Page 1



 SABTU, 18 AGUSTUS 2012

NOMOR: 7771

RP.4.000,-

SEPERTI REUNI: Gubernur SH Sarundajang dan Wagub Djouhari Kansil berfoto bersama dengan (dari kiri) Syachrial Damopolii, Jefferson Rumajar, JJ Saruan dan Abdi Buchari.

Ketemu SHS di Lapas, Yal, Abdi, Epe Enjoy Editor: Tommy Waworundeng

MANADO— Nyaris tak ada yang berubah dari penampilannya. Necis, rambut disisir rapi dan akrab dengan kaca mata hitam. Satu-satunya

yang berbeda dari Jefferson Rumajar adalah perannya dalam perayaan HUT Republik Indonesia kemarin. Jika sebelumnya mantan wali kota Tomohon itu melewatkan momen 17 Agustus sebagai inspektur upacara di

Pulang Upacara Bupati Boltim Diserang Warga Bupati Boltim

Antara Porto dan Lisbon, Antara Benfica dan Fatima PORTO memang tua, tapi sangat cantik karena banyak gedung lama nan indah arsitekturnya, ditambah Sungai Duomo yang bisa dilayari yacht besar. Keramahan dan kesopanan orang Portugal sungguh di luar dugaan saya. Kekhawatiran saya, bahwa Portugal akan sensi dengan saya yang Indonesia karena Baca Antara....

(5)

PENGUMUMAN Manado Post tidak terbit Minggu (19/8), dan kembali terbit edisi Senin (20/8).

INSIDEN

7 ABK Sulut Hilang Editor: Idham Malewa Peliput: Adrian Sigar

PEMILIK Kapal Layar Motor (KLM) Marlia Indah 60 GT pucat pasi. Suaranya bergetar saat melaporkan kapal miliknya berserta 7 anak buah kapal (ABK) tak jelas rimbanya. KLM yang mengitari laut antara laut Sulawesi dan Maluku Utara putus kontak saat memasuki perairan Buli Halmahera Timur ABK...... Hal 11

7 AWAK KLM MARLIA INDAH Kapten Rei ABK Refi ABK Jusman ABK Wan ABK Jufry ABK Abdon ABK Bima

graf@drian.mp

TUTUYAN— Insiden memalukan disertai ancaman menimpa Bupati Bolmong Timur Sehan Landjar dan istri Bupati, Nursiwin Dunggio, Jumat (17/8) siang. Pelecehan yang baru pertama kali menimpa seorang kepala daerah di Sulut ini, berlangsung usai Sehan memimpin upacara HUT kePeringatan HUT Kemerdekaan yang seharusnya berlangsung hikmat dan meriah,

tidak berlaku di Kabupaten Bolmong Timur (Boltim). Hut kemerdekaan, pagi kemarin, ternodai aksi brutal warga. Rombongan Bupati dilempari batu yang menyebabkan kaca depan mobil bupati pecah. Ditelusuri, persoalannya sepele. Hanya pelaksanaan tempat upacara. Tahun sebelumnya, pelaksanaan Upacara HUT Kemerdekaan dilakukan di Lapangan Tutuyan di ibukota kabupaten. Tapi, tahun ini panitai hut memindah lokasi pelaksanaan di Lapangan Bogani Baca Pulang.... Hal 11

Merah-Putih Berkibar di Bawah Laut

Hal 11

Baca 7

BUPATI DIHADANG: Tampak seorang warga menaiki deksel mobil dinas Bupati Boltim Sehan Landjar dan memecahkan kaca depan mobil tersebut.

Editor: Idham Malewa Peliput: Firman Toboleu, Chanly Mumu

Mobil Dinas DN 1, Fortuner putih yang dinaiki Bupati Boltim Sehan Landjar dan istri tiba-tiba dihadang massa sekira pukul 10.30 Wita Massa yang diperkirakan ratusan orang menghadang di jalan memasuki Desa Tutuyan, Kecamatan Tutuyan Aparat TNI dan pengawal Bupati tak mampu menghalau massa Sejumlah warga menggelar aksi. Sebagian naik di atas Mobnas dan melempari Mobnas dengan batu Diduga ada yang mengenai istri Bupati Kaca bagian depan Mobnas Bupati pecah, termasuk Mobnas Sekkab Boltim Assegaf Sumber: pengamatan di lapangan.

Baca Ketemu.... Hal 11

Proses Hukum Pelaku, Hormati Simbol Negara

Insiden Penghadangan dan Ancaman Insiden Penghadangan dan Ancaman Bupati Boltim

MARKETING SERIES

Kota Tomohon, Jumat kemarin lelaki yang akrab disapa Epe ini merayakan proklamasi dengan ratusan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas)

Gangga Gangga Bitung Bitung Bitung Bitung Bitung

Wartawan dan seluruh karyawan event organizer, iklan, dan pemasaran Manado Post dilarang menerima uang atau pemberian dalam bentuk apapun dari sumber berita dan relasi.

Teluk Manado Belum Merdeka dari Sampah Editor: Tommy Waworundeng Peliput: Naomi Siregar

MANADO—“Merdekaaa‌!!!â€? Pekik semangat anak-anak muda di Kota Manado mengawali upacara pengibaran bendera Merah-Putih, memperingati HUT ke-67 RI, yang berlangsung di kawasan Megamas. Jumat (17/8) kemarin, sekira pukul

07.00 Wita, para mahasiswa dari Fakultas Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi Manado, mahasiswa Politeknik Negeri Manado, dan mahasiswa Della Sale Manado, menuruni laut Teluk Manado. Kehadiran mereka turut didukung 75 diver dari Ikatan Sarjana Kelautan Unsrat (ISKU), Pencinta alam Ilmu Kelautan (PALAMIK), Himpunan Mahasiswa Ilmu Kelautan, Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi, Sitaro, Pangkalan Utama TNI AL wilayah VII Manado, Polda Sulut, Dragonnet dive Center, dan Thalasa Dive Center. Semua

bersemangat untuk melaksanakan upacara pengibaran bendera bawah laut. Inilah wujud ungkapan syukur masyarakat Kota Ekowisata karena telah mereguk kemerdekaan, setelah 67 tahun para pahlawan negeri ini berjuang melawan penjajah. Setelah panitia kegiatan menyisir lokasi, yang bertempat di depan pohon kasih Megamas, para tamu undangan pun dipersilahkan memasuki tenda acara. Tampak hadir di sana Kepala Bidang Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau kecil dan Pengawasan Baca Merah.... Hal 11

HORMAT GRAK: Tampak peserta upacara HUT ke-67 RI memberi hormat dengan sikap sempurna, ketika Merah-Putih mulai dinaikan.

Christo Bawelle dan Nikita Lengkey, Paskibra Sulut di Pusat

Bawelle Komandan 17, Bangga Dijamu SBY Kerja keras selalu berbuah manis. Ini jugalah yang dirasakan Christo Bawelle, siswa SMA Negeri 1 Tahuna dan Nikita Ester Lengkey, siswi SMA Kristen 1 Tomohon), dua Paskibra utusan Sulut di pusat yang tampil mengesankan saat upacara bendera kemarin. Editor : Stenly Kowaas Peliput: Fabian Ilat

PERINGATAN Hari Ulang Tahun (HUT) ke-67 Proklamasi Republik Indonesia Jumat (17/8) kemarin, memberi kesan tersendiri bagi pasangan pasukan pengibar bendera (Paskibra) asal Sulut, Christo Bawelle (Siswa SMA Negeri 1 Tahuna, Kabupaten Sangihe)

dan Nikita Ester Lengkey (Siswi SMA Kristen 1 Tomohon). Lebih mengesankan lagi, Christo dipilih pembina Paskibra pusat untuk mengomandani

Seluruh urusan pembayaran ke Manado Post dalam bentuk advetorial, society, iklan, dan koran harus melalui kontrak dan atau kwitansi resmi.

Baca Bawelle... Hal 11

USAI BERTUGAS: Christo Bawelle dan Nikita Lengkey, Paskibra pusat asal Sulut usai melaksanakan tugas kenegaraan, di HUT ke-67 RI, Jumat siang.

Bila sumber atau relasi mensinyalir adanya transaksi ilegal sangat dianjurkan menyampaikan sms pengaduan ke 085343951819

Alamat: Manado Post Center Manado Town Square Blok B 14/15 Telp. 0431 855558, 855559, Fax: 0431 860398 homepage: www.manadopost.co.id e-mail: editor@mdopost.com


11

SABTU, 18 AGUSTUS 2012

MAX MANGIMBULUDE

MERAH............ SAMBUNGAN HAL 1

Sumberdaya Kelautan dan Perikanan (KP3K-PSDKP) DKP Sulut Ir Ronald Sorongan MSi. Hadir juga sejumlah dosen seperti sekretaris PS Ilmu Kelautan Dr Ir Joice Rimper MSi, Ketua Ikatan Sarjana Ilmu Kelautan Unsrat Dannie Oroh SPi MSi, Ketua Program Studi Ilmu Kelautan Unsrat Gustaf Mamangkey SPi MSc PhD, Ketua Pemuda Pancasila Paulus MP, perwakilan Dinas Pariwisata Kota Manado, anggota Aku Cinta Sulawesi Utara (ACSU), dan organisasi masyarakat. Mewakili pihak sponsor hadir Manado Post, Swiss-belHotel Maleosan Manado, operator seluler XL, Bank BTN, dan Megamas. Ini bukanlah kali pertama dilangsungkan pengibaran bendera dari bawah laut. Tahun-tahun sebelumnya pun, masyarakat Manado dan para pecinta bahari menggelar peringatan HUT RI dengan cara yang sama. Namun tetap saja, peringatan kemarin terasa hikmat dan semarak. Mengusung tema “Di Laut Jita Jaya, di Laut Kita Berkarya”, anakanak muda ini menunjukkan ekspresi nasionalisme mereka terhadap kemerdekaan laut Indonesia. “Kami mengadakan kegiatan ini untuk menunjukkan bahwa perairan Teluk Manado milik bangsa Indonesia dan harus dibebaskan dari jajahan sampah,” kata Ketua Himika Efra Wantah. Ironis memang, upacara BAWELLE............ SAMBUNGAN HAL 1

mengomandani pasukan 17 yang diisi perwakilan provinsi di tanah air. Bawelle memimpin 15 rekannya dari provinsi lain dalam barisan tersebut saat pelaksanaan pengibaran bendera pada pagi hari. ”Saya dipilih sebagai komandan kelompok (Danpok,red) 17 pagi. Suatu kejutan juga karena siapa yang menjadi komandannya nanti ketahuan pagi hari. Tapi sebelumnya, ada proses seleksi dari pelatih,” kata Christo yang merupakan anak pasangan Vicktor Bawelle dan Tri Senduk itu. Puji syukur tak henti dipanjatkan penggemar mata pelajaran Biologi tersebut. Christo yang merupakan salah satu siswa berprestasi di sekolahnya mengaku ada pengalaman baru yang didapat saat dirinya menjalani proses karantina di Jakarta. ”Yang paling berkesan, ANTARA............ SAMBUNGAN HAL 1

pernah bermusuhan dengan RI masalah Timor Leste, ternyata tidak terbukti. Apalagi, saat ini Eropa lagi krisis, sedangkan Asia sedang berjaya. Saat jadi keynote speaker sebuah konferensi tahunan marketing di Porto, saya datang dua hari lebih awal. Itu memang kebiasaan saya bila diundang bicara di sebuah kota yang belum pernah saya kunjungi. Tujuannya, tidak lain ya mempelajari situasi setempat, termasuk local wisdomnya. Rui Ribeiro, sahabat saya di sana, ada miripnya dengan saya, memulai membangun perusahaan konsultan pemasaran QSP pada lima tahun yang lalu. Dia menemukan nama saya di internet dan tertarik pada konsep marketing yang saya kembangkan. Karena itu, dia lantas mengundang saya. Walaupun hanya dibantu empat staf, dia mampu mengorganisasi sebuah The QSP Summit yang selalu dihadiri 500 orang tiap tahun. Saya bilang kepada dia, sampai lima tahun MarkPlus Inc KETEMU............ SAMBUNGAN HAL 1

Tuminting. Epe sendiri tak risih membaur dengan para Napi dan rombongan Muspida Provinsi yang dipimpin Gubernur Sulut Dr SH Sarundajang. Jumat (17/8) kemarin, gubernur menjadi inspektur upacara pada perayaan HUT ke-67 RI di Lapas Tuminting. Dibalut seragam Napi berwarna biru, lengkap dengan nomor tahanan, Epe berusaha tegar bersama sejumlah mantan petinggi di Sulut yang saat ini menjadi penghuni Lapas Tuminting. Mereka di antaranya Syachrial Damopolii, JJ Saruan, Abdi Buchari dan Mieke Nangka. “Harus sabar dan bisa menerima kenyataan hidup. Mungkin satu saat ada yang mengalami hal seperti saya sekarang. Waktunya saja yang mungkin berbeda,” ungkap Epe kemarin. Ia menambahkan, dunia ini berputar seperti bola mobil. Hari ini pejabat lain yang mendapat masalah, esok giliran pejabat lain yang merasakannya. “Pasti akan tiba waktunya dimana orang tidak pernah terlintas dan akhirnya mengalami hal seperti yang saya jalani sekarang,” katanya sembari

tersebut berlangsung di tengah genangan sampah plastik yang mengapung di teluk. Sekira pukul 10.30 Wita, upacara dimulai. Para tamu undangan dan masyarakat yang hadir berkumpul di badan jalan menghadap laut. Di depan mereka telah dipatok tiang bendera setinggi 17 meter di laut yang memiliki kedalaman 9 meter. Sebanyak 30 anggota tim pengibar dalam posisi siaga di air, sementara 35 anggota lainnya dipersiapkan untuk penurunan bendera. Waktu berjalan, mulai dari pembacaan Undang-Undang Dasar 1945, pembacaan teks Proklamasi, sampai pada akhirnya tiba saatnya pengibaran bendera Merah-Putih. Miss Ocean 2012 Gleadys Tirayoh ber-snorkeling menuju tiga mahasiswa Ilmu Kelautan Unsrat yang ditunjuk sebagai pengibar bendera yakni Jerry Maramis, Yoris Pioto, dan Yeremia Tulumena. Walau pun terik matahari menyengat kulit, namun wajah para undangan tampak serius melihat tim pengibar, apalagi ketika mereka menyelam sambil membawa bendera. Setelah mendengar tanda siap dari dalam air, pemimpin upacara langsung menginstruksikan penghormatan kepada Merah-Putih. “Kepada Sang Merah-Putih.. Hormaaat graaak!” pekik lantang seolah menghentikan detak jantung. Seketika rasa bangga menyeruak saat instrumental Indonesia Raya menggema di udara. Semua orang berdiri dengan sikap

sempurna, menghormat sambil menanti bendera bangsa naik perlahan. Sebanyak dua kali lagu Indonesia Raya diputar, sampai pada akhirnya bendera sampai di ujung tiang. Ia telah berkibar, sebagai tanda kemenangan. Pantaslah bila masyarakat yang menyaksikan upacara itu serentak bertepuk tangan lepas, sambil menahan haru. Dalam sambutannya, Pembina Upacara Gustaf Mamangkey menyatakan bahwa kemerdekaan ini mesti memacu anak-anak muda Manado agar lebih peduli dengan kelangsungan hidup bahari di laut Sulut, terutama Teluk Manado. “Selama di laut masih ada sampah, kita belum merdeka. Selama laut masih kotor, nelayan, penyelam, dan wisatawan belum merdeka. Karenanya, dengan mengibarkan bendera dari bawah laut, kita buktikan kalau masyarakat Manado menyatakan perang terhadap sampah,” ujarnya. Sebagai bukti dari kecintaan itu pulalah, usai upacara para peserta langsung melakukan bersih-bersih pantai. Karungkarung yang dibagikan mulai terisi sampah yang berserakan di pesisir pantai hingga celahcelah batu. Terkumpul banyak sampah, namun tetap saja belum bisa memerdekakan Teluk Manado. Masih ada plastik yang tampak mengapung. Ironis, namun pastinya ini akan menjadi pekerjaan rumah yang berkesinambungan. Usai membersihkan pantai, sebagaimana rutin digelar

setiap memperingati HUT RI, para peserta upacara diundang bergabung dalam berbagai permainan khas 17-an. Ada snorkeling baskeball, lomba makan kerupuk di laut, lomba tarik tambang di laut, dan lomba gigit melon di laut. Tentu saja kegiatan ini disambut gembira, selain seru pastinya unik karena dilakukan di tengah laut. Sehari memperingati HUT ke-67 RI tidak terasa lengkap tanpa upacara penurunan bendera. Meski formasi tim agak sedikit berbeda, sebanyak 35 orang yang bertugas menunjukkan mereka mampu melaksanakan tugas dengan benar. Sekira pukul 15.30 Wita, para pengibar yang dipimpin Ronald Sorongan turun ke dalam air, seiring dengan matahari sore yang mulai turun. Pukul 17.30 Wita, satu persatu mahasiswa dan tamu undangan meninggalkan lokasi pengibaran dan penurunan bendera. Semua pulang dengan rasa syukur karena sampai hari ini segenap bangsa Indonesia masih bisa menghirup udara kebebasan, bebas dari penjajah. Namun satu tanya yang juga mesti dibawa pulang untuk direnungi masyarakat Manado, sudahkah Teluk Manado merdeka dari sampah? “Menjaga kelestarian laut sebagai titipan untuk anak cucu di masa yang akan datang. Inilah hal positif yang bisa dipersembahkan kepada bangsa Indonesia yang kita cintai,” pesan Oroh, yang juga dikenal sebagai pemerhati bahari. (***)

saya harus sama-sama bangun sahur dengan rekan-rekan yang beragama muslim. Begitupun saat buka puasa, saya juga ikut berbuka bersama mereka. Ini sungguh pengalaman berkesan yang tidak akan saya lupakan,” kata Bawelle. Dengan suara lantang, Christo mengaku kecintaan dengan kegiatan baris-berbaris sudah muncul sejak dirinya berada di sekolah dasar. Saking berpotensinya, setiap kali perayaan tujuhbelasan Christo sering mendapat kepercayaan menjadi komandan baris berbaris. ”Saya juga sampai saat ini masih belum percaya bisa melewati pelaksanaan upacara peringatan hari kemerdekaan di hadapan presiden. Sejak dari Manado, saya lihat peluang untuk ke Jakarta sangat kecil, karena mendapat saingan dari para Paskibra dari kabupaten/ kota se-Sulut. Tapi puji Tuhan saya

mendapatkan kesempatan ini,” tambah Christo yang mengatakan selesai sekolah nanti ingin mengikuti penerimaan di akademi Kepolisian. ”Bangga juga karena sudah bertemu dengan presiden meski hanya 5 detik saat berjabat tangan,” kata lelaki kelahiran 23 September 1995 itu. Rasa sukacita juga dilontarkan Nikita Lengkey. Putri sulung dari Danny Lengkey dan Susan Poluan itu mengaku mendapat banyak teman dan pengalaman segudang saat terpilih menjadi Paskibra pusat. Siswi Kelas III IPA itu menuturkan, kekompakan dan rasa kebersamaan terus terbina dalam masa karantina yang masuk 5 minggu tersebut. ”Tentunya ada kebanggaan jadi Paskibra utusan Manado. Tidak menyangka bisa datang ke Jakarta dan menjadi Paskibra pusat. Saya bersyukur pada Tuhan atas kesempatan yang diberikan,” ujarnya. Niki, sapaan akrab Nikita,

menambahkan setelah pulang Manado, dirinya ingin membagi pengalaman yang didapat saat mengikuti karantina Paskibra Nasional tersebut. Tentunya, kata Niki, pengalaman bagaimana mekanisme baris berbaris yang benar akan diterapkannya. ”Saya juga berharap, generasi muda Sulut untuk bisa terus mencetak prestasi. Berkompetisi dalam hal-hal positif sehingga apa yang kami raih saat ini, bisa diikuti generasi muda selanjutnya. Hindari pengaruh Narkoba dan hal negatif lainnya,” kata penyuka mata pelajaran Matematika itu. Angel Bangkang, pendamping Paskibra Putri yang kebetulan berada di samping keduanya saat diwawancarai berharap pengalaman yang didapat Christo dan Nikita bisa dilanjutkan ke daerah. ”Agar wakil Sulut tahun mendatang makin bagus,” ujar Angel yang juga mantan Paskibra Nasional pada 2007 lalu. (*)

didirikan dari Surabaya, yang juga kota terbesar kedua di Indonesia, saya juga hanya dibantu empat orang. Sebagai keynote speaker, waktu itu saya di-brief bahwa kesebelasan Porto selalu menjadi musuh bebuyutan Benfica yang bermarkas di ibu kota Lisbon. Karena yang datang waktu itu separo dari Porto dan kira-kira separonya lagi dari Lisbon, saya harus fair. Supaya lancar, saya menghafal skor terakhir hasil pertandingan antara dua kesebelasan itu. Benfica baru saja mengalahkan Porto 3-2. Walaupun, sebelumnya Porto mengalahkan Benfica dengan 2-0. Dan, benar adanya. Begitu saya bicara soal bola, langsung saja pengunjung bertepuk tangan. Mereka memang men-support masing-masing kesebelasan. Mereka sangat menghargai orang asing seperti saya yang ter-update soal hasil bola mereka. Selanjutnya, menyangkut marketing, saya langsung tekankan pentingnya sebuah negara yang sedang krisis untuk balik ke human spirit. Tapi,

saya juga nurut pada pesan Rui sebelumnya. Walaupun mayoritas orang Portugal itu penganut Katolik, jangan bicara terlalu banyak tentang agama. “They will not buy your message if you talk too much about Christianity,” katanya. Keesokan harinya saya mampir ke Fatima, tempat penampakan Bunda Maria, di tengah perjalanan ke selatan dari Porto ke Lisbon. Sebagai orang Katolik, saya ingin sekali mengunjungi tempat itu guna melengkapi kunjungan rohani saya ke dua tempat penampakan lain. Yaitu, Lourdes di Prancis dan Guadalupe di Mexico City. Ke Fatima, saya diantar seorang staf Rui bersama istrinya yang lagi hamil. Mereka memang ingin ke Fatima untuk mendoakan anak mereka yang akan lahir beberapa bulan kemudian. Ketika saya bertanya pada pemilik restoran dan toko di Fatima, selama krisis ternyata pengunjung turun drastis dan omzet mereka juga ikut turun tajam. Sampai di Lisbon, saya diantar untuk memasuki Stadion Benfica yang terkenal itu.

Ketika beli jersey resmi Benfica, saya juga bertanya tentang pengaruh krisis ke sepak bola. Eh ternyata, jumlah penonton malah naik, apalagi Benfica lagi menang terus. Rupanya nonton sepak bola bisa membuat mereka melupakan krisis Eropa sejenak. Hal yang sama saya dapatkan ketika mampir di Nou Camp, stadionnya Barcelona. Makin banyak orang beli jersey Barca dan nonton pertandingan saat krisis. Padahal, di Asia, waktu krisis terjadi, kecenderungannya orang menjadi makin religius. Makin banyak yang ke masjid, gereja, dan kuil di seluruh Asia.” Karena Marketing 3.0 hanya berurusan dengan aspek antara marketer, brand, dan customernya, hubungan itu bersifat horizontal. Bukan vertikal. Ekstremnya, I don”t care wether you are a believer or non-believer. The point is please be honest to your customers. Don”t cheat them. Di “Marketing 3.0, saya memang hanya bicara aspek minannas atau horizontalnya. Konsep universal di era internet. Bagaimana pendapat Anda?

berusaha tersenyum. Epe menambahkan, suasana perayaan HUT RI di Lapas adalah pengalaman kedua selama menjalani masa penahanan. “Tentu suasananya lain. Saya dan teman-teman di sini merasakan suasana kemerdekaan dengan keadaan yang dibatasi. Tapi sudahlah. Ini menjadi tantangan tersendiri,” jelasnya sembari menambahkan walaupun di Lapas kecerdasan intelektual serta semangat untuk membangun bangsa tidak pudar. Gubernur sendiri dalam sambutan singkatnya mengajak seluruh warga binaan Lapas Tuminting agar senantiasa tabah dalam menghadapi permasalahan dan pergumulan yang dirasakan. Ia juga mengatakan, Lapas adalah tempat mendidik para narapidana, agar saat bebas nanti bisa mendapatkan pekerjaan yang layak sesuai keahlian yang diperoleh di Lapas. “Pasti yang akan bebas nanti bisa beradaptasi lagi dengan lingkungan yang baru,” kata SHS. Usai upacara bendera, SHS saling berjabat tangan dengan Epe, Yal, Buchari, Saruan dan Nangka. Hanya senyuman yang tampak di antara SHS dengan Epe

cs. “Ini memang sudah menjadi kebiasaan. Usai upacara saya harus berjabat tangan dengan beliau (gubernur, Red),” singkat Buchari. Sementara itu, saat diwawancarai Yal mengaku merasakan sesuatu yang lebih saat merayakan upacara di Lapas. “Terasa lebih sakral merayakan 17 Agustus di sini ketimbang saat itu ikut upacara di kantor gubernur. Di Lapas kita menghayatinya dengan sepenuh hati dan semangat 45,” ujar mantan Ketua DPR Sulut ini. Buchari menambahkan, upacara di dalam Lapas bukan hal asing buatnya. “Ini kali ketiga saya ikut upacara 17 Agustus di Lapas. Dibanding tahun-tahun sebelumnya, tahun ini yang terasa lebih meriah,” ungkap bekas wali kota Manado ini. Selain gubernur, yang hadir dalam upacara kemarin, yakni Kapolda Sulut Brigjen Pol Dicky Atotoy, Kajati Hindiyana SH, Wagub Dr Djouhari Kansil, Danlantamal Laksma Guguk Handayani serta Danlanudsri Letkol Pnb Jorry S Koloay. Di sisi lain, lepas dari kehadiran rombongan gubernur serta beberapa mantan petinggi Sulut yang saat ini menjalani masa

tahanan di Lapas, keberadaan beberapa Napi yang menjalani hukuman seumur hidup jadi pemandangan tersendiri. Setli Longkop, salah satu terpidana seumur hidup saat diwawancarai koran ini mengaku tetap semangat menjalani hidup. “Ini mungkin sudah takdir Tuhan, bahwa hidup saya harus dihabiskan di dalam Lapas. Sekarang saya hanya mengharapkan grasi dari presiden. Sudah tiga kali saya mengusulkan grasi, tapi sampai sekarang belum ada jawaban,” ungkap narapidana pindahan dari Kotamobagu ini. Selain Longkop, ada empat narapidana lain yang sementara menjalani hukuman seumur hidup, masing-masing James Koagaw, Reinhard Tahulending, Michael D Lawidu serta Fadly Torindatu. Bersama Longkop, mereka dijerat pasal 340 tentang pembunuhan. Zanwar, Kepala Pengamanan Lapas Tuminting mengatakan, dari lima narapidana yang menjalani hukuman seumur hidup, Longkop, Koagaw dan Tahulending sudah mengajukan grasi. “Tapi sampai sekarang belum dibalas,” tambahnya. (ctr01/lee)

Soal Ujian CPNS Rampung Seleksi 8 September di Sulut Siap Digelar JAKARTA- Persiapan pelaksanaan ujian seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) pusat yang akan berlangsung serentak pada 8 September di seluruh Indonesia termasuk Sulut sudah rampung. Konsorsium 10 perguruan tinggi negeri (PTN) yang ditunjuk pemerintah, memastikan soal ujian beserta lembar jawabannya sudah komplit. “Semua sudah komplit dalam bentuk master soal dan kunci jawaban. Lembar Jawaban Komputer (LJK) sudah selesai, termasuk SOP (Standard Operating Procedures) penyusunan dan pengolahan soal,” ujar Ketua Konsorsium 10 PTN, Prof Pratikno Pratikno memaparkan, konsorsium telah melakukan tugas-tugasnya. Antara lain menyusun materi, menyiapkan LJK, mengolah LJK, menyampaikan hasil LJK hingga menyusun SOP soal. Dia menuturkan, soal ujian tersebut mencakup kompetensi dasar yang terdiri dari tiga poin, seperti PULANG............ SAMBUNGAN HAL 1

berhasil. Massa terlalu besar, tidak sebanding dengan personil keamanan. Saat Bupati dan aparat lagi berdialog, tiba-tiba sekelompok massa melompat di bagian depan Mobnas. Sambil berteriak mereka melompat kecil. Massa akhirnya memberikan jalan kepada rombongan, setelah aparat keamanan membujuk ‘’Kami kecewa dengan sikap Bupati yang memindahkan tempat upacara di Kotabunan. Kecamatan Tutuyan harga mati,’’ teriak sejumlah massa dengan wajah dingin. Menurut sumber, aksi massa ini sempat membuat Landjar shock dan kelihatan emosional. Apalagi sang istri tercinta ikut kena percikan lemparan batu. Dunggio sempat dilarikan ke Rumah Sakit Buyat-Ratatotok. Bupati yang terkenal humoris ini mengaku kecewa dengan aksi yang diduga digerakkan oknum tertentu. Sehan yang berupaya menahan emosi karena sedang berpuasa, mengaku tak menyalahkan warga yang tidak tahu apa-apa. Namun, ia telah meminta aparat kepolisian secepatnya mengusut tuntas. Dia menduga ada aktor di balik penghadangan terhadap simbol negara. ‘’Saya sudah mendengar ada yang memanasi warga. Untuk itu, aksi ini harus diusut tuntas untuk mengetahui siapa aktor,’’ tandas Sehan sambil meminta nama oknum tersebut jangan disebut. Ia mengaku, masih agak trauma dengan insiden ini. Namun, sebagai abdi negara dan masyarakat, Sehan menyadari ini resiko jabatan. ‘’Tapi saya berharap dan mengimbau warga jangan terpancing dan melakukan tindakan anarkis,’’ ingatnya. Dia menduga, faktor utama kemarahan massa adalah bias informasi yang sengaja dihembuskan. Banyak yang menduga, upacara di Kotabunan, bagian dari pemindahan ibukota kabupaten dari Kecamatan Tutuyan. ‘’ Siapa yang mau pindah ibukota? Kita di Kotabunan setelah koordinasi bersama Pemkab, TNI dan Polri di Boltim,’’ katanya. Menurut Sehan, selama dia menjadi bupati, maka lokasi upacara HUT RI akan digelar di semua kecamatan. ‘’Kalau tahun depan insyallah upacara di kecamatan lain yang belum dapat giliran. Ini supaya semua warga di Boltim merasakan makna kemerdekaan yang sesungguhnya,’’ jelasnya. 7 ABK............

SAMBUNGAN HAL 1

Sabtu (11/8) pagi, sekira pukul 07.10 WITA. “Sampai saat ini, kapal masih dicari,” ungkap Ales Kariar, pemilik kapal saat dihubungi via ponsel kemarin malam. Ia mengatakan, kapal tersebut mengantar sembilan bahan pokok (Sembako) dari pelabuhan Bitung, Sabtu (11/8) subuh sekira pukul 02.00 WITA. “Direncanakan kapal tersebut tiba di Buli, Minggu (12/8) sekira pukul 15.00 WITA,” tuturnya. Lanjutnya, pembicaraan terakhir dalam keadaan baik. Kemudian kontak dengan kapal terputus karena sudah jauh dari jangkauan radio. “Dan sampai saat, kami belum mengetahui kabar mereka,

wawasan kebangsan, intelenjesi umum dan karakteristik kepribadian. Namun, Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) itu mengakui masih harus membahas lebih lanjut masalah pengolahan soal. Menurut rencana, hasil ujian CPNS akan diolah di dua PTN, yakni Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). “Itu rencananya,”urainya. Pelaksanaan ujian CPNS kali ini, lanjut Pratikno, merupakan hal baru. Meski kesepuluh PTN sudah berpengalaman dengan SNMPTN, ujian CPNS memiliki format yang berbeda. “Kalau SNPMTN kan semuanya integrated dari hulu ke hilir. Tapi kalau ujian CPNS, Konsorsium membuat soal, memindai LJK sampai mengoreksi,”urainya. Karena itu, lanjut dia, pihaknya harus memaksimalkan pengawasan untuk ujian CPNS yang akan berlangsung 8 September mendatang. Dia menuturkan, ada beberapa pihak yang akan mengawasi ujian. Antara lain tim Panitia Seleksi, perwakilan Konsorsium, Ombudsman dan pihak kepolisian. “Di pusat nanti ada ICW (Indonesia Corruption Watch (ICW) yang juga mengawasi. Semoga ICW juga bisa turun ke

daerah-daerah,”kata dia. Pratikno menegaskan, materi soal akan dibikin dan dicetak sebaik mungkin. Sehingga saat didistribusikan ke daerah tidak terdapat kesalahan atau kasus soal yang cetakannya kurang jelas. Sebab, para pengawas yang terjun di lapangan, dilarang memberikan interpretasi atas materi soal. “Tidak ada ruang interpretasi atau pemecahan ulang soal oleh pengawas. Karena pengawas tidak berhak melakukan itu,”tegasnya. Deputi Bidang SDM Aparatur KemenPAN dan RB Ramli Naibaho menambahkan, ujian CPNS akan berlangsung di 198 titik di seluruh Indonesia. Menurut dia, setiap titik, idealnya diawasi oleh tiga orang pengawas. “Tapi kalau maksimal sesuai dengan jumlah peserta, ya harusnya lima orang pengawas. Mereka setidaknya minimal kerja lima hari,”jelasnya. Untuk menghindari soal yang “masuk angin”, Ramli memaparkan sejak proses soal digandakan oleh pihak instansi, soal tersebut dititipkan di kantor kepolisian di masing-masing daerah sebelum hari H. “Kita sudah ada komitmen dengan pihak kepolisian. Ini untuk menghindari resiko-resiko yang tidak diinginkan,”kata Ramli. (jpnn)

Terkait alasan warga yang meminta upacara tidak dipindahkan, Sehan mengatakan sebenarnya seperti itu. Namun, karena kondisi lapangan sedang direnovasi, maka panitia memutuskan untuk memindah pelaksanaan upacara. “Ini karena lapangan di Tutuyan tidak bisa digunakan,” kata Sehan. Memang, dari semua sumber Koran ini, aksi brutal dipicu kemarahan warga Tutuyan kepada Bupati. Mereka kecewa upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI tidak dibuat di Tutuyan sebagai pusat kabupaten dan pemerintahan. Tapi dibuat di Kotabunan, kecamatan tetangga. Hampir seluruh warga Tutuyan bersatu kecewa karena menganggap bupati meremehkan Tutuyan, apalagi ketika tiang bendera di Lapangan Pondabo Tutuyan dibongkar dan dipindahkan ke Lapangan Kotabunan. Warga yang kecewa, berkumpul dan membuat upacara sendiri di Lapangan Pondabo. Kekecewaan warga tidak bisa terbendung lagi, terus memuncak, dan massa bertambah banyak. ‘’ Demo ini merupakan akumulasi kekecewaan kepada Landjar. Yang sudah banyak melukai hati masyarakat Tutuyan. Mulai dari isu memindahkan pusat ibu kota kabupaten, pembobolan kantor BKDD Boltim yang dituduh kelalaian masyarakat Tutuyan karena tidak bisa menjaga keamanan, banyak honerer asal Tutuyan yang dipangkas. Proyek-proyek yang disinyalir hanya mengalir ke orang-orang dekat atau kerabat Landjar, serta statement yang dinilai hanya manis di bibir. Intinya kita masyakat Tutuyan sangat kecewa kepada dia (bupati),” ujarnya. Kasubang Humas Boltim Frida Manoppo ketika dimintai konfirmasi mengaku alasan mengapa upacara HUT Kemerdakan RI dibuat di Lapangan Kotabunan karena lapangan di Tutuyan tidak siap. “Karena Lapangan Pondabo akan direnovasi,” katanya sambil menduga ada provokator di balik aksi masyarakat Tutuyan. Namun menurut pengakun warga, Lapangan Pondabo Tutuyan memang rencana direnovasi, tapi kontraktornya belum mulai dan lapangan masih layak. “Seandainya tidak dibuat di Pondabo, di Tutuyan kan ada dua lapangan, Pondabo dan di dekat Puskesma Tutuyan,” ujar sumber Rupanya disaat upacara peringatan kemerdekaan berlangsung di Kotabunan,

masyarakat Tutuyan juga menggelar upacara yang sama di Lapangan Pondabo, Tutuyan. Bertindak sebagai Inspektur Upacara (Irup) Sangadi Tutuyan II Piantai Potabuga. Tidak sempat diikuti, tetapi dari sejumlah rekaman handphone, Piantai Potabuga mengatakan Ibukota harga mati. “Tutuyan harga mati, tidak bisa dibawa ke mana-mana, upacara harus di Tutuyan,” kata Potabuga. Sekretaris Daerah (Sekda) Ir Mohammad Assagaf, mengatakan keputusan pemindahan lokasi pelaksanaan upacara dari Lapangan Pondabo Tutuyan ke Lapangan Bogani Kotabunan, karena lapangan Pondabo sedang direnovasi untuk dibuat taman. “Lapangan Pondabo tidak memenuhi syarat, karena itu digunakan lapangan di Kotabunan untuk upacara bendera,” tegas Assagaf, yang diaminkan Assisten III Djainudin Mokoginta. Disisi lain, Kapolsek Urban Kotabunan Kompol Hamdi Lobangon, mengungkapkan kejadian akan diusut kepolisian. “Ini sudah merupakan tugas kepolisian untuk ditindaklanjuti. Apalagi ini merupakan agenda perayaan Negara. Sesuai perintah Bupati, ini akan ditindak. Kami akan mencari tahu apa dan siapa yang menjadi otak kejadian tersebut,” tegas Lobangon. Aksi ini banyak menimbulkan prokontra. Sejumlah tokoh masyarakat di antaranya Argo Sumaiku Boltim menyesalkan sikap anarkis yang mengancam simbol negara. Seharusnya warga tidak terprovokasi dengan melakukan aksi yang sangat mencemaskan orang banyak. ‘’Kami tidak melarang ada demonstrasi. Tapi janganlah menggunakan kekerasan terlepas dari apapun isi aspirasinya. Apalagi dilakukan di bulan Ramadan,’’ ujarnya. Sebagai umat beragama dan menghargai budaya Bolmong, masyarakat Boltim dan Tutuyan harus mampu kendalikan nafsu apalagi Idul Fitri tinggal beberapa hari lagi. ‘’Kami tidak melarang ada aspirasi, tapi jangan sampai merusak fasilitas negara, apalagi sampai mengancam nyawa kepala daerah,’’ ingatnya. Untuk itu, kata Argo yang juga legislator ini, mendesak aparat kepolisian mengusut siapa dalang di balik aksi ini. ‘’Kami meminta aparat secepatnya ungkap siapa dalang dan proses secara hukum, karena yang diserang adalah simbol negara,’’ pintanya.(can)

karena radio mereka tidak aktif lagi,” ujarnya. Karena beberapa hari tidak ada kontak lagi dengan kapal yang dibelinya dari Kalimantan sejak empat tahun yang lalu, ia pun berusaha mencari dengan menghubungi pelabuhan Buli dan tempat-tempat yang biasa dijadikan perlindungan kapal-kapal dari angin dan ombak yang kencang. “Kami pun melaporkan ke Tim SAR Bitung, Selasa (14/8), karena kapal itu diduga hilang. Sebab saat dicek ke semua tempat persinggahan (pelabuhan), mereka tidak pernah berlabuh. Apalagi menurut kapal lain yang berlayar hari itu juga, saat itu berangin kencang dan berombak,” tutur Kariar sembari menambahkan, sudah memberitahukan di Kanto

Pusat Tim SAR di Kauditan Minut. Ia mengatakan, pencarian keberadaan kapal dan tujuh ABK masih terus dilakukan. “Sampai sekarang, Tim SAR dan Angkatan Laut (AL) masih melakukan pencarian,” akunya. Ditambahkannya, hari ini pihaknya bersama Tim SAR dan AL dibantu keluarga ABK, akan melakukan pencarian di seputaran kepulauan Sangihe dan Talaud. “Karena angin bertiup ke dua daerah tersebut (Sangihe dan Talaud). Dan kami akan membantu tim pencari (Tim SAR dan AL) dengan mengerahkan empat kapal,” tutup Kariar sembari berharap, jika masyarakat melihat kapal ataupun ABK agar segera melapor kepada petugas terdekat. (tr-06)


Manado Post Sabtu 18 Agustus  

Pulang Upacara Bupati Boltim Diserang Warga

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you