Issuu on Google+

KHUTBAH IDUL ADHA 1430 H. (Jum’at, 28 Nopember 2009) SEMANGAT BERQURBAN MEMBANGUN PERADABAN UTAMA UMMAT (Prof. Dr. H. Marzuki Noor, M.S)

‫ب‬ َ ‫صَد‬ ْ ‫ باَْلَحْمُد ِّلِ بالِّذ‬, ‫باَْلَحْمُد ِّلِحْلَا‬ َ ‫ َوأََعحّز ُجْنحَدهُ َوَهحَزَم باْلَْححَزبا‬.‫صحَر َعْبحَدُه‬ َ َ‫ق َو ن‬ َ ‫ي‬ .‫َوْحَدُه‬ َ َ َ .‫سْولُُه‬ ْ ‫ َو أ‬, ‫شَهُد أْن َل إِلَهَ إِّل اُحْلَا‬ ْ َ‫أ‬ ُ ‫شَهُد أّن ُمَحّمًدبا َعْبُدهُ َوَر‬ ْ َ‫س حلّْم َوبَححراِرْك َعلَحح ى ُمَحّم حٍد َو َعلَحح ى آلِ حِه َو أ‬ ُ‫ص حَحبِِه َو َم حْن تَبَِع حه‬ َ ‫ص حلّْي َو‬ َ ‫َباللُّه حّم‬ .‫سراٍن إَِل ى يَْوِم باْلَْبَق ى‬ َ ‫بِإِْح‬ َ َ َ .‫ فَيراِعَبراَد اِ باِّتحقُْوبا اَ فقَْد فراَز باْلُمتّقُْوَن‬, ‫أََمرا بَْعُدحْلَا‬ : ‫َقراَل اُ تََعراَل ى فِْي باْلقُْرآِن باْلَكِرْيِم‬ () ‫شرانِئََك ُهَو بالْبتَُر‬ َ ‫صّل لَِربَّك َوباْنَحْر )(إِّن‬ َ َ‫إِّنرا أَْعطَْيَنراَك باْلَكْوثََر )(ف‬ .‫ َو لِّلحِه باْلَحْمِد‬, ‫ َاُ أَْكبَُرحْلَا‬, ‫ َاُ أَْكبَُرحْلَا‬, ‫َاُ أَْكبَُرحْلَا‬ Jama’ah Sholat Ied Rahimakumullah, Puji Syukur kita panjatkan ke hadirat Illahi Robbi, pagi yang cerah ini Allah melimpahkan Rahmat, Taufiq dan HidayahNya kepada kita semua, sehingga kita dapat menghadiri sidang jama’ah ied ini. Pada kesempatan ini Khatib mengajak jama’ah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita, seiring dengan kegembiraan ummat islam bahwa: Hari ini Ummat Islam di seluruh penjuru dunia menggemakan takbir, tahlil dan tahmid, memuji dan mengagungkan AsmaAllah. Seruan dan panggilanmu untuk berhaji di bulan haji ini telah memanggil jutaan ummat islam di dunia ini untuk berihram, tawaf, syai dan wukuf, dan tahalul. Allahu Akbar 3x Walillahilhamd. Jamaah Ied Rahimakumullah: Menata hidup dan kehidupan di dunia ini bahkan hingga menuju kehidupan akherat kelak sesungguhnya telah diperintahkan dan dituntunkan Allah melalui Al Qur’an, dan diteladankan oleh Rasulullah SAW. Menerusperjuangkan tugas kerisalaahan (mission profetis) adalah menjadi kuwajiban ummat Muhammad SAW. Konsepsi keumatan (masyarakat utama) yang diharapkan adalah terwujudnya khairo ummah (Al’Imran, 110), Ummatan wasatho (Al Baqarah, 143), dan ummah wahidah (Al Baqarah, 213). Masyarakat utama itu akan melahirkan peradaban utama, sebagai produk dari gerakan da’wah islam (tajdid/ pembaharuan, dan tajrid/ pemurnian aqidah islam. Suatu kondisi ummat dimana maysrakat memiliki integritas yang tinggi dengan akumulasikan sifat siddiq, amanah, tablegh, dan fathonah

1


serta mujahadah, mereka mempresentasikan muslim yang kaffah, istiqomah, dan mengimplementasikan nilai-nilai islam sebagai rahmatan liul’alamiin. Dengan semangat ber Qurban mari kita bangun “Peradaban Utama” Ummat, kita sebagai actor pembangun ummat kita rancang arah, dan isi, dan cara perubahan peradaban ummat ini, menuju khoiro ummat, ummatan wahidah dan ummatan wasatho. Rancang bangun Struktur” Peradaban Utama Umat” mencakup konstruk individu, konstruk keluarga, konstruk qoryah, konstruk baldah, dan system dunia. Bagaima kita mewujudkan rancang bangun “Peradaban Utama Umat” ini? Membangun “Peradaban Utama” dalam Konstruk Individu. Puncak peradaban utama konstruk individu adalah “Syahsiyah Islamiah”. Sebagai individu, masing-masing kita dituntut menjadi diri kita sendiri yang Syakhshiyah Islamiayah, yaitu individu yang berkepribadian islam yang kaffah, utuh, paripurna dan memiliki akhlakul karimah. Menjadi manusia yang “Rabani” (Al Imron, 79), dan manusia yang bajik/ soleh (Al Baqoroh, 177). Allah berfirman dalam surat Surat Al Imron, 79:

ّ ُ‫شٍر أَْن يُْؤتِيَه‬ ‫س ُكوُنوبا ِعَبراًدبا‬ َ َ‫َمرا َكراَن لِب‬ َ ‫اُ باْلِكَترا‬ ِ ‫ب َوباْلُحْكَم َوبالّنبُّوةَ ثُّم يَُقوَل ِللّنرا‬ ّ ‫ِلي ِمْن ُدوِن‬ ‫ب َوبَِمححرا ُكْنتُحْم‬ َ ‫اِ َولَِكحْن ُكونُححوبا َربّححرانِّييَن بَِمححرا ُكْنتُحْم تَُعلُّمححوَن باْلِكتَححرا‬ ‫سوَن‬ ُ ‫تَْدُر‬ Yang artinya: Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kita, hikmah dan kenabian, lalu ia berkata kepada manusia “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah” Akan tetapi ia berkata “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkanAl Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya (Al-Imron, 79). Untuk menjadi Manusia Robbani; (1) Akidahnya selamat (Salimul Aqidah), (2) Ibadahnya benar (shahihul ibadah), (3) Akhlaknya mulia (matiinul khuluk), (4) Kuat dan sehat Fisiknya (qowiyyul jismi), (5) Wawasannya luas (mutsaqqoful fikri), (6) Berjihat terhadap dirinya sendiri (Jihadun lii nafsi), (7) Mampu menjaga dan mengelola waktu (Harisun’ala waqtihaa), (8) Mampui berdiri di atas kaki sendiri (Qidirun ’ala Kasbi), (9) Bagus menyelesaikan urusannya, tahu prioritas (Husnu Lii Syu’unihi), (10) Bermanfaat bagi manusia (Anfa’u Linnas).

2


Menjadi individu yang syahsyiyah (Bajik/ Soleh) telah dituntunkan dalam surat Al Baqarah, 177:

‫ل‬ ْ ‫س باْلبِّر أَْن تَُوّلوبا ُوُجوَهُكْم قِبََل باْلَم‬ َ ‫لَْي‬ ِ ّ ‫ب َولَِكّن باْلبِّر َمحْن آَمحَن بِححرا‬ ِ ‫ق َوباْلَمْغِر‬ ِ ‫شِر‬ ‫ب َوبالنّبِّييَن َوآَت ى باْلَمراَل َعَل ى ُحبّ حِه َذِوي باْلقُْربَحح ى‬ ِ ‫َوباْليَْوِم بالِخِر َوباْلَمالئَِكِة َوباْلِكَترا‬ ‫صالةَ َوآتَحح ى‬ ّ ‫ب َوأََقراَم بال‬ ّ ‫سِبيِل َوبال‬ ّ ‫سراِكيَن َوباْبَن بال‬ َ ‫َوباْليََتراَم ى َوباْلَم‬ ِ ‫سرائِِليَن َوِفي بالّرَقرا‬ ‫ضّرباِء َوِحيَن‬ ّ ‫سراِء َوبال‬ ّ ‫بالّزَكراةَ َوباْلُموُفوَن بَِعْهِدِهْم إَِذبا َعراَهُدوبا َوبال‬ َ ْ‫صرابِِريَن ِفي باْلبَأ‬ ‫صَدُقوبا َوُأولَئَِك ُهُم باْلُمتُّقوَن‬ َ ‫س ُأولَئَِك بالِّذيَن‬ ِ ْ‫باْلبَأ‬ Yang artinya: ” Bukanlah kebajikan itu memalingkan mukamu ke arah timur dan barat. Tetapi orang baik/ saleh itu adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, kepada malaikat, Al Kitab, dan para Nabi, dan memberikan harta benda kepada kerabat, anak yatim dan orang miskin kepada orang terlantar dalam perjalanan, dan orang peminta-minta. Dan dalam usaha memerdekakan hamba sahaya, mendirikan solat dan membayar zakat. Orang yang memenuhi perjanjian, jika mereka membuat perjanjian, dan orang yang bersabar dalam kemelaratan, dalam penderitaan dan semasa peperangan, mereka orang-orang yang benar, merekalah orang taqwa (Al Baqarah, 177). Potensi kita menjadi individu berperadaban utama mencakup kekuatan aspek Afeksi, Kognisi, dan Konasi. 1. Kekuatan Afeksi: membutuhkan pengorbanan yang cukup besar untuk mebangun mental/ emosi kita sehingga menjadi jernih, suci (Zero mind, zero base, bening hati) kita hindarkan parsangka-prasangka buruk, karena prasangka itu dosa, kita bangun kesadaran kritis kita, kita kendalikan suasana hati kita, kita perteguh keimanan kita (rukun iman), dan mari kita ciptakan tata surya nilai dalam jiwa kita dan kita tempatkan hati nurani kita sebagai titik pusat peredaran sehingga melahirkan akhlakul karimah, terbangun manusia yang muhklis. 2. Kekuatan Kognsi: membutuhkan pengorbanan material, tenaga, waktu yang besar untuk membentuk pikiran-pikiran yang jernih. Mari kita isi dan kembangkan pikiran jernih kita, kita susun panduan pikiran kita, kita rancang ulang muatan-muatan pikir kita, ditentukan sumber-sumbernya, ditentukan standar-standar kebenaran pikiran kita, kita tentukan langkah metodologis/ caranya, kita arahkan kemanfaatannya. Dan marilah semua aspek ini kita fokuskan titik edarnya pada pikiran kita yang selalu didasarkan pada kebenaran ilahiyah, sehingga akan menghasilkan pikiran-pikiran cerdas, terebas dari kesalahan. 3. Kekuatan Konatif: membutuhkan pengorbanan yang besar untuk membangun kekuatan konasi (tenaga/ otot). Membutuhkan intek gizi yang cukup, membutuhkan ketangkasan dan skill yang tinggi untuk menjadi pekerja keras.

3


Mari kita atur besaran tenaga yang akan kita butuhkan, kita siapkan berbagai keterampilan baru, standar kinerja fisik baru yang selaras dengan potensi, cara dan teknik yang semakin efisien, produktif, dan ghiroh serta semangat kerja menjadi meningkat, sehingga melahirkan individu sebagai pekerja keras. Membangun “Peradaban Utama” dalam Konstruk Keluarga. Konstruk Puncak peradaban utama dalam konstruk Keluarga adalah Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rahmah. Allah berfirman dalam surat Ar Rum, 21:

ً‫سُكُنوبا إِلَْيَهححرا َوَجَعحَل بَْينَُكحْم َمحَوّدة‬ َ َ‫َوِمْن آَيراتِِه أَْن َخل‬ ْ َ‫سُكْم أَْزَوباًجرا لِت‬ ِ ُ‫ق لَُكْم ِمْن أَْنف‬ ‫ت لِقَْوٍم يَتَفَّكُروَن‬ ٍ ‫َوَرْحَمةً إِّن ِفي َذلَِك لَيرا‬

Yang artinya: ”Diantara tanda-tandaNya ialah Bahwa ia menciptakan istri-istri bagimu dari kalangan kamu sendiri, supaya kamu dapat hidup tenang bersama mereka. Dan diadakannya cinta dan kasih sayang diantara kamu. Sungguh dalam yang demikian itu ada tanda-tanda bagi orang yang menggunakan pikiran. (Ar Rum, 21).

Keluarga sebagai institusi terkecil dibangun berdasarkan nilai islam sehingga menjadi institusi yang sakral, hingga kata hakekat keluarga menjadi norma (bukan hanya institusi). Keluarga kita jadikan basis pertumbuhan peradaban individu, dan akumulasi dari peradaban individu-individu dalam keluarga akan mengasilkan peradaban keluarga dan rumahtangga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Perencanaan pembentukan keluarga yang bersumberkan dari indiividu yang berperadaban utama (syahsuyah islamiyah) akan membangun peradaban utama keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Individu (suami+istri) yang kuat aqidahnya, tekun ibadahnya, dan tinggi muamalahnya maka akan melahirkan pasangan suami istri yang kuat aqidah, kuat ibadah dan kuat muamalahnya merupakan karakteristik Keluarga Berperadaban Utama. Penguatan Keluarga dalam fungsi reproduksi, religi, edukasi, ekonomi, dan sosial membutuhkan pengorbanan yang besar. Generadi yang akan dilahirkan adalah generasigenerasi yang taqwa, cerdas, sehat, produktif-kreatif dan menjadi individu yang humanis. Kita punya pedoman yang bersumber pada Al Qur’an dan Sunnah, kita memiliki Undang-Undang tentang Pembangunan Keluarga (UU No. 10), bahkan belakangan ada UU tentang perlindungan anak dan wanita. Perundangan ini belum menjamin menjadikan peradaban utama jika tidak didasarkan pada nilai agama. Dari kelima fungsi pokok keluarga tersebut mari kita disain, kita perhatikan, perbesar curah perhatian kita, kelibatan kita, pengendalian kita untuk menguatkan: (1) Fungsi Reproduksi; bagaimana kita persiapkan dan rencanakan menuju reproduksi sehat, sehat inputnya, sehat prosesnya dan sehat hasilnya.

4


(2) Fungsi Religi rumahtangga sebagai madrosatul ula (terutama ibu), bangun religi yang dibentuk pertama kali adalah aqidah (Lukman, 13), di rumah generasi dibangun, diajarkan konsep ibadah hingga amalan-amalan ibadah baik makhdhoh maupun ghoiru makhdhoh (tidak diciptakan jin dan manusia melainkan untu beribadah) wama kholaktul jinna wal insya illa liya’budun. (3) Fungsi Edukasi, pelaksanaan pendidikan (pengetahuan dan keterampilan) serta ethika, akhlak dan budi pekerti. Tugas kerisalahan kita dimuka bumi ini adalah menyempurnakan akhlak, bagaimana mengajarkan ethika dan membiasakan pola hidup yang etis sangat primer untuk dimulai dari rumahtangga. Kita mulai kalah dominasi interaksi antara anak dengan orangtua dibandingkan antara anak dengan TV, face book, SMS, dan media dunia maya yang telah hadir di setiap rumahtangga. Berbagai pendidikan nilai dapat diterapkan dalam fungsi ini. (4) Fungsi Ekonomi; Rumah tangga sebagai fungsi ekonomi (produksi, sirkulasi, distribusi, konsumsi, dan responsibiity). Pada umumnya orang menitik beratkan pada fungsi produksi bahkan ada yang berkonsentrasi pada fungsi konsumsi, ketika menjelaskan keluarga sebagai fungsi ekonomi. Dalam islam tentang ekonomi secara mendasar masuk dalam Rukun Islam ke 4 yaitu zakat, zakat sebagai causa prima dan motivasi proses produksi. Zakat sebagai konsep yang diambil dari sebagaian harta yang dimiliki seseorang dalam jenis, jumlah, ukuran dan kepastian sasaran peruntukannya. Zakat dalam total sistem produksi merupakan kwajiban sekaligus motivasi kerja yang berdimensi religi. Jika kita ingin berzakat (berbagi kepada orang lain) sebanyak 100 ribu rupiah, tentunya kita mesti berproduksi minimal menghasilkan 4 juta rupiah. Ketika kita punya penghasilan 100 rupiah dan dikeluarkan zakat 2,5 rupiah, berarti nominal yang bisa dikonsumsi 97,5 rupiah, hakekat uang kita dalam spirit isam adalah 2,5 x 7 tangkai x 100 bulir maka hakekat gaji adalah 1.750 rupiah. Ini janji Allah atas 2,5 rupiah yang dikeluarkan. Semakin banyak gaji akherat yang kita dambakan maka semakin tinggi motivasi berproduksi kita yang penuh ridloNya. (5) Fungsi Sosial; Keluarga sebagai pengembangan fungsi sosial, berfungsinya interaksi antara anggota keluarga dan antara keluarga satu dengan keluarga lainnya. Perlu disiapkan kecakapan untuk berafiliasi, bergabung membangun ukhuwah, sehingga terciptanya kekuatan baru dan besar. Berbagai kegiatan interaksi sosial dalam keluarga harus kita siapkan agar generasi kita jangan salah dalam menentukan partner dalam berinteraksi.

5


Membangun “Peradaban Utama” dalam Konstruk Qoryah. Puncak konstruk peradaban utama dalam konstruk qoryah adalah ”Qoryah Marhamah”. Allah berfirman dalam Surat Al A’raf, ‫ حْلَا‬96:

‫ض‬ ّ ‫ت ِمحَن بال‬ ٍ ‫َولَْو أَّن أَْهَل باْلقَُر ى آَمُنوبا َوباتّقَْوبا لَفَتَْحنَححرا َعلَْيِهحْم بََرَكححرا‬ ِ ‫سحَمراِء َوبالْر‬ ‫سُبوَن‬ ِ ‫َولَِكْن َكّذُبوبا فَأ ََخْذَنراُهْم بَِمرا َكراُنوبا يَْك‬ ”Sekiranya penduduk suatu kota itu berimah dan bertaqwa, tentu kami bukakan bangnya (pintu) rahmat dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustkan (kebenaran). Lalu kami sisksa mreka karena perbuatannya (Al A’raf, 96). Interaksi antar keluarga sakinah yang membangun satu komunitas (qoryah) akan terjilma satu qoryah/ perkampungan yang penuh rahmat dan barokah dari Allah SWT. Qoryah sebagai kumpulan manusia (masyarakat) merupakan tempat individu-individu menampilkan diri sebagai warga masyarakat yang memiliki syahsiyah islam, dan merupakan tempat mengimplementasikan nilai-nilai humanika setiap orang. Masyarakat yang akan membentuk tipe dan karakter individu atau sebaliknya individu dan familiy yang akan membentuk tipe dan karakteristik Qoryah. Jika kita datang sebagai individu yang sudah syahsiyah, dan berada dalam keluarga yang sakinah dapat dipastikan inilah yang akan mewarnai karakteristik qoryahnya. Pintu rahmat dari langit dan bumi akan dibuka ketika penduduknya mau beriman dan bertaqwa sebagai ekspresi dari totality keluarga yang menjadi pembangun masyarakat. Membangun “Peradaban Utama” dalam Konstruk Negeri (Baldah). Tatanan tertinggi peradaban suatu negeri atau bangsa adalah tatanan bangsa atau negeri yang Toyyibah. Allah berfirman dalam Surat As Sabak, 15:

‫ق َربُّكحْم‬ ْ ‫سبَإٍ ِفي َم‬ َ ِ‫لَقَْد َكراَن ل‬ ِ ‫سَكنِِهْم آيَةٌ َجنَّتراِن َعْن يَِميحٍن َو‬ ِ ‫شحَمراٍل ُكلُححوبا ِمحْن ِرْز‬ ‫ب َغُفوٌر‬ ْ ‫َوبا‬ ّ ‫شُكُروبا لَهُ بَْلَدةٌ طَيّبَةٌ َوَر‬

Yang artinya: ”Adalah bagi saba’ dahulu kala, suatu tanda di tempat kediaman mereka: Dua buah taman, di kanan dan di kiri. Makanlah rezeki (yang diberikan) Tuhanmu. Dan bersyukurlah kepadaNya. Negerimu adalah negeri yang indah dan bahagia, dan Tuhanmu adalah Yang Maha Pengampun” (As Saba’, 15). Peradaban Utama suatu yang dikehendaki oleh masyarakat ditentukan oleh corak peradaban masyarakat itu sendiri. Lima Karakteristik Peradaban Utama Negeri: 1. Penduduknya kuat imannya, ibadahnya dan muamalahnya. 2. Melimpahnya rizki (kesejahteraan) dari Allah SWT, 3. Masyarakatnya bahagia (rasa aman, nyaman, damai, puas, bersyukur), 4. Negerinya Indah, dinikmati oleh masyarakatnya. 5. Negerinya selalu dalam naungan, pertolongan dan ampunan, Allah SWT.

6


Peradaban Sistem Terbuka (Dunia Khasanah). Allah berfirman dalam surat Al-baqoroh 201:

‫ب‬ َ ‫سحنَةً َوقِنَححرا َعحَذبا‬ َ ‫سحنَةً َوفِححي بالِخحَرِة َح‬ َ ‫َوِمْنُهْم َمْن يَُقوُل َربَّنرا آتَِنرا ِفي بالحّدْنَيرا َح‬ ‫بالّنراِر‬

Dan diantara mereka ada yang mendo’a: Tuhan kami! Berilah kami kebaikan di atas dunia dan berilah kami kebaikan di akherat. Lindungi kami dari siksa neraka. (Al Baqoroh, 201). Di era globalisasi dan internasionallisasi ini semua tatanan nilai termasuk relligiusitas mulai menggejala masuk ke antar negara dalam dimensi yang singkat. Proses akulturasi dan perpaduan mangkin menggejala, bahkan para pemikir mulai masuk dalam arena pluralis. Hal ini perlu diwaspadai mengingat peradaban masarakat kita belum begitu tangguh, nilai-nilai dasar negara belum mampu membentengi karakter bangsa, dan tidak sedikit dijumpai warga masyarakat kita tenggelam ke dalam kultur transnasional.

.‫ َاُ أَْكبَُر‬, ‫ َاُ أَْكبَُرحْلَا‬, ‫َاُ أَْكبَُرحْلَا‬ .‫صْيًال‬ ُ ‫ َو‬, ‫باَْلَحْمُد ِّلِ َكثِْيًرباحْلَا‬ ِ َ‫سْبَحراَن بالّلحِه بُْكَرةً َوأ‬ .‫ب َوْحَدُه‬ َ ‫صَد‬ َ ‫ َوَهَزَم باْلَْحَزبا‬, ‫صَر َعْبَدهُحْلَا‬ َ َ‫ َو ن‬, ‫ق َوْعَدهُحْلَا‬ َ .‫َل إِلَهَ إِّل بالّلحهُ َوْحَدُه‬ .‫صْيَن لَهُ بالّدْيَن َولَْو َكِرهَ باْلَكرافُِرْوَن‬ َ َ‫َل إِلَهَ إِّل بالّلحهُ َو َل نَْعبُُد إِّل إِّيراهُ ُمْخل‬

Sekali lagi saya mengajak jama’ah sekalian, marilah kita tingkatkan ketaqwaan kita, seiring dengan harapan kiranya: Di hari Qurban ini kita jadikan semangat membangun peradaban utama ummat, sehingga menghantarkan setiap kita menjadi individu yang memiliki peradaban utama (syahsiyah islamiah). Dari peradaban utama setiap individu insya Allah akan melahirkan istitusi-institusi keluarga yang sakinah, dan keluargakeluarga sakinah akan menumbuhkan perkampungan/ (qoryah marhamah) sehingga membentuk peradaban utama negeri (baldah toyyibah), pada gilirannya akan terwujud tatanan dunia yang hasanah, menuju kehidupan akhirat yang hasanah. Amiin ya Robbal Aalamiin.

‫ت ْبالَْحَيراِء ِمْنُهْم‬ ْ ‫سلِِمْيَن َوباْلُم‬ ْ ‫َباللُّهّم باْغفِْر لِْلُم‬ ِ ‫ َوباْلُمْؤِمنِْيَن َوباْلُمْؤِمَنرا‬، ‫ت‬ ِ ‫سلَِمرا‬ ‫ َوأَِرَنرا‬، ‫ق َح ًّقرا َوباْرُزْقَنرا باتَّبراَعُه‬ ّ ‫ َباللُّهّم أَِرَنرا باْلَح‬.‫ب‬ ٌ ‫سِمْيٌع قَِرْي‬ َ ‫ إِنَّك‬، ‫ت‬ ِ ‫َوْبالَْمَوبا‬ ً‫سنَة‬ َ ‫سنَةً َوِفي بالِخَرِة َح‬ َ ‫ َربَّنرا آتَِنرا ِفي بالّدْنَيرا َح‬.‫باْلَبراِطَل برا َِطالً َوباْرُزْقَنرا باْجتَِنرابَُه‬ ‫ َربَّنرا َهْب لََنرا ِمْن أَْزَوباِجَنرا َوُذّرّيراتَِنرا قُّرةَ أَْعيٍُن َوباْجَعْلَنرا‬.‫ب بالّنراِر‬ َ ‫َوقَِنرا َعَذبا‬ ‫سلِْيَن‬ ّ ‫سْبَحراَن َربَّك َر‬ ُ .‫لِْلُمتِّقيَن إَِمراًمرا‬ َ ‫سالٌَم َعَل ى باْلُمْر‬ َ ‫ َو‬، ‫صفُْوَن‬ ِ َ‫ب باْلِعّزِة َعّمرا ي‬ .‫سلَّم‬ َ ‫صْحبِِه َو‬ َ ‫صّل ى اُ َعَل ى ُمَحّمٍد َوَعَل ى آلِِه َو‬ َ ‫ َو‬.‫َوباْلَحْمُد ِّلِ َرّب باْلَعرالَِمْيَن‬ Walhamdulillahirobbil’alamiin. Wasslamu’alaikum Wr.Wr.

7


8


9


Peradaban utama ummat (khutbah idul adha 1430 h)