Page 1

Tabloid Mahasiswa Universitas Tanjungpura

Edisi 13/Thn XXV/LPM Untan/2008


Assalamualaikum Wr.Wb Menurut saya, Fakultas Pertanian di Untan ini banyak sekali membebankan mahasiswa dalam pembiayaannya. Saya melihat di Fakultas Pertanian banyak sekali perbaikanperbaikan yang tidak sepantasnya, karena iuran tersebut digunakan untuk membetulkan jalan yang masih bagus menurut saya tapi pertanian telah merobohkan jalan itu. Mungkin ada maksud tertentu dari proyek perbaikan jalan tersebut. Saya tidak berfikir negatif tentang proyek tersebut, apalah daya kami sebagai mahasiswa untuk ikut campur. Hanya saja, saya sarankan sebaiknya biaya kemahasiswaan kemarin digunakan untuk membangun fasilitas yang lebih berguna. Seperti sarana olahraga atau kesenian yang dapat menunjang kreativitas mahasiswa sesuai bidang yang ditekuninya. Terima kasih.

Surat Pembaca

Dapur Redaksi

Biaya Kemahasiswaan Belum Digunakan Sesuai Kebutuhan

Verdy Kurniawan, Mahasiswa Fakultas Pertanian

Bukan Sekedar Ucapan

Cartoon

Salam Pers Mahasiswa! Setelah melewati beberapa bulan sejak tabloid edisi 13 yang lalu, senang sekali akhirnya LPM Untan bisa kembali menyapa para sobat mahasiswa yang selalu setia menanti dan membaca produk-produk terbitan kami. Tabloid Mimbar Untan Edisi 14 ini merupakan produk kedua yang dirilis dan diterbitkan LPM Untan diawal tahun 2010. Selama masa pengerjaan tabloid ini, begitu banyak tantangan dan cerita yang berkesan. Kesibukan para reporter serta redakturnya karena perkuliahan yang begitu padat (agak lebay sih hehe), masa libur yang cukup panjang, plus membantu persiapan dan pelaksanaan diskusi, perekrutan, pelatihan serta pelantikan anggota baru yang telah menjadi agenda rutin LPMU. Semua itu tentunya membutuhkan kekompakan, komitmen, serta integritas yang utuh. Banyak kepala, banyak pemikiran, banyak alasan. Itulah yang tepat untuk menggambarkan suatu teamwork. Meskipun demikian, kita mencoba untuk mencari solusi terbaik agar apa yang dicita-citakan bersama dapat tercapai tanpa mengabaikan solidaritas dan kebersamaan di antara sesama anggota dan pengurus LPMU. Kami menyadari bahwa dari tahun ke tahun arah militansi jurnalistik mahasiswa berubah cukup pesat mempengaruhi semangat dan komitmen pers kampus. Namun, hal ini tentunya tidak menghilangkan semangat pers kampus untuk menyampaikan informasi bagi masyarakat kampus mengenai apa yang seharusnya diketahui agar kita bisa berpikir dan memberi solusi untuk setiap permasalahan yang ada. Sudah seharusnya mahasiswa menjadi pejuang yang tidak hanya diam di balik bangku kuliah menjadi seorang intelektual abal-abal namun menjadi pejuang yang mempergunakan intelektualitasnya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik. Lebih mengandalkan logika daripada emosi akan lebih baik dalam menyelesaikan suatu masalah. Pertanyakanlah dalam diri kita mengapa lebih dari 60 tahun Indonesia merdeka, tetapi belum adanya pemerataan pembangunan dalam negeri ini? Dengan keadaan sumber daya alam yang berlimpah, mengapa sebagian besar masyarakatnya masih sulit menikmati kehidupan yang layak? Di edisi 14, Redaksi Mimbar Untan sepakat untuk sedikit banyak mengangkat permasalahan mengenai isu pendidikan di Kalimantan Barat yang dikemas dalam kolom mimbar utama, kemudian kita diajak untuk mengenal Kota Pontianak dari sisi lain melalui folklore-nya di kolom mimbar khusus, serta menyorot kembali peran mahasiswa sebagai “agent of change� yang mulai kehilangan ruh-nya yang dibahas pada kolom mimbar kampus dan masih banyak lagi informasi-informasi menarik yang disajikan pada edisi ini. Redaksi Mimbar Untan berharap selalu dapat memberikan informasi yang aktual dan memiliki kredibilitas yang tinggi. Mohon maaf jika dalam penyajian tabloid edisi 14 terdapat kekurangan namun akan sangat membantu jika sobat mahasiswa bisa menyampaikan kritik dan saran serta hal-hal yang patut dipertahankan kepada redaksi demi perbaikan kualitas terbitan mendatang. Keluarga Besar LPM Untan juga mengucapkan selamat atas dilantiknya beberapa dosen Untan sebagai guru besar dan juga kepada para anggota, pengurus LPM Untan serta para sobat muda mahasiswa yang baru saja diwisuda. Mari bersama kita membangun Kalbar, Indonesia menjadi lebih baik. Kepada para anggota dan pengurus LPMU yang baru dilantik, kembangkan terus bakat dan kemampuanmu untuk membuat lembaga ini lebih baik.[] KARIKATUR/ISWANDI

Tabloid Mimbar Untan diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Tanjungpura Pontianak. Pelindung: Rektor Untan, Pembina: Purek III, Pengarah: Kabag Kemahasiswaan, Ketua Umum: Sri Pujiyani, Sekretaris Umum: Jumardi Budiman, Bendahara Umum: Tri Mulyaningsih, Divisi PSDM: Odilo Tarigasa (Ketua), Irwan Kurniawan, Dewi Hairani, Divisi Penerbitan: Agustinah (ketua), Ihwan Ridho, Rizky Amaliah, Divisi Penelitian dan Pengembangan: Riya Yulharmaini (ketua), Andri Setiawan, Riza Erni, Divisi Penyiaran: Ellia Marliany, Agus Witarsa, Sumarti Dewiyani, Divisi Perusahaan: Iswandi (ketua), Yulia Citra, Suwendi, Pemimpin Redaksi: Odilo Tarigasa, Sekretaris Redaksi: Tri Mulyaningsih, Redaktur: Sri Pujiyani, Agustinah, Ide Karikatur: Iswandi, Artistik: Tim Gambreng, Fotografer: Jumardi Budiman, Staf Redaksi: Tri Mulyaningsih, Riya Yulharmaini, Jumardi Budiman, Alamat Redaksi: Jl Daya Nasional Komplek Untan (Gedung MKDU), Telepon: 08135 259 2596, e-mail: lpm_untan@yahoo.com, Blog: lpmuntan.blogspot.com, Percetakan: Romeo Grafika, Jl Sultan Syarif Abdurahman (Isi diluar tanggung jawab percetakan). Redaksi menerima tulisan berupa opini, essai, laporan kegiatan kampus, puisi/ cerpen, hasil investigasi dengan disertai identitas diri. Tulisan diketik rapi minimal tiga lembar folio dengan spasi ganda. Redaksi berhak mengedit tulisan tanpa mengubah makna tulisan.

2

Edisi 14/Thn XXVII/LPM Untan/2010


Editorial

M

ahkamah Konstitusi (MK) memang telah mencabut UU Sisdiknas berikut UU BHP 31 Maret 2010 lalu. Tak ayal keputusan ini mendulang protes petinggi kampus. Aswandi misalnya. Dekan FKIP Untan ini berang atas putusan itu. Semangat UU BHP yang katanya mengharuskan tiap Perguruan Tinggi (PT) menyisihkan 20% bangku perkuliahan untuk calon mahasiswa miskin berprestasi kandas sudah. Apakah dengan pencabutan UU BHP ini perjuangan mahasiswa berhasil? Kabar buruk kawan Chairil Effendy, Rektor Untan mengatakan ”semangat perubahan” UU BHP yang telah dicabut ini akan dibuatkan Permen (Peraturan Menteri) terpisah. Persoalannya bukan pada mengadu UU yang berlapis tapi pendidikan telah masuk dalam komoditas pasar dalam perjanjian GATS. Perjanjian ini mendikte negara mengkomersilkan pendidikan. Dengan ini wajar lahir UU BHP?. MK menilai UU BHP melalaikan kewajiban negara dan pemerintah mencerdaskan kehidupan bangsa tanpa mem-perhatikan jiwa dan semangat UUD 1945. Pendidikan menurut UUD 1945 mudah diakses semua pihak tanpa dibatasi pihak tertentu atau dibatasi untuk kalangan tertentu. Pasal 53 ayat (1) UU Sisdiknas dan UU BHP telah menempatkan BHP menjadi hal yang imperatif. Seluruh penyelenggara pendidikan harus berbentuk badan hukum pendidikan dengan karakteristik BHP. Secara perlahan namun pasti Pemerintah menjauhkan diri dari perannya terhadap penyelenggaraan pendidikan. Di sisi lain, penyelenggara pendidikan yang berbentuk BHP akan berlomba-lomba untuk mengembangkan badan hukumnya dengan menggunakan pendidikan sebagai komoditas. Persaingan yang terjadi di dunia pendidikan akhirnya akan menjadi persaingan pasar. Jika dipelajari mendalam dan dikritisi lebih lanjut, ternyata UU BHP dengan sengaja dibuat sedemikian rupa seolah-olah tidak mengarah pada komersialiasi pendidikan. Padahal, pencantuman prinsipprinsip dalam UU BHP seperti prinsip nirlaba, otonomi, akses yang berkeadilan dan partisipasi atas tanggungjawab negara dalam UU BHP hanya merupakan tempelan dan ternyata bukan jiwa dari UU BHP itu. Prinsip-prinsip tersebut tidak terlihat dalam substansi UU BHP. Jiwa dan semangat UU BHP tetaplah komersialisasi dan liberalisasi pendidikan dengan membawa para pelaku penyelenggara pendidikan sebagai pelaku pasar. Pemerintah yang seharusnya menjadi faktor utama dalam penyelenggaraan pendidikan hanya ditempatkan menjadi fasilitator. Jika dianalisis lebih lanjut ketentuan-ketentuan dalam UU BHP dalam kaitannya satu sama lain memiliki satu benang merah yang menunjukkan bahwa dengan BHP maka “modal” menjadi faktor utama dalam menyelenggarakan pendidikan. UU BHP menekankan pada tata kelola keuangan untuk sebagai dasar mengembangkan pendidikan. Tiap insan tentunya inginkan pendidikan yang bekualitas. Bahkan ada yang bilang pendidikan berkualitas memang harus mahal. Kalau tidak kualitasnya juga murahan. Wajar jika ada PT dengan penawaran SPP murah digandrungi calon mahasiswa. Untan disebut-sebut sebagai PT yang biaya penyelenggaraan pendidikannya termurah. SPP-nya ada yang hanya Rp 425.000 saja. Jadilah Untan dipuja tidak hanya anak negeri sendiri tapi juga mahasiswa dari Somalia. Benarkah murah?. Ternyata tidak. SPP bukanlah acuan untuk menghakimi biaya pendidikan Untan murah. Pada 2003 Depdiknas merinci operasional untuk menghasilkan seorang lulusan program saraja (S1). Biayanya berkisar antara Rp. 18.000.000,00-Rp. 25.000.000,00 / tahun. Perhitungan ini dengan asumsi, kualitas lulusan dengan standar nasional. Apabila diperhitungkan laju infllasi sebesar 7% (tujuh persen), maka rentang biaya operasional tersebut jadi berkisar antara Rp 19.000.000,00-Rp. 35.000.000,00 / tahun.

Edisi 14/Thn XXVII/LPM Untan/2010

Perjuangan Belum Berakhir!

Dok/Miun

Mari kita bandingkan dengan UMR Kalbar yang hanya Rp. 645.000. Masih banyak penghasilan masyarakat Kalbar dibawah UMR. Banyak wanita yang diperkosa Hak Asasinya dengan jadi Pembantu Rumah Tangga bergaji 300 ribu perbulan. Maka wajar biaya pendidikan disesuaikan dengan UMR. Jadi belum tentu yang termurah itu murah bagi masyarakatnya. Biaya pendidikan yang mahal dan berorientasi modal akan menghalangi akses pendidikan bagi kalangan tidak mampu. Meskipun UU BHP memberikan kuota bagi masyarakat miskin, namun ternyata “jatah” itu untuk orang miskin berprestasi. Bagaimana dengan warga negara yang miskin namun tidak berprestasi? Perlakuan diskriminatif ini berpotensi mengabaikan hak anak miskin dan bodoh yang notabene populasinya di masyarakat mencapai 40%. Jika UU BHP tetap diberlakukan, Indeks Pembangunan Masyarakat (IPM) Kalbar akan lebih merosot dari posisi 28 terbelakang. MK menilai Pencantuman Prinsip Nirlaba, Otonomi, Akses yang Berkeadilan dan partisipasi atas Tanggung Jawab Negara dalam UU BHP Hanya Merupakan Permainan Kata-Kata yang Tidak Konsisten dengan Substansi UU BHP Itu Sendiri. Pencantuman prinsip nirlaba tidak dapat berdiri sendiri terpisah dari ketentuan-ketentuan lain dalam UU BHP. Pada Bab VI tentang Pendanaan terlihat jelas semangat mengurangi tanggungan pembiayaan Pemerintah dan sebaliknya membuka peluang penyelenggara pendidikan mencari pemasukan sebanyakbanyaknya untuk menjamin kemajuan dan mutu penyelenggaraan pendidikan. Pasal 40 ayat (2) UU BHP sengaja mengurangi tanggung jawab Pemerintah dengan mencoba melemparkan beban pendanaan dari masyarakat. Sementara itu, keberadaan Pasal 40 ayat (4) justru menjadi sisipan atau “tempelan” belaka karena tidak sejalan dengan pengurangan tanggungjawab Pemerintah dalam Pasal 41 terutama ayat (4), ayat (6), ayat (7), ayat (8), dan ayat (9) UU BHP. Hal ini semakin diperkuat dengan ketentuan Pasal 42 dan Pasal 43 UU BHP yang membolehkan dan membuka peluang badan hukum pendidikan melakukan investasi dan mendirikan badan usaha. Ketentuan ini memang merupakan konsekuensi dari dikuranginya tanggung jawab Pemerintah dan dibukanya kesempatan badan hukum pendidikan untuk mengumpulkan dana sebanyak-banyaknya. Dari kondisi ini, jelas ternyata prinsip nirlaba bukanlah roh atau jiwa dari UU BHP karena roh atau jiwanya tetaplah mencari dana sebanyak-banyaknya agar dapat bertahan dan bersaing di pasar pendidikan. Bahwa hal yang sama juga terjadi pada prinsip otonomi, akses yang berkeadilan dan Partisipasi atas tanggung jawab negara dalam Pasal 4 ayat (2) UU BHP.

Prinsip otonomi justru oleh UU BHP tidak sekedar diartikan sebagai kemandirian pengelolaan dana dan kurikulum, tetapi justru otonomi diartikan kemandirian untuk mencari dana dan mengikat diri dengan pihak ketiga, karena tanggung jawab Pemerintah berkurang dan adanya peluang serta keharusan mencari sumber dana lain sebagai syarat untuk maju dan berkembang. Makna otonomi justru disimpangi oleh semangat pencarian dana. Prinsip akses yang berkeadilan juga dimanipulasi oleh semangat korporasi dan pencarian dana ini. Sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945 seharusnya akses yang berkeadilan diartikan bahwa seluruh warga negara tanpa terkecuali memperoleh akses pendidikan tanpa hambatan dan tanpa halangan. Tetapi konstruksi yang dibangun oleh UU BHP adalah karena modal-lah yang dianggap menjadi faktor utama berjalannya penyelenggaraan pendidikan, maka akses pendidikan juga ditentukan oleh modal. Klausul Pasal 46 UU BHP yang sering digunakan sebagai tameng oleh Pemerintah dan DPR RI untuk memperlihatkan aspek keadilan justru menunjukkan semakin terangnya semangat modal sebagai faktor utama penyelenggaraan pendidikan. Ketentuan pemberian 20% bagi warga negara Indonesia yang memiliki potensi akademik tinggi dan kurang mampu secara ekonomi memberi arti bahwa justru memang pendidikan itu menjadi mahal serta membutuhkan modal dan dengan adanya UU BHP menyebabkan pendidikan tidak dapat menjangkau warga negara yang tidak mampu secara ekonomi. Karena persaingan ketat, maka hanya warga negara miskin tetapi berprestasi sajalah yang bisa memperoleh akses pendidikan. Sementara, bagi warga negara tidak mampu secara ekonomi yang tidak berprestasi, akses pendidikan tertutup baginya, yang berarti tidak akan ada kesempatan baginya untuk menjadi cerdas. Dengan kata lain, negara tidak berusaha mencerdaskan seluruh rakyatnya. Bahwa seharusnya, jika berpedoman pada norma konstitusi maka penyelenggaraan pendidikan harus dapat menjangkau dan dijangkau oleh seluruh warga negara terlepas mampu atau tidak mampu ataupun berprestasi akademik atau tidak, karena negara berkewajiban untuk mencerdaskan seluruh warganya bukan mencerdaskan warga negara yang berprestasi saja. Jika saja Pemerintah menjalankan kewajibannya membuat biaya pendidikan menjadi murah, maka pemikirannya dapat dibalik menjadi, “setiap orang mendapat kesempatan pendidikan tanpa terkecuali, tidak pandang status sosial karena akses pendidikan bermutu dan murah tersedia, namun bagi orang yang mampu secara ekonomi dapat menyumbang dan memberi subsidi silang agar orang yang tidak mampu dapat lebih berprestasi.” Kondisi yang sama juga terjadi pada

prinsip partisipasi tanggung jawab pemerintah. Prinsip ini justru diliputi semangat mengurangi tanggung jawab pemerintah dan membebani masyarakat. Arti partisipasi disini mengajak masyarakat turut menanggung hal yang seharusnya menjadi kewajiban pemerintah. Hal ini tergambar dalam seluruh pasal-pasal UU BHP. Padahal partisipasi dan memberdayakan potensi ma-syarakat tidak berarti lantas mengambil alih tanggung jawab konstitusional Pemerintah. Kewajiban konstitusional tidak boleh dikurangi dan dialihkan pada pihak lainnya. Dengan demikian, ternyata prinsipprinsip tersebut di atas tidaklah menjadi jiwa dan roh UU BHP dan hanya sekedar pemanis dan tameng bagi pihak-pihak yang menginginkan pendidikan berbasis BHP yang berorientasi pasar. Sehingga, justru UU BHP menjadi kabur dan menimbulkan ketidakpastian hukum. Untuk berkelit dari tudingan komersialisasi pendidikan, Pemerintah dan DPR RI berlindung dibalik klausul ke empat prinsip dalam UU BHP. Namun, pencantuman prinsip tersebut haruslah dikritisi secara mendalam agar diperoleh pemahaman yang lebih jernih. Padahal pendidikan termasuk barang publik. Artinya sebagai sesuatu yang harus dapat diakses semua orang (accessible), maka pendidikan tidak boleh menjadi komoditas atau menjadi barang yang diperjualbelikan. Jika pendidikan menjadi komoditas, maka akses pendidikan akan tergantung pada modal atau capital. Tidak hanya itu, kualitas pendidikan-pun akan tergantung pada modal sehingga modallah yang menjadi faktor utama dalam penyelenggaraan pendidikan. Kini tak jarang pula PT yang mencari anggaran dengan beinvestasi ekonomi. Untan, dengan dalih Taman Pendidikan sudah mengupayakan pemasukkan dengan beternak sapi dan berkebun kelapa sawit. Juga membuka program Reguler B di banyak prodi. Bahkan melanggar aturan dengan mempersilahkan iklan rokok memasuki areal kampus yang harusnya berjarak 1 Kilometer dari Kampus. Tapi upaya itu tidak juga mengurangi SPP Untan. Atau meningkatkan pelayanan pada mahasiswa. Mari lihat kondisi Laboratorium di FMIPA, Faperta dan Fahutan yang minim alat peraga. Rasio dosen dan Mahasiswa, Fasilitas Kesehatan dan Olahraga yang tidak terawat. Bahkan UPT. Komputer yang hanya mengoperasikan 3 unit komputer untuk 15 ribuan mahasiswa. Representatif-kah? Selamanya kelompok warga negara ini akan tetap mengalami pemiskinan dan pembodohan. Mustahil mereka dapat pendidikan layak apalagi penghidupan yang layak. Pembiaran ini akan berdampak bagi keamanan negara. Tulisan ini tidak bermaksud menurunkan derajat pendidikan Kalbar. Tapi semata-mata untuk keadilan dan kemanusiaan. [ redaksi ]

3


Mimbar Utama

Merajut Mimpi Pendidikan Berkualitas oleh Tri Mulyaningsih

P

ernahkah anda berpikir bahwa apa yang terbaik di rumah anda belum tentu terbaik di rumah orang lain. Pernahkah terlintas dalam pikiran anda bahwa anda bisa mendapatkan sesuatu yang jauh lebih baik di tempat lain. Kebanyakan orang berpikir demikian. Sudah banyak contoh yang dapat kita lihat. Seorang mahasiswa Untan, yang bahkan harus berkompetisi demi mendapatkan status mahasiswa Untan, rela melepaskan status mahasiswanya untuk menerima tawaran dari universitas lain di Pulau Jawa. Murti, mahasiswi Universitas

Negeri Yogyakarta (UNY), jurusan farmasi angkatan 2008 bahkan sampai rela menganggur selama setahun setelah gagal dalam ujian masuk Universitas Gajah Mada (UGM) yang diidam-idamkannya di tahun 2007. Pada akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan Pontianak sementara waktu untuk masuk menjadi bagian dari UNY di tahun 2008. Satu bagian penting yang dapat kita jadikan bahan pemikiran ialah, mengapa pendidikan di Pulau Jawa selalu menjadi fokus bagi kebanyakan orang yang ingin melanjutkan pendidikannya. Mengapa baik sekolah maupun universitas di Kalimantan Barat tidak menjadi pilihan terbaik bagi pemuda-pemudi Kalbar sendiri dalam menuntut pendidikan. Salah satu hal yang mungkin anda sadari ialah bahwa Kalbar tidak cukup unggul dalam mengatur sistem pendidikannya seperti halnya pendidikan di Pulau Jawa. Bagaimana tidak, karena dari segi kondisi wilayah saja, Kalimantan Barat cukup berbeda dengan kondisi wilayah pulau Jawa. Kalbar memiliki

banyak daerah pelosok dan daerah pinggiran serta memiliki kebutuhan akan lulusan yang ahli tidak hanya sekedar teori tapi juga mampu untuk mempraktekkannya di daerahnya masing-,masing. Jadi pada intinya pendidikan Kalbar yang multikultural membutuhkan sistem pendidikan yang tepat dan tidak hanya berfokus pada sistem pendidikan di pulau Jawa. Kecenderungan untuk memfokuskan pendidikan Kalbar pada pendidikan pulau Jawa ini membawa keprihatinan tersendiri bagi Alexander Akim, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi. Ia menyangsikan pendidikan Kalbar dapat disamakan dengan pendidikan di pulau Jawa sementara di Kalbar sendiri antara daerah yang satu dengan daerah yang lainnya saja kemampuan nya tidak sama. Tentu saja rentang perbedaan kemampuan pendidikan ini akan jauh lebih lebar bila kita bandingkan dengan kemampuan pendidikan di luar Kalbar khususnya pulau Jawa. “Orang kampong jangan dipaksakan bawa mobil, jatok ke jurang dia,” ucap Akim saat mengasosiasikan sistem pendidikan pusat yang dipaksakan pada pendidikan Kalbar yang multicultural. Menurut Akim, akan lebih baik jika

KARIKATUR/ISWANDI

4

Rata-rata lama belajar masyarakat Kalbar hari gini tuh enam koma tujuh tahun. Angka ini juga sama dengan waktu saya jadi guru honor. Akim Kepala Dinas Pendidikan Provinsi

terdapat pengembangan strategi yang tepat bagi daerah-daerah pinggiran di wilayah Kalbar namun tetap mengacu pada standar kurikulum maupun standar mutu yang ditentukan oleh pusat. “Mampukah orang Kapuas Hulu lalu sama dengan Jakarta,” kata Alexander Akim yang biasanya lebih akrab disapa Akim ini. “Bagaimana strategi yang harus dikembangkan untuk daerah pinggiran ini harus di tata. Jangan sampai di pukul rata” Lanjutnya. Berkaca pada data Human Development Index (HDI) yang dibuat oleh Badan Pusat Statistik (BPS), kualitas pendidikan Kalbar dapat dikatakan luar biasa buruk dengan selalu menduduki urutan ke 28 dari 33 provinsi yang ada di Indonesia setiap tahunnya. Prestasi Kalbar yang selalu menduduki posisi lima besar terbawah dalam indeks prestasi manusianya ini tentu saja dapat menjadi penyebab kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap sistem pendidikan kalbar yang berdampak pada kualitas pendidikannya. Namun, data HDI tersebut bukanlah kartu mati bagi pendidikan Kalbar saat ini. Hal ini tentu saja karena peluang adanya kesalahan dalam pengumpulan data dapat terjadi bahkan pada data BPS sekalipun. Hal tersebut dapat dikaitkan pada pernyataan Akim bahwa masih terdapat data-data yang perlu sinkronisasi. “Ada beberapa hal yang perlu rekonsiliasi menurut saya,” tutur Akim Data-data lama masih belum tergantikan dengan data-data yang baru. Padahal departemen pusat atau lembaga manapun selalu mengacu pada data dari BPS sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah. “Data BPS itu sendiri nampaknya perlu sinkronisasi di lembaga teknis.” Penyingkronan data tersebut terkait beberapa hal yaitu jumlah angka penyandang buta aksara Kalbar dan rata-rata lamanya masa belajar. Angka buta aksara di Kalbar seharusnya hanya sekitar sembilanpuluh orang. Tetapi data BPS terakhir mencatat angka buta aksara Kalbar mencapai 238.000 orang. “Ini yang tidak benar data itu. 238 ribu ini data waktu saya menjadi guru. Masa’ sih?,” ungkap Akim berapi-api sembari tetap menahan nada suaranya agar tidak meninggi. “Setelah kita adakan pendataan ternyata hanya sembilanpuluhan ribu,” sambung nya. Kesalahan juga terjadi pada data lama

Edisi 14/Thn XXVII/LPM Untan/2010


Mimbar Utama

MIUN/RIYA

Aktivitas belajar sejumlah siswa Sekolah Menengah Pertama.

belajar yang menyebutkan bahwa rata-rata lama belajar hanya enam hingga tujuh tahun. Padahal seharusnya rata-rata lama belajar di Kalbar sudah mencapai tujuh hingga delapan tahun. “Rata-rata lama belajar masyarakat Kalbar hari gini tuh enam koma tujuh tahun. Angka ini juga sama dengan waktu saya jadi guru honor. Ndak ada bergerak angka itu tuh,” ujar Akim. “Ini yang mempengaruhi HDI kita pada posisi rendah,” tambahnya. Berdasarkan pernyataan Alexander Akim dapat kita simpulkan bahwa penyebab utama HDI Kalbar yang rendah ialah semata-mata karena data yang salah. Meski begitu kesalahan data bukanlah satu-satunya penyebab rendahnya kualitas pendidikan Kalbar yang ditunjukkan oleh HDI. Kualitas maupun kuantitas guru juga ikut menjadin tolak ukur gambaran pendidikan Kalbar. Hanya saja, yang menjadi masalah ialah adanya persebaran guru yang tidak merata di setiap daerah yang ada di Kalbar. Meski begitu hal ini dapat diatasi jika para guru tersebut memiliki komitmen untuk mencerdaskan muridmuridnya lebih daripada melaksanakan kewajiban. Hal ini dikuatkan oleh penelitian yang dilakukan oleh Alexander Akim selama 5 tahun. Demi mengetahui persentase peran guru terhadap keberhasilan siswa, dilaksanakanlah ulangan umum bersama sekabupaten dimana pengawasannya dilakukan secara silang. Kemudian hasil ulangan tersebut dikoreksi bersama-sama yang hasilnya dijadikan perbandingan antara hasil dari sekolah berguru lebih dari lima dengan sekolah yang hanya memiliki guru kurang dari lima. Setelah dibandingkan ternyata hasilnya tidak jauh berbeda. Jadi, kuantitas guru tidak linear dengan kualitas dimana komitmen guru lebih banyak berperan dalam keberhasilan siswa. Dari segi pandangan mahasiswa sarana dan prasarana juga menjadi penyebab kurangnya kualitas pendidikan selain data yang salah dan komitmen guru. Buci Harven Parjoko, mahasiswa FKIP angkatan 2007 mengutarakan pendapatnya bahwa kualitas pendidikanKalbar belum merata dikarenakan sarana dan prasarana yang belum merata dan mental beberapa guru yang tidak mau mengajar di pedalaman. Pendapat yang sama dikeluarkan dari mulut Aswandi, Dekan FKIP Untan, bahwa guru dan sarana prasarana ikut menentukan. “Faktor pendidikan tuh banyak. Faktor guru. Faktor sarana prasarana. Kan sete-

Edisi 14/Thn XXVII/LPM Untan/2010

ngah sekolah kite rusak. Belum lagi sarana prasarana yang lain,” ujar Aswandi. “Kan ada diterangkan separoh guru kita honor yang tidak layak ngajar,” tandas nya lagi. Alexander Akim yang sekarang menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Provinsi punya caranya sendiri untuk merenovasi pendidikan Kalbar. Ia berusaha untuk tidak hanya menjangkau satu sekolah saja melainkan setiap sekolah. Cara yang dilakukannya ialah dengan usaha pembangunan kualitas guru berbasis konsep “mobile teacher”. Dalam konsep mobile teacher ini, guru-guru yang mengajar di salah satu sekolah dalam satu kecamatan tidak akan mengajar di sekolah yang sama dalam jangka waktu yang lama melainkan hanya enam bulan. Hal ini bukan berarti bahwa setelah enam bulan mereka akan di pecat melainkan mereka aka dipindahkan ke sekolah berbeda di kecamatan lain dengan status kepegawaian tetap pada sekolah asal yang menerima mereka pertama kali. Konsep mobile teacher ini memang bukan konsep yang baru. Tapi menurut Akim konsep seperti ini menawarkan beberapa keuntungan. Salah satunya ialah akan timbul motivasi dari dalam diri guru itu sendiri bahwa sekalipun ia mampu dan pantas untuk mengajar di sekolah manapun baik itu favorit atau tidak. Sehingga dengan demikian guru akan terus berusaha untuk meningkatkan kualtasnya. Keuntungan lain yang dapat diperoleh konsep yang dijadwalkan akan diterapkan pada tahun 2010 ini yaitu adanya perubahan suasana sehingga baik murid maupun guru tidak akan mudah merasa bosan. Dian Purnama Sari, mahasiswa FKIP Untan jurusan ekonomi 2007 mengungkapkan kesetujuannya akan konsep yang ditawarkan oleh Akim. “Dian setuju, biarpun nantinya kita susah buat adaptasi di lingkungan sekolah yang baru, tapi dengan pindah-pindah sekolah kita bisa cari pengalaman, bukan sekedar cari pengalaman hidup, tapi juga pengalaman ngajar, baik itu dari cara kita ngajar ataupun dari cara pengajaran di sekolah yang bersangkutan. Konsep lain yang ditawarkan oleh Kepala Dinas Pendidikan Akim yaitu rencana pembuatan Grand Desain pendidikan Kalbar. Grand Desain merupakan suatu rencana dimana nantinya para utusan guru dari tiap kabupaten akan di didik selama kurang lebih 3 bulan kemudian mereka akan dikembalikan ke daerah mereka untuk kembali di didik oleh pemerintah darerah masing-masing. Diharapkan guru-guru yang telah di didik

ini nantinya akan menjadi bibit yang akan member pengaruh positif bagi guru lain di daerahnya tersebut sehingga kualitas guru pun akan meningkat pada akhirnya. Kedua konsep tersebut bagai bersambut dengan konsep sebelumnya yang baru saja mulai diterapkan tahun ini dimana siswa daerah yang ingin masuk ke SMA Negeri hanya memiliki kuota yang terbatas sebesar 5 persen dari jumlah murid yang mendaftar. Dukungan tersebut didasarkan pada pemikiran Akim sendiri bahwa konsep 5 persen tersebut sesuai dengan konsep yang ditawarkannya demi memajukan pendidikan Kalbar. Ia yakin siswa daerah dengan nilai yang tinggi akan dapat lebih maju jika dikelola dengan lebih matang di daerahnya masing-masing tanpa mematikan mutu. “Kita bukan diskriminatif tapi melayani sesuai dengan kemampuan,” jelas Akim. “Hanya memberikan porsi yang sesuai dengan kondisi mereka,” lanjutnya. Mahasiswa Untan lagi-lagi memiliki pemikiran yang sama dengan Akim. Marwan, mahasiswa Pertanian 2003 mengatakan bahwa konsep semacam itu wajar-wajar saja karena menurutnya sekolah negri juga harus menampung lulusan dari kota yang cukup banyak. “Apalagi sekolah swasta ini kan selalu open,” kata Marwan menguatkan alasannya. Dalam setiap hal pasti selalu ada yang pro dan ada yang kontra. “Ngape anak dari daerah tuh gak dikasih kesempatan banyak,” kata Bunga siswa SMK 1 saat mengungkapkan kekecewaannya. Terlepas daripada itu semua Alexander Akim berharap agar semua strategi yang ditawarkan oleh pemerintah provinsi dan Dinas Pendidikan Provinsi akan di dukung oleh masyarakat, guru, para pendidik maupun para pemerhati pendidikan. Meskipun pemerintah baik pusat maupun daerah menawarkan banyak konsep. Tetap saja dalam konsep tersebut masih terdapat kecenderungan pada sekolah negeri. Lalu bagaimana dengan sekolah swasta yang ada di Kalbar. Sebutlah salah satu sekolah swasta kota Pontianak yaitu SMA Sutan Syarif Abdurrachman. Jika dilihat dari luar sekolah ini tampak kokoh dengan cat nya yang berwarna kuning. Tetapi jika melihat wajah gedung sekolah Sultan Syarif Abdurachman tampak dari belakang, gedung ini terlihat seperti gedung tua yang rapuh dan tidak terawat. Dinding semennya sama sekali tidak berlapis cat bahkan cenderung berwarna kusam dan kotor. Sebagian besar jendelanya banyak yang tidak memiliki kaca. Kalau ingin membandingkan dengan seklah-sekolah lain disekitarnya keadaan sekolah Sutan Syarif

Abdurachman cukup memprihatinkan. Agus Budiyanto selaku wakasek sangat berharap akan adanya bantuan dari semua pihak untuk membenahi sekolah. Bagai gayung yang bersambut, Chairil Effendi, rector Universitas Tnjungpura (Untan), turut andil dalam merenovasi pendidikan dengan turut memberikan bantuan melalui kerjasamanya dengan swsta SMA Sutan Syarif Abdurrachman. Bahkan, rencana kerjasama perbaikan gedung SMA tersebut sudah mulai dilakukan tahun ini. Sehingga dari kerjasama ini sekolah swasta tersebut dapat kembali berbenah mulai dari segi sarana dan prasarana hingga kualitasnya. Hal tersebut dapat menjadi pandangan bahwa untuk meningkatkan kualitas pendidikan Kalbar bukan hanya dibangun dari pendidikan negri tetapi juga harus tetap memperhatikan pendidikan swasta karena keduanya memiliki tujuan yang sama yaitu untuk memberikan ilmu kepada anak didiknya sehingga berhasil di masa depannya. Lain kepala lain juga pemikirannya. Saat Alexander Akim, kepala Dinas Pendidikan Provinsi berpikir tentang apa yang dapat dilakukan pada para guru dan Chairil Effendi, rector Untan berpikir tentang apa yang harus dilakukan pada sekolah , Aswandi, Dekan FKIP Untan, dilain sisi malah berpikir tentang apa yang bisa diberikan pada para guru. Aswandi telah lama merencanakan dan mengusulkan terbentuknya suatu program bagi para calon guru untuk mendapatkan sertifikat mengajar. Program tersebut ialah program Pendidikan Profesi Guru (PPG). Usaha ini pantas diacungi jempol karena potensi yang ada pada program ini untuk menaikkan kualitas guru yang akan mengajar yang nanti nya secara tidak langsung akan berdampak baik bagi peningkatan kualitas pendidikan Kalbar. Namun, meskipun program ini sudah dijadwalkan akan dimulai pada bulan Oktober tahun 2009 ini, program ini masih belum dapat kita rasakan karena adanya keterlambatan. Keterlambatan ini terkait dengan keterlambatan penilaian kelayakan dari pusat. Meskipun ada sedikit kekhawatiran akan lulus tidaknya prodi-prodi baik prodi bahasa inggris, ekonomi maupun matematika yang diajukan untuk program PPG ini, namun kita patut optimis karena usaha dan kerja keras yang telah ditunjukkan Aswandi. Selain itu pula kita sudah dapat melihat bangunan baru yang telah disediakan untuk program PPG ini. Sehingga akan sangat disayangkan jika nantinya program PPG itu tidak jadi terlaksana. “Semoga PPG dapat berjalan,” harap Aswandi.[]

MIUN/TRI

Bangunan sekolah tua yang perlu perhatian pemerintah.

5


Mimbar Kampus

Gerakan Mahasiswa Kehilangan Ruh-nya Masih jelas dalam ingatan, dimana mahasiswa menjadi actor penting perjuangan bangsa ini, sejak tahun 1966, mahasiswa menunjukan jati dirinya sebagai control sosial dan mengidentifikasikan diri dalam peran politik, puncaknya tahun 1998 saat penggulingan rezim Soeharto. Namun setelah peristiwa itu, pergerakan mahasiswa seolah surut dan kehilangan semangatnya, mahasiswa telah melupakan perannya sebagai pembela rakyat. Apa gerangan yang terjadi dengan mahasiswa era ini?

Oleh Agustinah

K

ondisi mahasiswa saat ini ialah momentum yang menjadi momok kehidupan pergerakan mahasiswa kedepan. Terlihat dari beberapa aksi yang dilakukan masih mengadopsi pergerakan terdahulu, bedanya sudah tidak mengenal apa sebenarnya yang dilakukan. Apakah masih sebagai sosial control atau sebagai rutinitas yang masih dipertahankan eksistensinya di dunia pergerakan. Melihat surutnya nilai-nilai pergerakan beberapa aktivis kampus menilai hal ini sebagai tidak tercapainya sistem pergerakan kepada mahasiswa saat ini. Salah satunya minat berorganisasi ham-pir semua redup. “Mahasiswa sekarang kehilangan gregetnya,” kata Faisal Riza, mantan aktivis kampus. Menurutnya, mahasiswa saat ini kehi-

langan ruhnya, seharusnya mahasiswa bisa melihat ketidakadilan yang terjadi, peran mahasiswa ialah mengembangakan demokrasi sebagai pilar pergerakan, agar ketidakadilan itu bisa terselesaikan. ”Mahasiswa harus jeli melihat ketidakadilan yang terjadi di tengah masyarakat, dan kritis menyikapi masalah sosial,” tegasnya. Saat ini, adanya tuntutan dari pihak kampus yang mengharuskan mahasiswa untuk menyelesaikan masa studi lebih cepat, menjadikan mahasiswa kurang aktif mengikuti kegiatan kampus di luar jam kuliah. Hal itu salah satu yang dilakukan oleh pihak atas untuk menganggu organisasi. ”Adanya keharusan mahasiswa menyelesaikan kuliahnya lebih cepat, karena dituntut untuk me-nyelesaikan masa studi lebih cepat, oleh kekuasaan cenderung mengganggu organisasi, yang pada akhirnya banyak organisasi kampus minim peminat,” tambahnya.

MIUN/TINA

Aksi Demo Mahasiswa dalam rangka memperingati Hari Anti Korupsi

Mahasiswa harus jeli melihat ketidakadilan yang terjadi di tengah masyarakat, dan kritis menyikapi masalah sosial. Faisal Riza Mantan Aktivis Kampus

Dok. MIUN

Sejumlah aparat menjaga aksi mahasiswa di Bundaran Digulis Untan.

Menurunnya minat organisasi, menjadikan mahasiswa pun menjadi menurun kualitasnya, berbeda saat tahun 1980an, dimana peran mahasiswa menjadi elemen utama perubahan bangsa ini. Belakangan minimnya peran mahasiswa, menjadikan banyak organisasi-organisasi selain mahasiswa yang prihatin dan jauh lebih aktif dibandingkan dengan mahasiswa. ”Organisasi eksternal malah lebih aktif dikenal dibandingkan dengan organisasi kampus,” tegasnya. Menurut Faisal, organisasi pada hakekatnya adalah wadah yang menampung inspirasi dan mempunyai kepentingan yang sama. Kekuasaan ( politik, ekonomi, militer, dan Iptek) yang ada malah akan menganggu dengan cara membuat kesibukan di kampus. Katanya dulu ada normalisasi kehidupan kampus (akhlak). Organisasi mahasiswa hadir karena harus bertindak atas ketidakadilan. ”Besarnya peran mahasiswa dalam perubahan. Karena itu mahasiswa jangan

menghilangkan nilai kritisnya. Kebijakan itu di akuntabilitas. Jangan kita tergantung pada kekuasaan. Sebagai mahasiswa harus unjuk kemandirian. Cerdas dalam menyiasati masalah, dengan begitu mahasiswa akn dipandang lagi,” katanya. Ukuran sebuah organisasi mahasiswa bukanlah tentang berapa kali demo, bukanlah seberapa lantang dia berteriak, melainkan seberapa besar perannya dalam membantu perubahan bangsa ini. Mahasiswa yang baik ialah mahasiswa yang pandai menulis, bisa bicara dan akademiknya bagus. Satya Nugraha mengatakan naiknya organisasi kemahasiswaan karena ada momentum. Organisasi adalah suatu pilihan, buka sesuatu yang terstruktur. Organisasi mahasiswa yang ngetren adalah organisasi mahasiswa yang mempunyai nilai dan nilai tersebut disampaikan oleh masyarakat. Selain itu juga organisasi mahasiswa di kampus belum sejalan dan berkoordinasi dengan baik. Menurut Satya saat ini, mahasiswa banyak yang harus dievaluasi. Apa yang menjadi penyebab me-nurunnya kinerja mahasiswa. Di seluruh Indonesia, organisasi kemahasiswaan menurun, salah satunya dikarenakan manajemen, selain itu untuk membangkitkan organisasi kampus harusnya bersama-sama. ”Untuk mahasiswa sekarang tetap terkawal, namun tidak dalam bentuk komponen seperti tahun 98, karena situasi berbeda, angkatan 98 penuh tekanan, saat ini bagaimana menemukan format sesuai dengan jamannya, jadi tidak perlu menggunakan aksi langsung. Sedangkan momentum dapat diciptakan, tidak mesti ditunggu,” jelasnya. []

pantun kite Siang-siang badan terasa gerah Gerahnya sangat tak terarah Jika mahasiswa mengaku pandai sejarah Mulailah dari sekarang ukir sejarah

Pantunpantun Sukal Minsos 6

Malam-malam bertanya ke habib1 Habibnya senang membuat karya Mahasiswa haruslah interaktif, inovatif dan kreatif Di kampus Untan memang tempatnya Rumah terbakar di dalam kota Kotanya indah juga pemandangannya Jika Kalbar ingin berjaya Mahasiswa harus terus berkarya

Jalan ke sungai memakai rakit Rakitnya hancur dimakan buaya Mahasiswa haruslah belajar sakit Lauk pusuk2-kacang, kita harus tetap ketawa Mahasiswa haruslah tegas Tegasnya dalam pemikiran Walau kita sibuk ngerjakan tugas Jangan lupa salat dan pengajian 1) habib = orang yang pandai dalam hal agama 2) pusuk = ikan teri kering

Edisi 14/Thn XXVII/LPM Untan/2010


Mimbar Khusus

Folklor Melayu Atas Pontianak

MIUN/ESTELE

Keraton Kadariyah, khazanah budaya Melayu Pontianak.

Oleh Sri Pujiyani

A

da dua folklor melayu yang mendasari penamaan Pontianak. Pontianak artinya ayunan anak. Ada pula yang mengartikannya sebagai kuntilanak atau hantu perempuan”, ungkap juru bicara kesultanan keraton kadariah, Syarif Selamat Yusuf Alkadrie. Kakek berusia 71 tahun ini mengatakan ketika Masjid Jami’ yang jadi cikalbakal Pontianak ini didirikan ada banyak ayunan anak dari keluarga yang di-pekerjakan pendiri kota pontianak Syarif Abdurahman Alqadrie. “Pekerjanya merupakan suku asli Kalbar,” tutur keturunan ke-7 Syarif Abdurahman Alkadrie ini. Suku Dayak bertemu rombongan Syarif Abdurahman Alkadrie saat mencari hasil hutan. Saat itu rombongan dari Kerajaan Mempawah ini berniat untuk syiar islam. Perjalanan rombongan ke kota Seribu Sungai ini juga diganggu Kuntilanak. “Kuntilanak itu sifatnya mengilai atau tertawa yang sangat menyeramkan dan menyukai pria’, ungkapnya. Kakek yang akrab disapa Simon ini menceritakan hantu perempuan itu berhasil di usir Syarif Abdurahman Alkadrie dengan dibacakan do’a. Pada 23 Oktober 1771 Masehi, rombongan Syarif Abdurrahman Alkadrie

mulai menebas hutan di persimpangan tiga Sungai Landak Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Kapuas untuk membangun Surau. “Awalnya masjid ini hanya surau yang atapnya dari daun ilalang dan bambu sebagai tiangnya,” kata Mahasiswi Arsitektur Fakultas Teknik Untan Yeti Asriyati. Dua tahun setelahnya barulah Syarif Abdurahman Alkadrie mencari tempat tinggal. Menurut Sepupu Simon, Syarifah Kalsum Alkadrie (69) pencarian itu dilakukan dengan menembakkan meriam dari Masjid Jami. “Nah, letak jatuhnya peluru meriam itulah yang dijadikan lokasi Keraton kadariah,” pungkas cucu Syarif Muhamad Alkadrie, sultan ke-4 kerajaan pontianak ini. Keraton ini hanya berjarak sekitar 200 meter di sebelah timur Masjid Jami. Setelah itu, kata Kalsum, Syarif Abdurahman Alkadrie kem-bali menembakkan meriam dari Masjid Jami ke arah yang berlawan-an dengan keraton untuk mencari tanah pemakaman anggota keraton. Lokasi jatuhnya peluru tersebut berada di batu layang bernama Makam Kesultanan Pontianak. Pada 1192 H, Syarif Abdurrahman dikukuhkan menjadi Sultan pada Kesultanan Pontianak. Letak pusat pemerintahannya terletak di Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur. Karena letaknya strategis, pontianak timur dijadikan tepat persinggahan kapal-kapal besar dari luar. Di awal abad ke-19 orang cina

datang untuk berdagang. Karena dagangannya banyak membantu Sultan menjalankan roda kepemerintahannya. Akhirnya sultan menempatkan Cina di Pontianak Utara. “Ketika itu pontianak timur yang merupakan kawasan keluarga kerajaan dan pekerjanya hanya sekitar 9.000 jiwa sedangkan kota cina mencapai sekitar 12.000 jiwa. Akhirnya kota ini dikenal sebagai kota perdagangan,” tutur Soedarto. Pada 1778 datanglah kolonialis Belanda dari Batavia (Betawi) utusannya Petor (Asistent Resident) dari Rembang bernama WILLEM ARDINPOLA, dan mulai pada masa itu bangsa Belanda berada di Pontianak. Sultan Pontianak menempatkan Belanda di seberang Keraton Pontianak yang terkenal dengan nama TANAH SERIBU (Verkendepaal). 5 Juli 1779, Belanda membuat perjanjian (Politiek Contract) dengan Sultan Pontianak tentang penduduk Tanah Seribu (Verkendepaal) untuk dijadikan tempat kegiatan bangsa Belanda. Di sana belanda banyak mendirikan perkantoran dan tempat ting-gal. Sekitar tahun 1821 M/1237 H semasa Sultan Syarif Usman (1819-1855 M), sultan ke-3 Kesultanan Pontianak, suraupun direnovasi jadi masjid. Adapun pembuktian atas renovasi yang dilakukan Sultan Syarif Usman dapat dilihat pada inskripsi huruf Arab yang terdapat di atas Mimbar

masjid yang menerangkan bahwa Masjid Jami‘ Sultan Abdurrahman dibangun oleh Sultan Syarif Usman pada hari Selasa bulan Muharam tahun 1237 Hijriah. “Saat renovasi itu tiang bambu ke-mudian diganti dengan kayu Belian,” katanya. Mayoritas konstruksi bangunan masjid terbuat dari kayu belian pilihan. Dominasi kayu belian masih dapat dilihat pada pagar, lantai, dinding, menara, dan sebuah bedug besar yang terdapat di serambi masjid. Enam tonggak utama (soko guru) penyangga ruangan masjid yang berdiameter 60 sentimeter juga terbuat dari kayu belian. Konon, tonggak-tonggak tersebut telah berusia lebih dari 170 tahun. Selain enam tonggak utama, terdapat empat belas tiang pembantu yang berfungsi sebagai penyangga ru-angan masjid. Masjid dengan panjang 33,27 meter dan lebar 27,74 meter ini merupakan masjid yang undak (seperti tajug ala arsitektur Jawa) paling atasnya mirip mahkota atau genta besar khas arsitektur Eropa. Seperti bangunan rumah Melayu pada umumnya, masjid ini juga memiliki kolong di bawah lantainya. Meski persis berada di atas air Sungai Kapuas, masjid ini tidak pernah kebanjiran karena fondasi masjid berjarak sekitar satu setengah meter di atas permukaan tanah. Pengaruh arsitek-tur Eropa terlihat pada pintu dan jen-dela masjid yang cukup besar, sedangkan pengaruh Timur Tengah terlihat pada mimbarnya yang berbentuk kubah. Masjid yang terletak di Kampung Beting, Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur ini, kemudian disempurnakan oleh sultan-sultan berikutnya hingga menjadi seperti sekarang. Seiring berjalannya waktu pada masa Sultan Pontianak ke-6 Syarif Muhammad Alkadrie memerintah dari tahun 1895-1944 datanglah jepang. Menurut Kalsum saat dirinya berumur 3 tahun terjadi pembunuhan keluarga kesultanan Pontianak. Karena pembunuhan masal itu menurut Simon sulit mendapatkan bukti-bukti sejarah Pontianak. “Karena ke-banyakan bukti peninggalan sejarah Pontianak banyak di bawa belanda. Untuk mendapatkan keterangan sejarah kita harus mengirimi surat ke belanda,” tuturnya. Di tempat terpisah Kalsum mengungkapkan bangunan keraton sudah banyak mengalami kerusakan. “ Atapnya banyak yang bocor. Tahun depan rencananya keraton akan direnovasi atas kerjasama dengan walikota. Namun renovasi yang dilakukan tidak mengubah bentuk bangunan,” katanya. Hal senada juga diungkapkan Soedarto. Menurutnya kawasan itu ren-cananya akan dijadikan cagar budaya. “ Renovasi yang dilakukan jangan sampai mengubah konstruksi bangunan,” jelasnya. Menurutnya bangunan keraton dan masjid sudah banyak berubah. “yang masih asli peninggalan sejarahnya ialah atap masjid, lantai keraton dan ben-tengnya saja,”katanya. Ia berharap cagar budaya tersebut perlu ditata dari ke-kumuhan pasar rakyat.[]

DOK. MIUN

Masjid Sultan Syarif Abdurrahman Pontianak.

Edisi 14/Thn XXVII/LPM Untan/2010

7


Mimbar Lingkungan

Penyu Paloh Terancam Punah MIUN/TINA

Seekor penyu menuju air setelah bertelur di darat sekitar pukul 01.00, dini hari (30/8).

Oleh Agustinah

P

ada 28 Juli hingga 2 Agustus lalu,kami,tim yang diutus World Wide Foundation(WWF) datang ke Desa Temajok, Kabupaten Sambas, Kalbar menyusuri pantai Tanjung Belimbing untuk melihat penyu. Penyu sudah ada sejak sekitar 220 juta tahun yang lalu, sebelum dinosaurus ada. Penyu yang dilindungi ada tujuh jenis. Enam diantaranya yakni Penyu Belimbing, Penyu Hijau, Penyu Tempayan, Penyu Pipih, Penyu sisik dan penyu lengkang ada di Indonesia. Di Tanjung Belimbing sendiri ada Penyu Lekang, Penyu Belimbing, Penyu Sisik dan Penyu Hijau. Keempat jenis penyu ini terancam punah. Konon hewan yang dapat bermigrasi jauh dan hidup di berbagai habitat ini dijadikan simbol umur panjang, kesuburan dan kekuatan. Jumlah penyu di pantai belimbing atau pantai perawan ini terbesar di Kalbar. Untuk sampai ke desa ini dengan bis dari Pontianak memakan waktu 6 jam sampai Desa Paloh. Dilanjutkan dengan menumpang kapal tambang 2 not selama 5 jam. Desa ini, juga bisa dijangkau dengan jalan darat, namun harus

MIUN/TINA

Tukik penyu rentan terhadap kematian saat dilepas di habitatnya.

8

melewati jalan setapak yang dikelilingi hutan. Dimana jalan yang dilewati tidak ada satupun rumah penduduk. Boleh dikatakan desa ini berada di tengah laut. Biasanya orang mengenal desa ini dengan pulau Temajok.

Ancaman Penyu Penyu betina naik ke Pantai di Musim peneluran (Juni-September). Dalam satu musim peneluran penyu betina bisa bertelur antara 5-7 kali. Jarak antara tiap peneluran sekitar 2 minggu. Tiap musim peneluran seekor penyu bisa mengubur 130 butir telur di dalam pasir pantai. Setelah bertelur, penyu akan kembali ke laut. Di masa ini sering terjadi pencurian telur penyu. Selain dimakan babi dan musang. Telur penyu juga di jual untuk di konsumsi masyarakat karena dipercaya dapat meningkatkan gairah seksual pria dan kandungan proteinnya jauh lebih tinggi dari telur ayam. Faktanya mengonsumsi telur penyu bisa meningkatkan resiko gangguan syaraf, penyakit ginjal, kanker hati, berpengaruh pada perkembangan janin dan anak serta impotensi. Hal ini dikarenakan penyu (daging, organ, darah dan telur) terindikasi mengandung parasit, bakteria, biotoksin dan logam berat. Kolesterol telur penyu sangat tinggi yang berpotensi menyumbat pembuluh darah termasuk pembuluh darah di sekitar alat vital pria. Selain itu kandungan protein telur penyu 13,04% sedangkan telur ayam 11,80%. Saat ini telur penyu sudah langka. Tidak seperti tahun 80-an. Dimana telur penyu menjadi symbol kebudayaan bagi masyarakat sekitar, yang dulu kita kenal dengan budaya lempar telur penyu. Demikian diungkapkan warga Sibubus, kecamatan Paloh, Harydi (43). Adapun sebab berkurangnya telur penyu karena banyak telur

Konsep pembangunan tetap dilaksanakan, namun tetap diperhatikan agar penyu tidak terganggu Dwi Petugas Monitoring

penyu yang dijual di luar daerah, dengan harga Rp.1300-Rp1500/ biji. Padahal Undang-Undang No.5/ 1990 sudah melarang penyu (termasuk telur penyu) untuk diambil dan diperjualbelikan dengan sanksi kurungan maksimal lima tahun dan denda maksimal 100 juta rupiah. Sebagian penyu di Indonesia diselundupkan ke pasar terbesar perdagangan penyu, yakni Cina untuk makanan maupun obat tradisional. Padahal sejak 2001, cina sudah melarang impor penyu dari Kamboja, Thailand dan Indonesia.

“Sejak dilakukan penangkaran oleh orang KSDA kita sudah tidak lagi boleh mengambil telur, dan adanya perubahan pengawasan dari kecamatan ke Provinsi,” jelas Haryadi. Di tempat ini, akan dibagun Pelabuhan Intenasional yang dianggap akan meningkatkan perekonomian masyarakat se-kitar. Hal ini akan mengganggu habitat penyu. “Upaya penyelamatan penyu terkait rencana pembangunan pelabuhan internasional, agaknya terkendala karena kurang-nya dukungan masyarakat. Masyarakat menyetujui pem-bangunan pelabuhan yang disinyalir mengangkat perekonomian mereka,” kata salah seorang monitoring Penyu, Dwi. Dijelaskan Kepala Desa Temajok Mulyadi, pembangunan baik berupa jalan dan gedung dikonsepkan agar tidak mengganggu penyu sehingga keles-tarianya tetap terpelihara. “Konsep pembangunan tetap dilaksanakan, namun tetap diperhatikan agar penyu tidak terganggu ,” katanya. Aktivitas manusia juga dapat mengurangi populasi penyu dengan kail pancingan dan limbah/plastik di laut.[]

MIUN/TINA

Tukik (anak penyu) yang masih berumur 3-4 bulan di tempat penangkaran Penyu.

Edisi 14/Thn XXVII/LPM Untan/2010


Mimbar Humaniora

Lindungi Anak dari Eksploitasi Oleh Agustinah

T

oni melangkah gontai sambil memegang kaleng bekas dengan lubang ditutupnya. Anak bertubuh gendut ini tak peduli ta-tapan sekitar akan baju ungunya yang lusuh dan celana robeknya. Jumat (20/ 11). “Bang sedekahnya bang,” ucapnya pada salah satu pengunjung Kantin Yusra dengan mata memelas. “Tak kena cari sama orang tuanye ke dek,” Tanya spontan pelanggan kepada anak itu. “Manelah dicari bang, emak lagi jaga adek di rumah, lagian emak yang nyuruh buat jajan sekolah besok,” ucap anak berkulit sawo matang ini polos. “Emang tinggal dimana?,” tanya pengunjung itu lagi. “Di Siantan Bang, tadi ikot truk, nanti malam kamek dijemput agik,” katanya. Siapa sangka dari mengemis siswa Sekolah Dasar (SD) kelas 3 ini mendapatkan uang hingga enam puluh ribu rupiah tiap harinya. Tidak lama berselang, setelah pengemis itu berlalu, terdengar nyanyian merdu diiringi petikkan gitar. Gitaris menyodorkan plastik hitam yang tergantung di ujung gitar pada tiap pengunjung. Tibalah ia di meja berikutnya, salah satunya meminta kedua pengamen itu menyanyikan lagu berjudul Kehilangan dari Firman jebolan Indonesian Idol. Keduanya bernama Tono dan Dani. mereka sering mengamen di kantin kawasan A.Yani hingga Imam Bonjol. Penghasilan yang diperoleh mereka mulai dari Rp.80.000-Rp.150.000 perhari. Hasil mengamen ini selain digunakan Tono untuk sekolah. Juga digunakan untuk membiayai adik dan ibunya, karena ayahnya sudah lama meninggal. Sedangkan Doni yang tidak sekolah mengaku uang tersebut hanya untuk makan seharihari. Beda halnya dengan Raynaldo, siswa kelas 6 SD ini sudah 2 bulan bergabung dengan komunitas motor bernama Ikatan Muda-mudi Motor Pontianak (IM3). Walaupun usianya tergolong muda ia juga ikutan bergadang hingga pukul 02.00 bersama teman yang lebih tua darinya. “Awalnye Cuma iseng jak kak, tapi karne dah dibelikan motor same bapak, jadi ikot gak, kadang kite mutar Pontianak sampai dikejar polisi, tapi seru kak,” ungkap

Sedikitnya 190 kasus pencabulan, pencurian anak, dan narkotika oleh anak-anak dibawah umur yang dilaporkan ke KPAID dari Januari – November Tahun 2009. Eli Hakim Silaban Wakil Ketua KPAID

Raynaldo di Bundaran Digulis (31/10). Raynaldo mengaku lebih senang begadang daripada sekolah.. Apalagi bisa sampai tengah malam. Banyak hal bisa dilakukan dan tanpa di atur-atur. Orang tua nya pun tidak mempermasalahkan. “Kamek biase ngumpul dua sampai tiga kali jak seminggu, kadang sih karena ngumpul malam, bangun kesiangan jadi tak ke Sekolah, kamek pun pernah tak naek kelas,” katanya. Anak terlantar dipelihara oleh negara Sesuai Undang-Undang Perlindungan Anak No. 23 tahun 2009 pasal 1 ayat 6 yang berbunyi anak terlantar adalah anak yang tidak terpenuhi kebutuhannya secara wajar, baik fisik, mental, spiritual maupun sosial. Pengemis dan Pengamen Anak mencari uang sendiri untuk sekolah, biasanya juga diberikan pada orang tua. Hal ini menyebabkan perkembangan anak terganggu. Harusnya anak dalam ketentuan umum UU Komisi Perlindungan Anak Indonesia-Daerah (KPAID) dapatkan kuasa asuh. Dimana orang tua bertugas mendidik, memelihara, mengembangkan anak sesuai dengan agama yang dianutnya dan kemampuan, bakat serta minatnya. Ditambah Pasal 11, anak berhak beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak yang sebaya, bermain, berekreasi dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat dan tingkat kecerdasan demi pengembangan dirinya. “UU tentang Perlindungan Anak bagus, bisa mengatur anak, namun pada

kenyataannya, saat ini ekploitasi anak marak di jalan-jalan, seperti Pengamen, Pengemis, Loper Koran dibawaah umur, yang tidak sesuai dengan bakatnya,” kata Yusuf Ibrahim dosen Pengantar Ilmu Hukum Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Untan. Yusuf menjelaskan, adanya pekerja anak, orang tua harus ikut andil dan diberi kesadaran tentang anak. Sedangkan untuk anak sendiri diberikan pengarahan dan pengertian antara hak dan kewajiban harusnya diterima dan mereka laksanakan. Selain itu pemerintah harus berperan aktif, sarana untuk kehidupan anak juga harus diperhatikan. Sesuai dengan UU jika anak dipelihara oleh negara. Untuk mengatasi permasalahan anak jalanan, saat ini, ada parlemen yang biasa mengontrol anak jalanan. Dimana parlemen ini wajib mengatur dan memberikan penyuluhan tentang hak dan kewajiban anak. Forum ini dibentuk KPAID Kalbar untuk mengurangi lajunya jumlah anak terlantar. Ketua Parlemen Anak Kalbar, Fajar Supriadi mengatakan anak jalanan perlu diperhatikan haknya sebagai generasi bangsa, maka anak perlu dibina. Adapun kegiatan yang dilakukan berupa penyuluhan juga materi tentang hak dan kewajiban anak. Selain diarahkan anak-anak jalanan menurut Fajar, juga dihibur dan diajak bermain. “Anak-anak biasanya kita berikan sosialisasi tentang hak-hak mereka, dan kewajiban apa yang harus mereka laksanakan, namun tidak semua yang kita jalankan berhasil, pada kenyataannya anak tersebut biasanya

akan kembali ke jalanan.” Kata Fajar saat diwawancarai disela-sela jadwal lesya di SMU 3 Pontianak. Sedikitnya 190 kasus pencabulan, pencurian anak, dan narkotika oleh anakanak dibawah umur yang dilaporkan ke KPAID dari Januari – November TAHUN 2009. Demikian diungkapkan Eli Hakim Silaban wakil ketua KPAID. Untuk menanggulangi masalah tersebut pihaknya sudah berusaha semaksimal mungkin, salah satunya terjun langsung ke lapangan untuk memantau anak-anak jalanan. Menurutnya permasalahan anak, bukan hanya tangungan pihak KPAID, namun juga dinas-dinas yang berkaitan. “Permasalahan anak ini, bukan hanya permasalahan kami, tapi juga dinas-dinas yang terkait, seperti Dinas Ketenaga Kerjaan, Dinas Sosial, dan beberapa dinas lain, termasuk kepolisian,” jelas Eli. Lanjutnya, untuk anak-anak jalanan akan berhubungan dengan Dinas Sosial, anak yang bekerja di bawah umur berhubungan dengan Dinas Ketenaga Kerjaan. Sedangkan untuk anak yang mencuri atau pemerkosaan ditangani oleh pihak kepolisian. “Biasanya anak yang bekerja dikarenakan faktor ekonomi, sedikitnya sekitar 1,8% anak tidak sekolah dan 64 juta anak bekerja. Untuk anak jalanan yang begadang, akibat kurangnya pantauan dari orang tua,” jelasnya.[]

Dok. MIUN

Seorang anak yang harus membantu ibunya memulung di tempat sampah.

Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Tanjungpura

Mengucapkan

Edisi 14/Thn XXVII/LPM Untan/2010

9


Mimbar Opini

Pendidikan Kebebasan di Sekolah Menengah Oleh Leo Sutrisno

D

alam era reformasi saat ini, orang Indonesia memiliki ruang bebas yang luar biasa. Orang bebas berbicara. Orang bebas mengutarakan pendapat. Orang bebas memilih. Orang bebas menerima berita dan informasi. Pertanyaannya adalah apakah kebebasan itu masih perlu ditanamkan kepada para siswa. Pada tulisan ini dibicarakan tinjuan filosofis tentang makanan kebebasan serta implementasinya dalam pendidikan. Tentu saja juga dibahas tentang keadaan siswa itu sendiri. Hakekat kebebasan Dalam kamus bahasa Indonesia dituliskan banyak arti dari kata kebebasan. Bebas berarti lepas sama sekali dari sesuatu, bebas dari penjara. Bebas juga berarti lepas dari suatu kewajiban, bebas uang sekolah. Bebas juga berarti tidak dikenai sesuatu, bebas dari tuntutan. Bebas juga berarti tidak terikat, bebas dari ikatan perkawinan. Dan bebas juga bermakna sebagai orang merdeka. Tulisan ini mengarah pada bebas yang bermakna merdeka. Kebebasan dibawa manusia sejak dilahirkan. Bukan muncul sesaat setelah seorang manusia dilahirkan. Karena, kebebasan itu merupakan sarana untuk menunjukkan eksistensi seorang manusia. Misalnya, seorang guru besar memiliki kebebasan yang sangat luas dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Sebaliknya, seorang mahasiswa, dalam kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan masih perlu memperoleh bimbingan dari seniornya. Dengan itu, tampak jelas perbedaan antara guru besar dan mahasiswa. Kebebasan juga merupakan ciri khas manusia. Tidak ada makhluk hidup yang lain yang memiliki kebebasan. Misalnya, pada suatu waktu ada seekor kera dan seorang manusia. Keduanya sama-sama lapar. Jika saat itu disodori makanan, si

Filosofis tentang makna kebebasan serta implementasinya dalam pendidikan. kera akan langsung ‘menyantapnya’. Sementara, si manusia, mungkin akan menundanya karena ada pekerjaan lain yang sangat urgent untuk diselesaikan. Dengan itu, manusia memiliki pilihan dan menggunakan pilihan itu. Sementara, bagi binatang, kera misalnya, bertindak atas dasar insting saja. Kebebasan dapat membawa manusia menuju Tuhan. Karena kebebasannya manusia dapat membuat keputusankeputusan yang terbebas dari ikatanikatan duniawi. Ia dapat menjadi terbebas dari yang terbatas. Karena itu ia dapat menjadi lebih dekat dengan yang takterkirakan. Dengan begitu, ia menjadi dimurnikan. Dalam perjalanannya sebagai musyafir hidup, kemurnian, kesucian menjadi unsur utama untuk menghadap Sang Khalik. Hakekat pendidikan Dalam konteks yang lebih mendalam, tentu pendidikan tidak sekedar seperti yang dinyatakan dalam Undang-undang Sisdiknas yang hanya menciptakan suasana belajar yang cocok untuk mengembangkan potensi diri setiap peserta didik. Pendidikan secara universal merupakan usaha manusia untuk membantu manusia mengembangkan jati dirinya hinga menjadi manusia yang utuh. Bukan hanya sekedar robot yang sungguh hidup. Dan, bukan juga sekedar makhluk hidup pada umumnya. Sebagai makhluk hidup yang utuh, pada setiap orang dapat dilihat dari aspek individualitas, aspek sosialitas, dan aspek historisitasnya. Individualitas manusia menyatakan bahwa setiap manusia itu unik dan otonom. Unik berarti tidak ada duanya di dunia ini. Otonom berarti mempunyai kewenangan mengatur dirinya sendiri. Namun, demikian, manusia juga memerlukan relasi dengan yang lain. Manusia tidak hidup sendirian di sebuah pulau. Ini

MIUN/TRI

Siswa dibiasakan untuk belajar secara mandiri.

10

MIUN/TRI

Siswa Sekolah Menengah Atas menikmati waktu istirahatnya.

merupakan aspek sosialitas manusia. Historisitas manusia menyebutkan bahwa bahwa dalam setiap diri manusia mengendap masa lalunya, dan masa kini mengarahkan mas a depannya. Pendidikan yang membantu seseorang mengembangkan dirinya menjadi manusia yang utuh berarti menyeimbangkan antara aspek sosialitas, individualitas dan historisitas peserta didik. Dalam konteks Indonesia itu berarti pendidikan Indonesia mesti menghasilkan manusia Indonesia yang berpengetahuan. Bukan, manusia yang cerdik dan pandai saja. Ia tetap sebagai orang Indonesia, tetapi mampu berkiprah dalam ilmu pengetahuan yang didalami secara internasional. Mereka menjadi manusia merdeka. Manusia yang memiliki kebebasan. Di samping itu, secara sosiologis, dalam era reformasi saat ini, orang Indonesia memiliki kebebasan yang luar biasa. Mereka bebas berpendapat. Mereka bebas memilih. Mereka memperoleh informasi. Mereka bebas bekerja dan berusaha. Bahkan, mereka juga bebas mengatur pemerintahannya sendiri. Dalam praktek, kebebasan sering berakibat sangat jauh. Tampak mereka masih tergagap-gagap dalam menghayati kebebasannya. Karena itu, pendidikan kebebasan juga dapat dijadikan salah satu alternatif bagi mereka yang ingin belajar tentang kebebasan. Hakekat siswa SM Secara umum, siswa SM di Indonesia belum dapat diamsukkan sebagai orang dewasa. Umur mereka sekitar 18 tahun ke bawah. Mereka termasuk remaja awal dan remaja akhir. Mereka mengalami banyak perubahan baik secara emosi, fisik, peran, perilaku maupun tata nilai yang digunakan. Kerana banyak perubahan yang harus dialami inilah mereka perlu pendampingan. Pendidikan kebebasan merupakan salah satu bentuk pendampingan dalam ‘menyelesaikan’ perubahannya. Bertanggung jawab Kebebasan sering ditabukan oleh banyak orang. Karena, kebebasan sering berakibat buruk. Bebas mengeluarkan pendapat bisa diiteruskan dengan ucapan-ucapan yang kurang tetap. Bebas berdemonstrasi diartikan bebas juga merusak milik orang lain. Bebas menonton diartikan sudah penuh pun masih boleh dimasuki. Orang mengatakan kelewat batas. Maka dituntut suatu kebebasan yang

bertanggung jawab. Di sebuah sekolah siswa diberi kebebasan penuh, itu tidxak berarti boleh berbuat ‘semau gue’. Juga tidak berarti bahwa tanpa kendali, tanpa control. Bebas yang bertanggung jawab berarti bebas yang disertai dengan kesediaan menanggung resiko akibat kebebasan yang dilaksanakan. Mereka tentu menerima konsekuensi dari pilihannya. Namun, itu belum cukup. Orang bersedia menanggung risiko dari pilihannya sejauh jika ketahuan orang lain. Jika tidak ketahuan yang tidak apa-apa. Itu belum penuh arti kebebasan yang dianutnya. Kebebasan yang bertanggung jawab terkait juga dengan proses memilihnya yang juga bertanggung jawab. Proses memilih yang bertanggung jawab terkait dengan hirarki tata nilai yang dianut. Atas dasar nilai yang tertinggi menentukan keputusan yang akan diambil. Nilai tertinggi berarti berhubungan dengan moral. Moral berarti berhubungan dengan Tuhan. Karena itu kebebasan yang hakiki akan didasarkan pada pilihan-pilihan moral yang dipertanggungjawabkan kepada Tuhan. Karena itu, tidak perlu lagi ada orang yang akan mengawasi atau tidak. Semuanya dipertanggungjawabkan kepada Allah. Implementasi Dalam pendidikan, penanaman kebebasan perlu menyentuh nilai-nilai moral, agar siswa tidak hanya menjalani kebebasan atas dasar kesediaan menanggung risiko tetapi juga atas dasar landasan moral yang kuat. Dengan begitu pendidikan kebebasan tidak sekedar memberikan pilihan, tetapi juga memberi tempat untuk melatihkannya. Sebagai ilustrasi, guru dapat dengan memberi kesempatan siswa menyontek pada waktu ujian atau ulangan. Ada kemungkinan siswa mencotek atau tidak. Terserah pada keputusan masing-masing. Agar pilihan itu dapat dipertanggungjawabkan secara moral, mereka dapat diajak untuk melihat keuntungan dan kerugian baik yang mencontek maupun yang tidak mencontek secara jangka pendek dan jangka panjang. Hasil telaah ini dapat dijadikan keputusan untuk memilih mencontek atau tidak. Dengan cara itu, mereka tidak sekedar bersedia menanggung akibatnya tetapi pilihannya juga dapat mempertanggungjawabkan secara moral. Semoga![]

Edisi 14/Thn XXVII/LPM Untan/2010


Mimbar Resensi

Diskriminasi Itu Masih Ada Judul buku Tebal halaman isi Penulis Penerbit Peresensi

: : : : :

Jalan Berliku Menjadi Orang Indonesia 97 halaman Rebeca Harsono dan Basilius Triharyanto Kepustakaan Popular Gramedia (KPG ) Jumardi Budiman

D

emikianlah. Tjun Mei harus berjuang keras untuk mendapatkan akta lahir bagi keempat anaknya. Hingga lebih daripada 30 tahun mereka tidak memiliki akta lahir, secarik surat pembuktian yang tak kalah pentingnya dengan SBKRI (surat bukti kewarganegaraan Republik Indonesia). Akta lahir adalah surat yang dipakai Negara untuk bukti sebagai warga Negara ( Indonesia ). Bagi orang tionghoa yang berasal dari keluarga miskin, membuat akta lahir merupakan perjuangan penuh liku-liku, karena surat keterangan itu menjadi sumber diskriminasi dan persoalan bagi orang toinghoa yang stateless (tak punya kewarganegaraan). Dan untuk memperoleh akta lahir, sorang tionghoa harus memiliki SBKRI, yang bagi Tjun Mei butuh waktu puluhan tahun untuk memperolehnya. Tjun Mei ingin keempat anaknya, yang sudah menikah, memiliki akta lahir. Ia selalu prihatin dan khawatir anak-anaknya tersiksa berlarut-larut karena tak memiliki surat-surat lengkap. Ketika berurusan soal pekerjaan dan pendidikan, misalnya, surat itu dapat menghentikan hak-hak yang mesti ia dapatkan. Pada 2005,Tjun Mei, didampingi LADI, mendaftakan anak-anaknya untuk pem-

buatan akta lahir. Anak-anak Tjun Mei adalah kelompok keluarga cina benteng miskin yang membuat akta lahir melalui jalur prodeo atau tidak dipungut biaya. Bagi Tjun Mei, juga ibu-ibu cina benteng lainnya, jalur prodeo tidaklah mudah. Priatna-anak pertama, sudah menikah, dan memiliki anak-bagi keluarga Tjun Mei, adalah saksi pahit proses mengurus akta lahir melalui jalur prodeo. Priatna adalah korban tindakan sewenang-wenang pihak pengadilan. Sepenggal cuplikan alinea diatas menggambarkan contoh kecil tindakan diskriminasi yang dialami oleh orangorang cina miskin. Perbedaan etnis, strata sosial yang dianggap rendah, diskriminasi gender, tingkat pendidikan dan perbedaan agama dengan penduduk pribumi semakin mempersulit warga keturunan ini untuk memperolah hak kewarganegaraan. Padahal mereka lahir di Indonesia yang sebagian besar merupakan hasil perkawinan campuran antara orang Cina dan orang Betawi pada masa colonial Belanda. Melalui buku ini, Rebeka Harsono dan Basilius Triharyanto, menceritakan secara gamblang pengalaman pahit tujuh orang perempuan tionghoa dalam memperoleh pengakuan dan hak-hak sebagai warga Negara Indonesia. Kisah ini tidak terjadi

di pedalaman nusantara, yang mungkin tidak terjangkau oleh para pengambil keputusan, melainkan di dekat pusat pemerintahan Jakarta, tidak jauh dari halaman belakang bandara internasional Soekarno-Hatta yang keberadaannya secara tidak langsung menggusur keberadaan komunitas marginal ini. Buku ini juga menjadi saksi bahwa mental birokrasi pengambil keputusan, masih mengadopsi pemikiran colonial, penjajah, lintah darat, dan entah apalagi sebutannya. Jargon “kalau bisa dipersulit, kenapa mesti dipermudah” tampak jelas tergambar dari penuturan perempuanperempuan Cina benteng ini ketika mengurus akta kelahiran bagi anakanak mereka. Tak ayal, jalur prodeo yang seharusnya tanpa biaya dan memang dikhususkan bagi mereka, hanyalah sebuah aturan yang tertuang diatas kertas, tanpa realisasi. Pada Akhirnya, uang merupakan jalan keluar bila segala urusan ingin segera diselesaikan. Buku-buku bermutu seperti ini memang sangat jarang mendapat predikat

Best Seller, bila dibandingkan dengan kisah cinta ataupun fiksi ilmiah. Hanya sebagian kecil masyarakat Indonesia yang tertarik membaca kisah-kisah perjuangan masyarakat “terjajah” di masa kemerdekaan yang sebetulnya banyak terjadi di Negara ini.[]

Kewajiban Guru Era Reformasi: Mengajar Siswa Sesuai Realita dan Berontak Pada Ketidakadilan Judul buku Penulis Penerbit Tebal Peresensi

B

uku seri pendidikan kritis ini menyoroti nasib guru di Indonesia, terutama guru-guru honorer dan guru tidak tetap (GTT) yang bertugas di daerah pedalaman namun tidak mendapat perlakuan yang layak dari pemerintah. Sistem pendidikan, management sekolah hingga perbedaan cara “mendidik” siswa dari zaman orde lama hingga era reformasi juga di kupas habis oleh Eko Prasetyo dengan gaya penulisan yang lugas, relevan dan tidak bertele-tele. Kebijakan pemerintah dalam mengganti kurikulum tanpa pernah dievalua-

Edisi 14/Thn XXVII/LPM Untan/2010

si secara langsung membebani peserta didik karena perubahan yang terlalu cepat maupun konsekuensi biaya yang ditanggung, penempatan guru yang tidak merata sehingga ada beberapa daerah muncul problem kelangkaan dan kualitas guru di daerah pedalaman yang kurang, serta pengelolaan yang buruk atas bantuan opersional sekolah (BOS) maupun dana kelembagaan yang lain merupakan beberapa kesalahan pemerintah dalam mengambil kebijakan terkait dunia pendidikan. Proyek Baru Komersialisasi Pendidikan Indonesia.

: Guru : Mendidik Itu Melawan! : Eko Prasetyo : Resist Book : 207 Halaman : Jumardi Budiman

Neoliberalisme kemudian jadi bentuk tatanan ekonomi beru yang memeras pendidikan sehingga menjadikan sekolah sebagai sebuah “pabrik” yang bertugas mencetak sumber-sumber tenaga siap pakai yang sesuai dengan kebutuhan pasar, bukan kebutuhan masyarakat. Siswa dinilai berprestasi diukur dari pengetahuan dan keterampilan yang ia miliki, sehingga prestasi yang demikian menjadi tunggal, individual dan tidak sosial. Berbagai badan usaha juga kini sangat genjar menggarap sektor pendidikan, bukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan semata, melainkan menjadikan pendidikan sebagai lahan investasi yang memberikan keuntungan berlipat ganda. Paradigma yang kemudian berkembang adalah, sekolah yang bermutu apabila memiliki gedung mewah, sarana lengkap, guru yang semuanya lulusan sarjana serta pelajaran yang beraneka ragam, dari pagi hingga sore. Sekolah seperti ini mengembangkan sistem tata kelola yang mengikuti bahasa perdagangan : efisiensi, profesionalitas, efektifitas, keunggulan kompetitif dll. Alhasil, pendidikan bermutu hanya dikhususkan bagi orang-orang kaya, anak pejabat, dan konglomerat. Bagi siswa-siwa dari keluarga miskin hanya boleh bersekolah di gedung reyot dengan perlengkapan seadanya dan di-

ajar oleh guru yang juga merangkap sebagai kepala sekolah, tenaga administrasi, penjaga sekolah, hingga tukang ojek. Kurikulum yang sering berubahubah juga menjadi tambak uang bagi penerbit buku-buku pelajaran dan Lembar Kerja Sisiwa (LKS). Hanya dengan mengganti sampul dan ditambah tulisan kurikulum yang diperbahrui, siswa secara tidak langsung dipaksa untuk membeli buku yang substansinya tidak jauh berbeda. Atau dapat pula menjadikan guru sebagai sales dalam memasarkan produk-produk dari penerbit dengan memberikan sejumlah imbalan terhadap kerja keras guru dalam meykinkan bahwa buku yang ditawarkan benarbenar bermutu sehingga harus dimiliki setiap siswa kaya atau miskin. Buku yang dianjurkan Eko Prasetyo bagi guru honorer, buru tidak tetap dan guru non-PNS ini mengahdirkan dilematika pendidikan Indonesia yang memang nyata terjadi dan disuguhkan dengan karikatur yang lucu namun kritis. Beberapa masalah pendidikan dibahas sampai tuntas berdasarkan pengalamannya sebagai tenaga pendidik aktivis HAM di Pusat Studi HAM UII, menjadikan buku ini layak dijadikan bahan referensi bagi calon guru masa depan atau siapapun yang ingin menjadikan pendidikan di Indonesia dapat lebih baik dari sekarang. []

11


Mimbar Ilmiah

Jamur Tiram Putih, Alternatif Makanan Kesehatan Oleh Odilo Tarigasa

J

amur (mushroom) merupakan organisme non klorofil, jelas tidak mampu untuk dapat melakukan proses fotosintesis. Oleh karena itu dalam klasifikasi taksonominya, jamur ditempatkan dalam kingdom tersendiri selain animalia dan plantae. Sehingga untuk dapat melanjutkan hidupnya, jamur sangat tergantung dari bahan organik yang berada di sekitarnya (saprofit). Secara umum, lingkungan tumbuh jamur yang ideal ialah lingkungan yang memiliki kelembaban tinggi dan suhu bervariasi biasanya dibawah 37째C. Tidak heran jika jamur sering tumbuh di hutanhutan hujan tropis maupun di gua-gua yang kondisinya sesuai dengan lingkungan tumbuh yang dibutuhkan jamur. Berdasarkan bentuk morfologinya Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus) tergolong dalam kelas basidiomycetes yaitu membentuk tubuh buah dan memiliki tudung buah. Bentuk tudung jamur kayu ini agak membulat, lonjong dan melengkung menyerupai cangkang tiram memiliki warna putih susu. Permukaan tudung licin dan tepi tudung bergelombang. Ukuran diameter tudung berkisar antara 3-15 cm. Dimana biasanya jamur ini tumbuh membentuk rumpun dengan banyak cabang. Jamur Tiram merupakan salah satu jenis jamur konsumsi (edible), yang enak rasanya dan bergizi tinggi. Hasil studi di

Massachusett University menyimpulkan bahwa kandungan protein jamur tiram mencapai 19-35%. Dibandingkan dengan beras (7,38 persen) dan gandum (13,2 persen), jamur berkadar protein lebih tinggi dengan 10 jenis asam amino essensial diantaranya lysin, methionin, tryphtofan, theonin, valin, leusin, isoleusin, histidin, fenilalanin dan lebih dari 10 asam amino non-essensial. Kandungan lemak tak jenuhnya mencapai 72%. Kandungan lemak jenuh (28%) dan adanya polisakarida kitin di dalam jamur tiram diduga menimbulkan rasa enak. Vitamin yang dikandungnya adalah B1 (thiamin), B2 (riboflavin), biotin, niasin, dan vitamin C. Kandungan mineralnya tersusun atas K, P, Ca, Na, Mg, Cu dan beberapa elemen mikro. Serat yang dikandungnya mencapai 7587 %. Adapun kandungan Riboflavin, asam Nicotinat, Pantothenat, dan biotin (Vitamin B) masih terpelihara dengan baik meskipun jamur telah dimasak. Menurut hasil penelitian dari Beta Glucan Health Center menyebutkan bahwa jamur tiram (pleurotus ostreatus) mengandung senyawa Pleuran (di Jepang, jamur tiram disebut Hiratake sebagai jamur obat). Selain itu menurut penelitian Departemen Sains, Kementerian Industri Thailand, Jamur juga mengandung folic acid yang cukup tinggi. Sebagai perbandingan, tempe yang terbuat dari kedelai yang kaya serat dan juga sebagai

Nutrisi dalam Jamur Dengan jumlah kalori yang lebih rendah dari nasi dan tidak mengandung lemak, jamur merupakan salah satu sumber nutrisi yang sangat berguna. Berikut ini adalah manfaat dari kandungan yang terkandung dalam jamur yang sangat berguna bagi tubuh manusia. Antioksidan Jamur merupakan salah satu nutrisi yang mengandung antioksidan erghothioneine dan banyak mengandung antioksidan selenium. Jamur putih memiliki kapasitas antioksidan yang sama dengan sayuran yang berwarna seperti tomat dan wortel. Jamur coklat kandungan antioksidannya bisa dibandingkan dengan kacang hijau, brokoli ataupun lada merah. Vitamin B Vitamin B membantu mengubah makanan menjadi energi dengan menguraikan protein, karbohidrat dan lemak. Jamur banyak mengandung riboflavin (B2), niacin (B3) dan asam pantothenic (B5)

ist

sumber berbagai nutrien seperti calsium, Vitamin B, dan besi, mempunyai kandungan sebagai berikut: kalori 204, protein 17 gram, lemak 8 gram, karbohidrat 15 gram, calium 80 mg, Fe (Besi) 2 mg, dan Zn 0,2 mg. Bisa dibandingkan dengan daging ayam yang kandungan proteinnya 18,2 gram, lemaknya 25,0 gram, namun karbohidratnya 0,0 gram dan vitamin Cnya juga 0,0 gram. Beberapa tahun terakhir diketahui adanya polisakarida khususnya Beta-D-glucans.s Maka, kandungan gizi jamur bisa dikatakan sangat komplit sehingga tidak salah apabila dikatakan jamur merupakan bahan pangan masa depan. Budaya atau kegemaran sebagian masyarakat mengkonsumsi jamur tak hanya sejak masa ini. Pada zaman kuno abad sebelum masehi pun raja-raja Mesir dan Yunani kuno senang untuk mengkonsumsi jamur. Kelezatan yang ditawarkan makanan berbahan dasar jamur membuat jamur disebut sebagai makanan para dewa. Namun dibalik semua kelezatan tersebut, yang menjadi alasan mengkonsumsi jamur yang utama adalah khasiatnya yang berhubungan dengan vitalitas kehidupan. Berbagai riset mengenai khasiat jamur telah banyak dilakukan sejak tahun 1950 hingga diketahui bahwa pada jamur terdapat senyawa polisakarida Beta-DGlukans yang memiliki efek positif sebagai antitumor, antikanker, antivirus (termasuk AIDS), melawan kolesterol, antijamur, antibakteri, dan dapat meningkatkan sistem imun. Pada jamur tiram, produk ini disebut sebagai plovastin yang di pasaran terkenal sebagai suplemen penurun kolesterol (komponen aktifnya statin yang baik untuk menghambat metabolisme kolesterol di dalam tubuh

manusia). Beta-D-Glucans yang ada pada pada jamur bisa juga diisolasi untuk digunakan dan dicampur pada krim, salep, suspensi, atau bedak untuk perawatan wajah di dunia oleh peneliti dan perusahaan kosmetik untuk formulasinya dengan konsentrasi 0,5-2,00 persen. Perawatan wajah ini berguna untuk mengikat air, melembabkan kulit dan anti-inflamasi. Percobaan pada 121 pasien berjerawat kronis, diberikan setiap hari selama 21 hari, hasilnya 73,5 persen kondisinya membaik, 18,2 persen sembuh total (Kuniak et al, 1995. Faculty of Pharmacy and STV, Batislava, Slovak Republic in Beta Glucan Health Center , (www.glucan.com/therapy 2002). Hasil dari penelitian Bobek (1999) dari Research Institute of Nutrition Bratislava tentang Natural Product with Hypolipemic and Antioxidant Effect, telah dilakukan studi pada sebuah grup dengan 57 laki-laki : perempuan = 1:1, usia setengah umur dengan kasus hyperlipoproteinemia. Selama 1 bulan mereka mengonsumsi 10 gram jamur tiram secara teratur. Kesimpulannya, secara statistik sangat menjanjikan yakni kolesterol dan serum turun 12,6 persen dan trigliserol turun 27,2 persen. Jamur tiram dikatakan mempunyai efek antioksidan dengan turunnya peroksidasi di dalam eritrosit. Jamur tiram memiliki kandungan asam folatnya yang cukup tinggi dan terbukti ampuh dalam menyembuhkan anemia. Berbagai khasiat lain jamur ini diantaranya baik untuk liver, pasien diabetes, menurunkan berat badan, seratnya membantu pencernaan, aman dikonsumsi bagi yang rentan penyakit jantung, mencegah diabetes, mencegah kurang darah, dan meningkatkan daya tahan tubuh serta dapat meningkatkan produksi ASI. []

Tembaga Mineral tembaga adalah mineral yang dapat membantu memproduksi sel darah merah dan menjaga otak dan tulang sehat. Fosfor Fosfor essensial untuk tulang dan gigi yang kuat Potassium Merupakan mineral dan elektrolit yang berguna menjaga keseimbangan cairan dan mineral dalam tubuh, menjaga tekanan darah dan menjaga otak dan otot berfungsi dengan baik. Setiap penyajian, jamur mengandung 267-407mg Potassium, nutrisi penting yang bahkan orang Amerika pun tidak mendapat cukup dalam makanannya. Vitamin D Vit D membantu penyerapan calcium yang sangat berguna untuk tulang dan gigi. Jamur kancing adalah salah satu yang banyak mengandung Vit D dan menyediakan 15 IU per sajian.

ist

Jamur Putih yang dibudidayakan.

12

Edisi 14/Thn XXVII/LPM Untan/2010


Mimbar Sastra

Sepucuk Surat Kerinduan untuk Sahabatku Oleh Yulia Citra

C

uaca yang panas tak membuat semangatku goyah untuk terus mengarungi sepanjang jalan yang melewati Auditorium Untan Pontianak, yah yang namanya menuntut ilmu, aku harus berjuang keras untuk masa depanku nanti, seperti kata pepatah berakit-rakit kehulu,bersenang-senang kemudian. Akhirnya perjalananku terhenti disebuah fakultasyang terkenal dengan namanya Green Kampus atau fakultas pertanian. “Akhirnya sampai juga, huh cape.. jauh juga yah dari kos kekampus”, keluh kesah sambil melihat sekeliling kampus baruku, wah dunia kampus itu tenyata menyenangkan dan banyak hal yang membuat aku tertarik.”aduh..kelasku dimana yah…” karena aku sebagai mahasiswa baru,aku jadi sedikit kaku (hehe padahal emang nggak tahu sama sekali tentang dunia kampus), yah asal nggak dibilang katro aja. Aku terus menelusuri seluruh ruangan, ternyata sedikit melelahkan sebagai solusi utama aku kekantin cari the es sebagai penyegar tenggorokan dan kebetulan teh es itu minuman kesukaanku (sebenarnya sih ngirit kan teh es murah ). Setelah berjuang menyelamatkan nyawaku ( lebai ) aku melanjutkan perjalananku untuk menuntut ilmu kembali. Sekarang aku berada di kelas dan teman-teman baruku ( murid SD kali), sambil berkenalan aku menatap setiap lawan kenalku ( seleksi.hahahaha..).” Hai namaku Thahir, nama kamu siapa?”, itu awalnya aku berteman dengan thahir yang pada akhirnya nanti ceritanya tambah seruuu!!!. “Aku Zhaira, panggil aja Zha ( zebra kali yah, nama kok aneh-aneh), emm kamu asli dari kota ya?”, predator beraksi. “ Iya aku asli kota pontianak”, sepertinya mangsa yang ini sedikit sulit untuk di taklukan. Seiring berjalannya waktu aku, Thahir dan teman2yang lain menghabiskan waktu seharian di kampus untuk saling mengenal. Waktu begitu cepat berputar, hah sekarang sudah jam 5 sore, saatnya aku pulang dan mempersiapkan rencana untuk menghadapi hari esok. Wah hampir semua teman-temanku mempunyai kendaraan bermotor, ah semua itu hanya akan membuatku lemah dan tergoda sehingga aku harus meneror orang tuaku ( biasalah mahasiswa). “Zha..mau di antarin nggak? Thahir mengajakku untuk berboncengan dengannya, yah yang namanya rezeki itu jangan pernah ditolak apalagi dia cakep dan…( rahasia). Sebulan pertama aku menjalani hidupku seperti biasa, semuanya tampak sama. Dari kampus ke kos dan dari kos ke kampus, tidak ada kegiatan lain yang membuat hidupku lebih bercahaya. Sebulan mampu bertahan, Dua bulan ke depan aku sudah merangkak memohon kepada yang maha kuasa untuk memberiku jalan, ternyata usahaku tidak sia-sia Tuhan memberiku kekuat untuk tetap bertahan hidup di padang pasir ilmu ini ( sedikit mendramatisir agar ada yang prihatin hehehe, tetapi jangan muntah yah). Kekuatan itu berupa sebuah pekerjaan yang sangat mulia dimataku, jabatannya tidak begitu tinggi tetapi sedikit terhormat.Bendahara sebuah

Edisi 14/Thn XXVII/LPM Untan/2010

perusahaan terkenal di Indonesia, perusahaan yang berkaitan dengan tarik suara ( kalau yang benaran sih, profesi aku sebagai pengamen yang jelas aku hanya menghitung uangnya saja).Hasil mengamen kami bagi bertiga,aku, aji, dan dini, yang namanya group vocal hasil harus dibagi rata. Buat aku yang penting bisa bertahan hidup saja, apalagi keunganku menipis semenjak ibuku menderita sakit. Pagi hadir kembali mengawaliku untuk menjalani hari ini dengan semangat yang tak terpatahkan, saat tiba dikampus aku langsung masuk dan menduduki bangku yang telah menyimpan begitu banyak sejarah untukku. Bersama bangku inilah aku memulai hari-hari yang penuh dengan makna, saat kuliah berjalan pikiranku dihinggapi oleh kupu2 pusing. “Kalau aku terus ngamen apa cukup ya buat makan aku sampai ayahku bisa memberikan uang lagi??, berpikir sejenak, aku punya ide (sebenarnya bukan ide tapi temuan bersejarah)bagaimana kalau aku mencari kerja,tapi kerja apa?”, aku berdebat dengan sahabat terbaik yang aku miliki didunia ini yang membuat hidupku lebih berarti (sahabat itu adalah hatiku). “Heiii..termenung aja, lagi mikirin apa zha?”, Thahir mengejutkanku dan membuat semua khayalan dan pemikiran cerdasku hilang, “kamu hir, kamu ganggu aku aja, kamu tau nggak tadi itu…….hemm kalau cerita tentang ide cerdasku ini padanya nanti aku diketawain lagi, lebih baik aku jangan ceritain semua ide2 cerdasku ini”, aku mulai tak mempercayai thahir. Sebenarnya aku tau semua ini sangat konyol, tetapi itu mengasikkan dan menyenangkan,aku merasa bahagia dengan apa yang aku pikirkan saat ini. “Zha., zhaira, zhaaaiiiraaa…. kamu kenapa sih?”, ekspresi thahir panik dan marah. “Iyaaaa..ada apa hir?, hemmm hir kamu punya makanan nggak, aku lapar nich soalnya tadi pagi nggak sempat makan”, dengan ekspresi wajah belas kasihan aku merayu thahir, tanpa berpikir panjang thahir menarik tanganku menuju kantin dan mentraktirku makan sepuasnya. Aku merasa pagi ini adalah pagi ynag sangat cerah dan akan ada hari yang menyenangkan, tapi apa yah… Aku masih mengkhayal apa yang terjadi nanti, begitu banyak khayalan yang mengusik pikiranku. Tiba-tiba terlintas bayangan thahir yang membuatku merasakan hal yang berbeda, aku menyayanginya, menyayanginya sebagai seorang sahabat. Semuanya berawal dari kedekatanku dengannya dan kebaikannya padaku, semua itu mengubah hidupku dan ada rasa yang berbeda jika aku bersamanya. Kedekatanku ini membuat semuanya berubah, aku yang terkenal udik dan tidak peduli akan kehidupan dunia luar menjadi sangat menyenangkan saat mengenal dunia ini bersamanya. Saat bersamanya aku merasakan senang dan damai dihati, dialah sahabat terbaikku yang selalu ada didekatku disaat susah (butuh duit)

dan senang. Sekarang nggak terasa sudah setahun aku menuntut ilmu di kota ini, thahir berbeda dengan hari biasanya, dia mengajakku pergi kesuatu tempat yang aku tak tahu letaknya, yang aku ingat tempat itu melewati sawah dan hutan. Tempat itu begitu indah dan begitu menyenangkan, seandainya aku bisa mengulanginya untuk saat ini, aku hanya ingin duduk disampingnya dan menghabiskan waktuku bersamanya.setelah hari itu thahir menghilang, dia nggak pernah kuliah lagi. Aku mencarinya, tetapi semua pencarianku tidak ada hasilnya, thahir benar2 menghilang seperti ditelan bumi.Thahir telah memberikan arti untuk hidupku menjadi lebih berwarna. “Hei zha kamu kenapa, kamu punya masalah zha? Aku tahu kamu nggak bisa cerita semua masalah kamu, tetapi setidaknya cerita sedikit,karena semua itu bisa meringankan beban hatimu yang menyiksa diri kamu sendiri,zha jangan biarkan masalah kecilseperti ini mengalahkan kamu, zha aku rindu ketawa dan canda kamu yang usil!,,, zha thahir itu udah nggak ada, kita nggak tau sekarang dia ada dimana?zha…jawab aku”, aku merasa tidak mendengarkan apa-apa, semuanya hampa seperti tanah yang gersang, Dini mendesakkudan menyadarkanku dari ketidak berdayaanku tanpanya. Akhirnya dini mengajakku berkunjung kesuatu tempat, yaitu ke rumah Thahir. Dirumah itu hanya ada seorang gadis kecil yang sedang duduk termenung, sepertinya memikirkan sesuatu. “ hai.. kamu adiknya thahir? Bang thahirnya ada nggak dirumah?”, aku nggak mendapatkan jawaban apa2 darinya hanya ada air mata yang kulihat, hatiku mulai cemas. Akhirnya gadis itu bersuara kecil dan berkata “abang sudah pergi, kakak siapa??.... (suasana menjadi

hening, dan hatiku semakin cemas) apakah kakak gadis yang bernama zhaira, abang menitipkan sesuatu untukmu”. Aku semakin tidak mengerti, ada apa sebenarnya,pertanyaan itu terjawab dengan sebuah surat yang dia berikan untukku. Aku tak mampu membendung air mata ini,, semuanya mengalir begitu deras,,,isakan tangisku terhenti saat ibunya berkata padaku bahwa thahir sudah meninggal dunia tiga minggu yang lalu. “ thahir pergi meninggalkan kami semua, dia gagal operasi dan dia…..” isakan tangis terdengar kencang ditelingaku. Aku sedih dan juga bahagia, aku nggak bisa mengartikan rasa yang aku rasakan saat ini, yang bisa aku rasakan air mata ini tak berhenti mengalir membasahi pipiku, aku terisak saat mengingatnya. “ Thahir aku sayang sama kamu, tetapi kenapa kamu tinggalin aku disaat aku membutuhkan kamu. Kamu pergi nggak pamit, siapa yang akan membantu aku…hir?”.Air mataku semakin deras mengalir, kepergianya membuat semua merasa kehilangan, aku hanya bisa melihatnya melalui sepucuk surat kerinduan darinya. Disaat aku merindukannya aku membaca kembali surat itu, walaupun berkali-kali aku membaca surat itu, air mataku tak mampu terbendung. Dialah sahabat yang menerimaku apa adanya, setahun kepergiannya aku menemukan sosok yang baik seperti dia dan sosok itu menjadi sahabatku saat ini. Bersama sosok yang memiliki hatinya ini aku menjalankan hidup seperti biasa, bersama sahabat yang memiliki jiwa sahabatku dulu. Thahir kamu adalah sahabatku dan aku janji aku akan meraih mimpiku, suatu saat aku akan hadir dipusaramu dengan keberhasilanku. []

Dear : Zhaira Gadis manis yang mempunyai senyum terindah Zha langsung aja yah…. Zha saat aku melihat kamu dikelas semula biasa2 saja, tetapi ketika kamu memperkenalkan namamu didepan kelas saat ospek berlangsung, aku melihat senyum yang begitu manis. Kamu begitu pemalu dan saat itu kamu masih desaan banget, aku suka gaya kamu, gadis desa yang tidak terpengaruh akan perubahan kota. Zha semangat kamu membuat aku merasakan suatu energi yang luar biasa,, Aku ingin memiliki semangat itu,,hehe zha pertemuan kita singkat banget, bahkan aku hanya bisa mengajakmu mengelilingi kota ini sebagian saja. Maafkan aku yang tidak bisa menepati janji itu, kamu itu polos banget yah…zha aku sayang kamu, sayang banget..hanya saja aku nggak sempat untuk mengungkapkannya, ,zha berjanjilah untukku kalau kamu nggak akan nangis lagi…berjanjilah untuk aku.Zha berjanjilah demi persahabatan kita, aku menyayangimu untuk selamanya sahabat.. Zha,aku mau minta maaf, sebelumnya aku nggak pernah cerita sama kamu tentang keadaan aku selama ini, zha mungkin disaat kamu baca surat ini aku sudah dipanggil oleh-Nya. Zha aku menderita kanker otak stadium akhir, selama ini aku nggak bisa cerita sama siapapun termasuk kamu.aku nggak bisa……..aku takut kamu akan meninggalkan aku, Zha aku sayang sama kamu, makasih kamu udah mau menghabiskan waktu kamu bersama aku selama ini.bersama kamu aku merasa ingin hidup lebih lama untuk menghabiskan waktu bersama,,,ingatlah lagu yang kita nyanyikan berdua disaat sedih dan bahagia, disana aku akan mengikutimu. Zha…saat ini aku ingin sekali kamu ada disamping aku.. Hari ini aku nyanyikan untukmu Lagu rindu…….. Yang ingin aku ciptakan untukmu SAHABATKU ZHAIRA Disaat kamu rindu sama aku Nyanyikan lagu ini dan aku akan melihatkamu dari sana Lihatlah zha…diatas sana………. Senandung kata-kata yang kuciptakan hanya untukmu Zha lihatlah bintang dilangit sana Disana terukir nama kita berdua Dan dari sana aku akan melihatmu Zha aku mau kamu selalu tersenyum apapun yang kamu hadapi saat ini karena aku yakin kamu bisa mengapai mimpimu dan meraih kebahagian untuk selamanya, jangan menyerah sahabatku aku akan selalu ada untukmu.. From: Thahir

13


Mimbar Profil

Figur Seorang Mawapres Oleh Riya Yulharmaini

M

enjadi Mawapres (Mahasiswa Berprestasi) bukan hal yang mudah, hanya beberapa mahasiswa yang mampu mendapatkannya. Sebut saja Dini Haiti Zulfany, mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Bahasa Inggris angkatan 2005. Berkat keuletannya, ia menjadi juara 2 Mawapres di Untan dan juara 1 di FKIP. Anak pertama dari tiga bersaudara ini mengikuti tes pemilihan Mawapres di Kaprodi Bahasa Inggris, tes pemilihan ini sudah dari tahun lalu dia ikuti tapi karena dia akan mengikuti lomba debat mewakili FKIP di Bandung kesempatan itu diberikan ke orang lain. Ternyata kesempatan jadi Mawapres juga bisa di peroleh Dini pada tahun 2009 untuk mewakili FKIP. “Menurut saya, seleksinya gak terlalu

rumit, hanya dipanggil Kaprodi dan dilakukan penyeleksian, kemudian memperlihatkan IPK (indeks prestasi kumulatif)”.ujar Dini. Setelah lulus penyeleksian Dini langsung diajukan ke Pembantu Dekan (Pudek) III FKIP, dan kemudian diseleksi kembali. “Saya kira hanya diseleksi dengan IPK, ternyata juga dilihat dari karya tulis masing-masing peserta,” lanjut Dini Awalnya mahasiswi kelahiran Pontianak 22 tahun silam ini sempat pesimis apakah akan menang dalam pemilihan Mawapres, karena saingan begitu ketat dari fakultas lain. “Saya ragu menang, karena saingan dari berbagai fakultas yang ada di Untan, seperti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Fakultas Kedokteran, Fakultas Teknik dll,” tutur

Dini. Dini dikenal sebagai mahasiswa berprestasi di FKIP. Prestasi yang pernah diraihnya seperti mewakili Untan ke Semarang dalam lomba debat English dengan judul “National University Debate Camphionship”, mewakili FKIP di Bandung dalam debat inggris, dan juara 1 Prodi Bahasa Inggris dalam debat antarprodi. Akan tetapi dengan jerih payahnya membawa nama Fkip dini mengeluarkan hasil karyanya yang terbaik dan akhinya ia dapat memenangkan juara 2 Mawapres dengan hasil karya tulisnya yang berjudul “Memaksimalkan Fungsi Blog untuk Meningkatkan Menulis Mahasiswa”, sedangkan untuk juara 1 di pegang oleh Helen dari Fakultas Teknik “Padahal tahun lalu FKIP tidak mendapatkan juara karena dipegang oleh fakultas kedokteran,” tambahnya. Penyeleksian dilakukan oleh juri-juri dari Untan. Untuk FKIP jurinya oleh Pembantu Dekan III dan ketua prodi

masing-masing jurusan. Diakuinya ia mendaftar Mawapres di detik-detik terakhir. Namun dengan waktu yang sedikit ia bisa mendapatkan juara. Pengumuman penyeleksian di fakultas bulan April 2009, kurang lebih 1 minggu sebelum seleksi tingkat Untan. Saat ditanya berapa jumlah hadiah yang diperoleh, mahasiswa berkacamata ini, mengaku kurang puas dengan yang diperolehnya, ada beberapa peserta yang mengeluh dengan hadiah yang didapat. “Jika dilihat dari hadiahnya ada sebagian orang yang kurang puas karena lebih kecil daripada LPKTM (Lomba penulisan karya tulis mahasiswa) yang kemarin, tapi saya tetap bersyukur dan pemelihan Mawapres tetap ada anggara,” ungkapnya. Di akhir wawancara perempuan berjilbab ini menyarankan agar mahasiswa Untan jagan banyak mengeluh tentang dosen, tapi sebaiknya keluhan itu disalurkan untuk hal-hal yang positif dan bermanfaat untuk kampus tempat kita bernaung,” kata Ungkap cewek yang hobi browsing. []

biofile Nama

: Dini Haiti Zulfany,

Tanggal lahir

: Pontianak, 22 Juli 1987

Alamat

: Jalan Komyos Sudarso Perum 2

Hobi

: Browsing internet, Menulis atau Blogging, Membaca.

Moto hidup

: Memotivasi Diri Untuk Berdakwah

Menimba Ilmu Jurnalistik di Bumi Lampung Oleh Jumardi Budiman

M

atahari sudah berada di ufuk barat ketika saya menginjakkan kaki di Bandara Raden Intan, Tanjung Karang, Lampung. Ini kali pertama saya melakukan perjalanan jauh hingga ke pulau Sumatera seorang diri. Perjalanan ini, dalam rangka mengikuti Pelatihan Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Lanjut (PJMTL) se-Indonesia yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Pers Mahasiswa, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri, Jurai Siwo Metro, Lampung, dari hari Selasa hingga Sabtu, mulai tanggal 11 hingaa 15 Agustus 2009. Karena kegiatan baru dimulai keesokan harinya, saya memutuskan menginap di rumah pak Jalil, seorang kenalan yang pernah datang ke Pontianak. Cukup lama aku menunggu di bandara, jaraknya cukup jauh dari rumah Pak Jalil, sekitar 50 KM, kira-kira butuh 1 jam bia menggunakan sepeda motor. Rumah Pak Jalil sendiri terletak di Desa Bawang Putih, Kabupaten Lampung Timur yang berjarak 20 KM dari kota Metro, tempat pelatihan yang akan saya ikuti. Ada yang menarik dari tempat ini, yakni sebagian besar penduduk Lampung Timur dan kota Metro ternyata transmigran dari Jawa yang telah mendiami daerah itu selama puluhan tahun. Maka, jangan heran jika bahasa sehari-hari masyarakat di sini adalah bahasa Jawa.Bahkan selama pelatihan saya hanya menjumpai satu orang penduduk asli Lampung. Menurut keterangan Pak Jalil, penduduk asli Lampung banyak yang tinggal di daerah pesisir pantai

14

sehingga jarang dijumpai di Kota Metro. Hari pertama Keesokan harinya saya diantar oleh Pak Jalil menuju Sekolah Tinggi Agama Islam Stain (STAIN) Jurai Siwo Metro. Kedatangan saya langsung disambut ramah oleh panitia. Agenda pertama ialah mengikuti tecnical meeting di sekretariat LPM Kronika yang masih dalam kawasan STAIN. Ternyata di sekretariat itu, para peserta dari LPM lain telah berkumpul. Jumlah peserta pelatihan kali ini sebanyak 18 orang, utusan dari 9 LPM se-Indonresia. Kegiatan hari pertama diisi dengan perkenalan antar peserta dan panitia serta pembacaan tata tertib selama pelatihan. Selama kegiatan berlangsung para peserta diberikan fasilitas berupa penginapan yang jaraknya sekitar 1 KM dari kampus STAIN, konsumsi serta layanan antar jemput. Hari kedua Dimulai dengan upacara pembukaan dan seminar nasional yang bertempat di gedung serbaguna STAIN dengan tema “Masyarakat, Pemerintah, Pers, Dan Demokrasi”. Pembicara dalam seminar itu adalah Djajat Sudrajat (Lampung Post), Juhendra (Aliansi Jurnalis Independen) serta ketua STAIN Jurai Siwo Metro, Syarifudin Ba’asar. Seminar yang berlangsung selama satu jam itu dibuka dengan pagelaran tarian daerah Lampung. Saya cukup terkesima melihat gerakan yang dibawakan penari yang berbusana pakaian adat Lampung itu. Adapun masalah yang diangkat dalam seminar itu ialah independensi insan

pers, baik pers kampus maupun wartawan umum dalam melaksanakan tugas jurnalis, yakni menyampaikan kebenaran yang memang pantas untuk diketahui masyarakat. “Jangan sampai wartawan kampus terkalahkan oleh otoritas dosen dan birokrasi kampus yang tidak berpihak kepada mahasiswa.” ungkapnya ketika menjawab pertanyaan salah satu peserta seminar. Para peserta juga berkesempatan melakukan kunjungan ke surat kabar lokal yakni Tribun Lampung yang berada di Bandar Lampung. Dalam kunjungan itu, peserta diajak berkeliling dan melihat langsung proses percetakan, dari mulai pengumpulan berita, editing, layout dan pencetakan naskah menjadi koran. Selain itu, peserta juga dapat berdiskusi dengan pimpinan redaksi. Rencananya kegiatan akan dilanjutkan dengan kunjungan ke media lain yakni Radar Lampung, namun karena suatu kendala, maka rencana itu dialihkan dengan mengunjungi pameran pembangunan provinsi Lampung yang menyajikan barang-barang kerajinan dan makanan khas dari masingmasing Kabupaten / kota. Hari ketiga Mendengarkan materi manajemen investigasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang disampaikan oleh Iman Tarmudi dan Sulastri Putri dari KPK Pusat. Kami diberikan penjelasan tentang mekanisme investigasi, mulai dari penerimaan laporan, pengumpulan informasi, pengintaian oleh petugas yang menyamar, penangkapan

tersangka hingga proses persidangan, kami juga diberikan buku saku cara pencegahan korupsi lengkap dengan teknis pelaporan kasus korupsi yang terjadi di masyarakat. Setelah istirahat sejenak, kami kembali diajak berdiskusi. Kali ini oleh Bekti Nugroho dari dewan pers. Diskusi ini menyampaikan peran masyarakat bagi dunia pers di Indonesia. Ia menceritakan seputar pengalamannya selama berkecimpung di dunia pers. Setelah dipersilahkan bertanya, tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, saya dan beberapa peserta lain langsung merespon dengan bertanya dan memberikan sanggahan terhadap ideologinya yang tidak relevan dengan pemikiran kami sebagai mahasiswa. Suasana pun semakin marak karena peserta terpecah menjadi dua kubu, antara setuju dan tidak atas pemikiran Bekti, dan kami tetap bertahan dengan argumen masing-masing. Perdebatan antar insan pers kampus se-Indonesia itupun dihentikan oleh panitia karena waktu yang tidak memungkinkan. Bagi saya, perdebatan semacam itu semata-mata dimaksudkan untuk melatih cara pandang kami sebagai insan pers terhadap permasalahan di kampus dan masyarakat Indonesia saat ini. Materi selanjutnya ialah pembahasan jurnalisme satrawi oleh Basilius Triharyanto dari Yayasan Pantau. Namun materi yang disampaikan lebih mengarah pada cara penulisan Feature dan tulisan Deskriptif. Kontan saja hal ini membuat saya dan peserta lain  Bersambung ke hal 15

Edisi 14/Thn XXVII/LPM Untan/2010


Mimbar Profil

Ketika yang Dicita-citakan Tak Sanggup Terengkuh Oleh Tri Mulyaningsih elaki yang akrab disapa Aji ini, sebelumnya tidak pernah membayangkan dirinya akan memilih ekonomi sebagai bagian dalam riwayat pendidikannya. “Sebenarnya saya punya cita-cita besar. Dan ekonomi adalah pilihan yang tidak masuk dalam pilihan-pilihan besar saya pada awalnya,” ungkap Aji. Saat mengatakannya Aji sama sekali tidak menatap saya sebagai pewawancara. Matanya menerawang kearah lain seolah-olah sedang mengingat sesuatu. Alumni fakultas ekonomi Untan’02 ini mengatakan bahwa pada awalnya ia sangat ingin menjadi seorang konsultan. “Cita-cita besar saya itu,” Aji berhenti sejenak dan berdehem ringan. “Saya ingin menjadi,“ ia berhenti sejenak lagi, “ini agak aneh sebenarnya. Saya ingin menjadi konsultan. Konsultan yang bergerak di bidang pengembangan masyarakat,” lanjut Aji sambil tersenyum. Impian menjadi seorang konsultan bukanlah hal yang aneh seharusnya apabila saat ini Aji tidak menjabat sebagai pengajar sekaligus manager di sebuah lembaga kursus bahasa Inggris Sang Bintang School (SBS). Profesinya tersebut sungguhlah jauh berbeda dari impiannya terdahulu. Penampilan Aji saat itu bisa dibilang jauh dari nyeleneh. Gaya berbusananya lebih dekat kepada kesan formal serta kacamata yang dipakainya pun semakin menambah kesan dirinya sebagai kaum intelektual muda yang berbakat. “Pada saat saya tercebur secara tidak sengaja di dunia ekonomi ini, itu membuka pikiran, paradigma baru tentang kondisi ekonomi yang sebenarnya di masyarakat,” tandas Aji. Menurut sisi pandangnya, kondisi ekonomi yang sebenarnya terjadi di masyarakat itu jauh dari berita ekonomi yang biasa ditayangkan di televisi. Ia merasa bahwa masih banyak masyarakat yang masih berada di bawah garis kemiskinan dan masih banyak orang yang belum dapat menemukan pekerjaan. Hal itulah yang menjadi dasar bagi Aji untuk terus melangkah dan menemukan solusi-solusi yang sesuai bagi masalah-masalah tersebut. Aji adalah salah satu dari sekian banyak orang yang hobi membaca. Dengan membaca banyak ide-ide baru yang bisa muncul. Karena itulah di masa ia masih menyandang status mahasiswa, Aji rajin mencari dan membaca majalah-majalah ekonomi. “Dari keinginan membaca itu, saya menemukan mentor bisnis,” kata Aji. Ketika ditanya siapa mentornya Aji menunjuk satu sosok pria yang sedang duduk tak jauh dari kami sembari menatap laptopnya dengan serius. Ia memiliki janggut dan kumis yang tipis. Ia juga mengenakan kacamata seperti Aji. Pria itu adalah Yunsirno, senior Aji sewaktu kuliah di Fakultas Ekonomi sekaligus rekan kerjanya yang pada saat ini menjabat sebagai direktur SBS. “Dia seorang pembelajar. Tidak bisa dan tidak pernah merasa cukup,” kata Yunsirno ketika diminta mendeskripsikan sosok Aji dimatanya. Tak pernah merasa cukup. Kata-kata tersebut benarbenar cocok untuk melukiskan usaha Aji yang tak pernah putus untuk menggeluti dunia bisnis yang ditekuninya hingga saat ini. Bagi Aji yang berasal dari keluarga PNS, bukanlah hal yang mudah baginya mengubah pola pikirnya yang telah tertanam pandangan-pandangan akan

L

biofile Nama: Fahrurrazi Alamat : Jl Parit Husein 2 Komp.Bali

Mas 3 BB16

TTL: Pontianak, 13 April 1984 Pendidikan:  SD MINT Bamawai - 1996  SMP MTSN 1 Pontianak - 1999  SMUN 3 Pontianak - 2002 Motto: “Man jadda wajada” (“Siapa bersungguh-sungguh dia akan berhasil”) Prestasi:  NEM Terbaik se-Kalbar Jurusan IPS  Juara I Wirausahawan Muda Mandiri se-Kalimantan E-mail: aji_alpatisi@yahoo.com Cita-cita: Pengusaha Sukses Organisasi  Pemimpin Usaha Majalah Iqro 2005-2006  Staf Danus Kammi Komsat Untan  Ketua LDK Al-Iqtishad FE Untan  Koor. Buletin Manager Himajen FE

Menimba Ilmu Jurnalistik... Sambungan hal 14

sedikit kecewa. Kekecewaan kami bertambah saat agenda praktik lapangan dan penulisan dibatalkan. ... Akhirnya, agenda yang dijadwalkan sampai pukul 22.00 WIB hanya berlangsung sampai pukul 18.00. Saat malam hari saya dan peserta lain lebih memilih untuk berdiskusi tentang keadaan LPM masingmasing.Ternyata hampir semua LPM memiliki permasalahan yang sama, yakni kekurangan kader-kader yang benar-benar siap menjadi wartawan kampus. Hari keempat Manajemen usaha dan pengolahan data penelitian / pengembangan oleh Tomy Wibowo dan Harianto Santoso dari Kompas, menjadi materi pembuka pada hari keempat pelatihan. Tomy Wibowo menjelaskan tentang teknik marketing koran kompas dan Hariyanto Santoso memberikan pelatihan tentang cara mengumpulkan data dari responden yang kemudian diolah dan diberitakan lewat media. Saya dan peserta lain cukup terhibur dengan gaya penyampaian keduanya yang santai, apalagi Tomy sempat memberikan kuis dengan hadiah kaos dan tiket nonton di sela-sela materi. Materi penutup adalah manajemen redaksional dan teknik investigasi ala Tempo oleh Bagja Hidayat dari majalah Tempo, dimana beliau juga lebih banyak berbagi pengalaman selama menjadi wartawan serta berdiskusi dengan peserta. Beliau juga memaparkan teknik dan etika ketika melakukan investigasi tentang

Edisi 14/Thn XXVII/LPM Untan/2010

suatu peristiwa yang akan dijadikan berita. “Jangan sampai wartawan mengabaikan kode etik jurnalis ketika melakaukan liputan, apapun alasannya” tandas Bagja. Pada hari terakhir setelah upacara penutupan, kami diajak mengunjungi pusat pelatihan gajah di Way Kambas. Sebenarnya, ingin rasanya saya berlama-lama menikmati keindahan kota yang cukup asri ini. Namun, karena waktu pelatihan sudah selesai saya harus segera beranjak pulang ke Pontianak dengan membawa oleh-oleh pengalaman dan ilmu yang saya dapat selama berada di Kota Metro. Semoga di lain waktu saya dapat kembali mengunjungi kota ini. Amin.[]

Inilah kelebihan orangorang ekonomi. Sebuah karya yang mengkombinasikan dunia bisnis dan dunia pendidikan. kehidupan PNS untuk kemudian berusaha melangkah ke jalur yang penuh ketidakpastian yaitu dunia bisnis. Sebagai langkah awal untuk menunjukkan keseriusannya tersebut Aji rela untuk berjualan majalah dan baju di kampus. Ia juga pernah merasakan menjadi penjual koran sampai kemudian ia diterima magang di harian lokal Pontianak Post sebagai asisten layouter. “Yang saya punya hanya kemauan,” tandas Aji. Usahanya tentu saja membuahkan hasil. Di semester ketujuh kuliah S1-nya, Aji mendapat tawaran dari Yunsirno untuk membentuk suatu lembaga kursus yaitu Sang Bintang School. Saat SBS resmi dibentuk tahun 2005, staff pengajarnya hanya beranggotakan 2 orang yang tak lain adalah Yunsirmo dan Aji. “Full smile. And then dia tuh sering bilang kalau dia tuh suka banget sama ngajar,” ceplos Nike, salah seorang instruktur SBS, kala ditanya pendapatnya tentang Aji. Aji yang sekarang telah jauh berbeda dengan Aji yang dahulu sempat merasa enggan untuk mengajar. “Dulu ketika pertama kali di SBS beliau tidak mau menjadi guru. Jadi, saya yang jadi guru favorit. Tapi itu dulu. Sekarang saya udah tergeser karena ada mr. Aji,” ungkap Yunsirno sambil tersenyum. Setiap orang punya ketertarikan masing-masing. Begitu pula Aji yang pada awal karirnya lebih menyukai sisi marketing dibandingkan sisi mengajar. Akan tetapi, saat ini ia berhasil menggandeng keduanya baik marketing maupun mengajar. “Jadi pada awalnya ini adalah mindset sebenarnya,” Aji mencoba menjelaskan. “Memang ada sedikit beban tapi sejak awal kita udah mencoba mengubah mindset bahwasanya gak perlulah kita harus S3 di Inggris baru mau mengajarkan orang bahasa Inggris,” imbuhnya lagi. Pikiran khawatir tentu pernah melintas dalam benak Aji. Namun sebagai orang dengan background ekonomi yang kemudian terjun dalam dunia pendidikan yang sama sekali berbeda, tidak lagi membuatnya gentar. Ia justru bangga karena menganggap hal tersebut merupakan suatu kelebihan daripada suatu kekurangan. “Inilah kelebihan orang-orang ekonomi. Sebuah karya yang mengkombinasikan dunia bisnis dan dunia pendidikan,” kata Aji penuh semangat. Antara suka dan duka kadangkala saling berkaitan. Tapi, ,menurut Aji bahwasanya ia punya segudang suka namun tidak memiliki duka. Meskipun Aji menyatakan bahwa hampir tidak ada duka yang menghampirinya, Nike Merlinta memiliki pendapatnya sendiri soal itu. “Dia tuh jarang nunjukin masalahnya. Dia gak pernah nunjukkin dia sedih, dia capek. Jadi dia ndak tipe orang yang suka ngeluh,” komentar Nike. Dia kayaknya lebih terbuka ama bang Yun aja. Nunjukin lemahnya aja dengan bang Yun,” sambung Nike. Pada kesempatan yang sama, Aji mau berbagi tips untuk menjadi seorang wirausahawan. Tips pertama, yaitu anda harus mengubah mindset anda. Menurutnya, tidak ada kata gagal bagi seorang wirausahawan karena semuanya adalah peluang. Kedua, cobalah untuk menemukan mentor. Mentor bisnis Anda akan membantu mengubah mindset Anda menjadi mindset seorang wiraswastawan sejati. Ketiga, perbanyak membaca. Bagi Aji, buku akan menjadi pendamping anda dimana pun anda berada. Tak hanya itu, buku juga akan menjadi mentor kedua yang tidak akan pernah memarahi Anda. Keempat, Rancang cita-cita. Dalam hal ini Aji berpesan agar saat menekuni dunia bisnis maka jadikanlah bisnis sebagai impian terbesar Anda. Kelima, yaitu action. Inilah poin terpenting dari membangun mimpi karena action membedakan antara pemimpi yang sukses dengan pemimpi yang hanya sekedar bermimpi.[]

15


Mimbar Iklan

16

Edisi 14/Thn XXVII/LPM Untan/2010

Tabloid Edisi 14  

Tabloid Kampus Untan terbit per semester

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you