Page 1

B 57 ab

Suka Duka Silih Berganti Bukan di gereja saja ada seksi Suka-Duka, tetapi di kehidupan dalam keluarga besarpun diwarnai oleh suasana suka dan duka silih berganti. Biasanya jika ada anak lahir, ulang tahun, pernikahan, wisuda, pengucapan syukur karena punya rumah baru, dan peristiwa menyenangkan lainnya akan dianggap sebagai suatu peristiwa �Suka�. Termasuk juga perayaan-perayaan seperti malam Tahun Baru, Natal dan lain-lain. Sebaliknya, bencana alam, sakit berat, kematian, itu pasti akan termasuk dalam acara “Duka�. Konon, ada sebuah kisah tentang seorang petani di Tiongkok yang mempunyai seorang anak laki dan seekor kuda. Petani ini bertetangga dengan orang yang selalu memperhatikan apa yang terjadi di dalam kehidupan keluarganya. Jika ada sesuatu yang kelihatannya baik dan menyenangkan, dia akan segera datang untuk mengucapkan selamat. Sebaliknya jika terjadi suatu musibah, maka ia juga akan segera mengunjunginya untuk turut 665


menunjukkan simpati atau menyampaikan turut berduka-cita. Tetapi si petani sendiri yang mengalami suka-duka yang silih berganti dalam hidupnya, selalu menunjukkan sikap yang ”datar” dalam menghadapi peristiwa entah suka maupun duka. Pada suatu hari, kuda satu-satunya si petani itu hilang. Datanglah si tetangga dan mengatakan: ”Ah, betapa malang nasib kamu ya, punya kuda cuma satu, hilang lagi”. Namun petani itu hanya menjawab: ”Nasib malang, nasib baik, cuma Tuhan yang tahu” Eh, tiba-tiba beberapa hari kemudian kudanya kembali dengan membawa enam ekor kuda liar bersamanya. Wah, si tetangga pun datang untuk mengucapkan selamat, karena sekarang kuda si petani menjadi tujuh ekor. Si petani menjawab lagi: ”Nasib malang, nasib baik, cuma Tuhan yang tahu”. Ternyata, tidak lama kemudian anak laki satusatunya kena tendangan kuda liar itu sehingga patah kakinya dan jadi pincang jalannya. Kembali si tetangga mengucapkan turut berduka-cita atas kejadian itu dan si petani tetap memberikan reaksi yang sama, bahwa hanya Tuhan yang tahu apakah peristiwa itu baik atau tidak. Tidak lama kemudian, pecah perang di salah satu bagian negara itu, sehingga semua anak muda dikumpulkan untuk 666


turut latihan militer dan dikirim ke medan perang, namun anak si petani ini terbebas dari kewajiban karena kakinya cacat. Kembali si tetangga mengucapkan selamat karena anak lakinya bebas dan tidak dikirim ke medan perang. Dengan tenang, si petani menjawab: �Nasib malang, nasib baik, cuma Tuhan yang tahu�. Petani ini begitu sederhana, ia hanya menjalankan hidupnya seperti air yang mengalir. Memang kalau kita memasukkan kedua kaki kita ke dalam sungai, maka air yang mengalir membasahi kaki kita itu adalah selalu air yang baru, sedangkan arus air yang sudah lewat tidak akan mengalir kembali. Seperti si petani, kita juga harus percaya bahwa kejadian suka maupun duka itu akan selalu ada masanya berlalu. Kedukaan yang satu akan berlalu, diganti kedukaan yang baru. Tapi kesenangan yang satu juga ada masanya berlalu, berganti dengan kesukaan yang baru. Apa yang penting adalah, menerima segala kejadian sebagai aliran air di mana Allah turut bekerja di dalam segala sesuiatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang percaya dan mengasihiNya (Roma 8: 28). Kesukaan dalam keluarga besar Opa dan Oma misalnya, terjadi ketika di bulan Agustus tahun 1984 di mana oom Billy dan O- De Brasil berkunjung ke Indonesia setelah meninggalkan 667


Indonesia di tahun 1962. Bayangkan, setelah 22 tahun lamanya mereka meninggalkan kampung halaman, baru bisa jumpa kembali (tapi kalau Oma memang pernah pergi ke Brasil di tahun 1976). O De juga punya pengalaman yang ingin Mom tuliskan dalam Memoar ini, karena Mom baru saja menerima surat darinya yang menceritakan pengalamannya. Sebelum menikah dengan Om Billy, ia pernah dijodohkan dengan seorang pemuda yang belum se-iman. Ia sama sekali tidak kenal dengan pemuda itu karena jaman itu anak gadis masih belum punya pergaulan bebas dan masih ada sistim “mak comblang�. Ketika mereka sudah sampai pada tahap akan menikah dan memang sudah terlebih dahulu menikah di Catatan Sipil, terjadi suatu peristiwa yang membuat pernikahan mereka dibatalkan. Pada suatu hari, O-De dijadwalkan harus ngepas gaun pengantinnya. Sebelumnya, si calon suami sudah janji untuk mengantarkan O-De. Namun, setelah ditunggu-tunggu lama sekali belum juga datang, maka achirnya O-De diantarkan oleh oom Ape dengan dibonceng motor Ariel. Di tengah jalan, mereka berpapasan, tetapi O-De hanya melambaikan tangannya dan memberi isyarat bahwa ia diantar oom Ape saja. 668


Pemuda ini juga meneruskan perjalanannya ke rumah Opa, tetapi di sana ia menyatakan ketidaksukaannya akan sikap O-De yang tetap melanjutkan perjalanannya dengan oom Ape. Terjadilah argumentasi antara dia dengan Opa. Dengan kejadian ini, barulah Opa menyadari bahwa orang ini adatnya keras sekali. Ia tidak mengenal kompromi dan sangat tinggi hati. Ia menyatakan bahwa secara hukum, O-De sudah menjadi isterinya, jadi ia sudah mempunyai hak sebagai seorang suami. Opa menjelaskan, mungkin saja O-De yang sudah terlanjur diantar oom Ape tidak mau buang waktu lagi untuk tukar motor dan pindah-pindahan di tengah jalan karena sudah terlambat sekali janjinya dengan modiste itu. Maklum, jaman itu orang-orang yang berpendidikan Barat juga punya sikap disiplin dalam memenuhi perjanjian waktu (= stip op tijd). Tidak ada yang pakai jam karet seperti di kemudian hari. Jalanan pun belum semacet seperti di kemudian hari. Namun, penjelasan ini tetap tidak dapat diterima olehnya. Rupanya Opa tidak bisa menerima kata-katanya yang kasar dan ketika ia juga tidak bisa memaafkan tindakan O-De dan oom Ape, maka opa mempunyai kekuatiran bahwa dengan adatnya yang keras sekali apalagi juga belum se-iman, bisabisa O-De akan menderita dalam menjalankan 669


hidup berumah tangga bersamanya. Maka achirnya Opa mengambil tindakan yang otoriter, ia memutuskan hubungan mereka. Konon, pernah ada �utusan tidak resmi� yaitu si Mak Comblang yang datang ke rumah Jati-bunder dan menaburkan “guna-guna� berbentuk bubuk yang dikibaskan dari kain sarung yang dikenakannya. “Utusan tidak resmi� ini kebetulan adalah seorang wanita yang dikenal oleh keluarga Opa dan masih ada hubungan keluarga dengan pemuda itu. Karena Opa dan pemuda itu samasama keras mempertahankan prisip masingmasing, achirnya jadilah sidang proses perceraian di pengadilan yang berlarut-larut. Ia sengaja melakukan ini supaya O-de terikat terus padanya dan tidak bisa menikah dengan orang lain. Jalan satu-satunya adalah menunggu sampai lakilaki itu akan menikah dengan orang lain, baru bisa keluar surat cerai. Achirnya, memang itu yang terjadi. Setelah ia mau menikah dengan resmi dengan calon isterinya yang baru, maka mau tidak mau ia harus menandatangani surat perceraian itu. Bagaimana setelah beres urusan perceraian itu? Bagaimana pada achirnya O-De bisa menikah dengan oom Billy?

670


Oom Billy adalah teman main badminton Dad di rumah mereka di Tanah-Abang Bukit. Ayahnya adalah seorang pengusaha terkemuka di antara komunitas Tionghoa di Jakarta. Orangtua dan keluarga besarnya adalah anggota gereja Kristen Gang Ketapang. Dad dan oom Billy juga sering pergi keluar jalan-jalan dan nonton bersama. Pada suatu hari, ia melihat O-De di gereja TanahAbang, maka oom Billy naksir sama O-De. Yang lucu, setelah oom Billy berkunjung beberapa kali ke Jati-Bunder dan bergaul beberapa saat lamanya, oom Billy bertanya: �Heb je mij lief?�, namun O-De menjawab: �Nanti dulu ya, ik pikir-pikir dulu� (ach, ini ditulisnya pada Mom ketika Mom sedang menulis Memoar ini, dan itu berarti setelah ia sudah merayakan Golden Anniversary-nya 7 tahun yang lalu, yaitu pada tanggal 18 Oktober 2003). Pada saat Mom Dad memasuki golden anniversary, maka mereka sudah menikah 57 tahun lamanya. Ketika Mom dan Dad menikah di tahun 1960 itu, mereka sudah punya tiga orang anak. Cici Ay Lie adalah anak pertama mereka, dan yang menjadi flower-girl bersama cici Honey pada hari pernikahan kami. Ranjang penganten, lemari pakaian dan meja hias yang kami pakai sampai detik ini adalah hadiah dari mereka, second-hand bekas ranjang penganten mereka. 671


Mom tuliskan ini dalam Memoar karena hidup pernikahan mereka merupakan sebuah pernikahan yang patut diteladani. Pernikahan yang sudah diuji dalam susah dan senang, dengan pengalamanpengalaman yang mirip dengan pengalaman petani di Tiongkok itu, di mana suka-duka datang silih berganti, tetapi Tuhan turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihinya. Satu hal lagi yang Mom ingin tegaskan di sini ialah kesetiaan O-De sebagai isteri maupun kesetiaan oom Billy sebagai suami yang sudah teruji di dalam mereka menjalankan hidup pernikahan mereka sampai akan memasuki ulangtahun pernikahan yang ke-57 pada saat penulisan ini. Dan tentu saja, kesetiaan mereka pada Tuhan. (Catatan: oom Billy adalah Ketua Panitia Pembangunan pada awal didirikannya gedung 672


Gereja Wahid Hasyim. Bahkan, tanah yang dipakai untuk bangunan gereja tersebut juga merupakan persembahan dari keluarga besar mereka. Sekarang, di Mage-Brazil ia menjadi tua-tua yang diangkat untuk seumur hidup, sesuai dengan peraturan gereja di sana). Mereka pindah ke Brasil di tahun 1962, di mana suasana politik di negara kita saat itu dikuatirkan makin berkiblat ke kiri. Ternyata memang terbukti dengan peristiwa “G-30S-PKI� di tahun 1965. Namun kepindahan mereka ke Brasil ternyata membuat mereka harus banting tulang dan bekerja keras dan hidup penuh keprihatinan sekali. Padahal sebelumnya di sini mereka hidup dalam kecukupan, bahkan nyaris bisa disebut: berkelimpahan. Sebelum berangkat ke sana, berbagai macam panganan dipelajari cara pembuatannya di sini oleh O-De, termasuk krupuk yang nantinya akan menjadi mata pencaharian mereka di sana. Seharihari mereka juga buka kantin. Pabrik kulit yang mereka buka di sana bersama kedua kakak oom Billy jatuh bangkrut. “Harta tidak bergerak� yang ditinggalkan di sini juga achirnya tercecer karena tidak dapat ditangani sendiri lagi. Lalu pada suatu hari, terjadi suatu musibah yang mengakibatkan terjadinya cacat pada kaki O-De 673


dan cici Ay-Lie. Pada suatu hari Natal, O-De sedang berjalan di trotoir bersama cici Ay Lie menuju ke gereja. Tiba-tiba mereka ditubruk oleh sebuah mobil yang ternyata dikemudikan oleh orang yang sedang mabok. Akibatnya, O-De mengalami patah kaki sehingga setelah dioperasi kaki kanannya tidak bisa ditekuk. Konon, Ay Lie mengalami daging betisnya copot dan mental nempel di pinggir pagar. Ah, shock bukan main tentunya untuk seluruh anggota keluarga. Bukan main juga operasi serta pemulihan yang mereka harus jalani akibat kejadian itu. Tapi dengan kejadian ini pula, O-De dapat semakin merasakan bagaimana oom Billy itu merupakan pasangan hidup yang merupakan hadiah terindah dari Tuhan untuknya. Dari beberapa kenalan kami yang sudah pindah ke Brasil, kami juga dengar bagaimana oom Billy merawat O-De dengan penuh kasih sayang. O-De sama sekali tidak bisa bangun untuk waktu yang lama sekali. Dari mandi seharihari, buang air kecil dan besar, sampai ganti softex pun oom Billy yang lakukan sendiri. Inilah wujud praktek yang nyata dari janji pernikahan yang mereka ucapkan pada saat pemberkatan nikah pada tanggal 18 Oktober 1953 di gereja TanahAbang.

674


Ketika salah seorang kenalan kami yang adalah exanggota gereja Waha (= adik perempuan dari ayahnya Esther Jayadi) datang berlibur ke Jakarta di tahun 1976, maka Oma nekad mau pergi ke Brasil. Oma bisa pergi ke sana karena Opa menerima uang penggantian penggusuran rumah warisan di Kebon-Jati. Di rumah Kebon-Jati itu juga O-De dilahirkan sebagai anak nomer empat pada harian Pek-Cun (Lihat Bab 5: Berpindah-pindah seperti suku Nomad). Waktu pergi-nya, Oma bisa dititipkan pada keluarga ini tapi mereka cuma bisa mengantar sampai di Rio de Janeiro karena keluarga ini tinggal di Sao Paulo sedangkan O-De di Mage. Setelah penerbangan via Amsterdam, mereka landing di Rio de Janeiro dan berpisah. Kami sangat kagum karena Oma yang sama sekali tidak mengerti bahasa asing berani mengadakan perjalanan pulang seorang diri via Amsterdam. Ia berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat saja (body language). Ketika cici Julia menjemputnya di Amsterdam, sampai semua penumpang sudah habis meninggalkan ruang emigrasi, Oma belum muncul juga. Hanya tinggal koper milik Oma yang masih muter-muter sendiri di baan. Achirnya, cici Yulia minta ijin untuk menjemputnya di dalam. Ah, kita harus angkat topi 675


untuk semangat Oma, bayangkan, waktu itu usianya sudah 70 tahun. Berikutnya, giliran kunjungan uncle Bob, auntie Lenny dan Rena dalam bulan Desember tahun 1984 ke Jakarata. Terjadi lagi reuni keluarga besar Dad sehingga mendatangkan sukacita yang berturutturut tentunya. Sebelumnya, kami sering repot menghadapi Oma yang mulai mengalami gangguan pada jantungnya. Setiap kali ia merasakan debar-debar atau extrasystolis, sehingga seringkali Mom menemani Dad untuk bikin EKG dan memberikan pengobatan pada Oma yang pada saat itu tinggal di Pondok Indah. Pengadaan tempat tinggal di Pondok Indah jalan Alam Segar V itu, adalah hasil usaha oom Ape di dalam “solving problem� untuk Opa dan Oma yang achirnya tidak punya rumah tinggal lagi di hari tua. Pengalaman tinggal dalam satu rumah dengan anak yang sudah berumah-tangga tentunya menjadi seperti satu kapal dengan dua kapten lagi. Jadi prinsip oom Ape adalah di hari tua mereka harus punya rumah sendiri, biarpun kecil. Tetapi punya rumah sendiripun bukan berarti bebas dari problem, apalagi di kala kesehatan bertambah mundur. 676


Dengan gangguan kesehatan yang dialami Oma dan datangnya selalu dengan tiba-tiba, Opa menjadi tidak tenang dan bingung menghadapi Oma setiap kali mengalami serangan mendadak. Ketika Dad ditilpon dan mendengar suara Opa yang panik, pernah Dad ngebut (padahal Dad tidak pernah main kebut-kebutan) menuju Pondok Indah dan mengambil jalan yang dilarang untuk menghindari macet. Untung polisi lalulintas yang menghampiri Dad penuh pengertian setelah tahu bahwa Dad terburu-buru karena ibunya sakit keras. Ia hanya mengatakan bahwa hal ini juga sangat berbahaya bagi keselamatan Dad sendiri, jadi jangan sampai terulang lagi. Untunglah tidak terjadi apa-apa dengan Dad. Seperti biasa, Opa menekuni masalah ini dalam doa agar Tuhan berikan jalan keluar yang terbaik. Ternyata tidak lama kemudian, rumah tinggal di sebelah rumah kami mau dikontrakkan. Bapak dan ibu yang tinggal di sebelah rumah kami telah dipanggil pulang Tuhan dalam waktu yang berdekatan. Sebelumnya pun mereka berniat mau menjual rumah ini dan mau pindah kembali ke Aceh, tetapi belum sampai terjual, kedua suami isteri ini telah dipanggil pulang oleh Tuhan yang Mahakuasa. Hanya di dalam waktu satu bulan keduanya sudah meninggal karena Diabetes yang sudah komplikasi. 677


Ketika Opa mendengar bahwa rumah sebelah itu mau dikontrakkan, ia merasa yakin bahwa itulah jalan keluar yang Tuhan berikan. Terjadilah kesepakatan untuk mengontrak rumah tetangga kami dan menjual rumah di Pondok Indah. Oom Ape setuju sekali dengan solusi itu. Di dalam membangun rumah Pondok Indah ini Oom Ape sempat pinjam uang dari pabrik kulit tempat ia bekerja dan mencicilnya setiap bulan sehingga lunas. Ketika O-De Brasil dan uncle Bob berkunjung ke sini, Opa dan Oma sudah tinggal di sebelah dan sudah ada pintu tembus ke rumah kami. Demikianlah sampai achir hayat mereka, mereka tinggal di sebelah rumah kami. Kalau pada tanggal 29 Oktober 1985 Mom dan Dad merayakan Kawin Perak atau 25 tahun Ulangtahun Perkawinan, maka Opa Oma sebetulnya sudah lebih dari 60 tahun menikah. Kami sempat mengadakan pengucapan syukur di antara keluarga besar di rumah. Iwan,Tris dan Ita telah menyusun acaranya sedemikian rupa mengharukannya dengan menggambarkan perjalanan hidup kami melalui rekaman yang dibuat melalui perangkat sound-sytem mereka. Itulah bagian sukanya di dalam kehidupan kami berkeluarga tentunya. 678


Kami sekeluarga sering menyanyikan lagu “Tuhan Pimpin Hidupku�. Lagu ini memang tidak terdapat dalam Kidung Jemaat atau Nyanyian Kidung Baru yang kami pakai di gereja. Namun di dalam lirik lagunya terdapat kalimat-kalimat yang berbunyi: “...badai hidup yang besar diredakanNya, gunung yang sangat tinggi dihalaukanNya...�.

Masa pernikahan kami yang sudah berjalan 25 tahun belum ada setengahnya dari masa pernikahan Oma dan Opa

679


Mom menyematkan bross bunga perak pada Dad sebagai tanda penghargaan Mom pada Dad yang telah bertanggung jawab terhadap keluarga selama 25 tahun

680


Ketika kami menyanyikan lagu ini pada Pengucapan Syukur keluarga besar di rumah tante Lyd di Kedoya sehubungan dengan kedatangan ODe untuk kedua kali tanpa oom Billy, maka Pdt.Ben menghampiri Mom dan mengatakan bahwa lagu yang kami bawakan itu indah sekali kata-katanya, namun pada kenyataannya kadang Tuhan tidak selalu meredakan badai hidup yang besar atau menghalaukan gunung yang sangat tinggi, namun Ia memberikan kita pundak atau bahu yang kokoh dan kuat untuk menanggung beban yang berat. Kalau dipikir-pikir, betul juga ucapan Pdt.Ben itu. Seringkali memang Tuhan tidak menghalaukan gunung yang sangat tinggi, tetapi ia memberikan kita kekuatan untuk menghadapinya. 681


Kita lihat beberapa kejadian suka-duka yang terjadi selanjutnya di tengah-tengah keluarga besar. Setelah Ema dipanggil pulang pada tahun 1980 dalam usianya yang ke-64 tahun dan Mom kemudian bisa dekat dengan Ema dan Engkong Cimahi, kami menghadapi lima orang tua yang sudah lanjut usia. Engkong Cimahi saat itu masih bisa mondar-mandir Cimahi-Jakarta naik bus atau kereta. Oma Cimahi lebih sering nginap di Tomang di rumah tante Hanny. Sedangkan Engkong tetap tinggal di Kebon Jahe ditemani engku Gin Tjiang dan tante Ida. Di dalam menjalani hidup kebersamaan dengan orang-orang lanjut usia yang kami kasihi, kami jadi belajar banyak hal mengenai kesulitan yang harus dihadapi orang ketika usianya bertambah uzur dan kesehatannya menurun. Mereka juga tidak punya penghasilan lagi dan tidak punya simpenan untuk di hari tua. Kita belajar dan melihat juga bagaimana iman yang dimiliki seseorang dapat membantu ia tetap bersemangat dan dapat menjadikan masa tuanya menjadi masa senja yang indah. Kami jadi diingatkan akan “Hal Keabadian“ yang cuplikannya ini Mom ambil dari buku Renungan Harian: �Tuhan tak pernah menjanjikan kehidupan orang percaya bebas dari kesedihan, kesulitan, 682


atau kegagalan. Namun, Alkitab berjanji bahwa mereka yang percaya kepada Kristus akan memiliki Sahabat Sejati dalam perjalanan yang akan membantu, mendorong dan memberi kekuatan dalam segala hal yang terjadi dalam hidup mereka”. Tuhan kita Yesus Kristus adalah pribadi yang pernah berjanji: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau”. Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata,” Tuhan adalah penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” ( Ibrani 13: 5,6). Untuk memiliki keyakinan ini kita harus berani menjalani hidup. Dan itu adalah jawaban bagi semua pertanyaan pertanyaan dan kekhawatiran kita dalam hidup di dunia. Dialah perlindungan kita. Jika Anda mengenal Kristus, izinkan Dia membangun harapan di dalam hati, melalui berbagai pengalaman hidup Anda. Sekarang di-usia Mom yang menuju 71 tahun dan Dad menuju 82 tahun, kalau hidup ini kami anggap sebagai satu perjalanan sebagai telah Mom singgung di dalam “Prakata”, maka saat ini kami sedang duduk istirahat. Kami menoleh ke belakang untuk mengevaluasi perjalanan yang telah kami 683


lalui sebagai orangtua, tapi juga perjalanan yang telah dilalui para orangtua kami. Dengan menengadah ke atas dalam iman, maka kami dapat melihat dengan jelas apa yang telah diperbuat Tuhan bagi para orangtua kami yang telah tiada. Tuhan telah menjadi penolong mereka sepanjang perjalanan hidup mereka satu per-satu. Engkong meninggal pada usia 76 tahun, sedangkan Ema pada usia 64 tahun. Kalau Ema jatuh di depan kamar mandi pada tanggal 3 September 1980 di pagi hari, setelah ia cuci tangan seusai belanja sayuran pada tukang sayur gerobak di depan rumah, maka Engkong juga jatuh di pintu depan rumah ketika mau membuang sisa air dari gelas. Pada saat itu, sebetulnya Engkong sudah menyandang “5B�, yaitu Budek-Bureng-BingungBeser-Bablas. Itulah yang terjadi pada tanggal 1Agustus 1986 pagi, ia terjatuh dan “bablas� pada hari itu juga Walaupun mereka belum sempat dibaptis, tetapi mereka masing-masing pernah menyatakan alasan mereka kepada Mom. Ema mau tunggu agar bisa dibaptis sama-sama dengan Engkong dan tidak berani meninggalkan tugasnya untuk sembahyang kepada leluhur. Sebaliknya Engkong setelah ditinggalkan Ema, menyatakan bahwa ia tidak berani ikut kebaktian di gereja karena ia tidak bisa 684


tahan buang angin dan juga tidak bisa tahan kalau mau buang air kecil maupun b.a.b, semua alat-alat saluran akhir sudah “dol”, bisa-bisa ganggu orang kebaktian karena harus bolak-balik WC. Mom ingat, Engkong sambil tersenyum nakal suka mengatakan: ”Nanti elu juga yang bakalan malu kalau Papa kentut melulu di gereja, terus entarentar musti ke belakang”. (Engkong ini memang selalu punya gaya bicara dan ucapan yang luculucu, yang bikin kita jadi tertawa, tentu kalian juga masih ingat...). Sebelumnya, pernah Pdt. Sem dan para tua-tua beberapa kali melawat Engkong di rumahnya. Ketika ia meninggal, Mom sangat terkesan dengan ucapan seorang tua-tua yang dikenal baik oleh seluruh keluarga kami, yaitu tante Tilly, mengatakan: ”Kepada seorang penyamun yang digantung di sebelah salib Yesus saja Ia menyatakan bahwa pada hari itu juga engkau akan ada bersama Aku di Firdaus, apalagi papanya ade Winny yang memang sudah menyatakan keinginannya kepada pendeta”. Ucapannya itu sangat menghibur Mom dan sekaligus juga membuat Mom punya harapan akan keselamatan yang Tuhan sediakan juga bagi mereka. Mom percaya, Allah kita punya kedaulatan untuk melakukan apa saja yang ingin dan patut 685


dilakukanNya, Allah kita juga Mahapengasih dan Mahapengampun, Maha segala-galanya. Bukan seperti kita manusia, yang bisa melihat semut di seberang lautan padahal balok di depan mata tidak terlihat. Namun tetap ada pelajaran berharga yang dapat kita tarik dari pengalaman Ema dan Engkong ini, yaitu: jangan menunda-nunda sampai hari esok apa yang dapat kita lakukan pada hari ini (don’t wait until tomorrow, what you can do today). Sayang, itulah yang telah dilakukan Ema dan Engkong, selalu menunda dan menunggu kalau sudah ini dan itu...�. Kemudian, dalam tahun 1987 ada tiga kematian yang terjadi secara berturut-turut dalam keluarga besar kami.

686


Pada tanggal 2 Mei 1987, Opa dipanggil pulang oleh Tuhan. Beberapa bulan sebelumnya, Opa mengalami penyakit Livercerrhosis(= kanker lever), yaitu pengerasan lever atau hati. Ia tidak mau diopname di rumah saki sehingga Dad merawatnya di rumah dibantu Tris yang pada saat itu memang sudah kuliah di Fakultas Kedokteran. Untunglah mereka sudah tinggal di rumah sebelah dengan pintu tembus. Ketika ia sudah tidak bisa mandi sendiri, kami minta tante Ida yang melayaninya karena tante Ida memang profesinya perawat, sebelum ia menikah dengan Engku Gin Tjiang. Ada tambah satu “perawat gadungan� atau amatiran, yaitu Ita. Ingat kan, bagaimana Ita menolong Opa ketika mau buang air kecil sementara sudah tidak bisa turun dari ranjang? Kemudian Dad minta seorang internist datang melihat Opa di rumah. Internistnya adalah seorang senior tingkatan jauh di atas Dad, yaitu Dr.Zainal. Beliau pernah jadi dokter istana di jaman Orde Lama dan saat Opa sakit beliau sedang sama-sama Dad jadi dokter konsultan di rumah sakitnya Om 687


Yauw Pang: Dharma Sakti. Dad tertarik minta beliau datang karena beliau tidak berkeluarga dan tinggal serumah dengan beberapa orang paman dan bibinya yang sudah lanjut usia. Pikir Dad, tentu banyak pengalamannya dalam menangani orangorang lanjut usia. Setelah ia memeriksa Opa, ternyata Opa harus diberikan infus Albumin. Infuspun dilakukan di rumah. Kesehatan Opa tambah merosot. Dan pada suatu hari, yaitu pada tanggal 1 Mei, tiba-tiba Opa minta dipanggilkan salah seorang pendeta dari gereja Waha. Ia menyebut-nyebut nama Pdt. Sem yang kebetulan pada hari itu sedang berulang-tahun. Namun Pendeta Sem langsung datang. Semua anak-anak Opa pun ditilpon. Satu per-satu berdatangan setelah Pendeta Sem pulang. Saat ada Pendeta Sem, Opa menyatakan kepada pendeta bahwa ia ingin menyerahkan dirinya dengan sukarela kepada Tuhan, kalau memang saatnya sudah tiba. Kamipun seisi rumah berlutut mengelilingi pembaringan Opa dan dengan dipimpin oleh Pak Sem kami menyanyikan lagu �Aku Berserah�, diulang-ulang untuk beberapa kali. Kami menyanyikannya dengan penuh rasa haru dan airmata yang tak dapat dibendung lagi. Semalaman itu anak-anak dan mantu kumpul semua sampai larut malam. 688


Pesan yang sangat mengesankan yang diucapkannya di hadapan beberapa orang anak dan mantu adalah singkat, ia hanya mengucapkan: ”Jalanin hidup harus yang benaaaar” (kita semua pasti masih jelas teringat akan gaya bicara dan suara khas Opa). Bertambah malam, Opa mulai ngelindur dan berkata: ”Kebakaran, ada kebakaran tuh di kota”. Keesokan paginya, sekitar jam lima, Opa minta diberikan sebatang rokok, tapi kami berikan dulu satu cangkir Milo dan sepotong roti kismis dari Gandhy. Kemarin malamnya ia ingin makan roti kismis dari Gandhy, jadi kami minta tante Lyd membelikannya sebelum datang ke sini. Setelah itu, barulah ia merokok. Setelah selesai merokok, Opa bangun dan jalan menuju kamar sebelah melalui pintu tembus sambil dipapah sambil menanyakan: ”Mana nyonya saya?” Oma waktu itu masih tertidur di kamar sebelah. Opa hanya menatap Oma sebentar, lalu ia kembali ke tempat tidurnya. Lalu ketika melihat Dad, ia menunjuk Dad dan menyebutkan nama teman baiknya yang sudah lama almarhum: ”Eh, Giok Hoo, Giok Hoo...”. Semakin lama Opa semakin lemah, karena nafasnya juga semakin berat akibat slijm yang 689


terlalu banyak memenuhi dadanya. Dad dan Tris mencoba menyedot slijm itu dengan alat vacuum khusus, namun karena tangan Opa menggapaigapai minta stop, jangan sedot lagi, maka Dad pun menyerah. Lalu, Opa minta dibacakan Alkitab. Ita memilih kitab Ayub, bagian yang memang Opa paling suka. Nafas Opa semakin pendek, semakin jarang, dan achirnya Opa menghembuskan nafasnya yang terachir di pelukan Ita, disaksikan Dad dan Tris. Itulah saat-saat terachir sebelum Opa menghembuskan nafasnya yang terachir. Ia telah mengachiri perjalanan hidupnya dalam usia 90 tahun kurang satu bulan. Opa dikremasi di krematorium Cilincing dan abunya pun ditabur di sana dengan diiringi lagu “Di seberang Senja� atau �Beyond The Sunset�. Berachirlah lagi sebuah perjalanan hidup dari seorang suami, ayah, opa dan kongco yang hidup begitu akrab dengan Firman Tuhan. Berikutnya, di-awal bulan Juni, kami bersama saudara-saudara Mom yang ada di Jakarta berangkat ke Bandung karena kakak Mom yang paling besar, tante Corry, telah dipanggil pulang dalam usia 58 tahun. Tekanan darahnya memang tinggi. Pada waktu liburan itu, ketika anak-cucu 690


sedang kumpul, rupanya Tante Corrie terlalu banyak mengkonsumsi “sate pork�, menurut cerita yang Mom dengar. Rupanya ia meninggal karena terserang stroke. Setelah tante Corry meninggal, kesehatan Engkong Cimahi juga menurun. Kalau diingatingat, sejak Mom masih sekolah dan tinggal di Kampung Bali di tahun 1949 sampai dengan saatsaat sebelum tante Corry meninggal di bulan Juni 1987, engkong Cimahi ini sering bolak-balik Cimahi-Jakarta naik bis atau kereta api BandungJakarta. Tapi kemudian ia terpaksa stop karena terkena Ostheo-Arthritis, sehingga kami lah yang suka pergi ke Cimahi menengoknya. Ia sempat bercerita pada Dad, bahwa masa lalunya sangat kelabu. Ia sangat menyesali masa muda yang telah dilaluinya dengan penuh kesia-siaan. Orang Belanda bilang: �Berouw kom steeds telaat�, artinya: penyesalan selalu datangnya terlambat. Namun, lebih baik datang terlambat daripada samasekali tidak pernah bertobat tentunya. Engkong Cimahi meninggal di awal bulan September pada usia 84 tahun. Setelah diadakan kebaktian pelepasan di Rumah Duka, jenazah dibawa ke Jakarta untuk dikremasikan di Cilingcing. Abunya pun ditabur di sana. Selesai satu perjalanan 691


hidup lagi dari seorang ayah dengan tujuhbelas orang anak. Sebetulnya, sebuah kematian tidak seharusnya dikelompokkan dalam peristiwa duka, karena menurut kesaksian rasul Paulus hidup rohaniah kita tidak tamat, melainkan bersambung setelah kematian. Ia menulis: �...kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan� (2 Kor 5:8). Hidup badaniah akan berachir namun hidup rochaniah akan bersambung dengan hidup sorgawi.Namun bagi kami manusia, akan tetap menganggap sebuah kematian sebagai satu kedukaan karena kami harus berpisah dengan orang-orang terdekat yang kami kasihi. Demikianlah suka-duka datang silih berganti dalam kurun waktu beberapa tahun saja, setelah Mom diteguhkan jadi tua-tua pada bulan Maret 1983. Banyak peristiwa suka-duka yang terjadi dalam keluarga besar dan apalagi di tengah-tengah aktivitas Mom dalam kehidupan bergereja. Dari mulai melayani pemberkatan pernikahan, pengucapan syukur kelahiran anak, melawat anggota jemaat atau teman yang keluar masuk rumah sakit atau yang sakit dan dirawat di rumahnya sendiri, melayani kebaktian penghiburan dan pemakaman pada sebuah kematian, menghadiri rapat-rapat dan mencari dana 692


pembangunan gedung gereja, semua kegiatan itu merupakan kesibukan-kesibukan yang mewarnai kehidupan Mom dari tahun 1983 sampai dengan tahun 1996, sampai gedung gereja yang baru selesai dibangun. Dalam kurun waktu itu juga, kalian berturut-turut menyelesaikan studi kalian dan memasuki kehidupan rumah tangga masing-masing. Sempat kami kumpul di bawah satu atap dan Tuhan menganugerahkan cucu satu per-satu bagi Mom dan Dad. Ketiga cucu pertama yang lahir ketika anak-anak masih tinggal serumah dengan kami

693


Achirnya, kalian pada satu per-satu juga berhasil punya sarang masing-masing. Hanya Tris yang masih harus melanjutkan studi lagi ke Jerman dengan membawa isteri dan dua orang anaknya, Nadia dan Biyan. Sempat keluarga besar kami bergantian mengunjunginya di Bad Oeynhausen, Jerman. Ada selingan yang menggembirakan dan ada juga yang lain bentuknya. Namun semua ini telah mewarnai hidup kebersamaan keluarga besar kami sehingga menjadi sangat “colourful�. Kita mundur ke belakang sebelum kalian menikah, ada beberapa kejadian yang termasuk hal-hal yang mendukakan, kalau mau dimasukkan dalam bagian dari suka-duka. Di awal tahun 1989, Dad tiba-tiba mengalami infeksi saluran kandung kemih karena ada batu. Waktu buang air kecil, ia merasa kesakitan dan ada darah di urine. Ia harus masuk rumah sakit untuk menjalani ESWL. Namun karena prostatnya juga sudah membesar, maka Dr.Firdaus yang melakukan ESWL menganjurkan agar prostatnya sekaligus di-tur karena lokasi pembiusannya sama, sehingga nanti kalau prostat tambah besar lagi tidak jadi dua kali kerja. Ia baru menyatakan hal ini pada saat melakukan ESWL sehingga menjadi satu fait-a-complit bagi Dad. Tetapi karena keputusan harus diambil pada saat itu juga, achirnya tur 694


prostate itu di lakukan juga. Untuk beberapa hari lamanya Mom menemani Dad di RS. Pelni, paviliun Melati. Saat itu kami sudah akrab sekali dengan keluarga tante Hanny dan oom A Sun. Kami sempat pergi ke Bali berempat di bulan Oktober 1988 (itu adalah bagian “Suka� nya). Liburan kami berempat ke Bali ini ternyata merupakan liburan kami yang pertama sebagai honeymooners paruh baya. Sebelumnya, kami selalu berlibur dengan anak-anak.

Reuni Mom bersama Tante Hanny dan Oom A Sun (alm) yang akhirnya malahan menuju hubungan besan

Kemudian di bulan Juli 1989, Om A Sun masuk rumah sakit Sumber-Waras karena serangan jantung. Tidak disangka kalau pada tanggal 27 Juli 695


malam, Tuhan telah memanggilnya pulang ke pangkuanNya. Mungkin ini yang dimaksud oleh Pdt. Ben, ketika ia mengomentari lagu �Tuhan Pimpin Hidupku�, yang sering kita nyanyikan bersama. Bahwa kadang Tuhan tidak menghalaukan gunung yang sangat tinggi atau meredakan badai hidup yang besar, namun Ia memberikan kekuatan dan pundak yang kokoh untuk dapat menanggung beban yang berat. Itulah yang telah diberikan Tuhan kepada tante Hanny: pundak yang kokoh untuk dapat menanggung beban yang berat itu. Kami salut pada tante Hanny yang pada saat penulisan ini masih bisa bertahan menjalankan usahanya bersama keempat putrinya yang telah berumah-tangga semua. Dan sekarang bahkan ia mengambil bagian dalam bidang pelayanan dan menjadi ketua lingkungan di Parokinya. Bukan hanya satu kali ia harus menghadapi kehilangan pasangan hidupnya, tapi dua kali. Tapi, dua kali juga Tuhan memberikan ia bahu yang kokoh untuk menanggung beban. Terima kasih, Tuhan! Belum lagi peristiwa oom Pam dengan puterinya Liana dan cucunya Willy yang hangus terpanggang dalam peristiwa kebakaran yang mengerikan di tahun 1998.

696


Belum lagi kematian Ema Cimahi pada tanggal 10 November 1994 pada usianya yang ke 84. Ia sempat di-opname di rumah sakit Harapan Kita untuk beberapa hari karena mengalami Aneurisme (cerita selanjutnya sudah diceritakan dalam Bab. 23 �Asal-Usul Ema dan Engkong Cimahi�). Kemudian Oma yang meninggal di rumah kontrakan di sebelah, pada saat uncle Bob berkunjung ke Indonesia. Uncle Bob pulang ke sini karena oom Ape sudah mempunyai firasat bahwa Oma mungkin tidak akan bertahan lama lagi. Saat itu usianya sudah jalan 92 tahun. Sebelum meninggal, Oma sempat jatuh ketika mau buang air kecil di kamar, walaupun selalu ditemani seorang suster. Tulang pangkal pahanya retak dan sejak itu kesehatannya menurun terus, nafsu makan pun hilang. Pada suatu malam, ketika kami mengajak uncle Bob makan di Plaza Indonesia, kami menerima tilpon dari Iwan yang sudah lebih dulu menerima tilpon dari Lasno di rumah: Oma keadaannya kritis. Kamipun cepat-cepat kembali ke rumah, namun tidak lama kemudian Oma pun menghembuskan nafasnya yang terachir. Malam kejadian itu adalah 10 Desember 1997. Pada tanggal 25 Oktober 1997, kami masih sempat membuat foto keluarga bersama Oma, atas inisiatif Tris karena sudah ada 697


keputusan Tris akan melanjutkan studinya untuk bedah jantung di Bad Oeynhausen, Jerman.

Inilah foto keluarga besar kita yang terakhir bersama Oma, 25 Oktober 1997. Dua bulan kemudian, Oma meninggalkan kita untuk selamalamanya pada tanggal 10 Desember 1997.

Mengenai Tris, dalam bulan Maret 1998 ia berangkat ke Jerman bersama rombongan lima orang dokter lainnya. Kemudian, pada tanggal 31 Juli 1998 menyusullah Lenny besrta Nadia dan Biyan berangkat ke Jerman. Di tahun yang sama dengan keberangkatan mereka, pada tanggal 13 Mei telah terjadi kerusuhan di hampir seluruh kota Indonesia 698


(terutama Jakarta), di mana terjadi penjarahan dan bakar-bakaran termasuk pemerkosaan dan pembunuhan-pembunuhan. Peristiwa ini dikenal dengan �Kerusuhan 13 Mei�. Kami bersyukur achirnya dapat melewati masa ini dengan selamat walaupun banyak terjadi ketegangan-ketegangan karena terpencarnya anggota keluarga. Iwan tidak dapat menembus jalan pulang dan tertahan di Tomang. Ita masih sempat menembus jalan pulang dan merupakan mobil terachir yang masih bisa selamat menembus jalan, sebelum Tops Mini Market di Semanan kemudian dibakar dan semua mobil yang lewat dijarah. Sementara, di Petamburan Polytron habis dijarah. Lenny yang pada waktu itu masih belum berangkat ke Jerman, masih berusaha merekam para penjarah yang lewat di depan gang rumah kami, tapi Mom menghalanginya karena takut kalau terlihat oleh penjarah bisa-bisa mereka akan menyerbu rumah kami. Tris pada saat itu sudah terpisah dengan keluarga, ia sudah berada di Jerman. Dengan perlindungan dan penyertaan Tuhan tentunya, maka kami bisa terluput dari tindakantindakan anarkhis yang terjadi saat itu.

699


Pada tanggal 31 Juli 1998, Lenny, Nadia dan Biyan tetap berangkat menyusul Tris dan dijemput Tris di Amsterdam. Pada saat penulisan ini, Tris sudah sejak tahun 2005 kembali ke Indonesia dengan menyandang gelar “Heart Surgeon�.

Tris sekeluarga bermukim selama 6 tahun di Jerman karena mendapatkan beasiswa untuk mendalami spesialisasi bedah jantung

Selama Tris di Jerman, kami satu per-satu mengunjungi mereka di sana untuk melepas kangen. Memang bukan main perjuangan Tris di sana untuk belajar sambil bekerja di tengah lingkungan dan budaya kerja orang Jerman yang terkenal keras. Demikian pula Lenny yang harus mendampingi Tris dan tentunya anak-anak yang pada saat itu masih pada kecil-kecil. 700


Kunjungan Mom & Dad ke BO pada tahun 2000, dua tahun setelah Tris sekeluarga menetap di sana

Iwan sekeluarga menyusul Mom & Dad ke BO dua bulan kemudian, setelah mereka keliling Eropa terlebih dahulu. 701


Kunjungan berikutnya adalah Ita dan Nia, pada saat Winter, bulan Desember 2003. Ini adalah suasana dingin yang penuh salju ketika mereka diajak Tris sekeluarga dari Jerman naik mobil ke Amsterdam.

Dan ini adalah tempat tinggal Tris sekeluarga selama di Jerman, yaitu di Richard Wagner Strasse 1, BO, dalam suasana merayakan malam Natal 2003. 702


Di bawah ini adalah foto-foto Mom & Dad selama berkunjung ke BO dan sekitarnya pada tahun 2000

703


Selanjutnya, adalah bagian Tris dan Len untuk melanjutkan menulis riwayat hidup untuk anakanak kalian dan memberikan kesaksian bagaimana Tuhan telah menggembalakan kalian seperti boleh dialami oleh raja Daud di dalam Mazmur 23:1: “Tuhan adalah Gembalaku, takkan kekurangan aku�. Peristiwa yang memprihatinkan juga dalam keluarga besar kami adalah kehidupan rumah tangga anak bungsu kami yang hanya berlangsung sekitar delapan tahun. Setelah lahir dua orang anak, Nia dan Niko, maka rupanya pernikahan mereka tidak dapat dipertahankan lagi. Memang, anak-anak tetap memiliki ayah dan ibu mereka walaupun tidak tinggal di bawah satu atap lagi. Malah, hubungan mereka pun tetap bisa berjalan tanpa permusuhan dan masing-masing bertanggung jawab sebagai orangtua, namun 704


dalam porsi yang timpang mungkin. Kalau seorang ayah bisa merasa cukup jika dapat memenuhi kebutuhan materi anak-anak, lain halnya dengan seorang Ibu. Dalam hal ini, Mom dan Dad selalu berdoa agar sebagai single mother, Ita diberi kekuatan hanya oleh Tuhan saja dalam memenuhi kebutuhan materi maupun batin anak-anaknya. Kalau suatu pernikahan ini dapat dibandingkan atau diumpamakan sebagai sebuah pertandingan badminton atau tennis, maka peran suami istri dalam sebuah pernikahan itu kira-kira mirip dengan peran pemain ganda (double). Kebetulan kami di masa remaja keduanya senang berolahraga badminton, bahkan setelah kami menikah dan punya dua orang anak dan masih tinggal di Samarinda, masih sering kami main badminton berpasangan-pasangan suami isteri dari beberapa jawatan. Ternyata, permainan double itu sangat bagus untuk character building pasangan suami isteri. Bayangkan, kita main berdua untuk mencapai kemenangan untuk berdua dalam pertandingan itu. Memang, kadangkala racket kita bertabrakan karena sama-sama mengejar kock agar jangan sampai jatuh ke tanah. Kadang kock yang menuju ke bagian pasangan kita tetap kita kejar saat kita lihat pasangan kita sudah keletihan, demikian sebaliknya. Yang penting, tentunya harus �dijaga� agar jangan sampai racket kita 705


berbenturan. Ah, alangkah indahnya kalau di dalam hidup pernikahan kita juga dapat berbagi tugas dengan sharing partner kita seperti ini. Rupanya, kegagalan seperti permainan double ini terjadi di dalam hidup pernikahan anak kami yang bungsu, sehingga sekarang mereka bertarung dalam pertandingan single. Tentunya, sebagai single parent berat sekali bagi pihak ibu walaupun tetap dibantu secara materi, karena anak-anak juga sehari-hari butuh kasih sayang yang harus dipenuhi secara fisik dan mental, yang sangat menguras energi. Sebagai orangtua, kami tetap mendoakan dan minta Tuhan mau campur tangan dalam persoalan rumah tangga mereka dan memberikan jalan keluar yang terbaik bagi mereka dan anak-anak mereka. Dari awal memang sebagai orangtua kami tadinya selalu tidak mau bertindak otoriter baik dalam hal memilih jurusan pendidikan, maupun memilih pasangan hidup. Kami lebih banyak memberikan kebebasan kepada anak-anak kami, sebagai anakanak Tuhan tentunya mereka harus menggumulinya bersama Tuhan. Namun, Mom dan Dad memetik sebuah pelajaran juga dalam ini, yaitu bahwa sebagai orangtua ternyata kadang706


kadang kita juga harus ”berani” melakukan tindakan-tindakan ”pengamanan” yang tujuannya tidak lain adalah untuk kebahagiaan anak kita juga kelak. Seperti Opa dulu waktu meng-”cut” hubungan O-De dengan calon suami yang ternyata bertemperamen keras. Namun kembali lagi, masalah jodoh ini juga ada di tangan Tuhan. Karam atau tidaknya bahtera rumahtangga, juga merupakan salah satu dari sekian banyak misteri kehidupan. Nasi sudah menjadi bubur. Harapan kami, Ita bisa jalani hari lepas hari yang mungkin pada saat ini terasa sangat berat dijalani namun dengan tetap mengandalkan kekuatan dari Tuhan. Ada sebuah ilustrasi mengenai kehidupan seekor unta yang harus menanggung beban setiap har,i dari pagi sampai petang. Konon, unta itu dengan punggungnya yang tinggi, setiap pagi akan menekuk lututnya pada saat sang majikan akan meletakkan beban yang harus diangkutnya ke sebuah tempat. Seharian ia akan berjalan dengan menanggung beban itu, tetapi pada petang hari ia akan kembali berlutut dan sang majikan akan mengangkat bebannya agar ia bisa istirahat dan tidur. Semoga Ita sebagai single parent yang harus menanggung beban setiap hari dapat memakai 707


ilustrasi ini sebagai sumber kekuatan karena bukankah Tuhan sebagai “majikan� kita juga setiap petang akan mengangkat semua beban yang kita harus pikul hari lepas hari? Biarlah Tuhan saja yang akan membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Jangan lupa, Tuhan adalah Sutradara kita yang Agung!

708

ebook for mom  

Golden anniversary of mom and dad