Issuu on Google+

3

Edisi 21

Untuk

Tahun III APRIL 2012

7 PRIORITAS PEMBANGUNAN ACEH 2013 tribun.com

11

EDFF Harus Tumbuhkan Ekonomi Rakyat

Penjabat Gubernur Tarmizi A Karim berharap kehadiran kegiatan AcehEDFF mampu mendorong pertumbuhan perekonomian Aceh, dalam rangka meningkatkan pendapatan dan menciptakan lapangan kerja yang lebih luas bagi masyarakat. Ia juga berharap penyelenggaraan konferensi tahunan “Aceh Cocoa and Coffee Conference” dapat membangun dan memperkuat kemitraan dalam rangka mentransformasikan kemajuan yang telah dicapai.

06

OPTIMALISASI FUNGSI KAWASAN PERDAGANGAN DAN PELABUHAN BEBAS SABANG

RKPA 2013, dari Pangan hingga Perdamaian

RKPA 2013 diarahkan pada 7 prioritas pembangunan yang merupakan kesinambungan dari program pembangunan 5 tahun lalu. Ke-7 prioritas kegiatan RKPA 2013 adalah: 1).Pemantapan ketahanan pangan dan nilai tambah produksi, 2).Integrasi infrastruktur pendukung MP3EI, 3).Pencapaian target MDGs, 4).Peningkatan kualitas sumber daya manusia, 5).Optimalisasi fungsi kawasan perdagangan bebas Sabang, 6).Pemantapan reformasi birokrasi, dan 7).Penguatan keberlanjutan perdamaian Aceh.

PENGUATAN KEBERLANJUTAN PERDAMAIAN

PEMANTAPAN KETAHANAN PANGAN DAN NILAI TAMBAH PRODUK PERTANIAN

MEMANTAPKAN REFORMASI BIROKRASI

PENINGKATAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA

05

Sabang Dulu, Sabang Kini

Kota Sabang sebelum Perang Dunia II adalah kota pelabuhan terpenting dibandingkan Temasek (sekarang Singapura). Sabang telah dikenal luas sebagai pelabuhan alam bernama Kolen Station oleh pemerintah kolonial Belanda sejak tahun 1881.

Gubernur Baru Harus Mandirikan Rakyat


2

OPINI

Tabloid TABANGUN ACEH - edisi 21 | APRIL 2012

Menyongsong Era Industri Baru melalui Kebijakan Integratif Oleh : Marthunis Muhammad

T

ahun 2013 adalah awal kiprah nyata kepemimpinan Aceh baru hasil Pemilukada April 2012 ini. Berbeda dengan tahun 2012 yang merupakan tahun transisi dari kepemimpinan sebelumnya, kegiatan pembangunan pada tahun 2013 sepenuhnya berada di bawah kendali kepemimpinan baru sejak dari perencanaan hingga evaluasi. Menariknya, pada tahun 2013 adalah dimulainya tahap industrialisasi Aceh berbasis non-migas. Setidaknya era industri ini telah disebutkan dalam rancangan RPJP Aceh 2005-2025 yang hingga saat ini belum diqanunkan. Industrialisasi Aceh tampaknya menjadi keniscayaan. Sebab, bertumpu pada pertanian semata tidak cukup kuat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Rancangan RPJPA menghitung bahwa produktifitas petani Aceh  -dihitung dari rasio PDRB tetap sektor pertanian dibagi tenaga kerja di sektor tersebut- hanya sekitar Rp 10 juta setahun. Artinya pendapatan petani di Aceh kurang dari satu juta/bulan. Di sisi lain, sejarah mencatat bahwa hampir seluruh negara kaya di dunia pernah melalui tahap industrialisasi (kecuali beberapa negara penghasil minyak). Sebut saja Jepang atau Korea Selatan mengalami peningkatan kesejahteraan secara cepat melalui jalan industrialiasasi. Bahkan Cina yang dikenal sebagai factory of the world hanya membutuhkan 12 tahun untuk menggandakan pendapatan PDB per kapitanya dan sekarang menjadi kekuatan ekonomi kedua di dunia (The Economist, 7/12/2011). Selain itu, keberadaan industri di Aceh merupakan kebutuhan. Produktifitas rendah sektor primer akan meningkatkan migrasi tenaga kerja ke sektor yang lebih menjanjikan. Gejala ini ditunjukkan dengan makin menurunnya proporsi sektor pertanian sebagai sumber mata pencaharian.

Industri Integratif Industri identik dengan produktifitas tinggi, nilai tambah, teknologi, SDM, permodalan dan institusi yang relevan. Peralihan dari karakter agraris ke industri memerlukan proses transformasi. Proses ini perlu dikelola dan diantisipasi sehingga berjalan mulus pada era industri yang dikehendaki bersama, yaitu kesejahteraan masyarakat yang merata. Sebagai contoh menarik adalah apa yang terjadi di Kabupaten Abdiya tentang mesin pemanen padi (Serambi Indonesia, 15/3/2011). Penggunaan teknologi ini dapat meningkatkan produktifitas panen. Di balik itu, teknologi ini akan mengurangi kebutuhan buruh tani pemanen sehingga ada efek pengangguran. Lebih luas lagi, mesin pemanen padi ini tidak membelanjakan hasil upah dari panen -karena ongkosnya kembali pada pemilik mesin- dibanding apabila upah panen diberikan kepada buruh tani sehingga forward linkage dan efek pemerataan ekonomi dari teknologi ini terasa lebih kecil.  Ini bisa disebut dilema teknologi atau Luddite Fallacy. Sebenarnya teknologi pemanen padi membutuhkan tenaga kerja, namun bukan tipe buruh tani melainkan operator, teknisi dan tenaga pendukung lainnya seperti penyuplai suku cadang. Dengan makin murah dan mudah tersedianya teknologi, maka dilema teknologi perlu dihindari dengan melakukan transformasi di sisi lain seperti transformasi sumber daya manusia dari tidak trampil (buruh tani) menjadi trampil (teknisi/supplier). Karenanya dibutuhkan sebuah institusi yang bernama kebijakan industri yang integratif guna mengawal proses transformasi agrarisindustri secara sempurna. Dani Rodrik, dalam salah satu artikelnya berjudul “Industrial Policy for 21st Century” menyebutkan bahwa prinsip kebijakan industri

adalah kolaborasi strategis antara pemerintah dan rakyat (swasta) dengan tujuan mengetahui secara bersama tentang kendala transformasi industri yang dihadapi dan menentukan tindakan apa yang harus dilakukan untuk menghilangkan kendala. Karenanya, kebijakan industri harus bersifat integratif dengan menyentuh permasalahan di sisi supply maupun demand. Pelibatan pihak swasta bukan saja akan membuat beban pemerintah lebih ringan namun juga mempercepat tercapainya tujuan industrialisasi Aceh yaitu peningkatan kesejahteraan masyarakat. Semua rakyat mempunyai insentif untuk menjadi sejahtera dan apa yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah menjaga dan memperkuat insentif tersebut. Ini merupakan prinsip yang harus menjadi pedoman pemerintah dalam perumusan kebijakan industri di Aceh. Di sisi supply, Pemerintah Aceh perlu menyediakan infrastruktur dasar pendukung industri seperti jalan, pelabuhan, telekomunikasi, kelistrikan dan air bersih. Penyediaan infrastruktur dasar ini tidak mungkin dilakukan melalui kemampuan anggaran Pemerintah Aceh semata, namun perlu dukungan Pemerintah Pusat dan juga peran sektor swasta melalui investasi. Komunikasi intens, kepercayaan dan penghilangan tetek bengek kendala investasi menjadi sebuah keharusan. Di sisi demand, industri membutuhkan kewirausahaan, tenaga trampil dan kemudahan akses finansial serta kepastian baik regulasi maupun keamanan agar tumbuh. Program Pemerintah Aceh tahun 2013 melalui paket kebijakan industri perlu melakukan penguatan SDM dalam jangka pendek maupun menengah melalui program sekolah kejuruan dan job training serta program stimulan terkait peningkatan kewirausahaan.

Kemudian, akses finansial dapat dijembatani dengan penguatan manajemen usaha sehingga bankability embrio industri skala kecil dan menengah di Aceh dapat tumbuh cepat dan marak. Jika ini berhasil, fungsi fasilitasi Pemerintah Aceh tidak harus mengeluarkan banyak anggaran, cukup menghubungkan pemberi modal (perbankan) dan pengusaha. Kesemua ini membutukan integrasi program yang melibatkan seluruh komponen pemerintahan.    Meski demikian, perlu juga diingat bahwa kebijakan industri harus bersifat dinamis dan jangka panjang. Ketika tahap pertama industrialiasi pertanian Aceh berhasil, ia berarti petani lebih sejahtera, dapat menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang lebih tinggi, pendapatan pemerintah pun meningkat dari pajak dan sumber pendapatan lainnya serta kondisi ekonomi global berubah sehingga fokus industrialisasi secara otomatis berganti. Karena itu, fleksibilitas dan penyesuaian fokus dari kebijakan dan program serta kegiatan pembangunan industri harus tetap diperlukan. Akhirnya, sejalan dengan momentum saat ini, kesempatan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tahun 2012 yang sedang berlangsung perlu dilaksanakan dengan kesadaran atas pentingnya integrasi usulan program dan kegiatan pembangunan tahun 2013 dapat diraih sehingga Rencana Kerja Pemerintah Aceh 2013 menjadi bagian awal dari kebijakan industri yang baik untuk menyongsong era baru industri non-migas di Aceh dan menjadi sebab peningkatan kesejahteraan masyarakat. Semoga! n Penulis adalah PNS di Bapppeda Aceh, email: marth_unis@yahoo.com http://www.cakrawalakaifa.blogspot.com

Salam Redaksi

Pembangunan Harus Tetap Jalan

Di tengah hangatnya situasi pesta demokrasi Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada), Bappeda Aceh tetap konsisten menjalankan tugasnya dalam menyiapkan perencanaan pembanguna untuk tahun 2013 mendatang. Pembangunan termasuk perencanaan pembangunan tahun 2013 tidak boleh berhenti, walaupun gubernur terpilih belum ditetapkan oleh Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh. Tidak hanya itu, saat ini Bappeda Aceh bahkan sedang menyiapkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) untuk periode 2012-2017. Baik Rencana Kerja Pemerintah Aceh (RKPA) 2013 maupun RPJMA 2012-2017 harus sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJPA) 2005-2025 serta selaras dengan fokus pembangunan pemerintah pusat. Penyiapan RPJMA 2012-2017 adalah untuk memastikan keberlanjutan pembangunan setelah ditetapkan gubernur terpilih agar tetap berjalan sesuai mekanisme dan tidak mandeg. Sebab, menurut perundang-undangan yang ada, tiga bulan setelah pelantikan gubernur terpilih, sebuah daerah harus sudah memiliki naskah RPJM sebagai acuan dalam menjalankan pembangunan jangka menengah lima tahun mendatang. Naskah RPJM ini kemudian

perlu disahkan melalui qanun sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 54/2010, paling lambat enam bulan setelah pelantikan gubernur terpilih. Draft RPJM yang telah disusun ini nantinya akan disesuaikan dengan visi misi gubernur terpilih, dan harus mampu menjabarkan capaiancapaian yang telah ditetapkan dalam RPJP. Prosesi suksesi pucuk pimpinan tidak boleh membuat pembangunan macet atau jalan di tempat. Program/kegiatan yang sudah tercantum dalam RKPA 2012 harus terus berlanjut. Sementara untuk tahun 2013 nanti, selain memfokuskan pada tujuh program prioritas yang meliputi pemantapan ketahanan pangan, integrasi infrastruktur pendukung MP3EI, pencapaian target MDGs, peningkatan kualitas SDM, optimalisasi fungsi kawasan perdagangan bebas Sabang, reformasi birokrasi, dan penguatan keberlanjutan perdamaian Aceh, juga perlu mendata kegiatan-kegiatan tahun-tahun sebelumnya yang belum fungsional untuk dimasukkan dalam daftar prioritas. Seluruh kegiatan pembangunan yang dijalankan oleh pemerintah harus dapat difungsikan dan bermanfaat bagi masyarakat. Setiap kegiatan pembangunan yang sudah dimulai ia harus diselesaikan hingga tuntas dan dapat dimanfaat-

kan. Oleh karena itu, seluruh instansi, baik di level provinsi maupun kabupaten/kota, perlu melakukan pendataan seluruh kegiatan pembangunan tahun-tahun yang lalu untuk dimasukkan dalam Rencana Kerja Pemerintah 2013. Selanjutnya setiap keluaran dari kegiatan pembangunan itu akan menjadi asset milik negara dan ia harus dapat dimanfaatkan secara optimal. Dengan mempertimbangkan berbagai aspek dalam menyusun RKPA 2013 serta RPJM 2012-2017, maka tatkala Aceh sudah memiliki gubernur defenitif nantinya, seluruh program pembangunan akan dapat digerakkan dengan cepat sesuai time schedule yang ada, walaupun mungkin terdapat beberapa item pembangunan yang tertuang dalam RKPA dan RPJM perlu disesuaikan dengan visi misi pimpinan terpilih. Kebijakan seperti ini tidak hanya berlaku bagi instansi pemerintah Provinsi Aceh, melainkan juga perlu dilakukan oleh setiap kabupaten/ kota, terutama 17 kabupaten/kota yang saat juga sedang berada dalam proses suksesi bupati/walikota. Dengan demikian, prosesi suksesi kepemimpinan tidak membuat kegiatan pembangunan terhambat. Keduanya dapat berjalan sesuai aturan dan dalam koridor masing-masing. Semoga! n ir iskandar msc

Redaksi Dewan Pengarah Gubernur Aceh, Wakil Gubernur Aceh, Sekretaris Daerah, Asisten I, II dan III Setda Aceh | Penanggung Jawab Kepala Bappeda Aceh | Wakil Penanggung Jawab Sekretaris Bappeda Aceh | Pemimpin umum Michel OC | Pemimpin Redaksi Aswar Liam, Redaktur Pelaksana Hasan Basri M. Nur | Dewan Redaksi M. Zain, Ridwan, Cut Triana |Sekretaris Redaksi Farid Khalikul Reza, Nanda Yuniza | Bendahara Zulliani | Editor Zamnur Usman | Reporter Heri Hamzah, D Zamzami, Fauzi Umar | Lay out & editor foto Irvan | Ilustrasi kartun dan grafis Jalaluddin Ismail | Reportasi dan Notulensi Bulqaini Ilyas | Fotografer RA Karamullah | IT Candra | Staf Logistik dan Layanan Umum Iskandar J, Firdaus, Akkar Arafat, Rizki Ratih Emelia. Alamat Redaksi

Bappeda Aceh Jl.Tgk. H. Muhammad Daud Beureueh No. 26 Banda Aceh Telp. (0651) 21440 Fax. (0651) 33654 | Web: bappeda.acehprov.go.id

email:

tabangunaceh@yahoo.com, tabangunaceh@gmail.com

Redaksi menerima kiriman berita kegiatan pembangunan Aceh dan opini dari masyarakat luas. Tulisan diketik dengan spasi ganda dan disertai identitas dan foto penulis, dapat pula dikirim melalui pos atau e-mail


CERMIN

Tafakkur

Tabloid TABANGUN ACEH - edisi 21 | APRIL 2012

3

Oleh: Ir. Faizal Adriansyah, M.Si

SIMBOL SHALAT

Makna menegakkan shalat atau ”wayuqimunashalah” tidak sebatas dalam tatacara ibadahnya saja, tetapi lebih luas dari itu bahwa makna menegakkan shalat adalah bagaimana shalat tersebut tercermin dalam kehidupan. Shalat belum tegak secara benar kalau belum mampu terefleksi dalam kehidupan kesaharian. Gerakan shalat yang dinamis berdiri – ruku – sujud menggambarkan umat Islam sesungguhnya umat yang dinamis, aktif dan kreatif. Gerakan shalat juga melambangkan perjalanan hidup manusia ketika berdiri sebagai simbol keberdayaan bahwa ia kuat, sehat masih muda, punya harta, punya kekuasaan. Namun tidak selamanya, ada masanya kita lemah, sakit, tua dan tidak punya apa-apa lagi, sebagaimana yang disimbolkan oleh gerakan ruku dan akhirnya semua kita akan tersungkur mencium tanah masuk liang kubur yaitu kematian yang disimbulkan oleh gerakan sujud. Shalat diakhiri dengan salam kekanan dan kekiri yang merupakan simbol kedamaiaan, orang yang selesai shalat akan menebarkan salam keselamatan kepada seluruh penghuni alam. Subhanallah betapa indahnya ketika shalat tercermin dalam kehidupan Allah berfirman : dalam surah Al Ankabut ayat 45 ” ...Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. Shalat sangat dianjurkan dilaksanakan dengan berjamaah karena melalui jamaah banyak manfaat yang bisa kita dapatkan diantaranya melalui jamaah ada pelajaran indah yaitu tentang kehidupan bermasyarakat. Dalam shalat Jamaah ada Imam dan ada Makmum, Imam ibarat Pemimpin dalam kehidupan nyata dan Makmum adalah Rakyat. Lihatlah akhlak yang diajarkan dalam shalat jamaah bagaimana indahnya hubungan antara Imam dan Makmum. Ketika Imam keliru dalam membaca ayat maka Makmum yang ”faham/cerdas” membantu Imam meluruskannya, demikian ketika Imam lupa dalam rangkaiaan gerakan shalat maka Makmum mengucapkan ”subhanallah” sebagai simbol bahwa hanya Allah yang sempurna sedang manusia sering lupa tidak terkecuali pemimpin. Shalat Jamaah juga mengajarkan kebesaran jiwa seorang pemimpin yaitu ketika Imam yakin bahwa dia telah batal maka dengan keikhlasan sang Imam akan bergeser meninggalkan posisinya untuk diganti oleh Imam lain yang lebih berhak.

Teknologi Selular Untuk Pendidikan Di era globalisasi ini perkembangan teknologi informasi terus melesat tajam. Ia bukan lagi hal baru di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda. Salah satu wujud kemajuan itu adalah di bidang tekonologi selular. Dengan adanya teknologi selular, semua dapat dengan mudah mengakses informasi-informasi yang berguna untuk pendidikan. Dan juga tentunya bisa menjalin komunikasi dengan sesama karena ia mampu memberi kita kemudahan yang luar biasa, baik dalam mengakses informasi maupun dalam berkomunikasi. Dengan teknologi informasi selular, banyak kemudahan yang bisa kita dapatkan untuk mendukung proses pendidikan yang sedang berjalan. Kita tidak mesti lagi menghabiskan dana untuk membeli buku dan mencari referensi-referensi di setiap perpustakaan, kita cukup dengan mengakses situs-situs edukasi melalui fasiliFOTO: RA KARAMULLAH

tas internet yang ada pada selular di tangan masing-masing. Dengan demikian kita dapat memanfaatkan setiap detik untuk membaca buku dan informasi-informasi actual dari berbagai belahan dunia, hanya dengan mengakses informasi di selular kapan saja dan di mana saja secara cepat dan ekonomis. Terkadang, teknologi selular yang kian canggih itu membuat khawatir sebagian orang, karena informasi yang diakses tidak semua bersifat positif, banyak juga yang berbau negatif. Akan tetapi, itu semua tergantung pada individu masing-masing sebagai pengguna jasa informasi apakah dia akan menggunakan tekonologi itu untuk hal positif atau negatif. Yang perlu diketahui bahwa hampir semua selular yang beredar sekarang memuat aplikasi-aplikasi yang memudahkan para pengguna dalam mengakses semua informasi. Ini dapat membuat generasi muda ketergantungan pada teknologi sehingga malas untuk berpikir. Lalu dengan seiring berjalannya waktu akan membawa generasi muda yang lamakelamaan akan merugikan masa depannya, dan di yakini akan terbentuknya masyarakat yang individualisme. Untuk itu, kita harus mampu memilah-milah fungsi tekonologi sehingga dampak negatif dapat ditekan. Nurul Maulidar Mahasiswi Jurusan Adab Perpustakaan dan Komunikasi (APK) IAIN Ar-Raniry Email: nurol_mauli@yahoo.com; fb: nueroel chichi mauli, Twitter : @nurolmaulichichimoli


4

Tabloid TABANGUN ACEH - edisi 21 | APRIL 2012

LAPORAN UTAMA

Pj Gubernur Aceh, Ir Tarmizi A Karim M.Sc

Gubernur Baru Harus Mandirikan Rakyat Lima calon Gubernur Aceh, pada tanggal 22 Maret 2012 dalam sidang paripurna khusus DPRA telah menyampaikan visi dan misi pembangunannya yang akan dilaksanakan jika nanti mereka menang dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur yang telah digelar 9 April 2012 kemarin. Visi dan misi tadi belumlah cukup untuk mengantarkan rakyat Aceh ke depan gerbang kemakmuran dan kesejahtraan jika kemandirian ekonomi rakyat belum bisa dibangun secara permamen oleh kepala pemerintahan yang baru nanti. Apa saja yang harus dilakukan gubernur terpilih untuk periode 2012-2017, ikuti petikan wawancara wartawan Tabangun Aceh dengan penjabat Gubernur Aceh, Ir Tarmizi A Karim M.Sc, di Pendopo Gubernur Aceh, Selasa (10/4/2012). Menurut Bapak apa yang harus dilakukan kepala pemerintahan Aceh yang baru nanti untuk mempercepat tercapainya kesejahtraan dan kemakmuran rakyat lima tahun ke depan? Menurut kami, yang sangat utama adalah bagaimana membangun kemandirian ekonomi rakyat di segala bidang untuk bisa menjadi penopang hidup keluarga dan negerinya. Setiap daerah mempunyai potensi keunggulan masing-masing. Potensi keunggulan itulah yang perlu diangkat dan dijadikan pro-

gram utama dan prioritas di daerah itu. Tapi, untuk keseimbangan, bidang usaha lainnya juga perlu pembinaan. Selain membangun kemandirian ekonomi rakyat, langkah apalagi yang harus dijalankan pemerintahan yang baru nanti? Pembangunan antara pedesaan dan perkotaan harus seimbang. Ini penting dijaga, karena ia mempunyai dampak yang sangat luas. Antara lain untuk mencegah

banyaknya terjadi urbanisasi (perpindahan masyarakat desa ke kota). Apa yang harus dilakukan pemerintah baru untuk menjaga keseimbangan tadi agar tidak terjadi arus urbanisasi? Kepala pemerintahan yang baru, baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kotanya, perlu menjalin hubungan kemitraan kerja yang harmonis dengan legislatif (DPRA/ DPRK). Tanpa hubungan yang harmonis, program pro-rakyat yang sudah bagus sekali pun dibuat dalam APBA dan APBK, tidak akan bisa berjalan dengan baik, kendati simtem pengendalian APBA dan APBK yang dilakukan sudah baik. Bidang usaha apa saja yang harus diprogramkan dan dilaksanakan untuk mempercepat kemandirian ekonomi rakyat di pedesaan? Cukup banyak. Tapi perlu terlebih dahulu dilakukan penelitian yang benar, kemudian dibuat program jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang yang dituangkan dalam dalam qanun, agar semua kepala pemerintahan dan wakil kepala pemerintahan yang menjabat nanti terikat dan wajib melanjutkan semua program yang telah disusun, sehingga pelaksanannya tidak terputus. Misalnya, di wilayah pantai timur–utara dan pantai barat–selatan, memiliki potensi keunggulan usaha dalam bidang pertanian tanaman pangan, peternakan, perikanan, perkebunan dan lainnya. Buatlah program yang mampu memandirikan masyarakat pada usaha tersebut secara berkelanjutan, dari mulai memfasilitasi pembangunan infrastruktur, permodalan, teknologinya sampai pada pembangunan jaringan pemasaran hasilnya harus kuat dan meluas. Supaya cepat berjalan, apa yang harus dilakukan pemerintah baru untuk hal

tersebut? Ekonomi Cina bisa bangkit dengan cepat dari keterpurukan dan akan mengalahkan Amerika, akibat jumlah penduduknya yang sangat banyak itu, karena pemerintahnya terus memotivasi rakyatnya untuk mandiri dalam ekonomi keunggulan lokal daerahnya masing-masing, dan menjadikan desa sebagai penopang ekonomi keluarga dan negaranya. Semangat membangun seperti itu sudah dimiliki rakyat Aceh sejak zaman kerajaan Aceh masa lampau, seperti Sultan Iskandar Muda. Tinggal sekarang ini bagaimana pemerintah yang baru memberi motivasi dan mengelolanya agar sumber energi semangat kerja keras yang dimiliki rakyat itu bisa kembali bergerak dan berputar dengan kencang untuk mengantarkan diri dan negerinya menjadi negeri yang damai, penegakan hukumnya berjalan dengan baik, makmur, bermartabat dan sejahtera. Untuk bidang lainnya seperti pendidikan, kesehatan, agama, sosial budaya dan politik, apa perlu diubah? Hal-hal yang sudah berjalan dengan baik dan berada di atas relnya semunaya perlu dilanjutkan. Pemerintah yang baru perlu menyempurnakannya dan menyelaraskan dengan kebijakan nasional, serta terus mengembangkan kekhususan atau keistimewaan yang ada. Misalnya pemberian bantuan pendidikan bagi anak yatim piatu, putus sekolah, terlantar dan fakir miskin, beasiswa kepada mahasiswa S1, S2 dan S3, pelayanan berobat gratis kepada masyarakat, bantuan dana gampong dan lainnya, program pro rakyat seperti ini perlu dilanjutkan. Selain itu, jangan lupa mencari dan menciptakan sumber penerimaan yang baru, untuk mengantisipasi jika dana otsus berakhir nantinya. Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang dimiliki bisa menggantikannya sebagai sumber pembiayaan pembangunan yang baru. [***]

Pembangunan Harus Fokus dan Berorientasi Ekspor Pemerintah Aceh dapat memformulasikan dan memprioritaskan pembangunan yang fokus serta berorientaasi pada penciptaan lapangan kerja dan adanya keterkaitan antarsektor ekonomi dan keterkaitan antardaerah dengan komoditi unggulan masing-masing”

U

-- A. Rahman Lubis -Guru Besar Fakultas Ekonomi Unsyiah

ntuk mencapai kemakmuran, Aceh sebagai wilayah Indonesia bagian barat yang berbatasan langsung dengan negara luar, perlu merancang pembangunan yang terfokus dan berorientasi ekspor. Jika tidak, maka cita-cita kemandirian Aceh tidak mungkin dapat terwujud dan Aceh akan tetap bergantung pada Sumatera Utara. Demikian disampaikan Prof. Dr. A. Rahman Lubis, Staf Ahli Gubernur Aceh bidang Ekonomi dan Pembangunandalam wawancara jarak jauh dengan Tabangun Aceh, Selasa (20/3/12). A.Rahman Lubis yang juga pernah men-

jadi Kepala Bappeda Aceh mengatakan, diperlukan perubahanmindset para pengambil kebijakan dan seluruh stakeholder untuk bahu-membahu dan peduli sehingga pembangunan Aceh tidak cilet-cilet dan memberikan dampak ekonomi yang besar bagi rakyat. Selama ini, kataRahman Lubis, ada kesan pembangunan di Aceh hendak menggarap semuanya sehingga tidak fokus dan tidak tuntas. “Aceh memiliki lahan yang luas dan karenanya tidak perlu memaksa dengan teknologi rekayasa seperti Singapura dengan lahan dan sumberdaya alam yang terbatas, tapi Aceh

harus fokus pada sumberdaya alam dan lingkungan yang ada dan dimiliki saat ini untuk diolah dan dipasarkan ke dunia luar,” ujar guru besar Fakultas Ekonomi Unsyiah ini. Rahman Lubis menambahkan, walaupun Pemerintah Aceh  telah menetapkan 7 skala prioritas pembangunan Aceh, namun hal yang paling mendesak untuk dilakukan adalah sektor pemberdayaan ekonomi dan infrastruktur yang mendukung kegiatan ekonomi dan investasi serta sektor pendidikan dan kesehatan sebagai pendukungnya. “Secara teoritis pertumbuhan ekonomi suatu daerah akan bangkit apabila dikelola dengan baik dari hulu sampai hilir dalam suatu cluster bisnis.  Upaya dan gagasan ini telah lama digaungkan bahkan sejak Gubernur Aceh Prof. Majid Ibrahim namun hingga saat ini belum membuahkan hasil.  Hal itu antara lain dapat dilihat dari ketergantungan Aceh yang sangat tinggi pada Sumatera Utara,” sambung dia. Rahman menyarankan, pembangunan Aceh harus dirancang dengan orientasi ekspor, karena letak Aceh yang sangat strategis dan berbatasan langsung dengan negara-negara luar. Jika pembangunan Aceh tetap berorientasi pada domestik, maka produk-produk Aceh akan kalah bersaing dengan provinsi-provinsi tetangga. Rahman

memberikan contoh Kabupaten Aceh Besar dan Aceh Tengah dapat difokuskan untuk pengembangan ternak untuk kebutuhan ekspor. Begitu juga Bireuen untuk pengembangan kedelai, namun ekspor ke luar tetap dilakukan melalui freeport Sabang. Berkaitan dengan persoalan tersebut, mantan Kepala Bappeda Aceh ini menawarkan agar Pemerintah Aceh dapat memformulasikan dan memprioritaskan pembangunan yang fokus serta berorientaasi pada penciptaan lapangan kerja dan adanya keterkaitan antarsektor ekonomi (backward  dan forward linkage) dan keterkaitan antardaerah dengan komoditi unggulan masing-masing (value added).  Keterlibatan masyarakat dan dukungan infrastruktur yang baik sangat dibutuhkan untuk mendorong percepatan pembangunan Aceh dimasa akan datang. Untuk itu, Rahman menawarkan agar Pemerintah Aceh dapat mengadopsi konsep “one village one commodity” yang telah berhasil dilaksanakan Negara Thailand secara konsisten dan berkesinambungan yang telah membawa Thailand sebagai negara penghasil dan pengekspor utama, khususnya produk-produk pertanian sehingga produk pertanian Thailand dengan mudah dapat dijumpai di berbagai belahan dunia, termasuk di Aceh. [fzu]


LAPORAN UTAMA

Tabloid TABANGUN ACEH - edisi 21 | APRIL 2012

5

Pelabuhan Sabang Terhambat Regulasi P “Diharapkan ke depan apabila semua KNSP tersebut telah dikeluarkan Pemerintah, maka semua pengurusan perizinan usaha dapat dilakukan di Sabang, tidak perlu lagi harus ke Jakarta lagi.” -- NOVA IRIANSYAH -AnggotaTim Pemantau UUPA dan Otsus Papua

K

“Dari sejumlah kewenangan yang diberikan tersebut baru kewenangan di bidang perindustrian dari Kementerian Perindustrian dan Status BPKS dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi yang telah dikeluarkan Pemerintah Pusat.” -- ir t MAKSAL -Plt. Kepala BPKS Sabang

ENGEMBANGAN Kawasan Sabang menjadi Pelabuhan Bebas dan Perdagangan Bebas, hingga saat ini masih terhambat dengan regulasi dari pemerintah pusat, terutama pascapenerbitan Peraturan Pemerintah (PP) No.83 Tahun 2010. Hal ini menjadi salah satu topik hangat yang dibahasa dalam pertemuan dengan Tim Pengawas Pelaksanaan Undang-undang Pemerintah Aceh dan Otsus Papua DPR-RI, BPKS dan Pemko Sabang di Aula Hotel Sabang Hill, Kota Sabang, Rabu (14/3/2012). Anggota Tim Pemantau Pelaksanaan Undang-undang Pemerintah Aceh (UUPA) dan Otsus Papua, Ir. Nova Iriansyah, dalam pengantarnya berharap masyarakat Sabang, Aceh, dan Indonesia pada umumnya, untuk mempercepat Pengembangan Kawasan Sabang agar dapat maju dan berkembang pesat seperti pada era freeport tempo dulu. Sementara Plt Kepala BPKS Sabang, Ir T Maksal Saputra MT, menyampaikan, pascakeluarnya Peraturan Pemerintah No. 83 Tahun 2010, sejumlah kewenangan yang seharusnya dapat dilaksanakan BPKS Sabang, belum dapat dilaksanakan dengan baik. Sebabnya, karena masih tersangkut dengan sejumlah regulasi lain yang dipersyaratkan pada PP No.83/2010, antara lain berupa kebijakan, norma, standar dan prosedur (KNSP) di bidang perikanan dan kelautan, perdagangan, perhubungan, pertambangan dan energi, pariwisata, serta lingkungan hidup.

“Dari sejumlah kewenangan yang diberikan tersebut baru kewenangan di bidang perindustrian dari Kementerian Perindustrian dan Status BPKS dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi yang telah dikeluarkan Pemerintah Pusat,” ungkap Maksal. Nova Iriansyah memahami persoalan substansi yang dihadapi BPKS. Nova berjanji untuk memanggil kementerian/lembaga terkait untuk bekerja serius dan melimpahkan kewenangannya kepada Dewan Kawasan Sabang (DKS) dalam tahun ini. Menurutnya, hal ini sebagai konsekwensi logis dari Pelaksanaan amanah Undangundang No. 37 tahun 2000 dan UUPA No. 11 tahun 2006 serta Peraturan Pemerintah No.83 tahun 2010. Nova merasa kecewa, karena untuk regulasi saja butuh waktu lebih dari 10 tahun. Padahal BPKS telah berulangkali melakukan koordinasi dan pertemuan dengan kementerian terkait untuk mempercepat keluarnya KNSP. Bahkan untuk saat ini turut difasilitasi kantor Wakil Presiden. Pertemuan ini turut dihadari Anggota Tim Pemantau Pelaksanaan UUPA dan Otsus Papua-DPR RI lainnya Faisal Amin dan Rahadi Zakaria. “Diharapkan ke depan apabila semua KNSP tersebut telah dikeluarkan Pemerintah, maka semua pengurusan perizinan usaha dapat dilakukan di Sabang, tidak perlu lagi harus ke Jakarta lagi,” ungkap Nova Iriansyah. [fzu]

Sabang Dulu, Sabang Kini

ota Sabang adalah salah satu kota di Aceh. Kota ini berupa kepulauan di seberang utara pulau Sumatera, dengan Pulau Weh sebagai pulau terbesar. Sabang terdiri dari 2 kecamatan dan 18 kelurahan. Mempunyai luas 118 km2, dengan populasi penduduk 35.220 jiwa (2008). Kota Sabang merupakan zona ekonomi bebas Indonesia, ia sering disebut sebagai titik paling utara Indonesia, tepatnya di Pulau Rondo. Sabang merupakan wilayah administratif paling utara, dan berbatasan langsung dengan negara tetangga yaitu Malaysia, Thailand, dan India. Sabang terletak di tempat sangat strategis. Ia dikelilingi oleh Selat Malaka di Utara, Samudera Hindia di Selatan, Selat Malaka di Timur dan Samudera Hindia di Barat. Berikut adalah pulau-pulau yang masuk dalam kawasan Sabang: Pulau Klah (0,186 km²), Pulau Rondo (0,650 km²), Pulau Rubiah (0,357 km²), Pulau Seulako (0,055 km²), dan Pulau Weh (121 km²). Kota Sabang sebelum Perang Dunia II adalah kota pelabuhan terpenting dibandingkan Temasek (sekarang Singapura). Sabang telah dikenal luas sebagai pelabuhan alam bernama Kolen Station oleh pemerintah kolonial Belanda sejak tahun 1881. Pada tahun 1887, Firma Delange dibantu Sabang Haven memperoleh kewenangan menambah, membangun fasilitas dan sarana penunjang pelabuhan. Era pelabuhan bebas di Sabang dimulai pada tahun 1895, dikenal dengan istilah vrij haven dan dikelola Maatschaappij Zeehaven en Kolen Station yang selanjutnya dikenal dengan nama Sabang Maatschaappij. Perang Dunia II ikut memengaruhi kondisi Sabang dimana pada tahun 1942 Sabang diduduki pasukan Jepang, kemudian dibom pesawat Sekutu dan mengalami kerusakan fisik hingga kemudian terpaksa ditutup. Pada masa awal kemerdekaan Indonesia, Sabang menjadi pusat pertahanan Angka-

tan Laut Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan wewenang penuh dari pemerintah melalui Keputusan Menteri Pertahanan RIS Nomor 9/MP/50. Semua aset pelabuhan Sabang Maatschaappij dibeli Pemerintah Indonesia. Kemudian pada tahun 1965 dibentuk pemerintahan Kotapraja Sabang berdasarkan UU No 10/1965 dan dirintisnya gagasan awal untuk membuka kembali sebagai Pelabuhan Bebas dan Kawasan Perdagangan Bebas. Gagasan itu kemudian diwujudkan dan diperkuat dengan terbitnya UU No 3/1970 tentang Perdagangan Bebas Sabang dan UU No 4/1970 tentang ditetapkannya Sabang sebagai Daerah Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas. Atas alasan pembukaan Pulau Batam sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, Sabang terpaksa dimatikan berdasarkan UU No 10/1985. Kemudian pada tahun 1993 dibentuk Kerja Sama Ekonomi Regional Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) yang membuat Sabang sangat strategis dalam pengembangan ekonomi di kawasan Asia Selatan. Pada tahun 1997 di Pantai Gapang, Sabang, berlangsung Jambore Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang diprakarsai BPPT

Kota Sabang sebelum Perang Dunia II adalah kota pelabuhan terpenting dibandingkan Temasek (sekarang Singapura).

dengan fokus kajian ingin mengembangkan kembali Sabang. Disusul kemudian pada tahun 1998 Kota Sabang dan Kecamatan Pulo Aceh dijadikan sebagai Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) yang bersama-sama KAPET lainnya, diresmikan oleh Presiden BJ Habibie dengan Keppes No. 171 tahun 1998 pada tanggal 28 September 1998. Era baru untuk Sabang, ketika pada tahun 2000 terjadi Pencanangan Sabang sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas oleh Presiden KH. Abdurrahman Wahid di Sabang dengan diterbitkannya Inpres No. 2 tahun 2000 pada tanggal 22 Januari 2000. Kemudian diterbitkannya Peraturan Pemerintah pengganti Undang-Undang No. 2 tahun 2000 tanggal 1 September 2000 selanjutnya disahkan menjadi Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2000 tentang Kawasan Perdagangan Bebas

Pelabuhan Sabang tempo dulu

dan Pelabuhan Bebas Sabang. Aktivitas Pelabuhan Bebas dan Perdagangan Bebas Sabang pada tahun 2002 mulai berdenyut dengan masuknya barang-barang dari luar negeri ke kawasan Sabang. Tetapi pada tahun 2004 aktivitas ini terhenti karena Aceh ditetapkan sebagai Daerah Darurat Militer. Sabang juga mengalami gempa dan tsunami pada tanggal 26 Desember 2004, namun karena palung-palung di Teluk Sabang yang sangat dalam mengakibatkan Sabang selamat dari tsunami. Sehingga kemudian Sabang dijadikan sebagai tempat transit udara dan laut yang membawa bantuan untuk korban tsunami di daratan Aceh. Badan Rekontruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh-Nias menetapkan Sabang sebagai tempat transit untuk pengiriman material konstruksi dan lainnya yang akan dipergunakan di daratan Aceh. [wikipedia.org]

FOTO: google.com


6

LAPORAN UTAMA

Tabloid TABANGUN ACEH - edisi 21 | APRIL 2012

RKPA 2013, dari Ketahanan Pangan hingga Penguatan Perdamaian “Dengan mempertimbangkan berbagai peraturan dan kebijakan termasuk isu-isu strategis nasional, maka RKPA 2013 diarahkan pada tujuh prioritas pembangunan yang menjadi estafet dari pembangunan tahun-tahun sebelumnya serta selaras dengan visi pembangunan nasional.” -- Ir Iskandar M.Sc -Kepala Bappeda Aceh

P

FOTO: farid reza

Irigasi di Blang Bintang, Aceh Besar (01/2012).

emerintah Aceh melalui Bappeda Aceh saat ini sedang menyusun Rencana Kerja Pemerintah Aceh (RKPA) yang akan dilaksanakan pada tahun 2013 nanti. Meskipun tahun 2012 ini merupakan masa transisi karena dalam proses suksesi gubernur dan wakil gubernur melalui Pemilukada, namun pembangunan tidak boleh berhenti. Pembangunan Aceh harus tetap berjalan dan ia harus selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2005–2025, dan sejalan dengan isuisu strategis pembangunan nasional. RKPA 2013 merupakan satu kesatuan dari RPJP yang akan dicapai secara bertahap per lima tahun melalui RPJM (Rencana Pembangunan Menengah). RPJP itu dicapai dalam empat tahapan RPJM. RPJM itu sendiri disesuaikan dengan visi misi gubernur terpilih dan ia harus tetap sejalan RPJP agar capaian pembangunan terarah dan terukur (lihat table). RKPA 2013 diarahkan pada tujuh prioritas pembangunan yang merupakan kesinambungan dari program pembangunan lima tahun lalu. Ketujuh prioritas kegiatan dalam RKPA 2013 adalah: 1). Pemantapan ketahanan pangan dan nilai tambah produksi, 2). Integrasi infrastruktur pendukung MP3EI, 3). Pencapaian target Millennium Development Goals (MDGs 2015), 4). Peningkatan kualitas sumber daya manusia, 5). Optimalisasi fungsi kawasan perdagangan bebas Sabang, 6). Pemantapan reformasi birokrasi, dan 7). Penguatan keberlanjutan perdamaian Aceh. “Dengan mempertimbangkan berbagai peraturan dan kebijakan termasuk isu-isu strategis nasional, maka RKPA 2013 diarahkan pada tujuh prioritas pembangunan yang

menjadi estafet dari pembangunan tahuntahun sebelumnya serta selaras dengan visi pembangunan nasional. Untuk itu, seluruh kabupaten/kota diharapkan dapat mengacu pada tujuh fokus yang telah dirumuskan itu, sehingga sinergi antara fokus pembangunan pusat, provinsi dan kabupten/kota dalam rangka percepatan pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan,” ungkap Kepala Bappeda Aceh, Ir Iskandar M.Sc kepada Tabangun Aceh, Rabu (4/4/2012) pagi di ruang kerjanya. Menurut Iskandar, ketahanan pangan menjadi fokus utama dari 7 fokus pembangunan Aceh pada tahun 2013. Dalam hal ini, kata dia, ketahanan pangan dimaksud akan diarahkan pada peningkatan produksi dan nilai tambah pertanian dan perikanan kelautan. “Termasuk di dalamnya swasembada beras, jagung, kedelai, daging, ikan, perkebunan utama seperti kopi, kakao, karet dan sawit,” katanya. Iskandar mengingatkan agar pembangunan disesuaikan dengan cluster masing-masing daerah sehingga terfokus pada satu atau dua produk unggulan saja. ”Kabupaten/kota tidak perlu membuka cluster-cluster baru, tapi cukup dengan mengoptimalkan saja clustercluster yang sudah ada sehingga pembangunan terfokus dan mempunyai identitas khas,” sambung mantan Deputi Pemberdayaan Ekonomi pada Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias itu. Kriteria TDBH dan Otsus Ditambahkan Iskandar, Gubernur telah menetapkan pagu indikatif yang dananya bersumber dari Tambahan Dana Bagi Hasil Minyak dan Gas (TDBH Migas) dan dana Otonomi Khusus (Otsus) untuk setiap kabupaten/kota di Aceh. Persyaratan dan kriteria

CAPAIAN PEMBANGUNAN ACEH

pemanfaatn TDBH Migas dan Dana Otsus 2013 antara lain tidak diberikan dalam bentuk dana tunai, akan tetapi diberikan dalam bentuk pagu indikatif untuk membiayai program/kegiatan. Selanjutnya, kegiatan yang diusulkan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota merupakan kegiatan prioritas berdasarkan RPJMD serta kegiatan yang belum tuntas dan fungsional pada tahun sebelumnya; kegiatan yang bersifat pembangunan fisik harus dilengkapi dengan dokumen perencanaan yang sah; sasaran pembangunan/pengembangan sesuai dengan pengembangan potensi wilayah, alokasi dana sumber Otsus dialokasikan sebesar 20% yang Untuk pendidikan dan beberapa kriteria lainnya. Ketujuh prioritas pembangunan Aceh di atas, lanjut Iskandar, adalah untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat, yang antara lain diukur oleh indikator meningkatnya pertumbuhan ekonomi, menurunnya jumlah penduduk miskin miskin, berkurangnya angka pengangguran, serta menurunkan inflasi (lihat table). Ditanya berapa kebutuhan anggaran pembangunan Aceh untuk tahun 2013, Iskandar menyebut angka sekitar Rp 22,3 triliun. “Idealnya Rp 12 triliun dari APBN dan Rp 8,3 triliun dari APBA,” pungkas Iskandar. Mencegah Overlapping Ditanya bagaimana kiat Bappeda dalam mencegah tumpang tindihnya (overlapping) pembangunan Aceh, mengingat banyaknya sumber dana pembangunan di Aceh, Iskandar menyebutkan, Bappeda Aceh telah menyiapkan suatu sistem electronic planning dan budgetting menjadi satu kesatuan perencanaan yang terpadu sehingga akan mencegah INDIKATOR MAKRO

TAHAP I

PDRB TINGKAT KEMISKINAN TINGKAT PENGANGGURAN

Tahapan Pelaksanaan RPJPA 2005 - 2025 Tahapan Pembangunan ke-1 (2005 – 2012) 1. Masa Transisi 2. Reintegrasi 3. Kapasitas produksi 4. Rehabilitasi lingkungan Tahapan Pembangunan ke-2 (2013 – 2017) 1. Konsolidasi (Penuntasan Kegiatan nonfungsional) 2. Pencapaian MDGs 3. Fokus Pada Peningkatan Produksi dan Nilai Tambah pertanian dan Perikanan Kelautan Tahapan Pembangunan ke-3 (2018 – 2022) 1. Maturasi (Pendewasaan) 2. Fokus pada pengembangan industri pengolahan (manufacture) Tahapan Pembangunan ke-4 (2023 – 2025) 1. Competitiveness 2. Fokus pada daya saing 3. Peletakan dasar-dasar masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society)

TAHAP II

TAHAP III

TAHAP IV

5-6 %

8-9 %

9-10 %

11-12 %

18-19 %

9-10 %

7-8 %

0,05

8%

8%

7%

5%

1 Reformasi Birokrasi dan tata Laksana 2 Pendidikan 3 Kesehatan 4 Penanggulangan Kemiskinan 5 Ketahanan pangan

11 Prioritas Nasional Kabinet Indonesia Bersatu II 20102914

tumpang tindih kegiatan pembangunan yang dana bersumber dari APBN, APBD Provinsi dan APBD Kabupaten/Kota. “Sistem elektronik tersebut bertumpu pada data perencanaan basis data ke pusat data geospasial. Diharapkan pada tahun 2015 sistem tersebut akan berjalan dalam integrasi planning dan budgetting dalam satu kesatuan perencanaan yang tak terpisahkan”, papar Iskandar yang pernah menjadi Ketua Harian Badan Kesinambungan Rekonstruksi Aceh itu. [hasan basri m nur]

6 Infrastruktur 7 Iklim Investasi dan Iklim Usaha 8 Energi 9 Lingkungan Hidup dan pengelolaan Bencana 10 Daerah tertinggal, Terdepan, Terluar dan Pasca Konflik 11 Kebudayaan, Kreatifitas dan Inovasi Tehnologi

7 Proritas Pembangunan Aceh (Draft RPJM 2013-2017) 1 Pemantapan Ketahanan Pangan dan Nilai Tambah Produk Pertanian 2 Integragi Infrastruktur Mendukung MP3EI 3 Pencapain Target MDG's Tahun 2015 4 Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia 5 Optimalsasi Fungsi Kawasan Perdagangan dan Pelabuhan Bebas Sabang 6 Memantapkan Reformasi Birokrasi 7 Penguatan Keberlanjutan Perdamain


LAPORAN UTAMA

7

Tabloid TABANGUN ACEH - edisi 21 | APRIL 2012

Merawat Perdamaian

dengan Pembangunan Peka Konflik “Pengalaman internasional menunjukkan bahwa banyak masyarakat yang baru selesai dari konflik kembali terjebak kepada kekerasan karena proses reintegrasi berjalan timpang, sektoral dan tidak adil.” -- MAHRUZAL -Kepala Bidang P2KSDM Bappeda Aceh 

K

onflik  Aceh tidak hanya menelan korban jiwa, tapi juga harta benda yang tak terhitung jumlahnya. The Multi-Stakeholder Review of Post-Conflict Programming in Aceh(World Bank, 2009) memperkirakan jumlah biaya yang tertelan konflik Aceh mencapai 10,7 Dolar Amerika Serikat, yang kalau dirupiahkan tidak kurang dariRp 107,4 triliun (10,7 miliar dollar AS). Itu baru hitungan dari sisi pemerintah saja, belum termasuk kerugian harta benda rakyat Aceh. Perekenomian provinsi menanggung 61 persen atau Rp 65,5 triliun (6,5 miliar dollar AS) dari keseluruhan biaya konflik, sementara biaya yang harus ditanggung pemerintah pusat mencapai Rp 41,9 triliun (4,2 miliar dollar AS). Angka ini hampir dua kali lipat dari biaya kerusakan dan kerugian yang diakibatkan bencana tsunami pada Desember

B

2004. Kerugian ekonomi akibat konflik delapan kali lebih besar dibandingkan dengan biaya kerusakan yang ditimbulkan. Dua bencana dahsyat ini (konflik  serta gempa bumi dan tsunami) telah menempatkan Aceh pada jurang ketertinggalan yang jauh dan, bahkan  bisa dibilang kembali ke  titik nol. Akibat konflik, ekonomi Aceh menjadi tersendat. Aceh menjadi satu-satunya provinsi di Indonesia yang terus-menerus mengalami tingkat pertumbuhan yang rendah atau negatif. “Bencana alam melengkapi penderitaan dengan banyaknya korban nyawa selain kerusakan infrastruktur fisik, ekonomi, dan sosial pada skala masif,” kata Mahruzal, Kepala Bidang Perencanaan Pembangunan Keistimewaan dan Sumberdaya Manusia (P2KSDM) Bappeda Aceh, kepada Tabangun

Prinsip-prinsip Pendekatan Pembangunan Peka Konflik

erikut beberapa prinsip dasar pendekatan peka konflik sebagai acuan dalam perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan evaluasi program pembangunan. • Partisipatif: Program pembangunan harus melibatkan seluruh elemen masyarakat mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan mulai dari tingkat desa/gampong, kecamatan, kabupaten/kota, propinsi hingga nasional. • Inklusif: Aktor, isu dan persepsi menjadi bagian integral dari proses pembangunan itu sendiri dengan tidak membedakan suku, ras dan agama. Semua memiliki kesempatan yang sama dalam pemenuhan hak layanan dasar. Program pembangunan bukan menjadi milik salah satu kelompok atau golongan saja. • Netralitas (impartial): Tidak memihak kepada salah satu pihak yang bertikai, aktor atau isu dalam hubungannya penyelesaian masalah atau konflik yang terjadi dalam pelaksanaan pembangunan. • Transparansi; terbuka dan memberikan kemudahan dan akses kepada semua pihak untuk dapat memahami dan terlibat dalam proses perencanaan, penganggaran, pelaksanaan dan pengawasan pembangunan. • Menghormati kepemilikan masyarakat; Setiap hak yang menjadi milik masyarakat harus dihormati dan dilindungi terutama bagi masyarakat

rentan dan menderita akibat korban konflik. • Akuntabilitas; Bertanggung jawab atas keputusan dan tindakan yang dilakukan berkaitan fungsi dan kedudukan para pemangku kepentingan dalam menjalankan tugasnya kepada masyarakat. • Kemitraan dan koordinasi; Seluruh tindakan dan kebijakan yang dilakukan didasarkan pada keterpaduan dan pemahaman yang sama dengan membangun relasi dan kerjasama berbagai pihak yang terlibat dalam proses pembangunan. • Koherensi dan saling melengkapi; Setiap pemangku kepentingan akan berperan sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Setiap elemen akan saling berkaitan dan masing-masing memberikan kontribusi terhadap upaya penyelesaian masalah dan perdamaian. • Ketepatan waktu; Setiap persoalan atau masalah memerlukan batas waktu penyelesaian agar tidak berjalan berlarut-larut yang akan mengganggu pencapaian tujuan pembangunan, bahkan akan menimbulkan konflik baru yang sulit untuk diselesaikan. • Berkeadilan; Pengalokasian dan distribusi sumber daya pembangunan harus memberikan kesempatan yang seimbang (distributional equity) antarkelompok dan antarwilayah, sehingga tidak menimbulkan kesenjangan dan tepat sasaran. [cut triana dewi/dari berbagai sumber]

Aceh, pekan ini. Namun di samping berbagai kerugian yang ditimbulkan, kejutan tsunami pada bulan Desember 2004, diyakini banyak orang sebagai katalisator kesepakatan damai yang tercapai pada bulan Agustus 2005, melalui nota kesepahamanbersama (MoU) antara Pemerintah Indonesia dan GAM yang ditandatangani, di Helsinki, Finlandia. Sejak itu,  Aceh memulai babak baru kehidupan dalam suasana damai. Perdamaian di Aceh, kata Mahruzal, memberikan ruang ideal bagi tumbuhnya kesejahteraan dan harus dijaga dengan hatihati. “Pengalaman internasional menunjukkan bahwa banyak masyarakat yang baru selesai dari konflik kembali terjebak kepada kekerasan karena proses reintegrasi berjalan timpang, sektoral, dan tidak adil,” ujarnya. Penelitian Bank Dunia menyebutkan, ada 40 persen wilayah yang sudah damai, tetapi kemudian kembali lagi ke kancah konflik akibat penanganan sistem dan proses perdamaiannya tidak berjalan dengan baik. Pelestarian perdamaian yang merupakan prasyarat bagi efektifitas pembangunan di Aceh harus dipastikan dengan program pembangunan yang terpadu dan menyentuh segala lapisan dan golongan masyarakat. Proses reintegrasi pihak-pihak yang bertikai harus berjalan secara hati-hati dan sempurna. Potensi kembali terjadinya konflik di Aceh saat ini masih cukup tinggi. Salah satu yang memanaskan konflik selama ini adalah buruknya sistem birokrasi dan kurangnya program pembangunan yang sensitif konflik.

Perencanaan pembangunan harus peka konflik untuk  dapat meminimalisir potensi konflik yang disebabkan oleh pembangunan itu sendiri. “Saat ini pendekatan pembangunan konvensional sudah mulai banyak digantikan dengan pendekatan pembangunan peka konflik,” ujarnya. [cut triana dewi]

S

Melibatkan Lintas Sektor

ecara khusus pendekatan peka konflik (conflict sensitivity approach) merupakan suatu cara dalam mencapai tujuan melalui kebijakan, strategi dan operasional dengan menjembatani informasi (information linkage) program pembangunan mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan dengan konteks konflik (conflict environment) melalui beberapa cara; • Mengintegrasikan kerangka kerja perdamaian (peace building) dan prinsipprinsip transformasi konflik ke dalam strategi kebijakan pemerintah daerah. • Mengkaitkan analisis peka konflik (conflict sensitivity analysis) dengan tujuan pembangunan. • Memastikan keseluruhan proses pembangunan yang dilakukan peka terhadap dinamika konflik masyarakat. • Melakukan percepatan terhadap tindakan melalui kebijakan, program dan kegiatan yang diperlukan dalam penanganan konflik dengan melibatkan lintas sektor dan lintas pelaku.

Perbedaan Pendekatan Pembangunan Konvensional dan Pembangunan Peka Konflik Aspek Perbedaan

Pendekatan Pembangunan Konvensional

Pendekatan Pembangunan Peka Komplik

Kebijakan

Arah Pemabangunan Lebih di Proritaskan terkait dengan isu-isu pertumbuhan ekonomi, penanggulangan kemiskinan dan penyediaan infrastruktur dasar

Arah pembangunan lebih di titik beratkan pada isu-isu perubahan dan peningkatan kelompok masyarakat rentan, kesenjangan pembangunan, keadilan, distribusi sumber daya dan perdamaian secara berkelanjutan

Perencanaan

Perencanaan lebih bersifat top-down dan adminitratif; menggunakan pendekatan Komprehensif ; • lKewilayahan • Admitratif • Subtansi/Sektor

Perencanaan Top-down dan bottom-up dan partisipatif; Menggunakan pendekatan Komprehensif dan integratif: • Lintas Wilayah • Lintas Sektor • Dinamika Perubahan

Pelaksanaan

• Program pembangunan dilaksanakan oleh lembaga atau tenaga ahli yang kompeten di bidangnya • Pemerintah sebagai pelaksana kegiatan • Dilaksanakan lansung oleh unit kerja teknis • Berorientasi pada hasil

* Program pembangunan dilaksanakan dengan melibatkan masyarakat, pemerintah hanya berfungsi sebagai regulator dan kontrol kualitas • Masyarakat sebagai pelaksana kegiatan • Dilaksanakan melalui proses kerja lintas sektor dan forum musyawarah • Lebih mengutamakan proses dari pada hasil

Partisipasi masyarakat

• Masyarakat hanya sebagai pemanfaat pembangunan • Melaksanakan peran sesuai dengan tugas dan fungsinya

• Masyarakat sebagai perencana, pelaksana, pemamfaat dan pengawas kegiatan pembangunan • Berbagai peran dan memberikan kontribusi dalam pelaksanaan pembangunan

Dampak

• Meningkatnya laju pertumbuhan • Meningkatkan kesenjangan antar wilayah dan antar kelompok • Ekpsloitasi sumber daya alam • Meningkatkan ketegangan akibat tidak meratanya distribusi sumber daya

• Mengurangi kesenjangan dan keterisolasian • Mempercepat kohesi Sosial • Optimalisasi sumber daya alam • mengurangi ketegangan antar wilayah dan antar kelompok

Penandatanganan MoU RI-GAM di Helsinki 2005.

FOTO: cmi.fi


8

Tabloid TABANGUN ACEH - edisi 21 | APRIL 2012

2

1

Konferensi Coklat dan Kopi Aceh Konferensi Coklat dan Kopi Aceh di Hotel Hermes Palace Banda Aceh pada tanggal 14 s.d 15 Maret 2012. Acara ini diikuti oleh para petani kopi dan coklat, pegawai dinas-dinas terkait hingga beberapa NGO yang berada di Aceh. 1. Para peserta mengikuti acara Konferensi Coklat dan Kopi. 2. Ir Iskandar, M.Sc, Kepala Bappeda Aceh, memberi arahan sekaligus membuka konferensi tersebut yang berlangsung selama 2 hari di Hotel Hermes Palace Banda Aceh. 3. Salah satu stand milik petani coklat di konferensi itu.

3

Rapat Forum SKPA/Pra-Musrenabang Rapat Forum SKPA/Pra-Musrenabang RKPA 2013 di Ruang Rapat Bappeda Provinsi Aceh pada tanggal 26 Maret s.d 3 April 2012.

Foto-Foto: R. a. karamullah


Tabloid TABANGUN ACEH - edisi 21 | APRIL 2012

9

1

2

3

4

4

Kunjungan Monitoring dan Evaluasi pembangunan Untuk mengetahui dan memastikan pembangunan sesuai perencanaan pada awal tahun 2012 Bappeda Aceh melakukan kunjungan monitoring dan evaluasi terhadap proyek pembangunan yang dijalankan pada tahun anggaran 2012. 1. Pasar tradisional di Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah 2. Linning irigasi di Kabupaten Bireuen 3. Gudang Alsintan di Kabupaten Aceh Tenggara 4. Pembangunan pasar impres di lokasi pasar lama, Kota Takengon 5. Saung tani di Kabupaten Bireuen.

5 FOTO: dok. bappeda aceh


10

LAPORAN KHUSUS

Tabloid TABANGUN ACEH - edisi 21 | APRIL 2012

Bank Harus Permudah Akses untuk Petani Kredit permodalan sangat dibutuhkan pelaku sektor pertanian, khususnya petani untuk dapat mengembangkan usaha pertaniannya.” -- MAHDI MUHAMMAD -Kepala Cabang Bank Indonesia Banda Aceh FOTO: www.kemang.org

M Ali mengaku, kebunnya sudah memperlihatkan hasil yang baik setelah mengikuti program rehab kebun yang difasilitasi oleh ActionAid Australia - Yayasan Keumang dalam Proyek AEDFF yang didanai Multi Donor Fund.

K

EPALA Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Aceh, Iskandar MSc, mengatakan, sektor pertanian  merupakan faktor utama peningkatan perekonomian Aceh, sektor ini menjadi prioritas untuk dikembangkan ke depan. Ada 4 komoditas yang akan menjadi andalan, yakni kakao, kopi, kelapa sawit, dan karet. Hal ini dikatakannya pada acara Aceh Cocoa-Coffee Conference 2012, di Hermes Palace Hotel Banda Aceh, Rabu-Kamis (1415 Maret 2012). Iskandar mengatakan, untuk menuju ke sana, pemerintah daerah  akan mempercepat pembangunan infrastruktur, deregulasi tata ruang, revitalisasi sekolah kejuruan, dan pelatihan untuk mendorong peningkatan kapasitas petani. Mengenai masih rendahnya kredit untuk sektor pertanian, hal tersebut disebabkan minimnya kemampuan petani untuk dapat mengakses kredit perbankan. Ke depan,

Pemerintah Provinsi Aceh akan mendorong agar petani semakin mudah mendapatkan akses perbankan.  Sementara itu, di kesempatan yang sama, Kepala Cabang Bank Indonesia Banda Aceh, Mahdi Muhammad, mengatakan, sektor pertanian tak hanya penyumbang terbesar dalam Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Aceh, namun juga sektor yang menunjang pertumbuhan ekonomi di provinsi ini. Namun, sebagai sektor yang mempunyai peran signifikan dalam perekonomian, pengembangan sektor ini masih terbelakang. Pada 2011 pertumbuhan ekonomi di Aceh tumbuh signifikan, yaitu sebesar 5,02 persen dari 2,79 persen pada tahun 2010. Peningkatan pertumbuhan hanya terjadi pada sektor pertanian dan sektor jasa-jasa dengan pertumbuhan masing-masing 6,74 persen dan 4,43 persen. Sementara sektor-sektor lainnya tumbuh melambat, kata Mahdi, dalam makalah tertu-

lisnya pada acara Aceh Cocoa-Coffee Conference 2012 di Banda Aceh. Konferensi ini diselenggarakan oleh Multi Donor Fund (MDF), Swisscontact, International Organization for Migration, Forum Kakao Aceh, dan Pemerintah Provinsi Aceh. Dalam struktur PDRB, sektor pertanian di Aceh memiliki kontribusi 27,70 persen hingga triwulan keempat 2011. Sektor ini didominasi sektor tanaman pangan, seperti padi-padian, jagung, umbi-umbian, dan kacang-kacangan. Sektor pertanian di Aceh sebagian besar masuk kategori sektor mikro kecil dan menengah (MKM). Statistik kredit menunjukkan, sektor MKM pertanian hanya memiliki pangsa sebesar 0,76 persen . Jauh dibanding penyaluran kredit untuk sektor perdagangan yang mencapai 25,96 persen. Padahal, kredit permodalan sangat dibutuhkan pelaku sektor pertanian, khususnya petani untuk dapat

mengembangkan usaha pertaniannya. Dari segi tingkat non performing loan (NPL) atau kredit bermasalah, sektor pertanian hanya menunjukkan angka 7,89 persen atau jauh di bawah sektor konstruksi yang mencapai 34,49 persen. Tingkat NPL sektor pertanian juga tercatat lebih rendah dibanding sektor industri pengolahan dan perdagangan, yang masingmasing mencapai 9,95 persen dan 8,17 persen. Mahdi menyebutkan, ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya kredit di sektor MKM, khususnya pertanian, di antaranya adalah lemahnya struktur permodalan dan kurangnya akses pada sumber pembiayaan, kurangnya akses pema saran ke pasar potensial, dan kualitas barang yang dihasilkan belum terstandardisasi. Usaha sektor pertanian, lanjut Mahdi, biasanya belum mencapai skala ekonomis sehingga biaya overhead-nya tinggi dan menyebabkan keuntungan petani sangat minim. (yayan zamzami)

Aceh Akan Produksi Benih Kakao Unggul Saat ini, Fakultas Pertanian Universitas Maikussaleh sedang berupaya melahirkan klon kakao unggul Aceh yang nantinya diharapkan mampu meningkatkan produktivitas kakao di Aceh.” -- LUKMAN -Peneliti Kakao dari FP Unimal

R

ENDAHNYA produktivitas kakao yang dihasilkan petani di Aceh saat ini, disebabkan masih belum adanya bibit unggul di Aceh.  Selain itu, pengolahan yang masih tradisional juga menjadi penyebab lainnya.   Peneliti kakao dari Fakultas Pertanian Universitas Malikussaleh, kota Lhokseumawe, Aceh, Lukman mengatakan, adanya klan (benih) unggul akan sangat mempengaruhi produktivitas kakao. “Sayangnya Aceh belum memiliki klan kakao unggul, kendati demikian kami sedang melakukan pengumpulan sejumlah klon untuk dihibridisasi dan menghasilkan klon terbaik dan unggul,” jelas Lukman seusai Konferensi Kakao dan Kopi Aceh 2012 di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, Rabu-Kamis

(14-15 Maret 2012). Menurut Lukman, Aceh berada di peringkat satu dengan lahan kakao terluas di Sumatera, yakni mencapai 72,773 hektare. Begitu juga dengan petani tercatat paling banyak dibanding Provinsi lain di Pulau Andalas. Namun dari segi produksi, Aceh hanya berada di peringkat tiga dengan jumlah produksi kakao pertahun hanya mencapai sekitar 23,840 ton kakao atau rata-rata 328 Kilogram per hektare. Aceh berada di bawah Sumatera Barat yang produksi kakao mencapai 30 ton lebih pertahun, serta Sumatera Utara yang mencapai lebih 35 ton.  Lukman mengatakan untuk mengatasi permasalahan ini sangat diperlukan klon kakao unggul dan manajemen pertanian yang bagus. Saat ini, Fakultas Pertanian Universitas

Haji Daud (duduk) memperlihatkan hasil kakaonya

Maikussaleh sedang berupaya melahirkan klon kakao unggul Aceh yang nantinya diharapkan mampu meningkatkan produktivitas kakao di Provinsi Serambi Mekkah. Alumni Aceh Cocoa Fellowship 2011 ini mengaku sudah mengumpulkan 13 kloning kakao untuk diseleksi.   “11 klon dari enam kabupaten lokasi penelitian yaitu Bireun, Pidie Jaya, Aceh Barat Daya, Aceh Utara, Aceh Tamiang, Aceh Tenggara. Dua lagi dari Sulawesi dan Jember,” kata Lukman.

FOTO: www.kemang.org

Klon-klon tersebut sudah ditanam di tanam dua hari lalu di lingkungan Universitas Malikussaleh, kemudian nantinya akan diseleksi untuk dijadikan klon kakao unggul dari Aceh. “Dari hasil seleksi ini diharapkan akan hadir klon unggul dari Aceh,” ujar Lukman. Dengan adanya klon unggul tersebut, diharapkan produksi dan mutu kakao Aceh ke depan semakin baik, sehingga kesejahteraan petani kakao di Aceh meningkat.(yayan zamzami)


LAPORAN KHUSUS

Tabloid TABANGUN ACEH - edisi 21 | APRIL 2012

11

EDFF Harus Mampu Tumbuhkan Ekonomi Rakyat Aceh

“Hampir semua komoditi pertanian yang menjadi produk andalan nasional seperti kopi, kakao, kelapa sawit, dan karet, dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di Aceh, terutama karena didukung oleh faktor kesesuaian lahan dan agroklimat. -- Tarmizi A Karim -Penjabat Gubernur Aceh

P

enjabat Gubernur Aceh Ir Tarmizi A Karim MSc berharap kehadiran kegiatan Aceh-EDFF, khususnya program pengembangan ekonomi kakao yang dilaksanakan oleh Swisscontact dan kopi yang dilaksanakan oleh IOM, mampu mendorong pertumbuhan perekonomian daerah yang berkualitas. “(Kedua program itu) harus mampu meningkatkan pendapatan dan menciptakan lapangan kerja yang lebih luas bagi masyarakat, termasuk mendorong tumbuh­ nya sektor swasta,” kata Tarmizi A Karim dalam sambutannya pada acara “Aceh Cocoa and Coffee Conference”, di Banda Aceh, Rabu (1403/2012). Harapan itu diutarakan Gubernur Tarmizi Karim terkait masih rendahnya produktivitas hasil alam di Aceh. Padahal, di samping memiliki letak yang sangat strategis, Aceh juga memiliki potensi  sumber daya alam yang sangat besar. Di antaranya di bidang pertanian, perikanan

“Aceh Cocoa and Coffee Conference” di Hermes Palace Banda Aceh (14/03/12)

dan kelautan, kehutanan, pertambangan, dan energi. “Hampir semua komoditi pertanian yang menjadi produk andalan nasional seperti kopi, kakao, kelapa sawit, dan karet, dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di Aceh, terutama karena didukung oleh faktor kesesuaian lahan dan agroklimat. Akan tetapi jika ditinjau dari sisi produktivitas, hasilnya tergolong masih sangat rendah karena belum diusahakan secara optimal,” ujarnya. Selain belum diusukan secara optimal, kata Tarmizi, rendahnya pengembangan komoditas-komoditas andalan Aceh ini, terjadi karena masih belum terbangunnya sistem mata rantai produksi (supply chain) yang kuat dari hulu hingga ke hilir.  “Kondisi tersebut telah menyebabkan nilai tambah produksi daerah serta ketersediaan lapangan kerja masih terbatas, sehingga menjadi salah satu penyebab masih rendahnya daya saing daerah,” ujarnya. Oleh karena itu, Gubernur Tarmizi A

Karim berharap kehadiran kegiatan AcehEDFF ini, mampu mendorong pertumbuhan perekonomian Aceh, dalam rangka meningkatkan pendapatan dan menciptakan lapangan kerja yang lebih luas bagi masyarakat. Terkait dua komoditas andalan (kakao dan kopi) yang sedang dikembangkan dalam program Aceh-EDFF oleh Swisscontact dan IOM, Gubernur Tarmizi A Karim mengatakan, kedua komoditas ini memiliki pasar yang prospektif dan harga jual yang tinggi. Hanya saja, masih terdapat kesenjangan yang cukup tinggi antara permintaan pasar khususnya ekspor dengan potensi dan ketersediaan serta kualitas produksi.  “Permasalahan di sisi on farm yang terkait langsung dengan kuantitas dan kualitas produksi berdampak bagi sisi off farm mulai dari penanganan paska panen hingga pemasaran,” ujarnya. Indonesia, kata Gubernur, belum menjadi konsumen dominan bagi kakao dan kopi,

FOTO: RA KARAMULLAH

maka tingkat “ketergantungan” terhadap pasar ekspor (bahan mentah biji kakao dan biji kopi hijau) menjadi cukup tinggi dibanding pasar domestik. Hal ini tentu memerlukan pembenahan dalam lingkup off farm sekaligus (khususnya dalam hal regulasi terkait pasar ekspor), dengan mengacu pada konsep bisnis yang menyentuh semua titik dalam mata rantai pasokan.  “Untuk itu tentu diperlukan adanya sinergitas antara  pemerintah dan dunia usaha,” kata Gubernur. Pada akhir sambutannya, Pj Gubernur Tarmizi A Karim berharap, penyelenggaraan konferensi tahunan bertajuk “Aceh Cocoa and Coffee Conference” ini, dapat membangun dan memperkuat kemitraan dalam rangka mentransformasikan kemajuan yang telah dicapai. Kamudian juga mencari berbagai alternatif dan terobosan terhadap tantangantantangan yang dihadapi serta memproyeksikan target bersama yang akan ditempuh ke depan.[zamnur]

Swisscontact Komit Berdayakan Petani Aceh

P

FOTO: www.swisscontact.or.id

Swisscontact bersama Economic Development and Financing Facility (EDFF) meluncurkan program baru yang diberi nama Peningkatan Ekonomi Kakao Aceh (PEKA).

ROJECT Manager Swisscontact, Manfred Borer, menyatakan komitmennya untuk terus berupaya memberdayakan para petani kakao di Aceh, agar mampu menghasilkan biji kakao berkualitas impor. “Kami terus mendorong agar petani dapat menghasilkan biji kakao yang berkualitas sesuai dengan permintaan buyer. Hal ini kami lakukan dengan memberikan pelatihan lewat sekolah lapangan bagi petani kakao dan juga pelatihan kepada para pedagang,” kata Borer, pada acara “Aceh Cocoa and Coffee Conference 2012” di Hermes Palace Hotel Banda Aceh, Rabu-Kamis (14-15 Maret 2012). Sementara Ketua Forum Kakao Aceh, Hasanuddin Darjo, menyebutkan, program Peningkatan Ekonomi Kakao Aceh (PEKA) yang diusung Swisscontact di 5 kabupaten, telah banyak memberi perubahan pada sikap petani dan pedagang kakao. “Hal ini membawa dampak yang sangat signifikan bagi kualitas dan kuantitas kakao yang ada sekarang. Misalnya, pedagang sudah paham berapa jumlah biji kakao kering yang

“Kami terus mendorong agar petani dapat menghasilkan biji kakao yang berkualitas sesuai dengan permintaan buyer.” -- MANFRED BORER -Project Manager Swisscontact baik dalam 100 gram. Di tingkat petani juga paham, biji dengan kadar air berapa yang sesuai dengan kebutuhan pasar,” terang Darjo. Hal ini diamini Husaini, salah satu pedagang kakao dari Bireuen yang hadir pada kegiatan ini. “Acara seperti ini sangat bermanfaat bagi kami pedagang. Memberi kami banyak pengetahuan dari hanya sekedar menjual biji kakao yang kami beli dari petani,” katanya.(yayan zamzami)


12

Tabloid TABANGUN ACEH - edisi 21 | APRIL 2012

Bertani dengan Biaya Murah

B

ersumber dari Kitab Tajul Muluk Mahkota Raja) tulisan tagan abad 16 M, karangan Syech Abbas Kutakarang dan Kitab Falaqiah wal Hikmah tulisan tangan abad 16 M karya Syech Abdurauf Syiah Kuala, serta wawancara dengan tokoh petani Aceh tentang penentuan bulan dalam tahun Hijriah, hari dan waktu awal menanam tumbuh-tumbuhan (keuneunong: buleun, uroe, saat atau jem penanaman serta pencegahan hama tanaman secara alamiah). Pola tanam dalam sistim ini dengan memperhatikan tiga aspek yaitu: A. Penentuan Bulan Hijriah Untuk jenis tanaman berbatang, berbiji, berbunga, berdaun dan berbuah diatas tanah ditanam pada waktu bulan naik dalam tahun hijriah yaitu 1 s/d 15 hari bulan sedangkan tanaman yang berbuah dan berakar didalam tanah, ditanam pada waktu bulan turun pada tahun hijriah, yaitu 16 s/d 30 hari bulan. Terhadap tanaman yang hasilnya diatas tanah, makin naik bulan makin baik untuk memulai awal penanaman, demikian juga sebaliknya semakin turun bulan hijriah, semakin baik untuk awal penanaman yang hasilnya di dalam tanah. B. Penentuan hari dan jenis tanaman • Pada hari Ahad menanam segala jenis tanaman yang berbatang, seperti : kulit manis, jati, mahoni, cemara laut, karet dan sebagainya. • Pada hari Senin menanam segala jenis

tanaman yang berbuah dalam tanah, seperti: kentang, singkong, ubi, jahe, kunyit, bawang dan sebagainya. • Pada hari Selasa menanam segala jenis tanaman yang berbiji, seperti: padi, jagung, kacang hijau, merica, pinang, kemiri, kopi dan sebagainya. • Pada hari Rabu menanam segala jenis tanaman yang berbunga, seperti bunga mawar, melati, cempaka, kenanga, kemuning, melur, anggrek dan sebagainya. • Pada hari Kamis menanam segala jenis tanaman berdaun seperti: nilam, sawi, bayam, kol dan sebagainya. • Pada hari Jum’at menanam segala jenis tanaman yang berbuah diatas tanah, seperti: kelapa, mangga, pepaya, pisang, cabai, terong, tomat dan sebagainya. • Pada hari Sabtu menanam segala jenis tanaman yang berakar didalam tanah, yang dimaksud akar didalam tanah ini adalah yang biasa digunakan untuk pengobatan, seperti: ginseng, akar wangi, akar ilalang dan sebagainya. C. Penentuan waktu • Jika hari Ahad dilakukan pada saat pagipagi atau setelah shalat ashar • Jika hari Senin dilakukan pada hampir tengah hari atau sebelum shalat zhuhur • Jika hari Selasa dilakukan pada waktu dhuha ( jam 7 s/d 10 pagi) • Jika hari Rabu dilakukan pada tengah hari atau setelah shalat ashar

tips

FOTO: IRFAN M.NUR

Petani sedang membersihkan tanaman (pade tajok) di lereng bukit kawasan Lamteuba, Aceh Besar.

• Jika hari Kamis dilakukan pada pagipagi atau tengah hari • Jika hari Jum’at dilakukan pada waktu setelah selesai shalat jum’at • Jika hari Sabtu dilakukan pada waktu dhuha atau pagi-pagi • Dalam melaksanakan sistem ini harus memperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut: • Harap ditanam pada waktu musim tanam atau musim hujan • Jika tidak hujan, maka penyiraman tanaman dilakukan pada waktu sore/

malam hari Pemupukan tumbuhan dilakukan sore hari, tolong dijaga agar lahan tempat tanaman selalu lembab atau basah. Setelah dimu­lai awal penanaman pertama pada waktu-waktu yang ditentukan diatas, selanjutnya dapat diteruskan penanamannya pada esok hari berikutnya, tanpa harus mengikuti ketentuan di atas lagi. Jadwal ini berlaku untuk pembibitan/ penanaman. Awal pengambilan hasil dilakukan pada waktu air surut. [Muhammad Iqbal Lambhuk]

TIPS Mencegah Hama secara Alamiah 1. Jangkrik dan daun pandan wangi untuk mencegah hama tikus Jika sawah/kebun banyak tikus, maka peliharalah jangkrik di sawah. Ternyata suara jangkrik dapat membisingkan telinga tikus, sekaligus mengusirnya, atau dengan menebarkan daun pandan wangi, sebab aromanya tidak disukai tikus. Caranya daun pandan wangi dipotong-potong, disebar disekitar tanaman bila sudah kering diganti yang baru (lebih baik lagi jika pandan wangi ditanam di sekeliling sawah/kebun seperti pagar, lalu taburkan jangkrik. Dengan cara demikian Insya Allah tikus tidak akan mendekati tempat itu lagi. Pandan wangi juga berfungsi untuk mengharumkan butiran padi di sawah/ladang). 2. Manfaat abu dapur dan daun pinang Untuk memberantas hama wereng, ulat, belalang dll di kebun/sawah, ambillah abu dapur dan campurkan air (1 liter abu dicampurkan dengan 3 liter air) lalu rebus atau tumbuklah daun pinang yang sudah tua kemudian diaduk-aduk, dan setelah dingin percikkan ke tanaman. Lakukanlah beberapa kali sampai hamanya habis (untuk 10 liter air dicampur 3 kg abu bakar dan 1 kg daun pinang atau lebih kurang 2 pelepah tandan).

3. Manfaat semut merah & tulang binatang Membasmi hama tanaman muda seperti: cabe, tomat, kacang kuning, dll dengan cara mengikat tulang atau kulit binatang yang basah (baru) pada sepotong ranting, lalu tancapkan didekat tanaman yang hampir berbunga, kemudian tebarkan semut merah (serangga), maka semut merah akan memakan hama sekaligus membersihkan batang & daun tanaman. Fungsi tulang & kulit, hanya untuk memikat atau membetahkan semut. Jika memanen hasil, semprotkan air pada tanaman, maka semut akan berkumpul ditulang atau sangkarnya, dan panen dapat dilakukan. Untuk tanaman tua seperti nangka, mangga dll, tulang/kulit cukup diikat pada pohon/ranting, lalu tebarkan semut merah. Jika mau panen ikatlah tulang/kulit yang baru diujung tali, dan sambungkan ke pohon yang ingin dipanen hasilnya, maka semut segera berkumpul di tulang atau kulit yang baru sehingga panen dapat dilakukan. Ingat! Hanya semut merah (serangga) yang dapat menjadi predator untuk memberantas hama tanaman. 4. Manfaat cacing Agar tanaman menjadi subur, tanamlah pada tanah yang gembur, dengan cara memasukkan cacing ke dalam tanah, guna mem-

buat pori-pori tanah sehingga merangsang pertumbuhan akar sekaligus membersihkan hama di akar tanaman, sebelum cacing ditanam, tanah harus disiram air, fungsinya untuk mengusir jika ada semut-semut kecil dan memudahkan cacing membuat sarangnya. 5. Manfaat sumur di sawah/kebun Sumur di sawah/kebun jangan ditembok (semen). Agar berfungsi untuk menjaga kelembaban tanah sehingga tanah tidak retakretak di waktu musim panas, di musim kemarau dapat menyiram tanaman, ikan-ikan yang ada di sumur di sawah dapat memangsa hama seperti: bibit keong, ulat, belalang, dll, serta ikan-ikan tersebut dapat dikonsumsi petani. F. Agar sumur banyak air Cara menggali sumur agar air selalu banyak adalah dengan mengetahui sumber mata air dangkal yang permanen di dalam tanah. Caranya dengan melihat embun pagi di musim kemarau, jika ada tumpukan embun di sawah/kebun yang lama keringnya. Sementara embun-embun di sekitarnya sudah kering, di situlah diperkirakan sumber mata air dangkal, untuk memastikannya harus dilihat 2-3 hari, guna meyakinkan lagi, ambillah batok kelapa yang tidak berlubang, lalu tancapkan di tanah tempat tumpukan embun tersebut selama 24 jam, bila bagian dalam batok kelapa tetap basah setelah 24 jam, maka di situlah sumur digali pada musim kemarau di waktu pagi-pagi, hari ke 15 bulan hijriah (pertengahan bulan arab). Jika air dalam sumur payau asin atau kurang jernih, maka tanamlah pohon cemara laut (bak aron) 3 atau 5 meter di samping sumur. 7. Manfaat bakong atjeh Untuk mengatasi hama pengerek batang, masukkan tembakau (bakong atjeh) kedalam lubang batang yang dimakan ulat, dan tutup dengan tanah yang basah. Tembakau asli juga bermanfaat untuk memberantas hama wereng (gesong, sialee-alee, ulat, dll). Dengan cara merendam dan aduk-aduk tembakau kedalam air dan campurkan abu bakar, bila air sudah berubah warna agak cokelat, semprotlah atau percikkan ketanaman. (untuk 10 liter air campurkan 3 ons tembakau

asli dan 3 kg abu bakar). 8. Cara mengumpulkan hama keong Bila di sawah banyak keong yang mengganggu tanaman, maka ambillah batang pepaya atau daunnya, lalu simpan di pinggir sawah minimal 24 jam, nanti keong tersebut akan berkumpul dan menempel di batang pepaya, kemudian ambil keong tersebut untuk pakan ternak (lele, bebek, ayam, dll) atau dikubur dalam tanah kering, kemudian batang pepaya tersebut disimpan lagi di dalam sawah. 9. Cara pengolahan tanah Setelah tanah dibersihkan dan sebelum tanah dicangkul, terlebih dahulu ditebarkan pupuk kandang dan abu hasil pembakaran sampah tanaman (3 kg pupuk kandang dicampur 1 kg abu bakar) dengan ketebalan maksimal seruas jari tangan yang disebarkan secara merata dilahan pertanian, kemudian disiram selama 2 minggu, agar pupuk larut dan menyatu serta dingin dalam tanah, baru kemudian tanah dicangkul/dibajak. Setelah tanah betulbetul matang, tanamlah tumbuhan (palawija). 10. Cara membuat pupuk Jemurlah kotoran ternak (ayam atau bebek atau sapi atau kambing, dan lain-lain) lalu dicampur dengan abu hasil pembakaran sampah. Perbandingannya 1 karung abu bakar dicampur dengan 3 karung kotoran ternak, lalu disimpan di dalam lubang tanah atau masukkan ke dalam goni. Jangan lupa cara penggunaannya betul-betul memperhatikan ketentuan atau petunjuk yang tertulis di atas tadi. Sebab abu bakar dan pupuk sangatlah panas bagi tanaman. Jika salah menggunakannya menyebabkan tanaman kering atau mati. Harap diingat bahwa semakin lama campuran pupuk dan abu bakar ditanah lahan pertanian maka semakin dingin dan baik untuk tanaman demikian pula sebaliknya. Demikianlah cara pemberantasan hama tanaman serta pemupukan & pengolahan tanah secara alamiah, semoga bermanfaat. Jangan lupa berdoa diwaktu menanam dan memetik hasil, dan zakat wajib hukumnya. [Muhammad Iqbal Lambhuk]


HABA BAPPEDA

Tabloid TABANGUN ACEH - edisi 21 | APRIL 2012

13

Hasil Monev 2011, Banyak Pembangunan yang belum Fungsional “Hal yang sangat penting adalah seberapa besar dampaknya bagi masyarakat, apakah bangunan yang telah dibangun tersebut efektif harus menjadi perhatian kita bersama. Pembangunan yang telah selesai agar dapat difungsionalkan segera sehingga keberadaannya bermanfaat,” Ir. Hamdani, M.Si Kepala Bidang Penelitian, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Bappeda Aceh

U

ntuk melihat tingkat perkembangan dan kemajuan pencapaian beberapa kegiatan pembangunan yang telah dilaksanakan, maka perlu dilakukan pengendalian dan evaluasi secara terpadu di seluruh wilayah Aceh. Hal ini diperlukan guna memperoleh gambaran tentang efektifitas pelaksanaan sebuah program/kegiatan terhadap manfaaat yang dapat diberikan kepada masyarakat. Hasil evaluasi akan menjadi pembelajaran dan bahan pertimbangan dalam menentukan arah kebijakan perencanaan pembangunan di masa mendatang. Demikian dikatakan Ir Hamdani, M.Si, Kepala bidang Penelitian Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Bappeda Aceh, kepada Tabangun Aceh, Sabtu (7/4/2012), saat ditemui di ruang kerjanya. Menurut Ir Hamdani, M.Si, pada tahun 2011 Bappeda telah melaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) secara terpadu ke seluruh Aceh dengan melibatkan berbagai instansi terkait, dengan sasaran yang ingin dicapai, yaitu: terlaksananya koor-

Progres (%)

BLT Keu

dinasi terkait pelaksanaan pembangunan di kabupaten/kota; melihat secara langsung objek kegiatan terpilih tahun 2011 di kabupaten/kota dan teridentifikasinya kegiatan yang berlanjut dan tidak selesai (putus kontrak) yang didanai melalui APBA. “Dari hasil pantauan tim di lapangan pada tahun 2011 secara sekeluruhan realiasi proyek terutama proyek fisik dapat terlaksana sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Namun hal yang sangat penting adalah seberapa besar dampaknya bagi masyarakat, apakah bangunan yang telah dibangun tersebut efektif harus menjadi perhatian kita bersama. Pembangunan yang telah selesai agar dapat difungsionalkan segera sehingga keberadaannya bermanfaat bagi masyarakat,” pinta Hamdani. Hemat Rp 215 milyar Hamdani juga menyampaikan tentang Realisasi keuangan pelaksanaan APBA Tahun Anggaran 2011 hingga tanggal 30 Desember 2011 mencapai 93,50%. Adapun target yang direncanakan sebesar 91,00 %

BL Fis

Keu

Fis

Keu

Fis

RENC KEU

0

0

0

0

10

21

32

46

53

60

72

91

REAL KEU

0

0

0

0

6

18

28

40

49

59

67

94

RENC FIS

0

0

0

0

4

16

35

50

60

70

85 100

REAL FIS

0

0

0

0

4

11

25

41

53

68

75 100

KEU 2010

0

0

0

0

6

17

27

40

47

54

63

91

FIS 2010

0

0

0

0

6

15

34

49

56

68

76

99

71,11

71,11

64.15

76,55

66,54

74,68

Kenaikan

19,89

19,89

27,85

23,15

24,46

24,82

Devisi (-)

0,00

0,00

0,00

0,30

0,00

0,50

Target 31 Des

91,00

91,00

92,00

100,00

91,00

100,00

Real s.d 30 Des

92,94

92,94

93,81

99,70

93,51

99,50

2.739.530.705.870

5.235.169.294.130

hingga akhir tahun 2011. Sedangkan realisasi fisik mencapai 99,5 %, sedangkan yang direncanakan adalah 100,00 %. Ditinjau dari deviasi target, maka reallisasi keuangan plus (+) target 2,5 %, sedangkan realisasi fisik -0,50 %. (Lihat grafik Kurva S) Jika ditinjau dari jenis pekerjaan strategis yang telah dilaksanakan, maka kegiatan APBA 2011 terbagi atas 2 (dua) kategori pekerjaan, yaitu pekerjaan konstruksi, pekerjaan non konstruksi. Pekerjaan konstruksi teridentifikasi sebanyak 2.732 paket dengan nilai total kontrak Rp. 2,017 trilyun. Sedangkan pekerjaan non konstruksi 1.102 paket dengan pagu total Rp 589,552 milyar. Dari paket pekerjaan konstruksi tahun 2011, jika dilihat dari segi nilai kontrak, maka Pemerintah Aceh dapat menghemat anggaran sebesar 10,3% dari anggaran Rp 2,085 triliun tersebut, atau dengan kata lain Pemerintah Aceh dapat melakukan forecast sebesar Rp. 215,158 milyar. Di akhir pembicaraan dengan Tabangun Aceh, Hamdani mengatakan, pelaksanaan

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des

Total

Real 3o Nop

Pagu Rp

Pembangunan gedung Balai Latihan Kerja (BLK) di Blang Kejereun, Gayo Lues.

7.974.772.200.000

FOTO: FARID REZA

APBA tahun 2011 tentunya juga masih menyisakan pekerjaan yang masih perlu dilanjutkan. “Dari hasil identifikasi diketahui terdapat 121 paket kegiatan yang masih perlu dilanjutkan, baik yang disebabkan oleh putus kontrak maupun kegiatan yang sifatnya berlanjut. Kegiatan yang tidak tidak dapat diselesaikan/putus kontrak berjumlah 29 paket kegiatan, sedang sisanya sejumlah 92 paket kegiatan merupakan kegiatan yang dilaksanakan secara bertahap/berlanjut,” demikian Hamdani. [aswar liam] NO

SKPA

1

Pengairan

2

BMCK

3

Pagu (Rp.M)

Real 30 Des 2011 Fisik

Keu

403.16

98.7

1,352.58

95.1

92.5

Dishubkom

131.06

98.2

88.1

4

Distamben

54.22

100.0

97.8

5

Bapedal

19.81

99.0

95.0

6

Bappeda

35.46

96.8

93.7

7

Disnaker

103.71

97.5

88.4

8

Disperindak

110.25

99.2

97.0

9

DPKKA

90.6

10

PPKA

11

Binves

12

BPBA

13

Distan

14 15

96.5

488.06

99.0

1,831.32

95.2

95.2

11.20

100.0

99.9

9.75

91.3

91.3

165.56

98.9

95.6

DKP

136.26

100.0

93.1

Diskeswan

115.55

97.3

92.6

16

Dishutbun

226.67

97.0

91.8

17

BP.Luh

42.67

99.0

98.2

18

Dinkes

642.01

99.0

97.3

19

RSUZA

126.71

99.0

92.2

20

RSJ

35.22

99.2

94.9

21

RSIA

28.90

100.0

93.8

22

Dispora

73.51

91.0

87.7

23

Disbudpar

48.74

98.5

92.6

24

Disdik

853.23

98.2

93.3

25

Dinsos

84.85

99.0

96.8

26

BKPP

26.77

97.4

97.1

27

MPD

4.55

93.5

92.7

28

SI

45.02

100.0

92.4

29

Arpus

25.34

100.0

99.8

30

Dayah

98.96

100.0

98.3

31

Kesbagpol

11.74

100.0

99.1

32

Inspektorat

24.82

95.3

95.0

33

B.Mal

70.83

100.0

99.2

34

Satpol PP

22.01

100.0

99.8

35

MPU

11.82

100.0

88.4

36

MAA

5.01

99.0

93.5

37

BP2T

6.29

100.0

99.5

38

BP3A

10.37

100.0

98.8

39

BPM

90.29

100.0

91.7

40

Sekwan

90.14

99.1

77.8

41

P.Aceh

31.84

100.0

98.7

42

Sekda

229.28

100.0

89.3

- Setda

158.09

100.0

93.0

34.95

100.0

90.1

- Biro Isra

8.96

100.0

88.9

- Biro Tapem

9.82

100.0

92.4

- Biro Hukmas

5.36

100.0

99.1

- Biro Adpem

7.16

100.0

78.6

- Biro Ekonm

3.87

100.0

90.8

- Biro Organ

1.07

100.0

98.4

7,974.70

93.5

99.5

- Biro Umum

Total Aceh


14

Tabloid TABANGUN ACEH - edisi 21 | APRIL 2012

Pemerintahan sekarang sudah membaik dibanding dulu. Contohnya, sebelum tsunami, roti sele samahani belum begitu terkenal, dengan berkah tsunami banyak orang berdatangan kemari untuk beli roti, baik itu dari Sigli, Bireun maupun lainnya sehingga menjadi dikenal masyarakat luas dan menjadi salah satu makanan favorit. Kami berharap ke depan penjualannya lebih meningkat lagi pada tahun 2013. Untuk itu, pemerintah perlu membantu mempromosikan produk-produk kami, juga produk-produk dari daerah lainnya. Jakfar Penjual roti sele khas Samahani ______________ Kami di Desa Meulingge Kecamatan Pulo Aceh Kabupaten Aceh Besar ini masih hidup dalam keadaan serba kekurangan. Guru belum memadai di sekolah-sekolah. Hanya ada guru kontrak. Sedangkan guru PNS tidak pernah mengajar dan tidak menetap disini. Makanya murid SD di sini banyak hari liburnya. Puskesmas ada, tapi tidak ada bidan. Kami harus menyebrangi lautan selama 2 jam untuk menemui bidan di Ibukota kecamatan di Lampuyang. Biaya berobat Rp 10.000 tambah biaya perjalanan Rp 20.000. Pelabuhan pun dibangun jauh dari bibir pantai. Jadi kami harus membangun jembatan kayu untuk mencapai kesana yang kadang-kadang rusak pula. Pejabat

PEMBANGUNAN 2013 tidak pernah datang kemari. Listrik, Sarana Jalan, juga belum memadai. Kami harap kekurangan-kekurangan ini dapat diminimalisir pada tahun 2013 nanti. M. Dahlan Masyarakat Desa Meulingge ______________ Pembangunan membutuhkan dana. Dari situlah akarnya, tergantung berapa banyak dana. Saat ini Aceh masih memiliki Dana Alokasi Umum (DAU) dari pusat, angka APBA setiap tahun bahkan mencapai triliunan rupiah, belum lagi yang bersumber dari APBN. Untuk itulah perlu ada konsultan pembangunan. Aspek penunjang adalah dagang/niaga. Mengapa IMT/ GT tidak ada gaungnya lagi? Sabang tunggu apa lagi? Panggil putra putri terbaik Aceh untuk maksimalkan perniagaan.  Ekspor barang Aceh langsung dari pelabuhannya ke Negara tetangga seperti ke Malaysia. Sangat banyak orang Aceh di Malaysia, pasti ada yang bisa dipakai. Jadikan seperti duta Aceh di Penang untuk mensupport perniagaan tersebut, ajak pemerintah Malaysia sebagai backingnya. Ekonomi Swedia maju karena perdagangan dan ekspor impor, padahal Swedia minus SDA. Asnawi Ali Pengamat politik Indonesia asal Aceh di Swedia ______________ Saya berharap ke depan pemerintah harus benar-benar memperhatikan pembangunan di daerah atau kabupaten, karena daerah/kabupaten sangat membutuhkan

apa kata mereka

bantuan yang layak untuk memajukan pembangunan di daerah masingmasing. Jangan terlalu memfokuskan pembangunan di kota, sehingga pembangunan di daerah terabaikan. Selain perlu memfokuskan pembangunan infrastruktur, saya berharap pemerintah bisa memikirkan kemajuan fasilitas pendidikan. Dengan membangun perpustakaan lengkap dengan buku-buku dan tempat yang nyaman, maka dapat meminimalisir kemalasan generasi muda dalam hal membaca. Selain itu, tidak ada salahnya sesekali membuat event yang dapat membangkitkan semangat membaca. Riska Firmanila Mahasiswa Fakultas Dakwah ______________ Bagi saya Musrenbang kali ini memiliki arti yang sangat penting, apalagi sebagai pelaku pembangunan sehingga diharapkan kepada kita semua hendaknya dalam menyusun program dan kegiatan agar terukur dan tepat sasaran menuju penciptaan masyarakat yang adil dan sejahtera. Sebagai Kepala Bappeda, kami telah menyusun progam pembangunan Abdya untuk tahun 2013 sesuai dengan kaedah-kaedah perencanaan yaitu melalui pendekatan parsitipaatif, teknokratif, politis dan button-up atau top down. Programprogram yang disusun tersebut sesuai dengan kebutuhan dengan memperhatikan

keunggulan komperatif wilayah Abdya. Kami beraharap kepada provinsi agar mempercepat selesainya jalan tembus Babah RotTerangon (Gayo Lues), menyelesaikan pembangunan pelabuhan perikanan di Abdya serta memperbaiki beberapa jaringan irigasi. Kepada pemerintah Provinsi maupun pusat agar terus memperhatikan Abdya dan menjadikan Abdya sebagai basis pertanian dan agro industry. Jasman, S.Pd Kepala BAPPEDA Kabupaten ABDYA ______________ Selaku alumnus institut seni dan kini berprofesi sebagai seniman dengan konsentrasi pada seni lukis kaligrafi, saya sangat berharap agar Pemerintah Aceh mulai tahun 2013 nanti memberikan perhatian khusus pada kehidupan seni budaya. Karya-karya seni anak bangsa akan memberikan sumbangan tersendiri dalam mengharumkan negeri sehingga orang-orang luar akan menilai kita sebagai bangsa berperadaban. Saat ini, saya telah menghasilkan banyak karya seni lukis kaligrafi, sudah dikoleksi oleh sejumlah orang penting di Indonesia hingga mancanegara. Karya saya bahkan ikut dipajang di Galleri Nasional Indonesia di Jakarta. Untuk itu, saya sangat berharap agar Pemerintah Aceh pada tahun 2013 mulai memikirkan untuk mendirikan sebuah Museum Kaligrafi beridentitas Islam di Aceh. Museum ini diyakini akan menjadi salah satu identitas khas Aceh dan akan mampu menarik perhatian negara-negara Islam lain di dunia. Said Akram Pelukis Kaligrafi Nasional, berdomisi di Banda Aceh


Tabloid TABANGUN ACEH - edisi 21 | APRIL 2012

15

Edisi 21

Nama

:

................................................................

Alamat Rumah

:

................................................................

Sekolah / Alamat

:

................................................................

Kelas

:

................................................................

Mendatar : 1.Si Meong 4.Buku berisi kumpulan kata beserta artinya 7.Hangus 10.Mata uang Uni Eropa 11.Membuat (Bhs. Inggris) 12.Tempat tinggal Raja 14.Nama Bulan 15.Alat pernapasan pada ikan 17.Jenis pakaian wanita 19.Salah satu bilangan 21.Benda luar angkasa 24.Kegiatan atau pekerjaan mengambil hasil dari dalam bumi 26.Nama bulan dalam Tahun Hijriyah 30.Pendapatan Asli Daerah (singkat) 31.Kuno dan bernilai tinggi 34.Salah satu jenis batu perhiasan 36.Pekerjaan, kegiatan (Bhs. Inggris) 37.Udara yang berhembus 38.Kumpulan kata 42.Setengah, sebagian 45.Kepala kereta api 48.Jaminan 51.Laut di bagian timur Indonesia 55.Nama lain untuk Jahe 58.Menanam pohon (Bhs. Aceh) 59.Bermain (Bhs. Inggris) 60.Pencemaran udara, air, dan sebagainya 61.Harus 62.Kantor Berita Indonesia. Menurun : 1.Pekerja/Buruh kasar 2.Ongkos, upah dari suatu pekerjaan 3.Pertanda 4.Surat kabar 5.Musyawarah Perencanaan Pembangunan (singkat) 6.Senyum (Bhs. Inggris) 7.Hujan rintik-rintik 8.Teliti 9.Jalan kecil 13.Naas, apes 16.Pulau 18.Satu ikatan 20/52.Kabupaten di Aceh yang beribukota Jeuram 21.Bahan penyubur tanaman 22.Analisa Dampak Lingkungan (singkat) 23.Masa, zaman 27.Mata uang Jepang 28.Lumrah, biasa 29.Penghasil madu 32.Kata ganti milik 33.Kodok 34.Tidak lupa 35.Umur, usia (Bhs. Inggris) 39.Kamu, saudara 40.Salah satu waktu shalat 41.Alat pengikat 42.Kursi empuk yang biasanya ditempatkan di ruang tamu 43.Huruf pertama Hijaiyah 44.Berkata, berucap 46.Berdoa (Bhs. Latin) 47.Minyak pelumas 48.Kelompok atau kumpulan orang yang dibentuk untuk tujuan tertentu 49.Parit, selokan 50.Lembu 53.Binatang padang pasir 54.Benua yang kita diami 55.Hak Asasi Manusia (singkat) 56.Cara menyambung besi 57.Zat yang mengeluarkan panas. JAWABAN TTS EDISI 20 :

Mendatar : 1.Tiba, 3.Kapal, 6.Kail, 8.Semut, 10.Bakau, 12.Punah, 15.Uganda, 17.Petaka, 19.Rice, 21.Kera, 23.Supaya, 25.Selalu, 28.Rondo, 29.Perangai, 32.Sinabang, 35.Andai, 38.Iris, 40.Rodi, 42.Arti, 44.Sira, 45.Stamina, 47.Garansi, 50.Kasihan, 54.Ana, 56.Rim, 57.Balam, 58.Dayah, 60.JIN, 61.Bau, 62.Apa, 63.AEU, 64.Nya, 65.Tahun, 66.Maret, 67.Ubi. Menurun : 1.Temu, 2.Asin, 3.KTP 4.PTN, 5.LBH 6.Kuat, 7.Lama, 9.Muara, 11.Kapal, 13.USE, 14.ASK, 16.Akper, 18.Agara, 20.Ceria, 22.Erosi, 23.Sapai, 24.Yen, 26.Eja, 27.Ungsi, 30.Aksara, 31.Giat, 33.Nasi, 34.Berani, 36.Nusa, 37.Asli, 39.Raga, 41.Dosa, 43.Isi, 44.Sak, 46.MAN, 47.Gurun, 48.Rimba, 49.Sia, 51.ASA, 52.Hijau, 53.Nanti, 54.Aman, 55.Adam, 57.But, 59.HUT.

Nama-nama pemenang TTS Tabloid Tabangun Aceh Edisi 20 : 1.Shyva Annisa, Kelas IV, SDN No. 4 Banda Aceh, 2.Dian Morica, Kelas III. A, SD. Negeri 10 Komplek Panteriek - Banda Aceh, 3.Muhammad Aqil Khaasyi, Kelas V.C, Min Beungcala Kuta Baro Aceh Besar, 4.Ikhsan Andryan Paradiso, Kelas III. A, SDN I Puntuet (Bl. Mangat), 5.Riza Mulyana, Kelas III. A, SD Neg. 1 Bintah Kec. Madat, 6.T. Alfa Ramadhana, Kelas V. B, SDN I – Lhokseumawe. TTS ini diperuntukkan bagi siswa-siswi SD/MI. Kirimkan jawaban ke alamat redaksi, d/a Bappeda Aceh, Jl.Muhammad Daud Beureueh Banda Aceh, dengan menyertai potongan TTS dan menulis identitas diri (Nama, TTL, Alamat Sekolah). Di sudut kiri amplop ditulis TTS Anak. Hadiah akan dikirim ke alamat sekolah masing-masing (redaksi)

BRI (Bank Rakyat Indonesia) menyediakan bingkisan untuk masing-masing pemenang:

................................................................

: Kelas

................................................................

: Alamat Sekolah

................................................................

: Nama Sekolah

Nama Siswa

:

................................................................

Edisi 21

Nama-nama pemenang Mewarnai Tabloid Tabangun Aceh Edisi 20:

1.Sarah Guevara Aisha, Kelas III/3 A, Min Manggeng Desa Paya, 2.Asyraf, Kelas II, SD Neg. 9 Lut Tawar, Jln. Kartini – Takengon, 3.TM. Rifai, Kelas OB, TK Cut Meutia, Cek Ditiro - Banda Aceh, 4.Mutia, Kelas VI, SDN Lamkuyet Desa Lamkuyet - Aceh Besar, 5.Mona Khairan, Kelas Bintang, TK/IT Al- Azhar, Lamgugob, 6.Hilma Huriya, Kelas 3 SD, Sekolah Sukma Bangsa Panggoi, Muara Dua – Lhokseumawe.

Gambar mewarnai di atas diperuntukkan bagi siswa-siswi TK/SD/MI. Warnailah, lebih baik menggunakan PASTEL/KRAYON. Gunting (boleh difoto copy) dan kirimkan ke alamat redaksi d/a Bappeda Aceh Jl.Muhammad Daud Beureueh Banda Aceh, dengan mengisi identitas diri. Di sudut kiri amplop ditulis “MEWARNAI”. BRI (Bank Rakyat Indonesia) menyediakan 6 bingkisan sekolah kepada 6 karya terbaik. Hadiah akan dikirim ke alamat sekolah masing-masing.

Rubrik Kreatifitas Anak terselenggara atas dukungan dan kerjasama dengan


16

Tabloid TABANGUN ACEH - edisi 21 | APRIL 2012

Sekolah Kejuruan

Antarkan

Jamal jadi Pengusaha

P

ersaingan di era globalisasi kian ketat. Banyak orang mengeluhkan sulitnya mendapatkan pekerjaan. Karena itulah dibutuhkan keberanian, kegigihan dan persiapan sejak dini agar kita mampu bersaing dalam menapaki hidup ini. Begitulah antara lain “petuah” yang disampaikan Jamaluddin ST saat bincang-bincang dengan Tabangun Aceh, Senin (9/4/2012) malam di studio Glamour di bilangan Batoh, Banda Aceh. “Kegigihan dan pendidikan yang tepat akan membuat seseorang sukses dalam meniti persaingan hidup yang kian ketat. Saya sudah merasakan manfaat sekolah kejuruan sejak usia remaja, serta pengalaman bekerja sejak usia kanak-kanak. Semua itu menjadi bekal sangat berguna dalam hidup saya,” ujar Jamaluddin. Pria tampan kelahiran Reubee, Pidie, tahun 1974 lalu ini tampak sudah kenyang pengalaman dalam meniti hidup sejak kecil. “Saat masih sekolah SD dulu saya sudah terbiasa membantu orang tua pergi ke sawah di hari libur. Tidak hanya itu, saya juga menjual es batu di bulan puasa dan setiap hari mengedar es lilin ke kios-kios,” sambung alumnus Universitas Iskandar Muda (Unida) ini. Setamat SD, Jamaluddin melanjutkan sekolah ke sekolah kejuruan, yaitu Sekolah Teknik (ST) dan kemudian Sekolah Teknik Menengah (STM). Di ST dia mengambil jurusan Teknik Pekerjaan Logam, sementara di STM mengambil jurusan Gambar Bangunan. “Saat sekolah di STM, saya sering diberi tugas menggambar bangunan oleh guru dan itu cukup menyenangkan,” kenang Jamal. Ketika tamat STM, Jamal memilih fakultas yang mengajarkan keterampilan khusus sebagai tempat mengasah keterampilan diri. Di Unida dia mengambil ju-

rusan Teknik Sipil. Bukan Jamal namanya kalau tidak memanfaatkan waktu luang di celah-celah kesibukan kuliah. Dia tidak menyia-nyiakan waktu dengan hura-hura atau kongkow-kongkow. “Sambil kuliah saya bekerja pada sebuah perusahaan konsultan di Banda Aceh, dan menjelang tamat kuliah saya sudah mendirikan perusahaan pribadi, CV. Ie Krueng Reubee Consultant. Perusahaan ini sekarang telah meningkat statusnya menjadi PT. Reubee Consultant dengan grade III,” ujarnya bangga. Jamal sangat yakin, sukses tidaknya seseorang sangat tergantung pada usahausaha yang disemai yang bersangkutan. Selain itu, katanya, semangat pantang menyerah harus dimiliki setiap orang. “Jangan sampai karena gagal satu kali lalu takut membuka usaha di masa-masa berkutnya,” ujar suami Rita Herlina, karyawan BRI Banda Aceh. Selain memimpin beberapa perusahaan, pemuda Pidie yang dikenal aktif di beberapa organisasi sosial ini tercatat sebagai Sekretaris Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO) Aceh. Melalui INKINDO Jamal mengupayakan terjalinnya komunikasi antara konsultan dengan stakeholder-stakeholder, terutama pimpinan daerah agar perusahaan-perusahaan lokal diberi kepercayaan dalam mengerjakan pekerjaan di Aceh. “Hasil survey yang kami lakukan pada tahun 2009, ditemukan satu SKPA yang banyak mengelola proyek fisik tapi hanya 23 persen memakai perusahaan lokal. Pemerintah terutama DPRA kemudian memberi respon positif dan menegur SKPA tersebut,” ungkap mantan Ketua Ikatan Mahasiswa dan Masyarakat Delima (Ipedalma), Pidie, itu. Jamal berharap Pemerintah Aceh agar membuat peraturan yang bisa

melindungi perusahaan lokal. Jika tidak, dana-dana Aceh, terutama dana APBA, akan disedot perusahaan luar. “Siapa pun yang pimpin Aceh ke depan perlu mengakomodir masalah ini agar dapat mengurangi pengangguran. Selain itu, pengusaha lokal lebih paham kondisi Aceh dan lebih bertanggungjawab. Dengan adanya UUPA, maka sangat memungkinkan pengusaha lokal untuk diberdayakan. Kami harap agar turunan UUPA (qanun atau pergub, red) mampu melindungi perusahaan lokal,” pinta dia. Kepada generasi muda Jamal berpesan agar memilih bersekolah di sekolah kejuruan agar memiliki keterampil. “Saya sudah merasakan manfaat sekolah kejuruan. Dengan adanya keterampilan, kita mudah mendapatkan pekerjaan. Kerja itu tidak mesti menjadi PNS atau bekerja pada orang lain, tapi yang terbaik adalah membuka usaha sendiri sehingga tercipta lapangan kerja lebih banyak”, katanya. “Saya ingat sebuah kisah Kp Aree, Pidie, orang-orang yang membuka usaha sendiri lebih diutamakan untuk dijadikan menantu daripada karyawan atau PNS. Karena itulah kemudian muncul pengusaha-pengusaha muda di sana. Jangan takut berwira usaha karena Aceh masa lampau dikenal dunia karena perdagangan,” pungkasnya. [hasan basri m.nur]

Pemerintah Aceh agar membuat peraturan yang bisa melindungi perusahaan lokal. Jika tidak, dana-dana Aceh, terutama dana APBA, akan disedot perusahaan luar.

FOTO: RA KARAMULLAH


Gubernur Baru Harus Mandirikan Rakyat