Page 1

EKSPLOR

PACITAN gua dadali gua jebulan gua perak gua gong PALAWA UNPAD


palawa unpad

Eksplor Pacitan ahmadhevicko


Eksplor Pacitan Penulis: Ahmadhevicko

14,8 x 21 cm | xii + 37 hlm. Cetakan Pertama, 2014

Diterbitkan oleh Angsana Press Jalan Raya Bandung Sumedang km.21 Kompleks UKM Barat, Kampus Unpad, Jatinangor.45363 palawaunpad.com

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang. Silakan mengutip sebagian atau keseluruhan isi buku untuk keperluan pendidikan dan ilmu pengetahuan, atau sebatas senang-senang, kecuali untuk urusan komersial.


KATA PENGANTAR

P

erjalanan penelusuran gua kali ini dilakukan di Kabupaten Pacitan, Provinsi jawa Timur. Berbagai aktivitas yang dilakukan selama di lapangan kemudian dicatatkan oleh personal yang tergabung dalam tim penelusuran dan kelak akan dijadikan bahan untuk penulisan laporan kegiatan. selain itu penulisan aktivitas lapangan juga akan bermanfaat sebagai bahan jika kelak dalam waktu yang selanjutnya gagasan untuk menyusun sebuah buku jadi dilaksanakan. Berbagai catatan yang dikumpulkan dalam buku ini tidak akan banyak membicarakan petualangan selama di Pacitan, melainkan hanya sebatas rangkaian aktivitas-aktivitas lapangan, baik yang termasuk petualangan maupun yang nonpetualangan. Banyak hal yang mungkin luput dari perhatian dan belum sempat masuk dalam catatan. Dikumpulkannya catatan ke dalam bundel jilid ini tidak lebih hanyalah usaha yang boleh jadi disebut sebagai ikhtiar dari anggota. Jika kelak dewan pengurus merasa usaha ini kurang memadai, kami tentu harus selalu siap untuk membuat revisi. Berbagai catatan pada kenyataannya tidak dapat dimasukkan semua karena saat pengumpulan ini dilakukan masih terdapat personal tim yang belum mengumpulkannya, kepada mereka kami

Palawa Unpad

| v


memohon maaf, semoga kelak pada revisi jilid ini berbagai catatan yang mereka buat dapat disertakan ke dalam kumpulan catatan ini. Adapun catatan yang berhasil dihimpun dalam jilid ini bukanlah tulisan yang sudah "jadi" sehingga jika ditemukan berbagai kekeliruan tentu semua menjadi tanggungjawab penulisnya. Semoga usaha yang dilakukan ini sedikitnya dapat menjadi manfaat dan turut meramaikan aktualitas dari berbagai gagasan yang tidak jarang saling silang dan bersahut-sahutan. Kepada pembaca, selamat menggali.

Redaksi Jatinangor, Mei 2014

vi

|

E k sp l o r P ac ita n


Perjalanan Panjang Menuju Pacitan Bersama Saudara di Palawa Unpad


bagian 1.1

K

ereta mulai bergerak keluar stasiun Bandung tepat pukul 08.00 WIB. Permulaan yang bagus. Setengah jam sebelumnya kami sudah tiba di stasiun setelah bermalam bersama di Bandung. Jarak panjang Jatinangor - Stasiun Hall menjadi pertimbangan penting, kami kuatir telat. Itulah sebab sehingga sejak awal Kamis (30/4) malam kami yang terdiri dari empat orang anggota PLW: Ronald Agusta yang biasa dipanggil Kang Onath, Baihaqi atau Baw, Fuadi Sejahtera atau Nanang NK, dan saya sendiri, yang sekarang mencatatkan ini, mulai bergerak ke Bandung, berusaha mendekat ke stasiun. Kebetulan sekali, di antara semua, kediaman Kang Onath yang terletak di kompleks Muarasari, menjadi pilihan yang paling cocok sehingga pantas diutamakan. Kemarin kami semua sudah masuk Bandung. Nanang NK langsung duduk di hadapan layar komputer setelah kami sampai di Muarasari. Dia bertugas mengecek kembali penampang lanskap geografis Pacitan. Koordinat geografis dua buah gua yang akan kami telusuri sudah dicatat pada selembar kertas kuarto. Mengenai gua-gua di Pacitan, kami

Palawa Unpad

| 1


banyak memperoleh informasi yang memudahkan perencanaan perjalanan ini dari laporan yang disusun oleh Tim Pacitan 2008, selain beberapa bahan lain. Tim Pacitan 2008 tersebut terdiri dari empat orang anggota muda Palawa yang menjalankan salah satu syarat wajib pemerolehan Nomor Pokok Palawa atau yang lazim disingkat NPP. Tim yang terdiri dari Jaya, Maggie, Rina, dan Indra kali itu menelusuri 6 buah gua, dua di antaranya akan kembali kami telusuri pada trip kali ini. Nanang memasukkan koordinat geografis Gua Jebulan dan Gua Perak ke dalam kolom kosong yang disediakan oleh peranti lunak Google Earth. Setelah titik lokasi lubang gua diketahui kemudian ditarik garis hubung ke titik pusat kota Pacitan. Kami berencana akan menjadikan hotel Srikandi yang terletak di pusat kota Pacitan sebagai tempat bermalam. Ketepat-waktuan menjadi preseden baik pada pagi hari ini. Kereta pergi sesuai dengan jadwal. Matahari cerah, sinarnya menerobos masuk gerbong yang ditarik lokomotif yang bergerak cepat ke arah timur. Tadi di stasiun kami berempat bertemu dengan Bu Vera, orang Badan Geologi, yang juga akan melakukan survey. Berbeda dengan kami yang akan mendatangi Pacitan, Bu Vera kali ini akan ke Solo. Kami mendengar cerita, katanya beberapa waktu yang akan datang akan digelar sebuah perhelatan berwujud simposium internasional tentang kegunung-apian. Para vulkanolog sedunia akan datang dan bertemu di Jogja. Sebagai persiapan awal acara tersebut, Bu Vera ditugasi menyurvei beberapa hal yang berkenaan dengan akomodasi dan lain sebagainya. Mula cerita rencana perjalanan caving kali ini diawali dengan sandek yang dikirimkan oleh Kang Onath. “Dua minggu ke depan kita akan mendokumentasikan kawasan karstt Pacitan.� Begitu katanya. Berbeda dengan perjalanan sebelumnya, yaitu trip caving ke Cikatomas dan Gombong Selatan, kali ini Palawa hanya akan mengirimkan tim kecil yang cuma empat personil saja. Saya pun segera meresponnya, kami pun segera berbalas sandek. Langkah awal, untuk penentuan gua mana saja yang akan kami datangi,

2

|

E k sp l o r P ac ita n


laporan Pengembaraan 2008 pun segera dibuka-buka, dibacabaca. Kami membutuhkan informasi, maka kami pun berusaha mencari informasi. Dorongan untuk segera memenuhi kebutuhan tidak bisa ditahan-tahan. Apakah ada alasan sehingga pemenuhan perlu tertahan? Segala alasan yang tumbuh dan berkembang segera bertumbangan saat diuji secara rasional. Peribahasa al-waktu asmanu mina al-zahaabi atau time better than money berdengung di pendengaran. Tentu saja sigap berbeda dengan grusa-grusu. Gua Perak dan Gua Jebulan menjadi titik destinasi. Berbagai deskripsi menarik dituliskan oleh Tim 2008. Bagi kami semua itu inspiratif. Memang beberapa kali kami temukan typo atau gramatika yang kurang efektif, meski demikian semua itu tidak terlalu mengganggu penggambaran sehingga kami dapat segera menyusun pemaknaan secara holistik. Berikut kami kutipkan secara utuh beberapa bagiannya.

* “Tim bangun pukul 05.00 WIB, hari itu Indra yang membangunkan tim semua yang kelelahan dan terlalu malam tidur. Sementara Rina dan Jaya menyiapkan sarapan, Maggie dan Indra menyiapkan peralatan dan perbekalan. Tim sarapan pukul 06.45 WIB dan berangkat menuju Gua Jebulan pukul 08.15 WIB dan sampai di lokasi 08.45 WIB Hari itu tim melakukan pergerakan berempat saja tanpa para pendamping. Tim langsung menuju tempat di mana lorong bertingkat berada. Tim pun menaiki dinding gua dengan hati-hati untuk sampai ke lorong itu. Saat itu pergantian tugas, Maggie sebagai leader, Jaya sebagai shooter, Indra sebagai stationer, dan Rina sebagai descriptor. Selesai mengambil data di lorong bertingkat, Tim meneruskan pengambilan data di lorong sebelah kiri, yaitu dimulai dengan stasiun 54a. Sepeti halnya kemarin, lorong di sebelah kiri ini juga

Palawa Unpad

| 3


mengharuskan beragam posisi shooter dan stationer dilakukan. Descriptor kali ini, berbekal pengalaman descriptor sebelumnya, lebih hati-hati dengan worksheet yang dibawanya dengan selalu mengecek klip pada map yang dibawanya. Tim istirahat untuk makan siang di mulut gua pada pukul 12.15 WIB, lalu tim memasak air untuk bekal di Gua Dadali nanti. Pukul 13.00 WIB Tim bergerak menuju Gua Dadali, dan sampai pada pukul 13.15 WIB. Kali ini Indra menjadi leader, Maggie shooter, Rina Stationer, dan Jaya descriptor. Gua ini memiliki beberapa chamber yang tim ambil datanya dengan poligon terbuka. Pukul 16.30 WIB, tim telah selesai mengambil data di Gua Dadali. Informasi tentang panjang gua ini juga terdapat kesalahan, ternyata panjang lorongnya tidak sampai 60 m. Tim pun beristirahat di depan mulut gua sambil menyantap snack dan mengobrol panjang lebar karena hari masih sore. Sinar matahari terasa begitu lembut membelai tim karena berpadu dengan angin sepoi, sedangkan alam menyuguhkan pemandangan indah termasuk langit yang kala itu memadu warna jingga, merah muda, putih dan biru muda pada wajahnya. Pukul 17.20 WIB, Kang Dayat dan Kang Mukhtar datang dengan perlengkapan caving, namun mereka terlambat karena tim telah selesai sejak tadi. Pukul 17.40 WIB tim kembali ke basecamp.â€?Â

* Setelah membaca, kami mengetahui bahwa tim 2008 membutuhkan waktu dua hari penelusuran untuk memetakan lorong Gua Jebulan. Gua Jebulan berada di Dusun Dasri, Desa Kluwih, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Lubang masuk gua berkarakter horizontal dan dari dalam gua mengalir ke luar sebuah aliran sungai. Fenomena keluarnya air

4

|

E k sp l o r P ac ita n


dari dalam gua menjadi pertimbangan sehingga akhirnya penduduk menamakan gua tersebut dengan nama Gua Jebulan. Kata /jebul/ dalam bahasa Jawa berarti /keluar/, maksudnya keluar air dari dalam gua. Lokasi gua terletak di dasar kaki bukit. Untuk mencapai lokasi lubang masuk gua, penelusur harus menuruni sebuah doline besar. Perlu waktu setidaknya setengah jam untuk sampai di dasar doline. Lubang gua berada di tengah hutan Jati milik warga. Gua Jebulan memiliki lorong bertingkat, terdiri dari lorong bawah dan lorong atas. Lorong tersebut dipetakan oleh Tim 2008. Di akhir penelusuran lorong bercabang dan membentuk sump sehingga memerlukan teknik penyelaman. Di bagian itulah penelusuran dan pemetaan terhenti. Selain Gua Jebulan, gua lainnya yang juga kami pilih yaitu Gua Perak. Berbagai informasi dasar kembali kami gali dari dalam buku laporan. Secara administratif Gua Perak berada di Dusun Kaliwaru, Desa Sidomulyo, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Mengenai gua ini, Tim 2008 juga menuliskan deskripsinya. Karakter gua berlorong horizontal, meski di dua bagian terdapat medan yang mengaharuskan penelusur chimneying. Melalui Google Earth kami memperoleh gambaran yang membenarkan deskripsi yang disusun oleh Tim 2008 bahwa lokasi lubang masuk Gua Perak sejarak 200 m dari jalan raya. Setelah penentuan gua dan personil, rencana operasi harian (ROH) pun segera disusun dan dari sana rencana anggaran biaya (RAB) pun dapat segera dibuat. Bagian menarik dari laporan Tim 2008 yang kami kutip di bawah ini layak mendapat perhatian. “Pak RW yang ternyata merangkap Kepala Dusun Sementara tidak keberatan mengizinkan tim berkegiatan di Gua Perak, dan menurut keterangannya, tidak ada mitos apapun ataupun adat yang harus dilaksanakan untuk kegiatan ini, asal hati-hati dan menjaga apa yang ada di gua. Saat itu tim memang agak was-was karena mendengar kisah dari tuan rumah dan teman MAHIPA UNMUH Ponorogo bahwa pada tahun 2003 pernah ada 3 orang anggota

Palawa Unpad

| 5


MAHIPA UNMUH Ponorogo yang tewas di Gua Perak karena terbawa arus air, bahkan 2 diantaranya tidak ditemukan hingga sekarang.� Jaya dan timnya juga melaporkan bahwa teman-teman Mahipa Unmuh, Ponorogo, juga membuat prasasti in memoriam untuk saudara mereka yang meninggal dalam sebuah penelusuran di tahun 2003. April dengan hujannya yang pril-pril baru saja berlalu, sekarang 1 Mei. Kereta terus bergerak cepat. Berulang kali speker yang tertanam di atap kabin gerbong mengeluarkan pemberitahuan bahwa perjalanan ini merupakan perjalanan bebas asap rokok. Penumpang dilarang merokok di dalam kabin gerbong, restorasi, di dalam bordes, maupun di dalam toilet kereta. Para perokok tentu kecewa dengan aturan tersebut meski tidak dapat berbuat apaapa selain menaati aturan yang berlaku. Penumpang yang nakal diancam akan diturunkan pada stasiun terdekat. Tentu itu ancaman yang berat. Kepada Nanang saya ucapkan sedikit nasihat yang menguatkannya, “Sabar bro, anggap aja puasa.� Kami menumpang KA Argo Wilis dari Stasiun Kota Bandung sampai dengan Stasiun Kota Jogjakarta yang lazim disebut Stasiun Tugu. Puluhan stasiun akan kami lintasi sebelum akhirnya turun dan berganti moda transportasi di Jogja nanti. Di sana kami akan menyewa sebuah mobil yang akan mengantarkan dan juga menemani petualangan kami selama di Pacitan nanti. Selain itu, di Jogja nanti kami pun akan bertemu dengan seorang peneliti bernama Harry Cahyono dari BPPTG, salah satu UPT di dalam lingkungan Badan Geologi, yang juga akan turut caving bersama kami. Kereta api kami melintasi Rancaekek. Ada informasi bahwa pemberhentian pertama kereta api ini di Stasiun Cipendeuy, Garut. Di Cipendeuy kereta api akan dicek kondisinya oleh para teknisi yang memerlukan waktu setidaknya sepuluh menit. Inilah waktu bagi para ahli hisap untuk menunaikan aktivitasnya. Benar, tidak lama kemudian kereta pun berhenti. Kami turun dari gerbong dan berdiri rileks di areal bebas merokok, menikmati pagi yang mulai beranjak tinggi. 6

|

E k sp l o r P ac ita n


bagian 1.2

P

erjalanan sejauh 396 km ditempuh dalam waktu kurang lebih 7 jam oleh KA Argo Wilis dan selama dalam perjalanan kereta hanya berhenti di Stasiun Cipeundeuy, Tasikmalaya, Banjar, Kroya, dan Kutoarjo, sebelum sampai di Yogyakarta. Di perjalanan sempat ada obrolan. Baw melempar tanya kepada saya, “Kapan lu terakhir bepergian dengan kereta api?� Lalu saya berusaha mengingat-ingat kembali, kapan ya? Sudah lama sekali sepertinya sehingga tidak mudah bagi saya untuk segera mengingatnya. Kemungkinan di pertengahan 2001. Saat itu saya menjadi anggota tim ekspedisi Palawa, satu ekspedisi yang bertajuk OSTS alias Operasi Selatan Tenggara Sulawesi yang dilaksanakan di tahun 2001. Sekembalinya dari lokasi ekspedisi di Sulawesi Tenggara, saya bersama seluruh tim melanjutkan perjalanan pulang ke Bandung menggunakan kereta api dari Surabaya Gubeng sampai dengan Stasiun Hall Bandung, setelah sebelumnya menumpang KM Bukit Siguntang dari Pelabuhan Bau-Bau, Buton. Bukan soal berkereta itu sendiri yang menarik sebetulnya, tetapi transit di Surabaya menjadi penting karena di

Palawa Unpad

| 7


sana tim ekspedisi akan bertemu dengan seorang anggota Palawa yang kebetulan menetap di Surabaya. Dia bernama Deden, lengkapnya Deden Setianandika, dan kami biasa memanggilnya Kang Deden SH. Meski beberapa senior Palawa memberi nickname lain terhadapnya, yaitu Deden Iblis, tetapi saya dan para junior lain tidak turut mengikutinya. Hampir tiga belas tahun yang lalu, sebuah rentang waktu. Dan sekarang, saya kembali berkesempatan untuk menikmati perjalanan di dalam kereta api. Sudah lupa lagi rasanya bagaimana cara nyaman menikmati perjalanan berkereta api. Selepas Cipendeuy saya kembali mengingat-ingat nama beberapa stasiun di depan. Tadi kami diberi kabar oleh salah seorang teknisi yang sedang memeriksa kondisi fisik kereta. Katanya kereta akan kembali berhenti di Stasiun Tasikmalaya, Banjar, Kroya, dan Kutoarjo sebelum masuk di Stasiun Tugu. Informasi itu penting bagi kami. Selesai memberi keterangan penting kepada kami, sang teknisi tadi masih sempat melempar gurau renyah khas orang kita. Saat Nanang bertanya bagian-bagian apa saja dari kereta yang harus diperiksa olehnya, segera dia menjawab dalam seloroh ringan, “Di antara semua, yang paling penting, saya harus memastikan tidak ada ban yang kempes karena bocor.â€? Ggrrrr‌ hahaha, sebagai penghormatan atas usahanya melucu, saya tertawa dengan sedikit ngakak mengikuti Nanang. Beberapa saat sebelum masuk Stasiun Tasikmalaya, saya melihat puluhan pekerja sedang berusaha menangani tanah longsor yang membuat rel kereta anjlok sejak awal bulan yang lalu. Akibat tanah longsor, beberapa waktu rel tidak dapat dilintasi. Awal bulan April kemarin longsoran tersebut menjadi penyebab tergulingnya KA Malabar. Tercatat tiga korban tewas dan banyak yang lukaluka. Saat melintasi bagian yang longsor, kereta kami berjalan sangat pelan, mungkin tidak lebih dari lima km per jam. Lokomotif KA Malabar yang terguling masih sempat kami lihat. Ada kabar, longsor terjadi karena dipicu oleh maraknya alih fungsi lahan dan

8

|

E k sp l o r P ac ita n


perusakan alam. Beberapa saat setelah berhasil melintasi areal berbahaya, saya mencari informasi tambahan. Laman Google. com saya buka. Berbagai judul berita segera berbaris memanjang. Beberapa sempat terbaca. Sesungguhnya longsor yang terjadi di Kampung Terung, Desa Mekarsari, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya, benar-benar mengejutkan. Sebelumnya lokasi tersebut di luar peta rawan longsor meski kenyataannya telah terjadi longsor di sana. Kereta kami sedikit terlambat tiba di Stasiun Tasikmalaya. Belasan kursi kosong di gerbong kami kini telah terisi. Sekelompok lelaki setengah baya naik di Stasiun Tasikmalaya. Tidak lama setelah duduk mereka memperoleh paket nasi kotak yang dibagikan dari gerbong tiga di belakang kami. Saya menduga mereka merupakan satu rombongan yang akan berlibur atau berdarma wisata. Kehadiran mereka meramaikan suasana gerbong yang sebelumnya sepi. Beberapa kali saya senyum-senyum sendiri mendengar lelucon yang saling berlontaran menjadi perintang waktu tanpa harus dihajar kebosanan.  Kereta berhenti di Stasiun Ijo. Nama stasiun ini segera mengingatkan kami pada gua-gua di Gombong Selatan. Ya, stasiun inilah yang berada paling dekat dengan kawasan karst di mana terdapat gua-gua alami yang indah dan penting bagi masyarakat tempatan berada. Kereta berhenti untuk persiapan sebelum masuk melintasi terowongan. Seorang petugas berseragam mengatakan, kereta tertahan karena dari depan akan melintas sebuah kereta dari arah Jogjakarta. Sambil menikmati udara segar di luar kabin, terlihat sebuah terowongan hitam. Ke arah selatan terlihat barisan bukit-bukit kerucut khas bentang alam karst agak membiru di kejauhan.  Tiga koran lokal dan sebuah majalah multinasional menjadi bekal bacaan di perjalanan. Di Stasiun Bandung pagi tadi semua itu saya persiapkan. Kang Onath yang memesan sebuah koran nasional terpaksa sedikit kecewa karena liburan menyebabkan

Palawa Unpad

| 9


koran yang dimaksud tidak terbit hari ini, maklum tanggal merah. Berita utama yang disajikan koran-koran umumnya seputar tema Hari Buruh Internasional atau yang lazim dikenal sebagai May Day. Mulai tahun 2014 ini, hari buruh dijadikan hari libur nasional. Kebijakan itulah sedikitnya yang saya manfaatkan dengan turut bergabung dengan tim caving yang akan mengadakan penelusuran ke beberapa gua di Pacitan. Baw meletakkan kembali majalah NGI ke bangku kosong di samping tempat duduknya, lalu berucap, “Jadi soal pangan ini dibikin serial sama NG, nggak tuntas dibahas dalam satu edisi, makanya di edisi ini cuma ada sepotongsepotong.” Ucapannya mengingatkan saya pada pernyataan unik Pak Mentri Pertanian, beberapa waktu lalu. Pak Sus senang melihat banyak para petani yang beralih mata pencaharian. “Petani banyak yang alih profesi, saya malah senang,” Itu diucapkannya dalam acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan Jawa Timur 20142019 di Ballroom Grand City Surabaya, Kamis, 6 Maret 2014. Persoalan serius kalau sudah begini. Baw banyak bercerita. Ini juga soal MP3EI dan Monsanto. Saya senang mendengarkan. Katanya, “Bioteknologi bukan solusi bagi kelaparan dunia. Josh Castro, seorang organiser anti Monsanto di Ekuador mengungkapkan bahwa Ekuador, negaranya itu, adalah tempat yang indah, dengan keanekaragaman hayati terkaya di dunia. Karena itulah mereka tidak mau taman eden milik mereka dirusak oleh perusahaan multinasional seperti Monsanto. Bayangin aja, 53 persen pasar benih komersial dunia telah dikendalikan oleh hanya tiga perusahaan: Monsanto, DuPont, dan Syngenta.” Saya juga sudah membaca NGI edisi bulan ini. Seperti biasa, lebih dari teks tulisan, foto-foto yang tersaji jauh lebih menarik perhatian. Saya kira perlu menjadi catatan, selain teks dan foto, NGI sebagaimana NG semakin serius menyajikan info grafis berpenampilan keren. Setelah membaca selanjutnya giliran tanya yang memenuhi beberapa spasi obrolan. Usai membaca, sering

10

|

E k sp l o r P ac ita n


kali saya merasa lebih sehat, merasa lebih tahu –meski sebenarnya lebih sering sok tahu. Sebenarnya sikap yang demikian itu sering menyesatkan karena setiap pembacaan selalu menawarkan beberapa penafsiran, alternatif, dan penyesatan. Mengenai hal itu tentu baiknya dikembalikan ke forum, ke forum kehidupan yang mewujud dalam obrolan. Nanang pindah ke barisan depan, menempati bangku kosong di sebelah kanan Baw. Di luar terhampar pemandangan, bentangan sawah berpayung langit biru cerah. Kereta terus bergerak cepat. Beberapa stasiun kecil dilewati tanpa berhenti: Wates, Sentolo, dan Rewulu. Saat kereta melintasi jembatan panjang di atas Sungai Progo, saya mengingat saudarasaudara lain yang besok akan berkegiatan di Citarum. Sejak dulu, Mabim Operasional arung jeram selalu dilakukan di Citarum. Apa mungkin kegiatan digeser dari Citarum ke Progo? Saya berharap kelak tim Palawa dapat mengarungi jeram-jeram di Sungai Progo. Menurut saya, sudah saatnya tim arung jeram kita bergerak keluar dari Jawa Barat. Apa tidak tertarik? Kalau saya sih tidak.  Riuh rendah suasana stasiun dan awan mendung yang menggantung menyambut kami di Jogjakarta. Kang Onath segera menghubungi supir yang akan mengantar dan menemani perjalanan kami. Tidak jauh dari pintu utara stasiun sebuah Xenia putih telah menanti, selanjutkan tinggal menunggu Mas Harry. Sebentar lagi jam empat sore dan gerimis pun mulai merintik, pelan tapi pasti. Ada sedikit keterlambatan. Beberapa kali nomor yang dihubungi oleh Kang Onath tidak merespon panggilan. Baw berspekulasi, “Mungkin dianya sedang salat Asar sehingga tidak bisa mengangkat henfon.” Kang Onath terus berusaha menghubungi, berusaha mendapat kepastian. Kami berharap tidak terjadi keterlambatan yang dapat mengganggu jelannya rencana operasi harian. Di dalam hati saya bergumam, “Perjalanan masih jauh Tuan-tuan!”

Palawa Unpad

| 11


bagian 2.1

H

ari ini, 2 Mei 2014. Ini adalah hari pertama penelusuran, setelah semalam kami tiba di penginapan. Sesuai rencana, sejak pagi seluruh anggota tim segera bersiap sedia menyambut padatnya jadwal kegiatan. Nasi rawon menjadi menu sarapan hari ini. Sedikit lebih pagi, seorang ibu penjual kue menghampiri beranda di depan kamar tempat kami bermalam. Sebagai pemanasan sebelum sarapan, anekaragam kue menemani kopi dan teh kami. Penuh semangat Kang Onath memotret setiap jenisnya untuk kemudian diunggah ke laman dinding media sosial facebook miliknya. Kopi pahit, jenang jagung; cemplon, arem-arem, dan nogosari. Tidak berselang lama segera berdatangan komentarkomentar. “Wah yang ini jajan pasar kesukaanku‌ apalagi dimakan di sawah ya.â€? Bunyi salah satu komentar. Tepat sekali, kebetulan hotel yang dijadikan basecamp, maksud saya tempat bermalam kami, berada di tengah sawah. Dengan kata lain, di sini sawah mengepung hotel. 

12

|

E k sp l o r P ac ita n


Saya mengingat apa yang semalam diutarakan Kang Onath, beberapa saat setelah ia memotret dan mengunggah hasilnya ke facebook. Katanya, yang kalau di bahasa Indonesiakan kurang lebih, “Salah satu sisi positif yang lahir dari aktivitas mengunggah foto adalah didoakan oleh banyak orang.” Mungkin benar bahwa salah satu manfaat dari sosialisasi adalah menerima kebaikan. Hari ini bertepatan dengan hari pendidikan nasional. Siapa yang membaca Pancasila? Masihkah delegasi Palawa? Nanang bilang, “Mungkin Rizky.” Entahlah, yang jelas kami sejak pagi sudah seuseurian menikmati matahari yang baru saja keluar. Sekira jam 8 kami sudah bergerak menuju Kecamatan Tulakan. Hari ini tim akan menelusuri Gua Jebulan. Di tengah kota Pacitan, beberapa kali mobil kami berhenti: di depan kantor desa dan kelurahan. Saya bersama Mas Harry berusaha mendapatkan tanda tangan dan stempel desa di atas surat-surat jalan dan lain sebagainya. Semua hal tersebut diperlukan sebagai bukti dan implementasi dari berjalannya tertib administrasi. Di dalam lingkungan Badan Geologi, hal yang semacam itu lazim disebut sebagai visum. Mungkin karena masih terlalu pagi, atau karena ini Jumat kejepit sehingga setiap pintu kantor yang kami datangi masih tertutup, belum ada seorang pegawai pun yang datang. Diperlukan waktu sekira dua jam bagi kami untuk tiba di Dusun Dasri. Perjalanan dari kota Pacitan sampai ke dusun yang menjadi tujuan kami ditempuh tanpa kemacetan lalu-lintas. Jalanjalan yang kami lalui pun relatif sepi dan dalam kondisi yang baik. Meski kami membekali diri dengan GPS (global positioning system) namun tetap diperlukan GPS yang lain, alias geroan penduduk setempat. Hal yang terakhir itu terbukti lebih efektif. Setelah memasuki Desa Kluwih, Pak Bond meminta bantuan salah seorang temannya yang berhasil ia hubungi melalui henfon. Pak Bond meminta sang kawan untuk mengantar. Kepada kami, Pak Bond mengaku belum terlalu mengenal seluk-beluk Pacitan meski sejak dua bulan ke belakang kerap keliling Pacitan dalam

Palawa Unpad

| 13


tugas mengantar juru kampanye Partai Demokrat. Semula kami berniat mendatangi Pak Bagyo, sesepuh yang pada tahun 2008 mengantarkan Tim Palawa menuju lubang Gua Jebulan yang akan kembali kami telusuri pada kesempatan ini, namun Pak Bond telah lebih dahulu mengantarkan kami untuk bertemu Pak Tungadi. Dia adalah seorang lelaki setengah baya yang sehari-hari berprofesi membuat kusen pintu dan jendela. Kepada kami Pak Tungs mengatakan bersedia mengantarkan kami, maka segeralah kami menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk penelusuran. Tidak lama waktu yang diperlukan oleh tim untuk berganti pakaian, mengenakan wearpack, pelampung, dan sepatu bot. Perbekalan lainnya seperti peralatan dokumentasi, makanan, minuman, dan kotak obat-obatan telah rapi terkemas dalam tiga buah drybag. Sebelum memulai gerakan mendekati lokasi lubang gua, Pak Tungs menceritakan bahwa selain Gua Jebulan, masih terdapat beberapa gua lain yang lokasinya saling berdekatan, di antaranya Gua Dadali dan Gua Lintang. Informasi Pak Tungs membenarkan apa yang ditulis Tim 2008 dalam laporannya. Tanpa berlama-lama kami pun memulai langkah kaki kami mendekati lubang gua.  Perjalanan dimulai dengan mengikuti jalan desa yang dibeton seukuran mobil, tidak lama kemudian kami berjalan menurun ke arah lembah. Kami sempat melintasi halaman beberapa rumah dengan pekarangan yang indah. Sebidang lebar tanah hijau ditumbuhi rumput yang menyerupai karpet empuk. Sekira seperempat jam berjalan, Pak Tungs menunjuk sebuah arah yang disebut sebagai lokasi lubang Gua Jebulan. Letaknya masih jauh di bawah kami. Sambil mengatur kembali napas yang berantakan, saya bertanya di mana letak lubang Gua Dadali. Pak Tungs kembali menunjuk sebuah arah. Serta merta kami semua pun sepakat untuk terlebih dahulu mendatangi lokasi lubang Gua Dadali, dan kami pun mulai melangkah lagi. Beberapa kali Pak Tungs kehilangan arah. Sambil terus mencari letak lubang, ia terus bercerita bahwa

14

|

E k sp l o r P ac ita n


sudah cukup lama ia tidak mendatangi lokasi yang kami cari. Nanang yang berjalan di belakangnya terus mengikuti langkah kaki Pak Tungs, sedangkan sisanya agak jauh tertinggal di belakang. Selaput pada mata kanan Pak Tungs membuatnya semakin sulit melihat dengan jelas. Akhirnya Nanang berseru mengabarkan temuannya dari arah lembah. Kami pun segera berkumpul setelah Nanang kembali naik mendatangi dataran sempit tempat kami semua beserta Pak Tungs menunggu. Kepada Pak Tungs, Nanang menyampaikan tanya. “Bentuk mulutnya menyerupai segi tiga ‘kan Pak?” “Iya, benar. Mulut guanya berbentuk segi tiga.” Pak Tungs membenarkan. Di depan lubang Gua Dadali, kami kembali membentuk lingkaran dan berdoa. Untuk sampai di depan lubang gua, semua anggota tim harus bermandikan keringat. Jam sepuluh lebih sedikit, dan matahari terasa sangar memanggang bumi. Beruntung, beberapa kali terasa embusan segar angin. Dedaunan jati bergemerisik saat bergoyang, keren di pendengaran. Pak Tungs berjanji akan menunggu kami di depan lubang sehingga kami pun dapat melakukan penelusuran dengan hati tenang. Dua meter setelah lubang masuk lorong gua semakin menyempit. Untuk melaluinya penelusur harus berjalan jongkok. Tidak hanya itu, hal lain yang semakin mempersulit gerakan adalah lantai gua berlumpur yang juga terus turun. Tim saling membantu dengan mengestafetkan setiap drybag. Setelah terbebas dari lorong sempit, kami dihadapkan pada medan miring yang menuntut penelusur untuk scrambling. Di bagian ini penelusuran harus dilakukan dengan ekstra hati-hati. Pelampung yang dibawa tidak kami kenakan dalam peneusuran di gua ini. Kami mempercayai informasi yang disampaikan oleh Pak Tungs. Samar-samar saya berusaha kembali mengingat deskripsi Gua Dadali yang dilaporkan oleh Tim 2008. Gua ini relatif kering, tetapi belum dapat digolongkan sebagai gua fosil. Meski membawa webbing

Palawa Unpad

| 15


yang dapat digunakan sebagai alat bantu, namun akhirnya seluruh anggota tim berhasil meniti dinding ke arah samping dan kemudian menuruninya secara free -- tanpa dilindungi oleh pengaman. Lantai gua berlumpur tebal dan lengket melekat pada sepatu sehingga membuat langkah kaki terasa jauh lebih berat. Kami berada pada sebuah aula luas beratap tinggi. Cahaya boom menerangi ruang, sedangkan headlamp yang kami sorotkan menyinari berbagai ornamen menawan yang ada di dalamnya. Atap chamber dipenuhi stalagtit berbagai ukuran dan bentuk unik, bahkan beberapa terlihat sudah menyatu dengan stalagmit dan membentuk pilar. Selain itu juga banyak terlihat varian jenis flowstone, baik yang menggantung di atap seperti canopy dan gordyn, maupun yang menempel di dinding atau terbentuk di lantai gua dalam bentuk gours –microgours dan macrogours. Banyak ornamen yang berwarna putih berkilau, sedangkan sebagian yang lain kuning kecokelatan. Pendokumentasian pun terus dilakukan. Dua buah lorong yang ada di dalam chamber ini rupanya kembali bertemu dan mengarah pada ruang chamber lainnya. Sama seperti chamber sebelumnya, chamber 1, pada chamber 2 pun atap gua begitu tinggi. Jika kita mengikuti lorong sebelah kiri, maka akan tiba di chamber 2 melalui arah kiri dan bertemu dinding setinggi 3 meter yang harus dituruni, sedangkan bila mengikuti lorong sebelah kanan dari chamber 1, penelusur akan masuk ke chamber 2 langsung di bagian tengah. Chamber 2 terlihat sedikit lebih besar dibandingkan dengan chamber 1. Penelusur dapat merambati dinding sebelah kiri untuk bisa naik menuju lorong yang akan membimbing penelusur pada sebuah aven. Udara di dalam gua terasa panas, mungkin karena kecilnya kondisi lorong di bagian depan dekat lubang keluar serta sebuah aven yang tidak cukup menjadi ventilasi sehingga sirkulasi udara tidak lancar.  Proses karstifikasi masih berlangsung di gua ini, hal tersebut setidaknya terlihat dari banyaknya tetesan air dari atap gua

16

|

E k sp l o r P ac ita n


maupun yang mengalir perlahan di dinding-dinding gua. Selain beberapa ekor kelelawar, tidak ada hewan lain yang saya lihat. Pada beberapa tumpukan guano pun saya tidak menemukan cacingcacing kecil berwarna putih. Kang Onath, Baw, dan Mas Harry beraksi dengan kameranya, sedangkan saya bersama Nanang menjadi model foto dan pemegang lampu flash. Setelah dirasa cukup mendokumentasikan berbagai ornamen, bentuk lorong, dan berbagai sudut indah gua, kami pun mulai bergerak perlahan menuju luar. Saya yang berada di urutan paling belakang bertugas memastikan kembali tidak ada sesuatu pun yang tertinggal di dalam gua. Hal ini merupakan salah satu implementasi dari kode etik penelusuran yang pertama kali disosialisasikan oleh NSS. Take nothing but picture, kill nothing but time, leave nothing but footprint. Hampir dua jam kami berada di dalam gua. Sesampai di luar kami disambut dengan udara segar. Pak Tungs terlihat duduk menunggu kami di bawah kerindangan sebatang pohon. Jam di tangan Mas Harry sudah menunjukkan pukul satu siang. Sebagai pengganjal perut, berbagai bekal yang kami bawa segera disajikan. Sambil menikmati roti tawar berlapis selai cokelat, Nanang menjerang air panas untuk menyeduh teh dan kopi hitam. Sambil mengudap kami bercakap-cakap. Kepada Pak Tungs kami banyak bertanya ihwal Gua Dadali. Saya senang melihat mimik wajahnya yang ceria saat menjawab berbagai tanya yang kami lontarkan. Selain Mas Harry, tim ini terdiri dari para perokok. Dan siang ini rokok pun menjadi salah satu topik yang diperbincangkan. Kang Onath menceritakan bahwa kretek yang diisap oleh Pak Tungs mengingatkannya pada kretek yang biasa diisap oleh ayahandanya. Obrolan terus berlanjut sampai menjelang pukul 13.30. Tidak lama waktu yang diperlukan untuk berkemas. Mungkin karena semangat, saya melihat dalam beberapa kejap seluruh makanan, minuman dan alat masak sudah masuk dalam drybag. Kami pun kembali bergerak mendekati titik berikutnya, yakni lubang Gua Jebulan.

Palawa Unpad

| 17


Seperti yang sebelumnya sudah kami ketahui, melalui laporan Tim 2008, lubang Gua Jebulan berada di kaki bukit. Untuk mencapainya kami tinggal terus mengikuti setapak yang turun mendekati aliran sungai. Hampir sepuluh menit waktu tempuh dari lubang ke lubang. Mulut Gua Jebulan berada di dasar bukit. Mengalir keluar sebuah sungai dari dalamnya (outlet). Sebuah dinding terjal di areal lubang masuk menarik untuk dipanjat. Kerimbunan hutan jati milik warga menjadikan suara gemericik air sungai semakin terdengar syahdu. Suasana terasa begitu nyaman, jauh dari segala bising mesin pabrik dan kendaraan. Terdengar beberapa klik dari kamera. Pak Tungs kembali menjadi penjaga lubang, dia menunggu di luar. Di bagian mulut, penelusur sudah harus masuk ke dalam sungai. Tinggi air sudah melebihi sepatu boot. Setelah melintasi sebongkah batu di ambang zona terang, kedalaman air mencapai tinggi pinggang saya. Pengukuran yang dilakukan Tim 2008 menunjukkan lebar mulut sampai Sembilan meter dan titik tertinggi mencapai 4 meter. Sebuah bouder di bagian depan menyebabkan gua ini tampak memiliki dua lubang masuk yang saling bersisian. Lantai gua berbatu dan berair jernih sudah terlihat sejak awal perjalanan. Lorong bawah merupakan aliran sungai dengan kedalaman bervariasi dalam kisaran 40 cm s.d 200 cm. Lantai gua yang serba miring menjadikan kedalaman air semakin bervariasi. Sedimen yang mengendap di lantai gua juga bervariasi, mulai dari lumpur, pasir, kerikil, dan bongkahan yang lebih besar lagi. Selain lorong bertingkat, Gua Jebulan juga memiliki percabangan. Gua ini pernah dipetakan oleh Palawa. Berbagai bentukan speleothem tumbuh dan berkembang di sini. Hal tersebut menjadi salah satu indikator masih berlangsungnya karstifikasi. Jenis yang terbentuk karena tetesan maupun aliran air sangat beragam. Setidaknya terdapat stalagtit, stalagmite, sodastraw, pilar, micro dan macro gours, canopy, rimstone, dan cowsmilk.

18

|

E k sp l o r P ac ita n


Perjalanan pulang disisi oleh medan tanjakan yang tak berkesudahan. Hal tersebut wajar mengingat lokasi lubang Gua Jebulan berada. Tidak jauh dari lokasi mobil diparkir, saya dan Nanang menyempatkan menengok lokasi Gua Lintang dengan ditemani oleh Pak Tungs. Lubang masuknya berbentuk sumuran, Nanang memperkirakan kedalaman tidak lebih dari dua puluh meter. Pak Tungs menerangkan, Gua Lintang memiliki lorong horizontal yang bercabang. Lintang merupakan kata dalam bahasa Jawa yang jika diindonesiakan dapat diartikan sebagai bintang. Penamaan tersebut merujuk pada kemerlap bebatuan ketika tersorot sinar. Lain waktu mungkin kami akan kembali datang untuk menelusurinya; dan sebagai data awal, tentu titik koordinat diperlukan. Waktu merambat semakin sore, hampir jam lima.Â

* Syukurlah, penelusuran hari ini berjalan dengan lancar dan menyenangkan, sepertinya maksimal. Kami masih diberi keselamatan dan anugerah. Kami masih diberi kesempatan untuk menelusuri gua. Sebisa mungkin kami bersikap hati-hati dan penuh perhitungan. Penelusuran gua memang seharusnya hanya dilakukan dengan penuh pengertian. Setiap penelusur gua yang baik tentu akan terus belajar dan belajar menerapkan segala tertib, mulai dari kode etik. Di dalam kamar, sambil tidur-tiduran, saya kembali membayangkan langkah demi langkah yang telah terayun dalam perjalanan hari ini. Kesan ringkas kami terhadap Dusun Dasri adalah “asri dan rapi�, yang di dalamnya sudah termasuk bersih. Meski sangat dipengaruhi oleh langgam Jawa, namun bahasa Indonesia yang dituturkan oleh Pak Tungs terbilang baik. Kami beruntung bertemu dengannya. Meski kami sudah membawa GPS, namun kehadiran Pak Tungs lebih dari sekadar penunjuk jalan. Jika dengan GPS kita hanya akan memperoleh info yang berkaitan dengan navigasi, bersama Pak Tungs segala soal bisa

Palawa Unpad

| 19


kami tanyakan. Juga soal /kluwih/, yang menurutnya dipilih sebagai nama desa oleh para leluhurnya karena areal di sini banyak sekali ditumbuhi pohon kluwih. Pak Tungs memberi gambaran tentang pohon kluwih yang buahnya bisa dijadikan sayur. Lanskap berubah, sekarang orang lebih senang menanam pohon jati. Perihal pohon kluwih, katanya saat ini sudah semakin jarang ditanam orang. Itu sebabnya sore tadi Pak Tungs tidak dapat menunjukkan wujud konkret pohon kluwih kepada kami. Nama adalah kenangan, kelak boleh jadi generasi mendatang penduduk desa ini tidak lagi mengenal pohon kluwih atau bisa juga nama desa sudah diganti atau ditiban mengikuti perubahan pemanfaatan lahan, sehingga kluwih menjadi tidak relevan untuk dipersoalkan. Hampir jam sembilan. Kang Onath masih mandi, Baw membersihkan kamera, Nanang dan Mas Harry ngobrol di depan kamar, bertiga bersama Pak Bond. Sawah di sekeliling hotel berubah menjadi mega panggung orchestra gelap saratus ribu kodok. Sambil meluruskan tulang-tulang, saya membuat dugaan: apakah simfoni yang dibawakan oleh para kodok di luar merupakan jawaban alam atas konsepsi ‘betapa indahnya kebersamaan’? Saya keluar mendatangi Nanang untuk meminjam korek api dan ikut ngobrol sebentar. Pak Bond kembali memastikan arah jalan menuju Kebonagung. Mas Harry bersarung. Di tangannya tergenggam GPS yang selalu menemani perjalanannya. Tinggal Gua Perak. Kepada Mas Harry, titik koordinat yang dikutip dari laporan Tim Pacitan 2008 telah diberikan. Dari dalam Baw berteriak, “Si John masih di jalan Vik, sampainya kira-kira tengah malem.� Kabar baik, kemeriahan suasana pun dapat dibayangkan akan bertambah-tambah. Bulan sabit bersinar di langit hitam, polos takberbintang. Besok kami punya banyak pantai yang bisa menjadi pilihan; dan malam ini akan panjang dengan kedatangan Indera dari Blitar.

20

|

E k sp l o r P ac ita n


bagian 2.2

N

amanya Indra, Indra Putra Irawan. Dikenal sebagai Indra LM. Inisial LM di belakang menunjukkan nama angkatannya, Lubra Mahidara. Bersama 17 saudaranya yang lain, ia bergabung dengan Palawa sebagai angkatan ke-20, masuk di tahun 2005. Tiga tahun kemudian dia bersama timnya melakukan Pengembaraan ke Pacitan; dan malam ini ia akan datang.  Dulu Indra menempuh studi Ilmu Informasi. Itu adalah salah satu jurusan di Fakultas Ilmu Komunikasi. Beberapa tahun yang lalu, ia mulai meniti karier secara profesional dalam bidang asuransi. Indra menemukan pasangan hidupnya di Surabaya, pada suatu hari di bulan Oktober ia melangsungkan pernikahannya. Banyak anggota Palawa hadir di dalam acara. Kemarin Baw memberi tahu, katanya Indra sekarang sudah tidak lagi di Surabaya, ia dipindah-tugaskan ke Blitar. Dan malam ini Indra datang.

Palawa Unpad

| 21


Sambil menunggu kedatangan Indra, juga karena memang sudah lebih dari empat jam waktu makan malam berlalu, kami pun keluar mencoba mencari makanan khas dan sekaligus putar-putar kota Pacitan. Pak Bond mengajukan tawaran kepada Kang Onath untuk mencoba mi godog atau yang kalau diindonesiakan menjadi mi rebus. Maka kami pun bergerak mencari sang penjual mi godog. Pacitan bukan Jakarta atau Bandung. Baru jam sepuluh kota sudah tidur. Jalan terasa lebih lebar. Beberapa warung yang kami tuju pun sudah tutup. “Alhamdulillah,” begitu kata Kang Onath, “berarti ‘kan dagangannya sudah habis laris terjual. Tinggal pulang, beristirahat, menghabiskan sisa malam bersama keluarga di rumah.”  Nanang dan Mas Harry tidak ikut keliling-keliling cari makan dan lebih memilih tinggal di kamar, menonton tv, menikmati kasur hingga tertidur. Kriuk-kriuk menjelang tengah malam pun teratasi. Kembali ke hotel dan Indra sudah menunggu. Perjalanan panjang yang melelahkan, bahkan seperti terlalu dipaksakan. Istrinya membenarkan. Katanya, Indra terlalu menggebu-gebu untuk datang ke Pacitan. Padatnya hari Jumat bagai bukan halangan. Mobil yang dikendarainya melesat sepanjang jalan Blitar – Pacitan. Sebuah jarak panjang, tapi bagi Indra bukan lain kecuali tantangan. Mengapa? Palawa, jawabnya. Dari jauh tampangnya menyerupai tentara, padahal bukan. Cerita Indra tentang Pak Bagyo terasa begitu hidup. Kami seharusnya menyesal tidak menyempatkan diri untuk menemuinya. Beberapa bagian dari cerita Indra sudah ada di dalam laporan, tetapi beberapa penjelas yang disampaikannya menyerupai bumbu penyedap di dalam sayur. Saya kira yang ini adalah penyedap rasa dari bahan yang alami, non-kimia. Kita yang tahu bagaimana gaya Indra bercerita tentu paham. Bara padam takbisa menyalakan api. Indra seperti mengalami trance. Dia sedang on fire, malam ini. Jika di lapangan basket, mungkin dia berdiri pada posisi center. Tetapi melampaui gerakan umum para center, Indra bagai ada di semua

22

|

E k sp l o r P ac ita n


lini. Dia berhasil berkali-kali melesakkan tembakan tiga angka, melenting lay up dari luar garis three second, rebound, assist, dan slamdunk. Bola yang ada di tangannya terus bergerak berpantulan, tidak pernah turnover. Seru-seru-seru. Sofi, sang istri, memasang wajah takjub. Dia terus mendengarkan cerita demi cerita. Selain Pak Bagyo, Indra juga bercerita soal pengalaman-pengalaman saat diklat, baik ketika berperan sebagai siswa ataupun menjadi pelatih. Jabatan terakhirnya Wakil Komandan Latihan pada Diklatdas XXV di tahun 2011. Malam ini berbagai cerita diumbar. Obrolan bagai takberkesudahan. Seolah setiap sekuen pengalaman di perhimpunan dihadirkan utuh menyerupai realitas. Banyak sekali nama yang disebut, diajak ikut dan menjadi materi perbincangan. Di antara semua cerita, saya lebih senang sisi lucu-lucunya. Salah satunya kasus dalam sidang proposal pengembaraan.  Saat itu hampir tengah malam dan penyidang mempertanyakan validitas nama sebuah gua yang dinilai agak aneh, “Apakah benar dinamakan Gua Berak?” Menerima pertanyaan maka tim yang disidang pun takbisa berbuat selain menjawab, “Benar. Iya, benar. Itu info valid dari Mahipa.” Selanjutnya penyidang mempercayai jawaban para tersidang, meski tetap berpesan agar selalu mengecek ulang segala informasi yang diperoleh dari bahan sekunder, nanti setelah masuk ke lapangan.  Di lapangan tim pengembaraan memperoleh fakta bahwa telah terjadi sedikit kekeliruan soal penamaan. Keanehan yang terendus oleh penyidang ternyata benar. Pihak Mahipa Unmuh dan masyarakat yang sempat dijadikan narasumber di lapangan memberi informasi bahwa gua yang kami sebut sebagai Gua Berak sesungguhnya dikenal sebagai Gua Perak. Lebih dari itu, gua lain yang juga mengalami kekeliruan penulisan yaitu Gua Jebulan yang pada saat sidang proposal masih tertulis sebagai Gua Cebulan. Sedikit kekeliruan yang bisa dipahami sesungguhnya mengingat kedekatan /p/ dan /b/ atau /c/ dan /j/. Kelompok

Palawa Unpad

| 23


pertama, yakni fonem /p/ dan /b/ termasuk jenis konsonan hambat letup bilabial, yang dapat terjadi jika artikulator aktifnya bibir bawah dan artikulator pasifnya bibir atas. Adapun fonem /c/ dan /j/ digolongkan sebagai konsonan hambat letup medio-palatal, tengah lidah menjadi artikulator aktif dan langit-langit keras sebagai yang pasif. Begitulah sedikit ingatan atas kelas fonologi. Semua tertawa-tawa mendengarkan ceritanya, termasuk Indra sang pencerita. Jaya the MachoCaver sebagai ketua timnya. Fariz, Dayat, Deko sebagai pembimbingnya, pembimbing teknis sebutannya. Indra mengingatkan, bahwa Si Baw juga pembimbing, pembimbing non-teknis disebutnya. Sepertinya semua stok cerita ingin disampaikan semua olehnya jika saja kami tidak segera sadar bahwa beberapa jam ke depan masih ada agenda operasional. Entah siapa yang mula-mula mengambil inisiatif bubar, saya lebih dulu ke dalam, rebahan sambil menunggu kantuk datang. Tadi Indra sudah dapat kamar, adanya di belakang. Tadinya Baw yang mau mengantarkannya ke depan untuk memesan kamar, tetapi beberapa saat sebelum berangkat dia baru ingat, bukankah lebih praktis tidak perlu jalan dan cukup dengan telpon. Indra membenarkan. Tidak lama kamar yang dipesan pun datang. Beberapa pencatatan terus dilakukan, iseng-iseng nanti mau bikin tulisan, selain laporan yang lebih bersifat formal. Kuatir nanti pulang ditanya, oleh-olehnya mana? Sambil mendengarkan Lou Reed yang sedang menyanyikan nomor andalannya, saya berjalan-jalan dari halaman ke halaman, lalu berhenti agak lama di facebook. Di dalam grup Masyarakat Penelusur Gua Indonesian sedang ramai membahas Karst Gn Kendeng. Sebagai sesama penelusur, sudah selayaknya kita memberi simpati kepada mereka yang sedang berjuang. Di manamana pabrik semen menjadi ancaman yang nyata. Simpati dan dukungan tentulah tidak berlebihan, bukankah yang demikian masih dalam batas kewajaran.  Mengenai Blora, saya teringat pengalaman tur keliling Jawa

24

|

E k sp l o r P ac ita n


bersama klub pendidikan alternatif Sokola. Blora juga bisa mengingatkan kita kepada Pram, Sastrawan kenamaan, serta wong samin atau yang dikenal dengan kaum sedulur sikep. Komunitas sedulur sikep ini terus membuat perlawanan dan penolakan atas penjajahan yang terus ditekankan terhadap mereka dari zaman ke zaman. Kepada pihak kolonial mereka selalu membangkang, seperti juga sekarang saat berhadapan dengan pemerintah dan PT Semen Indonesia. Salah satu problematika karst Blora juga sempat difilmkan, beberapa tahun yang lalu, dengan tokoh utama diperankan oleh WS Rendra. Di dalam film berjudul Lari dari Blora, Rendra menjadi seorang penghayat keyakinan Saminisme –suatu kaidah hidup yang diajarkan oleh Mbah Samin Surosentiko. Di dalam grup PLW, Kang Onath kirim foto Indra bersama istrinya dengan dibubuhi selarik caption lucu.  “Basecamp The Rolling Doors menerima kunjungan dari John Morisson, malam ini. John menempuh 5 jam perjalanan dari kota Blitar. Ia pun memperkenalkan istrinya, Sofi, yang dinikahinya Oktober 2013. Selamat ya. Ini adalah kejutan. Dan, nuhun pisan….” tentu itu bukan sekadar canda-canda, tapi tulus dan jujur, meski tetap terbaca jejak-jejak kelucuannya alias bodor. Ada beberapa kode yang sengaja dipelesetkan, mungkin itulah yang menyebabkannya terasa tambah segar dan orisinal. Kira-kira kenapa ya kantuk nggak datang-datang, apa mungkin saya sedang terlalu senang?

Palawa Unpad

| 25


bagian 2.3

H

ari ini, 3 Mei 2014. Gua Perak. Menuju lokasi lubang tidaklah segampang yang dibayangkan. Meski sudah membawa GPS yang formal, kami pun tetap mengutamakan GPS informal. Beberapa penduduk yang sedang berada di ladang membantu kami dengan mengantarkan sampai di depan lubang. Kami ngobrol sepanjang perjalanan menuju gua, salah satu yang perlu dicatat yaitu saran dari Mas Harry kepada kami (atau kita?) mengenai hal-hal navigasi. Menurutnya Palawa sudah seharusnya membuat akun di dalam laman www.navigasi.net. Di sana Palawa dapat menyimpan dan berbagi berbagai titik menarik yang mungkin juga diperlukan oleh para pencinta alam termasuk di dalamnya petualang, peneliti, dan para backpacker. Untuk menggunakannya, komputer atau android perlu diinstal aplikasi navitel atau papigo terlebih dahulu. Dua aplikasi yang disebutkan oleh Mas Harry merupakan fitur berbayar, dan sebagai siasat ia juga memberi tahu bahwa di forum kaskus ada beberapa thread yang dapat diakses secara gratis. Setelah terinstal baru kemudian

26

|

E k sp l o r P ac ita n


data dapat diinput ke laman navigasi.net. Apa yang disampaikan Mas Harry, tadi, berada dalam ranah saling berbagi, dalam hal ini berbagi koordinat geografis. Indera beserta Sofi, ditambah Pak Bond, menunggu di luar. Melewati mulut gua yang berbentuk setengah lingkaran, badan mulai menunduk, penelusur tak bisa berdiri tegak sejarak belasan meter di awal lubang yang menyerupai gerbang. Langkah kaki kami terus bergerak semakin masuk lebih dalam melawan arus sungai yang bergerak keluar. Beragam bentuk dan ukuran stalagtit sudah terlihat menghiasi atap gua. Para penelusur harus berhatihati dalam melangkah agar tidak mematahkan atau membuat kerusakan-kerusakan lain. Setelah tidak lebih dari lima menit melintasi permulaan lorong Gua Perak yang merupakan aliran sungai bawah tanah yang keluar dan bergabung dengan sungai permukaan yang lebih besar. Suara gemericik air menjadi musik dalam penelusuran. Banyak tetesan air dari stalaktit yang menggantung di atap, sebagian terlihat putih bersinar dan tampak seperti batu kristal. Di beberapa ceruk kecil di dinding terlihat beberapa jangkrik dan di sisi lain dinding juga tampak seekor amblypygi. Sejak awal penelusuran kami sudah harus masuk ke dalam badan aliran sungai. Sepuluh meter pertama, lantai gua dipenuhi endapan lumpur dan dedaunan yang sudah membusuk sehingga saat kaki dilangkahkan air menjadi keruh kehitaman. Pada bagian lorong selanjutnya lantai sudah tidak berlumpur dan didominasi oleh pasir, kerikil dan bebatuan yang lebih besar lagi. Beberapa kali penelusur melangkahkan kakinya naik ke pinggir goursdam. Varian ornamen gua (speleothem) terlihat semakin memenuhi dinding, lantai, dan atap gua. Keindahan hiasan interior alami yang ada di dalam gua itulah yang kerap kali menjadi motif dilakukannya penelusuran gua. Cahaya senter di kepala Nanang yang berjalan paling depan, menyoroti beberapa ornamen yang menarik perhatiannya.

Palawa Unpad

| 27


Pendokumentasian sudah dilakukan sejak awal. Hampir satu jam penelusuran, kami sampai di bawah air tejun setinggi tiga meteran. Bagian ini merupakan lorong yang menghubungkan antara lorong bawah dan lorong atas. Nanang dan Baw bergerak ke atas. Kemampuan chimneying mutlak diperlukan. Suara gemuruh air yang seolah terdengar semakin membesar sempat menggoyangkan nyali. Setelah mengambil beberapa gambar, kami memutuskan untuk kembali ke permukaan. Air terjun dan telaga mungil mulai kami tinggalkan di belakang. Sebentuk studio alam yang elok takterkira menjadi latar berlangsungnya ketegangan yang tidak mudah dideskripsikan. Air yang meluap dari telaga membentuk arus deras mengikuti lorong gua, berkelok, dan terus menggerus lantai gua. Menurut informasi Tim Pacitan 2005, lorong atas Gua Perak masih cukup panjang. Saat itu tim mengakhiri penelusuran di depan sebuah sump. Perlu satu jam perjalanan untuk kembali tiba di luar. Bias cahaya matahari masuk ke dalam zona terang dan temaram. Dari balik mulut gua mulai terlihat langit biru di sela rerimbun dedaunan.  Selanjutnya kami harus menempuh perjalanan bermedan curam untuk dapat sampai di tepian jalan. Indra menyambut kami dengan senyum lebar. Syukurlah semua selamat dalam penelusuran. Sambil ngobrol, berbagai peralatan yang basah dijemur di tepian jalan yang populer dengan nama JLS, jalur lintas selatan. Jalannya lebar dan mulus dan siang ini permukaannya terasa begitu panas di telapak kaki. Para pengguna yang melintas hampir selalu menyempatkan menoleh ke arah kami. Mungkin kehadiran kami menarik karena menjadi pemandangan yang jarang terlihat. Wearpack, kaos kaki, celana pendek, syal, dan lain sebagainya berderet memanjang di tepian. Mungkin kami seperti korban kebanjiran, untungnya bukan.  Pada 12.30 kami bergerak, setelah hampir satu jam ngobrol asyik di pinggir jalan. Seru, namun ada juga insiden serius yang

28

|

E k sp l o r P ac ita n


terjadi dalam penelusuran. Hal tersebut kami ketahui belakangan. Rupanya kamera Mas Harry terendam air padahal sudah diproteksi sedemikian rupa. Wajahnya muram, kami pun menjadi ikut merasa bersalah. Seharusnya kami lebih keras memberi arahan terhadapnya. Sebetulnya tidak banyak yang perlu dievaluasi. Kalau pun ada kesalahan, hal yang utama adalah pertanyaan, “mengapa kamera dikeluarkan dari drybox? Mengapa gampang percaya dengan kekuatan plastik dan drybag-drybagan.� Di tengah lika-liku perjalanan menuju warung makan siang, Pak Bond menjawab pertanyaan iseng Nanang yang tengah didera kelaparan. Kata Pak Bond, Pacitan berarti snack atau makanan ringan. Rupanya Pak Bond kembali mendatangi warung makan Bu Dzakir. Bagi kami, ini yang kedua. Rupanya inilah warung favorit Pak Bond setiap masuk ke Pacitan. Di warung Bu Dzakir, kami membicarakan objek wisata yang dapat kami kunjungi untuk mengisi sisa waktu hari ini. Ajakan Kang Onath untuk mendatangi Gua Gong sebelum ke Pantai Klayar pun segera disetujui. Maka kami pun meminta Pak Bond mengantar ke lokasi. Mungkin Gua Gong menjadi salah satu gua terindah yang pernah saya masuki. Mungkin penilaian saya banyak dipengaruhi oleh bias cahaya artifisial yang dipasang di berbagai spot. Di sini, pengunjung dimudahkan dengan adanya jalan setapak yang menghubungkan ruang satu dengan ruangruang lainnya. Di beberapa ruang terdapat untaian flowstone yang menjulur bagaikan karpet dari singgasana raja. Dibandingkan dengan kompleks perguaan lain yang pernah saya masuki, setidaknya kompleks perguaan Buniayu dan Gudawang, apa yang saya alami dan dapati di Gua Gong masih lebih tinggi lagi. Sekelumit ihwal Gua Gong dapat saya ringkaskan. Gua ini ditemukan oleh Wakino (30 tahun) sebagai ketua rombongan, Suramin (54 tahun), Paino (42 tahun, ketua RT), Suparni (38 tahun, petani), Suyadi (39 tahun, petani), Paino (30 tahun, guru), Suyadi (39 tahun, petani), Paino (30 tahun, guru),

Palawa Unpad

| 29


Misno (29 tahun, petani), Suyatno (15 tahun). Pada Minggu Pon, 5 Maret 1995 mereka mencari keberadaan gua yang kelak dinamakan Gua Gong. Buku kecil berisi panduan wisata Gua Gong yang ditulis Drs. Wakino, memberikan banyak informasi terkait dengan sisi kesejarahan, termasuk ihwal awal mula pencarian gua. Ketika itu hari Minggu Pon tanggal 5 Maret 1995 sekitar pukul 09.00 WIB. Suramin bercerita kepada Wakino dan anak-anaknya yang lain duduk di ruang depan. Sang Bapak, Suramin, bercerita tentang kejadian yang dialami oleh sepasang sahabat, Mbah Noyo Semito dan Mbah Joyo pada pertengahan dekade 30’an. Pada masa itu desa mereka kekurangan air, kekeringan mengancam kehidupan, kemarau panjang melanda. Dua orang sahabat yang dipanggil Mbah akhirnya menyikapi persoalan yang ada dengan memutuskan mencoba masuk ke dalam sebuah gua, yang letaknya tidak jauh dari permukiman kami, untuk mencari air. Mereka membawa obor yang dibuat dari daun kelapa kering yang diikat. Penelusuran sampai menghabiskan tujuh ikat obor. Keputusan yang mereka ambil membuahkan hasil. Di tengah penelusuran mereka menemukan sebuah telaga kecil (sendang). Mereka minum-minum dan mandi sebelum keluar kembali untuk mengabarkan adanya jalan keluar untuk permasalahan kekeringan. Cerita di atas disampaikan secara turun temurun dan tersebar hingga menjadi pengetahuan umum. Masyarakat di sekitar gua umumnya tetap berusaha mengakses mata air permukaan, mereka tetap memegang keyakinan bahwa gua adalah bukan tempat manusia dan dianggap wingit. Saat pertama kali mendengar cerita itu dari Suramin, maka timbulah keinginan Wakino untuk menelusuri gua yang juga pernah ditelusuri oleh kakeknya. Keinginan yang disampaikan oleh Wakino rupanya memperoleh dukungan dari ayah dan saudarasaudara lainnya. Niat spontan itu segera dieksekusi, langsung di hari itu juga mereka bergerak.

30

|

E k sp l o r P ac ita n


Di saat pencarian, mereka berpatokan pada gerumbul pohon kluwih yang menjadi tanda letak lubang gua. Mereka sempat dibuat bingung hingga akhirnya sadar bahwa pohon kluwih yang dijadikan pegangan rupanya sudah mati. Meski demikian akhirnya mereka menemukan lokasi yang dicari. Mulut gua ditutupi oleh semak yang lebat. Tanah dan bebatuan pun menutupi lubang. Kali itu penelusuran menggunakan pencahayaan yang lebih modern, 7 batere tangan, 2 buah patromax, lilin, dan kamera untuk pendokumentasian. Pemberian nama Gua Gong erat berkaitan dengan salah satu perangkat gamelan Jawa. Konon pada saat-saat tertentu, di gunung yang ada guanya sering terdengar bunyi-bunyian. Semua memercayai, itu bunyi dari makhluk halus yang menyaru gamelan Jawa. Selain bunyi gong, juga kerap terdengar bunyi terbangan (nama sebuah seni musik lokal), bahkan ada pula suara tangisan orang yang sangat memilukan. Merujuk pada sering didengarnya bunyi-bunyian, nenek moyang dan para leluhur menamakan gunung yang ada guanya dengan nama Gunung Gong-gongan. Kisah itulah yang mendorong Drs. Wakino mengusulkan nama Gua Gong bagi gua yang terdapat di atas Gunung Gong-gongan. Gua Gong terletak di pesisir di pantai selatan Pulau Jawa, tepatnya di Dusun Pule, Desa Bomo, Kec. Punung, Kab. Pacitan, ¹ 37 km, arah barat kota Pacitan. Gua ini dikelilingi sederetan gunung di antaranya: Di utara Gunung Manyar, sebelah timur Gunung Gede, sebelah selatan Gunung Karang Pulut, dan sebelah barat Gunung Grugah. Deretan gunung yang mengelilingi Gua Gong, sebagian besar ditanami pohon jati, pisang, kelapa, dan pada musim penghujan juga ditanami ketela, cabe, padi, jagung dan tanaman tumpang sari lainnya, sehingga dari kejauhan nampak kehijauan yang dapat menambah keindahan dan keasrian suasana sekitar Gua Gong.

Palawa Unpad

| 31


Melihat matahari terbenam dari Pantai Klayar. Mas Harry sudah pernah ke sini dua kali. Pada kesempatan ketiga ini keadaannya berbeda. Ia mengaku kehilangan mood setelah mendapati kamera D6 yang dibawanya mengalami rusak parah. Saya tidak dapat berbuat lebih. Agak terlambat saya mengetahui peristiwa tas milik Indra yang hanyut terhempas ombak, sore tadi. Sesaat sebelum senja benarbenar tenggelam, saya melihat sebagian tim berkerumun di depan mobil Indra. Rupanya terjadi insiden yang sedang dicarikan jalan keluarnya. Remote alarm mobil Indra menolak macet, soalnya tadi kunci dan remote mobil ada di dalam tas yang sempat hanyut ditelan ombak laut selatan. Kang Onath memberi saran yang segera diterima oleh Indra. Kunci dibuka paksa, alarm bekerja, suasana menjadi meriah. Pak Bond maju mendekat sambil menyarankan agar kabel dipotong. Mendapat persetujuan Indra, tangannya pun bergerak memilah beberapa kabel yang di mata awam seperti saya semua tidak ada bedanya. Perlu pengetahuan untuk dapat memilih yang benar. Segera suara sirine padam. Seperti yang sudah dikatakan Pak Bond, setelah kontak terpotong maka lampu hazard akan menyala secara otomatis. Kejadian ini menjadi penutup yang terbilang unik. Perjalanan dari Pantai Klayar menuju hotel di kota Pacitan memakan waktu dua jam. Kang Onath dan Baw yang semula menumpang Xenia, pada perjalanan ini bergabung bersama Indra dan Sofi di dalam Soluna.

32

|

E k sp l o r P ac ita n


bagian 2.4

H

ari ini, 4 Mei 2014. Pacitan, Wonogiri, Jogja, dan Bandung. Akhirnya kami pun harus pulang. Sebetulnya masih kerasan di Pacitan. Masih banyak gua dan tempat menarik lain yang bias bahkan perlu dikunjungi. Jika mengikuti keinginan hati, tentu saya akan melupakan kenyataan bahwasannya besok adalah hari Senin. Kami pun bersalam-salaman. Indra berencana checkout agak siang sedangkan kami harus sejak pagi keluar dan bergerak, mengingat kereta yang akan kami tumpangi jadwalnya sudah masuk Jogja pada siang hari. Perlu tiga jam perjalanan untuk sampai di Jogja. Maka, mengikuti penyair Sapardi, kami pun bergerak ke barat waktu pagi matahari mengikuti di belakang. Di balik kemudi, Pak Bond terlihat menikmati perjalanan. Pedal gas terus ditekan dan mobil pun bergerak cepat di atas aspal mulus penuh kelokan tajam. Pada Jumat kemarin, lintasan yang sama kami lalui saat hari sudah malam, selain itu juga hujan. Bentang alam karst yang begitu khas terhampar memenuhi pandangan. Saya duduk di kursi paling belakang. Barisan tengah diisi oleh Baw,

Palawa Unpad

| 33


Nanang, dan Mas Harry. Kang Onath duduk di samping pak supir. Di bawah terang matahari semua kelihatan. Satu jam kemudian mobil sudah melintasi perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sebuah gapura menjadi penanda. Perjalanan banyak melintasi kiri kanan bukit karst dengan bentuknya yang unik. Kami tiba di Wonogiri. Sepertinya Palawa belum pernah melakukan eksplorasi gua di wilayah ini. Keadaan aspal mulai berubah. Mulai terasa permukaannya yang geradakan di Jawa Timur. Nanang menyalin empat koordinat gua yang telah kami telusuri dan dokumentasikan, dua koordinat gua di antaranya pernah dicatat oleh Tim 2008, namun ada sedikit perbedaan. Menurut Mas Harry sedikit perbedaan yang terjadi antara lain disebabkan faktor satelit. Selain titik gua, Nanang juga menyalin titik koordinat Pantai Klayar. Kabar baik hari ini, kamera Mas Harry mulai membaik, embun yang berkumpul di LCD-nya mulai bubar pelan-pelan. Satu insiden yang harus menjadi pelajaran. Aktivitas di hari Sabtu kemarin bagi saya cukup seru. Kami dapat mengunjungi tiga situs meski di luar rencana semula: Gua Perak, Gua Gong, dan Pantai Klayar. Sampai malam dan semua baru tidur menjelang tengah malam. Kemarin sempat diobrolkan betapa efektifnya pergerakan jika tim tidak terlalu besar. Kini kami sudah di dalam perjalanan pulang. Bayangan peristiwa berkelebatan, di dalam hati saya membatin: apa kira-kira yang bias dicatat? Hutan jati dan atap-atap rendah rumah penduduk, joglo. Nama-nama wilayah, entah desa atau kecamatan, nanti perlu dicek belakangan: Bayemharjo, Giritontro, Pracimantoro. Masih karst.  Pada sebuah simpang terbaca penanda arah yang menunjukkan lokasi Museum Karst. Sayang sekali kami tidak bisa mendatanginya meski hanya sekadar mampir sebentar. Saya ingat, Nanang, Aulia, dan Adun pernah masuk ke sana saat sekolah caving di Hikespi 2012 yang lalu. 

34

|

E k sp l o r P ac ita n


Jam 11 masuk ke Stasiun Tugu. Makan siang, gudeg. Kereta jam 11.55, masih ada waktu sebentar seperokoan dan sepeminumkopian sambil menunggu kereta datang dan perjalanan pulang yang akan segera menjelang. Pukul 19.15 kareta kami masuk Stasiun Bandung. Dari kejauhan terlihat putri dan istri Kang Onath melambaikan tangan. Kami bertiga dan Kang Onath pun berpisah. Kini kami kembali ke tengah keramaian kota Bandung. Perjalanan ke DU juga menarik dicatat. Supir taksi yang mengantarkan kami ternyata mengaku asli Jogja. Mulanya saya meragukannya, bukankah hal semacam itu lazim sebagai trick mengelabui. Bisa saja dengan mengaku asli dari Jogja setelah mengetahui kami baru kembali dari Jogja tidak lebih hanya akal-akalan.  Mulanya memang seperti itu, saya curiga ini hanya tipu-tipu, namun setelah mendengar gaya tertawanya yang keras dan lepas, saya segera diyakinkan bahwa si mas supir memang asli orang Jogja. Tawa yang dilepaskannya kontan mengingatkan saya pada beberapa atau banyak teman yang asli Jogja. Semua memiliki cara tertawa yang sama. Menyadari hal itu saya merasa malu sendiri. Seharusnya saya tidak perlu terlalu mencurigainya, bukankah akhirnya kecurigaan itu gugur dengan telak oleh tawa yang terbahak?  Seusai tawa maka sampailah kami di DU. Baru setengah delapan, sedangkan jadwal pemberangkatan ke Jatinangor jam sembilan, maka kami pun harus menunggu. Sambil duduk saya mencatat dua nomor pengeluaran terakhir: taksi limapuluh ribu, elf Geulis limabelas ribu.  Di sekretariat keadaan ramai. Belum lama tim Mabim ORAD juga baru datang. Mereka sedang melangsungkan evaluasi kegiatan. Kami pun segera melakukan evaluasi global. Wacana pendataan dengan menghasilkan laporan deskriptif, foto, dan film perlu terus digalakkan. Ke depan Palawa harus lebih banyak memproduksi, memproduksi, memproduksi, lebih dari itu Palawa

Palawa Unpad

| 35


juga harus terus melakukan penguatan-penguatan. Palawa dalam posisi tertentu dapatlah dilihat sebagai lembaga penyedia konten petualangan dan penelitian, meski banyak juga yang melihatnya sebatas sebagai kelompok bermain. Nggak tahu saya, mungkin karena salah asuhan.

Â

36

|

E k sp l o r P ac ita n


Palawa Unpad

| 37


PALAWA UNPAD

Eksplor Pacitan  
Eksplor Pacitan  

Eksplor Pacitan merupakan sekumpulan catatan yang dikerjakan sepanjang perjalanan penelusuran empat buah gua di Kabupaten Pacitan. Seperti c...

Advertisement