Issuu on Google+

MATA NTT THE NTT’S PICTURE STYLE DR. Ir. Susilawati Cicilia Laurentia, MScHE

BERI DAKU SUMBA Gambaran perkampungan adat di sumba yang masih lestari dengan kekuatan budaya dan adat istiadatnya.

Warisan leluhur titipan anak cucu

kamera masa depan yang akan menyaingi teknologi DSLR. Kenapa?


MATA NTT | the NTT’s picture style Adalah sebuah wadah bagi para pecinta fotografi untuk mengeksplorasi dirinya dalam bentuk belajar, memamerkan hasil karya serta berbagi pengetahuan tentang fotografi sekaligus menunjukan keindahan dan kearifan dari alam dan kebudayaan Nusa Tenggara Timur (NTT). Ide untuk menerbitkan majalah ini tumbuh dari pesatnya kemajuan dunia fotografi di NTT. Fotografi yang dulunya hanya digeluti oleh sebagian orang yang menjadikannya sebagai profesi, mulai berkembang menjadi salah satu hobi dengan tingkat ketertarikan yang luar biasa. Fotografi mulai dipandang sebagai suatu bentuk penyaluran ekpresi dalam bentuk visual oleh para pencintanya. Bentuk penyaluran ekspresi inilah yang turut memperkaya dunia fotografi NTT bukan hanya dari segi jumlah tetapi juga jenis atau genre fotografi yang diminati. Dengan kondisi inilah maka MATA NTT akan selalu mencoba menampilkan hasil karya rekan-rekan pecinta fotografi NTT sesuai dengan gaya berfotografi ala anak NTT sekaligus mengeksplorasi kekayaan budaya dan pariwisata di Nusa Tenggara Timur. Untuk itu kami menanti kontribusi dari rekan-rekan semua dalam bentuk foto tunggal, foto essay, tulisan wisata, pengalaman perjalanan atau tulisan tentang budaya yang berlokasi di NTT dengan menyertakan informasi dan deskripsi foto.

Markus Ely Manafe

Wilson Therik

Danny Wetangterah

Wilfridus Ero

Ody Mesakh

Noya Letuna

Vico S.Patty

Ada sejumlah pilihan yang harus dipilih oleh MATA NTT serta ada juga pilihan yang harus dikorbankan, alasannya hanya satu agar MATA NTT terus eksis. Spirit adalah modal utama sejak MATA NTT pertama kali terbit, namun kami sadar bahwa spirit saja belumlah cukup, Pada sisi yang lain MATA NTT dikelola oleh anak-anak NTT pecinta fotografi yang rela karya foto dan tulisannya dimuat. Inilah pilihan pertama yang harus dilalui oleh MATA NTT diusianya yang masih sangat belia. Pilihan berikut adalah pergantian jajaran redaksi MATA NTT yang adalah hal biasa namun sesungguhnya ini adalah pilihan sulit yang harus dipilih/dikorbankan agar MATA NTT tetap terus eksis. Pilihan-pilihan ini lah yang sekaligus menjawab pertanyaan mengapa MATA NTT edisi Februari 2013 datang terlambat dan wajib hukumnya untuk kami katakan dari lubuk hati yang terdalam kami menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pembaca setia MATA NTT. Selanjutnya kami tetap berupaya untuk kembali hadir sebulan sekali tanpa “datang terlambat” lagi. MATA NTT tak akan ada artinya jika tak ada sumbangan karya fotografi yang luar biasa tentang negeri 1.192 pulau ini. Kami yakin dan percaya MATA NTT bisa terus eksis karena pembaca, mari kita katakan pada dunia lewat fotografi bahwa NTT adalah negeri yang exotic dengan pesona alamnya yang masih perawan.

Selamat menikmati MATA NTT edisi III. Salam

the NTT’s picture style


Bagaimana mengirimkan karya anda? MATA NTT adalah media fotografi yang terbuka bagi siapapun yang ingin berkarya, sehingga kami tidak membatasi olah digital yang dilakukan oleh fotografer asalkan setiap foto di bubuhi info dan deskripsi karya. Namun yang perlu diingat bahwa redaksi tidak akan menampilkan foto yang mengandung unsur pornografi, SARA atau bentuk provokasi negatif lainya. Karya yang dikirim merupakan karya sendiri dan bila merupakan karya orang lain maka sang pengirim harus telah mendapatkan persetujuan dari pemilik foto tersebut. Redaksi tidak bertanggung jawab atas penyalahgunaan hasil karya orang lain ataupun penyalahgunaan hak publikasi dari objek yang ditampilkan. Dengan mengirimkan foto ke majalah ini maka sang pengirim dinilai telah menyepakati ketentuan kami ini. Ukuran foto yang diterima oleh redaksi adalah foto yang memiliki ukuran sisi terpanjang 1024 px dengan Resolusi 200-300 dpi Karya foto dikirmkan ke: mata_ntt@yahoo.com

Kampung Waitabar

Pasola

Suster Susilawati

4

15

37

FOTO SAMPUL Oleh : Alexander Dunga

the NTT’s picture style


Surat untuk bidadari Karya: Umbu Nababan

                      Dps, agustus, 2011

the NTT’s picture style


© Ody Mesakh

Ody Mesakh | Canon PowerShot SX30 IS

Perjalanan saya kali ini untuk menikmati betapa eksotisnya Pulau Sumba dengan segala keindahan alam dan budayanya. Sudah banyak yang mengagumi keindahan pulau Sabana ini, dan inilah ajang pembuktian bagi saya.

untuk berkarya lewat “Surat Untuk Bidadari”.

Seorang sastrawan ternama, Taufiq Ismail menggambarkan lewat pilihan kata yang ia rangkai lewat puisinya “Beri Daku Sumba” telah sedikit memberi ciri sumba dan menggambarkan kerinduannya untuk kembali ke Sumba.

Dalam perjalanan kali ini saya akan berbagi tentang kampung adat Waitabar yang terletak di Kota Waikabubak, lewat jepretan Canon PowerShot SX30 IS yang setia menemani perjalanan saya kali ini.

Budaya dan adat istiadat sumba menarik perhatian Sutradara terkenal Indonesia Garin Nugroho

Tidak hanya sebagai magnet, Tanah Marapu ini telah melahirkan sastrawan kawakan dengan julukan “Presiden Malioboro” ia adalah Umbu Landu Paranggi.

Mari datang ke Sumba, Nikamti keindahannya, Pelajari kebudayaannya dan pulang dengan kerinduan layaknya rinduku dan si Taufik Ismail. the NTT’s picture style


Š Ody Mesakh

Rumah adat milik Yonatan Pajangi yang dihiasi deretan tanduk kerbau.

the NTT’s picture style


the NTT’s picture style


Š Ody Mesakh

Kampung Waitabar terletak di pusat kota Waikabubak kabupaten Sumba Barat. Dalam kampung Waitabar terdapat 39 rumah warga yang masih tradisional. Dalam bahasa daerah setempat di sebut Uma Ngaingo atau dalam bahasa terjemahannya disebut Rumah Alang-alang.

the NTT’s picture style


the NTT’s picture style


Š Ody Mesakh

Warisan peradaban Megalitik yang masih terus di jaga dan dilestarikan dengan baik.

Š Ody Mesakh

Motif tanduk kerbau sebagai bukti bahwa kerbau memiliki nilai adat tersendiri bagi masyarakat sumba

the NTT’s picture style


Š Ody Mesakh

Bentuk rumah panggung dan bertingkat dengan atap yang menjulang menjadi salah satu ciri khas arsitektur rumah adat masyarakat Sumba.

Š Ody Mesakh

Kubur-kubur yang terbuat dari pahatan batu alam di tengah perkampungan, memiliki nilai penghargaan yang tinggi kepada para leluhur. the NTT’s picture style


© Ody Mesakh

the NTT’s picture style


the NTT’s picture style


Š Ody Mesakh

Dalam kampung Waitabar kita bisa berbelanja kain tenunan tradisional yang di jual oleh warga kampung dengan harga berkisar antara seratus ribu rupiah sampai satu juta.

Š Ody Mesakh

Bapak Matius Muda Kolo, salah seorang penjual kain tenun sumba di Waikabubak Sumba Barat the NTT’s picture style


Š Ody Mesakh

Bocah Waitabar dengan kalung tradisionalnya. Bagi yang berminat untuk mendapatkan kalung -kalung etnik seperti ini bisa langsung membeli pada masyarakat di kampung Waitabar.

the NTT’s picture style


Alexander Dunga Setelah para Rato memutuskan hari dilangsungkannya pasola, padang sabana yang pada hari biasanya hanya diisi dengan suara langkah dan ringikan kuda, mulai ramai dengan sorak-sorai masyarakat sumba yang menyiapkan kuda dan tombak untuk memulai Pasola. Pria-pria dengan gagah duduk menunggangi kuda dengan beberapa tombak di tanggannya berlari dengan kencang dan menyerang “lawannya�. Teriakan-teriakan dengan semangat yang menggebu-gebu mengiringi lesatan tombak-tombak di udara.

Taka ada rasa marah atau dendam yang di bawa pulang dari kedua kubu, hanya suka cita dan rasa kebanggaan akan tradisi yang sangat unik dan bernilai ini. Dengan adanya ritual ini, persaudaraan semakin dipererat dan budaya tetap dilestarikan. Ritual yang menjadi salah satu ikon wisata Nusa Tenggara Timur ini tidak hanya menarik wisatawan lokal tetapi juga internasional untuk dating secara langsung menyaksikan atraksi perang masyarakat Sumba ini.

Š Alexander Dunga

the NTT’s picture style


© Alexander Dunga

the NTT’s picture style


© Alexander Dunga

© Alexander Dunga


© Alexander Dunga

the NTT’s picture style


the NTT’s picture style


Atraksi Pasola - Sumba | Alexander Dunga

© Alexander Dunga

the NTT’s picture style


the NTT’s picture style


© Alexander Dunga

the NTT’s picture style


Petani Oesoko-TTU| Ferry Zan the NTT’s picture style


© Ferry Zan

the NTT’s picture style


the NTT’s picture style


© Yoas Enzo

the NTT’s picture style


© Abdinilah Massa

© Iwan Puken

Potret Hari Tua | Pedagang kaki lima di pinggiran toko kota Larantuka, Flores Timur. the NTT’s picture style


© IFerry Zan

the NTT’s picture style


the NTT’s picture style


Tari Elang asal Kab. Alor - NTT the NTT’s picture style


Tarian Caci | Wilfridus Ero, Tarian asal Manggarai

the NTT’s picture style


the NTT’s picture style


© Simon Nani

Sunrise, view dari Weri, Larantuka—Kabupaten Flores Timur

Sunset di Kawaliwu, Kabupaten Flores Timur-NTT

the NTT’s picture style


Pagi di Desa Pamakayo, Pulau Solor –Kabupaten Flores Timur, NTT

Simon Nani Pria kelahiran Sumba yang sekarang mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil di Kabupaten Flores Timur ini mulai tertarik pada dunia fotografi di awal 2012. Belajar secara otodidak melalui jejaring sosial membuatnya lebih terbuka untuk saling belajar dan menerima masukan bagi kemajuan kemampuan fotografinya. Jebolan Kedokteran Hewan UGM Yogyakarta ini enggan untuk disebut sebagai fotografer karena ia hanya senang mengabadikan keindahan lewat foto-foto yang ia anggap sebagai salah satu cara mengagumi Kebesaran Tuhan yang menciptakan dunia ini. Lewat fotografi, ia lebih menghargai alam dan sesama serta memiliki sempatan untuk bersosialisasi dengan lebih banyak teman sehobi. Harapannya agar melalui fotografi NTT makin dikenal lebih luas dan kita makin menghargai apa yang dimiliki NTT dengan kekayaan budaya dan keindahan alamnya.

the NTT’s picture style


the NTT’s picture style


bukit Kawalelo (Pulau Flores), diliat dari pulau Solor Kabupaten Flores Timur-NTT

the NTT’s picture style


DR. Ir. Susilawati Cicilia Laurentia, MScHE Tidak banyak orang yang berjiwa besar untuk mau mengabdikikan dirinya di daerah yang tergolong terpencil; apalagi dengan gelar pendidikan yang cukup tinggi dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi bila di aplikasikan di daerah yang lebih maju dan berkembang. Dari segelintir orang-orang ini, suster Susi adalah salah satunya. Sukses meraih gelar Doktor dari Kampus Pascasarjana Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) tidak lantas membuatnya lupa akan Nusa Tenggara Timur. Menjadi seorang ahli Sumber Daya Air membuatnya semakin termotifasi utnuk mewujudkan mimpinya menghijaukan salah satu pulau di selatan Indonesia, Pulau Sabu. Suster yang sekarang juga menjadi Dosen Fakultas Teknik di Universitas Katolik Widya Mandira, Kupang, ini menaruh perhatian besar pada persoalan kekeringan yang kerap terjadi di kawasan terpencil Pulau Sabu dan Raijua, NTT. Disertasinya, Pengelolaan Air Hujan untuk Pertanian pada Pulau Kecil di Kawasan Kering Indonesia, dalam sidang promosi doktor di Unpar ditujukan untuk membantu mengatasi kekeringan yang menjadi momok bagi warga Sabu dan Raijua. Latar belakang yang unik dan tidak biasa di kalangan biarawati inilah yang membuat dia terus mengalami pergumulan batin yang hebat. Pada 1981, ketika masih kuliah di Universitas Diponegoro (Undip), ia masuk keprovinsial (PI) untuk memenuhi ”panggilan” hidupnya. Niatnya ini sempat ditolak keras oleh orangtuanya. Hal ini pun berimbas pada statusnya yang mengambang di PI saat itu. ”Pada tahun 1983 saya diterima mengajar di Politeknik Undip. Status di PI masih tidak jelas, tetapi juga tidak dikeluarkan. Namun, dua tahun berikutnya saya pun

the NTT’s picture style

memilih berhenti mengajar dan full di biara,” ucap wanita yang biasa disapa Suster Susi ini. Pada 1994, Susi kembali ke dunia akademis, mengajar di Unika Soegijapranata, Semarang, atas tawaran langsung dari Paulus Wiryono T SJ yang ketika itu menjabat rektor (sekarang Rektor Unika Sanata Dharma, Yogyakarta). Di sini ia mendapat beasiswa S-2 ke Universitas Delft, Belanda. ”Awalnya tidak dibolehkan oleh PI. Tapi, akhirnya diizinkan juga setelah provinsial diyakinkan oleh beberapa pihak,” ucapnya. Tahun 1996 ia pun berangkat ke Belanda. Pada 1998 ia kembali ke Indonesia, yaitu Timor Timur, untuk mengerjakan tesisnya di bidang hidroteknik. Sejak 2002 Susi memilih pindah bertugas di Kupang setelah mengetahui Ordo PI membuka cabang baru di sana. Di daerah ini ia menyadari bahwa potensinya sebagai biarawati sekaligus ilmuwan bisa difungsikan maksimal. Untuk mengasah ilmu hidrotekniknya, selain ke Belanda, dia juga berkunjung ke Malang, Jawa Timur, dan Bandung, Jawa Barat. Sejak 2006 ia kerap bolak-balik Kupang-Sabu dan Raijua untuk mengembangkan risetnya, bersamaan dengan mengambil program doktor di Unpar. Saat berkeliling di Pulau Sabu, ia terenyuh melihat kondisi masyarakat setempat yang kebutuhan pangannya bergantung pada daerah lain. Karena tanah yang tandus dan ekstremnya kondisi cuaca, di mana kekeringan bisa terjadi di sepanjang tahun, tanaman pangan yang membutuhkan cukup air—seperti padi dan jagung—sangat sulit tumbuh di sana. ”Yang ada hanyalah pohon lontar dan beberapa palawija, seperti sorgum dan kacang hijau. Tetapi, tidak jarang warga


Survey jebakan air di Ds. Daieko

gagal panen karena kekeringan,� ucap biarawati yang lebih Konsep ini sekaligus merupakan penyempurnaan sistem emmemilih berpakaian kasual saat berada di luar biara ini. bung (waduk kecil) yang dikembangkan pemerintah daerah setempat selama 20 tahun terakhir. �Beberapa embung tidak Kondisi wilayah yang sulit dijangkau kian memperberat kondisi lagi berfungsi karena penuh dengan sedimen, sementara yang ekonomi warga setempat. Dari Kupang ke Sabu butuh waktu lainnya kosong karena dimensinya tidak sesuai dengan daerah perjalanan 15 jam dengan feri. Itu pun hanya ada seminggu tangkapan hujan,� paparnya. sekali. Jika sedang musim angin barat dan timur, praktis tidak ada transportasi umum karena ombak sangat besar dan berba- Sentuhan teknologi haya. Sistem embung yang telah dikembangkan ini juga tidak Menyadari beratnya kondisi ekonomi di pulau kecil itu, Susi mendapat dukungan memadai dari masyarakat pengguna. bertekad mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk meneliti Sebab, pendekatan pengelolaannya masih bersifat top-down. sistem pengelolaan terpadu air hujan untuk pertanian. Dengan kata lain, pengelolaan pemanfaatan air hujan di Pulau Sabu-Raijua selama ini dinilainya masih jauh dari sentuhan Biarawati peraih NTT Academia Award Tahun 2009 ini teknologi dan, yang lebih buruk, pendekatannya pun elitis. mengembangkan konsep pemanfaatan model pengelolaan air hujan untuk pertanian yang terintegrasi dengan sistem prasa- Untuk itu, dalam aplikasi studinya, ia memanfaatkan kearifanrana, operasional dan pemeliharaan, kelembagaan, serta pem- kearifan lokal yang telah lebih dahulu tumbuh. Ini misalnya berdayaan masyarakat dengan sistem informasi manajemen pembuatan jebakan-jebakan air atau cekdam-cekdam kecil terpadu. Dia meyakini, hanya dengan integrasi ini kekeringan berantai serta sumur-sumur gali yang telah digunakan di Desa di pulau kecil itu bisa diatasi secara teknis. Daieko yang terletak di ujung barat Pulau Sabu. Dengan alat berbasiskan data dan sistem informasi yang dikembangkannya, dapat ditentukan secara tepat teknis dan posisi keberadaan jebakan-jebakan air. Prasarana semacam ini relatif lebih murah ketimbang membangun embungembung yang hasilnya belum tentu juga efektif. Dengan segala usaha dan kerja kerasnya, Susi bertekad mewujudkan mimpinya menghijaukan Pulau SabuRaijua.

Disadur dari : Kompas, 14 Desember 2009 Memasang alat ukur curah hujan di desa Daieko

the NTT’s picture style


Dokumentasi Kegiatan di Pulau Sabu dan Raijua

the NTT’s picture style


Dermaga Seba, Kabupaten Sabu-Raijua Foto oleh : DR. Ir. Susilawati Cicilia Laurentia, MScHE

the NTT’s picture style


Rubrik Tanya Jawab & Sharing Via Facebook : Mata Ntt Pertanyaan Bagaimana penggunaan, settingan,dan fungsi aksesories flash external pada kamera DSLR? Jawaban Dedi Ndoen

Pang Hwai Seng Belajar fotografi 1977 dengan bapak WS .Nardi dan bapak Prof.Drg. Soelarko. Aktif ikut salon foto indonesia mulai 1981, meraih A.FPSI *****(5 star) ,tahun 2012.

Dalam situasi pemotretan baik outdoor maupun indoor, sering muka objek lebih gelap dari background, ini saatnya tambah external flash, soal setting di sesuaikan kondisi lapangan. Kekuatan Flash ikut ukuran cahaya ruangan. Misalkan ruangan F 5 ,kekuatan flash cukup F 4 ,hasilnya gambar tampil bagus tanpa kelihatan pakai Flash.

Gambar 1 : (Indoor) Situasi sama kalau Outdoor,cuma diperlukan Flash yang cukup kuat untuk mengimbangi F 11.

Semoga bermanfaat...selamat mencoba. Terima kasih.

Gambar 2: (Outdoor) the NTT’s picture style


Yahdi Mayasya (MATA NTT tidak hanya hadir sebagai sebuah majalah photography, tetapi juga sebagai knowledge management yang memungkinkan para photographer untuk saling belajar dan berbagi ilmu)

Meskipun pada kebanyakan kamera DSLR memiliki merata. Teknik ini cocok digunakan dalam ruangan flash internal yang dapat digunakan sebagai cahaya yang kecil. tambahan, tetapi keberadaan flash external sangat 3. Direct flash, teknik ini dilakukan dengan dibutuhkan untuk mendapatkan gambar yang baik. Hal mengarahkan cahaya langsung pada objek. Hasil ini dikarenakan fitur flash internal yang sangat yang didapatkan cenderung “hard” atau keras. sederhana sehingga tidak memungkinkan untuk Kebanyakan Fotografer menghindari teknik ini. memanupulasi cahayanya. Namun untuk pemotretan outdoor ketika teknik bouncing dan diffuse light tidak memungkinkan, Flash external memiliki kelebihan dalam memanipulasi teknik ini bisa menjadi alternative. cahaya, baik dari segi kekuatan cahaya (intensitas) 4. Off-camera flash (strobist), teknik ini biasa maupun memanipulasi arah datang cahaya secara ondigunakan oleh photographer untuk camera ataupun off-camera. Hal ini memungkinkan memanipulasi arah cahaya. Untuk menggunakan seorang photographer untuk mendapatkan foto yang teknik ini, diperlukan suatu alat yang biasa lebih “nyeni”. disebut remote trigger. Alat ini berfungsi untuk Beberapa teknik penggunaan flash external : menghubungkan kamera dengan flash. Teknik ini dapat menghasilkan foto menjadi lebih terlihat 3 1. Bouncing, teknik ini merupakan salah satu metode dimensi. Selain itu, teknik ini memungkinkan untuk mendapatkan foto dengan cahaya yang seorang photographer menggunakan lebih dari 1 merata dan lembut pada pengambilan dalam flash dalam sesi pemotretan. ruangan. Cahaya flash dipantulkan ke langit-langit Flash external yang beredar di pasaran umumnya ruangan sehingga cahaya yang jatuh ke objek akan ada 2 macam, yang pertama flash dengan mode lebih merata. Teknik ini cocok digunakan pada manual dan yang lainnya flash dengan teknologi ruangan yang memiliki langit-langit rendah. otomatis (E-TTL pada canon dan 3D matrix pada 2. Diffuse light, teknik ini juga merupakan salah satu Nikon). metode untuk mendapatkan foto dengan cahaya yang merata dan lembut. Cahaya diredam dengan menggunakan diffuser atau omnibounce, sehingga cahaya yang jatuh pada objek akan terfiltrasi dan Untuk flash external yang memiliki teknologi E-TTL / 3D Matrix, Fotografer tidak perlu dipusingkan untuk mensetting flash, teknologi ini memungkinkan sebuah kamera untuk mengukur intensitas cahaya flash yang diperlukan berdasarkan Ambient Light (cahaya ruangan) dan jarak objek. Sedangkan untuk flash external manual, Fotografer perlu mengatur kekuatan cahaya yang dikeluarkan oleh flash.

Gambar 1 : Menggunakan Flash Internal, cahaya terlalu keras menyebabkan detil hilang. Gambar 2 : Menggunakan flash external dengan teknik bouncing, cahaya lebih merata dan lembut namun detil tetap terlihat jelas.

1

2

the NTT’s picture style

Copyright 2013 Yahdi Mayasya

Biasanya sebelum memotret dengan menggunakan flash manual, saya terlebih dahulu melakukan uji coba melakukan beberapa shoot dengan kekuatan flash yang berbeda sampai mendapatkan settingan yang diinginkan. Sedangkan settingan kamera, saya biasa menggunakan mode “M” dengan shutterspeed antara 1/100 sampai 1/125 dan ISO 400. Hal ini memungkinkan saya untuk mendapatkan foto pada objek yang cukup cepat namun tetap terlihat terang.


Langit Senja | Adhyt Sa, Langit sore yang dramatis di Waikelo—Sumba Barat Daya,NTT the NTT’s picture style


© Adhyt Sa

the NTT’s picture style


Oleh : Danny Wetangterah http://dannywetangterah.com

Banyak yang memprediksi, Teknologi kamera digital mirorless adalah teknologi kamera masa depan yang akan menyaingi teknologi DSLR. Kenapa?

Saya membayangkan ini yang terjadi ketika mereka merancang kamera mirorrless; seorang perancang teknologi kamera sedang duduk di dekat sebuah taman, sambil menikmati suasana yang tenang ditemani segelas kopi hangat; sang desainer pun berpikir mencari inspirasi: bagaimana membuat sebuah kamera dengan kemampuan sekelas DSLR pada body seramping kamera poket? Bagaimana agar sebuah kamera dengan kemampuan maksimal tidak berada pada body yang besar dan berat seperti DSLR? Lalu, ting!! sebuah “lampu ide” muncul di kepala sang desainer. Dia berkata; “A..ha, hilangkan saja cermin-nya! “Tentu imajinasi saya tentang desainer kamera di atas belum tentu benar. Tapi kesan “body poket, kemampuan DSLR” memang yang terasa ketika kita menggenggam kamera Mirrorless. Kecil, kemampuan (hampir) setara DSLR, bisa ganti-ganti lensa lagi!

the NTT’s picture style

Sedikit tentang teknologi kamera digital. Okay, sebelum lebih jauh mari kita sedikit mengenal teknologi kamera digital dari simpulan yang saya kumpulkan dari berbagai sumber.Berdasarkan kemampuannya memproduksi gambar/citra maka teknologi kamera digital ada beberapa macam. Yang paling terkenal adalah teknologi DSLR. DSLR adalah kependekan dari Digital Single Lens Reflex. Ciri khas dari teknologi ini adalah, DSLR menggunakan mekanisme cermin yang disebut “pentaprism (pentaprisma)” untuk merefleksikan gambar yang ditangkap oleh lensa menuju ke “jendela bidik” atau yang kita kenal dengan view finder. Ketika tombol “shutter” di tekan, maka pentaprisma akan berayun (flip-up) dan membuat citra yang ditangkap lensa diteruskan ke sensor digital dibelakang cermin.


Gambaran cara kerja DSLR dan cara kerja mirrorless bisa dilihat di gambar di samping. Kiri, adalah DSLR dan kanan adalah cara mirrorless bekerja menghasilkan citra.

Mekanisme pentaprisma dan view finder membuat tubuh DSLR tak mungkin semungil kamera poket. Karena DSLR membutuhkan ruang yang cukup pada body kamera untuk pergerakan pentaprisma ketika citra diteruskan ke sensor, juga ruang untuk mekanisme jendela bidik. Karena itu untuk mendapatkan body yang mungil maka, mekanisme cermin pentaprisma dan view finder kemudian “dibuang”, jadilah model kamera Mirrorless. Kira-kira seperti itulah cara mudah memahami perbedaan mendasar dari teknologi DSLR dan Mirrorless. Untuk fitur-fitur yang lain cenderung sama. Bahkan Mirrorless bisa berganti lensa pula! Bahkan dengan “adapter” lensa yang dipakai di DSLR bisa dipakai di Mirrorless. Makanya dia disebut mirrorless interchangeable-lens camera (MILC).Produsen kamera pun punya istilah masing-masing dalam mengistilahkan teknologi Mirrorless. Jelasnya bisa dibaca lewat wikipedia, Selain teknologi DSLR dan Mirrorless, ada juga teknologi lain, misalnya rangefinder yang dikembangkan produsen Leica. Untuk fitur standar seperti kemampuan menghasilkan RAW, kualitas gambar JPG, penanganan ISO, kualitas video full HD, “scene” memotret, metering, fokus dan pengaturan manual pada kamera Mirrorless memang tak beda seperti pada DSLR. Makanya, untuk bagian ini saya ingin memfokuskan pada dua kemampuan penting yang membuat teknologi Mirrorless akan bersaing dengan DSLR, yaitu: Sensor dan Kecepatan. Pada fitur inilah menurut saya kedua sistem ini akan “berperang”.

Sensor Sensorlah yang bertugas menangkap dan mengolah citra. Kualitas citra ditentukan dari kualitas dan besaran sensor. Semakin besar sensor, kualitas citra dan kemampuan menangani noise akan semakin bagus. Itulah makanya, citra yang diambil kamera poket, berbeda dengan DSLR Amatir (bersensor APSC). Juga kenapa citra yang diambil DSLR Ama-

tir dan DLSR professional (yang bersensor fullframe) berbeda kualitas. Tentang ukuran sensor dapat dilihat pada gambar ini:

Kecepatan Kecepatan yang dimaksudkan adalah, mulai dari kecepatan autofocus (reaksi), kecepatan “frame-per-second” sampai kecepatan sensor memproduksi citra. Memang dari banyak sumber yang saya baca- Mirrorless perlu memperbaiki kemampuannya menangani objek yang bergerak cepat. Ini akibat hilangnya cermin pantul seperti pada teknologi DSLR. Keberadaan cermin ini juga membantu tingkat kecepatan reaksi autofocus di DSLR. Menurut Arbain Rambey, wartawan dan fotografer senior Kompas lewat twitternya menjelaskan bahwa dalam pengujian, kala semua kondisi setara (harga, tahun produksi, sensor, kondisi subjek, pencahayaan, dll) mirrorles kalah dari DSLR dalam kecepatan “frame per second“. Itu pun karena mesin Mirrorless lebih kecil dibanding DSLR. “Frame Per Second” adalah istilah yang mewakili kemampuan kamera menangkap “frame” gambar dalam satuan detik. Jadi yang mana yang bagus? wah soal bagus tidaknya kamera itu relatif. Bagus tidaknya kamera buat penggunanya tak hanya karena soal mutu teknis hasil fotonya. Harus dipertimbangkan juga soal kemudahan membawa (ringan atau berat), kemudahan asesori, servis dan tentu peruntukkannya. sumber foto: - http://www.hardwarezone.com.sg/files/img/2012/09/mirrorlessdisrupt01.jpg - http://www.motoyuk.com/wp-content/uploads/2012/03/dslr_vs_mirrorless.jpg - Wikipedia

the NTT’s picture style


KALENDER BUDAYA NTT Maret

PROSESI JUMAT AGUNG Dari Kabupaten Flores Timur. Prosesi ini diawali pada akhir Maret hingga awal April. Devosi terhadap Bunda Maria yang dilakukan oleh seluruh umat Katolik di Kota Larantuka, juga ada yang berasal dari luar daerah yang dilakukan secara turun temurun sejak abad XV yang lalu. Dan masih ada atraksi penunjang yaitu melihat dan berkunjung ke Kampung tradisional Muda Keputu, Kawaliwu Riang Kemie dan Wurek Adonara Barat dan Kongo.

April

PERBURUAN IKAN PAUS LAMALERA, Kabupaten Lembata. Upacara tradisional dan keagamaan Penangkapan Ikan Paus atau Ikan Klaru dari Kecamatan Wulan Desa Lamalera, Kabupaten Lembata. Upacara berburu Ikan Paus oleh masyarakat dilaksanakan pada Bulan April atau Mei. Objek dan daya tarik wisata lain disekitarnya, yakni Pantai Pasir Putih Desa Bean, Desa Pasir Putih dan Musium tradisional Ikan Paus di Desa Benhading Kecamatan Wai Riang. BUI IHI HOLE Sabu, Kabupaten Kupang. Yaitu upacara pengucapan syukur panen yang dirayakan dengan pertandingan Pehere Jara yang diiringi dengan musik tradisional seperti gong dan tambur disertai alunan syair dan lagu-lagu daerah. Sesudah acara pelepasan perahu Hole diikuti pementasan pertandingan perang tradisional, sabung ayam dan pada malam harinya diadakan tarian Padoa.

OCDBeach Lasiana, Kupang-NTT

Š Markus Ely Manafe

the NTT’s picture style


SAHABAT FACEBOOK Bagi rekan-rekan fotografer yang ingin berkunjung ke Nusa Tenggara Timur dan ingin mendapat info lebih banyak tentang daerah tujuan maka depat menghubungi teman-teman di bawah ini. Mari pererat persahabatan lewat fotografi.

Kupang

Adhyt Sa

Sumba

Yushe Dunga

Maya Susetyo

Joni Trisongko Joni Photocolor

Lembata

Aldino Hadi Alkatiri

Rote

Wilson Therik

Ayank Chaniago

Maumere

Wily Otak Mofers

Yoas Enzo

Pande Putu Hadi Wiguna

Teddy Johannis Rikky Saba

Alor

Abdinillah Massa

Manggarai

Daeng Irman

Atambua, Belu

Ferry Zan

Him 'movic' Massa

the NTT’s picture style


Mata NTT_The NTT's Picture Style Edisi III