Page 1

PERSAUDARAAN KORBAN NAPZA INDONESIA Kebutuhan Mendesak Untuk Akses Pencegahan, Perawatan dan Pengobatan Hepatitis C Bagi Penasun di Indonesia Hepatitis C: Sebuah Krisis Kesehatan Masyarakat Yang Mendesak Hepatitis C adalah masalah kesehatan masyarakat, ekonomi, dan sosial. Secara global, sekitar 184 juta orang terinfeksi virus hepatitis C (HCV) secara kronis. 1 Lebih dari 25% penyakit hati di seluruh dunia disebabkan oleh HCV, dan infeksi ini dapat bermanifestasi dalam bentuk fibrosis hati, gangguan fungsi hati, dan kegagalan hati, sirosis dan kanker hati. 2 Koinfeksi dengan HIV dapat mempercepat perkembangan HCV dan hal ini mengkhawatirkan. Pada tahun 2008, sekitar 4-5 juta orang dengan HIV juga terinfeksi dengan HCV. 3 Orang yang menyuntikkan napza sangat rentan terhadap infeksi HCV, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. HCV tidak hanya secara efisien ditularkan melalui penggunaan peralatan suntik secara bersamaan, tetapi juga dapat ditularkan melalui alat untuk mempersiapkan napza seperti wadah dan bahan untuk mencampur dan menyaring heroin dan obat lain. 4 Prevalensi global untuk HCV di antara pengguna napza suntikan (penasun) adalah sekitar 67% pada tahun 2010, dan lebih dari 10 juta penasun hidup dengan virus ini. 5 Di Asia, tingkat HCV di kalangan penasun mencapai 90% di Thailand, 41% di India, dan 67% di Cina, dan hampir semua juga terinfeksi dengan HIV. 6 Di Indonesia, prevalensi HCV di antara penasun mencapai 77%,7 dengan tingkat koinfeksi dengan HIV berkisar antara 60% sampai 90%.8

Profil Nasional Mengenai Infeksi Virus Hepatitis di Antara Penasun Strategi nasional tertulis mengenai pencegahan dan pengelolaan virus hepatitis: Ya Pencantuman mengenai virus hepatitis dalam dokumen kebijakan nasional yang memiliki program untuk penasun: Ya Surveilans nasional rutin untuk virus hepatitis: Tidak Jumlah orang yang menyuntikkan napza: 105,784 (73,663–201,131) 9 Prevalensi HIV di antara orang yang menyuntikkan napza: 36%10 Prevalensi HCV di antara orang yang menyuntikkan napza: 77.3%11 Prevalensi hepatitis B (HBV) di antara orang yang menyuntikkan napza: 57.6%12 Program pertukaran peralatan suntik: 194 situs13 Terapi substitusi opiat: 85 situs (metadon) 14 Program pertukaran peralatan suntik steril di Lapas: Tidak Terapi substitusi opiat di Lapas: Ya (9 Lapas) 15 * Mewakili prevalensi dari antibodi inti hepatitis C, mengindikasikan pajanan sebelumnya dari virus hepatitis C.

Indonesia memiliki salah satu tingkat virus hepatitis tertinggi di kawasan Asia Tenggara, dengan perkiraan 28 juta orang yang hidup dengan virus hepatitis B (HBV) dan/atau HCV, dan hanya 1 dari 5 orang yang menyadari infeksi mereka. 16 Pada tahun 2007, Direktorat Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI melaporkan bahwa lebih dari 2% dari penduduk Indonesia, atau 6 - 7 juta orang terinfeksi HCV, kebanyakan dari mereka adalah laki-laki yang berusia antara 20 - 40 tahun. 17 18 Dari 28 juta orang dengan infeksi virus hepatitis di seluruh Indonesia, 50% berpotensi mengembangkan penyakit hati kronis, 30% berpotensi mengembangkan fibrosis hati, dan 5% berpotensi mengalami kegagalan hati atau kanker hati. Penyakit hati, 19 termasuk hepatitis, kini penyebab kematian utama kedua di antara populasi umum di Indonesia.

www.pkni.org


Sementara tingkat HIV di antara penasun telah menurun dari 52% pada tahun 2007 menjadi 36% pada 2011, 20 angka HCV tetap sangat tinggi di antara kelompok ini. Dari perkiraan 105.784 orang yang menyuntikkan napza di Indonesia, lebih dari dua pertiga memiliki infeksi HCV. 21 Meskipun Indonesia tidak mengumpulkan data surveilans mengenai virus hepatitis, data program dari dua organisasi masyarakat22 dari tahun 2007 menunjukkan bahwa tingkat koinfeksi HIV/HCV di antara penasun dapat berkisar antara 60% dan 90%.23 Penahanan telah diakui sebagai faktor independen untuk penularan HCV. 24 Di banyak negara, HCV lebih umum terjadi di Lapas daripada di populasi umum, dan terdapat proporsi yang signifikan dari populasi penasun di Lapas. 25 24 Meskipun saat ini tidak ada data yang tersedia mengenai tingkat HCV di antara penghuni Lapas di Indonesia, pengguna napza suntikan banyak didokumentasikan dalam Lapas di Indonesia, dan oleh karenanya juga terdapat prevalensi HIV yang tinggi berhubungan dengan praktek penyuntikkan yang tidak aman. 26

Apa Yang Dapat Dilakukan Oleh Pemerintah RI Untuk Meningkatkan Respon Pencegahan, Perawatan Dan Dukungan Terhadap Hepatitis C Bagi Penasun di Indonesia? Untuk memperkuat respon nasional terhadap HCV diantara Penasun, kami mendesak Departemen Kesehatan untuk segera melaksanakan rekomendasi sebagai berikut: 1. Aktif bernegosiasi kepada perusahaan farmasi untuk penurunan harga pengobatan antivirus, yang terdiri dari pegylated interferon dan ribavirin. 2. Sertakan tes rutin antibodi HCV dalam surveilans nasional, terutama di kalangan populasi yang terpengaruh seperti Penasun dan Orang Terinfeksi HIV. 3. Mengembangkan pedoman nasional untuk pencegahan, perawatan dan pengobatan HCV, dengan fokus khusus pada penasun yang berdasar pada pedoman internasional yang dikeluarkan oleh World Health Organisation (WHO) dan konsensus nasional untuk pengobatan infeksi hepatitis C yang dikembangkan oleh Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia. 4. Masukkan pegylated interferon dan ribavirin dalam daftar obat esensial nasional 2014. 5. Memasukkan penapisan HCV dan tes diagnostik sebagai bagian dari pengurangan dampak buruk NAPZA (Harm Reduction) di pusat - pusat kesehatan masyarakat (puskesmas). Secara khusus pengujian genotipe HCV-RNA dapat disertakan dan diakses di layanan tes HIV yang telah tersedia. 6. Meningkatkan cakupan program pengurangan dampak buruk (harm reduction) yang berbasis bukti, termasuk di dalamnya kesadaran dan monitoring penerimaan dan ketersediaan jarum suntik yang memiliki ruang mati yang kecil (low dead-space) bagi Penasun. 7. Implementasi UU No Narkotika, 35/2009 terkait pengalihan pengguna napza ke rehabilitasi dan bukan pemenjaraan. 8. Mendorong manajemen rumah sakit untuk mematuhi konsensus nasional yang merekomendasikan pengobatan pegylated interferon alfa 2a dan 2b dengan ribavirin untuk pengobatan hepatitis C kronis. 9. Memastikan “pelibatan bermakna� dari penasun dalam semua tahapan program dan pembuatan kebijakan dimulai perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi.

Strategi Yang Efektif Untuk Mencegah Penularan Hepatitis C di Antara Penasun Strategi yang efektif untuk mencegah HCV di antara penasun terdiri dari cakupan yang luas dari layanan pengurangan dampak buruk napza seperti program pertukaran alat suntik steril dan terapi substitusi opiat dalam kombinasi dengan pemberian terapi antivirus untuk HCV. 27 28 Proyeksi pemodelan matematika terbaru menunjukkan bahwa meningkatkan skala terapi subsitusi opiat dan program pertukaran alat suntik steril dapat secara substansial mengurangi tingkat pengobatan yang dibutuhkan dan dapat mengurangi dampak dari prevalensi HCV. 1 29 Lebih penting lagi, menggabungkan pengobatan antivirus dengan terapi substitusi opiat dengan cakupan yang luas dari program pertukaran alat suntik steril dapat mencapai pengurangan HCV yang bermakna sebesar lebih dari 50% pada lebih dalam 10 tahun. 30 Namun, dampak tersebut membutuhkan cakupan jangka panjang yang berkelanjutan dari setiap intervensi. Karena tidak memadainya skala program pertukaran jarum suntik pada skala global, cakupan di banyak negara sangat rendah untuk memiliki dampak pada tingkat infeksi HIV atau HCV: diperkirakan hanya 22 alat suntik steril yang dise1

Proyeksi menunjukkan bahwa jika terapi substitusi opiat dan cakupan program pertukaran alat suntik steril meningkat menjadi 40% masingmasing (dengan asumsi tidak ada cakupan pada awal), kemudian setiap tahun mengobati 10, 23, atau 42 per 1.000 penasun, pada lebih dari 10 tahun akan separuh prevalensi akan berkurang sebesar 20%, 40%, atau 60% dari awal prevalensi HCV kronis, masing-masing.

www.pkni.org


diakan per orang per tahun, dibandingkan dengan >200 yang direkomendasikan oleh WHO, UNAIDS, dan UNODC. 31 Selain itu, pengobatan antivirus yang terjangkau sebagian besar tidak tersedia untuk penasun di sebagian besar negara berpenghasilan rendah dan menengah. 32 Karena HCV sangat mudah menular melalui peralatan untuk mempersiapkan penggunaan napza, selain penyediaan alat suntik steril, juga penting untuk menyediakan alat untuk mempersiapkan napza seperti wadah dan bahan yang digunakan untuk mencampur dan menyaring napza yang akan disuntikkan. Intervensi tambahan dibutuhkan untuk meningkatkan kesadaran akan HCV dan memperbaiki tingkat tes dan pengobatan, termasuk mempromosikan kesadaran dan penerimaan dan akses terhadap jarum suntik dengan volume “ruang mati” yang rendah (low dead-space syringes, LDSS) di antara penasun dan promosi pemberian obat non suntikan. 33 Di Lapas, ketersediaan dan akses terhadap pencegahan dan pengobatan jauh lebih terbatas dibandingkan di masyarakat umum. Penyediaan tes dan pengobatan untuk hepatitis C untuk para penghuni Lapas telah terbukti menjadi strategi yang efektif secara biaya untuk membatasi penularan dan pengelolaan penyakit ini. 34 WHO merekomendasikan penerapan program pertukaran alat suntik steril dan intervensi terapi substitusi opiat di Lapas dan pengaturan yang tertutup lainnya sebagai cara yang efektif dalam mencegah penularan HCV. 34 Laporan dari Global Commission on Drug Policy merekomendasikan untuk melakukan reformasi kebijakan napza yang mengkriminalkan.

“Melibatkan orang-orang yang menggunakan napza dalan merancang, melaksanakan, memantau dan mengevaluasi program penting terhadap keberhasilan program pencegahan HCV. Keberhasilan dari intervensi sebaya dalam mengurangi penularan virus hepatitis di antara penasun terdokumentasi dengan baik, 36 dan termasuk salah satu rekomendasi WHO yang tertuang dalam pedoman pencegahan virus hepatitis (lihat boks di bawah).”

Pedoman Internasional Untuk Pencegahan Hepatitis C di Antara Penasun WHO, UNAIDS dan UNODC merekomendasikan pelaksanaan dan peningkatan skala dari paket komprehensif dari 9 intervensi untuk pencegahan, pengobatan dan perawatan HIV di antara orang-orang yang menyuntikkan napza. Paket komprehensif ini juga relevan untuk menanggulangi virus hepatitis, terutama terapi substitusi opiat dan program pertukaran alat suntik steril: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Program pertukaran alat suntik steril Terapi substitusi opiat dan pengobatan ketergantungan napza lainnya Tes dan konseling HIV Terapi antiretroviral Pencegahan dan pengobatan infeksi menular seksual Program kondom untuk penasun dan pasangan seksualnya Informasi, edukasi dan komunikasi yang ditergetkan untuk penasun dan pasangan seksualnya Vaksinasi, diagnosis dan pengobatan virus hepatitis Pencegahan, diagnosis dan pengobatan tuberkulosis (TB)

Selain paket komprehensif, pedoman baru dari WHO (2012) menambahkan rekomendasi spesifik untuk mengatasi infeksi virus hepatitis di antara penasun: 1. Disarankan untuk menawarkan vaksinasi hepatitis B cepat pada penasun.” 2. Disarankan untuk menawarkan insentif pada penasun untuk meningkatkan penyerapan dan penyelesaian jadwal vaksin hepatitis B.† 3. Disarankan bahwa program pertukaran alat suntik steril juga menyediakan jarum suntik dengan volume “ruang mati” yang rendah (low dead-space syringes/LDSS) untuk didistribusikan pada penasun. ‡ 4. Intervensi psikosial tidak disarankan untuk penasun untuk mengurangi insidensi virus hepatitis 5. Disarankan untuk menawarkan intervensi sebaya untuk penasun untuk mengurangi insidensi virus hepatitis. * Dosis vaksin HBV yang lebih tinggi harus digunakan dengan rejimen cepat; rejimen standar dan cepat harus ditawarkan pada penasun, dengan prioritas utama diberikan untuk memberikan dosis pertama dan kemudian menyelesaikan tiga dosis. † Rekomendasi ini disesuaikan dengan kondisi penerimaan lokal dan ketersediaan sumber daya; vaksinasi harus disediakan pada lokasi dan waktu yang nyaman bagi para penasun. ‡ Program pertukaran alat suntik steril harus menawarkan semua jenis alat suntik yang sesuai dengan kebutuhan lokal

www.pkni.org


Pengobatan Yang Efektif Untuk Hepatitis C Saat ini vaksin untuk hepatitis C tidak tersedia, namun beberapa pengobatan dapat mengurangi replikasi virus dan membantu memperlambat atau menghentikan kelanjutan penyakit. HCV sekarang dianggap sebagai penyakit yang dapat disembuhkan pada hampir 70% orang yang menjalani pengobatan. Pengobatan antivirus yang direkomendasikan untuk HCV terdiri dari interferon pegilasi alfa dan ribavirin, dengan tingkat kesembuhan mencapai 50 - 85%.37 Meskipun HCV dapat secara efektif dikelola dan efektif secara biaya, akses terhadap pengobatan yang tersedia sangat terbatas di antara penasun. 38 39 40 Bahkan ketika pengobatan dapat secara mudah diakses, penyerapan di antara penasun masih serendah 3 - 4% di beberapa pengaturan. 41 Hal ini bisa disebabkan karena keengganan para dokter untuk mengobati karena beberapa kekhawatiran seputar kepatuhan pengobatan, terutama di antara penasun. 42 Namun, bukti-bukti menyarankan bahwa tingkat kepatuhan terhadap pengobatan HCV di antara penasun adalah serupa dengan tingkat kepatuhan yang dimiliki oleh non penasun atau mantan penasun. 43 Sebuah tinjauan sistematis dan meta analisis dari pengobatan di antara penasun aktif menunjukkan tanggapan virologi bertahan sebesar 56% serupa dengan non penasun atau mantan penasun. 44 Meskipun hanya ada sedikit data mengenai tingkat infeksi ulang di antara penasun, berbagai studi skala kecil telah menunjukkan rendahnya tingkat infeksi ulang sebesar 1% - 5% per tahun. 45

Tanggapan Nasional Terhadap Pencegahan, Pengobatan dan Pengelolaan Hepatitis C di Antara Orang Yang Menyuntikkan Napza Tanggapan nasional untuk pencegahan, perawatan dan pengobatan HCV di antara orang yang menyuntikkan napza di Indonesia masih terfragmentasi. Indonesia tidak melakukan surveilans nasional rutin untuk virus hepatitis. 46 Data yang ada mengenai HCV di antara orang yang menyuntikkan napza sudah ketinggalan zaman, data tidak tersedia untuk pengawasan publik dan ilmiah, dan sebagian besar didasarkan pada catatan laboratorium dan rumah sakit catatan dan tidak merupakan sampel yang dapat mewakili masyarakat. Meskipun kematian (termasuk yang disebabkan oleh hepatitis) dilaporkan ke registri pusat, informasi mengenai jenis hepatitis tidak tersedia, 47 dan kematian akibat hepatitis C dan kematian di antara orang yang menyuntikkan napza sebagian besar tidak diketahui. Tidak ada pedoman nasional klinis untuk diagnosis, perawatan, dan pengobatan untuk HCV. Meskipun Kementerian Kesehatan RI telah menerbitkan pedoman tertulis untuk pengelolaan hepatitis C (termasuk untuk penasun) pada tahun 2012, pemerintah belum menyebarkan pedoman ini secara efektif dan belum menerapkan strategi ini. Kementerian Kesehatan pertama kali mendirikan program nasional yang difokuskan pada virus hepatitis pada tahun 2011, di bawah Sub-Direktorat Infeksi Gastrointestinal, Penyakit Diare, dan Hepatitis. 13 staf penuh waktu di Sub-Direktorat berbagi tanggung jawab untuk penyakit hepatitis, gastrointestinal dan diare. Meskipun penyediaan layanan pengurangan dampak buruk napza telah mengalami peningkatan skala dalam beberapa tahun terakhir, 48 cakupan intervensi seperti terapi substitusi opiat dan program pertukaran alat suntik steril di Indonesia masih terlalu terbatas untuk memiliki dampak yang besar terhadap epidemi HCV. Jumlah situs yang mendistribusikan alat suntik steril terus meningkat, namun pada tahun 2011 hanya tujuh alat suntik steril yang dibagikan per orang pada tingkat nasional. 49 Ketersediaan dan cakupan terapi substitusi opiat dibatasi oleh kualitas program yang buruk, termasuk tingkat dosis yang tidak pantas dan kurangnya tindak lanjut antara di antara mereka yang mangkir. 50 Pelaksanaan layanan pengurangan dampak buruk napza di penjara Indonesia jauh lebih terbatas daripada di dalam masyarakat. Dari 429 penjara di seluruh negeri, termasuk 13 penjara yang dirancang khusus untuk pemakai napza, hanya 9 penjara yang menyediakan terapi substitusi opiat. 51 Tidak ada penyediaan peralatan suntik steril dalam penjara Indonesia atau pusat penahanan, meskipun hal ini sudah direkomendasikan oleh WHO, UNAIDS dan UNODC. 52 Pada tahun 2009, Indonesia menerbitkan undang-undang baru tentang narkotika (UU Narkotika no. 35), yang memperkenalkan mekanisme untuk mengalihkan orang-orang yang menggunakan napza dari penjara dan dirujuk untuk rehabilitasi narkoba. 53 Namun, ketentuan hukum baru mengenai pengalihan ini jarang diterapkan. Jumlah tahanan yang dipenjara karena kasus napza di Indonesia meningkat secara signifikan dari 7,122 (10% dari semua tahanan) pada tahun 2002 menjadi 56,208 (35% dari semua tahanan) pada akhir Juni 2013. 54 Kriminalisasi terhadap pengguna napza telah mengakibatkan tingginya tingkat pemenjaraan orang-orang yang menggunakan napza, dengan fasilitas yang tersedia sudah melampai kapasitas setidaknya sebesar 148%.55

www.pkni.org


Akses Yang Terbatas Terhadap Pengobatan Hepatitis C di Indonesia Pengobatan antivirus untuk hepatitis C yang terdiri dari interferon pegilasi dan ribavirin tidak terjangkau oleh sebagian besar penasun yang membutuhkan. Secara resmi pengobatan HCV di Indonesia didanai publik di bawah sejumlah skema asuransi, termasuk Askes, yang meliputi biaya kesehatan termasuk pengobatan untuk HCV dan HBV untuk pegawai pemerintah; Jamsostek, yang bertindak sebagai asuransi sosial bagi tempat kerja yang mendaftar dengan skema ini; dan Jamkesmas, keringanan untuk biaya kesehatan bagi individu yang berpenghasilan rendah. Namun, jangkauan skema asuransi dan dukungan yang ada sangat terbatas, khususnya di kalangan orang - orang yang menyuntikkan napza. Sebagian besar orang juga tidak tahu tentang subsidi ini atau tidak memenuhi syarat, 56 dan di antara mereka yang mengetahui mengenai subsidi ini, akses terhadap asuransi tetap terbatas oleh sejumlah faktor. Misalnya banyak penasun yang tidak memenuhi syarat karena mereka menganggur, atau karena kurangnya kesadaran akan ketersediaan tes dan pengobatan HCV. Sebagian besar penasun tidak dapat secara pribadi membayar pengobatan karena biaya pengobatan yang sangat tinggi. Bahkan ketika biaya pengobatan ditanggung, tes - tes yang dibutuhkan untuk penilaian kelayakan pengobatan bagi seseorang seperti tes fungsi hati, viral load HCV, dan genotipe tetap menjadi tanggung jawab dari individu. Biaya ini bisa mencapai $650 (Rp. 6,500,000,-), biaya yang sangat mahal bagi penasun (rincian biaya dapat dilihat pada boks di bawah).

Biaya Diagnosis dan Pengobatan Hepatitis C (HCV) di Indonesia Tes diagnosis pendukung untuk HCV §: * Tes antibodi Hepatitis C: US$ 25 – 30 (Rp. 250,000–300,000) * Tes RNA Hepatitis C: US$ 120 (Rp. 1,200,000) * Tes genotipe Hepatitis C: US$ 325 (Rp. 3,250,000)P * Ultrasound abdomen: US$ 25 – 30 (Rp. 250,000–300,000) * Tes fungsi hati: US$7.50 (Rp. 75,000) * Biopsi hati: US$60 (Rp. 600,000) * Fibroscan: US$85 (Rp. 850,000) Biaya pengobatan: * Terapi dua kombinasi dengan Pegasys® (180 Mcg) + ribavirin: Per dosis: US$ 300 (Rp. 3,000,000) Kursus pengobatan 24 minggu: US$ 7,200 (Rp. 72,000,000) Kursus pengobatan 48 minggu: US$ 14,400 (Rp. 144,000,000) * Terapi dua kombinasi dengan Pegasys® (135 Mcg) + ribavirin: Per dosis: US$ 220 (Rp. 2,200,000) * Terapi dengan PegIntron® + ribavirin (100 Mcg): Per dosis: US$ 290 (Rp. 2,900,000-3,260,000) per dosis Biaya untuk tes diagnosis pendukung untuk HCV didasarkan pada kisaran harga yang dikutip dari satu atau lebih rumah sakit pemerintah di wilayah Jakarta per Juli 2013. Dalam kasus dimana rumah sakit pemerintah melaporkan bahwa tes diagnosis khusus tidak tersedia, biaya yang dikutip adalah dari klinik swasta di wilayah Jakarta. Dalam kasus ini, diindikasikan dengan simbol P. - Biaya untuk pengobatan hepatitis C didasarkan pada harga yang dikutip dari setidaknya satu apotik di wilayah Jakarta per Juli 2013. P Biaya dikutip dari klinik swasta di wilayah Jakarta. §

www.pkni.org


Kewajiban Pemerintah Untuk Menyediakan Akses Kepada Pencegahan, Pengobatan dan Perawatan Hepatitis C Bagi Penasun Meskipun Indonesia juga mensponsori resolusi hepatitis yang mendirikan “tujuan dan strategi untuk pengendalian penyakit, meningkatkan edukasi dan mempromosikan skrining dan pengobatan� untuk orang yang hidup dengan HBV dan HCV pada World Health Assembly ke-63, 57 komitmen Indonesia terhadap resolusi ini masih rendah. Sementara strategi untuk mencegah HCV dan meningkatkan akses terhadap skrining dan pengobatan sedang dikembangkan, usaha yang ada masih belum menjangkau sebagian besar penasun yang membutuhkan. Pedoman dan target internasional mendukung komitmen ini. Pada Juli 2013, terapi lini pertama untuk HCV dalam bentuk interferon pegilasi disertakan untuk pertama kalinya dalam daftar komplementer1 di Daftar Model Obat-Obatan Esensial, sebuah panduan daftar obat dari obat-obatan yang aman dan efektif secara biaya yang bisa digunakan suatu negara untuk mengobati penyakit kritis. 58 WHO juga menyoroti penasun sebagai populasi kunci yang ditargetkan untuk penanggulangan HCV. WHO baru-baru ini menerbitkan pedoman baru untuk pencegahan dan pengobatan virus hepatitis di antara kelompok ini. 59 Pemerintah Indonesia memiliki kewajiban untuk memastikan standar kesehatan tertinggi sebagai hak dasar setiap warga negara. 60 Ini termasuk akses terhadap pencegahan, perawatan, dan pengobatan HIV, termasuk mendukung biaya tes diagnostik untuk semua mereka yang terdampak, dan khususnya untuk populasi kunci yang berada pada risiko tinggi infeksi HCV seperti orang-orang yang menyuntikkan napza.

1

Interferon pegilasi disertakan dalam daftar komplementer dan bukan dalam daftar esensial karena harga pengobatan di sebagian besar negara. Daftar Obat-Obatan Esensial WHO 2013 tersedia pada: http://www.who.int/medicines/publications/essentialmedicines/18th_EML_Final_web_8Jul13.pdf.

Penghargaan: Dikompilasi dan ditulis oleh: Claudia Stoicescu, Edo Agustian, Suhendro Sugiharto, Sally Atyasasmi, Maulana Aries Setyawan, dan Ferri Zsol. PKNI juga turut berterima kasih atas terwujudnya dokumen ini kepada pihak - pihak yang telah memberikan umpan balik selama proses: Dr. Rino A. Gani, Indonesia Liver Research Association (Indonesia) Naning Nugrahini, SKM, MKM, Subdit Pengendalian Diare dan Infeksi Saluran Pencernaan, Ministry of Health (Indonesia) Giten Khwairakpam, TREAT Asia/amfAR (Thailand) Paul Cawthorne, Medicins Sans Frontieres (MSF) Access Campaign Asia (Thailand) Azzi Momenghalibaf, Open Society Foundations (United States) Maria Phelan, Harm Reduction International (United Kingdom) Dr. Nick Walsh, Public Health Physician, Consultant in substance use (Cambodia) Penerjemah ke Bahasa Indonesia by: Caroline Thomas, Suhendro Sugiharto and Maulana Aries Setyawan Designed by: Maulana Aries Setyawan, PKNI

Didukung oleh:

www.pkni.org


Referensi

Hanafiah Modh K. et al. (2013) Global Epidemiology of Hepatitis C Virus Infection: New Estimates of Age-Specific Antibody to HCV Seroprevalence Hepatology 57:1333-1342. 2 Vickerman P et al (2012) Can needle and syringe programmes and opiate substitution therapy achieve substantial reductions in hepatitis C virus prevalence? Model projections for different epidemic settings Addiction (107): 1984-1995. 3 UNAIDS/WHO/UNICEF (2008) Towards Universal Access: Scaling Up Priority HIV/AIDS Interventions in the Health Sector. 2008 Progress Report. 4 Doerrbecker et al (2012) Transmission of Hepatitis C Virus Among People Who Inject Drugs: Viral Stability and Association With Drug Preparation Equipment Journal of Infectious Diseases doi: 10.1093/infdis/jis677. 5 Nelson PK et al (2011) Global epidemiology of hepatitis B and hepatitis C in people who inject drugs: results of systematic reviews, Lancet, 378(9791): 571–583. 6 Nelson et al (2011) 7 Ibid. 8 Denovan, Abdullah. JOTHI/ Indonesia National PLHIV Network. Oral presentation on Indonesia at 1st South and Southeast Asia Regional Community Meeting: HIV/HCV Co- infection: Planning the way forward. 22-23 June, 2010. Bangkok, Thailand. 9 UNAIDS (2012) Global AIDS Progress Reports: Republic of Indonesia. Geneva: UNAIDS. http://www.unaids. org/en/dataanalysis/monitoringcountryprogress/ progressreports/2012countries/ (date of last access 18 July 2013). 10 UNAIDS (2012) Global AIDS Progress Reports: Republic of Indonesia. Geneva: UNAIDS. http://www.unaids. org/en/dataanalysis/monitoringcountryprogress/ progressreports/2012countries/ (date of last access 18 July 2013). 11 Nelson PK et al (2011) Global epidemiology of hepatitis B and hepatitis C in people who inject drugs: results of systematic reviews, Lancet, 378(9791): 571–583. 12 Nelson PK et al (2011) Global epidemiology of hepatitis B and hepatitis C in people who inject drugs: results of systematic reviews, Lancet, 378(9791): 571–583. 13 UNAIDS (2012) Global AIDS Progress Reports: Republic of Indonesia. Geneva: UNAIDS. http://www.unaids. org/en/dataanalysis/monitoringcountryprogress/ progressreports/2012countries/ (date of last access 18 July 2013). 14 Indonesia Direktorat General Bina Upaya Kesehatan Kementrian Kesehatan: Periode Desember 2012. 15 Indonesia Ministry of Health (2012) Progress Report July-September 2012 http://www.aidsindonesia.or.id/laporan- kementerian-kesehatan-triwulan-iiitahun-2012.html (date of last access 17 Juy 2013). 16 IRIN Humanitarian News & Analysis. 17 August, 2012. “Indonesia: growing concern over hepatitis” http://www.irinnews.org/report/96124/indonesia-growing-concern-over-hepatitis 17 KOMPAS News. “7 Juta Penduduk Indonesia Terinfeksi Hepatitis C” 29 September, 2009. < http://olahraga.kompas.com/read/2009/09/29/15451742/7.Juta. Penduduk.Indonesia.Terinfeksi.Hepatitis.C> 18 Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia. Berita Pers. 19 December, 2013. “Berupaya mengendalikan virus Hepatitis C, PPHI lakukan upaya konkret dengan meringankan beban pengobatan Hepatitis C.” PPHI. 19 Aditama TY, “Situasi Hepatitis di Indonesia, Dalam Rangka Peringatan Hari Hepatitis Sedunia Tahun 2012”. Oral presentation World Hepatitis Day. Dokumentasi Human Ditjen PP dan PL, Kementerian Kesehatan. 28 July, 2012. 20 UNAIDS (2012) Global AIDS Progress Reports: Republic of Indonesia. Geneva: UNAIDS. http://www.unaids. org/en/dataanalysis/monitoringcountryprogress/ progressreports/2012countries/ (date of last access 18 July 2013). 21 Nelson PK et al (2011) Global epidemiology of hepatitis B and hepatitis C in people who inject drugs: results of systematic reviews, Lancet, 378(9791): 571–583. 22 Yayasan Pelita Ilmu (YPI) & Yayasan Harapan Permata Hati Kita (YAKITA). 23 Denovan, Abdullah. JOTHI/ Indonesia National PLHIV Network. Oral presentation on Indonesia at 1st South and Southeast Asia Regional Community Meeting: HIV/HCV 24 Global Commission on Drug Policy (2013) The Negative Impact of the War on Drugs on Public Health: the Hidden Hepatitis C Epidemic. <http://www.globalcommissionondrugs.org/hepatitis/gcdp_hepatitis_english.pdf> Date of last access: 1 Aug. 2013. 25 Sarang A, Rhodes T, Sheon N, Page K (2010). Policing drug users in Russia: risk, fear, and structural violence. Subst Use Misuse; 45(6): 813-864. 26 UNAIDS (2012) Global AIDS Progress Reports: Republic of Indonesia. Geneva: UNAIDS. http://www.unaids. org/en/dataanalysis/monitoringcountryprogress/ progressreports/2012countries/ (date of last access 18 July 2013). 27 Page et al (2013) Injection drug use and hepatitis C virus infection in young adult injectors: using evidence to inform comprehensive prevention. Clinical Infectious Diseases 57(Suppl 2):S32–8. 28 Martin et al (2013) Combination Interventions to Prevent HCV Transmission Among People Who Inject Drugs: Modeling the Impact of Antiviral Treatment, Needle and Syringe Programs, and Opiate Substitution Therapy Clinical Infectious Diseases 52 (Suppl 2): S39-S45. 29 Martin et al (2013) Combination Interventions to Prevent HCV Transmission Among People Who Inject Drugs: Modeling the Impact of Antiviral Treatment, Needle and Syringe Programs, and Opiate Substitution Therapy Clinical Infectious Diseases 52 (Suppl 2): S39-S45. 30 Ibid. 31 World Health Organisation (2012) Guidance on prevention of viral hepatitis B and V among people who inject drugs. Geneva: WHO. 32 Open Society Foundations (2013) Hepatitis C treatment: price, profits, and barriers to access Accessible at http://www.opensocietyfoundations.org/sites/ default/files/hepatitis-c-treatment-20130807.pdf Last accessed: 20 August, 2013. 33 Vickerman et al 2012 34 Sutton AJ, Edmunds WJ, Gill ON (2006). Estimating the cost effectiveness of detecting cases of chronic hepatitis C infection on reception into prison. BMC Public Health 6: 170. 35 Global Commission on Drug Policy (2013) 36 Crawford S and Bath N (2013) Peer Support Models for People With a History of Injecting Drug Use Undertaking Assessment and Treatment for Hepatitis C Virus Infection Clinical Infectious Diseases 57(suppl2): S75-S79. 37 NICE, Interferon alfa (pegylated and non pegylated and ribavirin for the treatment of chronic hepatitis C. NICE, Editor; 2000 38 Martin N, Miners A, Vickerman P. Assessing the cost-effectiveness of interventions aimed at promoting and offering hepatitis C testing in injecting drug users: an economic modelling report (2012) National Institute for Health and Clinical Excellence (NICE), Editor: Available at: http:// www.nice.org.uk/nicemedia/ live/11957/59552/59552.pdf. 39 Thai Treatment Action Group (YEAR) Illuminating a Hidden Epidemic: The Public Health Crisis of HIV/HCV Co-Infection Among Injecting Drug Users (IDUs) in Thailand <http://www.ttag.info/pdf/HCV-HIV%20Thai%20Policy%20Brief.pdf> Last accessed 20 August, 2013. 40 Durier N et al (2012) Treatment of Hepatitis C as Prevention: A Modelling Case Study in Vietnam PLoS ONE 7(4): e34548. 41 Seal KH et al. Among injection drug users interest is high but access low to HCV antiviral therapy. J Gen Intern Med 2005;20:171 1

www.pkni.org


Treloar et al (2013) Understanding Barriers to Hepatitis C Virus Care and Stigmatization From a Social Perspective Clinical Infectious Diseases 57(suppl2): S51-S55. 43 Hellard M, Sacks-Davis R, Gold J. Hepatitis C treatment of injection drug users: a review of the available evidence. Clin Infect Dis 2009;49 561-573. 44 Aspinall E, Corson S, Doyle J, et al. Treatment of hepatitis C virus infection among people who are actively injecting drugs: a systematic review and metaanalysis. Clin Infect Dis 2013; 57(Suppl 2):S80–9. 45 Grady B, Schinkel J, Thomas XV, Dalgard O. Hepatitis C virus reinfection following treatment among people who use drugs. Clin Infect Dis 2013; 57(Suppl 2):S105–10. 46 World Health Organisation (2013) Global policy report on the prevention and control of viral hepatitis in WHO member states. Geneva: WHO. 47 World Health Organisation (2013) Global policy report on the prevention and control of viral hepatitis in WHO member states. Geneva: WHO. 48 Stoicescu C (ed) (2012) The Global State of Harm Reduction: Towards an Integrated Response. London: Harm Reduction International. 49 UNAIDS (2012) Global AIDS Progress Reports: Republic of Indonesia. Geneva: UNAIDS. http://www.unaids. org/en/dataanalysis/monitoringcountryprogress/ progressreports/2012countries/ (date of last access 18 July 2013). 50 Stoicescu C and Cook C (2013) Support. Don’t Punish: Experiences of community advocacy and harm reduction programmes. Community Action on Harm Reduction. 51 UNAIDS (2012) Global AIDS Progress Reports: Republic of Indonesia. Geneva: UNAIDS. http://www.unaids. org/en/dataanalysis/monitoringcountryprogress/ progressreports/2012countries/ (date of last access 18 July 2013). 52 WHO, UNAIDS and UNODC (2007) Interventions to address HIV in prisons: Needle and syringe programmes and decontamination strategies. WHO: Geneva. 53 ‘National Law no. 35 on Narcotic Drugs (2009)’ < http://www.kemenkumham.go.id/produk-hukum/undang-undang/173-undang-undang-nomor-35-tahun2009-tentang-narkotika> (date of last access: 1 Aug 2013). 54 Sistem Database Pemasyarakatan “Data Terakhir Jumlah Khusus Penghuni Perkanwil” http://smslap.ditjenpas.go.id/public/krl/current/monthly/year/2013/ month/6>. Date of last access: 1 Aug 2013. 55 Sistem Database Pemasyarakatan “Data Terakhir Jumlah Khusus Penghuni Perkanwil” http://smslap.ditjenpas.go.id/public/krl/current/monthly/year/2013/ month/6>. Date of last access: 1 Aug 2013. 56 IRIN Humanitarian News & Analysis. 17 August, 2012. “Indonesia: growing concern over hepatitis” http://www.irinnews.org/report/96124/indonesia-growing-concern-over-hepatitis 57 63rd World Health Assembly. 25 March 2010. < http://apps.who.int/gb/ebwha/pdf_files/WHA63/A63_15-en.pdf>. Date of last access: 2 Aug 2013. 58 World Health Organisation. July 2013. “Hepatitis treatment debuts on WHO Model Essential Medicines List” <http://www.who.int/features/2013/hepatitis_essential_meds/en/>. Date of last access: 1 Aug 2013. 59 World Health Organisation (2012) Guidance on prevention of viral hepatitis B and V among people who inject drugs. Geneva: WHO. 60 Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights, WHO “The Right to Health: Factsheet no. 31” http://www.ohchr.org/Documents/Publications/Factsheet31.pdf OHCHR. 42

www.pkni.org

Pkni hep c brief versi indonesia  

versi lengkap isu brief hepatitis C bagi pengguna napza

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you