Issuu on Google+

Sumber Alexander The Great Dalam Kalangan Yudeo Kristen Oleh : Rabi Syamsul Idul Adha

Sebagai seorang tokoh yang sangat dikagumi, Alexander Agung III emerupakan sosok yang tercatat dalam berbagai literatur dunia. Tidak mengherankan bahwa hal ini dicapai berkat berbagai penyerangannya ke berbagai wilayah. Dia dikenal melalui literatur berbagai kalangan cendikiawan dan keagamaan. Namanya tersohor dengan berbagai bentuk dan imej. Sebagian dari kalangan sarjana teah menyelidiki tokoh ini dengan mencoba mrekonstruksi penggunaan sumbernya. Namun demikian tokoh ini tidaklah dapat dikatakan mempunyai perbedaan dengan interpretasi keagamaan. Banyak orang yang mengira untuk membangun kebesarannya tokoh yang mempunyai kedudukan seperti dirinya telah menampilkan akan aspek kepribadian yang berbeda atau lebih tinggi dibandingkan manusiia. Berbagai literatur tersebut mempunyai beragam perbedaan pendapat dan penjelasan mengenai siapakah Dzulkarnain yang sebenarnya. Sebagian daripada sumber tersebut memberikan perbedaan dan pertentangan dengan konteks Dzlkarnain dan seringkali mempunyai image yang sangat berbeda dengan yang dijelaskan dalam sumber-sumber pertama di kalangan bangsaYunani dan bahkan terkadang dengan membuang tujuan yang lebih artificial. Alexander the Great Dalam Sumber Yudaisme Kalangan Yahudi merupakan orang-orang dalam internal yang membahasmengenai kepribadian Alexander. Salah satu sumber paling awal yang membahastentang dirinya berasal dari kitab Mekabe1 , yang menceritakan mengenai dirinya sejak awal kedatagannya ke Yerusalem. Dalam kitab tersebut ’dengan’ didasarkan pada asumsi sebagian daripada berbagai aspek interpetasi. Dalam ayat tersebut dijelaskan kepribadian Alexander yang diperkenalkan daripada seorang raja yang menakjubkan dan secara ringkas menjelaskan tentang dirinya yang membuatnya seakan menjadi pribadi yang begitu mengagumkan. Namun sumber berbeda dalam kalangan Yudaisme berasal dari seorang pakar tarikh bernama Philo Yudeus menuturkan bahwa menjelang penaklukannya terhadap kalangan bangsaYahudi. Kota tersebut terpaksa tidak melaksanakan pertempuran namun dalam aspeknya mengajukan penjelasan dengan menunjukkan kepada Alexander sebuah literatur daripada Daniel yang menunjukkan bahwa seorang terhormat dari Yunani akan datang dan menaklukkan Dinasti Darius dan Asia Minor.2 Dalam ramalan Daniel yang diungkapkan tersebut berasal dari pasal 8 yang menyebutkan mengenai seekor kambing yang memakai ’tanduk’. Perlu anda ketahui bahwa kata yang dipergunakan adalah (‫ )קרנים‬yang sebenarnya diartikan sebagai ’tanduk-tanduk’, perlu anda ketahui bahwa kata tersebut tidak sepenuhnya dapat merujuk kepada dua tanduk, demikian pula ramalan inilah yang menjadi dasar Alexander untuk mempergunakan tanduk tersebut.3 Tradisi Yahudi mengenai Alexander tidak termasuk dalam kanon Tanach tetapi terdapat di kalangan diaspora. Perbedaan di antara polarisasi ini terdapat untuk 1 Apocrypha King James Version, 1 Meccabeus 1;1-5. 2 Flavius Josephus, Antiquites, 11;8,5. 3 Hebrew Old Testament, Daniel 8:3


Sumber Kalangan Kekristenan Sumber gereja tentang Alexander terutama sekali berasal daripada Yakob ben Serug. Dalam legenda ini disebutkan dengan jelas mengenai diri Alexander sendiri. Para sarjana sendiri telah berbeda pendapat mengenai periode penulisan teks ini. 4 Terdapat berbagai asumsi untuk menganggap bahwa sebenarnya teks yang disusun atas teks ini merupakan bagian dongeng kalangan gerejawan terhadap diri Alexander dalam epistemlogi dogma apokalips gerejawi. Dalam hal ini kita mendapat penjelasan tanggal kompilasinya pada tahun 516 AD. dan asumsi ini didasarkan pada sumber dan penjelasan teks tersebut.5 Namun pendapat ini ditolak sepenuhnya6 oleh Czegledy yang mengatakan bahwa sebenarnya cerita yang disusun oleh Yakub ben Serug ini berasal dari setelah tahun 628. Sebagaimana yang disebutkannya sebagai berikut. it is all the more regrettable that Kmoskó's expositions, which settle the dispute, were not published earlier than a few years ago, and even then only in extracts. Kmoskó has a whole series of arguments to prove that both the metrical Legend and the prose text of the same contain unmistakable references to the war of Khosrav II and Herakleios. Hence both variants, in their present forms, contain variant of the Legend that came into being as an adaption definitely after 628. Kmoskó's arguments are surely conclusive. An adaption of this kind is a natural phenomenon in apocalyptic literature: after the passing of the date foretold in the latest vaticination, the subsequent adapters inserts new prophecies into the text.7 Sebenarnya dalam hal ini harus dipahami bahwa tahun tersebut adalah terminus a quo, dengan penjelasan ini dipahami bahwa itu merupakan tahun yang sebenarnya paling awal dari kemungkinan munculnya literatur tersebut. Bahkan menurut William Budget sebenarnya cerita yang merujuk kepada Alexander daripada sumber ini telah diedit dan dirusak8 serta dilengkapi dengan cerita-cerita yang dimasukkan secara curang. Menarik dalam hal ini untuk menyebutkan bahwa sumber Kristen dari Jacob Ben Serug harus dimuntahkan kelemahan dari segi interpetasinya. Dimana cerita ini tidak diletakkan pada kronologi yang sebenarnya. Alasan untuk melihat bahwa cerita Dzulkarnain (the two horn) merupakan cerita yang diadaptasikan daripada sumber-sumber resensi Talmudis dan bahkan daripada penafsiran sebagian kalangan Rabbinic. Dimana Kristen mempermainkan sumber pembicaraan ini untuk tujuan pembenaran terhadap imperium gereja Kristen di Konstantinopel dan juga Byzantium sebagai bentuk manifestasi dan penaklukan terhadap dunia Timur. Persoalannya lebih sulit dimana mereka menawarkan sosok lain dari kalangan Rumi (roma) sebagai standar untuk menjawab dan melecehkan sumber –sumber oksidental dimana tradisi ini dipergunakan dan dikembangkan dalam berbagai literatur. Penafsiran bahwa sosok tersebut diperdebatkan dalam kalangan Yahudi (Judaisme) klasik menunjukkan bahwa tidak ada resensi yang menunjukkan indikasi kepada sumber Kekristenan secara independen. 4 N. A. Newman, The Qur'an: An Introductory Essay By Theodor Nöldeke, 1992, Interdisciplinary

Biblical Research Institute: Hatfield (PA), p. 9 5 E. A. W. Budge, The History Of Alexander The Great Being The Syriac Version Of The PseudoCallisthenes, 1889, Cambridge: At The University Press, p. 154. 6 7 K. Czeglédy, "The Syriac Legend Concerning Alexander The Great", Acta Orientalia Academiae Scientiarum Hungaricae, op cit., pp. 246-247 8 E. A. W. Budge, The History Of Alexander The Great Being The Syriac Version Of The PseudoCallisthenes, op cit., p. lxxvii.


Sumber Dalam Islam Kalangan kaum muslimin juga mempunyai penjelasan mengenai Dzulkarnain yang oleh sebagian sarjana modern seperti Rasyad Khalifa dan Muhammad ‘Abduh dianggap merujuk kepada Alexander. Akan tetapi pendapat ini bukannya tidak memperoleh tantangan dan kecaman daripada dunia Islam. Sejumlah kalangan penafsir umat Islam seperti Al A’zhami menyerang argumen ini dengan menunjukkan bahwa hal tersebut tidak dibenarkan. Menurutnya kedua tokoh ini berbeda dalam berbagai aspek terutama bahwa keduanya berbeda secara kepribadian dan karakter. Kecaman bahwa sumbe Dzulkarnain ini berkenaan dengan Cyrus justru diungkapkan oleh Abu A’la Al-Mawdudi. Hal yang cukup menarik bahwa studi dan kajian yang dikemukakan bahwa Dzulkarnain adalah Cyrus benar-benar tidak ditafsirkan atau pernah diperbbincangkan di kalangan mufasirin umat Islam. Penafsiran ini justru ditimbulkan daripada perbincangan terhadap tradisi kalangan Ibrani dan juga studi kontemporer dan hal ini menjadi alasan yang sangat penting untuk mengajukan gagasan bahwa Dzulkarnain mendapatkan sorotan daripada banyak pakar. Pendapat lainnya bahkan dikemukakan oleh beberapa apolgis muslim bahwa Dzulkarnain merupakan seorang muslim dan dia bukan keturunan dari bangsakalangan kufar Yunani. Pendapat dari kalangan Sunni dan penafsir mufasir kontemporr diserang dengan berbagai tafsiran bahwa Dzulkarnain merupakan Dhahak bin Dhahak dan pendapat ini juga dibenarkan oleh Ibn ‘Abbas dan para mufasiri lainnya. Sebagian tradisi kalangan Islam mengenai Dzulkarnain justru berasal dari para penafsir cerita-cerita yang berbau Israeliyah yang mengidentikkannya dengan berbagai macam sosok. Salah satunya adalah dengan sejumlah orang yang berbeda.9 Resensi Orientalisme Para orientalis di kalangan barat mengajukan berbagai macam ekseminasi terhadap sumber cerita Alexxander. Antara lain Purgstell yang menganggap bahwa Dzulkarnain merupakan cerita mengenai raja bangsaAbsenia (Yamenite). Sedangkan menurut Graf dan para orientalis lainnya bahwa sebenanrya yang dimaksudkan tersebut dalam literatur kitab suci Quran adalah Alexander. Tidak mengherankan untuk memperkuat pendapatnya tersebut para orientalis tersebut dengan berani memakai sumber dari penafsiran para komentator yang mempergunakan cerita Israeiliyah. Sebagian para orientalis kemudian mempergunakan berbagai sumber tersebut untuk menuduh bahwa umat Islam sebenarnya telah mengambil cerita tersebut dari kalangan Kekristenan. Pendapat ini terutama sekali dipergunakan oleh Anis Sorosh dan Tishdall untuk menyerang dunia Islam, mereka beruusaha menunjukkan bahwa sumber literatur suci umat Islam sebenarnya cacat. Tetapi pendapat ini disangkal oleh sebagian kalangan salah satunya Ghero yang menganggap bahwa sumber tersebut tidak mempunyai aspek secara langsung dengan dunia dan literatur daripada literatur Islam. 9 Begitu mudah untuk memahami bahwa sumber yang dipergunakan adalah Pseudo-Celestine.

Terutama sekali hal ini dipraktekkan kalangan komentator terhadap berbagai macam bahan yang mana menunjukkan kontradiksi dengan pemahaman sumber awal yang menunjukkan bahwa gereja memergunakan material dari tradisi di wilayah Asia, namun demikian ada keraguan terhadap otensitas daripada material penafsirannya terutama berkenaand engan sumber-sumber yang justu menunjukkan bahwa


Several features of the text [i.e., the Christian Legend] also occur in the Koranic narrative - the famous horns of Alexander, the journey to the west and then to the east, and of course the central theme of the gate, which will be opened at an apocalyptic Endzeit by divine command. But although this has been proposed by Nöldeke and often repeated since, the work also does not qualify as a direct source for the 'two-horned' Alexander of the Koran, at least not in its present form; recent investigations indicate an ex eventu knowledge of the Khazar invasion of Armenia in A.D. 629.10 Sejumlah pihak memahami bahwa sumber tekstual daripada legenda yang diatributkan kepada Yakob ben Serug ini masih sebatas cerita yang ditradisikan dan sama sekali tidak mewakili literature apa pun. Sumber daripada kalangan Kekristenan mengenai cerita ini juga sangat terlambat dan terbatas, sehingga bahkan seringkali sumber yang dipergunakan dalam dunia Kekristenan berasal daripada orang-orang yang bukan berasal dari Timur. Sehingga merupakan suatu hal yang sangat sulit agar orang dari kalangan berbeda (selain) Kekristenan dapat mengaksesteks ini sebagai sumber daripada sebuah literatur yang berbeda. Kerumitan Sumber Akibat daripada penafsiran – penafsirn yang dikembangkan tersebut, para orientalis berkeyakinan penuh bahwa kata “Dzulkarnain” sebenarnya merupakan sebuah sumber yang berasal kalangan bukan ‘Arab. Mereka meyakini bahwa umat Islam menganggap bahwa sebenanrya yang dimaksudkan tersebut adalah tiada lain merujuk kepada Iskandar Dzulkarnain. Asumsi yang diajukan ini membuat berbagai kajian. Mereka mempercayai bahwa umat Islam memang mengatributkan gelar tersebut kepada Alexander dengan alasan bahwa dia mempunyai mahkota berupa tanduk kambing pada sebuah kepingan uang Tetradrachma. Selain itu menurut kalangan orinetalis dekspripsi tentang penguasaannya terhadap wilayah yang sangat begitu menjangkau sejumlah kawasan sangat cocok dengan yang disebutkan dalam literature kalangan umat Islam. Pendapat yang mereka ajukan sebagai dasar untuk menganggap umat Islam mempergunakan bahan tersebut tidak dapat dipahami sepenuhnya. Menurut sejumah informasi bahwa Alexander dianugerahi semacam mahkota yang teridiri atas tanduk kambing di Egypt. Sejumlah sumber mengatakan bahwa tanduk ini memberikan penjelasan bahwa dirinya merupakan seorang seorang anak Zeus.11 Lambang ini menunjukkan bahwa dirinya mempunyai formasi dalam kepribadiiannya sebagai sosok yang uluhiyah, praktek seperti ini dapat kita peroleh daripada Julius Caesar dan berbagai sosok pemimpin untuk menjukkan bahwa dirinya adalah salah satu entitas putra dari dunia langit. Sehingga dengan jelas bahwa penggunaan daripaa atrbut mahkota tersbeut tidak menunjukkan bahwa dirinya merupakan pemimpin dari penaklukkan Timur dan Barat akan tetapi menunjukkan akan statusnya.12 Berbeda dengan koin yang dimaksudkan tersebut, alah satu sumber lainnya menunjukkan bahwa Alexander diberikan mahkota berupa tanduk. Sumber daripada hal ini berasal dari koin Babil tahun 322 BC.Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya cerita daripada Alexander yang bertanduk tersebut tidak benar sepenuhnya dipergunakan untuk kalangan selain Kekristenan, bahkan dalam hal ini kita dapat mengatakan bahwa mahkota tanduk yang dipergunakan Alexander tersebut tidak sepenuhnya tepat. Dalam berbagai aspek menurut Redslob bahwa yang dimaksudkan itu adalah yang dalam ramalan Alkitab sebagai kambing yang mempergunakan dua tanduk adalah Cyrus (Zardushi Koresh) hal ini menunjukkan dengan 10 S. Gero, "The Legend Of Alexander The Great In The Christian Orient", Bulletin Of The John Rylands University Library Of Manchester, 1993, Volume 75, p. 7. 11 Plutarch, Alexander, 27 12 Israel Knohl, The Messiah Before Jesus. 2009. Penerbit : Routledge.hlm.56.


jelas bahwa Alexander telah dengan berani mencoba mengikutinya dengan memakai mahkota dengan dua macam tanduk. Sehingga dengan jelas bahwa sebenarnya argument yang mengatakan bahwa Alexander memakai mahkota yang bertanduk tersebut sebenarnya bukan sebuah kebenaran yang sesungguhnya. Termasuk dalam hal ini berbagai dugaan yang menyelaraskan Alexander sebagai salah satu sosok yang dikenal dalam dunia Islam harus ditentang sepenuhnya.


Sumber Alexander