Issuu on Google+

Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012

Sinkronisasi Gerak Pemasaran

D

ua ratusan orang peserta aktif di Rakor Sinkronisasi Pemasaran Pariwisata tanggal 3 ­Oktober 2012 di Jakarta. Hadirin itu terdiri dari jajaran Kemenparekraf bersama wakil-wakil instansi serta asosiasi-asosiasi dan pelaku industri pariwisata, plus stakeholders lainnya. Di hari sebelumnya, jajaran pemasaran pariwisata Kementerian ‘mensikronkan’ rencana kegiat­an tahun 2013, khususnya dengan 13 pemimpin VITO (Visit Indonesia Tourism Officer) dari 12 Negara. Dan dua ­minggu sebelum itu, FGD (Focus Group Discussion) digelar untuk ‘menciptakan’ gerak ­pemasaran-penjualan ­Indonesia’s Year End Festive Season, demi menutup tahun 2012 dengan pencapaian target delapan juta wisman. Sebaliknya, sebelum forum-forum itu, para pelaku bisnis pariwisata ‘diapresiasi’ oleh ­Kemenparekraf dengan penganugerahan ‘Awards’.

ISI NOMOR INI

12 Mengembalikan Wisman ke Toraja Up-to-Date Berkembang di Toraja 20 Pemikiran Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012

dan Even Menarik 22 Resor Wisman dan Wisnus Orangutan itu 24 Tengoklah

Destinasi 26 Menjadi Wisata Dunia Pramuwisata 30 Mendengarkan

www.newsletter-pariwisataindonesia.com


Utama Sinkronisasi, ditambah sikap ‘konsisten’, kini dijadikan dasar dalam mensukseskan lebih cepat pengembangan pema­ saran pariwisata kita. Tahun-tahun yang lalu forum-forum tersebut biasa berfokus dengan tema Koordinasi, sekarang Kemenparekraf semakin menitikberatkan pada penekanan Sinkro­ nisasi gerak langkah antar pemangku kepentingan dalam pemasaran pariwisata kita. Jika rencana kebijakan dan kegiatan yang berkaitan dengan pariwisata, efektif disinkronkan antara instansi lintas sektoral dan antara pemerintah pusat dan daerah,—dapat terselenggara,—dan diteruskan dengan sifat konsiten, maka kepariwisataan kian kuat memiliki ­alasan optimisme yang besar. Optimisme itu, dari kaca mata pelaku pariwisata di luar ­negeri, melihat Indonesia seperti a sleeping giant yang sedang bangkit.

Kata Kunci dan Pemikiran Dasar

Menparekraf Mari Elka Pangestu mengingatkan kembali apa yang sesungguhnya akan dicapai dengan pengembangan pariwisata. Pengembangan kepariwisataan bahkan kini diperkuat dengan pengembangan ekonomi kreatif. Memang, industri pariwisata dan industri kreatif telah bagaikan dua sisi dari satu mata uang, sudah tak terpisahkan dan justru saling memberikan nilai. Menteri menyajikan kembali pokokpokok Rencana Strategis (Renstra) Kemen­ parekraf untuk periode hingga 2014. Apa yang hendak dicapai ? Penanggung jawab : Sapta Nirwandar Penerbit/Pemimpin Redaksi : Arifin Hutabarat Dewan Redaksi : Sadar Pakarti Budi Faried Moertolo T. Burhanuddin Wisnu B. Sulaeman Reporter : Benito Lopulalan Alamat : Direktorat Jenderal Pemasaran Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jl. Medan Merdeka Barat No.17 Lantai 3 Jakarta 10110 Telp : 021 383 8220 Fax : 021 380 8612, Email : jurnal@indonesia.travel www.newsletter-pariwisataindonesia.com

Diplomasi Pariwisata Kita

M

enparekraf Mari Elka ­Pangestu melancarkan diplomasi Kemenpare­ kraf ke Jepang, Korea dan RRC. Selama kunjungan kerja 20–27 September 2012 itu, ia bertemu dengan lembaga yang berperan pen­ting dalam pengembang­an pariwisata dan ekonomi kreatif di ketiga negara tersebut. Antara lain di Jepang diadakan pertemuan bilateral dengan Yukio Edano, Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (Ministry of Economy, Trade and Industry–METI) Jepang, ­menjajaki kerja­sama di bidang ekonomi kreatif. Di Korea Selatan, bertemu ­dengan

Menteri Parekraf dan Menteri Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang Yukio Edano.

sejumlah lembaga pemerintah dan non-pemerintah yang menangani pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif, di antara­ nya Korea Content Creative Agency (KOCCA), Korea Film Council (KOFIC), Korea Tourism Organization (KTO), CheilJedang Entertaint­

tempat, sesama wisatawan, Pemerintah, Pencapaian yang ingin diraih ialah : Pemerintah Daerah, dan pengusaha. 1. Quality of life (kualitas hidup), tidak terbatas pada kekayaan/kemakmuran 2. Ekonomi Kreatif adalah era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi (wealth) dan ketenagakerjaan, tetapi juga dan kreativitas dengan mengandalkan terkait dengan menjaga lingkungan, ide dan stock of knowledge dari sumber kesehatan jasmani dan rohani, pendididaya manusianya sebagai faktor produkkan, rekreasi dan waktu senggang, serta si utama dalam kegiatan ekonominya. kepedulian sosial (social belonging); Final goals itu akan menjadi kenyataan 2. Kesejahteraan, peningkatan pendapadari pelaksanaan visi dan misi yang di­ tan dan penyerapan tenaga kerja. Fokus Bidang Pembangunan yang di­ bawakan oleh Kemenparekraf. Dalam pelaksanaan di lapangan, di biperankan oleh Kemenparekraf haruslah sebagai penggerak utama khususnya di dang pemasaran pariwisata, strategi yang sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. diterapkan Ditjen Pemasaran Pariwisata telah tampak menginspirasi dan mendo­rong Apa pengertiannya? 1. Kepariwisataan adalah keseluruhan ke­ pemda dan unsur pelaku pariwi­sata di giatan yang terkait dengan ­pariwisata dan daerah-daerah menyelenggarakan ke­giat­ berbagai format dan isi. Dan bersifat multidimensi serta disiplin PENDAHULUAN VISI, multi­ MISI, DAN TUJUAN an-kegiatan ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENUTUP itulah kini memerlukan singlronisasi agar yang muncul sebagai wujud kebutuhan Kondisi Perkembangan Perkembangan Reformasi Potensi Permasalahan SDM KETERKAITAN kian produktif, sebagaimana ditekan­kan setiap orang dan ­negara serta interaksi Global Kepariwisataan Ekonomi Kreatif Birokrasi antara wisatawan dan masyarakat se­ oleh Wamenparekraf Sapta Nirwandar.

Keterkaitan Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif

Keterkaitan Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ekonomi Kreatif

Kepariwisataan

1

Penguatan kualitas kepariwisataan Kualitas kepariwisataan seringkali diukur dari lama tinggal dan besaran pengeluaran wisatawan.

2

Penciptaan daya tarik wisata Produk dan jasa ekonomi kreatif, dapat menjadi daya tarik utama di suatu daerah destinasi wisata.

3

Promosi Produk dan jasa ekonomi kreatif merupakan media promosi yang efektif bagi suatu destinasi wisata, dan sebaliknya.

Penguatan Kualitas kepariwisataan

Penciptaan daya tarik wisata

Promosi

Jika Anda mempunyai informasi dan pendapat untuk Newsletter ini, silakan kirim ke alamat tersebut di atas.

Promosi

4

2

Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012


Utama

Menparekraf bersama Presiden/CEO KOCCA, Hong Sang-Pyo.

ment and Media (CJ E&M), perusahaan animasi Wonderworld Korea, Dongseo University dan Korean Polytech University. Di Shanghai, RRC, Menteri ­menghadiri Seatreade All Asia Cruise Convention, dan menegaskan cita-cita Indonesia untuk

Di Tokyo, berbicara dengan pelaku bisnis pariwisata.

menjadi destinasi kapal pesiar yang ber­ kelanjutan dan berkelas dunia. Pasar wisman Jepang masih tetap lucra­ tive. Diharapkan payung kerja sama dan program kolaborasi beberapa sektor dapat disepakati tak lama lagi. Itu agar ­terealisasi

kerja sama saling menguntungkan bis­ nis-bisnis, komunitas-komunitas dan ­insan-insan kreatif antara kedua negara. Sementara pasar Korea sedang tumbuh pesat dan Cina sudah menjadi nomor satu terbanyak di dunia menghasilkan

Link-Match Industri, Vito, Instansi, Organisasi dan Destinasi

baru, untuk mempromosikan daerah baru operator tur harus lebih kreatif. Mengapa kita bicara tentang Karimun Jawa, itu tentu karena kita dapat menggunakan penerbangan Air Asia yang melewati Semarang. “Kami membutuhkan pemasok dari Indonesia sebagai kelanjutan dari permintaan tur operator kami di Malaysia,” kata dia. Lalu, Yohanes, dari Air Asia pun meamen Parekraf Sapta Nirwan- sama dengan maskapai penerbangan dan nyambut: Itu merupakan wacana yang sa­ dar (Plt Dirjen Pemasaran Pari­ hotel. Maka diharapkannya ­dengan VITO ngat baik bahwa kita dapat menjual berbawisata) memimpin jalannya ke- kerja sama sinkronisasi dalam rangka gai tujuan lainnya. Selain tujuan Bali, kita tiga forum tersebut di setiap hari ­upaya 3 bulan akhir 2012 ini untuk memjuga perlu dukungan untuk menjual destibuat bertambahnya jumlah wisatawan pelaksanaannya. nasi Makassar, Solo dan tujuan lainnya. “Pak Sapta, dengan gembira saya Cina yang datang. Hasiyana dari ASITA Jakarta dan ope­ Untuk pasar Malaysia, kata Yanti, beritahukan,” ujar satu peserta forum, rator Marintur: Dengan kita fokus kepada ­“Kementerian Luar Negeri, ingin berbagi “Kami ingin melakukan promosi destinasi apa yang harus kita perbuat periode Sepprogram internasional. Hal yang saya in- di luar Bali. Indonesia begitu besar. Bagai­ tember–Desember ini, travel agent yang gin ­sampaikan juga bahwa setidaknya mana Karimun Jawa, Kepulauan Riau, ada VISI,pantai MISI, DAN TUJUAN PENDAHULUANbanyak ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENUTUP harus mulai duluan, mengirim langsung yang indah untuk dipasarkita memiliki dua program, 2 ­konferensi Tujuan Sasaran VISI MISI via internet pemasaran dan penjualan ke kan ke Malaysia.” internasional. Pertama adalah Forum kota-kota yang punya direct flight ke IndoDari VITO Malaysia, mengiakan, naDemokrasi dan yang kedua adalah perdan mun Misimelihat Kemenparekraf nesia. Sambil itu berjalan kemudian kalau juga risiko baru untuk daerah temuan senior informal pada Visi APEC. ada dana kita bisa melaku­Harapannya dua konferensi kan direct sales ke kantongini akan meng­undang lebih kantong asal dari turis dan banyak orang datang ke Indo“TERWUJUDNYA KESEJAHTERAAN DAN KUALITAS HIDUP langsung ke consumer. nesia. Pada Forum Demokrasi Mereka umumnya tentu akan berpartisipasi sekitar 200 MASYARAKAT INDONESIA DENGAN MENGGERAKKAN sudah mempunyai rencana delegasi. Untuk pertemuan KEPARIWISATAAN DAN EKONOMI KREATIF” libur hendak ke mana, maka APEC yang akan diselengkita harus bisa pecahkan garakan di Jakarta dan Bali, perhatian mereka supaya kami perkirakan sekitar 2.000 1. Mengembangkan kepariwisataan berkelas dunia, berdaya saing, dan ke ­Indonesia dan itu harus orang datang tetapi terutama berkelanjutan serta mampu mendorong pembangunan daerah; ­direct. “Maaf,” katanya, “Dauntuk pertemuan APEC ta2. Mengembangkan ekonomi kreatif yang dapat menciptakan nilai lam waktu dekat ini kita hun depan.” tambah, mengembangkan potensi seni dan budaya Indonesia, serta tidak bisa menjual daerahYanti Sukamdani dari Bamendorong pembangunan daerah; dan Promosi Pariwisata In3. Mengembangkan sumberdaya pariwisata dan ekonomi kreatif secara daerah yang tidak ada direct flight-nya.” donesia (BPPI) ­menerangkan, berkualitas; Apa kata Kadis Pariuntuk pasar Cina di Guang4. Menciptakan tata pemerintahan yang responsif, transparan dan wisata Jateng? “Kami sebezhou, telah diprogramkan akuntabel. 34 narnya menunggu penulis pada Oktober ini promosi ber-

W

VISI

MISI

Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012

3


Utama

Menparekraf dan Kepala BPS.

Menteri menyerahkan ‘Award’.

outbound tourists, meninggalkan Amerika Serikat dan Jerman di peringkat dua dan tiga terbanyak outbound traveler.

Badan Pusat Statistik. “BPS mencatat kedatangan wisman ke Indonesia mengalami peningkatan yang cukup tinggi dibanding tahun sebelumnya,” kata Kepala Badan Pusat Statistik

(BPS), Suryamin. Menparekraf dan Kepala BPS menandatangani MoU di Jakarta, Rabu (19/9/2012). “Dengan kerja sama ini, kita jadi bisa tahu berapa lama wisman menginap, dan kegiatan yang bisa dilakukan,” kata Menteri. Juga akan bisa mengetahui minat wisatawan domestik, berbagai fasilitas pun bisa ditingkatkan untuk kenyamanan turis, agar mau datang ke destinasi wisata. “Misalnya Sulsel, penduduk sana bia­ sa­nya senang wisata keluar daerah, tapi mungkin tidak demikian halnya dengan penduduk daerah lain. Nah, dengan statistik, kita bisa mencarikan strategi agar me­ reka mau wisata keluar,” kata Menteri. n

Apresiasi dan kerjasama BPS

Di dalam negeri, praktisi terpilih di bidang pariwisata dianugerahi penghargaan oleh Kemenpa­rekraf. Ini mencerminkan apresiasi peme­rintah terhadap upaya-upaya kalangan praktisi yang me­ ningkatkan pengembang­an pariwisata. Selain itu, ditandatangani komitmen oleh wakil-wakil para pelaku pariwisata untuk pelaksanaan kode etik pariwisata. Dan Menteri menandatangani MoU dengan

dari ­dalam negeri maupun luar negeri, agar datang dan menulis. Ada beberapa paket yang dijual, dan memang Karimun Jawa signifikan naik terus pengunjungnya. Ada beberapa paket Diving, Snorkeling. Tersedia untuk charter flight berkapasitas enam orang, tersedia tiga kapal pengangkut wisatawan dari Jepara dan Semarang. Tapi, problemnya saat ini kapalnya sedang rusak. Untuk jangka panjang pemerintah mengalokasikan dana untuk perpanjangan landasan air strip nya sepanjang 890 meter. Garuda Indonesia diwakili Helmi Kurniawan menerangkan: Besar juga sup­ port Garuda selama ini untuk mendukung kunjungan turis. Beberapa waktu sebelum­ nya bekerja sama dengan salah satu brand international, kegiatannya memperkenalkan destinasi-destinasi baru di Indonesia. Ternyata responnya sangat baik. Kalau tadinya yang dikenal hanya Bali, kini lebih dari itu. Kemudian, lebih praktis lagi sudah melakukan beberapa kali pertemuan dengan Kementerian Pariwisata dan kepala perwakilan di China, untuk menyelenggarakan Garuda Indonesia Travel Fair. Ajang ini sebelumnya diselenggarakan di Jakarta, maka yang akan datang adalah melakukannya di luar negeri. Ter­akhir bulan lalu dilaksanakan di

4

Penandatanganan komitmen disaksikan Menteri.

Kita hendaknya tidak hanya menggunakan cara tradisional, mari lakukan hal cerdas dengan anggaran rendah, nilai ekonomi­nya tinggi. Shanghai, menjual berbagai destinasi ­Indonesia. Yang perlu kita tingkatkan, kata­nya, kerja sama dengan VITO, ­dengan perwa­kilan Garuda di China, itu bisa ­ditingkatkan lagi, karena promosinya bisa kian digencarkan. Roadshow ke mal juga efektif dan itu yang akan dilakukan. Untuk jangka panjang ba­ nyak kesempatan memperkenalkan Indonesia, terkait kerja sama Garuda melalui salah satu merk global international. Tentu sambutannya akan sangat baik mengangkat brand Indonesa di mata internasional. Ahli pemasaran, Hermawan Kartajaya: Kita harus menciptakan kata seksi, kata indah, agar menarik orang-orang datang. Destinasi baru membutuhkan tindakan untuk mempromosikan. Kami berbicara tentang segmen baru. Kita sulit mendapatkan segmen planned tourist, karena me­reka sudah ada rencana. Kita harus menuju ke segmen impulsif. Orang muda sering pergi dengan tiba-tiba, wanita pun

kadang-kadang melakukan hal-hal impulsif. Indonesia telah terkenal di seluruh dunia, Indonesia telah menjadi terkenal karena trending topic di tweeter, dan lainlain media sosial. Jadi karena kita punya waktu dan anggaran terbatas kita harus manfaatkan waktu sesuai dengan segmen yang tepat. Pemuda, perempuan adalah target pasar yang baik. Adapun Bali; tidak hanya pulau budaya, tidak hanya pulau dewa, selain itu sangat tepat untuk pesta remaja, artinya akan sukses pada segmentasi ini. Jadi Bali bisa menjadi pulau pesta, ‘Island of Party’. Jadi dalam waktu yang sempit ini kita hendaknya tidak hanya menggunakan cara tradisional, mari lakukan hal cerdas dengan anggaran rendah, nilai ekonomi­ nya tinggi. Kita tidak perlu menghabiskan banyak uang. Jadi kita harus memilih segmen yang tepat, itu adalah pemuda, de­ ngan positioning yang tepat. Kita bisa menjual pesta untuk pemuda, dan cinta bagi perempuan. Kita bisa membayar broker, kita dapat menggunakan pemuda untuk menarik pemuda. Pembicaraan di atas merupakan bagian dari cross discussion yang berlangsung dalam FGD, 13 September 2012 di Jakarta. Tak kurang 85 orang hadir yang terdiri dari :

Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012


Putri Pariwisata

Putri Pariwisata Indonesia

T

ampak cantik dan gemulai, tentu juga cerdas, mereka, 35 finalis dari 33 provinsi hasil audisi di seluruh ­Indonesia, memasuki masa karantina di Merlyn Park Hotel Jakarta, dari tanggal 17 hingga 27 September 2012. Mereka berkompetisi pada Ma­ lam ­Penobatan Putri Pariwisata Indo­ nesia 2012di Grand Ballroom hotel itu pada ­Jumat malam ­(28/9-2012). ­Kemenparekraf mendukung kegiat­ an pemilihan Putri P­ariwisata Indonesia 2012 yang tahun ini mengangkat tema Green & Creative ­Tourism. Para finalis ini kemudian menjadi duta wisata bagi daerah Wamen Parekraf menerima audensi untuk jumpa pers para finalis di Balairung Soesilo Sudarman, ­masing-masing serta mewakili Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Rabu (19/9/2012). ­Indo­nesia dalam even ­pariwisata di ­mancanegara. Ya, mereka kini berperan sebagai duta Sapta Nirwandar mengetuai Dewan Sylviana Murni, SH, Msi. wisata untuk mempromosikan potensi Wamen Parekraf Sapta Nirwandar Juri yang antara lain terdiri dari Prita pariwisata dan ekonomi kreatif IndoneKemal Gani (Founder The London School mengharapkan para finalis ini terus me­ sia kepada masyarakat dan wisatawan di Public Relations), dr Lula Kamal, Prof Dr ningkatkan pengetahuan bidang pari­dalam dan luar negeri. n Budiarto Subroto, DEA, dan Prof Dr Hj wisata dan ekonomi kreatif.

4 Direktorat: Pengembangan Pasar dan Informasi Pariwisata; Promosi ­Pariwisata Luar Negeri; Promosi Pariwisata Dalam Negeri; Promosi Citra Indonesia; Konvensi, Insentif, Even dan Minat Khusus. 4Dirjen Asia Pacific dan Afrika Ratu ­Sylvi Gayatri. 4Imigrasi Bali, I Wayan Sudana, (Kabid Pengawasan dan Penindakan). Imigrasi Soetta, Bea Cukai, Deni Sudrajat. 4Kasi Penyuluhan layanan & informasi. 4Dirjen Kerjasama ASEAN, Amir Rajab Harahap (Kasubdit Kerjasama ASEAN). 4Dirjen Imigrasi, Kiemas Zamsazain (Kasubdit Ijin masuk bertolak & tempat pemeriksaan Imigrasi). 4Disparbud DKI Jakarta, Rohim (Pengkajian Pemasaran). 4Disparbud Jawa Tengah Prastyo (Kadisparda). 4Disparbud Jawa Timur Handoyo (Kabid Pemasaran). 4Dispar Jogjakarta Tazbir (Kadisparda). 4Kadispar Kep Riau Guntur Sakti (Kadisparda). 4Dinas Par Kota Batam: Acmad Artas Yaswir (Sekertaris Kadin Kasubdit Program). 4Angkasapura II, T Priyanto (Ketua). 4ASITA Hasiana (Ketua). 4PHRI Carla Parengkuan.

Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012

4INTI Untung (Ketua). 4VITO Singapura: Sulaiman Shehdek (Country Manager/CM). 4VITO Jepang: Tadahito Narita (CM). 4VITO Beijing: Yu Zhou (Cynthia)-CM. 4VITO Malaysia: Muhammad Shafie Obet (CM). 4VITO Korea: Cherry Kim (CM). 4VITO Australia: Craig Gibbons (CM). 4VITO Guangzhou: Ms. Jingyi Hu (CM). 4TO Korea: Kyung Hae kim (Garuda Seoul Office). 4TO Guangzhou: Ms Jinhang Kuang (Women Inter Travel Service) dan Ms ­Jinghong Xian (Manager CITIC Inter Travel Service). 4TO Beijing: Mr. Jixin Zhen (Ben)–Travel Trade Manager. 4TO Malaysia: Mr Josep Kok Kee Meng (MP Travel & Tour SdnBhd), Mr Moh Hisham bin Saharudin (Rakyat Travel Sdn Bhd). 4TO Singapura Mr Bhajan Sing (A+B Edu T&T Pte,Ltd), Mr Haffidz Abdul Hamid (GM Hajilah Travel PTE LTD). 4TO Australia: Monica Baker (Marketing Manager for Flight Center). 4TA/TO (Travel Agent/Tour Operator) Indo­ nesia: Bhiva Tours, Ati Chandrasari (Mgr Jakarta). Pacto Ltd Mr Rachmadi (Product Manager) Pacto Ltd, Bali Kami

Tour, Rama Tours, Taman Puyera Wisata, Vaya Tour, Aero Wisata Exotic Java Trails. Jetstar Airways, Helmy Zulsar (Mgr. Merpati Nusantara), Mohamad Hatta Ch (CEO Merpati Archipelago), RA ­Junaidi (VP Marketing Nusantara Airlines). ­Garuda Indonesia, Batavia Air: Ely, Irvan (PR Mgr), Humas Qatar Airways.

Kegiatan Taktis Dinamis

Apa yang datang dari VITO? Untuk FGD itu, yang didatangkan memang khusus dari Vito kawasan dekat, yakni dari Singapura, Malaysia, China, Jepang, Korea dan Australia. Itu sejalan dengan topik dan tujuan utama, yakni untuk mengisi kegiat­an khusus menjelang tutup tahun 2012, agar target 8 juta wisman tahun ini bisa tercapai. Dinamisme kegiatan pemasaran memang dicerminkan dari kegiatan taktis yang dilaksanakan oleh Ditjen Pemasaran Pariwisata ini. Dan di situ berproses link and match antara kebijakan, strategi dan Ini pula merupakan landasan dan semangat cara kerja sinkronisasi pemikiran, rencana dan program, yang kemudian dibawakan ketika dua minggu sesudahnya, pada tanggal 2 dan 3 Oktober 2012 diselenggarakan Rakor Sinkronisasi Pe­ masaran Pariwisata Indonesia. n

5


Utama

Aksi Dinamis Akhir Tahun ini

Indonesia’s End Year FESTIVE Seasons

K

ementerian selama periode Januari–­Agustus melaksanakan rangkaian Below The Line Pro­mo­ tion antara lain dengan aktivitas Pameran: se­ perti bergabung di Vakantiebeurs, MATTA Fair, ITB Berlin, COTTM, Floriade, KOTFA, dan lain-lain. Dan Misi Penjualan (sales mission), se­perti ke China, ASEAN, Australia, dan lain-lain. Adapun famtrip: Travel Agent/Tour Operator (TA/TO), wartawan, tokoh atau prominent figures. Melancarkan Above The Line Promotion adalah dengan iklan cetak, iklan elektronik, iklan luar ruang, juga pemasaran online dengan facebook, twitter dan web indonesia.travel. Dengan terjadinya penurunan jumlah kedatangan wisatawan bulan Juli 2012 itu, kementerian akan melakukan beberapa tindakan pada enam pasar utama dalam tiga bulan terakhir 2012 ini.

Pengunjung mengantri di stand Indonesia untuk menikmati cita rasa kuliner Indonesia, ketika event MATTA Fair beberapa waktu lalu. “Kami ingin dapat masukan dari semua peserta supaya kita tetap bisa mencapai target delapan juta. Diharapkan tentunya praktek dari Pemerintah daerah dan kalangan swasta,” kata Sadar Pakarti Budi, Direktur Pengembangan Pasar dan Informasi Pariwisata. Kemudian Nia Niscaya, Direktur Promosi Luar Negeri Pariwisata, mengumumkan ketua kelompok diskusi untuk setiap pasar, dan mengundang agen VITO dan agen ­wisata dari luar negeri dan Indonesia yang tertarik di pasar tersebut. Pasar Malaysia diketuai Tazbir, Kadisparda Yogya­karta. Pasar Australia oleh Nia Niscaya. Untuk pasar China oleh Esthy Rekso Astuty, Direktur Promosi Citra Indonesia, untuk pasar Korea diketuai oleh Sadar Pakarti Budi, ­Singapura oleh Fathul Bachri, dan untuk pasar Jepang oleh Rizki Handayani. “Dalam diskusi kita ingin meminta komitmen Anda. Apa komitmen Anda misalnya dari maskapai ­penerbangan, berkomitmen untuk mendukung paket melalui promosi dalam majalah penerbangan. VITO telah memilih agen perjalanan yang menjual Indonesia,” Nia menjelaskan. Usai diskusi, pada forum dijelaskan kesimpulan demi kesimpulan dari setiap fokus pasar.

6

Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012


Utama

Indonesia’s End Year FESTIVE Seasons Dari Kelompok Pasar Singapura

Telah dibahas secara fokus tentang pemasaran produk. Ketika melakukan ‘positioning’ kita harus fokus pada produk. Sebaiknya tidak hanya mempromosikan Indonesia secara umum, tetapi spesifik misal menyebutkan Batam, agar pengunjung datang ke Batam, menyebutkan apa yang dimiliki di Batam. Yang berikutnya adalah menyebutkan Bandung. Di Bandung kita sebutkan Trans Studio, ada factory outlet. Maka iklan pun menonjolkan produk dan destinasinya. Selain itu, melakukan road show di mal. Untuk itu, Pemda, industri, dapat bergabung dan melakukan road show mempromosikan apa yang dimiliki, budaya, makanan, misalnya membawa koki yang bisa memasak Serabi Bandung, orang Singapura suka berbelanja dan makanan. Jadi tugas mendesak yang harus dilakukan adalah mendukung promosi para agen perjalanan melalui elektronik, iklan, dan media. Misalnya, untuk macam-macam iklan perlu biaya sekitar US$ 20.000 untuk periode tiga bulan. Jumlah itu akan dibagi. Mereka akan menjual produk tidak sendiri-sendiri. Mereka akan menjual Jakarta–Bandung–Bali, misalnya. Diharapkan setidaknya setelah iklan akan lebih banyak wisatawan datang. Memang baiknya dibuatkan tagline yang tepat untuk mendukung promosi ini. Apa tagline-nya? Saran kami adalah: ’Year-end sales mega campaign’. Mungkin anggota ASITA dapat memberi dukungan misalnya dengan memberikan kartu yang dapat mereka gunakan untuk memperoleh diskon saat membeli paket. Dukungan juga diharap dari maskapai penerbangan seperti Lion Air dan AirAsia agar mempromosikannya di web mereka. Yang terakhir dibahas adalah dalam waktu dekat apa yang bisa dilakukan segera, agar grup langsung datang di luar kondisi normal. Akan diundang seperti band Wali, karena orang ­Singapura cenderung ingin tahu tentang artis. Artis ­sinetron Cinta Fitri atau artis sinetron ­Tukang Bubur Naik Haji, itu digemari. Dan acara Natal, di­sarankan pada bulan Oktober mulai dipromosikan karena di Singapura seperti juga ­Malaysia ada enam minggu liburan sejak Desember hingga tanggal 2 Januari. Perlu dilakukan promosi secepatnya.

Pasar Malaysia

Diskusi bersama agen perjalanan, ope­rator tur, dalam kelompok ini memandang tiga bulan ke depan perlu fokus pada destinasi. Agen perjalanan setuju mencari paket di luar Jakarta. Bandung dan Bali sudah terbentuk pasarnya. Kini perlu menciptakan fokus baru di luar Jakarta. ­Telah diidentifikasi ­untuk susun paket, di Jakarta kemu-

Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012

7


Utama fokus pada nilai kompetitif selain faktor destinasi yang digandrungi pasar Jepang. Biaya terbesar dalam paket adalah tiket penerbangan. Maka perlu disambut promosi fokus dari Garuda, yang periode tiga bulan ini menawarkan promosi seribu tiket, untuk datang ke Bali dengan tagline baru: Promoting, ­Congratulation, to New World Heritage Subak in Bali. Jadi, Garuda mendukung dengan memberikan harga khusus dan agen perjalanan akan membuat paket. Jika setuju maka akan dapat memperbaiki paket ke Bali dari Jepang dengan harga baru yang kompetitif. Dan yang kedua adalah dukungan dari Air Asia, yang akan mempromosikan juga di website mereka, World Heri­ tage Subak in Bali. Pada airlines LCC ini, wisatawan individu membeli tiket melalui internet. Juga akan melakukan promosi dengan harga promo khusus ke Bali dari Jepang via Kuala Lumpur.

Pengunjung mengamati berbagai paket dan promosi wisata yang ditawarkan oleh seorang tur operator.

Pasar Korea

dian ­Bandung lewat darat ke Yogyakarta, dan terbang dari ­Yogyakarta. Juga diidentifikasi kombinasi Bandung ­dengan Surabaya, dan kombinasi dengan Lombok dan Bali. Mengidentifikasi biaya land arrangement-nya untuk menekan biaya. Operator tur yang ingin bergabung memasarkannya, bersama Vito, sebagai langkah awal yang cepat. Dukungan dari Kementerian diharapkan dengan berbagi biaya kampanye yang berarti iklan dibagi antara grup dan kementerian 50 : 50 cost sharing. Namun sebelum meluncurkan paket akan ada media famtrip di bulan Oktober, diharapkan media menulis dan menciptakan keinginan masyarakat untuk berwisata. Itu untuk perencanaan dalam waktu singkat.

Pasar Cina

Dibahas tentang ‘Golden Week’ yang merupakan program yang akan fokus pada bulan Oktober, November, dan Desember. Bagusnya, mulai Oktober beroperasi pe­ nerbangan langsung oleh Southern China Airlines. BPPI punya program sales mission ke China, diharapkan program ini dapat dikerjasamakan dengan VITO Guangzou. Mereka memiliki data pariwisata dari Guang Zhou ke Denpasar. VITO Guang Zhou juga meminta dukungan dari ­Kementerian untuk famtrip bagi operator tur dan media sekitar 20 peserta, dan meminta Kementerian untuk memberikan hadiah bagi konsumen, gimmick. GOH ­(Garuda Orient Holidays) Guangzhou juga meminta dukungan untuk lucky draw, dan dukung­an pencetakan media promosi. VITO Guangzhou meminta industri yang bisa menjadi partner untuk menjual produk tujuan selain Bali, dari ­Yogyakarta, Surabaya, Manado dan Jakarta. Adapun VITO Beijing, memerlukan dukungan mempromosikan paket low season, setelah usai Golden Week. Vito sudah mempromosikan paket ini di web. Ada juga penawaran harga khusus dari maskapai Ga­ ruda, SQ, Air Asia, dan maskapai penerbangan lainnya, kini sudah terdaftar. Dan sudah diprogramkan adanya famtrip untuk operator tur dari Guangzhou dan VITO ­Beijing.

Pasar Jepang

Kelompok diskusi untuk pasar Jepang ini menyatakan, menemukan bahwa ma­salah utama bagi konsumen Jepang datang ke Indonesia adalah kepercayaan. Maka perlu

8

Pada diskusi kelompok pasar Korea, rencana aksi yang diusulkan, pertama, akan menginformasikan bagi yang menjual Indonesia untuk mendorong on line booking, on line tour, tour web. Yang kedua, apa yang dapat dilakukan dalam waktu singkat. Pembuatan pamflet tentang Jakarta, Bali, Lombok, Batam, Bintan, dan Yogyakarta. Kemudian yang ketiga, mendorong Korea untuk mempromosikan Jakarta, dan Yogyakarta. Ditargetkan sekitar 1.150 pax tambahan kunjungan selama bulan Oktober sampai Desember. Keempat, akan dibuatkan website untuk program nomor tiga disebut tadi. Kelima, promosi di beberapa kota yang dibagi setahun dalam beberapa kuartal, selama periode tertentu. Kemudian, akan dipilih 5 agen dan 5 media untuk famtrip ke Jakarta, Bandung dan Yogyakarta.

Pasar Australia

Sebagian besar orang Australia pergi dengan pemesanan secara online, 70% mereka pergi menggunakan agen perja­lanan. Jadi perlu kerja sama dengan kalangan agen. Ada agen perjalanan yang siap untuk paket lengkap harga hotel dan penerbangan, selain dari GOH. Agen Flight Center fokusnya pada destinasi Bali, Lombok dan Gili, alasannya ka­rena orang Australia sangat akrab dengan tujuan ini. Diutarakan, karena saat ini waktunya singkat, paket dari agen perjalanan bisa siap, tetapi jika hendak menda­ patkan ­respon besar dari pasar, mereka meminta ­kampanye ­melalui TV, spanduk. Diperkirakannya biaya 300 ribu dolar untuk periode November–Desember, bisa ­dengan patung­ an, misalnya investasi dari Kementerian 50% dan untuk ­investasi ini Flight Center menjanjikan hasil feed back 20–70% peningkatan kedatangan wisman Australia dibandingkan pencapaian tahun lalu pada periode yang sama. Selain itu harus dipastikan ketersediaan kursi. Dari GOH, untuk tujuan di luar Jakarta, yakni Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Lombok juga menyatakan tiga bulan yang sama perlu promosi di televisi berkisar US $ 50.000. Setelah kesimpulan-kesimpulan dari kelompok itu, pimpinan sidang menyatakan : “Kita harus memilih ­kegiatan yang sangat tinggi impact-nya.” Program-program itu terlihat pada beberapa tabel yang dimuat di halaman 6–7. Kese­luruhannya dinamai program ­Indonesia’s End Year Festive Seasons. n

Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012


Pimpinan dari 13 kantor VITO di 12 Negara bersama Wamen Parekraf berseru semangat bersama menyongsong pemasaran pariwisata 2013.

Utama

Sinkronisasi Program Pemasaran 2013

D

i dalam Balairung gedung Sapta Pesona, Kemenparekraf, dua ratusan orang peserta aktif di Rakor Sinkronisasi ­Pemasaran Pariwisata tanggal 3 Oktober 2012. Para peserta rakor itu terdiri dari jajaran Kemenparekraf bersama wakil-wakil instansi serta asosiasi-asosiasi dan pelaku industri pariwisata, plus stakeholders pariwisata lainnya. Kebijakan, strategi dan program pemasaran untuk tahun 2013 dipaparkan, kemudian peserta dibagi dalam kelompok-kelompok pembahasan berdasarkan fokus pasar. Menparekraf Mari Elka Pangestu mem­buka Rakor dengan menguraikan kembali Rencana Strategis (Renstra) Kemenparekraf untuk dilaksanakan hingga tahun 2014. Tentu saja digambarkan juga proyeksi situasi kondisi kepariwisataan melampaui tahun 2014, sebagai suatu gambaran global yang perlu diperhatikan. Wamen Parekraf Sapta Nirwandar ­kemudian memimpin keseluruhan Rakor. Dibukanya dengan menyajikan gambaran situasi pemasaran pariwisata Indonesia, yang mengandung strategi dan programprogram yang hendak dilaksanakan un­ tuk tahun 2013. Tak diragukan lagi the forseeable ­future berdasarkan data menunjukkan abad ­ke-21 seakan miliknya Asia-­Pasifik. ­ Pertumbuhan di bidang pariwisata ­demikian tinggi di mana jumlah pengunjung diproyeksikan mengambil 30% dari total di dunia.

Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012

9


Utama

Philippines

315.000

Taiwan

255.000

United States

225.000

United Kingdom

220.000

Lebih fokus lagi, demikian pula e­ konomi negara-negara ASEAN akan bertumbuh relatif tinggi. Maka ini pun akan mendorong pertumbuhan pariwisata relatif tinggi di tengah kancah dunia, tentunya outbound maupun inbound tourism. Setidaknya tujuh gejala yang mempe­ ngaruhi naik turunnya perjalanan wisata di dunia dewasa ini. Semua itu diperhitungkan dalam menentukan strategi dan program pemasaran pariwisata.

10

Program pemasaran di daerah-daerah seharusnya disesuaikan dengan program di tingkat nasional, sehingga sinergis, efisien dan efektif. Baik dari dimensi kuantitatif maupun kualitatif. Menuju 10 Juta Wisman

Rakor itu sendiri semakin menguatkan perlunya sinkronisasi, di mana kebijakan, strategi dan program yang diproyeksikan oleh Kemenparekraf, diharapkan diikuti dan disinkronkan oleh para pelaku pariwisata di daerah-daerah, baik dari ­pemerintahan apalagi dari kalangan pelaku bisnis. Program pemasaran di daerah-daerah seharusnya disesuaikan dengan program

di tingkat nasional, sehingga sinergis, efisien dan efektif. Baik dari dimensi kuantitatif maupun kualitatif. Menteri dan Wakil Menteri mem­ bawakan suasana pembahasan yang mencair, namun dengan fakta dan data serta ‘­menyemangati’ peserta agar ketika kembali ke tempat masing-masing, ­dapat segera menerapkan langkah dan gerak pema­saran yang efektif dan efisien. “Kita arahkan mencapai jumlah

Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012


Utama

Suasana rapat-rapat kelompok menurut target pasar dalam Rakor Sinkronisasi Pemasaran Pariwisata 2013.

­ unju­ngan wisman tahun depan seba­ k nyak sembilan juta,” kata Menteri, dan ­melanjutkan, tahun 2014 agar bisa men­ capai 10 juta. Program dari Pusat dan sinkronisasinya dengan daerah-daerah serta asosiasi dan praktisi bisnis, dan VITO, pembahasan pasar demi pasarnya dilaksanakan terbagi dalam 7 kelompok. Enam kelompok untuk pasar mancanegara, dan satu kelompok untuk pasar pariwisata dalam negeri atau Wisnus. Dapatlah dilihat target-target pasar dan jumlah wisman yang hendak dituju, ­beberapa even utama untuk dilaksanakan selama tahun 2013, target wisman ­diarahkan pada segmen demografis tertentu, dan memperhatikan aspek atau ­motif tujuan atau minat spesifik wisatawan masa kini. Target-target tersebut sebagai ­hasil ­analisis mutakhir dipandang sesuai ­dengan karakter destinasi dan produk pariwisata yang dimiliki di Indonesia. n

Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012

11


Bisnis

Mengembalikan Wisman ke Toraja

T

usia pensiun bisa memilih kami bisa mendapatkan 25 destinasi wisata apapun di grup per agen. Jadi dengan seluruh dunia. Itu banyak di2 operator saja sudah cukup lakukan di negara-negara di untuk membiayai perusaEropa, terutama di Perancis haan. Saat ini Iramasuka dan Jerman. Pihak asuransi masih menerima grup dari akan membayar ke agen di Belanda saja.” sana, dan agen tersebut akan Luther Barrung, Ketua membayar kepada agen lokal Destination Mana­gement Or­ di Indonesia. Yang masih ganization (DMO) Toraja, berjalan hingga saat ini adamenjelaskannya seperti ini: lah serial grup dari Belanda ketika peristiwa bom Bali Ony Alolinggi TAHUN 2007 2008 2009 2010 2011 meskipun volumenya sudah pertama terjadi, kunjungan SULSEL 24,531 31,215 35,712 42,371 51,749 wisatawan ke Toraja tidak terpengaruh. jauh berkurang. Serial grup seperti ini dari Tapi setelah peristiwa di Poso, itu sangat Perancis dan Jerman nyaris tidak ada. TORAJA 12,266 15,608 17,856 21,186 25,875 Bagaimanapun, kota Makassar menmempengaruhi kunjungan wisman ke Sumber: Data kunjungan wisman Disbudpar Provinsi Sulsel. Data wisman ke Toraja dengan asumsi rata-rata 50% dari wisman ke Sulsel. jadi pintu gerbang utama menuju Toraja Toraja. Pasar utama Toraja adalah Eropa. Ke- hingga saat ini. Namun perjalanan darat tika peristiwa Poso terjadi, menuju Toraja menghabiskan waktu temAgustinus Lamba dari mereka berpikir pe­ristiwa puh yang panjang karena perbaikan jalan ope­rator tur Indo’sella’ Expe­ tersebut ada di Toraja. Pa- dari Makassar ke Toraja di beberapa ruas disi mengatakan, “Itu saya dahal sebenarnya letak Poso belum rampung. Perjalanan di malam catat dari praktek bisnis di itu jauh, sekitar delapan jam hari waktu tempuhnya sudah hampir ­lapangan.“ mendekati sebelumnya, sekitar delapan perjalanan dari Toraja. Ony Alolinggi, Ketua BaSekarang ini sudah jam. Tapi perjalanan di siang hari bertamdan Pimpinan Cabang (BPC) mem­baik dan tidak ada bah 2–2,5 jam. Kenda­raan semakin banyak PHRI Toraja mengatakan hal di jalan seiring kese­jahteraan lagi masalah serupa, “Memang dari tarakyat Sulsel meningkat de­ k e ­a ­m a n a n . hun sebelumnya, wisatawan ngan pertumbuhan ekonomi Kerukunan asing sudah mulai naik relatif tinggi. antar­ u mat ber­ meskipun sedikit sekali. Agustinus Lamba Yakin Tandirerung, Ke­ agama di ToraTapi ada tren kenaikan, mupala Dinas Kebudayaan dan ja sangat baik. Dalam se­buah lai kembali pelan-pelan.” Pariwisata Toraja Utara, me­ Sedangkan biro perjalanan dari Ma­kas­ rumah bisa ada 3–4 keperng­­a­kui bahwa salah satu kensar Iramasuka melihat jumlah kedatangan cayaan berbeda yang dianut dala Toraja adalah jarak­nya wisman jatuh lebih dari 50% di­sebabkan oleh anggota keluarga. Tapi terlalu jauh dari Makassar. isu keamanan, terutama setelah peristiwa waspada tetap dilakukan. “Kita sudah mengusulkan Setelah itu datang krisis di bom Bali dan terorisme. agar bisa memotong jalur itu Bachtiar Manaba, Managing Director Eropa. Serial grup biasanya secepatnya dengan meng­ ­Iramasuka Tours and Travel, menjelaskan, dipegang oleh perusahaan ope­rasikan sebuah ­ban­dara. ”Dulu kami masih bisa mendapatkan 35 asuransi. Nasabah life insu­ Bachtiar Manaba Rencananya bandara itu grup setahun dari 1 agen. Dari Jerman rance yang sudah memasuki ahun 1991–1996 dicatat masa ­booming pariwisata di Toraja. Kemudian ­tahun 1997–1999 mulai menurun. Tahun 2000–2006 grafik pariwisata di Toraja berada di lembah, arti­nya kedatang­an wisatawan minus. Tapi keadaan ini mulai berubah sejak tahun 2007 hingga sekarang. Angka kunjung­ an wisatawan sudah mulai naik lagi. Berikut tabel Kunjungan Wisman Ke ­Sulsel dan DTOW Toraja 2007–2011 :

12

Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012


Bisnis 2012, atau selama 2010-2011, kenaikannya nanti akan dibangun di Makale. Pemba­ memesan satu bulan di muka. Setelah transekitar 26%. Di hotel-hotel melati inilah ngunannya akan dimulai tahun 2014. Ban- sit di Abu Dhabi, ­mereka menuju Kuala yang me­nerima wisman backpacker,” kata dara yang ada sekarang masih dianggap Lumpur untuk connecting dengan Airasia Ketua BPC PHRI Toraja Ony Alolinggi. kecil sehingga tidak bisa didarati pesawat- yang langsung menuju ke Makassar. Me­ reka akan melakukan pesawat besar,” katanya. Jumlah Hotel/Kamar Anggota PHRI Toraja : Ketika penerbangan pernah beroperasi rute yang sama saat Jumlah ke Toraja menggunakan bandara yang seka- pulang. Klasifikasi Jumlah Jmh Kamar Kamar Terisi Tamu Menginap Wisman yang darang, masalahnya ­bukan pada landasannya, Hotel Tersedia 2010 2011 2010 2011 tapi pada kapasitas pesawat yang dianggap tang ke Toraja seka Bintang 3 & 4 6 514 27,948 26,979 54,588 53,074 tidak compatible. Kapasitas tempat duduknya rang sudah sangat Bintang 1 & 2 8 225 15,193 14,709 29,817 28,136 terbatas. Ke depannya diharapkan bandara berbeda dengan wisbisa menampung pesawat yang bisa mem- man yang datang di Melati 22 270 9,467 11,980 20,091 24,958 bawa 50–60 penum­pang. Sekarang ini moda masa puncak pari JUMLAH 36 1009 52,608 53,668 104,496 106,168 angkutan udara terlihat tidak menjanjikan wisata Toraja ­tahun Ini mestinya menjadi perhatian pemda karena jadwal pesawatnya tidak pasti. Itu 1995–2000. di Toraja. Hotel-hotel berbintang akan Kepala Dinas Kebudayaan dan Paritidak menguntungkan. memberikan pendapatan lebih banyak kePenerbangan internasional ke Makassar wisata Toraja Utara mengatakan bahwa pada daerah karena wisatawan akan memdari Kuala Lumpur oleh Airasia misalnya, angka-angka dalam data menunjukkan bayar lebih tinggi yang berarti pajak yang masih tetap berjalan. Tapi sistem pembe- kenaikan signifikan sejak tahun 2009. Kedibayarkan juga lebih tinggi. Tapi tetaplah lian tiket melaui LCC tidak memungkin­ naikan dirasakan itu dari wisman maukontribusi hotel melati dan backpacker pun wisnus. kan untuk dipakai serial booking. tidak bisa diabaikan. Hotel-hotel tersebut Di tahun 2010 sempat Penerbangan dari Singa­ memang jumlah kamar dan karyawannya naik sampai 60%. Memang pura ke ­Makassar sekarang lebih sedikit dibandingkan dengan hotel kenaikan wisman tidak termelalui Balikpapan. Tadinya besar yang memiliki jumlah kamar dan lalu mencolok dan kenaikan sampai dengan tahun 2011 mempekerjakan karyawan lebih banyak. wisnus sangat signifikan terlalu, penerbangan beropera“Harapan kita tentunya wisman akan utama di tahun 2011 lalu. si langsung dari Singapura menginap di hotel-hotel berbintang. Even Lovely December ke Makassar. Masalahnya Masalah­nya, orang berbujet relatif tinggi menjadi salah satu pendongkemudian load ­factor yang tidak mau pergi jika tidak tersedia sakrak kunjungan wisnus. ditargetkan airlines tidak terrana dan prasarana aksesibilitas yang ­Meskipun even itu ditujukan penuhi maka rutenya lalu menyenang­kan. Jadi, tidak ada masalah di terutama bagi orang Toraja diubah. kelas hotel melati, tapi bermasalah di kelas yang pulang kampung tapi Bachtiar Manaba dari Luther Barrung hotel berbintang,” lanjut Ony Alolinggi. ternyata itu juga merangsang ­Iramasuka memang meng­ Manakala dialami musim paceklik wisakui, ”Tadinya agen-agen kami sangat wisnus dari daerah lain untuk datang. man hingga sekarang, wisnuslah yang Dulu, wisman yang berkunjung senang saat diberitahukan ada direct flight mengisi kamar di hotel, berbintang maudari Singapura ke Makassar sehingga terorga­nisasi dengan mengambil paketpun non-bintang, dan memberikan pedibuatkan program-program paket tur. paket dari biro perjalanan, ketika itu FIT masukan di obyek-obyek wisata. Jumlah Begitu diubah, itu menjadi tidak efektif (free individual tourist) masih sedikit. Sekawisnus di Toraja bisa dikatakan stabil, lagi.” Wah, mungkin terlambat menawar- rang kondisinya terbalik. Yang melalui trennya cende­rung menaik. biro perjalanan lebih sedikit kannya? “Tapi yang kami harapDia juga mencatat wisman yang datang ketimbang FIT. Bisa jadi kan tentunya devisa. Benar ke Toraja kebanyakan merupakan extension disebabkan perkembangan yang dikatakan oleh Ibu dari Bali. Yang melalui Jakarta jumlahnya teknologi informasi via inMari Pangestu (maksudnya tidak seberapa. Jadi menurutnya, Sulsel ternet di mana wisatawan Menparekraf), yang terjadi harus berani mempromosikan jembatan bisa mengatur sendiri perdi Toraja, bahwa kami diudara ke Toraja dari Bali untuk merang- jalanannya. hidupi oleh wisnus,” kata­ “Selama peak season tasang mereka terbang langsung. Maklum, nya kemudian. Bali itu tempat berkumpulnya wisman hun ini, ­terutama di bulan Bisa saja data di hotel beJuli–Agustus 2012, terasa dari seluruh dunia. sar terjadi penurunan tingSekarang ini tersedia direct flight dari ­kenaikan wisatawan diban­ kat okupansi. Itu berkait Bali ke Makassar dilayani oleh Garuda dingkan tahun lalu. Di bulan Yakin Tandirerung wisman yang datang keSeptember mulai turun tapi sehari sekali. Jadwalnya berangkat dari banyakan backpacker yang Denpasar pukul 7.00 dan tiba di Makassar masih termasuk high season. menginap di hotel-hotel kecil. Sedangkan Masih lumayan wisatawan yang datang,” pukul 8.20 pagi. biro perjalanan tidak menyukainya karena Terbetik kabar bahwa Garuda ­berencana kata Agustinus Lamba. margin profit-nya kecil. “PHRI Toraja mempunyai data seperti akan menambah penerbangan ke Makassar “Tetapi bagi saya, tidak masalah yang dari Bali menjadi dua kali sehari. ­Fenomena ini: tahun 2010–2011 tingkat okupansi wismana saja, karena kami butuh tamu di lapangan hingga akhir September ini, man di hotel bintang 3 ke atas meningkat datang ke sini. Yang penting, mereka para backpacker dari Eropa antara lain Pe­ sekitar 3% daripada periode sebelumnya. menginap di sini. Jadi tidak soal apakah rancis dan Jerman menggunakan maska- Okupansi wisman di hotel bintang 1 dan 2 backpacker, itu ber­arti akan terjadi peme­ pai pe­nerbangan dari ­negara-negara Teluk juga tumbuh sekitar 3%. Tapi pertumbuh­ rataan ­pendapatan. Yang saya lihat, tidak se­perti Etihad atau Qatar Airways karena an okupansi wisman di hotel melati selasemuanya tinggal di homestay atau wisma harga tiketnya lebih murah, terutama jika ma setahun lalu sampai memasuki tahun

Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012

13


Bisnis tapi masih ada juga yang tinggal di hotel berbintang baik di Rantepao maupun di Makale. Keduanya, backpacker maupun high expenditure, bisa kami garap di sini,” kata Yakin Tandirerung. Wisatawan dari kapal pesiar juga berkunjung ke Toraja. Di akhir bulan September dan bulan Oktober ini, dua kapal pesiar akan menurunkan tamu-tamunya ke Toraja. Indo’sella’ menangani dua kali tamu dari kapal pesiar di tahun 2011, di bulan Februari dan September. Tahun ini akan menangani tiga kali. Pertama bulan Februari lalu, kemudian di akhir September dan bulan Oktober. Periode tahun depan rencananya akan berkunjung lagi. Untuk meningkatkan ­vo­lume turis, “Ditentukan oleh kinerja pela­yanan travel, pelayanan di lapangan, dan penyambutan dari pemda setempat,” kata Agustinus Lamba. Dari pengalaman melayani kapal pesiar sejak tahun 2011, wisman ke Toraja, antara FIT dan grup, jumlahnya hampir seimbang. Yang ditangani oleh Indo’sella’ lebih banyak FIT, sekitar 60% dari tamu yang turun dari kapal dan sisa 40%-nya dalam grup.

Pasar Toraja

Pasar utama Toraja tetaplah Eropa, dan ingin dipertahankan. Segmen pasar dominannya berganti terus di antara Perancis, Italia, Jerman, Spanyol, atau Belanda. Menurut Ony Alolinggi, wisman Belanda dan Perancis tercatat paling banyak. Ketika peak season tahun ini, terbanyak dari Perancis. Sekarang ini kunjungan wisman Belanda dan Jerman paling stabil. Belakangan ini mulai terjadi ­diversifikasi pasar. Dari Rusia sudah mulai masuk. Memang masih dalam grup kecil tapi bisa mencapai 15 grup setahun. Mereka datang di musim summer ­holiday, umumnya merupakan extension dari kunjungan ke Bali. Jika melalui Jakarta, mereka menginap semalam dulu baru connecting dengan penerbangan esok paginya untuk melanjutkan perjalanan langsung ke Toraja tanpa menginap di Makassar. Saat perjalanan pulang mereka menginap semalam, melakukan city tour, keesokan harinya melanjutkan perjalanan ke Bali. Bagaimana menarik pasar wisman dari Jepang, Cina, Korea dan Taiwan? Ada ­beberapa kendala. Mereka kurang suka de­ngan tampilan yang berkaitan dengan dukacita atau kematian. Sedangkan pasar di ASEAN, Singapura masih memungkinkan, tapi Malaysia tidak mungkin karena berkait dengan ­aspek makanan halal.

14

Londa Grave

Alasan wisatawan

Dua upacara adat utama di Toraja, Rambu Tuka dan Rambu Solo. Warga Toraja menyebutnya pesta. Selama upacara tidak ada tamu yang datang tanpa disuguhi makan dan minum. Tamu pun ada yang membawa rokok, gula, atau tuak (minuman alkohol dari aren). Rambu Tuka artinya asap yang naik ke atas, sifatnya bergembira. Rambu Solok artinya asap yang turun, sifatnya berduka. Pesta untuk merayakan rumah adat, panen padi itu namanya Rambu Tuka karena asapnya naik. Orang yang meninggal, orang yang berduka asapnya turun makanya disebut Rambu Solo. Sebenarnya memang tidak ada asap mengepul, itu hanya penamaan saja. Meskipun tidak dipromosikan, se­ sungguhnya setiap bulan Juli–September dipastikan ada Rambu Tuka dan Rambu Solo. Rambu Tuka semacam syukuran atas hasil panen biasanya dilaksanakan terlebih dulu. Pesta ini dipengaruhi musim tanam di Toraja, 2 kali setahun. Rambu Tuka baru akan dilaksanakan setelah semua orang di kampung selesai memanen padi. Masalahnya sekarang, dengan adanya sistem tanam 3 kali, waktu-waktu pesta itu menjadi tentatif. Biro perjalanan pun tidak bisa membuat jadwal upacara adat yang pasti. Inilah yang ‘sulit’ bagi biro perjalanan dalam hal menjual paket-paket wisata ­Toraja. Syukurnya, masukan berupa keluhan ini disampaikan ke kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Toraja Utara, maka kini, jadwal upacara-upacara adat yang sudah pasti hendak diselenggarakan oleh warga, di­umumkan di papan tulis Tourist Information Center yang be-

rada di halaman depan kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Toraja Utara di jalan A. Yani, Rantepao. Bachtiar Manaba ­menggambarkan rute yang biasa dijalankan wisman yang di­organisasi oleh perusahaannya: Setidaknya dalam sehari wisatawan bisa masuk ke dua obyek di Toraja. Obyek-obyek wisata utama terdiri dari Ketekesu, Lemo, Londa dan Pallawa. Di Ketekesu bisa melihat Tongkonan dan kuburan keluarga berupa kuburan liang dan kuburan rumah (house grave). Di Lemo bisa melihat kuburan batu yang dipahat untuk membuat liang di dinding tebing batu, lalu dibuatkan pintu untuk memasukkan mayatnya. Di bagian luarnya berdiameter sekitar 1 meter untuk pintu, tapi ke dalamnya dipahat hingga bisa menyimpan mayat mulai dari nenek sampai cucu-cucunya. Di Londa bisa melihat kuburan gua atau liang besar dimana banyak jenazah disimpan, ada pula kuburan bayi (baby grave) ditempatkan dalam lubang di pohon yang tumbuh di atas batu. Di Pallawa, melihat kampung adat dengan tongkonan­tongkonan asli yang masih bagus. Menikmati pemandangan indah di Batutumonga. Dalam perjalanan menuju ­Rantepao dari Batutumonga, melewati Bori Parinding untuk melihat batu simbuang, sebutan orang Toraja untuk batu megalitik, yang dipahat dari sebuah batu besar, didirikan tegak, dan berfungsi sebagai batu peringatan.

Toraja–Togian (ToTo)

Sekarang ini lumayan banyak biro perjalanan online yang menawarkan paket diving mulai dari Makassar, ke Toraja, lalu

Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012


Bisnis permin­taan aksesibilitas akan semakin meningkat.

Toraja Utara (Torut)

Togian Island berpantai indah, tempat ­yang menyenangkan untuk diving.

bersambung ke Ampanan dan Togian, dan berakhir di Manado. Paket-paket ini tidak melalui biro perjalanan tapi dijalankan sendiri. Rata-rata hanya terdiri dari 1–3 orang per grup. Toraja sebagai transit point saja. Kepulauan Togian termasuk wilayah ­Sulawesi Tengah. Toraja–Togian lewat ­Tentena–Ampanan, memerlukan waktu sekitar 8–10 jam perjalanan. Jaraknya sekitar 600 km dari Toraja. Masalahnya jalan yang dilalui masih sempit sehingga belum bisa dilalui bis besar. Jalur Toraja–Togian telah dimulai sejak tahun 2005. Tapi mulai ramainya sekitar setahun terakhir. Togian Island berpantai indah, tempat ­diving. Ditambah kebudayaan Sulawesi ­Tengah itu sifatnya meriah, berbeda ­dengan kebudayaan di Toraja yang sifatnya sedih. Kebudayaan di Tentena, Sulawesi Tengah banyak dipengaruhi kebudayaan ­Manado, Sulawesi Utara yang menyukai pesta ­meriah. Meskipun demikian, budaya di Toraja sa­ngat menarik dan kebudayaan itulah yang menghidupi masyarakatnya. Itulah ­kekuatannya. Ini sama seperti Bali.

Tantangan-tantangan

Dengan lama perjalanan 8–10 jam, tempat-tempat persinggahan di sepanjang jalur Makassar–Toraja dirasa perlu mengup grade restoran lokal, sajian makannya hingga sanitasinya. Di setiap kabupaten perlu punya rumah makan dan punya toilet umum yang baik. Yakin Tandirerung mengatakan bahwa kelemahan di Toraja adalah amat kurangnya aktivitas pendukung di obyek wisata. “Kami sedang membenahi obyek wisata dan apa yang bisa kami tawarkan kepada

Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012

wisatawan,” kata dia. Rantepao sebagai kota wisata internasio­ nal di Toraja Utara dan menjadi starting point untuk tur setempat, sudah saatnya dibenahi dan dipercantik. Yang sebaiknya dilakukan Destination Management Organi­ zation (DMO) dibentuk sebagai mitra pendamping pemda untuk mengembangkan pariwisata di dae­rahnya. DMO akan merancang program dan me­masarkannya. DMO Toraja baru dilantik pada 13 Mei 2012. DMO ini mengelola dari sudut etnisnya, bukan wilayah administratifnya. Jadi meliputi semua wilayah etnis Toraja. Saat ini baru berjalan dengan dua kabu­ paten, Tana Toraja dan Toraja Utara. Ini wadah bagi masyarakat peduli pariwisata terdiri dari tokoh masyarakat, ketua adat, tokoh pendidikan, tokoh agama, tokoh industri pariwisata (ASITA, PHRI, HPI, PUTRI). Untuk mempromosikan dan menjual destinasi yang harus lebih dulu disiapkan adalah masyarakatnya, obyeknya, aktivitasnya, dan industrinya. Industri harus menyiapkan akomodasi dan sumber daya manusianya, menyiapkan restoran dan sumber daya manusianya. Obyek-obyek di Toraja hampir sama satu sama lain oleh karena itu yang harus disiapkan ialah obyeknya. Meskipun tujuan utama hendak melihat obyek kuburan di Ketekesu, Londa dan sebagainya, di obyek itu juga baik dipersiapkan rumah adatnya, cenderamatanya dan seterusnya. Pemerintah daerah bersama pelaku industri harus memikirkan secara kreatif pe­ ngemasannya. Setelah itu siap, akses internasional melalui bandara akan mengikuti dengan sendirinya. Artinya, jika obyek sudah siap otomatis orang akan datang dan

Sebagian besar obyek di Toraja berada di Kabu-paten Toraja Utara. Kota ­Rantepao perlu membenahi kotanya sekarang, mempersiapkan kembali hotel-hotelnya, restorannya dengan meningkatkan mutu produknya yaitu pelayanan. Obyek-obyek wisata yang sudah berada di sana sejak berabad atau beratus tahun lalu harus bisa mempertahankan orisinalitasnya sekaligus menciptakan inovasi-inovasi baru. Seperti kata Ketua DMO Toraja, Luther Barrung, “Di Toraja Utara, sebagai wisata budaya obyeknya sudah siap, fasilitasnya juga sudah siap. Tapi, kualitas pelayanannya yang masih harus ditingkatkan.” Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Toraja Utara, Yakin Tandirerung, mengemukakan bahwa ke depannya akan diadakan pertunjukan hidup kesenian, tempat kulinari, karena itulah yang menghidupkan tempat pariwisata.

Tana Toraja (Tator)

Berbeda yang dihadapi Kabupaten Tana Toraja. Daerah ini masih harus menentukan fokus pariwisatanya.

Cruise ship tourist

Wisatawan dari kapal pesiar ke Toraja masih terbatas. Sudah bisa mencapai 100an orang wisatawan turun dari satu kapal. Kendalanya, kendaraan bis atau minibus yang dipakai untuk menjemput dan mengantar wisatawan tersebut pada umumnya berusia tua. Itu malah akan mengurangi citra Toraja sebagai destinasi wisata. Agustinus Lamba menggambarkan rute tur saat menangani tamu dari kapal pesiar seperti ini: kapal datang dengan rute ­Kalimantan–Polewali, Sulawesi Barat, menginap sehari di sana. Kemudian dilanjutkan ke Pare-pare, menginap semalam di atas kapal lalu dijemput keesokan paginya pukul 6.30 atau 7.00 dan langsung dibawa menuju Toraja. Dari Pare-pare ke Toraja memerlukan waktu 4 jam perjalanan, tiba sekitar pukul 12.00, langsung dilanjutkan tur ­setengah hari, bermalam di Toraja, ­biasanya di Hotel Heritage. Keesokannya tur sete­ngah hari lagi hingga pukul 13.00 atau 14.00 kembali ke Pare-pare, naik kapal lalu ber­layar menuju Makassar. “Kami menyusul mereka ke Makassar melalui jalur darat,” katanya. Kapal pesiar yang datang ke Toraja biasanya buang sauh di Pare-pare atau Pallopo. Jika dari Pallopo ke Toraja bisa ditempuh dalam waktu 1,5–2 jam. Pemandangan sepanjang jalan pun b ­ agus. n

15


Wisata Cruise

Pemasaran dan Pembangunannya

Noviendi Makalam (kedua dari kanan) bersama beberapa peserta.

D

ari kejauhan Noviendi ­Makalam menyapa: ”Hai, Michael.” Dijawab: “Hallo Novi”. Dan kedua­nya lalu terlibat dialog tentang perkemba­ ngan bisnis cruiseship di Indonesia. Bukan itu saja. Antara peserta yang datang dari berbagai negara di pameran dan ‘business meeting’ pada even Cruise Ship­ ping Asia-Pacific di Singapura itu, umumnya mereka sudah saling kenal. Tentulah berkat pertemuan-pertemuan sebelumnya di ajang serupa, di Amerika dan di Singa­ pura itu. Kebanyakan di antara mereka selalu hadir pada kegiatan-kegiatan internasio­ nal meeting and seminar dunia bisnis cruise ship. Konsistensi kehadiran, saling mengenal lebih jauh, dan melancarkan promosi hingga business talk di antara para delegasi merupakan bobot dari pertemuan semacam ini. Kali ini di Singapura, tanggal 17–18 September 2012, bertema Optimizing Oportuni­ ties in the Asia-Pacific Cruise Industry. Dari delegasi Indonesia, Noviendi Makalam memberikan satu presentasi di hadapan para operator dan pebisnis cruise ship. Ringkasnya, di Bali, pelabuhan untuk cruise ship tersedia di Benoa, Padang Bay, Tana Ampo, dan Celukan Bawang. Untuk mengunjungi Candi Borobudur, kapal-kapal wisata mewah itu berlabuh di pelabuhan Tanjung Mas, Semarang. Untuk ke desitinasi Pulau Komodo, fasilitas jetties digunakan bagi cruise ship yang berkunjung, dan para penumpang ­wisman dari

16

kapal turun mengunjungi Komodo ­National Park and Pink Beach. Sesuai dengan tema pameran dan pertemuan bisnis itu, Indonesia menguraikan ‘opportunities’ yang terbuka, antara lain dengan contoh menawarkan New ­Itinerary & Destination Development, seperti pelabuh­an Probolinggo bagi cruise ship untuk menurunkan wisatawan mengunjungi Gunung Bromo. Noviendi antara lain mengusulkan cruise ship dari Singapura beroperasi kembali ke Bali, memasukkan itinerary berkunjung menikmati volcano experience ke ­Gunung Bromo bagi para wisatawan. Diuraikannya dalam kaitan itu ­kapal yang sudah pernah berkunjung, dan ­pro­ses pengembangan pelabuhan Probolinggo, seperti ini :

Jumlah calls atau keseluruhan kunjungan cruise ship ke Indonesia bertumbuh dari 50 kunjungan di tahun 2001 telah mencapai 214 pada tahun 2012 dan diharapkan meningkat lagi tahun 2013 menjadi 228 calls. Adapun jumlah wisatawan penum­ pangnya meningkat dari tadinya 24.484 tahun 2001, menjadi 113.661 wisman di 2012, dan akan mencapai jumlah 128.378 tahun depan 2013. Presentasi dari Indonesia Cruise ­Tourism Development Team, Ministry of Tourism and Creative Economy, Republic of Indonesia, di­ sampaikannya dalam salah satu sesi busi­ ness seminar yang bertema Itinerary Plan­ ning and Destination Development. Di Benoa Bali kami sudah membangun pelabuhan cruise, sekarang kapal berukur­ an panjang pun sudah bisa diterima merapat ke pantai, itu antara lain dipertegas oleh Noviendi.

Tekad Indonesia

Ketetapan Indonesia hendak menjadikan negeri ini sebagai destinasi wisata kapal pesiar dunia, dicanangkan oleh Dirjen Pemasaran Pariwisata Sapta Nirwandar (kini Wamen Parekraf). Indonesia menyusun langkah-­langkah ke arah menjadikan Benoa sebagai pela­ buh­an turning point bagi kapal-­kapal wisata dunia. Kapal-kapal wisata ­internasional yang telah berkunjung ke Indonesia berkapasitas hingga 2.000 orang lebih. Dewasa ini kapal-kapal dari maskapai cruise ship besar malahan telah meng­ operasikan kapal dengan kapasitas hingga 6.000 penumpang. Indonesia meng­ antisipasi menerima kapal besar dan kecil, mengingat potensi tempat berkunjung yang banyak, dan variasi daya tarik wisata yang beragam. Lokasi-lokasi berpotensi itu tersebar dari Sabang sampai ­Merauke. Sehubungan itu, sedari awal dibentuk satu tim kerja di Kementerian. Sekarang tim kita semakin kuat, kata Novi, kontak berada di Ibu Kiki dan Pak Achyaruddin, yang mem­ bidangi MICE.

Kedua di Asia Pacific

Even Cruise Shipping Asia-Pacific (CSAP) ini diadakan untuk kedua kali, sejak yang pertama tahun lalu, di Singapura. Ini ­merupakan ajang Tradeshow, Conference,

Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012


Wisata Cruise

Konsisten Maju Terus Networking, dan dinyatakan sebagai gate­ way to tomorrow’s marketplace. Boleh dikatakan hampir semua unsur stakeholders utama kegiatan cruise ship di dunia ikut serta. Sebelumnya, sebagai pusat kegiatan dunia di bidang industri kapal pesiar, even Cruise Shipping Miami (CSM) di Miami, Amerika Serikat, yang juga di­ selenggarakan tiap tahun, sudah 28 tahun memainkan peran pen­ting dalam memajukan bisnis berskala dunia ini. Indonesia telah beberapa tahun konsisten mengikuti even tersebut. Kini, diakui bahwa the AsiaPacific region, potentially the largest Cruise market in the world. Penyelenggara CSM itu kemudian menyelenggarakan CSAP dengan mengambil tempat di Marina Bay Cruise Center, pelabuhan khusus cruise yang besar dan baru dibangun, tampak kali ini hadir 34 exhibitors termasuk Indonesia, ditambah delapan media internasional bidang cruise ship. Delegasi Indonesia di bawah pimpinan Kemenparekraf, diikuti oleh Pertamina, Pelindo, dan Pacto. Selama dua hari pameran dan seminar, peluang networking dan business talk terbuka selain di masing-masing booth peserta, juga pada sesi-sesi yang memang diatur sebagai ‘networking break’, dijadwalkan di setiap sela berlangsungnya seminar. Di samping kegiatan itu, para Travel Agent dapat mengikuti sesi-sesi pelatihan yang diprogram khusus untuk Travel Agent, dengan materi Beginner Track di hari pertama, dan di hari kedua Intermediate Track. Even di Singapura ini akan diselenggarakan kembali di tempat yang sama tahun depan bulan September. Adapun CSM di Miami, akan dilaksanakan pada 11–14 Maret 2013.

Indonesia menempatkan pro­mosi destinasi pada kesempat­an ini meng­ ekspos potensi kunjung­an wisatawan cruise ke Danau Toba, Sumatera Utara. Di majalah Cruise ­Industry News Asia Pacific Spe­

cial Report, satu halaman iklan menampilkan Indonesia, the Most ­Diverse Cruise Desti­ nation, menawarkan Danau Toba, dengan obyek-obyek daya tarik wisatanya. Pada halaman full back cover katalog even, ditawarkan betapa beragamnya destinasi Indonesia: 17.504 pulau-pulau, 1.128 etnik, 583 bahasa lokal. Dan itulah alasan mengapa negeri ini perlu dikunjungi. It’s simply wonderful. It’s Indonesia.

Pasar Utama

Dalam hal pengembangan wisata cruise ini Indonesia sungguh serius. Para stake­ holders pariwisata perlu memperhatikan dan mengantisipasi peluang bisnisnya. Ketika Menparekraf Mari Elka Pangestu berkunjung ke Shanghai, RRC, menghadiri Seatreade All Asia Cruise Convention, ambisi Indonesia untuk menjadi destinasi kapal pesiar yang berkelanjutan dan berkelas

Calls operated in Indonesia per calendar year 250 200

Passenger calls in Indonesia per calendar year 140,000 120,000 80,000

100

60,000

0

113,661

100,000

150

50

dunia ditegaskan kembali. “Wisata kapal pesiar di Indonesia prospeknya cerah karena pesatnya pertumbuhan kelas menengah di Asia dan Australia sebagai pasar utama wisata cruise Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari tingginya permintaan akan kapal pesiar ke Indonesia dengan perencanaan pertumbuh­an jumlah penumpang kapal pesiar ke ­Indonesia yang mencapai 160.000 penum­ pang dengan cruise calls sebanyak 300 calls di 2013 atau meningkat 40% dibandingkan dengan tahun 2012,” ungkapnya. Mari Pangestu juga menekankan empat hal utama dalam pengembangan destinasi wisata kapal pesiar, yaitu pengembangan produk dan aktivitas wisata, peningkatan infrastruktur, terutama konektivitas dan peningkatan standar pelabuhan, melesta­ rikan identitas budaya, serta memberdayakan masyarakat lokal dalam mengembangkan destinasi wisata kapal pesiar. Wamenparekraf Sapta Nirwandar me­ nunjuk pelabuhan Benoa di Bali sedang ditujukan menjadi salah satu turning point utama cruise line dunia. Maka daerah-daerah destinasi di Indonesia perlu bersiap terus mengefektifkan peluang yang terbuka, dan yang sedang dibuka. n

40,000 20,000 0 Source: Indonesia Cruise Tourism Development Team, Kemenparekraf

Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012

17


Pemeliharaan dan Pengembangan Dan Desa di Flores

M Penghargaan Desa Wisata

W

amenparekraf Sapta Nirwandar menyerahkan kepada 10 desa wisata piala, piagam, dan hadiah uang Rp 20 juta (juara I), Rp 15 juta (juara II), Rp 10 juta (juara III), dan penghargaan pembinaan 7 desa masing-masing Rp 5 juta. Penghargaan Desa Wisata 2012 ini merupakan pertama kali dalam rangka mengapresiasi keberhasilan desa wisata penerima PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) Mandiri Pariwisata. “Semula ada 72 desa wisata usulan Dinas Pariwisata dari 20 provinsi di Indonesia sebagai calon penerima penghargaan. Sete­ lah melalui proses pentahapan penilaian administratif, ­kunjungan lapangan, dan peninjauan potensi wisata desa ­akhirnya Dewan Juri menetapkan 3 desa wisata sebagai penerima penghargaan utama, 6 desa penerima penghargaan harapan, dan 1 desa penerima penghargaan khusus,” kata Firmansyah Rachim, Direktur Jenderal Pengembangan Destinasi. Ini diharapkan akan mendorong meningkatnya ­pergerakan eko­ nomi dan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan ­kunjungan wisatawan, di desa wisata tersebut, kata Wamenparekraf. n

baru Niang, sebuah desa penuh dengan bangunan rumah tradisional, di Pulau Flores, NTT, dianugerahi Award of Ex­ cellence dalam rangka penghargaan Unesco tahun 2012 ini untuk Konservasi Warisan Budaya Asia Pasifik. Desa tersebut berada di kampung Wae Rebo, masyarakatnya telah berhasil dibimbing oleh sebuah yayasan sukarela membangun kembali rumah-rumah tradisional, seraya menerapkan pemeliharaan lingkungan degan cara yang dinyatakan luar biasa. Mereka menerapkan kembali cara-cara membangun dan memelihara artsitektur tradisional. Itu juga memelihara konservasi lingkungan lokal seraya membangkitkan kebanggaan dan semangat kebersamaan masyarakat setempat. n

Festival Toraja dan Erau

K

emenparekraf mengambil inisiatif guna mempersiapkan langkah-langkah untuk mengembangkan even-even budaya yang selama ini sudah pernah diselenggarakan di daerah-daerah Toraja, Sulawesi Selatan dan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Untuk itu diajak para ahli dan akademisi termasuk Institut Kesenian Jakarta, yang memiliki kompetensi bidang seni budaya daerah, membahas dan merancang konsep-konsep yang akan dapat membangun festival-festival budaya di kabupaten-kabupaten tersebut, berdimensi jangka pendek, menengah dan panjang.

Wamenparekraf Sapta Nirwandar memandang kedua kawasan tersebut dengan sumber daya etnisiti yang kuat, berpotensi besar untuk menjadi ‘perhatian’ dari wisman, disamping bagi wisnus sendiri. Maka Festival Budaya yang ‘lebih ter-expose’ untuk pemasaran ke mancanegara dan di dalam negeri, untuk tahun depan, dipandang perlu dipersiapkan sedari dini dengan didukung oleh kompetensi keahlian dan kepiawaian. Salah satu rapat pembahasan di Kemenparekraf dialksanakan pada 19 September 2012 dipimpin oleh Direktur Promosi Pariwisata Dalam Negeri, Faried Moertolo. n

Pengakuan dari Unesco

U

Perda Resor Wisata

P

emda Kabupaten Bintan, menerbitkan Perda (Peraturan Daerah) yang mengatur larangan melakukan penyampaian pendapat di muka umum, di dalam kawasan pariwisata terpadu, Lagoi Bintan. Larangan tersebut mencakup unjuk rasa atau demonstrasi, pawai, rapat umum, mimbar bebas dan lain-lainnya. Pelanggar diancam dengan pidana kurungan atau denda. Perda itu diumumkan di tempat-tempat strategis untuk dipahami masyarakat. n

18

NESCO, Badan PBB bidang Pendidikan, Sosial dan Budaya, menetapkan kawasan Kaldera Batur Bangli, Bali sebagai Global Geopark Net­ work (GGN) dalam konferensi geopark di Portugal (20/9). “Kami berjuang selama empat tahun, dan akhirnya UNESCO menetapkan” kata Achyaruddin, Direktur Pengembangan Kaldera Batur Bangli, Bali. Wisata Minat Khusus, Konvensi, Insentif dan Event Kemenparekraf. Indonesia telah mengajukan usulan ditetapkannya dua geopark, yakni Kaldera Batur dan Karst Pacitan, Jawa Timur ke UNESCO. Dengan pe­netapan itu diharapkan taman bumi tersebut akan menjadi salah satu yang akan dipromosikan oleh GGN secara ­internasional. n

Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012


Events

Wamen Parekraf meresmikan pembukaan.

lumnya. Annemieke van der Graaf ternyata namanya. Dia nyatakan amat menikmati alam sekitar situ dengan menyaksikan bagaimana gajah-gajah dilatih, dipelihara, bermain, bersama pawang masing-masing. Di Way Kam-bas itu, sekitar tiga jam berkendara dari kota Bandar Lampung, kini ada 65 ekor gajah yang dipelihara. Semua pintar-pintar. Annemieke, manager produk operator tur dari Belanda bernama 333 Travel and Tours, sudah tiba di situ tiga hari sebelum dibukanya ajang TIME tanggal 9 Oktober malam. Pertama kali ikut TIME. Perusahaannya sudah 12 tahun beroperasi, utamanya ke destinasi Thailand, dan sejak lima tahun terakhir juga berhasil menjual destinasi Indonesia. Sengaja datang tiga hari dimuka TIME dengan insiatifnya sendiri melakukan observasi di Way Kambas itu.

Pesta Teluk Ambon

P

esta Teluk Ambon di Kota Ambon, Provinsi Maluku tanggal 27–29 September 2012 diselenggarakan oleh Kemparekraf bekerja sama dengan Pemprov Maluku. Wakil Menteri Parekraf Sapta Nirwandar, meresmikan pembukaan Pesta tersebut. Dia menyatakan, penyelenggaraan ini diharapkan mampu meningkatkan citra Maluku dan Ambon sebagai destinasi pariwisata yang aman dan nyaman untuk dikunjungi wisatawan. “Dengan mengangkat tema Mari Mangente Dolo, masyarakat Maluku ingin mengajak wisatawan untuk datang dan melihat keindahan alam, keragaman budaya, serta keramah-tamahan masyarakat Maluku,” kata Sapta Nirwandar. Isi kegiatannya ialah lomba Arumbae Manggurebe, foto bawah laut, lomba perahu semang wanita, lomba renang estafet, lomba mancing tradisional, serta hiburan Hawaian Band, lomba mewarnai gambar dan mozaik oleh Museum Negeri Siwalima Ambon yang diikuti para pelajar dan lomba cerita rakyat Batu Badaong. Tahun ini berbeda dengan sebelumnya dengan menggelar festival kuliner dan gelar budaya yang didukung oleh ILO perwakillan Ambon, selain itu kegiatan tambahan baru Lomba foto bawah laut akan diikuti oleh 14 peserta dari Bali, Makassar dan Ambon. n

Yang Travel Writer

M

s Chigusa Takashima dari Jepang (tengah) sudah keempat kalinya datang meliput even TIME. Ketika TIME 2012 diikutinya pula, dan bercengkerama dengan travel writer dari Italia, Mario Masciullo (kiri), berkenalan di gala dinner pembukaan TIME 9 Oktober malam.

“Sekarang saya mau bikin paket tur ke Lampung, akan mulai saya jual,” katanya. Dia sudah menjual tur destinasi Bohorok, Sumatera Utara, selain paket overland Jawa-Bali, dan Kalimantan dan beberapa ke Sulawesi. Dia yakin bisa menjual Way Kambas Lampung. TIME 2012 berlangsung tgl 9–11 Oktober 2012 di Bandar Lampung, diselenggarakan oleh Kemenparekraf bekerjasama dengan Prov Lampung, serta berbagai unsur industri pariwisata. Menurut Ketua Steering Committee TIME 2012, Meity Robot, direncanakan tahun depan ajang ini akan dilaksanakan di Sumatera Barat. n

Sumpit Internasional

“P

Para penulis pariwisata dari mancanegara serta juga dalam negeri, tentu saja menulis jalannya TIME. Lebih dari itu, perkembangan tentang destinasi di mana TIME dilaksanakan, dalam hal ini Provinsi Lampung, mendapat liputan dan siaran ke mancanegara. Antara lain datang juga dari Australia, Singapura, Malaysia, Thailand, India, dan lain-lain. n

TIME 2012

Business talk di dalam TIME.

D

i ambang sore Sabtu 6 Oktober itu dia duduk santai di sisi kolam, memandangi gajah-gajah sedang dimandikan. Kolam luas itu memang tempat gajah mandi, setiap sore, ketika berangsur binatang gemuk buntel itu pelan-pelan melangkah digiring atau dipandu oleh pawangnya. Udara sore Way Kambas, nama tempat ini, sejuk. Pemandangan hutan lepas sekeli­ lingnya menyenangkan. Rupanya sudah dua hari di situ, dia wisata trekking sehari sebe-

Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012

eserta IBoST tahun ini lumayan banyak, yakni 200 peserta, dari Malaysia, Brunei Darussalam, Kalimantan Timur, Kaliman­ tan Selatan, Yogyakarta dan Kalbar sebagai tuan rumah,” kata Direktur Promosi Pariwisata Dalam Negeri, M Faried, dalam sam­butannya pada pembukaan IBoST II di Pontianak, Jumat. IBoST singkatan International Borneo Sumpit Tournament. Dari Kalbar, terdiri atas Kabupaten Sambas, Kota Singkawang, Pontianak, Kabupaten Kapuas Hulu, Sekadau, Sintang, Kayong Utara dan Kubu Raya, katanya. Turnamen IBoST diselengarakan guna mema­ syarakatkan olahraga sumpit yang merupakan kebudayaan masyarakat Dayak, dan sekaligus mempromosikan event pariwisata Kalbar, dari tadinya skala nasional ki ni semakin diluaskan ke internasional. “Saya melihat turnamen IBoST yang kedua ini lebih meriah dan menarik dibanding sebelumnya, sehingga bisa menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke Pontianak, karena dikemas dengan berbagai kegiatan pembukaan tarian khas Melayu Pontianak, dan Dayak,” ujarnya. Kegiatan juga diisi pameran produk pariwisata khas Kalimantan termasuk ­pernak-pernik sumpit dan perlengkapannya, kesenian dan hiburan, dan kuliner khas ­Kalimantan. Tahun 2011 diselenggarakan di Kota Singkawang dan tahun 2012 ini di Kota P­ ontianak. n

19


Event Sejumlah wisatawan asing mengunjungi kegiatan upacara adat Pemakaman Rambu Solo di Tongkonan Siguntu, Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Upacara adat ini menjadi salah satu daya tarik wisatawan asing untuk berkunjung ke Toraja.

Pemikiran Up-to-Date

B

aik pemda maupun industri sepakat even paling cocok dilakukan di Toraja adalah yang berhubungan dengan alam, budaya dan berbau petualang­an. Contoh kegiatan yang sudah berjalan adalah even yang dinamai Lovely Decem­ ber. Ini ditujukan terutama bagi warga Toraja untuk pulang kampung dari perantauan. Lovely ­December sudah terlaksana empat kali sejak tahun 2009. Satu even yang prinsipnya sudah mendapat dukung­an dari Kementerian Parekraf adalah Festival Toraja yang hendak diselenggarakan di bulan Juli 2013. Ini memang prakarsa dari Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sapta Nirwandar. Festival diproyeksikan akan berlangsung di Makale, Tana Toraja dan Rantepao, Toraja Utara. Itu digagas akan menjadi puncak kegiatan pariwisata di Toraja dan akan dijadikan program tahunan. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Toraja Utara, tengah mengajukan beberapa ide acara yang hendak dipertunjukkan dalam festival nanti. Di antaranya, festival lagu-lagu dae­rah, festival musik bambu, lomba lari 10 km, fun bike, lalu ada thanksgiving day. Ini berbeda dengan Rambu Tuka, ada acara khusus yang akan disiapkan. Beberapa ­tarian daerah. Selain itu akan diekspos cara minum kopi ala Toraja secara massal. Yang menjadi sasaran pengunjung tentulah wisman dan ­wisnus. Menurut koordinator DMO (Destination Manage­ ment Organization) Toraja, diwacana­kan pula niat hendak mengadakan pertemu­an diaspora khusus etnis Toraja. Para pe­ngusaha etnis Toraja yang berdomisili di Mamuju, Enrekang dan sebagainya, akan bertemu saat festival nanti. Selain itu, kegiat­an penunjang lainnya seperti

20

f­ estival etnik Toraja, pameran hasil kerajinan dan pamer­an kulinari khas Toraja. Festival ini digagas berdurasi lima hari.

Potensi dan Jadwal

Itu akan menampilkan kembali seni budaya yang pernah hilang, misalnya ­festival musik dengan alat musik kuno Toraja. Agustinus Lamba, adalah yang ­memiliki usaha tur arung jeram, bersama teman-­teman sedang me­ rancang kompetisi arung jeram internasional. Menurut dia, sungai-sungai di Toraja besar dan standarnya bagus. “Kita rencanakan even besar itu 3-4 tahun sebelum pelaksa­naannya. Menyiapkan kepanitiaannya, promosinya dan seterusnya,” katanya. Pernah klub-klub dari Makassar menyelenggarakan kegiatan interhash di Toraja ini; mengambil tempat finish di obyek-obyek wisata seperti di Ketekesu, Maranna, dan lain-lain. Kelompok ekspatriat Perancis di Indonesia juga beberapa kali melakukan lari lintas alam memasuki kampung-kampung penduduk. Rute yang pernah mereka lalui mengikuti aliran Sungai Sa’dan. Semua titik pemberhentian dipastikan berada di tengah gunung, di mana lembahnya menyajikan panorama yang cantik. Ony Alolinggi yang juga manajer operasional sebuah hotel pernah membantu ke­lompok ekspatriat Perancis itu, dan, respon dari semua peserta seolah serentak berbunyi “Fantastic”. Implikasinya, lomba lari 10 Km pun berpotensi baik dilaksanakan di sini. Agustinus Lamba melihat kegiatan fun bike akan lebih banyak diikuti oleh wisnus.Tapi jika ingin ­menyasar wisman, akan le­bih baik menyelenggara-

Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012


Event Etnisiti menarik perhatian wisman, direpresentasikan antara lain dengan pakaian adat seperti di Toraja ini.

Berkembang di Toraja kan mountain bike. Menurut standar even ini, lahan di Toraja bisa masuk level profesional. Dia optimis jika itu diadakan di sini, maka para penggemar atau profesional dari Jerman, Australia, Amerika tentu akan datang. Terdapat beberapa pilihan lokasi. Di antaranya Sa’dan dan Batutumonga yang memiliki pemandang­ an alam indah, terdapat 5 kelas dalam klasifikasi mountain bike, dan lokasinya dinyatakan termasuk grade 5 atau advance. “Ada dua tipe tamu yang datang ke Toraja, menurut Agustinus. Pertama, yang menyukai budaya. Kedua, yang menyukai pe­tualangan. Mempertemukan keduanya tentu ideal untuk menarik wisatawan datang. Ketua BPC PHRI Toraja ­mengingatkan gejala terjadi pergeseran pelaksanaan ­Rambu Tuka dan Rambu Solok. Selain di bulan Juni–Agustus, juga dilaksanakan di bulan Desember saat musim libur akhir tahun. Saatsaat itu pasti akan banyak upacara-upacara besar dilaksanakan. Di luar periode tersebut, pesta umumnya relatif kecil. Diakuinya jika ingin menarik wisman yang tepat, tentulah di high season, Juni–September. Tapi jika dilaksanakan di bulan Desember, tidak akan berhasil banyak, karena sebagian besar warga sibuk mempersiapkan perayaan Natal. Tapi, ada pertimbangan lain. Lebih baik jadwal dijatuhkan pada bulan-bulan Januari, Februari, Maret, April, atau Mei sehingga tak berdekatan dengan bulan Juni ketika musim puncak wisman mulai ­berdatangan. Itu menghindarkan kekurangan kamar pe­nginapan. Anggota PHRI Toraja hanya terdiri dari 36 akomodasi (hotel dan penginapan) dengan jumlah kamar 900

Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012

lebih. Di antara­nya 14 hotel berbintang, sisanya hotel melati. Menurutnya, ”Kalau itu dilakukan di high season, malah akan mengganggu kami. Padahal kegiatan itu kan hendak membantu dan mempromosikan kami. Untuk membantu Toraja, maka waktu pelaksanaan even pen­ting diperhatikan. Apapun event-nya, asalkan orang luar bisa datang. Supaya se­telah mereka pulang, Toraja akan memperoleh sorotan dan menjadi promosi gratis. Dan waktu pelaksanaannya harus fix, tidak berubah tiba-tiba.” Harapan-harapan Yakin Tandirerung, Kepala ­Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Toraja Utara, menyebut target dua tahun ke depan, Toraja ingin menggaet 175 ribu wisatawan, wisman dan wisnus. Luther Barrung koordinator DMO Toraja mengata­ kan bahwa targetnya adalah bagaimana masyarakat Toraja menjadi pelaku pariwisatanya sendiri, tidak hanya menjadi obyek tapi juga selaku subyek, agar cepat maju. Yang bisa menikmatinya seakan sebatas orang-orang di hotel dan restoran. Masyarakat harus diberdayakan untuk membuat produk yang layak dijual, apakah kerajinannya, tariannya, ataukah ­kopinya. Sebagai Ketua BPC PHRI Toraja, Ony ­Alolinggi, sangat berharap semua hotel di Toraja berbasis ­internet. Dengan demikian, wisman yang datang dan menginap di sini akan berbicara bahwa akses internet di T ­ oraja tidak ada masalah. Ketua ASITA Sulsel, Didi Manaba, mengharapkan segera terbentuk Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Sulawesi Selatan. ASITA dan PHRI ingin memberikan masuk­an dan saran. Kesadaran dan pemikiran up to date sedang berkembang di Toraja. n

21


Bisnis

Resor dan Even Menarik Wisman dan Wisnus

I

ni rasanya satu model bagus untuk pengembangan bisnis resor demi menarik wisman sekaligus wisnus. Se­ tiap tiga bulan diadakannya satu even. ­Mulai dari even lomba profesional dan rekreasi bersepeda, bicycle race dari PCI, Perancis, tria­tlon, dan satu even baru dinamakan Meta Man, even terbaru. Sebenarnya sudah cukup banyak di beberapa daerah even ­water activities seperti jet ski. Ini untuk kegiatan olahraganya. Tapi kalau kegiatan di hotelnya sendiri setiap minggu ada aktivitas in-house. Kendati tidak berskala besar, namun sudah 8 tahun, dan 8 kali dilaksanakan. Lomba triathlon seperti even ironman. Yang namanya lomba Ironman dan Metaman merupakan kegiatan triatlon berskala besar. Memang, para peserta dan pengunjungnya hampir 90% dari mancanegara. Nah, yang terbaru dikenalkan di Bintan oleh Hotel Nirwana Garden, itu Metaman, pesertanya datang dari 35 negara termasuk dari Indonesia sejumlah 18 orang. Peserta wisman paling banyak dari Australia, Jepang, Korea. Kali ini ada 17 orang profesional yang ikut. Di antara mereka ada yang juara dunia. Usai lomba olahraga itu, esoknya digelar pesta seni budaya lokal. Hotel Nirwana Garden di kawasan ­Lagoi pulau Bintan itu menjalankan bisnis sebagai resor. Sudah masuk tahun ke-16. Total

Kawasan Lagoi itu sedang ditawarkan untuk penambahan resor, akomodasi dan perumahan.

22

kamarnya sejak awal 368. Telah dicapainya rata-rata okupansi 70% all year round. ­Kalau weekdays okupansi rata-rata terisi 55%. Tapi di weekend terpaksa menolak sebagian pemesanan kamar. Maka Bupati Bintan pun Abdul Wahab meng­umumkan pulau itu kini membutuhkan penambahan hotel. Sekarang di Bintan dioperasikan total 1200 kamar hotel ditambah beberapa cottage. Tamunya terutama datang dari Singapura dan Malaysia, “Tapi kami kini ingin mendapatkan tamu dari orang Indonesia sendiri, itu yang paling bagus,” kata Abdul Wahab, ­general manager Nirwana Garden. Setiap tiga bulan diselenggarakannya even yang menjadi kalender tetap. Pertama adalah water activities/water sport dilaksanakan di bulan Maret, bulan Mei lomba Bintan Triatlon, dan yang baru di September lomba Metaman. Lomba Metaman ini merupakan long distance dengan full marathon 42,2 km. Di bulan November bicycle race seperti Tour de Singkarak. Nama evennya Tour de Bintan. Untuk triatlon, para pesertanya ­menginap di berbagai hotel, lantaran memang di Nirwana saja pasti tidak akan cukup. Untuk booking pada Bintan Triatlon 2013, kini sudah ditutup. Para calon peserta dan tamu kini sudah memulai booking untuk tahun 2014. Abdul Wahab meng­ akui sport tourism mempunyai potensi yang besar. Dia muilai dari komunitas orang Perancis tapi base-nya di Singapura. Mereka meng­organisasi even itu di Bali, pernah juga di Lombok, di Vietnam. Ada­kah ide dan potensi lain? “Kita sebenarnya bisa me­ngadakan F1 tapi di laut. Atau motocross,” itu menurut Abdul Wahab. Di Asia sudah banyak ke­giatan se­perti itu. Kita tidak perlulah menjalan­ kan F1 karena Si­ngapura sudah punya. Tapi yang lainnya, niscaya akan ramai. Itu pasti ada organi­sasi internasionalnya.

Dia sendiri sejak awal ditugaskan untuk membina resor ini. Dengan punya dermaga dan terminal ferry sendiri untuk aksesibilitas ke Singapura, sekarang te­ngah membangun bandara. Targetnya, ­tahun 2015 rampung. Di kawasan Lagoi Bintan itu hampir ­sepenuhnya diisi oleh wisman. Tapi di kawasan lain bernama Pantai Trikora, kini sedang berkembang untuk pasar domestik. Jadi, akan semakin bervariasi tipe dan harga kamar hotel di pulau ini. Tak heran average room rate di resor ­Nirwana itu mencapai Sin$ 150 (sekitar Rp 1 juta lebih) belum termasuk tax dan service. Memang, ini lebih tinggi daripada harga ­rata-rata per kamar di Bali dan Jakarta de­ ngan rating bintang yang sama. Harganya yang tinggi itu karena biaya ope­ rasional yang tinggi. Untuk ketersedia­an listrik di Bali, 1 kw hours hanya Sin$ 10 sen atau sekitar Rp 1.000. Tapi di Bintan katanya harus mengeluarkan Sin$ 58 sen atau 5 kali lebih tinggi daripada di Bali. Itu salah satu sebabnya. Resornya menggunakan genset sendiri. Adapun berkenaan harga makanan, be­lan­ ja­­nya harus pergi ke Tanjung Pinang. Di sana, bahan-bahannya didatangkan dari Si­ngapura atau Malaysia. Sebenarnya, menurut Abdul Wahab, bahan makanan yang dibelinya di Tanjung Pinang itupun aslinya berasal dari Sumatera. Dari Sumatera, ke Singapura dulu, baru ke Tanjung Pinang, kemudiaan baru sampai ke Jalur Lagoi ­Bintan. ­Jaklur pasar itu tak bisa dipotongnya ­lantar­an memang begitulah jalur distribusi yang sedang berlaku. Nah, menurut general manager ini, kata­ kanlah hotelnya memperoleh pendapatan USD 1 juta, tingkat keuntungannya berkisar 30% net profit. Tapi kalau di Bali, bisa 50%. Itulah tadi, di kawasan Bintan itu harga relatif lebih mahal, minyak, nasi, air. Nah, gaji karyawan pun tidak murah. Di ­samping itu, perusahaan menyediakan menanggung perumahan untuk seluruh karyawan, makan tiga kali sehari, menanggung biaya kesehat­ an pula. Perawatan di rumah sakit dibantu

Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012


Bisnis sampai selesai pengobatan, tanpa pemotong­ an gaji. Itulah rupanya komitmen mereka untuk daerah ini. Kawasan ini sejatinya termasuk dalam bounded zone atau FT (free trade) zone. Tapi cost-nya tinggi. Jadi, strategi bisnis haruslah menghemat cost. Salah satunya melalui pe­ ngelolaan penggunaan listrik, hanya menyediakan AC kalau ada permintaan. Ada saja tamu berkomentar, apalagi me­ reka yang telah pernah berkeliling Indonesia, kenapa di Bintan harga sepiring nasi goreng bisa Sin$ 15 ditambah pajak? Maka diadakann pula food court, di mana ­mereka bisa pesan, dimasakkan, dan tamu akan mengambil sendiri, tanpa pelayan. Untuk ini harga makanannya relatif lebih murah. Tampaknya Bintan ini akan kian banyak dikunjungi wisman, dan, wisnus. Nirwana itu saja punya lahan seluas 342 ha, yang sudah dibangun baru sekitar 20%. Jadi, akan diba­ ngun lagi. Karyawannya saat ini berjumlah 700 orang. Kalau hotel di Jakarta cende­rung rasio 1 kamar berbanding 1 karya­wan, di sini rasio 2 karyawan untuk satu kamar. Itu memang lazim untuk suatu resor. Bagusnya, dia ternyata butuh rata-rata okupansi 38% saja untuk mencapai BEP (Break Even Point). n

Salah satu travel agent di China Town Singapura yang menjual paket-paket wisata ke Asia termasuk ke Indonesia.

Brosure paket wisata di konter travel agent di Singapura, menawarkan destinasi saingan kita.

Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012

Menggarap Singapura dengan ‘Jitu’

P

asar wisman di Singapura memang ‘patut’ digarap habishabisan. Cukup lama Kementerian Parekraf melancarkan promosi dan menempatkan Singapura salah satu pasar utama. Dan hasilnya jumlah kunjungan dari Singapura dan Malaysia menempati angka tertinggi. Tapi sesungguhnyalah tak ­cukup sampai di situ. Maka terasa giliran ­unsur-unsur industri kita perlu menerap­ kan link and match, dari promosi yang telah dilancarkan terus, diefektifkan lebih optimal oleh para operator tur, hotel, dengan memasuki pasar dalam praktek. Salah satunya jelas dengan taktik co-marketing, dan menciptakan kegiatan dengan menyasar target-target spesifik. Demikianlah misalnya, di Bali, di­ kabarkan seakan banyak makanan yang tidak halal. Maka beberapa agen di Si­ nga­pura mau diajak meninjau, seperti famtrip. Ternyata mereka sungguh ter­ insipriasi, mene­mukan ba­ nyak ‘makan­an halal’, diciptakanlah ­paket wisata ke Bali dengan ­acara yang dipandang se­suai dengan sasaran minat masyarakat Melayu atau Muslim Singapura. Sebagai bisnis, mereka bergotong royong membentuk semacam konsorsium. Mereka lancarkan promosi de­ngan iklan di media cetak, dan, mereka urunan membiayai. Tentu saja selain itu promosi melalui email blast yang biaya­nya relatif lebih murah lagi. Terciptalah produk bernama Mesra Hol­ idays. Di­terapkan strategi co-marketing, dengan pihak penerbangan, dan akhirnya tak hanya destinasi Bali, dikombinasikanlah dengan destinasi lain: Yogyakarta, Ujungpandang, lantaran comarketing yang diajak ialah Garuda Indonesia. Selain itu ada juga kerja­ samanya de­ngan airlines lain. “Jadi paket itu khusus bagi orang muslim. Dan 5 agent yang kita dapat itu memang agent Islam. Jadi spesi­fic mar­ ket. Ini sudah berjalan setahun lebih,” ­menerangkan Sulaiman Shehdek, coun­

Beberapa agen di Singapura bergabung ‘gotong royong’ alias konsorsium menjual paket wisata, khusus ‘menggarap’ komunitas Melayu/Muslim Singapura.

Satu konsorsium agen lainnya menjual paket wisata Indonesia ke masyarakat umum, kuncinya, co-markeng dengan airlines.

try manager untuk kantor Visit Indonesia ­Tourism Officer (Vito) di Singapura. Kemudian ada konsorsium lain terbentuk. Perhatikanlah contoh iklaniklan mereka yang ditampilkan di sini. Ada yang membuat paket tur khusus ke Bandung–Jakarta–Batam for Singaporean. “Ini co-marketing kita dengan agent, mereka jual paket ke Medan, Bandung, Surabaya, dan untuk ini kami hanya keluar uang 2.000 dollar (Singapore), selebihnya mereka yang keluar uang. Lihatlah paketnya ada yang Sin$ 338 sudah termasuk penginapan, tiket, makan, jalan-jalan. Hanya tambah airport tax,” ungkap Suleiman Shehdek. Ini bisa menjadi contoh untuk sasar­ an komunitas lain yang beragam di Singapura (sebagaimana juga di Malaysia); selain Melayu Muslim, juga sama potensinya dengan masyarakat keturunan India, China, dan expatriates. Siapakah agen di Indonesia, airlines atau hotel dan pemda di daerah-daerah, yang ‘tertarik’ mengambil inisiatif se­ perti itu? n

23


Eko Wisata

Tengoklah Orangutan itu

Membaca laporan ini, kita tergelitik untuk ingin secepatnya berkesempatan ­menengok. Maka dari sudut pariwisata, ini sungguh bisa menjadi inovasi dan diversifikasi produk wisata. Bahkan baiknya dimulai memperbanyak kunjungan oleh wisnus. Kalau standar kunjungan wisnus mantap, tentulah wisman pun akan semakin tertarik. Memang, niche market dari perspektif pemasaran. Namun dari seantero pelosok dunia akan bisa diharapkan datang, sehingga jumlah akhirnya, sedikit demi sedikit, akhirnya menjadi bukit, bukan?

A

walnya bernama Pusat Rehabilitasi Orangutan Kalteng tapi kemudian diubah menjadi Pusat Reintro­ duksi Orangutan Nyaru Menteng. Pusat rehabilitasi orangutan Nyaru Menteng dikelola oleh Yayasan (Borneo Orangutan Survival) BOS yang didirikan di bulan November 1999 di Kalteng. Tugas utama BOS di sini adalah membuat orangutan menjadi liar kembali. Kebakaran lahan gambut tahun ­1997–1999 bukan hanya berdampak pada dege­nerasi lahan tapi juga penghuni kawasan tersebut termasuk orangutan ­Kalimantan (pongo pygmaueus), satwa langka endemik di Kalimantan dan sebagian Sumatera (orangutan Sumatera/pongo abelli). Selain di Yayasan BOS, orangutan juga ada di bebe­rapa tempat di Kalteng. BOS juga memiliki beberapa ­fasilitas lain di Palangkaraya dan sekitarnya,

24

yakni Pulau Hapapak, Bapalas, Kaja, dan Bangamat, selain fasilitas karantina yang ada di Nyaru Menteng. Pulau-pulau tersebut menjadi bagian untuk membuat suasana seperti habitat asli orangutan dan mengatasi kapasitas kandang, yang sebenarnya untuk menampung sekitar 400 ekor, tapi saat ini ada sekitar 600-an ekor orangutan. Empat kegiatan sebagai fokus BOS. Pertama. karantina, pengelompokan berdasarkan kelamin dan usia lalu sekolah hutan. Sekolah itu bagian dari karantina. Di situ diobservasi kemudian dilihat apa­ kah mereka sudah bisa dikelompokkan dalam tingkat di atasnya. Tahap kedua, sosialisasi. Orangutan ini makhluk soliter, penyendiri. Dia berke­ lompok hanya terdiri dari induk dan anak yang akan hidup bersama selama 7 tahun. Dalam tahap ini diobservasi perkemba­

ngannya. Jika sudah memenuhi syarat, mereka akan dimasukkan ke dalam tahap ketiga, pra-pelepasliaran. Orangutan yang terlihat di Pulau Hapapak adalah orangutan dalam tahap prapelepasliaran. Begitupun yang terlihat di ketiga pulau lainnya. Yayasan BOS tidak bertugas untuk mengembangbiakkan ­karena itu selama di dalam fasilitas Nyaru Menteng mereka ini dipisahkan, tetapi ketika sudah di pulau mereka akan bercampur. Beberapa sudah melahirkan di sana. Umumnya, yang ditangani di pusat reintroduksi adalah bayi-bayi ­orangutan yang ditangkap lalu dipelihara oleh masyarakat. Untuk memelihara ­orangutan harus dari bayi, sedangkan untuk mengambil bayi­ nya, harus membunuh induknya dulu. Jadi tidak mungkin memeliharanya saat dia sudah besar karena pada dasarnya makhlukl ini satwa liar. Mengingat orangutan yang berada di pulau-pulau tersebut berawal dari hewan peliharaan sehingga mereka terbiasa de­ ngan perilaku manusia seperti menonton TV, mendengar musik dan lain-lain. Mereka memiliki memori yang kuat, cepat sekali belajar meniru dan mengikuti perilaku manusia. Pulau-pulau tempat pra-pelepasliaran merupakan tempat rehabilitasi sehingga mereka harus dijauhkan dari hal-hal semacam itu agar bisa liar kembali. Jika mereka melihat manusia berpakaian kurang sopan dan saat itu musim kawin, itu bisa mempengaruhi perilaku pejantannya. Alasan lainnya, pusat reintroduksi ini pernah menerima orangutan yang dimanfaatkan menjadi pekerja seks komersial di kawasan pelacuran. Jadi rehabilitasi adalah untuk mengorangutankan kembali, bu­kan memanusiakan mereka. Syarat-syarat pulau-pulau pra-pelepas­ liaran, pertama pulau tersebut harus terisolasi dari pemukiman penduduk. Kedua, di sana harus tersedia pakan alami orangutan yaitu buah-buahan. Memang selama masih di area pra-pelepasliaran, orangutan masih sesekali disuplai makanannya. Orangutan di pulau-pulau ter­­sebut sudah memiliki sifat-sifat ke­liarannya kembali sekitar 80–90%. Mereka akan dilepasliarkan dari pulau-pulau pra-pelepasliaran setelah mereka benar-benar menunjukan kesiapannya. Pulau-pulau itu semacam sarana memperkenalkan mereka pada lingkungan alamiahnya meskipun itu bukan ­lingkungan alamiah yang sebenarnya.

Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012


Eko Wisata Kaitan ke Ekowisata

Jika melihat kembali pada Keputusan Menteri Kehutanan No. 280/Kpts/1995, lokasi-lokasi dan ­fasilitas-fasilitas rehabili­tasi bukanlah daerah yang ditujukan untuk wisata. Namun posisi pulau-pulau tempat pra-pelepasliaran itu memang berada di sungai jalur umum transportasi air. BOS sebagai pengelola pulaupulau itu juga menyadari tidak bisa Anton Nurcahyo melarang orang melewati sungai dan pulau-pulau tersebut. Tidak terelakkan pulau-pulau tempat rehabilitaOrangutan bisa dilepasliarkan, si itu akhirnya menjadi tujuan ekowisata. ­jika mereka sehat. Artinya, Kemudian BOS mencoba menyusun draft panduan ekowisata dan menawar- mereka tidak me­miliki dan membawa kannya kepada pelaku pariwisata dan pemda, sehingga baik proses rehabilitasi penyakit-penyakit ber­bahaya yang ada maupun konservasi yang dijalankan, dan pada manusia. kegiatan pariwisata, bisa berjalan lancar. Mengingat orangutan yang berada di pulau-pulau tersebut masih dalam proses harap kepada para operator tur juga mepra-pelepasliaran. mahami fungsinya. Kami sangat berharap Poin-poin panduan ekowisata di kawas­ orangutan yang ada di pulau-pulau itu an reintroduksi orangutan di pulau-pulau tidak mengalami perubahan perilaku atau pra-pelepasliaran yang dikelola BOS: di- mengalami stres karena adanya kecende­ larang bersuara keras yang mengundang rungan wisatawan membuat kega­duhan, perhatian orangutan keluar dari pulau, menyetel musik yang keras, bersikap mengabaikan jarak aman (minimal 15 m) atrak­tif seperti memanggil-manggil orangpada saat melihat orangutan, dilarang me- utan dan sebagainya. Kami sangat bernekan kepada pemandu ­untuk lebih dekat harap tidak dilakukan hal-hal seperti itu kepada orangutan demi kepuasan/kepen­ ter­utama di lokasi-lokasi yang kami jaditingan sendiri, dilarang memberi makan­ kan sebagai tempat ­pra-pelepasliaran.” an dan minuman, dilarang berpakaian Lanjutnya, “Kami berharap guidance tidak sopan dan menunjukkan perilaku atau petunjuk yang kami berikan untuk berlebihan seperti melambaikan tangan, keamanan susur sungai menjadi perhadan dilarang memutar musik keras-keras. tian para pelaku bisnis ekowisata yang Salah satu fungsi tempat rehabilitasi memanfaatkan pulau-pulau yang kami adalah meminimalkan kontak, baik fisik jadikan lokasi pra-pelepasliaran.” maupun visual terhadap orangutan yang Orangutan bisa dilepasliarkan, ­sebagai sedang direhabilitasi dengan manusia. tahap keempat atau tahap terakhir, jika Yang bisa dilakukan saat ini adalah memini­ mereka sehat. Artinya, mereka tidak me­ malisasikan gangguan-gangguan tersebut. miliki dan membawa penyakit-penyakit Mari kita coba bayangkan, ­orangutan ber­bahaya yang ada pada manusia. Misalhidup bebas saat bersama manusia. nya, HIV AIDS, Hepatitis A-B-C, atau TBC. Manakala direhabilitasi mereka harus meKemudian orangutan tersebut mampu nempati kandang yang terbatas luasnya. tinggal di hutan secara normal. Mereka Setelah dilepaskan ke sebuah pulau kecil mampu bergerak bebas dan nyaman di yang lebih luas daripada kandangnya un- hutan. Orangutan yang buta dan lumpuh tuk beberapa waktu, besar kemungkinan tidak akan dilepasliarkan. mereka akan merasa bosan. Pusat Reintroduksi Orangutan Nyaru Hal inilah yang dilihat bisa menimbul- Menteng juga menjadi salah satu obyek kan potensi membahayakan bagi manu- wisata di kota Palangkaraya. Lokasinya sia. Jika pengunjung terlalu dekat dengan berada di kawasan arboretum Nyaru pulau-pulau itu, orangutan dewasa bisa Menteng. Di sini pengunjung yang datang saja melompat ke perahu dan melakukan hanya bisa melihat orangutan dari ruang sesuatu yang berbahaya. auditorium. Kaca-kaca di auditorium yang menghadap ke kandang-kandang besar diberi filter sebagai upaya untuk Pengertian dari Operator Tur Anton Nurcahyo, Manager Program Re- mengurangi kontak fisik dan visual antara introduksi Orangutan Kalimantan ­Te­ngah orangutan dan manusia. Meskipun begitu, pendengaran orangNyaru Menteng mangatakan, “Kami ber-

Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012

utan sangat kuat. ­Pengunjung tidak bisa masuk lebih ke dalam karena sudah masuk wilayah karantina. Di auditorium ­pengunjung juga diperlihatkan film pendek ­tentang proses rehabilitasi hingga pelepas­ liaran orangutan. Mengenai lokasinya yang me­ nempati area arboretum, ­Anton menjelaskan, “­Tanah ini punya pemerintah, kita ini hanya diberi kewenangan menggunakan lo­ kasi ini untuk melakukan rehabilitasi orangutan. Kalau pulau-pulau itu ­memang kita membayar ganti rugi dan mengurus perisinan kepada pemerintah. Jadi yang dikelola oleh BOS adalah yang dipagari ini, bukan yang ada di luar pagar. BOS juga tidak mengambil karcis retribusi. Kami pun diberi wewenang untuk mendirikan sekolah hutan oleh BKSDA di area arboretum.” Dia menegaskan bahwa BOS tidak pernah melarang siapapun masuk ke dalam area arboretum termasuk memanfaatkan jalur trekking yang ada di sana. Memang, sebagian dari jalur trekking tersebut melewati kawasan sekolah hutan yang dikelola BOS. Jalur tersebut juga diluar kewenang­ an dan tanggung jawab pengelolaannya. Sudah lebih dari tiga tahun draft petunjuk mengenai wisata susur sungai, ­terutama yang melewati pulau-pulau yang menjadi tempat pra-pelepasliaran, belum difinalisasi dan ditandatangani. Jika ini sudah diratifikasi, fungsi pulaupulau pra-pelepasliaran tidak terganggu dan ekowisata juga tidak kehilangan arah dan tetap berjalan. Banyak pihak yang berkepentingan pada orangutan berharap, pemerintah kota melalui Disbudpar Kota ­Palangkaraya agar mengatur juga mendukung eko­ wisata berkelanjutan. Menurut Anton, “Konservasi orangutan bisa saja sejalan dengan ekowisata asalkan tidak melampaui batas. Tidak mengganggu keseimbangan yang sudah ada. Jadi ekowisata yang ideal di Kalteng, ya yang tidak melampaui batas.” Ada baiknya jika kita juga melihat pada wisata susur sungai melihat orangutan liar di Sabah, Malaysia. Untuk melihat orangutan di sana juga ditentukan batasan jarak. Para pengunjung berada di perahu, orangutannya berada di atas pohon. Operator tur selalu mengingatkan wisa­tawan tetap tenang, karena memang sifatnya hanya untuk melihat dan merasakan keindahan alam, bukan mengganggu ketenangan alam itu sendiri. Kita tidak boleh berteriak untuk menarik perhatian orangutannya. n

25


Wisata Nusantara

Menjadi Destinasi

Dan lihat pula iklan-iklan yang dilancarkan oleh airlines di pasar luar negeri, seperti di Malaysia dan Singapura ini. Selain menyebut Indonesia, bahkan lebih spesifik lagi menyebut daerah destinasinya, seperti Medan, Makassar, Bandung dan lain sebagainya. Ini mengindikasikan kepercayaan penerbangan terhadap nama destinasi sebagai ­selling point. Jadi, tidak semata mengandalkan produk dan layanan penerbangan sendiri.

K

ali ini ucapan salut patut disampaikan pada maskapai penerbang­ an nasional. Di dalam negeri tampak mulai mempromosikan atau tepatnya mengkampanyekan Destinasi Wisata Nusantara atau Wisnus. Lihatlah iklan di media nasional ini, muncul mulai medio September 2012. Kalangan luar negeri pun melihat Indonesia, di bidang pariwisata di Asia, seperti raksasa yang masih sedang tidur, a sleeping giant. Berdasarkan luas dan kayanya ­Tanah Air di bidang kepariwisataan. Merujuk pada perkembangan mutakhir, besarnya potensi pariwisata Indonesia di Asia menempati urutan nomor dua setelah Cina. Dan ‘kita’ sedang menggeliat hendak bangkit berdiri dan, berlari. Termasuk dan terutama di sektor pariwisata domestik atau wisata nusantara. Selama ini pemasar pariwisata nusantara barulah berani beriklan di halaman iklan baris suratkabar. Itu pun kebanyakan menjual fixed departure, yaitu paket wisata de­ngan tanggal-tanggal keberangkatan yang sudah ditentukan, kebanyakan jalan darat alias over land Jawa–Bali. Dalam bisnis itu ­berarti bahwa ‘penyelenggara tur’ mengharapkan terkumpul sejumlah tertentu wisatawan dalam satu grup pemberangkatan, biasanya harus mencapai jumlah minimal, misal 15 orang atau 20 orang. Sebab, jumlah itu menentukan tingi rendahnya ongkos tiket, ongkos kamar hotel, dan tur lokal di tempat tujuan. Tapi iklan contoh Citilink dan AirAsia dikutip di atas memunculkan pemasaran pariwisata sesuai dengan ­feno­mena baru bisnis pariwisata di dunia. Yaitu retail busi­ ness. Wisatawan dapat membeli sendiri tiket penerbangan, lalu membeli atau memesan sendiri kamar hotel, sampai juga membeli

26

sendiri tur atau transportasi di tempat tujuan wisata. Masing-masing di bidangnya pelaku bisnis itu pun sudah sejak lama menerapkan penjualan ‘eceran’ produk pariwisata. Citilink memperkuat fenomena baru itu. Pemasarannya menonjolkan produk wisata destinasi, dan tampilan pesannya mengan­ dung motivasi terhadap masyarakat untuk berwisata di dalam negeri. Itu berbeda de­ ngan apa yang sudah berjalan sebelumnya. Selama ini maskapai penerbangan nasional, menerapkan pemasaran dan penjualan cende­ ung sebagai produk airlines yakni menjual seat belaka. Kaitannya pada menjual produk destinasi wisata nyaris belum disentuh. Iklan Citilink yang memilih judul memasarkan destinasi, itu memang berkaitan dengan momentum pembukaan rute destinasi tersebut. Karenanya diharapkan, menonjolkan pemasaran destinasi itu tak berhenti sampai di situ, melainkan dilanjutkan seterusnya juga dengan nama-nama destinasi lainnya yang sudah dihubungkan secara reguler. Kondisi objektif kini dan tahun-tahun mendatang ‘mengharuskan’ para operator penerbangan untuk ‘membangkitkan’ pasar wisatawan di dalam negeri. Cara berpromosi dan beriklan yang dilaksanakan oleh Citilink tersebut, diyakini akan kian ramai diikuti oleh para operator penerbangan dalam negeri. Sebab, mereka tidak lagi sematamata bisa bergantung pada pemasaran dan penjualan tempat duduk di pesawat saja, mengingat supply akan semakin membesar dibandingkan demand. Maka to generate the consumers antara lain terbuka dengan potensi pariwisata di dalam negeri. Dalam konteks itu tampak strategi dan program pemasaran pariwisata kita semakin berbuah banyak. Telah berkembang Commu­

nity based marketing, co-marketing, mencipta dan mengelola even-even, semua itu terwujud antara lain bermunculannya even-even dan kegiatan seperti konvensi para vegeta­ rian, konvensi-konvensi komunitas sales ­people atau semacam MLM, kegiatan komunitas sepeda yang membahana berkat kerja samanya dengan media menyelenggarakan jelajah sepeda di Sumatra, Bali–Komodo, even olahraga di Batam–Bintan, even komunitas musik termasuk jazz, dan beberapa lainnya. Berbagai pemda ramai dan konsisten menyelenggarakan festival-festival budaya. Kemenparekraf memberikan ­dukungan pada kegiatan-kegiatan tersebut, di ­samping menginisiasi sendiri dan menyelenggarakan even di dalam negeri. Even dan ke­ giatan masyarakat tersebut, pada dirinya me­ngandung dampak promosi destinasi ­wisata, bersamaan secara langsung menarik dan menggerakkan kunjungan wisatawan, maka memberikan bisnis secara langsung pada para pelaku usaha pariwisata, dan, masyarakat lokal. Di luar aspek bisnis komersial itu, terjadi dampak lain: proses pendidikan dan pelatihan dalam pelayanan pariwisata, yang tentu akan menambah pengalaman, meningkatkan keterampilan, dan kualitas dalam pelayanan pariwisata di kalangan SDM lokal. Itulah momen-momen di mana para pemangku kepentingan pariwisata lokal terlibat langsung dalam praktek koordinasi, sinergi, dan efisiensi sumber-sumber daya dan elemenelemen produk pariwisata. Dalam konteks itu dicatat, selain mempromosikan pariwisata internasional, Kemenparekraf juga mendorong pariwisata domestik. Ini mengingat jumlah penduduk Indonesia yang besar. Dengan kelas mene­

Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012


Wisata Dunia Seiring dengan pe­ning­katan pen­ dapatan, me­ningkatnya jumlah masya­rakat kelas ­menengah, mening­ katkan infra­struktur, dan me­ningkatnya jumlah maskapai pener­bangan hemat, perjalanan ­domestik akan menjadi ­andalan pariwisata nasional. Mari Elka Pangestu Menteri Parekraf ngah yang sedang berkembang, infrastruktur mulai membaik dan sejumlah maskapai penerbangan murah yang besar sekarang menyediakan penerbangan murah ke lebih banyak kota dan tujuan, pariwisata domestik diperkirakan akan tumbuh dengan pesat. Menteri Parekraf Mari Elka Pangestu me­ngatakan: ”Seiring dengan ­peningkatan pendapatan, meningkatnya jumlah masya­ rakat kelas menengah, meningkatkan infra­ struktur, dan meningkatnya jumlah maskapai pener­bangan hemat, perjalanan domestik akan menjadi andalan pariwisata nasional.” Badan Pusat Statistik mengindikasikana sumber wisatawan domestik terbesar ber­ gerak dari pulau berpenduduk padat Pulau Jawa, dari daerah Jawa Timur, Banten, Jawa Tengah, Jakarta, dan Jawa Barat, sedangkan tujuan paling populer bagi wisatawan domestik adalah: Bali, Lombok, Wakatobi, Yogyakarta, Sumatera Utara, Jakarta, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan.

Pemasaran Destinasi Daerah

Terhadap wisatawan nusantara ­maupun wisatawan mancanegara, untuk ­pemasaran destinasi wisata daerah, baik juga memperhatikan apa yang belum lama ini di-’advis’kan oleh ILO (Intertnational Labor Organi­ zation). Organisasi di bawah PBB ini pun, kendati ranahnya di bidang lain, namun memberi perhatian banyak terhadap pariwisata. Itu sejalan dengan pengakuan betapa pariwisata berperan besar dalam menciptakan lapangan kerja khususnya, terhadap kegiatan ekonomi pada umumnya. ILO di konferensi pariwisata berkelanjut­ an di Bali, menyuarakan pula wacana yang mendemonstrasikan perhatian itu pada pariwisata Indonesia. Direktur ILO Indonesia Peter Van Rooij: “Kami usulkan Indonesia menjadi tujuan

Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012

pariwisata dunia untuk menyukseskan program Milenium Development Goals (MDGs),” katanya di sela Konferensi Pariwisata Berkelanjutan di Holiday Inn Hotel, Kuta, Bali, Kamis (13/9/2012). Sejumlah alasannya, pertama pariwisata Indonesia mampu menyerap 7 juta pekerjaan di sektor ekonomi. “Pariwisata sangat penting untuk perekonomian Indonesia,” tegasnya. Menurutnya, industri pariwisata berkontribusi sangat besar dalam mendo­ rong roda ekonomi Indonesia. Karenanya, usulan Indonesia menjadi tujuan pariwisata internasional setelah Inggris, Liberia, dan Tunisia, dinilai sudah tepat. Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar menyambutnya dengan mengatakan arah pengembangan pariwisata ke depan adalah ­berkelanjutan. Makanya, prinsip-prinsip pariwisata berke­ lanjutan harus tetap dijaga, dimulai dari lingkungan terdekatnya. Penting dilakukan adalah pemerataan pembangunan destinasi pariwisata di dae­ rah-daerah lain. Dia mengambil contoh pembangunan industri pariwisata di Bali. Saat ini, katanya, sarana pendukung pariwisata Bali dan obyek wisata bertumpuk di Bali selatan. “Ke depan, mesti ada pemerataan. Maka perlu ada insentif bagi pembangunan di daerah lain selain Bali selatan sehingga pariwisata Bali menyebar. Ada pembagian yang proporsional, itu akan memberi kebahagiaan yang merata,” katanya mencontohkan. Salah satu publikasi ILO dari kantor pusatnya di Genewa, menyebutkan, destinasi pariwisata adalah ‘produk’ yang ­paling me­libatkan sejumlah besar pemangku kepenting­an dan citra merek. Organisasi ­pemasaran tujuannya adalah setiap organisasi, di tingkat manapun, bertanggung jawab untuk memasarkan dae­ rah tujuan wisata. Itu bersamaan dengan

Wisata Nusantara kementerian pemerintah yang bertanggung jawab atas perencanaan dan kebijakan. Tujuan organisasi pemasaran destinasi (Destination Marketing Organizations) berkaitan dengan penjualan tempat-tempat atau lokasi tertentu.

Branding daerah tujuan wisata

Dikemukakan bahwa masa depan pemasaran akan menjadi pertempuran antara merek–branding, dan bidang pariwisata muncul sebagai arena pertempuran merek terbesar di dunia. Tujuan dari merek adalah untuk membentuk identitas yang berbeda dan mengesankan di pasar yang merupakan sumber nilai bagi konsumen. Branding mungkin adalah senjata pemasaran yang paling kuat yang tersedia untuk pemasaran kontemporer daerah tujuan wisata, dihadapkan pada wisatawan yang semakin mencari gaya hidup dan pengalaman baru. Di Indonesia, seperti berulang kali dicontohkan oleh Wamenparekeraf, Sapta ­Nirwandar, Indonesia sebagai salah satu negara penghasil kopi terbesar dunia terkenal dengan cita rasa kopi dan aromanya, selain juga keunikan dalam mengolah dan menyajikannya. “Keunikan itu menjadi kebanggaan ­Indonesia di mata dunia. Untuk ini kita ha­ rus gencar mempromosikan termasuk mempopulerkan branding kopi Indonesia seperti ‘kopi Luwak’ dan ‘kopi Tubruk’ agar lebih dikenal masyarakat dunia,” katanya. Diberitakan, merek Toraja Coffee, misalnya, sudah popular di masyarakat Jepang sejak dua dasawarsa terakhir. Luwak ­Coffee sedang menggejala di dunia sebagai merek yang mengasosiasikannya dengan nama ­‘Indonesia’, bersamaan ‘gengsi’ yang dibawanya sebagai ‘kopi termahal’. Maka giliran semacam branding ‘Kopi Tubruk’ boleh jadi akan sungguh membuat wisman mencari-carinya ketika sedang berkunjung di destinasi-destinasi Indonesia. Hanya me­ reka yang memiliki tujuan posisi pasar yang jelas dan atraksi menarik akan tetap berada di dalam benak konsumen ketika mereka memesan liburan. Sangat kompetitifnya dan dinamisnya lingkungan pariwisata global, mendorong kebutuhan untuk mengembangkan identitas yang jelas, atau ‘brand’, yang didasarkan pada kenyataan, sementara juga mencerminkan kekuatan inti dan ‘kepribadian’ produk. Dalam pasar yang ramai, membangun dan memelihara nilai merek adalah kunci keberhasilan bisnis dan, sebagai akibatnya, mengelola merek dengan cepat bergeser dari pemikiran pemasaran yang periferal dengan strategi bisnis inti itu sendiri. Ya, branding atau merek tentulah antara lain diwakili melalui suatu logo yang ­ditampilkan.

27


Wisata Nusantara Branding

Tantangan mendasar adalah bagaimana mengembangkan identitas merek yang ­merangkum esensi atau spirit dari multi tujuan—dikaitkan, dengan keinginan per­­wa­ kilan dari kelompok penjual serta masyarakat sebagai tuan rumah di destinasi. Pemasaran pariwisata umumnya ber­kait­ an dengan penjualan mimpi, seperti harapan akan layanan pariwisata dapat berwujud dan hanya dapat direalisasikan setelah dilaksanakannya perjalanan wisata sesuai dengan gambar-gambar yang dipromosikan. Oleh karena itu konsumen memainkan peran penting, lantaran merekalah yang melakukan pengambilan keputusan. Seba­ gian besar daerah tujuan wisata pada kelas ‘luar biasa’ atau kelas five-star resort dan atraksi, setiap negaranya mengklaim keunikan budaya, lanskap dan warisan, setiap tempat menggambarkan dirinya sebagai memiliki penduduk yang ramah, dan tinggi standar pelayanannya, dan fasilitas-fasilitasnya. Akibatnya, kebutuhan untuk tujuan menciptakan identitas yang unik—untuk membedakan diri dari pesaing—kini lebih dipen­ tingkan daripada tahun-tahun sebelumnya. Dikutipnya Sepuluh Kunci Tindakan Kebijakan untuk Sukses (dari Sumber: Goodwin: Strategi Bertanggung Jawab pariwisata di Gambia (n/d, 2011). Yaitu : 1. Bersaing berdasarkan kekayaan produk dan kualitas, bukan hanya pada harga. 2. Memilih untuk menargetkan segmen pasar yang tertarik dengan keragaman alam dan warisan budaya dan kekuatan dan keberagaman. 3. Mendorong pengembangan dan pemasar­ an produk komplementer. 4. Membangun kapasitas lokal untuk memperkaya Produk yang ditawarkan. 5. Pemasaran yang memainkan peran pen­ ting dalam mendidik wisatawan tentang budaya lokal/desa dan memastikan bahwa mereka bisa mendapatkan hasil maksimal dari liburan mereka. 6. Memastikan kesehatan, keselamatan dan keamanan pengunjung. 7. Menggunakan konsep tanggung jawab dalam kaitan produk dan layanan di destinasi, ke pasar-pasar (di dalam dan luar negeri), dengan tren ke arah yang lebih eksperimental dan produk yang bertanggung jawab. 8. Memastikan bahwa produk pariwisata kita dapat diakses oleh semua. 9. Bekerja dengan industri nasional dan ­internasional untuk memastikan bahwa gambar-gambar yang kita gunakan untuk mempromosikan destinasi secara sosial dapat diterima baik. 10. Mengidentifikasi dan mempromosikan praktik terbaik dalam membangun keberhasilan.

28

Pengunjung memadati berbagai gerai perjalanan wisata dalam suatu pameran di Jakarta. Even ini berhasil menggaet

“Jika tujuan tidak tercapai bagaimana pariwisata pro-poor akan bisa berkembang?” Tujuan pemasaran dan pemasaran pro­duk secara nasional di tingkat lokal/ masyarakat bukanlah proses yang tidak berhubungan. Tujuan pemasaran menciptakan kondisi dasar yang memungkinkan pemasar­an yang efektif, dari mendesain produk dan jasa pariwisata, khususnya yang terkait dengan strategi pengentasan kemiskinan. Pada saat yang sama, tujuan pemasaran didasarkan pada pengalaman konkret, layanan dan pilih­an yang merupakan bagian dari ide global dan branding ‘tujuan’. Dengan demikian, kebijakan multi stake­ holder yang luas dan kerangka stra­tegis yang mengartikulasikan aktor yang berbeda, tingkat dan tujuan ‘komponen’ dengan cara sedemikian rupa, sehingga benefits didistri­ busikan secara merata dan berkontribusi pada pengurangan kemiskinan, itu merupakan hal yang fundamental. Strategi Pertumbuhan Pariwisata memiliki banyak peluang bagi perusahaan kecil, menengah dan mikro (SMMEs). Tujuan ‘Meningkatkan Distribusi’ dan ‘Promosikan Transformasi’ berarti bahwa SMMEs yang tidak berada di pusat-pusat wisata besar sekarang memiliki kesempatan nyata untuk mengembangkan produk dan jasa yang me­ reka dapat jual kepada turis. Pemerintah tentunya akan memberikan SMMEs dukungan yang mereka butuhkan untuk tumbuh. SMMEs, pada gilirannya, harus memanfaatkan kesempatan ini de­ngan meningkatkan volume mengembangkan pe­ nawaran unik yang menarik wisatawan.

Komponen

Sebuah rencana pemasaran pariwisata merupakan strategi dan merupakan kombinasi dari teknik, alat dan sumber daya yang dirancang untuk mencapai tujuan komersial dan sosial, yang akan tercermin dalam bauran pemasaran: produk, harga, tempat, promosi dan orang-orang (five Ps: product, price, places, promotion, people): produk wisata

yang akan ditawarkan dan faktor-faktor yang membentuk itu; tempat distribusi, bagaimana produk/jasa akan mendapatkan klien; harga jual produk dan kebijakan harga yang akan diterapkan; promosi untuk menginformasikan konsumen potensial tentang produk dan mutunya, dan orang yang keahliannya, keterampilan dan sikap merupakan elemen kunci dari merek.

Produk

Secara umum, produk pariwisata ada­lah seperangkat aset dan jasa yang diselenggarakan sekitar satu atau lebih atraksi untuk ­memenuhi kebutuhan pengunjung. Spesifiknya, produk pariwisata berkelanjutan yang ‘dipahami secara luas’ yang berarti mereka yang menggunakan sumber daya dalam lingkungan yang bertanggung jawab, adil secara sosial dan cara ekonomis sehingga pengguna dari produk dapat memenuhi kebutuhan mereka tanpa mengorbankan generasi masa depan untuk dapat menggunakan sumber daya yang sama. Mengukur keberlanjutan adalah ­ma­salah kompleks dan kriterianya bervariasi sesuai dengan jenis produk dan kondisi setempat. Memutuskan apa pada ­akhirnya yang berkelanjutan bagi komunitas tertentu adalah keseimbangan antara kondisi setempat dan harapan dan praktek terbaik dalam teknologi dan manajemen lingkung­an. (Sumber: United Nations Environment Programme dan Regione Toscana: Pemasaran produk pariwisata berkelanjut­an (Nairobi, UNEP, 2005).

Pengembangan dan Latihan

Pengembangan produk bertujuan jangka panjang, pembangunan berkelanjutan melalui eksekusi sejumlah strategi. Strategi ini membawa ke ide fokus yang generik untuk meningkatkan daya saing, membangun industri inklusif dengan mempromosikan integrasi masyarakat mengembangkan dan memelihara lingkungan. Pengembangan produk dirancang untuk meningkatkan pendapatan di sektor Pari-

Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012


Wisata Nusantara

Modernisasi dengan Wisata Ziarah

A

50 ribu pengunjung dan perolehan transaksi luar biasa.

wisata, melibatkan pelaksanaan rencana komprehensif dan tindakan yang akan membimbing ke arah peningkatan bisnis jangka pendek, menengah dan panjang. Strategi tindakan untuk pengembangan dan pengelolaan tujuan wisata harus mempertimbangkan kebutuhan dan kepentingan semua pemangku kepentingan dalam sistem pariwisata: lokal/pedesaan masyarakat, pe­ ngusaha, investor, pemerintah, turis dan pemangku kepentingan lainnya. Sebuah produk pariwisata yang sukses harus mencakupi tiga faktor dasar secara bersamaan: tempat wisata; fasilitas dan layanan yang ditawarkan, dan aksesibilitas fisik bagi wisatawan. Faktor-faktor yang merumuskan produk pariwisata tersebut ialah : Atraksi: Ini merupakan ‘bahan baku’ dari produk pariwisata dan dengan demikian merupakan bagian dari wilayah di mana kegiatan bisnisnya terletak. Yaitu terdiri dari sumber daya alam dan budaya, tempat dan peristiwa yang, oleh karakteristik sumbersumber dan konteks lokasinya, membangkitkan minat pengunjung dan memotivasi tindakannya. Akomodasi dan Fasilitas: Fasilitas wisa­ tawan mengacu pada peralatan, infrastruktur dan layanan yang membuat kegiatan pariwisata yang mungkin: turis menikmati atraksi dan melakukannya dalam lingkung­ an yang aman. Aksesibilitas: ini adalah alat yang memfasilitasi akses pengunjung ke tujuan wisata, termasuk infrastruktur, transportasi dan layanan komunikasi. Nah, tak ada salahnya kalau kita terapkan semacam ‘latihan’ alias exercise: ­Sekarang, ­silahkan menjelaskan unsurunsur dari produk pariwisata di destinasi Anda. ­Uraikan elemen-elemen dari produk ­pariwisata Anda, yaitu: Atraksi, Fasilitas, Aksesibilitas. Bagaimana mengkombinasikanya, dan menjadi ‘layak jual’. Lalu, dirinci lagi, yang layak jual ke wisnus, dan yang ke wisman? n

ktivitas wisata di dalam negeri atau wisata nusantara kini kian kuat mengalami proses moderni­ sasi. Maksudnya, semakin cenderung masyarakat melaksanakan perjalanan wisata dengan menggunakan jasa biro perjalanan atau operator tur. Selama ini diketahui jumlah perjalanan wisnus selalu meningkat terus menerus, dan BPS mencatat tahun lalu saja mencapai sekitar 239 juta perjalanan. Tahun 2012 ini diperkirakan mencapai 245 juta perjalanan wisnus, yang merupakan angka target yang hendak dicapai oleh Kemenparekraf. Adalah Kamis 4 Oktober 2012 ketika sekitar 50 biro perjalanan di Surabaya dan sekitarnya menjadi seller dan berkisar 30 biro perjalanan menjadi buyers yang didatangkan dari beberapa daerah: Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogya, dan NTB. Dua pihak sellers dan ­buyers ini dipertemukan di ajang yang diselenggarakan oleh Direktorat Promosi Pariwisata Dalam Negeri, Kemenparekraf. Ajang itu berjudul Promosi Wonderful Indonesia Melalui Wisata Ziarah, bertempat di hotel Oval, Surabaya. Acaranya lokakarya, business meeting, dan peninjauan on the spot obyek daya tarik wisatanya. Selama tiga jam mereka mengikuti lokakarya di mana penceramah ahli Prof Moh Ali Azis menguraikan mengenai perkembangan wisata ziarah. Kadisparda Provinsi Jatim menyajikan Kebijakan Pembangunan Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Timur. Beberapa pembicara meng­uraikan obyek daya tarik wisata ziarah seperti kawasan Makam Sunan Giri, Gersik. Direktur Promosi Pariwisata Dalam Negeri, M Faried membuka kegiatan tersebut dengan juga memberikan ‘key notes’. Sekitar 80 peserta hadir, tampak antusias bertanya jawab, memperdalam pemahaman tentang wisata ziarah. Aspek pemahaman itu pun kini berkembang. Kalau selama ini wisata ziarah dipersepsikan sebagai wisata yang mengunjungi makam saja, dan seakan dilakukan oleh kalangan muslim saja, dalam lokakarya itu terbuka pemahaman lebih luas. Wisata ziarah, yang secara harfiah artinya ‘me­ ngunjungi’, sesungguhnya mempunyai obyek yang beragam. Yakni rumah orang, makam orang muslim atau non-muslim, tempat ibadah Islam dan non Islam, lem-

baga pendidikan, musium, upacara keagamaan, dan sebagainya. Di Indonesia selama ini memang wisata ziarah lebih banyak diartikan sebagai kunjungan ke makam.

Table Top

Usai lokakarya, dilanjutkan table top meeting. Peserta 40-an orang sebagai seller bergantian didatangi oleh 30-an buyer. Berlangsunglah rundingan bisnis selama sekitar dua jam. Di ujung pertemuan, diketahui telah terjadi transaksi bisnis, dalam hal ini antara agen penjual dan pembeli tercapai kesepakatan pemesanan tur yang akan dilaksanakan kemudiannya. Menurut Kepala Wilayah Promosi Dalam Negeri NTB-NTT, Ni Putu Gayatri, Warena Tour dari Depok, misalnya, memberi komitmen senilai Rp 200 juta ­untuk men­datangkan wisnus ziarah, Manunggal Tour dari Yogyakarta membuat komitmen bernilai Rp 150 juta, sebuah perusahaan perjalanan dari Bandung menandatangani komitmen men­datangkan sekitar 100 orang wisnus. Jadi, model perte­ mu­an bisnis Table Top yang selama ini lazim berlangsung dalam ajang pariwisata internasional, yakni pertemuan antara agen-agen luar ­negeri sebagai ‘buyer’ dengan agen dalam negeri selaku ‘seller’, kini model itu pun kian popu­ ler dalam promosi pariwisata dalam negeri. Itu indikasi para wisnus semakin cenderung menggunakan jasa biro perjalanan, tidak lagi mengurus sendiri saja rencana dan pelaksanaan kegiatan wisata di dalam negeri, misal dengan menyewa sendiri alat transportasi, membuking akomodasi hotel, mengunjungi obyek wisata. Tetapi mau kini membeli paketpaket wisata yang diorganisir oleh para agen wisata. Adapun para buyer tadi, esok harinya tanggal 5 Oktober, dibawa berkeliling meninjau tempat-tempat wisata ziarah. Untuk program itu dikunjungi kawasan Pondok Pesantren Jombang di mana terletak makam Gus Dur, lalu meninjau makam Sunan Giri dan Sunan Ampel. Penggunaan biro perjalanan oleh wisnus, dan pertemuan Table Top antara agen penjual dan agen pembeli, ini boleh dibilang modernisasi. Direktorat Promosi Pariwisata Dalam Negeri sedang mengembangkan pola promosi tersebut. n

Suasana table top pada ajang wisata ziarah.

Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012

29


Pemasaran Destinasi Marketing start from the kitchen, kata sebuah pemeo. Jadi, pemasaran yang berorientasi keluar, outward looking, juga harus dimulai sejak persiapan produknya sendiri di tempat. There is no detail is too small for a good manager, lanjut kata-kata mutiara manajemen itu.

Mendengarkan

K

etua Himpunan Pramuwisata Indo­ nesia (HPI) Provinsi Bali, Sang Putu Subaya, melihat Pulau Bali yang terbatas kapasitasnya sudah over louded dan terjebak dalam mass tourism sekarang ini. Apakah Bali memang masih membutuhkan mass tourism? Dia mencatat tiga hal pokok yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan di Bali sebagai daerah tujuan wisata internasional dan ­nasional. Pertama, pelayanan di bandara. Bandara menjadi tempat bertugas berbagai pihak dengan masing-masing kebijak­ sanaan. Namun sampai saat ini terlihat kola­ borasi belum harmonis antara tempat, sistem dan sumber daya manusia. Kedua, kemacetan lalu lintas. Ini terjadi bukan hanya disebabkan kedatangan wisatawan semata tapi juga laju migrasi, urbanisasi dan antarpulau, serta laju pertumbuhan penduduk. Kemacetan lalin cukup berat terutama di kantong-kantong wisatawan di selatan Bali. Dan ketiga adalah masalah sampah. Basic instinct semua orang yang berlibur ialah berharap mendapat kenyamanan, keindahan dan kesenangan. Bayangkan bagaimana perasaan jika dari bandara ke hotel sudah terjebak macet, lalu saat tur dari hotel ke obyek wisata lagi-lagi berada dalam kemacetan. Lalu saat berada di obyek wisata Anda melihat sampah berserak, toilet umum pun lumayan tak sedap. Dipahami, bahwa pariwisata bukan terbatas mengenai kapital, dengan ­membangun hotel-hotel berkapasitas besar, restoran mewah, tempat berbelanja yang modern, tapi mengesampingkan hal-hal lain seperti transportasi, pedestrian, toilet umum, pusat informasi gratis dan perkara-perkara remehtemeh lainnya. “Pariwisata di Bali adalah pionir, yang pa­ ling depan,” kata Sang Putu Subaya. Tentu saja HPI, ASITA dan PHRI masing-masing berada pada posisi berbeda sehingga tak jarang melihat pariwisata dari sudut pandang yang berbeda. Jika ASITA dan PHRI melihat pariwisata dari sudut pandang bisnis maka HPI melihatnya dari sisi praktek lapangannya. “Kami ini frontliner di pariwisata. Kami menjalani prakteknya di lapangan dan meng­ hubungkannya dengan keberlangsung­an pari­wisata,” lanjutnya. Destinasi lain mungkin masih menekan­ kan pada jumlah kedatangan wisatawan. Tapi di Bali sudah harus mewacanakan qual­ ity tourism. Tentu Bali tidak mengharapkan

30

Suasana sunset di Kuta, Bali.

Sang Putu Subaya

stingy tourist yang lebih banyak untuk datang. Stingy tourist maksudnya yang datang ba­nyak tapi pengeluarannya sedikit sekali. Tercatat 5.265 orang pramuwisata terga­ bung dalam HPI di Bali. Dari 5.000-an orang itu dibagi lagi ke dalam 11 divisi bahasa: Indonesia untuk wisnus, Inggris tentunya, Jepang, Korea, Mandarin, Jerman, Belanda, Perancis, Italia, Spanyol, dan Rusia. Ada satu lagi yang belum terdivisi yakni bahasa-bahasa asing yang masih ‘sedikit’ seperti bahasa Ceko, Yunani dan beberapa lainnya. Dengan anggota sebanyak itu diperlukan aturan-aturan tegas. Pada kenyataannya, cukup banyak pramuwisata tidak berlisensi namun beroperasi di lapangan. Guna menyeimbangkan supply and demand, dengan jumlah sekian banyak anggota, Bali sejatinya masih kekurangan pramuwisata. Itupun terkadang sudah dibantu dengan pramuwisata yang belum berlisensi,

terutama untuk bahasa-bahasa tertentu. Wisman dari negara-negara Eropa yang ekonominya kuat, kalau terjadi penurunan pun relatif sedikit saja. Bagi wisatawan dari Australia, dengan nilai tukar mata uang yang kuat, berlibur ke Bali menjadi lebih murah. Ini berhubungan juga dengan promosi. “Kebetulan saya dari divisi Perancis, yang saya tahu promosi mengenai Bali di Perancis gencar. Kita datang ke sana, kru-kru televisi dari Perancis juga datang ke Bali untuk meliput, Bali menjadi tempat lokasi syuting Julia Roberts, itu juga menjadi daya penarik dan pendorongnya. Yang masih khawatir adalah teman-teman dari divisi Jepang. Wisman dari negara ini masih belum meningkat jumlahnya ke sini, belum pulih benar,” itulah kesannya. Di tahun 1980 sampai 1990-an bisnis pariwisata di Bali belum sempurna benar. Tapi dengan presentasi yang baik dari para pramuwisata, turis tetap merasa senang setelah pulang dari Bali. Patut diperhatikan, belakangan ini cukup lumayan rasanya jumlah wisman yang mengatakan kemungkinan tidak datang kembali. Begitulah yang dicatat oleh sebagian pramuwisata ini. Wamenparekraf Sapta Nirwandar selalu menganjurkan pimpinan dan staf di jajaran direktorat pemasaran pariwisata agar senantiasa meng-up-date informasi dan pengetahuan mengenai perkembangan mutakhir dari produk-produk wisata yang tersebar di seantero destinasi pariwisata di dalam negeri.

Pembekalan Ujungtombak

Saat tamu tiba, orang lokal pertama yang ditemui tentulah pramuwisata sebagai ­frontliners. Bagaimana seorang pramuwisata me­nunjukkan kemampuannya saat berinteraksi dengan tamu, di situlah sebuah bangsa, dan suatu destinasi pariwisata sedang dire­ presentasikan. Pramuwisata rasanya menjadi gambaran besar sumber daya manusia dari sebuah destinasi pariwisata.

Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012


Pramuwisata

Pemasaran Destinasi an yang memuaskan itu kepada keluarga, saudara dan teman-teman. Akhirnya suatu saat Anda akan mengajak orang lain untuk datang ke destinasi itu.

Produk yang dijual

Pemandu wisata menjelaskan benda-benda purbakala di situs cagar budaya Pura Goa Gajah, Gianyar, Bali.

Sebagai ujung tombak, pramuwisata akan langsung kontak dengan turis, langsung memberikan ­informasi, dan perilakunya me­ wakili ciri dan karakter suatu bangsa. ­ Seorang pemandu akan memberikan penga­ruh terhadap citra sebuah negara. Jika pemandu mem­berikan informasi yang kurang bagus me­ngenai negara atau dae­ rahnya, ya akan memberikan kesan kurang bagus juga terhadap negara atau daerah tersebut. Begitupun sebaliknya, jika pemandu memberikan sesuatu yang baik maka akan memberikan sesuatu yang baik pula. Karena itu sangat diperlukan pelatihan berupa pembekalan materi secara berkala kepada para pramuwisata. Ini untuk menambah kapabilitas dan kemampuan mereka. Pembekalannya terutama berupa materimateri ilmu pengetahuan yang ­berhubungan dengan guiding seperti guiding technique yang benar, bahasa, sejarah, budaya, pengetahuan tentang alam, pemasaran pariwisata dan sebagainya. Kemampuan bahasa pun harus dimutakhirkan. Meskipun pramuwisata meng­­gunakan bahasa Inggris setiap hari misalnya, tapi up-grading teknik penyampai­ an dalam bahasa guide-nya juga perlu agar lebih menarik. Pembekalan kegiatan pemasaran pariwisata yang biasa diberikan lebih banyak menekankan pada bahan-bahan yang akan menarik untuk dipromosikan. Maka kunjungan ke obyek wisata di lapangan, akan menyegarkan kembali pengetahuan pramuwisata. Jika kita harus mempromosikan dan menjual sebuah produk tapi tidak mengetahui produknya, tentu akan kesulitan mene­ rangkan kepada calon pembeli bukan? Contoh, Museum Sangiran. HPI Solo berkunjung ke sana sebelum peresmian dan setelah peresmiannya pada bulan Oktober 2011. Dengan berkunjung ke sana, dibantu oleh petugas dan ahli dari museum, pramuwisata akan bisa lebih dalam lagi mengetahui tentang Museum Sangiran sehingga

Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012

bisa menceritakannya kembali kepada para tamu. Meskipun di obyek wisata ­tersedia ­local guide tapi pengetahuan mengenai sebuah obyek saat menemani tamu ke sana juga sama pentingnya. Fungsi pramuwisata itu mewakili destinasi dan juga berperan sebagai direct seller. Mereka ikut menciptakan citra. Misalnya, berita mengenai tertangkapnya lagi teroris di Solo akhir-akhir ini, tapi dengan seorang pemandu yang bisa menerangkannya ­dengan baik sehingga membentuk persepsi pada tamu bahwa di sini teroris tidaklah ‘gawat’ sehingga ­akhirnya mereka bisa merasakan kota ini aman. Jadi jika pramuwisata tidak bisa mengemasnya dengan baik dan menarik, bisa jadi citra kota Solo akan tetap seperti itu dan mungkin saja akan dicoret dari guide book dan dari rencana perjalanan wisatawan. Sebagai corong pariwisata, pramuwisata membuat turis dari tidak tahu menjadi tahu. Lihatlah bagaimana seorang pramuwisata di Borobudur mengajak tamu-tamunya untuk membayangkan dirinya berada di abad VIII saat Candi Borobudur sedang dibangun, ­ketika belum ada peralatan crane, semen dan lain-lain. Kemudian dia ceritakan teknis pembuatannya. Dia menceritakannya seolah kita sedang berada di lokasi pembangunan candi saat itu. Sehingga tamu yang mende­ ngarnya terhanyut dan mengenali obyek yang dilihatnya serta bisa menikmatinya. Menurut Ketua HPI Provinsi Bali ini, dari keseluruhan anggotanya, —3000 di antara­ nya tergolong senior,— misalnya masingmasing rata-rata menangani 2 orang tamu per bulan berarti 6.000 orang wisman yang ditangani, yang puas dengan pelayanan guide. Keenamribu orang tamu itu akan menceritakan kembali pengalamannya yang berkesan kepada keluarganya, temantemannya dan seterusnya. Atau, jika Anda berwisata ke NTT, di sana merasa puas, tentu yang pertama kali Anda lakukan di daerah asal adalah menceritakan penga­lam­

Etalase pariwisata dimulai dari pintu gerbangnya, baik di bandara, pelabuhan laut, stasiun kereta dan terminal bis. Bagi wisatawan mancanegara, mayoritas gerbang itu ada di bandara. Betapapun megah dan bagusnya bandara di daerah Anda, tapi jika belum terlaksana kolaborasi harmonis antara tempat, sistem dan sumber daya manusia di sana, itulah kesan pertama tamu terhadap daerah Anda. Sudah tentu, kita pergi ke suatu daerah untuk melihat obyek wisata. Originality, itu menjadi penting bagi produk pariwisata. Seperti rumah-rumah betang di pedalaman Pulau Kalimantan yang usianya sudah 200 tahun lebih. Bangunan yang telah dimakan usia tentu perlu dipugar, tapi bukan berarti menghilangkan semua keasliannya. Jadi seperti sambungan-sambungan kayu yang memperlihatkan teknik keterampilan bangunan yang tinggi dengan peralatan sangat sederhana di masyarakat Dayak, itu harus tetap dipertahankan. Jikapun perlu diganti, tentu dengan bentuk yang sama. Jadi rumahnya sendiri sudah bercerita, keterang­ an pramuwisata sebagai pelengkapnya. Bangunan baru seperti Tugu Khatulistiwa tidak bisa menceritakan apapun jika tidak ditopang pemandu yang memberitahukan fe­ nomena alam dimana setiap tanggal 23 Maret dan 23 September matahari tepat ber­ada di garis khatulistiwa, sehingga tidak ada bayang­ an apapun saat waktu menunjukkan pukul 12.00 siang di tanggal tersebut. Atau menunjukkan kepada wisatawan bahwa benar kota Pontianak dilalui garis khatulistiwa dengan menggelar pertunjukan air di lokasi tugu tersebut yang akan memperlihatkan bayang­ an belahan bumi utara dan selatan. Dan garis khatulistiwa bukan lagi sekedar ‘katanya’. Kepulauan nusantara memiliki ­sejarah panjang. Peninggalan seperti keraton atau istana berada dalam konteks warisan ­budaya. Keraton itu harus dilestarikan agar nilai-nilai orisinalitasnya tetap tampil. Ini juga merupakan aset budaya sebuah destinasi. Kalau keluarga keraton, pariwisata dan pemerintah menganggap ini penting, tentu itu akan menjadi tanggung jawab bersama. Begitupun dengan obyek wisata alam. Inovasi berbasis kegiatan menjaga dan memelihara ekosistem sangat diperlukan agar wisatawan tidak pernah merasa ­bosan. Contoh wisata menyusuri sungai di ­Kalimantan. Masih ada yang menganggap menyusuri sungai di pulau ini belum bisa dikatakan sebagai river cruise seperti yang sudah berkembang dan maju di Eropa atau negara-negara Asia lain seperti Thailand, Vietnam, ­Kamboja dan Malaysia. Wisata alam menyusuri sungai-sungai di Kalimantan ­memerlukan lebih banyak dermaga dan bersama-sama dengan pen­duduk mengembangkan kampung-kampung di

31


Pemasaran Destinasi rator kapal penyusur sungai. Regulasi dan nya buku tamu, pemandu dari warga lokal ­sepanjang aliran sungai. Masyarakat bisa dibina untuk mencip- peraturan tersebut bisa dibicarakan antara dan seterusnya. Pada akhhirnya, mengkampanyekan takan dan me­ngembangkan obyek wisata pelaku industri pariwisata dengan lembaga se­perti menjual aneka kulinari yang me- atau institusi yang menangani konservasi dan mensosialisasikan Sapta Pesona untuk manfaatkan kekayaan tumbuh-tumbuhan dan rehabilitasi alam, bersama pemda selaku menumbuhkan sadar wisata, itulah ­harapan setempat, memproduksi ba­rang kerajinan pemilik wewenang dan kuasa atas daerah yang digaungkan kembali oleh pelaku ­industri pariwisata. Masyarakat di destinasi khas, memandu wisatawan menyusuri sebagai mediatornya. Sedangkan obyek pusat perbelanjaan se­ wisata sebaiknya, melalui beberapa cara--, ­kanal-kanal alami yang membelah hutan perti di Pasar Baru (­Bandung) dibekali pengetahuan bagaimana menjadi tropis di daerahnya dengan pengguna­an alat keamanan tuan rumah yang baik, memberikan pela­ menggunakan perahu trasemacam CCTV sudah sangat yanan yang baik, dan seterusnya. disional atau menyediakan diperlukan agar wisatawan sebidang ruangan di rumah yang berbelanja di sana bu- Kolaborasi tanpa batas untuk disewakan sebagai kan hanya menikmati harga homestay kepada wisatawan. Membangun pariwisata berarti menipismurah tapi juga perasaan kan batasan-batasan administratif wilayah Dorongan dan dukungan aman saat berbelanja. dari ­pemerintah akan mendaerah karena pariwisata itu sifatnya Kadisparda Kota Ban­ ­borderless. Secara administratif, bolehlah dorong masyarakat untuk dung dan Polisi Pariwisata batasan-batasan itu berlaku. Artinya, jika tetap menjaga dan memelisudah mencoba membuat antarpemda mau bergabung, saling berkoorhara ­lingkungan sekitar sekese­pakatan dua bulan lalu. dinasi, dan mau bersama-sama membangun hingga bukan mustahil akan Jika masih terjadi pengamen pariwisata lintas daerah, pariwisata di Indomengurangi illegal ­mining berusaha naik ke dalam bis nesia akan menjadi lebih kuat. dan illegal logging. Baik wisata, maka akan disediaobyek wisata yang sedang Jika kerja sama ini diwujudkan, Berdodi Martin Samuel kan tempat seluas 3 m2 di ­daerah-daerah ini akan menjadi lebih hidup, dalam tahap memba­ngun maupun yang sudah jadi, tepi jalan di depan Pasar masyarakat juga akan lebih bisa merasakan fasilitas umum di dalam obyek wisata me- Baru untuk me­reka mengamen. dampak dari adanya pariwisata. Direktur minta perhatian. Membina masyarakat di destinasi wisata Promosi Pariwisata Dalam Negeri KemenBerangkatlah dengan pertanyaan kepada bukan hanya sebatas masyarakat yang ber- parekraf, Faried Moertolo, selalu menekan­ diri sendiri, apakah kita akan menikmati tem- tempat tinggal di obyek wisata atau seki- kan hal itu pada setiap kesempatan dialog di pat wisata yang tidak bersih, atau akankah tarnya. Itu mestilah dilakukan bersama-sama daerah-daerah destinasi. merasa nyaman menggunakan toilet umum oleh pemerintah daerah, ASITA, PHRI, HPI, Andaikan kerja sama dan kolaborasi anyang tak ‘representative’. Bagaimana jika dan MPI (Masyarakat Pariwisata Indonesia). tardaerah itu sudah terwujud, tidak ada alas­ merasa haus dan lapar di obyek wisata, se- Itu berhubungan dengan mengubah pola an untuk tidak bekerja sama dengan negaradangkan tempat untuk makan dan minum- pikir masyarakat yang men­negara tetangga. Termasuk, nya jauh dari standar kebersihan yang baik? jadi tanggung jawab terinteprovinsi-provinsi di KalimIni antara lain terasa manakala sekarang grasi mulai dari masyarakat antan yang berbatasan langberkunjung ke Danau Kelimutu di Flores. sendiri sampai pemerintah. sung de­ngan Malaysia dan Maka pembenahan management obyek Pramuwisata kita mengBrunei bisa memanfaatkan wisata dilakukan dengan tingkat kepenting­ ingat Thailand, di mana tejoint promotion dalam perjanan bahwa tamu akan datang sekarang, bu- lah berhasil mengubah pola jian Sosek Malindo. Paling kan beberapa waktu yang akan datang. pikir masyarakatnya sehingtidak bisa dimaksimalkan unAspek lain lagi? “Bagaimanapun kesela­ ga menjadikan sungai sebatuk menarik 10% wisatawan matan turis tanggungjawabnya di tangan gai sarana pariwisata. Itulah mancanegara yang sedang kita. Kita sebagai guide di sini menanggung yang diperlukan, misalnya berkunjung di sana. semua risiko termasuk kehilangan sandal untuk membina masyarakat Banyak negara kembali jepit,” kata Ketua HPI Kalimantan Tengah, di Kampung Beting di sekitar sungguh-sungguh memba­ Berdodi Martin Samuel. keraton Kadariyah di Kalbar ngun industri pariwisata Pernah barang bawaan wisatawan hi- agar menjadikan kompleks adalah demi multiplier effectAlex Afdhal lang ketika berkunjung ke rumah pan- keraton dan mesjidnya mennya. Alex Afdhal, Ketua jang yang bagus di hulu Sungai Katingan. jadi obyek wisata yang elok HPI ­Kalimantan Barat me“Orang di kampung juga mesti kita bangun di tepi Sungai Kapuas, yang tidak kalah de­ mahaminya dengan gambaran seperti ini: ­pengertiannya. Kita harus bisa memberita- ngan Wat Arun di tepi Sungai Chao Phraya. seseorang membeli paket tur ke Singapura hukan kepada mereka bahwa dengan kita Sebagus apapun obyek wisata dan pe- seharga Rp 4,5 juta, itu di luar yang harus dia membawa tamu itu bisa meningkatkan per- layanannya, jika tidak diinformasikan pun keluarkan lagi untuk keperluan pribadi, unekonomian mereka,” lanjutnya. tidak akan menjadi apa-apa. Di sinilah pen­ tuk membeli suvenir dan sebagainya. Begitu Obyek Pasar Baru di kota Bandung, tempat tingnya pusat informasi baik dalam bentuk pun dengan wisman yang membeli paket belanja murah favorit terutama bagi wisatawan media maupun kesiagaan petugas di tem- wisata petualangan di Kalimantan seharga dari Malaysia, tidak luput dari keluhan men- pat. Pusat-pusat informasi yang ditempat- sekitar USD 2.500 per orang. genai masalah keamanan. Betapa­pun sedikit kan di lokasi obyek wisata dan area publik Harga paket tersebut digunakan ­untuk atau banyak, dikeluhkan pen­copetan dan yang strategis seperti di bandara, pelabuhan, membayar tempat menginap apakah di pengamen dan pedagang asongan yang me- stasiun kereta, terminal, pusat perbelanjaan, hotel atau homestay, biaya makan, biaya maksa masuk ke dalam bis wisata. Tercatat pos-pos polisi di persimpangan jalan-jalan transportasi, porter dan seterusnya. Biaya keluhan keamanan di obyek Tangkuban Pe­ utama dan seterusnya. Keberadaan local tersebut tentu saja di luar biaya pribadi dan rahu lantaran ba­nyaknya pedagang asongan guide di obyek wisata sebaiknya juga diper- lainnya yang harus ditanggung sendiri oleh yang menawarkan jasa memandu wisatawan, siapkan meskipun belum wajib. wisatawan. memaksa mereka untuk membeli barang daContoh di kuburan Nemu di Toraja. Di Meskipun multiplier effect-nya relatif begangannya sebagai imbal jasa. sana belum bekerja pemandu khusus aktif lum luas benar, tapi masyarakat kampung Pada obyek wisata alam seperti menyu- seperti ditemui di keraton-keraton di Solo di sekitar persinggahan kapal-kapal wisata suri sungai-sungai di Kalimantan, tentu dan Yogyakarta. Ketika wisatawan membu- menyusuri sungai di Kalimantan Tengah tememerlukan seperangkat regulasi untuk tuhkan pemandu ya dia harus mencarinya lah merasakan dampaknya. Bagi wisatawan, menjamin keamanan pengunjung dan ope­ sendiri. Di sana belum dipersiapkan misal- semakin banyak tempat singgah di sepan-

32

Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012


Pemasaran Destinasi Keraton Kadariyah (atas) dan Masjid Kadariyah (bawah) di Pontianak, Kalimantan Barat.

nya dengan melindungi keunggulan kekayaan potensi pariwisata dalam negeri, melindungi wisatawan dari risiko bahaya yang dihadapi wisatawan selama berkunjung di Indonesia, dan menyadari bahwa orang lokal yang paling tahu persis spirit destinasi dan obyek wisatanya.

Promosi dan menjual

jang tepian sungai membuat tur semakin asyik diikuti.

Menjelang ASEAN 2015

Jika di Eropa membentuk Uni Eropa, ASEAN di tahun 2015 juga akan seperti itu. Jadi diharapkan sesama negara anggota ASEAN saling mengunjungi. Apalagi ini diperkuat dengan pertumbuhan maskapai penerbangan LCC (low cost carrier). Kita sudah sangat mudah, dan bisa dikatakan lebih murah, berwisata ke Singapura, Malaysia dan Thailand dengan menggunakan LCC dan bebas visa. Itulah sebabnya kota semacam Bandung bisa menerima kedatangan 1.000 orang wisatawan dari negeri jiran setiap hari. Perkembangan seperti ini tentu disambut baik oleh konsumen. Dalam UU Pariwisata nomor 10 tahun 2009, di dalamnya dicantumkan kewajiban sertifikasi profesi. Kita maklumi pula, kini ada azas perjanjian antarnegara, Mutual Recognition Agreement (MRA antara Negara ASEAN), dalam kerangka ide besar menjadikan ASEAN sebagai satu masyarakat ekonomi. Konsekuensinya, di tahun 2015 para pramuwisata bisa bekerja lintas negara. Pramuwisata Indonesia bisa bekerja di Thailand dan pramuwisata Thailand juga bisa bekerja di Indonesia, misalnya. Secara prosedural, seorang pramuwisata harus memiliki lisensi. Seperti halnya Surat Izin Mengendarai kendaraan bermotor (SIM), kalau tidak memiliki itu berarti tidak punya izin untuk mengendarai kendaraan. Demiki-

Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012

an pula fungsi sertifikasi pramuwisata. Setiap orang yang telah diberikan lisensi oleh pemerintah itu harus bergabung dalam sebuah wadah. Wadah itu berfungsi untuk membina dan mengawasi para anggotanya. Selain itu, di antara anggota HPI juga sudah terjalin hubungan kerja saling menghormati. Oknum pramuwisata yang melanggar kode etik profesi berhadapan dengan himpunan dan sanksi. Diberikan juga contoh kasus. Di Bali, sudah punya peraturan daerah yang mengatur khusus pramuwisata dalam Perda Nomor 5 tahun 2008 Tentang Pramuwisata. Namun karena di dalam UU Pariwisata Nomor 10 tahun 2009 Tentang Kepariwisataan tidak ada aturan khusus mengenai hal itu, sangat memungkinkan perda ini akan gugur ketika nanti ada peraturan baru. Apalagi anggota HPI di Bali mencapai lebih dari 5.000 orang, di luarnya sejumlah lagi pramuwisata belum berlisensi tetap beroperasi, dan terdapat pula warga asing yang bekerja sebagai pramuwisata dan biro perjalanan dengan visa turis. “Sepertinya kita sebagai pramuwisata kurang terproteksi di sini,” kata Sang Putu Subaya khawatir. Mempertegas syarat dan ketentuan untuk menjadi pramuwisata dan menjalankan peraturan dengan penuh komitmen, itulah yang bisa dilakukan saat ini. Bagaimanapun seperangkat regulasi untuk melindungi lapangan kerja domestik bagi pramuwisata Indonesia sangat diperlukan. Itu sama arti-

Mempromosikan sebuah destinasi wisata berarti kita memberikan informasi yang akurat mengenainya. Daya tarik ini kemudian dikemas menjadi sebuah informasi yang riil. Sedikit ada yang tidak benar maka sulit untuk meyakinkan calon wisatawan lain ­untuk berkunjung kembali. Mempersiapkan promosi, melibatkan pelaku industri pariwisata dan frontliner seperti pramuwisata adakalanya diperlukan mengingat mereka yang berhubungan langsung dengan obyek wisata. Tidak perlu terjadi, ketika di negaranya calon wisatawan melihat promosi obyek wisata dari suatu daerah destinasi Indonesia, namun kemudian tidak menemukan hal-hal yang dipromosikan itu saat dia berkunjung ke destinasi tersebut. Atau, apa yang diharapkan oleh wisatawan dari informasi wisata yang diperolehnya jauh dari kenyataan ketika dia mengunjungi destinasi dimaksud. Pemda yang ingin mempromosikan daerahnya sebagai destinasi wisata juga harus memilih sasaran pasar. Misalnya ­Kalimantan yang cocok untuk wisata petualangan dan memiliki pasar tersendiri. Wisata ini memang berbiaya relatif mahal. Namun impresi wisatawan yang pernah mengalami dan merasakannya bisa berkata “It is extremely good”. Meskipun banyak yang datang ke sini adalah para backpacker, wisatawan dengan high budget pun nyatanya datang. Mereka ini benar-benar ingin merasakan petualangan. Sama halnya dengan alasan orang datang ke Bali untuk melihat sawah, tarian Bali, tampilan seni budaya dan keindahan alam; keindahan dan ­kemegahan Candi Borobudur dan Prambanan, atau indahnya matahari terbit di Bromo. Semua destinasi pariwisata membutuhkan orang-orang dengan pelayanan yang baik agar wisatawan mau datang kembali lagi. Meskipun obyeknya bagus, pelayanan akomodasi baik, tapi pemandunya tampak tidak peduli, itu pun tidak akan menjadi apa-apa. Tetapi jika pemandu berbicara dan piawai menunjukkannya kepada para tamu, mereka niscaya menikmatinya. Jadi yang harus ditingkatkan adalah sumber daya manusianya. Destinasi pariwisata harus bisa menyiapkan pemandu yang baik, hotel yang bersih dan bagus, transportasi dalam kondisi baik dan siap dipakai, di dalamnya telah disiapkan sebotol kecil air minum, atau handuk segar. Sesuatu seperti inilah yang akan dihargai oleh para tamu. Jadi, menurut para pramuwisata yang berbicara ini, profesi sebagai pramuwisata bukan hanya asal cuap, karena mereka representasi dari destinasi. Sehingga saat kembali ke negara asal, wisatawan akan merasa puas dan membawa kenangan tak terlupakan. n

33


Indikator Perkembangan Transportasi Nasional Januari–Agustus 2012 (Dalam Ribuan Orang)

Jumlah Kunjungan Wisatawan Mancanegara Menurut Pintu P i n t u No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22.

Kebangsaan

Kode Negara

SoekarnoHatta

Ngurah Rai

Polonia

M a s u k Batam

Juanda

Utama Sam Ratulangi

Entikong

Minangkabau

Adi Sumarmo

Singapura SPO 108,490 68,326 7,309 435,286 10,892 1,361 139 106 669 Malaysia MLS 183,444 105,800 86,382 106,574 26,115 384 13,404 16,676 6,008 Jepang JEP 125,942 118,615 976 13,781 4,454 876 24 85 200 Korea Selatan KS 64,251 82,130 849 37,097 2,278 222 122 19 85 Taiwan TWN 37,474 70,695 1,565 2,514 5,117 49 171 12 11 China RRC 130,051 219,760 3,814 17,229 8,193 509 679 313 90 India IND 39,973 31,892 1,197 21,206 2,045 69 51 42 161 Philippina PHI 23,670 11,752 720 25,216 1,179 265 243 47 21 Hong Kong HKG 19,145 17,071 1,055 1,524 2,661 373 116 38 27 Thailand TAI 22,722 22,968 1,770 2,682 2,477 178 24 63 193 Australia ALI 54,255 501,212 2,803 6,621 1,569 653 224 868 158 Amerika Serikat AS 51,952 59,358 2,109 7,425 3,849 1,118 82 171 235 Inggris ING 33,220 70,702 1,897 9,514 1,544 568 81 145 240 Belanda BLD 40,668 45,064 4,844 2,437 1,743 739 114 125 325 Jerman JB+JT 25,370 57,269 2,361 2,829 1,886 1,129 68 116 378 Perancis FRA 25,636 78,942 1,444 2,282 1,402 511 19 305 3,221 Rusia RUS 6,094 50,291 201 309 146 154 6 32 11 Saudi Arabia SAU 54,548 2,174 84 184 185 - - 7 7 Mesir MES 1,542 1,072 21 100 30 - 2 3 17 Uni Emirat Arab UEA 3,263 257 8 25 24 - - - - Bahrain BRN 327 198 9 28 2 - - - - Lainnya - 272,258 275,904 9,746 87,822 49,576 3,432 1,430 1,402 5,519 Jumlah 2012 1,324,295 1,891,452 131,164 782,685 127,367 12,590 16,999 20,575 17,576 Jumlah 2011 1,254,175 1,822,753 120,538 745,200 120,612 13,015 16,340 19,889 15,753 Pertumbuhan 5.59 3.77 8.82 5.03 5.60 -3.27 4.03 3.45 11.57 Kunjungan Wisman melalui Pintu Masuk Lainnya

Total Kunjungan Wisman melalui seluruh Pintu Masuk

34

Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012


Indikator

Sumber : Renstra Kemenparekraf 2012–2014.

Masuk dan Kebangsaan (Periode Januari–Agustus 2012) P i n t u Makassar

Mataram

Sepinggan

M a s u k

St Syarif Q-II Tanjung Priok Pknbaru

Tanjung Pinang

Utama Adi Sucipto

Husein Sas- Tanjung tranegara Uban

Balai Karimun

Jumlah 2012

2011

537 1,658 1,834 1,468 - 46,500 3,547 14,729 62,328 23,070 788,249 796,273 4,124 206 2,494 8,582 3 9,262 11,599 70,825 8,759 44,003 704,644 659,180 103 153 324 76 1 194 551 493 16,953 42 283,843 270,513 38 296 130 106 8 316 198 328 18,626 63 207,162 200,565 34 5 29 130 - 135 73 76 4,258 134 122,482 138,194 99 89 1,309 309 8 2,161 384 320 27,099 282 412,698 328,743 48 131 584 321 66 1,369 438 545 14,245 836 115,219 106,541 85 61 268 111 24 1,350 263 270 8,500 447 74,492 66,499 30 93 44 78 - 200 87 101 6,688 101 49,432 46,553 47 15 167 94 1 158 595 461 920 312 55,847 50,364 139 399 907 162 10 416 550 564 8,989 103 580,602 565,232 175 365 480 313 3 352 798 662 5,680 131 135,258 125,891 173 1,115 429 122 6 533 814 388 10,175 75 131,741 128,098 179 532 117 47 2 191 634 391 1,416 33 99,601 105,570 231 655 267 90 4 216 747 245 4,508 58 98,427 91,069 363 806 502 47 1 378 1,609 264 5,261 82 123,075 118,536 13 204 63 14 1 32 144 27 1,540 12 59,294 56,053 3 37 4 4 - 6 1 97 60 62 57,463 54,322 1 1 5 3 - 3 3 12 14 - 2,829 2,132 - - - - - - - 11 20 - 3,608 3,378 - - - - - - - 11 4 - 579 486 2,480 2,651 1,655 959 42,265 6,154 11,764 1,927 20,716 1,498 799,158 774,888 8,902 9,472 11,612 13,036 42,403 69,926 34,799 92,747 226,759 71,344 4,905,703 4,689,080 9,025 12,022 10,452 14,637 42,722 68,691 33,323 75,708 225,413 68,812 -1.36 -21.21 11.10 -10.94 -0.75 1.80 4.43 22.51 0.60 3.68 306,001 275,087

Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012

5,211,704 4,964,167

Pertumbuhan (%) -1.01 6.90 4.93 3.29 -11.37 25.54 8.15 12.02 6.18 10.89 2.72 7.44 2.84 -5.65 8.08 3.83 5.78 5.78 32.69 6.81 19.14 3.13 4.62

11.24 4.99

Sumber : BPS

35


Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Direktorat Jenderal Pemasaran Pariwisata

www.indonesia.travel

www.parekraf.go.id

T

25 November–2 Desember 2012 7–12 ­November 2012

ahunPertama 2012, kegiatan even akan berdi duniamenyelenggarakan kombinasi 3 Lomba: langsung di seluruh Indonesia, mencapai jumlah sekitar 100 Triboatton di Sungai Musi, even, di antaranya disponsori oleh Kemenparekraf. 25Obyek November–2 Desember 2012. daya tarik wisata yang paling banyak diminati masyarakat, di pulau Uniknya, pulau iniproduk merupakan Kunjungi danberlokasi saksikanlah. KitaJawa. sedang memasarkan baru pasar sekaligus juga destinasi wisata nusantara. Maka, jika penduduk destinasi pariwisata dengan salah satu kekayaan Tanah Air dari hebat Jawa berwisata ke pulau-pulau lain, dan sebaliknya, terjadilah yang : sungai-sungai besar dan keunikan alam dan budaya pergerakan yang dinamis. nanwisata mengesankan. Untuk wisman dan wisnus.

Kemenparekraf menciptakan dan mendukung Tourism Event untuk pemasaran pariwisata di dalam negeri dan di luar negeri.

29 Juni-1 Juli 2012 19–21 Oktober 2012

4–10 Juni 2012

Nopember 2012 9–12 Oktober 2012 BANDAR LAMPUNG

3622–23 Juni 2012

Festival Budaya Lembah Baliem

18–21 Oktober 2012

Vol. 3 l No. 34 l Oktober 2012


Edisi 34 - Newsletter Pariwisata Indonesia Edisi Terbaru September 2012