Issuu on Google+

Pick of the week

Rehat

Nurani

Bulan puasa, tempat-tempat malam ditutup Setelah puasa, dibuka kembali

Bunga Terakhir Untuk Sang Burung Merak

Pelaku bom melakukan aksinya dengan dalih jihad Jihad yang jahat Virus h1n1 di indonesia semakin mencemaskan Setelah burung, babi, lalu apa lagi? Tahun 2010 gaji PNS kemungkinan naik Boleh2 saja, asal kinerjanya juga ditingkatkan Pulau Komodo menjadi nominasi dalam 7 keajaiban dunia Mari kita dukung! Puasa saatnya membersihkan hati Setelah puasa mulai dari nol lagi Pasangan SBY-Boediono memenangkan pilpres 2009 selamat! semoga dapat bekerja dengan baik Jelang puasa, harga sembako naik Seperti makan buah simalakama Bisnis kuliner semakin menjamur dimana-mana Setelah kuliner mungkin vaksin flu babi Registrasi ulang mahasiswa baru dilakukan di Gedung Soedarto Naik lembah turun lembah, mencoba hal baru Si Bull

kala itu... awan menampakkan aura redupnya... mataharipun ingin segera tenggelam dari ufuk barat... wajah-wajah muram berjalan dalam iring-iringan keranda... mengantarkan sang merak menuju tempat peristirahatan abadinya... dalam balutan ketenangan dia bersemayam dalam pusaran itu, dia hanya pergi bersama raganya namun, dia meninggalkan harta termahalnya untuk penerus bangsa... karya-karya yang tak kan pernah usang dimakan zaman... langkah perjuangannya tak kan berhenti kini, dia beristirahat bersama taburan bungan yang menghangatkannya, bunga terakhir untuk sang merak... Reny

M RPIN

Media Kreatif dan Objektif Opini

RITUAL

Fokus

Apa kabar Pembaca? Tahun ajaran baru akan segera dimulai. Wajah -wajah mahasiwa baru ikut memadati kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Semangant baru akan mengiringi kegiatankegiatan yang nantinya kan berlangsung di kampus. Pada fokus kali ini menyajikan tentang penelitian kompetensi mahasiswa yang seleksinya telah berlangsung dari Juni hingga Agustus. Bagaimana antusias mahasiswa mengenai PKM serta apa pula syarat-syarat yang harus dipenuhi, tim Morpin telah berusaha mengupasnya. Sementara pada lorong membahas mengenai perkembangan pembangunan gedung FISIP di Tembalang. Sudah sejauh mana dan apa saja kendala-kendalanya. Untuk kolom membahas tentang biaya pendidikan yang kian mencekik. Kritik dan saran akan selalu dinanti untuk perkembangan Morpin selanjutnya. Selamat Membaca!

BULETIN MORPIN PENANGGUNG JAWAB: Pemimpin Umum LPM OPINI Tim Kreatif Pemimpin Umum: Arbiana Putri . Pemimpin Redaksi: Fitri Norhabiba Redaktur Pelaksana: Hertyana Dian, Erva Maulita, Fitri Nur I S. Lay Out: Eko Martin Adyan S. Ilustrator : Mailani K Fotografer: Swesti R . Reporter: Malta, Mega Lufna, Reni, Wulan, martin, Sari, Swesti, mailani, Dona, Desi, Erva, Herti Redaksi menerima tulisan, kritik, saran, dan berhak menyunting tulisan untuk dimuat di buletin

8

MORPIN EDISI 49 / AGUSTUS 2009

Edisi 49/ Agustus 2009

Buletin Majalah Mahasiswa Opini

Red Bull

PENELITIAN KOMPETENSI MAHASISWA (PKM) Sesuai dengan namanya, sasaran dari kegiatan penelitian kompetensi mahasiswa ini adalah mahasiswa Undip khususnya FISIP. Pihak Universitas berharap mahasiswa banyak yang berpartisipasi untuk kelancaran PKM ini sehingga tujuan diadakannya PKM dapat terwujud. ”Agar mahasiswa dapat mengembangkan ilmu-ilmu yang didapat dari bangku kuliahnya”, jelas Sigit salah satu staff TU. Keterangan yang hampir serupa juga diungkapakan oleh PD III, Drs. Handoyo DW, M.Si ”Tujuan PKM itu untuk menggali potensi wawasan keilmuan mahasiswa, sikap dan tanggung jawab terhadap berbagai bidang ilmu yang ada di FISIP.”

T

ahun ini menjadi tahun kedua diadakannya kegiatan Penelitian Kompetensi Mahasiswa (PKM). Respon dari mahasiswa sendiri cukup positif, buktinya hingga saat ini terdapat sekitar 13 peserta yang terdaftar. Sigit menambahkan, bahwa hingga saat ini banyak mahasiswa yang menghubunginya untuk menanyakan informasi tentang PKM. Untuk pendaftaran mahasiswa dapat langsung menghubungi Bulan Prabawani, dosen administrasi bisnis. Tahun lalu pendaftaran dapat dilakukan atas nama kelompok dengan menuliskan nama salah satu anggota kelompok saja atau menuliskan semua nama anggota dalam kelompok. Menurut Drs. Handoyo DW, M.Si selaku PDIII, PKM tahun lalu partisipasi mahasiswa kurang sesuai dengan apa yang diharapkan. Tahun lalu hanya ada 9 proposal yang masuk. Padahal berdasar ketentuan, proposal yang masuk harusnya berjumlah 12. Karena masing masing jurusan dapat mengirimkan tiga buah proposal sedangkan di FISIP sendiri terdapat empat jurusan (administrasi publik, administrasi bisnis, pemerintahan

dan komunikasi). Yang bisa mengikuti kegiatan PKM ini hanyalah mahasiswa S1 reguler. Tanggapan mahasiswa terhadap dilaksanakannya PKM ”Merupakan langkah positif untuk mendongkrak kegiatan akademis mahasiswa khususnya dalam hal penulisan karya tulis ilmiah karena selama ini kegiatan seperti itu dirasakan sangat kurang. Namun proses pelaksanaannya hingga saat ini saat ini masih belum banyak yang mengikuti dan tertarik akan kegiatan ini, ” kata Agung mahasiswa jurusan administrasi publik yang merupakan peserta PKM. Pengalaman yang didapat dalam mengikuti PKM nantinya akan sangat membantu proses penyelesaian studi dalam penyusunan skripsi. Informasi mengenai persyaratan (umum) untuk mengikuti Penelitian Kompetensi Mahasiswa diperoleh dari Sigit bagian TU, kebetulan beliaulah yang membantu Bulan untuk mengurus mahasiswa yang berminat mengikuti PKM. Tiap tim terdiri dari tiga hingga lima orang, satu mahasiswa hanya diperbolehkan terlibat dalam satu

MORPIN EDISI 49 / AGUSTUS 2009

1


proposal yang disetujui, dana penelitian sebesar 2 juta rupiah akan diberikan pada tim yang proposalnya masuk kedalam tiga besar setelah melalui proses seleksi, masing masing jurusan akan diambil tiga proposal dan dalam satu tim anggotanya tidak harus satu jurusan yang sama, tema dan materi disesuaikan dengan bidang ilmu masing-masing namun lintas bidang dianjurkan. Dan untuk dana Drs. Handoyo DW, M.Si menjelaskan bahwa sumber dana kegiatan penelitian ini berasal dari DIPA FISIP. Rincian jadwal kegiatan PKM juga di ungkapkan oleh Sigit, dimulai sejak tanggal 26 Juni yaitu akhir pendaftaran peserta. 7 Juli proposal proposal yang sudah masuk diseleksi, 9 Juli pengumuman penerimaan, 30 september pengumpulan laporan hasil, 6 -7 oktober hasil penelitian. Di bandingkan tahun lalu batas pendaftaran tahun ini memang lebih lama. Untuk teknik penilaian dalam seleksi proposal kegiatan PKM, pihak universitas akan membentuk tim review yang bertugas melihat dan memeriksa metodologi proposal yang masuk. Setelah itu proposal akan dikembalikan ke mahasiswa untuk diperbaiki dan mendapatkan dana penelitian. Yang terakhir penelitian itu dipresentasikan dihadapan para reviewer dan para mahasiswa. Sebagai seorang mahasiswa seharusnya kita melihat bahwa PKM ini merupakan peluang atau kesempatan besar untuk menambah pengalaman serta wawasan diluar pengetahuan yang diberikan saat perkuliahan. Agung mengungkapkan motivasinya untuk menjadi peserta penelitian ”Pertama pengalaman penulisan karya ilmiah, kedua menjadi tantangan untuk mengumpulkan data lapangan karena kita dihadapkan dengan banyak orang yang tentu saja tidak semua orang itu mudah untuk di

2

ajak komunikasi sehingga memerlukan keterampilan bagi peneliti untuk lebih komunikatif. Ketiga, mengikuti kegiatan seperti ini bagi saya dapat menjadi sarana liburan atau rekreasi karena pada saat pengumpulan data dilapangan sesudah itu dapat saya menfaatkan untuk sekedar mengunjungi tempat wisata dimana penilitian dilakukan,”ujarnya. Tiga proposal yang dinyatakan menang di tingkat fakultas akan dikirim ke tingkat universitas. Di universitas proposal proposal tersebut juga akan diseleksi lagi. Persaingan di tingkat ini akan jauh lebih sulit karna semua fakultas di Universitas Diponegoro akan mengirimkan tiga proposal yang lolos seleksi di fakultas masing masing. Dan mengenai kabar mengenai PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional), pihak universitas masih belum memutuskan apakah proposal proposal tersebut akan diikutsertakan atau tidak. Yang pasti kegiatan PKM bukan semata- mata ditujukan untuk PIMNAS. Drs. H a n d o y o D W, M . S i s e l a k u pembantu dekan III memberikan tanggapan mengenai hal ini ”Namun andai saja universitas memutuskan untuk ikut serta ya tidak apa apa, nanti tinggal merubah sistematika penulisannya saja. Karena PIMNAS itu memiliki sistematika penulisan sendiri.” Walaupun PKM tergolong kegiatan yang positif mahasiswa FISIP Undip pada umumnya kurang banyak yang mengetahui apa itu PKM. Ini mungkin disebabkan kurang efektifnya sosialisasi dikalangan mahasiswa. Bentuk sosialisasi yang dilakukan hanya sebatas penempelan pengumuman pengumuman dipapan informasi. Karena tidak semua mahasiswa rajin membaca pengumuman di papan informasi. Ketidak efektifan sosialisasi seperti yang diungkapkan Sigit ”Kalau dikatakan efektif mungkin masih

kurang ya, menurut saya lebih efektif lagi kalau dosen yang mau mengajar dimintai bantuan untuk mensosialisasikan ini. Hal ini sebenarnya harus menjadi koreksi pihak universitas, karena sasaran kegiatan adalah mahasiswa tapi kenapa mahasiswa sampai banyak yang tidak mengetahui kegiatan PKM ini.” Diharapkan PKM tidak hanya untuk tahun 2009 saja, tetapi juga untuk tahu tahun berikutnya PKM tetap diselenggarakan. Sehingga mahasiswa memiliki sarana dimana mereka dapat mengeksplorasi kemampuan, pengalaman, kretivitas, dan pengetahuan. Ada tidaknya PKM untuk tahun depan tergantung dari dana, karena dana yang dikelurkan untuk membiayai pelaksanaan PKM juga tidak bisa dibilang sedikit. ”Insya Allah, mudah-mudahan dananya ada terus, program saya adalah meningkatkan kualitas mahasiswa” jelas Drs. Handoyo DW, M.Si selaku PD III yang yang memiliki wewenang dalam hal ini. Jika mahasiswa hanya mengandalkan ilmu yang mereka dapat hanya dari kegiatan perkuliahan saja, itu tidak cukup membuat mereka tetap eksis dalam masyarakat dan dunia kerja yang akan mereka geluti. Pendidikan merupakan salah satu kunci keberhasilan bangsa Indonesia untuk dapat bersaing dan berdampingan stara dengan bangsa bangsa maju di dunia, karenanya kegiatan semacam PKM sangatlah penting guna memberi bekal mahasiswa. Tim Morpin

KUNJUNGI OPINI DAN MORPIN VERSI ONLINE

www.majalahopini.co.cc

MORPIN EDISI 49 / AGUSTUS 2009

Kolom Biaya Pendidikan, Tanggung Jawab Pemerintah ataukah Orang Tua? Aulia Yosika* Mahasisiwa Ilmu Pemerintahan 2008

Jer basuki mawa bea Itulah pepatah yang berarti untuk mencapai suatu kesuksesan dibutuhkan biaya.

P

endidikan merupakan hal penting yang dapat mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertangung jawab. Itu merupakan tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam pasal 3 undangundang nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional). Pendidikan merupakan salah satu hal yang melekat pada manusia sebagai haknya, maka negara berhak dan wajib menjamin pendidikan bagi setiap warga negaranya agar tercipta generasi yang berbakat dan berwawasan luas yang nantinya dapat memajukan bangsa. Selanjutnya, di dalam pasal 11 undangundang nomor 20 tahun 2003 disebutkan tentang hak dan kewajiban pemerintah dan pemerintahan daerah yaitu pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan , serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi. Selain itu juga disebutkan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah wajib menjamin tersedianya daya guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun. Jadi, dapat diambil poin bahwa pemerintah dan pemerintah pusat hendaknya tidak membedakan ras, agama, golongan dan lain sebagainya dalam memberikan layanan pendidikan kepada masyarakat. Walaupun masyarakat itu dari golongan yang kurang mampu, pemerintah wajib menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi mereka dan juga disebutkan bagi warga yang berusia tujuh sampai lima belas tahun menjadi tanggung jawab pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan bagi mereka. Pemerintah telah memutuskan adanya wajib belajar sembilan tahun. Kalau dicerna dari kata “wajib” dengan kata lain setiap warga

negara harus menempuh pendidikan sembilan tahun itu. Dan seperti yang disebutkan sebelumnya terselenggaranya pendidikan itu tidak diskriminatif sehingga yang wajib menikmati pendidikan sembilan tahun itu adalah seluruh warga Negara tanpa terkecuali. Dan pemerintah berhak mengarahkan, membimbing, membantu dan mengawasi penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. Pemerintah telah memutuskan adanya wajib belajar sembilan tahun. Kalau dicerna dari kata “wajib” dengan kata lain setiap warga negara harus menempuh pendidikan sembilan tahun itu. Dan seperti yang disebutkan sebelumnya terselenggaranya pendidikan itu tidak diskriminatif sehingga yang wajib menikmati pendidikan sembilan tahun itu adalah seluruh warga Negara tanpa terkecuali. Dan pemerintah berhak mengarahkan, membimbing, membantu dan mengawasi penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. Pemerintah seharusnya melaksanakan apa yang tertuang dalam pembukaan UndangUndang Dasar tahun 1945 alinea keempat yang merupakan tujuan nasional yang salah satu dari tujuan nasional tersebut adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Jadi, pemerintah wajib menjamin terselenggaranya pendidikan bagi seluruh rakyat Indonesia dalam upaya tercapainya tujuan nasional tersebut. Ditambah dengan adanya pasal 31 ayat 1 dan 2 yang berisi “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan” dan “Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”. Disini kita dapat melihat bahwa pemerintah wajib membiayai terselengaranya pendidikan bagi warga negaranya. Dimana anggaran yang harus dialokasikan untuk menyelenggarakan pendidikan tersebt adalah sekurangkurangnya 20% dari anggaran pendapatan dan belanja Negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasionaL

Saat ini pemerintah sudah mengupayakan pendidikan gratis bagi siswa-siswi SD dan SMP. Namun, apa pengaruhnya kalau dari sekolah tersebut masih mewajibkan adanya biaya lain-lain yang harus dibayarkan? Bukankah itu tetap memberatkan masyarakat kecil? Fakta yang sekarang muncul di permukaan adalah banyak siswa yang mendapatkan kebebasan dalam membayar SPP namun diwajibkan membayar bantuan untuk menopang pengembangan sarana dan prasarana sekolah yang nilainya jauh lebih mahal dibanding uang SPP yang wajib dibayarkan oleh orang tua siswa tiap bulan. Bagaimana dengan saudara-saudara kita yang tetap bersekolah tapi tidak mampu? Mereka harus membanting tulang untuk mendapatkan biaya tersebut. Padahal bagi mereka belum saatnya menjadi penanggung jawab keuangan keluarga. Kebahagiaan masa kanak-kanak terenggut karena impian ingin bersekolah. Disisi lain, pendidikan yang terselenggara di Indonesia masihlah sedikit yang memberikan pelayanan yang bermutu. Umumnya pelayanan yang bermutu itu terpusat di kota-kota besar. Di daerah pedesaan dan daerah yang terpencil sarana dan prasarana pendidikan cukup atau bisa dikatakan kurang bermutu. Kalaupun menginginkan sekolah yang bermutu harus diimbangi dengan adanya biaya yang tidak sedikit jumlahnya. Sehingga, menimbulkan suatu ketidakmampuan bagi masyarakat kecil. Bagi masyarakat pedalamanpun untuk menjangkau tempat dalam menyelenggarakan pendidikan dibutuhkan perjuangan tidak seperti di daerah yang sudah tersedia jalan yang memadai menuju sekolah. Inikah yang dimaksud pemerintah dengan penyelenggaraan pendidikan tidak diskriminatif? Sementara garis pemisah antara si miskin dan si kaya sangat ditonjolkan. Pemerintah bertanggung jawab dalam penyelenggaraan pendidikan, tapi dibutuhkan kerja sama dengan masyarakat dalam penyelenggaraan tersebut. Dengan kata lain, penyelenggaraan pendidikan bukanlah tanggung jawab pemerintah saja. Seperti yang tertuang dalam pasal 9 UU No. 20 tahun 2003 yang berbunyi “Masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan”, jadi penyelenggaraan pemerintah juga merupakan tanggung jawab masyarakat. Bagi masyarakat yang kurang mampu hendaknya tidak dibebankan tanggung jawab biaya yang jumlahnya tidak sesuai dengan kemampuannya. Hendaknya Gerakan Orang Tua Asuh digalakkan kembali karena pengaruhnya bagi orang miskin cukuplah besar.

MORPIN EDISI 49 / AGUSTUS 2009

7


Lorong

Kacang goreng

Mau Memperdalam Ilmu kok Mahal?

T

Tahun ajaran baru sudah datang. Sudah saatnya mereka masuk perguruan-perguruan ilmu kanuragan untuk mendalami ilmu yang sudah diberikan di sekolah kelas menengah ilmu kanuragan. Tahun ini banyak anak-anak yang ingin masuk ke perguruan ilmu kanuragan Duryudana. Ujian seleksi dari berbagai cara masuk ke perguruan ilmu kanuragan pun selesai sudah. Kini saatnya mereka melakukan berbagai kegiatan di perguruan, seperti masa pengenalan perguruan sebelum mereka mulai memperdalam ilmu kanuragan mereka sebelumnya. “Namamu siapa?” tanya Arimbi. “Arjuna, kalau kamu?” “Arimbi.” “Ohhh, begitu. Ngomongngomong kamu masuk ke sini lewat jalur apa?Aku lewat ujian khusus”, jawab Arjuna santai. “Wah, pasti mahal dong, kalo aku lewat jalur seleksi yang digelar untuk anak-anak di seluruh negeri, jadi lebih murah kan?” “Iya nih, mahal banget kalo ga salah aku harus menyumbang puluhan logam biar aku bisa masuk ke sini.” “Lho, emang kamu ga ikut ujian seleksi seperti yang aku ikuti kan jauh lebih murah?” “Ya ikut lah, tapi sayangnya ga keterima padahal aku pengen banget masuk ke perguruan ini soalnya cocok banget dengan aku yang emang pengen membela kaum yang lemah. Berhubung aku tetep pengen masuk di sini, makanya aku ikut ujian khusus walaupun orang tuaku ga menyetujuinya karena pasti orang tuaku harus mengeluarkan uang yang banyak. Makanya aku harus bisa belajar yang bener biar aku ga bikin usaha orang tuaku ini sia-sia buat masukin aku di perguruan ini.” “Ya harus lah! Apalagi logamnya banyak, belum lagi logam-logam untuk upeti yang pasti juga ga cukup sedikit. Beda sama aku yang masuk lewat seleksi yang digelar untuk anak-anak di seluruh negeri yang emang lebih sedikit logamnya walaupun tetep aja

harus belajar ilmu yang bener,” ujar Arimbi. “Ya, kamu bener banget, Arimbi. Belum lagi logam buat tinggal di asrama yang sudah disediakan sini, makan, lalu untuk kebutuhankebutuhan yang lain, seperti beli kitab.” “Ya, ya itu bener banget.” Saat Arimbi dan Arjuna asyik berbincang-bincang, datanglah sepasang anak kembar menghampiri mereka ingin ikut ngobrol bareng. “Hey!!!Asyik banget ngobrolnya sampe ga tahu kalo kita dah di dekat kalian, “ujar Nakula menepuk punggung Arjuna. “Iya nih, bener,” kata Nakula. “Kalian berdua asyik banget,” kata Sadewa duduk di samping Arimbi. “Oh, maaf-maaf, kita ga tahu kalo kalian udah di sini, jawab Arimbi. Ngomong-ngomong kalian siapa?” “Aku Nakula, kalo ini kembaranku, Sadewa. Kita boleh ikutan ngobrolnya?Kelihatannya kalian ngobrolin topik yang menarik banget sampe ga liat sekeliling kalian,” jawab Nakula santai. “Boleh banget kok. Oh ya, aku Arjuna kalo dia Arimbi. Kita lagi ngobrol tentang logam masuk perguruan yang butuh banyak logam, apalagi yang masuk perguruan ini lewat ujian khusus, jawab Arjuna. “Wah topik yang bagus,” timpal Sadewa sambil menyeruput es tehnya. Kebetulan kita kadang juga bingung kenapa biaya masuk ke perguruan ini bisa begitu mahal padahal kita itu tujuannya belajar memperdalam ilmu di sini bukan buat main-main.” “Bener juga, sih. Kadang apa yang kita bayarkan tidak sesuai dengan apa yang kita dapatkan, lalu buat apa kita keluarin banyak logam tapi fasilitas yang kita dapet ga sesuai?Apalagi buat mereka yang hanya punya logam yang pas-pasan aja. Aku ga bisa ngebayangin betapa sulitnya mereka buat masukin anaknya ke perguruan-perguruan ilmu kanuragan yang emang berkualitas,” jawab Arjuna.

“Masuk akal juga sih. Aku punya temen yang pinter dan hebat banget ilmunya, ampe aku aja kalah. Dia sebenernya udah keterima di perguruan Duryudana ini juga tapi dia lepas karena terbentur logam yang tak kunjung terkumpul, padahal dia bisa keterima lewat seleksi yang digelar untuk anak-anak di seluruh negeri. Kita tahu sendiri kalo lewat seleksi yang besar itu biayanya jauh lebih murah daripada ujian khusus,” cerita Arimbi. “Wah beneran tuh? Kasihan banget, sih temenmu itu. Gara-gara ga ada biaya terus ga bisa belajar memperdalam ilmu kanuragannya. Terus gimana dengan masa depannya ya? Aku ga bisa ngebayangin, deh kalo aku di posisi kayak temenmu itu,” kata Sadewa sedih. “Itu artinya kita harus bersyukur karena kita bisa sekolah di perguruan Duryudana ini, coba kalo kayak teman Arimbi itu. Pengen meraih cita-cita tapi ga bisa hanya karena ga ada logam buat belajar di perguruan ini. Padahal itu penting banget buat masa depan,” timpal Nakula. Trus, sekarang dia gimana, Arimbi?” tanya Arjuna. “Ya, sekarang dia mau bertapa dulu buat belajar di perguruan ini soalnya dia pengen ikut seleksi untuk anak-anak seluruh negeri lagi tahun depan. Aku sih cuma bisa ngedoain dia aja supaya tahun depan bisa belajar di perguruan ini juga,” jawab Arimbi. “Ya udah kalo gitu kita doain bareng-bareng aja supaya temennya Arimbi tahun depan bisa belajar di perguruan ilmu kanuragan Duryudana ini tanpa ada halangan, ujar Arjuna “Amiiiiiiiiiinnnn!!!” Pembicaraan mereka selesai bersamaan dengan masuknya guru ilmu kanuragan ke kelas. Dalam hati, mereka masih heran dengan banyaknya logam yang harus dikeluarkan untuk masuk ke perguruan. Lalu bagaimana dengan orang yang logamnya tidak mencukupi? Apakah harus bertapa atau hanya bersedih tiada ujung?

Kelanjutan Pembangunan Gedung FISIP

Kabar pindahnya gedung Undip Pleburan ke kampus Tembalang sudah berhembus lama. Proses pembangunan tiap fakultas yang akan pindah dari Pleburan ke Tembalang mulai mengejar target penyelesaian pembangunan gedung. Sekarang pembangunan gedung FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) sedang dikerjakan untuk diselesaikan ,imbasnya dikalangan mahasiswa mulai saling menebak dan menerka info kapan sebenarya secara resmi FISIP akan pindah ke Tembalang. Salah satu mahasiswa FISIP Undip, Daviq mahasiswa PR menyatakan, bahwa FISIP akan pindah awal 2010. Hal ini masih jadi tanda tanya kapan sebenarnya FISIP resmi pindah. Kali ini Dekan FISIP , Drs. Wa r s i t o , S U m e m b e r i k a n penjelasan mengenai perkembangan pembangunan FISIP Undip Tembalang kepada Tim Morpin. “Ya ini sudah mulai, awal Juni ini, terus gedung A dan finishing gedung B. Nanti kira-kira November gedung yang dibangun FISIP Insya Allah selesai. Secara simultan kirakira Agustus kita akan bangun Lingkungan. Lingkungan yang di bangun seperti tempat parkir, Sanitasinya,taman-tamannya, dan sebagainya. Ya, mudahmudahan mulai Maret 2010 kita sudah bisa pindah ke sana,” jelas Drs. Warsito, SU, Dekan FISIP Undip. Pada wawancara yang lalu beliau menyatakan bahwa Insya Allah November 2009 sudah serah terima dan mahasiswa sudah bisa pindah ke sana. ”Ya ini kan begini, jika gedungnya jadi tapi lingkungan tempat parkirnya belum ada dan sebagainya kan gak mungkin pindah. Ternyata untuk hal-hal seperti itu tidak disediakan oleh

IDP (Islamic Development Bankred), jadi kita harus membuat sendiri lagi taman, taman parkir, lingkungan, sanitasinya, saluran- saluran air juga harus dibangun. Tidak hanya gedung saja, kan ndak nyaman, ya. Awal tahunkan masih libur, kuliahnya mulai Maret. Ya mungkin dosen sama karyawan bisa Februari. Harapannya Maret semua sudah kuliah disana.Nanti semua masuk siang tidak ada kuliah malam, malam tidak baik suasananya tidak menunjang, ” kata beliau terkait masalah ini. Dalam pembangunan dan penempatanya nanti rencana gedung FISIP akan memiliki 3 blok dengan ruang kelas yang banyak. Untuk ruang kelas bisa mencapai 15-20an ruangan dengan fasilitas laboratorium lengkap, kemudian untuk ruangan lembaga mahasiswa juga akan dibuat yang memadai. Hal ini sesuai dengan pemaparan dekan. Dalam rencananya ruang kelas ini akan terdapat kelas besar dan kelas kecil. Ruang kelas besar terkait untuk mata kuliah fakultas seperti pengantar ilmu politik, pengantar ilmu sosial, pengantar ilmu komunikasi dan sebagainya. Berhubungan dengan informasi hambatan dalam pembangunan gedung di Tembalang, dekan menolak jika dikatakan pembangunan ini memiliki hambatan karena menurut beliau pembangunan ini tidak memiliki kepentingan apapun.”Tidak ada hambatan, lancar, yang penting kita bangun gak ada kepentingan. Kadangkadang kan Proyektan yang punya kepentingan yang menghambat, ” tandas Drs. Wa r s i t o , S U . D e k a n j u g a menambahkan bahwa,nantinya di gedung FISIP yang baru kebutuhan mahasiswa akan terpenuhi. ”Ada arena

m a h a s i s w a d i s k u s i , s h o w, disekitarnya ada cafetaria itu rencana kita tapi masa jabatan saya gak nyape mungkin dekan berikutnya pada waktu serah terima akan diberitahukan bahwa ini master plan kita. Jadi mahasiswa gak perlu susah-susah m e n c a r i m a k a n k e l u a r, suasananya tentram di situ seperti rumah kedua, sehingga kebutuhan mahasiswa terpenuhi, tambah beliau. “Ya proyek ini dilelang, dananya belum dimiliki” jelas dekan ketika ditanya bahwa proyek pembangunan FISIP ini dilelang. Kemudian saat ditanya apakah kemungkinan akan dibebankan dengan SPI mahasiswa baru, beliau menjawab, “Ya tidak, tetap pakai dana yang ada. Tidak harus mengada- ada dan kemungkinan 2010 ada dananya dari Universitas. Apapun yang terjadi kita semua berharap apa yang terbaik bagi pembangunan gedung FISIP ini. Sehingga segalanya dapat terwujud sesuai rencana dan baik untuk kita semua. Tidak harus mengada-ada dan kemungkinan 2010 ada dananya dari universitas. Apapun yang terjadi kita semua berharap apa yang terbaik bagi pembangunan gedung FISIP ini. Sehingga segalanya dapat terwujud sesuai rencana dan baik untuk kita semua.

Tim Morpin

Sari

6

MORPIN EDISI 49 / AGUSTUS 2009

MORPIN EDISI 49 / AGUSTUS 2009

3


Resensi

Selamat Datang Mahasiswa FISIP angkatan 2009 Welcome to the new world and the new experience... Dunia kampus tentu berbeda dengan masa- masa sekolah. Namun yakinlah, berbeda bukan berarti sulit dilalui

Presented by LPM OPINI

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Puasa bukan berarti kita tidak sanggup berkarya seperti hari biasa. Isilah harimu dengan kegiatan yang bermanfaat

Presented by LPM OPINI

4

MORPIN EDISI 49 / AGUSTUS 2009

“BANGKITNYA DUNIA ANAK-ANAK�

S

etelah Indonesia sukses dengan film bertema anak-anak yang mengejar mimpinya yang berjudul Laskar Pelangi, beberapa waktu lalu kembali muncul satu film lagi yang berjudul Garuda di Dadaku. Tak berbeda dari Laskar Pelangi, film ini juga mengisahkan tentang seorang anak yang ingin meraih mimpinya menjadi pemain sepak bola. Film ini diperankan oleh Emir Mahira (Bayu) yang ingin sekali menjadi pemain sepak bola dan membela merah putih di kancah internasional. Namun cita-citanya itu mengalami banyak rintangan, salah satunya adalah menolakan dari pihak keluarganya terlebih sang kakek, Usman (Ikranagara) yang beranggapan pemains epak bola tidak mempunyai masa depan yang cerah. Namun rintangan itu tidak membuat Bay u patah semangar. Dia terus mengejar mimpinya. Beruntung Bayu mempunyai seorang sahabat yang bernama Heri (Aldo Ta n s i a n i ) y a n g s e l a l u mendukung keinginannya untuk bias bergabung dengan sekolah sepak bola arsenal. Heri senantiasa membantu Bayu dari segi financial. Berkat dukungan dari sahabatnya itulah Bayu berlatih dengan sungguh-sungguh di kuburan agar kakeknya tidak mengetahuinya. Untuk bias masuk ke sekolah sepak bola bergengsi itu, Bayu harus mengikuti beberapa tes seleksi yang mengharuskannya melawan teman-teman lainnya yang lebih jago. Film yang digarap oleh SBO Films dan Mizan prod itu disebut-sebut sebagai pesaing

Laskar Pelangi karena dalam kisahnya diceritakan tentang jiwa nasionalisme dan semangat untuk membela bangsa di kancah internasional. Film ini mendapat sambutan positif dari masyarakat terlebih lagi ketika diputar pada waktyu liburan sekolah sehingga bias menarik massa untuk menontonnya. Film ini sangat layak untuk ditonton karena di dalamnya terdapat semangat nasionalisme yang sangat tinggi. Mengingat pada zaman sekarang banyak warga indonesia sendiri yang kurang peduli dengan nasib bangsanya. Garuda di dadaku mengajarkan juga tentang pentingnya semua profesi dalam kehidupan ini. Banyak orang yang menganggap sebelah mata beberapa profesi yang sebenarnya merupakan profesi yang sangat penting. Sebagai contohnya adalah pemain sepak bola nasional. Banyak yang menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak mempunyai masa depan cerah dan gaji yang didapat tidak banyak namun tanpa pemain-pemain sepak bola nasional itu, bangsa Indoensia sendiri tidak akan bisa eksis di tengah bangsa-bangsa lain. Dari segi pendidikan, film ini mengajarkan kepada kita untuk tidak berputus asa dalam mencapai cita-cita kita. Apapun yang kita cita-citakan, asal didukung dengan kesungguhan dan kerja keras, kita boisa mendapatkannya. Dan apabila kita konsekuen dengan cita-cita kita, maka kita bisa mendapatkan banyak hal positif dari hal tersebut.

Yang kurang dari film ini adalah promosinya yang tidak segencar laskar pelangi sehingga masih banyak orang yang tidak mengetahuinya, bahkan ada beberapa orang yang menyayangkan dia tidak bisa menontonnya karena terlambat mengetahui jadwal main dari film ini. Selain itu soundtracknya sendiri juga kurang booming di dunia musik. Tidak seperti laskar pelangi yng berhasil menyabet berbagai penghargaan hanya dengan soundtracknya saja, garuda di dadaku bahkan belum mencapai posisi pertama di tangga-tangga lagu domestik. Durasi : 1 jam 30 menit Genre : anak-anak Rilis : 18 Juni 2009 Director : Ifa Isfansyah Pemain : Emir Mahira, Aldo Tansani, Ikranagara

HOT NEWS !! Kini Buletin Morpin dapat dinikmati secara online... Www.buletinmorpin.co.cc E-mail : buletinmorpin@yahoo.com

MORPIN EDISI 49 / AGUSTUS2009

5


BULETIN MORPIN EDISI 49