Issuu on Google+

Edisi 7: September 2011

http://mitimahasiswa.com | e.mitimahasiswa@gmail.com | @miti_mahasiswa

photo credit: freefoto.com

Resep Sukses “Seorang yang lebih sukses meneliti lebih banyak, berpikir lebih luas, dan mengerti lebih mendalam” Sebagai ilustrasi, saya beri sebuah kisah dari hasil diskusi dengan teman-teman di kantor. Joni dan Edi sama-sama diterima di sebuah perusahaan distribusi FMCG sebagai salesman. Setelah lulus, mereka bekerja keras. Dua tahun kemudian, atasan mereka, Pak Ridwan, mengangkat Edi menjadi sales supervisor, sedangkan Joni tetap saja menjadi salesman. Suatu hari, Joni tidak tahan lagi. Dia ingin mengajukan pengunduran dirinya. Joni beralasan bahwa perusahaan ini tidak memperhatikan orang yang bekerja keras, hanya orang pandai menjilat atasan saja yang bisa naik. Pak Ridwan tahu bahwa Joni pekerja keras, tetapi untuk menyadarkan Joni apa bedanya dia dengan Edi, Pak Ridwan memberikan satu tugas kepada Joni. Ia meminta Joni untuk menemukan seorang pedagang semangka di pasar yang tidak jauh dari kantor. Saat Joni kembali, Pak Ridwan bertanya, “Sudah kau temukan Jon?” ”Sudah pak,” jawab Joni. “Berapa harga semangkanya?” tanya pak Ridwan. Joni pergi ke pasar lagi untuk menanyakan harga semangka lalu kembali menghadap pak Ridwan dan berkata “Rp.5000 per kilo pak”. Pak Ridwan berkata kepada Joni bahwa ia akan memberikan perintah yang sama kepada Edi.

Edi pergi ke pasar dan setelah kembali, Edi menghadap Pak Ridwan dan melapor, “Di pasar hanya ada satu pedagang semangka, harganya Rp 5000 per kilo. Kalau beli 100 kilo, akan mendapatkan potongan Rp 1000 per kilogramnya. Pedagang itu mempunya stok 325 biji, 32 biji dipajang di tokonya. Semangka didatangkan dari Indramayu dua hari yang lalu. Warna semangkanya segar dan isinya merah jingga. Kualitasnya bagus. Dua pekan lagi pedagang tersebut berencana akan menambah stoknya karena permintaan yang bertambah.” Joni sangat terkesan dengan laporan Edi dan memutuskan untuk tidak jadi mengundurkan diri tetapi akan belajar lebih banyak dari Edi. Rekan-rekan sekalian, bekerja lebih keras saja tidak cukup. Seorang yang lebih sukses meneliti lebih banyak, berpikir lebih luas, dan mengerti lebih mendalam. Untuk alasan yang sama, seseorang yang lebih sukses melihat beberapa tahun kedepan sedangkan yang lain hanya melihat esok hari saja. Perbedaan 1 hari dan 1 tahun adalah 365 kali lipat, how could you win? Akhirnya, apapun prestasi yang rekan-rekan impikan, semoga Yang Maha Kuasa memberikan kemampuan serta keinginan yang kuat kepada rekan-rekan dalam mencapainya! SALAM AKSELERASI! Andrie Javs Presiden MITI-M

1


Kajian Utama

Meningkatkan Partisipasi PKM Sekarang saya mau menguji kreativitas Anda. Coba ambil selembar kertas dan alat tulis, lalu gambar bebek di atas kertas tersebut!

Demikian instruksi seorang pembicara dalam sebuah seminar mengenai inovasi. Para perserta kemudian sibuk menggambar bebek versi mereka masingmasing. Setelah selesai, pembicara berkeliling melihat gambar peserta. Bagaimana gambar bebek yang dilihatnya? Kebanyakan gambar bebek nampak samping, menghadap ke kiri, serupa angka “2”. Mengapa ketika menggambar bebek, kebanyakan orang menggambarnya dengan menghadap ke samping seperti angka “2”? Bukan hadap kanan, tampak depan, atas, atau pun hanya berupa titik saja (bebek di kejauhan)? Karena begitulah yang kita ingat sejak diajarkan guru dahulu. Begitu pula jika diminta menggambar pemandangan, standarnya adalah: dua gunung dengan matahari di antaranya, ditambah sawah di bawahnya. Padahal banyak pemandangan lain yang bisa digambar. Pendidikan formal di Indonesia agaknya kurang memberi ruang untuk mengasah kreativitas. Semua murid diharuskan duduk mengikuti pelajaran yang sama. Prestasi dinilai berdasarkan patokan yang sama pula. Bukan tidak mungkin, bakat alami di luar bidang yang diajarkan di sekolah tidak muncul dan bahkan hilang. Padahal kreativitas merupakan hal yang mutlak dibutuhkan oleh dunia pada era globalisasi seperti sekarang. Dengan kreativitas, manusia akan mampu melahirkan gagasan baru yang cemerlang guna mengatasi berbagai permasalahan dalam hidupnya. "Terobosan kreatif di berbagai bidang mampu melahirkan hasil yang optimal, sehingga saya tidak ragu untuk mengatakan kreativitas adalah kunci keberhasilan di masa depan," ujar Seto Mulyadi pada sebuah media cetak nasional.

2

Di level perguruan tinggi, sudah ada banyak sarana mengasah kreativitas yang berupa  kompetisi kreativitas mahasiswa, salah satunya adalah PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) yang dibuat oleh DIKTI. Tujuannya adalah meningkatkan kualitas mahasiswa di perguruan tinggi agar kelak dapat menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademis dan/atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan, dan menyebarluaskan IPTEK dan/atau kesenian serta memperkaya budaya nasional. Mahasiswa dapat mengajukan proposal PKM yang akan diseleksi DIKTI untuk kemudian dibiayai. Setelah program yang dibiayai berjalan, akan dilakukan monitoring dan evaluasi, hingga akhirnya diseleksi lagi karya yang bisa diikutsertakan di Pimnas (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional). Menurut Ronny Rachman Noor, Ketua Dewan Juri PKM dan Pimnas 2011, selama dua tahun terakhir ini, jumlah proposal yang masuk meningkat tajam hingga mencapai 23.000 proposal. Namun terbatasnya dana yang disediakan tentunya membuat seleksi yang ketat harus dilakukan, sehingga, tiap tahunnya hanya ada sekitar 5000 proposal yang dibiayai oleh DIKTI. Sayangnya, partisipasi dari kampus belum merata. Selama ini peserta PKM ataupun PIMNAS didominasi oleh mahasiswa kampus-kampus di pulau Jawa. Pada tahun 2011, sebanyak 79 % kelompok yang lolos ke PIMNAS berasal dari kampus di pulau Jawa. Begitupun juara PIMNAS maupun peringkat 10 besar masih didominasi kampus dari pulau Jawa. Di beberapa kampus mungkin saja antusiasme mahasiswa terhadap PKM ini sangat rendah. Lalu bagaimana meningkatkan kuantitas dan kualitas partisipasi PKM di kampus? Setidaknya ada 3 faktor yang perlu dipertimbangkan.


Kajian Utama

Meningkatkan Partisipasi PKM

1. Sosialisasi dan Fasilitasi Persiapan PKM Sosialisasi dan fasilitasi persiapan ini sangat penting. Di tahap inilah kampus bisa memaksimalkan upaya agar banyak mahasiswa mengirim proposal PKM mereka. Dimulai dari sosialisasi yang menyeluruh dari DIKTI ke seluruh kampus di Indonesia, dilanjutkan dengan sosialisasi menyeluruh di internal kampus. Sosialisasi saja tidak cukup, karena itu kampus perlu menyediakan fasilitas untuk menyiapkan pendaftaran PKM seperti pelatihan membuat proposal dengan format yang benar. Hal ini menjadi salah satu kunci sukses bagi UGM yang sudah 2 tahun mempertahankan juara umum Pimnas. Menurut M. Zia Anggiawan (Anggi), Presiden Gama Cendekia Universitas Gajah Mada (GC UGM) 2010, perlu ada dorongan secara top down (rektorat/dekanat) dan bottom up (mahasiswa/lembaga penalaran mahasiswa) untuk sosialisasi dan fasilitasi. GC UGM pernah mengadakan research camp untuk menghasilkan banyak ide/tema PKM, dilanjutkan dengan sekolah penelitian, mentoring PKM yang dipandu oleh mahasiswa yang sudah berpengalaman dengan PKM. Sosialisasi dan fasilitasi ini bisa dikemas dalam sebuah gerakan untuk menyemangati mahasiswa agar berpartisipasi mengirim proposal PKM. Sebagai contoh, pada tahun ini UI membuat gerakan “UI to Pimnas� yang menyebarkan informasi melalui media online seperti website dan akun twitter, serta membuat seminar dan acara pelatihan tentang Pimnas, penulisan proposal/karya tulis, dan presentasi. Melalui akun twitter @UItoPimnas, penyebaran informasi dan sharing dari alumni Pimnas pun menjadi tidak dibatasi ruang dan waktu dan bisa menjangkau siapa saja. Agar menghasilkan proposal yang berkualitas, fasilitasi tidak cukup sebatas pelatihan tapi juga perlu pendampingan selama proses pembuatan proposal. Beberapa kampus sudah ada yang memasukkan proses ini ke dalam rangkaian penyambutan dan orientasi mahasiswa baru. Membuat proposal PKM dimasukkan sebagai tugas kelompok dalam proses orientasi tersebut. Tentunya dengan didampingi mentor, agar prosesnya terarah.

2. Pendampingan Monitoring dan Evaluasi Setelah proposal disetujui, sama halnya seperti persiapan, pihak rektorat/dekanat dan atau mahasiswa perlu memfasilitasi monitoring dan evaluasi. Menurut Anggi, di UGM, pihak rektorat sangat mendukung dengan mengadakan monitoring dan evaluasi internal, dan juga karantina khusus bagi mahasiswa yang karyanya lolos ke Pimnas.

3

Bahkan dalam pelaksanaan program setelah proposal disetujui, jika dana dari DIKTI belum turun, tidak jarang rektorat/dekanat memberi dana pinjaman agar program tetap berjalan sesuai jadwal.

3. Insentif dan Follow Up Kedua hal ini bisa menjadi faktor yang menarik mahasiswa untuk berpartisipasi dalam PKM. Insentif, dalam bentuk yang sederhana bisa berupa dana untuk mengganti biaya pembuatan proposal. Bahkan bisa jadi bentuknya adalah tambahan nilai atau kredit tersendiri dalam catatan akademik mahasiswa. Follow up juga tidak kalah pentingnya, karena akan menambah semangat mahasiswa bila karyanya dihargai. Selama ini sudah banyak sekali karya PKM terkumpul, sayangnya banyak masyarakat tidak mengetahuinya. Karya yang benar-benar inovatif mungkin bisa mendapat paten, tapi belum banyak yang bisa mencapai hal ini. Cara lainnya adalah menerbitkan jurnal dari karya-karya pilihan PKM mahasiswa, seperti yang sudah dilakukan rektorat UGM melalui bidang kemahasiswaan. Selain itu, program yang telah dilaksanakan dapat diusahakan agar berkelanjutan. Program kewirausaahaan berbasis teknologi informasi misalnya, dapat diikutsertakan dalam lomba ataupun komunitas startup (rintisan usaha), yang sekarang sedang booming di Indonesia dan dunia. Pada akhirnya, upaya meningkatkan partisipasi PKM adalah bagian dari usaha meningkatkan kultur ilmiah di kampus. Secara umum, mindset mahasiswa perlu diarahkan agar tidak hanya mengejar nilai kuliah, tapi juga secara kongkrit berkontribusi pada masyarakat dengan ilmunya. Jiwa kreatif, inovatif, dan kontributif tidak akan muncul jika mahasiswa hanya duduk di ruang kelas saja. Memperbanyak membaca, perluas jaringan dan diskusi, melihat realita masyarakat sekitar tentu akan membantu untuk mendapatkan ide-ide yang dapat diimplementasikan, salah satunya melalui PKM ini. Dengan demikan, semoga makin banyak karya nyata mahasiswa yang bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya . -Hening-

Jangan lupa... Ikuti PKM tahun ini !


Profil

Menuai Emas dalam Pimnas Siapa tak kenal ajang penganugerahan terakbar di kalangan mahasiswa saat ini? Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) berawal dari kegiatan kemahasiswaan yang mencakup lomba karya tulis dan karya ilmiah pada sejumlah universitas. Pimnas kemudian menjadi acara rutin tahunan. Hal ini dikarenakan minat mahasiswa yang semakin besar tiap tahunnya. Kegiatan ini menawarkan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) di bidang penelitian, teknologi, kewirausahaan, dan pengembangan masyarakat. Kegiatan yang melibatkan perguruan tinggi negeri dan swasta ini mampu menarik minat mahasiswa di seluruh Indonesia untuk ikut berkompetisi menjadi yang terbaik. Tak terkecuali Adi Setiawan, mahasiswa jurusan Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bersama rekanrekannya, Adi berhasil membawa medali emas dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Pengembangan Masyarakat di Pimnas ke-XXIV Makassar Juli lalu. Kelompok yang Adi miliki beranggotakan lima orang, yakni M. Hamdani (Ilmu Komputer 2008), Junaida Astina (Gizi Masyarakat 2008), Diana Mardhiah (Gizi Masyarakat 2008), Ade Ayu (Gizi Masyarakat 2008), dan Adi sendiri. Mereka memulai pertemuan perdana dengan pembahasan mengenai tema PKM dan penentuan dosen pembimbing. Tema yang mereka usung berlatar dari kepedulian terhadap kesehatan dan kebersihan lingkungan yang dikorelasikan dengan pendidikan lewat permainan. Studi ekologi manusia dalam tema yang mereka ajukan mendapat bimbingan dari Megawati Simanjuntak, SP, MSi hingga menembus Pimnas.

Aktivitas Tim Pekan di salah satu SD yang menjadi percontohan

4

Adi (paling kanan) dan tim PEKAN

Proposal PKMM dengan judul “Permainan Edukasi Kesehatan dan Aksi Lingkungan (PEKAN) dalam Rangka Menciptakan Agen Perubahan Sejak Dini� mendapat dana dari pihak penyeleggara yakni Dinas Pendidikan Tinggi (Dikti). Sasaran utama yang mereka tuju adalah sekolah dasar yang kurang terawat dan terjaga kebersihannya. SDN Balumbang Jaya 2 Bogor menjadi target utama dari PEKAN ini. Program PEKAN yang mereka lakukan tergolong unik. Kelompok Adi memadukan kombinasi metode permainan baik dalam segi bentuk metode, ukuran media, dan jumlah pemain. Selain itu, beberapa permainan tradisional dimodifikasi sesuai dengan tema lingkungan dan kebersihan. Permainan ular tangga, arena bersih ceria, dan jingkring (engklek) adalah salah satunya. Program yang dilaksanakan di sekolah selama seminggu sekali ini disambut baik oleh tenaga pendidik, guru, serta murid di SDN Balumbang Jaya 2 Bogor. Keberhasilan program ini diukur berdasarkan kriteria kecerdasan kognitif, afektif, dan psikomotorik dari siswa bersangkutan. Evaluasi yang diadakan pada akhir program menunjukkan perubahan perilaku siswa yang signifikan dari siswa menjadi agen perubahan kesehatan dan lingkungan. Perjalanan tim Adi menuju PIMNAS tidaklah mudah. Beberapa kerikil sempat mengganjal kelompok ini di tengah jalan. Namun, dengan semangat dan kegigihan, Adi dan kawan-kawan berhasil melewatinya.


Kelompok PKM Adi berhasil menjadi menjadi tim terbaik dalam pameran PKM yang diadakan oleh IPB. Mereka juga berhasil memboyong medali emas di Pimnas Makassar. Rahasia dari kesuksesan yang diraih tim Adi adalah moto SUCCESS. Siapkan 'will power',  usahakan 'mimpi', ciptakan 'super team', ciptakan mental 'juara', enaknya pembimbingan, dan semangat merupakan penjabaran SUCCESS. Kedepannya, Adi dan kawan-kawan berharap PEKAN dapat merambah ke sekolah-sekolah lain di seluruh Indonesia. “Selain itu, PEKAN diharapkan mampu mencetak agen-agen kesehatan dan kebersihan semenjak dini secara berkelanjutan,” tutur Adi. Jadi, tunggu apalagi? Siapkan diri dan tuai emas di Pimnas!

Training of Trainer PEKAN kepada orang tua dan murid SD

-Riska-

agenda Pembinaan Wilayah

HRD

Training Kelembagaan

24-25 Sept 2011

Temu Wilayah Sumatera

24-25 Sept 2011

Seleksi Tahap 2 MITI Award (penilaian esai)

7-21 Sept 2011

Wawancara finalis MITI Award

22-30 Sept 2011

Akses download jurnal

HLN

Informasi beasiswa Siaran radio www.radiopengajian.com

-Asnia-

5


Kabar Kampus Mitra Bulan Agustus telah terlewati. Beberapa kampus mitra MITI-M berhasil menyelenggarakan agendanya dengan baik. Universitas Negeri Jenderal Soedirman (Unsoed) melalui UKMI Fabio akan mengadakan "Inovasi dan Kreasi Muslim 2011 (INDIGENUS)", ajang kompetisi karya tulis, esai, dan lomba poster di bulan Oktober. Universitas Negeri Solo (UNS) dengan sukses telah mengadakan kegiatan ASTRA 1. Acara yang dilangsungkan tanggal 13 Agustus 2011 di Aula Gd. A FKIP ini diisi dengan materi tentang Perang Pemikiran. Kabar buka puasa bersama hadir dari Universitas Hasanuddin (Unhas). Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh UKM KPI dan UIMC bersama seluruh UKM Universitas dengan peserta l50 orang. Universitas Sumatera Utara (USU) mengadakan Seminar Beasiswa ACIKITA pada tanggal 20 Agustus 2011 di aula fakultas teknik. Berbeda dengan kampus lain, Politeknik Negeri Semarang (Polines) memanfaatkan Agustus untuk mengeratkan silaturrahim. UKM Jazirah Polines membuat dan mengelola sebuah mailing list bagi seluruh pengurus UKM. Fungsinya sebagai sarana publikasi dan media diskusi. UKM Prima dari Universitas Mataram (Unram) mengadakan Kegiatan Studi Pengenalan Program Kreativitas Mahasiswa (SPPKM) yang dirangkai dengan buka puasa bersama. Acara yang dihadiri 40 orang ini diselenggarakan tanggal 5 Agustus 2011. SPPKM bertujuan untuk mendampingi mahasiswa penerima beasiswa di Unram. Selain UKM Prima, UKM Argument juga melaksanakan Penyambutan Mahasiswa Baru (PMB) dengan melakukan presentasi perkenalan UKM. Informasi yang tidak kalah menarik datang dari Universitas Diponegoro (Undip). Pendampingan studi lanjut ke Jepang yang dilangsungkan pada 20 Agustus 2011 berjalan dengan baik. Sekitar 300 peserta hadir mendengarkan pembekalan dari Firman Alamsyah, M.Si, penerima beasiswa Monbukagakusho Universitas Tokyo di tahun 2008. Kegiatan ini diselenggarakan oleh MITI-M, Forum Akademik Undip (FAU) dan panitia Ramadhan Masjid Kampus Undip. Semoga kabar dari berbagai kampus ini mendorong kampus lainnya untuk menggiatkan acara keilmuan. Sebab, berlomba-lomba dalam kebaikan akan mendorong semangat perjuangan. -Hida-

6


Buletin Akselerasi September 2011