Issuu on Google+

CERITERA SAM RATULANGIE

Pada 5 Nopember 1890 Sam Ratulangie lahir dirumah yang digambirkan disin di Tounkuramber, Tondano. Minahasa (1)

Keluarga besar Ratulangie-Gerungan bersama saudara lainnya (3)

Pemuda Sam bersama saudara-saudara (5)

Ayahnya bernama Jozias Ratulangie dan Ibunya bernama Augustina RatulangieGerungan. Kakak tertua bernama Kayes dan yang seorangnya lagi bernama Wulan (2)

Sam bersama saudara sebelum berangkat ke Eropa (6) Sam mulai bersekolah di Tondano (4)


Dipertengahan tahun 1913 Sam berangkat naik kapal ke Eropa. Seperti mereka yang lazim ke negeri Belanda waktu ia turun dari kapal di Napoli, Italia, lalu meneruskan perjalanannya dengan kereta api ke Amsterdam. Sam sempat bekerja di sesuatu dermaga untuk menambahkan dan melengkapi jumlah dana untuk memenuhi biaya hidup. Menjelang mulainya tahun kuliah ia mendaftarkan diri pada Fakultas Ilmu Pasti dan Alam Universitas Amsterdam.

Setelah dua tahun Sam lulus mendapat Ijazah K1 yang memberi kepadanya hak mengajar pada sekolah menengah (7)

Sam bersama seorang teman di negeri Belanda (8)

Di negeri Belanda Sam aktip dalam organisasi Indische Vereeniging dan menjadi Ketua 1914 – 1915. Disana pula ia berkenalan dengan Suze Houtman dan 1915 menikah dengannya. (9)

Sam ingin meneruskan ketingkat S3 (Program Doktor) di Universitas Amsterdam tetapi ditolak oleh Dewan Universitas karena berbagai alasan. Atas nasehat Mr Abendanon Sam meneruskan penelitiannya di Universitas Zurich, Swis (10) Di tahun 1919 Sam lulus mencapai gelar Doktor Phil. dalam Ilmu Matematika dari Universitas Zurich, Swis (11)


Segera Sam melapor kepada Kementerian Urusan Jajahan dan mengajukan lamaran untuk dapat bekerja di tanah airnya. Permohonannya dikabulkan dan diterbitkanlah Surat Keputusan oleh Menteri Urusan Jajahan untuk Sam bertugas mengajar dikota indah Jogyakarta pada Sekolah Teknik ”Prins Hendrik” dengan gaji yang cukup besar (fl. 500,-) disamping itu istrinya pun sebagai dokter medis yang bertaraf S3 mendapat gaji (fl. 400,-) Dengan dana yang besar mereka dapat hidup dengan sangat baik, mendiami rumah dijalan utama kota. (12)

Namun ini menjadi duri dimata orang2 Belanda yang menganggap bahwa orang yang bukan Belanda seperti Sam tak patut hidup demikian. Sam sebagai “INLANDER” sudah terlanjur membangkitkan irihati dan rasa dengki dikalangan orang2 Belanda dan Indo-Belanda . Tak ketinggalan pula cemoohan melalui surat kabar. Hal seperti itu kini dinamakan “pembunuhan karakter”. Teristimewa seorang wartawan yang bernama Zendtfliet yang melancarkan aksi tersebut. Setelah bertugas selama dua tahun maka suami isteri Sam

dan Suze memutuskan untuk melepaskan diri dari status pegawai negeri jajahan dan berwira swasta di kota sejuk Bandoeng (13)

Dikota ini lahirlah kedua anak dari pasangan Sam dan Suze: anak sulung laki2 dipanggil secara akrab dengan nama Oddie dan adiknya dipanggil Zus. Suze membuka praktek sebagai dokter dan Sam mendirikan Levensverzekerings Maatschappij “INDONESIA” (Perusahaan Asuransi). Konon tercatat bahwa mahasiswa Fakultas Teknik yang bernama Soekarno tertegun saat meliwati kantor Sam melihat nama “Indonesia” terpampang secara publik di negeri jajahan Nederlandsch Indie. Sam juga aktif mendirikan Majalah Mingguan “PENINDJAUAN” bersama seorang kawan Mr. Dahler, dan menurut informasi Sam juga sempat menjadi anggauta dari Dewan Kota Pradja Bandoeng. Setelah beberapa tahun Sam mendengar bahwa ada kemungkinan untuk menjadi anggauta pada MINAHASSA RAAD di Manado. Keluarga muda Sam dan Suze pun bertolak ke Minahasa dan Sam turut mendirikan partai yang dinamakannya

“PERSATOEAN MINAHASSA”. Maka mulailah Sam mencurahkan tenaganya di dunia politik. Ia berhasil dipilih dan menjadi Sekretraris dari Minahassa Raad. (14)

Difoto ini Sam duduk dibaris depan no 3 dari kiri. Ada beberapa hal yang dapat dicatat sebagai hasil upaya Sam sewaktu bekerja di Minahassa Raad: Pertama2 dapat disebut ia berhasil menghapuskan “Herendiensten” yang sangat membebani rakyat (sejenis pajak yang diberlakukan kepada orang tak mampu membayar pajak dan diganti dengan kerja paksa tak berupah). Disampig ini Sam berhasil dalam mengajukan dan merealisasikan program “KOLONISASI” yang dalam istilah kini disebut: transmigrasi . Sebagian penduduk Tondano tertentu dipindahkkan ke daerah Modoinding. Sam sendiri yang mengantarkan kelompok yang pertama2. Mereka berangkat dengan menunggang kuda. Hal ini merupakan sukses yang sampai kinipun dikenang oleh penduduk Modoinding. Masih ada jasa lain dari Sam sewaktu di Minahassa Raad: Ia berhasil mengajak para dermawan untuk mendirikan Yayasan Dana Belajar untuk membantu


pemuda2 berbakat yang kekurangan dana untuk meneruskan pelajarannya. Ia juga mendirikan Serikat Penanam Kelapa untuk menghindarkan petani kelapa dari tindakan pengijon. Disamping ini semua ia pula yang mendirikan rumah gadai pemerintah di Minahasa untuk melawan rumah gadai swasta yang mencekik leher penggadai. Namun ditahun2 1926 mendung mulai meliputi keluarga Sam dan Suze. Terjadilah satu perpecahan dalam kehidupan suami-isteri ini yang rupa2nya tak dapat terelakan. Kedua anak ditentukan harus tetap bersama ayahnya dan Suze pindah ke Makassar. Walaupun Sam dalam masa dimana ia berupaya mengatasi kesulitan pribadi yang dialaminya Sam tak terpuruk akan tetapi bangkit berdiri dengan rencana hidup yang baru: ia akan mencalonkan dirinya untuk menjadi anggauta Volksraad yang bertempat di Batavia dan iapun berhasil dan ia

mewakili Persatoean Minahassa. (15). Volksraad (1927 – 1937)

Setahun kemudian Sam berkenalan dengan gadis Manado bernama Marie Tambajong, anak Hukum Besar dari Tombasian. Marie yang secara akrab dipanggil Tjennie adalah guru disalah satu Europeesche Lagereschool di Batavia. (16)

Tjennie (1927) Sam meminang gadis ini, dan dengan direstui orang tua Tjennie, menempuh upacara perkawinan. Resepsi perkawinan dihadiri berbagai anggauta Volksraad dan juga kawan2 dekat Sam seperti M. Husni Thamrin, Soetardjo Kartohadikusumo dll. Di Volksraad Sam tidak memperhatikan masalah2 pendidikan, ekonomi dan politik saja akan tetapi juga masalah2 sosial. Masyarakat pekerja di Indonesia yang terkena imbas dari malaise yang melanda di Eropa misalnya gaji buruh onderneming dipotong menjadi 45 %. Untuk memperkuat bargaining position golongan2 ini Sam antara lain

mendirikan Vereniging Voor Onder Officieren B (VOOB) untuk opsir2 rendahan ytang bekerja di Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) Pidato2 Sam di Volksraad brilyan dan berdasarkan data yang akurat dan kajian yang jitu dikagumi rekan2nya. Misalnya dalam “Verarmingsfactoren” (Faktor2 yang memiskinkan) ia memperlihatkan bahwa rakyat Indonesia semakin miskin disebabkan oleh karena arus dana yang mengalir ke Nederland terlalu deras. Jelas hal2 ini kurang sedap ditelinga penjajah maka dicarilah oleh penjajah alasan unuk mengexitkan Sam dari Volkraad. Hal ini dilakukan dengan menjebak Sam menandatangi satu deklarasi biaya perjalanan yang keliru yakni melebihi fl. 100,- (kira2 nilainya 1/5 dari gajinya sewaktu Sam menjadi guru di Jogya). Pada saat sedang sibuk berdiskusi dengan seorang rekan Sam menandatangani deklarasi itu dan kecerobohan itu diajukan sebagi dasar untuk menghukum Sam selama 4 bulan kurungan di Bandung. Selain hukuman itu Sam juga dipecat dari Volksraad. Semasa di penjara Sam mempersiapkan strategi perjuangan lanjutan. Ia akan menerbitkan majalah mingguan berbahasa Belanda yang diberi nama “Nationale Commentaren” yang berarti Komentar Nasional. Dengan kerja keras dibantu oleh isterinya, Sam mulai menerbitkan majalah mingguan ini di Bandung. Dan ternyata mingguan ini menjadi sukses luar biasa. Bukan saja para intelektual Indonesia diseluruh Indonesia tetapi juga para penjajah di Ned. Indie maupun di negeri Belanda juga bersedia mengeruk kocek mereka untuk berlangganan.


Keluarga Sam ikut maju, dari rumah kecil di Wajanglaan Bandung, mereka pindah ke Laan Wiechert di Batavia kemiudian ke Kramatlaan. Banyak keponakan2 dari Manado ber-indekost dirumah Sam. ( 16)

Rumah di Jakarta (1939) Selaku wiraswasta Sam bebas berorganisasi dan dengan aktip mengikuti pergerakan kebangsaan di Batavia. Sam sempat pula mendirikan Vereniging van Indonesische Academici (V.I.A.) yang dalam Bahasa Indonesia adalah Persatuan Cendekiawan Indonesia. Organisasi ini sempat mengundang Presiden Quezon dari Rep. Pilipina beserta isterinya untuk kunjungan silaturahmi ke Indonesia. Pada gambar dibawah ini terlihat Sam berdiri disamping Presiden Quezon . (17)

Sewaktu Perang Dunia II diambang pintu rumah kediaman Sam dan Husni Thamrin digeledah karena diduga menjadi mata2 Jepang. Akibat dari tindakan kasar ini maka Husni Thamrin jatuh sakit dan tidak diizinkan mendapatkan perawatan dokter oleh Belanda sehingga tak lama kemudian meninggal dunia. Secara visual saya sebagai anak kecil tidak banyak mengetahui mengenai korban2 yang konon jatuh dari pihak orang2 di Batavia. Namun serdadu2 KNIL dimana antara lain banyak orang Manado ikut dibawa Belanda ke Australia, dimana keluarga2 mereka ditinggalkan di kampemen2 seperti Tiende Bat yakni komplek KNIL dikawasan Senen, Jakarta. Oleh Wolter Saerang bersama dengan Sam Ratulangie diupayakan bantuan kepada mereka dalam satu organisasi bernama Badan Penolong Korban Perang Sulawesi yang beralamat di Kramat Raya 75 di Jakarta. Badan ini kemudian bernama Penolong Kaum Selebes (PeKaSe) yang berkantor di Jalan Asem Baru 28, (sekarang Jalan Sam Ratulangie 28) Jakarta. Badan ini yang berawal dengan tugas2

sosial kemudian menjadi cikal bakal dari organisasi Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi atau disingkat KRIS. Organisasi KRIS ini tumbuh kembang dibawah pimpinan Mr. Alex Maramis yang cakap memanage serta pintar mengumpulkan dana dan dengan kejujuran dan dedikasi tinggi mengatur agar anggauta2 KRIS dilengkapi dengan seragam DAN bersenjata lengkap untuk membantu membela kaum yang terancam oleh kekejaman yang dimasa itu meraja-lela. Jadi KRIS ini bukan didirikan oleh kelompok lain yang kemudian memperkenalkan dirinya sebagai pendiri akan tetapi oleh Oom Alex Maramis. Saat Jepang bercokol diseluruh Indonesia maka Jepang kewalahan mengatur daerah secara sipil administratip di kepulauan yang luas kita ini. Khususnya di Indonesia bagian timur terasa kekosongan. Maka Sam diminta untuk bersama para cendekia muda asal Sulawesi yang ada di Jawa hijrah ke Makasar untuk membantu mengisi kekosongan yang ada. Maka sekitar tahun 1943 Sam berangkat berserta keluarga dan ditemani puluhan pemuda dan pemudi, dari Jakarta ke Surabaya lalu dengan kapal ke Makassar. Putera dan Puteri tertua tinggal di Jakarta dan Bandung. Di Makassar saat itu hamper setiap hari bom dijatuhkan oleh tentara sekutu sehingga keluarga Sam terpaksa mengungsi ke Bonto Ramba sebuah desa dekat Makassar di kintal keluarga Rotinsulu. Jepang kalah perang dan Sam bersama beberapa pemuka Sulawesi Selatan diundang ke Jakarta.


PROKLAMASI KEMERDEKAAN 17-8-1945

SAM RATULANGIE ditangkap NICA dan dibuang ke Serui, Papua (1946)

SAM RATULANGIE memberikan kuliah di Serui. (21) 17 Agustus 1945 (18) Protes para pemuda di Jogya (1946) atas penangkapan Gubernur Sulawesi. (20) DISERUI

Para “Oknum berbahaya” berkebun untuk memberikan contoh bercocok tanam. (22)

Ir. Moh Nur, Prof. Radjiman, Dr. Ratulangie (19) SAM RATULANGIE ditetapkan menjadi GUBERNUR SULAWESI (1945)

Sketsa kedatangan rombongan “Oknum berbahaya” (20)


SAM RATULANGIE bermain layingan dengan anak terkecil bersama masyarakat setempat. (23) Pada sketsa dibawah SAM RATULANGIE merawat ternak peliharaan. (24)

Kelompok buangan berdiskusi mengenai perkembangan dan menetapkan strategi (25).

Keluarga SAM dan seorang teman di Tanjung Priok (27)

SETELAH PERSETUJUAN RENVILLE para buangan dilepaskan

Rombongan keluarga2 tiba di T. Priok untuk diteruskan ke Jogyakarta (26)

Ini adalah ketujuh pemimpin perjuangan dari Makassar yang dibuang oleh NICA selama 3 tahun ke Serui: Lanto Dg Pasewang, Sam Ratlangie, Latumahina, Intje Saleh, Tobing, Suwarno,Pondaag. (28) Pada perjalanan ke Jawa rombongan singgah di Makassar dan disambut kawan2 lama (29)


SESAMPAI di STASIUN JOGYAKARTA

Diseling dengan humor yang menyegarkan (35) Dalam perjalanan ke Jogya rombongan diundang menghadiri HUT KRIS di Madiun (1948)

Penjemput sudah menanti

Ibu Fat juga mahir menjaga suasana yang meriah (36) dan (37) Diterima bagaikan selebriti di Madiun (30) Tak ketinggalan pula rangkaian bunga tanda penghargaan dari masyarakat. (31)

Oom Alex MARAMIS dan Mr. Pringgodigdo juga menjemput (32)

SETELAH ISTIRAHAT Pres. SOEKARNO mengundang untuk jamuan makan di Istana Negara Diskusi serius antara kedua pemimpin kemerdekaan (34)


Hadir pula Douwes Dekker (Setiabudi) pada pertemuan itu

Berfoto: “ex-buangan� yang tertua dan termuda bersama Presiden dan Wakil Presiden (38)

Bung Karno dan Ibu Fat mengunjungi SAM dan isteri sebagai tanda perhatian yang besar akan kondisi kesehatan seorang kawan pejoang (39). Setelah mengalami perbaikan dalam kesehatan , SAM langsung menceburkan diri kembali dalam aneka kegiatan kenegaraan Pada gambar2 dibawah ini (40) (41) Sam menghadiri satu rapat mengenai kondisi keuangan diundang oleh Mr. Maramis yang pada waktu itu adalah Menteri Keuangan yang pertama dari Republik Indonesia

NAMUN Acara yang padat dan kelelahan dari kehidupan berat dan penyakit Malaria yang diderita Sam menyebabkan ia jatuh sakit.

Banyak sekali masih kegiatan SAM dimasa yang singkat (Maret 1948 – Juni 1949) yang terjadi dan yang hanya dapat diungkapkan dalam satu buku baru mengenai kehidupan dan perjuangan Sam Ratulangie. Dalam masa hidupnya yang relatip pendek itu (59 tahun) alangkah besar produktivitasnya‌.. Satu kehidupan yang bukan tanpa jatuh-berdiri iapun selalu bangkit dengan setiap kali ia bangkit jiwanya menjadi semakin kokoh. Namun badannya akhirnya tak dapat mendukung api semangat perjuangan yang tak pernah padam untuk berupaya memerdekakan rakyat dan bangsa Indonesia dari penjajahan. Sam wafat pada 30 Juni 1949, pukul 10.00 WIB.


FOTO keluarga sewaktu di kapal Swartenhondt (45)

Kereta jenazah berangkat dari rumah duka (42)

Pengantar dari berbagai lapisan masyarakat turut memeberikan kehormatan terakhir (43) Waktu kereta jenazah tanah abang akhir dari iring2an masih dirumah duka. (44)

Diluar acara yang ditetapkan tiba2 datang barisan opsir2 KNIL untuk menyatakan penghormatan terakhir mereka pada Oom Sam yang sudah tiada. (44) Pandangan saat ibadah diadakan ditempat jenazah disemayamkan sementara sebelum diberangkatkan ke Tondano (45)

Pemuda KRIS mengikuti penjemputan (46)


Para keluarga yang berkabung dirumah tempat lahirnya SAM (49)

Presiden Soekarno menganugerahkan TANDA JASA PAHLAWAN atas djasanja didalam perdjoangan gerilja membela kemerdekaan negara 10 November 1955

Jenazah disemayamkan dirumah tempat kelahiran Sam 59 tahun sebelumnya (47)

Dimakamkan di makam keluarga GERUNGAN (48)

Permohonan ini seperti juga permohonan sejenis yang sebelumnya juga sudah berkali2 diajukan dengan segala hormat ditolak olehnya oleh karena belawanan dengan pesan terakhir dari Sam. Setelah Tjennie wafat maka para ahli waris terpaksa akhirnya memenuhi permintaan ini dan menyetujui pemindahan peti jenazah.

Anak2 dan Cucu2 di makam SAM yang lama (1979) (50)

Ditahun 1986 atas prakarsa Gubernur MANTIK diajukan permohonan izin kepada Ibu Maria Ratulangie-Tambajong untuk memindahkan jenazah ketempat baru‌


Tanda Kehormatan SATYALANTJANA 29 Mei 1961

PIAGAM Perintis Pers Indonesia 31 Maret 1971

SATYALANCANA Perintis Pergerakan Kemerdekaan 17 Agustus 1965 BUKU ini dipersembahkan kepada masyarakat SULAWESI UTARA agar dapat lebih mengenal sosok SAM RATULANGIE yang berasal dari antara mereka sendiri. Buku ini diedit oleh: DR. M. Sugandi-Ratulangi Foto2: IPPHOS, koleksi pribadi, Jimmi P, dll Sketsa2: M. Koto Tondano, 30 Juni 2010


CERITERA SAM RATULANGIE