Page 4

HUKUM & KRIMINAL

Kamis 28 November 2013

harian andalas | Hal.

4

Sindikat Narkoba Jaringan Medan-Aceh Dibongkar Lima Tersangka Ditangkap, 1500 Butir Ekstasi Disita andalas/acung

DIRAWAT - Anita Poniman,pelajar kelas 9-B SMP Yos Sudarso,Medan yang dipukul guru keseniannya, dirawat di RS Deli, Medan.

Siswi SMP Dipukul Guru Hingga Mimisan Medan-andalas Anita Poniman (15), pelajar kelas 9-B SMP Yos Sudarso, Medan terpaksa melaporkan guru keseniannya, RW ke Polsek Medan Barat dalam dugaan kasus penganiayaan. Laporan pengaduan Anita, warga Jalan Mawar Raya, Kecamatan Helvetia itu tertuang dalam surat tanda penerimaan laporan (STPL) 710/XI/2013/ SPKT/RESTA MDN/SEK MEDAN BARAT. Ditemui di RS Deli Medan, Anita mengaku penganiayaan dengan cara menampar hingga mimisan itu dilakukan hanya gara-gara dirinya tidak mau di suruh maju ke depan kelas untuk menghapal soal, Sabtu (22/11) sekira pukul 10.30 WIB. Karena tidak mau, oknum guru itu langsung memukul

pungung sebelah kiri Anita. Tak sampai di situ, pelaku juga menampar pipi sebelah kiri Anita hingga hidungnya keluar darah (mimisan). Sementara orangtua Anita yang mengetahui anaknya dipukul gurunya hingga berdarah langsung datang ke sekolah kemudian membawa anaknya itu ke RS Deli, Jalan Merbabu, Medan. Setelah membawa anaknya ke rumah sakit, orangtua korban langsung membuat laporan ke Polsek Medan Barat. Sementara RW saat saat dikonfirmasi wartawan mengatakan menyerahkan persoalan itu kepada suami dan pengacaranya. Kapolsek Medan Barat AKP Rony Nicolas Sidabutar SIK saat dikonfirmasi membenarkan pihak Anita telah membuat laporan. (ACO)

Medan-andalas Petugas Reserse Narkoba Polresta Medan dilaporkan berhasil membongkar sindikat peredaran narkoba jaringan Medan - Aceh. Dari pengungkapan itu, polisi menangkap lima orang tersangka yang diduga berperan sebagai kurir. Penangkapan dilakukan di dua lokasi berbeda di kawasan Jalan Ring Road dan Pasar IV Tanjung Sari, Medan. Dari penangkapan itu, petugas Unit I Narkotika berhasil menyita barang bukti 1500 butir pil ekstasi. Informasi diperoleh, penangkapan pertama dilakukan terha-

dap dua tersangka, Ilham Damanik dan Kadir, keduanya warga Kampung Lalang, Medan. ILham dan Kadir dicokok polisi dari kawasan Jalan Ring Road, Medan. Dari mereka disita barang bukti 1.000 butir pil ekstasi. Setelah menangkap kedua tersangka Ilham Damanik dan

Kadir, petugas lalu melakukan pengembangan dan berhasil menangkap tiga tersangka lainnya, Rayani dan Miswal, keduanya warga Desa Ule Rubek, Aceh Utara dan Herman Jasin Sahputra Hasibuan, warga Medan Amplas. Dari mereka polisi menyita barang bukti 500 butir pil ekstasi. Hingga, Rabu (27/11) belum ada keterangan resmi dari pihak terkait seputar pengungkapan kasus narkoba yang disebut-sebut dibongkar pada Sabtu (23/11) lalu itu. Namun Kasat Resnarkoba Polresta Medan Kompol Dony Alexander SIK saat dikonfirmasi

wartawan melalui jaringan telepon seluler membenarkan pengungkapan kasus tersebut. "Ada memang, tapi saya belum menerima secara detail seputar pengungkapan kasus tersebut. Mungkin anggota saya masih melakukan pengembangan. Nanti lah saya sampaikan ke kawankawan kalau semua sudah selesai," kata Dony dari seberang telepon. Informasi lain diterima, pengungkapan dan penangkapan para anggota sindikat pengedar narkoba jenis pil ekstasi itu berhasil setelah petugas Reserse Narkoba Polresta Medan melakukan undercover buy (penyamaran).

Dari hasil penyamaran itu, polisi bertemu dan bertransaksi dengan tersangka Ilham dan Kadir. Pada saat bertransaksi, begitu melihat barang bukti ekstasi ada pada kedua tersangka, polisi langsung menangkap kedua tersangka dan menyita barang buktinya. Kemudian polisi melakukan pengembangan dan berhasil menangkap tiga orang lagi tersangka dengan barang bukti 500 butir pil ekstasi. Menurut informasi, para tersangka membawa pil ekstasi dari Aceh dan akan diedarkan di Kota Medan. (HER)

Massa Minta Poldasu Tangkap Dalang Pembunuh Ketua OKP Medan-andalas Sejumlah massa yang tergabung dalam Aliansi Advokasi Jaringan Lembaga Sumatera Utara (Aksi Jaga Sumut) menggelar unjukrasa di depan Markas Kepolisian Daerah Sumatera Utara, Rabu (27/11) siang. Sembari membawa spanduk dan karton-karton bertuliskan tuntutannya, mereka mendesak Kapoldasu Irjen Pol Syarief Gunawan segera menangkap KP, orang yang disebut-sebut sebagai otak pelaku

pembunuhan ketua salah satu OKP di Medan Estate, Suwitno. "Kami minta dengan tegas agar Kapoldasu memberikan perintah kepada Kapolresta Medan Kombes Pol Nico Afinta untuk segera menangkap dan menyeret otak pelaku pembunuhan Suwitno ke dalam penjara," teriak kordinator aksi, NG Silalahi saat berorasi. Mereka juga berharap Kapoldasu untuk menegakan supremasi hukum secara transparan dan tanpa pandang bulu, serta menghentikan perda-

gangan hukum di negeri ini. Sebelum melakukan aksi unjukrasa, massa yang berjumlah 50 orang ini melakukan long march sekitar 1 kilonmeter menuju Mapoldasu. Akibatnya arus lalu lintas menuju kawasan Tanjung Morawa dan Amplas sempat lumpuh. Namun, setelah massa diarahkan petugas kepolisian yang mengawal aksi, arus lalu lintas kembali normal. Setelah hampir sejam berorasi, beberapa perwakilan massa diper-

kenan untuk berdialog dengan pihak Poldasu untuk menyampaikan tuntutannya. Mereka didampingi Kasubdit I Kamneg Ditreskrimum AKBP RB Damanik bertemu dengan Direktur Reskrimum Kombes Marsauli Siregar. Dalam pertemuan itu, Direktur Reskrimum Kombes Marsauli Siregar berjanji akan memanggil penyidik yang menangani perkara tersebut dan melakukan gelar perkara. Sebagaimana diketahui, Su-

witno, warga Jalan Tuasan, Medan Tembung tewas dibantai puluhan preman bersenjata tajam di warung sop lembu di Jalan Williem Iskandar/Pancing, Kamis (30/ 5) sekira pukul 23.30 WIB. Berdasarkan hasil penyelidikan Satuan Reskrim Polresta Medan, penyidik hanya mampu menetapkan tujuh orang sebagai tersangka, dan baru lima orang yang ditangkap. Sementara diduga otak pelaku berinisial KP masih bebas berkeliaran. (THA)

Sidang Lanjutan Korupsi Bupati Madina

Dirut RSUD Panyabungan Dihadirkan Sebagai Saksi andalas/budi zulkifli

INTEROGASI - Kanit Judi/Susila Satreskrim Polres Langkat Iptu Juriadi SH (kanan) menginterogasi Kencong, tersangka kasus judi togel.

Beralih Profesi jadi Bandar Togel

Mantan Guru Bahasa Mandarin Dibekuk Stabat-andalas JKT alias Kencong (75), mantan guru bahasa mandarin dibekuk petugas unit Judi/Susila Satreskrim Polres langkat, Senin (25/11) sekira pukul 14.30 WIB. Pria setengah baya itu dicokok polisi dalam kasus judi toto gelap (togel). Dia diamankan dari kediamannya di Pasar II Komplek Bangsal, Kelurahan Perdamaian, Kecamatan Stabat. "Saat ditangkap tersangka sedang mengumpulkan uang hasil praktik perjudian. Darinya kita sita barang bukti 5 lembar kupon kosong, 3 lembar kupon

berisi angka pasangan, satu set kertas angka tebakan, dua buku rekap dan uang Rp1.387.000," kata Kanit Judi/Susila Satreskrim Polres langkat Iptu Juriadi SH, Selasa (26/11). Tersangka memang sudah lama menjadi target operasional (TO) kami, karena sudah banyak yang resah melaporkannya kepada kami," tambah Juriadi. Sementara itu di Mapolres Langkat tersangka mengaku baru empat bulan menjalankan bisnis perjudian itu. Menurutnya, sejak dirinya sakit-sakitan, yang menulis kupon judi itu adalah isterinya. (BD)

Dua Abang Beradik Curi Lembu Medan-andalas Dua abang beradik, Sarwan alias Iwan Pacet (34) dan Nasrul alias Anas (26) diringkus petugas Reskrim Polsek Percut Seituan karena kedapatan mencuri lembu berbobot 60 kilogram. Aksi pencurian lembu milik Roy, warga Desa Tambak Rejo Pasar I, Percut Seituan itu dilakukan kedua pelaku, Rabu (20/11) sekira pukul 04.00 WIB. Untuk memuluskan aksinya, kedua pelaku mengendarai truk cold diesel. Truk dipersiapan untuk membawa lembu hasil curiannya. Keterangan diperoleh, aksi pencurian hewan ternak itu diduga telah direncanakan kedua pelaku. Mereka datang ke kawasan rumah korban dengan mengendarai truk cold diesel. Sesampainya di lokasi, keduanya lalu mengamati situasi sekeliling rumah korban. Setelah dirasa cukup aman, pelaku lalu masuk ke dalam kandang lembu yang berada di belakang rumah korban. Kemudian kedua pelaku menggiring lembu masuk ke

dalam bak truk cold diesel dan membawanya pergi. Tak lama setelah kejadian, korban terbangun dan melihat hewan ternaknya itu sudah tidak ada lagi di kandang. Korban lalu melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Percut Seituan. Mendapat laporan tersebut, sejumlah personel Reskrim Polsek Percut Seituan langsung turun ke lokasi kejadian. Setelah melakukan serangkaian hasil penyelidikan, polisi akhirnya berhasil mengudentifikasi identitas kedua pelaku dan berhasil menangkapnya di kawasan Datuk Kabu, Percut Seituan. Kapolsek Percut Seituan, AKP Ronald Sipayung SH SIK ketika dikonfirmasi mengatakan, lembu yang dicuri kedua tersangka telah dijual kepada seorang penadahnya berinisial GO. "Anggota kita sedang mencari orang tersebut. Sementara barang bukti yang telah kita sita mobil truk cold diesel yang digunakan kedua pelaku untuk mengangkut lembu hasil curiannya itu," kata Ronald. (ACO)

Medan-andalas Persidangan kasus korupsi Bupati Mandailing Natal (Madina) non aktif Hidyat Batubara kembali di gelar di PN Medan, Rabu (27/11). Pada persidangan kali ini, Direktur Utama RSUD Panyabungan dr Bidasari Siregar dihadirkan sebagai saksi. Dalam kesaksiannya, Bidasari mengatakan, dirinya sadar dipanggil menjadi saksi terkait kasus pemberian suap Rp 1 miliar dari pengusaha kontraktor Surung Panjaitan kepada Hidayat Batubara. Uang tersebut dipercaya jaksa penuntut sebagai uang

pelicin bagi Surung untuk mendapatkan proyek pembangunan di RSUD Panyabungan. Dokter yang membangun kariernya di rumah sakit plat merah itu mengaku dirinyalah yang mengusulkan proyek pembangunan itu ke Bupati. Tahuntahun sebelumnya, proyek serupa sudah pernah diusulkan. Namun, tidak pernah jebol. Tahun 2013, akhirnya Pemprov Sumut menetapkan Kabupaten Madina memperoleh BDB dari Pemprov Sumut senilai Rp32.041.446.000, untuk pembangunan RSUD Panyabungan di

Madina, yang terbagi dalam tiga paket pekerjaan yakni Unit Gawat Darurat (UGD) senilai Rp1.187.560.116, Unit Poliklinik senilai Rp12.454.536.988, dan Unit Rawat Inap senilai Rp18.399.349.505. Namun, belakangan dr Bidasari yang berperan sebagai kuasa pengguna anggaran mengalihkan pengelolaan proyek kepada Plt Kadis Pekerjaan Umum Khairul Anwar Daulay. Ia diyakinkan oleh Khairul bahwa hal tersebut tidak menjadi masalah. Setelah KPK menangkap Bupati Hidayat, Khairul Anwar, dan

Surung dalam operasi tangkap tangan dan menyeret mereka ke pengadilan, proyek pembangunan rumah sakit itu akhirnya batal dan tidak jelas akan dilanjutkan kapan. Sebelumnya, Hidayat Batubara tertangkap pada 13 Mei 2013 di kediamannya oleh tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dia didakwa telah menerima suap dari seorang kontraktor Surung Panjaitan sejumlah Rp1 milyar. Muhammad Hidayat Batubara selaku Bupati Madina bersama Khairul Anwar selaku Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Madina, menerima fee tersebut

untuk memberikannya pekerjaan Proyek Pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) penyabungan di Kabupaten Madina yang bersumber dari dana Bantuan Daerah Bawahan (BDB) pada tahun 2013. Padatahun2013KabupatenMadina memproleh BDB dari Pemprov SumutsenilaiRp32.041.446.000,untuk pembangunan RSUD Penyabungan di Madina, yang terbagi dalam tiga paket pekerjaan yakni Unit Gawat Darurat (UGD) senilai Rp1.187.560.116,-, Unit Poliklinik seniali Rp12.454.536.988 dan Unit Rawat Inap senilai Rp18.399.349.505.(FEL)

Vonis Kasasi RH Diduga Bocor

TIRA dan Himmah Pertanyakan ke MA dan KY Proses kasasi RH dipertanyakan. Pasalnya, beredar kabar di Medan bahwa Mahkamah Agung (MA) bakal memvonis bebas RH. Padahal, panel majelis hakim kasasi MA belum mengeluarkan putusan apapun. “MA belum mengeluarkan putusan kasasi, tapi sudah beredar kabar RH divonis bebas. Inikan aneh,� ucap Ketua Umum Terminal Informasi Rakyat (TIRA) Sumatera Utara Parulian Siregar MAg saat aksi di depan Gedung MA, Jakarta, Rabu (27/11). Di Medan, tutur Parulian, menyeruak informasi MA bakal memperkuat putusan hakim Tipikor PN Medan memvonis bebas RH. Hal ini seolah-olah MA sudah punya putusan, meski majelis hakim panel kasasi belum melakukan persidangan. “Hakim belum bersidang, tapi putusannya sudah bocor duluan. Inilah yang akan kami pertanyakan ke MA,� sebut pegiat antikorupsi itu. Pertanyaan Parulian itu sangat beralasan. Soalnya, saat persidangan di PN Medan, informasi RH divonis bebas beredar luas seminggu sebelum majelis hakim Tipikor yang diketuai Sugiyanto membacakan putusan. Kabar itu menyebar

sejak 8 Agustus 2013, sedangkan hakim Tipikor PN Medan membacakan vonis bebas 15 Agustus 2013. “Kini dalam proses kasasi beredar kabar serupa, yakni MA memvonis bebas RH,� kata Parulian yang menduga adanya mafia hukum terorganisir bermain di PN Medan dan MA. Demi tegaknya hukum, Parulian mengharapkan Ketua MA menempatkan hakim-hakim agung yang berintegritas tinggi terhadap pemberantasan korupsi menjadi majelis panel kasasi kasus RH. “Kami berharap kasasi ini tidak melibatkan hakim agung yang berasal dari Sumatera,� ujar Parulian didampingi Ketua DPP Himpunan Mahasiswa Alwashliyah (Himmah) Aminullah Siagian serta Ketua DPC Himmah Medan Nurul Yakin Sitorus dan Sekretaris Marwan Harahap. Dalam aksi yang dikoordinir J Assayuti SH H dan Suleman Suhdi SPdI, ratusan massa meminta agar proses hukum kasasi RH dilaksanakan sesuai mekanisme undang-undang. Massa juga meminta Ketua MA memberi tindakan kepada hakim Sugiyanto terkait vonis bebas RH. Assayuti dan Suleman Suhdi mengaku mendukung MA memvonis Angelina Sondakh 12 tahun penjara. “Vonis itu sudah memenuhi azas keadilan, azas kepatutan dan azas sosial yang berdasarkan

TERIMA DATA Ketua Umum DPP Himmah Aminullah Siagian didampingi Ketua Umum TIRA Parulian Siregar saat menerima data ilmiah dari Kabag Administrasi dan Laporan Komisi Yudisial, Jakarta, Rabu (27/11). andalas/ist

perundang-undangan. Artinya, pelaku korupsi atau dan oleh karenanya terjadi tindak pidana korupsi, harus dijatuhi hukuman. Tapi, apakah semua azas hukum yang diterapkan kepada Angelina Sondakh itu juga diterapkan MA terhadap RH? Kita tunggu saja putusannya,� sebut Assayuti lantang. Aksi massa di MA diakhiri dengan penyerahan pernyataan sikap yang diterima Staf Sekretariat MA. “Aspirasi dari mahasiswa ini akan kami sampaikan kepada pimpinan,� ucap Staf Bagian Tata Usaha MA, Joko MS SH. DEMONSTRASI KE KY Selain aksi di MA, massa TIRA Sumut dan Himmah juga

menggelar demonstrasi di Gedung Komisi Yudisial (KY). Mereka meminta Ketua KY mengawasi proses kasasi kasus RH. “Kami juga meminta penjelasan terkait pemeriksaan dan penyidikan hakim Sugiyanto terkait vonis bebas RH,� tukas Assayuti. Aksi di KY, massa TIRA dan Himmah diterima secara delegasi oleh tenaga ahli KY, M Imron, Kabag Adm dan Laporan Masyarakat Indra Syamsu serta Plt Kasubag Verifikasi dan Anotasi Istunta Napitupulu. “Soal RH sudah banyak laporan masyarakat yang kami terima,� tutur Indra Syamsu. Menurutnya, kasus RH menjadi prioritas bagi KY. Ada dua penanganan dalam kasus ini.

Pertama, tim melakukan pemantauan proses kasasi RH di MA. Kedua, tim melakukan anotasi terkait petikan putusan bebas dari hakim Tipikor PN Medan yang ditengarai hilangnya beberapa pasal-pasal dan keterangan saksi-saksi. “Tolong bantu KY. Kalau ada data-data pendukung yang lain, termasuk rekaman selama berjalannya persidangan,� sebut Imron. Di sela pertemuan dengan pejabat KY, Parulian Siregar memaparkan kasus yang menjerat RH yakni kasus dugaan korupsi Tunjangan Penghasilan Aparatur Pemerintahan Desa (TPAPD) Tapanuli Selatan Tahun 2004-2005 mencapai Rp1,5 miliar lebih saat menjabat Sekda. (REL/GUS)

Epaper andalas edisi kamis 28 november 2013  

harian andalas lugas dan cerdas