Issuu on Google+

Millemama

ISSUE 02/ MAR-APR 2013

JENDELA KOMUNIKASI MILLENIUM MAMA YANG PEDULI DENGAN RUANG BERMAIN LAYAK ANAK

Yoga Dance bersama Lisa Namuri

5 Tips menumbuhkan kecintaan anak pada alam

Satu jam sehari untuk kesehatan anak kita

Bekal Piknik

Menyiapkan yang cepat dan praktis

Alam ‘kurikulum’ gratis dari Tuhan untuk kami


EDISI KALI INI

Millemama www.millemama.com

04 Cerita Ringan

Millemama Indonesia

Ayo bertamasya ke kebun binatang!

06 Psikologi

@Millemama_INA

Lima tips menumbuhkan kecintaan anak pada alam

Pemimpin Redaksi Riela Provi Drianda Editor Sri Rezeki Maretini

08 Konsultasi

Desain & tata letak Peina Aditiani

10 Renungan

14

ARTIKEL

Merindukan secercah ruang bermain alami di lingkungan harian 12 Ulasan Buku

7 Kunci Mengawali Kebiasaan Hidup Sehat pada Anak

Kolom cerita ringan Febty Febriani Kolom psikologi Agnes Maria Sumargi Kolom inspirasi piknik & Mommy Kelinci kreativitas Kolom olah tubuh Lisa Namuri

13 Kreativitas

Kolom renungan Riela Provi Drianda

14 Olah Tubuh

Kolom edukasi Frans Ari Prasetyo Kolom kesehatan dr. Mulki Angela

Yoga dance

Kolom inspirasi Lyly Freshty

16 Inspirasi Bekal Piknik

Kolom nostalgia & ulasan buku Sri Rezeki Maretini

Menyiapkan bekal piknik yang cepat dan praktis

Kolom ulasan taman Dian Anggarini

17 Nostalgia

Editor kolom ulasan taman Sarityastuti Santi Saraswati

Apa kabarmu kini Stadion Pajajaran?

Kolom mitigasi bencana Risye Dwiyani

18 Inspirasi

Alam ‘kurikulum’ gratis dari Tuhan untuk kami

20 Kesehatan

Satu jam sehari untuk kesehatan anak kita

SAMPUL DEPAN

16

Arvenichi oleh Riela Provi Drianda SIRKULASI DAN DISTRIBUSI Annisa Dewi Dea Paramita Fani Deviana Lativa Sovianavratilova Lyly Freshty Mia Mulyawati Sarityastuti Santi Saraswati

21 Ulasan taman Jalan-jalan sore di Taman Langsat 22 Persiapan Bencana Rumah Berantakan = Sumber Bencana 23 Edisi Depan

KONTAK Redaksi, Kerjasama, Sirkulasi, Iklan Millemama.news@gmail.com / Millemama@ymail.com

24 Share Your Picture (SYP)

20

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang. Kata-kata, foto, gambar dan opini adalah properti penulis kecuali dinyatakan selain itu. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh isi majalah tanpa izin Millemama.

21


KATA EDITOR

K

etika saya hamil 7 bulan dan diharuskan untuk bedrest total, seketika itu juga saya berhenti berolah raga dan mengalami depresi yang luar biasa sampai membutuhkan bantuan medis. Setelah melahirkan, kombinasi antara kelelahan mengurus keluarga, kurangnya kehidupan sosial, kesulitan menurunkan berat badan setelah melahirkan, serta kurangnya olahraga semakin turut andil dalam kondisi depresi saya saat itu. Jangankan mengajak anak ke luar rumah bermain di alam terbuka, naik tangga ke lantai atas rumah saja saya sudah terengahengah. Kondisi keluarga kecil kami yang terus berpindah-pindah rumah dengan satu anak balita membuat saya semakin kesulitan mengatur keseimbangan hidup saat itu. Diawali dengan banyak membaca majalah kesehatan dan pengaruh dari gaya hidup sehat kawan-kawan, perlahan saya bangkit karena ingin anak tetap mendapatkan awal yang baik untuk memulai kebiasaan hidup yang sehat sampai dia dewasa dan tua nanti. Sejak saat itulah saya sadar bahwa jika saya ingin anak saya dapat memulai hidup sehatnya sejak dini, maka saya pun harus berubah. Saya harus berhenti mengeluh dan memulai dari diri saya sendiri sehingga saya dapat mempengaruhi anak dan keluarga saya. Pada edisi kali ini, Anda dapat membaca tips untuk menanamkan kecintaan anak terhadap aktivitas di alam terbuka dari sudut pandang psikologi. Kemudian pada Kolom Ulasan Buku, Millemama menjabarkan kembali 7 Kunci Mengawali Hidup Sehat Pada Anak berdasarkan buku karya Stephen J. Virgilio. Contek tips dan resep mudah untuk dinikmati saat piknik atau bersantai bersama keluarga di rumah. Lalu di Kolom Olah Tubuh, ada tips peregangan untuk ibu-ibu pekerja kantoran atau di rumah yang banyak menghabiskan waktunya untuk duduk dan kegiatan yang tidak banyak aktif bergerak. Selain itu, Anda dapat mencetak gambar di kolom kreativitas dan biarkan anak Anda berkreasi dan mewarnainya.

KATA ANDA Majalah perdana millemama. Saya pribadi suka bgt. Ada tulisan dari ahli, ada jg dari blogger . Antara tulisan ringan, dekat dgn keseharian saya sbg ibu, tapi tetep cerdas dan ilmiah. Silakan dibaca dan dishare :) Sari melalui facebook FYI ada majalah online khusus ngebahas ruang bermain yg layak u/ anak, dari Millemama Indonesia . Edisi pertama, download gratis katanya. Dydy Dyah melalui facebook Proud of you Teteh-teteh, critanya oke banged buat mommies.. ijin share yah ^_^ Citra Fadhilah Utami melalui facebook Majalah bagus punya Millemama Deni Iskandar melalui twitter Menarik untuk disimak..... Aryo melalui facebook Majalah inspiratif nih mbak..sukses ya.. Ully melalui facebook Edisi perdana majalah digital dari Millemama Magazine. Silahkan di download. It’s free ! Love it. Kids Yoga Jakarta melalui facebook

Selamat membaca! Kirimkan pesan Anda ke: millemama.news@gmail.com twitter @Millemama_INA

Sri Rezeki Maretini

millemama.news@gmail.com


CERITA RINGAN

S

alah satu tempat wisata yang masuk ke dalam daftar tempat wisata yang harus kami kunjungi selama tinggal di kota Chiba, Jepang adalah kebun binatang (Chiba Zoological Park). Di akhir musim gugur tahun 2012 kemarin, akhirnya kami sekeluarga menyempatkan pergi ke kebun binatang ini. Meskipun terletak persis di depan stasiun monorail zoological park (yang artinya kami hanya perlu berjalan sekitar 150 meter jika menggunakan monorail), hari itu kami memutuskan untuk pergi ke kebun binatang dengan menggunakan sepeda. Sebelum memulai petualangan, suami sudah memastikan jalur yang paling mudah dari apartemen kami menuju ke kebun binatang. Saya dan suami melakukan pembagian tugas. Posisi suami ada di depan dan memastikan kami tidak tersesat berdasarkan petunjuk GPS di mobile phone-nya, sedangkan saya berada di belakang karena bertugas menggendong Fatah. Alhamdulillah jalur yang kami pilih memang jalur yang paling mudah, meskipun juga merupakan jalur yang ramai karena kami menyusuri jalan raya. Setelah hampir kurang lebih 20 menit bersepeda, akhirnya kami sampai juga di tempat tujuan. Setelah memarkir sepeda, kami bertiga segera menuju ke dalam kebun binatang dan langsung disambut oleh pemandangan khas akhir musim gugur yang memamerkan keindahan daun-daun berwarna merah serta kuning. Menyaksikan indahnya ciptaan Yang Maha Kuasa di siang hari itu, saya dan suami menyesal mengapa baru meninggalkan rumah selepas pukul 12 siang. Fatah yang saat itu baru belajar berjalan, langsung meminta turun dari gendongan setelah kami menyerahkan karcis tanda masuk seharga 500 yen kepada petugas di pintu masuk kebun binatang. Fatah berjalan kesana kemari untuk menguji kemampuan berjalannya. Hari itu, seraya mengelilingi lokasi bermacammacam jenis hewan, Fatah sering sekali belajar berjalan sendiri di bawah pengawasan saya and suami. Rupanya, dia juga merasa senang berada di alam bebas. Sebisa mungkin saya dan suami membaca nama-nama binatang yang berada di dalam kebun binatang. Kami membaca dengan suara keras supaya Fatah juga dapat mendengar, walaupun kami mengetahui bahwa untuk anak seusia Fatah penjelasan dari orang tuanya hanyalah baru akan mengisi ruang-ruang memori di otaknya.

Beberapa kegiatan yang bisa menjadi alternatif, misalnya : 1. Mengumpulkan info yang lengkap tentang kebun binatang (sejarah, tahun berdiri, satwa-satwa yang terdapat di dalamnya dan lain-lain) yang akan kita kunjungi, lalu menarasikan kepada anak dan menugaskan si anak untuk bercerita ulang tentang persepsinya terhadap kebun binatang sepulang dari bertamasya. 2. Sebelum memulai petualangan ke kebun binatang, sebisa mungkin mengenalkan berbagai jenis binatang ke pada anak melalui media buku-buku bergambar. Nah, saat berada di kebun binatang, kita tunjukkan kepada si anak wujud nyata binatang-binatang itu. Yakinlah akan ada ekspresi gembira di muka anak kalau seekor gajah atau jerapah misalnya bisa dia temukan dalam dunia nyatanya, bukan hanya tergambar pada selembar kertas. 3. Jika memungkinkan bertamasya ke kebun binatang dengan berjalan kaki atau bersepeda, maka tinggalkanlah sejenak angkutan umum atau kendaraan pribadi dan mulailah berpetualang bersama anak-anak di

sepanjang perjalanan menuju kebun binatang. Tunjukkan kepada si anak tumbuhantumbuhan liar yang mungkin ditemuinya di sepanjang perjalanan. Atau tataplah bersamasama birunya langit. Atau bisa juga dengan memotret aneka macam objek menarik di sepanjang perjalanan. 4. Di sepanjang kunjungan ke kebun binatang, ajarkan juga anak-anak untuk mencintai lingkungan dengan cara sederhana: tidak membuang sampah di sembarang tempat. Jika memang tidak tersedia tempat sampah di sekitar kebun binatang, mintalah si anak untuk menjaga sampahnya dan membawanya hingga menemukan tempat sampah atau sampai pulang ke rumah. Masih ada banyak cara untuk menjadikan tamasya ke kebun binatang menjadi kegiatan wisata yang menyenangkan dan menggembirakan. Kuncinya hanya satu. Libatkanlah si kecil sejak dimulainya rencana akan pergi ke kebun binatang. Jadi, apakah para Mama semua, sudah siap mengajak si kecil bertamasya ke kebun binatang akhir minggu ini?

Untuk mengakhiri petualangan di kebun binatang, kami memilih jalur yang berbeda dari saat memulai. Hingga akhirnya terdengar pengumuman kalau kebun binatang akan ditutup tepat pukul 5 sore, kami baru berada pada setengah perjalanan di dalam ruang seluas 339.722 meter persegi itu. Harapan untuk bisa datang lagi mulai kami semai di dalam hati. Kami ingin berlama-lama bercengkerama dengan suasana kebun binatangnya kota Chiba. Saya menyukai suasana yang bersih dan asri di kebun

binatang kota Chiba. Mungkin ada banyak yang berfikir kalau berkunjung ke kebun binatang adalah kegiatan yang menoton dan membosankan. Eitss, jangan salah, Mama! Berkunjung ke kebun binatang bukanlah sebuah kegiatan yang membosankan jika kita mengetahui jurus jitunya. Apalagi kalau kita berkunjung ke sana bersama anak-anak yang sudah berumur di atas 3 tahun. Ada banyak kegiatan menarik yang bisa kita lakukan. (M)

Febty Febriani (Fety)

Ibu dari satu orang anak yang juga sedang menunaikan tugasnya sebagai seorang mahasiswi S3 di sebuah universitas di Chiba, Jepang.


{Ayo Bertamasya ke}

www.millemama.com | Maret 2013 | 5


Agnes Maria Sumargi Pengajar di Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, yang saat ini sedang menempuh studi S-3 di University of Queensland, Australia. Ibu dari 1 orang anak ini memiliki ketertarikan dalam bidang perkembangan anak, pendidikan anak usia dini, dan pendidikan pengasuhan anak bagi orangtua.

“Banyaknya larangan dan kritik dari orangtua pada saat anak bermain bebas di alam dapat membuat anak kurang menikmati kegiatannya di alam. �


PSIKOLOGI

5

Tips Menumbuhkan

Kecintaan Anak Pada Alam

S

ungguh menakjubkan alam ciptaan Tuhan. Banyak orangtua sering lupa untuk menikmati dan mensyukuri keindahan alam karena tidak merasa sempat. Waktu yang berharga lebih banyak dihabiskan di dalam ruangan dan berkutat dengan aktivitas rutin. Padahal keseimbangan hidup sungguh penting. Alam memberikan udara segar dan pemandangan yang hijau yang membuat tubuh menjadi rileks dan pikiran menjadi jernih. Bagaimana kita bisa menumbuhkan kecintaan anak pada alam apabila kita sendiri tidak menyempatkan diri dan menunjukkan kepedulian pada lingkungan hijau tersebut?

TIPS AGAR ANAK MENCINTAI ALAM Berikut ini adalah beberapa tips untuk membuat anak mencintai alam:

1.Mulailah dari diri sendiri

Luangkan waktu untuk beraktivitas di ruang terbuka yang hijau. Berjalan ke luar ruangan untuk sekedar melihat pemandangan akan mengalihkan pemikiran kita dari aktivitas rutin yang yang penat. Berolah raga di alam terbuka memberikan manfaat yang besar pula karena menyehatkan jiwa dan raga. Apabila kita menikmati hal-hal ini, niscaya anak pun akan meniru apa yang kita lakukan dan menyukai alam terbuka.

2.Pilihlah kegiatan yang bisa dilakukan bersama anak di luar ruangan

Untuk membiasakan anak beraktivitas di alam terbuka, mulailah dengan mengajaknya ke luar ruangan, misalnya, dengan mengajak anak ke taman bermain, bersepeda di lapangan, menyirami tanaman di kebun atau sekedar berjalan mengitari kompleks perumahan. Buatlah kegiatan itu menyenangkan dan mengesankan bagi anak.

3. Berikan contoh dan tumbuhkan minat

Apabila anak ragu untuk beraktivitas di alam terbuka, maka orangtua dapat memberikan ide dan contoh. Orangtua bisa mengarahkan anak untuk mencoba alat permainan tertentu di taman seperti ayunan atau jungkat jungkit, dan jika diperlukan, orangtua dapat menunjukkan bagaimana cara bermain yang aman. Orangtua juga bisa menunjukkan pada anak beragam jenis tanaman dan binatang yang ada di kebun. Orangtua bahkan dapat mengajarkan kepada anak cara merawat tanaman atau memberi makan binatang (misalnya, ikan atau burung). Hal-hal kecil seperti ini akan menumbuhkan minat anak pada nuansa alam sekitarnya.

4. Sisipkan pengajaran

Sewaktu anak beraktivitas di alam terbuka, orangtua dapat mengajarkan banyak hal pada anak sesuai dengan perkembangan atau usianya, seperti perilaku hewan, pertumbuhan tanaman, kecakapan menggunakan bagian-bagian tubuh, sosialisasi atau pergaulan dengan teman yang dijumpainya saat beraktivitas di alam terbuka, bahkan nilai-nilai spiritualitas (misal, ucapan syukur atas karya Tuhan) dan penghargaan terhadap alam. Jangan terkejut apabila anak banyak bertanya mengenai hal-hal yang dijumpainya di alam. Layani pertanyaan yang dilontarkan anak karena hal ini menunjukkan rasa ingin tahunya yang besar terhadap alam sekaligus kesiapannya untuk belajar hal-hal yang baru.

5. Ciptakan suasana aman, nyaman dan menyenangkan

Anak tidak secara otomotis dekat dengan alam. Ia mengamati bagaimana orang-orang di sekitarnya berhubungan dengan alam. Untuk menumbuhkan kecintaan anak pada alam, orangtua perlu menciptakan suasana yang aman, nyaman, dan menyenangkan pada saat anak beraktivitas di alam. Banyaknya larangan dan kritik dari orangtua pada saat anak bermain bebas di alam dapat membuat anak kurang menikmati kegiatannya di alam. Sebagai orangtua, kita harus siap dan menerima apabila pakaian anak menjadi kotor atau anak berperilaku ceroboh. Kesepakatan mengenai apa yang boleh dan tidak boleh sebaiknya dibicarakan sebelum anak mulai beraktivitas di luar, dengan tujuan untuk menghindarkan anak dari kecelakaan atau pengalaman yang tidak menyenangkan.

MANFAAT BAGI PERKEMBANGAN ANAK Banyak manfaat yang bisa diperoleh anak dengan beraktivitas di alam atau lingkungan terbuka. Berada di alam bebas akan mendorong anak untuk aktif bergerak, seperti, berlarian, berjalan ke sana ke mari, melompat, atau memanjat. Khususnya bagi anak balita, kegiatan ini akan merangsang perkembangan fisiknya, mengasah ketangkasan dan kelenturan tubuhnya. Imajinasi anak juga akan berkembang. Suasana alam, seperti warna hijau dedaunan, suara hewan, bau rerumputan dan terpaan angin, akan merangsang panca indera anak. Kekayaan rangsangan ini akan menumbuhkan rasa ingin tahu anak terhadap lingkungan sekitarnya. Anak pun menjadi aktif bereksperimen dan menjelajah, bahkan berimajinasi hal-hal yang tak terpikirkan. Apabila anak melakukan kegiatan di alam bersama dengan anak lain, imajinasi yang muncul menjadi semakin berkembang. Hal ini mendorong terjadinya komunikasi dan negosiasi antar anak. Dengan demikian, perkembangan intelektual sekaligus kemampuan sosial anak menjadi terasah. Suasana alam akan membuat anak menjadi rileks. Anak bisa dengan bebas mengekspresikan emosi saat ia bermain atau beraktivitas di alam. Seperti halnya pada orang dewasa, tawa dan canda yang lepas dapat merubah suasana hati yang kelabu. Dengan kata lain, alam membawa perubahan positif pada suasana hati. Jadi, tunggu apa lagi, mari kita ‘bersekutu’ dengan alam dan memberikan pembelajaran berharga untuk anak-anak kita! (M)

www.millemama.com | Maret 2013 | 7


<KONSULTASI>

T

Saya memiliki anak berumur 3 tahun yang walaupun bersemangat sekali untuk diajak bermain keluar rumah, tetapi setelah 5 menit berjalan kaki atau bermain di taman selalu mengeluh kelelahan dan minta digendong. Akhirnya baik saya maupun dia kurang menikmati waktu kami di luar rumah. Apakah hal ini ada pengaruh dari kurang baiknya asupan gizi dia akhir-akhir ini (malas makan) atau pengaruh dari kondisi saya yang juga sebenarnya sudah kelelahan akibat menggendongnya ke tempat bermain atau untuk menemaninya beraktivitas di taman misalnya? Seringkali saya akhirnya hanya mengawasi saja dari kejauhan dan membiarkan dia bermain dengan teman sebayanya (yang belum tentu dia kenal) sementara saya beristirahat di bangku taman. Perlu diketahui bahwa kami memang baru saja pindah ke tempat tinggal yang sekarang sehingga mungkin dari sisi saya maupun anak sedang beradaptasi. Pertanyaan saya adalah bagaimana caranya agar anak saya (dan saya juga) bisa menikmati waktu kami bermain di luar rumah? Saya ingin agar ritual kami bermain di luar rumah bukan merupakan kewajiban tetapi sesuatu yang kami nanti-nantikan. Ibu Kei Dokter Mulki Angela Mahasiswi S3 fakultas kedokteran di salah satu universitas negeri di Jepang. Seorang ibu dari satu putra yang senang belajar berbagai hal terutama mengenai tumbuh kembang anak dan seluk beluk dunia anak.

J

Dear Ibu Kei, Kelelahan (fatigue) adalah suatu gejala. Diagnosis penyebab dari kelelahan dapat berasal dari faktor medis maupun non medis. Penting untuk mengetahui bagaimana cara pencegahannya, karena gejala kelelahan dapat terjadi pada siapa saja. 1. Manajemen stress dan lakukan teknik relaksasi Stress juga dapat dipicu oleh suasana yang baru, seperti pada keadaan Ibu Kei sekarang yang baru pindah ke tempat tinggal baru. Lakukan relaksasi yang cukup, misalnya dengan ibadah yang khusyuk, mengikuti kelas olah tubuh, mendengarkan musik yang tenang. 2. Olahraga Mulailah perlahan-lahan jika anda belum terbiasa. Hal yang sekarang ibu lakukan bersama anak juga merupakan bagian dari olahraga. Jangan terlalu memaksakan dengan patokan waktu tertentu, mulailah dengan senyaman mungkin. Pulanglah jika salah satu dari anda merasa lelah. Temukan waktu yang pas di saat anda berdua sedang merasa nyaman untuk pergi bermain di luar rumah. 3. Penggunaan obat tertentu Jika seseorang dalam pengobatan yang rutin karena penyakit tertentu, mungkin penyebab kelelahan dapat berasal dari obat tersebut. Konsultasikan dengan dokter Anda. 4. Makanan sehat Tingkatkan kualitas makanan (bukan hanya kuantitas) dan biasakan memulai hari dengan sarapan yang sehat. Perbanyak konsumsi buah dan sayur. 5. Hentikan konsumsi kafein yang berlebihan. Hindari minum kopi, teh atau minuman berkafein setelah pukul 6 sore. 6. Stop merokok. 8 | www.millemama.com | Maret 2013

7. Istirahat yang cukup dan pola tidur yang baik. Bentuklah siklus tidur yang baik dengan membiasakan pergi ke tempat tidur pada waktu yang sama setiap malamnya 8. Hindari konsumsi alkohol 9. Penderita penyakit tertentu (seperti diabetes, penyakit paru obstruktif kronik, ganguan ansietas) harus mendapat pengobatan yang tepat. Jika kelelahan terjadi terus menerus, pertimbangkan untuk memeriksakan kesehatan anda lebih lanjut. Gejala anemia, juga dapat menjadi penyebab dari munculnya kelelahan. Agnes Maria Sumargi pengajar di Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, yang saat ini sedang menempuh studi S-3 di University of Queensland, Australia. Ibu dari 1 orang anak ini memiliki ketertarikan dalam bidang perkembangan anak, pendidikan anak usia dini, dan pendidikan pengasuhan anak bagi orangtua.

J

Ibu Kei, Sepertinya apa yang ibu alami juga sering dialami oleh ibu-ibu pada umumnya. Anak-anak kadang bisa merasa capek atau kurang mau untuk berjalan kaki dalam jarak yang cukup jauh sehingga apabila dari pengalamannya, orangtua bersedia menggendong, maka anak akan menjadi terbiasa dengan kondisi tersebut. Supaya anak dan ibu bisa sama-sama menikmati aktivitas di luar, ada baiknya dibuat perencanaan sebelumnya. Carilah waktu yang tepat untuk mengajak anak bermain taman (anak tidak dalam keadaan lelah atau rewel) sehingga bisa diajak berkomunikasi. Jelaskan apa yang akan terjadi dan nyatakan dengan jelas harapan ibu, seperti, â&#x20AC;&#x153;Adik, kita akan bermain bola di taman. Adik akan berjalan dengan ibu ke taman. Adik jalan sendiri, kalau capek bisa berhenti sebentar lalu jalan lagi sendiri, Ok?â&#x20AC;? Ingatkan anak pada kesepakatan apabila ia minta digendong. Berikan pujian apabila anak bersedia jalan sendiri. Memang dibutuhkan beberapa waktu sebelum anak mengerti apa yang ibu harapkan darinya, jadi lakukan hal ini secara konsisten (terus-menerus). Apabila perjalanan memang jauh, ada baiknya sambil berjalan ajaklah anak berbincangl atau mendendangkan lagu untuk membuat suasana menjadi ceria. Semoga kegiatan ibu bersama anak ini dapat menjadi rutinitas yang menyenangkan.


<KONSULTASI>

T

Bagaimana mensiasati keterbatasan waktu untuk berolahraga? Olahraga apa yg sesuai untuk ibu bekerja? Weekdays bekerja dari pagi sampai sore. Pagi sebelum berangkat kantor mengurus rumah tangga. Sampai rumah langsung mengurus anak. Sabtu minggu sudah kelelahan untuk olahraga. Biasanya bersantai di pagi hari kemudian rekreasi dengan keluarga. Ibu Sari Lisa Namuri instruktur pilates dan brand ambassador Wardah @LisaNamuri | www.lisanamuri.com

J

Ibu Sari, dengan aktivitas Ibu yang padat, sebenarnya fisik Ibu sudah cukup banyak bergerak. Hanya saja, berolah raga memang tidak sama dengan sekedar bergerak. Berolah raga adalah melakukan gerakan olah tubuh secara tepat agar otot bekerja dengan benar. Guna mensiasati waktu Ibu yang terbatas, saya sarankan Ibu menyisihkan waktu 10 menit saja setiap hari untuk melakukan olah raga ringan, seperti stretching, skipping (lompat tali), atau jogging di sekitar rumah. Sementara di akhir pekan, Ibu bisa melakukan olah raga yang bersifat rekreasi bersama keluarga. Saya biasanya jogging di taman dengan suami, sambil anak-anak bersepeda. Atau, jika buah hati Ibu hobi bermain bola basket, volley atau bulu tangkis, Ibu dan suami bisa ikut bergabung. Kecuali jika Ibu adalah seorang atlet yang melakukan olah raga untuk kompetisi, maka olah raga tidak selalu menuntut waktu khusus dan kegiatan penuh aturan. Kita dapat melakukannya dengan santai dan penuh keceriaan, disesuaikan dengan hobi, bahkan juga dilakukan bersama orang-orang yang kita sayangi. Selamat berolahraga!

T

Saya dan keluarga sangat suka piknik, tetapi kadang saya kebingungan bekal apa yang sebaiknya dibawa, yang praktis disiapkan dan mudah dimakan. Kalau pikniknya sebentar, biasanya saya membawa roti tawar isi, keripik dan minuman. Kalau pikniknya lama, biasanya saya membawa nasi, ayam goreng ungkep dan sosisnugget untuk anak. Adakah alternatif bekal piknik lain yang lebih sehat? Perlengkapan makan apa yang sebaiknya dibawa agar ringkas dan tidak menyulitkan? Mama Iva Mommy Kelinci Ibu dari dua orang putra yang kini menetap di negeri Sakura. Di sela-sela aktivitas penelitiannya di sebuah universitas, ia menyempatkan diri untuk membuatkan kyara okazu (lauk berkarakter) dan kyara bento (bekal berkarakter) untuk putra sulungnya yang kini berusia empat tahun.

J

Menyiapkan bekal piknik di pagi hari terkadang menjadi tantangan tersendiri bagi seorang ibu. Mulai dari memikirkan variasi menu, porsi makanan yang harus disiapkan sampai dengan kebersihan dan kecukupan gizi dalam menu perbekalan. Namun, seringkali ibu terlalu heboh menyiapkan bekal di pagi hari sehingga ketika piknik dilakukan, ibu tidak punya tenaga ekstra untuk menemani buah hatinya mengeksplorasi keajaiban ruang terbuka. Ada dua metode agar kita bisa menghemat waktu menyiapkan perbekalan di pagi hari, pertama memasak lauk pauk berat (seperti rendang daging/kentang, ayam berbumbu, rollade daging, dll.) piknik di malam hari sebelum piknik dilakukan. Jadi di pagi hari, Mama Iva cukup menaruh lauk-lauk tersebut di dalam kotak bekal dan memberikan sedikit sentuhan dekorasi agar bekal terlihat lebih menarik di mata si kecil. Kedua adalah memilih lauk yang lebih simpel dimasak namun tetap lezat seperti telur rebus, udang rebus, irisan daging ayam rebus, kabocha/ kentang/ubi ungu kukus. Mama Iva tinggal membawa saus favorit sebagai pelengkap lauk-lauk tersebut misalnya saja saus salada 1000 island, saus mayones atau saus sambal Bangkok. Untuk menambah kenikmatan lauk-lauk simpel ini, Mama Iva dapat mengkombinasikan lauk tersebut dengan roti tawar. Misalnya saja Mama Iva dapat membuat kreasi aneka sandwich isi, mulai dari sandwich isi adonan kabocha kukus sampai dengan sandwich isi ayam rebus berbalut saus Bangkok. Sebagai pemanis bekal dan juga penambah asupan serat dalam menu bekal keluarga, Mama Iva dapat menyiapkan gelas-gelas plastik yang berisi salada berwarna-warni atau menu gado-gado sayuran yang disertai oleh garpu-garpu plastik cantik. Pisahkan saus salada atau saus kacang gado-gado agar menu sayuran tetap enak dikonsumsi saat jam makan tiba. Untuk perlengkapan bekal, Mama Iva dapat memilih kotak bekal, garpu, sendok dan gelas kertas/plastik sekali pakai agar ringkas. Tentu saja jangan lupa siapkan tisu basah dan kantung sampah sebagai pelengkap. Atau jika ingin lebih ramah lingkungan, Mama Iva dapat membawa peralatan makan yang lebih permanen dan siapkan satu kantong plastik khusus peralatan makan kotor, dan satu plastik lagi untuk sampah tambahan. Tas piknik tentunya memiliki peran krusial dalam keringkasan kegiatan piknik keluarga. Jika Mama Iva tidak memiliki tas piknik khusus, Mama bisa mengandalkan tas ransel untuk membawa kotak-kotak makanan dan minuman. Selamat berkreasi ya Mama Iva, jangan lupa share foto pikniknya ya!

www.millemama.com | Maret 2013 | 9


RENUNGAN

Photo: courtesy of Frode Svane

L

ambat laun, kita sebagai orangtua mungkin semakin terbiasa melihat lingkungan sekitar kita semakin gersang dan beralaskan lantai beton. Perlahan, anak-anak pun terbiasa mendengar celoteh nostalgia orangtuanya mengenai pengalaman tertidur di atas punggung kerbau, memanjat ranting-ranting pohon kersen di saat libur sekolah, atau menangkap ikan impun yang berenang dengan gesit di selokan depan rumah. Tanpa disadari oleh orangtua, karena alasan perluasan rumah, ruang hijau alami yang terdekat dan tersisa dengan anak pun berubah bentuk menjadi carport, kamar baru, atau bahkan sebuah taman hias rancangan desainer taman ternama yang indah sehingga saking indahnya, anak tidak diperbolehkan untuk bermain di sana. Bukan tidak mungkin, anak pun akan menganggap bahwa alam hanya sebuah ruang untuk dipandang, ruang yang menjadi setting film, komik atau inspirasi lukisan dan diorama di nature museum. Ironisnya, kita sebagai orangtua pun lambat laun mengiyakan bahwa di zaman modern ini tidak ada yang salah jika anak harus membayar karcis hanya untuk membelai seekor kerbau atau mencari tahu di laman dunia maya mengenai penampakan foto daun kelor. Memang tidak dapat dipungkiri, laju pertumbuhan kota telah mempersempit bahkan menghilangkan keberadaan ruang-ruang komunal, terbuka dan hijau di sekitar kita. Kita kadang hanya bisa berkata, â&#x20AC;&#x153;Ya, ini konsekuensi dari pembangunan... sebagai gantinya, anakanak pun memiliki akses luar biasa terhadap playground, klub-klub olahraga, alat-alat teknologi dan sebagainya. Kalaupun mereka mau main di alam, ya tinggal bawa saja ke puncak atau ikut outbond... tidak susah kan?â&#x20AC;?. Namun, tahukah anda bahwa anak-anak, jauh di lubuk hatinya, selalu merindukan keberadaan fitur-fitur alam dalam interaksi lingkungan fisik hariannya? Di tahun 2011, saya berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan para siswa di beberapa sekolah dasar di Kota Bandung.

Dari hasil perbincangan itu, saya menemukan bahwa anak-anak tersebut, terlepas dari status sosial dan ekonominya, selalu menyebutkan keinginan mereka untuk bermain di tempat yang memiliki fitur-fitur alam seperti rumput, bunga, kolam ikan, pohon. Seorang siswi cantik yang kesehariannya akrab dengan fitur-fitur permainan di dunia maya dan sering mengunjungi mall sebagai tempat bermainnya, ternyata memiliki harapan tentang keberadaan sebuah taman dimana ia bisa bermain dengan para kelinci yang berlarian bebas di atas rerumputan. Seorang siswi manis yang setiap hari hidup di antara sesaknya pemukiman padat penduduk pun sangat merindukan taman penuh bunga dimana ia bisa bermain dengan beragam alat permainan seperti ayunan ataupun papan seluncuran. Sedangkan seorang siswa yang selalu diantar jemput oleh orangtuanya dengan sepeda motor menyampaikan impiannya akan sebuah lapangan rumput dimana ia bisa bermain bola sesuka hati di lingkungan huniannya. Hampir tidak ada seorang pun yang menyebutkan gadget, game center, kolam bola, atau playground plastik yang bisa kita jumpai di sebuah pojok restoran cepat saji terkenal sebagai tempat bermain idaman mereka. Jika kita mampu menerbangkan anak untuk bermain seharian penuh di sebuah tempat permainan berbayar raksasa di negeri Singapura, lalu mengapa kita mengabaikan kebutuhan generasi muda untuk bermain setiap hari di sebuah lingkungan yang lebih alami? Tentu saja banyak sekali yang bisa kita lakukan sebagai orang dewasa untuk mengembalikan hak-hak anak untuk berinteraksi dengan ruang bermain alami. Sebagai orangtua, kita bisa menghadirkan sejumput ruang alami dimana anak diperbolehkan untuk bereksplorasi sesuka hatinya misalnya saja memetik dedaunan, menggali tanah untuk menyimpan harta karun atau menanam sendiri tanaman-tanaman favoritnya. Kemudian, sebagai orangtua, kita juga bisa mengajak para tetangga untuk

mengalokasikan koridor atau ruang tidak terpakai sebagai lahan community garden, natural playground atau green corridor. Orangtua juga bisa memberikan usulan kepada pihak sekolah untuk menyediakan sebuah ruang bermain yang kaya dengan fitur-fitur alam. Demikian juga, orangtua yang mungkin memiliki kenalan atau justru berprofesi sebagai desainer atau aparat pemerintah kota bisa mempromosikan kebutuhan ruang bermain alami bagi anak-anak. Misalnya saja yang saat ini tengah dilakukan oleh seorang arsitek lansekap anak dari Norwegia yakni Mr. Frode Svane. Ayah dari dua orang putri ini selalu mengedepankan fitur-fitur alami dan keberadaan ruang terbuka dalam desain ruang bermain yang ia tangani. Kombinasi batu besar, pasir dan rumput-rumput pendek menjadi ciri khas Frode dalam mendesain sejumlah taman bermain maupun halaman sekolah. Dalam ruang bermain yang didesain oleh Frode, kita akan menemukan sedikit sekali fitur karpet karet ataupun alat-alat permainan dari plastik berwarna warni yang menjadi ciri khas playground anakanak masa kini. Dalam desainnya, ia seakan menyampaikan pesan bahwa alam menawarkan sebuah ruang bermain yang tak lekang dimakan waktu. Nah, millemamas.. tunggu apa lagi? Yuk, bantu anak-anak melepas kerinduannya! (M)

Riela Provi Drianda Seorang peneliti pascadoktoral di sebuah universitas negeri Jepang yang memiliki kepedulian terhadap ruang bermain layak anak dan kota layak anak.

www.millemama.com | Maret 2013 | 11


ULASAN BUKU

A

da peribahasa alah bisa karena biasa. Tetapi bagaimana saya dan anak dapat terbiasa serta menikmati waktu di alam yang hijau jika tubuh tidak sehat? Lalu jika saya sendiri tidak menikmati waktu di luar rumah, apalagi dengan anak saya? Timbul pertanyaan yang meresahkan: di perkotaan yang makin kurang hijau dan padat, bagaimana menanamkan kecintaan dan kebiasaan hidup sehat bagi anak? Berikut ini saya akan mengulas buku publikasi Human Kinetics berjudul “Active Start for Healthy Kids” oleh Stephen J. Virgilio. Selain mengupas mengenai beragam aktivitas dan olah tubuh yang dapat dilakukan bersama anak, buku ini memberikan juga tips nutrisi dan beberapa resep yang dapat dipraktekkan di rumah serta ide modifikasi menu harian. Tetapi yang saya ingin kupas lebih lanjut dalam artikel ini adalah mengenai tujuh kunci agar kita dapat membantu membukakan pintu gaya hidup sehat anak kita sehingga terbawa menjadi kebiasaaan sehat sampai dewasa dan tua nanti. 1. BERIKAN KESEMPATAN Menurut Virgilio, ketika anak diberi kesempatan mereka akan memilih untuk aktif secara fisik. Berlarian dan merangkak kesana kemari, berkejaran, menari, meloncat-loncat, dan memanjat pohon adalah naluri dan insting dari anak. Maka dari itu berikanlah kesempatan bagi anak kita melalui berbagai alat permainan (buatan maupun alami) yang merangsang aktivitas fisiknya. Orang tua harus merencanakan kegiatan mingguan untuk mengunjungi taman, pantai atau pusat rekreasi lainnya. Begitu pula dengan sekolah, pilih sekolah dengan program olahraga yang jelas dan terstruktur yang dapat menjamin anak mendapatkan kesempatan untuk dapat aktif. 2. DOSIS HARIAN Menurut Stephen Virgilio, anak usia 2-6 tahun harus aktif secara fisik setiap hari melalui sedikitnya 1 jam aktivitas fisik terstruktur (yaitu melalui perencanaan dan pengawasan orang dewasa) dan 1 jam aktivitas fisik tidak terstruktur (dimana anak dapat bermain secara bebas tetapi tetap aktif secara fisik). Bagi saya total dua jam per hari tersebut terlihat menakutkan tetapi menantang. Pertanyaannya adalah apakah orang tua mempunyai waktu 2 jam setiap harinya untuk menjamin anak mendapatkan dosis harian ini? Stephen Virgilio menyatakan bahwa orang tua dan guru atau pengasuh di sekolah harus sepakat untuk membuat model sederhana untuk jadwal aktivitas fisik harian. Misalnya 90 menit waktu aktivitas fisik di sekolah dan sisanya 30 menit di rumah atau dalam perjalanan menuju rumah (contoh berjalan kaki atau berlari menuju rumah). 3. KETERAMPILAN MOTORIK BARU Keterampilan motorik merupakan pondasi bagi aktivitas fisik anak. Ketika mereka menjelajah dan mempelajari keterampilan gerakan yang

12 | www.millemama.com | Maret 2013

sesuai dengan usianya (meloncat, menangkap, melempar, dan lain-lain), mereka akan cenderung untuk tetap aktif secara fisik selama bertahuntahun ke depan. Perkenalkan anak dengan beragam keterampilan dengan mempergunakan bantuan alat seperti kantong biji (beanbags), simpai (hula hoop), bola, parasut, syal atau selendang, dan lain-lain. Berikan perhatian lebih pada BAGAIMANA anak mengerjakannya daripada kepada seberapa sukses anak pada keterampilan tersebut. Misal, menendang bola ke gawang dari kejauhan. 4. PILIHAN INDIVIDU Perkenankan anak untuk memilih aktivitas fisiknya. Jika kita memberikan anak banyak kesempatan untuk mendapatkan beragam pengalaman, mereka akan menunjukkan apa yang mereka sukai. Gunakan hal tersebut sebagai batu loncatan untuk meningkatkan aktivitas fisik mereka. Selain itu, jangan hambat anak dengan dosis spesifik aktivitasnya (misal: “Anak-anak, lari

7

6. AKTIVITAS MENYENANGKAN DAN TIDAK KOMPETITIF Pilih aktivitas yang menyenangkan dan menggembirakan daripada mengadu kemampuan anak dengan anak lainnya. Jika anak usia 2 sampai 6 tahun terlalu banyak dikenalkan dengan kegiatan yang penuh persaingan, mereka akan berpikir bahwa persaingan atau kompetisi adalah alasan terpenting untuk mempelajari keterampilan baru dan terlibat dalam aktivitas fisik. Tentunya beberapa permainan dan aktivitas tidak terlepas dari persaingan. Namun demikian, menang dan kalah tetap harus tidak diutamakan. Orang tua dan pendidik diharapkan untuk lebih menekankan pada aktivitas yang menyenangkan daripada apakah anak atau grup tertentu melakukan lebih baik daripada yang lainnya. Anak harus terus diingatkan bahwa hal yang terpenting adalah untuk berusaha semampu mereka.

Kunci Mengawali Kebiasaan Hidup Sehat pada Anak

Stephen J. Virgilio, PhD, adalah profesor dan direktur pada Graduate Studies di Adelphi University di Garden City, New York. Telah meneliti dan mengajar sehubungan dengan isu kesehatan anak dan menjadi konsultan berbagai perusahaan dan sekolah-sekolah di Amerika Serikat selama lebih dari 25 tahun. Telah menjadi anggota di NASPE (National Association for Sport and Physical Education) sejak 1977.

Ulasan oleh Sri Rezeki Maretini sampai pohon besar dan kelilingi lalu kembali kesini!” atau “Anak-anak, coba loncat tinggi sebanyak 5 kali!”). Biarkan anak melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuan dan pilihannya. Beberapa anak lebih memilih untuk berjalan ke arah pohon besar tersebut atau loncat tinggi sebanyak 8 kali, bukan hanya 5 kali seperti yang kita minta. Ketika anak diperbolehkan untuk melakukan pilihan, mereka akan merasa lebih bersemangat dan termotivasi dalam lingkungan aktivitas fisiknya. 5. TOKOH PANUTAN Anak akan tersosialisasi lebih awal pada hidupnya jika orang-orang yang dekat di kehidupannya orang tua, pendidik, pengasuh, nenek, kakek, adik, kakak, saudara atau temannya adalah contoh positif dan dapat dijadikan panutannya. Anak senang meniru aktivitas dan perilaku orang-orang yang mereka hormati. Ingat ”actions speak louder than words”. Hal ini catatan penting bagi saya karena saya terkadang mengabaikan hal ini.

7. KETERLIBATAN KELUARGA Pengasuh, pendidik, nenek, kakek, dan temanteman adalah tokoh panutan yang penting bagi anak, tetapi pengaruh yang paling kuat adalah dari lingkungan rumah anak tersebut. Faktanya, pengaruh yang paling penting adalah dari panutan dengan jenis kelamin yang sama dengan anak. Contohnya, anak laki-laki akan lebih tertarik dengan bagaimana ayahnya menghabiskan waktunya, bagaimana cara berpakaiannya, bagaimana cara berbicara dengan orang lain, dan lain-lain. Orang tua yang melibatkan anak sejak usia dini dengan aktivitas keluarga seperti hiking, berseluncur di es maupun di jalanan, berenang, memancing, dan bersepeda akan mengirimkan pesan yang kuat terhadap anak mengenai nilai dari aktivitas fisik. (M)


KREATIVITAS

Halo namaku MIAU. Namaku terinspirasi dari Millemama yang ingin agar kota kami dapat Menuju Kota yang Indah, Aman dan Unik. Aku baru saja diadopsi oleh Millemama. Hari ini aku sedang melakukan salah satu hobiku yaitu bermain di kebun. Setelah selesai memberi makan ikan, aku akan menyiram tanaman, lalu aku akan memetik apel untuk dimakan bersama Mama Papa. Oiya teman-teman, tolong warnai tempat bermainku yaa.

www.millemama.com | Maret 2013 | 13


OLAH TUBUH

A

nda pasti sering mendengar olah tubuh yang satu ini. YOGA. Jika jenis olah tubuh asal India ini adalah favorit Anda, Anda pasti tahu kalau yoga cenderung fokus pada gerakan diam dan pernapasan. Nah, kali ini, saya akan membuatnya sedikit berbeda. Dari pose yoga yang diam, kita akan bergerak berirama, layaknya sedang menari. Teknik ini sangat baik untuk pemula karena gerakan akan terasa lebih mengalir dan ringan. Meski demikian, manfaatnya tetap terasa untuk melatih kelenturan dan kekuatan tubuh. Kita mulai yuk... Warrior slide Dimulai dari posisi warrior. Condongkan badan ke arah depan, lalu dilanjutkan condong ke arah belakang untuk membuat satu repetisi. Lakukan 8-10 repetisi untuk setiap sisi.

Warrior slide - posisi warrior

Lisa Namuri dikenal sebagai instruktur pribadi sosialita dan selebriti. Pemilik studio Lisaâ&#x20AC;&#x2122;s house ini sudah memegang sertifikasi penuh di STOTT Pilates. Brand ambassador Wardah Cosmetic ini berdomisili di Australia tetapi selalu menyempatkan diri untuk menyempatkan diri memenuhi undangan seminar, workshop, shooting program TV, dan permintaan pemotretan di Indonesia. 14 | www.millemama.com | Maret 2013

Warrior slide - condongkan badan ke arah belakang


Tree kick - posisi tree

Tree kick - luruskan kaki

Tree kick - putar kaki ke depan

Tree kick pose Dimulai dari posisi tree. Luruskan kaki, putar ke arah depan. Lalu, kembali menekuk ke posisi semula. Lakukan 5-8 repetisi untuk setiap sisi.

Chair step back - langkahkan kaki ke depan, tangan dibuka ke samping

Chair step back - posisi chair

Chair step back Dimulai dari posisi chair. Langkahkan satu kaki ke depan, ke samping dan ke belakang. Setiap kaki melangkah, posisi tangan dibuka ke samping. Pastikan tubuh condong ke depan dan berat badan berada pada tumit kaki Anda. Lakukan 10 repetisi untuk setiap sisi.

â&#x20AC;&#x153;The most important pieces of equipment you need for doing yoga are your body and your mind .â&#x20AC;? Rodney Yee www.millemama.com | Maret 2013 | 15


INSPIRASI BEKAL PIKNIK

Menyiapkan Bekal Piknik yang dan

M

embawa bekal piknik saat bermain di ruang alami telah lama menjadi rutinitas keluarga kecil kami. Selain lebih hemat di kantong, bekal piknik homemade juga membantu saya mengatur porsi dan keseimbangan makanan yang perlu dikonsumsi oleh si kecil yang membutuhkan asupan ekstra untuk tumbuh kembangnya. Ternyata bagi si kecil, bekal piknik buatan ibu adalah sesuatu yang sangat berkesan dan bisa membuatnya merasa begitu spesial dan dicintai. Tentunya Anda akan melayang setinggi langit setelah si kecil mencium pipi Anda dan berkata â&#x20AC;&#x153;Mommy, ade suka bekal buatan Mommy!â&#x20AC;?. Dan tahukah Anda ternyata menyiapkan bekal piknik tidaklah selalu memakan waktu seperti yang sering dikeluhkan oleh beberapa ibu muda kenalan saya. Jika Anda terburu-buru

harus membawa bekal karena si kecil tiba-tiba mengajak Anda untuk bermain ke luar rumah, Anda tidak perlu mati gaya dan terpaksa mengandalkan makanan cepat saji dan jajanan pinggir jalan yang belum tentu bersih dan aman bagi si kecil. Jika Anda hanya punya nasi, Anda bisa mencoba alternatif menu nasi kepal ala Jepang (onigiri). Jika Anda hanya punya roti, Anda bisa mencoba mengkreasikan roti isi selai berbagai bentuk yang bisa mengundang rasa penasaran si kecil untuk melahapnya. Nah, kalau ternyata hanya ada pisang? Pun, Anda bisa tetap membawanya sebagai bekal piknik yang menarik untuk si kecil. Caranya? Ambil spidol dan gambar mata dan mulut di kulit pisang yang akan Anda bawa. Namun, hati-hati saat membuka kulit pisang, pastikan tangan Anda atau si

kecil tidak terkena tintanya. Jika jarak antara meninggalkan rumah dan jam mengkonsumsi bekal piknik terlalu jauh, Anda bisa mencoba menempelkan stiker berbagai bentuk ke kulit pisang. Masih belum terbayang kira-kira menu apa yang praktis, cepat tapi sehat? Berikut saya bagikan salah satu bekal favorit si kecil yang waktu persiapannya kurang dari 10 menit! Selamat mencoba ya Millemamas!

Lelehan keju bertabur oregano di atas kombinasi Jamur Champignon dan Smoked Salmon mengubah pesona sehelai roti tawar yang Anda miliki menjadi bekal piknik yang istimewa di mata si kecil. Untuk para Millemamas yang buah hatinya kurang menyukai sayuran, irisan potong kecil-kecil dan halus-halus sayuran yang ingin Anda berikan dan sembunyikan di balik keju lembaran sebelum Anda memasukkannya ke dalam oven toaster. Selamat mencoba! (M) Bahan: 1 helai roti tawar putih 1 helai keju 1 buah jamur champignon (jika tidak ada bisa diganti dengan jamur tiram putih) 1 sdm smoked salmon (jika tidak ada bisa diganti dengan smoked beef/chicken/ atau topping lain sesuai selera) Beberapa iris paprika hijau/merah/kuning sesuai selera 1 sdt saus tomat 1/2 sdt oregano bubuk Cara pembuatan: 1. Potong sisi-sisi roti yang berwarna coklat. 2. Belah dua roti tawar yang telah Anda bersihkan sisi-sisinya sehingga berbentuk segitiga. 3. Oleskan saus tomat di atas permukaan roti, letakkan smoked salmon, irisan jamur, irisan paprika dan tutup dengan lembaran keju. Taburkan sedikit oregano bubuk di atas keju tersebut untuk memberikan aroma khas pada roti pizza buatan Anda. 4. Masukkan ke oven toaster selama kurang lebih 3 sampai 4 menit. 5. Jammon Pizza siap ditaruh di kotak bekal bersama sayur-sayur favorit lainnya seperti asparagus dan irisan timun. 16 | www.millemama.com | Maret 2013

Mommy Kelinci Ibu dari dua orang putra yang kini menetap di negeri Sakura. Di selasela aktivitas penelitiannya di sebuah universitas, ia menyempatkan diri untuk membuatkan kyara okazu (lauk berkarakter) dan kyara bento (bekal berkarakter) untuk putra sulungnya yang kini berusia empat tahun.


NOSTALGIA

Foto Stadion Pajajaran oleh: Katong Digdo Sofiantono

T

idak banyak yang tahu atau ingat bahwa saya dulu sering mengikuti perlombaan atletik pada masa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Yang pasti, saya ingat betul awal mula mengapa saya terjerumus bergabung dalam klub atletik di sekolah saya. Saya ingat bahwa saya sangat menyukai harumnya rumput basah yang baru disiram oleh pengelola stadion Pajajaran Bandung dan menikmati sensasi berlari sekuat tenaga di lintasan oranye itu. Kami memang diharuskan mengikuti tes lari setiap akhir catur wulan untuk dinilai peningkatan prestasi larinya. Ketika itu saya tidak peduli dengan nilai, saya hanya senang sekali dapat berlari hingga batas kekuatan saya dan tidak ada kendaraan, manusia, benda-benda yang menghalangi lari saya! Saya merasa bebas! Akibat ulah saya yang lari seenaknya pada tes pertama yang saya ikuti, nama saya kemudian terus dipanggil untuk mewakili sekolah untuk mengikuti perlombaan atletik terutama lari 400 meter dan estafet 4x400 meter. Jantung saya selalu berdebar kencang saat bersiap akan berlari, terutama sebelum memasuki arena olah raga ketika kami harus berbaris. Kiri kanan dan depan belakang saya adalah gadis-gadis perkasa seumuran saya tetapi berbadan lebih besar dan lebih berotot daripada saya. Saya menduga saat itu mereka sudah diproyeksikan untuk menjadi atlet Jawa Barat masa depan. Tetapi ketika berlari, sorak sorai suporter mengubah rasa rendah diri menjadi sensasi lecutan adrenalin dan rasa bahagia yang tidak bisa saya lukiskan dengan kata-kata. Seringkali saya dihampiri rasa malas untuk mengikuti latihan atletik rutin dua kali seminggu

di Stadion Pajajaran, tetapi guru olah raga kami yang menjadi pembimbing klub memang sangat kreatif sehingga kami selalu bertanya-tanya latihan menarik apa lagi yang akan kami alami hari ini. Latihan atletik tidak melulu lari sprint (lari cepat), tetapi juga lari halang rintang yang amat seru dan terkadang lucu, loncat jauh, lempar lembing, permainan rugby dan softball. Sepulang dari latihan, perut yang keroncongan dan minta diganjal membuat saya dan kawan-kawan seringkali tergoda menghampiri toko-toko kecil di sekitar Jalan Pajajaran yang menjual berbagai penganan khas Bandung. Saya ingat berbagi dengan kawan untuk menikmati satu cakwe gendut yang masih hangat dan sampai saat ini saya selalu menjadikannya referensi kenikmatan cakwe. Nostalgia saya dengan Stadion Pajajaran ternyata sudah bermula dari keterlibatan saya di pagelaran tari gelatik ketika saya di tingkat Sekolah Dasar (SD) dulu. Sekitar 100 orang anak SD berusia 9-10 tahun berlatih tari bersama dan membentuk formasi tulisan yang saat ini saya sudah lupa formasi apa. Dalam rangka hari ulang tahun Kota Bandung dan disiarkan di televisi. Saya ingat, bukan main senangnya kami karena baju yang dikenakan seperti burung itu sangat cantik dan berwarna-warni. Terlepas dari kegiatan terorganisir olahraga dan seni, saya perhatikan di tengah maupun akhir minggu banyak sekali orang tua dan muda yang menikmati Stadion Pajajaran, yang tidak dipungut bayaran itu, untuk sekadar berjalan kaki atau jogging di lintasan lari. Atau sekadar duduk di kursi penonton stadion yang berkapasitas 2500 penonton itu, untuk melihat atlet-atlet Jawa Barat berlatih berbagai cabang olah raga. Ada perasaan

kagum dan sedikit banyak kami memperhatikan para atlet tersebut menunjukkan keahliannya di arena olahraga. Saya yakin sekali Pemerintah Bandung saat itu sudah sangat berjasa sekali bagi saya maupun masyarakat Bandung, karena saya terus terang punya memori yang indah tentang masa kecil saya. Jika saya menutup mata saya dan membayangkan lintasan lari oranye, hijau rumput, birunya langit, maka samar-samar saya dapat merasakan semilir angin di wajah, mencium aroma tanah dan rumput basah. Saya dapat merasakan gesekan sepatu spike dengan tanah merah, telinga saya dapat mendengar sorak sorai penonton serta merasakan degup jantung saya yang tidak beraturan. Kini sudah lebih dari 15 tahun saya tidak mengunjungi Stadion Pajajaran. Kabarnya pada akhir minggu sudah dapat dipastikan stadion ini ramai sekali dan kapasitasnya tidak mencukupi permintaan masyarakat Bandung yang makin padat akan ruang rekreasi yang terbuka dan gratis. Pertanyaan saya kini, masihkah akses ke stadion ini tidak berbayar? Apakah adik-adik saya masih mempunyai kesempatan seperti saya untuk menikmati Stadion Pajajaran atau ada stadion-stadion lainnya yang kini dapat dinikmati di Kota Bandung? (M)

Sri Rezeki Maretini Ibu satu orang anak yang kini sedang bertugas menemani suaminya yang sedang melanjutkan sekolah di Brisbane, Australia.

www.millemama.com | Maret 2013 | 17


INSPIRASI

S

uatu hari anak saya bermain di lapangan rumput perumahan. Musim hujan membuat tanahnya becek. Kami ke sana berdua, saya berjalan, dia bersepeda. Dia putuskan untuk memarkir sepedanya dan membiarkan saya sibuk memotreti serangga kecil. Dia sendiri sibuk mengamati kecebong sampai kodok kecil yang baru saja lenyap ekornya melompat-lompat di genangan lumpur dengan penuh kekaguman. Dia putuskan untuk menangkap kodok-kodok itu dan seringkali gagal, kalah cepat oleh lompatan kodok. Tapi dia tidak menyerah, dia mencoba lagi sampai akhirnya memutuskan untuk memanggil saya - meminta tolong ditangkapkan kodok. Kami hanya dapat sedikit, sekitar tiga ekor, ketika secara mengejutkan dia mengusulkan untuk mengambil kecebongnya saja yang banyak dengan alasan nanti bisa berubah jadi anak kodok setelah dipelihara. Tidak hanya itu, kesibukannya berburu kodok telah menarik perhatian anak lain yang kebetulan bermain di sana. Mereka bertanya, lalu mengobrol dan bermain bersama dalam acara menangkap kodok secara tidak disengaja. Kodok tertangkap mereka gembira, kodok lepas mereka tertawa. Itulah sekelumit cuplikan kegiatan kami di ruang terbuka. Coba bayangkan apa saja

yang sudah dicapai anak dalam kegiatan tidak terstrukturnya di alam itu. Saya sendiri tentu tidak mempunyai misi apa-apa waktu itu, malahan saya merenungkannya belakangan. Betapa pelajaran hidup lengkap dan gratis sudah disediakan oleh Tuhan, tergantung kita bagaimana mau menjalin relasi dengan sumber pengetahuan itu. Anak ibarat ulat yang haus oleh dedaunan bergizi yang kelak dibutuhkannya untuk membangun makna utuh tentang semesta di dalam kepompongnya. Anak butuh waktu untuk menjadi kupu-kupu mandiri. Lingkungan yang tidak mendukung akan menjadikan proses metamorfosa yang tidak sempurna. Sekelompok anak TK sedang field trip ke suatu taman kota. Mereka diminta berbaris rapi, bernyanyi bersama, mewarnai, dan memakan bekal. Lalu ada saja pemandangan tentang anakanak yang sibuk mendorong teman di barisan depannya, bernyanyi sambil sengaja berteriak, berjalan-jalan ketika mewarnai dan makan bekal, dan diam-diam mencoba ayunan walau berakhir dengan giringan guru atas nama aturan dan solidaritas pada teman. Anak-anak yang sudah bisa beradaptasi dengan aturan main dari sekolah terlihat berbaris dalam diam, mewarnai asal selesai, makan bekal tanpa saling berbicara. Lalu, bagian

manakah yang menunjukkan adanya sosialisasi? Tentu bagian akhir dari aturan main, ketika saatnya boleh bermain bebas. Berhamburanlah anak-anak itu seolah lepas dari kendali, berinteraksi dengan kawan-kawannya dalam kerangka 'tanpa aturan' guru. Begitulah, saya menganggap kami beruntung bisa homeschooling dalam konteks ini, karena tidak semua orang mau menjalani pilihan ini walau mampu. Justru dengan homeschooling, kami dengan sadar membiasakan diri untuk banyak ke alam, bukan hanya dalam rangka wisata, melainkan memperoleh hubungan yang manis dengannya. Hal ini juga selaras dengan kebutuhan anak kami yang konon kami amati mempunyai kebutuhan bergerak yang tinggi. Penjelajahan sederhana bisa dimulai dari lingkungan sekitar rumah, lalu semakin jauh menerobos kebun dan tambak liar, taman-taman kota, lapangan tak bertuan, kebun raya, tempat wisata alam, dan rutin pulang ke desa. Bersama anak, kami membangun penghargaan terhadap alam dan pemaknaan terhadap kehidupan, buah tangan dari Tuhan. (M)

Lyly Freshty

... ketika saatnya boleh bermain bebas. Berhamburanlah anak-anak itu seolah lepas dari kendali, berinteraksi dengan kawan-kawannya dalam kerangka â&#x20AC;&#x2DC;tanpa aturanâ&#x20AC;&#x2122; guru.

Outdoor lover berlatar belakang pendidikan perencanaan wilayah dan kota yang kini menjadi praktisi homeschooling. Saat ini menetap di Surabaya bersama suami dan anak perempuannya.


Alam â&#x20AC;&#x2DC;kurikulumâ&#x20AC;&#x2122; gratis dari Tuhan dalam homeschooling kami Anak ibarat ulat yang haus oleh dedaunan bergizi yang kelak dibutuhkannya untuk membangun makna utuh tentang semesta di dalam kepompongnya www.millemama.com | Maret 2013 | 19


KESEHATAN

Pastikan anak untuk melakukan tiga jenis aktivitas fisik 3 kali dalam seminggu berikut: 1. Aktivitas aerobik 2. Penguatan otot 3. Penguatan tulang

B

eraktivitas fisik adalah hal yang natural dari seorang manusia. Apalagi pada usia anak dan remaja yang penuh dengan energi. Kurangnya kesempatan untuk beraktivitas fisik semakin meningkat pada anak usia sekolah. Beban pelajaran yang meningkat, membuat pelajaran olahraga menjadi suatu bagian kecil saja dari sistem pendidikan. Dalam penelitian yang dilakukan terhadap anak usia 9-10 tahun di Portugal menunjukkan bahwa anak yang banyak menghabiskan waktunya dengan duduk menonton TV ataupun kegiatan lain yang dihabiskan dengan duduk saja (sedentary behaviour) akan menurunkan keterampilan koordinasi motorik hingga 5-9 kali lipat. Kurangnya aktivitas fisik juga berpengaruh pada peningkatan kasus obesitas anak. Di Amerika Serikat, 1 dari 5 anak mengalami kelebihan berat badan (overweight) dan obesitas. Anak dengan kelebihan berat badan, nantinya akan cenderung menjadi remaja dan dewasa dengan kelebihan berat badan pula. Peningkatan risiko penyakit kronis seperti penyakit jantung dan diabetes, kecenderungan stress, perasaan sedih dan menurunnya kepercayaan diri dapat terjadi. Berapa lamakah aktivitas fisik yang diperlukan anak? Tentunya hal ini menjadi pertanyaan bagi kita para orang tua. Centers for Disease Contol and Prevention (CDC) Amerika Serikat

20 | www.millemama.com | Maret 2013

merekomendasikan aktivitas fisik 1 jam dalam sehari bagi anak dan remaja. Syarat dari aktivitas fisik yang dilakukan adalah harus sesuai dengan usia anak, menyenangkan dan bervariasi. Pastikan anak untuk melakukan tiga jenis aktivitas fisik berikut: 1. Aktivitas aerobik Aktivitas aerobik menjadi bagian yang utama, termasuk jalan cepat dan berlari dengan kontinyu. Pastikan bahwa aktivitas aerobik minimal dilakukan 3 kali dalam seminggu. 2. Penguatan otot Gerakan senam ataupun push-up dapat diajarkan pada anak sambil bermain. Jadikanlah kegiatan ini bagian dari aktivitas anak 3 kali dalam seminggu. 3. Penguatan tulang Aktivitas melompat tali dan berlari adalah contohnya. Sama seperti di atas, jadikanlah hal ini bagian dari aktivitas anak 3 kali dalam seminggu. Ingatlah bahwa aktivitas fisik pada anak harus disesuaikan dengan usianya. Pada anak yang lebih kecil, penguatan otot dapat dilakukan dengan gerakan senam ringan, bermain jungle gym (alat permainan yang ada di taman) ataupun memanjat pohon. Namun pada remaja, latihan

penguatan otot dapat dilakukan dengan program yang lebih intens, seperti ikut bermain dalam tim sepakbola ataupun bola basket. Bagaimana dengan anak yang cacat ataupun memiliki penyakit tertentu? Aktivitas fisik tetaplah merupakan hal yang penting bagi setiap anak. Konsultasikan dengan dokter anda untuk penjadwalan aktivitas fisik rutin bagi sang anak. Jumlah dan jenis aktivitas fisik akan disesuaikan dengan kemampuan anak. Tentunya sudah menjadi harapan setiap orang tua agar anak selalu sehat. Jadikanlah aktivitas fisik sebagai bagian dari keseharian anak. Aktivitas luar ruangan menjadi pilihan yang tepat. Tidak perlu mahal dan jauh, manfaatkanlah lingkungan sekitar rumah dan taman. Jika memiliki waktu luang atau liburan, pilihan wisata alam ataupun outdoor sudah banyak tersedia. (M)

Dokter Qkey (Mulki Angela) Mahasiswi S3 fakultas kedokteran di salah satu universitas negeri di Jepang. Seorang ibu dari satu putra yang senang belajar berbagai hal terutama mengenai tumbuh kembang anak dan seluk beluk dunia anak.


ULASAN TAMAN

Jalan-jalan Sore di Taman Langsat

Batu refleksi Payung warna-warni

Frametastics

Pepohonan

Hiasan yang menarik

B

ulan November lalu, saya dan keluarga berjalan-jalan sore ke Taman Langsat di Kebayoran Baru (belakang Pasar Burung Barito), Jakarta Selatan. Saya mendapatkan informasi mengenai taman ini dari akun Twitter @HiddenParkID beberapa minggu sebelumnya. Hidden Park adalah sebuah kampanye kreatif pengaktifan taman kota Jakarta yang tidak banyak dikenal publik, sebagai salah satu rangkaian kegiatan Hari Tata Ruang 2012. Hari tata ruang dirayakan di seluruh dunia termasuk Indonesia setiap bulan November. Di tahun 2012, Hari Tata Ruang mengambil tema ”Green Cities for a better life”. Kembali ke Taman Langsat, taman ini sudah ada sejak lama, namun tidak banyak dikenal masyarakat. Hidden Park “menyulap” Taman Langsat menjadi taman yang jauh lebih seru dan menyenangkan untuk dikunjungi. Menemukan lokasi taman ini cukup membingungkan. Meskipun Taman Langsat terlihat dari jalan besar persimpangan lampu lalu-lintas Rumah Sakit Pusat Pertamina, tapi kami kesulitan menemukan pintu masuknya. Setelah bertanya kepada warga sekitar, akhirnya kami menemukan pintu masuk Taman Langsat. Tempat parkirnya cukup memadai untuk parkir belasan mobil.

Memasuki area taman, kami melewati pintu kayu bertuliskan HIDDEN PARK. Setelah itu, saya dan suami tidak berhenti takjub dan berulang kali berucap “keren ya?”, “Ih, asyik nih ada taman kayak begini”. Maklum kami memang jarang berkunjung ke taman. Meskipun cukup banyak taman di Jakarta, kami biasanya hanya melihat sambil lalu saja. Saya sangat suka melihat dekorasi bambu, sangkar burung, payung dan pigura bergantungan di pohon. Brilian! Sayang sekali hiasan-hiasan ini hanya dekorasi sementara dan tidak ada lagi setelah acara Hidden Park berakhir. Padahal dekorasi ini yang membuat Taman Langsat menarik. Kekurangan taman ini adalah fasilitas toilet umum dan sarana bermain anak. Seperti yang sudah saya duga, toilet umum di Taman Langsat kotor dan tidak bisa dikunci! Sangat tidak nyaman harus buang air sambil menahan pintu. Selain itu, sarana bermain anak di Taman Langsat juga sangat terbatas. Hanya ada dua ayunan di area masuk. Seandainya ditambah perosotan, papan jungkat-jungkit, dan sarana bermain anak lainnya, taman ini akan menjadi semakin menyenangkan. Saya juga berharap para pengunjung taman memiliki kesadaran untuk mematuhi peraturan.

Saya kecewa melihat seorang pengunjung membawa masuk motor ke taman ini. Padahal sudah jelas terpampang peraturan di pintu masuk bahwa kendaraan bermotor dilarang masuk. Petugas keamanan taman pun tidak menegur. Semoga semakin banyak taman kota yang “disulap” secara kreatif dan tidak hanya bersifat sementara. Supaya semakin banyak masyarakat, keluarga dan anak-anak, yang bisa menikmati taman kota. (M)

Dian Anggarini Pecinta travelling dan kuliner. Ibu satu anak yang kini menetap di Bekasi. Tulisan ini telah dipublikasikan oleh Dian Anggarini pada blog www.bheboth.wordpress.com. Seluruh foto dalam artikel ini adalah milik Dian Anggarini dan diunduh dari blog-nya tersebut. www.millemama.com | Maret 2013 | 21


PERSIAPAN BENCANA

Contoh Denah Rumah Buatan Sendiri dan Alternatif Jalur Evakuasi

J

ika terjadi gempa ketika Anda berada di dalam rumah, apakah Anda akan tetap di dalam rumah atau segera berlari keluar rumah? Apapun jawabannya (untuk banyak kasus direkomendasikan untuk tetap di dalam rumah saat gempa), barang-barang di rumah Anda bila berantakan -- bisa meningkatkan risiko terluka akibat gempa. Bayangkan saja bila barang berserakan, kemungkinan Anda tersandung dan jatuh menjadi lebih tinggi, bukan? Barang yang diatur dengan baik dan benar paling tidak akan

tetap membuat Anda terlindungi ketika di dalam rumah dan akan melancarkan proses evakuasi. Tentunya dibutuhkan ahli (misalnya ahli geologi atau teknik sipil) untuk menilai seberapa tahannya rumah Anda terhadap gempa. Tetapi ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi risiko bencana dalam rumah sambil menunggu sang ahli tersebut. Salah satunya adalah dengan menentukan jalur evakuasi keluar rumah dan mengatur isi rumah Anda.

Contoh Hasil Identifikasi Kondisi Rumah dan Aksi Kerentanan

Aksi Pengurangan Risiko Bencana

1. Buku-buku berat terletak di bagian atas lemari 2. Barang pecah belah di lemari terbuka 3. Mainan si kecil berserakan di lantai 4. Tidak tahu nomor kontak darurat (rumah sakit, pemadam kebakaran, dll) 5. Posisi lemari dekat pintu keluar dan bisa jatuh menghalangi pintu kalau gempa 6. Kabel berantakan dan soket penuh debu, bisa mengakibatkan kebakaran dan bisa tersandung kalau terburuburu

1. Pindahkan buku-buku berat ke bagian bawah lemari, dan yang ringan di atas 2. Pindahkan barang pecah belah ke lemari tertutup yang ada kuncinya 3. Selalu bereskan dan masukkan ke kotak setelah bermain 4. Cari tahu nomor kontak darurat dan pajang di tempat strategis 5. Atur posisi lemari agar tidak menghalangi jalur evakuasi 6. Rapikan kabel, bersihkan socket 7. Cek dan perbarui isi P3K, tempatkan peralatan darurat tersebut dan ember di tempat strategis 8. Lakukan aksi-aksi tersebut mulai dari yang paling mudah 9. Simpan/pajang denah Anda agar Anda ingat aksi-aksi yang belum tercapai

Kapasitas Sudah punya kotak P3K dan ember

22 | www.millemama.com | Maret 2013

Contoh aksi: merapikan kabel di rumah photo courtesy of BDSG

Berikut adalah tips mudah untuk memulainya (selanjutnya silakan kembangkan sendiri): 1. Siapkan kertas, alat tulis, dan ajak orang seisi rumah untuk ikut 2. Gambar denah kasar kamar/rumah Anda 3. Gariskan alternatif jalur evakuasi dari setiap ruangan 4. Pergilah ke setiap ruangan dan susuri jalur evakuasi yang Anda gariskan tadi 5. Identifikasi kondisi dan benda-benda yang bisa membuat Anda terluka atau menghalangi proses evakuasi (atau disebut sebagai â&#x20AC;&#x153;kerentananâ&#x20AC;?), dan yang bisa membantu menyelamatkan Anda (atau disebut sebagai â&#x20AC;&#x153;kapasitasâ&#x20AC;?) dan tandai di denah Anda 6. Tentukan alternatif evakuasi teraman berdasarkan hasil identifikasi kondisi 7. Diskusikan aksi apa saja yang bisa mengurangi risiko Anda terluka, yang bisa membantu menyelamatkan dan aksi apa saja yang bisa melancarkan proses evakuasi Selamat mencoba!


EDISI DEPAN

E oleh Risye Dwiyani

disi April Majalah Millemama akan membawakan tema â&#x20AC;&#x153;teknologi dan aktivitas di ruang terbukaâ&#x20AC;?. Benarkah teknologi lebih banyak memberikan dampak negatif bagi perkembangan anak? Apakah teknologi juga memiliki sisi positif yang dapat meningkatkan aktivitas fisik anda dan si kecil? Jika anda memiliki kisah-kisah yang ingin dibagi seputar anda, teknologi dan aktivitas harian anda dan si kecil di ruang terbuka, yuk tuliskan dan kirimkan buah karya anda beserta foto-foto yang mendukung ke redaksi Millemama. Millemama juga membuka peluang bagi para mama-mama yang ingin berbagi cerita mengenai taman favoritnya dan juga menuliskan ulang cerita kenangan aktivitas outdoor ketika mama-mama sekalian masih imut-imut! Wah, pasti seru ya mengingat-ingat waktu dimana tarian kecebong dan kokokan ayam jantan masih erat di kehidupan masa kecil kita. Tunggu apa lagi mama, yuk share ke mama-mama lainnya!! Kemudian di edisi depan, Mama Lisa Namuri, brand ambassador Wardah, masih akan berbagi tips-tips bagi para mama untuk meregangkan tubuh di sela kesibukan pekerjaan kantor dan rumah tangga. Millemama

Tumpukan gelas di atas lemari beroda dekat pintu keluar: bila terjadi gempa, gelas akan berjatuhan dan pecah, serta lemari yang tidak stabil dapat menghalangi jalur evakuasi photo courtesy of BDSG



Millemama Edisi Maret 2013