Issuu on Google+


2

Surat Tani Tertarik Kajian Kontrak di Album Advokasi

T

erimakasih YDA atas kiriman Buletin Advokasi. Banyak manfaat yang kami dapat sebagai bekal mendampingi petani di Kediri. Namun karena terbatasnya kiriman, kami hanya menyampaikan informasi yang sangat berguna bagi petani. Kami juga tertarik setelah melihat “Album Advokasi� tentang kegiatan diskusi memahami perjanjian kontrak agribisnis. Hal ini memicu keinginan kami untuk mempelajarinya, karena kondisi di Kediri banyak petani yang mengadakan kontrak kerjasama dengan perusahaan yang berakhir dengan kerugian di pihak petani. Untuk usaha penyadaran dan membantu masalah ini kami menginginkan proses kegiatan diskusi kontrak perjanjian itu. Selain itu, untuk menambah wawasan dan kemampuan petani untuk bisa merencanakan kegiatan dan menggali potensi desanya, kami juga mohon diinformasikan tentang proses dan hasil kegiatan Renstra desa yang telah dilakukan YDA bersama warga Nguneng. Sebagai bekal juang mengembangkan pemahaman Dasar-dasar Advokasi, jika persediaan masih ada mohon kami dikirimi permainan Alat Asah Advokasi. Terimakasih. Anis Iva P LP2M Al-Azhar Jl Semeru VI/7 Kediri 64116 Selain jawaban via surat, di edisi ini ada tulisan terkait kontrak & Renstra (Red)

pengurus LSP-BM (Lembaga Simpan Pinjam-Berbasis Masyarakat), kami sangat bangga atas perhatian dari YDA (Yayasan Duta Awam) . Karena Buletin Advokasi memberi motivasi dan semangat dalam menyelesaikan masalah-masalah pertanian kami di LSP-BM . Tapi kami masih mohon kepada YDA untuk tetap memberikan dorongan agar kami lebih bersemangat baik di bidang pertanian, dan juga di LSP-BM. Kami juga ingin tahu, apakah di sini, di daerah teman-teman mitra YDA juga ada LSP-BM? Jika ada, bagaimana perkembangannya? Apakah ada saran dan masukan agar LSP-BM kami bisa lebih maju? Terimakasih Jumaiyah Pengurus LSP-BM Harapan Damai Desa Batu Botuk,Kec Muara Komam, Kab Pasir Kalimantan Timur Nah para rekan petani, terutama yang berkiprah di bidang permodalan mohon dapat berbagi ilmu dengan Ibu Jumaiyah (Red)

Melawan Gulma dengan Koro Benguk

T

ukurannya diperbesar, pasti lebih bagus dan lebih jelas. Sedang untuk lembar AAA (Alat Asah Advokasi) juga sudah diterima, kami dan teman-teman petani baru berencana untuk mencoba dulu permainan yang tergolong baru dalam pengalaman kami beradvokasi. Kabar yang lain yang perlu disampaikan adalah, teman-teman petani saat ini sedang melakukan uji coba Koro Benguk dan Koro Pedang/ Koma’ yang digunakan untuk melawan gulma. Hasil sementara keduanya mampu melawan gulma, namun lebih efektif Koro Pedang/ Koma’. Koro Benguk masa tumbuhnya 6 bulan sedangkan Koro Pedang 1 tahun. Willem Molle World Education (WE) Jl Mangga II No.7 Tanjung Redeb Berau - Kalimantan Timur

Buletin untuk Petani yang Belum Pernah Aktif

T

erimakasih kepada YDA (Yayasan Duta Awam) yang dari dulu hingga sekarang mengirim Buletin Advokasi. Kami menyebarkan kepada semua petani yang kami temui, seiring perjalanan kami. Baik itu Ngawi, Sragen, Boyolali dll. Baik petani yang sudah lama aktif maupun yang baru kami kenal. Harapan kami pada petani yang belum pernah baca buletin dan tak pernah ikut kegiatan bersama kami, untuk kemudian ikut bersama kami, misalnya dalam penggunaan produk pertanian organik, Apalagi kami sekarang juga aktif di SAHANI di Jl Magelang Yogya.

erimakasih kepada YDA (Yayasan Duta Awam), kami sudah menerima Buletin Edisi 15. Buletin itu sudah dibagikan ke teman-teman petani di desa. Untuk Buletin Advokasi edisi kemarin, tanggapan temanMemberi Semangat teman petani sangat bagus, terutama untuk rubrik resep. Dan menurut kami ertama diucapkan terimakasih untuk edisi ini (Edisi 15), dirasa lebih Kusnoroto Jl Raya KM.16 No.42.kito besamo. ataspitisnyo kirimandapet Buletin Advokasi BRDP iko dari ngutang menarik kek orangkarena sono (luar negeri), jadi utang koTimur tanggungjawab ada gambar Banaran Sragen dan SERENTAK. Sebagai Kalobrosur idak elok-elok, pacak kito matitanamannya. kelak banyak Bila utanggambar besak. Anak banyak utang jugo. itu cucung kito jadi57253.

P

Buletin Petani ADVOKASI No. 16 Juli-September 2004


3

Salam Advokasi Buletin Petani Advokasi diterbitkan oleh Yayasan Duta Awam (YDA), sebagai media komunikasi dan advokasi menuju petani Indonesia mandiri. Redaksi Buletin Petani Advokasi menerima tulisan, gambar/foto dengan misi pemberdayaan petani dari berbagai pihak, khususnya dari kalangan petani sendiri. Penanggung Jawab: M Riza Sidang Redaktur: Mediansyah (koordinator), Haleluya Giri Rahmasih, M Yunus, M Riza, Kurniawan Eko, M Zainuri Hasyim, Gideon Sumiyarsa. Penulis edisi ini: Kurniawan Eko, Gideon S, A Bayu Cahyono, Haleluya Giri Rahmasih, Puitri Hatiningsih, Panggah SH, Mediansyah, Sriyono (Petani), Pardjo (petani), Suyitno (Petani). Administrasi: Puitri Hatiningsih Pengiriman: Agus Wahyono Alamat: Jl Adi Sucipto No 184-I Solo 57102 Telp: (0271) 710816 Fax: (0271) 729176 e-mail: dutaawam@dutaawam.org ISSN (International Standart Serial Number): 1829-6939

Sampul depan: Gambar oleh Bengkel Qomik dengan olah komputer oleh Mediansyah Sampul belakang: Grafis-Montase oleh Mediansyah

Jangan kau kecewakan aku lagi aku ngGak mau menderita lagi kalau ingkari janji..... Aku ngGak mau kebawa emosi jangan biarkan aku sakit hati karena ingkari janji.... Cinta dan kepercayaan yang kuberikan jangan sampai kau sia-siakan dengan ingkari janji..

Semua yang kau inginkan selalu ku beri kulakukan semua walau sampai mati jangan ingkari janji... Kebebasan yang kamu dapatkan bukan jadi(kan) kamu boleh sembarangan... kamu sudah berjanji... jangan ingkari janji... mending jangan berjanji... Dari lagu “Orkes Sakit Hati” oleh Kelompok Musik “Slank”

Jangan-jangan kau bohongi aku lagi banyak bicara cuma basa-basi coba ingkari janji.....

Medi

Buletin Petani ADVOKASI No. 16 Juli-September 2004


4

Laporan

Ada Apa dengan Petani?

D

alam konteks politik, salah satu hasil dari sebuah pergerakan reformasi adalah diamandemennya UUD 1945 yang kemudian salah satunya menghadirkan sebuah konstelasi berpolitik yang sama sekali berbeda. Kalau dulu rakyat tidak punya kedaulatan secara penuh untuk memilih para wakilnya yang di tingkat pusat maupun daerah tetapi sekarang rakyat dapat memilih secara langsung para wakilnya. Kedaulatan ada di tangan rakyat. Sayangnya, rantai masalah petani tersebut justru menunjukkan bahwa 70% permasalahan yang dihadapi petani bersumber dari luar pertanian, sehingga solusinya pun harus juga datang dari sektor-sektor di luar pertanian...,

Sriyono

Seperti diketahui, mayoritas masyarakat Indonesia adalah petani. Sehingga semestinya, para petani bisa menentukan warna dan masa depan bangsa Indonesia. Dan itu seharusnya menjadi komitmen kita bersama untuk membangun sebuah sistem pertanian yang berpihak pada kesejahteraan petani. Ironis Tidaklah berlebihan apabila ini menjadi prioritas utama, soalnya kontribusi sektor pertanian termasuk didalamnya adalah peternakan dan perikanan terhadap laju perekonomian Indonesia ratarata 17,5%. Kontribusi lapangan kerja pun mencapai 44% dari angkatan kerja yang ada. Memang kondisi sekarang sangat ironis. Berbagai masalah pertanian sering membuat petani menjadi sangat “jengkel�. Bagaimana tidak? Masalah petani dari tahun ke tahun selalu saja sama. Harga pembelian gabah yang jatuh, bukan hal yang baru. Tahun lalu kita juga menghadapi masalah tersebut, demikian juga tahun sebelumnya, dan tahun sebelumnya lagi. Belum lagi masalah kelangkaan pupuk dan harga pupuk yang tinggi, sehingga memunculkan biaya produksi tinggi bagi petani. Masih ditambah kerusakan lahan pertanian yang diakibatkan oleh sistem pertanian yang mengabaikan kaidah-kaidah kelestarian

Buletin Petani ADVOKASI No. 16 Juli-September 2004

alam dan masih banyak lagi masalah-masalah yang dari tahun ke tahun selalu terulang. Sayangnya, rantai masalah petani tersebut justru menunjukkan bahwa 70% permasalahan yang dihadapi petani bersumber dari luar pertanian, sehingga solusinya pun harus juga datang dari sektor-sektor di luar pertanian. Tetapi langkah yang segera bisa diambil guna penyelamatan petani kita adalah dengan cara subsidi dan mengembangkan Sistem Pertanian Organik Terpadu. Di negara maju sekalipun, pemerintahnya selalu melindungi para petani. Misalnya Amerika Serikat memberikan subsidi kepada para petaninya sebesar US $ 18 Miliar/tahun atau lebih dari Rp. 100 Triliun/tahun. Kalau Amerika saja berani begitu mestinya kita juga punya keberanian moral untuk melindungi petani kita dengan cara memberikan subsidi, meskipun itu melanggar WTO. Sehingga nantinya diharapkan produk-produk petani kita mampu bersaing dengan produk-produk dari luar. Pilihan Sistem Pertanian Sistem pertanian yang ada sekarang jelas memunculkan pertanian biaya tinggi dan membawa dampak pada kerusakan lahan. Untuk itu perlu dikembangkan Sistem Pertanian Organik Terpadu. Sistem yang


5

Laporan berusaha untuk mengembalikan semua jenis bahan organik ke dalam tanah, baik dalam bentuk residu dan limbah tanaman maupun ternak yang selanjutnya bertujuan memberi makanan pada tanaman. Dan seperti diketahui petani kita kebanyakan berlahan sempit sehingga perlu pendapatan di luar bercocok tanam. Maka sistem Pertanian Organik Terpadu yang mengembangkan keterpaduan antara pertanian dan peternakan, adalah sebuah jawaban.

Di samping petani mendapatkan laba dari usaha ternak juga petani bisa mendapatkan limbah/ kotoran ternak untuk diolah menjadi pupuk. Tidaklah berlebihan apabila kita berharap nantinya petani-petani kita bisa lepas dari ketergantungan pupuk kimia yang cenderung tidak terkendali harganya. Sudah sewajarnya bagi pemerintah untuk memberikan “Good Will� (niat baik) ataupun kemudahan-kemudahan dalam bentuk insentif kepada petani untuk

Bengkel Qomik

mewujudkan sistem pertanian organik terpadu ini. Tugas berat memang yang disandang pemerintah untuk membangun sebuah pertanian yang tangguh. Tetapi bukankah memang sudah seharusnya demikian. Pemerintah melindungi rakyatnya.

Sriyono Komunitas Jerami Desa Nguneng Kec. Puhpelem Kab. Wonogiri

Banyak program pertanian hanya menggenjot produktifitas. Padahal Petani butuh peningk atan peningkatan kesejahteraan buk an hanya bukan peningk atan peningkatan produksi Buletin Petani ADVOKASI No. 16 Juli-September 2004


6

Laporan

Dagangan P olitik vs Harapan P etani Politik Petani Analisis Isi Kampanye Capres

M

enjelang digelarnya hajatan nasional Pemilihan Presiden makin banyak kita saksikan kiprah para kandidat di televisi, pasar, tempat hiburan hingga ke sawahsawah petani. Namun itu semua belumlah bisa menggambarkan apa yang akan mereka lakukan setelah mereka menjadi pemimpin. Bagi rakyat secara umum dan kaum tani pada khususnya, Pemilu merupakan salah satu jalan untuk mewujudkan impian dan harapanharapan yang selama ini belum terwujud. Begitu pula dengan para kandidat yang mencalonkan diri untuk menjadi pemimpin bagi bangsa ini. Dengan berbagai alasan para kandidat maju ke arena pertarungan berlomba-lomba dengan para pesaingnya berusaha menawarkan program-program kerjanya jika terpilih kelak kepada calon pemilihnya dari kalangan pengusaha hingga kalangan petani. Ada hal menarik yang patut kita cermati dari cara-cara para kandidat menawarkan “barang dagangannya” kepada para calon pemilih. Lewat berbagai media dari yang hanya melalui pamflet hingga media televisi. Media televisi yang selama ini dianggap sebagai media yang paling efektif dalam menawarkan barang dagangan, menjadi pilihan utama, sehingga setiap hari kita bisa melihat aneka bentuk program kerja yang mereka tawarkan. Mengkaji Tawaran Program Bagi kita kaum petani menjadi sangat mudah untuk melakukan kajian-kajian terhadap programprogram yang ditawarkan, tentunya program kerja yang terkait dengan

harapan dan cita-cita petani. Hal tersebut rupanya juga disadari para kandidat bahwa mayoritas penduduk negeri ini adalah petani. Harus kita sadari pula bahwa sektor pertanian adalah salah satu sektor penopang perekonomian bangsa, sehingga selayaknya pula kita kaum petani juga harus bisa menentukan pilihan agar bisa mewujudkan harapan yang selama ini kita cita-citakan. Berikut ini beberapa cuplikan model penawaran yang ditawarkan para kandidat yang selayaknya kita cermati bersama: “Sudah saatnya kita butuh pemimpin yang mau bekerja dan melayani” (sebuah cuplikan iklan kampanye salah satu kandidat dengan berlatarkan seorang kandidat sedang berada di tengah sawah melakukan panen raya bersama petani). Jika kita cermati lebih dalam, arti “mau bekerja dan melayani” dalam konteks kebutuhan petani, apakah itu semua hal itu akan bisa dipenuhi? Satu pertanyaan yang patut kita renungkan bahwasanya kebutuhan kaum petani saat ini adalah mendapatkan hak-haknya sebagai warga negara tanpa mengalami perbedaan. Kenyataan saat ini kaum petani seolah-olah terpinggirkan oleh pembangunan-pembangunan sektor industri. Juga yang perlu diingat betapa kaum petani hanya menjadi penyedia kebutuhan pangan nasional tanpa mendapatkan imbal balik yang sepantasnya dari jasa-jasa yang selama ini telah kita berikan kepada bangsa ini. Selain cuplikan kampanye di atas, ada lagi cuplikan iklan kampanye

Buletin Petani ADVOKASI No. 16 Juli-September 2004

salah satu kandidat yang menawarkan program kredit bagi petani. “Kami akan memberikan kemudahan bagi sektor pertanian dan Usaha Kecil Menengah untuk mendapatkan kredit modal kerja”. Satu pertanyaan bagi kita terkait dengan penawaran di atas, benarkah petani butuh utang? Coba kita tengok kepada sejarah program-program kredit pertanian yang telah diberikan pada masa pemerintahan sebelumnya. Mulai dari program BIMAS/INMAS sampai dengan program Kredit Ketahanan Pangan, apa yang bisa dirasakan manfaatnya bagi kaum tani? Bisa dikatakan program-program kredit pertanian tersebut hanya akan menguntungkan beberapa kelompok saja, hal ini bisa dilihat dari banyaknya kredit yang dikemplang oleh kelompok-kelompok tertentu yang notabene adalah petani-petani berdasi, belum lagi dampak-dampak terhadap lingkungan yang ditimbulkan dari input-input kimia sebagai salah satu input dari program kredit tersebut. Selain dampak lingkungan dan sasaran yang perlu dipertanyakan, hal tersebut juga sangat berkaitan dengan kemampuan sektor perbankan kita. Kendala lain dalam pelaksanaan program kredit pertanian adalah adanya ketidakpercayaan sektor perbankan terhadap petani dengan berkaca pada pengalaman masa lalu dimana banyaknya kredit macet dari “petani” yang mengaku-aku petani! Salah satu kandidat juga menawarkan program perbaikan harga komoditas, proteksi terhadap komoditas pertanian dan pemberian subsidi kepada sektor pertanian. “Sudah bertahun-tahun saya memimpikan


7

Laporan

Bengkel Qomik

petani bisa mendapatkan harga yang layak untuk hasil panennya� (salah satu cuplikan iklan kampanye salah satu kandidat wakil presiden yang mengaku sebagai “Bapak Kaum Tani Indonesia�. Kecap Nomor 1 Jika dicermati secara mendalam, mampukah mereka mewujudkannya. Jika dilihat pada kenyataan saat ini, semakin hari harga panen petani malah jauh merosot. Hal tersebut tak

luput dari dampak adanya komoditas pertanian dari luar negeri yang membanjiri pasar dalam negeri, sehingga untuk menanggulangi hal tersebut diperlukan keberanian dari pemimpin bangsa ini untuk melakukan pengurangan impor komoditas pertanian serta melakukan proteksi terhadap komoditas per-tanian dalam negeri dengan cara memberikan topangan/subsidi pada sektor pertanian dan pelarangan impor komoditas pertanian.

Pertanyaannya, beranikah pemimpin kita nanti melakukan kebijakan tersebut? sehingga petani bisa lepas dari ketergantungan pihak lain, mengingat kebijakan tersebut juga akan berpengaruh terhadap politik dagang antar negara yang juga akan melibatkan negara-negara industri besar yang mempunyai kepentingan dengan politik dagangnya masing-masing. Selain cuplikan-cuplikan iklan kampanye di atas, masih banyak bentuk-bentuk iklan kampanye yang isinya hampir sama. Namun demikian dengan ketiga cuplikan diatas diharapkan akan dapat memberikan gambaran mengenai tawaran-tawaran dari para kandidat pemimpin dihadapkan pada realitas kebutuhan dan harapan kita semua kaum petani. Memang, kita perlu memperhatikan sebelum memilih, lihat secara seksama apa yang ditawarkan dan lihat seberapa besar kemungkinan terwujudnya. Harapan kita, adalah terpilihnya pemimpin yang jujur, berani, amanah serta bisa jadi pelindung dan pelayan kaum petani. Selamat melakukan penilaian untuk menentukan pilihan! (Panggah)

Inilah Bia emilu Kita! Biayya P Pemilu

S

ejak dibentuknya KPU, biaya Pemilu yang diajukan KPU terus mengalami kenaikan, awalnya KPU mengajukan anggaran Rp, 3,023 Triliyun untuk 4 tahun anggaran (2002 – 2005). Belakangan, anggaran yang diajukan membengkak 139%, yakni menjadi Rp. 7,2 Triliyun. Hal ini menunjukkan KPU tidak mampu melakukan perencanaan anggaran. Realisasi Biaya Pemilu melebihi pagu anggaran (anggaran semula) sebesar 58% atau membengkak (over budget) Rp. 608, 116 miliar untuk kegiatan pengadaan kotak suara, bilik, surat suara, distribusi, validasi dan IT (teknologi informasi).

No 1 2 3 4 5 5 6 7

Kegiatan Kotak Suara Bilik Suara Surat Suara Kertas surat suara Kertas Karft Distribusi Validasi Teknologi Informasi

Total

Angaran Semula 235.600.200.000 23.028.000.000 180.842.167.200 372.587.500.000 28.577.198.660 202.776.000.000 1.043.411.065.860

Realisasi 355.625.523.800 55.601.881.997 247.256.866.240 470.963.145.850 4.124.953.550 204.622.195.680 18.000.000.000 295.332.580.835 1.651.527.147.952

Membengkak 120.025.323.800 32.573.881.997 66.414.699.040 98.375.645.850 4.124.953.550 176.044.997.020 18.000.000.000 92.556.580.835 608.116.082.092

% 51% 141% 37% 26% 100% 616% 100% 46% 58%

Sumber: Bahan rapat usulan ABT Pembiayaan Pemilu 2004 dan usulan anggaran operasional KPU dengan Panitia Anggar an DPR-RI Juli 2004

Buletin Petani ADVOKASI No. 16 Juli-September 2004


8

Laporan Nonton Selebritis P olitik 2004 Politik

P

emilu 2004 memang beda! Benarkah slogan-slogan tersebut Baik Pemilu Legislatif maupun bisa diartikan cita-cita dari orangPemilu Presiden. Tahun ini orang yang sering muncul di berbagai kita mulai “belajar” memilih wakil media yang sebentar lagi akan rakyat secara “tunjuk nama” bukan memimpin Negeri tercinta ini? lagi “tunjuk karung” seperti masa-masa silam. Bahkan tahun ini rakyat Indonesia mulai dapat memlilih presiden secara langsung. Hal ini adalah hasil reformasi yang patut kita disyukuri bersama. Bahkan diharapkan, dengan sistem yang kini telah ditata para pemimpin reformis, jika ternyata yang terpilih bukan tokoh proreformasipun, tidak apa-apa! Sebab seorang pemimpin (di bawah sistem reformasi) akan terpaksa tunduk pada hukum. Semoga! Di pemilu era reformasi ini pun, kita disuguhi pemandangan baru. Kampanye ternyata dapat menjadi tontonan mengasyikkan. Kita uh..! Moou bahkan dapat melihat kiprah para kandidat presiden yang berkampanye di TV secara langsung. Tingkah dan ulah mereka memang seringkali sulit dibedakan dengan selebritis di acara-acara gosip (infotainment) televisi. Coba saja kita cermati slogan yang baru-baru lalu didengung-dengungkan oleh para Ataukah itu semua hanya sebagai kandidat presiden. ‘Percaya dan maju slogan-slogan yang hanya bisa bersama…,’Bersama kita bisa…’, diucapkan oleh semua orang? ‘Bersatu untuk maju...’. Sudah Memang, hajat bangsa yang akan terbukti dan sudah teruji’, begitulah kita hadapi ini sangat menarik, slogan-slogan yang sering kita dengar, dimana kita akan secara langsung dari para “penjaja” dagangan politik memilih figur yang sekiranya pantas tersebut. untuk memimpin bangsa ini. Satu hal Buletin Petani ADVOKASI No. 16 Juli-September 2004

yang belum pernah kita lakukan sebelumnya. Berbagai media meliput kegiatan tersebut dari proses persiapan yang dilakukan penyelenggara pemilu maupun para kontestan yang akan berlaga dalam pemilihan presiden tersebut sehingga tidaklah mengherankan banyak sekali gambar para kandidat dan kemunculan-kemunculannya di berbagai media. Sudah barang tentu kemunculan mereka di berbagai media tersebut tidak hanya sekadar muncul di media, akan tetapi sekaligus mereka juga menawarkan beragam cita-cita, harapan atau apalah yang akan mereka jajakan kepada kita semua jika mereka terpilih memimpin bangsa ini. Lalu apa yang akan kita lakukan terkait dengan apa yang mereka tawarkan kepada kita kaum tani? Tentu kita ingin mereka bisa meningBengkel Qomik katkan kesejahteraan kaum tani. Lalu bagaimana caranya agar kita tidak salah memilih? Bukan Memilih Selebritis Idola Jangan-jangan kita telah terbawa suasana, untuk melihat para kandidat pemimpin negara besar ini, sama seperti kita melihat tampilan tokoh-


9

Laporan tokoh selebritis di acara-acara gosip TV tadi. Jika demikian, tentulah kita akan menilai para pemimpin bangsa ini, melulu dari tampak luarnya belaka. Yaitu dari cara dia berbicara (bukan pembicaraannya), dari tatapan matanya (bukan visinya), cara dia meremas atau mengepalkan tangan (bukan semangat dan kepemimpinannya), dari senyumannya, dll. Jika kita memang menilai dengan cara tersebut, tentulah saat di bilik suara kita akan mencoblos (memilih) bintang selebritis belaka, bukan pemimpin! Namun begitu, sudah banyak pihak yang mengingatkan kepada segenap pemilih, untuk memilih dengan lebih bertanggungjawab. Pertama, bisa kita lihat apa visi dan misi yang mereka tawarkan kepada pemilih jika mereka nanti terpilih menjadi pemimpin.

Pilihlah Saya! Harga gabah naik dan harga pupuk turun

Gampangnya, kita lihat program yang mereka tawarkan. Kedua, dari cara mereka menawarkan “dagangannya” kepada pemilih, hendaknya kita tidak hanya terpesona dengan gaya atau tampak luarnya saja. Sebab yang harus kita cermati dalam tampilan-tampilan mereka di media massa adalah visi dan misi mereka dan sikap kepemimpinan mereka. Ketiga, jangan lupa, lihat pula apa yang sudah mereka perbuat selama mereka menjabat sebagai pejabat negara ataupun wakil rakyat dan sepak terjang mereka sebelum menjadi pejabat negara, artinya kita harus juga melihat sejarah mereka dan apa yang sudah mereka sumbangkan bagi negeri ini. Cara ini bisa dilakukan dengan melihat rekaman “jejak” mereka yang sering dimunculkan berbagai media. Keempat, sekali lagi jangan

Saya adalah wakil petani, saya akan selalu bersama petani....

terkecoh terhadap apa yang mereka tawarkan, jika yang ditawarkan itu hanyalah kata-kata. Tapi lihat juga langkah konkret yang akan mereka lakukan dalam menghadapi satu masalah. Jika saja kita semua telah menjadi pemilih yang bertanggungjawab. Kita semua dapat berharap akan lahirnya kembali negeri Indonesia Raya yang disegani di percaturan dunia. Jika kita telah menjadi pemilih yang dewasa, negeri ini pastilah segera bangkit dari jurang nestapa. Jika kita telah menjadi pemilih cerdas, bangsa ini pastilah bergegas bangun. Namun, jika kita hanya menilai dan memilih hanya berdasarkan “tampak luar” yang ditunjukkan para kandidat..., itu berarti: anak cucu kita telah kita pertaruhkan dalam sebuah judi nasional! (Panggah)

Pengadaan dana purnabakti

studi banding ke Singapur Pengadaan mobil dinas

Bengkel Qomik

Ketika kampanye.......

Setelah duduk di dewan.....

Tugas kita lah untuk terus mengawasi!

Buletin Petani ADVOKASI No. 16 Juli-September 2004


10

Monitoring dan Advokasi Merencanakan Pembangunan yang Partisipatif Pembangunan Partisipatif adalah pembangunan yang melibatkan masyarakat yang akan menerima dampak dari pembangunan itu, bertumpu pada penyelesaiaan permasalahan yang nyata ada, musyawarah atas jalan keluarnya. Kesepakatan atas perencanaan dan pelaksanaan kegiatan hingga perawatan hasil kegiatan.

M

usyawarah pembangunan desa (Musbangdes) merupakan salah satu bentuk pengakomodiran pendapat masyarakat dalam perencanaan pembangunan di desanya, dengan membuka peluang yang sebesar-besarnya keterlibatan masyarakat. Namun hal ini terkendala dengan belum siapnya komponen pemerintah di tingkat bawah, khususnya aparat desa. Ketidaksiapan aparat bisa diakibatkan oleh ketidakpahaman akan arti dan maksud Musbangdes itu sendiri, belum mengetahui bagaimana strategi/cara mengumpulkan pendapat dari masyarakat yang luas dan minimnya dana yang tersedia untuk pelaksanaan musbangdes. Sehingga dalam pelaksanaan Musbangdes kebanyakan hanya dilakukan oleh beberapa masyarakat yang belum tentu dapat mewakili masyarakat yang lain, atau bahkan hanya dilakukan oleh aparat desa saja. Selain soal keterlibatan masyarakat, selama ini hasil Musbangdes cenderung ke arah pembangunan fisik dan hanya beberapa saja yang berujud pembangunan non fisik (peningkatan SDM masyarakat). Melihat kondisi tersebut Yayasan Duta Awam sejak beberapa waktu yang lalu (20032004) berinisiatif untuk membantu pelaksanaan Musbangdes di beberapa desa. Kegiatan ini dikemas dalam program Perencanaan Strategis Desa (Renstra Desa). Renstra dilakukan di beberapa desa, yaitu Desa Bade Kecamatan Klego dan Desa Suroteleng Kecamatan Selo keduanya di Kabupaten Boyolali. Selain itu juga dilakukan Renstra di Desa Nguneng Kecamatan Puhpelem Kabupaten Wonogiri dan Desa Pesu Kecamatan Wedi Kabupaten Klaten. Dari Renstra desa di keempat desa itu, tersusun beberapa kegiatan yang diharapkan akan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, baik berupa

kebutuhan bangunan fisik maupun peningkatan SDM masyarakat. Serta terdata beberapa potensi yang ada di desa yang dapat dikembangkan dan kendala-kendala yang selama ini dialami oleh masyarakat. Pelaksanaan Renstra Renstra didahului oleh pelaksanaan sosialisasi ke masyarakat dan aparat desa mengenai pentingnya keterlibatan masyarakat dalam membuat sebuah perencanaan pembangunan desa. Dari sosialissi ini diharap muncul kesadaran masyarakat dan aparat desa mengenai pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menentukan perencanaan pem-bangunan desa. Tahapan selanjutnya adalah penentuan waktu dan peserta yang terlibat dalam pelaksanaan Renstra. Penentuan waktu ini merupakan hal yang penting agar masyarakat yang nantinya terlibat dapat terus mengikuti kegiatan, sedangkan penentuan peserta dilakukan karena tidak mungkin dalam pelaksanaan Renstra melibatkan seluruh masyarakat desa. Ditentukanlah pesertanya berdasarkan wilayah yang ada di desa, profesi yang ada di desa, kelembagaan yang ada dan golongan usia. Tentu peserta Renstra harus punya waktu luang sehingga dapat mengikuti Renstra sampai selesai. Sudah tinggal di wilayah tersebut untuk beberapa waktu, sehingga mengetahui permasalahan-permasalahan yang ada disekelilingnya dan mampu mewakili masyarakat yang ada disekitarnya. Dari Renstra ini, terdatalah permasalahan dan potensi yang ada di desa. Kemudian dilakukan perencanaan pemanfaatan potensi untuk menyelesaikan permasalahan yang ada atau rencana kegiatan berdasarkan potensi yang ada. Hasil dari Renstra ini merupakan rencana pembangunan desa untuk beberapa tahun, tergantung kesepakatan atau agenda yang

Buletin Petani ADVOKASI No. 16 Juli-September 2004

dibuat oleh peserta, sampai kapan kegiatan tersebut akan dilakukan. Hasil pelaksanaan Renstra di keempat desa di atas sangat beragam, namun dapat dikelompokkan menjadi: 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Permasalahan Kesehatan Permasalahan Pendidikan Permasalahan Pertanian Permasalahan Pembangunan Sarana Fisik (jalan, jembatan dll) Permasalahan Sumber Daya Alam (air, tanah dll) Permasalahan Ekonomi

Ada harapan, agar pelaksanaan Musbangdes yang ada dapat mengambil pelajaran, sehingga Musbangdes bertumpu pada permasalahan yang nyata ada di masyarakat, dengan memanfaatkan pula potensi yang ada di desa sebaik-baiknya. (Bayu)


11

Monitoring dan Advokasi Garis besar Tahapan Pelaksanaan Perencanaan Strategis Desa SOSIALISASI Memberikan pemahaman mengenai alasan dan tujuan pelaksanaan Renstra

PERENCANAAN Menentukan peserta , waktu dan tempat pelaksanaan Renstra

PEMETAAN MASALAH

PEMETAAN POTENSI

Memetakan seluruh masalah yang ada di desa dalam hal Jenis Masalah , Penyebab dan Dampak

Memetakan seluruh potensi yang ada di desa

KETERKAITAN ANTAR-MASALAH Masalah dianalisis keterkaitannya dan hubungan sebab akibatnya

PEMILIHAN PRIORITAS Masalah yang terpetakan dipilih sesuai dengan tingkat kebutuhan dan kemudahannya

RANCANGAN PERENCANAAN KEGIATAN PENYELESIAAN MASALAH Masalah yang telah dianalisis dan dipilih kemudian disusun langkah langkah penyelesaiannya serta pihak terkait, kebutuhan dan potensi pendukungnya

Buletin Petani ADVOKASI No. 16 Juli-September 2004


12

Pengalaman Aksi Sudah Jatuh Tertimpa Tangga

Pengalaman Petani Melakukan Kerjasama Penanaman White Melon

Pengalaman ini ditulis oleh Suyitno, seorang petani yang sekaligus menjadi wakil petani penanam White Melon hasil kerjasama dengan CV Tunas Prospekta Kartasura, Sukoharjo-Jawa Tengah.

M

emasuki bulan Juli sawah di kawasan Desa Mayang Kalurahan Jono Kecamatan Tanon, Sragen-Jawa Tengah memasuki musim kering. Pada musim hujan, petani biasanya menanam padi. Pada musim kering, petani memilih menanam tanaman yang tidak membutuhkan banyak air, seperti semangka, timun dan tanaman sejenis lainnya. Hal ini dilakukan agar pada musim kering tanah juga bisa berproduksi. Suatu hari (tahun 1996) datanglah seorang sales sebuah perusahaan menawarkan kerjasama untuk menanam White Melon (Timun Jepang). Perusahaan yang beralamat di jalan Raya Solo Semarang Km 12,7 No 123 Kartasura, Sukoharjo-Jateng itu bernama CV Tunas Prospekta. Perusahaan ini merupakan salah satu kantor cabang yang pusatnya beralamat di Jakarta. Setelah melalui proses lobi dan sebagainya, akhirnya petani memutuskan untuk melakukan kontrak kerja sama penanaman White Melon tersebut. Manis di Awal Kerjasama penanaman White Melon dengan CV Tunas Prospekta dimulai pada tahun 1996 hingga tahun 2004. Dalam kerjasama tersebut perusahaan memberikan bibit. Menurut petani, bibit yang diberikan

oleh pihak perusahaan bermutu baik. Biasanya pembayaran dilakukan pada Hal ini dilihat dari buah yang bisa minggu pertama atau kedua, dan tumbuh dengan baik dan menghasil- dibayarkan secara lunas. Pada saat kan jumlah panen yang relatif banyak. kerjasama musim tanam kali ini, Selama proses penanaman, petani pembayaran dilakukan pada bulan mendapat Saprodi yang cukup dan Nopember, dan itupun baru 70%-nya. bimbingan teknis yang intensif dan Sisa dari pembayaran dilakukan pada memadai. Pada awal kerjasama ini, bulan Pebruari 2004. hasil panen petani selalu dibayar tepat Ingkar janji waktu. Pada awal Maret 2003 perusaPengalaman awal kerjasama yang lancar-lancar saja tersebut haan menyuruh petani untuk menamembuat petani selalu percaya pada nam kembali Timun Jepang varietas pihak perusahaan. Akan tetapi, pada baru, yaitu F1 varietas Simauri. waktu tanam berikutnya, yaitu bulan Menurut perusahaan, berat varietas Juli 2003, perusahaan tidak lagi memberikan Saprodi seperti pada waktu sebelumnya. Perubahan aturan secara sepihak ini, dilakukan perusahaan, dengan alasan agar petani mandiri. Ketidaktepatan ini juga terjadi pada proses pembayaran yang dilakukan perusahaan. Pembayaran panen yang dulunya tepat, pada saat tanam kali ini tidak lagi. Pembayaran Eko pada petani White Melon- Suyitno bersama tanaman White Melonnya menjadi molor. yang baru berusia 2 bulan.

Buletin Petani ADVOKASI No. 16 Juli-September 2004


13

Pengalaman Aksi

ini bisa mencapai hingga 3 kg perbuah dan minimal dalam 1 batang pohon bisa menghasilkan 10 kg. Harga dari timun ini mencapai Rp. 600 per kg. Namun, promosi yang dilakukan perusahaan tinggal promosi. Pada saat panen, petani tidak memperoleh hasil seperti yang diharapkan, padahal petani sudah menanam seperti yang dianjurkan oleh perusahaan. Pada saat buah mulai akan besar, kebanyakan bentuk dari buah kurang bagus. Kondisi ini kemudian diadukan petani kepada direktur CV Tunas Prospekta. Menurut direktur perusahaan, jika buah yang tumbuh hasilnya seperti itu, ya itulah yang harus dipanen. Pada saat panen berlangsung harus disaksikan 4 orang (kepala perusahaan, koordinator kelompok, PPL timun dan penyeleksi) dan ditambah dengan seorang manajer dan bendahara. Tetapi apa yang terjadi? Pada saat panen, tidak semua pihak yang disebutkan tadi ada di tempat. Saat itu yang ada hanya petani dan pihak penyeleksi. Pada waktu itu pihak penyeleksi dari perusahaan tidak berani memproses buah yang bentuknya kurang bagus seperti yang dikatakan oleh direktur perusahaan sebelumnya. Bahkan buah tersebut justru dibuang. Sebelumnya, PPL White Melon ini pernah berkata bahwa benih ini benih ujicoba, kalau petani mendapatkan kerugian, maka kerugian ini akan diganti rugi oleh perusahaan. Atas kerugian yang diderita tersebut, pihak perusahaan menyuruh petani membuat daftar kerugian yang diderita untuk diganti. Kemudian petani membuat daftar biaya pengeluaran dan sudah diserahkan pada pihak perusahaan untuk mendapatkan ganti rugi. Ganti rugi ini sampai sekarang belum mendapat keputusan dari perusahaan. Dengan berbagai alasan, perusahaan selalu mengelak untuk memberikan hak-hak petani yang seharusnya dipenuhi seperti yang dijanjikan sebelumnya.

Pengalaman Mengerikan Berkontrak

I

barat sudah jatuh tertimpa tangga, inilah pengalaman yang dialami oleh petani penanam White Melon. Sudah pembayaran panen petani belum terlunasi, ganti rugi pun belum diputuskan. Usaha petani penanam untuk menuntut apa yang sudah menjadi haknya terus dilakukan. Melalui koordinator kelompoknya, petani sudah berulang kali menghubungi pihak perusahaan dan tidak pernah mendapat hasil yang memuaskan. Hal ini dikarenakan menurut karyawan perusahaan yang bersangkutan (PPL White Melon) sudah tidak aktif masuk dan pemilik perusahaan selalu tidak ada di tempat. Dalam kondisi yang tidak pasti tersebut, petani akan terus berusaha menuntut hak dan janji yang pernah diucapkan perusahaan hingga masalah ini dapat selesai. Setelah mengikuti kegiatan “Sosialisasi Aturan Kontrak antara Petani dengan Perusahaan� yang diselenggarakan oleh Yayasan Duta Awam (YDA) Solo pada tanggal 1 Juni 2004, petani semakin sadar dan tahu bagaimana seharusnya sebuah kerjasama harus seimbang antara petani dengan perusahaan. Dari sisi waktu dan biaya, petani merasa sangat terkuras karena harus sering bolak-balik Sragen-Kartasura. Hingga saat ini petani tetap ingin menyelesaikan masalah dengan jalan cara kekeluargaan. Namun jika suatu saat nanti permasalahan ini tidak menemui titik terang, melalui kordinatornya petani ingin menulis pengalaman pahit ini melaui media massa agar dapat menjadikan pelajaran bagi siapapun khususnya petani agar berhati-hati ketika akan melakukan kontrak dengan perusahaan agrobisnis swasta yang menawarkan kerjasama. Pengalaman ini merupakan pengalaman yang paling mengerikan yang pernah dialami.

Bayu

Sosialisasi Kontrak- Petani anggota kelompok tani Gampil Desa Mayang Kalurahan Jono dan petani penanam White Melon asal Kec Plupuh Sragen tengah mengikuti acara sosialisasi kontrak antara perusahaan dengan petani. Buletin Petani ADVOKASI No. 16 Juli-September 2004


14

Album Advokasi

Foto dokumentasi: Kelompok ANdap

PELATIHAN PENANGKARAN BENIH PADI -Sejumlah petani yang tergabung dalam kelompok Anggota Delegasi Petani Advokasi (ANdap) Desa Bade Kec Klego, Boyolali-Jateng sedang mengikuti pelatihan penangkaran benih padi. Kegiatan yang dilakukan pada tanggal 2 Mei ini difasilitasi oleh Muksin, seorang petani pakar dalam bidang perbenihan asal Desa Banyuurip Kec Klego, Boyolali-Jateng. Kegiatan ini dilakukan agar petani mampu membuat benih sendiri dan terbebas dari ketergantungan benih pada pihak lain. Inset: Petani melakukan pengamatan langsung di sawah.

Gideon

ADVOKASI BENIH -Dua puluh petani mitra YDA asal eks-Karesidenan Surakarta ke Departemen Pertanian di Jakarta. Pemerintah telah mewajibkan label bahasa Indonesia pada benih impor, namun belum sepenuhnya dijalankan. Dirjen Hortikultura mengatakan jika ditemukan benih berlabel bahasa asing agar dilaporkan ke BPSB atau ke Dirjen Hortikultura untuk ditindaklanjuti. Buletin Petani ADVOKASI No. 16 Juli-September 2004

Gideon

STUDI BANDING KE PETANI ORGANIK -Kelompok Muda Peduli Petani Sukoharjo (KOMPPOS) dan Paguyuban Petani Mandiri Grobogan melakukan studi banding tentang pertanian organik ke Serikat Petani Perempuan Harapan Pertiwi di Desa Peniwen, Kec. Kromengan, Kab. Malang, Jawa Timur. Di sini petani berdialog tentang sistem usaha tani dan organisasi tani.


15

Album Advokasi

Foto dokumentasi: Kelompok ANdap

MASYARAKAT PEDULI PENDIDIKAN -Pendidikan penting artinya untuk generasi muda dan kelangsungan hidup bangsa. Mengingat pentingnya hal tersebut Pokmas (Kelompok Masyarakat) Pendidikan hasil Renstra (Rencana Strategis) Desa Bade Kec Klego, Boyolali-Jateng melakukan pertemuan antara wali murid dan pihak sekolah (Madrasah Ibtidaiyah). Pertemuan di gedung sekolah pada tanggal 8 Mei 2004 ini mengusung tema “Pentingnya Peran Orang Tua dalam Mendorong Belajar Anak. Inset: Kepala Sekolah Dasar setempat memberikan sambutan pada acara tersebut.

Eko

SEMINAR PERTANIAN BERKELANJUTAN -Petani sedang menyampaikan hasil diskusi petani tentang Pertanian Berkelanjutan pada acara Seminar Pertanian Berkelanjutan-Mengkomunikasikan Pertanian Berkelanjutan antara Petani dengan Eksekutif dan Legislatif (anggota DPRD baru) se-Eks Karesidenan Surakarta di Solo pada tanggal 21 Juli 2004.

Eko

PELAYANAN LANSIA -Dua belas kader kesehatan Dusun Pendem dan Petungulung, Desa Nguneng Kec Puhpelem Kab Wonogiri-Jateng melakukan pemeriksaan kepada sembilan puluh Lansia (Lanjut Usia) di wilayahnya. Pelayanan kesehatan masyarakat Lansia pada tanggal 24 Juli 2004 ini juga diselingi dengan senam sehat yang diikuti oleh hampir seluruh Lansia. Buletin Petani ADVOKASI No. 16 Juli-September 2004


16

Berita Tani Mujiono Melakukan Penyilangan Padi

Bappenas: Indonesia Tak Miliki Perencanaan

S

eorang pejabat Bappenas mengungkapkan, Indonesia tidak memiliki perencanaan pembangunan jangka panjang. Hal itu merupakan kenyataan yang amat menyedihkan, karena tidak bisa diketahui kemana arah pembangunan ke depan. “Bagaimana memformulasikan visi pembangunan jangka panjang itu sendiri kita tidak bisa, karena bangsa ini terbiasa pada jangka pendek, apalagi ke depan tidak ada lagi GBHN,” kata Direktur Pengairan dan Irigasi Bappenas Dr. Basuki Yusuf Iskandar, MSC, dalam seminar di Jakarta, Senin 12 Juli 2004. Dalam seminar bertajuk “Prasarana Wilayah dalam Rangka Pengembangan SDM Aparatur Pemerintah Kota/Kabupaten”, Basuki menegaskan salah satu tantangan yang perencanaan pembangunan adalah aspek legal, yakni MPR tidak lagi menyusun GBHN. “Apakah hal ini pertanda bahwa perencanaan pembangunan jangka panjang tidak relevan lagi,” katanya dalam seminar yang diselenggarakan Mitraco Consulting Services. Ia mengakui bahwa keberadaan GBHN pada masa lalu memang tidak aspiratif dan tidak membumi dan hal itu bukan kesalahan isi GBHN-nya, tetapi MPR yang membuat GBHN yang tidak bisa menuangkan visi perencanaan pembangunan jangka panjang yang bisa diimplementasikan dengan baik. Ia mengatakan, ke depan, dengan adanya presiden yang dipilih langsung oleh rakyat dan hak legislasi dan budget sepenuhnya berada di tangan DPR, akan membuka peluang terjadinya kebuntuan (deadlock) pemerintahan. “Akan terjadi ketidakserasian (mismatch) antara perencanaan dan anggaran (budgeting),” katanya. Basuki juga menegaskan bahwa tantangan perencanaan pembangunan adalah terdapat potensi disintegrasi karena dominasi proses politik dan kompetisi antarlembaga, antarsektor, antarwilayah, dan antargenerasi. Ia menyatakan bahwa visi perencanaan pembangunan jangan panjang merupakan hal yang sangat relevan bagi Indonesia. (Gatra/Business , 12 Juli 2004)

BPTP Tawarkan Enam Padi Varietas Baru

B

alai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jateng menawarkan kepada para petani dan swasta atau pengusaha untuk mengelola padi varietas unggul tipe baru (VUTB) bernilai ekonomi yang menjanjikan. Ada enam padi tipe baru yang ditawarkan, yakni varietas Fatmawati, Rokan, Maro, Batang Kampar, Batang Samo, dan Ciherang. Keenam varietas itu memiliki deskripsi berbeda, tetapi keunggulannya hampir sama. Melalui percontohan di atas lahan 1,6 ha, petani dan pengusaha bisa memilih bibit yang disukai. Padi varietas Fatmawati tingginya 95-110 cm, umur 105-115 hari, anakan produktif 8-14 batang, gabah berbentuk langsing warna kuning sedang, dan per malai berisi 200-300 butir. Padi yang dilepas pada 2003 itu

tekstur nasinya pulen dan hasil panen 9 ton gabah kering giling (GKG)/ha. Tanaman tersebut tahan wereng coklat dan penyakit hawar daun, serta cocok ditanam di sawah dataran rendah hingga sedang atau pada ketinggian 600 m di atas permukaan laut (dpl). Rokan yang diluncurkan pada 2002 umurnya 113 hari, tinggi tanaman 98 cm, bentuk ramping berwarna kuning bersih, dan tekstur nasinya pulen. Sumber berita Kompas mengatakan bahwa menurut Achmad Suryana, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertanian, saat ini sudah ada dua varietas padi hibrida yang diluncurkan, yaitu Rokan dan Maro. Akan tetapi permintaan benih padi hibrida masih tergolong rendah dibanding varietas yang biasa.(Suara Merdeka, 6 Mei 2004; Kompas, 23 Juni 2004)

Buletin Petani ADVOKASI No. 16 Juli-September 2004

M

ujiono, anggota KPPK (Kelompok Petani Peduli Klaten) telah 4 musim ini melakukan penyilangan berbagai varietas padi dengan tujuan mendapatkan varietas yang paling menguntungkan petani. Varietas yang disilangkan adalah Bulu dengan Pandanwangi, Bulu dengan Widas, Bulu dengan Memberamo, dan Mentikwangi dengan Pandanwangi. Sampai saat ini masih tersisa 2 musim lagi atau sekitar 1 tahun untuk mendapatkan hasilnya. Kegiatan penyilangan ini didorong oleh keinginan melestarikan padi lokal, agar tidak tergantung dengan benih padi dari luar, dan keinginan menangkarkan dan menciptakan jenis padi sendiri. Setelah kegiatan ini selesai, Mujiono berencana hendak mendokumentasikan pengalamannya agar bisa menjadi sarana belajar bagi petani lain. Menurut Kompas, saat ini terdapat 17.000 varietas padi di Indonesia yang 3.500 diantaranya sudah diketahui sifat-sifatnya. Benih padi tersebut disimpan di bank gen yang terdapat di Sukamadi, Kabupaten Subang, dan di Kabupaten Bogor. (Catatan Pertemuan KPPK; Kompas, 23 Juni 2004)

Pemulia Tanaman Segera Mendapatkan Hak Khusus PVT

P

ara pemulia (orang yang merakit atau menemukan dan mengembangkan suatu varietas) tanaman akan mendapat hak perlindungan varietas tanaman (PVT) yang merupakan hak khusus yang diberikan negara untuk menggunakan varietas hasil pemuliaannya. Pemberian hak ini dimaksudkan untuk mendorong penemuan varietas baru dan industri benih yang kompetitif. Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian Memed Gunawan dalam


17

Berita Tani

Temu Koordinasi Kehumasan Pusat Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) di Jakarta, mengatakan, setelah disahkan Undang-Undang (UU) No 29/ 2000 tentang PVT akan dilanjutkan dengan pengesahan peraturan pemerintah. Selanjutnya untuk langkah operasional, tengah disusun draf Keputusan Menteri Pertanian tentang PVT. Dalam pertemuan itu dibahas draf yang akan diajukan ke Menteri Pertanian. Bila telah disetujui, maka dalam waktu dekat bisa diajukan permohonan hak PVT oleh para pemulia tanaman. "Sudah selayaknya kepada penemu varietas baru diberi penghargaan berupa perlindungan hukum atas kekayaan intelektual dalam menghasilkan varietas tanaman, termasuk dalam menikmati manfaat ekonomi dan hak-hak pemuliaan lainnya," kata Memed. Perlindungan hukum tersebut sekaligus merupakan pelaksanaan dari berbagai kewajiban internasional seperti dalam Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) yang antara lain mewajibkan negara anggotanya melaksanakan peraturan di bidang hak atas kekayaan intelektual. (Kompas, 27 Mei 2004)

Perdagangan Komoditas Pertanian Surplus

I

mpor komoditas pertanian Indonesia tiga tahun terakhir makin turun, sedangkan ekspornya meningkat sehingga neraca perdagangannya surplus dengan peningkatan rata-rata 15% per tahun. Pada 1999 surplusnya 2,2 miliar dolar AS dan 2002 menjadi 3,4 miliar dolar AS. Demikian diungkapkan oleh Menteri Pertanian Bungaran Saragih di depan mahasiswa Program Pascasarjana UKSW, baru-baru ini. Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) pertanian 2000-2003, lanjut dia, ratarata 1,83% per tahun dan 2003 lebih kurang 2,61%. ''Tingkat pertumbuhan itu lebih tinggi dari pertumbuhan pertanian selama krisis atau 1998-

1999 yang hanya 0,88%. Bahkan, lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan pertanian akhir Orde Baru 1993-1997 yang hanya 1,57%/tahun,'' jelasnya. Bahkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pertumbuhan pertanian pada triwulan I/2004 mencapai 17%.(Suara Merdeka, 22 Juni 2004)

Produk Pertanian Belum Siap Hadapi Pasar Bebas

S

ektor pertanian dan industri dalam negeri secara umum belum siap menghadapi perdagangan internasional. Hal itu terjadi karena biaya produksi yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk pertanian dan industri di Indonesia masih tinggi. "Harus diakui, produk pertanian dalam negeri seperti beras belum mampu melawan beras impor, karena biaya produksi yang dikeluarkan petani antara lain pestisida dan pupuk masih tergolong mahal," tutur Prof Dr Dawam Rahardjo. Akibatnya, kata dia, harga jual beras petani sangat tertekan, sehingga penghasilan mereka sangat kecil. Kemudian, karena petani beras masih merupakan bagian yang sangat besar dari penduduk Indonesia, maka daya beli masyarakat pun akan merosot tajam. Dawam mengungkapkan, pasar bebas memang akan menghadapkan Indonesia pada perekonomian yang serba dilematis. Di satu sisi akan mendorong industri menjadi efisien dan kompetitif; di sisi lain karena membanjirnya barang impor akan menyebabkan turunnya pendapatan petani, yang jumlahnya di Indonesia masih sangat besar. Usaha-usaha baru yang masih bisa berkembang, lanjut dia, adalah berbasis sumber daya lokal, yang menggunakan sumber bahan baku alam dan ketrampilan tenaga kerja lokal. Selain biaya produksi rendah, produksinya juga masih berorientasi pada pasar luar negeri. (Suara Merdeka, 7 Juni 2004)

Industri Benih di Dalam Negeri Tidak Berkembang

I

ndustri Benih nasional untuk tanaman pangan, ternak, dan ikan tidak berkembang. Kalangan industri lebih senang mengimpor benih unggul lalu memperbanyak di dalam negeri daripada membuat sendiri. Prof Ahmad Baihaki, Ketua Pengurus Transisi Masyarakat Perbenihan dan Perbibitan Indonesia (MPPI) didampingi Djafar Hafsah Ketua Badan Benih Nasional mengatakan benih unggul banyak diimpor, sementara industri benih di negeri sendiri menjadi jago kandang. “Mereka hanya memperbanyak, sebaiknya industri benih mampu membuat sendiri benih unggul, baik ternak,ikan, dan tanaman�, kata Baihaki. Dengan berbagai peraturan,ia berharap industri benih di dalam negeri berkembang. Ia mencontohkan perlindungan kekayaan Intelektual dan pemuliaan benih, maka makin ada kepastian hukum di kalangan industri benih. Beberapa kali ada upaya pemasukan benih padi dan jagung dari negara yang memiliki hama penyakit yang hingga kini tak ada di Indonesia. Tapi upaya itu digagalkan oleh pihak karantina . Menurut Djafar Hafsah, yang juga Dirjen Bina Produksi dan Tanaman Pangan, Departemen Pertanian, masalah perbenihan dan pembibitan nasional yang terjadi akhir-akhir ini karena semakin membanjirnya benih varietas unggul dari negara yang ternyata pemilik organisme pengganggu yang di Indonesia belum pernah ada. Sebaliknya, hasil perakitan benih didalam negeri belum mampu bersaing dengan varietas unggul dari negaranegara itu. Dikatakan Djafar, pemerintah mensubsidi benih Rp 100 Miliar pertahun, yang diberikan ke produsen. Dengan subsidi itu petani berhak mendapat benih dengan harga lebih murah Rp 500 dari harga sebenarnya. (Kompas 20Juli 2004)

Buletin Petani ADVOKASI No. 16 Juli September 2004


18

Konsultasi Tani Respo, Filicaulis bleekeri (Keferst) Hama baru dengan ledakan populasi yang cepat ami petani di Desa Sumberarum Moyudan Sleman Yogyakarta menghadapi masalah yang cukup pelik. Tanaman kami: kacang tanah, umbi-umbian, dan sayuran diserang oleh hama Rerespo (nama lokal). Hewan ini berbentuk seperti pacet, namun tidak menghisap darah manusia, dengan panjang 8 – 10 cm

K

(lihat foto). Dia bersembunyi sekitar 10 cm di dalam tanah, dan di bawah rimbun dedaunan dengan perkembangbiakan yang amat cepat. Hama itu makan umbi/akar, buah dan daun. Hama keji ini bisa menghacurkan sampai dengan 75 % tanaman kami. Alias kami jadi gagal panen.

Kami sudah menanggulanginya dengan menggunakan kapur, garam, abu dapur, dan air rendaman tembakau namun hasilnya belum nampak. Sungguh kami mohon solusi dari Pak Konsultan untuk mengatasi hama ini. Mungkinkah Rerespo ini dijadikan pupuk atau makanan ternak agar bencana ini dapat berubah menjadi rahmat? Terimakasih. Hormat kami Ade Kurniawan Desa Sumberarum, Moludan Sleman

Jawaban: Secara biologi, binatang ini adalah Siput tak bercangkang, Filicaulis bleekeri Keferst (Famili Vaginulidae) yaitu hama baru yang semula hanya ditemukan di pulau Sumatera (Dammerman, 1929; Kalshoven, 1981). Hama ini oleh petani setempat, yang sebagian etnis Jawa disebut respo/rerespo/resrespo. Memiliki ciri morfologi berwarna abu-abu kecoklatan, bagian dorsal (perut) mempunyai bercak-bercak dan garis-garis lebih gelap yang tidak teratur. Bagian ventral (punggung) berwarna kuning cerah dengan pola pewarnaan yang lebih kuat di bagian tengah daripada bagian pinggir. Hama ini tidak bercangkang, dan gerakannya meninggalkan jejak berlendir. Pada musim penghujan, ketika hujan lebat respo tersebut sering masuk ke dalam rumah, kadang-kadang ditemukan mati karena kekeringan. Pemberian garam dapur dapat mengakibatkan matinya respo karena keluarnya seluruh cairan (lendir) dari dalam tubuh respo (mekanisme osmosis akibat kandungan garam tinggi) hingga kering. Pada pengamatan populasi Filicaulis bleekeri (Keferst) di sentra produksi sayur Rejang Lebong, Bengkulu (2000 - 2002) diketahui bahwa kerusakan yang terjadi pada tanaman kubis, sawi, dan kol bunga (Famili : Cruciferae) sangat tinggi yaitu + 80%. Bahkan tanaman kol bunga yang masih muda, tidak ada satu pun yang dapat dipanen. Semua data menunjukkan bahwa populasi Filicaulis

bleekeri (Keferst) pada dua tahun terakhir mengindikasikan kerapatan ledakan populasi (Apriyanto et al., 2003). Data ini perlu menjadi kewaspadaan bagi petani sayuran di pulau Jawa, yang akhir-akhir ini mulai merasakan adanya serangan Filicaulis bleekeri (Keferst). Sampai saat ini belum banyak informasi di pustaka yang membahas respo. Bahkan teknik-teknik pengendalian hama melalui kegiatan penelitian dan pengkajian belum dilakukan. Oleh karena itu dengan mengetahui biologi hama, diharapkan dapat ditemukan teknologi dan strategi pengendalian hama respo. Teknik Pengendalian Budidaya - Lakukan praktek budidaya tanaman yang

Buletin Petani ADVOKASI No. 16 Juli-September 2004

benar dengan pengolahan tanah sempurna yaitu dengan mencangkul gulma (tempat persembunyian respo) dahulu sebelum membalik guludan (bedengan). - Melakukan pengendalian kelompok telur respo dengan mengolah pupuk kandang mentah menjadi pupuk organik majemuk yang telah diolah dengan probiotik (dekomposer pupuk kandang). Teknik Pengendalian Mekanis - Manual dengan tangan pada malam hari (saat respo aktif mencari makan) atau siang hari (saat respo istirahat di bawah serasah, gulma atau bongkahan tanah). Bersambung ke halaman 23


19

Santai Sejenak

Orang Desa di Taman Mini

P

ada sebuah kesempatan melakukan dialog dengan Departemen Pertanian masalah Perbenihan di Jakarta belum lama ini, termasuk dalam rombongan petani adalah 2 orang pemuda dari sebuah desa di lereng gunung Merapi yang belum pernah sama sekali ke Jakarta. Rombongan menginap di sebuah penginapan yang terletak di Taman Mini Indonesia Indah. Penginapan ini memang terletak di dalam Taman Mini sehingga ketika masuk penginapan diharuskan untuk membayar tiket masuk di pintu gerbang. Singkatnya, setelah pagi harinya melakukan dialog dengan Deptan, rombongan kembali lagi ke penginapan. Sebetulnya ada dialog lagi dengan Departemen

Perdagangan, tapi karena departemen tersebut tidak bersedia sehingga siang itu tidak ada lagi acara. Kedua orang pemuda tadi kemudian memutuskan untuk jalanjalan di Taman Mini. “Kapan lagi bisa jalan-jalan di Taman Mini, gratis lagi karena tiket masuk sudah dibayar di pintu gerbang”, pikir mereka. Lalu dimulailah perjalanan mereka dari satu anjungan ke anjungan yang lain. Pada awalnya berjalan dengan lancar. Mereka melihat-melihat anjungan dengan tidak lupa berpotret ria. Namun, di salah satu anjungan mereka didatangi oleh seorang petugas. Petugas itu kemudian bertanya, “Tadi masuk dari mana, Mas?”. Mereka dengan

Kadal dan Rayap di lahan Pak Budi

lugu menjawab, “Kami masuk dari belakang situ, Pak?”. “Wah, itu nggak boleh Mas, kalau mau masuk ke anjungan harus bayar tiket lagi di pintu masuk anjungan. Selain itu, untuk motret juga harus bayar tiket lagi,” kata petugas tadi. Akhirnya mereka terpaksa harus bayar tiket masuk anjungan dengan agak mengomel, “Ku pikir gratis, tahunya harus bayar tiket lagi” sambil berjalan ke depan loket.Tapi saat mereka hendak membayar dengan uang 50.000-an, petugas ternyata tidak punya kembaliannya. Karena tidak ada kembaliannya, mereka akhirnya tidak bayar juga. (Seperti dikisahkan oleh Rosyid dan Sugiyanto, dari Desa Suroteleng, Selo, Boyolali)

Kuis

berhadiah!

Pemenang Kuis Edisi Sebelumnya:

P

ak Budi adalah seorang petani yang tinggal di dataran tinggi (pegunungan) yang berhawa 1. ILHAM PRADIGDA dingin. Di lahannya dia menanam palawija dan sayuran, serta tanaman keras untuk Jl. Cempaka No 9 Ds. diambil kayunya. “Hama yang paling sulit ditanggulangi di sini adalah hama rayap. Bukan Glonggong Rt 02/Rw 03 Desa Kranggaharjo Kec. hanya kayu keras, tanaman kecil pun disikat,” tutur Pak Budi kepada kerabatnya Pak Parmin. Toroh-Grobogan Pak Parmin yang merupakan petani dan tinggal di daerah dataran rendah, yang tentu saja berhawa lebih panas, berkata, “Di lahanku dan sekitarnya, banyak sekali hidup hewan 2. LIDYA ISKANDAR Jl. Ratu Agung 92, kadal. Kadal ini sangat membantu mengendalikan hama seperti rayap.” Argamakmur-Bengkulu Utara Pak Parmin menyarankan agar Pak Budi mencari kadal beberapa ekor, dan melepaskannya di kebun milik Pak Budi. “Mereka cepat berkembang biak, karena di sini 3. SUGITO Blok B Rt 12/03 Rumbai Jaya banyak makanannya, rayap dan serangga lain,” kata Pak Parmin. Kec. Tempuling Kab. Inhil “Tetapi, kadal itu hewan berdarah dingin, apakah kadal cocok hidup di sini yang berhawa Prop. Riau dingin?” tanya Pak Budi, yang selama ini tidak pernah melihat kadal di lahannya. Nah, cobalah menjawab pertanyaan Pak Budi tersebut. Di bawah ini ada beberapa alternatif (pilihan) jawaban. Anda dapat memilih satu atau lebih dari pernyataan ini, atau boleh pula membuat jawaban sendiri, berdasarkan pengalaman Anda! a. b. c. d.

Kadal tidak cocok hidup di daerah berhawa dingin, karena kadal harus sering menaikkan suhu tubuhnya. Cocok, selama masih di daerah tropis yang banyak sinar matahari. Sebab hewan berdarah dingin harus berjemur untuk menaikkan suhu tubuhnya. Kadal di sekitar lahan Pak Budi punah karena racun pestisida. Kadal binatang berguna bagi petani, sebagai musuh alami dan keseimbangan alam.

IS U K

Kirim Jawaban Anda! Ke Buletin Advokasi, Jl Adisucipto 184-i Solo Akan Kami Kirim Hadiah yang Bergaya!

Buletin Petani ADVOKASI No. 16 Juli-September 2004

KU

PO

N

N 16 O P O KU N K

O UP

N

KU

PO

N

KU

KU

PO

N

PO

N

KU

KU

KU

PO

PO

N

N

PO

KU

KU

KU

KU

N

PO

PO

PO

N

N

N

PO

KU

KU

KU

N

P KU

O

PO

PO

PO

N

N

N

N

KU

KU

KU

PO

P KU

KU

O

PO

PO

PO

KU

N

N

N

N

N

PO

N


20

Info Tani Menggagas Pemasaran oleh Petani

P

ertengahan Juli 2004 ini beberapa organisasi non pemerintah (Ornop) dari beberapa propinsi yang merupakan mitra sebuah organisasi internasional non pemerintah, berkumpul di Pontianak Kalimantan Barat. Selain membicarakan program kemitraan di bidang pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) yang sedang berjalan, acara ini juga membahas pemahaman tentang isu besar yang sudah lama muncul di kalangan petani maupun di kalangan organisasi non pemerintah yang bergerak di pertanian. Isu besar itu tidak lain adalah akses ke pasar (access to market). Perbincangan dan diskusi dalam acara selama lima hari tersebut dapat memetakan kondisi Ornop yang menjadi peserta acara ini. Meski beberapa Ornop sudah ada yang mencoba melakukan kegiatan di bidang isu ini, namun tampak bahwa kebanyakan Ornop masih belum memahami tentang tiga hal utama yang sebaiknya ada sebelum suatu ornop masuk ke wilayah ini (prakondisi). Ketiga hal tersebut adalah ilmu ekonomi, pemasaran (marketing) dan marjinalisasi (proses peminggiran masyarakat). Hal pertama, pemahaman akan ilmu ekonomi, dipetakan dari keterbatasan pengetahuan yang hanya mengungkapkan keberadaan hukum penawaran – permintaan (supplies – demands) dan prinsip ekonomi. Hukum penawaran – permintaan hanya dimaknai secara general sementara ada hal lain yang harus diperhatikan seperti elastisitas penawaran – permintaan, jenis produk (konsumsi, pelengkap, pengganti, status, dan lainnya), serta tipe pasar (monopoly, oligopoly, kartel dan lainnya).

Sementara itu pemaknaan akan prinsip ekonomi yang muncul dari peserta, adalah keuntungan sebesarbesarnya dengan pengeluaran sesedikit mungkin. Makna ini adalah makna lama dari prinsip ekonomi, yang sudah berubah dengan perkembangan ilmu ekonomi itu sendiri. Saat ini prinsip ini lebih menggunakan makna sebagai keuntungan sebesar mungkin dengan pengeluaran tertentu atau keuntungan tertentu dengan pengeluaran seminimal mungkin. Unsur keterbatasan (limitation) sudah masuk dalam makna prinsip ekonomi saat ini. Kedua, pemahaman akan pemasaran. Ada beberapa kerancuan (kebingungan) saat peserta mendiskusikan akses ke pasar (access to market). Hal ini menunjukkan bahwa pemasaran dimaknai hanya pada penjualan, padahal berbeda antara pemasaran (marketing) dengan penjualan (selling). Belum lagi jika dihubungkan dengan pemikiran pemasaran sosial (social marketing concept) sebagai upaya proaktif produsen akan tuntutan perlindungan konsumen (consumerism). Saat diskusi, juga nampak ada kebingungan dalam menggunakan peristilahan yang ada. Atau bahkan bisa dianggap asal menggunakan istilah. Misalnya tentang kebutuhan manusia (human needs), keinginan (wants), pasar (market), pemasaran (marketing), konsumen (consumers), tempat penjualan (point of sales), posisi pemain pasar (pemimpin pasar/ market leader atau pengikut pasar/ market follower) atau pun kewirausahaan (entrepreneurships). Kebingungan yang nampak misalnya adalah mencampuradukkan kebutuhan dengan keinginan, pasar dengan tempat penjualan, pasar

Buletin Petani ADVOKASI No. 16 Juli-September 2004

dengan konsumen, serta monopoli dengan pemimpin pasar. Beberapa kalangan yang kontra dengan pemasaran, sering mengungkapkan bahwa pemasaran adalah menciptakan kebutuhan. Dengan kata lain membuat orang menjadi konsumtif (menjadi sering mengkonsumsi sesuatu atau consumptivesm). Hal ini disangkal oleh kalangan pemasaran yang menyatakan bahwa kebutuhan dan keinginan manusia itu sudah ada sebelum pemasaran itu ada. Misal kebutuhan manusia akan kesehatan dan keinginan manusia untuk mendapatkan kesehatan yang murah dan mudah, sedangkan pemasar akan menyediakan jamu atau obat murah melalui pengembangan imajinasi (image building). Pada kondisi tersebut pemasar hanya bertindak sebagai pihak yang mempengaruhi manusia untuk melakukan transaksi (tukar menukar), baik itu transaksi uang – barang (moneter transaction) atau barang – barang (barter transaction). Namun jika dikaji lebih lanjut, sebetulnya transaksi tidak hanya terjadi pada dua hal itu. Hal ini dikarenakan apa yang dipasarkan akan meliputi tiga produk yakni barang (misal beras), jasa (misal distributor beras) dan gagasan/ ide (misal beras sehat tanpa pestisida dan pupuk pabrik). Jadi sebetulnya ornop itu sudah familiar dengan pemasaran karena bergerak di wilayah gagasan atau ide. Misalkan gagasan “peningkatan harkat hidup petani melalui program pertanian berkelanjutan yang berbasis komunitas� adalah sebuah produk. Sang pemasar adalah Ornop dan si pembeli adalah Ornop donor dan petani mitra program. Dari sisi ornop donor yang terjadi adalah pertukaran antara gagasan (program) dengan


21

Info Tani dana, sedangkan dari sisi petani mitra program adalah pertukaran antara gagasan (program) dengan keterlibatan (partisipasi) petani. Hal lain adalah kewirausahaan (entrepreneurships), yang ketiadaannya pada petani sering dianggap sebagai sebab kurang bisanya petani mengakses pasar. Kewirausahaan sendiri sebetulnya lebih sesuai dengan makna semangat atau kekuatan dalam diri (inner power) yang berani mencoba, gagal, dan mencoba lagi atau dengan kata lain semangat berusaha. Semangat ini sebetulnya sudah ada dalam diri petani sehubungan dengan usaha budidayanya. Namun jika kewirausahaan ini diartikan sebagai sebab gagalnya petani mengakses pasar tentunya kurang tepat. Hal ketiga adalah pemahaman akan marjinalisasi (proses peminggiran masyarakat). Kurangnya pemahaman akan gagasan ini nampak dari munculnya usulan akan kewirausahaan. Kewirausahaan adalah proses perseorangan karena sangat berhubungan dengan semangat individu. Jika semangat berani mencoba ini ingin disebarkan merata ke kelompok petani, dalam arti pendekatan kelompok bukan perseorangan, maka itu tidak lagi

sesuai dengan kewirausahaan. Ini lebih cenderung pada persoalan pengelolaan (manajemen) kelompok usaha, yang salah satunya adalah motivasi. Sekiranya kewirausahaan ini yang menjadi fokus kegiatan Ornop, maka akan muncul perseorangan yang menjadi pengusaha (petani pengusaha, bukan kelompok tani pengusaha). Jika hal ini terjadi maka dikhawatirkan justru akan memperkuat pihak-pihak yang akan meminggirkan petani. Kenapa? Karena pendekatan ini adalah sama dengan yang dilakukan beberapa pihak yang menggunakan gagasan trickle down effect (efek menetes ke bawah) yang berharap petani pengusaha akan berbagi kepada petanipetani lain yang belum mampu mengusahakan pertaniannya dengan baik (hal yang terbukti akhirnya bermasalah dalam pemerataan pembangunan/kesejahteraan). Hal lain adalah isu Perdagangan Bebas (Free Trade) yang dihadapi dengan Perdagangan yang Adil (Fair Trade). Dari satu sisi gagasan ini sudah sesuai dengan apa yang diperjuangkan, yakni keadilan. Namun saat masuk dalam perbincangan adil untuk siapa, muncul ketidakjelasan yang sebetulnya mendasar. Saat berbicara adil, tentunya berlaku untuk

HARIS WISAKSONO Lahir pada tanggal 12 Juni 2004 Putra kedua dari Keluarga Sumarsono Ketua Kelompok Peduli Petani Klaten

semua manusia yang hidup di bumi ini. Apalagi jika hal tersebut berhubungan dengan hak asasi manusia. Artinya, jika petani di Indonesia menjadi kuat pada suatu saat nanti, tidak berarti boleh melakukan tindakan yang tidak adil untuk sesama manusia di belahan dunia yang lain. Oleh karena itu pemahaman akan marjinalisasi ini penting untuk digagas sebelum ornop bermain dalam access to market ini. Hasil yang diharapkan dari pemahaman ini adalah suatu kumpulan nilai-nilai yang harus dijadikan pedoman mengembangkan access to market agar petani dapat sejahtera bersama, bukan sejahtera sendiri-sendiri. Tentunya ini atas kesadaran bahwa marjinalisasi akan dapat dihentikan atau setidaknya dikurangi jika semakin banyak petani berkelompok secara kuat dan mandiri memperjuangkan hak-haknya. Terlepas dari hal tersebut di atas, setidaknya sudah direncanakan akan ada tahap prakondisi, yakni pelatihan pemasaran untuk ornop, agar Ornop lebih siap menangani isu besar ini. Semuanya dengan harapan, Jayalah petani! (Catatan Muhammad Riza saat mengikuti Program Consolidation Meeting (PCM) VIII CRS Indonesia - Sustainable Agriculture Program, Pontianak 12 – 16 Juli 2004)

Selamat atas Kelahiran

MUHAMMAD HAQUL ABKAR Lahir pada tanggal 27 Juni 2004 Cucu ketiga dari Keluarga Mujiono Anggota Kelompok Peduli Petani Klaten

FAIRUZ’ASHMA’NADIA RAIHANI Lahir 15 Mei 2004 Putri kedua dari Keluarga Muhammad Riza Direktur Eksekutif Yayasan Duta Awam Solo

Buletin Petani ADVOKASI No. 16 Juli-September 2004


22

Resep Mengelola limbah Industri Rumah Tangga

D

i antara pembaca Advokasi tentu ada yang membuka usaha kecil-kecilan di rumah. Mungkin usaha pembuatan tempe atau Masuk makanan ringan untuk tambahan penghasilan. Nah, sebagai pengusaha kita harus bertanggungjawab pada lingkungan. Dengan demikian, walau usaha kita kecil-kecilan pun, harus kita pikirkan pengelolaan limbahnya. Limbah merupakan buangan/bekas yang berbentuk cair, gas dan padat. Dalam Lemak air limbah terdapat bahan kimia mengapung yang sukar untuk dihilangkan dan berbahaya. Bahan kimia tersebut dapat memberi kehidupan bagi kuman-kuman penyebab penyakit seperti disentri, tipus, kolera dan sebagainya. Sehingga air limbah harus dikelola agar tidak mencemari dan tidak membahayakan kesehatan lingkungan. Berikut ini adalah sebuah teknik sederhana untuk pengelolaaan limbah industri rumah tangga. Pengelolaan dilakukan dengan mengalirkan limbah ke dalam tiga lapis bak pengelolaan (lihat gambar). Kotoran padat yang melewati bak akan mengendap menjadi lumpur, diambil pada tempo-tempo tertentu, lantas dikeringkan dan dibuang/dikubur sebagai limbah padat, atau dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik. Dengan pengelolaan limbah ini, diharapkan limbah yang mengalir keluar dari bak terakhir sudah tidak mengganggu/ membahayakan lingkungan. Air limbah harus dikelola untuk mengurangi pencemaran. Pengelolaan limbah ini akan ikut melestarikan sumber air minum

Lubang pemeriksaan

Keluar

Bak Limbah Industri yang ada di daerah sekitar kita, baik air permukaan maupun air tanah (jika membuat pengelolaan limbah dengan bak peresapan, jarak minimal dengan sumber air minimal 10 m). Pengelolaan limbah akan menjaga supaya tidak mengotori permukaan tanah, menghindari tersebarnya cacing tambang pada permukaan tanah serta mencegah berkembangbiaknya lalat dan serangga lain. Dengan pengelolaan limbah juga mencegah tersebarnya bau tak sedap. Pembuatan bak pengelola limbah: Buatlah bak seperti pada gambar yang ada. Sesuaikan ukuran/kedalaman bak dengan kapasitas limbah yang anda produksi. Sedangkan bahan-bahannya adalah semen,

Buletin Petani ADVOKASI No. 16 Juli-September 2004

pasir, batu bata, dan pipa peralon. Namun anda dapat saja mengganti bahan-bahan tersebut sesuai dengan bahan-bahan yang ada tersedia di sekitar anda. Misalnya jika di daerah anda tidak ada batu bata, tentu dapat memakai batako atau batu kali. Sementara pipa peralon memang sebaiknya dipakai, karena tahan air dan tidak berkarat. Pembuatan bak sebanyak 3 buah, dengan memperhatikan kemiringannya. Antara bak satu dengan bak yang lain dihubungkan dengan pipa peralon, yang antara satu dengan yang lain letaknya lebih rendah. Pemeliharaan: Bak hendaknya sering dibersihkan agar kotorannya tidak mengganggu saluran.


23

Resep Demikian juga saluran-salurannya perlu dikontrol agar terhindari dari kemacetan. Jangan membuang limbah padat seperti: kain, kertas, daun-daun, plastik, krikil, dsb. Apabila bak pengelolaan limbah kurang dikontrol, akan sering macet, sehingga air akan keluar ke atas dan mengganggu lingkungan sekitarnya. Susunan dan sifat air limbah dari limbah industri rumah tangga tergantung pada macam dan jenis industri. Air limbah dapat berasal dari limbah pabrik susu, rumah makan, pemotongan hewan, pabrik tahu, pabrik tempe, dan sebagainya. Kotoran air limbah yang masuk ke bak I, akan mengapung. Dimulai pada bagian bawah limbah, akan mengalir melalui pipa peralon masuk ke bak II. Lemak, biasanya tertinggal dan menempel pada dinding bak. Untuk mengambil lemak, perlu diserok. Dalam bak II, limbah akan mengalami pengendapan, terus ke bak III begitu juga. Dari pipa peralon di bak III air limbah akan keluar dan sudah tidak membahayakan lagi. Untuk dapat membawa lumpur, diperlukan kecepatan air 0,1 m/detik dan untuk dapat membawa pasir kasar, perlu kecepatan air 0,2 m/detik.

Dari fungsinya, pada prinsipnya ketiga bak adalah bak pengendapan, yang setiap lapis bak tersebut semakin memurnikan air dari bahan-bahan limbah. Ada baiknya jika pengelolaan limbah dengan bak ini, juga digabungkan dengan pengelolaan secara biologi (diberi bakteri pengurai seperti EM pada bak I), sehingga lumpur yang mengendap dapat pula difungsikan sebagai pupuk organik. Namun, sebaiknya pupuk ini (dari ketiga bak) tidak secara langung digunakan pada tanaman. Setelah diambil dari bak/diserok, sebaiknya dikeringkan secukupnya dahulu. Kiranya tulisan ini dapat menjadi inspirasi, sehingga bila kita menjadi pengusaha (walau pengusaha industri kecil rumah tangga) dapat bertanggungjawab pada lingkungan. Yaitu dengan mengolah sebaik-baiknya limbah kita, sebelum dibuang. Siapa tahu, ketika usaha kita akan makin menjadi besar. Dan kalau itu terjadi, kita pun tetap menjadi pengusaha (industrialis) yang bertanggungjawab pada lingkungan dengan mengelola limbahnya. Bagaimana kita dapat mempertanyakan pengusaha/pabrik besar yang mencemari lingkungan, jika kita yang punya pabrik kecil pun tidak mengelola limbahnya? (medi/berbagai sumber)

Mengendalikan Hama

R

ekan-rekan petani, sekedar mengingatkan kita, berikut ini adalah teknik-teknik pengendalian hama secara terpadu yang harus kita ingat: Pengendalian Secara Mekanik Pengendalian yang menggunakan tenaga/ alat. Contoh pengambilan ulat yang ada di lahan lalu dilembutkan dicampur dengan air disemprotkan aromanya untuk mengundang musuh alami. Pengendalian Secara Fisik Misalnya pengendalian yang menggunakan cahaya. Contoh mengendalikan kupu sundep/penggerek batang (Klaper). Pengendalian Secara Biologi Pengendlain yang menggunakan hewan yang memangsa hama (predator). Parasit hewan yang hidup menumpang di tubuh hewan lain atau pengembangbiakan parasitoit atau bisa menggunakan agensia hayati dan patogen. ( Kiriman: Pardjo, Kelompok Peduli Lingkungan (KPL), Desa Bade, Kec Klego, Kab Boyolali, Jateng)

Respo, Filicaulis bleekeri (Keferst): hama baru dengan ledakan populasi yang cepat (Sambungan dari halaman 18) - Menjadikan respo sebagai pakan itik, karena adanya kemungkinan kandungan protein pada respo (wawancara singkat dengan: Ir Niniek KW, MS) Teknik Pengendalian Kimiawi Metaldehyd : umpan beracun pada makanan respo (Famili Cruciferae, seperti kubis, sawi). Catatan : Penggunaan pestisida yang berlebihan (seperti : Karbofuran) dalam jangka panjang menyebabkan musnahnya musuh alami respo, seperti ; - Kumbang tanah (Carabidae) - Siput karnivora - Lipan - Katak (Symondson, 1996) - Lalat rawa (Sciomyzidae). Teknik Pengendalian Biologi - Biopestisida Nabati : Tembakau, 2 genggam daunnya dipotongpotong, lalu direndam dalam 4 liter air.

Tambahkan 1 sendok teh deterjen, diaduk lalu disaring. Larutan disemprotkan pada makanan respo (kubis/sawi) sebagai umpan beracun nikotin yang berefek kematian. Akar Tuba, 5-10 gram ditumbuk halus + 1 liter air + 1 gram deterjen diaduk sampai rata, lalu semprotkan ke pertanaman atau sebagai umpan beracun pada makanan respo. Racun perut dengan kandungan rotenone, deguelin, elipton, dan toxicarol berefek kematian pada golongan Moluska. Melestarikan musuh alami: kumbang tanah, siput karnivora, lipan, katak, lalat rawa. Dari tulisan di atas dapat disimpulkan bahwa respo adalah hama yang harus dikendalikan populasi-(jumlah)-nya. Peningkatan populasi lebih disebabkan praktek budidaya pertanian yang kurang bijaksana, yang menciptakan kondisi menguntungkan untuk perkembangan respo, bukan karena perubahan cuaca, seperti meningkatnya kelembaban.

Semoga tulisan ini dapat menjadi bahan masukan dalam melakukan pengendalian Filicaulis bleekeri (Keferst) di pertanaman sayuran. Jawaban disumbangkan oleh: Tri Martini SP MSi, Bambang Sudaryanto dan Arlyna B Pustika SP MP. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta Bahan Bacaan: Apriyanto D, Toha B, dan Manti I. 2003. Ledakan Populasi Filicaulis bleekeri (Keferst) di Sentra Produksi Sayuran Rejang Lebong, Bengkulu. Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia. Vol. 9 No. 1 Juli 2003. Dammerman KW. 1929. The Agricultural Zoology of The Malay Archipelago: The Animals Injurious and Beneficial to Agriculture, Horticulture, and Forestry in The Malay Peninsula, The Dutch East Indies and The Philippines. J.H. De Bussy Ltd., Amsterdam. Kalshoven KGE. 1981. The Pests of Crops in Indonesia. (English Translation. PA Van Der Laan), PT Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta. Slug Brochure. 2001. Slug Damage and Control of Slugs in Horticulture Crops. http://www.slugcontrol.iacr.ac.uk/ slugbrochure.pdf. Symondson B.1996. Slug Control. Dr. Synondson’s. http:www.slugcontrol.iacr.ac.uk/slug.htm.

Buletin Petani ADVOKASI No.16 Juli-September 2004



advokasi no 16