Issuu on Google+

Geliga EDISI 4/JULI - DESEMBER 2011

CERDAS MENEROKA CERGAS MENGGESA

PENDIDIKAN KARAKTER

MENJADI

BUTUH KETELADANAN, PENDIDIKAN BUKAN IMBAUAN MANUSIA BERKARAKTER MELALUI

WAWANCARA

AIDA ZULAIKHA NASUTION:

PEMBANGUNAN PENDIDIKAN PERLU STRATEGI GERBANG

MENGENAL AUTISME:

SETIAP TAHUN PENYANDANG AUTIS BERTAMBAH 500 ORANG! MAJALAH MAJELIS PENDIDIKAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU (DIDISTRIBUSIKAN KE SEKOLAH-SEKOLAH DI KEPULAUAN RIAU. TIDAK UNTUK DIPERJUALBELIKAN)


Siswa-siswi di SD Desa Karas, Kecamatan Galang Batam, belajar praktik dengan alam karena keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan. foto: habibi

2

Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011


G

editorial

JANGAN PESIMIS DAN PUTUS ASA

A

khir-akhir ini banyak kejadian di Tanah Air tercinta ini hal-hal yang tidak menyenangkan. Bentrokan antarkelompok masa, korupsi meraja lela oleh orangorang terhormat seperti anggota DPR, pejabat publik, perselingkuhan oknum-oknum pendidik, beredarnya barang psikotropika dengan tertanggapnya ratusan ribu pil ekstasi dan ratusan kilo sabu-sabu. Tidak selesai satu masalah terbit lagi masalah lain yang tragis dramatis. Dunia terus berputar, roda kehidupan terus berjalan, nenek moyang kita yang terkenal dengan keramah-tamahan, gotong-royong, tolong menolong, rasa solidaritas yang tinggi antar sesama sirna dengan kejadian-kejadian tragisakhir-akhir ini. Seolah olah ada yang salah dengan kita sebagi bangsa. Budaya santun dan berbudi luhur terkoyak dan tersobek karena mengejar sesuatu yang tidak jelas. Mereka-mereka yang dipenjarakan akibat produk masyarakat yang lepas kendali, akan tetapi masyarakat juga lupa akan pembinaan generasi mudanya. Pembinaan melalui pendidikan merupakan salah satu jalan terbaik, pendidikan kita kaya dengan terobosan yang bisa menjadi penangkal hedoisme, ugal-ugalan, apatisme dan tindakan negatif lainnya. Banyak tunjuk ajar dan nilai-nilai tradisional nenek moyang yang luhur dan berharga dapat digali dan diterapkan pembinaan masyarakat. Ajaran agama yang luhur dapat mengubah karakter bangsa, seperti yang telah dibuktikan oleh Nabi Muhammad SAW bisa mengubah bangsa Arab yang jahiliyah menjadi bangsa yang madani dalam waktu

Geliga EDISI 4/JULI - DESEMBER 2011

CERDAS MENEROKA CERGAS MENGGESA

MENJADI BUTUH KETELADANAN, PENDIDIKAN BUKAN IMBAUAN PENDIDIKAN KARAKTER

MANUSIA BERKARAKTER MELALUI

WAWANCARA

AIDA ZULAIKHA NASUTION:

PEMBANGUNAN PENDIDIKAN PERLU STRATEGI

hampir 25 tahun saja. Rasanya kita masih belum terlambat untuk menjadi bangsa yang berkarakter, beradab, berbudi luhur dan berakhlak mulia. Bangsa kita telah teruji ratusan tahun, walau dijajah dan ditindas tetap masih punya harga diri dan kepercayaan yang besar. Bangsa yang terdiri dari berbagai suku-suku dan wilayah yang sangat luas ini tetap bersatu dan berani memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 dalam suatu wadah negara kesatuan Republik Indonesia. Mari kita tegakkan kepala dan busungkan dada kita dimana kita akan bangkit menjadi suatu bangsa yang besar dan terbilang, kembali kepada jati diri bangsa dan fokus kepada tujuan dan cita-cita luhur dari the founding Father (Pendidiri Bangsa) ini untuk mencapai kegemilangan masa depan bangsa ini. Seorang penulis Islam ternama AA Qarni pernah berujar sebagai berikut, “Tidak ada tutup kecuali suatu saat akan terbuka, tidak ada ikatan kecuali akan terlepas. Tidak ada suatu yang jauh kecuali akan mendekat. Tidak ada suatu yang hilang kecuali akan ditemukan ..... Tetapi ingatlah semuanya membutuhkan proses dan waktu”. Semoga......

Diterbitkan oleh Majelis Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau (MPPKR). Terbit setiap semester. Beredar di seluruh sekolah di Provinsi Kepulauan Riau. Koordinador/Penanggung Jawab: Rusley Silin; Dewan Redaksi: Rusley Silin, Encik Abdul Hajar, Muhammad Nur, Agustar, Tibrani, Abdul Malik, Hamali Hamzah, Syamsinar Yusuf, Maswito, Chairoel Anwar; Reporter: Habibi; Tata Letak & Pewajahan: Chairoel Anwar, Joko Al Muchlis. Staf Redaksi & Sirkulasi: Zulkifli; Fotografer: Joko Al Muchlis Alamat Redaksi & Tata Usaha: Jalan Gatot Subroto No. 22 Tanjungpinang - Kepulauan Riau. Telp. (0771) 28333, FAX. (0771) 28333. e-mail : mppkr@yahoo.co.id. website : ww.majelispendidikankepri.or.id. Percetakan: (Isi di luar tanggung jawab percetakan)

GERBANG

MENGENAL AUTISME:

SETIAP TAHUN PENYANDANG AUTIS BERTAMBAH 500 ORANG! MAJALAH MAJELIS PENDIDIKAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU (DIDISTRIBUSIKAN KE SEKOLAH-SEKOLAH DI KEPULAUAN RIAU. TIDAK UNTUK DIPERJUALBELIKAN)

Edisi No. 4/Juni - Juli 2011 cover: Chairoel Anwar gambar: lediana.wordpress.com

Redaksi menerima kiriman naskah berupa artikel maupun berita tentang pendidikan dari pembaca. Redaksi berhak menyunting naskah sejauh tidak mengubah substansi dan maksud tulisan. Naskah yang dimuat akan diberikan imbalan yang pantas. Seluruh materi dalam pubikasi ini dilindungi undang-undang. Sebagian artikel dan foto serta ilustrasinya bisa dikutip dengan mencantumkan sumber tulisan.

Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011

3


G

indeks

LAPORAN UTAMA PENDIDIKAN KARAKTER

BUTUH KETELADANAN, BUKAN IMBAUAN

12

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah mencanangkan penerapan pendidikan karakter untuk semua tingkat pendidikan, mulai dari TK, SD sampai ke perguruan tinggi. Bahkan, pemerintah juga sudah merancang Rencana Aksi Nasional (RAN) Pembangunan Karakter Bangsa..

ANJANGSANA

Mengintip Negara dengan Kualitas Pendidikan Nomor Satu di Dunia TELAAH

Membuka Kunci Belenggu Wacana Prestasi Akademik

WAWANCARA

Aida Zulaikha Nasution :

22 27

SOSOK RIDA K LIAMSI

Pembangunan Pendidikan Perlu Strategi

30

AKTUALITA Kepri Masuk 10 Besar Penyalur Dana BOS Tercepat .......................................................................

6

GERBANG setiap tahun penyandang autis bertambah 500 orang! ................................................................ 40 OASE PAUDNI sebagai Investasi ......................................................................................................................... 50

ANAK TUKANG CUCI

PENGAGGUM BUNG KARNO 4

Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011

CAKAL-BAKAL Nurul Syafrani, Si Cerdas yang Pelupa ................................................................................................... 46

31

CERPEN ANAK Batu Belah Batu Betangkup .................................................................................................................... 55 AGENDA Memperkuat Eksistensi Dewan Pendidikan .....................................................................................

57


G

suara pembaca

Suara Hati Guru Honorer

Tolong Perhatikan Kami! TAK ada tempat mengadu, tak ada tempat mengeluh, apalagi tempat berteduh. Mungkin itulah yang dirasakan oleh kami, guru yang berstatus tenaga honorer, saat ini. Sebagai abdi negara sekaligus masyarakat yang hidup pas-pasan, tak ada lebih buat di saku. Beban hidup yang berat dan kebutuhan keluarga yang semakin tinggi semuanya harus kami atasi dengan gaji yang jauh dari standar tersebut. Beban berat untuk memajukan negeri masih dipandang sebelah mata oleh pemerintah. Janji pemerintah untuk memberikan gaji yang layak bagi kami, hanyalah pemanis mulut belaka. Tak “beganjak”–jika buruh setiap tahunnya mengalami kenaikan gaji sesuai dengan upah standar, nasib kami tetap seperti itu. Kami seolah-olah terdiskriminasi oleh desakan kehidupan yang semakin kompleks itu. Gaji yang kami terima tidak cukup untuk sebulan. Jika ada keluarga kami yang sakit, kami harus pontang-panting pinjam uang ke mana-mana untuk membiayainya. Nak mengadu ke kantor pajak gadai (Pegadaian, red), tak ada pula barang yang nak digadai. Menyedihkan memang, tapi itulah realitasnya. Kami ini sebenarnya layak diberikan kartu ASESKIN – agar kami bisa berobat gratis di Puskesmas atau rumah sakit. Tapi ngurusnya pula susahnya minta ampun dan berbelit-belit pula. Instansi terkait secara halus selalu menyatakan, “ngapain lagi ngurus ASESKIN, Anda kan guru. Gajinya besar, tunjangan banyak pula, belum lagi……...” Mereka tak tahu berapa besar gaji kami. Tak cukup untuk makan sebulan. Di luarnya saja kami kelihatan keren¸ tapi dari dalam keropos. Malu deh mengungkapkannya. Sebagai mitra, kami berharap pemerintah memperhatikan nasib kami agar berkonsentrasi penuh mencerdaskan dan memajukan kehidupan anak bangsa ini. Banyak di antara rekan kami perutnya keroncongan ketika mengajar di depan kelas. Rasa lapar dan haus selalu kami tahan demi tugas yang mulia: Mencerdaskan Anak Bangsa. Kami merasakan seolah-olah kami

kartunmartono.files.wordpress.com

berpegang pada kayu lapuk. Tapi kami tak tahu, lapuknya di mana. Di batang atau di dahannya. Haruskah kami bertahan hidup? Jujur kami tidak sanggup menjawabnya dengan kecil penghasilan seperti ini. Pemerintah selalu menuntut kami agar lebih pintar dari siswa yang kami ajar di sekolah. Kami harus menguasai teknologi dan informasi. Kami harus berkreasi dan terus melakukan inovasi dalam pembelajaran agar anak didik kami bisa lulus 100 persen dalam Ujian Nasional. Kami harus…………. Capek deh memikirkannya. Dalam hati kecil ini kami terkadang malu hati. Ketika anak didik kami yang dari keluarga mampu menjinjing laptop ke sekolah dan berinternet ria bersama teman-temannya, kami hanya bisa melongo. Di depan mereka kami terkadang sok pandai, padahal kami tidak tahu, Pemerintah tidak pernah menganggarkan bantuan untuk kami agar kami melek teknologi. Tapi kami terus dipaksa untuk menguasai semua itu. Ya ampun, harga sebuah laptop itu sama dengan jumlahnya dengan gaji yang kami terima setahun. Mahal! Dari mana kami dapat dana sebanyak itu? Untuk menutup biaya hidup dari hari ke hari saja kami ibarat gali lubang tutup lubang. Saat ini pemeriintah menggemborgemborkan alokasi APBN dan APBD untuk pendidikan. Dana itu tersedot untuk pembangunan, tidak menyentuh kami. Bagaimana kami nak bekerja serius jika

kami harus meminjam-minjam uang ke mana-mana untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Masyarakat beranggapan kami memiliki gaji lebih tapi nyatanya tak sedikitpun yang kami rasakan itu indah. Biar-biarlah itu anggapan orang. Apapun yang terjadi guru tetap guru. Sebagai mitra pemerintah untuk mensukseskan tugas negara, kami harus tetap optimal dalam mengajar siswa dan tetap menganggap siswa sebagai “anak kandung” kami yang harus kita didik secara maksimal dengan berbagai macam cara demi mencapai tujuan “siswa harus pintar.” Dengan bekal seadanya kami sebagai guru tidak pernah melepas setiap apa pun pertanyaan dan harus dijawab sesuai dengan keprofesionalan kami sebagai guru. Ya……………ampun. Kami berharap pemerintah untuk tetap memperhatikan nasib kami sebagai bagian dari elemen pemerintah yang selalu terus berharap dengan harapan yang indah. Kami juga perlu kesejahteraan dan jangan sampai membuat malu pemerintah memiliki kerja sampingan sebagai kurir simpan pinjam. Tolong jangan bedakan “anak kandung” dan dengan “anak tiri.” Eko Prasetyanto, S.Pd, SD Guru honorer SD Negeri 001 Tanjungpinang Barat Jalan Bukit Semprong No 33. Tanjungpinang

Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011

5


G

aktualita

Bertekad Jadi Tercepat Pertama di Triwulan II

Kepri Masuk 10 Besar Penyalur Dana BOS Tercepat

P

rovinsi Kepulauan Riau (Kepri) termasuk dalam kategori 10 besar daerah yang menyalurkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tercepat. Dana BOS triwulan pertama 2012 sebesar Rp38 miliar, telah disalurkan pada Selasa (10/1), atau sehari setelah jadwal penyaluran BOS ditetapkan. Manajer BOS Satuan Kerja (Satker) Provinsi Kepri Atmadinata membenarkan, dana BOS triwulan pertama 2012 untuk sekolah-sekolah penerima di Kepri telah disalurkan sejak 10 Januari lalu. “Dana BOS yang dari pusat itu masuk tanggal 9 Januari dan langsung kita kirimkan ke bank penyalur. Barulah tanggal 10 Januari dana BOS disalurkan dari bank penyalur, dalam hal ini BSM (Bank Syariah Mandiri), ke rekening sekolah-sekolah,” terang Atmadinata, yang dihubungi KP, Jumat (20/1) kemarin. Kabid Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kepri itu menambahkan, meski

sejumlah daerah di Kepri seperti Natuna dan Kepulauan Anambas telah mengusulkan dispensasi penyaluran dana BOS berupa penyaluran selama satu semester, namun hal itu belum bisa dilakukan. Artinya, kata Atmadinata, sekolah-sekolah di daerah tersebut masih tetap menerima kucuran dana BOS dalam satu triwulan. “Usulan daerah sulit itu memang sudah diajukan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, namun tetap harus berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Dan Permenkeu ini yang belum keluar. Daripada lambat karena menunggu Permen, kita salurkan segera saja dulu, sambil menunggu keluarnya Permen Keuangan itu,” papar Atmadinata. Selain itu, Atmadinata berjanji akan sesegera mungkin menyalurkan dana BOS pada triwulan II 2012. “Nanti pada triwulan II, Dinas Pendidikan dan BKKD sudah bertekad sebagai penyalur tercepat yang pertama,” katanya. Kemdikbud menyatakan, untuk per-

tama kalinya, dana BOS sampai ke 33 provinsi dengan tepat waktu. Sebanyak 10 provinsi yang paling cepat menyalurkan dana BOS ke sekolah pun akan mendapatkan penghargaan. Ke-10 daerah tersebut antara lain, DI Yogyakarta, Jambi, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Jawa Timur, Kepualauan Riau (Kepri), Sumatera Utara, dan Sulawesi Selatan. Direktur Jenderal Pendidikan Dasar (Dirjen Dikdas) Kemdikbud, Suyanto, menjelaskan, seluruh provinsi telah menyalurkan dana BOS termasuk daerahdaerah yang sering terbentur kendala letak geografis, seperti Aceh dan Papua. Total dana yang sudah tersalurkan pada triwulan pertama mencapai Rp5,59 triliun dari jumlah total dana BOS Rp22,4 triliun pada 2012 ini. “Kami akan umumkan pada 17 Agustus atau Hari Pendidikan Nasional nanti,” katanya. l

Inilah 10 Provinsi Tercepat Penyalur Dana BOS Tahun 2012 NO

6

PROVINSI

TANGGAL DISALURKAN

DANA BOS TRIWULAN I (Rp)

1

DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

4 JANUARI 2012

4 MILIAR

2

JAMBI

6 JANUARI 2012

81 MILIAR

3

SUMATERA BARAT

6 JANUARI 2012

135 MILIAR

4

JAWA BARAT

9 JANUARI 2012

994 MILIAR

5

JAWA TENGAH

9 JANUARI 2012

673 MILIAR

6

BANTEN

9 JANUARI 2012

248 MILIAR

7

JAWA TIMUR

9 JANUARI 2012

671 MLIAR

8

KEPULAUAN RIAU

10 JANUARI 2012

38 MILIAR

9

SUMATERA UTARA

10 JANUARI 2012

372 MILIAR

10

SULAWESI SELATAN

10 JANUARI 2012

220 MILIAR

Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011

chairoel anwar


Pentingnya Pendidikan Anak Sejak Dini

Aisyah Sani Didaulat sebagai Bunda PAUD Provinsi Kepri

M

asa usia dini merupakan periode emas (golden age) bagi perkembangan anak memperoleh pendidikan. Di periode inilah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) perlu digalakkan kepada masyarakat. Ny Asiyah Sani, termasuk salah satu sosok yang begitu getol menyuarakan pentingnya pendidikan sejak bagi anakanak. Karena itulah, Dinas Pendidikan Kepulauan Riau (Kepri) mendaulat Ny Aisyah Sani sebagai Bunda PAUD Provinsi Kepri, pada saat peringatan Hari Ibu ke83 yang disejalankan dengan pencanangan kesatuan gerak PKK-KB-Kesehatan, di Gedung Daerah Tanjungpinang, 23 Desember tahun lalu. Penobatan tersebut tak serta merta membuat istri gubernur Kepri ini jumawa. Namun, Aisyah mengaku tanggung jawabnya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan arti pentingnya PAUD semakin besar. Aisyah Sani berjanji untuk bekerja keras meningkatkan PAUD tersebut. Sehingga, nantinya Kepri akan memiliki generasi-generasi emas di masa mendatang. “Pendidikan Anak Usia Dini ini penting untuk menentukan kemajuan pembangunan di generasi mendatang,” kata Aisyah Sani. Gubernur Kepri HM Sani pun berpesan, agar dalam PAUD juga dimasukkan materi pelajaran mengandung unsur pendidikan agama. Dengan pendidikan agama itu diharapkan bisa membina akhlak anak sejak dini. “Pesan saya, sejak dini pendidikan akhlak mulia harus diikutsertakan,” pinta Gubernur. Apalagi, Pemerintah Provinsi Kepri juga telah membuat program pelajaran budi pekerti. Sehingga, di masa mendatang akan ada sumber daya manusia yang memiliki karakter-karakter yang tangguh. Ujungnya adalah pembangunan yang ada di daerah dapat berjalan dengan baik. Kepala Dinas Pendidikan Kepri Yatim Mustafa sepakat, dalam periode golden

age ini, seorang anak akan mengenali berbagai macam fakta di lingkungannya sebagai stimulans terhadap perkembangan kepribadian, psikomotor, kognitif maupun sosialnya. "Hal ini berarti bahwa perkembangan yang terjadi dalam kurun waktu empat tahun pertama sama besarnya dengan perkembangan yang terjadi pada kurun waktu 14 tahun berikutnya,” katanya. Dia menambahkan, periode emas ini berpengaruh pada perkembangan periode berikutnya hingga masa dewasa. Sementara, masa emas ini hanya datang sekali. Sehingga apabila terlewat berarti habislah peluangnya. Untuk itu pendidikan untuk usia dini dalam bentuk pemberian rangsangan-rangsangan (stimulasi) dari lingkungan terdekat sangat diperlukan untuk mengoptimalkan kemampuan anak. l chairoel anwar

Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011

7


G

aktualita

Siswa Anambas Ikuti Tes Potensi Akademik IPB

foto.ist

Sejumlah siswa-siswi SMA negeri di Anambas saat mengikuti sosialisasi tentang Institut Pertanian Bogor (IPB) di Tarempa, awal Februari lalu.

S

ejumlah siswa kelas XI dan kelas XII SMA negeri di Kabupaten Kepulauan Anambas berkesempatan mengikuti tes potensi akademik (TPA) yang dilakukan oleh Institut pertanian Bogor (IPB), selama dua hari, awal Februari lalu. Kehadiran tim dari IPB itu atas undangan dari badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Kepulauan Anambas. Para siswa dari jurusan IPA yang mengikuti TPA ini merupakan calon penerima bantuan pendidikan dari Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas

8

Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011

yang bakal mengikuti perkuliahan di IPB melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD). Dalam rilis yang dimuat di laman IPB, tes itu bertujuan untuk memetakan potensi akademik siswa berprestasi di Kabupaten Kepulauan Anambas. Pasalnya, pada tahun 2011 lalu Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas telah mengirimkan empat orang mahasiswanya ke IPB melalui jalur BUD. Keempat mahasiswa tersebut pada saat ini masih menempuh pendidikan di Tingkat Persiapan Bersama (TPB) IPB. Pelaksanaan TPA itu dipusat-

kan di Aula Tarempa Beach, Tarempa, pada pukul 09.00 – 17.00 WIB. Acara dihadiri langsung oleh Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Kepulauan Anambas Iip Ilham Firman, S.STP, M.Si beserta jajarannya,dan guru-guru dari masing-masing sekolah. Peserta tes potensi akademik berasal dari siswa peringkat 10 besar terbaik dari tiga sekolah menengah yang ada di Kabupaten Kepulauan Anambas. Yaitu SMAN 1 Siantan, SMAN 1 Palmatak dan SMAN 1 Jemaja. Acara diawali dengan samb-

utan dari Kepala BKD Kabupaten Kepulauan Anambas Iip Ilham Firman, S. STP, M.Si dan Wakil Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Dr. Sugeng Heri Suseno. Dilanjutkan dengan presentasi tentang IPB oleh Dr. Panca Dewi MHKM, M.Si. Setelah itu, tes potensi akademik dilaksanakan pada pukul 11.30 – 13.30 WIB. Tes berlangsung tertib dan lancar tanpa hambatan yang berarti. Setelah pelaksanaan TPA, siswa-siswi peserta tes berkesempatan untuk menampilkan kreativitasnya masing-masing, seperti menyanyi dan berpantun khas masyarakat Kabupaten Kepulauan Anambas. Selain menggelar TPA, sehari sebelumnya tim IPB yang diwakili Wakil Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Dr. Sugeng Heri Suseno, Komisi Kerjasama Fakultas Peternakan Dr. Panca Dewi MHKM, M.Si, Sekretariat BUD IPB Farchaini Budi Astuti dan Ribka Puji Raspati, itu juga melakukan sosialisasi tentang IPB. Kegiatan sosialisasi dilakukan serentak di dua sekolah, yakni di SMA Negeri 1 Siantan dan SMA Negeri 1 Palmatak. Pada saat sosialisasi, sejumlah siswa aktif mengajukan pertanyaan seusai presentasi mengenai IPB. Sosialisasi tersebut juga dihadiri oleh guru-guru, kepala sekolah, dan wakil dari Dinas Pendidikan Kabupaten Kepulauan Anambas. l chairoel anwar


Sertifikasi Guru 2012

Aturan Berat, Demi Hasilkan Guru yang Berkualitas

S

ertifikasi guru yang telah dimulai sejak enam tahun silam, masih menyisakan sejumlah permasalahan. Badan Pengembangan Sumber Daya Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan, Kementerian Pendidikan Nasional (SDP-PMP Kemdiknas) mencatat, ada tiga masalah utama dalam pelaksanaan sertifikasi guru selama ini. Malah, masih ada beberapa masalah lain (lihat box). Oleh karena itu, Kemendiknas menilai perlu adanya perubahan mekanisme sertifikasi guru mulai tahun 2012. Yang dibenahi pertama kali adalah persoalan pendataan dan penetapan calon peserta. Masa kerja menjadi prioritas pertama. Yang jelas, guru-guru calon peserta sertifikasi harus sudah memiliki Nomor Unik Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (NUPTK). Selanjutnya, NUPTK mulai ditata ulang dan ditampilkan secara online. Setiap daerah sudah memiliki daftar kuota sertifikasi guru berdasarkan data NUPTK online sesuai kuota yang ditetapkan setiap tahun. Namun, kebijakan yang paling mendasar pada sertifikasi tahun ini adalah adanya uji kompetensi awal (UKA) bagi guru calon peserta sertifikasi jalur Pendidikan Latihan Profesi Guru (PLPG). Bagi guru yang lulus pada UKA, maka guru

yang bersangkutan akan mengikuti PLPG. Namun, untuk mendapatkan sertifikat pendidik, masih ada lagi ujian akhir PLPG guna memperkuat empat kompetensi dasar guru, yakni

pedagogik, profesional, sosial dan akademik. Bagi guru yang belum lulus UKA, terpaksa gagal mengikuti PLPG. Malah, guru bersangkutan

MASALAH UTAMA SERTIFIKASI GURU

• •

Kekurangakuratan data peserta Kekuranglancaran penyerahan berkas peserta oleh beberapa dinas pendidikan kabupaten/kota • Kekuranglancaran koordinasi antara Rayon LPTK dengan beberapa dinas pendidikan kabupaten/kota (membutuhkan waktu lama), khususnya tentang klarifikasi dara peserta, kelengkapan data peserta, dan pemanggilan peserta PLPG. MASALAH LAIN

• •

Pemahaman yang berbeda dalam penghitungan masa kerja Datangnya berkas ke sekretariat PSG yang tidak bersamaan Dalam proses verifikasi data A1 dengan bukti fisik banyak ditemukan ketidaksamaan data, yaitu data masa kerja, latar belakang pendidikan, dll Banyak data peserta pada format A1 tidak sesuai den-

• •

gan bukti fisik (Berkas PLPG), antara lain dalam hal: - kode mapel guru kelas dan guru penjaskes - NUPTK kembar - masa kerja guru - tanggal lahir - ijazah, dan - golongan Format A0 sudah direvisi tapi belum terakomodasi di format A1 Kuota tidak terpenuhi (dinas pendidikan tidak bisa merekrut peserta sesuai kuota)

baru bisa mengikuti UKA dua tahun kemudian. Ini harus menjadi perhatian bagi guru. Proses uji sertifikasi tak gampang lagi. Pemerintah sudah berancang-ancang membuat kebijakan untuk memperketat proses sertifikasi guru. "Memang, sertifikasi tahun ini lebih berat dibanding tahun sebelumnya. Tapi, sertifikasi guru ini benar-benar harus berdampak pada peningkatan kompetensi guru. Kepada guru perlu disampaikan, sertifikasi tidak lagi pada senioritas atau metode belas kasihan," kata Yatim Mustafa, Kepala Dinas Pendidikan Kepulauan Riau (Kepri). Tahun ini, Kepulauan Riau mendapatkan jatah peserta sertifikasi sebanyak 2.102 orang. Kuota ini masih sangat jauh dibanding dengan jumlah guru yang belum bersertifikasi di Kepri (lihat tabel). Sampai akhir 2011 lalu, jumlah guru yang bersertifikat baru mencapai 12 persen dari total 25.290 orang guru yang tercatat di Kepri. Jika pemerintah memberi batas waktu hingga 2015--malah ada wacana dipercepat sampai 2013--agar semua guru sudah bersertifikat, sulit bagi Kepri untuk memenuhinya. Karena, masih ada 22.375 orang guru lagi yang mesti disertifikasi. l chairoel anwar

JUMLAH GURU PROVINSI YANG TELAH LULUS SERTIFIKASI SAMPAI TAHUN 2011 NO

KABUPATEN/KOTA

JUMLAH GURU

SUDAH SERTIFIKASI

% GURU SUDAH SERTIFIKASI

BELUM SERTIFIKASI

% GURU BELUM SERTIFIKASI

1

BINTAN

2.496

390

15,63%

2.106

84,38%

2

KARIMUN

3.742

744

19,88%

2.998

80,12%

3

NATUNA

1.947

196

10,07%

1.751

89,93%

4

LINGGA

1.790

264

14,75%

1.526

85,25%

5

KEPULAUAN ANAMBAS

916

52

5,68%

864

94,32%

6

BATAM

11.270

725

6,43%

10.545

93,57%

7

TANJUNGPINANG

3.129

544

17,39%

2.585

82,61%

TOTAL

25.290

2.915

11,53%

22.375

88,47%

SUMBER: DINAS PENDIDIKAN KEPULAUAN RIAU 2011

Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011

9


G

aktualita

Inilah Permasalahan Pendidikan di Tanjungpinang ...

M

asalah pendidikan di Kota Tanjunginang begitu dinamis. Melorotnya persentase kelulusan Ujian Nasional (UN) di Kota Tanjungpinang, bukan persoalan penting. Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Tanjungpinang, Syafrial Evi, menilai, masalah yang dihadapi pendidikan di Tanjungpinang ternyata punya variabel dinamis, berdasarkan pengamatan, hipotesa dan kompilasi berbagai data riil pendidikan. Persoalan pendidikan selalu berubah, kata Evi--begitu sapaannya, dan tidak pernah stagnan. "Misalnya, bulan ini kita ber-

10 Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011

hasil menemukan masalah yang dihadapi. Kemudian dicarilah solusi. Bulan depan, masalahnya lain lagi. Dicari lagi solusi. Bulan depannya lagi, lah berubah lagi,” paparnya. Kendati demikian, Evi menyimpulkan beberapa persoalan yang dihadapi pendidikan di Tanjungpinang. Pertama, “Masyarakat punya pemahaman yang berbeda dengan kita tentang pendidikan,” paparnya. Hal ini, kata Syafrial Evi, tercermin dari hasil kelulusan Ujian Nasional (UN) yang diperoleh Kota Tanjungpinang. Menurutnya, masyarakat lebih banyak menuntut hasil, sementara kalangan pendidikan dituntut untuk lebih mengedepankan

kualitas. “Kalau cuma ingin lulus 100 persen juga bisa. Tapi, apakah bisa dijamin output-nya berkualitas?” sergah Syafrial Evi. Persoalan kedua, adalah inefesiensi anggaran pendidikan di Dinas Dikpora. Dia membeberkan, hampir tidak ada anggaran yang meyentuh langsung pendidikan di Tanjungpinang. Anggaran di Dinas Dikpora didominasi kegiatan-kegiatan rutin tahunan yang merupakan program pemerintah pusat, seperti Olimpiade Sains, Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (02SN). Sementara, kegiatan-kegiatan pendidikan yang menyentuh langsung seperti Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), Kelompok Kerja Guru (KKG), dan

sebagainya, hampir tidak pernah ada anggarannya. Persoalan ketiga adalah belum meratanya penyebaran sekolah. “Sebagian besar gedung sekolah menumpuk di lokasi-lokasi tertentu saja,” kata Syafrial Evi. Sedangkan, pesoalan keempat dan paling krusial adalah pemerataan guru belum maksimal. “Guru-guru lebih banyak menumpuk di kota. Sedangkan sekolah-sekolah yang ada di pinggiran selalu kekurangan guru. Jadi, tidak heran jika persentase kelulusan lebih besar di sekolah-sekolah perkotaan karena gurunya banyak,” pungkasnya. l chiaroel anwar


Potret pengelolaan PAUD di pulau karas, batam

Mereka Tumbuh tanpa Sepengetahuan Pemerintah

D

i dalam gubuk papan, bocah-bocah yang masih panjang langkahnya itu, tengah mencoba menulis masa depan mereka sendiri. Tak kursi dan meja, kecuali tikar bolong. Tak ada komputer, kecuali buku bacaan kusam. Layanan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memang semakin tumbuh pesat di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Namun, pertumbuhan itu hanya terlihat di kawasan perkotaan saja. Sementara di kawasan hinterland sama sekali belum berkembang baik. Bahkan belum banyak yang mengerti. Seperti PAUD di Pulau Karas, Kecamatan Galang, Kota Batam. Para guru mengaku hanya mengajarkan siswanya dengan caranya sendiri tanpa kurikulum yang telah ditetapkan untuk PAUD. Guru-guru hanya sekadar mengajak anak bermain serta mengajarkan anak-anak membaca dan menulis. Rozzi, guru PAUD di Desa Karas, mengaku, ikut mendirikan PAUD karena mendapatkan ide dari temannya di Tanjungpinang yang juga seorang guru PAUD. “PAUD ini kami dirikan sendiri. Bantuan lurah juga tidak ada. Tahu mengenai PAUD pun kemarin waktu saya ke Tanjungpinang, ada teman memberikan ide supaya saya mendirikan PAUD di Karas karena di Karas belum ada. Jadi, melihat peluang saya buat,” ungkap Rozzi. PAUD yang didirikan pada tanggal 2 Desember 2011 yang lalu ini memang sangat sederhana. 'Gedungnya' berupa bangunan dari papan berukuran 1,5 x 2,5 meter dan beratap seng.

PAUD yang terletak di Kampung Tanjung Marau, Desa Karas, tersebut dinamai PAUD Kasih Ibu. Malah, “gedung sekolah” itu juga dipakai sebagai Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Jumlah siswa yang ikut belajar di sana sebanyak 23 orang. Sayang, Rozzi mengaku tidak pernah mendapatkan sosialisasi dari pemerintah. Mengenai standar capaian minimum dan pendidikan karakter anak usia dini, Rozzi juga mengaku belum paham. Di PAUD tersebut Rozzi hanya mengajarkan anak baca tulis dan mengajar anak bermain saja. “Daftar pun saya tidak tahu kemana. Main dirikan sendiri saja di atas lahan saudara saya. Yang penting anak-anak ini bisa belajar. Dan memang saya pikir positif, kok kegiatan ini. Makanya saya berani mendirikannya,” ujar Rozzi. Di PAUD tersebut, Rozzi dan tiga rekan sesama pengajar masih membutuhkan bantuan.

Saat ini dia hanya berharap dari iuran dari orang tua siswa-sisinya saja. Setiap anak dikenakan biaya Rp20 ribu yang dananya digunakan untuk melengkapi peralatan belajar. “Bisa dibilang kami bekerja secara suka rela karena iuran dari anak-anak ini kita manfaatkan untuk membeli peralatan belajar anak,” terang Rozzi. Rozzi mengatakan, jika memang pemerintah ingin membantu, dia akan terima dengan senang hati. Namun jika tidak, dia berharap pemerintah tidak mempermasalahkan kinerjanya yang memang tidak mengetahui apa-apa tentang tata cara mengelola PAUD tersebut. Siswa-siswi yang belajar di situ berasal dari Kampung Padang, Kampung Tanjungmarau, Kampung Ketapang dan Kampung darat Pulau. Mereka belum sanggup untuk menerima siswa yang berasal dari kampung lain karena kapasitas tempat belajar yang tidak cukup dan keterbatasan biaya

operasional. Rozzi terus terang, dia dan rekannya memang hanya mendapatkan pendapatan dari sisa-sisa pembelian barangbarang perlengkapan PAUD. Selebihnya, pendapatan mereka hanya dari suami-suami mereka. PAUD yang mereka tempati sekarang memang tidak berisi apa-apa. Hanya berbekalkan tikar dan papan tulis yang mereka buat sendiri untuk mengajar anak-anak tersebut. Jika hujan, mereka meminjam gedung Taman Pendidikan Alquran yang terletak di Kampung Padang, karena tempat mereka bocor. PAUD tersebut juga ada dikarenakan ada kerja sama antara TPA yang dibina oleh Erus Afrizal, sehingga PAUD dapat terlaksana dengan baik atas arahan Erus. Rozzi mengatakan, jika tidak ada Erus yang mengajarkan mereka tata cara mengajar anak, PAUD tersebut umurnya tidak akan lama. l habibi

Kondisi bangunan PAUD "Kasih Ibu" di Desa Karas, Kecamatan Galang, Kota Batam.

Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011 11


G

laporan utama

A

PENDIDIKAN KARAKTER

ediana.wordpress.com

BUTUH KETELADANAN, BUKAN IMBAUAN

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah mencanangkan penerapan pendidikan karakter untuk semua tingkat pendidikan, mulai dari TK, SD sampai ke perguruan tinggi. Bahkan, pemerintah juga sudah merancang Rencana Aksi Nasional (RAN) Pembangunan Karakter Bangsa sebagai upaya mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera. 12 Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011

khir-akhir ini, dunia pendidikan di Indonesia dihebohkan dengan “pendidikan berkarakter” dan "pendidikan budi pekerti". Sejumlah pakar dan pengamat menilai, pendidikan karakter begitu mendesak untuk diterapkan. Padahal, pendidikan, sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bertujuan membentuk manusia cerdas yang berbudi pekerti luhur dan berakhlak mulia. Padahal 88 tahun silam--jauh sebelum Indonesia merdeka--telah mencipta lagu kebangsaan "Indonesia Raya", sebuah cita-cita ideal bagi founding fathers bangsa ini. Simak saja Simak saja dalam refferen lagu yang pertama kali dinyanyikan dalam Kongres Pemuda II di Batavia (Jakarta) 1928 itu, "Bangunlah jiwanya bangunlah badannya", sebenarnya sudah menunjukkan bahwa karakter bangsa ini yang harus dibangun lebih dulu. Ada juga yang menilai, sistem pendidikan di Indonesia telah gagal menanamkan karakter bangsa dan budi pekerti kepada anak didik. Namun, tidak serta merta anak didik menjadi fokus persoalan. Berbagai penyimpangan dan kekacauan yang terjadi di negeri ini, ikut "mengotori" pikiran anakanak didik. Mari kita simak cukilan peristiwa berdasarkan catatan Litbang Kompas berikut. Apa kira-kira tanggapan anak didik dengan kasus-kasus berikut: • 158 kepala daerah tersangkut korupsi sepanjang 2004-2011 • 42 anggota DPR terseret korupsi pada kurun waktu 2008-2011 • 30 anggota DPR periode 1999-2004 terlibat kasus suap pemilihan DGS BI • Kasus korupsi terjadi diberbagai lembaga seperti KPU,KY, KPPU, Ditjen Pajak, BI, dan BKPM. Thomas Lickona (Profesor pendidikan dari Cortland University) menyatakan, ada sepuluh tanda-tanda zaman yang harus diwaspadai. Jika tanda-tanda itu sudah ada, berarti sebuah bangsa sedang menuju jurang keterpurukan. Tanda-tanda yang dimaksud adalah : 1. meningkatnya kekerasan di kalangan remaja; 2. penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk; 3. pengaruh peer-group yang kuat dalam tindak kekerasan;


PERMASALAHAN BANGSA & NEGARA 1. Disorientasi dan belum dihayatinya nilainilai Pancasila 2. Keterbatasan perangkat kebijakan terpadu dalam mewujudkan nilai-nilai Pancasila. 3. Bergesernya nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

-

RENCANA AKSI NASIONAL BID POLHUKAM, BID KESRA, BID PEREKONOMIAN

PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA

4. Memudarnya kesadaran terhadap nilainilai budaya bangsa.

-

5. Acaman disintegrasi bangsa 6. M e l e m a h n y a k e mandirian bangsa.

Tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, patriotik, dinamis, berbudaya, dan berorientasi Ipteks berdasarkan Pancasila dan dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

BANGSA YANG MERDEKA, BERSATU, BERDAULAT, ADIL DAN MAKMUR

STRATEGI 1. 2. 3. 4. 5.

LINGKUNGAN STRATEGIS

BANGSA BERKARAKTER

ALUR PIKIR PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA

SOSIALISASI PENDIDIKAN PEMBERDAYAAN PEMBUDAYAAN KERJA SAMA

KONSESUS NASIONAL PANCASILA

Memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa.

UUD 45 BHINEKA TUNGGAL IKA NKRI SUMBER: KEBIJAKAN NASIONAL PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA

4. meningkatnya perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol dan seks bebas; 5. semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk; 6. menurunnya etos kerja; 7. semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru; 8. rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara, membudayanya ketidakjujuran; dan 9. adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama. Jika disimak dengan berbagai permasalahan yang melanda negeri ini, setidaknya meng-

gambarkan bahwa keteladanan telah hilang. Jika keteladanan telah hilang, bakal berhasilkah penerapan pendidikan karakter maupun pendidikan budi pekerti di sekolah? Atau, jika saat ini pendidikan karakter sangat mendesak untuk diterapkan, apakah sebelumnya tidak pernah diterapkan? Mulai 2010 lalu, pendidikan karakter nyaring didengungkan. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah mencanangkan penerapan pendidikan karakter untuk semua tingkat pendidikan, mulai dari TK, SD sampai ke perguruan tinggi. Bahkan, pemerintah juga sudah merancang Rencana Aksi Nasional (RAN) Pembangunan

Karakter Bangsa sebagai upaya mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera. (Lihat diagram alur pikir pembangunan karakter bangsa). Munculnya gagasan program pendidikan karakter dalam dunia pendidikan di Indonesia, bisa dimaklumi. Sebab selama ini dirasakan, proses pendidikan ternyata belum berhasil membangun manusia Indonesia yang berkarakter. Tapi, sebenarnya upaya untuk membentuk budi pekerti yang luhur di sekolah-sekolah bukannya tidak pernah dilakukan. Hanya saja metodeloginya masih belum effektif. Pendidikan moral dan budi pekerti baru bersifat knowing. Budi pekerti

yang luhur, moral ataupun kepribadian yang baik baru bersifat pengetahuan dan belum menjadi karakter yang melekat pada diri siswa. Bahkan, berbagai warna muatan/orientasi Pendidikan telah diterapkan oleh Departemen Pendidikan Pusat di sekolah dari jenjang SD hingga SLTA. Berikut Orientasi yang pernah dijalankan di Lingkungan Pendidikan, khsususnya di tingkat Pendidikan dasar dan menengah: 1. Pendidikan Lingkungan hidup (PLH) tahun 1995 Esensinya agar menjadi insan-insan yang peduli dengan kebersihan, merawat dan

Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011 13


G

laporan utama

menjaga lingkungannya, tertib membuang sampah di tempatnya. Ide ini tidaklah murni dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, namun terkesan titipan dari Departemen lain.

dan media seperti tayangan televisi, majalah, CD dan lainnya. Akibatnya, konsep ini juga kurang berhasil. Terbukti perilaku bullying saat itu menggejala di lingkungan sekolah dan perguruan tinggi.

2. Muatan IMTAK tahun 1996, ditik beratkan pada keimanan terhadap kebesaran dan kekuasaan Tuhan dan akhlak Pada periode ini pemerintah berusaha memberikan muatan IMTAK pada semua mata pelajaran termasuk sains dan matematika. Sayangnya, gagasan ini pun terhenti di tingkat pelaksana di lapangan. Gagasannya baik sekali, namun kondisi SDM yang tidak memungkinkan. Tanpa muatan IMTAK saja, kinerjanya masih rendah. Akhirnya bernasib sama dengan PLH.

5. Pendidikan Life Skill Tahun 2006 Nilai-nilai yang diusung adalah kepemimpinan, etika, akuntabilitas, beradaptasi, produktivitas, tanggung jawab pribadi dan tanggung jawab sosial, ketrampilan, serta tujuan hidup. Tetapi, nasibnya juga hampir sama dengan Pendidikan Budi Pekerti. Pendidikan Life skills yang diusung oleh KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) sebagai salah satu kompetensi sikap. Setiap mata pelajaran harus member muatan lifeskills dalam pembelajarannya. Bagimana hasilnya, bisa kita lihat sekarang. Dengan munculnya gagasan baru, yakni Pendidikan Karakter, bisa dipastikan Pendidikan Life skills juga tidak berhasil.

3. Pendidikan Hak Azazi Manusia (HAM) tahun 2004 Pendidikan HAM menitiberatkan nilai kasih sayang, perhatian, harkat dan martabat, kesetaraan, keadilan, persatuan dalam keragaman (Bhinneka Tunggal Ika) dan keterbukaan. Meskipun konsep ini tidak terlalu menggema, namun tidak sedikit sekolah mencoba menerapkannya. Gagasan ini kurang direspon baik. Mungkin karena sudah terpatri kata-kata: ganti menteri ganti Kurikulum. 4. Pendidikan Budi Pekerti Tahun 2004 Konsep pendidikan ini terdiri dari 85 nilai budi pekerti luhur. Gagasan tersebut bukan saja diterapkan di lingkunagan sekolah Departemen Pendidikan Nasional, namun juga di lingkungan Departemen Agama. namun, ada fakta-fakta yang bertentangan antara perilaku di masyarakat (terutama pejabat dan aparat) dengan apa yang dikembangkan di sekolah

6. Pendidikan Karakter Tahun 2010 Konsep yang digagas Departemen Pendidikan Nasional ini mengusung 18 nilai karakter. (Lihat: 18 Nilai Pembentuk Karakter). Dari perjalanan konsep yang diterapkan selama ini, mulai terlihat benang merahnya. Inti permasalahannya adalah karakter manusia, sehingga dilontarkan gagasan Pendidikan Karakter di awal tahun 2010 meski tujuan pendidikan itu sudah tertera pada Pasal 3 UU Sistem Pendidikan Nasional. 7. Pendidikan Anti-Korupsi direncanakan tahun 2011 Gagasan yang dilontarkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini mengusung 10 nilai, yaitu: jujur, kerja keras, disiplin, berani, tanggung jawab, mandiri, sederhana, adil, dan peduli. Hanya saja, proses sosialisasi Pendidikan Karakter belum saja rampung, pemerintah sudah menyampaikan gagasan baru "Pendidikan Anti-Korupsi"

ntuk 18 Nilai Pembe karakter ai pembentuk Inilah 18 nil r dari agama, bube m rsu yang be cantum , dan juga ter daya, Pancasila nasional. n pendidikan jua tu lam da di dengan rakter identik Pendidikan ka nilai luhur ainil itu ya budaya sekolah i pe ril ak u, tra di si, as ya ng m ela nd simbolseharian dan a kebiasaan ke tikan oleh semu rak dip ng ya simbol . lah ko se a empat warg t diambil dari 18 nilai tersebu n karakka idi nd pe n sig (4) grand de

1. Religius 2. ujur 3. Toleransi 4. Disiplin s 5. Kerja kera

6. Kreatif 7. Mandiri 8. Demokratis t tahu, semanga 9. Rasa ingin , kebangsaan

dan akan dilaksanakan mulai 2011. 8. Pendidikan Akhlak Mulia Dikemukakan Tahun 2011 Sambil menanti kejelasan mengenai gagasan Pendidikan Anti-Korupsi, terdengar lagi gagasan Pendidikan Akhlak Mulia yang akan dilaksanakan tahun 2011. Jika disimak perjalanan panjang kebijakan pendidikan untuk "membentuk watak bangsa" ini, konsep dan gagasan yang baik itu belum juga menunjukkan hasil yang optimal. Belakangan, malah ditekankan lagi penerapan pendidikan budi pekerti. Sebagai orang awam, terkadang sulit membedakan pendidikan budi pekerti yang selama ini diterapkan di sekolah-sekolah dengan pendidikan karakter yang sekarang sedang digalakkan pemerintah. Prof. Suyanto, Ph.D, dalam tulisannya berjudul

Karakter

enterian angkan Kem ter yang dican Kebudayaan, yaitu n da n ka idi nd Pe otional iritual and em olah hati (sp (intellectual ir pik h ola , development) kinestetik , olah raga dan nt), development) tic developme he est kin ad l e and (physica karsa (affectiv n da a ras h dan ola lopment). arcreativity deve tersebut dijab Keempat nilai pembentuk ai nil 18 kan ke dalam karakter.

h Air 10. Cinta Tana i prestasi ga ar gh en M 11. t ba 12. Bersaha tif 13. Komunika ai 14. Cinta dam baca em m ar em . G 15 gan un gk lin i 16. Pedul l 17. Peduli sosia jawab 18. Tanggung

ILUSTRASI.DEPOSITPHOTOS.COM

14 Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011

foto: internet


"Urgensi Pendidikan Karakter", memaparkan, karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat. Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia. Pendidikan yang bertujuan melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat itu, juga pernah dikatakan Dr. Martin Luther King, yakni; intelligence plus character... that is the goal of true education (kecerdasan yang berkarakter... adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya). Menurut Dr. Syarkawi, M.Pd, dalam bukunya “Pembentukan kepribadian Anak“ menyatakan, pendidikan budi pekerti adalah proses pendidikan yang ditujukan untuk mengembangkan nilai, sikap, dan perilaku yang memancarkan akhlak mulia atau budi pekerti luhur. Budi pekerti erat hubungannya dengan kepribadian. Dengan kepribadian yang baik, seseorang dapat mengapresiasi nilai-nilai yang terkandung pada budi pekerti dalam kehidupan sehari-hari. Atau sebaliknya, dengan menanamkan nilai-nilai pendidikan budi pekerti yang baik sejak dini, akan membantu pembentukan kepribadian yang berbudi pekerti luhur. Setelah pendidikan nasional dianggap gagal dalam membentuk budi pekerti yang luhur atau lebih tepatnya sekolah-

sekolah belum seluruhnya berhasil melahirkan anak-anak yang berbudi pekerti luhur, maka harus ada yang perlu diubah yaitu bagaimana pendekatan, metode dan strategi yang digunakan untuk mencapai tujuan mulia tersebut. Karena hal inilah yang sesungguhanya menentukan efektivitas dan efisiensi pembentukan kepribadian anak manusia. Jadi, pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif. Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilainilai luhur universal, yaitu: 1. cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; 2. kemandirian dan tanggungjawab; 3. kejujuran/amanah, diplomatis; 4. hormat dan santun; 5. dermawan, suka tolongmenolong dan gotong royong/kerjasama; 6. percaya diri dan pekerja keras; 7. kepemimpinan dan keadilan; 8. baik dan rendah hati, dan; 9. karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan. Kesembilan pilar karakter

itu, diajarkan secara sistematis dalam model pendidikan holistik menggunakan metode knowing the good, feeling the good, dan acting the good. Knowing the good bisa mudah diajarkan sebab pengetahuan bersifat kognitif saja. Setelah knowing the good harus ditumbuhkan feeling loving the good, yakni bagaimana merasakan dan mencintai kebajikan menjadi engine yang bisa membuat orang senantiasa mau berbuat sesuatu kebaikan. Sehingga tumbuh kesadaran bahwa, orang mau melakukan perilaku kebajikan karena dia cinta dengan perilaku kebajikan itu. Setelah terbiasa melakukan kebajikan, maka acting the good itu berubah menjadi kebiasaan.

Tantangan

Memang, tidak mudah untuk menerapkan pendidikan karakter kepada anak didik di sekolah. Bebagai tantangan dan kendala masih terlihat di depan mata. Saat ini, para siswa dengan mudahnya mendapatkan informasi mengenai carut-martunya negeri ini--yang justru dilakukan oleh orangorang yang perlu diteladani. Jangankan penyimpangan yang dilakukan pejabat, kasus contek Ujian Nasional secara massal di suatu sekolah, juga menjadikan pertanyaan, mampukan pendidikan karakter dan pendidikan budi pekerti ditanamkan kepada siswa? Paling tidak, ada beberapa hal yang menyebabkan sulitnya pendidikan karakter dan budi pekerti diterapkan di sekolah, yakni: 1. Tidak adanya keteladanan dari tokoh Pemimpin yang seharusnya menjadi contoh yang baik tetapi mereka justru melakukan perbuatan dan tindakan yang tidak terpuji,

seperti korupsi, kekerasan, dan sebagainya. Dalam pendidikan karakter, keteladanan adalah yang paling utama. Bagaimana siswa bisa percaya jika pejabat pemerintah yang seharusnya mencerminkan sosok berkarakter justru gagal memberikan wajah positif pendidikan berkarakter. Dalam banyak kesempatan, politisi Indonesia dan aparat penegak hukum mempertontonkan sifat yang kontraprodktif. Mereka mengajarkan anak nilai kejujuran, tapi mereka (para pejabat) sibuk korupsi. Anggaran negara dihabiskan demi memperkuat politik pencitraan dan mendanai operasional kelompoknya (partai politik). Selain korupsi, kalangan politisi ramai memperdagangkan produk konstitusi. 2. Tidak adanya pewarisan nilai yang baik dari para tokoh dan pemimpin baik di eksekutif, legislatif dan yudikatif. Anak diminta belajar membiasakan hidup dalam kesederhanaan dan tidak bergaya hidup konsumtif. Tapi anggota DPR bersikap kontras dengan sibuk memamerkan kemewahan, bersikap hedonistik dan rajin membeli mobil mahal. Penyimpangan perilaku membuat kita pantas merefleksikan kembali minimnya teladan pendidikan karakter. Para pemimpin bangsa dinilai masih belum berkarakter karena masih belum memikirkan kepentingan rakyat. Kepentingan bangsa masih dikalahkan kepentingan kelompok yang egosentris. 3. Pengaruh media Ini memang bad influence yang paling mempengaruhi karakter anak. Tayangan-tayangan media televisi yang dikemas kurang mendukung program pendidikan karakter. l chairoel anwar/berbagai sumber

Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011 15


G

laporan utama

Ciri-ciri Manusia Indonesia ala Mochtar Lubis

M

ochtar Lubis (alm), dalam ceramah budaya yang disampaikan di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), 6 April 1977 dan berjudul "Manusia Indonesia", memaparkan enam cir-ciri manusia Indonesia. Ceramah yang akhirnya dibukukan oleh Yayasan Obor Indonesia tahun 2001 ini masih aktual hingga kini. Apakah ciri-ciri manusia Indonesia menurut pendiri harian Indonesia Raya ini? 1. Hipokritis atau munafik Di depan umum kita mengecam kehidupan seks terbuka atau setengah terbuka, tapi kita membuka tempat mandi uap, tempat pijat, dan melindungi prostitusi. Banyak yang pura-pura alim, tapi begitu sampai di luar negeri lantas mencari nightclub dan pesan perempuan kepada bellboy hotel. Dia mengutuk dan memaki-maki korupsi, tapi dia sendiri seorang koruptor. Kemunafikan manusia Indonesia juga terlihat dari sikap asal bapak senang (ABS) dengan tujuan untuk survive. 2. Segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya. Atasan menggeser tanggung jawab atas kesalahan kepada bawahan dan bawahan menggeser kepada yang lebih bawah lagi. Menghadapi sikap ini, bawahan dapat cepat membela diri dengan mengatakan, ”Saya hanya melaksanakan perintah atasan.” 3. Berjiwa feodal Sikap feodal dapat dilihat dalam tata cara upacara resmi kenegaraan, dalam hubungan organisasi kepegawaian. Istri komandan atau istri menteri otomatis menjadi ketua, tak peduli kurang cakap atau tak punya bakat memimpin. Akibat jiwa feodal ini, yang berkuasa tidak suka mendengar kritik dan bawahan amat segan melontarkan kritik terhadap atasan.

16 Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011

4. Masih percaya takhayul Manusia Indonesia percaya gunung, pantai, pohon, patung, dan keris mempunyai kekuatan gaib. Percaya manusia harus mengatur hubungan khusus dengan ini semua untuk menyenangkan ”mereka” agar jangan memusuhi manusia, termasuk memberi sesajen. ”Kemudian kita membuat mantra dan semboyan baru, Tritura, Ampera, Orde Baru, the rule of law, pemberantasan korupsi, kemakmuran yang adil dan merata, insan pembangunan,” ujar Mochtar Lubis. ”Sekarang kita membikin takhayul dari berbagai wujud dunia modern. Modernisasi satu takhayul baru, juga pembangunan ekonomi. Model dari negeri industri maju menjadi takhayul dan lambang baru, dengan segala mantranya yang dirumuskan dengan kenaikan GNP atau GDP.” 5. Artistik Karena dekat dengan alam, manusia Indonesia hidup lebih banyak dengan naluri, dengan perasaan sensualnya, dan semua ini mengembangkan daya artistik yang dituangkan dalam ciptaan serta kerajinan artistik yang indah. 6. Tidak hemat, boros, serta senang berpakaian bagus dan berpesta Dia lebih suka tidak bekerja keras, kecuali terpaksa. Ia ingin menjadi miliuner seketika, bila perlu dengan memalsukan atau membeli gelar sarjana supaya dapat pangkat. Manusia Indonesia cenderung kurang sabar, tukang menggerutu, dan cepat dengki. Gampang senang dan bangga

pada hal-hal yang hampa. Kita juga bisa kejam, mengamuk, membunuh, berkhianat, membakar, dan dengki. Sifat buruk lain adalah kita cenderung bermalas-malas akibat alam kita yang murah hati. Selain menelanjangi yang buruk, tokoh yang ikut mendirikan Lembaga Kantor Berita Antara itu tak lupa mengemukakan sifat yang baik yang dimiliki orang-orang Indonesia. Misalnya, masih kuatnya ikatan saling tolong-menolong. Kemudian, manusia Indonesia pada dasarnya berhati lembut, suka damai, punya rasa humor, serta dapat tertawa dalam penderitaan. Manusia Indonesia juga cepat belajar dan punya otak encer serta mudah dilatih keterampilan. Selain itu, punya ikatan kekeluargaan yang mesra serta penyabar. l berbagai sumber


Pendidikan Budi Pekerti Oleh: Abdul Malik*

D Pendidikan Budi Pekerti, secara konsepsional, berarti usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur atau berakhlak mulia.

i negara kita sekarang Pendidikan Budi Pekerti dilaksanakan kembali. Kebijakan itu diambil berdasarkan, antara lain, Ketentuan Umum, Pasal 1, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mengamanatkan, “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecedasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Dengan demikian, Pendidikan Budi Pekerti secara umum bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai budi pekerti luhur kepada peserta didik supaya mereka menjadi manusia seutuhnya.

Budi Pekerti dan Pendidikan Budi Pekerti

Budi pekerti merupakan ungkapan bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Sansekerta. Kata budi berasal dari bud yang berarti ‘kesadaran, pengertian, pikiran, dan kecerdasan’. Selanjutnya, kata pekerti berarti ‘penampilan, pelaksanaan, aktualisasi, dan perilaku’. Dengan demikian, secara etimologis budi pekerti berarti ‘perilaku atau penampilan diri yang berbudi’. Dengan Pendidikan Budi Pekerti, peserta didik tak hanya diharapkan memiliki pengetahuan dan kemahiran dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; tetapi juga

mengamalkan perilaku yang mulia dalam kehidupan seharihari. Perilaku yang berbudi itu diaktualisasikan di dalam pikiran, perasaan, keinginan, sikap, perkataan, perbuatan, dan hasil karya. Berdasarkan pengertian di atas, Pendidikan Budi Pekerti, secara konsepsional, berarti usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur atau berakhlak mulia. Atas dasar itu, secara operasional, Pendidikan Budi Pekerti merupakan upaya untuk membentuk perilaku berbudi pada peserta didik yang tercermin di dalam pikiran, perasaan, keinginan, sikap, perkataan, perbuatan, dan hasil karya berdasarkan nilai, norma, dan moral luhur bangsa Indonesia melalui kegiatan pendidikan (bimbingan, pengajaran, dan pelatihan). Dalam era globalisasi ini perhatian terhadap Pendidikan Budi Pekerti memang patut diutamakan. Pasal, dampaknya tak hanya dirasakan dalam bidang ekonomi dan politik, tetapi juga dalam bidang budaya. Pelbagai nilai budaya asing yang masuk memerlukan tapisan karena tak kesemuanya positif atau cocok untuk bangsa Indonesia. Dengan pengetahuan, pemahaman, pengahayatan, dan kecintaan terhadap nilai-nilai luhur bangsa sendiri diharapkan peserta didik memiliki jati diri yang kokoh sehingga dapat bersaing secara bermartabat dengan bangsa mana pun di dunia ini. Dengan begitu, mereka dapat mempersiapkan dan membangun masa depannya, bangsanya, dan negaranya dengan lebih baik.

Telah disebutkan di atas bahwa pedoman nilai Pendidikan Budi Pekerti adalah norma, nilai, moral luhur bangsa kita sendiri, Indonesia. Dengan demikian, setiap daerah dapat memanfaatkan nilai-nilai yang terkandung di dalam puncak-puncak kebudayaan daerah masing-masing untuk ditransferkan kepada peserta didik. Dalam hal ini, nilai-nilai Pancasila tetaplah menjadi rujukan utama. Berdasarkan kenyataan itu, Pendidikan Budi Pekerti menjadi upaya yang bagaikan “sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.” Dengan ungkapan itu dimaksudkan, melalui Pendidikan Budi Pekerti peserta didik diperkenalkan secara lebih intensif lagi dengan budaya terala (luhur) bangsanya sendiri sehingga diharapkan mereka akan lebih mencintainya. Lebih daripada itu, mereka memperoleh pedoman nilai, norma, dan moral untuk diaktualisasikan dalam perilaku hidup seharihari. Alhasil, akan terbentuk generasi penerus bangsa yang tak hanya menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; tetapi juga berbudi pekerti halus dan berkarakter sesuai dengan kepribadian bangsanya sendiri.

Pelaksanaan Pembelajaran

Setakat ini kebijakan yang diambil untuk mengimplementasikan Pendidikan Budi Pekerti melalui pengintegrasian (pemaduan) ke dalam mata pelajaran yang telah ada. Hal itu berarti Pendidikan Budi Pekerti disepadukan ke dalam mata pelajaran Pendidikan Agama,

Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011 17


G

laporan utama

Bahasa Indonesia, Pendidikan Kewarganegaraan, dan sebagainya. Dalam pelaksanaannya, nilai-nilai budi pekerti ditransferkan kepada peserta didik melalui mata pelajaran tersebut yang disesuaikan dengan materi yang diajarkan. Dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia yang membahas materi tentang berbicara, misalnya, peserta didik tak hanya diarahkan untuk berbicara secara logis, sistematis, dan rasional; tetapi juga dipandu untuk menunjukkan sikap sopan-santun (berbudi). Begitu pulalah sebaliknya ketika menanggapi pembicaraan orang lain, sikap harga-menghargai, hormat-menghormati, bertimbang rasa, dan sebagainya sebagai nilai budi pekerti yang harus diutamakan. Kepulauan Riau menetapkan nilai-nilai yang terdapat di dalam Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji sebagai nilai utama yang menjadi rujukan Pendidikan Budi Pekerti di daerah ini. Di samping itu, juga dimanfaatkan nilai-nilai yang terdapat di dalam khazanah budaya pantun, syair, peribahasa, nazam, lagu rakyat, cerita rakyat, dan sebagainya. Khazanah budaya itu tak diragukan lagi memang mengandung nilai-nilai terala lagi ranggi. Gurindam Dua Belas, misalnya, berisi pedoman hidup yang sangat mulia, yang tak sesiapa pun akan membantahnya. Bahkan, karya Raja Ali Haji itu menjadi materi pelajaran Bahasa Indonesia secara nasional. Perihal Gurindam Dua Belas dijadikan rujukan utama Pendidikan Budi Pekerti di daerah ini tak terlepas dari gagasan H. Muhammad Sani, Gubernur Kepulauan Riau. Dalam beberapa kesempatan, beliau menyampaikan bahwa sangat patut dan tepat apabila karya Raja Ali Haji itu dijadikan acuan Pendidikan Budi Pekerti. Ternya-

18 Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011

ta, gagasan tersebut mendapat sambutan hangat dari kalangan praktisi pendidikan, baik nasional maupun daerah karena memang sangat cocok dengan matlamat pendidikan yang hendak dilaksanakan. Jadilah Provinsi Kepulauan Riau daerah pertama yang mengimplementasikan Pendidikan Budi Pekerti dari semua provinsi di Indonesia. Setakat ini para guru dan pengawas dari tingkat sekolah dasar (SD), SMP/ MTs, sampai SMA/MA/SMK telah mendapat pelatihan untuk mengimplementasikan nilainilai yang terdapat di dalam Gurindam Dua Belas dan nilainilai budaya Melayu menjadi bahan dan media Pendidikan Budi Pekerti. Pengintegrasian itu dilakukan ke dalam pemetaan materi, silabus, dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Pada gilirannya nanti, sudah tentulah dikembangkan buku teks untuk melengkapi semua sarana pembelajaran yang diperlukan.

Pentingnya Buku Paket

Ada satu hal mustahak ditemui ketika berdiskusi dengan teman-teman guru kesemua peringkat di Kepulauan Riau. Ketika membahas materi “Tokoh Idola�, misalnya, mereka menampilkan tokoh nasional, tetapi tak satu pun yang berasal dari daerah ini. Jika kenyataan itu terus berlanjut, dapat dipastikan akan terkesan di pikiran para peserta didik bahwa di daerahnya tak ada tokoh yang patut dijadikan idola. Padahal, kita tahu bahwa ada banyak tokoh yang memiliki reputasi nasional dan internasional dari daerah ini dalam perjalanan sejarah bangsa ini. Dengan keadaan seperti itu, bukan tak mungkin para peserta didik hanya tahu bahwa Gurindam Dua Belas yang mereka pelajari, misalnya, tetapi mereka tak mengenal Raja Ali

Haji, pengarangnya, secara memadai. Pendek kata, mereka jadi lebih mengenal tokoh nasional dari daerah lain dibandingkan dengan tokoh dari daerahnya sendiri. Bukan berarti para peserta didik tak boleh mengenal tokoh dari daerah lain, hanya pengenalannya secara proporsional (berimbang) dengan tokoh yang berasal dari daerahnya sendiri akan memberikan kebanggaan yang lebih dalam diri peserta didik kita. Ketika saya tanyakan penyebab hal itu terjadi kepada teman-teman guru kita, mereka secara aklamasi menjawab ini. Buku paket yang mereka gunakan di sekolah memang hanya memuat tokoh-tokoh nasional dari luar daerah ini. Itulah puncanya. Para pendidik dan peserta didik kita sangat tergantung pada buku paket. Malangnya, buku-buku paket itu dan buku bacaan lainnya umumnya ditulis oleh penulis dan diterbitkan oleh penerbit dari daerah lain. Tentulah mereka hanya memperkenalkan tokoh-tokoh dari daerah mereka saja karena, mungkin, hanya tokoh dari daerah mereka saja yang mereka kenal. K o t a Ta n j u n g p i n a n g memang telah cukup banyak menerbitkan buku yang berkaitan dengan ketokohan para pelaku sejarah daerah ini. Akan tetapi, jumlah buku yang dicetak masih sangat terbatas, antara 1.000 sampai dengan 2.000 buku setiap judul. Tentulah buku-buku itu tak memenuhi keperluan buku teks untuk semua sekolah di Kepulauan Riau dan tak kesemuanya sampai ke sekolah-sekolah di daerah ini. Bahkan, ada buku yang ditulis di daerah ini telah menjadi bacaan di perguruan tinggi di Amerika Serikat dan Australia, tetapi sekolah dasar di Kabupaten Karimun saja, misalnya, tak memilikinya. Itulah ironisnya. Lagi pula,

buku-buku itu belum tersusun menurut standar keterbacaan berdasarkan peringkat pendidikan (pendidikan dasar sampai dengan pendidikan menengah menurut kelasnya). Pasal apa? Pasal, buku-buku itu umumnya ditulis untuk bacaan umum, bukan khusus untuk buku pelajaran (buku paket) sekolah berdasarkan jenjang pendidikannya.

Penutup

Dengan memperhatikan perkara di atas, sudah pada tempatnyalah diupayakan penulisan dan penerbitan buku-buku pelajaran untuk sekolah-sekolah kita di sini. Buku-buku yang dimaksud, terutama, yang berkaitan dengan tokoh-tokoh dan nilai-nilai budaya daerah sehingga dapat menyokong pengembangan Pendidikan Budi Pekerti dan jenis pendidikan yang lain di sekolah-sekolah. Buku-buku itu harus disusun berdasarkan peringkat kelas untuk semua jenjang pendidikan. Kalau pun tak dapat dalam bentuk buku paket, buku bacaan pelengkap pun sudah memadai pada tahap permulaan. Penyusunan dan atau penulisan buku-buku itu harus memenuhi standar didaktikmetodik, keterbacaan, cakupan materi kurikulum, dan kebakuan bahasanya. Para penulisnya haruslah orang-orang yang memang memahami akan hal-hal penting itu sehingga bermanfaat bagi dunia pendidikan. Pendidikan memang tak dapat dipisahkan dengan buku walaupun tak hanya buku yang digunakan orang untuk belajar. Oleh sebab itu, ketersediaan buku yang cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya, akan ikut menentukan tercapainya tujuan pendidikan. Hal ini tergolong mendesak jika kita ingin tujuan Pendidikan Budi Pekerti tercapai. l


Merajut Karakter Pendidikan Melalui Gurindam 12 Oleh: Drs. Surya Makmur Nasution, M.Hum.*

S Pemerintah provinsi, kabupaten dan kota sudah saatnya memikirkan kembali bagaimana membuat kebijakan pendidikan di Kepri yang berorientasi kepada pendidikan berkarakter yang nilai-nilainya diambil dari khazanah kebudayaan lokal. Muatan kebijakannya bukanlah berorientasi hanya mengatur hubungan antara guru dan murid, dinas pendidikan, tapi harus melibatkan seluruh elemen masyarakat, terutama orangtua.

atu demi satu media mengekspos perilaku penyimpangan yang dilakukan oleh anak-anak sekolah di Kepulauan Riau (Kepri). Media seperti tiada henti terus memberitakan perilaku penyimpangan anak sekolah dari beragam peristiwa yang menimpa kalangan pelajar yang disebut sebagai generasi penerus calon pemimpin bangsa di masa depan. Modus perilaku penyimpangannya pun beragam. Bukan sekadar membolos sekolah, tidak disiplin mengikuti proses belajar, atau merokok di dalam atau di luar sekolah. Lebih jauh lagi, perilaku penyimpangan yang dilakukan anak-anak pelajar sudah di luar kebiasaan yang pada umumnya mewarnai dalam dinamika keseharian pelajar. Betapa tidak. Berbagai peristiwa yang menghiasi pemberitaan media akhir-akhir ini, para pelajar telah terperangkap dalam jebakan hedonisme, anak kandung dari kapitalisme yang rahimnya berasal dari ideologi sekularisme. Perilaku seks bebas di kalangan anak pelajar. Menenggak minuman beralkohol dengan obat-obat berbahaya sambil duduk di diskotek atau bar, seakan menjadi hal lumrah dan biasa-biasa saja. Sadar atau tidak. Ini adalah badai “tsunami� yang tengah

mengancam pendidikan kita. Wabah perilaku hedonisme didukung oleh realitas lingkungan sosial yang mem-

berikan tempat dan waktu untuk menyapa siapa saja, termasuk di lingkungan keluarga. Kemajuan teknologi informasi, seperti internet, handphone, dan televisi yang seharusnya berdampak positif untuk membantu dan mempermudah bagi kebutuhan kalangan pelajar, akhirnya menjadi candu dan racun. Saban hari televisi mengeksploitasi aib artis dalam hubungan asmara atau pun perceraian perkawinan sebagai tontonan. Acara televisi yang mengumbar birahi dan sensualitas tanpa kenal waktu, mulai pagi hingga dini hari. Film-film kartun yang se-

harusnya memberi hiburan dan pendidikan kepada anak, malah menjadi tontonan tak seronok, tak pantas dilihat anak. Bermain internet di warnet dengan bebas membrowsing gambar porno. Chatting korespondensi mengumbar birahi dari dunia maya ke copy darat. Mengabadikan perbuatan mesum melalui telepon seluler menjadi kebanggaan. Makanya tidak heran, jika anak-anak sekolah lebih senang membeli pulsa seharga Rp20.000 sampai Rp50.000, daripada membeli buku atau menabungkan uangnya di bank. Bermain games dan internet di warnet berjamjam yang sedikitnya membayar Rp10.000 sampai Rp20.000. Lihatlah dampaknya. Lagilagi media memberitakan perilaku menyimpang anak sekolah di Kepri. Berita terakhir, Selasa 25 November 2008, adalah seorang siswi kelas 1 (satu) salah satu SMA di Tanjungpinang yang membuang orok bayi ke dalam parit di depan rumahnya. Diketahui, orok bayi itu adalah anak yang dilahirkannya sendiri di dalam kamar mandi di rumahnya dari hasil hubungan “gelap�dengan pacarnya, seorang koki di salah satu hotel Tanjungpinang. Tragisnya, hubungan layaknya suami istri di luar nikah secara sah ini sudah berlangsung sejak siswi tersebut

Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011 19


G

laporan utama

duduk di bangku SLTP. Sebelumnya, pada tahun 2008 ini juga media mengekspos peristiwa “pesta� seks tiga pasang pelajar SLTP di salah satu hotel di Batam. Seorang siswi dinikahkan di kantor Polsek Sekupang bersama pacarnya setelah ditangkap di salah satu hotel di Batam. Kemudian di Tanjungpinang, kepolisian sektor kota menangkap sejumlah pelajar di dua tempat ketika melakukan “pesta� minuman memabukkan. Di Karimun ada pelajar yang mengabadikan perbuatan seks bebasnya dengan telepon seluler. Di Tanjung Uban, Bintan, seorang anak sekolah dasar (SD) mencabuli anak TK setelah melihat film porno (Batam Pos, Kamis 27 November 2008). Inilah sebagian dari potret nyata perilaku pelajar kita di Kepri. Apa yang terekspos di media hanyalah gambaran kecil dari sebagian potret permasalahan yang dihadapi oleh pelajar. Tidak tertutup kemungkinan kejadiankejadian serupa telah terjadi di kalangan pelajar lainnya, hanya saja tidak terekspos atau terc i u m media. Perilaku penyimpangan

tersebut ibarat fenomena gunung es. Yang terlihat di atas puncak saja, tapi sesungguhnya telah menyebar di bawahnya. *** Fenomena perilaku penyimpangan pelajar ini tidak boleh dianggap hal wajar dan biasa. Rangkaian peristiwa perilaku penyimpangan yang dihadapi sebagian kalangan pelajar kita di Kepri sudah melampaui dari sikap dan perilaku di luar kewajaran. Kita tidak bisa hanya sekadar mengungkapkan prihatin dan miris atau pun sedih melihatnya. Kita pun tidak boleh hanya menyerahkan persoalan tersebut kepada orangtua murid, pelajar atau guru. Begitu juga menyalahkan teknologi sebagai kambing hitam rusaknya karakter anak. Seluruh stakeholder pendidikan, termasuk di dalamnya pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan, DPRD, masyarakat (ahli/tokoh pendidikan, ulama, orangtua murid dan orangtua yang duduk di komite sekolah), harus ikut bertanggungjawab. Ikut aktif untuk duduk bersama membicarakan dan menyelesaikannya. Dari mana memulainya agar akar permasalahan yang dihadapi kalangan pelajar

dapat efektif dijalankan? Untuk memulai mengatasi permasalahan perilaku penyimpangan pelajar, tidak bisa tidak, dalam menjalankan sistem pendidikan kita harus memiliki karekater atau jati diri pendidikan. Karakter atau jati diri pendidikan sangat dibutuhkan karena di sanalah bermulanya suatu proses pendidikan. Sebab, pendidikan bukanlah sesuatu yang given, terberi, tapi, proses menjadi, yaitu sebuah proses terus menerus untuk menjadi. Sebagaimana dikemukakan para ahli, bahwa pendidikan itu bukanlah sekadar transfer pengetahuan (transfer of knowledge), tapi alat wahana pembentukan kepribadian (character building), mulai dari pola pikir, kejiwaan dan pola tingkah laku (attitude). Dimana kita cari karakter pendidikan tersebut, jawabnya, tentu ada di tempat kita ini, di Kepri. Kita tak perlu melihat atau mencarinya di luar daerah kita, apalagi berasal dari budaya asing yang belum tentu sesuai dengan karakter budaya kita. Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Pendidikan, Baedhowi mengatakan, pendidikan di sekolah bukan cuma memberi pengetahuan, tetapi melengkapi siswa dengan keterampilan, kemampuan dan karakter. Sayangnya, para guru terjebak untuk mengajarkan pencapaian nilai akademik tinggi, sedangkan

masalah non-akademik pembentukan karakter, kepribadian, sikap, etos kerja, nasionalisme, termasuk soft skill terabaikan (Kompas, 18/11/2008). *** Kepri sebagai Tanah Melayu yang identik dengan Islam memiliki tamadun yang tinggi. Sesungguhnya tidak sulit untuk digali jika kita memang mau untuk mencarinya. Gurindam 12 karya agung Raja Ali Haji sesungguhnya sarat bermuatan nilai-nilai sebagai kekuatan budaya lokal yang sesungguhnya dapat menjadi titik masuk pencarian karakter atau jati diri pendidikan kita di Kepri. Pemerintah provinsi, kabupaten dan kota sudah saatnya memikirkan kembali bagaimana membuat kebijakan pendidikan di Kepri yang berorientasi kepada pendidikan berkarakter yang nilai-nilainya diambil dari khazanah kebudayaan lokal. Muatan kebijakannya bukanlah berorientasi hanya mengatur hubungan antara guru dan murid, dinas pendidikan, tapi harus melibatkan seluruh elemen masyarakat, terutama orangtua. Profesor Winarno Surakhmat, guru besar dan ahli pendidikan Universitas Negeri Jakarta mengatakan, kebudayaan Melayu dapat dijadikan sebagai pembentukan karakter pendidikan anak di Kepri. Nilai-nilai kearifan lokal dari khazanah kebudayaan Melayu sangat tepat dan cocok dalam pembentukan karakter pendidikan anak di Kepri (disampaikan dalam Training Akhlak Mulia tingkat SMA/Mahasiswa se-Kepri di Batam, 27 Desember 2007). Oleh karena itu, jika Pemerintah Provinsi atau Pemerintah Kabupaten/Kota se-Kepri hendak membuat

20 Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011

foto: internet


G Peraturan Daerah tentang pendidikan, maka yang utama adalah bagaimana menciptakan karakter pendidikan khas Kepri di sekolah-sekolah menjadi komitmen dan gerakan bersama. Ke b i j a k a n p e n d i d i k a n berkarakter bukan hanya sekadar diajarkan guru di sekolah-sekolah secara verbalistik, tapi, menyatu dalam keteladanan seorang guru dihadapan murdinya. Tidak mungkin seorang guru melarang muridnya untuk merokok, misalnya, bila guru tersebut ternyata seorang perokok berat (smoker). Oleh karena itu, penanaman karakter anak sangat bergantung daripada karakter dan keteladanan seorang guru. Ungkapan, “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”, meskipun ungkapan itu tidak sepenuhnya benar, tapi hal itu patut menjadi renungan buat para guru. Tentang karakter guru, peringatan Baedhowi patut direnungkan, bahwa pendidikan tidak semata mengusai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi memiliki karakter manusia Indonesia yang kuat. Untuk itu, Indonesi butuh pendidik (guru) yang cerdas dan berkarakter kuat. Hal sama juga hendaknya dilakukan oleh orangtua murid di rumahnya masing-masing. Kesadaran orangtua murid akan pentingnya pembangunan karakter anak harus menjadi gerakan bersama. Jangan sampai dalam pikiran orangtua murid urusan pembentukan karakter cukup ditangani oleh guru di sekolah. Tentu pikiran seperti itu tidak relevan lagi. Sebab, pembentukan karakter anak yang paling efektif adalah dimulai dari sebuah keluarga. “Tiap-tiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orangtuanyalah yang dapat membentuk (karakter) anak menjadi Yahudi atau Nasrani atau Majusi.” (al-

Hadist Riwayat Bukhari). *** Kebudayaan Melayu yang identik dengan Islam mengajarkan, agar pendidikan anak dimulai dari keluarga. Orangtua sejak anak dalam kandungan rahim seorang ibu, anak sudah dapat mengajarkan tentang mengenal Tuhan Sang Pencipta. Sejak dini anak diajarkan untuk tidak menyekutukan Tuhan sebagaimana Lukmanul Hakim mengjarkan anaknya (Qur’an Surat (QS) 31 (Luqman):13). Kemudian, Lukmanul Hakim juga mengajarkan agar anak tidak durhaka kepada kedua orangtuanya (QS. 31:14-15). Berlaku lemah lembut kepada ibu-bapanya selama tidak bertentangan dengan perintah-perintah Allah. Apabila kedua orangtuanya mengajak mensyarikatkan Tuhan-Nya, maka tolaklah dan pergaulilah mereka dengan baik. Atas dasar itulah, dalam ajaran Islam, begitu anak lahir, kedua orangtuanya dianjurkan memperkenalkan dan memperdengarkan keagungan asma Allah SWT. Kebesaran dan kemahakuasaan Tuhan Sang Pencipta, al-Khaliq, dibunyikan di telinga kanan dan telinga kirinya, melalui seruan azan dan iqamah. Kemudian, setelah berumur 7 tahun anak sudah disuruh mengerjakan solat lima waktu, bahkan diperkenankan anak untuk “dipukul” (bukan menyakiti dengan kekerasan) bila umur 10 tahun tidak mau solat. Bahkan, di usia 7 tahun, anak laki-laki sudah harus dipisahkan tidurnya dari orangtuanya dan saudara perempuannya. Ini hanya contoh terkecil dari bagaimana menanamkan dan membangunkan karakter anak. Banyak lagi pesan-pesan moral dan kekayaan budaya lokal yang dapat membangun karakter anak, seperti kekuatan sastra dan seni yang ada di Kepri. Tanah Melayu yang kesohor dengan

karya-karya sastranya, seperti Gurindam 12 karya Raja Ali Haji, sangat tepat jika dijadikan sebagai titik masuk untuk memulai dan menemukan karakter atau jati diri anak. Marilah kita simak satu demi satu pesan-pesan yang ada di dalam Gurindam 12. Secara ringkas pesan-pesannya adalah, anak diajarkan untuk mengenal Tuhan sebagai Rob-Nya (pasal ke-1). Anak diajarkan untuk melaksanakan ajaran agama (syari’at) (pasal ke-2). Anak diajarkan untuk menjaga mata dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan sia-sia dan tercela (pasal ke-3). Jiwa anak diajarkan untuk memiliki karakter atau jati diri, seperti tidak bersifat dengki, tidak bohong, tidak pemarah, tidak berkata kotor (pasal ke-4). Anak diajarkan mengenal budi bahasanya sebagai jati diri anak bangsa (pasal ke-5). Anak diajarkan untuk berinteraksi sosial dengan baik, seperti mencari dan memilih kawan yang setiawan (pasal ke-6). Anak diajarkan untuk tidak banyak berbual, tidak berlebih-lebihan dalam keseharian, tidak banyak tidur, agar anak tidak menyianyiakan masa hidupnya (pasal ke-7). Anak diajarkan untuk tidak berbuat khianat kepada diri sendiri, dan apalagi terhadap orang lain. Anak juga diajarkan untuk bersikap pamrih dalam berbuat kebaikan (pasal ke-8). Anak diajarkan untuk tidak mengikuti hawa nafsu agar tidak diperbudak syaitan (pasal ke-9), Anak diajarkan berbuat baik kepada ibu-bapanya dan berbuat adil kepada sesama (pasal ke-10), Anak diajarkan untuk berbuat jasa terhadap masyarakat dan memegang amanah, kepercayaan, bukan berkhianat (pasal ke-11) dan anak diajarkan agar menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana (pasal ke-12).

Melihat pesan-pesan dalam Gurindam 12, saya berpendapat, sudah saatnya pendidikan di Kepri menjadikan nilai-nilai yang ada dalam Gurindam 12 sebagai titik masuk membangun karakter dan jati diri pendidikan di Tanah Melayu, Bumi Segantang Lada ini. Para orangtua dan guru di sekolah-sekolah sudah saatnya mengajarkan atau memperkenalkan Gurindam 12 kepada anak dengan metodologi yang menyenangkan dan dapat menggugah kesadaran dan emosional anak. Patut diingat, mengajarkan sastra kepada anak, berarti membangun kepercayaan diri sang anak. Khalifah Umar bin Khattab pernah memberi pesan kepada orang-orangtua di Jazirah Arab agar mengajarkan sastra kepada anak-anak mereka agar menjadi pemberani. “Ajarkanlah sastra pada anak-anak mu, agar anak pengecut menjadi pemberani.” Sebagai penguat itu semua, Al-Qur’an telah mengingatkan agar khawatir meninggalkan genarasi yang lemah di belakang kita kelak karena hal itu akan menjadi penyebab kehidupan anak kelak menjadi sengsara dan miskin (QS. 4(an-Nisa): 9). Patut kita ingat, kefakiran mendekati kepada kekufuran. Tidak ada kata terlambat. Jika kita hendak memperbaiki parahnya kerusakan perilaku penyimpangan anak, sudah saatnya karakter atau jati diri anak-anak Kepri harus segera dibentuk. Sekaranglah saatnya untuk menyelematkan anak-anak kita agar hidup mereka menjadi kuat dan sejahtera kelak. Saya, Anda dan kita semua, bertanggungjawab untuk menyiapkan anak sebagai generasi yang berkarakter, yaitu generasi yang kuat dan cerdas. (*) Wakil Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Kepri

Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011 21

foto: joko al muchlis


G

telaah

Membuka Kunci Belenggu Wacana Prestasi Akademik Oleh: Encik Abdul Hajar*

Siswa dijejali dengan muatan kurikulum yang ketat, untuk menjawab tantangan masa depan yang semakin sulit. Ujian Nasional dengan standar nilai kelulusan yang sedemikian tinggi bagi seluruh siswa tanpa ‘pengecualian’, dengan pandangan visi ke depan mempersiapkan generasi yang mampu bersaing secara global dengan kemampuan muatan akademik dan keterampilan akademik yang dimiliki. 22 Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011


P

enulis tertarik dengan terminologi Wacana Prestasi Akademik dan Wacana Perkembangan Manusia oleh Thomas Armstrong, Ph.D, seorang akademisi dan telah menulis banyak buku-buku pendidikan di antaranya best seller Multiple Intelligences in the Classroom. Tulisan beliau dalam bukunya The Best Schools: How Human Development Research Should Inform Educational Practice (Virginia, 2006) telah diterjemahkan oleh Lovely dan Mursid Widjanarko (2001) memaparkan secara faktual dan ilmiah kegalauan beliau terhadap paradigma pendidikan yang ada sekarang ini yang sudah mulai bergeser jauh dari tujuan utama sekolah yakni untuk mendidik siswa menjadi manusia seutuhnya. Istilah Wacana Prestasi Akademik adalah suatu paradigma di dalam masyarakat umum yang memandang bahwa tujuan pendidikan semata-mata untuk mendukung, mendorong dan memfasilitasi kemampuan siswa dalam meraih nilai tinggi dan nilai tes standar dalam pelajaran sekolah, terutama pelajaran-pelajaran yang diujikan secara nasional. Sedangkan Wacana Perkembangan Manusia sebagai suatu paradigma yang memandang bahwa pen didikan sebagai suatu upaya memfaslitasi perkembangan manuasia yang bertujuan untuk mengungkapkan atau melejitkan potensi yang terdapat dalam diri manusia, dan juga makna mengurai, membuka atau membebskan manusia dari keterkukungan, kerumitan atau rintangan.

Kritisi Wacana Prestasi Akademik

Dari dua wacana tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa sebenarnya sistem pendidikan kita menganut Wacana Prestasi

Akademik. Sebagai pendidik, pengajar, peserta didik, orang tua, masyarakat dan juga pemerintah selama ini orientasi tujuan kita dalam belajar dan mengajar adalah membuat anak berhasil secara akademis yang ditandai dengan angka-angka nilai ujian. Prestasi akademik siswa ditekankan muatan akademik (kesusasteraan, sains dan matematika) dan keterampilan akademik (membaca, menulis, memecahkan masalah dan berpikir kritis, plus keterampilan Teknologi Informasi dan Komputer). Dengan Wacana Prestasi Akademik , kurikulum pendidikan kita cenderung ketat, seragam dan wajib bagi semua siswa hampir tanpa pengecualian. Siswa dituntut untuk menerima pelajaran yang sama semuanya, makin lama makin sulit; mendengarkan penjelesan guru lebih lama; belajar lebih keras; mengerjakan pekerjaan rumah lebih banyak daripada yang mereka alami sebelumnya; dan lebih banyak membaca, menulis, serta terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah. Siswa dijejali dengan muatan kurikulum yang ketat, untuk menjawab tantangan masa depan yang semakin sulit. Ujian Nasional dengan standar nilai kelulusan yang sedemikian tinggi bagi seluruh siswa tanpa ‘pengecualian’, dengan pandangan visi ke depan mempersiapkan generasi yang mampu bersaing secara global dengan kemampuan muatan akademik dan keterampilan akademik yang dimiliki. Jika kebanyakan siswa yang tidak mencapai standar nilai Ujian Nasional yang ditetapkan, pihak legislatif dalam hal ini DPR dan DPRD menilai pemerintah telah gagal melaksanakan sistem pendidikan yang telah diamanatkan. Pemerintah yang dalam hal ini Kementerian

Pendidikan dan Kebudayaan di tingkat Pusat dan daerah (provinsi dan kabupaten/kota) menganggap satuan pendidikan (sekolah) telah gagal menyelenggarakan proses pendidikan yang baik sehingga siswa banyak yang tidak lulus Ujian Nasional. Kepala sekolah kecewa atas kerja keras guru selama ini yang telah melaksanakan proses belajar mengajar di kelas walaupun sebagian besar siswanya masih banyak yang lulus. Guru merasa kasihan dan prihatin atas masa depan siswanya yang tidak lulus, karena banyak di antara mereka yang justru memiliki potensi yang jauh lebih baik dibandingkan mereka yang lulus. Siswa yang tidak lulus seperti divonis ‘gagal’ dalam hidup dan kehidupannya, terbanyang masa depan yang gelap di depan mata. Begitu pula halnya dengan orang tua mereka, ada rasa malu membayangi antar sesama orang tua dan tetangga lainnya karena anak mereka tidak lulus Ujian Nasional, justru cendrung menyalahi dan mengadili anak mereka yang tidak lulus karena tidak sungguh-sungguh belajar dan dianggap tidak amanah kepada orang tua. Begitulah segelintir rangkaian asumsi yang membangun Wacana Prestasi Akademik yang mewarnai pendidikan kita pada saat ini. Pasti kita semua sepakat bahwa prestasi akademik itu adalah hal yang baik. Kita semua pasti menginginkan siswa yang bekerja keras, banyak belajar, mendapat nilai yang bagus, dan nantinya akan menjadi seseorang yang berguna dalam hidupnya. Masalahnya, paradigma pendidikan kita sekarang ini lebih sebatas pada kerangka memikirkan skor nilai ujian saja, banyak sekali aspek dan makna pendidikan yang sepertinya

terabaikan, memudar tertutupi dengan pemikiran akan nilainilai ujian semata. Kalau pun ada wacana Pendidikan Karakter masih sebatas wacana pembuka saja, belum menyentuh kepada substansi operasional yang dapat diimplementasikan terutama di dalam kelas.

Dampak Negatif Wacana Prestasi Akademik

Konsentrasi kita yang berlebihan untuk menciptakan dan mencapai standar yang sama, mengimplementasikan kurikulum yanag ketat dan menaikkan nilai-nilai ujian, menimbulkan konsekuensi atau dampai negatif yang nyata bagi pendidikan kita. Beberapa dampak negatif tersebut diuraiakan oleh Armstrong sebagai berikut: 1. Wacana Prestasi Akademik menimbulkan bidangbidang yang terabaikan di kurikulum, yang merupakan bagian dari pendidikan secara utuh yang diperlukan siswa guna meraih keberhasilan dan pemenuhan dalam hidup. Karena konsentrasi kita pada pencapaian hasil Ujian Nasional semata, yang hanya terfokus pada mata pelajaran tertentu saja, sehingga pelajaran yang lainnya seperti Agama, PKn, Seni Budaya, Penjaskes dan lainnya terabaikan dan dianggap tidak penting. Padahal banyak siswa yang memiliki potensi yang tinggi dalam bidang Seni Budaya dan Olahraga misalnya yang justru dapat menjadi kunci sukses keberhasilan mereka di masa yang akan datang. 2. Wacana Prestasi Akademik mengakibatkan terjadinya pengabaian intervensi instruksional positif yang tidak bisa dinilai oleh data dari penelitian ilmiah.

Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011 23


G

telaah

foto.net

Ujian Nasional hendaknya kembali kepada hakikat yang sebenarnya sebagaimana diamanatkan oleh undang-undang yakni sebagai alat untuk pemetaan dan pengendali mutu pendidikan nasional, maka jangan ditambahkan lagi fungsinya sebagai alat penentu kelulusan siswa. Sehingga hasil Ujian Nasional itu benar-benar dapat dipercaya dijadikan alat pemetaan dan pengendali mutu pendidikan.

Sistem pendidikan di sekolah yang menyamaratakan siswa, program, cara dan target belajar mereka dalam satu kelas, hampir tidak memberi peluang kepada guru untuk melakukan tindakan-tindakan instruksional positif tertentu kepada siswa tertentu yang mungkin tindakan tersebut tidak bisa dibenarkan karena tidak bisa diteliti secara ilmiah. Sehingga guru sangat jarang melakukan tindakan-tindakan luar biasa untuk membantu siswa memahami satu materi pelajaran selain melakukan kegiatan pembelajaran biasa pada umumnya. 3. Wacana Prestasi Akademik mendorong pengajaran hanya demi persiapan menghadapi ujian. Momok Ujian Nasional yang merupakan tujuan dan target keberhasilan pendidikan

24 Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011

di sekolah membuat sekolah dan guru melakukan rekayasa proses pembelajaran hanya untuk menghadapi ujian saja. Sehingga seringkali proses belajar mengajar di kelas tidak ubahnya seperti kelas Bimbingan Belajar (Bimbel). Bahkan beberapa sekolah ternama di kota-kota besar di Indonesia tidak malu-malu lagi bekerja sama dengan pihak Lembaga Bimbingan Belajar dengan mengalokasikan jadwal jam pelajaran tersendiri setiap hari untuk persiapan menghadapi Ujian Nasional. 4. Wacana Prestasi Akademik mendorong siswa menyontek dan menjiplak Takut gagal dan mendapat nilai di bawah standar Ujian Nasional yang telah ditetapkan oleh Pemerintah, menyebabkan siswa berusaha menyontek dan menjiplak untuk mendapatkan

nilai yang lebih baik. Hal ini disebabkan karena orientasi keberhasilan belajar siswa hanya diukur dengan angka-angka nilai semata, yang tertanam pada pikiran siswa adalah bagaimana mendapatkan nilai bukan ilmu yang berguna bagi hidup dan kehidupan mereka. 5. Wacana Prestasi Akademik mendorong manipulasi hasil ujian oleh guru dan kepala sekolah Di banyak sekolah di seluruh Indonesia, kepala sekolah dan guru melakukan praktik manipulasi hasil ujian dan praktik kecurangan dalam penyelenggaraan Ujian Nasional, agar siswa-siswa mereka mendapat nilai yang baik, sehingga sekolah mereka dianggap berhasil. Ditambah lagi Pemerintah Daerah mengiming-imingkan penghargaan dan hadiah kepada sekolah yang meraih

kelulusan 100%, hal ini menambah kuat mengakarnya Wacana Prestasi Akademik. Bukan proses dan cara bagaimana mempersiapkan siswa dengan ilmu-ilmu yang berguna yang menjadi perhatian, tetapi berapa persentase kelulusan yang menjadi pertimbangan apakah sekolah (kepala sekolah dan guru) berhasil atau tidak. 6. Wacana Prestasi Akademik mendorong siswa menggunakan bahan-bahan ilegal untuk membantuk menigkatkan kinerja belajar. Tuntutan dan tekanan kepada seluruh siswa untuk mencapai target nilai Ujian Nasional yang telah ditetapkan sering membuat siswa mudah tergiur dengan promosi iklan produk obat-obat penguat dan pemacu konsentrasi belajar. Kalau seandainya mereka salah memilih dan tertipu oleh pesan


sponsor dari promosi produk obat tertentu, hal ini akan berdampak sangat serius. 7. Wacana Prestasi Akademik memindahkan kendali kurikulum dari pendidik di ruang kelas ke organisasi yang membuat standar dan ujian Sekarang ini apapun yang diajarkan guru di dalam kelas berorientasi kepada materimateri ujian nasional. Apalagi Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) sebagai penyelenggaraa Ujian Nasional menerbitkan Kisi-kisi Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk setiap mata pelajaran yang di-Ujian Nasional-kan. Sebagai pendidik di ruang kelas, guru hanya fokus kepada SKL tersebut dan mengabaikan materimateri lain yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh siswa tertentu di daerah tertentu yang notabene berbeda-beda di seluruh Indonesia. Tetapi begitulah dampak Ujian Nasional menyebabkan pendidikan di sekolah hanya sebatas SKL saja. 8. Wacana Prestasi Akademik mengakibatkan tingkat stres yang tinggi di kalangan pendidik dan siswa Tuntutan akan prestasi akademik yang tinggi ditandai dengan nilai-nilai yang tinggi mencapai standar yang telah ditetapkan mengakibatkan tingat stres yang tinggi dan berbahaya di kalangan pendidik, siswa, bahkan orangtua dan pemerintah. Konsekuensi dari tidak tercapainya prestasi akademik seolah berdampak besar bagi masa depan generasi muda. Padahal menurut banyak hasil penelitian, keberhasil akademik itu hanya 20% saja menentukan keberhasilan seseorang dalam hidup dan

kehidupan ini. 9. Wacana Prestasi Akademik meningkatkan kemungkinan siswa tinggal kelas dari tahun ke tahun dan keluar dari sekolah sebelum lulus Sistem Pendidikan kita yang mensyaratkan kriteria prestasi akademik di setiap jenjang, tingkat dan tahun, menyebabkan meningkatnya kemungkinan siswa yang gagal naik kelas, dan bahkan banyak yang drop out. 10. Wacana Prestasi Akademik tidak memperhatikan perbedaan latar belakang budaya individu, gaya belajar, kecepatan belajar, serta faktor-faktor penting lain yang ada dalam kehidupan anak sesungguhnya. Indonesia yang terdiri lebih dari 17.500 pulau dengan jumlah penduduk lebih dari 260 juta jiwa, tentunya tidak bisa disamaratakan perlakuan pendidikan di semua daerah. Standar Ujian Nasional dipaksakan harus sama antar siswa yang di Jakarta dengan siswa yang di Papua, tentu hal ini tidak dapat kita katakan adil. Tuntutan dan harapan pendidikan di Papua tentu berbeda dengan di Jakarta. Tidak semua yang sama rata itu adil. Justru yang adil itu adalah yang proporsional sesuai dengan kondisi di masingmasing daerah. Bagaimana mau disamakan target nilai Ujian di sekolah yang lengkap dengan segala fasilitas TIK dan guru dengan sekolah di tempat terpencil yang masih belum memiliki listrik apalagi jaringan internet. 11. Wacana Prestasi Akademik memotong habis nilai hakiki belajar demi belajar itu sendiri

Tujuan utama dari sekolah itu adalah untuk mendidik siswa menjadi manusia seutuhnya. Jadi nilai hakiki dari belajar itu sendiri adalah sebagai proses pendewasaan sehingga menjadi manusia seutuhnya. Ketika kegiatan belajar di kelas dirancang hanya untuk meningkatkan nilai ujian prestasi akademik, maka secara hakiki proses belajar akan menjadi kurang bermakna. Siswa tidak lagi belajar hanya untuk kesenangan dan proses pendewasaan, tetapi untuk memperoleh nilai yang tinggi pada ujian. Motivasi hakiki belajar mereka akan hancur. Kesenangan dalam belajar jarang ditemukan, yang ada hanyalah tuntutan-tuntutan untuk meraih nilai-nilai ujian. 12. Wacana Prestasi Akademik membuat makin menjamurnya program dan kegiatan yang tidak layak dan sesuai dilaksanakan sekolah. Wacana Prestasi Akademik membuat sekolah mengabaikan hakikat belajar sebagai proses pendewasaan yang bergantung pada tingkat perkembangan seorang anak itu sendiri. Namun karena tuntutan prestasi akademik, banyak program dan kegiatan yang semestinya tidak dilakukan tetapi terjadi di sekolah. Seperti contoh pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), padahal anak seusia 6 tahun ke bawah memiliki hak untuk tumbuh dan berkembang dengan proses lebih banyak bermain dan berinteraksi dengan teman dan alam sekitar. Tetapi sekarang kita temukan banyak orang tua berlomba-lomba mencari PAUD yang sudah mulai mengajarkan membaca dan berhitung. Bahkan banyak anak PAUD yang sudah dijajah dengan tugas-tugas pekerjaan rumah (PR), pekerjaan sekolah,

kertas kerja, belajar komputer, jam sekolah yang lebih panjang, dan bahkan ada tugas kelompok. Semua ini terjadi karena Wacana Prestasi Akademik yang sudah mewabah dan menjadi jiwa dari kultur sistem pendidikan kita. Suka atau tidak suka begitulah yang kita alami dengan sistem pendidikan kita sekarang ini. Pendidikan telah merampas hak-hak perkembangan manusia yang sebenarnya secara proporsional semestinya pendidikan itu dilaksanakan kepada siapa dan bagaimana sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh masing-masing individu.

Menyelamatkan Ujian Nasional

Kalau mau ditarik benang merah dari Wacana Prestasi Akademik pendidikan kita dengan segenap dampak negatif yang harus kita rasakan di atas, maka tentu pikiran kita sama bahwa biang belenggu dari Wacana Prestasi Akademik adalah Ujian Nasional. Dari sudut pandang positif kita memang harus melihat Ujian Nasional sebagai amanat UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang harus kita hormati, patuhi dan kita laksanakan sebagai alat pengendali mutu atau kualitas pendidikan nasional di seluruh tanah air Indonesia. Tetapi selanjutnya Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 pada pasal 68 dan juga 72 menyatakan bahwa hasil Ujian Nasional digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk penentuan kelulusan peserta diri dari program tertentu atau satuan pendidikan, menuntut Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kemudian menetapkan angka-angka standar yang harus dicapai peserta didik untuk diperhitungkan se-

Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011 25


G

telaah

bagai syarat apakah siswa layak dinyatakan “lulus” dan berhak menerima ijazah, itulah yang kemudian membuat pengaruh luar biasa dan fundamental bagi perkembangan mutu pendidikan kita. Apa yang dipaparkan sebagai dampak negatif dari Wacana Prestasi Akademik diatas merupakan Domino effect dari kebijakan penentuan kelulusan Ujian Nasional. Mencermati secara holistik terhadap kebijakan mutu pendidikan dan domino effect dari kebijakan Ujian Nasional, penulis berpikiran agar supaya Ujian Nasional itu kembali kepada hakikat yang sebenarnya sebagaimana diamanatkan oleh undang-undang yakni sebagai alat untuk pemetaan dan pengendali mutu pendidikan nasional, maka jangan ditambahkan lagi fungsinya sebagai alat penentu kelulusan siswa. Sehingga hasil Ujian Nasional itu benar-benar dapat dipercaya dijadikan alat pemetaan dan pengendali mutu pendidikan. Tidak seperti sekarang ini untuk mendapatkan predikat ‘lulus’ berbagai pihak menghalalkan segala cara memanipulasi hasil Ujian Nasional. Tentu hasil Ujian Nasional itu sendiri tidak dapat lagi dipercaya sebagai alat pemetaan mutu pendidikan nasional yang sebenarnya. Penulis sebagai praktisi pendidikan hanya bisa berharap dan mengusul kepada pemerintah yang berkewenangan agar dapat mencermati dan mengevaluasi kembali isi pasal 68 dan 72 Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tersebut diatas.

ada yang “TIDAK LULUS”. Karena pada pasal 69 ayat 4 PP No. 19 Tahun 2005 itu sendiri disebutkan “Peserta Ujian Nasional memperoleh surat keterangan hasil ujian nasional yang diterbitkan satuan pendidikan penyelenggara ujian nasional.” Dengan demikian tidak mesti lulus atau tidak lulus seorang peserta Ujian Nasional berhak mendapatkan Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional. Tinggal lagi secara pribadi penulis berharap kerendahan hati pemerintah untuk membuat kebijakan baru seiring dengan adanya wacana Wajib Belajar 12 tahun. Banyak pengaruh positif yang akan dirasakan kita semua secara nasional jikalau pemerintah berani surut kebelakang merubah pasalpasal yang mengharuskan kelulusan untuk mendapatkan sertifikat berupa ‘ijazah” seperti pada pasal 89. Sebagai ilustrasi penulis dapat menggambarkan sebagai berikut:

Tidak Ada Yang Lulus dan Tidak Lulus

3. Jika peserta didik sudah merasa puas dengan hasil Ujian Nasional yang dicapai, maka mereka dapat menerima ijazah SKHUN dengan nilai apa adanya sesuai hasil Ujian Nasional.

Mungkin agak sedikit radikal kalau penulis mengusulkan agar semua siswa yang ikut Ujian Nasional dapat dinyatakan “TAMAT”, dan tidak foto: joko Al muchlis

26 Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011

1.

Ujian Nasional dilaksanakan secara adil dan objektif dengan maksud untuk mengukur dan memetakan mutu pendidikan secara regional dan nasional, dan hasil Ujian nasional akan dituliskan pada Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional masing-masing peserta.

2. Peserta Ujian Nasional dapat mencermati hasil Ujian Nasional mereka masingmasing, apakah sudah dapat diterima atau masih belum puas dengan hasil nilai yang dicapai.

4. Jika peserta didik masih merasa belum puas dengan hasil nilai Ujian Nasional yang dicapai maka mereka dapat mengulang pelajaran disekolah selama 1 (satu) semester atau 1 (satu) tahun lagi untuk mata pelajaran yang masih dianggap rendah dan kemudian mengikuti Ujian Nasional berikutnya. 5. Pilihan sepenuhnya kepada siswa dan orang tua apakah mau tamat dan menerima ijazah atau mau memperbaiki nilai. Banyak siswa yang tidak berencana kuliah tetapi langsung bekerja atau bahkan berumah tangga, sehingga berapapun nilai ujian nasional yang didapat tidak menjadi pertimbangan lagi bagi mereka yang penting tamat dan mengantongi ijazah. Sedangkan bagi mereka yang mau melanjutkan kuliah di perguruan tinggi tentu akan mempertimbangkan nilai mereka apakah bisa bersaing untuk mendapatkan bangku kuliah yang diinginkan, jika tidak diberi kesempatan untuk memperbaiki nilai mereka yang masih kurang. 6. Konsekuensinya pemerintah dapat menyelenggarakan Ujian Nasional 2 (dua) kali dalam satu tahun guna mengakomodir peserta didik yang mengulang 1 (satu) semester atau mengakomodir siswa yang tergolong ‘cepat” (akselerasi) dalam belajar dengan penerapan Sistem Kredit Semester (SKS) 7. Apabila hal ini diterapkan kita tidak akan pernah lagi menjumpai siswa yang stres berat bahkan mencoba bunuh diri karena tidak

lulus Ujian Nasional 8. Kecil kemungkinan terjadi manipulasi atau kecurangan pelaksanaan Ujian Nasional dari pihak-pihak sekolah. 9. Tidak akan ada tekanantekanan politis dari pemerintah daerah kepada sekolah untuk meluluskan siswa 100% 10. Sistem SKS akan dapat terlaksana sesuai dengan amanat Undang Undang 11. Perguruan Tinggi dapat melakukan penerimaan mahasiswa baru setiap semester. 12. Pemerintah akan mendapatkan data yang objektif dan kredible sebagai bahan pemetaan untuk pengendalian mutu pendidikan nasional. 13. Sekolah akan lebih leluasa melakukan intervensi instruksional positif kepada siswa-siswa yang berkebutuhan dan berkecakapan khusus. 14. Pendidiikan Anak Usia Dini akan bisa lebih fokus pada memfasilitasi aktifitas masa kanak-kanak sesuai dengan tingkat perkembangannya. 15. Pelaksanaan pendidikan di sekolah akan terasa lebih ramah dan humanis sesuai dengan perkembangan anak. 16. Akan terlaksana pendidikan nasional yang berorientasi pada wacana perkembangan manusia. l Sekretaris Majelis Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau Kepala SMA Negeri 1 Tanjungpinang


G

anjangsana

Mengintip pendidikan di finlandia

Negara dengan Kualitas Pendidikan Nomor Satu di Dunia "Kita tidak belajar apa-apa kalau kita tinggal menuliskan apa yang dikatakan oleh guru. Di sini guru tidak mengajar dengan metode ceramah. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Adanya terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan, dan mengakibatkan suasana belajar menjadi tidak menyenangkan."

S

iapa sangka Finlandia bakal tenar ke seluruh dunia. Negara yang semula tumbuh dari hasil hutannya itu bukan hanya sukses melahirkan produk telepon seluler pertama di dunia. Tapi, negara beribu kota Helsinki ini juga nomor satu dalam hal pendidikan. Kualitas pendidikan di Finlandia diacungi jempol dan menempati peringkat pertama berdasarkan hasil survei internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan nama PISA (Programme for International Student Assestment) yaitu mengukur kemampuan siswa di bidang MIPA dan

membaca. Hebatnya, negara ini telah berhasil membuat semua siswanya cerdas. Toh, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis, tapi juga unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental. Anggaran yang dikucurkan untuk pemerintah cukup besar. Pemerintah Finlandia memberikan beasiswa kepada rakyatnya sejak duduk di bangku prasekolah (TK) hingga doktoral (S3). Sekolah swasta mendapatkan dana sama besar dengan dana untuk sekolah negeri. Meskipun dalam hal anggaran pendidikan Finlandia sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata negara di Eropa, tapi masih kalah dengan beberapa

Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011 27


G

anjangsana

negara lainnya. Negara ini tidaklah menggenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negaranegara lain, yaitu pada usia 7 tahun. Jam sekolah mereka justru lebih sedikit, hanya 30 jam per minggu. Bandingkan dengan Korea, ranking kedua setelah Finlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam per minggu.

Guru yang Berkualitas

Ternyata, kunci suksesnya terletak pada kualitas guru. Hanya guru-guru dengan kualitas terbaik dan dengan pelatihan terbaik pula yang ada di Finlandia. Profesi guru sendiri sangatlah dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis. Hebatnya, lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan. Hanya satu dari tujuh pelamar yang bisa diterima. Persaingannya lebih ketat ketimbang masuk ke fakultas hukum atau kedokteran. Belajar aktif diterapkan guru yang semuanya tamatan S2 dan dipilih dari the best ten lulusan universitas. Orang merasa lebih terhormat jadi guru daripada jadi dokter atau insinyur. Dengan kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikan serta pelatihan dari dosen yang juga berkualitas tinggi, tak salah jika kemudian mereka dapat menjadi guru-guru dengan kualitas yang jempolan pula. Dengan kompetensi tersebut mereka bebas untuk menggunakan metode kelas apapun yang mereka suka, dengan kurikulum yang mereka rancang sendiri, dan buku teks yang mereka pilih sendiri.

28 Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011

www.lamk.fi

Sistem pendidikan di Finlandia dimulai dari pendidikan dasar 9 tahun yang didahului oleh satu tahun pendidikan persiapan secara sukarela, pendidikan menengah yang terdiri dari pendidikan umum dan kejuruan selama dua tahun; dan pendidikan tinggi di universitas dan polikteknik atau perguruan tinggi ilmu terapan.

Bukan test oriented

Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, Finlandia justru percaya bahwa ujian dan tes itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa. Karena itulah frekuensi tes benar-benar dikurangi. Ujian nasional hanyalah Matriculation Examination untuk masuk Perguruan Tinggi.

"Terlalu banyak tes membuat kita cenderung mengajarkan kepada siswa untuk semata lolos dari ujian," ungkap seorang guru di Finlandia. Padahal, banyak aspek dalam pendidikan yang tidak bisa diukur dengan ujian. Pada usia 18 tahun siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi. Siswa diajar untuk men-

gevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak pra-TK! "Ini membantu siswa belajar bertanggung jawab atas pekerjaan mereka sendiri," kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia. Jika siswa bertanggung jawab, mereka akan bekeja lebih bebas. Guru tidak harus selalu mengontrol mereka. Siswa justru didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak jika mereka mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. "Kita tidak belajar apa-apa kalau kita tinggal menuliskan apa yang dikatakan oleh guru. Di sini guru tidak mengajar dengan metode ceramah. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Adanya terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan, dan mengakibatkan suasana belajar menjadi tidak menyenangkan," imbuh Sundstrom. Tidak ada siswa yang tidak dihargai di Finlandia. Konsep yang dipegang adalah: setiap siswa memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Kelompok siswa yang lambat mendapat dukungan intensif. Hal ini juga yang membuat Finlandia sukses. Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan buruk, dan merupakan yang terbaik menurut OECD. Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki.

Guru Hindari Kritik Siswa

Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan prilaku siswa, membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus di-


capai. Umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dsb. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha. Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika kita mengatakan “Kamu salah� pada siswa, maka hal tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar.

Siswa Boleh Salah

Itulah, konsep pendidikan di Finlandia memandang siswa sebagai manusia biasa (human being) yang sedang belajar. Karena itu, setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya.

Jadi, jangan heran jika tidak ada sistem ranking di Finlandia. Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing. Sistem rangking hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya. Kehebatan sistem pendidikan di Finlandia adalah gabungan antara kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi. Kalau saya gagal dalam mengajar seorang siswa, kata seorang guru, maka itu berarti ada yang tidak beres dengan pengajaran saya! Benar-benar ucapan guru yang sangat bertanggungjawab.

Pendidikan dalam Keluarga

Yang tak kalah penting adalah besarnya perhatian orang tua di Finlandia terhadap pendidikan anak-anak mereka. Orang tua mengambil peran penting dalam pendidikan anak. Untuk setiap bayi yang lahir, kepada keluarganya diberi maternity package yang berisi tiga buku bacaan untuk ibu, ayah, dan bayi itu sendiri. Alasannya, PAUD adalah tahap belajar pertama dan paling kritis dalam belajar sepanjang hayat. Sebesar 90 persen pertumbuhan otak terjadi pada usia balita dan 85 persen brain paths berkembang sebelum anak masuk SD (7 tahun).

Kegemaran membaca aktif juga didorong. Finlandia menerbitkan lebih banyak buku anakanak daripada negeri mana pun di dunia. Sebesar 25 persen kenaikan pendapatan nasional Finlandia disumbangkan oleh meningkatnya mutu pendidikan. Dari negeri agraris yang tak terkenal kini Finlandia maju di bidang teknologi. Produk HP Nokia misalnya merajai pasar HP dunia. Itulah keajaiban pendidikan Finlandia. Kemajuan sebuah bangsa lebih ditentukan oleh karakter penduduknya dan karakter penduduk dibina lewat pendidikan yang bermutu dan relevan. l chairoel anwar/berbagai sumber

Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011 29


G

anjangsana

Inilah Bedanya... Ujian

Angka-angka masih menjadi tolok ukur keberhasilan siswa di bangku sekolah. Karena itu, kita masih asyik memborbardir siswa dengan sekian banyak tes (ulangan harian, ulangan blok, ulangan mid-semester, ulangan umum/kenaikan kelas, dan ujian nasional). Finlandia menganut kebijakan mengurangi tes jadi sesedikit mungkin. Tak ada ujian nasional sampai siswa yang menyelesaikan pendidikan SMA mengikuti matriculation examination untuk masuk Perguruan Tinggi.

Automatic Promotion

Kita masih getol menerapkan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) sehingga siswa yang gagal tes harus mengikuti tes remidial serta les tambahan dan masih ada tinggal kelas. Sebaliknya, Finlandia menganut kebijakan automatic promotion, atau naik kelas otomatis. Guru siap membantu siswa yang tertinggal sehingga semua bisa naik kelas.

Disiplin Belajar

Kita masih berpikir bahwa PR amat penting untuk membiasakan siswa disiplin belajar. Bahkan, di sekolah tertentu, tia-

30 Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011

da hari tanpa PR. Sebaliknya, di Finlandia PR masih bisa ditolerir tapi maksimum hanya menyita waktu setengah jam waktu anak belajar di rumah.

Pascasarjana

Hampir saban tahun, kita masih pusing meningkatkan kualifikasi guru SD agar setara dengan S1. Tapi di Finlandia semua guru harus tamatan S2.

Kualitas Guru

Kita masih menerima calon guru yang lulus dengan nilai pas-pasan. Sedangkan di Finlandia hanya the best ten lulusan universitas yang diterima menjadi guru. Profesi guru lebih terhormat dan bergengsi.

Buku

Administrasi pelajaran bagi para guru masih ditekankan daripada metode mengajar. Kita masih sibuk memaksa guru membuat silabus dan RPP mengikuti model dari Pusat dan memaksa guru memakai buku pelajaran BSE (Buku Sekolah Elektronik). Di Finlandia, para guru bebas memilih bentuk atau model persiapan mengajar dan memilih metode serta buku pelajaran sesuai dengan pertimbangannya.

Metode Mengajar

Hanya segelintir guru di Tanah Air yang membuat proses belajar-mengajar itu menyenangkan (learning is fun) melalui penerapan belajar aktif. Yang terbanyak justru guru masih getol mengajar satu arah dengan metode ceramah. Sedangkan, di Finlandia terbanyak guru menciptakan suasana belajar yang menyenangkan melalui implementasi belajar aktif dan para siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil. Motivasi intrinsik siswa adalah kata kunci keberhasilan dalam belajar.

"Kastanisasi"

Di Tanah Air kita terseret arus mengotak-kotakkan siswa dalam kelas reguler dan kelas anak pintar, kelas anak lamban berbahasa Indonesia dan kelas bilingual (bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar) dan membuat pengkastaan sekolah (sekolah berstandar nasional, sekolah berstandar internasional, sekolah negeri yang dianakemaskan dan sekolah swasta yang dianaktirikan). Sebaliknya, di Finlandia tidak ada pengkotakan siswa dan pengkastaan sekolah. Sekolah swasta mendapatkan besaran

dana yang sama dengan sekolah negeri.

Bahasa Inggris

Di Indonesia bahasa Inggris wajib diajarkan sejak kelas I SMP sementara di Finlandia bahasa Inggris mulai diajarkan dari kelas III SD. Alasan kebijakan ini adalah untuk memenangkan persaingan ekonomi di Eropa, membuka kesempatan kerja lebih luas bagi lulusan, mengembangkan wawasan menghargai keanekaragaman kultural.

Beban Belajar

Di Indonesia siswa-siswa kita ke sekolah sebanyak 220 hari dalam setahun (termasuk negara yang menerapkan jumlah hari belajar efektif dalam setahun yang tertinggi di dunia). Sebaliknya, siswa-siswa Finlandia ke sekolah hanya sebanyak 190 hari dalam satu tahun. Jumlah hari liburnya 30 hari lebih banyak daripada di Indonesia. Kita masih menganut pandangan bahwa semakin sering ke sekolah anak makin pintar, mereka malah berpandangan semakin banyak hari libur anak makin pintar. l chairoel anwar/berbagai sumber Diambil dari Top of the Class - Fergus Bordewich


wawancara

Aida Zulaikha Nasution

Pembangunan Pendidikan Perlu Strategi Untuk meningkatkan sumber daya manusia salah satu faktor yang harus diperhatikan adalah tenaga pendidikan. Faktor lainnya adalah gedung (ruang kelas belajar, red) dan buku yang berkualitas. Tanpa ini

S

aat ini dunia pendidikan di Indonesia masih menjadi sorotan sejumlah kalangan. Anggaran besar untuk peningkatan kualitas sumberdaya manusia ternyata hingga kini belum bisa mengangkat harkat dan martabat manusia sesuai dengan apa yang diharapkan. Indeks Prestasi Pengembangan Sumberdaya Manusia (IPM) dan daya saing negara kita masih sangat rendah dan jauh dari harapan.

Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011 31

foto: joko al muchlis

G


G

wawancara

Untuk meningkatkan sumber daya manusia salah satu faktor yang harus diperhatikan adalah tenaga pendidikan. Faktor lainnya adalah gedung (ruang kelas belajar, red) dan buku yang berkualitas. Tanpa ini rasanya “mimpi� peningkatan kualitas sumber daya manusia bisa ditingkatkan. Terkait dengan hal itu bagaimana pandangan anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD-RI) utusan Provinsi Kepulauan Riau, Aida Ismeth terhadap perkembangan dunia pendidikan. Istri mantan Gubernur Provinsi Kepulauan Riau ini punya pandangan tersendiri. Berikut petikan wawancaranya dengan Maswito dari Majalah Geliga dalam berbagai kesempatan.

32 Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011

Bagaimana anda melihat kondisi pendidikan Indonesia saat ini? Kualitas sumber daya manusia kita (Indonesia, red) masih rendah. IPM kita menempati urutan ke 109 dari 174 negara yang terukur. Dalam hal daya saing, peringkat negara kita juga menurun dari urutan ke 41 di antara 46 negara pada tahun 1996 menjadi urutan ke 46 di antara 47 negara pada tahun 2001. Sementara hasil survei The Political and Economic Risk Consultant yang pernah dimuat harian The Jakarta Post (2001) juga menunjukan betapa rendahnya kualitas pendidikan Indonesia dibandingkan negara lain di Asia. Indonesia berada di bawah Malaysia yang dulu pernah “mengimpor� mahasiswanya untuk belajar ke Indonesia. Kita jauh tertinggal dari

Vietnam yang dulu penduduknya pernah mengungsi di Pulau Galang, Batam dan Kepulauan Anambas akibat perang saudara yang melanda negara mereka. Menyedihkan memang, tapi itulah realitasnya. Kita harus bangkit untuk mengejar ketertinggalan tersebut. Kalau tidak bisa lebih maju dari mereka, sejajar jadilah. Apa upaya yang harus dilakukan untuk pengembangan sumber daya manusia dan tingkat persaingan itu? Perlu strategi perencanaan pembangunan pendidikan yang tepat dalam upaya mengembangkan sumberdaya manusia berkualitas dan profesional, sehingga mampu bersaing dalam era modernisasi saat ini. Mengapa pendidikan Malaysia dan Vietnam bisa berkembang secepat itu? Political will pemerintah Malaysia dalam dunia mengurus pendidikan sangat


jelas. Dana yang dialokasikan juga besar, sehingga pendidikan mereka berkembang pesat. Walaupun dulu mereka belajar ke Indonesia, sekarang malah sebaliknya. Kita yang belajar kepada mereka. Begitu juga dengan Vietnam. Negara yang pernah dilanda perang saudara ini serius membangun pendidikan di negaranya. Saya masih ingat dengan pernyataan Presiden Vietnam, Ho Chi Minh yang menyatakan, “No teacher, no education” atau tanpa guru tidak ada pendidikan. Motto itu kemudian dijadikan landasan kebijakan pemerintah dalam membangun Vietnam yang berbasiskan pendidikan dengan guru sebagai intinya. Hal ini menyiratkan bahwa unsur inti yang paling esensial dalam pendidikan ialah guru dan siswa yang saling berinteraksi dalam situasi pedagogis untuk mencapai tujuan pendidikan. Lalu bagaimana anda melihat kondisi pendidikan di Kepulauan Riau? Sudah agak baik dibandingkan dibandingkan ketika dulu masih bergabung dengan Provinsi Riau. Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau memberikan perhatian lebih untuk pengembangan pendidikan dibanding bidang lainnya. Buktinya? Sektor pendidikan sudah menjadi fokus utama Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, di samping sektor lainnya yang telah dijadikan skala prioritas pembangunan. Anggaran untuk pendidikan juga terus meningkat. Guru-guru di Kepulauan Riau juga mendapat insentif (tambahan penghasilan, red) setiap bulannya. Guruguru juga ditingkatkan jenjang kelulusannya. Misalnya dari SPG, SGO ke jenjang D-2, dari D-2 ke jenjang D-3, dari D-3 ke jenjang S-1 atau D-4 dn dari S-1 atau D-4 ke jenjang S-2 dan dari S-2 diupayakan ke S-3. Ini yang harus kita syukuri. Bagaimana pula dengan pendidikan usia dini? Seiring dengan perjalanan waktu, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) terus berkembang. Tugas berat kita sekarang adalah bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan PAUD itu sendiri agar dapat mengikuti dinamika kehidupan yang semangkin kompleks. Sebab, anak merupakan pondasi bagi generasi penerus

bangsa. Untuk memperkokoh pondasi itu harus dimulai sejak dini. Setelah itu baru ke jenjang pendidikan berikutnya. PAUD merupakan pendidikan mendasar dan sangat menentukan bagi perkembangan anak di kemudian hari. Begitulah arti penting PAUD dalam membentuk pondasi generasi penerus bangsa. Pepatah Cina menyebutkan anak ibarat selembar kertas putih. Siapapun yang pernah melewatinya pasti memberikan berkas sepanjang hidupnya. Seperti apapun rangsangan (stimulasi) diberikan kepadanya sejak dini akan membekas selamanya dan terbawa hingga ia dewasa dan mandiri. Karena itu pendidikan yang diberikan sejak dini akan sangat mempengaruhi kehidupan serta masa depan sang anak. Filosop Cina terkenal, Confusius pernah berkata pemandangan yang terindah di dunia adalah seorang anak yang mefoto: joko al muchlis langkah dikehidupan ini dengan penuh percaya diri setelah kita menunjukkan jalannya. Ini sebuah ungkapan penuh makna bahwa dengan petunjuk yang diberikan kepada anak dengan benar akan melahirkan sekumpulan moral positif kepada anak dengan memberinya kasih sayang, toleransi, dan rasa hormat berdampak pada sikap anak. Selanjutnya, dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan PAUD diselenggarakan sebelum pendidikan dasar, baik melalui jalur pendidikan formal non formal, maupun informal. Menurut anda apa arti penting PAUD? PAUD diselenggarakan sebagai upaya untuk membantu meletakkan dasar-dasar perkembangan anak sebelum memasuki pendidikan dasar. Dengan demikian, maka sangatlah penting dan strategis pelayanan terhadap PAUD tersebut. PAUD di Indonesia dimulai sejak anak berusia 0 (nol) sampai dengan 6 (enam) tahun. Pada dasarnya PAUD dilaksanakan sebagai persiapan sebelum menempuh pendidikan dasar yang bertujuan untuk pengembangan potensi yang dimilikinya. Sehingga dalam pelaksanaannya harus mengacu pada kondisi, kebutuhan dan kepentingan anak. Hal ini tentu harus benar-benar diperhatikan para orang tua dan pendidik bahwa dalam melakukan pengasuhan anak usia dini hendaknya diikuti pemahaman yang

mendalam mengenai pola perkembangan anak. Lalu apa harapan anda terhadap guru? Jadilah guru profesional–guru yang mengenal tentang dirinya. Yaitu bahwa dirinya adalah pribadi yang dipanggil untuk mendampingi peserta didik untuk dan dalam belajar. Guru dituntut untuk mencari tahu terus menerus bagaimana seharusnya peserta didik itu belajar. Maka, apabila ada kegagalan peserta didik, guru terpanggil untuk menemukan penyebab kegagalan dan mencari jalan keluar bersama dengan peserta didik, bukan mendiamkannya atau menyalahkannya. Artinya proses mendampingi peserta didik adalah proses belajar? Betul itu…………! Sekolah merupakan medan belajar, baik guru maupun peserta didik terpanggil untuk belajar. Guru terpanggil untuk bersedia belajar bagaimana mendampingi atau mengajar dengan baik dan menyenangkan, peserta didik terpanggil untuk menemukan cara belajar yang tepat. Medan belajar adalah medan yang menyenangkan, bukan menyiksa apalagi mengancam. Oleh karena itu, yang harus terlibat dalam medan belajar adalah hati atau lebih daripada budi. Jadi perkara belajar adalah perkara hati dan budi; memberikan penekanan pada peran budi semata-mata seperti yang lazim terjadi pada saat ini akan merintangi kemajuan pendidikan. Menurut Anda bagaimana menjadi guru yang baik itu? Menjadi guru bukan sebuah proses yang hanya dapat dilalui, diselesaikan, dan ditentukan melalui uji kompetensi dan sertifikasi. Karena menjadi guru menyangkut perkara hati, mengajar adalah profesi hati. Hati harus mendapatkan perhatian yang cukup, yaitu permurnian hati atau motivasi untuk menjadi guru. Sikap seperti apa yang senantiasa harus dipupuk oleh guru….. Kesediaan untuk mengenal diri dan kehendak untuk memurnikan keguruannya. Mau belajar dengan meluangkan waktu untuk menjadi guru. Seorang guru yang tidak bersedia belajar tak mungkin

Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011 33


G kerasan dan bangga jadi guru. Kerasan dan kebanggaan atas keguruannya adalah langkah untuk menjadi guru. Kerasan dan kebanggaan atas keguruannya adalah langkah untuk menjadi guru yang professional. Guru dalam situasi apapun adalah bagian yang paling dominan sebagai kunci kebehasilan sebuah pendidikan. Belum ada satu penelitian pun yang mengatakan guru dapat ditandingi komponen lain untuk menciptakan generasi yang tangguh berwawasan global serta berakhlak mulia. Ke m u d i a n s e ba g a i a n g g o t a masyarakat, guru berperan dalam membangun kehidupan sosial yang positif dan konstruktif. Peran ini dapat dilakukan guru melalui berbagai kegiatan dan tindakan yang dilakukan baik didalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik, maupun ketika berkomunikasi dengan orang tua dan anggota masyarakat, guru hendaknya peka terhadap berbagai masalah sosial dan memberikan konstribusi yang berarti dalam berbagai usaha pemecahan masalah sosial tersebut. Katanya Anda juga seorang guru? Ya….. saya pernah mengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Jakarta. Sekarang untuk “sementara” waktu ditinggalkan dulu karena kesibukan sebagai anggota DPD cukup menyita waktu. Istilah “rehat” sejenaklah.. Anda bangga menjadi guru? Jelas dong! Kebanggaan itu sulit saya lukiskan dengan kata-kata. Saya sangat mencintai profesi ini. Terakhir, bagaimana tip untuk menjadi seorang guru yang ideal? Sungguh ideal bila seorang guru mampu dengan cepat memahami arah kurikulum (baru) menguasai bahan ajar (bahkan membuat buku bahan ajar) menemukan kreativitas, dan tegar menghadapi ujian nasional. Pasti ia tak melulu mengeluh dan mengutuki birokrasi yang memiliki otoritas akan dunia pendidikan! l maswito

34 Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011

Nama : Tempat/Tanggal Lahir : Agama : Suami :

Hj. Aida Ismeth, SE, MM Kota Raja, 10 April 1948 Islam Drs. H. Ismeth Abdullah, E.D.I. Fellow

Anak :

Rahmatsyah Ramadani Abdul Haris Imran Yasin (alm) Fatria Chairany

Ayah : Ibu : Jabatan Sekarang : Alamat :

Mr. SM Amin Nasution Cut Maryam Binti Teuku Nyak Banta Anggota DPD RI Jl. Kalibata Utara II No. 9, Jakarta Selatan.

Riwayat Pendidikan No

 Keterangan

Tamat

1

SD Perguruan Cikini Jakarta

1960

2

SMP Negeri 1 Jakarta

1963

3.

SMA Negeri 3 Teladan Jakarta

1966

4

Fakultas Ekonomi - UI  Jakarta

-

5

Magister Management UI  Jakarta

1992

6

Texas A&M University, Houston, USA

-

7

Stanford Colleg of Commerce, Kuala Lumpur, Malaysia

-

RIWAYAT PEKERJAAN No

 Keterangan

1

Staf Pengajar Fakultas Ekonomi UI Jakarta

2

Staf Pengajar Pusdiklat Depdagri

3.

Direktur Utama PT Kwarta Media Prima

4

Staf Pengajar Course Badan  Pendidikan dan Latihan Kerja

5

Staf Pengajar Wanita dan Aktualisasi  Diri, Departemen Keuangan RI

6

Anggota DPD RI 2004 – 2009 & 2009 – 2014

PENGALAMAN ORGANISASI No

Organisasi

1

Ketua I Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI)

2

Ketua II Badan Kontak Majelis Ta’lim (BKMT) Pusat

3

Pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Jaya

4

Bendahara Umum Forum Organisasi Profesi Ilmiah (FOPI) Pusat

5

Dewan Pakar Ikatan Cendikiawan Indonesia (ICMI) Pusat

6

Bendahara Perhimpunan  Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Pusat

7

Pengurus dan Pendiri  Asosiasi  Exportir dan Produsen  Handycraft Indonesia (ASEPHI)

8

Pengurus Korp Alumni  Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Pusat

9

Ketua Umum Gerakan Masyarakat Peduli Akhlak Mulia (GMPAM) Provinsi Kepri

PENGALAMAN ORGANISASI No

Keterangan

Tahun

1

Tri Dharma Adikarya dari Citra Karya Indonesia

1999

2

ASEAN Best Executive Award dari ASEAN Info Sarana

2002

3.

Ibu Peduli Sumber Daya Manusia dan Lingkungan Batam dari Forum Aliansi Masyarakat Kepri

2003

4

Pemberdayaan Perempuan, Kesejahteraan dan Perlindungan Anak dari Menteri Pemberdayaan Perempuan RI

2003

5

Tokoh Pendukung UU 30% Keterwakilan Perempuan di Lembaga Legis- 2008 latif

6

Tokoh Melayu yang Berjasa Dalam Pengembangan Sastra dan Budaya

2008

7

Tokoh Peduli Petempuan Melayu

2009

8

Kartini Award Sebagai Perempuan  Indonesia Berprestasi

2010


G

sosok

Rida K Liamsi

oleh : maswito

Anak Tukang Cuci

Rida kecil terbiasa mendapatkan didikkan keras dari orang tuanya. Mereka “memaksa� anaknya itu belajar keras agar menjadi murid yang pandai.

Penggagum Bung Karno

"

INI baju macam baju Bung Karno. Kau kelak... jadilah macam Bung Karno tu ...". Dialog singkat itu terjadi antara Zainab binti Usman, usai menyelesaikan jahitan baju safari untuk anaknya, Rida, yang waktu itu masih duduk di bangku kelas enam sekolah dasar. Ibunya menjahitkan baju safari untuk anak kesayangannya itu sebelum memutuskan “meninggalkan�

Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011 35


G

sosok

kampung halamannya Desa Bakong, sebuah desa nelayan di Singkep untuk melanjutkan pendidikan ke Tanjungpinang. Ibunya yang pandai menjahit tahu bahwa anaknya adalah penggagum berat sang proklamator dan bermimpi ingin hebat seperti tokoh idolanya itu. Dengan kondisi apa adanya, Zainab rela menyisakan sedikit penghasilannya untuk membeli kain agar dibuatkan baju safari seperti yang dipakai Bung Karno untuk anak kesayangannya itu. Ketika baju itu siap, alangkah gembiranya hati Rida. Berbunga-berbunga, senang tiada tara. Sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Saking terobsesi dan tergila-gilanya kepada Bung Karno, sedari kecil Rida yang terlahir dengan nama Ismail Kadir, sudah melahap semua buku-buku yang ditulis oleh Bung Karno. Sewaktu masih sekolah di Sekolah Guru Biasa (SGB) di Tanjungpinang, seluruh buku yang ditulis Bung Karno habis dilahapnya. Kelak, pemikiran-pemikiran Bung Karno itu sedikit banyak mempengaruhi jalan hidup dan pikirannya. Sementara di bidang sastra dan jurnalistik, sejak duduk di bangku sekolah dasar Rida sangat mengidolakan wartawan kawakan Mochtar Lubis, pendiri dan Pemimpin Redaksi Indonesia Raya dan Gunawan Mohammad, Pemimpin Redaksi Majalah Tempo, yang kini sudah pensiun. Mas Gun, panggilan akrab Goenawan Mohammad itu,

36 Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011

selain wartawan yang hebat, juga penyair dan esais yang sangat dikagumi. "Mas Gun banyak mempengaruhi karir sastra dan jurnalistik saya. Di bisnis, guru bisnis saya ya…Dahlan Iskan yang saat ini menjabat sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itulah,” ujar Rida. Rida kecil terbiasa mendapatkan didikkan keras dari orang tuanya. Mereka “memaksa” anaknya itu belajar keras agar menjadi murid yang pandai. Ibunya ingin anaknya itu hebat seperti tokoh idolanya Bung Karno, sementara ayahnya Abdul Kadir bin Samad yang sehari-hari bekerja serabutan tidak memaksa, terserah anaknya mau jadi apa. Tapi ia mengajarkan untuk hidup tidak setengah-setengah. Namun, kata Rida, yang paling mendorong dirinya agar jadi orang adalah abangnya Abu Bakar. Sang abanglah yang membiayai dirinya sekolah. Tapi sayang abang yang sangat disayanginya itu meninggal di usia muda. Setelah itu, seluruh hidup dan sekolahnya dibiayai ibunya dari hasil jadi tukang cuci pakaian orang dari rumah ke rumah sampai ajal menjemput dirinya. Setelah jadi guru, Rida hidup mandiri dari kerja sebagai guru SD. Dan kemudian jadi wartawan. Sedari kecil Rida sudah berprinsip tidak mau menjadi nomor dua. Untuk meraih yang terbaik (nomor satu, red), ia belajar keras dan berjuang mati-matian. Hasilnya, sejak duduk SD di kampung halamannya sampai tamat SGB, dan kemudian masuk KPG (Kursus Pendidikan Guru/setingkat SPG/ SGA, red) di Tanjungpinang, ia tetap meraih nomor satu.

Guru Favorit

Setiap orang punya guru favorit dan mata pelajaran yang disenangi semasa sekolah. Begitu juga halnya dengan Rida. Semasa di SD, Rida punya empat orang guru yakni Zainal Anang, guru yang mengajar dirinya mulai sekolah hingga kelas empat. “Pak Zainallah satu-satunya guru waktu itu di kampung kami,” jelas Rida. Barulah ketika duduk di kelas empat sampai enam ada tambahan empat guru baru, yakni Mohd Zahid Yunus (Kepala Sekolah pengganti Zainal Anang); Syamsudin Syarif (guru kelas empat); Mohd Khalid (Guru Kelas lima) dan Darwis Bey (guru kelas enam). “Guru yang paling jadi idola saya ya…. Pak Darwis inilah. Cikgu yang satu ini berasal dari Maninjau, Sumatera Barat. Tulisannya sangat bagus, dan pandai pula bercerita,” kenang Rida. Selanjutnya, ketika duduk di bangku SGB, Rida punya banyak guru. Namun ada dua orang yang membekas di hatinya, yakni Yose Rizal, guru bahasa yang mengembangkan bakatnya dalam menulis puisi. Setelah itu Effendie yang mengajar melukis. Pak Yos –panggilan akrab Yose Rizal-inilah yang membuat bakat Rida pada sastra dan kesukaannya menulis puisi mulai terasa. Kelak, saat ia kian serius menulis puisi, maka puisi-puisinya mulai dimuat di majalah sastra Horison, selain dimuat di berbagai surat kabar serta majalah budaya. Puisi-puisi dan esainya terbit pertama kali dalam Jelaga (1969), sebuah kumpulan puisi, dan esai bersama Edy Mawuntu dan Hasan Junus.


Sementara, buku kumpulan sajaknya yang pertama adalah Ode ke-X (1981). Yang kedua Tempuling (2003). Setelah itu, terbit kumpulan puisinya yang ketiga, yakni Perjalanan Kalikatu (2008). Selain puisi, sebuah novel penting lahir dari tangannya, yakni

Bulang Cahaya (2007), sebuah novel yang berlatarkan sejarah Kerajaan Riau-Lingga. Soal nama Rida K Liamsi? “Itu adalah nama terbalik atas nama asli saya,” kata Rida yang punya nama asli Ismail Kadir. Kini hanya sejumlah sahabat dan sas-

trawan segenerasi serta sejumlah pengamat sajalah yang mengenal nama Iskandar Leo. Masyarakat kini lebih mengenalnya Rida K Liamsi. Nama ini pula yang untuk selanjutnya digunakan baik dalam buku kumpulan puisi maupun novelnya. l

Mimpi dan Obsesi Rida

S

emua tahu Rida sekarang sudah menjadi “orang” dengan segala kemapanan. Kemiskinan yang dulu menimpa dirinya tinggal kenangan. Masyarakat luas kini mengenal Rida sebagai tokoh pers. Namun, hingga kini ia tidak pernah meninggalkan perhatian dan kecintaannya pada dunia sastra. Selain tetap kreatif menulis karya sastra berupa puisi maupun novel, ia selalu terlibat dalam kehidupan sastra di Indonesia, khususnya di Riau – baik di Riau daratan maupun Riau kepulauan. Bukan hanya Rida kerap diundang sebagai pembicara di berbagai forum sastra dan budaya, ia juga mendirikan sebuah yayasan yang diberi nama Yayasan Sagang. Yayasan ini sejak 1996 memberikan Anugerah Sagang, berupa penghargaan kepada para seniman, budayawan, karya-karya budaya, penelitian budaya, serta jurnalisme yang bernapaskan budaya Melayu. Selain memberikan anugerah, Yayasan Sagang juga sejak tahun 1997 menerbitkan majalah budaya Sagang serta menerbitkan sejumlah buku sastra. Dalam dunia pers Indonesia, Rida adalah the last of the mohicant. Ia juga sosok terakhir pemimpin jaringan media massa cetak dan elektronik, yang hingga kini masih menulis puisi, mengarang novel, dan masih terlibat secara aktif pada dunia sastra. Nama Rida adalah first and the last dalam dunia pers di Riau. Dialah orang pertama yang mengomandani bisnis media massa yang terbentang dari Riau hingga Nangroe Aceh Darussalam. Bukan hanya media massa cetak yang dikelolanya, melainkan juga sejumlah media elektronik di sejumlah media elektronik di wilayah Sumatera. Dan, dialah bos terakhir di Indonesia yang menjalankan bisnis pers dan dunia kewartawanan sebagai seorang sastrawan. Lalu apa mimpi dan obsesi Rida terhadap Provinsi Kepri – tanah tumpah

kelahiran yang sangat dicintainya ini? “Kepri harus jadi pusat pendidikan dan ilmu kemaritiman, dan pusat pendidikan dan ilmu kebudayaan Melayu. Korea itu maju, karena kebudayaan Korea berhasil mentransformasikan dunia modern ke dalam sikap budaya mereka,” ujarnya. Apakah obsesi itu terlalu muluk? Rida menjawab diplomatis. Ia pun menceritakan masa lalu Kepri yang gilang gemilang. Dulu, Kepri menjadi salah satu pusat pendidikan di rantau ini. Dulu orang mau sekolah guru datang ke sini (Kepri, red) dari Bengkalis, Rengat, Jambi, dan lainnya, juga dari Medan. Tandingannya adalah Padang. Tapi, kemudian setelah jadi provinsi dan ibukota pindah ke Pekanbaru, ya…, pendidikan di daerah ini merosot jauh. Menurut Rida, tak usahkan jadi pusat pendidikan, mempertahankan lembaga pendidikan yang ada saja sudah sulit. Yang mau masuk perguruan tinggi harus ke Pekanbaru atau Jakarta. Dulu, sarjana hukum pertama dari Riau ini adalah orang

Natuna, para tokoh pemerintahan sampai tingkat bupati, orang Tambelan, Lingga, dan lainnya. Tapi sekarang, susah mencari sosok yang menonjol. Kita hanya punya satu Djauzak Ahmad saja di dunia pendidikan, itu pun sudah makin kita lupakan. Ke depan Rida berharap Kepri harus menjadi pusat pendidikan ilmu kemaritiman. Ke

Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011 37


G

sosok

sini orang datang untuk belajar bagaimana tehnologi maritim, teknologi penangkapan ikan modern, teknologi budidaya laut, dan rekayasa kelautan lainnya. Mulailah dengan Univesitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang, itu modal yang luar biasa untuk memulainya. Jangan lagi ditimbuni dengan tetek bengek ilmu yang tak ada hubungannya dengan kemaritiman. Negeri yang maju adalah negeri yang menomorsatukan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) nya, terutama

pendidikan. Jepang, Korea Selatan, Singapura dan Malaysia misalnya, sudah membuktikannya. Kepri, sebagai salah satu provinsi di Indonesia kata Rida, seharusnya juga begitu. Apalagi provinsi ini berbatasan dengan negara yang maju, dan jadi jendela Indonesia. Untuk memperkuat SDM tenaga pendidikan di UMRAH, kirim mereka belajar ke Jepang, Korea, Skandinavia, dan lain-lain negara maritim yang maju. Sebagai pengusaha, apakah Rida punya

Beasiswa itu Investasi

B

erbagai persoalan yang dulu mendera dunia pendidikan di Kepri seperti persoalan minimnya sumber daya manusia yang berkualitas, kekurangan ruang kelas baru, tiadanya asrama pelajar, dan soal transportasi saat ini sudah mulai terurai-seiring meningkatnya anggaran pendidikan menjadi 20 persen dalam APBD. Sekarang persoalannya adalah fokus mengatasi masalahnya, dan tahu prioritas apa yang harus dibangun untuk mengatasinya. “Kalau soal transportasi, kan bukan juga masalah besar lagi. Transportasi laut dan udara sudah berkembang,” jelas Rida. Saat ini, kata Rida, adalah soal kesempatan. Tiap kabupaten dan kota di Provinsi Kepri harus memberi kesempatan beasiswa bagi penduduknya secara kontinyu, dan mereka harus kembali ke daerah asalnya setelah selesai. Yang tidak mau pulang, harus mengembalikan biaya beasiswa itu. Itu investasi, dan harus dibayar penarikkannya minimal lima tahun pengabdian di tempat beasiswa diterimanya. Soal Gurindam 12 gubahan Raja Al Haji yang saat ini masuk dalam kurikulum muatan lokal, Rida mengatakan, Gurindam 12 itu adalah pendidikan budaya. Tapi

38 Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011

harus ada implementasinya dalam bentuk bahan ajaran. Buku-buku yang menjelaskan tentang esensi dari Gurindam 12 itu. Moral apa yang diajarkannya. “Kalau cuma disuruh membaca Gurindam 12, ya…, hasilnya pasti tidak banyak," jelasnya. Pendidikan budaya itu kata Rida adalah pendidikan prilaku, sikap, etika, dan itu pendidikan yang memerlukan proses dan konsistensi. Ingat Pendidikan Kewarganegaraan dulu yang isinya P-4? Harus ada kemauan politik, dukungan, dan juga paksaan. Kalau tidak ya cuma slogan. "Gurindam 12 itu bahagian dari pendikan sastra dan budaya. Itu yang selama ini ditelantarkan. Cuma 2 jam seminggu. Dapat apa?" tegasnya. Soal Perda Pendidikan, Rida berpandangan Perda itu payung hukum, terutama untuk kepentingan anggaran dan lainnya. Tapi Perda yang tidak ada sanksinya tidak ada gunanya, hanya akan menambah beban dan birokrasi. Perda itu harus jelas tujuannya, dan masyarakat menerimanya karena tahu faedahnya. "Kalau hanya simbolik, ya, tak akan banyak manfaatnya. Indonesia, khususnya dunia pendidikan, sudah kebanyakan aturan. Ganti menteri, ganti aturan......, ya.... susah!" katanya. l

kepedulian untuk meningkatkan SDM di Kepri? Secara diplomatis Rida menjawab, “Ya…., tentu saja punya, tapi kan bisa bisa bermacam bentuk. Sekarang Batam Pos punya Batam Pos Entrepreneur Schooll, lembaga pendidikan entrepreneurship, sebagai contoh. Ya, kita lihatlah hasilnya....” Mendirikan Pondok Pesantren? “Hemm…. ya sudah dimulai, tapi belum jadi. Doakan aja ya.....,” ujar Rida yang mendirikan Pondok Pesantren Rida Al Ikhlas di kampung halamannya – Kabupaten Lingga. l


Nama : Rida K Liamsi Tempat/Tgl. Lahir : Desa Bakong, Singkep, 17 Juli 1943 Orang Tua Ayah Ibu

: Abdulkadir bin Samad : Zainab binti Usman

Istri : Anak- Anak :

Hj. Asmini Syukur 1. Mohd. Nur Hakim 2. Shinta Dewi 3. Oktavio Bintana 4. Teddy Jun Askara 5. Indra Rukmana 6. Shanti Novita.

RIWAYAT PEKERJAAN No

Pekerjaan

Periode

1.

Guru SD di Bakong, Rejai dan Tanjungpinang

1963 – 1968

2.

Wartawan Pelita Buana

1972 - 1973

3.

Wartawan Angkatan Bersenjata

1973 - 1975

4.

Wartawan MBM Tempo

1978 - 1983

5.

Wartawan SKM Genta

-

6.

Menerbitkan Koran Utusan

-

7.

Wartawan Suara Karya

-

9.

Bergabung dengan Riau Pos

1990

10.

Sekretaris PWI Cabang Pekanbaru

1980 - 1984

11.

Wakil Ketua PWI Kepri

1986 - 1990

12.

Ketua Biro Pembitmasmed DPP Golkar TK I Riau

1983 - 1998

13.

Ketua Bidang Organisasi DPP KNPI Kepriu

1977 - 1982

14.

Ketua PWI Cabang Riau

1990 - 1999

15.

Presiden Lion Club Pekanbaru

1997 - 1998

16.

Ketua Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) Riau

1998 - 2007

17.

Ketua Umum Pengda Taekwondo Riau

1998 - 2008

18.

Pengurus ICMI Pekanbaru

1999 - 2001

19.

Anggota Dewan Penyantun Universitas Riau

1999 - kini

20.

Anggota Majelis Pendidikan Riau

2003 - kini

21.

Direktur Utama Riau Pos Group

22.

Chairman Riau Pos Group

-

23.

Direktur Utama RIC salah satu BUMD di Riau

-

24.

Direktur Utama PT JPNN, Jakarta

1998 – 2009

25.

Direktur Utama PT Nagoya Plaza Hotel Batam

-

26.

Pendiri Yayasan Sagang dan penerbit majalah budaya Sagang dan penggagas Anugerah Kebudayaan Melayu “Sagang”

KARYA SASTRA No

Karya Sastra

Periode

1

Jelaga (Kumpulan Puisi dan Esai Bersama Hasan Junus dan Eddy Mawuntu

1978

2

“Ode X” (Kumpulan Puisi)

1981

3

Tempuling (Kumpulan Puisi)

2002

4

Bulang Cahaya (Novel Sejarah)

2007

6

Perjalanan Kalikatu (Kumpulan Puisi)

2008

PENGHARGAAN No

Pekerjaan

Tahun

1

Seniman Perdana (SP) dari Dewan Kesenian Riau

2007

2

Tokoh Budaya Nusantara dari Bank Permata

2007

4

Tokoh Pers Nasional dari PWI Riau

2008

3

Tokoh Sosio Budaya Melayu dari Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) yang diberikan di Melaka, Malaysia

4

Anggota Kehormatan PWI atas pengabdiannya selama 25 tahun di PWI dari PWI Riau

Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011 39


G

gerbang

Berbagai bukti menunjukkan bahwa jumlah penyandang ASD (Autism Spectrum Disorder) semakin bertambah secara dramatis pada tahun 1990-an dan awal 2000-an. Peningkatan ini selain memang jumlah penyandang autisme sebenarnya semakin bertambah, juga mungkin dipengaruhi oleh kewaspadaan masyarakat serta semakin membaiknya kemampuan diagnosis para dokter/profesional.

T

ak ada orang tua yang menginginkan anaknya terlahir cacat, baik fisik maupun mental. Setiap orang tua selalu mendambakan anaknya lahir dalam bentuk sempurna. Meski demikian, orang tua diharapkan tidak perlu berputus asa jika akhirnya anak yang terlahir tak sesuai dengan yang didamba. Indonesia sudah "merevisi" anak-anak yang terlahir kurang sempurna ini dengan sebutan anak berkebutuhan khusus. Jika anak-anak penyandang cacat fisik (difabel) mudah dilihat secara kasat mata, lantas bagaimana dengan anak-anak yang terlahir dengan kondisi "otak yang berbeda?" Justru anak-anak yang "cacat otak" inilah yang paling sulit didiagnosa secara instan. Butuh beberapa tahun untuk mengetahui jika sang anak ternyata memiliki "otak yang berbeda" dengan anak-anak normal sebaya. Apalagi, diagnosa untuk anak-anak yang "cacat otak" demikian beragam. salah satunya: Autisme. Ini butuh perhatian serius pemerintah. Jumlah anak-anak penyandang autisme di Indonesia meningkat delapan kali lipat dalam 10 tahun terakhir (Kompas.com, 14 Mei 2011). Jumlah itu bahkan lebih tinggi dari angka rata-rata autis di dunia. Goodwill Ambassador Organisasi Pendidi-

40 Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011

Mengenal Autisme

setiap tahun penyandang autis bertambah 500 orang!


ilustrasi: research.marketing.co.id

kan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Christinne Hakim, di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, seperti yang dilansir Kompas.com (4/5) mengatakan, prevalensi penyandang autis di Indonesia saat ini sebanyak delapan orang di antara 1.000 penduduk. Adapun angka di dunia rata-rata sebesar enam orang di antara 1.000 penduduk. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), prevalensi autis di Indonesia naik pesat dibandingkan dengan 10 tahun lalu yang hanya satu di antara 1.000 penduduk. Pe-

nyandang autis saat ini masih dihadapkan dengan persoalan penilaian masyarakat yang umumnya negatif. Sebagian anak autis misalnya, memiliki kendala seperti terlambat berb icara atau sulit berkomunikasi. Dr. Rudy Sutadi, SpA, MARS, SPdI, dalam Kompasiana, memaparkan, jumlah penyandang autisme di seluruh dunia semakin tahun semakin meningkat. Dari kepustakaan pada awal tahun 90-an, jumlah penyandang autisme diperkirakan sekitar 4-6 per 10.000 kelahiran. Tetapi mendekati tahun 2000 angka ini mencapai 15-20 per 10.000 kelahiran.

ilustrasi: research.marketing.co.id

Data pada tahun 2000, angka ini meningkat drastis yaitu sekitar 60 per 10.000 kelahiran atau 1 : 250 anak. Bahkan di beberapa kota di Amerika bisa mencapai 1 : 100 anak. Angka ini sudah dapat dikatakan sebagai wabah. Oleh karena itulah di Amerika autisme sudah dimasukkan ke dalam national alarming.

Insidens dan Prevalens ASD (Autism Spectrum Disorder) adalah 2 kasus baru per 1.000 penduduk per tahun, dan 10 kasus per 1.000 penduduk (BMJ, 1997). Jumlah penduduk di Indonesia lebih dari 237,5 juta (BPS, 2010) dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,14 persen. Sehingga diperkirakan

Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011 41


G

gerbang

jumlah penyandang autisme di Indonesia sekitar 2,4 juta orang, dan bertambah sekitar 500 orang penyandang baru tiap tahunnya. Berbagai bukti menunjukkan bahwa jumlah penyandang ASD (Autism Spectrum Disorder) semakin bertambah secara dramatis pada tahun 1990-an dan awal 2000-an. Peningkatan ini selain memang jumlah penyandang autisme sebenarnya semakin bertambah, juga mungkin dipengaruhi oleh kewaspadaan masyarakat serta semakin membaiknya kemampuan diagnosis para dokter/profesional. Kebanyakan penyandang autisme adalah laki-laki dengan perbandingan 4,3 : 1. Tidak ada perbedaan dalam hal status/latar belakang sosial, ekonomi, ras, etnik. Sayangnya, pertambahan jumlah penderita autis secara pesat di Indonesia tidak diikuti dengan peningkatan fasilitas baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Hal ini dipicu oleh minimnya pengetahuan masyarakat mengenai autisme dan cara penanganannya. Penderita autis yang sulit berinteraksi sosial memerlukan lingkungan khusus untuk belajar dan berkembang. Salah satu cara untuk membentuk lingkungan yang baik bagi penderita autis yaitu melalui perencanaan lingkungan fisik – termasuk bangunan, interior, ruang-ruang luar, penataan ruang dan peralatan yang digunakan pada kegiatan fisik untuk anak.

Apa itu autisme?

Autisme adalah gangguan perkembangan yang ditandai dengan perkembangan gangguan dalam komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku. Autisme menimpa satu dari sekitar 100 anak dan mem-

42 Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011

ilustrasi: research.marketing.co.id

pengaruhi kehidupan, baik anak itu sendiri maupun keluarga mereka. Penyandang autis cenderung lebih banyak pada jenis kelamin laki-laki lima kali lipat dibandingkan pada jenis kelamin perempuan. Pengertian Autis kadang dikaitkan dengan pengklasifikasian sebagai gangguan perkembangan pervasif, kategori gangguan yang sering digambarkan secara bergantian dengan spektrum yang luas dari gangguan perkembangan yang mempengaruhi anak-anak dan orang dewasa yang disebut gangguan spektrum autistik (ASD). Kisaran gangguan gejala autis ini bervariasi dari individu sangat terganggu dengan autisme kepada individu-individu lain yang memiliki kelainan inter-

aksi sosial tetapi kecerdasan normal (sindrom Asperger). Selain itu, autisme dapat ditemukan berhubungan dengan gangguan lain seperti keterbelakangan mental dan kondisi medis tertentu. Tingkat gejala autisme dapat berkisar dari ringan sampai parah. Penderita autis yang ringan mungkin saja tampak normal, namun pada gejala autisme yang parah mungkin memiliki cacat intelektual yang ekstrim. Bagi sebagian orang, mungkin akan bertanya apa itu autis? Apakah penyakit autis ini berkaitan dengan genetik? Karena gangguan yang berbeda dapat mengakibatkan autisme, pertanyaan tersebut cukup rumit untuk dijelaskan. Beberapa gangguan seperti sindrom X dan tuberous sclero-

sis, yang keduanya berhubungan dengan autisme, merupakan penyakit genetik (warisan). Studi terbaru menemukan bahwa gen--setidaknya satu keluarga autisme--mungkin terdapat pada kromosom 13. Namun, mayoritas penderita autisme tidak memiliki sejarah keluarga yang kuat yang mendukung premis bahwa lingkungan atau kombinasi dari faktor lingkungan dan genetik berkontribusi pada pengembangan autisme. Dalam konteks ini, lingkungan dimaksudkan untuk menunjukkan adanya faktor non-genetik, termasuk infeksi, racun, nutrisi, dan lain sebagainya.

Diagnosis Autisme

Fitur penting dari ciri-ciri autisme adalah gangguan perkembangan signifikan atau


MITOS

FAKTA

Semua anak dengan autisme memiliki kesulitan belajar.

Autisme memiliki manifestasi yang berbeda pada setiap orang. Simtom gangguan ini dapat bervariasi secara signifikan dan meski beberapa anak memiliki kesulitan belajar yang berat, beberapa anak lain dapat memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi dan mampu menyelesaikan materi pembelajaran yang sulit, seperti persoalan matematika. Contohnya, anak dengan sindrom Asperger biasanya berhasil di sekolah dan dapat menjadi mandiri ketika ia dewasa.

Anak dengan autisme tidak pernah melakukan kontak mata.

Banyak anak dengan autisme mampu melakukan kontak mata. Kontak mata yang dilakukan mungkin lebih singkat durasinya atau berbeda dari anak normal, tetapi mereka mampu melihat orang lain, tersenyum dan mengekspresikan banyak komunikasi nonverbal lainnya.

Anak dengan autisme tidak dapat menunjukkan afeksi.

Salah satu mitos tentang autisme yang paling menyedihkan adalah miskonsepsi bahwa anak dengan autisme tidak dapat memberi dan menerima afeksi dan kasih sayang. Stimulasi sensoris diproses secara berbeda oleh beberapa anak dengan autisme, menyebabkan mereka memiliki kesulitan dalam menunjukkan afeksi dalam cara yang konvensional. Memberi dan menerima kasih sayang dari seorang anak dengan autisme akan membutuhkan penerimaan untuk menerima dan memberi kasih sayang sesuai dengan konsep dan cara anak. Orang tua terkadang merasa sulit untuk berkomunikasi hingga anak mau mulai membangun hubungan yang lebih dalam. Keluarga dan teman mungkin tidak memahami kecenderungan anak untuk sendiri, tetapi dapat belajar untuk menghargai dan menghormati kapasitas anak untuk menjalin hubungan dengan orang lain.

Anak dan orang dewasa dengan autisme lebih senang sendirian dan menutup diri serta tidak peduli dengan orang lain.

Anak dan orang dewasa dengan autisme pada dasarnya ingin berinteraksi secara sosial tetapi kurang mampu mengembangkan keterampilan interaksi sosial yang efektif. Mereka sering kali sangat peduli tetapi kurang mampu untuk menunjukkan tingkah laku sosial dan berempati secara spontan.

Autisme hanya sebuah fase kehidupan, anak-anak akan melaluinya.

Anak dengan autisme tidak dapat sembuh. Meski demikian, banyak anak dengan simtom autisme yang ringan, seperti sindrom Asperger, dapat hidup mandiri dengan dukungan dan pendidikan yang tepat. Anak-anak lain dengan simtom yang lebih berat akan selalu membutuhkan bantuan dan dukungan, serta tidak dapat hidup mandiri sepenuhnya. Hal itu menyebabkan kekhawatiran bagi sebagian orang tua, terutama ketika mereka menyadari bahwa mereka mungkin tidak dapat mendampingi anak memasuki masa dewasanya. Oleh karena itu, anak dengan autisme membutuhkan bantuan.

Mitos & Fakta tentang Autis abnormal dari komunikasi dan interaksi sosial. Sebelum melakukan terapi autis pada penderita, penting untuk evaluasi medis dimulai dengan riwayat kesehatan menyeluruh dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan ini harus dilakukan oleh seorang praktisi tidak hanya akrab dengan autisme, tetapi dengan gangguan lain yang mungkin tampak mirip atau meniru gejala autisme. Praktisi harus memiliki keahlian khusus dalam pemeriksaan gangguan neurologis. Sebagai contoh, adanya kelemahan ringan atau refleks meningkat pada satu sisi tubuh akan menyebabkan pemeriksa untuk menyimpulkan bahwa terdapat kelainan struktural dalam otak sehingga perlu pemeriksaan MRI otak. Sejarah dan pemeriksaan fisik akan menunjuk pemeriksa untuk tes diagnostik khusus dalam rangka mengevaluasi kondisi lain yang berhubungan dengan autisme atau keterlam-

AUTI.INFO

batan perkembangan. Setiap anak yang memiliki keterlambatan bahasa harus memiliki pendengaran yang dievaluasi secara bertahap. Agar perkembangan bahasa dapat kembali normal, penderita autisme harus memiliki kemampuan mendengar yang cukup pada volume rendah dalam rentang frekuensi tinggi. Baik pada anak-anak maupun dewasa, pemeriksaan neurologis normal tidak perlu dilakukan seperti otak CT scan atau MRI scan. Namun, jika pemeriksaan neurologis pada penderita autis adalah sugestif dari lesi otak struktural, maka studi neuroimaging sebaiknya CT Scan MRI harus dilakukan. Diagnosis yang paling baik adalah dengan cara seksama mengamati perilaku anak dalam berkomunikasi, bertingkah laku dan tingkat perkembangannya. Pemeriksaan klinis dan penunjang lainnya mungkin diperlukan untuk memastikan kemungkinan adanya

penyebab lain tersebut karena karakteristik dari penyandang autis ini banyak sekali ragamnya sehingga cara diagnosa yang paling ideal adalah dengan memeriksakan anak pada beberapa tim dokter ahli seperti ahli neurologis, ahli psikologi anak, ahli penyakit anak, ahli terapi bahasa, ahli pengajar dan ahli profesional lainnya dibidang autis. Dokter ahli atau praktisi kesehatan profesional yang hanya mempunyai sedikit pengetahuan dan wawasan mengenai autisme akan mengalami kesulitan dalam mendiagnosa autisme. Kadang-kadang dokter ahli atau praktisi kesehatan profesional keliru melakukan diagnosa dan tidak melibatkan orang tua sewaktu melakukan diagnosa. Kesulitan dalam pemahaman autisme dapat menjurus pada kesalahan dalam memberikan pelayanan kepada penyandang autisme yang secara umum sangat memerlukan perhatian yang

khusus dan rumit. Hasil pengamatan sesaat belumlah dapat disimpulkan sebagai hasil mutlak dari kemampuan dan perilaku seorang anak. Masukkan dari orang tua mengenai kronologi perkembangan anak adalah hal terpenting dalam menentukan keakuratan hasil diagnosa. Secara sekilas, penyandang autis dapat terlihat seperti anak dengan keterbelakangan mental, kelainan perilaku, gangguan pendengaran atau bahkan berperilaku aneh dan nyentrik. Yang lebih menyulitkan lagi adalah semua gejala autism tersebut di atas dapat timbul secara bersamaan. Karenanya sangatlah penting untuk membedakan antara autis dengan yang lainnya sehingga diagnosa yang akurat dan penanganan sedini mungkin dapat dilakukan untuk menentukan terapi yang tepat. l chairoel anwar/berbagai sumber

Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011 43


G

gerbang

Apakah Anak Anda Autis?

D

alam bidang Autisme, banyak istilah yang belum seragam, misalnya Autisme, Autis, Autistik, Gejala Autisme, PDD, PDD-NOS, Autistic Spectrum Disorder, Multi System Developmental Disorder yang sering digunakan para profesional. Hal ini menimbulkan kerancuan dan kebingungan di kalangan orang tua, sehingga mereka tetap bertanya-tanya apakah anak saya mengalami autisme? Diagnosis ditegakkan dengan Diagnostic and Statistical Manual-IV (DSM-IV) yang merupakan suatu sistem diagnosis yang dibuat oleh perhimpuan psikiater Amerika, atau International Classification of Diseases10 (ICD-10), yang merupakan suatu sistem diagnosis yang dibuat oleh WHO Kedua sistem ini menyebutkan tentang Pervasive Developmental Disorders (PDD) seperti yang ditunjukkan dalam tabel. Agar mudah dipahami, anak Anda berkemungkinan sebagai penyandang autis jika memenuhi 6 unsur atau lebih dari gejala pada poin (1), (2), dan (3); atau paling sedikit dua gejala dari poin (1); atau satu gejala pada poin (2) dan poin (3) di bawah ini. 1. Gangguan kualitatif interaksi sosial, paling sedikit memenuhi dua unsur dari gejala-gejala berikut ini:

Gangguan yang jelas dalam perilaku non-verbal (perilaku yang dilakukan tanpa bicara) misalnya kontak mata, ekspresi wajah, posisi tubuh, dan mimik untuk mengatur interaksi sosial. Tidak bermain dengan te-

44 Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011

• •

DSM-IV Autistic Disorder

ICD-10 Childhood Autism

Pervasive Developmental Disorder Atypical Autism not Otherwise Specified (PDDNOS) Rett΄s Disorder

Rett΄s Syndrome

Childhood Disintegrative Disor- Other Childhood Disintegrative der Disorder Tidak ada

Overactive Disorder with Mental Retardation with Stereotyped Movement

Asperger΄s Disorder

Asperger΄s Syndrome

DD-NOS

Other Pervasive Developmental Disorder

PDD-NOS

Pervasive Developmental Disorder, unspecified

Tidak berbagi kesenangan, minat, atau kemampuan mencapai sesuatu hal dengan orang lain, misalnya tidak memperlihatkan mainan pada orang tua, tidak menunjuk ke suatu benda yang menarik, tidak berbagi kesenangan dengan orang tua.

Kurangnya interaksi sosial timbal balik.Misalnya: tidak berpartisipasi aktif dalam bermain, lebih senang bermain sendiri.

2. Gangguan kualitatif komunikasi, paling tidak satu unsur dari gejala berikut:

Keterlambatan atau belum dapat mengucapkan katakata berbicara, tanpa disertai

Tidak adanya cara bermain yang bervariasi dan spontan, atau bermain meniru secara sosial yang sesuai dengan umur perkembangannya.

3. Pola perilaku, minat dan aktivitas yang terbatas, berulang dan tidak berubah (stereotipik), yang ditunjukkan dengan adanya dua unsur dari gejala berikut:

Minat yang terbatas, stereotipik dan menetap dan abnormal dalam intensitas dan fokus.

Keterikatan pada ritual yang spesifik tetapi tidak fungsional secara kaku dan tidak fleksibel.

Gerakan motorik yang streotipik dan berulang, misalnya flapping tangan dan jari, gerakan tubuh yang kompleks.

Preokupasi terhadap bagian dari benda.

Berbagai gangguan yang termasuk dalam Pervasive Developmental Disorders

man seumurnya, dengan cara yang sesuai.

usaha kompensasi dengan cara lain misalnya mimik dan bahasa tubuh. Bila dapat berbicara, terlihat gangguan kesanggupan memulai atau mempertahankan komunikasi dengan orang lain. Penggunaan bahasa yang stereotipik dan berulang, atau bahasa yang tidak dapat dimengerti.

Selain itu, ada juga gejala keterlambatan yang muncul sebelum anak berusia 3 tahun. 1. Interaksi sosial. 2. Bahasa yang digunakan sebagai komunikasi sosial. 3. Bermain simbolik atau imajinatif. idai.ord.id


Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011 45


G

gerbang

10 Jenis Terapi Autisme

A

khir-akhir ini bermunculan berbagai cara, obat, atau suplemen yang ditawarkan dengan iming-iming bisa menyembuhkan gejala autisme. Kadang-kadang secara gencar dipromosikan oleh si penjual. Ada pula cara-cara mengiklankan diri di televisi, radio, hingga tulisan-tulisan. Para orang tua harus hatihati dan jangan sembarangan membiarkan anaknya sebagai kelinci percobaan. Sayangnya masih banyak yang terkecoh, dan setelah mengeluarkan banyak uang menjadi kecewa oleh karena hasil yang diharapkan tidak tercapai. Di bawah ini ada 10 jenis terapi yang benar-benar diakui oleh para profesional dan memang bagus untuk autisme. Namun, jangan lupa bahwa gangguan spektrum autisme adalah suatu gangguan proses perkembangan, sehingga terapi jenis apapun yang dilakukan akan memerlukan waktu yang lama. Kecuali itu, terapi harus dilakukan secara terpadu dan setiap anak membutuhkan jenis terapi yang berbeda.

1) Applied Behavioral Analysis (ABA)

ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai, telah dilakukan penelitian dan didisain khusus untuk anak dengan autisme. Sistem yang dipakai adalah memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive reinforcement (hadiah atau pujian). Jenis terapi ini bisa diukur kemajuannya. Terapi inilah yang paling banyak dipakai di Indonesia saat ini.

2) Terapi Wicara 46 Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011

Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa. Biasanya, hal inilah yang paling menonjol. Banyak pula individu autistic yang non-verbal atau kemampuan bicaranya sangat kurang. Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang, namun mereka tidak mampu untuk memakai bicaranya untuk berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang lain. Dalam hal ini terapi wicara dan berbahasa akan sangat menolong.

3) Terapi Okupasi

Hampir semua anak autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Gerak-geriknya kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk memegang pinsil dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan menyuap makanan ke mulutnya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, terapi okupasi sangat penting untuk melatih mempergunakan otot-otot halusnya dengan benar.

4) Terapi Fisik

Autisme adalah suatu gangguan perkembangan pervasif. Banyak di antara individu autistik mempunyai gangguan perkembangan dalam motorik kasarnya. Kadang-kadang tonus ototnya lembek sehingga jalannya kurang kuat. Keseimbangan tubuhnya kurang bagus. Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris akan sangat banyak menolong untuk menguatkan otot-ototnya dan memperbaiki keseimbangan tubuhnya.

5) Terapi Sosial

Kekurangan yang paling mendasar bagi individu

autisme adalah dalam bidang komunikasi dan interaksi. Banyak anak-anak ini membutuhkan pertolongan dalam keterampilan berkomunikasi dua arah, membuat teman dan main bersama di tempat bermain. Seorang terapis sosial membantu dengan memberikan fasilitas pada mereka untuk bergaul dengan teman-teman sebaya dan mengajari caracaranya.

sosial, emosional dan intelektualnya. Terapi perkembangan berbeda dengan terapi perilaku seperti ABA yang lebih mengajarkan keterampilan yang lebih spesifik.

9) Terapi Visual

Meskipun terdengar aneh, seorang anak autistik membutuhkan pertolongan dalam belajar bermain. Bermain dengan teman sebaya berguna untuk belajar bicara, komunikasi dan interaksi sosial. Seorang terapis bermain bisa membantu anak dalam hal ini dengan teknik-teknik tertentu.

Individu autistik lebih mudah belajar dengan melihat (visual learners/visual thinkers). Hal inilah yang kemudian dipakai untuk mengembangkan metode belajar komunikasi melalui gambar-gambar, misalnya dengan metode Dan PECS ( Picture Exchange Communication System). Anak diajarkan dengan pengenalan bentuk-bentuk binatang, buah dan gerakan lewat gambar. Beberapa video games bisa juga dipakai untuk mengembangkan keterampilan komunikasi.

7) Terapi Perilaku

10) Terapi Biomedik

6) Terapi Bermain

Anak autistik seringkali merasa frustrasi. Teman-temannya seringkali tidak memahami mereka, merasa sulit mengekspresikan kebutuhannya, banyak yang hipersensitif terhadap suara, cahaya dan sentuhan. Tak heran bila mereka sering mengamuk. Seorang terapis perilaku terlatih untuk mencari latar belakang dari perilaku negatif tersebut dan mencari solusinya dengan merekomendasikan perubahan lingkungan dan rutin anak tersebut untuk memperbaiki perilakunya.

8) Terapi Perkembangan

Floortime, son-rise dan RDI (Relationship Developmental Intervention) dianggap sebagai terapi perkembangan. Artinya, anak dipelajari minatnya, kekuatannya dan tingkat perkembangannya, kemudian ditingkatkan kemampuan

Terapi biomedik dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam DAN! (Defeat Autism Now!). Banyak dari para perintisnya mempunyai anak autistik. Mereka sangat gigih melakukan riset dan menemukan bahwa gejala-gejala anak ini diperparah oleh adanya gangguan metabolisme yang akan berdampak pada gangguan fungsi otak. Oleh karena itu anak-anak ini diperiksa secara intensif, pemeriksaan, darah, urin, feses, dan rambut. Semua hal abnormal yang ditemukan dibereskan, sehingga otak menjadi bersih dari gangguan. Terrnyata, lebih banyak anak mengalami kemajuan bila mendapatkan terapi yang komprehensif, yaitu terapi dari luar dan dari dalam tubuh sendiri (biomedis). l autis.info


A

utis bukan kutukan. Bukan juga penyakit. Para ahli medis sendiri masih belum menemukan penyebab pasti autis. Namun, berikut ini ada beberapa fakta dari hasil riset beberapa pakar mengenai autisme yang dirangkum dari berbagai sumber.

Anak Autis Punya Otak Lebih Besar dan Sel Saraf Lebih Banyak Meski memiliki gangguan dalam komunikasi, perkembangan mental dan sosial, ternyata anak autis mempunyai banyak kelebihan. Anak autis memiliki bobot otak yang lebih besar dan jumlah sel saraf otak prefrontal 67 persen lebih banyak daripada anak-anak normal. Itulah yang membuat anak autis banyak yang cerdas di atas rata-rata meskipun mengalami gangguan perkembangan yang ditandai dengan adanya masalah pada interaksi sosial, komunikasi verbal dan nonverbal, serta ketertarikan dan perilaku yang terbatas. Anak-anak autis diketahui memiliki gangguan saraf, termasuk di daerah korteks prefrontal yang berperan dalam komunikasi, perkembangan mental, dan sosial. Tapi, sebuah penelitian kecil menemukan bahwa anak lakilaki autis memiliki bobot otak yang lebih besar dan jumlah sel saraf otak prefrontal 67% lebih banyak daripada anak-anak normal. Penelitian ini membandingkan 7 anak autisme dengan 6 anak sehat berusia 2 hingga 16 tahun. Pertumbuhan otak anak autisme tersebut melahirkan teori bahwa kelebihan jumlah sel saraf bisa jadi penyebab yang mendasari autisme. Namun penyebab pertumbuhan saraf yang berlebih tetap belum diketahui dan hanya dapat diketahui dari penelitian langsung pada otak anak autis. Eric Courchesne, Ph.D, dan timnya dari NIH-UCSD School of Medicine Autism Center of Excellence, La Jolla, California, mencari tahu apakah kelebihan otak pada awal kehidupan anak autis juga melibatkan jumlah sel saraf korteks prefrontal yang abnormal.

Alasannya adalah hal yang sama juga bisa dijumpai pada anak yang mengalami megalencephaly atau pembesaran otak yang tidak normal.

Otak Anak Autis Bekerja dengan Cara Beda

sumber: University of California & Children's Hospital, San Diego

Mereka melakukan evaluasi pengujian pada 13 anak laki-laki berusia 2 sampai 16 tahun. Tujuh di antaranya memiliki gangguan spektrum autisme dan 6 anak adalah anak sehat sebagai kelompok kontrol. Anak-anak tersebut telah meninggal pada tahun 2000 hingga 2006 dan berasal dari Amerika Serikat bagian tenggara dan timur. Seperti laporan yang dimuat JAMA (Journal of American Medical Association), para ilmuwan menemukan bahwa: 1. Di otak bagian dorsolateral korteks prefrontal, anak-anak autis memiliki sel saraf 79% lebih banyak 2. Di otak bagian mesial korteks prefrontal, anak-anak autis memiliki sel saraf 29% lebih banyak 3. Di otak bagian dorsolateral korteks prefrontal, rata-rata terdapat 1,57 miliar sel saraf pada anak autis, dibandingkan dengan 0.88 miliar pada anak lain

4. Di otak bagian mesial korteks prefrontal, rata-rata terdapat 0.36 miliar sel saraf pada anak autis, dibandingkan dengan 0,28 miliar pada anak lain 5. Perbedaan berat otak sebesar 17,6% bdi antara anak-anak dengan autisme, dibandingkan dengan 0,2% di antara mereka tanpa autisme "Bersama-sama, 2 sub bagian otak memberikan jumlah gabungan sel saraf prafrontal 67 persen lebih besar pada anak-anak autis dibandingkan dengan kelompok kontrol," kata Courchesne seeprti dilansir medicalnewstoday.com, awal September tahun lalu. Dalam sebuah editorial di jurnal yang sama, Janet E. Lainhart MD, dari University of Utah, Salt Lake City, dan Nicholas Lange, Sc.D., dari Universitas Harvard Sekolah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat, Boston, mengomentari bahwa bertambahnya berat dan jumlah sel saraf otak pada kelompok autis tidak signifikan berkorelasi.

Anak-anak penyandang autisme juga ternyata menggunakan otaknya dengan cara yang berbeda dengan orang lain. Hal ini mungkin menjelaskan mengapa beberapa anak autis memiliki kemampuan menghapal dan mampu menggambar objek dengan sangat detail. Menurut para peneliti dari Universitas Montreal, Kanada, pada penyandang autisme, area otak yang berkaitan dengan fungsi informasi visual sangat berkembang. Sementara itu, bagian otak lainnya kurang aktif terutama pada area yang berkaitan dengan pembuatan keputusan dan perencanaan. Hal tersebut menjelaskan mengapa beberapa penyandang autisme biasanya lebih unggul dalam hal tugas-tugas visual, misalnya menggambar sesuatu dengan sangat akurat dan detail. Akan tetapi, anak autis biasanya kesulitan menerjemahkan ekspresi wajah. Kondisi otak tersebut bervariasi tiap individu sehingga ada penderita autisme yang sama sekali tidak bisa mengambil peran dalam kehidupan sosial. Para pakar autisme menyambut baik hasil riset ini. "Studi ini menekankan bahwa autisme seharusnya tidak dipandang sebagai kesulitan perilaku tapi berkaitan dengan keunggulan dalam satu skill tertentu," kata Dr.Christine Ecker dari Institute of Psychiatry di Kings College London. l detikhealth/kompas.com

Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011 47


G

gerbang

Orangtua Pintar Matematika, Anak Rentan Autis

R

isiko autis pada anak diyakini berhubungan dengan tingkat kecerdasan orangtua, khususnya yang berhubungan dengan matematika. Jika orangtua bekerja di bidang ilmu pasti, misalnya sebagai teknisi, anaknya lebih rentan menjadi autis. Sebuah penelitian diCambridge University pernah melontarkan gagasan bahwa tingkat kecerdasan orangtua berhubungan dengan risiko autis pada anak. Kecerdasan yang dimaksud berhubungan dengan kemampuan matematis, yang banyak dipakai di bidang ilmu pasti. Prof Simon Baron Cohen, yang akan memimpin penelitian itu mengatakan, orangtua yang bekerja di bidang ilmu pasti punya kecenderungan lebih tinggi untuk melahirkan anak autis. Pekerjaan yang dimaksud antara lain teknisi, insinyur, ilmuwan dan juga programmer. "Pengujian yang jelas terhadap teori ini akan menunjukkan pada kita bahwa pasangan yang sama-sama pintar dan berpikir sistematis cenderung memiliki anak dengan spektrum autisme lebih tinggi," ungkap Prof Cohen seperti dikutip dari Telegraph, September tahun lalu. Penelitian yang baru akan dilakukan dalam waktu sangat dekat ini akan melibatkan sekelompok sarjana yang direkrut secara acak. Para ilmuwan akan mengamati bagaimana para sarjana itu mengasuh anaknya, lalu melihat pengaruhnya terhadap risiko autis. Menurut teori yang ia kembangkan selama 15 tahun terakhir, orangtua dari anak-anak autis dan anak itu sendiri, memiliki bakat untuk memahami dan menganalisis prediksi, berdasar-

48 Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011

kan aturan sistem seperti mesin, matematika atau program komputer. "Gen yang membuat orangtua berpikir teknis inilah, yang menurut saya menyebabkan autisme, ketika diturunkan pada anak-anaknya. Terutama, bila dikombinasikan dengan dosis gen serupa," kata Cohen. Selama ini, memang ada stereotipe bahwa ilmuwan dalam bidang teknik cenderung 'kutu buku' dan tak mudah bergaul. Baron-Cohen juga berspekulasi bahwa tokoh-tokoh seperti Albert Einstein dan Isaac Newton mengalami sindroma Asperger, salah satu gejala autisme.

Faktor Genetik

Dari sekian banyak teori yang berkembang soal pemicu autis, memang ada kesimpulan yang selalu sama bahwa faktor genetik berperan besar dalam risiko gangguan autisme. "Jika orangtua menunjukkan gejala autisme, kemungkinan besar memiliki anak yang juga mengalami autisme," kata Cohen. Kesimpulan Cohen ini, juga diamini oleh Bryna Siegel, seorang psikolog klinis yang bekerja di klinik autis, University of California, San Francisco, Amerika Serikat. "Hal ini memang

sesuai dengan yang saya alami dan pengalaman setidaknya beberapa dokter," katanya. Namun, beberapa kritikan juga muncul menanggapi teori pemicu autisme yang dikembangkan Cohen. Menurut John Constantino, psikiater dari Washington University, data yang digunakan Cohen, tak cukup untuk mendukung teori-teorinya. "Memang ada hipotesis yang bagus untuk terus dikem-

bangkan, namun hal ini harus dibuktikan melalui serangkaian tes," kata Constantino. Meski belum melahirkan kesimpulan baru, hasil penelitian ini nantinya diperkirakan tidak akan jauh berbeda dari berbagai penelitian terdahulu. Memang, hubungan antara tingkat kecerdasan orangtua dengan risiko autis pada anak sudah lama menjadi perhatian para ahli. Sebuah laporan tahun 2001 menyimpulkan, seorang ahli matematika cenderung punya spektrum autis yang lebih tinggi dibanding orang lain dengan tingkat kecerdasan yang sama yang bekerja di bidang lain. Sebelumnya pada tahun 1997, anak dan bahkan cucu insinyur terbukti lebih berisiko menjadi autis. l VIVAnews/kompas.com


Bagaimanapun Juga, Peran Orangtua yang Terpenting

B

anyak orangtua yang tak menduga, jika jasa terapi bagi anak-anak berkebutuhan khusus-termasuk anak autis-adalah bisnis yang menggiurkan. Meski tarif terapi anak di setiap daerah atau di setiap tempat terapi kadang berbeda, tapi tak pernah meleset dari hitungan Rp500 sampai Rp1,5 juta per bulan per anak. Bahkan, tempat terapi anak yang cukup terkenal di Bandung, mematok tarif terapi sampai Rp90 ribu per jam! Memang, tak semua tempat terapi berorientasi profit--itu jika didukung oleh donatur atau yayasan nirlaba. Tapi, bagi tempat terapi yang profit oriented, biasanya "bekerja sama"--dan begitulah aturannya--dengan dokter-dokter spesialis anak, walau kadang-kadang tak pernah dikunjungi dokter spesialis anak yang tertera di akta notaris. Bagi tempat terapi yang nakal, menyadari jika orang tua dengan anak-anak penyandang autis akan "mati-matian" menyelamatkan anak mereka, dan berharap penuh kepada tempat terapi. Orangtua akan rela mengeluarkan biaya berapapun dan melakukan apapun asalkan anak mereka yang penyandang autis bisa disembuhkan. Tidak heran jika kemudian para orang tua yang memiliki anak autis seringkali terjebak pada perilaku shopping therapy atau berpindah-pindah tempat terapi karena mereka tidak sabar. Shoping therapy ini menyebabkan terapi terhadap si anak tidak efektif karena polanya tidak berkesinambungan dan mungkin ada yang terputus. Sebuah buku berjudul "Meniti Pelangi" karya Sarasvati, juga menceritakan tentang perjuangan seorang ibu untuk

"menyelamatkan" anaknya yang penyandang autis. Segala upaya dilakukan sang ibu demi mencari kesembuhan sang anak. Bahkan hingga ke dukun pun dijalani. Hingga garis nasib mengantarkan mereka ke Australia untuk merawat dan membesarkan anak mereka yang kini berusia 15 tahun. Australia adalah pilihan tepat karena di sana anaknya mendapatkan pendidikan yang layak dia dapatkan. Sang anak kini tumbuh mengaggumkan. Dia juara matematika, sangat pandai dalam membidik obyek fotografi, dapat mengungkapkan perasaan kepada orang sekelilingnya dan mampu berkomunikasi laiknya orang normal. Tapi, yang tak disadari oleh para orang tua, menjamurnya bisnis tempat terapi anak ini membuat orang tua begitu mudah "diatur" dan "diarahkan". Kadang, diagnosa dokter-dokter spesialis anak ataupun psikolog anak tempat mereka berkonsultasi semakin menyiutkan semangat para orang tua. Beli ini, beli itu, begini, begitu. Waktu tersita, dana juga terkuras luar biasa, tenaga penat tak terkira, tapi hasilnya sering tak menunjukkan apa yang diharapkan. Bagi orangtua yang memiliki kepercayaan diri kuat, biasanya tidak begitu menggubris analisis dokter spesialis tempat mereka berkonsultasi. Orang-orangtua seperti ini lebih percaya dengan insting dan naluri seorang ibu, daripada analisis medik para pakar. Jika paramedik menyatakan si anak tidak bisa begini, orangorangtua dengan semangat tinggi yakin bisa. "Saya tak percaya dokter. Dokter bilang anak saya tak bisa begini-begitu, nyatanya bisa. Anak saya juga tak pernah diterapi apalagi diberi obat-obatan, tapi bisa normal," kata Ny Ayu,

ibu dari anak penyandang autis di Tanjungpinang. Lihat juga komentar ibuibu yang memiliki anak-anak berkebutuhan khusus yang sudah mulai "putus asa" setelah berkonsultasi dengan psikolog anak dan dokter spesialis--yang ternyata paramedik itu menawarkan tempat terapinya. Dr. Kresno Mulyadi Sp.Kj justru membantu menyemangati ibu-ibu dengan anak penyandang autis. Autis bisa disembuhkan, begitulah pernyataan saudara kembar Seto Mulyadi ini dalam bukunya "Autism is Treatable: 3 Pekan Menuju Keberhasilan Terapi". Ketika mendapatkan diagnosa anak menyandang autisme, orangtua perlu menerima dengan tulus, dan yang paling penting adalah menyiapkan diri dengan empati. Kresno mengatakan empati menjadi kunci utama bagi orangtua dalam mengasuh dan merawat anak penyandang autisme. "Orangtua dan keluarga perlu berupaya tegas namun tidak keras. Empati menjadi kunci utamanya, tentu selain kesabaran yang tinggi," jelasnya seperti yang dikutip Kompas Female di sela acara peluncuran buku karangannya, Autism is Treatable. Tempat terapi untuk anak tetap penting. Tapi, "peran orangtua jauh lebih penting. Karena, kesembuhan anak-anak penyandang autis tidak bisa mengandalkan tempat terapi jika orangtua enggan melakukan hal serupa di rumah," tegas Kresno dalam bukunya. Menurut Kresno, orangtua dengan anak penyandang autisme tak hanya memerlukan edukasi, namun yang lebih penting adalah pelatihan. Pelatihan terhadap orangtua dengan anak

penyandang autisme dibutuhkan agar tak keliru memperlakukan anak autis. Jika anak ingin sembuh-meski tidak 100 persen--dengan cepat, orangtua memang benarbenar harus mau "berkorban" demi anak. "Paling tidak, anak harus diterapi selama 40 jam per minggu. Dan, aktivitas ini memang harus mengorbankan aktivitas orangtua di luar rumah," tegasnya lagi. Noraida Mokhseen, mantan pejabat teras Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau--yang memiliki anak autis, juga mendapatkan pencerahan di Australia. Karena intervensi sejak dini maka sang anak bisa ke sekolah umum dan bergaul seperti layaknya anak-anak sebayanya. Kebetulan IQ-nya juga normal. "Betul, anak saya ada yang menderita austis walaupun ringan. Ketika itu kami tinggal di luar negeri (Australia, red). Jadi semuanya mudah dan gratis. Saya dan suami juga ikut kursus agar apa yang diajarkan oleh teraphist sama dengan apa yang kami ajarkan di rumah. Yang jelas, saya berusaha untuk tidak menggunakan obat-obatan sama sekali. Hanya dijaga dietnya serta diajari cara dia berperilaku, cara mengontrol amarah, mengontrol suara. Memang harus sabar, tapi alhamdulillah dia seperti orang normal. Di sekolah pun dia pernah dapat ranking," kata Nuraida, yang mengaku kini si anak jagoan main piano dan ingin menjadi guru sekolah musik. Nuraida mengaku punya niat untuk mendirikan semacam pusat layanan anak dengan kebutuhan khusus di Tanjungpinang, namun kerap tak memiliki punya kesempatan. l chairoel anwar

Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011 49


G

oase

PAUDNI sebagai Investasi Oleh: Dra. Hj. Adriati:*

Berdasarkan data pada tahun 2002, jumlah anak yang telah terlayani PAUDNI baru mencapai 7,34 juta anak atau 28 persen dari total jumlah penduduk usia 0-6 tahun di Indonesia sebanyak 26,17 juta. Persentasi tersebut memang setiap tahunnya meningkat seiring dengan meningkatnya alokasi anggaran untuk PAUDNI, baik yang dialokasikan pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia.

50 Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011

Istilah Pendidikan Anak Usia Dini Non-Formal dan Informal (PAUDNI) mulai banyak dikenal sekitar tahun 2000-an yang ditandai dengan dibentuknya Direktorat PAUDNI. Namum konsep tentang PAUDNI sebenarnya sudah ada sebelum itu, bahkan sudah dikenal sejak zaman kerajaan yang dikenal dengan istilah sistem cantrik. Pada zaman penjajahan Belanda PAUDNI dikenal dengan sebutan Europese Legere School (ELS) dan Froebelschool. Lalu sejak zaman penjajahan Jepang beralih ke sistem Nippon. Sedangkan istilah Taman Kanak-kanak (TK) pertama kali dikenalkan oleh Ki Hajar Dewantara melalui Organisasi Taman Siswa yang didirikannya. Ini ditandai dengan berdirinya Taman India di Kota Gede Yogyakarta pada 3 Juli 1922, yang memberikan layanan pendidikan khusus bagi anak usia di bawah 7 (tujuh) tahun. Seiring dengan perjalanan waktu, PAUDNI terus berkembang. Tugas berat kita sekarang adalah bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan PAUDNI itu sendiri agar dapat mengikuti dinamika kehidupan yang semakin kompleks. Sebab, anak merupakan pondasi bagi generasi penerus bangsa. Untuk memperokokoh pondasi itu harus dimulai sejak dini (dari PAUDNI, red). Setelah itu baru ke jenjang pendidikan beri-

kutnya. PAUDNI merupakan pendidikan mendasar dan sangat menentukan bagi perkembangan anak di kemudian hari. Begitulah arti penting PAUDNI dalam membentuk pondasi generasi penerus bangsa. Selama ini kita telah memberi batasan terhadap pengembangan anak usia dini hanya pada anak yang berusia 4-6 tahun yaitu mereka yang melakukan aktivitas di bangku Taman Kanak-kanak (TK) atau kelompok bermain. Akibatnya anak-anak usia 0-4 tahun tidak mendapat kesempatan untuk dikembangkan. Padahal pembentukan anak tidak hanya setelah lahir dan saat masuk TK saja. Pemberian simulasinya harus dimulai ketika anak masih dalam kandungan ibunya. Secara garis besarnya, anak usia dini dalam masa tumbuh kembang secara garis besar memerlukan tiga kebutuhan pokok. 1. Kebutuhan fisikbiomedis (asuh) Sejak dalam kandungan anak memerlukan pengasuhan dari kedua orang tuanya, berupa pemenuhan gizi nutrisi untuk janin, keamanan janin, perawatan kesehatan dasar (imunisasi, pemberian Air Susu Ibu (ASI), penimbangan bayi secera periodik, dan lain-lain).

2. Kebutuhan emosi atau kasih sayang. Pada tahun pertama kehidupan, hubungan yang mesra dan penuh kasih sayang antara anak dan ibu merupakan syarat mutlak untuk menjamin proses tumbuh kembang yang selaras baik fisik, mental maupun psikososial. Kekurangan akan kasih sayang ibu di tahun-tahun pertama pada kehudupan anak dapat mempengaruhi pada tumbuh kembang anak, baik fisik, mental, maupun sosial anak (syndrome deprivasi meternal). 3. Kebutuhan akan stimulasi mental (asah) Stimulasi mental sejak dini merupakan cikal bakal proses belajar (pendidikan dan pelatihan). Stimulasi pada anak harus dimulai sedini mungkin (melalui kegiatan pemberian ASI sesaat setelah lahir). Pada ASI pertama juga terdapat zat kulustum yang sangat berguna bagi kesehatran (kekebalan tubuh dan otak bayi). ASI juga berfungsi mengoptimalkan perkembangan sensorik dan kognitif. Selain itu pada kegiatan pemberian ASI juga secara langsung menstimulasi indra peraba dan perasa. Stimulasi mental dini sangat penting pada lima tahun pertama dike-


hidupan anak. Karena waktu berkembangnya seluruh aspek perkembangan itu secara bersamaan. Stimulasi mental juga berfungsi mengembangkan potensi anak (kecerdasan jamak).

Mutlak Diberikan

Untuk investasi masa depan dalam upaya pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, pengembangan anak-anak usia dini sangat mustahak diperlukan. Dari anak-anak yang seluruh potensinya dikembangan secara optimal sejak usia dinilah kita akan memperoleh SDM yang mampu membangun masa depan bangsa yang maju, mandiri, sejahtera dan berkeadilan. Tidak mengherankan, negara-negara maju sangat memperhatikan pendidikan anakanak usia dini. Di Jepang, Korea Selatan, Singapura misalnya, hampir semua anak-anak usia dini telah terlayani PAUDNI. Di negara jiran Malaysia pelayanan PAUD telah mencapai angka 70 persen. Bahkan di Singapura cukup membanggakan: penguasaan bahasa Cina dan Inggris sudah diselesaikan di tingkat TK. Bagaimana halnya dengan Indonesia? Berdasarkan data pada tahun 2002, jumlah anak yang telah terlayani PAUDNI baru mencapai 7,34 juta anak atau 28 persen dari total jumlah penduduk usia 0-6 tahun di Indonesia sebanyak 26,17 juta. Persentasi tersebut memang setiap tahunnya meningkat seiring dengan meningkatnya alokasi anggaran untuk PAUDNI, baik yang dialokasikan pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia. Komitmen pemerintah saat ini untuk PAUDNI terlihat semakin besar. Namun partisipasi PAUDNI

di Indonesia masih terendah dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lainnya. Pelayanan PAUDNI di Indonesia belum terstruktur secara jelas di dalam mekanisme kerja dinas pendidikan di daerah-daerah. Inilah realitas yang saya lihat dan tangkap sebagai orang yang bergelut dalam pengelolaan PKBM (LPK dan PAUDNI) di daerah (Tanjungpinang, red). Tingginya perhatian negara-negara maju terhadap PAUDNI, pada gilirannya, kita bisa melihat, mereka berhasil membangun SDM yang diperlukan untuk memajukan bangsa dalam semua sektor kehidupan. Singapura misalnya, kini sudah menjadi “macan� di Asia dalam bidang ekononi. Malaysia dan Thailand bakal menyusul seiring dengan meningkatnya investasi di negara tersebut dan membaiknya kondisi perekonomian negara tersebut. Mudah-mudahan saja, Indonesia bisa menyusul.

Alasan Penting

Young (1996) menyebutkan ada lima alasan penting perlunya dilakukan investasi untuk pengembangan anak usia dini: 1. Untuk membangun SDM yang berkecerdasan tinggi, berpribadian dan berprilaku sosial yang baik, dan berketahanan mental dan psikososial yang kokoh. 2. Untuk menghasilkan economic return yang lebih sekaligus menurunkan social cost pada masa yang akan datang dengan meningkatnya efektifitas pendidikan dan menekan pengeluaran biaya untuk kesejahteraan masyarakat. 3. Untuk mencapai pemerataan sosial ekonomi masyarakat termasuk men-

gatasi kesenjangan antargender. 4. U n t u k m e n i n g k a t k a n efisiesnsi investasi pada sektor lain karena intervensi program gizi dan kesehatan pada anak-anak akan memungkinkan kelangsungan hidup anak. Dalam pada itu intervensi dalam program pendidikan akan meningkatkan kinerja anak-anak dan mengurangi kemungikinan tinggal kelas. 5. Untuk membantu kaum ibu dan anak-anak. Dengan meningkatnya jumlah ibu bekerja dan rumah tangga yang dipimpin oleh kaum perempuan, pengasuhan anak-anak yang aman menjadi mustahak. Dengan sedianya tempat untuk itu kaum perempuan untuk berkarier dan meningkatkan kemampauan serta keterampilan terbuka lebar.

Manfaat PAUDNI

Pendek kata, apabila PAUDNI diselenggarakan secara benar, berkualitas dan menyeluruh bagi semua anak di Indonesia, niscaya kita akan menyaksikan generasi masa depan yang gemilang dan cemerlang. Yang pada gilirannya mampu membangun bangsa ini menuju kejayaan yang hakiki. Suatu generasi yang tidak akan pernah relah menyaksikan sendi-sendi kehidupan bangsa dan negaranya terancam dalam porak-poranda, tetapi dengan segenap kemampuan dan jiwa raganya, secara perkasa dan ikhklas senantiasa berjuang untuk mengangkat harkat dan marwah dan mengharumkan nama bangsa. Tentu dengan kualitas yang dimilikinya karena sudah mem-

peroleh pendidikan yang baik sejak usia dini, segala tantangan dan hambatan yang dihadapi dapat diatasi secara memuaskan. Jika PAUDNI diabaikan kita akan menerima kehancuran. Setidaknya, ada beberapa keuntungan pada anak yang mengikuti program PAUDNI: 1. A n a k y a n g m e n g i k u t i PAUDNI, terbukti lebih siap menghadapi pendidikan di sekolah yang lebih tinggi, dibandingkan dengan anak yang tidak pernah mengikuti PAUDNI pada saat balitanya. Ini terjadi karena anak yang telah mengikuti PAUDNI sudah terbentuk. 2. Anak yang mengikuti PAUDNI lebih dewasa dalam berpikir dan bertindak. 3. Pada saat memasuki usia 40 tahun, mereka yang pernah mengikuti PAUDNI terbukti lebih memiliki penghasilan lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang tidak pernah mengikuti PAUDNI. Beberapa studi telah membuktikan ini. Sekarang tergantung kita lagi (terutama para orang tua). Apakah kita membiarkan potensi yang terdapat pada anak–anak kita yang masih berusia dini atau sebaliknya. Pemerintah telah memberikan kesempatan, tinggal lagi bagaimana kita memanfaatkan kesempatan emas tersebut. Orang tua harus menyadari dan Ingat anak adalah investasi masa depan. Karena itu jangan sia-siakan investasi emas tersebut. l (*) Penilik Madya PNFI Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Tanjungpinang

Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011 51


G

cakal bakal Nurul Shafarani

Si Cerdas yang Pelupa

“

Arti dari Nurul Shafarani itu adalah cahaya perjalanan. Semoga dia memang benar-benar menjadi cahaya bagi setiap orang dan setiap perjalanannya terang benderang.�

52 Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011


T

erlahir dengan nama lengkap Nurul Shafarani. Saat ini masih duduk di kelas XI SMA Negeri 2 Tanjungpinang. Remaja kelahiran Tanjungpinang, 1 Juli 1995, ini dikenal kawankawannya sebagai anak yang periang dan rajin sekali belajar. Dara pasangan Abdul Khatab dan Hajrah ini juga dikenal memiliki kepintaran yang luar biasa. Bagi Nurul sendiri, itu dikarenakan kerja kerasnya dalam menuntut ilmu. Nama Nurul Shafarani itu dipilih oleh kedua orang tuanya karena berharap agar anaknya kelak menjadi cahaya bagi setiap orang. Bagi keluarga, Nurul kelak bisa menjadi anak yang soleh, berbakti kepada orang tua, dan di setiap perjalanannya adalah cahaya. “Arti dari Nurul Shafarani itu adalah cahaya perjalanan. Semoga dia memang benar-benar menjadi cahaya bagi setiap orang dan setiap perjalanannya terang benderang,” ujar Hajrah, ibunda Nurul, penuh harap. Seperti anak-anak pada umumnya, Nurul juga sering bermain atau hanya sekedar berkumpul bersama teman-teman. Kendati demikian, haram baginya meninggalkan sedikiti pun waktu untuk tidak belajar. Belajar, bagi Nurul, sudah menjadi agenda rutin setiap hari. Namun, Nurul mengakui, belajar adalah keinginan, bukan paksaan. Tidak heran jika Hajrah bilang, anak sulungnya itu suka malas jika disuruh belajar walaupun akhirnya mau juga. Tapi bagi Hajrah, hal itu dianggap biasa oleh orang tuanya karena dia masih belia. Layaknya anak yang terlahir sebagai problem solver, Hajrah mengaku sering jengkel dengan anaknya yang cerdas

ini. Meskipun cerdas, ternyata Nurul seorang yang pelupa dan lambat. Dan orang tuanya pun mengaku aneh dengan prilakunya tersebut. “Padahal masih muda, tapi pelupa, untung dia pintar,”celetuk ibunya, sementara Nurul yang mendampingi cuma cengengesan. Ternyata, tanda-tanda kecerdasan Nurul sudah terlihat sejak dia berumur 4 tahun. Pada saat berusia 5 tahun, orang tuanya kagum karena Nurul sudah pandai membaca dengan lancar seperti orang dewasa pada umumnya. Agaknya, anak-anak pasangan Abdul Khatab dan Hajrah memang keluarga prestatif. Muhammad Nur Fitrah dan Nurul Shaumi, kakak Nurul, sejak SMP beberapa kali menyabet prestasi tertinggi di sekolahnya masing-masing. Demikian dengan Nurul. Dia sering menorehkan prestasi sejak duduk di sekolah dasar (SD). Posisi juara umum telah menjadi langganannya dari kelas III hingga kelas VI, walaupun dia berpindah-pindah sekolah sejak SD. Hajrah menuturkan, sejak kecil Nurul merupakan kesayangan keluarganya. Dara berjilbab itu selalu mendapat dukungan dari keluarganya dalam segala hal. "Dia seperti ingin selalu menang," ungkap Hajrah. Meski kelahiran Tanjungpinang, tak selamanya Nurul mengenyam pendidikan di Kota Gurindam itu. Dia kerap berpindah sekolah, mengikuti jejak sang ayah yang berpindah tugas, karena mengabdi sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Kabupaten Lingga. Saat duduk dikelas I hingga kelas II, Nurul mengenyam pendidikan di bangku SD Negeri 001 Tanjungpinang Nama Tempat Tanggal Lahir Alamat Hobi

Timur. Pada saat kelas III, Nurul pindah ke SD Negeri 012 Tanjungpinang Timur. Namun, pada tahun 2005 lalu saat kenaikan kelas, ayahnya dipindahtugaskan ke Singkep, Kabupaten Lingga. Nurul pun ikut hijrah ke Singkep dan melanjutkan sekolah di SD Negeri 013 Singkep sampai kelas VI. Saat duduk di kelas VI itulah dia berhasil menorehkan prestasi yang membanggakan. Nurul termasuk ke dalam lima besar siswa berprestasi se-Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) dan berada di peringkat dua. Setelah lulus dari SD dan ingin masuk ke jenjang SMP, Nurul dan ibunya memilih kembali ke Tanjungpinang dan meninggalkan ayahnya yang tidak bisa meninggalkan tugasnya di Kabupaten Lingga. Akhirnya, Nurul menjatuhkan pilihannya masuk ke SMP Negeri 2 Tanjungpinang hingga tamat. Sama seperti waktu di SD, di SMPN 2 ini pun kecerdasannya masih gemilang. Nurul kembali memegang juara kelas bahkan juara umum saat bersekolah di SMPN 2 Tanjungpinang. Tepatnya saat dia duduk di kelas VII semester dua. Usai menyelesaikan bangku SMP, dara yang hobi membaca dan mendengarkan musik ini menjatuhkan pilihannya ke SMA Negeri 2 Tanjungpinang, yang termasuk ke dalam salah satu sekolah terfavorit. Prestasinya di SMAN 2 tak meredup. Predikat juara umum disandangnya saat naik ke kelas XI. Bagi Nurul, menjadi siswa berprestasi bukan usaha yang sekejap mata. Butuh kerja keras dan ketekunan. Dalam setiap ada waktu, Nurul pasti menyempatkan diri untuk belajar. : Nurul Shafarani : Tanjungpinang, 1 Juli 1995 : Jl. Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang : Membaca dan mendengarkan musik

SD - Kelas 1-2 SDN 001 Tanjungpinang Timur, - Kelas 3 SD 012 Tanjungpinang Timur, - Kelas 4-6 SD 13 Singkep SMP : SMPN 2 Tanjungpinang SMA-sekarang : Kelas XI IA 2 SMAN 2 Tanjungpinang Prestasi: • Juara 3 Olimpiade Fisika • Juara harapan 1 Cerdas Cermat UUD tingkat Provinsi Kepri • Juara 2 Nasyid se-Tanjungpinang • Juara 2 Cerdas cermat UU Lalu Lintas • Juara 2 Menulis cerita rakyat se- Provinsi Kepri • Juara 1 Kelas X semester 1 • Juara umum Kelas X semester 2

Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011 53


G

cakal bakal

Nurul ketika mengikuti pelajaran di sekolahnya di SMA Negeri 2 Tanjungpinang.

"Kalau ada waktu senggang, yaa sempat-sempatkan untuk belajar walaupun sebentar," ucap Nurul sedikit malu. Si cerdas yang terkesan pemalu ini juga sedikit segan ketika ditanya soal cita-cita. "Mmm, mau jadi dokter THT (Telinga Hidung Tenggorokan, red)," katanya pelan. Pilihan untuk menjadi dokter THT dikarenakan profesi tersebut masih langka di Tanjungpinang. Selain itu, cita-citanya itu juga didasari keinginan untuk membantu orang lain yang membutuhkan, dan sering berinteraksi dengan banyak orang. Meski cerdas, Nurul tak ingin bergelut ke dalam dunia akademisi,

54 Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011

bahkan menjadi profesor sekalipun. Dia bilang, menjadi profesor akan memberikan beban psikologis. "Karena profesor itu kurang berinteraksi dengan masyarakat," katanya. Keinginannya menjadi dokter akan diwujudkan di Yogyakarta. Dia sudah membidik Fakultas Kedokteran di Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai kampus tempat melabuhkan cita-citanya nanti. "Semoga saja saya bisa masuk ke UGM. Saya sangat mengagumi universitas itu karena telah melahirkan banyak sekali orang-orang besar di Indonesia,� ucap Nurul. Untuk mewujudkan keinginan-

foto: habibi

nya itu, Nurul mengaku siap merantai. Terlebih, belum ada satu kampus pun di Kepulauan Riau yang bisa merealisasikan keinginannya itu karena keterbatasan jurusan. Pilihan untuk menembus UGM Yogyakarta bukan semata-mata untuk mengejar cita-citanya. Nurul mengaku ingin membuat kedua orang tuanya bangga. Itulah prinsip utama yang Nurul emban selama ini hingga mengantongi beragam prestasi. “Mudahmudahan saya bisa menjadi anak yang benar-benar bermanfaat bagi orang tua saya, dan adik-adik saya kelak,� ujar Nurul. Amin. l habibi


G

CERPEN ANAK

Batu Belah Batu Betangkup *) Kartina Kepada ibu jangan durhaka Supaya badan tidak binasa Pikir dahulu sebelum berbuat Agar diri memproleh hidayat Bait syair yang sayup-sayup menyusup di celah tiupan angin itu laksana belati menghujam ulu hati Dayang dan Pang Yakub. Keduanya tersimpuh bersimbah air mata di depan onggokan batu besar yang di dalamnya terbenam Mak Tanjung si ibunda kandung. Di hamparan pasir putih sekitarnya, cucu-cucu Mak Tanjung yang tak sempat ditimangnya berlari ceria memecah tawa. Dayang dan Pang Yakub beserta keluarga hampir tiap hari mengujungi batu itu. Mereka menganggap Mak Tanjung menyaksikan kehadiran anak cucunya. Rasa penyesalan yang takan pernah selesai dan kesedihan mendalam atas segala perbuatan yang terlanjur dilakukan selalu menyesak dada. Memang menyesal dahulu pendapatan, menyesal kemudian tiada berguna. Andai saja waktu dapat diulang kembali. Ach........ Syahdan di sebuah kampung, nun jauh ditepian laut Cina Selatan, Pulau Siantan diberi nama, hiduplah Mak Tanjung beserta kedua anaknya. Dayang,

dara jelita yang beranjak remaja adalah nama anak perempuannya. Pang Yakub pula nama anak laki- bungsu yang masih dimanjanya. Rumah panggung yang condong beratap daun sagu dan dan berlantai nibung tempat berteduh mereka. Kehadiran kedua buah hatinya itu selalu menghadirkan senyum dan getar bahagia dalam kehidupan Mak Tanjung. Mereka adalah sumber kekuatan bagi Mak Tanjung setelah Pak Dolah, suami tercinta hilang dalam bencana badai laut Cina Selatan ketika sedang melaut. Begitulah hidup, sekali air bah, sekali tepian berubah. Suatu hari Mak Tanjung berniat kehuan untuk mencari kayu bakar. Namun dalam hatinya terselip sebuah keinginan yang tak dapat ditahan. Mak Tanjung akan ke hulu sungai utnuk mencari ikan temakul Dia teringin sekali memakan telur ikan tersebut. Dulu almarhum suaminya sering membawa pulang ikan itu yang ditangkapnya di hulu sungai .Kalau membayangkan lezatnya telur temakul maka terbitlah air liur Mak Tanjung. “Jadi juge Mak ke hulu sungai tu?” tanya dayang sedikit khawatir. “Ye ...lah. Kalau Mak tak mencube, agaknya tak pernah lagilah kite merase lezatnya telur temakul.” “Kate Abah dulu, hulu sungai tu ade puakenye.” “Mak Tahu. Dulu Abah sempat mengajarkan Mak serapah dan penangkal puake tu,” jawab Mak Tanjung sambil menun-

jukkan kulit kayu pauh, pandan berduri, dan garam dalam bungkusan kain hitam. “Dimulai Bismillah, bacekan serapah. Puake lari tunggang langgang.” Keterangan Mak Tanjung membuat Dayang menerik napas lega. Disiapkannya bekal untuk perjalanan maknya yang lumayan jauh. Rebus ubi, sagu gubal, dan rempek kepale tamban terbungkus rapi dalam upih daun pinang. Tak lupe juge pinggan dan cawan plastik dimasukan. Dalam hujan renyai dan sedikit pesan untk Dayng agar menjaga adiknya dengan baik, Mak Tanjung mulai menyusupi semak belukar menuju tujuan. Perjalanan yang lumayan sulit untuk peremuan yang sudah mulai beranjak senja. Namun semua diabaikannya demi telur ikan Temakul yang begitu diidamkan. Ditepuknya pelan dadanya yang berdesir saat menginjakkan kaki ke air hulu sungai. Sebelu langkah selanjutnya dimulai, Mak Tanjung membaca serapah dengan membaca Bismillah: Hi...... Puake Aku tahu asal engkau mula menjadi Hidung luar tapak tangan lebar Jangan engkau dengki aniaya kepadaku Jika engkau dengki aniaya Durhaka engkau kepada Allah Raib engkau seperti angin Hancur engkau seperti air Berkat doaku ini Lailahaillallah...Muhammadarasulullah. Dengan penuh keeyakinan Mak Tanjung melemparkan isi bungkusan kain hitam itu ke dalam air. Dia merasa mendapat kekuatan untuk memburu ikan temakul. Tidak terasa tiga jam sudah berlalu Mak Tanjung mengendap-ngendap dengan pencedok siap ditangan. Kebaya lusuh pembalut tubuhnya menyebarkan dingin yang semakin nyata. Mak tanjung menggigil. Dengan hembusan nafas kecewa Mak Tanjung berniat kembali. Akan tetapi sekelabat mata tuanya menangkap seekor ikan lumayan besar terjepit dicelah batu. Ikan temakul. Mak Tanjung berteriak gembira saat berhasil menangkapnya.

Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011 55


G

CERPEN ANAK

“Dayaaaaang!” panggil Mak Tanjung sesampai saja di pondoknya. “Ye Mak,” sahut Dayang dan Pang Yakub serentak. “Akhirnya merase juge kita telur temakul. Lihat nak, telur ikan temakul ini besar. Mak memang dapat seekor tapi ikannnya lumayan besar. Telur ini dibuat pindang. Sedangkan ikannya masak sambal belade. Amboi sedapnye. Terase sudah sampai dimulut. Lekaslah dimasak Dayang. Mak mau menjual kayu bakar dulu supaye dapatlah kite beli beras.. Nanti kalau sudah masak dan kalian tak sabar untuk makan, makanlah dulu. Bagi tiga telur itu dan tinggalkan untuk Mak sebagiannya. Jangan lupe ye,” kata Mak Tanjung bersuka cita. Wajahnya tampak berseri. Hilang sudah letihnya di hulu sungai. Telur sudah dimasak. Berdecap-decap Dayang dan Pang Yakub menyantapnya. Ketika sudah habis bagiannya Pang Yakub merengek-rengek meminta lagi. Dayang berusaha mencegahnya. “Kak, Pang mau lagi. Hu.....hu.” tangis Pang Yakub. “Sudah tidak ade lagi Pang. Sudah habis.” “ Kakak bohong, Pang lihat masih ada. Pang mau lagi hu...hu.” “Itu untuk Mak. Kite tak boleh menghabiskannya.” Pang Yakub terus menangis sampai berguling guling di lantai. Bahkan tangisnya semakin kencang. Dayang menyerah. Diambilnya sedikit lagi bagian Maknya dan diberikan pada Pang Yakub. Bukannya tambah diam tetapi tangis Pang Yakub semakin menjadi-jadi saat menyaksikan telur itu masih ada. Akhirnya Dayang memberikan semua telur itu pada Pang Yakub. Dayng berpikir yang penting adiknya tidak menangis lagi dan pastilah Maknya tidak akan marah karena adiknya yang masih kecil yang menghabiskan telur itu, bukan dirinya. “Dayang, sudah masak telurnya? Sudah ingin betul rasanya Mak memakannya. Selesai menjual kayu bakar, Mak tergesa-gesa pulang, sampai terjatuh dan luka di lutut. Tapi tak apelah, pasti hilang sakitnya kalau sudah makan telur tu,” Dayang tercekat. Tak sanggup ia untuk melihat air muka Maknya. Tiba-tiba Pang Yakub datang. “Telurnya sudah kak long berikan pada

56 Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011

ilustrasi: Dara Dharmaperwira

Pang semue Mak. Besok cari lagi ye Mak. Sedaplah.” Jawaban polos Pang Yakub menghentak perasaan Mak Tanjung. “Betul Dayang, engkau tak amanah dengan pesan Mak, sedikitpun tak tersise?” tanya Mak Tanjung tak percaya. Dayang hanya mengangguk lemah. “Sampai hati anakku tidak teguh memegang amanah Mak. Kempunanlah mak dengan telur temakul,” “Mak, maafkan Dayang. Pang menangis terus meminta telur itu,” jelas Dayang berurai air mata karna tak sanggup menyaksikan kekecewaan yang dalam pada wajah maknnya. Mak Tanjung tak dapat menahan diri. Hatinya teriris. Dadanya sesak. Air mata mengalir perlahan dipipi keriputnya.. Pelan tapi pasti kakinya terseret ke tepi pantai. Menuju sebuah batu besar yang terdapat belah ditengahnya. Kekecewaan yang begitu dalam diungkapnya. Sampai akhirnya ia berteriak. “Batu belah, tangkuplah aku. Aku kempunan telur temakul. Anakku tidak amanah.Sakiiiiit rasanya.” Suara bergemuruh menggema mengalahkan deru ombak yang sedang memecah dilautan pesisir Cina Selatan. Langit tiba-tiba menghitam. Ajaib, batu besar itu terbuka lebar.. Mak Tanjung sudah tidak perduli lagi. Perlahan dia masuk ke dalam batu yang terbuka itu. Secara pasti pula batu itu mu-

lai tertutup. Dayang dan Pang Yakub yang diam-diam mengikuti maknya berteriak kaget. “Ampun Mak.... kami salah.Kami silap. Mak kalau Mak pergi kami akan menjadi yatim piatu. Kasihanilah kami Mak.” Mak Tanjung tersentak mendengar teriakan kedua anaknya. Namun batu itu sudah terlanjur menelan tubuh Mak Tanjung secara perlahan. “Semuanya sudah terlambat Nak. Nasi sudah menjadi bubur. Batu ini tak akan mungkin terbuka kembali. Semoga Allah mengampunkan kita semua. Dayang jaga adikmu baik-baik. Mak sudah maafkan kalian berdue. Kiranya sampai di sini sajalah takdir kite bersame.” “Maaaaaaaakkk!” pekik Dayang dan Pang Yakub histeris. Mak Tanjung menangis. Dayang menangis. Pang apalagi. Batu belah akhirnya tertutup rapat. Menyisakan penyesalan dan kepedihan yang tiada ujung. Sejak itu tidak ada satu manusiapun yang berani pergi ke batu belah itu karena khawatir akan tertangkup juga. Hanya Dayang dan Pang Yakub beserta keluarganyalah yang sanggup menginjakkan kaki disekitar batu yang konon berpuake itu. l *) Penulis adalah Guru SMP Negeri 5 Tanjungpinang


G l Workshop

agenda Capaity Building

Memperkuat Eksistensi Dewan Pendidikan

S

esuai dengan konsep desentralisasi pendidikan, masyarakat dianggap sebagai pihak yang paling menentukan terhadap pelaksanaan dan penyelenggaraan sistem pendidikan di setiap daerah. Masyarakat adalah sumber inspirasi, inovasi, dan motivasi, serta sasaran yang harus dicapai dari sistem pendidikan yang bermutu di daerah. Masyarakat juga merupakan sumber dana bagi penyelenggaraan pendidikan di setiap daerah, di luar biaya yang diperoleh dari sumber-sumber anggaran pemerintah. Masyarakat adalah stakeholder dari sistem pendidikan atau pihak yang ikut menentukan terhadap sistem dan proses pendidikan di daerah. Salah satu cara memfungsikan masyarakat sebagai stakcholder tersebut adalah dengan menggunakan prinsip perwakilan, yaitu memilih sejumlah kecil dari seluruh anggota masyarakat untuk melaksanakan fungsi-fungsi kontrol, pemberi masukan, pemberi dukungan dan pengawasan, serta fungsi mediator antara masyarakat dengan lembaga-lembaga pendidikan. Fungsi-fungsi tersebut di tingkat kabupaten dilakukan Dewan Pendidikan. Dengan demikian Dewan Pendidikan adalah merupakan badan yang mewadahi peran serta masyarakat dalam rangka meningkatkan mutu, pemerataan, dan efisiensi pengelolaan pendidikan. Justru itu Dewan Pendidikan berperan aktif dalam meningkatkan mutu pendidikan di daerah. Sebagai langkah alternatif dalam mengupayakan perolehan dukungan masyarakat

foto.chairoel anwar

Dari kiri: Kepala Dinas Pendidikan Kepulauan Riau Yatim Mustafa, Ketua Majelis Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau Arief Rasahan, dan Ketua PGRI Kepulauan Riau M Kasim, saat kegiatan Workshop Capacity Building di Hotel Plaza Tanjungpinang, 18 - 20 November 2011.

untuk sektor pendidikan ini adalah dengan menumbuhkan keberpihakan konkret dari semua lapisan masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu yang perlu disalurkan secara politis menjadi suatu gerakan bersama yang diwadahi Dewan Pendidikan. Dewan Pendidikan merupakan badan yang bersifat mandiri, tidak mempunyai hubungan hierarkis dengan Dinas Pendidikan maupun dengan lembagalembaga pemerintah lainnya. Posisi Dewan Pendidikan maupun Dinas Pendidikan maupun lembaga-lembaga pemerintah lainnya mengacu pada kewenangan masing-masing berdasarkan ketentuan yang berlaku. Sesuai tujuan dibentuknya Dewan Pendidikan sebagai suatu

organisasi masyarakat pendidikan adalah sebagai berikut: 1. Mewadahi dan menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam melahirkan kebijakan dan program pendidikan. 2. Meningkatkan tanggung jawab dan peran serta aktif dari seluruh lapisan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. 3. Menciptakan suasana dan kondisi transparan, akuntabel, dan demokratis dalam penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan yang bermutu. Keberadaan Dewan Pendidikan harus bertumpu pada landasan partisipasi masyarakat

dalam meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan di daerah. Adapun peran yang dijalankan Dewan Pendidikan adalah sebagai berikut: 1. Memberi pertimbangan (advisory body) dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan, 2. Pendukung (supporting agent), baik yang berwujud finansial, pemikiran maupun tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan. 3. Pengontrol (controlling agency) dalam rangka transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaran pendidikan. 4. Mediator antara Pemerintah (eksekutif) dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (legislatif) dengan masyarakat.

Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011 57


G

agenda

Sedangkan, fungsi Dewan Pendidikan antara lain: 1. Mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. 2. Melakukan kerjasama dengan masyarakat (perorangan/organisasi), pemerintah dan DPRD berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. 3. Menampung dan menganalisis aspirasi, ide, tuntutan, dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan oleh masyarakat. 4. Memberikan masukan, pertimbangan, dan rekomendasi kepada pemerintah daerah/ DPRD mengenai: a). kebijakan dan program pendidikan; b). kriteria kinerja daerah dalam bidang pendidikan, c). kriteria tenaga kependidikan, khususnya guru/tutor dan kepala satuan pendidikan; d). kriteria fasilitas pendidikan. 5. Mendorong orangtua dan masyarakat berpartisipasi dalam pendidikan. 6. Melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan, program, penyelenggaraan, dan keluaran pendidikan. Namun, dalam menjalankan peran dan fungsinya, sebagian Dewan Pendidikan kabupaten/ kota di Kepulauan Riau (Kepri) belum semuanya bisa bekerja maksimal. Penyebab utamanya adalah ketiadaan dukungan dari pemerintah daerah, baik dukungan anggaran maupun kebijakan. Kenyataan tersebut tergambar dalam workshop Capacity Building Dewan Pendidikan Kabupaten/Kota se-Kepri, di Hotel Plaza Tanjungpinang, 18-20 November 2011 lalu. Workshoop tersebut ditaja oleh Majelis Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau (MPPKR) dan dihadiri perwakilan Dewan Pendidikan se-Kepri kec-

58 Geliga - Edisi 4/Juli - Desember 2011

No

Dewan Pendidikan

DPRD (Komisi Pendidikan)

1.

Memberikan petimbangan (advisory) kepada pihak eksekutif dan legislatif.

Bersama-sama eksekutif mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh rekomendasi dari Dewan Pendidikan, dan merumuskannya menjadi kebijakan pemerintah kabupaten/kota dalam bentuk Perda.

2.

Memberikan dukungan (supporting) kepada pihak eksekutif dan legislatif

Menggunakan dukungan dari Dewan Pendidikan dalam penetapan Perda.

3.

Mengadakann pengawasan (controlling) tentang pelaksanaan kebijakan dan hasil pelaksanaan kebijakan terhadap eksekutif

Mempertimbangkan dengan sungguhsungguh hasil pengawasan dari Dewan Pendidikan untuk digunakan oleh DPRD untuk digunakan sebagai bahan pengawasan terhadap pihak eksekutif.

4.

Menjadi penghubung antara pihak eksekutif dan legislatif, serta masyarakat pada umumnya.

Merekam aspirasi dan tuntutan masyarakat, termasuk di dalamnya dari Dewan Pendidikan untuk disampaikan kepada pihak eksekutif.

Perbedaan tugas dan fungsi Dewan Pendidikan dan Komisi Pendidikan DPRD

uali Batam dan Bintan. Seperti yang diutarakan Abdul Jamal, perwakilan Dewan Pendidikan Kabupaten Karimun. Sejauh ini operasional Dewan Pendidikan Karimun belum didukung pendanaan dari pemerintah daerah setempat. Berbeda dengan kondisi Dewan Pendidikan Kota Batam. Periode kepengurusan Dewan Pendidikan Kota Batam yang lama sudah berakhir. Sementara, pembentukan pengurus baru masih menimbulkan polemik akibat adanya perbedaan pemahaman dalam mencermati Perda No 4 Tahun 2010 dan PP No 17/2010 tentang Pembentukan Dewan Pendidikan. Nasib baik dialami Dewan Pendidikan Kabupaten Natuna. Pemerintah daerah Natuna menyetujui anggaran operasional Dewan Pendidikan setempat sampai Rp700 juta dalam APBD TA 2012. "Natuna ini termasuk kabupaten yang paling banyak pulaunya dan tersebar di semua kecamatan. Untuk menjalankan

fungsi kontrol saja saya rasa tak akan meng-cover. Tapi alhamdulillah, pemerintah daerah sudah cukup perhatian,” kata Jamarin, dari Dewan Pendidikan Natuna. Sementara, Dewan Pendidikan Lingga saat ini sudah lebih baik. Program dan kegiatannya sudah mulai lancar. “Sejak dimulainya pertemuan intensif antara Dewan Pendidikan, Pemkab dan DPRD Lingga, kami sudah mulai diperhatikan,” kata Muhammad Dari, dari Dewan Pendidikan Kabupaten Lingga. Dewan Pendidikan Tanjungpinang dan Anambas belum menyampaikan keluh kesahnya karena masih baru. Sementara, Dewan Pendidikan Bintan hampir tak pernah hadir dalam kegiatan yang digelar MPPKR. Ketua MPPKR Arief Rasahan, mengaku sedih ketika mengetahui ada Dewan Pendidikan di Kepri yang biaya operasionalnya tidak dialokasikan dalam APBD. Arief memaklumi jika masih ada pemerintah daerah yang belum sepenuhnya mendukung

sumber: kementerian pendidikan nasional, 2010

keberadaan Dewan Pendidikan. Karena, kewenangan Dewan Pendidikan berbeda dengan Komisi Pendidikan di DPRD (lihat tabel). “Dewan Pendidikan bukan sebagai eksekutor, tapi hanya menyampaikan rekomendasi dan pertimbangan. Kalau dibilang Dewan Pendidikan tak ada power, yaa begitulah,” terang Arief. Karena itu, workshop Capacity Building bisa menjadi solusi terbaik dalam menghadapi situasi-situasi tersebut terutama untuk mengimplementasikan peraturan-peraturan pemerintah mengenai pendidikan di sekolah/madrasah guna meningkatkan mutu pendidikan. “Tujuan workshop adalah memberikan rekomendasi atas nama MPPKR dan Dewan Pendidikan se-Kepri kepada gubernur dan DPRD Kepri, kepala Dinas Pendidikan Kepri, bupati/walikota, serta kepala dinas pendidikan kabupaten/kota,” papar Arief. l chairoel anwar


Rekomendasi Majelis Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau dan Dewan Pendidikan Kabupaten/Kota se-Kepulauan Riau Kami, segenap Anggota Majelis Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau bersama-sama dengan Pengurus Dewan Pendidikan Kabupaten/Kota se-Provinsi Kepulauan Riau berjumlah 25 orang, yang hadir pada Workshop Capacity Building Dewan Pendidikan pada tanggal 18 s.d 20 November 2011 di Hotel Plaza Tanjungpinang, yang pembukaannya dilakukan oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau dengan masukan dari berbagai narasumber. Dengan ini menyampaikan rekomendasi sebagai berikut : 1. Bahwa, memperhatikan berbagai permasalahan tentang perilaku penyimpangan moralitas anak yang cukup memperihatinkan di akhir-akhir ini termasuk perilaku pendidik yang tercela dan kurang disiplin, maka perlu adanya perhatian semua pihak untuk kembali menerapkan dasar-dasar karakter bangsa dan budaya daerah ke dalam sendi-sendi pendidikan, baik di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. 2. Bahwa, mutu layanan pendidikan salah satunya sangat ditentukan oleh keberadaan pendidik/guru baik dari segi tabiat, perilaku, kompentensi dan tata pengaturan penempatan di setiap sekolah, nyana saat ini masih kurang dilakukan pembinaan secara baik, dan khususnya untuk penempatan masih perlu pengaturan lebih lanjut, berhubung di beberapa sekolah terjadi penumpukkan guru pada bidang keahlian yang sama, ang salah satunya kondisi penempatan guru di SLB Tanjungpinang yang terdapat dua institusi penempatan (pegawai kota dan pegawai provinsi) yang saat ini memiliki dampak inharmonisasi kerja sehingga dapat berdampak pada peningkatan layanan pengabdiannya. Atas dasar kondisi guru yang ada saat ini, maka sangat diperlukan peningkatan pembinaan oleh semua pihak yang terkait di antaranya sekolah, dinas pendidikan provinsi, kab/kota, khususnya dalam hal disiplin pengabdian, pemerataan penempatan, peningkatan kompetensi. 3. Bahwa, sehubungan adanya beberapa sekolah yang berada di pusat-pusat keramaian, jalan utama baik di Kota Batam dan khusus di ibu kota provinsi (Tanjungpinang), tingkat keselamatan siswanya sangat mengkhawatirkan, untuk itu perlu perhatian bersama dalam hal keselamatan siswa melalui pembuatan penyeberangan jalan ke sekolah dan penyediaan transportasi siswa dan lainnya yang terkait dengan keselamatan siswanya. 4. Bahwa, dalam rangka menjalankan amanat undang-undang dan peraturan perundangundangan dalam peran serta masyarakat yang terhimpun dalam wadah dewan pendidikan, dirasakan belum adanya keterpihakan secara maksimal oleh pemerintah khususnya dalam hal dukungan pendanaan kelembagaan yang sebagian besar di kabupaten/kota belum teratasi dan yang ada saat

ini masih sangat minim berbanding tugas dan kewajiban yang harus dilaksanakan. Untuk itu, perlu perhatian dari SKPD dan para pihak penentu anggaran agar dapat memberikan alokasi anggaran pada majelis Pendidikan Provinsi dan Dewan Pendidikan yang disinergikan dengan tugas pokok dan fungsi SKPD bidang pendidikan. 5. Selain hal di atas, berkaitan dengan rekomendasi internal kelembagaan merekomendasikan hal-hal sebagai berikut: a. Bahwa, untuk optimalisasi peran dewan pendidikan dalam melaksanakan tugas amanat peraturan perundangundangan, maka setiap dewan pendidikan agar melakukan tata kelola dan pendanaan kerja Dewan Pendidikan dan melalui ketentuan rekrutmen pola kerja, kedudukan hukum lembaga dan keabsahan organisasi sesuai ketentuan yang berlaku, dan mengupayakan adanya Perda Pendidikan, di dalamnya memuat tentang Dewan Pendidikan yang mengatur di luar dari yang sudah ada

di undang-undang maupun peraturan pemerintah dan Kepmendiknas. b. Bahwa, diharapkan dewan pendidikan disetiap kabupaten/kota berperan aktif melakukan koordinasi kerja dengan stackholder pendidikan, dalam angka mengoptimalkan peran serta masyarakat unyuk peningkatan mutu pendidikan c. Bahwa, pemerintah daerah se-Provinsi Kepulauan Riau melalui Dinas Pendidikan perlu menyusun buku panduan pendidikan karakter/budi pekerti untuk semua jenjang pendidikan sebagai pedoman guru dalam mengimplementasikan di materi pembelajarannya. d. Bahwa, untuk mempercepat proses akreditasi sekolah/maadrasah, Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Riau perlu memberikan suffort berupa dukungan dana yang dianggarkan melalui APBD masingmasing di daaj yang disesuikan dengan kondisional kebutuhan atas keberadaan jumlah sekolah.

Peserta Workshop Capacity Building Majelis Pendidikan dan Dewan Pendidikan Kabupaten/ Kota se-Provinsi Kepulauan Riau pada tanggal 18 - 20 November 2011 di Hotel Plaza Tanjungpinang, Tertanda:


Berani mengajar harus berani belajar.... Guru-guru di Kota Tanjungpinang dari jenjang TI hingga SLTA mengikuti ujian kompetensi awal di SMA Negeri 1 Tanjungpinang, 25 Februari 2012. Ujian kompetensi awal ini merupakan salah satu syarat untuk mengikuti Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) sebelum mengantongi sertifikat pendidik. foto.chairoel anwar

PESAN INI DISAMPAIKAN OLEH MAJELIS PENDIDIKAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU


Geliga No 4