Page 1

Baca juga Media Aspirasi versi digital (e-paper) di www.mediaaspirasi.co.id

3 Tahun PLTU Nunggak Pajak BACA HALAMAN

DPR Harus Peka Nasib Asongan

3

BACA HALAMAN

Jalan Perbatasan Memprihatinkan

5

BACA HALAMAN

Langganan Koran?

10

Hubungi: 0352 - 489219 Harga Eceran Rp. 2.500,-

Media ASPIRASI KORAN UMUM

EDISI 50 I 5 - 11 MARET I TAHUN 2014

www.mediaaspirasi.co.id

SELANGKAH LEBIH DEKAT

@media_aspirasi

media aspirasi

mediaaspirasi@ymail.com

(0352) 489219

!

1 Tahun, Terus Menjaga Kualitas Oleh: W Arso *)

TIDAK terasa, sudah setahun Media Aspirasi hadir sebagai salah satu media di kalangan masyarakat Eks Karesidenan Madiun. Setahun sudah, Media Aspirasi terus berbenah, menyerap aspirasi pembaca untuk memenuhi suguhan informasi aktual, objektif dan berimbang. Ya, akhir Februari lalu, koran dengan tagline ‘Selangkah Lebih Dekat!’ ini tepat berusia satu tahun. Puncak peringatan ulang tahun perdana itu, dirayakan dengan cukup sederhana di Kantor Pusat Media Aspirasi, Jalan Kalimantan 127 Ponorogo, Minggu (2/3). Usia satu tahun kami akui usia yang masih sangat belia bagi sebuah perusahaan media. Dan kami sadar bahwa masih banyak rintangan untuk menjadi sebuah media yang benar-benar kokoh. Karena kami sadar, jalan terjal terus menghadang dan menanti kami di depan. Berawal dari keterbatasan yang ada, kami terus berpacu. Sehingga mulai bisa diterima dan dicari pembaca. ke halaman 11

KRIMINAL Kapolres Ancam Buka Tutup Muka

DPO Bandar Judi Tunggu Waktu PONOROGO, Media Aspirasi – Naiknya kasus penyakit masyarakat pada Bulan Januari -februari 2014 ini terutama pada kasus perjudian membuat Kapolres Ponorogo AKBP Iwan Kurniawan geram. Kapolres yang dikenal cukup tegas ini mengancam bakal membuka tutup muka para tersangka dan mempublikasikanya jika tidak jera dan cenderung mengulang kembali perbuatannya. ke halaman 11 MEDIA ASPIRASI/ARSO

LULUS K2 TIDAK JAMINAN kti u b r e T a t Jika Da latif Manipu

PONOROGO, Media Aspirasi – Sekretaris Daerah (Sekda) Ponorogo mengaku siap mencoret OPP salah satu peserta yang lolos rekrutmen

MEDIA ASPIRASI/DIDIK PURWANTO

CPNS honorer K2. Sikap itu dilakukan bila tudingan manipulasi data yang digunakan anak mantan kepala UPTD Sukorejo ini benar adanya. ke halaman 11

Kajari Bakal Babat Koruptor Bansos Upaya Penghilangan ‘BB’ Bakal Disikat

KAPOLRES, AKBP Iwan Kurniawan saat menggelar rilis.

ASUSILA Diduga Selingkuh, Kepala UPT Digerebek NGAWI, Media Aspirasi - Diduga berselingkuh dengan Wanita Idaman Lain (WIL), Setu Kepala UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Pangkur diperkarakan warga Dusun Ngladok, Desa Cantel, Kecamatan Pitu, Sabtu (01/03). Peristiwa berawal ketika Setu bertamu kerumah Listiani yang berstatus janda sekitar pukul 09.00 WIB pada Selasa pagi awal pekan lalu (25/02). ke halaman 11

PONOROGO, Me“Kita belum bisa dia Aspirasi - Kejakmemberikan ketsaan Negeri (Keerangan tentang jari) Ponorogo hasil pemerikgetol melakukan saan namun pemeriksaan prinsipnya keterhadap saksi jaksaan serius dalam kasus menangani dugaan pekasus ini, kanyelewengan lau memang penggunaan nanti ditemudana hibah dan kan indikasi Bansos tahun penyelewengan anggaran 2013. atau dugaan koPemeriksaan ini dirupsi tetap kita lakukan untuk menbabat,” tegas dalami kasus yang Sucipto, Kajari berkembang hangat Ponorogo (03/03) SUCIPTO, Kajari Ponorogo dimasyarakat. Sejumdikantornnya. lah Pokmas sudah mulai dilakukan Kajari menegaskan saat ini pihaknya pemanggilan namun kajari belum sedang melakukan pengumpulan ketmau memberikan keterangan atas erangan (Pulbaket) dan pengumpulan hasil dari pemeriksaan tersebut. data (Puldata). ke halaman 11

mas tono

NGAWI, Media Aspirasi - Situs Arca Banteng di Dusun Reco Banteng, Desa Wonorejo, Kecamatan Kedunggalar, Ngawi kini kondisinya makin terbengkalai. Kondisi tersebut, disebabkan

kurangnya perhatian dari pemerintah. Padahal satu sisi situs tersebut merupakan aset daerah baik Pemkab Ngawi maupun Pemprop Jawa Timur. ke halaman 7

Tidak Ada Biaya, Rela Tidur Beralaskan Bambu Rumah itu tampak lusuh dan reot termakan usia, lantainyapun hanya dari tanah yang tidak rata. Ketika menengok ke bagian belakang, tembok rumah yang runtuh itu belum diperbaiki. Catatan ENDANG WIDAYATI, dari Ponorogo

SUGIJANTO, Mantan Kades Pohijo dan Caleg DPRD Ponorogo

Situs Arca Banteng Makin Terbengkalai, Salah Siapa?

Kisah Pilu Katemi, Bakul Rangginan Asal Kauman, Ponorogo

iku, jarene....

Beliau sosok yang amanah dan peduli dengan masyarakat.”

SITUS Arca Banteng di Desa Wonorejo, Kecamatan Kedunggalar, Ngawi

D

i rumah itulah tinggal Katemi (70) nenek penjual rangginan dipasar Kauman, Somoroto yang saat ini terbaring tak berdaya karena sakit yang dideritanya. Nenek renta warga Dusun Damar, Desa Kauman ini menderita penyakit maag akut sejak dua bulan lalu. Kemiskinan membuat perempuan tua ini tidak mampu berobat. Jangankan di rumah sakit, di Puskesmas pun dia tidak mampu karena ketiadaan biaya. Dengan ditunggui anak lelakinya, Katemi terbaring dibalai-balai bambu tanpa kasur. Sunarto putranya yang selalu setia dan

penuh perhatian selalu merawatnya,“ya kemarin sempat dua hari dirawat di Puskesmas Kauman dan menghabiskan uang Rp.350 ribu, trus kita bawa pulang karena kata dokter sudah membaik,”kata Sunarto. Namun sampai dirumah kondisi Katemi semakin memburuk, tidak mau makan dan muntah terus. Keluarga kebingungan, karena ditangan sudah tidak ada lagi uang untuk biaya berobat, ditambah lagi dia tidak memiliki kartu Jamkesmas maupun Jamkesda. Untuk itu diputuskan untuk dirawat dirumah saja dengan meminta bantuan mantri kesehatan setempat. Pertimbangannya, bisa menekan biaya perawatan dan pengobatan. Diantaranya, tidak lagi mengeluarkan biaya sewa kamar dan uang saku bagi yang menunggu bila di rawat di rumah sakit. “Eh ternyata malah lebih berat biayanya, selama 5 hari minta bantuan pak mantri malah menghabiskan Rp.1,3 juta. Berat sekali ini,” ucap Sunarto, penuh iba. Bukan tidak berjuang, Sunarto sebagai anak untuk mendapatkan pengobatan gratis dari pemerintah buat ibunda tercintanya yang telah merawatnya. ke halaman 11

MEDIA ASPIRASI/ENDANG WIDAYATI

SUNARSIH dan Sunarto sedang menunggui Katemi (ibunya) yang terbaring sakit dengan hanya beralaskan tikar usang.


2

POLITIK

EDISI 50 5 - 11 MARET I TAHUN 2014

KPUD REKRUT OUTSOURCING

PILEG MEDIA ASPIRASI/ ARI

Ribuan Surat Suara Pileg Tak Dijaga Polisi LOGISTIK surat suara pileg 2014 ditampung di gudang bekas Pabrik Mori dibiarkan tanpa penjagaan aparat kepolisian.

KPU Ponorogo Sembrono PONOROGO, Media Aspirasi – Koordinasi antara KPU kabupaten Ponorogo dengan pihak kepolisian benar-benar lemah. Sebagai penyelenggara pemilu, KPU sembrono dalam memperlakukan dokumen rahasia milik negara. Lantaran, ribuan surat suara pemilu legislatif tidak mendapatkan penjagaan pihak kepolisian sama sekali. Tumpukan surat suara DPR RI yang ditampung di Gudang Bekas Pabrik Mori desa Sukosari Babadan dibiarkan tanpa penjagaan aparat. Hal ini pun dikeluhkan Suroso Sekretariat KPU Kabupaten Ponorogo. Sebab, tidak ada satu pun aparat kepolisian yang berjagajaga mengamankan logistik pemilu tersebut. Polisi hanya mengawal suara ketika datang Sabtu (1/3) lalu sekira pukul 12.00 WIB. “Waktu kedatangan logistik surat suara Sabtu kemarin memang dikawal, tapi setelah itu ketika ada di gudang tidak ada aparat,” terang Suroso kepada Media Aspirasi, Minggu (2/3). Pihaknya mengaku merasa was-was terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Apalagi, selain surat suara, ada sejumlah logistik yang ditampung di gudang. “Siapa sih yang tidak was-was kalau tidak dijaga polisi, ini dokumen penting milik negara,” akunya. Berdasarkan pantauan koran ini, di dalam gudang hanya ada pekerja yang melakukan stempelisasi amplop dan menata alat coblos. Tidak ada penjagaan khusus terhadap aktivitas dan logistik pemilu yang tinggal 39 hari lagi ini. Pihaknya berharap, pihak kepolisian segera melakukan pengamanan terhadap adanya logistik pileg tersebut. “Kami berharap pihak kepolisian melakukan penjagaan,” harapnya. Menurut Suroso, surat suara yang sudah datang baru untuk DPR RI saja. Sedangkan untuk DPR Daerah Tingkat I dan II serta DPD belum juga datang. Surat suara yang dibawa menggunakan truk Tronton, Sabtu (1/3) lalu itu berisi 782 dus surat suara. Sebanyak 781 boks berisi penuh seribu suara, sedangkan yang satu bok hanya berisi 829 surat suara. Sehingga total surat suara DPR RI di Ponorogo sejumlah 781.829. “Itu terdiri dari 766.499 surat suara sesuai DPR ditambah filasi 15.330,” sebutnya. Rencananya, ribuan surat suara itu bakal disortir dan pelipatan mulai Senin (3/3) besuk. Pihaknya bakal mengerahkan sedikitnya 200 orang pekerja dengan upah Rp 100 perlembar. “Ya, sortir dan pelipatan baru besuk (Senin, red),” pungkasnya. (ari)

Siap Fasilitasi Kaum Difabel dan Warga Rutan

PACITAN, Media Aspirasi – Terbatasnya sumberdaya manusia (SDM) yang dimiliki serta tugas beratnya tugas yang harus dihadapi pada Pemilu nanti, Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Pacitan, melakukan rekrutmen tenaga outsourcing. Rekrutmen hanya dilakukan pada bidang-bidang tertentu. ‘’SDM di KPUD memang terbatas,’’ ucap Sekretaris KPUD Pacitan S Budisantoso, Senin (3/3). Jumlah tenaga outsourcing

yang direkrut sebanyak empat orang dari 13 orang yang sebelumnya mengajukan lamaran. Mereka akan bertugas selama 10 bulan untuk bidang rekapitulasi pemungutan dan penghitungan suara serta bidang penyusunan anggaran tahapan pemilu. Selain itu juga di bidang laporan pertanggungjawaban penggunaan anggaran tahapan pemilu, serta bidang pengelolaan sistem informasi logistik pemilu. Budi menjelaskan, sebelum dinyatakan lolos sebagai tenaga outsourcing mereka terlebih dahulu harus melalui seleksi dari panitia kecil bentukan Sekretariat KPUD di bawah pantauan Ketua KPUD. Setelah

dinyatakan memenuhi syarat, mereka yang lolos kemudian melaksanakan tugas sesuai kompetensi masing-masing. ‘’Mereka mulai bertugas sejak Maret ini sampai bulan Desember 2014,’’ jelasnya. Lebih lanjut Budi mengatakan, rekrutmen tenaga outsourcing sesuai ketentuan KPU Pusat. Yakni KPUD diberikan kewenangan mengangkat tenaga tambahan selama pelaksanaan Pemilu 2014. Tentu saja, hal tersebut harus didasari alasan demi kelancaran pelaksanaan keseluruhan tahapan pemilu. Soal penganggaran, terutama gaji, sepenuhnya ditanggung KPU

Pusat. ‘’Karena SDM KPUD ini memang terbatas. Di satu sisi hal itu (rekrutmen outsourcing, Red) dianggarkan pada DIPA 2014,’’ kata dia. Mengenai ketersediaan alat bantu bagi kaum difabel yang memiliki hak suara, Ketua KPUD Kabupaten Pacitan Damhudi menjamin akan terpenuhi. Seperti penyandang tuna netra misalnya. Akan disediakan kertas suara dengan spesifikasi khusus di setiap tempat pemungutan suara (TPS). Yakni menggunakan huruf braille. Demikian pula dengan penyandang cacat lainnya. ‘’Kalau misalnya yang cacat tangan, bisa dibantu petugas KPPS (Kelompok Pe-

nyelenggara Pemungutan Suara) dengan surat pernyataan. Jadi untuk fasilitas bagi penyandang difabel kami jamin,’’ terangnya. Sementara, sesuai aturan, fasilitas milik negara juga diharamkan untuk berkampanye. Salah satunya rumah tahanan. Meski demikian Damhudi yakin para warga binaan tidak akan menjadi buta pemilih. Alasannya karena pihak KPUD melakukan sosialisasi ke rutan. Termasuk mengenalkan para calon hingga tata cara pencoblosan kepada para penghuni. Demikian pula para petugas KPPS yang juga berasal dari warga rutan. (dv/dik)

Polisi Antisipasi Kejahatan Kemanusiaan Jelang Pemilu

MEDIA ASPIRASI/KUNCARA

3 TAHUN PLTU NUNGGAK PAJAK

PLTU Sudimoro, sebagai megaproyek nasional justru tak memberikan pendidikan yang baik bagi masyarakat, lantaran menunggak pajak hingga miliaran rupiah. MEDIA ASPIRASI/ELSI BUDI CAHYONO

Terkesan Dibiarkan Hingga Membengkak Rp 1,55 M PACITAN, Media Aspirasi – Keberanian Pemkab Pacitan dalam mengurus pajak di daerah, tampaknya patut dipertanyakan. Sebab, di kota kelahiran Presiden SBY ini, ada megaproyek nasional yang justru member contoh tidak baik: menunggak pajak. Tak tanggung-tanggung. Sikap tidak taat pajak pada megaproyek nasional terhadap Pemkab Pacitan itu, terjadi lebih dari tiga tahun. Angka pajaknya juga tak sedikit. Yakni mencapai Rp 1,55 miliar. Sikap tersebut seolah kontras jika penunggak pajak adalah rakyat kecil, yang seringkali ditangkap polisi jika telat menunggak pajak, meski hanya dua hari.

Banyak Ibu Hamil Kekurangan Energi Kalori

KESIAPAN Polres Pacitan untuk menjaga keamanan Pemilu April mendatang, salah satunya dijajal saat gladi pengamanan pemilu, Kamis (27/2) lalu. PACITAN, Media Aspirasi – Selain disibukkan dengan pengamanan Pemilu, Polres Pacitan juga mewaspadai tindak kejahatan. Salah satunya kejahatan kemanusian berupa penyelundupan imigran gelap yang kerap menggunakan kawasan pesisir Kota 1001 Goa ini sebagai titik pemberangkatan. ‘’Kami akan menggandeng pemerintah daerah untuk mengantisipasinya,’’ kata Kapolres Pacitan AKBP Aris Haryanto usai memimpin gladi pengamanan Pemilu, Kamis (27/2). Menindaklanjuti rencana itu, awal bulan depan kepolisian akan melakukan koordinasi dengan sebutan konsolidasi tiga pilar. Selain dari kepolisian, kordinasi juga melibatkan unsur TNI dan pemkab. Tiga pilar tersebut adalah Badan Pembinaan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Babinkamtibmas) dari unsur Polri, Bintara Pembina Desa (Babinsa/TNI), dan para kepala desa. ‘’Di situlah (pembagian) peran masing-masing, di samping peran kesiapan Pemilu 2014 juga untuk mengantisi-

pasi gangguan kamtibmas. Termasuk people smuggling,’’ ucap Kapolres. Dari catatan Polres Pacitan, dalam kurun tiga tahun terakhir, 2010-2012 terjadi empat kali upaya penyelundupan. Tiga kali di antaranya berhasil digagalkan. Sedangkan satu lainnya berhasil lolos. Jumlah imigran yang coba diselundupkan jumlahnya mencapai ratusan orang. Rinciannya, tahun 2010 sebanyak 37 imigran, 39 imigran (2011), dan 60 imigran (2012). Sedangkan pada satu kasus penyelundupan yang tidak berhasil dideteksi petugas, jumlah imigran yang diselundupkan mencapai 70 orang. Kasus terakhir terjadi pada bulan Agustus tahun lalu. Yakni ketika ada sebuah kapal yang diduga digunakan mengangkut imigran gelap terdampar di Pantai Watukarung, Kecamatan Pringkuku karena kerusakan mesin. Mengenai jumlah personil kepolisian untuk pesta demokrasi lima tahunan, Kapolres menyebut sebanyak 593 orang. Jumlah tersebut belum ter-

masuk personil dari instansi lain. Seperti Satpol PP maupun TNI. Kekuatan sebanyak itu dianggap masih mencukupi untuk pengamanan. Namun jika kemudian muncul ancaman lebih besar, Polres Pacitan akan meminta bantuan personil Brigade Mobil (Brimob) Polda Jatim. ‘’(Permintaan bantuan) disesuaikan dengan tingkat eskalasi. Untuk Dalmas-nya (Satuan Pengendali Massa) kami siapkan tiga SST (Satuan Setingkat Peleton),’’ terang dia. Eskalasi gangguan kamtibmas yang dimaksud Kapolres adalah pada level tiga. Yakni kewenangan Polres, untuk pengendaliannya maksimal hanya menggunakan gas air mata. Sedangkan pada level di atasnya yakni level empat atau lima, melibatkan anggota Brimob. Karena mulai digunakan peluru karet sampai tajam. ‘’Apabila tidak ada tindakan anarkis, anggota Dalmas difungsikan untuk patroli,’’ jelas Kapolres. (dv/dik)

Ki Dalang Imam Sobirin, Caleg Partai Demokrat Nomor Urut 9, Dapil IV Ponorogo

Sosialisasinya dari Panggung ke Panggung Dokumen Pribadi

KI DALANG Imam Sobirin, Seniman Nyaleg.

3

Ya, pajak atas peralihan hak atas tanah dari masyarakat beralih fungsi menjadi PLTU, untuk puluhan hektare tanah di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Desa Sukorejo, Kecamatan Sudimoro, Pacitan, sampai saat ini belum terbayarkan. Sejauh ini, sikap yang dilakukan Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Pacitan, hanya melayangkan surat imbauan. Tidak ada tilang, tidak ada sempritan, dan tidak ada tindakan tegas. Surat imbauan kedua tersebut dilayangkan kepada PT. PLN (Persero) UPJ Pacitan. Yakni selaku pihak yang bertang-

gung jawab terkait belum terbayarnya pajak Biaya Perolehan Hak Tanah dan Bangunan (BPHTB). Menurut Bambang Trenggono, kepala TU BPHTB DPPKAD Pacitan, PT. PLN adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas kasus ini. Tunggakan pajak itu, kata dia, merupakan kumulasi mulai tahun 2011 sampai 2014. Pihak DPPKAD sudah berkoordinasi dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Pacitan, namun sampai saat ini masih masih menunggu Surat Keputusan BPN RI Jakarta. Ditambahkannya, berdasarkan database yang dimiliki DPPKAD, besarnya

tunggakan dari tahun 2011 hingga tahun 2014 ini di kisaran Rp 1,55 miliar. Pajak sebesar itu harus segera terbayarkan, karena sudah hampir tiga tahun ini belum juga terbayar ke DPPKAD. ‘’BPN Pacitan menyampaikan bahwa surat imbauan tersebut sudah disampaikan ke BPN RI Jakarta dan hanya tinggal menunggu saja,’’ terangnya. Sementara, Arif Kurniawan, kasi Hak Tanah dan Pendaftaran Tanah (HTPT) BPN Pacitan membenarkan bahwa PLTU Sudimoro masih mempunyai tanggungan pajak atas peralihan tanah masyarakat menjadi bangunan PLTU. Besarnya tang-

gungan pajak ke DPPKAD sebesar Rp 1,55 miliar dari tahun 2011 sampai 2014 ini. Arif menandaskan, luas tanah yang pajaknya belum terbayarkan seluas 63,4 hektare dan tunggakan itu disebabkan lambannya pihak PT. PLN melengkapi berkasnya. Sementara kelengkapan berkas tersebut baru masuk pada awal Februari 2014 kemarin. ‘’Kami langsung rapatkan dengan BPN RI Jakarta, BPN RI Kanwil Jawa Timur dan PT. PLN (UPJ) Pacitan. Kemudian berkas itu kami masukkan ke BPN RI Jakarta. Tinggal menunggu Surat Keputusan (SK) dari BPN RI Jakarta,’’ katanya. (bc/dik)

KESEHATAN

Ngawi Belum Terima Surat Suara DPRD NGAWI, Media Aspirasi - Meski di daerah lain penyortiran dan pelipatan surat suara sudah dilakukan, namun KPUD Ngawi masih terlihat adem ayem. Bahkan, belum ada kepastian kapan dilakukan proses penyortiran tersebut. Diurungkannya ini tidak lepas dari pengiriman logistik surat suara ke KPUD Ngawi yang belum komplit. Tercatat, surat suara untuk DPRD Kabupaten dan DPD hingga kini belum diketahui jadwal pendistribusianya. Namun, pada Minggu (2/3) kemarin, surat suara DPR-RI maupun DPRD Provinsi sudah diterima KPUD Ngawi dengan disaksikan Panwaskab dan jajaran Polres Ngawi. ‘’Kalau surat suara yang sudah diterima itu, langsung kami amankan di Balai Gedung Eka Kapti sambil menunggu surat suara lainya,’’ terang Komisioner KPUD Ngawi Divisi Logistik Danik Kusumawati, Senin (3/3). Sementara, kelengkapan lainnya seperti bilik suara, kotak suara, bantalan, dan beberapa item lainnya sudah terdistribusikan ke KPUD Ngawi secara bergilir, mulai akhir tahun lalu. Untuk surat suara yang tersimpan di gedung serba guna Eka Kapti, khususnya DPR RI ada 732 dus. Terdiri 354.000 surat suara. Sedangkan DPRD Provinsi ada 344 dus atau 731.894 surat suara. ‘’Meskipun waktu penyortiran serta pelipatan surat suara masih lumayan panjang, kemungkinan tetap kami mulai lebih awal dan bisa saja pada pekan ini sudah dimulai,’’ jelas Danik. Terkait dana kampanye, Danik menegaskan bahwa hal tersebut sudah dilaporkan masing-masing partai peserta pemilu sesuai batas waktunya pada Minggu (2/3) lalu ke KPUD Ngawi. Sementara itu, Ketua KPUD Ngawi Surat Ashari mengatakan, laporan dana kampanye yang sudah diterimanya ini akan dilakukan verifikasi selama tiga hari. Setelah melakukan verifikasi, jika ada data yang kurang, parpol diminta melengkapi sesuai administrasi yang diberlakukan. Pihak KPUD sendiri memberikan tenggat waktu lima hari pada partai jika ada laporan yang kurang. ‘’Terkait kelengkapan informasi dan dokumen, KPUD memberikan waktu untuk melengkapi. Itu untuk memberikan kepastian hukum,’’ terang Surat Ashari. Dalam proses verifikasi ini akan mencermati banyak aspek. Salah satunya adalah administrasi laporan dana kampanye. (pr/dik)

PACITAN

EDISI 50 5 - 11 MARET I TAHUN 2014

PONOROGO, Media Aspirasi – APA jadinya kalau Ki Dalang yang biasa memainkan wayang di berbagai pentas macung sebagai calon legislatif? Inilah mungkin yang dirasakan Imam Sobirin, Ki Dalang yang mencalonkan diri sebagai caleg DPRD Ponorogo dari partai demokrat dapil 4 (Sambit, Bungkal, Slahung Dan Ngrayun) nomor urut 9 ini. Pria kelahiran Ponorogo, 11 Mei 1979 ini mengaku tergerak untuk menjadi wakil rakyat lantaran inspirasi yang didapatkannya selama mendalang. Profesinya sebagai dalang tidak membuatnya optimal untuk melakukan perubahan demi kemajuan negeri ini. Menjadi dewan adalah salah satu jalan perubahan, lantaran di lembaga legislatif ini dirinya bakal mendapatkan legasy untuk melakukan yang terbaik untuk mayarakat. “Perubahan itu tidak bisa hanya dinantikan, tapi harus dilaksanakan. Oleh

karenanya saya berniat nyaleg,” ungkap Imam Sobirin kepada Media Aspirasi, Selasa (25/2) kemarin. Dalang Ipung, sapaan Imam Sobirin, bakal berupaya mewujudkan perubahan. Dimana hal itu dimulai dari sistem kehidupan Ponorogo dengan berlandaskan

pada Budaya. Keinginannya duduk di kursi empuk dewan ini pun sudah mendapat restu dari keluarga besar. “Alhamdulillah dukungan dari keluarga yang tersebar hampir merata di 4 kecamatan dapil 4 membuat niat saya mantab untuk maju,” sebutnya. Apalagi, cita-citanya melakukan perubahan melalui seni budaya ini pun sudah didukung teman-seprofesinya. Mulai Dalang, pengrawit, sinden, musisi, dan penyanyi. Uniknya, untuk melambungkan namanya yang sudah tenar, Ipung, cukup melakukan sosialisasi diri dari panggung ke panggung. Atau dari terop ke terop saat acara mantenan. “Ini yang saya andalkan karena saya yakin uang bukan segala-galanya,” ungkap pria yang beralamat di RT 02 Rw 01 Dsn Munung Desa Bekare Kecamatan Bungkal ini. (ari)

PACITAN, Media Aspirasi – Puluhan ibu hamil di Pacitan, diketahui mengalami kekurangan energi kalori (KEK). Jumlah itu kemungkinan masih bertambah karena belum semua Puskesmas di wilayah melaporkannya ke Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat. Selain itu, masih ditemukan pula sejumlah balita mengalami gizi buruk. ‘’Jumlah KEK masih bisa bertambah. Karena ada Puskesmas yang belum melakukan pendataan,’’ kata Kabid Kesehatan Keluarga (Kesga) Dinkes, Wawan Kasiyanto. Wawan menjelaskan, kasus KEK ditemukan di dua Puskesmas. Yakni, di Puskesmas Sukorejo, Kecamatan Sudimoro dan Tegalombo (Tegalombo). Temuan kasus ibu hamil KEK itu, diketahui saat mereka memeriksakan kandungannnya. Dari 43 orang ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya pada sepekan terakhir ini, diketahui bahwa 33 di antaranya mengalami KEK. Kasus tersebut terjadi lantaran hipremesis atau muntah yang berlebihan. Sehingga menyebabkan nafsu makan berkurang. Dampaknya, berat badan sang ibu pun menurun. Jika tidak segera ditangani, KEK dapat membahayakan kandungan maupun sang ibu hamil itu sendiri. Karena biasanya bayi yang dilahirkan dari ibu penderita KEK dan anemia cenderung tidak normal. Terdapat beberapa kemungkinan penyakit yang akan diderita oleh bayi dari ibu penderita. Di antaranya kurang gizi, dan gizi buruk. Bisa juga berpotensi bayi lahir cacat. ‘’Kalau ibu hamil dan mengalami KEK tidak segera ditangani, akan berisiko tinggi. Kami terus berusaha untuk membantu mereka,’’’ ucap Wawan. Guna mengatasi masalah tersebut, pihaknya berupaya melakukan sosialisasi lebih lanjut kepada ibu hamil. Selain itu, juga memberikan bantuan operasional kesehatan yang dianggarkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Bantuan di antaranya pemberian makanan tambahan gizi dan sejumlah uang untuk keperluan lain. Tentunya yang dapat menunjang kelangsungan kehidupan bayi agar saat lahir tidak menderita gizi buruk. Mengenai balita gizi buruk, hingga kini Dinkes mencatat ada sembilan balita berada di bawah garis merah (BGM). Mereka tersebar di beberapa wilayah di Pacitan. Kasus gizi buruk pada anak-anak itu terjadi disebabkan oleh faktor gen dan masih kurangnya perhatian dari orang tua si balita itu sendiri. ‘’Kebanyakan mereka yang mengalami gizi buruk berlatar belakang ekonomi lemah,’’ jelas Wawan. (dv/dik)

PERCAYAKAN

PROMOSI USAHA ANDA Hanya di

Koran Umum

Media

ASPIRASI 0352-489219

MEDIA ASPIRASI/ELSI BUDI CAHYONO

Marching Band Akmil Pukau Pacitan AKSI taruna Akmil dalam memainkan drum band, merupakan salah satu rangkaian menyambut HUT Pacitan ke-269.

PACITAN, Media Aspirasi – Penampilan marching band taruna Akademi Militer (Akmil) membuat masyarakat Pacitan kagum. Ribuan warga Pacitan tumpah ruah di jalanan pinggir alun-alun setempat hanya untuk menyaksikan atraksi para calon prajurit TNI itu. Tak ayal, para remaja putri pun menjerit histeris saat para prajurit itu memainkan drum band sambil meliukliuk sambil melempar senyum. Bahkan, banyak dari mereka yang mengabadi-

kan beberapa personel dengan kamera ponsel pribadinya, pada Minggu (2/3) kemarin. Puspita, salah seorang penonton menjelaskan, drum band ini sangat bagus dan pemainnya ganteng-ganteng serta tinggi-tinggi. Selain itu, penampilan para prajurit TNI dari Akmil bisa untuk contoh bagi para pemuda di Pacitan. Ditambahkannya, atraksi ini benarbenar memukau. Apalagi, atraksi yang

mereka tampilkan terbilang jarang dilihat. ‘’Kalau pemainya ganteng-ganteng dan enerjik, yang menonton pasti betah,’’ tambahnya. Selain itu, pertunjukan drum band juga ditampilkan dari delapan sekolah di Pacitan. Mulai dari drum band siswa SD, SMP hingga SMA. Pertunjukan drum band diambil start dari alunalun menyusuri jalan-jalan protokol dari Ahmad Yani, Letjen Suprapto, MT Haryono, Gatot Subroto dan berakhir di

Direktur PDAM Bantah Ada Masalah PACITAN, Media Aspirasi – Karut marut kasus pembebasan lahan untuk lokasi Reservoir Tank PDAM di Dusun Kebonredi Kabupaten Pacitan, ditepis Direktur PDAM Pacitan Riyanto. Menurutnya, tidak benar adanya tuduhan penyalahgunaan dana atas lahan di empat lokasi tersebut. Yakni Desa Candi, Ketro, Penggung dan Kebonredi. Menurut pengakuan Riyanto, berkaitan dengan pembelian lahan yang secara mendadak itu, lantaran ada kabar dari Kementerian PU secara mendadak dan proyek reservoir tank untuk air bersih segera harus dibangun. ‘’Sedangkan lokasi lahannya belum tersedia,’’ terang Riyanto. Ditandaskan Riyanto, dengan hanya waktu hanya satu minggu dari hari-H pengerjaan proyek itu, pihaknya kala itu harus sudah menyediakan lahan. Jika lahan tidak segera terealisasi, maka dana tersebut akan kembali ke APBN dan masyarakat tidak bisa menikmati air bersih nantinya. ‘’Hal itu sungguh disayangkan jika tidak terserap untuk pembangunan Pacitan,’’ tandasnya.

DOKUMEN MEDIA ASPIRASI

RIYANTO, Direktur PDAM Pacitan Dibeberkan Riyanto, berdasarkan proposal yang diajukan Bupati Pacitan ke Kementerian PU perihal ’Surat Permohonan Percepatan Pembangunan Infrastruktur di Kabupaten Pacitan’ dengan nomor : 050/350/408,46/2013 tertanggal 21 Juni 2013 itu, tercatat kebutuhan anggaran sebesar Rp 58.794 miliar. Namun terkait pengadaan empat lahan tersebut, PDAM sama sekali tidak terlibat dalam masalah pembebasan lahan seluas kurang lebih 400 meter persegi

tersebut. ‘’Sebab, semua itu kewenangan Tim-9 (tim pembebasan lahan bentukan Pemkab Pacitan). PDAM hanya melakukan pembayaran, setelah Tim-9 memutuskan lokasi lahan yang akan dibebaskan. Anggarannya memang masih dalam proses,’’ bebernya. Ditambahkannya, supaya tidak ada polemik dengan pemilik lahan, maka pihaknya melakukan proses dana talangan. ‘’Pembangunan reservoir tank di empat titik itu, yang bermasalah hanya di Dusun Kebonredi saja. Sedangkan di tiga titik lainnya tidak ada masalah,’’ tambahnya. Masih menurut Riyanto, terkait pembangunan proyek reservoir tank di Desa Tanjungsari, pihaknya sudah membayar kompensasi ke desa setempat sebesar Rp 11 juta. Uang itu untuk ganti rugi lahan yang dilewati galian pipa proyek reservoir tank PDAM. ‘’Uang tersebut diterima Bambang Widiarsa, sebagai Kepala Desa Tanjungsari. Yang diterima hanya Rp 9,5 juta. Selebihnya untuk administrasi,’’ pungkasnya. (bc/dik)

pendapa kabupaten. Sementara itu, Sunaryo, ketua panitia penyelenggara mengatakan, penampilan tersebut adalah ajang motivasi bagi generasi muda. Khususnya pelajar sekolah mulai dari PAUD hingga menengah atas. Diharapkan, atraksi yang ditampilkan oleh 220 personel taruna Akmil itu bisa memberikan contoh bagi para pelajar dan generasi muda agar bisa mencontoh kedisplinan dan kekompakan para taruna Akmil ini. (bc/dik)

KPU Mulai Sortir Surat Suara PACITAN, Media Aspirasi – Logistik pemilihan umum (pemilu) 2014 mulai masuk ke gudang Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Pacitan. Sebanyak 468 kardus surat suara untuk DPR RI kini sudah tiba di kantor KPUD setempat, Senin (3/3) kemarin. Menurut Agus Hadi Prabowo, divisi Logistik KPUD Pacitan, rencananya surat suara tersebut akan dilakukan pengecekan dengan sistem penyortiran. Dan belum bisa diketahui kondisi kertas yang dikirim dari percetakan PT. Pura Barutama tersebut. Sedangkan surat suara yang tiba pada sore itu sebanyak 467.939 lembar. Jumlah tersebut lebih banyak jika dibenturkan dengan total daftar pemilih sementara yang berjumlah 458.764. ‘’Jumlah pemilih masih bisa bertambah. Jadi kelebihan surat suara bisa untuk antisipasi,’’ jelasnya. Ditambahkannya, Selasa (4/3) kemarin, rencananya petugas KPUD akan mulai mengecek kertas surat suara. Mulai dari kualitas cetak, hingga kerusakan. Selain itu, pihaknya juga akan meneliti gambar dan nama daftar calon tetap (DCT) di setiap lembar surat suara. Kemudian, lanjutnya, semua kertas nantinya akan segera dilipat sebelum didistribusikan ke tempat pemungutan suara (TPS) bersama dengan kebutuhan logistik lainnya. ‘’Jadi, sambil menunggu yang belum datang, kami cek dulu,’’ tambahnya. Lebih lanjut, pihaknya kini masih menunggu kedatangan sisa surat suara lainnya. Yakni DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten. Selanjutnya logistik tersebut masih dalam pengiriman menuju Pacitan. Bersama itu juga kebutuhan pemilu lain, seperti formulir, segel, hologram, dan alat bantu khusus pemilih tuna netra. ‘’Sesuai jadwal, batas akhir penyaluran kebutuhan logistik itu sampai dengan tanggal 11 Maret nanti,’’ lanjutnya. Diharapkannya, pengiriman semua jenis logistik itu bakal tepat waktu. Sebab, akan memudahkan KPUD dalam hal penyortiran, pelipatan, hingga distribusi ke PPK dan PPS. ‘’Selain itu, juga untuk memberi waktu KPUD dalam melakukan perubahan jumlah pemilih yang mengacu pada pemutakhiran Daftar Pemilih Tetap (DPT) dan Daftar Pemilih Khusus (DPK),’’ tandasnya. (bc/dik)


4

MADIUN

EDISI 50 5 - 11 MARET I TAHUN 2014

SBY Berhasil Sembunyikan Kekuatannya, untuk: Selalu Ada Pilihan (Bagian 2 - selesai)

Buku untuk Pecinta Demokrasi dan Pemimpin Mendatang Oleh: Syamsul B Nasution *)

KETIKA ada yang berpendapat pers sering gegabah dalam menggunakan kebebasannya dan pemberitaannya tidak “fair and balanced”, maka orang tersebut langsung dicap anti kemerdekaan pers, yang juga berarti antidemokrasi. Ketika ada anggota KPK yang diduga melakukan hukum, langsung direspon sebagai upaya mengkriminalisasi KPK. Ketika ada yang berpendapat bahwa semua lembaga, baik negara maupun civil society, harus menjelaskan sumber keuangan dan penggunaannya, langsung dianggap antidemokrasi. Situasi seperti ini, menurut SBY, membuat kaum kritis dan

rasional memilih untuk diam. Tidak mau mengambil resiko. Mereka tidak mau didamprat di depan publik. Tidak ingin dianggap sebagai anti reformasi dan tidak prodemokrasi. SBY sering berpesan kepada stafnya, “Jangan karena ada seseorang yang kritis, menyerang dan bahkan menghujat secara kasar kepada pemerintah atau presiden, lantas mereka dikerjain. Jangan karena terus menghantam dan mendiskriditkan saya misalnya, lantas seorang difitnah agar ada alasan untuk menindaknya. Jangan pula lawan-lawan politik saya dimatikan sumber-sumber ekonomi dan kehidupannya.”

LINTAS Dindik Wajib Prioritaskan Rehab Sekolah MADIUN, Media Aspirasi - Banyaknya bangunan gedung sekolah yang sudah rusak, hingga didapati beberapa ruang kelas yang roboh diwilayah Kabupaten Madiun, membuat Wakil Bupati Madiun, Iswanto turun gunung meninjau secara langsung ke sekolah - sekolah. Seperti halnya pada kamis (27/02) lalu, Wabup Iswanto mengadakan inspeksi mendadak ke Sekolah Dasar Pacinan, di Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun yang salah satu atap bangunannya ambruk . Meskipun kejadian tersebut sudah terjadi beberapa pekan lalu namun pihak Dinas Pendidikan belum kelihatan melakukan upaya perbaikan ataupun menginventarisir total kerusakan yang terjadi. Kondisi bangunan sekolah yang cukup mengkhawatirkan ini jelas-jelas mengganggu proses belajar dan mengancam keselamatan anak didik. Melihat kondisi yang seprti ini, Wabup menghimbau kepada Dinas Pendidikan agar lebih memprioritaskan rehabilitasi dan renovasi bangunan sekolah-sekolah yang kondisinya sudah mengkhawatirkan ini.Iswanto juga mengintruksikan agar Dinas Pendidikan segera mengiventarisir sekolah- sekolah yang bangunannya sudah sangat memprihatinkan, "jangan sampai menunggu roboh, baru diperbaiki,” tukas Iswanto. Ditambahkanya,"dana untuk rehab bangunan sekolah yang rusak ini, akan diambilkan dari Dana Alokasi Khusus(DAK), sehingga orang tua murid jangan sampai dimintai sumbangan untuk membantu rehab gedung sekolahnya, kalau sampai hal itu terjadi Pemkab akan menindak tegas, baik untuk Dinas terkait atau pihak sekolah yang bersangkutan,” pungkasnya. (tok/so) MEDIA ASPIRASI/ANTOK PURBA

“Apakah semua itu harus saya ladeni, atau saya biarkan. Kalau semua serba saya layani, saya membayangkan makin gaduhnya politik kita, karena saya sebagai Presiden telah turun gelanggang dan menghunus pedang dalam peperangan politik itu. Tetapi, kalau saya biarkan apa yang disampaikan oleh para pengkritik dan mengancam saya itu, bisa-bisa semuanya dianggap benar. Rakyat bisa mendapatkan gambaran yang keliru.” “Akhirnya, dengan segala pertimbangan yang masak, saya memilih untuk tidak bersifat reaktif dan meladeni semua serangan itu. Artinya saya ha-

rus sering mengalah. Kecuali kalau sungguh keterlaluan saya akan tampil untuk meluruskan dan menghadapinya.” Dalam buku “SBY, Selalu Ada Pilihan,” SBY beberapa kali menyinggung cita-citanya menjadi KSAD.” Dulu, tahun 1999 saya pernah merasa “down”, karena cita-cita saya memasuki akademi militer untuk menjadi pemimpin puncak TNI angkatan darat kandas. Terus terang saya sangat ingin menjadi KSAD,” katanya. SBY juga menceritakan keterpukulannya ketika gagal menjadi wakil presiden Megawati pada Tahun 2001. “Tentu saya sedih dan terpukul.

Demikian juga para pendukung dan kolega saya. Sebuah pengalaman yang pahit,” katanya. Tetapi “Selalu Ada Jalan” buat SBY. Pada 5 April 2004, hari pemungutan suara untuk pemilu legislatif tahun 2004, Partai Demokrat lolos threshold dengan perolehan 7,5 persen. Saat itu SBY, sebenarnya, merasa tidak siap. Ia malah bercita-cita menjadi wakil presiden. Mendadak ada insiden politik dengan Megawati (sebenarnya Taufik Kiemas). “Saya memutuskan mengundurkan diri dari kabinet Ibu Megawati. Saya pikir hubungan kami sudah terganggu, dan tidak baik saya sebagai menteri berada

dalam situasi seperti itu,” kata SBY. Pada Pemilihan Presiden, pada tahun yang sama, SBY memperoleh suara 60 persen. Pada Periode 2004 hingga 2009 situasi politik juga tidak mudah bagi SBY. Umumnya pers dan pengamat menduga SBY jatuh sebelum Pemilu. “Pada Pemilihan Presiden Tahun 2009 pencabutan mandat rakyat itu tidak terjadi. Bahkan yang memilih saya jumlahnya lebih besar lagi hingga mencapai 73,8 juta suara,” kata SBY. “Cerita tentang suara saya yang justru naik dari 66,3 juta pada pilpres 2004 menjadi 73,8 juta pada pilpres 2009, memberikan bukti bahwa su-

ara pengamat dan suara pers tidak selalu sama dengan suara rakyat.” “Dengan cerita saya ini sama sekali saya tidak ingin mengatakan kepada Anda semua bahwa jangan terlalu percaya kepada para pengamat dan suara pers. Tidak. Suara mereka tetap penting. Paling tidak untuk cermin dan sarana koreksi diri. Juga agar kita selalu berhati-hati. Tetapi sebagaimana yang saya alami, suara rakyat tidak selalu sama dengan suara mereka. Hati dan pikiran rakyat juga tidak selalu mudah untuk ditebak.”

SATPOL PP menyegel gudang tak berizin.

Tidak Kantongi Ijin Lengkap Gudang Pupuk Disegel

MADIUN, Media Aspirasi – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Madiun didampingi petugas dari

KPPT bersama petugas Polsek Balerejo, melakukan penyegelan terhadap 4 Gudang pupuk bersubsidi dari Petrokimia Gresik, milik PT Inti Barokah Utama yang terletak di Desa Jerukgulung, Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun, lantaran tidak kantongi ijin lengkap, Kamis (27/02). PT Inti Barokah Utama selaku pemilik gudang ditengarai belum memiliki ijin gangguan atau HO. Akibat dari kejadian ini 14 ribu ton pupuk bersubsidi terancam tidak bisa tersalurkan kepa-

da para petani, apalagi dengan kapasitas pupuk bersubsidi yang begitu besar ini bisa melayani kebutuhan pupuk untuk petani seluruh Kabupaten Madiun. Seperti yang dikatakan oleh Hariyono perwakilan dari PT Petrokimia Gresik "terkait penyegelan ini, kita merasa sangat dirugikan dikarenakan kalau soal perijinan itu sebenarnya urusan pemilik gudang, kita hanya selaku penyewa, tetapi yang lebih kasihan lagi para petani, karena dengan penyegelan ini distribusi pupuk

menjadi macet, dan kelangkaan pupuk pasti akan terjadi "keluhnya, Sementara itu Kasi Trantib Satpol PP Kabupaten Madiun, Tony Agus mengatakan,"penyegelan terpaksa kami lakukan dikarenakan PT Inti Barokah Utama selaku pemilik gudang belum memiliki izin gangguan dan itu melanggar perda nomor 11 tahun 2010, dan segel akan kita buka jika pemilik gudang secepatnya mengurus kelengkapan perijinan,” tegas Tony.(tok/so)

Simulasi Pengamanan Pemilu, Untuk Uji Kesiapan Personil MEDIA ASPIRASI/ANTOK PURBA

peninjauan wabup ke salah satu sekolah yang rusak,

Tak Segera Tempati Kios, Hak Pedagang Bisa Dicabut

MEDIA ASPIRASI/ANTOK PURBA

SUASANA saat peninjauan ke pasar baru mejayan. MADIUN, Media Aspirasi - Pasar Baru Mejayan Kabupaten Madiun yang telah diresmikan namun masih banyak los atau kios yang kosong dan tidak segera ditempati oleh pedagang. Himbauan untuk segera menempati kios di Pasar Baru Mejayan ini sebenarnya sudah pernah disampaikan oleh Bupati Madiun, Muhtarom pada tanggal 7 pebruari 2014 yang lalu, saat meninjau kondisi pasar setelah selesai diresmikan. Saat itu jumlah kios yang masih belum ditempati pedagang berjumlah 258 kios, melihat hal ini Bupati memberikan peringatan pertama kepada para pedagang yang belum menempati kios dan memberikan batas tenggang waktu hingga tanggal 28 pebruari 2014. Tetapi setelah batas waktu yang ditentukan sudah lewat ternyata masih ada 72 pedagang yang belum menempati jatah kios, sehingga sesuai perda nomer 8 tahun 2011 tentang pengelolaan pasar yang didalamnya menyatakan apabila pedagang tidak segera menempati jatah kios sesuai batas yang ditentukan, akan diberikan peringatan sampai 3 kali, dan kalau surat peringatan terakhir tidak dihiraukan dengan terpaksa hak pedagang mendapatkan jatah kios akan dicabut dan dikembalikan ke pemerintah daerah. Sementara itu, Wakil Bupati Madiun Iswanto, mengaskan,"kami sudah memberikan batas waktu dalam peringatan pertama yakni pada hari ini, Jumat( 28/2),”tegasnya.(tok/so)

SALAH SATU aksi dalam simulasi oleh polresta Madiun. MADIUN Media Aspirasi - Polres Madiun kota gelar Gladi lapang dan peragaan sispamkota, operasi mantab brata 2014 atau simulasi pengamanan pemilu, di depan Mapolresta Madiun, Kamis (27/02). Dengan diikuti oleh 400 personil dari unsur Polisi dan Brimob, Simulasi ini terlihat seperti kejadian yang sebenarnya bahkan diwarnai dengan adegan

bentrok masal antara aparat keamanan dengan massa perusuh, begitu juga dengan adegan semprotan water Canon dari kendaraan taktis Baracuda milik Polresta Madiun juga terlihat begitu serius. Sehingga sejumlah wartawan yang meliput acara inipun terkena semburan watercanon tersebut. Simulasi pengamanan ini bertujuan untuk melihat kesigapan dan persia-

pan personil aparat keamananan untuk menghadapi kemungkinan adanya kerusuhan yang terjadi pada Pemilu bulan April mendatang. Ditemui disela kegiatan simulasi, Kapolresta Madiun AKBP Anom Wibowo mengatakan,"kegiatan ini selain untuk upaya mengantisipasi adanya kerusuhan dalam penyelenggaraan Pemilu mendatang, sekaligus juga sebagai uji

kesiapan para personil kepolisian dalam mengatasi segala macam sifat anarkis di masyarakat dengan mengedepankan tindakan persuasif terlebih dahulu,” tegas AKBP Anom Wibowo. Kegiatan ini selain dihadiri jajaran anggota Polresta Madiun juga Forum Pimpinan Daerah (FORPIMDA) Madiun dan beberapa tokoh masyarakat Madiun.(tok)

DPR HARUS PEKA NASIB ASONGAN MEDIA ASPIRASI/DIDIK PURWANTO

PEDAGANG asongan di Stasiun Walikukun Ngawi melakukan aksi demo dengan membawa poster.

INFRASTRUKTUR Setahun, Panti Benih Ikan Hias Mangkrak

MEDIA ASPIRASI/DIDIK PURWANTO

NGAWI, Media Aspirasi Sudah beberapa kali pedagang asongan kereta api dibenturkan dengan aparat militer baik Polri maupun TNI oleh PT KAI yang berdalih demi menegakan UU tentang Lalu Lintas dan Kereta Api. Boleh jadi aturan tersebut hanya untuk konsumsi kepentingan politik tanpa kejelasan untuk siapa aturan ini dibuat. Mukshon Hariyadi Koordinator Bhirawa Ngawi berkaca mata dari peristiwa bentrokan antara ratusan pedagang asongan dengan aparat baik Polsuska maupun TNI khususnya Marinir di Stasiun Walikukun Ngawi pada Jum’at sore, (29/02), menjadi bahan persoalan yang harus dibawa ke meja DPR RI. Kupasnya, pedagang asongan maupun aparat kalau ditelaah secara mendalam tidak perlu ada yang dipojokan bahkan jangan

sampai kekuatan sipil dengan militer diadu. Karena mereka samasama berangkat dari persoalan yang bisa dikatakan wajib. “Satu sisi pedagang asongan memperjuangkan terhadap nasibnya bagaimana mereka memikirkan keluarga selebihnya bagaimana mereka bisa hidup, sedangkan sisi lainya pihak militer karena mereka mengemban tugas dalam menjalankan sebuah konsekuensi undang-undang didalam sebuah Negara,” terang Mukshon Hariyadi, Sabtu (01/03). Dari pengalaman ini yang perlu digaris bawahi ujar Mukshon siapa sebetulnya dibalik lahirnya sebuah undang-undang yang didalamnya mengatur tentang kereta api. “Kalau ada yang mau jujur jelas DPR harus bertanggung jawab terhadap bentrokan yang melibatkan pedagang

Pemimpin Redaksi: Welas Arso. Redaktur Pelaksana: M Andhika. Staf Redaksi: Endang Widayati, Ari. Koresponden Daerah: Elsi Budi Cah­yono, Dv Kuncara (Pacitan), Bambang (Trenggalek), Maksum Choiri, Roedy (Magetan), Didik Purwanto (Ngawi), Antok (Madiun). Tata Artistik/Grafis: Loekman, Khafidz. Sirkulasi: Endik. Even Organizer: Yuliana, Wiwik Rahayu Wulandari. Keuangan: John Elit Al-Qadry (Manajer), Mila Karaman. Se­kretaris Redaksi/SDM/Iklan: SELANGKAH LEBIH DEKAT ! Mila Karaman. Bagian Umum: Indah (Manajer). Penerbit: CV Media Aspirasi. Nomor SIUP: 503/0559/KP/405.27/PDK/VIII/2013 Direktur Utama: Eka Putra. General Manager: Imam Mahfudz. Tim Advokasi: Patra M Zein, SH, MH, dkk Percetakan: PT Temprina Media Grafika (Jawa Pos Group). Alamat Redaksi/Iklan/Pemasaran: Jalan Kalimantan 127 Ponorogo, Jawa Timur. Telepon Redaksi: 0352-489219, 085257445513. Telepon Iklan: Mila 0857316176744 (hunting). Telepon Pemasaran/Langganan: 0352-489219 (hunting) Mila 0857316176744. Perwakilan Pacitan: Jalan Gajah Mada 24 Pacitan. Telp. 0357-883387, 081359312004. Perwakilan Trenggalek: Perumahan Bukit Sambirejo Asri. Telp. 082142030014. Perwakilan Magetan: Jalan Timor 36, Magetan. Telp. 085790301088. Perwakilan Ngawi: Jalan Thamrin 14, Ngawi. Telp. 085334150978. Perwakilan Jakarta: Rukan Cempaka Mas, Blok M1/29, Jalan Letjend Soeprapto, Jakarta Pusat. Telp. 021-42881625

Wartawan Media Aspirasi selalu dibekali Kartu Pers dan dilarang menerima atau meminta uang/barang dari sumber berita selama bertugas. Gunakan Hak Jawab Anda. Media Aspirasi membuka ruang hak jawab sesuai amanat UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Redaksi menerima sumbangan tulisan atau foto-foto menarik dan layak muat dari pembaca. Naskah atau foto bisa dikirim ke alamat redaksi atau melalui email: redaksimediaaspirasi@gmail.com. Semua artikel dengan kode (adv) atau advertorial adalah Pariwara/Iklan.

asongan dengan militer, jadi mereka jangan hanya bicara soal rakyat manakala mendekati hari ‘H’ dalam arti pemilu selebihnya mereka pangku tangan dengan jeritan rakyat,” tudingnya. Paparnya, jangan sampai ada yang dikorbankan atas lahirnya sebuah kebijakan terutama pedagang asongan maupun aparat militer. Secara spesifik Mukshon menjelaskan, kenekatan padagang asongan bagaimana mereka memperjuangkan untuk bisa berjualan kembali diatas gerbong kereta api adalah suatu komitmen secara mutlak. Karena dibelakangnya ada sederet persoalan menyangkut hajat hidup dalam hal ini ekonomi. Demikian pula militer harus bisa mengamankan sebuah aturan dari ancaman baik dari rakyatnya sendiri maupun pihak luar. “Seharusnya sebelum undang-undang

itu dibuat oleh mereka (DPRred) harus dikaji lebih mendalam karena mereka mempunyai otoritas tersendiri, intinya gara-gara aturan jangan sampai ada pihak yang dikorbankan antar keduanya baik pedagang asongan maupun militer, kasihan banget,” jelasnya lagi. Sementara Gatut Sutiyatmoko Manager Humas PT KAI Daop VII Madiun menerangkan larangan padagang asongan berjualan diatas kereta api sebuah keputusan mutlak dibawah undangundang. Menurut dia, larangan tersebur sejak awal 2012. PT KAI Daop VII Madiun terus melakukan sosialisasi. Tetapi para pedagang asongan tetap berjualan di dalam stasiun akhirnya penertiban harus dilakukan. “Mereka belum mau ditertibkan, sehingga kami akan bertindak

tegas,”katanya. Lebih lanjut, dia mengatakan, pelarangan pedagang asongan di stasiun ini mengacu Pasal 38 UU No.32 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian. Tertulis ruang manfaat jalur kereta api diperuntukkan bagi pengoperasian kereta api dan merupakan daerah yang tertutup untuk umum. Lalu, Pasal 173 UU 32 Tahun 2007, ditulis masyarakat wajib ikut serta menjaga ketertiban, keamanan, dan keselamatan penyelenggaraan perkeretaapian. Tambahnya, dengan jelas sesuai Pasal 124 PP No.72 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api juga disebutkan bahwa setiap orang dilarang masuk ke dalam peron stasiun. Kecuali petugas, penumpang yang memiliki karcis, dan pengantar atau penjemput yang memiliki karcis peron. (pr)

Bentrok Ratusan Pedagang Asongan Vs Marinir Kembali Terjadi

MEDIA ASPIRASI/DIDIK PURWANTO

GEDUNG PANTI Benih Ikan Hias milik Disnak Ngawi mangkrak. NGAWI, Media Aspirasi - Bangunan Panti Benih dan Ikan Hias milik Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Ngawi yang ada di Desa Puhti, Kecamatan Karangjati, tepatnya bersebelahan dengan kantor Desa Puhti terkesan mangkrak tidak berpenghuni. Pasalnya, bangunan yang sudah setahun lebih tidak difungsikan tersebut terancam menjadi bangunan muspro. “Dulu sempat difungsikan, tapi sudah setahun lebih ini tidak ada pegawai dan tidak ada aktifitas,” terang Hadiono warga setempat. Dia menuturkan, sudah satu tahun lebih bangunan tersebut tidak difungsikan, hanya ada petugas dari dinas terkait yang setiap datang membersihakan bangunan tersebut. “Ada seorang pegawai yang setiap minggu datang untuk membersihkan bangunannya, tapi tidak pasti datangnya. Sudah tidak difungsikan, kolamnya saja sudah tidak ada benih dan juga ikan hiasnya,” ujarnya kepada Media Aspirasi, Rabu (26/02). Kepala Desa Puhti, Kecamatan Karangjati, Nurhadi saat dikonfirmasi wartawan mengatakan, Panti Benih Ikan dan Ikan Hias tersebut yang mengelola Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Ngawi, bukan pihak desa yang mengelola. “Saya sendiri menjabat kepala desa baru tujuh bulan, jadi tidak tau banyak terkait kantor benih dan ikan hias tersebut. Namun selama saya disini tidak pernah ada aktifitas di kantor sebelh tersebut,” ungkapnya.Ditambahkan, bahwa dulu memang banyak warga dan juga penjual ikan yang membeli ikan dipanti benih ikan dan ikan hias tersebut, akan tetapi sudah sekitar satu setengah tahun ini pihaknya tidak melihat ada aktifitas dikantor tersebut. “Tidak difungsikannya kembali karena apa kami sendiri tidak tahu, karena memang bukan kami yang mengelola,” katanya. Pihaknya menyayangkan tidak difungsikannya kantor panti benih ikan dan ikan hias tersebut, kalau hanya dibangun tidak difungsikan jadinya mubazir. “Kalau panti tersebut yang mengelola desa tidak akan seperti itu, pastinya terawat dan akan lebih maksimal fungsinya. Tapi pihak dinas terkait sendiri selama saya menjabat disni tidak bicara apa-apa,” paparnya. Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Ngawi Sunitto membantah kantor Panti Benih Ikan dan Ikan Hias (PBIH) tidak difungsikan. Pihaknya membantah bahwa sejak dibangun kantor tersebut kantor selalu difungsikan. “Sejak dibangun pada 2008 lalu kantor panti benih ikan dan ikan hias itu difungsikan sebagaimana mestinya,” terangnya. Dikatakan, bahwa saat ini kantor tersebut memang masih dibersihkan kemudian rencananya untuk balai contoh-contoh ikan yang djual secara umum yang ada di Balai Benih Ikan (BBI). “Memang beberapa tahun ini kantor tersebut masih vakum. Hal tersebut disebabkan karena minat masyarakat kepada ikan hias kurang sehingga mengakibatkan vakum, ini rencananya akan ditata ulang kembali,” ujarnya. Dijelaskan Sunitto, dulu waktu awal difungsikannya kantor tersebut ada satu staf Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Ngawi yang ditugaskan untuk mengelola kantor benih ikan hias tersebut. “Jadi kantor tersebut digunakan sebagai penghubung contoh-contoh ikan yang dijual secara umum yang ada di BBI, kalau ada masyarakat yang ingin membeli ikan contohnya ada dikantor tersebut. Tapi yang asli dijual ada di BBI, kantor itu hanya sebagai penghubung saja,” jelasnya. Ditambahkan, kedepannya pihaknya akan mengganti petugas yang sebelumnya mengelola kantor tersebut serta akan kembali mengisi kolam yang dulunya digunakan untuk ikan hias. “Ini dulunya memang perencanaanya kurang sesuai, jadi minat masyarakat itu sedikit. Makanya ini akan kami tata ulang dan fungsi dari pada kantor tersebut akan dirubah menjadi kantor pemasaran ikan yang dikelola di BBI,” pungkasnya. (pr/so)

RATUSAN pedagang asongan menggelar orasi di depan Stasiun Walikukun Ngawi NGAWI, Media Aspirasi - Ratusan pedagang asongan dari berbagai daerah kembali terlibat bentrok dengan puluhan marinir di Stasiun Walikukun Ngawi, Jum’at sore (28/02) sekitar pukul 15.00 WIB. Akibat peristiwa ini dari berbagai informasi menyebutkan ada 4 orang menjadi korban baik pingsan maupun luka memar. Bentrokan diawali ratusan pedagang asongan melakukan orasi didepan Stasiun Walikukun. Dengan membawa poster berisi hujatan terhadap marinir yang dianggap telah berbuat arogan terhadap mereka saat berjualan diatas gerbong kereta api. Tidak tanggung-tanggung dalam poster tersebut berisi tulisan antara

lain TNI AL (Marinir) Di Gaji Oleh Rakyat, Baju dan Senjata Bukan Untuk Menakuti Rakyat, Asongan Bukan Teroris dan Bukan Pencopet selain itu Asongan Juga Rakyat Yang Harus Dilindungi. Setelah melakukan orasi, ratusan pedagang asongan dengan membawa anaknya nekat merangsek masuk stasiun untuk berjualan. Karena terus dihalangi, beberapa ibu pedagang asongan terlihat melontarkan kalimat menghujat sambil menerobos barisan marinir yang bersenjatakan laras panjang. Akibatnya kericuhan terjadi dan nyaris terjadi baku hantam terlebih para pedagang asongan sambil terus melontarkan kalimat hujatan terhadap

Media ASPIRASI

Didik Purwanto Telp.085 334 150 978

anggota marinir. Untuk sementara situasi berhasil diredam oleh anggota Polres Ngawi yang sudah diterjunkan lebih awal dilokasi. Namun bentrok kembali terjadi setelah KA Brantas berhenti di Stasiun Walikukun, ratusan pedagang asongan yang sudah terbakar emosinya nekat masuk kedalam gerbong kereta api. Karena pintu gerbong tidak dibuka, pedagang asongan memaksa masuk dengan menggedor-gedor pintu gerbong yang dijaga anggota marinir. Kontan saja adu jotos antara pedagang asongan dengan anggota marinir serta angota polsuska tidak terelakan. Situasi semakin memanas, namun untuk menghindari jatuhnya

korban pihak kepolisian mengamankan sejumlah pedagang asongan. Menurut Riyanto koordinator aksi membenarkan kalau sejumlah pedagang asongan mengalami babak belur akibat bentrok di Stasiun Walikukun tersebut. Lebih detailnya sejauh ini pihaknya belum memastikan siapa namanama yang menjadi korban. Hanya saja disebutkan Riyanto, ada 4 orang pedagang asongan yang mengalami luka lebam dibagian wajah dan tangan serta pingsan akibat bentrok dengan anggota marinir dan polsuska. “Lebih pastinya kami sendiri belum tahu hanya saja sekitar empat orang yang mengalami luka,” terangnya. (pr/so)

Massa Pendukung Partai Rusak Kantor KPUD MEDIA ASPIRASI/DIDIK PURWANTO

Langganan dan Pasang Iklan Media ASPIRASI

5

EDISI 50 5 - 11 MARET I TAHUN 2014

BERSAMBUNG KE HAL. 11

DISTRIBUSI PUPUK TERANCAM MACET MEDIA ASPIRASI/ANTOK PURBA

NGAWI

POLRES Ngawi melakukan simulasi pengamanan pemilu 2014 mendatang di alun-alun merdeka. NGAWI, Media Aspirasi - Akibat tidak terima hasil rekapitulasi

suara ratusan massa dari salah satu partai langsung menggeruduk kan-

tor Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Ngawi, Kamis (27/02). Mereka menuding peran KPUD Kabupaten Ngawi dianggap tidak netral apalagi terindikasi memihak salah satu partai. Terlebih ada beberapa warga pendukung partai ditolak hak pilihnya oleh anggota TPS 01 didasari tidak membawa identitas. Meskipun seorang negosiator membujuk kepada warga pendukung partai untuk memahami mekanisme dalam menyalurkan suaranya namun upaya ini gagal. Ratusan massa yang sudah terbakar emosinya makin bertindak beringas dengan merusak seluruh fasilitas serta gedung komisi pemilihan umum tersebut. Terlebih dalam orasi sebelumnya partai bergambar buah manggis di lapangan Desa Watualang, Kecamatan Ngawi Kota, dihentikan oleh Banwaslu karena dianggap melakukan provokasi terhadap partai lain.

Aksi massa didepan kantor KPUD tersebut berhasil dipukul mundur oleh aparat kepolisian dengan melepaskan beberapa kali tembakan gas air mata setalah semua peringatan tidak diindahkan. Gambaran diatas tidak lebih hanya sebuah simulasi atau gladi lapang yang dilakukan jajaran Polres Ngawi dalam rangka pengamanan Pemilu 2014 mendatang dengan mengambil tema ‘Pra Ops Mantap Brata 2014 Polres Ngawi’ berlokasi di Alun-Alun Merdeka Ngawi. Dalam simulasi dengan mengerahkan seluruh jajaran polsek ini diasumsikan telah terjadi aksi massa dari simpatisan partai. Ditandai dengan lemparan botol berisi air serta pentungan kayu, karena dianggap situasi memanas aparat kepolisian langsung bertindak pencegahan. Simulasi pengamanan pemilu berlangsung dua jam lebih tersebut juga digambarkan ada beberapa orang di-

tangkap aparat polisi karena dianggap sebagai provokator. AKBP Valentino Alfa Tatareda Kapolres Ngawi menjelaskan simulasi dilakukan guna antisipasi terhadap gangguan keamanan Pemilu pada 9 April 2014 mendatang. “Meskipun di Ngawi sesuai pengalaman sebelumnya tidak cukup banyak adanya gangguan kemanan pelaksanaan pemilu akan tetapi kita tetap mewaspadai kemungkinan hal yang terburuk, makanya dilakukan latihanlatihan seperti yang disimulasikan hari ini,” kata Kapolres Ngawi. Sesuai rencananya pada pengamanan pemilu mendatang pihaknya mengerahkan dua pertiga personel yang ada di jajaran Polres Ngawi. Terangnya lagi, dalam pemilu nanti sebanyak 628 personel kepolisian ditambah aparat keamanan dari Kodim 0805 dan Satpol PP Kabupaten Ngawi akan dikerahkan memantau langsung situasi keamanan disetiap TPS. (pr/so)


6 N A T I R

EGU

G

Kembang Mlathi (R. Widiyati) Daksebar kembang mlathi Ing Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa kang sejati Luhku tumetes... tes... netesi bumi Aku rumangsa dosa Durung bisa melu labuh negara Amung sekar mlathi iki Tandha setya lan janji Bakal melu napak suci Labuh nagri alelandhesan ati suci Dadi pepenget Agustus iki dina mulya lan suci

Api Abadi Mrapen (R. Tantiningsih) Latu kuwi, tansah murub Ora nggubris kiwa tengene Nadyan digrujug tirta Nadyan maruta padha teka Nanging latu kuwi ora surut Latu kuwi, tansah murub Kaya latu kang ana jero ati Angel dipateni lan angel diadhemake Latu kuwi, tansah murub Ing mrapen dununge Ninggal sejarah Kanggo anak putu

Kitir (Sumono Sandy Asmoro) Kitir iki Isi panantangku marang wengi Sing kebacut anggone nguja sepi Dolanan swarane asu baung nggeririsi Kitir iki Wujud pangundhamanaku marang awang-awang Sing kebacut brangasan Ngrentengi lintang, nguntal rembulan Kitir iki Srana gugatku marang isen-isening jagad Sing pijer royokan brekat Tan keguh njaluk ruwat

Koran (Harum Sunya Iswara) Taktunggu tekamu Saben dina ing omahku Kabar kang daktunggu Saka awakmu Nambahi wawasanku Mosak-masike donya Maju mundure negara Minangka warta Koran minangka alat komunikasi Kang kudu diwerdi Mula ora ketinggalan informasi

Wayang Clometan Oleh: Ki Wiwiek Angger Carito dan Ki Antopurbo Gerah Polone

SEBAGAI pejabat teras Amarta, Werkudoro baru dapat cuti besar, tiga bulan lamanya. Bila anggota DPR, itu namanya reses. Terus apa saja kegiatannya selama bebas tugas negara? Daripada reses ke luar negeri malah dikritik rakyat dan wartawan, Werkudoro malah milih madek pandito padepokan dengan status SBI (Sekolah Bertaraf Internasional). Para pemuda di wilayah Amarta dan mancanegara banyak yang daftar menjadi cantrik tanpa dipungut biaya. Karena Werkudoro tidak mau dianggap komersialisasi pendidikan.

Y

CAKRAWALA

EDISI 50 5 - 11 MARET I TAHUN 2014

ang jadi cantriknya Begawan Senorodro dari kelas akar rumput sampai elit, yaitu: Setyoko putra Dworowati, Irawan, Wisanggeni putra Madukoro, Poncowolo putra Prabu Puntodewo, serta Wisoto putra Prabu Bolodewo di Manduro. Semua cantrik tidak hanya diwejang ilmu tuwo, tetapi juga diajari supaya tanggap dengan situasi kanan-kiri, kalau bahasanya zaman sekarang harus Kritis! “Kritis itu tanggal tuwa, ya bopo guru? Di dalam kantong saku cuma isi uang lima ribuan satu lembar saja, ya?” tanya Wisanggeni, “Oooo kalo itu namanya krisis! Yang dimaksud kritis itu kalo ada hal-hal yang menyimpang, harus berani ngritik agar menjadi baik” jawabe Begawan Senorodro sambil mlintir kumisnya. Jadi sifatnya seperti LSW (Lembaga Swadaya Wayang), hanya saja ini tidak dapat sponsor dari asing. Semua cantriknya boleh ngritik penguasa mana saja, baik di Ngarcopodo maupun di kahyangan. Dasar cantrik-cantrik Tunggul Pawenang memang beraniberani, Wisanggeni akhirnya ngritisi kehidupannya para dewa yang kehidupanya serba glemoor yang tidak sesuai dengan gajinya. Dia menyebar buletin

Wutah Getihku (Mahardono Wuryantoro) Gumelar jembar bumi asri Sumunar sumringah sunare bagaskara Padhang sumilak hanelai jagad Nuswantara Bumi pusaka wus kawentar Ombak-ombak samodra, kencana kang ngrenggani Wutah getihku daktresnani Kawulamu.... Guyub rukun anambut kardi Jeroning swasana tentrem lan mardika Gilig ing tekad manunggal Cumithak jeroning ati, bebarengan ambangun Aku lila.... Korban jiwa raga kanggo bumiku Nadyan awak ajur dadi sawur Lan getihku mblabar mili, netes ing bumi pertiwi Labet raharjaning nagara Lumantar iki.... Isining atiku ginurit Prasetyaku thukul saka ati kang tulus Njaga langgenging kamardikan Donga pujiku kebak kaendahan, kanggo wutah getihku

Akhir Dari Sebuah Kisah Dening: ANTOK KARTIKO Ambisi memenuhi relung jiwa tak berarti... Kilauan bintang hanya ada diangan-angan... Harapan sirna, diantara sejuta pinta... Ilusi membayang, terpuruk duka ... Ruang waktu tak jua membuka asa... Kisi-kisi hati memendam sebuah cerita... Tergolek resah, jiwa dahaga... Untaian mimpi yang tak terbeli... Terkapar dalam ketidak pastian kehidupan... Nafas tersenggal menanti ajal.... Jerat siksa, sudah menanti disana...

Amarah Mahesa Sura Gemuruh suara geramanmu ,ciutkan nyaliku... Kau tebarkan asap neraka nan sesakkan dada... Bara dalam tubuhmu ,lelehkan jasad tak berdaya... Kau buat manusia seolah air dalam bejana... Apakah ini hanya ungkapan rasa kesalmu... Melihat polah tingkah manusia yang diluar batas... Tanpa alasan bertindak arogan... Tiada bisa memahami arti hidup ini... Andaikata aku bisa meminta... Hentikanlah amarah dan murkamu,... manusia yang tak berdosa mengalami derita... apalagi isyarat debumu kamu lemparkan sejauh yang kamu mau... Sudah cukup,... aku melihat kekuatanmu... Redakan amarahmu wahai Mahesa Sura sang perkasa... Aku mengakui kehebatanmu....

IRYANI Temaram malam bangkitkan sebuah kenangan... Lebih dari sewindu kenangan itu terperangkap rapat di relung sanubari... Serasa menekan dalam perasaan... Namun tak mampu aku lepaskan... Ombak pantai jimbaran,... Jadi saksi naluriku mengenal arti cinta... Tapi ombak pantai jimbaran jua, Jadi saksi karamnya perahu cintaku sebelum sempat berlayar Iryani... Nama itu telah sanggup ciptakan tawa dan tangisku ... Iryani... Kepedihan yang kamu berikan tak bisa ciptakan kebencianku padamu... Dan kini rasa itu, sulit untuk pergi... Sebab Sosok bidadari fantasiku ,telah kembali lagi... Meskipun ada perasaan senang namun jiwaku terasa gamang... Akankah aku mampu jadikan kamu takdirku? Atau kamu sakiti aku lagi?

Kerja, Karya, Dharma Ke-khasan wayang tidak semataberkutat pada siapa atau apa yang terlibat di dalamnya. Tiga babak besar dalamtiap pertunjukan wayang pun disebut Stange (1998: 66) sebagai gambaran dariproses ‘evolusi spiritual’.

W

ayang biasanya dimulai pada pukulsembilan. Tiga jam pertama ini di kenal sebagai pengantar. Prolog ataskejadian, sebuah sebab-akibat yang kelak akan. Orang menyebut fase ini denganPathet Ném. Kata Ném sendiri kemudian diidentikkan dengan kata enom atau muda.Dicabutnya gunungan dari gedhebok pisang oleh sang dalang adalah lambangkelahiran yang dua, yakni pehelaan antar binary dalam kehidupan. Pada tengah malam pertunjukan akanmemasuki Pathet sanga. Masa ini diasosiasikan sebagai masa seorang dewasamemandang masalah, memilah dan menetapkan suatu nilai bagi dirinya. Pada masaini Para Punakawan muncul dengan gojekan-gojekannya yang sarkas. Digambarkanpula bagaimana seorang tokoh berusaha menyelesaikan masalah. Biasanyapenggambaran ini diwujudkan dengan usaha mempertemukan diri dengan diri malaluijalan tapa, menyepi dan lain sebagainya. Geertz (1981: 369) menjelaskanusaha ini (tapa, menyepi, dsb) tidaklah dapat dipadankan dengan penolakan atashidup. Yang tepat adalah pengunduran diri sementara atau dalam bahasanya“…bukanlah pelarian diri dari kehidupan, tapi pelarian dalam hiduplah yangdipuji” karena inilah sesungguhnyaetik satria. Pengunduran diri dengan demikian berfungsi untuk mempertemukanDiri dengan Realitas Akhir, sebuah usaha untuk meniadakan emosi yang duniawai.Dengan cara ini energi akan terfokus menjadi kekuatan besar yang bermanfaat. Pilihanpada akhirnya akan bergantung pada bagaimana tokoh tersebut melihat kontekspermasalahan, “…mistik adalah sebuah ilmu yang netral secara moral dan bisajuga digunakan setiap orang. Ia membawa pengetahuan; dan sebagaimana halnyailmu pengetahuan pada umumnya,pengetahuan itu merupakan kekuasaan untuk kebaikan maupun keburukan” (Geertz:1981: 366). Usaha tapa, nyepi dan sebagainyaini sebenarnya dapat dipadankan dengan usaha penjarakan atau yang lebih dikenalsebagai distansiasi pada masyarakat modern. Ketika seseorang mempertanyakanyang mistis (yang diniscayai pun sekedar dipercayai tanpa di fikir) dengandemikian ia telah berada di ruang ontologis. Fase yang ontologis inilah yangpada gilirannya akan memperlihatkan fungsi dan senyatanya peran. Etik ksatriabermain di aras ini. Seperti layaknya Arjuna

Yang disuruh menghukum Begawan Senorodro dengan murid-muridnya, Betari Durgo. Dewa-dewa di Pasetran Gondomayit segera bertindak. Agar tidak melanggar HAW (Hak Azasi Wayang), Begawan Senorodro CS hanya dimasukkan Cupu Retno Dumilah. Mesti saja keluarga Pandawa tidak terima, tapi malah diikutkan dosanya sekalian. Puntodewo, Arjuno, Nakulo-Sadewo dimasukkan Cupu Retno Dumilah. “Monggo pukulun, Cupu Retno Dumilah yang sudah terisi Begawan Senorodro CS beserta keluarga pendowo sudah bisa dibungkem” laporanya Betari Durgo. “Kapokmu kapan! Dewa itu alergi kritik, kok dilawan” kata Batoro Guru kelihatan puas. Ganti yang diceritakan, tapi masih satu cerita namun beda yang dicetakan. Prabu Kolo Srenggi di negara Nusakambana sedang marah. Dia mencak-mencak dengan adanya buletin yang menggambarkan seekor babi dituntun dewa. Kalau isinya, masalah rekening gendut para dewa, tidak masalah. Tapi kalau ada celeng dituntun dewa, ini namanya pelecehan institusi. Masak golongan wraha temanya Demalung (tokoh Sang Prajoko) kok direh para dewa, ya enggak masuk akal. Ini termasuk pembunuhan karakter bangsa celeng. “Kita harus gugat. Hay patih Kolo Srenggono, cari pengacara yang mahal. Beni Kalimalang apa

PAL A

yang kejam atas nama keharusan‘nasib’, tiap tokoh pada gilirannya akan memainkan perannya masing-masing danwajib menyelesaikan tugasnya. Tidak ada yang dapat merubahkewajiban—bagaimanapun beratnya atau naifnya—itu kecuali perumusan ulangmengenai peran dan posisi tadi. Puncaknya adalah persiapan bagiperang ageng dari tokoh yang telah menjadi ksatria itu. Pathet Manyura atauBurung Merak adalah fase akhir dari perjalanan tersebut. Fase ini dimulaisekitar pukul tiga dini hari sampai menjelang fajar dan merupakan gambaran bagisebuah hari tua. Ia filosofis dan seakan memapar sisibalik-senyap: sebuahkesimpulan akhir dari penggal perjalanan hidup. Patut diketahui, sebagai lakoncarita, Ramayana walau sama-sama menghadirkan satu epos besar sebenarnyatidaklah mendapat tempat yang sama dengan Mahabarata. Orang Jawa cenderungmenyukai yang kedua. Mahabarata dianggap memiliki totalitas, tiap tokoh dapatdikatakan memiliki perjalanan sendiri-sendiri. Paling tidak ini terbukti daribanyaknya carangan yang dihasilkan sementara Ramayana hanya berkutat pada satualur besar yang dianggap cenderung statis dan linear. Yang juga menarik adalahhadirnya Buto (raksasa) dan juga Sang Punokawan: Semar beserta anakanaknya; Gareng,Petruk dan Bagong. Buto adalah mahluk yang selalu adabaik dalam lakon Ramayana maupun Mahabarata. Ia tidak memiliki nama, tidakmemi-liki leluhur dan ti-dak datang dari satu kerajaan. Katakanlah ia semacammahluk tanpa identitas dan ber-curriculum vitae kosong. Namun demikian iaselalu hadir, ada, pun ketika ke-matian telah menjemput. Mereka ini pada suatu waktu akanhidup lagi dan begitulah seterusnya. Geertz menjelaskan (1981: 363) imortalitasini bagi orang Jawa kemudian disejajarkan dengan gambaran nafsu yang harusselalu ditiadakan. Satu kali berhasil bukan berarti selamanya manusia telahterbebas darinya (nafsu). Magnis-Suseno (2001: 166-167) menyebut fungsi butosebagai pengon- tras antara ‘yang Jawa dan bukan Jawa’ sekaligus pembelokan dari tragikgelap Mahabarata. BERSAMBUNG

Kolo Srenggi Gugat

yang berbunyi “REKENING GENDUT DEWA-DEWA KAHYANGAN”. Agar lebih menarik perhatian yang membaca, di buletin tersebut diberi fotonya Sanghyang Bathoro Guru lagi nuntun Celeng. Lha rak tenan to! Dewa-dewa di Jonggring Saloka tersinggung berat dengan adanya buletin tadi. Bukan gambarnya, tapi isinya, nuduh kok nyolok! Ha ning gimana lagi, mengandalkan gaji yang hanya setara dengan UMR (Upah Minimum Regional) ya tidak cukup sungguh untuk hidup. Maka biar dewa-dewa tidak sering ngebon gaji, terus sama ngobyek jadi backing sana-sini, jadi komisaris perusahaanya si Suto dan si Noyo. Karena uang itu memang enak dan miroso, tidak terasa tahu-tahu rekeningnya di bank sampai miliaran. “Elek, elek, eleeekkkk........., kenapa pada sentimen itu kan uang-uang ulun sendiri” kata Betoro Narodo ndremimil seperti kebakaran kumis. “Padepokan Tunggul Pawenang harus ditutup, murid dan gurunya dimasukan kawah Condrodimuko. Dewa kok dipakai mainan, ini sama saja ngrongrong kawibawan dewa!” perintah Betoro Guru emosi beneran. Bener saja dewa-dewa kahyangan sama blingsatan, karena data-data yang dibeber Wisanggeni CS persis dengan yang tercatat di PDKT (Pusat Data Keuangan & Transaksi). Umpamanya: Betoro Narodo Rp 15 miliar, Betoro Guru Rp 12,5 miliar, Sanghyang Bromo Rp 10 miliar. Yang paling mencolok rekeningnya Sanghyang Temboro, dewa hanya golongan IIC saja punya rekening sampai Rp 95 miliar. Ini uang semua apa campur koran?

CEM

Otje Kelinggis!” perintah sang Prabu Kolo Srenggi. “Tuntutannya nanti pidana apa perdata?” mahapatih minta petunjuk. Jawaban Kolo Srenggi tetap ngeyel keduaduanya. Dewa-dewa di kahyangan harus dihukum. Secara perdata Kolo Srenggi minta ganti rugi berupa para bidadari yang seksi-seksi. Bidadari Dewi Gagarmayang, Dewi Tunjungbiru, Dewi Irim-irim, Dewi Sandra apa Sandra Dewi harus disetorkan. Pokoknya, semua bidadari yang pakai nama dewi, itu jatahnya Prabu Kolo Srenggi. Tapi kalau Dewi Murni biar diambil Mus Mulyadi. Mesti saja Bale Marcukundo tidak gigrik dengan ancamannya Nusakambana. Orang lagi nggugat Begawan Senorodro, malah didugat ratu kepala babi. Ngajak apa, berani. Prabu Kolo Srenggi-Patih Srenggono terus menyiapkan wadyobolo beberapa truk, langsung ke Jonggring Saloka. Jebulane Betoro Guru hanya omonganya doang. Digrudug raksasa-raksana Nusakambono dewa-dewa Jonggring Saloka miris semua. “Kakang Narodo, kalau mungsuh ratu seperti Demalung seperti itu, panggilkan Wresiswa saja, pasti beres” kata Hyang Manikmoyo giris. “Elekkkkk, elekkkk........ itu tidak mungkin. Sebab Sang Prajoko sudah lama tidak muncul di TV” jawabnya Betoro Narodo. Bingung untuk menghadapi ngamuknya barisan dari Nusakambono, Betoro Guru minta petunjuk eguh pertikelnya Betoro Narodo. Tanpa malu-malu Begawan Senorodra CS yang sudah meringkuk di Cupu Retno Dumilah dikeluarkan, dimintai tolong untuk menghadapi Kolo Srenggi dan Sanghyang Komojoyo dari kahyangan Cokrokembang. “Lho kok pukulun Sanghyang Wenang dan Betoro Komojoyo. Apa mau studi banding ke luar negeri?” kata Betoro Guru dan Narodo. “Aku apa kau anggap DPR? Ini pepeling untuk jeneng kito semua. Jadi penguasa zaman reformasi jangan alergi kena kritik. Disindir tidak usah muring. Harus intrukpesi, beres to!” kata Sanghyang Wenang sebelum pulang ke kahyangan di ngondar-andir Bawono. (cutel)

MAGETAN LINTAS Awas, Enam PSK terinfeksi HIV menyebar di Magetan MEDIA ASPIRASI/DAHLAN EFENDI

KAWASAN pasar penampungan yang diduga menjadi tempat Migrasi PSK. MAGETAN, Media Aspirasi – Sedikitnya enam Pekerja Sek Komersial (PSK) terjangkit penyakit HIV AIDS berkeliaran di wilayah Magetan. Pun setelah lokalisasi Madusari (Baben) resmi ditutup oleh pemkab setempat. Data tersebut diperoleh dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Magetan. Ironisnya, saat ini ke enam wanita penghibur masih aktif mangkal di warung remang-remang kawasan pasar penampungan Magetan. Di khawatirkan kedepan penyakit ini dapat meningkat signifikan lantaran banyaknya lelaki hidung belang yang menolak memakai pengaman saat menyewa PSK. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan Harry Susanto mengatakan, enam PSK yang terjangkit virus HIV AIDS masih aktif melayani tamunya dan menyebar di wilayah Magetan. Kendati demikian, petugas membiarkan ke enam PSK tersebut untuk menerima tamu. Pasalnya, tidak ada larangan bagi pengedap penyakit mematikan itu untuk praktik apalagi menyangkut pekerjaanya. Oleh karena itu, sejauh ini pihaknya mengaku hanya bisa memantau perkembangan kesehatan penderita. Seperti, pemberian obat dan pemeriksaan rutin di lakukan selama seminggu sekali. ‘’Semakin lama kondisi tubuh mereka akan mengalami penurunan dan lemas, ‘’ terangnya, Senin (3/3). Guna mengatisipasi terjadinya peningkatan penyebaran Virus HIV AIDS di Magetan. Harry menghimbau agar para lelaki hidung belang menggunakan pengaman saat menyewa PSK. Apalagi kondom, bisa mudah didapatkan. Namun, pihaknya mengaku selama ini praktik yang terjadi malah sebaliknya. Para lelaki hidung belang kebanyakan memilih tanpa memakai alat kontrasepsi, dengan alasan lebih nyaman dan nikmat. ‘’Mereka kerap mengabaikan himbaun petugas dengan dalih tidak nyaman, ‘’tuturnya. Disamping gencarnya menyerukan pemakaian kondom. Dinkes juga aktif melakukan screening kepada warga yang diduga terjangkit penyakit HIV AIDS. Biasanya, petugas akan mengambil simple darah sebagai bahan pemeriksaan. Selain itu, di wilayah Magetan juga sudah didirikan klinik Voluntery Counseling and Testing (VCT). ‘’ Harapan kami konselor VCT bisa memberikan pelayanan yang baik bagi penderita HIV, ‘’ imbuhnya. Harry menambahkan, saat ini sebanyak 193 warga Magetan positif terjangkit penyakit HIV AIDS. Penderita 27 orang diketahui tinggal didalam kota, 80 di pedesaan dan sisanya sudah meninggal dunia. Penyakit mematikan tersebut lebih banyak menjangkit pada ibu-ibu rumah tangga yang terinfeksi dari suaminya sendiri. Tak hanya itu, HIV juga sebagian menyebar dari tenaga kerja yang bekerja di luar negeri. ‘’Tak menutup kemungkinan para TKI juga terjangkit virus tersebut. Besar kemungkinan saat bekerja penderita melakukan sek bebas,‘’ ujarnya. (ef/rd)

INFRASTRUKTUR

Baru Sebulan Tanggul Jalan Ambrol MAGETAN, Media Aspirasi - Tanggul jalan yang berada di Desa Baleasri, Kecamatan Ngariboyo, Magetan menjadi buah bibir. Pasalnya, belum genap sebulan, tanggul ambrol hingga sepanjang 10 meter. Bahkan kerusakkan merambat hingga badan jalan dengan kedalaman hampir dua meter. Beruntung tidak sempat memakan korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Meski jalan yang tersebut tiap hari ramai dilalui warga. Apalagi, dilokasi minim sekali penerangan jalan. ‘’Untung saja tidak sampai mencelakai orang yang lewat,’’ ucap Misman, warga setempat, Jum’at (28/2) lalu. Meski tak memakan korban, lanjut Misman, ambrolnya tanggul jalan tersebut membuat sebagian lahan persawahan miliknya menjadi rusak. hal itu lantaran tertimbun oleh pecahan bahan bangunan. Padahal, tanaman padi miliknya sudah mulai menguning dan siap dipanen dalam waktu dekat. Kendati sudah beberapa hari ambrol, tidak ada upaya dari pihak terkait untuk membersihkan bekas ambrolnya talut tersebut. ‘’Kalau saya disuruh membersihkan sendiri, kapan selesainya,’’ keluhnya saat dikonfirmasi koran ini. Informasi yang dihimpun, talut selesai dibangun bulan Januari lalu dengan menggunakan anggaran dari Jalin Aspirasi Masyarakat (Jasmas). Pembangunan proyek talut memakan biaya hingga mencapai ratusan juta rupiah. Pembangunan talut sempat menuai kontrofersi lantaran tanah yang digunakan memotong sebagian lahan sawah milik warga. Misman menjelaskan, kerusakkan tanggul jalan diduga lantaran buruknya kualitas bangunan. Talut yang jebol, lanjut dia, juga disebabkan lantaran kondisi tekstur tanah lembab dan becek setelah di guyur hujan lebat. Pasca kejadian tersebut, warga meminta agar pemerintah segera memberikan solusi agar talut dapat segera dibangun kembali. Hal itu dikhawatirkan musim penghujan tahun ini akan mengakibatkan longsor susulan. ‘’Kalau tidak nanti malah merambat lebih luas lagi,’’ jelasnya. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Magetan, Hergunadi membenarkan adanya hal tersebut. Kerusakkan tanggul yang berada di Desa Baleasri bukan menjadi tanggung jawab intansinya. Hal itu lantaran talut tersebut tidak menggunakan anggaran daerah melainkan dana Provinsi. Terkait dengan perbaikan, pihaknya mengatakan tidak mau berkomentar apakah harus dari swasembada atau desa setempat. ‘’Yang jelas talut jalan dibangun tidak menggunakan dana PPIP,‘’ terang Hergunadi. (ef/rd)

7

EDISI 50 5 - 11 MARET I TAHUN 2014

MAGETAN, Media Aspirasi – Terkait Kredit Usaha Peternak Sapi (KUPS) yang sedang ditangani Kejaksaan Negeri Magetan, ada fakta yang mencengangkan. Pasalnya, dari hasil investigasi wartawan koran ini, dikelompok KUPS Sekar Tani Desa Mrahu, Kecamatan Kartoharjo, Magetan, yang tersisa hanya kandang belaka. Bariem, salah seorang anggota kelompok mengatakan merugi lantaran sapi tidak sesuai dengan harapan. Selain hasil keturunan jelek dan kerdil, peternak juga mengeluhkan masalah beberapa induk sapi BX yang tidak mau menyusui anaknya. Oleh karena itu, banyak anak sapi yang mati hingga mencapai 10 ekor lebih tiap tahunnya. Takut merugi lebih banyak lagi, pihaknya memutuskan untuk menjual semua sapi. ‘’Kalo diteruskan bisa merugi lebih banyak lagi,’’ keluhnya, Selasa (4/3). Bariem menambahkan, selama memelihara sapi tersebut, peternak sengaja membeli semua pakan sapi. Seperti, bekatul, polar, jerami dan titen. Bahkan, agar sapi bisa menghasilkan untung besar, peternak kerap berburu pakan hingga keluar kota. Kendati demikian, Bariem heran sapi yang dirawatnya tak kunjung memberikan kualitas anakan yang baik. ‘’Dalam sebulan pengeluaran

untuk pakan mencapai jutaan. Semoga dari pengeluaran itu bisa mendapatkan ganti dari hasil anak,‘’ jelasnya. Tak hanya itu, dengan jumlah sapi yang cukup banyak dan liar, pihaknya memutuskan untuk membayar satu orang guna mengelola kandang. Tak tanggung-tanggung dalam sebulan pengelola digaji Rp 750.000. Namun hal itu tidak berlangsung lama lantaran peternak hanya kuat bertahan beberapa tahun saja menggaji petugas tersebut. ‘’Kalau tidak ada pembantu dalam mengurus sapi tersebut, tidak mungkin bisa. Karena banyaknya sapi,‘’ ungkapnya. Setelah dirasa merugi, para anggota memutuskan untuk menjual seluruh sapi yang tersisa. Hal itu setelah sapi tidak berproduksi dan kandang terancam mangkrak. ‘’Sekarang yang ada hanya kambing pribadi saja,‘’keluh Bariem. Sementara itu, hal senada diungkapkan Haryono, peternak dari kelompok ternak Desa Campursari. Dirinya menuturkan puluhan ekor sapi yang diterimanya hanya tersisa 4 ekor saja. Sedangkan sisannya dijual lantaran kualitas buruk. Selain pemeliharaan sulit, hewan ternak yang diterimakan juga rawan sakit. ‘’Bayangkan saja, dalam setahun biaya pemeriksaan dan pakan 1 ekor sapi mencapai 7 juta,‘’ jlentrehnya. (ef/rd)

KUPS Cuma Sisakan Kandang

MANGKRAK : Kandang salah satu kelompok KUPS yang mangkrak lantaran sapi habis dijual.

Bantuan RTLH Hanya Janji Doang RADAR MAGETAN/ D. EFENDI

KONDISI rumah Saminah hampir roboh dan gentingnya berlubang MAGETAN, Media Aspirasi - Tercatat sebanyak lima warga

Desa/Kecamatan Ngariboyo harus gigit jari lantaran tidak

mendapatkan bantuan rumah tak layak huni (RTLH). Pada-

hal, Saminah, 70, salah seorang calon penerima mengaku sudah dua kali didatangi petugas yang didampingi lurah desa setempat. Tak hanya itu, Saminah juga dijanjikan mendapat bantuan THLH. Bahkan, Lurah Ngariboyo sempat mengatakan akan mengirim kayu secepatnya. ‘’Sudah hampir tiga bulan kok belum juga datang,’’ ucapnya, Selasa (4/3). Saminah mengaku, dirinya sangat senang saat didata menjadi penerima bantuan RTLH. Selain atap berlubang, kondisi rumahnya hampir saja roboh lantaran kayu sudah banyak yang lapuk. Namun, setelah ditunggu beberapa bulan bantuan tersebut tidak kunjung datang. Dia mengaku kecewa dan merasa dipermainkan. ‘’Kalau dulu tidak dijanjikan, saya tidak mungkin mengharapkan terus kayak begini,‘’ keluhnya. Menurut dia, tanpa mendapatkan bantuan terse-

but, dia tidak akan mampu memperbaiki kerusakkan rumahnya itu. Terlebih hasil yang didapatkannya dari menjual nasi bungkus di sekolahan hanya dapat digunakan untuk membeli kebutuhan pokok sehari-hari. Oleh karena itu dia mengharapkan kejelasan dari pihak terkait dengan bantuan yang telah dijanjikan. ‘’Saya tinggal dengan suami saya dan sekarang dia sedang sakit stroke,’’ ungkapnya. Kepala Dinas Pekerjaan Umum BMCK Magetan, Hergunadi membenarkan adanya program tersebut. Pihaknya menjelaskan bahwa calon penerima bisa gagal jika dalam satu kelurahan penerimanya lebih dari 5 orang. Terkait dengan nasib Saminah, pihaknya berjanji akan segera menerjunkan tim untuk meninjau ke lokasi. ‘’Kami akan mengkaji dulu permasalahannya kenapa bantuan tidak bisa cair, ‘’jelasnya. (ef/rd)

Investor Penangkar Buaya, Lirik Objek Wisata Telaga Wahyu

MAGETAN, Media Aspirasi - Upaya Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olah Raga (Disparbudpora) memperkenalkan sejumlah tempat wisatanya menuai hasil. Buktinya, dua pengusaha berasal dari Semarang dan Putra Daerah tertarik untuk menjadi investor. Bahkan, salah seorang diantaranya ingin menyulap Telaga Wahyu yang berada di Desa Ngerong, Kecamatan Plaosan tersebut menjadi penangkaran Buaya. ‘’Semua masih dalam tahap penjajakan. Dan belum ada keputusan,’’ ucap Siran, Kadisparbudpora, Senin (3/3). Biasanya, lanjut Siran, para investor tidak mau gegabah menyepakati kerjasama itu. Mereka (para investor, Red) masih memperhitungkan secara detail. Mulai dari jumlah pengunjung tiap harinya, bagaimana letak geografis wisata tersebut dan kedepan dapat mengembangkan perekonomian daerah setempat. ‘’Hal itu dilakukan para investor agar investasi yang ditanamkan menuai hasil melimpah. Pengusaha jelas tidak mau merugi nantinya,’’ tambahnya.

Sejauh ini Disparbudpora belum bisa memberikan keterangan secara pasti. Siapa yang bakal menjadi mengelola Telaga Wahyu. Diakui, penangkaran buaya mempunyai peluang lebih besar untuk dapat meramaikan pengunjung telaga. Apalagi, di wilayah Magetan sangat sulit sekali menemui binatang langka tersebut. ‘’Selain berwisata menikmati pemandangan pegunungan juga bisa mengenal lebih detail hewan buaya,‘’ tutur Siran kepada koran ini. Terkait dengan nilai kontrak investasi Telaga Wahyu, pihaknya belum dapat memastikan berapa jumlahnya nominal yang harus diserahkan kepada daerah. Dipastikan pembayaran mencapai miliaran rupiah. ‘’ Untuk nilai kontrak, kami tidak bisa memastikan sebelum ada kesepakatan dari kedua pihak,’’ katanya. Meski sudah ada beberapa pengusaha yang melirik, Disparbudpora juga tetap membuka lebar kerja sama dengan investor lainnya. Hal tersebut akan terus di suarakan sebelum terjadinya kesepakatan. (ef/rd)

RADAR MAGETAN/ D. EFENDI

TELAGA WAHYU, yang menjadi lirikan inverstor penangkaran Buaya.

Situs Arca... Widayunarto (30) seorang juru pelihara (jupel) mengatakan situs Arca Banteng statusnya dibawah pengawasan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Mojokerto dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa Timur. Akan tetapi kenyataanya situs yang berjumlah belasan sekarang ini kondisinya ada yang rusak. Kerusakan sendiri akibat faktor alam juga banyak yang tak terurus. Padahal, dulu pernah ada penelitian mengenai situs pra sejarah tersebut. Namun, kini tak ada lagi instansi yang memperhatikannya. “Sebagai juru pelihara tentunya saya mengharapkan situs ini dikelola dengan baik oleh pemerintah,” terangnya, Sabtu (22/02). Diakuinya, warga sekitar situs sendiri menginginkan pemerintah segera turun tangan untuk menyelamatkan asset tersebut. Soalnya, kalau dibiarkan rusak maka akan

Sambungan dari halaman 1 ada sejarah yang hilang. Untuk itu, dirinya berharap supaya pemerintah dalam hal ini BP3 Mojokerto segera melakukan penelitian lagi terhadap belasan situs tersebut. Meski demikian, situs Arca Banteng yang lokasinya 22 kilometer dari Kota Ngawi ini setiap hari libur banyak didatangi pengunjung dari berbagai daerah. “Situs ini biasa disebut dengan Reco Banteng yang didalamnya mengandung sejarah era runtuhnya Majapahit, dan kemungkinan lokasi sekitar situs sini kalau digali masih banyak peninggalan karena alasan tertentu dari BP3 Mojokerto maka untuk sementara dilarang,” kata Widayunarto. Lanjut Widayunarto, mengenai asal usul situs Arca Banteng tidak lepas dari peninggalan leluhur yang menganut aliran Hindu Siwa era Kerajaan Majapahit sekitar

abad ke-14. Hal ini bisa dibuktikan dengan adanya beberapa arca seperti Ganesha, Nandi, Lingga Yoni, Stupa dan Makara. Pada abad kala itu merupakan awal runtuhnya Kerajaan Majapahit yang dibuktikan penyerangan oleh Kesultanan Demak pada 1478 Masehi atau 1400 tahun Saka. Dimana ketika itu prajurit Demak menghancurkan beberapa arca yang dijadikan lambang Hindu Siwa termasuk di situs Arca Banteng sendiri. “Sesuai sejarahnya kemungkinan situs Arca Banteng ini bagian dari candi, karena bersamaan masuknya Islam maka ditentang oleh Kesultanan Demak,” urainya lagi. Kemudian situs Arca Banteng pertama kali ditemukan pada tahun 1938 oleh Soikromo yang merupakan sesepuh Desa Wonorejo. Beliau menutur-

kan kepada warganya bahwa dirinya mendapatkan petunjuk dari para leluhur untuk membongkar gundukan tanah aneh yang berada disebelah selatan desa. Di katakan aneh karena gundukan tanah tersebut selalu di tunggui atau dijaga oleh hewan-hewan liar salah satunya banteng. Setelah disetujui oleh semua warga, tepatnya pada hari Jum’at Legi dengan menggunakan cangkul Soikromo dan semua warga membongkar gundukan tanah itu dan menemukan dua patung peninggalan leluhur yang beragama Hindu Siwa, patung tersebut bernama Ganesha dan Nandi. Karena disekitar penemuan arca ini dipenuhi banteng saat itu, maka oleh Soikromo terkait temuanya diberi nama Reco Banteng atau Arca Banteng. (pr/so)


8

OLAHRAGA

EDISI 50 5 - 11 MARET I TAHUN 2014

MEDIA ASPIRASI/ISTIMEWA

M U H A M MAD Hargianto menjadi penentu kemenangan Timnas U-19 saat dijamu Persewangi Banyuwangi, Senin (3/3).

BAYANGBAYANG PECAT!

BANYUWANGI, Media Aspirasi – Pelatih Tim Nasional U-19 Indra Sjafri, menilai ada beberapa pemainnya yang perkembangan penampilannya lambat. ‘’Ada beberapa pemain yang stagnan,’’ kata Indra setelah menyelesaikan Tur Nusantara mereka di Pulau Jawa, Senin (3/3). Mereka baru saja bertanding melawan Persatuan Sepak Bola Banyuwangi (Persewangi) di Stadion Diponegoro, Banyuwangi. Namun, Indra keberatan menyebutkan nama pemain Timnas U-19 yang stagnan itu. Menurutnya, dalam 10 kali uji coba, dia telah berupaya mengubah komposisi pemain, tapi ternyata tidak membuahkan hasil. Dalam sepekan ini, Indra akan mengevaluasi untuk memutuskan apakah mempertahankan pemain-pemain yang dinilainya stagnan itu atau memasukkan pemain baru. Saat ini, jumlah pemain Timnas U-19 adalah 29 orang. Indra melirik sekitar

Roy: Timnas U-23 Harus Menang!

Woronoya Bersiap Adu Jotos ke Jepang DOKUMEN MEDIA ASPIRASI

WONOROYA bersama pembina Pertina Pacitan HM Fathony. Dia mematok kemenangan pada laga di Jepang.

tujuh pemain dari klub-klub yang menjadi lawan uji coba timnas. Mereka berpeluang untuk mengikuti seleksi Timnas U-19. ‘’Masih kami pertimbangkan lagi,’’ kata Indra. Sementara itu, dari arena Stadion Diponegoro Banyuwangi, bentrok Timnas U-19 kontra Persewangi Banyuwangi, berakhir 1-0. Satu-satunya gol bagi Garuda Jaya dalam pertandingan ini dicetak pemain tengah Muhammad Hargianto. Bertanding di stadion Diponegoro, Indra Sjafri melakukan rotasi terhadap beberapa pemain. Tuan rumah yang bermain di depan publik sendiri, juga sempat memberikan perlawanan untuk Timnas U-19. Setelah bermain imbang 0-0 di babak pertama, Garuda Jaya akhirnya berhasil memecahkebuntuan melalui gol Muhammad Hargianto pada menit ke-70. Hingga peluit panjang dibunyikan wasit, skor 1-0 tetap bertahan menutup pertandingan Tur Nusantara kali ini. Setelah melawan Persewangi, Timnas U-19 akan berlatih kembali hingga tanggal 9 Maret di Sidoarjo, Jawa Timur, untuk bersiap melakukan Tur Nusantara di Kalimantan. (tempo.co/sidomi.com/dik)

JOGJAKARTA, Media Aspirasi – Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Roy Suryo berharap Timnas U-23 mampu meraih kemenangan ketika bertemu Timnas U-23 Malaysia di stadion Maguwoharjo, Sleman, Rabu (5/3) pekan ini. ‘’Berapa pun skornya, kemenangan harus diraih. Terlebih timnas bertanding di hadapan pendukung

sendiri,’’ ujar Roy, Sabtu (1/3). Roy mengungkapkan, meski diharapkan mampu meraih kemenangan atas Timnas U-23 Malaysia, tetapi para pemain tetap harus menjaga dan mengutamakan sportivitas. Selain pemain, suporter yang datang ke stadion juga diharapkan mampu menunjukkan sportivitas

‘’Bahkan setiap akan bertarung, saya maksimalkan dua bulan untuk persiapan,’’ tambahnya. Khusus untuk pematangan teknik, petinju profesional yang sudah bertanding sebanyak 63 kali itu tidak ingin main-main. Maklum, kendati beda usia lawan sangat jauh, biasanya para boxer Jepang lebih diunggulkan dalam masalah teknik. Oleh sebab itu, beberapa strategi diklaim sudah disiapkan oleh Woronoya untuk mengalahkan Taruto Moi. ‘’Kalau di usia muda, biasanya belum matang di pengalaman. Itu yang akan saya manfaatkan,’’ tandasnya. Selain itu, pada latihan teknik, dirinya tetap disiplin. Seperti jenis pukulan, masih dilakukan jenis pukulan jab, straight, upper cut hingga hook. Mengenai pola makan, Wonoroya mengaku tetap mengatur pola makan sehari-hari agar tidak terlalu mempengaruhi berat badan. ‘’Di pertandingan nanti, saya memancing emosi Taruto Moi agar pukulannya tidak terfokus. Karena seorang petinju harus bisa menahan emosi dan harus fokus pada arah yang mau dipukul. Apalagi, tinju bukanlah perkelahian, tetapi olahraga untuk melatih emosional seseorang,’’ pungkasnya. (bc/dik)

PACITAN, Media Aspirasi – Petinju profesional asal Pacitan Woronoya akan kembali diuji kemampuannya di Tokyo Jepang pada 10 April mendatang. Wonoroya yang pernah mengagumkan nama kota Pacitan ini, pernah adalah petinju yang pernah menyabet juara nasional. Pria yang sehari-hari berprofesi sebagai petugas keamanan di salah satu perusahaan swasta itu giat berlatih menjelang keberangkatannya. Menurut penjelasan Wonoroya alias Subandi, 43, dirinya bakal bertanding dalam partai tambahan kejuaraan internasional di Jepang, di kelas terbang 50,8 kilogram mela-

yang kreatif dan menarik. Jangan sampai suporter melakukan tindakan-tindakan yang dapat mengganggu jalannya pertandingan. Seperti menyalakan mercon, kembang api, melempar tisu ke tengah lapangan atau melempari pemain lawan. ‘’Penonton juga harus sportif dan mematuhi aturan-aturan

wan petinju tuan rumah berusia 19 tahun, yakni Taruto Moi. ‘’Umur memang terpaut jauh. Kini saya berusia 43 tahun, tetapi saya tidak akan mundur demi nama Pacitan dan Indonesia,’’ jelasnya, Senin (3/3) kemarin. Ditambahkannya, sejak pertengahan Januari lalu, dirinya sudah mulai memprogram latihan untuk pertandingan. Mulai penguatan fisik, hingga mematangkan teknik. Dia mengaku meluangkan jadwal sesuai dengan pekerjaannya. Yakni seminggu empat kali. Setiap hari Minggu, Senin, Rabu dan Jumat. Sedangkan untuk pemantapan fisik, dia melakukannya pada malam hari sepulang aktivitas.

yang ada,’’ ucapnya. Rencananya, Roy akan hadir menyaksikan pertandingan perdana uji coba anak asuh Aji Santosa kontra Timnas U-23 Malaysia itu. Meski begitu, informasi yang dihimpun, bukan tim inti Malaysia U-23 yang akan menjajal skuat Garuda Muda asuhan Aji Santoso, melainkan tim Malaysia U-23 B atau tim la-

pis kedua alias cadangan. Pasalnya, para pemain inti yang tergabung di tim nasional Malaysia U-23 A sedang dipersiapkan untuk mengikuti Liga Queensland di Australia selama 6 bulan ke depan sebagai persiapan ke Asian Games 2014. Adapun Malaysia U-23 B sebenarnya terdiri dari pemain di bawah usia 21 tahun. (kompas.com/dik)

Siapa Caleg Pilihanmu?? Kirimkan jawaban Anda, cukup melalui SMS ke nomor: Caranya, ketik: Poling MA <spasi> Nama Anda <spasi> Alamat Desa/Kelurahan, Kecamatan, dan Kabupaten <spasi> Nama Partai <spasi> Nomor Urut Caleg Pilihan <spasi> Nama Caleg Pilihan. Contoh: Poling MA Anjasmara Desa Tamanarum, Kecamatan Parang, Magetan Partai Demokrat 2 Sartono

3

2

1 NO

NAMA LENGKAP

1

drg. Hj. YAYUK S.R

2

H. MURYANTO, SH., MM.

3

ERNAWATI, SH., MH.

4

DENNY PURWANDARI, SP

5

MOHAMAD SIGID GUNARTO

6

HERMAWATI

7

Dr. SUJANTO, SE., M.Kes.

8

HARTOJO BUDI PURWANTO

6

NO

NAMA LENGKAP

NO

NAMA LENGKAP

NO

NO

NAMA LENGKAP

NO

1

IBNU MULTAZAM

1

H. ROFI' MUNAWAR, LC.

2

MOCH. MUNIB HUDA

2

NUR SYA'DIYAH AMANATI

3

DITA INDAH SARI

4

M. SYAMSUL HUDA

3

H. RIYADH ROSYADI

5

GOZALI MUNIR, S.Th.I

4

LANJAR, SPd.

6

RINTA HANASTUTI. M

5

ARIF YENI VARIANTO

7

Dr.H.SAPUTRO SATRIYO

6

DYAH PELITAWATI

8

ENDANG DARMAWATI

7

8 NAMA LENGKAP

NO

NAMA LENGKAP

Drs. SUPRIYANTO

1

EDHIE BASKORO YUDHOYONO

1

Dra. MARDIANA INDRASWATI

2

R. INDRA PRIANGKASA, MH.

2

SARTONO

2

FERI INDRA SUWARTO

3

NO

NAMA LENGKAP

DIAN NAWANGWULAN, S.Pd

3

DIAN ANIK PURWANDARI, SE

3

4

Ir. H. GATUT PRASETIYO, MBA

4

Drs. AZIZ AHMADI, M.Sc

4

SITI KASIYATI, S.Ag, M.Ag

5

NOVA ERIN KISMIATI, A.MD

5

Drs. SAGUNG PANGESTU

5

AIDIL FITRI, ST

6

H. A. SEDYO UTOMO, ST

6

NANIK HARIYATI, S.Sos

6

AGUNG TJAHJONO UTOMO

7

SUGENG NUGROHO, SH

7

SIGISMOND BHARATA. W.N

7

ADI WICAKSONO, SE, AK

8

Dra. DWI SEPTAHANY. I

8

Hj. MARIANA HARAHAP

8

Drs. MUHAMAD TAUFIQ, ST

NO

NAMA LENGKAP

1

BINNY BINTARTI. B, SS

MOCH. GENG WAHYUDI

2

H. GATOT SUDJITO, M.Si

HIASHINTA PRASTUTY, SH

3

dr. LINDA L.A.N WASESO

4

HERI ACHMADI

4

DIDIE WIJOYONO. S

5

Ir. DAHONO IRIANTO, MM

5

GUNAWAN HIDAYAT, M.Sc

6

DIYEN ANDRITA, SH.

6

Hj. LARASATI SRI. A, S.H. P

7

ARIK ARINDONDO

7

AGUS SUGIANTO, SE

8

MELIA WINDIYANA

8

ARYA RIZQI DARSONO

1

Drs. SIRMADJI, M.Pd

2 3

10

9

1

RUSMINIATI, SH, MKn

5

4

NO

NAMA LENGKAP

1

Ir. SUJONO HADI SUDARNO, MM

2

ROMI WIBISONO, S.Ikom

3

Dra. Hj. SITI. CHOTIKA, M.Si

4

ANTON PRATIKNO, SE

5

DRS. MARSAHID, M. HUM

6

Dra. FENI DWI JAYANINGRUM

7

PRADITYA ANGGI YJ

8

H. MAHFUD ROHANI

NAMA LENGKAP

1

Hj. SOEMIENTARSI MUNTORO

2

THOMAS WIHONGKO

3

OSCAR M. ARITONANG

4

SYARIFAH DWI MEUTIA. S, SH

5

MASHUDI, ST

6

DIAH EKANINGTIAS, Ak, MM

7

IFAN TRI SASONGKO

8

NGATIYAH, S.Ag

TRENGGALEK

DIPERIKSA, MANTAN BUPATI MENGAKU SAKIT

TRENGGALEK, Media Aspirasi -Mantan Bupati Trenggalek, HM Soeharto diperiksa Kejaksaan Negeri setempat terkait kasus dugaan korupsi proyek PDAM senilai 750 juta tahun 2007, Rabu (26/02). Mantan Bupati Trenggalek periode 2005-2010 ini, diperiksa selama sekitar tiga jam dan mendapatkan sedikitnya enam pertanyaan dari jaksa penyidik seksi pidana khusus (Jampidsus) . "Belum banyak yang bisa digali karena tersangka mengeluh sakit vertigo dan gula darahnya naik. Tadi sudah sampai ada enam pertanyaan," kata Kasi Pidsus Kejari Trenggalek, I Wayan Sutarjana. Ia menambahkan pihaknya akan memanggil kembali tersangka guna dilakukan pemeriksaan lanjutan. "Yang jelas, kami akan panggil lagi

MEDIA ASPIRASI/ISTIMEWA

MANTAN BUPATI Trenggalek, HM Soeharto dalam waktyu dekat ini, karena pemeriksaan belum selesai. Kita lihat saja nanti," ujarnya. Mantan Bupati Treng-

INFRA STRUTUR Warga Nekat Seberangi Jembatan Patah MEDIA ASPIRASI/ISTIMEWA

galek HM Soeharto ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan proyek pembukaan jalan pipa PDAM di kawasan mata air Bayong di Kecamatan Bendungan. Proyek yang dibiayai dana penyertaan modal Pemkab Trenggalek tersebut diduga menyalahi aturan, karena dikerjakan tanpa melalui tender. Selain itu, nilai proyek baru ditentukan setelah pekerjaan selesai. Berdasarkan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Jatim, proyek PDAM Trenggalek itu menyebabkan kerugian negara sebesar Rp450 juta. Kerugian itu muncul karena terjadi selisih antara volume pekerjaan dengan anggaran yang dikucurkan. Selain Soeharto, kasus tersebut juga menjerat bekas direktur PDAM Trenggalek Sup dan dua kontraktor

pelaksana proyek yang sebelumnya juga telah dijadikan tersangka.

Kejaksaan Terpaksa Tunjuk Penasehat Hukum Mantan Bupati

Kejaksaan Negeri (Kejari) Trenggalek, Jawa Timur, terpaksa menunjuk seorang penasehat hukum untuk mendampingi mantan Bupati Trenggalek, HM Soeharto, karena tersangka korupsi proyek PDAM tahun 2007 itu menolak menggunakan jasa pengacara. Kasi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Trenggalek, I Wayan Sutarjana, Rabu (26/2) mengatakan, sesuai ketentuan KUHAP, setiap tersangka

MEDIA ASPIRASI/ISTIMEWA

KONDISI Jembatan Nglingis di Keecamatan Tugu TRENGGALEK, ,Media Aspirasi -Warga dua desa dan dua kecamatan di Trenggalek, Jawa Timur, terpaksa melewati jembatan yang telah patah untuk melakukan aktifitas sehari-hari karena tak kunjung diperbaiki. Kondisi Jembatan Nglingis di Keecamatan Tugu, Trenggalek, Jawa Timur, bagian tengahnya patah dan amblas ke bawah. Selain itu salah satu tiang penyangga jembatan juga mengalami retak-retak, sedangkan penyangga lainnya telah menggantung. Meski sangat membahayakan, namun warga Desa Nglinggis dan Desa Duren serta sebagian warga Kecamatan Pule nekat menggunakan jembatan ini untuk melakukan aktivitas sehari-hari karena jembatan ini merupatkan akses satu-satunya akses transportasi. Tidak hanya pejalan kaki dan pengendara sepeda motor yang menggunakan infrastruktur rusak ini, sejumlah truk dan mobil bak juga nekat melintasi jembatan yang rusak sejak tahun 2012 tersebut. Warga mengaku terpaksa memanfaatkan jembatan itu karena pemerintah setempat tidak kunjung memperbaikinya setelah rusak akibat diterjang banjir bandang dua tahun lalu.b Warga berharap pemerintah segera turun tangan karena jembatan tersebut merupakan akses satu-satunya untuk menuju Desa Nglinggis, Desa Duren, maupun Kecamatan Pule.(mtvn/bt/so) LONGSOR, di Desa Nglinggis yang mengkhawatirkan warga sekitar.

LINTAS Utama Water Park Memakan Korban

11 NO

12 NAMA LENGKAP

NO

Heri Achmadi (PDI Perjuangan) 14, 93 %

TRENGGALEK, Media Aspiprasi - Ardian Permadi (9), bocah asal Desa Kerjo RT 01 RW 02 Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur tewas tersedot air kolam renang utama water park yang berada di jalan Mayjen Sungkono no 78, Trenggalek, Minggu (02/03). Peristiwa kecelakaan ini terjadi sekitar pukul 10.30. Siswa kelas IV SD ini diduga tersedot oleh air pembuangan yang berada dikolam renang utama waterpark. Diduga kuat peristiwa ini terjadi karena kelalaian dari pihak pemilik perusahaan yang kurang memperhitungkan aspek kenyamanan dan keselamatan bagi pengunjung terutama anak-anak usia belasan tahun. Sementara pihak pengelola management utama waterpark Feri ketika hendak dikonfirmasi seolah tak ingin dikonfirmasi. ”Nanti dulu," ucapnya. Saat ini, peristiwa kecelakaan ini sedang ditangani oleh kepolisian setempat guna dilakukan penyelidikan. (bt/so)

SUYONO, SE

1

INDRA GURU ROOSMONO

2

IR. H.SUDIRO DJOJOATMOJO

2

FIFTH ERNAWATY, S.IP

3

VEGA NASWIFINA, SH

4

DR. MISBAHUL HUDA

3

H. SUWIKNYO, S.Pd

5

SUYADI

4

Dra. JUNIAR WIJAYANTI

6

SITI RUKAYAH, S.Pd.I, MA

5

FEBY BONAPARTE

7

M. SALEH S.Pd. M.Si

6

SUKIRNO

8

PRANITA SWI HANGGIA, Amd, Keb

7

Hj. ANNISSA AMAZIA CASSANDRA

Ibnu Multazam (PKB) 7, 46 %

Dra. MARDIANA INDRASWATI (PAN)

5, 43 %

Dapatkan hadiah pulsa Rp 20 Ribu, masing-masing untuk dua orang pemenang, yang akan diundi setiap minggunya. Pemenang mingguan, akan diumumkan setiap penerbitan Media Aspirasi. Dan seluruh pengirim SMS, akan diikutkan pada undian utama di minggu pertama April 2014, untuk mendapatkan hadiah T-shirt dan sejumlah Merchandise menarik. Ayo… Buruan SMS sebanyak-banyaknya.. Tetapkan pilihan, dan rebut kesempatan menangnya. Info selengkapnya, hubungi kantor redaksi Media Aspirasi di Jalan Kalimantan 127 Ponorogo, atau telepon di 0352-489219.

*) Poling ini digelar sepenuhnya oleh Redaksi Media Aspirasi, medio awal Maret hingga April 2014.

TRENGGALEK, Media Aspirasi - Terancam tanah longsor empat rumah warga di Desa Nglinggis, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur dibongkar. "Empat rumah yang terancam itu milik Pak Ikhwan, Pak Muntholib, Pak Jio dan almarhum Pak Mukidi," kata Agus Muslih, salah satu warga setempat, Selasa (26/2). Agus Muslih menjelaskan, ke empat rumah tersebut terancam amblas karena tebing sungai yang ada di dekat perkampungan terus mengalami longsor. Kata dia terakhir terjadi Senin malam (24/2), dengan panjang tanah yang ambrol mencapai lebih dari 200 meter. "Terjadi hujan terus-menerus, hingga akhirnya terjadi longsor sekali kemudian terjadi lagi hingga tiga kali berturut-turut. Jadi kami dari warga langsung mengevakuasi barang barang yang ada di dalam rumah ini, saya juga telepon kepada BPBD, untuk mematikan aliran istrik yang ke sini," kata Agus Muslih. Agus menambahkan, tanah longsor di wilayahnya terjadi secara beruntun sejak tahun 2007 yang lalu. Hingga saat ini tercatat enam rumah, satu masjid dan dua ruang kelas telah amblas terbawa tanah longsor. Meski demikian, hingga kini pemerintah daerah belum melakukan langkah konkrit terkait bencana tanah longsor tersebut.(kbr/bt/so)

Bantuan Kemanusiaan Peduli Gunung Kelud kampusnya mempertimbangkan berbagai hal. Pertama, berkaitan dengan pemilu legislatif yang tinggal 39 hari lagi, maka pihak kampus tidak mungkin menerjunkan 300 mahasiswa di sejumlah desa. “Berkaitan dengan dilaksanakannya agenda nasional Pileg, kami mengambil langkah bijak, karena apabila terjunkan 300 mahasiswa dilokasi dengan masingmasingkegiatan yang diprogramkan, tentu sedikit banyak menyita perhatian, makanya tahun ini kami pusatkan di kampus,” ungkapnya. Disisi lain, kampusnya saat ini membutuhkan sentuhan bersamaan menghadapi akreditasi institusi perguruan tinggi. “Kebetulan kampus masih memerlukan sentuhan. Disamping itu menghadapi akreditasi institusi PT. Mau tidak mau semua civitas

Drg. Hj. Yayuk S. R (Partai NasDem) 10, 45 %

NAMA LENGKAP

1

2005-2010 menjadi tersangka dugaan korupsi proyek PDAM di kawasan mata air Bayong di Kecamatan Bendungan. Proyek yang dibiayai dana penyertaan modal Pemkab Trenggalek tersebut diduga menyalahi aturan, karena dilakukan tanpa melalui tender. Selain nilai proyek baru ditentukan setelah pekerjaan selesai. Sementara itu sesuai dengan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Jawa Timur, proyek PDAM tersebut menyebabkan kerugian negera Rp450 juta. Kerugian itu muncul karena terjadi selisih antara volume pekerjaan dengan anggaran yang dikucurkan. Selain Soeharto, kasus tersebut juga menjerat, bekas direktur PDAM Trenggalek, Sup dan dua kontraktor pelaksana.(bt/ant/so)

KKN Universitas Merdeka Ponorogo 2013/2014

5 Besar Hasil Poling Sementara Edie Baskoro. Y (Partai Demokrat) 29,85 %

korupsi harus didampingi oleh penasehat hukum dalam menjalani proses pemeriksaan. Biaya jasa penasehat hukum akan ditanggung oleh negara, meski secara profesional pengacara yang ditunjuk bekerja untuk tersangka. Kejaksaan menunjuk Patoyo untuk mendampingi Pak Harto. Penunjukkan Patoyo oleh kejaksaan dilakukan karena pengacara asal Kecamatan Dongko ini dikenal dekat dengan Soeharto semasa masih menjabat sebagai bupati. "Saya tadi dipanggil pihak kejaksaan untuk mendampingi Pak Harto, kalau terkait dengan pemeriksaan ini masih di tunda dulu, karena bapak sakit," kata Pengacara Soeharto, Patoyo. Namun, tidak ada penjelasan resmi dari Soeharto terkait keengganannya menggunakan jasa pengacara sendiri. Mantan Bupati Trenggalek periode

Terancam Longsor, Empat Rumah Dibongkar

MEDIA ASPIRASI/ISTIMEWA

Sartono (Partai Demokrat) 37, 31 %

9

EDISI 50 5 - 11 MARET I TAHUN 2014

UTAMA Water Park, yang telah memakan korban tewas akibatv tersedot air.

PONOROGO, Media Aspirasi – Universitas Merdeka (Unmer) Ponorogo memiliki empati tinggi dengan banyaknya korban dampak meletusnya Gunung Kelud. Hal itu setidaknya ditunjukkan kampus yang dikomandoi oleh H. Moch. Amin, SH itu dalam pelaksanaan kuliah kerja nyata (KKN). Dimana, KKN tahun 2013/2014 ini bertema “Bantuan Kemanusiaan Peduli Gunung Kelud”. Selain mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat, mahasiswa juga bakal melakukan baksos peduli Gunung Kelud. “Ini bukti bahwa eksistensi Unmer

Ponorogo dirasakan manfaatnya bagi masyarakat. Baksos terhadap korban Gunung Kelud sebagai bentuk kepedulian kami, walau sedikit namun sangat bermakna,” terang H. Moch. Amin, SH, MH saatsambutan pembukaan KKN 2013/2014, Minggu (2/3) kemarin. Menurut Rektor, pihaknya memberikan kebijakan berbeda dalam pelaksanaan KKN tahun ini. Setelah tahun 2013 lalu suskes menggelar KKN di kecamatan Jambon, maka tahun ini di pusatkan di Kampus. Hal ini, kata H. Moch Amin, lantaran

akademika termasuk mahasiswa bersamasama mensukseskannya,” tegasnya. Selama kegiatan KKN ini, selain peduli korban gunung Kelud, mahasiswa bakal melakukan program per fakultas baik fisik dan non fisik. Selain itu mereka juga mengikuti kegiatan bedah buku SBY oleh Rektor Unmer, Kuliah Kewirausahaan oleh Wakil Bupati Ponorogo, Senam Caesar dilanjutkan Donor Darah, sepeda santai dan penghijauan di Sukun. Sementara itu, KKN Unmer Ponorogo tahun 2013/2014 ini bakal berlangsung selama satu bulan penuh mulai tanggal 2 sampai 30 Maret. KKN ini diikuti oleh 301 mahasiswa yang terdiri dari Fakultas Hukum 103 mahasiswa, FISIP 81, Fakultas Pertanian 17, dan Fakultas Ekonomi 130 mahasiswa. (adv/ari)


10

Media ASPIRASI

PONOROGO

EDISI 50 5 - 11 MARET I TAHUN 2014

Anggaran Pengamanan Pemilu Minim, Polres Terapkan Sispamkota

MEDIA ASPIRASI/ARI

PURBAKALA

Sebelas Arca Purbakala di Evakuasi Hilangnya Arca Jadi Perhatian Wamendikbud PONOROGO, Media Aspirasi – Hilangnya 10 arca dan fragmen penemuan abad 13 pada zaman Majapahit milik pemerintah Kabupaten Ponorogo, menjadi perhatian Kementrian Kebudayaan RI. Dengan diutusnya tim peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta dan Balai Pelesatarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan untuk melakukan pengecekan. Paska pengecekan akhirnya pada, Selasa (04/03) Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olarhraga (Disbudparpora) Kabupaten Ponorogo melakukan evakuasi sejumlah patung yang tersisa dari depan pendopo untuk disimpan dikantor Dinas pariwisata dengan pengawalan Nugroho Harjolukito, Arkelog dari BPCB Trowulan. “Sisa ini diselamatkan agar tidak hilang lagi, mengingat nilai budayannya yang cukup tinggi, sangat disayangkan kalau hilang lagi,”jelas Nugroho Harjolukito. Jumlah arca yang di evakuasi berjumlah 11 buah, antara lain berbentuk replika lumbung 6 buah, patung 3 buah dan replika candi 2 buah. Sisa patung yang belum dievakuasi dan masih berada didepan pendopo kabupaten antara lain patung Shiwa,Patung Ganesha,Patung dewa Brahma. Evakuasi selain dilakukan untuk kepentingan pengamanan dari penjarah, sebab di lingkungan pendopo kabupaten tidak ada satker yang mempunyai wewenang bertanggungjawab atas arca ini. Hal lain, demi kepentingan cagar budaya agar arca tidak cepat rusak. Penempatan arca pada alam terbuka tanpa perlindungan mampu merusak arca. “Panas dan hujan akan memunculkan penyakit pada batu, sehingga untuk penanganannya dilakukan oleh bagian konservasi,”jelasnya. Kedati bukan sekelas musium namun arca seharusnya disimpan di tempat yang ada naungannya. Sehingga ketika terjaga keberadaannya maka bisa untuk bahan belajar sejarah generasi muda. Ada kearifan lokal yang terkandung dalam sejarah arca dan benda purbakala lainnya. Seperti replika lumbung menggambarkan bagaimana kemajuan pertanian pada abad 13 zaman Majapahit. Siswanto, kepala Badan Arkeologi Yogyakarta ketika meninjau kondisi arca purbakala di Ponorogo pada Kamis (27/2) karena dihubungi langsung oleh Wamendikbud sempat menyayangkan minimnya perhatian Pemkab Ponorogo atas berbagai benda purbakala yang ada di lingkungan pendopo. Selain tidak ada papan informasi, di lokasi juga tidak ada pagar yang bisa membatasi akses warga ke benda tersebut. benda-benda tersebut terlalu terbuka dan sangat rentan untuk rusak akibat sering dipegang dan memberi ruang bebas bagi para penjarah. “Yang tidak kalah memprihatinkan, arca yang masih ada saat ini justru dicat warna perak. Ini sangat berbahaya. Bisa merusak batunya,” katanya. Ditambahaknaya,”bagi kolektor mungkin ini sangat besar nilai rupiahnya, namun untuk bagi kita, ini tidak bisa dinilai dengan rupiah,”tegas Siswanto. Sementara dikonfirmasi terpisah, Bupati Amin mengaku belum mengetahui kabar hilangnya sejumlah tinggalan purbakala dilingkungan kerjanya, alasanya belum mendapatkan laporan dari dinas terkait . “Lho arca apa ? Di sebelah mana? Kalau hilang ya dicari lah. Saya belum tahu. Disbudparpora juga belum lapor. Kok saya belum tahu ya.Nanti kita chek,” ujarnya. Diberitakan sebelumnya ada 25 arca penemuan abad 13 zaman Majapahid yang dimiliki pemerintah Kabupaten Ponorogo. Namun dari jumlah tersebut 10 diantarannya diketahui hilang. Padahal nilai benda purbakala tersebut sangat tinggi. Untuk itu Balai Pelestarian Cagar Budaya Trowulan mencoba melakukan pelacakan atas hilangnya arca tersebut. (wid/so)

SIMULASI pengamanan pemilu yang dilakukan oleh Polres Ponorogo di Alun-alun. PONOROGO, Media Aspirasi – Meski hanya didukung anggaran yang terbatas, Polres Ponorogo mengaku siap all out mengamankan dua egenda besar pesta demokrasi, yakni pemilihan legislatif (pileg) dan pemilihan presiden dan wakil presiden (Pilpres). Korp baju coklat ini tetap menurunkan personilnya secara maksimal untuk menciptakan iyang aman dan kondusif. “Walau hanya didukung anggaran yang terbatas, tetapi kekuatan personil akan kami maksimalkan,” terang Kapolres Ponorogo AKBP Iwan Kurniawan saat gladi lapang dan peragaan sispamkota, Kamis (27/2) hari ini. Mantan Kapoleres Mojokerto ini mengatakan, anggaran yang disiapkan pada pilgub kemarin Rp 1,7 milyar pada tahun

anggaran 2013 untuk satu agenda. Sedang pada tahun 2014 ada dua agenda yaitu Pileg dan Pilpres dana yang dialokasikan hanya Rp 2,9 milyar. “Sebenarnya sih gak cukup, tapi ya diusahakan pengaman maksimal,” kata kapolres. Komitmen itu ditunjukkan Polres dengan menerjunkan 750 personil demi mengamankan 2064 TPS se Ponorogo. Padahal, dengan anggaran segitu hanya cukup untuk 330 personil saja. “Sebenarnya Pileg dan Pilpres hanya dilibatkan 330 personil saja karena keterbatasan anggaran yang ada, namun demi keamanan pelaksanaan pemilu kami menerjunkan hampir 750 personil,” imbuhnya. Iwan, sapaan akrabnya, sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan minimnya anggaran pengamanan dua agenda

(sispamkota) saat pelaksanaan Pileg 9 April 2014. Dalam kesempatan itu dilakukan simulasi bagaimana Polri dan instansi mengamankan situasi yang ada di Ponorogo. Baik masih dalam kondisi aman, rawan maupun sudah mencapai gawat darurat. Petugas tampak sigap mengamankan setiap tahapan pileg maupun pilpres 2014 mendatang. Simpamkota ini, kata Kapolres, dibangun bekerjasama dengan beberapa instansi, mulai dari TNI, satpol PP maupun BPBD Ponorogo. Sispamkota ini pun sudah tertuang dalam SOP naskah yang ditandatangani langsung oleh Kapolres, Dandim dan Bupati Ponorogo. “Kami bersinergi membantu keamanan apabila situasi kondisi sudah dikategorikan gawat darurat,” pungkasnya. (ari/so)

JALAN PERBATASAN MEMPRIHATINKAN MEDIA ASPIRASI/ARI

JALAN perbatasan di Ponorogo tepatnya di Desa Pohijo Sampung rusak parah beda de­ ngan perkotaan.

ngantisipasi uasi sejumlah arca me but. PETUGAS mengevak se ter benda purbakala maraknya pencurian

pemilu tersebut. ”Walau tidak sesuai harapan tetapi bagaimana pun juga hal itu tidak jadi argumentasi terhalangnya tercipta keamanan dan ketertiban,” tegasnya. Dengan kondisi ini, Kapolres berharap dukungan keamanan dari instansi terkait seperti Linmas meskipun saat ini belum ada kejelasan. Disamping itu, pihaknya juga menginstruksikan Babinkantibmas di tiap desa untuk melakukan kegiatan pre-entif dan prefentif dengan mengadakan penyuluhan dan pemahaman kepada masyarakat. “Kami ajak untuk bersama-sama menjaga keamanan,” sebutnya. Dalam acara yang digelar di Alon-alon Ponorogo ini, anggota Polres Ponorogo memperagakan system keamanan kota

PONOROGO, Media Aspirasi - Lebih dari dua minggu, harga cabe rawit masih tinggi. Harga per kilo cabe rawit kini mencapai Rp 60 ribu per kilogram. Harga itu sedikit turun, sebab sebelumnya sempat mencapai RP 80 Ribu perkilogram. Padahal biasanya dijual hanya Rp 15 ribu per kilogramnya. Salah seorang pedagang di Pasar Legi Songgolangit Ponorogo mengatakan, harga cabe rawit meski turun namun harganya masih tergolong tinggi. Bahkan, pasca meletusnya Gunung Kelud harganya sempat mencapai Rp 80 ribu per kilogram. “Sekarang turun menjadi Rp 60 Ribu, sebelumnya sempat mencapai Rp 80 Ribu perkilogram, “ ungkap Indarwati salah seorang pedagang, Senin (03/03). Menurutnya, masih tingginya harga cabe diduga karena hasil panen cabe dari petani sedikit. Itu lantaran cuaca yang tidak menentu membuat banyak cabe rawit yang busuk. “Dari petani sudah naik. Harganya mahal,” terangnya kepada Media Aspirasi. Beruntung, kata dia, pasokan cabe ke kiosnya masih tetap normal, yakni sekitar 30 kilogram per hari. Menyikapi mahalnya harga cabe ini, warga pilih membeli cabe kering agar dapur bisa tetap mengepul. Cabe kering atau yang biasa disebut ‘lombok karak’ itu sudah disiapkan warga sebagai jaga-jaga ketika harga cabe melambung. Meski rasanya sedikit beda, namun rasa pedasnya masih terasa. “Kami sebelumnya sudah membuat Lombok Karak, jadi ketika pas naik tidak bingung,” aku Anis Suparmi warga Dukung Boto, Gelanglor, Sukorejo. Sementara itu sejumlah warung makan di Ponorogo pun dibuat pusing dengan melambungnya harga cabe ini. Dewi pemilik warung di Jalan Soekarno Hatta mengaku bingung mensiasati naiknya sayuran pembuat rasa pedas tersebut. Ia mengaku kewalahan dengan kenaikan tersebut. Meski begitu dia tak berani menaikkan sedikit pun harga akibat kenaikan itu. “Ya repot, kalau mau dinaikkan takut pelanggan lari, kalau tidak dinaikkan rugi. Akhirnya porsi cabe saya kurangi. Saya pilih jual sayur ketimbang ngasih sambal,” akunya. (ari/so)

PONOROGO, Media Aspirasi – Kondisi insfrastruktur jalan wilayah perbatasan di Ponorogo sangat memprihatinkan. Sebagai wilayah yang menjadi perwajahan Bumi Reyog dimata kabupaten sekitar, wilayah perbatasan hancur dibiarkan. Jalan aspal mengelupas, penuh lubang menganga, dan dipenuhi lumpur sudah siap menyambut warga kabupaten lain ketika memasuki Ponorogo. Hal ini seperti terlihat pada jalan perbatasan tepatnya di desa Pohijo, kecamatan Sampung, Ponorogo. Puluhan kilometer jalan di Pohijo rusak parah. Nyaris tidak ada aspal yang utuh, semuanya hancur berantakan. Kondisi ini diperparah adanya lumpur yang memenuhi jalan. Selain becek,

lumpur membuat jalan kian sult dilewati. Padahal jalan perbatasan ini sangat ramai di lewati pengendara, baiak warga sekitar maupun warga perbatasan. Rusaknya jalan ini pun diperparah dengan tingginya mobilitas truk pengangut material. Beratnya tonase membuat jalan makin rusak. Kondisi ini pun nyatanya tidak mendapatkan perhatian pemerintah kabupaten Ponorogo. Puluhan tahun warga perbatasan ‘menikmati’ jalan rusak. Kondisi ini pun mendapat sorotan dari Sugijanto tokoh warga setempat. Pihaknya mengaku prihatin dengan sikap pemkab yang terkesan tutup mata membiarkan jalan perbatasan hancur. Ia mengaku iri dengan jalanan di kota

Cabe Melambung, Warga Pilih ‘Lombok Karak’ LOMBOK karak digunakan warga saat harga cabe melambung.

yang tidak pernah sepi dari perbaikan. “Pohijo itu sebelah utara berbatasan dengan Sayutan, Parang Magetan. Sedangkan sebelah barat berbatasan dengan Pohpelem Wonogiri. Namun kondisi wilayah perbasatan memprihatinkan. Berulang kali kami ke dinas PU namun belum ada tindakan berarti,” ungkap Sugijanto. Dia pun sempat mendapatkan informasi bahwa sebenarnya kerusakan jalan di Pohijo ini terparah nomor satu di Ponorogo. “Perlu diketahui kondisi perbatasan di Pohijo ini setelah disurvei DPU nomor satu di Ponorogo terburuk. Pemkab tidak boleh pilih kasih, jangan hanya bangun jalan di kota saja,” pungkasnya. (ari/so)

Tiga Rumah Tertimpa Pohon PONOROGO, Media Aspirasi – Hujan deras disertai angin kencang melanda Desa Ngumpul, Kecamatan Balong, Jum’at Siang (28/2) lalu. Akibat kejadian ini puluhan pohon bertumbangan dan menimpa sejumlah rumah warga. Didamping itu, warga desa setempat ketakutan untuk keluar rumah khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Setidaknya ada tiga rumahyang rusak akibat tertimpa pohon saat terjangan angin kencang tersebut. Meski tidak terjadi korban jiwa namun kerugian material mencapai jutaan rupiah. Musibah itu dirasakan salah satunya oleh Slamet (40) warga Dusun Wotan, Desa Ngumpul. Rumahnya mengalami kerusakan dibagian atap sebelah kiri karena tertimpa Pohon Randu. Pohon itu tiba-tiba ambruk dan menimpa samping kiri rumahnya. Dari kejadian tersebut Slamet harus menanggung kerugian senilai 500 ribu. Selain rumah Slamet, rumah milik Pasir (43) warga Dusun Wotan juga rusak bagian atap teras dapur serta antena Parabola yang berada diatas atap. Rusaknya rumah Pasir karena tertimpa Pohon Jati di samping rumahnya itu. Akibat musibah ini Slamet haarus menanggung kerugian sekitar 900 ribu. Hal serupa juga menimpa rumah milik Tukijo (65) warga RT 2 RW 3, Dusun Bandung, Desa Ngumpul. kecamatan Balong. Atap rumahnya juga rusak karena di singkap oleh angin kencang. Gentingnya berhamburan dan banyak pecah sehingga klerugian sekitar 300 ribu. Kasubag Humas Polres, AKP. Imam Khamdani membenarkan adanya kejadian hujan deras di sertai angin kencang tersebut. Meski kejadian itu langsung dilaporkan sebagai bencana kepada Pemkab Ponorogo. “Meskipun kerusakan ringan itu termasuk bencana dan petugas sudah melaporkan kejadian ini ke Pemkab Ponorogo,” pungkasnya. (ari/so)

SAMBUNGAN Lulus K2... “Kalau itu benar saya yakin tidak lolos. Kalau itu benar mesti tidak jadi,” tegas Sekda Agus Pramono kepada Media Aspirasi, Rabu (26/2) kemarin. Bahkan pejabat asal Madiun ini mengungkapkan, peserta yang lulus dalam pengumuman K2 ini tidak menjadi jaminan bisa menjadi PNS. Sebab, masih harus mengikuti pemberkasan yang dihandel langsung oleh pemkab Ponorogo. Artinya, jika tidak memenuhi syarat yang ditentukan maka otomatis bakal tidak jadi. “Setelah pengumuman belum tentu menjamin 100 persen menjadi pegawai negeri, masih ada tahapan yang dilalui, yakni pemberkasan. Bila terbukti tidak memenuhi syarat, otomatis tidak jadi,” tegasnya. Pihaknya pun berjanji akan memanggil dinas instansi terkait untuk menjelaskan secara gamblang permasalahan ini. Lantaran, persoalan ini jelas akan mempengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap Pemkab. Sekda pun tidak mau disalahkan dengan tudingan gagalnya uji public yang digelar beberapa bulan lalu. “Saat tahapan uji public sudah dilakukan, tetapi tidak ada persoalan ini, namun jika informasi ini benar saya yakin tidak lolos, Kalau memang rekayasa pasti ada tindakan. Dinas terkait akan kami panggil,” tegasnya. Seperti diketahui, proses tes CPNS dari jalur tenaga honorer kategori 2 (K-2) di Ponorogo semakin terkuak kejanggalannya. Tudiangan bahwa OP, salah seorang peserta lulus tes yang tercatat sebagai salah seorang pelajar benar adanya. Pada 2005 OP tercatat sebagai siswi SMAN 1 Ponorogo. Penelusuran Media Aspirasi, OP tercatat di buku induk SMAN 1 Ponorogo dan baru dinyatakan lulus 30 Juni 2005. Sedangkan pendaftaran terakhir tenaga honorer K-2 tanggal 3 Janu-

SAMBUNGAN DARI HALAMAN 1

ari 2005. Saat itu perempuan kelahiran 1 Oktober 1986 itu masih bersiap mengikuti ujian nasional yang diselenggarakan 5 April 2005. Sehingga, dengan status pelajar yang bersangkutan sudah didaftarkan dan tercatat sebagai tenaga honorer K-2. Nama OP terpampang di daftar kelulusan tes CPNS 10 Februari 2014 lalu. Pemkab Ponorogo Diminta Transparansi K2 Filter Terakhir Pemberkasan, Bisa Gagal Terkait dengan adanya kejanggalan dan indikasi banyak rekayasa dalam daftar pegawai honorer kategori 2 (K2) yang lolos seleksi tulis membuat gerah anggota DPRD Ponorogo. Banyaknya temuan lapangan terkait semrawutnya K2 dan juga penipuan yang dilakukan banyak okmum pejabat yang meminta uang menunjukkan tidak transparannya proses verifikasi hingga pembuatan daftar pegawai honorer kategori 2 (K2) di Kabupaten Ponorogo. Sutyas ,menyatakan munculnya kasus oknum honorer K2 berinisial OPP yang lolos uji publik tapi ternyata masih SMA saat menerima SK merupakan bukti nyata sikap tidak transparan dari eksekutif. Apalagi informasi yang berkembang menyebutkan, OPP menggunakan SK pengangkatan yang ditandatangani ayahnya sendiri yang merupakan pejabat UPT Dinas Pendidikan di salah satu kecamatan di Ponorogo. “Yang begitu saja tidak terbaca berarti tidak transparan mulai verifikasi hingga uji publiknya. Apalagi selama ini warga tidak pernah diterangkan soal aturan dari Menpan agar seseorang masuk dalam daftar honorer K2. Jadi kalau ditemukan kasusu seperti sekarang ini mereka harus bertanggung

jawab,” tegas anggota DPRD dari Fraksi PDI Perjuangan Sutyas Hadi, kemarin. Sementara itu Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Ponorogo Agus Pramono kembali menyebutkan pemberkasan sebagai filter terakhir atas dugaan SK rekayasa atau berkas manipulatif untuk peserta berinisial OPP. Agus juga menegaskan bahwa orang yang masuk daftar pengumuman hasil test K2 yang di pampangkan terbuka itu belum 100 % dinyatakan diterima menjadi PNS. Masih ada proses selanjutnya yaitu pemberkasan. “Pokoknya filter terakhir adalah pemberkasan. Kalau di tahap pemberkasan nanti tidak lolos pasti gagal (jadi CPNS),” katanya. K 2 Janggal, Polisi Siap Tindak Lanjuti, Bupati Mengaku Belum Tahu Sementara itu, Kapolres Ponorogo, AKBP Iwan Kurniawan siap menindak lanjuti persoalan hukum di Kabupaten Ponorogo, termasuk kasus kejanggalan daftar pegawai honorer kategori II (K2) selama ditemukan barang bukti. Untuk itu kepolisian berupaya mengumpulkan berbagai informasi terkait kecurangan dalam proses pelolosan salah satu pegawai honorer K2 yang diumumkan Pemkab setempat sepekan lalu. “Kita sudah mengumpulkan berbagai informasi dari media massa dan sudah memerintahkan anak buah untuk turun. Semua jadi bahan untuk melakukan tindak lanjut,” jelas AKBP Iwan Kurniawan. Ditanya soal perlunya laporan dari pihak-pihak terkait, soal kemungkinan kecurangan atau manipulasi serta rekayasa berkas dan data,Iwan menyatakan, tidak memerlukan laporan. Baginya, asal ditemukan barang bukti sudah cukup

Kejari Bakal... Disamping itu juga sudah melakukan pemanggilan pada sejumlah saksi. Namun untuk menentukan kapan akan dilakukan peningkatan tahapan ke penyelidikan masih diperlukan waktu lama. “Waktunya masih panjang karena jumlah yang harus kita mintai kerterangan banyak. Bila hal itu sudah selesai baru kita bisa menyimpulkan ada tidaknya indikasi penyimpangan,”jelasnya. Mengenai pemakaian label baju seragam yasinan yang diduga dari dana bansos yang dipasangi label partai dan nama caleg, Sucipto menyebut hal ini sebagai ranah dari para penyelenggara pemilu. “Bisa saja itu mendompleng bansos sebagai fasilitas negara. Tapi itu wewenang Panwaslu dan KPU. Kita soal keuangannya. Indikasi penyelewengan

negara ada, langsung kita tangani,” ujarnya. Sucipto meminta seluruh masyarakat bisa mendukung upaya para penegak hukum dalam memberantas berbagai tindak korupsi maupun penyelewengan uang negara yang lain. Masyarakat harus jujur apabila memberikan keterangan. Jika proses pengusutan ingin berjalan lebih cepat, Sucipto minta agar masyarakat ikut mendukung upaya pihak penegak hukum dalam pemberantas korupsi di Ponorogo. Caranya , jika ditemukan barang bukti dan hal yang mencurigakan diharap segera melaporkan ke kejaksaan. Seperti, dugaan adanya upaya rekayasa dilapangan untuk menghilangkan barang bukti dan pengkondisian keterangan dilapangan. “Kalau benar dilapangan terjadi upaya penghilangan

Keempat, ketersediaan infrastruktur. Kepada para Presiden mendatang, SBY menganjurkan tidak perlu panik dan gentar menghadapi front yang luas. “Kompetitor Anda pasti akan banyak. Anda juga akan dikeroyok dan dihabisi. Begitulah hukum politik.” SBY menganjurkan kepada para capres mendatang agar berhati-hati di dalam mendapatkan dan menggunakan dana kampanye.” Dapatkan dana itu dengan benar dan dari sumber-sumber yang benar, serta gunakan pula dan itu dengan benar. Sebagai capres sebaiknya Anda tidak menerima secara pribadi dana itu, tetapi memandatkan kepada tim sukses untuk mengelolanya. Tentu dengan akuntabilitas dan tertib administrasi yang baik dan benar.” Menurut SBY, faktor capres memiliki 60 persen bagi sebuah kemenangan, 30 persen adalah efektivitas kampanye, 10 persen infrastruktur partai. SBY mengingatkan bahwa Presiden RI mendatang adalah pemenang pemilihan presiden, bukan bintang media massa atau man of the year. Dalam buku tersebut, SBY mengatakan, jika ada tokoh yang amat popular sekarang ini, tetapi kapabalitas yang bersangkutan belum cukup untuk memimpin, harus ada sesuatu yang dilakukan: Baik oleh tokoh yang bersangkutan, maupun pihak-pihak yang mengusungnya menjadi calon presiden. “Jadi, kalau

untuk penanganan lebih lanjut. “Tidak perlu (laporan), pokoknya ada bukti kami langsung tangani,” tegasnya lagi. Sementara itu, Koordinator Institut Transparansi Birokrasi dan Peradilan (ITBP) Suparno,SH menyatakan, selain adanya penanganan polisi, Pemkab Ponorogo harus bertanggung jawab penuh dengan uji publik yang jadi kedok meloloskan oknum honorer K2 berinisial OPP yang jadi perhatian beberapa waktu terakhir. Menurutnya, uji publik yang telah dilakukan patut dipertanyakan sebab terkesan ada hal yang disembunyikan. “Data yang disajikan kurang lengkap. Itu artinya ada yang disembunyikan,” ungkapnya. Suparno kembali menyebut uji publik atas daftar tenaga honorer K2 di Ponorogo tidak sah dan cacat hukum. Ini karena masih ada orang yang ternyata tidak layak masuk daftar, tapi lolos seleksi. Dengan begitu, maka produk hukum yang menyertai lolosnya honorer K2 hingga proses seleksinya juga cacat hukum sehingga harus dibatalkan. “Semua yang terlibat harus bertanggung jawab. Pembuat dokumen yang manipulatif, pemakai dokumen manipulatif hingga yang meloloskan dalam daftar K2 bisa diseret ke penegak hukum,” tegasnya. Berbeda dengan keduanya, Bupati Amin ketika dikonfirmasi hal tersebut mengaku belum tahu dan belum mendapat laporan dari anak buahnya. Namun Amin mengiyakan ketika ditanya karena Pemkab yang mengajukan pemberkasan ke Menpan berarti pemkab pula lah yang berhak membatalkan pemberkasan OPP tersebut. “Ya seharusnya bisa begitu, nanti kita check ,”kata Bupati,Amin. (ari/wid/so)

1 Tahun... Tak dipungkiri, bongkar pasang kru pun kami lakukan untuk mendapatkan formasi yang betul-betul solid. Dari jerih payah dan segala upaya, selain mencari formasi yang pas, kami juga mengalami sejumlah hal manis. Mulai dari prestasi yang kami dapatkan dengan menyabet juara di ajang lomba penulisan berita Polres Kota Madiun, hingga reporter kami berhasil menyuguhkan cerita mengenai Gunung Lawu di Magetan dan Gunung Kelud di Kediri. Termasuk perlahan tapi pasti, kami berupaya menambah oplah, untuk memenuhi kebutuhan konsumsi Media Aspirasi di kalangan pembaca, pada sejumlah daerah di Eks Karesidenan Madiun. Tak lupa, kami ucapkan terima kasih yang mendalam, atas atensi, kritik dan sanjungan yang membangun. Masukan dari pembaca, terus kami tampung untuk membenahi Media Aspirasi lebih baik lagi. Semoga, kami bisa terus menjadi penyuguh informasi, yang benar-benar selangkah lebih dekat. Karena menjaga kualitas, menjadi semangat kami untuk berbenah lebih baik,

SAMBUNGAN DARI HALAMAN 1

bagi Anda semua, pembaca Media Aspirasi. Salam! *) adalah Pemimpin Redaksi Media Aspirasi Sartono Beri Apresiasi PADA puncak peringatan ulang tahun pertama Koran Umum Media Aspirasi, Minggu (2/3) kemarin, kedatangan tamu istimewa. Dia adalah Sartono Hutomo, ketua DPP Partai Demokrat, yang sejak awal memang getol mendukung eksistensi media lokal seperti Media Aspirasi ini. Pria asal Pacitan yang juga caleg DPR-RI Dapil VII Jatim nomor urut 2 dari Partai Demokrat ini mengaku mengapresiasi dengan kehadiran Media Aspirasi di kalangan masyarakat Dapil VII dan sekitarnya. ‘’Saya berharap, Media Aspirasi bisa besar. Mungkin tidak hanya pada lingkup Dapil VII dan sekitarnya, tapi bisa sampai merambah Jawa Timur atau nasional,’’ terang Sartono. Menurutnya, sebuah kepastian jika informasi dari daerah yang selama ini disuguhkan Media Aspirasi, menjadi kebutuhan utama bagi kalangan di pemerintah provinsi maupun pusat. Itulah sebabnya, Sar-

tono menaruh harapan besar, supaya Media Aspirasi bisa terus berbenah lebih baik dan semakin memperluas jangkauannya. ‘’Mudah-mudahan, dengan gaya bahasa yang mudah diterima masyarakat yang selama ini digunakan Media Aspirasi, bisa lebih mendekatkan media ini kepada khalayak banyak dari berbagai daerah dan kalangan,’’ tegasnya. Sartono juga melakukan pemotongan tumpeng ulang tahun, dan memberikannya kepada Pemimpin Redaksi Media Aspirasi Welas Arso. Usai acara, Sartono yang pekan ini disibukkan kegiatan temu kader di sejumlah tempat itu, menyempatkan diri melihat dapur redaksi Media Aspirasi. Hadir pula, dalam kesempatan tersebut, General Manager Media Aspirasi Imam Mahfudz, sejumlah manajer dan wartawan dari sejumlah daerah. ‘’Eksistensi kami, tentu tak lepas dari dukungan pembaca. Sejumlah evaluasi mendasar, terus kami lakukan. Mudah-mudahan, kami selalu bisa eksis dan berangkat dari dukungan ribuan pembaca Media Aspirasi,’’ harap Imam Mahfudz. (*/dik) DOKUMEN MEDIA ASPIRASI

SAMBUNGAN DARI HALAMAN 1

barang bukti dan pengkondisian keterangan maka hal itu malah bisa kita jerat secara hukum, berarti mereka itu berupaya menghalang-halangi proses penyidikan kasus korupsi,”tegasnya. Diketahui, berdasarkan informasi yang dihimpun Media Aspirasi dilapangan di Desa Trisono, Purwosari dan Polorejo sudah ada upaya pengkondisian dan penghilangan barang bukti dugaan penyelewengan dana bansos dan hibah. AKBP.Iwan Kurniawan ,Kapolres Ponorogo menyatakan untuk kasus bansos dan hibah sudah menugaskan kasat reskrim untuk berkoordinasi dengan pihak kejaksaan. Hasilnya ternyata pihak kejaksaan sudah terlebih dahulu mempunyai barang bukti yang lebih lengkap. “Dokumen kita sama den-

SBY Berhasil... “Satu hal yang harus kita ketahui bahwa rakyat ini cenderung diam. Tidak selalu ekspresif. Itulah yang sering diistilahkan sebagai the silent majority. Sungguh demikian, rakyat juga ingat. Mereka juga merasakan dan tahu apa yang dilakukan oleh para pemimpinnya.” “Kalau rakyat merasa tidak cocok dengan pemimpin dan merasa tidak memperoleh apa-apa dari sang pemimpin itu, maka mereka akan menghukum dengan caranya sendiri. Apa itu? Mereka tidak akan memilihnya lagi, jika pemimpin itu maju lagi dalam pemilihan umum, ataupun pemilihan bupati, gubernur dan juga presiden.” Buku “SBY, Selalu Ada Pilihan”, dipersembahkan untuk pecinta demokrasi dan para pemimpin Indonesia mendatang. “Di saatsaat akhir pengabdian saya sebagai pemimpin di negeri ini, saya mengajak seluruh rakyat Indonesia, terutama para elite dan tokoh bangsa, untuk membuat politik dan demokrasi kita ini makin matang, makin berkeadaban, dan makin berkualitas,” begitu Quote Note di sampul berwarna putih itu. Dalam buku tersebut, SBY merasa belum puas dengan empat hal. Pertama hasil pemberantasan korupsi, meskipun gerakannya dewasa ini tergolong paling agresif dan paling serius dalam sejarah Indonesia. Kedua, kinerja birokrasi. Ketiga, kerukunan dan toleransi antar masyarakat yang berbeda identitas.

11

EDISI 50 5 - 11 MARET I TAHUN 2014

gan yang dipegang oleh kejaksaan jadi tidak kita limpahkan. Buat apa wong sana sudah punya ,”kata Kapolres ,Selasa (04/03). Diberitakan sebelumnya , menyebutkan sejumlah warga telah melaporkan kejadian yang terindikasi penyelewengan dana bansos untuk tahun anggaran 2013 lalu. Besarnya mencapai puluhan juta rupiah. Modusnya adalah pembelanjaan dana untuk seragam kelompok masyarakat tertentu namun didomplengi kepentingan politik yang akhirnya menjadi alat peraga kampanye. Warga pelapor menyebutkan beberapa orang calon legislatif (Caleg) yang terlibat. Terutama para caleg incumbent yang kembali maju untuk berkompetisi pada 9 April sebagai caleg DPRD Kabupaten Ponorogo di periode keduanya. (wid/so) SAMBUNGAN DARI HALAMAN 1

hampir semua orang mengatakan kemungkinan terpilihnya lebih dari 90 persen, dan boleh dikata dia benar-benar tak terbendung (unstoppable), maka lebih baik dipersiapkan saja.” Menurut SBY, mempersiapkan kapabilitas tidak sama dengan melakukan pencitraan habis-habisan. “Kalau tujuannya agar seorang kandidat menang, memang jalan terbaik yang bisa ditempuh adalah pencitraan yang massif, sistematis, dan cerdas. Tetapi, kalau tujuannya setelah sang kandidat terpilih menjadi seorang presiden dan yang bersangkutan diharapkan mampu dan sukses menjalankan tugas-tugasnya sebagai Kepala Negara dan kepala pemerintahan, maka isilah dan tingkatkan kemampuannya. Bukan sekedar pencitraan. Kemampuan seorang presiden tidak boleh artifisial.” Dalam buku “SBY, Selalu Ada Pilihan”, SBY juga bercerita ketika mendaki Gunung Lawu (3,625 meter) pada 25 desember 1993. Sambil meneguk kopi panas dan rebusan mie instan, ia berbincang-bincang dengan adik iparnya Pramono Edhi Wibowo. “Edhi, kemarin dengan sangat berat kita mendaki gunung ini dan alhamdulillah kita telah sampai ke puncaknya. Sekarang ini kita telah berada di puncak… mari kita rencanakan perjalanan untuk menuruni gunung ini.” “Saya berasal dari keluarga yang pas-pasan. Dari lahir hingga usia 19 tahun, saya hidup dalam komunitas yang

relatif tertinggal di Pacitan. Desa tempat saya tinggal adalah perkampungan nelayan, yang kehidupannya tidak menentu. Kalau ikan di lautan sedang sepi atau ketika ombak dan angin sedang tidak bersahabat, para nelayan kehilangan pekerjaan. Menganggur. Tidak punya penghasilan sehari-hari dan makan apa adanya.” “Di malam yang hening saya sering bertafakur seraya memohon petunjuk dan bimbingan kepada Allah swt. Ketika saya melakukan refleksi itu, istri selalu mendampingi saya. Terkadang kami berdua menitikkan air mata. Saya jadi teringat ketika tiga tahun pertama diuji dengan sejumlah bencana alam yang terjadi di negeri kita. Lepas dari bencana alam, datang lagi ujian yang lain, yaitu krisis ekonomi global. Belum lagi guncangan-guncangan politik yang menguras waktu dan energi yang setiap saat terjadi.” “Saya menyadari hidup ini terkadang rapuh. Jiwa kita sering lemah. Namun, perjalanan hidup saya yang sarat dengan ujian dan cobaan memberikan banyak pelajaran yang amat berharga. Salah satu di antaranya adalah ikhtiar dan keberserahan diri kepada Sang Penciptalah yang membuat hidup kita kuat, tegak, kokoh, dan tak mudah jatuh. “Terimakasih Tuhan. Terimakasih Indonesia.” *) Penulis pernah menjadi wartawan, sekarang wiraswatawan

SARTONO menyempatkan hadir di puncak kegiatan HUT pertama Media Aspirasi di Kantor Pusat Jalan Kalimantan Ponorogo. Selain memotong tumpeng ulang tahun, salah satu pentolan Partai Demokrat ini juga melihat kondisi ruang redaksi.

Tak Ada Biaya... Namun sebagai orang miskin, dengan banyak keterbatasan nyalinya menjadi ciut ketika pihak Kelurahan Kauman kurang merespon keinginannya agar mendapatkan bantuan pengobatan gratis dari pemerintah. “Saya bingung harus bagaimana, saya sudah ke kelurahan minta petunjuk dan bantuan untuk mengurus cara mendapatkan bantuan dari pemerintah, tapi petugas malah bilang,“percuma

ngurus-ngurus nanti hasilnya malah gak nyucuk’’, “terang Sunarto pasrah. Di tempat tidur yang terbuat dari bambu dan hanya beralaskan tikar usang dengan diatasnya dibentangkan selembar kain jarik untuk menopang debu, Katemi hanya tidur ditunggui kedua anaknya. Sebetulnya dahulu mereka punya kartu Jamkesmas namun sekarang keluarga miskin ini tidak mempunyai kartu Jamkesmas dan Jamkesda. Dengan

Kapolres Ancam... “Jangan diulang lagi ya, kalau diulang dan ketangkap lagi saya buka tutup muka ,” tegas Kapolres kepada para tersangka. Hal itu ditegaskan Iwan saat menggelar rilis hasil operasi penindakan pelaku penyakit masyarakat (pekat) pada Januari-Pebruari, Selasa(04/03) . Dari operasi selama dua bulan tersebut berhasil diungkap 31 kasus dengan 57 orang yang berhasil ditangkap. Mereka adalah Bandar, penombok dan pengecer. Dalam rilisnya ke 57 orang yang ditangkap diperlihatkan kepada awak media beserta

sejumlah barang bukti berupa uang 8,4 juta, rekapan, telepon seluler. “Kemarin tangkapan terbesar kita di Desa Golan, dan ini masih ada lagi tangkapan ke dua. Tampaknya belum kapok dan jera. Namun pemberatasan tetap kita laksanakan target berikutnya para DPO bandar judi,”tegasnya. Berdasarkan hasil tangkapan 2 bulan terakhir jumlah kasus penyakit masyarakat mengalami tren kenaikan. Pasalnya pada 2013 lalu jumlahnya mencapai 160 kasus, namun untuk 2 bulan ini sudah mencapai 31 kasus dengan

Diduga Selingkuh... Karena sampai pukul 20.00 WIB atau Selasa malam, meski berjam-jam rupanya sang tamu belum juga kunjung pulang. Kontan saja aksi Setu ini menimbukan kecurigaan warga sekitar terlebih tetangga dekatnya Listiani. Tanpa menunggu lama salah seorang warga melaporkan kejadian tersebut ke Suwarno selaku ketua RT setempat. Setelah menerima laporan warganya, Suwarno bersama para pemuda langsung menggerebek keduanya. Dalam aksi penggerebekan tersebut sempat bersitegang, hal ini dipicu ketika Setu melontarkan pertanyaan balik kepada Suwarno dengan menanyakan domisili sebenarnya ketua RT ini. “Yang paling menjengkelkan terhadap dia (Setu-red)

ketika Pak RT malah ditanya orang mana gitu, kan ini pertanyaan kurang etis apalagi dia udah bertamu beberapa jam lamanya tanpa sepengetahuan ketua RT sini,” terang Budi Santoso tokoh pemuda desa setempat. Setelah didesak warga, Setu mengakui kalau dirinya mempunyai hubungan dengan Listiani. Bahkan sesuai janji Setu dalam tempo tiga hari kedepan terhitung waktu penggerebekan akan siap menikahi janda beranak dua ini. Namun setelah ditunggu sesuai kesepakatan waktu rupanya Setu tidak menampakan batang hidungnya. “Sampai hari ini dia belum juga datang sesuai janjinya, makanya kita bersama warga akan tuntut dia,” tegas Budi Santoso. Se-

SAMBUNGAN DARI HALAMAN 1

kondisi sekarang ini kondisi keluarga ini semakin sulit.Tidak saja untuk biaya pengobatan tapi juga biaya sehari-hari. Apalagi Sunarto anaknya hanya bekerja sebagai buruh tani. Sunarto berharap kepada pemerintah agar keluarganya bisa lagi mendapatkan bantuan pemerintah terutama bisa punya kartu jaminan kesehatan lagi sehingga bisa berobat lagi ke rumah sakit maupun Puskesmas, agar kondisi sedikit lebih membaik.*** SAMBUNGAN DARI HALAMAN 1

jumlah DPO 8 orang. Kendati kepolisian pada bulan mendatang bakal disibukkan dengan penanganan pesta demokrasi pemilu legislatif (Pileg) dan pemilu presiden wakil presiden untuk penanganan kasus penyakit masyarakat tetap akan dilaksanakan. Bahkan Polres kembali mengaktifkan layanan online pengaduan di 21 Polsek . “Sebelumnya memang sempat kita tarik karena banyak masalah, namun sekarang sudah aktif kembali. Dan kita siap bergerak langsung saat itu juga begitu menerima laporan,” terang Kapolres. (wid/so) SAMBUNGAN DARI HALAMAN 1

dangkan sesuai pengakuan Setu sendiri saat dikonfirmasi secara singkat menjelaskan kalau toh dirinya tidak pernah berbuat negative yang sesuai isunya. Dan peristiwa yang terjadi dirumah Listiani tersebut hanya saja kebetulan mampir usai pijat dirumahnya Sulastri. Sementara Yulianto Kusprasetyo Kepala Inspektorat Kabupaten Ngawi berjanji akan melakukan tindakan tegas apabila ada bukti yang menguatkan. “Kalau ada yang keberatan misalkan warga setempat silahkan membuat surat yang dialamatkan ke Bupati Ngawi terlebih dahulu disertai bukti, nanti kalau toh kabar ini benar maka Inspektorat akan memberikan sangsi,” jelasnya. (pr/so)


Sartono Blusukan di Wilayah Perbatasan 9 April Wancine, Sartono Pilihane

WIWET Biyen Mulo Urip Kang Prasetyo, Nadyan Wong Deso Gayuh Kang Utomo Pak Sartono Sing Soko Demokrat, Nunggal Karso Ing Tekate Rakyat Iki Wes Wancine Do Milih Wakile, Pratondo Tresno Mareng Demokrasine Ayo Konco Do Miguna ake, Nanging Ojo Kleru Iku Pilihane Dapil 7 Iku Manggone, Nomor 2 Iku Urutane, Mulo Ayo Prokonco Diguyubke, Pak Sartono Iku Pilihane 9 April Iku Wancine, Pak Sartono Seng Pancene Oke Ojo Lali Prokonco Dukungane, Bangun Deso Tansah Disedyakne PONOROGO, Media Aspirasi - Lirik lagu campursari Joko Mlarat yang telah digubah oleh Sugijanto, S.Sos ini menggema dalam acara silaturahmi Sartono, SE calon DPR RI Partai Demokrat Dapil 7 Jatim (Ponorogo, Pacitan, Magetan, Trenggalek dan Ngawi) Nomor Urut 2 dengan ratusan kader di Desa Pohijo, Kecamatan Sampung, Senin (3/3) kemarin. Lagu yang dinyanyikan Sugijanto yang juga calon wakil rakyat DPRD Ponorogo Dapil 6 ini pun mampu memantabkan kader untuk memenangkan Sartono yang juga sepupu presiden SBY ini dalam pemilu legislatif 9 April 2014 mendatang. Motivasi kader Sartono pun makin memuncak ketika nama ‘Sartono’ dipekikkan. Semua secara serentak menjawabnya “Dulur Dhewe’ sambil mengacungkan dua jarinya pertanda bahwa Kader siap mensukseskan Sartono nomor urut 2 menjadi anggota DPR RI. Miseri Efendi, ketua DPC Partai Demokrat Ponorogo dalam sambutannya menegaskan, bahwa memenangkan Sartono menjadi wakil rakyat sudahlah menjadi keharusan. Lantaran, kiprah Sartono selama ini terhadap kemajuan bangsa tidak bisa diragukan lagi. Berbagai program pemerintah yang pro rakyat selama ini merupakan buah dari kebijakan di bawah komando presiden SBY yang berasal dari Partai Demokrat. Dan itu semua tidak lepas dari keberadaan Sartono yang dipercaya SBY menduduki posisi penting di Partai Demokrat. Mulai dari Bendahara Umum Partai Demokrat hingga Divisi Logistik Bappilu Demokrat. Miseri pun meminta Kader Sartono untuk memberikan pendidikan politik kepada masyarakat. Terutama untuk tidak mendasarkan pilihan dengan politik uang. Lantaran, money pilitic bakal menguntungkan caleg dan malah menyengsarakan rakyat. “Money politic itu racun. Kalau sekadar menukar suara anda dengan rupiah, maka jangan marah ketika wakil rakyat yang sudah duduk di dewan tidak akan menyambangi panjenengan lagi. Jangan marah ketika wakil rakyat tidak mendengar ketika panjenengan sambat, “ tegasnya. Sebaliknya, ia meminta kader untuk mendidik masyarakat dengan politik yang bersih dan santun. Utamanya menentukan pilihan dengan berdasarkan program-program yang dimiliki. Dia pun menegaskan, agar masyarakat memilih caleg yang sudah jelas track recordnya. “Lihat dulu bibit, bebet dan bobotnya. Pak Sartono saya kira sudah memiliki semuanya,” ungkapnya. Dia menyebutkan, sudah terbukti dibawah pemerintahan SBY banyak program pro rakyat yang digulirkan. “Sudah banyak program pro rakyat yang digelontorkan pemerintahan di bawah presiden SBY seperti PNPM, PPIP, PKH, Jamkesmas dan sebagainya. Ingin program-program pro rakyat itu berlanjut, maka pilih lah Pak Sartono Dulur Dhewe. Pak Sartono adalah sepupu orang nomor satu di Indonesia,” ungkap Miseri. Sementara itu, silaturahmi Sartono diperbatasan ujung kulon Ponorogo ini berlangsung gayeng. Apalagi, selama silaturahmi berlangsung, kader dihibur dengan musik elekton. Sugijanto selaku tuan rumah mengaku bangga, Sartono mau blusukan di wilayah perbatasan ini. Sepupu SBY ini tidak canggung harus melewati jalan yang rusak serta becek dan jauh dari perkotaan. Dia berharap, semua kader Sartono bersungguh-sungguh mensukseskannya lantaran melihat karakter Sartono yang begitu amanah dan peduli dengan rakyatnya. “Dengan blusukan seperti ini Pak Sartono akan lebih mengerti apa yang menjadi aspirasi kami. Terutama adanya kebutuhan sarana jalan yang sangat memprihatinkan,” ungkapnya. Komitmen Sartono terhadap warga perbatasan ini pun tidak setengah hati. Sebelumnya, Sartono bersama Tim Pondok Aspirasi (Pondasi) sempat pula melakukan kunjungan di Kecamatan Ngrayun atau ujung kidul Ponorogo. Serap aspirasi ini pun kerap kali dilakukan oleh Sartono sebagai bentuk komitmennya mendengar, melihat dan mewujudkan aspirasi masyarakat. (ari/so)

Caleg DPR RI DAPIL 7 JATIM Ngawi, Magetan, Ponorogo, Pacitan, Trenggalek

Media Aspirasi  

Edisi 50

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you