Page 118

Seseorang yang mencoba lari dari kebudayaannya bagaikan seorang anak yang mendurhaka kepada ibunya, menjadi seorang anak yang akan kehilangan alamat sejati, kehilangan tempat untuk kembali.

ikut menentukan seperti apa wajah tanah ini sejak masa lampau hinggalah ke masa depan,” katanya. Sastrawan Riau yang berasal dari Desa Bantan, Kabupaten Bengkalis, Syaukani al Karim menilai kegiatan Helat Seni ini merupakan agenda yang sangat penting. Jika diibaratkan Kota Bengkalis sebagai seorang perempuan, Helat Seni adalah sebuah langkah dalam upaya merias negeri Bengkalis agar tetap tampak molek dan menawan. Helat seni juga merupakan salah satu pekerjaan dalam upaya membangun peradaban seni budaya di Bengkalis dinilai agung dan ranggi dengan meletakkan seni budaya itu sendiri sebagai mahkota. Dikatakannya, seseorang tidak bisa lari dari kebudayaan yang mengasuhnya. Seni budaya bagaikan seorang ibu yang melahirkan, mengasuh dan membesarkan seorang anak. Asuhan seorang ibu itulah yang akan selalu menjadi tanda dan identitas, menjadi kekuatan yang mengukuhkan keberadaan diri seorang manusia. ‘’Seseorang yang mencoba lari dari kebudayaannya bagaikan seorang anak yang mendurhaka kepada ibunya, menjadi seorang anak yang akan kehilangan alamat sejati, kehilangan tempat untuk kembali,” kata Syaukani. Apalagi hari ini, pada zaman teknologi dan informasi, tidak dapat dimungkiri bahwa seni budaya suatu daerah perlahan-lahan terkikis dan akan digantikan dengan budaya luar yang bertolak belakang

052/TAHUN II  16 - 22 JANUARI 2014

Majalah Riau Pos  

Majalah Riau Pos edisi 052 | 16 - 22 Januari 2014

Majalah Riau Pos  

Majalah Riau Pos edisi 052 | 16 - 22 Januari 2014

Advertisement