Issuu on Google+

Turne bersama Mgr. Pius Riana Prapdi ke Pedalaman Keuskupan Ketapang 26 Desember 2016 – 3 Januari 2017 Foto: Frater Benedictus Seprinanda Sudarto, Mathias Hariyadi, Royani Ping

Sekapur sirih CERITA bergambar ini merupakan catatan ringan penulis saat bersama mengikuti perjalanan turne masuk kawasan hulu atau pedalaman Keuskupan Ketapang di Provinsi Kalbar bersama Bapak Uskup Keuskupan Ketapang: Mgr. Pius Riana Prapdi. Rombongan turne ini datang mengunjungi umat katolik di kawasan terpencil di hulu Sungai Laur yakni Stasi Merabu, Stasi Randau Limat, Stasi Tanjung Beringin, dan Stasi Selangkut Raya. Semua stasi ini masuk wilayah Paroki Keluarga Kudus Sepotong. Jarak tempuh menuju ‘pusat kota’ Sepotong sekitar 350 km dari Kota Ketapang dan lokasi ini dicapai melalui jalur darat dengan kendaraan dobel gardan karena kondisi jalan berlumpur dan off road lalu bersambung dengan perjalanan selama tiga jam menggunakan sampan motor yang biasa disebut speed untuk menyusuri aliran Sungai Laur. Ikut dalam rombongan turne ini adalah Mathias Hariyadi (Sesawi.Net), Maria Rosa (Ketua OMK Sungai Daka), Meiva Lomboan (Paroki St. Joseph Manado), Fr. Benedictus Seprinanda Sudarto (Frater calon imam diosesan KAS di Seminari Menengah St. Laurentius Paya Kumang), Pastor Silvanus Ilwan CP dari Paroki Keluarga Kudus Sepotong. Sesampai di lokasi ikut bergabung beberapa mahasiswa Unika Atma Jaya Yogyakarta yang tengah berKKN: Mike, Keke, Imel, dan Paul.


Turne tahap dua Perjalanan turne tahap kedua dilakukan dengan melakukan kunjungan ke Paroki Sandai dan selanjutnya menuju Stasi Riam Dadap dan Stasi Aur Gading. Kedua stasi di kawasan hulu ini ditempuh melalui jalur aliran Sungai Bihak yang penuh dengan bebatuan dan riam. Ikut bergabung dalam rombongan ini melalui jalur darat melewati jalan off road perusahaan adalah Pastor Niko CP, Pastor Simon Pr, Fr. Dictus, Topan, sejumlah misdinar dan OMK Paroki Sandai, dan sejumlah mahasiswa Unika Atma Jaya Yogyakarta yang juga sedang ber-KKN. Hadir lebih dahulu di Riam Dadap adalah Paul Tan dan Pastor Sepo CP dan baru kemudian datang pula bersama rombongan Uskup yakni Dewanto (Camat Hulu Sungai), Yakin (Lurah Riam Dadap). Senantiasa ikut menyertai perjalanan turne Bapak Uskup Mgr. Riana Prapdi ini adalah Pak Harun, karyawan keuskupan sekaligus pengemudi mobil dobel gardan berkabin dua yang mengangkut lima orang penumpang berikut bagasinya dari Kota Ketapang hingga Bengaras. Lalu kemudian dari Bengaras menuju Sandai dan akhirnya kembali ke Kota Ketapang. Sebuah perjalanan off road yang sangat menantang. Terima kasih Tiada ungkapan paling tepat untuk merangkum perjalanan penuh tantangan namun sangat mengesankan dan membahagiakan ini adalah ucapan terimakasih. Maka ucapan terima kasih kami haturkan pertama-tama kepada Bapak Uskup Keuskupan Ketapang: Mgr. Pius Riana Prapdi atas kesediaannya telah memberi kesempatan luar biasa ini bagi kami berdua bisa mengikuti program turne menyusuri kawasan hulu di Sungai Laur dan Sungai Bihak. Terima kasih juga kepada keluarga Moly Paher, Ny. Otol Paher, dan pasutri Yakobus Pelancar dan isterinya Ny. Yohana Kiak yang telah menerima kami di rumahnya baik di Ketapang maupun di Sepotong. Ungkapan terima kasih juga kami sampaikan kepada Pastor Matheus Yuli Pr yang telah meluangkan waktu untuk keperluan wawancara di Pastoran Katedral St. Gemma. Tak lupa juga kepada Sr. Kristofora PIJ, Pastor Laurentius Sutadi Pr, Pastor Udi Pr, Pastor Istejamaya Pr, Pastor Atmo, Pastor Joko Purwanto, Koh Ake, dan Fr. Djoko yang telah menerima kami dengan ramah di Wisma Keuskupan Ketapang. Juga kepada Pastor Simon Pr yang telah menemani kami saat kunjungan ke Seminari Menengah St. Laurentius Paya Kumang dan Pastor Kukuh yang menerima kami di Paroki Nanga Tayap.

Tentu, para suster Agustinian di Ketapang seperti Sr. Ignasia OSA dan Sr. Regina OSA juga tidak lupa kami sebut di sini. Bersama para suster Agustianian lainnya, mereka menerima kedatangan Bapak Uskup dan kami berdua saat datang beranjangsana ke Provinsialat OSA. Tak lupa tentu saja para pastor, rekan OMK, para misdinar, para mahasiswa Atma Jaya Yogyakarta yang tengah ber-KKN dan akhirnya menjadi teman perjalanan kami selama mengikuti perjalanan turne ini. Dimulai dengan kedatangan kami di Ketapang tanggal 26 Desember 2016 dan kemudian memulai turne mulai 28 Desember 2016 hingga 3 Januari 2017. Persahabatan penuh kasih Terima kasih juga kami sampaikan atas ungkapan persahabatan dan semangat kasih segenap umat katolik di Stasi Randau Limat, Merabu, Tanjung Beringin, Selangkut Raya (Paroki Keluarga Kudus Sepotong), Stasi Riam Dadap dan Stasi Aur Gading (di Paroki St. Gabriel Sandai), Paroki Nanga Tayap, dan Paroki Sandai.

Harapan kami sederhana atas terbitnya catatan ringan bergambar ini. Semoga cergam turne mengunjungi kawasan hulu di Sungai Laur dan Sungai Bihak ini memberi gambaran nyata bagaimana kiprah perjuangan Keuskupan Ketapang dalam ‘merawat jiwa-jiwa’ umat katolik di pedalaman yang lokasinya sulit dijangkau. Perjalanan menuju kawasan hulu (baca: pedalaman) sungai ini sangat tergantung pada kondisi cuaca dan ‘kemurahan’ Tuhan. Ada banyak hujan, maka permukaan arus air di Sungai Laur dan Sungai Bihak akan pasang dan inilah saat tepat untuk menjangkau kawasan terpencil di hutan Ketapang dengan sampan motor (speed). Di kawasan hulu ini belum tersedia listrik, jaringan telepon, dan apalagi sinyal HP. Semoga catatan ringan bergambar ini memberi inspirasi umat katolik di seluruh Indonesia untuk misalnya berkontribusi membantu pengembangan iman dan hidup sosial di kawasan pedalaman di luar Pulau Jawa. Ad maiorem Dei gloriam. Semua ini demi semakin besarnya kemuliaan Tuhan.

ping@2017


Dijemput dan dijamu oleh keluarga Molly Paher

Open house Keuskupan dari hari Natal dipenuhi umat, tokoh masyarakat dan umum

Diantar Molly Paher ke Keuskupan

Anak-anak yang tinggal di sekitar Keuskupan tiap tahun menghadiri open house Uskup.


Mengikuti misa pagi harian di kapel Wisma Keuskupan bersama Mgr. Pius Riana Prapdi


Mgr. Riana menjelaskan cakupan wilayah Keuskupan Ketapang yang terbagi ke dalam lima regio dengan luas wilayah jauh melebihi provinsi Jawa Tengah.


Mengunjungi Seminari Menengah St. Laurensius Keuskupan Ketapang di Paya Kumang. Penuh warna simbolik.

Merah simbol martir

Kuning simbol kemuliaan

Ungu symbol pertobatan

Beternak babi untuk menambah gizi para seminaris dan staf seminari.

Hijau simbol seminari

Berhasil menanam labu

Ada tiga tahapan: kelas satu, dua. dan tiga. Kelas satu dicat warna merah karena para formatur berdarah-darah mendidik siswa.


Rumah betang di depan kompleks seminari.


Berkunjung ke Biara Suster OSA yang menjadi markas Pemimpin Umum OSA Indonesia. Provinsial sekarang dijabat oleh Sr. Ignasia OSA.

Sr. Regina OSA merupakan keturunan dari keluarga Katolik pertama yang datang dari Tiongkok ke Ketapang. Sr. Regina baru sajamerayakan 50 tahun membiara tahun lalu.


Berkeliling kompleks Katedral St. Gemma Keuskupan Ketapang

Ornamen hiasan ‘kisah harmoni Indonesia di Kalimantan’ masih dalam tahap penyelesaian.

Tugu “Yesus Pohon Kehidupan” diukir pada satu batang gelondongan kayu ulin setinggi 9,4 m.


Bagian dalam Katedral – depan.

Bagian dalam Katedral – belakang.


Katedral dipenuhi ukiran indah khas dengan media kayu ulin.


Siap jalan melakukan turne masuk ke pedalaman Keuskupan Ketapang dengan mobil dobel gardan dan bersambung dengan sampan motor. Eh.. ada mangga atap :)

RUTE: Kota Ketapang → Nanga Tayap → Randau → Sepotong → Tanjung Beringin → Limat → Merabu → Selangkut Raya → Sepotong → Riam Dadap → Aur Gading → Sandai → Nanga Tayap → Kota Ketapang. [merah – tujuan utama]


Jalan aspal yang dulu pernah mulus kini menjadi rusak total karena beban kendaraan saat mengangkut logging kayu. Serasa mengikuti Rally Paris-Dakar :)


s ekitar

Singgah ke Gua Maria Kederon Stasi Manjau, sekitar 80 km dari Kota Ketapang.


Frater Dictus bergabung dengan rombongan waktu persinggahan makan siang di rumah Pak Aphin, umat di Nanga Tayap. Fr. Dictus merupakan calon imam Keuskupan Agung Semarang yang sedang menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Seminari Menengah St. Laurentius Keuskupan Ketapang di Paya Kumang.

Mgr. Pius diminta memberkati beberapa benda rohani di rumah Ibu Isabela.

Rombongan singgah di rumah Ibu Isabela, Kepala Desa Bengaras.

Tambahan rombongan lagi: Maria Rosa, Ketua OMK dari Sungai Daka, Laur, dan Meiva, OMK dari Manado yang sedang liburan di Ketapang. Mereka menjadi saudara karena perjumpaan di Indonesian Youth Day 2016, Manado.


Perjalanan dengan sampan bermesin 15 PK dimulai. Rute pertama ke Sepotong. Hanya perjalanan pertama ini yang menggunakan sampan dengan tutup terpal, selanjutnya sampan yang tidak beratap. Atap memperlambat perjalanan karena menghambat angin.


Hujan selama tiga hari berturut-turut membuat arus Sungai Laur pasang. Hal yang memang diharapkan supaya bisa mencapai daerah hulu yang dituju. Sungguh penyelenggaraan Ilahi karena jadwal turne telah disusun satu tahun sebelumnya.

Pemandangan sepanjang perjalanan, hijau di kiri kanan sungai.


Bertemu beberapa kapal tambang emas ilegal. Penambangan liar ini merusak kualitas air sungai karena menggunakan merkuri untuk menyaring pasir.


Sungai merupakan kamar mandi dan kolam renang para penduduk di sepanjang sungai. Pada awalnya mereka mendirikan rumah di tepi sungai karena transportasi menggunakan perahu.

Toilet terapung di tepi sungai masih banyak dijumpai.

Rumah dengan tiang kayu ulin didirikan tinggi untuk antisipasi air pasang.

Ada beberapa jembatan yang dibangun di hilir, bisa dilintasi sepeda motor dan ambulans.


Mgr. Pius turun dari sampan dengan senyum khasnya.

Berlabuh di dermaga Sepotong.

Disambut Pastor Silvanus Ilwan CP, Pastor Paroki keluarga Kudus Sepotong yang akan ikut bergabung dalam rombongan turne, dan Aquino Ceger anggota DPRD Ketapang


Kedatangan Bapak Uskup disambut gembira anak-anak Paroki Sepotong. Ini merupakan kunjungan kesekian kali Mgr. Pius ke sana. Para guru USABA telah menantikan kedatangan rombongan.


Kepala Sekolah dan para guru USABA mengadukan nasib mereka kepada Mgr. Riana. Mereka meminta informasi kebijakan Keuskupan sebagai pemilik USABA. Mgr. Riana memberitahukan keputusan Keuskupan yang akan mempertahankan kelangsungan sekolah, meningkatkan kesejahteraan para guru, dan meningkatkan kualitas pendidikan USABA.


Setelah rapat dengan guru, perjalanan dilakukan dalam gelap karena hari sudah beranjak malam. Tidak ada penerangan di sepanjang sungai, bahkan sampan juga tidak dilengkapi dengan lampu.


Suasana gelap, karena desa Tanjung Beringin belum terjangkau oleh PLN. Sinyal sudah tentu tak sampai.

Puji Tuhan, walau diselimuti kegelapan, rombongan yang terbagi dalam lima sampan tiba selamat di stasi Tanjung Beringin pada pukul 19.30 di tengah hujan rintik. Umat telah menantikan kedatangan Bapak Uskup sejak pukul 16.00.


Kunjungan perdana Mgr. Riana ke Stasi Tanjung Beringin

Karena ini kunjungan perdana Mgr. Riana, maka disambut dengan upacara pancung buluh muda.

Seorang sesepuh memperagakan pencak silat sebelum menyerahkan sebilah mandau kepada Mgr. Riana untuk digunakan memotong buluh.

Apakah memang harus dua orang yang berbeda tinggi badan untuk memegang kain:)


Dengan sekali ayunan, buluh berhasil ditebas Mgr. Riana. Umat bertepuk tangan menyambut kedatangan Bapak Uskup.

Setelah itu dilakukan upacara menginjak telur di tanah. Kemudian disuguhkan tuak dalam tanduk untuk Mgr. Riana. Seluruh rombongan juga disuguhi tuak dalam gelas.


Upacara selanjutnya adalah menari bersama Tumenggung desa. Tarian tidak berlangsung lama karena hujan makin deras mengguyur.

Pkl 21.00 setelah hujan reda, diadakan acara ramah tamah di aula desa. Mgr. Riana menyampaikan pesan agar TUAK yang dijadikan singkatan ‘Tuhan Adalah Kasih’ digunakan dengan bijak. Sedikit diminum menjadi obat, berlebihan bisa memabukkan.

Upacara ingas, minum bersama dari tempayan tuak.


Menuju kapel untuk misa pkl 08.00 pagi Menikmati sarapan pagi nasi goreng di rumah tempat rombongan inap. Penerangan lampu dari solar cell. Malam hari ada beberapa rumah yang menghidupkan genset selama 3-4 jam.


Para misdinar bersiap-siap. Mereka termasuk rombongan turne, berasal dari Paroki Sepotong.

Menanti saat misa

Kepala babi dan buah-buahan sebagai persembahan misa

Mgr. Riana memberikan Sakramen Krisma kepada 120 umat.

Mgr. Riana masuk angin karena jubahnya basah terkena hujan deras. Ia pulang mengenakan tambahan kaos dalam agar masuk angin tidak semakin parah. .


Tiga penari remaja dengan kostum tradisional mengawali prosesi masuk.

Kapel tidak mampu menampung jumlah umat yang hadir. Puluhan orang terpaksa berdiri di halaman kapel.


,

Meninggalkan Stasi Tanjung Beringin, Menuju Stasi Randau Limat

Rombongan menggunakan lima sampan untuk turne ke tiga stasi di Paroki Sepotong.


Sungai mengecil karena makin ke hulu

Di daerah semua anak bisa bersampan.

Anak-anak suka terjun dari jembatan waktu berenang.


langit biru Kalimantan

Banyak buah hutan di sepanjang sungai, seperti pohon sengkuang ini.

Panen buah sengkuang di tengah sungai. Cukup berdiri di sampan :)

Ini buah sengkuang. Tampilan mirip lengkeng, rasa asam manis, dimakan dengan garam (atau masako).

Pas berhenti untuk ambil titipan barang Credit Union, minta garam untuk makan sengkuang.


Kayu hanyut Pohon tumbang

Bahaya di sungai

Kayu hanyut Bebatuan, kadang tak tampak, ada dasar sungai.


Indah dan Damai Terima kasih Tuhan


Mgr. Riana sempat tidur dalam perjalanan.

Mendarat di Stasi Randau Limat

Sampan Pastor Ilwan perlu ditarik karena habis solar. Memamerkan hasil panen buah sengkuang.


Kunjungan perdana Mgr. Riana di Stasi Randau Limat

Ini merupakan kunjungan pertama Bapak Uskup ke Randau Limat yang hanya bisa dicapai dengan jalur sungai ketika airnya sedang pasang. Randau Limat yang memiliki sekitar 105 KK ini belum tersentuh oleh PLN dan sinyal. Upacara penyambutan ini adalah gabungan untuk Stasi Randau Limat dan Stasi Merabu.

Tumenggung menyerahkan mandau kepada Mgr. Riana untuk upacara pancung buluh muda.


Dalam sekali tebasan, buluh terpotong. Plok#


Tarian selamat datang Upacara menginjak telur

Upacara menari, diawali Uskup kemudian rombongan


Menuju Stasi Merabu lewat darat

Satu mobil pickup membawa Mgr. Riana (di depan), rombongan dan umat sejumlah 15 orang di bak belakang. Jalan hanya sejalur, kondisi parah. Di jembatan semua penumpang turun dulu untuk mengurangi beban kendaraan.

Perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki sejauh 500m

Di tengah jalan ada pohon roboh. Pak Harun dan Boby berhasil mengangkat pohon tersebut sehingga mobil bisa lewat.


Kunjungan Perdana dan Pemberkatan Kapel Stasi Merabu yang baru direnovasi

Pastor Ilwan CP didampingi pemimpin umat menyampaikan permohonan umat agar Mgr. Riana berkenan memberkati kapel yang selesai diperbaiki tsb.


Selubung nama gereja dibuka Mgr. Riana dan Pastor Ilwan CP. Pelindung yang dipilih adalah St. Paulus dari Salib.


Inilah sebagian umat Stasi Merabu. Merabu terletak paling selatan dari Paroki Sepotong. Belum memiliki listrik dan sinyal juga. Walaupun ini merupakan kunjungan perdana Mgr. Riana ke Merabu, tidak diadakan upacara penyambutan karena umat telah bergabung dalam penyambutan di Randau Limat.


Pulang dari Stasi Merabu lewat air

‘Kernek perahu’ memberi sinyal ada halangan kayu di depan.

Beberapa orang yang tadinya ikut mobil, memutuskan ikut sampan pulang ke Randau Limat.

Paul, mahasiswa KKN Unika Atma Jaya Yogyakarta asal Pulau Kei (Maluku Tenggara) turut membantu mendorong perahu melewati dahan yang melintang.

Sebanyak 105 mahasiswa Unika Atma Jaya Yogyakarta KKN di Keuskupan Ketapang dengan tugas melakukan pendataan umat di pedalaman. Mereka merupakan angkatan ke-5. Kerjasama Keuskupan dan UAJY sudah berjalan 2.5 tahun.


Kali ini bertemu rintangan kayu yang sudah dipotong. Kayu didorong ke tepian supaya sampan mudah lewat.

Perjalanan selanjutnya berlangsung tenang. Waktu tempuh 40 menit, lebih cepat 20 menit daripada waktu tempuh darat menggunakan mobil. Kalau jalan kaki perlu tiga jam.


Malam ramah tamah dilangsungkan di rumah Bpk Thomas, pemimpin umat.

Para tamu awalnya disuguhi kopi, teh, susu. Setelah acara resmi selesai, dilanjutkan dengan acara bebas dimana tuak disuguhkan terus menerus. Mike, mahasiswa KKN Unika Atma Jaya Yogyakarta asal Bangka Belitung minum 9 gelas. Hasilnya: teler keesokkan harinya. :) Tumenggung menjelaskan makna upacara adat selamat datang yang ditanyakan Mgr. Riana


Pemandangan dari belakang rumah inap

Kandang babi

Pohon cermai

Anak misdinar pulang dari mandi di sungai


Tong suling arak putih

Mgr. Riana setinggi pintu belakang :)


Gambaran umum rumah di Limat.

Lembaran karet alam yang telah dicampur cuka.

Pohon duku

Gumpalan karet alam yang tidak dicampur cuka. Harga lebih murah.

Pohon durian


Misa Krisma pukul 08.00 pagi di Kapel Stasi Randau Limat.


Mgr. Pius Riana Prapdi, kelahiran Paniai, Papua, 5 Mei 1967. Angkatan Mertoyudan 93, ditahbiskan sebagai imam diosesan Keuskupan Agung Semarang pada 8 Juli 1995.

Ditahbiskan sebagai Uskup Ketapang pada 25 Juni 2012 dengan motto Pelayanan dalam Kasih (Serviens in Caritate). Para misdinar dari Paroki Sepotong


Awalnya gereja dicat pink keseluruhannya sebelum diminta Pastor Ilwan cat ulang menjadi putih :)

Mgr. Riana berbincang hangat dengan mahasiswa KKN Unika Atma Jaya Yogyakarta: Mike, Imel, Keke.


Wajah anak-anak Randau Limat


Ibu Aron meletakkan selembar uang bersama beras dan telur untuk diberkati. :)

Mgr. Riana diminta memberkati patung perjamuan terakhir dan patung Yesus di rumah Bpk Aron.


Acara perpisahan alias sayonara

Wajib menari dan minum tuak lagi Main lagi sebelum acara dimulai OMK menyanyikan lagu yang mereka sesuaikan syairnya

Menari beramai-ramai


Meninggalkan Randau Limat menuju Selangkut Raya Rombongan minum seteguk tuak sebelum turun dermaga.


Perjalanan ke Stasi Selangkut Raya


Kunjungan Perdana Mgr. Riana di Selangkut Raya


Rangkaian upacara: menari, minum, diberkati (1) menaruh beras kuning di kepala, (2) percik air di kaki, (3) injak parang, pancung buluh muda.


Sementara Bapak Uskup dan Pastor diajak berbincangbincang oleh tuan rumah, rombongan duduk menikmati malam.


Menghadiri pemberkatan jenazah di rumah mertua katekis yang meninggal karena sakit.


Malam ramah tamah di rumah betang

Mgr. Riana mengadakan ice breaking guna membangkitkan para peserta yang hampir terlarut ditelan malam.


Saatnya tidur zzzzz...


Subuh hari ibuibu bangun mempersiapkan makanan.

Sarapan bubur lauk teri. Makan siang umbut kelapa, daun ubi tumbuk, dan daging babi masak dalam buluh.


Uskup, bakal pastor dan uskup, bakal frater. :)


Kapasitas gereja sudah tidak mampu menampung umat yang berjumlah sekitar 400KK. Penduduk desa berencana membangun gereja baru dalam waktu 4 tahun.


Potret anak Selangkut Raya

Ada lima yang bukan :)


Rumah betang, tampak depan dan tampak belakang


Setelah acara perpisahan, rombongan melanjutkan perjalanan kembali ke Paroki Sepotong untuk misa Tahun Baru.


Misa malam tahun baru di Paroki Sepotong


Acara malam tahun baru di Paroki Sepotong

Refleksi akhir tahun Mgr. Riana yang disampaikan 3 menit menjelang pergantian tahun: Tahun 2017 adalah tahun kesempurnaan. Kalau angka 2017 ditambahkan maka jumlahnya adalah 10. Angka 10 adalah angka kesempurnaan. Kata sempurna dapat kita temukan dalam Injil Mateus: "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." (Mat 5:48). Kalimat dengan struktur sama dapat ditemukan dalam Injil Lukas: "Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." (Luk 6:36). Jadi sempurna sama dengan murah hati. Karena apa yang kita alami selama 2016: suka duka, kecemasan dan harapan, kita sempurnakan dengan sikap murah hati. Marilah menyambut tahun baru 2017 dengan semangat murah hati terhadap Allah, sesama dan seluruh alam ciptaan.


Di hari pertama 2017, mengunjungi rumah orangtua Molly Paher dimana kakak ketiganya tinggal sekarang.

Mgr. Riana merasa pulang ke rumah begitu tiba di Paroki Sepotong. :)

Rumah kakak sulung Molly Paher, pensiunan kepala sekolah USABA.


Misa Tahun Baru 1 Jan 2017


Fashion baru anak-anak Sepotong. :) Mgr. Riana memberkati Rumah Doa Paroki Sepotong.

Fr. Dictus lagi merenungi resolusi tahun 2017?. :)


Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.. (Mat 11:29-30).

Luas Kalimantan Barat = 146.807 km2 = 1.13 kali luas Pulau Jawa.


Acara Makan Bararami Tahun Baru

Tiap keluarga membawa makanan untuk disantap bersama.

Acara biasanya berlangsung seharian.

Mgr. Riana perlu berkeliling mencicipi masakan keluarga yang hadir


Pastor Ilwan CP unjuk gigi menyanyi lagu ‘tidak semua lakilaki’ :)

Memberikan penghargaan untuk para juara lomba Paroki.

Hadiah roti sabda untuk anak-anak disambut antusias.


Bergegas berangkat lagi menuju Bengaras, lalu ke Sandai dengan tujuan Stasi Riam Dadap. Pelayanan dalam Kasih dimulai dengan senyum :)


Tiba di Bengaras


Ketemu teman lama.. si sinyal :) Pastor Ilwan langsung telpon koordinasi transportasi rombongan kecil (Uskup, Frater, pak Harun, kami) ke Sandai.

Senyum cerah Imel yang akhirnya bisa terima imel :) Mejeng bersama 3 motoris andal yang membawa rombongan selama ini :)

Halo halo mama.. saya baik-baik saja :)


Juice unik di Sandai :)

Lanjut speed boat dari Sandai ke Riam Dadap

Pak Dewanto, Camat Hulu Sungai ikut speed boat 40PK yang dikendarai Pak Yakin, Kades Riam Dadap. Kapasitas kapal hanya 5 orang. Pak Harun dan Fr. Dictus menempuh jalan darat.

Turun hujan deras, terpal dipasang sigap oleh Pak Kades.


Huk huk.. mesin bermasalah. Kapal menepi, Pak Kades menelpon bengkel tetapi mereka tak bisa datang. Puji Tuhan, setelah dibongkar dan pasang lagi, mesin normal. Hujan juga reda. :)

Sebagian sungai dipenuhi bebatuan. Perlu keahlian meliukkan kapal. Syukurlah Pak Kades memang layak menyandang nama Yakin :)

Ada bagian yang tenang berarti tidak ada bebatuan di bawahnya


Pantai pasir yang terbentuk gara-gara penambangan emas ilegal menggunakan perahu

Bukan kameranya yang miring :) Jalan kapal memang berkelok-kelok


Di tengah jalan, para penumpang turun karena ada riam. Kapal tidak boleh bermuatan terlalu banyak untuk bisa melintasinya

Uskup dan Camat yang tetap di dalam kapal.

Pak Paul Tan, anggota DPRD dari Sandai dan Romo Simon sudah menunggu 2 jam untuk dokumentasi riam.


Disambut umat dan hujan di Riam Dadap

Pastor Sepo CP, pastor Paroki Sandai menyambut rombongan.

Upacara pancung buluh muda hanya dilakukan di depan kapel karena ini bukan kunjungan perdana Mgr. Riana ke stasi Riam Dadap.

Setelah hujan reda, rombongan ke rumah inap keluarga Bpk Anom. Anaknya merupakan mahasiswa pertama dari Riam Dadap. Sudah lulus dari STIKES Panti Rapih, sekarang mencari pengalaman dengan bekerja di Riau.


Malam ramah tamah

Dalam setiap kunjungan ke stasi, Mgr. Riana selalu menyempatkan diri menyapa dan bermain dengan anak-anak yang biasanya hanya hadir di acara tanpa terlibat apa-apa.

Antusiasnya mahasiswa KKN Unika Atma Jaya Yogyakarta menyalami Mgr. Riana


Tamu agung disuguhi kepala babi rebus.

Main tebak kata. (1) urut abjad. (2) anak-anak diminta sebutkan kata-kata yang ada di dalam Kitab Suci dimulai dengan abjad yang muncul. Setiap kata diberi hadiah medali kecil Bunda Maria dari Swedia.


Upacara menyambut tamu yang pertama kali ke desa. (1) dilingkari tali pengikat jiwa yang diikat bandul daun sengkubak dan disimpul mati simbol diterima sebagai bagian komunitas desa. (2) gigit parang simbol semangat. (3) diberi beras kuning simbol diberkati supaya selamat dari mara bahaya.


Sambutan dan hiburan


Dua calon penerima sakramen krisma foto bersama Mgr. Riana

Keranjang-keranjang anyaman rotan digantung di langit-langit.

Frater menikmati rebusan daun ubi setelah disuguhi daging dalam setiap persinggahan.

River view dari ruang makan :)


Menuju gereja yang baru selesai direnovasi untuk diberkati

Semua alas kaki dilepas supaya lantai gereja baru tidak kotor. Belum ada kursi, maka umat duduk di tikar.


Romo Simon dan Pastor Niko ‘menjajal’ tongkat Uskup. :)


Walaupun tidak ada listrik dan sinyal, hp bukanlah barang langka di desa .


Berkat bagi anakanak dalam misa

Setelah misa, ada sesi foto bersama Uskup.


Mgr. Riana membagikan roti sabda kepada anakanak dengan pesan agar dihafalkan ayat yang tercantum sebelum dimakan.

Halaman gereja belum dikerjakan. Becek karena hujan. Roti sabda

Hore.. saya berhasil menghafalnya :)

Pak Harun, selain sebagai driver, juga setia menjaga perlengkapan Uskup.


Mendoakan orang sakit.

Memberi sumbangan kepada panitia pembangunan gereja.

Menghadiahkan satu set peralatan misa kepada stasi.


Perjalanan lanjut dengan sampan ke stasi Aur Gading untuk meninjau perpanjangan bagian altar kapel

Sambil menunggu pintu kapel dibuka, Mgr. Riana berkenalan dan berbincang dengan anakanak. Mereka diminta melafalkan doa Salam Maria dan Bapa Kami. Masing-masing diberi medali Bunda Maria dengan pesan agar ingat berdoa.


Setelah melihat renovasi dan foto bersama, rombongan singgah minum di rumah Ketua Umat sebelum melanjutkan perjalanan ke Sandai.


Serviens in Caritate

Kuatkan kami ya Tuhan supaya bisa mengemban tugas di medan penggembalaan yang luarbiasa ini. Amin


Romo Simon byuuur.. di perhentian riam


Perjalanan tenang ke Sandai

Main kata untuk latih otak :)

Meditasi :)


Bensin habis!

Pengalaman pertama Mgr. Riana mendayung :)


Aduh.. mengisi bensin sambil merokok

Pertolongan datang. Terima kasih pak :)


Tiba di Sandai


Singgah ke Paroki Sandai

Doa sebelum makan :)


Kembali ke Wisma Keuskupan Ketapang

Romo Atmo, sudah 15 tahun mengabdi sebagai projo Keuskupan Ketapang

Pak Ake, tokoh umat yang selalu memperhatikan kebutuhan Keuskupan.

Merayakan ulang tahun ke-68 Romo Lintas :)

Pukul 00.30 tanggal 3 Januari 2017, akhirnya rombongan tiba kembali ke Wisma Keuskupan. Puji Tuhan.


Terima kasih


Cerita bergambar turne bersama mgr pius riana prapdi 2016