Page 1


BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Kawasan Pecinan adalah kawasan yang merujuk pada suatu bagian kota yang dari segi

penduduk, bentuk hunian, tatanan sosial serta suasana lingkungannya memiliki ciri khas karena pertumbuhan bagian kota tersebut berakar secara historis dari masyarakat berkebudayaan China. Keberadaan Kawasan Pecinan tidak terlepas dari ciri khas bangunan cina kuno yang mengacu pada sebuah gaya arsitektur yang sangat berpengaruh di kawasan Asia selama berabad-abad lamanya. Salah satu Kawasan Pecinan yang ada di Indonesia adalah Kawasan Pecinan Kota Semarang. Kawasan Pecinan Kota Semarang merupakan salah satu kawasan di Pusat Kota Semarang dengan tingkat kepadatan permukiman yang cukup tinggi serta merupakan pusat perdagangan dan jasa yang terus berkembang. Keberadaan Kawasan Pecinan ini terbentuk secara politik, dimana pada masa penjajahan Belanda, kaum Belanda mendesak keberadaan masyarakat Tionghoa untuk memiliki kawasan tersendiri dan mengembangkan aktivitas/kegiatannya di kawasan tersebut, sehingga Kawasan Pecinan sering disebut sebagai China Town. Dengan latar belakang China Town tersebut, Kawasan Pecinan memiliki bentuk fisik kawasan yang khas, dengan berbagai fasilitas dan aktivitas didalamnya. Salah satu yang khas adalah keberadaan klenteng-klenteng kuno, bangunan-bangunan tua dengan ornamen khas serta masih kentalnya kebudayaan masyarakat di kawasan tersebut. Selain itu keberadaan Pasar Semawis dengan nuansa yang khas juga menjadi daya tarik tersendiri bagi Kawasan Pecinan. Sementara itu dalam RTRW Kota Semarang tahun 2011-2031, menyatakan Kawasan Pecinan sebagai salah satu kawasan cagar budaya atau kawasan cagar budaya atau heritage merupakan suatu kawasan atau daerah yang memiliki ciri tertentu jika dilihat dari segi sejarah, tradisi, nilai dan moral yang dimiliki. Dari pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kawasan pecinan merupakan kawasan Living Heritage yang perlu dilestarikan sehingga keberadaan ciri khas bangunan, adat istiadat, kebudayaan dan aktivitas masyarakatnya tidak hilang. Keberadaan Kawasan Pecinan bukanlah tanpa masalah, permukiman dengan kepadatan tinggi dan pusat perdagangan dan jasa tersebut memberikan masalah baik dari segi sarana dan prasarana maupun kondisi lingkungannya. Permasalahan tersebut meliputi ketersediaan sistem saluran drainase yang belum memadai dan banyaknya saluran yang tersumbat oleh sampah, tidak adanya penyediaan sarana penunjang transportasi berupa lahan parkir mengingat bahwa didalam Kawasan Pecinan terdapat pusat perdagangan yang cukup besar. Selain itu pengembangan

1


kawasan wisata hanya terfokus pada pengembangan Warung Semawis padahal potensi wisata di Kawasan Pecinan cukup banyak. Keberadaan Warung Semawis juga menimbulkan beberapa efek negatif dari penggunaan jalan sebagai tempat pelaksanaan kegiatan tersebut, seperti kemacetan yang diakibatkan para pengunjung yang memarkir kendaraan di jalan. Tidak adanya ruang terbuka baik ruang terbuka hijau maupun ruang terbuka non-hijau juga membuat kawasan terasa panas dan membuat tidak nyaman ketika mengunjungi Kawasan Pecinan pada siang hari. Tidak tersedianya ruang terbuka di Kawasan Pecinan dikarenakan kawasan ini dimanfaatkan sepenuhnya untuk lahan terbangun baik permukiman maupun perdagangan dan jasa. Pembangunan rumah-rumah maupun pertokoan juga tidak memenuhi standar KDB dan 100% dimanfaatkan sebagai lahan terbangun sehingga membuat Kawasan Pecinan tidak memiliki ruang terbuka. Selain permasalahan yang ada, Kawasan Pecinan memiliki banyak potensi yang dapat digali dari Kawasan Pecinan, salah satunya adalah keberadaan pusat perdagangan dan jasa dengan perputaran barang yang cukup tinggi serta adanya Pasar Semawis yang cukup dikenal oleh masyarakat di Kota Semarang. Dengan adanya aktivitas dan mobilitas yang cukup tinggi tersebut menyebabkan kondisi perkotaan secara fisik menjadi tidak teratur, maka dari itu dibutuhkan suatu konsep perencanaan kota yang dapat mendukung aktivitas yang semakin meningkat setiap tahunnya. Dalam merancang suatu kawasan perkotaan, terdapat banyak hal yang menjadi bahan pertimbangan, salah satu di antaranya adalah potensi dan permasalahan yang ada. Konsep yang akan diterapkan untuk mengatasi permasalahan dan mengoptimalkan potensi Kawasan Pecinan adalah konsep Smart Heritage Tourism City. Smart City adalah konsep kota cerdas atau pintar yang membantu masyarakat di dalamnya dengan mengelola sumberdaya yang ada dengan efisien dan memberikan infomasi yang tepat kepada masyarakat atau lembaga dalam melakukan kegiatan ataupun mengantisipasi kejadian yang tidak terduga sebelumnya. Konsep Smart City dipilih sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada di Kawasan Pecinan, yang meliputi smart living (gaya hidup cerdas), environment (lingkungan), people (manusia, masyarakat), utility (sarana), economy (ekonomi), dan mobility (mobilitas). Konsep Smart City ini diterapkan dengan tidak meninggalkan unsur heritage Kawasan Pecinan sebagai kawasan dengan ciri khas Cina yang kental sehingga nantinya Kawasan Pecinan akan menjadi kawasan cerdas berlandaskan budaya Cina.

2


1.2

Perumusan Masalah Masalah yang terdapat pada Kawasan Pecinan adalah:  Tidak adanya ruang terbuka hijau pada Kawasan Pecinan karena penggunaan lahan seluruhnya dimanfaatkan sebagai bangunan.  Tidak ada lahan parkir di kawasan perancangan. Biasanya pengunjung memarkir kendaraan di sepanjang jalan, yang menjadi masalah adalah dibeberapa gang yang sempit seperti Jalan Gang Warung dan Jalan Gang Pinggir banyak digunakan untuk parkir on street.

Sumber: Dokumentasi Kelompok 2A, 2014

Gambar 1.1 Kendaraan yang Parkir Disepanjang Jalan di Kawasan Pecianan

 Sistem jaringan jalan dengan satu arah dan tidak ada rambu penanda jalan sehingga membingungkan bagi orang yang belum pernah ke Kawasan Pecinan.  Sistem drainase yang tidak lancar dan tersumbat yang menyebabkan terjadinya banjir dan genangan pada gang-gang disekitar permukiman penduduk.

Sumber: Dokumentasi Kelompok 2A, 2014

Gambar 1.2 Drainase yang Tersumbat Sampah

 Sistem persampahan yang belum baik, yaitu masih banyak warga yang membuang sampah sembarangan seperti di saluran drainase sehingga menyebabkan kawasan terlihat kumuh dan aroma tidak sedap. Selain itu tidak disediakan tempat pembuangan sampah yang khusus membedakan antara sampah organik dan anorganik sehingga sampah yang

3


dibuang bercampur menjadi satu. Pengangkutan sampah yang hanya menggunakan gerobak dan dilakukan satu hari sekali juga menyebabkan sampah bertumpuk dan ada yang berceceran di jalan.

Sumber: Dokumentasi Kelompok 2A, 2014

Gambar 1.3 Tempat Sampah yang Terlalu Penuh dengan Sampah

 PKL di Jalan Gang Baru dan Jalan Wotgandul masih belum tertata dengan baik sehingga terkesan kumuh. PKL-PKL ini mendirikan lapak dijalan dan memakan badan jalan sehingga kendaraan yang melalui jalan ini harus melambatkan laju kendaraannya dan terkadang menyebabkan antrean kendaraan.  Perhatian pemerintah yang kurang terhadap sarana prasarana penunjang penduduk serta konservasi pada Kawasan Pecinan sehingga menyebabkan warga asli Pecinan banyak yang pindah ke tempat lain dan menyebabkan berkurangnya etnis asli Tionghoa di Kawasan Pecinan.  Berdasarkan hasil wawancara, etnis Tionghoa yang tinggal di Kawasan Pecinan sekitar 40% saja sehingga nuansa Pecinan kurang terlihat.  Sudah banyak bangunan-bangunan baru dengan arsitektur modern menggantikan bangunan khas etnis Tionghoa terutama di gang-gang utama Kawasan Pecinan.

Sumber: Dokumentasi Kelompok 2A, 2014

Gambar 1.4 Salah Satu Rumah Bergaya Modern di Kawasan Pecinan

4


 Bangunan kuno khas etnis Tionghoa dibagian dalam Kawasan Pecinan tidak terawat dan banyak yang kosong.

Sumber: Dokumentasi Kelompok 2A, 2014

Gambar 1.5 Rumah Kosong di Kawasan Pecinan

1.2.1 Penstrukturan Masalah Aktivitas wisata heritage Kawasan Pecinan kurang berkembang

Hilangnya Identitas dan Menurunnya Kualitas Kawasan Pecinan

Penduduk asli kawasan pecinan semakin berkurang

Liveability Kawasan Pecinan Menurun

Kondisi drainase dan persampahan yang kurang terawat

Keterbatasan lahan parkir

Keterbatasan Ruang Terbuka

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2A, 2014

Gambar 1.6 Pohon Masalah

5

Keteerbatasan Signage/Penanda


1.3

Tujuan dan Sasaran Tujuan dan sasaran disusunnya buku rencana ini adalah sebagai berikut:

1.3.1 Tujuan Tujuan disusunnya buku rencana ini adalah untuk merancang Kawasan Pecinan Kota Semarang dengan konsep Smart Heritage Tourism City yang didasarkan pada konsep Smart City. 1.3.2 Sasaran Sasaran yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut adalah sebagai berikut: a.

Menentukan justifikasi dan deliniasi pemilihan lokasi perancangan

b.

Mengidentifikasi potensi dan permasalahan yang ada pada lokasi perancangan

c.

Menerapkan konsep sesuai dengan isu dan permasalahan pada lokasi perancangan

d.

Melakukan analisis aktivitas, analisis perhitungan kebutuhan ruang dan analisis tapak pada lokasi perancangan

e.

Analisis elemen perancangan kota, analisis elemen citra kota dan analisis elemen estetika pada wilayah studi

f.

Analisis kriteria terukur dan tak terukur pada lokasi perancangan

g.

Mendesain site plan dan amplop bangunan pada lokasi perancangan

h.

Detail rancangan dalam bentuk 3 Dimensi pada lokasi perancangan

i.

Urban Design Guidelines (UDGL)

1.4 Justifikasi Konsep Perancangan Lokasi Kawasan Pecinan berada pada kelerengan datar (0-8%) sehingga cocok unutk dikembangkan untuk lahan terbangun seperti fungsinya saat ini yaitu cagar budaya, pemukiman dan perdagangan. Sedangkan menurut peta daya dukung lahan, Kawasan Pecinan merupakan kawasan budidaya sehingga diperbolehkan untuk dilakukan pembangunan dengan tetap mempertahankan bangunan-banginan cagar budaya seperti pada peraturan UU No 10 Tahun 2011 tentang bangunan cagar budaya. Menurut RTRW Kota Semarang tahun 2011-2031 Kawasan Pecinan diperuntukkan sebagai Kawasan Lindung Cagar Budaya. Sehingga penataan kawasan Pecinan harus memperhatikan fungsi cagar budaya kawasan tersebut. Konsep heritage smart city ditujukan untuk membuat penataan ruang di Kawasan Pecinan tertata dengan baik dengan memperhatikan unsur-unsur dalam smart city, tetapi tetap menjaga heritage sebagai komponen utama perencanaan di Kawasan Pecinan. Smart City dirancang untuk meningkatkan kualiatas hidup orang-orang yang tinggal di kota. Dalam prosesnya, indikator yang dijadikan sebagai tolak ukur pencapaian sebuah kota cerdas adalah smart living, environment (lingkungan), utility (ultilitas/prasarana), economy (ekonomi), mobility (mobilitas), dan people (manusia, masyarakat). Beberapa komponen dari smart city

6


tersebut yaitu smart living, smart utility dan smart utility dianggap dapat memecahkan permasalahan perkotaan sehingga cocok diterapkan di Kawasan Pecinan. Saat ini kawasan Pecinan memiliki permasalahan dalam hal sirkulasi terutama jalur masuk serta jalur searah yang membingungkan dan hilangnya unsur Tionghoa di kawasan tersebut, sehingga diperlukan konsep smart mobility dan smart utility untuk mengatasi permasalahan tersebut. Dengan begitu jalur di Kawasan Pecinan dapat diketahui dengan mudah oleh pengunjung yang baru saja datang dan pengunjung Kawasan Pecinan dapat lebih merasakan suasana Tionghoa di daerah tersebut. Smart utility juga digunakan untuk melengkapi sarana dan prasarana yang belum lengkap di Kawasan Pecinan seperti pengaturan pola parkir on street sehingga parkir yang ada lebih tertata, mengingat fungsi Kawasan Pecinan sebagai tempat pariwisata sehingga harus disediakan tempat pengaturan parkir yang baik dan memadai. Smart Environment juga diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan kurangnya ruang terbuka hijau di Kawasan Pecinan, sehingga dapat membuat Kawasan Pecinan menjadi Kawasan yang asri dan nyaman untuk dikunjungi sebagai kawasan pariwisata cagar budaya. Selain itu jumlah masyarakat asli Tionghoa saat ini terus menurun diakibatkan rasa kurang nyaman tinggal di lingkungan saat ini yang terkesan panas, kumuh dan sesak sehingga dibutuhkan solusi untuk meningkatkan liveability kawasan Pecinan yaitu dengan konsep smart living dan smart utility. 1.5

Ruang Lingkup Pada laporan ini terdiri atas dua buah ruang lingkup yaitu ruang lingkup wilayah dan ruang

lingkup materi. Ruang lingkup wilayah berisi batasan wilayah yang akan dibahas. Sementara ruang lingkup materi berisi analisis yang digunakan. 1.5.1 RuangLingkup Wilayah Ruang lingkup wilayah terdiri dari ruang lingkup wilayah studi makro dan wilayah studi mikro, berikut merupakan penjelasan dari ruang lingkup tersebut. a.

Makro Lokasi wilayah studi makro perancangan kota terletak di Kelurahan Kranggan yang dikenal

sebagai Kawasan Pecinan, Kecamatan Semarang Tengah, dengan luas 25,25 Ha dan memiliki 30 RT serta 5 RW. Sebagian besar lahan pada wilayah studi makro digunakan sebagai kawasan permukiman etnis Tionghoa dan tempat berkembangnya kegiatan perdagangan dan jasa. Pecinan juga merupakan kawasan cagar budaya Kota Semarang yang memiliki kelerengan tergolong datar, yakni sebesar 0-2 %.

7


Sumber: Bappeda Kota Semarang Tahun 2011

Gambar 1.7 Peta Wilayah Makro Kelurahan Kranggan

b.

Mikro Wilayah studi mikro perancangan kota terletak pada pusat Kelurahan Kranggan dengan

luas sebesar 12 Ha. Batas-batas wilayah studi mikro secara geografis hampir sama dengan wilayah studi makro. Wilayah mikro juga memiliki karakteristik yang mirip dengan wilayah studi makro dilihat dari kondisi fisik bangunan dan sosial masyarakatnya. Kelerengan pada wilayah studi mikro adalah sebesar 0-2 %. Pemilihan site seluas 12 Ha ini dikarenakan disini merupakan pusat dari kegiatan Kawasan Pecinan, ditandai dengan adanya gerbang Pecinan yang juga merupakan pusat sirkulasi di Kawasan Pecinan. Selain itu juga pada site ini terdapat Pasar Semawis yang merupakan kegiatan utama di Kawasan Pecinan berupa pasar di malam hari pada hari Jumat, Sabtu, dan Minggu.

8


Sumber: Bappeda Kota Semarang Tahun 2011

Gambar 1.8 Peta Wilayah Mikro Kawasan Pecinan Semarang

1.5.2 Ruang Lingkup Materi Penyusunan tugas besar perancangan kota yang bertema compact city ini membutuhkan beberapa materi pendukung. Materi-materi yang berasal dari berbagai sumber terkandung dalam setiap analisis yang dilakukan untuk kegiatan perancangan. Ruang lingkup materi tersebut terdiri dari: a. Analisis aktivitas dan kebutuhan ruang Membahas tentang aktivitas apa sajakah yang akan dan sedang dilakukan oleh warga dalam kawasan perancangan. Karakteristik aktivitas pengguna secara umum terbagi menjadi 3, yaitu fungsi aktivitas utama (perumahan), penunjang (perdagangan dan jasa, pendidikan, kesehatan, dan peribadatan) serta pelayanan (pemerintahan, kebersihan, olahraga dan rekreasi). Berdasarkan aktivitas yang dilakukan warga, maka muncul kebutuhan ruang yang perlu direncanakan dengan baik supaya urban sprawl dapat diatasi. Analisis kebutuhan ruang merinci luasan dari tiap-tiap lokasi yang akan dibangun dengan sebelumnya telah menentukan luasan lahan terbangun dan non terbangun.

9


b. Analisis tapak Berisi tentang data kawasan serta respon yang akan diambil guna mengatasi masalah pada kondisi eksisting. Terdiri dari analisis konstelasi wilayah, lingkungan, topografi, aksesibilitas, kebisingan, drainase, vegetasi, view, arah angin dan lintasan matahari. Kesembilan analisis tersebut kemudian dikompilasi sehingga menghasilkan analisis zoning kawasan yang akan digunakan sebagai materi penyusunan site plan. c. Analisis kriteria tak terukur Sesuai namanya, kriteria tak terukur terdiri dari enam aspek kualitatif yang dapat diamati dari suatu kawasan. Kriteria tak terukur mencakup accessibility, compatibility, view, identity, sense dan livability. Sifatnya yang kualitatif menjadikan analisis tak terukur suatu tolok ukur dalam menilai apakah suatu kawasan layak untuk ditinggali atau sebaliknya. Walaupun bersifat kualitatif, aspek-aspek yang terkandung didalamnya merupakan suatu bangunan fisik pada kawasan tertentu. d. Analisis kriteria terukur Merupakan aspek kuantitatif yang harus dihitung dari kondisi eksisting di suatu kawasan. Analisis kriteria terukur dilakukan dengan menghitung besarnya KDB (koefisien dasar bangunan), ketinggian maksimal bangunan yang dapat dibangun pada kawasan tersebut, jarak antar bangunan, dan GSB (garis sempadan bangunan). Analisis ini bersifat non fisik karena hanya berisi perhitungan. Hasil dari keempat perhiitungan tersebut kemudian diolah kembali supaya menghasilkan amplop bangunan. e. Analisis elemen perancangan kota Analisis ini dilakukan dengan tujuan untuk merinci karakteristik wilayah supaya rancangan yang akan disusun akan berjalan dengan baik. Elemen perancangan kota terdiri dari TGL, bentuk dan massa bangunan, sirkulasi dan parkir, penanda komersial, open space, pedestrian ways, activity support dan street furniture. Objek yang diamati adalah kondisi eksisting di suatu wilayah dan menganalisis jumlah serta kondisinya. f. Analisis elemen citra kota Elemen citra kota terdiri dari lima aspek yang menjadi ciri suatu kawasan yang membedakannya dengan kawasan lain. Citra (gambaran) yang terbentuk dari masing masing elemennya menjadikan suatu wilayah memiliki kesan bagi penduduk maupun pengguna jalan yang melintas di wilayah tersebut. Kelima aspek tersebut adalah path, edges, nodes, district dan landmark. Analisis elemen citra kota bersifat kualitatis dimana tidak terdapat perhitungan didalamnya dan hanya dilakukan dengan pangamatan.

10


g. Analisis elemen estetika Elemen estetika yang akan dianalisis meluputi proporsi dan skala, sumbu, simetri, hirarki, irama, serta konteks dan kontras. Elemen-elemen tersebut lebih dapat diamati jika pengamatan dilakukan dari jarak jauh. Analisis ini memiliki sifat eksternal, dimana analisis yang dilakukan adalah mengamati kondisi wilayah dari luar wilayah. Pengamatan tersebut menghasilkan kesan yang ditangkap oleh pengamat terhadap wilayah yang diamati. h. Urban Design Guidelines Analisis ini juga dapat disebut panduan perancangan kota yang sesuai namanya berfungsi sebagai dasar perancangan kota. Unsur-unsur yang digunakan dalam analisis adalah kepadatan bangunan, ketinggian bangunan, dan GSB. UDGL merupakan peraturan yang harus dipatuhi dalam perancangan suatu kawasan. Berkaitan dengan tema compact city, UDGL yang terbentuk diharapkan mampu mencegah terjadinya urban sprawl ke wilayah pinggiran lain.

11


1.5

Kerangka Pikir

Wilayah studi Kawasan Pecinan

Justifikasi Wilayah Studi yang akan Dikembangkan Sebagai Cagar Budaya

Deliniasi Wilayah Studi Mikro

Identifikasi Wilayah Studi Mikro

Potensi Analisis Kebutuhan Ruang

Konsep Perancangan “Heritage Smart City�

Analisis aktivitas

Masalah Analisis Tapak Analisis Elemen Estetika

Zoning Kawasan

Siteplan

Analisis Kriteria Terukur

Analisis Elemen Perancangan Kota

Analisis Kriteria Tidak Terukur

Analisis Elemen Citra Kota

Detail Rancang Dan Perspektif 3D Rencana Rancang

Amplop Bangunan

Sumber: Analisis kelompok 2A, 2014

Gambar 1.9 Bagan Kerangka Pikir Buku Data I Perancangan Kawasan Pecianan

12

Urban Design Guidelines


1.6

Sistematika Penulisan Penyusunan laporan ini terbagi atas enam bab yang berisikan substansi sebagai berikut : BAB I

PENDAHULUAN

Bab ini berisikan latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan sasaran, ruang lingkup wilayah dan ruang lingkup materi, kerangka pikir, serta sistematika penulisan. BAB II

KAJIAN LITERATUR

Bab ini berisikan kajian literatur mengenai urban sprawl, compact city, green city, elemen citra kota, elemen rancang kota, elemen estetika kota, kriteria terukur dan tak terukur dalam perancangan kota, dan urban design guidelines. BAB III

PROFIL KAWASN PERANCANGAN

Bab ini berisikan gambaran umum wilayah studi, yang melingkupi batas administrasi, kondisi fisik dan non fisik, kondisi infrastruktur dan sarana, kondisi sistem ruang terbuka, serta potensi dan masalah di wilayah studi. BAB IV

KONSEP PERANCANGAN

Bab ini berisi konsep perancangan wilayah studi, justifikasi pemilihan konsep, best practice pemilihan konsep rancangan, dan penerapan konsep perancangan pada wilayah studi yang disertai detail rancangannya. BAB V

ANALISIS PERANCANGAN

Bab ini membahas analisis aktivitas dan kebutuhan ruang, analisis tapak, analisis kriteria terukur dan tak terukur, analisis elemen perancangan kota, analisis elemen citra kota dan estetika, serta analisis detail rancangan berupa siteplan kawasan dan amplop bangunan. BAB VI

URBAN DESIGN GUIDELINES (UDGL)

Bab ini membahas analisis mengenai panduan rancang kota/urban design guidelines sebagai pengendali dari implementasi konsep perancangan kawasan.

13


BAB II KAJIAN LITERATUR

2.1

Smart City

2.1.1 Pengertian Smart City Seiring dengan kemajuan zaman, kemajuan teknologi pun tak urung juga menjadi suatu terobosan baru yang digunakan oleh kota untuk memberikan layanan yang semaksimal mungkin bagi penduduknya, sehingga muncul konsep Intelligent City, Ubiquitos City, Digital City, Wired City, Information City,

dan Smart

City. Konsep-konsep tersebut berkembang dengan

mendasarkan penerapan teknologi informasi dan komunikasi dalam mengelola kota. beberapa literatur, dapat diketahui bahwa konsep

Smart City

Dari

merupakan ujung dari

pengembangan konsep pembangunan dan pengelolaan kota berbasis teknologi informasi dan komunikasi (Deakin and Allwinkle, 2007). Smart City didefinisikan sebagai kota yang mampu menggunakan SDM, modal sosial, dan infrastruktur telekomunikasi modern (Information and Communication Technology)

untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan

kualitas kehidupan yang tinggi, dengan manajemen sumber daya yang bijaksana melalui pemerintahan berbasis partisipasi masyarakat (Nijkamp dkk dalam Chaffers, 2010). Konsep Smart City merupakan konsep yang telah melalui penyempurnaan-penyempurnaan dari konsep yang telah terlebih dahulu berkembang dengan menambal kekurangan-kekurangan yang ada dan mempertimbangkan aspek-aspek yang mungkin belum ada pada konsep-konsep berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang telah muncul sebelumnya. Konsep ini pada akhirnya tidak hanya mendasarkan

pembangunan dan

pengelolaan kota

dalam dimensi

teknologi, namun juga mencakup dimensi manusia dan dimensi institusional (Nam & Pardo, 2012). Konsep Smart City pada umumnya adalah suatu konsep bagaimana situasi kota bisa diketahui oleh pengelolanya, warganya, atau calon pendatang, sehingga kalau ada ketidakberesan di suatu kota, pemangku kepentingan bisa segera mengambil keputusan segera. Konsep Smart City merupakan konsep pembangunan kota yang masih baru dan sedang banyak didiskusikan oleh para ahli di dunia. Belum ada pemahaman dan konsep yang disepakati antara para akademisi maupun praktisi, sehingga pemahaman terhadap konsep Smart City belum jelas dan konsisten. Berbagai penelitian sedang dikembangkan di seluruh dunia untuk mempelajari fenomena berkembangnya konsep Smart City sebagai salah satu konsep pembangunan dan pengelolaan kota (Chourabi, 2012). Berbagai penelitian mengenai bentuk penerapan konsep Smart City di berbagai negara nanti pada akhirnya diharapkan bisa memberikan gambaran yang

14


jelas dan konsisten mengenai konsep Smart City. Kota-kota yang disebut Smart City pada awalnya memiliki terobosan baru dalam penyelesaian-penyelesaian masalah di kotanya, yang kemudian sukses meningkatkan performa kotanya. Pada umumnya, pembangunan kota-kota ini menuju Smart City

diawali dengan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi yang

biasanya bersifat parsial, pada masalah-masalah prioritas. Salah satu dimensi terpenting adalah bahwa kota saat ini seharusnya memberikan pelayanan yang menggunakan teknologi terkini,membangun infrastruktur yang pintar, sehingga dapat memberikan pelayanan yang efektif dan murah kepada seluruh masyarakat yang tinggal di kota tersebut. Kemampuan ini sekarang menjadi persyaratan utama sebuah kota di seluruh dunia, mulai dari:  Pengelolaan listrik dan air dengan sistem otomatis  Penggunaan stiker RFID  Teknologi “smart grids” untuk meningkatkan produksi dan pendistribusian energi  Perangkat lunak canggih, jaringan teknologi komunikasi yang menghubungkan kota, masyarakat dan pelayanan bisnis yang satu dengan lainnya. Ini semua adalah bagian dari sebuah pelayanan kota yang disebut “infrastruktur pintar”.

Sumber: www.greendigitalcharter.eu

Gambar 2.1 Ilustrasi Smart City

Salah satu ciri terpenting dari sebuah kota pintar adalah adanya landasan yang sama dan dapat diukur, yang tidak berdasarkan kepemilikan tetapi harus dapat saling terkoneksi. Infrastruktur ini memanfaatkan teknologi tinggi dan arsitektur yang terintegrasi sehingga dapat dengan mudah dibangun dan dipelihara pada seluruh domain pelayanan perkotaan. Ini adalah pondasi dari seluruh pelayanan perkotaan dalam satu kesatuan sistem pintar yang saling terintegrasi, sehingga dapat berinteraksi secara efektif melalui sebuah pusat kontrol.

15


2.1.2 Indikator Smart City Smart City cenderung mengintegrasikan informasi di dalam kehidupan masyarakat kota. Smart City dirancang untuk meningkatkan kualiatas hidup orang-orang yang tinggal di kota. Dalam prosesnya, indikator yang dijadikan sebagai tolak ukur pencapaian sebuah kota cerdas adalah smart living, environment (lingkungan), utility (ultilitas/prasarana), economy (ekonomi), mobility (mobilitas), dan people (manusia, masyarakat).

Sumber: www.google.com

Gambar 2.2 Indikator Smart City

Kota cerdas di beberapa negara tentu sudah matang dalam penanganan masalah banjir, kemacetan, ledakan penduduk, air bersih. Ada tahapan pembangunan yang jelas, kemudian diterjemahkan sebagai konsep pembangunan, sehingga tahapan pembangunan tata kota di negara maju berlangsung secara berkelanjutan. Kemapanan ini perlu dilanjutkan dalam sebuah sistem agar tidak berhenti pada periode tertentu saja, maka lahirlah konsep Smart City/kota cerdas yang menjadi konsep besar dari Sustainable City. Copenhagen (Denmark), merupakan salah satu kota cerdas di dunia yang fokus di bidang lingkungan. Membandingkan dengan kota Seoul (Korea Selatan), kota cerdas di Seoul mengutamakan pemanfaatan teknologi informasi yang digunakan untuk pelayanan publik. 2.2

Kawasan Heritage

2.2.1 Pengertian Heritage Istilah heritage sendiri memiliki pengertian yaitu sejarah, tradisi, nilai dan moral yang dimiliki suatu masyarakat, bangsa atau negara selama bertahun-tahun dan dianggap sebagai bagian penting dari pembentuk karakter masyarakat, bangsa atau negara tersebut (Kamus Oxford:202). Sedangkan menurut UNESCO istilah heritage memiliki pengertian sebagai warisan budaya masa lalu yang seharusnya dilestarikan dari generasi ke generasi karena memiliki nilai-nilai luhur. Dalam buku Heritage : Management, Interpretation, Identity, Peter Howard memaknakan

16


heritage sebagai segala sesuatu yang ingin diselamatkan orang, termasuk budaya material maupun alam. Dari bahasan diatas dapat diketahui bahwa bangunan cerita rakyat, tarian, kuliner, musik tradisional, busana, bahasa dan lain-lain masuk ke dalam heritage. Khusus untuk bangunan tua kita dapat mengacu pada Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Cagar Budaya, dalam UU tersebut dijelaskan kategori bangunan atau gedung yang berusia diatas 50 tahun bisa dimasukkan ke dalam cagar budaya yang keberadaannya harus dilindungi dan dilestarikan yang kemudian diperbaharui dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010. Didalam Undang-undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Heritage pasal 5, mengatakan bahwa bangunan, gedung atau struktur dapat diusulkan sebagai cagar budaya, bangunan cagar budaya atau struktur cagar budaya apabila memenuhi kriteria: 1. Berusia 50 tahun atau lebih. 2. Mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 tahun. 3. Memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan kebudayaan. 4. Memiiki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa. 2.2.2 Pengertian Kawasan Kawasan adalah daerah tertentu yang mempunyai ciri tertentu seperti pemukiman, industri, perdagangan, jasa dll (KBBI). Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya, yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/aspek fungsional. Sedangkan menurut Fanneman: wilayah adalah area yang mempunyai karakteristik kenampakan permukaan yang sama dan kenampakan ini sangat berbeda dengan kenampakan-kenampakan lain di daerah sekitarnya. 2.2.3 Pengertian Kawasan Heritage Kawasan Heritage adalah suatu daerah tertentu yang memiliki ciri tertentu yang dilihat dari segi sejarah, tradisi, nilai dan moral yang dimiliki masyarakat yang tinggal di daerah tersebut. Kawasan Heritage yang terdapat di Kawasan Pecinan Semarang berupa kawasan permukiman (Kampung Cina) yang sudah ada sejak pada jaman penjajahan Belanda. Selain itu adanya beberapa klenteng bersejarah yang ada di kawasan Pecianan Semarang. Kawasan heritage ini memiliki nilai sejarah yang tinggi dan dapat dinikmati hingga saat ini contohnya berupa klenteng yang masih terawat dengan baik menunjukan nilai sejarah masih dijunjung tinggi, gedung-gedung permukiman kuno yang masih berdiri tegak walaupun sudah lama serta makanan atau minuman khas yang dipertahankan dari jaman dulu. Nilai sejarah yang

17


terkandung merupakan sebuah keunikan dan karakter khas pada kawasan heritage. Keunikan dan karakter kawasan heritage menyebabkan perkembangan fisik baik berupa bentuk dan pola perkembangan kota/kawasan sehingga menjadikan Kawasan Pecinan ini menjadi berbeda dari kawasan yang lain. Keunikan ini menjadi daya tarik bagi banyak orang untuk datang bekunjung ke kawasan ini, sehingga kawasan yang tadinya berfungsi sebagai kawasan permukiman kini berubah menjadi kawasan wisata heritage yang saat ini terjadi pada kawasan pecinan Semarang. 2.3

Best Practice Heritage Smart City

2.3.1 Chinatown Sydney Chinatown Sydney adalah sebuah pemukiman perkotaan di bagian selatan distrik bisnis pusat Sydney, di New South Wales, Australia. Lokasinya terletak di Haymarket, antara Central Station dan Darling Harbour. Chinatown Sydney merupakan bagian dari wilayah pemerintah lokal City of Sydney dan Pecinan terbesar di Australia. Pecinan ini menjadi daya tarik ribuan wisatawan yang melintas untuk menikmati keunikannya. Chinatown terpusat di sekitar Dixon Street, sebuah mal pejalan kaki dengan banyak restoran China dan dengan sebuah Paifang (sejenis gapura bernuansa Tiongkok) di setiap ujung. Gapura bertuliskan ‘Memahami Kepercayaan dan Budi Luhur’ dan gerbang ujung satu lagi bertuliskan ‘Dalam Empat Samudra Semua Orang adalah Saudara’. Di sisi timur, paralel dengan Dixon Street, terdapat Sussex Street, yang memiliki sejumlah pertokoan, dan George Street, salah satu jalan raya utama Sydney. Di ujung timur Chinatown, di sudut George Street dan Hay Street, terdapat sebuah patung yang dibuat dari batang pohon yang telah mati, patung Golden Water Mouth. Kayu berusia dua abad Eucalyptus Melliodora ini ditemukan di Condobolin dekat sungai Lachlan New South Wales. Pohon ini unik karena menggambarkan semua kehidupan terbentuk dari 5 unsur elemen, yakni emas atau metal, kayu, api, air dan tanah yang disebut ‘five elements’. Keunikan lain adalah termanefestasinya lima elemen ini secara hidup, dimana air selalu menetes dari cabang kayu mati ini, demikian juga polesan warna emas adalah cerminan metal. Pohon unik yang berada di persimpangan ini menarik para pengunjung karena termasuk Sydney Open Museum. Di sisi selatan Chinatown, sebuah komplek besar pertokoan tradisional bernama Market City yang memiliki lebih dari seratus kios. Market City menyediakan berbagai jenis kebutuhan sandang, pangan dan cendera mata dengan harga pasar. Di lantai atas merupakan pusat perbelanjaan modern, restoran, butik, dan komplek bioskop. Pasar Jumat-Sabtu dan pasar loak Paddy's Market juga berada disini. Karena jumlah wisatawan yang semakin banyak mengunjungi pasar ini sekarang di buka juga pada hari Rabu. Jalur pecinan ini juga dihubungkan oleh light cityrail, yaitu trem kereta bergerbong dua.

18


2.3.2 Chinatown Singapore Chinatown Singapore adalah kawasan yang menampilkan unsur budaya khas tionghoa dan menjadi pilihan banyak wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke tempat tersebut. Selain sebagai kawasan cagar budaya, Chinatown juga dijadikan sebagai lokasi peribadatan, pertokoan, kafe/restoran, hotel, apartment, dan sering dijadikan tempat untuk berakhir pekan oleh penduduk maupun wisatawan yang berkunjung ke Singapore. Akses menuju Chinatown juga sangat mudah, dapat dijangkau dengan menggunakan transportasi umum seperti MRT dan bus. Hal tersebut menjadi daya tarik wisatawasan mancanegara dan dapat dijadikan sebagai best practice Pecinan Semarang. Chinatown Singapore

merupakan perpaduan antara lokasi

peribadatan, pertokoan, kawasan cagar budaya yang tertata dengan baik dan memiliki akses yang sangat mudah dijangkau. Saat ini Chinatown Singapore tediri dari 5 distrik (daerah), yaitu: 1. Telok Ayer Di Telok Ayer terdapat tempat ibadah khas tionghoa, toko-toko unik, kafe, dan tempattempat minum di sepanjang Ann Siang Hill. 2. Bukit Pasoh Bukit Pasoh merupakan perpaduan menarik antara kota tua dan kota baru. Terdapat pula tempat bersejarah yang terletak tepat disebelah hotel dan restoran mewah. 3. Tanjong Pagar Pernah dijadikan sebagai pusat operasi untuk penarik becak. Namun saat ini di Tanjong Pagar banyak dijumpai apartment, bangunan-bangunan komersial, dan kegiatan perdagangan dan jasa lainnya seiring dengan perkembangan Chinatown. 4. Kreta Ayer Kreta ayer adalah jantung dari Chinatown, tempat dari berbagai macam perbelanjaan tradisional dan jajanan terbaik disekitarnya. Pada lokasi perancangan terdapat Gang Warung yang memiliki fungsi yang sama seperti Kreta Ayer di Chinatown Singapore. Sehingga dibutuhkan perancangan kembali agar Gang Warung lebih banyak dikunjungi oleh wisatawan seperti Chinatown Singapore. 5. Ann Siang Hill Masuknya arus bisnis dan modernisasi membuat lereng Ann Siang Hill dipenuhi oleh tokotoko unik dan cafe menjadikannya sebagai tempat berakhir pekan bagi para pengunjung.

19


(a)

(b)

Sumber: www.google.com, 2014

Gambar 2.5 Chinatown Singapura (a) Gerbang Chinatown dan (b) Candi Budha Toothe Relic

Chinatown juga memiliki gedung bersejarah yaitu Chinatown Heritage Centre sebagai tempat peninggalan sejarah berupa foto-foto, rekaman wawancara lisan, dan pameran, serta perjalanan yang dilakukan para imigran pertama Tionghoa di Singapura. Kawasan Pecinan Semarang tidak jauh berbeda dengan Chinatown Singapore jika dilihat dari konsentrasi aktivitas yang ada di kawasan tersebut. Dengan melihat kondisi Chinatown Singapore, banyak perubahan yang perlu dilakukan pada Kawasan Pecinan Semarang. Kebanyakan ruko Pecinan Semarang tidak lagi digunakan sebagai tempat tinggal bagi para pemilik ruko. Berbeda halnya dengan Chinatown Singapore yang merupakan kawasan perpaduan antara permukiman yang lengkap dengan aktivitas pendukung seperti kawasan perdagangan dan jasa, tempat peribadatan, serta kawasan cagar budaya yang dilindungi oleh pemerintah Singapura.

20


BAB III PROFIL KAWASAN PERANCANGAN

3.1

Kesejarahan Pada awal kedatangan masyarakat Tionghoa ke Semarang, mereka belum bertempat

tinggal di kawasan Pecinan, namun justru bermukim di daerah Gedong Batu, Simongan (Sam Poo Kong, Kecamatan Semarang Barat). Kawasan Gedong Batu terletak di lokasi strategis karena berada di teluk yang menjadi bandar besar dengan nama Pragota. Pemberontakan orang Tionghoa terhadap pendudukan Belanda yang terjadi di Batavia pada tahun 1740 meluas hingga Semarang. Pada tahun 1743, pemberontakan tersebut berhasil dipadamkan oleh pemerintah Belanda. Orang Tionghoa yang selamat melarikan diri ke arah timur, hingga tiba di Semarang dan kembali melakukan perlawanan namun berhasil ditumpas Belanda. Ketakutan Belanda terhadap kaum Tionghoa inilah yang kemudian membuat Belanda memindahkan orang-orang Tionghoa di Semarang yang dulunya tinggal di daerah Gedong Batu ke kawasan Pecinan sekarang ini. Tujuannya agar Belanda mudah mengawasi pergerakan dari orang-orang Tionghoa karena berdekatan dengan Tangsi Militer milik Belanda yang terletak di Jalan KH. Agus Salim atau Jurnatan (sekarang menjadi Miramar Restaurant). Kepindahan warga Tionghoa dari Gedong Batu ke Pecinan ternyata berpengaruh terhadap kegiatan peribadatan mereka. Untuk pergi ke Kelenteng Agung Sam Poo Kong mereka harus berjalan kaki sejauh 4 kilometer dan membayar pajak yang besar kepada Johanes, tuan tanah Yahudi yang menguasai Gedung Batu. Berawal dari hal tersebut, maka warga Tionghoa mulai mendirikan kelenteng di kawasan Pecinan sebagai tempat beribadah. Salah satu kelenteng yang bersejarah adalah Klenteng Tay Kak Sie yang terletak di Gang Lombok. Klenteng yang dibangun pada tahun 1746 ini tidak hanya menjadi tempat beribadah melainkan juga tempat bersosialisasi etnis Tionghoa. Bahkan sekarang ini banyak dijadikan sebagai salah satu obyek wisata di Kota Semarang. Sebagai sebuah kawasan yang menjadi pusat pemukiman kaum Tionghoa pada jaman dahulu Kawasan Pecinan terdapat 10 klenteng, yaitu Klenteng Hoo Hok Bio, Klenteng Siu Hok Bio, Klenteng Tay Kak Sie, Klenteng Kong Tik Soe, Klenteng Tong Pek Bio, Klenteng Liong Tek Hay Bio,Klenteng Hok Bio, Klenteng See Hoo Kong, Klenteng Wie Wie Kiong, dan Klenteng Grajen. Satu lagi klenteng yang ada di Kota Semarang adalah Klenteng Sam Poo Kong namun lokasinya di Gedung Batu, Simongan. Masing-masing klenteng itu mempunyai nilai historis tersendiri. Kawasan ini sudah dipertegas oleh Pemerintah Kota Semarang bahwasannya Kawasan Pecinan masuk dalam daftar kawasan revitalisasi melalui Surat Keputusan (SK) Wali Kota No

21


650/157 tanggal 28 Juni 2005 yang mengatur tentang Revitalisasi Kawasan Pecinan, dan sekaligus sebagai pusat wisata budaya Tionghoa di Kota Semarang. Selain itu didukung pula dengan adanya Undang-undang Cagar Budaya No 5/1992 yang menyatakan bahwa bangunan bersejarah yang telah berumur lebih dari 50 tahun dilindungi dan dijadikan cagar budaya. Karena dihuni oleh etnis Tionghoa yang cukup dominan jumlahnya, kawasan Pecinan berkembang menjadi kawasan yang multi fungsi, saling memiliki keterhubungan yang tidak dapat dipisahkan, yaitu:

 Kawasan ekonomi atau bisnis  Sebagai kawasan bisnis ciri yang diperlihatkan adalah aspek fisik bangunan yang menunjang kegiatan bisnis yaitu berupa ruko (rumah toko), warung, gudang, dan lain sebagainya.  Kawasan hunian (sosial)  Sebagai kawasan yang menunjang kegiatan sosial budaya, Pecinan menjadi tempat berkembangnya aktivitas interaksi yang tidak dibatasi oleh etnis.  Kawasan budaya  Pecinan sebagai kawasan budaya memperlihatkan ciri yang khas yaitu berupa bangunan kelenteng dan kegiatan keagamaan yang berlangsung sudah sejak lama sampai sekarang. 3.2

Kependudukan Dari segi kependudukannya pada tahun 2002, di Kawasan Pecinan yang tercatat di 2

kelurahan terdapat sekitar 5.700 jiwa penduduk. Namun pada saat ini jumlah penduduk yang masih tinggal di Kawasan Pecinan sudah semakin berkurang karena banyak penduduk yang memilih pindah untuk tinggal di kawasan lain dan menggunakan kawasan Pecinan hanya pada siang hari untuk berjualan di ruko-ruko yang ada. Hal ini dikarenakan penduduk asli mulai mencari tingkat kenyamanan yang lebih tinggi dan karena Kawasan Pecinan sendiri fungsinya memang sudah lebih bergeser ke arah fungsi komersil daripada hunian sehingga pajak di daerah tersebut pun sudah cukup tinggi. Belum lagi karena pengembangannya sebagai kawasan wisata terkadang ada acara tertentu yang cenderung memiliki resiko kebisingan yang cukup tinggi. Selain itu jika ada eventtertentu beberapa jalan di Kawasan Pecinan diharuskan untuk ditutup sehingga aksesnya menjadi sulit. Oleh karena hal tersebut banyak penduduk asli Kawasan Pecinan yang mulai pindah hunian dari Kawasan Pecinan. Hal ini juga terjadi pada site yang menjadi wilayah studi dimana prosentase penduduk yang masih menetap diKawasan Pecinan sudah ada pada kisaran hanya 40% dari total penduduk. Sedangkan 60% dari penduduk lainnya sudah memiliki hunian lain di kawasan perumahan Kota Semarang seperti di Candi, Peterongan, dan lain sebagainya. Dari 40% penduduk yang masih bertahan untuk tinggal di Kawasan Pecinan, hampir seluruhnya merupakan keturunan asli

22


Tionghoa yang memang sudah menetap di Kawasan Pecinan sejak lahir dan secara turun temurun.Keberadaan pendatang di Kawasan Pecinan umumnya bukan sebagai masyarakat yang tinggal dan menetap, melainkan sebagai pengusaha atau pedagang yang menggunakan rukoruko sewaan di Kawasan Pecinan dan mereka hanya beraktifitas di Kawasan Pecinan pada jamjam kerja. Disamping pendatang yang bersifat komuter, ada juga pendatang-pendatang yang nerupakan tuna wisma dan menetap di Klenteng Hoo Hok Bio.

Sumber: Dokumentasi Kelompok 2A, 2014

Gambar 3.1 Bapak Tan Eng Tiong, Penduduk Asli Pecinan

Walaupun sudah banyak warga asli yang tidak menetap di kawasan Pecinan umumnya etnis Tionghoa ini masih tetap datang di Kawasan Pecinan untuk ritual-ritual keagamaan karena bagaimanapun juga Kawasan Pecinan masih menjadi pusat aktivitas keagamaan bagi Etnis Tionghoa di Kota Semarang. Di samping aktivitas keagamaan, aktivitas lain seperti seperti waroeng semawis, pasar semawis, loenpia jazz, atau festival-festival lain yang sering diselenggarakan di Kawasan Pecinan, masih menjadi daya tarik yang membuat banyak warga Tionghoa di Semarang tetap rajin mengunjungi kawasan ini karena bagaimanapun juga kawasan Pecinan memiliki sejarah yang panjang terkait pertumbuhan penduduk dari etnis Tionghoa di Kota Semarang, dan kawasan Pecinan ini juga merupakan tempat budaya-budaya etnis Tionghoa dapat tetap dilestarikan. 3.3

Ekonomi Keberadaan Kawasan Pecinan Semarang, mampu menopang perekonomian warga sekitar.

Banyak sektor perekonomianformal maupun informaltumbuh pesat di kawasan ini. Lokasinya yang tidak jauh dari pasar Ya’i Permai (pasar Johar), Beteng, Kauman, Jurnatan, Pekojan dan Jalan M.T.Haryono menjadikan Kawasan Pecinan merupakan salah satu pusat kawasan komersil di Kota Semarang apalagi kawasan-kawasan tersebut adalah sentra perdagangan utama di Semarang. Terlebih lagi, penduduk Pecinan merupakan keturunan Tionghoa yang dikenal gemar berdagang, sehingga hampir semua bangunan di Kawasan Pecinan merupakan ruko. Ruko-ruko

23


tersebut menjual barang grosir dan eceran, kebanyakan ruko merupakan toko tekstile dan obatobatan tradisional Cina. Namun, sekarang ini juga banyak bangunan yang digunakan sebagai kantor ataupun Bank. Kegiatan perdagangan dan perkantoran tersebut hanya dilakukan pada pagi hingga sore hari saja.Kawasan ini juga dikenal sebagai pusat kuliner, terutama makanan khas Tionghoa. Banyak terdapat restoran-restoran ataupun warung makan chinese food di Kawasan Pecinan.

Sumber: Dokumentasi Kelompok 2A, 2014

Gambar 3.2 Toko Kain di Jalan Gang Baru, Pecinan Semarang

Kawasan Pecinan terdiri dari banyak aktivitas ekonomi, salah satunya ditandai dengan adanya pasar tradisional Gang Baru. Pasar tradisional ini dinamakan sesuai nama Jalan yang digunakan untuk pasar itu sendiri, yaitu Jalan Gang Baru dan terletak diantara Jalan Wotgandul dan Jalan Gang Warung. Pasar Gang Baru dapat dikunjungi setiap hari di pagi hari mulai pukul 05.00 WIB sampai selesai, biasanya sore hari. Selain itu tidak hanya pedagang dari etnis Tionghoa saja, namun banyakpula pedagang pribumi yang berjualan di pasar tersebut.

Sumber: Dokumentasi Kelompok 2A, 2014

Gambar 3.3 Pasar tradisional Gang Baru

Di malam hari kegiatan perdagangannya berbeda dengan yang dilakukan pada siang hari. Kegiatan perdagangan di malam hari tidak dilakukan di seluruh Kawasan Pecinan, namun hanya berlangsung di Gang Warung saja dan dikenal dengan Waroeng Semawis. Waroeng Semawis merupakan pasar kuliner yang hanya dilaksanakan setiap akhir pekan saja (hari Jumat, Sabtu dan

24


Minggu). Jajanan yang dijual tidak hanya kuliner khas Etnis Tionghoa saja, tetapi juga khas masakan Indonesia lainnya seperti sate, soto, kue ataupun makanan ringan lainnya serta ada pula kuliner khas Semarang seperti lumpia. Pedagang di Waroeng Semawis yang berasal dari KawasanPecinan sebesar 40%, sisanya berasal dari luar Pecinan. Itu berarti, Waroeng Semawis juga berpengaruh terhadap perekonomian penduduk luar Pecinan. Saat ini, yang berjualan di Waroeng Semawis kurang lebih 70 pedagang tetap dan 12 pedagang musiman.

Un

Sumber: Dokumentasi Kelompok 2A, 2014

Gambar 3.4 Pintu Masuk ke Waroeng Semawis Pecinan

Didukung dengan adanya kegiatan Waroeng Semawis dan Pasar Semawis (menjelang Imlek), banyaknya Klenteng-klenteng, serta lokasi kawasan Pecinan yang tak jauh dari kawasan kota lama membuat Kawasan Pecinan Semarang menjadi salah satu magnet wisata bagi Kota Semarang. Terlebih lagi Kawasan Pecianan Semarang telah ditetapkan menjadi cagar budaya, tak heran jika sekarang ini banyak wisatawan, terutama didominasi oleh anak-anak muda datang ke kawasan ini sekedar untuk rekreasi. Hal tersebut tentunya berpengaruh pula pada peningkatan perkembangan ekonomi di Kawasan Pecinan serta dapat meningkatkan kesejahteraan penduduknya. 3.4

Tata Guna lahan (Land Use) Tata guna lahan merupakan elemen kunci dalam perancangan kota (urban design), karena

dengan berdasarkan tata guna lahan dilakukan pengembangan dan pembangunan kawasan kota. Pada dasarnya penggunaan lahan terbagi menjadi lahan terbangun dan lahan non terbangun, sedangkan sebagian besar wilayah perancangan sudah merupakan lahan terbangun. Secara umum, penggunaan lahan wilayah perancangan adalah sebagai kawasan permukiman padat. Namun, aktivitas yang sangat menonjol pada wilayah perancangan adalah sebagai pusat perdagangan dan jasa, dimana terdapat deretan ruko yang menjual berbagai kebutuhan masyarakat. Selain itu pada kawasan Pecinan terdapat banyak sarana peribadatan berupa klenteng-klenteng kuno, dikarenakan mayoritas penduduk disana merupakan masyarakat TiongHoa. Pada malam hari, terdapat alih fungsi penggunaan jalan sebagai kawasan Pasar

25


Semawis, keberadaan pasar tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi Kawasan Pecinan. Berdasarkan haltersebut, penggaunaan lahan di kawasan Pecinan memiliki fungsi campuran, tidak hanya sebatas pada permukiman saja, melainkan perdagangan, peribadatan dan sarana penunjang lainnya.

(a)

(b)

Sumber: Dokumentasi Kelompok 2A, 2014

Gambar 3.5 Penggunaan Lahan di Kawasan Pecinan sebagai (a) Pertokoan dan (b) Pemukiman Padat Penduduk

3.5 a.

Infrastruktur dan Fasilitas Jalan dan Aksesibilitas Kawasan Pecinan yang padat penduduk dan ramai dengan aktivitas perdagangan jasa serta

sedikit aktivitas perkantoran, tidak didukung dengan prasarana jalan yang memadai. Kondisi jalan yang ada sekarang ini masih sempit dan beberapa bagian jalan yang masih rusak.Jalan yang terdapat di Kawasan Pecinan berupa jalan kecil dengan lebar 5-6 meter pada jalan utama (Jalan Gang Warung dan Jalan Wotgandul) dan 2-3 meter pada gang-gang di bagian dalam kawasan. Pada jalan utama umumnya terdapat trotoar, namun pemanfaatannya belum sesuai fungsi yang seharusnya. Trotoar yang ada digunakan sebagai tempat berdagang PKL ataupun parkir kendaraan.

(a)

(b)

Sumber: Dokumentasi Kelompok 2A, 2014

Gambar 3.6 Infrastruktur Jalan di Kawasan Pecinan (a) Jalan Gang Warung dan (b) Jalan Gang Pasar Baru

26


Jalan di Kawasan Pecinan ini umumnya memiliki sistem sirkulasi satu arah. Namun, minimnya rambu penunjuk arah menjadikan orang yang memasuki Kawasan Pecinan untuk pertama kalinya akan merasa kesulitan karena minimnya informasi yang diberikan. Dari segi aksesibilitas, Kawasan ini masih cukup sulit dijamah karena tidak adanya angkutan umum yang langsung melalui gerbang depan Kawasan Pecinan, umumnya untuk mencapai Kawasan ini pengunjung atau masyarakat menggunakan kendaraan pribadi atau becak yang banyak terdapat didaerah tersebut. b.

Lahan Parkir Tidak tersedianya lahan parkir di Kawasan Pecinan menjadikan banyak kendaraan parkir di

emperan toko hingga badan jalan. Adanya kendaraan yang parkir, ditambah pula dengan para pedagang kaki lima yang berjualan dibadan jalan semakin menambah keramaian aktivitas di jalanjalan di Kawasan Pecinan. Apalagi di Pecinan sering sekali terdapat mobil box yang bongkar muat barang-barang dagangan yang sedang parkir sangat memakan jalan sehingga lebar jalan makin sempit. Hal tersebut bahkan terjadi pada jalan yang ukuranya lebih lebar skalipun, tepatnya di Jalan Beteng yang kira-kira lebar jalannya 7-8 meter yang separuhnya digunakan untuk lahan parkir mobil box dan mobil. Dengan kondisi jalan di Kawasan Pecinan yang pada umumnya kurang lebar, hal tersebut akan semakin mengganggu lalu lintas kendaraan yang melewati Kawasan Pecinan, bahkan hingga menimbulkan kemacetan. Kendaraan yang melintas harus melaju dengan lambat dan hati-hati agar tidak menabrak aktivitas di kanan-kirinya.

(a)

(b)

Sumber: Dokumentasi Kelompok 2A, 2014

Gambar 3.7 Kondisi Parkir (a) Kendaraan Parkir di Emperan Toko dan (b) Parkir Motor di Waroeng Semawis

Para pengendara yang memarkir kendaraan di sepanjang jalan disebabkan tidak adanya lahan parkir khusus ataupun gedung parkir khusus untuk pengunjung Kawasan Pecinan. Apalagi ketika ada kegiatan Waroeng Semawis dan Pasar Semawis yang pastinya menyedot banyak pengunjung, ketidak tersediaanya lahan parkir menyebabkan para pengunjung memarkir kendaraan di badan jalan yang ada di luar jalan yang digunakan untuk aktivitas Waroeng Semawis

27


dan Pasar Semawis. Terkadang jika jalan yang dekat dengan lokasi penuh, pengunjung memarkirkan kendaraannya agak jauh dari lokasi Waroeng Semawis dan Pasar Semawis yang menyebabkan ketidaknyamanan bagi para pengunjung yang berwisata ke Kawasan Pecinan, juga mengganggu sirkulasi kendaraan yang melintasi Kawasan Pecinan. c.

Drainase Drainase yang ada di Kawasan Pecinan merupakan drainase tersier dan sekunder yang

mengalir ke Kali Semarang. Drainase di Kawasan Pecinan banyak yang tersumbat sehingga menyebabkan aliran limbah rumah tangga tersendat dan menimbulkan bau yang tidak sedap. Selain itu sangat tidak layak untuk menunjang fungsi kawasan sebagai kawasan wisata sejarah dan budaya di Kota Semarang dikarenakan genangan di sepanjang jaringan drainase kurang menyenangkan dipandang, apalagi Kawasan Pecinan sering dikunjungi wisatawan untuk melihat sejarah dan budaya Cina di Kota Semarang

Sumber: Dokumentasi Kelompok 2A, 2014

Gambar 3.8 Jaringan Drainase yang Tersumbat Sampah

d.

Persampahan Sistem persampahan di Kawasan Pecinan ini juga belum baik. Masih banyak sampah

berserakan. Banyak warga yang membuang sampah di pinggir jalan dan di sudut-sudut bangunan sehingga menyebabkan aroma yang tidak sedap dan terkesan kumuh. Selain itu, aktivitas perdagangan yang ada di Kawasan Pecinan ini juga menghasilkan sampah yang cukup banyak. Pengunjung yang berjalan-jalan ke Kawasan Pecinan merasa terganggu dan tidak nyaman dengan sampah-sampah yang berserakan dijalan tersebut. Dengan sistem persampahan yang belum terintegrasi dengan baik ini akansangat mempengaruhi citra Kawasan Pecinan sebagai kawasan heritage yang kurang terawat dan kumuh.

28


Sumber: Dokumentasi Kelompok 2A, 2014

Gambar 3.9 Sampah yang Berserakan

e.

Sarana Peribadatan Kawasan Pecinan didominasi oleh penduduk etnis Tiong Hoa sehingga fasilitas peribadatan

yang ada adalah klenteng. Hampir di setiap gang terdapat klenteng yang masing-masing mempunyai keistimewaan sendiri. Terdapat 11 klenteng besar di Semarang, 10 di antaranya berada di kawasan Pecinan, yaitu: 1. Kelenteng Siu Hok Bio, di Jalan Wotgandul Timur No.38 dibangun tahun 1753 2. Kelenteng Liong Tek Hay Bio/Kwee Lak Kwa, di Jalan Gang Pinggir No.105-107 (menghadap Jalan Sebandaran) dibangun tahun 1756 3. Kelenteng Tay Kak Sie, di Jalan Gang Lombok No.62 dibangun tahun 1771 4. Kelenteng Kong Tik Soe, bagian dari Klenteng Tay Kak Sie. di Jalan Gang Lombok dibangun tahun 5. Kelenteng Hoo Hok Bio, di Jalan Gang Cilik No. 7 dibangun tahun 1779

Sumber: Dokumentasi Kelompok 2A, 2014

Gambar3.10 Klenteng Hoo Hok Bio di Jalan Gang Cilik

6. Kelenteng Tong Pek Bio, di Jalan Gang Pinggir No.70 dibangun tahun 1782 7. Kelenteng Wie Hwie Kiong, di Jalan Sebandaran I No.26 dibangun tahun 1814 8. Kelenteng Ling Hok Bio, di Jalan Gang Pinggir No.110 (menghadap Jalan Gang Besen) dibangun tahun 1866

29


9. Kelenteng See Hoo Kiong/Ma Tjouw Kiong, di Jalan Sebandaran I No.32. dibangun tahun 1881 10. Klenteng Grajen di Jagalan Satu klenteng lagi adalah Klenteng Sam Poo Kong berada di Gedung Batu. Masing-masing klenteng memiliki nilai historis tersendiri. Sarana peribadatan untuk agama lain terletak di luar kawasan perencanaan seperti Gereja Kebon Dalem di Kelurahan Jagalan dan masjid serta mushola di Kelurahan Jagalan maupun di Masjid Kauman yang juga memiliki nilai sejarah di Kelurahan Kauman.

Sumber: Dokumentasi Kelompok 2A, 2014

Gambar3.11 Peta Figure Ground Wilayah Studi Mikro Kawasan Pecianan Beserta Lokasi Klenteng

Klenteng pertama yang ada di kawasan Pecinan adalah Klenteng Tay Kak Sie tepatnya di Gang Lombok. Didirikan tahun 1746, klenteng ini berdiri kokoh dan menjadi klenteng terbesar, dalam hal banyaknya dewa-dewi yang disembah yang ada di Semarang. Di seberang Klenteng Tay Kak Sie terdapat replika kapal Laksamana Cheng Ho (di Kali Semarang) yang biasanya juga digunakan oleh para pengunjung untuk diambil gambarnya. Klenteng Siu Hok Bio berada di Jalan Wotgandul Timur. Klenteng ini hadir karena ungkapan rasa syukur atas rezeki yang didapat masyarakat di sekitar Jalan Wotgandul. Karena pada zaman dahulu kala, daerah ini termasuk

30


kawasan yang makmur. Peninggalan berumur ratusan tahun yang masih ada di bangunan ini antara lain cincin pegangan pintu dan ukiran di atas pintu masuk klenteng. Kelenteng Tek Hay Bio adalah salah satu kelenteng besar milik sebuah marga. Arti dari nama kelenteng ini sendiri adalah Kuil Penenang Samudera. Sehingga tak aneh jika banyak ornamen di bangunan ini yang bertemakan air atau laut. Jika penasaran, kelenteng yang dikenal dengan nama Kelenteng Samudera Indonesia ini berada di Jalan Gang Pinggir. Di Jalan Sebandaran I, Pecinan, ada kelenteng terbesar di sana, bernama Kelenteng Wie Wie Kiong. Yang unik dari kelenteng ini adalah kolam ikan dan patung yang memiliki pengaruh Eropa. Kolam ikan di bagian depannya menjadi simbol bahwa semua masalah ada solusinya. Masih di Jalan Sebandaran I, ada juga Kelenteng See Hoo Kiong. Kelenteng ini sedikit berbeda, karena, alih-alih memuja dewa-dewi, kelenteng ini memuja Dewa Pedang. Sumur di halaman depan kelenteng memiliki legenda sebagai tempat ditemukannya pedang. f.

Sarana Perdagangan Toko dan pertokokan di Kawasan Pecinan jumlahnya sangat banyak terutama di Gang

Benteng. Aktivitas di pertokoan terlihat sangat ramai dan aktif pada siang hari. Setiap harinya kendaraan berlalu-lalang dari dan menuju ke kawaan pertokoan dan menimbulkan kemacetan karena tidak adanya kawasan parkir khusus. Bentuk sarana perdagangan lainnya di Kawasan Pecinan adalah ruko. Ruko berarti rumah toko, di mana lantai 1 bangunan dimanfaatkan sebagai toko sedangkan lantai 2 dimanfaatkan sebagai rumah tempat tinggal. Ruko ditemui di setiap gang utama di Kawasan Pecinan seperti di Gang Waroeng. Ruko-ruko tersebut menjual barang grosir untuk pemenuhan masyarakat Kota Semarang pada umumnya dan masyarakat sekitar Kawasan Pecinan pada khususnya. Namun, ada juga ruko yang menjual barang dagangannya secara eceran.

Sumber: Dokumentasi Kelompok 2A, 2014

Gambar3.12 Deretan Rukodi Gang Warung

31


g.

Waroeng Semawis dan Pasar Semawis Waroeng Semawis pertama diselenggarakan pada tahun 2005. Pengelola Waroeng

Semawis ini adalah Kopi Semawis (Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata) dibawah naungan Dinas Kebudayaan dan Periwisata Kota Semarang. Nama Semawis sendiri berasal dari Semarang untuk Pariwisata. Kantor Sekretariat Kopi Semawis ini juga berada di Peciana Semarang, tepatnya di Jalan Gang Warung Nomor 50. Keberadaan Waroeng Semawis ini semakin didukung oleh program baru Kota Semarang yakni “Semarang Pesona Asia” pada tahun 2007 yang dibentuk oleh Wali Kota Semarang saat itu yaitu Bapak Sukawi Sutarib. Dengan adanya program Semarang Pesona Asia ini, Waroeng Semawis diharapkan dapat menjadi salah satu daya tarik wisatawan domestik maupun wisatawan asing untuk berwisata ke Kota Semarang. Selain itu, Waroeng Semawis juga menjadi agenda pariwisata Kota Semarang dalam program Visit Jawa Tengah. Waroeng Semawis bertempat di sepanjang jalan Gang Waroeng, tepat ditengah – tengah area Pecinan Semarang. Karena letaknya yang ditengah Kawasan Pecinan maka Waroeng Semawis dikelilingi oleh bangunan-bangunan lama yang menambah suasana eksotis Waroeng Semawis.

Sumber: Dokumentasi Kelompok 2A, 2014 Gambar3.13 Aktivitas di Waroeng Semawis Saat Akhir Pekan

Waroeng Semawis dibuka setiap hari Jumat, Sabtu dan Minggu di malam hari. Berbeda dengan awal penyelenggaraannya dimana lokasi pasar malam dimulai dari Jalan Wotgandul Timur, Gang Belakang, Gang Baru, Gang Waroeng, Gang Gambiran, Gang Tengah, dan Gang Besen. Pasar Semawis sekarang hanya buka pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu malam mulai pukul 18.00-23.00 di Jalan Gang Waroeng. Saat ini jumlah pedagang tetap di Waroeng Semawis adalah 70 pedagang tetap dan 12 pedagang musiman (Wawancara dengan Ling-ling, Pengurus Sekretariat Waroeng Semawis). Untuk berjualan di Waroeng Semawis, dikenakan biaya Rp 335.000,00 – Rp 675.000,00 tiap bulannya, tergantung lokasi dari tenda tempat berjualannya. Apakah di tengah atau di pojok Jalan Gang Warung.

32


Sumber: Dokumentasi Kelompok 2A, 2014

Gambar3.14 Denah Tenda-tenda Pedagang di Waroeng Semawis

Di samping menghadirkan aneka macam kuliner khas kota Semarang, Waroeng Semawis juga diramaikan oleh berbagai stand yang menjajakan aneka ragam barang, mainan anak – anak, asesoris, pakaian, buah-buahan segar, serta ada pula peramal dan tukang pijat tradisional. Ada satu jajanan yang khas di Waroeng Semawis ini, yaitu wedang tahu. Wedang tahu ini berupa minuman dari jahe, isi minuman ini berupa tahu yang padat namun bertekstur lembut di mulut.

Sumber: Dokumentasi Kelompok 2A, 2014

Gambar3.15 Wedang Tahu Minuman Khas Waroeng Semawis

Pasar Semawis hampir mirip dengan Waroeng Semawis, hanya saja dilaksanakan menjelang perayaan imlek selama tiga hari berturut-turut. Lokasi Pasar Semawis tidak hanya di Jalan Gang Warung saja, tetapi juga di Jalan Gang Besen, Jalan Gang Tengah, Jalan Gambiran, Jalan Gang Belakang sampai Jalan Gang Baru. Saat Pasar Semwis, kawasan Pecinan dihiasi berbagai macam pernak pernik khas Tionghoa seperti seperti lampion merah, spanduk bertuliskan huruf Cina dan ornamen naga. Aktivitas yang ada lebih ramai, selain aktivitas perdagangan dan live music, ada pertunjukan kesenian dan kebudayaan Cina seperti opera klasik, barongsai, wushu, wayang potehi (wayang golek khas Tionghoa), seni kaligrafi, konsultasi Feng Shui, hingga pengobatan tradisional khas Cina.

33


(a)

(b)

Sumber: www.google.com

Gambar3.16 Pertunjukan di Pasar Semawis (a) Tarian Cina dan (b) Potehi

3.6

Potensi Kawasan Pecinan  Pecinan sebagai kawasan kuno banyak mengandung nilai sejarah bagi perkembangan kota Semarang, baik secara fisik maupun non-fisik seperti ekonomi dan sosial budaya. Hal ini terlihat dari peninggalan masa lalu yang sampai sekarang masih ada seperti banguanan klenteng beserta aristekturnya yang bergayakan Tionghoa sekali, serta tradisi budaya seperti Pasar Semawis menjelang imlek, dan kesenian khas Tionghoa lainnya.

Sumber: Dokumentasi Kelompok 2A, 2014

Gambar 3.17 Klenteng Grajen

 Kawasan Pecinan pernah menjadi pusat perdagangan dan jasa Etnis Tionghoa pada jamanpenjajahan Belanda dahulu. Selain itu, kawasan pecinan lokasinya juga berdekatan dengan kawasan pusat perdagangan dan jasa seperti M.T. Haryono dan Pasar Ya’i Permai atau yang lebih dikenal sebagai pasar Johar.

34


Sumber: Citra Google Earth, 2013

Gambar 3.18 Lokasi Kawasan Pecinan dan Sekitarnya Dilihat dari Citra Google Earth

 Terdapat kebudayaan khas Pecinan yang merupakan percampuran antara budaya Cina dan lokal seperti seni tari, seni kerajinan maupun seni boga (makanan khas).

(a) Sumber: Dokumentasi Kelompok 2A, 2014

(b)

Gambar 3.19 Hasil Kesenian Khas Tionghoa (a) Cinderamata khas Tionghoa dan (b) Lukisan Cina

 Pemerintah kota Semarang memasukan Kawasan Pecinan dalam daftar kawasan revitalisasi melalui Surat Keputusan (SK) Wali Kota No 650/157 tanggal 28 Juni 2005 mengatur tentang Revitalisasi Kawasan Pecinan, dan sekaligus sebagai pusat wisata budaya Tionghoa di kota Semarang. Sehingga Kawasan Pecinan ini memiliki landasan hukum yang jelas mengenai perlindungan kawasan Cagar Budaya yang perlu dilestarikan, serta dalam pengembangan kawasan heritage tourism.  Dikaitkan dengan kondisi yang ada sekarang, fungsi kawasan Pecinan sebagai kawasan

preservasi atau cagar budaya mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata terutama wisata budaya karena kawasan pecinan ini memiliki budaya dan sejarah yang unik sehingga selain dapat mempertahankan fungsinya sebagai cagar budaya juga dapat bermanfaat bagi masyarakat sebagai tempat rekreasi alternatif, yaitu

35


alternatif objek wisata yang sifatnya tradisional, historis, dan bernuansa rohani yang masih sangat kental sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.

Sumber: Dokumentasi Kelompok 2A, 2014

Gambar 3.20 Gerbang Pecinan Semarang

 Terdapat 4 jalan utama yang langsung menuju ke kawasan Pecinan Semarang, yaitu :  Dari Jalan KH. Agus Salim (Jurnatan) masuk ke Jalan Pekojan akan tembus ke Jalan Gang Pinggir.  Dari Jalan Jagalan ke Jalan Ki Mangunsarkoro tembus ke Jalan Gang Pinggir.  Dari Jalan Gajahmada ke Jalan Kranggan lalu masuk lewat Jalan Beteng.  Dari Jalan Gajahmada ke Jalan Wotgandul lalu menuju Jalan Wotgandul Timur.  Memiliki 10 Klenteng dan masing – masing klenteng memiliki keuikannya sendiri. Klenteng-klenteng tersebut anatara lain adalah Kelenteng Siu Hok Bio,Kelenteng Tek Hay Bio/Kwee Lak Kwa, Kelenteng Tay Kak Sie, Kelenteng Kong Tik Soe, Klenteng Tay Kak Sie, Kelenteng Hoo Hok Bio,Kelenteng Tong Pek Bio, Kelenteng Wie Hwie Kiong, Kelenteng Ling Hok Bio, Kelenteng See Hoo Kiong/Ma Tjouw Kiong, dan Klenteng Grajen.Dari kessembilan Klenteng tersebut, klenteng yang paling bersejarah adalah klenteng Tay Kak Sie, selain menjadi tempat ibadah juga sering menjadi lokasi wisata. Sedangkan Klenteng Grajen terkenal dengan pengobatan tradisoinalnya.

Sumber: Dokumentasi Kelompok 2A, 2014

Gambar 3.21 KlentengHo Hok Bio

36


 Kawasan Pecinan memiliki beberapa pusat aktivitas perdagangan, yaitu Pasar tradisional Gang Barug aktif setiap hari di pagi hingga sore hari, tempat berkumpulnya masyarakat pribumi dan Etnis keturunan Tionghoa. Selain itu juga ada Waroeng Semawis dan Pasar Semawis yang menarik banyak wisatawan serta termasuk dalam program Pemerintah Kota Semarang dalam upaya melestarikan kawasan cagar budaya dan heritage tourism.

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2A, 2014

Gambar 3.22 Peta Potensi Kawasan Pecinan

3.7

Masalah Kawasan Pecinan  Open space sangat sedikit sehingga kawasan ini sehingga kurang adanya tempat untuk aktivitas penunjang baik bagi kegiatan hunian ataupun kebudayaan terkesan sangat panas dan terik di siang hari.  Mulai bergesernya arsitektur bangunan tradisional Cina kmenjadi gedung-gedung modern yang lebih mengedepankan aspek komersil. Sebagian besar bangunan di Kawasan Pecinan sudah berupa ruko-ruko yang bahkan tidak ada sisa-sisa arsitektur Cinanya. Hanya klenteng saja yang menandakan bahwa adanya arsitektur Cina di kawasan Pecinan.

37


Sumber: Dokumentasi Kelompok 2A, 2014

Gambar 3.23 Bangunan di Kwasan Pecianan yang Tidak Memiliki Gaya Arsitektur Cina

 Tidak ada lahan parkir yang mewadahi bagi para pengunjung, khusunya ketika event Pasar Semawis, Jalanan menuju kawasan akan digunakan untuk lahan parkir dan mengakibatkan terganggunya lalu lintas di sekitar Kawasan Pecinan Semarang.  Mempunyai sistem satu jalur namun tidak ada penanda jalurnya, ini akan menyebabkan suatu kebingungan bagi para pengunjung yang belum terbiasa di kawasan ini.  Masih tersumbatnya beberapa titik drainase yang kerap kali menyebabkan air meluap dan menggenangi kawasan Pecinan, terlebih lagi sebagian besar Kawasan Pecianan merupakan daerah rawan bencana banjir.  Lokasinya yang dekat dengan Kali Semarang serta kepadatan bangunan yang tinggi, sehingga menambah kesan kumuh di kawasan ini, terlebih ketika musim hujan tiba, debit air di kali Semarang akan meluap masuk ke kawasan Pecinan.  Mulai berkurangnya penduduk asli yang menetap di Kawasan Pecinan sehingga nuansa kampung Cina semakin berkurang.

38


Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2A, 2014

Gambar 3.24 Bangunan di Kwasan Pecianan yang Tidak Memiliki Gaya Arsitektur Cina

3.8

Isu di Kawasan Pecinan Berdasarkan RTRW Kota Semarang, Kawasan Pecinan merupakan kawasan cagar budaya

yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai heritage tourism. Pengembangan Kawasan Pecinan sebagai kawasan pariwisata harus tetap mempertahankan unsur heritage seperti bentuk bangunan khas Tionghoa dan melindungi bangunan cagar budaya. Seiring perkembangan, pemukiman di Kawasan Pecinan terdapat kemungkinan perubahan bentuk bangunan yang dapat menghilangkan ciri khas Pecinan sehingga harus terdapat konsep dan pengaturan yang jelas dalam pengembangan Kawasan Pecinan sebagai kawasan wisata heritage. Hal ini terjadi pada sebagian besar ruko dan rumah di kawasan Pecinan, dimana bangunan tersebut banyak mengalami renovasi tanpa mempertahankan ciri khas bangunan terdahulu dikarenakan lebih mengutamakan nilai komersil daripada seni dan sejarah. Dengan keadaan tersebut, tentunya dapat menjadi ancaman bagi keberadaan bangunan-bangunan kuno dengan ciri khas Tionghoa yang merupakan fungsi dari Cagar Budaya di kawasan Pecinan.

39


Sumber: Dokumentasi Kelompok 2A, 2014

Gambar 3.25 Bangunan yang telah mengalami pemugaran

Seiring dengan adanya berbagai masalah yang mengganggu fungsi permukiman di Kawasan Pecinan, penduduk etnis Tionghoa melakukan perpindahan tempat tinggal ke kawasan pemukiman modern lain yang lebih nyaman. Saat ini jumlah penduduk etnis Tionghoa di Kawasan Pecinan hanya 40 % dari jumlah penduduk yang tinggal di sana. Jika permasalahan tersebut terus dibiarkan, bisa saja jumlah masyarakat Tionghoa semakin berkurang. Padahal yang ciri khas pada Kawasan Pecinan tidak hanya arsitektur bangunannya saja tetapi masyarakat Tionghoa di kawasan tersebut juga memberikan kesan tersendiri terhadap Kawasan Pecinan baik dari segi aktivitas maupun budayanya. Kawasan Pecinan masih memiliki beberapa permasalahan seperti keterbatasan infrastruktur parkir dan openspace yang harus ditangani. Padahal untuk pengembangan heritage tourism di Kawasan Pecinan harus memperhatikan infrastruktur penunjangnya termasuk sirkulasi parkir dan ruang terbuka yang mencukupi.

40


BAB IV KONSEP PERANCANGAN

4.1

Konsep Perancangan Kawasan Pecinan Semarang sebagai kawasan wisata sejarah dan budaya di Kota Semarang

masih membutuhkan penataan yang baik, hal ini terkait dengan penataan sirkulasi parkir dan pengelolaan runag terbuka, sebagai salah satu kawasan cagar budaya yang juga merupakan tujuan wisata seharusnya Kawasan Pecinan dilengkapi dengan pengelolaan parkir serta pengelolaaan ruang terbuka yang baik agar dapat menunjang aktivitas wisata di kawasan tersebut. Selain itu, adanya kegiatan perdagangan berupa ruko-ruko penjual grosir pakaian di sepanjang Gang Semawis ini juga membutuhkan lahan parkir dan lahan untuk kegiatan bngkar muat barang sehingga pedagang melakukan kegiatan bongkar muat barang didepan toko-toko mereka yang memakan badan jalan sehingga sering menyebabkan arus lalu lintas tidak lancar. Kurang baik nya kondisi sarana prasarana seperti drainase dan persampahan serta perawatan bangunan-bangunan khas Tionghoa yang masih minim menyebabkan penduduk Kawasan Pecinan semakin berkurang, hal ini membuat kesan Kawasan Pecinan sebagai pusat pemukiman etnis Tionghoa semakin berkurang. Apalagi saat ini sudah banyak bangunan baru dengan gaya arsitektur modern yang menggantikan bangunan-bangunan lama. Untuk mempertahankan Kawasan Pecinan sebagai kawasan wisata sejarah dan budaya di Kota Semarang, dibutuhkan penerapan konsep smart city dan konsep heritage. Kombinasi dari kedua konsep ini adalah untuk menciptakan kawasan Pecinan yang masih memilki ciri, nilai, moral, tradisi, dan sejarah khas Tionghoa dengan sentuhan konsep modern smart city yang menjadikan penataan Kawasan Pecinan menjadi lebih baik tanpa menghilangkan kesan sejarah khas Tionghoa. Dari konsep smart heritage city diatas dapat diterapkan pada Kawasan Pecinan, yaitu smart utility, smart living, smart mobility, dan smart environment. Smart utility yang akan diterapkan pada kawasan perancangan yaitu dengan peningkatan kualitas sarana prasarana di Kawasan Pecinan ini tidak hanya dari segi nilai potensinya saja tetapi dari peningkatan infrastruktur dan pelayanan penunjang, hal ini untuk meningkatkan liveability kawasan dan dapat menunjang aktivitas wisata seperti Waroeng Semawis dan Pasar Semawis. Smart mobility yang diterapkan bukan hanya pengaturan lalu lintas ketika terjadi kegiatan bongkar muat barang saja tetapi juga pengaturan parkir di Jalan Beteng yang merupakan jalan dengan ruko-ruko disepanjang jalannya agar tidak menimbulkan kemacetan dan arus lalu lintas tidak terganggu. Selain itu perlu pengaturan kegiatan bongkar muat barang yang biasanya dilakukan didepan ruko-ruko dan memakan badan jalan agar dilakukan pada satu titik sehingga

41


tidak mengganggu arus lalu lintas terutama di Jalan Beteng ang merupakan pusat grosir di Kawasan Pecinan. Smart environment yaitu penataan ruang terbuka dengan pemberian pot-pot tanaman dan pembuatan kanopi juga dibutuhkan agar Kawasan Pecinan menjadi Kawasan wisata yang ramah lingkungan dan hijau dan nantinya para wisatawan akan merasa nyaman ketika melakukan wisata keliling Kawasan Pecinan. Kemudiaan diharapkan dengan penerapan tersebut akan tercipta kondisi smart living dimana penduduk asli kawasan dapat kembali menempati kawasan Pecinana sebagai kawasan hunian utama mereka sehingga kesan pemukiman etnis Tionghoa di Kawasan Pecinan dapat dikembalikan. Dari konsep-konsep diatas dapat dilihat bahwa pengembangan Kawasan Pecinan sebagai kawasan wisata heritage yang modern namun tetap mempertahankan nilai-nilai sejarah Tionghoa dan ramah lingkungan sehingga diharapkan dapat meningkatkan minat pengunjung untuk mengunjungi Kawasan Pecinan dan menjadi rekomendasi wisata sejarah di Kota Semarang. 4.2

Penerapan Konsep Perancangan pada Wilayah Studi Dalam penerapan konsep di kawasan perancangan dasar yang digunakan adalah konsep

besar yaitu herritage smart city dimana tujuan dari penerapannya adalah untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada di kawasan Pecinan sebagai kawasan perancangan. Berikut adalah penjabaran dari penerapan konsep herritage smart city terhadap permasalahan di Kawasan Pecinan Semarang. 4.2.1 Hilangnya Kesan Kawasan Pecinan Kesan suatu tempat dapat dibangun melalui beberapa cara, berikut bentuk penerapan konsep yang akan dikembangkan di Kawasan Pecinan terkait permasalahan hilangnya kesan kawasan pecinan saat ini adalah: a.

Pecinan Heritage Center

Penambahan bangunan Pecinan Heritage Center di Kawasan Pecinan Semarang dengan memanfaatkan bangunan yang sudah tak terpakai sehingga lahan yang ada lebih produktif. Pecinan Heritage Center merupakan museum yang di dalmnya terdapat sejarah asal mula Pecinan Semarang hingga berkembang menjadi kawasan pecinan seperti sekarang ini. Perkembangan pecinan dari tiap tahun ke tahun juga ditampilkan pada galeri Pecinan Heritage Center (PHC). Selain itu, terdapat pula barang-barang bersejarah asli Tionghoa yang berada di Kawasan Pecinan Semarang. Dengan adanya Pecinan Heritage Center maka para wisatawan yang mengunjungi Kawasan Pecinan di Semarang dapat merasakan kesan Tionghoa jika memasuki bangunan tersebut. Interior dalam dan luar bangunan juga disesuaikan dnegan budaya Cina yang

42


berkembang di kawasan tersebut. Best practice Pecinan Heritage Center adalah Chinatown di Singapore, dengan konsep museum yang memiliki interior khas Etnis Tionghoa dan di galerinya terdapat sejarah-sejarah perkembangan kawasan Chinatown di Singapore.

Sumber: googleimage.com

Gambar 4.1 Interior Chinatown Heritage Center Singapore

b. Penambahan Ornamen-Ornamen Cina di Kawasan Pecinan Semarang Agar sense pecinan dapat lebih terasa oleh pengunjung atau penduduk yang datang di Kawasan Pecinan Semarang, penambahan ornamen dilakukan pada seluruh kawasan Pecinan. Penambahan ornamen ini dapat berupa tulisan Cina, lampion maupun ornamen lain yang ada gambar naganya. Pada jalan-jalan utama khususnya pada Jalan Gang Warung yang menjadi lokasi Waroeng Semawis, akan dipasangi banyak lampion. Disamping menambah kesan budaya Cina, juga membantu penerangan. Pada kawasan pecinan Semarang ini juga masih menggunakan moda transportasi becak di dalam kawasan. Agar kesan pecinan lebih terasa, penambahan ornamen Cina pada becak juga akan dilakukan sehingga para wisatawan dan penduduk sekitar dapat berkeliling-keliling di kawasan dengan becak tersebut. Penggunaan warna merah dan emas juga mendominasi di kawasan Pecinan Semarang, khususnya pada bangunan publik dengan menggunakan interior khas cina diharapkan dapat menghidupkan kesan pecinan di kawasan tersebut.

(a)

(b)

Sumber: googleimage.com

Gambar 4.2 Lampion (a) di Jalan Utama dan (b) di Gedung Kawasan Chinatown Singapore

43


Sumber: googleimage.com

Gambar 4.3 Becak di Kawasan Chinatown Singapore

c. Preservasi dan Rekonstruksi Bangunan Berasitektur Cina di Kawasan Pecinan Kondisi saat ini bangunan di kawasan pecinan Semarang untuk gaya arsitektur bangunannya sudah mulai bergeser ke arah modern. Hal ini menyebabkan kesan pecinan di kawasan tersebut mulai pudar. Rekonstruksi bangunan berarti mengembalikan fungsi dan bentuk bangunan di Kawasan Pecinan menjadi ruko tradisional Pecinan dengan mempertahankan gaya dan arsitektur khas Pecinan. Dengan adanya rekonstruksi bangunan yang bergaya moderen kemudian dikembalikan dengan bergaya cina maka diharapkan kesan pecinan di kawasan tersebut mulai hidup kembali. Selain itu dilakukan penyeragaman warna tampak depan dari setiap ruko maupun rumah di Pecinan. Penyeragaman warna tampak depan tersebut dilakukan untuk tujuan visual sehingga orang yang datang ke Pecinan memiliki kesan tersendiri terhadap bangunan arsitektural China yang seragam serta warna yang mirip. Rekonstruksi bangunan ini diharapkan juga dapat membuat Pecinan tampak layak untuk ditinggali, dan jauh dari kesan terdiri dari ruko dan rumah-rumah yang kumuh dan seram. Penegakan peraturan terkait pembangunan bangunan baru atau perubahan bangunan yang sudah ada ke arah arsitektur modern perlu dilakukan mengingat kawasan pecinan di Semarang termasuk dalam kawasan cagar budaya, peremajaan bangunan cina yang lama dan rusak juga dilakukan agar kesan kumuh pada kawasan tersebut hilang. Selain dengan melakukan rekonstruksi pada bangunan-bangunan yang mulai bergaya modern. Perlu adanya pemisahan zonasi pada kawasan pecinan agar lebih tertata. Zonasi ini meliputi: 1. Zonasi khusus ruko-ruko di mana desain bangunan ruko tersebut berarsitektur Cina atau Tionghoa. 2. Zonasi khusus ruko yang bergaya modern namun pada beberapa bagian bagunan tetap mempertahankan gaya arsitektur Cina atau Tionghoa. 3. Zonasi khusus rumah yang keseluruhan bangunannya menggunakan arsitektur Cina atau Tionghoa.

44


4. Zonasi khusus rumah bergaya campuran modern-Cina.

(a)

(b)

Sumber: googleimage.com

Gambar 4.4 Arsitektur Tionghoa (a) Keseluruhan Bangunan dan (b) Tampak Depan

Sumber: googleimage.com

Gambar 4.5 Arsitektur Tionghoa pada Deretan Ruko di Kawasan Chinatown Singapore

4.2.2 Perbaikan dan Peningkatan Kualitas Lingkungan Keunikan dan ciri khas Kawasan Pecinan Semarang sebagai kawasan cagar budaya di Kota Semarang tidak hanya terlihat dalam karakter visual kawasan namun juga terwujud dalam kehidupan sosial-budaya. Penduduk asli yang bermukim dan tinggal di Kawasan Pecinan adalah etnis TiongHoa yang kental dengan adat istiadat dan aktivitas keagamaan lainnya, sehingga memberikan kesan dan cirri khas tersendiri bagi kehidupan sosial-budaya di Kawasan Pecinan serta pengaruhnya terhadap penataan dan bentuk kawasan. Penduduk asli yang tinggal di Kawasan Pecinan semakin lama semanik berkurang, berdasarkan wawancara penduduk asli pecinan yang masih bertempat tinggal di kawasan pecinan sendiri jumlahnya sekitar 40% saja, sebagian banyak yang pergi dikarenakan bahwa menurut mereka tinggal di Kawasan Pecinan Semarang sudah tidak nyaman lagi. Sehingga mereka hanya memanfaatkan atau hanya tinggal di Kawasan Pecinan pada siang hari saja untuk memanfaatkan tempat perdagangan dan jasanya saja, sedangkan pada sore hari mereka pulang kerumah masing – masing di luar Kawasan Pecinan.

45


Hal tersebut dikarenakan penurunan kualitas lingkungan di Kawasan Pecinan, penurunan kualitas lingkungan tersebut disebabkan oleh permasalahan prasarana lingkungan akibat padatnya aktivitas kawasan yang meliputi, jaringan jalan yang berlubang, saluran drainase yang kurang diperhatikan sehingga tersumbat oleh sampah dan system pengelolaan sampah yang kurang baik sehingga ditemukannya penumpukan sampah pada beberapa tempat. Untuk mengembalikan unsur kekhasan dari kawasan pecinan sendiri maka akan dibuat konsep smart utilities yang berisi peningkatan dan perbaikan sarana dan prasarana. Perbaikan dan peningkatan sarana dan prasarana tersebut meliputi: a. Perbaikan Saluran Drainase Salah satu masalah yang tidak terselesaikan di Kawasan Pecinan hingga saat ini adalah masalah saluran drainase. Setiap musim hujan tiba, Kawasan Pecinan menjadi kawasan dengan penuh genangan dimana-mana dan sangat bau akibat banyaknya sampah yang menyumbat pada saluran drainase. Meskipun bukan musim penghujan, saluran drainase di Kawasan Pecinan juga bermasalah dengan banyaknya sampah yang dibuang warga kedalam saluran. Hal ini menimbulkan rasa tidak nyaman ketika mengunjungi ataupun hanya sekedar melewati Kawasan Pecinan. Bukan hanya masalah akibat sampah, namun jumlah saluran drainase dan kapasitasnya juga belum memadai untuk menampung limpahan air hujan dan buangan air limbah rumah tangga sehingga saluran drainase sering kelebihan beban dan banyak pula yang menggenang. Dengan berbagai masalah mengenai saluran drainase diatas, akan dibuat sebuah konsep perancangan saluran drainase Kawasan Pecinan yaitu pembangunan saluran-saluran drainase baru pada beberapa tempat yang masih belum memiliki saluran drainase. Selain itu akan dilakukan normalisasi saluran drainase dari pendangkalan akibat sampah. Sebagai langkah untuk mengantisipasi terjadinya genangan akibat tidak berfungsinya saluran drainase dengan baik, maka akan dibuat saluran drainase sistem tertutup agar mencegah warga membuang sampah ke saluran drainase. Namun sistem tertutup ini ditunjang dengan prinsip saluran drainase terbuka dengan membuat manhole (penutup drainase yang dapat dibuka tutup) pada beberapa titik dengan jarak setiap 25 meter. Pembuatan manhole ini dimaksudkan agar saluran drainase dapat dilakukan pembersihan secara berkala agar terhindar dari penyumbatan saluran. Saluran drainase pada jalan utama akan dibuat berbentuk persegi dan pada kawasan permukiman akan dibuat detengah lingkaran dan seluruhnya akan dibuat tutup dengan perkerasan beton agar dapat pula dimanfaatkan sebagai pedestrian. b. Perbaikan jaringan jalan Beberapa bagian jalan di Kawasan Pecinan mengalami kerusakan. Hal tersebut disebabkan volume air hujan yang tidak dapat tertampung oleh saluran drainase yang ada, sehingga aliran air

46


hujan tersebut meluap dan menggenang di jalan, genangan air tersebut lah yang menyebabkan lubang. Sehingga diperlukan adanya perbaikan dan peningkatan kualitas jalan, seperti melakukan perkerasan ulang atau dengan betonisasi. Seperti yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, keberadaan jaringan jalan juga ditunjang dengan kelengkapan seperti lampu jalan, papan penanda dan lain sebagainya. Selain itu, mengingat bahwa Kawasan Pecinan merupakan kawasan padat permukiman dan perdagangan,

daerah resapan air sangatlah sedikit pada

kawasan tersebut, maka jaringan jalan pada kawasan permukiman digunakan paving block. c. Penyediaan Sarana Persampahan Berdasarkan hasil survey, Kawasan Pecinan yang merupakan kawasan padat aktivitas permukiman dan perdagangan, jumlah sarana persampahan berupa tempat sampah masih sangat minim. Sebagai kawasan perdagangan, sampah merupakan salah satu dampak yang pasti timbul atau bukti nyata bahwa terdapat aktivitas perdagangan di suatu tempat, kawasan pecinan sebagai kawasan dominasi pedagangan juga memiliki masalah persampahan yang cukup susah untuk diatur karena pada eksistingnya tidak terdapat penampungan sampah yang jelas, bahkan ketika Waroeng Semawis aktif, produksi sampah dikawasan ini meningkat sangat drastis dan lebih parahnya sampah-sampah tersebut berceceran dijalanan karena minimnya tempat sampah pada saat event itu berlangsung. Sehingga diperlukan adanya penyediaan sarana persampahan di setiap ruas jalan utama maupun pada lingkungan permukiman. Untuk menangani masalah persampahan di kawasan Pecinan maka akan diberikan beberapa titik penampungan sampah pada kawasan tersebut, namun setiap bangunan memiliki tempat sampah sendiri. Pada kasus ini, masyarakat akan dibiasakan untuk melapisi tempat sampahnya dengan plastic polybag, sehingga ketika sampah-sampah tersebut diangkut, sampah sampah tidak berceceran di jalanan. Sementara untuk penampungan sampak sendiri akan diletakkan di dekat sungai Semarang dampak polusi baunya tidak menyebar kedalam kawasan.

Sumber: Courtesy of Youtube : Toughest Place to be a Binman

Gambar 4.6 Penggunaan Polybag Disetiap Tempat Sampah

47


4.2.3 Penyediaan Ruang Terbuka Kawasan Pecinan Semarang merupakan kawasan yang tingkat kepadatan bangunanya tinggi. Hampir semua bangunan tidak memiliki jarak antar bangunan. Selain itu hampir tidak ada ruang terbuka, baik ruang terbuka hijau (RTH) maupun ruang terbuka non hijau (RTNH). Ruang terbuka yang ada hanya berupa jalan. Di kawaan pecinan Semarang hanya ditemui beberapa pohon di Jalan Beteng saja. Kondisi tersebut memang sering dijumpai di kawasan padat bangunan, tak terkecuali di Pecinan Semarang ini. Sebagian besar bangunan yang saling berhimpitan di kawasan pecinan Semarang tersebut berupa ruko ataupun perkantoran. Bangunan-bangunan tersebut rata-rata terdiri dari 3 lantai, namun masih dijumpai yang terdiri dari 2 lantai. Kenampakan muka bangunan di kawasan pecinan Semarang sama, dikarenakan fungsi dari bangunan-bangunan tersebut sama. Desain-desain bangunan yang ada di kawasan pecianan Semarang sudah berubah menjadi bangunan modern, karena kepentingan komersil para pemiliknya. Padahal kawasan pecinan merupakan kawasan cagar budaya yang harus dilestarikan dan juga sense dari kawasan pecianan itu sendiri tetap terjaga. Dengan kondisi yang demikian, menimbulkan kesan monoton dan suasana yang panas dan gersang. Untuk itu dibutuhkan ruang hijau agar tampak asri. Berdasarkan Undang-undang

No.26 Tahun 2007

Tentang Tata Ruang, ruang terbuka hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Dalam Undang-undang Tata Ruang tersebut, proporsi ruang terbuka hijau pada wilayah kota paling sedikit 30 persen dari luas wilayah kota, yang terdiri dari 20 persen RTH publik dan 10 persen RTH privat. Tetapi dengan tidak adanya ruang yang dapat digunakan untuk membangun ruang terbuka hijau dengan mempertahankan bangunanbangunan bersejarah yang ada di kawasan pecianan serta memenuhi RTH sesuai Undang-undang Tata Ruang, maka pada perancangan kawasan pecinan Semarang ini ruang hijaunya dapat berupa pergola, vertical garden maupun roof garden. Selain itu, penyediaan beberapa ruang terbuka hijau merupakan hasil dari pembongkaran gedung kuno yang sudah 80% rusak sehingga diharapkan bias sebagai tempat resapan air yang baik. Selain itu, pembongkaran juga digunakan untuk membuat plasa sebagai RTNH yang selanjutnya dapat digunakan sebagai tempat berkumpul bagi masyarakat di Kawasan Pecinan. Dengan konsep demikian diharapkan bahwa penduduk yang ada di kawasan pecinan menjadi nyaman dan penduduk yang pada malam hari pulang kerumahnya yang berada diluar pecinan jadi mau kembali tinggal di kawasan pecinan. Sehingga kawasan pecinan akan kembali hidup dan memiliki khas yang benar-benar terlihat jelas baik dari content maupun containernya.

48


a. Pengembangan Pergola dan Wall Garden Kawasan

pecianan

Semararang

serta

kawasan

sekitarnya

merupakan

kawasan

perdagangan jasa, serta perkantoran. Tentunya banyak masyarakat melaukan aktifitas jual beli dan berlalu lalang di jalan-jalan di kawasan tersebut. Agar pengguna jalan di kawasan pecinan Semarang nyaman, akan dibangung pergola di tepi jalan, terutama di jalan-jalan utama di kawasan pecianan Semarang yaitu Jalan Beteng, Jalan Wot Gandul, Jalan Gang Warung, Jalan Gang Pinggir. Di jalan-jalan yang banyak terdapat bank dan perkantoran seperti jalan Gang Tengah dan Jalan Gang Besen juga akan dibangun pergola. Pergola merupakan bagian rumah atau berdiri sendiri, dan biasanya berfungsi sebagai peneduh dengan ditumbuhi tanaman rambatan, pergola biasa dibuat sebagai pelengkap dan pelindung dari panas matahari dengan menggunakan tanaman rambat untuk mengurangi panas, namun tidak dari hujan, karena tidak memiliki penutup atap (Probo Hindarto). Dengan pemilihan bentuk dan penempatan yang tepat, pergola juga dapat menambah keindahan. Sedangkan tanaman rambat untuk pergola ada dua jenis yaitu tanaman yang bersulur seperti pare dan anggur, dan tanaman tak bersulur namun mampu menjulur tinggi. Tanaman mampu menjulur tinggi ini, biasanya tidak memiliki kekuatan untuk berdiri sendiri sehingga membutuhkan bantuan untuk menopang tubuhnya. Jenisnya tanaman ini antara lain adalah Bohemia, Pandorea, Ceguk/wundani (Quisqualis indica), Alamanda (Allamanda cathartica), Melati (Jasminum sambac), Bugenvil/kembang kertas (Bougainvillea sp), Alamanda (Allamanda cathartica), Singonium (Syngonium sp) dan Daun pilo (Philodendron sp).

Sumber: googleimage.com, 2014

Gambar 4.7 Pergola Tanaman Berbuah

Wall garden juga merupakan cara untuk menyiasati lahan yang terbatas pada permukiman padat seperti yang terjadi pada wilayah perancangan. Wall garden juga dapat berperan sebagai kulit kedua (secondary skin) bagi bangunan. Di sisi dinding perlu ditempatkan kawat berbentuk kotak-kotak untuk mengatur perambatan tanaman agar tidak liar. Wall garden akan diterapkan pada setiap cafe, tempat makan yang ada di Pecinan dan pada dinding-dinding bangunan paling pinggir pada gang-gang yang ada di kawasan pecianan seperti dinding pada bangunan yang ada di Jalan Gang Cilik. Vegetasi yang digunakan untuk wall garden adalah tanaman merambat

49


yang climber -nya lambat serta sosoknya kompak karena media tanam pada wall garden terbatas sehingga ruang tumbuh tanaman pun terbatas. Tanaman rambat untuk wall garden harus memiliki akar yang kuat. Jenis tanaman rambatnya anatara lain adalah Dolar plant, Ivy (Hedera helix) dan sirih (Piper betle). Selain itu, wall garden juga lebih banyak memanfaatkan tanamantanaman kecil dan menyemak seperti peperomia, scindapsus, Sirih gading (Epiprenum) dan sebagainya.

Sumber: googleimage.com, 2014

Gambar 4.8 Wall Garden

b. Plasa Plasa merupakan suatu bentuk ruang terbuka non hijau sebagai suatu pelataran tempat berkumpulnya massa (assembly point) dengan berbagai jenis kegiatan seperti sosialisasi, dudukduduk, aktivitas massa, dan lain-lain. Pada lokasi perancangan kawasan Pecianan Semarang, akan dibuat plasa sebagai salah satu ruang publik. Kawasan Pecinan Semarang merupakan cagar budaya yang juga akan menarik wisatawan, plasa yang akan dibuat akan menjadi sarana pendukung kegiatan tersebut yaitu sebagai tempat berkumpul atau istirahatnya pengunjung yang berjalan-jalan di kawasan pecinan Semarang. Lokasi yang akan dibangun plasa adalah gedung kuno yang sudah 80% rusak, tepatnya di Jalan Gang Gambiran-Jalan Gang Tengah.

Sumber: Pedoman Penyediaan Dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Non Hijau di Wilayah Kota/Kawasan Perkotaan, 2009

Gambar 4.9 Contoh RTNH Plasa

50


4.2.4 Keterbatasan Lahan Parkir Kawasan Pecinan yang memiliki aktivitas sebagai kawasan hunian dan juga perdagangan barang dan jasa serta memiliki aktivitas wisata pula memerlukan adanya pengaturan yang baik bagi pengunjung yang datang. Dengan kondisi kawasan yang sudah tidak memiliki ruang terbuka untuk alokasi parkir, serta tidak memungkinkan pula untuk membuat kantung parkir atau gedung parkir baru karena kawasan pecinan merupakan kawasan cagar budaya yang tidak dapat dipugar seenaknya. Maka salah satu penyelesaian permasalahan parkir dikawasan pecinan adalah pengaturan parkir on street.

(a)

(b)

Sumber: googleimage.com, 2014

Gambar 4.10 On Street Parking (a) Seri dan (b) Paralel

Pada kawasan perancangan, jalur yang akan dialokasikan untuk parkir on street adalah sepanjang Jalan Beteng dari gerbang masuk Kawasan Pecinan hingga pertigaan Jalan Beteng dan Jalan Wotgandul, namun hanya salah satu sisi jalan saja. Dengan panjang jalan yang dialokasikan sebagai parkir onstreet sepanjang 400 meter dapat diasumsikan untuk menampung sampai 200 mobil.

Lokasi pengembangan onstreet parking

Sumber: Bappeda Kota Semarang telah dianalisis kelompok 2A, 2014

Gambar 4.11 Peta Lokasi Pengembangan on Street Parking

51


4.2.5 Kurangnya Penanda di Kawasan Pecinan Signage atau penanda merupakan salah satu elemen estetika kota dimana selain fungsi estetika, signage atau penanda ini juga berfungsi untuk memberikan informasi terkait tempat atau penunjuk jalan bagi pengunjung suatu tempat. Kawasan Pecinan memiliki beberapa titik jalur satu arah yang cukup membungungkan bagi pengunjung yang baru pertama kali datang. Saat ini belum ada penanda atau rambu apapun yang menujukan dimana saja jalur-jalur satu arah ini. Oleh karena itu pada kawasan perancangan akan di desain adanya penanda-penanda bagi jalur satu arah, selain untuk penanda jalur satu arah juga sebagai penanda nama-nama gang yang ada di kawasan perancangan

Sumber: googleimage.com, 2014

Gambar 4.12 Penanda Jalan di Chinatown Singapore

Diharapkan sengan adanya signage atau penanda ini akan memermudah pengunjung yang datang ke kawasan pecinan, selain itu penanda akan dirancang agar memiliki estetika yang mencirikan nilai dari kawasan pecinan Kota Semarang, baik itu dengan aksara cina dan jawa atau ornamen khas lainnya. Konsep signage ini merupakan salah satu bentuk penerapan dari indikator smart city yaitu smart environtment dan smart living, dan penambahan kesan pecinan melalui ornamen serta aksara menjadi bentuk penerapan dari konsep besar yaitu herritage smart city. 4.2.6 Penataan PKL Chinatown Smart Heritage City PKL merupakan salah satu elemen yang membuat nuansa perdagangan lebih nyata dan jelas karena PKL sendiri adalah bentuk perdagangan non permanen, maksudnya adalah perdagangan yang bisa berpindah tempat sewaktu-waktu. Namun PKL selalu menempatkan diri pada lokasi yang tidak seharusnya, terlebih di kawasan Pecinan dimana PKL berada pada pinggir jalan-jalan utama, kita ketahui sendiri bahwa jalan di kawasan Pecinan Semarang tidak memiliki trotoar sehingga, ketika keberadaan PKL menjadi salah satu pemicu terjadinya ‘keramaian’ di jalan. Dalam penanggulangan masalah PKL di kawasan Pecinan sendiri maka dibutuhkan suatu rencana berupa penataan PKL eksisting agar kondisi jalan tidak macet dan tetap tidak

52


menghilangkan elemen perdagangan tersebut. Aktivitas di Pecinan sendiri adalah aktivitas 24 jam, dimana pada pagi hingga sore hari aktivitas utama yang ada adalah perdagangan dengan yang berada hamper di semua titik di Kawasan Pecinan. Sedangkan pada malam hari aktivitas yang ada hanya aktivitas kuliner di Warung Semawis. Rencananya pada aktivitas perdagangan pagi hingga sore hari, PKL akan diberikan ruang khusus untuk berdagang, contohnya para pedagang akan diletakkan pada titik-titik potensial paling sering dikunjungi masyarakat yaitu pada sekitar klenteng dan Museum Heritage Center. Sementara untuk aktivitas PKL pada malam hari terutama kegiatan Warung Semawis, akan tetap berjalan sistem tenda-tenda seperti yang telah ada dengan jumlah 70 tenda di sisi kanan dan kiri. Untuk menghindari hujan pada malam hari akan disediakan sistem tiang dengan penutup atap seperti di Clarke Quay, Singapura. Tiang serta penutup tersebut selain berfungsi sebagai peneduh juga emiliki fungsi artistik. Peletakan kursi dan meja makan untuk Warung Semawis sendiri akan diletakkan di setiap tiang penutup koridor jalan berada. Selain memusat di tengah tiang juga akan diletakkan kursi dan meja pada sisi jalan yang tidak ditempati oleh tenda.

53


BAB V ANALISIS PERANCANGAN WILAYAH STUDI

Analisis perancangan terdiri atas beberapa jenis analisis, yaitu analisis aktivitas dan kebutuhan ruang, analisis tapak dan zoning kawasan, analisisi kriteria terukur, analisis kriteria tak terukur, analisis elemen-elemen citra kota, analisis elemen rancang kota, dan analisis elemen estetika kota. 5.1

Analisis Karakteristik dan Pengguna Analisis aktivitas dan kebutuhan ruang dilakukan guna identifikasi aktivitas apa saja yang

ada di lokasi perancangan sehingga dapat diketahui apa saja fasilitas yang dibutuhkan dan siapa saja penggunanya. Lokasi perancangan yang berada di Kawasan Pecinan Semarang termasuk dalam cagar budaya kota semarang, hal ini tercantum pada PERDA Kota Semarang No 14 Tahun 2011 Pasal 69. Berdasarkan hal tersebut Kawasan Pecinan dapat juga sebagai kawasan wisata Kota Semarang serta ditunjang dengan adanya kegiatan perdagangan di daerah tersebut. Pada Kawasan Pecinan selain sebagai kawasan wisata dan perdagangan, juga merupakan tempat hunian dimana mayoritas penduduknya adalah etnis tionghoa sehingga daerah tersebut menjadi kental akan budaya tionghoanya. Luas lahan lokasi perancangan adalah 12,9 ha dan seluruh kawasan merupakan ruang terbangun. Konsep yang dikembangkan pada lokasi perancangan adalah Smart City yang meliputi smart utility (prasarana), mobility (mobilitas), living (gaya hidup) dan environment (lingkungan). Penerapan konsep tersebut dilakukan pada sentra perdagangan dan permukiman sebagai fungsi utama serta kawasan peribadatan dan rekreasi sebagai fungsi penunjang aktivitas masyarakat di Kawasan Pecinan. Untuk dapat mendukung konsep “Smart Heritage City� pada lokasi perancangan, maka terdapat pembagian fungsi kawasan yang terdiri atas fungsi utama, fungsi penunjang dan fungsi pelayanan. Berikut adalah tabel analisis karakteristik ruang pada lokasi perancangan: Tabel V.1 Analisis Karakteristik Ruang pada Lokasi Perancangan Kelompok Aktivitas

Jenis Aktivitas

Jenis Kegiatan

Hunian

Tempat hunian

Komersil

Kegiatan perdagangan yang terdiri dari jual beli barang dan jasa

Utama

54

Karakteristik Ruang Mudah dalam menjangkau fasilitas penunjang dan fasilitas pelayanan Aksesibilitas tinggi, ramai, bising dan strategis

Jenis Ruang

Pengguna

Rumah Tunggal

Penduduk

Ruko (Rumah Toko) Pasar

Penduduk Penduduk


Kelompok Aktivitas

Jenis Aktivitas

Jenis Kegiatan

Peribadatan

Beribadah

Rekreasi

Tempat Rekreasi

Keamanan

Menjaga Keamanan

Parkir

Menyediakan tempat parkir bagi pengunjung

Penunjang

Pelayanan

Karakteristik Ruang Mudah dijangkau, tenang dan nyaman Aksesibilitas tinggi, ramai, bising dan strategis

Berada tepat pada Main Entrance Aksesibilitas tinggi, strategis, bising, berada pada tepi jalan

Jenis Ruang

Pengguna

Klenteng

Penduduk

Museum

Penduduk

Pos Keamanan

Penduduk

Parking on Street

Penduduk

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2A, 2014

5.1.1

Fungsi Utama Fungsi utama pada lokasi perancangan ialah fungsi hunian dan fungsi komersil. Hal ini

didukung oleh lokasinya yang berdekatan dengan Pasar Johar yaitu pasar tradisional terbesar di Kota Semarang. Selain itu Kawasan Pecinan dapat diakses dengan 4 jalan utama yang langsung menuju Kawasan Pecinan yaitu dari jalan KH. Agus Salim, Jlana Jagalan, Jalan Gajahmada Ke Jalan Kranggan dan dari Jalan Gajahmada ke Jalan Wotgandul. Konsep lokasi perancangan ini ialah Smart Heritage City dimana nantinya pengembalian desain asli dari permukiman khas etnis Tionghoa dengan tetap mempertahankan fungsi hunian perdagangannya. Tujuan dari konsep ini adalah mengembalikan bentuk dan fungsi hunian untuk etnis tionghoa yang livability namun tetap mempertahankan kawasan perdagangan serta tetap menjaga budaya etnis Tionghoa yang berkembang di daerah tersebut. 5.1.2 Fungsi Penunjang Fungsi penunjang atau aktivitas penunjang merupakan aktivitas yang dikembangkan sebagai penunjang atau pendukung dari aktivitas utama yaitu perdagangan dan permukiman. Berikut uraian fungsi penunjang di Kawasan Pecinan: a.

Sarana Peribadatan Ibadah merupakah salah satu kebutuhan rohani bagi manusia, sehingga diperlukan sarana

yang dapat mewadahi akan kebutuhan tersebut. Keberadaan sarana peribadatan pada lokasi perancangan didasarkan pada mayoritas pemeluk agama pada lokasi perancangan, dimana mayoritas penduduknya adalah etnis Tionghoa. Saat ini, pada lokasi perancangan masih terdapat 3 klenteng kuno yang merupakan sarana peribadatan masyarakat. Klenteng-klenteng yang ada tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah namun juga merupakan bangunan yang memberikan kesan akan kehidupan etnis Tionghoa di masa lampau. Pada perancangan ini difokuskan pada konservasi klenteng-klenteng yang masih ada, sehingga kesan/ ciri khas pada

55


Kawasan Pecinan tidak hilang. Klenteng-klenteng tersebut juga menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat karena nilai sejarah dan nilai budayanya yang tinggi. b.

Sarana Rekreasi Penyediaan sarana rekreasi di lokasi perancangan dikhususkan untuk mendukung kegiatan

pariwisata, mengingat bahwa Kawasan Pecinan merupakan salah satu kawasan cagar budaya yang memiliki nilai sejarah dan kebudayaan yang tinggi. Oleh karena itu, direncanakan sarana rekreasi berupa Museum Heritage Center sebagai galeri kebudayaan dan sejarah Kawasan Pecinan. Museum tersebut nantinya akan direncanakan dengan melakukan alih fungsi bangunan yang sudah tidak lagi digunakan/ dihuni. 5.1.3 Fungsi Pelayanan Aktivitas pelayanan merupakan aktivitas yang dikembangkan sebagai pelayanan dari aktivitas utama yang terbagi menjadi keamanan dan parkir. Pada lokasi perancangan terdapat pos keamanan yang terdapat pada main entrance. Begitupun dengan lahan parkir, pada lokasi perancangan sudah terdapat parking on street. Selanjutnya akan dilakukan analisis karakteristik pengguna, dimana merupakan jumlah dan jenis pengguna yang akan diwadahi dalam lokasi perancangan. Jumlah pengguna tersebut dihitung berdasarkan Carrying Capacity, jumlah tersebut merupakan kapasitas maksimum pengguna yang dapat diwadahi dalam lokasi perancangan. Namun dari Carrying Capacity tersebut, jumlah pengguna yang digunakan adalah sebesar 3356 jiwa berdasarkan asumsi penduduk eksisting yang ada pada lokasi perancangan.

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2A, 2014

Gambar 5.1 Analisis Karakteristik Pengguna pada Lokasi Perancangan

Dari bagan tersebut terlihat analisis karakteristik pengguna pada lokasi perancangan yang meliputi sebagian Kawasan Pecinan dengan luas sebesar 12.9 hektar, dengan kapasitas ruang terbangun seluas 127.899 m2. Nilai tersebut merupakan kondisi eksiting pada lokasi perancangan mengingat bahwa seluruh kawasan merupakan kawasan terbangun, baik itu berupa ruko, rumah

56


dan ataupun klenteng. Ruko-ruko yang ada juga bermacam jenisnya, mulai dari tekstil, bank, rumah makan, salon dan lain sebagainya. Tabel V.2 Perhitungan Carrying Capacity dan Analisis Pengguna pada Lokasi Perancangan Fungsi Ruang Persentase (%) Luas Satuan Luas Lokasi perencanaan tapak Luas Ruang Terbangun Luas Fungsi Terbangun

Eksisting

127.899

Eksisting

105.605,4

Luas Sirkulasi

Eksisting

22.293,6

Carrying Capacity

luas fungsi terbangun : 10m2 105.605,4 : 10 m

m2

129.000

m2

10.560

jiwa

2

Jumlah Bangunan Ruko dan Rumah Eksisting Rumah Tunggal Eksisting

500 unit

77.430,4

Rumah Toko

185 unit

26.825

Total Bangunan

685 unit

104.267,4

Asumsi Penduduk

1 KK terdiri dari 4 jiwa

m2 m2

2.740

jumlah rumah x 4 jiwa

Asumsi Pengguna yang Direncanakan

jiwa jiwa

2.740

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2A, 2014

5.2

Analisis Kebutuhan Ruang Analisis kebutuhan ruang merupakan perhitungan antara jumlah dengan luas ruang yang

dibutuhkan pada setiap aktivitas yang akan diwadahi dalam perencanaan lokasi perancangan dengan mempertimbangkan jumlah pengguna dan standar penggunaan aktivitas tersebut. Berikut adalah hasil analisis kebutuhan ruang terbangun pada lokasi perancangan:

Kelompok Aktivitas

Jenis Aktivitas Hunian

Utama

Tabel V.3 Analisis Kebutuhan Ruang pada Lokasi Perancangan Jenis Jumlah Jumlah Pengguna Sumber Ruang Pengguna (unit) Aktivitas Utama Rumah Kondisi Penduduk 2.740 jiwa 500 Tunggal Eksisting Kondisi Ruko Penduduk 2.740 jiwa 185 Eksisting

Komersil Pasar

Klenteng 1 Penunjang

Peribadatan Klenteng 2

Penduduk

2.740 jiwa

Kondisi Eksisting

Aktivitas Penunjang Kondisi Penduduk 2.740 jiwa Eksisting Kondisi Penduduk 2.740 jiwa Eksisting

57

Luas (m2)

Ket

77.442,4

Eksisting

26.825,0

Eksisting

1

-

Eksisting (Berada pada Jalan)

1

388

Eksisting

1

291

Eksisting


Kelompok Aktivitas

Jenis Aktivitas

Jenis Ruang Kelnteng 3

Rekreasi

Museum

Jumlah Sumber Pengguna Aktivitas Utama Kondisi Penduduk 2.740 jiwa Eksisting Best Practice Penduduk 2.740 jiwa China Town Singapore

Pengguna

Jumlah (unit)

Luas (m2)

Ket

1

66

Eksisting

1

593

Rencana

Aktivitas Penunjang Pelayanan

Keamanan

Pos Keamanan

Penduduk

2.740 jiwa

Kondisi Eksisting

1

12

Eksisting

Parkir

Parking on Street

Penduduk

2.740 jiwa

Kondisi Eksisting

-

-

Eksisting 105.605,4 m2 22.293,6 m2 127.899 m2 1.101 m2 129.000 m2

Luas Fungsi Terbangun Luas Sirkulasi Luas Ruang Terbangun (Plaza) Luas Ruang Non Terbuka Total Luas Lokasi Perancangan Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2A, 2014

Pada kawasan pecinan merupakan kawasan yang padat akan bangunan hingga kurangnya ruang terbuka non hijau di kawasan tersebut. Pemanfaatan ruang terbuka non hijau tidak dapat diakukan pada sembarang lahan di kawasan tersebut terkait dengan status kawasan yang merupakan kawasan cagar budaya. Oleh sebab itu kebutuhan lahan terbuka non hijau didapat dari pemanfaatan lahan terbangun dengan kondisi bangunan di lahan tersebut sudah mengalami kerusakan lebih dari 80% sehingga lahan yang ada dialih fungsikan menjadi lahan terbuka non hijau. Untuk kebutuhan ruang terbuka non hijau lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut. Sedikitnya lahan kosong yang ada di kawasan pecinan Semarang menjadikan kawasan tersebut kurang dalam hal penyediaan RTH dan parkir. Terlebih masuknya kawasan tersebut kedalam kawasan cagar budaya menjadikan perencanaan dalam perencangan kawasan juga terbatas. Oleh sebab itu dari konsep perancangan, penyediaan RTH pada kawasan pecinan dapat dilakukan salah satunya dengan cara pergola yaitu penanaman tanaman rambat pada canopi di sepanjang jalan dengan panjang jalan 371 meter yang berlokasi pada sekitar pasar smawis. Untuk kebutuhan ruangnya maka penyediaan RTH secara pergola masuk dalam penyediaan ruang untuk sirkulasi. Dalam hal parkir, karena lahan yang ada sangat terbatas maka parkir dapat dilakukan dengan cara on street. Parkir on street ini hanya berada pada jalan-jalan utama pecinan saja, hal ini terkait dengan lebar jalan yang cukup besar pada jalan utama. Untuk ketersediaan ruang parking on street maka masuk dalam penyediaan ruang untuk sirkulasi karena parkir yang dilakukan sepanjang jalan.

58


5.3

Analisis Hubungan Antar Kelompok Aktivitas

Hubungan antar ruang menjelaskan bagaimana keterkaitan antar aktivitas yang akan diwadahi dalam ruang-ruang. Penentuan hubungan antar ruang ini digunakan sebagai dasar dalam peletakan kelompok aktivitas yang akan direncanakan. Keterkaitan masing-masing ruang yang berbeda tersebut terjadi karena setiap jenis aktivitas yang diwadahi di setiap ruang antara satu dengan lainnya dapat saling bertolak belakang maupun saling terkait. a. Hubungan erat, bahwa antara aktivitas X dan aktivitas Y saling terkait erat. misalnya aktivitas hunian (permukiman) dan perdagangan (ruko) sangat membutuhkan sarana penunjang dan pelayanan seperti peribadatan (klenteng), persampahan (TPS), transportasi dll. b. Hubungan tidak erat , bahwa antara aktivitas X dan aktivitas Y saling bertolak belakang (tidak terkait). misalnya aktivitas perdagangan tidak memiliki hubungan yang erat dengan aktivitas peribadatan, dll. Berikut adalah skema hubungan antar ruang kawasan Pecinan Semarang: Permukiman Ada Hubungan

Perdagangan Peribadatan Rekreasi

Tidak Ada Hubungan

Keamanan Parkir Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2A, 2014

Gambar 5.2 Skema Hubungan Antar Ruang Kawasan Pecinan Semarang

Permukiman sebagai aktivitas utama memiliki keterkaitan atau hubungan erat dengan aktivitas lain seperti perdagangan, peribadatan, rekreasi dan aktivitas pelayanan seperti keamanan. Hal tersebut dikarenakan masyarakat yang bermukim membutuhkan adanya aktivitas penunjang dan pelayanan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Perdagangan yang juga sebagai aktivitas utama pada lokasi perancangan memiliki hubungan yang sangat erat dengan persampahan karena aktivitas perdagangan dan jasa dapat menimbulkan sampah setiap harinya. Selain dengan persampahan, permukiman, rekreasi dan keamanan juga memiliki hubungan yang erat dengan perdagangan. 5.4

Analasis Organisasi Ruang Analisis keruangan merupakan analisis yang berisi kasaran dari siteplan perumahan yang

akan diterapkan dalam lokasi perencanaan yaitu Kawasan Pecinan dengan tema smart heritage city. Siteplan yang akan dibuat nanti tentunya akan mengacu pada organisasi keruangan yang

59


telah dibuat. Selain itu dengan adanya organiasi ruang dapat menentukan cara pembagian zonazona aktivitas dalam daerah perencanaan yang disesuaikan dengan karakter ruang yang dibutuhkan masing-masing aktivitas tersebut. Diharapkan organisasi keruangan yang telah dibuat mampu menampung dan memfasilitasi semua kegiatan penduduk terutama untuk memenuhi kegiatan utama penduduk.

Pemukiman

RTH

Pemukiman

Pemukiman

RTH

Pemukiman

Sampah

Pasar Semawis

Heritage Center

Klenteng

Ruko

Plaza

Ruko

Side Entrance

Klenteng

Pasar Gang Baru

Main Entrance Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2A, 2014

Gambar 5.3 Organisasi Ruang

60


5.5

Analisis Tapak

5.5.1 Analisis Konstelasi Wilayah studi rancanga ini adalah kawasan pecinan Semarang yang ada di Kelurahan Kranggan, Kecamatan Semarang Tengah. Kawasan pecinan Semarang yang menjadi wilayah studi, memiliki luas 12 ha, hampir separuh dari luas seluruh Kelurahan Kranggan yaitu 25,5 ha. Dalam merencang kawasan konservasi yaitu kawasan pecianan harus melalui banyak pertimbangan yang disesuaikan dengan peraturan peundang-undangan yang sudah ada. Untuk mengetahui dan menentukan konsep perancangan kawasan pecinan Semarang ini, perlu dilakukan analisi konstelasi wilayah studi mikro dengan wilayah studi makro agar arah pengembangannya satu sama lain singkron. Berikut adalah analisis konstelasi wilayah studi perencanaan kawasan pecinan Semarang: Tabel V.5 Tabel Konstelasi Wilayah Konstelasi Kecamatan Semarang Tengah terhadap Kota Semarang Mengacu pada Peraturan Daerah Kota Semarana No.14 Tahun 2011 Tentang RTRW Kota Semarang tahun 2011-2031, lokasi perancangan terletakdi Kecamatan Semarang Tengah yang termasuk Bagian Wilayah Kota (BWK) I. Dalam Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 6 Tahun 2004 Tentang Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) Kota Semarang Bagian Wilayah Kota I, fungsi kawasan Kecamatan Semarang Tengah diantaranya adalah pengembangan kawasan perdagangan dan jasa, perkantoran, permukiman, dan kawasan cagar budaya/ koservasi. Kecamatan Semarang Tengah merupakan pusat aktivitas Kota Semarang, bahkan menjadi pusat pemerintahan Kota Semarang. Oleh karena itu keberadaan Semarang Tengah sangat mempengaruhi Kota Semarang. Terlebih lagi, Kecamatan Semarang Tengah memiliki beberapa kampung tua di Kota Semarang dan cagar budaya yang salah satunya adalah kawasan pecianan. Cagar budaya yang ada di wilayah Kecamatan Semarang Tengah dihararapkan menjadi daya tarik wisata Kota Semarang, sejalan dengan slogan Kota Semarang tahun 2011 yaitu Semarang Pesona Asia. Konstelasi Lokasi Perencanaan Tapak Terhadap Kecamatan Genuk Wilayah studi perancangan yaitu kawasan pecinan Semarang terletak di Kelurahan Kranggan yang merupakan Bagian Wilayah Kota (BWK) I blok 1.2, seperti yang disebut pada Rencana Detail Tata Ruang Kota-Kota Semarang BWK I Tahun 2011-2031, yang diperuntukkan pemukiman, perdagangan dan jasa, dan cagar budaya. Kawasan pecianan Semarang ini merupakan kawasan cagar budaya yang diperkuat dengan adanya SK Wali Kota Semarang No. 464/50/1992. Dengan

61


adanya kawasan cagar budaya ini, diharapkan dapat menjadi salah satu daya tarik wisata Kota Semarang. Sehingga diharapkan dapat menambah pendapatan Kota Semarang dari sektor pariwisatanya. Kawasan pecianan ini akan direncanakan dengan konsep smart city tetapi tetap mempertahankan nilainilai sejarah yang ada di dalamnya. Oleh karena hal tersebut, maka keaslian nilai-nila sejarah yang ada pada bangunan, lingkungan dan suasana pecianan akan tetap dipertahankan untuk menjaga warisan budaya. Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2A, 2014

5.5.2 Analisis Lingkungan Analisis dilakukan untuk menentukan kecocokan tata letak zoning tapak terhadap fungsifungsi penggunaan ruang di sekitarnya. Analisis ini berfungsi sebagai pertimbangan dalam penentuan zoning kawasan yang dilihat dari faktor eksternal tapak yang direncanakan. Tabel V.6 Tabel Analisis Lingkungann Analisis Lingkungan Data

Respon

Kawasan Pasar Johar/ Perdagangan

Kawasan Perdagangan (Toko Emas Wahid Hasyim) Deretan Perdagangan dan Jasa (Jl. Gg. Pinggir) Permukiman

Deretan perdagangan dan jasa (Jl. Wotgandul)

Di sekitar wilayah studi kawasan Pecinanan adalah kawasan perdagangan dan jasa. Di bagian utara wilayah studi kawasan pecinan merupakan kawasan pasar Johar Semarang. Sedangkan bagian barat wilayah studi merupakan campuran antara deretan ruko yang mayoritas adalah toko emas yang ada di Jalan K.H. Wahid Hasyim dan permukiman di Kelurahan Kranggan. Bagian selatan wilayah studi mikro merupakan deretan ruko dan perkantoran dan bagian timur merupakan deretan juga ruko.

Kawasan perdagangan dan jasa adalah kawasan yang berfungsi sebagai area public, zona ini merupakan zona yang produktif, dimanfaatkan untuk kegiatan perdagangan dan jasa. Karena zona komersil cenderung ramai maka tidak cocok jika berdekatan dengan sekolah yang membutuhkan ketenangan. Zona pemukiman cocok dikembangkan pada kawasan yang berada pada area privat, tidak berbatasan dengan pusat perbelanjaan dan area lain yang berfungsi sebagai area publik.

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2A, 2014

5.5.3 Analisis Topografi Analisis topografi berfungsi untuk menentukan pengembangan penggunaan ruang untuk kegiatan yang sifatnya terbangun maupun non terbangun. Analisis topografi ini dilihat dari kontur kawasan pecinan. Untuk kontur rapat, cocok dikembangkan sebagai zona non terbangun dan kontur renggang cocok digunakan untuk zona terbangun. Namun, pada wilayah studi ini yaitu kawasan pecinan Semarang merupakan dataran, sehingga hanya memiliki kontur yang renggang.

62


Tabel V.7 Tabel Analisis Topografi Analisis Topografi Data

Respon

Zona Terbangun merupakan zona dengan kontur renggang yang menunjukkan topografi datar sehingga dapat dikembangkan sebagai fungsi terbangun misal permukiman, perdagangan, dan lain-lain. Pada wilayah studi kawasan pecianan terdapat kontur dengan interval 2 meter, tetapi karena wilayah yang memiliki kontur hanya sedikit dan terletak di pojok wilayah studi, maka wilayah tersebut ikut dimasukkan ke dalam zona terbangun. Wilayah studi kawasan pecinan seluruhnya adalah zona terbangun karena memiliki topografi yang datar yaitu 0-2%. Pada kondisi eksistingnya pun kawasan pecinan merupakan kawasan padat bangunan.

Kontur Interval 2 m

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2A, 2014

5.5.4 Analisis Kebisingan Analisis kebisingan berfungsi untuk menentukan pengembangan penggunaan ruang untuk kegiatan yang bersifat publik dan privat. Contoh penerapan analisis kebisingan adalah kawasan dagangan dan jasa yang dialokasikan pada kawasan dengan tingkat kebisingan tinggi.

63


Tabel V.8 Tabel Analisis Kebisingan Data

Respon

Zona Bising Tinggi Merupakan jalan lokal namun dengan banyaknya kendaraan yang berlalu lalang. Baik mobil, motor, ataupun becak. Terlebih lagi merupakan kawasan perdagangan dan jasa, sehingga banyak truk barang yang bongkar muat di zona tersebut. Zona Bising Sedang Merupakan jalan lingkungan, namun kendaraan yang berlalu lalang masih cukup banyak seperti mobil dan motor dari pegawai dari perkantoran (banyak bank) yang ada Jalan Gang Besen dan Gang Tengah. Zona Bising Rendah Merupakan jalan lokal dan jalan lingkungan, namun masih banyak kendaraan beroda empat yang melewati jalan di zona tersebut. Karena jalan lokal dan lingkungan tersebut merupakan jalan pintas untuk ke jalan utama. Daripada memutar terlalu jauh karena jalan satu arah di kawasan pecinan, banyak masyarakat yang menggunakan jalan pintas tersebut.

Zona kegiatan publik Zona kegiatan publik merupakan zona yang membutuhkan karakter ruang dengan tingkat kebisingan tinggi, sehingga cocok dikembangkan sebagai fungsi perdagangan, jasa dan komersil lainnya. Pada kondisi eksisting pun, kawasan tersebut adalah deretan ruko, perkantoran, dan bank. Zona kegiatan privat Zona kegiatan privat merupakan zona yang membutuhkan karakter ruang dengan tingkat kebisingan rendah, sehingga dapat dikembangkan sebagai fungsi hunian. Kondisi eksisting, bangunan pada gang-gang kecil (Gang Cilik, Gang Baru, Gang Blakang) di kawasan pecianan memiliki fungsi hunian.

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2A, 2014

5.5.5 Analisis Aksesibilitas Sama seperti analisis kebisingan, analisis aksesibilitas juga berfungsi untuk pengembangan penggunaan ruang untuk kegiatan yang bersifat publik dan privat, yang termasuk ke dalam akses tinggi adalah hirarki jalan arteri atau kolektor, sedangkan yang termasuk dalam akses rendah adalah hirarki jalan lingkungan dan jalan lokal.

Tabel V.9

64


Tabel Analisis Aksesibilitas Data

Respon

Zona akses tinggi Merupakan jalan lokal yang memiliki volume kendaraan yang tinggi, yaitu Jalan Beteng di sebelah barat wilayah studi, sedangkan bagian selatan adalah Jalan Wotgandul dan bagian utara adalah Jalan Gang Warung. Untuk jalan lingkungan yang memiliki akses tinggi adalah Jalan Gang Pinggir, Jalan Gang Besen dan Jalan Gang Tengah. Hal tersebut dikarenakan jalan tersebut terdapat deretan ruko dan perkantoran

Zona kegiatan publik Zona kegiatan publik membutuhkan karakter ruang dengan aksesibilitas tinggi sehingga dapat dikembangkan sebagai kawasan perdagangan dan jasa, dan lain-lain. Dengan adanya aksesibilitas tinggi maka, zona kegiatan publik dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat. Pada kondisi eksisting, keempat jalan yang menjadi batas wilayah studi mudah diakses dari jalan kolektor yaitu Jalan K.H. Wahid Hasyim dan lokasi kawasan Pecinan juga dekat dengan Jalan MT. Haryono. Zona kegiatan privat Zona kegiatan privat membutuhkan karakter ruang dengan aksesibilitas rendah sehingga dapat dikembangkan sebagai kawasan hunian, sarana peribadatan dan lain-lain. Karena baik hunian dan sarana peribadatan membutuhkan ketenangan agar tercipta kenyamanan bagi para penghuninya.

Zona akses rendah Pada zona akses rendah ini, dilewati oleh jalan lingkungan. Pada wilayah studi kawasan pecianan ini, merupakan Jalan Gang Cilik, Jalan Gang Baru, Jalan Blakang dan Jalan Gang Gambiran.

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2A, 2014

5.5.6 Analisis Drainase Analisis drainase adalah analisis yang berfungsi unutk menentukan arah aliran air pada lokasi perancangan. Apabila analisis drainase salah, maka perancangan sistem drainase juga tentunya salah. Kesalahan tersebut berupa arah aliran air yang salah/ terbalik. Biasanya aliran drainase menuju daerah yang dekat dengan laut, karena semua muara air menuju laut. Jika kesalahan pada analisis drainase ini terjadi, berakibat pada tidak berfungsinya saluran drainase, air yang ditampung tidak dapat mengalir ke tempat yang seharusnya. Dimungkikan, apabila hujan deras dan tampungan pada sistem drainase penuh akan kemungkinan untuk terjadi banjir.

65

meluap dan tidak menutup


Tabel V.10 Tabel Analisis Drainase Data

Respon

Drainase primer berupa kali semarang Drainase Sekunder dimana kondisi alirannya tidak lancar karena tersumbat oleh sampah-sampah.





Arah Aliran Air Drainase tersier dengan lebar 30 cm Drainase Sekunder dengan Lebar 50 cm Drainase Primer Berupa Kali Semarang Diterapkan sistem drainase terbuka pada setiap jenis drainase sehingga memudahkan proses pemeliharaan dan pembersihan. Perlu adanya normalisasi fungsi drainase sekunder yang tersumbat untuk mengoptimalkan fungsi drainase dalam menampung limpasan air.

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2A, 2014

5.5.7 Analisis Vegetasi Analisis vegetasi berfungsi untuk penentuan pengembangan vegetasi kawasan sebagai water catchment area dan public area yang akan sesuai jika akan diaplikasikan pada lokasi perancangan. Tabel V.11 Tabel Analisis Vegetasi Data

Respon

66


Data  Tidak adanya ruang terbuka hijau berupa taman bermani maupun hutan kota.  Tidak adanya jalur hijau kawasan sebagai peneduh pejalan kaki.  Namun kawasan pecinan Semarang merupakan cagar budaya yang ruang terbuka hijaunya sangat minim. Sehingga tidak boleh sembarangan membuat RTH dan menentukan vegetasi yang cocok.

Respon Pada kondisi di kawasan perancangan yang merupakan kawasan preservasi sulit dialokasikan lahan untuk ruang terbuka hijau karena kondisi eksisting kawasan yang sudah padat bangunan, namun penyediaan rung terbuka dapat diusahakan dengan roof garden, vertical garden, pergola dan juga tanaman pot disekitar jalan utama (Jalan Beteng dan Gang Warung).

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2A, 2014

5.5.8 Analisis View Analisis view adalah analisis pemandangan yang dapat dilihat di lokasi perancangan Kawasan Pecinan Semarang. Analisis view terdiri dari dua, yaitu analisis view from site dan analisis view to site. Tabel V.12 Tabel Analisis View Data

Respon 2

2

1

1

2

1

2

2

View To Site: Gerbang Pecinan dan bundaran pecinan serta bangunan rukoruko khas pecinan View From Site: Jembatan kebon dalem dan Kali Semarang serta lingkungan pasar johar

1

2

View to Site: Gerbang dan bundaran Pecinan akan tetap dipertahankan dengan tambahan ornamen khas etnis Tiong Hoa yang dapat membuat kawasan lebih menarik View from Site: akan tetap mengarah ke kali semarang dan juga lingkungan pasar johar

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2A, 2014

5.5.9 Analisis Arah Angin dan Lintasan Matahari Analisis ini digunakan untuk mengetahui arah angin dan lintasan matahari sehingga nantinya diketahui arah bangunan yang ideal.

67


Tabel V.13 Tabel Analisis Arah Angin dan Lintasan Matahari Data Respon

Arah matahari pada lokasi tapak yaitu dari timur ke barat. Arah angin pada lokasi tapak yaitu bertiup dari arah timur laut ke barat daya. Arah Matahari Arah Angin

Sumbu Ideal: merupakan garis perpotongan antara jalur lintasan matahari dan jalur arah angin, merupakan sumbu untuk menentukan arah orientasi bangunan pada suatu tapak. Orientasi Bangunan yang sejajar dengan Sumbu Ideal: bangunan yang sesuai dengan sumbu ideal, mendapat pencahayaan yang cukup dan juga mengurangi resiko terkena terpaan angin yang kencang.

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2A, 2014

5.5.10 Zoning Kawasan

Herritage Center

Pasar Gang Baru

Plasa (rekreasi)

Sumber: Bappeda Kota Semarang telah dianalisis kelompok 2A, 2014

Gambar 5.4 Zoning Kawasan

68


Dari analisis tapak yang telah dilakukan, kemudian dibuat zonasi seperti gambar di atas dengan keterangan sebagai berikut: Zona privat terdiri dari fungsi hunian dan juga peribadatan (klenteng) Zona Publik yang terdiri dari kawasan perdagangan, rekreasi, serta herritage center yang akan dibangun disepanjang jalan utama. 5.6

Analisis Kriteria Tidak Terukur

5.6.1 Access Tabel V.14 Access Data

Respon

Keterjangkauan pengguna untuk menuju kawasan pecinan cukup mudah karena kawasan pecinan dilewati oleh jalan kolektor sekunder pada gang Waroeng. Adapun jalan yang boleh dilalui oleh kendaraan adalah gang Wotgandul, jalan Benteng, dan jalan Besen. Belum ada parkiran komunal dan halte bus yang menunjang kegiatan akses di kawasan pecinan.

-

-

Jalan Kolektor Jalan Lokal Rencana lokasi halte bus Rencana lokasi parkir komunal Rencana lokasi gudang Arah jalur searah Penambahan jaringan jalan di kawasan pecinan digunakan untuk mempermudah akses bongkar muat barang saat siang hari dan malam hari yang terletak di jalan Benteng. Dengan adanya rencana lokasi , rencana lokasi halte bus, parkir komunal dan rencana lokasi gudang untuk bongkar muat dapat membuat akses akan semakin mudah.

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2A, 2014

5.6.2 Compatibility Compability adalah aspek kecocokan antara bangunan lama dengan bangunan baru yang dapat dilihat dari warna, tekstur, skala, proporsi dan fasade bangunan (Kevin Lynch).

69


Tabel V.15 Compability Data

Respon

1 2 1

1

-

-

2

1

Terdapat beberapa ruko dengan gaya arsitektur modern dengan kondisi yang baik dan warna yang terang berada bersebelahan dengan ruko dengan gaya arsitektur China kuno yang kondisinya kurang terawat dan warna yang sudah kusam. Hal ini cukup menunjukan adanya kesenjangan sosial di kawasan pecinan. Belum adanya sempadan bangunan karena satu bangunan dengan bangunan yang lain saling berhimpit dan saling memanfaatkan ruang semaksimal mungkin karena lahan yang ada terbatas.

- Tetap mempertahankan ruko ataupun rumah bergaya arsitektur pecinan sebagai nilai Budaya Cina khusus di kawasan pecinan namun gedung gedung tua tersebut akan direvitalisasi lagi menjadi gedung yang layak huni.

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2A, 2014

5.6.3 View Tabel V.16 View Data

Respon 2 1

70


Data -

Respon

View yang ada berupa gerbang pecinan dan Waroeng Semawis yang ada saat weekend. View adalah orientasi manusia sebagai pengguna terhadap lingkungannya yang terlihat di sini belum memiliki bea karena hampir semua bangunan memiliki ketinggian yang sejajar.

2

Mempertahankan view yang ada berupa gerbang pecinan, baik view from site maupun view to site. Selain itu, Waroeng Semawis yang ada juga akan dipertahankan sebagai view from site saat weekend.

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2A, 2014

5.6.4 Identity Tabel V.17 Identity Data

-

-

Respon

Identity merupakan kesan dari satu objek yang dapat menjadi ciri satu kawasan. Unsur yang sering kali dikaitkan dengan identik adalah landmark yang dapat menjadi penanda satu kawasan. Landmark dapat berupa gerbang, persimpangan, tugu, dll yang digunakan sebagai ikon satu kawasan. Identity yang ada di kawasan pecinan berupa gerbang pecinan yang sekaligus menjadi main entrance.

-

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2A, 2014

71

Lokasi main entrance yang juga merupakan landmark. Gerbang pecinan tadi dapat digunakan sebagai main entrance kawasan pecinan Main entrance akan difungsikan sebagai akses masuk utama menuju wilayah studi, walaupun bisa menggunakan jalan lain.


5.6.5 Sense Tabel V.18 Sense Data

-

-

Respon

Sense adalah kesan atau suasana yang ditimbulkan saat kawasan tersebut masih asli dengan lingkungan pecinan yang khas, banyak bangunan berlantai 2 yang khas dan kuno serta dilengkapi dengan ornamen khas China. Bentuk permukiman (bangunan) yang padat dan kompak menjadi ciri lain kawasan pecinan ini yang juga telah bersifat anorganik.

-

Pemilihan untuk tetap mempertahankan bangunan kuno menjadi daya tarik (sense) wisata tersendiri bagi para pengguna maupun pengunjung.

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2A, 2014

5.6.6 Livability Tabel V.19 Livability Data

-

-

-

Respon

Kenyamanan untuk tinggal masih kurang pada saat ini, hal ini dikarenakan kesan kumuh yang terlihat pada kampung pecinan terutama yang terletak di sebelah sungai, selain itu banyak gedung kuno yang tidak terawat karena sudah banyak ditinggalkan. Oleh karena itu kami berusaha untuk memperbaiki kawasan pecinan supaya bisa kembali nyaman untuk ditinggali dengan menerapkan konsep desa wisata. Berkaitan dengan hal diatas, jumlah fasilitas

72

-

Permukiman Perdagangan dan Jasa RTH Fasilitas RTNH Kelengkapan sarana prasarana penunjang seperti gudang, perdagangan dan jasa, kelenteng, ruang terbuka hijau berupa taman dapat dimanfaatkan warga maupun pengunjung.


Data pemenuhan kebutuhan jumlahnya akan disesuaikan kembali aren selain kawasan pecinan digunakan sebagai mukiman, perdagangan dan jasa serta digunakan sebagai lokasi desa wisata.

Respon

umber: Hasil Analisis Kelompok 2A, 2014

5.7

Analisis Kriteria Terukur

Kriteria terukur dalam perancangan kota merupakan kriteria dasar perancangan kota yang dapat diukur secara kuantitatif, yang diperoleh dari pertimbanganpertimbangan factor fisik dasar, factor ekonomi maupun factor budaya. Kriteria tak terukur meliputi kepadatan bangunan (building coverage), ketinggian bangunan, sempadan bangunan dan jarak antar bangunan dengan tujuan untuk menentukan amplop bangunan. 5.7.1 Koefisien Dasar Bangunan (KDB) Koefisisen Dasar Bangunan adalah perbandingan antara luas bangunan dengan luas lahan. Nilai KDB di suatu kawasan menentukan berapa persen luas bangunan di suatu kawasan yang boleh dibangun. Penentuan KDB ditinjau dari aspek lingkungan dengan tujuan untuk mengendalikan luas bangunan di suatu lahan pada batas-batas tertentu sehingga tidak mengganggu penyerapan air hujan ke tanah serta meminimalisir kegiatan eksploitasi lahan. S= 0,0011 A= 10.500 m2 C= 1,8 (sedikit tanah terbuka, sedikit penghijauan, infiltrasi sedikit dengan kemiringan tanah 0-5%) I = 7,678 x 10-8 m/detik

Iinf = S x A = 0,0011 x 10.500 m2 = 11,55 liter/menit = 0,1925 liter/detik

Qinf= C x I x A = 1,8 x (7,678 x 10-8 m/detik) x 10.500 m2 = 1,451142 x 10-3 m3/detik = 1,451142 liter

Q1Ha =

OS =

=

=

= 0,138204 liter/detik/Ha

= 1,39286851 Ha

KDB = = = 86,7 % ≈ 90 %

73


Berdasarkan perhitungan di atas diketahui jika KDB adalah 90% yang berarti lahan terbangun yang diijinkan adalah 9.450 m2. Dalam kondisi eksisting saat ini Kawasan Pecinan sudah terbangun 100% di mana KDB nya juga 100%. Sedangkan menurut peruntukan Kawasan Pecinan sebagai konservasi cagar budaya, dalam perancangan kota untuk kawasan konservasi tidak diperkenankan untuk mengubah bangunan eksisting, sehingga disimpulkan KDB untuk Kawasan Pecinan adalah 100%. 5.7.2 Koefisien Lantai Bangunan (KLB) FAR

=

=

= 1,11 Nilai FAR yang telah didapat tersebut kemudian disesuaikan dengan grafik LUI sehingga diketahui bahwa maksimal pada kawasan perancangan dibangun bangunan 6 lantai, atau ketinggiannya 24 meter. Namun karena di wilayah perancangan umumnya ketinggian bangunan hanya 2-3 lantai berkisar 6-12 meter, dan karena sifat ketinggian bangunan merupakan salah satu ciri dari kawasan pecinan maka ketinggian bangunan tersebut akan dipertahankan 5.7.3 Jarak Antar Bangunan dan Garis Sempadan Bangunan a. Perhitungan Jarak Antar Bangunan JAB dihitung berdasarkan ketinggian bangunan dengan menggunakan ALO (Angle of Lights Obstruction), dimana JAB merupakan jarak yang terkecil, diukur di antara permukaan-permukaan denah dari bangunan-bangunan atau jarak antara dinding terluar yang berhadapan antara dua bangunan. Ketinggian bangunan di Kawasan Pecinan rata-rata 10 meter. Perhitungan ALO merupakan perhitungan dengan sudut yang telah ditentukan sebesar 45°, dengan perhitungannya adalah sebagai berikut: JAB= Tinggi Bangunan/Tg ALO = 10 meter/1= 10 meter Namun perhitungan menggunakan ALO kurang rasional sehingga JAB ditentukan menggunakan persyaratan dari Departemen Pekerjaan Umum yaitu: Tabel V.20 Persyaratan Ukuran Tinggi dan Jarak Bangunan Tinggi Bangunan (m) Jarak Bangunan (m) 0-8 3 8 – 14 3–6 14 – 40 6–8 >40 >8 Sumber: Departemen Pekerjaan Umum, 1987

Karena Kawasan Pecinan merupakan kawasan konservasi, maka jarak antar bangunan di Kawasan Pecinan tidak sesuai dengan ketentuan diatas namun jarak antar bangunan

74


berdempetan sesuai dengan ciri khas Kawasan Pecinan sebagai kawasan sejarah etnis Tionghoa yang terdiri dari bangunan-bangunan lama khas Tionghoa. b.

Perhitungan Garis Sempadan Bangunan Garis sempadan adalah garis yang pada pendirian bangunan ke arah yang berbatasan di

atas permukaan tanah yang tidak boleh terlampaui. Garis sempadan ini terdiri dari: 1. Sempadan muka : yang berbatasan dengan jalan 2. Sempadan belakang : yang berbatasan dengan jalan atau bangunan di belakangnya. 3. Sempadan samping : yang berbatasan dengan jalan atau bangunan di sampingnya. 4. Sempadan pagar : garis dimana harus dipasang bagian luar dari pagar-pagar persil atau pagar-pagar pekarangan. Garis Sempadan Bangunan ditetapkan untuk: - Memberi batasan keamanan bagi pengguna jalan terhadap lingkungan sekitarnya - Memberikan ruang untuk sirkulasi udara dan sinar matahari - Ruang untuk resapan air tanah - Berguna untuk keadaan darurat, misalnya kebakaran Perhitungan GSB akan dilakukan pada titik pertemuan antara jalan kolektor sekunder dengan jalan lokal.

Hierarki Jalan Kolektor Sekunder Lokal

Tabel V.21 Dimensi Jalan Lebar Bahu Lebar Jalan Jalan 8m 3m -

Kecepatan Kendaraan km/jam mil/jam 40 25 20 12,5

Sumber: Departemen Pekerjaan Umum, 1986

Perhitungan GSB Jalan Kolektor dengan Jalan Lokal Va = 25 mil/jam Vb = 12,5 mil/jam A1 = 4 m B1 = 1,5 Ta = 1,22 Tb = 0,90

Da = 0,063 (Va)2 + 1,47 (ta) (Va) + 16 = 0,063 (25) 2 + 1,47 (1,22) (25) + 16 = 100,21 feet = 30,552 m

75

Vb = (Db-16) (Va)/Da 12,5 = (Db-16) (25)/100,21 12,5 = (Db-16) x 0,25 Db = 66 feet = 20,121 m


Mencari a2 -> b2 = 0 Db = a (Da)

Mencari b2 -> a2 = 0 Db = a (Da)

Da-b

Da-b

(a1 + a2) (Da)

(a1 + a2) (Da)

Da - (b1 + b2)

Da - (b1 + b2)

20,121 = (4 + a2) (30,552)

20,121 = (4 + 0) (30,552) 30,552 – (1,5 + b2) b2 = 22,98 m

30,552 – (1,5 + 0) a2 = 5,13 m Garis Sempadan Jalan kolektor = a a = a1 + a2 = 4 + 5,13 = 9,13 m

Garis sempadan jalan lokal = b b = b1 + b2 = 1,5 + 22,98 = 24,48

Berdasarkan hasil perhitungan diatas, nilai GSB yang dihasilkan sangat besar dan tidak dapat diterapkan pada Kawasan Pecinan. Apalagi Kawasan Pecinan yang memiliki letak-letak bangunan yang sangat berdekatan sesuai dengan ciri khas permukiman Tionghoa sehingga GSB yang ada di Kawasan Pecinan tidak sesuai dengan perhitungan GSB yang seharusnya. 5.8

Analisis Elemen Perancangan Kota

5.8.1 Tata Guna Lahan (Land Use) Tabel V.22 Tata Guna Lahan

DATA

RESPON

76


DATA

RESPON

Penggunaan lahan pada lokasi perancangan yang berada di Kelurahan Kranggan, Kecamatan Semarang Tengah adalah perdagangan dan jasa, permukiman, dan sarana pendidikan. Dari peta tata guna lahan di atas, hampir seluruh kawasan digunakan untuk perdagangan dan jasa. Namun kawasan ini tidak memiliki open space yang dapat menngurangi terjadinya bahaya banjir.

Berdasarkan kondisi eksisting, maka rencana penggunaan lahan dibagi menjadi 4 zona utama, yaitu: Ruang terbuka non hijau (warna abu abu) Perkantoran (Biru) Zona permukiman (warna Orange) Perdagangan dan jasa (merah).  Ruang terbuka non hijau yang direncanakan adalah plaza kawasan pecinan yang disertai langgam arsitektural budaya cina dengan yinyang ditengah taman dengan panggung dan dikelilingi oleh vegetasi, di dalam plasa tersebut juga terdapat kolam ikan untuk menghibur pada pengunjung yang datang.  Perkantoran yang terdapat direncanakan tidak terjadi pertambahan dan pengurangan karena kawasan pecinan merupakan kawasan cagar budaya yang tidak bisa diubah dan diruntuhkan.  Zona permukiman kawasan pecinan juga tidak dapat di ubah dan diruntuhkan karena bangunan rumah tersebut termasuk ciri khas kampung cina.  Perdagangan dan jasa kawasan pecinan masih sama dengan kondisi eksisting. Hal ini mempertimbangkan kondisi konservasi wilayah perancangan sehingga tidak banyak dilakukan perubahan dalam alokasi penggunaan lahannya.

Sumber: Analisis Kelompok 2A, 2014

5.8.2

Bentuk dan Massa Bangunan (Building Form and Massing) Tabel V.23 Bentuk dan Massa Bangunan

DATA

RESPON Pada konsep perancangan untuk bentuk dan massa bangunan masih akan berpatok pada kondisi eksisting, hal ini dikarenakan sifat bentuk dan massa bangunan di kawasan ini mempunyai ciri tersendiri yang harus dipertahankan. Sehingga KDB di wilayah perancangan akan tetap menggunakan 100% dengan ketingggian 8 – 2 meter dan jarak antar bangunan 0 m karena dikawasan Pecinan Semarang bangunannya saling berdempetan. Hanya saja antar blok bangunan masih akan dipisahkan oleh jalan yang ada di kawasan perancangan.

77


Mayoritas ketinggian bangunan di wilayah studi antara 8 – 10 meter (2 lantai). Jarak antara satu bangunan dengan bangunan lainnya sangat dekat. Bentuk permukiman yang terdapat pada lokasi perencanaan merupakan hunian berupa ruko (rumah toko) sederhana yang kental dengan ciri bangunan khas tionghoa. Namun tidak sedikit bangunan yang sudah mengalami modifikasi menjadi rumah dengan gaya masa kini. Sumber: Analisis Kelompok 2A, 2014

Sumber : Hasil analisis kelompok 2A, 2014

Gambar 5.5 Kondisi Eksisting Bentuk dan Massa Bangunan

78


Sumber: Hasil rancangan kelompok 2A, 2014

Gambar 5.6 Rencana Bentuk dan Massa Bangunan

Sumber: Hasil rancangan kelompok 2A, 2014

Gambar 5.7 Skyline Kawasan Perancangan Pecinan

79


5.8.3 Sirkulasi dan Parkir (Circulation and Parking) Tabel V.24 Sirkulasi dan Parkir

DATA

RESPON

1

Kawasan Parkir Bangunan Sirkulasi

Jalan lokal di lokasi perancangan memiliki lebar sekitar 3 meter dengan perkerasan aspal. Jalan lokal memiliki lebar 2 meter dengan perkerasan paving dan aspal. Pada lokasi perancangan, sudah terdapat jalur khusus untuk pejalan kaki namun belum terdapat tempat transit angkutan umum di sepanjang jaringan jalan/jalur sirkulasi. Pada kondisi eksisting tidak terdapat tempat parkir baik untuk kendaraan pribadi ataupun kendaraan umum sehingga tidak sesuai jika dijadikan kawasan wisata berbasis heritage. Pada wilayah studi bahu jalan digunakan sebagai tempat parkir kendaraan yang berkunjung ke lokasi perancangan. Sumber: Analisis Kelompok 2A, 2014

80

Keberadaan ruang parkir khusus, baik itu parkir on street ataupun off street sangat dibutuhkan di lokasi perancangan ini. Pada perencanaannya di lokasi perancangan ini akan dialokasikan parkir umum yang dekat dengan pusat perdagangan dan jasa dengan tipe parkir on street. Sirkulasi yang digunakan pada rencana sama dengan sirkulasi pada kondisi eksisting karena jalan yang berada di Pecinan kecil dan jika dilalui 2 arah akan menambah beban jalan dan tidak dapat dilakukan pelebaran jalan karena Pecinan merupakan Kawasan Cagar Budaya. Lokasi yang akan dikembangkan sebagai on street parking area.


5.8.4 Ruang Terbuka (Open Space) Tabel V.25 Ruang Terbuka

DATA

RESPON

Pada lokasi perancangan tidak dapat ditemukan open space berupa ruang terbuka hijau maupun ruang terbuka non hijau, dikarenakan 100% dari luas lokasi perancangan merupakan area terbangun. Saat ini, lokasi perancangan didominasi oleh bangunan ruko dan tempat ibadah khas Tionghoa. Zona terbangun

Pada perancangannya, ruang terbuka non hijau akan dijadikan open space baik itu berupa sitting area disepanjang gang warung maupun ruang terbuka di tengah kawasan dan di halaman klenteng yang selain memiliki fungsi sebagai sirkulasi udara juga merupakan tempat rekreasi penduduk. Area yang akan dibangun plasa Area yang akan diberi pergola

Sumber: Analisis Kelompok 2A, 2014

5.8.5 Jalur Pejalan Kaki (Pedestrian Ways) Tabel V.26 Jalur Pejalan Kaki

DATA

RESPON

81


DATA

RESPON Jalur Pejalan Kaki Bangunan

Pedestrian pada lokasi perancangan belum cukup baik, ruas jalan tidak dibatasi oleh saluran air dan jalur yang dikhususkan bagi pejalan kaki. Pedestrian hanya terdapat disepanjang Jalan Gang Warung namun belum berfungsi secara optimal karena sering digunakan sebagai tempat parkir kendaraan.

Pada peta di atas, area yang berwarna abu-abu akan dikembangkan pedestrian ways seperti gambar disamping. Dengan pembuatan pedestrian ways yang menarik, aman, nyaman dan juga ditambah banyaknya street furniture seperti pepohonan di pinggir jalan akan menarik masyarakat untuk lebih memilih berjalan kaki daripada menggunakan kendaraan bermotor untuk jarak dekat. Fungsi lainnya dari pedestrian ways ini juga dapat menekan penggunaan kendaraan bermotor yang dapat menimbulkan polusi di kawasan heritage ini.

Sumber: Analisis Kelompok 2A, 2014

5.8.6 Aktivitas Pendukung (Activity Support) Tabel V.27 Aktivitas Pendukung

DATA

RESPON

Terdapat aktivitas pendukung seperti aktivitas perdagangan dan jasa serta sarana peribadatan yang mewadahi masyarakat tionghoa untuk beribadat. Lokasi Perancangan merupakan salah satu lokasi strategis untuk dijadikan sebagi kawasan perdagangan di Kota Semarang dengan arsitekturnya yang khas, cocok dikembangkan sebagai lokasi wisata.

Perancangan wilayah studi untuk pendukung aktivitas, seperti contohnya aktivitas perdagangan dan jasa serta fasilitas pendukungnya akan dijadikan dalam satu zona. Waroeng Semawis akan tetap dipertahankan dengan penataan yang lebih baik dan menarik. Dan akan dikembangkan Heritage Center sebagai pusat sejarah kawasan. PKL akan diberikan

82


DATA

RESPON

Kawasan PKL dan Waroeng Semawis merupakan khas dari Kawasan Pecinan dan dapat menarik perhatian wisatawan untuk

ruang khusus untuk berdagang, para pedagang akan diletakkan pada titik-titik potensial paling sering dikunjungi masyarakat yaitu pada sekitar klenteng dan Museum Heritage Center. Selain itu, akan dibuat sebuah citywalk yang memanfaatkan jalan yang cukup lebar sehingga citywalk ini bisa cenderung ramai dilewati pengunjung serta disekitarnya terdapat banyak aktivitas perdagangan seperti PKL dan hiburan oleh para seniman jalanan

datang. Sumber: Analisis Kelompok 2A, 2014

5.8.7 Penanda (Signage) Tabel V.28 Penanda

DATA

RESPON

Penanda jalan yang terdapat di wilayah studi hanya berupa nama jalan, tetapi tidak terdapat petunjuk arah jalan. Jalan utama yang terdapat di wilayah studi pun tidak memiliki rambu lalu lintas. Beberapa penanda komersial seperti baliho, spanduk, papan iklan perumahan, maupun papan nama toko dapat ditemui di sepanjang jalan utama, namun jumlahnya masih terbilang sedikit. Menurut hasil pengamatan, pada wilayah studi tidak terdapat penanda jalan satu arah sehingga menyebabkan akses yang sulit bagi para pengunjung yang datang. Sumber: Analisis Kelompok 2A, 2014

83

Di lokasi perancangan, setiap sudut akan diberi penunjuk jalan. Fungsinya agar orang yang melewati jalan tersebut mengetahui kemana arah tujuan mereka. Hal tersebut juga memudahkan orang-orang pendatang atau hanya lewat daerah tersebut. Selain itu juga pengaturan pemasangan spanduk, baliho, papan iklan, dan papan nama toko agar mudah diketahui oleh masyarakat dan dilakukan penataan agar tidak mengganggu fungsi utama jalan.


Sumber : Hasil analisis 2A, 2014

Gambar 5.8 Rencana Titik Signage di Kawasan Perancangan Pecinan

5.8.8 Preservasi (Preservation) Tabel V.29 Preservasi

DATA

RESPON

84


Lokasi klenteng Bangunan preservasi Lokasi perancangan masuk dalam daftar kawasan revitalisasi melalui Surat Keputusan (SK) Wali Kota No 650/157 tanggal 28 Juni 2005 yang mengatur tentang Revitalisasi Kawasan Pecinan, dan sekaligus sebagai pusat wisata budaya Tionghoa di Kota Semarang. Selain itu didukung pula dengan adanya Undang-undang Cagar Budaya No 5/1992 yang menyatakan bahwa bangunan bersejarah yang telah berumur lebih dari 50 tahun dilindungi dan dijadikan cagar budaya sehingga dibutuhkan pemeliharaan dan perlindungan terhadap kawasan tersebut. Segala bangunan yang terdapat di pecinan merupakan bangunan preservasi dan dilarang untuk dibongkar atau diubah bentuknya.

sebagai salah satu kawasan bersejarah dan kawasan wisata di Kota Semarang, pada lokasi perancangan akan disediakan Museum sebagai tempat peninggalan sejarah Pecinan dan dilakukan kebijakan-kebijakan untuk memelihara agar keberadaan klenteng dan tradisi warung semawis serta pasar semawis tetap terjaga. Gambar disamping merupakan salah satu klenteng yang ada di Gang Besen Pecinan Semarang. Dapat dilihat dalam peta di atas warna hitam menunjukan bangunan yang dipreservasi karena merupakan khas budaya cina di Kawasan Pecinan.

Sumber: Analisis Kelompok 2A, 2014

5.9

Analisis Elemen Citra Kota

5.9.1 Path Tabel V.30 Path

Data

Respon Jaringan jalan yang akan direncanakan secara garis besar sama, tetapi akan ditambah jaringan jalan baru. Jalan Gang Waroeng akan dipertahankan karena digunakan untuk perdangan dan jasa.

Path adalah jalur atau lintasan yang berada di Kawasan Pecinan. Foto di atas adalah foto jalanan di Gang Waroeng. Sumber: Analisis Kelompok 2A, 2014

85


5.9.2 Nodes Tabel V.31 Nodes

Data

Respon Nodes yang merupakan persimpangan jalan di Kawasan Pecinan akan di pertahankan karena berada di Main Entrance Pecinan dan merupakan khas dari Kawasan Pecinan. 1. Gerbang Pecinan merupakan salah satu nodes dari Jalan Wahid Hasyim, Jalan Gang Warung, Jalan Besen dan jalan dari arah Pasar Johar. 2. Nodes anatar Jalan Beteng dan Jalan Wotgandul. 3. Patung kepala kuda (depan Klenteng) merupakan nodes antara Jalan Wotgandul, Jalan Gang Gambiran dan dari Jembatan Kebon Dalem. 4. Nodes anatar Jalan Gang Pinggir dengan jalan ke arah Jagalan (dekat dengan Klenteng).

2

1

5

4 3

Nodes di jalan-jalan utama Sumber: Analisis Kelompok 2A, 2014

5.9.3 Edges Tabel V.32 Edges

Data

Respon Edges adalah batasan dari suatu wilayah dapat berbentuk jaringan jalan maupun garis batas seperti trotoar ataupun median jalan. Edges yang digunakan dianalisis ini berbentuk jaringan jalan. Edges yang direncanakan tidak berbeda dengan bentuk aslinya karena akan tetap mempertahankan bentuk asli dari kawasan pecinan.

Sumber: Analisis Kelompok 2A, 2014

86


5.9.4 Landmark Tabel V.33 Landmark

Data

Respon Tema yang dipakai adalah heritage smart city. Maka landmark yang berupa klenteng akan dipertahankan karena memiliki nilai budaya dalam kawasan Pecinan.

Kawasan pecinan identik dengan penduduk etnis Tionghoa dan pasti terdapat tempat ibadah agama Kong Hu Chu yaitu klenteng yang dapat dijadikan landmark kawasan pecinan. Salah satu dari ketiga Klenteng di Pecinan adalah Klenteng hok bio yang ada di Gang Cilik.

Gerbang Pecinan juga menjadi landmark kawasan Pecinan itu sendiri. Selain terdapat tulisan “Pecinana Semarang�, gerbang Pecinan sangat berarsitektur Cina pada bagian atasnya. Terdapat tulisan dengan huruf Cina, ornamen naga, serta banyak nuaansa merah-emas khas Etnis Tionghoa.

Sumber: Analisis Kelompok 2A, 2014

5.9.5 Distric Tabel V.34 Distric

Data

Respon

Kawasan Waroeng Semawis Kawasan Waroeng Semawis menjadi salah satu elemen citra kota yaitu district karena memiliki fungsi yang berbeda dari daerah sekitarnya.

Kawasan Pecinan sangat terkenal dengan waroeng semawis yang merupakan salah satu daya tarik masyarakat untuk datang ke daerah Pecinan. Waroeng semawis juga adalah semacam event mingguan yang hanya ada pada tiap akhir pekan. Merupakan pusat street food pada malam hari, yang berisi jajanan, makanan jalanan dan penjualan aksesoris. Waroeng semawis memiliki nilai budaya Etnis Tionghoa yang kuat maka cocok untuk dipertahankan sesuai dengan tema yang diambil yaitu heritage smart cities.

Sumber: Analisis Kelompok 2A, 2014

87


5.10 Analisis Elemen Estetika 5.10.1 Proporsi dan Skala Tabel V.35 Proporsi dan Skala

Data

Respon

Pada perancangan nantinya, kawasan ini akan dihidupkan ruang terbuka hijau berupa tanaman rambat pada pergola dan dinding-dinding bangunan, sehingga bisa mengurangi kesan panas dan kering pada wilayah ini, selain itu juga akan dibuat sebuah lahan parkir komunal untuk menyeimbangkan lahan non terbangun terhadap lahan terbangun. Ditemukan bahwa di kawasan Pecinan memiliki proporsi yang tidak seimbang dalam pengembangan kawasannya, hampir tidak ada RTH dan didominasi oleh building coverage di wilayah studi ini meskipun letaknya dekat dengan sungai.

Sumber: Analisis Kelompok 2A, 2014

5.10.2 Sumbu Tabel V.36 Sumbu

Data

Respon Pada perancangan nantinya sumbu-sumbu ini akan ditingkatkan lagi aktivitasnya dan meminimalisir adanya kemacetan jalan akibat parkir sembarangan dengan memberikan penanda-penanda jalan. Foto di samping merupakan sumbu Jlana Beteng.

Pada wilayah studi ini, gang Beteng dan Wotgandul berperan sebagai sumbu-sumbu lokasi perancangan. Sumber: Analisis Kelompok 2A, 2014

88


5.10.3 Hierarki Tabel V.37 Hierarki

Data

Respon

Bangunan-bangunan pada kawasan pecinan ini memiliki tinggi bangunan yang sama dan seimbang karena beberapa bangunan dimanfaatkan sebagai ruko.

Pada perancangan nantinya hirarki bangunan akan tetap mempertahankan bentuk dan ketinggian bangunan yang sudah seimbang.

Sumber: Analisis Kelompok 2A, 2014

5.10.4 Irama Tabel V.38 Irama

Data

Respon

Irama pada wilayah studi ini berupa penataan tiang listrik pada pinggir jalan.

Pada perancangan nantinya akan ditambahkan lampu-lampu jalan yang memiliki irama yang sama dengan menggunakan panel surya, selain itu akan diarahkan juga irama berupa lampu jalan yang bernuansa pecinan.

Sumber: Analisis Kelompok 2A, 2014

5.10.5 Konteks dan Kontras Tabel V.39 Konteks dan Kontras

Data

Respon

Aspek konteks pada wilayah studi adalah adanya

Kedua aspek ini nantinya akan tetap dipertahankan

89


Data

Respon

bangunan-bangunan bernilai budaya tionghoa yang masih beroperasi sampai sekarang namun penataan kawasannya masih kurang maksimal. Sedangkan aspek kontras pada wilayah studi ini ditunjukkan oleh keberadaan beberapa bentuk bangunan klenteng terhadap bangunan-bangunan disekitarnya.

dan akan dilestarikan bangunan-bangunan yang memiliki nilai budaya dan sebagai titik wisata kebudayaan nantinya.

Sumber: Analisis Kelompok 2A, 2014

90


BAB VI URBAN GUIDELINES (UDGL)

6.1

Siteplan

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2A, 2014

Gambar 6.1 Siteplan Kawasan Pecinan Semarang

91


6.2

UDGL Peruntukan Kawasan dan Pengaturan Aktivitas di Lokasi Perancangan Tabel VI. 1 UDGL Peruntukan Kawasan dan Pengaturan Aktivitas di Lokasi Perencanaan Fungsi Aktivitas

Desain Guide Line Performance

Fungsi utama, penunjang dan pelayanan

Fungsi Penunjang dan Utama

Prescription Zona 1 : terdiri dari fungsi utama yaitu fungsi hunian berupa rumah tunggal, fungsi komersil berupa ruko, pos polisi, kawasan parkir on street.

Zona 2 : Terdiri dari kawasan hunian, komersil, plasa, heritage center dan peribadatan berupa klenteng.

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2A, 2014

92

Keterangan


6.2.1 UDGL Peruntukan Fungsi Utama Tabel VI. 2 UDGL Peruntukan Fungsi Utama Fungsi Utama Fungsi Aktifitas Kawasan Perumahan :  Rumah tunggal 1 lantai  Rumah 2 lantai  Rumah 3 lantai

Desain Guideline Performance Jenis rumah tunggal yang di kawasan perancangan dialokasikan di sekitar gang gambiran, gang baroe, gang belakang dan gang mangkok

Prescription  Rumah tunggal 1 lantai di kawasan perancangan harus memiliki luas maksimal 90 m2 dengan ornamen tambahan yang mempertahankan ciri khas etnis Tiong Hoa seperti pintu/atap/bentuk rumah/warna  Rumah tunggal 2 lantai di kawasan perancangan harus memiliki luas lantai dasar maksimal 145 m2 dengan tinggi maksimal 6 meter , dengan ornamen tambahan yang mempertahankan ciri khas etnis Tiong Hoa seperti pintu/atap/bentuk rumah/warna  Rumah tunggal 3 lantai di kawasan perancangan harus memiliki luas lantai dasar maksimal 145 m2 dengan tinggi maksimal 10 meter , dengan ornamen tambahan yang mempertahankan ciri khas etnis Tiong Hoa seperti pintu/atap/bentuk

93

Keterangan


Fungsi Utama Fungsi Aktifitas

Desain Guideline Performance

Prescription rumah/warna  KDB untuk kawasan hunian adalah 90%, karena kondisi eksisting kawasan perancangan sudah mencapai 100% maka di setiap rumah harus menyediakan Rack Planting atau RTH privat lainnnya untuk memenuhi kebutuhan RTH setiap rumah.

Keterangan

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2A, 2014

6.2.2 UDGL Fungsi Penunjang Tabel VI. 3 UDGL Peruntukan Fungsi Penunjang Fungsi Penunjang Fungsi Aktifitas

Desain Guideline Performance

Keterangan

Prescription

94


Fungsi Penunjang Fungsi Aktifitas

Desain Guideline Performance

Kawasan Perdagangan :  Pasar Baru  Ruko  PKL Waroeng Semawis

Keterangan

Prescription 1. Pasar gang baru akan tetap dipertahankan sebagai pasar tradisional dengan penataan kios tradisional yang diperbaiki. Dialokasikan di sepanjang gang baroe.

2. Ruko, kawasan ruko terdiri dari rumah-rumah 2-3 lantai dengan ketinggian maksimal 10 m. Dialokasikan di sepanjang Jalan Gang Beteng, Jalan Gang Waroeng dan Jalan Gang Pinggir. Bangunan harus memiliki ciri khas bangunan khas Tiong Hoa seperti pintu/ atap/ bentuk rumah atau warna

95


Fungsi Penunjang Fungsi Aktifitas

Desain Guideline Performance

Keterangan

Prescription 3. Penataan Waroeng Semawis akan tetap dialokasikan di Gang Waroeng dengan penempatan stand-stand non permanen (karena kebutuhan Waroeng Semawis hanya saat week end) sejumlah 114 stand dengan luasan kavling stand masing-masing 2,5 m x 2,5 m

Heritage Center

Herritage Center merupakan sebuah bangunan museum yang menjadi merupakan salah satu cara mengenalkan sejarah serta keunikan Kawasan Pecinan Kota Semarang.

 Herritage Center Museum diletakan di Jalan Gang Gambiran dengan luasan 593 m2 .  Terdiri dari 2 lantai, dengan bangunan berciri khas etnis Tiong Hoa dari atap, gerbang, warna, serta ornamen lainnya.

96


Fungsi Penunjang Fungsi Aktifitas

Desain Guideline

Keterangan

Performance

Prescription

Sarana Peribadatan (Klenteng)

Sarana peribadatan yang ada di kawasan perancangan adalah klenteng yang digunakan sebagai kebutuhan peribadatan dan budaya kaum TiongHoa di Kota Semarang.

Terdapat 3 klenteng dengan luasan masing-masing 66m2 yaitu klenteng yang ada di Jalan Gang Besen , 291 m2yaitu Klenteng Hoo Hok Bio yang ada di Gang Cilik dan 388 m2 yaitu Klenteng yang ada di Ujung Jalan Gang Gambiran.

Plasa

Di lokasi perancan terdapat bangunan yang sudah hancur dengan tingkat kehancuran mencapai 80%, bangunan ini akan dialokasikan untuk dibangun plasa sebagai ruang terbuka yang saat ini tidak terdapat di lokasi perancangan.

Plasa akan terletak di Jalan Gang Gambiran dengan luasan 480 m2. Di tengah-tengah plasa akan dibuat pola Yin-Yang yang identik dengan Cina. Selain itu akan dibuat mimbar, kolam buatan, serta akan ditanamani tanaman seperti bambo hias (identic dengan negeri Cina), serta tanaman bunga.

97


Fungsi Penunjang Fungsi Aktifitas

Desain Guideline Performance

Keterangan

Prescription

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2A, 2014

6.2.3 UDGL Fungsi Pelayanan Tabel VI. 4 UDGL Peruntukan Fungsi Pelayanan Fungsi Pelayanan Fungsi Aktifitas

Desain Guideline Performance

Keterangan

Prescription

98


Fungsi Pelayanan Fungsi Aktifitas Parkir on street

Desain Guideline Performance Jalan Beteng akan dialokasikan sebagai titik parkir on street bagi kawasan perancangan, hal ini dikarenakan keterbatasan lahan di kawasan perancangan untuk menyediakan parkir of street

Keterangan

Prescription Pola parkir terdiki dari 151 blok parkir dengan ukuran masing-masing blok adalah 2,5 m x 3 m

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2A, 2014

99


6.3

UDGL Stret and Plaza Furniture Tabel VI. 5 UDGL Stret and Plaza Furniture Stret and Plaza Furniture Lampu Jalan

Sugnage

Desain Guideline Keterangan

Performance

Prescription

Berfungsi sebagai penerang jalan ketika malam hari.

Diletakkan disepanjang jalan yang ada di kawasan pecinan Semarang Memiliki ketinggian 3m dan jarak antar lampu 20 m.

Berfungsi sebagai papan petunjuk jalan dan papan reklame.

Papan petunjuk jalan memiliki tinggi 3 m, dan diletakkan di beberapa persimpangan jalan, khususnya jalan-jalan utama kawasan Pecinan Semarang.

100


Stret and Plaza Furniture Tempat Sampah

Pergola

Desain Guideline Performance

Keterangan

Prescription

Terdapat dari 2 tempat sampah, yaitu tempat sampah organic dan anorganik.

Tempat sampah diletakkan di tempat yang sering dilwati dan banyak orang berkumpul.

Berfungsi sebagai tempat rambat tanaman, untuk memenuhi kebutuhan RTH yang sangat minim.

Terbuat dari besi, memiliki tinggi 3 meter. Diletakkan di sepanjang jalan-jalan utama di Kawasan Pecinan (Jalan Beteng dan Jalan Gang Warung. Tanaman rambatnya diantaranya adalah, Bohemia, Pandorea, Ceguk/wundani, Alamanda, Melati, Bugenvil, Singonium dan Daun pilo.

101


Stret and Plaza Furniture Kursi Taman

Desain Guideline Keterangan

Performance

Prescription

Berfungsi sebagai tempat duduk dan istirahat di plasa yang ada di Kawasan Pecinan.

Kursi taman memiliki panjang 1,5 m. Berwarna merah dipadukan dengan emas. Diletakkan di setiap sudut taman, di bawah pergola agar tidak panas.

Gazebo Plaza dan Heritage Center

Sebagai beristirahat.

tempat

Di tempatkan di plasa dan halaman heritage center. Gazebo dibuat dengan gaya gazebo yang ada di Cina pada umumnya.

Rak Planting

Merupakan tempat merambatnya tanaman untuk wall garden, sebagai pengganti RTH yang tidak dapat dibuat di kawasan perancangan.

Diletakkan pada permukaan luar dinding bangunan yang ada di Pecinan. Tanaman yang akan digunakan adalah Dolar plant, Ivy (Hedera helix), peperomia, scindapsus dan sirih.

102


Stret and Plaza Furniture Jembatan dan Kolam Buatan

Desain Guideline Keterangan

Performance

Prescription

Untuk menambah estetika, dapat digunakan untuk bermain dan menambah kesan Cina dari kawasan pecinan itu sendiri.

Diletakkan di salah satu pojok plasa. Bentuk jembatan melengkung dihiasi ornament berwarna merah. Di ujung pegangan jembatan terdapat lampu taman yang bergayakan khas Tionghoa. Di bawah jembatan terdapat kolam ikan kecil. Berbentuk seperti gapura namun ada atapnnya, agar dapat dimanfaatkan untuk meneduh. Tingginya 4 m. Memiliki lebar 3 m. Terbuat dari besi agar tidak mudah lapuk jika terkena panas dan hujan, serta berwarna merah. Berada di persimpangan Jalan Wahid Hasyim, Jalan Gang Warun dan Jalan Beteng. Memiliki tinggi sekitar 6 m dan panjang kirakira 10 m.

Gerbang Plasa

Menambah estetika dan sebagai ornament untuk menambah nuansa Cina pada Plasa.

Gerbang Pecinan dan Tugu Pecinan

Sebagai landmark Pecianan.

103


Stret and Plaza Furniture Gazebo di Waroeng Semawis

Lampion

Desain Guideline Keterangan

Performance

Prescription

Merupakan tempat untuk menikmati jajanan saat Waroeng Semawis di malam hari.

Diletakkan di sepanjang Jalan Gang Waroeng. Diameter meja adalah 1 m. Setiap peletakkan meja diberi jarak 1 m. Diberi payung, agar saat hujan tidak terkena air hujan.

Ornamen yang umum terdapat pada kawasan Chinatown, serta menguatkan nuansa Cina pada kawasan.

Berbentuk bulat, berwarna merah dengn tulisan huruf Cina yang memakai tinta emas atau hitam. Lampionlampion tersebut digantung di setiap sudut kawasan pecinan, seperti ujung-ujung atap bangunan, di pintu masuk bangunan, pada klentneg.

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2A, 2014

104


Chinatown Smart Heritage City  

Merupakan buku perencanaan yang merancang tatanan Kota Lama Semarang

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you