Issuu on Google+

Vol. 33 Sept - Oct 2012

Mira Andayani

Seizing the Opportunity Through Songket Jumputan

ISSN: 2087-5975

Wirawan Tjahjadi Three Generation in Coffee Industry and Going Strong

www.money-and-i.com

Vol. 33 | September - Oktober 2012

1


2

Vol. 33 | September - Oktober 2012

Vol. 33 | September - Oktober 2012

3


4

Vol. 33 | September - Oktober 2012

Vol. 33 | September - Oktober 2012

5


contents September - Oktober 2012 | Volume 33 8 EDITOR’ S NOTE 12 QUOTES OF THE MONTH 13 PIN UP 14 Event Grand Prize Jumbo Lestari & Lestari Stake Holder Dinner 18 Market Research Bank Domestik Lebih Baik dari Bank Asing 18 Road To Wealth Step By Step a Lesson From Rinjani 20 Outlook Biografi I Gusti Ngurah Rai diangkat ke Layar Kaca 22 Info Property Bali yang berubah wajah 24 Note From the Guru Marketer di Tengah Tiga Global Shift

Cover Photography by Gus Baruna

26

SPECIAL FEATURE

Kopi itu pahit, untuk rasa itu benar adanya, tapi dari sisi bisnis terlebih di era modern saat ini, kopi menjadi ladang emas dengan peluang yang demikian manis. Terlebih jika mengingat bahwa Indonesia merupakan negara produsen kopi keempat terbesar dunia setelah Brazil, Vietnam dan Colombia. Beramai-ramai para investor terjun di bisnis ini, dari yang kecil sampai raksasa, dari yang kedai, sampai cafe, bahkan dari yang kopi tubruk sampai yang Sturbucks. Kami mengupas pemetaan bisnis tersebut saat ini di rubrik Special Feature?

36 Interview Wirawan Tjahjadi

52 Literature The Magic

60 Lestari Institute Tujuh Kesalahan HRD

44 Profile Office BPR Lestari Thamrin

54 Book Review

62 Socialita Meuthia Rizky

50 Smart Family Rich Culture, Great Assets

58 Insight Middle Income Trap

66 Front of Mind Tony Fernandes 68 Growth Strategies Achievemnt Through Competition 72 Notes From A Friends Is It About Money

46 6

Lestari First : Mira Andayani Seizing the Opportunity Through Songket Jumputan Vol. 33 | September - Oktober 2012

74 Inspiration Trotoar Roller Coaster

Vol. 33 | September - Oktober 2012

7


Editor’s Note Arif Rahman

Managing Editor, Money & I

MANAGEMENT PUBLISHER

Alex P. Chandra

Industri Kopi Bali

MARKETING COMMUNICATION

I Putu Agus Ariawan

Di Bali sendiri kopi sudah menjadi salah satu industri utama, terlebih area perkebunan kopi di Kintamani yang telah diakui dunia. Bahkan pertengahan September lalu festival kopi nasional untuk kali perdana digelar di Ubud.

A

da banyak alasan mengapa Eropa melakukan invasi ke Indonesia. Negara seperti Portugal, Inggris dan Belanda saling berebut lahan di negeri ini. Rempahrempah dan ranumnya tanaman kopi menjadi alasan yang membawa Belanda rela hingga berabad-abad berperang dengan pejuang tanah air. Dari sisi keuntungan, apa yang mereka lakukan secara nyata menunjukkan bahwa potensi sumber daya alam bangsa ini begitu besar, termasuk diantaranya industri kopi yang demikian melimpah. Saat ini, hampir 70% hasil produksi kopi kita terserap ke pasar ekspor. Padahal disatu sisi, jika saja 10% orang Indonesia minum 3 cangkir kopi dalam sehari, maka semua hasil produksi akan terserap untuk dalam negeri saja.

Inilah yang menjadi alasan mengapa redaksi mengangkat tema kopi pada rubrik special feature kali ini. Insight berharga juga kami dapatkan dari Wirawan Tjahjadi pemilik Kopi Kupu-Kupu Bola Dunia, juga dari Ellyanthi Tambunan selaku penggagas Indonesian Coffee Festival. Pada edisi ini, kami juga menampilkan dua sosok wanita muda yang berhasil meniti karir dengan sukses, yakni Ni Ketut Mira Andayani yang kami tampilkan profilnya di rubrik Lestari First dan kedua adalah Meuthia Rizky, top leader sebuah bisnis jejaring yang belum lama ini mengunjungi Bali. Semoga sajian ini bisa menjadi pelengkap aktifitas Anda dan tambahan suplemen spirit untuk terus berkarya. Jabat Erat, Arif Rahman

Send your letter to PT BPR Sri Artha Lestari, Jl. Teuku Umar 110 Denpasar or mail to M&I Magazine: redaksi@money-and-i.com

8

Vol. 33 | September - Oktober 2012

PUBLIC RELATION

Wahyu Sari Pande

EDITORIAL MANAGING EDITOR Arif Rahman CONTRIBUTORS Alex P. Chandra Hermawan Kartajaya Pribadi Budiono Suzanna Chandra Yuswohady I Made Wenten B. MANAGING SUPPORT

Anton HPT CONTENT EDITOR

Kinan Setya DESIGN

Hendrik MARKETING & CIRCULATION

Aan Evarudin PHOTOGRAPHY

Gus Baruna

SUPPORTED BY

Alamat Redaksi: PT. BPR SRI ARTHA LESTARI Jl. Teuku Umar 110 Denpasar T. (0361) 246706 F. (0361) 246705 E. redaksi@money-and-i.com marcomm@bprlestari.com Direct Sales & Marketing for Advertisement T. 0361 7843244 www.money-and-i.com Vol. 33 | September - Oktober 2012

9


Advetorial

10

Vol. 33 | September - Oktober 2012

Vol. 33 | September - Oktober 2012

11


Pin Up

“Setiap napas pertama bayi ke Bumi bisa menjadi salah satu kedamaian dan cinta. Setiap ibu harus sehat dan kuat. Setiap kelahiran harus aman dan penuh kasih. Tetapi hal itu belum ada di Indonesia” Robin Lim CNN Hero of The Year

“Kita punya

“Keep challenging

cita-cita cuma

yourself, Never

satu, ini jalan

be satisfied,

internasional.

and Always

Kalau orang luar

perform beyond

negeri, belum ke

expectation”

jalan itu belum ke

Billy Boen

kota itu” Ciputra Menuturkan ide pembangunan kawasan komersial terpadu yang sudah tercetus sejak 20 tahun lalu.

Money is only a tool. It will take you wherever you wish, but it will not replace you as the driver. Ayn Rand

12

Vol. 32 33 | September Agustus - September - Oktober 2012

Vol. 33 | September 2012 Vol. 30-|Oktober Juni - Juli 2012

13


Event Di Lestari, saya memilih program Jumbo dan juga deposito. Awalnya memilih Jumbo sebenarnya hanya untuk menyimpan bunga dari Deposito, dan ternyata justru dapat mobil dari program Jumbo Lestari ini. “

lanjutnya kemudian sembari menyampaikan bahwa mobil hadiah grand prize BPR Lestari ini akan berguna untuk orang banyak.

Grand Prize Jumbo Lestari

A

khirnya, mobil kedua dari 3 unit New Grand Innova, Grand Prize dari BPR Lestari resmi sudah memiliki pemilik, adalah Alvonius Purwa yang akrab di panggil pak Al selaku owner KCBJ Tours yang memenangkan hadiah tersebut, setelah dimalam sebelumnya di undi bersamaan dengan Stake Holder Dinner di Sector Bar. Sama seperti ketika undian New Grand Innova pertama, kali ini pun prosesi penyerahan Grand Prize tersebut berlangsung meriah, konvoi kecil dengan kawalan sirene polisi memecah kemacetan kota Denpasar. New Grand Innova berwarna putih dengan balutan pita orange menjadi pusat perhatian publik, dan konvoi berakhir di kediaman pak Al dikawasan Kuta. “Meskipun sudah punya mobil, namun siapapun yang dapat mobil baru pasti senang. Sama seperti seorang

14

Vol. 33 | September - Oktober 2012

menteri yang datang terus kita ajak main golf gratis, sekalipun dirinya menteri, tetap saja gembira dengan jamuan tersebut. Itu juga yang saya rasakan saat mendapatkan mobil ini, seperti dapat durian jatuh, dan duriannya manis lagi…,” seraya tersenyum pak Al menunjukkan kegembiraannya kepada Money & I.

Pak Al memutuskan untuk melakukan loncatan dengan membuka bisnisnya di Sumba karena dorongan dalam dirinya yang seorang rotarian [anggota Rotary Club] yang tergerak setelah melihat kemiskinan di Sumba yang masih besar, dan membawa dirinya bersama beberapa kawan Rotary memberikan bantuan dengan mendirikan sekolah, membuat penampungan air dan bantuan lainnya disana. “Di Sumba itu, kita melihat ada pantai yang indah berpasir putih dan tenang, hanya berjarak 20 menit dari bandara Tambulaka. Panjang pantainya kira-kira dari pantai Kuta sampai dengan Oberoi, melihat potensi yang seperti itu saya dan temanteman berkenan membantu dan membangun resort disana,” ungkap bapak yang kini sudah menyerahkan hampir semua bisnisnya kepada putra putrinya. Ditanya soal kepercayaannya menjadi nasabah Lestari, pak Al menyampaikan bahwa dirinya melihat Lestari memiliki potensi untuk berkembang semakin besar. “Saya sudah menjadi nasabah Lestari selama satu tahun. Saya selalu beranggapan bahwa suatu saat Lestari

bisa dan akan mampu menggantikan Bank Dagang Bali, banyak orang yang kehilangan tempat untuk menyalurkan dananya di BPD dan saya pikir Lestari bisa besar seperti itu,” ungkapnya lagi. “Di Lestari, saya memilih program Jumbo dan juga deposito. Awalnya memilih Jumbo sebenarnya hanya untuk menyimpan bunga dari Deposito, dan ternyata justru dapat mobil dari program Jumbo Lestari ini. Di Jumbo sifatnya kan flexible, jadi bisa diambil sewaktuwaktu, meskipun belum ada ATM tapi ada layanan delivery-nya,“ sambungnya lagi ketika kami berbincang di bale-bale taman belakang kediamannya yang asri. Pak Al yang pernah menjabat sebagai gubernur rotary se Indonesia pada periode 2010-2011, mengaku saat ini lebih banyak menghabiskan waktu bersama cucu dan aktif di kegiatan sosial. Dengan berpindahnya Grand Prize Kijang Innova kedua ini di kediaman pak Al, maka saat ini tinggal tersisa 1 unit lagi yang belum memiliki pemilik, dan kesempatan ini masih terbuka dimana hadiah utama sebuah mobil berpeluang masuk ke garasi rumah Anda yang telah memiliki tabungan Jumbo Lestari. Tambah terus saldonya dan pastikan, pemenang berikutnya adalah Anda.

“Rencananya nanti mobil baru ini akan kita gunakan untuk operasional di hotel kita Cempaka Blimbing [yang juga merupakan salah satu bisnis yang dimiliki pak Al.red] untuk melayani tamu-tamu yang ada disana. Sedangkan mobil tua yang ada di Cempaka Blimbing mau saya kirim ke Sumba. Di sana kami sudah mulai jalan untuk bisnis tour travel dan hotel, sekaligus untuk membantu masyarakat disana agar lebih maju lagi,”

Vol. 33 | September - Oktober 2012

15


Event

Lestari Stake Holder Dinner Business Review 2012

D

ibuka dengan penampilan dari Lestari Band, mereka unjuk keterampilan olah suara untuk menghibur para undangan nasabah BPR Lestari. Kemudian dilanjutkan dengan penyampaian laporan performance BPR Lestari pada semestar pertama tahun 2012, dan ditutup dengan undian grand prize New Grand Innova adalah rangkaian acara Lestari Stake Holder Dinner yang berlangsung pada pertengahan September lalu di Sector Bar. Penampilan apik dari staf BPR Lestari yang bukan hanya piawai di meja kerja, namun juga di panggung dengan bermusik menjadi pendamping santap malam para undangan. “Ini akan menjadi sumber pendapatan lain-lain untuk BPR Lestari,� kelakar canda Alex P Chandra selaku komisari BPR Lestari ketika dirinya mendapat giliran untuk menyampaikan business review Lestari selama semester pertama 2012. 16

Vol. 33 | September - Oktober 2012

Pada kesempatan ini, Alex P Chandra menyampaikan, sekalipun pertumbuhan BPR Lestari belumlah sesuai target, namun secara keseluruhan asset BPR Lestari mengalami peningkatan 6% dari asset tahun 2011 sebesar 1,1 triliun rupiah. Sampai dengan Juni 2012 asset BPR Lestari menjadi 1,15 triliun, yang artinya terdapat peningkatan sebesar 64 milyar. Demikian pula dari kredit yang tumbuh sebesar 169 milyar dari posisi sebelumnya 674 milyar [25%] ditahun 2011 saat ini menjadi 844 milyar. Namun sekalipun saluran kredit meningkat, performa keuangan Lestari masih tetap baik, dilihat dari NPL [NPL adalah non performing loan yakni perbandingan antara kredit lancar dan yang tidak lancar] bulan Juni 2012 yang masih dikisaran 0,33%. Selain kredit, dana pihak ketiga juga mengalami peningkatan sebesar 40 milyar atau 4% dari yang sebelumnya 991 milyar ditahun 2011 menjadi 1,3

triliun dibulan Juni 2012. Dan selama 6 bulan ini, profit BPR Lestari tumbuh 74,5% dari yang sebelumnya 30,3 milyar di akhir tahun 2011 menjadi 22,6 milyar di pertengahan 2012. Selain itu, Alex P Chandra yang sebelumnya merupakan Direktur Utama BPR Lestari juga menyampaikan pengumuman bahwa dirinya sudah tidak lagi menjabat posisi tersebut sejak bulan Februari 2012, dan digantikan oleh Pribadi Budiono yang sebelumnya menjabat sebagai direktur. Saat ini Alex P Chandra merupakan komisaris BPR Lestari. Disela-sela acara, Alex P Chandra juga mengajak sejumlah nasabahnya untuk turut berperan dalam kegiatan amal berupa pembangunan Griya Bhakti Pastoral gereja Katolik Yesus Gembala yang Baik dalam bentuk arisan. Bagi

Anda yang berminat, dapat menghubungi BPR Lestari Teuku Umar untuk informasi lebih jauh. Di akhir sesi, BPR Lestari melakukan pengundian Grand Prize New Grand Innova kedua, hadiah dari program tabungan Jumbo, salah satu produk Lestari yang usianya belum lama namun sudah mendapat respon positif dari pasar. Jumlah rekening nasabah Jumbo [NOA] sampai dengan Agustus 2012 telah mencapai 3.167 NOA, tumbuh sebanyak 1.731 rekening atau 121% dari Juni 2011 dengan nominal sebesar 164,6 milyar rupiah. Dengan jumlah populasi nasabah Jumbo saat ini, maka cukup beralasan untuk menyebut hadiah mobil Grand New Innova merupakan hadiah tertinggi dari produk keuangan di Indonesia. Vol. 33 | September - Oktober 2012

17


Market Research

K

ebijakan pemerintah yang memberikan keleluasaan bagi bank asing untuk memiliki saham dalam jumlah besar di Indonesia, termasuk diantaranya regulasi yang mudah berbuntut pada berdirinya bank-bank asing di tanah air, atau bank-bank lokal yang diakuisisi kepemilikan sahamnya oleh bank asing tersebut. Namun hal itu bukan berarti kepercayaan masyarakat kepada bank dengan label “impor� serta merta membuat masyarakat latah untuk memilih bank asing, justru hasil survei Nielsen menyebutkan bahwa bank domestik dinilai lebih baik dari bank asing. Konsultan riset Nielsen mengungkap hasil survey yang menyatakan bahwa masyarakat Indonesia menilai bank domestik lebih baik dibanding bank asing dari segi layanan ritel. Bank domestik lebih unggul untuk menjawab kebutuhan masyarakat, seperti cek saldo, membayar kartu kredit serta membayar tagihan listrik dan telepon. Disamping masyarakat Indonesia juga menilai bank asing belum sebaik bank domestik dalam menjawab transaksi kebutuhan sehari-hari dari segi lokasi.

Survei Nielsen:

Bank Domestik Lebih Baik dari Bank Asing

18

Vol. 33 | September - Oktober 2012

Survei tahunan ini dilakukan terhadap 1.700 responden yang berpenghasilan di atas Rp. 2 juta per bulan di sembilan kota besar Indonesia yang menunjukkan hanya sekitar 12 persen responden yang mempertimbangkan bank asing sekalipun memiliki keunggulan dalam hal penguasaan jaringan internasional. Keunggulan bank lokal dalam hal memenuhi kebutuhan nasabah ritel menjadi modal kuat untuk bersaing dengan bank asing. Namun bank lokal yang dipersepsikan lebih bagus dalam menjawab kebutuhan ritel tersebut tidak untuk keperluan lain seperti investasi atau trade finance. Di survey yang sama, Nielsen juga menemukan bahwa ada upaya peningkatan citra dari bank milik pemerintah atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di mata masyarakat. Dari sisi citra perbankan, bank BUMN dinilai berlomba-lomba untuk meningkatkan citra mereka. Sejumlah bank BUMN, seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk dan PT Bank Negara Indonesia Tbk ingin mencitrakan diri sebagai bank milik pemerintah. Namun berbeda dengan Bank Mandiri Tbk yang dinilai cenderung berusaha memisahkan diri dari citra bank pemerintah. Vol. 33 | September - Oktober 2012

19


Road to Wealth

Road to Wealth But at the top, the view is superb.

Alex P. Chandra Chairman BPR Lestari

Danau Segara Anakan dibawah kita. Danaunya masih gelap, namun bebatuan kawahnya mulai berkilauan disinari matahari yang baru terbit. Dan ketika matahari cukup tinggi, giliran air danaunya yang berkilauan.

STEP BY STEP

A Lesson From Rinjani

Dan sekelilingnya, kita bisa melihat bukit-bukit yang sudah kita daki, gleaming dengan cahaya matahari pagi bercampur dengan embun pagi. Mistik. Dahsyat. Namun saya kapok. Perjalanan subuh tadi sangat melelahkan. I have enough. Cukup ! No more ! Ketika kembali ke base camp. Saya bilang tidak mau melanjutkan hiking yang masih 2 hari lagi. Saya bujuk teman-teman saya untuk turun saja, toh kita sudah sampai ke puncak. Yang hike 2 hari lagi kita habiskan di Gili saja. Nginep di resort, makan enak, pijet, snorkeling-an.

M

inggu lalu, saya bersama dengan beberapa teman lama, a high school friends and others, hiking mendaki Rinjani. Kami lulus SMA tahun 1987, dari SMA Regina Pacis di Bogor. Jadi rata-rata usianya sekarang 44-45 tahunan.

mempunyai ketahanan yang mengagumkan untuk bisa bertahan dan accomplished.

Istri saya mengatakan bahwa kita-kita terkena mid life syndrome. Krisis paruh baya. “Pake acara naek gunung segala”, demikian katanya. “Udah enggak jaman lagi, susahsusah begitu”.

Ketika memulai bisnis membangun BPR Lestari 13 tahun yang lalu. Saya dihadapkan pada kenyataan pahit. Membangun bisnis ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Tiga tahun sudah saya keluar dari pekerjaan saya, dan membangun bisnis, I don’t see the light at the end of the tunnel.

But we go anyway. Rinjani is beautiful. But the hike is ‘like hell’. Hari pertama, kita mendaki dari pukul 9 pagi, sampai di first camp (2,600 dpl) jam 6.30 sore. Melalui padang rumput. Panas bukan kepalang. Bukit terakhir yang kami daki, namanya Bukit Penyesalan. Kata guide yang menyertai kami, di bukit ini biasanya orang pada menyesal. Tapi sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Harus naik, walaupun lelah bukan kepalang. Karena tidak ada pilihan lain. Turun juga sudah sangat jauh. Saya sempat khawatir karena beberapa kawan kelihatan sudah lelah sekali. Bahkan ada seorang teman yang sudah kram kakinya sejak awal mendaki. But, to make the story short. Everyone make it. Pelajaran dari Bukit Penyesalan adalah, ketika kita tidak punya pilihan lain, betapapun beratnya, walaupun kelihatannya tidak mungkin, ternyata setiap orang 20

Vol. 33 | September - Oktober 2012

Kata kuncinya adalah tidak punya pilihan lain. Harus berhasil atau mati.

Tapi mau mundur juga waktu itu sudah tidak bisa. Maju salah, mundur kena. Sama seperti perjalanan di Bukit Penyesalan. Mau naik berat sekali, tapi mundur is not an option. Kadang kala, posisi seperti ini malah menjadi leverage (alat bantu) buat kita. Ketika kita dihadapkan pada pilihan harus berhasil atau mati, biasanya kita berhasil. Banyak kawan yang memulai bisnis secara part time gagal. Mungkin sebenarnya bukan gagal dalam arti sesungguhnya, namun ketika bisnisnya menemui kesulitan (dan Anda pasti akan menemui kesulitan, guaranted). Mereka akan kembali ke comfort zone-nya. Akhirnya bisnisnya gagal. Hari kedua lebih gila lagi. Kita dibangunkan jam 3 pagi dan pendakian dimulai jam 4 pagi. Kali ini menuju summit (3,700 dpl). Pendakian ke summit luar biasa melelahkan, medannya berpasir. Jadi naik selangkah, mundur selangkah. Kecuraman mungkin 45 derajat.

Sebagian setuju dengan usul saya. Sebagian lagi tidak. Yang tidak setuju, meledek saya bahwa ‘catatan saya balik kandang, unfinished, akan dikenang sampai ratusan tahun katanya”. Saya seharusnya sudah menyerah. Namun lingkungan saya tidak memungkinkan saya menyerah. Makanya, penting sekali buat kita untuk memilih lingkungan yang positif buat kita. Lingkungan yang membawa kita lebih dekat kepada cita-cita kita. Bukan sebaliknya. Your peer will play an important roles in your career, in your life. “People lives in a direct expectations of his surrounding,” demikian kata Toni Robbins. Perhatikan dengan siapa kita bergaul. So, I move on. Day 2 is a true test. Setelah subuh mendaki summit, kini kita menuruni gunung menuju danau. Turunnya curam sekali, bebatuan. Paha, kaki dan jempol sakit semua. Tapi, yang mengerikan adalah setelah sampai danau, kita harus mendaki lagi ke puncak yang satunya. Kali ini medannya batu-batu. Mendakinya curam sekali. Bahkan kadang kita harus merayap dengan kedua tangan kita. Salah seorang kawan kami, drop. Kelelahan sekali, padahal baru mendaki sebentar. Mukanya pucat, keringatnya dingin. Setiap dua langkah harus berhenti. Napasnya memburu. Saya khawatir sekali. Perjalanan masih panjang, mendaki terus. Curam dan terjal. Tidak boleh meleset, karena kalau meleset bisa masuk jurang. Padahal kalau sudah kelelahan seperti itu, pandangan mata bisa buram, kepala pusing dan kaki lunglai.

Ternyata, walupun dengan melangkah step by step, namun tetap bergerak menuju puncak, walaupun kelihatannya ‘tidak akan sampai selamanya’. Ternyata sampai juga. Lebih cepat daripada yang kita bayangkan. Bagaimana kalau meleset nanti? Demikian juga dengan kondisi jantungnya? Napasnya memburu, dan tidak turunturun, tanda kelelahan akut. Kemampuan recovery-nya menurun drastis. Kalau dipaksa, jantungnya shock, ngadat, gimana? Saya sempat bicara dengan guide kami untuk bermalam di tengah hutan saja. Beristirahat. Namun, tenda sudah dibawa lebih dahulu oleh para porter, dan porternya sudah jauh di depan, bahkan mungkin sudah memasang tenda di puncak Rinjani yang satunya sementara kita masih di tengah hutan. Berat sekali kelihatannya untuk memanggil porter dan menurunkan tenda yang sudah terpasang di puncak. Jadi kita teruskan berjalan. Selangkah demi selangkah. Beristirahat sebentar setiap 2-3 langkah. Mengagumkan! Ternyata sampai juga. Walaupun harus merangkak. Walaupun kemalaman di hutan, sampai harus memakai senter (untung bawa senter). Jam 8 malam baru kami mencapai base camp ke -2 (2,500 dpl). Dengan selangkah demi selangkah, gunung yang tinggi terdaki juga. Menurut saya, ini pelajaran ketiga yang penting dari Rinjani. Keep your focus. Go fast if you can. Go slow if you must! Ternyata, walupun dengan melangkah step by step, namun tetap bergerak menuju puncak, walaupun kelihatannya ‘tidak akan sampai selamanya’. Ternyata sampai juga. Lebih cepat daripada yang kita bayangkan. Hari ketiga kita menuruni Rinjani dengan selamat, dan kemudian menginap di Holiday Inn Senggigi. Saya dan kawan akhirnya menikmati dinner by the pool di resort yang indah. Mereka jalannya terpincang-pincang, namun saya tidak sakit sedikitpun. My training, squad and lunges, akhirnya pays off.

Vol. 33 | September - Oktober 2012

21


Outlook

Outlook

Gubernur Bali Made Mangku Pastika, dengan harapan bisa terwujud, sebagai upaya menumbuhkan nilainilai kepahlawanan dan kebangsaan bagi generasi muda mendatang. Oleh sebab itu anggota DPRD Bali diharapkan mendukung rencana pembuatan film tersebut, dengan mengalokasikan dana dalam APBD Bali 2012.

Biografi & Perjuangan I Gusti Ngurah Rai Diangkat ke Layar Kaca

T

idak banyak nama pahlawan dari Bali yang dikenal apalagi populer. Dari sedikit yang ada, nama I Gusti Ngurah Rai adalah salah satu yang paling merakyat. Perang puputan yang membuat dirinya gugur dinilai sebagai salah satu momentum heroisme tersendiri dibenak masyarakat, terutama Bali. Ide pembuatan film ini secara tersirat tercetus ketika peresmian peluncuran buku berjudul Ngurah Rai Airport - Gateway to Paradise. Film yang rencananya akan diproduksi oleh pemerintah

Provinsi Bali tersebut mengangkat bagaimana tokoh pahlawan nasional I Gusti Ngurah Rai berjuang dalam masa penjajahan Jepang dan juga Belanda.

Kabid Kesenian dan Film Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Dra Ida Ayu Putri Masyeni, MSI dihadiri Ketua P2M Bali, Ir AA Manik Suryani dan tokoh Puri Kesiman Anak Agung Ngurah Kusuma Wardana. Cok Sawitri dari P2M Bali yang telah mempersiapkan skenario film tersebut mendiskusikannya dengan tokoh pejuang antara lain Ida Bagus Raca yang juga wakil ketua U LVRI Bali dan I Nyoman Sarja Udayana, wakil ketua II LVRI Bali.

Nantinya diharapkan film ini juga bisa menjadi stimulasi anak-anak muda Bali untuk memproduksi film dokumenter. Terlebih saat ini dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) juga materinya bertambah dengan adanya Festival Film Dokumenter Bali, disamping empat materi pokok yang meliputi pawai budaya, pementasan, sarasehan dan perlombaan. Lewat film ini juga diharapkan mampu menumbuhkan semangat dan rasa nasionalisme generasi muda, sekaligus memberikan pendidikan dan pemahaman tentang perjuangan rakyat Bali yang dipimpin I Gusti Ngurah Rai dalam melawan penjajah yang ingin kembali berkuasa di Indonesia. Rapat persiapan menggarap film tersebut dipimpin

“Produksi film itu akan digarap pada 2012 dengan melibatkan artis daerah Bali yang didukung sejumlah bintang film nasional," kata Kasi Perfilman dan Perijinan pada Dinas Kebudayaan Provinsi Bali I Wayan Dauh di Denpasar.

Puputan Margarana merupakan pertempuran mempertahankan kemerdekaan RI di Pulau Dewata yang dipimpin I Gusti Ngurah Rai, pahlawan nasional yang gugur ketika memimpin perang habis-habisan Margarana mengusir penjajah Jepang, 20 Nopember 1946. Di lokasi pertempuran kini dibangun Candi Taman Pujaan Bangsa Margarana di atas areal seluas 13 hektare. Selain dibangun candi megah dengan tinggi 17 meter juga dibangun 1.372 batu nisan untuk menghormati para pahlawan yang gugur di medan perang.

“Produksi film itu akan digarap pada 2012 dengan melibatkan artis daerah Bali yang didukung sejumlah bintang film nasional," kata Kasi Perfilman dan Perijinan pada Dinas Kebudayaan Provinsi Bali I Wayan Dauh di Denpasar. Rencana ini pun sudah mendapatkan apresiasi dari Diorama Perang Puputan Margarana

22

Vol. 33 | September - Oktober 2012

Vol. 33 | September - Oktober 2012

23


Info Property

Info Property dibelikan tanah pertanian berhektarhektar didaerah Tabanan. Nah, ini baru efektif.

S

alah satu cara melihat perkembangan suatu daerah, bisa dilihat dengan mengamati banyaknya bangunan baru baik perumahan maupun komersial. Dengan bertambahnya jumlah penduduk, otomatis akan bertambah permintaan segala sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhan hidup. Bertambahnya jumlah kebutuhan akan rumah, sekolah, jumlah toko, jumlah rumah sakit, jumlah pasar dan lain sebagainya. Begitu mempesonanya pulau Bali ini, sejak 12 tahun terakhir, jumlah penduduk yang pindah dan menetap di Bali melonjak sedemikian banyaknya. Penduduk baru ini berdatangan baik dari penduduk domestik (dari pulau lain) maupun dari luar negeri.

Fenomena ini ditambah dengan banyaknya pendatang temporary (masa-masa holiday saja) yang meluangkan sebagian waktunya untuk berlibur ataupun melakukan pekerjaan sementara di Bali. Penambahan (influx) dari jumlah penduduk, baik permanen maupun temporary, mengakibatkan perubahan demography dan social culture dari masyarakat. Bukan hal yang aneh lagi, di pelosok pedesaan Bali, untuk melihat wisatawan asing berkelakar dengan penduduk lokal. Bukan sesuatu yang langka melihat turis asing nongkrong di warung. Dan bukan sesuatu yang luar biasa melihat warung pedesaan menjual

24

Vol. 33 | September - Oktober 2012

Daerah lain di Kota Denpasar yang mengalami perubahan wajah yang cukup drastis adalah Renon, yang selama ini dikenal sebagai daerah pemukiman elite, setara dengan daerah Menteng kalau di Jakarta. Perubahan wajah yang terjadipun “tidaklah berbeda” dengan Menteng dimana daerah utama menjadi lokasi bagi restaurant dan perkantoran papan atas.

Bali yang Berubah Wajah steak, spaghetty dan bir bintang. Demikian juga dengan bertumbuhnya area-area yang tadinya sangat sepi, menjadi daerah pemukiman untuk wisata. Sampai ke pelosok-pelosok desa, ada yang namanya Villa, Cottages dan rumah sewaan. Sampai ke nenek-nenek di kampung, semuanya mengerti konsep “menyewakan” rumah atau kamarnya untuk wisatawan asing. Perubahan yang terjadi adalah ‘berubahnya wajah sebuah daerah”. Seminyak, Canggu, Echo Beach dan Pererenan area merupakan daerah “jin buang anak” sekitar 15 tahun yang lalu. Wajah mereka berubah

menjadi “the hottest places” dengan berdatangannya para wisatawan dan berbagai bisnis yang tercipta. Harga sepetak tanah seluas 1 are melangit, terakhir saya dengar daerah petitenget sudah mencapai 1.5 miliar per are. Dari lahan pertanian, wajahnya berubah menjadi lahan komersial. Dengan perubahan wajah dari lahan pertanian menjadi lahan komersial seperti itu, maka sudah tidak efisien lagi kalau petani masih menggunakan tanah yang mereka miliki di Petitenget untuk menanam padi. Harusnya tanah didaerah komersial dijual, kemudian hasilnya

Perlahan tapi pasti, semakin banyak komersial papan atas yang membuka cabang di daerah utama renon. Perlahan dan pasti, rumahrumah besar di pinggir jalan Renon merasakan “ketidaknyamanan” karena situasi menjadi semakin ramai. Seiring dengan demand atas komersial property, harga tanahpun melambung. Transaksi terakhir sekitar jalan utama Renon sudah sekitar 1 - 1.5 Miliar per are. Bayangkan, mereka yang memiliki rumah seluas 10 are di daerah tersebut. Artinya mereka menempati asset senilai 15 M (land only), yang tidak menghasilkan income, plus tinggalpun sudah tidak nyaman karena daerahnya semakin ramai.

Pada saat ini, yang terjadi adalah perubahan wajah Renon dari daerah pemukiman elite menjadi daerah komersial. Hal ini sudah terjadi di jalan-jalan utama dulu. Dan dalam kurun waktu yang tidak berapa lama, rumah-rumah yang berada disekelilingnya pasti akan dirubah menjadi komersial building.

Renon adalah Renon Square yang terletak di Jl. Raya Puputan, Renon - Kluster 6 Ruko (Commercial Properties) merupakan bangungan gedung 3 lantai dengan lahan parkir yang luas, dan memiliki design “modern classic” dengan menginkorporasikan “balinese architecture ”.

Bagi pemilik rumah/lahan yang berada disekitar jalan utama, dan ingin mengkapitalisasikan keuntungannya, ini adalah saat yang tepat. Karena banyak sekali perusahaan-perusahaan papan atas yang mengincar lokasi di Renon ini.

Lokasi ini sangat strategis untuk bisnis berkelas seperti bank, insurance office, up market beauty / hair salon, showroom dan prestige offices.

Demikian juga bagi investor property menengah keatas, fenomena ini dapat dilihat sebagai kesempatan untuk membuat keuntungan. Pada saat perubahan wajah suatu daerah terjadi, adalah saatnya untuk masuk berinvestasi. Sedangkan bagi perusahaan yang ingin membuka cabang, office ataupun restaurant, ini adalah saat yang tepat, karena sebentar lagi daerah yang memiliki prestige ini akan didominasi para pebisnis kelas atas. Renon Square Salah satu proyek komersial yang sedang berlangsung di jalan utama

Sebagai Investasi, Renon Square, memang ditujukan untuk mereka, medium size investor, yang mau berinvestasi atau berbisnis dan menikmati ‘booming’ property market di daerah tersebut.

LIMITED UNIT

AVAILABLE Pada saat inI HANYA 1 (satu) unit Ruko yang masih tersedia. Harga akan terus disesuaikan dengan progress yang terjadi di lapangan. HUBUNGI SEKARANG JUGA, 081916 268 868 untuk informasi lebih lanjut. NOTE Pada saat ini hanya 1 unit Ruko available for sale. FREE HOLD Ruko. Vol. 33 | September - Oktober 2012

25


Note from The Guru Hermawan Kartajaya

Asia’s Leading Marketing Strategiest & CEO of Markplus Inc

Note from The Guru Customer saat ini bukan lagi seperti yang dulu, yang mudah ditipu dan rela menjadi objek bombardir iklan dan promosi. Customer sekarang adalah customer yang well-informed, yang terkonek dengan customer lain, makin cerdas, dan memiliki daya tawar dan pengaruh yang kuat. Sebab itu, membangun relasi horisontal dengan customer mutlak dilakukan oleh marketer. orang dari berbagai belahan bumi untuk berkomunikasi secara real time. Dulu, jarak begitu memengaruhi waktu. Saat ini, persis seperti dikatakan sosiolog David Harvey, telah terjadi time-space compression, waktu dan ruang yang dimampatkan. Kekininian menjadi ciri utama teknologi informasi mutakhir. Orang bisa berkomunikasi secara kekinian melampaui batasan-batasan negara dan bahkan benua.

Marketer di Tengah Tiga GlobalShift

D

unia cepat berubah. Saking cepatnya, sering membuat orang-orang di dalamnya kewalahan mengikuti tren yang ada. Salah satu pemicunya adalah perkembangan teknologi informasi yang makin menggila. Sosiolog Inggris Anthony Giddens menyebut dunia kontemporer dengan “Dunia yang Tunggang Langgang� alias Runaway World. Siapa yang tidak turut berubah, kata mantan petinggi London School of Economic tersebut, akan ketinggalan. Demikian juga dengan lanskap bisnis. Lanskap bisnis sekarang sudah sangat berubah. Revolusi di bidang teknologi dan komunikasi juga terjadi di lanskap bisnis 26

Vol. 33 | September - Oktober 2012

ini. Paling tidak, saya mencatat ada tiga perubahan besar (GlobalShift) yang sedang menandai dunia kita hidup sekarang ini. Ketiganya adalah perubahan dari Ekslusif ke Inklusif, Vertikal ke Horisontal, dan Individual ke Sosial. Mari kita tilik pergeseran pertama, dari Eksklusif ke Inklusif. Pemeran utama dalam hal ini adalah perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat. Teknologi yang semakin konvergen membuat batasanbatasan antarindustri semakin kabur dan tentunya membentuk industri-industri. Selain itu, teknologi informasi semakin mengaburkan jarak halangan orang-

Teknologi telah menghubungkan antarperbedaan. Perbedaan yang dulunya tersekat-sekat secara eksklusif kini mencair dan semakin inklusif. Call center di India, misalnya, jadi contoh yang menarik terkait hal ini. Kasus di atas tidak hanya membahas tentang kemudahan komunikasi antar umat manusia di dua belahan bumi yang berbeda. Hal ini juga menunjukkan bagaimana teknologi bisa mempercepat proses saling memahami perbedaan antar bangsa Customer saat ini juga kian inklusif. Mereka berkomunikasi melalui internet tanpa mempertanyakan lagi lawan bicaranya tentang agama, suku, jenis kelamin, warna kulit, dan sebagainya. Nah, marketer pun harus bisa menjadi seperti customer ini yang inklusif. Pergeseran kedua, dari vertikal ke horisontal.

Pemerintahan boleh saja berbeda sistem Politik—mulai dari Monarki Absolut, Monarki Konstitusional, Kabinet Presidential,Kabinet Parlementer, Demokrasi satu Partai maupun Multipartai. Tapi yang penting, legal termasuk law-enforcement-nya harus menuju ke kepentingan semua rakyat. Kalau aturan dibuat untuk memihak sebagian kecil atau sekelompok orang, pasti akan terjadi chaos seperti yang terlihat di Arab Spring. Teknologi Twitter, Facebook, dan YouTube ternyata bisa memberi kesempatan pada para nobody untuk menumbangkan somebody yang berkuasa. Marketer juga harus bisa menghorisontalisasikan dirinya dengan Customer. Mereka bukan lagi customer yang dulu lagi, yang mudah ditipu dan rela menjadi objek bombardir iklan dan promosi. Customer sekarang adalah customer yang well-informed, yang terkonek dengan customer lain, makin cerdas, dan memiliki daya tawar dan pengaruh yang kuat. Sebab itu, membangun relasi horisontal dengan customer mutlak dilakukan oleh marketer. Mereka tidak mau digurui lagi, tapi mereka mau berdiskusi dan didengarkan. Percakapan interaktif menjadi salah satu medianya. Pergeseran ketiga. dari Individual ke Sosial. Pasar sekarang bukan lagi berisi orang-orang individual, tapi sosial lantaran konektivitas yang terbangun. Mereka saling berinteraksi. Mereka pun dengan gampang membangun komunitas. Dan, makin banyak orang yang menentukan keputusan pembelian setelah meminta konfirmasi dan afirmasi dari anggota komunitas lainnya. Sebab itu, marketer harus bisa hidup secara sosial. Artinya, marketer harus bisa memahami apa yang sedang customer perbincangkan. Itulah tiga pergeseran baru yang terjadi dalam dunia saat ini. Ada tiga paradoks juga yang layak diperhatikan marketer. Pertama, semakin marketer menginklusifkan diri, semakin ia akan eksklusif. Kedua, semakin marketer bisa menghorisontalkan diri, customer akan semakin melihatnya sebagai vertikal. Dan, semakin ia mensosialisasikan diri, semakin marketer menjadi individual person yang makin tangguh. Nah! Vol. 33 | September - Oktober 2012

27


Special Feature

Menimbang Peluang Di

Biji Kopi K

opi itu pahit, untuk rasa itu benar adanya, tapi dari sisi bisnis terlebih di era modern saat ini, kopi saat ini merupakan ladang emas dengan peluang yang demikian manis. Terlebih jika mengingat bahwa Indonesia merupakan negara produsen kopi keempat terbesar dunia setelah Brazil, Vietnam dan Colombia. Dari total produksi, sekitar 67% kopinya diekspor sedangkan sisanya (33%) untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Tingkat konsumsi kopi dalam negeri berdasarkan hasil survei LPEM UI tahun 1989 adalah sebesar 500 gram perkapita/tahun. Saat ini kalangan pengusaha kopi memperkirakan tingkat konsumsi kopi di Indonesia telah mencapai 800 gram per kapita/tahun. Itu artinya, dalam kurun waktu 20 tahun peningkatan konsumsi kopi telah mencapai 300 gram perkapita/ tahun. Bahkan dinilai, jika saja 10% masyarkat Indonesia mengkonsumsi kopi 3 kali dalam sehari, maka hasil kopi kita akan terserap semuanya kedalam negeri. Dan melihat trend yang ada saat ini, mulai bergeser ke arah itu.

28

Vol. 33 | September - Oktober 2012

Sejak booming Starbucks dan gerai ini masuk ke Indonesia, didukung dengan munculnya kelas menengah dengan lifestyle masa kini, maka peta penjualan retail di bisnis kopi juga mengalami pergeseran, pebisnis lokal ramai-ramai menduplikasi sistem gerai modern, sementara dimanca negara sendiri seolah kekurangan supply, jadilah kopi sebagai idola baru yang bernilai tinggi. Dan di Indonesia sendiri, Bali termasuk salah satu penghasil biji kopi pilihan. Hasil wawancara kami dengan penggagas kopi festival di Ubud beberapa waktu lalu, terungkap bahwa kopi Kintamani merupakan salah satu kopi yang lahan dan sistem penanamannya sudah memiliki standarisasi internasional. Dan tidak banyak lahan kopi di Indonesia yang memiliki sertifikasi tersebut. Berikut laporan kami tentang pelaksanaan Festival Kopi Nasional yang baru saja berlangsung di Ubud, bagaimana sejarah perkembangan bisnis kopi di Inonesia serta bagaimana kopi bisa menjadi peluang untuk mendulang rupiah. Rasakan pahitnya, cium aromanya dan dulang keuntungannya!

Vol. 33 | September - Oktober 2012

29


Special Feature

Coffee Industry Colony Legacy

P

osisi Indonesia sebagai penghasil kopi terbesar keempat dunia tidak lepas dari peran penjajah Belanda, bahkan biji kopinya sendiri dikirim oleh Gubernur Belanda di Batavia pada tahun 1699 yang kemudian dibudidayakan di Pulau Jawa dan ternyata berhasil. Sejak tahun 1750-an, budidaya kopi dikembangkan ke luar Jawa seperti Sumatera, Bali, Sulawesi dan Timor. Namun perkebunan kopi pada masa VOC tersebut memang semata untuk bisnis bagi keuntungan Belanda sendiri, sehingga industri kopi dalam negeri praktis tidak berkembang. Baru sejak awal tahun 1920-an, industri kopi dengan skala rumah tangga mulai muncul, kurang lebih bersamaan dengan munculnya kopi robusta pada 1900-an untuk menggantikan arabika yang hancur karena diserang penyakit yang disebabkan oleh jamur. Bahkan masih ada beberapa perusahaan kopi industri kecil yang eksis hingga saat ini, sebut saja seperti Kedoeng Ladjoe di Sidoarjo, Jawa Timur (1928), Muntu di Purwokerto, Jawa Tengah, Toko Ujung di Makassar dan Aroma di Bandung (1930). Kemudian UD Basuki yang namanya dahulu KOPI Tigowan di Kendal, Jawa Tengah (1935), UD Putra Mandiri (namanya dulu Tjeng Guan) dengan merek Cap Singa di Surabaya, Kopi Kapal Api di Surabaya (1927), Nam Hong di Sukabumi Jawa Barat (1942), Segar Harum di Binjai Sumatera Utara (1945), Binri Jamos di Pematang Siantar (1948), dan Sido

30

Vol. 33 | September - Oktober 2012

Mulia di Malang Jawa Timur serta Kemiri Rejo di Magelang Jawa tengah (1949). Baru pada tahun 1965 perusahaan kopi skala besar bermunculan dengan berdirinya pabrik Kopi Banteng, sekarang lebih dikenal dengan nama PT Ayam Merak. Kemudian silih berganti bermunculan CV Nefo di Jambi [1966], PT Megah Putra di Pekan Baru Riau [1969, dikenal dengan nama toko Liem] dan perusahaan kopi Sidikalang dan Nusantara di Medan Sumatera Utara. Sementara untuk produsen raksasa mulai bermuculan setelah periode 1970an, dimulai dari PT Indrasco pada tahun 1972, kemudian PT Santos Jaya Abadi –kelanjutan dari Kopi kapal Api yang telah ada sejak 1927 di Surabaya-, PT Indofood Jaya Raya [1978] yang belakangan menjadi PT Nestle Indonesia tahun 2000 lalu. Dan di era 80an, perusahaan kopi yang berdiri adalah PT Sari Incofood Corporation [1984] dan PT Torabika Eka Semesta tahun 1989. Berlanjut di periode 90an dengan munculnya PT Citra Aroma Indah tahun 1991 yang menjadi PT Aneka Coffee Industry tahun 1995. Belakangan, strata Industri kopi dalam negeri mulai dibedakan, mulai dari unit usaha berskala home industry hingga industri kopi berskala multinasional. Produkproduk yang dihasilkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi kopi dalam negeri, namun juga untuk mengisi pasar di luar negeri. Secara garis besar

industri kopi dalam negeri dapat digolongkan kedalam 3 kelompok, yaitu: Home Industri : Industri kopi olahan kelas kecil Industri ini tergolong industri rumah tangga (home industri) dimana tenaga kerjanya adalah anggota keluarga dengan melibatkan satu atau beberapa karyawan. Produknya dipasarkan di warung atau pasar yang ada disekitarnya dengan label atau tanpa nama merek. Industri yang tergolong pada kelompok ini pada umumnya tidak terdaftar di dinas Perindustrian maupun di Dinas POM. Industri pada kelompok ini tersebar di seluruh daerah penghasil kopi di Indonesia Industri kopi olahan kelas menengah Industri kopi yang tergolong pada kelompok ini merupakan industri pengolahan kopi yang menghasilkan kopi bubuk atau olahan lainnya seperti minuman kopi yang produknya dipasarkan di wilayah Kecamatan atau Kabupaten. Produknya dalam bentuk kemasan sederhana yang pada umumnya telah memperoleh Izin dari Dinas Perindustrian sebagai produk rumah tangga. Industri kopi olahan kelas menengah banyak dijumpai di sentra produksi kopi seperti di Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan, Sumatera Utara dan Jawa Timur. Industri kopi olahan kelas besar Industri di kelompok ini merupakan pengolahan kopi yang menghasilkan kopi bubuk, kopi instant atau kopi mix dan kopi olahan lainnya yang produknya dipasarkan di berbagai daerah di dalam negeri atau diekspor. Produknya dalam bentuk kemasan yang pada umumnya telah memperoleh nomor merek dagang dan atau label lainnya. Beberapa nama industri kopi yang tergolong sebagai industri kopi ini adalah PT Sari Incofood Corp, PT. Nestle Indonesia, PT Santos Jaya Abadi, PT Aneka Coffee Industri, PT Torabika Semesta dll.

Produk-produk yang dihasilkan oleh industri kopi pada umumnya berupa bubuk atau instant. Dari kedua jenis ini biasanya dibuat lagi turunan seperti kopi three in one dan lainnya. Sedangkan di Cafe atau kedai kopi berupa kopi original dan kopi espresso. Produksi kopi bubuk saat ini diperkirakan telah mencapai 150.000 ton, sedangkan untuk kopi instant dan turunannya telah mencapai 20.000 ton. Data Biro Pusat Statistik mencatat bahwa volume ekspor kopi soluble rata-rata dalam 5 tahun terakhir mencapai sekitar 15.000 ton per tahun sedangkan ekspor kopi bubuk mencapai 3.000 ton per tahun. Demikian pula dengan kemasannya, mulai yang tradisional dengan kertas sampul atau kemasan plastik sederhana sampai dengan kemasan alumunium foil yang umumnya berupa sachet siap saji. Sedangkan untuk beberapa jenis produk kopi olahan tujuan ekspor terdapat kemasan boks berukuran besar untuk produk roasted coffee dan instant coffee. Sedangkan untuk liquid extract coffee berupa kemasan khusus yaitu drum. Saat ini sebesar 90 % dari total 1,2 juta hektare (ha) lahan kopi di Indonesia dikelola oleh petani kecil. Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) memprediksi, produksi kopi nasional pada tahun ini akan mencapai 600 ribu ton, dengan potensi mencapai 700 ribu ton. Permasalahan saat ini justru terletak bukan di permintaan, namun kondisi cuaca yang belum bagus dan masih banyak tanaman kopi yang sudah tua. Dalam upaya memperbaiki kuantitas kopi, AEKI menjalin kerja sama dengan kementerian terkait untuk menyediakan lahan yang lebih luas bagi petani. Supaya 10 tahun ke depan produksi bisa mencapai 900 ribu-1,2 juta ton. Termasuk dengan meningkatkan kualitas dengan penggunaan pupuk organik. Upaya ini diharapkan bisa sejalan dengan pertumbuhan konsumsi kopi nasional.

Vol. 33 | September - Oktober 2012

31


Special Feature

Special Feature mentereng, namun kemudian menjadi kebiasaan. Muncul persepsi masa kini, dengan secangkir mungil espresso, dan nongkrong di cafĂŠ-cafĂŠ, menjadi tren dan budaya baru bagi masyarakat urban. Sedangkan kopi tubruk (kopi bubuk) masih merupakan konsumsi utama masyarakat atau penduduk di pedesaan dan golongan tua. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran gerai kopi asing juga membuat nama kopi lokal dan budaya minum kopi pun naik daun. Disatu sisi, dengan mengunjungi kedai kopi, beragam fasilitas juga didapat gratis. Seperti wifi atau waktu meeting yang bebas tanpa ada ikatan. Bahkan menurut Adi W. Taroepratjeka, konsultan kopi, banyak orang yang datang ke kedai kopi hanya untuk menikmati fasilitas yang ada bukan untuk secangkir kopi. Bahkan, yang berkunjung ke kedai kopi ini tak semuanya memesan kopi, banyak yang lebih memesan iced blended, ice tea atau minuman lainnya. Di manca negara sendiri, kopi lokal bukanlah hal asing. Menariknya hampir sebagian masyarakat Indonesia sadar akan kehebatan kopi lokal saat mereka berkunjung ke luar negeri. Kehebatan nama kopi lokal mereka rasakan saat mengunjungi coffee shop diluar negeri.

Nasionalisme & Bisnis Antara Kopi Tubruk dan Starbucks

D

ari sejarah perkembangan industri kopi di Indonesia, biji hitam ini merupakan salah satu komoditi unggulan pemerintah Hindia Belanda pada awal tahun 1900an, yang hampir semuanya di ekspor, sementara kopi yang berkualitas rendah dan tidak laku diberikan kepada rakyat dan buruh kebun untuk dijadikan minuman. 32

Vol. 33 | September - Oktober 2012

Namun rupanya, selera minum kopi dari bahan yang berkualitas rendah ini menjadi tradisi hingga sekarang, bahkan dibeberapa daerah khususnya di Jawa, kopinya dicampur dengan beras atau jagung (dikenal dengan kopi jitu atau kopi siji jagung pitu –kopi satu jagung tujuh). Di Tanjung Pinang, Aceh dan Pontianak minum kopi adalah tradisi sejak lama, dimana mereka sekadar

ngumpul di warung untuk menikmati secangkir kopi hitam atau susu dalam gelas dengan tatakan piring ceper. Namun generasi middle class membawa perubahan baru, terpengaruh dari budaya barat dan meningkatnya taraf penghasilan membuat pergeseran gaya hidup masyarakat perkotaan di Indonesia dalam pola konsumsi kopi. Dengan masuknya kedai kopi asing seperti Starbucks ke Indonesia ternyata membawa pengaruh besar terhadap gaya hidup masyarakat urban. Mungkin awalnya hanya sekadar ikut-ikutan menghabiskan waktu di kedai kopi yang namanya

Nama kopi Mandailing, kopi Papua dan kopi Bali disandingkan dengan kopi-kopi merek asing seperti dari Meksiko atau Uruguay. Melihat kedai kopi asing yang menjadi sorotan publik, memicu adanya peluang bisnis. Mulailah sistem itu di cloning di Indonesia, dan banyak diantaranya yang juga meraup kesuksesan, sebut saja seperti kedai kopi Anomali dan Bakoel Koffie. Kemunculan dua kedai kopi lokal ini mendulang kesuksesan dengan cepat. Awalnya, tak semua orang tahu tentang kopi lokal, tapi kehadiran dua kopi lokal ini memicu peluang bisnis baru tentang kedai kopi khas Indonesia. Bahkan saat ini, produsen kopi besarpun mulai membuat gerai-gerai kopi kecil, seperti yang dilakukan oleh Torabika dan Kapal Api misalkan. Adi sendiri melihat bahwa kemunculan kedai kopi lokal yang menjadi fenomena karena satu alasan, yakni latah. Kopi lokal banyak dipilih oleh sebagian orang karena jenis ini banyak dikenal di luar negeri. Menurut Adi, banyak orang mengaku minum kopi lokal karena jiwa nasionalisme. Minum kopi yang menimbulkan rasa nasionalisme memang baik, asal tak melewati batas. Vol. 33 | September - Oktober 2012

33


Special Feature

Special Feature

S

aat ini konsumsi kopi baik didalam negeri maupun luar negeri terus tumbuh dan menjadi bagian dari gaya hidup, hal ini dapat dilihat dari perkembangan coffee shop yang kian menjamur diberbagai belahan dunia. Inilah sebabnya untuk ekspor, negara tujuan adalah konsumer tradisional seperti USA, negara-negara Eropa dan Jepang. Ini pula yang kemudian menjadikan permintaan kopi di dunia tinggi, harganya melambung. Padahal untuk dalam negeri saja diasumsikan, jika 10 persen penduduk Indonesia minum hingga tiga cangkir kopi per hari, maka produksi kopi nasional akan habis diserap lokal. Untuk menggiatkan semangat minum kopi inilah yang kemudian menggerakkan sejumlah aktivis menggagas Festival Kopi Nasional, yang pada edisi perdana di langsungkan di Ubud Bali pada tanggal 15-16 September lalu. Dua reporter dan satu orang photographer yang Money & I kirimkan pulang dengan membawa sejumlah berita menarik, termasuk diantaranya hasil interview dengan Ellyanthi Tambunan selaku penggagas Festival ini dan juga Nizar sebagai ketua panitia. Ditengah-tengah workshop yang berlangsung di Pata Resort Hotel, Ellyanti dan Nizar menyampaikan bahwa selama ini kita di doktrin oleh penjajah Belanda untuk menghindari kopi, padahal disatu sisi, agenda tersembunyi mereka adalah membawa kopi ke mancanegara untuk keuntungan mereka semata. Berikut hasil interview dan photo-photo dalam rangkaian festival yang berlangsung selama dua hari tersebut. 34

Vol. 33 | September - Oktober 2012

Interview with Ellyanthi Tambunan Liputan dari Festival Coffee Nasional Ubud Bali

juga untuk lebih fokus kepada pembinaan kepada para petani disini, agar bisa menjadi contoh daerah lain dan bisa mewakili Indonesia untuk ajang kopi di tingkat internasional, sehingga diharapkan harga jual kopi dari Kintamani bisa naik, dan semua itu harus dimulai dari kualitas dulu. Sehingga tidak ada lagi kejadian dimana tamu yang memesan kopi Kintamani di airport tapi rasanya tidak sesuai. Selain mengenalkan brand kopi dalam negeri, apa yang diharapkan dari festival ini untuk jangka panjang? Saat ini kopi produksi dalam negeri sudah laku dan disukai oleh pasar luar negeri, dan sekarang saatnya kita menggalakkan para petani untuk senang dan bangga menanam kopi asli Indonesia, apa lagi menurut data perkiraan sebuah lembaga survey, kebutuhan kopi dunia akan terus bertambah tapi disatu sisi produksinya yang berkurang. Saat ini produksi kopi Indonesia itu no 4 dunia. Pertama

Mengapa memilih Bali sebagai ajang perdana festival ini? Kita memilih Bali karena di Kintamani, lahan dan sistem pertaniannya sudah memiliki SOP Internasional untuk pengelolaan kopi. Persyaratan SOP ini adalah kondisi geografis dan tanah yang mendukung serta cara proses tanam, karena ini berhubungan dengan kualitas. Untuk di Kintamani ini, tanahnya secara geografis telah dipatenkan untuk industri kopi dengan cita rasa Kintamani dengan karakter sendiri. Jadi petani di

itu Brazil, kedua Vietnam, ketiga Colombia dan keempat Indonesia. Sayangnya saat ini belum ada penggalakkan secara nasional. Saat ini di Brazil produksi kopi mulai berkurang, karena mereka kini sedang gencar menanam tebu untuk program alternatif energi mereka. Sementara Vietnam hanya bisa menanam kopi jenis robusta saja, disebabkan iklim dan kontur tanah ketinggiannya. Jadi saat ini, sebenarnya kita memiliki potensi yang bagus bila dimanfaatkan sebaik mungkin semua sumber daya alam dalam negeri. Jadi kita harus appresiasi kepada kopi lokal Indonesia, dan bukan hanya menanam saja, tapi juga mengkonsumsinya. Jangan sampai seperti produk batu bara yang hanya bisa mengeruk di sini, tapi yang menikmati justru negara lain, kita tidak ingin seperti itu. Lalu bagaimana pemetaan pasar kopi tanah air? Kita ketahui saat ini di Indonesia itu ada 14 daerah penghasil kopi.

Bila kita ambil Aceh, disana ada kopi Gayo dengan kualitas premium yang bisa dihasilkan oleh daerah yang berbeda-beda, juga rasa dan aroma yang berbeda pula, yang tidak dimiliki dibelahan dunia manapun. Ini semua membuat kita bangga, dan terbukti hari ini, di acara festival ini, semua kalangan bisa datang, dari yang tua sampai yang muda, semua hadir. Bahkan kemarin saat pembukaan, dari Raja [raja Ubud hadir pada sesi pembukaan] sampai dengan orang biasa takjub dengan presentasi kita akan sejarah kopi. Yang muda-muda juga demikian, penuh semangat. Mereka datang ke festival kopi di Bali ini karena dapat informasi di website. Mereka penuh antusias dan ingin mengetahui tentang proses pembuatan kopi, dan mereka suka dengan kopi Indonesia, dengan adanya acara festival ini, maka akan semakin mengembangkan potensi agrowisata di Bali nantinya. Agrowisata? Bila kita berwisata ke Kintamani dan Ubud, maka kita akan jumpai

Kintamani sudah memiliki sistem tersendiri tentang cara pembibitan, penanaman, pembersihan dan segala seluk beluk proses pengolahan kopi, sehingga kalau bicara kualitas, maka nama Kintamani memiliki ciri khas tersendiri. Bila di analogikan sama dengan minuman wine, maka ada jenis Sampanye, yang sebenarnya nama daerah di negara Prancis, ada juga wine jenis lain, dan itu dinamakan berdasarkan daerahnya. Jadi untuk Kopi, sudah ada brand Kopi Kintamani. Jadi festival ini Vol. 33 | September - Oktober 2012

35


Special Feature banyak sekali perkebunan kopi yang kecil-kecil, bila bukan kita yang datang maka siapa lagi? Inilah agrowisata di Indonesia. Disana kita akan disuguhi proses pembuatan kopi, caranya mengolah, mengsangrai dan disuguhi kopi juga, yang seperti ini belum ter-publish dengan maksimal. Saya juga ada pengalaman saat mendatangi petanipetani kopi di daerah lain. Mereka masih muda-muda dan datang kesini dari daerah. Kedatangan mereka karena ingin memperoleh informasi yang lebih baik untuk bisnis kopi mereka kedepannya. Melalui acara ini diharapkan menjadi wadah berbagi dan menggali informasi sebanyak-banyaknya untuk

pengembangan bisnis kopi di Indonesia. Enlighting People? Ada anggapan yang salah di masyarakat selama ini, seperti ungkapan jangan banyak-banyak minum kopi, nanti bodoh, hal ini terlontar saat melihat orang Indonesia yang kebanyakan bengong dan melamun. Ternyata anggapan ini salah, melalui berbagai analisa baik dalam maupun luar negeri, ternyata minum kopi dengan kadar yang cukup itu juga baik untuk kesehatan. Sehingga untuk menepis anggapan- anggapan yang salah seperti itu, memang

Special Feature perlu pembuktian secara ilmu pengetahuan. Daerah mana yang menjadi penghasil kopi unggulan di Indonesia? Semua kopi Indonesia itu produk unggulan, tergantung selera orang. Kualitas kopi Indonesia itu diakui oleh dunia bahkan bisa dibilang dari para penjajah yang datang ke nusantara, salah satu sebabnya karena kita penghasil kopi terbaik yang disukai oleh pasar internasional. Karena itulah mulai saat ini, mari kita bangga untuk mengkonsumsi produk lokal Indonesia. Terkadang kita tertipu dengan kopi yang berasal dari luar negeri, padahal kopi-kopi merek terkenal yang sekarang biasa orang beli di kedai ternama itu, aslinya kopi dari Indonesia juga. Anda tahu, salah satu gerai kopi yang branded itu, punya plantation di Sumatera sana. Dan kita bangga datang kekedai itu, padahal yang diminum juga kopi dari tanah sendiri? Itu sebabnya di festival ini kita berbagi ilmu, dan pengalaman seputar dunia kopi. Edukasi ini penting untuk pemahaman yang benar bahwa kopi kita memang benar-benar berkualitas, dan bisa bersaing di pasar luar negeri. Apa agenda kedepan, apakah festival ini akan dilaksanakan secara reguler di Bali? Festival ini akan menjadi agenda tahunan kita, dan akan kita gilir tempatnya di daerah lain.

36

Vol. 33 | September - Oktober 2012

Vol. 33 | September - Oktober 2012

37


Interview

Interview

Wirawan Tjahjadi Three Generation in Coffee Industry and Going

Strong

D

i Bali sendiri, industri kopi menjadi salah satu unggulan dari para petani, dan tidak sedikit perusahaan kopi yang sudah merintis usahanya sejakjaman kemerdekaan. Salah satu yang terbesar adalah Kopi Kupu-Kupu Bola Dunia. Perjalanan perusahaan kopi yang mereknya demikian branded itu tidak sebentar, namun panjang, berliku dan menantang. Secara bertahap perusahaan tersebut kian membesar, bahkan hingga saat ini dikelola oleh Wirawan Tjahjadi sebagai generasi ketiga. Namun dulu, ketika pertama kali terjun di bisnis kopi, produk yang dihasilkan oleh perusahaan keluarga Bhineka Jaya ini, sering mendapat perlakuan yang tidak “adil� dalam pemasaran kopinya. Namun saat ini, menjadi salah satu pemasok terbesar kopi ke hotel-hotel dan bahkan mancanegara. Wirawan yang ditemui Anton HPT Reporter M&I menyampaikan perjalanan bisnis kopinya tersebut dari salah satu Coffee House yang didirikannya di kawasan By Pass sanur.

Bagaimana Anda mengawali karir bisnis sebagai generasi penerus di bisnis kopi ini?

Kintamani tersebut kualitas rasanya beda tipis dengan kopi Toraja.

Saya awalnya bersama Ayah menjadi marketing kopi ke hotel-hotel. Namun kopi kami dulu, dianggap sebagai produk kelas dua. Kami juga pernah menawarkan mesin kopi capuccino ke hotel Bali Beach dengan membawa mesin kecil yang kami beli di toko, saat itu kami ditertawakan, namun dari situlah kami sadar untuk berbenah jika mau kedepannya lebih baik, dari pengalaman itu ayah saya belajar dengan mengenal mesin kopi espresso dan lain-lain.

Bukankah sebelumnya Anda tinggal diluar negeri?

Bagaimana dengan kualitas kopi yang dibawa pada masa itu?

Apa perbedaan antara bisnis kopi dulu dengan sekarang?

Orang-orang pada umumnya belum tahu bahwa kopi lokal produksi Indonesia pada umumnya bisa bersaing dengan merek dunia, karena kopi-kopi yang terkenal dari seluruh dunia, yang terbaik itu ada tiga dari Indonesia, seperti kopi Toraja, Sumatera dan kopi Bali, yang secara geografis diakui sebagai kopi spesial karena rasanya yang enak. Mungkin sekarang Anda sering menemui kopi Kintamani di banyak tempat yang terbukti enak, karena daerah Kintamani merupakan area perbukitan tinggi di Bali, karenanya kopi daerah tersebut masuk jenis arabika. Kopi yang ada di daerah 38

Vol. 33 | September - Oktober 2012

Awalnya saya tinggal selama 13 tahun di Amerika, kemudian pulang ke Bali tahun 1993. Awalnya di toko itu saya menyapu dulu, lalu membungkus kopi, jadi betul-betul dari bawah dulu. Tiap pagi saya juga diajak oleh ayah ke pabrik untuk mencoba kopi buatan kita, jadi kopi memang sudah menjadi bagian hidup saya sejak muda dibawah didikan ayah.

Dulu untuk memproses kopi masih tradisional, menggunakan kayu bakar untuk menggorengnya. Tapi ayah saya cepat mengadaptasi teknologi, dan tahun 1940-an kami membeli sebuah mesin otomatis. Saat itu kakek sempat marah kepada ayah saya, karena pembelian mesin otomatis pengolah kopi tersebut yang harganya sangat mahal, US $ 25.000. Sebuah harga yang saat itu sangat mahal sekali, mesin itu kami datangkan dari Jerman dan menjadi mesin satusatunya pada masa itu di Bali, dari sana kami belajar bahwa makin lama permintaan kopi itu makin tinggi dan kami tidak bisa menyanggupi bila terus-menerus menggoreng Vol. 33 | September - Oktober 2012

39


Interview tersebut ke mancanegara, sehingga produk yang dihasilkan lebih aman dan menjadi jaminan keaslian label organik tersebut. Apakah kopi organik tersebut hasil perkembangan teknologi? Saat ini sebenarnya banyak sekali kemajuan-kemajuan kopi yang mungkin masyarakat belum tahu, contohnya ya kopi organik itu, ada juga kopi Rain Forest yaitu kopi yang ditanam di sebuah lahan dengan tidak merusak daerah sekitarnya, sehingga tidak merusak lingkungan. Ada juga sistem fair trade, artinya tidak merugikan petani karena kopi yang dibeli itu dengan harga yang cukup mahal dan tidak menekan harga dari petani, hal ini dirasa penting demi kelangsungan kehidupan petani kopi kedepannya. Hal-hal seperti ini diluar negeri sudah berjalan dengan cukup baik. Bagaimana dengan persaingan di industri ini? Saya sebagai marketing dari IGE, yaitu indikasi geografis di Kintamani berfungi sebagai controller untuk mengurangi berbagai kebohongan mengenai kuantitas kopi arabika yang dihasilkan dari Kintamani, contohnya bila kopi yang dihasilkan itu 50 ton tapi yang keluar sejumlah 70 ton, berarti ada sejumlah 20 ton yang dicampur atau dibawa dari daerah lain, dengan adanya IGE, kita bisa mengontrol, karena perkilonya, kita charge 200 rupiah, ini merupakan program pemerintah untuk mengontrol kualitas kopi arabika Kintamani sehingga kita tidak kecolongan. Kecolongan? menggunakan kayu bakar, sebagian pabrik kopi masih ada yang menggunakan kayu bakar, tapi bagi saya itu tidak bagus, karena bila kita menggoreng kopi dengan kayu bakar, nyala api yang dihasilkan tidak stabil, padahal untuk mempertahankan kualitas kopi nyala api itu harus stabil. Dengan menggunakan kayu bakar menurunkan dan menaikkan temperatur itu susah untuk menghasilkan kualitas kopi yang terbaik. Karena itulah kami secara cepat mengadaptasi teknologi untuk kemajuan perusahaan kami.

Saat ini kita sudah kecolongan, merek kopi Toraja sudah dipatenkan oleh Jepang, berarti kalau kita menjual kopi dengan nama Toraja di luar negeri sudah tidak bisa, dan kopi Gayo dari Sumatera sudah dipatenkan juga oleh Belanda, jadi ini lucu, kopi dengan nama lokal tapi kita sebagai orang Indonesia tidak boleh menjual dengan nama kita, ini sebabnya untuk melindungi kopi dari daerah Kintamani, maka pemerintah membuat IGE untuk melindungi kopi dari daerah tersebut sehingga kita tidak kecolongan lagi.

Jenis kopi apa saja yang ditawarkan?

Pasar kopi demikian beragam, bagaimana dengan pasar dalam negeri sendiri?

Cukup beragam, ada kopi Sumatera, Toraja, organik dan lain-lain. Biasanya saat ada show kopi, saya selalu mengikuti, dan arah perkembangan kopi itu selalu saya update. Termasuk varian kopi organik, yaitu kopi yang bebas dari pestisida, dan kopi produk kami memiliki sertifikat asli kopi organik. Saya membeli kopi jenis ini dari perusahaan besar yang sudah memiliki akses banyak dan mereka juga mengekspor kopi

Untuk daerah Tabanan dan sekitarnya, termasuk dataran rendah lainnya termasuk jenis robusta, sedangkan daerah dataran tinggi seperti Kintamani dan Bedugul masuk produk Arabika. Untuk pasar di Indonesia kebanyakan jenis kopi yang diminum itu robusta, yang membedakan adalah karakter kopinya, bukan datarannya. Di Indonesia sebanyak 70% itu kopi robusta, sedangkan sisanya 30% itu arabika, kalau

40

Vol. 33 | September - Oktober 2012

konsumen luar itu bisa dipastikan memilih arabika karena kandungan kafein kopi arabika itu setengah dari kopi robusta. Untuk konsumen Indonesia, mereka tidak suka kopi yang ada rasa kecut seperti yang terdapat pada kopi arabika, salah satu karakter kopi robusta itu kalau digoreng, diatasnya itu lebih tebal sedangkan arabika lebih tipis, karena itu untuk kopi jenis cappucino dan espresso kami menggunakan kopi arabika, kalau menggunakan robusta rasa yang diperoleh kurang nikmat. Sejauh mana penguasaan pasar kopi kupu-kupu bola dunia? Untuk market di Bali setidaknya kami pegang 70%, dan hampir semua hotel-hotel di Bali sudah kita layani, sekitar 70-80%, hotel-hotel besar seperti Bvlgari, Grand Hyat, All Season, Intercon Hotel dan lain-lain. Untuk export, kami kirim ke Jepang, Singapore, Guam dan lain-lain. Kita saat ini lebih banyak main di packaging karena sudah ready pack jadi customer itu gampang menjualnya. Apa yang membedakan market hotel dengan selain hotel? Kalau hotel itu sangat sensitif dan menjadi prioritas nomor satu karena langsung customer yang mencoba, sehingga bila

mereka komplain, maka kita akan cepat merespon, yang kedua yaitu bahwa tiap manager hotel itu akan bangga dengan blend sendiri. Blend itu adalah campuran racikan kopi yang kita special-kan di masing-masing hotel seperti ada yang minta campuran arabika 10%, ada yang minta campuran arabika dan robusta, atau ada yang minta dicampur dengan kopi luar negeri. Kami sudah terbiasa dengan orderan seperti ini, karena kami sudah sehari-hari bergulat dengan dunia kopi, bahkan kami juga memiliki sekolah kopi sehingga bila ada orang meminta racikan campuran kopi untuk hotel, kami akan memberi yang terbaik untuk tamu-tamu hotel mereka. Hal inilah yang membuat hotel akan merasa bangga karena memiliki blend kopi sendiri, jadi merek kopi-kopi arabika yang top seperti Sumatera arabika, Bali, Ethiopia, Kolombia dan lainnya juga bisa dicampur. Untuk pasar hotel yang dilayani sekarang lebih cenderung ke kopi apa? Untuk hotel yang saya layani di Bali saat ini kebanyakan jenis arabika, sedangkan yang robusta biasanya dari kalangan orang lokal Bali sendiri. Ada satu pesan ayah saya yang sangat berharga, bahwa pesanan dari hotel, villa dan cafeVol. 33 | September - Oktober 2012

41


Interview cafe itu jangan sampai mengalahkan perhatian kita kepada konsumen lokal, sehingga jangan sampai kita menaikkan harga saat menjelang upacara besar seperti Galungan dan Kuningan, karena kopi itu konsumsi sehari-hari dan grade kopi kita kan macam-macam, ada 3 jenis yaitu Kopi Warung Pojok, Kopi Ikan Bola Dunia dan Kopi Kupu-kupu Bola Dunia. Ini yang jadi pesan ayah saya, untuk tidak berekspansi terlalu jauh bila kandang sendiri saja tidak bisa kita jaga. Saya dengar ada kopi dengan aroma buah, bagaimana itu bisa terjadi? Campuran kopi sedikit saja berbeda, akan merubah aroma dan rasa, karena karakter kopi itu banyak. Ada yang rasa daun, buah seperti nangka, strawbery, orange dan lainnya. Yang membedakan rasa dan aroma itu adalah karakter kopi yang berbeda karena daerah, tanah dan ketinggian tempat menanam kopinya. Bila di Bali ada sebagian petani yang karena ingin mendapatkan jumlah kopi yang banyak, maka ada pohon kopi yang dikawinkan, hal ini membuat rasa kopi tidak karuan, padahal kalau mereka bisa menjaga kopi seperti memetik saat sudah merah, maka hargapun bisa menjadi mahal. Saat ini, Anda mendirikan Coffee Bali House, apa yang ingin Anda lakukan dengan cafĂŠ ini? Rumah kopi saya dirikan tahun 2004, rumah kopi ini saya buat untuk orang-orang umum agar bisa lebih menikmati kopi Bali. Kedua seperti yang diawal saya bilang, kalau saya bawa kopi ke hotel, kopi kami menjadi prioritas kedua, makanya saya membuat rumah kopi ini untuk menunjukkan ke manajer-manajer hotel bahwa kopi saya banyak peminatnya, sehingga saya bisa meyakinkan mereka kalau saya bisa membuat kopi sesuai pesanan mereka, didukung juga dengan pengalaman saya yang pernah belajar kopi ke Singapore. Di rumah kopi ini saya selalu menyajikan kopi yang fresh, sehingga bisa menjadi jaminan bagi tamu yang datang. Sudah ada berapa cabang? Ada gerai di Jl Gajah Mada Denpasar, disana ramai pengunjung, hingga saat ini banyak orang-orang lokal dan pegawai pemerintahan yang suka ngopi di tempat saya itu. Selain di Denpasar, sudah ada juga di Ubud. Memang saya prioritaskan dulu untuk konsentrasi pada pasar di Bali karena mudah dikontrol, ketimbang buka di Jakarta tapi belum bisa mengontrolnya, sehingga hasilnya tidak maksimal. Bisnis yang saya jalani ini juga bukan semata-mata hanya menyajikan kopi. Ada juga restaurannya, galeri kopinya yang berisi lukisan, yang semuanya terbuat dari kopi dan beragam macam pernak pernik kopi yang sangat unik seperti patung dan sepatu, ada juga study training center kopi yang tujuannya adalah untuk 42

Vol. 33 | September - Oktober 2012

Interview melatih barista-barista, tapi sayang peminatnya saat ini belum banyak, padahal kami ingin sekali membantu para barista untuk bisa lebih profesional di bidang kopi.

tidak butuh biaya 10 juta untuk menjadi kigrader dan itu belum tentu menjamin kelulusan karena banyak orang yang tahu kopi ternyata tidak lulus juga ketika ikut tes kigrader.

Apakah visi rumah kopi ini akhirnya berhasil?

Bagaimana rencana Anda kedepan, apakah nanti bisnis ini juga akan diwariskan?

Pada awalnya banyak teman yang pesimis saat saya membuka Kopi Bali House ini, karena lokasinya dijalan by pass, jalan cepat, jadi pasti tidak akan laku. Tapi saya punya konsep yang menarik, misalkan kopi luwak yang dijual 200 ribu, orang akan bertanya-tanya kenapa bisa semahal itu. Tapi bila kita ada penjelasan, bagaimana mengolahnya dan bagaimana cara memperolehnya, maka orang akan lebih sadar dan memahaminya, dan sekali lagi kopi yang kami sediakan ini selalu fresh, untuk apa kami order 200 pack kopi luwak kalau yang laku hanya 5, kami ingin tetap menjaga kualitas kopi kami. Bagaimana dengan kopi luwak yang saat ini tengah trend? Saat ini banyak petani kopi luwak yang tahu kalau harga kopi luwak itu tinggi, tapi cara penanganan kopinya kurang baik, banyak mendiamkan kotoran luwak sampai berbulan-bulan sehingga campur dengan bau tanah, hal ini karena tidak ada yang mengajari dan memberikan pendampingan. Bagaimana agar menjaga kualitas produksi stabil dan menghasilkan yang terbaik?

Untuk anak-anak saat ini masih remaja belum bisa saya arahkan ke bisnis kopi, tapi saya selalu menanamkan konsep marketing yang benar dalam menghadapi customer, karena saya menjual kopi langsung kepada pemakai, bahkan customer yang membeli kopi hanya satu ons tetap kami layani, jadi saya tetap mempertahankan gaya pelayanan yang diwariskan oleh ayah saya dulu. Jadi bisnis kopi saya ini bisa dibilang family bisnis dari kakek saya, berlanjut ke ayah dan kini ke saya. Anda pernah lama di luar negeri, apakah ini membantu dalam mengasah insting bisnis saat ini? Saya basic nya belajar marketing di Los Angeles Amerika. Sampai saat ini masih banyak teman-teman yang menetap di sana, ada di LA, Boston dan lain-lain, harus diakui bila kita study di luar negeri maka pandangan kita akan berbeda, dalam arti kita akan lebih banyak melihat, belajar dan lebih terbuka terhadap sesuatu yang baru.

Untuk kopi dari pabrik, kita memiliki standard ISO 90012010, jadi pada prinsipnya kita ingin bekerja secara professional. Untuk memperoleh ISO juga tidak gampang dan kita ditunjuk oleh pemerintah untuk memperoleh standard ISO sebagai salah satu perusahaan kopi teladan. Karyawan saya kebanyakan orang Bali semua, dan kopi yang saya jual juga kopi Bali, sehingga kadang saya merasa sedih kepada orang Bali yang lebih membanggakan kopi luar negeri daripada kopi Bali sendiri. Dan untuk hotel-hotel, saya selalu mengutamakan pelayanan. Service dan kualitas menjadi kunci agar sebuah perusahaan itu tetap berjalan dengan baik. Dengan brand kopi ini, saya merasa bangga untuk bisa mempromosikan Bali. Sampai saat ini partner utama saya adalah para petani yang dulu telah bekerja sama dengan ayah saya, dan telah berlangsung puluhan tahun, dan sekarang dilanjutkan oleh anak dan cucunya. Dengan merekalah saya tetap menjalin partnership yang bagus dan berkelanjutan. Saya juga memiliki staf profesional yang kita sebut kigrader yaitu staf yang mencoba kopi sebelum kita melepas ke pasaran, hotel-hotel atau warung-warung sehingga kita jarang sekali mendapatkan komplain karena sebelumnya telah dites kualitasnya terlebih dahulu. Untuk menjadi kigrader juga ada sekolahnya yang tidak tiap tahun belum tentu buka, paling Vol. 33 | September - Oktober 2012

43


Lestari Thamrin

Lestari Thamrin

BPR Lestari Thamrin

O

rang bilang, anak sulung dan paling bungsu selalu menjadi yang spesial, anggapan itu memang tidak korelatif dengan apa yang terjadi didunia bisnis, namun demikian cabang di BPR Lestari Thamrin ini bisa dibilang cukup spesial. Inilah kantor kas paling ‘sulung’, dimana hampir semua kepala kantor kas dari cabang lainnya, pernah “magang” dan bermarkas di kantor ini. Sudah beroperasi sejak tahun 2007, menjadikan kantor kas dari BPR Lestari ini paling tua, kantor perdana dari 8 kantor kas lainnya yang saat ini tersebar di seputaran kota Denpasar. Itu sebabnya, kantor ini bisa dibilang memiliki lalu lintas transaksi paling tinggi dari para nasabahnya, hampir tidak ada waktu kosong yang memberikan rehat sejenak dari customer service dan para tellernya. Tidak heran, kantor kas ini sudah

memiliki hampir 2000 rekening. “NOA kita perhari ini sudah mencapai 2000an, hampir 500 an itu dari landing,” ujar Tutik Andayani selaku kepala kantor kas Lestari Thamrin ini.

besar adalah kalangan pebisnis, ada yang punya rent car, dan kebanyakan pula dari property, karena sekarang kan lagi ramai ya.. jadi kita bisa membantu nasabah untuk support bisnis mereka,” ujarnya lagi.

Kantor yang sudah beroperasi selama 6 tahun ini memiliki prestasi yang mentereng untuk produk tabungan khususnya Jumbo, “tabungan Jumbo kita bisa dibilang sukses, satu account jumlah saldonya sangat besar,” lanjut sarjana Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Udayana.

Sementara dari lokasi, Lestari Thamrin sangat beruntung karena berada dikawasan pertokoan Niaga yang memperkuat positioning BPR Lestari dan kantor kasnya tersebut, “kalau lokasi disini enak, karena banyak nasabah bank disini, dan kita juga dikelilingi oleh bank-bank lain,” lanjutnya lagi.

Pernah bergabung dengan BDNI dan Bank Mega menjadikan Tutik Andayani memiliki pengalaman yang mumpuni untuk melakukan pendekatan kepada nasabah yang sesuai dengan segmentasi target pasar BPR Lestari, “kantor kas ini memiliki nasabah yang sebagian

Bahkan Tutik Andayani juga menambahkan bahwa kantor kas Thamrin tahun depan akan di renovasi untuk standarisasi yang lebih baik demi kenyamanan para nasabahnya.

LESTARI THAMRIN Jl. Thamrin No. 31 Denpasar Telp. 0361-424882 (hunting) 44

Vol. 33 | September - Oktober 2012

Vol. 33 | September - Oktober 2012

45


Lestari First

Lestari First

Mira Andayani Seizing the Opportunity Through Songket Jumputan Dari yang dulunya model, sekarang designer, dari yang awalnya berlenggak lenggok diatas catwalk, kini berkreasi dibelakang panggung. Inilah fase perjalanan seorang wanita muda yang kini sukses membangkitkan kembali warisan budaya yang telah lama ditinggalkan. Yup, songket jumputan yang dulunya kelas dua, kini selama beberapa tahun terakhir menjadi incaran para ibu, ketika perempuan kelahiran Pandak-Tabanan, 10 Juni 1980 ini me-reborn konsep songket yang biasanya digunakan sebagai sarung, disulapnya menjadi dress dan kebaya yang cantik. Inilah peluang yang ditangkap oleh pebisnis muda Ni Ketut Mira Andayani ini. Didorong oleh celetukan suami yang berpikir bahwa songket tidak akan laku di Jakarta, maka ide menjadikan songket sebagai pakaian muncul dibanaknya, dan tidak salah kemudian ketika instingnya tersebut ternyata berbuah manis. Kesuksesannya saat ini memang tidak dicapainya secara instan, awalnya dimulai ketika Mira mengawali karirnya sebagai model. Terbiasa membawakan berbagai jenis pakaian hasil rancangan para desainer berpengalaman, memepengaruhinya dalam merancang berbagai jenis pakaian, meski dimulai secara otodidak. Kecintaannya akan dunia fashion ini tersalurkan dengan mulai merancang desain pakaian yang digunakannya sehari-hari. Namun rupanya, hasil rancangannya mencuri perhatian banyak orang, dan akhirnya menjadikan Mira lebih yakin untuk menjadi seorang desainer. Dan bukan hanya kebaya, Mira juga menjahitkan pakaian seragam, menyediakan aksesori, selendang, long torso, sandal serta semua jenis busana sembahyang untuk pria atau wanita segala usia. Bagi Mira, kebaya adalah favorit pencinta fashion di tanah air, perempuan khususnya tidak pernah berhenti membicarakannya. Mulai dari mode, warna, bahan hingga aksesori yang dikenakan. Kepada Aan Evarudin, di salah satu klumpu restauran Baruna yang juga miliknya, wanita ini menceritakan bagaimana dirinya merajut kesuksesan di bisnis ini.

46

Vol. 33 | September - Oktober 2012

Ceritakan, bagaimana awalnya perjalanan Minardi Butik hingga meraih popularitas seperti saat ini? Jadi awalnya, kita merintis usaha kuliner dulu, saya bersama suami memulainya dari mendirikan restauran Ikan Bakar Baruna ini, sekarang ada tiga cabang, satu di Renon ini dan satu lagi di Sunset Road Kuta yang keduanya kita kelola sendiri, satu cabang lagi ada di kawasan Kebon Sirih Jakarta, cuma yang itu kita kerjasama, jadi konsepnya mirip franchise. Suami sendiri dulunya anak kapal, jadi setelah pulang berinvestasi dengan mendirikan usaha ini, jadi ini usaha sudah dirintis sejak kita pacaran dulu. Itu berarti sudah ada kira-kira dari 13 tahun yang lalu. Dari kuliner ke butik, bagaimana keduanya bisa korelatif? Seiring berjalannya waktu, kami berdua mengelola usaha restauran ini, tapi saya hobi bikin-bikin baju di rumah. Kemudian ada teman-teman yang datang dan minta dibikinin, bahkan sampai ada teman yang punya kakak di PDAM, dan ikut lomba busana minta dibikinin pakaian kepada saya, dan di lomba itu mereka keluar sebagai finalis dengan baju rancangan saya itu, waktu itu kebetulan saya sudah punya penjahit walaupun cuma satu. Karena finalis, kita bikin lagi untuk putaran final dan akhirnya menang, dari sanalah mulai yakin. Kapan tepatnya momen ‘tipping point’ itu terjadi? Itu kejadian sekitar 3 tahun yang lalu. Sebenarnya belum lama ya, bagaimana hingga cepat sekali mengalami loncatan sampai membuka butik? Iya, dari sana kemudian bikin kebaya, kebetulan ada teman yang punya butik, kita jual disana. Kita jahit berapa yang jadi kemudian kita supply ke butik itu. Tapi lama-lama suasana rumah juga semakin ramai, karena orang-orang datang minta dibuatkan pakaian. Perlahan kesibukan ini menyita waktu, dan mulai jarang datang ke restauran Baruna. Disini suami mulai protes, karena usaha restauran yang sudah jalan tidak Vol. 33 | September - Oktober 2012

47


Lestari First

Lestari First tapi saya nggak supply, karena kalau sudah masuk ke butikbutik, nanti apa bedanya dengan kain songket yang lain. Jadi kalau kamu mau songket jumputan yang seperti punya saya, maka harus datang kemari. Tapi untuk yang luar Bali, kita layani, sekarang kita sudah kirim ke Jakarta dan Batam. Yang disana kita jual songketnya aja, nanti oleh desainer disana dijual atau dijahit kembali oleh mereka. Menjadikan songket yang biasanya sebagai sarung menjadi dress, bukankah butuh skill khusus, dimana Anda belajar? Dulu waktu Bali Fashion Week, saya jadi modelnya, malah di Indonesian Fashion Week saya yang jadi desainernya. Dan semua itu saya belajar secara otodidak, tidak pernah sekolah design, ngomongnya saja nggak kayak para profesional begitu, soal lekukan dan sebagainya ya saya pakai bahasa saya saja.

dikelola. Akhirnya atas usul suami, ruang kerja kita pindah ke restauran Baruna di Renon ini, cuma awalnya dibelakang, jadi kalau ada yang datang dan minta dibikinin baju, jadi harus lewat restauran dulu, baru kemudian belakangan kita pindah kedepan ini dengan mendirikan butik. Berdampak dengan performa restauran? Omzet penjualan restauran Baruna sebenarnya sudah tidak seperti dulu, bahkan hampir setengahnya, mungkin karena mulai banyak pesaing, tapi dengan adanya butik Minardi ini, justru mendongkrak pendapatan kita. Apa yang menjadi pembeda dari butik dan karya Anda? Kita spesialis di songket Jumputan, jadi itu songket tenunan Bali yang dibuat dari benang-benang sutra, tapi untuk menjadikannya Jumputan, maka songket Bali tersebut kemudian di daur ulang kembali, dicelup, diikat-ikat dan dijumput, makanya dinamakan Jumputan, dan dikasih warna warna cerah, kemudian dijemur, dan proses itu dilakukan berulang-ulang. Semakin klasik dan kuno kain tersebut, maka semakin antik dan menjadi semakin bagus. Jumputan sendiri sebenarnya warisan tradisi dari Palembang, jadi saya sebut pertemuan Palembang dengan pulau Dewata Bali. Dulu songket ini sempat mulai ditinggalkan, harganya jatuh, satu sarung songket cuma Rp. 700 ribu, malah ada yang jual hanya Rp. 600 ribu saja ketika itu. Dari mana anda mendapatkan kain-kain tersebut? Kita ambil dari banyak tempat, dari pengrajin di Klungkung, Negara dan tempat-tempat lainnya. Kita kumpulkan dari berbagai tempat. 48

Vol. 33 | September - Oktober 2012

Bagaimana Anda mengenalkan produk songket yang mulai ditinggalkan ke masyarakat masa kini? Kita sering ikut pameran dan juga dibantu oleh banyak pihak, termasuk dari pemerintah yang mengajak kita untuk ikut di Indonesian Fashion Week, disana peserta lainnya banyak dari kalangan desainer dan pengrajin senior. Disana ada juri yang justru membeli karya kita, songket jumputan ini, walaupun saat itu mereka tidak bilang kalau saya lolos ke Jakarta, karena pengumuman lolos disampaikan via e-mail. Namun akhirnya ya kita memang lolos mewakili Bali di ajang tersebut. Di Jakarta, saya bawa banyak barang dari Bali, suami malah bilang, ngapain bawa songket ke Jakarta, karena pasarnya kan di Bali, dan disini pun dijadikan sarung. Celetukan itu justru bikin saya semakin tertantang dan ingin membuktikan, akhirnya songket itu saya jadikan dress dan saya pakai. Dan di pameran Indonesian Fashion Week tersebut, ibu-ibu di Jakarta pada suka, dan mulai beli, dalam satu dua hari pameran barang sudah habis terjual semua, padahal waktu itu bawa banyak dari Bali. Akhirnya suami berangkat ke Jakarta membawa satu dus lagi. Mulai dari situlah songket jumputan ini meledak lagi, dan dari sana juga banyak para desainer yang akhirnya mencari songket jumputan akhirnya ke butik kita ini. Sekarang satu songket saja harganya sekitar Rp. 1.2 juta, otomatis yang jumputan menjadi lebih mahal sekitar Rp. 1,8 jutaan, apalagi kalau sudah jadi kebaya, bisa mencapai 2 juta. Dengan tingginya permintaan, apakah kemudian dijual masal? Tidak, untuk di Bali sudah banyak butik-butik yang minta,

Dulunya malah pernah menempuh pendidikan pramugari di Jakarta, tapi tidak sampai selesai, karena di Jakarta itu ketemu suami, jadi kemudian nikah dan tidak selesai pendidikan pramugari tersebut. Dari masa pacaran sudah mengelola restauran Baruna ini, bahkan sempat buka cabang lain di Tabanan, tapi kita nggak bisa kontrol semuanya, malah kesempatan ada juga untuk buka di Nusa Dua atau daerah lain. Tapi mengurus butik ini saja sudah menghabiskan banyak waktu saya, belum lagi tamu-tamu yang datang juga sugesti, kalau nggak ada saya mereka nggak mau, padahal tukang jahit saya ini, mereka lebih hebat dari saya, mereka kan sekolah. Tapi tamu maunya sama saya, padahal nanti juga ujung-ujungnya kembali ke anak-anak lagi. Tapi semua ini intinya karena hobi, karena dulu berprofesi sebagai model dan banyak berteman dengan desainer senior seperti de Galuh, jadi banyak terpengaruh.

produk kita itu dinilai bagus, sampai orang mau belajar untuk bikin hal yang sama. Jadi sekarang banyak juga pengrajin yang mulai kembali membikin jumputan. Namun saya juga berani dibandingkan dengan produk-produk sejenis, milik kami jumputannya itu jelas dan tidak luntur. Bahkan artisartis Bali juga mulai pakai karya kita ini. Berapa orang tenaga kerja di Butik Minardi ini? Untuk di butik ada 2 penjahit yang standby, tapi diluar ada ibu rumah tangga juga yang membantu, tukang payetnya juga lain, tukang guntingnya juga lain. Pertumbuhan sampai sekarang juga bagus dari tahun ke tahun. Selain songket, saat ini kain endek juga tengah booming, bagaimana merespon ini? Disini tidak semua barang dari songket, kita juga jual kain endek, tapi memang spesialis kita songket jumputan, dulu malah sering dipanggil Mira Baruna, sekarang jadi sering diceletukin Mira Jumputan. Bagaimana dengan trend kedepan? Saya sudah diwawancara oleh beberapa wartawan, mulai dari Tokoh, Jawa Pos sampai Kompas, ada juga yang sekedar telp untuk tanya soal trend menjelang hari raya Galungan dan sebagainya, mereka sangat membantu karena bagi saya kehadiran media itu sangat saya butuhkan, dan saya bilang untuk tahun 2012 dan 2013, yang diminati masih warnawarna cerah seperti ini, dan ternyata memang masih eksis sampai sekarang.

Dari songket, Anda membuat dress dan pakaian lainnya, ada produk diluar pakaian? Diluar pakaian itu otomatis ada, karena sisa-sisa kain mulai kita pakai bikin tas, sandal atau sepatu, malah tukang jahit kita yang kasih ide mau dijadikan apa, dan bisa kita langsung jarit disini. Ada, tas yang pinggirannya songket dan pegangan tanggannya dari kulit sapi, ada juga yang dari Piton. Karena bahan-bahan sisa itu kan sebenarnya bahan-bahan yang bagus. Songket jumputan ini cukup orisinil, setidaknya Anda mempopulerkan kembali, adakah ‘peniruan’ dari ide-ide ini? Memang ada yang mulai meniru, tapi karena saya orang yoga meditasi, jadi saya tidak marah dengan adanya peniruan tersebut, karena menurut saya semuanya ada sebab akibat. Bahkan menurut saya, dengan adanya peniruan ini, artinya Vol. 33 | September - Oktober 2012

49


Smart Family Suzana Chandra

Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap suatu budaya, kadang saya berpikir….Having great culture is fantastic….tapi ada biaya-biaya yang harus dibayar. Pertanyaan saya adalah, Siapa yang menanggung Biaya-biaya ini?

Managing Director, Lestari Living

RICH CULTURES Great Assets, Tapi Biaya Siapa?

B

erikut adalah dialog sederhana yang terjadi di sebuah ruang kelas darurat, di sebuah SD Negeri sekitar 10 menit dari Tambolaka- Sumba. Sekitar 100 orang berdesak-desakan memenuhi ruang kelas :

“Siapa yang pagi ini mandi?” Tidak ada jari yang diangkat. “Siapa yang mandi setiap 2 hari sekali?” sunyi sepi jawabannya. “Siapa yang mandi seminggu sekali,” cuma ada beberapa jari terangkat dan kepala yang merunduk. “Kenapa tidak mandi?” Jawaban mereka adalah “tidak ada air” Baru-baru ini saya berkunjung ke Sumba bersama dengan team WASRAG (The Water & Sanitation Rotarian Action Group) dari Amerika. Kunjungan ini adalah dalam rangka survey lokasi atau komunitas yang dianggap membutuhkan bantuan untuk Air dan Sanitasi. 50

Vol. 33 | September - Oktober 2012

Smart Family

Terenyuh sekali hati ini melihat kondisi kehidupan mereka yang jauh dibawah garis kemiskinan. Di sebagian besar daerah di Sumba, hujan hanya mampir selama 3 bulan dalam setahun (itupun sebelum jadwalnya dikacaukan dengan global warming yang terjadi didunia sekarang ini). Tanah yang kapur (limestone) membuat resapan air pun menjadi sulit. Tanah gersang dan berdebu, hanya tanaman tertentu yang bisa hidup didaerah ini. Cocok tanam menjadi sulit. No Water, jangankan untuk bercocok tanam, untuk keperluan rumah tangga sehari-hari saja tidak ada air. Makanan sehari-hari mereka adalah Jagung (yang ditanam pada musim hujan), sehari-hari pekerjaan sebagian besar orang adalah “serabutan”. Dan setahun sekali mereka panen biji mete. That’s all. Penghasilan rata-rata sebulan cuma sekitar Rp. 200 -300 ribu.

Bayangkan 200 – 300 ribu rupiah per bulan. Mereka yang miskin ini, harus membeli air untuk keperluan sehari-hari. Biasanya mereka berpatungan dengan penduduk desa setempat, untuk beli satu tangki air, dan dipakai bersama. Alhasil, mandi dan sanitasi menjadi sesuatu yang “luxury”. What a hard life! Kekeringan dan kemiskinan mereka jauh lebih hebat dari kekeringan dan kemiskinan daerah Karang Asem Bali. Beberapa teman membandingkan kondisi ini dengan kondisi di Afrika yang biasa kita lihat di media. Padahal mereka hanya sekitar 45 menit dari Bali melalui udara. Dibalik kemiskinan mereka, terdapat sebuah budaya dan adat istiadat Tribal hampir seperti jaman Megalithic yang sangat kuat. Misalkan pada saat ritual kematian, anggota keluarga harus mengorbankan sejumlah kuda dan kerbau sebagai korban. Pada acara perkawinan, sejumlah kerbau dengan panjang tanduk tertentu harus dikorbankan. Demikian juga pada saat kelahiran, dan banyak sekali perayaan-perayaan yang dilakukan dengan biaya yang juga tidak sedikit. Bagi keluarga yang tidak mampu (mayoritas orang Sumba berada dibawah garis kemiskinan), untuk hidup sehari-hari saja susah, tetapi demi adat istiadat dan budaya, mereka melakukan ritual-ritual tersebut. Yang biasa dilakukan adalah hutang kanan-kiri, jual tanah, jual apapun yang bisa dijual demi pemenuhan kebutuhan ritual. Ini yang saya pikir memberatkan kehidupan masyarakat. Tetapi karena semua menganut adatistiadat yang sangat kuat, tidak melakukan ritual bukanlah suatu pilihan. Yang terjadi adalah kemiskinan yang berkelanjutan. Dengan ‘demand’ atas pemenuhan upacara dan ritual-ritual yang sedemikian mahalnya,

yang terjadi adalah penggadaian asset dan pendapatan. Boro-boro bicara masalah investasi. Ujung-ujungnya adalah kemiskinan yang tidak berujung. Bali memiliki budaya dan adat istiadat yang sangat menarik, penuh warna dan cantik. Sebuah budaya yang sangat menarik untuk turis juga. Tetapi kalau diamati, melakukan ritual dan upacara keagamaan tersebut, tidaklah dapat dilakukan tanpa pengorbanan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Siapakah yang membayarnya? Ya penduduk yang melaksanakan ritual tersebut. Budaya merupakan esensi dari pariwisata Bali, disamping pemandangan yang indah. Turis lokal dan asing datang untuk menikmatinya. Pertanyaannya adalah, apakah penduduk asli Bali yang menerima “benefit”nya? Jangan-jangan hanya segelintir penduduk lokal dan kebanyakan para pengusaha luar yang lebih memberdayakan turism dan mendapatkan benefitnya, sedangkan pemilik (penduduk Bali) dari “budaya yang luar biasa” ini adalah penanggung biaya dan waktu? Seperti halnya yang terjadi di banyak daerah yang memiliki budaya yang kuat, seperti di Tanah Toraja, Tanah Papua, Minahasa dan lain-lain. Hampir dipastikan biaya beban hidup yang paling besar adalah untuk pemenuhan kebutuhan ritual dan upacara-upacara yang kebanyakan sangatlah kaku. Tidak melakukan A-Z dari suatu upacara bukanlah suatu pilihan bagi kebanyakan orang. Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap suatu budaya, kadang saya berpikir, Having great culture is fantastic, tapi ada biaya-biaya yang harus dibayar. Pertanyaan saya adalah, siapa yang menanggung biayabiaya ini? Vol. 33 | September - Oktober 2012

51


Literature

Literature

Pribadi Budiono

Tidak ada

Direktur Utama BPR Lestari

The MAGIC Keajaiban apa yang sedang Anda butuhkan?

rumus memberi menyebabkan orang menjadi miskin. Justru sebaliknya,

D

alam kehidupan kita sehari-hari, berapa seringkah Anda mendengar kata khawatir, takut atau stress. Kita menyadari bahwa salah satu masalah terbesar dewasa ini adalah rasa khawatir. Setiap hari kita khawatir akan hari esok. Khawatir tidak bisa hidup dengan baik di hari esok. Khawatir bagaimana masa tua nantinya. Khawatir bagaimana membiayai sekolah anak-anak. Bahkan ada sebagian orang yang tidak bisa mengendalikan kekhawatiran atau ketakutan sampai ada yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Terkadang kekhawatiran, stress atau rasa takut yang berlebihan dapat menyebabkan penyakit yang fatal, bahkan lebih bahaya dari kanker sekalipun. Di kala kita diselubungi oleh perasaan khawatir, terkadang akal sehat kita hilang seketika. Kekhawatiran atau ketakutan ini, hampir menimpa semua orang, baik orang yang kaya atau miskin, orang tua atau orang muda, wanita atau pria. Mereka yang kaya dan berkuasa takut dan khawatir kehilangan apa yang mereka punya, sementara mereka yang miskin dan lemah pusing setengah mati memikirkan cara memperoleh apa yang mereka tak punya. Dengan demikian persoalan muncul bukan karena kondisi kekayaan dan kemiskinan seseorang, tapi lebih karena kecemasan yang muncul dibenaknya. Pikiran manusia memiliki dunianya sendiri, dan kondisi di dalamnya bisa membuat neraka terasa surga atau sebaliknya. Ingat, hari ini adalah hari esok yang kita khawatirkan pada hari kemarin. 52

Vol. 33 | September - Oktober 2012

Ternyata lewat juga yang kita khawatirkan tersebut. Berarti kekhawatiran akan hari esokpun bisa kita hilangkan atau kurangi mulai hari ini. Bagaimana Cara Memulai? Dengan memberi kepada orang lain, bisa mengurangi atau menghilangkan rasa khawatir, cemas, stress atau takut. Mengapa bisa? Memberi berarti kita melihat kebawah bukan melihat keatas. Rasa cemas, khawatir, takut dan stress disebabkan karena kita melihat keatas. Misal kita memiliki mobil Avanza, kita akan stress memikirkan bagaimana memiliki mobil Mercy. Sehubungan dengan memikirkan keatas, banyak orang melakukan tindakan yang melanggar hukum dengan korupsi. Seperti yang sering kita lihat di televisi, banyak orang sukses tersandung kasus korupsi. Hal ini karena selalu melihat keatas. Melihat keatas akan membuat kita stress, takut, khawatir dan galau. Lain halnya dengan melihat ke bawah, kita akan merasakan syukur yang demikian besar. Hati akan lebih tenang, tentram dan sejuk. Mengapa? Karena masih banyak orang-orang yang hidupnya dibawah kita. Dengan memberi, tangan Anda berada diatas. Berarti Anda melihat dari atas sehingga akan timbul syukur yang luar biasa dahsyat. Bahwa hidup Anda lebih baik dari mereka. Dengan semakin banyak Anda memberi kepada orang lain maka rasa syukur Anda akan semakin besar. Yang pada akhirnya akan mengurangi rasa kekhawatiran atau ketakutan akan hidup Anda.

semakin banyak memberi maka kita bisa semakin kaya. Memberi itu perlu pengalaman Banyak orang yang sukses dan kaya, namun hidupnya selalu diselimuti rasa kekhawatiran dan kecemasan yang luar biasa. Sebagian besar mereka ingin hidupnya lebih baik, lebih tenang dan tidak cemas lagi. Keinginan memberipun sangat besar, namun mereka tidak bisa melakukannya. Mengapa ini bisa terjadi. Karena “Memberi itu Memerlukan Pengalaman�. Untuk memperoleh ketenangan dan hati tentram, tangan harus diatas. Sebagian besar orang walaupun memberi, mereka tidak mengalaminya sendiri, namun lebih banyak mereka menitipkan pada orang lain baik melalui yayasan, panti asuhan, atau lewat orang suruhannya. Ini tidak salah. Namun mereka tidak menyaksikan sendiri (melewatkan) sikap dan reaksi orang yang diberi. Padahal melihat reaksi orang yang diberi ini yang akan memberikan efek atau dampak langsung. Hati akan terasa tentram dan tenang. Kalau hati Anda sedang stress berat, cemas, khawatir, suntuk dan galau, pergilah ke UGD sebuah rumah sakit. Anda bisa

melihat begitu banyak pasien dari berbagai kalangan baik kondisi sakit biasa maupun yang parah. Anda akan melihat wajah-wajah yang murung karena keluarganya sedang sekarat dan sedang tidak mempunyai uang untuk ongkos berobat. Inilah saat Anda melakukan tindakan memberi, datangi orang tersebut dan bayari ongkos rumah sakitnya. Anda akan mengalami keajaiban dalam hidup. Anda akan melihat ekspresi wajah orang yang Anda beri. Wajah yang memancarkan senyum, hati yang penuh syukur karena hari ini mereka di datangi malaikat penolong. Perasaan dan hati Anda akan terbang seketika. Hati Anda seketika akan tenang, tentram dan rasa syukur muncul. Ternyata hidup Anda lebih berarti dibandingkan mereka. Ternyata memberi itu memerlukan pengalaman. Anda harus mengalami sendiri dan Anda akan merasakan sensasi memberi. Setelah mengalaminya, pastinya Anda ingin mengulanginya dan selalu ingin mengulanginya. Ternyata memberi menciptakan keajaiban. Dengan memberi kita akan merasakan keajaiban hidup. Memberi Lebih Banyak, Menuai Lebih Banyak Tidak ada rumus memberi menyebabkan orang menjadi miskin. Justru sebaliknya, semakin banyak memberi maka kita bisa semakin kaya. Memberi itu bisa diibaratkan dengan menanam, semakin banyak kita menanam maka akan semakin banyak menuai. Perumpamaan memberi itu serupa dengan menanam sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir pada tiaptiap bulir seratus biji. Kita menanam 1 biji padi akan menuai 700 biji pada setiap pohonnya. Bill Gates semakin kaya karena memberi. Seorang pemilik perusahaan atau pemimpin yang banyak memberi kepada pegawainya, laba perusahaan tidak akan turun justru sebaliknya akan semakin meningkat. Kesejahteraan pegawainya diperhatikan dengan baik, maka pegawai tersebut akan memberikan kinerjanya yang terbaik sehingga laba perusahaan naik pula. Memberi merupakan hukum tarik menarik. Semakin banyak memberi akan semakin banyak menarik hasil. Memberi merupakan keajaiban kehidupan. Rhonda Byrne akan menuntun kita untuk berselancar mengarungi keajaiban hidup melalui buku terbarunya “The MAGIC�. Vol. 33 | September - Oktober 2012

53


Book Review

Family Business Responses to Future Competition

Memenangi dan Memelihara Pelanggan Seumur Hidup

The Magic

Oleh Michael Le Boeuf, Ph.D

Oleh Rhonda Bryne

Rahasia Sukses Membangun Bisnis Keluarga

Dr. B.R.A. Mooryati Soedibyo

P

eran perusahaan keluarga dalam perekonomian global serta lokal sangat besar. Hampir semua perusahaan besar berawal dari perusahaan keluarga. Tetapi dunia saat ini dan di masa depan menghadapi tantangan yang berbeda dibanding masa lalu. Perusahaan di seluruh dunia, termasuk perusahaan keluarga, dituntut untuk mampu menyesuaikan diri secara cepat. Tanpa kemampuan inovasi dan adaptasi lingkungan, perusahaan tidak akan mampu bertahan. Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman Dr. Hj. B.R.A. Mooryati Soedibyo pendiri Mustika Ratu, dilengkapi dengan pengalaman para CEO perusahaan keluarga sukses lainnya, termasuk Sudhamek (Garuda Food) dan Aburizal Bakrie (Bakrie Brothers). Penulis telah mengalami berbagai hal dalam menjalankan perusahaan keluarga. “Tidak banyak penulis buku yang memiliki pengalaman dan kemampuan komplet seperti Dr. B.R.A. Mooryati Soedibyo dalam membangun bisnis dari nol hingga menjadi perusahaan besar dan sukses membawa perusahaan keluarga menjadi perusahaan terbuka. Buku ini tentu menarik dibaca karena yang disajikan bukan hanya pengalaman atau teori yang dipelajari di kampus, tapi juga pengalaman konkret yang disandingkan dengan teori atau teori yang diuji dengan pengalaman konkret membangun dan memimpin perusahaan. Tidak ada cara yang paling efektif dalam mempersiapkan diri menggapai puncak gunung selain belajar langsung dari mereka yang sudah mencapainya. Oleh karena itu, buku ini layak dibaca oleh mereka yang ingin sukses menjadi pengusaha.” — James T. Riady; CEO Lippo Group

54

Vol. 33 | September - Oktober 2012

M

emenangi dan Memelihara Pelanggan Seumur Hidup adalah rahasia sukses bisnis sepanjang masa. Apapun bisnis Anda, entah bergerak di bidang jasa ataupun barang, entah sektor swasta ataupun pemerintahan,menciptakan dan membuat pelanggan menjadi setia adalah keharusan bila menginginkan bisnis berkembang. Memelihara pelanggan bukan hanya urusan pemilik perusahaan, CEO, jajaran direksi, kepala divisi, atau manager, tetapi seluruh staf dan divisi yang terkait dalam upaya memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan. Hal yang sering dilupakan, acap kali karyawan atau staf yang berhubungan langsung dengan pelanggan “dicap” mewakili perusahaan atau instasi. Dan, apa jadinya bila karyawan tersebut, entah itu resepsionis atau office boy sekalipun, telah melakukan kesalahan fatal yang menyinggung seorang klien atau pelanggan? Besar kemungkinan, pelanggan yang kecewa pasti akan menceritakan pengalaman buruknya kepada teman-temannya.

L

ebih dari dua puluh abad, katakata dalam sebuah kalimat suci membuat hampir semua orang yang membacanya bingung, penasaran, dan menyalahartikannya. Hanya sangat sedikit orang sepanjang sejarah yang menyadari bahwa kata-kata tersebut adalah teka teki, dan begitu kita memecahkan teka teki itu—begitu misterinya terkuak—sebuah dunia baru akan tergelar di depan mata kita. Dalam The Magic, Rhonda Byrne mengungkapkan ke dunia suatu pengetahuan yang mampu mengubah hidup kita. Kemudian, dalam latihan luar biasa selama 28 hari, ia mengajarkan cara menerapkan pengetahuan ini dalam hidup kita sehari-hari. Siapa pun Anda, di mana pun Anda berada, apa pun lingkungan Anda sekarang, The Magic akan mengubah total hidup Anda! Untuk informasi lebih lanjut tentang The Magic, kunjungi www.thesecret.tv

Vol. 33 | September - Oktober 2012

55


Vol. 29 Mei - Jun 2012

Navnit Anand

The Mind Of Body & Soul

Ayu Laksmi ISSN: 2087-5975

Coming Out of The Dark

www.money-and-i.com Vol. 29 | Mei - Juni 2012

1

Pick Up Point

56

Vol. 33 | September - Oktober 2012

Lestari Teuku Umar Jl. Teuku Umar 110 Denpasar

Krisna Kuta Jl. Sunset Road

Lestari Thamrin Jl. Thamrin No. 31 Denpasar

Krisna Denpasar 1 Jl. Nusa Kambangan

Lestari Gatsu Jl. Gatot Subroto No. 356

Krisna Denpasar 2 Jl. Nusa Indah

Lestari Renon Jl. Letda Tantular 1 Blok A 16

Krisna Tuban Tuban

Lestari Melati Jl. Melati No. 69 Denpasar

Gramedia Duta Plaza Jl. Dewi Sartika

Lestari Tohpati Jl. Wr Supratman No. 311

Gramedia Nikita Jl. Gatot Subroto Timur

Lestari Sanur Jl. By Pass Ngurah Rai

Apotik Anugrah Jl. Pattimura

Auto Bridal 1 Jl. Sunset Road

Kopi Bali House Jl. By Pass Ngurah Rai

Auto Bridal 2 Jl Sudirman

Hotel Aston Denpasar Jl. Gatot Subroto Tengah

Orange Bakery Jl. Teuku Umar

Pop Harris Hotel Jl. Teuku Umar

Salon New Melati Jl. Badak Agung

Fave Hotel Jl. Teuku Umar

Joger Kuta

Cempaka Lounge Airport Bandara Ngurah Rai

Warung Subak Jl. Astasura

Mandiri Lounge Airport Bandara Ngurah Rai

CNI Pertokoan Kuta Galleria

Padma Lounge Airport Bandara Ngurah Rai

Vol. 33 | September - Oktober 2012

57


Insight

Insight

Yuswohady

Praktisi Pemasaran dan ex. Sekjen Indonesia Marketing Association

Middle-Income

It’s easier to rise from a low-income to a middle-income economy, than it is to jump from a middle-income to a high-income economy. kelelahan. Kalau pada kurun waktu 1990-1997 rata-rata pertumbuhannya 9,1%, maka pada kurun waktu 20002008 melemah menjadi hanya 5,5%. Coba bandingkan dengan Korea Selatan. Pada tahun 1970, pendapatan perkapita (per capita gross national income) Korea Selatan lebih kecil dibanding Malaysia ($260 dibanding $380). Namun pada tahun 2009 Korea Selatan memiliki pendapatan perkapita tiga kali lipat Malaysia ($21.530 dibanding $6.760). Jadi Malaysia terjebak menjadi negara berpendapatan menengah, sebaliknya Korea Selatan mampu meloncat menjadi negara maju baru.

TRAP

Kenapa negara-negara seperti Malaysia bisa stuck in the middle seperti itu. Penjelasannya simpel: “It’s easier to rise from a low-income to a middle-income economy than it is to jump from a middle-income to a high-income economy.” Penyebabnya, setelah masuk menjadi negara berpendapatan menengah mereka merasa nyaman dan tak cukup membangun SDM dan berinovasi untuk menghasilkan produk-produk dengan kandungan teknologi yang semakin tinggi.

M

iddle-income trap adalah istilah yang diberikan kepada negara-negara berpendapatan menengah (middle-income countries) yang “terjebak” di posisinya dan tidak bisa melakukan lompatan untuk masuk menjadi negara maju baru. Jadi suatu negara telah mencapai suatu level pendapatan perkapita tertentu yang relatif cukup makmur, namun tidak mampu lagi mempertahankan momentum pertumbuhan yang tinggi, sehingga negara tersebut tidak kunjung naik kelas masuk dalam jajaran negara-negara maju. Jadi seolah-olah negara tersebut terkunci di tengah (stuck in the middle) di posisinya sebagai negara berpendapatan menengah. 58

Vol. 33 | September - Oktober 2012

Belajar dari Malaysia Ambil contoh kasus Malaysia, negara yang mengalami pertumbuhan ekonomi luar biasa sejak Perang Dunia II. Negara ini konsisten menikmati pertumbuhan ekonomi 7% setahun selama 25 tahun terakhir. Malaysia juga sukses mengentaskan kemiskinan selama kurun waktu tersebut. Kalau pada tahun 1970 sekitar 50% masyarakatnya berada di bawah garis kemiskinan, maka sekarang angka itu tinggal sekitar 4%. Namun apa yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini? Mesin pertumbuhan Malaysia mulai mengalami

Inovasi dan SDM Pada saat negara tersebut masih miskin mereka bisa memanfaatkan kemiskinannya untuk membangun daya saing melalui upah buruh yang rendah. Jadi negara-negara tersebut memacu perkembangan industri manufaktur berupah buruh rendah (labor-intensive manufacturing) seperti tekstil atau sepatu untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Perkembangan pesat industri macam ini akan mendorong terciptanya lapangan kerja dan pada gilirannya akan mendorong tingkat pendapatan masyarakat. Tapi industri manufaktur berbasis upah buruh murah ini tidak sustainable. Seiring dengan meningkatnya pendapatan, maka ongkos upah buruh pun akan meningkat. Kalau ini terjadi maka produk-produk yang dihasilkan berbagai industri tersebut tidak lagi kompetitif di pasar internasional. Kalau tidak kompetitif, maka industri-industri tersebut tak mampu berkembang, akibatnya pertumbuhan ekonomi negara menjadi

terkendala. Untuk bisa naik kelas menjadi negara maju baru dan terhindar dari middle-income trap, maka mau tak mau negara-negara tersebut harus berinovasi dan mengelola SDM/modal menjadi lebih produktif. Mereka harus membangun kemampuan R&D dan mempekerjakan SDM yang berkualitas (highly educated and skilled worker). Gampangnya, untuk lolos dari middle-income trap, kemajuan negara harus didukung “otak“, bukan sekadar “otot” Korea Selatan adalah contoh negara yang sukses keluar dari middle-income trap dengan mengembangkan kemampuan R&D dan SDM. Perusahaan-perusahaan seperti Samsung, LG, Hyundai adalah perusahaan yang memiliki kemampuan teknologi yang sangat baik sehingga produknya tetap kompetitif di pasar internasional. Creative Class Apa pesan terpenting dari adanya fenomena middleincome trap ini bagi Indonesia? Dengan terlampauinya pendapatan perkapita $3000 tahun 2010, maka kini Indonesia beranjak untuk menjadi negara berpendapatan menengah. Prestasi ini tak boleh membuat Indonesia berada dalam zona nyaman, karena bisa-bisa Indonesia terkena middle-income trap seperti yang dialami Malaysia. Indonesia harus tetap bekerja keras untuk membangun basis kemampuan teknologi dan SDM agar bisa melompat menjadi negara maju. Melihat fenomena middle-income trap, saya jadi teringat satu buku luar biasa yang ditulis Richard Florida berjudul The Rise of Creative Class (2002). Intinya buku ini mengatakan bahwa suatu bangsa akan maju jika mereka memiliki kelompok masyarakat kreatif (creative class) yang berperan strategis menghasilkan nilai tambah ekonomi melalui olah pikir, kreativitas, dan inovasi yang mereka hasilkan. Mereka adalah seniman, programmer/ software developer, arsitek, product designer, konsultan, creative director, pengrajin, fotografer, dan tentu saja entrepreneur. Merekalah kelompok masyarakat yang akan bisa membawa Indonesia lolos dari middle-income trap. Kita patut bangga kini punya sekitar 150 juta masyarakat kelas menengah. Tapi itu semua tidak ada apa-apanya kalau kelas menengah itu hanyalah sebatas kelas pembelanja dan kelas konsumeris. Pekerjaan besar bangsa ini adalah membentuk kelas menengahnya menjadi creative class yang produktif menciptakan lapangan kerja dan membangun daya saing Indonesia.

Vol. 33 | September - Oktober 2012

59


Lestari Institute

Tujuh Kesalahan HRD

D

ulu, persoalan paling klasik dalam sebuah bisnis adalah modal, namun kini masalah yang dirasa paling pelik dalam sebuah entitas bisnis adalah pengelolaan tenaga kerja atau karyawan. Bergesernya orientasi kerja, kompetensi dan kesalahan motivasi merupakan satu dari sedikit faktor yang menjadikan seorang karyawan tidak produktif, bahkan menjadi trouble maker. Setidaknya, ada tujuh kesalahan umum yang kerap dilakukan oleh HRD dan berdampak pada buruknya kinerja karyawan. 1. Salah dalam merekrut Satu hal yang harus disadari, tidak semua karyawan merupakan aset penting perusahaan, namun hanya orang yang tepat merupakan asset perusahaan, orang yang didasarkan kepada karakter bukan skill, itu sebabnya, jika anda ragu untuk melakukan penerimaan pada salah satu calon karyawan, maka sebaiknya ditolak dan tetaplah mencari yang tepat. 2. Salah memberikan pembekalan Kerap kali, ketika kita sudah merekrut karyawan, tidak banyak arahan yang kita berikan kepada mereka, beritahu apa yang kita harapkan dari mereka. Disatu sisi agar karyawan melakukan hal yang benar dan perlu dilakukan. Berikan pelatihan dan pengetahuan. Serta berikan waktu dan kesempatan untuk menunjukkan performa mereka. 3. Salah dalam memberikan motivasi Motivasi sangat penting, terlebih untuk memacu kembali kinerja mereka yang menurun, namun salah memberikan motivasi bisa berujung kinerja yang kontraproduktif. Itu sebabnya kenali tipe motivasi yang tepat dan bagaimana pemberian motivasi yang sesuai dengan kebutuhan karyawan. 4. Salah memberikan tugas dan tanggung jawab Banyak manager yang fokus pada kelemahan karyawannya, hal tersebut terkadang justru menciptakan jarak dan persepsi yang melemahkan kinerja karyawan. Itu sebabnya sangat penting untuk memberikan

kesempatan lebih besar kepada orang yang memiliki potensi lebih besar dan tidak fokus kepada kekurangan mereka 5. Salah dalam menentukan tolak ukur kinerja Berikan gambaran serta terget yang jelas kepada karyawan, sesuai dengan tugas dan tanggung jawab mereka. Target tersebut menjadi goal mereka, jika perlu buatlah papan score dan permainan menarik untuk menstimulasi motivasi mereka. 6. Salah dalam memberikan penghargaan (kompensasi) Tujuan kompensasi untuk mendapatkan orang yang tepat dan menyimpan mereka, itu sebabnya sangat penting untuk mengkorelasikan antara kompensasi dengan kinerja. Berikan mereka kompensasi 3x dibanding karyawan sejenis dengan produktifitas 5x lebih besar 7. Salah dalam memberikan perhatian Kesalahan klasik lainnya adalah memberikan perhatian lebih besar kepada karyawan yang berpotensi, bukan kepada karyawan yang bermasalah. Jangan terlalu memaksa untuk merubah karyawan yang tidak tepat. Buatlah kesepakatan untuk mengakhiri kerjasama jika memang hal tersebut diperlukan. Fokus kepada kesempatan dan bukan pada hambatan menjadi awal perbaikan kinerja karyawan. Dipersembahkan oleh:

60

Vol. 33 | September - Oktober 2012

Vol. 33 | September - Oktober 2012

61


Socialita

“Saya pun sudah terbiasa mendapat perlakuan keras dirumah. Ini kemudian membuat saya mendapat tekanan hebat secara psikis dan akhirnya membuat bicara saya gagap.�

L

ife begins at 40, nampaknya statement ini tepat ditujukan pada sosok ibu yang satu ini. Wanita kelahiran tahun 1970 ini mengawali fase hidupnya dengan penuh tantangan dan liku, berasal dari keluarga broken home dan pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga menjadikan dirinya mengalami tekanan hebat, dan akhirnya membuat wanita ini gagap selama bertahuntahun. Berbagai terapi ditempuhnya, obat pun silih berganti di cobanya demi terbebas dari kegagapannya, hal yang dianggap menyiksa hidupnya. Belum lagi ketika dirinya mulai berkeluarga dan memiliki anak, syndrom baby blues menyerang hebat dan kian menenggelamkan dirinya. Di awal karirnya bekerja, dirinya yang

terjun sebagai broker, mengalami nasib sial ketika melenyapkan sejumlah uang nasabahnya di bursa saham, dan membawa wanita ini ke kepolisian karena delik perdata dari para investor yang tidak puas dengan kinerjanya. Tapi rupanya, berbagai ancaman hidup tersebut secara perlahan justru menjadi anak tangga yang membawanya menjadi pribadi yang lebih tangguh, meng-upgrade nya menjadi sosok yang berani dan seolah saat ini tidak ada lagi cobaan yang lebih berat dari apa yang pernah dilaluinya. Dan menariknya, dari seorang yang dulunya gagap karena tekanan psikis, sekarang justru menjadi motivator yang demikian cerewet. Saat ini,

Apa yang mendorong Anda membuat buku yang menceritakan kisah hidup seorang Meuthia Rizky?

Meuthia Rizky Now That She Has Won, Can She Lead

62

Vol. 33 | September - Oktober 2012

Tidak banyak perempuan yang mengalami hidup seperti saya, ibu saya, menikah dengan orang yang salah, ayah saya orang yang ringan tangan, kami kerap mendapat tekanan secara fisik. Peristiwa KDRT ini yang akhirnya membuat ibu saya bercerai dengan ayah. Saya pun sudah terbiasa mendapat perlakuan keras dirumah. Ini kemudian membuat saya mendapat tekanan hebat secara psikis dan akhirnya membuat bicara saya gagap. Saya pernah menonton film the King Speech, yang menceritakan kehidupan pangeran Inggris yang bicaranya gagap, dalam film itu diceritakan bahwa tidak ada orang yang terlahir gagap, tapi peristiwa dalam hidupnyalah yang bisa memicu hal itu terjadi? Iya, itu benar banget. Dan ini menyebabkan saya harus terapi ke sejumlah psikiater, bahkan sudah berganti-ganti dokter dan obat, tapi hasilnya tidak banyak. Dan ini menyebabkan saya menjadi orang yang minder, jadi kalau orang lihat saya,

wanita yang masih nampak muda ini, menjadi top leader disebuah perusahaan direct marketing Oriflame dan kerap berpindah dari satu panggung ke panggung lainnya untuk membagi pengalaman hidupnya, dan mampu mencapai kesuksesan setelah mengalahkan berbagai cobaan. Money & I mendapat kesempatan menemani wanita ini yang beberapa waktu lalu berkunjung ke Bali saat mempromosikan bukunya. Bahkan, kami sempat mencuri waktunya yang bermalam di hotel Santika Kuta, untuk interview dan beberapa sesi photo. Semoga pengalamannya, juga menjadi cambuk khususnya perempuan untuk bangkit dari sebuah kegagalan. Berikut petikan wawancara kami.

mereka berpikir saya sombong, padahal tidak sama sekali, saya justru yang menjauh, karena saya membatasi diri bergaul dengan orang lain. Kapan persisnya kegagapan itu hilang? Waktu mulai kerja, justru tanpa terapi dan obat, saya mulai bisa berbicara lancar secara perlahan, karena ditempat kerja kita diharuskan bicara, dan bisa dibilang tanpa tekanan. Bagaimana Anda memulai karir? Awalnya waktu kuliah, saya sempat bingung mau ambil jurusan apa, inginnya desainer saja, tapi waktu itu sekolahnya belum ada yang setingkat sarjana. Tapi kemudian saya memilih akademi sekretaris, tapi sebelum lulus sudah mulai kerja, jadi saya sempat menunda skripsi. Selama saya kerja, beberapa kali pindah kerja. Inginnya mencari pengalaman dan mencari penghasilan yang lebih besar. Dan setiap pindah itu karena diajak oleh atasan saya. Jadi saya pernah kerja di Pasific Hotel selama 3 tahun, terus pindah kerja ke Santika Hotel selama 2 tahun dan terus pindah lagi ke Imperial Hotel. Vol. 33 | September - Oktober 2012

63


Socialita

Socialita bagi sebagian orang membangun bisnis itu pilihan yang lebih baik, tapi buat saya butuh banyak tenaga untuk membesarkan usaha. Disatu sisi saya juga berusaha mengejar ketertinggalan financial saya selama ini. Kebetulan saat nego gaji, saya asal saja menyebut angka, ternyata disetujui. Gaji yang ditawarkan oke, pekerjaan juga jadi saya saya enjoy menjalaninya. Namun Anda saat ini dikenal sebagai salah satu top Leader di Oriflame dengan penghasilan yang besar, bukankah Anda mengawalinya sebagai karyawan diperusahaan ini?

Dan saat tahun 1999 terjadi krisis moneter, kita kesulitan mendatangkan tamu, akhirnya saya pindah kerja ke suatu perusahaan perdagangan bursa berjangka. Disini sebenarnya saya melamar menjadi PR, tapi tidak tahu kenapa akhirnya saya juga merangkap jadi sales-nya. Waktu itu tiap sales diminta target minimal 20 juta dan minimal tiap bulan harus mendapatkan satu orang investor yang dananya bisa kita kelola. Bagi saya, itu profesi yang sulit, bagaimana anda menjalaninya? Sebenarnya diawal kerja sudah ada ketidaknyamanan, dan merasa ada yang salah, karena awalnya melamar jadi PR tapi saat training juga diharuskan menjadi sales. Apa boleh buat karena waktu itu yang kita pikirkan bagaimana mencari duit, akhirnya saya jalanin saja. Saya coba di tempat kerja ini selama 8 bulan saja. Itu waktu yang cukup lama karena teman-teman yang lain malah ada yang hanya 3 bulan. Waktu itu saya tidak tega saja dengan uang orang yang masih saya kelola. Pada bulan ketiga sebenarnya sudah tidak betah dan terus kepikiran untuk resign. Bulan ke empat dan kelima ada masalah dengan keuangan yang saya kelola, dimana kita diminta untuk inject dana terus-terusan karena kondisi pasar keuangan yang tidak stabil, namun akhirnya kehilangan sejumlah uang investor yang kemudian membawa saya berurusan dengan polisi, karena dituduh tidak transparan dan sebagainya, pokoknya itu masa dimana saya berdarah-darah. Tapi akhirnya berkat bantuan orang tua, suami dan keluarga lainnya dan teman-teman, saya

64

Vol. 33 | September - Oktober 2012

bisa mengumpulkan uang untuk mengganti itu semua dan menyelesaikan masalah tersebut.

Nah di Oriflame ini saya didalam, mengamati para member. Kemudian saya mulai tertarik, dan berpikir sepertinya enak nih kalau jadi pemain, jadi pebisnis MLM. Dan itu berarti harus keluar dari posisi karyawan, karena karyawan perusahaan MLM tidak boleh merangkap menjadi member. Banyak yang menyayangkan keputusan saya ini, karena saat itu saya sudah diangkat sebagai kepala cabang. Tapi saya berpikir begini, saat itu usia saya 34 tahun, saya mau coba dulu jadi pemain selama setahun, kalau gagal, saya masih usia 35, dan masih memungkinkan untuk mencari pekerjaan lain. Tapi ternyata dalam setahun itu, penghasilan saya sebagai pebisnis MLM ternyata naik dua kali lipat, akhirnya tambah betah deh sampai sekarang.

Apa yang Anda lakukan kemudian?

Apa yang membuat Anda menyeberang menjadi pemain?

Tahun 2000 saya mulai mencari peruntungan sendiri menjadi makelar jasa printing, namun tidak lama, di bisnis ini cuma bertahan 9 bulan. Saat itu sebenarnya usaha sudah mulai besar, saya mendapat satu klien tetap yang mengelola pabrik jaket kulit terbesar di Indonesia berada di Tangerang. Waktu itu dia kasih semua order pembuatan label ke saya, jadi waktu itu sibuk banget dan hasilnya cukup lumayan, ada dan bisa kita rasakan. Nah di tengah jalan, iseng-iseng saya melamar kerja di Oriflame, waktu itu ada telp dari teman yang memberitahukan bahwa Oriflame membutuhkan karyawan, dan saya tertarik banget, karena pikir saya, enak kalau bisa punya dua pundi, satu dari usaha dan satu lagi dari bekerja sebagai karyawan. Selain itu bisnis printing saya sudah mulai bisa ditangani oleh karyawan. Jadilah saya pada tahun 2001 bergabung dengan Oriflame.

Salah satu pekerjaan saya di Oriflame itu sebagai trainer, jadi saya memberikan pelatihan kepada kepada orang-orang yang baru bergabung dan menjadikan mereka punya penghasilan. Nah ini yang rupanya yang mendorong saya terjun jadi pemain.

Sebagai staf? Iya, waktu itu karyawan. Saya melamar kerja di oriflame untuk posisi sebagai manager, yang kualifikasi kebutuhannya adalah S2, tapi saya diterima sekalipun bukan S2, itu membuat saya bangga. Dan mungkin ini memang rencana Tuhan ya, setelah tiga bulan di perusahaan ini, pabrik jaket kulit yang menjadi klien saya selama ini pindah ke China, dan mengakhiri kerjasama dengan usaha percetakan saya. Waktu itu untungnya sudah kerja di oriflame. Walaupun

Apa yang ingin Anda capai dalam waktu kedepan? Di oriflame ini pekerjaannya agak beda, kita melakukan hal yang sama berulang ulang, misalkan kalau di kantor, kita bisa naik jabatan dengan pekerjaan yang berbeda, tapi di oriflame yang penting kita bisa mencetak leader maka kita naik tingkat, jadi kalau kita pergi sebelum waktunya itu sayang banget karena masih ada lagi jenjang yang lebih menarik. Itu sebabnya saya ingin menciptakan lebih banyak leader lagi. Tidak tertarik terjun di bisnis konvensional lagi? Dengan penghasilan yang saya peroleh di oriflame saat ini, menjadikan saya punya impian untuk memiliki sesuatu, misalnya saya ingin punya bisnis cafe, tempatnya sudah ada, tapi soal ide belum bisa saya ungkap sekarang, intinya sih, ini bisnis franchise, mudah-mudahan bisa berkembang dan nantinya bisa buka di Bali.

Vol. 33 | September - Oktober 2012

65


Front of Mind

Front of Mind

TONY FERNANDES Icon Cheap Flights In Asia

S

aat ini tidak ada lagi istilah mahal di dunia penerbangan. Selama beberapa dekade yang lalu dunia penerbangan hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang kaya saja. Di saat era sebelum reformasi mungkin hanya pejabat dan bussinesman serta orangorang berkantong tebal yang bisa bepergian dengan pesawat terbang. Tapi kini orang dengan ekonomi paspasan bisa menikmati sensasi terbang bersama burung besi raksasa. Ya, seiring terus membaiknya kondisi perekonomian bangsa belakangan ini maka makin bertambah subur bisnis penerbangan dengan low budget. Kini hanya dengan merogoh kocek 190ribu Anda yang tinggal di Jakarta bisa duduk manis terbang ke Bali atau dengan budget hanya 460ribu Anda yang tinggal di Bali sudah bisa jalan-jalan shoping ke Singapore. Its very easy. AirAsia sudah menangkap dengan baik prospek bisnis penerbangan low budget seperti diatas. Melalui tangan dingin sang pendiri sekaligus CEO AirAsia Group Anthony Francis Fernandes, maskapai penerbangan yang sudah empat kali berturut-turut mendapat award World’s Best Low-Cost Airline ini makin mengembangkan sayap ekspansi bisnisnya meluas ke berbagai belahan dunia. Kesuksesan pria kelahiran Malaysia 30 April 1964 ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Setelah menempuh pendidikan di London Inggris, pada masa mudanya Tony Fernandes sempat menggeluti dunia musik untuk waktu yang cukup lama. Sempat menduduki kursi direktur manager termuda di Warner Music adalah kesuksesan yang tidak bisa didapatkan sembarang orang. Bahkan pria lulusan London School of Economics pada tahun1987 ini pernah menjadi wakil presiden Warner Music Group wilayah Asia Tenggara. Kejenuhan menghinggapinya saat ia

66

Vol. 33 | September - Oktober 2012

tak lagi nyaman didunia musik karena perusahaan tempatnya bekerja merger dengan America Online. Saat jeda inilah impian besarnya saat kecil dulu untuk bisa mewujudkan penerbangan yang murah untuk semua orang kembali bergejolak. Tony Fernandes muda yang pernah mengenyam pendidikan di London saat itu merasa berat sekali pulang kampung ke negerinya di Malaysia saat liburan karena harga tiket pesawat yang mahal. Kini obsesi yang tertunda ingin diwujudkannya. Langkah awal ia mulai dengan mengakuisisi AirAsia, sebuah maskapai penerbangan Malaysia yang berada di jurang kebangkrutan pada akhir tahun 2001. Saat itu Perdana Menteri Mahathir Mohamad menjual AirAsia hanya 1 ringgit asalkan Tony Fernandes bisa memulihkan maskapai ini dari keterpurukan. Tentu saja ini bukan pekerjaan mudah. Belajar dari maskapai Skytrain yang bisa menerbangkan penumpang dari Inggris ke benua Amerika dengan harga hemat hampir 50%, Tony Fernandes melakukan pemangkasan operasional yang tak begitu penting untuk menurunkan biaya angkut, seperti tak adanya snack, hiburan dan tidak ada kelas bisnis di pesawat, alias semua penumpang mendapat perlakukan yang sama. Saat awal ia memimpin maskapai yang hanya mewariskan 2 buah pesawat Boeing 737-300 edisi lawas, ia mencari bandara yang bisa disewa dengan harga murah. Selanjutnya Tony Fernandes memilih rute penerbangan yang jarak tempuhnya pendek sehingga tak perlu menginapkan crew di hotel sehingga pramugari maupun pilot bisa berangkat pagi, pulang malam. Jadi tidak perlu menyiapkan crew tambahan. Kini berkat kecanggihan teknologi, orang tidak memerlukan kertas tiket ataupun sewa counter, karena semua itu bisa dilakukan dengan

menggunakan sistem pembayaran online. Dengan berbagai penghematan itu berhasil membuat Air Asia menjadi maskapai dengan harga tiket murah meriah. Tony Fernandes adalah sosok dengan insting bisnis yang mumpuni. Ia selalu melihat sisi lain dari perekonomian yang terjadi. Tony memiliki hipotesa kuat bahwa orangorang di Asia semakin hari cenderung untuk melakukan penghematan. Sisi inilah yang bisa dieksplorasi dan dijadikan ceruk keuntungan bagi maskapai penerbangannya. Ia pun meyakinkan staf dan dirinya sendiri, bahwa dengan menurunkan ongkos terbang 50 persen lebih rendah dari para pesaingnya akan memberi dampak yang besar bagi kinerja perusahaan. Gaya kepemimpinan Tony Fernandes yang langsung terjun kelapangan juga mengundang decak kagum bagi karyawannya. Satu hal yang pernah dikatakannya adalah “Jika Anda duduk di menara gading dan hanya melihat laporan keuangan, Anda telah melakukan kesalahan besar”. Ia juga sangat memperhatikan berbagai kendala dan kesulitan yang menghinggapi para awak kabin dan crew pesawat lainnya. Bagi Tony Fernandes, karyawan adalah yang utama, kemudian nomor dua konsumen. Karena jika ia memiliki pekerja yang bahagia mereka akan menjaga konsumen dengan setia. Sebuah filosofi yang sarat makna bagi sebuah perusahaan penyedia layanan jasa. Kini AirAsia tengah menuju tangga kesuksesannya dengan melayani 8 juta penumpang di 42 kota di Indonesia dan 12 destinasi internasional lainnya. Sekarang dengan bergabungnya Batavia Air setelah diakuisisi oleh AirAsia maka secara otomatis akan menambah jumlah armada AirAsia. Setelah akuisisi ini, jumlah saluran distribusi perjalanan akan meningkat sepuluh kali lipat. Sungguh luar biasa. Berita terbarunya AirAsia akan menjadi operator pertama Airbus A320 di dunia yang menggunakan teknologi Sharklets, yang membuat pesawat mampu menghemat bahan bakar dengan wing tipnya dan lebih ramah lingkungan dengan mengurangi sampai 1.000 ton Carbon Dioxida per pesawat. Pesawat dengan teknologi ini akan mulai digunakan oleh AirAsia pada bulan Desember 2012. Lengkap sudah mimpi masa kecil dari seorang revolusioner penerbangan di Asia ini dengan maskapai penerbangan AirAsia-nya yang memiliki slogan ‘Everyone can fly’ ke tangga prestasi puncak selama lebih dari satu dekade ini.

Vol. 33 | September - Oktober 2012

67


Growth Strategies

Growth Strategies

I Made Wenten B.

Kabid Support & Operation BPR Lestari

kompetisi-kompetisi. Tidak ada kompetisi, tidak ada prestasi. Begitu kata beliau. Petuah Mr. Tung begini :

Achievement Through Competition

J

aman dulu sewaktu saya SD, ada masa dimana hampir tiap minggu di Banjar ada kegiatan gotong-royong. Gotong-royongnya lebih serius dari gotong royong yang selama ini dilakukan di perumahan saya sekarang. Kalau gotong royong sekarang dilakukan setiap bulan sekali. Peserta yang datang paling banyak sepertiga dari jumlah rumah yang ada. Peralatan yang dibawa: sapu, sabit dan sekop untuk mungutin sampah yang telah kita sapu. Gotong royong jaman dulu beda. Bukan hanya sapu, sabit sama sekop yang kita bawa. Kita juga bawa tanaman untuk ditanam di tempat publik. Kata Pak Klian biar lebih hijau, biar lebih indah dan warnawarni. Bukan hanya itu, di waktu 68

Vol. 33 | September - Oktober 2012

tertentu kita diminta membawa kuas dan cat. Ternyata Pak Klian minta kita untuk memperbaiki tampilan Balai Banjar, agar terlihat lebih ceria. Gotong royong pada waktu itu serius sekali, kalau sekarang ala kadarnya. Kenapa begitu berbeda antara gotong royong dulu dengan sekarang? Apa karena masyarakat dulu lebih sadar kebersihan, atau karena masyarakat dulu lebih banyak waktu? Sepertinya tidak, karena orang jaman sekarang juga banyak waktu. Buktinya di Renon banyak orang jogging, di pantai Mertasari orang ramai membawa kamera untuk memotret kupu-kupu atau serangga, buktinya Bedugul selalu ramai oleh orang yang sepeda downhill

dan motorcross, buktinya KFC selalu ramai dengan mereka yang nebeng wi-fi gratis. Apa karena jaman dulu habis gotong royong ada acara hiburan atau doorprize? Pasti tidak karena hiburan, jaman dulu hiburannya paling layar tancap. Dan katanya, ada pantangan untuk muter film layar tancap siang hari. Jadi tidak mungkin karena faktor hiburan. Perbedaannya adalah, kalau dulu kita gotong royong dalam rangka lomba kebersihan, maka sekarang dalam rangka melanjutkan tradisi. Tingkat keseriusannya beda sekali. Dulu gotong royongnya sangat serius. Saking seriusnya, kita mengikhlas-kan pot yang nangkring di teras untuk dipromosikan (baca pindah tugas) ke balai banjar.

Efek lomba (kompetisi) ternyata sangat luar biasa terhadap tingkat keseriusan kita melakukan sesuatu. Kompetisi menyangkut harga diri. Orang akan berusaha serius agar mendapatkan posisi yang terhormat yaitu menang, dan juga orang berusaha serius agar tidak mendapatkan posisi di bawah. Lepas dari masalah menang atau kalah, banjar yang ikut sebagai peserta lomba kebersihan selalu lebih bersih dan rapi daripada banjar yang tidak ikut lomba. Pelajaran moralnya ada disini. Kompetisi akan membuat orang mengembangkan dan memperbaiki diri. Lomba kebersihan banjar ini mirip seperti yang dilakukan Pak Pri (Dirut BPR Lestari) dan Bu Cita (HRD Manager BPR Lestari). Mereka tiap bulan di acara sales meeting mengumumkan marketing of the month. Dan juga marketing dengan perfomance paling buncit. Sales terbaik dapet pin bintang, yang paling buncit dapat pin kurakura.

Ada iklim kompetisi disini, ada rasa bangga bagi mereka yang mendapatkan pin bintang. Ada rasa jengah, bagi mereka yang mendapatkan pin kura-kura. Ada cita-cita dari para marketing yang lain “semoga bulan depan saya yang dapet pin bintang”. Ada tekad bagi si penerima pin kura-kura “I will do everything demi melepaskan pin kura-kura di bulan depan”. Apapun pikiran mereka, semua bertekad untuk melakukan yang lebih baik. Pak Pri dan Bu Cita telah sukses membuat kompetisi sederhana, yang membangun motivasi tim. Beliau berdua, melalui kompetisi sederhana sukses membangun budaya mengembangkan diri dan budaya bersemangat juang tinggi. Bicara kompetisi, jadi teringat materi seminar dari Tung Desem yang materinya tentang Game of Work. Beliau mengatakan, untuk membangun suasana organisasi tetap semangat dan ceria, bikinlah permainan-permainan. Bikinlah

• Bikinlah kompetisi atau permainan. • Permainannya harus menantang, artinya gak mudah-mudah bangetlah. • Bikin aturan main yang jelas dan umumkan kepada semua tim. • Bikin papan score untuk mengumumkan pencapaian. • Bikin acara pada saat pengumuman pemenang. • Berikan hadiah kecil kepada pemenang. Maksudnya, walaupun ukuran kecil namun nilainya besar. Jangan kebalikannya. Bayangkan Anda mendapatkan hadiah yang besar tapi nilainya kecil seperti kasur busa. Nggak keren kan? Malah tidak ingin menang kan jadinya. Tambahan pesan dari Mr. Tung, permainan yang dibuat harus ada hubungannya dengan pekerjaan dan tugas dari masing-masing bagian. Jangan sampai membuat kompetisi yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Misalnya, di bank tiap bulan ada kompetisi tari poco-poco. Yang ada bukannya meningkatkan prestasi kerja, malah mengganggu pekerjaan. Jangan-jangan nanti karyawan malah ribut gara-gara tari poco-poco. So, selamat bikin game di kantor saudara-saudara. Dan sekadar info, saya juga lagi bikin untuk bagian driver dan security. Hasilnya saya laporkan nanti. bye Vol. 33 | September - Oktober 2012

69


Galleri

Galleri

Lambretta

B

ulan November mendatang, PT Megah Putra Sejahtera (MPS) bersiap mendatangkan Lambretta, sebuah merek legendaris asal Italia yang terkenal dengan skuter-skuter unik yang selama ini kerap bersaing dengan Vespa. Brand ini di Indonesia memang tidak setenar Vespa, namun sejatinya sudah eskis sejak tahun 1947, namun absen di dunia industri sepeda motor sejak 40 tahun terakhir. Pabrik Lambretta di India bahkan ditutup pada 1997 silam. Namun pada 2010 dua perusahaan, Lambretta Scooter Ltd dan Scooter Asia (TBS), bersinergi membentuk perusahaan patungan baru bernama Fine White Line Ltd. Namun demikian, fanatisme Lambretta di Indonesia hampir sama dengan Vespa, dimana model-modelnya menjadi buruan para kolektor. Harganya pun mencapai ratusan juta untuk Lambretta lawas orisinil dalam keadaan terawat. Skuter Lambretta akan resmi dijual

70

Vol. 33 | September - Oktober 2012

di Indonesia oleh MPS, berbarengan dengan launching sepeda motor asal Inggris, Triumph. Ada beberapa model yang ditawarkan, di antaranya Lambretta LN 150 dan 125, LT 50, serta LJ 50. Model terakhir masih belum ada gambaran, karena baru start produksi di Taiwan. tersedia 5 pilihan warna untuk tipe LN, yaitu Milk Cyan (biru muda), Milk Yellow (kuning muda), Milk Red (merah), Milk Coral (Jingga) dan Cream Green (hijau tua). Untuk LN125 dibekali mesin 4-tak, satu silinder kapasitas 124,6 cc. Mesin bergaransi EURO 3 berbahan bakar bensin RON 95, mampu menghasilkan tenaga 6,5 Kw pada 8.000 rpm dan torsi 8,33 Nm pada 6.500rpm. Sedangkan model LN151 yang memasang mesin 151cc mampu mencapai tenaga 7,7 Kw pada 7.500rpm dan torsi 10,8 Nm pada 6.000rpm. Keduanya berdimensi panjang 193 cm, lebar 53 cm. Vol. 33 | September - Oktober 2012

71


Notes from a Friend Alex P. Chandra

Notes from a Friend “Success is never a destination. Success is a journey. And the road to success is always under construction”, demikan my favourite quote from Toni Robbins.

Publisher of Money & I Magazine

Apakah saya berbahagia? Sekali lagi, is it about money? Saya tidak begitu mengerti mengenai subyek happiness. Harus bertanya sama pak Joger yang salah satu filosofinya adalah happiness oriented. Tapi yang saya tahu, it is not only about money. “Money can’t bring happiness, but it’s more comfortable to cry in a BMW”, demikian quote yang saya terima di BBM saya dari seorang teman. Hmm, cukup cocoklah menerangkan relationship antara money dan happiness. Sungguh saya tidak begitu memahami subject happiness itu. Tapi bolehlah saya ceritakan bahwa saya happy ketika bisnis BPR Lestari mencapai 100 Miliar. Tapi setelah itu saya berkata “kalau mencapai 500 Miliar, tentunya lebih enak”. Dan setelah akhirnya tercapai assetnya BPR Lestari 500 Miliar, saya bilang “Kalau 1 Triliun, baru enak nih kerja”. Demikian ketika assetnya mencapai 1 Triliun tahun lalu, saya senang sebentar, dan kemudian secepatnya menyusun rencana kerja yang baru lagi.

Is It About

Money?

“N

ama saya Alex P Chandra, usia 43 tahun, lahir 26 September”, demikian saya sampaikan sebagai kalimat pembuka acara ‘Penyesatan ke Jalan yang Benar’ di depan keluarga besar Joger. Acara ini diselenggarakan sebagai bagian dari ulang tahunnya ibu Joger yang cantik itu. Kebetulan hari kelahiran ibu Joger bersamaan dengan hari lahirnya saya. Armand, putra pak Joger meminta saya untuk memberikan ‘Penyesatan ke Jalan yang Benar’ bagi keluarga besar Joger yang tengah berbahagia merayakan ultah ibu Joger. Notes yang saya siapkan untuk saya sampaikan kepada keluarga besar Joger hari itu lebih merupakan refleksi yang saya lakukan di pagi harinya.

Beberapa pertanyaan yang pop up di kepala saya in the morning I wake up adalah : Apakah saya sukses? Apakah saya sudah berbahagia? Apakah saya bermanfaat? Dan apakah citacita saya sudah tercapai? And here is my note. I am successful? How do we measure success? Is it about money? Saya punya lebih banyak uang dibandingkan 5 tahun yang lalu. Apakah itu berarti saya sukses?

72

Vol. 33 | September - Oktober 2012

Jadi, saya harus setuju dengan pendapat teman saya tadi. Money it self can’t bring happiness. Menurut saya, tentu saja success is about money. Tapi tentunya bukan berapa banyaknya uang yang berhasil kita kumpulkan. Kalau itu saja, buat apa? Toh hanya deretan angka yang tertera di buku tabungan kita, atau di bilyet deposito. It is just a number. Money represent value. Represent power. What money capable of, that is matter. Value dan kekuatan yang dibawa oleh uanglah yang menjadikan perubahan. Karenanya kita tidak bisa mengukur sukses hanya dari berapa banyak uang yang berhasil kita kumpulkan, melainkan apa yang telah kita gunakan dengan uang tersebut dan menjadikannya berbeda. Uang harus digunakan untuk membuat perubahan. To make an impact. Semakin banyak uang yang berhasil kita kumpulkan, semakin besar kekuatan kita untuk melakukan perubahan, to impact your world. Sukses tidak bisa hanya didefinisikan dengan berapa banyak uang yang berhasil kita kumpulkan. Sukses adalah seberapa besar hidup kita memberikan perubahan.

Tapi ada beberapa ‘kebahagiaan’ yang pernah saya rasakan. Ketika orang-orang yang ‘ikut’ saya di perusahaan saya, tumbuh dan sejahtera. Beberapa sudah ‘kaya’ dan beberapa on the right track menjadi kaya. Hidupnya menjadi model bagi keluarganya. Sebagian terbesar belum kaya, but on the right track. Menjadi kebahagiaan saya yang tak terhingga ketika mereka mengatakan bahwa perusahaan yang saya pimpin, model kepemimpinan yang diterapkan di Lestari, berperan dalam sukses karir mereka. Ketika, ada orang yang hidupnya berubah karena membaca tulisan-tulisan saya. Ketika saya bisa memberi uang parkir lebih. It always brings me tears, ketika mengingat seorang ibu tukang parkir di depan warung dimana saya suka makan, mendoakan saya karena saya memberinya uang parkir berlebih. “Semoga bapak sehat dan semakin sukses,” demikian katanya. Bukan karena didoakan saya menangis, melainkan karena kayaknya hidup saya menjadi manfaat (walaupun sedikit) buat si ibu. Ketika anak-anak saya tumbuh menjadi anak yang cerdas, sehat dan murah hati. Semoga mereka akan bisa menjadi manfaat buat lingkungannya kelak. Jadi, kesimpulan saya, it is not only about money. Kalau saya mencapai satu stage dalam karir saya, I fell proud, not happy.

”It is never a destination. It is a journey. And the road is always under construction”. Toni Robbins Happiness datang lebih sering ketika saya merasakan bahwa hidup saya memberikan manfaat, walau sekecil apapun. Uang hanyalah berfungsi sebagai amplifier. Kalau kita seorang yang bahagia, uang akan membuat kebahagiaan kita lipat dua atau lipat tiga. Kalau pada dasarnya kita adalah orang yang insecure, uang akan menambah kekhawatiran kita. Kalau kita adalah orang yang serakah, uang akan melipat gandakan keserakahan kita. Money itself is never the answer to happiness. Kalau begitu, apakah hidup saya sudah memberikan manfaat? Saya tidak tahu. Harus orang lain yang menilainya. Perusahaan saya adalah tempat saya berkarya. Mudahmudahan saya memberikan manfaat minimal kepada keluarga terdekat saya, dan kepada orang-orang yang ‘ikut’ perusahaan saya. Tujuan saya agar mereka yang ‘ikut’ saya bisa menjadi model yang baik bagi keluarganya masing-masing. Lebih baik lagi jika mereka kelak bisa menjadi agent of change yang cukup powerful buat lingkungannya masing-masing. Kemarin saya ‘dipanggil’ oleh Pak Menteri Jero Wacik. Cukup mengagetkan, karena saya tidak ada hubungan apapun dengan pak Menteri. Beliau ternyata terkesan dengan salah satu tulisan saya, dan merasa perlu bertemu dengan ‘penulisnya’. Sehabis pertemuan dengan pak Menteri, teman-teman saya bertanya, apakah saya akan bergabung dengan Partai Demokrat? Saya jawab, bahwa saya lebih bisa menjalankan perusahaan daripada berpolitik. Biarlah saya bermanfaat melalui perusahaan saya, partai Lestari Berdikari :) Apakah cita-cita saya sudah tercapai? Waktu kuliah dulu, citacita saya adalah bergaji 30 juta sebulan. Kalau hitungannya seperti itu, apa yang saya cita-citakan sudah tercapai. Tapi sekarang saya punya cita-cita yang lain. Seperti Toni Robbins katakan ,”It is never a destination. It is a journey. And the road is always under construction”. Vol. 33 | September - Oktober 2012

73


Inspire

Trotoar Roller Coaster

R

oller Coaster diwahana bermain kerap kali menjadi adu nyali bagi pengunjung. Keberanian bermanuver di udara dengan ketinggian mencapai ratusan kaki dari tanah jelas dibutuhkan mental baja. Namun jika Anda termasuk salah satu yang ciut dengan permainan ini, maka alternatif lain yang mungkin bisa menjadi opsi adalah trotoar yang didesain selayaknya Roller Coaster. Yup, Jerman punya jalur pejalan kaki yang melingkar layaknya sebuah roller coaster. Terletak di Duisburg, jalur pejalan kaki ini sangat tidak biasa. Track nya mirip dengan roller coaster, tapi bedanya Anda berjalan kaki di sini. Cepat atau lambatnya, ya tergantung dengan bagaimana Anda melangkah. Ide unik ini dirancang oleh duo desainer ternama di Hamburg, Heike Mutter dan Ulrich Genth. Mereka menyebut jalur untuk pejalan kaki ini sebagai Tiger & Turtle-Magic Mountain. Jalur yang lebih mirip pada jembatan penyeberangan ini memiliki tinggi sekitar 45 meter dan terdiri atas 249 langkah dan disanggah dengan 17 tiang. Untuk mencegah terjadinya kecelakaan, maka jalur ini dijaga oleh petugas yang mengatur. Saat malam hari jembatan yang dibuat dari 120 ton baja ini dihiasi dengan lampu LED yang mempercantik penampilannya. 74

Vol. 33 | September - Oktober 2012

Vol. 33 | September - Oktober 2012

75


76

Vol. 33 | September - Oktober 2012


M&I Vol 33 Sept-Oct 2012