Issuu on Google+

NO. I - NOVEMBER 2014

Menelusuri Torehan Sejarah Islam di Indonesia

untuk Bangsa

DI BALIK LAYAR KEMERDEKAAN

Mukaddimah

Syajarah

Kisah

Rekam

Berkah Kemederkaan Bagi Dakwah Islam di Indonesia

Tentang Para Pahlawan dan Masa Lalu Kita

Elegi 10 November dan Resolusi Jihad yang ter(di)lupakan

Merekam Ingatan Perang Aceh


Sumber foto: Carey, Peter (2008) The Power of Prohecy. Prince Dipanegara and The End of an Old Order in Java 1785-1855, Leiden: KITLV Press


Dari Ke

Meniti Diantara

Hati

Cinta

Hati “M

&

Fakta

eninjau sejarah dengan cinta”. Itulah pesan Buya Hamka yang meresap ke dalam redaksi kami. Majalah Jejak Islam edisi pertama ini adalah sebuah ikhtiar untuk menghadirkan penulisan sejarah Islam yang haluannya adalah pandangan hidup Islam dan bahan bakarnya adalah cinta terhadap Islam. Dituangkannya tulisan-tulisan komunitas Jejak Islam untuk Bangsa (JIB) ke dalam bentuk majalah adalah upaya untuk lebih mendekatkan sejarah kepada umat Islam di Indonesia, setelah sebelumnya tulisan kami lebih banyak bergeriliya di dunia maya. Majalah Jejak Islam edisi perdana ini menyajikan mengangkat tema ‘Di balik Layar Kemerdekaan’, sebuah perbincangan mengenai para pahlawan dan kemerdekaan. Tulisan dari Tiar Anwar Bachtiar -sejarawan yang juga Ketua Umum PP Pemuda Persis- mengenai berkah kemerdekaan bagi dakwah Islam, mengisi rubrik Mukaddimah; kemudian Rubrik Syajarah diawali tulisan dari Tri Shubhi -penggiat Komunitas NuuN- yang meninjau para pahlawan, serta telisik Susiyanto, dosen IAIN Surakarta, yang mengajak kita menatap riwayat Rahmah El Yunusiyah, pejuang perempuan yang terpinggirkan dalam arus sejarah di Indonesia. Tentu saja artikel-artikel lain oleh redaksi Jejak Islam turut meramaikan edisi ini. Tidak pula tertinggal, rubrik ‘Kisah,’ sebuah rubrik khas yang meracik penulisan sejarah secara sastrawi oleh Rizki Lesus. Dalam ‘Dialog’, kami hadirkan wawancara dengan Artawijaya, penulis sejarah Islam yang produktif. Tengok pula rubrik ‘Dari perbendaharaan Lama,’ yaitu rubrik yang mengangkat kembali tulisan-tulisan tokoh Islam dari masa silam. Foto-foto esai dalam rubrik ‘Rekam’ mencoba merogoh ingatan kita tentang Perang Aceh. Rubrik ‘Catatan Punggung’, menutup rangkaian majalah ini, dengan mengaitkan antara realita masa kini dengan persoalan sejarah.

Penulisan sejarah yang kami lalui dalam Jejak Islam, berupaya meniti keseimbangan antara kecintaan terhadap Islam dan penggalian data dan fakta yang kokoh. Mudah-mudahan Majalah Jejak Islam, yang hendak mempopulerkan sejarah Islam di Indonesia ini, diterima oleh masyarakat, khususnya umat Islam. Sehingga umat Islam di Indonesia tak lagi asing dengan masa lalunya sendiri di tanah air. Selamat menikmati.


@ipotisme

R E D A K S I

PEMIMPIN REDAKSI Beggy Rizkiyansyah REDAKTUR AHLI KONTRIBUTOR REDAKTUR TIM REDAKSI

Tiar Anwar Bachtiar Alwi Alatas Susiyanto Tri Shubhi A. Rizki Lesus M. Rizki Utama Andi Ryansyah Septian Anto W.

ARTISTIK NZI ILUSTRASI SAMPUL Qbenk

PENERBIT Jejak Islam untuk Bangsa Jl. Taman Malaka E No.13 Jakarta Timur E jejakislambangsa@gmail.com www.jejakislam.net


D A F TA R

isi

06

M u k a d d i m a h Berkah Kemerdekaan Bagi Dakwah Islam di Indonesia Tiar Anwar Bachtiar

12

Syajarah

18

D a r i P e r b e n d a h a a r a a n Moh. Natsir dan Perjuangannya Lama Moh. Roem

20

Tentang Para Pahlawan dan Masa Lalu Kita Tri Shubhi A

Halaman

30

Syajarah

Elegi 10 November dan Resolusi Jihad yang ter(di)lupakan Rizki Lesus

Mereka yang Dilumpuhkan Beggy Rizkiyansyah

44 Dialog

44

Kisah

Artawijaya

Halaman

Syajarah Arti Kemerdekaan Beggy Rizkiyansyah

50

Syajarah

Rahmah El Yunusiyah: Perempuan Pejuang, Pejuang Perempuan Susiyanto

60

Buku

Takdir Peter Carey

64

Rekam

Merekam Ingatan Perang Aceh

64

Catatan Punggung

Buku dan Sanad yang Terputus


6

Berkah Kemerdekaan Bagi Dakwah Islam di Indonesia

Mukaddimah


Tiar Anwar Bachtiar

Mukaddimah

Litografi Belanda tentang utusan Aceh yang menyerahkan surat Sultan Alauddin Riayat Syah (1589-1604) kepada Prins Maurits, pendiri dinasti Oranje, di bulan Agustus 1602 Sumber foto: Perang Kolonial Belanda di Aceh. The Dutch Colonial War in Acheh (1997). Banda Aceh: The Documentation and Information Center of Acheh

Oleh : Tiar Anwar Bachtiar (Ketua PP Pemuda Persatuan Islam)

Sejak tanggal 1 Januari 1800 hingga sekitar tahun 1942, sejarah mencatat wilayah seluas Indonesia dari Sabang hingga Merauke berada di dalam kekuasaan satu negara kecil di Eropa, yaitu Belanda. Indonesia yang saat itu disebut belanda sebagai Nederlands Indie (Hinda Belanda) menjadi provinsi jauh Belanda. Para raja yang ditaklukkan di berbagai daerah statusnya diturunkan menjadi bawahan Negeri Belanda dengan pangkat Regen (Bupati). Mereka diawasi oleh para Residen yang berada di bawah kontrol Gubernur General sebagai pemimpin tertinggi penguasa kolonial di negeri jajahan. Tidak ada satupun residen atau gubernur jendral di Hindia Belanda yang pribumi, apalagi beragama Islam. Semuanya orang Belanda yang diangkat oleh Ratu Belanda. Periode inilah yang sesungguhnya disebut sebagai Periode Kolonial (penjajahan) dalam sejarah Indonesia. Karena wilayah Kepulauan Indonesia ini dikuasai oleh penjajah asing, kafir, dan—paling penting—menyebabkan taraf hidup masyarakat pribumi merosot sangat tajam dibanding abadabad sebelumnya, maka alasan menjadi sangat lengkap bagi kaum Muslimin untuk angkat senjata. Abad ke-19 akhirnya dikenal sebagai abad perlawanan terhadap kolonialisme Belanda. Pekik “Perang Sabil” alias jihad fi sabilillah terdengar di berbagai wilayah yang dikuasai Belanda. Perang terbesar terjadi di Jawa yang dimotori oleh Pangeran Diponegoro (18251830). Perang terlama dan paling sulit dihadapi Belanda adalah saat para ulama dan pemimpin Aceh melancarkan serangan balik menolak kehadiran Belanda di Bumi Rencong


8

Berkah Kemerdekaan Bagi Dakwah Islam di Indonesia

itu. Di Sumatera Barat terjadi Perang Paderi. Di Banten (1888) ada perlawanan para santri dan kyai yang sekalipun tidak jadi meletus namun membuat pemerintah Hindia Belanda tidak bisa tidur nyeyak. Di Banjar, Pangeran Antasari bergerak didukung para ulama dan santri. Perlawanan-perlawanan abad ke-19 itu selalu digerakkan oleh para ulama, kiai, dan satri. Amat jarang di luar komunitas ini yang melakukan perlawanan nyata kepada penguasa kolonial. Perlawanan-perlawanan itu lahir ketika mereka ditindas oleh penguasa asing, kafir, dan zhalim. Oleh sebab itu, perlawanan sepanjang

Mukaddimah

menyerah kepada Sukutu pimpinan Amerika pada tahun 1945. Situasi inilah yang dimanfaatkan oleh tokoh-tokoh pergerakan Indonesia untuk memerdekakan negerinya. Kalangan Islam maupun sekuler untuk sementara bersatu memperjuangkan bebasnya negara baru dari penjajah kafir dengan diawali Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945, suatu proklamasi berbekal kenekatan dan keberanian, namun akhirnya bebuah hasil yang manis merdekanya wilayah kepulauan ini dari cengkeraman penguasa kafir. Berkah Kemerdekaan dan Dakwah Islam

Selama satu abad perlawanan meletus, giliran kemudian generasi Muslim terdidik baru lahir pada sekitar awal abad ke-20. Perlawanan fisik kini bermetamorfosis menjadi perlawanan yang lebih mengandalkan kekuatan ilmu. Sejarah menyaksikan lahirnya Sarekat Islam (1911) yang memiliki gagasan-gagasan revolusioner untuk melepaskan rakyat Indonesia dari kungkungan Belanda. Organisasi yang didirikan HOS Tjokroaminoto ini menjadi katalisator politik kepentingankepentingan rakyat Indonesia yang ingin segara bebas dari kesengsaraan akibat kolonialisme itu. Disusul kemudian dengan gerakan-gerakan lain yang turut melengkapi hadirnya SI. Di Yogyakarta lahir Muhammadiyah (1912). Di Bandung lahir Persatuan Islam (1923). Di Surabaya lahir Nahdhatul Ulama (1926). Di Sumatra lahir Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) dan Persaudaraan Muslimin Indonesia (Permi). Di beberapa tempat yang lain pun lahir gerakan-gerakan serupa. Walaupun aksentuasi yang dibawa berbeda-beda, namun semuanya memiliki cita-cita yang sama: bebaskan Indonesia dari Belanda! Tidak dimungkiri bahwa ada gerakan-gerakan lain yang berhaluan sekuler seperti PKI, PNI, Indische Partij, dan sebagainya yang ikut juga dalam pergerakan membebaskan Indonesia. Namun hal yang tidak bisa dielakkan mereka sebagian besarnya adalah juga umat Islam. Hanya saja, pilihan perjuangannya bukan untuk menegakkan kedaulatan Islam, melainkan hanya sekadar mengabdi kepada kepentingan pragmatis, atau agak lebih tinggi sedikit demi kepentingan kemanusiaan. Pada masanya, kedua haluan gerakan ini—Islam dan Sekuler—saling bersaing untuk sama-sama menyingkirkan penjajah dan juga saling bersaing untuk mengendalikan negara baru nantinya. Singkat cerita, Belanda tidak bisa mempertahankan wilayah Indonesia lebih lama setelah kekalahan pertama Sekutu pada Perang Pasifik. Kepulauan ini harus diserahkan kepada Jepang. Jepang selalu berkampanye akan memberikan kemerdekaan pada Indonesia, walaupun kelihatannya tidak sungguhsungguh. Jepang hanya mengulur waktu untuk mendapatkan bala bantuan tentara dan logistik untuk kepentingan Perang Pasifik yang tengah dihadapinya. Akhirnya Jepang harus

Seandainya kemerdekaan Indonesia ini tidak diperjuangkan para santri, ulama, dan umat Islam sejak awal kolonialisme tentu tidak akan ada jejak-jejak Islam yang nyata dalam proses pendirian negara ini. Sidang-sidang BPUPK (Badan Penyelidikan Urusan-Urusan Kemerdekaan) menghasilkan Piagam Jakarta 22 Juni 1945 yang sangat terkenal. Inilah nanti yang menjadi cikal-bakal dasar negara Indonesia: Pancasila dan UUD 1945. Pancasila dan UUD 1945 berisi banyak gagasan dari para pejuang Islam hingga lahir Tujuh Kata yang dibuang: “dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluknya” dalam sila pertama Pancasila. Walaupun pada 18 Agustus 1945 Sila ini berubah, namun semangatnya masih sangat jelas tersisa dalam kata-kata “Ketuhanan Yang Maha Esa.” Ki Bagus Hadikusumo yang menandatangi perubahan itu memastikan bahwa kata-kata itu maknanya adalah “Tauhid”. Sekalipun tidak berkonsekuensi hukum karena tidak tertuliskan sebagai ayat di dalam undang-undang, namun siapapun tidak bisa menyangkal kenyataan sejarah ini. (Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia [BPUPKI], 2005). Kekuatan dan andil umat Islam dalam kemerdekaan ini juga terlihat saat dengan begitu percaya diri partai-partai Islam, antara lain: Masyumi, NU, SI, Perti, dan politisi Muslim independen lainnya, mengajukan proposal tentang Islam sebagai dasar negara Indonesia dalam sidang-sidang Majelis Konstituante tahun 1956-1959. Politik pada akhirnya bukan selalu soal kebenaran, tapi masalah permainan belaka. Oleh sebab itu, kekalahan politiklah yang akhirnya harus mengubur harapan para pejuang Islam menjadikan negara baru ini berada di bawah naungan Islam. Bahkan sejak Dekrit Presiden 5 Juli 1959, usaha-usaha menyingkirkan para pejuang Islam dari jalur politik begitu terasa. Berbagai intrik dan fitnah terus dilancarkan kepada gerakan-gerakan Islam agar semakin jauh dari kekuasaan. Isu-isu seperti pemberontakan DI/TII tahun 60an, Komando Jihad tahun 70-an, Ekstrem Kanan tahun 80-an, hingga isu terorisme tahun 2000-an terus dikerek media-media anti-Islam untuk menjadi alasan sahih menyingkirkan Islam dari panggung kekuasaan.


Tiar Anwar Bachtiar

Mukaddimah

Pemungutan Suara kedua dalam Sidang Konstituante 1 Juni 1959 Sumber foto : 30 Tahun Indonesia Merdeka 1950 - 1964 (1985) Jakarta : Sekretariat Negara Republik Indonesia

Akan tetapi, dalam situasi yang tersudut seperti itu bukan berarti umat Islam kehilangan kreativitas dan vitalitas untuk tetap memperjuangkan agama yang diyakini akan membawa kamaslahatan di dunia dan akhirat. Walaupun secara politik umat Islam secara sengaja dipinggirkan, justru ini semacam takdir Allah mengingatkan kembali kepada umat Islam bahwa ada tugas yang lebih penting dan harus terlebih dahulu dibenahi sebelum umat Islam memegang tampuk kekuasaan, yaitu dakwah. Selama hampir setengah abad, umat Islam memang agak mengabaikan inovasi dalam dakwah. Hampir semua tersedot perhatiannya pada perkara-perkara politik. Menjelang kemerdekaan hampir setiap pemimpin Islam disibukkan memikirkan bagaimana cara Indonesia terbebas dari penguasa kafir-Belanda. Ini jihad nyata yang ada di hadapan mereka. Selepas itu, hampir semua disibukkan mempersiapkan negara baru agar tidak keluar dari jalur Islam. Inipun sesungguhnya bagian dari dakwah. Hanya saja, konsentrasinya terlalu banyak kepada kekuasaan. Banyak garapan dakwah lain yang diabaikan, terutama dalam bidang kaderisasi umat dan pengembangan ilmu pengetahuan berdasarkan Islam. Depolitisasi oleh para penguasa terhadap para politisi

Islam akhirnya membuahkan hasil cukup menggemberikan. Pak Natsir setelah Masyumi dibubarkan dan mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) dalam berbagai kesempatan sering mengatakan, “Dulu kita berpolitik untuk dakwah, sekarang kita berdakwah untuk politik.� Slogan ini pun rupanya diamalkan oleh banyak aktivis politik lainnya yang digusur dari kekuasaan. Mereka akhirnya kembali terjun ke dunia dakwah. Perguruan-perguruan tinggi Islam didirikan di mana-mana. Perduruan tinggi sekuler dijadikan lahan dakwah baru menjadi kader-kader calon pemimpin melalui gerakan LDK (Lembaga Dakwah Kampus). Pesantrenpesantren diperbaiki manajemen dan performanya untuk menyaingi lembaga-lembaga pendidikan Kristen dan sekuler. Masjid-masjid terus disasar untuk dihidupkan. Lembagalembaga dakwah pun berdiri di mana-mana, bahkan sampai menjangkau pelosok-pelosok negeri. Hasilnya cukup menggembirakan. Akhir tahun 1980-an umat Islam Indonesia mengalami “kebangkitan� baru setelah pada awal abad ke-20 memelopori pergerakan politik untuk bangkit memerdekakan Indonesia. Kali ini prestasi dakwah Islam telah sampai pada taraf yang belum pernah dicapai selama dua abad sebelumnya. Gelombang Islamisasi menjangkau sampai ke berbagai elemen umat. Kaderisasi umat yang mulai


m.natsir


Tiar Anwar Bachtiar

Mukaddimah

Salah satu rekaman foto pertempuran 10 November 1945 Sumber foto: Album Perang Kemerdekaan 1945-1950 (1983). Jakarta: Badan Penerbit Almanak R.I/B.P. ALDA

digarap pada era 1960-an mulai berbuah dengan lahirnya generasi-generasi intelektual Muslim baru. Puncaknya, para cendekiawan Muslim berkumpul dan menampilkan kekuatan mereka dengan didirikannya Ikatan Cendeiawan Muslim Indonesia (ICMI). Penggunaan jilbab bagi muslimah yang sebelumnya sangat terbatas, sejak tahun 1990-an dapat secara bebas digunakan akibat desakan dari intelektualintelektual Muslim baru ini. Intelektual muslim baru inipun tersebar dalam berbagai keahlian hingga umat Islam kini memiliki banyak ahli yang masuk ke hampir semua sektor kehidupan, baik formal maupun non-formal. Lembaga-lembaga pendidikan Islam mulai tampil bukan lagi sebagai lembaga pendidikan kacangan, melainkan menjadi lembaga favorit dan unggulan. Media masa yang sebelumnya tidak terlalu percaya diri untuk mengangkat simbol-simbol Islam, kini sudah bukan barang aneh Islam dalam berbagai aspeknya yang positif menjadi pokok perbicangan di media massa. (Selengkapnya lihat Riclefs, Islamisasi Jawa, 2014). Oleh sebab itu secara performa, sejak tahun 70-an hingga

saat ini Islam di Indonesia telah kembali menjadi “agama” mayoritas. Islam tidak lagi diekspresikan secara sembunyisembunyi jauh dari ruang publik seperti pada zaman Kolonial. Perjuangan para mujahidin untuk membebaskan negeri ini dari penguasa kafir yang sangat menindas, baik secara politik, ekonomi, dan terutama keyakinan, buahnya sudah mulai dirasakan saat ini. Walaupun ada yang pesimis melihat politik Indonesia yang hingga saat ini masih belum memberi peluang kepada gerakan-gerakan Islam untuk berkuasa sepenuhnya dalam bidang politik, namun sesungguhnya perkara itu hanya tinggal menunggu waktu. Kecerdikan dan kegigihan para pejuang Islam setelah kemerdekaan untuk kembali kepada dakwah, justru membukakan peluang besar semua bidang di negeri ini akan dapat dikendalikan umat Islam. Sebab, dakwah ini memang pra-syarat mutlak sebelum umat Islam berkuasa. “Politik kita tergantung pada dakwah kita,” demikian ungkap Pak Natsir lagi dalam satu tulisannya. Ini tentu patut disyukuri, dipertahankan, dan terus ditingkatkan intensitasnya. Ini adalah salah satu berkah dari Kemerdekaan yang diperjuangkan para ulama dan mujahidin Islam terdahulu.Wallâhu A’lam.


12

Tentang Para Pahlawan dan Masa Lalu Kita

Syajarah

dan Masa Lalu Kita Oleh : Tri Shubhi A. (Penggiat Komunitas NuuN)


Tri Shubhi A.

Syajarah

Awal abad ke-20 sering dinisbati sebagai zaman mula hadirnya kesadaran nasional di tanah ini. Kesadaran dari orang-orang yang menghuni kepulauan ini untuk bersatu dalam sebuah nation yang mandiri, terlepas dari yang kolonial. Zaman tumbuhnya ‘kesadaran nasional’, begitu untuk mudahnya. Atau zaman di mana perasaan ke-Indonesia-an mulai tumbuh pada bangsa kita. Sekilas ini ialah sebuah pembaharuan yang baik di tanah ini. Sebuah cara pandang baru yang dianut orang-orang, yang telah mendorong dan kemudian melahirkan Indonesia. Akan tetapi patut direnungkan pandangan Syed Muhammad Naquib al-Attas perihal ini: “Kebudayaan Barat telah menyelundupkan menyerang hati sanubari kita, jiwa kita, dan caranya menghasilkan keadaan demikian ialah bahwa sewaktu bangsa-bangsa Barat menjajahi negara-negara kita mereka telah menjalankan dua tindakan penting yang membawa kesan besar pada nasib kita kini: Pertama ialah memutuskan Kaum Muslimin daripada ilmu pengetahuan mengenai Islām dengan secara lambat laun menerusi sistem pelajaran. Kedua ialah memasukan secara halus ke dalam sistem pelajaran itu faham ilmu Barat dan unsur-unsur, nilai-nilai, dan faham serta konsep-konsep Kebudayan Barat yang akan sedikit banyak menggantikan unsur-unsur dan nilai-nilai dan faham serta konsep-konsep Islām, dan memutuskan hubungan kebudayaan Islām di kalangan Umat Islām seluruhnya”1. Jika kita rasa-rasai, hadirnya ‘kesadaran nasional’ di awal abad ke-20 yang lalu itu memanglah berasal dari orang-orang bangsa kita yang terdidik secara Barat. Hanya saja, bukan sekadar semangat kemerdekaan yang mereka usung. Diam-diam mereka pun mengangkut cara pandang Barat ke negeri ini. Kaum terpelajar Barat inilah yang menggelontorkan ke-modern-an dan sekaligus berupaya meninggalkan masa lalu. Kaum terpelajar Barat inilah yang pada mulanya hendak menciptakan suatu kebaruan pada bangsa ini. Mereka yang hendak memisahkan diri, menarik garis tegas antara masa lalu dan masa kesadaran nasional itu. Tuan Alisjahbana (Sutan Takdir Alsjahbana atau STA) dalam sebuah tulisan bertajuk “Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru: Indonesia-Prae Indonesia” jelas menyatakan hal itu. Baginya, pahlawan-pahlawan yang telah berjuang di tanah ini sebelum abad ke-20, bukanlah pejuang nasional, sebab ide nasionalisme saat itu pun belum ada. “Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Teungku Umar dan lain-lain telah dijadikan orang Pahlawan Indonesia. Borobudur telah menjadi bukti keluhuran Indonesia di masa yang silam, musik gamelan telah menjadi musik Indonesia, buku Hang Tuah sudah menjadi buku hasil kesustraan Indonesia. Padahal ketika Dipenogoro, Tuanku Imam Bonjol, Teungku Umar dan lain-lain itu berjuang dahulu belum ada, belum terbau-bau perasaan keindonesiaan. Dipenogoro berjuang demi Tanah Jawa itu pun agaknya tiada dapat kita katakan bagi seluruh Tanah Jawa. Tuanku Imam Bonjol Bagi Minangkabau, Teungku Umar bagi Aceh. Siapa yang dapat menjamin sekarang ini, bahwa baik Dipenogoro, baik Tuanku Imam Bonjol, atau pun Teungku Umar tidak akan melabrak bahagian kepulauan ini yang lain sekiranya mereka mendapat kesempatan dahulu?”2


14

Tentang Para Pahlawan dan Masa Lalu Kita

Pendapat ini jelas berbeda dengan pandangan kaum Islām. Bagi kaum Muslimin, siapa yang berjuang menegakkan kebenaran dan melawan kedzaliman ialah pahalwan Islām. Apatah lagi mereka yang menegakkan keimanan kepada Allāh Swt di tanah ini. Tak terbantahkan lagi mereka adalah pahlawan Islām sekaligus pahlawan bangsa. Tamar Djaja, seorang penulis dari Himpunan Pengarang Islam telah menyatakan hal ini secara tegas pada tahun 1956. “Kita mengenal nama2 jang mewangi waktu ini dari pahlawan2 kemerdekaan Indonesia zaman lalu seperti Diponegoro dari Djawa, Imam Bondjol di Sumatera, Sulthan Hasanuddin di Sulawesi, Pengran Ulu Paha di Maluku, Pangeran Antasari di Kalimantan Selatan, Pangeran Ratu Idris di Kalimantan Barat, Teuku Tjik di Tiro, Tenku Umar di Atjeh, Sulthan Thaha di Djambi dan lain2 jang semuanya itu adalah pahlawan2 Islam jang telah berdjasa mempertahankan tanah air dari tjengkraman pendjadjahan3. Buya Hamka turut serta menegaskan hal itu dalam sebuah artikelnya berjudul “Diponegoro Pahlawan Islam”. Begini kata Hamka: “Pangeran Diponegoro bersama pahlawan2 lain jang timbul di dalam Abad Kesembilan Belas, adalah penentang2 pendjadjahan, pedjuang-pedjuang jang namanja tertulis sebagai pembuka djalan bagi kita jang datang dibelakang buat meneruskan perdjuangan mentjapai kemerdekaan Nusa dan Bangsa. Sebahagian besar dari pedjuang itu mempunjai tjita-tjita jang sama, jaitu mengusir pendjadjahan kafir dan menegakkan pemerintahan berdasar Islam. Pangeran Diponegoro, Imam Bondjol, Teungku Tjhik di Tiro, Pangeran Antasari di Kalimantan, boleh dikatakan samalah tjorak mereka, jaitu berdjuang dalam garis tjita-tjita Islam.”4

YAITU BERJUANG DALAM GARIS TJITA-TJITA ISLAM Buya Hamka

Syajarah

Sentot Ali Basah , Imam Bonjol dan Kyai Modjo. Ketiganya tampil berjuang membela kemuliaan Islam. Sumber foto Sentot dan Kyai Modjo: Sumber foto: Carey, Peter (2008) The Power of Prohecy. Prince Dipanegara and The End of an Old Order in Java 1785-1855, Leiden: KITLV Press Sumber foto Imam Bondjol: Hadler, Jeffrey (2008). A Historiography of Violence and The Secular State in Indonesia: Tuanku Imam Bondjol and The Use of History. The Journal of Asian Studies vol 67 No.3 August 2008.

Perbedaan pendapat antara STA dengan HAMKA dan Tamar Djaja di atas bukan lah hanya tentang perebutan siapa itu pahlawan Indonesia. Lebih dari itu, perbedaan pandang itu juga menunjukkan bahwa kedua pihak memiliki pandangan yang berbeda tentang sejarah dan kebudayaan Indonesia. Bagi STA dan yang mengikutinya, Indonesia ialah sesuatu yang baru, yang terlepas dari masa lalu, dari Islām dan harus mengikuti kedinamisan Barat. Mari kita lihat pendapat Tuan Alisjahbana itu, sengaja saya kutipkan agak panjang. “Sangat perlu dinyatakan dengan tegas, bahwa sejarah Indonesia dalam abad kedua puluh, ketika lahir suatu generasi yang baru di lingkungan Nusantara ini, yang dengan insyaf hendak menempuh suatu jalan yang baru bagi bangsa dan negerinya. Zaman sebelum itu, zaman sehigga penutup abad kesembilan belas, ialah zaman prae-Indonesia, zaman jahiliah keindonesiaan, yang hanya mengenal sejarah Oost Indische Compagnie, sejarah Mataram, sejarah Aceh, sejarah Banjarmasin dan lain-lain. Zaman pra-Indonesia, zaman jahiliah Indonesia itu setinggitingginya dapat menegaskan pemandangan dan pengertian kita tentang lahirnya zaman Indonesia, tetapi jangan sekali-kali zaman Indonesia dianggap sambungan atau terusan yang biasa daripadanya. Sebab dalam isinya dan dalam bentuknya keduanya berbeda: Indonesia yang dicita-citakan oleh generasi baru bukan sambungan Mataram, bukan sambungan kerajaan Banten, bukan kerajaan Minangkabau atau Banjarmasin. Menurut susunan pikiran ini, maka kebudayaan Indonesia pun tiadalah mungkin sambungan kebudayaan Jawa, sambungan kebudayaan Melayu, sambungan kebudayaan Sunda atau kebudayaan yang lain5. Hal ini ditegaskan lagi dalam tulisan beliau yang lain, yang berjudul “Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru”.


Tri Shubhi A.

Apakah semangat Indonesia itu? Semangat Indonesia ialah kemauan yang timbul pada abad kedua puluh ini di kalangan rakyat yang berjuta-juta ini untuk bersatu dan dengan jalan demikian hendak berusaha bersama-sama menduduki tempat yang layak di sisi bangsa-bangsa yang lain. Kamauan dan citacita yang dijunjung dengan insyaf dan sedar serupa ini tidak pernah terdapat di lingkungan kepulauan ini sebelum abad kedua puluh.”6 Dasar bagi kebaruan itu tak lain, menurut STA, ialah semangat Barat.Katanya: “Demikian saya berkeyakinan, bahwa dalam kebudayaan Indonesia yang sedang terjadi sekarang ini akan terdapat sebagian besar elementen Barat, elementen yang dynamisch. Hal ini bukan berarti suatu kehinaan bagi sesuatu bangsa. Bangsa kita pun bukan baru sekali ini mengambil dari luar: kebudayaan Hindu, kebudayaan Arab.”7 Hal itu memang tidak disepakati semua pihak. Banyak kalangan menilai bahwa semangat Barat bisa menyeret bangsa ini kepada materialisme dan kekeringan batin. Sanusi Pane mengusulkan agar semangat Barat itu musti dicampur dan diimbangi dengan semangat Timur. Sebab jika Barat sangat mencintai kebendaan, Timur memberikan kesejahteraan batin. Perpaduan keduanya akan menghasilkan kebudayaan yang sempurna bagi Indonesia. “Haluan yang sempurna ialah menyatukan Faust dengan Arjuna, memesrakan materialism, intellectualisme dan individualism dengan spiritualisme, perasaan dan collectivisme.”8 Lalu bagaimana pendapat kaum Islām? Cukup di sini

Syajarah

disampaikan dua pernyataan dari Buya Mohammad Natsir dan Tjokroaminoto. Imaduddin Abdurahman menuturkan bahwa Buya Natsir pernah menyampaikan kepadanya tentang Barat dan Timur itu. “Bahwa bagi kita sebagai orang Islam, tidak mengenal alternatif Barat dan Timur dan sebagainya. Kita hanya mengenal satu alternatif ialah yang haq dan batil. Di mana kita harus selamanya tegak memertahankan yang hak.”9 Mengenai Persatuan Indonesia. Apakah yang mendorong umat Islām di kepulauan ini untuk bersatu? Apakah yang seperti dikatakan oleh STA itu? Kesadaran baru akan sebuah nation yang merdeka itu kah yang menyebabkan kita hendak bersatu? Kaum Islām berbeda dalam hal ini. Dalam pidato di Kongres Syarikat Islam yang pertama di Bandung, 1916, Tjokroaminoto tegas menyatakan: “Kita cinta bangsa sendiri dan dengan kekuatan ajaran agama kita, agama Islam, kita berusaha untuk mempersatukan seluruh bangsa kita, atau sebagian besar bangsa kita.”10 Jelas sudah di hadapan kita perbedaan-perbedaan kaum yang murni terdidik pendidikan Barat dengan Kaum Islām dalam persoalan ini. Bahwa Indonesia yang dikehendaki dua pihak adalah Indonesia yang berbeda. Bahwa cara pandang terhadap masa lalu dari keduanya adalah bertentangan. Adapun memang secara politik itu disatukan oleh prosesproses formal semacam Sidang-Sidang PPKI, Sidang-Sidang BPUPKI, Proklamasi 17 Agustus 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia hingga saat ini. Berani saya sampaikan bahwa bersatunya kita dengan kaum sekular dalam satu ikatan NKRI ini barulah persatuan yang diakibatkan proses-


16

Syajarah


Tri Shubhi A.

proses politik. Tentang apa itu Indonesia secara kebudayaan, secara gagasan, kita belumlah sepenuhnya bersepakat. Bagi kita kaum Islām Indonesia ialah sesuatu yang tak terpisah dengan sejarah para ulama, para wali, para Sulthan dan umat Islām di masa dahulu. Islām kita haruslah Islām yang menyambung sampai kepada baginda Rasulūllāh Saw. Kita tak dapat melupakan Teuku Umar, Pangeran Dipoegoro, Raja Ali Haji, Hamzah Fanshuri, Abdurauf Singkel, Para Wali sebagaimana mereka tak melupakan Imam al-Ghazālī, Imam Bukhāri, Imam Syafi’ī, Imam al-Asy’ari, para sahabat Nabi dan tentu saja Rasulūllāh Saw. Sejarah kita di Nusantara ini tersambung sampai kepada Baginda Nabi. Islām kita bukan lah Islām yang baru, melainkan merupakan ajaran yang telah dianuti kaum muslimin selama berbelas abad. Oleh karena itu, perjungan kita bukan lah perjuangan yang terlepas dan berdiri sendiri. Perjuangan hari ini ialah juga kelanjutan perjuangan para ulama dan pahlawam Islām di masa lalu. Yang kita lakukan di negeri Indonesia ini ialah menjalankan dan melanjutkan risalah Nabi. Sementara kaum sekular, kaum yang hendak memisahkan agama dan negara, tak berpandangan semacam itu. STA ialah seorang yang ekstrem, yang hendak mengajak bangsa ini untuk berkiblat kepada Peradaban Barat. Namun pikirannya tak lah tamat, pada masa sekarang ini, kalimat-kalimat yang lebih halus telah diungkapkan oleh orang-orang sekular untuk membawa negeri ini ke dalam pemisahan antara agama dan kehidupan dunia. Kaum semacam ini akan terus menerus memisahkan sejarah kita dari masa lalu Islām. Atau yang seperti Sanusi Pane, menyambung-nyambungkan Indonesia ini dengan zaman Hindu-Buddha tanpa menghiraukan peran dan kehadiran Islām. Orang-orang semacam itu akan terus menafsirkan Indonesia dengan cara-cara mereka. Mereka memang menghendaki Indonesia seperti yang mereka pikirkan. Mereka terus mengasah gagasan-gagasan sekuler tentang Indonesia dan selalu berusaha menerapkannya dalam berbangsa dan bernegara. Kita tak bisa pula berpangku tangan. Ada dua hal yang

Syajarah

dapat kita perbuat. Pertama kita melanjutkan cita-cita perjuangan para pendahulu kita. Caranya sekarang ini, ialah dengan menafsirkan Indonesia dengan cara pandang Islām. Menyatakan kehendak-kehendak kita atas Indonesia. Sebab kita telah menangguk-reguk hasil perjuangan pahlawan Islām. Kemudian mencoba mengetrapkan ajaran Islām bukan hanya dalam kehidupan pribadi melainkan juga dalam berbangsa dan bernegara.Kedua kita harus beradab pada para ulama dan pahlawan Islām. Jangan kita lupakan mereka, jangan kita tak pedulikan ikhtiar mereka. Pelajari apa yang telah mereka ikhtiarkan dan apa yang mereka pikirkan. Lanjutkan perjuangan mereka dan jangan merasa bahwa kita tidak terlibat dengan mereka. Doa’akan pula mereka dan para syuhada yang telah sangat berkorban bagi bangsa ini, yang karena pengorbanan mereka kita sekarang ini dapat menikmati alam kemerdekaan. Sekarang ini, perhatian kita kaum Islām terlalu tercurah pada yang politik. Kita membalas mengkaji karya dan ikhtiar pada ulama dan pahlawan pendahulu kita. Pada akhirnya dalam gelanggang politik pun kita seperti kehilangan arah. Bahkan tak jarang kalah. Tak dapat kita menyatakan pendapatpendapat kita dalam politik sebab kita pun tak tahu pasti apa sebenarnya kehendak kebangsaan kita. Ada baiknya kita renungkan pandangan Buya Hamka berikut ini: Nyoto, pemimpin PKI terkenal, orang kedua sesudah Aidit, jarang absent bila terjadi Kongres-Kongres atau Konferensi Kebudayaan, sedang dari pihak Islam boleh dikatakan memandang sepi saja urusan itu. Mereka telah terpelet dalam urusan politik sehari-hari dan tidak ada yang mempunyai minat buat memasuki urusan itu 11. Pada akhirnya marilah kita mendoa kepada Allāh Swt, semoga para ulama, para pahlawan Islām pahlawan bangsa, para syuhada di negeri ini mendapatkan rahmat yang sebesarbesarnya. Dan semoga kita senantiasa diberikan kekuatan untuk tetap menyambung peradaban Nabi, sebagaimana para pendahulu kita menyemainya di negeri ini. Amin.

1. Syed Muhammad Naquib al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin, ISTAC, (Kuala Lumpur, 2001). 2. Alisjahbana dalam Achdiat K. Mihardja (Penyunting), Polemik Kebudayaan, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1985), Cet. Ke-4. 3. Tamar Djaya, “Peringatan 51 Tahun Pergerakan Islam Indonesia 16 Oktober 1905-16 Oktober 1956”, dalam Suara Masjumi edisi 20 Oktober 1956. 4.Hamka, “Diponegoro Pahlawan Islam”, dalam Majalah Hikmah Edisi 22 Januari 1955. 5.Alisjahbana dalam Achdiat K. Mihardja (Penyunting), Polemik Kebudayaan, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1985) Cet. Ke-4. 6. ibid 7. Ibid 8. Sanusi dalam Achdiat K. Mihardja (Penyunting), Polemik Kebudayaan, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1985), Cet. Ke-4 9. Imaduddin dalam Anwar Harjono (Penyunting), Pemikiran dan Perjuangan Mohammad Natsir, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001) Cet Ke-2. 10. Mohamad Roem, Bunga Rampai dari Sejarah (I), (Jakarta: Penerbit Bulan Bintang, 1977), Cet. Ke-2. 11. Hamka, Kebudayaan Islam di Indonesia, Panitia Nasional Menyambut Abad XV Hijriah, Jakarta, 1979.


18

Dari Perbendaharaan Lama

Mohammad

Natsir DAN PERJUANGANNYA Serial media dakwah No.70 Islam dan modernisasi Jum.Akhir 1400 H/April 1980 Moh. Roem

1980 Mohammad Natsir, adalah sebuah cerminan nyata jiwa seorang pahlawan. Namun ironisnya segala daya upaya serta pengorbanannya tak mendapatkan penghargaan yang layak di Indonesia. Pemerintah baru mengukuhkan dirinya menjadi Pahlawan Nasional pada tahun 2008. Menunggu hingga 100 tahun sejak kelahirannya, padahal jasa-jasanya begitu besar kepada Indonesia. Bahkan ia lebih dihargai di luar negeri ketimbang (pemerintah) di dalam negerinya sendiri. Tulisan Moh Roem 34 tahun yang lalu ini kami pandang penting untuk mengenang jasa-jasa Moh. Natsir dalam bermacam sisi, dari ‘Pembela Islam’ hingga Timor-timor.


Dari Perbendaharaan Lama

Pada tanggal 5 Rabi’ul Awal 1400 H atau 23 Januari 1980, Sekretaris Jenderal Lembaga Hadiah Internasional Malik Faisal, Dr. Ahamad Al-Dhubaidh memberitahukan kepada Bapak Mohammad Natsir, bahwa berdasarkan keputusan juri, yang diangkat oleh lembaga tersebut untuk tahun 1400 H, tanda penghargaan di bidang penghidmatan Islam akan diberikan kepada Mohammad Natsir dari Indonesia bersama-sama dengan Syekh Abul Hasan An-Nadwy dari Lucknow, India. Pada tanggal 25 Rabi’ul Awal 1400 H (12 Februari 1980 M) dalam suatu upacara yang khidmat di ibukota Arab Saudi Riyadh tanda penghargaan itu diberikan kepada yang berkepentingan. Dalam sebuah piagam tertanggal hari itu dinyatakan, bahwa Hadiah Internasional Malik Faisal untuk Pengabdian pada Islam untuk tahun 1400 H diberikan kepada Saudara Mohammad Natsir sebagai penghargaan atas karya-karyanya yang patut mendapat penghargaan dalam bidang pengabdian pada Islam dan ummatnya yang berupa sebagai berikut: 1.Karya-karyanya di bidang dakwah dan mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). 2.Usaha-usahanya untuk menyelesakan persoalan kaum muslimin dan untuk mewujudkan solidaritas diantara mereka. 3.Kegigihannya melawan penjajah yang ada di negerinya Indonesia sampai memperoleh kemerdekaan. 4.Karyanya yang sungguh-sungguh dalam melawan aliran-aliran destruktif, atheisme, dan lain-lain. 5.Bimbingan yang diberikannya kepada berbagai macam

organisasi di negaranya untuk pembinaan pemuda- pemuda Islam Indonesia. Pada malam ini kita berkumpul di tempat yang sederhana ini untuk bersama-sama menyatakann berterima kasih kepada Ketua Lembaga Malik Faisal bin Abdul Aziz, yang telah berkenan menganugerahkan hadiah internasional kepada pemimpin kita Mohammad Natsir. Kita mengucap syukur Alhamdulillah, bahwa Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang telah meridloi hadiah itu diberikan kepada pemimpin kita Mohammad Natsir. Bersama dengan hadiah internasional Malik Faisal, kami memohon kepada Allah Swt., semoga memberikan taufik kepada Bapak Mohammad Natsir dalam usahausahanya, dan semoga kami yang menerima didikannya dapat memanfaatkan pimpinannya. Bapak Mohammad Natsir sejak masa muda memang menunjukkan kesetiaan kepada agama yang kuat, serta ketekunan yang tak kenal lelah. Dalam masa remaja, ia telah bergerak dalam berbagaibagai organisasi, yang saya hanya menyebut dua saja yaitu Jong Islamieten Bond dan Persatuan Islam, keduaduanya bergerak dalam bidang studi dan dakwah Islam. Persatuan Islam menerbitkan majalah yang terkenal yaitu: Pembela Islam, dimana Mohammad Natsir mengembangkan penanya yang tajam tapi bijaksana untuk membela Islam, yang pada waktu itu mendapat serangan dari berbagai-bagai pihak. Persiapan itu


20

Dari Perbendaharaan Lama

membawa Mohammad Natsir dalam perjuangan kemerdekaan, dalam mana senantiasa berdiri dan ikut serta di baris depan. Dengan melalui zaman Jepang yang sulit, maka pada permulaan revolusi Mohammad Natsir termasuk orang yang mendirikan dan ikut memimpin Partai Politik Masyumi, dalam mana akhirnya ia menjadi Ketua Umum selama bertahun-tahun. Setelah partai politik Islam Masyumi dibubarkan oleh Presiden Sukarno, dengan demikian baginya bidang politik sudah tertutup, maka bersama-sama dengan rekan-rekannya secita-cita ia mendirikan Lembaga Dakwah yang bernama Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). Maka tanda penghargaan yang baru diterimanya itu, adalah satu bukti, bahwa Allah membuka tidak hanya satu jalan, melainkan berbagai-bagai ikhtiar, bagaimana seorang muslim dapat berbakti kepada Tuhan, agama, dan bangsa serta negara. Di masa sekarang memang sudah tidak ada partai-partai seperti di kala Mohammad Natsir mendirikan sebuah partai politik. Masa itu dinamakan zaman demokrasi liberal atau parlamenter, dan bangsa Indonesia dimasa itu mencapai kemerdekaan, berkat kerjasama antara berbagai golongan dan partai politik. Dalam zaman itu sudah tampak “kegigihan Mohammad Natsir melawan penjajahan yang ada di negerinya Indonesia sampai tercapai kemerdekaan�. Usaha-usahanya untuk menyelesaikan persoalan kaum muslimin dan untuk mewujudkan solidaritas diantara mereka, dapat digambarkan dalam sejarah yang akan saya ceritakan di bawah ini: Proklamasi yang dicetuskan oleh bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, sebenarnya tidak dimengerti oleh kepemiminan Belanda, yang sudah mengenal bangsa Indonesia selama 300 tahun. Kepemimpinan Belanda melihat Proklamasi itu tidaklah sebagai sesuatu yang tumbuh dari hati nurani bangsa Indonesia, akan tetapi lebih banyak sebagai bom waktu Jepang, atau pemikiran-pemikiran Sukarno dan Hatta saja, atau digerakkan oleh pengaruh komunis. Andai kata kepemimpinan Belanda mengerti bahwa itu benarbenar isi nurani bangsa Indonesia yang sudah dipimpin Belanda selama 300 tahun dan yang sekarang mau merdeka, maka penyelesaian soal Indonesia tidak akan sampai memakan waktu lama dengan segala kepahitannya inklusif dua aksi militer. Penyelesaian India dan Pakistan dengan Inggris, berlainan sekali. Karena itu Belanda meskipun lahirnya tidak dapat lain dari melepaskan Indonesia, tapi memakai cara-cara

Media Dakwah Edisi Islam dan Modernisasi Sumber foto: Andi Ryansyah (JIB)

yang tidak tepat. Akhirnya Indonesia lepas juga dari ikatan Belanda, tapi dengan cara yang terlalu banyak kompromis, yang akhirnya tidak berjalan. Indonesia yang diakui kemerdekaannya mempunyai struktur federal, terdiri 16 negara bagian, ada ikatan Uni IndonesiaBelanda karena Belanda tidak ikhlas melepaskan Irian Barat. Ikatan itu akhirnya semua musnah, sebelum hubungan Belanda Indonesia menjadi baik seperti sekarang. Saya ingin mengutip pendapat baru di Nederland yang meninjau lagi apa yang terjadi 30 tahun yang lalu. Pemikir muda itu bernama Ben Van Kaam, yang menamakan bangsanya sendiripada tahun 1949 dihinggapi oleh penyakit “buta warna politik�. Buta warna politik itu sebenarnya sudah dimulai tahun 1945, waktu Belanda tidak mengerti arti proklamasi Indonesia. Negara Kesatuan Indonesia, yang oleh Belanda tadinya dibagi-bagi dalam 16 negara bagian dalam struktur federal, dalam waktu beberapa bulan saja sudah dipulihkan kembali oleh rakyat. Dalam penyelesaian ini, Mohammad Natsir sebagai Ketua Masyumi bekerjasama dengan lain-lain partai, telah memberikan darma baktinya dengan bijaksana, sehingga persoalan dapat selesai tanpa membahayakan persatuan bangsa. Mohammad Natsir menjalankan usaha itu dengan apa yang dinamakan mosi integral. Bagaimana caranya? Waktu itu ada 16 negara kecuali


Dari Perbendaharaan Lama

R.I. diciptakan Belanda yang tergabung dalam Negara Indonesia Serikat yang sudah merdeka dan berdaulat. Tinta pengakuan kemerdekaan belum kering sudah ada sebuah kabupaten Malang, pada tanggal 30 Januari 1950, menyatakan keluar dari Negara Jawa Timur, ciptaan Van Mook dan menggabungkan diri dengan Republik Jogya. Tindakan ini segera disusul oleh Kabupaten Sukabumi, kotapraja Jakarta Raya, Sulawesi Selatan. Kalau hal yang demikian itu dibiarkan berjalan terus, akan menjadi kosong negara Indonesia Serikat. Mohammad Natsir tidak mau melihat Soekarno dan Hatta menjadi Presiden dan Wakil Presiden dari satu federasi yang kosong. Karena itu Natsir mengajukan mosi agar yang sedang berjalan itu disalurkan menurut hukum dan dihindarkan perpecahan. Akhirnya diadakan perundingan antara Republik Indonesia yang berpusat di Jogja dan Negara Indonesia serikat yang bertindak juga atas nama Negara Indonesia Timur dan Negara Sumatera Timur. Maka hasilnya kembalinya ke Negara Kesatuan dengan UUDS 1950, yang dalam DPR memilih Soekarno dan Hatta sebagai presiden dan wakil presiden. Maka Mohammad Natsir mendapat kehormatan untuk mengantarkan Negara Kesatuan Indonesia yang pulih kembali sebagai Perdana Menteri. Masyumi sudah tidak ada sekarang. Bapak Natsir mengabdi kepada Tuhan Islam dan Negara melalui Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Muktamar Alam Islami dan Majlis Ta’sisy Rabitah Alam Islami. Muktamar Alam Islami, adalah badan Internasional yang pada tahun 1926 didirikan oleh Raja Abdul Azis Ibnu Saud bersama dengan Mufti Besar Palestina, Muhammad Amin al Husaini di Mekah Mukarramah. Pada saat itu hadir dari Indonesia pemimpin-pemimpin besar kita Haji Oemar Said Tjokroaminoto dan Kyai Haji Mas Mansur, Mohammad Natsir yang saat ini adalah Wakil Presiden Muktamar Alam Islami. Kita bersyukur dan bangga, bahwa jalan yang sudah dirintis oleh anak moyang ummat Islam Indonesia pada saat ini diteruskan oleh Mohammad Natsir. Duduk dalam badan Internasional bagi Mohammad Natsir sifatnya tidak berlainan dan bertentangan dengan duduk dalam badan nasional. Sebab berbakti kepada Tuhan, berdasarkan keadilan dan kebenaran sama arahnya, apakah kita di dalam atau di luar negeri. Demikianlah umpamanya dalam masalah penyelesaian soal Timor Timur. Sebagaimana kita ketahui, Timor Timur itu berada dalam penjajahan Portugis berabad-abad lamanya. Setelah Indonesia berabad lama mengecap kemerdekaan, maka dalam saat meninggalkan jajahannya begitu saja dan membiarkan rakyat dikuasai oleh golongan yang berhaluan kiri. Ribuan pengungsi mengalir ke wilayah Indonesia. Timor Timur sendiri

merupakan daerah tak bertuan. Tentu saja Indonesia tahu apa yang harus dikerjakan, tidak lain bersatu dengan bagian yang dengan kekerasan dan telah wajar telah dipisahkan itu. Pada waktu itu ada negara-negara yang tidak kenal persoalannya, ada negara anggota Konferensi Islamyang ikut mengutuk Indonesia sebagai negara yang expansif menyaplok negara lain. Negara-negara komunis tentu anti-Indonesia. Sebagai Wakil Presiden Muktamar Alam Islami, Mohammad Natsir mengajukan satu usul resolusi dalam konferensinya yang mendudukkan bagaimana persoalan yang sebenarnya dan menyokong pendirian serta langkah yang diambil oleh Indonesia. Usul resolusi itu diterima dengan suara bulat dan dikirimkan ke PBB dan organisasi-organisasi internasional lainnya, dan khususnya kepada pemerintah negara anggota dari konferensi menteri-menteri luar negeri Islam. Selanjutnya, Mohammad Natsir mengadakan kontak dengan pemimpin-pemimpin yang berpengaruhdi negara-negara Islam seperti Pakistan, dan mengadakan konferensi pers guna menghilangkan salah paham. Salahsatu slogan yang dilancarkan Natsir dalam konferensi persnya berbunyi “We don’t wont a seconder Anggola in South East Asia” (Kita tidak suka menjadi Anggola kedua di Asia Timur Tengah), menjadi kata bersayap dan headlinedi surat-surat kabar Pakistan. Dengan kata yang ringkas itu, khalayak ramai mudah menanggapi apa sebenarnya hakekat persoalan Timor Timur itu. Kalau ada sesuatu yang penting bagi Indonesia dalam kesempatan apapun Mohammad Natsir akan berbuat, diminta atau tidak, sesuai keadilan. Tidak semata-mata soal yang besar-besar yang menarik minat Mohammad Natsir. Ia justru di kalangan kawan-kawan yang dekat sering mendapat sesalan, ia terlalu banyak menerima tamu. Ia terlalu banyak memperhatikan soal-soal yang kecil-kecil yang sebenarnya dapat diserahkan kepada pembantu-pembantunya. Ia suka menerima siapa saja yang ingin ketemu dengannya. Mohammad Natsir berpendirian, ia suka menerima tamu-tamu yang penting-penting , yang membawakan soal-soal besarbesar. Tapi bagaimana orang dapat tahu soal besar, kalau ia tidak tahu soal kecil. Demikianlah dalam Dewan Dakwah yang ia pimpin, ia siapkan pemuda-pemuda Islam Indonesia yang pada saatnya akan mengganti generasi yang sekarang sedang menjalani bakti. Kita do’akan semoga Bapak Mohammad Natsir dipelihara kekuatannya agar masih dapat meneruskan pimpinannyakepada ummat yang sangat memerlukan pimpinan itu.


22

Kisah

Elegi 10 November

Resolusi Jihad yang Ter(di)lupa

Oleh : Rizki Lesus (Penggiat Jejak Islam untuk Bangsa)


Kisah

akan

Mobil hancur akibat ledakan granat tangan di Surabaya Sumber foto: Sumber foto: Album Perang Kemerdekaan 1945-1950 (1983). Jakarta: Badan Penerbit Almanak R.I/B.P. ALDA


24

Elegi 10 November & Resolusi Jihad yang Ter(di)lupakan

P

anas terik menggantung, diselingi desing pesawat yang terus berputar-putar di langit Surabaya. Lepas kumandang adzan bersahutan, ketika bulatnya mentari tepat di atas kepala, pesawat yang berbunyi bagai kepakan sayap jangkrik super cepat, berbising, memuntahkan puluhan ribu selebaran, puluhan ribu kertas bergoyang-goyang, terhempas angin, memenuhi atap, mobil, sepeda, jalan, hingga lorong-lorong Kota tua ini. Di tepi pantai, di penghujung darmaga, puluhan Kapal Perang Divisi 5 Inggris pimpinan Mayjen EC Mansergh bergoyang di atas Laut Jawa, bersiap meluntahkan moncong-moncongnya. Satu persatu Tank Sherman, gress dari Perang Dunia didatangkan dari Jakarta. 24 Pesawat tempur bersiap melesat, menjatuhkan berton-ton bom di kota tepi pantai ini. Belum lagi 24.000 pasukan darat yang siap merangsek, Surabaya Siaga Satu! Inggris rupanya marah besar, atas kejadian sumir tewasnya Jendral Mallaby akhir Oktober silam. Namun, rakyat Surabaya menganggap akal-akalan tentara Sekutu saja, seperti yang ada dalam benak pemuda berusia seperempat abad bernama Soetomo, yang dikenal sebagai Bung Tomo, seorang pemimpin Barisan Pemberontakkan Rakyat Surabaya. “Pernyataan-pernyataan Inggris berkenaan dengan tewasnya Brigjen Mallaby itu, kita hanya anggap sebagai ulangan muslihat Jepang ketika hendak menguasai Manchuria dalam tahun 1931,” kenang Bung Tomo yang menganggap Inggris ingin merebut kemerdekaan dari Indonesia. Ancaman Inggris sekarang memang bukan main-main. Lihat saja isi selebaran yang berjatuhan itu. Katanya, pukul 06.00 esok, 10 November 1945, seluruh warga Surabaya harus meninggalkan tanah kelahiran mereka, harus menyerahkan senjata-senjata yang baru saja direngkuh dari Jepang, menyambut riuhnya Hari Kemerdekaan silam. Semua harapan akan negeri merdeka, berdiri di atas kaki sendiri seakan-akan akan sirna esok, menguap ke langit. Namun, tentu saja semua itu takkan dibiarkan terjadi. Sebab, kata Bung Tomo, rakyat Surabaya masih memiliki Allah, sang Maha Penolong. Dibacanya lamat-lamat selebaran itu, ternyata tak hanya warga saja yang harus pergi. Sambil termenung, dibacanya pelan-pelan per kata. “..Semua pimpinan Indonesia, termasuk pemimpin-pemimpin Pemuda, Kepala Polisi dan Kepala Radio Surabaya harus melaporkan diri di Bataviaweg pada tanggal 9 November pukul 18.00. Mereka harus datang seorang demi seorang dengan membawa senjata-senjata yang mereka punyai. Senjata-senjata tersebut harus mereka letakkan di suatu tempat yang berjarak 100 yard ( sekitar 91,4 meter) dari tempat pertemuan. Dari situ orang-orang Indonesia yang dimaksudkan harus menghadap dengan ‘angkat tangan’ dan kemudian akan dilindungi. Mereka harus-harus bersedia menandatangani suatu pernyataan menyerah dengan tiada bersyarat.” Sesaat, bulir bening berkumpul di sudut mata mantan wartawan Domei ini yang juga penyiar radio ini. Menahan marah, bercampur haru, mukanya memerah, tak kuat membayangkan para pemimpin Surabaya melakukan apa yang diperintahkan Sekutu dan NICA (Belanda). “Mendidih darah mudaku..Terlukis di depan mataku segenap keadaan, andai kata ultimatum Inggris tersebut kita penuhi. Pembesar-pembesar Republik Indonesia berbaris, tangan diangkat ke atas, menyerah...tanpa syarat.. “..Rakyat dengan perasaan takut seorang demi seorang meletakkan senjata – yang mereka rebut dari tangan Jepang – di muka kaki serdadu-serdadu Inggris....bendera putih menggantikan sang Dwiwarna yang melambai-lambai pada ujung senjata mereka. “..Tidak jauh dari situ kaki – tangan NICA tertawa kecil, mengejek, menertawakan rakyat Indonesia yang katanya hendak mempertahankan kemerdekaan tanah airnya. “ Sejenak Bung Tomo bertekad. Tangannya mengepal kuat, namun segera hatinya melunak. Senyum merekah, dengan penuh ketenangan. “Tidak terhingga syukurku kepada Allah SWT selelah melihat sikap rakyat yang mengerti akan isi serta maksud ultimatum tersebut..” guman bung Tomo. Jihad! Ya, Tak lain ialah rakyat Surabaya tak akan mengamini ultimatum Inggris, tak sudi bertekuk negeri ini yang baru seumur jagung. Lilhatlah ketika para pemuda berdatangan, memenuhi Surabaya. Para ulama, ustadz, Kyai, santri dalam barisan Hizbullah dan Sabilillah tengah bersiaga. Ketika anak-anak kecil bersama ayah dan kakaknya tak goyah sedikitpun untuk menyerahkan senjata. Mata Bung Tomo semakin berlinang, melihat riuhnya para kakek, para jompo yang semangat berkobar-kobar menyatakan sanggup bertempur; ingin mereka berhadapan laki-laki dengan kaum imperialis yang mengganggu kemerdekaan Indonesia, katanya. Jihad, sebuah kata nan sederhana, nan membekas begitu dalam dalam lubuk Bung Tomo

Kisah

setelah kabar Resolusi Perang Sabil Masyumi dan Resolusi Jihad NU menjadi buah bibir masyarakat, menjadi panduan umat Islam Indonesia melawan Sekutu. Bung Tomo teringat beberapa waktu silam ketika berjumpa dengan para ulama yang begitu tulus dan cinta akan negerinya, para ulama yang siap berkorban untuk Tanah Air dan Agamanya, seperti yang ia lihat di hadapannya, ketika para Kyai dan santri pun turut mengangkat senjata untuk berjihad. Wajah-wajah tulus mereka semua kini memenuhi Surabaya. Terkenang, wajah yang lama tak bersua, KH Hasyim Asy’ari, sang pendiri NU, yang mengukuhkan Resolusi Jihad NU 22 Oktober silam, dan mengirimkan laskar-laskar Hizbullah dan Sabilillah, membopong bambu runcing, memenuhi lorong-lorong Surabaya. Jihad, sebuah kata nan membanggakan mereka, dengan secuplik kata ini, berdatangan puluhan ribu kaum muslimin mempertahankan negara. Disertasi William Frederick, In Memoriam. Sutomo, menyebutkan bahwa profesi wartawan Bung Tomo yang menjadi awal ia menjali hubungan dengan KH Hasyim Asy’ari, KH Abbas Cirebon, KH Amin, dll. “Agungkan Allah dalam setiap pidatomu,” nasihat KH Hasyim Asy’ari begitu berbekas di relung hati Bung Tomo, hingga kelak dalam tiap pidatonya, bung Tomo selalu mengagungkan Engkau ya Rabb... Kemuning senja menyapu langit Surabaya. Nasihat Pendiri NU Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari begitu meresap, dimulailah dengan kemantapan membaca basmallah. Mulailah kembali Bung Tomo siaran di Radio Pemberontakkan, berpidato dengan penuh semangat, dan meneguhkan rakyat akan kemenangan dan kebesaran Allah. “Slogan kita tetap sama: Merdeka atau Mati. Dan kita tahu, Saudara-saudara, bahwa kemenangan akan ada di pihak kita, karena Tuhan ada di sisi yang benar. Percayalah saudarasaudara, bahwa Tuhan akan melindungi kita semua. Allahu Akbar..Allahu akbar..!” Di penghujung senja, Takbir sungguh memekik, meramaikan gang-gang, mobil, kotak radio seantero Surabaya. “Allahu Akbar..” sebuah pengakuan bahwa bala tentara musuh di seberang sana hanyalah kecil dibanding kekuasaaanMu ya Rabb... Bahwa, masih ada hambaMu yang mengingatMu, membesarkanMu, memujiMu, dan berharap akan datangnya kemenangan, yang tak lain ialah jannah (surga), kemenangan yang besar. “Mati atau Merdeka, Allahu Akbar!” sebuah peneguh hati yang begitu meresap, memasuki relung hati rakyat yang bersiap menyambut genderang perang. Senja itu, kecemasan berubah menjadi kemantapan, menyambut seruan jihad. Resolusi Perang Sabil dan Resolusi Jihad NU, yang dikatakan Zainul Milal Bizawe dalam Lakar UlamaSantri dan Resolusi Jihad Garda Depan Menegakkan Indonesia, yang menggerakkan spiritual rakyat Surabaya lah yang bertempur melawan penjajah Inggris. Resolusi Perang Sabil, sebuah pengukuhan atas Resolusi Jihad NU, yang baru saja diumumkan kemarin, 8 November di Yogyakarta dalam Kongres Umat Islam yang dihadiri seluruh ormas

Percayalah saudarasaudara, bahwa Tuhan akan melindungi kita semua. Allahu Akbar.. Allahu akbar..! Bung Tomo


Rizki Lesus

Kisah

Bung Tomo, Pemimpin Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) di markasnya. Sumber foto: Bung Tomo: dari 10 November 1945 ke Orde Baru (Jakarta: Gramedia, 1982)

Islam Indonesia. Ingin sekali, para Tokoh Jawa Timur itu hadir dalam peristiwa bersejarah tersebut, namun apa daya, panggilan Jihad di Surabaya sangat mereka cintai, hingga semua harus bersiaga. Dalam Kongres Umat Islam selama dua hari (7-8 November 1945) tersebut, Partai Masyumi disetujui umat menjadi satu-satunya partai Islam. Bergabunglah semua elemen umat: NU, Muhammadiyah, Persis, Sarikat Islam, GPII, dan seluruhnya dalam Partai Masyumi sebagai wadah perjuangan politik menegakkan Islam di Bumi Pertiwi. Maklumat kedua selain pendirian Partai Politik Islam, ialah menimbang situasi yang sangat genting, maka diperlukanlah kesatuan perjuangan melawan penjajahan Inggris yang sudah tiba di bumi Indonesia. Karenanya, dikeluarkanlah Resolusi Perang Sabil, mengukuhkan Resolusi Jihad NU, melawan segala bentuk imperialisme. “Wajib bagi setiap orang Islam di Indonesia untuk berjuang dengan segenap jiwa raganya dalam melawan dan menghapuskan Imperialisme demi terwujudnya kemerdekaan agama dan negara,” dalam sebuah kesepakatan kemarin yang dihadiri para tokoh bangsa seperti: KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Mas Mansyur, KH Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo, M. Natsir, Prawoto Mangkusasmito, Dr. Soekiman W, Saifuddin Zuhri, dan ratusan Kyai dari Jawa dan Sumatra. Saat itu pula, Laskar perjuangan umat Islam, Hizbullah dan Sabilillah dikukuhkan untuk melawan penjajahan dengan pimpinan Kyai Zainul Arifin yang segera bertindak cepat membentuk kesatuan Laskar di Surabaya. Para Ulama berbondong-bondong berdatangan ke Rembang, Magelang, Kedu, Mojokerto, Surabaya, memenuhi panggilan jihad. KH Abbas dari Cirebon jauh-jauh datang ke Jawa Timur, bersama ribuan santrinya. Bersama KH Bisri dalam mobilnya sambil berteriak Allahu Akbar. Kalimat takbir itu menggema hingga kemuning senja berganti dengan pekatnya malam. Para tokoh dan pimpinan masyarakat Surabaya berkumpul, menanti balasan dari Jakarta yang mencoba melobi Inggris. “Terserah Surabaya..” berbalas suara di balik telepon sana. Maka para tokoh pun berkumpul, Gubernur Surabaya Soeryo, Bung Tomo, KH Wahab Hasbullah, Roeslan Abdul Gani, KH Mas Mansyur, Dul Arnowo, dan para pimpinan perlawanan. Malam itu, semua doa berpanjat, berharap kemenangan, atau syahid menemput, di malam yang begitu lengang melompong “Malam itu, makin banyak doa diucapkan, makin keras permohonan umat kepada Yang Maha besar, agar dilindungi tanah air dan rakyat Indonesia dari marabahaya,” kenang Bung Tomo. Rukuk sujud pun terlakon. Dalam ruang-ruang sempit itu, para Ulama terus mendoakan rakyat

Surabaya. Bersiap kehilangan semuanya, harta, benda, keluarga, hingga jiwa mereka. Malam itu begitu emosional, tengah malam, Gubernur Soeryo, sambil tak kuat menahan air mata yang tiba-tiba meleleh mengguyur pipinya berpamitan dan berucap “Selamat berjuang..” penghujung pidatonya di Radio. Hari nan dinanti pun tiba, ketika semburat merah pagi pun menyapa pucuk-pucuk Kapal Perang Inggris di tepi pantai, menyapu pucuk-pucuk gedung yang menjulang di Ibu Kota Jawa Timur itu. Surabaya masih lengang. Tak ada satu pun warga Surabaya sudi menyerah, mengibarkan bendera putih dan memenuhi ultimatum Inggris. Satu dua, nafas terhela. “Bum..bum..bum..” peluru perang pertama terpental dari Kapal Perang di Tanjung Perak, menghancurkan bangunan di Surabaya. Genderang perang pun bermula. Nafas warga tersengal, masih bersiap membalas, masih tetap tenang dalam lautan dzikir. Takbir pun dengan teguh menggema di Surabaya. Puluhan ribu rakyat Surabaya dan dari luar tetap bertahan, bersiap berperang, menahan peluru menunggu komando. Langit Surabaya menjadi bising saat pesawat itu mengitar, memuntahkan bom. “Bumm..” gelegarnya begitu dahsyat. Tiga jam pertama, mulai pukul 06.00-09.00 Inggris sudah mulai menggempur besar-besaran Surabaya, dengan pasukan terbesar yang dikerahkan setelah Perang Dunia II. Kapal Sussex terus menggempur menyisakan puing-puing yang terus teronggok. Satu per satu korban bergelimpangan. “A-l-l-a-a-a-a-h-u-A-k-b-a-r..” pekik takbir Bung Tomo di Radio menggema, menggetarkan musuh, menggerakkan massa agar mulai maju menyerang. Pukul 09.00, ketika mentari mulai hangat, takbir menggema di seluruh penjuru kota. “Allaahu Akbar..” “dorr...dorr..” “Bum...Bum..Bumm..” Asap mengepul tinggi, darah merah segar memuncrat hebat. Satu per satu pasukan darat Inggris mulai keluar dari Kapal Sussex di Tanjung Perak. Pesawat pun berputar-putar di langit Surabaya. Pagi itu, 10 November, Arek-arek semua terbakar Takbir, maju tak gentar, melawan para penjajah di hadapan. Gubernur Soeryo terus menguatkan rakyat. Seluruh elemen rakyat: GPII, Hizbullah, Sabilillah, Barisan Pelopor, Barisan Pemberontak, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terus membalas serangan Inggris. “A-l-l-a-a-a-a-h-u-A-k-b-a-r..” terus menggema. “Bum...” Asap semakin mengepul memenuhi Surabaya utara. TKR Divisi VII Surabaya, Jombang, Mojokerto dan pimpinan Hizbullah KH Abdunnafick Achyar, Husaini, Moh. Muhadjir menjadi garda terdepan di utara. Darah-darah mengucur deras, pasukan Hizbullah dengan gagah berani bertempur melawan


26

Kisah


Rizki Lesus

Kisah

Kiyai Wahab Hasbullah dan Kiyai Bisri Sumber foto: Aboebakar, H (2011). Sejarah Hidup KH. A. Wahid Hasjim. Jakarta: Mizan.

moncong tank baja yang memang tak berimbang. Bambu lawan tank? Tapi semangat jihad begitu membara. Lihatlah ketika mereka loncat dari satu tank ke tank lain, membakar tank dengan senjata seadanya. Darah syuhada pun bercucurah, mengalir deras di Bumi Jihad Nusantara. Pagi itu, debu-debu jihad menjadi saksi akan pertarungan terbesar seletah Perang Dunia II, darahnya menjadi saksi di akhirat kelak bahwa ribuan syuhada berguguran. Ya Allah, pekik Takbir itu kelak menjadi saksi, bahwa masih ada orang yang menyebut AsmaMu untuk membela negeri ini. Bahwa dulu, umatmu begitu ingat akan asmaMu, ketika para perongrong itu ingin mengambil negeri ini. Bahwa namaMu menggema dalam hati ketika dulu negeri ini masih seumur jagung. Bahwa masih ada yang membelaMu di tengah kecamuk perang. Bahwa para pendahulu kami mendengar namaMu menjadi tenang. Negeri yang dipertahankan bukan dengan leyah-leyeh, bukan dengan seucap kata, bukan oleh para penghinaMu, tapi oleh darah para syuhada. Lihatlah ketika lebih dari 30.000 orang menggemakan kumandang takbir di Surabaya. 10 November, ketika darah itu mengalir deras di lorong-lorong kota, bahwa mereka sangka, akan mudah menguasai Kota ini. Namun, lihatlah ketika mereka semua yang menyebut namaMu dengan tulus mempertahankan negeri ini, memanggul bambu, bayonet, hingga para pria tua yang terus menembakkan bedil. Para wanita yang terus menyiapkan logistik dan merawat korban perang, “fardhu ain,” begitu fatwa KH Hasyim Asy’ari meresap dalam jiwa mereka. “Allahu..Akbar...Allaahu akbar..” Satu persatu anak menjadi yatim, wanita menjadi janda. “anak-anak ini yakin mereka diindungi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, mereka percaya pada kodrat Ilahi, Mereka berjuang atas nama keadulan dan kebenaran,” teriak Gubernur Soeryo. Tak ada harap selain kemerdekaan atau menjemput maut dalam senyum. “Allahu akbar..Allahu akbar..” detik terus berdetak. Dentuman berbalas tak hentinya menggelayut di Langit Surabaya yang mendung tertutup asap tebal.

Meski saya bukan pemimpin besar, tetapi saya punya mata ‘seribu kurang seratus’ dan telinga ‘seribu kurang seratus’,” jawabnya jenaka. Kami sering berucap bahwa seorang pemimpin itu harus punya seribu mata dan telinga, artinya pemimpin harus sering sering melihat dan mendengar dari berbagai saluran yang tidak dimiliki sembarang orang. Dan memang benar, aku kini sedang sibuk berada di wilayahku di Kedu. Pada akhir bulan lalu, aku menyelenggarakan rapat Majelis Konsul NU daerah Kedu ditempat kediamanku (rumah mertuaku), di Kampung Baleduno Purworejo. Hadir dalam rapat itu antara lain: RH Mukhtar, Kyai Raden Iskandar, Kyai Ahmad Bunyamin, KH Ahmad Syatibi (semuanya dari Banyumas), KH Nasuha dan KH Aishom (Keduanya dari Kebumen), KH Hasbullah dan Muhammad Ali (Keduanya dari Wonosobo), KH Nawawi, KH Mandhur dan Kyai Ali (Ketiganya dari Parakan), KH Raden Alwi, KH Abdullah Fathani, Abdulwahab Kodri (Ketiganya dari Magelang), dan beberapa ulama Purworejo KH Mukri, KH Marodi, KH Damanduri, Kyai Sayyid Muhammad, KH Jamil dan lain-lain bertindak selaku tuan rumah. Selaku pihak penyelenggara, terlebih dulu kujelaskan arti penting pertemuan tersebut, yang bertitik tolak dari memuncaknya situasi genting di seluruh Indonesia. Selama satu hari satu malam, pertemuan Majelis Konsul itu berlangsung dengan penilaian yang mendalam dan merata, lewat musyawarah dan semangat tinggi. Akhirnya diputuskan dengan bulat: 1) Segenap warga NU lelaki dan perempuan wajib berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan niat jihad fisabilillah binizham (terorganisasi). 2) Sebagai konsul NU daerah Kedu, aku dibebani memimpin umat Nahdiyin- nahdiyat, dengan memusatkan segenap ikhtiar lahir batin dan tawakal ‘Alallah. Oleh sebab itu aku tidak diizinkan meninggalkan daerah yang menjadi tanggungjawabku utama (Kedu dan Jawa Tengah pada umumnya). Dengan lain perkataan, aku tidak diizinkan lagi berada di Jakarta dengan alasan apapun. 3) Oleh karena aku juga ketua “Majelis Syuro Muslimin Indonesia” daerah Kedu, aku dibebani tanggung jawab atas terselenggaranya kekompakan Hizbullah seluruh daerah Kedu sebagai alat perjuangan bersenjata secara terorganisasi. Tiga hal inilah yang akan kusampaikan dalam Muktamar Luar Biasa sekarang di Surabaya.

“A-l-l-a-a-a-a-h..” hanya Engkau peneguh kami. Semua orang tumpah ruah, hanya niat karenaMu, “..f-i-s-a-b-i-l-i-l-l-a-a-h..”, hanya karenaMu ya Allah. Jihad fisabilillah, Jihad..Jihad.. Sayup-sayup suara terus menggema. Jihad, sebuah kata sarat makna, peneguh hati orangorang beriman. 10 November, kumandang jihad bersambut... *** Bulatan merah kalender menunjuk tanggal 21 Oktober 1945. Ratusan Ulama pun berdatangan ke sini, Surabaya. Suasana Surabaya lain dari biasanya. Dikabarkan tentara Sekutu sudah tiba di Jakarta, dan beberapa hari lagi akan tiba di Surabaya dengan dalih melucuti Jepang yang sebenarnya sudah mulai dilucuti oleh rakyat Indonesia. Kedatangan mereka sebenarnya tak perlu, karena rakyat Indonesia sudah merdeka dan dapat mengurus semuanya sendiri. Namun, apa daya nafsu berkuasa para penjajah. Lihat saja, peristiwa di Hotel Yamato September silam saat bendera Belanda berkibar. Tak ayal, kelak akan ada tantangan besar untuk bangsa ini, karenanya seluruh ulama Rais Syuriah dan Tanfidziyah NU seluruhnya berkumpul di Kantor Pengurus Besar NU Surabaya, termasuk aku. Nampak di hadapanku sekarang, di Jalan Bubutan 6/2 Surabaya satu persatu ulama berdatangan: Ketua Masjelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) sekaligus Rais Akbar NU KH Hasyim Asy’ari bersama putranya KH A Wahid Hasyim. KH M Dahlan, KH Mukhtar, KH Zuhdi, KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Abdulaziz kudus, KH M Ilyas Pekalongan, KH Abdulhalim Shiddiq Jember, dan lainnya. “Saya sengaja tidak menulis surat kepada saudara, karena saya tahu saudara sibuk dengan tugas-tugas baru di daerah,” tiba-tiba terdengan suara KH Wahid Hasyim sambil menggenggam tanganku. “Dari mana Gus tahu aku sibuk dengan tugas baru?” tanyaku. “Hal itu jangan ditanyakan.

“Bagaimana situasi Jawa Tengah?” tiba-tiba Gus Wahid memecah lamunanku. “Tak beda dengan jakarta, Jawa Tengah bukan lagi terpanggang di atas api, tapi sudah mulai mendidih.” kataku. “Coba ceritakan peristiwa pelucutan Jepang di Magelang, semua orang bangga akan keberanian anak cucu Syaikh Subakir...” Kyai Wahid menyebut penduduk Magelang, sebagai anak cucu Syekh Subakir. Menurut cerita lama, pada zaman dahulu seorang Kyai turun dari Gunung Tidar untuk mengusir setan menggoda penduduk Magelang. KH Mahfudz Siddiq, Ketua PBNU ketika Muktamar NU di Magelang tahun 1939, menyebut RH Mukhtar (Konsul NU Jateng) dengan ‘Syekh Subakir’. Sebenarnya, tanggal 5 Oktober 1945 Rakyat Magelang dan sekitarnya belum kompak betul sebagai kekuatan tempur, terlalu banyak dari berbagai golongan. Tapi keberhasilan rakyat Banyumas melucuti tentara Nipon dan semangat Arek-arek Suroboyo mengibarkan merah putih di Hotel Yamato 19 September, membakar semangat “Ente dan anak buah mengambil kedudukan di mana?” sela Kyai Wahid. “Aku cuman dengan kekuatan satu seksi Hizbullah mengambil posisi di Jalan Raya Pasar Magelang yang dilindungi Gunung Tidar, H Said di Masjid Jamik, TKR dan Laskar mengepung Kidobutai, Nipin menguai sekitar stasiun KA dan Jalan Ponco. Peristiwa itu latihan bertempur dibanding peristiwa mendatang,” kataku. “Yaaah, selama ini kan Cuma latihan berkelahi bukan? “ Kyai Wahid menyela. “Betul, makanya kami banyak yang gugup dan senewen, baru mendengar suara mitraliur banyak yang terkecing-kencing...! Maklumlah, pengalaman pertama,” kataku. “Berapa hari pertempuran dengan Nipon itu?” bertanya Kyai Wahid


28

Elegi 10 November & Resolusi Jihad yang Ter(di)lupakan

Kisah

Penduduk mengungsi dalam hari-hari pertempuran di Surabaya Sumber foto: Sumber foto: Album Perang Kemerdekaan 1945-1950 (1983). Jakarta: Badan Penerbit Almanak R.I/B.P. ALDA

“Oooh..praktis cuma satu hari. Nipon-nipon itu sudah dapat dilucuti, tapi ada yang melarikan diri ke arah Semarang sambil mengacau. Dengan pengalaman di Magelang itu, maka peristiwa melucuit Kidobutai Nipon di Kota Baru Yogyakarta berlangsung lebih terkooirdinir. Hari itu juga 7 Oktober, meski rakyat korban banyak juga.” “Hizbullah mengambil posisi di mana ketika itu?” tanya KH Wahid. “Kami berada di sekitar Tugu Kota Yogyakarta, di simpang jalan Solo Magelang, di lain sisi Kyai Kholil di Balokan dekat stauin KA Tugu. Ada tambahan, ada pemuda Kauman Yogyakarta, namanya APS (Angkatan Perang Sabil),” aku mengisahkan. “Allahu akbar!” seru KH A Wahid Hayim. “Namanya revolusi. Umat Islam bangkit serentak membela kemerdekaan, mereka mengikhlaskan nyawa mereka, apalagi yang lain. Ini harus dicatat dalam sejarah,” katanya. “Cuma, namanya begitu seram..Angakatan Perang Sabil,” kataku. “Tapi biar saja, itu refleksi dari semangat berjuang dan tafaul, mengharapkan berkah. Lha? Nama Hizbullah apa tidak seram? Artinya kan ‘tentara Allah’. Di Surabaya kini muncul pasukan baru bernama ‘Malaikatul maut’, apa kurang dahsyat? “ kami tertawa berbareng. Perbincangan pun tertunda karena Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari tiba dan memberikan arahan. Dalam bahasa Arab yang fasih, beliau membuka Muktamar ini. Mata kami pun berkaca-kaca mendengar seruannya, bahwa hanya dengan jihadlah, umat ini menjadi mulia. Haru menyeruak dalam ruangan sempit itu, dalam suasana genting semua menyimak ucapan Hadratus Syaikh. “..Apakah ada dan kita orang yang suka ketinggalan, tidak turut berjuang pada waktu-waktu ini, dan kemudian ia mengalami keadaan sebagaimana yang disebutkan Allah ketika memberi sifat kepada kaum munafik yang tidak suka ikut berjuang bersama Rasulullah... Demikianlah, maka sesungguhnya, maka pendirian umat adalah bulat untuk mempertahankan kemerdekaan dan membela kedaulatannya, dengan segala kekuatan dan kesanggupan yang ada pada mereka, tidak akan surut seujung rambutpun. Barangsiapa memihak kepada kaum penjajah dan condong kepada mereka, maka berarti

memecah kebulatan umat dan mengacau barisannya.... Maka barangsuapa yang memecah pendirian umat pancunglah leher mereka dengan pedang...” Pidato Hadratusyaikh berapi-api menggetarkan jiwa, bahwa tak bisa kita hanya duduk saja. Hari semakin larut. 22 Oktober 1945, Pimpinan rapat KH Abdul Wahab Hasbullah meminta satu persatu anggota menyampaikan pandangan tentang tentara NICA dan Sekutu yang akan merangsek ke Indonesia. Akhirnya, dengan suasana haru, seakan pertemuan terakhir, terciptalah ‘Resolusi Jihad’, sebuah pernyataan sikap, sebuah fatwa akan “Wajibnya laki-laki dan perempuan berjihad fisabilillah mempertahankan agama dan negara!” KH Wahab Hasbullah bergetar membacakan Resolusi jihad diiringi pekik takbir dan tangis haru para peserta. Esoknya, KH Hasyim Asy’ari secara resmi membacakan poin-poin Resolusi Jihad NU yang perinciannya sebagai berikut: 1) Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan 17 Agsutus 1945 wajib dipertahankan 2) RI sebagai pemerintah sah wajib dibela dan dipertahankan 3) Musuh RI terutama Belanda dan Inggris dalam tawanan perang bangsa Jepang, tentulah akan, menggunakan kesempatan politik dan militer untuk kembali menjajah Indonesia 4) Umat Islam terutama Nahdatul Ulama wajib mengangkat senjata melawan Belanda, Sekutu, dll 5) Kewajiban tersebut jihad tiap umat Islam, fardhu ‘ain, dalam radius 94 km, jarak diperkenankannya sembahyang jama dan qashar. Adapun mereka yang berada di luar jarak tersebut, berkewajiban membantu saudaranya dalam radius 94 km itu. Resolusi jihad itu disusun di tengah kota Surabaya yang tengah terapnggang api revolusi. Usai resolusi, para Ulama, santri berbondong-bondong memenuhi panggilan jihad. Bahwa negara ini ditegakkan dengan darah para syuhada, dan tinta para ulama.


Rizki Lesus

Kisah

Pertempuran besar pun tak terelakkan memanas, hingga puncaknya 10 November, ketika kalimat takbir itu meggema di seluruh penjuru Surabaya. Resolusi Jihad, peneguh hati kaum mukimini, bahwa semua jihad ini hanya ditujukan hanya untuk Allah... *** Malam hari 9 November 1951. Di depan matanya yang sendu, di atas meja kerjanya, tergolek surat-surat Kabar yang memuat gambarnya di halaman terdepan. Bung Karno baru menjadikan 10 November sebagai Hari Pahlawan untuk esok. Bung Tomo duduk terpekur. Tak tertahankan air matanya, bulirnya yang begitu bening mengalir deras, meleleh melewati dua pipinya, membasahi kertas di meja. Di hadapan istrinya, air matanya tumpah ruah tak karuan. Cemas? Memang. Berdebar-debar hatinya. “Gambarku dimuat di halaman depan koran, namaku dibaca khalayak ramai,” katanya sesenggukan sambil membayangkan peristiwa enam tahun silam. “Sedang sesungguhnya, tidak besar arti perbuatanku pada 10 November 1945 bila dibandingkan dengan keikhlasan beribu-ribu saudara yang telah tewas binasa , hancur lebur, karena ikut menyebabkan menjadi besarnya hari 10 November itu.” Bisiknya. “Aku masih hidup! Aku masih diizinkan Allah menghirup hawa negara merdeka yang telah dibiayai oleh darah dan jiwa, patriot-patriot sejati sejak enam tahun lalu. Aku telah berumah tangga, beristri, beranak, aku telah mendekati tercapainya hidup layak sebagai manusia...meskipun sementarahanya bagi keluargaku sendiri...” syukur penuh makna, dalam tangis sendu Bung Tomo. “Tetapi apakah itu tujuan patriot-pahlawan kita ketika mereka itu rela ikhlas menyerahkan jiwa-raga mereka? Untuk perseorangan belaka...? Ya Allah...yang Mahakasih dan Penyayang, berilah HambaMu ini kekuatan guna menyelesaikan kewajiban-kewajiban kawanku yang telah gugur itu.” Larut dalam tangis Bung Tomo terus mendoakan para pahlawan. Para manusia –manusia yang memilih kematian sebagai jalan terindah hidupnya. Tak dirudung duka, jikalau hidup, maka mereka merayakan kemenangan, jikalau pun takdir berpisah, maut menyapa, maka syahidlah dirinya, dan kemenangan di akhirat kelak menyapa, surga tanpa hisab. Merekalah para syuhada di negeri ini. Orang-orang mengenangnya dengan Hari Pahlawan. “Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata,” Inilah yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kita,’ Dan benarlah Allah dan RasulNya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan keapda Allah; di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah janjinya. (Al Ahzab: 22-23) Pustaka: Zainul Milal Bizawie, Laskar Ulama-Santri & Resolusi Jihad Garda Depan Menegakkan Indonesia (1945-1949) (Jakarta: Pustaka Compass, 2014) KH Saifuddin Zuhri, Berangkat dari Pesantren, (Jogjakarta: LKiS, 2013) Bung Tomo: dari 10 November 1945 ke Orde Baru (Jakarta: Gramedia, 1982)

Situasi di Surabaya dalam hari-hari pertempuran. Sumber foto: Sumber foto: Album Perang Kemerdekaan 1945-1950 (1983). Jakarta: Badan Penerbit Almanak R.I/B.P. ALDA


30

Syajarah

Mereka yang

dilumpuhkan


Syajarah

Sketesa Pangeran Diponegoro dan pengikutnya memasuki kerisdenan lama (Magelang) untuk ‘berunding.’ Sumber foto: Carey, Peter (2008) The Power of Prohecy. Prince Dipanegara and The End of an Old Order in Java 1785-1855, Leiden: KITLV Press


32

Mereka yang Dilumpuhkan

Syajarah

Perjuangan para pejuang Islam seringkali melalui jalan yang mendaki, sukar hingga menyakitkan. Tindakan pengurungan, pengasingan hingga pembunuhan bahkan pembantaian mengintai langkah-langkah mereka. Inilah sebagian kisahnya.

Oleh : Beggy Rizkiyansyah (Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa)

Badan kurusnya terbujur di sebuah gubuk reyot ditengah hutan rimba, Bagelen Barat. Ia sedang berjuang melawan malaria tropika parah yang menghantam tubuhnya. Bukan hanya malaria yang turut merontokkan perjuanganannya selama ini. Tapi juga tertangkapnya Kiyai Maja, dan menyerahnya sang panglima Sentot Ali Basah. Saat itu, di sampingnya hanya ada dua orang punakawannya. Yang lain, tinggal sedikit dan tercerai berai. Akhirnya surat itu datang juga. Tawaran berunding. Ia -Pangeran Diponegoro- menerima tawaran itu. Hatinya sudah tak sekukuh keyakinannya dahulu akan peperangan ini. Bukan main senang Jenderal De Kock. Ada juga kemungkinan peperangan ini akan berakhir dengan perundingan. Namun apa lacur, datang surat dari Negeri Belanda. Raja Willem I sendiri yang menitahkannya. Di bawa langsung oleh Gubernur Jenderal Hindia yang anyar, Johannes Van Den Bosch. “Jangan melakukan perundingan apa pun dengan dia‌hanya dengan syarat pemenjaraan seumur hidup penyerahan diri dan penangkapannya diizinkan. Tidak ada syarat lain apa pun juga (yang dapat diterima).1 Sang Pangeran Jawa paham peperangan tak sedahsyat dulu. Perang Jawa memang melelahkan


Beggy Rizkiyansyah

Syajarah

Pejuang Aceh Sumber foto: Laffan, Michael. Islamic Nation Hood and Colonial Indonesia; The Umma Below the winds (2003), New York: Rouledge Curzon

bagi kedua belah pihak. Diperkirakan 200.000 nyawa orang Jawa melayang. 15.000 tewas dari pihak Belanda. Seperempat lahan pertanian di Jawa rusak. Pemerintah Kolonial menanggung beban tak terperikan, 20 Juta gulden menguras kantong mereka. Keuangan mereka jebol. Ditambah lagi api perlawanan juga berkobar turut di Sumatera Barat. Atas luapan jiwa Islam pula. Perundingan memang menjadi jalan yang memungkinkan bagi kedua pihak. Sayang, titah Raja Willem I itu datang terlambat, De Kock terlanjur menawarkan perundingan kepada Pangeran Diponegoro. De Kock dalam posisi sulit. Pangeran datang bersama 800 orang pengikut yang menggabungkan diri selama perjalanan ke Magelang. Namun mereka bukanlah pengikut yang siap bertarung mati-matian. Sejatinya perjalanan itu adalah perjalanan bebasnya yang terakhir. De Kock bukannya tanpa tekanan. Ia melukiskan perasaannya yang sudah terlanjur mengajak berunding, namun dilarang oleh Raja Willem I. “Saya menyadari bahwa cara bertindak seperti itu di pihak saya tidak terpuji, tidak kesatria, dan licik (onedel en oneerlijk) karena Diponegoro telah datang ke Magelang menemui saya dengan niat baik.�2 Setelah menunggu hingga berakhirnya bulan puasa, hari penentuan telah tiba. 28 maret 1830. Awalnya pertemuan begitu hangat. Kemudian keadaan mulai menemui kebuntuan. Pangeran tidak mengharapkan untuk menyelesaikan pembicaraan apa pun hari itu. Tetapi, ketika tahu ia tidak boleh

pergi, Pangeran begitu marah. Apa yang dijanjikan; jika tidak ada kesepakatan, seharusnya Pangeran Diponegoro boleh pergi. De Kock tahu, hal itu tidak mungkin. Titah Raja Willem I tak mungkin ditampik. Lagipula, Ia ingin perang ini segera berakhir. Pangeran Diponegoro kemudian dikepung. Tapi tak ada perlawanan. Hari itu Sang Pangeran takluk dibawah kuasa De Kock. Saat itulah kisah heroik sang pangeran sampai pada lembaran yang terakhir. Ia dilumpuhkan dengan penipuan. Apakah pangeran tahu bahwa ia akan diingkari? Mungkin saja. Yang pasti sejak beberapa bulan sebelumnya, ia pernah berkata kepada Mangkubumi, bahwa dirinya telah menerima pertanda (wangsit) bahwa perjuangannya akan sia-sia.3 Lembaran pemimpin perang ini berganti menjadi lembaran hidup seorang tahanan yang diasingkan. Dari Batavia ia dibawa ke Manado. Setelah tiga tahun di Manado,ia diasingkan ke Makassar. Di dalam Benteng Rotterdam. Ditemani istrinya, Raden Ayu Retnoningsih, di sana ia menjalani hari-hari hingga ajal menjemputnya. Menjelang Revolusi Perancis, 1848, sebuah Koran Perancis memuat kehidupan Sang pangeran dipengasingan. “Dikurung di antara empat dinding tembok suatu benteng kecil, terpisah dari keluarganya, diawasi dengan ketat, tak diizinkan menulis surat baik kepada Gubernur-Jenderal, maupun kepada orang lain, diperlakukan selama delapan belas tahun terakhir ini dengan cara-cara yang keras dan kejam yang tidak layak dilakukan oleh negeri ini.�


34

Mereka yang Dilumpuhkan

Dalam pengasingannya, ia merindukan sosok ibunya, Raden Ayu Mangkorowati untuk menemaninya. Permintaannya agar sang Ibu didatangkan ke Makassar tidak pernah dipenuhi. Dalam rasa rindu yang begitu dalam kepada ibunya, bilamana ada kapal uap memasuki Bandar Makassar, dirinya akan menaiki tangga ke lantai teratas untuk menatap lepas ke pelabuhan. Guna melihat apakah sang ibu telah tiba. Berharap kapal-kapal tersebut akan membawa ibundanya. Sampai akhir hayatnya, harapan itu tak pernah tercapai. Sang Pangilma perang itu pun wafat sebagai orang yang terasing dari bangsanya sendiri dalam kesepian. Sungguh, padamnya perang Jawa membuat Pemerintah kolonial Belanda, bertindak leluasa. Api peperangan di Sumatera Barat yang dikobarkan Haji-Haji ‘Paderi’ beberapa tahun sebelumnya akhirnya semakin redup. Pasukan pemadam perlawanan para Tuanku itu kini didatangkan bertubi-tubi. Jawa bukan lagi beban yang memberatkan. Kaum Paderi yang telah terkoyak serta terpecah menunggu ajalnya. Inilah pertahanan Paderi yang penghabisan. Setelah menyerahnya Tuanku Imam Bonjol, pasukan Belanda menggabungkan kekuatannya menggempur Dalu-dalu. 28 Desember 1838. Sudah 14 bulan lamanya mereka berusaha mengepung pertahanan Dalu-dalu. Kurban sudah bergelimpangan. Haji Muhammad Saleh, lebih dikenal dengan Tuanku Tambusai, adalah sisa dari tokoh Paderi yang diburu. Benteng paderi terakhir itu akhirnya benarbenar tumbang. Pengikutnya banyak yang gugur ditembaki. Sebagian lainnya mundur keluar gerbang. Menuju ke sungai. Perahu yang hendak dipakai melarikan diri tak mencukupi. Banyak dari mereka yang melompat ke sungai. Esoknya banyak yang mati mengambang di sungai itu. Entah ditembaki atau karena tenggelam tak pandai berenang. Mereka yang berhasil menyeberangi sungai mati dibunuh jua. Tapi Tuanku Tambusai tak jelas rimbanya. Menurut cerita yang beredar kemudian, ketika benteng runtuh, ia menyelamatkan diri ke sungai dengan menggunakan sampan. Ia kemudian dihujani peluru. Melihat bahaya mengancam ia terjun ke dalam air dan menyelam. Kemudian menghilang, hingga kini. Yang tersisa hanya sampannya. Di dalamnya ditemukan cincin stempelnya. Al Qur’an, dan kita-kitab yang dibawanya dari Mekkah. Dengan runtuhnya Dalu-dalu, berakhir sudah perlawanan kaum Paderi di sumatera.4 . Api Islam yang menyala-nyala dalam dada ulama dan umat memang menjadi biang kerok kemapanan Belanda di Nusantara. Tahun 1873, api itu kembali berkobar hebat di ujung Sumatera. Perang yang akan berlangsung setidaknya hingga 40 tahun kemudian itu membuat keuangan pemerintah

Syajarah

wanita aceh yang seperti ini ada ratusan, mungkin ribuan Zentgraaf

kolonial terkuras. Kematian Jenderal Kohler pada ekspedisi pertama mereka di Aceh, membuat mereka semakin mengganas. Pemerintah kolonial tanpa ampun menghabisi rakyat aceh yang melawan. . Perang ini dikenal sebagai perang pembantai wanita dan anak-anak. Tapi hebatnya, wanita Aceh pula yang dikenal tidak punya rasa takut terhadap tentara penjajah. Menurut penulis Belanda, Zentgraaf, “Vrouwen als deze waren er bij honderden, wellicht duizenden (wanita aceh yang seperti ini ada ratusan, mungkin ribuan).” Di lain kesempatan Zentgraaff mengatakan, “en dat de vrouwen van dit volk alle andere overtreffen in moed en doodsverachting,” yang dalam terjemahan bebasnya berarti wanita bangsa ini melampaui orang lain dalam keberanian dan berani mati.5 Salah satu wanita yang kelak akan dikenang seperti itu, adalah istri seorang pria keturunan bangsawan, bernama Cut Muhammad. Sang suami yang sedang menunggu eksekusi hukuman mati oleh penjajah, berpesan pada istrinya, yang sedang menggendong anak mereka, Teuku Raja Sabi. “Tidak perlu bersedih hati, Cut.” Allah Maha Adil dan Bijaksana. Apa yang akan saya alami adalah rangkaian dari perjuangan. Bukankah sama saja artinya bila saya jatuh terkapar di medan pertempuran atau mati ditembak? Kedua-duanya adalah dengan peluru musuh.” “…”lanjutkan perjuangan bersama-sama rekan seperjuangan kita.” “…setelah aku menjalani hukuman nanti dan idahmu telah selesai, kawinlah dengan Pang Nanggroê.”6 Pesan seorang suami yang ditaati istrinya beberapa bulan


Beggy Rizkiyansyah

Syajarah

Tjut Nyak Dien saat ditangkap. Sumber foto: Perang Kolonial Belanda di Aceh. The Dutch Colonial War in Acheh (1997). Banda Aceh: The Documentation and Information Center of Acheh

kemudian. Menikahlah Pang Nanggroê, dengan wanita tadi. Wanita itu dikenal dengan nama Cut Meutia. Sedangkan Pang Naggroê adalah panglima dari suaminya yang terdahulu. Enam tahun lamanya Cut meutia dan suaminya, Pang Naggroê, bergeriliya dalam rimba, terletak di daerah sungai Wojla dan sungai Meulaboh. Kecekatan pasukan dibawah pimpinan suami istri ini memaksa kolonial Belanda untuk menerjunkan pasukan Marechaussee (Mersose) yang dikenal kejam. Ironisnya gagasan terciptanya pasukan ini atas ide seorang bernama Mohammad Syarief. Seorang Commis di kantor Gubernur Aceh, di Kutaraja.7 Pada 24 September 1910, Cut Meutia kembali menjanda, setelah suaminya Pang Nanggroê syahid diterjang peluru. Cut Meutia kemudian mengambil alih komando dalam pasukannya. Sementara Kolone Macan dari pasukan mersose terus memburu Cut Meutia. Sebulan kemudian, 25 Oktober 1910, Kolone Macan dipimpin Sersan WJ Mosselman menyerbu Gunong Lipeh. Cut Meutia dan pasukannya terkepung. Dua kali Sersan Mosselman, meminta Cut Meutia- yang terkepung sangkur dan senapan-untuk menyerah.Namun terjangan kelewang menjadi jawaban dari Cut Meutia. Tiga senapan menyalak mengenai kepala dan badannya. Cut Meutia tersungkur. Syahid. Menyusul suaminya. Memenuhi citanya, yang biasa ia ia dendangkan untuk anaknya, Teuku Raja Sabi. “Jak Ion timang preuen, ureueng jameuen bhe lagoina, Bek hai aneuek tagidong reunyeuen, bila jameuen tuntut le gâta.” (Mari kutimang, kasih Dengan alunan nyanyian merdu

Janganlah sayang kembali pulang Jangan kauinjak tangga rumahmu Sebelum dendam sempat berbalas.)8 Bukan satu-dua kisah wanita Aceh yang menjanda, kemudian bergeriliya, bahkan hingga syahid menyusul suami mereka. Adalah Tjut Nyak Dhien yang turut meneruskan perjuangan suaminya, Teuku Umar. Pihak Kolonial Belanda tak puas hanya dengan Teuku Umar. Tjut Nyak Dhien juga disasar. Pada 1904, di medan Aceh Barat yang berat, Kapten Campioni mengejar beliau. Kapten Campioni tewas diserbu 300 pejuang Aceh. Baru setahun kemudian Tjut Nyak Dhien menutup lembaran geriliyanya. 4 November 1905, Letnan Van Vuuren, berhasil menyergapnya. Dalam kondisi delapan hari tidak makan nasi, hidup hanya memakan pisang bakar, ia terserang penyakit yang membutakan matanya. Adalah Pang Laot Ali, pejuangnya sendiri yang memberitahukan persembunyiannya. Pang Laot tidak tega melihat kondisi pemimpinnya yang sudah begitu menderita. Ketika Tjut Nyak Dhien tahu ia telah dikhianati Pang Laot, ia begitu murka, hingga mencabut rencongnya dan hendak menikam Pang Laot. Namun usahanya tidak berhasil. Kemajuan teknologi berhasil mengabadikan Tjut Nyak Dhien yang telah tertangkap. Kamera berhasil mengabadikan wajahnya yang bersedih saat ia ditawan. Bersama keponakannya, T. Nana, 11 Desember 1906, wanita perkasa itu dibuang ke Sumedang, karena dianggap membahayakan keamanan. Dua tahun kemudian, 6 November 1908 ia wafat, jauh dari tanah yang dicintainya.9 Selepas Perang Jawa yang menghancurkan keuangan pemerintah Kolonial, sistem Tanam Paksa diberlakukan. Mereka berhasil menguras tanah air, hingga diperkirakan menangguk keuntungan 832 juta gulden atau setara dengan


36

Mereka yang Dilumpuhkan

Syajarah

Buya Hamka dan Soekarno usai pelantikan Dewan Konstituante Sumber foto: Kenang-kenangan 70 Tahun Buya Hamka (1979). Jakarta: Yayasan Nurul Islam

600 triliun rupiah saat ini.10 Namun angin politik etis kemudian berhembus. Dan pemerintah kolonial semakin memahami kondisi umat Islam di Nusantara. Untuk tetap menancapkan kukunya, haluan kebijakan berganti menjadi halus. Dipakai jasa orientalis semacam Christian Snouck Hugronje. Ia membawa pemerintah kolonial untuk menceraikan Islam dari politik, dan membiarkannya sibuk dengan urusan ibadah dan kemasyarakatan semata.11 Putra-putra ningrat dibaratkan. Warisan adat diperkuat. Islam diceraikan dari jejaknya. Huruf (Arab) Jawi disingkirkan, huruf latin ditegakkan. Hasilnya terasa, perlawanan tak lagi menghebat. beberapa pemberontakan memang muncul. Namun tak ada yang sedahsyat Perang Jawa, Paderi atau Aceh. Umat Islam mulai menggerakkan dirinya dengan pendidikan dan organisasi. Sebut saja Syarekat Islam, Persis, Muhammadiyah, NU dan lainnya. Bukan berarti tak ada tekanan dari pemerintah kolonial. Berbagai aturan tetap mengancam, seperti ordonansi sekolah liar yang menggusur lembaga pendidikan dan pers delicht yang memberangus kebebasan bersuara. Jepang kemudian datang. Belanda terjengkang. Awalnya Jepang bersikap represif kepada ulama. KH Hasyim Asyari yang sudah sepuh ditangkap. Namun protes datang bergelombang. Kiyai-kiyai dan santri ingin ditahan bersama Hadlratus Syaikh. Atas lobi-lobi, akhirnya, Hadlratus Syaikh dibebaskan. Jepang mulai merangkul ulama untuk menjaga wibawa. Kebijakan ini membuat para ulama terjepit. Antara tajamnya samurai dan uluran tangan kotor Jepang. Penindasan, romusha, hingga penculikan gadis-gadis untuk pemuas nafsu Jepang, membuat ulama jijik dan enggan.12 Namun keadaan memaksa mereka untuk mengambil jalan siasat, bekerja sama dengan Jepang. Menipu mereka dan menggalang kekuatan. Salah satu yang

terpaksa ikut dalam siasat ini adalah KH Mas Mansyur. Pemimpin besar Muhammadiyah. Diangkat menjadi pemimpin PUTERA bersama Soekarno, Hatta, dan Ki Hajar Dewantara. Ia hidup dalam tekanan berat. Bermanis-manis di depan Jepang, hati remuk tatkala melihat rakyat ditindas. Namun akhirnya Jepang hengkang, Indonesia bersorak girang. Merayakan kemerdekaan. Tetapi untuk diri KH Mas Mansyur, inilah awal yang akan menutup lembaran hidupnya. KH Mas Mansyur perlahan pulih dari tekanan. Tak lama berselang, Belanda berseragam NICA datang. Lepas dari dunia politik , Ia kembali mengajar. Kadang berkhotbah dalam sholat Jumat. Mengecam sebagian orang yang berkhianat kepada republik. Ironisnya ia sendiri kemudian menjadi korban para pengkhianat ini. Saat pasukan sekutu bersama NICA semakin leluasa memasuki Ampel. Puluhan pemuda dan orang tua ditahan. KH Mas Masnyur tak luput dari fitnah ini. Ia dituduh menjadi kolaborator Jepang, karena pernah bekerja sama dan menduduki pucuk pimpinan PUTERA. Dalam keadaan puasa sunnah, dia ditahan dan diikat. Rumahnya di Kampung Baru Nur Anwar digeledah. Tulisan-tulisan penting beliau ikut diangkut. Beliau kemudian diancam dengan hukuman berat. Kecuali jika mau bersedia berpidato di radio AMACAB milik sekutu. Untuk menghasut rakyat menghentikan perlawanan. Tawaran ini ditampiknya. Ia kemudian dibebaskan dalam keadaan sakit. Namun ini hanya sementara. Tak lama ia ditangkap kembali. Karena terlalu lemah ia dilarikan ke rumah sakit swasta di Darmo. Tanpa ditemani siapa pun, termasuk anak, istri atau kerabatnya, Di situ berbaring seorang diri dalam kesunyian. Hingga malaikat menceraikan ruh dari badannya. Begitu sunyi


Beggy Rizkiyansyah

dan terasing, bahkan hingga saat ia menghembuskan nafas terakhirnya pun, tak ada yang mengetahui dengan pasti waktu wafatnya. Tanggal kematiannya tercatat dalam beragam versi. Corong radio AMACAB melalui Djojobojo memberitakan tanggal 1 April 1946. Ada pula yang mengatakan 24 atau 25 April. Jenazahnya dimakamkan di kuburan Gipo, dekat Masjid Ampel. 13

Roda sejarah terus berputar. Zaman terus berganti, dari masa revolusi kemerdekaan hingga Demokrasi terpimpin. Mungkin Inilah masa yang memakan korban ulama serta tokoh Islam terbanyak. Khususnya tokoh-tokoh Partai Islam Masyumi yang dilumpuhkan dengan keji oleh rezim Soekarno, yang didukung oleh pihak komunis. Terjangan fitnah bertebaran dimanamana. Memaksa siapa pun untuk ikut menari dalam tabuhan Sang Pemimpin Besar Revolusi. Namun tidak bagi Masyumi. Mereka terus mengkritik kebijakan Soekarno. Menolak agama disandingkan dengan komunisme. Menampik laku sewenangwenang penguasa. Soekarno mulai kehabisan akal. Tangan besi diayunkan. Tokoh-tokoh Masyumi pun bertumbangan. Akhirnya 13 September 1960, Masyumi pun memilih menghabisi dirinya sendiri, ketimbang dihabisi. Namun tragedi baru saja dimulai. Satu persatu anggotanya diterjang fitnah. Ditangkap. Dilumpuhkan.14 27 Januari 1963, siang itu sungguh mengejutkan. Empat orang datang mengetuk pintu. Sang tuan rumah dengan ramah membuka pintu dan menyambut tamunya. Tak disangka, para tamu membawa surat sakti. Surat penangkapan atas sebuah tuduhan. Sang tuan rumah, Buya Hamka, tersentak. Ia kemudian dibawa pergi. “Dalam keadaan tak tahu apa kesalahan saya dalam tengah hari letih berpuasa, saya dijemput dan dicabut dengan segenap kekerasan dari ketentraman saya dengan anak istri, disisihkan dari masyarakat dan dimasukkan ke dalam tahanan,” tutur Buya hamka.15 Tuduhan pada Buya Hamka begitu hebat. Ia dituduh hendak membunuh Menteri Agama H. Saifuddin Zuhri. Dituduh pula ia pernah menghasut mahasiswa untuk meneruskan pemberontakan Kartosuwiryo, Daud Beureu’eh, M. Natsir dan Syafruddin Prawiranegara. Mimpi buruk untuk Buya Hamka baru saja bergulir. Ia difitnah. Untuk melanggengkan penangkapan atas dirinya, segala macam usaha dipakai, memaksa ia mengaku. “Dengan tekanan batin yang sangat menyesak, dipasang pertanyaan-pertanyaan jebakan. Kadang dengan ancaman, kadang dengan gertak, kadang-kadang tidak membiarkan istirahat agak sejenak, kita yang ditanya disuruh mengakui halhal yang telah disusun menjadi tuduhan.”16

Syajarah

Dan setelah “selesai” segala pemeriksaan, teruslah ditahan. Dua setengah bulan dihujani perlakuan semacam ini, membuat Buya Hamka ambruk juga. Ia akhirnya terpaksa menandatangani tuduhan kepada dirinya. Pengakuan yang dipaksakan itu dilakukan Buya Hamka, karena ia mengira kelak di pengadilan, akan bisa melawan. Membeberkan segala kebusukan. Nyatanya tak akan pernah ada pengadilan atasnya. Situasi semakin suram dengan diterbitkannya sebuah keputusan dari Presiden Soekarno, Pen. Pres No. 11/1963. Tiga hari setelah setelah Buya Hamka ditahan. Sebuah keputusan Presiden yang menceraikan manusia dari fitrahnya. Pen Pres menjadi pisau tajam sebuah tuduhan subversif, yang berhak menahan siapa pun. Setengahnya disiksa dengan kejam, sampai jarak antara mereka dengan maut hanya beberapa langkah lagi, bahkan ada turut berjumpa dengan maut. Salah satunya yang hampir berjabat dengan maut adalah KH Ghazali Sahlan. Seorang Masyumi jua. KH Ghazali Sahlan ditangkap di rumahnya selepas sholat subuh, 7 Januari 1964. Salah satu tuduhannya adalah membentuk organisasi gelap. Awalnya pemeriksaan berlangsung sopan dan pantas. Tiga hari kemudian dunia seakan runtuh bagi KH Ghazali Sahlan. Ia mulai ditekan untuk mengakui segala tuduhan kepadanya. Kepolisian yang banyak dikuasai komunis menjadi-jadi. Suatu waktu, ditengah malam buta, Inspektur Polisi Solihun, memerintahkan Ghazali Sahlan untuk melepas pakaiannya. Ghazali hanya mengenakan pakaian dalam saja. Pukukl 1 malam ia mulai dipukuli, hingga berdarah-darah. Pukul 3 pagi ia ditanya, “Jikalau saudara mati terbunuh dalam pemeriksaan ini,

“Percuma pemeriksaan semacam ini. Percuma! Sekarang begini saja. Silakan tuantuan cabut pistolnya dan tembaklah saya. Tembak! Tembaak! Tembaaak!


38

Mereka yang Dilumpuhkan

apakah pesan saudara?” Ia menjawab, “Saya hanya pesan agar jenazah saya dikirimkan ke Jakarta atas biaya keluarga saya.” Pukul 4 pagi, Ghazali Sahlan makan sahur. Tak lama ia kembali ditelanjangi. Dipaksa melalkukan scotch Jump. Terus menerus scotch Jump hingga terjatuh-jatuh. Ditengah-tengah jatuh bangun, ia ditodong pistol. Kembali ditanya pesan terakhirnya. Ia menjawab hal yang sama, dengan tambahan, “Sesudah saya mengucapkan kalimat, La ilaaha’illalah, barulah tembak.” Nyatanya tim pemeriksa menolak untuk menembak, lebih senang untuk menyiksanya. Izin Ghazali Sahlan untuk sholat pun ditampik. Pukul 9 pagi Ghazali rubuh. Ia terkapar. Namun pukul 11 ia kembali disiksa. Hanya kali ini lebih keji. Ia disetrum. Berkali-kali KH Ghazali Sahlan meneriakkan kalimat Tauhid. Berharap syahid menjemput. Ia kerap dipaksa untuk mengaku, namun paksaan itu ditolaknya. Berkalikali ia disetrum hingga tangannya mengeluarkan darah. Namun itu tak menghentikan siksaan. Lipatan tangan, kaki, pinggang hingga kuduk, dilekatkan dengan aliran listrik. Siksaan berlanjut esok harinya. Semakin menggila. Dalam keadaan telanjang bulat alat vitalnya disetrum. Lalu mulutnya. Berulang-ulang, padahal ia sedang berpuasa. Hingga akhirnya ia tak sadarkan diri. 10 hari KH Ghazali Sahlan terkapar tanpa daya.Ternyata penyiksaan kepada KH Gahzali Sahlan dan Buya Hamka hanya jebakan untuk menangkap Kasman Singodimedjo, salah satu tokoh Masyumi yang paling lantang. Pengakuan mereka dibutuhkan untuk membuat Kasman dijebloskan ke dalam tahanan.17

Syajarah

Namun Kasman bukanlah orang yang awam dengan hukum. Kasman tak mudah untuk ditaklukkan. Setiap hari selama 24 jam Kasman terus diperiksa. Bergiliran oleh 6 tim. Dalam keadaan puasa Ramadhan ia kerap ditekan, dipojokkan dan diintimidasi, Empat hari di periksa, akhrinya Kasman menantang untuk dikonfrontir. Pertama yang dihadirkan adalah Letkol Nasuhi. Ketika dikonfrontir,. Letkol Nasuhi hanya berbicara pelan. Hingga Kasman marah, dan berteriak, “Yang keras suaramu, supaya kedengeran!” “Saya terpaksa,” sahut Nasuhi. Tim Pemeriksa kemudian gaduh. Kasman kembali menantang untuk dikonfrontir dengan siapa pun. “Pertama, saya siap dikonfrontir dengan semua pengakuan siapa pun, Termasuk H. Ghazali Sahlan dan Hamka. Silakan!,” tegas Kasman. “Kedua, maaf, saya dapat kesan bahwa oleh team pemeriksa, terutama dari team-team pemeriksa terdahulu telah dikerjakan penggiringan, paksaan-paksaan, siksaan-siksaan, dan lain sebagainya, sehingga para tertuduh yang bersangkutan itu terpaksa mengaku demi keselamatan jiwa mereka.” Beberapa saat kemudian, Kasman berdiri. Dia buang kursinya jatuh ke belakang, dan dengan tangan ke atas dia berteriak sekeras-kerasnya dengan melotot, “Percuma pemeriksaan semacam ini. Percuma! Sekarang begini saja. Silakan tuan-tuan cabut pistolnya dan tembaklah saya. Tembak! Tembaak! Tembaaak!”18 Ketua tim pemeriksa kemudian memutuskan untuk memberikan waktu istirahat bagi Kasman. Namun keadaan tak


Beggy Rizkiyansyah

Syajarah

tak secuil pun diberikan kesempatan untuk menikahkan putrinya. Ia hanya bisa berdoa di tahanan ketika putri pertamanya menikah. Sungguh keadaan yang menekan jiwa.

Yunan Nasution (Kiri) dan Prawoto Mangkusasmito (kedua dari kiri), mewakili Partai Masyumi. Mereka menemui Presiden Soekarno menjelang pembubaran Partai Masyumi. Sumber foto : 30 Tahun Indonesia Merdeka 1950 - 1964 (1985) Jakarta : Sekretariat Negara Republik Indonesia

berubah. Beragam cara tak bisa membuat Kasman bersalah. Barulah 16 hari kemudian Kasman dibebaskan. Setiap penindasan yang terjadi bukan hanya melumpuhkan seorang pejuang, tapi juga meruntuhkan tatanan keluarganya. Menceraikan dari anak dan istrinya. Mengasingkan dari masyarakatnya. Mereka tidak saja kehilangan kebebasan tapi juga kehilangan kesempatan untuk menafkahi keluarga. Istri mereka tiba-tiba dipaksa memutar otak menjadi tulang punggung keluarga. Menjual apa saja yang berharga. Seperti apa yang dialami keluarga Syafrudin Prawiranegara yang kehilangan rumah mereka. Penindasan ini bahkan juga memasung hak-hak mereka sebagai ayah. Mohammad Natsir

Yunan Nasution, mantan sekjen Masyumi yang turut ditahan, berkisah, dinding tahanan menjadi saksi coretan-coretan mereka. Ayat-ayat Quran seperti, “Umat-umat yang dahulu telah silih berganti mengalami bangkit dan jatuh,” atau “Tuhan akan mempergilirkan hari-hari kehidupan manusia dengan kalah dan menang.” Kelak, janji Allah yang ditorehkan pada dindingdinding tahanan itu terbukti. Tatkala mereka dibebaskan, pihak-pihak dari komunislah yang kemudian berganti mengisi tempat mereka. 19 Peristiwa membungkam dan melumpuhkan sesungguhnya tidak berhenti sampai di sini saja. Masih banyak dan kerap terjadi peristiwa dan pejuang lain yang di bungkam dan dilumpuhkan, bahkan hingga beberapa langkah saja dari maut. Atau malah menjemput syahid. Bahkan hingga kini. Para penguasa lalim kerap mengikuti langkah yang sama, namun tak akan pernah bisa menumpas setiap gema kebenaran. Mereka hanya bisa melumpuhkan raga, namun tidak jiwanya. Menceraikan nyawa dari badannya, tapi tidak mematikan semangatnya. Para pejuang itu adalah pejuang yang membumi, namun dengan hati mengingat ke langit. Menolak hidup berbalut kemewahan, dan memimpin dengan segala keberanian. Dan sesunggunya, api perjuangan itu tak akan pernah padam, dan selamanya berkobar-kobar. Sejarah mencatat, sebuah pembungkaman hanya akan memicu rentetan perlawanan yang lain. Satu penindasan akan memacu gema kebangkitan lain. Semua itu karena api itu di bakar oleh keinginan menegakkan kalimat Allah dalam bumi nusantara ini.

Catatan. 1. Cerey, Peter. (2011). Kuasa Ramalan, Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa,1785-1855. Jilid 2. Jakarta: KPG. 2. Ibid. 3. Hal ini diungkapkan Pangeran kepada Mangkubumi, bahwa dirinya telah menerima pertanda (wangsit) bahwa perjuangannya akan sia-sia. Tiada lagi yang tersisa bagi dirinya di dunia ini, kecuali mati sebagai sabilillah dalam pertempuran. 4. Radjab, Muhamad. (1964). Perang Paderi di Sumatera Barat (1803-1838). Jakarta : PN Balai Pustaka. 5. Talsya, T. Alibasjah. (1982). Cut Nyak Meutia, Srikandi yang Gugur di Medan Perang Aceh. Jakarta: Mutiara. 6. Ibid. 7. Ibid. 8. Ibid. 9. Alfian, Ibrahim. (1987). Perang di Jalan Allah : Perang Aceh 1873-1912. Jakarta: Sinar Harapan. 10. Cerey, Peter. (2011). Kuasa Ramalan, Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa,1785-1855. Jilid 2. Jakarta: KPG. 11. Suminto, H. Aqib. (1996). Politik Islam Hindia Belanda. Het Kantoor voor Indlandsche Zaken. Jakarta: LP3ES 12. Zuhri, Saifudin. (1974). Guruku Orang-orang Pesantren. Bandung: PT AlMa’arif. 13. I.N, Soebagijo. (1982). K.H. Mas Mansur. Pembaharu Islam di Indonesia. Jakarta: Gunung Agung. 14. Panitia Peringatan 75 Tahun Kasman. (1982). Hidup Itu Berjuang. Kasman SIngodimedjo 75 Tahun. Jakarta : Bulan Bintang. 15. Hamka. (2004). Tafsir Al Azhar Juz I. Jakarta: Pustaka Panjimas. 16. Ibid. 17. Panitia Peringatan 75 Tahun Kasman. (1982). Hidup Itu Berjuang. Kasman SIngodimedjo 75 Tahun. Jakarta : Bulan Bintang. 18. Ibid. 19. Nasution, Yunan. Kenang-Kenangan Di Belakang Terali Besi di Zaman Orla. Jakarta : Bulan Bintang.


40

Dialog dengan Artawijaya:

Dialog


Dialog

69 tahun silam, para santri dari berbagai daerah dan arek-arek Suroboyo melawan sekutu Inggris. Pekikan takbir Bung Tomo mengudara, awali perjuangan. Telinga sekutu panas mendengarkan. Peperangan tak terhindarkan. Atas izin Allah, sekutu akhirnya angkat tangan. Indonesia kembali merebut kemerdekaan yang sebelumnya telah diperjuangkan dan diproklamasikan. Lantas saat ini, apakah kemerdekaan itu masih dipertahankan? Bagaimana sepak terjang para pahlawan meraih kemerdekaan? Dan apa yang harus kita perbuat untuk mengisi kemerdekaan? Berikut wawancara pegiat JIB, Andi Ryansyah dengan Artawijaya, sejarawan muda Indonesia yang telah menulis berbagai buku, diantaranya, ‘Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara’ dan ‘Belajar dari Partai Masjumi’ ini, ditemui di sela-sela kesibukannya mengedit buku-buku penerbit terkemuka di bilangan Cipinang, Jakarta Timur

Setiap tangal 10 November, Indonesia memperingati hari pahlawan. Apa makna pahlawan di mata Anda? Sebenarnya peringatan hari pahlawan itu tidak lepas dari rentetan sejarah sebelumnya. Sebuah fakta sejarah menerangkan bahwa mayoritas umat Islam di Indonesia berjuang melawan penjajahan. Tanggal 10 November yang dikaitkan dengan peristiwa di Surabaya mengingatkan kita akan pekikan takbir Bung Tomo ketika melawan penjajah saat agresi militer. Sebelumnya resolusi jihad dikeluarkan oleh Nahdlatul Ulama (NU) dimana setiap muslim wajib melawan penjajah Belanda. Kemudian perjuangan K.H. Zaenal Mustofa di Tasikmalaya, perang sabil di Aceh, serta perlawanan Pangeran Diponegoro di Jawa, dan lain sebagainya. Semua perjuangan itu berlandaskan jihad fi sabilillah. Ini menunjukkan


42

bahwa umat Islam memiliki kontribusi dan saham yang besar untuk memerdekakan Indonesia. Dan bicara kepahlawanan di Indonesia tentu tidak lepas dari peran tokoh-tokoh umat Islam. Tadi Anda menyebut bahwa mayoritas pahlawan Indonesia adalah tokoh-tokoh umat Islam, namun mengapa ada sebagian dari mereka yang tidak disebut pahlawan oleh pemerintah. Bahkan ada yang dicap pemberontak dan pengkhianat serta tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP). Mengapa ini bisa terjadi? Dan bagaimana sebaiknya sikap kita? Saya pikir tokoh-tokoh umat Islam yang belum atau terlambat diberikan gelar pahlawan karena ada upaya kelompokkelompok nasionalis sekuler yang cenderung menutup peran sejarah mereka. Satu contoh, M.Natsir, Perdana Menteri pertama Indonesia dan tokoh Masjumi yang menggagas mosi integral hingga terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini, baru diberi gelar pahlawan sekitar tahun 2008 karena terlibat PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia). Padahal perjuangan PRII ini bukan usaha untuk berpisah dari NKRI, melainkan semata-mata untuk mengoreksi rezim Nasakom. Kemudian contoh lainnya, Prawoto Mangkusasmito yang tidak dimakamkan di TMP. Padahal dia pejabat negara (Wakil Konstituante) yang meninggal dunia ketika blusukan safari dakwah dan membina para petani di Banyuwangi. Sebelum Jokowi blusukan, Prawoto sudah duluan. Hobi Prawoto memang menemui rakyat kecil. Sampai M.Natsir mengatakan “Dengan menemui rakyat kecil inilah, Pak Prawoto menjadi besar.” Soal tidak dimakamkannya Prawoto di TMP, Mohamad Roem mengatakan “Pahlawan tidak ditentukan dimana ia dimakamkan, tapi ditentukan dari jasa-jasanya.” Namun dalam Islam, berbuat baik tidak perlu penghargaan. Kita diperintahkan oleh Allah untuk berbuat baik sebanyakbanyaknya, lalu lupakan, biar Allah dan Rasul-Nya nanti yang melihat. Penghargaan semacam itu hal yang remeh. Keluarga M.Natsir, Prawoto, dan Buya Hamka sendiri tidak menuntut

Dialog

gelar pahlawan diberikan kepada mereka. Dalam Islam penghargaan semacam ini adalah hal yang remeh. Akan tetapi dalam konteks agar generasi selanjutnya sadar akan sejarah tokoh-tokoh Islam dan juga supaya peran Islam tidak dipinggirkan dan dikucilkan, menurut saya penting mempertanyakan soal ini kepada pemerintah. Apa benang merah perjuangan para pahlawan di negeri ini? Dari zaman sebelum kemerdekaan sampai kemerdekaan, para tokoh Islam merawat negeri ini dengan nilai-nilai Islam. Bagaimana penulisan sejarah pahlawan di buku sejarah yang diajarkan di sekolah? Apa sesuai dengan realitasnya? Saya tidak tahu seperti apa buku-buku sejarah yang sekarang. Namun ketika zaman orde baru, buku-buku sejarah di sekolah itu Buddha dan Hindu sentris, peran Islam untuk bangsa ini dipinggirkan. Kemudian tidak diceritakan secara detail peran tokoh-tokoh Islam seperti M.Natsir, Prawoto, dan lain sebagainya. Kemudian, Indonesia sudah merdeka selama 69 tahun, apa makna kemerdekaan bagi Anda? Menurut saya, negeri yang merdeka adalah negeri yang berlaku hukum Allah subhanahu wata’ala. Kalau belum berlaku, artinya kita masih dijajah Undang-Undang Belanda, sistem ekonomi kapitalis, sistem sekular, dan lain sebagainya. Syariat Islam akan berdampak kesejahteraan dan kemakmuran semua golongan. Apakah kondisi bangsa yang masih “dijajah” ini karena kita tidak meneladani perjuangan para pahlawan? Tentu banyak sebab. Salah satunya karena orang liberal dan sekular menguasai politik di negeri ini. Meskipun begitu, tingginya minat masyarakat menabung di bank syariah merupakan kondisi yang bagus dan perlu terus perbaikan. Perjuangan kita ke depan harus dibarengi dengan kesabaran. Seperti prinsip perjuangan Masyumi yang mengatakan “Kalau


Dialog

Tentara Kolonial Belanda di Aceh Sumber foto: Perang Kolonial Belanda di Aceh. The Dutch Colonial War in Acheh (1997). Banda Aceh: The Documentation and Information Center of Acheh

rumah jang baru kita dirikan belum memuaskan kehendak kita, apakah lantas kita bakar sadja sampai hangus?� Dalam Al-Qur’an ayat-ayat tentang jihad, banyak diikuti dengan kata sabar. Sabar disini bukan berarti kita tidak kritis dan nahi munkar, akan tetapi kita tetap terus harus berjuang sambil bersabar.

Bagaimana dengan pengertian kemerdekaan yang diajarkan di sekolah? Apakah sudah memadai? Kemerdekaan yang diajarkan di sekolah sifatnya bendawi atau keduniaan. Misal kemerdekaan dari perang melawan penjajah dan kemiskinan. Tapi pernah tidak diajarkan kemerdekaan di atas nilai-nilai Islam. Jadi negara yang betul-betul merdeka ketika hukum Allah ditegakkan. Menurut Anda, para pahlawan memandang kemerdekaan itu sebagai sarana atau tujuan? Memerdekakan Indonesia dengan mengusir kafir penjajah adalah jihad dan kewajiban tokohtokoh Islam dahulu untuk tujuan jangka panjang yaitu agar negeri ini dirawat dengan hukum Allah. Terakhir, apa pesan Anda untuk generasi penerus dalam rangka memperingati hari pahlawan? Pertama, generasi muda Islam harus memahami pejuangan tokoh-tokoh Islam. Kedua, menggali dan mengungkap fakta-fakta sejarah tokoh-tokoh Islam yang dipinggirkan agar mendapat te


44

Arti Kemerdekaan

Syajarah

ARTI KEMERDE


Beggy Rizkiyansyah

Syajarah

Pengibaran bendera merah-putih Sumber foto: Album Perang Kemerdekaan 1945-1950 (1983). Jakarta: Badan Penerbit Almanak R.I/B.P. ALDA

Oleh : Beggy Rizkiyansyah (Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa)

EKAAN tahun sudah Indonesia mengecap kemerdekaannya. 69 tahun ini mengingatkan untuk berkaca kembali, apa makna kemerdekaan bagi kita? Apa harga yang harus dibayar untuk kemerdekaan yang kita rasakan saat ini? Memutar kembali waktu, membuka kembali lembaranlembaran sejarah bangsa kita, maka kita akan menemukan jejak islam di setiap lembar sejarah bangsa Indonesia. Bahkan perjuangan kemerdekaan sejatinya telah ada bahkan jauh sebelum terbayang sebuah komunitas bernama Indonesia. Perjuangan kemerdekaan bangsa ini berurat dan berakar kepada perjuangan Islam.Perjuangan para pendahulu kita untuk merdeka bertolak dari agama Islam yang menentang penindasan. Yang mengagungkan nama Islam. Merentang dari barat hingga timur nusantara.Untuk menegakkan hukum Allah. Semangat jihad rakyat aceh yang seringkali disebut perang sabil menghujam dalam dada rakyat aceh. Maka kita dapat melihat meleburnya jihad ke dalam budaya masyarakat aceh, sehingga didengungkanlah syair-syair Hikayat Perang Sabil dalam kehidupan rakyat. Hikayat Perang Sabil sering dibacakan ditengah masyarakat. Didengarkan turun temurun.Maka tak heran Aceh mampu menghadapi perang dengan penjajah hingga 40 tahun lamanya. Bahkan ketika kesultanan Aceh runtuh, rakyat aceh tak pernah benar-benar berhenti berperang.


46

Arti Kemerdekaan

Syajarah

Keberanian para pejuang Aceh ini juga dapat kita temukan pada perlawanan kaum Paderi melawan kolonial Belanda. Kaum Paderi tak lain ingin menjadikan wilayah mereka sesuai dengan ajaran agama. Pun ketika akhirnya harus menempuh jalan peperangan dengan penjajah maka Islamlah yang menjadi daya dorong para kaum paderi di Sumatera Barat. Steyn Parve, salah seorang mantan Residen Padangsche Bovenlanden, memberikan kesaksiannya mengenai Kaum paderi. “Tetapi sekte Paderi tidak muncul sebentar saja. Sebaliknya, sekte ini laksana cahaya yang muncul dan bertahan lama, terus menerus memperlihatkan sinarnya kepada kita.”1 Hal yang sama kita temukan di Jawa. Pangeran Diponegoro yang ingin menegakkan Islam di tanah Jawa, mendapat dukungan dari kaum ulama seperti Kiyai Mojo. Sang Pangeran memiliki kehendak merdeka, dan melawan penjajahan dan mengembalikan kemuliaan Islam di tanah Jawa.2 Di Makassar, Sultan Alauddin berdiri tegak mempertahankan kesultanannya. Ketika VOC untuk meminta Makassar untuk menghentikan perdagangannya ke kepulauan Maluku, dijawab oleh Sultan dengan sangat mengesankan. “Tuhan telah menciptakan bumi dan lautan, (dan telah) membagikan bumi di antara manusia, (begitu pun) Dia memberi lautan sebagai milik bersama. Tidak pernah kami mendengar bahwa pelayaran di lautan dilarang bagi seseorang. Jika engkau melakukan larangan itu, berarti engkau seolah-olah mengambil roti dari mulut orang (lain).”3 Jawaban yang tentu saja memicu peperangan bertahun-tahun. Meskipun akhirnya Makassar menderita kekalahan, namun sejarah tetap mengenangnya sebagai peperangan umat Islam melawan orang kafir, seperti terekam dalam Syair Perang Mengkasar, yang di tulis oleh Enci’ Amin, seorang juru tulis Sultan Hasanuddin. Lima tahun lamanya perang Sedikit pun tidak hatinya bimbang Sukacita hati segala hulubalang Melihat musuh hendak berperang. Mengkasar sedikit tidak gentar Ia berperang dengan si Kuffar Jikalau tidak ra’yatnya lapar Tambahi lagi Welanda kuffar.4 Berbagai peperangan telah mewarnai perjuangan kemerdekaan bangsa kita.Bertumpuk-tumpuk badan menjadi syahid.Bersahut-sahut takbir memanggil. Panggilan yang oleh

M. Natsir disebut Panggilan Allahu Akbar. Seperti tercatat dalam Syair Perang Menteng melawan penjajah di Palembang. Haji berteriak Allahu Akbar Datang mengamuk tak lagi sabar Dengan tolong Tuhan Malik Al-Jabbar Serdadu Menteng habislah bubar5 Semua perjuangan itu adalah kehendak untuk merdeka, bebas dari segala penindasan. Bagi para pemimpin kita,segala perjuangan diatas, menjadi inspirasi untuk meneruskan perjuangan. Pun ketika perjuangan beralih ke zaman modern, Islam tetap menjadi sumbu dari berputarnya usaha-usaha menuju kemerdekaan. Sarekat Islam adalah contoh nyata bagaimana Islam dapat menyatukan bangsa ini. Organisasi keagaman seperti Nadhlatul Ulama, diwakili para kiyai telah mendambakan kemerdekaan sebagai jalan untuk kemaslahatan umat Islam. KH Wahab Hasbullah ketika ditanya mengenai kemerdekaan, sehari sebelum NU berdiri tahun 1926, menjawab, ”Tentu, itu syarat nomor satu, umat Islam menuju ke jalan itu, umat Islam kita tidak leluasa sebelum Negara kita merdeka.“6


Beggy Rizkiyansyah

Syajarah

Peringatan 2 tahun kemerdekaan Indonesia Sumber foto: Album Perang Kemerdekaan 1945-1950 (1983). Jakarta: Badan Penerbit Almanak R.I/B.P. ALDA

Pada hakikatnya, ajaran islam itu merupakan suatu revolusi M. Natsir

Menurut M. Natsir, ajaran Islamlah yang menyebabkan dorongan-dorongan untuk merdeka. Ia menyatakan, “Pada hakikatnya, ajaran Islam itu merupakan suatu revolusi, yaitu revolusi dalam menghapuskan dan menentang tiaptiap eksploitasi. Apakah eksploitasi itu bernama, kapitalisme, imperialism, kolonialisme komunisme atau fascism, terserah

kepada yang hendak memberikan. Demikianlah semangan kemerdekaan yang hidup dan dibakar dalam jiwa kaum muslimin di Indonesia. Semenjak berabadabad semangat itu menjadi sumber kekuatan bangsa kita dan semangat itu pulalah yang menghebat dan mendorong kita memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia, pada tahun 1945 itu.�7 Maka tak mengherankan jika para ulama dan tokoh Islam, ketika memiliki kesempatan untuk mewarnai lahirnya Republik Indonesia, mereka memanfaatkannya dengan memperjuangkan Islam sebagai pondasi negara. Melalui Piagam Jakarta (Djakarta Charter), umat Islam dapat menyalurkan citanya untuk menjadikan Indonesia negara merdeka yang bertauhid. Menurut Buya Hamka, tidak mungkin tauhid dilepaskan dalam perjuangan bernegara. Sebab pangkal pokok pandangan Islam adalah dua kalimat syahadat. Menurut beliau, “Akibat dua kalimat syahadat itu bagi kehidupan Islam sangat besar dan sangat jauh. Karena kalimat itu, tidaklah ada yang mereka sembah, melainkan Allah. Tidak ada peraturan yang mereka akui, atau undang-undang yang mereka junjung tinggi, melainkan peraturan dan undang-undang dari Allah.� 8


48

Syajarah

- BUYA HAMKA -


Beggy Rizkiyansyah

Syajarah

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka Sumber foto: Kenang-kenangan 70 Tahun Buya Hamka (1979). Jakarta: Yayasan Nurul Islam

Namun sayang. Piagam Jakarta tak terlaksana hingga saat ini. Kalimat“Dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya” malah dihapuskan. Buya Hamka, sangat menyesalkan peristiwa ini. “Pendeknya, sesudah sehari maksud berhasil (maksudnya proklamasi kemerdekaan-pen), partner ditinggalkan, dan orang mulai jalan sendiri. Pihak Islam dibujuk dengan janji-janji bahwa kepentingannya akan dijamin. Bersama dengan tujuh kalimat itu, dihapuskkan pulalah kata yang diatas sekali, kata pembukaan yang termasuk kalimat sakti dalam jiwa orang yang hidup dalam Islam, yaitu kalimat, ‘Dengan Nama Allah Tuhan Yang Rahman dan Rahim. Sampai begitunya!”,sesal Buya Hamka.9 Kita, generasi saat ini memang patut menyesalkan peristiwa ini. Padahal, dengan kalimat Allahu Akbar-lah, para syuhada merelakan jiwanya untuk melawan penjajah. Kalimat Allahu Akbar-lah ucapan terakhir para pahlawan kita, sebelum nyawa mereka bercerai dari badannya.Dengan kalimat takbirlah, mereka mempertanggungjawabkan jihad mereka dihadapan Allah. Hingga kini, Piagam Jakarta yang disebut undang-undang menjiwai Undang-undang Dasar 1945 dan satu kesatuan dengan konstitusi nyatanya hanyalah teks belaka tanpa realisasi nyata. Atas perkara ini, Buya Hamka melemparkan pertanyaan menohok bagi kita. “Sekarang Indonesia telah merdeka. Merdeka Buat apa?” Bagi kita kaum muslimin adalah merdeka buat melakukan syariat Islam, dalam pengakuan dan pangkuan negara, bagi penduduknya yang memeluk Islam. Sebab menjalankan syariat Allah dan Rasul bagi kita kaum Muslimin adalah bagian dari iman.Sebab dalam ajaran Islam, Islam itu bukanlah semata-mata hubungan dengan Allah, tetapi hubungan juga dengan masyarakat. Bukan semata-mata ibadat, tetapi mencakup juga bernegara dan bermasyarakat.Percuma jadi orang Islam, percuma mendirikan partai-partai Islam, kalau dengan iman terpotong-potong kita hendak tampil ke muka. Negara kita berdasar Pancasila; dalam negara berdasar Pancasila itu, kita kaum muslimin wajib mengisinya dengan cinta yang telah kita terima dari langsung dari Allah dan Rasul. Namun tidak!-demi Tuhanmu-tidaklah mereka beriman, sebelum engkau jadikan hakim, pada barang yang mereka perselisihkan diantara mereka, kemudian itu tidak mereka dapati dalam diri mereka sendiri rasa keberatan pada apa yang engkau putuskan, dan mereka menyerah sebenar-benar menyerah. Itulah dia iman, dan itulah dia hidup. Kalau tidak, sama dengan artinya mati, walaupun nafas masih turun naik.” 10 Lantas jika begini, apakah arti kemerdekaan bagi kita? Agaknya penulis sepakat, sekali lagi, dengan Buya Hamka, “Mari kita berpahit-pahit, kaum muslimin belum pernah merasa puas dalam kemerdekaan negeri ini kalau kewajiban menjalankan syariat Islam dalam kalangan pemeluknya seperti tercantum dalam pembukaan UUD 1945 belum menjadi kenyataan.”11 1. Rusli Amran, Sumatra Barat Hingga Plakat Panjang. (Jakarta: Sinar Harapan, 1981). 2. Peter Carey, Kuasa Ramalan.Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855. (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2011). 3. Ahmad M Sewang, Islamisasi Kerajaan Gowa Abad XVI sampai abad XVII. (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005). 4. Enci’ Amin, Syair Perang Mengkasar, C. Skinner (ed). (Makassar: Ininnawa, 2008). 5. Ibrahim Alfian, Sastra Perang. Sebuah Pembicaraan Mengenai Hikayat Perang Sabil, (Jakarta: Balai Pustaka, 1992). 6. Andree Feillard, NU Vis-à-vis Negara, Pencarian Isi, Bentuk dan Makna. (Yogyakarta : LKiS, 1999). 7. M. Natsir, Revolusi Indonesia dalam Capita Selecta Jilid 2. (Jakarta: PT Abadi dan Yayasan Capita Selecta, 2008). 8. Hamka, Mengapa Mereka Masih Ribut? dalam Hati ke Hati, Tentang Agama, Sosial Budaya, Politik. (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2002). 9. Ibid 10. Hamka, Cintakan Rasul SAW dalam Hati ke Hati, Tentang Agama, Sosial Budaya, Politik. (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2002). 11. Hamka, Mengapa Mereka Masih Ribut? dalam Hati ke Hati, Tentang Agama, Sosial Budaya, Politik. (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2002).


PEJUANG PEJUANG PEJUANG 50 PEJUANG PEJUANG PEJUANG

Syajarah

PEJUANG PEJUANG PEJUANG RAHMAH EL YUNUSIYAH

PEJUANG PEJUANG PEJUANG PEJUANG PEJUANG

, PEJUANG PEJUANG PEJUANG PEJUANG PEJUANG PEJUANG PEJUANG PEJUANG Oleh : Susiyanto

(Dosen IAIN Surakarta)

PEJUANG PEJUANG PEJUANG PEJUANG PEJUANG PEJUANG PEJUANG PEJUANG PEJUANG PEJUANG PEJUANG PEJUANG


Susiyanto

Syajarah

KIPRAHNYA UNTUK PENDIDIKAN, TERUTAMA BAGI KAUM PEREMPUAN BEGITU LUAR BIASA. DAN TAK HANYA PENDIDIKAN. IA TURUT MEMPERJUANGKAN KEMERDEKAAN INDONESIA. AGAMA TETAP ERAT DIGENGGAMNYA. NAMUN NAMANYA TAK BANYAK DIKENAL. KALAH POPULER DIBANDINGKAN KARTINI.

S

ituasi sosial Sumatra Barat sedang berubah di awal abad XX. Penduduk Minangkabau berkembang menjadi masyarakat yang secara intensif mengalami proses modernisasi. Dalam kerangka pembaharuan Islam masyarakat Minang tidak saja menyaksikan berdirinya lembaga-lembaga pendidikan modern menggantikan lembaga pendidikan tradisional sistem surau, namun juga tampilnya sejumlah ulama yang mengetengahkan pemikiran baru yang disemangati oleh perubahan dan modernisasi.1 Arus pembaharuan ini selain dimotori oleh Sekolah Adabiyah di Padang pada tahun 1909 dan Sumatra Thawalib di Padang Panjang – dan selanjutnya di beberapa kota lain di Sumatra Barat, juga diperkuat dengan kedatangan sejumlah ulama dari Timur Tengah. Penyebaran ide pembaharuan ini secara massif juga disuarakan melalui jurnal al-Munir (terbit tahun 1911-1916), menggantikan al-Imam yang sebelumnya terbit di Singapura.2 Rahmah adalah seorang berjiwa pejuang yang memiliki idealisme kokoh, cita-cita tinggi, dan pandangannya yang jauh ke depan. Ia berharap kedudukan kaum wanita dalam masyarakat tidak hanya sebagai istri yang akan melahirkan anak-anak dan keturunan semata, akan tetapi lebih dari itu dia menginginkan terangkatnya derajat kaum wanita ke tempat yang lebih wajar dan pantas. Wanita juga mampu memberikan peran dan kontribusi terhadap peradaban. Kaumnya harus mengerti hak dan kewajibannya sebagai seorang istri, sebagai seorang ibu dan sebagai anggota masyarakat. Kaum wanita harus dapat menjalankan peranannya sebagaimana yang telah digariskan oleh agama Islam. Semua yang harus diketahui oleh kaum wanita itu tidak bisa terjadi secara serta-merta. Semuanya harus melalui pendidikan dan pengajaran, Wanita harus dituntut untuk terus belajar dan berupaya untuk memahami persoalan yang ada di sekitar mereka. Selama mereka masih berada dalam kebodohan, maka nasib kaum wanita itu tidak akan berubah. Oleh karena itu Rahmah berpendapat bahwa wanita itu harus mendapatkan akses pendidikan, sebagaimana kaum pria mendapatkan kesempatan


52

Pejuang Perempuan, Perempuan Pejuang

Syajarah

Imam Bondjol dan Syekh Tahir Jalaluddin. Keduaya berperan dalam pembaruan Islam di Minangkabau Sumber foto Imam Bondjol: Hadler, Jeffrey (2008). A Historiography of Violence and The Secular State in Indonesia: Tuanku Imam Bondjol and The Use of History. Sumber The Journal of Asian Studies vol 67 No.3 August 2008. Sumber foto Syekh Tahir Jalaluddin: Laffan, Michael. Islamic Nation Hood and Colonial Indonesia; The Umma Below the winds (2003), New York: Rouledge Curzon

yang sama. Hak untuk mempunyai ilmu pengetahuan dan pendidikan antara pria dan wanita adalah sama. Sistem pendidikan yang sebelumnya bercorak tradisional kurang memberikan akses bagi perempuan. Selain itu kurang penekanannya terhadap akses untuk masuk dunia kerja dan kesempatan lain. Dalam situasi masyarakat yang sedang bertumbuh inilah Rahmah El-Yunusiah tergugah untuk berkiprah. Ia menaruh perhatian khusus terhadap pendidikan kaum perempuan. Ia menyadari bahwa pendidikan menjadi sarana utama bagi peningkatan posisi kaumnya. Tidak diragukan lagi, Rahmah El-Yunusiah merupakan salah satu tokoh yang menggagas pendidikan untuk kaum perempuan. Ia sendiri berjuang untuk mewujudkan gagasan tersebut melalui berbagai upaya yang ditempuh. Makalah ini disajikan untuk menjawab pertanyaan: Bagaimana konsep dan corak pendidikan Rahmah El-Yunusiah ? Riwayat Hidup Rahmah El-Yunusiah lahir Padang, Sumatra Barat pada 1 Rajab 1318 Hijriyah atau 29 Desember 1900. Rahmah adalah anak bungsu dari empat bersaudara dari pasangan Syaikh Muhammad Yunus (dari Pandai Sikat) dan Rafi’ah (dari Si Kumbang). Jadi dari sisi silsilah, Rahmah berasal dari suku Sikumbang. Ayahnya adalah seorang qadhi dan ahli ilmu falak di Pandai Sikat. Sedangkan kakeknya adalah Syaikh Imaduddin, ulama dan tokoh tarekat Naqsyabandi yang terkenal di Tanah Minang.3 Pendidikannya ia dapatkan dari ayahnya. Namun hal ini

hanya berlangsung singkat karena ayahnya meninggal saat ia masih muda. Kakak-kakaknya yang telah dewasa kemudian melanjutkan bimbingan kepada Rahmah. Awalnya ia belajar membaca dan menulis pada kedua kakaknya yakni Zainuddin Labay El-Yunusiy dan M. Rasyad. Zainuddin adalah salah seorang tokoh pembaharu di Sumatra Barat. Zainuddin Labay sendiri adalah pendiri Diniyat School di Sumatra. Kakaknya itu menguasai beberapa bahasa asing seperti Inggris, Arab, dan Belanda sehingga banyak membantu Rahmah mengakses sejumlah literatur asing. Rahmah sangat menyegani dan mengagumi kakaknya ini. Baginya Labay adalah seorang pemberi inspirasi, pendukung cita-cita, dan seorang guru baginya. Rahmah hanya belajar selama 3 tahun di tingkat sekolah dasar. Ia merasa pendidikan ini kurang mencukupi bagi perkembangan dirinya. Menurutnya, pendidikan seperti ini kurang terbuka kepada siswa putri mengenai persoalan khusus perempuan. Oleh karena itu ia kemudian juga belajar pada sejumlah ulama di Minangkabau, seperti Haji Karim Amrullah (ayah Buya Hamka), Tuanku Mudo Abdul Hamid Hakim (pemimpin sekolah Thawalib Padang-Panjang), Syaikh Muhammad Jamil Jambek, Syaikh Abdul Latif Rasyidi, dan Syaikh Daud Rasyidi. Rahmah el-Yunusiah menjalani hidupnya dengan perjuangan untuk mengentaskan kaum perempuan. Ia hidup hingga usia 68 tahun lewat 2 bulan. Tepat pada jam 18.00 tanggal Rabu tanggal 9 Zulhijjah 1388 H atau 26 Februari 1969, pelopor pendidikan kaum perempuan itu wafat. Jenazahnya dikuburkan di perkuburan keluarga di samping rumahnya yang


Susiyanto

juga di samping Perguruan yang ia dirikan. Setiap orang yang melewati rumah dan perguruannya akan dapat melihat nisan kuburannya di pinggir jalan Lubuk Mata Kucing. Ia merupakan satu-satunya syaikhah Indonesia yang diakui oleh dunia. Kiprah Pendidikan Rahmah Keluarga yang memiliki latar belakang taat beragama dan aktif dalam gerakan pembaharuan menjadi ladang bagi bersemainya kesadaran pembaharuan dalam diri Rahmah. Ia menilai bahwa kaum perempuan sebagai tiang negara mestinya mendapatkan pendidikan yang baik sebagai halnya kaum lelaki. Keterbelakangan pendidikan kaum perempuan ini menurutnya berakar dari persoalan pendidikan dan melalui bidang ini dapat terselesaikan. Rahmah El-Yunusiah menulis: “Diniyah School Puteri ini selalu akan mengikhtiarkan penerangan agama dan meluaskan kemajuannya kepada perempuan-perempuan yang selama ini susah mendapatkan penerangan agama Islam dengan secukupnya daripada kaum lelaki … inilah yang menyebabkan terjauhnya perempuan Islam daripada penerangan agamanya sehingga menjadikan kaum perempuan itu rendam karam ke dalam kejahilan”.4 Rahmah El-Yunusiah merupakan pendiri perguruan untuk wanita Islam pertama di Indonesia yakni Madrasah Diniyah Puteri (Madrasah Diniyah li al-Banat) di Padang Panjang, Sumatra Barat. Madrasah ini didirikannya pada tanggal 1 November 1923. Semangat untuk mengangkat harkat kaum muslimah ini rupanya telah terpatri dengan mendapat landasan yang kokoh dalam ajaran Islam yang secara tegas menyebutkan: “Menuntut ilmu itu wajib bagi tiap-tiap orang Islam laki-laki dan perempuan”. Jika kaum perempuan tidak mendapatkan ilmu yang memadai, maka bahaya akan datang dalam lingkungan masyarakat. Namun jika pendidikan yang diberikan kepada mereka itu keliru, maka tidak sedikit pula malapetaka yang akan menimpa bagi segenap masyarakat manusia. Berhubung dengan itu maka pendidikan terhadap kaum wanita hendaknya disertai dengan berbagai macam kebijaksanaan, tidak boleh dilakukan secara serampangan.5 Oleh karena itu maka Rahmah El-Yunusiah berupaya untuk menggunakan landasan ideal dari pelaksanaa cita-citanya yaitu berpegang kepada Al-Qur`an dan As-sunnah. Sedangkan tujuan pendidikan Diniyah Puteri yang ia kembangkan adalah sebagai berikut: “Membentuk puteri yang berjiwa Islam dan ibu pendidik yang cakap dan aktif serta betanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air atas dasar pengabdian Allah Subhanahu wata’ala”.

Syajarah

Selain itu ia juga mendirikan lembaga pendidikan untuk kaum ibu yang belum bisa baca tulis, Menyesal School. Pendirian sekolah untuk kaum ibu ini tetap berjalan meski mendapat cemoohan. Pandangan sebagian masyarakat adat Minang pada masa itu memang agak memarginalkan kaum perempuan. Bagi mereka perempuan tidak layak berkutat pada buku, melainkan berhabitat di dapur. Menyesal School ini terpaksa dihentikan karena tempat yang diperuntukkan untuk pengajarannya rusak akibat gempa bumi pada tahun 1926.6 Untuk mengembangkan pengetahuannya tentang kurikulum sekolah, Rahmah melakukan studi banding melalui kunjungankunjungan sekolah ke Sumatera dan Jawa (1931). Selanjunya ia juga mendirikan Freubel School (Taman Kanak-kanak), Junior School (setingkat HIS). Sekolah Diniyah Putri sendiri diselenggarakan selama 7 tahun secara berjenjang dari tingkat Ibtidaiyah (4 tahun) dan Tsanawiyah (3 tahun). Pada tahun 1937 berdiri program Kulliyat al-Mu’alimat al-Islamiyah (3 tahun) yang diperuntukkan bagi calon guru. Ia juga memiliki peran dalam pendirian Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Sumatra Barat.7 Rahmah El Yunusiyah juga aktif dalam pergerakan menentang praktik-praktik penindasan ataupun pergerakan oleh penjajah Belanda. Hal itu dilakukan antara lain dengan mendirikan Perserikatan Guru-Guru Poetri Islam di Bukittinggi, menjadi ketua panitia penolakan Kawin Bercatat, dan ketua Penolakan Organisasi Sekolah Liar. Pada tahun 1933 Rahmah El Yunusiyah memimpin rapat umum kaum ibu di Padang Panjang, hal ini menyababkan dia didenda pemerintah Belanda 100 gulden karena dituduh membicarakan politik.8 Rahmah El Yunusiyah juga pernah menjadi anggota pergurus Serikat Kaum Ibu Sumatra (GKIS) Padang Panjang, organisasi yang itu berjuang menegakkan harkat kaum wanita dengan menerbitkan majalah bulanan. Aktivitasnya yang lain adalah mendirikan Khuttub Khannah ( taman bacaan) untuk masyarakat. Pada tahun 1935 Rahmah El Yunusiah sempat mewakili kaum ibu Sumatra Tengah dalam kongres perempuan yang diselenggarakan di Jakarta. Dalam kongres ini Rahmah El Yunusiyah bersama Ratna Sari memperjuangkan kaum wanita Indonesia untuk memakai selendang. Selesai kongres ia tinggal di Jakarta agak lama untuk mendirikan pendidikan untuk kaum putri di Gang Nangka, Kwitang, Kebon Kacang, Tanah Abang, Jatinegara, dan jalan Johar di Rawasari.9 Rahmah sendiri merupakan pribadi yang giat mencari ilmu. Selain belajar agama kepada sejumlah ulama, ia juga mempelajari dan menekuni berbagai ketrampilan yang mestinya dimiliki oleh kaum perempuan. Memasak, menenun,


54

Pejuang Perempuan, Perempuan Pejuang

Syajarah

Sebuah Kartu Pos masa silam dari Minangkabau Sumber foto: Haks, Leo & Steven Wachlin (2004) Indonesia 500 Early Postcards, Singapore: Archipelago Press.

dan menjahit merupakan keterampilan yang ia miliki. Ia juga berupaya menularkan ketrampilan ini kepada kaum perempuan yang ada di sekitarnya. Bahkan Rahmah kemudian mendirikan sebuah sekolah kejuruan yakni,sekolah tenun pada tahun 1936. Untuk memenuhi tenaga pengajar perempuan, Rahmah mendirikan sebuah sekolah guru untuk perempuan pada tahun 1937. Dalam masa penjajahan Jepang ia turut menentang sejumlah kebijakan yang ditelorkan oleh Tentara Jepang. Rahmah bersama para rekannya menggawangi berdirinya organisasi sosial politik yang dinamakan “Anggota Daerah Ibu� (ADI) di Sumatera Tengah. Tujuan pendirian ADI ini adalah untuk menentang aktivitas pengerahan kaum perempuan Indonesia terutama di Sumatera Tengah sebagai jugun ianfu (perempuan penghibur) bagi tentara Jepang. Berkat keaktifannya, nama Rahmah El-Yunusiah cepat dikenal secara luas dikalangan pergerakan di Jawa. Sampai-sampai setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Presiden Soekarno memasukkan namanya sebagai Anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Namun Rahmah batal pergi ke Jakarta karena tak bisa meninggalkan ibunya yang sedang sakit di Padang Panjang Jiwa patriot seorang Rahmah El-Yunusiah tergerak tatkala mendengar berita proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Kebeteluan ia merupakan anggota Chuo Sang In yang diketuai Engku Syafe’i sehingga mudah mengakses berita-berita tentang perubahan konstelasi politik di tanah air. Segera ia mengibarkan bendera merah putih di sekolahnya.Konon ia adalah orang yang pertama kali mengibarkan bendera merah putih untuk menyambut kemerdekaan di Sumatra Barat. Hal itu terjadi karena jaringan komunikasi saat itu masih banyak dikuasai oleh Jepang sehingga kaum muslimin masing jarang yang bisa mengakses. Begitu bendera berkibar di Perguruan Diniyah Puteri, lantas aktivitas ini diikuti oleh massa yang mengibarkan bendera di kantor-kantor layanan public. Tentara Jepang tidak mampu memberi tindakan atas gerakan masyarakat Minang ini. Meski demikian masyarakat telah siap dengan berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi.10


Susiyanto

Dalam peran sertanya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, Rahmah El-Yunusiah terjun dalam berbagai kegiatan. Antara lain terlibat langsung dalam berbagai aktivitas sebagai berikut: Pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Sumatra Barat. Anggotanya terdiri dari pemuda-pemuda yang telah terlatih dalam lascar Gyu Gun Ko En Kai (laskar rakyat) yang sebelumnya dibentuk oleh Jepang. Dapur asrama dan harta miliknya direlakan untuk pembinaan TKR yang rata-rata masih muda usia. Rahmah sendiri ditunjuk menjadi ketua Haha no Kai (organisasi perempuan) di Padang Panjang, untuk membantu pemuda-pemuda indonesia yang terhimpun dalam Gyu Gun (laskar rakyat) agar mereka kelak dapat dimanfaatkan dalam perang revolusi perjuangan bangsa. Ikut mengayomi laskar-laskar barisan Islam yang dibentuk oleh sejumlah organisasi Islam pada waktu itu seperti Laskar Sabilillah dan Laskar Hizbulwathan. Oleh karena itulah para pemuda pada masa itu menjuluki Rahmah El-Yunusiah sebagai “ibu kandung perjuangan”. Semasa perang asia-pasifik, gedung sekolah Diniyah Putri dua kali dijadikan rumah sakit darurat untuk menampung korban kecelakaan kereta api. Atas peristiwa ini Diniyah School Putri mendapat Piagam Penghargaan dari Pemerintah Jepang.11 Rahmah juga tercatat sebagai salah seorang pendiri partai Masyumi di Minangkabau. Rahmah cukup aktif dalam mengembangkan Masyumi. Sampai pada pemilu tahun 1955, Rahmah dicalonkan oleh partainya dan terpilih menjadi anggota Parlemen (DPR) mewakili Sumatra Tengah (19551958). Upaya pengembangan pendidikan yang dilakukan Rahmah selanjutnya adalah merintis program pendidikan tingkat perguruan tinggi. Sejak 1964, Rahmah telah merintis pendirian Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Dakwah. Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 22 November 1967, kedua fakultas tersebut diresmikan oleh Gubernur Sumatera Barat waktu itu, Prof. Drs. Harun Zein. Upaya-upaya Rahmah dalam mendirikan dan mengembangkan Diniyah School Puteri, yang bertujuan untuk mencerdaskan kaum perempuan mendapatkan perhatian secara khusus dari dunia Islam. Keberhasilan Rahmah ini menarik perhatian Syaikh Abdurrahman Taj, Rektor Universitas al-Azhar Cairo Mesir. Bahkan pada tahun 1955, Syaikh Abdurrahman mengadakan kunjungan ke sekolah yang terletak di Padang Panjang ini. Beliau tertarik dengan sistem pembelajaran khusus yang diterapkan kepada putri-putri Islam di Indonesia. Ia banyak menimba pengalaman dari sekolah yang didirikan

Syajarah

Rahmah. Pada waktu itu, al-Azhar belum memiliki lembaga pendidikan khusus bagi kaum perempuan. Tak lama setelah kunjungan, Universitas Al Azhar membuka pendidikan khusus perempuan yang bernama kulliyyât al-banât. Sebagai rasa terima kasih, Syaikh Abdurrahman mengundang Rahmah ke Universitas al-Azhar. Tahun 1957 Rahmah menunaikan haji, dan pulangnya mampir ke Kairo untuk menghadiri undangan Sang Rektor. Tak diduga sebelumnya, Rahmah ternyata mendapat anugrah berupa gelar Syaikhah oleh Universitas itu. Pemberian gelar ini belum pernah diberikan kepada siapa pun sebelumnya. Gelar yang baru disandangnya itu setara dengan gelar Syeikh Mahmoud Syalthout, salah seorang mantan rektor al-Azhar. Keterpautannya dengan pendidikan kaum perempuan nampak telah mengurat dalam nadinya. Ia yakin hal ini merupakan bagian dari dakwah yang menjadi tanggung jawabnya untuk menjadikan kaum perempuan setara dengan kaum lelaki dalam mengakses berbagai bidang keilmuan. Bahkan sehari menjelang akhir hayatnya yaitu tanggal 25 Februari 1969 ia masih sempat meminta perhatian kepada Harun Zein, Gubernur Sumatra Barat, dalam suatu pembicaraan yang ia sampaikan: “Nafas saya sudah hampir habis dan kepada bapak Gubernur saya mintakan perhatian atas sekolah saya”. Hal ini ditanggapi oleh Gubernur sebagai sebuah wasiat.12 Aktivitas Rahmah El-Yunusiah dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia telah mendapatkan pengakuan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebelumnya usulan untuk memasukkan sosok Rahmah El-Yunusiah ke dalam deretan nama Pahlawan Indonesia telah mengalami kegagalan. Atas usulan dan usaha Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) yang merupakan federasi 55 organisasi wanita di Indonesia, akhirnya Rahmah El Yunusiah resmi menjadi salah satu Pahlawan Indonesia.13 Corak dan Konsep Pendidikan Usaha-usaha Rahmah El Yunusiah dalam memperjuangkan pendidikan untuk kaum perempuan, tidak diragukan lagi, bercorak agamis. Ia menggunakan ajaran Islam sebagai landasan perjuangannya. Al Qur’an dan Ash Shunnah ia tampilkan sebagai madah perjuangan yang harus diaplikasikan dalam gagasan dan aktivitasnya terkait bidang pendidikan. Dengan dasar agama ini pula ia ingin agar kaum perempuan bisa menjadi mitra yang sejajar bagi kaum lelaki dalam menjalani kehidupan berdasarkan ajaran Islam. Corak agamis yang dimiliki Rahmah El-Yunusiah ini terbentuk melalui interaksi secara intensif dengan kebudayaan dimana ia hidup. Keluarga secara khusus dan alam Minangkabau secara umum telah memberi banyak dasar bagi Rahmah untuk


56

Pejuang Perempuan, Perempuan Pejuang

Syajarah

Syaikhah Rahmah El Yunisiyah Foto: Manipulasi dan kolase foto dari beragam sumber

menjadi sosok yang agamis dan menggunakan agama sebagai tuntunan hidup. Dari sisi keluarga, ia menyerap sebuah semangat baru yang digambarkan sebagai bentuk “pembaharuan” Islam di Sumatra Barat. Kakaknya – Zainuddin Labay El-Yunusiy, sebagai sosok pengganti orang tua dan sekaligus guru baginya, merupakan pendiri Sekolah Adab dimana gagasan-gagasan pembaharuan pendidikan Islam banyak ia kembangkan untuk mengatasi berbagai persoalan yang ada dalam sistem pendidikan lama yang berkutat di sekitar surau. Dari sang kakak inilah Rahmah El-Yunusiah menyerap pemikiran baru yang kemudian ia kembangkan lebih lanjut menjadi ide dan aktivitas pendidikan yang berupa mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan. Rahmah El Yunusiah sendiri juga banyak berguru pada sejumlah ulama yang mengampu kajiannya berbasis surau. Dengan demikian, Rahmah boleh dikatakan merupakan sosok yang mengalami dua model pendidikan sekaligus yaitu pendidikan surau yang bersifat tradisional dan melalui madrasah yang dianggap lebih “modern”. Berada pada dua model pendidikan itu sendiri membuat Rahmah bisa menyelami kelebihan dan kekurangan masing-masing entitas. Oleh karena itu meskipun pada akhirnya Rahmah El-Yunusiah mengambil sistem pendidikan Madrasah, ia tetap mengembangkan gagasan-gagasan dan aktivitas-aktivitas posistif yang ia dapatkan dari sistem surau. Dengan demikian surau sebagai lingkungan pendidikan tidak ditinggalkan dalam gagasan pendidikan Rahmah. Kata “surau” sendiri diduga berasal bahasa sansekerta

swarwa yang artinya segala, semua, macam-macam. Hal ini berarti surau yang telah ada sejah era Indianisasi merupakan sebuah pusat pendidikan dan pelatihan. Jelas awalnya surau memiliki latar belakang Hindu-Budha. Awalnya Surau menjadi tempat peribadatan, pertemuan warga, dan untuk belajar pengetahuan agama maupun ketrampilan tertentu.14 Setelah mengalami proses Islamisasi, satu-satunya fungsi surau yang berubah adalah hal yang terkait dengan pengaruh keagamaannya. Surau di Mingangkabau berada di dalam struktur kepemimpinan adat yang terdiri dari: imam, khatib, bilal, amil (zakat), dan jamaah, yang dalam bahasa Minang dikatakan “Urang nan ampek jinih (penghulu, manti, malin, dubalang) berada di malin.”15 Dari sini dapat diketahui bahwa surau memiliki fungsi sebagai lembaga pengembangan dakwah Islam dan menjadi salah satu lembaga kemasyarakatan yang penting peranannya bagi rakyat Minangkabau. Penduduk Minang, dimana Rahmah El-Yunusiah tumbuh juga dikenal sebagai masyarakat yang agamis. Masyarakat ini memang pernah terbelah dalam era Perang Padri (1821-1837), dimana terjadi konflik antara kelompok pemangku adat yang ingin melestarikan tradisi lama – berlawanan dengan kaum padri yang ingin mengembangkan kehidupan keagamaan secara totalitas. Rekonsiliasi terjadi pada tahun 1840 setelah kedua belah pihak menyadari kekeliruannya. Kesepakatan kedua belah pihak dikukuhkan dalam bai’at yang dikenal dengan nama Piagam Bukit Marapalam yang isinya mengaskan bahwa adeik basandi syara’- syara’ basandi kitabullah (Adat bersendi syara’ – Syara’ bersendi kitabullah). Syara’ yang dimaksud adalah ajaran Islam dan kitabullah menunjuk pada


Susiyanto

Al Qur’an. Ungkapan yang dihasilkan dalam kesepakatan ini, lagi-lagi ini menunjukkan bahwa pada dasarnya masyarakat Minang adalah religius.16 Meskipun Rahmah El-Yunusiah sempat mengenyam pendidikan agama dari model Surau, namun tetap saja perempuan memiliki keterbatasan dalam lingkungan pendidikan yang terakhir ini. Perempuan tidak bisa sebebas kaum laki-laki dalam menuntut ilmu di Surau. Kaum lelaki Minang memang dikenal sangat santun terhadap kaum wanita. Bahkan menjadi aib apabila ada seorang pria tidur di rumah, sementara di rumah yang sama saudara wanitanya juga tidur. Wanita juga mendapat kekhususan yang lebih utama dari laki-laki dalam hal harta pusaka (warisan). Alam Minang sendiri mengenal tradisi matrilineal, dimana kaum perempuan dianggap memiliki keutamaan dalam hal tertentu.17 Meskipun demikian akses perempuan untuk mendapat ilmu agama tetap terbatas. Keterbatasan dalam hal akses keilmuan inilah yang nampaknya mendorong Rahmah ikut terlibat dalam arus “pembaharuan” bagi kaum perempuan. Meskipun demikian Rahmah nampaknya tidak memiliki gagasan bahwa kondisi keterbelakangan kaumnya ini terjadi sebagai akibat kondisi sosial yang cenderung patriarkhis atau bahkan buah penindasan yang terjadi karena kaum lelaki. Pijakan awal pembaharuan yang dibawa oleh Rahmah dalam konsepnya tentang pendidikan kaum perempuan jelas berbeda dengan asumsi dasar kaum feminis yang menganggap bahwa kaum perempuan mengalami diskriminasi.18 Apalagi dengan melihat kembali budaya alam Minangkabau yang dari beberapa sisi cenderung memuliakan kaum perempuan, maka perbedaan antara kesadaran awal Rahmah El-Yunusiah dengan asumsi feminisme semakin kentara. Wacana yang diusung Rahmah El-Yunusiah bukanlah upaya “membebaskan” atau bahkan “memerdekakan” sebagaimana yang ada dalam konsep emansipasi Barat, sebab hakikatnya wanita di ranah Minang memang tidak dalam kondisi diperbudak atau terjajah oleh pria. Ia hanya menginginkan agar wanita mendapatkan posisinya sebagaimana ajaran Islam menempatkan kaum perempuan. Pandangan Rahmah El-Yunusiah terhadap perempuan terlihat jelas bertolak dari ajaran Islam. Fakta sosial tentang adanya ketimpangan atau penindasan yang kadang terjadi di kalangan masyarakat Islam lebih banyak terjadi disebabkan oleh praktik dan tradisi masyarakat yang bersangkutan, ketimbang oleh ajaran Islam. Pandangan demikian tentu berbeda dengan konsep kesetaraan gender yang dipahami oleh kalangan feminis radikal yang menganggap bahwa ajaran Islam adalah sumber budaya patriarkhis, oleh karena itu ajaran Islam itu sendiri adalah salah karena menampakkan misogyny (bias gender) dan harus dikoreksi.19

Syajarah

Rahmah menilai bahwa posisi kaum perempuan dalam Islam cukup sentral, dalam hal ini tidak ada perbedaan dengan kaum laki-laki. Perbedaan peran memungkinkan terjadi, namun hal ini bukan merupakan wilayah yang kemudian dijadikan pembenaran sebagai bukti adanya suatu diskriminasi. Ia hanya berupaya memperbaiki kondisi kaumnya melalui bidang pendidikan, sebab menurutnya wanita pada akhirnya akan berperan sebagai seorang ibu. Ibu merupakan madrasah awal bagi anak-anaknya sebelum terhubung dengan alam pandang (worldview) yang lebih luas di lingkungan sekitarnya. Melalui ibu inilah corak pandang dan kepribadian awal seorang anak akan terbentuk. Oleh karena itu menjadi penting bagi Rahmah untuk memberikan bekal bagi kaum perempuan ilmuilmu agama dan ilmu terkait lainnya sehingga bisa memiliki pengetahuan yang sama dengan mitra sejajarnya, kaum lelaki. Di sini pula akan terbentuk pandangan bahwa wanita merupakan tiang negara. Kajian ilmiah modern dan data-data akurat telah mengungkapkan bahwa ibu memegang peranan sangat penting dalam perkembangan anak-anak. Perkembangan ini mencakup badan, kesehatan, kemampuan intelektualitas, serta perkembangan kejiwaan dan perilakunya, hingga hal-hal yang lainnya.20 Intinya ibu memiliki peran tertentu dalam mendidik anak-anak, termasuk dalam pemahaman keagamaan. Pada wilayah inilah nampaknya Rahmah ElYunusiah bergerak, tentu saja terlepas dari fakta hasil kajian ilmiah modern dan data-data terkait yang baru ada setelah masa sesudahnya. Dilihat dari aktivitas yang dilakukannya, nampaknya Rahmah El-Yunusiah ingin menerapkan “pembelajaran sepanjang hayat” dalam konsep pendidikan yang digagasnya. Hal ini tercermin dalam model pendidikan yang dimulai dari masa anak-anak dengan mendirikan Freubel School (semacam Taman Kanak-kanak). Ia kemudian juga menggagas pendidikan lanjutannya berupa Junior School (setingkat HIS), Madrasah Diniyah Putri yang mencakup Ibtidaiyah danTsanawiyah, dan program untuk calon guru Kulliyat al Mu’alimat al-Islamiyah. Pada masa selanjutnya, Rahmah pun mengagas pendirian perguruan tinggi untuk kaum perempuan. Perguruan tinggi ini hanya terdiri dari satu fakultas yakni Fakultas Dirasah Islamiyah. Bagi ibu-ibu yang tidak terjaring dalam pendidikan formal dan belum bisa membaca atau menulis, Rahmah pernah mendirikan Menyesal School. Ia juga sempat menggagas semacam sekolah kejuruan yakni, sekolah tenun. Nampak bahwa ia menyediakan lapangan yang luas bagi kaum perempuan yang ingin mengamalkan ajaran Rasulullah bahwa menuntut ilmu itu tidak sekedar “kewajiban bagi kaum muslimin dan muslimat”, namun juga “menuntut ilmu itu dari buaian sampai liang lahat”.


58

Pejuang Perempuan, Perempuan Pejuang

Syajarah

Sebuah Masjid di Padang Pariaman. Sumber foto: KITLV Digital Image Library Collection. (www.media-kitlv.net)

Corak agamis konsep pendidikan Rahmah El-Yunusiah teruji ketika institusi pendidikannya agak terseret dalam puasaran arus politik. Rasuna Said, seorang politikus perempuan yang populer di Minangkabau, pernah tergabung dalam institusi pendidikan Rahmah El-Yunusiah. Disebabkan kepopuleran Rasuna Said ini, sebagian dari murid-murid Rahmah ada yang tertarik dalam kegiatan politik. Akibat arus politik tersebut, Rahmah mengamati bahwa sejumlah peraturan yang dikeluarkan terkait pelaksanaan kewajiban agama di sekolahnya, seperti pelaksanaan shalat, sering diabaikan. Rahmah kemudian mengadakan pertemuan dengan Rasuna untuk membicarakan permasalahan namun tanpa hasil yang berarti. Sebuah panitia yang diketuai Inyik Basa Bandaro kemudian dibentuk sebagai perantara. Mereka juga menyadari bahwa institusi pendidikan Rahmah pada masa itu mengalami kemunduran dalam aktivitas agama akibat terbawa urusan politik. Panitia yang terbentuk akhirnya menyetujui Rahmah. Kebijakan dalam mengemudikan sekolah haruslah terletak pada pendiri atau direktur sekolah. Oleh karena itu Rasuna Said menarik diri dan pindah dari Padang.21 Dari peristiwa ini dapat dipahami bahwa Rahmah El-Yunusiah sangat memperhatikan dan menekankan penanaman nilainilai agama dalam konsep pendidikan yang ia gagas. Hal ini bukan berarti ia menganggap aktivitas politik tidak penting. Ia sendiri merupakan praktisi politik dimasanya. Ia mengamati bahwa pemimpin-pemimpin politik di Minangkabau terdiri daro orang-orang yang dimasa mudanya tidak mendapat pendidikan politik, tetapi telah mengenyam pendidikan agama di lembagalembaga yang mereka masuki. Dari sini Rahmah menyimpulkan bahwa para murid tidak perlu secara khusus diberikan pelajaran yang menekankan pada teori atau praktik politik.22

Penutup Dari pembahasan di atas dapat di ambil berbagai kesimpulan terkait pribadi wanita pejuang Rahmah El-Yunusiah sebagai berikut: Pertama, Rahmah El-Yunusiah merupakan tipologi wanita yang pantang menyerah. Dalam kasusnya terkait akses kaum perempuan yang terbatas untuk menikmati dunia pendidikan, ia merupakan salah satu pendobrak tradisi yang berhasil. Ia sendiri hanya berhasil mendapat pendidikan dasar, namun kemauannya belajar dan keinginannya untuk memajukan kaumnya telah mengantarkan dirinya mampu menciptakan kesempatan bagi kaumnya untuk mendapat akses yang sama dengan kaum lelaki dalam mereguk ilmu. Kedua, Rahmah El-Yunusiah adalah wanita pertama yang mendirikan sekolah khusus untuk kaum perempuan. Berkat prestasinya ini bahkan Universitas Al-Azhar tidak bisa tidak harus mengakui kepeloporannya dan mengikuti jejaknya dengan membuka program kulliyyât al-banât di Mesir. Ia juga merupakan orang yang pertama mendirikan layanan kesehatan (Rumah Sakit) khusus untuk kalangan perempuan. Ketiga, Sebagai seorang pejuang ia memiliki jiwa dan semangat perjuangan yang kuat. Hal ini terbukti dari keikutsertaannya dalam barisan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia juga turut hadir dan menyumbang peran dalam berbagai aktivitas yang bermanfaat bagi perjuangan dan hajat kaum muslimin. Keempat, Atas kiprah dalam lapangan keilmuan dan lapangan lainnya ia telah mendapat penghargaan yang selayaknya diperoleh. Ia mendapat gelar (honoris causa) “Syaikhahâ€? dari Universitas Al-Azhar, Mesir atas perhatiannya dalam


Susiyanto

Syajarah

memajukan pendidikan kaumnya. Pemberian gelar ini belum pernah diberikan kepada siapa pun sebelumnya.

dalam menyiapkan kaum ibu sebagai tiang negara dan pendidik bangsa.

Kelima, corak perjuangan Rahmah El-Yunusiah bersifat agamis dimana ia menggunakan ajaran Islam sebagai dasar dan penegakannya menjadi cita-cita perjuangan. Dengan perjuangan ini ia mengharapkan kaum wanita akan bisa mengembangkan peran yang lebih baik sebagai mitra sejajar kaum pria. Peran perempuan bahkan cukup sentral dalam pembentukan awal sikap mental dan kepribadian generasi baru di lingkungan keluarga karena ia bergerak dalam wilayah domestik tersebut. Dalam kancah aktivitas yang lebih luas kaum perempuan pun tak kurang perannya. Penyiapan kaum perempuan secara berkelanjutan akan membentuk mereka

Dari kisah kehidupannya dapat diketahui bahwa Rahmah El-Yunusiah merupakan pejuang perempuan dengan motivasi yang tinggi dan pantang menyerah dalam memperjuangkan pendidikan kaum perempuan. Ia berjuang berdasarkan ide-ide yang ia yakini yang bersumber dari ajaran Islam yang berlandaskan Al Quran dan As-Shunnah. Pejuang tangguh selalu mewariskan nilai dan semangat yang bisa diteladani oleh generasi sesudahnya. Rahmah El-Yunusiah sendiri telah memberikan sebagian bukti bahwa harkat dan martabat manusia bisa terangkat ketika mereka menyadari tentang pentingnya ajaran agama diamalkan secara konsekuen.

[1] Jajat Burhanudin dan Oman Fathurrahman (ed.), Tentang Perempuan Islam: Wacana dan Gerakan, Gramedia, Jakarta, 2004, hlm. 19; Dalam catatan A.A. Navis, pembaharuan Islam di Minangkabau terjadi dalam 3 gelombang. Gelombang pertama, datang dari kalangan padri, yang diarsiteki oleh 3 serangkai haji yakni Haji Miskin, Haji Piobang, dan Haji Sumanik. Gelombang kedua, datang setelah gerakan kaum padri ini kandas dalam perjuangan melawan senjata modern selama 34 tahun. Gelombang pembaharuan kedua yang berasal dari Makkah ini ditandai dengan penyebaran Tarekat Naqsyabandiyah secara massif di bawah pimpinan Tuanku Ismail dari Simabur, yang kemudian bergelar Syaikh Ismail Simabur. Lima puluh tahun kemudian, muncul gelombang ketiga yang lagi-lagi digagas oleh 3 serangkai haji yang terdiri dari H. Abdullah Ahmad, H. Abdul Karim Amrullah, dan H. Muhammad Jamil Jambek. Golongan ini menamakan diri sebagai “kalangan muda” yang ingin memebrsihkan Islam dari pengaruh mistik dan tarikat. Lihat A.A. Navis, Alur Kebudayaan dalam Tingkah Laku Gerakan Politik di Minangkabau, dalam Jurnal Analisis Kebudayaan No. 1 Tahun III/ 1982-1983, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, hlm. 76 [2] Jajat Burhanudin dan Oman Fathurrahman (ed.), Tentang Perempuan Islam …, hlm, 19-20 [3] Aminuddin Rasyad, et. all, H.Rahmah El Yunusiyyah dan Zainuddin Labay El-Yunusy: Dua Tokoh Bersaudara Tokoh Pembaharu Sistem Pendidikan di Indonesia Riwayat Hidup, Cita-Cita, dan Perjuangannya, Jakarta: Pengurus Perguruan Diniyyah Puteri Perwakilan Jakarta,1991, hlm. 35-37 [4] Lihat Junaidatul Munawaroh, Rahmah El – Yunusiyah: Pelopor Pendidikan Perempuan, hlm. 1 dalam Jajat Burhanudin dan Oman Fathurrahman (ed.), Tentang Perempuan Islam …, hlm. 19 [5] Moenawar Kholil, Nilai Wanita, Cetakan IX, Surakarta: CV. Ramadhani, 1989, hlm. 115 [6] Jajat Burhanudin (ed.), Ulama Perempuan Indonesia, Jakarta: Gramedia, 2002, hlm. 10 [7] Abuddin Nata, Tokoh-tokoh Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Rajawali Press, 2005, hlm. 29; Jajat Burhanudin dan Oman Fathurrahman (ed.), Tentang Perempuan Islam …, hlm, 18-19 [8] Aminuddin Rasyad, et. all, H.Rahmah El Yunusiyyah …, hlm. 59 [9] Hasril Chaniago, 101 Orang Minang di Pentas Sejarah, Padang: Citra Budaya Indonesia,2010, hlm. 427 [10] Jajat Burhanudin (ed.), Ulama Perempuan …, hlm. 26 [11] Jajat Burhanudin (ed.), Ulama Perempuan …, hlm. 26 [12] Jajat Burhanudin (ed.), Ulama Perempuan …, hlm. 30 [13] Jajat Burhanudin (ed.), Ulama Perempuan …, hlm. 30 [14]Tuanku Kayo Khadimullah, Menuju Tegaknya Syariat Islam di Minangkabau: Peranan Ulama Sufi dalam Pembaharuan Adat, Bandung: Marja, 2007, hlm. 170 [15] Tuanku Kayo Khadimullah, Menuju Tegaknya Syariat …, hlm. 172 [16] Febri Yulika, Epistemologi Minangkabau: Makna Pengetahuan dalam Filsafat Adat Minangkabau, Yogyakarta: Gre Publishing, 2012, hlm. 3 [17] Tuanku Kayo Khadimullah, Menuju Tegaknya Syariat …, hlm. 171-172; Hal-hal terkait masalah adat seperti misalnya tentang harta pusaka yang pembagiannya lebih mengutamakan kaum perempuan juga mendapat sejumlah kritikan. Hal ini dianggap tidak sesuai dengan hukum Islam tentang pembagian harta warisan (fara’id). Diantara kritik yang paling keras terhadap masalah ini berasal dari Syaikh Akhmad Khatib Al-Minangkabawi. Ia menganggap bahwa hukum warisan berdasarkan adat semacam itu bersifat haram dan pelakunya bisa dianggap melakukan perbuatan haram. Lama-kelamaan sistem fara’id Islam mulai diterima. Meskipun demikian hal ini juga melalui proses yang panjang. Perubahan dimulai dengan mengadopsi sistem hibah. Selengkapnya baca A.A. Navis, Alur Kebudayaan dalam …, hlm. 78-80 [18] Dilihat dari latar belakangnya, feminisme merupakan suatu gerakan yang diawali dengan kesadaran yang berangkat dari asumsi bahwa kaum perempuan mengalami diskriminasi. Gerakan ini merupakan upaya untuk mengatasi diskriminasi tersebut. Lihat: Gillian Howie, Between Feminism and Materialism: A Question of Method, New York: Palgrave Macmillan, 2010, hlm. 27-28; Mansour Fakih, et.all., Membincang Feminisme: Diskursus Gender Perspektif Islam, Surabaya: Risalah Gusti, 2000, hlm. 38; A. Nunuk P. Murniati, Getar Gender: Perempuan Indonesia dalam Perspektif Sosial, Politik, Ekonomi, Hukum, dan HAM, Jilid 1, Magelang: IndonesiaTera, 2004, hlm. xxviii. Gerakan feminisme yang lahir di Barat sebenarnya merupakan bentuk respons dan reaksi terhadap situasi dan kondisi kehidupan masyarakat di sana, terutama menyangkut nasib dan peran kaum wanita. Gerakan ini lahir karena adanya anggapan bahwa di Barat kaum perempuan memang dipandang ‘sebelah mata’ (misogini). Pandangan ini telah diawali oleh tokoh-tokoh seperti Plato dan Aristoteles serta diikuti Gereja yang memposisikan wanita tidak setara dengan kaum lelaki. Lihat: Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, Jakarta: Gema Insani, 2008, hlm. 103-107 [19] Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme …, hlm. 113 [20] Studi yang dimaksud dilakukan oleh Dr. Rene Sebitern, Dr. Widdowson, dan Dr. Weidz Haitez-rolf. Lihat: Nuruddin ‘Itr, Hak dan Kewajiban Perempuan: Mempertanyakan Ada Apa Dengan Wanita?, Yogyakarta: Bina Media, 2005, hlm. 156-157 [21] Abudin Nata, Tokoh-tokoh Pembaruan …, hlm. 32-33 [22] Abudin Nata, Tokoh-tokoh Pembaruan …, hlm. 33


60

Buku

Pangeran Diponegoro Judul: Takdir. Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855)

Penulis: Peter B. Carey

P

angeran Diponegoro adalah sebuah kejanggalan dalam sejarah Indonesia. Namanya begitu dikenal, menghiasi jalan-jalan protokol di banyak kota, dikenalkan sejak Sekolah Dasar, namun sedikit yang mengenalnya lebih jauh. Ia hanya sebatas ingatan tentang pria bersorban, yang mengamuk kepada Belanda karena tanahnya ‘diserobot’. Nilainya tak lebih dari sekedar patok tanah. Alhasil dirinya dinilai tak lebih dari manusia yang berjuang berlandaskan nilai-nilai kebendaan. Maka tak heran jika di masa kini dirinya mungkin akan ditafsirkan semena-mena oleh generasi yang terpaut jauh darinya. Syahdan dalam sebuah bedah buku Strategi Menjinakkan Diponegoro, Stelsel Benteng 1827-1830, pada tanggal 27 Agustus silam, ada seorang pendengar berpendapat. Ia menilai jika saja Karl Marx hidup sezaman dengan Sang Pangeran, maka ia pasti berjuang berlandaskan marxisme. Tentu saja penafsiran semacam ini saat itu ditolak oleh dua pakar yang menulis tentang Diponegoro, yaitu Saleh A. Djamhari dan Peter B. Carey. Keduanya dengan tegas mengatakan dibawah panji Islam-lah Pangeran berjuang.

2013

xxxvii + 434 Halaman

Penafsiran semacam ini adalah pemerkosaan terhadap kisah Pangeran Diponegoro. Penafsiran semenamena ini mungkin diakibatkan terputusnya kehadiran Diponegoro yang lebih mendalam ditengah generasi saat ini. Fakta dan data yang menyingkap Sang Pangeran lebih dalam nyatanya tidak merembes ke dalam pengetahuan masyarakat. Penulisan sejarah Pangeran Diponegoro dan Perang Jawa memang masih dapat dihitung dengan jari dan amat terbatas. Setidaknya Muhammad Yamin (Sedjarah Peperangan Dipanegara; Pahlawan Kemerdekaan Indonesia; 1950), Soekanto (Sentot Alias Alibasah Abdulmustapha Prawirodirjo Senoapti Diponegoro; 1951), Sagimun MD (Pahalwan DIpanegara Berjuang, Bara api kemerdekaan nan tak kunjung padam; 1965) dan Tanojo (Sadjarah Pangeran Dipanegara darah Madura; Awewaton pengetan kina; 1966) merujuk tulisannya bukan pada penelitian arsip, melainkan mengutip buku Sejarah perang Jawa yang ditulis PJF Louw dan ES de Klerck. Dengan rujukan yang terbatas sulit untuk menjangkau pribadi Pangeran dan peristiwa yang mengelilinginya.


Buku

Namun Saleh A. Djamhari dan terutama Peter Carey menembus kabut pekat tersebut dan merujuk pada sumber-sumber primer seperti otobiografi Pangeran Dipanegara; Babad Dipanegara, yang ditulis selama masa pengasingannya. Sumber lain yang dapat dijangkau adalah Buku Kedhung Kebo, yang ditulis dibawah pengawasan Raden Adipati Cakranagara I (1830-1863). Cakranagara menjabat pada tahun 1830, setelah Belanda menguasai Purwaredja. Dan tentu saja sumber yang tak kalah penting berhasil dimanfaatkan Peter Carey adalah Babad Dipanegara versi Keraton Surakarta. Terbukanya akses terhadap sumber-sumber tersebut menjadikan Peter Carey salah satu dari sangat sedikitnya pakar mengenai Pangeran Diponegoro dan Perang Jawa.

Penelitiannya selama puluhan tahun dan pemanfaatan sumber-sumber yang utama membuat karya-karyanya patut menjadi rujukan-rujukan kuat dalam mempelajari dan mengenal lebih jauh Pangeran Diponegoro. Dan buku Takdir ini adalah salah satu rujukan yang mumpuni bagi masyarakat Indonesia dalam mengena Sang Pangeran. Buku Takdir menjadi istimewa karena dibandingkan dengan karya Peter Carey sebelumnya, yaitu Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama

di Jawa 1785-1855, Takdir menjadi penulisan Pangeran yang lebih terfokus pada riwayat dirinya. Ketika Kuasa ramalan membahas lebih luas tentang Perang Jawa dan Pangeran Diponegoro, Takdir muncul menjadi karya biografi yang lebih padat dan terfokus. Terlepas dari kedalaman dan lengkapnya rujukan yang dilakukan oleh Peter Carey terhadap Pangeran Diponegoro, kajian terhadap Pangeran Diponegoro seharusnya tidak berhenti sampai disini. Akses dan penguasaan terhadap sumber utama seperti otobiografi Pangeran Diponegoro, yaitu Babad Dipanegara, sudah selayaknya dapat menjadi sumber melimpah yang terus mengalirkan penulisan-penulisan berbagai aspek tentang Pangeran Diponegoro. Hubungan Pangeran dengan Turki Usmani, pemahaman Islam dari Pangeran Diponegoro adalah salah satu wacana-wacana yang harus terus dikembangkan dan diteliti lebih lanjut. Salah satu penulisan yang patut diperhatikan adalah ‘Negara Islam Tanah Jawa; Citacita Jihadis Pangeran Diponegoro’ yang ditulis oleh K. Mustarom dari Lembaga Kajian Syamina. Aspek penulisan ini lebih memfokuskan pada aspek jihad Pangeran Diponegoro. Tulisan seperti ini hanyalah sedikit contoh dari betapa kayanya kajian yang bisa didalami dari Pangeran dan Perang Jawa. Sayang sekali penyebaran tulisan ini K. Mustarom tidak meluas. Bagi umat Islam, amat penting untuk dilakukan penafsiran-penafsiran sejarah dengan pandangan hidup Islam. Termasuk pula penulisan sejarah Pangeran Diponegoro. Karena tanpa mengurangi penghargaan kita kepada Peter Carey atas luas dan mendalamnya pengetahuan ia akan Pangeran Diponegoro dan Perang Jawa, penulisan yang dilakukan Peter Carey tetaplah sebuah penafsiran tanpa pandangan hidup Islam. Maka kita akan menemukan pendapat-pendapatnya yang perlu ditelisik lagi, tentang hukuman potong tangan atau sudut pandang dalam meninjau hubungan Pangeran dengan wanita keturunan tionghoa yang menjadi tawanannya. Persoalan ini merupakan hal yang dapat diatasi oleh penulis muslim dengan menghadirkan penulisan ulang sejarah Pangeran Diponegoro dengan pandangan hidup Islam. Dan hal itu sebenarnya sudah dipermudah oleh Peter Carey dengan membuka akses terhadap sumbersumber rujukan Pangeran Diponegoro yang begitu melimpah. (BR)


62

Rekam

z

merekam ingatan Perang Aceh akan selalu tercatat dalam sejarah Indonesia. Perang yang tak kunjung padam hingga Belanda angkat kaki dari ‘Serambi Mekah’ ini menyiratkan keberanian dan pengorbanan pejuangpejuang Aceh. Namun mungkin belum banyak yang ungkap visualisasi perang tersebut. Nuansa dan jejakjejak peperangan yang terekam dalam ingatan perang puluhan tahun itu tersimpan dalam foto-foto tentang Perang Aceh, salah satunya dalam buku The Dutch Colonial War in Acheh (1997), yang diterbitkan oleh Banda Aceh: The Documentation and Information Center of Acheh.

Teungku Putroē (tengah), permaisuri Sultan yang berhasil ditawan oleh H. Christoffel, tanggal 26 November 1902, di Glumpang Payông, Pidië

Foto esai kali ini akan mengusung kembali kisahkisah dibalik peperangan tersebut, dari kurban bergelimpangan, hingga gajah yang terekam dalam potret masa silam.

Satuan angkutan gajah Divisi IV Marsosé sedang melintasi Kurëng Barô - sekitar Tangsé - Pidië.


Rekam

Korban-korban bergelimpangan di Kute Reh (Aceh Tenggara), 14 Juni 1904. Pembantaian ini dipimpin oleh Van Daalen. Dari 516 korban, 248 adalah perempuan dan anak-anak. Namun tampak seorang anak luput dari pembantaian.


64

Orang rante. Mereka yang terikat ini adalah para tenaga kerja paksa yang menjadi tukang angkut pasukan kolonial. Dalam serangan pertama Belanda pada Maret 1873, setidaknya terdapat seribu orang rante yang dipekerjakan dalam pasukan Belanda.

Salah satu bagian dari Hikayat Perang Sabil yang ditemukan Belanda di tempat Teungku Putroē (permaisuri Sultan Muhammad Daud Syah), ketika disergap Kapten Christtoffel bersama pasukan Marsose di Glumpang Payong, Pidië, 26 November 1902.

Rekam


Rekam

Mohammad Syarief adalah seorang pencetus gagasan dibentuknya ‘Korps Marécheaussée’ yang terkenal kejam itu. Ia bekerja menjadi Komis di Kantor Gubernur Sipil dan Militer di Aceh.


66

Catatan Punggung

BUKU DAN SANAD YANG TERPUTUS ketika Buya Hamka tamat mengaji sosialisme kepada H.O.S Tjokroaminoto di pulau Jawa, rasa terima kasihnya tidak berhenti disitu. Bersama murid-murid lainnya, ia mempersembahkan sebuah buku berjudul Islam dan Sosialisme. Buku itu adalah rangkuman pengajaran Tjokroaminoto yang telah mereka terima. Di tahun 1954, M. Natsir, Moh. Roem, Sjafruddin Prawiranegara, Prawoto Mangkusasmito, Yusuf Wibisono dan empat orang lainnya mempersembahkan sebuah buku untuk guru mereka, H. Agus Salim, yang kala itu tepat berusia 70 tahun. Lautan pikiran H. Agus Salim yang terserak mereka kumpulkan menjadi buku dan diberi judul Djedjak Langkah H. Agus Salim. Buku itu sebagai persembahan para murid-murid kepada guru mereka. Mencerminkan sebuah adab yang indah dari murid terhadap gurunya. Rupanya angka 70 ini menjadi sebuah tradisi bagi para murid-murid H. Agus Salim yang kemudian menjadi tokoh-tokoh Masyumi. Di keluarga ‘bulan bintang’ persembahan sebuah buku kepada yang genap berusia 70 tahun menjadi tradisi yang cukup konsisten di jalani. M. Natsir, Buya Hamka, Yunan Nasution, hingga generasi berikutnya seperti Anwar Harjono merasakan tradisi tersebut. Buku 70 tahun tersebut utamanya berisi riwayat hidup bersangkutan, terkadang ditambah dengan kesaksian orang-orang terdekat. Penulisan riwayat hidup bukan sesuatu yang asing dalam tradisi tulis-menulis bagi para tokoh Islam. Pangeran Diponegoro setidaknya sudah memulainya sejak ia menjadi orang yang hidup di pengasingan. Tulisan yang termuat lebih dari seribu halaman kertas ukuran folio ini.

kemudian beredar dari tangan ke tangan. Disalin dari aksara arab pegon ke aksara jawa. Kemudian bertukar ke aksara latin. Tulisan riwayat hidupnya mengembara dari Makassar, Jawa hingga Leiden. Riwayat hidup Pangeran ini kemudian dikenal dengan Babad Dipanegara. Namun apa daya, Babad DIpanegara saat ini menjadi asing. Ia menjadi sesuatu yang ‘terbatas,’ hanya untuk para peneliti. Warisan ini seharusnya bisa didaras oleh umat Islam secara luas. Namun kini Babad itu hanya teronggok di perpustakaan, dikurung oleh tembok beton. Jauh dari umat disekelilingnya. Persis seperti nasib sang Pangeran yang terkurung dalam Benteng Fort De Kock dalam sisa-sisa hidupnya di pengasingan. Penulisan sejarah, termasuk riwayat hidup, ibaratnya adalah sebuah jembatan generasi lampau dengan saat ini. Akibat terasingnya kita dengan riwayat hidup para pendahulu kita, maka seakan-akan kita menjadi generasi yang hidup tidak menjejak tanah. Generasi yang terputus dengan masa lalunya. Umat Islam di Indonesia hidup melompat dari ruang hampa ke masa kini. Maka tak heran jika kita terus abai akan sejarah, umat Islam di Indonesia akan merasa asing dengan dirinya sendiri, jadi umat yang linglung, merogoh-rogoh identitas semu. Kita, lambat laun akan menjadi generasi yang berbeda dengan para pendahulu kita. Jika para pendahulu kita, mengenang guru-guru mereka dengan menulis dan mengumpulkan buah pikiran serta riwayat hidup guruguru mereka, maka saat ini jejak para pendahulu seakan sirna ditelan oleh abainya generasi saat ini. Kita mungkin sudah terputus sanad dengan guru-guru kita. Beggy Rizkiyansyah


Sumber foto: Carey, Peter (2008) The Power of Prohecy. Prince Dipanegara and The End of an Old Order in Java 1785-1855, Leiden: KITLV Press


JIB

Jejak Islam Untuk Bangsa


Majalah jejak islam no 1 nov 2014 issuu