Page 1

EPISTEMOLOGI KELOMPOK WAHABI SEBUAH ABNORMALITAS PAHAM SALAFIAH AL MUJASSIMAH Oleh : Rabi Syamsul Idul Adha (The Spritual Leader of Jam’iyyat Muslim alAramiyun wa al-Rabbaniyun)


A. Wahabisme : Mengkaji si Tanduk Syaithan Berbicara mengenai Wahabisme, maka tidaklah harus dilepaskan daripada pembahasan mengenai penyusun daripada dogma keagamaan mereka, tokoh terpenting dan bahkan menentukan alur peranan mereka dalam sejarah pemikiran umat Islam. Dia adalah Muhammad Ibn ’Abdul Wahab al-Mujassimi al-Muhakkimah, seorang yang pemikirannya diselubungi dengan kedustaan dan penyelewengan secara bodoh terhadap teks-teks pemikiran dua pembesar Mazhab Sunni, ’allamah Syaikhul Islam Ibn Taimiyah al-Qadiriyah & Syaikh Jalal ad-Din asMahilli, kedua tokoh Sunni ini sekalipun dalam berbagai aspeknya mengangkali dan bahkan menggeledah pemikiran sesat di zamannya, termasuk di antaranya adalah pemahaman almujassimah & al-Musyabbihah (golongan yang meyerupakan Allah), namun di tangan si ’Nejad’ peninggalan kedua ’ulama Sunni ini harus dihancurkan atau bahkan dilenyapkan dengan berbagai pembohongannya terhadap para ’ulama, dalam sebuah komentar mengenai akidah sesat al-Mujassimahnya tersebar bahkan dalam kitab suci pengikutnya, kitab ini mereka sebut dengan gelar kitab at-Tauhid, dengan tidak jelas apa yang dimaksudkan oleh mereka sebagai ’tauhid’ sementara di dalamnya terdapat berbagai macam penyelewengan dan penafsiran terhadap teks keagamaan salah satunya sebagaimana yang mereka uraikan, Bahwa dua tangan Allah, sebelah kanan menggenggam langit dan dunia di tangan kirinya.1 Lihatlah berapa lencangnya si penyesat dengan sembarangan meletakkan sifat tangan kepada Allah Ta’ala yang maha suci seenak dirinya sendiri, bahkan dia merancukan orang-orang yang mengkaji makna tangan itu seperti ’tangannya’ manusia (?). Maha Suci Allah daripada pemikiran sesat mereka, betapa banyak para penyesat dan pemikiran batil seperti yang mereka kemukakan dengan mengarahkan pemahaman orang-orang awam kepada kedustaan dan cara berpikir yang sangat berlebihan dalam menetapkan sifat Allah tersebut. Sedangkan kalangan Sunni(Salaf ash-Shalih) jauh daripada gagasan sesat dan menyimpang demikian, padahal adalah jelas umat ahlus Sunnah wal Jama’ah ketia menghadapi teks sedemikian maka mereka membenarkan ‘kedua tangan’ tetapi mereka tidak mengatributkan secara ceroboh sebagaimana yang diperagakan oleh si penyesat yang sangat rendah dan mengerikan, betapa sebenarnya di kalangan Sunni sendiri pemahaman dan penilaian terhadap makna ‘yadain’ tidak bermakna tangan Allah sedemikian yang dipahami kaum Wahabiyun dan bahkan terdapat pemahaman mengenai apa yang dikemukakan beberapa macam penilaian sebagai berikut, Hadit ini membantah riwayat yang memuat redaksi “ ‫” شمال‬, [namun demikian hadits ini bukan untuk menetapkan bahwa Allah memiliki dua tangan (anggota badan) yang keduanya berupa tangan kanan, tetapi untuk mengungkapkan bahwa Allah maha luas rahmat dan karunia-Nya].2 Tidak mengherankan dengan penafsiran dan kajian atau pemahaman kalangan alWahabiyun yang membingungkan dan menyesatkan sedemikian, mereka menafsirkan maknanya secara literalis atau bahkan dengan tidak menginahkan keilmuan dan menyimpang dari kebenaran dan pemahaman kaum Salaf. Bahkan di kalangan ‘ulama Sunni sendiri penyebutan tangan sebagaimana yang diperagakan Asy’ari & Ibn Qutaibah tidak bermakna ‘tangan’ sebagaimana pengertian daripada tangan makhluk, mereka menakwilkan bahwa makna tangan Allah daripada atribut diri Allah hanya dipahami dari segi penafsirannya sebagai ‘barakah’ dan 1 Muhammad Ibn ‘Abdul Wahab, Kitab at-Tawhid, hlm. 130 2 Ibn Jauzi,Daf’u Syubhah, hlm. 107.


‘rahmat’ sementara tangan sebagai penetapan atau talkhis (penyebutan) kepada diri Allah sendiri di kalangan mereka ditolak sepenuhnya. Bahwa hadits-hadits yang menyebutkan tangan sebagaimana yang diuraikan oleh al-Mundziri dan kalangan Sunni pada umumnya menyelisihi dan bahkan mempertebatkan apakah makna tangan tersebut diartikan bahwa Allah sepenuhnya mengatikan dirinya mempunyai ‘tangan’ dan ‘tangan’ tersebut berbeda dengan apa yang dimiliki oleh makhluk ataukah sebenarnya tangan tersebut tidak benar adanya merujuk kepada ‘tangan’ tetapi hendak menyampaikan kepada makna lainnya yang sekalipun demikian tidak bertentangan dengan makna yang hendak disampaikan, demikian kita mendapatkan bahwa para ‘ulama lebih memilih opsi yang terakhir tersebut, bahwa mereka menghindarkan penyerupaan Allah daripada makna ‘tajsim’ dan mereka menyampaikan bahwa makna yang ditujukan dalam berbagai riwayat tersebut hanya yang selayaknya kepada Allah, bahwa Allah tidak dan sama sekali tidak sepnantasnya mempunyai tangan dalam arti yangberlainan dibandingan apa yang terdapat dalam penafsiran di kalangan pengikut Ibn Taimiyah dan orang-orang mulia di antara mereka mengatakan kepada Allah apa yang layak untukNya, dengan demikian mereka menghindarkan pentajasiman.Ibnu Taimiyah dalam sebuah risalahnya mengatakan dengan jelas bahwa,”Barangsiapa mengatakan Allah mempunyai jisim (tubuh) dengan menganggap tangan Allah sebagaimana tangan makhluk, maka dia telah dianggap riddah (kafir)”, pendapat ini dikemukakan pula oleh Ibn al-Buthi’ dan al-Qusyairi’ dan sebagainya. Pengkafiran kepada ahlijisim dengan alasan-alasan bahwa mereka menganggap Allah mempunyai ketidakmurnian serta memiliki berbagai kerendahan dengan apa yang terdapat dalam pribadi (Nefsh) Allah. Tidaklah pantas untuk menetapkan’tangan’ sekalipun bukan dengan alasan ‘tasybih’ namun mereka dengan mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan tangan adalah salah, tidaklah benar mengatakan bahwa Allah adalah termasuk dalam bentuk tubuh (jasad) dan tidak dapat dianggap ‘sebagaimana’ tangannya yang terdapat dalam makhluk, demikian ketika Allah mengatributkan kepada dirinya apa-apa yang dimaksudkan dengan lafazh makhluk maka maknanya adalah tidak sebagaimana yang terdapat dalam apa yang disebutkan dalam makhluk atau kemiripan dengan makhluk sebagaimana yang disangkakan oleh sebagian kalangan Wahabiyun & kebodohan mereka tentang ilmu-ilmu mengenai persoala nahwu (grammatik) dan juga penggunaan gaya (majazi) dalam kalam Allah, gagasan daripada kalangan Wahabiyun ini telah mengakibatkan banyak di antara pengikut mereka jatuh *) dalam kemurtadan dan kesesatan serta penyimpangan di antara para inkarus sunnah, tidak mengherankan apabila dalam berbagai literatur kalangan Wahabiyun mengatributkan kepada Allah kedustaan dan kelemahan serta kebencian terhadap para ahli kalam di antara para pengikut ahlus Sunnah, tidak ada alasan untuk memahami bahwa penjabaran dan gagasan keagamaan mereka jauh daripada ketauhidan dan bahwa tidaklah harus dipahami bahwa mereka adalah golongan yang menyimpang. Alasan sebagian ‘ulama Sunni & Syi’ah mengatributkan kepada golongan mereka dan mengatakan bahwa menganggap mereka sebagai kelompok yang disebutkan dalam riwayat mengenai Najad, bahwa makna daripada hadits & riwayat-riwayat yang shahih menunjukkan bahwa mereka tergolong kepada negeri atau wilayah yang seringkali merupakan tempat sejumlah kebencian dan fitnah serta pergolakan keagamaan. Riwayat mengenai hadits ini menyebutkan bahwa ;( al-zalâzil wa al-fitan wa qarn al-syaythân), pemaknaan bahwa Nejad dalam berbagai hadits disebut atau dianggap sebagai wilayah tanduk (qarain) Syaithan ditolak. Penafsiran yang sangat jelas ketika para ‘ulama ahlul hadits menyangka bahwa wilayah tersebut merupakan sebutan yang umum diberikan kepada wilayah Hejadz Timur. Secara jelas penjelasan kepada wilayah Nejad dalam berbagai hadits dengan mengabaikan akan beberapa perincian menunjukkan bukan hanya kepada wilayah Nejad atau merujuk kepada al-Iraqi sebagaimana yang dipahami oleh kebanyakan orang.-orang di kalangan mereka. Dalam kajian mereka misalnya yang dipaparkan di kalangan mereka bahwa Najad yang dimaksudkan tidak harus bermakna kepada wilayah tersebut,3 akan tetapi bahwa yang dimaksudkan adalah wilayah ‘Iraq dengan 3 ‘Abdul Aziz bin Sa’adhan, Sorotan Total ‘Terhadap ‘Ulama , hlm.85


alasan-alasan tertentu. Namun pendapat mereka tidak benar dengan beberapa argumen sebagai berikut ini. a. Penyebutan hadits mengenai Nejad dalam berbagai macam ragam ‘matan’nya senantiasa menyebut wilayah – wilayah tersebut dengan nama wilayah yang dikenalinya bukan sebutan atau gelar tertentu, jadi adalah dusta argumentasi kalangan Wahabiyun, mereka mengatakan bahwa istilah Najad dalam hadits tersebut tidak menunjuk kepada Nejad, tetapi hanya menjelaskan mengenai keadaan wilayahnya. Pendapat ini dengan mencoba memahami hadits yang telah disebutkan dengan jelas dan tegas tidak mungkin mereferensikan kepada tempat selain dengan makna ta’rif (diketahui) terhadap konteks wilayah di Nejad itu dengan jelas tidak menunjuk ke wilayah selain Nejad itu sendiri. b. Selain itu hadits lainnya mengindikasikan bahwa rujukan kepada deskripsi tempatnya menunjukkan kepada wilayah Nejad dengan berasumsi bahwa referensi yang ditunjukkan adalah kepada wilayah Najad, hal ini terdapat dalam penjelasan mengenai kawasan lainnya yang berbeda dengan kawasan wilayah Rabi’ah dan Mudhar yang dipergunakan untuk identifikasi wilayah yang terdapat di ‘Arabia. 4Secara umum penyebutan Rabi’ah mengindikasikan kepada sebuah kawasan yang dihuni oleh kelompok ‘Adnaniyun dan tempat ini hanya terdapat di wilayah ‘Arabia dan berdekatan dengan Nejad, selain itu sebutan Mudhar juga merujuk kepada kawasan di Hijaz. Alasan yang mendukung untuk menguraikan bahwa kalau pun maknanya tidak merujuk kepada Nejad, maka jelas rujukan kepada ‘Iraq sekaligus merupakan identifikasi kepada kawasan di wilayah tersebut. Ha ini disebabkan Rabi’ah berimirgrasi ke berbagai wilayah, namun sebenarnya mereka berasal dari wilayah Hijadz di ‘Arabia sebelah barat. Mereka kemudian menurunkan Bani Bakar di wilayah ‘Iraq, Yaman dan sekitarnya. Di wilayah lainnya diketemukan kelomok Bahrain. Selain itu kaum ‘Anz berpindah ke wilayah selatan ‘Arabia. Demikianlah mengapa Rasulullah menjelaaskan rujukan wilayah ini bukan hanya meliputi Hijaz akan tetapi sampai kepada wilayah selainnya.5 c. Asumsi lainnya yang dapat diuraikan bahwa terdapat rujukan dalam hadits bahwa riwayat tersebut disampaikan melalui berbagai rujukan menunjukkan bahwa wilayah daripada Nejad sekalipun merupakan kawasan yang umum di wilayah Asia barat, namun sejumlah sarjana mengatakan bahwa wilayah ini dibatasi antara lain pada sebelah baratnya dengan wilayah pegunungan dan bentangan lava sampai ke wilayah Timur, sedangkan di kawasan sebelah Timurnya dibatasi dengan padang pasir adDahna, sedangkan sebelah Selatan dibatasi oleh Rab ‘Ul Khalil yang ditandai dengan beberapa lembah. Selain itu kalangan sarjana menguraikan bahwa dibangunnya “Tembok Khosrw” di wilayah Selatan pemisah atau batas untuk kawasan Nejad. 6Hal ini dengan jelas menunjukkan bahwa wilayah tersebut tiada lain sebagaimana ditunjukkan, Begitu dengan jelas bahwa dengan berbagai kterangan atas kawasan tersebut menunjukkan wilayah daripada Nejad tidak mencakup atau tidak menjangkau untuk wilayah selaian kawasan yang didiami kalangan Wahabi, 4 5 http://en.wikipedia.org/wiki/Rabi%60ah 6 http://en.wikipedia.org/wiki/Najd


hal ini merupakan penjelasan yang dengan tegas menolak asumsi sebagian Wahabi yang mencoba untuk menentang argumentasi kalangan sarjana yang tidak beranggapan sebagaimana asumsi yang mereka sebutkan. Selanjutnya bahkan fitnah al-Harits, al-Mukhtar dan Aswad al-‘Anshi serta berbagai Nabi palsu merupakan orang-orang Nejad, tidak mengherankan pulabetapa fitnah/penyelewengan dan kedustaan diketahui merupakan bagian daripada wilayah yang sangat terkutut tersebut. Memahami bahwa peringatan daripada berbagai riwayat yang menganggap Nejad sebagai kawasan yang penuh kebjahatan dan kebatilan. Demikian pula kita melihat bahwa gerakan Wahabiyun tersebut telah merusak kontekstual pemikiran dunia Islam, mereka menolak kesan bahwa ‘kawasan’ yang sesat yang mana merupakan tempat untuk kalangan mereka berasal, betapa jelas fitnah dan kerusakan yang mereka timbulkan sejak pergerakan ini ditunjukkan di wilayah tersebut, banyak ‘ulama Sunni yang berusaha menunjukkan kebatilan daripada pergerakan daripada sekte yang menyimpang ini daripada dunia Islam. Kebanyakan risalah-risalah itu antara lain yang disusun oleh Sulaiman ibn ‘Abdul Wahab sendiri saudara yang paling dekat dengan sang Syaikh dalam literaturnya berjudul (Ash Shawaiqul Uluhiyah fi raddul Wahabiyun), dalam literatur yang sangat bersahaja tersebut beliau membantah kebid’ahan daripada Syaikh Muhammad Ibn ‘Abdul Wahab dan gerakannya yang merusak sebagai berikut, Tetapi tiada seorang menyaksikan dan mengklaim bahwa di antara pemuka kalangan umat Islam yang terlibat dengan hal-hal tersebut, dengan anggapan bahwa yang dimaksudkan merupakan kekufuran. Tidak pernah pemuka di kalangan Islam menyerukan jihad terhadap kalangan mereka dan tidak pernah mereka menyebut pemukiman daripada Islam perkotaan orang sesat atau kufur sebagaimana yang engkau katakan. Dengan jelas indikasi ini menjelaskan bahwa aliran Wahabiyun telah membuat kerusakan disebabkan anggapan mereka ‘untuk’ membumihanguskan warisan pemikiran keagamaan yang berbeda atau bertentangan dengan fatwa mereka. Dengan alasan memerangi berbagai bid’ah dan penyelewengan terhadap pemaham ‘ulama ahlus Sunnah, kalangan Wahabiyun menyerang negara-negara umat Islam dan sekaligus membakar kampung halaman orang-orang mukmin, membakar perumahan mereka, menyita dan mencuri serta merusak rumah peribadatan dan institusi pendidikan kalangan umat Islam, segala kejelekan dan kebengaland daripada aksi mereka tersebar di berbagai kawasan, mereka tidak segan-segan meruntuhkan dasar persaudaraan dan ke-Islaman dan juga apa pun yang mereka anggapan merupakan hal yang berbeda dengan pemahaman di kalangan mereka, tidak segan-segan pula mereka mengklaim bahwa agama mereka dengan sangat literalis hanya didasarkan kepada pengetahuanpengetahuan keagamaan dan toleransi beragama, mereka menyerang setiap Mazhab dan kelompok yang berbeda pandangan atau engetahuan dengan sekte mereka dan bahkan dengan tidak malu mereka menganggap umat Islam lainnya harus diberantas, peperangan dan pertentangan pahit antara para ‘ulama Sunni dan pemuka Islam tercatat dalam berbagai macam literatur keagamaan, tidak mengherankan pula apabila perdebatan antara berbagai kelompok mereka bukan hanya dapat dikatakan berkenaan mengenai pemahaman mereka yang sangat berbeda dan bahkan dalam berbagai aspek sampai kepada penghancuran situs –situs kramat. Kalangan ahli dan pakar-pakar Heresiografi & philologis menyebutkan mengenai kejahilan dan kerusakan yang dihasilkan daripada pergolakan pemikiran Wahabiyun yang mengacaukan kehidupan umat di berbagai kawasan. Para tentara dan pasukan yang diorganisir daripada Wilayah Nejad & sekitarnya merupakan kekuatan militeristik yang bertugas untuk menyerang dan meratakan seluruh ritus keagamaan umat Islam yang dianggap nyeleneh dan tidak berguna untuk kalangan mereka. Tidak mengherankan apabila tercatat begitu banyaknya ritus Islam yang dirusakkan atau bahkan diratakan dengan tanah dengan didaarkan kepada interpetasi hadits dan pemikiran ‘ulama-ulama di kalangan mereka yang miskin keilmuan.


Sejumlah ritus persemayaman kalangan Sufistis dan sejumlah sosok Islam berseterta rumah peribadatan kaum muslimin dihancurkan dan dililuhlantakkan dengan tanah. Kalangan Wahabiyun menganggap bahwa hal tersebut merupakan bagian daripada ajaran Islam, mereka juga menganggap menghancurkan rumah ibadah yang dibangun di dalamnya pemakaman orangorang shalih merupakan bagian daripada penyelewengan terhadap Tauhid ‘ubudiyah dan untuk itu mereka dengan berani berusaha untuk meratakannya. Padahal hal seperti ini menyalahi konteks pemahaman di kalangan umat Islam & hal tersebut dikemukakan oleh para ‘ulama dengan berbagai macam pemahaman mengenai kasus tersebut, a. Kalangan yang memakruhkan atau hanya tidak menyetujui pembangunan Masjid dan pemakaman, hal ini sebagaimana yang dikemukakan asy-Syafi’i dalam sebuah komentar, “Dan dibenci dibangunnya masjid di atas kuburan, karena hadits yang diriwayatkan oleh Abu Martsad Al-Gonawi bahwasanya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang sholat ke arah kuburan dan berkata, “Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai berhala (sesembahan), karena sesungguhnya bani Israil telah binasa karena mereka menjadikan kuburan-kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid”. As-Syafii berkata, “Dan aku benci diagungkannya seorang makhluq hingga kuburannya dijadikan masjid, khawatir fitnah atasnya dan atas orang-orang setelahnya”7 Dapat dipahami betapa al-Imam al-Syafi’i tidak mengatakan bahwa yang dimaksudkan sebagai pentahriman dalam membangun makam ini untuk tujuan – tujuan ‘ibada dan bahwa beliau memperkenankan apabila dengan membangun makam itu tidak merusak shalat. Demikian pula gagasan Wahabiyun yang berupaya meratakan pemakaman terebut dengan jelas tidak beralasan sama sekali, sebab di kalangan al-imam Mazhab Hanafi & Hanabaliah, pemujaan atau shalat di dalam masjid yang dipergunakan untuk pemakaman tidak dimaksukan sebagai pengagungan, hal tersebut menunjukkan bahwa pemakaman itu dikhususkan untuk menguburkan orang-orang shalih dan bahwa tidak mengapa shalat di dalamnya, demikian pula bahwa kalangan fuqaha tidak dengan semena-mena melarang denga menyuruh untuk membongkar masjid itu, bahkan di antara kalangan ulama terdapat orang-orang yang dengan alasan untuk kebaikan dan kemashlahatan, tidak mempersoalkan untuk merusak bangunan masjjid tersebut, b. Mereka yang berpendapat bahwa membangun makan di dalamnya tidak diperbolehkan kecuali dengan alasan-alsan yang disyar’ikan (diperkenankan), maka tidak didapatkan masalah di dalamnya, pendapat ini dikemukakan oleh beberapa fuqaha selain ahlus Sunnah dan mereka yang faqih dalam ilmu Ushul antara lain sebagaimana yang dimeukakan oleh Muhammad al-Baqillani dalam al-Inshaf dari kalangan Mazhab Syafi’i dan beberapa pemuka dan hakim di kalangan kaum muslimin seperti Ibn al-‘Arabi. c. Diperbolehkan apabila shalat di pemakaman dan bahwa hal tersebut seyognya tidak terlarang sebagaimana yang dikemukakan ini, ‫سّوى‬ َ ‫غْيُر ُم‬ َ ‫هَو‬ ُ ‫ َو‬،‫عَلْيِه‬ َ ‫صّلى‬ َ ‫سّوى أ َْو ُي‬ َ ‫ن ُي‬ ْ َ ‫ َوأ‬،‫جٌد‬ ِ ‫س‬ ْ ‫عَلى اْلَقْبِر َم‬ َ ‫ن ُيْبَنى‬ ْ َ‫ه أ‬ ُ ‫َوأ َْكَر‬: ( ‫ل‬ َ ‫َ)قا‬ َ َ َ َ َ – ‫ل الّلِه‬ َ ‫سو‬ ُ ‫ن َر‬ ّ ‫كأ‬ ٌ ‫خَبَرَنا َماِل‬ ْ ‫ أ‬،‫ء‬ َ ‫سا‬ َ ‫ َوَقْد أ‬،‫ه‬ ُ ‫جَزأ‬ ْ ‫صّلى إَلْيِه أ‬ َ ‫ن‬ ْ ِ ‫َوإ‬: ( ‫ل‬ َ ‫صّلى إَلْيِه َ)قا‬ َ ‫أ َْو ُي‬ َ َ‫جد‬ ِ ‫سا‬ َ ‫م َم‬ ْ ‫خُذوا ُقُبورَ أْنِبَياِئِه‬ َ ‫صاَرى اّت‬ َ ‫ َوالّن‬،‫ل الّلُه اْلَيُهوَد‬ َ ‫ل »َقاَت‬ َ ‫م – َقا‬ َ ‫سّل‬ َ ‫عَلْيِه َو‬ َ ‫صّلى الّلُه‬ َ ‫عاَلى‬ َ ‫ه َوَالّلُه َت‬ َ ‫ َوأ َّنُه ُكِر‬،‫ َواْلَثاِر‬،‫سّنِة‬ ّ ‫هَذا ِلل‬ َ ‫ه‬ ُ ‫َوأ َْكَر‬: ( ‫ل‬ َ ‫ب « َ)قا‬ ِ ‫عَر‬ َ ‫ض اْل‬ ِ ‫ن ِبَأْر‬ ِ ‫َل َيْبَقى ِديَنا‬ 7 Al-Muhadzdzab 1/456, dengan tahqiq : DR Muhammad Az-Zuhaili


‫ك اْلِفْتَنُة‬ َ ‫ن ِفي َذِل‬ ْ ‫م ُتْؤَم‬ ْ ‫ َوَل‬،‫جًدا‬ ِ ‫س‬ ْ ‫ه َم‬ ُ ‫خُذ َقْبُر‬ َ ‫عِني ُيّت‬ ْ ‫ن َي‬ َ ‫مي‬ ِ ‫سِل‬ ْ ‫م‬ ُ ‫ن اْل‬ ْ ‫حٌد ِم‬ َ َ‫م أ‬ َ ‫ظ‬ ّ ‫ع‬ َ ‫ن ُي‬ ْ َ‫م أ‬ ُ َ‫ع ل‬ ْ َ‫أ‬ ‫عُد‬ ْ ‫ن َيْأِتي َب‬ ْ ‫عَلى َم‬ َ ‫ل‬ ُ ‫ضَل‬ ّ ‫َوال‬ Kemudian, shalat di atas kubur tidaklah merusak shalat. Umar pernah melihat Anas shalat di atas kubur. Lalu Umar berkata, “Al-qabr, al-qabr! (Kuburan, kuburan!)” Namun Anas menyangka bahwa Umar berkata, “Al-Qamar! (Bulan!)” Maka ketika beliau mengerti bahwa yang dimaksud adalah “Al-Qabr”, maka beliau melangkah, lalu meneruskan shalatnya. Dan Umar tak menyuruh Anas mengulangi shalatnya.8 Sebagian umat Islam telah melihat betapa kehancuran dan kemusnahan berbagai artefak dan peninggalan para Salaf ash-shalih di kedua tanah yang dimuliakan di tangan mereka. Tidak lain penafsiran agama (ta’liq) dalam persoalan Ushul mereka yang sejak pada masa penyanjung dan pengikut paham yang menyimpang daripada kebenaran Sunni ini dapat ditelusuri dalam konservatifme dan kedunguan pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh para pemimpin dan pelopor ke-Mazhabannya, dalam hal ini Muqsith al-Ghazali & Munawar Chalil dua pengikut setia daripada Mazhab Islam Kontekstualis, menunjukkan betapa pemikiran Wahabi telah merusak kecerdasan dan pemikiran keilmuan serta polemik dan keberagaman keagamaan di berbagai wilayah Islam, hal ini merupakan hasil dari betapa keringnya pemikiran keagamaan mereka daripada pemahaman kalangan Sunni mereka yang tidak mengakui perbedaan dan perdebatan dalam konteks akademis yang tidak dipunyai oleh kalangan Wahabiyun dan para penafsir ‘sampah’ dalam kalangan umat Islam, dengan demikian kedudukan dalam konteks keilmuan di kalangan Wahabi memang merupakan sebuah aspek atau pun merupakan media yang tidak diperlukan. Dalam mengkaji berbagai bentuk kerusakan (al-fasad) dan juga berbagai macam kesalahan dalam pengambilan penafsiran secara keilmuan dan kaidah keilmuan di kalangan mereka yang memang dapat dipahami dalam berbagai macam lontaran-lontaran tuduhan dan pentakfiran sertausaha merendahkan keduduna pra ‘ulama Salaf. Dengan sangat berani mereka merusak kedudukan para Salafush shalih dan menganggap bahwa pemahaman serta akidah pemikiran keagamaan mereka menganggap bahwa para kalangan keilmuan Islam telah keliru dalam mengembangkan pemahaman ‘agama’ yang berselubung dengan berbagai macam penyimpangan dan khufarat, Mazhab Wahabiyun terkenal dalam penolakan penafsiran yang beragam terhaap Islam sebagaimana dengan berhasil dipraktekkan oleh para cendikiawan Islam seperti al-Waliyullah (Syeikh Waliyullah) dalam kontekstualisasi Islam Indianya, atau dalam usaha-usaha mereka menunjukkan bahwa pemahaman-pemahaman di kalangan ‘ulama Islam Sunni bertentangan dan dianggap sebagai kerendahan dan snagat rendah, sehingga tidak sepatutnyadi kalangan mereka mengikuti pendapat umat Islam yang menurut mereka telah menyelishi pemikiran keagamaan mereka yang begitu mengerikan. Bahkan dalam aspek ini perlu disebutkan mengenai teguran daripada Syaikh Bakri yang berusaha menjelaskan berbagai penyelewengan daripada Syaikh Rabi’ yang telah menghina sejumlah ‘ulama Sunni yang telah menyumbangkan berbagai pemikiran keilmuan yang berguna untuk umat Islam, akan tetapi justru bukannya saresehan justru kalangan Wahabi yang dipimpin oleh Syaikh Rab’i laknatullah ‘alaihum menghina dan mencerca Dr. Bakri dan menganggapnya sebagai golongan yang menyesatkan umat Islam. Dalam suratnya yang dilayangkan tersebut Dr. Bakri dengan segala kesungguhan memberikan sejumlah nasehat untuk kalangan Wahabi antara lain sebagaimana yang disebutkannya, “Dan di antara daftar isi tertulis ‘Perkataan Sayyid Quthub tentang Khalqul Qur`an dan Bahwa Kalam Allah adalah Ibarat dari Suatu Kehendak’… Akan tetapi, ketika saya 8 Fathul Bari libni Hajar I:523, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379


membaca halaman-halaman yang disebutkan, saya tidak mendapatkan satu huruf pun yang di dalamnya menunjukkan bahwa Sayyid Quthub rahimahullahu Ta’ala mengatakan Al-Qur`an itu makhluk. Kenapa begitu mudahnya Anda melemparkan tuduhan takfir ini. Sayyid Quthub Membolehkan Orang Lain Selain Allah Untuk Membuat Syari’at.” Maka, saya pun segera membaca semua perkataan Sayyid dalam bukunya “Al-‘Adalah Al-Ijtima’iyyah,” dimana engkau menukil perkataannya; namun ternyata apa yang dikatakannya tidak layak untuk diberi judul yang sensasional seperti yang engkau lakukan. Taruhlah apa yang dikatakannya terdapat ibarat yang masih samar maknanya, tapi bagaimana engkau bisa mengubahnya menjadi sesuatu yang mengafirkan? Engkau telah melenyapkan semua kebaikan yang telah dibangun oleh Sayyid Rahimahullah sepanjang hidupnya dan juga segala yang ditulis oleh pena-nya dalam rangka dakwah kepada Allah Ta’ala dalam masalah hukum dan syariat, dimana beliau menolak undang-undang buatan manusia serta berdiri tegak menentang kemungkaran ini. Dari segi bahasa yang digunakan, jika dibandingkan antara gaya bahasa buku Anda dan gaya bahasa (uslub) yang dipakai Sayyid Quthub Rahimahullah, maka ada ketimpangan di sana. Jika dilihat dari sisi Anda, maka gaya bahasa Anda seperti gaya bahasa anak i’dadi (persiapan bahasa pra sekolah) yang tidak sebanding dengan gaya bahasa seorang mahasiswa (maksudnya’ Sayyid Quthub) yang telah mendapatkan penghargaan tinggi tingkat internasional. Jadi, dalam hal ini, seharusnya ada kesepadanan kemampuan dalam ilmu sastra, kemampuan dalam balaghah, ilmu bayan, dan keindahan pemaparan dalam tulisan. Kalau tidak (maksudnya kalau tidak seimbang antara kemampuan bahasa Robi’ Al-Madkhali dan Sayyid Quthb), maka hancurkan saja pena Anda.”9 Namun nasehat yang snagat baik tersebut justru oleh kalangan mereka (Wahabi) diberikan bantahan dengan penuh pelecehan terhadap kedudukan dan kelemahlembutan daripada beliau, bahkan dengan penuh keberanian dan penghujatan dikatakan, “Sesungguhnya masalah yang dihadapi oleh dia (Syaikh Bakr) adalah masalah setiap orang yang menolong kebatilan dan pembelanya. Sesungguhnya dia (Syaikh Bakr) membuat yang haq menjadi batil, yang batil menjadi haq, yang jelek jadi baik, dan yang baik jadi jelek. Sesungguhnya dia (Syaikh Bakr) itu berjuang dan membela kebatilan beserta para pendukungnya dengan sangat gigih dan keras” 10 Hal ini dengan jelas menunjukkan betapa seorang ‘Syaikh Rabi’’ tidak dapat memberika argumentasi dalam menanggapi berbagai dinamika pemikiran di sebagian orang-orang Salafi yang dalam berbagai aspeknya tidak pernah menghargai perseteruan di kalangan umat. Dia lebi terlibat dengan mulutnya yang keji dan kekafiran terhadap akidah asy-Syar’iyah serta penentangan-penentangannya terhadap akidah yang tsabbit di kalangan ‘ulama Sunni dan Syi’ah serta para pemuka ilmu-ilmu diniyah. Dia telah menghancurkan dan bahkan memerangi sendi-sendi pemikiran dan rasionalitas dengan kelompoknya yang penuh kebencian terhadap dunia Islam diamana dengan beraninya dia merendahkan akidah kaum muslimin dari golongan ‘Asyariyah dan dia menolak dalam berbagai makalahnya yang sama sekali jauhd aripada kaidah keilmuan pemikiran golongan tasauf yang sangat disegani dalam Islam. Betapa kebenciannya terhada ulama dunia Islam telah membuatnya menjadi pengekor hawa nafsu dan kebencian daripada para ‘ulama sunni. B. Mengkaji ‘Wahb’ al-‘Ibadhiyah 9 http://fizhilalilquran.blogspot.com/2011/04/khithab-adz-dzahabi-surat-emas-syaikh.html 10


Sesungguhnya perlu dipahami bahwa sebutan Wahabiyah disandarkan secara benar bukan kepada penyusun Mazhab itu, Syaikh Muhammad Ibn ‘Abdul Wahab, tetapi disandarkan kepada Mazhab sekte Khawarij yang disebut sebagai ‘Wahhabiah’. Maka tidaklah benar asumsi di kalangan Wahabi bahwa penyebutan nama Mazhab mereka kepada sebutan Muhammad adalah lebih benar atau layak secara nahwu. Hal ini tidak lain di kalangan Salaf ash-Shalih untuk menunjukkan bahwa golongan Wahabiyah menganut pendapat yang bertentangan dengan pemahaman umat Islam di kalangan ahli Ushuluddin dan juga akademisi. Pendapat daripada Mazhab ini berasal daripada pribadi yang bernama Muhammad Ibn ‘Abdul Wahab, dia dikenal di kalangan Wahabi sebagai pemuka pemikiran garis ekstrimis dan terorisme dan seorang ‘jahil’ dalam upaya mengkafirkan terhadap dunia Islam. Dari keluarganya diketahui bahwa dia seorang anak yang berpenyakit jiwa dan suka mendurhakai terutama terhadap ayahnya. Sehingga beliau dikirim ke Madinah untuk belajar kepad para ‘ulama yang terkenal shalih. Dalam kajiannya dia sempat belajar daripada beberapa ulama salah satunya bersama dengan kalangan umat Islam dariada berbagai macam disiplin pemikiran termasuk dalam bidang hadits & Hakam (kehakiman). Namun dalam proses kajiannya terhadap keilmuan Islam Sang Wahabi tersebut justru diakibatkan belajar daripada beberapa kitab zindik Mazhab kalangan Tasauf Falsafi & golongan Bathiniyah, kalangan dan ‘ulama-ulama Sunni yang mengasuhnya pun mendapatkan kekeliruan dan penyelewengan pemahamannya yang sangat berbahaya terhadap penafsirannya yang sering hanya dibatasi pada pemahaman teks-teks yang tidak didasarkan kepada ahli ‘ilmu, dalam hal ini Ahmad Zaini Dahlan menguraikan akan penyimpangan daripada Muhammad Ibn ‘Abdul Wahab sebagai berikut, Ia mulai belajar ilmu-ilmu agama di Madinah al-Munawwarah, semoga salawat dan salam dilimpahkan kepada yang bersemayam di sana [Nabi]. Ayahnya adalah seorang ulama yang saleh, demikian pula saudaranya, Syaikh Sulayman. Bersama guru-gurunya, keduanya mulai mencurigai bahwa ia [Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab] akan menyebarkan kekeliruan dan kesesatan, berdasarkan berbagai ucapan, tindakan dan kecenderungan yang mereka amati pada dirinya. 11 Pemikiran-pemikiran daripada ‘Abdul Wahab bisa diasumsikan dalam berbagai aspeknya sangat tidak kontekstual dan bertepatan dengan pemikiran yang dianggap bi al-Wahyi sebuah konsep golongan al-Hanabaliah yang sangat jelek dan menghasilkan perdebatan dalam pemikiran para ‘ulama, perlu ditegaskan dalam aspek ini bahwa kajian Muhammad Ibn ‘Abdul Wahab seperti lebih kepada pemikirannya dan kondisi psikologisnya yang didasarkan kepada khayalan dan imajinasi. Menurut para ilmuan dan cendikiwan Freudianisme pemikiwan Muhammad ‘Ibn ‘Abdul Wahab dalam kajian keilmuannya menunjukkan stress dan depresi serta gangguan kejiwaan yang tidak pada tempatnya. Para psikolog internasional seperti Sigmund Freud, dalam beberapa makalahnya dengan mengamati berbagai macam laporan kalangan orientalis menduga bahwa Muhammad Ibn ‘Abdul Wahab mempunyai gangguan hiperseksual, sehingga dia sangat mudah untuk tidak mampu menanggung beban pikiran kejiawaan yang parah. Secara umum pemikiran Wahabisme ini memang merupakan salah penafsiran terhadap konfrontasi-konfrontasi antara muslim tasauf dan kalangan muslim yang mempraktekkan berbagai bentuk ‘ibadah dan praktek – praktek yang sulit untuk diidentifikasikan terhadap dunia dan penafsiran yang diterima oleh pemikirannya diirinya, tidak mengherankan sebab penafsiran daripada Abdul Wahab hanya berkisar kepada fiqih mazhab yang tidak akomodatif daripada penafsiran kalangan Sunni dan berbagai ‘adat di kalangan umat yang memang beragam. Pendapat dan kelemahan daripada penafsiran yang ditemukan dalam Mazhab dan pemikiran – pemikiran yang tidak akomodatif, fiqih daripada golongan Mazhab al-Sunni as-Salafi Hambali merupakan sebuah sistem dan pemikiran yang sangat tidak bermanfaat. Pemahaman Mazhab11 Târîkh al-Futûhât al-Islâmiyyah, Kairo, 1387/1968, II, h. 234-235).


mazhab yang sangat miskin dalam mempergunakan rasionalitas dalam pengkajian keagamaan inilah yang sebenarnya harus dicatat sebagai masalah yang sangat penting dan tidak dipahami di kalangan para al-Wahabiyun. Menariknya gagasan Muhammad Ibn ‘Abdul Wahab dalam dunia keagamaan sangat dan bahkan semata didasarkan kepada pemikiran golongan yang sangat rendah yaitu Mazhab Hanabalian dari Ibn Qudamah & golongan fuqaha Hanabaliah sesat lainnya antara lain beberapa tokoh-tokoh ‘ulama di sekitar penganut paham Sunni& Jisim. Penghancuran terhadap tradisi daripada pemikiran Ibn Taimiyah telah ditampakkan oleh dirinya, betapa banyak kitab-kitab (Ibn Taimiyah) yang sangat penuh dengan keilmuan dan kehebatan dalam masalah ‘Ushul (aqidah) dipahami secara sangat gradual sehingga dia mengambil pendapat apa yang dikemukakan dalam berbagai literatur kitab tersebut secara sangat serampangan. Tidak mengherankan apabila dalam penjarabannya pemikiran ‘Abdul Wahab menolak intuisi Ibn Taimiyah yang menegaskan adanya ‘al-Qasam’ dalam persoalan ‘fa’al’ yang dilandasi pada perhitungan dan pemikiran beliau dalam ilmu-ilmu yang berkaitan dengan ri’ayah (latihan) dalam beribadah, berbeda dengan pendapat dan pemahaman Ibn “Abdul Wahab, kalangan pengikut setia Ibn Taimiyah menjalankan berbagai macam praktek Tasauf dan pendekatan-pendekatan yang bersifat spritual. Tidak mengherankan apabila para ‘ulama Sunni yang mendukung pendapat Ibn Taimiyah menegaskan bahwa salah satu keagungan kepribadiannya adalah kedudukan yang tinggi dalam kalangan tasauf. 12 Berbicara mengenai tasauf dalam kepribadian Ibn Taimiyah sangat penting untuk meletakkan asumsi bahwa beliau adalah seorang rasionalis dan ‘ulama Sunni yang sangat terpercaya, namun dengan demikian serangan-serangannya Ibn Taimiyah terhadap golongan yang mengaku penganut pemikiran ‘tasauf’ terlebih merupakan bagian daripada upayanya menunjukkan pemikiran golongan Sunni (Tasauf), namun anehnya bahwa Syaikhul al-Islam menganggap golongan penganut Tasauf sebagai orang-orang yang disucikan dan mempunyai pengetahuan yang mendalam terhadap ‘ilmu Syari’ah dan hal ini terlihat dalam berbagai kitab beliau yang tidak hanya gersang dari pembicaraan terhadap pemikiran dunia tasauf mengenai amalan dan kebajikan, tidak mengherankan apabila para ‘ulama-ulama dari sekalian Mazhab ilmu Kalam terutama as-Subki menjulukinya dengan berbagai sebutan termasuk dengan menganggapnya sebagai seorang mursyid yang patut untuk disegani. Berbeda daripada pemikiran golongan Sunni yang menganut Tasauf dapat ditegaskan dalam hal ini justru kalangan pengikut Muhammad Ibn ‘Abdul Wahab menolak gagasan tasauf Sunnah dan pemahaman-pemahaman terhadap persoalan keruhanian. Mereka lebih mendukung aliran tsauf yang zindik termasuk dalam aliran tasauf yang menjunjung tinggi pemahaman takfir (pengkafiran) dan penghinaan terhadap Islam dan Sunnah. Golongan ini adalah kelompok Batiniyah yang mendapat dukungan daripada Wahabiyun, salah satunya adalah al-Wahabi mendukung pemikiran daripada al-Sanusiyah, sebuah tarekat yang terkenal dengan fanatisme dan peperangannya terhadap dunia Islam & penyerangan sekaligus penentangan terhadap berbagai Mazhab umat Islam, termasuk pula golongan Wahabi telah membuat makar terhadap kaum muslimin dan menghinakan mereka dengan mempropagandakan perlawanan rakyat India menghadapi Kerajaan Inggris, mereka (Wahabi) bahkan menentang pendapat Jenab alBaraliwiyah rah. seorang ‘ulama Tasauf dan pembela keadilan untuk menahan diri agar tidak berperang melawan kolonial, namu justru para Wahabiyun dengan kebencian dan penuh kecerobohan dan sekaligus engan kerjasamannya dengan Inggris telah membawa umat Islam India ke dalam peperangan dan perdebatan dengan Inggris. Bahkan banyak para Misionaris yang dikirmkan ke India oleh pemerintah kolonial bersama dengan gerakan reformasi Anglikan memurtadkan umat Islam di Inggris terutama sekali mempunyai sumbangan tidak langsung dalam hal ini. Seorang Sunni (Asy’ari) Rahmatullah al-Hindi, menjelaskan bahwa golongan rakyat India menghadapi berbagai bentuk pemurtadan yang dibawa para pembuat Syubhat dan pengkristenan sangat gencarya terhadap ‘umat Islam, tidak kurang justru orang-orang yang mengaku dan bahkan menyerukan perang (jihad) terhadap kolonialis ini tidak berusaha 12 Syaikh M. Hisyam al-Kabbani, 2007. Tasauf & Ihsan, hlm. 136


menyelamatkan akidah umat Islam, tetapi mereka justrumembuat kerusakan yang sangat besar dan penyimpangan dalam agama dan umat Islam, tidak seorang pun di kalangan Wahabi menyusun dan berkontribusi sebagai Syaikh yang mulia dalam mengaji dan mengajukan berbagai penjelasan atas kekeliruan ummat, tetapi justru dengan tidak mempunyai penghargaan dan kewibawaan membicarakan hal-hal yang tidak penting terutama dalam persoalan perkara yang dianggap menyimpang, tetapi tidak memperdulikan berbagai aksi pemurtadan & kalangan Wahabiyun beranggapan menanggapi berbagai serangan daripada kalangan misionaris itu adalah sebuah penyelewengan dan merupakan hal yang tidak pantas, padahal umat Islam ketika itu sangat memerlukan penjelasan dan pembincangan permasalahan dialog keagamaan dalam menjawab berbagai tuduhan. Dengan demikian tidak mengherankan apabila penentangan terhadap dakwah Tasauf dalam kalangan Wahbiyun seakan-akan merupakan penyangkalan terhadap pemikiran dan dasar utama daripada ahli Sunnah dan polemik-polemik keagamaan yang justru harus dikatakan jauh lebih murni dan lurus (suci) dibandingkan pendapat atau pun pembahasan-pembahsan yang tidak atau bahkan hanya merupakan kenajisan daripada pemikiran golongan Wahabiyun. Justru mereka (Wahabi) telah merusak dan mengacaukan dan bahkan merendahkan pemikiran dan penafsiran golongan tasauf yang murni dan lebih menjauh daripada berbagai macam penyelewengan dan bid’ah di kalangan al-Wahabiyun. Hal ini memperlihatkan bahwa golongan Wahabi sendiri sebenarnya tidak atau bahkan memang harus dilihat sebagai golongan yang begitu puritan dan tidak mengenal perbedaan pemahaman di kalangan ahli dan penganut paham Tasauf sendiri, bahkan mereka (kalangan ahli-Tasauf menyerang) pendapat golongan-golongan sesat (zanadik) termasuk di dalamnya penganut paham Monisme dan para pendukung pahampaham batiniyah yang menyerang dunia Islam. Contoh terbaik dalam hal ini adalah Nur ad-Din ar-Raniri yang dapat dikenal di dunia pemikiran Islam sebagai pemuka dan pemimpin Tasauf dan bahkan termasuk di dalam Syaikh yang sangat dihormati untuk penganut Thariqat alQadiriyah tetapi dengan berani menyerang dan bahkan mengkafirkan orang-orang pengikut paham Monisme dan paham-paham Tasauf yang menyimpang dan bahkan dengan berani beliau menyerang dan mendebat orang-orang itu dengan sangat gigihnya. Hal ini dengan jelas menunjukkan bahwa tasauf yang diperkenalkan golongan ahlus Sunnah berbeda atau bahkan bertentangan dengan pemikiran golongan penganut paham Tasauf yang menyeleweng dan bahkan mereka (Wahabi) justru tidak mempunyai kemampuan atau bahkan ‘linglung’ dalam membedakan kelompok dan pemikiran – pemikiran yang dikembangkan di dunia tasauf sehingga mereka (Wahabi) dengan berani menuduh dan mengklaim bahwa Tasauf bukan berasal atau merupakan penyelewengan dalam kalangan dunia Islam, lebih tida mengenakkan lagi mereka bahkan memaksa Said Aqil Siraj untuk menyusun sebuah literatur (untuk gelar dokctoralnya) penolakan dan pengingkaran atau bahkan penghinaan terhadap penganut dan aliran-aliran pemikiran dalam kalangan kaum muslimin yang menganut Tasauf dan merendahkan serta menghinakannya sebagai pemikiran yang sesat. Tindakan ini menunjukkan betapa golongan Wahabi dan bagian dari kebejatan dan pemikiran mereka yang begitu tidak patut layak dibbenarkan terhadap problem dan polemik dan perdebatan dunia Islam yang justru menunjukkan berbagai aspek kemuliaan dalam pendapat yang berlainan. Namun perlu dipertegas dalam aspek ini, bahwa pemikiran Muhammad Ibn ‘Abdul Wahab terutama dalam berbagai literatur (risalah) yang disusunnya sangat tidak dapat disebut sebagai corpus (pemikiran) yang didsarkan pada keilmuan dan pengajian yang bagus untuk dunia Islam. Justru dapat disampaikan, dia hanya menyusun literatur-literatur yang sama najisnya dengan kain terpal kotoran & bahkan dalam berbagai pembahsannya, Muhammad Ibn ‘Abdul Wahab tidak dapat menyelami kedalaman argumentasi dan kekayaan intlektual dalam berbagai bidang dan perdebatan pemikiran di dunia Islam, bahkan lebih terkesan sebagai kumpulan daripada perkataan pendapatnya yang tidak membahas secara lebih khusus, dalam pembahasan-pembahasan yang mengandung akan aspek keilmuan yang dipertanggungjawabkan. Bahkan dengan tidak mengemukakakan berbagai kelemahan dalam pebahasan atau kesalahan


penguraian dalam berbagai kitab yang disusun, tidak dapat dielakkan bahwa berbagai pemahaman & pendapat yang sering diajukan jauh daripada kriteria sebuah hasil pengkajian atau pun pembacaan terhadap literatur keagamaan yang mencukupi, kalangan al-Wahabiyun tidak dapat menghindarkan atau bahkan tidak bisa menganggap bahwa berbagai buah pemikiran dirinya itu mempunyai kontribusi, bahkan apa yang sering diterbitkan oleh kalangan alWahabiyun daripada literatur mereka hanya merupakan korpus yang tidak berguna dan tidak mempunyai nilai argumentasi dan kajian ke-Islaman yang jelas. Bahkan Muhammad Ibn ‘Abdul Wahab tidak membahas berbagai polemik atau pendapat dan kontroversi di kalangan cendikiawan umat Islam yang beragam, tetapi seringkali berusaha untuk memahami dan mengarahkan kepada pemikiran di kalangan orang-orang awam yang berpkiran begitu sempit dan bahkan tidak bermanfaat. Berikutnya, contoh terbaik adalah kitab kalangan al-Wahabiyun yang disebut sebagai at-Tauhid , yang bahkan dikenal di kalangan mereka sebagai sebuah literatur yang mempunyai kedudukan yang begitu agung & dalam berbagai aspeknya menunjukkan berbagai pendapat dan asumsi yang diajukan al-Wahabiyun mengenai masalah-masalah furu’iyah. Hal ini menggiring kepada pendapat di kalangan kaum muslimin bahwa, dibandingkan harus menguraikan ha-hal yang bersifat sangat penting dalam persoalan mengenai polemik pemikiran umat Islam tentang aspek ke-Tauhidan sebagaimana yang dilakukan kalangan cendikiawan dan polemik di dunia Islam, justru dalam pendapatnya yang dikemukakan hanyalah berbagai macam sumber dan hadits yang tidak berguna dan disusun dengan tidak memberikan penguraian atau penjelasan yang didasarkan kepada berbagai pendapat dan pemahaman keilmuan, tetapi dengan pemikiranpemikiran rusaknya mengajukan berbagai macam kesalahan-kesalahan berpikir, atau bahkan mengajukana argumentasi tidak logis. Dalam berbagai sumber atau pun literatur yang disusun oleh al-Wahabiyun, terlihat betapa pemahaman yang dikemukakan tidak dapat diargumentasikan atau dibahas dengan baik Bahkan harus dikatakan berbagai literaturnya tersebut, tidak menunjukkan kepada keilmuan selain hanya merupakan sekumpulan berkas-berkas yang begitu tidak memenuhi kriteria sebagai literatur yang menunjukkan kepada keilmuan di dunia Islam yang begitu dikagumi dengan pergumulan pendapat dan pemikiran yang berbeda dan menjatuhkan. Tampaknya kalangan alWahabiyun justru mengantarkan pendapat (pemikiran) mereka sebagai gasgan keagamaan yang murni dan tidak mengalami atau memuat presden perbedaan dan perseteruan, hal ini justru menunjukkan pemikiran da pendapat al-Wahabiyun dalam berbagai aspek keagamaan, tidak memberikan kontribusi, dalam berbagai aspeknya harus dikatakan sangat tidak menunjukkan keunggulan dalam pemikiran keilmuan. Dalam hal ini sangat tidak dapat disangsikan betapa dangkal pemikiran golongan al-Wahabiyun dan berbagai pertentangan (polemik) yang mereka kemukakan ke tengah perdebatan dunia dan keilmuan. Permasalahan lainnya bahwa dalam kitab al-Kasyaf betapa sangat aneh dan menakjubkan ketika banyak di antara perkara yang ditambahkan atau bahkan dengan berani mencantumkan :� qama bi tafsilihi�, hal ini menujukkan bahwa pendapat yang dikemukakan oleh beliau, mempunyai berbagai macam kesukaran dan pertentangan, sehingga dalam berbagai kajiannya menunjukkan kebingungan dan penyelewengan pemikiran daripada para penyusun keilmuan, di golongan al_Wahabiyun yang menganggap bahwa dirinya dalah subjek daripada kontroversi dan perdebatan di kalangan dunia Islam yang begitu memerlukan penjelasan atau pemahaman yang lebih harmonis dan dapat diakui di dunia Islam. Selain itu terdapat beberapa artikel dan pembahasan yang dikemukakan kalangan alWahabiyun, dalam pengkajiannya tidak menghasilkan pemikiran dan terlihat hanya berbagai macam pembahasan-pembahan yang tidak memiliki argumentasi. Dangan begitu bangga kalangan al-Wahabiyun menyusun sebuah literatur atau pendapat dan literatur-literatur tidak bermanfaat seperti al-Masail , yang tidak lebih merupakan sejumlah kalimat seperti orang yang tidak mempunyai pengetahuan dan mengemukakan atau menuduh berbagai hal yang secara


keilmuan atau bahkan dalam aspek-aspek penjelasannya tidak dapat mengajukan peahaman atau pun uraian yang penting, sehingga terlihat merupakan literatur yang begitu rendah. Dalam proses pembelajarannya telah sering dikatakan di kalangan pemuka ulama Sunni, bahwa pemikirannya begitu tidak mempunyai standar yang baik. Bahkan menurut pendapat yang diriwayatkan dari Ibn Humayid bahwa Muhammad Ibn ‘Abdul Wahab merupakan seorang pemikir yang berpikiran lusuh, bahkan dengan berani pendapatnya yang tidak beretika dan sama sekali rendah laksana seorang Arab sinting, mengertak dan bahkan menghina dan merendahkan orang-orang di antara para ‘ulama dan pemuka Ahli Sunnah serta pemeluk paham-paham di antara golongan ahlul kalam yang pemahaman dan pendapat atau kriteriannya bertentangan dengan pemikiran dans eleranya, dengan dmeikian bahkan dia tidak belajar atau bahkan dengan berani bertentangan dengan para pemimpin dan ulama di kalangan rang-orang Islam, dia pun ditendang daripadahalakah ulama Sunni. Lalu Muhammad Ibn ‘Abdul Wahab mempelajari agamanya melalui seorang ‘ulama Zindik yang menganut akidah Tajsim yaitu Muhammad Hayya al-Sindi. Para ulama di kalangan ahlus Sunnah menganggap bahwa ulama ini penganut paham Rasionalis dan juga seorang pengikut Mazhab Tasybih Ibn Hambal, dia menolak untuk mentaati dan pemahamanpemahaman yang berasal daripada pendapat-pendapat ‘ulama di kalangan umat Islam & juga apa-apa yang merupakan hal pemikiran dunia intlektual Islam & berbagai aspek yang diperdebatkan oleh kalangan penganut paham puritannya. Tidaklah mengherankan apabila seorang yang begitu memalukan seperti Muhammad Ibn ‘Abdul Wahab mencoba mengikuti pendapat gurunya yang sesat itu dan mengambil pendapat-pendapatnya ketika menghadapi ulama Islam termasuk dalam doktrin perlawanannya yang begitu tegas dan keras dalam memerangi dan menghadang pemikiran ‘ulama Islam intlektual. Namun pendapat yang shahih lainnya mengatakan bahwa paham penolakannya terhadap dunia Islam, sebenanrya telah dibarengi dengan berbagai macam pendapat dan pemikiran menyimpang di wilayah Bashrah, di tempat inilah dia dengan berbagai perdebatan menemui berbagai aliran keagamaan sesat termasuk berguru dengan kalangan-kalangan penanut paham Syi’ah Karamiyah yang memberikannya pemahaman sesat dalam hal ilmu –ilmu kalam, termasuk pula kesesatan dan kebenciannya berasal daripada pendapat golongan-golongan penganut akidah Kristen Ortodoks Malankaris Nestrorian, dalam akidahnya tersebut dia menolak untuk mengimani dan membanggakan atau memuliakan kedudukan para orang-orang suci, sebuah paham yang dianutnya daripada kalangan gereja yang menolak pemuliaan tersebut, adalah sebagian daripada doktrin kalangan Kekristenan yang menyatu dalam akidah Nestrorian. Tidak megherankan bahwa aham Tajsimnya pun diperolehnya daripada mempelajari berbagai literatur Yahudi Kabbalah, termasuk di antaranya mempelajari berbagai literatur yang membahas mengenai tajsim, hal ini dapat dilihat daripada kitab-kitabnya yang menyimpang yang bahkan memuat akidah daripada Zoroastrinisme, Gnosticisme dan sebagainya. Tetapi dalam pemaknaannya dia tidak memahami atau bahkan menolak untuk mengikuti pemakaaman dan pendapat di antara berbagai Mazhab tersebut dan bahkan berencana untuk membuat atau menyusun argumentasi yang kelak merupakan pondasi Mazhabnya yang begitu beringas. Tentunya dalam usaha mengumpulkan kekuatan Muhammad Ibn ‘Abdul Wahab berupaya menjadi penjilat dan mengotori dirinya dengan menjadi abdi dan penjilat kepada para pemimpin fasiq dan keturunan-keturunan bengis di sekitarnya. Terkenal dengan sikap menjilatnya terhadap para pemuka dan pemilik berbagai kawasan, dia menampakkan perilakunya yang begitu rendah, bahkan bersujud kepada mereka meminta agar gerakannya diberikan kekuatan dan manfaat berupa pengikut dan para bala tentara yang banyak untuk memerangi kalangan kaum muslimin yang dianggapnya sesat. Dalam peperangan itu Muhammad Ibn ‘Abdul Wahab bersekutu dengan beberapa orang pada awalnya dengan seorang pemimpin di kalangan kawasannya bersama beberapa orang di antaranya adalah Utsman (bin Mu’ammar), mengerikan dalam usahanya tersebut untuk meruntuhkan dan mengacaukan sebuah tempat permayaman seorang saudara dan sahabat bernama Zaid bin Khattab, dengan beraninya dia


bersama pasukan yang dibentuk untuk penghancuran makam tersebut menyerang dan meruntuhkan dan bahkan membuat tindakan-tindakan yang begitu tidak pantas dan tidak mungkin dapat diuraikan dalam hal ini. Betapa kejahatanya ini tidak layak dan menyimpang daripada kebijaksanaan dan kemurahan Islam, terutama ketika seluruh orang-orang yang diduga berzina didera tanpa berusaha membuat penyelidikan atau bahkan menelusurinya, mereka didera dan dihukum rajam dan dibakar dengan begitu kesadisan. Cukuplah Allah menjadi saksi atas kekejaman mereka, bahkan hal yang mengerikan demikian diselenggarakan dengan kedustaaan dan penyimpangan Mazhab Hanabaliah yang sesat dan menyimpang daripada keilmuan terutama sekali dengan kebijaksanaan dalam pemikiran Islam dan hal yang paling tidak sepatutnya dapat disandarkan kepada dunia kalangan muslim. Bahkan dalam konspirasinya bersama Mu’ammar inilah, Muhammad bin ‘Abdul Wahab mempergunakan kekuatan aliansi sosial yang kuat untuk menyerang kelompok-kelompok penentangnya, bahkan berbagai kawasan di Arab Saudi dan sekitarnya dibombardir. Bukan hanya makam dan tempat-tempat ibadah yang disucikan di kalangan umat Islam yang dihancurkan dan bahkan beberapa tempat dari ulama Sunni dan bahkan dengan berani gerakan Wahabi ini menghadang berbagai kultus dan wilayah-wilayah pengembangan Islam, beberapa tempat yang mereka anggap berbahaya bagi mereka terus mengalami serbuan dan tanpa dibela kasihan menuru kalangan dan sekte mereka yang sesat, bahwa pemikiran umat Islam yang bertentangan dengan asumsi kelompok mereka perlu dihadapi dengan kekuatan selayaknya perang dengan golongan kafir. Untuk itu tidak mengherankan ketika berupaya menghadapi kalangan yang tidak menyukainya dan bahkan melawannya mereka berupaya mengecap orangorang tersebut sebagai golongan sesat, serangannya diarahkan kepada berbagai kelompok ummat dan bahkan dengan penuh kebanggaaan merendahkan siapa pun, untuk itu dia menghinakan para ‘ulama di antara berbagai kelompok dan sekte yang menentangnya. Tidaklah mengherankan ketika hal tersebut telah memuncak, maka dia diusir dan bahkan dibuang daripada kampungnya. Berdasarkan kepada usaha Sulaiman Ibn Ghaiyr mendesak agar Ibn Mu’ammar mengusir dan menenentangnya, bahkan dengen tegas dikatakan bahwa apabila tidak membuang pemimpin sesat itu maka mereka akan diserang sampai hancur. Demikian akhirnya beliau mencoba menanyakan kepada si Syaikh al-Wahabi, bahkan memintanya untuk meninggalkan kawasan tersebut dengan kekhawatiran akan menghadapi penghancuran terhadap dunia Islam, tetapi hal mengherankan apabila dia mengatakan :”Seandainya engkau memberikan bantuan kepadaku, tentulah engkau diberikan seluruh Wilayah Nejad,” Setelah diusir dia menuntun wilayah ke kawasan yang dikenal sebagai Dar’iyah, di kalangan cendikiawan modern dipahami bahwa kawasan yang begitu seporadis. Perlu dipahami bahwa dia dengan segala ketamakannya terhadap dunia berusaha untuk merayu pemimpin kawasan itu, terutama untuk mengajak seorang kalangan di antara pemuka daripada kalangan bangsa mereka, dialah Muhammad Ibn Su’ud sehingga diketahui sebagai pemuka bangsanya, untuk mengajaknya memerangi umat Islam, begitu menakjubkannya dia berusaha mengajukan tawaran begitu merendahkan, You are the settlement's chief and wise man. I want you to grant me an oath that you will perform (holy war) against the unbelievers. In return you will be imam, leader of the Muslim community and I will be leader in religious matters Engkau pemimpin perkasa dan seorang bijak, diriku mendambakan engkau untuk menghadiahkanku sumpah setiamu, engkau loyal memerangi orang-orang yang menentang. Dengan demikian engkau sebagai seorang pemimpin, seorang penyerukalangan Islam, kusandangkan tugas kesucian. Dukungan terhadap Muhammad Ibn ‘Abdul Wahab dan aliran pemikirannya disusun dengan begitu cemerlang sebagai aliansi yang kelak menjadi sebuah gerakan brutal keagamaan dan sekaligus penghancuran terhadap kalangan dunia Islam. Untuk itulah Muhammad Ibn


‘Abdul wahab diserahkan tanggung jawab sebagai seorang hakim dalam urusan keagamaan dan sekaligus melegalkan pemikiran Wahabisme yang kelak akan melahirkan sebuah kelompok dan kerajaan sekaligus sekte keagamaan yang paling tidak bermanfaat. Aliansi berikutnya sebagaimana pada dasarnya untuk mengancam dan menyerang berbagai kawasan dan wiayah Islam dan bahkan merebut harta kaum muslimin sekaligus mempergunakan ajaran-ajaran Islam yang ditafsirkannya di berbagai kawasan dalam berbagai macam aspek keagamaan, termasuk dalam hal ini adalah penentangan terhadap aliran keagamaan yang bertentangan dengan pemikiran keagamaan mereka, dengan cara yang licik kelompok Wahabi yang didukung pasukan keagamaan mereka terus menyerang ke berbagai tempat, meruntuhkan berbagai ritus umat Islam dan menhancurkan berbagai wilayah dan kawasan-kawasan yang menentang, bahkan lebih parahnya mereka menghasilkan penghancuran dan bahkan memerangi orang-orang tua renta yang tidak berdosa dan mengacaukan penduduk di berbagai kawasan. Tidak mengherankan ketika itu menurut beberapa sumber kalangan al-Wahabiyun mendapatkan harta dan ghanimah begitu banyak dengan peperangan mereka menghadapi dunia Islam, hal ini dipersaksikan oleh seorang pakar Islam, Ibn Bhasyar dalam penjelasannya, Suatu waktu di pasar rakyat Dar’iyah, ku melihat seorang lelaki & perempuan bergandengan tangan berjalan, di pasar itu terdapat begitu melimpah perhiasan, peralatan senjata, sejumlah unta, domba, keledai, busana indah, daging yang menimpuk,, Lokasi pasar terhampar seluas sejauh penglihatan, ku mendengar suara para pedagang seperti suara lebah. 13 Tidak mengherankan apabila sebagaimana diketahui bahwa harta (ghanimah) rampasan perang inilah merupakan sumber penghidupan daripada kalangan Wahabi, selain itu modus pertempuran mereka menghadapi kalangan muslim selayaknya disebut sebagai perampokan terhadap harta kekayaan umat. Tidak terlalu menunjukkan signifikasi apabila kalangan alWahabiyu beranggapan bahwa memerangi umat Islam yang menentang pemahaman dan akidah mereka dalam penafsiran kalangan mereka merupakan penegakan dan sekaligus bagian menyebarkan akidah Tauhid. Yang menyeleweng daripada kebenaran. Mereka beranggapan bahwa dunia atau pun kelompok yang tidak mau mengiuti dan tunduk pada bid’ah kesesatan mereka harus dihadapi dan ditentang bahkan dianggap sebagai golongan yang kufur. Catatan pembantaian oleh tangan Wahabi pada tahun 1216 Hijriyah, para Wahabiyun membantai umat Islam Syi’ah di Karbala dengan alasan-alasan yang tidak jelas. Mereka merusak makan al-Imam al-Hakim rahimahullah, bahkan dnegan berani mendobrak dan merusak berbagai ritus kaangan Syi’ah, mengherankannya dengan penuh kebengisan mereka membantai seluruh penganut Syi’ah dan orang-orang tidak berdosa dan bahkan anak-anak pun tidak rundung dapat selamat daripada usaha pembantai mereka diperkirakan jumlah korban yang jatuh dalam pembantaian ini mencapai 2500-5000 orang, ini merupakan sebuah bentuk kebencian Wahabi terhadap umat Islam dan layak untuk dihukum dan ditentang, bahkan dengan penuh penentangan terhadap umat mereka menindas wanita-wanita yang mereka tawan dan siksa secara seksual, mereka lalu menyiksa dan menyodomi banyak wanita-wanita tidak berdosa, menguliti kemaluan dan bahkan dengan penuh rasa haus seks mereka menyetubuhi dan menyiksa alat-alat kelamin untuk tontonan beramai-ramai, hal ini bahkan dihadiri olehorangorang terhormat dan tokoh-tokoh mereka dan bahkan memuji usaha mereka dalam membasmi dan menentang binatang-binatang ang diperbolehkan, mereka menganggap bahwa para wnaita yang mereka peroleh dalam peperangan tersebut tidak lain merupakan wanita pemuas seks dan sealigus sebagai wanita yang mereka diperkenankan untuk disanggahi dan bahkan ditiduri dengan penuh ketidakpeduliaan laksana mereka pergunakan sebagai pemuas daripa ghairah. Kalangan ‘ulama Syi’ah memberikan kesaksian bahwa serangan ini secara brutal dilaksanaan oleh golongan Wahabi pada hari Ghadir Khum yag merupakan moment suci bagi 13 Ja’far. Ajaran-ajaran Syaikh Muhammad Ibn ‘Abdul Wahab, hlm. 15


penganut Syi’ah Ahlul Bait, dengan menajiskan dan menghina Karbala, mereka golongan Wahabi mengencingi makan al-Imam ‘alahissalam dan bahkan menumpahkan sperma dan kotoran serta menginjak dan menggali makam-makam para syuhada, mereka dengan berani menghina dan mengambil atau mencuri perhiasan dan berbagai benda yang dianggap berharga, kelakuan mereka lebih busuk dan mengerikan terhadap umat Syi’ah, mereka tidak lain seperti orang-orang yang tidak mengerti kewarasan dan penghormatan kepada para muslimin. Inilah sebagiand aripada permusuhan mereka & perlu dipahami bahwa kejahatan mereka ini telah merusak dan mengacaukan dunia Islam dan para penganutnya. Celakanya bahwa dalam kitab Miftah al-Kiramah disebutkan mengenai pengepungan kota Najaf pada tahun 1225, dengan kondisi yang begitu mencekam. Kalangan prajurit Wahabi bahkan dengan kegemarannya menyerang dan merusakkan bahkan mengguncang kawasan pemukiman perkotaan dan membantai serta menghancurkan berbagai ritus keagamaan dan mengacaukan dan bahkan merusak, dalam pertempuran ini mengacaukan berbagai aspek umat, mengenai kekacauan disebutkan, “ Allah telah menentukan dan menetapkan dengan kebesaran dan keihsananNya dan juga dengan berkah Muhammad saw, untuk melengkapkan bab ini pada kitab Miftah al-Karamah, selepas tengah malam 9 Ramadan al-mubarak tahun 1225H/1810M - menurut catatan penyusunnya ” dengan kekacauan fikiran dan kecelaruan keadaan, orang-orang `Arab dikelilingi oleh orang-orang dari `Unaizah al-Wahhabi al-Khariji di al-Najaf al-Asyraf dan masyhad al-Imam alHusayn r.a - mereka telah memintas jalan dan merampas hak milik para penziarah al-Husayn r.a . Mereka membunuh sebagian besar daripadanya, terdiri daripada orang-orang `Ajam, sekitar kuranng lebih 150 orang ...” 14 Kejahatan dan peperangan Wahabi terutama menghadapi kalangan umat Islam tidak dapat ditentang atau dihidanrrkan mengindikasikan bahwa mereka tidak menganggap bahwa umat Islam selaras atau sejajar dengan akidah pemikiran mereka, ketahuilah bahwa kalangan alWahabiyun dalam uupayanya memerangi umat, berusaha mencari koneksi dan bahkan menjilat terhadap dunia orientalis barat, hal ini tercermin dalam berbagai manuskrip & dengan demikian tidak mengherankan bahwa kebencian dunia Wahabi terhadap dunia Islam ini begitu dan teramat tidak pantas untuk diperdulikan, kalangan al-Wahabiyun beranggapan bahwa umat Islam yang bertentangan dengan mereka bahkan layak atau lebih rendah dibangdingkan golongan-golongan daripada serdadu kufar, sehingga berkerjasama dengan kekafiran pihak barat, hal ini telah ditunjukkan Rezim Saudi bahkan sejak Muhammad Ibn ‘Abdul Wahab dengan kedekatannya dengan para spionase Inggris, demikian pula keluarga Su’udiyah yang begitu dekat dengan kelompok korporasi pengusaha minyak barat, cukuplah kejahatan mereka itu dicatat dalam berbagai macam testimoni yang dengan tulus menunjukkan kebiadaban mereka terhadap dunia dan kejelekan serta keculasan yang tidak bermanfaat terhadap dunia muslimin, tidaklah perlu dicatat betapa keluarga Su’ud dekat dengan aliansi USA Freemason dan sebagian daripada antek-antek mereka yang gemar menhabiskan kekayaan dan modal yang tidak bermanfaat untuk kaum muslimin, bahkan sebagian daripada mereka bergaya hidp dan beroyal dan sekaligus menjilat kepada barat, para ‘ulama mereka yang zindik tidak mengeluhkan & bahkan menganggap bahwa kalangan Su’udiyah telah melancarkan usaha terbaik dalam mendukung akidah dan pemikiran dan dogma keagamaan mereka yang rendah, bahkan kalangan mereka (Wahabi) dengan senang hati akan mebantai dan memeprgunakan kekuatand ripada segala mush-musuh dunia termausk di antaranya adalah kalangan Zionis, tidaklah mereka menganggap & bahkan dengan keberanian menentang dan menganggap kedudukan kaum muslimin tidak bermartbat dan begitu rendah terhadap usaha menyebarkan pemikiran mereka. 14 idem


Sehingga begitu jelas bahwa perttentangan dan peperangan menghadapi dan melancarkan kebencian golongan al-Wahabiyun terhadap dunia Islam, terutama sekali dengan jelas tertera dalam berbagai sumber yang membahas perdebatan dan penyelewengan pemikiran Wahabi dalam menyikapi penafsiran umat Islam yang bertentangan engan akidah dan penafsiran keagamaan yang dituangkan para ‘ulama Sunni & sebagian daripada pemuka kalangan ahlul Bait. Tidak diragukan bahwa berbagai surat yang disampaikan atau bahkan diterbitkan oleh kalangan al-Wahabiyun ini menunjukkan kebencian dan pertentangan mereka terhadap kalangan dan pemikiran dunia Islam yang terang-terangan. Tidak mengherankan apabila penolakan dan pertentangan serta kebencian terhadap ulama Sunni daripada berbagai surat dan risalah kalangan mereka adalah bentuk proklamasi kebencian terhadap umat dan dunia Islam, semoga Allah menencatat kebencian dan pertentangan mereka tersebut terhadap kalangan kaum muslimin. Dalam kesempatan ini kita akan menunjukkan berbagai macam polemik antara ‘ulama Ahlus Sunnah dan pemikiran-pemikiran Wahabi yang menyimpang serta sumber-sumber yang dengan jelas menunjukkan bahwa al-Wahabiyun telah menyerang dan memushi pemikiran dunia umat islam dan menganggap bahwa akidah pemikiran kaum muslimin telah menentang atau bahkan menyelewengkan berbagai pemahaman keagamaan, tidak mengherankan apabila polemik dan perdebatan ini sangat mengerikan dan menghasilkan berbagai macam tuduhan dan bantahan-batahan yangd itujukan semula sebagai usaha mengerahkan kekuatan. Perhatian utama yang menarik adalah berbagai tuduhan dan kecaman yang dilamatkan kalangan Wahabiyun terhadap ‘ulama kaum muslimin, mengenai perkataannya yang kejam terhadap Sulaiman Ibn Sahim, sebuah perkataannya yang mengeaskan,

‫ والنفاق‬،‫ والشرك‬،‫ مصرحون بالكفر‬،‫نذكر لك أنك أنت وأباك‬، ‫ ليل ونارا‬،‫أنت وأبوك مهتهدان ف عداوة هذا الدين‬ ‫ومن أطاعكما‬ Aku mengingatkan kepadamu bahwa engkau bersama ayahmu telah dengan jelas melakukan perbuatan kekafiran, syirik dan kemunafikan !….engkau bersama ayahmu siang dan malam sekuat tenagamu telah berbuat permusuhan terhadap agama ini !…engkau adalah seorang penentang yang sesat diatas ke ilmu- an. Dengan sengaja melakukan kekafiran terhadap Islam. Kitab kalian itu menjadi bukti kekafiran kalian!”15 Perkataan yang begitu keterlaluan dan tidak pantas ini diucapkan kepada musuhnya sesama al-mazhab Hanabaliah, anehnya pemahaman dari kitab sesat ad-Durar as-Saniyah, sebagaimana yang dikemuakan oleh penulisnya hanya merupakan klise biasa, pendapat alWahabiyun hanyalah fitnahan dan tuduhan yang tidak atau bahkan merupakan fitnah penafsiran yang besar. Ulama Hanabaliah yang menolak pendapat Muhammad Ibn ‘Abdul Wahab dijelaskan oleh para Imam as-Sunnah terutama sekali dalam menghadpi penyelewengan daripada pemikiran al-Wahabiyun yang dianggap telah merusak atau bahkan melunturkan dakwah kaum muslimin, hal ini sebagaimana dijelaskan ash-Shan’ani dalam kasidahnya, “ Aku menarik kembali pujianku terhadap Muhammad bin Abdul wahhab An-Najdi. Sungguh telah benar kekeliruan pujiannku terhdapnya. Aku menyangka baik padanya, dan aku berdoa semoga, semoga Najd kita memberi petunjuk pada manusia.Tapi persangkaanku salah, bukan nasehatku yang salah. Telah datang kepadaku dari Najd syaikh Marbad. Dan menjelaskan hakekat ajaran muhammad An-Najdi. Di dalam kitab-kitabnya ia telah banyak mengkafirkan penduduk bumi dengan sengaja. “

15 Ad-Durar as-Saniyah 10/31


Dalam perkataannya ash-Shan’ani jelas merasakan kejelekan daripada kalangan alWahabiyun dengan cara muka anjingnya untuk menipu dan mengelabui kalangan dan pemikiran dunia, mereka dengan berani berdusta dan mengelirukan berbagai statemen hanya untuk memperoleh atau diakui kalangan ‘ulama Sunni, tetapi apabila di antara kalangan yang dimuliakan tersebut menentang dan mengutuk akidah Wahabiyun, tentulah dengan segala macam penyelewengan tidak akanmengherankan apabila kalagan ‘ulama Sunni lainnya mengecap apabila emikiran al-Wahabiyun merupakan kelompok menyimpang daripada golongan pemberontak & gemar menentang dakwah umat Islam, dikemukakan sebgaimana disebutkan dalam sebuah kasus, Sebagaimana yang terjadi di zaman kita menerusi pengikut ‘Abd. al-Wahhab yang berasal dari Najd kemudian menguasai kota Mekah dan Madinah serta menganuti madzhab Hanbali. Namun mereka meyakini diri sebagai muslim sebenar manakala golongan yang menyalahi pandangan mereka sebagai musyrik. Oleh sebab itu golongan Wahabi menghalalkan pembunuhan ke atas ahl al-Sunnah serta ulama mereka. Permasalahan ini semakin menunjukkan bahwa golongan al-Wahabiyun dengan begitu jelas bukan hanya dengan berani (sebagaimana) ditunjukkan al-Wahabi untuk berbagai aspek yang diperdebatkannya bersama para ‘ulama-ulama penentangnya. Hal yag perlu dicatat bahwa al-Wahabi akan berusaha mencari kesan dan berpura-pura mentolerir dan berusaha untuk menyelenggarakan pemahaman di kalangan Ahlus Sunnah wal- Jamaah. Mereaka tidak akan sungkan berdusta dan membohongi dan sekaligus menentang dan bahkan merubah berbagai prinsip mereka dengan didasarkan kepada pemahaman al-Taqiyyah. Para ‘ulama yang mengetahui berbagai kejelekan mereka atau mengetahui sikap kepura-puraan dan penyelewengan daripada golongan tersebut, dengan jelas tidak akan memberikan kesan yang baik dan mengakui pendapatnya. Tidak mengherankan apabila sikap golongan yang tidak pantas ini ditunjukkannya dengan upaya-upaya menjilat yang begitu membuat muntah dan menyebalkan dan tidak pantas ditunjukan oleh kalangan kaum muslimin. Dalam sebuah kasus misalnya kalangan al-Wahabiyun terhadap kepribadian daripada Ibn Fairuz mereka memberikan pemahaman atau komentar yang memalukan, mereka mengatakan bahwa Ibn Fairuz sebagai seorang yang menganut pemikiran Ibn Taimiyah & Ibn Qayim merupakan golongan yang paling dekat kepada akidah dan berkedudukan sebagai muslim, beliau menolak paham Wahabi dan menentang asumsi dan gagasan mereka (al-Wahabiyun) dalam usaha untuk mengabarkan kepada orang-orang terhadap kejelekan & kesesatannya. Dalam dalam pemahaman yang disampaikan Azhari untuk mengutuk keras pemikiran takfir tersebut dengan menyebutkan, Ketika kami masih muda, kami membaca buku-buku Ibn ‘Abd al-Wahhab seperti kitab al-Tawhid dan juga Kasyf al-Syubuhat. Dan kami menyangka bahawa yang beliau maksudkan dengan orang-orang kafir dan orang-orang musyrik itu ialah orang-orang kafir Quraisy dan yang seumpama mereka. Kemudian selepas itu, baru kami tahu bahawa yang beliau maksudkan ialah orang-orang Islam di zamannya, terutama para ulama dari kalangan mereka! Menurut pendapat peribadi saya, bahawa Ibn Fairuz telah berjaya dalam risalah ini dengan begitu sukses sekali dalam menerangkan kesalahan yang dilakukan oleh golongan Wahhabi terhadap hak orang-orang Muslim dari kalangan penduduk Riyadh dan lain-lainnya. Kejayaan ini dilihat dari sudut kesantaian Ibn Fairuz dalam memudahkan ungkapan dalam penulisannya ini, sehingga risalahnya itu menjadi dekat kepada masyarakat biasa, sebagaimana ia juga dekat dengan khalayak akademik. Dan beliau telah memuatkannya dengan bukti-bukti. Antara keistimewaan risalah ini ialah ia berbeza dalam memberi keterangan tentang situasi penduduk Riyadh di


zamannya, di mana penjelasan tersebut tidak akan dapat anda lihat dalam mana-mana kitab lain.16 Namun hal yang begtu menakjubkan & bahkan membuat mual bahwa kalangan alWahabiyun memftnah beliau dengan mengatakan bahwa yang sebenarnya menghina mereka adalah Ibn Fairuz sendiri yang mengatakan ejekan kepada Syaikh mereka bahwa, Muhammad Ibn Abd al-Wahhab terlupa bahawa syaitan melakukan hubungan badan dengan ibunya (yaitu ibu kepada al-Syeikh al-Imam). Ini sehinggakan syaitanlah bapa kepada si Marid ini (merujuk al-Syeikh)…hingga akhir. Kalangan al_Wahabiyun mengatakan bahwa teks itu terdapat dalam kitab daripada Ibn Fairuz, sementara tidak satupun di antara kitab yang diketahui termasuk secara umum dialamatkan kepada beliau, mengandung perkataan dusta sedemikian, bahkan hal ini harus dipahami merupakan pendustaan serta manipulasi yang dirwayatkan di kalangan internal mereka sendiri mengenai Syaikh al-Kirdun laknat. Bahkan dalam teks-teks yang mengungkapkan bantahan kepada kalangan al-Wahabiyun sebegitu sulit untuk diselidiki dan tidak banyak atau bahkan hanya terdapat sebuah risalah yang berasal daripada beliau, hal ini semakin memberikan pemahaman bahwa kutipan yang dibuat oleh kalangan al-Wahabiyun untuk menghina Syaikh rah. jauh daripada klaim beliau yang sejati, bahkan banyak di antara litartur beliau yang telah hilang, adapun mengenai keterangan daripada literatur yang dianggap berasal & dianggap merupakan hasil usaha Syaikh rah. ini bukan berasal dari beliau, Tampaknya seolah-olah manuskrip-manuskrip tanggapannya itu telah dihapuskankan di Najd dan juga Al-Ahsa’, namun kami masih berfikir bahawa sebahagian kritikan-kritikan tersebut masih ada di sebahagian perpustakaanperpustakaan persendirian. Risalah ini adalah antara risalah-risalah yang kami akan suakan buat para pelajar ilmu, yang muncul buat pertama kalinya berdasarkan pengetahuan saya yang cetek. Saya tidak tahu setakat ini bahawa risalah Ibn Fairuz ini pernah dicetak sebelum ini, kecuali sebuah nazam yang bernama; al-Risalah al-Mardhiyyah fi al-Radd ’ala al-Wahhabiyyah, yang di awalnya menyebut:. Tetapi risalah yang disajikan kepada anda ini sekarang adalah dalam bentuk karangan dan bukannya nazam. Namun penghinaan mereka terhadap kalangan Sunni bukan hanya tuduhan-tuduhan yang mereka tuduhkan kepada Syaikh rah. mereka juga menuduh ‘ulama dan pemuka cendikiawan muslim yang shalih dengan perkataan yang dinafasi oleh kebencian dan permusuhan terhadap umat Islam. Hal ini semata menunjukkan bahwa kalangan al-Wahabiyun dan para pendukung mereka tidak melihat kalangan dunia Islam, dengan begitu jelas bahwa mereka adalah orang – orang yang tidak mempunyai pemahaman Islam yang toleran. Dalam sebuah perkataannya kepada Imam Fakhruddin, Syaikh al-Kirdun, menglaim dalam pendapatnya bahwa para ‘ulama Ahlus Sunnah telah menyimpang daripada jalan kebenaran, hal ini antara lain misalnya tuduhan yang diarahkan golongan al-Wahabiyun , bahwa dengan jelas mereka juga mengkafirkan beberapa ‘ulama lainna dengan menyebutkan, Dahulu, aku tidak memahami arti dari ungkapan Laailaaha illallah. Kala itu, aku juga tidak memahami apa itu agama Islam. (Semua itu) sebelum datangnya anugerah kebaikan yang Allah berikan (kepadaku). Begitu pula para guru (ku), tidak seorangpun dari mereka yang mengetahuinya. Atas dasar itu, setiap ulama ’al-Aridh’ 16 Muhammad bin ‘Abdullah bin Faiuz, Raddu li man Kafara ahlu Riyadh, hlm. 1


yang mengaku memahami arti Laailaaha illallah atau mengerti makna agama Islam sebelum masa ini (yakni sebelum masa anugerah Allah kepada Muhamad bin Abdul Wahhab, red) atau ada yang mengaku bahwa guru-gurunya mengetahui hal tersebut, maka ia telah melakukan kebohongan dan penipuan. Ia telah mengecoh masyarakat dan memuji diri sendiri yang tidak layak bagi dirinya.” Betapa jeleknya perkataan yang beasal daripada seorang yang mengaku sebagai ‘ulama, tetapi betapa rendah kesan akademisi dan intlektualitasnya sehingga dengan kemampuannya yang tidak seberapa telah mendeskriditkan para ‘ulama Salaf ash Shalih dan para ulama di kalangan Sunni, mereka Wahabi menyangkakan bahwa pengetahuan dan pemikiran Tauhid mereka kepada Allah jauh atau bahkan dalam beberapa pemahaman daripada ilmu kalam jauh lebih baik dibandingkan dengan Tauhudinya golongan kaum muslimin, mereka beranggapan bahwa Tauhid yang dipegang para ‘ulama di berbagai kawasan dan wilayah dunia, terutama sekali kalangan pemimpin Sunni & at-Tasauf telah melenceng jauh daripada kebaikan dan bahkan berbeda atau bertentangan atau bahkan berbeda dengan yang diajarkan dalam Islam, dalam pekataannya bahwa kalangan al-Wahabiyun berani mengklaim sebagai kelompok yang mewakili pendapat Bahwa terbukti bagi anda bahwa orang-orang kafir mengakui yang demikian, niscaya anda mengetahui bahwa perkataan anda yang mengatakan 'Sesungguhnya tidak ada yang menciptakan dan tidak ada yang memberi rezeki kecuali Allah, serta tidak ada yang mengatur urusan kecuali Allah, tidaklah menjadikan diri anda seorang muslim sampai anda mengatakan, ‘Tidak ada Tuhan selain Allah’, dengan mengikuti/disertai melaksanakan artinya'" Pemahaman menyimpang kalangan al-Wahabiyun sedemikian telah menghantakan mereka kepada kebencian tehadap dunia dan pemikiran kalangan umat Islam yang memang dapat dikatakan memiliki azas juruprudensi yang sangat tidak dapat dianggap sejajar. Persoalan mengenai khilafiah fiqih antara tiap-tiap Mazhab di kalangan dunia Islam, sekalipun hal itu tidak memancing kepada persoalan & pembahasan yang sangat beragam. Tidak seorang di antara kalangan Fuqaha beranggapan atau bahkan membenci dan mengkafirkan pendapat umat Islam lainnya hanya disebabkan perdebatan dan persilangan di antara pendapat yang tidak dapat dikompromikan. Tetapi sikap yang ditunjukkan oleh golongan mereka justu mengisyaratkan kepada penerimaan pendapat yang bertentangan dan sikap saling menghormati pemahaman umat islam lainnya. Hal ini terungkap dari banyaknya bukti yang menunjukkan bahwa Wahabi membenci dan berusaha merendahkan dan menghina pemahaman penganut Mazhab yang pemikirannya berbeda dengan mereka. Apa yang harus diperbincangkan dalam polemik mereka terhadap dunia Islam, tidak sebuah argumentasi pun yang dilontarkan oleh kelompok Wahabi dapat menjelaskan mengapa teks-teks mengenai kekafiran ini bahkan tercantum dengan thema-thema yang menyindir umat Islam, perhatikan saja judul-judul literatur mereka, antara lain sebagaimana yang diterbitkan oleh Ladjnah penerbitan : Kasyaf al-Syubuhat (Sebuah kitab membahas kesesatan golongan ahlus Sunnah yang bertetangan dengan tauhid ‘ubuudiyah), al-Murtadin (nama-nama orang yang oleh Wahabi dianggap murtad merupakan bagian daripada kitab yang disusun dalam Muallafat). Perbincangan ini menghasilkan pemahaman bahwa Wahabi, dalam literatur mereka ‘dengan’ sengaja sebagaimana korespondensi yang mereka rencakan daripada ulama-ulama yang tidak sepaham dengan aliran mazhab mereka dan penolakan terhadap pemahaman Ahlus Sunnah, dirancang dengan sedemikian rupa sehingga melontarkan penakfiran dan me-labelkan kepada ulama-ulama Ahlus Sunnah istilah-istilah yang tidak pantas atau bahkan sangat bathil dan tidak disertai dengan rasionalitas dan alasan yang dapat dibenarkan. Kebencian mereka tertuang


daripada berbagai literatur dan bahkan dengan terabg-terangan pengkafiran terhadap dunia Islam dan kebenciannya. C. Wahabi : Tauhid Golongan Mujassimah dan Musyabbihah Telah disampaikan oleh kalangan Sunni dan kaum muslimin pada umumnya mengenai golongan ahli Tajsim (musyabbihah) yang telah menjasmanikan Allah, mereka mengatributkan kepada Allah akan sifat-sifat makhluk, bahkan terutama sekali segala macam hal berkenaan dengan materi dan hal-hal bersifat kebendaan. Mereka dalam tarikh Islam tiada lain merupakan segologan kelompok yang beranggapan bahwa Allah mempunyai jisim (tubuh) dan disifatkan dengan anggota tubuh dan mempunyai berbagai deskripsi sebagaimana manusia pada umumnya. Golongan ini sangat terkenal dan bahkan terdapat dalam Islam sebagai akibat dari kelemahan di kalangan umat dalam mempelajari dan memahami masalah keilmuan dari berbagai macam aspek, terutama sekali hal ini terdapat pada ahli zhahirnya akidah dan mereka yang mencukupkan diri dengan pemahaman yang didasarkan kepada teks-teks keagamaan yang tidak mengandalkan pemahaman keagamaan yang benar atau mendalam. Kalangan ulama Ahlus Sunnah daripada Ay’ariyah & Rusydiah , sebagaimana pula banyak di antara kelompok pembela – pembela mereka yang tidak paham dan bahkan dengan berani melarang membicarakan persoalan Tauhid. Hal yang sangat tidak mengherankan bahwa banyak di antara orang-orang pengikut mazhab mereka (tekstualis) dan hali hadits telah menyimpang dan bahkan tersesat daripada jalan orang-orang muslim, bahkan mereka telah menghancurkan pilar akidah Ahlus Sunnah wa al-Jama’ah/ Ajaran mereka dibumbui dengan paham pagan dan merusak sufisme Islam. Paham terkutuk mereka tersebut telah dengan jelas-jelas terlihat daipada akidah dan juga kepercayaan dalam Mazhab mereka. Menurut pendapat yang makhtum bahwa mereka menganut akidah Allah yang berjisim dan akidah ini mereka pegang dan anut dengan sedemikian keras dan kuatnya bahkan di antara golongan yang sesat itu mereka telah membuat ajaran-ajaran batil untuk menentang akidah dan ilmu kalamnya golongan Ahlus Sunnah, tidak mengherankan apabila al-Imam Fudhail memberikan bantahan telah atas akidah mereka yang tidak rasional tersebut dengan penjelasannya, Disebutkan oleh al-Yussi:”Sanusi telah mengabarkan keterangan ini untuk kitab Syarah al-Wasath terhadap sebagian golongan al-Mubtadi’ah dimana beliau menjelaskan : ‘apaapa yang telah dikabarkan dari sebagian golongan pembuat bid’ah seperti al-Hasyawiy dan sebagian lainnbya mengenai dilarangnya untuk mencari persoalan masalah Tauhid, untuk segala siapa mempunyai rasional tidaklah ditentang perihal kacau dan sesatnya orang yang menggunakan paham ini sebab pemahaman itu bertentangan dengan alQur’an, Sunnah dan konsensus17 Keterangan daripada Syaikh al-Imam yang mulia ini jelas-jelas tanpa diragukan dimana mereka menyebutkan atau mengklaim terhadap sekelompok orang yang disebut sebagai Mazhab Ahlul hadits, merekalah yang membuat penyelewengan dalam masalah Tauhid dan akidah dan dengan jelas merupakan orang-orang yang paling awal dalam penolakan terhadap ‘ilmu Kalam, tidak mengherankan apabila mereka (golongan ahli hadits) banyak yang tersesat dan jatuh kepada penyelewengan dalam persoalan – persoalan berkenaan dengan Ushul dan furu’. Dalam hal ini akan kami tunjukkan bahwa akidah daripada golongan ahli hadits ini banyak yang menyesatkan (dalam masalah Tauhid) dan mereka sejelek-jeleknya kelompok yang tidak mengerti ‘ilmu kalam. Tidaklah menakjubkan apabila ada dapat menemukan dalam literatur mereka berbagai penentangan dan kedurhakaaan terhadap al-Rahman dan akidah Sunni dan juga orang-orang yang mulia. Kami akan menyebutkan berbagai penyelewengan di kalangan mereka. 17 Al-Kifayatul Awwam hlm.19


Ajaran Tajsim (penjasmanian) Allah terletak pada kesalahan daripada ajaran-ajaran yang bertentangan dengan pengetahuan dan nurani manusia dalam mengenal akan Rabb mereka. Telah dipahami bahwa kalangan mereka banyak yang menyeleweng daipada perkara yang telah ma’lum di kalangan ‘umat Islam tetapi mereka membuat berbagai bid’ah dalam penolakan ‘ilmu Kalam. Dalam hal ini penting untuk mengemukakan akidah yang dianut oleh kalangan Hanabaliah dengan sejumlah orang yang menyimpang dalam Mazhab tersebut. Penyelewengan daripada akidah Tauhid yang terdapat dalam Mazhab Hanabaliah terhadap pada beberapa orang yang sangat celaka, akidahnya antara lain adalah al-Barbahari laknatullah yang di dalam berbagai argumentasinya terkandung pemikiran tajsim dan juga zindik, dimana Dia mengakui bahwa Allah mempunyai berbagai karakter-karakter yang mana tidak pantas untuk diatributkannya. Bahkan dengan gampangnya dia mengatakan berbagai hal yang tidak pantas untuk Allah dan bahkan dia mengagungkan riwayat-riwayat jisim dan akidahnya yang menyeleweng dan berhaluan zindik. Beberapa perkataannya antara lain penuh dengan ketikdakpeduliaan terhadap ‘ilmu kalam dan menunjukkan penentangan terhadap pemikiran ‘ilmu Ushuluddin dan juga persoalan akidah sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat, Suatu ketika al-Asy‘arî mendatangi Abû Muhammad al-Barbahârî di Baghdad, lalu ia berkata, “Aku telah membantah al-Jubbâ’î (ayah tirinya-pen), aku telah membantah kaum Majûsi dan Nasrani” . Al-barbahârî malah mengatakan, “Aku tidak paham apa yang anda ucapkan, kami (al-Barbahârî dan kalangan Hanâbilah-pen) tidak mengerti melainkan apa yang dikatakan oleh Imam Ahmad”. Lalu al-Asy‘arî pergi dan menuliskan al-Ibânah, namun pada akhirnya al-Barbahârî tetap saja tidak mengakuinya.18

Penyelewengan dari kalangan Mazhab Zindik lainnya antara lain dapat ditemukan pada pribadi orang-orang yang menyimpangkan makna dan pengertian daripada haditshadits ru’yatullah antara lain sebgaaimana tokoh-tokoh yang diperbincangkan dan diperdebatkan oleh kalangan Ahlus Sunnah dan bahkan merupakan tokoh-tokoh yang dengan berani menyeleweng dengan memalsukan dan membuat-buat bid’ah yang tidak didasarkan kepada akidah yang diakui oleh umat Islam. Bahwa akidah golongan Mujassimah didasarkan kepada penafsiran yang seringkali tidak mengetahui aspek lughawi dan balagh dan bahwa di kalangan mereka terdapat penolakan –penolakan untuk mempergunakan rasionalitas dan juga tidak mengenal dalam spritualitas mereka akan makna-makna majazi daripada kalam. Sebagian mereka bahkan memahami dogma dan argumentasi Salaf dan akidah di kalangan kaum muslimin hanya berspekulasi dan bersandar kepada perkataan-perkataan yang penuh dengan kesesatan dan zindik. Tidak sebuah perkataan pun di kalangan mereka yang menunjukkan bahwa hal tersebut dihasilkan daripada proses untuk menguraikan dan memakai instrument dalam mengkaji dan manta’liq dan menta’shid persoalan-persoalan diniyah. Mereka hanya menjelaskan perkataan-perkataan teks bangkai yang sangat keliru daripada rasionalitas. Disebutkan oleh al-Imam Asy-Syahrastani dalam kitabnya mengenai penyebab daripada penyelewengan golongan ahli tajsim dan para pengikut mereka yang menyesatkan dalam memahami persoalan dan pembahasan mengenai akidah Tauhid diamana beliau menjelaskan mengenai penyelewengan daripada golongan daripada sebagian penganut Mazhab penganut paham ajaran Mujassimah, dimana mereka mengemukakan akidahnya sebagai berikut, 18 Siyâr A‘lâm al-Nubalâ’, vol.9, hal.372


Sebuah kumpulan Ashab al-Hadits, yaitu al-Hasyawiyyah dengan jelas menunjukkan kepercayaan mereka tentang tasybih (yaitu Allah serupa makhlukNya, baca uraian selanjutnya mengenai tajsim/tasybih) ...sehingga mereka sanggup mengatakan, bahwa pada suatu ketika, kedua-dua mata Allah kesedihan, lalu para malaikat datang menemui-Nya dan Dia (Allah) menangisi (kesedihan) berakibat banjir Nabi Nuh a.s sehingga mata-Nya menjadi merah, dan ‘Arasy meratap hiba seperti suara pelana baru dan bahwa Dia melampaui ‘Arasy dalam keadaan melebihi empat jari di segenap sudut.19 Betapa jelas komentar yang diberikan ole al-Imam Asy-Syahrastani tersebut dimana ada segolongan atau bahkan mayoritas di kalangan ahli hadits dimana mereka tidak mengerti penafsiran akidah Ahlus Sunnah dengan berani menyelewengkan berbagai dogma berkenaan dengan ayat-ayat mutasyabihat, sekalipun di berbagai aspeknya mereka mengakui terdapat penyelewengan akidah-akidahnya yang mana tidak akan kita bahas terlalu mendalam untuk aspek ini. Namun penting kiranya untuk menjelaskan bahwa mereka (golongan Wahabi) meyakini akidah dan penafsiran yang tidak berbeda berkenaan dengan akidah Mujasima tersebut. Mereka memahami teks-teks diniyah secara literal dan menyerang golongan – golongan di kalangan Ahlus Sunnah dan mencerca umat Islam yang tidak sepaham dengan akidah mereka tersebut sebagai Mu’athillah. Sebagian daripada akidah mereka tersebut antara lain tercantum dalam perkataan dusta kalangan agama mereka sendiri yang mengatakan bahwa Allah dan sifat-sfanya tidaklah boleh disamakan dengan makhluk tetapi Dia disifatkan dengan apa-apa yang lahir. Maka mereka mengatakan Allah berjisim (bertubuh) sekalipun mereka menolaknya dan menyangkali bahwa penyifatan terhadap Allah tanpa menakwilkan atau memaknawikannya sebagai bentuk akidah dan paham pemikiran yang dengan jelas-jelas menyimpang. Bahkan dengan berani mereka mengklaim dan mengatakan bahwa golongan Mu’atillah (pengingkar) dan ahli kalam serta ulama-ulama Ahlus Sunnah bertanggungjawab terhadap penyelewengan dan penyelewengan terhadap penyifatan Allah dengan mempergunakan teks Wahyu. Mereka menyebutkan bahwa Allah hanya dipekenanuntuk disifatkan dengan sifat yang tertera dan diberikan penjelasan (ta’sis), mereka tetapi dengan tegas menolak perkaraperkara berkenaan dengan ma’nawi dan juga hakiki daripada penafsirannya. Tidak mengherankan apabila seorang ulama mereka Syaikh mereka dengan berani antara lain dalam Syarah ‘aqidah yang ditujukan kepada ‘ulama mereka Muhammad Ibn ‘Abdul Wahab mengiktirafkan kepada Allah akan sifat jisim (tubuh) dan mereka mengklaim bahwa penyifatan itu berasal daripada sumber Wahyu, sekalipun sebagian besar daripada akidah mereka yang sangat abnormal tersebut tidak berdasar dan sangat jauh daripada makna tanzih (pesucian), bahkan mendekati kepada bentuk pengingkaran dan penolakan terhadap akidah di kalangan pemuka Islam.

19 Asy-Syahrastani, al-Milal, hlm.41

Epistemologi Islam Wahabi  

Makalah ini merupakan bahan dna materi dalam seminar

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you