kisah romantis satu lagi, judulnya Hujan Deras Sekali, cerita dari M. Aan Mansyur, cerita tentang hujan yang sangat ambisius. Cerita tentang perselingkungah saat hujan. Cerita aneh tapi asyik. Cerita hujan yang deras itu di Makassar.

Hujan yang membuat Arya, Marni, Baso, dan Tenri menikmati perselingkuhan. Perselingkuhan yang indah hingga membuat cerita itu tak berkesudahan. Hujan yang membuat cerita terlarang antara tokohnya. Hujan deras dalam cerita ini dijadikan alasan oleh tokoh – tokoh dalam cerita untuk memperpanjang waktu dalam menikmati hubungan terlarang. Hujan yang membuat mereka berdoa agar tak cepat usai. Hujan deras adalah harapan mereka untuk dapat lebih lama menikmati keadaan terlarang. Sebelas cerita tersebut mampu menghanyutkan kita dalam kisah-kisah hujan rintik dan deras, semuanya menggambarkan kenangan yang seolah hidup dalam irama hujan. Karna hujan mengingatkan kenangan, kehilangan bahkan harapan yang tak sempat tuntas. Begitulah kisah, cerita dan dongeng tentang sebuah hujan. Cerita tentang kejadian (riwayat) kehidupan seseorang dalam hujan. Kumpulan cerita yang bisa dibaca semua orang. Khsusnya remaja. Mereka akan mempunya pandangan hujan dengan latar yang berbeda – beda. Semoga bermanfaat. *Peresensi anggaota BEM Fakultas Psikologi, UMK 

Diresensi oleh Nining Faizatul Muna Arif* Judul Buku Penulis Penerbit Cetakan Tebal ISBN Pena Kampus

: Perempuan yang Melukis Wajah : Wisnu Nugroho, Dkk : Gramedia Pustaka Utama : Pertama, Juni, 2012 : 176 Halaman : 978-979-22-8551-2 Edisi XX September 2012

39


Wacana

Wacana

Modernisasi Teknologi Pertanian Oleh : Farida Yuliani

M

odernisasi dapat diartikan sebagai proses perubahan atau pembaharuan dari corak kehidupan masyarakat yang “tradisional” menjadi “modern”, terutama berkaitan dengan teknologi dan organisasi sosial. Pembaharuan mencakup bidang-bidang yang sangat ba­ nyak. Bidang mana yang akan diutamakan oleh suatu masyarakat tergantung dari kebijaksanaan penguasa yang memimpin masyarakat tersebut. Perubahan merupakan gerakan searah (linier), progresif  (ke arah kemajuan) dan berlangsung perlahanlahan. Apabila individu atau masyarakat bersifat terbuka terhadap  hal-hal baru, maka ada kecen­derungan proses modernitas itu akan berlangsung secara cepat . Dalam proses perubahan tidak dapat dihindari adanya dampak efek samping. Gejala modernisasi di sektor pertanian utamanya dapat dilihat pada penggunaan teknologi baru di dalam ke­ giatan produksi pertanian. Penggunaan teknologi itu kemudian mengubah cara dan tehnik produksi serta hubunganhubungan sosial di pedesaan. Penerapan teknologi pertanian modern ditandai dengan beberapa hal. Pertama penggantian penggunaan teknologi yang semula meggunakan pupuk kandang menjadi pupuk kimia. Kedua pemakain bibit jenis unggul menggantikan jenis lokal. Ketiga pemakaian mesin traktor pengganti bajak. Keempat penerapan teknik irigasi baru, yang meliputi peningkatan manajerial dan keteknisan dan pelayanan penya­ luran air ke lahan usaha tani dari suatu daerah irigasi dan terakhir penggunaan mesin pemroses pasca panen. Modernisasi pertanian bukannya tanpa dampak. Di Indonesia, penggunaan pupuk dan pestisida kimia merupakan bagian dari Revolusi Hijau, sebuah proyek ambisius Orde Baru untuk

40

Edisi XX September 2012

memacu hasil produksi pertanian dengan menggunakan teknologi modern, yang dimulai sejak tahun 1970-an. Gebrakan revolusi hijau di Indonesia memang terlihat pada dekade 1980-an. Saat itu, pemerintah mengkomando penanaman padi, pemaksaan pemakaian bibit impor, pupuk kimia, pestisida, dan lain-lainnya.  Hasilnya, Indonesia sempat menikmati swasembada beras. Namun pada dekade 1990-an, petani mulai kelimpungan menghadapi serangan hama, kesuburan tanah merosot, ketergantungan pasokan bibit, pemakaian pupuk kimia yang semakin meningkat dan pestisida yang tidak manjur lagi, serta harga gabah dikontrol pemerintah. Sementara di masa lalu nenek moyang memanfaatkan pupuk hijau dan kandang untuk menjaga kesuburan tanah, membiakkan benih sendiri, menjaga keseimbangan alam hayati sehingga lebih bersifat ekologis dan tidak merusak alam, tetapi tingkat produksi rendah jauh di bawah kebutuhan manusia Pertanian modern yang bertumpu pada pasokan eksternal berupa bahanbahan kimia buatan (pupuk dan pestisida), menimbulkan pencemaran dan kerusakan lingkungan sehingga lahan yang sebelumnya cukup baik akan berubah menjadi lahan yang marjinal serta membahayakan kelestarian lingkungan hidup. Hal ini tentu tidak boleh terjadi terus menerus karena lahan pertanian akan terdegradasi secara berangsur-angsur sehingga akan

meninggalkan lahan bermasalah untuk generasi masa datang. Kedua hal tersebut di atas sangat dilematis dan hal ini telah membawa kepada pemikiran untuk tetap mempertahankan penggunaan masukan dari luar sistem pertanian, namun tidak mebahayakan kehidupan manusia dan lingkungannya. Beberapa teknologi alternatif yang telah diterapkan di era modernisasi untuk tujuan tersebut adalah : Teknologi multikultur yaitu berupa diversifikasi komoditas dalam usahatani yang meliputi tanaman tahunan maupun tanaman semusim dengan hewan ternak maupun ikan, yang dapat menjadi andalan dalam usahatani masa depan. Pengalaman menunjukkan usahatani

dengan mengandalkan teknologi monokultur kurang menguntungkan petani karena membutuhkan input tinggi, bahkan kadang-kadang cenderung berdampak negatif. Keuntungan teknologi multikultur diantaranya adalah pertama, karena komoditas yang satu dapat memanfaatkan hasil samping dari komoditas lain seperti kotoran ayam atau sapi yang dapat dimanfaatkan untuk pupuk tanaman atau tambahan makanan ikan sebaliknya bagian tanaman tertentu juga dapat dimanfaatkan untuk makanan ternak. Kedua, dengan diversifikasi komoditas akan mengurangi resiko kegagalan usaha atau terdapatnya saling subsidi keuntungan jika salah satu komoditas harganya kurang baik. Dan yang terakhir ketiga, akan dapat menjaga kelestarian lingkungan. Teknologi budidaya tanaman secara hidroponik. Merupakan  teknik bercocok tanam dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman, atau dalam pengertian sehari-hari budidaya tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam. Dalam konteks ini fungsi dari tanah adalah untuk penyangga tanaman dan air yang ada sebagai pelarut unsur hara (nutrisi), kemudian diserap tanamanan.  Teknologi ini walau mengunakan larutan nutrisi pupuk kimia, tetapi ramah lingkungan, karena larutan pupuk yang digunakan dalam kondisi yang berimbang, tidak terbuang dan tidak mencemari lingkungan. Dalam teknologi budidaya hidroponik, pemilihan jenis tanaman yang akan

dibudidayakan untuk skala usaha komersial harus diperhatikan. Sebagai contoh jenis tanaman yang mempunyai nilai jual di atas rata-rata, yaitu: a. Paprika b. Tomat c. Timun Jepang d. Melon e. Terong Jepang f. Selada. Bertanam dengan sistem hidroponik, dalam dunia pertanian bukan merupakan hal yang baru. Namun demikian hingga kini masih banyak masyarakat yang belum tahu dengan jelas bagaimana cara melakukan dan apa keuntungannya. Selain teknologi tersebut, yang tidak kalah penting dalam era modernisasi ini adalah teknologi pemuliaan tanaman untuk mencari varitas-varitas baru yang cocok untuk kondisi lahan lokalita. Misalnya mencari varitas padi dan palawija yang toleran terhadap stress garam sehingga berpotensi ditanam di lahan pasang surut, atau mencari varitas padi dan palawija yang toleran terhadap kondisi tergenang maupun kekeringan, sehingga diperoleh tanaman padi tahan genangan maupun tahan kering. Hal ini bukanlah merupakan hal yang mustahil karena sekarang sudah ditemukan dan diisolasi gen tahan kering dari tanaman padi liar Arabidobsis thaliana, dimana apabila gen tersebut dicangkok ke tanaman lain, tanaman tersebut menjadi tahan kering. Hal ini tentunya menjadi tugas akademisi maupun praktisi yang mendalami bidang pertanian/ ilmu tanaman demi terwujudnya kedaulatan pangan di masa yang akan datang. Khusus untuk tanaman p­ adi, telah dikembangkan teknologi

budi­daya metode SRI (System of Rice Intensifikation). Merupakan metode yang ramah lungkungan, karena metode ini memperhatikan semua komponen yang ada di ekosistem (tanah, tanaman, mikro dan makro organism tanah, udara, sinar matahari dan air). Sehingga memberikan produktivitas yang tinggi, optimal dan sinergis, serta berguna untuk menghindari berbagai pengaruh negatif bagi kehidupan komponen dan kerusakan lingkungan. Disamping itu juga memperkuat dukungan untuk terjadinya aliran energi dan siklus nutrisi secara alami. SRI telah dikenalkan kepada para petani sejak tahun 1999 oleh Alik Sutarya dkk. Prinsipprinsip budidaya tanaman padi SRI (System of Rice Intensification) adalah pertama tanam bibit muda yang kedua tanam bibit satu pohon. Dis samping itu juga Jarak tanam lebar. selanjutnya memanfaatan bahan organik dari lingkungan sekitar. Dan yang terakhir menjaga tanaman tidak tergenang air (hemat air). Namun sampai sekarang tidak banyak petani yang mengaplikasikan teknologi modern. Rendahnya tingkat pendidikan, terbatasnya kecakapan petani serta terbatasnya modal yang dimiliki petani merupakan penyebab rendahnya penerapan teknologi oleh petani. Oleh sebab itu pengembangan sumberdaya di sektor pertanian sangat perlu untuk dilaksanakan karena ke depan sektor ini masih menjadi salah satu andalan ekonomi daerah yang cukup penting.

Bulletin Fakta Mengungkap Realita Mahasiswa Septi/peka

Pena Kampus

Pena Kampus

Edisi XX September 2012

41


Wacana

Budaya

Menumbuhkan IKM di Kudus Oleh : Muslimin

I

ndustri Kecil Menengah (IKM) adalah usaha yang dilakukan oleh wirausaha yang mencoba mandiri dengan cara memproduksi dan memasarkan hasil produknya sendiri. Mereka bekerja tidak menggantungkan hidupnya menjadi karyawan pada perusahaan besar namun berwirausaha sendiri. Jenis kelompok ini termasuk usaha yang luput dari terpaan krisis global. Banyak perusahaan raksasa yang tumbang dan gulung tikar akibat terkena hempasan badai krisis global. Sehingga imbasnya banyak karyawan yang di PHK. Namun berbeda dengan pelaku IKM meskipun badai krisis global datang menerpa, mereka tetap eksis dan malah cenderung mengalami peningkatan jumlah pelakunya dari tahun ke tahun. Di Kudus, banyak sekali pelaku IKM yang setiap tahunnya tidak mengalami penurunan namun selalu mengalami angka pertumbuhan. Budaya orang Kudus yang mempunyai etos kerja keras de­ ngan sebutan ‘’Gusjigang’’ (Bagus Pinter Ngaji dan Berdagang) melahirkan banyak pelaku wirausaha yang tumbuh subur di Kota Kretek ini. Mempunyai usaha sendiri perlu dikampanyekan juga perlu mendapat support dari pemerintah Kabupaten Kudus. Ada beberapa yang perlu dilakukan. Pertama, pelaku IKM perlu membuat organisasi/paguyuban sesama pengusaha. Organisasi ini bisa tingkat desa atau tingkat kecamatan bahkan sampai tingkat kabupaten dengan membuat Kelompok Usaha Bersama (KUB). Dengan tujuan untuk membuat jejaring antara sesama pelaku IKM. Dari jejaring yang dibangun lewat organisasi atau paguyuban mereka bisa saling bertukar informasi dan saling mengetahui usaha apa yang mereka geluti. Sehingga memungkinkan mereka bisa saling menyuplai kebutuhan diantara mereka. Yang pada akhirnya terjadi suplay and demand (permintaan dan penawaran) antara pelaku wirausaha. Kedua, produk yang dihasilkan oleh IKM perlu dipasarkan. Selama ini masih banyak wirausaha yang berjalan memasarkan produknya sendiri-sendiri sehingga kadang terjadi persaingan harga yang tidak sehat yang berdampak saling menjatuhkan

42

satu dengan lainnya. Alangkah baiknya kalau produk-produknya bisa di sentralkan seperti berupa show room atau galery yang memajang produk-produk yang dihasilkan dengan menyepakati harga yang sama untuk setiap produk yang dihasilkan. Sekaligus sebagai tempat untuk memasarkan produk. Dengan tujuan ketika orang dari luar Kudus datang ke Kudus mereka bisa melihat produk-produk yang tersentral di show room. Pihak pemkab Kudus bisa memfasilitasi adanya show room atau galery itu sebagai bentuk kepedulian terhadap kemajuan dari pertumbuhan IKM. Atau pihak pemkab Kudus lewat Dinas Perindustrian, Koperasi dan UMKM menjadwalkan kegiatan untuk memperkenalkan produk-produk ke masyarakat. Bentuknya bisa seperti pasar rakyat dengan mengundang pelaku u­saha untuk memamerkan sekaligus menjual produk yang telah mereka hasilkan. Acara ini bisa dikemas seperti pameran dengan tujuan produk-produk usaha bisa dikenal masyarakat baik yang di Kudus ataupun luar Kudus. Yang pada akhirnya mereka akan membeli produk itu.

Ketiga perlunya untuk terus mensupport pelaku IKM yang mulai tumbuh dan berkembang dengan bantuan peralatan yang mereka butuhkan. Dan hal ini ternyata sudah dilakukan oleh Pemkab Kudus lewat Dinas Perinkop dan UMKM Kudus yang setiap tahun memberikan bantuan peralatan bagi IKM yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (KUB). Hal ini dengan harapan mereka akan bisa mengembangkan usahanya dengan penambahan alat produk. Terakhir sangat perlu peningkatan sumber daya manusia (SDM) yang berkesinambungan bagi pelaku IKM. Baik yang terkait dengan peningkatan mutu produk juga pengetahuan tentang memasarkan produk lewat internet. Ini sangat penting sekali terkait kompetisi di sektor wirausaha semakin hari semakin keras dan ketat sekali. Dibutuhkan peningkatan SDM yang terus menerus agar mereka terus berinovasi dan tidak ketinggalan dengan IKM di luar Kudus. Hal ini bisa dilakukan dengan pembinaan dan menjadwalkan pelatihan untuk peningkatan SDM bagi pelaku IKM. Sehingga dari peningkatan SDM itu, bisa menghasilkan produk-produk baru dari hasil inovasi dan berkualitas tinggi. Dan juga mereka akan selalu menciptakan produk-produk yang lebih unggul baik dalam hal design ataupun kualitasnya. Disamping itu juga, pihak Dinas Perinkop dan UMKM perlu menjadwalkan untuk study banding bagi pelaku IKM ke kota lain. Dengan tujuan mereka bisa melihat sekaligus menimba ilmu kesuksesan dari pelaku usaha yang ada di kota itu. Sehingga ketika balik ke Kudus, ilmu yang didapatkan bisa digunakan untuk meningkatkan produktifitas usaha yang mereka geluti selama ini. Butuh kerjasama yang baik antara pelaku IKM dan peme­ rintah Kabupaten Kudus untuk bersamasama mewujudkan kota Kudus sebagai kota lahirnya para pengusaha. Sehingga kedepan angka pengangguran di Kudus setiap tahun mengalami penurunan.

Asal Usul Dandangan Mulai Bergeser

Dandangan Bukan Sekadar Pasar Malam Reporter : Mukhlisin dan Farah Dina Yuliani

D

ua minggu jelang Ramadan, sepanjang Jalan Sunan Kudus pasti ramai dengan pedagang dari Kudus ataupun luar Kudus yang mendirikan lapak dalam perayaan tahunan, Dandangan. Tradisi Dandangan semula berasal dari warga yang menjual dagangan bagi masyarakat yang berkumpul di Menara Kudus untuk mendapatkan informasi awal Ramadan tiba.

TEATRIKAL : berperan sebagai Sunan Kudus ketika membacakan pengumuman awal puasa.

Penulis adalah koordiantor Komunitas Kampung English desa Temulus Mejobo Kudus. Dok.Pribadi

Edisi XX September 2012

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus melalui Kabid Pariwisata, Sancaka Dwi Supani me­ ngatakan, tradisi ini merupakan tradisi yang sudah ada sejak Zaman Sunan Kudus. ”Jadi tradisi ini sudah dilakukan sejak lama, tapi kapan pastinya belum tahu,” katanya. Kata Dandangan berasal dari suara beduk yang ditabuh dan menghasilkan bunyi dang-dang. Namun ada pula pandangan lain, secara etimologis, kata Dandangan berasal dari Bahasa Jawa ndang – ndang. Sedangkan arti kata tersebut berarti cepat-cepat. Kata ndang-ndang, bisa diartikan isyarat untuk segera menyiapkan makan sahur menjelang puasa pertama Ramadan esok harinya. Pada H-1 itulah masyarakat umum yang da­ tang menunggu pengumuman dari Sunan Kudus tentang awal puasa. Karena banyaknya orang berkumpul, tradisi Dandangan kemudian tidak sekadar mendengarkan informasi resmi dari Masjid Al-Aqsha Menara Kudus, tetapi juga dimanfaatkan para pedagang untuk berjualan di lokasi sekitar masjid. ”Di sana akhirnya dijual berbagai peralatan rumah tangga, pakaian, sepatu dan barang lainnya hingga saat ini,” terangnya. Pani menambahkan, pedagang yang berjualan tak hanya dari Kudus saja, melainkan dari luar Kudus, bahkan dari Kota Bekasi. Mereka memang telah mengagendakan untuk berjualan di sana, namun kebanyakan yang berjualan dari warga Kudus. Namun kini Dandangan justru terkenal dengan dagangan atau keramaiannya, bahkan semacam pasar malam. Namun untuk menjaga agar tradisi itu tak hilang karena bergesernya anggapan masyarakat, maka Disbudpar Kudus mengadakan visualisasi Dandangan dengan kirab. Tujuannya untuk mengingatkan kembali bagaimana asal usul dari Dandangan. Sehingga masyarakat tetap ingat apa tujuan utama Dandangan. ”Karena kami tak ingin asal usulnya hilang dan Dandangan justru hanya dikenal dari dagangan dan keramainnya,” ungkapnya. Sementara itu, Sejarawan Kudus, Edy Supratno me­ ngatakan, pernah suatu ketika dia bertanya kepada orang kelahiran 1950-an. Saat itu orang yang ditanya mengatakan tradisi Dandangan telah ada sejak masa kecilnya. Kondisinya pun tak jauh beda dengan Dandangan yang ada saat ini. Bahkan orang tersebut mengatakan Dandangan seperti layaknya pasar malam. ”Ketika saya datang ke Kudus pada 2002, saya juga mengira Dandangan adalah pasar malam,” imbuhnya. Tradisi ini memang telah ada sejak zaman Sunan Kudus, namun melihat kondisi saat ini, fungsi Dandangan mulai

Mukhlisin/Peka

Pena Kampus

Pena Kampus

Edisi XX September 2012

43


Budaya bergeser dari fungsi awal. Sehingga masih ada atau tidaknya makna religiusitas dan dasar moral yang melandasi Dandangan dipertanyakan. Akibatnya banyak makna yang hilang dari Dandangan karena keramaian dan perayaan semata. Menurutnya, Dandangan bukanny­ a hanya sekadar pasar malam de­ ng­ an keramaian dan jual belinya, karena Dandangan merupakan bagian dari agama. ”Pergeseran pola dan bentuk dandangan hendaknya menjadi per­ hatian serius dari agamawan, budayawan, intelektual, pemerintah dan masyarakat Kudus sendiri,” paparnya. Dulu, masyarakat Kudus berkumpul di depan Masjid Al-Aqsha Menara Kudus untuk menunggu pengumuman awal puasa Ramadan dari Syeikh Ja'far Shodiq. Awal puasa yang diumumkan dengan memukul beduk di Masjid Al Aqsha Menara Kudus. Namun, kini masyarakat dalam menentukan awal Ramadan lebih

Memoar memilih pengumuman dari pemerintah dan keberadaan Masjid Al-Aqsha Menara Kudus untuk penentuan awal Ramadan berkurang. ”Agar asal usul Dandangan tidak hilang, maka perlu diberikan penjelasan kepada anak-anak tentang sejarah Dandangan,” jelasnya. Menurutnya, kalau hal tersebut dibiarkan terus menerus, maka tradisi Dandangan akan dikenang sebagai pasar malam. Jika pengetahuan tentang sejarah tidak di berikan sejak kecil, maka pandangan masyarakat tentang Dandangan nantinya hanya sebatas pasar malam saja. Padahal Dandangan bukan pasar malam. Namun dengan adnya Dandangan seperti saat ini, dengan pedagang dan keramainnya justru menjadi salah satu wisata Kudus. sehingga Dandangan telah menemukan bentuk baru sebagai bagian dari tradisi menjelang puasa. Salah satu pedagang asal Kabupaten Jepara, Wartoyo, 61, mengaku tiap

tahun dirinya selalu membuka stan dagangannya di Dandangan. Dia pun me­ ngaku jika hasilnya cukup memuaskan. Disamping harga sewa tempat yang murah, hanya Rp. 200.000 per petak, potensinya juga cukup besar. Pengelolaan Dandangan juga di­ keluhkan, karena banyak preman yang meminta sejumlah uang kepada pedagang dengan dalih untuk uang keama­nan. “Ketika dimintai uang, biasanya saya memberikan Rp 50 ribu,” ungkapnya. Pengelolaan Dandangan yang kurang baik juga diamini Supriyanto, 40, pedagang kerak telur asal Solo. Dia mengaku sudah lima tahun ini berjualan kerak telor saat Dandangan. Tidak se­perti pedagang lain yang menyewa lapak, dia hanya membayar Rp 2 ribu untuk uang kebersihan, karena hanya membayar uang kebersihan, maka dia selalu meramaikan tradisi asli Kudus ini.

PENTAS : Pimpinan umum Peka 2011-2012 saat pentas monolog di Kansas University, Amerika Serikat.

(Mukhlisin dan Farah Dina Yuliani/PEKA)

Dok. Pribadi

Mengejar Mimpi di USA

M

Mukhlisin/Peka

KIRAB DANDANGAN : Peserta melakukan pementasan saat Kiran Budaya Dandangan di depan pendopo Kabupaten Kudus.

44

Edisi XX September 2012

Pena Kampus

ulut penulis mengeluarkan asap dingin ketika penulis pertama kali menginjakkan kaki di University of Kansas Lawrence Kansas Amerika Serikat. Bersama 19 mahasiswa di seluruh Indonesia, penulis yang juga belajar di Universitas Muria Kudus mendapatkan beasiswa Indonesian English language Study Program (IELSP) dari pemerintah Amerika yang di selenggarakan oleh Indonesian International Education Foundation (IIEF) di Jakarta. Berawal dari sebuah mimpi untuk belajar ke lua negeri, penulis memulai perjalanan ini. Penulis yakin bahwa setiap orang mempunyai mimpi, tak terkecuali orang yang kekurangan. Namun banyak dari mereka hanya bermimpi kosong, tidak dikejar dengan sepenuh tenaga. Penulis berusaha dengan keras untuk bisa mengejar mimpi itu. Ketika masuk kuliah di Universitas Muria Kudus, penulis harus bekerja keras untuk bisa menikmati hidup, mulai dari membuat kursusan sampai jualan ke pasar-pasar. Pena Kampus

Mimpi itu pun terwujud pada tanggal 28 Mei 2012, penulis berangkat menuju University of Kansas. Proses perjalanan yang tidak mudah untuk mewujudkan mimpi ini. Ujian pertama adalah test TOEFL yang harus mempunyai nilai di atas 450. Penulis mencari refrensi baik di internet maupun orang yang dikenal untuk mencari dimana penulis bisa mengikuti test tersebut. Akhirnya penulis memilih lembaga bahasa di UNIKA Semarang. Masalah financial juga menjadi kendala, meski hanya Rp. 290.000 penulis kesulitan untuk mendapatkannya. Akhirnya penulis memutuskan untuk memecah tabungan yang ada dirumah. Dengan belajar mengerjakan soal-soal tiap hari, akhirnya penulis bisa mendapatkan TOEFL yang bisa memenuhi syarat meski tidak sesuai harapan di awal. Selanjutnya penulispun meminta rekomendasi dari dosen. Karena persiapan yang kurang baik dengan dikejar waktu dan hasil ujian TOEFL yang

mepet, penulis meminta dua dosen UMK untuk bisa memberikan rekomendasi dengan cepat, meski waktu itu adalah waktu liburan. Satu dari dosen tersebut tidak bisa dengan alasan yang tidak jelas, namun satu dosen lagi bisa. Dengan penuh semangat Ahdi Riono memberikan rekomendasi yang sesuai dengan keinginan dan tepat waktu. Hal yang terakhir adalah menyiapkan berkas. Terlihat dalam formulir pendaftaran bahwa semua dokumen harus dicopy menjadi empat bagian. Berbekal pengalaman menulis sejak SMA sampai dengan bergabung dengan majalah kampus Pena Kampus (Peka) dan ikut organisasi lain, penulis dengan yakin mengisi form dengan melampirkan semua tulisan yang sudah pernah masuk di media nasional dan lokal serta pengalaman organisasi baik di sekolah, kampus maupun di masyarakat. Tidak lupa penulis juga menuliskan tentang keluarga dan statment motivasi. Disini kata banyak orang akan Edisi XX September 2012

45


Puisi

Memoar mempengaruhi proses beasiswa itu sen­ diri. Tidak mau salah, penulis mengi­ rimkan tulisan ini ke teman yang ada di Belanda untuk mengkoreksi dan memberikan saran. Setelah berjuang selama sekitar satu bulan untuk bisa melengkapi sebuah berkas, akhirnya penulis mengirim berkas yang beratnya sekitar satu kilo di kantor pos dengan penuh keyakinan dan doa, penulis bisa lolos beasiswa ini. Setelah sekitar dua bulan, penumuman untuk wawancara itupun datang. Namun insiden terjadi ketika hari dimana ada pengumuman, HP penulis hilang. Untung diaplikasi dituliskan nomor kakak yang akhir­ nya memberitahu kalau ada telfon untuk wawancara di Semarang. Proses persiapan wawancara itu pun tidak mudah, sebelum wawancara penulis mencari refrensi di internet untuk bisa lolos wawancara. Selain itu, penulis juga belajar dari saudara yang lolos beasiswa ke Australia dan juga belajar tip dan trik untuk lolos wawancara. Akhirnya telfon nomor yang dimulai 021 itu berdering di HP penulis. Sebelum mengangkat penulis sudah berdebar debar bahwa itu adalah pe­ ngumuman lolos untuk bisa belajar di Amerika. Hal itu pun benar. Meski di warung, penulis berteriak kencang de­ ngan mengucap syukur kepada Tuhan setelah diberitahu lolos. Perjalanan menuju Amerika itu dimulai pada Kamis (28/6). Dengan naik pesawat dari Semarang menuju Jakarta memenggunakan Lio Air merupakan pengalaman pertama bagi penulis naik pesawat terbang. Sebelum memulai perjalanan ke Amerika, penulis diberi pe­ngarahan oleh petugas IIEF dan diperiksa koper yang akan dibawa. Singapura menjadi negara pertama yang dikunjungi penulis dengan menggunakan maskapai Lufthansa milik Jerman. Sesampai di Singapura, penulis masih mempunyai waktu tujuh jam. Kesempatan ini sangat langka, sehingga penulis gunakan untuk jalan-jalan menggunakan bus singapura utnuk me­ ngililingi bandara dan melihat luar bandara. Perjanan dilanjutkan ke Jepang, Chicago dan sampai di Lawrence. Ketika di Amerika, penulis tinggal di Hanshinger sebuah asrama kampus tingkat 8. Penulis tinggal di lantai tujuh nomor 717 bersama John Nguyen, orang asli Amerika. Selain itu banyak juga mahasiswa internasional yang dinggal disana seperti Vietnam, Brasil, Jepang,

Zimbawe dan banyak Negara lain. Setelah dua hari tinggal, kami pun langsung diberi ujian untuk menentukan kelas. Berbagai jenis soal reading, grammar, listening dan writing menjadi ujian untuk dapat menentukan level. Penulis berada di level tiga yang menandakan kemampuan penulis masih standard dan butuh belajar untuk bisa lulus. Selama 8 minggu para pendidik di University of Kansas dengan penuh tanggung jawab memberikan materi dan pendidikan dengan sangat bagus. Rasa tanggungjawab seorang pendidik benar-benar bisa dirasakan. Bagaimana pendidik juga bisa memahami karakter muridnya. Mereka juga menggunakan buku-buku yang terkini yang didasarkan oleh penelitian di Amerika. Setiap hari senin sampai jum’at

pagi penulis disibukkan dengan kuliah dan tugas. Namun kuliah itu tak terasa karena penulis senang dengan pelajarannya dan ini terbalik dengan pendidikan di Indonesia. Penulis sering tidak mau masuk karena pengajar (bukan pendidik) tidak faham dengan apa yang di ajarkannya. Tanggungjawab merekapun kurang, apalagi umpan balik dari dosen tidak ada. Protes untuk pindah kelas dan minta ganti dosenpun menjadi hal biasa di Amerika. Siswa adalah raja yang ingin diajarkan ilmu dan faham, bukan sekadar manusia hidup yang beri ceramah terus selesai. Harapan yang sangat besar agar model ini bisa diterapkan di Universitas Muria Kudus. Setiap orang boleh bermimpi besar dan bisa mendapatkannya. Ayo kejar penulis untuk menyusul angkatan selanjutnya.

Dimana Pejuang Senja? Kerikil-kerikil yang terserak berceloteh diperut malam Syair “gugurpahlawan” coba kejutkan kerikil-kerikil yang tak rapat laksana tinta.. Sejarah yang berjalan selintas mencoba goreskan hati sebagai pena Dan hati-hati yang mengeras bak kertas yang tak jelas dibaca kualitasnya dimata dunia... Kau adalah tulang-tulang muda yang seharusnya mampu bergerak mengubah dunia... Kau adalah pejuang, tapi dimana pengorbananmu untuk nusa? 09112011

Daun kesunyian Malam merupa terik diatas pembaringan raga Dan siang berpendar menikmati wisata alam bawah sadar Sisipkan jemari waktu tuk menenun kata yang terserak mencipta figura makna Kini hasil rana terpajang sempurna dan bukan sekedar indah gambarnya Bagaimanakah proses membingkainya? Foto-foto itu kini terpajang rapi melekat pada dinding bisu bukan berarti tak selalu tak dipandangi 10/11-2011

Kerinduan Musafir Sajak-sajak sepi menyentuh hariku Namun kata kian bertubi menumbuak waktu Segenggam embun waktu ingin kuhabiskan bersamamu merangkai kemanjaan diatas anyaman tikar kerinduan yang kian buyar oleh terik perjumpaan Kini ku yang sepi merangkai teka teki menguak misteri panorama sandiwara dunia Pejam mata terpajam mengapit mimpi mimpi, menyambutmu dialam image bawah sadarmu... Embun kata 22/12/2011

Mendaki Malam di Muria

Sarapan Kata Pagi ini begitu indah namun melambat tuk menyapaku Sementara kata-kata lebih dulu tersaji menjadi menu sarapan Dengan piawai sebatang rokok pun terapit jemari-jemari layu Menusuk bersamaan beradu cepat merasuk di kepala Sedang kata-kataku yang terserak belum sempat terajut .... Sementara kerepulan asap rokokmu berurutan menjelma kedamaian Lalu Ku tuang kopi lagi dan sadarkan keadaan hingga jemari kembali mengemudi tumpangkan makna, Selamat pagi kata dan alam raya!

Tak ada kasur empuk yang mampu menyangga ragaku Tak ada bantal empuk yang mau menjadi tempat bersandarnya kepalaku Yang ada hanya dingin dan gelapyang menyelimutiku.... Muria dalam malam musim hujan januari

Karya-karya : Nor Kholidin Al-alawi

Dok. Pribadi

46

Edisi XX September 2012

Pena Kampus

Pena Kampus

Edisi XX September 2012

47


Puisi

Puisi Oleh: Nor Kholidin Al-Alawi

Menjamu Malam Pada Peristirahatan

Oleh: Vah-Mee Joseph

Kudus Tempatku Kembali

Malam adalah kejujuran dari pelarian-pelarian akan terang Bukan.. bukan pada kata yang melimpah ruah lebih pada getaran hati yang berkata-kata memadu rasa dan karsa Segala pelarian adalah kelelahan yang cukup panjang Namun bukan jua memperdaya getaran hati berlari tanpa ujung rasa Malam begitu sederhana dengan suasana dan tanda-tanda Bukan pada keistimewaan selera sesaat dan menguap pada sedikit keindahan dan hanya menyerupa bentuknya saja lihatlah kesederhanaan malam beningnya embun temaram dalam ketenangan alam raya purnama dengan cahaya tenang bersanding sinar gemintang atau kau telah berlari ke alam mimpi?

Kala aku pergi Kaulah tempatku kembali Kala aku berkelana Kaulah tempatku kembali Kala aku melancong ke negeri orang Kaulah tempatku pulang

Jepara, 11091433/30072012

Kala aku Merantau Kaulah tempatku pulang Oleh: Azura

Kudus ku nan asri Selalu melekat dalam hatiku Tiada tempat ku kembali Selain engkau tanah kelahiranku

Negeri Kanibal

Oleh: Nor kholidin Al-Alawi

Pesan Sang Hujan Dalam perjalanan hujan menjemput senja Satu rintik berpujangga tuangkan makna Kedalam kelopak mataku dan berkata: Segala yang dari bumi akan kembali ke bumi Segala yang tiada kan kembali binasa dan dalam ketiadaan tidak akan ada yang berubah Dan kini hujan pun berhenti.... Kawan, melajulah hingga “panas-dingin” terlampaui Psikologi UMK 12012012

Oleh: Nor Kholidin Al-Alawi

Oleh: Vah-Mee Joseph

Sang Pengelana

Isak tangismu membanjiri relung hatimu dan berkaca-kaca Tak sedikit pun kulihat simpul bibir mu merangkai senyum Sementara sehelai cahaya terus melaju bersama sang surya Seakan beri secarik semangat padamu, bahwa hidup adalah perjuangan dan doa

Dari gunung kau turuni Melintasi terjalnya bukit bukit Taklukan lembah tepian sungai Tuk belajar harumkan negeri

Kini kau masih bersimpuh bersama sisa-sisa kekuatan yang tersisa Panasnya kobaran malam kemarin rupanya Kau dibuatnya lunglai tanpa daya Bedeng yang kini kau tinggali, banyak peruntungan “pemeran” memainkan lakonnya

Dari hutan kau berlari Menyusuri rimba dengan berani Membusungkan dada nyalakan api Tuk terangi alam nan sunyi

Berfikirlah sejenak diatas ketenangan jiwa Semoga kau jumpai jawaban bijaksana Biarlah sementara kau bergerak seadanya sambil meniup dapur mu agar kembali ngebul Sembari menanak pengharapan untuk kebaikan masa depan

Dari pantai kau seberangi Menjelajah ganasnya ombak badai Tak kenal lelah mendayung rakit Tuk mencapai segala mimpi

48

Edisi XX September 2012

Kliwon Kala Dilema

Mendung semakin menggantung, Tak ingin enyahkan gelap yang menyayat, Seperti hidup di negeri tanpa mentari, Tak ada siang segelap malam, Setiap hari adalah pengulangan, Antara kepedihan dan kesakitan, Bila kau kuat kau menang, Kalau kau lemah, Nasibmu tak lebih dari sampah, Tak peduli berteriak hingga suara serak, Menangis mengais sisa beras, Di Negeri Kanibal, Tak ada kawan ataupun teman, Tak ada pemimpin berhati terpimpin, Kau harus makan kalau tak ingin dimakan, Harus menginjak sebelum diinjak, Kekuasaan hanya kanibalisme, Rakyat sekadar makanan birokrat, “Demi Rakyat, Atas nama rakyat,,” Dan sekejap, mobil pun berlipat Sarap!

Kudus, 16 Februari 2012 Pena Kampus

Pena Kampus

Edisi XX September 2012

49


Cerpen

INIKAH KARMA? Oleh: Septiana Tri N

M

alam semakin larut, Ardian sudah terlelap dengan mimpi-mimpinya yang memacu lajunya entah kemana, sedang aku masih tenggelam dengan pekerjaanku. Sebagai seorang dosen, pekan ini memang sangat menyibukkanku. Aku harus memeriksa beberapa file yang berisikan tugastugas dari mahasiswaku. Jam menunjukan pukul dua malam, aku pun mematikan laptop yang ada di hadapanku lalu beranjak menuju ke kamar Nila anakku. Aku belai wajahnya yang terlalu polos untuk anak seusianya. Anak semata wayangku ternyata telah menjelma menjadi gadis manis dengan usianya yang beranjak limabelas tahun. Butirbutir air mata jatuh di kedua pipiku, dan tanpa sengaja menetes di telapak tangan Nila. Nila terbangun dan mengucek matanya. “Ada apa, Mah?” tanya Nila. “Tak apa sayang, boleh mamah tidur di sampingmu?” tanyaku sambil menahan air mata. Nila membuka matanya dan hanya menjawab dengan anggukan. Aku mencoba merebahkan tubuhku dan menyesuaikan posisi tubuhku dengan posisi tidur Nila, mencoba membuat Nila merasa nyaman dengan kehadiranku di sampingnya. Kubelai rambut dan kuusap keningnya. Tak begitu lama, Nila telah kembali pulas. Air mataku mengalir lagi, aku menerawang dalam cahaya temaram yang di pantulkan dari lampu ruang keluarga. Ratapan hatiku memang tak pernah dirasakan oleh Ardian. Suamiku itu lebih suka menyibukan dirinya de­ngan pekerjaan kantornya lalu pulang dengan keadaan yang sangat

50

Edisi XX September 2012

lelah, setelah itu tertidur pulas tanpa menegur Nila walau kamar kami bersebelahan. *** Aku tak pernah mengerti apa yang dipikirkan oleh Ardian hingga sekarang dia benar-benar tak pernah mau menya­yangi Nila, bahkan mencium pipinya pun sekarang tak mau. Padahal dulu Ardian sangat senang sekali ketika mendengar kehamilanku, dia yang sangat antusias dengan perkembangan janin yang ada dalam kandunganku. Tak pernah sekalipun dia lupa untuk mengabsen si jabang bayi yang ada di perutku. Dia seakan menjelma menjadi calon bapak yang sangat menyayangi calon keluarga baru yang segera datang itu. Saat usia kandunganku mencapai enam bulan, Ardian bersikeras memeriksakan sekaligus mengUSGkannya. Betapa besar harapan Ardian dengan janin itu, dia sangat mendambakan bayi laki-laki yang sehat. Namun harapan itu pupus. Setelah melalui proses pemeriksaan, dokter menyatakan bahwa bayi kami perempuan. Terlihat kekecewaan di wajah Ardian, namun segera dia alihkan dengan senyum yang sedikit dipaksakan. “Tak apa lah dok, yang penting Mila dan anak saya sehat,” ujarnya dan aku sambut dengan senyum disusul tawa dokter yang memeriksaku. Namun aku sangat tahu kekecewaan yang Ardian rasakan, dengan suara lirih aku ucapkan kata maaf saat kami menempuh perjalanan pulang. Ardianpun terdiam sejenak lalu menyambutku dengan senyumnya yang khas. “Aku nggak papa Mil, bukankah Pena Kampus

Pena Kampus

Cerpen anak itu pemberian Tuhan, terserah dia mau memberi laki-laki ataupun perempuan, aku akan bahagia menyambut kelahirannya esok,” ujar Ardian, dan itu adalah kata-kata indah yang tak pernah aku lupakan. Ya, kata- kata yang membuatku bersemangat menjalani kehamilan karena Ardian telah menunjukkan kasih sa­yangnya. Sebulan kemudian, aku mengalami sedikit kecelakaan, aku terpeleset dan terbanting di lantai rumahku. Pendarahan hebat membuatku harus melahirkan Nila sebelum waktunya, melalui operasi aku melahirkannya. Nila terlahir prematur, hal ini membuat Ardian sangat menghawatirkan kami terlebih dia sangat menghawatirkan Nila. “Bagaimana keadaan anak saya Dok?” tanya Ardian. “Semuanya baik baik saja tapi si kecil harus mendapatkan perawatan lebih,” jawab dokter. Aku sangat bangga, Nila adalah anak yang sangat kuat. Walau masih harus diinkubator, Ardian tetap bisa mengadzaninya. Dan hanya dengan beberapa hari diinkubator, Nila diperbolehkan pulang bersama kami. Rumah yang kami tempati saat itu telah menjadi rumah seutuhnya. Seorang gadis mungil yang dengan keriangannya memanggilku de­ngan se­butan mamah dan memanggil Ardian dengan sebutan papah. Ardian sangat menaruh harapan terhadap peri mungil kami itu. Dia selalu menggadanggadangkan cita-cita yang tinggi terhadap Nila. Mulanya aku menganggap bahwa semua itu sangat wajar. Harapan-harapan Ardian ha­ nyalah harapan seorang ayah ter­hadap anak semata wayangnya. Namun tak tahu mengapa Ardian semakin menjadi, semakin lama aku semakin takut. Harapan yang berlebihan membuat Nila menjadi tertekan. Ketika Nila berada di kelas tiga se­kolah dasar, Ardian tega memukulinya hanya karena Nila mendapat nilai lima di tes matematikanya. “Papah berharap banyak padamu, karena kamu tumpuan harapan papah mamah, tapi kamu malah menyia-nyia­kannya!” bentak Edisi XX September 2012

51


Cerpen Ardian kepada Nila. Bentakan Ardian cukup membuat Nila gemetar, dan tak lama setelah itu Nila pingsan. Ahirnya kami yang kalang kabut membawanya ke dokter. Mulai saat itu Nila menjadi sangat takut terhadap sosok Ardian. Namun bukannya Ardian sembuh dari kediktatorannya, dia malah semakin menjadi. Kediktatoran Ardian membuat mental Nila menjadi nihil. Prestasinya pun semakin menurun. Puncaknya saat Nila berumur sepuluh tahun, Nila mendapat nilai nol di ujian matematikanya. Ardian menjadi kalap dan memukuli Nila. Malamnya badan Nila mengalami panas tinggi, Nila kejang. Ardian tak mau tahu dengan keadaan Nila, aku yang kalang kabut membawanya ke dokter. Nila diopname beberapa hari. Beberapa bulan berlalu, aku merasa ada yang aneh dengan malaikat kecilku. Dia tak seperti Nila yang dulu, semakin lama sikapnya semakin kekanak-kanakan, prestasinya semakin lama semakin menurun, bisa ku bilang IQnya semakin jongkok. Yang membuat aku yakin bahwa Nila mengalami keterbelakangan mental adalah saat aku mengetahui dia tak bisa lagi menghitung jumlah jarinya sendiri. Air mataku tak dapat kubendung lagi, Peri cantikku sekarang tak seperti dulu, bukan Nila yang pintar dan cakap lagi. Mulai saat itu aku dan Ardian menjadi tidak akur. Tiap malam kami berdebat tentang sikapnya ke Nila. Aku bersikeras mengatakan bahwa tak sepantasnya Ardian melakukan itu ke Nila. Aku selalu menyalahkan Ardian. Mulanya dia hanya diam, ketika aku mulai membuka pembicaraan, dia segera pergi menjauhiku tanpa sepatah kata terucap di mulutnya. Namun semakin lama Ardian mulai geram

52

Edisi XX September 2012

terhadapku, dia menumpahkan kejengkelannya terhadapku ke peri kecil kami. Dia pukuli Nila hingga memar-memar seluruh tubuhnya dan ahirnya Nila mulai kembali kejang. Seperti yang sudah-sudah, Ardian segera pergi meninggalkan kami, dan dengan berlinang air mata aku bawa anak tersayangku ke dokter yang selalu menanganinya. Kondisi Nila semakin memburuk, dan parahnya lagi Nila tak dapat lagi mengikuti sekolah formalnya. Terpaksa aku memperkerjakan perawat khusus untuk merawat Nila saat aku bekerja atau ada keperluan. Nila menjadi bersifat kekanakkanakan. Sikapnya berubah, dia tak pernah merasa bahwa dia beranjak dewasa. Nilaku yang sekarang selalu menjadi Nila kecil yang tak pernah menyadari bahwa dia seharusnya beranjak dewasa. *** Dua hari yang lalu, pertengkaran hebat kami terjadi lagi. Masih dengan masalah yang sama, sikap Ardian terhadap Nila tak pernah berubah malah bertambah keterlaluan. Hal itu membuat Nila semakin takut terhadapnya. “Ini semua

karena kesalahanmu di masa lalu Mila, seharusnya tak aku turuti keinginan orang tua kita yang memintaku untuk menikahimu jika ahirnya sama sekali tak membahagiakanku,” ujarnya jengkel. “Jadi kamu menyesal menikahiku mas?” tanyaku. “Ya, aku sangat menyesal menikahimu dan sempat mencintaimu,” ucap Ardian emosi “Astagfirullah” ucapku lirih. “Aku menikahimu dalam keadaan kau tidak perawan, dasar murahan, kau pun tak bisa memberikanku anak laki-laki, dan yang aku sesalkan kau telah melahirkan anak perempuan yang bodoh, sebodoh kau yang tak bisa menjaga apa yang seharusnya untuk suamimu,” ujarnya ringan sambil mengambil jaket dan kunci mobilnya lalu berlalu entah kemana. “Tuhan inikah yang harus kuterima, betulkah setiap perbuatan harus ada balasannya. Maafkan aku Tuhan ................,” batinku menangis. Tubuhku terasa lemas kupandangi peri kecilku yang masih berdiri disampingku. “Maafkan ibu Nak,” kupeluk Nila erat.

Pena Kampus


PEKA Edisi XX