Page 1

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012

Menparekraf Mari Elka Pangestu bersama murid-murid SD di Maumere, Flores.Mereka mengenakan seragam dari kain tenun ikat.

Menyongsong Fajar Pariwisata

P

atut diberikan salut pada masyarakat di Maumere, Kabupaten Sikka, Pulau Flores di NTT (Nusa Tenggara Timur). Inisiatif masyarakat dan ‘bergotong royong’, menyelenggarakan Pekan Pesona Flores selama empat hari: tanggal 18–21 Februari 2012. Tema utamanya, sama dengan suasana yang diciptakan, terdengar menyejukkan: Maumere in Love. Menparekraf Mari Elka Pangestu lalu menambahkan semangat bagi masyarakat setempat untuk memajukan pariwisata dan industri ­kreatif. Menteri datang, meresmikan pembukaan festival, melakukan dialog dengan masyarakat, dan satu dialog khusus dengan para stakeholders pariwisata. Pesan-pesan dari peristiwa ini pun terasa berlaku untuk daerah-daerah lain yang sedang ingin mengembangkan pariwisata.

ISI NOMOR INI

4 7

Para Konsul Kehormatan juga Berperan Tur Lompat Pulau di NTT

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012

Daerah 10 Kesempatan ke Floriade, Belanda dari Kosongnya Acara Tur 14 Bermula

dari Pengembangan 18 Peluang Angkutan Udara Bisnis dari Masyarakat 27 Pendekatan

www.newsletter-pariwisataindonesia.com


Utama

Menteri Mari Elka Pangestu berdialog terbuka dengan para stakeholders pariwisata Flores.

Dari unsur-unsur seni budaya, tiap kabupaten sedaratan Pulau Flores ikut serta mengisi kegiatan Pekan Pesona Flores itu. Acaranya ramai. Mulai dari parade budaya Flores, demo dan penyuluhan origami, fotografi dan film pendek, acara kebangun足an rohani Katolik, Festival 足Etnik Flores, Expo Produk Unggulan Flores, Penanggung jawab : Sapta Nirwandar Penerbit/Pemimpin Redaksi : Arifin Hutabarat Dewan Redaksi : Sadar Pakarti Budi Faried Moertolo T. Burhanuddin Wisnu B. Sulaeman Reporter : Benito Lopulalan Alamat : Direktorat Jenderal Pemasaran Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jl. Medan Merdeka Barat No.17 Lantai 3 Jakarta 10110 Telp : 021 383 8220 Fax : 021 380 8612, Email : jurnal@indonesia.travel www.newsletter-pariwisataindonesia.com

Jika Anda mempunyai informasi dan pendapat untuk Newsletter ini, silakan kirim ke alamat tersebut di atas.

2

demo dan penyuluhan membuat boneka dari kulit jagung, pertunjukan band lokal, fashion show, sampai demo, penyuluhan dan lomba mewarnai, serta festival ikan bakar. Ketika berdialog dengan Menteri Mari Elka Pangestu, para unsur pariwisata dari pemerintah kabupaten, DPRD, unsur industri pariwisata dan masyarakat, memperlihatkan semangat ingin mempercepat pembangunan dan pengembangan pariwisata serta industri kreatif setempat. Menteri pun mengajak, agar masingmasing membuatkan rencana kegiatan yang kongkrit. Kata Menteri, dengan rencana disusun dan dilaksanakan, kita bisa memproyeksikan dan melaksanakan bagaimana pariwisata di pulau ini maju dalam praktik dan berkembang pada tiga atau empat tahun sedari sekarang. Siapa yang berinisiatif menyelenggarakan kegiatan Pekan Pesona itu? Keuskupan Maumere, bekerjasama dengan Yayasan di masyarakat, dan beberapa komunitas dan organisasi kepemudaan, merancang dan mengelola pelaksanaan even tersebut. Upaya swadaya ini mendapat perhatian dan dukungan dari berbagai sponsor, termasuk mulai dari Bank BNI, sampai perusahaan-perusahaan swasta dan stasiun radio. Sekitar 12 sponsor dan pendukung telah berhasil mensukseskan Pekan Pesona Flores. Menparekraf Mari Elka Pangestu menyatakan penghargaannya atas inisiatif dan upaya-upaya yang dilaksanakan oleh

masyarakat di Maumere itu. Menteri meyakinkan, kegiatan even tersebut akan berpotensi besar untuk mendorong memajukan pariwisata di Flores, dan, memajukan industri kreatif. Menteri mengingatkan betapa masya足 rakat di pulau ini memiliki sumber daya alam, budaya, dan sumber-sumber ekonomi kreatif yang perlu dibangun dan dikembangkan lebih lanjut. Dipuji oleh Menteri kenyataan di mana

kegiatan tradisional masyarakat di Sikka, kemahiran menenun ikat, seni tari dan budaya lokal, diajarkan untuk diteruskan memeliharanya, pada generasi muda.

Orang muda

Proses regenerasi menurunkan kepada orang muda kegiatan-kegiatan tradisional di Flores tampaknya sedang berlangsung baik. Aktivitas di even Maumere in Love mencerminkan suasana itu. Yang diper-

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012


Utama

Menteri menyaksikan tradisi menenun ikat yang diwariskan pada generasi muda, sehingga pemuda-pemudi pun meneruskannya.

lukan selanjutnya ialah konsistensi. Di satu peragaan, gadis dan ibu-ibu muda tampak mendemonstrasikan kebolehan mereka mengerjakan tenun ikat. Ada yang memproses pemilahan dan pembelahan kapas, untuk kemudian pindah ke kelompok yang memintal kapas menjadi benang, dari situ benang pindah ke kelompok yang menenun, semuanya dikerjakan dengan tangan dan peralatan tradisional.

performing art, itu merupakan magnit di dunia pariwisata yang menarik wisatawan untuk berdecak kagum menyaksikan. Menikmati dan mengapresiasi. Suasana ‘roh pariwisata’ sedemikian telah berlaku di Pulau Bali selama ini. Menparekraf berkunjung ke Kupang ibukota Provinsi NTT dan Maumere ibukota Kabupaten Sikka, didampingi oleh Dirjen Pengembangan Destinasi, ­Firmansyah Rahim.

Pada parade pakaian tardisional, pertunjukan tari dan seni musik tradisional, dari setiap kabupaten Pulau Flores, juga ditampilkan hampir seluruhnya oleh lakidan perempuan usia muda. Parade seni budaya tradisional diikuti oleh sekitar 600 orang, terlihat antara lain melalui foto-foto di atas ini. Ketika kekayaan seni budaya turun temurun tetap hidup sebagai bagian dari the living culture, yang disajikan secara hidup pula seperti

Seperti diceritakan oleh Uskup Mau­ mere ketika berpidato, orang-orang tua masih ingat bahwa hasil kebun kelapa paling diandalkan di Maumere, sehingga disebut sebagai Kabupaten Nyiur Me­ lambai. Dulu ada Koperasi Kopra, tapi akhir­akhir ini kelapa ditinggalkan karena harga­ nya melorot. Namun banyak hal menarik bila berkunjung, seperti ­mengunjungi sentra tenun ikat Sikka. Tenun ikat meru-

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012

pakan sumber kehidupan, mata ­pencarian ibu-ibu. Even yang pertama kali ini, katanya, merupakan rangkaian kegiatan dari ide kreatif kaum muda Kabupaten Sikka dalam upaya meningkatkan potensi pariwisata dan ekonomi kreatif. Dukungan gereja terhadap pemuda agar mengembangkan pariwisata Flores cukup besar. Yang menjadi daya tarik antara lain wisata religi, makanan tradisional, dan kerajinan gerabah. Ada kain tenun yang beraneka ragam yang sesungguhnya digunakan dalam kehidupan seharihari. Secara geografis pemandangan alam ikut memperkuat daya tariknya. Diharapkannya tidak akan mengalami alih fungsi tanahtanah sawah, dan keramah­ tamahan, pariwisata Flores semakin dikenal, berbudaya, dan ramah lingkungan. Akan halnya kerja para pemuda melaksanakan even tersebut, dikatakannya, mereka membutuhkan kepercayaan bahwa ­mereka mampu, biar masih muda kalau dipercaya akan terlaksana dengan bantuan doa.

Apa kata Menteri ?

Kita jelas membantu ekonomi ­kreatif, kata Menteri. Menteri sebelumnya pada Desember lalu telah berkunjung, tapi sampai Kupang saja waktu itu. Men-

3


Utama parekraf berperan koordinator pada koridor 5 ­untuk pariwisata dalam program MP3EI (­Masterplan Pengembangan dan Percepat­an Pembangunan Ekonomi ­Indonesia). ­Dalam konteks itulah perhatian ­diberikan. “Potensi wisata di sini jelas, ada ikon Komodo, Danau Kalimutu, itu dua ikon yang sebetulnya sudah dikenal di luar,” ujar Menteri. Kita menginginkan wisatawan tidak hanya melihat Komodo saja, tapi juga mau tinggal lebih lama. Maka itu penting untuk mengembangkan obyek wisata yang lain maupun aspek ­budayanya, selain aspek industri kreatifnya. Menteri pun mengatakan, itu dimulai dari melangkah untuk mempunyai kelom­ pok pemberdayaan lokal. Di Maumere rupa­nya sudah ada delapan tempat yang sudah diidentifikasi apa yang perlu dilakukan. Yang pertama, aksesibilitas, dan

prasarana fisik. Yang ke dua, sarana pariwisata, termasuk akomodasi tempat tinggal. Telah ada cruisship berkunjung ke Larantuka, tapi tidak tersedia memadai bis untuk transportasi wisman. Mungkin kita harus

dapat memilih tempat untuk kita dukung perkembangannya secara terpadu. Maka di sini mencoba melibatkan komunitas setempat untuk mendukung perkembangan pariwisata. Lebih penting lagi, efek pariwisata yang

Diplomasi Pariwisata

Para Konsul Kehormatan juga Berperan

D

iplomasi pariwisata Indonesia semakin meluas, dan, me­nguat. Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) mengadakan rapat ko­ ordinasi di Jakarta tanggal 21–23 Februari 2012 dengan mendatangkan para Konsul Kehormatan RI (Honorary Consuls). Dari jumlah 63 Konsul Kehormatan RI yang tersebar di berbagai penjuru dunia, sebanyak 31 di antara mereka berkunjung ke Kemenparekraf. Para konsul kehormat­ an diterima oleh Wamenparekraf bersama pimpinan Kementerian di Balairung Soesilo Soedarman, Kemenparekraf Jakarta.

Siang itu Rabu, 22 Februari, ternyata dua jam pertemuan dengan dialog, terasa hampir tak cukup. Para Konsul menunjukkan minat dan keingintahuan yang kuat, bertanya dan ada yang memberi ­masukan, setelah Wamenparekraf ­Sapta Nirwandar menguraikan informasi ­mutakhir pariwisata Indonesia. Wamen didampingi Dirjen Pengembangan Destinasi ­Firmansyah Rahim. Dari up dating informasi tentang kemajuan dan target-target pengembangan pariwisata Indonesia dewasa ini, para Konsul memperlihatkan keinginan memberi peran Konsul bertanya dan menyimak.

4

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012


Utama Parade Maumere in Love.

mampu menciptakan lapangan kerja bagi pemuda. “Untuk itu kami mendukung acara yang dilakukan oleh para pemuda di sini, karena targetnya bagaimana kerajinan (tangan) dapat memberikan lapangan

kerja yang layak, termasuk bagaimana ­mereka dapat berwirausaha.” Berbicara mengenai koordinasi pusat, daerah dan antardaerah untuk meningkatkan pariwisata, menurut Menteri, kita sudah menempuhnya melalui tiga meka-

Wamenparekraf (kiri) dan para Konsul berbincang sejenak.

dalam mempromosikan dan mengundang wisatawan dari kawasan masing-masing untuk berkunjung ke ­Indonesia. Mereka pun disediakan berbagai materi promosi pariwisata untuk dibawa pulang. Peran para Konsul Kehormatan lazim memperkuat dan memperluas daya jangkau kantor-kantor Kedutaan Besar RI (KBRI) dan Konsulat Jenderal RI (KJRI), mengingat Konsul Kehormatan diangkat dan dipilih pada kota-kota di luar lokasi di mana berada KBRI dan KJRI. Lagi pula, individu para Konsul ­terdiri dari orang-orang dari berbagai profesi, mulai dari pengusaha sampai lawyer. Lokasi Konsul Kehormatan RI terletak di semua benua. Sebutlah Equador, Belgia, Zambia, India, Nepal, Portugis, Italia, ­Afrika Selatan dan lain-lain. Indonesia nomor tiga (tadinya) dan sekarang nomor empat di dunia, dalam persaingan sebagai destinasi value for money,

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012

kata Wamenparekraf Sapta ­Nirwandar. Kebanyakan mereka mengharapkan adanya direct flight ke Indonesia, dan ­Wamenparekraf menunjukkan capaian­capaian jumlah wisman sejalan tersedianya penerbangan direct dan indirect ke Indonesia yang dilayani oleh berbagai maskapai penerbangan. Demikian pula umumnya mengusulkan perlunya materi promosi pariwisata dalam bahasa masing-masing Negara dari para Konsul tersebut. Adalah Ian Anthony, yang ikut hadir, dia sendiri berprofesi lawyer di negerinya, sudah sepuluh tahun menjabat Konsul ­Kehormatan RI di Republik Trinidad dan Tobago. Dia sudah empat kali ke Indonesia. Terbang dari mana? “Saya selalu terbang langsung ke Australia dulu. Dari Australia lanjut ke Bali,” kata dia. Sampai di situ ceritanya tentang kunjungan ke Bali saja. Setelah Kemenlu mem-

nisme utama. Yaitu melalui MP3EI, yang terkordinasi dalam koridor di mana kita sudah menggali beberapa prioritas, misal­ nya bandara Labuan Bajo harus lebih panjang landasannya. Nanti kita lihat prioritas yang lain terkait aksesibilitas.

bawa para konsul ini kali ini bertemu dan berdialog dengan Kemenparekraf, menurut Konsul Ian Anthony, dia akan welcome jika dikirimi informasi lebih banyak lagi. Lebih banyak destinasi di Indonesia, dengan mengakui Bali sebagai yang ­utama. Dia mulai sekarang akan mempromosikan Indonesia pada setiap kesem­patan, di samping dia sendiri sewaktu-waktu berlibur sebagai wisman ke Indonesia. Paket wisata dari negerinya sudah jelas : kombinasi ke Australia dengan ke Indonesia. Dewasa ini kerja sama sinergis Kemenparekraf dengan berbagai KBRI dan KJRI sudah berkembang cukup pesat. Industri pariwisata di Indonesia pun bolehlah men-supply informasi tentang paket-paket wisata pada para Konsul Kehormatan RI yang tersebar di lima benua itu. n

5


Utama Yang ketiga, Destination Management atau disebut juga perencanaan terpadu di masing-masing delapan kabupaten di Flores. Lalu, kerja sama antara pemerintah daerah, komunitas dan industri harus ada. Kordinasi pemerintah provinsi dan daerah kabupaten kota, kami harap lebih baik, sinkron terutama untuk mengelola destinasi yang prioritas.”

Maumere in Love

Mengenai Pekan Pesona Flores itu sen­ diri, menurut Menteri, merupakan bentuk apresiasi terhadap kebudayaan Flores, yang mempunyai kekayaan alam luar ­biasa, termasuk agro, seperti kelapa, kopi, kakao, maupun kekayaan kain tenun ikat dengan corak yang beragam yang mewa­ kili kebudayaan yang hidup di Flores. Itu ditambah lagi kerajinan tangan lainnya. Kekayaan sejarah Gereja Portugis merupakan kekayaaan tersendiri. Bagaimana memberdayakan potensi itu supaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat? Hal itu terkait dengan bagaimana kita mengembangkan tempattempat pariwisata dan warisan budaya tanpa meninggalkan tradisi lokal. Kemenparekraf juga mempunyai visi bagaimana pariwisata bisa dikembang-

kan secara berkelanjutan. Pesan-pesan Uskup agar pariwisata dapat berkelanjut­ an, ­dengan memperhatikan lingkungan, kebersihan, juga warisan budaya kita, seperti tidak membuang limbah sembarangan, mempertahankan aspek ramah lingkungan yang bernilai lebih tinggi, dengan menggunakan bahan natural, bukan bahan sintetis.

Di samping itu, dikatakan berkelanjutan juga dalam arti sosial. Itu memberi harapan bagi kaum muda di Flores, agar mengembangkan pariwisata ­berkelanjutan, dengan kekayaan alam, budaya, dan sejarah. Pada even ini terlihat ­keanekaragaman budaya, yang membuat kita akhirnya mencintai budaya sendiri, kata Menteri. Daerah ini sangat menarik, juga berkat adanya Pulau Komodo. Kegiatan even tersebut baik dijadikan apresiasi, serta untuk promosi lokasi dan daya tarik masing-masing kabupaten. Apresiasi, promosi dan transaksi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Diharapkan even ini jika dilakukan ­tahunan, pada masa yang akan datang akan dicari oleh masyarakat dari luar Flores. Menteri menyatakan penghargaan pa­ da Kabupaten lain di Flores yang mendukung, maka diharapkan pula akan bisa bergilir antara kabupaten. Kita menuju ke Visit NTT dan Sail ­Komodo 2013, ujar Menteri. Para stakeholders pariwisata di Flores khususnya dan NTT umumnya, seakan sedang menguak fajar baru. Ya, diperlukan konsistensi selanjutnya, menghidupkan memelihara seni budaya tradisional, damai dan sejuk. n

Dan, yang lebih senior pun masih tetap bisa berkiprah.

6

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012


UTAMA PemasaranUTAMA Destinasi

Tur Lompat Pulau di NTT

Pemandangan Labuan Bajo, menjelang sun set, demikian indah, dengan nama yang mendunia, namun bagaimanakah agar wisman mau singgah bahkan menginap? Umumnya wisatawan dari sini berangkat menyeberang ke Pulau Komodo atau mengelilingi pulau-pulau kecil yang bertaburan, ada paket Sea Tours, termasuk snorkeling. Berdasarkan program itu saja maka wisatawan cenderung merasa cukup satu kali 24 jam berada di destinasi ini. Kecuali para divers tourists. Jalan Soekarno membujur sepanjang pantai ini, di satu sisi berbukit-bukit tempat fasilitas penginapan berbaris, di sisi lain berjejer bangunan-bangunan sementara kantor agen tur, warung, dan di belakang dibibir pantai merupakan barisan rumah para nelayan.

B

agi Anda yang belum pernah ke Pulau Flores, atau NTT, pergilah terbang ke sana. Bisa dimulai de­ ngan turun di Maumere, ibukota Kabupaten Sikka. Nama Sikka terkenal dengan tenun ikat Sikka. Di pantai pinggir laut kota ini bersusun rumah-rumah pondok. Di situ ibuibu tampak menenun dengan cara tradi­ sional yang tak berubah dari ratusan tahun. Menenun ikat memang merupakan

salah satu kegiatan sehari-hari dan menjadi mata pencaharian utama. Dan, ­dewasa ini sedang berlangsung satu program yang didisain oleh masyarakat: mewa­riskan pada orang-orang muda tradisi menenun. Bersamaan itu, juga semacam ­’gerakan’ membuat orang muda agar menye­nangi,—dan meneruskan warisan ­tradisi-tradisi seni budaya, dari musik hingga tari-tarian tradisional. Berbelanja kain tenun ikat Sikka bisa

Beriwisata di NTT bisa juga dimulai dari Labuan Bajo. Dari pelabuhan ini wisatawan menyeberang dengan boat wisata selama dua jam untuk mencapai Pulau Komodo dan Pulau Rinca, di mana wisatawan turun dipandu oleh guide lokal yang disebut sebagai ‘ranger’, untuk menyaksikan salah satu ‘the real wonder of the world’: binatang purba Komodo. Setelah itu, dari Labuan Bajo tur diterus­ kan ke arah timur daratan Pulau Flores, jalan darat atau udara. Jangka menengah dan jangka panjang, potensi alam dan budaya NTT memungkinkan suatu paket wi­sata yang memberikan pe­ ngalaman unik, melompat dari satu pulau ke yang lain. Jika pengalaman itu diceri­ takan, judulnya seperti Island Hopping Odyssey. Potensi pintu masuk wisman de­ngan direct flight tentulah rute ­Darwin–Kupang, di mana masya­rakat Australia utara akan lebih dekat ke Kupang dan NTT ketimbang mereka terbang berlibur ke bagian selatan atau barat Australia. Pintu masuk ­internasional lain bisa dari Surabaya, ­Denpasar, Jakarta. Rute penerbangan domestik Rute penerbangan internasional, pernah dioperasikan dari/ke Darwin, Australia.

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012

7


Pemasaran Destinasi

Puncak Gunung dan Tiga Danau Kelimutu pada ketinggian sekitar 1.700 meter dari permukaan laut.

Bandara Kupang menyambut tamu dengan tampil­ an alat musik Sasando, yang tampak menjulang. Itu sebenarnya mengandung konsekuensi, bahwa di NTT seyogianya pertunjukan musik Sasando selalu tersedia setiap saat wisatawan yang berkunjung ingin menyaksikan, seperti di Bali, wisatawan dapat setiap saat menyaksikan Tari Barong atau Tari Kecak.

dilakukan di banyak tempat di daerah ini. Di tempat-tempat pantai di mana mereka menenun, di situ juga dipajang bergantung­ an pada tali memanjang, seperti jemur­an, hasil-hasil tenun ikat itu. Tiap lembar ada yang dikerjakan dalam sebulan, dua bulan, atau bahkan lebih. Makin lama jumlah hari pengerjaannya, harga jualnya makin tinggi. Dari Maumere dengan mobil, akan mencapai danau tiga warna yang sudah lama terkenal lantaran selalu dipromosikan: Kelimutu. Rasanya sudah tiga puluh tahun lebih Danau Kelimutu selalu di­tampilkan di setiap brosur, iklan, bahkan buku-buku pariwisata. Sekitar tiga ­setengah jam sampailah kita di satu pelataran parkir. Dinamai Taman Parkir Casuarina Loka, luasnya bisa memuat 20 mobil dan 30 sepeda motor. Di situ ada yang disebut sebagai pendopo, shelter untuk istirahat dan toilet. Memang, yang disebut pendopo, shelter dan toilet ini tampak sekedar pondok berkisar 2 x 2,5 meter, seperti ringkih sudah terlalu tua. Di situ seorang ibu berjualan minuman kemasan kaleng atau botol, minuman kopi atau teh hangat dari air termos, nyaris tak ada tempat duduk untuk isitirahat, tapi di situ pula kembali kain-kain tenun ikat digantung sekedarnya: itu barang jualan. Dan

8

harganya per kain bergerak dari Rp 150 sampai 400 ribu. Ketika itu kita teringat di dunia pariwisata pun diperlukan ’empathy’: andaikan kita adalah wisman. Tiba di tempat atau destinasi yang sudah ’kesohor’, ­biasanya turis di­ sambut oleh satu bangun­an ­dengan ruang­an selamat datang; bisa melihat selintas informasi tentang Danau Kelimutu, biasanya juga tersedia maket atau peta situasi. Kalau pun ada barang suvenir semacam kain tenun ikat, tentulah tersajikan rapih dengan etalase yang enak dipandang mata.

5Bandara Labuan Bajo Komodo (atas), ruang ketibaan penumpang (arrival hall), materi Free Tourist Information memang belum tersedia se­ perti layaknya didapatkan di bandara Denpasar. Ya, benchmark seperti ini baik juga dilakukan antar berbagai daerah destinasi wisata di seluruh Indonesia. 6Ruang ketibaan penumpang domestik di bandara Denpasar, di mana tersedia materi informasi turis yang lebih dari cukup (bawah) .

Bangunan yang berfungsi ‘welcoming’ ter­ hadap tamu yang datang berkunjung, niscaya bukan memerlukan yang mewah. Rapi, bersih, berwarna yang ramah, dan petugas atau penjual barang di situ pun ramah serta antusias berkomunikasi dengan tamu pendatang. Jadi, pintu gerbang Kelimutu memerlukan suasana semacam itu. Dari taman parkir, wisatawan dipandu oleh guide lokal, berjalan mendaki ­santai sekitar sekilometer menuju puncak ­Gunung Kelimutu. Puncak itu disebut ­Inspiration Point. Sejak dari kota Maumere hingga ke

puncak Gunung Kelimutu, kemudian ketika sudah berada di Labuan Bajo, setiap kali berkomunikasi dengan penduduk, keramah­tamahan masyarakat berbicara ­selalu menyejukkan di telinga kita. Sepanjang perjalanan darat di Pulau Flores, hijaunya lingkungan memperlihatkan sumber daya alam yang subur. Anda dapat turun sejenak di di beberapa lokasi di perjalanan untuk menyaksikan pohon kakao alias pohon buah cokelat, pohon jambu mente, pohon buah kemiri. Sebagian wisatawan memang turun lalu menyentuh pohon dan buah cokelat itu dengan jari tangan sendiri. Wisman memang adakalanya memilih over-land tour dari Maumere sampai Labuan Bajo. Durasi tur tersebut antara lima sampai tujuh hari. Di tengah perjalanan menginap di Ende dan di Bajawa. Ada juga yang sebelumnya berkunjung

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012


UTAMA PemasaranUTAMA Destinasi ke Larantuka, biasanya bersifat wisata religi. Tur religi Katolik ke kota Larantuka di Kabupaten Flores Timur sudah lumayan dikenal di dunia pariwisata.

Labuan Bajo

Kota pesisir ini sungguh memerlukan ‘empathy’ pula. Wisatawan yang datang niscaya bertujuan hendak melihat ­Komodo. Biasanya berangkat pagi-pagi sekitar pukul enam, dua jam kemudian sudah tiba di pulau Komodo atau Rinca. Maka, total tur menyaksikan Komodo itu pun cukup dengan menghabiskan waktu setengah hari. Sebelum sore, tur berakhir dan tiba kembali di Labuan Bajo. Kecuali, ada wisatawan yang memilih menginap di atas boat, berarti, durasi turnya adalah dua hari satu malam. Ada juga sea tours yang dengan boat me­nge­lilingi pulau-pulau kecil yang seakan ditaburkan di atas laut off shore dari Labuan Bajo. Ketika tur ke komodo usai, terasalah kekosongan acara. Nyaris tidak ­tersedia kegiatan yang bisa ‘menarik hati’ dan ‘dinikmati’ oleh wisatawan. Bagusnya, di antara pelaku pariwisata di Labuan Bajo, dewasa ini sedang berwacana ingin menghidupkan sanggar-sanggar seni budaya. Dimaklumi, Pulau Flores ternyata menyimpan beragam potensi untuk diolah menjadi art and culture show performance. Konradus Jeladu, salah seorang yang saat ini sedang bersusah payah menghidupkan sanggar seni budayanya, sudah mencoba merealisasi­ kan wawasan itu. Beberapa kali hotel berbintang di kawasan pantai itu mengundang grup dari sangggarnya untuk memenuhi perminta­an wisatawan. Atau ­acara MICE. “Satu kelompok tari dan musik dari anak-anak didik dan anggota saya biasa­nya berjumlah 20 orang untuk satu pertunjuk­ an,” kata dia. Mestinya, dari pengalamannya 30 ­tahun menjalani profesi tour guide, ­Konradus bersama sesama pelaku pariwisata melihat situasi yang mendesak akan kebutuh­an kegiatan acara penyajian musik, tari, dari seni budaya lokal, yang dilekatkan dengan acara sightseeing dan shopping di sekitar kota kecil Labuan Bajo itu. “Setiap tur ke Komodo selesai, baiknya diakhiri dengan tur keliling sekitar kota, lalu dihibur dengan performance musik dan tari tradisional , tentu setelah dikemas secara profesional, lalu shopping, sampai relaksasi,” kata Konradus. Akan halnya acara rileks di pantai Labuan Bajo itu, diterobos oleh Matheus Siagian,

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012

seorang pengusaha muda yang baru enam bulan ini mengoperasikan sebuah kafe berlantai tiga, bangunan sederhana tetapi kokoh dan ‘berseni’ dari kayu-kayu lokal, terbuka menghadap ke laut. Dia ­namakan restorannya TreeTop, jika perlu bisa menerima sampai 80–100 tamu s­ ekaligus.

“Wisatawan itu duduk-duduk santai di sini, ada yang makan, atau sekedar ­minum, memandangi laut yang indah dengan tebaran pulau-pulau, seraya berbincangbincang. Pokoknya santailah dan mereka mengisi waktu di tempat ini,” menerangkan Matheus. n Lihat juga halaman 20, 26

Kesejahteraan dari Pariwisata

S

ituasi kondisi, sosial ekonomi, dan kemasya­rakat­ an di NTT, umumnya mengindikasikan karakter yang berpotensi untuk membangun kesejahte­ raan dan kualitas hidup dari kegiatan pariwisata. Masyarakat Pulau Flores boleh jadi sebagai lokomotive. Lebih difokuskan lagi, lokomotive masyarakat di Maumere dan Labuan Bajo perlu diharapkan. “Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTT harus lebih kreatif mengikuti selera pelancong yang datang ke NTT. Jangan hanya mempromosikan komodo saja tetapi juga tempat pariwisata lainnya yang dapat dinikmati para wisatawan,” pinta Wakil Gubernur NTT, Esthon L Foenay, saat memimpin rapat persiapan Sail Komodo 2013, di ruang kerja­nya, Jumat (24/2/2012).

Pulau Flores khususnya, dan NTT umumnya, boleh bangga memiliki infrastruktur jalan-jalan raya yang pada umumnya dalam kondisi baik dan ‘berkualitas’. Sebab itulah maka overland tour dimungkinkan, ini bisa dipasarkan dengan strategi yang menjangkau proyeksi jangka menengah dan jangka panjang.

Nah, NTT pada dasarnya sudah memiliki beberapa ‘modal pariwisata’. Even lomba layar internasional Darwin– Kupang–Alor–Lembata–Riung–Sikka–Ende-Labuan Bajo telah dilaksanakan tiap tahun di bulan Juli dengan peserta berasal dari berbagai negara seluruh dunia. Di Larantuka, Kabupaten Flores Timur, setiap akhir Maret hingga awal April diselenggarakan even prosesi Jumat Agung, Devosi terhadap Bunda Maria yang di­ lakukan oleh umat Katolik, juga diikuti oleh peserta yang berasal dari luar daerah termasuk luar negeri. Ini dilakukan turun temurun sejak abad XV. Diisi juga dengan atraksi penunjang: berkunjung ke kampung tradisional Muda Keputu, Kawaliwu Riang Kemie dan Wurek Adonara Barat dan Kongo. Setiap bulan April–Mei, di Lamalera, Kabupaten Lembata, berlangsung upacara tradisional dan ke­ agamaan berupa kegiatan upacara berburu ikan paus, yang sangat khas lokal ini, sebenarnya sudah menjadi cerita beredar ke mancanegara. Lebih pasti lagi ialah 50 diving spots di lepas pantai Labuan Bajo, dan melihat Komodo, sudah men­dunia.

Carrying capacity pun perlu diperhatikan, mengingat Komodo berada di bawah konservasi yang ketat, agar tidak dilanda ekses yang bisa merugikan. Tahun 2011 diperkirakan jumlah kunjungan ke Komodo telah men­ capai 50 ribu, angka yang sementara ini dipandang se­ bagai angka psikologis yang sebaiknya dipertahankan. Dan kalau ditingkatkan, maka pengelolaan dan pe­ ngaturannya memerlukan ‘kecanggihan manajemen’ yang terkontrol dan terukur. Karena itulah sepanjang Jalan Soekarno di pantai Labuan Bajo, tampak memerlukan rencana tata ­ruang dan pengembangan yang ‘apik’. Bukan saja demi mencegah pengembangan yang tak teratur, tetapi juga membuat pengelolaan ‘carrying capa­city’ men­ jadi terukur. On top of it, kawasan ini tampak memiliki konjunktur landskap yang akan kian indah dan modern, —sehingga bisa membangun karakter pariwisata ba­ hari dan budaya NTT—jika saja di kawasan itu tersedia tempat-tempat wisata kuliner, pertunjukan seni bu­ daya tradisional yang profesional, pelayanan yang me­ mudahkan bagi wisatawan. Di situlah agaknya nanti wisatawan akan menikmati tinggal beberapa hari. Dan meneruskan tur ke bagian-bagian lain Pulau Flores. Pola pikir serupa ini tentu berlaku dan diperlukan pula di pulau-pulau lain NTT. Menparekraf Mari Elka Pangestu menekankan juga perlunya membuat rencana,—- katakanlah tiga tahun —- sehingga bisa memproyeksikan seperti apa pariwisata di tiap daerah. Tentulah maksudnya membayangkan formatnya, isinya, kualitasnya, dan dampak positif bagi peningkatan kesejah­teraan dan kuali­ tas hidup masyarakat lokal.

Jumlah Pencari Kerja yang Terdaftar di Lingkungan Dinas Nakertrans Provinsi NTT yang Belum di Tempatkan s.d. Bulan Juli 2011 Pendidikan SD SLTP SLTA D1 / D2 D3/AK/SM S1 S2

Jumlah

Laki-laki

Perempuan

3.552 9.320 34.622 1.556 5.342 5.260 23

2.399 10.038 32.058 2.881 5.370 5.829 19

59.675

58.594

Sumber : Data IPK III Bulan Juni 2011

Wah, pariwisata NTT rasanya, atau niscaya, akan mampu menyerap para pencari kerja tersebut di statis­ tik atas, —- melalui pengembangan yang terencana dan teratur. ­Mengapa tidak? n

9


Pemasaran Destinasi Promosi Luar Negeri

Kesempatan Daerah ke Floriade,

K

epada para wartawan, Wamenparekraf Sapta Nirwandar memberikan informasi up ­dating tentang peluang yang tetap terbuka bagi stakeholders pariwisata ­Indonesia agar sungguh memanfaatkan even besar Floriade Expo di Belanda. Pada ekspo selama enam bulan itu, kata Wamenparekraf, yang akan dipamerkan meliputi; Relax dan healing : obat-obatan herbal. Nanti di sana kita akan pamerkan jamu. Juga spa, wellness, yang memakai rempah-rempah seperti spa yang dilulur dengan herb. Spa Indonesia adalah terbaik di dunia. Obat-obatan herbal yang terbuat dari beras kencur, jahe, kunyit, asem dan s­ ebagainya. Makanan juga seperti manisan pala, kedondong, kecap pala asal Fakfak, Papua Barat, dan ­sebagainya. Juga, sirup markisa Medan yang aslinya ditanam secara ­organik. Itu termasuk subtema Expo: Relax and Healing. Adapun subtema green engineering, ini fokusnya lebih pada kehutanan. Subtema lainnya yakni Education and Innovation: di situ akan diajarkan kegunaan tanaman, tumbuhtumbuhan yang menjadi bio-gas, sumber en-

Bulan Februari proses finishing touch sedang berlangsung di venue Expo itu.

ergi baru dari tanaman. Seperti juga tanaman jarak yang bisa menjadi ­bahan bakar. Makanan vegetarian juga mengandung edukasi dan inovasi ditam­pilkan di sana. Subtema environment, mencakup di dalamnya berkenaan dengan penggunaan pupuk organik, mengingat kecenderung­an sadar lingkungan di dunia yang mencari serta membeli produk organik, buah organik, dan lain-lain. Nah, subtema world show stage: ini ­merupakan bagian dari pariwisata. “Di World

Show Stage itu kita akan banyak meng­adakan cultural performance,” demi­kian diterangkan Wamenparekraf, Sapta ­Nirwandar, yang untuk Expo ini dipilih untuk berperan sebagai Chairman of Executive Committee. Yang disebutkan tadi empat pertama subtema merupakan wilayah pertanian dan kehutanan. Yang menjadi wilayah Kemenparekraf adalah spa, makanan, world show stage, dan sebagian dari pameran dunia ­innovation, terutama dari segi industri kreatif,” kata Sapta Nirwandar. World stage tersebut ukurannya ­besar sekali, bisa menampung 5.000 orang.Adapun booth Indonesia akan diisi dengan empat rumah adat, yaitu rumah Toraja, ­Joglo, rumah Kalimantan (rumah panjang), dan rumah Jineng dari Jatim. ­Miniatur Candi Borobudur berukuran panjang dan lebar 5 x 5 meter akan tampil di antara rumah-rumah adat tersebut. Wamenparekraf menjelaskan alasan Indonesia ikut dalam Floriade. Pertama, dalam kaitan hubungan G to G, persahabatan antara Indonesia dan Belanda. Kedua, untuk meningkatkan citra Indo­ nesia, mengingat diadakannya di kota Venlo,

Kiprah Promosi di Luar Negeri Orkestra Indonesia di Eropa demi konsumen high-end Tahun 2012 ini sebanyak 80 kegiatan di luar negeri akan dilaksanakan oleh Direktorat PLN. Kegiatan itu tersebar pada kawasan-kawasan Afrika-Timteng yang menjadi satu, ASEAN, Asia, Eropa, Amerika dan ­Pasifik. Kegiatan trade show ada 50. Yang lain sifatnya sales mission dan festival Indonesia.

10

V

ITO atau Visit Indonesia Tourism Officer yang tersebar di luar negeri, tahun 2012 ini akan ditambah satu yakni di Seoul, Korea Selatan, sehingga total menjadi 13 VITO. Selain operasionalisasi kegiatan VITO, Indonesia meneruskan ikut serta pada trade show di luar negeri yang benar-benar bersifat B to B dan B to C. Bersamaan itu melaksanakan rangkaian sales mission yang bersifat B to B. Juga menyelenggarakan atau mengikuti festival Indonesia di luar negeri, kegiatan ini memang lebih bersifat pencitraan. Itulah penjelasan Nia Niscaya, Direktur Promosi Pariwisata Luar Negeri (PLN) Kemenparekraf. Kita memperkaya program pemasaran dengan horizontal marketing, mengoptimalkan taktik low budget high impact, dan membina co-marketing, katanya. Nia Niscaya menjelaskan ihwal rencana pegelaran Twilight Orchestra Addie MS dari Indonesia di Eropa tahun 2012 ini. “Saya sedang berhubungan dengan ­Turkish Air,” kata dia, merundingkan agar airlines itu tak sekedar menjual tiket tapi diajak sebagai

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012


Promosi Luar Negeri

UTAMA Pemasaran Destinasi

Belanda

­benda yang berkaitan de­ Wamen kembali meng­ ngan kearifan lokal. Juga ingat­kan: Kalau di lingberbagai macam madu dan kungan pantai banyak hasil perkebunan. Akan sampah, siapa yang mau ada ketumbar, kopi luwak, datang. Jika mandi di pankopi Toraja, Wamena, Gayo, lokasi ini berbatasan dengan Jerman dan tai membuat gatal-gatal, Lampung, dan sebagainya. ­Belgia. Pameran besar selama enam bulan ini orang tidak akan mau daTeh aruk dari Sumbar, teh akan diisi dengan penampilan kegiatan seni tang lagi. Jadi kita sangat yang bertransformasi rasa budaya, berfungsi sebagai media diplomasi memelihara lingkungan. jeruk, rasa peach, dan sebaMenjaring investasi? budaya. gainya. Tak jarang masih dikatakan orang seakan Itu sudah jelas. Di Floriade Buah-buahan juga, yang Indonesia tidak peduli pada lingkungan. “Di Belanda kita akan promolagi top sekarang adalah sini kita perlihatkan kepedulian kita. ­Karena sikan bahwa Indonesia itu Sapta Nirwandar buah manggis, kata Sapta pariwisata tanpa peduli lingkungan akan beragam seni budaya traNirwandar. Buah ini sedisional, ada Toraja, Jatim, hancur,” kata Wamenparekraf selanjutnya. lain dimakan, kulitnya bisa dibuat berbagai dan seterus­nya. Bersamaan di macam misalnya untuk pewarna dan obat, situ pula kita akan memamerdan sebagainya. Juga rumput laut. Indonesia kan promosi industri kreatif memiliki 497 jenis rumput laut. Itu juga bisa ­Indonesia. digunakan untuk berbagai macam, misalnya Dalam rumah-rumah adat food supplement, bentukan jelinya untuk mediitu nanti akan diisi oleh para pecal, dan orang-orang di Cina darat­an sangat serta pa­meran. Di rumah Toraja suka makan jeli dari rumput laut sebagai­ memamerkan film, brosur, leafmana juga orang-orang di Jepang dan Korea. let, banner, dan sebagainya. TerJadi, di pavilion Indonesia ­pertunjukan masuk suvenir. akan dilaksanakan setiap hari secara Tapi ada temanya, untuk ­bergantian, dari daerah-daerah ­Indonesia. healing & ­wellness, dipajang Dan masih terbuka kesempatan bagi jamu dan spa, serta obat-obat­ ­daerah-daerah untuk bersiap ikut berki­prah an ­herbal tra­disional. Semua di Expo Floriade yang akan dimulai 5 April pro­vinsi di Kalimantan akan Miniatur Candi Borobudur telah terpasang di Floriade, Belanda. sampai 7 Oktober 2012. n memamerkannya, juga benda-

mereka tidak layak tampil, ya nggak bisa official (carrier) partner. “Inginnya sih dengan maskapai menggelar performance. Jadi, akan merupapenerbang­an Garuda tapi koneksi point to kan terobosan baru dari sisi kegiatan. Bersapoint-nya tidak pas. Even Twilight Orchestra maan itu dari sisi biaya, sekaligus membina Indonesia akan diadakan di kota-kota Praha, networking, co-branding dan co-marketing, bersama dengan KBRI-KBRI. Bratislava, Serbia, Brussel, dan Nia mencontohkan. Sesam­ Berlin. Yang punya rute ke situ painya rombo­ngan dari IndoTurkish Air. Agaknya maskapai nesia di Praha, land arrangeitu bersedia bukan hanya memment akan menjadi tanggungan beri special rate, tapi juga untuk KBRI. KBRI akan menang­gung bermitra.” semua akomodasi selama tur Mengapa pula ke kota-kota orchestra. Durasi perjalanan tersebut? Di sana itu ‘biangnya’ promosi high end ini akan berorchestra. Lalu, ­sebagai konsep, langsung pada 5–21 Juni 2012. yang dijual Addie MS dengan Tanggal 8 Juni akan main di ­orchestra-nya adalah tema East Praha, tanggal 10 Juni akan meets West. Tekniknya orchestra, main di Bratislava, tanggal 12 tapi repertoir yang dimainkan Juni 2012 akan main di Serbia, adalah lagu-lagu Indonesia dan tanggal 15 Juni akan main di beberapa lagu mereka. Kalau Nia Niscaya Brussel, dan tanggal 19 Juni dimainkan oleh mereka, tentu akan main di Berlin. lebih jago. “Kita mendapatkan tempat untuk perform Tapi pegelaran ini dirancang dengan ­irama yang berbeda, juga penggunaan beberapa di tanggal-tanggal tersebut,” ujar Nia. Di Berlin, kapasitas teaternya bisa menalat musik etnik yang akan semakin membedudukkan 1.350 penonton. Di kota lainnya dakannya. Menurut Addie MS, tidak mudah menda- bervariasi, lebih sedikit atau lebih ­banyak. patkan tempat orchestra di negara lain. Walau- Jadi, sasaran yang dikandung dalam ­‘promosi’ pun kita punya uang, tapi kalau menurut tipe ini jelas kelas middle-up.

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012

Sepatut nya tentu bagi industri pariwisata untuk to follow the trend, memanfaatkan ­upaya pembukaan pasar ini dengan produk dan ­paket yang ‘pas’ pula. “Promosi ini sendiri harus dikemas secara elegan, maka paket-paket wisata yang dipromosikan oleh industri ke pasar ini juga mesti yang pas dengan mereka. Dalam hal ini yang dibidik adalah middle-up. Karena itu ­diupayakan co-branding (dengan airlines), bukan sekedar kita membeli tiket,” menegaskan Nia Niscaya. Publikasi di negara-negara tempat konser digelar, dilaksanakan oleh KBRI agar khalayak sasaran yang dituju sungguh aware. Umumnya target audience adalah para ­diplo­mat, travel agent, media, dan para tokoh terkemuka. Di kota Berlin rencananya Presiden Jerman dan anggota parlemen akan menonton. Yang diundang: para pemegang keputusan di lima negara itu. Maka haruslah membuat konser sebagai sesuatu yang sangat menarik. Direktur PLN mengakui kalangan ­Kemenlu semakin proaktif dalam ikut mendukung pariwisata Indonesia. “Kami mengikuti langkah pimpinan dalam hal membangun networking, dan dari situlah kita melangkah,” kata Nia. n

11


Pemasaran Destinasi Promosi Luar Negeri

Kegiatan Promosi LN 2012

D

alam menentukan kegiatan, men­capai sasaran, memilih lokasi, jadwal, dan melaksanakan, diterapkan strategi : low budget high impact, kombinasi vertikal dan horizontal marketing kendati lebih

­ iupayakan pada yang terakhir itu, lalu d co-­marketing ataupun co-branding. Kegiatan even utama yang akan dilaksanakan oleh Direktorat Promosi ­Pariwisata Luar Negeri, Kemenparekraf, tertera berikut ini.

ASEAN No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

OUTPUT BURSA PARIWISATA BURSA PARIWISATA BURSA PARIWISATA BURSA PARIWISATA BURSA PARIWISATA SALES MISSION SALES MISSION SALES MISSION BURSA PARIWISATA BURSA PARIWISATA BURSA PARIWISATA BURSA PARIWISATA BURSA PARIWISATA FESTIVAL INDONESIA SALES MISSION BURSA PARIWISATA BURSA PARIWISATA BURSA PARIWISATA SALES MISSION

NAMA KEGIATAN Travex ASEAN Tourism Forum 2012 Travel Tour Expo NATAS Travel Fair MATTA Fair Kuala Lumpur Asian Diver Expo Consumer Selling Selangor Consumer Selling Ipoh Sales Mission ASEAN MATTA Fair Johor Bahru Enchanting Indonesia MATTA Fair Kuala Lumpur Thailand Travel Expo NATAS Holiday Food Festival Indonesia di Malaysia Sales Mission 4 Kota Malaysia International Travel Expo (ITE) HCMC 2012 ITB Asia Malaysia International Travel Mart (MITM) Sales Mission Filipina

TEMPAT PELAKSANAAN JADWAL PELAKSANAAN Manado - Indonesia 8 Jan ‘12 – 15 Jan ‘12 SMX Convention Center, Pasay City - Filipina 17 Feb ‘12 - 19 Feb ‘12 Singapore Expo, Singapura 24 Feb ‘12 – 26 Feb ‘12 Putera World Trade Center, Kuala Lumpur - Malaysia 16 Mar ‘12 –18 Mar ‘12 Marina Bay Sands, Singapura 13 Apr ‘12 –15 Apr ‘12 Selangor - Malaysia Apr ‘12 Ipoh - Malaysia Mei ‘12 Malaysia, Singapura, Thailand Juni ‘12 Danga City Mall, Johor Bahru - Malaysia 13 Jul ‘12 – 15 Jul ‘12 Takashimaya S.C., Singapura Jul ‘12 Kuala Lumpur - Malaysia 12 Ags ‘12 – 14 Ags ‘12 Bangkok - Thailand 25 Ags ‘12 – 29 Ags ‘12 Singapore Expo, Singapura 26 Ags ‘12 – 28 Ags ‘12 Kuala Lumpur - Malaysia Ags ‘12 Malaka, Penang, Johor Baharu & Kinabalu - Malaysia Sept ‘12 Ho Chi Minh City - Vietnam 13 Sept ‘12 – 15 Sept ‘12 Suntec International ECC, Singapura 17 Okt ‘12 – 19 Okt ‘12 Kuala Lumpur, Malaysia 28 Okt ‘12 – 30 Okt ‘12 Manila & Cebu - Filipina Nov ‘12 29 Jan ‘12 – 31 Jan ‘12

ASIA No OUTPUT NAMA KEGIATAN TEMPAT PELAKSANAAN 1 FESTIVAL INDONESIA Festival Indonesia di Asia China & India 2 BURSA PARIWISATA South Asia Travel & Tourism Expo (SATTE) Pragati Maiddan, New Delhi - India 3 BURSA PARIWISATA Outbond Travel Mart (OTM) Bombai Exhibition Centre Goregaon (East), Mumbai, India 4 SALES MISSION Sales Mission Cina (Taiwan) R R T 5 BURSA PARIWISATA Marine Diving Fair Ikebukuro Sunshine City Convention Center, Tokyo, Jepang 6 BURSA PARIWISATA China Outbound Tourism Travel Mart (COTTM) World Trade Center, Beijing, China 7 BURSA PARIWISATA World Travel Fair (WTF) Shanghai Exhibition Center, Shanghai, RRT 8 BURSA PARIWISATA Korea World Travel Fair (KOTFA) COEX Convention & Exhibition Center, Seoul, Korea 9 SALES MISSION Sales Mission Korea Korea 10 SALES MISSION Sales Mission India Delhi, Kolkata, Chennai, Ahmedabad, India 11 FESTIVAL INDONESIA Festival Indonesia di Jepang Tokyo - Jepang 12 BURSA PARIWISATA JATA Travel Showcase (JTS) Tokyo Big Sight, Tokyo, Jepang 13 BURSA PARIWISATA Busan International Travel Fair (BITF) Busan Exhibition & Convention Center (BEXDTO), Busan 14 BURSA PARIWISATA PATA Travel Mart (PTM) SMX Convention Center, Manila, Filipina 15 SALES MISSION Sales Mission Jepang Tokyo, Osaka, Nagoya, Jepang 16 BURSA PARIWISATA Taipei International Travel Fair (TITF) Taipei, Taiwan 17 BURSA PARIWISATA China International Travel Mart (CITM) Shanghai, RRT 18 BURSA PARIWISATA Diving Resort & Travel (DRT) Expo Hong Kong Convention & Exhibition Center, Hong Kong 19 FESTIVAL INDONESIA Festival Dawai di Asia India

JADWAL PELAKSANAAN 29 Jan ‘12 – 31 Jan ‘12 27 Mar ‘12 10 Feb ‘12 – 12 Feb ‘12 17 Feb ‘12 – 19 Feb ‘12 22 Feb ‘12 – 24 Feb ‘12 6 Apr ‘12 – 8 Apr ‘12 18 Apr ‘ 12 – 20 Apr ‘12 10 Mei ‘12 – 13 Mei ‘12 7 Juni ‘12 – 10 Jun ‘12 Juni ‘12 Jul ‘12 Ags ‘12 7 Sept ‘12 – 10 Sept ‘12 16 Sept ‘12 – 21 Sept ‘12 25 Sep ‘12 – 28 Sep ‘12 Sept ‘12 26 Okt ‘12 – 29 Okt ‘12 15 Nov ‘12 – 18 Nov ‘12 15 Des ‘12 – 17 Des ‘12 Des ‘12

AMERIKA & PASIFIK No OUTPUT 1 FESTIVAL INDONESIA 2 BURSA PARIWISATA 3 BURSA PARIWISATA 4 BURSA PARIWISATA 5 BURSA PARIWISATA

12

NAMA KEGIATAN Partisipasi Pada Tournament of Roses 2012 LA Travel & Adventure Show Perth Holiday & Travel Expo Miami Cruise Shipping Melbourne Travel Xpo

TEMPAT PELAKSANAAN Pasadena - USA Long Beach Convention Center, California, USA Burswood Entertainment Complex, Perth, Australia Miami Beach Convention Center Florida, Miami, USA Royal Exhibition Building Carlton Gardens, Melbourne

JADWAL PELAKSANAAN 1 Jan ‘12 – 2 Jan ‘12 14 Jan ‘12 – 15 Jan ‘12 18 Feb ‘12 – 19 Feb ‘12 12 Mar ‘12 – 15 Mar ‘12 17 Mar ‘12 – 18 Mar ‘12

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012


No OUTPUT 6 BURSA PARIWISATA 7 FESTIVAL INDONESIA 8 BURSA PARIWISATA 9 SALES MISSION 10 SALES MISSION 11 BURSA PARIWISATA 12 FESTIVAL INDONESIA 13 FESTIVAL INDONESIA 14 FESTIVAL INDONESIA 15 FESTIVAL INDONESIA 16 BURSA PARIWISATA

NAMA KEGIATAN Sydney Travel Xpo Pertunjukkan Musik & Budaya Et Cetera & Festival Indonesia di Adelaide Brisbane Travel Xpo Sales Mission Amerika Sales Mission Australia Oceania Dive Ecotourism Expo Festival Indonesia di Amerika Festival Indonesia di New Zealand Festival Indonesia di Melbourne ING New York Marathon 2012 DEMA Show

TEMPAT PELAKSANAAN JADWAL PELAKSANAAN Royal Hall of Industries Fox Studios Moore Park, Sydney 24 Mar ‘12 – 25 Mar ‘12 Melbourne & Adelaide, Australia 1 Apr ‘12 & 25 Apr ‘12 Brisbane Confention & Exhibition Centre, Brisbane, Australia 13 Apr ‘12 – 15 Apr ‘12 USA Juni ‘12 Perth, Melbourne, Adelaide Juni ‘12 Sydney, Australia 8 Sep ‘12 – 9 Sept ‘12 Mexico City, Mexico Sep ‘12 New Zealand 14 Okt ‘12 Melbourne, Australia Okt ‘12 New York, US 4 Nov ‘12 Orlando, US 14 Nov ‘12 – 17 Nov ‘12

EROPA No OUTPUT 1 BURSA PARIWISATA 2 BURSA PARIWISATA 3 BURSA PARIWISATA 4 BURSA PARIWISATA 5 BURSA PARIWISATA 6 BURSA PARIWISATA 7 BURSA PARIWISATA 8 BURSA PARIWISATA 9 BURSA PARIWISATA 10 SALES MISSION 11 BURSA PARIWISATA 12 FESTIVAL INDONESIA 13 FESTIVAL INDONESIA 14 BURSA PARIWISATA 15 BURSA PARIWISATA 16 BURSA PARIWISATA 17 FESTIVAL INDONESIA 18 FESTIVAL INDONESIA 19 FESTIVAL INDONESIA 20 BURSA PARIWISATA

NAMA KEGIATAN Vakantiebeurs Feria Internatiomal Tourismo, Brussels Holiday Fair 2012 Borza Internazionale de Turismo International Fair of Tourism Internationale Tourismus Borse (ITB) Berlin Salon Du Mondial Ukraine International Travel & Tourism Venlo 2012 Holland World Expo (Floriade 2012) Sales Mission Eropa Tengah Tong Tong Fair Promosi Wonderful Indonesia Melalui Pelayaran Dunia KRI Dewaruci 2012 Pendukungan Konser Orkestra di Eropa Les Tonnerres De Brest 2012 Top Resa Otdykh Leisure Festival Indonesia di Eropa Promosi Tetap di Museum Vatikan Indonesia Heritage Festival di 3 Negara World Travel Market

TEMPAT PELAKSANAAN Utrech, Belanda Madrid, Spanyol Brussels, Belgia Milan, Itali Belgrade Fair Grounds, Beograd, Serbia Berlin, Jerman Paris, Perancis Kiev, Ukraina Belanda Praha, Budapest, Bucharest, Sofia Den Haag, Belanda

JADWAL PELAKSANAAN 10 Jan ‘12 – 15 Jan ‘12 18 Jan ‘12 – 22 Jan ‘12 2 Feb ‘12 – 6 Feb ‘12 16 Feb ‘12 – 19 Feb ‘12 23 Feb ‘12 – 26 Feb ‘12 7 Mar ‘12 – 11 Mar ‘12 15 Mar ‘12 – 18 Mar ‘12 28 Mar ‘12 – 30 Mar ‘12 5 Apr ‘12 – 7 Okt ‘12 23 Apr ‘12 – 30 Apr ‘12 17 Mei ‘12 – 28 Mei ‘12

– Brusses, Berlin, Warsawa, Bratislava, Praha Brest, Perancis Paris Porte de Versailles, Paris, Perancis IEC Crocus Expo, Moskow, Rusia Prha, Budapest, Sofia, Beograd Vatikan City, Vatikan Perancis, Belanda, Jerman Excel London, UK

Mei ‘12 8 Juni ‘12 – 19 Jun ‘12 12 Jul ‘12 – 19 Jul ‘12 18 Sep ‘12 – 21 Sep ‘12 19 Sep ‘12 – 22 Sep ‘12 Sept ‘12 Sept ‘12 Okt ‘12 5 Nov ‘12 – 8 Nov ‘12

Pameran Permanen di Vatikan

A

da relief menggambarkan Candi Borobudur di dinding Museum Vatikan. Itu sudah lama, belum diketahui asal muasal sejak kapan. Tapi keberadaannya di sana itu atas inisiatif ­Vatikan sendiri. Nah, menurut Nia Niscaya, tahun ini Indonesia mengambil inisiatif pula. “Kita ingin merevitalisasi karena mulai rusak,” kata dia. Selain itu, pihak museum memberikan ruangan pamer selama satu tahun, kesempatan untuk menampilkan keberagaman dan harmonisasi kehidupan beragama di Indonesia. ­Ruang pamer itu letaknya bersebelahan dengan relief yang sudah ada. Juga disediakan ruangan ­multimedia. Kami pasti akan bekerja sama dengan kepurbakalaan di Diten Kebudayaan, kata Nia lagi.

Kami lebih fokus untuk promosinya, tapi barang-barangnya dari Ditjen Kebudayaan. Kalau yang relief itu sudah terpasang untuk selamanya. Akan sayang sekali jika tidak diurus. ­Revitalisasi itu akan memakai biaya dari kita, kata Nia. Vatikan adalah destinasi religi yang dikunjungi oleh lima juta orang setiap tahun. Jadi sela­ ma ini di sana kita sudah memperoleh kesempatan promosi permanen. Itu tentu menghasilkan pencitraan dan membangun kesan positif kepada jutaan wisatawan pengunjung Vatikan. Pengunjung dipaparkan kekayaan budaya Indonesia. Maka kita ingin menampilkan ­harmonisasi kehidupan beragama di negeri ini, akan diperlihatkan Candi Borobudur yang ­Budhis, di sekitarnya adalah Islam, gereja, Hindu dan seterusnya.

TIMUR TENGAH & AFRIKA No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

OUTPUT BURSA PARIWISATA SALES MISSION BURSA PARIWISATA BURSA PARIWISATA SALES MISSION BURSA PARIWISATA BURSA PARIWISATA BURSA PARIWISATA SALES MISSION FESTIVAL INDONESIA FESTIVAL INDONESIA BURSA PARIWISATA

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012

NAMA KEGIATAN East Mediterannean Int’l Travel and Tourism (EMITT) Sales Mission Turki M.I.T International Toursim Market Arabian Travel Market Sales Mission Arab Saudi Kuwait Travel World Expo 2012 Persia Travel Market The Getaway Show Sales Mission Afrika Selatan Malam Budaya Indonesia di Kuwait Malam Budaya Indonesia di UEA Travel Turkeyl Izmir

TEMPAT PELAKSANAAN Istambul - Turki Istanbul, Ankara - Turki Tunisia Dubai - UEA Jedah Mekkah, Madinah - Arab Saudi Kuwait City - Kuwait Tehran - Iran Afrika Selatan Afrika Selatan Kuwait City - Kuwait Abu Dhabi, Dubai - UEA Turki

JADWAL PELAKSANAAN 9 Feb ‘12 - 12 Feb ‘12 13 Feb ‘12 - 15 Feb ‘12 25 Apr ‘12 - 28 Apr ‘12 30 Apr ‘12 - 3 Mei ‘12 5 Mei ‘12 - 12 Mei ‘12 14 Mei ‘12 - 16 Mei ‘12 13 Juni ‘12 - 15 Jun ‘12 31 Ags ‘12 - 2 Sept ‘12 4 Sept ‘12 - 9 Sept ‘12 Sep ‘12 Nov ‘12 6 Des ‘12 - 9 Des ‘12

13


Industri Kreatif

Bermula dari

Kosongnya Acara Tur di Sore Hari

B

aik pula kita menengok bagaimana dan me­ ngapa yang namanya Saung Angklung Ujo, ­disingkat SAU, kini sedemikian terkenal melampaui batas negeri Indonesia, melanglang jagad. Malahan bisa dijadikan benchmark bagi caloncalon yang ingin sukses sebagai penggiat atau pelaku industri kreatif di daerah-daerah lain. Sebab, SAU itu sejak awalnya 46 tahun lalu, telah dikelola layaknya sebuah industri. Data historisnya terhimpun apik, sehingga perkembangan, tepatnya pertumbuhan ‘industri angklung’ ini tersusun rapi jika perlu menelaah sejarahnya. Lihatlah statistik di bawah. Kini, sanggar dan industri kreatif ‘angklung’ yang berlokasi di Bandung ini mempunyai manajemen ­dengan seorang Corporate Secretary, Bhawika H Prasetya. Dia

Pengunjung Saung Angklung Udjo 1977 – 2010

Perbandingan Pengunjung :

14

bangga menceritakan bahwa dalam jumlah pengunjungnya tahun 2011 yang mencapai 178.778 wisnus dan wisman, terdapat perbandingan 1 : 4. Maksudnya, seorang wisman diantara empat orang wisatawan pe­ ngunjung. Tahun lalu 2011 jumlah pengunjung meningkat isitimewa, 31% dibandingkan tahun 2010. Selama tahun 2011 digelar ­total 1.330 pertunjukan, itu berarti rata-rata 110 pertunjukan per bulan atau lebih dari tiga pertunjukan sehari. Ada juga dalam sehari hanya satu kali pergelaran tapi di hari lainnya bisa mencapai sembilan kali, baik yang diadakan di area SAU (internal) maupun di luar, dan, di dalam negeri maupun di luar negeri. Hampir tak ada wisman yang berwisata ke Bandung yang tidak datang ke Saung Angklung Ujo. Orang Belanda boleh dibilang sudah pasti, ini berkaitan dengan hubungan sejarah dua bangsa. Maka warga Belanda tercatat paling ­banyak menjadi tamu. ­Sesudah itu, turis Jerman, Perancis, Jepang dan Korea. Ternyata, meskipun ada, namun jumlah wisman Malaysia dan Singa­ pura masih sangat sedikit. Ini pun dimaklumi lantaran mereka lebih berminat fokus pada wisata belanja dan lebih tertarik jalan-jalan ke Pasar Baru. Manajemen SAU tak lupa mencatat pemilahan jumlah wisman dan wisnus yang berkunjung. Setidaknya sejak sepuluh tahun lalu, sanggar seni angklung yang sudah meng­ industri ini mencatat perban­dingan jumlah tersebut (lihat t­ abel).

Asal muasal

Pak Udjo Ngalagena (almarhum) yang saat 46 tahun lalu, bekerja sebagai ­karyawan honorer di ­Disbudpar Bandung, melihat wisman yang datang ke kotanya menjalani pola perjalanan seperti ini: pagi hari mereka tur ke Tangkuban Perahu lalu ke Ciater, kemudian makan siang di te­ngah kota Bandung. Akhirnya dia melihat terdapat kesempatan ‘waktu’ yang belum digunakan di sore hari di mana kegiatan turis menjadi kosong. Kemudian dia mengambil inisiatif men­ciptakan pertunjukan di sore hari. Dimulailah cikal bakal pertunjuk­ an sore hari yang kemudian menjadi khas SAU. Pertunjukan pertama sebenarnya de­ngan memanfaat­ kan saat-saat Pak Udjo melatih anak-anak bermain

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012


Industri Kreatif

UTAMA Pemasaran Destinasi a­ ngklung di sekitar lingkungan tempat tinggalnya bernama Padasuka. Itu terjadi di tahun 1966. Pada momen itu sebanyak tujuh orang wisman Perancis yang dipandu oleh seorang pramuwisata bernama Nuriyata, menyaksikan pertunjukan angklungnya. Kala itu harga tiket masuk tidak ditentukan, yang diterimanya hanya berupa donasi tamu seikhlasnya. Garagara ide ini, wisman yang biasanya datang ke ­Bandung dalam perjalanan mereka menuju Yogyakarta atau Bali, karena kesorean, harus menginap. Setelah itu Pak Udjo mengajak para pemandu wisata untuk datang ke rumahnya. Lalu dibuatlah konsep bisnis hingga menjadi konsep pertunjukan dan mengadakan sanggar seni angklung. Pola perjalanan wisman dengan konsep itu pun bertahan sampai saat ini. Sentuhan kian ‘modern’ seperti yang saat ini terlihat memang baru dimulai sejak tahun 2007, ketika itu SAU memecahkan rekor MURI dengan menampilkan konser 10.000 angklung. Sementara itu dirasakan masih belum banyak pilihan obyek untuk wisata budaya di Bandung. Adakah kunci keberhasilan lainnya? Sebenarnya tadinya bukan wisman yang ­memilih untuk pergi ke SAU. Peran pramuwisata ternyata amat penting. Mereka merekomendasikan SAU, dan di ­tahap-tahap awal, mau atau tidaknya wisman datang itu tergantung dari minat wisman sendiri. Kalau pun kemudian kian meningkat reputasinya, sebagai tourist spot masih dimasukkan bersifat opsional, dan belum bisa menjadi itinerary wajib dalam paket tur untuk kota Bandung. Meskipun demikian, pihak agen perjalanan masih terus menawarkan SAU kepada wisman. Maka kreatifitas pun ditingkatkan. Selain pertunjuk­ an, ditawarkan program halfday yang berisi workshop membuat angklung, mengenal alam di taman ­sekitar lokasi sanggar, dan beberapa kegiatan lain. Paket ini mulanya ditujukan ter­utama kepada anak-anak ­sekolah. Semakin berkreasi lagi, SAU menjalin kerja sama dengan komunitas pecinta alam untuk membuka kelas pengetahuan mengenal alam. Di halaman belakang SAU sekarang ada kafe yang baru dibuka tahun 2011, di situ disajikan ‘acara’ minum teh, itu pun dengan membina kerja sama dengan maskapai perkebunan PTP VIII di Pangelengan. Lebih maju lagi, kemudian disediakan hidangan-hidangan masakan Sunda dan guest house yang berbentuk rumah Sunda. Toko suvenirnya tidak hanya menyajikan set angklung atau pernak-pernik berbentuk angklung

atau wayang golek Si Cepot, tapi juga produk-produk lain yang mengedepankan bahan bambu, batik, bahkan kaos yang mengingatkan orang pada kaos dengan label Paris J’at aime. Setiap minggu ‘industri sanggar‘ ini kini menghasilkan 400 angklung. Semua di­kerjakan dengan kerajinan tangan. Tabung angklung dibuat oleh Pak ­Rahmat, salah seorang seniman dan pengrajin angklung senior di sanggar ini. Kerangka angklung dibuat oleh 44 kepala keluarga yang terdaftar di SAU, mereka ini pun memberdayakan lagi keluarga dan tetangga untuk membuat kerangka angklungnya. Dewasa ini setiap dua bulan dari sini diekspor angklung bertujuan ke pembeli di Korea Selatan. Jangan pula heran, angklung itu dibuat customized sehingga alat musik ini bisa memainkan tangga nada tradisional Korea.

Udjo Ngalagena (1929-2001)

Galeri dan IT

Karena secara fisik rumah Pak Udjo sudah tidak ada lagi, rencana ke depannya akan dibangun semacam museum yang lebih mengarah pada bentuk galeri. Ini sebagai ungkapan rasa tanggung jawab dalam usaha melestarikan a­ ngklung. Pengurus Saung sedang mengumpulkan dan menginventarisasi barang-barang peninggalan Pak Udjo dan angklung-angklung yang di­buatnya. Dalam rangka itu

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012

15


Industri Kreatif

Suaranya yang khas dan digemari wisman, sehingga angklung terkenal hingga ke mancanegara. Bahkan setiap event penting, sering diadakan interaksi angklung.

dinyatakan terbuka kerja sama kepada semua pihak yang ingin mengangkat angklung, apapun bentuknya. Imbas kemajuan dan pe­ngaruh IT ­sudah diantisi­ pasi. Virtual angklung sekarang bisa diunduh di ­android ­market. Juga ada rencana membuat program ­i-Angklung untuk program aplikasi di i-Phone Apple pada bulan Maret 2012, mengembangkan prototype Bambu Beat (bentuknya seperti angklung elektrik, bisa juga dimainkan melalui komputer), dan mengembangkan ­program audio visual yang akan berisi angklung, sejarah kota Bandung dan destinasi-destinasi wisatanya. Bukan main! Akhirnya, menurut Bhawika H Pra­setya, SAU meng­identifikasikan diri sebagai community based tourism. Yang diperhatikan bukan hanya para murid, pemain atau seniman, dan pengrajin mendapatkan ­penghasilan. Lebih jauh dari itu, juga bisa menjadi ruang publik seperti tempat bermain anak-anak, bermain bola, tempat solat Idul Fitri, Posyandu, kegiatan karang taruna, kegiat­an pada momen-momen perayaan hari kemerdekaan, dan sebagainya. Anak-anak yang terdaftar sebagai murid angklung harus melampirkan hasil rapor sekolah setiap kali pembagian rapor di sanggar. Ini untuk mendidik para orang tua agar bertanggung jawab pada pendidik­an a­ nak-anak.

16

Jadwal latihan angklung bagi anak-anak dilaksanakan pukul 13.00–14.30 atau sebelum pertunjukan sore dimulai. ­Murid-murid dibagi ke dalam tingkatan kelas berdasarkan umur, disebut cangkurileung (bahasa Sunda, burung yang masih kecil, artinya basic), japati (merpati, middle), dadali (advance). Para murid harus melalui ujian kenaik­an tingkat kemahiran bermain angklung. Karena itu, SAU meminta komitmen dan konsistensi dari para murid dan orang tua. Di sini dipegang teguh pesan dari Pak Udjo, anakanak yang berlatih angklung tidak boleh putus sekolah. Malahan kemudian beberapa murid mendapat beasiswa sampai ke perguruan tinggi. Kini tercatat alumni dari SAU berjumlah 450 orang. Adapun sumber daya manusia untuk melaksanakan pertunjukan angklung, se­jumlah 80 orang seniman siap selalu. Bhawika Prasetya mengatakan, belum ada rencana mengeskplor lagi permainan tradisional anak-anak lainnya, karena permainan yang ditampilkan sekarang dianggap paling representatif untuk dijadikan show ­performance. “Memang etalase kita adalah memelihara kebudayaan Sunda. Tapi dengan nama SAU, itu sudah menujukkan fokus kita di angklung, dan unsur-unsur lainnya kita coba masukkan ke dalam angklung itu,“ tambah Bhawika. Filosofinya, tiap instrumen angklung tidak bisa berdiri sendiri, pasti terdiri dari 2, 3 atau 4 tabung ­suara. Angklung bisa dibilang sebagai personifikasi manusia yang tidak bisa hidup sendiri. Kerangka angklung merupakan simbol manusia harus memiliki kerangka hidup, apakah agama atau aturan tertentu. Proses pembuatannya? Dimulai dari tahap penebangan bambu sampai bisa dimainkan itu menghabiskan waktu 1,5 tahun. Setelah jadi, angklung harus disimpan selama satu bulan untuk pengecekan suara. Ini untuk mengecek perubahan suara dalam sebulan pertama. Dan itu mesti melalui pengawasan kualitas sebelum siap dijual. Bagaimana di daerah Anda? Acara seni budaya apa bisa disodorkan untuk kunjungan wisatawan di sore hari? n

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012


Events

Menuju Pelaksanaan Kegiatan Pemasaran

S

eluruh kursi berjumlah 205 ­terisi pe­ nuh, dan daftar hadir akhirnya mencatat 207 peserta, pada rapat koordinasi PIC (person in charge) jajaran Ditjen Pemasaran Pariwisata ­Kemenparekraf. Rakor kali ini berlangsung pada 28 Februari 2012 di Jakarta. Dipimpin langsung oleh Wamenparekraf/Plt Dirjen Pemasaran Pariwisata, Sapta Nirwandar. Rapat itu memperlihatkan pemupukan dan peningkatan budaya team works untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan di jajaran pemasaran tahun 2012, diikuti segenap ­eselon II, III, IV dan para staf. Secara random ditunjuk PIC dari berbagai rencana kegiatan untuk tampil mempresentasikan rincian program kerja dalam rangka melaksanakan ‘event’ atau ‘kegiatan’ masingmasing. PIC untuk satu even atau kegiatan tidak selalu hanya terdiri dari satu jajaran direktorat yang bersangkutan, tapi ada juga dibentuk kelompok yang terdiri dari staf direktorat lainnya. Dari presentasi para PIC juga terurai akan dilakukannya kontak atau ‘kerja sama’ dengan pihak-pihak di luar instansi Kemenparekraf, misalnya dengan Badan Pusat Statistik, dan lain sebagainya. Jadi, dalam kelompok PIC pun sudah dijalin kerja sama lintas direktorat atau sub-direktorat. Budaya kerja dan semangat team work lintas direktorat tersebut, itulah yang semakin diperluas dan diperkuat sehingga diketahui dan dihayati bersama oleh segenap jajaran Ditjen Pemasaran, melalui pertemuan paripurna pada Rakor PIC tersebut. Dengan kata lain, semangat tim di­bangun mulai dari staf hingga eselon II dari direktorat yang berbeda, maka langsung dan tak langsung semua terlibat dan ambil bagian pada kegiatan-kegiatan tertentu, mungkin untuk pelaksanaan di dalam negeri atau pun luar negeri. Ditjen Pemasaran Pariwisata terdiri atas lima Direktorat: Pengembangan Pasar & In-

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012

formasi Pariwisata; Promosi Citra ­Indonesia; Direktorat Promosi, Konvensi, Insentif, Even & Minat Khusus; Promosi Pariwisata Luar Negeri, Promosi Pariwisata Dalam Negeri, dan Sekretariat Direktorat Jenderal Pemasaran Pariwisata. Melalui Rakor PIC terjadilah saling tukar informasi, saling bertanya dan memberi masukan, mengingat yang disampaikan dalam rakor itu adalah materi yang mencakup rencana kerja para PIC: mulai dari pekerjaan yang bersifat penelitian dan analisis, sampai pada rencana pelaksanaan even, pameran,

‘The Best’ di Turki

K

e kawasaan Timur Tengah dan Afrika, Ditjen ­Pemasaran Pariwisata akan menyelenggarakan sedikitnya 12 events dalam tahun 2012 ini. Bulan Februari telah dimulai kegiatan promosi ­d­engan ikut

serta pada salah satu even besar, East ­Mediterranean I­ nternational Travel and Tourism (EMITT) di kota Istan­ bul, Turki pada 9–12 Februari 2012. Usai pameran, langsung dilaksanakan kegiatan Sales ­Mission di Istan­ bul dilanjutkan ke kota Ankara, 13–15 Februari 2012. Even EMITT itu diikuti oleh 62 negara. Pada booth I­ndonesia, empat unsur industri pariwisata ikut serta

sales mission, dan seterusnya. Pertemuan sehari itu juga ter-design mengandung proses up grading dan refreshing bagi peningkatan kualitas dan kemampuan personal maupun kelompok, membangun sistem dengan budaya kerja kelompok dan tim. Biasanya Rakor PIC ini dilaksanakan di akhir Desember atau awal Januari.Wamen/Plt Dirjen Pemasaran Pariwisata menyemangati jajaran pemasaran untuk meningkatkan terus kualitas kerja baik dalam hal proses penyiapan, mengkomunikasikannya sampai pada pelaksanaan kegiatannya sendiri. n

yaitu MG Holidays, Adventure Indonesia, Qatar Airways serta Matahari Tour (anak perusahaan Qatar Airways). Dua peserta Indonesia seusai pameran menga­ takan, “Alhamdulillah, banyak yang serius dan menin­ daklanjuti, mudah-mudahan bisa berkelanjutan”. Dari Qatar maupun Turkish Air didapat informasi bahwa ­passenger load factor penerbangan mereka ke ­Indonesia dari A­ nkara dan Istanbul terus meningkat. Stan Indonesia mengusung tema Green and ­Creative Tourism, didekorasi dengan konsep minimalis, menon­ jolkan image destinasi dengan keindahan alam, khususnya pan­ tai. Dan, Indonesia memperoleh penghar­ gaan ter­tinggi yaitu ‘the Best Stand Show’. Adapun kegiatan sales mission ­dengan cara Table Top di ­Istanbul dan Ankara, banyak dihadiri tour ­operator setempat berkat kerjasama ‘Tursab’, asosiasi perusahaan biro perjalanan Turki. Diterapkan pula co-­marketing: doorprize tiket ­Istanbul–Jakarta disediakan oleh Qatar Air, ground handling dan bermalam di Benoa, Bali oleh MG Holiday serta paket bermain golf di Jakarta dan Bandung oleh Jet Golf. n

17


Aksesibilitas

Peluang dari Pengembangan

Kiri-kanan: Dirut Garuda Indonesia Emirsyah Satar, Menparekraf Mari Elka Pangestu, Wamenparekraf Sapta Nirwandar, dan Sekjen Parekraf Wardiyatmo.

I

ndustri pariwisata, dan pemerintah di daerah, boleh kian optimis dalam mengembangkan bisnis, ­sehubungan peran dan pengembangan faktor ak­se­ sibilitas udara yang dewasa ini ­sedang me­ ningkat. Dalam jangka pendek hasilnya telah mulai menjadi kenyataan antara lain pe­ningkatan jumlah wisman yang terealisasi bulan Januari 2012. Proyeksi jangka menengah, --dua atau tiga tahun ke depan--, tampak optimis dari rencana penambahan kapasitas penerbangan baik di rute luar negeri maupun di dalam negeri. Pada 21 Februari 2012, ditandatangani MoU antara maskapai penerbangan ­Garuda Indonesia dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), demi mempromosikan pariwisata Indonesia me­lalui pencitraan Indonesia. Penandatangan dilaksanakan di Ja­karta, oleh Dirut Garuda Indonesia Emirsyah ­Satar, dan Sekretaris ­Jenderal ­Kemenpa­rekraf, ­Wardiyatmo. ­Menparekraf Mari Elka ­Pangestu didampingi ­Wamen ­Sapta ­Nirwandar menyaksikan ­pe­nanda­tanganannya. MoU ini, kata Menteri Mari Elka ­Pangestu, memberikan tiga arti penting dalam mendukung kemajuan kepariwisa­taan nasional. Pertama, kedua belah pihak bersepakat melakukan kolaborasi promosi pariwisata dalam upaya menarik kunjung­an wisman ke Indonesia yang tahun ini ditargetkan sebanyak 8 juta wisman serta mendorong pergerakan 235 juta wisnus untuk berwisata di dalam negeri. Kedua, meningkatkan konektivitas ter­ utama pada tempat-tempat tujuan wisata baru

18

agar banyak dikunjungi wisatawan. Ketiga, adalah untuk meningkatkan Nation Branding serta pencitraan Indonesia ke mancanegara. “Garuda sebagai flag carrier mempunyai peran penting dalam mendukung Nation Branding serta Pencitraan Indonesia,” kata Menteri. MoU tersebut menyebutkan, kerja sama untuk mewujudkannya adalah melalui penyediaan bahan-bahan promosi pariwisata ­Indonesia, dukungan pemberian sponsor untuk kegiatan promosi ­pariwisata Indonesia dan partisipasi pada beragam acara pariwi­ sata internasional terutama di negara dimana Garuda memiliki rute pe­nerbangan. Untuk memperkenalkan ‘Nation Branding’

dan ‘Pencitraan Indonesia’ kepada masyarakat luas tentunya diperlukan ­infrastruktur dan konektivitas yang baik, selain menjadi peluang untuk terus menciptakan inovasi-inovasi dalam mempro­mosikan pariwisata Indonesia kepada ma­syarakat dunia, lanjut Mari. Sekjen Kemenparekraf Wardiyatmo meng­ utarakan harapannya agar kerja sama ini dapat mendukung sejumlah program promosi pariwisata yang telah dicanangkan pihak Kemenparekraf. “Indonesia memiliki potensi yang sa­ngat besar dalam pariwisata, dan Garuda ­Indonesia, melalui berbagai program dan kegiatan pro­ mosinya, bekerjasama ­dengan instansi lain telah melakukan berbagai upaya untuk mem­ promosikan pariwisata Indonesia,” kata Direktur Utama Garuda Indonesia, Emirsyah Satar.

Harapan pada Garuda

Harapan pada Garuda memang besar, sebagai operator penerbangan full service dan masuk dalam anggota aliansi penerbangan global. Aliansi itu memperluas daya jangkau pemasarannya sehingga mencakup kotakota di pelosok dunia di lain benua, di mana maskapai ini tidak beroperasi. Tahun 2012 akan datang 21 unit pesawat baru, sehingga di akhir tahun akan menjadi 110 unit. Selain full service airlines, Garuda juga memperkuat LCC-nya, ­Citilink. Maka dari 21 unit pesawat baru yang dimasukkan itu, tipe­nya empat ­Boeing 737-800 NG, dua Airbus ­330-200, lima pesawat Bombardier CRJ 100 berkapasitas 100 tempat duduk, dan 10 pesawat A320 untuk Citilink. Maskapai ini berencana mencanangkan

Pesawat Batavia Air di bandara Chengdu, China.

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012


Aksesibilitas

Angkutan Udara

nya pesawat ­Fokker 50 berkapasitas 52 seat, ­ esawat BAe 146/200 berkapasitas 85 seats. p Dalam tahun ini akan datang enam unit pesawat menambah jumlah armada­nya. Maskapai ini tampak akan menjadi spesialis di kawasan NTT, melayani ke setiap kota dan pulau, dari Alor, Maumere, Ende, Ruteng, Waingapu, Labuanbajo dan Tambolaka. Maskapai tersebut giat ‘merebut pasar’ —to capture the market—sebelum seluruh ­armadanya terealisasi lengkap di tahun 2012 ini, kegiatan pemasaran dan promosinya telah dilancarkan dengan ikut serta antara lain pada even ATF di Kambodia, di Manado, dan TIME di Lampung dan beberapa even lain. Peran maskapai ukuran TransNusa ini terasa sekali pada even besar. NTT adalah

pro­gram Quantum Leap Garuda 2015, ketika nerbangan berjadwal. Dua maskapai ­nasional jumlah armadanya saat itu akan mencapai 154 Indonesia dan dua maskapai China mengope­ unit. Itu akan mendukungnya menambah rute- rasikan penerbangan berjadwal di tiga rure rute baru domestik maupun ­internasio­nal, ter- tersebut. Dalam hal penggarapan pasar China, penerbangan dari dan ke Hong Kong tetap masuk menambah frekuensi penerbangan. Tahun 2012 ini saja, Garuda akan membuka menunjukkan perkembangan yang konstan. Gejala baru telah muncul. Bukan hanya rute-rute baru di domestik, dan internasional, termasuk rute Jakarta–Taipei dan Denpasar– Bali ternyata bisa merebut hati wisman dari China. Akhir Januari 2012, juga pe­nerbangan Haneda. Di rute domestik, Bandung–Surabaya. Frekuensi beberapa penerbangan dari dan perdana dengan charter flight telah membake negara-negara di Asia ditambah, diantaran- wa wisatawan dari Guangzhou ke Manado, ya Denpasar–Seoul, dari lima kali menjadi ­Sulawesi. tujuh kali seminggu, rute Jakarta– Shanghai dari lima kali menjadi tuKonsep MP3EI (Masterplan Percepatan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) juh kali seminggu, rute Jakarta– Beijing dari tiga kali menjadi lima kali seminggu, dan rute Jakarta–Seoul dari enam kali seminggu juga menjadi penerbangan setiap hari.

Tambahlah dengan Charter

Adalah menarik bahwa Batavia Air, selain terbang berjadwal antara Indonesia dan Cina, pesawat-pesawatnya disewa oleh konsorsium ­operator tur di Shanghai, bukan hanya bertujuan Bali, juga membuka pasar yang baru ke destinasi Manado di Sulawesi Utara. Bulan Januari saja wisatawan dari ­China dengan pesawat charter sudah dua kali datang ke Bali. Pertama mendarat tanggal 11 Januari 2012 untuk stay dari ­11–15 ­Januari. Kemudian datang lagi pada 23 ­Januari 2012 dengan lama stay ­23–27 Januari. Rutenya Chengdu–Bali. Pesawat yang dipakai tipe Airbus 300 yang berkapasitas 300 pe­ numpang dan terisi penuh. Kalau tidak penuh tentu akan rugi. Di kota Chengdu, China itu, ada sebuah konsorsium yang dibentuk yang terdiri lebih dari 10 biro perjalanan atau operator tur. ­Merekalah yang melihat peluang dari nilai jual destinasi wisata ke Indonesia, memang, terutama ke Bali. Namun penjualan tampak laris sehingga mereka pun menggunakan penerbang­an re­ guler juga. Para agen konsorsium itu berhasil mengirimkan sekitar 1.500 wisatawan China dalam periode 11 ­Januari sampai akhir Januari 2012. Paket turnya berdurasi 5 hari 4 malam. Menurut pengakuan konsorsium ini, jika tersedia pesawat untuk disewa dan urusan izin-izin lainnya dibantu, para agen-agen di China berminat meningkatkan penjualan. Tentu saja khususnya dari kota-kota di luar Beijing, Shanghai dan Guangzhou, lantaran ketiga rute tersebut itu sudah dilayani oleh pe­

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012

Aksesibilitas udara memang bisa ­flek­sibel demi perluasan pasar, dengan mendukung upaya charter flight untuk mendatangkan wisman dari kota-kota di mana penerbangan berjadwal belum dioperasikan.

Pengembangan di Timur

Di dalam negeri, perluasan dan peningkatan aksesibilitas udara mulai menjadi kenyataan pada arah timur Indonesia. Telah beberapa tahun dilirik, kini maskapai pe­ nerbangan ‘smaller player’ mulai merealisasi ­island hopping services dengan armada pesawat berkelas komuter. Artinya, per pesawat berkapasitas di bawah 100 tempat duduk, bahkan umumnya di bawah 80 seaters. Termasuk maskapai yang spesialis mengoperasikan pesawat di bawah jumlah 20 tempat duduk. Adalah maskapai TransNusa, yang mengesankan pertumbuhan slow but sure, bermula sebagai penerbangan charter, kini melayani penerbangan berjadwal pada rute-rute di Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, dan, Makassar. Digunakan-

salah satu destinasi dari peserta Sail Indonesia 2010. Kabupaten di NTT yang disinggahi para sailor itu adalah Kupang, Timor Tengah Selatan, Rote Ndao, Alor, Lembata, Maumere, Ende dan Nagakeo. Nah, TransNusa ikut ambil bagian dalam menyediakan sarana transportasi dan paket city tour. Ada sebuah maskapai ‘kecil’ lain yang bertumbuh tampak konsisten, dan sooner or later akan bisa menarik lebih banyak minat wisman untuk berkeliling di destinasi Indonesia. Mulainya tahun 2006, Susi Air, mengarahkan diri sebagai pener­bangan komuter ­berjadwal. Saat ini, —boleh dikatakan diam-­diam—, mengoperasikan 32 unit pesawat tipe Grand Caravan, yang masing-masing berkapasitas 12 penumpang. Rutenya menghubungkan kota besar dengan kota-kota kecil di pantai atau di pedalaman, di Pulau Sumatera, Provinsi Jawa Barat, Kalimantan, Papua, dan lagi, Kupang di NTT. Di website-nya, ditulis pengumuman: “we are planning to add more exciting destinations which connects most cities and remote area all over Indonesia.”

19


Wisata Bahari Aksesibilitas Tahun 2012 ini ditargetkannya meng­angkut lebih dari 500.000 penum­ pang. On line booking juga diterapkannya sebelum medio tahun 2012. Masih perlu diperhatikan satu lagi. Seperti TransNusa yang belum lama ini telah diberikan AOC (Air ­Operator Certificate), sebuah maskapai yang baru berdiri lainnya, Pacific Royale, meng­ umumkan ­ancang-ancang langkahnya beroperasi ­tahun 2012 ini. Kemanakah tujuannya? Untuk internasional, akan dibukanya rute dari Batam dan Surabaya bertujuan Singa­pura, Kuala Lumpur, India, Hong Kong, dan China. Memang di­ nyatakan bahwa untuk ke China tentu dihindarinya kota-kota yang ­sudah dilayani oleh pe­­nerbangan berjadwal seperti Garuda dan China Airlines. Dirutnya, Samudera Sukardi, dikutip media mengumumkan pe­ nerbangannya sebagai full service flights, dari jumlah 81 rute yang sudah diizinkan oleh Kementerian Perhubung­an, 30 % pada rute internasional, diawali meng­gunakan pesawat Airbus-320 yang kemudian diganti dengan Airbus-330; untuk domestik menggunakan Fokker-50; semua akan tiba dalam tahun 2012. Akhirnya bisa dicatat bahwa dalam jangka menengah dan jangka panjang, janji yang mengesankan adalah rencana di tahun 2015 jumlah armada pesawat yang akan dioperasikan oleh Garuda Indonesia mencapai 154 pesawat dan oleh Lion Air sebanyak sedikitnya juga 150 pesawat (Saat ini dikabarkan ber­operasi dengan 72 pesawat, Lion memproyeksi jumlah armadanya menjadi 302 unit tahun 2025, setelah akhir tahun lalu menandatangani kontrak mega purchase sejumlah 230 unit pesawat Boeing, disaksikan oleh Presiden AS, Barack Obama Memang, catatan ini melihat trend dari sudut pemasaran. Ada tantangan dan ­peluang untuk keberhasilannya. Industri penerbangan mempunyai tantang­an tersendiri pula, yaitu dari sudut operasio­nal. Jumlah pesawat yang sema­kin banyak memerlukan infrastruktur kebandaraan yang harus mengikuti untuk bisa memenuhi kebutuhan operasional dari cepatnya pertumbuh­an, ya pesawat dan frekuen­ si terbangnya, ya jumlah pe­numpang dan kargo yang diangkutnya. Dalam MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia), aspek konektivitas menjadi salah satu fokus pengembangan yang sedang dipercepat. n

20

Dari Gagasan Menuju Kenyataan Bandung sampai Bangkok–Penang

Eko Diantoro

General Manager Angkasa Pura II, Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Eko Diantoro, mengatakan pengembangan bandara Husein Sastra­negara akan difokuskan pada terminal penum­pang ka­ rena yang ada saat ini

masih kecil. Pengembangan akan dilakukan ke lahan kosong yang tersedia di belakang terminal yang ada sekarang. Saat ini bandara Husein Sastranegara bisa menampung sekitar 700 ribu penumpang per tahun. Dengan pengembang­ an terminal diharapkan sampai dengan tahun 2014, bandara ini akan bisa menampung tiga juta penumpang per tahun. Panjang runway sudah 2.220 meter dan belum ada rencana memperpanjangnya lagi. Per hari sekarang beroperasi 48 kali penerbangan, pergi–pulang. Agar tidak terjadi kepadatan penerbangan di siang hari pemerintah meng­ upayakan bagaimana caranya memindahkan frekuensi itu ke penerbangan malam.

Apalagi mengingat terminal penumpang yang masih kecil, untuk menjaga agar antrian penumpang tidak terlalu panjang, operator bandara berusaha mengatur slot time, dimana jarak jadwal antara satu pesawat dengan pesawat lainnya, interval 5–10 menit. Tujuh maskapai beroperasi saat ini: ­AirAsia, Batavia, Garuda, Merpati, Silkair, Sriwijaya, Wings. Maskapai baru Pacific Royal rencananya memu­ lai operasi bulan Maret. Rutenya adalah Ban­ dung–Semarang. Selama ini rute ini belum ada. Pada tahun 2011, tercatat 960 ribu penum­­ pang setahun melalui bandara ini. Eko ­Diantoro optimis tahun 2012 tingkat pertumbuhan 10%. Bandara Husein Sastranegara sendiri mulai tahun 2012 bisa menampung 1,5 juta pe­numpang setahun. AirAsia itu rupanya diinginkan oleh induk­ nya untuk terbang sampai ke Bangkok dan ke Penang. Tapi kendalanya di bandara Bandung. Jika saja panjang runway-nya sudah mencapai 2.500 meter, bukan mustahil AirAsia bisa melayani rute Bandung ke Bangkok, Phuket dan Penang. Mereka ingin menghubungkan kotakota pariwisata di Asia. n

Ekspo Komodo plus Konradus Jeladu, pramuwisata profesional di Labuan Bajo, Flores sedang memulai melaksanakan ide baru. Setiap Sea Tours baiknya diakhiri dengan penyajian seni budaya, mesti ada Konradus Jeladu hiburan, bosan kalau hanya melihat Komodo. Setiap wisatawan kapal pesiar yang melihat Komodo baiknya chek in di Labuan Bajo, untuk diterima dengan ­upacara adat. Disini sanggar tari ada 12. Tapi semuanya berumur ‘embrio’. Dia sendiri pun mempunyai sanggar tari dan sesekali dipanggil untuk menari di restoran, hotel, atau untuk grand opening hotel baru. Anggotanya 25 penari. Setiap kali tampil semua anggota turun. Honorarium dari pembayaran pengundang, sehabis pentas langsung dibagi-bagi. Contohnya, untuk tanggal 2 Maret diundang menerima tamu di Bandara. Untuk ini dia kerja sama dengan biro travel. Baiknya diwajibkan bagi pegawai hotel agar menggunakan busana daerah yang melambangkan tradisi lokal. Kalau daerah lain bisa mengapa di Labuan Bajo tidak? Penggunaan identitas daerah akan memberi spirit, selain

promosi daerah, jati diri dan potret budaya, akan hidup juga home industry. Industri kerajinan tangan perlu penyuluh­ an, bagaimana desain busana, setting malam, setting alam, dan membawa NTT terkesan ­hijau. Selama ini 90% wisman ke sini adalah para divers, Labuan Bajo is much more. Prakteknya mereka melihat Komodo, menginap di pulau 2–3 minggu. Tapi ada juga wisatawan trekking, hiking, peneliti dan lain sebagainya, hanya melihat daya tarik wisata alam. Dalam rangka Visit NTT (Year) 2013 ­baiknya diselenggarakan Komodo Expo di Labuan Bajo. Bikin pentas budaya dari berbagai etnis, ­bangun tribun budaya, malamnya atraksi, kasidah, pagar betis pakai tenun tradisional, para pengrajin tidak usah menjaga stan display, atur petugas sales yang bekerja, cantumkan saja fixed price agar memudahkan. Lalu tampilkan local food, ubi, jagung dengan gaya layak jual. Setiap akhir pekan, pimpinan instansi dan masyarakat datang menyaksikan dan mencicipi. Para wisman, dan wisnus, tentu akan datang. Wah, gagasan ini rasanya baik ditambah, dengan menamakannya: Komodo Expo Plus, ­Komodo Plus Expo. n

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012


Events

S

Tahun Kunjungan Jawa Tengah 2013

atau Tahun Kunjungan Pariwisata Jawa Tengah 2013. etidaknya dua provinsi saat ini mempersiapkan “Tepat waktunya Gubernur Jawa Tengah sedari diri menggelar tahun kunjungan wisata 2013, sekarang mempersiapkan bersama para pemangku yakni Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Timur. kepentingan pariwisata di daerahnya,” kata Pakarti Mewakili Wamenparekraf Sapta Nirwandar, DirekBudi. Diharapkan sebelum tahun 2012 berakhir, protur Pengembangan Pasar Pariwisata Sadar Pakarti gram lengkap dari Visit Jawa Tengah 2013 sudah bisa Budi mempresentasikan masukan pada satu perdi­ekspose ke pasar, di dalam maupun luar negeri. temuan sehari di Semarang pada 27 Februari 2012, “Diharapkan juga tentunya para pelaku ­bisnis dalam rangka persiapan tersebut. mengantisipasi dan memanfaatkannya untuk me­ Gubernur Jawa Tengah, Dinas Pariwisata Provinsi, ningkatkan jumlah wisatawan ke daerah itu,” kata Badan Pembangunan Pariwisata Daerah, Badan Prodia. mosi Pariwisata Daerah, wakil-wakil asosiasi bisnis Sadar Pakarti Budi Di provinsi NTT, persiapan Visit NTT 2013 juga pariwisata dan para pelaku pariwisata serta instansi sedang dalam persiapan, selain rencana ­pelaksanaan lintas sektoral, sama-sama membahas situasi pariwisaSail Komodo 2013. n ta dan prospek untuk menyelenggarakan Visit Jawa Tengah 2013,

Pariwisata Musik Semakin Berhasil

K

ampanye musik untuk pariwisata terasa semakin menunjukkan hasil positif bagi Indonesia. Komunitas musik khususnya jazz telah tampak men­duniakan destinasi Indonesia, atau sebalik­nya, komunitas jazz semakin luas menge­nal,— dan tentu saja me­ngunjungi ­Indonesia. Asean Jazz Festival yang kelima, akan dilaksanakan di Batam, pada 27 Juli 2012. Ditjen Pemasaran Pariwisata Kemenpa­rekraf menginisiasi even ini sejak 2008, konsisten menyelenggarakannya, berlangsung setiap tahun. “Diawali sebagai kegiatan promosi pariwisata dalam negeri di perbatasan,” kata Direktur Promosi Pariwisata ­Dalam Negeri Faried Moertolo, konsepnya langsung berkembang menjadi even musik pariwisata yang mengundang wisman. Kemudian, hiburan dan apresiasi dari musik jazz ini diperluas lagi dengan meng­adakan jazz festival di berbagai kota, Bandung, Yogya,

Gunung Bromo pun, dipromosikan dengan jazz.

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012

Makassar, Ambon, bahkan ke destinasi wisata Gunung Bromo. Adapun di Jakarta, even Java Jazz Festival telah diselenggarakan tanggal 2–4 Maret 2012, oleh komunitas jazz, telah diakui sebagai salah satu terpopuler di Asia. Artinya, ekspose Indonesia sebagai destinasi pariwisata dari pendekatan komunitas musik, juga kian menampakkan hasil. ‘Where Jazz Finds a Home’ dan ‘Bring the World to Indonesia’, telah merupakan dua di antara impressi pada publik internasio­nal yang dibangun dari rangkaian kegiatan festival jazz. Maklum bukan? Nama-nama beken pemusik jazz di Indonesia, Asean, Asia, lalu dari Eropa dan Amerika tidak akan melewatkan even jazz di Indonesia. Kini, beberapa kali even berantai ini dilaksanakan setiap tahun di negeri ini. Dan, seperti selalu ditekankan oleh ­Wamenparekraf Sapta Nirwandar, peristiwa tergolong music tourism, sport tourism, ketika dikelola secara profesional berkelas internasional, itu tentu mengandung news value bagi media-media musik di manca­ negara, dari media cetak dan media cyber sampai media visual. Itu jelas membangun awarenesss tentang destinasi pariwisata Indonesia, dan, bahkan desire pada publik untuk datang berkunjung. n

Kita, Country Partner untuk ITB Berlin 2013 Ekonomi Eropa dan ­Amerika memang ‘melambat’ dan berimbas pada ­pelambat­an tumbuhnya outbound ­travelers dari kawasankawasan itu, namun ba­gi industri pariwisata ­Indonesia sedang diperoleh ­‘angin’ yang berpotensi ‘to weather the storm’, artinya, masih terbuka peluang menarik ­publik wisatawan untuk menjatuhkan pilihan terbang ke destinasi Indonesia. Harapan itu datang dari ke­­sem­ patan ekspose tentang Indo­nesia, boleh jadi bersifat soft promotion, bisa juga kesem­patan hard selling promotion, berkat dua peluang. Selain selama enam bulan ­Indo­nesia ­mengetuai Executive ­Committee Expo Floriade di Be­landa, berlangsung April–Oktober 2012, dan ikut serta aktif di pameran itu, awal Maret ini di ITB Berlin, Jerman, telah resmi diumumkan Indonesia sebagai Official Country Partner untuk even promosi pariwisata terbesar di dunia itu. Telah diberitakan, “Sebagai Negara mitra, promosi pariwisata Indonesia mendapat kesempatan utama dalam ITB mendatang,” kata Martin Buck, Direktur ITB Berlin, ketika bertemu ­Menpa­rekraf Mari Elka Pangestu di ITB Berlin awal Maret 2012 ini. n

21


Akomodasi

Mengukur dan Merencanakan di Daerah, dari Akomodasi

D

ari statistik di sebelah ini, berdasarkan jumlah tempat tidur, rata-rata okupansi yang dicapai tahun 2011 oleh hotel, di Sumatera Utara 32,4%: Sumatera Barat 28,6%; DKI Jakarta 61,9%; Jawa Barat 58,8%; Bali 46,4%; Sulawesi Selatan 41,4%; NTB 31,4%; Maluku 12%. Itulah sebagian gambaran yang diambil secara random. Tiga faktor A : Aksesibiitas, Akomodasi dan Atraksi, bisa dipakai pengukur kesiapan suatu destinasi. Bisa jadi juga mengklasifikasi destinasi, seperti di dunia bisnis penerbangan, ada stasiun kelas A, B dan C. Heteroginitas situasi dan kondisi dae­ rah-daerah destinasi wisata di Indonesia terasa memerlukan klasifikasi yang ter­ ukur, semacam dasar bagi daerah menen­ tukan ‘posisi’ dalam Herman Muchtar membangun dan me­ ngembangkan pariwisatanya lebih lanjut. Yang sudah lengkap memiliki tiga faktor A katakanlah kelas A, sudah ‘mapan’ (developed destination), sedangkan yang pernah mapan tetapi pernah mengalami set-back dan kini memerlukan revitalisasi atau pengembangan kembali sebagai kelas B (developing destination). Adapun yang belum cukup terpenuhinya tiga faktor A tersebut, bisa terkategori kelas C. Artinya, sedang memulai membangun, tahap ­embrio. Jumlah usaha akomodasi dan jumlah kamar berdasarkan statistik seperti tergambar di sebelah ini, baik digunakan untuk ‘starting point’ melihat posisi suatu destinasi. Bandung misalnya, kini tergolong Kelas A, seperti Bali dan Jakarta. Bagaimana situasi bisnis akomodasi­ nya? Menurut Herman Muchtar, Ketua PHRI Jawa Barat dan Wakil Ketua BPPD Jabar, dewasa ini bahkan sedang dirancang program mempersiapkan hotel-hotel agar lebih ‘siap’ lagi. Sebenarnya, tingkat okupansi hotel di kota Bandung saja rata-rata 60%. Di wilayah Jawa Barat sendiri tingkat okupansi hotel di Bandung berada di peringkat ke-6 terendah. Dibandingkannya pula kemajuan di kota Makassar yang tingkat

okupansinya bisa mencapai 80%. Total kamar di Bandung ada 15.000–16.000. Total hotel di Jawa Barat ada 1.600. Itu alasan kenapa tingkat rata-rata okupansi hotel rendah. Baik BPPD maupun PHRI Jawa Barat, menurut dia, menargetkan tingkat okupansi hotel di Bandung bisa sampai 70%. Memang belum tercapai tapi dengan peningkatan jumlah kamar hotel, Bandung yang semakin ramai oleh wisnus dan wisman, diharapkan bisa menarik le­

bih banyak wisatawan ke Bandung ­dengan syarat, beberapa lagi masalah yang ada bisa dibenahi. Jadi boleh dikatakan Aksesibilitas sudah memadai dan tumbuh terus, sementara faktor Atraksi telah memenuhi minat dan ‘salesable’ terhadap segmen wisman dari beberapa pasar utama. Hotel di Bandung fully booked pada saat long weekend. Di weekdays turun menjadi rata-rata 30%. Berbeda dengan Jakarta

Jumlah Usaha Akomodasi (Bintang & Akomodasi Lainnya) Tahun 2011 Provinsi

BANYAKNYA Usaha Kamar

ACEH 208 SUMATERA UTARA 791 SUMATERA BARAT 272 RIAU 326 JAMBI 145 SUMATERA SELATAN 311 BENGKULU 128 LAMPUNG 169 KEP. BABEL 90 KEPULAUAN RIAU 352 DKI JAKARTA 365 JAWA BARAT 1,576 JAWA TENGAH 1,368 DI YOGYAKARTA 1,058 JAWA TIMUR 1,833 BANTEN 246 BALI 1,829 N T B 406 N T T 269 KALIMANTAN BARAT 357 KALIMANTAN TENGAH 306 KALIMANTAN SELATAN 259 KALIMANTAN TIMUR 540 SULAWESI UTARA 224 SULAWESI TENGAH 314 SULAWESI SELATAN 548 SULAWESI TENGGARA 267 GORONTALO 76 SULAWESI BARAT 103 MALUKU 183 MALUKU UTARA 124 PAPUA BARAT 80 PAPUA 160 INDONESIA 15,283

4,767 20,212 5,153 10,406 3,931 8,769 2,154 4,286 1,982 16,485 36,314 46,190 30,738 16,131 36,412 6,933 46,363 6,364 4,768 8,525 5,563 6,554 14,571 5,402 3,950 11,239 3,426 1,191 1,535 3,364 2,049 2,032 3,698 381,457

RATA-RATA PEKERJA PER RATA-RATA TAMU PER HARI TEMPAT Usaha Kamar INDONESIA ASING JUMLAH TIDUR 8,381 31,587 9,476 16,658 6,186 13,260 3,392 6,864 2,814 21,469 50,302 74,194 50,757 24,342 56,513 10,898 68,036 10,241 8,636 12,470 8,414 11,040 21,335 7,959 6,396 17,531 5,168 1,749 2,518 4,890 2,508 2,966 5,257 584,207

10.8 15.7 10.7 17.9 15.0 16.8 7.7 15.4 17.5 32.2 100.2 21.3 13.1 8.3 12.9 21.8 31.5 13.1 9.0 11.3 5.8 16.7 17.5 18.3 5.6 13.1 6.3 7.5 6.1 8.4 7.0 19.1 15.0 18.3

0.5 0.6 0.6 0.6 0.6 0.6 0.5 0.6 0.8 0.7 1.0 0.7 0.6 0.5 0.6 0.8 1.2 0.8 0.5 0.5 0.3 0.7 0.6 0.8 0.4 0.6 0.5 0.5 0.4 0.5 0.4 0.8 0.6 0.7

1,255 211 1,466 9,668 594 10,262 2,530 178 2,708 4,360 112 4,472 1,552 18 1,570 3,764 62 3,826 685 26 711 2,136 32 2,168 825 11 836 4,653 2,415 7,068 23,501 7,627 31,128 42,228 1,382 43,610 16,430 341 16,771 7,725 819 8,544 24,002 832 24,834 3,445 321 3,766 9,385 22,184 31,569 1,524 1,689 3,213 1,108 114 1,222 3,371 72 3,443 1,196 9 1,205 3,413 138 3,551 5,240 225 5,465 2,246 121 2,367 953 20 973 7,041 216 7,257 1,673 41 1,714 350 4 354 437 0 437 567 18 585 372 2 374 438 7 445 1,045 45 1,090 189,118 39,886 229,004

Sumber : BPS

22

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012


Akomodasi dimana malam Senin–Jumat ratarata okupansi hotel penuh, tapi di malam Sabtu dan weekend kosong. Di Bandung, wis­man Malaysia rata-­rata tinggal selama 3 hari 2 malam, kadang­kadang 4 hari 3 Faried Moertolo malam. Di Jakarta pariwisatanya meng­andalkan business ­travelers, di Bali holiday makers. Di destinasi Danau Toba dan Toraja pernah mencapai rata-rata okupansi hotel di atas 50%, namun semenjak terimbas krisis 1997–1998, hingga kini tetap masih rendah di bawah 30%. Situasi kondisi ‘kelas B’ seperti ini tentu memerlukan konsep pembangunan kembali dan pengembangan di sub-sektor aksesibilitas dan atraksi. Pada sisi ujung lainnya, daerah-daerah yang relatif kurang sekali dalam ketersediaan Aksesibilitas (udara maupun darat) dan Akomodasi, demikian pula kualitas pengemasan Atraksi yang ‘salesable, tentu akan tergolong kelas C. Konsekuensinya, memerlukan perenca­ naan yang realistis untuk membangun secara bertahap, atau secara simultan, ke tiga faktor A tersebut. Sambil mengemas Atraksi agar ‘marketable’ atau ­‘salesable’, perlu berupaya menambah layanan akse­ sibilitas dari industri penerbangan maupun angkutan darat. Dua aksesibilitas moda transportasi tersebut terasa berlaku untuk pengarusan wisnus, dan wisman. “Dari faktor Akomodasi memang ter­ ukur jelas perannya dalam menyerap te­ naga kerja dan kontribusinya bagi daerah secara langsung, pajak, media promosi, gengsi daerah, multiplier effect atas berbagai kebutuhan operasi hotel, sehingga ikut mendorong aktivitas bisnis termasuk ­investasi,” demikian menurut Faried ­Moertolo, Direktur Promosi Pariwisata Dalam Negeri Kemenparekraf. Pada berbagai kesempatan rapat koordinasi dengan dinas-dinas pariwisata di daerah, Faried Moertolo kerap mengingat­ kan perlunya merencanakan kegiatan de­ ngan bertitik tolak dari situasi dan kondisi riel yang sudah dimiliki daerah dalam ke­ tersediaan faktor 3-A tersebut. Jadi, kita bisa mulai melihat dari statistik jumlah usaha, jumlah kamar dan tempat tidur di masing-masing daerah destinasi. Statistik BPS juga melaporkan efek langsung dari perhotelan terhadap penye­ rapan tenaga kerja. Ini pun menjelaskan, industri perhotelan berperan titik tolak dalam menciptakan lapangan kerja, serta

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012

kebutuhan pendidikan pelatihan sumber daya manusia. Di setiap daerah kini dijumpai statistik berapa jumlah tenaga kerja yang sedang dalam pencarian kesempatan untuk ­bekerja mencari nafkah. Baik dipertimbangkan, pertanyaan antara lain terhampar di hadapan para

pemda dan industri pariwisata di ­daerah: Berapa tingkat okupansi hotel yang hendak dicapai? Maka berapa angkutan (darat, laut, udara) diperlukan untuk mencapainya? Tentu pula, menjawab pertanyaan, yang diinginkan apakah wisnus terlebih dahulu, barulah wisman, atau sebaliknya? n

Mega Event Promosi Dalam Negeri

di Wilayah Bali, NTB, NTT Lombok Sumbawa Pearl Festival Tujuannya memperkenal­kan Lombok se­bagai dae­rah penghasil mutiara internasional. Ini berkaitan membangun perkekonomian rakyat, seraya memperkenalkan berbagai destinasi pariwisata dan produk lokal Indonesia khususnya mutiara yang diminati oleh wisatawan mancanegara, serta perdagangan internasional. Sasarannya, menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan produk mutiara Indonesia, meningkatkan minat pembeli maupun investor terhadap industri mutiara di Indonesia, khususnya di Lombok. Dan meningkatkan pasar wisatawan mancanegara untuk destinasi pariwisata Indone­ sia melalui pemasaran unik dan strategis.

Konser Indonesia Timor Leste (di Atambua) Ini merupakan kegiatan konser musik di perbatasan ne­gara, di kota Atambua, adalah untuk mempromo­ sikan pariwisata Indonesia. Sekaligus untuk me­ narik minat masyarakat Atambua sekitarnya, dan masyarakat dari Timor Leste, untuk mengunjungi wilayah-wilayah Indonesia. Tujuan event ini untuk meningkatkan jumlah wisman dari Timor Leste dan pergerakan wisnus pada umumnya, dan mendorong industri pariwisa­ ta, khususnya biro perjalanan untuk menawarkan serta mempromosikan paket-paket wisata domes­ tik. Disamping itu mendorong pemerintah daerah untuk ikut mensosialisakan program Wonderful Indonesia pada tahun 2012 dan seterusnya. Sasarannya tentulah untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisman melalui pintu masuk perbatasan/cross border.

Festival Kintamani di Danau Batur Ini untuk meningkatkan citra pariwisata Kin­ tamani sebagai salah satu objek wisata Bali

serta menumbuhkan ekonomi rakyat. Memperke­ nal kan budaya dan alam serta mempertahankan nilai-nilai ke­agamaan, moral, citra dan kepriba­ dian bangsa. Sasarannya, menarik minat investor untuk ber­investasi pada usaha pariwisata. Meningkatkan pendapatan perkapita masya­ rakat lokal.Mengajak wisman untuk mengenal lebih dekat kawasan dan alam serta keindahan Gunung Batur.

Pesta Kesenian Rakyat Buleleng di Singaraja Kegiatan ini bertujuan untuk mempromosikan tu­ juan wisata Singaraja dan sekitarnya, sekaligus se­ bagai upaya meningkatkan kunjungan wisatawan wisman dan wisnus. Diharapkan, Pemerintah daerah dan stakeholers industri pariwisata agar lebih berperan aktif dalam mensukseskan program-program ini. Kegiatan ini pun akan mengoptimalkan fungsi promosi dan pemasaran pariwisata Indonesia melalui program-program promosi terpadu.

Kegiatan Direct Promotion Tahun 2012 Direct Promotion Nusa Tenggara Barat akan dilak­ sanakan di Balikpapan, sedangkan Direct Promotion Nusa Tenggara Timur akan dilaksanakan di Bali.

Direktorat Promosi Dalam Negeri juga akan memberikan pendukungan—Event Supporting —tahun 2012 untuk pendukungan kegiatan di Wilayah Bali dan sekitarnya, Wilayah NTB dan seki­ tarnya dan di Wilayah NTT dan sekitarnya. n

23


ASEAN

Kita dan Negara Tetangga

Wisman ke Thailand–Top 10 Market

I

ndonesia membuka tahun 2012 dengan peningkatan jumlah wisman pada bulan Januari sebesar 18,93% lebih tinggi daripada jumlah wisman bulan Januari 2011. Ini menggairahkan untuk optimisme lebih lanjut. Januari tahun lalu, peningkatannya 11,1% dibandingkan Januari 2010; dan Januari 2010 meningkat 4,3% dari Januari 2009. Menparekraf Mari Elka Pangestu meng­ umumkan capaian pembuka tahun itu, de­ ngan menerangkan, antara lain, liburan hari raya Imlek menjadi pendorong tumbuhnya pariwisata hingga 18,93% pada Januari 2012. Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dari RRC, Taiwan, dan Hongkong ke Indonesia pada Januari meningkat tajam se­ hingga berdampak terhadap meningkatnya total kunjungan wisman pada Januari 2012. Tercatat total wisman 652.692 orang, sedang­ kan di bulan Januari tahun lalu berjumah 548.821 wisman. Kunjungan wisman dari RRC tumbuh 139%, dari Taiwan 30,4 %, dan dari Hongkong 59,6%, kata Menteri. Menteri juga menunjukkan selama Januari 2012 wisman dari Singapura, Filipina, India, dan Timur Tengah mengalami kenaikan sekitar 20%, bahkan dari Arab Saudi naik hingga 107,34%. Kenaikan kunjungan wisman pada Januari 2012 ini semakin menambah optimisme dalam pencapaian target 8 juta ­wisman pada tahun ini. Menghadapi melemahnya pertumbuhan ekonomi global, Menteri mengatakan, pari-

Wisman ke Singapura–Top 15 Market

wisata Indonesia menerapkan strategi diversifikasi pasar di antaranya fokus pada emerging country seperti RRC, India, Rusia dan negara Asia lainnya.

Perkembangan di ASEAN

Wisman ke Malaysia 2010–Top 10 Markets

24

Bagaimana

perkembangan pariwisata di negara-negara ASEAN? Pada sidang-sidang dalam ASEAN Travel Forum (ATF) di ­Manado, awal Januari 2012, masing-­masing negara ang­gota ASEAN menyampaikan apa yang disebut Voluntary Country Report. Laporan-lapor­ an tersebut umumnya berisi uraian perkembangan muta­ khir tahun 2011, kecuali Malaysia laporannya untuk posisi tahun 2010. Beberapa di antaranya kita perhatikan melalui statistik yang menunjukkan pasar utama

yang memberikan jumlah wisman ke negara ­masing-masing. 4Thailand: tampak bangga dengan menonjolkan hasilnya dari India, yang peningkatannya dua tahun terakhir rata-rata 23%. Jumlah tertinggi wisman tetap yang berasal dari Malaysia, disusul dari China dan Jepang. 4Malaysia: Bagi Malaysia, lebih separuh jumlah wisman berasal dari Singapura, dan nomor dua terbanyak datang dari Indonesia. Jumlah wisman ketiga terbanyak adalah dari tetangganya di sebelah utara, Thailand, di­ susul jumlah wisman dari China dan Brunei. Malaysia menonjolkan 50 maskapai penerbangan internasional masuk ke destinasinya. 4Singapura: Destinasi ini justru memperoleh wisman terbanyak pertama datang dari Indonesia, disusul berikutnya dari China, dan dari Malaysia menempati peringkat ketiga. Setelah itu disusul jumlah wisman dari Australia, India, Filipina. Adapun jumlah wisman dari Jepang ada di peringkat ketujuh dan dari Thailand di peringkat kesembilan.

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012


ASEAN Wisman ke Brunei–Top 10 Market

Wisman ke Negara anggota ASEAN

Wisman ke Kambodia–Top 10 Market

4Kambodia: Tidak banyak komentar dalam Voluntary Country Report-nya, namun statistiknya mencantumkan rincian dimana juga dicantumkan status dan jumlah outbound tra­ veler, misalnya: Cambodian Overseas 71.084 dan Cambodian Residence 592.975. Dan, Cambodian outbound tourist departures 639.484. Pariwisatanya menghasilkan jumlah kunjungan wisman terbanyak dari Vietnam, di­susul dari Korea Selatan, Cina, Jepang, sedang­kan dari Malaysia di peringkat ke sepuluh. Indonesia tidak masuk di antara 10 pasar utama bagi Kambodia.

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012

4Brunei: Ke Brunei Darussalam, jumlah wisatawan berasal dari Indonesia berada di peringkat ketiga terbesar di tahun 2011, yakni berjumlah 18.552. Terbanyak adalah dari ­Malaysia 56.450, disusul dari China 30.610 dan dari Australia 18.181. 4Indonesia : di samping menyajikan statistik wisman yang masuk ke Indonesia, juga menampilkan kembali posisi pasar intraASEAN dan Extra-ASEAN market. Tampak porsi ­gerakan wisatawan di antara negaranegara ­ASEAN cenderung meningkat. Ini situasi yang agak­nya seiring dengan cita-cita

ASEAN, dari sudut keterkaitan perekonomian yang berarti saling mendukung, dan pada perspektif sosial budaya mendekatkan hubungan antarmasyarakat. Hanya saja, dari sudut neraca niaga, tentu­lah masing-masing negara memerlukan ja­wab­­an, bagaimana upaya agar jumlah outbound travelers berkembang proporsional se­hingga tidak merugikan? Artinya, devisa yang dikeluarkan oleh perjalanan outbound travelers tidak akan berlebihan mengurangi hasil devisa dari capaian inbound tourist? Indonesia, pada prospek jangka ­menengah sedari sekarang, mempunyai landasan objek­ tif kian optimis. Dari sudut aksesibilitas, bebe­ rapa maskapai penerbangan utama ­Indo­nesia yang berpotensi terbang ke wilayah regional atau internasional, akan mengoperasikan le­ bih dari 300 pesawat di tahun 2015, ketika Open Sky Policy ASEAN menjadi kenyataan. Dari sudut Atraksi, berdasarkan luasnya alam dan tema-tema pariwisata serta budaya, Indonesia menjanjikan pilihan-pilihan bagi hampir semua segmen dan komunitas wisman. Dari sudut Akomodasi, dewasa ini pembangunan dan penambahan kapasitas pun sedang berlangsung. Semoga saja, bulan Januari 2012 telah dibuka dengan tingkat pertumbuhan 18,93%, akan berlanjut naik di bulan-bulan berikutnya. (Statistik wisman ke Indonesia lihat ­halaman 34–35). n

25


Bisnis

Kreatif Memproduksi

S

Mete

etelah sekitar dua jam perjalanan mobil dari kota Maumere di Pulau Flores, menuju ke arah Danau Kelimutu, mampirlah di desa Wolowaru, di pinggir jalan raya. Ada sebuah rumah makan. Bus-bus pengangkut penumpang antar kota memang selalu mampir di situ beristirahat. Pemiliknya yang sekaligus melayani tamu makan minum, dia sendiri juga ikut memasak, adalah Sucahyo Lukito. Berasal dari Surabaya dan sudah tiga puluh tahun tinggal di situ. Tahun 2005–2007 dari desa ini dia meng­­­ ekspor biji jambu mete organik ke Eropa. ­Ketika itu dia mempekerjakan sampai sekitar 150 orang desa untuk mendukung ekspor tersebut. Perjalanan waktu dan ­kekurangan bahan mentah, membuatnya berhenti meng­ ekspor, padahal sudah sempat mendapatkan sertifikat kualitas dari pihak Eropa. Sebaliknya di dalam negeri dia memperoleh peluang tetap. Saat ini masih saja dia bergerak di bidang sama, dan, cukup me-

nenangkannya masih bisa mempekerjakan sekitar 60 Sucahyo Lukito dan produk Mete. orang ibu-ibu di desa itu. Para ibu ini setiap hari ‘meyiangi’ anak sekolah sampai menjadi sarjana. biji jambu mete. Dari sumber daya agro di Pulau Flores, Di antara ibu-ibu itu, mirip dengan ­success story di ­berbagai daerah lain, dari bekerja di pengusaha desa Sucahyo ini memproduksi pabrik desa itu mampu menyekolahkan anak beberapa macam produk ‘makanan’: kacang mete (organik), selai mete (chasew jam), gula sampai ke perguruan tinggi di kota besar. Sekarang dia mendapat kontrak pembelian semut (palm sugar), sirup lontar (lontar syrup), produknya dari salah satu hypermart besar di madu hutan (jungle honey) garam piramid Indonesia. Per tahun sekitar 20 ton dia ­supply. (pyramid salt), dan vanili. Dia juga rupanya pernah memanfaatkan Harga rata-rata per kilo dari tiga macam tingpembelajaran yang diberikan oleh pihak kat kualitas biji mete, dijualnya sekitar Rp 140 ribu. Tentu saja termasuk ‘­packaging’ atau Swisscontact. Organisasi ini aktif di Flores pengemasan yang dikerjakannya dengan antara lain dalam apa yang dikenal sebagai program capacity building. ­kreatif pula. Wisatawan yang berkunjung ke ­Kabupaten Nah, salah satu bagian pekerjaan yang di­ lakukan oleh ibu-ibu itu, per kilogram upah- Sikka dan Kabupaten Ende di Flores, akan menemukan bahwa produk ‘makanan’ yang nya Rp 7.000 dan rata-rata dikerjakan seorang ibu sekitar 18 kilo per hari. Jadi, upah sehari dikeluarkan oleh Sucahyo Lukito, merupakan oleh-oleh untuk dibawa pulang. Selain bisa kita hitung, bukan? Lumayan sebagai penghasilan dan tak heran bisa membiayai tenun ikat. n

Jalan Soekarno-Hatta Labuan Bajo

K

awasan di sekitar Jalan Soekarno­Hatta yang menyusuri pantai pela­ buhan utama di Labuan Bajo, ini tampak memerlukan penataan sedari sekarang. Selain untuk menghindari pengembangan yang tak terencana dan terkontrol, juga justru untuk mempercepat terjadinya ­pengembangan pariwisata yang berkonsep ‘sustainable tourism’.

pantai memang dipenuhi oleh Nama Labuan Bajo ikut rumah-rumah nelayan. Jadi, mendunia seiring dengan mengboleh dikatakan tiada tempat globalnya nama Komodo. Dari di sini yang bisa menjadi alasan Labuan Bajo itu terutama para bagi wisatawan untuk tinggal wisatawan berangkat dengan berlama-lama, atau untuk mekapal-kapal atau perahu motor, nikmati sesuatu yang mewakili menuju ke Pulau Komodo, Pukekayaan ­budaya Pulau Flores. lau Rinca, untuk menjalani tur Di tengah itu, Matheus komodo. Juga untuk wisatawan ­Siagian, pengusaha muda, yang datang sebagai sejak pertengahan 2011 mem­divers. bangun dan mengoperasikan Tetapi situasi lingMatheus Siagian sebuah ‘pondok beraksitektur kungan sepanjang pantai Labuan Bajo itulah yang kini memerlu- tradisional lokal’. Dia namakan Top Tree. Dari kan perhatian. Jalan aspalnya bagus ter- kejauhan terlihat khas: atap rumah tradisio­ buat dari hot-mixed, namun bangunan nal Lombok yang menjulang. Semua dibagun kiri kanannya didominasi oleh bangu- dari kayu. Dia bikin apa? Memasak dan menjual nan-bangunan bersifat sementara. Ada ‘seafood Indonesia’. Dan, para wisman betah kafe, restoran, kantor operator tur untuk diving dan sea tours, ­warung-warung, duduk berlama-lama, bergantian, sambil mihanya di sisi yang arah ke darat, mer- num, makan, memandang indahnya pantai upakan tanah perbukitan di mana Labuan Bajo, dan, tentu saja seraya membuka ­beberapa ratus jumlah kamar penginap­ internet. “Makin lama makin ramai mereka ke sini,” an atau hotel kecil sudah beroperasi. Yang ke arah laut sepanjang bibir kata Matheus. n

Dia mulai membuka fasilitas pendukung pariwisata Komodo.

26

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012


Fenomena Bandung

Pendekatan Bisnis dari Masyarakat P

ariwisata di Bandung melejit ­dalam beberapa tahun terakhir. Terdengar se­ bagai suatu success ­story, seakan ­instan, tapi disyukuri. Merebaklah cerita keberhasilan pariwisata kota ini, mulai dari pe­ ningkatan jumlah frekuensi penerbangan dari Malaysia, belakangan ini juga dari Singapura, berbarengan dengan tersohornya kota itu tersulap menjadi kota wisata kuliner, wisata shopping, dan sempat juga sebagai kota golf tourism. Belakangan, mulai diakui sebagai kota ‘kreatif’. Mencermati perkembangan pariwisata dapat juga ditilik dari business approach, yang akan memperkuat telaah dari holistic approach dan discipline approach. Kita catat apa yang terjadi, dari pilih­an ke­ terangan berdasarkan pengamatan dan penga­ laman para pelaku bisnis di ­Bandung. Ini boleh jadi menambah inspirasi, atau ‘benchmark’, bagi daerah-daerah yang, sedang dan akan mengembangkan pariwisata, antara lain ­de­ngan merencana­kan tahun kunjungan ­destinasi, menyelenggarakan even internasional, member­ dayakan masyarakat, dan ­seterusnya. Menurut Cecep Rukmana, salah seorang pimpinan di jajaran badan promosi ­pariwisata Bandung yang juga ­pemilik Hotel Grand Panghegar, bisa dikatakan sisi pariwisata di Bandung

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012

lebih dulu berkembang daripada ekonomi ­krea­tifnya. Ekonomi kreatif di ­Bandung saat ini sa­ngat berkaitan dengan wisata belanja yang menjadi atraksi primadona di kota yang tidak memiliki potensi sumber daya alam secara ­langsung. Wisata belanja di sini sangat berkaitan ­dengan industri garmen. Kita harus ingat ­bahwa Bandung memang telah dikenal sebagai sentra penghasil produk garmen sejak dulu. Asal muasal lahirnya FO kemudian distro itu muncul ketika terjadi resesi ekonomi. Sekitar ­tahun 1995, 1996, dan 1998 banyak orang mencari kreatifitas baru di tengah tekanan ekonomi yang hebat waktu itu. ­Industri garmen, pun tidak luput terimbas. Apalagi mengingat pabrik-pabrik garmen selalu memproduksi 110% dari pesanan dalam rangka menutupi produk yang cacat dan ­ditolak customer. Kelebihan produksi sebesar 10% yang tidak diambil oleh customer dan menumpuk di pabrik itulah yang kemudian dijual secara satuan, ­kiloan, atau borongan sehingga muncul ide menjualnya dalam sebuah toko yang dilabeli ‘factory outlet’. Sayangnya, di saat Cina membuka diri dan berbagai macam produk mereka membanjiri

pasar kita, produk ‘10%’ dari pabrik garmen lokal mulai terancam ­eksistensinya meskipun produk lokal, terutama sisa dari produksi ­ekspor, masih tetap ada di rak-rak di FO yang semakin menjamur di Bandung. Distro alias distribution outlet, muncul tidak lama setelah FO. Meskipun namanya tidak setenar ‘kakak’-nya, distro membuat produk secara eksklusif. Awalnya dimulai oleh komunitas­komunitas yang banyak banget di Bandung

27


Fenomena Bandung 1988. Selama 10 tahun memmaka distro memproduksi produksi merek sendiri yaitu sendiri mulai dari design, pro­ Forsa dan Bavaria yang dijual di ses pembuatan baju, sampai outlet-outlet di Cihampelas dan ke pemasaran dan penjualan ­department store. Krisis moneter se­hingga barang produksi tahun 1997 menghantam, maka ­mereka, pada umumnya kaos sejak itu, agar usaha tetap jalan, dengan design unik, personal, pemiliknya, Alex, memutuskan dan dalam jumlah terbatas. menerima order p ­ erorangan. Dari produk kaos juga Di tempatnya, dia menyemem­buka ­kesempatan untuk diakan berbagai macam bahan memproduksi produk lainnya jeans untuk dipilih konsumen dan aksesoris yang mendukung dan langsung dijahit. Kini, penampilan dari kaos itu secara bukan hanya jeans, berbagai keseluruhan. Berbeda dengan Cecep Rukmana macam bahan kurduroi, kanbutik, ekslusifitas yang ditawarvas, katun sampai wool tersedia. kan distro bukan pada kemewahan dan mahalnya harga barang tapi pada Diversifikasi produknya kemudian merambah pada menjahit jas dari bahan selain jeans dan design unik dan rasa kebersamaan ­komunitas. Distro lalu digemari oleh remaja dan kaum produk dari kulit. Alasan Pak Alex pemilik Aria Jeans, “Kalau muda yang ingin ‘tampil beda’. Pusatnya di sepanjang Jalan Trunojoyo, Jalan Sultan Agung tailor celana biasa kan banyak, tapi kalau jeans sampai ke Jalan Surapati di daerah Dago, dima- susah. Jarang ada. Di sini juga kita bisa jahit jas na di jalan-jalan inilah pertama kali distro mun- sehari. Hari ini pesan, besok sudah bisa jadi. cul. Salah satu distro di Jalan Sultan Agung, Evil Jasnya dari bahan biasa bukan jeans. Bahannya Store, bahkan sudah memiliki cabang distro di dari polyester, katun dan wool. Ada juga yang negara-negara lain seperti di Singapura, Malay- bikin jas dari jeans, tapi jas santai maksudnya. Biasanya dari bahan kurduroi, jadi celana atau sia, Thailand dan Australia. bawahannya tidak usah satu FO pun menjamur di kota warna. Warna bawahannya beBandung, keba­nyakan dimiliki bas jadi kesannya santai”. oleh orang Bandung sendiri. FO Nah, pesanan dengan cara dan distro, telah menjadi daya seperti ini disukai oleh banyak tarik bagi orang dari luar kota, orang dari luar kota, tak terketerutama dari Jakarta maupun cuali wisman Malaysia. dari luar Jakarta, termasuk dari Total karyawan 40 orang, diMalaysia dan Singapura. Ka­ mana 10 orang khusus menjahit, rena produk di FO dan distro mendukung layanan ekspres. dianggap murah dan barangMeskipun tidak ditulis berapa nya spesifik. Dan yang pasti, jam jadi, biasanya jika minta pemilik FO dan distro sangat sehari atau atas perjanjian, pagi kreatif menjual produknya. pesan sore jadi. Kreatifitas cara menjual buAlex Kini, wisman Malaysia yang kan monopoli FO dan distro. Sudah menjadi ‘rahasia umum’ jika banyak datang keba­nyakan ibu-ibu yang memesan pedagang dan pengusaha dari ­Malaysia mem- segala macam pakaian mulai dari baju gamis borong moslem fashion mulai dari baju muslim, jeans (baju muslim berbentuk long dress), celakerudung hingga perlengkapan sholat ­seperti na panjang, rok jeans, dan sebagainya. Karena mukena bordir dari Tasikmalaya, hingga kain ka- biasa­nya datang berombongan, maka pesanan mereka bisa mencapai 15 pieces per rombongan. tun dan brokat untuk dijual lagi di ­negaranya. Wisatawan dari Malaysia cenderung me­ Sekarang toko ini meningkatkan pelayanannginap di hotel yang dekat ke factory outlet. nya de­ngan jasa antar pesanan gratis ke hotel, Maka untuk menarik minat wisman Malaysia melayani pesanan turis dari dan ­Singapura tinggal di Grand Panghegar, Malaysia. Aning Dia pun memasang iklan ­hotel yang baru selesai direnovasi dan melaunching condotelnya, juga membuka beberapa di internet dan di bandara. toko yang terdiri dari factory outlet dan butik di Tour leader maupun sopir mobil sewaan turis, turut andil dalam hotel. Cecep Rukmana mengakui bahwa di Pang­ dalam mempromosikan taihegar, tamu Malaysia dan Singapura masih lor ini. Tapi promosi paling sedikit. Sampai sekarang kebanyakan mereka ampuh tetap promosi dari mulut ke mulut. mencari hotel yang relatif lebih murah. “Biasanya mereka yang menjahit di sini, merasa coPesan Celana Jeans Siap Sehari Aria Jeans, penjahit khusus jeans di ­Bandung, cok, di sana mereka ceritakan berawal dari sebuah konveksi jeans, berdiri ­tahun atau kasih tahu ke teman atau

28

saudaranya. Jadi saat saudaranya datang ke ­Indonesia, mereka sudah langsung ke sini.” Untuk memenuhi pesanan, Aria Jeans membeli bahan jeans 80%-nya dari distributor yang menjual produk pabrik garmen di sekitar Ban­ dung. Sisanya yang 20%, mereka ambil dari distributor yang menjual produk dari industri garmen di daerah Tangerang.

Aning dan Komunitas Rajutan

Namanya Aning Yulianingsih, lebih suka menyebut dirinya ‘maklun’. Sebutan ini dikenal di komunitas rajutan yang berarti yang mengerjakan sebagian pekerjaan yang dipunyai pabrik karena dia memiliki mesin rajut dan tenaga kerja. Di sektor lain mungkin istilahnya sub­kontraktor. Maklun mendapatkan suplai bahan baku benang dan pola dari pabrik yang berhubungan langsung dengan buyers. Maklun akan membuat contoh untuk mendapatkan persetujuan dari pabrik, kemudian memproduksi se­ suai dengan kualitas dari contoh yang disetujui. Produksi akan dihitung dengan menggunakan per satuan volume per satuan waktu. Setiap maklun mempunyai beberapa ke­ lompok rajut yang kebanyakan dikerjakan oleh ibu-ibu di kampung. Aning sang maklun meng­ ajarkan keterampilan merajut kepada ibu-ibu di kampung-kampung di sekitar rumahnya bahkan sampai jauh. Setiap kelompok terdiri dari 5–10 ibu rumah tangga. Dia sendiri memiliki lima kelompok yang tersebar dari daerah ­Citespong, Lembang hingga ke Tangkuban Perahu. Ada sekitar 50 ibu rumah tangga untuk mengerjakan order dalam kondisi normal. ­Namun jumlah ini bisa bertambah dua kali lipat jika order sedang mencapai puncak. Merajut bagi ibu-ibu menjadi ­penghasilan tambahan yang menyenangkan, karena bisa bekerja di rumah sehingga urusan rumah tangga dan bertani tidak terbengkalai. Seperti di daerah Cibodas, bisa mengerjakan tani di pagi hari, se­telah dhuhur, pulang ke rumah dan melanjutkan pekerjaan merajut sambil mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Ibu Wiwin adalah contoh seorang perajut yang telah delapan tahun mengerjakan rajutan dalam kelompok Aning. Dia menghabiskan waktu rata-rata lima jam sehari untuk merajut,

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012


Fenomena Bandung

itu pun diselingi dengan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Walaupun dia harus bekerja dua kali lebih lama pada saat peak order, namun pekerjaan sebagai ibu rumah tangga tidak pernah terganggu. Ibu-ibu ini pintar. Mereka cepat meresapi keterampilan yang diajarkan. Selain merajut, mereka pun bisa menyulam dan memasang manik-manik, payet, dan sebagainya. Belakangan ini dia kerap dimintai advis oleh pabrik mengenai disain pola rajutan untuk produk baru mereka. Dia pun akan membicarakannya dengan kelompoknya untuk membuat pola rajutan berbeda kemudian membuat contoh untuk diajukan ke pabrik. Jadi, industri garmen di Bandung dan sekitarnya, bukan hanya kain tapi juga produk rajut­ an. Perusahaan garmen yang khusus rajutan di Bandung dan sekitarnya saat ini paling banyak dari Korea Selatan dan Taiwan, dari Jepang ada satu pabrik di Rancaekek. Setahun terakhir ini kelompok Ibu Aning banyak mengerjakan order dari Korea Selatan. Meskipun perusahaanperusahaan garmen Korea Selatan ini sekarang ­ownership-nya sudah banyak dipegang oleh WNI, namun teknisi dan supervisor, terutama bagian pengawasan kualitas, tetap harus dipegang oleh orang Korea atau Taiwan. Supervisor teknisi orang Korea akan datang langsung ke workshop secara periodik. Para ­buyers rata-rata berasal dari Amerika dan Eropa. Mungkin ini juga bisa menjadi sarana transfer ilmu dan teknologi. Maklun Ibu Ani dan komunitas rajut seperti dirinya biasanya lebih sering bekerja sama dengan pabrik yang berorientasi ekspor, tapi tidak menutup kemungkinan untuk mengerjakan order untuk pasar domestik.

Ngopi Santai ala Kopi Progo

Berawal dari keinginan salah seorang teman­ nya untuk punya tempat nongkrong asyik di Bandung, Alex Imbrony dan dua orang temannya mendirikan Kopi Progo. Kafe yang katanya menseriusi usaha perkopian ini berdiri tahun 2009 dan menempati sebuah rumah tua di Jalan Progo, letaknya di belakang Jalan RE Marta­ dinata atau lebih beken dengan sebutan lama­ nya, Jalan Riau.

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012

diusulkan oleh Wakil Gubernur Jawa Barat, Dede Yusuf, di festival kopi di Ciwalk beberapa waktu lalu, merupakan bentuk agrowisata yang sudah ada di daerah Jawa. Menurut Alex, sahsah saja kalau mau meniru itu, tinggal bagai­ mana kita mengemasnya. Kopi Progo ingin menarik mahasiswa dan teenagers sebagai primary market yang ada di Bandung. Namun mereka juga membuka diri pada perkembangan pasar. Di weekdays, pe­ ngunjung kafe ini kebanyakan profesional muda yang bukan hanya menjadikannya tempat nongkrong, tapi juga meeting, brain storming, dan sebagainya. Biasanya mahasiswa dan teenagers baru tampak pada weekend. Kata Alex, “Ya, kita hanya berusaha menyediakan apa yang konsumen minta. Yang nama­ Ditanya kenapa memilih kopi, Alex ­Imbrony nya bisnis F & B itu kan dinamis banget. Kalau mengatakan mereka mau mengangkat kopi kita tidak bisa membuat sebuah terobosan baru, ­Indonesia. Menurutnya, sekarang ini semakin tidak akan bertahan.” banyak orang dan kafe yang menggunakan Dengan lokasinya yang cukup strategis, saat kopi Indonesia, terutama di Bandung. Jalan Progo belum ramai dengan kafe ­seperti Bahan baku kopi di Indonesia itu melim­ saat ini, wisman dari Malaysia banyak yang pah, tapi sayangnya, yang 1st grade malah lebih mampir ke sini terutama yang menginap di ­banyak dibawa keluar. Dia menjamin Kopi ­Hotel Progo, Hotel Amaris Riau, dan hotel-hotel Progo hanya memakai kopi 1st grade, terutama lain yang mulai menjamur di untuk menu single origin area sekitar Jalan Riau. Wismereka. Katanya lagi, “Kita man Malaysia ramainya pada memilih kopi Indonesia dari saat weekend karena mereka enam daerah untuk kopi berada di ­Bandung ­biasanya single origin. Mulai dari Aceh dari Jumat pagi sampai Gayo, Mandailing Sumatera, ­Minggu pagi. Awalnya meToraja, ada Wamena Papua, mang tempat ini direkomenada Jawa dan Bali. Kalau undasikan, tapi dengan semakin tuk espresso, kita blend dari banyaknya pilihan, mereka Toraja dan Lampung.” Alex Imbrony pun sekarang bekerja sama Semangatnya mengangdengan travel agent. kat kopi ­Indonesia, cara pe­ Memang pada akhirnya Bandung menarik nyajian kopinya pun bukan hanya espresso, buat investor dari luar Bandung. Namun untuk ­cappuccino atau latte, tapi juga ada kopi toebroek saat ini kafe dan restoran masih banyak dimiliki dan kopi perez dalam menu single origin-nya. oleh orang Bandung sendiri selain banyak juga Disinggung mengenai kopi priangan, dia yang joint usaha. bercerita bahwa kebun kopi banyak terdapat Menurut H Momon Abdurochman, Ketua di daerah Pangalengan. Bibit kopi memang di­ BPC PHRI Kota Bandung, ada lebih dari 1.500 bawa ke Jawa Barat pada awalnya, tapi setelah restoran dan kafe di Bandung. Jadi tidak heran ditanam di daerah seperti di Sumatera, karena dalam kurun waktu dua tahun daerah yang dulu mungkin tanahnya lebih cocok sehingga lebih cukup sepi ini sudah diramaikan oleh 13 kafe baik perkembangan dan hasilnya. Di sini juga dari awal Jalan Progo sampai Jalan Cimanuk. ditanam kopi dari Sumatera tapi hasilnya akan Bahkan Alex sudah punya ide untuk mengumbeda. pulkan semua pemilik kafe di Jalan Progo untuk Kenapa ada istilah single origin, itu karena bersinergi dan bisa membuat sebuah forum kokarakter tanah tempat menanam kopinya bermunikasi pengusaha kafe di sini. Jadi masalahbeda. Misalnya pada saat bibit kopi Aceh Gayo masalah yang dihadapi oleh para pengusaha ditanam di Pangalengan, itu rasanya pasti beda. kafe di kawasan ini seperti perizinan, penataan Dari situlah muncul istilah Kopi Priangan. Yang dan penertiban kaki lima, dan lain-lain. bisa dirundingkan bersama dan dicari solusinya.

Art Space di Selasar Sunaryo

Menurut Elaine VBK, Program Manager di Selasar Sunaryo Art Space di Dago Pakar Timur, Pak Sunaryo memilih kata art space daripada gallery, karena tempat ini diperuntukkan bukan hanya untuk memamerkan karya seniman, tapi juga sebagai tempat pembelajaran dan mencari

29


Wisata Bahari Fenomena Bandung ilmu. Di sini pengunjung diajak untuk hidup melihat seni dan seni melihat hidup. Salah satu galeri aktif di Bandung ini hampir setiap bulan mengadakan kegiatan. Minimal dalam setahun ada 12 kali kegiatan di sini. Ada 2 macam program yang diadakan di tempat ini, yaitu pameran khusus dan pameran koleksi ­permanen. Pameran koleksi permanen menampilkan karya Sunaryo dan koleksinya. Karya para seniman diluar karya dia termasuk dalam program pameran khusus. Karya-karya yang ditampilkan pada pameran khusus lebih banyak berfokus pada seniman muda atau emerging artist. Emerging artist ini adalah para seniman muda yang namanya belum dikenal tapi memiliki ­potensi dari karya-karyanya. Jadi yang berpameran di sini bukan hanya seniman dari Bandung. Beberapa kali Selasar ini juga memamerkan karya dari seniman Yogya, hasil kolaborasi seni dengan seniman Italia, dari Jepang, dan lainlain. Karya visual art kontemporer seperti seni lukis, drawing (gambar), grafis, dan ­patung ­instalasi adalah fokus yang dipamerkan di ­galeri seni ini.

sudah dibangun awareness-nya terhadap seni. Pramuwisata galeri ini merupakan bagian dari edukasi. Untuk tur anak sekolah disediakan waktu-waktu khusus dengan mengundang guru dan sekolah, atau ada juga yang meng­ hubungi langsung pihak Selasar . Ada program rutin khusus untuk anak-anak, Selasar Kids Program. Itu merupakan program rutin setiap tahun, diadakan di saat liburan anak-anak sekolah sekitar bulan Juni–Juli. Kegiatannya bermacam-macam, ada workshop menggambar, mengolah barang bekas, dan lainlain. Peminat program ini pun cukup banyak. Untuk program anak-anak, dialokasikan jadwal beberapa hari saat weekend, sehingga orang tua juga bisa ikut. Jadi ada waktu untuk interaksi antara anak-orang tua juga. Anak-anak ekspatriat sedikit saja yang meng­ ikuti program ini, tapi para turis asing datang cukup banyak. Terutama dari Belanda, Jerman dan Perancis. Wisman kadang datang sendiri individual, ada juga bersama grup. Mereka mengetahui keberadaan Selasar dari kenalan atau keluarga. Agen perjalanan akan mengontak pihak galeri jika akan ada kunjungan dari grup wisman. Setiap bulan ada saja grup wis-

Gallery tour di Selasar Sunaryo.

Karena tujuannya adalah pendidikan, menambah pengetahuan, memperluas wawasan, tentang senimannya dan tentang pameran­pamerannya kepada para pengunjung, maka Selasar juga selektif untuk menampilkan karyakarya yang akan dipamerkan. Siapa yang menyangka jika galeri seni se­ macam Selasar Sunaryo juga mendapat kunjung­ an dari rombongan turis atau anak sekolah. Saat mereka berkunjung, pihak Selasar akan menawarkan gallery guide dengan tambahan ­admission fee tertentu. Biasanya setiap kali ada pameran, pihak ­galeri akan melihat content pamerannya. Jadi bisa dinilai pameran ini cocok atau tidak untuk anak sekolah dan untuk usia berapa. Seperti ketika bekerja sama dengan Goethe Institute me­ ngenai pameran buku anak-anak, pameran itu disosialisasikan ke sekolah-sekolah. Anak-anak sekolah yang datang bisa melihat karya seni itu bukan hanya diperuntukan bagi kalangan dewasa tapi juga buat mereka sehingga sedari dini

30

man berkunjung. Kunjungan wisnus malah lebih sedikit. Tapi diakuinya belum ada agen perjalanan yang memasukkan Selasar ­Sunaryo ke dalam tour itinerary. Diadakan pula program Selasar Weekend Cine­ma yang memutar film-film indi kontemporer, dan setiap bulan diadakan diskusi bedah buku dari buku yang menjadi koleksi di perpustakaan­nya. Koleksi bukunya mulai dari fotografi, teater, arsitek, seni rupa, sastra, dan sebagainya. Untuk ke­giatan diskusi ini, pihak galeri selalu merangkul kerja sama dengan komunitas lainnya. Karena luasnya hubungan antara kesenian dengan ekonomi kreatif bisa juga dilihat dari gejala-gejala minat orang yang datang ke galeri seni atau pada saat pembukaan pameran, sekarang ini mulai meningkat. Nyatanya, mayoritas yang datang adalah mahasiswa S1 dan S2, antara lain dari ITB, UPI, STSI, Maranatha, dan sebagainya. Sebenarnya dengan semakin banyak ­kegiatan

pameran seni maka referensi mereka pun akan semakin banyak untuk kekaryaan. Karena mere­ ka ini juga butuh fasilitas untuk melihat karyakarya para seniman di Bandung yang rutin. Galeri NU Art cukup sering juga mengadakan kegiatan dan berfokus di patung. Galeri lain yang aktif memamerkan hasil karya seni rupa adalah Galeri Sumarja di kampus ITB. Programprogram di Galeri Sumarja juga kualitasnya bagus dan selektif seperti di Selasar Sunaryo. Yang datang ke pameran di galeri itu tidak terbatas pada mahasiswa seni rupa, tapi banyak dari yang lainnya. Datang ke pameran di galeri bisa menjadi sarana refleksi dan kontemplasi. Misalnya saat melihat sebuah karya pengunjung bisa merasakan sesuatu dari karya tersebut.

Tourist Care di Jacktour

Jacktour mempunyai dan melaksanakan paket tur yang agak unik di kota Bandung. Bebe­ rapa tamu mereka yang berasal dari Eropa dan Singapura diajak menginap di rumah-rumah penduduk di sekitar kota Bandung. Mereka menginap, duduk lesehan dan menyantap masakan khas Sunda yang sehari-hari dikonsumsi oleh masyarakat. Mereka naik angkot, dengan dikawal mobil dari pihak travel di belakang angkot, membuat sepatu di home industry di daerah Cibaduyut atau memerah susu sapi dan membuat sepatu kuda di daerah Lembang, membeli buah di pasar tradisional, dan lain-lain. Jack Febrian selaku General Manager Jacktour, mengemukakan paket tur minat khusus ini menghabiskan waktu 3 hari 2 malam, tapi juga sering menjadi seminggu karena wisman terlalu enjoy dengan mengalami dan merasakan langsung kehidupan orang Indonesia. Wisman dari Belanda yang biasanya menyukai wisata seperti ini. Jack Febrian mengatakan, “Justru itu, kami berusaha menciptakan spot wisata baru seperti rumah penduduk itu. Tentu saja kami mempersiapkan penduduk setempat sebelum tamu kami datang. Agar aktivitas sehari-hari mereka tidak terganggu juga dengan kehadiran tamu kami.” Latar belakang Jack Febrian adalah seorang dosen IT di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung. Lelaki asal Sumatera Barat yang telah menetap di Bandung lebih dari 20 tahun ini sudah bermain dalam bisnis operator tur selama 12 tahun. Namun Jacktour berdiri sendiri baru sekitar dua tahun, sejak awal tahun 2010. Jacktour melayani inbound 100%, dimana 97% ber­ asal dari luar negeri. Dan hanya 3% inbound dari dalam negeri. Dari 97% itu, 60%-–70% ­tamunya didominasi oleh Malaysia dan Singa­pura, sisa­nya dari Eropa, Australia, Timur ­Tengah, ­Amerika, dan sebagainya. Dalam sebulan Jacktour bisa menangani sekitar 300-an orang grup dari Malaysia dan Singapura. Satu grup kecil terdiri dari 4–5 orang, dan 1 grup besarnya terdiri dari 40 sampai 150

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012


Fenomena Bandung

orang. Ada sekitar 100 agen perjalanan dari luar negeri yang menghubungi Jacktour untuk menangani inland tour mereka di Bandung. Sekarang ini masih didominasi oleh agen perjalanan dari Malaysia dan Singapura. Jack Febrian juga mengatakan beberapa kali pernah menangani penulis dari Cosmo magazine, dan lain-lain. Dan beberapa diantaranya memang travel writer, seperti travel writer dari Perancis. Wisman Malaysia itu mengikuti rute pesawat yang ada. Wisman Malaysia yang berasal dari Borneo dan Brunei datang melalui bandara Soekarno Hatta Banten karena belum ada pe­ nerbangan langsung ke Bandung. Sekitar 40% tamu Jacktour melalui Soekarno Hatta Banten terutama dari Australia dan Eropa. Dia berpendapat, yang menarik dari Ban­ dung adalah citranya sebagai kota fashion, kota kuliner, kota pendidikan, kota industri, dan kota IT. Sebagai kota industri, tingkat kriminalitasnya cukup rendah. Ini dikarenakan Bandung sebagai kota pendidikan dan terkreatif se-Asia Pasifik. Menurut istilahnya, Bandung ini kota ‘magic’, karena sekali orang datang ke Bandung, dia pasti akan kembali lagi ke sini. Melihat dari tamu-tamu yang ditangani Jacktour, sekitar 20%nya, akan kembali mengunjungi Bandung dalam setahun, khususnya wisman Malaysia dan Singapura. Dan tingkat kembali berkunjung dari wisman Malaysia itu tinggi. Maka dari itu Jacktour mencoba mengolah paket wisatanya mengikuti psikologi dari wisman yang datang. Psikologi wisman Jepang, Malaysia dan Singapura serta Eropa berbedabeda. Kalau wisman Malaysia mereka ke sini untuk shopping, yaitu ke Pasar Baru dan FO. Wisman Singapura juga memfavoritkan Bandung, mereka amazing terhadap Tangkuban Parahu dan Kawah Putih. Wisman Singapura juga suka kuliner tapi tidak terlalu banyak yang tertarik untuk shopping. Wisman Singapura yang datang ke Bandung kebanyakan dari etnis Chinese. Jacktour juga memiliki dan menjalankan program tourist care, merupakan bagian dari pelayanan Jacktour untuk wisatawan. Layanan tur hanya dari pukul 05.00–21.00. Alasannya adalah memberikan waktu istirahat yang cukup kepada karyawan kami seperti driver dan free time kepada tamu. Namun jika ada keperluan darurat karena sakit, mereka bisa menelepon Jacktour untuk dijemput di hotel dan diantar ke rumah

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012

sakit dari pukul 21.00–05.00. Pelayanan ini gratis dan perusahaan tidak memperbolehkan driver untuk menerima tips atau uang parkir. Semua biaya panggilan darurat dari pukul 21.00–05.00 ditanggung oleh Jacktour. Panggilan darurat juga bukan hanya untuk rumah sakit, tapi juga memberikan layanan cumacuma seperti jika tamu kehilangan paspor, dan sebagainya. Pelayanan ini tidak dibatasi hanya buat tamu-tamu yang di-handle oleh Jacktour.

Hotelnya Wisman Malaysia

Menanggapi komentar mengenai Hotel Cihampelas adalah hotelnya orang Malaysia, Herman Muchtar, pemilik Hotel Cihampelas sekaligus Ketua PHRI Jawa Barat, mengatakan tamu dari Malaysia yang menginap di hotelnya

Ucapan selamat datang dalam bahasa Melayu Malaysia di depan hotel.

sekitar 35% dari total tamu. Repeater dari Malaysia juga sudah mulai banyak. Menurutnya, wisman itu sudah punya program liburan paling tidak 6 bulan sebelumnya. Wisman Eropa bahkan punya program setahun sebelumnya. Mereka merencanakan dengan matang dan disiplin dengan jadwal. Makanya wisman Malaysia bisa membeli tiket Airasia dengan sangat murah karena mereka mengikuti program pemesanan tiket murah, setelah membeli tiket kemudian booking hotel. Hotel Cihampelas memasang target wisman Malaysia, total jumlah kamarnya di Cihampelas 1 dan Cihampelas 2 sebanyak 150 kamar. ­Padahal di masing-masing hotel lahan parkirnya sempit. Bus wisatawan hanya bisa men-drop tamu di depan hotel. Manajemen hotel ini menjemput bola dengan melakukan promosi tiga kali setahun di Malaysia termasuk ikut di Matta Fair Kuala Lumpur dan Johor. Menurut Herman, meskipun terlihat ­banyak wisatawan datang ke Bandung, tapi tingkat ­rata-rata okupansi hotel secara keseluruhan masih relatif rendah. Sebabnya, menurut dia, adalah karena di sini belum ada gedung MICE yang berkapasitas lebih dari seribu orang. ­Kapasitas gedung MICE di Bandung yang terbesar baru ada di Hotel Panghegar yang berkapasitas 700 orang. Hotel di Bandung fully booked pada saat long weekend. Pada saat tersebut bisa jadi kamar hotel kurang. Weekend sendiri baru mencapai tingkat okupansi rata-rata 95%. Di weekdays itu turun menjadi rata-rata 30%. Berbeda dengan Jakarta dimana malam Senin–Jumat itu tingkat rata-rata okupansi hotel penuh, tapi di malam Sabtu dan weekend mereka kosong, karena banyak orang ke Bandung, dan sebagainya. Wisman Malaysia rata-rata tinggal selama 3 hari 2 malam, kadang-kadang 4 hari 3 malam. n

What Do They Say? Mrs Supiah dan keluarga, wisman Malaysia asal Petaling Jaya, KL, Malaysia:

I

ni pertama kalinya kami ke ­Bandung. Kami ke sini ikut tour package 3 hari 2 malam. Selama di sini kami sudah ke Tangkuban Perahu, Kawah Putih, FO Rumah Mode dan FO yang di daerah Riau, juga sudah makan-makan di restoran. Di Pasar Baru kami mencari dan ­ingin membeli tas untuk anak-anak. Besok, hari Minggu, sebelum pulang kami akan ke Kartika Sari untuk beli oleh-oleh. Kami akan kembali ke Indonesia bulan Juni nanti. Kami akan pergi ke Medan. Kami menyukai Bandung karena makanannya enak, murah dan di sini banyak yang halal. Belanja di sini juga barang bagus dan murah. n

31


Wisata Alam

S

eekor monyet bekantan kecil mencoba mengejar kelompoknya yang seolah berlari di cabang-cabang pohon di tepian sebuah sungai di Kalimantan. Di atas pohon tepat di tepian sungai itu, mereka berhenti. Sungai me­ ngalir. Perlahan. Warnanya coklat. ­Monyet dewasa tak ragu naik ke dahan lebih tinggi, lalu dengan gaya khas melompat ke seberang. Melayang di udara, tangan mereka menggapai-gapai kedepan mencari pegangan. Tap! Akhirnya memegang ujung ran­ ting sebuah pohon di seberang. Lompatan sempurna, seolah terukur, gerak lambat mereka ketika melayang di udara sangat indah dan elegan, seolah puisi dari hutan belantara. Monyet ini, karena hidungnya yang khas, mendapat julukan ‘monyet belanda’. Apa yang terjadi jika orang Inggris yang menjajah Indonesia? Mungkin monyet bekantan akan mendapatkan nama lain. Nama latinnya nasalis larvatus, dan primate yang satu ini kini adalah hewan langka yang terancam punah, dunia internasional memasukkan hewan ini sebagai hewan langka yang harus dilindungi. Perda­ gangannya sangat dilarang. Nasalis senang hidup dekat wilayah berair di dekat muara sungai atau hutan bakau. Di tempat seperti itu, tunastunas baru selalu tumbuh di pepo­honan. ­Makanan berlimpah di sana. Menurut Mohamad Soenjoto, seorang ahli bio­ logi, ”Bekantan senang makan tunas daun bakau, juga memakan kepiting, atau ikan kecil.” Tapi pemangsa mereka juga tak kurang. Di sungai yang diceritakan di atas, misalnya, buaya-buaya menanti monyet cero­ boh yang tak tahu strategi menyeberang. Begitulah, seperti tampak dalam berbagai film dokumenter, ketika seekor monyet menyeberang, jalur lompatannya akan menyerupai lemparan batu:

32

Puisi yang Mencari Perlindungan naik sedikit lalu melayang turun. Itu sebabnya, mereka naik ke atas dahulu baru melompat. Bila kurang kuat, maka bukannya cabang kayu di seberang yang mereka raih, tapi mereka akan jatuh tercebur ke air sungai. Tak masalah kalau toh tercebur. Bekantan bisa berenang, bahkan kalau perlu, mereka bisa juga menyelam. Jari-jari mereka punya selaput kecil, dan hidung mereka, menurut keterangan para ahli biologi, memiliki katup penutup. Tetapi bekantan tak ceroboh berenang di sembarang tempat. Di sudut-sudut ­Pulau Kalimantan, di tepian sungai-su­ ngai, terutama dekat muara. Si hidung panjang berdampingan dengan para bua-

ya, yang siap memangsa monyet mana pun yang tak kuat menyeberang. Namun bukanlah para pemangsa yang menjadi keprihatinan utama. Di tengah hutan yang sedang berubah menjadi lahan tanpa pepohonan, karena kayunya dibutuhkan untuk memperkuat ekonomi daerah dan nasional, atau sebagai bahan pemasukan penduduk lokal, monyet mancung ini berjuang melawan kepunahan. Ya, si londo ini memang sedang menghadapi perubahan di lingkungan habitatnya dan hal ini berpengaruh pada populasinya. Kepala Badan Konservasi dan ­Sumber Daya Alam (BKSDA) Batulicin, Kalimantasn Selatan, Suwandi mengatakan, salah satu penyebab berkurangnya populasi be­kantan adalah perambahan hutan mang­rove dan kualitas hutan mangrove. “Bahkan ada bekantan yang berkeliar­an ke ­perkampungan penduduk karena kesulitan men­ dapatkan makanan di hutan,” kata Suwandi. Rusliandi, seorang mahasiswa Banjar­ masin, menyebutkan bahwa ada peneliti yang berani menyatakan bekantan akan punah 14 tahun lagi. “Semuanya berubah, bekantan tampak­ nya tak akan bisa bertahan.” Bisa jadi dia salah, bisa jadi dia benar, bisa jadi dia mengarang cerita tanpa dasar. Yang jelas, menurut berbagai peneliti, kawasan hutan yang menjadi tempat berkembang biak bekantan tersebut, memang semakin berkurang. Sekarang ini masih ada sejumlah tempat yang menjadi habitat hidup bekantan, dan boleh dikunjungi para wisatawan. Data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel pada 2007 menunjukkan bahwa populasi si hewan hidung panjang ini diperkirakan masih mencapai sekitar 5.010 ekor. Di cagar alam Selat Sebuku, Kabupaten Kota-baru terdapat 3.500 ekor, di suaka

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012


Wisata Alam margasatwa Pelaihari Kabupaten Tanah Laut (Tala), 1.200 ekor bekantan berkelana di hutan-hutan. Di Kuala Lupak Tabunganen Kabu­ pa­ten Barito Kuala tinggal 150 ekor, pembuat­an tambak dan aktivitas warga di Kuala ­Lupak, mengusik bekantan sehingga keluar dari kawasan konservasi untuk mencari makan. Di Pulau Kaget, Kalimantan Selatan, bekantan kini tinggal 100 ekor, menurun menjadi sepertiga dalam waktu lima belas tahun. Kawasan mangrove di lokasi wisata Taman Alam Pulau Kembang, Barito Kuala, Kalimantan Selatan, merupakan habitat aneka fauna seperti lutung (Presbytis cristata), kera abu-abu (Macaca fascicularis), serta fauna kelompok elang dan bangau. Kini hanya tinggal 10 ekor bekantan yang hidup di sana. Pulau kembang berjarak dua kilometer dari Banjarmasin namun masuk wilayah Kabupaten Barito Kuala. Pulau yang ber­ada tepat di tengah sungai Barito ini ditempuh sekitar seperempat jam menggunakan perahu motor dari Banjarmasin. Di Pulau Bakut, laporan dari lima tahun lalu menyebutkan bahwa ada 50 ekor bekantan di Pulau Bakut, Kalimamntan Selatan, kini hanya tersisa sekitar 12 ekor. Memang ironis, padahal tempat-­tempat itu berkali-kali dipromosikan sebagai tempat perlindungan bagi satwa langka ­bekantan. Bekantan memang sedang menderita, seperti halnya berbagai satwa langka lainnya yang perlu dilindungi. Pepohon­ an habitatnya ditebang, atau diseruduk tongkang pengangkut batubara, seolah tak ada yang peduli. Itulah sebabnya saat ini dipasang tonggak-tonggak pelindung habitat mereka di berbagai tempat. Jika ada tongkang yang sembarangan melaju, me­ reka tak akan lagi meKera abu-abu (macaca fascicularis) nyeruduk bakau, namun akan tertumbuk pada kota Tarakan, hampir se­ tonggak pelindung. Inilah puluh tahun lalu, wilayah salah satu usaha melin­ konservasi ini berkemdungi habitat satwa yang bang menjadi indah se­ menjadi kebanggaan Kaperti sekarang. limantan, karena hanya di Hutan ini adalah kePulau Kalimantan mereka banggaan kota Tarakan, ditemukan. hampir semua warganya Di wilayah Tarakan, dengan bangga mencerisebuah hutan bakau yang Lutung (presbytis cristata) takan hutan wisata yang terletak dekat pusat kota sampai saat ini merupa­ menjadi tempat perlin­ dungan bagi satwa ini. Ada jembatan kan satu-satunya kawasan konservasi kayu dibangun menyusuri hutan seluas 21 mangrove di Indonesia yang lokasinya berada di pusat kota. ­hektar. ”Tidak ada kota yang seperti ini di Pada awalnya tempat ini hanya ­seluas 9 hektar, namun dengan keputusan wali­ ­Indonesia,” kata Muhamad Rusli, ­seorang

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012

Suasana eksotis hutan wisata alam di Pulau Kembang, Kalimantan Tengah.

warga Tarakan, yang dengan santai menjadi pemandu kami saat berkunjung ke tempat itu. Di atas kami, Jack, nama salah satu ‘pemuka’ komunitas bekantan di tempat ituberlari, seolah meluncur di atas batangbatang pohon bakau yang menjulang. Perutnya yang buncit tak menganggu gerak lincahnya. Rusli tak terlalu salah, bayangkan saja, sesudah mengunjungi pasar tradisional atau pusat pembelanjaan, anda bisa menikmati kesegaran hutan, lengkap dengan penghuninya yang langka. Kawasan ini menjadi salah satu tujuan wisata yang menarik. Tak heran bila Walikota Jusuf S Kasim yang merencanakan dan meresmikan KKMB (Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan) ini, terus dikenang sebagai Walikota yang memberi kebanggaan pada kota di batas Malaysia. Tak heran pula, bila tarakan sempat mendapat penghargaan atas prestasinya ini. Sebuah renungan bagi masyarakat dan para pemimpin di daerah-daerah: bila Anda melindungi satwa dan ­lingkungan dengan cara yang cerdas, anda akan didukung dan dikenang dengan cara yang ­indah. n

33


INDIKATOR Indikator

Penumpang Penerbangan Domestik Penumpang berangkat angkutan udara domestik berjadual dari 5 (lima) 足bandar udara (bandara) utama pada Januari 2012 mengalami pertumbuhan cukup tinggi jika dibandingkan Januari 2011. Gambaran ini sebagai salah satu 足indikator bahwa perjalanan wisnus mengalami peningkatan cukup tinggi pada Januari 2012, sebagai berikut:

Realisasi Wisman Berdasarkan Fokus Pasar Januari, 2012 vs 2011 JANUARI

FOKUS PASAR

2012

2011

SINGAPURA MALAYSIA AUSTRALIA CINA JEPANG KORSEL FILIPINA TAIWAN AMERIKA SERIKAT INGGRIS PERANCIS INDIA BELANDA TIM-TENG JERMAN RUSIA LAINNYA*) GRAND TOTAL

95,247 76,367 73,408 85,727 30,750 29,932 10,494 20,224 15,331 13,339 8,950 14,194 11,091 10,584 8,334 12,453 136,267 652,692

79,154 69,911 68,457 35,842 31,938 27,432 8,753 15,503 13,696 12,394 8,753 11,902 10,698 5,502 7,815 13,082 127,989 548,821

SELISIH

Penumpang Domestik Angkutan Udara Berjadwal - Januari 2012

(+/-) %

Bandar Udara 2011 2012 % Kenaikan Soekarno Hatta-Jakarta 1.354,2 1.561,7 15,32 Juanda-Surabaya 457,8 530,7 15,92 Dalam Ngurah Rai-Bali 266,3 309,6 16,26 ribuan Polonia-Medan 253,5 278,8 9,98 Hasanuddin-Makassar 221,0 258,9 17,15

16,093 20.33 6,456 9.23 4,951 7.23 49,885 139.18 -1,188 -3.72 2,500 9.11 1,741 19.89 4,721 30.45 1,635 11.94 945 7.62 197 2.25 2,292 19.26 393 3.67 5,082 92.37 519 6.64 -629 -4.81 8,278 6.47 103,871 18.93

Sumber : BPS

Realisasi Wisman Bulanan n Januari, 2012 vs 2011

BULAN

2012

JANUARI 652,692 FEBRUARI MARET APRIL M E I J U N I J U L I AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOVEMBER DESEMBER GRAND TOTAL

*) Kebangsaan lain dan pintu lain.

2011

(+/-) %

548,821 568,057 598,068 608,093 600,191 674,402 745,451 621,084 650,071 656,006 654,948 724,539 7,651,742

18.93

Jumlah Kunjungan Wisatawan Mancanegara Menurut P i n t u No.

Kebangsaan

Kode Negara

SoekarnoHatta

Ngurah Rai

Polonia

M a s u k Batam

Juanda

Utama Sam Ratulangi

Entikong

Minangkabau

Adi Sumarmo

1. Singapura SPO 12,875 7,302 927 54,743 1,137 249 22 19 57 2. Malaysia MLS 18,971 11,606 10,239 10,264 2,528 60 1,901 1,954 560 3. Jepang JEP 13,435 12,646 152 1,576 485 84 2 6 18 4. Korea Selatan KS 9,011 10,571 138 6,718 375 13 31 6 17 5. Taiwan TWN 6,181 11,669 301 288 706 4 23 1 5 6. China RRC 17,037 55,086 343 2,748 770 371 70 43 10 7. India IND 4,597 2,976 148 3,566 235 23 8 4 13 8. Philippina PHI 2,633 821 83 3,604 101 22 36 1 1 9. Hong Kong HKG 3,153 2,317 144 157 388 61 11 1 2 10. Thailand TAI 2,729 1,550 207 301 164 59 4 4 4 11. Australia ALI 7,280 62,862 346 910 245 75 29 25 11 12. Amerika Serikat AS 5,926 6,691 260 803 399 130 9 26 41 13. Inggris ING 3,864 6,197 168 1,376 153 72 9 8 21 14. Belanda BLD 4,222 5,475 329 311 168 74 10 6 21 15. Jerman JB+JT 2,535 4,025 213 413 205 65 9 16 37 16. Perancis FRA 2,227 5,249 116 278 143 42 3 15 58 17. Rusia RUS 765 10,902 42 52 27 27 - 6 2 18. Saudi Arabia SAU 9,639 232 9 34 22 - - - - 19. Mesir MES 240 103 1 9 5 - - 1 1 20. Uni Emirat Arab UEA 158 20 5 2 - - - - - 21. Bahrain BRN 48 10 - 4 - - - - - 22. Lainnya - 29,128 31,418 1,213 14,473 5,944 396 147 360 603 Jumlah 2012 156,654 249,728 15,384 102,630 14,200 1,827 2,324 2,502 1,482 1,064 Jumlah 2011 138,987 208,337 12,172 77,925 13,580 1,050 1,647 2,183 1,374 906 Pertumbuhan 12.71 19.87 26.39 31.70 4.57 74.00 41.11 14.61 7.86 17.44 Kunjungan Wisman melalui Pintu Masuk Lainnya Total Kunjungan Wisman melalui seluruh Pintu Masuk

34

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012


Indikator

UTAMA INDIKATOR

Realisasi Wisman Bulanan, 2010–2012

2010

2012

2011

800.000 700.000 600.000 500.000 400.000 300.000 200.000 100.000 –

JAN

MAR

APR

MEI

JUN

JUL

AGT

SEP

OKT

NOV

DES

JAN

FEB

MAR

APR

MEI

JUN

JUL

AGT

SEP

652,692

2012

FEB

OKT NOV

DES

TOTAL 652,692

2011

548,821 568,057 598,068 608,093 600,191 674,402 745,451 621,084 650,071 656,006 654,948 724,539 7,649,731

2010

493,799 523,135 594,242 555,915 600,031 613,422 658,476 586,530 560,367 594,654 578,152 644,221 7,002,944

Pintu Masuk dan Kebangsaan (Periode Januari 2012) P i n t u Makassar

Mataram

Sepinggan

M a s u k

St Syarif Q-II Tanjung Priok Pknbaru

Tanjung Pinang

Utama Adi Sucipto

Husein Sas- Tanjung tranegara Uban

Balai Karimun

86 170 217 131 4 6,565 376 1,234 5,812 3,321 421 23 349 993 27 1,208 1,386 7,509 793 5,575 17 36 33 1 8 17 64 41 2,124 5 3 25 11 7 174 76 49 42 2,659 6 5 - - 11 158 24 7 7 786 48 13 17 39 32 1,024 385 75 30 7,596 38 5 20 98 30 354 278 43 64 1,549 183 2 8 28 14 2,098 227 11 36 725 43 1 6 8 1 5 33 18 17 997 3 7 2 15 8 214 19 38 73 71 38 27 32 96 11 - 85 95 69 1,194 16 21 37 55 42 - 62 82 51 695 1 14 262 53 19 1 53 81 37 944 7 19 38 1 5 11 29 77 52 236 7 25 52 22 20 18 22 75 15 567 - 20 58 33 5 - 61 106 21 510 5 3 106 - - 87 14 56 2 362 - - 2 - - - - - 9 18 4 - - - - 2 - - - 1 - - - - - - - - 2 3 - - - - - - - - - - - 375 336 99 78 1,264 366 1,156 289 2,904 155 1,230 1,157 1,408 5,449 9,524 3,795 9,600 30,546 9,455 619,959 1,164 1,355 1,412 5,903 6,194 2,990 9,383 22,663 7,193 5.67 -14.61 -0.28 -7.69 53.76 26.92 2.31 34.78 31.45

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012

2011

Pertumbuhan (%)

79,154 69,911 31,938 27,432 15,503 35,842 11,902 8,753 4,588 5,331 68,457 13,696 12,394 10,698 7,815 8,753 13,082 4,808 276 358 60 85,667 20.05 32,403 548,821

20.33 9.23 -3.72 9.11 30.45 139.18 19.26 19.89 59.61 3.30 7.23 11.94 7.62 3.67 6.64 2.25 -4.81 107.34 31.52 -46.93 3.33 5.88 1.02 18.93

Jumlah 2012 95,247 76,367 30,750 29,932 20,224 85,727 14,194 10,494 7,323 5,507 73,408 15,331 13,339 11,091 8,334 8,950 12,453 9,969 363 190 62 90,704 516,418 32,733 652,692

Sumber : BPS

35


Mari Tampil di Expo Floriade Belanda

T

ampil aktif di Expo Holtikultura berskala dunia, di Venlo, Belanda, selama enam bulan tahun 2012 ini merupakan kesempatan luas bagi Indonesia mem­ promosikan dan mem-PR-kan potensi kita sekaligus di bidang TTI–Tourism, Trade and Investment. Even sekali dalam sepuluh tahun ini, bernama Floriade ­Holticultural World Expo 2012, mulai 5 April–7 Oktober 2012, di­ ikuti oleh 32 Negara, akan dikunjungi sekitar dua juta orang, dari Belanda, Jerman, Belgia dan dari negara-negara Eropa lain. Dengan ikut sertanya Indonesia pada expo besar ini, ­berarti: menjalin jaringan dengan pelaku bisnis interna­ sional; meraih berbagai kerjasama pada peluang-peluang yang ditawarkan; menjaring dan meningkatkan jumlah kun­ jungan wisman dari Eropa ke Indonesia; membentuk opini positif masyarakat i­nternasional terhadap ragam potensi dan ­peluang perdagang­an dan investasi di Indonesia. Serta, mem­ perdalam jaringan persahabatan antara masyarakat Eropa

Pendukung/peserta paviliun Indonesia: Kementerian : Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Pertanian, Kehutanan, Perindustrian, Perdagangan, Koperasi & UKM, Pengembangan Daerah Tertinggal, Luar Negeri, BKPM; Bappenas. Pemda: Provinsi: NAD, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Barat, Papua Barat. Kota: Surabaya; Batu; Tulung Agung. Bisnis: Pertamina, BRI, Garuda Indonesia, Raja Ampat.

dengan Indonesia. Sudah 40 instansi, organisasi dan perusahaan ­Indonesia terdaftar menjadi peserta pada stan Indonesia, yang akan menempati lahan 1.000 m2. Masih terbuka kesempatan luas bagi keikutsertaan unsur-unsur kegiatan ekonomi di bidang pariwisata, perdagangan, dan investasi. Setiap peserta ­dapat memilih jadwal untuk tampil di Expo Floriade Belanda ini, yaitu antara periode April–Oktober 2012. Luasnya Expo Floriade 66 hektar, terbagi dalam lima tema area yang unik: Relax & Heal, Green Engine, Pendidikan, ­Inovasi, dan Lingkungan Hidup. Sekitar 40 hektar merupakan tempat pertunjukan seni budaya, musik, tari, teater dan seni grafis. Tersedia tempat B to B meetings, dan konferensi. Indonesia akan menampilkan Country Day pada 17 ­Agustus 2012 di main stage Floriade 2012. Jadi, jangan tunda 10 tahun lagi untuk tampil di Floriade Belanda! Untuk keterangan lebih lanjut, silakan hubungi: PT Vidya Citrapradhana National Event Organizer Floriade 2012 Telp. 021-837000682 – 8315782 Atau dapat mengakses Official website Paviliun Indonesia: http://www.indonesia-wonderfulislands.com

Ditunggu, daerah-daerah lain dan kalangan bisnis yang akan menyusul.

36

Vol. 3 l No. 27 l Maret 2012

Newsletter Pariwisata Indonesia Edisi Terbaru Maret 2012  

Newsletter Pariwisata Indonesia Edisi Terbaru Maret 2012

Advertisement