Issuu on Google+

Edisi 55/ Thn.XII/ Januari/ 2011


Surat Pembaca Mahasiswa Perlu Saling Menghargai

Salam pers mahasiswa! Pertama-tama kami mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah berperan penting dalam pembuatan civitas edisi 55 ini dari liputan hingga terbit menjadi sebuah media baca yang insyaAllah bermanfaat untuk kita semua. Beragam aktifitas telah menyita waktu kita, sehingga kita tidak menyadari telah menghabiskan waktu untuk kuliah, organisasi, aksi, berkumpul bersama teman dan masih banyak aktifitas lain yang kadang membuat kita melalaikan beberapa hal terpenting yang telah berlalu. Tidak terasa kini waktu telah memasuki tahun baru 2011, begitu banyak suka dan duka kita lalui bersama menunaikan tugas suci yang mulia ini. Mengiringi tahun ini, di civitas edisi 55 kami mengangkat fenomenafenomena yang terjadi di sekitar Universitas Tanjungpura yang kita cintai ini. Redaksi Civitas 55 berharap semangat kebersamaan dan kesuksesan selalu menyertai langkah kita dalam menjalani tahun ini. Hidup mahasiswa, berjuanglah!

Selama saya berkuliah di Untan, banyak hal-hal yang dapat saya peroleh dan saya rasakan seperti memperoleh ilmu dan pengalaman. Diantaranya ialah saya diajarkan bagaimana peran seorang mahasiswa, dan bagaimana cara menghargai seseorang, Ada hal-hal yang saya kurang suka seperti tindakan beberapa senior terhadap kami yang merupakan mahasiswa baru. Seolah-olah kami diperlakukan kurang baik, ada saja kesalahah kami. Saya berharap sekali dengan abang-abang senior untuk sedikit menghargai kami, karena kami selalu berusaha untuk menghargainya. Ari Haryanto Fakultas Hukum

2

Ihwan Ridho, Rizky Amaliah Divisi Penyiaran : Yulia Citra, Agus Witarsa Divisi Perusahaan : Suri Mayanti, Riza Erni, Pemimpin Redaksi : Yulia Citra Sekretaris Redaksi : Nabu Redaktur : Odilo, Rizky, Ridho, Ikur Reporter : Edisi 55/ Thn.XII/ Januari/ 2011

Banyak kejanggalan yang terjadi di kampus, diantaranya: dalam hal proses belajar mengajar. Dosen sering tidak masuk dengan alasan yang tidak jelas, tidak sesuai dengan jadwal perkuliahan dari prodi atau kontrak perkuliahan. Jika mahasiswa terlambat mereka dilarang untuk mengikuti perkuliahan, tetapi tidak untuk dosen yang bersangkutan.Hal ini membuktikan bahwa kesepakatan kontrak perkuliahan berat sebelah yang dititikberatkan pada mahasiswa bukan pada dosen yang bersangkutan. Disini kami sebagai mahasiswa hanya ingin aspirasi kami ini, dapat ditangapi dan direalisasikan..sesuai dengan prosedur yang telah disepakati. Sandy Muzwar, Fakultas Ekonomi

Tiga Masalah Besar Yang Harus Dituntaskan Selama saya menyandang status mahasiswa Untan, banyak sekali hal yang ironis ditelinga maupun kasat mata. Ada tiga hal yang mungkin semua mahasiswa juga merasakan hal yang sama seperti saya. Pertama, tentang kebijakan-kebijakan pihak Universitas yang tidak pro terhadap mahasiswa. Contoh penggusuran sekretariat UKM yang dinilai sebagai bangunan liar, pada intinya UKM-UKM yang ada merupakan pengembangan kreativitas mahasiswa itu sendiri. Kedua, dimana peran BEM Untan? BEM Untan harus merespon dan berani mengkritisi kebijakan pihak Universitas yang merugikan mahasiswa. Karena tugas BEM Untan salah satunya ialah menampung dan menyuarakan aspirasi mahasiswa. Ketiga, infrastruktur dan fasilitas kampus, terlihat jelas banyak tidak layak untuk dipergunakan. Contoh: masih banyak jalan yang rusak, laboratorium yang alat-alatnya tidak efektif untuk digunakan oleh mahasiswa. Jadi dana daftar ulang yang ditargetkan untuk infrastruktur dan fasilitas kampus sampai sekarang belum ada realisasinya. Jimmy Pratomo Fakultas Fisipol

Buletin Mimbar Untan Civitas Diterbitkan oleh : Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Tanjungpura Pontianak Ketua Umum : Odilo Tarigasa Sekretaris Umum : Irwan Kurniawan Bendahara Umum : Sumarti Dewiyani Divisi PSDM : Dewi Hairani, Tri Mulyaningsih Divisi Litbang : Riya Yulharmaini Divisi Penerbitan :

Kontrak Perkuliahan Dipatuhi

Mulyadi, Nabu, Asmadi, Marikun, Thristianty Suci Merata, Tsalas, Anwar Fotografer : Anwar, Nabu Ide Karikatur : Meidy Prasetyo, Yulia Citra Layouter : Ikur, Nabu, Tsalas

REDAKSI Alamat Redaksi : Jl. Daya Nasional Komplek Gedung MKDU Pontianak 78124 e-mail : lpm_untan@yahoo.com Telepon : 081352592596 Percetakan : Artha Grafistama, Jl. Pahlawan No. 20 Telp.(0561) 765000-766000 (Isi diluar tanggung jawab penerbit). Redaksi menerima pemasangan iklan, tulisan berupa opini, essai, laporan kegiatan kampus, cerpen,hasil investigasi, surat pembaca disertai identitas diri. Tulisan diketik di lembaran folio dengan spasi ganda. Kirimkan ke Sekretariat LPM Untan, langsung. Redaksi berhak mengedit tulisan tanpa mengubah makna tulisan.


Opini Civitas

Rekonstruksi Pendidikan Kapitalisme VS Sosialisme Pendidikan Oleh Wandy endidikan pada dasarnya merupakan suatu kebutuhan bagi setiap manusia sebagai penghuni bumi yang sebenarnya memang banyak di dapat baik itu melalui jalur formal maupun informal. Sangat ironis ketika sebagian orang banyak mengenyam masa pendidikan yang bermula dari Sekolah Dasar hingga ke Perguruan Tinggi, sedangkan masih banyak orang yang tidak dapat bersekolah. Munculnya Rancangan UndangUndang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP) dan privatisasi pendidikan yang banyak menimbulkan polemik bagi masyarakat sehingga masyarkat mempertanyakan kembali visi dan misi pemerintah tentang pendidikan bagi masyarakat dan tanggung jawab pemerintah adalah memenuhi hak atas pendidikan sebagai implementasi amanat Undang-Undang Dasar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Politik pendidikan kita sekarang ini masih menjadi tanda tanya besar. Apa sebenarnya yang menjadi kapasitas garapan pendidikan untuk membangun bangsa. Penganut akademik kapitalisme ; politik pendidikan lebih di arahkan kepada peningkatan kesejahteraan orang banyak dan dari segi aspek material itu lebih diutamakan. Dengan adanya RUU BHP dan privatisasi pendidikan justru mempersempit ruang bagi seluruh masyarakat negara untuk memperoleh Pendidikan Dasar hingga ke Perguruan Tinggi. Istilah privatisasi sangat kental sekali dengan nuansa pendekatan modal seperti layaknya lembaga bisnis. Pemerintah seakan tidak peduli lagi dan memindahkan masalah tersebut kepada lembaga yang bersangkutan maka nantinya hal ini akan mengarah kepada free competition dan dapat di prediksikan bahwa nantinya berakibat munculnya Pembukaan lahan bisnis secara besarbesaran demi mencari keuntungan

P

semata dan juga politik pendidikan yang demikian tidak bisa memproteksi warga negara untuk memperoleh pendidikan yang baik. Van Hoof dan Van Wieringen (1986), mengatakan bahwa “jika pemerintah di suatu negara tidak secara serius memperhatikan arah dan pengelolaan pendidikan tinggi di negerinya maka dapat dipastikan pembangunan ekonomi negara tersebut akan terhambat�. Fenomena privatisasi pendidikan merupakan pengingkaran pemerintah terhadap ideologi pendidikan. Pendidikan tidak akan lagi mencerahkan dan hanya terbuka bagi kalangan tertentu sehingga terjadilah disparitas antara Si Kaya dengan Si Miskin. RUU BHP dan privatisasi pendidikan sekarang angat membuat masyarakat merasakhawatir karena hal ini akan mengarah pada legitimasi keinginan pemerintah untuk meringkus kebebasan institusi penyelenggara pendidikan yang juga bertentangan dengan amanat UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. Dan RUU BHP nantinya akan dapat mengurangi peran pemerintah akan tanggung jawab negara terhadap pembiayaan pendidikan. Privatisasi yang berangkat dari konsep liberalisme dan kapitasisme akan membidik Segmentasi pendidikan untuk perputaran modal atau provide oriented. Ada dua keprihatinan yang seringkali dibuat sebagai alasan pelaksanaan privatisasi pendidikan . Pertama, ketidakmampuan Pemerintah membiayai pendidikan tinggi dan kebutuhan meningkatkan daya saing. Hal ini akan memicu Perguruan Tinggi, berlomba-lomba menarik perhatian calon mahasiswa sebanyak-banyaknya agar banyak dana yang terkumpul sehingga calon mahasiswa tergolong miskin yang berkompeten, tidak mendapatkan pendidikan sesuai haknya. Kedua, Pendidikan yang diharapkan dapat melepas bangsa ini dari belenggu

kebodohan dan keterbelakangan menjadi komoditas bisnis yang menguntungkan. Pendekatan ideologi politik mengatakan tugas pendidikan adalah investasi sebuah bangsa. Pendidikan berfungsi sebagai alat proses modernisasi ibarat bagaimana mengolah bahan baku menjadi bahan setengah jadi hingga menjadi bahan jadi.Oleh karena itu, pendidikan haruslah ditingkatkan dan dapat membangun good community serta tatanan sosial yang beradab. Maka Problema pendidikan saat ini, tidak terintegrasinya pendidikan sebagai tujuan harmonisasi dan humanisasi yang membentuk lembaga pendidikan cenderung pada pragmatisme seperti isu-isu pembangunan nasional, kesejahteran ekonomi, dan seolah-olah itu semua yang lebih penting. Rekonstruksi pendidikan khususnya di negara-negara stabil bertipe agraris, pendidikan selalu ada hubungannya dengan masalah pengalihan kecakapan, tradisi, dan nilai-nilai. Pendidikan seharusnya tidak menimbulkan masalah secara khusus, terlepas atau sama sekali di luar masalah sosial, politik, dan keagamaan. Memang harus diakui jika ekonomi berkembang cepat, maka pendidikan cenderung cepat mengembangkan pengetahuan guna menyiapkan tenaga-tenaga yang dibutuhkan. Maka rekonstruksi pendidikan haruslah diletakkan di dalam kerangka peningkatan kualitas pendidikan kita di Indonesia tanpa menjadi alergi terhadap persoalan pendidikan gaya baru yang murni mendidik dan berakhlak mulia serta di dalam rekonstruksi pendidikan diharapkan juga mampu menghidupkan kembali etos belajar dan mengajar di tempat kita menuntut ilmu.

*) Penulis adalah mahasiswa Fisip Untan dan pengurus Wasekum Eksternal Badko HMI Kal-bar Edisi 55/ Thn.XII/ Januari/ 2011

3


Headline Civitas

Buku Terbatas Pengunjung Berkurang oleh Tristyanti Suci Merata elama tiga bulan terakhir ini, jumlah pengunjung di Perpustakaan Untan menurun. Dari 1960 orang di bulan Oktober menjadi 435 orang pada bulan November dan 420 orang pada bulan Desember 2010. Jumlah pengunjung pun dikabarkan hanya meningkat pada saat mahasiswa ingin melakukan ujian skripsi saja. Hal ini disebabkan karena terbatasanya buku-buku yang ada di Perpustakaan Untan. Pada 2010, penambahan buku baru hanya sebanyak 321 buku dan 1.011 skripsi. Sehingga buku yang ter-sedia lebih banyak buku-buku lama daripada buku-buku baru yang dicari oleh mahasiswa. Karena hal itulah, banyak mahasiswa memutuskan untuk ke warnet dari pada ke perpustakaan, karena buku yang dicari sering tidak ada. Seperti yang diungkapkan oleh mahasiswa Fakultas Pertanian angkatan 2007, Asmi‘at. Ia mengungkapkan kekecewaan atas kurangnya buku-buku di Perpustakaan Untan sehingga ia pun lebih tertarik untuk pergi ke warnet. “ Saya merasa kecewa dengan Perpustakaan Untan sekarang, karena buku-bukunya itu kurang, jadi buku yang saya cari sering tidak saya temukan di perpus. Sebab itu, saya lebih suka mencarinya di warnet,” ungkapnya. Ternyata memang benar, selama dua tahun terakhir ini perpustakaan Untan tidak melakukan pengadaan buku dikarenakan kurangnya dana dari pihak Untan. Buku-buku baru hanya diperoleh dari sumbangan Dikti, Purek 4, dan donatur-donatur lainnya. Hal ini disampaikan oleh Pembantu Rektor 1, Saeri Sagiman. “ kalau masalah pengadaan buku

S

4

Edisi 55/ Thn.XII/ Januari/ 2011

memang pihak Untan yang menga- kan untuk ikut tes skripsi sehingga turnya, dan memang dua tahun akan menyadarkan untuk mengemterakhir ini tidak ada pengadaan balikan buku, “ terangnya. buku, karena kurangnya anggaran Selain itu, Saeri Sugiman juga dana, karena pengadaan buku tidak menjelaskan, waktu dulu jika materjadwal tiap tahun atau tiap periode hasiswa telah selesai kuliah harus tapi tergantung anggaran yang di- menyumbangkan minimal satu buku dapat,” tuturnya. ke perpustakaan tapi kenyataannya Masalah lain yang dihadapi sekarang tidak. “ Dulu kalau mahaoleh perpustakaan Untan juga di- siswa sudah selesai kuliah, biasanya karenakan oleh kurangnya kesa- menyumbangkan minimal satu buku daran dari peminjam buku yaitu satu orang ke perpustakaan, tapi mahasiswa. Banyak mahasiswa yang sekarang tidak lagi, mungkin ke tidak mengembalikan buku sehingga perpustakaan kampus masing-mabuku-buku jadi berkurang . Seperti sing, “ ungkapnya.[] yang diutarakan oleh Utin Ainun selaku Staf Tata Usaha Perpustakaan Untan. “ Hal ini dikarenakan kurangCeloteh Bang Miun nya kerjasama anBuku adalah jendela tara pihak perpusdunia.Meskipun ada takaan de-ngan fasilitas internet, buku pihak kampus, tetap menjadi referensi seharusnya mayang penting untuk hasiswa yang tidak pengembangan iptek. mengembalikan B u a t yang minjam buku nggak pernah buku dalam balikin...tolong dikembalikan segera ya demi jangka waktu kemajuan kita bersama. yang sangat panjang tidak diperkenan-


Headline Civitas

Asuransi Kecelakaan Tidak Transparan

KARIKATUR MEIDY PRASETYO

Oleh Tsalas Wahyudin

danya asuransi di Untan bagi mahasiswa yang kecelakaan dan bisa dimanfaatkan, ternyata tidak banyak yang tahu. Padahal asuransi sangat diperlukan mahasiswa, selain itu asuransi yang sudah ada sejak lama, masih belum merata mahasiswa yang tahu. Tidak jarang pula ada mahasiswa yang harus menanggung biaya kecelakaannya sendiri, karena memang tidak tahu. Mahasiswa Fakultas Teknik angkatan 2010, M. Imranur Akbar Ridho menyatakan tidak tahu menahu adanya asuransi kecelakaan di Untan. “Saya belum tahu ada asuransi untuk mahasiswa Untan. Menurut saya masalah asuransi ini juga tidak transparan. Jadi mahasiswa juga pada tidak peduli karena mereka menganggap ini hal yang sepele.” tutur M. Imranur. Mahasiswa fakultas Kehutanan angkatan 2010, Joni misalnya, ia tidak pernah tahu jika memang menjadi mahasiswa ia sudah diasuransikan. Ia mengaku belum tahu menahu

A

adanya program asuransi, jika memang ada ia sangat menyambut baik. “Saya kurang tahu mengenai asuransi kecelakaan di Untan. Jika memang ada bagus, itu berarti hal yang sangat positif bagi kami mahasiswa. Apalagi kita mahasiswa baru, perlu ada sosialisasi untuk asuransi ini. Kan sayang jika tidak tahu ada asuransi,” jelas Joni. Ternyata bukan ha-nya mahasiswa baru yang tidak tahu terkait adanya a-suransi un-tuk ma-hasiswa di Untan. Mahasiswa kehutanan Andi yang sudah ang-katan 2008 pun, sudah hampir tiga tahun kuliah di Untan baru tahu setelah diwa-wancarai. “Saya tidak tahu ada asuransi, harusnya memang ada pemberitahuan untuk masalah ini, kan enak jika memang ada. Saat kita perlu dan kecelakaan bisa meminta bantuan dengan biaya asuransi tersebut. Kalau memang ada asuransi kecelakaan di Untan itu bagus, karena mahasiswa Untan memerlukan

perlindungan apabila mengalami kecelakaan,” tegasnya beberapa saat lalu. Sementara Kepala Bagian Kemahasiswaan Suyono Sadeli menampik jika mahasiswa Untan banyak yang belum tahu tentang asuransi kecelakaan yang ada di Untan. “Mahasiswa Untan banyak yang sudah tahu mengenai program asuransi ini, terutama mahasiswa lama. Sedangkan mahasiswa baru masih banyak yang belum me-ngetahui tentang program ini,” katanya. Ketidaktahuan mahasiswa, menurutnya dikarnakan waktu yang terlalu singkat, untuk memberikan informasi, apalagi untuk mahasiswa yang masih baru. Untuk itu ia berharap agar mahasiswa bisa tahu dan bisa memanfaatkan program tersebut dengan baik. “Kita berharap mahasiswa kedepannya jadi banyak yang tahu. Program asuransi bagi mahasiswa sejatinya sudah ada sejak di-berlakukan tahun 2003 dan 2004. Jadi apabila ada mahasiswa Untan yang mengalami kecelakaan, maka uang biaya pengobatan di rumah sakit akan diganti oleh pihak Untan melalui program asuransi tersebut. Sehingga mahasiswa tidak menghabiskan uangnya untuk berobat di rumah sakit,” papar Suyono. Untuk asuransi di Universitas Tanjungpura, memberi santunan kepada mahasiswa yang mengalami kecelakaan seperti yang meninggal dunia akan diberi santunan Rp.2.000.000 sedangkan yang rawat inap di rumah sakit akan diberi Rp.250.000, “ ungkap Suyono. “Tentunya dengan adanya program ini akan mengurangi beban mahasiswa,”tambahnya. Untuk mengurus asuransi ini, mahasiswa diwajibkan melam-pirkan persyaratan yang telah di tentukan yaitu menyerahkan surat keterangan kecelakaan dari ke-polisian, kwitansi biaya pengobatan dari rumah sakit, dan fotocopi Kartu Tanda Mahasiswa (KTM). []

Edisi 55/ Thn.XII/ Januari/ 2011

5


Kampus Civitas

Perbaikan Jalan Untan Terhambat

Kondisi jalan di antara kampus Fisip dan kampus Hukum yang berlubang dan bergelombang

FOTOGRAFER ANWAR

Oleh Tristyanti Suci Merata

Kondisi jalan Untan sangat memprihatinkan, banyak lubang dan bergelombang terutama jalan antara kampus Fisip dan fakultas Hukum. Alokasi dana untuk perbaikan jalan Untan terpaksa dialihkan untuk pembangunan Rumah Sakit Pendidikan Universitas Tanjungpura. “ sebenarnya kami sudah membuat perencanaan atas pembangunan jalan tersebut pada tahun 2009, namun hingga sekarang belum ada tanggapan. Dengan alasan yang banyak yang harus dipertimbangkan, karena saat inikan kita sedang

membangun gedung Rumah Sakit Untan (RSU),” ungkap Jamaludin staf teknis biro perencanaan Untan. Selain terhambat pembangunan rumah sakit, Jamaludin menuturkan bahwa dibutuhkan biaya yang cukup besar untuk memperbaiki jalan tersebut sedangkan Untan belum menganggarkannya. ” jika jalan itu ditambal sulam, maka akan mengeluarkan dana yang cukup besar, sedangkan dari pusat pihak universitas tidak memberi dana untuk pembangunan jalan, mereka hanya memberi untuk pembangunan RSU,” tambah Jamaludin. Menurutnya, jika RSU tersebut sudah jadi, maka jalan-jalan di sekitar Untan akan diperbaiki termasuk jalan yang akan dilalui masyarakat untuk menuju rumah sakit

Untan. “ InsyaAllah pada tahun 2011 ini semuanya selesai dan berjalan dengan baik,” tambahnya. Tidak hanya jalan menuju Fisip ke Fakultas Kedokteran saja yang mengkhawatirkan, tapi hampir seluruh ruas jalan di Untan rusak. Seperti di Fakultas Mipa dan Fkip, bahkan sekarang ruas jalan di depan Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknik juga sudah banyak yang berlubang. Kondisi jalan yang rusak sangat rawan terjadinya kecelakaan. Memang belum ada korban kecelakaan, tetapi korban yang hampir terjatuh sudah sangat banyak. “ kami juga merasa khawatir dengan kondisi jalan seperti ini, walau pun tidak pernah terjadi kecelakaan selama ini, tapi kalau bentrok berlawanan arah itu sering terjadi”, Ujar Dwi Agum Mahasiswi Ilmu Administrasi Negara Fisip. Keluhan mahasiswa yang menggunakan akses penghubung itu banyak terucap baik ditujukan ke pihak Universitas maupun ditujukan ke BEM Untan sebagai perwakilan mahasiswa. “ Seharusnya ini tugas BEM untan sebagai bentuk kinerjanya, jika kami memprotes maka kami telah melewati batas wewenang. Semuanya kami serahkan kepada BEM Untan untuk mengatasi masalah tersebut. Jadi kami harap BEM Untan jeli terhadap permasalahan yang dihadapi mahasiswa,” ungkap Yono mahasiswa Fisip. Semoga saja pihak untan segera memperbaiki jalan tersebut, dan mahasiswa bisa bekerjasama untuk menjaga fasilitas yang telah diberikan. []

Keluarga Besar Mimbar Untan

6

Edisi 55/ Thn.XII/ Januari/ 2011


Civitas edisi 55