Page 1


WARNA REDAKSI

B

MUDA BERKARYA

elum lama ini acara talkshow Mata Najwa mengangkat tema “Yang Muda Berkuasa”, menampilkan Mendikbud Nadiem Makarim (36 tahun), di dalam studio yang dihadiri puluhan kawula muda. Mas Menteri sendiri berpakaian ala pemuda milenial, mengimbangi gaya berpakaian para hadirin. Ada suasana akrab dan gayeng di dalam talkshow itu. Terpilihnya Mas Menteri sebagai nara sumber bukan tanpa alasan. Dia adalah representasi dari pemuda yang di usia muda telah meraih kuasa sebagai seorang menteri. Dibandingkan anggota kabinet lain, dialah menteri paling muda dan gaul. Namun, dari sisi kompetensi, dia mumpuni dan cerdas serta berwawasan global. Dari segi prestasi, dia termasuk pilih tanding--terutama berkat kesuksesan Gojek-nya di dalam dan luar negeri. Dalam hal ini Mas Menteri hanyalah satu contoh, bahwa kursi menteri untuk kader senior adalah mitos belaka. Mas Manteri adalah sosok pembunuh mitos dan pendobrak tradisi, tanpa menampik kenyataan bahwa jabatan menteri itu jabatan politik. Meski demikian, mitos yang telah mentradisi dalam waktu lama itu kini pudar seketika. Kini saatnya yang muda lah yang berkuasa; yang tua memberi ruang kepada yang muda. Maka, tak dimungkiri, di berbagai perusahaan, lembaga swasta dan lembaga pemerintah, jabatan-jabatan strategis telah dipercayakan kepada tokohtokoh muda. Mengapa? Selain mereka memiliki kompetensi mumpuni, mereka juga masih memiliki fisik yang tangguh

Much. Khoiri

Ketua Satuan Kehumasan untuk berpikir dan bertindak untuk program-program yang dicanangkan. Di dalam raga yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Tak terkecuali di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), tokohtokoh muda juga dipercaya memegang amanah sebagai pejabat. Dalam konteks ini, mereka adalah para wakil dekan bidang kemahasiswaan dan alumni di tujuh fakultas selingkung Unesa. Kami memandang, merekalah yang pada usia muda telah berkarya dan berprestasi dengan kapasitas masing-masing. Majalah Unesa edisi ini menampilkan tokoh-tokoh muda yang dimaksud, dengan tiga catatan. Pertama, mereka perlu di-wong-kan (diorangkan); jangan dipandang sebelah mata. Kedua, mereka perlu mendapat apresiasi atas karya-karya yang telah terukir. Ketiga, mereka pun perlu didorong untuk mengukir karya yang lebih baik. Tentu saja, prestasi atau karya mereka tidaklah sama dan sebangun. Meski demikian, dari kaca mata Unesa, mereka telah memberikan berbagai kontribusi positif, baik di bidang akademik maupun bidang nonakademik. Semua itu tak dapat dimungkiri, dan wajib diakui apa

Majalah Unesa

adanya. Mereka telah ikut andil dalam menjayakan Unesa untuk Indonesia maju berprestasi. Karya dan prestasi tidaklah turun dari langit, melainkan diimpikan, disemboyani, dan diperjuangkan dengan komitmen tinggi. Karya dan prestasi adalah buah dari berbagai ikhtiar. Dalam sebuah film ‘Pay It Forward’, seorang guru Amerika berkata kepada siswa kelasnya. “Pikirkan kata yang akan mengubah dunia— dan wujudkan kata itu dalam tindakan nyata.” Tindakan nyata inilah yang membuahkan karya dan prestasi bagi para tokoh muda kita. Selengkapnya dapat ditelusuri di dalam liputan utama majalah ini. Teringatlah Soekarno sang proklamator kita. Jika Soekarno pernah mengatakan,”Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”, maka kita dapat bersemboyan,”Beri kami 7 wadek-3, niscaya akan kami guncangkan Unesa untuk kemajuan Indonesia.” Mohon maaf jika ungkapan ini bombastis, namun impian semacam itu layak kita tanamkan di dalam hati. Itulah kata-kata yang mengubah dunia kita. Itulah sekilas uraian tentang tema yang muda yang berkarya. Guna memenuhi informasi lain, dalam edisi ini kami juga menampilkan berbagai tulisan yang terkait dengan pemikiran, pengalaman, dan prestasi dosen dan mahasiswa Unesa. Seberapa pun yang mereka sumbangkan, mereka pantas dihargai sewajarnya. Sementara, warga Unesa dapat memetik hikmah dan inspirasi dari apa yang telah mereka sumbangkan. Akhirnya, selamat membaca, berkarya, dan berpretasi untuk Unesa jaya. Dari Unesa untuk Indonesia maju berprestasi.n

| Nomor: 136 Tahun XX - Desember 2019 |

3


DAFTAR RUBRIK UTAMA 20

REKOR MURI TARI REMO MILLENIAL

LENSA

21

Sebanyak 2.655 orang mengikuti “flashmob” Tari Remo Milenial di halaman Kampus Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Lidah Wetan, Surabaya, Kamis (19/12/2109). Kegiatan ngeromo massal dalam rangka Dies Natalis ke-55 Unesa tersebut tercatat dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dengan peserta terbanyak.

WARNA .............. 3 LAPORAN UTAMA ............. 5 INSPIRASI ALUMNI ............. 22 KABAR PRESTASI .......... 10 WISUDAWAN TERBAIK ............ 14 STAKE HOLDER ........... 33 SPOT NEWS ................ 18

YANG MUDA YANG BERKARYA Para pejabat yang menduduki posisi Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan di level fakultas rata-rata diisi tenagatenaga muda. Selain agar lebih dekat dengan mahasiswa, inovasi dan gebrakan program dari para pejabat tersebut sangat diharapkan agar peran dan kompetensi mahasiswa lebih terasah.

KABAR PRESTASI

TIM UNESA RAIH JUARA PADA WESHARE 2019 Tim Unesa kategori Lomba Karya Tulis Ekonomi Islam Week of Sharia Economic Exhibition (WeSHARE) 2019 yang berlangsung di UIN Syarif Hidayatullah pada 2-5 Desember 2019 berhasil menorehkan prestasi dengan menjadi juara 2 LKTIN.

Majalah Unesa ISSN 1411 – 397X Nomor 136 Tahun XX - Desember 2019 PELINDUNG: Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes. (Rektor), Prof. Dr. Bambang Yulianto, M.Pd. (WR Bidang I), Suprapto, S.Pd, M.T. (WR Bidang II), Dr. Agus Hariyanto, M. Kes. (WR Bidang III), Dr. Sujarwanto, M.Pd. (WR Bidang IV) PENANGGUNG JAWAB: Drs. Much Koiri, M.Si (Kepala Satuan Kehumasan Unesa), Dra. Ec. Ratih Pudjiastuti, M.Si (Kepala BAAK) PEMIMPIN REDAKSI: Fafi Inayatillah, S.Pd., M.Pd., Sri Rokhayati, M.M. REDAKTUR: Abdur Rohman, S.Pd., Mubasyir Aidi, S.Pd., Prima Vidya Asteria, S.Pd., M.Pd., Vinda Maya Setianingrum, S.Sos., MA, Gilang Gusti Aji, S.I.P., M.Si. PENYUNTING BAHASA: Syaiful Rahman, S.Pd. REPORTER: Wahyu Utomo, Ayunda, Syaiful H, Syaiful R, Inayah, Suryo Waskito, Emir Musa, Mira Carera, Nely Eka, Tarida, M. Rizki, Titan, Hasna, Intan, Jumad, Fibrina. FOTOGRAFER: M. Wahyu Utomo, Hartono. DESAIN/LAYOUT: Abdur Rohman, Basyir Aidi ADMINISTRASI: Roni, S.T. , Supi’ah, S.E. DISTRIBUSI: Lusia Patria, S.Sos, Hartono PENERBIT: Humas Universitas Negeri Surabaya ALAMAT REDAKSI: Kantor Humas Unesa Gedung Rektorat Kampus Unesa Lidah Wetan Surabaya. MAJALAH UNESA menerima tulisan sesuai dengan rubrikasi dan visi-misi Kehumasan Universitas Negeri Surabaya. Naskah dikirim ke email humasnyaunesa@yahoo.com, apakabarunesa@gmail.com

4

| Nomor: 136 Tahun XX - Desember 2019 |

Majalah Unesa


LAPORAN UTAMA

YANG MUDA YANG BERKARYA Kiprah dan Inovasi Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni yang Rata-Rata Masih Muda PARA PEJABAT YANG MENDUDUKI POSISI WAKIL DEKAN BIDANG KEMAHASISWAAN DI LEVEL FAKULTAS RATA-RATA DIISI TENAGA-TENAGA MUDA. TENTU, PENEMPATAN PARA PEJABAT MUDA ITU BUKAN TANPA ALASAN. SELAIN AGAR LEBIH DEKAT DENGAN MAHASISWA, INOVASI DAN GEBRAKAN PROGRAM DARI PARA PEJABAT TERSEBUT SANGAT DIHARAPKAN AGAR PERAN DAN KOMPETENSI MAHASISWA LEBIH TERASAH. BERIKUT KIPRAH PARA WADEK BIDANG 3 TERSEBUT! Majalah Unesa

| Nomor: 136 Tahun XX - Desember 2019 |

5


LAPORAN UTAMA

HERYANTO SUSILO, S.Pd, M.Pd, Wakil Dekan 3 FIP

SUPPORT DANA DAN KEMUDAHAN, DORONG MAHASISWA TERUS BERKARYA DAN BERPRESTASI

Heryanto Susilo, S.Pd, M.Pd

H

eryanto Susilo, demikian nama lengkapnya. Usianya terbilang masih muda. Ia lahir di Cirebon 13 Mei 1981. Meski terbilang masih muda, ia diberi kepercayaan menjadi wakil dekan 3 FIP. Tentu, sebuah tugas yang tidak mudah. Sebelum dipercaya menjadi Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FIP, Heryanto yang kini tinggal di Perumahan Jade Hamlet Blok E-7, Kecamatan Menganti Kabupaten Gresik, Jawa Timur pernah menjabat sebagai sekretaris jurusan PLS periode

6

Wakil Dekan 3 FIP Unesa

2012-2016 dan ketua jurusan PLS periode 2016-2019. Heryanto menempuh pendidikan sejak SD hingga SMP di Jawa barat. Selepas SMP, ia melanjutkan jenjang SMA di SMAN 1 Tanjung, kabupaten Brebes Jawa Tengah. Ia lulus dari SMA tersebut tahun 2000. Setelah lulus SMA, ia mengikuti tes UMPTN. Sayang, pada tahun itu, ia tidak berhasil lolos PTN yang diinginkan. Tapi, ia tidak menyerah. Pada tahun berikutnya, ia kembali mengikuti UMPTN dan berhasil lolos di dua perguruan tinggi negeri.

| Nomor: 136 Tahun XX - Desember 2019 |

Majalah Unesa

“Dengan keyakinann yang besar untuk kuliah di Surabaya, saya memilih S1 PLS Universitas Negeri Surabaya,� paparnya. Selama menjadi mahasiswa, Heryanto aktif berorganisasi. Ia pernah menjadi Ketua Dewan Legislatif Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan. Meski aktif berorganisasi, Heryanto ternyata berhasil lulus dengan 7 semester tahun 2005. Lulus S1, Heryanto mencoba melanjutkan S2 ke Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Namun, karena terkendala support beasiswa ia memutuskan untuk


LAPORAN UTAMA sementara waktu bekerja di Sanggar kegiatan belajar di Kabupaten Gresik. Tahun berikutnya, keberuntungan datang kembali. Ia lolos untuk S2 PLS di UPI dengan beasiswa.

BERKARIER DI UNESA

Heryanto mengatakan, awal mula ia berkarier sebagai dosen Unesa bermula dari tawaran Dekan FIP Unesa pada masa itu. Ia mengaku ketika mendapatkan tawaran tersebut,sebenarnya juga mendapat tawaran menjadi dosen di Universitas Palangkaraya. Namun, didasari rasa pengabdian terhadap almamater, Heryanto memilih menjadi dosen di Unesa. Tahun 2009, ia memulai kariernya sebagai dosen muda. Sebagai dosen muda, tentu ia harus banyak belajar dan beradaptasi dengan cepat. Selama berkarier sebagai dosen, ia mengampu cukup banyak mata kuliah. Di antaranya mengajar mata kuliah di jurusan antara lain Psikologi Sosial, Evaluasi Program, Difusi Inovasi Pendidikan, dan Filsafat pnf. Ia juga mengajar mata kuliah institusional/ umum antara lain Dasar-dasar kependidikan, Filsafat ilmu dan Psikologi pendidikan. Selain itu, Heryanto juga memiliki prestasi lain di bidang karya ilmiah, di antaranya menulis buku pembangunan masyarakat (2015) dan buku konsep pendidikan orang dewasa (2018). Ia juga aktif menulis jurnal ilmiah hasil penelitian di berbagai kegiatan ilmiah antara lain seminar nasional, konferensi internasional dan temu kolegial jurusan PLS se-Indonesia dan penulis artikel jurnal di beberapa even seminar nasional atau internasional. Prestasi lain juga didapatkan dalam bidang kemasyarakatan. Ia sering melaksanakan PKM yang didanai oleh univeristas atau fakultas, pernah menjadi tim ahli dinas sosial propinsi Jawa Timur dalam bidang daerah tertinggal dan terpencil, menjadi tim juri dalam hari anak nasional, paud atau pnf tingkat kota, provinsi atau nasional dan menjadi pengurus ikatan akademisi pendidikan non-formal indonesia (ikapenfi). Ada beberapa prestasi lain yang tak

kalah membanggakan yang berhasil diperolehnya yaitu pernah menjadi tim ahli penyusunan raperda perlindungan dan pelayanan penyandang disabilitas provinsi Jawa Timur tahun 2013, narasumber PPG, asesor BANS/M Jawa Timur dan kegiatan diklat.

KAWAL MAHASIWA BERPIKIR KRITIS

Sebagai wakil dekan bidang kemahasiswaan dan alumni Fakultas Ilmu Pendidikan, Heryanto telah menyiapkan banyak program untuk mendukung kegiatan para mahasiswa dan peningkatan prestasi yang lebih baik. Heryanto sangat percaya bahwa mahasiswa FIP memiliki potensi luar biasa. Namun, untuk mengembangkan potensi tersebut, dibutuhkan kebijakan pimpinan yang berpihak kepada mahasiswa. „Salah satu contohnya anggaran yang dapat diakses oleh mahasiswa dengan mudah dan cepat,“ ungkapnya. Selain itu, dirinya juga memberikan kemudahan kepada ormawa untuk berkreasi dan berinovasi tidak hanya di dalam kampus, tapi juga di luar kampus untuk membawa nama almamater. Mahasiswa juga harus diberikan kepercayaan bukan hanya dalam mengembangkan kemampuan secara akademisnya saja, namun juga pengembangan dalam bermasyarakat. Ia mengatakan, bidang kemahasiswaan dan alumni saat ini harus berubah dalam hal keterbukaan akan tantangan. Bidang tiga harus mengawal para mahasiswa untuk berpikir kritis di lingkungan kampus, mampu menjalin kemitraan dengan pihak luar, menciptakan dan membangun karakter mahasiswa yang dibutuhkan pada era sekarang. „Kita harus menjadi kawan bagi mahasiswa seperti teman diskusi. Jangan sampai menjaga jarak jauh sehingga mereka merasa tidak dekat dengan kita, merasa tidak terfasilitasi,“ ujar Heryanto yang mengaku selalu siap bila mahasiswa ingin berdiskusi kapanpun setelah jam kuliah. Berbicara mengenai sebuah perubahan, hal yang paling mendesak yang harus diubah oleh para mahasiswa dalam menghadapi Era saat

Majalah Unesa

ini, terang Heryanto adalah mindset keterbukaan. Dengan kecepatan kemajuan zaman, mahasiswa dituntut memiliki mindset yang cepat, tepat terbuka dan cerdas. Kemajuan yang sudah terjadi harus dengan cepat dikuasai oleh para mahasiswa agar tidak tergerus waktu. Menurut Heryanto, salah satu caranya adalah dengan pendampingan kepada masyarakat agar mahasiswa mampu berpikir secara terbuka bagaimana cara bersaing di dunia yang dipenuhi dengan berbagai tekanan persaingan. Selanjutnya, yang perlu dimiliki mahasiswa adalah kemandirian. Mahasiswa harus memiliki kemampuan, komitmen dan mampu berhadapan dengan orang lain. Sebab, era sekarang membutuhkan kecepatan dan ketepatan dalam mengambil kesempatan. Untuk memberikan bekal itu, Heryanto memberikan kebebasan kepada para mahasiswa membuka berbagai komunitas yang mampu menampung hobi dan kegemaran dengan pendampingan dari dosen. Komunitas-komunitas itu diharapkan mampu mengembangkan kemampuan berorganisasi di luar ormawa. Dengan komunitas itu, mereka akan secara natural dilatih untuk mampu bekerja bersama dalam bentuk organisasi komunitas. „Tentunya fakultas akan terus memberikan dukungan dan kontrol terhadap komunitas-komunitas tersebut melalui dosen pendamping. Mahasiswa –mahasiswa yang telah berhasil mengharumkan nama Unesa di kancah nasional maupun internasional berhak mendapatkan apresiasi yang besar. Bahkan, tahun depan kita akan berkomitmen lebih daripada tahun ini, terkait pendanaan untuk kegiatan kemahasiswaan,“ ujarnya. Heryanto memberi motivasi bagi para mahasiswa FIP agar senantiasa percaya bahwa FIP bisa berprestasi dan lebih bisa berprestasi. Tidak hanya FIP, ia berharap ke depan, Unesa semakin lebih berprestasi. n (HASNA/NOV)

| Nomor: 136 Tahun XX - Desember 2019 |

7


LAPORAN UTAMA

Dr. H. Moch. Khoirul Anwar, S.Ag, MEI, WD 3 Fakultas Ekonomi

DORONG MAHASISWA TIDAK HANYA AKTIF KULIAH, TAPI JUGA CARI PENGALAMAN DI ORGANISASI

S

ejak kecil, Moch. Khoirul Anwar, telah diajarkan mandiri oleh orang tuanya. Pria kelahiran Lamongan 18 September 1976 itu sejak kelas 3 Madrasah Ibtidaiah sudah tidak tidur di rumah tetapi tidur di rumah kecil dekat masjid hingga kelas 6 MI. Setelah lulus Madrasah Ibtidaiyah, Khoirul melanjutkan pendidikan di Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA) dan kuliah di IAIN Sunan Ampel. Menariknya, selama sekolah di MTs, MA hingga kuliah, Khoirul Anwar juga menetap di pesantren. “Sebenarnya latar belakang pendidikan saya dibesarkan di pesantren total hingga pada bangku perkuliahan, program studinya pun demikian. S1 Studi Keislaman, S2 Ekonomi Islam dan S3 Ekonomi Islam pula,” terangnya. Selain menempuh pendidikan formal, Pak Choi begitu sapaan akrabnya juga mendalami beberapa pendidikan informal. Tercatat, ia menempuh pendidikan di Pondok Pesantrem Langitan Widang Tuban, Pondok Pesantren Raudlatul Muta’allimin Babat Lamongan, Pondok Pesantrem Raudlatul Muttaqin Sukodadi Lamongan, Pondok Pesantren Darul Arqom Wonocolo Surabaya dan di Yayasan Hafidh AlQuran Pekanbaru Riau. “Jadi, sudah biasa sendiri berkelana (mencari ilmu),” terang Khoirul. Menurut Khoirul, hal itu memang sudah disetting sedemikian rupa agar dapat hidup mandiri dalam menuntut ilmu dan tidak terlalu mengandalkan orang tua. “Sudah diajarkan mandiri sejak kecil, dan itu adalah pelajaran

8

sangat berarti bagi saya. Setelah lulus kuliah baru merasakan betapa memang orang tua punya andil besar, manfaatnya baru terasa,” ujar Khoirul.

| Nomor: 136 Tahun XX - Desember 2019 |

Meskipun sepak terjangnya yang memilih jalan keagamaan, ia mengaku hal tersebut tidak pernah terbesit di angannya. Ia tidak berpikir cita-cita. Ia

Dr. H. Moch. Khoirul Anwar, S.Ag, MEI Wakil Dekan 3 FE Unesa

Majalah Unesa


LAPORAN UTAMA mengalir saja menjalani kehidupan. Bahkan, ketika kuliah ia hany ingin mengamalkan ilmu dan bisa diajak bertukar pikiran dengan orang lain. Oleh karena itu, sewaktu kuliah, ia sudah sering membantu mengajar anak TK maupun anak SD. „Semua, saya jalani mengalir saja karena saya yakin ada yang menata sendiri,” paparnya. Tahun 1998, Khoirul lulus S1 Studi Islam di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Ia lalu melanjutkan S2 Ekonomi Islam di IAIN Sunan Ampel Surabaya lulus tahun 2002. Ternyata, setelah lulus S2 Khoirul sudah diberi kepercayaan mengajar di UIN Sunan Ampel Surabaya dan Universitas Negeri Surabaya meskipun belum menjadi dosen tetap. Seiring perjalanan waktu, tahun 2004, di Unesa kebetulan ada formasi dosen tetap Ekonomi Islam. Ia lantas memutuskan masuk di Unesa. Tahun 2009, ia memilih fokus di Unesa meskipun tahun 2010 belum ada Ekonomi Islam. Namun, FE sudah ada. Setelah lulus S3 di IAIN Sunan Ampel, tahun 2011 mulai ada mata kuliah Ekonomi Syariah sebagai mata kuliah wajib fakultas dengan lembaga keuangan syariah. Dari situlah, Khoirul mulai mengajar di FE. Karier Khoirul mulai menanjak. Selain menjadi dosen, ia dipercaya menduduki jabatan. Tahun 2011, ia menjadi Kaprodi D3 Akuntansi merangkap Sekjur Akuntansi, tahun 2011-2014 ia menjadi kaprodi Ekonomi Islam, tahun 2016 menjadi Kajur Ilmu Ekonomi, dan tahun 2017 menerima Prodi S1 Ekonomi. „Tahun 2019 diberi amanat menjadi Wakil Dekan Bidang 3 Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi,” paparnya. MULANYA PENGIN JADI DOKTER ATAU TENTARA Ketika ditanya apa cita-cita dan keinginannnya sewaktu muda, Khoirul mengataan sewaktu kecil ia punya bayangan jadi tentara atau dokter. Ia mengaku belum kenal apa itu dosen. „Tapi, pikiran-pikiran jadi guru sudah ada karena memang keluarga saya adalah keluarga guru sehingga tersetting di situ,“ ungkapnya.

Khoirul mengaku sewaktu MI tidak begitu peduli dengan pelajaran. Pokoknya masuk saja. Walhasil, saat itu, nilainyya banyak yang merah, tapi setelah masuk MTs, ia mulai meningkatkan belajarnya dengan maksimal disertai doa dan restu orang tua. Walhasil, nilainya pun membaik hingga masuk 10 dari sekian ratus siswa. Di Madrasah Aliyah, prestasi Khoirul lebih kelihatan lagi. Dari kelas 1-3, ia selalu juara 1 dan tidak pernah bayar SPP karena salah satu rewardnya gratis SPP.. Khoirul memiliki hobi bermain sepak bola. Bahkan, waktu kecil ia mengaku pernah mengalami patah kaki karena bermain sepak bola. Namun, hal itu tidak mengurangi kecintaannya dalam menyalurkan hobinya tersebut. Selain menjadi dosen, ia juga pernah menjabat sebagai pengasuh/ pembina beberapa majelis taklim, pembina IPNU/IPPNU Universitas Negeri Surabaya, Pembina UKKI Universitas Negeri Surabaya, Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Nurul Hikmah Babat Lamongan, Pembina Pesantren Mahasiswi Annuriyah Wonocolo Surabaya, Pembina/ Pengasuh Pesantren Mahasiswa Darul Arqom Wonocolo Surabaya, Pengurus Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Sekretaris I wilayah Jawa Timur IAEI (Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia), Ketua Wilayah Jawa Timur Fordebi (Forum Dosen Ekonomi dan Bisnis Islam), Auditor Halal Nasional LPPOM MUI, Sekretaris Eksekutif LPPOM MUI Jawa timur, Ketua Komisi Ekonomi Syariah MUI Jawa Timur, Anggota Senat Universitas Negeri Surabaya dan Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Surabaya. Sebagai Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Fakultas Ekonomi Unesa, Khoirul memiliki cara untuk memberikan motivasi dan semangat kepada mahasiswamahasiswanya. Ia melakukan dengan pendekatan, humanisme, komunikasi yang baik, sehingga kalau ada kurangnya bisa diperbaiki bersama. “Kalau saya pribadi tetap bagaimana mendekati kaum muda

Majalah Unesa

dengan kehidupan mereka. Mereka kaum milenial. Itu yang harus kita ingat kata kuncinya. Tidak mudah menghadapi anak sekarang tapi tetap saya memberikan motivasi dan semangat pada mereka ini adalah bagian dari proses untuk masa depan. Saya ingin mahasiswa tidak hanya kuliah saja tapi juga aktif di luar perkuliahan apakah itu organisasi, jurnalistik atau mungkin di penalaran dan lainnya. Kita kan punya ‘rumah’ untuk itu, karena saya tidak ingin mahasiswa hanya kuliah saja, karena apa yang didapat dari kuliah yang memengaruhi masa depan itu sekian persen yang banyak itu di luar perkuliahan,” tuturnya. Ia menjelaskan di Fakultas Ekonomi telah ada beberapa rumah untuk mahasiswa dalam menyalurkan minat dan bakatnya. Di antaranya, ada BEM, DPM, Hima, LKM yang isinya FSC (untuk penalaran), CMC (untuk yang ingin tahu lebih banyak tentang saham), TC (tentang perpajakan), dan ICE (tentang kerohanian). Bahkan, rencananya tak lama lagi akan dibuat komunitas PutraPutri FE yang suka seni, modeling tari dan sebaganya. „Kita buatkan rumah untuk menampung bakat dan potensi para mahasiswa,” imbuhnya. Mengenai prestasi mahasiswa, menurut Khoirul hal itu tak lepas dari target kinerja dari kementerian yang diturunkan kepada rektor, dekan hingga kajur. Ia bersyukur selama ini, Fakultas Ekonomi dapat melampaui target mencetak mahasiswa berprestasi baik di kancah nasional maupun internasional. Dari target 50 prestasi pertahun, Fakultas Ekonomi berhasil melampui target hingga 80 prestasi. „Ini tentu pencapaian yang membanggakan,“ papar Khoirul. Kepada mahasiswa Fakultas Ekonomi Unesa, Khoirul berpesan agar mahasiswa harus bisa membagi waktu karena tantangan ke depan pasti jauh lebih berat. Ia berharap para mahasiwa dapat memanfaatkan ‘rumah’ yang telah disiapkan sehingga tidak hanya kuliah terus pulang, tapi bisa memanfaatkan rumah-rumah kreatif tersebut untuk mengembangkan bakat dan potensi yang dimiliki. n (QQ)

| Nomor: 136 Tahun XX - Desember 2019 |

9


LAPORAN

UTAMA

Dr. Bambang Sigit Widodo, S.Pd, M.Pd, Wakil Dekan 3 FISH

KLASIFIKASI POTENSI MAHASISWA DENGAN TIGA KLUSTER WAKIL DEKAN BIDANG KEMAHASISWAAN SAN ALUMNI FISH UNESA, DR. BAMBANG SIGIT WIDODO, S.PD.,M.PD MENGAKU SEJAK KECIL SUDAH BERCITA-CITA MENJADI GURU. IA BERSYUKUR, CITA-CITANYA ITU BERHASIL DIGAPAI, BAHKAN TIDAK HANYA MENJADI GURU, TETAPI MENJADI DOSEN DI PERGURUAN TINGGI PENCETAK PARA GURU

K

etertarikan Bambang terhadap profesi guru bermula ketika ia duduk di bangku SD. Apalagi, orang tuanya juga berprofesi sebagai guru. “Awalnya, hanya ingin jadi guru, tapi ternyata bisa menjadi dosen,”papar anak terakhir dari 7 saudara, bambang. Perjalanan pendidikan Bambang, sebenarnya cukup gelap. Ia mengaku pernah dikeluarkan dari SMA sewaktu kelas 1 karena faktor lingkungan teman. „Akhirnya malas sekolah,”tutur Bambang sambil tertawa mengingat masa lalu saat masih sekolah. Meskipun ia pernah dikeluarkan dari sekolah kala itu, tetapi saat kelas 1 prestasi Bambang cukup baik. Ia masih mendapatkan rangking 18 dari 36 siswa. Namun, saat kelas 2 prestasi Bambang menurun hingga mendapatkan rangking 24. Ia lalu pindah sekolah. Sejak pindah sekolah, Bambang mulai rajin belajar. Hasilnya, ia selalu mendapatkan rangking 5 besar. Semangat belajar Bambang semakin membuncah. Ia semula yang bercitacita menjadi guru, mulai bergeser dan bahkan tidak mau masuk di kampus IKIP. Ia ingin masuk di Fakultas Ekonomi di UGM dengan jalur PMDK. Dengan kepercayaan diri yang tinggi, Bambang mendaftar PMDK mengambil jurusan Akuntansi pada tahun 1993.

10

Ternyata, ia tidak lulus di UGM. Agak trauma dengan kegagalan itu, ia sempat satu tahun tidak ikut mendaftar tes masuk perguruan tinggi. Namun, atas desakan kakaknya, tahun 1994, masuk ke IKIP Surabaya. Kala itu, saat mengikuti UMPTN, ia dalam kondisi sakit tipes. Akhirnya, mungkin sudah takdir-Nya, ia berhasil lulus Jurusan Geografi IKIP Surabaya tahun 1994. Setelah lulus S1, Bambang melanjutkan kuliah S2 di Manajemen Pendidikan Unesa pada tahun 2002. Bambang yakin dengan pendidikan bisa mengangkat martabat keluarga. Ia sempat menceritakan, ada orang dulunya kaya di kampung tetapi karena tidak memperhatikan pendidikan, akibatnya anaknya tidak ada yang sampai kuliah hanya lulus sampai SMP atau SMA. ”Jadi, hikmah dari itu tingkatkan pendidikan selagi mampu, karena pendidikan mengubah kehidupan,“ paparnya. Sebagai Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni di FISH, Bambang mengaku banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, terutama terkait dengan prestasi mahasiswa. Oleh karena itu, ia mempunyai kewajiban untuk menggerakkan komponen-komponen yang ada di Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) untuk sadar bahwa prestasi itu dapat menjadi marwah lembaga universitas khususnya fakultas.

| Nomor: 136 Tahun XX - Desember 2019 |

Majalah Unesa

Untuk meningkatkan prestasi mahasiswa, dirinya menggunakan pendekatan persuasif dengan temanteman mahasiswa, terutama ormawa. Sebagai contoh dengan BEM maupun HMJ jarang komunikasi formal di kampus , komunikasi informal di luar kampus lebih sering dilakukan agar tercipta nuansa yang lebih rilek. Selain itu, ia mendorong kepada semua mahasiswa untuk bisa mengikuti kompetisi dan kejuaraan baik level nasional maupun internasional. Pihak fakultas akan berupaya untuk mensuport kegiatan tersebut dengan dana yang ada. Ketiga, bidang kemahasiswaan sudah melakukan pemetaan tahun 2019 ini dan sudah memiliki database. Mahasiswa yang pernah berprestasi pada saat masih sekolah akan didata. Pada tahun 2019, sudah dibentuk PKM Tax Center dan Research. “Nantinya, pada tahun 2020, kami akan membuat namanya tim Pembina Dosen Prestasi Mahasiswa dan Student Exchange,“ terangnya. Bambang mengatakan, nantinya mahasiswa akan terbagi menjadi tiga klaster. Klaster pertama mahasiswa yang sudah memiliki potensi diri, klaster kedua mahasiswa yang mendapatkan beasiswa, dan klaster ketiga mahasiswa yang tidak duaduanya dari klaster pertama maupun kedua atau mahasiswa umum. n (SH)


LAPORAN UTAMA

NANTINYA MAHASISWA AKAN TERBAGI MENJADI TIGA KLASTER. KLASTER PERTAMA MAHASISWA YANG SUDAH MEMILIKI POTENSI DIRI, KLASTER KEDUA MAHASISWA YANG MENDAPATKAN BEASISWA, DAN KLASTER KETIGA MAHASISWA YANG TIDAK DUA-DUANYA DARI KLASTER PERTAMA MAUPUN KEDUA ATAU MAHASISWA UMUM.

Dr. Bambang Sigit Widodo, S.Pd, M.Pd Wakil Dekan 3 FISH Unesa

Majalah Unesa

| Nomor: 136 Tahun XX - Desember 2019 |

11


LAPORAN UTAMA

Syafiul Anam, S.Pd, M.Pd. Ph.D, Wakil Dekan 3 FBS

TANAMKAN SIKAP RESPONSIBILITY DAN KEPEDULIAN TERHADAP MAHASISWA NAMA LENGKAP DAN GELARNYA SYAFIUL ANAM, S.PD., M.PD., PH.D. SAAT INI, IA DIBERI AMANAH MENJADI WAKIL DEKAN BIDANG KEMAHASISWAAN FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNESA. CAK SYAFIK, DEMIKIAN PANGGILAN AKRABNYA SEJAK KECIL TINGGAL DAN MENUNTUT ILMU DI DESA BERBASIS PENDIDIKAN AGAMA DARI MADRASAH IBTIDAIYAH (MI) SAMPAI MADRASAH ALIYAH (MA). LULUS MADRASAH ALIYAH, IA MELANJUTKAN KULIAH KE IKIP SURABAYA (KINI, UNESA) LULUS TAHUN 2002.

O

rang tua Syafik sangat peduli terhadap pendidikan sehingga sering mendorong untuk terus aktif di dunia pendidikan, mendorong untuk terus membaca, utamanya membaca buku agama, seperti buku fiqih, dan lain sebagainya. Hal itu dibiasakan sejak Syaifik duduk di MI. Kebiasaan ini terus terbawa hingga dewasa. Ayah menjadi sosok yang memiliki peran utama dalam hidupnya karena ibundanya sudah wafat sejak ia masih kecil. “Saya sering membaca buku, tidak hanya buku agama saja, tapi teks lain juga sering saya baca,” paparnya. Selain kuliah, Syafik aktif di organisasi esktra kampus yang berbasis agama. Bahkan, ia pernah menjadi pengurus inti sebagai salah satu ketua di organisasi tersebut. Menurutnya, manajemen waktu saat aktif di organisasi sangat penting, karena akademik dan organisasi harus seimbang. Setelah lulus kuliah, ia mengajar di sekolah dan salah satu perguruan tinggi swasta di Indonesia. Kemudian, pada tahun 2006 melamar di Unesa dan diterima menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tahun 2008, ia melanjutkan studi S2 di Unesa dan berhasil lulus pada tahun 2010. Tahun

12

2011, ia berupaya melanjutkan studi S3 di luar negeri. Salah satu impian dan targetnya saat itu adalah bisa melanjutkan studi S3 di luar negeri. Hingga akhirnya, pada tahun 2012 ia berhasil mendapatkan pemberitahuan diterima melalui beasiswa di salah satu perguruan tinggi di Australia. Tahun 2016, berhasil menyelesaikan studi S3 di University of Canberra. “Saya memang memilih kampus yang sepi di sana, dengan suasana tenang, karena sejujurnya saya tidak terlalu suka dengan keramaian. Saya berhasil dengan semua ini tentu karena dukungan keluarga, karena bagi saya mereka adalah yang utama,” jelasnya. Syafik mulai menjabat wakil dekan 3 sejak Februari 2019. Menjadi wakil dekan 3, tentu memberikan tantangan tersendiri karena belum pernah dilalui sebelumnya. Oleh karena itu, ia mengaku harus banyak belajar tentang kemahasiswaan. Beruntung, latar belakang pernah aktif di organisasi sangat membantu berbagai kegiatan selama menjabat menjadi wakil dekan 3. Meskipun tidak semua kegiatan sama dengan apa yang dialami saat aktif di organisasi dulu, namun keinginan kuat untuk belajar terutama pada bidang kemahasiswaan dan penalaran sangat menyenangkan. Baginya, kelancaran juga terjadi

| Nomor: 136 Tahun XX - Desember 2019 |

Majalah Unesa

karena bantuan tim-tim, penalaran, BK, pendamping kemahasiswaan, dan tendik yang menangani urusan kemahasiswaan. “Semua itu sangat membantu,” tuturnya. Menurutnya, selama 10 bulan mendapat amanah sebagai wakil dekan 3 relatif lancar dan hingga detik ini belum ada hambatan. Salah satu yang paling penting di bidang kemahasiswaan, terang Syafik adalah proses pendekatan kepada mahasiswa yang tidak bisa dilakukan secara otoriter. “Harus bersama dengan mereka, dan tidak perlu menjaga jarak dengan mahasiswa,” tandasnya. Semangat yang ditanamkan selama menjadi wakil dekan 3 adalah responsibility dan sikap kepedulian yang tinggi. Responsibility karena memang memiliki tanggung jawab besar di bidang ini. Kontrak kerja dengan dekan dan rektor juga membutuhkan sikap kepedulian yang tinggi agar yang diinginkan dapat tercapai. “Boleh dibilang kerja kami tidak hanya 8 jam, jam pulang yang semakin larut sudah menjadi hal yang wajar,” tuturnya. Di bidang kemahasiswaan, juga dibutuhkan rasa kepedulian tinggi pada mahasiswa dengan berbagai karakteristiknya, tidak melulu pada mahasiswa berprestasi, tapi juga


LAPORAN UTAMA mahasiswa lain agar mendapatkan bimbingan menjadi lebih baik lagi. “Kami terus berupaya untuk meminimalisir jumlah mahasiswa yang lulus tidak tepat waktu alias molor. Kami terus mendorong mereka dan memonitor kegiatan mereka agar bisa lulus tepat waktu, oleh karena itu kepedulian yang sangat tinggi,” ungkap Syafik menambahkan. Bidang kemahasiswaan memiliki kontrak dengan mahasiswa berprestasi baik di level regional, nasional, maupun internasional. “Kami melampaui kontrak kinerja itu, artinya apresiasi untuk mahasiswa terus ditingkatkan,” tuturnya. Mahasiswa juga selalu diingatkan akan sikap nasionalisme dan cinta bangsa sendiri, serta mencegah radikalisme. Dari awal sudah ditekankan “FBS harus zero radikalisme!” tegasnya. Setiap organisasi di FBS seperti kajian-kajian Islam, selalu melaporkan pengisi materi dan dilakukan pengecekan pada bidang kemahasiswaan. Alhamdulillah, hingga saat ini belum ada laporan tentang unsur radikalisme di FBS. Menurutnya ini akan terus menjadi tugas berkelanjutan untuk terus melakukan monitor pada unsur radikalisme. “Saya juga terus mendorong mahasiswa untuk belajar agama, namun di balik itu sikap toleransi itu penting, tidak usah memahami paham yang radikal,” tegasnya. Di bidang kemahasiswaan yang mengharuskan untuk berhadapan dengan mahasiswa sebagai kaum milenial di era revolusi industri ini. Menurut Syaifiul, mahasiswa memiliki dunianya sendiri saat ini, dunia milenial, serba teknologi. Tapi bidang kemahasiswaan tentu tidak pernah membatasi itu semua, mahasiswa bisa terus berkreasi dan berinovasi dengan revolusi industri. “Kami juga belajar untuk melakukan pendekatan dengan para milenial ini. Kami juga terus memantau agar mereka tetap menjaga karakter dan sopan santunnya terutama dalam bermedia sosial,” tuturnya. Beberapa bulan yang lalu FBS juga melakukan kerja sama Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia) untuk menangkal dan menangani

Syafiul Anam, S.Pd, M.Pd. Ph.D Wakil Dekan 3 FBS Unesa

NAMA LENGKAP DAN GELARNYA SYAFIUL ANAM, S.Pd., M.Pd., Ph.D. SAAT INI, IA DIBERI AMANAH MENJADI WAKIL DEKAN BIDANG KEMAHASISWAAN FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNESA. hoax. Kerja sama ini juga sebagai bentuk penyuluhan tentang cara berkomunikasi dan menggunakan media sosial dengan bijak. Pesan untuk mahasiswa adalah terus mengembangkan kreativitas, inovasi, dan keterampilan lainnya. Mahasiswa milenial saat ini harus mampu mengembangkan soft skill dan hard skill mereka. Hard skill bisa saja tergantikan dengan teknologi,

Majalah Unesa

mengingat saat ini adalah era digital. Namun kreativitas dan inovasi pemikiran tidak akan tergantikan. Itu semua bisa dikembangkan melalui ikut berpartisipasi aktif di bidang kemahasiswaan seperti ormawa dan lain sebagainya. Selain itu yang harus selalu ditanamkan pada mahasiswa adalah nilai agama dan budaya, 100% Indonesia, dan 100% agama sesuai keyakinan masing-masing. n (FBR)

| Nomor: 136 Tahun XX - Desember 2019 |

13


LAPORAN

UTAMA Abdul Hafidz, S.Pd.,M.Pd, WD 3 FIO

KERJA SAMA TIM, KUNCI SUKSES RAIH SEMUA PRESTASI

A

bdul Hafidz merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Memiliki background sebagai keluarga pendidik, dari nenek, bapak dan ibu Hafidz adalah seorang pendidik. Namun, dari kelima saudaranya, hanya Hafidz yang mengikuti jejak keluarga menjadi seorangpendidik. “Saudara-

saudara saya banyak berkarir di bidang swasta, adajuga yang menjadi PNS di dinas kehutanan, pegawai di PT. Astra, dan Indosat,� terangnya. Layaknya anak kecil pada umumnya, sewaktu kecil Hafidz memiliki citacita menjadi seorang dokter atau tentara. Namun, saat SMA Hafidz mulai tertarik dan bercita-cita menjadi guru/pengajar. Apalagi,

saat itu, ia sangat terkesan dengan cara mengajar salah satu gurunya di SMA yang mampu menjelaskan pembelajaran yang sulit menjadi mudah dicerna dan dapat membangun relasi baik dengan siswanya. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, Hafidz kuliah pendidikan S1 di Pendidikan Kepelatihan Olahraga Unesa. Lulus Si, ia melanjutkan

studi S2 di Unesa juga. Sebelum menempuh S2, Hafidz sudah banyak berkecimpung di dunia pengajaran. Dia pernah mengajar SMA, STM, dan beberapa perguruan tinggi swasta. Pengalaman mengajar itu bahkan sudah dilakukan sejak kuliah S1 semester 5. Oleh karena itu, ketika lulus S1, Hafidz sudah banyak menerima tawaran mengajar, dan ketika

Abdul Hafidz, S.Pd.,M.Pd Wakil Dekan 3 FIO Unesa

14

| Nomor: 136 Tahun XX - Desember 2019 |

Majalah Unesa


LAPORAN UTAMA lulus S2 sudah mengajar di peguruan tinggi seperti Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY) Tebuireng Jombang, IKIP PGRI Jombang, dan beberapa perguruan tinggi swasta di Surabaya. AWALI KARIR SEBAGAI ASDOS Awal mula karir Hafidz di Unesa berkat dosen tenis meja yakni Bapak Heri Mustamar (Alm) yang membentuk karakter Hafidz hingga seperti saat ini. Heri Mustamar (Alm) juga memberi kesempatan Hafidz untuk menjadi asisten beliau mulai tahun 2001-2003. Sampai saat mengikuti CPNS tahun 2005, dia masih menjadi asisten HeriMustamar hingga beliau wafat. Setelah 4 tahun berkarir menjadi dosen, pada 2006 Hafidz didorong oleh teman-teman untuk menjadi Sekretaris Jurusan, namun ia menolaknya karena ia lebih senang membangun jejaring di luar. Ketika menjadi dosen pembimbing lapangan (DPL) KKN pada 2011 setahun kemudian Hafidz mendapat amanah menjadi sekretaris pusat KKN. Tahun 2015, ia menjadi Kepala Pusat KKN. Usai menjabat Kapus KKN, Hafidz lebih sering menjadi konsultan atau tenaga ahli di LPPM. Hafidz mengaku lebih suka dan sering menulis penelitian, pengabdian masyarakat dan membangun jaringan pada awalkarirnya. Pada tahun 2019, ia dipercaya menjadi WD 3 FIO. Sebelum menjabat WD 3 FIO, Hafidz juga ditawari menjadi WD 2 atau sekretaris LPPM. Namun

setelah pertimbangan matang dan melalui istiqoroh, akhirnya Hafidz memutuskan menerima tawaran sebagai WD 3 FIO. Ini merupkan kali pertama Hafidz menduduki jabatan struktural di Fakultas karena sebelumnya dia lebih banyak berkarir di luar strjuktural. “Hal pertama yang dilakukan setelah mendapat amanah menjadi WD 3 adalah mempelajari capaian-capaian WD 3 FIO sebelumnya, lalu membentuk tim pengelola anggaran, dengan pembagian tupoksi yang jelas. Saya lebih suka bekerja sama dalam sebuah tim karena dapat mempercepat dan meringankan pekerjaan,” paparnya. PRESTASI BERKAT KERJA SAMA TIM Hafidz mengakui bahwa semua program dan pencapaian bidang 3 yang diraihnya merupakan buah kerja sama antara dia dan timnya. Contohnya, perwakilan FIO yang lolos pimnas dan mendapat mendali emas kategori Poster tahun ini. Saat itu, Hafidz dan timnya melihat potensi PKM pada mahasiswa. Selanjutnya, bidang 3 berupaya memberikan pendampingan dengan pelatihan dan bimbingan dari kampus lain, melakukan camp PKM dan berbagai dukungan lain. “Bidang 3 support 100 persen apapun yang dibutuhkan mahasiswa untuk mencapai prestasi,” paparnya. Untuk diketahui, Hafidz merupakan PIC dari Unesa untuk POMNAS 2019. Dari 22 emas yang diraih Jawa

Timur dalam POMNAS 2019, 11 di antaranya disumbangkan oleh atlet dari Fakultas Ilmu Olahraga Unesa. Bahkan, ditindaklanjuti dengan bekerja sama dengan Jawa Pos dalam pembuatan buku prestasi mahasiswa tingkat Universitas. Prestasi terbaru, ada mahasiswa dari Jurusan Ilmu Keolahragaan yang mendapat medali perunggu dan prestasi lainnya. “Kalau bicara tentang medali dan prestasi olahraga, FIO Unesa telah menyumbang banyak prestasi olahraga,” paparnya. Hafidz menegaskan bahwa hidup harus dapat menyesuaikan kondisi dan alam yang ada sekarang. Ia berpatokan pada pesan Umar bin Khatab, “Didiklah anak-anakmu, karena mereka akan hidup pada zaman yang berbeda dengan zamanmu”. Artinya, apapun kondisinya seorang individu harus bisa menyesuaikan diri, termasuk pada era industri 4.0, dimana dunia sudah berada di genggaman Oleh karena itu, menghadaio mahasiswa era milenial ini, Hafid pun memposisikan diri menjadidosen yang dapat ditemui kapan pun asal sudah membuat janji terlebih dahulu. Sewaktu menjadi mahasiswa, dia juga suka “ngopi”, dan ketika“ngopi” ia dapat menyelesaikan masalah dengan enak. “Dengan“ngopi” bersama generasi milenial, kita dapat tahu kebutuhan mereka, sehingga kita bisa

Majalah Unesa

menyelesaikan apapun masalahnya, salah satunya dengan media diskusi sambil “ngopi” baik saat ataupun di luar jam kerja,” ungkapnya. Hafidz juga berpesan kepada generasi muda agar mempunyaimimpi yang tinggi (big dream). Mimpi yang tinggi itu harus juga disertai dengan kerja keras, cerdas, dan ikhlas. “Perlu langkah konkret dari diri kita inginmenjadi apa, itu harus dipikirkan mulai sekarang,” tandasnya. n (IC/EM)

| Nomor: 136 Tahun XX - Desember 2019 |

15


LAPORAN

UTAMA

Dedy Rahman Prehanto, S.Kom,M.Kom, WD 3 FT

BERHARAP MAHASISWA MENJADI AHLI ATAU PENEMU DI BIDANG TEKNOLOGI MENJADI SEORANG PEMIMPIN BUKANLAH SESUATU YANG RINGAN KARENA HARUS MENJAGA AMANAH YANG DIBERIKAN SAMPAI MASA JABATAN BERAKHIR. BEGITULAH YANG DISAMPAIKAN DEKAN BIDANG KEMAHASISWAAN DAN ALUMNI FAKULTAS TEKNIK UNESA, DEDY RAHMAN PREHANTO, S.KOM,M.KOM. MENURUTNYA, MENJADI PEMIMPIN HARUS MAMPU MENJADI PENGAYOM YANG TEDUH DAN DAMAI SERTA MAMPU BERSINERGI DENGAN SEMUA GOLONGAN TANPA TERKECUALI.

Dedy Rahman Prehanto, S.Kom,M.Kom

Wakil Dekan 3 FT Unesa

16

| Nomor: 136 Tahun XX - Desember 2019 |

Majalah Unesa


LAPORAN UTAMA

D

edy Rahman Prehanto, S.Kom.,M.Kom, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Fakultas Teknik Unesa mengaku bahwa kesuksesannya sekarang karena restu dari orang tua. Alumni S1 Stikom Surabaya (kini Univeritas Dinamika Surabaya) dan S2 Universitas Diponegoro Semarang itu mengaku kedua orang tua banyak memberikan makna belajar tentang kehidupan. Terutama, mengenai kesabaran, keikhlasan, ketulusan dan bebruat baik kepada sesama. “Tanpa orang tua, kita tidak akan bisa menjadi manusi aseutuhnya,” tegasnya. Dosen yang mengawali karirnya di tahun 2011 ini, mengaku tidak pernah menyangka mendapat amanah menjadi Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FT. ia mengaku tidak pernah berambisi menjadi pejabat. Namun, ketika sudah mendapatkan amanah ia harus dikerjakan dengan baik dan tidak pernah berharap sesuatu yang lebih. Menurut ayah 4 anak ini, menjadi seorang pemimpin bukanlah sesuatu yang ringan karena harus menjaga amanah yang diberikan sampai masa jabatan berakhir. Baginya, menjadi pemimpin harus mampu menjadi pemimpin yang teduh dan damai serta mampu bersinergi dengan semua golongan tanpa terkecuali. Selain itu, pemimpin harus mampu memberi motivasi dan contoh perilaku baik bagi yang dipimpinnya. Hal yang penting lainnya, harsulah mampu berkolaborasi, adaptif, kreatif, selalu berpikir positif, dan sukses untuk prestasi. Di usia yang relatif muda, Dedy terus belajar dan intropeksi diri untuk selalu menyebarkan jiwa mudanya kepada lingkungan sekitar, termasuk mahasisnya yang tergolong kaum milennial. Menurut Dedy, strategi yang digunakan dalam menghadapi generasi milenial adalah dengan mengajak kreatif, inovatif, dan melek teknologi. Semua keinginan mahasiswa, sedapat mungkin ditampung dan diwadahi sehinhga bisa arahkan kepada kegiatan– kegiatan yang positif. “Kita harus dapat

menyesuaikan apa yang diharapkan oleh mahasiswa, menjadi teman dan patner atau konsultan yang baik bagi permasalahan mereka,” terang Dedy. Intinya, terang Dedy, tip menghadapi generasi millennial adalah dengan mendengarkan dan menghargai apa yang mereka suarakan. Selain itu, dapat mengikuti pola dan alur karakter mahasiswa zaman now (millenial). “Tidak menolak, tapi lebih mengarahkan pada hal-hal yang tidak sesuai, yang kurang baik ke arah yang lebih baik,” ungkapnya. Oleh karena, pimpinan perlu mendengarkan dan mengajak bicara bersama mengenai apa yang

Majalah Unesa

diinginkan mahasiswa. Dedy berharap kepada mahasiswanya agar menjadi generasi milenial yang berakhlakul karimah, mampu berkolaborasi, adaptif, kreatif, selalu berpikir positif, dan peduli sesama sehingga dapat meraih kesuksesan dan dapat memanfaatkan ilmunya dimanapun mereka berada. “Secara khusus, saya berharap para mahasiswa dapat menjadi ahli atau penemu di bidang teknologi yang dapat bermanfaat untuk masyarakat sehingga mampu menjadi sarjana yang memberikan sumbangsih terhadap perkembangan teknologi dan perubahan zaman saat ini. n (KHUSNUL)

| Nomor: 136 Tahun XX - Desember 2019 |

17


LAPORAN

UTAMA Dr. Syifak Indana, M.Pd, Wakil Dekan 3 FMIPA

GENJOT PRESTASI MAHASISWA DI LEVEL NASIONAL DAN INTERNASIONAL SEJAK AWAL MENJABAT HINGGA SAAT INI, BERBAGAI TARGET KINERJA BIDANG KEMAHASISWAAN TELAH TERLAMPAUI, BAHKAN MAHASISWA FMIPA TELAH BERHASIL MENCAPAI PRESTASI DI TINGKAT NASIONAL MAUPUN INTERNASIONAL. JUMLAH MAHASISWA BERPRESTASI FMIPA TELAH MELEBIHI TARGET YAKNI 117 MAHASISWA. PRESTASI INI DIPEROLEH MELALUI PENDANAAN PKM, MAHASISWA LOLOS PIMNAS MAUPUN LOMBA LKTI.

N

ama lengkapnya Dr. Sifak Indana, M.Pd. Ia merupakan dosen program studi Biologi yang saat ini mendapat amanah sebagai Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan di FMIPA. Perempuan kelahiran Jombang 18 Agustus 1968 alumni program S-1 Pendidikan Biologi IKIP Surabaya angkatan 1988 mengaku bersyukur bisa kuliah, menjadi dosen dan mendapatkan kepercayaan menjabat di bidang kemahasiswaan. “Kondisi ekonomi keluarga bisa dibilang pas-pasan. Bapak saya seorang guru agama dan nyambi sebagai pedagang. Dan, ibu juga seorang pedagang. Saya akhirnya memilih IKIP Surabaya, karena saya bisa kuliah sambil mengajar privat anak-anak SD di sekitar rumah,” ungkap Sifak. Sejak berusia 2 tahun, Syifak beserta keluarga memutuskan berpindah di Surabaya. Hal itu membuat Sifak harus menjalani seluruh proses pendidikan di kota pahlawan. Ia mengawali pendidikan dasar di MI Baitul Ilmin Surabaya, kemudian melanjutkan sekolah menengah pertama di SMP Antartika Surabaya, lalu melanjutkan di SMAN 8 Surabaya. “Kemudian, melanjutkan S1 di IKIP Surabaya,” papar Sifak. Sebenarnya, menjadi dosen bukan

18

Dr. Sifak Indana, M.Pd.

Wakil Dekan 3 FMIPA Unesa

cita-citanya setelah lulus SMA. “Awal lulus SMA, cita-cita saya dulu ingin menjadi seorang Polwan (Polisi wanita).

| Nomor: 136 Tahun XX - Desember 2019 |

Majalah Unesa

Namun, cita-cita saya kandas karena tidak punya kemampuan berenang,” jelasnya.


LAPORAN UTAMA

AKRAB: Dr. Sifak Indana, M.Pd selalu akrab terhadap setiap mahasiswa.

Karena pada saat S1 memperoleh beasiswa ikatan dinas, setelah lulus Sifak berkesempatan langsung menjadi CPNS. Sebagaimana orang yang bekerja, banyak lika-liku yang dihadapi saat awal-awal mulai bekerja. Seperti berlatih untuk mendisiplinkan diri, menguasai semua mata kuliah yang diminta senior sebagai pendamping mata kuliah, hingga terlibat dalam kegiatan jurusan secara maksimal. Saat menjadi mahasiswa, Sifak sangat aktif mengikuti kegiatan keorganisasian seperti ORMAWA. Ia mengakui bekal pengalaman di ormawa sangat bermanfaat ketika ia ditunjuk sebagai pimpinan. Ia senantiasa bersikap tegas tetapi mampu membuat anak buah nyaman dan tetap menghormati orang yang lebih tua meskipun posisi jabatannya di bawahnya. Selain itu, Sifak juga berusaha semaksimal mungkin melaksanakan tugas yang diberikan dengan cara belajar pada pimpinan sebelumnya dan sering diskusi dengan warga selingkung FMIPA. Ia mencontohan, jika ada permasalahan ketua BEM dan HIMA mereka diajak diskusi bersama. Ia mengatakan, kunci agar bisa dekat dengan mahasiswa adalah berusaha memahami karakter mereka dengan dengan ikut terlibat dalam berbagai

kegiatan dan juga mendampingi mereka selaku orang tua. Sebagai wakil dekan bidang kemahasiswaan, Sifak sudah mempersiapkan program-program yang akan dijalankan. Ia menjelaskan hingga saat ini program yang sudah terlaksana merupakan program lanjutan dari wakil dekan bidang kemahasiswaan periode sebelumnya, namun ditambah dengan kiat-kiat mencapai program dengan cepat. “Kami sudah melakukan bench making ke Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang. Selain itu, juga turut serta dalam Asosiasi wakil dekan bidang kemahasiswaan FMIPA LPTK se-Indonesia yang selalu mengadakan FGD untuk bertukar informasi agar bidang kemahasiswaan FMIPA bisa mencapai prestasi,” imbuhnya. Ketika awal menjabat hingga saat ini, berbagai target kinerja bidang kemahasiswaan telah terlampaui, bahkan mahasiswa FMIPA telah berhasil mencapai prestasi di tingkat nasional maupun internasional. Prestasi yang telah dicapai selama menjabat sebagai wakil dekan bidang kemahasiswaan antara lain pada tahun 2019 sebanyak 31 mahasiswa FMIPA telah berwirausaha melalui program hibah, PMW, dan PKM-K. Di tahun yang

Majalah Unesa

BEKAL PENGALAMAN DI ORMAWA SANGAT BERMANFAAT KETIKA IA DITUNJUK SEBAGAI PIMPINAN. IA SENANTIASA BERSIKAP TEGAS TETAPI MAMPU MEMBUAT ANAK BUAH NYAMAN DAN TETAP MENGHORMATI ORANG YANG LEBIH TUA. sama, jumlah mahasiswa berprestasi FMIPA telah melebihi target yakni 117 mahasiswa. Prestasi ini diperoleh melalui pendanaan PKM, mahasiswa lolos PIMNAS maupun lomba LKTI. Sebagai pejabat yang berkecimpung dalam bidang akademik, Sifak selalu berpesan agar para mahasiswa memiliki motivasi dan semangat yang kuat untuk berprestasi dengan memanfaatkan fasilitas yang tersedia di fakultas. “Saran untuk mahasiswa, sebagai generasi muda hendaknya mahasiswa mengikutkan dirinya dalam lingkungan yang positif sehingga dapat mendukung kompetensi mereka sehingga pada saatnya mereka akan mudah untuk hidup bermasyarakat,” tutur Sifak. n (SURYO)

| Nomor: 136 Tahun XX - Desember 2019 |

19


LENSA

UNESA

P

uncak Dies Natalis Unesa diramaikan dengan gelaran acara yang spektakuler, yakni tari remo milenial yang berhasil mencatatkan Rekor Muri Dunia pada Kamis 19 Desember 2019. Dengan menggunakan atribut kaos putih, celana jeans lengkap dengan selendang tari dan udeng, pencatatan rekor muri ini diikuti sebanyak 2.655 peserta. Tidak hanya mahasiswa peserta juga diikuti oleh tenaga pendidik, dosen, dan juga para pimpinan selingkung universitas. tidak kalah meriah kegiatan ini disemarakkan oleh penari-penari dari berbagai sanggar di Jawa Timur. Rektor Unesa, Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes., mengungkapkan bahwa hal menarik dalam tari remo ini adalah kombinasi yang dilakukan antara modernisasi dan kebudayaan. Dalam tarian ini, para peserta memakai kostum kaos putih dan celana jeans sebagai bentuk modernisasi milenial. “Tari remo adalah warisan luhur yang perlu dilestarikan, sebagai generasi milenial mari kita wujudkan cara melestarikan kebudayaaan bangsa dengan kreasi dan modernisasi,� ujarnya. n (HUMAS)

20

| Nomor: 136 Tahun XX - Desember 2019 |

REKOR MURI TARI REMO MILLENIAL

PENAHBISAN: Rektor Unesa, Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes., menerima piagam Rekor MURI atas keberhasilan menggelar Tari Remo Millenial pada puncak Dies Natalis ke-55 dan Lustrum XI Unesa.

Majalah Unesa


LENSA UNESA

Prof. Dr. Bambang Yulianto Wakil Rektor Bidang Akademik

(FOTO-FOTO: AROHMAN)

Majalah Unesa

| Nomor: 136 Tahun XX - Desember 2019 |

21


INSPIRASI

ALUMNI

Wahyu Adji Setiawan, CEO dan Founder PT. Prataja Modatama Group

SENANG BERJUALAN SEJAK SMA, BERBISNIS DARI JUALAN PITA HINGGA PRODUSEN TAS EKSPOR

W

ahyu Adji Setiawan atau akrab dipanggil Adji sejak SMA ternyata sudah senang bisnis berjualan berbagai macam barang kepada teman-temannya. Kala itu, Adji kulakan barang dagangannya dari Bandung. Atas kerja kerasnya itu, kini ia sukses menjalani bisnisnya dan menjadi CEO serta Founder PT. Paraja Modatama Group. Ketertarikan Wahyu Adji di dunia bisnis berlanjut ketika ia masuk ke perguruan tinggi. Adji sempat berjualan aneka barang seperti pita rambut, cashing hp, soft drink di sekitar lorong-lorong kampus, terutama di Fakultas Ekonomi. Ia juga menjalankan bisnis konveksi yang kala itu dia masih berstatus mahasiswa. Dari bisnis konveksi, Adji mulai mengembangkan bisnisnya lebih besar lagi, lika-liku yang ada tidak membuat Adji patah semangat, hambatan justru menjadi tempaan baginya untuk menjadi lebih kuat, tajam dan terasah. Salah satu rintangan yang pernah Adji hadapi yakni ia sempat jatuh hingga mengalami kerugian hingga 78 juta. Terbesit dibenaknya untuk berhenti dari dunia bisnis dan menjadi seorang pegawai biasa dengan passive income yang tidak seberapa. Akhirnya Adji juga pernah mencoba peruntungannya dengan mengirim 13 lamaran pekerjaan ke berbagai perusahaan. Namun Tuhan berkehendak lain, tidak ada satupun perusahaan menerima yang menerima lamaran Adji. Keadaan memang tidak memihak kepada Adji, namun hal itu tidak membuat ia berputus asa, karena ia percaya bahwa Allah tidak pernah salah dalam memberikan jalan dan rezeki kepada hambanya. Adji pun

22

“MUNGKIN AKAN BERBEDA APABILA SAYA DITERIMA DISUATU PERUSAHAAN. KARENA APABILA SAYA DITERIMA, SAYA TIDAK AKAN PERNAH KEMBALI KE DUNIA BISNIS DAN TIDAK AKAN MENJADI SEPERTI SAAT INI.”

kembali kepada dunia bisnis, ia mencoba dari nol dan pada akhirnya ia mempunyai perusahaan tas untuk acara-acara seminar dan acara lainnya. Dari situlah Adji mencoba untuk fokus pada bisnis tas. Adji beserta timnya juga membuat beberapa brand dengan segmen yang berbeda-beda. Akhirnya pada tahun 2009 ia mulai membuat CV. Evrawood Paraja Modatama dengan brand Evrawood, dan pada tahun 2010 Adhi mengembangkan sayapnya dengan mengekspor tasnya ke manca negara seperti Jerman, Belanda, Swedia dan italia. Saat ini Adji menjadi CEO dan Founder PT. Prataja Modatama Group dan membawahi beberapa perusahaan tas yakni Paraja Custom (Pabrik Tas), Evrawood (Brand Tas), Wanokaka (Brand Tas), The Vra (Brand Tas), Kreaxio (Agency digital marketing dan EO) dan Praja Leather (Brand Small Good Leather). “Mungkin akan berbeda apabila saya diterima disuatu perusahaan. Karena apabila saya diterima, saya tidak akan pernah kembali ke dunia

| Nomor: 136 Tahun XX - Desember 2019 |

Maja lah Unesa

bisnis dan tidak akan menjadi seperti saat ini,” ungkap Adji. Adji mengaku bahwa kesuksesannya ini karena terinspirasi oleh salah satu tokoh terkenal yaitu Stave Job. Baginya Stave Job selalu membuat terobosan-terobosan baru di bidang teknologi dengan niat membantu orang. Selain itu Adji menganggap bahwa desain dari produk Stave Job simple namun terlihat unik. Adji juga mengaku bahwa ia juga meniru cara Stave Job dengan membuat komunitas entrepreneur untuk membantu teman-temannya belajar berbisnis. Setiap usaha pasti akan ada hambatan, tidak terkecuali Adji yang juga pernah mengalaminya. Setelah bisnisnya sudah berjalan stabil Adji masih juga diuji dengan musibah kebakaran pabrik pada tahun 2011. Tak hanya itu, Adji juga pernah ditipu oleh partner kerjanya sendiri hingga pada saat itu ia mencoba bisnis baru yakni bisnis property, walau kala itu Adji dan timnya masih tidak paham mengenai detail bisnis itu. Adji mengaku bahwa ia tidak pernah berpikiran untuk memulai bisnis tas. Hanya saja, saat itu ia merasa bahwa ia sangat mengenal detail dan minat konsumen pada produk tersebut. Adji mengaku bahwa ia sangat senang menikmati proses yang ia lalui, sederhana maupun rumit. Adji berpesan apabila ingin menjadi pebisnis, mulailah dengan berkumpul dengan teman-teman yang juga berminat pada bisnis. Mulai dengan yang sederhana dan mencari mentor untuk sharing mengenai bisnis. Dan terakhir mulai bentuk mindset besar dan yakin bahwa usaha yang dilakukan akan menjadi besar. n (IC/EM)


INSPIRASI ALUMNI

WAHYU ADJI SETIAWAN

CEO & Founder PT. Prataja Modatama Group

NAMA : Wahyu Adji Setiawan TTL : Kebumen 1986 ALUMNUS : Unesa Jurusan Manajemen Lulus Tahun 2010 PEKERJAAN : CEO & Founder PT. Prataja Modatama Group ANAK PERUSAHAAN : Paraja Custom (Pabrik Tas), Kreaxio (Agency digital marketing dan EO) PEMILIKI BRAND : Evrawood (Brand Tas), Wanokaka (Brand Tas), The Vra (Brand Tas), Praja Leather (Brand Small Good Leather).

Majalah Unesa

| Nomor: 136 Tahun XX - Desember 2019 |

23


KABAR

PRESTASI

TIM UNESA RAIH JUARA DI AJANG WESHARE 2019

T

JUARA: Nopi dan kawan-kawan berhasil meriah juara 2 dengam judul Implementasi Platform Crowdfunding Wakaf Berbasis Blockchain dalam Pembangunan Indonesia Islamic Science Park.

24

| Nomor: 136 Tahun XX - Desember 2019 |

Maja lah Unesa

im Unesa kategori Lomba Karya Tulis Ekonomi Islam Week of Sharia Economic Exhibition (WeSHARE) 2019 yang berlangsung di UIN Syarif Hidayatullah pada 2-5 Desember 2019 berhasil menorehkan prestasi dengan menjadi juara 2 LKTIN. Tim Unesa beranggotakan Zidni Maziyyah dari Manajemen 2018, Ibnu Affan dari Ekonomi Islam 2018, dan Nopi Susanti dari Ekonomi Islam 2018. Ada 10 finalis yang menjadi bagian dalam acara ini, di antaranya Universitas Negeri Surabaya, Universitas Sumatera Utara, Universitas Gadjah Mada, UIN Sumatera Utara, Universitas Mataram, Universitas Gunadarma 2 tim, Universitas Padjajaran, IAIN Pekalongan, dan Universitas Indonesia. Selain Lomba Karya Tulis Ekonomi Islam, WeSHARE memiliki beberapa cabang lomba yakni Lomba Debat, Lomba Poster, Lomba Video, dan Olimpiade Ekonomi Islam. Nopi dan kawan-kawan berhasil meriah juara 2 dengam judul Implementasi Platform Crowdfunding Wakaf Berbasis Blockchain dalam Pembangunan Indonesia Islamic Science Park. Penulisan tersebut dilatarbelakangi perencanaan Indonesia Islamic Park yang akan dibangun di kaki jembatan Suramadu. Untuk merealisasikan pembangunan itu, tentu membutuhkan dana yang sangat besar. Nah, dari situlah Nopi, dkk memberikan solusi yaitu dengan jalan wakaf yang pengelolaannya menggunakan teknologi blockchain. Nopi mengklaim pengelolaan dengan teknologi tersebut memiliki banyak keunggulan. Salah satunya tidak menggunakan pihak ketiga sebagai perantara sehingga dapat memotong alur birokrasi. “Penggunaan teknologi blockchain ini juga memunyai keunggulan transparansi. Jadi para wakif nantinya akan mengetahui jumlah uang yang diwakafkan, penggunaannya untuk apa saja, serta penyalurannya ke siapa saja. Datanya pastinya sangat akurat,� jelas Nopi. Pada cabang Lomba Karya Tulis Ekonomi Islam (LKTEI) tersebut, juara 1 diraih Universitas Padjajaran, juara 2 diraih Universitas Negeri Surabaya, dan juara 3 diraih Universitas Gunadarma. n (MADINA/WHY)


KABAR PRESTASI

PRESTASI: Tims Supersquad Academy Unesa yang berhasil meraih juara 2 Akselerasi Startup Mahasiswa Indonesia Program Kemendikbud RI.

SUPERSQUAD ACADEMY UNESA JUARA 2 AKSELERASI STARTUP

P

rogram Akselerasi Startup Mahasiswa Indonesia telah digelar. Mahasiswa Unesa memberanikan diri ikut serta sebagai kontestan di ajang bergengsi nasional tersebut melalui Pusat Inkubasi Bisnis yang dipimpin oleh Prof. TitikTaufikurohmah, S.Si., M.Si. Dengan membawa Ide Startup Supersquad Academy bidang Revolusi Cara Belajar Siswa Indonesia yang bertujuan memberikan pemahaman gaya belajar terbaik bagi siswa untuk mempersiapkan diri menjadi Generasi Emas Indonesia kedepan. “Modal keyakinan dan optimis menjadi salah satu modal terbaik kami untuk memberangkatkan diri, dan alhamdulillah kami lolos 100 Besar untuk mengikuti seleksi plus Camp di Jakarta bulan September lalu, tidak berhenti disitu, kami lanjut lolos 50 besar untuk mengikuti tahap Monev oleh Kemenristekdikti (sebelum menjadi Kemendikbud),” ungkap Sri Kurnia Abdi Pradhana atau yang biasanya disapa Danang salah satu

mahasiswa Unesa yang ikut ajang tersebut. Tentunya dengan bangga dan semakin tertantang Tim Supersquad Academy bisa lolos ke tahap selanjutnya. Perlu diketahui, Startup ini merupakan hasil kolaborasi berbagai kampus di Surabaya dan Universitas Negeri Surabaya yang notabene Kampus Pendidikan yang menjadi payung Startup tersebut. Kepedulian terhadap Sistem Pendidikan di Indonesia menjadi landasan terbentuknya Supersquad Academy. Hal ini didasari dengan banyak siswa yang tidak nyaman dengan lingkungan belajarnya, oknum guru yang tidak menghargai proses belajar siswa, dan potensi siswa yang kurang terwadahi menurut Survey Tahun 2015/16 PISA (Programme of International Student Assessment). Sementara itu tahap Monev dilakukan di wilayah masing masing. Unesa bersaing dengan Tim PENS dan Unair di Surabaya, dan tidak disangka Unesa yang

Majalah Unesa

lolos ke Startup Summit 25 Besar bersamaan dengan KMI Expo di Politeknik Negeri Batam tanggal 22-25 November. Dua Mahasiswa Manajemen Pendidikan Unesa (Danang dan Arsya) berangkat menjadi delegasi Supersquad Academy untuk bersaing dengan 24 perguruan tinggi lainnya, dengan rasa bangga Supersquad Academy berhasil menjadi juara 2 Akselerasi Startup ini dengan diapit duo IPB (Juara 1 dan 3) serta UNNES Semarang dan Universitas Telkom Jakarta menjadi juara harapan. “Tidak mudah proses kami untuk berangkat, banyak perjuangan yang harus dilewati, ini adalah sebuah kebanggan dari perjuangan yang tidak sia - sia.Terimakasih kepada seluruh Tim, Amin, Refa, Digdo, Dinda, Superteam, para dosen, dan para mitra lainnya yang sudah mensupport sampai tahap ini. Semoga menjadi awal yang baik dan Unesa semakin memperhatikan Inovasi Startup selanjutnya demi kemajuan Negeri ini, sekali lagi terimakasih,” ungkap Arsya. n (WHY).

| Nomor: 136 Tahun XX - Desember 2019 |

25


KABAR

PRESTASI

ASIAP SABET DUA GELAR JUARA LKTIN AGROFEST 11 DI UPI

JUARA: SP Team membawa nama harum Unesa pada LKTIN) AGROFEST 11 di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

L

omba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN) AGROFEST 11 yang diadakan oleh BEM Agroindustri Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) telah selesai dilaksanakan pada 24 November 2019. Tim Unesa yang diwakili oleh SP TEAM yang beranggotakan Syahrul Gunawan dari Teknik Mesin 2017 dan Prahoro Yudo Purwono dari Sastra Jerman 2017 berhasil membawa gelar juara. Mereka meraih Juara 2 LKTIN AGROFEST 2019 dan Best Design LKTIN AGROFEST 2019. Dalam kegiatan ini, SP Team memiliki inovasi yang kreatif dan berbeda dengan peserta lainnya. mereka mengangkat ide dengan membuat alat bernama ASIAP (Alat Reduksi Polusi dan Asap) berbasis Cataltic Converter. Tujuan mereka dalam menggagas ide ini adalah

26

untuk mereduksi asap dan polusi akibat terjadinya karhutla di Indonesia. Sehingga masyarakat Indonesia yang terdampak bisa terhindar dari bahaya gangguan pernapasan akibat asap karhutla. “Alat ini bisa membakar partikulat sampai hilang dan mengubah gas-gas beracun dari karhutla seperti CO, HC, dan NOx menjadi CO2 sehingga jauh lebih aman,” jelas Prahoro. Ide yang diikutkan LKTIN tergolong ide baru, belum pernah ada model alat reduksi asap untuk karhutla. Ditambah latar belakang permasalahan mereka adalah terkait karhutla yang merupakan masalah yang sedang hangat dan viral sehingga menjadi poin penting untuk mereka menyabet Juara 2 LKTIN AGROFEST 2019. Kalau untuk Best Design LKTIN AGROFEST 2019, mereka mendesainnya ala-ala poster PIMNAS. Indikator penilaiannya mencakup

| Nomor: 136 Tahun XX - Desember 2019 |

Majalah Unesa

komunikatif, jelas, sesuai, mudah dipahami, ditambah dengan penilaian jumlah like di sosial media. “Sebenarnya jumlah like untuk poster kami masih kalah dengan universitas lain, tetapi karena desain kami ternyata diminati dewan juri karena ala-ala PIMNAS. Kami meniru gaya poster dari juara-juara PIMNAS sebagai referensi sehingga poster kami akhirnya dinobatkan sebagai Best Design,” tambahan Prahoro. Sebagai informasi gelaran ini diikuti sembilan finalis lomba yang terdiri dari tujuh universitas. Pertama dari Universitas Brawijaya (UB) 2 tim, Universitas Gadjah Mada (UGM) 2 tim, Universitas Negeri Surabaya (UNESA) 1 tim, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) 1 tim, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) 1 tim, Universitas Diponegoro (UNDIP) 1 tim, dan Universitas Negeri Semarang (UNNES) 1 tim. n (MADINA/WHY)


KABAR PRESTASI

ESSAY: Delegasi Tim Unesa meraih Juara 2 dan Best Presentation dalam Lomba Essay Writing Competition yang diadakan oleh IAIN Tulungagung.

DUA DELEGASI UNESA RAIH JUARA ESSAY WRITING COMPETITION

M

ahasiswa Unesa kembali menorehkan prestasi. Kali ini 2 Delegasi Tim Unesa meraih Juara 2 dan Best Presentation dalam Lomba Essay Writing Competition yang diadakan oleh IAIN Tulungagung. Mereka adalah Tim Octavia Herlianayang beranggotakan Christina Eva Puspita dan Muhamad Iqbal Hutanto berhasil meraih Juara 2 Essay Writing Competition. Satu tim lainnya diketuai oleh Nadhira Aisyah Damayanti dengan anggota Anang Bayu Mustiko juga mendapat Best Presentation Essay Writing Competition. Untuk meraih juara tidaklah mudah.

Mereka harus bersaing dengan 10 finalis dari perguruan tinggi lainnya. diantaranya terdapat Universitas Airlangga (UNAIR), Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Trunojoyo Madura, Universitas Negeri Malang, dan tuan ruah IAIN Tulungagung. “Lomba yang kami ikuti kemarin itu juga memberikan kita wadah untuk dapat bertemu sama orang-orang yang interes atau minat yang sama dibidang kepenulisan, jadi lebih banyak sharing juga dengan teman-teman yang lebih berkompeten,” ujar Eva mahasiswa dari Pendidikan Ekonomi Unesa. Ide atau gagasan yang diajukan dalam

lomba essay ini mengenai perpustakaan online 3T berbasis artificial intelegent untuk meningkatkan minat baca siswa. Latar belakang gagasan yang dibuat berdasarkan data yang dilansir Program for International Student Assesment (PISA). Literasi atau minat baca siswa di Indonesia masih sangat rendah dengan posisi urutan ke-62 dari 70 negara. Dilihat dari data tersebut dapat diketahui kondisi literasi yang terjadi di Indonesia masih sangat perlu diperhatikan. Dibawah bimbingan Arief Rafsanjani, S.Pd., M.Pd selaku dosen pembimbing Akhirnya tercetuslah ide atau gagasan dari perpustakaan 3T berbasis articial intelegent.

Majalah Unesa

Pada perpustakaan online ini, ada 3 fitur yang disuguhkan yaitu T-Bali (Taman Baca Online), T-Fusi (Taman Berdiskusi Online), dan T-Noline (Taman Menulis Online). Jadi siswa tidak hanya membaca buku seperti di perpustakan, tetapi juga dapat berdiskusi dengan orang-orang yang memiliki minat dan interes yang sama dalam bentuk roomchat dan dapat menggunggah hasil tulisan kedalam perpustakaan ini. “Kuncinya adalah kerjasama tim. Diawal kami lebih mematangkan konsep ide yang diajukan yaitu perpustakaan online ini sehingga berbeda dari perpustakaan yang ada biasanya,” tambah Eva. n (MAD/WHY)

| Nomor: 136 Tahun XX - Desember 2019 |

27


KABAR

PRESTASI

INTERNASIONAL: Tim perenang indah Unesa yang berhasil medali di ajang kejuaraan internasional.

ATLET UNESA RAIH MEDALI RENANG INDAH INTERNASIONAL

U

nesa boleh bangga, tiga mahasiswa besutannya kembali mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional. Mereka adalah Shabrina Septiherlita dari Program Studi (Prodi) Bahasa Jerman Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Intan Putri Aditria, dan Novita Anggi dari Prodi Ilmu Keolahragaan Fakultas Ilmu Olahraga (FIO). Intan Putri Aditria (kiri atas) dan Shabrina Septiherlita (tiga dari kiri) berhasil membawa pulang medali perak dalam cabang olahraga renang indah pada ajang 11th Asia Pacific Open & Age Group Artistic Swimming Championship di Malaysia yang berlangsung 30 November s.d. 1 Desember 2019. Sabrina mendapatkan perak dengan menjuarai kelas duet team free routine, sedangkan

28

Intan pada kelas team free routine. Sementara itu, Novita Anggi (kanan) berhasil membawa pulang perunggu di cabang olahraga muay thai pada SEA Games 2019 yang digelar di Filipina. Keberhasilan tersebut sontak membuat Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes., selaku Rektor Unesa merasa bangga. Unesa mampu memberikan kontribusi yang nyata, khususnya prestasi di bidang olahraga. Nurhasan menyampaikan jika memperoleh medali perak pada ajang renang indah ini merupakan langkah awal yang nantinya bisa ditingkatkan untuk naik tingkat dengan menyabet medali perunggu atau bahkan emas di tahuntahun selanjutnya. Berbicara terkait prestasi anak didik Unesa, Nurhasan juga menjelaskan jika ini bukan kali pertama anak Unesa menyumbangkan medali. Pada ajang

| Nomor: 136 Tahun XX - Desember 2019 |

Maja lah Unesa

Sea Games 2017 di Malysia, Tazsa Miranda Devira dari Prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO) FIO juga berhasil menyabet perunggu di cabang senam artistik. “Yang terpenting adalah, anakanak Unesa mampu menunjukkan kontribusinya, baik di mata nasional maupun internasional, di segala bidang, tanpa pengecualian,� ujar Nurhasan. Nurhasan juga berharap, prestasi ini bisa menjadi cambuk untuk memotivasi atlet-atlet yang sedang ikut kompetisi maupun yang masih mempersiapkan diri untuk kompetisi tingkat internasional lainnya. Ke depan, semoga Unesa bisa menjadi pelopor yang menghasilkan atlet unggulan Indonesia yang terus mengukir prestasi, mengharumkan merah putih di ajang olahraga tingkat dunia. n (AY)


WISUDWAN

TERBAIK

INILAH WISUDAWAN TERBAIK UNESA WISUDA KE-96/2019 WISUDA KE-96 TAHUN INI MENGAMBIL TEMA “WISUDAWAN UNESA TANGGUH, SIAP MENJAWAB TANTANGAN MASA DEPAN”. PERJUANGAN, KERJA KERAS DAN KETEKUNAN MENGHASILKAN PRESTASI YANG GEMILANG. DEMIKIAN YANG DILAKUKAN PARA WISUDAWAN UNESA YANG BERHASIL MENJADI WISUDAWAN TERBAIK DI FAKULTAS MASING-MASING. SIAPA SAJA MEREKA, BERIKUT SOSOK DAN KIPRAHNYA! Wildany Mafazatin Nailiyah, S.Sn - FBS

BERPRESTASI LEWAT SENI MUSIK WILDANY Mafazatin Nailiyah akrab disapa Wildany, mahasisiwi kelahiran Mojokerto 3 September 1996 berhasil meraih gelar wisudawan terbaik dari Fakultas Bahasa dan Seni dengan IPK 3,88. Ia menulis skripsi berjudul “Analisis Interpretasi Musik Jaman Barok pada Prelude from Suite No.1 for Violoncello Solo Karya J.S.Bach.” Lahir dari lingkungan keluarga yang sederhana tidak membuat Wildany patah semangat. Justru, kondisi itu membuat dirinya lebih termotivasi dan berkembang dalam memperoleh keilmuan. Anak pasangan Imron Rosyadi dan Novella ini sangat bersyukur segala sesuatu baik materil dan non materil yang diberikan orang tuanya kini berbuah manis. “Keputusan saya untuk masuk di jurusan seni sangat direstui oleh orang tua, hal ini merupakan suatu hal besar yang mendukung pendidikan dan karir saya. Ketika banyak orang tua yang meragukan anaknya masuk jurusan seni, orang tua saya malah mendukung dan mengatakan bahwa apapun pilihan saya ingin terjun ke bidang apapun, selama itu baik pasti didukung 100% oleh mereka. Dan tidak perlu mendengarkan kata orang lain,” ujar Wildany. Mengenai skripsi yang ditulis, Wildany mengatakan bahwa Interpretasi sangat penting untuk pemain musik klasik yang sering diabaikan. Interpretasi sebuah lagu terutama lagu jaman Barok, klasik, romantik, dan lainnya

memiliki interpretasi yang berbeda-beda. Ia berharap penelitian ini dapat membuat pecinta musik khususnya mahasiswa tidak hanya asal dalam menginterpretasi sebuah lagu tapi harus melihat sejarah, latar belakang komposer, latar belakang lagu, dan banyak lagi. Sementara itu, sebagai mahasiswa Unesa, ia tentu saja sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari Unesa apalagi meraih IPK tertinggi yang sebelumnya tidak pernah ia targetkan. Baginya kunci kesuksesan tidak semata-mata memiliki visi dan misi namun konsentrasi dan memberikan secara maksimal dalam bidang yang ditekuni akan dapat menuai hasil yang memuaskan. Kedepannya Wildany ingin terus eksis di dalam dunia musik baik dalam pendidikan musik penciptaan, dan penyajian seni musik. n (FBR)

Erika MaulitaZuliyawati, S.Pd - FIP

IPK BUKANLAH PRIORITAS UTAMA, PALING PENTING ILMU IPK bukanlah prioritas utamanya. Itulah yang dikatakan oleh Erika salah satu wisudawan terbaik dari Fakultas Ilmu Pendidikan. Menurut perempuan kelahiran 5 Juli 1997 ini pengetahuan dan ilmu adalah prioritas yang utama. Namun Erika tidak menyangka ketekunan dan kerja kerasnya kini diringi prestasi yang membanggakan. Skripsinya yang berjudul Eksplorasi Konsep Matematika Untuk Mentransformasi Konteks Matematika SD yang

Majalah Unesa

| Nomor: 136 Tahun XX - Desember 2019 |

29


WISUDAWAN

TERBAIK

Mengandung Nilai-Nilai Karakter berhasil menghantarkan dirinya meraih IPK 3,85 dengan predikat pujian. Judul skripsi yang diambilnya bukan tanpa alasan, penelitian ini dilatarbelakangi oleh refleksi diri yang ia lakukan selama belajar dan memahami konsep matematika. Ketika Siswa belajar matematika, hal yang terlintas di benak mereka adalah angka, hitungan atau rumus. Di sisi lain, pendidikan saat ini lebih mengarah ke pendidikan karakter. Hal tersebut yang menjadikan Erika melakukan penelitian, yang mana ia mengintegralisasikan nilai-nilai karakter dengan konsep matematika. Tujuannya adalah untuk memahami konsep matematika, bukan hanya untuk kemahiran siswa dalam menyelesaikan soal namun juga cara siswa memetik nilai karakter yang ada di dalam konsep-konsep tersebut. Erika menjelaskan bahwa penelitian ini penelitian transformatif, ia terlebih dahulu harus melakukan refleksi kritis. “Selanjutnya, dari eksplorasi yg sudah saya lakukan ditambah dengan studi literatur, saya mentransformasikan konteks Matematika sehingga mengandung nilai karakter di dalamnya,” lanjutnya. Ia juga berkonsultasi kepada guru untuk hasil transformasi konteks matematika yang ia lakukan, apakah sudah cocok diterapkan di pembelajaran matematika di SD

atau masih ada perubahan. Sehingga hasil dari penelitian ini adalah konsep-konsep matematika yang mengandung nilai-nilai karakter seperti karakter religius,nasionalis, integritas, gotong royong dan mandiri. Sayangnya, penelitian ini baru bisa diimplementasikan pada SD kelas 3 hingga kelas 6 saja. Suatu penelitian tidak ada yang benar-benar berjalan dengan mulus, begitupun dengan yang dialami Erika. Satusatunya kendala yang ia alami adalah perihal perizinan dari pihak sekolah. Hal tersebut membuatnya harus mengganti lokasi penelitian, syukurlah kendala-kendala tersebut berhasil dilewatinya dan berhasil menyelesaikan penelitiannya dengan baik. Ia berharap bahwa ilmu yang ia dapatkan selama 4 tahun belajar di PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan menjadi ilmu yang bermanfaat dan dapat diimplementasikan di sekolah maupun di masyarakat. Hal itu dapat menjadi kontribusi bagi lahirnya generasi penerus bangsa yang berkarakter.“Karena saya yakin generasi bangsa yang hebat salah satunya terlahir dari pendidik yg berkualitas,” tutupnya. Ia juga memiliki pesan untuk Unesa, semoga Unesa mampu menyelenggarakan program pendidikan yang semakin berkualitas, meningkatkan mutu pelayanan, dan melahirkan lulusan yg berdaya saing. n (HASNA)

Bagas Muharom Hanugrah Hidayat, S.Kom - FT

KEMBANGKAN APLIKASI PENCARIAN GAMBAR PERJUANGAN Bagas Muharrom Hanugrah Hidayat, pria asal Surabaya ini membuahkan hasil yang membanggakan. Ia tak menyangka bahwa ia akan menjadi wasudawan terbaik Unesa ke-96. Perasaan senang dan bangga menyelimuti hati Bagas saat ini. Skripsi yang berjudul “ContentBased Image Retrieval Menggunakan Metode CNN-SVM dengan Filter Gabor Sebagai Kernel Ekstraksi Fitur” tak pernah bagas sangka akan meraih IPK tertinggi di fakultasnya. Penelitian skripsi Bagas memiliki kinerja mirip dengan Google Image. Akan tetapi perbedaannya dengan google image adalah pencariannya tidak menggunakan teks, melainkan menggunakan gambar. Jadi output

30

yang didapat ialah bisa mencari gambar yang mirip menggunakan gambar yang telah ada. Misal upload gambar pemandangan nanti sistem akan menghadirkan gambar-gambar yang secara visual adalah pemandangan. Poin penting dari penelitian ini ialah memermudah user dalam mencari informasi. Karena pada zaman sekarang informasi dalam web tidak hanya teks melainkan gambar pun dapat dijadikan sebagai informasi. Ide dalam pembuatan skripsi ini muncul karena sebuah forum di Microsoft. Setelah ide itu didapat ia mulai mengawalinya dengan pembuatan aplikasi, memang tidah mudah tapi Bagas terus berinovasi dalam mengembangkan idenya.

| Nomor: 136 Tahun XX - Desember 2019 |

Maja lah Unesa

Menurutnya ide ini cukup sederhana, karena fungsi dari aplikasi ini ialah pencarian gambar dengan menggunakan gambar. Putra dari pasangan Safril Hidayat dan Diah Setya ini berharap skripsi yang ia buat ini bermanfaat dan memberi kontribusi dalam bidang informasi dan informatika. Bagi Bagas tidak ada yang sempurna, jadi ia akan tetap terus memperbaiki kelemahan yang ada pada penelitiannya. Harapan Bagas tidak muluk-muluk, kedepannya terus eksis sesuai dengan bidang keahiliannya. Selain itu Bagas juga mengembangkan beberapa software sebagai bukti bahwa ia sangat mumpuni dalam bidang informasi dan informatika. Tentu capaian yang telah didapat oleh Bagas tidak lepas dari dukungan dan doa dari orang tua serta keluarganya. Ia menganggap keberhasilannya ini sebagai hadiah terindah untuk orang tuanya yang telah sukses mendidik seorang anak. “Saya tentu ucapkan banyak terima kasih kepada kedua orang tua saya berkat didikan merekalah saya bisa seperti ini,” ujar Bagas. n (IC)


WISUDAWAN TERBAIK Aulia Rahmawati - FIO

YAKIN TIDAK ADA YANG TIDAK MUNGKIN AULIA Rahmawati, putri dari pasangan Hari danuminarto (Alm) dan Tatik Nur Hasanah menjadi salah satu wisudawan terbaik dari Fakultas Ilmu Olahraga. Wanita yang akrab dipanggil Aulia ini percaya bahwa doa kedua orang tua dan kerja kerasnya dapat mengantarkan kepada keberhasilan seperti sekarang ini. Aulia mengaku bahwa berkuliah di Unesa prodi Ilmu Keolahragaan merupakan permintaan terakhir dari Almarhum bapak “Sebelum meninggal pendaftaran SNMPTN sudah dibuka, bapak menyarankan masuk ke Ikor.” jelas Aulia. Akhirnya Aulia berhasil masuk ke Unesa melalui SNMPTN dengan UKT kategori 4, awalnya Aulia sudah mengajukan beberapa kali keringanan namun belum beruntung. Akhirnya diselah-selah kuliahnya Aulia meluangkan waktu untuk bekerja. Penghasilan ibunya sebagai guru SD tidaklah seberapa, Aulia bekerja meneruskan usaha almarhum bapaknya yakni outbound. Dengan begitu Aulia dapat memenuhi kebutuhan pribadi dan dapat sedikit mengurangi beban orang tuanya. Usaha outbound-nya pula menjadi pijakan bagi Aulia untuk menyelesaikan skirpsinya. Aulia mengangkat judul Peran Experiental Learning dalam Peningkatan Pendidikan Berkarakter PJOK. “Jadi Judul saya itu tentang olahraga rekreasi (outbound) yang sangat jarang digunakan oleh kebanyakan mahasiswa di Unesa.” Jelasnya. Menurutnya outbound (Experiental Learning) dapat dijadikan media untuk menstimulasi anak dalam pendidikan karakter. Aulia menjelaskan bahwa pendidikan karakter memang tidak dapat dibentuk dalam waktu yang singkat, namun pendidikan karakter perlu stimulus, maka outbound dapat menjadi stimulus. Tidak terduga almarhum bapak Aulia ternyata telah menyiapkan literatur yang dibutuhkan putrinya. “Saya juga tidak ada niatan mengambil judul skripsi ini untuk meneruskan tulisan Bapak saya,” aku Aulia. Literatur yang Aulia butuhkan ternyata ada di perpustakaan Almarhum bapaknya. Dari literatur berbahasa Indonesia sampai ke literatur berbahasa inggris, padahal sebelumnya Aulia tidak pernah membuka perpustakaan Bapaknya. Hingga akhirnya Aulia dapat menyelesaikan skripsinya dalam waktu 3 bulan. Tidak hanya bekerja, Aulia juga aktif sebagai pelatih di karate inkai cabang Gresik sekaligus sebagai anggota majelis sabuk hitam Inkai Jawa Timur. Dulunya Aulia merupakan atlet Inkai perwakilan Surabaya untuk O2SN Jawa Timur. n (EM)

Ianatur Rofiqoh, S.Pd - FMIPA

SEMPAT ALAMI LIKULIKU DI AWAL KULIAH TIDAK ada yang tahu lika-liku dan perjuangan kesuksesan seseorang. Usaha, kerja keras, dan juga motivasi menjadi bagian penting untuk menjalaninya. Apalagi jika jatuh dalam kondisi yang kurang memuaskan, alhasil psikologi diri seseorang akan terganggu. Nah, hal tersebut harus disikapi dengan sikap yang bijak serta harus cepat bangkit untuk memperbaiki. Itulah yang pernah dirasakan oleh Ianatur Rofiqoh saat mengawali perjalanan di bangku kuliah. Proses yang dijalani oleh perempuan kelahiran Gresik tersebut untuk mendapatkan IPK tertinggi juga mempunyai lika-liku. Awal semester pertama nilai mata kuliah biologi memiliki nilai lebih rendah dibandingkan mata kuliah umum lainnya. Inilah yang membuat ia down waktu itu, pasalnya matkul biologi adalah bidang studi yang wajib memiliki nilai tinggi karena sesuai dengan jurusannya. Sempat terlintas pikiran salah jurusan, ia berkeingingan untuk pindah jurusan dan pindah universitas lain. Namun pikiran tersebut buyar berkat dorongan dan motivasi dari kedua orang tuanya. Semester selanjutnya Rofiqoh melaui semster tersebut dengan baik hingga menemukan jati diri dan kecintaannya pada bidang biologi. Serta pada titik semester akhir Rofiqoh dinobatkan sebagai wisudawan terbaik dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dengan IPK 3,88 dengan predikat pujian. Pada tahap akhir dalam penyelesaian skripsi, ia melakukan penelitian pada Pengembangan Buku Ajar Berbasis Etnosains Materi Perubahan Lingkungan Untuk Melatihkan Keterampilan Literasi Lingkungan Peserta Didik Kelas 10 SMA. Awalnya ia ingin mengambil literasi sains, tetapi literasi sains sudah biasa dan akhirnya munculah literasi lingkungan dan materi yang dimunculkan terkait perubahan lingungan. Kemudian ia mencari basis penelitiannyanya, setelah dipikirkan yang berbeda adalah menemukan ide dengan berbasis etnosains. “Awalnya terlihat gampang tetapi kenyataannya susah,” ujar mahasiswa kelahiran 11 September 1997 itu. Kendala yang ia alami ketika pembuatan skripsi adalah mencari referensi. Referensi tentang etnosains susah didapatkan, kebanyakan referensinya berbasis bahasa inggris dan itu tidak begitu lengkap. Selain kendala mengenai referensi, ada juga kendala lainnya seperti niat untuk mengerjakannya. Menurutnya menunda-nunda mengerjakan skripsi adalah kendala utamanya. n (AIDA)

Majalah Unesa

| Nomor: 136 Tahun XX - Desember 2019 |

31


WISUDAWAN

TERBAIK Ferinda Ardiyanti, S.Sos - FISH

BUAH KETEKUNAN DAN KERJA KERAS MEMANG proses tidak akan menghianati hasil. Sebuah perjuangan panjang dengan ketekunan dan kerja keras pasti membuahkan hasil yang maksimal. Itulah yang kini dirasakan oleh Ferinda Ardiyanti, menempuh studi selama empat tahun akhirnya ia berhasil mengukir prestasi yang membanggakan dengan menjadi Wisudawan Terbaik dalam gelaran Wisuda-96. Wisudawandari S1 Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum ini berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,71. Perempuan yang akrab dipanggil Ferinda ini kaget sekaligus bersyukur atas predikat wisudawan terbaik yang diraihnya. Ia menyampaikan bahwa prestasi yang ia dapattidak semata-mata semudah membalikkan telapak tangan, namun dilakukan dengan motivasi tinggi dan rajin selama proses perkuliahan. “Kuncinya selama proses perkuliahan cuma satu yaitu Rajin, karena orang pintar akan kalah dengan orang rajin,� ujarnya. Putri dari pasangan Ariadi dan Sumiati ini menyelesaikan penelitian berbeda dengan mahasiswa lainya. Skripsi yang diberi judul Evaluasi Pengelolaan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Ngelom Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjobertujuan untuk mengetahui penerapan proses pengelolaan dalam rusunawa terhadap peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah.Hasilnya masih menyisakan sejumlah problematika dalam penerapan proses pengelolaan rusunawa. Harapan Ferinda dalam skripsi ini dapat menjadi pedoman ataupun pertimbangan bagi pemerintah daerah khususnya Pemda Sidoarjo dalam merumuskan kebijakan-kebijakan kedepan dalam pengelolaan Rusunawa. Kedepannya Ferinda ingin melanjutkan studi yang lebih tinggi lagi setidaknya mendapatkan beasiswa luar negeri yang selama ini ia cita-citakan. Ferinda berpesan kepada mahasiswa lainnya untuk rajin belajar, meminta ridho dari orang tua serta menjadi mahasiwa yang kritis dalam memfilter segala macam bentuk informasi yang didapatkan. Tidak lupa untuk menciptakan suasana harmonis di setiap kegiatan belajar. n (YURIS)

32

| Nomor: 136 Tahun XX - Desember 2019 |

Faris Wildan Mutawally, S.E - FE

PERAN BESAR ORANG DALAM KESUKSESAN ORANG tua memiliki peran besar dalam kesuksesan hidup Fariz. Baginya segala bentuk doa orang tua untuk melihat anaknya sukses akan terkabulkan jika diiringi kerja keras dan sifat optimis. Itulah yang kini tengah dirasakan oleh pria yang memiliki nama lengkap Faris Wildan Mutawally. Ia berhak menerima penghargaan sebagai wisudawan terbaik dari Fakultas Ekonomi dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.87. Anak pasangan Drs. Zainal Arifin (Alm.) dan Ulli Faudiyah S.Pd., ini telah menyelesaikan S1nya dengan cukup baik. Skripsi yang ia lakukan sebagai syarat penyelesaian tugas akhir berkonsentrasi pada pembahasan tentang perilaku keuangan individu, pengetahuan dan pengalaman ketika berinvestasi finansial. Poin penting dalam sebuah penelitianya adalah apakah hipotesis atau dugaan yang diberikan searah dengan hasil penelitian. Kesesuaian hasil ini terdapat pada variabel herding dan pengalaman investasi yang memberikan pengaruh pada keputusan investasi. Disarankan untuk melakukan herding pada investor terpercaya atau pakar investasi dan lebih memperhatikan serta mencermatinya. Pengalaman investasi yang dimiliki investor juga diharapkan untuk dapat terus ditingkatkan agar semakin ahli dalam perolehan keuntungan. Fariz mengaku konsentrasi manajemen yang ia terapkan dalam skripsinya dilakukan karena sering berurusan dengan investasi finansial. Sehingga gagasan penelitian diperoleh lingkungan sekitar terutama mahasiswa dimana ketika berinvestasi terutama berinvestasi saham sering mengalami kesulitan terutama dalam perolehan keuntungan. “Saya menyadari adanya faktor psikologis ketika rekan-rekan mahasiswa melakukan investasi. Terdapat ketidakseimbangan antara logika dan perasaan sehingga menciptakan ketidakrasionalan investasi. Selain melihat dari sudut pandang psikologi, Saya juga melihat pada pengetahuan dan pengalaman rekan-rekan mahasiswa sehingga menciptakan pondasi yang kuat untuk perolehan keputusan investasi yang lebih baik lagi kedepannya,� jelas Fariz. Prestasi Fariz tidak hanya diukir dalam bidang akademik saja melain melebarkan sayap dengan segudang prestasi di bidang non akademik. Diantaranya adalah Juara 2 Debat Bahasa Inggris MTQ tingkat Fakultas, Best Speaker Debate tingkat Fakultas, Juara 2 NUDC tingkat universitas tahun 2017 dan 2018, serta pernah terpilih menjadi Juri NUDC untuk seleksi tingkat Jurusan. n (WHY)

Maja lah Unesa


STAKE

HOLDER

AUDIENSI: Rektor Unesa, Prof. Dr. Nuhasan, sedang memberi paparan kepada pengurus IKA Unesa dalam Audiensi di ruang rektorat.

Audiensi IKA Unesa dengan Rektor

PERLU KEBERANIAN, KREASI, DAN KOLABORASI

S

eluruh sivitas akademika harus mematri orientasi dan menjaga marwah, bahwa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) merupakan kampus besar yang mampu sejajar dengan kampuskampus favorit lainnya di Indonesia. Karena itu, terobosan dan lompatan menuju kebesaran Unesa harus dilakukan dengan melibatkan berbagai yang ada dan peduli pada Unesa. Penegasan itu disampaikan Rektor Unesa, Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes saat membuka Rapat Kerja (Raker) Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Unesa di ruang sidang rektorat Kampus Lidah Wetan, Surabaya, Jumat (6/12/2019). “Ini momentum luar biasa buat kami karena bisa bertemu dengan teman-teman alumni. Saya mimpikan IKA bisa menjaga marwah Unesa,

bahwa Unesa itu besar, bukan IKIP lagi,” tandas rektor. Dikatakan, untuk menjadi besar, mesti dilakukan berbagai terobosan dan lompatan-lompatan dalam melakukan perubahan. Karena itu, ia berharap keluarga besar Unesa jangan hanya berpikir dan bekerja standar dan normatif. “Ini perlu keberanian, kreasi, dan kolaborasi dengan stake holder yang lain. Kalau sudah demikian, kita bisa beradaptasi dalam situasi apa pun, “ ujarnya. Sayangnya, lanjut Nurhasan, belum banyak yang punya keberanian, karena takut salah. ”Jangan takut salah kalau untuk kebaikan,” tandanya, seraya menambahkan, jangan pernah merasa kecil kalau ingin menjadi besar. Rektor yang juga aktif mengampu

Majalah Unesa

beberapa cabang olah raga di KONI Jatim ini lalu memberikan dua kata kunci untuk membesarkan kampus Unesa, termasuk IKA Unesa. Keduanya adalah komitmen dan konsisten. “Kalau keduanya nggak ada, mbelgedhes. Gak akan bisa maju dan besar,” katanya memotivasi. Karena itu ia kembali menegaskan pentingnya kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk IKA Unesa untuk menjaga marwah Unesa sebagai kampus besar yang tidak lagi dipandang sebelah mata oleh publik. Ia lalu mengungkap beberapa capaian yang mampu mendongkrak Unesa ke tangga kinerja yang lebih bagus, baik dari aspek manajemen, capaian prestasi, maupun jumlah mahasiswa yang dikelola yang kini mencapai sekitar 31 ribu mahasiswa. n ARM

| Nomor: 136 Tahun XX - Deseber 2019 |

33


SPOT NEWS

REKTOR AJAK AMBYAR BARENG DIDI KEMPOT

AMBYAR: Didi Kempot mengajak Rektor Unesa, Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes duet bareng menyanyikan tembang Banyu Langit.

D

dalam Dies Natalis ke-55 dan Lustrum XI, Unesa menggeber pagelaran Musik X Unesart dengan bintang tamu maetro lagu Jawa, Didi Kempot. Ribuan audien yang terdiri atas mahasiswa, warga kampus dan masyarakat sekitar benar-benar dibuat “ambyar” di Graha Unesa, Jumat (13/12) malam. Bahkan Rektor Unesa, Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes., beserta civitas akademik selingkung Unesa turut tampil di panggung utama. Turut menyemarakkan acara antara lain UKM Tari Unesa, Band Emptyness, Teater Institute Unesa dan Dance “Kingsquad” menjadi bagian konser sang lagend, The Godfather of Broken Heart di Unesa. Penampilan Teater Institute sempat menarik perhatian, pasalnya mereka menampilkan teater dengan konsep

34

demo. Mereka juga mengundang Rektor Unesa untuk naik ke atas panggung dan turut terlibat dalam lakon. “Demo itu bisa dibicarakan dengan baik, kantor saya terbuka 24 jam untuk berdiskusi,” ujar rektor kepada halayak. Tepat pukul 9 malam penampilan yang ditunggu-tunggu pun tiba. Didi Kempot muncul dengan tembangtembang mellownya dan membius lautan manusia yang memadati Graha Unesa. Ambyar! Didi Kempot tak ketinggalan mengajak serta rektor berduet menyanyikan Banyu Langit. Ribuan penonton yang hadir bukan hanya berasal dari kalangan mahasiswa saja, melainkan juga berasal dari semua usia dan lintas generasi. Hal ini sontak membuat Didi kempot merasa bangga karena hampir sebagian besar penonton adalah kaum milinial dan hafal semua lagu yang dinyanyikannya.

| Nomor: 136 Tahun XX - Desember 2019 |

Majalah Unesa

“Saya bangga, para mahasiswa bisa hafal lagu-lagu saya, serta generasi muda mulai mencintai lagu-lagu bernuansa jawa” ujarnya. Didi Kempot sengaja dihadirkan di Unesa Kampus Lidah Wetan juga bagiand dari promosi kepada masyarakat umum. “Harapanya semoga masyarakat mengetahui bahwa Unesa adalah perguruan tinggi yang sangat dekat dengan masyarakat. Selain itu, pada acara ini kita juga mempromosikan bahwa kita mempunyai 7 fakultas dan pasca sarjana. Dan yang sangat disyukuri adalah Unesa meraih Rangking ke 22 dari 4.300 Perguruan Tinggi yang ada di Indonesia. Harapannya agar masyarakat percaya kepada kita bahwa edukasi yang cocok untuk masyarakat adalah menimba ilmu di Unesa,” tutup rektor. . n ARM


Profile for Majalah Unesa

Majalah Unesa 136  

Majalah Unesa Edisi Desember 2019

Majalah Unesa 136  

Majalah Unesa Edisi Desember 2019

Advertisement