Issuu on Google+

Millemama

ISSUE 10 / Mei - Juli 2014

JENDELA KOMUNIKASI MILLENIUM MAMA YANG PEDULI DENGAN RUANG BERMAIN LAYAK ANAK

pi kn ik se ru sa mb il te ta p pe du li li n g k u n g an

Pengelolaan

SAMPAH di Indonesia

Bahaya Sampah bagi Kesehatan Keluarga

Resep:

Eco Bento

Superkids Eduventure:

“Peduliku untuk Bumi”


kata editor

PENTINGNYA PEDULI TERHADAP SAMPAH SEJAK DINI. .

P

engalaman menetap di negeri Kiwi yang sangat ramah dan peduli lingkungan membuat anak saya dengan sendirinya peka terhadap lingkungan sekitar. Di mulai dari guru-gurunya di daycare yang menanamkan kebiasaan untuk membuang dan memilah sampah pada tempat yang sudah disediakan, anak saya semakin terbiasa dan menerapkannya dimanapun. Penanaman nilai-nilai kepekaan terhadap lingkungan dan pemahaman mengenai sampah pada anak sejak usia dini perlu dilakukan dengan menerapkan kebiasaan-kebiasaan baik walaupun hal kecil dan sepele. Peduli akan sampah karena terbiasa akan terasa lebih baik dibandingkan menerapkan aturan-aturan yang belum tentu akan dipatuhi jika sejak kecil tidak dibiasakan. Pada edisi kali ini Anda dapat membaca bagaimana pengelolaan sampah di Indonesia, juga tips mengelola sampah di rumah. Selain itu, Anda juga dapat menikmati cerita seru acara piknik para Millemama di Jepang yang tetap peduli lingkungan. Jangan lewatkan juga cerita dari London tentang belajar mengurangi sampah ketika bermain. Pada kolom inspirasi, Anda diajak untuk menyadari bahwa sampah itu tanggung jawab diri sendiri. Masih ada juga kisah inspiratif dari pengalaman seru temanteman Superkids Eduventure yang peduli pada bumi. Naah, semoga Millemama semakin peduli akan pentingnya peduli terhadap sampah ya.. dan menularkan juga semangat menanamkan pemahaman mengenai sampah pada anak Millemama sejak dini!

2 | www.millemama.com | Mei - Juli 2014

Anissa Dewi


daftar isi

Majalah Mil emama Issue 10 / Mei-Juli 2014

04 Tim Millemagz 05 Kontributor 06 Cover Story Piknik Seru Sambil Tetap Peduli Lingkungan 08 Pengetahuan Pengelolaan Sampah di Indonesia 13 Kesehatan Bahaya Sampah bagi Kesehatan Keluarga 14 Tips Mengelola Sampah: Perlukah di Rumah? 18 Psikologi “Ma, kenapa aku harus buang sampah di tempatnya?� 20 Inspirasi Sampahku Tanggung Jawabku

23 Resep Eco Bento 26 Inspirasi Peduliku untuk Bumi 28 Cerita Ringan Belajar Mengurangi Sampah Ketika Bermain 30 Ucapan 31 Mewarnai MIAU

Sampul Depan Millemama di Jepang Foto oleh Akbar

www.millemama.com | Mei - Juli 2014 | 3


Tim Millemagz

Riela Provi Drianda Penanggung Jawab / Kolom Cover Story

Aquarina Perdananti Penyunting Bahasa

Ibu dua orang anak laki-laki yang kini bermukim di Jepang. Seorang peneliti pascadoktoral di sebuah universitas negeri Jepang yang memiliki kepedulian terhadap ruang bermain layak anak dan kota layak anak.

Tinggal di pinggir Jakarta yang masih terbebas dr banjir. Mantan PNS Kementerian yang sedang menantikan anak ketiga dan sangat bahagia berkarir sebagai full time mommy bergelar S2.

Sri Rezeki Maretini Editor

Anissa Dewi Editor

Ibu satu orang anak. Menyukai kegiatan yang berkaitan dengan menulis, tetapi bukan seseorang yang puitis. Hobi olahraga, membaca, menonton dan mendengarkan dongeng.

Seorang ibu yang baru aktif bekerja kembali sebagai PNS setelah merampungkan studi di Auckland. Di waktu senggang, berenang dan menemani si kecil bersepeda adalah hal yang selalu dilakukan. Saat ini sedang menikmati masa kehamilan anak ke-2.

Ina Rahmadianti Illustrasi

Peina Aditiani Tata letak & desain

Ibu satu orang putri ini bercita-cita menjadi arsitek, tetapi “terjerumus� ke Elektro ITB. Saat ini bekerja sebagai Business Analyst (merangkap Graphic Designer dadakan) dan mengisi waktu luang dengan menggambar dan melukis

Ibu dari satu orang anak yang senang berpetualang di alam, bercocok tanam, berenang, bersepeda dan berjalan kaki bersama si kecil.

Millemama Indonesia Redaksi, Kerjasama, Sirkulasi, Iklan: millemama.news@gmail.com. Follow twitter @Millemama_INA // Like facebook Millemama Indonesia // www.millemama.com Hak cipta dilindungi oleh undang-undang. Kata-kata, foto, gambar dan opini adalah properti penulis kecuali dinyatakan selain itu. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh isi majalah tanpa izin Millemama.


Kontributor

Niken W Kolom Resep

Dea Paramita Kolom Cerita Ringan

Ibu dua anak yang bermukim di Jepang

Saat ini sedang berdomisili di London, Inggris.

dr. Mulki Angela Kolom Kesehatan Mahasiswi S3 fakultas kedokteran di salah satu universitas negeri di Jepang. Seorang ibu yang senang belajar berbagai hal terutama mengenai tumbuh kembang anak dan seluk beluk dunia anak.

Rafianti Kolom Pengetahuan

Zulfikar Kolom Inspirasi

ibu dua anak Arya (13 th) dan Asha (6 th), menyelesaikan pendidikan S2-nya pada Wageningen University the Netherlands pada program Urban Environmental Management, 7 tahun lalu. Saat ini bekerja sebagai peneliti di Indonesia Solid Waste Association (InSWA).

Manajer divisi konsultasi dan edukasi @ Waste4Change. Lulus S1 Teknik Lingkungan ITB tahun 2010. Hobi bertualang, membaca, dan pulang kampung ke Aceh. Twitter: @haiizul.

Akino Tahir Kolom Tips Peneliti dan pemerhati isu pengelolaan sampah.

Cicilia Evi Kolom Psikologi

Superkids Eduventure Kolom Inspirasi

Psikolog klinis dan seorang istri yang menekuni profesinya sebagai klinisi di RS Premier Surabaya dan Pusat Layanan Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Menyukai aktivitas membaca, menulis dan blogging . Saat ini sedang menjalani proyek pribadi.

Superkids Eduventure adalah acara kreatif yang khusus dibuat untuk anak-anak dan keluarga, yang memberikan pengalaman berkesan, dengan muatan edukasi sekaligus rekreasi https://www.facebook.com/ SuperkidsEduventure


cover story

Piknik Seru Sambil Tetap Peduli Lingkungan

B

ulan lalu, beberapa keluarga Indonesia penggemar piknik di Jepang berkumpul di Taman Yoyogi, Tokyo. Selain melepas penat dengan bersenda gurau dan bermain bola, kami juga membahas seputar isu persampahan di Indonesia dan apa yang bisa dilakukan oleh kaum ibu untuk membantu mengurangi permasalahan sampah di lingkungan tempat tinggalnya. Pada umumnya, para peserta menyoroti rendahnya komitmen pemerintah untuk melakukan sosialisasi, edukasi dan menciptakan sistem regulasi yang jelas tentang pengelolaan sampah. Dian, seorang ibu bekerja yang memiliki dua anak, mengatakan bahwa manajemen sampah di level nusantara dan kota perlu diperbaiki dan ditingkatkan. Senada dengan pendapat Dian, Mya, seorang pengajar di sebuah universitas di Jepang, juga sepakat bahwa manajemen sampah di Indonesia perlu lebih mendapat perhatian. Peserta lain seperti Icha, Sefty dan Kiki sepakat bahwa kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya membuang sampah di tempatnya masih rendah. Lebih lanjut, Fitra, seorang ibu yang gemar akan fotografi, juga mengungkapkan pendapatnya mengenai kecenderungan masyarakat yang menganggap lingkungan terutama tempat tempat umum selain lingkungan pribadinya bukanlah merupakan tanggung jawabnya. Sehingga tanpa rasa memiliki ini seseorang akan lebih mudah untuk membuang sampah sesuka hatinya. Mulki, seorang dokter yang sedang melanjutkan studinya juga mengungkapkan rasa prihatinnya terhadap budaya buang sampah masyarakat Indonesia.

6 | www.millemama.com | Mei - Juli 2014


Cover story

Semua peserta sepakat bahwa ibu memiliki peran yang sangat penting untuk membantu mengurangi permasalahan sampah di lingkungan sekitarnya. Ibu adalah agen pendidik utama dalam keluarga dan seorang yang seharusnya menerapkan disiplin dan menegakkan peraturan dalam rumah. Ibu juga seharusnya memegang peran untuk mengurangi produksi sampah rumah tangga. Semua sepakat bahwa ibu perlu memperkaya wawasannya dan juga aktif berperan membantu mengurangi masalah sampah di lingkungan kita dengan memberikan edukasi yang tepat kepada anggota keluarga dan juga kreatif dalam mengurangi volume sampah rumah tangga. Semoga edisi Millemama kali ini bisa menginspirasi mama-mama muda untuk terus menjaga kebersihan lingkungan dan juga menurunkan ilmu dan budaya buang sampah yang benar ke si kecil sebagai generasi penerus bangsa. Semangat!!!!!!!!! (M)

www.millemama.com | Mei - Juli 2014 | 7


pengetahuan

Pengelolaan Sampah di Indonesia Rafianti

8 | www.millemama.com | Mei - Juli 2014


Pengetahuan

K

alau dapat dikatakan, kondisi pengelolaan sampah di Indonesia sebelum tahun 2008 masih pada level primitif. Dibilang primitif karena sampah sama sekali sesuatu yang belum tersentuh pengelolaannya. Sebenarnya sejak awal 2003 Kementerian Lingkungan Hidup telah merintis penyusunan kebijakan pengelolaan sampah nasional dengan membuat Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pengelolaan Sampah. Namun, prosesnya berjalan lambat sekali. Titik balik upaya perbaikan pengelolan sampah di Indonesia berawal dari kejadian memilukan di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Leuwigajah di Kabupaten Bandung Jawa Barat pada 21 Februari 2005. Hujan deras yang mengguyur selama tiga hari berturut-turut menyebabkan 2,7 juta kubik timbunan sampah longsor dan menutupi wilayah pemukiman penduduk sekitarnya. Kejadian tersebut memakan korban sebanyak 156 orang dan merusak lebih dari 70 rumah warga. Sejak peristiwa itu, pemerintah semakin menyadari pentingnya membangun kebijakan dan implementasi pengelolaan sampah yang lebih baik dan mempercepat proses penyusunan peraturan terkait. Pada 8 Mei 2008, RUU tentang Pengelolaan Sampah disahkan menjadi UndangUndang No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Dan sebagai penghormatan kepada para korban longsor TPA Leuwigajah, pemerintah juga menetapkan 21 Februari sebagai Hari Peduli Sampah. Inilah ironi sebuah negeri yang baru bisa berbuat ketika kejadian buruk telah terjadi.

Empat tahun setelah undang-undang mengenai pengelolaan sampah terbit, pemerintah kembali menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) No 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sejenis Sampah Rumah Tangga. Saat ini juga tengah dipersiapkan beberapa peraturan lainnya yang akan mengatur: 1. Pengelolaan jenis sampah spesifik yang rencananya akan dalam bentuk PP juga 2. Extended Producer Responsibilty (EPR) yang melibatkan sektor swasta untuk bertanggung jawab pada sampahnya setelah post-consumer. Contoh EPR yang sudah berjalan baik saat ini adalah kemasan botol Aqua. Peraturan ini nantinya akan dalam bentuk Peraturan Menteri (Permen) 3. Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah yang nantinya akan dalam bentuk Peraturan Presiden (Perpres) Semangat utama dari UU No 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah adalah secara revolusioner mengubah paradigma pengelolaan sampah dari kumpul-angkut-buang 窶電ikenal dengan istilah end of pipe (pengolahan sampah di akhir kegiatan)-- menjadi reduce at sources dan resources recycle, yang artinya mengurangi timbulan sampah sejak dari sumbernya (seperti dari rumah) dan menjadikan sampah sebagai sumberdaya yang bisa dimanfaatkan kembali. Sampah mermang merupakan sumberdaya karena sampah bisa dimanfaatkan dan dikonversikan dalam bentuk lain seperti, gas, listrik, dan kompos. Terlebih 65% komposisi sampah Indonesia berupa material organik.

Hujan deras yang mengguyur selama tiga hari berturut-turut menyebabkan 2,7 juta kubik timbunan sampah longsor dan menutupi wilayah pemukiman penduduk sekitarnya. Kejadian tersebut memakan korban sebanyak 156 orang dan merusak lebih dari 70 rumah warga.

www.millemama.com | Mei - Juli 2014 | 9


pengetahuan Pengelolaan sampah Indonesia seperti yang diamanatkan undang-undang meliputi dua kegiatan yakni kegiatan pengurangan dan penanganan. Kegiatan pengurangan sampah meliputi kegiatan: 1. Pembatasan timbulan sampah; 2. Pendauran ulang sampah; dan atau 3. Pemanfaatan kembali sampah. Sedangkan penanganan sampah meliputi: 1. Pemilahan dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai dengan jenis, jumlah, dan/ atau sifat sampah. 2. Pengumpulan dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah dari sumber sampah ke tempat penampungan sementara atau tempat pengolahan sampah terpadu. 3. Pengangkutan dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan/atau dari tempat penampungan sampah sementara atau dari tempat pengolahan sampah terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhir. 4. Pengolahan dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi, dan jumlah sampah; dan/atau 5. Pemrosesan akhir sampah dalam bentuk pengembalian sampah dan/atau residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman. Sebenarnya Indonesia belum memiliki data akurat mengenai produksi sampahnya karena sampai saat ini belum pernah dilakukan survei sampah layaknya sensus penduduk. Makanya, data yang selama ini dipakai berdasarkan asumsi-asumsi yang ada. Menurut KLH, produksi sampah di kawasan perkotaan per orang per hari adalah 800 gram, sementara Kementerian PU menyebutkan produksi sampah untuk kota besar dan sedang 600 gram per orang per hari. Jika menggunakan versi KLH, dengan rata-rata timbulan sampah 800 gram/kapita/hari, maka produksi sampah Indonesia akan meningkat 12,86 % pada periode 20052015, dari sekitar 175.918,6 ton/hari pada tahun 2005 menjadi 198.544,0 ton/hari pada tahun 2015; serta 24,50 % selama periode 20 tahun, yakni menjadi 218.921,1 ton/hari pada tahun 2025. Tidak saja mengubah cara pandang, peraturan baru ini juga banyak memperkenalkan istilah baru dalam pendekatan pengelolaan sampah domestik. Sebut saja, Undang-undang Pengelolaan Sampah mengenalkan konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle); implementasi control landfill dan sanitary landfill pada Tempat Pemrosesan Akhir (TPA)—TPA bukan lagi Tempat Pembuangan Akhir. Kemudian ada strategi yang dikenal dengan Extended Producers Responsibility (EPR) atau memperluas tanggung 10 | www.millemama.com | Mei - Juli 2014

jawab produsen. EPR adalah istilah dan konsep baru yang diperkenalkan kepada dunia industri selaku produsen berbagai produk penghasil sampah. Contoh mudah ditemukan dalam kasus ini adalah industri makanan seperti, mie instan, permen, biskuit, air mineral; dan industri pembersih seperti deterjen, pembersih lantai, pencuci piring, dan sebagainya. Sebagai ilustrasi, mie instan dari satu merek yang cukup terkenal di Indonesia menyumbangkan sampah kemasannya paling tidak 11 miliar bungkus lebih per tahun. Istilah lain yang diperkenalkan adalah Tempat Pengolahan Sampah dengan prinsip 3R atau TPS 3R dan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Untuk Kota Jakarta, TPST yang dikenal menjadi TPST percontohan salahnya adalah TPST Rawasari, Jakarta Pusat. Setiap hari TPST yang berada di Kelurahan Cempaka Putih Timur ini ini mengelola 2-4 ton sampah dari masyarakat setempat untuk dijadikan kompos. TPST memang bertujuan untuk melakukan pengolahan sampah di tingkat kawasan yang seterusnya akan membantu mengurangi masukan sampah, terutama sampah rumah tangga, ke TPA. Saat ini, pendirian bank sampah menjadi tren program pengurangan sampah di tingkat masyarakat yang cukup fenomenal positif, salah satunya karena memberikan insentif ekonomi langsung pada masyarakat. Dari data terakhir KLH tahun 2013, jumlah bank sampah di Indonesia telah mencapai 1.136 unit dengan 96.203 nasabah. Jumlah transaksi sampah mencapai 2.262 ton/bulan dengan nilai Rp 15 miliar/bulan. (M)


www.millemama.com | Mei - Juli 2014 | 11


12 | www.millemama.com | Mei - Juli 2014


kesehatan

Bahaya Sampah Bagi Kesehatan Keluarga dr. Mulki Angela

Masalah budaya membuang sampah sembarangan sepertinya telah menjadi penyakit yang kronis bagi masyarakat kita. Tidak hanya di lingkungan perkotaan, di pedesaan pun onggokan sampah mudah terlihat di tempat umum. Sampah terlihat berserakan baik di tanah maupun di aliran air (sungai, got, dan lain-lain).

S

angat disayangkan melihat pemandangan tumpukan sampah menjadi fenomena biasa di lingkungan tempat tinggal kita, lingkungan tempat tumbuh kembang pertama bagi anak-anak kita. Tempat mereka mengeksplorasi lingkungan untuk pertama kalinya. Pemandangan miris juga terlihat dari lumrahnya pemandangan tumpukan sampah di pasar, tempat berbagai bahan makanan pokok yang nantinya akan diolah sebagai hidangan keluarga. Bila budaya ini dibiarkan terus menerus, dampaknya tidak hanya buruk bagi estetika lingkungan tetapi dapat memberikan dampak lebih lanjut yaitu memberikan bahaya bagi generasi kita baik bagi kesehatan pribadi maupun lingkungan.

“A child dies every 15 seconds from disease attributable to unsafe drinking water, deplorable sanitation and poor hygiene .�

Menurut data dari UNICEF 1 anak meninggal tiap 15 detik oleh penyakit yang disebabkan dari air yang tidak aman diminum, sanitasi yang buruk dan yang buruk. kebersihan air minum dan sanitasi adalah hal yang sangat penting bagi makhluk hidup. Dari air yang kotor akan menyebarlah penyakit-penyakit seperti kolera dan diare. Demikian pula penyakit akibat parasit seperti cacingan dan malaria. Akibat

rentannya terhadap infeksi (penularan) dari berbagai penyakit, maka potensi anak yang hakikatnya sedang dalam masa tumbuh kembang dan belajar dapat terhambat. Selain masalah penyakit infeksi ataupun penyakit kulit akibat tinggal di area dengan manajemen sampah yang buruk, ternyata penyakit non infeksi pun ikut mengancam. Studi di Amerika Serikat menunjukkan, bahwa angka dan kematian akibat kanker lebih tinggi pada penduduk yang tinggal di area yang memiliki banyak sampah. Jenis kanker tersebut adalah kanker gastrointestinal, esofagus, lambung, usus besar dan rektal. Selain itu, salah satu studi di Inggris menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kesehatan reproduksi dengan lingkungan terutama pada penduduk yang tinggal dalam jarak 2 km dari tempat pembuangan akhir (TPA). Masalah reproduksi yang ditemukan adalah cacat bawaan, keguguran spontan, kematian janin dan bayi, dan juga berat lahir rendah (kurang dari 2500 g). Solusi penting dari permasalahan ini adalah memulai pendidikan dari dalam lingkungan keluarga kita. Mendidik seorang ibu terhadap pentingnya higiene yang baik, akan membawa anak-anaknya menjadi terdidik untuk memiliki modal hidup yang baik. Salah satunya adalah budaya manajemen sampah. Go Millemama! (M) www.millemama.com | Mei - Juli 2014 | 13


tips

Mengelola sampah: Perlukah dilakukan di rumah? Akino Tahir

Tempat sampah terpilah, RW 03 Rawajati, Jakarta

Sampah adalah salah satu fenomena yang tidak dapat dihindari seiring dengan semakin modernnya kehidupan perkotaan. Banyak yang menganggap bahwa kunci dari persoalan ini adalah pemerintah. Memang, sebagai bagian dari pelayanan masyarakat, tanggung jawab persampahan utamanya berada pada pemerintah. Namun sebagai individu, kita juga punya tanggung jawab yang cukup besar. 14 | www.millemama.com | Mei - Juli 2014

D

i Jakarta dengan 10 juta penduduk misalnya, jumlah sampah yang dihasilkan setiap harinya adalah 0.94 kg per keluarga (2010). Bila setiap keluarga dapat mengelola sampahnya sebesar 0.1 kg saja, maka jumlah sampah harian yang masuk ke TPS dapat berkurang minimal 25 ton. Meski tampak kecil, hal ini memiliki arti besar, apalagi di tengah keterbatasan kapasitas pendanaan dan sumber daya manusia yang dimiliki pemerintah. Kabar baiknya, kesadaran masyarakat akan isu persampahan semakin meningkat. Mulai banyak berita maupun artikel di majalah yang mengulas upaya pengelolaan sampah oleh masyarakat. Upaya semacam ini dikenal sebagai Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat (PSBM), yaitu

jenis pengelolaan dimana anggota masyarakat baik secara perorangan maupun kolektif terlibat aktif dalam berbagai kegiatan pengelolaan sampah di lingkungan tempat tinggal mereka. Dulu, PSBM lebih banyak dipandang sebagai kegiatan kelompok ibu-ibu PKK. Kini, banyak kegiatan PSBM dilakukan secara terorganisir oleh kelompok yang khusus dibentuk di tingkat RT atau RW. Di Surabaya, 30% dari total 9.124 RT melakukan PSBM, dengan 28.744 kader terlibat dalam edukasi pengelolaan sampah. Hasilnya, dalam 6 tahun penerapan PSBM, sampah yang masuk ke TPS berkurang sebesar 15% dan muncul berbagai inovasi teknologi komposting, daur ulang, dan pengelolaan air limbah di tingkat rumah tangga.


tips

Kegiatan apa saja yang termasuk dalam PSBM? PSBM utamanya mencakup pemilahan, komposting, dan daur ulang. Selain itu, kita juga sudah lama mengenal kegiatan gotong royong, penghijauan dan pengumpulan iuran untuk membayar tenaga dan fasilitas pengangkutan sampah. Ketiga hal ini juga dapat dikategorikan sebagai kegiatan PSBM. (Gambar A) Pemilahan sampah dasar meliputi pemisahan sampah organik, anorganik, dan sampah B3 (berbahaya). Sampah organik umumnya diolah menjadi kompos. Komposting tidak susah untuk dilakukan, yang penting adalah memilah sampah organik dengan benar, menjaga kelembaban dan mengaduk secara reguler. Sekarang

banyak tong komposter yang dijual untuk pemakaian rumah tangga yang mempertimbangkan kepraktisan bagi pengguna. Hasilnya dapat dipakai sendiri untuk tanaman penghijauan atau untuk lubang biopori. Lubang biopori yang berfungsi untuk menyerap air berlebih pada musim hujan dan menyimpan cadangan air pada musim kemarau juga dapat dibuat dengan mudah di halaman rumah. Sementara itu, sampah anorganik dapat diolah menjadi kerajinan yang membawa sumber penghasilan. Kelompok PSBM di daerah Gundih, Surabaya, mendaur ulang plastik isi ulang shampo atau sabun menjadi tas dan kerajinan lain untuk dijual.

Gotong royong

Kelompok serupa di daerah Pasar Minggu, Jakarta, membentuk usaha kerajinan yang mampu menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya. Bila sulit melakukan daur ulang, sampah anorganik seperti kertas, kaleng, atau botol plastik dapat dijual ke pemulung. Harga jual akan lebih tinggi bila sampah tersebut dalam keadaan kering dan tersimpan dengan baik. Kini di banyak tempat, dapat ditemukan kelompok bank sampah yang mengkoordinasi penjualan sampah anorganik dengan pemulung. Bila tak ingin repot berurusan langsung dengan pemulung, ada baiknya bertanya pada pengurus RT atau PKK mengenai bank sampah di lingkungan kita.

Penghijauan

(Gambar A)

Pemilahan Sampah B3

Organik

Anorganik

Komposting

Reuse

Residu

Daur ulang

Lingkup PSBM

Residu Pengangkutan ke TPS Pengangkutan ke/pengolahan di TPA

Lingkup pengelolaan oleh pemerintah

Sampah dari rumah tangga menunggu untuk diproses menjadi kompos, Pusdakota, Surabaya www.millemama.com | Mei - Juli 2014 | 15


tips

Tas hasil daur ulang, RW 10 Gundih, Surabaya

Keranjang kompos Takakura dan kompos yang telah matang, Pusdakota, Surabaya

Bagaimana praktek PSBM di rumah? Bergantung pada kesibukan masingmasing, kita dapat memilih jenis kegiatan yang dapat diterapkan di rumah. Langkah paling sederhana cukup dengan menyediakan jenis tempat sampah terpisah untuk sampah organik dan anorganik, dan memisahkan sampah berbahaya seperti baterai, lampu, atau alat elektronik rusak. Keluarga sibuk dengan suami istri bekerja mungkin tidak punya waktu untuk melakukan komposting atau daur ulang. Bila demikian, sampah organik dapat dibuang ke TPS, sampah

16 | www.millemama.com | Mei - Juli 2014

anorganik dijual ke pemulung, dan sampah berbahaya dipisahkan untuk diangkut pemerintah pada hari-hari tertentu atau bila tidak terlayani oleh pemerintah, dapat dibuang ke TPS bersama sampah organik. Selain memilah dan menyalurkan sampah terpilah ke tempat pembuangan masing-masing, minimal kita juga dapat memberi edukasi kepada pasangan, anak, pembantu atau anggota keluarga lain. Mengajarkan anak untuk membuang sampah pada

tempatnya tidak lagi cukup, kita juga perlu mengajarkan anak tentang jenisjenis sampah, mengenalkan tempat sampah terpilah, dan menjelaskan tentang arti pentingnya kontribusi kita di tingkat rumah tangga. Melalui edukasi di rumah, kita sudah membantu membangun kesadaran dan minat untuk bersama-sama berpartisipasi dalam mengurangi masalah sampah perkotaan. (M)


www.millemama.com | Mei - Juli 2014 | 17


psikologi

“Ma, Kenapa Aku Harus Buang Sampah di Tempatnya? Cicilia Evi

P

engemudi yang membuang pembungkus makanan dari dalam mobil yang berjalan, perokok yang membuang puntung rokoknya di sembarang tempat atau setiap daripada kita – orang dewasa – yang membuang sampah secara sembarangan di bandara, pusat perbelanjaan dan berbagai tempat umum yang lain., adalah beberapa contoh negatif bagi anak-anak.

Foto: Ellicia dan Elbert Clarence Yuwono

Sebagai orangtua, tentu kita menginginkan anak-anak untuk berperilaku positif dan sesuai dengan norma sosial di sekitar kita. Salah satu perilaku positif yang kita harapkan dari anak-anak adalah mereka mampu membuang sampah pada tempatnya. Namun apabila kita memperhatikan lingkungan sekitar , berapa banyak contoh negatif yang diberikan oleh orangtua atau orang dewasa lainnya bagi anak-anak? 18 | www.millemama.com | Mei - Juli 2014

Anak-anak adalah makhluk pembelajar yang menyerap pengetahuan dan informasi dari lingkungan sekitarnya. Salah satu cara belajar anak adalah dengan mengamati dan mereka adalah pengamat yang luar biasa – hingga lahirlah sebuah istilah, “Monkey see, monkey do. Children see, children do”. Apabila kita menginginkan anak-anak untuk dapat membuang sampah pada tempatnya, berikanlah contoh nyata, tanpa harus berargumentasi dan meributkan masalah membuang sampah. Selain memberikan contoh nyata, orangtua juga perlu memberikan alasan yang tepat untuk membuang sampah pada tempatnya. Banyak orangtua yang mengajarkan kepada anak-anak untuk membuang sampah pada tempatnya dengan alasan yang kurang sesuai. Sebagai contoh, mengajarkan anak tidak membuang sampah keluar dari jendela mobil supaya tidak ditangkap Pak Polisi. Ada pula orangtua yang mengajarkan anaknya untuk tidak membuang sampah sembarangan agar tidak didenda, terutama ketika berlibur ke negeri tetangga yang menetapkan sanksi denda cukup tinggi bagi mereka yang melanggarnya. Alasan yang kurang tepat akan membuat anak belajar untuk melakukan perbuatan baik hanya di dalam situasi tertentu. Mereka akan membuang sampah pada tempatnya, ketika situasi mendesak.


psikologi Lalu, bagaimana cara mengajarkan kepada anak tentang perilaku membuang sampah yang benar? Berikut adalah beberapa tips sederhana yang dapat diterapkan oleh orangtua:

1. Siapkan keranjang sampah di beberapa tempat.

Dengan mempersiapkan keranjang sampah di setiap ruangan, orangtua memberikan pesan kepada anak bahwa tindakan membuang sampah pada tempatnya dapat dilakukan secara mudah. Bagi anak yang masih muda, persiapkan keranjang sampah dengan bentuk yang unik atau berhiaskan gambar kartun kesukaan anak.

2. Berikan contoh yang praktis dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa anak adalah pengamat yang luar biasa, maka penting bagi orangtua untuk memberikan contoh praktis. Sebagai contoh, segera buang pembungkus kopi atau teh setelah Anda membukanya. Menunda proses pembuangan sampah dan menumpuknya di atas meja dapur, tentu akan membuat anak belajar untuk tidak segera membersihkan sampahnya.

3. Berikan alasan yang tepat untuk membuang sampah pada tempatnya. Menjelaskan kepada anak bahwa ia turut memegang tanggung jawab akan lingkungan hidup akan menjadi lebih mudah dengan melakukan percobaan sederhana. Ambilah potongan selang air yang tidak terpakai dan memiliki panjang antara 20-30 cm. Nyalakan keran air dan pasangkan selang tersebut pada keran, sehingga anak dapat melihat bahwa air dapat mengalir melalui selang tersebut. Kemudian secara bertahap, ambilah tisu atau kertas bekas, remas dan masukkan pada bagian bawah selang. Lakukan hingga air tidak dapat keluar dan tekanannya tertahan di dalam selang. Tunggulah beberapa saat hingga selang terlepas dari keran dan sekitarnya menjadi basah karena ‘ledakan’ tersebut. Setelah selesai melakukan percobaan tersebut, jelaskan kepada anak bahwa sampah yang dibuang secara sembarangan dapat menyumbat saluran pembuangan air, sehingga menyebabkan banjir. Orangtua juga dapat menggunakan berbagai contoh lain yang mudah dilakukan dan memberikan alasan bagi anak untuk membuang sampah pada tempatnya.

4. Jadikan anak sebagai ‘pengawas kebersihan’ di rumah.

Anak-anak sangat menyukai peran sebagai pengawas atau pelaku kebenaran. Oleh karena itu, jadikan anak sebagai ‘pengawas kebersihan’ bagi setiap anggota keluarga di dalam rumah. Bagilah tugas ini secara merata apabila orangtua memiliki lebih dari satu ‘pengawas kebersihan’ di dalam rumah. Buatlah bagan pembagian tugas bagi masing-masing anak dan tentukan apa konsekuensinya bagi anggota keluarga yang membuang sampah secara sembarangan. Yang dimaksud dengan konsekuensi bukanlah dalam bentuk hukuman x tetapi dengan mengurangi aktivitas yang menyenangkan bagi yang membuang sampah secara sembarangan, seperti: mengurangi waktu menonton TV atau membatasi jam membaca komik. Konsekuensi ini berlaku bagi seluruh anggota keluarga sehingga orangtua juga dapat menghargai proses anak dalam mempelajari berbagai keterampilan dasar yang penting bagi anak, dalam hal ini adalah membuang sampah pada tempatnya.

5. Berikan pujian yang sesuai apabila anak berhasil membuang sampah pada tempatnya.

Tidak ada anak yang menolak pujian positif dari orangtuanya karena pujian memiliki fungsi penguat bagi anak bahwa ia melakukan sesuatu yang benar di mata orangtua. Jangan pelit dalam memberikan pujian, tetapi hindari pula memberikan pujian secara berlebihan, karena kedua hal tersebut dapat mengurangi, atau bahkan menghilangkan, fungsi pujian bagi anak.

6. Berikan penjelasan sederhana mengenai pentingnya menjaga kebersihan.

Satu hal yang penting bagi orangtua, jangan lupa mengajarkan kepada anak untuk tidak bermain dengan sampah yang telah dibuang di dalam keranjang sampah atau memegang bagian yang terkena sampah. Jelaskan kepada anak bahwa sampah mengandung kotoran yang dapat membuatnya sakit sehingga sampah yang dibuang pada tempatnya juga akan membuat anak hidup lebih sehat. Semoga dengan tips praktis ini, orangtua dapat memberikan alasan yang tepat kepada anak untuk membuang sampah pada tempatnya, sehingga tidak diperlukan lagi alasan yang membuat anak menjadi takut dan melakukan berbagai tindakan positif hanya dalam situasi tertentu saja. Biarlah Pak Polisi mengerjakan tugas penting lainnya, daripada menangkap anak yang membuang sampah secara sembarangan. Semoga bermanfaat! (M) www.millemama.com | Mei - Juli 2014 | 19


inspirasi

“Sampahku Tanggung Jawabku Zulfikar Mari kita bicara soal lingkungan. Saya yakin banyak sekali di antara kita (jika bukan semua) yang merasa bahwa lingkungan kita bermasalah. Mulai dari air yang kotor, sampah yang berserakan, ataupun udara yang terpolusi. Apa sih yang menjadi sebab lingkungan kita bermasalah? Untuk memahaminya, mari kita flashback hingga ratusan atau bahkan ribuan tahun yang lalu.

D

ulu, saat peradaban belum berkembang, setiap insan manusia yang ingin bertahan hidup perlu mencari makanannya sendiri. Berburu atau petik buah yang ada dalam jangkauan menjadi metode andalan. Interaksi langsung dengan alam menjadi hal yang tidak terhindarkan. Kemudian peradaban mulai berkembang lalu mulailah manusia mengenal sistem beternak dan bercocoktanam. Lama-kelamaan mulai ada segolongan manusia dalam masyarakatnya yang punya tugas khusus untuk menyediakan makanan untuk golongan lainnya. Terciptalah jarak pemisah antara alam dengan manusia. Jarak pisah ini semakin jauh sejak muncul konsep perdagangan. Tidak perlu bercocoktanam sendiri, beli saja dari orang lain, biarkan orang lain yang bercocoktanam. Seiring dengan berkembangnya peradaban manusia, perdagangan dan teknologi industri pangan serta teknologi lainnya semakin kompleks hingga hari ini, kita yang tinggal di Indonesia dan mungkin belum pernah ke Australia dapat menikmati hidangan yang terbuat dari daging sapi yang diternakkan di Australia.

20 | www.millemama.com | Mei - Juli 2014

Perkembangan peradaban memang membuat kita menikmati era modern saat ini. Namun coba tanyakan pada anak-anak kita mengenai asal-usul makanan mereka. Misalnya buah pisang yang terhidang di rumah. Apakah mereka tahu apa itu buah pisang? Tentu banyak yang tahu, tapi apakah mereka tahu bagaimana pisang itu bisa berada di tangan mereka? Dari mana pisang itu berasal? Saat ini, menurut banyak anak-anak di kota-kota besar di Indonesia yang penulis temui, pisang berasal dari toko atau supermarket, bukan dari pohon pisang. Efeknya, jika tidak dikenalkan maka generasi-generasi penerus akan semakin terpisah dari alam yang memberikan penghidupannya sehingga… minim sekali rasa sayang dan peduli pada alam. Saat ini pun kepedulian kita pada alam kita sudah jauh berbeda dengan dua atau tiga generasi lampau. Pertumbuhan peradaban ternyata memiliki efek samping berupa kabut peradaban yang menghalangi hubungan manusia dengan alam. Kabut peradaban juga menghalangi pandangan kita dari apa yang telah kita sebabkan pada alam. Kita tidak merasa ada hubungan antara bencana atau kerusakan yang terjadi dengan kehidupan kita sehari-hari. Salah satunya melalui sampah yang kita buang secara rutin. ‘Buang sampah pada tempatnya’ sering kita dengar dan kita lakukan. Ketika melihat sampah, otomatis kita merasa sampah itu harus dibuang, dienyahkan, dibasmi, dan lain sebagainya. Nyatanya sampah tidak bisa lenyap begitu saja. Saat ini kita hanya memindahkan sampah kita dari sumbernya yaitu rumah, kantor, pasar, atau sekolah, dipindah-pindah melalui tempat pembuangan sampah hingga berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA) yang belum pernah sukses memproses 100% sampah hingga terus menumpuk dan menumpuk. Ketika sampai di TPA, tidak bisa lagi berpikir buang. “Hentikan!”, “Stop!”, atau “Cukup!” menjadi kata yang diteriakkan masyarakat sekitar TPA.


inspirasi

Mari mulai kecilkan aliran keran sampah di rumah-rumah makanannya, maka jumlah sampah yang dapat dikurangi kita, kantor-kantor kita, ataupun sekolah-sekolah kita. Mulai lebih dari 1.700 m3! Bijak dalam membeli bahan makanan dari diri sendiri di manapun dan kapanpun kita beraktivitas. dapat dilakukan dengan merencanakan dengan tepat menu Banyak cara yang bisa kita lakukan. Pertama kita bisa mulai makanan sehari-hari sehingga tidak ada makanan yang tidak dengan lebih teliti memilih barang saat berbelanja. Aktivitas dimakan dengan alasan tidak selera. mengonsumsi suatu barang merupakan aktivitas utama Langkah-langkah tadi merupakan cara bijak mengurangi penghasil sampah. Banyak barang yang kita konsumsi secara (reduce) sampah di sumber. Lalu jika masih ada sampah, apa tidak bijak yang akhirnya menghasilkan sampah yang banyak. lagi yang bisa kita lakukan? Mungkin Contohnya adalah membeli atau pembaca pernah mendengar menggunakan barang lebih dari ....(TPA) yang belum pernah sukses istilah reduce-reuse-recycle yang yang kita perlukan. Solusinya merupakan sebuah urutan langkah memproses 100% sampah hingga terus jelas: belilah barang sesuai menumpuk dan menumpuk. Ketika sampai mudah kelola sampah. Setelah kebutuhan. Lebih baik lagi jika kita kita melaksanakan reduce namun di TPA, tidak bisa lagi berpikir buang. dapat mengatur pola konsumsi masih ada sampah yang dihasilkan, sehingga membeli barang dalam “Hentikan!”, “Stop!”, atau “Cukup!” menjadi maka yang dapat kita laksanakan volume yang menghasilkan kata yang diteriakkan masyarakat sekitar TPA. selanjutnya adalah reuse atau guna sedikit sampah. Misalnya saat ulang. Gunakan ulang semua barang akan membeli sabun cair kita yang masih dapat digunakan. dapat membeli dalam kemasan botol besar, dengan demikian Ada banyak contoh penerapan reuse di kehidupan seharisampah yang dihasilkan lebih sedikit jika dibandingkan hari, bahkan mungkin kita telah melaksanakannya tanpa dengan sampah botol-botol kecil atau sachet. disadaria. Botol selai yang sudah habis selainya dapat dicuci Hal lain yang sangat mudah kita terapkan dalam dan dijadikan gelas atau wadah untuk menyimpan bumbu kehidupan sehari-hari adalah: menghabiskan makanan. Di masak di dapur. Botol plastik dapat dipotong untuk dijadikan seluruh kota-kota besar di Indonesia, sampah sisa makanan wadah alat tulis di meja kerja. Kertas dokumen lama yang merupakan sampah yang paling banyak ditemui di tumpukan baru dicetak satu sisi dapat digunakan sebagai buku catatan sampah yaitu sekitar 50%-60% dari seluruh sampah yang dengan menggunakan sisi yang belum terpakai. Banyak ada. Bayangkan, DKI Jakarta setiap harinya menghasilkan sekali contoh-contoh kreatif yang mungkin tidak kita duga sampah lebih dari 6.500 m3. Jika setengah warga kota Jakarta sebelumnya. bijak dalam membeli bahan makanan dan menghabiskan www.millemama.com | Mei - Juli 2014 | 21


inspirasi

Dengan melaksanakan reuse, kita telah memperpanjang masa pakai suatu barang hingga tidak langsung dibuang. Namun pada akhirnya, suatu barang tetap ada masa akhir pakainya‌ Tapi tunggu dulu, tidak bermanfaat untuk kita bukan berarti tidak bermanfaat sama sekali. Material atau bahan dari suatu barang dapat diproses untuk digunakan sebagai bahan baku untuk diproduksi ulang menjadi barang lainnya. Proses inilah yang disebut recycle atau daur ulang dan kita pun dapat berperan aktif dalam proses daur ulang. Ada banyak jenis sampah yang dapat didaurulang. Jika pemulung mau mengambil suatu jenis sampah, maka hampir dapat dipastikan jenis sampah tersebut akan didaurulang. Lalu bagaimana cara kita untuk aktif berperan dalam daur ulang? Mudah, pisahkanlah sampah Anda berdasarkan jenisnya. Hampir semua kertas dapat didaurulan,n tetapi sampah yang kotor dan terkontaminasi oleh bumbu makanan, minyak, dan lainnya hampir dapat dipastikan tidak dapat didaurulang. Sampah plastik, logam, dan lainnya yang kotor juga mempersulit proses daur ulang. Sampah organik dapat didaurulang dengan proses pengomposan. 22 | www.millemama.com | Mei - Juli 2014

Pengomposan dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain dengan biopori, takakura, vermicomposting, dan lainnya. Proses daur ulang dapat menekan timbulan sampah 70%-80% dari seluruh timbulan sampah. Sampah Anda tanggung jawab Anda. Anda bisa mulai bertanggungjawab dengan menghabiskan makanan Anda lalu melaksanakan reduce, reuse, dan recycle. Dengan demikian kita dapat mengubah sudut pandang kita pada sampah yang selama ini selalu menjadi bagian dari masalah menjadi materi yang bermanfaat, setidaknya untuk orang lain. Jangan sampai kita menutup mata pada masalah ini dan membiarkan terjadi lagi bencana sampah seperti yang terjadi tanggal 22 Februari 2005 di Leuwigajah (Bandung) saat sampah kota yang menumpuk di sana longsor dan menewaskan 156 warga sekitarnya akibat ledakan dari tekanan tinggi gas metana yang tertimbun bertahun-tahun. (M)


Resep

ECO BENTO Niken W

Menu #1

ff Chicken rice doria ff Salad buncis-jagun g ff Fish nugget (frozen food) ff Lettuce, timun, to mat dan edamame rebus

CHICKEN RICE DORIA Bahan: ff Chicken rice: ƒƒ nasi ƒƒ ayam ƒƒ mixed vegetables ƒƒ saos tomat ƒƒ worchester sauce ƒƒ garam ƒƒ lada ff White sauce: ƒƒ bawang bombai ƒƒ terigu 1sdm ƒƒ susu cair 100ml ƒƒ keju leleh ƒƒ parsley

SALAD BUNCIS-JAGUNG Bahan: ff Buncis 3 batang, potong buncis 3cm, rebus ff Jagung kaleng 1 sdm ff Wijen 1sdt ff Mayones 1sdm ff Gula 1sdt

Cara:  ff Haluskan wijen, campur dengan gula & mayones ff Campur saus dengan buncis dan jagung. 

Cara: ff Tumis bawang bombai hingga layu ff Masukkan terigu, aduk, tuang susu cair sedikit demi sedikit, masak hingga kental, ff Tambahkan garam & lada. Angkat Penyelesaian:  ff Letakan chicken rice kedalam piring, tuang white sauce, tabur keju leleh, panggang hingga keju kecoklatan.  ff Pindahkan doria kedalam kotak bento, tabur parsley www.millemama.com | Mei - Juli 2014 | 23


Resep

ECO BENTO Niken W

Menu #2

eri-wijen pur buncis-t m a c si a N f f (saos asam araage chili k n e k ic h C f f manis) keju ff Kentang puru -buncis cham ff Kentang un me rebus, tim a m a d e , ce u ff Lett & tomat

24 | www.millemama.com | Mei - Juli 2014


Resep

NASI CAMPUR BUNCIS-TERI WIJEN Bahan: ff Nasi hangat 1 mangkuk ff Buncis 1 batang rebus, iris kecil ff Ikan teri 1sdm ff Wijen 1 sdt ff Garam Cara: ff Sangrai semua bahan, tambahkan garam, campur dengan nasi panas. 

KENTANG KEJU Bahan:  ff Kentang kecil 1/2 buah ff Mayones, garam lada sedikit ff Keju leleh sedikit ff Parsley untuk taburan Cara: ff Cuci kentang dan rebus hingga empuk (bungkus dengan plastik wrap, masukkan microwave) ff Keruk bagian dalam kentang, campur dengan mayones, garam lada, masukkan kembali ke kulit kentang ff Tabur keju leleh, masukkan ke grill, bakar hingga keju kecoklatan, angkat, tabur parsley 

KARAAGE CHILI (SAOS ASAM MANIS) Bahan: ff Ayam goreng tepung sisa 3 buah ff Wortel 5 cm cuci, potong korek api  ff Bawang bombai sedikit  ff Bawang putih sedikit ff Saos (campur jadi satu): ff saos tomat 1,5 sdt ff Air 1,5 sdm ff Gula 1/2 sdt ff Cuka 1/2 sdt ff Minyak wijen 1/2 sdt ff Tepung kanji 1/2 sdt Cara:  ff Tumis bawang putih hingga wangi, masukkan bombai dan wortel, tumis hingga layu.  ff Masukkan campuran saus, aduk hingga kental.  ff Bagi ayam menjadi 2, masukkan ke saus, aduk hingga rata, matikan api.  ff Dengan microwave: campur saos dengan bawang putih, wortel dan bawang bombai, masukkan ke microwave.  Aduk saos beberapa kali selama proses agar saos kental merata, masukkan ayam, aduk.

KENTANG BUNCIS CHAMPURU (UNTUK BENTO DAN SARAPAN) Bahan: ff Bawang putih 1 buah cincang ff Kentang 1/2 buah, cuci dan potong korek api ff Bawang bombay kecil 1/2 buah irisiris ff Buncis 5 batang, potongpotong kurleb 3 cm ff Telur 1 butir, kocok lepas ff Saos tiram ff Shoyu ff Garam gula lada ff Air 50cc Cara:  ff Tumis bawang putih dan bawang bombai hingga layu, masukkan kentang dan buncis, aduk kemudian masukkan air. ff Masukkan semua bumbu, tunggu hingga kentang agak empuk dan air berkurang  ff Tuang telur, aduk-aduk hingga telur matang. Cicipi, angkat Tips:  ƒƒ Buat menu baru dengan menggunakan sisa lauk semalam  ƒƒ Kurangi sampah dengan menggunakan tempat lauk silicon, masak wortel & kentang bersama kulitnya ƒƒ Buat lauk-lauk dengan bahan yang sama, olah 2 bahan makanan menjadi satu (rebus kentang dengan buncis) www.millemama.com | Mei - Juli 2014 | 25


inspirasi

Peduliku untuk Bumi! Superkids Eduventure “Apa yang terjadi saat seekor lalat masuk ke dalam minumanmu? Atau apa yang terjadi saat ada seseorang meneteskan tinta pada minuman mu? Pasti, Engkau tak akan meminumnya lagi bukan? Begitu pula keberadaan air di bumi ini, apabila sudah tercemar oleh sampah dan limbah , apakah masih baik untuk kita gunakan?�, ujar salah seorang kakak Superkids Eduventure.

N

ah, beberapa waktu yang lalu, tim Superkids Eduventure berpetualang dalam Ekspedisi Hidrosfer Tanah Sunda. Ekspedisi ini mempunyai misi agar tim superkids semakin peduli akan keberadaan air. Karena berpetualang di Tanah Sunda, kami berkesempatan mengunjungi beberapa bentuk hidrosfer di daerah ini, diantaranya Curug Dago, Sungai Cikapundung dan Situ Ciburuy.

Sampah jadi Masalah? Walaupun 71 % bumi adalah hidrosfer, air bersih yang dapat digunakan untuk diminum dan untuk keperluan lainnya hanya sekitar 3 %. Sumber-sumber air bersih ini, keberadaannya sangat mengkhawatirkan. Petualangan pertama adalah mengunjungi Curug Dago dan Sungai Cikapundung. Bayangan kami akan air sungai yang jernih pupus sudah karena kini airnya berwarna kopi susu. 26 | www.millemama.com | Mei - Juli 2014

Menurut kakak-kakak dari komunitas yang peduli Curug Dago, kotoran dan sampah-sampah ini berasal dari daerah hulu, yang berada di atas lokasi curug ini. Apalagi beberapa peternak sapi yang nakal membuang limbah dari peternakannya langsung ke sungai, mengerikan bukan? Tim Superkids pun tergerak untuk bersama-sama membersihkan Sungai Cikapundung dari sampah-sampah yang menyangkut di bebatuan sungai. Walaupun licin, basah dan kotor teman-teman sangat senang. Setelah sampah-sampah dimasukkan ke dalam karung, sampah dikumpulkan di bank sampah untuk kemudian diolah oleh kakak-kakak komunitas tersebut. Sayang sekali tim kami tidak sempat ikut mengolahnya, namun kami sudah melihat langsung mata air jernih, menyusuri sungai dengan perahu karet, hingga menanam pohon.

Petualangan pun berlanjut, kini tim Superkids Eduventure perpetualang dengan perahu di Situ Ciburuy. Situ adalah sebutan untuk danau dalam bahasa Sunda. Situ ini dibuat pada tahun 1918 membendung 2 aliran sungai kecil. Dan lagi-lagi tim Superkids melihat masalah yang ada di Situ ini sama dengan masalah yang ada di Curug Dago serta Sungai Cikapundung, yaitu masalah sampah. Sampah-sampah dapat terlihat di tepian danau, bahkan di beberapa bagian danau sampah ini menumpuk hingga membentuk daratan. Papan semboyan ‘Bersih , Sejuk dan Indah’ pun rasanya percuma saat melihat kondisi danau. Dari kedua tempat ini, terlihat jelas bahwa masih banyak orang yang membuang sampah ke sungai. Situ Ciburuy membendung dua aliran sungai kecil. Perilaku warga sekitar yang masih terbiasa untuk membuang sampah ke sungai menyebabkan sampah terbawa aliran sungan dan akhirnya terkumpul di danau. Jadi siapa yang salah? Sampahnya atau perilaku manusianya?


inspirasi

Bagaimana menyelesaikan masalah sampah? Setelah melihat fenomena ini tim Superkids, belajar bagaimana menyelesaikan masalah ini. Kakak-kakak pendamping kegiatan ini pun menjelaskan pentingnya mengurangi sampah, mengelola sampah, dan memanfaatkan sampah dalam kehidupan sehari-hari. Tepat di pulau yang berada di tengah Situ Ciburuy Tim Superkids beristirahat sejenak, sambil membuat karya dari sampah. Oh iya, tas ransel tim Superkids pun terbuat dari bekas spanduk lho? Bertuliskan ‘Aku Peduli’. Superkids Eduventure ingin mengajak anak-anak sedini mungkin memahami tentang masalah lingkungannya agar memiliki kepedulian untuk tidak ingin mengotori lingkungannya dengan sampah. Walaupun awalnya berkotor-kotor Petualangan Superkids ini diakhiri dengan acara bermain air di Ciater, seru kan? Semoga di lain kesempatan berkunjung, tempat-tempat bersejarah ini kondisinya sudah lebih baik, dan terjaga kebersihannya. Sampai jumpa di petualangan Superkids Eduventure berikutnya ya! (M)

www.millemama.com | Mei - Juli 2014 | 27


CERITA RINGAN

Belajar mengurangi sampah ketika bermain Dea Paramita

K

ota London memiliki banyak taman kota yang menjadi alternatif tujuan wisata. Hingga ke skala lingkungan (neighbourhood), taman lingkungan juga disediakan untuk memenuhi kebutuhan warganya. Taman di lingkungan perumahan biasanya menyatu dengan area bermain (playground) untuk anak-anak. Cherry Tree Wood Park adalah salah satu taman sekaligus tempat bermain di daerah kota London bagian utaraPara orang tua biasanya membawa anak-anak mereka bermain di taman ketika udara tidak terlalu dingin. Sejak permulaan musim semi (sekitar bulan Maret), taman mulai ramai dikunjungi anakanak dan para orang tua. Kebiasaan para orang tua membawa anakanaknya keluar sudah menjadi kebutuhan utama agar anak dapat bersosialisasi dengan teman sebayanya dan juga melatih fisiknya melalui beberapa alat permainan yang ada. Berbeda dengan kebiasaan yang umumnya terjadi di Indonesia, di mana biasanya para Ibu membawa anak-anak mereka ke taman untuk menyuapi sang anak agar mau makan, para Ibu di sini memiliki kebiasaan yang berbeda. Di taman, anak-anak dibiarkan bermain,

28 | www.millemama.com | Mei - Juli 2014

berlarian, dan sebagainya. Hampir tidak ada seorang anak yang bermain sekaligus makan. Mungkin sudah menjadi kebiasaan orang Inggris (dan di beberapa tempat lainnya) untuk disiplin sejak dini akan kegiatan sehari-hari. Makan dan main ada waktunya masing-masing. Orang dewasa yang pergi ke taman pun pada umumnya karena ingin menikmati sinar matahari sambil membaca novel, atau sekedar tidur santai di rerumputan. Mungkin ini salah satu alasan mengapa beberapa taman yang dikunjungi selalu saja tampak bersih. Tidak ada makanan berarti tidak ada sampah atau kalaupun ada, jumlahnya sangat kecil. Tentunya fasilitas tempat sampah juga tetap disediakan oleh pemerintah setempat. Uniknya, mengingat kebiasaan warga disini juga membawa hewan peliharaannya terutama anjing untuk bermain di taman, tempat sampah khusus kotoran anjing pun disediakan. Ini ditujukan agar sampah kotoran hewan tidak bercampur dengan sampah lainnya. Beda budaya memang beda kebiasaan. Taman di Indonesia justru menjadi tujuan utama untuk piknik, yang artinya potensi sampah yang dihasilkan semakin banyak. Tantangannya selain dari jumlah tempat sampah yang perlu disediakan tentu juga dari diri kita masing-masing: seberapa jauh kita mau mengurangi produksi sampah ketika berkunjung ke taman?


CERITA RINGAN

www.millemama.com | Mei - Juli 2014 | 29


ucapan

Kami, atas nama keluarga besar Mil emama Indonesia, mengucapkan selamat atas kelahiran putra dari Aquarina Perdananti (Penyunting Bahasa Mil emagz) Semoga ia menjadi penyejuk hati kedua orang tua. — Millemama

30 | www.millemama.com | Mei - Juli 2014

—


Yuk, warnai Poster MIAU dengan warna favoritmu! Dan ingat pesan MIAU, jangan buang sampah sembarangan ya! Kalau teman-teman tidak menemukan tempat sampah, simpan sampahnya sampai menemukan tempat yang tepat untuk membuang sampah seperti tong sampah umum atau bak sampah di depan rumah kita.


Join Us Today! Forum Facebook untuk Bertukar Informasi Dengan Mama-Mama di Tanah Air dan Mancanegara Mengenai Tempat Bermain Yang Ramah Anak! Klik link di bawah ini, lalu klik tulisan join group,

https://www.facebook.com/groups/millemamaforumindonesia/ Yuk, ramaikan forumnya!

millemama.news@gmail.com Follow twitter @Millemama_INA Like facebook Millemama Indonesia www.millemama.com


Millemagz 10 - 2014