Page 1

EDISI 01/2014 | FREE!

MENDADAKJALAN www.mendadakjalan.com

PP Jakarta-Tanah Flores 14 Hari Hanya Rp5 Juta-an!


Danau kelimutu pada pagi hari.

Dari kami P

uji Tuhan, mimpi yang tertunda akhirnya bisa diwujudkan lewat perjalanan gila selama 14 hari dari Jakarta menuju Tanah Flores. Banyak cerita seru, keberuntungan beruntun, dan pesan moral yang yang mewarnai perjalanan ini. Siapa sangka pintu menuju mimpi lainnya terbuka. Bermula dari obrolan ringan bersama sahabat lama, Cang Ahmad dan Jane, cerita perjalanan gila ini bisa menjadi suatu informasi perjalanan yang menarik untuk dibagi. Membuahkan sebuah nama Mendadak Jalan, e-magz perjalanan yang diharapkan bisa berkembang menjadi komunitas bagi para pekerja yang doyan traveling. Kami, Moonstar Simanjuntak (Fotografer dan pelaku perjalanan), Cang Ahmad (Creative & Craphic Design ), Jane

2

mendadakjalan.com/01/2014

(Editor) merasa senang bisa membagi catatan perjalanan gila ini. Di balik itu, kami masih perlu banyak perbaikan. Maka itu kami harapkan kritik dan saran lewat email kami. Kami berharap dokumentasi perjalanan ini bisa menginspirasi para pekerja lain

Perjalanan Murah 14 Hari Berkelana dari Jakarta Hingga Tanah Flores, Hanya Rp5 Juta-an!

yang ingin sejenak melupakan kesibukan dan mengejar sisi lain dari sebuah kehidupan. Mungkin perjalanan sempurna itu tidak akan pernah ada tapi perjalanan nyaris sempurna itu ada dan bisa diwujudkan! Selamat traveling!

Traveler & Fotografer: Moonstar Simanjuntak Editor: Dorris Jane Nainggolan

P

erjalanan panjang pertama saya bermula dari ketertarikan akan keindahan laut Flores yang terpampang di instagram seorang sahabat. Ditambah menjelang libur lebaran, saya yang tidak merayakannya butuh sebuah aktivitas untuk mengisi liburan panjang. Berkelana sampai sisi lain Indonesia pastilah seru buat dilakukan. Melalui pesan singkat, saya bertanya pada Si Teman kira-kira berapa banyak biaya yang dibutuhkan

dalam perajalannya di Flores. “Mahal!” adalah kata pertama yang ia ucapkan. Bayangkan saja, sembilan hari memakan biaya hampir Rp10 Juta. Wah, bisa tidak makan berbulan-bulan, pikir saya. Sedikit ciut jadinya! Berhubung dikaruniai optimisme (baca : kadar kenekatan) yang lebih tinggi dari umumnya orang, maka saya putuskan untuk mencari jalan lain. Pokoknya bagaimana pun caranya saya harus menginjakkan kaki di Flores,

terutama mengunjungi Pulau Komodo dan Danau Kelimutu. Sebulan sebelum memutuskan berangkat, pencarian informasi dimulai. Bahkan pencarian dilakukan di sela-sela bekerja –saya adalah seorang lelaki single (bukan jomblo) yang berprofesi sebagai fotografer di sebuah media di Jakarta. Hampir setiap hari saya mencari biaya perjalanan paling murah yang pas dengan dompet. Dari situs lokal hingga luar –maklum kemampuan bahasa Inggris saya agak payah—dilahap dan dicatat. Setiap hari, pasti mencari tiket pesawat murah yang bisa mengantarkan perjalanan awal, dari Jakarta ke Bali. Setelah dihitung-hitung, ternyata Rp5 Juta-an saja sudah bisa mewujudkan mimpi perjalanan saya ini. Tanpa di duga, bukan 10 hari melainkan 14 hari perjalanan! Agak, ragu sih awalnya, takut kalau-kalau perincian meleset dan ternyata pernyataan Si Kawan benar. Ah, tapi apa pun ketakutan di benak saya, SAYA TETAP INGIN MENGINJAKKAN KAKI DI TANAH FLORES! Jadi, beginilah cerita perjalanan gila saya selama 14 hari menuju Tanah Flores : mendadakjalan.com/01/2014

3


S

emua dimulai di tanggal 24 Juli 2014. ‘Izin tembak’ ke Si Boss mulus karena saya berdalih pergi ke Lombok untuk mengetes kamera Olympus Underwater Tough dan OMD-M-1 hasil pinjaman. Pukul 14.00 saya melaju dengan motor pribadi dari Kelapa Gading menuju Kebon Jeruk, menitipkan motor dan pinjam tenda plus sleeping bag dengan kawan lama. Pikiran saya, pahit-pahitnya masih bisa tidur (agak) nyaman dengan sleeping bag kalau uang menipis selama perjalanan gila ini. Dari kostan Si Kawan, saya menuju Terminal 1A Bandara Soekarno-Hatta

4

mendadakjalan.com/01/2014

Hari ke-1

Salah Masuk Terminal! Saya dan sahabat dari Bali, Putu Ayu

menggunakan taksi. Sampai di sana, saya salah tempat, Hahaha! Ternyata penerbangan maskapai Lion Air Jakarta-Bali dari Terminal 3. Duh, bodoh sekali rasanya! Deg-degan ketinggalan pesawat, saya langsung gesit mencari bis bandara –berwarna kuning dan GRATIS—menuju terminal yang benar. Akhirnya…saya sampai di Bali pukul 21.00 waktu setempat. Dijemput pula dengan seorang perempuan eksotik bernama I Gusti Ayu Wiyani, salah satu kenalan seorang sahabat –penting buat punya teman atau temannya teman atau temannya teman teman!. Berat hubungan baik dengan Ayu, saya dijamu makanan malam GRATIS dan penginapan di ruang tamu. Cukup nyaman bukan dibanding tidur di pinggir jalan? Intinya, biaya sehari selama di Bali AMAN!

Kapal feri penyeberangan Bali- Lombok

Hari ke-2

Pengalaman Seru Seberangi Lautan Berkali-kali D

emi bisa mengejar biaya murah menggunakan bis, saya rela bangun lebih pagi! Sekitar pukul 5.30 WITA saya sudah menuju terminal Ubung Bali. Dari sinilah perjalanan laut yang rumit dimulai! Pertama, saya naik bis eksekutif seharga Rp600 Ribu dari Ubung Bali yang menyeberang menggunakan kapal menuju Pelabuhan Lembar, Lombok. Perjalanannya memakan waktu sekitar 5 jam, cukuplah mengeruk informasi dan menambah kenalan dari sesama penumpang kapal.

Sesampai di Pelabuhan Lembar, Lombok perjalanan berlanjut ke Terminal Lombok Mahadika. Di sana penumpang di kasih waktu istirahat cukup lama, lagilagi saya pergunakan untuk mencari informasi. Jangan sedih, perjalanan laut masih panjang! Bis saya melaju ke Pelabuhan Kayangan, yang terletak di Timur Lombok, dan lagi-lagi bis menyeberang pulau menggunakan kapal menuju Pelabuhan Sumbawa. Masih menggunakan bis yang sama,

saya lanjutkan perjalanan panjang menuju Pulau Bima dan sampai keesokan harinya. Dalam perjalanan ini wajib bawa perbekalan minuman dan makanan yang cukup karena hanya disediakan makanan seadanya (baca : telur dan tempe). Kalau dapat teman sebangku yang seru, bisa juga diajak mengobrol buat ngorekngorek informasi tempat tujuan. Menurut saya lebih efektif mengobrol langsung dengan orang lain untuk mendapatkan informasi yang detail.

mendadakjalan.com/01/2014

5


Pelabuhan Sape di kala senja

Kapal feri penyeberangan Sape-Flores.

Hari ke-3

Jaga Tiket Seperti Barang Berharga! S

aya sampai ke Terminal Bima pukul 08.00 pagi. Dari sini penumpang dipindahkan menuju bis lebih kecil menuju Pelabuhan Sape. Informasi sedikit, penting buat menjaga tiket yang sudah dibayar pasalnya kamu perlu menunjukkan tiket tadi buat bisa naik ke bis kecil, kalau hilang siap-siap mengeluarkan kocek lebih! Perjalanan dari Terminal Bima— menggunakan bis kecil—menuju

6

mendadakjalan.com/01/2014

Pelabuhan Sape awalnya saya rencanakan hanya memakan waktu sejam. Kenapa? Karena menurut informasi yang didapat dari internet, kapal feri dari Pelabuhan Sape menuju Labuan Bajo, Flores hanya ada satu kali perjalanan saja, tepatnya di pukul 09:00 pagi. Melihat waktu sih, hampir mustahil bisa sampai Pelabuhan Sape dalam waktu sejam! Tampaknya baru bisa duduk manis di atas feri esok hari. Wah, perjalanan bisa runyam dan tujuan terakhir saya ingin

melihat keindahan Danau Kelimutu pupus pikir saya. Apa boleh buat, pasrah saja! Beruntung Si Petugas Bis bilang kalau ternyata ada kapal feri sore menuju Labuhan Bajo. Lega rasanya! Saya pun punya sedikit waktu untuk bersantai (baca: mandi di Terminal Bima karena dua hari nggak mandi). Singkat cerita, bis kecil yang ditumpangi tiba pukul 13.00 di Pelabuhan Sape. Catatan penting, karena kurangnya informasi saya harus mengeluarkan kocek sekitar Rp54 Ribu untuk sampai Labuhan Bajo karenya ternyata tiket saya hanya sampai Pelabuhan Sape. Sebenarnya ada tiket dari Bali yang bisa langsung menuju Pulau Bajo, Flores. Kamu mungkin bisa lebih jeli menanyakannya di perjalanan nanti!

Suasana Terminal Bima mendadakjalan.com/01/2014

7


Hari ke-4

Kesulitan yang Berbuah Penginapan dan Makan Gratis. Permainan Caci

8

mendadakjalan.com/01/2014

mendadakjalan.com/01/2014

9


Pemain caci

Permainan Caci

Suasana Kota Ruteng

Salah seorang penjual di pasar tradisional Ruteng

S

Luka cambuk pemain Caci

Para pemain Caci

10

mendadakjalan.com/01/2014

etelah melalui perjalanan darat dan laut yang panjang, tidur tak nyenyak di bis dan mendapat kenalan baru lewat obrolan seru, SAYA AKHIRNYA INJAKKAN KAKI DI FLORES untuk pertama kalinya. Sekitar subuh pukul 03:00, lebih tepatnya. Sedikit nggak percaya, sih, bisa juga tiba di sana. Beberapa saat, saya sempat menikmati kesibukan orang-orang di sekitar labuhan. “Benar, nih, sudah sampai?”, begitu terus yang terlintas di pikiran saya. Agak norak memang. Omong-omong, perjalanan hari pertama ini rencananya ingin saya habiskan di Pulau Komodo. Tapi… salah seorang kenalan baru di bis, Bang Fen, memberikan informasi perjalanan menarik untuk menyaksikan Permainan Adat Caci di Kampung Ngkor, Ruteng. Intinya, permainan adat ini menyuguhkan pertarungan dua lelaki menggunakan cambuk. Semakin penasaran karena Si Teman Baru bilang kalau acara ini sangat langka dilakukan. Jadi, melenceng dari agenda kegiatan cukup sepadan dengan pengalaman yang nanti saya dapatkan, pikir saya saat itu. Selama perjalanan dari Labuhan Lajo ke Ruteng, saya dan Bang Fen menyewa mobil secara patungan dengan harga cukup murah, Rp100 Ribu untuk tiga jam perjalanan. Sampai di Ruteng, kami pun berpisah. Bang Fen, ke rumahnya dan saya menginap di Losmen Bunga –masih

para pemain caci kisaran Ruteng—seharga Rp. 100 Ribu.

Tiap cambukan bernilai! Tak usah berleha-leha panjanglah, langsung saja menuju acara adat yang ditunggu gumam saya dalam hati. Berhubung sewa mobil agak mahal— sehari Rp600 Ribu, saya putuskan untuk naik ojek dengan deal harga Rp100 Ribu

ke Kampung Ngkor! Satu jam perjalanan dengan rute agak rusak termasuk murahlah. Ditambah saya mendapat sahabat baru, Bang Ino, tukang ojek yang siap sedia mengantar dan membukakan pintu rumahnya di hari perjalanan berikutnya. Sampai di sana, acara adat sudah dimulai. Di sinilah pertama kalinya bidikkan foto saya dimulai di Flores. Semua gerak-gerik dua lelaki yang berduel di Adat Permainan Caci saya abadikan mulai dari kostum mereka, ekspresi mereka –senang, kesakitan dan lainnya—sampai luka-luka di tubuh mereka. Permainan ini sungguh sangat lelaki! Usut punya usut, petarung di Permainan Adat Caci ini berasal dari empat kampung berbeda. Setiap orang pastinya ingin menjadi jawara untuk mengharumkan kampung mereka masing-masing. Menariknya, dari informasi penduduk setempat, setiap cambukan punya nilai tersendiri. Poin paling besar didapat kalau Si Petarung berhasil mencambuk daerah muka. Bahkan, menurut cerita yang beredar ada satu petarung yang meninggal akibat terkena cambuk di bola mata! Salutnya setiap petarung TIDAK MEMILIKI DENDAM usai acara adat digelar, meski luka-luka sudah kepalang menoreh di tubuh mereka. Hmm, mendadakjalan.com/01/2014

11


Kesibukan petani di Kampung Ngkor

Pohon kopi

sepertinya semua orang harus bisa meniru sifat sportif ini!

Minum kopi sebagai bentuk kebersamaan

Ditolong penduduk setempat Namanya perjalanan pasti ada saja kendalanya, kan? Saat lagi seru memotret tiba-tiba baterai kamera mati! Nah, dalam kondisi ini nggak perlu bersungut-sungut, sudah paling benar adalah mencari jalan keluar dengan cepat. Dengan niat mencari listrik, saya hilangkan rasa malu dan sungkan menuju sebuah rumah penduduk. Mengetuk pintu dan meminta izin untuk ngecas baterai. Syukur-syukur dibantu! Dan beruntung…saya ditolong! Bahkan dengan ramah lelaki setengah baya bernama Pak Patrisius Joehadun, menawarkan saya tempat menginap secara GRATIS berikut makan di rumah saudara beliau, Pak Alex Mujur. Tanpa berpikir dua kali saya langsung menyambut baik tawaran tadi. Usai baterai terisi cukup, saya berpamitan pada Pak Patrisius dan Pak Alex untuk kembali menghadiri acara permainan adat dan berjanji akan kembali untuk menginap.

Di kintil bocah Kampung Ruteng Seharian di Kampung Ruteng, bukan hanya melihat permainan adat setempat, mengobrol dengan penduduk setempat, sampai dapat tawaran menginap saja. Sore hari, saya dapat pengalaman seru dengan beberapa bocah kampung yang mengintil karena kamera yang saya

12

mendadakjalan.com/01/2014

Kegiatan di pagi hari Senyuman perempuan Kampung Ngkor

bawa menarik perhatian mereka. “Foto dong, om!,” teriak mereka merajuk. Saya yang menyukai anak kecil nggak terlalu bermasalah dengan permintaan mereka. Justru merasa sangat gembira! Saya dan bocah-bocah kampung itu bahkan menghabiskan waktu bermain air di sebuah kali kecil dan mandi –permandian perempuan dan lelaki dipisah di sini. Seru rasanya bisa menghabiskan waktu bersama mereka. Tertawa bersama karena adanya perbedaan dialek bahasa sampai gaya penampilan. Bahkan saat kami berpisah, beberapa bocah merajuk minta ‘oleh’oleh’ dari saya, mulai dari kamera pocket underwater Olympus Tough sampai sandal gunung milik saya. Pastinya saya nggak mengabulkan keinginan mereka. Wah, bisa jatuh miskin! Sebagai tanda terima kasih, saya tetap memberikan kenang-kenangan ke salah

satu bocah, sebuah gantungan kunci berbentuk kamera. Sesuai perjanjian, malam itu saya menginap di rumah Pak Alex. Sebelum tidur, saya mengenang kegiatan seharian ini dan merasa beruntung bisa sampai di titik ini. Mungkin, kalau tidak kehabisan baterai dan mengetuk rumah salah satu warga, saya nggak akan sampai memiliki pengalaman langsung tinggal di rumah penduduk dan terlebih berinteraksi untuk tahu budaya mereka lebih dalam . Bisa jadi saya malah kembali ke Losmen. Keramahan penduduk dan keceriaan bocah-bocah di Kampung Ngkor adalah hal yang paling berkesan di hari pertama saya tinggal di Tanah Flores!

Gereja Tua mendadakjalan.com/01/2014

13


Hari ke-6 Obrolan kami sangat seru, membahas soal kebudayaan Adat Manggarai, Sebuah Kabupaten di NTT yang terdiri dari kawasan Ruteng dan Pulau Komodo, yang memang terkenal ramah pada seluruh pendatang. Saya bahkan sempat berkenalan dengan sepasang suamiistri asal Austria yang cukup berani berkeliling Indonesia selama 6 minggu dengan modal buku Lonely Planet. Sedikit tertohok namun lebih merasa kagum atas keberanian mereka. Di perjalanan, saya sempat bertanya pada Si Supir Travel tentang pencarian hotel dengan budget murah, kebetulan ia menyarankan untuk menginap di Hotel Suster dengan harga Rp75 ribu. Hmm, awalnya sedikit bingung dan penasaran. Namanya saja aneh, Hotel Suster.

Sawah Jaring Laba-Laba

Dengan Rp300 Ribu, Sudah Bisa Sewa Kapal untuk Melihat Komodo!

Uji nyali menginap di bangunan tua

Hari ke-5

Menginap di Hotel Suster Seharga Rp75 Ribu! P

agi ini saya bersiap kembali ke Labuan Bajo untuk meneruskan kembali perjalanan sesuai agenda yang telah direncanakan. Sebelum benarbenar berpisah dengan Pak Alex, kami mengobrol panjang sambil menyeruput kopi tumbuk yang disuguhkan dan sepakat tetap saling berkomunikasi. Bertukar alamat dan berjanji mengirimi hasil karya saya ke beliau.

Tidak ada yang jauh berbeda dengan sawah kebanyakan, hanya memang memiliki bentuk yang unik. Dari Bang Ino, saya baru tahu ternyata gambar jaring laba-laba itu terbentuk secara tidak sengaja oleh warga setempat. Awalnya hanya untuk mempermudah pembagian wilayah sawah saja.

Sawah Sarang Laba-laba

Sampai di Kota Ruteng, Bang Ino menawarkan untuk menghabiskan waktu sejenak di rumahnya. Merasa bersyukur, bahkan orang sederhana seperti Bang Ino saja mampu memberikan kesan emosional ke saya. Selepas berpamitan, saya kembali melanjutkan perjalanan menuju Labuan Lajo dengan menggunakan travel seharga Rp100 ribu. Empat jam perjalanan saya habiskan untuk mengobrol bersama Pak Supir, kebetulan saya memang sengaja memilih duduk di depan agar bisa bertukar informasi.

Di tengah perjalanan menuju Labuan Bajo dengan ojek sewaan, Bang Ino, menyarankan agar kami mampir melihat keindahan Sawah Sarang Laba-Laba (spider web rice field) yang cukup terkenal di daerah Ruteng. Untuk sampai ke sana, memang ada satu jalan khusus (baca : jalanan berbukit), yang dikenakan biaya sebesar Rp10 Ribu per orang. Sampai di puncak bukit, barulah saya bisa melihat bentuk Sawah Sarang Laba-Laba.

14

mendadakjalan.com/01/2014

Bertemu turis asal Australia

Sampai di Hotel Suster, saya baru sadar dan (malah) senyum-senyum sendiri. Ternyata yang hotel yang dimaksud adalah sebuah biara milik sebuah Gereja Katolik setempat di Kota Labuan Bajo yang dekat dengan pelabuhan—hanya lima menit saja untuk sampai pelabuhan. Sebenarnya, tak semua orang bisa menginap di sana. Berhubung saya bukan orang yang ribet dalam urusan istirahat dan Si Supir memiliki kenalan di sana, saya pun diizinkan untuk menginap. “Hotel” unik ini memiliki kurang lebih 20 kamar dengan desain bangunan tua yang cocok buat menenangkan diri. Sepi…! Kamar saya terletak di lantai dua dan paling pojok. Kamarnya cukup besar dengan fasilitas kelambu dan kipas angin. Hanya saya yang menginap dan para suster tinggal di gedung sebelah yang tak jauh dari “hotel”. Mungkin bagi orang penakut, tidur di “hotel” tadi bisa jadi uji nyali yang menantang. Masalahnya, jam 8 saja semua kegiatan sudah berhenti. Terbayang, kan, betapa sunyinya suasana di gedung ini. Belum lagi, letak kamar mandi yang berada di lantai pertama. Beruntung, saya bukan orang yang penakut dan lebih memilih mendengarkan lagu dan tidur dari pada memikirkan hal yang aneh-aneh (baca : menakutkan)!

Komodo di Pulau Rinca

K

etika bangun, saya mendapatkan suasana yang nggak pernah ditemui di hotel lain. Sejak subuh sudah terdengar bunyi lonceng dan nyanyian puji-pujian khas Gereja Katolik yang terdengar tak jauh dari Hotel Suster. Saya memang sengaja bangun lebih pagi untuk mencari sewa kapal yang lebih murah di Labuan Bajo. Cukup nekat memang mengingat orang pasti sudah menyewa dari jauhjauh hari sebelum perjalanan mereka. Kemungkinan menyewa kapal murah on the spot menuju Pulau Komodo memang pernah disinggung Si Sahabat –yang memprovokasi perjalanan ini. Sebenarnya ia merasa kurang yakin. Hanya modal keberanian yang saya andalkan di sini!

Ditolak berkali-kali Sampai di Labuan Bajo, apakah langsung mendapatkan sewa kapal murah? TENTU TIDAK! Dari jam 6 tiba, saya sudah ditolak empat pemilik kapal. Alasannya penumpang yang mereka bawa tidak mengizinkan. Wajar, sih, mereka sudah menyewa dengan harga Rp1,5 Juta dan menambah satu orang asing bukan ide yang bisa diterima setiap orang. Selama hampir dua jam, saya lalu-lalang mencari sewa kapal murah. Bagaimana pun caranya HARUS DAPAT, pikir saya. Saya harus menjajalkan kaki di Pulau Komodo untuk melihat spesies kadal terbesar di dunia secara langsung! Kebulatan tekad saya ternyata dilirik

oleh seorang pemilik kapal, Ruslan, yang sedari tadi mengamati gerak-gerik saya. Entah karena kasihan atau apa, ia mengajak untuk gabung di kapalnya dengan harga Rp300 Ribu, murah bukan? Kebetulan, penumpang kapal Ruslan, sepasang suami-istri asal Jakarta Barat, nggak keberatan menampung saya.

Lihat kebuasan hewan komodo Selama dua jam perjalanan laut yang bersahabat, kami akhirnya sampai di Pulau Komodo. Ralat, ternyata dugaan saya salah, bukan Pulau Komodo melainkan Pulau Rinca. Pulau Rinca merupakan salah satu pulau yang tergabung dalam kawasan Taman Nasional Komodo –lainnya adalah Pulau Komodo dan Padar. Di Pulau Rinca, kamu sebenarnya juga bisa melihat kebuasan Komodo. Yah, tak apalah karena saya toh memang hanya ingin melihat komodo. Namun, rencana bermalam di Pulau Komodo terpaksa pupus. Untuk dapat menelusuri Pulau Rinca, tiap orang diharuskan membayar tiket masuk. Oh iya, akan ada tiket tambahan bila membawa kamera. Saya sendiri harus membayar sekitar Rp66 Ribu sudah termasuk biaya membawa kamera. Dari situ, setiap grup akan ditemani seorang ranger untuk menjelajahi kawasan Pulau Rinca. Tak jauh di tiket loket, saya langsung bisa melihat penampakan kadal terbesar dengan rata-rata panjang 2-3 meter ini. Si Ranger sempat menyeletuk kalau saya termasuk orang yang beruntung bisa dengan mudah melihat komodo di pulau itu. Biasanya, komodo lebih banyak terlihat subuh atau pagi hari, bukan siang hari ketika saya sampai di sana. Banyak bidikan momen yang saya dapat. Memang tidak se-keren bidikan pemenang lomba foto yang pernah di publish di salah satu Koran, sih. Kala itu, Si Pemenang berhasil menjadi jawara karena keuletannya membidik satwa komodo yang sedang bertarung. Dari informasi yang saya dapat, dijelaskan bahwa untuk mendapat momen tadi tidaklah mudah, harus menunggu berbulan-bulan. Jadi, bertemu dan berhasil membidik aktivitas para komodo –tidur dan berjemur—sudah cukup memuaskan. Ada beberapa keterangan seru

mendadakjalan.com/01/2014

15


Suasana laut lepas menuju Pulau Rinca

Pemandangan bukit menuju Pulau Rinca Kejernihan air di Pulau Kelor

Bocah Labuan Bajo

Pemandangan laut dari Pulau Rinca

Kapal menuju Pulau Kelor

16

mendadakjalan.com/01/2014

seputar komodo yang didapat dari Si Ranger. Sebisa mungkin jangan melintas di depan Komodo, apalagi ketika ia terlihat sedang menjulurkan lidah yang artinya sedang kelaparan. Gigitan Komodo bisa membunuh Si Korban dalam waktu beberapa hari saja. Satu lagi, ia memiliki kelenjar yang berisi bisa yang amat beracun! Sialnya, bila memang dikejar komodo, usahakan

untuk berlari secara zig-zag dan bukan lurus. Mengapa? Menurut Si Ranger, komodo agak susah untuk mengubah posisi tubuh.

Snorkeling dan melihat matahari terbenam

Selanjutnya, kami menghabiskan waktu snorkeling –sudah termasuk dalam trip— menuju pulau berikutnya, Pulau Kelor. Keindahan bawah lautnya…indah! Belum tercemar seperti pulau lain di dekat Jakarta. Terumbu karangnya bahkan masih hidup. Puas menikmati keindahan laut, kami pun kembali ke Labuan Lajo. Agak sore sampai di Labuan Lajo, saya justru memiliki ide lain buat menghabiskan waktu melihat keindahan sunset di atas bukit. Dengan hanya menyewa ojek Rp20 Ribu ide dapat terealisasi! Gradasi langit sore itu cantik sekali. Sendiri menikmati keindahan alam bukanlah suatu yang menyedihkan. Selesai menikmati matahari terbenam, saya mengisi perut di salah satu café yang ternyata memiliki wifi. FYI, sangat susah mendapatkan koneksi internet di Labuan Bajo. Bukan hanya koneksi internet, jaringan ATM pun agak terbatas –hanya ATM BRI yang sering saya temui. Satu malam lagi, saya kembali menginap di Hotel Suster. Kali ini, saya justru sudah terbiasa dengan suasana sunyi, bahkan akan sangat kangen merasakannya di kemudian hari. Berkontemplasi dengan perjalanan hari ini, saya tidak pernah menyangka selalu diikuti dengan keberuntungan yang besar. Bayangkan, dengan harga Rp300ribu saja, saya sudah berhasil menyewa kapal untuk melihat komodo! Saran saya, bila ingin melakukan trip pendek melihat komodo dengan harga murah, cara saya pantas dicoba. Banyak jalan menuju Roma, bukan?

Sekitar satu jam saya dan penumpang lainnya puas menelusuri Pulau Rinca. mendadakjalan.com/01/2014

17


Hari ke-7

Ngobrol panjang sama bule untuk pertama kalinya.

Suasana sore hari di Labuan Bajo

Keindahan laut Aimere

M Bukit Cinta di Labuan Bajo

Lembayung senja dari sebuah kafe

18

mendadakjalan.com/01/2014

engingat sudah bela-belain meminjam tenda dari Si Teman di Jakarta, rasa penasaran kemping di sebuah pulau masih membayangi benak saya. Ruslan, Si Pemilik Kapal, yang mengantar saya ke Pulau Rinca sempat menawarkan ide untuk mengunjungi kampungnya di dekat Pulau Komodo. Kami pun janjian di Labuhan Bajo. Saat menunggu kedatangan Ruslan, saya sempat mengobrol soal rencana kemping ini pada ayahnya Ruslan yang duduk di sekitaran pelabuhan. Saya sampaikan kalau saya ingin melihat keindahan Danau Kelimutu. Sebenarnya, lokasinya tak jauh dari tujuan akhir saya yaitu Pelabuhan Ende. Dari sana saya bisa mendapatkan kapal murah menuju Bali. Dari penjelasan saya ternyata ayah Ruslan menyarankan untuk urungkan niat kemping. Kalau tidak, rencana sampai Danau Kelimutu gagal total. Mau tak mau, memang rencana kemping harus dibatalkan dan mengejar mini bis untuk ke daerah Bajawa. Sialnya, mini bis tadi hanya mengangkut penumpang sehari sekali pukul 7 pagi dan saya telat sampai sana! Transportasi dari Labuhan Bajo menuju Bajawa memang agak sulit. Cara lain

untuk bisa tetap mengejar waktu adalah ngeteng dari Labuhan Bajo ke Ruteng lalu baru ke Bajawa menggunakan travel. Jangan kaget bila ingin cepat, penumpang harus membayar lebih. Kalau keberatan, siap-siap saja menunggu Si Mobil ngetem sampai kuota penumpang terpenuhi –minimal enam orang. Berhubung saat itu, penumpang hanya tiga orang termasuk saya, kami pun terpaksa membayar lebih, yang seharusnya Rp100 Ribu menjadi Rp150 ribu. Tak masalah, yang penting cepat sampai! Seperti yang sebelumnya dijelaskan, dari Ruteng saya kembali harus menggunakan travel menuju Bajawa. Di sini, kamu hanya perlu mengeluarkan uang Rp100 Ribu. Ada cerita langka yang saya alami selama tiga jam perjalanan menuju Bajawa. Saya, yang punya kemampuan Bahasa Inggris pas-pasan ini akhirnya bisa mengobrol panjang dengan sepasang bule asal Denmark! Bahkan BERTEMAN sampai sekarang. Sebenarnya agak-agak takut juga awalnya membuka pembicaraan tapi karena di mobil itu hanya kami bertiga, nggak mungkin dong, tidak berkomunikasi. Minimal senyum. Itu

juga yang saya lakukan saat beberapa kali berpapasan mata. Lama-lama nggak tahan juga hanya melempar senyuman, akhirnya saya beranikan diri menyapa dan bertanya. “Where are you come from?,� kata saya dengan nada sok pede. Siapa sangka ternyata dari situ justru saya bisa mengobrol berjam-jam, bahkan diskusi soal penginapan sama mereka. WOW, AMAZING-lah buat ukuran saya tapi mungkin buat orang lain akan biasa saja! Setelah berdiskusi panjang lebar, saya dan Si Pasangan Bule ini, Kasper dan Mariam, akhirnya memutuskan untuk menginap di hotel yang sama, Edelweis. Kami sampai kira-kira pukul 18:00 waktu setempat. Sampai hotel, kami memutuskan untuk makan malam bersama. Dari obrolan yang mengalir ternyata arah tujuan kami nggak jauh berbeda. Iseng, saya pun mengajak mereka untuk hunting bersama dengan catatan pergi dari pagi. Soal transportasi, saya menawarkan untuk gunakan ojek. Kontan langsung ditolak oleh mereka dengan alasan nggak bisa bangun pagi. Akhirnya, kami memutuskan pergi secara terpisah.

mendadakjalan.com/01/2014

19


Hari ke-8

Win-Win Solution

sempat terpikat dengan tanaman kayu putih yang memang cukup dikenal di Indonesia. Reaksinya melihat sesuatu yang baru di sana bikin saya tertawa dan terhibur. Sampai di bukit, pemandangan yang disuguhkan sangat luar biasa. Bayangkan, kami bisa melihat keseluruhan keindahan Gunung Wawo Muda—puncak bukit ini terletak sejajar. Kasper yang memang sangat mencintai penggunungan merasa kagum dengan keindahan gunung ini. Ia bilang, buku Lonely Planet nggak salah menjabarkan keelokannya.

Beli kain tenun di Kampung Bena

Rumah-rumah di Kampung Bena

H

ari ini saya bangun KESIANGAN! Rencana berangkat pukul 6 pagi untuk melihat sunrise batal karena baru bangun pukul 8. Gagal satu, banyak rencana lain yang harus dicapai, kan? Teringat percakapan semalam, saya akhirnya beranikan diri buat mengajak (kembali) Kasper dan Mariam untuk melakukan trip bersama. Setelah mereka setuju, saya temui Pak Dion, salah satu penyewa jasa motor yang mangkal di depan Hotel Edelweis untuk deal harga sewa dua motor. Oh iya, kisaran harga sewa motor (tanpa supir) cukup murah, hanya Rp75 Ribu. Bila ingin menyewa berikut supir yang bisa juga menjadi tour guide di sana sekitar Rp 150 Ribu. Dari Kasper dan Mariam, saya justru dapat informasi lain. Ternyata harga yang ditawarkan pihak hotel berlipat-lipat lebih mahal dari pada ojek jalanan, sekitar Rp800 untuk sewa mobil dan Rp400 Ribu buat sewa motor. Kembali ke obrolan deal harga bersama Pak Dion, keahlian bernegosiasi saya rasa sangat diperlukan saat melakukan perjalan, bukan hanya untuk menguntungkan satu pihak saja melainkan banyak pihak. Win-win solution yang disetujui akhirnya, kami harus membayar sekitar Rp400 Ribu untuk sewa dua motor. Satu motor –yang saya bayar dengan harga Rp100—digunakan oleh saya dan Kasper. Satu lagi, motor

20

mendadakjalan.com/01/2014

yang digunakan oleh Pak Dion bersama Mariam –yang dibayar oleh keduanya dengan harga Rp300 Ribu.

Keindahan Gunung Wawo Muda Tujuan pertama kami hari itu melihat keindahan Gunung Wawo Muda dari sebuah bukit. Gunung ini ternyata cukup terkenal di telinga wisatawan asing, termasuk Kasper dan Mariam yang mengetahuinya lewat buku Lonely Planet –panduan perjalanan para wisatawan asing. Perjalanan menuju bukit yang dimaksud memakan waktu sekitar 40 menit. Nah, keuntungan menggunakan motor menuju ke sana, wisatawan nggak perlu jalan kaki terlalu lama buat menuju puncak bukit, hanya sekitar 10 menit. Berbeda bila menggunakan mobil, setiap orang harus turun di kaki bukit –karena jalanan selanjutnya agak sempit— dan melanjutkan perjalanan kaki yang memakan waktu sekitar 30 menit. Lumayan jauh, kan? Di perjalanan naik menuju bukit, saya disuguhkan dengan pemandangan kuda dan sapi yang dilepas oleh Si Pemilik untuk mencari makan. Saya sempat mengabadikan beberapa kegiatan para hewan-hewan tadi. Selain itu, saya juga menemukan berbagai jenis ragam tanaman dan bunga cantik. Mariam

Selesai memanjakan mata dengan keindahan alam tadi, kami berpindah tempat menuju salah satu kampung tradisional di Bajawa. Namanya Kampung Bena –bila ingin menjelajahi daerah ini, tiap orang diminta untuk menyumbang uang seikhlasnya untuk pengembangan daerah. Perjalanan menuju ke sana – dari Gunung Wawo Muda—memakan sekitar 40 menit perjalanan. Pak Dion yang sudah hatam dengan daerah sana, mengingatkan agar kami membeli makanan di perjalanan karena ternyata kampung yang kami tuju tidak mempunyai warung makan. Di kampung tradisional ini, rumahrumah masih terbuat dari kayu dan beratapkan ijuk. Sebagian besar penduduk, mengandalkan keahlian tenun buat mencari nafkah. Saya yang memang gemar kain, langsung tertarik membeli. Sayangnya, Mama –panggilan bagi perempuan paru baya di sana—belum memberikan harga yang cocok dengan kantong. Kain yang saya taksir dihargai sekitar Rp150 Ribu. Agak susah untuk menawar karena penduduk sana sudah mengenal uang dan tahu harga. Demi bisa mendapatkan harga murah, darah batak (banyak taktik) saya pun keluar. Tak jauh dari tempat saya berdiri, ada sekumpulan wisatawan asing yang ingin membeli empat kain di tempat yang sama. Keterbatasan bahasa dengan Si Mama menjadikan saya (seolah-olah) penerjemah bagi mereka. Begitu tahu, kain yang dimaksud ditaksir Rp600 Ribu (4 kain), Si Bule menolak membeli. Lagi-lagi, teknik negosiasi dibutuhkan dan win-win solution tetap jadi andalan. Akhirnya,

Melihat keindahan Gunung Wawu Muda dari sisi lain

Hot Spring

Penenun di Kampung Bejawa

harga turun Rp100 Ribu! Si Bule Senang, Si Mama Senang dan saya pun kecipratan ikut senang karena berhasil dapat upah diskon Rp30 Ribu. Lumayan, kan? Benar deh, kalau memang main ke Kampung Bena, kamu harus membeli kain tenun tangan penduduk sana yang memang sangat indah dan terasa lebih halus di kulit. Perjalanan saya ke Kampung Bena berakhir di sebuah pendopo yang terletak di kampung atas. Lokasi ini dikenal sebagai kawasan istirahat para pendatang dengan pemandangan jurang.

Berendam di Hot Spring Selanjutnya, kami makan siang di kawasan Hot Spring. Sebenarnya daerah ini tidak termasuk agenda tapi Kasper berhasil meyakinkan saya untuk ikut bersamanya ke sana. Toh, kawasan GRATIS jadi sayang untuk dilewatkan. Saya yang nggak memiliki persiapan untuk berendam, awalnya hanya membidik objek yang menarik di mata. Beberapa kali Kasper sempat berteriak agar saya ikut berendam dan merasakan pengalaman unik yang ia rasakan dari kali itu. Agak malas awalnya tapi toh mendadakjalan.com/01/2014

21


Perempuan penenun di Kampung Bejawa

Kuda yang dilepas oleh Sang Pemilik untuk mencari makan saya kemakan omongan Kasper dan terjun berendam ke kali. Nah, dari situ saya baru tahu keunikan yang dimaksud Si Bule. Berbeda dari tempat pemandian panas lainnya, di sini kamu bisa merasakan air hangat –dari sumber air belerang—dan dingin –dari aliran air kali—sekaligus di satu titik kali. Rasanya aneh sekaligus mengagumkan. Tubuh pun rasanya rileks…sekali! Bisa di bilang kami cukup beruntung bisa merasakan kawasan Hot Spring tanpa pengunjung lainnya. Sebelum meninggalkan Hot Spring, ide gila muncul di kepala saya. Secara spontan, saya ingin mengakhiri perjalanan sempurna ini dengan makan malam bersama. Dimana? Tentunya nggak ada tempat yang lebih menarik selain di rumah penduduk lokal (baca : rumah Pak Dion). Kasper dan Mariam sudah jelas menyambut antusias rencana ini. Sayangnya, Pak Dion terus menolak karena merasa keadaan rumahnya nggak layak untuk menerima tamu, terutama wisatawan asing. Nggak berapa lama saya berhasil membujuknya. Kami pun berangkat ke pasar setempat untuk membeli lauk dan sayuran langsung dari istri Pak Dion yang memang kesehariannya berdagang di sana. Menu santapan malam itu ayam goreng berikut sayur-sayuran yang diracik langsung oleh istri Pak Dion.

22

mendadakjalan.com/01/2014

Sesuai kesepakatan, Pak Dion akan menghubungi kami begitu masakan telah tersedia. Lama tak dikabari, saya akhirnya mengetuk pintu kamar Si Teman Bule. Kami saling bertukar nomer telepon dan akun sosial media mulai dari facebook hingga e-mail. Setelah menunggu agak lama, telepon yang dinanti berdering juga. Pak Dion mengucapkan permintaan maaf karen telah menunggu lama. Ternyata, ayam yang ingin disantap sudah keburu tidur di atas pohon dan terpaksa harus ditangkap dahulu. Ha ha ha.

Makan malam di rumah penduduk Tiba di rumah Pak Dion, keluarganya menyambut dengan hangat kedatangan kami. Malam itu perut benar-benar terisi kenyang. Terlihat jelas raut senang terpancar dari kami malam itu. Kasper dan Mariam merasa bahagia bisa merasakan pengalaman makan malam yang (mungkin) nggak pernah mereka alami di perjalanan sebelumnya. Belum lagi, Pak Dion dan istri yang jelas-jelas sumringah karena rumah sederhananya bisa dikunjungi oleh turis mancanegara yang dengan baik mau menerima kesederhanaan kehidupan mereka. Sesaat sebelum pulang, suasana berubah sedikit haru. Istri Pak Dion tibatiba mengalungkan kain tenun cantik pada Mariam sebagai tanda terima kasih. Saya tahu, kain yang dikasih bukanlah

kain murahan. Di Kampung Bena bisa dihargai sekitar Rp500 Ribu. Bisa jadi, itu adalah sebagian harga yang dipunya olehnya. Pada saya, istri Pak Dion mengaku punya alasan khusus memberikannya pada Mariam. Ia merasa senang karena ternyata ada bule yang ingin mampir ke rumahnya dan memakan masakannya. Saat dikalungkan, Mariam memang agak terkejut dan menolak. Ia merasa tidak enak dengan pemberian cuma-cuma. Ia pun sadar dengan harga kain itu. Setelah saya jelaskan panjang lebar, ia akhirnya menerimanya dan mengucapkan terima kasih. Kami sempat berfoto bersama sebagai kenang-kenangan. Tak lupa, bertukar alamat dan nomor telepon kalau-kalau akan mampir kembali ke rumah Pak Dion di kesempatan mendatang. Kembali ke hotel, saya berpamitan untuk beristirahat ke kamar. Sebelumnya kami sempat mengobrol sedikit. Kasper dan Mariam mengucapkan terima kasih karena telah perjalanan hari ini sangat berkesan. Kami pun berpisah karena esok hari saya kembali ke agenda perjalanan menuju Danau Kelimutu sedangkan mereka berencana mendaki Gunung Wawu Muda. Masih sulit dipercaya, saya yang mempunyai kemampuan Bahasa Inggris pas-pasan bisa bergaul dengan sepasangan bule SEHARIAN! Begini toh,

rasanya memiliki sahabat orang asing. Meski keterbatasan bahasa yang saya ucapkan, Kasper dan Mariam menghargai kemampuan saya dan bahkan nggak merendahkan keterbatasan saya. Sebagai timbal baliknya, saya ingin menancapkan pengalaman berkesan bagi mereka. Itulah mengapa saya mengajak mereka berkeliling Bejawa sampai makan malam di rumah Pak Dion. Saya ingin mereka tahu bahwa Indonesia memiliki kekayaan alam yang bagus dan masyarakat yang sangat ramah. Semoga, cerita tadi sampai dari telinga satu ke telinga lain di negeri mereka. Rasanya, saya cukup berhasil membuat mereka terkesan! Mungkin bagi orang lain cerita pengalaman traveling bersama bule sepele tapi tidak bagi saya. Ini pengalaman pertama yang mengubah persepsi saya untuk menjalin persahabatan dengan wisatawan asing. Ternyata keterbatasan itu hanya ada dipikiran dan membunuh kemampuan saya yang lain, yaitu (mudah) bersosialisasi. Mulai dari momen itulah saya merasa bahwa saya mampu menjalin komunikasi dengan orang asing dan saya tidak takut, malah merasa tertantang untuk memiliki sahabat dari belahan dunia lain. Agar sama-sama bisa bertukar informasi soal keindahan negara kami masing-masing!

Atap rumah penduduk di Kampung Jawa

Saya, Casper, Mariam dan keluarga Pak Dion mendadakjalan.com/01/2014

23


Penjual jeruk di Pasar Tradisional Moni

S

esuai perjanjian yang ditawarkan Pak Dion, hari ini saya akan diantar ke daerah Moni dengan salah satu supir kenalannya. Sedari jam 6 menunggu, tanda-tanda Si Supir datang tampaknya nihil. Dari pada menunggu yang tak pasti, saya putuskan untuk naik bis yang lewat di depan hotel yang menurut Si Kenek akan lewat Moni. Sampai di Terminal Watujaji, saya baru sadar dibohongi Si Kenek. Bis yang ditumpangi ternyata hanya sampai Ende dan dari situ barulah saya bisa melanjutkan perjalanan dengan bis lainnya menuju Moni. Agak kesal sebenarnya, apalagi nggak jauh dari situ ada sebuah bis yang langsung menuju Moni. Saya nggak bisa seenaknya pindah bis karena kawasan itu dikuasai preman terminal yang nggak mengizinkan saya naik. Satu bisa lewat. Saat bis berikutnya, saya pun putar otak agar diloloskan oleh Si Mafia Terminal. Dengan membayar uang ekstra sebesar Rp20 Ribu, saya akhirnya dibebaskan naik. Begitu sampai di pinggiran Moni, saya putuskan untuk turun setelah melihat sebuah hotel. Setelah dipikir-pikir, kawasannya sedikti sunyi dan jauh dari keramaian. Apa boleh buat bis yang saya tumpangi sudah lewat, mau tak mau jalan kaki mencari hotel berikutnya. Cukup jauh, sekitar satu kilometer berjalan baru mendapatkan sebuah kawasan yang cukup ramai. Sayangnya, jajaran hotel di sana ternyata sudah full booked. Beruntung saya bertemu

24

mendadakjalan.com/01/2014

Hari ke-9

Perjalanan menuju Moni dengan seorang pemilik hotel yang merekomendasikan agar menginap di tempat lainnya yang bernama Hotel Silvester. Harganya cukup bersahabat, Rp150 Ribu dan berbentuk seperti losmen. Kalau jodoh memang nggak lari ke mana. Di hotel ini saya bertemu tiga teman bule baru yang memang sebelumnya sempat sedikit mengobrol. Kamar kami bersebelahan. Mereka adalah Mark (asal German) yang datang bersama pacarnya, Olga (Spanyol) dan teman baru mereka, Annimie (asal Belgia). Lucunya, Mark dan Olga baru bertemu Annimie di perjalanan dan langsung mengajak gabung untuk menyewa kamar bersama.

Makan malam mewah seharga Rp20 Ribu saja Sore itu, seorang pemilik restoran sedang melobi mereka untuk makan malam di tempatnya. Nama restorannya, Restoran Bambu. Si Pemilik sempat juga menawarkan saya. Melirik harganya yang agak bikin kantong bocor, saya menolak.

Ia pun memberikan iming-iming harga spesial dengan memberikan kode khusus (baca: membujuk teman-teman baru saya). Menangkap sinyal yang dimaksud, saya akhirnya mengajak Mark, Olga dan Annimie untuk mencoba restoran yang memang cukup menggiurkan. Momen makan malam ini membuat kami merasa dekat terutama bagi saya dan Annimie, ibu satu anak yang juga seorang dosen seni di Belgium. Betul saja, Si Pemilik Resto menepati janjinya memberikan harga miring. Semangkuk sup, hidangan ayam goreng dan makanan penutup yang harusnya berharga ratusan ribu dihargai Rp20 Ribu khusus untuk saya saja. Keakraban saya dan Annimie semakin bertambah setelah saya mengajaknya minum tuak bersama. Yang bikin saya bisa dekat dengannya dibanding dua teman bule lainnya adalah kepribadian Annimie yang suka bercanda dan samasama punya kebiasaan tertawa lepas. Senang rasanya bisa (kembali) menjalin persahabatan baru lewat perjalanan ini.

Fajar di Kelimutu.

Hari ke-10

Danau Kelimutu dan Karaoke Tengah Malam I

nilah hari di mana saya mewujudkan mimpi saya, BERADA DI DANAU KELIMUTU! Perjalanan di mulai dari subuh, pukul 04:30. Saya diantar oleh Mas Rano, ojek yang disewa untuk mengunjungi Danau Kelimutu dengan tarif Rp80 Ribu. Keadaan langit masih gelap, kami sampai di pemberhentian terakhir untuk mobil dan motor sekitar pukul 5 pagi. Memasuki kawasan, tiap pengunjung dikenai tiket seharga Rp12 Ribu. Dari pemberhentian terakhir, masih harus jalan menanjak sekitar 30 menit.

Jalannya berbentuk tangga semen dan bukan lagi bebatuan seperti sebelumnya. Menurut Rano, jalan menuju Danau Kelimutu diperbaiki untuk kenyamanan wisatawan yang akan bepergian ke sana. Sayangnya, saya nggak terpikir untuk membawa senter. Beruntung, sempat bertemu dengan kakak-beradik perempuan asal Belanda yang ternyata fasih berbahasa Indonesia. Saat saya hendak melewati mereka, saya sempat di peringati agar hati-hati karena banyak batu. Lucu juga lihat tingkah mereka yang terkadang mengejek tingkah laku

saya. Mereka pun memberi bantuan dan menyenter perjalanan kami.

Sunrise di Danau Kelimutu Sampai di puncak Danau Kelimutu, saya langsung mencari spot yang indah untuk mengabadikan pemandangan sunrise di sana. Ada tiga kawah dengan warna yang berbeda yang bisa dilihat di puncak ini. Dua saling berdekatan dengan warna agak merah dan satu lagi berwarna biru. Oh iya, warna kawah ini sering kali berubah-ubah. Tampaknya alam memang berpihak pada saya, cuaca pagi itu sangatlah bagus. Saya bisa menikmati keindahan sunrise dengan pemandangan yang sangat‌indah! Gradasi jingga langit dan warna-warni kawah membuat mata ini terkagum melihat kreasi Sang Pencipta. Matahari pun malu-malu muncul di balik mendadakjalan.com/01/2014

25


bukit. I-N-D-A-H! Saat langit mulai terang, tak disangka saya bertemu dengan Annimie, Mark dan Olga kembali. Kami sempat melepaskan gurauan dan berfoto bersama. Dari bidikkan yang saya abadikan, ada satu objek yang membuat saya terkagum. Di dekat satu kawah, saya menemukan beberapa kumpulan monyet sedang bertengger di pepohonan. Kemunculan mereka diikuti dengan asap kawah menjadi obyek yang sayang menarik untuk dipotret. Semua perasaan tercampur aduk di sini; lega, haru, senang, sedih, semua menjadi satu. Senang karena akhirnya saya bisa mewujudkan mimpi saya sampai di Danau Kelimutu. Mimpi lama yang sempat terlontar empat tahun lalu bersama dua orang teman lain. Namun, sampai sekarang hanya saya yang bisa mewujudkan keinginan kami. Sedih karena ini adalah akhir perjalanan saya di Tanah Flores. Usai berkontemplasi sedikit, saya akhirnya memutuskan untuk kembali ke hotel dan berpamitan dengan Annimie

dan lainnya. Di tengah perjalanan, Reno sempat mengajak saya ke sebuah air terjun dekat Danau Kelimutu sebagai bonus perjalanan. Urung terjun karena memang agak capek, saya akhirnya hanya mengabadikan beberapa obyek.

dimaksud. Memang, nggak salah mengandalkan informasi orang setempat. Rasanya enak, bikin perut Kenyang dan terpenting bikin mood senang. Merasa terbantu, saya akhirnya mentraktir Si Pemuda untuk ikut makan bersama.

Bisa cicipi Makanan Padang di Flores

Kembali ke hotel, saya disambut dengan sapaan dari Annimie, Mark dan Olga yang ternyata baru sampai dari Danau Kelimutu. Nggak tanggungtanggung, mereka jalan dari sana menuju hotel yang waktu tempuhnya sekitar 3 jam. Annimie, sih, terlihat senang dan antusias. Ia malah menunjukkan beberapa foto yang dibidiknya dan membuat saya iri karena bisa bertemu dengan penduduk lokal sana. Sebaliknya, Mark dan Olga terlihat sangat kecapaian.

Sampai di hotel, saya langsung beristirahat dan bangun jelang makan siang. Duh, dari perjalanan kaki yang saya tempuh tidak ada restoran yang menawarkan makanan cepat saji. Ratarata semua memberlakukan sistem pesan, di masak lalu disajikan. Agaknya rasa lapar saya nggak bisa menunggu terlalu lama. Dari seorang pemuda kampung, saya dianjurkan untuk membeli Makanan Padang yang katanya terletak dekat dari situ. Tak bisa menunggu lebih lama lagi, saya ‘menembak’ dia agar mau mengantar dengan iming-iming Rp20 Ribu. Setelah disetujui, kami berangkat menuju rumah Makan Padang yang

Berendam bersama Bule Gila Entahlah, dari mana energi Si Ibu Bule Gila datang, belum sempat istirahat di hotel, ia langsung mengajak saya untuk mandi di air terjun yang sebelumnya saya singgahi. Saya pun menyanggupi

dan kami akhirnya benar-benar mandi dan berendam di sana dengan suasana gerimis. Kebetulan, tidak ada orang lain selain kami di kawasan air terjun itu. Alhasil, tingkah kekanak-kanakan kami keluar. Sangat rileks, bisa merasakan pijatan dari air terjun setelah melewati perjalanan yang melelahkan. Annimie sangat senang bisa menghabiskan waktu di air terjun. Ia merasa punya waktu untuk merawat tubuhnya, mulai dari mandi hingga mengikir kuku. Ia bahkan menawarkan beberapa produk kecantikannya pada saya. “Moonstar, try this coconut oil It’s good for your skin,” katanya berkali-kali. Oh, please it’s a big NO! Alhasil kami hanya sempat berbagai alat mandi, saya menawarkan sabun mandi dan Annimie menawarkan shampoo yang dibeli di negaranya dan (katanya) bisa membuat rambut terlihat lebih indah. Saya memang sengaja tidak membawa kamera saat kedua kali ke sana. Sebuah wisatawan sempat kerampokan uang dan barang saat sedang mandi. Itulah mengapa kali itu saya hanya ingin menikmati suasana dan memanjakan diri.

Mark dan Olga di Danau Kelimutu

Reuni Bersama Kasper dan Mariam

Tempat peristirahatan para wisatawan

26

mendadakjalan.com/01/2014

Setelah berendam dan mandi, kami memutuskan untuk pulang ke hotel. Saat ingin mencari makan malam inilah, saya akhirnya bertemu kembali dengan Kasper dan Mariam yang sedang mengobrol dengan teman mereka di depan hotel. Momen reuni ini sangat seru! Seolah sudah mengenal lama, kami saling bertegur sapa panjang. Saya pun mengajak mereka untuk makan malam bersama. Di jamuan makam malam ini, cerita kami bergulir. Kasper menceritakan kebudayaan negaranya, begitu pun dengan saya, Annimie dan Mariam. Ada beberapa pertanyaan ‘lucu’ yang sering kali ditanyakan oleh Kasper. Dari perjalanannya ke Indonesia ada dua hal yang ia amati dan selalu menggelitik pikirannya. Mungkin kamu juga bisa membantu saya. Pertanyaan pertama,”Mengapa kucing di Indonesia memiliki buntut yang melengkung sedangkan di Denmark (asal negara Kasper), buntut kucing terlihat lurus?”. Pertanyaan yang nggak kalah konyol lainnya, “Mengapa tangga di Indonesia jaraknya tinggi sedangkan

Suasana penjual makanan di Danau Kelimutu

postur tubuh orangnya rata-rata pendek. Berbeda dengan di Denmark, jarak tangganya pendek sedangkan penduduknya memiliki postur tubuh yang tinggi?”. Duh, pertanyaan apa sih? Tapi benar deh, Kasper sungguhsungguh bertanya pada saya bahkan ia menuliskan di secarik kertas agar saya bisa menanyakan pada teman-teman yang lain. Dasar BULE GILA! Obrolan kami berlanjut dengan saling bertukar pengalaman selama perjalanan. Wah, tiga jam terasa singkat!

Karaoke Hingga Tengah Malam Saya dan Annmie kembali ke hotel dan mengucapkan perpisahan dengan Kasper dan Mariam. Sampai di hotel, belum lagi masuk ke kamar, Sang Pemilik yang bernama Pak Silvester

mengajak kami untuk karaoke dengan organ tunggalnya. Katanya, “Ini ucapan perpisahan dari saya karena besok kalian sudah akan meninggalkan hotel ini dan suasana akan terasa sepi”. Agak ragu dengan tawaran itu, melihat Pak Silvester sedikit terlihat mabuk. Apalagi suasana kampung itu terdengar sangat sepi. Dengan alasan kalau ia Sang Pemilik Hotel dan bisa melakukan kegaduhan apapun, kami akhirnya setuju. Tak disangka, Si Bapak bertampang seram ini ternyata jago memainkan keyboard. Biar suasana nggak terasa hambar, saya pun meneriakkan beberapa bule yang kebetulan lewat depan hotel.”Come on, join us!,” teriak saya sok asik. Alhasil, ada sepasang bule Inggris, sepasang bule Prancis dan satu orang Jerman yang ikut bergabung. mendadakjalan.com/01/2014

27


Sunrise di atas Danau Kelimutu

Suasana sangat meriah apalagi dengan kehadiran minuman Arak. Lucunya, Pak Silvester agak kelimpungan memenuhi permintaan lagu pada tamunya. Salah satunya ingin dinyanyikan lagu milik Coldplay yang notabene tak diketahui Si Bapak. Yah, berhubung minimnya pengetahuan musik Si Bapak, kami akhirnya menyanyikan lagu yang itu-itu saja. Malam itu terasa sempurna dengan lagu penutup dari Bob Marley yang berjudul Everything’s Gonna Be Alright di tengah malam. Keriaan selesai. Semua pulang dengan muka senang lalu beristirahat. Dipikir-pikir, saya tidak pernah membayangkan kalau mimpi saya

Monyet liar yang bertengger di pohon di atas Danau Kelimutu

Suasana sekitar Danau Kelimutu

28

mendadakjalan.com/01/2014

mengunjungi Danau Kelimutu akan berakhir dengan bonus yang menyenangkan. Mimpi saya hanya datang ke Danau Kelimutu, memotret objek indah dan spulang. Kenyataannya ternyata saya disuguhkan dengan pengalaman yang di luar pemikiran saya. Semua memang seperti sudah direncanakan oleh Sang Maha Kuasa. Mungkin ceritanya akan berbeda bila saya di awal tidak singgah ke Kampung Ruteng. Semua memang berawal dari melencengnya rencana saya yang tak memasukkan Kampung Ruteng di agenda tapi semua itu tergantikan dengan pengalaman yang jauh‌lebih MENARIK!

Ilalang di Danau Kelimutu

mendadakjalan.com/01/2014

29


Danau Kelimutu (2014) Foto: Moonstar Simanjuntak

30

mendadakjalan.com/01/2014

mendadakjalan.com/01/2014

31


Hari ke-11

Menyelinap masuk kapal T

ak terasa, liburan gila ini hampir berakhir. Setelah semua keseruan, keberuntungan, dan ‘sejuta’ pengalaman tak terlupakan berhasil dilewati, saya harus pulang kembali ke Jakarta. Kembali kehidupan nyata, bekerja untuk menabung demi perjalanan berikutnya di tahun dep an. Sedari awal, saya sudah putuskan untuk kembali menggunakan kapal feri Awu, jalur yang saya anggap paling murah sampai ke Bali dengan Rp350 Ribu. Sekedar informasi, bila ingin gunakan Kapal Awu sebaiknya terlebih dahulu mengecek jadwal keberangkatan di situs Pelni. Sayangnya, tiket tidak bisa dibeli secara online. Untuk mengejar keberangkatan kapal pukul 17:00 waktu setempat, saya sengaja check out dari Hotel Silvester lebih pagi. Di depan kamar, sempat bertemu dengan Annimie, Mark dan Olga yang memang tinggal di sebelah kamar. Tujuan kami selanjutnya ternyata berbeda, saya ke Bali sedangkan mereka masih ingin tinggal di Flores untuk jelajahi Maumere. Setelah dari situ mereka baru pisah tujuan, Olga dan Mark terbang menuju Malaysia lalu Mynamar sedangkan Annimie ke Bali. Nah, berhubung sama-sama di Bali, kami

Di atas mini bus menuju Pulau Ende

32

mendadakjalan.com/01/2014

sepakat janjian bertemu untuk minum bir di Kuta. Setelah kami berpamitan, saya langsung berangkat menuju Pelabuhan Ende menggunakan bis. Perjalanan memakan waktu sekitar dua jam dan saya tiba di Pelabuhan Ende pukul 10:00 waktu setempat. Begitu sampai di Pelabuhan Ende atau juga dikenal Pelabuhan Pelni, saya ternyata saya nggak langsung bisa membayar dan mengantongi tiket kapal. Tiap penumpang harus melewati proses yang agak lama. Pertama, kami diminta untuk mengisi form yang berisi nama, alamat dan nomor telepon. Kertas tadi nantinya ditumpuk bersama data penumpang lain dan tumpukannya sangatlah tebal! Bila sudah diproses, penumpang akan dipanggil lalu membayar dan baru bisa mengantongi tiket. Saya sendiri harus menunggu selama tiga jam padahal, saya sudah berada di Pelabuhan dari jam 10 pagi! Setelah mendekati pukul 5 sore, antrean kapal mulai dibuka. GILA! Saya belum pernah melihat ribuan orang berdesak-desakan mengantre untuk dapat tempat duduk di kapal. Jalurnya panjang‌.sekali! Bukan Moonstar Simanjuntak kalau

nggak banyak akal, kan? Di sisi kanan, ada jalur turun penumpang yang bisa diakali untuk masuk lebih cepat dari penumpang lainnya. Begitu para tentara dan polisi yang menjaga jalur masuk lengah dan jalur penumpang turun mulai terlihat sibuk, saya gesit menyelip untuk masuk di jalur turun penumpang tadi. Nggak ada setengah jam, sudah berada di depan kapal. Penumpang lain malah masih mengantre. Setelah dipikir-pikir, saya memutuskan untuk naik ke lantai 4 karena lantai bawah pastilah sudah sesak. Sebisa mungkin harus menemukan tempat yang nyaman karena mau nggak mau tempat itu bakal jadi ‘kamar’ saya selama tiga hari dua malam di atas laut. Keberuntungan berpihak lagi sama saya, saat sibuk mencari tempat ada satu pemuda yang menyuguhkan satu tempat cukup strategis dengan tambahan kasur kecil, bekas penumpang sebelumnya. Hanya saja, lokasinya agak mengerikan, terletak di pinggiran kapal dengan luas PAS selebar badan saya! Serius deh, tidurnya saja harus mematung, nggak boleh gerak terlalu ke kanan karena lasak sedikit sudah langsung mendarat ke lantai 3. Tak mengapalah karena saya toh tidur pakai sleeping bag dan lokasi ini jarang sekali dilewati oleh penumpang lain. Setelah kapal bergerak lebih cepat pukul 16:00 waktu setempat, SAYA PUN TERTIDUR PULAS!

Mark, Olga, saya dan Annimie di depan Hotel Silvester

Kapal Awu

Tempat tidur selama di kapal

Hari ke-12

Antrean panjang selama di kapal

B

angun pagi saya disuguhkan dengan pemandangan laut lepas. Segar rasanya meski badan terasa pegal-pegal dan agak beku karena semalaman terkena angin laut. Tak jauh dari tempat saya tidur, sudah ada seorang pemuda Sumba duduk di sebelah. Ia mengaku baru lulus SMA dan ingin merantau ke Bali untuk mengubah nasib dengan bermodalkan semangat dan keberanian. Baru saya sadari, kapal ternyata sempat melipir ke Sumba untuk mengangkut penumpang saat subuh. Kami pun akhirnya terlarut dalam obrolan panjang. Saya bahkan sempat menitipkan tiket saya untuk mengambil sarapan karena ogah antre panjang. Ya, tiket seharga Rp350 Ribu sudah termasuk tiga kali makan. Hmmm, nggak bisa berharap banyak dari menu sarapan tiket ekonomi sebuah kapal, hanya telur berbentuk pizza dengan tepung yang banyak dan nasi. Melihatnya saja tidak selera! Saya pun putuskan untuk membeli sarapan, teh dan roti untuk menghangatkan tubuh. Jarak kantinnya nggak terlalu jauh dari tempat saya tidur dan tempatnya agak luas pula. Dari segi harga memang lumayan melambung dari di darat, Aqua yang di hargai Rp5 Ribu bisa menjadi Rp13 Ribu. Yang paling nggak nyaman, saya harus terus ucapkan kata permisi bila ingin lewat karena kapal sesak dengan

Antrian panjang para penumpang di Pelabuhan Ende penumpang yang tidur di sembarang tempat sampai jalanan utama sekali pun. Obrolan saya dan Si Pemuda Sumba tadi pagi cukup mengisi kekosongan karena terus terang tak banyak yang bisa saya lakukan di sana. Belum lagi, tidak ada sinyal yang tertangkap di handphone. Jam makan siang, perut saya sudah mulai keroncongan. Lagi-lagi, melihat antrean yang sangat panjang saya putuskan untuk nggak mengambil konsumsi kapal siang itu. Saya kembali membeli makan siang di kantin. Dengan Rp20 Ribu, nasi, ayam dan sambal sudah cukup mengganjal perut dan tanpa perlu antre! Selain mengambil makanan, penumpang juga harus antre menggunakan kamar mandi. Sumpah, antreannya TIDAK MASUK AKAL! Bayangkan saja, satu lantai yang saya

tempati saja hanya memiliki lima kamar mandi lelaki, tiga untuk mandi dan dua untuk buang air besar atau kecil sedangkan ada ribuan orang bermalam di sana. Jangan heran bila bau pesing langsung tercium di hidung, malah ada yang nggak segan-segan kencing sembarangan. Mau bagaimana lagi, ini satu-satunya transportasi termurah. Buat kamu yang mengutamakan higienis, saya nggak menganjurkan untuk meniru pilihan ini. Untunglah, sore hari kapal sudah berhasil melipir ke Bima di Pulau Sumbawa, NTB. Banyak pedagang yang masuk kapal. Ini momen yang tepat untuk membeli stock perbekalan dan minuman untuk mengisi sisa perjalanan sampai di Bali. Sisa hari ini saya habiskan tentunya dengan TIDUR LAGI! mendadakjalan.com/01/2014

33


Hari ke-15

Hari ke-13

Sampai lebih cepat di Bali S

elama dua hari berturut-turut pemandangan laut lepas memanjakan bangun tidur saya. Belajar dari pengalaman sebelumnya, saya bangun jauh lebih awal dari penumpang lainnya. Di saat mereka masih terlelap tidur, saya langsung menguasai kamar mandi. Agar barang-barang berharga aman, saya bawa satu tas yang berisi kamera dan dokumen lainnya turut di dalam kamar mandi. Digantungkan dan masih dalam jangkauan mata. Selebihnya, tas backpacer kapasitas 60 liter saya biarkan di tempat tidur. Wah, tanpa antrean dan gangguan saya bisa mandi selama yang saya inginkan. Selepas mandi, pemandangan sunrise hari terakhir saya tunggu-tunggu. Sebelumnya saya agak takut mengeluarkan

kamera karena sempat bertemu dengan salah satu penumpang yang menceritakan pengalaman pahitnya, dicopet di atas kapal. Di hari terakhir ini, saya beranikan membidik beberapa pemandangan cantik sunrise di atas kapal.

Tanah Lot, Bali

Hari ke-14

Dibantu kawan lama H

ari ini adalah hari paling malas selama rangkaian perjalanan. Entah mengapa saya hanya ingin memanjakan diri di hotel dengan menonton tv dan berlama-lama di kasur sampai jam check out. Setelah meninggalkan hotel, saya kembali menemui Gusti Ayu di kantornya. Menghabiskan waktu untuk menunggu penerbangan saya menuju Bandung pukul 19:30 waktu setempat. Sore harinya, saya pun mengembalikan motor sewaan sementara

34

mendadakjalan.com/01/2014

Kabar baik hari itu, kapal dijadwalkan akan tiba lebih cepat di Tanjung Beno, Bali. Saya sampai pukul 12 siang waktu setempat, sebelumnya malah diperkirakan pukul 17:00. Dari pelabuhan, saya langsung menuju hotel langganan di Bali. Namanya Hotel Bermocorner, terletak dekat Legian Kuta dan strategis menuju bandara. Belum lagi murah dengan fasilitas wifi dan sarapan. Ah, favorit pokoknya! Semula ingin beristirahat di atas kasur empuk tapi kaki rasanya ‘gatal’ ingin mengabadikan pemandangan sunrise di Bali. Jadilah, saya menyewa sebuah motor sedari sore untuk keliling Tanah Lot dan mengabadikan pemandangan matahari terbenam. Malamnya, saya bahkan menyempatkan waktu untuk bertemu dengan Gusti Ayu, perempuan Bali yang membantu saya selama di Bali. Senang rasanya bisa kembali di Bali dan berkumpul dengan beberapa sahabat baik. Meski, rencana saya bersama Annimie gagal karena ternyata ia langsung melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta.

Ayu menawarkan diri mengurusi checkin tiket pesawat. Kami sepakat bertemu di bandara. Ia mengantar saya sampai waiting room di dalam bandara karena memang memegang kartu all access. Kapan pun saya bertandang ke Bali, Ayu selalu siap membantu dan membuat saya merasa selalu ada di RUMAH. Kami pun berpisah dan berjanji akan tetap memberi kabar. Di dalam pesawat saya habiskan untuk beristirahat. Berpisah dengan satu

sahabat, saya kembali bertemu dengan sahabat lain sesampai di Bandung sekitar pukul 20.10 waktu setempat. Adalah Tommy Sitanggang, sahabat satu perjuangan di kampus dahulu. Kami akhirnya mengakhiri malam itu dengan bertukar cerita sambil ditemani bergelasgelas bir di tempat langganan di bilangan Setia Budi. Bisa dibilang, menjaga hubungan baik dengan teman-teman lama sangat penting buat dijaga. Sampai sekarang, saya masih berhubungan dengan beberapa teman yang tersebar di hampir seluruh Indonesia. Bila ingin mengunjungi kota mereka, saya tinggal menelepon dan meminta bantuan. Mereka pasti akan senang membantu!

Kembali ke kehidupan nyata! W

aktunya bergegas pulang ke Jakarta! Pukul 05:00 WIB saya sudah duduk manis di dalam Travel Cipaganti menuju Kebon Jeruk. Sampai pukul 08:30 di Jakarta, saya langsung mengambil motor dan melaju menuju kantor yang berada di bilangan Gading, Jakarta Utara. YA, HARI INI SAYA MASUK KERJA! Kembali menjadi pekerja yang memiliki mimpi untuk menaklukkan tempat-tempat indah nan eksotik di Indonesia. Masih banyak PR saya selain, ya, menemukan jawaban dari pertanyaan Kasper, ha ha ha. Bila melirik ke belakang, memang dibutuhkan KEBERANIAN ekstra untuk melakukan sebuah

perjalanan murah. Berani untuk mencari informasi, berani bertanya, berani ‘hidup’ di kapal berhari-hari dan berani membuka pikiran untuk menemukan peluang dan pengalaman yang tak terduga. Dibandingkan dengan perjalanan Si Teman (di awal cerita), perjalanan ke Tanah Flores ini memang tidak sekomplit seperti kunjungannya. Saya tidak sempat mengunjungi Pink Beach yang terkenal di Pulau Komodo, tidak memiliki kesempatan berkunjung ke Pulau Riung yang memiliki gugusan pulau kecil, tidak juga mengunjungi Kampung Waerebo. Kesemuanya bisa dikatakan kawasan terkenal yang WAJIB dikunjungi. Yang membuat perjalanan saya

terasa komplit justru bagaimana saya bisa bertukar pikiran dengan sesama traveler, kesusahan saya menggunakan transportasi sederhana –bukan menyewa mobil— dan tak kalah penting interaksi yang saya lakukan untuk ‘masuk’ ke penduduk setempat. Semuanya hanya cukup mengeluarkan biaya sebesar Rp5 Juta-an. Satu lagi, dilakukan oleh saya yang merupakan seorang pekerja. Semoga perjalanan ini memberikan semangat bagi para pekerja lainnya yang memiliki nasib sama, bekerja lima hari dalam seminggu (bahkan lebih) dengan segudang kesibukan, agar mampu sejenak melihat sisi lain dan berpetualang mengumpulkan pengalaman berharga yang bikin hidup terasa lebih hidup. Mungkin bagi saya, sebuah perjalanan tidak ada yang sempurna tapi perjalanan HAMPIR SEMPURNA itu ada. Saya sudah membuktikannya!

Perincian budget Jakarta-Flores Tiket pesawat Jakarta-Bali........................................... Rp Airpor tax Jakarta-Bali................................................... Rp Bus Bali-Sape..................................................................... Rp Sape-Labuan Bajo ferry ............................................... Rp Travel Labuan Bajo-Ruteng ........................................ Rp Sewa ojek di Ruteng 2 hari ......................................... Rp Travel Ruteng- labuan bajo......................................... Rp Penginapan di Labuan Bajo 2 malam ..................... Rp Kapal menuju Pulau Komodo ................................... Rp Biaya masuk Pulau Rinca+ Rangger......................... Rp Sewa ojek melihat sunset Labuan Bajo................... Rp Travel Labuan Bajo menuju Ruteng ........................ Rp Travel Ruteng menuju Bajawa.................................... Rp Penginapan di Bajawa 2 malam ................................ Rp

889.000 50.000 600.000 54.000 100.000 200.000 100.000 150.000 300.000 54.000 20.000 150.000 100.000 300.000

Sewa motor di Bajawa .................................................. Rp 100.000 Bus Bajawa-Moni ............................................................ Rp 80.000 Penginapan di Moni 2 malam .................................... Rp 300.000 Sewa ojek menuju Danau Kelimutu ........................ Rp 100.000 Biaya masuk Danau Kelimutu..................................... Rp 10.000 Bus Moni menuju ende ............................................... Rp 70.000 Kapal ferry Ende-Bali ..................................................... Rp 350.000 Taxi dari pelabuhan Benoa ke hotel ........................ Rp 50.000 Hotel 1 malam ................................................................. Rp 250.000 Pesawat Bali-Bandung ................................................. Rp 620.000 Airport tax Bali-Bandung............................................. Rp 50.000 Travel bandung-jakarta................................................. Rp 100.000 Total ...................................................................Rp 5.147.000

Lokasi yang disinggahi

mendadakjalan.com/01/2014

35


Nantikan perjalanan kami berikutnya.... www.mendadakjalan.com @mendadakjalan

mendadakjalan@gmail.com

design: madzign.blogspot.com

Mendadakmagz01, megazine, Travelling, Flores,Indonesia, Backpacker, Travelista, Moonstarsimanjuntak  
Mendadakmagz01, megazine, Travelling, Flores,Indonesia, Backpacker, Travelista, Moonstarsimanjuntak  

Jakarta-flores journey only 5 milion Rupiah.

Advertisement