Issuu on Google+

FRIDAY READER’S CLUB OKTOBER/ DZULHIJJAH | EDISI 004 GRATIS | BULETIN JUM’AT DWIMINGGUAN

Membangun Negeri Bersama

Generasi Berbagi

Idul Qurban mengajari kita menjadi pribadi dermawan. Lantas seperti apa yang dimaksud harta berkah dan bagaimana agar harta kita senantiasa bertambah. Simak pula penjelasan Pakar Zakat Nasional, Prof. Dr. Didin Hafidhuddin tentang keutamaan sedekah, zakat, wakaf, dan infak. Serta fungsinya dalam memajukan perekonomian bangsa.

Bekali Anak dengan Pendidikan Shalat

Islam menyuguhkan ‘paket pendidikan’ yang holistik. Tak cuma perihal akademis semata, tapi nilai-nilai dan norma pun ikut diperhatikan. Mula pendidikan yang utama ada di rumah, sedangkan shalat adalah mata pelajaran wajibnya.

Tidak Dibaca Saat Khutbah Jum’at Berlangsung | 1 TIDAK DIBACA SAAT KHUTBAH JUM’AT BERLANGSUNG


Media Persatuan Umat

M

emasuki edisi keempat sangatlah luar biasa. Sambutan dan dukungan Anda semua adalah semangat kami selama ini. Banyak cara untuk mendukung gerakan kami, misalnya dengan memberi saran dan masukan yang membangun, usulan tema, atau sekadar mereferensikan FRC kepada rekan. Semua sangat berarti bagi kami. Kami percaya umat Islam adalah umat tangguh, apalagi bila jejaring dan silaturahmi terjaga. Bukankah kita semakin kuat bila bersatu? Karena itulah kami hadir ditengah Anda, untuk melengkapi jejaring umat. Kami memilih jalur media massa berbasis komunitas. Alasannya karena kami melihat media massa adalah aset yang sangat potensial bagi perkembangan dan kemajuan umat Islam, tapi sayang area ini belum

FRIDAY READER’S CLUB 2 | Friday Reader’s Club

diberdayakan secara optimal. Padahal, media massa punya pengaruh kuat di masyarakat. Segala isu terkini tentang dunia dan Indonesia kita peroleh dari media massa bukan? Nah, apa jadinya bila banyak media massa yang justru membuat citra negatif tentang Islam dan komunitasnya. Karena itulah, kami menilai buletin jum’at adalah sarana terbaik untuk menyebarkan ide-ide ke-Islam-an secara positif dan mengembalikan citra Islam yang rahmatan lil alamin. Tentu saja kami tidak akan berhasil bila bergerak sendiri. Peran aktif dari pembaca sangat diperlukan. Mengingat betapa ‘kecil’-nya buletin FRC bila dibandingkan dengan para ‘raksasa’ media massa yang kini menguasai isu nasional dan opini publik masyarakat Indonesia. Dukungan Anda pada FRC sangat menentukan. Pengurus: M Iqbal Tawakal, Rini Mulyani Sekretariat: Jl. KH. Wahid Hasyim, Gg. Babakan Baru II No. 14, Bandung Telepon: (022) 92221085 Email: fridayreadersclub@gmail.com Facebook: facebook.com/FridayRC Iklan dan Kerjasama: 08562349700 Rekening Donasi: Bank Syariah Mandiri 703.6750.655 a.n M Iqbal Tawakal Desain dan Percetakan: L-Pro Media Solution lprostuido@gmail.com


TEMA UTAMA

Berkah & Bertambah “Harta yang baik sekaligus berkah tak cuma menyejahterakan pemilik harta saja, tetapi juga masyarakat secara keseluruhan.”

- Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin (Pakar Zakat Nasional)

M

emiliki harta yang berkah dan senantiasa bertambah, apalagi berlimpah adalah idaman kebanyakan orang. Tentu saja selaku agama yang pleno, Islam tak pernah melarang umatnya untuk menjauhi urusan duniawi. Karena itu dalam Bahasa Arab, harta disebut al-maal yang berarti ‘sesuatu yang disenangi oleh manusia’. Sebagaimana firman Allah,


“Telah ditanamkan pada manusia rasa cinta terhadap wanita, anak-anak, harta yang banyak dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan lahan pertanian. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (Ali Imran:14).” Karena itu merupakan fitrah insani bila kita tertarik untuk mengumpulkan harta. Ibarat gula bagi semut, harta bagai magnet yang menarik manusia untuk selalu mendekat. Bahkan, dengan harta seseorang bisa ‘membeli’ surga. “Harta halal yang dikelola dengan baik dan digunakan untuk berjihad di jalan Allah adalah alat kita untuk menggapai surga,” ungkap Didin Hafidhuddin dalam Agar Harta Berkah dan Bertambah (2007). Tapi juga sebaliknya, harta

merupakan ‘kendaraan’ tercepat menuju neraka! Kita pasti sudah biasa mendengar ungkapan dangkal seperti ini, “mencari harta yang haram saja susah apalagi yang halal.” Sungguh, ucapan naif seperti ini tiada lain terlontar dari mulut para pemalas. Hakikat harta dalam Islam tak cuma perhiasaan hidup semata, tetapi juga merupakan titipan sekaligus cobaan. Sehingga pengelolaan harta harus bijak dan sesuai syariat. Jangan sampai, ‘magnet’ yang satu ini malah menjadi belenggu yang membuat kita terpenjara di dalamnya. Didin menegaskan, seorang muslim haruslah menempatkan harta sebagai bekal ibadah dan perjuangan dakwah semasa hidup di dunia. “Kita harus menanamkan betul dalam hati bahwa hakikatnya harta adalah

Konsep Berkah Islam

astinya kita ingin harta kita berkah. Senantiasa memberikan ketenangan dan bermanfaat tak cuma untuk keluarga kita, tapi juga untuk masyarakat. Berkah, bagi Didin Hafidhuddin, adalah harta halal yang didapat dengan cara halal dan dibelanjakan dijalan yang halal pula. “Cara yang paling mudah melihat apakah harta kita berkah atau tidak adalah dari sifatnya; harta yang berkah akan selalu bertambah,” tulis ketua Baznas RI itu. Akan tetapi kita tetap diwanti-wanti untuk waspada. Karena bisa jadi harta yang bertambah masuk kedalam golongan harta istidraj alias

4 | Friday Reader’s Club

P


milik Allah semata,” tambahnya. Karena itu, kita harus memastikan mendapatkannya dengan cara yang halal serta menggunakannya sesuai ketentuan syariat. Serta ingatlah, bahwa ada hak orang lain dalam sebagian harta kita. Harta ini dapat ‘dibersihkan’ dengan beragam cara; zakat, infak, sedekah, atau wakaf. Justru dengan mengeluarkannya, harta kita menjadi berkah dan berlipat ganda. Seperti termaktub dalam Al-Baqarah:261, “perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai dan pada tiap tangkai terdapat seratus biji…” Sudah banyak orang yang membuktikan ‘rumus ajaib’ dari kegiatan filantropis Islam itu. Baik zakat, sedekah, infak, maupun wakaf memiliki

keajaibannya tersendiri. Bahkan, salah seorang ustadz kondang pernah berkata bahwa biji yang kita tanam melalui sedekah akan mekar dengan cepat serta tak terduga. Lihat saja para pengusaha muslim yang sukses, kebanyakan dari mereka adalah seorang filantropis. Seorang sahabat Rasul, Utsman bin Affan adalah yang terkaya dikalangan kaum Quraish. Pernah ia menyumbangkan ribuan dinar dan seribuan ekor kuda untuk keperluan jihad dan pembangunan umat ketika itu. Ada riwayat lain yang menyebutkan, Utsman mengeluarkan hampir seluruh hartanya untuk keperluan umat tapi ia tetap yang paling kaya dan terhormat. Tentu saja, kita tak perlu lagi mempertanyakan kualitas ibadah dan keimanan Utsman bukan? MI-FRC

cobaan yang akan menggelapkan mata dan hati kita. Agar mudah mengenali harta berkah, sedikitnya ada tiga sifat dari harta yang benar-benar berkah; Taqarrub. Artinya, setiap harta yang kita peroleh pada dasarnya hanya alat atau sarana mendekatkan diri kepada Allah semata. Semakin bertambahnya harta tidak lantas membuat lupa diri. Justru sebaliknya, ibadahnya makin rajin, senantiasa bersyukur, tidak meninggalkan zakat, mudah berderma, serta berbudi luhur. Dengan kata lain, keberlimpahan harta yang dimiliki mampu memberikan ketenangan batin dan mendatangkan kekhusyuan ibadah. Inilah harta berkah yang sesungguhnya. Adakah orang yang berlimpah harta tetapi hidupnya tidak tenang? Jawabnya, banyak! Pernahkah Anda melihat seorang kaya raya tetapi selalui Tidak Dibaca Saat Khutbah Jum’at Berlangsung | 5


resah dan sulit. Misalkan, ditengah kekayaannya ia tak bisa menikmati makanan ini dan itu karena sakit. Bisa juga dia menjadi orang yang kikir, sehingga tetangga enggan bergaul bahkan mencibir benci. Ada juga orang yang tak bisa tidur setelah membeli mobil baru, karena takut ada pencuri. Alih-alih mendapat kedamaian batin, harta yang berlimpah bagi mereka adalah bencana hati. Manfaat. Tak hanya berfungsi sebagai alat spiritual semata, harta yang berkah juga hendaknya memberi manfaat sebesar-besarnya bagi kehidupan umat semasa di dunia. “Harta seorang muslim harus bermanfaat bagi orang lain,� tegas Didin. Hal ini sejalan dengan spirit pembangunan kala Islam baru berkembang di Madinah dulu. Masjid Nabawi ketika itu menjadi semacam pusat perekonomian kecil. Dana-dana yang terhimpun melalui zakat, infak, sedekah, dan wakaf di kelola oleh masjid dan didistribusikan kepada yang berhak sekaligus menjadi modal pembangunan waktu itu. Sejak mula Islam diturunkan, konsep pembangunan dan pengelolaan harta memang telah dilandaskan pada asas manfaat. Tidak terbatas pada tataran individu, asas manfaat ini juga hendaknya bisa dirasakan oleh publik. Misalkan, dibelanjakan untuk keperluan amal jariyah seperti pembangunan masjid, sekolah, rumah sakit, perbaikan jalan, pembangunan jembatan, hingga pengelolaan media massa. Karena sekecil apapun kontribusi kita pada umat, merupakan bukti bakti kita pada Ilahi. Cukup. Nah, ini penting. Bila harta kita belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, itu tandanya belum berkah. Tapi, perlu diingat keperluan sehari-hari hendaknya tidak berlebihan apalagi sampai mubadzir alias banyak terbuang sia-sia. Harta yang baik adalah harta yang cukup bagi pemiliknya, bukan harta yang selalu merongrong jiwa kita. Jangan sampai harta yang kita miliki seperti air laut, setiap kali kita meminumnya dahaga kita semakin bertambah. Seorang muslim yang telah tertanam konsep ‘harta taqarrub’ dalam hatinya akan hidup sederhana karena merasa telah dicukupkan rezeki atas dirinya. Ia tidak merasa haus akan kemewahan dan tidak pula membiarkan hawa nafsu memperbudak dirinya. Adapun kelebihan harta yang ia miliki dihadapi dengan rasa syukur dengan beramal 6 | Friday Reader’s Club


sebagai implementasinya. Karena amal ini pula, harta yang ia miliki makin berkah dan bertambah. Hal ini senada dengan sabda Rasul, “harta tidak berkurang karena sedekah, dan tidaklah Allah menambah bagi hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang yang bertawadhu karena Allah melainkan Dia akan meninggikan derajatnya. (HR Muslim).” Bertambah Berkah Islam mengalami puncak keemasan lebih dari 700 tahun setelah Rasul wafat. Tentu saja modal utama dari sebuah peradaban besar adalah perekonomian yang tangguh. Salah satu gerbong penggerak perekonomian Islam adalah melalui zakat, termasuk di dalamnya infak, sedekah, dan wakaf. Didin menjelaskan, zakat pada tataran individu merupakan ‘pembersih’ harta sekaligus membuat harta semakin berkah dan bertambah. Sedangkan di tataran nasional, zakat adalah modal bagi roda ekonomi umat. “Zakat, infak, sedekah, dan wakaf merupakan ibadah maaliyah ijtimaiyyah yang punya posisi penting dan strategis, baik dari sisi ajaran maupun pembangunan umat,” jelas Didin. Bahkan, zakat merupakan salah satu dari rukun Islam. Sudah menjadi kesepakatan ulama bahwa zakat merupakan syarat mutlak dari keislaman seseorang. Tak tanggung, berapa ayat Al-Qur’an dan Al-Hadist memberikan peringatan dan ancaman keras bagi mereka yang lalai mengeluarkan zakat. Sebagaimana pentingnya perintah menegakkan shalat.

Bukan hanya zakat saja yang penting. “Infak, sedekah, dan wakaf juga punya kekuatan tersendiri guna membangun kesejahteraan bersama.” Bila zakat terikat oleh waktu dan ukuran, maka infak, sedekan, dan wakaf tidak. Sehingga peluang pemberdayaannya bisa lebih dahsyat lagi. Misalkan digunakan untuk pembangunan sarana pendidikan. Dalam kaitan ‘Harta Berkah dan Bertambah’ sedekah punya kisah tersendiri. Beberapa buku banyak dibuat khusus membahas keajaiban sedekah. Karena memang hal ini bukan isu isapan jempol. Seorang motivator bahkan menyatakan, sedekah adalah ‘hukum’ universal yang berlaku bagi semua umat manusia. Bila kita menanam kebaikan, maka kita akan memanen kebaikan pula begitu juga sebaliknya. Seorang penulis asal Amerika, Rhonda Byrne membuktikannya. Dalam bukunya The Secret - The Magic (2012) ia berkesimpulan bahwa ‘magnet’ uang para miliarder dunia adalah kegiatan filantropi. Kita selaku muslim harusnya selangkah lebih maju (dan lebih kaya) dari orang Barat. Karena zakat, infak, sedekah, dan zakat dalam Islam merupakan satu paket. MI-FRC

Tidak Dibaca Saat Khutbah Jum’at Berlangsung | 7


ARTIKEL

Pondasi

Generasi Emas

P

endidikan dan manusia tak bisa lepas. Selaku mahluk yang sempurna, manusia tak cuma mampu beradaptasi. Mereka juga belajar, lebih dari itu; merumuskan sistem pendidikan. Di Indonesia kita kenal maestro pendidikan; Ki Hadjar Dewantara. Selain sebagai tokoh peletak dasar pendidikan Indonesia, pemikiran Ki Hadjar mendunia. Konsep pendidikan yang ia suguhkan sangat pleno. Mulai dari pedidikan keluarga (di rumah), konsepi sekolahan, masyarakat, hingga pendidikan sebagai budaya suatu bangsa. Bagi Ki Hadjar, pendidikan keluarga adalah pondasi, dan semua dimulai saat kanak-kanak. Ia menjelaskan, ketika anak umur tiga setengah sampai tujuh berada dalam masa gevoelige atau keadaan peka. Ini merupakan kondisi sempurna bagi anak untuk menanamkan nilai-nilai dalam jiwanya. Bahkan sesuatu ‘yang ditanam’ saat masa ini akan menjadi cikal-bakal kepribadian orang itu. Dalam istilah Ki Hadjar sebagai ‘dasar jiwa yang tetap’.


Tidak Dibaca Saat Khutbah Jum’at Berlangsung | 9


Konsep pendidikan keluarga suguhan Ki Hadjar kala itu jadi semacam tamparan bagi kaum elite. Pasalnya ketika itu mereka begitu ‘mengagung-agungkan sekolah’. “Dikiranya tak perlu lagi di dalam rumah diadakan syarat-syarat pendidikan. Segalanya seolah diserahkan borongan pada sekolah dan pihak guru,” tuturnya dalam satu artikel di Keluarga (edisi Nopember 1936). Kita tak bisa menyerahkan pendidikan dasar pada sekolah. Dulu, orang-orang nigrat Jawa begitu senang saat anak-anaknya masuk sekolah buatan Belanda. Sedari umur lima mereka sudah mengenyam pendidikan ala kolonial. Padahal kita sama-sama tahu, pendidikan formal cuma bekali anak urusan akademis. Misalkan, kemampuan matematis, analisis, hingga tulis-menulis. Sedangkan perkara budi pekerti, norma, atau nilai-nilai budaya dan agama sekadar sambil lalu. Jelas itu urusan keluarga, pendidikan mutlak dilakukan. Ada dua macam keluarga dalam menanggapi isu pendidikan dirumah. Pertama mereka yang tak acuh, alias menganggap bahwa kehidupan berkeluarga berlangsung begitu saja. Golongan ini menilai proses replikasi perangai orang tua oleh anak adalah hal yang biasa. Karena itu mereka tak menganggap proses ini sebagai sesuatu yang penting. Kehidupan berkeluarga pun dilalui tanpa arahan pendidikan yang jelas untuk anak. Biasanya jika setelah dewasa anak mereka 10 | Friday Reader’s Club

mbalelo, orang ini akan dengan mudah menyalahkan lingkungan dan sekolah yang tidak beres. Mencari kambing hitam adalah kegemarannya, sementara pihak orang tua tak mau ‘dikomentari’ karena merasa telah memberikan pendidikan yang ‘baik’ (disekolahkan). Kedua, keluarga yang peduli. Mereka sadar bahwa dalam lingkungan berkeluarga sedang terjadi pendidikan. Biasanya orang tua akan sangat memerhatikan sikap mereka. Biasanya role model yang diperankan oleh orang tua akan benar-benar dimaksimalkan. Mereka juga paham bahwa di masa gevoelige anak-anak mudah berimitasi. Karenanya perilaku positif saja yang dicontohkan dan sebisa mungkin menghindari perangai buruk. Misalkan, menghindari bentakan, berbohong, atau melukai perasaan. Sebaliknya, orang tua seperti ini mengedepankan pendidikan terbuka melalui diskusi. Ahlak mulia sangat baik dan mangkus ditanamkan saat masa gevolige. Seperti yang diungkap Ki Hadjar, sebagai awal pembentukan pribadi. Bahkan, dalam Islam anjuran shalat untuk anak-anak sudah dimulai dari kecil. Proses pembiasaan ahlak baik juga disarankan dilakukan sebelum anak menginjak umur tujuh. Misalkan, membiasakan anak bangun pagi, mengaji, shalat berjamaah di masjid, atau bertatakrama. Semua itu akan sangat baik bila dilakukan pada masa ‘emas’ ini.


Budi Pekerti Melalui Shalat “Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka saat usia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Daud dan Ahmad). Perintah shalat disampaikan langsung oleh Allah Swt. kepada Rasul melalui perjumpaan agung saat malam Isra’ Mi’raj. Tentu saja hal ini mengisyiratkan sesuatu yang luar biasa. Perintah shalat dalam Islam tak main-main, bahkan selaku muslim kita tak diperkenankan meninggalkan shalat apapun alasannya. Kewajiban ini berlaku untuk seluruh muslim sejak ia mulai baligh. Karena itu tak heran, bila pelajaran shalat adalah bab penting di awal kehidupan seorang muslim. Karena melalui shalatlah Islam akan tegak di hati generasi penerus kita. Selaku muslim kita sudah sama-sama mafhum dengan hadist anjuran shalat diatas. Konsep pendidikan anak yang di tawarkan Ki Hadjar dalam keluarga ternyata sudah diisyaratkan oleh Islam 14 abad silam. Syekh Ibn Baz dalam Majmu Fatawa Bin Baz (2012) menjelaskan pentingnya pendidikan shalat pada anakanak sejak kecil. Selain hal ini akan lebih mudah meresap kedalam jiwa, proses pembiasaan ini pula akan membantu membentengi ahlak anak. “Perhatikanlah keluarga dan jangan lalai. Hendaknya kalian bersungguh-sungguh untuk kebaikan mereka,” ungkapnya.

Pukulan diperlukan untuk menegakan disiplin pada anak-anak. Tentu saja dengan pukulan yang wajar dan tidak melukai. Bahkan, kata Syekh Ibn Baz, pukulan yang dilakukan hendaknya mampu mendorong anak-anak agar lebih taat kepada Allah dan Sunnah Rasul. Jadi, jangan asal jeplak! Apalagi memukul di wajah, jelas hal itu diharamkan. Melalui pendidikan shalat saja, Islam telah mengajarkan kepada kita untuk bersungguh melakukan pendidikan di keluarga. Mengajari anak-anak shalat berarti menanamkan nilai ke-Islam-an sejak dini. Syaikh Jalal Muhammad Syafi’i mengatakan shalat dan Islam tak bisa dipisahkan. “Siapa yang meninggalkan shalat dengan sengaja, berarti mereka sedang melangkah keluar dari Islam,” tegasnya dalam The Power of Shalat (2006). Pernyataan itu tak berlebihan, bila kita mengingat seruan-seruan shalat dalam Al Qur’an dan Sunnah yang begitu jelas. Bahkan Rasul pernah bersabda, “pemisah antara seseorang dengan kekafiran adalah shalat. Siapa yang meninggalkannya sungguh ia telah kafir.” (HR Ahmad, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah). Tentu kita tak ingin generasi penerus berada dalam kelompok sesat apalagi dimurkai. Karena itu pendidikan shalat mestinya jadi bekal utama anak-anak. Sedangkan saat yang paling tepat melakukan semua itu ada di masa gevoelige. MI-FRC

Tidak Dibaca Saat Khutbah Jum’at Berlangsung | 11


SENGGANG

Jago Kelola

Bahasa Tubuh

K

di Kantor

omunikasi yang baik sangat menunjang keberhasilan kerja dan karir. Kadang kala masalah timbul hanya kesalahan dalam komunikasi. Sebaliknya, banyak hal menjadi mudah karena keterampilan komunikasi. Karena itu, komunikasi perlu dikuasai untuk menunjang keberhasilan pekerjaan. Banyak persepsi salah mengenai komunikasi. Semua orang mampu berkomunikasi, namun tidak banyak orang yang mampu berkomunikasi dengan efektif dan efisien. Banyak bicara bukan jaminan bahwa orang tersebut mampu berkomunikasi dengan baik. Semakin banyak pesan yang diumbar, bukan berarti semuanya akan sampai dan diterima dengan efektif. 12 | Friday Reader’s Club

Sebaliknya, mungkin banyak pesan yang tidak diterima karena saking banyaknya yang disampaikan. Hal ini dikarenakan bahasa merupakan salah satu unsur dalam sebuah proses komunikasi. Kita berbicara merupakan suatu bentuk komunkasi verbal. Padahal, banyak keberhasilan proses komunikasi ditentukan oleh komunikasi non verbal, di dalamnya terkandung banyak hal. Misalnya intonasi bicara, bahasa tubuh, pakaian, atau penampilan kita. Apalagi dalam budaya Indonesia, seseorang lebih percaya kepada “pengirim pesan� daripada pesan yang disampaikan. Itu artinya orang akan melihat siapa Anda, ketimbang apa yang Anda bicarakan terlebih dulu.


Komunikasi non verbal sering terabaikan. Karena itu, kemahiran dalam menggunakannya bisa menunjang keberhasilan pekerjaan. Kita tidak perlu banyak bicara untuk menyampaikan pesan. Hanya lewat pakaian dan gerak tubuh, kita bisa menyenangkan rekan kerja atau atasan, sehingga masalah pekerjaan bisa berlangsung dengan lancar. Beberapa faktor penentu komunikasi verbal adalah; Perhatikan Penampilan Tubuh manusia adalah sebuah pesan. Bagaimana Anda berpenampilan, merupakan citra diri Anda. Usahakan agar berpenampilan sesuai dengan pekerjaan. Jika bekerja di bidang pelayanan publik, usahakan berpenampilan rapi dan menarik. Usahakan agar penampilan Anda merupakan sebuah pesan bahwa Anda berkapasitas dalam pekerjaan ini. Jangan sampai muncul persepsi yang salah. Seorang pekerja lapangan memang tidak dituntut untuk berpakaian terlalu rapi ketika melakukan pekerjaan. Namun usahakan agar penampilan itu menggambarkan bahwa Anda menguasai pekerjaan, sehingga orang lain percaya. Ekspresi Wajah Ekspresi menentukan prestasi. Kadang mimik muka dapat dibaca secara tidak sadar oleh seseorang. Hal ini telah kita praktikkan selama hidup kita. Kita bisa mengetahui

mana orang yang kita sukai dan tidak, bahkan dari pertama kita bertemu. Usahakan untuk menampilkan mimik muka yang sesuai dan menyenangkan bagi lawan bicara. Kesamaan budaya memang menunjang dalam kesamaan memaknai ekspresi wajah. Karena itu, pelajari budaya tempat kerja Anda, dan tirukan ekspresi yang sekiranya menyenangkan banyak orang di sana. Namun hati-hati, karena kepura-puraan dalam berekspresi bisa terlihat oleh alam bawah sadar seseorang. Bahasa Tubuh Bahasa tubuh menjadi penting karena sering tidak kita sadari. Kita menggerakkan tangan dan kaki sesuai suasana hati kita. Kita tidak sengaja untuk menggerakkan seperti ini dan itu. Alam bawah sadar seseorang bisa menangkap kesan tersebut. Karena itu perhatikan bagaimana Anda menggerakkan badan, tangan, kaki, kepala, dan mata. Usahakn agar gerakkan tersebut dimaknai dengan baik. Salah satu contoh adalah untuk menunjukkan bahwa Anda menaruh perhatian terhadap apa yang dikatakan lawan bicara. Anda bisa menyondongkan badan, mengangkat alis, tersenyum, dan mengangguk simpati. Hal-hal seperti ini tentu perlu latihan sehingga tidak terasa aneh dan canggung. Kemahiran ini bisa membuat orang senang terhadap Anda. Masalah pekerjaan yang pelik juga bisa diatasi dengan komunikasi non verbal ini. FRC

Tidak Dibaca Saat Khutbah Jum’at Berlangsung | 13


Edisi Depan

Metamorfosis Diri di Tahun Baru

Tahun baru Islam merupakan momentum tepat guna ber-muhasabah diri. Mengingat kembali prestasi-prestasi atau dosa-dosa kita selama setahun kebelakang bisa jadi bekal perubahan untuk tahun berikutnya. Jangan sampai, kita masuk kedalam golongan orang yang rugi (setiap tahun sama saja), apalagi golongan yang celaka (makin buruk tiap tahun). Mari pertajam iman dan kepekaan sosial di tahun baru. Simak pula kisah-kisah luar biasa Nabi Besar Umat Islam, Muhammad Saw. serta doa beliau bagi kita umatnya yang hidup sekarang. Temukan juga tips-tips sukses dari Prof. Dr. Rhenald Kasali Ph.D agar hidup lebih produktif dan berdaya saing tinggi. Semua di FRC edisi 5, dua minggu yang akan datang.

Jadilah Pelopor

Pembaca yang budiman. FRC adalah buletin komunitas rintisan. Dukungan Anda adalah semangat kami untuk terus berkarya. Jadilah yang pertama di halaman Facebook kami! Dukung kami dengan meng-klik tombol LIKE di halaman Facebook kami;

facebook.com/FridayRC

14 | Friday Reader’s Club

e ik L /FridayRC


Tidak Dibaca Saat Khutbah Jum’at Berlangsung | 15


16 | Friday Reader’s Club


Frc4