Page 1

Catatan Redaksi Cover: Tim Sego Njamoer, setelah meraih kemenangan sebagai salah satu Entrepreneur muda ITS Foto: IMAN SUKIMAN

Pelindung Rektor ITS Penasihat Pembantu Rektor IV Penanggung Jawab Humas & Protokol ITS Pemimpin Redaksi Bekti Cahyo Hidayanto Koordinator Liputan Lutfia Redaktur Eka Setyowati, Elita Fidya Nugrahani, Fatimatuz Zahroh, Lisana Shidqina Reporter Aldrin Dewabrata, M. Muizzudin, Nanda Iriawan R, Jaharani, Lutfi Hilman P, Kenan Sihombing, Haris Santika, Firman Faqih Nosa, Ali Mustofa, Ihram, Arinda Nur Lathifah, Fiqly Firnandi R., A. Marsha Alviani, Elika Tantri, Fifi Alfiana Rosyidah, Feny Puspa Sari, N. P. B. Setianingsih Sekretaris Redaksi Sulistyaning Tyas Desain Cover/Layouter Rina Maylina Fotografer Iman Sukiman Distribusi Humas Alamat Redaksi: Perpustakaan ITS Lt 6 Kampus ITS Sukolilo-Surabaya Telp. (031) 5994251-54 ext. 1195 Fax. (031) 5927012 E-mail: itspoint@its.ac.id URL: http://www.its.ac.id/itspoint

2

ITS Point l Maret 2012

M

emasuki bulan ke-3 di tahun 2012 ini, ITS dihadapkan pada banyak tantangan untuk menyongsong era baru, era pendidikan berwawasan lingkungan yang lebih dikenal dengan Eco-Campus. Tidak kurang-kurangnya kegiatan dan program yang mendukung Eco-Campus dihelat oleh ITS yang semuanya menuju satu sasaran meningkatkan efisiensi disegala bidang dan ramah lingkungan. Era baru juga dimulai di ITS dengan struktur organisasi dan tata kelola yang relatif baru dalam fungsi. Semuanya juga dalam rangka memperbaiki dan meningkatkan peran manajemen dalam mengelola ITS menjadi pendukung menuju Universitas Riset. Dalam kesempatan berbahagia di bulan Maret ini adalah untuk ke-104 kalinya ITS melakukan wisuda dengan lulusan yang tersebar di semua jurusan dan strata mulai dari D3, D4, S1, S2 dan S3. Tidak ketinggalan juga beberapa prestasi turut disumbangkan sivitas akademika diakhir tahun 2011 dan awal 2012 ini diantaranya adalah dilantiknya dekan dan pejabat baru di ITS, dilaunchingnya kapal Rojo Segoro yang nantinya akan mengikuti perlombaan Maritime Challenge di Bantry Irlandia, dibentuknya PSW, Volunteer IO, serta berhasil meloloskan 583 PKM yang akan berkompetisi di Pimnas XXV Jogjakarta. Akhirnya seluruh kru majalah ITS Point mengucapkan selamat dan sukses kepada wisudawan/wisudawati ITS ke-104, semoga langkah awal memasuki dunia baru sebagai alumni ITS dimudahkan dan berguna bagi sesama. Kepada para pejabat baru ITS yang baru dilantik oleh Rektor ITS, selamat bertugas dan dapat mengemban amanah dengan lebih baik dan berkualitas.

Salam Redaksi

Redaksi menerima sumbangan tulisan, artikel, saran dan kritik serta tulisan lain yang sesuai dengan misi majalah ITS Point. Bagi tulisan yang dimuat akan diberi penghargaan khusus. Sertakan fotocopy identitas diri dan kirimkan ke alamat redaksi.

ITS Point l Maret 2012

63


daftar isi

Surat Pembaca Kampus Ramah Lingkungan Sejatinya untuk menjadi kampus yang ramah lingkungan tak perlu kegiatan yang besar missal, gugur gunung, naik sepeda Jakarta-Surabaya. Memang itu boleh juga dilaksanakan, tetapi alangkah baiknya bila kegiatan itu kecil tapi pengaruhnya besar. Misalnya, masalah sampah. Saya mengusulkan ada pembagian kriteria sampah disetiap titik penempatannya. Ada tempat sampah khusus plastik, botol kaca dan dedaunan. Dengan pembedaan itu setidaknya memudahkan untuk pengolahannya dan mengurangi bau yang ada. Kemudian diadakan juga kegiatan “motor free day”, sehingga ada hari yang tidak memperbolehkan kendaraan bermotor beroperasi. Kegiatan ini diharapkan berjenjang yakni untuk tahun pertama hanya satu hari,

kemudian tahun kedua dua hari sehingga akhirnya tidak ada aktivitas kendaraan bermotor yang di ITS. Namun, kegiatan ini juga diimbangi dengan pengadaan sepeda pancal. Dan ada satu hal yang mengganjal dalam pikiran saya, seharusnya pihak birokrasi tidak membuat jalur khusus sepeda terlebih dahulu, tetapi saluran irigasi diperbaiki terlebih dahulu karena aneh apabila sebuah institut teknologi “kebanjiran”. Terimakasih Muhammad Mifta Hasan Mahasiswa ITS -1109100049

ITS EXPO 2012

Semarak Mahasiswa Teknik Perkapalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (SAMPAN ITS) pada tahun ini mengusung tema lingkungan.

ITS Expo merupakan salah satu bentuk perhatian terhadap hasil karya-karya mahasiswa ITS dan juga mahasiswa dari perguruan tinggi lain yang turut diundang.

LITL (Lomba Inovasi Teknologi Lingkungan) 2012 LITL ini mengambil tema,”Aplikasi Energi Alternatif Ramah Lingkungan”. LITL ini akan dimeriahkan dengan berbagai acara perlombaan yang diperuntukkan untuk siswa SMA se-Jawa dan Bali dan juga mahasiswa se-Indonesia Acara ini akan diselenggarakan tanggal 29-31 Maret 2012 di jurusan Teknik Lingkungan FTSP ITS Surabaya. Keterangan lebih lanjut dapat mengunjungi http:// litl2012.blogspot.com/

62

ITS Point l Maret 2012

8

32 34 44

Profil Dosen Soeharjoepri

10

Profil KARYAWAN Eddy Yanto Profil mahasiswa Imron Ghozali

SAMPAN 6 ITS

Informasi lebih lanjut dapat di lihat di http://www. sampanits.com/

30

Laporan Utama Entrepreneur di ITS Kuliah Tamu Kuliah Techno Bisnis Mahasiswa

12

Agenda

SAMPAN 6 ITS ini dimeriahkan dengan berbagai macam kegiatan yang akan diselenggarakan pada tanggal 24 Maret – 1 April 2012 dengan mengambil berbagai lokasi penyelenggaraan, yaitu di jurusan Teknik Perkapalan ITS, Graha Sepuluh Nopember, Taman Apsari Surabaya dan Ken-Park Pantai Ria Kenjeran.

4

Acara ini akan digelar pada tanggal 21 - 27 April 2012 jam: 08.00 - 21.00 WIB di gedung Grha ITS. Opening Ceremony dilaksanakan pada tanggal 21 April 2012 dengan menampilkan acara funbike di depan Grha ITS yang dimeriahkan oleh aksi karnaval tiap jurusan. Keterangan lebih lanjut dapat mengunjungi http://itsexpo.tumblr.com/

Gebyar FISIKA Gebyar Fisika ITS mengangkat visi yaitu mencetak Generasi Muda Indonesia yang Cerdas, Kereatif, dan Inovatif. Kegiatan ini melibatkan siswa SMS dan SMA se-Indonesia. Puncak acara ini akan digelar pada tanggal 4 - 6 Mei 2012 di kampus ITS Sukolilo Surabaya Keterangan lebih lanjut dapat mengunjungi http:// gebyarfisika.com

14

Profil ALUMNI Gunaris

16

Kolom LPPM Inkubator

17

BEM ITS ITS Expo Posko Jujur dan Adil

46 47 48 56

INTERNATIONAL OFFICE MAHASISWA BICARA NEWS & pRESTASI

RESENSI Man Shabara Zhafira

57

20 24

58

OPINI Menang Lomba Saja Belum Cukup Komunitas Toys Despro Kominitas Satelit

Kiprah Mereka Tricycle Surya Pustaka Merah Putih Pustakawan Kreatif dalam Event

60

26

61

Alumni Aktivis Kampus Terima Beasiswa Dukung Pelaksanaan Eco Campus ITS Penguatan Jejaring Bisnis

Fakultas

DID YOU KNOW Kantin Turut Menggemakan Reformasi Titik Nol ITS

Unit Manajemen Aset UPT Kearsipan UPT Soshum UPT Fasilitas Akademik cumlaude

GALERI

Kongkow Kafe Mesin Kantin FTI Kota Redaksi in action Merekonstruksi Sejarah ITS (4)

63

kartun

ITS Point l Maret 2012

3


laporan utama

redaksi in action

Entrepreneur ITS

Merekonstruksi Sejarah ITS (4)

ITS Perkuat Atmosfer Kewirausahaan dengan P2KM Berbagai organisasi dan lembaga dalam kampus turut yang bergerak dalam bidang wirausaha ITS bertambah dari tahun ke tahun. Selain unit kegiatan mahasiswa (UKM) dan Koperasi Mahasiswa (Kopma), hampir setiap organisasi mahsiswa memiliki divisi kewirausahaan tersendiri. Ada juga lembaga independen yang didirikan oleh mahasiswa. Namun seluruh lembaga tersebut tampak bekerja secara sendiri-sendiri tanpa koordinasi yang jelas. Hal tersebut menjadi salah satu alasan bagi Ir Lantip Tri Sunarno MT dan beberapa dosen lainnya untuk mendirikan Program Pengembangan Kewirausahaan Mahasiswa (P2KM).

T

ujuan utama dari P2KM ini adalah menjadi pusat pengembangan wirausaha perguruan tinggi di Indonesia yang inovatif, profesional dan mandiri. Hal ini mereka rencanakan dengan menjadi pusat dari koordinasi antar seluruh lembaga kewirausahaan di ITS. Dalam mencapai tujuan utama tersebut, P2KM telah menyiapkan berbagai misi dan fungsi yang perlu dijalankan. Misi pertama yang diangkat oleh lembaga baru ini adalah mendorong mahasiswa untuk memiliki spirit technopreneurship yang kuat. “Dengan spirit of entrepreneurship, maka kami berharap mahasiswa dapat lebih siap untuk menjadi job creator,” tutur dosen Teknik Industri ini. Peran utama P2KM adalah menjadi pusat informasi mengenai berbagai peluang, kompetisi dan informasi l a i n ya n g b e r ka i ta n m e n g e n a i entrepreneurship. Fungsi ini dinilai

4

ITS Point l Maret 2012

penting karena banyak sekali tawaran peluang dari pihak eksternal dalam bidang kewirausahaan. Tentunya semua hal ini akan dapat dikelola dengan baik dengan adanya sebuah mekanisme pemusatan informasi, yaitu di P2KM. Selain berbagai peluang tersebut, P2KM juga berencana mendata dan memetakan berbagai prestasi dan usaha mahasiswa yang telah berkembang di ITS. “Melalui pemusatan informasi tersebut, kami berharap atmosfer kewirausahaan di ITS menjadi lebih kuat,” tutur Lantip. P2KM juga bertindak sebagai pusat pendampingan dan konsultasi wirausaha mahasiswa. Mahasiswa akan berkesempatan untuk mendapatkan fasilitas konsultasi bersama para ahli mengenai bisnis mereka. Ta k h a n y a i t u , P 2 K M j u g a ingin menggaet para dosen untuk meningkatkan dan mengembangkan kapasitas mereka di bidang wirausaha.

Ir Lantip Tri Sunarno MT

Misi terakhir P2KM adalah menjembatani mahasiswa dengan pihak luar dalam kerjasama yang menguntungkan bagi kedua belah pihak. P2KM akan bertindak sebagai penjalin komunikasi antara ITS dengan pihak luar. Seperti dari pihak industri, desainer dan juga investor. Lantip menilai, seringkali mahasiswa memilki ide bisnis yang sangat bagus. ‘’Namun ide saja akan sulit untuk dikembangkan apabila tidak ada jaringan yang baik untuk memproduksi, mengembangkan dan memasarkannya ,” tambahnya. Rencananya, inisiasi P2KM akan disosialisasikan bulan Maret mendatang. Dosen lulusan ITB ini berharap akan dukungan dari seluruh pihak. ‘’Kami harap P2KM dapat

menjadi model percontohan lembaga pengembangan kewirausahaan di perguruan tinggi di Indonesia,” tutup Lantip.(izz/lis)

B

Foto bersama para pengurus Yayasan Perguruan Tinggi Teknik (YPTT) Sepuluh Nopember bersama para dosen

uku memoar tidak sama dengan buku sejarah, ini adalah prinsip penulisan kita yang menjadi kesepakatan bersama sekaligus kendala. Kita tidak menggunakan gaya tulisan koran, tidak straight, bukan novel fiksi, tidak pula sama dengan buku pelajaran sejarah. Keinginan itu ternyata susah diwujudkan. Pengalaman menulis di website ITS dan majalah ITS Point bukan jaminan utama untuk menulis buku ini. Sekali lagi, karena ini buku memoar. Acap kali, kita dari tim penulis yang terdiri dari tujuh orang ini memiliki selera berbeda untuk menuliskan hasil wawancara. Perbedaan ini sangat terasa aneh jika semua tulisan dibaca satu per satu secara berurutan. Apalagi jika sampai dibaca oleh pembaca, pasti tanggapannya juga ikut terasa aneh. Hasil wawancara narasumber yang saling bertolak belakang, juga sering membingungkan kita. Mengingat jurang waktu peristiwa yang kita urai sudah puluhan tahun yang lalu, akhirnya kita maklumi dengan konsekuensi kroscek fakta berkali-kali dan menambah narasumber yang bisa melengkapi fakta yang kurang. Untuk mendapatkan ritme penulisan yang sama, kita mengimbangi dengan membaca banyak buku dan majalah

yang mengulas punuturan peristiwa sejarah. Memang tidak semuanya susah, terutama penulisan profil jauh lebih mudah karena sudah menjadi “makanan sehari-hari” kita. Sementara itu, awal Februari kemarin, kita juga melakukan audiensi ke Bapak Irnanda selaku Ketua Umum IKA ITS yang baru. Kita juga berhasil menemui beberapa narasumber yang memang hanya bisa ditemui di ibu kota. Ada pun narasumber tersebut adalah putra-putri Bapak dr Angka, putri Bapak BG Munaf (Perintis FTK ITS), dan putri Bapak Prof Soemadijo (Rektor ke-3 ITS). Saat ini, kita sudah menyelesaikan beberapa bab tulisan, menyeleksi foto yang akan dimuat dari ratusan foto yang kita peroleh dan menyusun desain layout per halaman. Kita juga masih melakukan wawancara untuk mendapatkan data yang akurat serta memperdalam telaah dari setiap detail peristiwa. Di sela-sela penulisan, kita mendapatkan tambahan narasumber yang akan kita profilkan, yakni Ir R Soendjasmono, salah satu anggota YPPT Sepuluh Nopember. Terakhir, kita berharap ini adalah tulisan “Redaksi in Action” kita yang terakhir untuk buku ini. Semoga lekas terbit! a.n Tim Djoeang Contact Person:

Nur Huda

E-mail: oer_d@me.its.ac.id HP: 085731255215 ITS Point l Maret 2012

61


laporan utama Kuliah Tamu

Kongkow Dari Penambal Rugi, Jadi Lumbung Untung

B

ila ditanya dimana tempat arek Mesin ramai berkumpul, jawabannya pasti Café Mesin. Letaknya yang strategis di sekitaran kolamdan taman Mesin, beserta lingkungan yang asri membuat Café Mesin ramai dikunjungi terutama di sela jam perkuliahan. “Makanannya enak sih,” komentar penikmat setia kafe yang sudah berdiri sejak 2005 lalu ini. “Cafe Mesin ini punya sejarahnya sendiri,” cetus cak Tris, penjaja makanan di Café Mesin. Bermula dari

kerugian yang dialami panitia drag race akibat kesalahan teknis, jurusan Teknik Mesin lalu mendirikan Cafe Mesin sebagai sarana penghimpun dana guna menambal kerugian yang ada. Namun siapa yang sangka, Cafe Mesin justru semakin berkembang hingga kini menjadi warisan turun-temurun bagi para penerus kampus Teknik Mesin hingga saat ini. Aneka kuliner yang tersedia di Café Mesin konon memiliki cita rasa tersendiri. Yang spesial, Café Mesin sangat menjaga higienitas setiap makanan yang mereka jajakan. Dan yang tak kalah menariknya, mahasiswa yang mau membeli makanan di Café Mesin tak perlu khawatir dengan harga yang dipatok. Hampir semua item yang dijual relatif murah dan ramah di kantong mahasiswa. Tak hanya mahasiswa, Cafe Mesin pun menjadi tempat para dosen menyantap makan siang mereka. Oleh karena itu tak heran jika Cafe Mesin punya peran besar terutama sebagai tempat berkumpulnya seluruh elemen Teknik Mesin ITS. Proses membentuk keakraban antar elemen jurusan pun tidak bisa lepas dari keberadaan Cafe Mesin ini. (ken/fz)

60

ITS Point l Maret 2012

Strategis, Kantin FTI Kota Laris Manis

J

ika dilihat sepintas, kantin FTI yang berada di belakang kampus FTI kota memang tampak biasa saja. Seperti kebanyakan kantin di ITS lainnya yang menjual berbagai macam makanan, pun begitu dengan kantin ini. Namun, satu kelebihan dari kantin lainnya, letaknya sangat strategis di ITS. Pasalnya, ada Jurusan Sistem Informasi dan Teknik Industri yang mengitarinya. Serupa dengan kantin lain, kantin yang terdiri dari lima stan penjual ini menawarkan banyak pilihan makanan dan minuman. Mulai dari nasi campur biasa, nasi kari, nasi rawon, nasi goreng, mi goreng, nasi ayam penyet, dan masih banyak lagi. Selain makanan seperti itu, tak ketinggalan pula stan makanan ringan yang menjual permen, roti kecil dan berbagai jenis kue. Sunarsih, salah satu penjual makanan di kantin ini mengaku paling lama membuka stan di kantin yang mulai 2003 telah di bawah UPT Grha pelaksanaanya. “Saya telah berjualan di dekat sini sejak tahun 1999, saat itu masih ada Jurusan Teknik Informatika dekat sini,” ujar wanita yang telah berumur 52 tahun ini. Menilik dari lokasinya sendiri, bisa dipastikan

pengunjung kantin ini bakal sangat ramai pada jamjam istirahat kuliah. Aditya Putra Prasetyo misalnya, mahasiswa Jurusan Sistem Informasi angkatan 2011 ini mengaku, kantin ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat makan bagi Adit dan teman-temannya. Mereka juga memanfaatkan suasana kantin ini untuk nongkrong dan ngemil makanan ringan. “Kalau tidak makan di sana, kami bergurau sambil ngopi atau ngeteh,” ujar Adit menambahkan. (ais/esy)

Wirausaha Itu Pilihan Wirausaha tampaknya menjadi tren baru di kalangan mahasiswa ITS. Transformasi mindset pun juga tengah terjadi. Wirausaha tidak lagi dianggap sesuatu yang remeh. Entah hanya kelatahan atau memang kebutuhan, saat ini ratusan mahasiswa sedang berbondong banting setir menjadi wirausaha.

G

aung wirausaha hingga sejauh ini adalah hasil kerja keras berbagai pihak. Di tataran akademik, ITS mempunyai jajaran pengajar mata kuliah pengantar e nt re p re n e u rs h i p ya n g t i d a k pernah berhenti menularkan ilmu kewirausahaannya. Di kalangan dosen, ITS mempunyai Drs Soehardjopri MSi, Ir Elly Agustiani MEng, Prof Ir Daniel M Rosyid M RINA PhD yang menginspirasi dengan wirausaha yang mereka geluti. Pun begitu dengan mahasiswa. ITS memiliki sosok mahasiswa yang menginspirasi. Sebut saja, alumnus Teknik Elektro ITS, Gunaris Otomasi. Organisasi Mahasiswa (Ormawa) juga tidak kalah ambil bagian. ITS memiliki Workhsop Entrepreneur dan Technology (WE&T) dan Koperasi Mahasiswa (Kopma). Belum lagi b e b e ra p a d e p a r t e m e n s e r t a pelatihan yang diadakan di tingkat jurusan. Seluruhnya membuka pandangan mahasiswa untuk tidak hanya sekedar menjadi pegawai. Meski sama dalam minat wirausaha, tetapi tiap mahasiswa memiliki bidang yang berbeda untuk mengaplikasikan keinginan tersebut. Secara umum, wirausaha di ITS terbagi menjadi tiga jenis. Mulai dari kuliner, teknologi hingga jasa. Salah satu usaha yang tengah tenar saat ini adalah Krawu Burger. Usaha besutan Lailatus Sa’adah ini memang baru berdiri. Tetapi usaha ini tidak dapat dianggap remeh. Awal tahun ini saja, alumni D3 Teknik Kimia ini berhak menjadi jawara di ajang Wismilak Diplomat Success Challenge. Di bidang teknologi, lain lagi

ceritanya. Tentu mahasiswa ITS sudah mengenal sosok Achmad Ferdiansyah Pradana Putra ST. Saat ini, mahasiswa S2 Teknik Kimia ini tengah menelurkan produk baru. Setelah sukses dengan Hetric Lamp, k i n i S m a r t S to ve Green Flame Concept, sebuah bahan bakar p ra kt i s b e r b a h a n bakar spiritus pun menjadi fokusnya. Tak tanggung-tanggung, dana senilai Rp 1 miliar pun ia dapatkan dari Mandiri Young Technopreneurship Competition (MYTC) 2011. Selain Ferdi, ada juga mahasiswa yang menggunakan dasar ilmunya untuk menjalankan usaha. Mereka adalah Teguh Saputra, Juan Firmansyah, Kurnia Putri Pasavitri, Muhammad Iqbal, Fatih Ridho Muhammad, Muhammad Rohmad dan Firda Atikah Rosyadi. Ketujuh mahasiswa ini menggagas sebuah minyak angin soft teraphy yang di-branding dengan nama FRIZ. FRIZ ini adalah inovasi dari Fruit Fresh to Me (F2Me). Teguh menjelaskan, awalnya F2Me hanya mengusung buah sebagai aromanya. ‘’Banyak yang meniru, sehingga kami ganti jadi FRIZ,’’ ujar mahasiswa asal Pasuruan ini. Sementara itu di bidang jasa, ITS

Gunaris Otomasi

memiliki System of Information Personal Leadership for Human Organization (SIPLHO). Usaha yang berbasis Trade dan IT Consultant ini milik Noerma Pudji Istyanto, mahasiswa Sistem Informasi (SI) ITS. Sekilas memang terdengar biasa, tapi usaha ini sudah terbukti. Omzetnya mencapai Rp 40 juta per bulannya. Selain lima usaha di atas, tentu masih banyak mahasiswa ITS lain yang sedang mengembangkan usaha pada bidang yang berbeda. H a ra p a n nya , a p a p u n b e n t u k usahanya, menjadi wirausaha adalah pilihan yang tidak dapat dipaksakan. (ran/esy) ITS Point l Maret 2012

5


Komunitas

laporan utama Kuliah Techno

Pengantar Technopreneurship, Selaraskan Teknik dan Entrepreneuship Sebagai kampus teknik, teknologi memang menjadi pusat perhatian bagi ITS di berbagai bidang. Termasuk, di bidang entrepreneur. Lantas, apa jadinya ketika teknologi dipadu dengan entrepreneur? Bagi mahasiswa ITS, istilah technopreneurship memang bukan sesuatu yang baru. Sejak 2009, technopreneurship telah ditetapkan menjadi bagian dari mata kuliah (matkul) ITS. Mengambil judul pengantar technopreneurship, matkul ini pun menjadi salah satu syarat lulus mahasiswa ITS. Awalnya,pengantar technopreneurship terinspirasi dari matkul entrepreneurship. Dimana matkul tersebut hanya ada di jurusan tertentu saja. Statusnya pun hanya sebagai matkul pilihan. Seiring dengan semakin menggeliatnya entrepreneur di ITS, matkul ini pun beralih menjadi perhatian. Saat kepemimpinan Prof Dr Ir Priyo Suprobo MSc PhD, entrepreneur pun masuk ke dalam kurikulum tahun 2009-2014. Yang menarik, istilah entrepreneur diganti menjadi pengantar technopreneurship. Endang Sudarsih SE MSi MT, Ko o rd i n ato r m at ku l te rs e b u t menjelaskan alasan penggunaan istilah pengantar technopreneurship. Menurutnya, dengan technopreneurship diharapkan geliat entrepreneur ITS tumbuh seiring kemampuan tekniknya. Pasalnya, meski telah berkembang, usaha mahasiswa ITS tak jauh-jauh dari kuliner. “Masak mahasiswa ITS bikin makanan terus,’’ kata Endang, sapaan akrabnya

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa ada dua luaran yang diharapkan dari matkul ini. Pertama adalah pengetahuan mahasiswa ITS dalam membuat bisnis plan. Setelah mengetahui bagaimana dunia bisnis plan itu, mahasiswa diharapkan mampu membuat proposal bisnis plan. Sehingga, mahasiswa dapat mengikuti Program Wirausaha Mahasiswa ( P M W ) , P ro g ra m Kr e a t i v i t a s Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKMK) atau kompetisi bisnis plan lain. Hal tersebut juga menjadi alasan pemilihan penggunaan kata pengantar pada mata kuliah ini. Ia menegaskan, matkul ini tidak hanya mengembangkan pengetahuan dan kemampuan untuk menjadi seorang technopreneur saja. Jiwa seorang technopreneur juga menjadi sasaran untuk dikembangkan. Seperti kreativitas dan inovatif. Sebagai matkul pilihan yang bersifat wajib, praktis setiap mahasiswa yang lulus matkul persiapan berhak mengambil matkul tersebut. Hanya saja, pihak Unit Pelayanan Mata Kuliah Bersama (UPMB) sebagai penyelenggara mempunyai aturan sendiri. Endang menuturkan, batas minimal pengambilan matkul ini adalah

Endang Sudarsih SE MSi MT, Koordinator matkul

6

ITS Point l Maret 2012

mahasiswa semester IV. Hal ini memang tidak lepas dari kemampuan mahasiswa di bidang teknik. Semakin tinggi tingkat mahasiswa maka pengetahuan teknik pun juga semakin berkembang. Harapannya, matkul ini benar-benar dapat diterapkan oleh mahasiswa. Sehingga, tidak hanya sekedar menjadi entrepreneur tetapi bisa menjadi technopreneur. Hal lain yang tak luput dari harapannya adalah terkait jumlah pengajar yang hanya berjumlah enam orang ini. “Semoga bisa s e ge ra ditambah,” ujarnya. Tak hanya itu, inkubasi khusus produk mahasiswa ITS juga dibutuhkan untuk mendukung luaran yang ingin dicapai matkul ini. (ran/esy)

P

Jelajah Teknologi Satelit dengan Komunitas Satelit ITS

e ra n m a h a s i s w a d a l a m perkembangan teknologi bangsa sangatlah penting, termasuk teknologi satelit. Mahasiswa ITS pun, tak ketinggalan ingin turut andil di bidang satu ini. Hasilnya, sebuah komunitas bernama Komunitas Satelit ITS digagas. Komunitas ini menjadi wadah untuk mendalami teknologi bidang aerospace itu. Komunitas Satelit ITS, sebenarnya berawal dari program pemerintah yaitu Indonesian Nano-Satellite Platform Initiative for Research and Education (INSPIRE). Proyek nirlaba ini memang sengaja dibentuk untuk membangun dan mengembangkan platform teknologi satelit di kalangan perguruan tinggi di Indonesia. Selain alasan tadi, komunitas ini bermula dari penggarapan proyek nano satelit Indonesia Inter University Satelit (IINUSAT) I. ITS sebagai sebuah institut teknologi, berhasil menginisiasi komunitas ini dengan merangkul beberapa perguruan tinggi lainnya. Kelima kampus tersebut yakni ITS, Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), Politeknik Negeri Surabaya (PENS), dan Institut Teknologi Bandung (ITB) meng gandeng Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan). Setiap perguruan tinggi tersebut, memiliki tugas masing-masing dalam proyek IINUSAT I. ITS sendiri kebagian tugas menyelesaikan ground station atau stasiun bumi satelit. UI menyelesaikan bagian communication payload satelit, ITB bagian power system, UGM bagian On Board Data Handling (OBDH), dan PENS menyelesaikan Attitude Determination Control System (ADCS). Komunitas yang diresmikan pada

9 Juni 2011 lini dibagi menjadi lima divisi, terdiri dari beberapa jurusan di ITS. Jurusan-jurusan tersebut antara lain Teknik Elektro, Teknik Mesin, Teknik Geomatika, Teknik Fisika, dan Fisika. Tujuannya, setiap jurusan mampu berbagi ilmu dan saling melengkapi satu sama lain dalam pembentukan satelit seutuhnya. “Hampir sebulan sekali kami berkumpul untuk tukar pikiran,” Tutur Rizadi Sasmita Darwis, salah satu pengurus Komunitas Satelit. Rizadi menambahkan, fokus komunitas mereka saat ini ada pada penggarapan IINUSAT II . Proyek kedua ini, sekarang tengah dirampungkan dan akan diluncurkan tahun 2015 mendatang. Mahasiswa Teknik Elektro ini menambahkan, kegiatan mereka tak hanya terbatas pada penelitian. Komunitas Satelit ITS juga menggelar beberapa kegiatan pelatihan. Akhir tahun lalu misalnya, telah dilaksanakan konferensi nasional bertajuk Building The Nation Independence on Satellite Technology Trough Student Networking. “Konferensi tersebut bertujuan

untuk membangun jejaring mahasiswa dalam teknologi satelit,” ujarnya. Beberapa pembicara nasional dalam bidang satelit turut hadir. Uniknya lagi, konferensi tersebut juga dihadiri oleh perwakilan perguruan tinggi yang juga ikut berkerja sama. “Dalam waktu dekat akan diadakan kompetisi satelit tingkat mahasiswa, pelatihan dan lain sebagainya,’’ tegas Rizadi. Ia menambahkan, salah satu kegiatannya adalah workshop serta Pelatihan Antena for Satelit Tingkat Mahasiswa. Agenda tersebut berisi pelatihan desain antena kepada mahasiswa. Usai pelatihan, setiap tim wajib membuat desain untuk aplikasi satelit. Hasil desain itu, nantinya akan diterapkan dalam pembuatan antena untuk satelit. Di akhir, akan dilakukan pengukuran besaran antena untuk mengetahui apakah antena sudah memenuhi kriteria yang diinginkan atau belum. Rizadi mengungkapkan, pelatihan tersebut secara tidak langsung b e r t u j u a n m e n ga j a k p e s e r ta bersentuhan dengan teknologi satelit. (lik/fi) ITS Point l Maret 2012

59


Komunitas

K

Komunitas Toys, Bukan Sekadar Main-Main

reativitas ibarat senjata bagi para mahasiswa Desain Produk Industri (Despro) ITS. Selalu ada hal-hal baru dan unik yang mereka hasilkan. Tak hanya itu, karya-karya mereka pun bisa menghasilkan pundi-pundi uang. Inilah yang mendorong mereka membentuk berbagai jenis komunitas di jurusannya. Keberadaan komunitas di Despro memang bukanlah hal yang baru. Kumpulan minat dan bakat ini berbeda dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Di Despro, keberadaan komunitas ini khusus bagi mahasiswa yang mendalami bidang desain tertentu. Seperti misalnya toys, craft, ilustrasi, tipografi, dan lain-lain. Komunitas Toys adalah sebuah komunitas bagi para pecinta mainan. Pada awalnya, komunitas ini hanya memproduksi mainan berjenis paper toys. Namun, seiring berjalannya waktu, komunitas bernama Heroes CT ini mulai membuat jenis-jenis mainan lain seperti plush toys, clay toys, dan recycle toys. Setelah vakum lama sejak tahun 2004, komunitas ini bangkit kembali di tahun 2007. Ini berkat Salman Fariz Allutfi, mahasiswa angkatan 2007, yang berhasil mengajak temanteman satu angkatannya dengan hobi serupa. ‘’Kita saling pamer toys masing-masing, biar termotivasi membuat yang lebih bagus lagi,” tutur Salman. Tapi, komunitas Toys hadir dengan suasana berbeda. Misalnya, pergantian nama yang cukup unik. Penggagas nama Heroes CT sendiri sebenarnya adalah dosen pembimbing komunitas ini, Primaditya SSn MDs yang juga merupakan dosen Despro. “Aku dan teman-teman setuju karena filosofinya bagus,” ujar Salman.

58

Laporan utama

ITS Point l Maret 2012

universitas lain belum ada komunitas seperti ini, tapi yang berminat b a n y a k ,’ ’ u n g k a p Salman.

Heroes CT bisa diartikan sebagai heroes city (kota pahlawan). Tentunya cocok karena memang anggota komunitas ini adalah orangorang Surabaya. Namun nama ini juga bisa berarti Heroes Collectible/ Customizable Toys. Komunitas ini pun telah memamerkan karya-karyanya di berbagai acara di luar kampus. Seperti di Indie Clothing Expo, yang merupakan salah satu acara besar tahunan Surabaya. Juga di pameran komik yang diselenggarakan oleh Centre Culturel et de Coopération Linguis (CCCL) Surabaya. Selain itu, mereka juga memamerkan mainannya dalam seminar internasional bertajuk International Conference on Creative Industry di Bali pada Maret 2011. Selain meng gelar pameran, kegiatan rutin lainnya adalah sharing seputar mainan. ‘’Kita suka berbagi update info tentang toys, selain itu kita juga produksi bersama-sama,’’ ujar Salman yang sempat menjabat sebagai Sekretasis Umum Hima IDE ini. Komunitas yang beranggotakan 37 mahasiswa ini bercita-cita membesarkan komunitasnya hingga se-Surabaya. Apalagi, di kota ini belum ada komunitas serupa. ‘’Di

Plush Toys vs Recycle Toys Plush toys adalah mainan yang dijahit dari kain atau tekstil lainnya. Heroes CT memberi branding mainan jenis ini dengan nama Kudos Plush. Produk ini sempat diikutkan dalam beberapa kompetisi bisnis. Kudos pun berhasil menjadi salah satu finalis Sosro Joy Green Tea Youth Business Competition (YBC) 2011. Kudos Plush berupa boneka yang dikemas sebagai kalung, gantungan kunci, atau bisa sekedar dipajang sebagai koleksi. Kudos Plush ini termasuk laris di kalangan mahasiswa. Bermodal awal hanya Rp 50 ribu, sekarang Kudos telah beromset Rp 1,7 juta dalam 1,5 bulan. Berbeda dengan plush toys, mainan berjenis recycle toys lebih bersifat eksklusif. Pembuatannya yang rumit membuat mainan jenis ini tidak dapat diduplikasi dalam jumlah banyak. Seperti namanya, recycle toys terbuat dari barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai. ‘’Saya paling suka bikin recycle toys, karena terkesan baru dan berbeda dengan yang lain,’’ aku Salman. Ia menjelaskan, inspirasi untuk membuat mainan tidak terbatas, bisa dari mana saja. Misalnya, dengan menggambar ulang versi karikatur seorang kartun atau tokoh favorit di televisi. Gambar itu lantas dijadikan plush toys. ‘’Jadi barang koleksimu sendiri yang orangorang tidak akan pernah punya,” tutup Salman. (fen/lis)

Bisnis Mahasiswa

Mau Kewirausahaan Bagus, Harus Berkorban Lebih juga dinilai cukup bagus dan efektif. Akan tetapi, aplikasi potensi w i r a u s a h a m a h a s i s w a ke lapangan menurutnya juga harus perlu ada. “Memang kita harus berkorban waktu, tenaga dan modal lebih,’’ ungkap pria yang akrab disapa Djoepri ini. Dosen yang juga memiliki beberapa usaha bisnis ini bahkan menyarankan untuk menjadikan Drs Soehardjoepri MSi, dosen pembina wirausaha mahasiswa Technopreneurship s e b a ga i s e b u a h Program kewirausahaan merupakan salah bentuk kuliah kerja satu agenda utama yang dicanangkan oleh lapangan. Peningkatan ITS dalam tiga hingga lima tahun terakhir. k u a l i t a s p u n Selama itu, peningkatan kuantitas peminat menjadi sorotan entrepreneurship bertambah pesat. utama untuk menjadi parameter keberhasilan da beberapa alasan peningkatan ini. Di antaranya entrepreneurship di ITS. Kemampuan adalah munculnya berbagai bersaing usaha mahasiswa ITS bisa kompetisi di bidang ini. Seperti menjadi bukti tersendiri. Contohnya adalah keberhasilan Program Mahasiswa Wirausaha ( P M W ) , P ro g ra m Kr e a t i v i t a s beberapa tim mahasiswa ITS Mahasiswa bidang Kewirausahaan dalam menyabet penghargaan di (PKMK), dan berbagai kompetisi berbagai kompetisi kewirausahaan. sejenis. ‘’Seminar dan pelatihan Juga usaha-usaha bisnis yang telah entrepreneur dari ITS ataupun mempertahankan konsistensi mahasiswa juga menjadi salah keberlangsungan usaha mereka. satu faktor penting,’’ tutur Drs Sebut saja Sego Njamoer, Hetric Soehardjoepri MSi, dosen pembina Lamp, Green Flame dan Krawu Burger. Semuanya memiliki omzet wirausaha mahasiswa. S e l a i n i t u a d a p u l a ku l i a h yang tidak bisa dibilang kecil. Akan tetapi, ada banyak hal Technopreneurship yang selama ini

A

yang masih perlu dibenahi untuk mencetak lulusan yang memiliki s p i r i t e nt r e p r e n e u r s h i p ya n g baik. Mulai dari peningkatan materi entrepreneurship yang terencana dan terintegrasi melalui seminar, pelatihan dan workshop. “Penyediaan sarana penghubung antara mahasiswa dengan dunia industri dan customer pun harus menjadi salah satu prioritas penting,” tutur dosen Jurusan Matematika ini. Hal ini bisa didukung oleh sistem di ITS seperti dukungan pembimbingan, aplikasi kegiatan, hingga pendanaan perlu dilaksanakan secara optimal. Pendanaan yang ada harus dilakukan secara terkontrol, disertai oleh bimbingan khusus bisnis. Sumber daya manusia (SDM) turut menjadi faktor penting. Dosen pengajar mata kuliah diharapkan minimal mempunyai bisnis sendiri sehingga ilmu yang didapatkannya dari pengalaman tersebut dapat dibagikan kepada mahasiswa. Khusus bagi mahasiswa, Soehardjoepri berharap mereka menggeluti wirausaha sesuai bidang ilmunya. Banyak usaha mahasiswa yang saat ini sering bergerak dalam bidang kuliner, cukup jauh dari sebagian besar bidang ilmu di ITS. ‘’Ini cukup disayangkan, karena mahasiswa mau ambil instannya saja,’’ tukas Soehardjoepri. Bukannya tidak boleh, namun alangkah indah dan baiknya jika produk atau jasa yang dihasilkan juga berbau teknologi. Ia berharap besar ITS dapat menjadi pelopor para technopreneur. “Tentunya harapan untuk menjadikan mahasiswa ITS bisa membuka lapangan pekerjaan akan selalu kami jaga,” tutupnya.(izz/lis) ITS Point l Maret 2012

7


OPINI

profil dosen

Menang Lomba Saja Belum Cukup

Drs Soehardjoepri MSi

Yang Penting Jangan Takut Mencoba Berwirausaha

Ir Lantip Trisunarno, MT Kepala Program Pengembangan Kewirausahaan Mahasiswa (P2KM) ITS

Djoepri, begitu panggilan akrabnya, mulai berwirausaha saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kala itu orang tuanya harus pergi ke kota. Djoepri kecil menolak untuk ikut. Di rumahnya di desa Kencong, 40 km dari Jember, ia mulai berbisnis. Mulai dari menjual tanaman sirih hingga membeli kayu bakar dari pengepul untuk kemudian dijual lagi.

S

elepas SMA bisnis yang digeluti Djoepri semakin lama semakin berkembang. Ketika awal kuliah ia tidak ingin dibiayai. “Dulu orang tua sempat khawatir, akhirnya saya hanya dibiayai untuk bulan-bulan pertama saja, selebihnya saya biayai secara mandiri,” ujarnya. Selama kuliah berbagai pekerjaan sempat dijalaninya. Mulai dari office boy, operator telepon, hingga bagian administrasi. Penuhnya kegiatan dari pagi hingga larut malam tidak membuatnya patah semangat. Bahkan putra ketiga dari lima bersaudara ini juga selalu menyempatkan bangun dini hari untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. “Kalau kita berada di zona nyaman terus tidak akan pernah jadi kuat,” ucapnya penuh semangat. Bapak tiga anak ini mengungkapkan sejak dulu dirinya tidak pernah bisa diam. Segala pelatihan ia ikuti, bahkan sampai ke luar negeri yang mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. “Saya tidak ingin membatasi ilmu, jadi dulu ikut-ikut pelatihan walaupun belum tahu nanti untuk apa,” paparnya. Semangat wirausaha ini turut ditularkan kepada anak-anaknya yang saat ini semuanya sudah memiliki bisnis kecil-kecilan sendiri. Terkadang ia sendiri bingung mendapat jiwa berwirausaha ini dari mana. “Bapak saya PNS, ibu saya ibu rumah tangga. Mungkin bakat ini saya dapat dari kakek yang seorang pedagang,”

8

ITS Point l Maret 2012

K

Drs Soehardjoepri MSi bersama istri

ujarnya. Di dalam perkuliahan ia selalu m e n ga n j u r ka n m a h a s i s wa nya untuk berwirausaha sejak dini. Ia beranggapan bahwa kalaupun tidak berhasil itu wajar. “Kalau gagal kan masih bisa lari ke dosen dan orang tua, kalau sudah lulus mau cari siapa. Kalau sudah begitu jadinya nanti mudah putus asa,” jelasnya. Soal kewirausahaan di ITS, ia mengungkapkan selama tiga tahun terakhir perkembangan di kalangan mahasiswa ITS sudah cukup baik. Setiap tahun dana milyaran rupiah yang dikucurkan ITS untuk modal mahasiswa berwirausaha memang selalu habis. “Namun sayangnya

yang mampu bertahan menjadi bisnis yang terus berjalan hanya sedikit. Kkebanyakan mereka masih jago dalam tahap proposal saja,” sahutnya. Ia menyebutkan mahasiswa kini jarang yang memiliki ketahanan mental yang bagus dalam bisnis. “Ide mahasiswa kini sudah bagusbagus. Tapi ide yang bagus itu harus dibarengi dengan realisasi yang bagus juga,” kritiknya. Banyak kesalahan yang dilakukan mahasiswa dalam berwirausaha. Hal ini terutama dalam memanajemen waktu. Ia juga menyebutkan tidak jelasnya pembagian tugas dan cash flow yang kurang detail dan terperinci menjadi alasan kegagalan bisnis dari

egiatan entrepreneurship semakin berkembang di ITS. Fenomena suksesnya mahasiswa di perlombaanp e r l o m b a a n ke w i r a u s a h a a n menghasilkan patron-patron seperti Achmad Ferdiansyah (Hetric Lamp dan Green Flame), Mahendra Ega Higuitta (Sego Njamoer) dan Lailatus Sa’adah (Burger Krawu). Tentu saja hal ini sangat membanggakan. Namun di tengah banyakanya perkembangan dunia kewirausahaan itu, nampaknya ada yang terlupakan. Kegiatan wirausaha bukan sekadar merupakan kegiatan entrepreneurship, kalau tidak memiliki semangat entrepreneurship itu sendiri. David McLelland (1987) m e nyata ka n b a hwa m a n u s i a memiliki motivasi untuk tiga hal. Yang pertama, motivasi untuk berprestasi. Yang kedua, untuk berkuasa. Sementara motivasi ketiga berkaitan dengan kegiatan sosial kemasyarakatan, atau affiliation dengan masyarakat. Dari ketiganya, yang paling berpotensi atas suksesnya seseorang, adalah motivasi achievement. Inilah yang disebut secara khusus oleh McLelland sebagai spirit of entrepreneurship. Menurutnya, jika 2 persen dari penduduk di sebuah negara menjadi entrepreneur, maka

negara itu akan sukses. Entrepreneurship bukan sekadar berwirausaha. Ada kualitas-kualitas tertentu yang dapat menjadikan seseorang sebagai entrepreneur. Salah satunya adalah mampu untuk melihat serta menciptakan atau memanfaatkan peluang. Contohnya adalah ketika saya dan kolega dosen Teknik Industri ITS mendirikan program D1 Teknik Industri, Pendidikan Sistem Aplikasi Bisnis (PASTI) tahun 1995 silam. Banyak orang meragukan berdirinya program tersebut. Tetapi PASTI justru mendapat sambutan baik di kalangan masyarakat. Bahkan, PASTI mendorong berdirinya beberapa program D1 lainnya di ITS. Kemampuan ini tentunya tidak bisa berdiri sendiri. Percaya diri, kreatif dan inovatif, pantang menyerah, berani mengambil resiko, mampu mengambil keputusan, memiliki inisiatif dan tentu saja sanggup mengikuti/mentaati aturan/kode etik merupakan karakter penting lainnya. Apabila seseorang memiliki kualitas-kualitas tersebut, maka ia layak disebut sebagai entrepreneur, siapapun dia dan dimanapun ia beraktivitas. Semangat entrepreneurship menjadi jauh lebih penting daripada kegiatan kewirausahaan itu sendiri. Oleh karena itu, kegiatan kewirausahaan harus disertai dengan bimbingan secara berkala. Inilah yang sedang direncanakan oleh ITS untuk para mahasiswa. Yaitu sebuah program pendukung pengembangan wirausaha, yang disertai kerjasama dengan pihak pemerintah serta pihak swasta.

Mahasiswa harus sadar, bahwa dalam kegiatan kewirausahaan, tidak ada yang main-main. Dana tidak boleh diselewengkan sembarangan, seperti yang masih kerap terjadi dalam beberapa program kewirausahaan.

Bisnis Harus Berjalan Baik Juga!

Ketika Ferdi (Achmad Ferdiansyah, Red) memenangkan Mandiri Youth Technopreneurship Award (MYTA), ia segera saya hubungi. Saya mengenalnya dengan baik sejak awal mula membimbing PKMK dan PMW, dan mengikuti perkembangan wirausahanya. Saya sangat bangga dengan keberhasilannya di kompetisi nasional tersebut, karena hal itu menjadi cambuk bagi mahasiswa lainnya. Namun saya turut menanyakan, apakah benar bisnisnya sudah mencapai kesuksesan? Bagaimana keberlanjutan usaha-usaha yang selama ini sudah dibangun olehnya? Apakah bisnisnya sudah bisa memberikan dampak positif secara sosial, seperti yang dulu ia impikan? Bagaimana pula dampak kegiatan bisnisnya terhadap lingkungan sekitarnya? Hal-hal inilah yang harus diperhatikan oleh semua pihak yang mendalami kegiatan wirausaha. Keberhasilan dalam perlombaan wirausaha saja belum cukup. Apabila semangat entrepreneurship ini terus dikembangkan, saya yakin ITS bisa menjadi institusi pelopor lembaga pengembangan mahasiswa wirausaha perguruan tinggi yang sukses dan berkelanjutan.

ITS Point l Maret 2012

57


Resensi

profil dosen

Man Shabara Zhafira, Keajaiban Sebuah Kesabaran Oleh : Jaharani

Mahasiswi Teknik Kimia 2010 Judul Seri ISBN / EAN Penulis Penerbit Terbit Halaman Berat

: Man Shabara Zafira : Motivasi Islami : 9786020016191 / 9786020016191 : Ahmad Rifa`i Rif`an : ELEX MEDIA : 14 Desember 2011 : 308 : 325 gram

Drs Soehardjoepri MSi bersama istri dan anak-anaknya

A

khir tahun 2011 lalu, sebuah buku inspiratif lahir dari seorang penulis muda. Buku bertajuk Man Shabara Zhafira ini mengulas hubungan jalan panjang menuju kesuksesan. Buku ini membuktikan bahwa kesabaran akan berujung pada keberuntungan. Setiap manusia pasti bercita-cita untuk sukses dalam segala hal. Namun faktanya, jumlah manusia ya n g b e ra m b i s i s u ks e s t i d a k sebanding dengan jumlah manusia yang benar-benar sukses. Masih banyak manusia yang alih-alih mendapatkan kesuksesan justru menuai kegagalan. Bahkan berujung depresi hingga kematian. Man Shabara Zafira, ibarat rumus sakti dalam menggapai kesuksesan. Buku ini mengingatkan manusia untuk menjalankan bagian dan tugas manusia dalam mencapai kesuksesan secara maksimal. Tuhan memiliki rahasia yang indah lewat segala keputusannya. Buku ini terbagi menjadi enam bab yang berupa tangga kesuksesan. Bab pertama mengulas tentang dasyatnya sebuah mimpi. Impian adalah sebuah

56

ITS Point l Maret 2012

doa. Bermimpi sama dengan berdoa agar diberi kebesaran oleh Tuhan. Bab dua mengajak manusia untuk tidak hanya bermimpi tetapi melakukan apa yang diimpikan. Pada bab ini, dipaparkan beberapa tindakan yang mempengaruhi kesuksesan. Bab selanjutnya ,pembaca diajak untuk mendefinisikan kebahagiaan hidup. Perkara cinta pun juga tidak ketinggalan untuk diulas. Rifa’i mendeskripsikan arti cinta secara universal. Tidak hanya cinta kepada diri sendiri, tetapi cinta untuk memberi dan berbagi. Pada bab lima, kekuatan doa menjadi ide yang diulas. Sementara, bab terakhir adalah bab pamungkas. Bab ini berisi rangkuman seluruh tahap menuju kesuksesan. Dalam bab ini disematkan beberapa pesan inspiratif yang dapat memacu semangat. Gaya tulisan buku setebal 308 halaman ini tersaji berbobot tetapi sederhana. Setiap formula kesuksesan yang komplet dijabarkan dalam buku ini. Selain bertabur kisah, buku ini juga kaya hikmah. Mudah

membuat tertawa tetapi terkadang juga berlinang air mata. Dibandingkan buku motivasi sejenis, buku ini tersaji lebih praktis. Cerita yang diangkat bukan hanya isapan jempol semata. Hanya saja, bagi pembaca mungkin akan kesulitan dalam menghubungkan keterkaitan antara judul buku dengan isi buku ini. Karena memang, penulis mendeskripsikan ke s a b a ra n ( S h a b a ra ) s e b a ga i sebuah proses. Mulai merumuskan mimpi hingga memasrahkan diri. Sementara keuntungan (zhafira) diartikan sebagai kesuksesan. Buku karya alumni jurusan Teknik Mesin ITS ini memang istimewa. Kesederhanaanya membuat membuat buku ini lebih bermakna dan mengena. Setiap bagiannya, merupakan sebuah benang yang d a p a t a k a n m e n g g a m b a r ka n metamorfosis mimpi menjadi citacita dan kebahagiaan. Kesabaran memanglah modal dasar para pemenang. Kesabaran membuat kualitas orang-orang melejit dibandingkan mereka yang kurang bersabar.

mahasiswa. Selain itu terdapat pula kesalahan-kesalahan kecil namun menganggu. “Bergerak di bidang marketing tetapi baunya kecut, atau tutur katanya tidak mengenakkan, tentu akan sangat mengganggu sekali,” jelasnya. Namun ia menganggap semua itu butuh proses. Grafik juga menunjukkan peningkatan mahasiswa yang berhasil menjalankan proposal bisnisnya secara jangka panjang menunjukkan angka positif. “Kalau dulu Cuma 3% sekarang sudah melonjak di kisaran 5%, semoga bisa terus meningkat,” harapnya

Bisnis Gagal, Itu Wajar

Selama puluhan tahun malang melintang di dunia bisnis membuatnya semakin matang dalam mengambil keputusan. Gagal dalam bisnis, ditipu kolega, bangkrut, semua sudah pernah dialaminya. “Dari kegagalan itu justru memberikan pengalaman yang luar biasa. Apalagi dengan mendekatkan diri kepada Allah yang membuat saya bisa tetap bahagia,” tambah dosen Matematika ini. Pada kisaran tahun 2004 silam, ia mengaku salah satu bisnisnya

terpaksa gulung tikar. Kerugian yang dialami kala itu hingga ratusan juta. Tentu bukan angka yang sedikit. Namun itu sama sekali tidak mengurungkan niat Djoepri untuk tetap bertahan dalam berwirausaha yang telah lama ditekuninya itu. “Gagal itu boleh, yang tidak boleh itu adalah takut untuk mencoba,” tuturnya. Saat ini, menurut Djoepri sudah semakin banyak yang sadar tentang pentingnya memulai bisnis sejak kuliah. Terkadang halangan justru datang dari orang tua mahasiswa itu sendiri. “Tidak usah bilang dulu tidak apa-apa, yang penting pulang-pulang nanti bawa uang dan orang tua pasti bangga. Kalau bilang terus nilai juga anjlok tentu dipermasalahkan,” kata pria pengagum Robert Kiyosaki ini. Djoepri menekankan, banyak sekali keuntungan yang didapatnya ketika berwirausaha. Diantaranya lebih fleksibel dalam waktu karena yang menentukan adalah diri sendiri. Pendapatan yang didapatkan juga relatif besar. “Lebih enak lagi sebagai investor, kalau itu uanglah yang bekerja untuk kita,” papar dosen yang sedang menempuh pendidikan S3 ini.

Pekerjaan sebagai dosen dipilihnya saat ini karena kebiasaannya sejak kecil yang memang senang berbicara dan bercerita di depan umum. Kesibukannya sebagai tenaga wirausaha juga tidak sampai menganggu jadwal mengajarnya. Hal ini dikarenakan manajemen waktu yang baik serta memang dalam bisnis waktu yang dimiliki lebih fleksibel. Saat ini Djoepri menjalankan beberapa bisnis diantaranya Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), laundry pakaian, menjual pakaian muslim, dan toko souvenir. Omsetnya bahkan mampu menembus angka milyaran. Salah satu kunci suksesnya adalah selalu berpikir positif. “Apa yang kita lakukan adalah apa yang kita dapatkan. Kenapa masih melakukan yang negatif?” ujarnya. Sampai saat ini ia juga selalu mengingatkan kepada dirinya sendiri dan orang lain tentang efek buruk dari berpikir negatif dan pentingnya melakukan hal yang positif. Salah satu prinsipnya adalah hidup itu sekali, berarti, lalu mati . “Hiduplah seperti lilin, walaupun kecil tetapi dalam kegelapan akan sangat memberi arti,”tutupnya. (lhp/fz) ITS Point l Maret 2012

9


profil karyawan

news & prestasi Eddy Yanto

Bekerja dan Melayani dengan Hati Keikhlasan dan totalitas menjadi motto hidup bagi Eddy Yanto. Sejak diterima sebagai karyawan Jurusan Teknik Kimia 30 tahun lalu, kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) seakan sudah menjadi rumah kedua baginya. Tak jarang, demi tugasnya ia rela berangkat paling pagi dan pulang larut malam. karena sejak awal ingin menjadi pegawai negeri, ia pun memutuskan u nt u k b e r h e nt i d a r i p e ke r j a a n awalnya. Walau demi ki an, Eddy tidak serta merta meninggalkan pekerjaan lamanya. Jalannya test ya n g b erl a ru tlarut membuat ia harus bertahan sementara untuk bekerja di bengkel. Eddy pun sempat harus berbohong pada pimpinannya ketika mengikuti ujian tersebut. Ia khawatir apabila meninggalkan bengkel, gajinya Eddy Yanto, karyawan Jurusan Teknik Kimia akan dipotong. Namun Eddy ddy, sapaan akrab pria ini, tak habis akal, ia meminta awalnya memang bercita-cita adiknya untuk menjemputnya menjadi seorang pegawai seraya meminta izin untuk acara negeri. Bak gayung bersambut, pada keluarga. “Kalau tidak begitu, pasti tahun 1980 ia mendengar berita tidak diizinkan,” kenangnya seraya bahwa kampus ITS tengah membuka tersenyum. lowongan kerja sebagai karyawan. Ketabahannya menunggu akhirnya Kontan saja, pria yang lahir pada berbuah manis. Eddy dinyatakan tahun 1957 ini langsung mengajukan diterima bekerja di Jurusan Teknik berkas permohonan. “Dulu pusat ITS Kimia yang saat itu masih bernama masih di kampus Cokroaminoto,” Fakultas Teknik Kimia. Ia benarujarnya. benar merasa bangga bisa diterima. Pada saat itu, Eddy sebenarnya Pasalnya, hanya sedikit orang yang sudah bekerja sebagai montir di diterima dari sekitar 2.000 orang sebuah bengkel di kawasan Gembong pelamar. “Saya lupa jumlah pastinya. Tebasan, Surabaya Utara. Namun, Yang jelas, saat test itu Gelora

E

10

ITS Point l Maret 2012

Pancasila penuh oleh pelamar. Kirakira ada 2.000 orang,” tuturnya. Usai diterima, Eddy langsung menunjukan dedikasi dan totalitasnya dalam bekerja. Pada tahun 1990 ia memboyong keluarganya untuk p i n d a h d a r i ke d i a m a n nya d i Wonokitri, Surabaya Barat menuju Keputih di sekitar kampus ITS. Hal ini semata-mata dilakukan agar lebih dekat dengan kantor dan lingkungan kampusnya. Eddy juga sering dimintai tolong oleh rekan-rekan karyawan dan para dosen. Tak jarang ia menjadi rujukan untuk meminta bantuan finansial bagi karyawan lain. Pernah suatu ketika ada yang meminjam dalam jumlah yang lumayan besar hingga Rp 400 ribu. Namun, Eddy tak pernah menagih pinjaman tersebut. Ia percaya uang tersebut akan dikembalikan walaupun tanpa diminta. Ia mengaku tidak takut ditinggalkan. “Kuncinya ikhlas. Kalau sudah ikhlas tidak akan ada perasaan tertekan,” ungkapnya. Oleh para dosen, Eddy juga acapkali dimintai tolong untuk ikut menjaga ujian mahasiswa. Ia pun tak segansegan untuk melaporkan mahasiswa yang berani berbuat curang. Berkat kejujurannya itu, banyak mahasiswa yang akhirnya merasa sungkan untuk berbuat curang. Di sisi lain, para dosen pun menjadi lebih sering meminta bantuannya. “Padahal tugas saya sebenarnya hanya mengurus air dan listrik,” sahut Eddy. Selama tiga dekade bekerja, bapak tiga orang anak ini mendapat banyak pengalaman menarik. Suatu ketika

Berkiprah Baik Walau di Kampus Teknik

S

ebagai kampus yang berkecimpung dalam bidang keahlian teknik, ITS sering identik dengan kaum lelaki. Meski begitu, bukan berarti bahwa dunia perempuan terpinggirkan di institut perjuangan ini. Salah satu buktinya adalah dengan berdirinya Pusat Studi Wanita (PSW) ITS. Secara struktural, PSW ITS berada di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITS. Jika ditilik lebih jauh, PSW ini merupakan bagian dari Unit Pengkajian Pengembangan Potensi Daerah (UP3AD) yang dipimpin oleh Ir Eddy Setiadi Soedjono Dipl SE MSc PhD. Sebenarnya, berdasarkan Surat Keterangan (SK) Rektor ITS, PSW berstatus sebagai sebuah unit. Hanya saja, istilah pusat telah lebih dahulu dikenal. ‘’Lagipula, lebih enak disebut PSW daripada USW (Unit Studi Wanita),’’ tegas Ir Sri Pingit Wulandari MSi, Ketua PSW ITS. Wanita yang akrab dipanggil Pingit ini

S

menjelaskan lebih lanjut mengenai berdirinya unit ini. PSW bermula dari diskusi kecil yang rutin digelar oleh para dosen perempuan. Tema yang dibahas tak jauh dari gender, umumnya masalah perempuan. S e i r i n g perkembangannya, sambutan positif pun datang dari Rektor ITS kala itu, Prof Dr Ir Priyo Suprobo MSc PhD. Puncaknya terjadi pada akhir 2010 lalu ketika PSW ITS resmi ditetapkan menjadi sebuah unit. Hingga kini, PSW ITS memiliki anggota lebih dari 50 orang. Mereka bukan hanya para dosen perempuan. Beberapa dosen laki-laki yang peduli terhadap permasalahan gender juga turut serta. Seperti Ir Nur Husodo MS, Dr Purhadi MSc, Ir Samsudin MSc, dan Drs Zaenal Arifin MSc.

Di mata para anggota PSW lainnya, unit di ITS ini terbilang cukup unik. Hal ini tak lain karena sebutan ITS sebagai kampus teknik. Pingit mengungkapkan bahwa tak banyak PSW yang berdiri di perguruan tinggi teknik lainnya. Salah satu buktinya adalah saat Forum Pusat Studi Wanita (FPSW) yang digelar di ITS pada Desember lalu. Hampir semua PSW di berbagai daerah datang ke ITS. “Katanya ingin melihat bagaimana kaum perempuan di ITS,” pungkas dosen asli Surabaya ini. (ran)

Berkontribusi Lewat Volunteer IO

osialisasi ITS International Office (IO) mengenai pembukaan pendaftaran mahasiswa ITS yang berminat menjadi volunteer pada 6 Januari lalu mendapat sambutan positif dari mahasiswa. Banyak dari mahasiswa yang sedang menjalani program pendidikan S1 maupun S2 yang mendaftarkan diri sebagai volunteer ITS IO, Senin (16/1). Program volunteer ini diadakan untuk mendukung tujuan ITS yang dalam empat tahun ke depan ingin memantapkan reputasi di dunia internasional. Untuk menuju hal tersebut dibutuhkan banyak persiapan terutama pada ITS IO. ‘ ’Saat ini, kami memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menjadi volunteer IO, sehingga mahasiswa memiliki pengalaman

kerja dan bisa berkontribusi untuk ITS,’’ papar Maria Anityasari PhD, ketua ITS IO. Untuk menjadi volunteer IO tidak ada seleksi atau kriteria khusus yang ditentukan, sehingga semua mahasiswa yang berminat bisa menjadi volunteer IO. Setelah mendaftar, volunteer akan dibagi menjadi beberapa kelompok yang nantinya akan diberi tugas sesuai dengan bidang yang diminati. Te rd a p at l i m a b i d a n g ya n g ditawarkan IO sebagai tugas untuk volunteer, beberapa di antaranya yaitu pembuatan website dan sistem info standar operasional prosedur (SOP), brand marking, serta city tour. ‘’Dalam waktu dekat akan diberikan pekerjaan untuk volunteer, seperti ketika ada tamu dari luar negeri

mereka bertugas untuk melayani tamu asing tersebut,’’ ucap Maria. Banyak manfaat yang bisa dirasakan mahasiswa sebagai volunteer, di antaranya lebih dahulu mengetahui informasi beasiswa di luar negeri, dapat melakukan kunjungan ke luar negeri serta bisa berinteraksi dengan mahasiswa asing. ‘’Mahasiswa yang menjadi volunteer akan mendapatkan sertifikat kontribusi dari IO,’’ ujar Maria yang juga dosen Jurusan Teknik Industri. Penyebaran informasi seputar volunteer ini baru dilakukan di tiga jurusan, yaitu Teknik Industri, Statistika dan Sistem Informasi. ‘’Saat awal masuk kuliah nanti akan diumumkan lagi untuk penerimaan volunteer IO tahap kedua,’’ tambah Maria. (sha) ITS Point l Maret 2012

55


news & Prestasi

D

profil karyawan

Launching Rojo Segoro, Maritime Challenge Siap Berlaga

a l a m ra n g ka m e n g i ku t i perlombaan Atlantic Challenge International (ACI), tim Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Maritime Challenge (MC) meluncurkan kapal ketiga mereka. Bertajuk Wooden Sailing Boat Project II, kapal berjenis Yole De Bantry ini diuji coba di dermaga Komando Armada Republik Indonesia Kawasan Timur (Koarmatim) Surabaya, Selasa (24/1). Kapal yang akan dilombakan di Bantry, Irlandia pada Juli 2012 ini berbeda dengan kapal-kapal mereka sebelumnya. Mencoba berinovasi, selain memakai bahan dasar kayu, para anggota UKM MC juga menggunakan bahan tambahan berupa bambu. ‘’Kami menggunakan teknik laminasi bambu,’’ jelas Rikki Styadi, Ketua UKM MC. Rikki menambahkan, pemakaian bambu hanya pada dudukannya saja. Sebab, bahan utamanya tetap memakai kayu. Pemilihan bambu menjadi bahan

alternatif bukan tanpaFOTO:DOKUMEN alasan. Bahan ini dirasa mempunyai kekuatan cukup tinggi. Di samping itu, daya tariknya dapat menyaingi baja. Secara khusus, tim UKM MC pun memilih bambu yang berasal dari Sidoarjo, yakni Bambu Betung. Dengan panjang total 11,76 meter, kapal yang diberi nama Rojo Segoro ini bernuansa merah dan putih, melambangkan bendera pusaka Indonesia. Terdapat pula ukiran sura dan baya yang melambangkan kota Surabaya.

Launching Rojo Segoro pun menghadirkan beberapa tamu penting. Di antaranya, Pembantu Rektor (PR) I ITS Prof Dr Ing Herman Sasongko, Prof Ir Daniel M Rosyid PhD sebagai pembina UKM MC, Kasarmatim Laksamana Pertama (TNI) Djoko Teguh Wahojo, hingga perwakilan dari Wali Kota Surabaya M Kaswin SE MM. ‘’Saya percaya, pendidikan calon insinyur yang baik harus sampai pada pembuatan suatu barang,’’ ujar Daniel. Selain Daniel, Herman pun turut menyemangati para anggota UKM MC yang akan berlomba dalam kancah internasional. ‘’Yang penting adalah prosesnya,’’ ujar Herman. ‘’Saya berharap nantinya yang mewakili Indonesia akan lebih merata,’’ tutur Rikki. Pasalnya, kapal Rojo Segoro adalah satu-satunya kapal yang mewakili Asia Pasifik dalam ajang ACI ini. (fen)

Loloskan 583 PKM, ITS Targetkan Juara Umum Pimnas

M

eningkatnya jumlah proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang didanai Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) tahun ini, menorehkan rekor baru bagi mahasiswa ITS. Ini semakin memantapkan target ITS, untuk membawa trofi Adikerta Kertawidya (trofi juara umum Pimnas) ke kota Surabaya. Setelah dua kali menjadi runner up di Pimnas XXIII Bali dan Pimnas XXIV Makasar, asa untuk menjadi juara umum di Pimnas XXV Jogjakarta kembali diusung ITS. ‘’Teriakan jargon ITS akan terdengar di penutupan Pimnas XXV Jogjakarta nanti,’’ ujar Dr Ir Bambang Sampurno MT menyemangati. Bambang mengatakan, untuk

54

ITS Point l Maret 2012

mewujudkan impian tersebut, ITS akan melakukan beberapa strategi khusus. Yaitu, melakukan monev (monitoring dan evaluasi) tingkat jurusan dan institut, mendirikan klinik PKM, mengadakan kontrak pelaksanaan PKM, serta memberikan dana pinjaman sebelum dana dari Dikti turun. Monev institut yang diagendakan, akan dilakukan empat kali selama empat bulan. Pada monev terakhir akan diadakan pembimbingan presentasi, agar semua tim siap ketika menghadapi monev dari Dikti. Putu Gde Ariastita ST MT juga optimis ITS akan meraih juara umum di Pimnas kali ini. ‘’Pelaksanaan PKM merupakan latihan untuk me-manage aktivitas mahasiswa, sedangkan lolos ke Pimnas

hanyalah konsekuensi dari apa yang mereka lakukan,’’ tutur Putu. Strategi khusus tidak hanya dilakukan tim penalaran dari dosen, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ITS juga merencanakan beberapa langkah khusus demi tercapainya target juara umum. ‘’Kami akan memaksimalkan Kadep (kepala departemen, red) yang ada di jurusan dalam setiap monev jurusan,’’ terang Muhammad Dhanar Such Rufi Fajri, Menteri Ristek BEM ITS. Ia juga mengatakan, BEM akan aktif memantau perkembangan dari setiap tim yang lolos PKM. ‘’Jika ada tim yang tidak mengikuti monev institut sebanyak dua kali, kami akan langsung turun ke jurusannya,’’ jelas Dhanar. (ali)

ia pernah memergoki seorang laki-laki tengah mencuri kabel penangkal petir di jurusan. Disaat yang lain, ia dan teman-temannya pernah menjuarai Piala Rektor Cup untuk permainan sepak bola. Cintai Dunia Bersepeda Bagi sebagian orang, kegiatan bersepeda adalah kegiatan yang membosankan dan menghabiskan waktu. Namun, anggapan tersebut tidak berlaku bagi Eddy. Ia msangat menyukai kegiatan bersepeda. Tak heran, diusianya yang tak lagi muda, fisik Eddy masih terlihat segar bugar. Eddy mengaku kecintaannya bersepeda dimulai ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pe r ta m a ( S M P ) . Ke t i ka i t u ia hanya menggunakan sepeda untuk bersekolah. Namun, seiring berjalannya waktu, bersepeda telah berubah menjadi bagian penting dalam hidupnya. “Setiap hari, saya selalu menyempatkan bersepeda,” tuturnya. Ia mengungkapkan, dari kegiatan bersepeda, banyak manfaat yang diperolehnya. Selain menyehatkan b a d a n , b e rs e p e d a j u ga b i s a menumbuhkan rasa solidaritas dan simpati pada sesama. Silaturrahmi secara intensif bisa ia lakukan dengan kelompok bersepedanya yang terdiri dari dosen dan karyawan ITS. Rute yang ditempuh pun tidak selalu dekat. Bersepeda jauh ke kota Gresik pernah dilakoninya. Bahkan, tak jarang pula Eddy dan kelompok bersepedanya mengambil rute dari kampus ITS ke kenjeran dan pulang kembali. Tercatat, Eddy pernah beberapa kali mengikuti touring bersepeda. Ia pernah melakukan touring di Bali, Kediri, Gresik, Alas Purwo dan tempat-tempat lain. Event-event serupa yang diadakan kota Surabaya dan sekitarnya pun tak pernah dilewatkannya. Namun, dari itu semua yang paling berkesan baginya adalah ketika mengikuti tour ITS Gowes

Eddy Yanto berpose bersama teman-teman di salah satu even funbike

Eco Campus yang diadakan pada 2011 lalu. Bersama belasan dosen dan karyawan lain, ia menempuh perjalanan bersepeda dari Jakarta hingga Surabaya. Kegiatan ini tak lain untuk mempromosikan sepeda surya Tricycle sekaligus merayakan Dies Natalis ITS yang ke-51. Balas Jasa, Dirikan Usaha Katering Selain senang bersepeda, Eddy juga dikenal sebagai seorang pengusaha kecil katering. Usaha ini, walaupun tidak besar, dilakoninya dengan semangat dan ikhlas. Saat ini Eddy baru memasarkan makanannya di Jurusan Teknik Kimia saja. Beberapa orang dosen dan mahasiswa menjadi pelanggan setianya sejak tiga tahun lalu. Berbeda dengan usaha katering lainnya, Eddy tidak pernah menyediakan menu daging dan ayam. Hal ini dilakukan untuk menyiasati harga makanannya bisa dijangkau oleh mahasiswa. Dalam usahanya, Eddy memang menyediakan makanan dengan menu rumahan. “Banyak mahasiswa dan dosen yang rindu masakan rumah. Jadi saya mengambil peluang itu,” ujarnya. Usaha ini, menurut Eddy bukan sekedar untuk mencari keuntungaan

semata. Ia ingin membalas jasa orang-orang yang telah membantu anaknya, Rahadyan Putra Biguna. Pada tahun 2006, anak kedua Eddy tersebut, mengikuti program pertukaran pelajar ke Amerika Serikat. Ia sangat bangga, tetapi juga merasa sulit untuk menutupi biaya tersebut. Untungnya, beberapa orang alumni Jurusan Teknik Kimia yang tergabung dalam Ikatan Alumni Teknik Kimia (IKA Tekkim) memberikan sumbangan untuknya. Dalam waktu yang sama, Rektor ITS saat itu, Prof Dr Ir Priyo Suprobo MSc PhD, turut membantu dengan memberikan sangu untuk Rahadyan. Dari situ, Eddy merasa harus bersyukur. Ia pun akhirnya mulai merintis usaha katering sebagai bentuk terima kasihnya. Dengan usaha ini, ia ingin lebih banyak melayani orang lain. Ia juga menceritakan bagaimana Rahadyan dijaga dengan baik oleh orang tua asuhnya di Amerika. “Mereka rela membantu walaupun tidak kenal,” ujarnya. Sejak saat itu Eddy bertekad untuk melayani tampa pamrih kepada siapapun. “Semoga bisa berguna untuk orang banyak,” tutupnya. (ram/esy) ITS Point l Maret 2012

11


news & prestasi

profil mahasiswa

Mendikbud: ITS Harus Tambah Kuota Mahasiswa

Imron Gozali

Lewat Kepemimpinan Sebarkan Semangat Optimisme Pria bersahaja dan optimistis, dua kata yang tepat untuk mendeskripsikan sosok satu ini. Berbagai pengalaman di bidang keorganisasian, didukung kemampuan akademis yang mumpuni, sukses mengantarkannya menjadi Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ITS pada 30 November 2011 silam. Dialah Imron Gozali, Presiden BEM ITS periode 2011-2012.

S

empat ricuh pada masa pemilihan Presiden BEM ITS lalu, tidak mempengaruhi tekadnya. Pria yang akrab disapa Imron ini punya pandangannya sendiri dalam menghadapi masamasa sulit tersebut. Nothing to lose adalah satu hal yang ia yakini. “Saya tidak menyangka akhirnya terpilih menjadi presiden BEM,” tutur Imron. Ia mengaku, sebelumnya tidak memiliki rencana untuk mencalonkan diri. Dukungan dari lingkungan dan kepeduliannya terhadap kampus ITS akhirnya membulatkan tekadnya untuk turut serta membangun kampus perjuangan. “Bangga bisa bertemu orangorang hebat yang menebarkan aura optimisme,” ujar Imron saat ditanya mengenai perasaannya terpilih menjadi Presiden BEM ITS. Mahasiswa asal Batu ini ingin menularkan optimisme yang ia miliki selama masa kepemimpinannya. Melalui optimisme, Imron ingin merealisasikan program yang menjadi perhatiannya selama ini. Satu hal yang ia yakini, seorang pemimpin muncul karena lingkungan yang membutuhkannya, bukan karena keinginan diri sendiri. Sosok seorang pemimpin akan lahir seiring dengan amanah yang diberikan oleh lingkungan. Bagi Imron, menjadi Presiden BEM ITS merupakan bentuk kepercayaan Keluarga Mahasiswa (KM) ITS kepada dirinya untuk mengemban amanah tersebut.

12

ITS Point l Maret 2012

Aktif dalam bidang keolahragaan OSIS sekaligus menjadi Ketua Umum Badan Dakwah Islam selama SMA, Imron tetap menggeluti dunia keorganisasian di ITS. Namun, hal tersebut lantas tidak menjadi hambatan baginya untuk tetap berprestasi dalam bidang akademik. Terbukti, dirinya masih menempati urutan teratas dalam ranking IPK di jurusannya. Prestasi lainpun ditorehkan oleh pria yang memiliki hobi membaca, berdiskusi dan bermain futsal ini. Dirinya menjadi satu-satunya mahasiswa ITS yang menerima GE Foundation Scholar Leader Program bersama sepuluh orang lainnya di seluruh Indonesia. Imron juga memperoleh beasiswa PPSDMS melalui keaktifannya di bidang keorganisasian. Tekadnya untuk terjun dalam keorganisasian ITS tidak terlepas dari pengalamannya setelah mengikuti Forum Nasional Young Leader for Indonesia (YLI) selain PPSDMS. “Saya mendapat banyak pengalaman dari sana,” tambahnya. Ia berharap supaya suatu saat semakin banyak mahasiswa ITS yang menaruh

D

alam rangka peresmian Gedung Laboratorium Teknik Elektro, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Prof Dr Ir Muhammad Nuh DEA bertandang ke kampus ITS, Sabtu (21/1). Pada kesempatan itu, Mendikbud menyampaikan sejumlah hal terkait kebijakan pemerintah soal pendidikan di bidang sains dan teknologi. Mendorong peningkatan populasi mahasiswa teknik adalah pokok bahasan

U kepedulian terhadap event serupa. Melihat posisi ITS saat ini sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik bangsa, mahasiswa yang pernah menjadi Head of Himatekk periode 2010/2011 ini bangga terhadap berbagai prestasi yang ditorehkan mahasiswa ITS, baik nasional maupun internasional. “Saya juga ingin punya prestasi seperti teman-teman mahasiswa lainnya,” ujarnya. Semetara saat ditanya soal keorganisasian di ITS, Imron menilai keorganisasisan kampus ITS lebih

utama. Ia mengatakanbahwa jumlah mahasiswa teknik yang ada sekarang tidak sesuai dengan yang dibutuhkan. “ J u m l a h mahasiswa teknik saat ini hanya 11 persen dari jumlah keseluruhan mahasiswa di Indonesia,” ungkap

Nuh. Nuh menargetkan pada tahun 2015, Indonesia memiliki sedikitnya 15 persen jumlah mahasiwa teknik. Peningkatan angka empat persen itu memang diakui Nuh tidak mudah. Oleh karenannya, ia mengajak ITS sebagai perguruan tinggi teknik di Indonesia untuk ikut membantu mewujudkannya. Lebih lanjut, Nuh memaparkan

sejumlah kebijakan yang telah dan akan dilaksanakan pemerintah untuk mengejar kenaikan empat persen itu. “Perguruan tinggi teknik diminta untuk dapat menambah kapasitasnya, selain pemerintah juga mendirikan berbagai perguruan tinggi teknik di berbagai daerah,” tuturnya. Nuh juga mengharapkan ITS bisa menambah kuota untuk mahasiswa baru di tahun 2012. Indonesia yang hingga saat ini hanya memiliki dua institut teknologi negeri dipandang Nuh tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia di bidang sains dan teknologi. Maka dari itu, kini pemerintah tengah gencar membangun sejumlah perguruan tinggi teknik di berbagai daerah. Salah satunya adalah Institut Teknologi Kalimantan, di mana ITS dipercaya untuk mempersipkan pendiriannya. Nuh merencanakan di setiap pulau besar akan memiliki sedikitnya satu institut teknologi. (ald)

ITS Siap Bantu Bangun ITK

ntuk lebih mematangkan konsep pendirian Institut Teknologi Kalimantan (ITK) di Balikpapan, Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Dr H Awang Faroek Ishak Aneka bertandang ke ITS, Selasa (3/1). Pada kesempatan tersebut, tim perencanaan ITK dari ITS mempresentasikan proposal perencanaan dan masterplan ITK. MenurutAwang,ITSmemilikiandilbesar dalam proses panjang pembangunan institut perdana di Kalimantan ini. “Kami berharap institut baru ini dapat mewakili kebutuhan di Kalimantan,” ungkapnya. Awang juga menyampaikan rencana pembangunan jangka panjangnya. Yakni, terkait perkembangan ke depan yang sesuai dengan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

D i kata ka n nya , Ka l t i m b a ka l dijadikan sebagai koridor ekonomi nasional dan lumbung pertanian. “Dalam menghadapi perkembangan pembangunan Kaltim saat ini, Kaltim membutuhkan banyak SDM yang berkualitas,” tuturnya. Tak dipungkiri, adanya Universitas M u l awa r m a n m e m a n g c u ku p membantu terpenuhinya SDM yang dibutuhkan dalam industri Kaltim. Namun, jumlah SDM dalam bidang teknologi masih terbilang sedikit. “Banyak potensi industri migas, pertambangan bahkan pertanian serta perkebunan di Kalimantan,” tambahnya. Gubernur yang bergelar Pangeran Ngebe Suroprojo tersebut berharap ITK segera terealisasi dalam waktu singkat. Sehingga kebutuhan SDM

dapat segera terpenuhi pula. “Kaltim butuh kerjasama dengan ITS untuk membentuk SDM yang baik,” tutur Awang lagi. Terdapat dua alternatif pilihan dalam membangun ITK. Yakni, pembentukan fakultas yang benar-benar baru atau Politeknik Balikpapan (Poltekba) akan dilebur menjadi ITK. “Di sisi lain, Universitas Mulawarman yang berada di Samarinda pun menyatakan siap jika fakultas tekniknya diambil dan menjadi ITK,” jelasnya. Menanggapi hal tersebut, Rektor ITS Prof Dr Ir Tri Yogi Yuwono DEA menyatakan, masih ada ketidakjelasan tentang skenario yang akan diambil untuk ITK. “Nanti bisa seperti ITB yang merupakan pelepasan fakultas teknik UI atau benar-benar baru,” tuturnya menjelaskan. (fin) ITS Point l Maret 2012

53


profil mahasiswa

news & prestasi

M

ITS-Ceko Siap Jalin Kerjasama

endapat amanah sebagai Duta Besar (Dubes) baru Republik Ceko untuk Indonesia, Tomas Smetanka langsung menemui pimpinan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Selasa (24/1). Selain memperkenalkan diri, berbagai bahasan penting terkait hubungan internal dua negara, Indonesia dan Ceko, pun turut dikupas. Setelah melakukan beberapa pertemuan dengan pejabat kenegaraan Indonesia, saat ini giliran ITS untuk dikunjungi. Meski terbilang cukup singkat, pertemuan tersebut mendapat perhatian khusus dari para pimpinan ITS. Tak heran, sambutan hangat pun hadir dari Rektor dan para Pembantu Rektor (PR) ITS. Secara khusus, tujuan utama Tomas mendatangi ITS memang sebatas perkenalan akan dirinya. Namun, ia juga memaparkan tujuan sekundernya adalah ingin memfasilitasi terbentuknya kerjasama ITS dengan Ceko. Hal senada juga diungkapkan Rektor ITS Prof Dr Ir Tri Yogi Yuwono DEA. “Saat ini be-

lum pernah ada kerjasama dengan Ceko,” akunya. K e r jasama ini sendiri merupakan implementasi strategis dari salah satu keputusan yang ditandatangani oleh Direktur Jenderal Amerika Eropa Departemen Luar Negeri, Retno L P Marsudi dengan Deputi Menteri Perdagangan dan Perindustrian Ceko, Vlastimil Lorenz pada Agustus 2009 lalu. Di mana salah satu hal yang disepakati adalah pengembangan kerjasama bidang pendidikan dengan meningkatkan hubungan antaruniversitas. Menanggapi hal tersebut, ITS tentu

hidup bila dibandingkan dengan kampus lain di Indonesia. Salah satu kebanggaannya adalah pada pelaksanaan Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa (LKMM) yang lebih tertata alurnya. Meski masih ada yang harus dibenahi, Imron yakin lewat peran aktif BEM, hal tersebut dapat diatasi. Singkat dan Berkualitas Masa kepemimpinan yang singkat, mengharuskan Imron dan temanteman BEM dapat menghasilkan program yang berkelanjutan. “Mindset mahasiswa ITS menjadi perhatian kami,” jelasnya. Melalui mind-set, ia berharap struktural dan kultural

ITS ke sekolah-sekolah atas nama satu KM ITS. Imron juga menaruh perhatian kepada Campus Social Responsibility. “Pengmas, kampung binaan, dan berbagai aktivitas sosial harus dipertahankan,” tambah Imron. Selanjutnya, Imron berharap agar mahasiswa lebih memperhatikan terapan ilmu masing-masing jurusan sehingga selain melaksanakan kewajiban sosial, mahasiswa juga turut mempraktikkan ilmu yang didapat selama perkuliahan. Masih mengenai kewajiban sosial mahasiswa, Imron menyampaikan pendapatnya mengenai pengaderan

Selain agenda internal kampus, Imron juga memperhatikan kegiatan eksternal kampus sebagai wujud kontribusi ITS pada sosial kemasyarakatan. “Salah satu agenda kita adalah Gerakan Indonesia Sekolah,” tambah Imron. Sebagai hasil dari Surabaya Goes To School (SGTS) BEM ITS, Imron dan teman-teman ingin menginspirasi mahasiswa lainnya untuk mewujudkan Sekolah Peradaban untuk Indonesia. Perhatian BEM juga tidak hanya terfokus pada taraf nasional, namun juga internasional. Sebut saja Asean Student Organization

tidak akan membuang kesempatan yang ada. “Segera mungkin kami akan menyusun pertemuan langsung dengan perguruan tinggi (PT) yang ada di Ceko,” ujar Tri Yogi. Ia menjelaskan pula bahwa pertemuan dengan dubes itu belum sepenuhnya menjadi sebuah kepastian terhadap kerjasama yang akan dijalani. Kepastian tersebut akan terjawab jika dari pihak ITS sudah menemui langsung PT di Ceko. (qly)

BAPSI dan BAUK ITS Jadi Rujukan Unnes

U

niversitas Negeri Semarang (Unnes) berkunjung ke kampus ITS untuk melakukan studi banding terkait BAPSI dan BAUK di Ruang Sidang Rektorat lantai 1, Jumat (17/2). Tak hanya sekedar sharing, kunjungan ini pun diharapkan bisa menjadi bentuk kerjasama nantinya. Dalam kesempatan tersebut, ITS diwakili Pembantu Rektor (PR) III, Prof Drs Nur Iriawan MIkom PhD. Hadir pula Drs Djoko Hartanto selaku Ketua Badan Administrasi Perencanaan dan Sistem Informasi (BAPSI) yang turut mengisi materi. Setelah berjalan selama empat periode, rencananya di periode depan BAPSI akan dipecah menjadi dua, yaitu bagian perencanaan dan sistem informasi. Untuk perencanaan dan penganggaran, ITS sudah terlebih

52

ITS Point l Maret 2012

dahulu merintis dan menggunakan sistem online yang terintegrasi. “ITS itu basisnya IT (Information Technology), makanya hal itu selalu kita kembangkan terus-menerus,” jelas Djoko. Usai pemaparan tersebut, presentasi dilanjutkan oleh Kepala Badan Administrasi Umum dan Keuangan (BAUK), Dra Elizabeth Krissolawati. Setelah dibuka secara umum, presentasi juga dilanjutkan oleh masing-masing kepala subbagian masing-masing. Di antaranya, bagian umum, keuangan, dan kepegawaian. Tak ketinggalan, bagian arsip pun turut ambil bagian dalam acara kali ini. Unit ini terhitung cukup maju bila dilihat dari banyaknya universitas yang berkunjung untuk melakukan diskusi terkait bidang pengarsipan. Sebut saja,

Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjajaran (Unpad), Universitas Airlangga, Universitas Udayana, dan Politeknik Negeri Malang. Sementara itu, dari sekitar 50 orang yang mengikuti acara, 28 di antaranya merupakan perwakilan dari Unnes. Mereka terdiri dari kepala biro, kepala bagian, kepala subbagian dan para staf. “Kami memandang ITS sudah maju dalam pelayanan terkait akademik dan kemahasiswaan,” ujar Anwar Haryono, Kepala BAUK Unnes. Anwar menyebutkan, memungkinkan sekali terjadi kerjasama dengan ITS ke depannya. Namun, hal ini masih akan menjadi bahasan lebih lanjut bersama Rektor Unnes. “Hal-hal yang bagus dari sharing ini akan kami adopsi dan terapkan di kampus kami,” tuturnya. (lhp)

Imron Gozali (tiga dari kanan bawah) bersama teman-temannya saat Pendidikan Kepemimpinan Nasional PPSDMS bersama Ibu Marwah Daud Dewan Presidium ICMI Indonesia.

kampus ITS akan turut berkembang. “ S u d a h b u ka n s a at nya l a g i KM ITS terkotak-kotak ,” ujarnya menanggapi arogansi ITS yang cukup kental di kalangan mahasiswa. Melalui tranformasi mind-set, mahasiswa angkatan 2008 ini ingin menciptakan KM ITS yang lebih terintegrasi. Salah satu wujud nyata yang ingin diwujudkan BEM adalah adanya sosialisasi kampus

yang berkaitan dengan aktivitas sosial mahasiswa. Pengaderan bukan hanya melatih mahasiswa menjadi organisator, namun juga mengembangkan karakter individual masing-masing. “Di dalamnya harus ada pandangan jangka panjang dan kepekaan sosial yang diselaraskan dengan keprofesian,” jelasnya. Berbagai program dicanangkan oleh Imron dan teman-teman BEM.

Network (ASONE) yang bernaung dalam ASEAN Community 2015. “Kami berniat mengirim temanteman departemen Hublu untuk studi ekskursi ke NTU,” tambahnya. Selain itu, Imron juga menjelaskan mengenai Konferensi pelajar ASEAN di Kamboja. “ S ay a i n g i n m e l a k s a n a k a n kepemimpinan yang singkat dan berkualitas,” ungkap Imron. (ken/fi) ITS Point l Maret 2012

13


news & prestasi

PROFIL alumni

Dekan dan Pejabat Baru ITS Dilantik

Gunaris

Keterpaksaan Berujung pada Kesuksesan Modal? Pengalaman? Tidak satupun ia punyai saat merintis sebuah usaha. Bahkan menjadi entrepreneur bukanlah cita-citanya. Sepak terjang entrepreneur-nya, bermula dari perjuangannya untuk kuliah tanpa dibiayai oleh orang tua.”Mungkin ada nilai keterpaksaan, tetapi gemblengan hidup dan pelajaran selama ini membuat saya lebih ulet dan tegar, tidak mudah menyerah, good attitude, selalu berdoa dan berserah diri,” begitulah Ir Gunaris mengartikan hidupnya.

H

idupnya bisa dikatakan tanpa keluarga, justru banyak teman dan orang-orang yang membantu serta mendukungnya dalam berwirausaha. Merekalah yang ia sebut keluarga. Sejak umur 3 bulan ayahnya telah meninggal dunia, kemudian, ia tumbuh besar dengan nenek buyutnya yang juga meninggalkannya ketika ia masih duduk di kelas 2 SMA. Kenyataan itulah yang membuatnya bangkit dan harus menatap wajah hidupnya dengan penuh tantangan. ”Praktik wirausaha pun saya pelajari secara otodidak,” paparnya. Bermula sejak tahun 1998, pria kelahiran Trenggalek ini pun memulai usaha kecil-kecilan. Usahanya dimulai tanpa modal sepeser pun. Ia hanya mengerjakan sesuatu berdasarkan pesanan, seperti software house dan modul-modul praktikum. Sejatinya, menjadi entrepreneur bukanlah cita-citanya, bahkan sejak awal citacitanya adalah menjadi pilot dan insinyur. “Saat ini keduanya sudah saya dapatkan ditambah menjadi pengusaha,” pungkas pembicara di

14

ITS Point l Maret 2012

mata kuliah Technopreneur ini. Membawa cita-citanya untuk menjadi insinyur, ia pun menolak sebuah beasiswa prestisius dari negeri kanguru. Mantan presiden BEM PENS dua periode ini mendapatkan beasiswa Under Graduate (Sarjana) Ekonomi Manajemen di Australia. Namun, ia menolaknya dan masuk di PENS pada tahun 1999 yang ia lanjutkan ke Jurusan Teknik Elektro ITS di tahun 2000. “Saat itu karena saya masih ABG (red: muda) dan saya hanya mau sekolah yang berhubungan dengan Teknik Elektro,” selorohnya saat ditanya mengapa ia menolak beasiswa tersebut. Pasalnya, Gunaris menyebutkan bahwa ia telah banyak belajar tentang elektro sejak masih di bangku SMP. Diantaranya ia telah membuat pemancar, membuat tape dan rangkaian digital. “Bahkan saya menjadi guru elektro untuk kakak kelas waktu di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) dan saya menyukai ilmu ini,” pungkasnya. Dalam masa perkuliahannya, Gunaris pun menghasilkan banyak

karya. Sejak mahasiswa, ia telah memiliki dua produk paten dan setidaknya menghasilkan 30-36 macam karya. Karya-karyanya tidak luput dari kompetisi dan penghargaan. Beberapa karyanya menjadi juara di berbagai perlombaan, diantaranya runner up di Asia Pacific Microcontroller Design di ITB. “Karya itu pun ada satu sampai dua karya yang dikembangkan menjadi perusahaan,” tuturnya. Berbagai karya ia hasilkan sebab ia memandang sesuatu dari ada atau tidaknya kebaruan dan inovasi dari hal tersebut. Hingga ia menciptakan banyak karya dari cara pandangnya terhadap sesuatu tersebut. Ia juga mengungkapkan bahwa terkadang karena adanya permintaan dari perusahaan atau pemerintah. Contohnya Vending Machine of Automatic Packing Salt Machine (Mesin Otomatis Penghancur dan Pengepak Garam). Alat tersebut merupakan permintaan dari Pemda Jatim untuk Jaring Pengaman Sosial (JPS). Pria kelahiran 3 November 1977 ini

P

ara dekan baru di lingkungan ITS telah ditunjuk langsung oleh rektor sesuai statuta baru ITS. Untuk itu, Senin (19/12), dilaksanakan pelantikan para dekan baru dan pembantu dekan, yang sekaligus menandai berakhirnya masa jabatan pejabat lama. Acara yang digelar di gedung Grha Sepuluh Nopember ini dihadiri oleh pejabat lama, pejabat baru, dan semua senat ITS. Pergantian dekan di lingkungan ITS dilaksanakan setiap empat tahun sekali. Pejabat baru yang dilantik kali ini untuk masa jabatan tahun 2011 - 2015. Kepala Biro Administrasi Umum dan Keuangan (BAUK) ITS, Nurijati Hamid SH, mengatakan bahwa pejabat yang dilantik kali ini lebih sedikit daripada pejabat sebelumnya. Menurut Nurijati, ini dikarenakan be-

Rektor ITS Prof Dr Ir Tri Yogi Yuwono DEA menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya untuk para pejabat lama atas kerja keras, sumbangan tenaga, dan dedikasinya selama ini. Dosen jurusan Teknik Mesin ini juga mengingatkan kepada para pejabat baru, bahwa ITS harus menjadi universitas riset berskala internasional pada tahun 2017 nanti. ‘’Tugas para pejabat ini untuk mempersiapkan hingga tahun 2015 nantinya, FOTO:NUR HUDA/ITS POINT ITS menuju kesuksesan menghantarkan di tahun 2017,’’ tuturnya di akhir upacara pelantikan. Tri Yogi menekankan berapa faktor yang menyebabkan jum- bahwa tujuan ITS menjadi universitas lah fungsi di fakultas saat ini tugasnya riset internasional adalah sebuah banyak yang didorong ke jurusan. Susu- hikmah. Di mana proses untuk mennan organisasi fakultas kali ini berbeda. capainya harus dirancang dengan baik. Jika sebelumnya, dekan dibantu oleh ‘’Proses tersebut dijalankan dengan beberapa pembantu dekan, mulai saat baik serta dapat dipertanggungjawabini, pembantu dekan hanya ada satu. kan,’’ tandasnya. Begitu juga dengan Ketua Lembaga Masa transisi organisasi ke depan, ITS Penelitian dan Pengabdian Masyarakat berupaya merealisasikan organisasi di ling(LPPM). Saat ini tugas tersebut dijabat kungan ITS seperti yang dirancang oleh para rangkap oleh Pembantu Rektor IV Prof anggota senat ITS yang mengedepankan Dr Darminto MSc. efisiensi dalam segala hal. ‘’Untuk menuju Terdapat 19 pejabat baru yang dilan- lulusan ITS yang bermartabat, jujur, dan tik maupun pejabat lama yang dilantik memiliki kepekaan tinggi,’’ tambahnya lagi. kembali dalam periode ini. Yakni lima Dalam bidang kerjasama, ITS hadekan fakultas, lima pembantu dekan, rus terus membuka diri dengan pihak ketua dan dua sekretaris LPPM. Direk- manapun. Khususnya dengan pihak luar tur dan asisten direktur pascasarjana, negeri, guna mengangkat ITS menuju ketua dan sekretaris UPMB, serta ketua perguruan tinggi riset kelas dunia. jurusan dan sekretaris jurusan yang ‘’Insya Allah dapat kita upayakan,’’ belum dilantik. pungkasnya optimistis. (fin)

Daftar nama pejabat baru yang dilantik: FMIPA

FTIf

Dekan Pembantu Dekan

: Prof Dr Drs RY Perry Burhan MSc : Dr Mahmud Yunus MSi

Dekan Pembantu Dekan

Dekan Pembantu Dekan

: Dr Bambang Lelono Widjiantoro ST MT : Dr Ir Sumarno MEng

Direktur Asisten Direktur

Dekan Pembantu Dekan

: Dr Ir Hidayat Soegihardjo Masiran MS : Ir Mas Agus Mardyanto MEng PhD

Ketua Sekretaris I Sekretaris II

Dekan Pembantu Dekan

: Prof Ir Eko Budi Djatmiko MSc PhD : Dr Ir Setyo Nugroho

FTI

FTSP FTK

Ketua Sekretaris

: Dr Agus Zainal Arifin SKom Mkom : Mahendrawathi ER ST MSc PhD Program Pascasarjana : Prof Dr Ir Adi Soeprijanto MT : Dr Ir Ria Asih Aryani Soemitro MEng LPPM : Prof Dr Darminto MSc : Prof Ir Gamantyo Hendrantoro MEng PhD : Ir Surjo Widodo Adji MSc UPMB : Drs Hasto Sunarno MSc : Dra Nuri Wahyuningsih MKes ITS Point l Maret 2012

51


PROFIL alumni

news & prestasi

Statuta Baru, PENS dan PPNS Lepas dari ITS Statuta ITS tidak pernah berubah sejak tahun 1992. Perubahan statuta ITS baru dilaksanakan setelah selama 19 tahun setelahnya. Tahun 2011 ini keluar statuta baru, salah satu perubahan tersebut menyebutkan bahwa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) dan Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) tidak termasuk di dalam ITS lagi. Dua politeknik tersebut berdiri sendiri tertanggal sejak statuta baru diberlakukan. Sejak berdiri hingga tahun 2011, dua politeknik ini berada dalam satu naungan yakni ITS. Namun, dengan berlakunya statuta baru ITS, sekarang masing-masing telah berdiri sendiri. Rektor ITS Prof Dr Ir Tri Yogi Yuwono DEA menerangkan bahwa pada dasarnya, antara ITS dengan politeknik ini adalah dua institusi yang berbeda. Tri Yogi pun memberikan contoh beberapa politeknik yang juga lepas dari

S

tidak lagi ada di bawah jabatan Rektor ITS,” ujar dosen Jurusan Teknik Mesin tersebut. Begitu pula dalam penerimaan mahasiswa baru politeknik. Sebelum statuta berubah, penerimaan mahasiswa baru politeknik dilaksanakan bersama dengan ITS. Mahasiswa baru politeknik pun diresmikan oleh Rektor ITS. “Dengan peraturan baru ini, mulai tahun ajaran 2012 politeknik mengadakan penerimaan mahasiswa sendiri,” paparnya lagi. Wisuda politeknik pun berubah. “Mulai dari mahasiswa angkatan 2012 ini tidak akan ada campur tangan Rektor ITS lagi,” tuturnya. Terkait dengan Organisasi Mahasiswa (Ormawa), menurut Tri Yogi, seharusnya ormawa politeknik juga lepas dari ITS. “Itu semua tergantung pada statuta ITS, sehingga seharusnya lepas juga,” ungkapnya. (fin)

Tidak Ada Lagi Pemilihan Dekan

tatuta baru ITS banyak membuat perubahan pada perguruan tinggi teknik yang kini berusia 51 tahun ini. Tak luput dari pengaruh statuta baru, peraturan rektor pun berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Terkait dengan pelantikan dekan dan pembantu dekan yang digelar Senin (19/12), Rektor ITS Prof Dr Ir Tri Yogi Yuwono DEA mengatakan bahwa pelantikan kali ini tanpa pemilihan. Sebelumnya, pemilihan dekan dilakukan seperti pemilihan Ketua Jurusan (Kajur). Yakni, dimusyawarahkan secara bersama-sama dengan senat. Namun, dengan berubahnya statuta ITS, maka rektor ITS mengangkat langsung dekan. ‘’Dalam statuta disebutkan bahwa pejabat fakultas ditunjuk oleh Rektor,” jelasnya. Menurutnya, rektor hanya perlu menunjuk langsung, tidak perlu campur tangan jurusan maupun fakultas. Namun, kali ini ia masih memberikan

50

insitusi yang membinanya. Di antara contohnya adalah Politeknik Negeri Bandung (Polban) yang dulunya di bawah Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan nama Politeknik ITB. “Sehingga, tidak ada alasan khusus mengapa politeknik harus berdiri sendiri,” tukasnya cukup yakin. Di sisi lain, Tri Yogi menyebutkan bahwa statuta politeknik yang seharusnya akan menguatkan belum keluar. “Statuta masing-masing politeknik belum keluar, jika dalam statuta ITS, politeknik sudah lepas, kemungkinan besar dalam statuta politeknik juga,” ujarnya menjelaskan. Dulunya, direktur dua politeknik ini ada di bawah Rektor ITS. Padahal, level antara direktur politeknik dan Rektor ITS tersebut sama. Sehingga, ada kesulitan secara organisasi. Mulai Desember tahun lalu, semuanya resmi berubah. “Direktur Politeknik

ITS Point l Maret 2012

kesempatan kepada jurusan yang dinaungi masing-masing fakultas untuk turut mengusulkan calon. ‘’Meskipun dari jurusan mengusulkan, satu orang dekan tersebut tetap dipilih oleh rektor,’’ tambahnya. Ia menjelaskan bahwa awalnya rektor mengusulkan tiga orang calon dekan dari setiap fakultas. Lalu, dari tiga calon tersebut pihak jurusan dipersilakan memilih dua di antaranya. Lalu, dikembalikan lagi kepada rektor hasil pemilihan dari jurusan tersebut. Akhirnya, rektor memilih salah satu dari dua pilihan jurusan tersebut. Selain itu, Tri Yogi mengatakan bahwa saat ini ITS sedang dalam masa transisi organisasi. Ke depan ITS berupaya merealisasikan organisasi di lingkungan ITS seperti yang dirancang oleh para anggota senat ITS yang mengedepankan efisiensi dalam segala hal. ‘’Salah satu bentuk efisiensinya adalah pengurangan jumlah pembantu dekan,’’

lanjutnya. Tri Yogi pun menyebutkan manfaat dari sedikitnya pembantu dekan, maka dana yangjatuhkepadajurusanbisalebihbanyak. Karena dana jurusan tidak lagi perlu melewati fakultas. Kini, semuanya dibebankan langsung kepada jurusan. ‘’Jurusan lah yang akan lebih banyak melaksanakan tugas tri dharma perguruan tinggi,” bebernya. Peran fakultas sekarang ini tidak seperti sebelum statuta baru diresmikan. “Fakultas, dalam organisasi saat ini, hanya menjadi link dari rektorat ke jurusan,” tuturnya menganalogi. Tak hanya tugas pokok fungsi (tupoksi) fakultas, pada tupoksi yang hampir sama pun dilakukan efisiensi. Yakni, Pembantu Rektor IV yang tupoksinya sama seperti Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM). Sehingga, Pembantu Rektor IV pun dilantik menjadi Ketua LPPM. ‘’Meskipun menyandang dua jabatan, gajinya tetap satu,’’ tandas Tri Yogi. (fin)

pun merintis usahanya sedikit demi sedikit. Ia aktif di berbagai forum dan membuat orang memberikan positif testimonial terhadap usahanya. “Kita juga share knowledge, saya sering di TV untuk share knowledge tanpa meminta bayaran,” paparnya menjelaskan perjuangannya. Hingga memasuki tahun 2003, lima tahun berlalu dari usaha awalnya, perkembangan usaha ini mulai beranjak bagus. Saat itu, modal usahanya sudah besar, karyawan sudah banyak dan omset saat itu pun sudah mulai besar. Hingga pada tahun 2008 mencapai omset sampai 60 miliar per tahun. Tidak hanya berhenti sampai disitu, ia meyakini perkataan orang bijak bahwa jangan meletakkan telur hanya dalam satu wadah. Maka tahun 2008-2011 pun ia memulai ekspansi usahanya. “Usaha otomasi ini selain retail juga ada enam usaha lainnya,” jelasnya. Jiwa entrepreneur yang membuatnya dapat membuka banyak

usaha, berkembang secara otodidak. Bahkan ia mengungkapkan bahwa buku tentang teori bisnis karangan Robert Kiyosaki saja masih tersimpan rapi di bungkusnya. “Justru saya mulai belajar teori marketing dan berwirausaha karena harus mengerti teori saat diminta mengajar mata kuliah Technopreneur di ITS, UNJ, ITB, Petra, dan banyak universitas lain,” pungkasnya. Lika-liku perjuangan entrepreneurnya, tidak selalu semulus dan seperti yang diinginkan. Usahanya pernah masuk pada tahap terkapar. Ia mengungkapkan bahwa hal tersebut terjadi karena kondisi sosial dan daya beli kurang bagus. “Ditambah lagi dengan tidak kondusifnya pemerintah untuk bidang usaha tertentu, diantaranya usaha saya,” tuturnya berbagi pengalaman. Menjunjung almamaternya, Gunaris pun membimbing banyak mahasiswa ITS untuk mengembangkan usahanya. Diantaranya yaitu Krawu Burger, Frizz

Memotret menjadi hobbi Gunaris diselasela waktunya beraktivitas.

Soft therapy, F2Me, Water Stove, dan sebagainya. Tidak hanya itu, untuk mengembangkan entrepreneur di ITS, lulusan Master Business A d m i n i st rat i o n N o r t h e a ste r n University ini pun mengikuti berbagai kegiatan coaching clinic tentang high technology, pemateri dalam seminar, dan berbagai kegiatan lain. Pengusaha yang termasuk dalam Departemen Pengembangan Technopreneur, Ikatan Keluarga Alumni (IKA) ITS ini menyebut dirinya adalah tipe orang yang tidak bisa tinggal diam, ingin selalu membuat hasil yang menarik. Ia pun mengungkapkan kunci suksesnya hingga ia bisa menjadi seperti sekarang adalah selalu Istiqomah dan hidup penuh dengan humble alias kesederhanaan. “Untuk bisa seperti itu harus keep spirit, selalu bisa memotivasi diri sendiri,” tukasnya berdalih. (fin/el)

ITS Point l Maret 2012

15


news & prestasi

kolom lppm

Inkubator Wirausahawan Muda ITS, Ajarkan Bisnis dengan Modal Kertas

S

ejak November 2008, ITS memiliki sebuah unit inkubator bisnis yang dibawahi oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITS. Beberapa kali mengalami perubahan nama maupun struktur, kini unit tersebut berganti menjadi Pusat Inkubator Bisnis LPPM ITS. Sesuai dengan namanya, pusat inkubator bisnis merupakan tempat untuk mengembangkan wirausahawan baru di ITS. Berlokasi di lantai dua Plasa Dr Angka, pusat inkubator ini memiliki sekitar sepuluh tenant. Tenant merupakan istilah bagi wirausahawan yang menjalani pembinaan di Pusat Inkubator Bisnis LPPM ITS. “Tenant-tenant ini masih perlu banyak pembinaan. Beberapa memang sudah ada yang sukses besar,” tutur dosen D3 Teknik Kimia ini. Masa inkubasi dalam Pusat Inkubator Bisnis LPPM ITS terbagi menjadi tiga fase dalam tiga tahun pembinaan. Fase pertama dilakukan dengan pengembangan ide bisnis hingga penetapan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Kemudian dilanjutkan dengan uji produksi hingga uji pasar pada fase kedua. Sampai pada fase ketiga, tenant harus mampu berdiri sendiri hingga mampu menjual saham. Dalam masa inkubasi tersebut, para tenant dibina langsung oleh para ahli bisnis. Mulai dari sivitas ITS, alumni yang menjadi pengusaha, bank Jatim Ventura, Business Development Services (BDS), serta pelaku usaha kecil menengah di Jawa Timur yang telah sukses. Pembinaan yang diberikan pada tenant tak hanya teori saja. Biasanya Elly dan para tenant-nya melakukan diskusi rutin untuk pengembangan

16

ITS Point l Maret 2012

Ir Elly Agustini MEng selaku Kepala Pusat Inkubator Bisnis LPPM ITS

ide bisnis para tenant. Sebagai bukti keseriusan intkubator ini, setiap tahun Pusat Inkubator Bisnis LPPM ITS mengadakan pameran produk tenant. Kegiatan rutin itu biasanya berbarengan dengan Focus Group Discussion (FGD) yang diadakan pada Dies Natalis ITS. “Sekarang ini baru kelihatan suksesnya. Dulu tenant kami sering ikut kompetisi, tidak pernah menang tapi kualitasnya terakui oleh juri,” kenang Elly. Hal tersebut berkaitan dengan melonjakanya produksi produk beberapa tenant bimbingan Elly. Seperti Krawu Burger, Hetrick Lamp, Green Flame, dan Minyak Angin Friz. Meski begitu, tidak mudah bagi Elly maupun para tenant untuk meraih pencapaian mereka saat ini. Dalam hal pendanaan, Pusat Inkubator Bisnis LPPM ITS banyak dibantu oleh alumni dan kerjasama dengan Usaha Kecil Menengah (UKM), juga instansi pemerintah. “Kami berbisnis dengan modal kertas, bukan uang. Jadi kami ini sebenarnya jualan ilmu,” cerita Elly sembari tersenyum bangga. Beberapa perkembangan pun

terjadi pada Pusat Inkubator Bisnis LPPM ITS. Setiap tenant yang seharusnya memiliki kantor sendiri akan segera mendapatkan fasilitas tersebut. Untuk itu, ITS kini membangun sebuah gedung baru di belakang Gedung Pusat Robotika ITS. Semua mahasiswa ITS dapat menjadi tenant di Pusat Inkubator Bisnis LPPM ITS setelah melewati s e l e ks i . M a h a s i s wa I T S ya n g mengajukan proposal bussiness plan miliknya akan dievaluasi oleh para ahli bisnis di lingkungan ITS, alumni, BDS, dan juga dari sector UKM. Seleksi calon tenant tahun ini diselenggarakan pada Maret 2012. Menurut Elly, ITS memiliki banyak potensi untuk mengembangkan ide bisnis. Banyak program yang menjadi fasilitas, salah satunya Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). “Kalau bisa, setiap jurusan punya inkubator bisnis seperti ini. Akan lebih mudah mengembangkan kreativitas mahasiswa, apalagi kalau idenya terkait dengan bidang jurusan,” pungkas Elly menyarankan. (set/fz)

B

Tiga Tahun, ITS Siap Bangun Desa

adan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ITS melalui Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) tengah mengusung kegiatan bertajuk ITS Bangun Desa. Temu bareng dosen pun menjadi ajang diskusi untuk memfasilitasi keberlanjutan ide ini. Forum yang dihadiri Pembantu Rektor (PR) I dan beberapa stakeholder ITS lainnya ini diselenggarakan di Gedung Perpustakaan, Senin (27/2). Pada forum ini, dipresentasikan gagasan yang dibawa oleh Kemenristek BEM ITS untuk membangun sebuah desa atau kampung binaan yang dipraFOTO:MUFLIH FATHONIAWAN/ITS POINT menjadi karsai ITS. “Nantinya, ini akan salah satu perwujudan dari Tri Dharma Perguruan Tinggi ITS, yakni pengabdian masyarakat,” terang Dhanar Such Rufi Fajri, Menteri Ristek BEM ITS. Selain itu, pemberian kritik dan saran juga menjadi sasaran yang diharapkan atas terselenggaranya forum diskusi ini. “Sebelumnya, safari Kemenristek

A

BEM ITS ke seluruh Departemen Ristek Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) di ITS juga telah dilakukan untuk memberikan modal pemikiran pada forum diskusi ini,” tambah mahasiswa Teknik Sipil tersebut. Cihe Aprilia Bintang, ketua pelaksana forum, juga menerangkan sudah saatnya ITS memberikan pengabdian sebenarnya kepada masyarakat. “Selama ini hanya sebatas pembe-

rian keterampilan, pengajaran, dan pembinaan, bukan bentuk pengabdian penerapan aplikasi teknologi sesuai dengan bidang ilmu yang ada di ITS,” ungkap mahasiswa angkatan 2008 ini. Pada pelaksanaanya, program kerja ini nantinya diuraikan menjadi tiga tahapan rencana strategis (renstra) Menristek BEM ITS, yang dinamakan renstra tiga tahunan. Pada tahun pertama akan difokuskan pada tahap persiapan sebelum pelakasanaan. Kemudian tahun kedua dilakukan pencairan dana dan penerjunan ke lapangan tempat desa binaan yang akan dibangun. Serta, eksekusi secara menyeluruh dan matang pada tahun ketiga. (man)

ITS Akan Buat Fast Track Lokal

da 17.000 lebih mahasiswa ITS, namun jumlah mahasiswa pascasarjananya tidak sampai 1.700 orang. Kondisi ini masih jauh tertinggal bila dibandingkan dengan beberapa perguruan tinggi di luar negeri. Itulah yang diungkapkan Pembantu Rektor I ITS Prof Dr Ing Herman Sasongko berkaitan dengan sosialisasinya mengenai beasiswa Fast Track. Saat ini, program beasiswa Fast Track menjadi isu hangat di ITS. Menurut Herman, ITS sedang berusaha mendukung pascasarjananya. Hal tersebut karena kuantitas dan kualitas pascasarjana di ITS belum memadai. Bahkan, jumlah mahasiswa pascasarjana dari keseluruhan jumlah mahasiswa ITS tidak mencapai 10 persen. Apalagi pada masa kini, tenaga kerja dan industri belum dapat terintegrasi. Itulah salah satu alasan mengapa banyak orang belum yakin untuk meneruskan pendidikannya ke jenjang

pascasarjana. ‘’Orang belum yakin mau melanjutkan sekolah,’’ ungkap Herman. Untuk memberdayakan kondisi pascasarjana tersebut, ITS membuat beberapa gagasan untuk memfasilitasi pendidikan pascasarjana di ITS. ‘’Ke depan akan didorong melalui beasiswa sejenis Fast Track lokal di ITS, seperti beasiswa cumlaude,’’ ujar Herman. Nantinya, akses sekolah lanjut akan dipermudah melalui beasiswa joint degree yang tidak hanya untuk Jerman dan Prancis. Konsep beasiswa joint degree tersebut kemungkinan memiliki sistem yang sama dengan beasiswa Fast Track Jerman dan Prancis. Namun, beasiswa lokal tersebut akan diupayakan oleh ITS sendiri. ‘’Tidak banyak ada, tapi akan berjalan. Tidak dimulai tahun ini, Insya Allah tahun 2013,’’ tutur Guru Besar FTI ini. Sementara itu, skema dari beasiswa lokal joint degree ini akan dirancang

pada pertengahan tahun 2012. Gagasan tersebut diupayakan karena pada prinsipnya, industri di Indonesia membutuhkan tenaga kerja sebagai jembatan antara industri dengan universitas mengenai inovasi. Dan inovasi itu bisa dalam bentuk pengembangan produk industri yang ditangani oleh tenaga kerja dengan studi lanjut. Pada perencanaannya, kurikulum program pascasarjana regular disesuaikan dengan keperluan spesifik dari beberapa industri. ‘’Misal pascasarjana pembangkit daya petrokimia atau pascasarjana telekomunikasi,’’ sebut Herman. Pada intinya, Herman memotivasi mahasiswa ITS untuk meninggikan semangatnya dalam menuntut ilmu. Herman pun memiliki gagasan. ‘’Nanti bisa saja SNMPTN untuk menyaring mahasiswa sampai lulus S2. Jadi sekali mengikuti SNMPTN untuk kuliah 10 semester,’’ tutupnya. (set) ITS Point l Maret 2012

49


news & Prestasi

unit manajemen aset

Jetro Bahas Mahasiswa Siap Pakai

I

nstitut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menjadi narasumber penelitian oleh Japan External Trade Organization (Jetro), Kamis (19/1) lalu, di Gedung Rektorat ITS. Hadir pula Yoshihiro Araki, Senior Research Department Jetro. Meskipun bertajuk penelitian, acara tersebut berjalan ringan. Tak jarang pula selisih pendapat terjadi di antara kedua pihak. Jetro adalah perusahaan Jepang

di bidang pengembangan sumber daya manusia (SDM) di lingkup Asia Tenggara. Visinya adalah mengusahakan agar SDM Asia Tenggara menjadi tenaga siap pakai di dunia industri dengan keterampilan yang dimiliki. Dalam penelitian tersebut, Yoshihiro mengambil judul tentang Potential of Private Vocational Schools for Enhancy Industrial Human Resource Development in ASEAN. Menurutnya, keluaran dari penelitian ini adalah meningkatkan level akademisi ke tingkat yang lebih tinggi. Ia menilai, dibanding Malaysia, Thailand dan Filipina, Indonesia masih tertinggal dalam hal persiapan tenaga kerja. Sebagai salah satu institut teknologi, ITS pun relevan menjadi sumber penelitian. “Dengan banyaknya

kerjasama tentu lulusan ITS merupakan produk unggul dibandingkan universitas lain,” lanjutnya Para akademisi ini adalah para mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan teknik (senmo gakko), seperti politeknik dan jenjang diploma. Mereka dinilai sebagai mahasiswa siap pakai di dunia industri karena kemampuan aplikatifnya jauh lebih banyak daripada mahasiswa tingkat sarjana. Hal ini berdasarkan studi lapangan yang telah dilakukan di berbagai perusahaan. “Yang terjadi adalah down grade mahasiswa sarjana,” ujar Yoshihiro. Artinya, mereka (mahasiswa sarjana, red) banyak direkrut untuk menempati posisi pekerja lapangan. Sementara menurut Waskhito, mahasiswa sarjana juga dapat dikatakan sebagai mahasiswa siap pakai. Hal ini berdasarkan kebutuhan industri yang masuk ke ITS. Mahasiswa sarjana juga dibekali kemampuan aplikatif sama seperti mahasiswa akademisi. (ran)

Unit Layanan Kearsipan, Siap Jadi UPT

S

ejak didirikan tahun 2010, Unit Layanan Kearsipan merupakan unit yang dibawahi oleh BAUK ITS. Kedepannya unit layanan ini akan berubah predikat menjadi Unit Pelayanan Terpadu (UPT). Hal ini mengacu pada Undang-Undang Republik Indonesia tentang kearsipan yang mewajibkan

tor Unit Layanan Kearsipan ITS Agus Santoso. Unit Layanan Kearsipan ini berada di lantai dua dekat BAUK ITS. Agus mengatakan bahwa tempat Unit Layanan Kearsipan belumlah memadai. “Sudah ada rencana untuk membangun gedung sendiri untuk menampung arsip-

semua perguruan tinggi untuk memiliki pusat arsip. “ ITS sendiri harus memiliki pelayanan kearsipan yang memadai,” aku pria lulusan Ilmu perpustakaan UNAIR ini. Hal tersebut juga merujuk pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 42 tahun 2006 yang mengatur tentang tentang tata kelola persuratan di lingkungan pendidikan nasional. Selain itu, UPT ini bakal didirikan untuk pengelolaan, pemeliharaan, pemberdayaan dan pelestarian arsip di lingkungan kampus ITS. Karena pada dasarnya tingkat kepedulian sivitas akademika ITS kurang peduli terhadap pentingnya arsip. “Budaya ini yang masih kurang oleh warga ITS sehingga dalam pencarian arsip-arsip yang lalu menjadi susah,” ungkap Koordina-

arsip penting yang pastinya semakin banyak,” jelas Agus lagi. Sedangkan dalam segi fasilitas untuk penunjang kerja, Agus mengatakan bahawa fasilitas yang ada saat sekarang ini telah sesuai SNI (Standar Nasional Indonesia). Terkait belum membudayanya jiwa pengarsipan oleh setiap sivitas kampus ITS, tim kearsipan ini sering melakukan sosialisasi di lingkungan kampus ITS sendiri. Sosialisasi ini berupa kode arsip ITS dan baru-baru ini juga diadakan sosialisasi jabatan fungsional arsiparis. Disamping itu, tim kearsipan juga melakukan pameran arsip-arsip lama ITS, seperti sejarah berdiri, fotofoto wajah rektor dari masa ke masa, perkembangan gedung-gedung ITS , dan lain sebagainya. Dipintu masuknya pun juga terdapat mading yang memuat foto-foto rek-

Berguru Budaya Konservasi Energi

M

araknya isu krisis energi menuntut kesadaran lebih dari kelompok intelektual. Untuk itulah, diadakan seminar dengan tema Teknologi Penghematan Energi di Jepang, Rabu (22/2), di Gedung Rektorat ITS. Secara khusus, seminar yang mengupas tentang konservasi energi ini mengundang Presiden VEGLIA Laboratories dari Jepang, Kenzo Tsutsumi, sebagai keynote speaker. Lewat seminar ini, ITS menunjukkan kepedulian terhadap krisis energi yang tengah terjadi. Hal ini ditujukan untuk mewujudkan konservasi energi di Indonesia, khususnya Surabaya dan sekitarnya. Kenzo menjelaskan secara rinci berbagai program penghematan energi yang sudah dan akan diterapkan di Jepang. Ia pun sempat melakukan penelitian terhadap beberapa sektor industri di

48

ITS Point l Maret 2012

Indonesia. Usai penelitian tersebut, ia berharap hal yang sama dapat diterapkan di Indonesia. Misalnya, analisa yang dilakukan melalui New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO). Konsumsi energi listrik proyek di Semen Padang pun dapat ditekan hingga kurang lebih delapan megawatt. Tak hanya itu, Kenzo juga memaparkan salah satu poin penting dalam rangka penghematan energi. Yakni, pola pikir. Ternyata, Jepang masih mampu meningkatkan efisiensi konsumsi energi mereka. Terbukti, Jepang dapat menghemat konsumsi energi listrik hingga 40 persen lebih rendah pascabencana Fukushima. ‘’Pola pikir sangat mempengaruhi penghematan energi,’’ ujar Kenzo. Hal itu tentu membutuhkan usaha serius dari pemerintah dan kerjasama masyarakat.

Di Jepang, berbagai kebijakan peme rintah juga dicanangkan untuk mendukung adanya konservasi energi.Salah satunya adalah dengan menfokuskan perhatian pada sumber energi terbarukan. Diakuinya, sumber energi memegang peranan penting. ‘’Berbagai sumber energi terbarukan sudah diterapkan di Jepang,’’ jelas Kenzo. Beberapa di antaranya adalah energi surya, angin, biomassa, mini-hydro, dan biothermal. Dari pemaparan tersebut, ia menyebutkan, menciptakan efisiensi yang lebih baik seharusnya menjadi peluang bagi para engineer dan entrepreneur. Yakni, melalui perannya dalam menciptakan efisiensi dan konservasi di berbagai sektor usaha. Di mana tidak hanya menguntungkan dirinya sendiri, namun juga masyarakat secara lokal maupun global. (ken)

tor terdahulu sampai sekarang dan juga dokumentasi kegiatan ITS. “Hal ini semata hanya untuk menunjukkan kepada segenap warga kampus bahwa budaya pengarsipan itu penting,” ucap Agus yang juga menjadi dosen di Jurusan Ilmu Perpustakaan Universitas Airlangga. Adapun jenis-jenis arsip yang terdapat di dalam kantor Unit Layanan Kearsipan ini diantaranya yaitu arsip tekstual yang meliputi bentuk surat, Surat Keputusan (SK), sejarah tertulis, dan lain-lain. Selain itu juga ada bentuk kartografi seperti denah dan peta ITS, blue print, dan lain sebagainya. Arsip audio visual juga ditampung oleh tim kearsipan ITS ini, yaitu layaknya foto-foto rektor dan foto-foto kegiatan penting. Dalam perkembangannya, Layanan Kearsipan ITS ini selalu mengembangkan mutu dan kualitasnya. Diantaranya yaitu standarisasi pengelolahan sistem arsip, perumusan kebijakan teknis pengelolaan arsip, pembinaan dan mengawasi arsip yang ada. Selain itu juga melakukan proses digitaliasi arsip yang lebih mudah dan cepat. Agus sendiri mengharapkan Layanan kearsipan ITS bisa menyadang predikat UPT dalam waktu yang cepat, memiliki tempat yang lebih luas, serta bisa menjadikan arsip sebagai pertanggung jawaban akademik bagi setiap sivitas kampus ITS. Sebenarnya perbedaan unit layanan dan identitas sebagai UPT tidak terlalu jauh. “Ini hanyalah pelepasan dari BAUK yang selama ini membawahi kami, dan kami akan menjadi mandiri jika telah menyandang UPT,”ucap Agus lagi. Terakhir Agus mengungkapkan visi yang akan dijadikan patokan kearsipan ITS jika telah menjadi UPT nantinya. Visinya sangat jelas yaitu menjadikan UPT Kearsipan ITS sebagai pusat pelestarian informasi untuk pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya.(ais/el) ITS Point l Maret 2012

17


mahasiswa bicara

UNit manajemen aset

Sosio Teknologi, Prodi Baru UPM Soshum

S

elama ini, penyelenggaraan mata kuliah Sosial Humaniora dilaksanakan oleh Jurusan Mata Kuliah dasar Umum (MKU), di bawah koordinasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Namun semenjak tahun 2009, sistem ini berubah. Kini, penyelenggaran mata kuliah wajib nasional tersebut menjadi tanggung jawab Unit Penyelenggara Mata Kuliah Sosial Humaniora (UPM Soshum). Unit ini resmi berada di bawah koordinasi Pembantu Rektor l. Dengan status barunya, UPM Soshum banyak berbenah. Visi baru mereka termasuk meningkatkan peran UPM Soshum serta berkontribusi bagi ITS dan masyarakat. Program kerja UPM ini ditargetkan untuk meningkatkan dan mengembangkan kajian ilmu sosial humaniora yang relevan dengan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (Ipteks). Salah satunya yaitu melalui pendirian program studi (Prodi) Sosio Teknologi. A p l i ka s i d i s i p l i n i l m u S o s i o Te k n o l o g i s e c a r a k h u s u s mempelajari dampak penerapan s u at u b e nt u k te k n o l o g i b a r u terh ad ap ko n d i si so si al d i masyarakat. Dr Soedarso M Hum yang menjabat sebagai ketua UPM Soshum ITS menerangkan tentang urgensi pembentukan prodi tersebut. ‘’Selama ini institusi terlalu fokus pada cara menciptakan teknologi cang gih,’’ ujar pria yang memperoleh gelar doktor di bidang filsafat ini. Akibatnya, kajian mengenai dampak teknologi terhadap kehidupan sosial masyarakat kurang digali. Adanya prodi tersebut juga

18

ITS Point l Maret 2012

berdasarkan kebutuhan di dunia industri. Mereka butuh sumber daya manusia yang dapat mengkaji dampak sebuah produk sebelum diluncurkan kepada konsumen. Soedarso menambahkan, ITS memang berbasis teknologi. Namun hal ini tidak membatasi untuk masuk ke dalam ranah sosial. Karena itu, ilmu eksakta harus dipadu dengan studi sosial, seperti Soshum tersebut. Di Indonesia sendiri belum ada institusi lain yang menyelenggarakan program studi serupa. Namun ITS bukan yang p e r t a m a ka l i m e n g ga ga s nya . Gagasan ini sempat dicetuskan pada tahun 2009. Namun beberapa kendala merintanginya. Akan tetapi, realisasinya baru bisa dijalankan pada kepengurusan baru ITS. Menurut Soedarso, rencana pendirian prodi tersebut telah disusun lebih sempurna, serta dibantu dengan sumber daya manusia yang lebih baik. UPM Soshum pun telah merancang beberapa poin tahapan dalam usaha perwujudan prodi ini. Secara keseluruhan terdapat empat tahap sistematis. Keempat tahapan itu antara lain pengumpulan data,

kajian akademik, seminar akademik, dan bina jaringan dengan lembaga terkait. Pengumpulan data dilakukan melalui survei pasar dan survei sosial. Tujuannya, untuk menyelidiki kebutuhan masyarakat akan output dari prodi tersebut. Selama satu tahun ke depan, akan berlangsung kajian akademik. Kegiatan ini melibatkan 15 dosen UPM Soshum serta beberapa dosen dari jurusan lain. Tak lupa pula akan diadakan pembinaan jaringan. “Ini akan dilakukan dengan perusahaan yang membutuhkan peran sosio teknologi dalam inovasi perusahaan mereka, seperti Pertamina dan Telkom,” lanjutnya. Keseluruhan proses pembentukan prodi ini memang butuh proses panjang. Soedarso sendiri belum bisa memastikan rentang waktu proses tersebut. Namun mereka t e t a p fo k u s d e n ga n r e n c a n a pengembangan yang telah mereka tetapkan. Pengembangan riset dosen, pengabdian masyarakat yang rutin, dan pengendalian kualitas mata kuliah UPM Soshum turut menunjang program tersebut. (anl/lis)

Paradigma Baru Dunia Mahasiswa

M

enjadi mahasiswa sambil berwiurausaha menjadi sebuah solusi kreatif yang tentunya membuka banyak peluang. Mari membiasakan dengan paradigma baru yang lebih ‘trend’ sekarang, yakni ‘mahasiswa harus punya usaha sebelum lulus dengan IP tiga koma’. Jangan pernah menganggap susah dalam memulai usaha, yang diperlukan hanya kepedulian dan antisipasi dalam menghadapi permasalahan sekitar. Apalagi, kini sangat mudah bagi mahasiswa untuk mendapat modal awal yang cukup besar. Di era super globalisasi ini, semua hal menjadi berkembang cepat. Siapa cepat dia dapat, siapa tidak berinovasi akan tersaingi, siapa yang terus mengikuti arus akhirnya justru akan turbulensi.

Untuk menjawab tantangan global, pemuda Indonesia lah yang akhirnya harus berperan. Lebih dari sekadar memulai usaha, membesarkan usaha, kemudian mengambil keuntungan darinya. Wirausaha juga butuh pemikiran cerdas agar bertahan dan terus meningkat. Salah satunya adalah dengan mencintai negara Indonesia dan bekerja keras untuk Indonesia. Dalam dunia yang penuh kejutan ini, sudah sepantasnya Wirausaha muda Indonesia hadir menjadi kejutan baru. Sehingga Negara Indonesia tidak lagi menjadi negara yang terkejut. Jika dimulai dari sekarang, dengan pemikiran cerdas, aksi konkrit, dan kestabilan dalam menjalankan usaha oleh para wirausaha muda Indonesia, dapat dipastikan Indonesia akan menjadi

Tyas Nastiti – Desain Produk ITS Peraih Medali Emas Pimnas 2010 @tyasnastiti (twitter) tyasnastiti@rocketmail.com

sebuah Negara kuat, berkarakter, dan mandiri di tahun 2030 nanti. Hidup Pemuda Indonesia!

Kuliah dan Bisnis itu Menjanjikan Berwirausaha Reny Elvira S Mahasiswa Teknik Industri 2011 25111161

M

ahasiswa adalah generasi penerus bangsa yang mengemban peran dan f u n g s i u n t u k m e m b a n g ga ka n negara. Peran itu bukan sebagai j a r g o n b e l a ka , n a m u n h a r u s diwujudkan untuk menjadikan Indonesia menjadi lebih baik.

Salah satu yang dapat diwujudkan ialah fasilitas Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK). Selain itu juga banyak dibukanya lomba-lomba bisnis turut mempermudah mahasiswa berkontribusi dalam pengembangan diri di bidang kewirausahaan. Kuliah dan berbisnis merupakan merupakan dua hal yang berbeda namun juga menambah pengalaman. Seperti Krawu Burger serta Sego Njamoer. Keduanya merupakan ide bisnis yang unik dan terbukti berhasil menambah penghasilan meski dilaksanakan oleh mahasiswa.

Kuliah sambil berbisnis merupakan hal yang berat namun juga mengasyikkan. Ide-ide kreatif kita bisa mewujudkan apa yang kita inginkan. Dengan berbisnis kita juga dapat membantu Indonesia mengurangi tingkat pengangguran Selain itu dengan adanya hal tersebut juga dapat menjadikan Indonesia menjadi Indonesia Kreatif yang dapat membanggakan nantinya. Kuliah sambil berbisnis merupakan awal untuk menjadi generasi pengubah bangsa yang tidak hanya mencari kerja namun juga dapat menciptakan lapangan kerja untuk Indonesia yang lebih baik. Menuju Indonesia mandiri lewat kuliah sambil berbisnis. Why Not? ITS Point l Maret 2012

47


international office

D

unit manajemen aset

Internasionalisasi itu Konsekuensi

alam usianya yang ke-51 tahun, ITS telah menjelma sebagai salah satu institut terbaik di Indonesia. Reputasi dalam negeri pun tidak diragukan lagi. Namun, bagaimana dengan reputasi internasional? Tentunya, hal ini menjadi pekerjaan besar bagi ITS dalam rangka mewujudkan impian ITS sebagai world class university. Dalam Rencana Stategis (Renstra) ITS hingga 2015 mendatang, reputasi internasional telah menjadi perhatian khusus bagi ITS. Secara singkat, reputasi internasional berarti dikenalnya ITS di luar negeri. Menurut Pembantu Rektor (PR) IV, Prof Dr Darminto, reputasi internasional dapat diartikan internasionalisasi, yaitu mengenalkan ITS ke dunia internasional.

Sebenarnya, usaha untuk mencapai tujuan tersebut telah lama dilakukan. Mulai dari perjanjian kerja sama, riset, join degree hingga student exchange. Cara lain yang turut ditempuh adalah lewat prestasi mahasiswa. Misalnya, Sapu Angin, SpeKtronics, maupun tim Paduan Suara Mahasiswa (PSM). Lebih lanjut, dosen Jurusan Fisika ini menerangkan bahwa internasionalisasi adalah sebuah konsekuensi. Ibarat sebuah trofi piala dunia, internasionalisasi diperoleh setelah menjalani pertandingan yang panjang. Dalam konteks ini, pertandingan diartikan sebagai semua usaha yang dilakukan ITS dalam merebut perhatian internasional. Baik itu dari publikasi penelitian dalam ju-

rnal dan seminar internasional, kunjungan, program student exchange, join dan double degree, join research, maupun mengirim dosen untuk belajar di negeri orang. Ia menambahkan, tak ada parameter universal untuk menentukan pencapaian reputasi suatu institusi. Hanya saja, pengukuran telah sering dilakukan oleh berbagai lembaga. Biasanya, berupa perangkingan. ‘’Rangking itu tidak menentukan, setidaknya menjadi acuan bagaimana ITS di mata internasional,’’ ujarnya.Standar yang digunakan berbeda antara satu dengan yang lain. Mulai berdasarkan tingkat publikasi ilmiah, banyaknya jurnal yang menjadi rujukan penelitian hingga dari segi kehijauan kampus.

Internasionalisasi Tidak Mudah Terkait hal tersebut, Darminto mengakui bahwa internasionalisasi bukan sesuatu yang mudah. Dalam pencapaiannya, dibutuhkan berbagai persiapan tidak hanya dari subyek tetapi juga dari lingkungan. Faktor terakhir inilah yang justru relatif sulit untuk diwujudkan. Faktor lingkungan ini adalah menciptakan iklim internasional di ITS. Darminto

pun menjelaskan, untuk mencapainya mutlak diperlukan dua hal. Pertama adalah self awareness dari seluruh sivitas akademika ITS. Artinya, setiap elemen kampus harus mendukung program internasionalisasi. Kedua adalah membiasakan sivitas akademika untuk ber’perilaku’ internasional. Singkatnya, habitual action harus mulai dibiasakan. Con-

toh kecilnya seperti, penggunaan bahasa internasional dalam perkuliahan, acuan diktat, maupun penggunaan jurnal internasional sebagai referensi. Selama ini memang faktor bahasa menjadi penghambat dalam mencapai hal ini. ‘’Kalau sudah terlaksana, mau tidak mau pengajaran pasti menggunakan bahasa internasional,’’ ujarnya.

ITS punya IO

komunikasi, sayang saat ini masih kurang update,’’ ujar dosen Teknik Industri ini. Selain itu, IO juga berencana membuat sebuah jejaring dengan seluruh unit di ITS. Terkait hal ini, Maria menjelaskan jika integrasi dengan semua unit mutlak dibutuhkan. Alumnus Teknik Industri ini menjelaskan ada beberapa aspek penting dalam pencapaian akreditasi tersebut. Mulai dari silabus pembelajaran, fasilitas seperti sign internasional hingga kemampuan sivitas akademika. Tentunya, masing-masing aspek memiliki unit penanggung jawab sendiri. Contohnya, silabus pembelajaran dengan P3AI, kemampuan bahasa dengan UPT Bahasa. ‘’Dengan integrasi seperti itu internasionalisasi akan lebih mudah,’’ ujarnya. Sementara itu, untuk jangka panjang

IO akan melakukan zonafikasi negara. Bersama dua staf IO lain, Dr rer pol Heri Kuswanto dan Dr Waskitho Wibisono SKom MEng, Maria berbagi tugas mengumpulkan data kerjasama yang akan dilakukan. Ke depan, Maria akan mengurus masalah internal IO, double degree, research collection dan staff exchange. Sedangkan Heri akan bertanggung jawab mengenai academic exchange dan statistika website IO. Sementara itu, sesuai dengan bidangnya, Waskitho bertanggung jawab membenahi website IO. Ia pun turut diamanahi untuk mengurus student exchange. Sesuai dengan jargonnya, IO berharap sinergisitas menuju internasionalisasi. ‘’Tanpa dukungan semua pihak, mustahil ITS akan mencapai reputasi sesuai yang diharapkan,’’ tutupnya. (ran/esy)

Sebenarnya dalam proses pencapaian reputasi ini, ITS mempunyai International Office (IO). Sayangnya, tak banyak sivitas akademika yang mengenal unit ini. Sejak berdiri tahun 2004 lalu, unit ini telah mengemban tugas sebagai pusat pengembangan hubungan antara ITS dengan luar negeri. Saat ini, di bawah pimpinan Dr Maria Anityasari ST ME, IO mulai menyusun strategi. Target utamanya adalah mencapai reputasi internasional sesuai amanat Renstra ITS. Strategi IO pun telah dibagi menjadi jangka pendek dan jangka panjang. Untuk jangka pendek, website IO menjadi perhatian utama. Tidak dapat dipungkiri, website menjadi bagian paling penting untuk mengenalkan ITS ke dunia luar. ‘’Website bisa jadi media promosi dan

46

ITS Point l Maret 2012

UPT Fasilitas Akademik

Ingin Berikan Pelayanan Terbaik untuk ITS

B

erdiri sejak Juli 2010, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Fasilitas Akademik tergolong unit managemen aset baru. Meski belum sepuh, namun keberadaan UPT ini memiliki pengaruh besar terhadap keseimbangan pemakaian fasilitas akademik di ITS. Dr Bambang Sudarmanta ST MT, Ketua UPT Fasilitas akademik mengungkap, terdapat dua faktor utama dibentuknya UPT ini. “Pertama, intensitas pemakaian fasilitas akademik seperti ruang kuliah yang tidak sama,” papar Bambang. Ia melanjutkan, faktor kedua yakni pelayanan ruangan yang berbeda. “Yang ekstrem biasanya di Jurusan Teknik Informatika,” ujar dosen Jurusan Teknik Mesin ini. Ia menuturkan, di jurusan ini, jam perkuliahan acapkali mencapai pukul 22.00. Pemakaian ruang kuliah hingga larut malam biasanya dikarenakan oleh kurangnya ruang kelas di jurusan tersebut. Sebelum UPT Fasilitas Akademik berdiri, pengaturan pemakaian ruang kuliah menjadi tanggung jawab jurusan. Sehingga, kurangnya jumlah ruang kuliah dapat menyebabkan jam perkuliahan mundur hingga petang hari. Dengan dibentuknya UPT Fasilitas Akademik, kendala tersebut dapat segera diatasi. “Kuliah yang berlangsung sampai malam, ruangannya bisa dipindah ke jurusan lain,” jelas Bambang. Dengan begitu, jam perkuliahan bisa lebih cepat usai. Selain intensitas pemakaian yang tidak merata, kendala lain yakni pelayanan ruang kuliah yang tidak seragam. “Ada yang pakai pendingin ruangan, ada yang tidak,” tutur Bambang. Diakuinya, setelah UPT

ini berdiri, hal yang dilakukan ialah standarisasi pelayanan ruang kuliah. Pada akhir 2010, target UPT Fasilitas Akademik, melakukan standarisasi pelayanan ruangan pun terpenuhi. Bambang menerangkan, sedangkan untuk target di tahun 2011 yakni perawatan dan pengawasan penggunaan fasilitas ruang kuliah. “Untuk rencana pembaharuan, kami akan lebih menguatkan kinerja teknisi perawatan,” cetus Bambang. Meski demikian, ia mengaku belum terpikir untuk menambah tenaga kerja. Sebab ke depan, peran teknisi yang berkaitan dengan fasilitas akademik di ITS harus lebih baik lagi. Kendati telah menyelaraskan fasilitas tiap-tiap ruang kelas yakni Air Conditioner (AC), Liquid Crystal Display (LCD), listrik, lampu, dan white board, pihak UPT pun tak lupa melakukan himbauan untuk para mahasiswa. “Di tiap ruang kami tempel stiker yang berisi himbauan untuk hemat air,” jelas Bambang. Selain itu, mereka pun menghimbau untuk segera melapor pada UPT

Fasilitas Akademik jika ada fasilitas ruang kuliah yang rusak. “Nomor telepon UPT juga telah diinformasikan pada mahasiswa,” tambah Bambang. Selain itu, sekarang UPT Fasilitas Akademik telah bertanggung jawab penuh untuk wilayah Teater A, B, dan C. “Kalau jam kerja, dipakai sebagai ruang kuliah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) dan Jurusan Teknik Elektro,” papar Bambang. Diluar jam kerja, wilayah-wilayah tersebut kerap digunakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ataupun Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Mereka sering kali menyelenggarakan kegiatan mahasiswa wilayah Teater A, B, maupun C. “Kalau ingin menggunakan, izinnya ke sini,” tambah Bambang. Bertugas melayani fasilitas tiap jurusan, UPT ini ternyata mempunyai motto tersendiri. “Kami ingin memberikan pelayanan yang terbaik untuk jurusan-jurusan di ITS,” ucap Bambang menyebutkan motto mereka. (fen/esy) ITS Point l Maret 2012

19


did you know?

Mahasiswa Cumlaude FMIPA

Sibuk Tapi Seimbang, Akhirnya Jadi Cumlaude

N

i Luh Putu Satyaning Pradnya Paramita lulus cum laude tanpa pernah ia duga. Ia tak pernah berobsesi mendapat predikat lulus dengan pujian tersebut. Mahasiswa Statistika ini merasa hal tersebut bakal sulit dicapai di tengah kesibukannya berorganisasi. Padahal, perempuan yang akrab disapa Ning ini memiliki segudang

ambisi. Sejak awal kuliah, ia bercita-cita ingin membuka sebuah distribution outlet (distro). Ning juga terus melanjutkan hobinya selama SMA, yaitu menulis. Pengagum sosok Rosihan Anwar ini sempat bergabung dengan media online ITS. Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) pun diikutinya. ‘’PKM yang saya buat selalu didanai,’’ aku mahasiswi asal Bali ini. Sementara keaktifannya dalam organisasi mahasiswa ditandai dengan menjabat Menteri Sains dan Teknologi BEM FMIPA pada tahun ketiganya. Seolah masih belum puas, Ning ikut bergabung dalam Forum Indonesia Muda (FIM) tahun lalu. Selepas dari FIM, ia turut mendirikan Gudang Ilmu, sebuah social project berupa kegiatan mengajar di sekitar ITS. Ia berniat untuk

memperluas jaringan lembaga yang masih berpusat di Mulyosari tersebut. “Saya ingin menjalani semua dengan seimbang,” tutur Sekretaris Departemen Hubungan Masyarakat Tim Pembina Kerohanian Hindu (TPKH) itu. Ia juga sangat terinspirasi oleh lagu When You Believe yang menyatakan apapun bisa ia capai, asal ia percaya pada kemampuannya. Alhasil, alumnus Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Lanjut (LKMM TL) ini menyelesaikan kuliahnya setelah tujuh semester dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,55. Sebuah ketakutan yang rupanya berubah menjadi kenyataan. Saat ini, ia tengah bersiap untuk melanjutkan kuliah ke Prancis melalui program fast track. (qly/lis)

K

Cumlaude Tiap Semester, Ingin Jadi Pendidik FTI

R

uri Agung Wahyuono, akrab dipanggil Ruri. Sekilas, ia terlihat sebagai pria yang kalem dan pendiam. Namun, orang akan terperangah kagum begitu mengetahui prestasi langka yang berhasil dicapainya. Yakni, mampu cumlaude di setiap semester yang dilaluinya. Bahkan, kini IPK-nya mengantongi angka 3,97. Dia mengatakan, keberhasilan ini memang tak luput dari kesuksesan orang disekelilingnya. Suko Bagus Trisnanto ST, misalnya. Alumni Teknik Fisika yang lulus 3,5 tahun dengan IPK 3,89 adalah inspirasinya. Inspirasi lain juga datang dari nasehat Ir Soewarso MSc, dosen mata kuliah Termodinamika di Teknik Fisika. “Saya berhasil meniru prinsipnya untuk tutup buku hanya untuk hari Sabtu saja. Kalau minggu tetap buka-buka,” kenang mahasiswa angkatan 2008 tersebut

20

ITS Point l Maret 2012

sembari tersenyum. Karena kebiasaan tersebut, track record akademik Ruri benar-benar menjanjikan. Diawali saat mahasiswa baru, ia mendapat IPS 3,94. Lalu disusul deretan angka 3,98, 3,93, 3,95, 4,00, 4,00 dan 4,00 yang berbaris anggun di lembar transkripnya. Tak ada yang menyangka bila pemuda pecinta ilmu eksak ini bukan termasuk mahasiswa study oriented. Di dalam kampus, Himpunan Mahasiswa Teknik Fisika (HMTF) dan Lembaga Dakwah Jurusan (LDJ) FUSI Ulul Albab, dipilihnya untuk menempa softskill. Bahkan, menjadi asisten laboratorium juga dilakoninya. Di luar kampus, ia juga sempat mendirikan lembaga bimbingan belajar. Bahkan, pelatihan setenar Young Leader for Indonesia (YLI) 2011 juga pernah diikutinya. Dengan IPK antastis yang dimilikinya,

Titik Nol ITS

mantan Kepala Departemen Keprofesian dan Kependidikan ini tidak akan membuang begitu saja cita-citanya menjadi seorang pendidik. “Kok sedikit orang pintar yang mau memintarkan orang. Bukan berarti saya pintar, tapi saya berkeinginan untuk membuat orang lain pandai,” ujar mahasiswa yang tengah mengikuti program Fast Track Jerman ini merendah. (nir/esy)

ampus perjuangan ITS ternyata menarik untuk digali lebih dalam. Banyak situs yang rupanya masih menjadi misteri bagi sivitas akademika ITS. Hal yang tidak begitu terlihat justru mempunyai fungsi penting dalam pembangunan kampus Sukolilo ini. Jika memperhatikan secara seksama di perbatasan Jurusan Matematika dan Teknik Elektro kampus Sukolilo, sebuah monumen berdiri tegak. Bentuknya tidak sebesar tugu-tugu jurusan. Letaknya bisa dikatakan tidak begitu strategis. Di bawah pohon rindang, di antara jalan yang tidak begitu sering dilewati oleh pejalan kaki di ITS. Ia tak semenonjol patung seperempat badan Dr. Angka di Plaza Dr. Angka yang melegenda dan tak seterkenal bundaran ITS. Tidak banyak yang mengetahuinya dan keberadaannya tak begitu terlihat jelas. Beruntung, keadaannya bersih dan tampak terawat. Di badannya, tertera tanda tangan Prof Dr Sjarif Thajeb selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Reublik

Indonesia (RI) pada tahun 1977 silam. Tanda tangan itu menyatakan peresmian permulaan pembangunan kampus ITS Sukolilo. Namun siapa sangka, di tempat itulah, semua pembangunan yang dilakukan di kampus teknologi ini mengacu. Menurut penuturan Prof Mahmud Zaki, selaku Rektor ITS pada jaman itu, titik nol ITS ada di situ. Nol dari sumbu x (panjang), y (lebar), dan z (tinggi). “Semua titik kordinat ITS mengacu di situ,” ungkap Zaki. Zaki menerangkan saat dia dan teman-temannya yang tergabung dalam tim pembangunan Kampus ITS Sukolilo, titik itulah yang paling strategis. Pasalnya, kampus ini dulu dikelilingi oleh rawa dan sawah. Langkah pertama yang dilakukan adalah membuat denah dengan berbentuk garpu bergigi kanan dan kiri. Satu-satunya akses yang menghubungkan ITS dengan area luar adalah jalan menuju Minimarket Sakinah yang ada di Jalan Arief Rahman Hakim.

Sesuai dengan denah awal, jalan ini sebagai batang garpu. Lalu ke kiri, ke arah Jurusan Biologi, sejauh 200 meter dan ke kanan sejauh 300 meter. Tepat di seberang jalan dari Sakinah tersebut, titik nol ini ditetapkan. “Supaya mudah terlihat. Dulu belum ada pohon seperti ini,” ujar Zaki sambil menunjuk pohon besar yang menutupi monumen tersebut. Monumen tersebut pada awalnya berbentuk silinder pipih dengan posisi ketinggian 90 cm dari permukaan air laut. Itu artinya, jika lantai sebuah jurusan berada di ketinggian 1 meter dari titik nol tadi, maka tingginya adalah 1,9 meter. Berbicara mengenai bentuk, Zaki mengatakan bahwa kemungkinan dibangunnya titik nol tersebut menjadi sebuah monumen adalah agar lebih mudah untuk dikenali. Karena jika tidak dilindungi seperti itu, dikhawatirkan posisinya bisa berubah. Walaupun tak ada nama resmi yang disematkan untuk monument tersebut, Zaki mengatakan bahwa posisinya tidak boleh berubah.“Bahkan Asian Development Bank (ADB) yang juga memberikan pinjaman ke ITS waktu itu, saya katakan tidak boleh,” ungkap Zaki. Setelah ditetapkan titik nol tersebut, barulah ITS melakukan pembangunan gedung-gedung baru. Gedung yang pertama kali dibangun di kampus ini adalah Gedung Teknik Elektro, yakni pada tahun 1978. Kemudian disusul dengan pembangunan-pembangunan infrastrukutur yang lain sehingga Kampus ITS Sukolilo menjadi seperti yang sekarang ini. Namun, semuanya tetap mengacu pada titik nol. Kalaupun ada acuan lain, maka acuan yang digunakan telah dikalibrasi dengan titik nol ini. (nir/el) ITS Point l Maret 2012

45


did you know?

Mahasiswa cumlaude

Dulu, Kantin Itu Turut Menggemakan Reformasi

K

antin ITS pertama kali didirikan pada tahun 1977. Yaitu pada masa jabatan Prof Mahmud Zaki MSc, Rektor ITS yang keempat. Pada awalnya, tak ada yang istimewa dari kantin tersebut. Namun pada tahun 1998, di masa kepemimpinan Prof Ir Soegiono, kantin ini benarbenar menjadi pusat perhatian. Pasalnya, tempat tersebut ramai oleh para aktivis kampus. “Apalagi dengan gencar-gencarnya agenda reformasi,” ungkap Rektor ketujuh itu.

Buku Soegiono berjudul Kilasan Sejarah 44 Tahun Bersama ITS, mencerminkan dengan jelas gerakan arek-arek kantin ITS itu. Ia bercerita, tuntutan reformasi dan suksesi dimulai dari Kantin mahasiswa ITS pada tahun 1993. ‘’Sejak 1993 tanpa mengenal rasa takut mereka sudah mengumandangkan kata-kata reformasi dan suksesi ketika rezim Soeharto masih sangat kuat, ” papar Soegiono dalam buku tersebut. Di masa itu, terdapat dua perkumpulan yang membuat basecamp di kantin. Mereka menamakan diri mereka sebagai Penghuni Kantin ITS (PKI) serta Gerombolan Penghuni

44

ITS Point l Maret 2012

Kantin (GPK). Mereka kerap disebut sebagai organisasi tanpa bentuk (OTB). Akan tetapi, para anggotanya juga termasuk aktivis organisasi mahasiswa kampus. Di kantin itu mereka berkumpul dan berdiskusi. Tokoh-tokoh pendukung reformasi seperti Gus Dur, Amien Rais, Sri Bintang Pamungkas dan WS Rendra sempat mengisi ceramah-ceramah di kantin tersebut. Setiap hari sejak April 1998 hingga peristiwa berdarah Trisakti pada 12 Mei kemudian, mahasiswa kantin selalu mengadakan demonstrasi. Aparat pemerintah pun mulai curiga. Mereka menduga adanya gerakan yang ingin mengudeta presiden. Intelijen berdatangan untuk mencaricari aktivis mahasiswa. Tak hanya itu, Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) serta Komando Pasukan Khusus (Kopassus) pun ikut terlibat. Mereka memblokade kampus ITS selama satu

bulan lamanya, memenuhi kampus dengan para anggotanya. Ketua Dewan Mahasiswa ITS saat itu, Harun Ar-Rosyid, sempat ditangkap dan dikurung selama empat tahun karena keterlibatannya dalam beberapa aksi . Namun mahasiswa terus-menerus menuntut reformasi dan suksesi. Akhirnya pada 21 Mei 1998, Soeharto lengser. Hal tersebut tidak menghentikan ketegasan mahasiswa dalam mengawali otonomi perguruan tinggi. Mereka berkeras bahwa perguruan tinggi harus menjadi kekuatan moral untuk mengawal bangsa. Saat ini, kantin itu baru saja direnovasi. Letaknya di antara area Bank Mandiri dan Bank Nasional Indonesia (BNI). Di dekatnya terdapat dua pusat baru kegiatan mahasiswa. Yaitu Student Community Center (SCC) serta Gedung M-Web. Kantin itu mungkin tak akan lagi mengenal hiruk pikuk yang sama seperti dahulu.(qly/lis)

Seni, Tantangan, dan Kerja Keras

Saya harus berjuang agar saya bisa,” hal itu tertanam di pikiran Maureen Shinta Devi, mahasiswi Jurusan Teknik Sipil ITS angkatan 2008. Bagi mahasiswi yang berhasil lulus cumlaude 3,5 tahun dengan IPK 3,67 ini, kuliah adalah seni, tantangan, dan kerja keras. Tidak hanya cerdas di bidang aka-

demik, mahasiswi asli Surabaya ini juga aktif di sejumlah organisasi kampus. Sejak 2009-2011, Maureen aktif di Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS) ITS. Selain itu, ia juga pernah menjadi staff Pengabdian Masyarakat Badan Eksekutif Lembaga Mahasiswa (BE-LM) FTSP ITS. Dengan aktivitas yang begitu padat, penyuka wisata kuliner ini mengaku dapat membagi waktu dengan baik. “Tidak ada cara khusus. Yang ada di otak saya terlebih dahulu, itu yang saya kerjakan dulu,” papar perempuan kelahiran 1990 ini. Satu hal yang senantiasa diyakini Maureen, setiap mata kuliah adalah seni. Baginya, seni hanya bisa digambarkan dengan ekspresi. Dan yang terpikir oleh Mareen, bukan sulit atau tidak tetapi ia bisa atau

FTSP

tidak. Hal kecil berbau seni seperti mencatat dengan visualisasi gambar rupanya cukup membantu. Terkait Tugas Akhir (TA), awalnya Maureen merasa ragu ketika ingin menyelesaikannya pada semester tujuh. Pasalnya kesibukan mengikuti Fast Track Perancis serta harus menjadi asisten dosen untuk dua mata kuliah, S1 dan S2 sudah sangat menyita waktu. Namun dengan kerja keras, TAnya pun bisa terselesaikan. Maureen mengungkapkan, ia sangat ingin melanjutkan kuliah S2nya di bidang Geoteknik di INSA de Lyon (L’ecole Central de Lyon), Universite Lille 1. Ia memilih Geoteknik lantaran ingin mendalami ilmu terkait struktur dan sifat berbagai macam tanah dalam menopang suatu bangunan yang akan berdiri di atasnya. sha/fi)

Pertama, Cumlaude 3,5 Tahun FTK

T

idaklah mudah untuk menjadi seseorang yang menyandang predikat terbaik. Inilah yang dialami oleh Safrendyo, mahasiswa Teknik Perkapalan ini berhasil lulus dengan predikat cumlaude dalam 3,5 tahun. Prestasi ini merupakan yang pertama sepanjang berdirinya Jurusan Teknik Perkapalan. Mahasiswa yang akrab dipanggil Safren ini ini mengaku awalnya ia terkejut dan bahagia mendengar pengumuman bahwa dirinya lulus cumlaude 3,5 tahun. Safren merasa bangga karena usaha yang dilakukan hingga saat ini cukup setimpal dengan hasil yang diperoleh.

Ia mengaku sempat tidak percaya diri karena takut dianggap sombong. Namun ia yakin dengan potensi yang dimilikinya. “ Akan dibawa kemana potensi tersebut, diri kita sendiri yang tahu,” ungkap peraih IPK 3.51 tersebut. Pria kelahiran 15 September 1990 ini mengaku tidak memiliki prestasi khusus yang bisa dibanggakan. “Kuliah itu yang penting rajin, itu yang paling penting,”tuturnya dengan semangat. Safren memiliki cara belajar tersendiri dan ini sangat penting menurutnya. “Kita tentukan tujuan-

nya dulu, baru variabel apa saja yang ada didalamnya, jadi prosesnya mundur,” ungkapnya. Safren berharap ilmu yang didapatkan mampu ia terapkan dan dapat bermanfaat. (lik/el) ITS Point l Maret 2012

21


mahasiswa cumlaude

fakultas

Cumlaude, Siap Ngabdi Pondok dan Terbang ke Taiwan FTIF

P

esantren menjadi pengantar perjalanannya menepuh perguruan tinggi. Dan usai lulus pun, ia kini berkomitmen untuk balik mengabdikan diri pada pondok pesantrennya. Ya, dialah Erliyah Nur Jannah. Tidak setengah-setengah, Erli pun merampungkan kuliahnya dalam waktu 3,5 tahun untuk segera mengabdi di pesantrennya, di Pondok Pesantren Darul Ulum (PPDU).

S2

man-teman juga boleh,” papar gadis kelahiran 21 Mei 22 tahun silam ini. Ia pun mendapat gelar sarjana dengan Tugas Akhir (TA) berjudul Rekonstruksi Dokumen Teks Arab yang Terdistorsi Geometris pada saat Akuisisi Citra. Dalam TA-nya, Erli menemukan solusi untuk menyelesaikan permasalahan digitalisasi dokumen arab. Ketekunannya dalam belajar membuahkan hasil yang sangat memuaskan, hingga predikat cumlaude pun didapatkannya. Selain itu, Erli pun menerima letter of admission dari National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) Taiwan untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2. (fin/fz)

Meneliti Penyakit untuk Kedua Kalinya

M

aylita Hasyim kembali menghiasi daftar mahasiswa cum laude ITS, kali ini untuk jenjang Magister. Satu setengah tahun yang lalu, mahasiswa Jurusan Statistika ini lulus dengan predikat serupa. Ia lulus tiga semester dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) mencapai 3,82. M e m e y, s a p a a n a k ra b n y a , mengaku, kelulusannya berawal dari setengah keterpaksaan. Tiga tahun adalah masa berakhirnya beasiswa yang dicapainya. ‘’Tahun pertama dapat beasiswa Fresh Cum Laude Graduated dari ITS sehingga bebas SPP,’’ ujar mahasiswa asli kelahiran Trenggalek ini. Tesisnya hampir serupa dengan skripsinya dulu. Yaitu mengenai

22

“Saya memang berusaha lebih mendahulukan sesuatu yang berhubungan dengan pesantren,” tegas gadis asal Jombang ini. Pasalnya, memang begitulah perjanjian yang dibuat oleh mahasiswa penerima beasiswa Departemen Agama ini. “Mengabdi tanpa paksaan, tapi merupakan sebuah janji yang harus dipenuhi,” tutur Erli. Mendaftar menjadi dosen di Universitas Pondok Pesantren Tinggi Darul Ulum (UNIPDU). Itulah rencana yang ia pilih sebagai bentuk pengabdiannya. Jika tidak bisa, maka ia akan mengajar di SMA atau bekerja di UPT Laboratorium Teknis Komputer yang terdapat di sana. “Membuat sebuah proyek untuk pesantren bersama te-

ITS Point l Maret 2012

penyakit. Kali ini, ia mengusung judul Model Mixture Survival Spasial dengan Frailty Berdistribusi Conditionally Autoregressive (CAR) Pada Kasus Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Kabupetan Pamekasan. Tesis ini meninjau karakteristik pasien DBD dari faktor-faktor yang m e m p e n ga r u h i ke s e m b u h a n . H a ra p a n nya , h a l i n i m a m p u memberikan tambahan informasi bagi tenaga medis dalam menangani pasien DBD. Dari topik tersebut, Memey sudah melaksanakan dua publikasi ilmiah. Masing-masing melalui Seminar on The Current Research Progress in Sciences and Technology (ISSTech) 2011 Universitas Indonesia dan

Dukung Research University dengan Program Studi S3 Agus Zainal Arifin SKom MKom, Dekan FTIf.

L

engkap sudah program pendidikan yang ada di Jurusan Teknik Informatika. Jurusan pertama di FTIf itu resmi membuka program studi doktoral S3 pada semester genap tahun ajaran 2011/2012. Dua tahun yang lalu, program tersebut baru sebatas rencana. Pendaftaran bagi peserta program

ini dibuka sejak bulan September lalu. Peminatnya cukup banyak. Sayangnya, tenaga pengajar yang tersedia masih terbatas. Karena itu, di tahun pertama ini mahasiswa program studi S3 masih dibatasi. ‘‘Saat ini 30 persen dosen di Teknik Informatika sedang melakukan tugas belajar di luar negeri seperti Jepang, Taiwan, Australia dan beberapa negara di Eropa,’‘ ujar Dr Agus Zainal Arifin, SKom MKom, Dekan FTIf. Jumlah guru yang ada sebanyak lima orang dan jumlah doktor sebanyak 12. Mereka semua terlibat menjadi dosen pembina maupun dalam riset di program studi tersebut. Proses seleksi berupa tes tulis dan presentasi penelitian dilakukan pada bulan Desember lalu. ‘‘Calon mahasiswa harus memiliki kualifi-

kasi akademik yang telah ditentukan program Pascasarjana ITS dan telah memiliki proposal penelitian dibidang ilmu komputer,’‘ terang Dr Ir Joko Lianto Buliali MSc, Koordinator program Pascasarjana Jurusan Teknik Informatika. Hasilnya, tiga orang mahasiswa menjadi angkatan pertama program baru ini. Ada tiga bidang minat yang ditawarkan pada program S3 Teknik Informatika. Yaitu komputasi cerdas dan visualisasi, rekayasa perangkat lunak, dan komputasi berbasis jaringan. Para mahasiswa memiliki akses ke perpustakaan, jurnal online, serta pembimbingan dalam masa promotor sidang kelulusan. Setelah adanya program pendidikan mulai dari S1, S2 dan S3, jurusan ini akan lebih fokus untuk meningkatkan kualitas pendidikan di ketiga jenjang tersebut.(sha/lis)

SI Siap Mengelola Penuh Program S2

B 2nd Basic Science International Conference, Universitas Brawijaya. Selama kuliah, Memey sudah bekerja sebagai konsultan sebuah perusahaan di Surabaya. Ia berencana kembali ke kota asalnya, Tuban. Ia ingin mengabdikan di di salah satu universitas swasta di sana, di mana ia sudah diterima sebagai salah satu tenaga pengajar.(ran/lis)

eberapa tahun terakhir ini, Program Studi S2 Sistem Informasi berada di bawah Jurusan Teknik Informatika. Kini, program tersebut berencana melepaskan diri untuk berdiri di bawah induknya, Jurusan Sistem Informasi (SI). ‘‘Dulu, program S2 Sistem Informasi masih diakui secara de facto dimiliki oleh SI,’’ ujar Febriliyan Samopa S Kom M Kom Dr Eng selaku Ketua Jurusan Sistem Informasi. Hal ini disebabkan oleh kurangnya tenaga pengajar dari SI. Secara administratif, ada ketentuanketentuan tertentu untuk mendirikan program S2. Selain adanya peminat, juga keharusan tersedianya jumlah doktor sebanyak minimal enam orang. Saat pembentukan program tersebut dahulu, SI baru memiliki empat orang bergelar doktor. Padahal, ada minat serta kebu-

tuhan yang tinggi akan program pascasarjana tersebut. Jumlah mahasiswanya pun meningkat dari tahun ke tahun. Saat ini ada lebih dari 20 orang mahasiswa dalam setiap angkatan yang sedang menjalankan studi S2 Sistem Informasi tersebut. Akan tetapi, dalam tahun-tahun terakhir, jurusan SI telah banyak pula menambah daftar doktornya. ‘‘Saat ini telah banyak dosen yang telah pulang dari tugas belajar, jadi program S2 akan dipindah ke SI,’‘ jelas pria yang akrab disapa Iyan tersebut. Belum banyak program studi S2 Sistem Informasi yang independen seperti ini. Padahal, ada titik berat keilmuan yang cukup berbeda di antara dua bidang tersebut. Salah satu perbedaan tersebut adalah konsentrasi ilmu SI pada aspek service atau jasa keilmuan

teknologi informasi. ITS ingin fokus menghasilkan ilmuwan bidang SI yang benar-benar menggeluti bidangnya. Hingga saat ini, program tersebut memang belum resmi berp i n d a h . Ke d u a p i h a k te n ga h menjajaki proses perizinan. Akan tetapi, walau masih berstatus di bawah Teknik Informatika, program ini telah dikelola oleh pihak SI. Jika nanti program ini resmi berpindah, kurikulumnya pun akan berubah pula. Semenjak berada di bawah Teknik Informatika, ada beberapa mata kuliah umum yang diambil dari bidang keilmuan tersebut. Kurikulum tersebut nantinya akan berubah dan mata kuliah yang ada akan fokus sepenuhnya pada bidang SI. ‘‘Jadi nanti mahasiswa bisa belajar Sistem Informasi secara lebih mendetail,’‘ imbuh Iyan.(sha/lis) ITS Point l Maret 2012

43


ftIf

J

mahasiswa cumlaude

ICTS, Bahas Penanggulangan Bencana Bersama Dunia Internasional

urusan Teknik Informatika akan kembali menyelenggarakan acara terbesarnya. International Conference Information and Communication Technology & Systems (ICTS) akan berlangsung untuk ketujuh kalinya. Pelaksanaanya sempat berbenturan jadwal dengan Pagelaran Mahasiswa Nasional Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (Gemastik) tahun lalu. Kali ini, acara tersebut direncanakan berlangsung lebih besar. Salah satu indikatornya, acara ini akan berlangsung di Bali pada 28-29 Desember mendatang. Jumlah negara partisipan juga bakal bertambah. Polandia, Autralia, dan Singapura telah menyetujui kerjasama dalam penyelengaraan acara tersebut. Sementara Malaysia, Thailand dan Jepang juga diharapkan ikut serta. Saat ini, Ketua Panitia ICTS, Dr Ir

Ketua Panitia ICTS, Dr Ir R Venantius Hari Ginardi MSc

R Venantius Hari Ginardi MS tengah menggandeng perguruan-perguruan tinggi lainnya untuk pelaksanaan acara. Sebuah tim reviewer asing telah dipersiapkan penuh untuk meyeleksi para calon peserta. ‘‘Kita bersaing secara fair dari peneliti di seluruh dunia,’’ imbuh dosen Teknik Informatika itu. Hal itu juga merupakan upaya memenuhi standar kegiatan internasional. Yaitu jumlah kuota panitia dan peserta masing-masing 70 persen dari luar negeri. Tema kali ini cukup krusial. Yaitu mengenai ketahanan menghadapi bencana serta peran serta teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam menunjang ketahanan bangunan. ‘‘Kami ingin menggali sumbangan pemikiran

S3

S

dari ilmuwan dunia untuk menyiapkan bangsa Indonesia dalam menghadapi bencana,’‘ kata Hari. Ia sendiri juga sedang menekuni riset di bidang ketahanan terhadap bencana.(sha/lis)

SI Berpacu untuk Akreditasi ASEAN dan Internasional

S

etelah mendapatkan akreditasi A di dalam negeri, Jurusan Sistem Informasi (SI) kini mengajukan diri untuk akreditasi di tingkat ASEAN. Proses persiapan untuk akreditasi tersebut sudah mulai dilakukan oleh jurusan yang telah berdiri selama 12 tahun ini. “Saya berharap di tahun 2014 Sistem Informasi ITS sudah mendapatkan akreditasi di tingkat ASEAN,” papar Febriliyan Samopa S Kom M Kom Dr Eng, ketua Jurusan SI. Proses ini dimulai dengan kontrol ketat dalam penjaminan mutu mahasiswa serta penentuan rencana pengajaran setiap semester. Pengelolaan standar yang ketat, termasuk proses absensi berbasis fingerprint dilakukan untuk mengoptimalisasi kegiatan belajar-mengajar. Student Center Learning diperkaya dengan pengembangan pada sistem

42

ITS Point l Maret 2012

e-learning. “Jurusan SI telah meng-upgrade backbone jaringan hingga 1 gigabyte,” jelas pria yang akrab disapa Iyan ini. Dengan begitu, mahasiswa tak akan pernha kesulitan lagi mengaksesnya. Kurikulum pun terus diperbaharui berdasarkan evaluasi rutin. Iyan menargetkan SI menjadi jurusan favorit bagi mahasiswa yang berminat dalam dunia teknologi informasi. Bukan hanya bagi calon mahasiswa dari Jawa Timur, melainkan juga dari luar Jawa. Dosen tak luput dari persiapan untuk akreditasi ini. Para dosen dikirim ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan mereka. Di dalam negeri, para dosen segera mewujudkan kenaikan kepangkatan mereka. Sarana dan prasarana turut mendapat perhatian. Pembangunan studio musik yang tengah berlang-

Raih Doktor dengan Dua Penghargaan Internasional uwadi, 43 tahun, adalah dosen Jurusan Teknik Elektro ITS yang berhasil menyelesaikan pendidikan doktornya dengan predikat cumlaude. Mengangkat disertasi tentang Sistem Komunikasi Nirkabel Broadband Gelombang Milimeter (SKNBGM) yang Tahan Terhadap Hujan Tropis, Suwadi pun berhasil meraih dua penghargaan internasional sekaligus. Ayah dari empat anak ini berhasil meraih penghargaan Third Prize Best Paper Emeral Award pada IEEE International Conference di Malaysia tahun 2009 lalu. Sedangkan Best Studen Paper Award yang lain juga ia dapatkan pada IEEE Microwave and Antenna Conference 2010 di Jakarta. “Saya juga sempat nggak menyangka mendapat penghargaan ini,” ujar Suwadi. Menempuh studi sarjana di Teknik

Elektro ITS, Suwadi kemudian melanjutkan kuliah megisternya di Institut Teknologi Bandung. Disertasi yang dibahas Suwadi ini memang terbilang unik, tak heran bila selain meraih dua penghargaan, penelitian Suwadi juga berhasil dipublikasikan di jurnal internasional yang terindeks scopus. Meneliti sistem yang dapat meminimalisir gangguan peredaman gelombang oleh hujan di daerah tropis dengan curah hujan tinggi termasuk penelitian yang jarang dilakukan oleh para ilmuan lain di dunia. “Pada penelitian disertasi ini dihasilkan dua strategi transmisi agar SKNBGM mampu menyediakan layanan kualitas tinggi dan merata di seluruh coverage area pada daerah yang bercurah hujan tinggi,” papar Suwadi. Kedua strategi itu adalah teknik transmis adaptif dan aplikasi

regenerative relay. Pada penelitian ini Suwadi mengkombinasi Modulasi Adaptif, pengkodean, dan cell-site diversity sehingga Dosen yang telah mengajar di ITS sejak tahun 1993 ini berharap hasil penelitiannya dapat segera diaplikasikan. “Karena ketersediaan jaringan dan layanan informasi yang handal dengan kapasitas dan kualitas yang tinggi merupakan salah satu faktor penting untuk peningkatan ekonomi,” tutur pria kelahiran Gresik ini. (ald/esy)

sung. Pembangunan sebuah studio musik tengah berlangung, sebagai sarana menyeimbangkan kegiatan akademik mahasiswa dengan kreativitas di bidang seni. “Panggung juga disediakan bila ada pementasanpementasan mahasiswa,” tambah Iyan. Tak hanya akreditasi tingkat ASEAN, Jurusan SI turut berharap dapat diakreditasi secara internasional. Berbagai kerjasama terus digalakkan. Saat ini, jurusan ini telah menjalin kerjasama dengan Korea, Taiwan dan Belanda. Peningkatan jumlah alokasi untuk mahasiswa asing terus dipertimbangkan. Tahun lalu, jurusan ini juga telah mendapatkan predikat juara pertama di ITS dalam penelitian dan pengabdian masyarakat. Rasanya, kesiapan SI untuk diakreditasi di tingkat ASEAN sudah tidak diragukan lagi.(sha/lis) ITS Point l Maret 2012

23


kiprah mereka

dosen

&

Transportasi Laut Prestasi Mendunia, Siap untuk Mandiri

Usai Tricycle Surya, Ingin Motor dan Mobil Surya

I

TS sebagai institut yang berbasis teknologi, memberikan tuntutan bagi semua elemen untuk selalu berinovasi. Hal inilah yang selalu ditekuni oleh dosen jurusan Teknik Mesin, Dr Muhammad Nur Yuniarto, pencetus sepeda yang ia beri nama Tricycle Surya. “Berawal dari adanya acara fun bike Jakarta-Surabaya kemarin, saya terinspirasi ingin menyajikan produk terbaru ITS,” terangnya, ketika ditanya tentang ide pembuatan Tricycle Surya. Proses pembuatan Tricycle Surya membutuhkan waktu cukup lama. Nur bersama timnya di Laboratorium Otomasi harus rela berkutat dengan pembuatan sepeda ini sekitar tiga bulan lebih. Jerih payah Nur dan timmya, akhirnya terbayar tuntas ketika tricycle

surya mereka sukses menempuh jarak Jakarta-Surabaya. Kebanggaanpun terasa semakin sempurna, karena tak lama setelah acara fun bike berakhir, pesanan untuk Tricycle mulai berdatangan. Tak mau berhenti, kini Nur sedang melakukan penelitian khusus untuk mesin berbahan bakar gas (BBG). “Sangat memungkinkan bagi kami untuk membuat terobosan terbaru misalnya sepeda motor surya,” tegas alumnus UMIST Inggris ini. Nur bersama timnya, berencana event internasional di Australia 2013 nanti. Konsep yang ditawarkan berupa mobil surya. “Kami mencoba membuat rancangan mobil surya,” jelas Nur.

L

uasnya kawasan perairan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), menuntut tersedianya teknisi yang mampu mengelola wilayah kemaritiman Indonesia dalam jumlah yang besar. Terutama dalam bidang

Nur memesankan, mahasiswa ITS dituntut untuk membantu negara dengan terus berkreasi. “Kita harus selalu berbuat sesuatu untuk bangsa, maka dari itu jangan pernah berhenti untuk selalu berinovasi,” pungkas Nur. (ali/fz)

Menggagas Pustaka Merah Putih

M

uhlas Hanif Wigananda, mahasiswa Teknik Sipil ini merasa prihatin akan realita sedikitnya mahasiswa yang berminat membaca buku umum selain buku kuliah. “Kurangnya minat baca terhadap buku-buku umum menurut Muhlas bisa berdampak pada menurunnya kualitas karakter mahasiswa.

24

ITS Point l Maret 2012

Kondisi seperti ini menggerakkan Muhlas dan lima orang temannya membentuk gerakan ITS membaca yang diawali dengan berdirinya Pustaka Merah Putih. “Waktu itu saya menulis note Facebook yang berisi judul buku koleksi saya,” tutur Muhlas. Tanpa disangka tulisan sederhana itu mendapat apresiasi positif dari teman-temannya. Itulah awal mula ide untuk merancang perpustakaan secara online. mahasiswa ITS menyambut antusias launching perdana Pustaka Merah Putih yang diadakan di pelataaran Theater C bulan Desember lalu. Saat itu, berhasil meminjamkan lebih dari delapan puluh buku dalam waktu kurang dari tiga jam. Saat ini Muhlas mengembangkan Pustaka Merah Putih bersama

fakultas

mahasiswa

delapan orang teman lain. Dirinya mengaku pernah mendapat masukan untuk bekerja sama dengan perpustakaan di ITS. “Sistem manajemen perpustakaan kami masih tergolong sederhana, kerjasama dengan pihak lain tentu akan kami pikirkan setelah kami punya manajemen perpustakaan yang bagus,” Perbaikan dan manajemen Pustaka Merah Putih akan terus dilakukan. Untuk itu kiprah Pustaka Merah Putih tidak akan berhenti begitu saja. “Saya punya rencana untuk menjadikan Pustaka Merah Putih ini sebagai Lembaga Swadaya Mahasiswa (LSM), namun saat ini masih terkendala proses admininistrasi,” tuturnya. “Di masa depan, kami ingin membuat cabang-cabang di universitas lain,” ungkap Muhlas.(anl/el)

Ir Tri Achmadi PhD

Transportasi Laut. Nyatanya, yang selama ini mengatur sistem operasional perairan Indonesia, sebagian besar bukan merupakan insinyur Transportasi Laut, melainkan berasal dari beberapa disiplin ilmu yang lain. Memahami hal tersebut, ITS telah menawarkan solusi dengan mendirikan sebuah program studi (prodi) baru, yang mengajar bidang keahlian transportasi laut setahun yang lalu. Hasilnya, beberapa prestasi telah ditorehkan oleh prodi muda tersebut. “Meskipun prodi Transportasi laut masih baru, prestasi kami sudah banyak dan telah dirasakan manfaatnya bagi masyarakat,” ungkap Ir Tri Achmadi PhD. Salah satu prestasi yang diraih oleh Seatrans (sebutan lain prodi Transportasi Laut) yaitu mendesain kapal Trhee In One milik Pelni yang saat

ini menjadi primadona baru dalam industri pelayaran Indonesia. Kapal tersebut memiliki tiga ruang utama untuk mengangkut tiga jenis muatan berbeda sekaligus. Yakni, orang, barang, dan ternak. Ketua program studi (kaprodi) Transportasi Laut ini menambahkan, saat ini pihaknya juga sedang memproduksi tiga buah kapal Three In One lagi pesanan Pelni. Selain itu, mereka juga sedang melakukan penelitian membuat sebuah software yang mengukur berat kontainer di atas kapal. Dalam hal menjalin kerjasama internasional, Seatrans sudah berhasil melakukan hubungan kerja dengan salah satu institusi dari Jerman dalam hal pengembangan laboratorium Transportasi Laut dan Logistik. “Laboratorium ini akan sangat berguna untuk membangun logistik negara kepulauan,” tegas pria asal Surabaya tersebut. Untuk kerja sama lainnya, Seatrans berhasil meyakinkan bank dunia sekelas world Bank agar membantu dalam hal pengembangan pendidikan. Yang lebih membanggakan, mereka mendapat bantuan dana senilai 1,5 juta euro untuk pengembangan kurikulum dan software terbaru dari pemerintah negara kincir angin, Belanda. “Di Indonesia yang mendapat bantuan ini hanya ITB dan Transportasi Laut ITS,” tambah Tri. Tri melanjutkan, berdasarkan semua pencapaian yang diraih prodi Transportasi Laut dalam kurun waktu setahun ini, mengindikasikan bahwa mereka benar-benar siap untuk lepas dari naungan saudara tua mereka, Jurusan Teknik Perkapalan. “Sekitar 60 persen kebijakan prodi Transportasi Laut, kami

sendiri yang menentukannya,” jelasnya. Kebijakan tersebut meliputi pengelolaan administrasi serta pemberdayaan laboratorium Transportasi Laut dan Logistik. Tak hanya itu, prodi ini juga sudah mempunyai delapan dosen inti untuk mahasiswa mereka. Untuk lebih memperkuat posisi prodi Transportasi Laut sebagai jurusan yang mandiri, mereka merencanakan akan membangun gedung sendiri terpisah dari Jurusan Teknik Perkapalan. “Proposal pembangunan gedung sudah kami ajukan ke rektor ITS dan disetujui,” ungkap Tri. Proyek pembangunannya sendiri, menurut agenda akan dimulai tahun ini yang terletak di depan Jurusan Teknik Perkapalan. Dalam rencana pembangunan tersebut, dicantumkan pula pembuatan empat laboratorium utama. Diantaranya, laboratorium Transportasi Laut dan Logistik, Infrastruktur dan Kepelabuhan, Telematika Transportasi Laut, serta Komputasi dan Risetoperasi. Tri menambahkan, banyaknya laboratorium yang direncanakan, tak lain disebabkan oleh fungsi laboratorium itu sendiri. Yakni, menjadi tulang punggung prodi Transportasi Laut. Selain itu, juga untuk meningkatkan intensitas dan kualitas penelitian mahasiswa maupun dosen. “Saya merancang mahasiswa Jurusan Transportasi Laut bisa mempunyai tiga bidang keahlian. Yaitu pelayaran (shipping), kepelabuhan (port), dan transportasi multimoda,” terangnya. Dari ketiga bidang keahlian tersebut, Tri mengharapkan agar alumni prodi Transportasi Laut dapat lebih berkontribusi bagi bangsa, khususnya turut menyelesaikan setiap permasalahan sistem transportasi laut Indonesia. “Saya berharap, bisa menghasilkan sarjana-sarjana siap pakai terutama dalam hal penyelesaian masalah hubungan laut Indonesia,” pungkas Tri. (ali/esy) ITS Point l Maret 2012

41


ftk

kiprah mereka

Fokus Kembangkan Softskill dan Research Internasional Prof Ir I Ketut Aria Pria Utama MSc PhD CEng FRINA, Kajur Teknik Perkapalan

T

arget ITS untuk menjadi Research University tahun 2017 nanti, mengharuskan semua elemen membenahi segala kekurangan dan kelemahan yang selama ini terjadi. Begitu juga dengan Fakultas Teknologi Kelautan (FTK), permasalahan softskill mahasiswa dan minimnya penelitian berstandar internasional, membuat fakultas Rekayasa kelautan tertua di Indonesia tersebut, segera mencari solusi. Ketua Jurusan Teknik Kelautan, Suntoyo ST MEng PhD membenarkan bahwa kesadaran tentang memanfaatkan fasilitas umum dan kepedulian mahasiswa terhadap kebersihan lingkungan kampus turut mulai luntur. Dosen Teknik Kelautan ini melanjutkan, untuk mengatasi hal tersebut beberapa kebijakan terbaru telah dikeluarkan, mulai dari peningkatan kuantitas kegiatan sosial dan peduli lingkungan, hingga penambahan anggaran himpunan. Di sisi lain, permasalahan tentang softskill juga dialami oleh mahasiswa Jurusan Teknik Perkapalan, namun dari segi yang berbeda. Prof Ir I Ketut Aria Pria Utama MSc PhD CEng FRINA mengungkapkan, lemahnya kemampuan berbahasa, terutama bahasa Inggris menjadi kendala tersendiri bagi mahasiswanya. “Pengalaman sebelumnya, beberapa mahasiswa kami

40

ITS Point l Maret 2012

menjadi tertunda wisudanya, karena nilai TOEFL mereka belum memenuhi standar minimal,” jelasnya. Ketua Jurusan Teknik Perkapalan ini menambahkan, untuk mengantisipasi hal tersebut tidak terulang lagi, beberapa kebijakan telah ditetapkan. Diantaranya, nilai TOEFL mahasiswa Teknik Perkapalan yang akan mengambil Tugas Akhir (TA) harus 477. “Untuk sementara ini, skor TOEFL 320 masih kami terima, namun untuk selanjutnya minimal 477,” tegas pria asal Bali ini. Selain itu, dosen yang biasa disapa Ikap ini menjelaskan, para dosen pengajar juga diberi tugas untuk ikut meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris mahasiswanya.

nasional maupun internasional juga akan lebih ditingkatkan lagi. Hingga saat ini, beberapa universitas dari luar negeri telah sepakat untuk menjalin kerjasama dengan Teknik Perkapalan. Diantaranya, Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development (SATREPS) dari Jepang dan National Cheng Kung University (NCKU) dari Taiwan. Menanggapi hal ini, terobosan serupa juga dilakukan oleh Jurusan Teknik Kelautan. Pembuatan jurnal nasional maupun internasional bagi para dosen mulai ditambah. Untuk merealisasikannya, mereka telah melakukan kesepakatan dengan instansi internasional seperti Kumamoto University dan Hiroshima University.

Atur Strategi, Tingkatkan Kualitas Jurusan di FTK

Selain softskill, beberapa strategi penting juga tengah dilakukan FTK. Ikap menuturkan targetnya terkait pendidikan ini. Yakni, sebelum tahun 2020, lebih dari 70 persen dosen Teknik Perkapalan harus bergelar doctor. Hal tersebut dilakukan untuk memenuhi tuntutan perkembangan teknologi. “Mahasiswa harus mendapat pelayanan terbaik. Jika semua dosen sudah doktor, mereka tidak akan rugi membayar mahal kuliah di ITS,” ungkapnya. Sedangkan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas penelitian berstandar internasional, kebijakan yang ditetapkan di setiap jurusan FTK hampir sebagian besar sama. Seperti yang dikatakan Ikap, institut telah mengeluarkan ultimatum, setiap jurusan harus mengembangkan Laboratorium Based Education (LBE). Tak berhenti sampai disitu, intensitas kolaborasi riset dengan lembaga

K

karyawan

&

alumni

Muslimin, dari Satpam, Pustakawan, hingga Pendiri TPQ

esan sederhana dan selalu penuh syukur tak bisa lekat dari sosok Muslimin. Sejak menapakkan kaki di ITS tahun 1982 silam, pria ini memberi peran yang besar bagi kampus perjuangan ini. Dari menjadi bagian dari Satuan Keamanan Kampus (SKK), hingga kini menjadi pustakawan ITS. Wajar, hal ini berkaitan erat dengan semboyan hidup Muslimin untuk selalu bermanfaat bagi orang sekitar di setiap tempatnya berada. Hal itu pula lah yang kemudian melatarbelakangi Mus mendirikan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) Firdaus, di kawasan Rumah Dinas ITS Blok U No. 40. Pada tahun 1995 tepatnya, ia tergerak untuk mendirikan Taman Pendidikan Al-Qur’an bagi anak-

anak. “Saat itu banyak anak muda cangkrukan dan bergerombolgerombol tidak jelas,” ungkap pria kelahiran 12 Desember 1961 itu. Awalnya, hanya sekitar 30 murid yang mendaftar dengan fasilitas seragam gratis. Kini muridnya sudah mencapai 53 orang. “Akan tetapi, guru yang mengajar saat ini tidak lebih dari tiga orang,” ujarnya. Berkembangnya ilmu pendidikan membuat Muslimin harus mengganti metode yang ia terapkan dahulu. Pada akhir 1999, TPA Firdaus akhirnya berganti nama menjadi Taman Pendidikan Qur’an (TPQ) Firdaus dengan metode qira’ati. Tak hanya belajar membaca Qur’an, anak-anak yang terdaftar di TPQ ini juga dibekali dengan pelajaran tata cara shalat, bahasa Arab dan juga hadits.

Selain itu, pria yang kini aktif sebagi pustakawan ITS ini pun tak lelah mengabdi. Ia juga aktif di masjid. Mus turut membantu mengatur tema khutbah Jumat. Tak sampai disitu, ia pun menjadi inisiator pengajian bagi karyawan perpustakaan ITS. “Biasanya pada setiap hari Rabu pagi di Ruang Majalah lt.3 atau mushola perpustakaan lt.2,” jelas lulusan S1 Ilmu Perpustakaan Universitas Wijaya Kusuma itu. (qly/fz)

Firsa, Kreatif Garap Event Jadi Istimewa

Ketua Jurusan Teknik Kelautan, Suntoyo ST MEng PhD

Dengan berbagai wancana yang telah disusun di atas, FTK yang saat ini menjadi fakultas kelautan terbaik di Indonesia, ke depannya dapat meningkatkan prestasinya hingga mancanegara. “Kami berharap dapat menjadi lembaga pendidikan tinggi rekayasa kelautan bertaraf internasional yang menjadi rujukan bagi lembaga kelautan lainnya di Asia Tenggara,” pungkas Suntoyo. (ali/esy)

S

osoknya ceria dan suka bercanda, namun dibalik semua itu terdapat semangat dan kreativitas yang luar biasa. Dialah Firsa Hanita. Berbagai event dan acara menjadi menarik dan istimewa di tangan alumni Teknik Lingkungan ITS ini. Terjun ke dalam kepanitian suatu acara pun agaknya telah menjadi hal

yang biasa bagi alumni tahun 1999 ini. Salah satu acara berkesan yang pernah ia dan kawan-kawannya kerjakan adalah Comforting Tribute for a Troubled Nation. Event ini merupakan salah satu acara dari Dies Natalis ITS yang ke-40. Melalui acara tersebut, ia mendapat rekomendasi dari salah seorang sound engineer dan mulai lebih aktif terjun ke dalam bidang kepanitiaan. ”Banyak yang meremehkan saya dan teman-teman, tetapi kami tidak menyerah dan berhasil membuktikan dengan menghadirkan event yang tak terlupakan dengan bintang tamu yang luar biasa, ” tuturnya. Tidak hanya konser saja yang pernah ia besut, program ITS Gowes Jakarta-Surabaya pun tidak lepas dari sentuhan tangan kreatifnya. Dilain

waktu, ia juga pernah menjadi salah satu pelopor terselenggaranya ITS Progressive Rock Nite. “Saya bekerja dengan happy, tidak masalah seberapa besar acaranya. Biarpun event-nya kecil, kalau kita mengerjakan dengan happy hasilnya pasti lain, ” tambah Firsa. Saat ini Firsa dan kawan-kawannya sedang membangun usaha di PT International Smart Career yang bergerak di bidang penyedia tenaga berkompetensi. Sebagai salah satu pengurus IKA ITS di bidang kreatif, ia berharap ITS nantinya tidak hanya menghasilkan lulusan yang hanya pintar saja, namun juga harus kreatif. “Orang ITS itu hebathebat. Kalau kita solid, one band one sound .Insya Allah kesuksesan akan menanti,” pungkasnya. (izz/esy) ITS Point l Maret 2012

25


alumni

fakultas

Teknik Sipil Laksanakan Bilingual Courses

J

urusan Teknik Sipil ITS kini telah melaksankan Bilingual Courses. Kegiatan ini sekaligus sebagai bentuk keseriusan dalam meraih international recognition. “Bilingual Courses di Teknik Sipil telah efektif diberlakukan sejak tanggal 13 Februari lalu,” ujar Budi Suswanto ST MT PhD, Ketua jurusan Teknik Sipil ITS. Bilingual Courses ini mengharuskan semua dosen Teknik Sipil ITS yang

50 Aktivis Kampus Terima Beasiswa Scholarship for Next Leader

P

P IKA ITS periode 2011-2015 diawal ke p e n g u r u s a n nya m e m b e r i ka n beasiswa untuk 50 aktivitis mahasiswa ITS dalam program beasiswa Scholarship for The Next Leader. Pada tahun 2012 ini, 50 mahasiswa dinyatakan lolos seleksi dari 170 pendaftar. Total beasiswa yang diberikan IKA ITS dalam bentuk pembayaran SPP selama 2 semester adalah Rp 175 juta dan pada tahap awal di bulan Januari 2012 sudah dibayarkan SPP semester genap kepada 50 mahasiswa senilai Rp 87,5 juta. Nilai beasiswa ini naik dibandingkan tahun sebelumnya sesuai

26

ITS Point l Maret 2012

biaya SPP pada tahun 2012. Penerima beasiswa tersebut dipilih berdasarkan beberapa kriteria, antara lain aktivitas dan posisi di organisasi, pendapatan orang tua, prestasi non akademik, dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Program beasiswa untuk aktivis ini telah dirintis sejak tahun 2008 sehingga pada tahun 2012 ini adalah untuk ke 4 kalinya PP IKA ITS secara berturut-turut melaksanakannya. ‘’Karena ini beasiswa khusus untuk a k t i v i s , m a ka j a b ata n d a n a k t i v i ta s mahasiswa di organisasi tentu menjadi

M

telah menempuh pendidikan master dan doktor di luar negeri untuk mengajar dalam dua bahasa, yakni Inggris d an In d o n es i a. Dengan peraturan ini, terdapat sedikitnya 40 mata kuliah yang akan dilaksankan dengan bilingual. “Selain itu, selama ini persyaratan nilai TOEFL untuk kelulusan kerap menjadi permasalahan bagi mahasiswa, oleh karena itu kita mulai menumbuhkan kemampuan bahasa Inggris itu sejak saat ini,” terang Budi. Lebih lanjut, Dr Pujo Aji ST MT selaku Sekertaris I Jurusan Teknik Sipil ITS menerangkan, hal ini memang sudah seharusnya dilakukan agar mahasiswa

asing dapat menempuh studi di ITS atau di Teknik Sipil secara khusus. “Kesiapan kita untuk menyediakan kelas bagi mahasiswa asing adalah salah satu tujuan dari kegiatan ini,” tutur Pujo. Tak hanya aktivitas belajar mengajar di kelas, bahasa Inggris pun juga digunakan oleh sivitas saat berada di dalam kantor sekertariat jurusan. “Saat mengajukan proposal misalnya, mahasiswa dan dosen kini diharuskan untuk berbicara dalam bahasa Inggris,” ungkap Dr Eng Januarti Jaya Ekaputri, Sekertaris II Jurusan Teknik Sipil. Selain Bilingual Courses, keseriusan jurusan Teknik Sipil ITS untuk go international juga ditunjukkan dengan sejumlah kerjasama internasional. Salah satunya kerjasama dengan National Taiwan University of Science and Technology (NTSUST), Saxion University dan Hanze University di Belanda. (ald/fz)

Peduli Lingkungan, Mahasiswa TL Kelola Sampah

ulai dari diri sendiri, itulah kalimat yang dapat menggambarkan keseriusan jurusan Teknik Lingkungan dalam upaya menuju kampus yang bersih dan sehat. Melalui kegiatan Teknik Lingkungan Memilah, Merecycle, dan Mereduksi (TL3M), mahasiswa Teknik Lingkungan pun telah berhasil menjadi jurusan yang pertama kali merintis kegiatan penggelolahan sampah di ITS. Pada pelaksanaan TL3M, sampah dikelompokan menjadi beberapa jenis. Mulai dari sampah kertas, botol, plastik, sampah residu, hingga sampah makanan. Setelah dipisah, barulah sampah kemudian didaur ulang. Mahasiswa Teknik Lingkungan mendaur ulang sampah kertas dengan membuat cetakan kertas daur ulang.

“Sampah kertas itu dicacah, kemudian direndam selama satu malam, baru setelah itu dicetak,” papar Heri Setiawan, selaku Koordinator Pelaksana TL3M. Kertas-kertas itu kemudian digunakan untuk keperluan membuat id card, bahkan tak sedikit yang disulap menjadi bingkai foto. Sedangkan untuk sampah botol, Heri mangatakan bahwa mahasiswa Teknik Lingkungan sebenarnya berencana membuat bottle bag dari sampah tersebut. Selain mengelolah sampah anorganik, mahasiswa Teknik Lingkungan juga melakukan composting untuk mengelolah sampah-sampah organik. Dengan menggunakan reaktor kompos, sampah-sampah itu didaur ulang menjadi pupuk kompos. “Untuk sementara, hasil dari composting ini

akan digunakan untuk lingkungan jurusan dulu,” uangkap Heri. Selain TL3M, kedepan Teknik Lingkungan juga segera melaksanakan dua kegiatan yang kepedulian lingkungan lain. “Kita berenacana melaksanakan Green Trip dan Susur Sungai,” jelas Bariqul Haq, pengurus Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan. Pada kegaiatan Green Trip, mahasiswa Teknik Lingkungan akan berkunjung ke desa-desa yang telah berhasil melakukan pengelolahan lingkungan dengan baik, hingga berhasil memanfaat sampah menjadi energi alternatif. Sedangkan pada Susur Sungai, mahasiswa akan membersihkan kali Wonorejo dan menanam mangrove di Bosem. (ald/fz) ITS Point l Maret 2012

39


ftsp

alumni

Despro Menunggu Realisasi FDIK Mantan Ketua Jurusan Despro, Ir Baroto Tavip Indrojarwo MSi

J

urusan Desain Produk Industri (Despro) kini sedang harap-harap cemas. Pasalnya, jurusan satu ini bakal segera dimekarkan menjadi Fakultas Desain dan Indutri Kreatif (FDIK). Pengajuan proposal oleh ITS ke Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) pun telah dilakukan sejak awal tahun 2011 lalu. “Semua proses sudah dilakukan,

sekarang ITS tinggal menunggu surat keputusan dari Dikti,” ujar Ir I Gusti Ngurah Antaryama PhD, Pembantu Dekan I Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP). Sebelumnya, Despro telah mendapatkan persetujuan Direktur Akademik Dikti terkait rancangan pendirian FDIK. Despro mengajukan tiga jurusan yang akan didirikan di bawah bendera FDIK. “Tiga jurusan itu adalah Desain Produk, Desain Komunikasi Visual, dan Desain Interior,” lanjut Ngurah. Senada dengan Ngurah, Mantan Ketua Jurusan Despro, Ir Baroto Tavip Indrojarwo MSi juga mengatakan bahwa untuk awal pendirian FDIK akan hanya berdiri tiga jurusan. “Tapi selanjutnya kami merencanakan untuk membuat tiga jurusan baru

lagi, yaitu Desain Animasi, Desain Media, dan Desain Fashion,” ujar Baroto yang dihubungi di tempat lain. Di sisi lain, sembari menunggu terealisasinya FDIK, Despro kini tengah mempersiapkan diri untuk membuka program S2. Oleh karena itu, jurusan yang mendapatkan dana hibah revitalisasi pendidikan di bidang industri kreatif itu kini sedang melengkapi berbagai fasilitasnya. “Kami dapat dana hibah Rp 500 juta per tahun, dana itu akan diberupakan alat-alat desain, komputer, kamera, dan beberapa fasilitas penunjang studi yang lain,” tutur pria kelahiran Solo, 30 September 1964 itu. Baroto kemudian mengatakan bahwa selain fasilitas, hal lain yang juga jadi perhatian Despro kedepan adalah pembangunan ruang pamer dan laboratorium yang memenuhi standar. (ald/fz)

FOTO:ISTIMEWA

Teknik Geomatika Kerjasama Internasional Dr Ir Muhammad Taufik, Ketua Jurusan Teknik Geomatika ITS.

U

ntuk pertama kalinya, jurusan Teknik Geomatika ITS segera merealisasikan kerjasama internasional. Jurusan satu ini akan melaksanakan penandatanganan kerjasama dengan Chiba University Jepang tahun 2012 ini. Beberapa bentuk kerjasama yang disepakati antara lain dibidang

38

ITS Point l Maret 2012

pendidikan dan penelitian. “Untuk bidang pendidikan, kerjasama d i l a ku ka n m e l a l u i p ro g ra m pertukaran mahasiswa dan dosen,” jelas Dr Ir Muhammad Taufik, Ketua Jurusan Teknik Geomatika ITS. Tak hanya itu, Taufik juga menambahkan, kerjasama ini membuka peluang besar bagi Teknik Geomatika untuk melaksanakan program double degree. “Kami juga berencana untuk melakukan kerjasama dengan Chiba University membuka program double degree S2 Teknik Geomatika,” tambahnya. Untuk bidang penelitian, saat ini Teknik Geomatika sudah menjalin kerjasama dengan Chiba University melalui riset remote sensing lingkungan dengan wahana nirawak.

Hasil dari penelitian ini memungkinkan manusia untuk dapat memantau dan mengetahui secara lebih dini jika terjadi pergesaran lempeng yang berpotensi gempa dan tsunami. Ta u f i k m e n u t u r k a n b a h w a penandatangan kerjasama ini sesungguhnya sudah dapat dilaksanakan pada bulan Oktober tahun 2011. “Sebenarnya sudah mau dilaksanakan bulan Oktober lalu, tapi kita terkendala dalam menyesuaikan waktu,” tambah Taufik. Oleh karena itu, jurusan yang kini juga sedang merencanakan pembangunan laboraorium Hydroceanography itu memutuskan untuk melangsungkan peresmian kerjasama pada tahun 2012 ini. “Bertepatan dengan itu, kami juga akan menyelenggarakan konferensi internasional,” pungkas Taufik. (ald/fz)

penilaian utama kami,’’ ujar Dr Ir B a m b a n g S a m p u r n o, s e l a ku Ket u a Departemen Hubungan Kampus Pengurus Pusat (PP) IKA ITS. Penerima beasiswa ini tidak hanya menerima uang saja, namun para mahasiswa tersebut akan terlibat langsung dalam acara yang diselenggarakan IKA ITS. ‘’Konsepnya bisa berupa Focus Group Discussing yang membahas tema tertentu,’’ ungkap Bambang. Kegiatan tersebut sebagai b e nt u k fo l l ow u p b a g i m a h a s i swa penerima beasiswa yang sudah ada sejak tahun 2008 lalu. Harapan IKA ITS adalah pada saat mahasiswa penerima beasiswa aktivis ini sudah menjadi alumni dapat ikut menjadi kader untuk melanjutkan kiprah IKA ITS dimasa

mendatang. ‘ ’ H a ra p a n nya a ka n a d a ge n e ra s i yang smart dalam bidang organisasi, akademis, dan sosial masyarakat,’’ ujar Dr Ir Irnanda Laksanawan MSc Eng, Ketua Umum PP IKA ITS yang kini menjabat sebagai staf Ahli Menteri BUMN ini. Irnanda menyampaikan bahwa program beasiswa IKA ITS ini rencananya akan ditambah kuota penerima beasiswa pada periode mendatang. ‘’IKA ITS mengusahakan penerima beasiswa ini bisa dua kali lipat untuk tahun depan,’’ ungkap Irmanda. Penambahan kuota ini bertujuan agar lebih banyak lagi mahasiswa aktivis yang bisa terbantu melalui beasiswa ini. (alumniits.com/ bch)

ITS Point l Maret 2012

27


alumni

fakultas “Respon pendaftar luar biasa. Input yang mendaftar meningkat hingga mencapai 500 orang,” tutur Imam. Dengan kuota sebanyak 72 orang, tercatat sebanyak 68 orang yang mendaftar ulang sebagai mahasiswa D3 Teknik Metrologi dan Instrumentasi. “Jumlah ini masih sangat sedikit dibandingkan 5000 orang yang dibutuhkan Kemenperindag. Belum lagi kebutuhan oleh industri lainnya,” tambah Imam. Itulah mengapa peluang kerja bagi lulusan bidang metrologi menjadi sangat besar. Selanjutnya Imam akan

I

IKA ITS Dukung Pelaksanaan Eco Campus ITS

KA ITS turut berpartisipasi pada acara Gugur Gunung 2 yang merupakan rangkaian kegiatan Eco Campus ITS. Gerakan dalam Eco Campus ITS merupakan upaya sivitas akademika ITS turut berpartisipasi menyelamatkan lingkungan melalui gerakan hemat energi, penanaman pohon, pengolahan limbah dan lainnya. Kampus ITS saat ini menggunakan listrik dalam jumlah besar dengan tagihan sekitar Rp 500 juta/ bulan yang setara dengan efek rumah kaca sebesar 3.650.000 kg CO2/ tahun, penggunaan air dengan tagihan sekitar Rp 300 juta/bulan dan menghasilkan limbah sebanyak 150 kg/hari yang setara dengan menebang pohon sebanyak 108/bulan (1 ton kertas setara dengan 24 pohon). Program Eco Campus ITS ini sejalan dengan program kerja Pengurus Pusat

28

ITS Point l Maret 2012

IKA ITS periode 2010-2015 Bidang Kepedulian Lingkungan Hidup, yaitu PP IKA ITS akan turut serta mensukseskan Eco Campus ITS. Program berikutnya adalah akan mengadakan sarasehan yang mengangkat tema Eksplorasi Permasalahan Lingkungan Hidup di Indonesia serta mengadakan lomba Teknologi Ramah Lingkungan. Ketua Bidang Lingkungan Hidup PP IKA ITS 2010-2015, Ir. Qomaruddin memimpin delegasi IKA ITS yang berpartisipasi pada acara ini. Pada acara Gugur Gunung 2 di kampus ITS ditandai dengan penanaman 1.100 batang pohon, sehingga total pohon yang telah ditanam pada acara Gugur Gunung mencapai 6.100 pohon. Untuk membentuk tubuh yang sehat, sebelum acara Gugur Gunung 2 diadakan senam pagi masal antara sivitas akademika ITS dan alumni ITS. Untuk

selalu menjaga semangat kepedulian lingkungan, pada acara G2 ini juga menghadirkan pameran karya fotografi dengan tema Eco Campus. Pameran ini merupakan hasil kerjasama dengan UKM Fotografi (UKAFO) ITS. Tak kurang 193 foto hasil karya 79 peserta kompetisi fotografi Nature In Art, dipajang apik. Potret ITS dan keterkaitannya dengan Eco Campus sengaja dihadirkan dalam jepretan frame kamera. Dukungan kegiatan Eco Campus ITS ini adalah merupakan salah satu dari dukungan PP IKA ITS 2010-2015 dalam rangka mewujudkan ITS sebagai kampus yang ramah lingkungan (Green Campus) serta branding ITS sebagaimana dukungan yang diberikan pada acara Nggowes ITS Jakarta - Surabaya pada bulan Oktober - Nopember 2011. (alumniits.com/bch)

T

mengusahakan kerjasama dengan perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja di bidang metrologi. Sementara itu, dalam perkuliahan nanti akan didukung oleh beberapa laboratorium di luar ITS. Saat ini, D3 Teknik Metrologi dan Instrumentasi telah menjalin kerjasama dengan Laboratorium Metrologi Jawa Timur. Perubahan ini juga diharapkan menjadi pendukung terbentuknya Fakultas Teknologi dan Sains Terapan (FTST) yang sedang dicanangkan ITS. “Harapannya nanti, lulusan juru tera ini dapat memenuhi standar tenaga kerja yang dibutuhkan. Hasil

pertamanya baru bisa dilihat sekitar dua tahun lagi,” tutup Imam. Nantinya, lulusan bidang metrologi tidak hanya dibutuhkan oleh Kemenperindag. Beberapa industri lain di luar instansi pemerintahan pun beramai-ramai menyerap lulusan bidang metrologi dan instrumentasi ini. “Lulusan metrologi yang disiapkan Kemenperindag bahkan sudah diperebutkan Astra dan Pertamina,” jelas Imam. Selain ITS, terdapat empat perguruan tinggi lain di Indonesia yang menjalankan kerjasama ini. (set/fi)

Selangkah Lagi, ITS Miliki Fakultas Teknologi Elektro

eknik Elektro ITS pernah menyandang status sebagai sebuah fakultas pada 51 tahun lalu. Seperti kembali pada sejarahnya, kini Jurusan satu ini tengah bersiap menjadi Fakultas Teknologi Elektro (FTE) ITS. Dr Bambang Lelono Widjiantoro ST MT, Dekan FTI ITS menyetujui bahwa perkembangan Teknik Elektro terjadi dengan cepat. Hal tersebut mendukung jurusan ini menjadi sebuah fakultas. “Perkembangan yang cepat ini harus didukung dengan memenuhi kebutuhan masing-masing cabang keilmuan,” Bambang menjelaskan. Pendirian FTE d i u s u l ka n l a n ta ra n makin berkembangnya cabang keilmuan Teknik Elektro. “Mau, tidak mau, kebutuhan dalam Teknik Elektro harus ditampung,” ujar Dr Tri Arief Sardjono ST MT, Ketua Jurusan Teknik Elektro FTI ITS. Pria yang akrab disapa Tri Ini menjelaskan, sejatinya pendirian fakultas tersebut sudah lama. “Saya

tinggal melanjutkan persiapan,” imbuhnya. Sejak kepengurusan tahun lalu, rapat terbuka, diskusi, hingga proposal telah dipersiapkan. Namun di sela-sela kesibukan, proses pembentukan FTE sempat terhenti sejenak. Padahal rencana pendirian fakultas ini telah tercetus sejak dua tahun yang lalu.

Hingga saat ini, Jurusan Teknik Elektro memiliki lima bidang studi. Bidang studi tersebut antara lain Telekomunikasi Multimedia, Teknik Sistem Tenaga, Komputer, Elektronika, dan Teknik Sistem Pengaturan. Masing-masing bidang studi tersebut memiliki banyak cabang yang juga

berkembang dengan cepat. Setelah melalui tahap persiapan yang cukup panjang, kini sampai lah pada tahap finalisasi. “Rasanya sudah ada lampu hijau. Kami sudah ditunggu untuk presentasi oleh Senat,” tutur dosen kelahiran Surabaya ini. Menurut perkiraan Tri, presentasi tersebut dapat dilakukan setelah finalisasi rampung, sekitar bulan Februari 2012. Jika FTE telah didirikan, rencananya hanya akan terdapat dua jurusan terlebih dulu, yakni Jurusan Teknik Elektro dan Jurusan Telematika. Saat ini kurikulum untuk Jurusan Telematika telah dipersiapkan. “Ada banyak masukan s a m p a i m e n ge r u c u t ke dua jurusan itu. Kita lihat perkembangannya dulu. Bisa saja dari dua jurusan ini akan muncul prodi. Nanti dari prodi tersebut bisa saja menjadi jurusan, sampai bisa membentuk kurikulum sendiri,” ungkap lulusan S3 Biomedical Engineering, University of Groningen Belanda ini. Tri berharap, pendirian FTE ini akan membawa manfaat bagi kemajuan ITS.(set/fi) ITS Point l Maret 2012

37


fti

alumni

ORC, Manfaatkan Panas dan Sampah sebagai Pembangkit Listrik

T

ak hanya di ITS, isu mengenai renewable energy pun menghangat di Indonesia. Isu tersebut menarik perhatian beberapa akademisi ITS. Empat tahun lalu, Dr Ir Prabowo MEng mengawali sebuah ide penelitian mengenai sumber daya geothermal. Kini penelitian tersebut berkembang sebagai Organic Rankine Cycle (ORC), sebuah teknologi pembangkit listrik tenaga uap. “Saya melanjutkan riset Pak Prabowo. Saat ini turbin uap dalam proses penyempurnaan,” ujar Ary Bachtiar KP ST MT PhD, anggota tim penelitian ORC. Selain Ary, Dr Wawan Aris Widodo ST MT juga tergabung dalam penelitian ini. Ketiganya merupakan dosen Teknik Mesin ITS. Riset berawal ketika Prabowo memiliki ide untuk memanfaatkan p a n a s b u m i s e b a ga i s u m b e r pembangkit listrik. Dari sekian banyak sumber geothermal yang ada, hanya sebagian yang dapat dimanfaatkan

untuk pembangkit listrik tenaga panas bumi. “Daripada terbuang siasia karena temperaturnya tidak cukup tinggi, lebih baik dimanfaatkan dengan sistem ORC,” Ary menjelaskan. B i a s a n y a t e k n o l o g i pembangkit listrik menggunakan air untuk menghasilkan uap. Namun dibutuhkan temperatur yang tinggi untuk mendidihkan air. Di sinilah letak keunggulan ORC, tidak diperlukan temperatur yang tinggi untuk memproses medianya. Gas buang panas sisa industri dapat dimanfaatkan untuk ORC. Dalam penelitian ini, tim ORC dibantu dengan mitra dari CV Novalindo Utama Engineering yang

sekaligus membantu manajemen sampah di lingkungan kampus ITS. “Dari sana kami optimis bisa mengembangkan turbin untuk menghasilkan listrik dari sampah,” Ary menambahkan. Beberapa prototype ORC telah diproduksi. Ary dan timnya menargetkan teknologi ini akan dapat diaplikasikan secara signifikan pada tahun 2014. (set/fi)

D3 Teknik Metrologi dan Instrumentasi Penuhi Kebutuhan Industri

S

ejak 2011 lalu, D3 Teknik Instrumentasi ITS berubah nama menjadi D3 Teknik Metrologi dan Instrumentasi. Bukan hanya nama, kompetensi perkuliahan pun mengalami sedikit perombakan. “Dulunya hanya belajar instrumentasi. Sekarang 40 persen tentang metrologi, 60 persennya instrumentasi,” ujar Imam Abadi ST MT, Ketua Program Studi (Kaprodi) D3 Teknik Metrologi dan Instrumentasi. Menurut Imam, perubahan ini terjadi terkait kerjasama antara ITS dengan Kementerian Perindustrian

36

ITS Point l Maret 2012

dan Perdagangan (Kemenperindag). D a l a m l i m a ta h u n ke d e p a n , Kemenperindag menerima lulusan bidang metrologi sebagai penera instrumen ukur. Proses perubahan nama dan kompetensi ini menghabiskan waktu selama setahun. Sehingga mahasiswa a n g kata n p e r ta m a D 3 Te k n i k Metrologi dan Instrumentasi adalah mahasiswa angkatan 2011. Imam mengakui bahwa terjadi pelonjakan calon mahasiswa yang mendaftar. Hal itu adalah dampak dari publikasi yang dikeluarkan Kemenperindag.

Imam Abadi ST MT, Ketua Program Studi (Kaprodi) D3 Teknik Metrologi dan Instrumentasi

Penguatan Jejaring Jalinan Bisnis Antar Pengusaha dan Profesional Muda Alumni ITS Minggu (26/2), Ikatan Alumni (IKA) ITS meng gelar kegiatan perdana Silaturahmi IKA ITS dengan Pengusaha dan Profesional Muda Alumni ITS Jawa Timur. Bertempat di halaman Sekretariat IKA ITS Jawa Timur di Jl. Cokroaminoto yang juga merupakan kampus Magister Manajemen Teknologi (MMT) ITS. Penguatan jejaring alumni ITS sangat diperlukan dalam rangka meningkatkan dukungan terhadap keberhasilan alumni ITS dalam merintis dan mengembangkan bisnisnya, serta meningkatkan profesionalitas dibidang profesi. Kemampuan individu yang hebat tanpa didukung kualitas dan jaringan yang mumpuni, niscaya kemampuan dan keberhasilan alumni ITS tidak akan mencapai hasil yang maksimal. Jumlah alumni ITS yang mencapai lebih dari 72.000 alumni dan tersebar diseluruh Indonesia dan beberapa belahan dunia merupakan sumber supplier/pemasok yang hebat, sumber tenaga kerja yang luar biasa, dan sasaran marketing yang sangat solid dan menjanjikan. Namun kualitas jejaring alumni ITS menjadi tidak ada apa-apanya jika tidak ada jalinan silaturahmi dan komunikasi yang baik antar alumni ITS. “Ini untuk mengenal sesama p e n g u s a h a ,” s e b u t H a m d a n i Bantasyam ST selaku Wakil Sekjen PP IKA ITS. Selain itu, diharapkan juga menjadi awal terbentuknya clustercluster bisnis untuk mempermudah dalam sharing ilmu dan pengalaman. “Contohnya alumni di bidang IT akan berkumpul dengan alumni di bidang IT. Begitu pula dengan bidang seperti konstruksi dan perkapalan,” ujar pria yang menjabat sebagai Manajer PT Nalco Indonesia. Dalam acara ini hadir pula beberapa alumni ITS yang telah menduduki posisi

penting di perusahaan-perusahaan besar. Beberapa diantaranya adalah Manajer Petrokimia, Direktur Barata Indonesia, dan Direktur Semen Tonasa. Fokus peserta acara ini adalah pengusaha muda yang berusia di bawah 40 tahun. “Awalnya perkiraan kami sekitar 130 orang, tetapi ternyata yang hadir melebihi ekspektasi yaitu mencapai 150 orang,” ujarnya. Sambutan baik datang dari Prof Dr Ing Herman Sasongko selaku Pembantu Rektor (PR) 1 yang hadir pada malam itu. “ Yang paling penting untuk mencapai reputasi internasional adalah lewat kontribusi nasional. Semoga dengan acara ini dapat diwujudkan, seperti slogan ini,” ujarnya sambil menunjuk backdrop bertuliskan ITS untuk Indonesia. Acara ini juga sangat penting dalam rangka menjadi jembatan bagi upaya pembinaan pengusaha muda “yang masih menjadi mahasiswa ITS”, karena saat ini mulai bermunculan pengusaha muda yang masih mahasiswa namun sudah mendapatkan pengakuan ditingkat nasional dengan berpartisipasi diberbagai event lomba ataupun

pameran seperti wirausaha Mandiri 2012 yang diikuti oleh beberapa produk mahasiswa ITS seperti sego njamoer, krawu burger dan lainnya. Secara khusus, fokus utama yang tengah dibahas dalam acara ini adalah terkait networking dan memperkuat jejaring bisnis. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Semen Gresik. Pesan yang ingin dibawa adalah cara berbisnis yang jujur dan jauh dari korupsi. “Nanti ketika orang melihat entrepreneur dari ITS, mereka akan tahu bahwa bisnisnya beretika,” ungkap Machsus Fawzi ST MT. Ketua Departemen Hubungan Kemahasiswaan IKA ITS ini menuturkan, ini menjadi poin penting baik bagi yang baru memulai bisnis maupun yang sudah lama berkecimpung di dunia tersebut. U n t u k ke d e p a n n y a a c a r a serupa juga akan diadakan di kota besar lainnya, seperti Jakarta dan Palembang. Dimana IKA ITS cukup kuat di sana. “Harapan kami di masa mendatang adalah semakin banyak entrepreneur muda dari alumni ITS yang akan mendukung perekonomian Indonesia,” harapnya. (its.ac.id dan alumniits.com/bch) ITS Point l Maret 2012

29


BEM

Fakultas

Perdana, ITS Expo Bakal Sedot Dana Rp 1 Miliar

P

agelaran Pekan Ilmiah Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (PIMITS) dan Hari Budaya (Harbud) tidak akan ditemukan lagi. Pasalnya, dua kegiatan besar mahasiswa ITS tersebut akan digabung dalam satu gawe akbar bernama ITS Expo. Dengan mengangkat tema besar Revolusi Hijau dengan Teknologi Seni dan Budaya Demi Kemandirian Bangsa, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi branding baru ITS. “Keputusan penggabungan ini dilakukan setelah melalui diskusi panjang yang melibatkan pihak birokrasi, alumni dan mahasiswa,” demikian ujar Faisal Maulana selaku Sekretaris Jendral (Sekjend) Eksternal BEM ITS yang membawahi kegiatan ini. Faisal menuturkan, pada bentuk kegiatan sebelumnya, PIMITS dan Harbud kurang melibatkan partisipasi seluruh elemen ITS. Ia mencontohkan, pada pagelaran PIMITS dan Harbud alumni dan birokrasi hanya dilibatkan dalam hal dana dan legalitas acara. “Tidak heran PIMITS dan Harbud sering kali dianggap sebagai acara ekslusif BEM ITS saja,” papar Faisal. Selain masalah tersebut, masalah b ra n d i n g j u ga t u r u t m e n j a d i pertimbangan. Pagelaran PIMITS yang telah 14 tahun dilaksanakan dirasa kurang mampu mencitrakan ITS keluar kampus. Hal ini dibuktikan dengan berkurangnya jumlah kunjungan pada PIMITS 14 dibandingkan dengan pagelaran sebelumnya, PIMITS 13. Namun, keputusan penggabungan ini bukan tanpa masalah. Diakui oleh Faisal bahwa kesepakatan penggabungan baru dilakukan setelah Open Recruitment (Oprec)

30

ITS Point l Maret 2012

panitia PIMITS dilakukan. Hal ini berimbas p a d a ko n s e p sementara yang telah disiapkan oleh panitia PIMITS. “Karena ada penggabungan maka konsep pun ikut Ibnu Khanifuddin, Ketua Panitia ITS Expo. d i ga b u n g ,” ujarnya. Selain konsep, dalam empat kategori yaitu kategori masalah nama juga sempat menjadi opening dan closing, kategori indoor, perdebatan hangat di kalangan outdoor dan wahana. Rencananya, Keluarga Mahasiswa (KM) ITS. kegiatan ini akan menghabiskan biaya Sempat muncul adalah Sparkling hingga Rp 1 Miliar. ITS yang merupakan usulan dari Kegiatan yang akan diadakan pada alumni. Namun, nama ini masih (22-27/4) kelak ini menurunkan dirasa kurang mencerminkan kampus sekitar 310 orang panitia. Jumlah dan mahasiswa ITS. Akhirnya, nama tersebut diharapkan mampu bekerja yang dipilih adalah ITS Expo yang optimal mengingat singkatnya waktu merupakan usulan dari panitia persiapan. “Semoga panitia tetap sendiri. konsisten dalam amanahnya,” ujar Konsep Baru di ITS Expo Lazimnya dua kegiatan yang digabung, ITS Expo menawarkan b e b e ra p a ko n s e p b a r u . I b n u Khanifuddin, ketua panitia ITS Expo mengungkapkan bahwa dalam kegiatan besar ini ada 27 sub kegiatan yang akan dihelat. Kegiatan-kegiatan tersebut sebagian masih mengikuti konsep PIMITS dan Harbud namun ada pula yang merupakan gabungan dari keduanya. Beberapa kegiatan baru yang diandalkan adalah lomba recycle art dan rumah sampah serta wahana rumah hantu. Mahasiswa yang kerap disapa Banu ini juga mengungkapkan bahwa acara ini akan dikelompokkan

Banu. Banu menambahkan, kegiatan ini nantinya akan melibatkan seluruh elemen mahasiswa ITS mulai dari BEM, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Himpunan mahasiswa, Paguyuban hingga komunitas-komunitas hobi dan keahlian. Kegiatan ini juga akan menghadirkan mahasiswa, pelajar hingga masyarakat umum sebagai partisipan. Baik Banu maupun Faisal sama-sama berharap bahwa ITS Expo ini mampu membuat gaung ITS lebih terdengar di kancah nasional. “Perubahan selalu ada dan hanya bisa diinisiasi oleh orang-orang yang berani,” pungkas Faisal. (ram/fz)

ini bertempat di universitas seluruh Indonesia. “Dilakukan kerjasama dengan himpunan mahasiswa jurusan kimia dari universitas lain untuk melaksanakan babak penyisihan,” pungkas mahasiswa angkatan 2010 ini. Dari 305 tim yang mengikuti babak penyisihan, diambil lima puluh tim untuk mengikuti babak selanjutnya.

M

Tidak hanya dalam kelas, semifinal NCC pun dikemas dalam bentuk outbound. Hamdan menjelaskan bahwa sistem outbound tersebut merupakan masukan dari tim yang mengikutinya tahun lalu. “Terus menerus di dalam ruangan menurut mereka terasa membosankan, jika dengan outbound akan lebih asyik,” tuturnya sambil tersenyum.

Sistem outbound diaplikasikan dengan sebuah perjalanan dengan beberapa pos pemberhentian. Dalam setiap pos, disediakan pertanyaan yang harus dijawab oleh peserta. Di sisi lain, puncak final NCC pun tidak hanya dalam bentuk soal saja. Final yang digelar pada Minggu (4/2) tersebut semakin menantang dalam format praktikum. “Tahun sebelumnya hanya dengan praktikum titrasi, sekarang lebih menantang dengan elektroda,” tandasnya. A k h i r d a r i C h e m i st r y We e k ditutup dengan workshop bertajuk Chemistry Make Our Life Simple. Acara ini mengenalkan ilmu kimia sejak dini kepada masyarakat. “Agar ilmu kimia bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat,” tuturnya. (fin/el)

Perbanyak Riset, FMIPA Dirikan MIPA Tower

atematika dan ilmu pengetahuan alam (MIPA) adalah fundamen dari semua ilmu teknik. Namun, fakta yang terjadi di ITS pondasi MIPA dirasa masih kurang melekat pada seluruh sivitas akademika. Begitulah diungkapkan oleh Prof Dr Drs RY Perry Burhan MSc, dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Dosen jurusan Kimia tersebut juga menyebutkan bahwa dosen MIPA pun cenderung sedikit. Padahal hampir seluruh jurusan di ITS mempelajari MIPA. Lantaran jumlah dosen yang relatif sedikit tersebut, maka sebagian besar dosen akan sibuk mengajar di kelas. Dosen menjadi jarang melakukan penelitian dan menggunakan laboratorium. Burhan mengungkapkan bahwa seharusnya ilmu pengetahuan yang diberikan kepada mahasiswa harus berkembang. “MIPA harus terus berkembang dan menjadi landasan

dari ilmu terapan lainnya,” jelas pria berkelahiran Payakumbuh, 15 Februari 1959 ini. Berlatar belakang semua hal tersebut, dibangunlah MIPA Tower atau menara MIPA. “MIPA Tower ini nantinya menjadi pusat pengembangan sains,” pungkasnya sambil tersenyum. Pe m b a n g u n a n M I PA To w e r ini juga mendukung ITS sebagai universitas riset 2017 nanti. Dana sejumlah Rp 125 miliar dipersiapkan untuk pembangunan gedung pusat penelitian tersebut. MIPA Tower ini akan dibangun di antara gedung F dan gedung H FMIPA. Tidak tanggungtanggung, sepuluh lantai pun akan dibangun diatas lahan yang dulunya sebuah parkiran mobil tersebut. Pembangunan MIPA Tower tidak akan dilaksanakan secara langsung dalam bentuk sepuluh lantai. “Jika langsung sepuluh lantai belum tentu dalam 2012 ini selesai,” tuturnya menerangkan.

Burhan menjelaskan bahwa di dalam gedung MIPA Tower, akan dibangun berbagai laboratorium pengembangan ilmu pengetahuan alam. Ia berharap adanya laboratorium ini akan menjadi tonggak perubahan pola pikir, bahwa MIPA adalah dasar dari semua ilmu. “Adanya banyak laboratorium ini kembali pada statuta ITS bahwa ilmu pengetahuan dikembangkan dari laboratorium,” pungkas pemilik gelar doktor dari Universitas Louis Pasteurs, Prancis ini. MIPA Tower ini juga dilengkapi b e r b a ga i s a ra n a p e n d u ku n g . Seperti perpustakaan dan berbagai jurnal ilmiah baik dalam bentuk softcopy maupun hardcopy. Burhan mengatakan bahwa MIPA Tower ini didirikan tidak hanya untuk FMIPA saja, tapi untuk seluruh sivitas akademika ITS. Sebab MIPA adalah basis dari seluruh ilmu. “Adanya MIPA Tower ini sangat dinantikan,” tuturnya. (fin/el)

ITS Point l Maret 2012

35


Fmipa

M

bem

Tingkatkan Jiwa Saintis, ILMIPA Gelar Pertemuan

enjunjung tinggi keilmuan sains, Ikatan Lembaga Mahasiswa (ILM) BEM FMIPA seluruh Indonesia menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) 2012. Acara ini diikuti oleh pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FMIPA dari 15 universitas di Indonesia. BEM FMIPA Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) turut berpartisipasi dalam acara yang digelar di Universitas Jember (UNEJ) pada Minggu(29/1). “A ca ra i n i b e r t u j u a n u nt u k meningkatkan jiwa saintis, menjadikan mahasiswa MIPA lebih peka terhadap kondisi lingkungan Indonesia,” pungkas Dwi Joko Fahrur, presiden BEM FMIPA ITS. Acara diawali dengan seminar yang digelar selama dua hari. Seminar ini pun tidak luput dari keilmuan MIPA, yakni dengan tema Gerakan Hijau Penyelamatan Ekologi Indonesia. Tidak hanya itu, pengenalan budaya Jember oleh Gus dan Ning Jember pun dihadirkan. “Dalam seminar ini, kita dapat berbicara banyak tentang kebangkitan sains di kancah nasional,” tuturnya sambil

L

yang cocok untuk ditanam di lingkungan pantai, kemudian mahasiswa menanam pohon bakau tersebut bersama. “Pantai menjadi pilihan penanaman agar tidak terjadi abrasi,” jelasnya. Rencana ke depannya, BEM FMIPA akan bersinergi dengan MIPA NET, jaringan kerjasama nasional lembaga pendidikan tinggi bidang MIPA yang terbentuk tahun 2009. Kerjasama tersebut dilaksanakan untuk menggelar acara talkshow dan Lomba Karya Tulis Nasional (LKTN). (fin/el)

NCC 2012, Olimpiade dalam Kemasan Outbound

ain daripada yang lain, National Chemistry Challenge (NCC) yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Kimia (HIMKA) ITS ini tidak hanya dilakukan di dalam ruangan saja. Pada tahap semifinalnya, olimpiade yang termasuk dalam Chemistry Week ini hadir dalam bentuk outbound, permainan diluar ruangan. Babak penyisihan dilaksanakan secara

34

tersenyum. F a h r u r mengungkapkan bahwa dalam acara tersebut dibahas berbagai isu kondisi lingkungan yang cenderung menghawatirkan. “Kita belajar memandang sains tidak hanya d a l a m l i n g ku p ITS saja,” ujar mahasiswa Jurusan Statistika ini. Selain membahas tentang kondisi lingkungan saat ini, juga dilaksanakan penanaman pohon di desa yang beberapa saat lalu diterjang banjir besar. Fahrur menjelaskan bahwa pemberian pohon secara simbolis diberikan kepada salah seorang kepala desa di kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember. Di sisi lain, bakti sosial pun dilaksanakan dengan penanaman pohon bakau di pantai Papuma. Diawali dengan pemilihan pohon

ITS Point l Maret 2012

serentak di 23 titik di seluruh Indonesia pada akhir Januari lalu. Chemistry Week tahun 2012 ini terbagi menjadi lima cabang yakni Open House dan Chem-Mania yang menjadi pembuka dari kegiatan tersebut. Kemudian disusul National Chemistry Competition (NCC) dan Science Writing Competition 2012 (SWOT) serta ditutup dengan Workshop. Sebagian besar acara

tersebut diikuti oleh siswa SMP dan SMA. “Sekaligus mengenalkan Jurusan Kimia ITS kepada mereka,” tutur Hamdan Dwi Riski, salah satu sosok dibalik suksesnya Chemistry Week ini. Memasuki puncak acara, Hamdan menyebutkan bahwa NCC tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya babak penyisihan digelar di SMA, NCC kali

Posko Jujur dan Adil Bantu Mahasiswa Lunasi SPP/SPI

B

adan Eksekutif Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (BEM ITS) kembali memberikan bantuan keringanan pembayaran Sumbangan Pe m b i n a a n Pe n d i d i ka n ( S P P ) dan Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI). Kali ini, bantuan tidak hanya diberikan pada mahasiswa baru saja, melainkan pada seluruh mahasiswa yang membutuhkan. Posko yang dibuka selama lima hari sejak Senin (30/1) ini sedikitnya telah membantu 19 orang mahasiswa kurang mampu. Posko ini bernama Posko Jujur dan Adil. Jujur karena transparansi dana bisa diketahui oleh siapapun dan adil karena berlaku untuk seluruh mahasiswa ITS. Gilang Akbar Al Fatih, Menteri Kesejahteraan M a h a s i swa ( Ke s m a ) B E M I TS mengatakan bahwa posko ini tidak hanya diperuntukan untuk mahasiswa baru saja. “Angkatan berapapun berhak mengajukan permohonan,” ujarnya.

Berbeda dari tahun sebelumnya, posko ini diadakan pada awal semester genap. Gilang menuturkan, hal ini dikarenakan banyaknya mahasiswa yang kesulitan membayar SPP/SPI pada semester genap. “Bayar SPP-kan tidak hanya pada semester ganjil, semester genap pun banyak yang kesulitan,” tuturnya. Bantuan yang diberikan oleh BEM ITS adalah berupa uang tunai atau fresh money. Uang tersebut berasal dari kas Kementerian Kesma kepengurusan sebelumnya dan sumbangan dari Ikatan alumni (IKA) ITS. Gilang mengungkapkan setidaknya terkumpul sekitar Rp 24 juta untuk bantuan kali ini. Namun, mengingat terbatasnya dana yang terkumpul, Gilang harus bekerja lebih untuk menyeleksi mahasiswa yang berhak mendapat bantuan. Dari total 38 orang pelamar hanya dipilih 19 mahasiswa

untuk mendapat bantuan. “Mahasiswamahasiswa ini adalah mereka yang kondisi ekonominya paling m e m p r i h a t i n k a n ,” tutur Gilang. Gilang menceritakan, menyeleksi penerima bantuan tidaklah mudah. Beberapa persyaratan harus dipenuhi oleh mahasiswa yang mengajukan permohonan bantuan, seperti surat keterangan tidak mampu, slip gaji orang tua, fotokopi KTM dan beberapa dokumen lainnya. “Kita tidak hendak menyusahkan proses pengajuan. Namun, bantuan harus betul-betul sampai ke tangan yang benar,” selorohnya. M a h a s i s w a J u r u s a n Te k n i k Material dan Metalurgi ini m e n u t u r k a n , p o s ko b a n t u a n S P P/ S P I i n i a k a n d i a d a k a n tiap semester. Namun, Gilang mengungkapkan bahwa langkah-langkah ini tidak akan bisa berjalan tanpa adanya dukungan dari seluruh sivitas ITS. Secara khusus, ia menghimbau agar mahasiswa lainnya turut berpartisipasi memberikan bantuan. “Dosen-dosen saja banyak yang mau menjadi donator, kenapamahasiswatidak?” tanyanya. Ia juga menghimbau agar mahasiswa ITS mau peduli dan turut aktif dalam mendukung program-program penyejahteraan mahasiswa. “Masalah biaya tidak boleh jadi kendala untuk terus menuntut ilmu,” pungkasnya. (ram/ fz) ITS Point l Maret 2012

31


GALERI Para siswa tengah asik menyusun stik es krim untuk membuat jembatan dalam lomba Bridge Construction Competition yang diselenggarakan oleh D3 Teknik Sipil ITS. Lomba ini diikuti 109 tim dari SMA di wilayah Jawa dan Bali.

Anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Lingkungan Hidup (UKM PLH) Siklus ITS aktif mengkampanyekan cinta lingkungan salah satunya pemilihan sampah. Agar penanganan sampah bisa lebih tepat.

Beragam cara yang bisa diterapkan dalam mendorong para siswa SMP untuk lebih mencintai fisika. Himpunan Mahasiswa Fisika menggunakan Workshop Line Follower (WLF) yaitu workshop dasar-dasar robotika yang banyak digemari para siswa.

Unit Kegiatan Mahasiswa Maritime Challenge (MC) ITS menjalani latihan perdana dengan perahu Rojo Segoro. Tahun ini MC ITS akan mengikuti Atlantic Challenge 2012 di Irlandia.

Pementasan seni Omnivorart yang digagas oleh komunitas seni mahasiswa Jurusan Biologi ITS. Omnivorart merupakan salah satu bentuk dukungan dunia seni terhadap kampanye lingkungan hidup.

Kreativitas mahasiswa kimia ITS yang sedang memperagakan pembuatan minuman dalam rangka memeriahkan agenda Chemistry Week.

Kerjasama dengan kampus-kampus di luar negeri bagi ITS sudah sangat sering, tetapi dengan kampus yang ada di timur tengah adalah hal yang jarang terjadi. Prof Dr Sulaiman Al Homidan Dekan Fakultas Sains King Fahd University Petroleum and Minerals (KFUPM) mengunjungi ITS untuk membuka kerjasama dalam bidang perminyakan.

Geliat entrepreneur bagi Mahasiswa ITS sedang marak, seperti yang terlihat dalam ajang pasar minggu ITS (PAMITS) yang diselenggarakan BEM ITS. terlihat dua mahasiswa sedang menjajakan minuman segar hasil kreasinya pada para pengunjung PAMITS.

Salah seorang peserta lomba teriak dalam ajang Engineering Physics Week (EPW). Peserta yang mampu menghasilkan suara dengan intensitas tertinggi mendapatkan hadiah handphone android.


Majalah ITS Point 14  

Majalah ITS Point dalam menyambut Wisuda 104 dengan tema "ITS Perkuat Atmosfer Kewirausahaan dengan P2KM"