Issuu on Google+

Edisi 8 Tahun pertama | majalah digital | rabu, 30 januari 2013

Frasa

Mengubah Paradigma

“Sastra Kampung(an)� Cerpen Ematul Hasanah | Puisi Thoni Mukarrom I.A dan Zidni Arfia Rahman | Cerpen Teenlit Muhammad Asqalani eNeSTe | Puisi Teenlit Muhammad Yusuf Abdillah, Moh. Fauzan dan Syahara Niyya | Fiksimini Yoan Fa | Puisimini Moh. Ghufron Cholid, Inunk El-asta dan Wahyu Wibowo Art Cover: Internet


HAL

2

SALAM

Frasa

M a j a l a h

Pemimpin Umum Pemimpin Redaksi Wakil Pemipin Redaksi Tim Redaksi Design Tata Letak Sekretaris Redaksi

D i g i t a l

: Makmur HM : M Asqalani eNeSTe : Delvi Adri : Jhody M Adrowi Makmur HM M Asqalani eNeSTe Delvi Adri Yohana Nia Nurul Syahara Putu Gede Pradipta : Makmur HM : Jhody M Adrowi

Redaksi menerima tulisan yang bersifat orisinil dan belum pernah diterbitkan di media manapun. Tulisan berupa karya sastra yang terbit akan dibukukan setiap edisi akhir tahun. email: majalahfrasa@yahoo.com

Tarif Iklan full colour per edisi 1/4 halaman: Rp150,000 1/2 Halaman: Rp300,000 1 Halaman: Rp500,000 Iklan Sosial: Mulai Rp30,000 - Rp100,000 Alamat Redaksi / kontak Email: majalahfrasa@yahoo.com Phone: 0852 6536 9405 Blog: http://majalahfrasa.blogspot.com/

Wapimred MSD Frasa, Delvi Adri saat berpose bersama keluarga usai wisuda, Sabtu (26/1) lalu. Assalamualaikum sebelumnya yang sempat dan salam hangat Frasa terpotong. Di Sastra Indountuk kita semua... nesia ada Moralitas (dan) Kepengarangan. Di Sastra Pembicaraan menge- Religi ada Melacak Definisi nai sastra Indonesia yang Nilai Religiusitas dalam Sassamapi saat ini masih belum tra Pesantren. berkarakter terus saja menRubrik Komunitas kali ini galir dari mulut ke mulut, memuat salah satu komudari pertemuan ke per- nitas menulis yang bermastemuan dan dari berbagai tautin di Kota Pekanbaru, kalangan sastrawan. Sastra yaitu Competer (CommuIndonesia sampai detik ini nity Pena Terbang) yang masih sering diklaim seba- juga merupakan komunigai sastra kampung(an) tas binaan salah seorang yang notabene mengikut- redaksi MSD FRASA. ikut sastra luar atau sastra Cerpen memuat karya barat. Ematul Hasanah dengan Hal itu juga pernah jadi judul Wanita Bening. bahan perbincangan panas Puisi ada Puisi Thoni beberapa tahun lalu yang Mukarrom I.A dan Zidni salah satu artikelnya kami Arfia Rahman. Dan masih muat pada edisi ke 8 tahun banyak karya-karya menarik pertama ini dengan judul lainnya yang sangat sayang Megubah Paradigma “Sas- jika ditinggalkan. tra Kampung(an)� yang ditulis oleh Ahmadun Yosi Terakhir, redaksi ucapkan: Herfanda. Selamat membaca! Pada rubrik Sastra DunRedaksi ia masih memuat artikel

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]

Frasa


DAFTAR ISI

HAL

3

Halaman 6

Utama: Mengubah Paradigma “Sastra Kampung(an)”

Halaman 10

Kritik Marxist Dalam Sastra ( Bagian 2)

Halaman 12

Moralitas (dan) Kepengarangan

Halaman 14

Melacak Definisi Nilai Religiusitas dalam Sastra Pesantren

Halaman 18

Komunitas: Menulis Dunia, Menerbangkan Nama; Community Pena Terbang (COMPETER)

Halaman 20

Cerpen Ematul Hasanah: Wanita Bening

Halaman 24

Puisi Thoni Mukarrom I.A dan Zidni Arfia Rahman

Halaman 26

Sastradukasi: Memahami “Sastra”

Halaman 28-28

Lentera Budaya: Ritual Kehamilan Masyarakat Dayak dan Permainan Tradisional Cublak-cublak Suweng

Halaman 30

Cerpen Teenlit Muhammad Asqalani eNeSTe: Jangan Meng-SMS Siapapun

Halaman 32-33

Puisi Teenlit Muhammad Yusuf Abdillah, Moh. Fauzan dan Syahara Niyya

Halaman 34

Fiksimini Yoan Fa: Mawar-mawar Merah

Halaman 35

Puisimini Moh. Ghufron Cholid, Inunk El-asta dan Wahyu Wibowo

Halaman 36

Inspiring: Kahlil Gibran, Cinta Tak Pernah Bersua

Frasa

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]


HAL

4

NEXT ISSUE

Puisi, Korupsi dan Kritik Tradisi Oleh: Munawir Aziz Korupsi menjadi polemik dan bencana dan ruang kehidupan bangsa ini. Menghadapi polemik ini, sastra bertugas memberi wawasan segar dan pencerahan kreatif kepada publik luas, agar menghindar dari jerat korupsi. Virus korupsi seolah menggerakkan energi iblis untuk melahirkan setan-setan baru yang menghancurkan negara dan tatanan kehidupan. Masa depan bangsa ini dihimpit suramnya badai korupsi. Di tengah badai, sastra bertugas menangkis korupsi dengan menginspirasi pembaca sebanyak-banyaknya agar menghindar dari terjangan korupsi. Karya sastra yang lahir untuk mencerdaskan bangsa ini, hendaknya menempatkan antikorupsi sebagai wacana yang terus dikampanyekan. Tanggung jawab sosial sastrawan adalah mengupayakan perbaikan hidup dengan menjelaskan kondisi kritis yang merenggut masa depan bangsa ini. Maka, karya sastra yang menggambarkan perlawanan terhadap tradisi korupsi patut didukung dengan pemikiran dan gerakan kongkret.***

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]

Frasa


CORNER

HAL

5

Perjuangan Adalah Awal dari Kebahagiaan Begitulah, pahit memang sebuah perjuangan itu. Kadang kita lupa, sehingga tidak menyadari perjuangan itulah sebenarnya awal dari kebahagiaan kita. Apa pun itu, entah itu perjuangan dalam berkarir, mau pun perjuangan dalam pendidikan yang saya rasakan hingga pada akhirnya diwisuda pada 26 Januari 2013 dan mendapatkan embel-embel “S.Pd” yang menancap di belakang nama Delvi Adri. Saya sadari, perjuangan itu datang bukan hanya dari saya pribadi, orang tua pun ikut serta berjuang. Dengan keringat dan doa mereka, ya. Itulah bentuk perjuangan mereka untuk pendidikan kita. Tidak hanya itu saja, saudara-saudara, kerabat, teman, dan para sahabat pun ikut berjuang lewat doa-doa mereka. Saya teringat kata-kata abah (Alm) kepada saudara sepupunya, yang juga mempunyai anak, yang mengecap pendidikan di tempat saya mendapatkan embel-embel (S.Pd). Kira-kira begini kata-katanya “caklah kito iduik susah, nan pontiang anak kito sampai sikolahnyo”. Maknanya begini “Biarlah kita hidup susah, yang penting anak kita selesai sekolahnya (sarjana)”. Barangkali itu sebabnya, abah (Alm) menyanggupi permintaan kami anak-anaknya untuk melanjutkan pendidikan di bangku kuliah hingga selesai meski pun perekonomian keluarga serba pas-pasan dan walau pun harus ada yang mengalah untuk menganggur pendidikan di antara kami agar bisa menamatkan kakak pertama saya yang kala itu sedang skripsi. Dalam kesempatan ini, saya hanya bisa berterimakasih banyak, terutama kepada Allah Swt, kedua orang tua saya M. Yamar (Alm) dan Andat, serta tiga saudara kandung saya. Tidak lupa pula kepada wanita spesial (ayu) yang selalu menemani selama hampir 4 tahun, sahabat-sahabat yang tak bisa disebut keseluruhan, juga My Bratvas Jhody M. Adrowi, Makmur HM, dan Muhammad Asqalani Eneste, dan juga tim redaksi Majalah Frasa; Yohana Fitri, Nia Nurul Syahara, dan Putu Gede Pradipta. Terimakasih banyak untuk semangat yang diberikan kepada saya. Khusus untuk Makmur HM dan Muhammad Asqalani Eneste, cepat nyusul wisuda ya, sob. Hehehe TTD,

DELVI ADRI

Frasa

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]


HAL

6

UTAMA

Mengubah Paradigma “Sastra Kampung(an)” Oleh: Ahmadun Yosi Herfanda

Jika Nusantara ini adalah kampung, maka sastra Indonesia adalah ‘sastra kampung’. Penempatan Indonesia sebagai bagian dari Kampung Nusantara, cukup tepat mengingat makin terpuruknya bangsa ini menjadi underdog negara-negara adidaya, terutama AS. Dalam ekonomi kita didekte oleh IMF, dalam politik kita didekte oleh AS, dalam kebudayaan kita didekte oleh Hollywood, dalam pemikiran sastra banyak di antara kita yang bernafas di ketiak Derrida dan Faucoul.

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]

Frasa


UTAMA Begitulah, kurang lebih, nasib ‘negara kampung’ bernama Indonesia, dengan orang-orang kampung yang bermental kampung. Mental orang kampung adalah mental yang suka meniru orang kota. Ketika orang-orang kota menyemir rambut jadi blonde, maka orang-orang kampung pun ikut memblonde rambut mereka. Ketika orang-orang kota nge-punk, orang-orang kampung pun tidak ketinggalan. Kota adalah simbol modermitas. Maka, dalam psikologi orang kampung, agar disebut modern, harus meniru orang kota. Modernitas yang ‘salah kaprah’ memberhala di hampir semua aspek kehidupan masyarakat dalam mengekspresikan dirinya sebagai ‘orang kota’. Dalam lingkup negara, kampung itu bernama Indonesia, dan kotanya adalah AS. Kita, seharihari, dapat menyaksikan bagaimana para artis dan remaja kita dengan bangganya bergaya tank top dengan puser terbuka, sebagaimana dipamerkan oleh Britney Spears dan Christina Aquilera. Kita juga dapat melihat bagaimana paranoianya anak-anak muda kita berhura-hura di diskotik dalam gaya artis-artis Hollywood yang serba hedonis. Kita bisa melihat juga bagaimana bangganya para intelektual politik kita memuja demokrasi ala Amerika, meskipun tidak kunjung mampu menyelesaikan persoalan keadilan, HAM, dan kedaulatan rakyat. Nyaris begitulah sebenarnya posisi serta nasib sastra Indonesia di tangan orang-orang ‘kampung Indonesia’ yang membawa psikologi orang kampung di tengah sastra dunia (Barat). Sejak zaman Pujangga Baru, begitu lahapnya para sastrawan kita mengadopsi teori, estetika dan filsafat Barat ke dalam karya-karya mereka sejak filsafat eksistensialisme pada era Chairil Anwar sampai feminisme dan posmodernisme pada era Ayu Utami agar dapat disebut sebagai ‘sastra kota’ (modern). Lihat pula bagaimana bangganya para teoritisi sastra kita mengutipngutip teori sastra Barat ke dalam retorika dan kritik sastra Indonesia. Jadi, sastra Indonesia sejujurnya adalah sastra kampung, sastra yang bersemangat orang kampung, atau ‘sastra kampungan’ sastra yang kurang pede pada jati dirinya sendiri, sebagaimana ‘orang kampung’ yang kurang pede jika tidak meniru gaya orang kota. Sebagaimana orang kampung yang ingin (sok) modern dan ‘sok kota’ yang lupa pada persoalan budaya kampungnya sendiri, sastra Indonesia pun telah lama tercerabut dari akar budaya kampungnya sendiri: Nusantara. Sehingga, ketika muncul wacana estetika ‘kem-

Frasa

HAL

7

Sastra Indonesia sejujurnya adalah sastra kampung, sastra yang bersemangat orang kampung, atau ‘sastra kampungan’ sastra yang kurang pede pada jati dirinya sendiri, sebagaimana ‘orang kampung’ yang kurang pede jika tidak meniru gaya orang kota. Sebagaimana orang kampung yang ingin (sok) modern dan ‘sok kota’ yang lupa pada persoalan budaya kampungnya sendiri, sastra Indonesia pun telah lama tercerabut dari akar budaya kampungnya sendiri: Nusantara.

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]


HAL

8

UTAMA

bali ke Timur’ pada tahun 1970-an atau wacana orang kampung yang kurang pede, sebab tidak ‘kembali ke warna lokal’ belakangan ini, menjadi mengekspresikan jati dirinya sendiri, namun hanwacana baru yang begitu menarik dan membuat ya meniru ‘sastra kota’ (dunia), alias tidak mengekbanyak sastrawan jadi ‘gegap gembita’. Padahal, spresikan budayanya sendiri. estetika Timur atau warna lokal mestinya sejak Jika kita amati, karya-karya sastra yang berdulu sudah menjadi darah daging sastra Indonesia. hasil mendunia dan khususnya peraih Nobel Agaknya benar tesis Nirwan Dewanto, bahwa sastra rata-rata adalah karya sastra yang pede pada jati Indonesia adalah ‘sastra dunia’ (baca: sastra Barat) dirinya sendiri dan sangat kental dengan warna yang berbahasa Indonesia. budaya lokal. Novel-novel Najib Mahfoudz, misKarena itu, untuk mencari ‘sastra kampung’ seba- alnya, sangat kental warna lokal (Mesir). Begitu gaimana dimaksud oleh penggagas Ode Kampung juga karya-karya Tagore, dan Kenzaburo Oe. Temu Sastrawan se-Kampung Nusantara 2006 kita Karya-karya mereka menjadi kanon-kanon sastra tidak perlu repot-repot mencari karya-karya sastra di negerinya sendiri, sekaligus kanon sastra dunia dari kampung-kampung pedalaman, atau gang- karena keunggulan kualitas kesastraan sekaligus gang sempit pinggiran kota. Sebab, sastra kam- unikum sosial-budaya lokal yang diangkatnya. pung sudah bertebaran di sekitar kita, dan tiap saat Begitu juga, kurang lebih, karya-karya Pramudya dapat kita baca. Sejak Ananta Toer. dulu banyak di antara Dalam semangat Ode Dari sastra kampung (Indonesia), yang Kampung, sastrawan yang berobagaknya, kita paling gampang disebut sebagai karya sesi untuk mendorong harus membalik parayang cukup mendunia adalah Bumi karya-karya sastra Indodigma tentang kamnesia sastra kampung itu Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer. pung dan kota, tentang menjadi ‘mendunia’ dan tradisi dan modermitas, Selain telah diterjemahkan ke dalam suatu saat dapat meraih tentang ‘sastra kamberbagai bahasa di dunia, novel antiNobel Sastra. pung’ dan ‘sastra kota’. borjuis yang sangat memikat itu bahkan Sastra kampung tidak Pertanyaannya, adakah di antara karyaberkali-kali sempat menempatkan Pram perlu terus meniru saskarya sastra kampung sebagai nominator peraih Nobel Sastra. tra Barat untuk menjadi itu yang mendunia, yak‘sastra kota’, tapi cukup ni diakui sebagai karya memperkuat jati dirinya ‘berkelas dunia’ dan popular di komunitas sastra sendiri. Sebab, hanya dengan demikian, sastra internasional, seperti karya-karya peraih Nobel Indonesia akan dilirik sebagai ‘sastra alternatif’ Sastra, semacam karya-karya Najib Mahfoudz yang tidak ‘seragam’ dengan sastra Barat, dan (Mesir), Rabindranat Tagore (India) dan Kenzabu- karena itu patut diperhitungkan, termasuk untuk ro Oe (Jepang). Atau, setidaknya sekelas karya- meraih Nobel Sastra. Jika tetap menjadi sastra karya Jalaluddin Rumi (Turki) dan Kahlil Gibran Barat yang berbahasa Indonesia, seperti sinyale(Libanon-AS), yang begitu mendunia meskipun men Nirwan Dewanto, maka sastra Indonesia tanpa Nobel Sastra. akan tetap menjadi underdog. Dari sastra kampung (Indonesia), yang palKarya-karya sastra yang mendunia sudah cukup ing gampang disebut sebagai karya yang cukup membuktikan bahwa penghargaan yang mampu mendunia adalah Bumi Manusia-nya Pramoedya mensejajarkan karya sastra suatu negara dengan Ananta Toer. Selain telah diterjemahkan ke dalam karya sastra besar kelas dunia lainnya itu hanya bisa berbagai bahasa di dunia, novel anti-borjuis yang diraih oleh karya-karya sastra yang bangga pada sangat memikat itu bahkan berkali-kali sempat keunggulan jati dirinya sendiri, kekuatan budaya menempatkan Pram sebagai nominator peraih lokalnya sendiri.(www.publiksastra.net) Nobel Sastra. Selain karya Pram, sebenarnya banyak juga karya sastra Indonesia yang diterjemahkan ke dalam *) Tulisan ini adalah prasaran untuk sesi diskusi bahasa Ingris. Tetapi, rata-rata adalah karya sas- dalam Ode Kampung, Temu Sastrawan se-Kampung tra yang canggung untuk berkomunikasi di forum Nusantara 2006az, di Rumah Dunia, Serang, Banten, internasional, karena masih mengidap psikologi 5 Februari 2006.

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]

Frasa


BUKU BARU

UTAMA

HAL

9

Sajak Sembilu tentang Teh Ribuan Gelas Penulis: Muhammad Asqalani eNeSTe Selain membangun puisi-puisinya dengan kultur bahasa yang santun, Asqalani juga menyelipkan faktor religi pada baitbait puisinya. Paging: 115 (Hardcover) ISBN 978-602-7903-00-5 Harga: Rp39.000 (belum termasuk ongkir) Pesan Melalui: http://minangkabauonline.com/buku/ en/home/30-sajak-sembilu-tentangteh-ribuan-gelas.html

Sepotong Rindu dalam Sarung Penulis: Jhodi M Adrowi-Muhammad Asqalani eNeSTe, dkk Kesemua puisi dalam antologi puisi Sepeotong Rindu Dalam Sarung, berkualitas dan sangat bagus. Sangat menjanjikan masa depan kepenyairan dari pemuisipemuisi ini, yang relatif usia muda. Hardcover, 133 hal, ISBN 978-602-17041-9-6 Harga: Rp40.000 (belum termasuk ongkir) Pesan Melalui: http://minangkabauonline.com/buku/ en/home/29-epotong-rindu-dalamsarung.html

Frasa

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]


HAL

10

SASTRA DUNIA

Kritik Marxist Dalam Sastra (2) Oleh: Sastri Sunarti

Sambungan Edisi 7 Tahun I Pengunggulan realisme dalam karya-karyanya sempat merangsang perdebatan panjang dengan Bertolt Brecht. Bagi Brecht, realisme mendamaikan kontradiksi di dalam totalitas yang merupakan sikap reaksioner. Sebaliknya Lukacs berpendapat bahwa kontradiksi semacam itu justru perlu diungkap lebih tajam dalam kesenian yang akan meransang manusia untuk membebaskan diri dari kontradiksi itu dalam dunia nyata. Lukacs menggunakan istilah refleksi yang merupakan ciri khusus keseluruhan karyanya. Dengan menolak naturalisme bersahaja novel baru Eropa waktu itu, ia kembali ke pandangan realis lama bahwa novel mencerminkan realitas. Pencerminan itu bukan melalui pelukisan wajah yang tampak dari perEdisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]

mukaan saja, melainkan memberikan pada kita sebuah pencerminan realitas yang lebih benar, lebih lengkap, dan lebih hidup. Menurut Lukacs, pencerminan itu bisa saja lebih atau kurang konkret. Sebuah novel mungkin akan membawa pembaca ke arah pandangan yang lebih konkret kepada realitas. Sebuah karya sastra tidak hanya mencerminkan fenomena individual secara terasing, tetapi proses hidup yang penuh. Pembaca selalu sadar bahwa karya sastra itu bukan realitas sendiri melainkan merupakan bentuk khusus yang mencerminkan realitas. Oleh sebab itu menurut Lukacs, sebuah pencerminan realita yang benar memerlukan lebih dari sekedar perwujudan luar. Selain Lukacs, kritikus Marxis yang lain adalah Lucien Goldmann yang terkenal dengan rumusan model strukturalisme genetik. Gold-

Frasa


SASTRA DUNIA

HAL

11

mann menolak bahwa teks-teks adalah ciptaan ada bentuk yang bagus yang dapat bertahan jenius individual melainkan bahwa teks-teks selamanya dengan kata lain, tidak ada hukum sastra merupakan struktur-struktur mental estetik yang abadi. trans-individual; milik kelompok-kelompok terBerdasarkan pandangan Engels mententu yang kemudian menghasilkan suatu pan- genai hubungan sastra dan masyarakat dangan dunia. yang menjelaskan bahwa dalam karya sasGoldmann percaya bahwa penemuannya tra besar, maksud pengarang tersembunyi. tentang homolog (persamaan bentuk) struk- Sebaliknya Lenin mempunyai pandangan tural diantara bermacam-macam bagian tata bahwa sastra harus sejalan dengan garis masyarakat, membuat teori kemasyarakatan- partai. Perbedaan pandangan ini menimnya khas Marxis. Dalam hal ini, karyanya meru- bulkan adanya dua jalur dalam kritik sastra pakan kelanjutan teori Lukacs dari aliran Marx- Marxis yaitu kritik para Marxis yang berisme Hegel. pegang pada pendapat Engels dan kritik Kritikus Marxis yang lain adalah Walter Ben- kaum Ortodoks yang perpegang pada Lenin jamin dari aliran Frank(Steiner, 1967:305– furt. Pertemuan sing- Eseinya yang terkenal adalah Karya Seni 324). katnya dengan Adorno, Perkembangan dalam Abad Reproduksi Mekanisyang memberi alasan untuk teori Marxis di Rusia memperlihatkan sebuah pandangan menyebutnya sebagai akhirnya menjadi kebudayaan modern yang bertentangan Marxsis meski pun cap bagian yang tak terpidengan Adorno. Benjamin berpendapat itu sangat pribadi sifatsahkan dari ideologi bahwa inovasi tehnik modern telah nya. dan pemerintahan Eseinya yang terkeKomunis. Di bawah mengubah secara mendalam status nal adalah Karya karya seni yang waktu dulu hanya dapat Stalin, kritik di Rusia Seni dalam Abad dinikmati oleh elit borjuis. Adorno melihat tidak bisa berbuat Reproduksi Meka- hal tersebut sebagai perendahan nilai seni apa-apa. Lukacs pun nisyang memperlidicerca oleh paroleh komersialisasi. hatkan sebuah pantai dan pandangan dangan kebudayaan Engels ditolak oleh modern yang bertentangan dengan Adorno. anggota partai. Akhirnya sastra diredusir Benjamin berpendapat bahwa inovasi tehnik menjadi sekrup dalam mekanisme negara modern telah mengubah secara mendalam totaliter dan sangat sesuai dengan pandanstatus karya seni yang waktu dulu hanya dap- gan Lenin yang menyatakan bahwa tugas at dinikmati oleh elit borjuis. Adorno melihat kritik hanya dua yaitu sebagai penafsir doghal tersebut sebagai perendahan nilai seni ma partai dan pengganyang kaum murtad. oleh komersialisasi. Ideologi Marxist-Leninis ini kemudian juga Sebelumnya telah disinggung mengenai pernah diterapkan di Indonesia oleh kelomefek alienasi dalam sastra yang sebenarnya pok Lembaga Kebudayaan Rakyat (lebih popdikembangkan oleh Bertold Brecht. Drama-dra- uler dengan sebutan LEKRA) pada masa-masa ma awal Brecht radikal, anarkistik, anti borjuis 60-an sebelum meletusnya gerakan 30 Septetapi tidak anti kapitalis. Sesudah membaca tember 1965. Pada masa itu muncul sebuah Marx, jiwa remajanya berubah menjadi ket- jargon di kalangan seniman dan penulis yang erlibatan politik . Pada tahun 1930 ia menulis menyatakan bahwa sastra adalah panglima. drama yang ditujukan pada kelas pekerja tetapi Dan pengganyangan terhadap kelompok ia terpaksa meninggalkan Jerman ketika kaum yang berseberangan dengan ideologi Lekra Nazi berkuasa. terhadap kelompok Manifestasi Kebudayaan Brecht menolak jenis kesatuan bentuk for- juga sempat terjadi pada masa itu.***(www. mal yang dipuji oleh Lukacs. Menurutnya, tidak publiksastra.net)

Frasa

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]


HAL

12

SASTRA INDONESIA

Moralitas (dan) Kepengarangan Oleh: Nelson Alwi

PENDAPAT mereka yang telah berhasil memberi arti keberadaannya bisa jadi pedoman dalam upaya memformulasikan alternatif-alternatif baru menyangkut hidup dan kehidupan. Atau, setidaknya akan memperluas cakrawala pengetahuan generasi penerus yang tengah menapak mencari (ke)jatidiri(an). Pengertian demikian, tak termungkiri telah mendorong banyak penulis mempublikasikan sebutlah memoar atau (auto)biografi, yang menghimpun gagasan, visi, misi, motivasi dan atau perjuangan publik figur dalam dan luar negeri. Nah, pada gilirannya saya pun merasa terpanggil mengetengahkan catatan-catatan yang pernah saya buat cuplikan wawancara, ceramah serta riwayat hidup berisi proses kreatif yang diperoleh dari pelbagai sumber yang untuk sekian lama tersimpan di arsip pribadi. Adapun catatan-catatan dimaksud mendedahkan moralitas (dan) kepengarangan sejumlah tokoh terkenal yang berkecimpung di arena olah sastra Indonesia. Mochtar Lubis mengungkapkan bahwa dalam berkarya ia lebih fokus pada wawasan sastranya sendiri, masalah sosial-kemasyarakatan serta kemanusiaan zamannya. Hasilnya, secara sadar atau tidak sudah barang tentu akan dipengaruhi oleh pandan-

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]

gan hidup dan kepekaan hati nurani menangkap aktualitas persoalan yang mengemuka. Sedangkan Toeti Heraty menyatakan, eksistensinya membutuhkan kejujuran radikal dan posisi narsistik. Ia selalu bertolak dari berbagai kecemasan, karena merasa disingkirkan lingkungan ke sudut marginal. Sementara N.H. Dini mengatakan, pengarang harus toleran terhadap alternatif bersikap yang diambilnya. Tersebab itu ia senantiasa berinisiatif mempertimbangkan segala sesuatu pengertian yang tidak terlalu berjarak dengan realita yang ada demi mencapai sasaran cerpen maupun novelnovelnya: masyarakat pembaca. Tapi menurut Arifin

Frasa


SASTRA INDONESIA C. Noer, yang penting orientasi sastra itu sendiri. Orientasi dimaksud menyangkut arti sastra bagi manusia yang bermartabat. Melalui puisi, prosa atau drama W.S. Rendra berkomitmen merefleksikan kehidupan yang dihayatinya. Semua anak bangsa punya hak serta kewajiban untuk ikut menentukan kebijaksanaan sosial, politik dan ekonomi. Justru itu, ia melawan feodalisme dan memberontaki kepincangan yang terjadi di sekitarnya untuk kembali ke asas yang dianut bangsa: demokrasi. Dalam pada itu Kuntowijoyo mengingatkan perlunya sastra transendental. Sastra transendental adalah kesadaran balik melawan arus dehumanisasi dan subhumanisasi. Untuk itu, yang pertama-tama harus dilakukan ialah melepaskan diri dari aktualitas yang dikemas oleh pabrik, birokrasi, kelas sosial dan kekuasaan yang mengakibatkan umat manusia tercerabut dari autentisitas peradaban dan atau eksistensinya. Sementara Gerson Poyk meyakini sastra adalah sebuah alternatif menghadapi dunia yang semakin penuh beban. Namun sastra harus ditinjau dari kadar atau tingkat integritas dan intensitas artistik yang diusungnya. Karenanya, sastra mesti terbuka untuk refleksi-refleksi Barat yang etis-moderat, agar aktivitas berlabel sastra tidak bersifat absolut. Laiknya seorang penyair yang tengah kasmaran menggarap puisi, Taufiq Ismail mengintroduksi kepiawaiannya memainkan kata-kata (bersayap) dan atau berargumentasi. Secara lugas ia mengisyaratkan bahwa urusan syair-menyair bagaikan berdiri di depan cermin goyang; sosok yang terpantul dari cermin ikut bergoyang serta tidak dapat diraba atau diajak ngomong. Idiom paradoksal yang nyaris niskala nyatanya juga mencuat alias tersirat dari perumpamaan yang ditaja oleh seorang novelis seperti Putu Wijaya. Perihal karang-mengarang baginya bahkan jadi begitu menukik mendalam lagi aneh; ibarat menggorok leher sendiri dan atau siapa saja, tetapi tidak menyakiti bahkan kalau bisa tanpa diketahui oleh yang bersangkutan. Lain pula dengan Leon Agusta, yang selalu merasa digerakkan oleh suatu panggilan buat mencipta. Tetapi ia menyadari, karyanya menjelma setelah adanya semacam rentangan benang-benang pengalaman yang saling menjalin. Kalaulah kehadiran puisi atau prosanya punya hubungan tertentu dengan sebuah konsep maka itu hanyalah merupakan faktor kebetulan belaka. Dan persoalan yang kurang lebih sama seolaholah dipertegas oleh Budi Darma, yang secara

Frasa

HAL

13

terang-terangan mengemukakan kekonvensionalannya. Bahan-bahan karangan, disadari atau tidak telah ada dalam benaknya sebelum dituliskan. Saat menulis bayang-bayang atau kejadian-kejadian sekian tahun yang lalu muncul begitu saja ke permukaan dan berkelojotan, mencari bentuknya. Sedangkan Darman Moenir mengungkapkan, sungguh tak terbilang banyak momen yang bersumber pada suasana (alam) maupun lingkungan yang membuat ia terangsang untuk berfantasi, dan itu harus diseleksi secara ketat. Karena menurutnya menulis karya sastra membutuhkan penalaran, inspirasi, kemauan serta imajinasi dalam mengonkretkan (ke)hidup(an) yang serba abstrak. Bicara tentang kepenyairannya Rusli Marzuki Saria menengarai, meski merasa dikejar-kejar waktu dan atau dihantui kompleksitas keinginan manusiawi yang berwarna-warni, ia terus belajar, berkontemplasi dan bergulat mengasah kemampuannya. Membuat puisi toh ada suka-duka atau seninya, namun yang paling utama ialah ketekunan serta kesetiaan menggelutinya. Adapun Umar Kayam justru mensinyalir bahwa pada mulanya, menulis adalah semata-mata menyangkut kemauan yang pribadi sekali sifatnya. Masalah determinasi, dan selanjutnya, apa saja boleh ikut terjadi. Dalam bahasa lain, perihal kepengarangan seseorang tak perlu diutik-utik, sebab kreativitas maupun produktivitas dalam berkarya sama afdalnya dengan situasi kemandekannya. Dan dalam salah satu orasinya Subagio Sastrowardoyo menganalog(i)kan proses mengarang tak ubahnya dengan pengalaman seks atau pengalaman mistik, yang harus dirasakan dan dihayati secara individual untuk benar-benar dapat meyakinkan nikmat atau hambarnya. Pengalaman sejenis (mengarang) boleh jadi dialami oleh banyak orang, tapi intensitas serta cita-rasanya niscaya akan berbeda, tergantung kualitas kepekaan dan kedewasaan masing-masing pribadi yang menjalaninya. Tak terbantahkan, bahwa yang mendasari aktivitas dan atau profesi mengarang adalah kemandirian seorang pengarang. Individualisme murni, yang tak bakalan disertai bayangan atau pengaruh apa dan dari siapapun kecuali ingin berlaku jujur terhadap diri sendiri. Soal penyajian tema, penggarapan tokoh, pemilihan diksi, pembentukan alur berikut lain sebagainya, jelas, merupakan sisi tersendiri yang seyogianya dapat meyakinkan pembaca.*** Nelson Alwi Pencinta Sastra, Tinggal di Padang

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]


HAL

14

SASTRA RELIGI

Melacak Definisi Nilai Religiusitas dalam Sastra Pesantren Oleh: Sobih Adnan

Lagi-lagi, saat membicarakan tentang apa dan bagaimana sastra pesantren sebenarnya?, Semuanya memang harus dikembalikan dan dibiarkan untuk berjalan dan berkembang secara dinamis, agar ruh utama dalam sastra yang bernilai kebebasan menemukan keleluasaaan di dalamnya. Namun lagi-lagi, jika berdasarkan tuntutan peta kesusasteraan dunia, sastra pesantren juga harus mampu menunjukkan terlebih lagi menjelaskan titik khas, originalitas, otentitas, sekaligus geneuinitas yang terdapat dalam dirinya sendiri. Mungkin, jika harus ditemukan dalam satu titik pasti, sastra pesantren akan sedikit merasakan kenyamanannya di dalam apa yang pernah di ungkapkan oleh D. Zawawi Imron. Bahwa sastra pesantren ialah geliat kesusastraan yang memiliki satu ciri, yakni merujuk pada sebuah nilai kesadaran; kesadaran tauhid. Namun sesekali akan ditemukan pula (terutama dalam perkembangan sastra pesantren modern) sesuatu yang oleh umum tidak bisa terbaca dengan singkat sebagai sebuah bagian sastra

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]

Frasa


SASTRA RELIGI pesantren, hal tersebut tentu jika hanya mengacu pada satu titik muara yang diungkapkan di atas. Nilai kesadaran “tauhid” tersebut harus dibaca dan dipahami secara lebih mendalam saat menimbang maha karya Ahmad Tohari “Ronggeng Dukuh Paruk”, atau Adibah El-Khaleiqy dalam Geni Jora-nya, terlebih saat membaca Kuda Ranjang – Binhad Nurrahmat. Dari contoh-contoh tersebut, nilai dan pesan kebudayaan terutama tentang pesan perlawanan dan perubahan akan lebih ketara dibanding saat melacak seberapa besar kekuatan nilai ketauhidan yang ada di dalamnya. Maka, sastra pesantren yang terdapat dalam karya-karya luar biasa tersebut akan lebih mudah dimasukkan ke dalam ruangan sastra pesantren jika yang diukur hanyalah tentang siapa yang berhasil menyuguhkan karyakarya hebat tersebut, tentu mereka adalah santri atau tokoh-tokoh pesantren. Dan ini tentu bukan merupakan hal yang cukup, dan tidak akan sah jika harus membatasi kehebatan maksud D.Zawawi Imron sebagai nilai ketauhidan.

HAL

15

Sastra Islam biasa diukur dengan seberapa banyak dalam karya tersebut menggunakan dan melibatkan istilah keIslaman (Arab) secara real terminologi, pelafalan, bahkan pengembangan tema-tema yang bersifat ritual dalam agama. Di sanalah muncul sebuah kekhawatiran dalam diri penyair lain. Bahwa sastra keagamaan tidak bisa dilarikan secara total kepada konteks ketuhanan belaka, melainkan bagaimana pesan-pesan kehidupan sosial yang sudah tercover dalam nilai-nilai keagamaanpun turut hadir di dalamnya.

Sastra Islam Vs Sastra Pesantren

Belakangan, kerap kali terdengar penyair atau para pembaca yang secara sekilas membentuk dan menempelkan label keIslaman dalam sebuah karya sastra. Membaca dan memasukkan sebuah karya dalam ruang sastra Islam hanya terukur melalui seberapa besar istilah-istilah keagamaan itu termuat di dalamnya, atau tema peng-hamba¬an yang total harus lebih mudah ditemui dalam satu contoh puisi misalnya. Dan hal seperti inilah yang mungkin setiap benak orang mendefinisikan secara sederhana tentang nilai religiusitas dalam karya sastra. Karya sastra yang memiliki nilai religiusitas yang kuat adalah sebuah karya yang mampu menghantarkan hasrat penghambaan secara total manusia sebagai makhluk kepada “Allah” Tuhannya. Lebih sederhananya lagi, sastra Islam biasa diukur dengan seberapa banyak dalam karya tersebut menggunakan dan melibatkan istilah keIslaman (Arab) secara real terminologi, pelafalan, bahkan pengembangan tema-tema yang bersifat ritual dalam agama. Di sanalah muncul sebuah kekhawatiran dalam diri penyair lain. Bahwa sastra keagamaan tidak bisa dilarikan secara total kepada konteks ketuhanan belaka, melainkan bagaimana pesan-pesan kehidupan sosial yang sudah tercover dalam nilai-nilai keagamaanpun turut hadir di dalamnya. Pesan kemanusiaan, kritik ketidak-adilan, gagasan pembaruan, dan instrumen-instrumen penting

Frasa

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]


HAL

16

SASTRA RELIGI

lainnyapun boleh ditawarkan oleh sebuah karya sastra, dengan tujuan membumikan pesan kemanusiaan agama untuk kehidupan manusia yang lebih baik. Lalu, di sinilah akan muncul sebuah sedikit masalah, kreativitas para pelaku sastra pesantren telah menjangkau hal-hal tersebut selangkah lebih jauh, hingga pada titik akhirnya sebuah karya sastra pesantren secara modern membutuhkan pemahaman yang mendalam, bermuatan kritik yang segar, serta tidak terkesan terlalu melambung ke awangawang. Seperti halnya istilah sastra pesantren yang semenjak awal kemunculannya menuai kritik dan pro-kontra. Maka sastra yang menurut mereka “Islami” pun layak kita baca dan definisikan ulang. Saya ajukan sebuah pendapat penyair muda yang kritis, Baequni Moh. Haririe yang telah membukukan karyanya dalam antologi Surat untuk Tuhan. Dia mengatakan tentang kerancuan kemunculan istilah sastra Islami yang gencar diklaim oleh beberapa penyair, “Sejak kapan sastra dipisah-pisahkan mengikuti istilah-istilah agama?”. Menguatkan pendapat tersebut, bahwa setiap karya sastra memang sudah mengandung pesanpesan keagamaan yang kuat. Sekalipun ia terlepas dari istilah “Sastra Islam/Islami”. Karena dalam sebuah karya sastra disamping harus memiliki kesan metafor, rima, dan estetika yang baik, di dalamnya juga mesti terdapat nilai moral, religiusitas (apapun bentuknya), dan kekuatan kritis terhadap fakta kemanusiaan. Berbeda dengan pengistilahan sastra pesantren, karena tentang hal ini dirasa dapat memacu kekuatan tradisi pesantren yang telah menikahkan pesan keagamaan dengan kearifan lokal yang akan memperkuat warna kesusasteraan nusantara. Religiusitas, Nilai Kritis, dan Pesan Kemanusiaan Sampai di sini telah sedikit terbaca, bahwa sastra pesantren tidak serta merta menyampaikan pesan keagamaan secara formalistik bahkan pengistilahan-pengistilahan keagamaan dalam diksi-diksinya belaka. Tapi saat merujuk substansi tujuan disuguhkannya sebuah karya sastra, sastra pesantren mencoba menempuhnya melalui pesan moral yang kuat, nalar kritis yang luar biasa, serta pembacaan terhadap pesan keadilan yang terus berkembang sesuai dengan kebutuhan. Dan ini bisa dikatakan sebuah hasil pen-sarian di mana agama akan tetap sesuai dan dibutuhkan sebagai pedoman manusia untuk selamaselamanya. Nilai religiusitas dalam sastra pesantren dapat

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]

diukur pula sebagai ruh yang terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan jiwa dan psikologi yang dialami pembacanya. Maka tidak aneh, jika sebuah karya sastra yang berkekuatan tradisi pesantren dapat dinikmati secara lebih umum, sekalipun oleh kalangan pembaca non-muslim misalnya. Inilah aset yang sebenarnya menjadi beban tanggung jawab dalam dunia sastra kepesantrenan, harus mampu memunculkan kekuatan universalitas dalam produk sastranya. Selain itu, satu hal terpenting yang tak luput dalam pembacaan karya-karya sastra yang ditulis dan disuguhkan oleh kalangan pesantren adalah nilai kritis dan kepekaan terhadap keadilan. Puisipuisi Gus Mus misalnya, hampir sebagian besar menunjukkan pesan kebangsaan dan kritik terhadap ketidak-adilan yang ada. Karena mungkin kalangan pesantren mampu memahami bahwa media sastra adalah media dakwah sekaligus saluran kritik yang baik. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Husein Muhammad, intelektual muslim di Cirebon, bahwa jika hal-hal yang lain sudah tidak dapat mengungkapkan apaapa, maka sastralah yang masih dapat dipercaya untuk berbicara. Selebihnya, meskipun sastra pesantren adalah bukan sebuah jiwa sastra yang memunculkan wajah agama secara formalistis dan simbolis belaka melalui diksi-diksinya. Namun terkadang ciri khas kepesantrenan-pun mau tidak mau terwakli oleh hal-hal tersebut. Salah satu antologi puisi karya generasi-generasi pesantren yang berjudul Jadzab misalnya, Usman Arrumi seolah memang mencoba memunculkan wajahnya melalui diksi-diksi yang erat dan lekat dalam tradisi kepesantrenan, namun asing secara dunia keumuman. Namun sekali lagi, inilah ciri khas sastra pesantren yang tidak dapat dibatasi dan mesti terus digagas-kembangkan. Yang menjadi garis besarnya hanyalah bagaimana cara memaknai nilai religiusitas dalam sastra. Bukan simbolik, bersifat universal, sarat kritik, serta mengandung pesan moral dan kemanusiaan.(www.publiksastra.net) Sobih Adnan adalah Pegiat di Komunitas Seniman Santri (KSS), Lembaga Kebudayaan Mahasiswa (LKM) Rumba Grage ISIF – Cirebon, Direktur LANDSKAPE (Lembaga Kajian Seni, Sastra, dan Kebudayaan Pesantren) Cirebon. Alumni Pondok Pesantren Majlis Tarbiyatul Mubtadi-ien (MTM) Kempek – Cirebon, dan masih nyantri di Fak. Ushuludin Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon.

Frasa


SASTRA RELIGI

HAL

17

Frasa

M a j a l a h S a s t r a D i g i ta l

Mengucapkan

Selamat atas diwisudanya Wakil Pemimpin Redaksi Majalah Sastra Digital: FRASA

DELVI ADRI, S.Pd pada 26 Januari 2013 Tertanda Pemimpin Umum MSD FRASA Makmur HM

Pemimpin Redaksi MSD FRASA M Asqalani eNeSTe

Sekretaris Redaksi MSD FRASA Jhodi M Adrowi

Frasa

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]


HAL

18

KOMUNITAS

Xpresi siswa COMPETER saat difoto usai diskusi Mencatat Nama-nama Sastrawan dan Membaca Sekilas Karyanya.

Menulis Dunia, Menerbangkan Nama; Community Pena Terbang (COMPETER) Penulis: Muhammad Asqalani eNeSTe 23 April 2012, adalah Muhammad Asqalani eNeSTe sering berpikir yang “bukan-bukan”. Bagaimana kalau saya menjadikan puisi layaknya saya mengajar private. Dibayar. Ini sebuah tantangan yang wajib saya coba. Saya rasa ini unik dan –mungkin- belum terpikirkan oleh orang lain. Imajinasi itu kemudian saya realisasikan dengan mengambil beberapa puisi terbaik –menurut- saya. Lantas menulis biodata saya sepanjang dan semenarik mungkin. Kemudian membuat formulir sekaligus info apa dan mengenapa komunitas didirikan. Saya terlalu banyak bermimpi singgah di belahan benua atau negara yang tak pernah saya kenal. Atau setidaknya ranah negeri ini yang dengan segala kehidu-

COMPETER sebelum baca puisi pada Milad AKLaMASI ke 19 2012.

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]

pan nyatanya. Maka terciptalah kata Community Pena Terbang (COMPETER), sebagaimana slogannya menulis dunia menerbangkan nama. COMPETER sendiri berarti pesaing/orang yang memiliki jiwa kompetisi. Dari kata compete (Inggris). Kenapa Community dan Tidak Komunitas?, ini tak lain adalah petunjuk betapa universalnya niat komunitas ini didirikan. Community diambil dari bahasa nomor satu dunia (Bahasa Inggris). Terbukti bahwa COMPETER membagi dirinya menjadi dua: COMPETER Dunia Nyata dan COMPETER Dunia Maya. Anggota dunia maya tidak hanya diisi oleh manusia di berbagai peta Indonesia. Tapi juga teman-teman dari Taiwan (Hongkong) yang notabene berkecimpung di FLP Taiwan. Pena = Karya dan Nama. Terbang, jelajahlah apa pun yang ada di bawah keluasan bumi tuhan. Dengan karyamu. Terbang dan hinggapilah media mana pun yang ingin kau hinggapi, asal kau tidak menyerah lalu berhenti kalah. Awal Mei 2012, Asrina Putri menjadi partner saya yang mendatangi orang-orang (Mahasiswa UIR) yang tampak sedang senggang. Apakah di bawah pohon, di kursi taman, atau bahkan di teras mesjid. Maka terkumpullah sejumlah mahasiswa yang paham dan yang bingung arti pentingnya menjadi penulis. Tergabunglah mereka di COMPETER. Hadirlah pulalah Delvi Adri, May Moon Nasution yang ikut memberikan materi-materi kepada siswa COMPETER. Kami punya kelas- hanya istilah, toh pada nyatanya kami tak pernah belajar dalam ruangan. Sekali pun-. Kelas Senin, Kamis dan Jumat. Dalam 1 minggu ada siswa yang masuk dua kali, dan minimal satu kali. Tiap minggu kita punya tema. Misalnya minggu pertama; “mengenal ciri-ciri karya yang dilirik media, dan cara mengimelkan karya” nah di situ anak-anak akan disuguhkan sejumlah

Frasa


KOMUNITAS

Yoan Fa

Delvi Adri & Makmur HM

puisi yang terbit di berbagai media, koran misalnya. Seusai membaca mereka diarahkan menulis. secara detail diajarkan cara melampirkan file, menulis biodata dan mengirimnya ke media. Terkesan berlebihan, tapi ternyata anak-anak banyak yang setelah itu baru paham. Sebelum bergabung, dalam formulir mereka diiming-imingi akan terbit di media, menang lomba dan memiliki buku. Kami memulainya dengan lomba. Dalam komunitas kami mengadakan lomba cipta puisi kecil-kecilan. Seperti lomba cipa puisi Guru Sayap Favorite (GSF) yang langsung dijurii oleh 3 orang Guru COMPETER Dunia Maya; Lailatul Kiptiyah (Jakarta), Cosmas Kopong Beda (Jakarta) dan Putu Gede Pradipta (Bali). Lomba ini khusus siswa COMPETER Dunia Nyata. Yang dimenangi Yeni Al-Birru, Yuanda Junior, Laura Rafti. Di lain momen kami membuat Apresias Guru Sayap Gui, Gui atau lengkapnya Susan Gui adalah guru COMPETER Dunia Maya (Jakarta). Lomba ini dibuka untuk semua penghuni COMPETER, Maya-Nyata. Tak ayal, ini kami lakukan agar anakanak bisa memahami aturan dan keinginan setiap pengada lomba – yang mau tak mau harus diperhatikan-. Ada pun media yang telah mereka tembus di antaran-

COMPETER saat buka bareng 2012.

Frasa

May Moon Nst

HAL

19

Putu Gede PRadipta

ya; X-Presi Riau Pos, KOMPAS.com, Kuflet. com, Metro Riau dll. Sementara buku; Flows Into the Sink Into the Gutter, Seikat Darah Ukhwah dalam MAe Kematianku, Ayat-Ayat Ramdhan, Sepotong Rindu dalam Sarung dll. Sejumlah guru COMPETER telah memulai mengikuti berbagai iven sastra; Lailatul Kiptiyah (Guru Sayap) mengikuti TSI 4 di Ternate 2011, Pertemuan Penyair Nusantara di Jambi 2011 dll. Putu Gede Pradipta (Guru Sayap) mengikuti Temu Sastrawan Indonesia 4 di Ternate 2011 dll. Moh. Ghufron Cholid (Guru Paruh) mengikuti Dari Sragen Memandang Indonesia 2012, dan beberapa kali mamebacakan puisinya di Malaysia. Selain bergelut di bidang sastra guru COMPETER pun ada; Delvi Adri (Guru Sayap) Wartawan Metro Riau. Makmur HM (Guru Cakar) Lay Outer surat kabar dan majalah. Yoan Fa (Guru Paruh) Redaktur Sastra Teen Metro Riau. Yogi S. Memeth (Guru Paruh) Guru Bahasa Indonesia di Lombok. Tak puas hanya menumpang nama di rubrik-rubrik sastra Nasional dan Internasional. Kami pun mememiliki sejumlah media (tuan rumah media) seperti Metro Riau, Majalah Sastra Digital FRASA, Majalah Kapass dan AlBratva Blog. Belum juga terwujud pertemuan bulan ke-3 kami, dengan tema “Mencatat Keganjilan Mal dalam Puisi” tibatiba kami vakum. Meski saya masih mengontrol sejumlah siswa dan karyanya (Laura Rafti, Azizah Nur Fitriana, Ria Dwi Sutriani, Moh. Fauzan; sekedar absen ). Kini COMPETER Dunia Nyata akan kembali aktif mulai pertengahan Februari 2013. Hanya kelas Minggu pkl 15.00 (tiap minggu). GRATIS! –kecuali daftar masuk- Hub. 0878 9302 3072 & 0857 6748 3580. Gabung Yukkkk. Menulis puisilah, maka terbang bebaslah... Muhammad Asqalani eNeSTe, Mahasiswa Pend. Bahasa Inggris Universitas Islam Riau (UIR). Buku kumpulan puisi tunggalnya yang akan terbit adalah “ABUSIA”. Belajar dan mengajar menulis di Community Pena Terbang (COMPETER)

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]


HAL

20

CERPEN: Ematul Hasanah

Wanita

Bening

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]

Frasa


CERPEN

HAL

21

Ayu Anggraini, wanita bening yang kukenal tiga tahun yang lalu masih tersusun rapi di ruang hatiku. Walaupun aku tidak pernah lagi bertemu dengannya . Sepenggal kisah tiga tahun yang lalu seolah menari kembali di pelupuk mataku.

“Mbak, aku menyukaimu.” Tiba-tiba saja ucapan itu terlontar dari bibirku. “Mbak juga menyukaimu, karena kamu adalah anak yang baik.” Jawabnya sambil menoleh ke arahku sekilas kemudian kembali menatap layar laptopnya. “Mbak, aku menyukaimu bukan seperti aku menyukai seorang guru, tapi aku menyukaimu seperti seorang lelaki yang menyukai perempuan.” Lanjutku meluahkan rasa yang telah lama kupendam sejak pertama kali aku mengenalnya. “Andis…” kulihat raut kaget dari wajahnya. “Bolehkah aku mencintaimu Mbak?” Hening Ia hanya diam, kali ini tanpa menoleh ke arahku sedikitpun. Hanya dalam hitungan menit, tiba-tiba ia pergi begitu saja dengan diam seribu bahasa. Sejak itulah sikapnya mulai berubah. Dia selalu menghindar dariku sampai perpisahan itu hadir, dia masih tidak ingin berbicara denganku, hanya sepucuk surat yang ia tinggalkan. Dik Andis maafkan Mbak jika sikap Mbak tidak seramah dulu karena Mbak tidak ingin dik Andis mempunyai perasaan lebih kepada Mbak. Sampai kapanpun Mbak akan tetap menjadi Mbak untuk dik Andis, begitupun Andis akan tetap menjadi adik selamanya. Sederet kalimat surat darinya seperti duri

Frasa

yang menusuk hatiku. Tidak ada sedikitpun cela harapan yang ia berikan untukku. Masih saja ia mengagapku sebagai seorang adik padahal umurnya hanya terpaut tiga tahun lebih tua dariku. Ya umur kami hanya terpaut tiga tahun. Aku menyuakinya ketika aku baru memasuki umur 17 tahun sedangkan dia ketika itu masih berumur 20 tahun. Dia adalah wanita yang pertama kali kusukai karena hanya dia satu-satunya orang yang mengagap kehadirnku ada di dunia ini. “Banci…Banci…Banci…” teriakan itu sudah biasa kudengarkan sejak aku menduduki bangku SD. Semua teman-teman yang seumuran denganku mengagapku seorang banci, karena memang karekterku seperti seorang cewek. Sejak kecil aku tidak suka bermain bola, tidak suka berpergian jauh, tidak suka panas, dan tidak suka berantem seperti yang dilakukan oleh anak-anak lelaki seumuran denganku. Aku lebih suka bermain dengan perempuan. Bermain boneka, berlatih rebbana, bermain masak-masak, tapi itupun tidak lama kerena teman-teman peremuanku tidak ingin mengajak seorang lelaki bermain dengan mereka. Dan satu-satunya teman bermainku adalah Ibu. Wanita lembut yang sangat mengerti dengan kondisiku. Sedangkan Ayah tidak pernah peduli terhadapku karena aku adalah anak yang tak

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]


HAL

22

CERPEN diinginkan Ayah. Dulu saat Ibu mengandung, Ayah sangat berharap yang lahir adalah anak perempuan, tapi kenyataan berkata lain yang lahir adalah anak lelaki. Ayah sangat kecewa dengan kehadiranku. Hingga aku tidak bisa dekat dengan Ayah. Aku tidak pernah merasakan kasih sayang seorang Ayah, yang kuraskan hanya kasih sayang dari seorang Ibu. Tapi kasih sayang itu tak bisa kuraskan lagi ketika aku mendudki kelas 2 SMPN. Ibu meninggalkanku untuk selamanya. Hanya tinggal aku dengan duniaku yang sepi tanpa warna. Hingga kemudian wanita bening itu hadir menawarkan warna baru dalam hidupku. “Assalamu’alaikum.” Sapanya lembut saat aku duduk sendirian di taman sekolah. “Waalaikumsalam.” Jawabku menoleh ke arahnya “Boleh duduk di sini?” “Boleh.” Jawabku sambil mengahapus bulir-bulir hangat yang mengalir ke pipiku. “Kenapa menangis?” Tanyanya lagi. Aku tak menjawab. “Lelaki itu harus kuat, tidak boleh cengeng,” tegurnya. Seulas senyum mengembang di wajahku dengan hati yang mulai terasa hangat. Karena baru pertama kalinya wanita yang peduli denganku setelah kepergiaan Ibu. “Nah, gitu donk! Siapa namanya dik?” “Andis Kurniawan.” Jawabku sambil mengulurkan tanganku. Ia hanya tersenyum sambil menelungkupkan kedua tangannnya ke arahku. Mungkin tanganku kotor, makanya ia tidak menjabat tanganku, pikirku saat itu. Itu lah pertemuan pertamaku dengannya. Kemudian pertemuan kami terus berlanjut setalah kutahu dia adalah guru sementaraku. Dia adalah mahasiswi yang sedang melaksanakan KKN di desaku. Walaupun hanya sementara, tapi ia mampu merubah hidupku. Semakin lama aku mengenalnya semakin berdecak pula kekagumanku kepadanya. Dimataku dia sangat anggun dengan jilbab lebar yang selalu ia gunakan untuk menutupi rambutnya sehingga tak sehelai rambutpun pernah kulihat walaupun saat aku berkunjung ke poskonya. Bahkan telapak kakinya pun tak pernah kulihat karena selalu di tutupi dengan kaus kaki. Bukan hanya itu dia juga tidak pernah bersentuhan denganku, menatapku lama. Walaupun saat itu

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]

Frasa


CERPEN aku tidak tahu kenapa dia harus berpenampilan dan bersikap seperti itu, tapi aku semakin menyukainya. Dia berbeda dengan wanitawanita lain. “Mbak ingin suatu hari nanti Andis menjadi lelaki sejati.” Kata-kata itu yang selalu ia ucapkan setiap kali bertemu denganku. Dan sekarang kata-kata itulah yang telah membawaku menjadi lelaki sejati. Tidak ada lagi kudengar teriakan yang mengatakan seorang Andis adalah banci. Tapi salam persahabatan dan pujian kekaguman yang selalu kudapatkan sebagai aktivis kampus yang sudah dua tahun di amanhakan sebagai gubernur fakultas. Semenjak di bangku perkulihan aku melibatkan diri dengan organisasi keislaman hingga merubahku menjadi lelaki sejati, bukan lelaki, tapi seorang ikhwan. Aku mulai tahu kenapa dulu Mbak Ayu tidak ingin bersentuhan denganku, tidak ingin menatapku, menghindar dariku setalah ia tahu persaanku karena dia ingin menjaga kesuciaannya. Tidak salah jika aku memanggilnya wanita bening. Ayu Anggraini, nama itu terus melintas di benakku. Aku tahu tidak seharusnya kubiarkan rindu ini berkembang, aku harus segera mengakhirinya. Besok aku akan menjumpainnya dan meminta ia mau menjadi istriku. Tabungan hasil dari usaha rental computer yang telah kubangun hampir dua tahun kurasa cukup untuk biaya pernikahanku dan juga kebutuhan kami nantinya. Masalah umur aku tidak peduli, bukankah Rasullah menikahi khadijah dengan jarak umur yang sangat jauh. Aku telah siap untuk membimbingnya. *** Matahari masih terasa hangat. Kulirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku telah menunjukkan jam 9.00. Aku rapikan lagi penampilanku dengan kaca mata minus yang membuatku terlihat semakin beribawa. Aku telah siap berangkat menuju alamat yang kudapat dari salah seorang sahabat. Untuk menjemputmu wanita bening. “Assalmu’alaikum.” Sapa Bang Arman, lela-

Frasa

HAL

23

ki berjenggot tipis itu adalah senior sekaligus murobbi yang telah mengenalkanku pada Kaffahnya islam. “Walaikumslam.” “Mau kemana antum rapi-rapi begini?” “Ada sedikit agenda Bang.” Jawabku dengan senyum yang merona. “Ada apa Bang?” “ini ana cuma mau kasih undangan,” ucapnya sambil mengeluarkan undangan berwarna merah hati. “Wah, udah mau menikah ya Bang, siapa akhwatnya Bang?” “Antum baca aja sendiri namanya,” jawabnya dengan senyum yang tak kalah merona dengan senyumku. Tiba-tiba dadaku terasa sesak saat kudapati nama Ayu Anggraini yang tertera di dalam undangan. “Antum bisa datangkan?” Kejut Bang Arman. “Ya insyaAllah.” Jawabku gugup. “Bang, ana ke kamar mandi dulu ya?” Aku pergi meninggalkan Bang Arman yang terlihat bingung melihat perubahan sikapku. Kubuka kembali undangan berwarna merah hati itu. Arman Maulan, ST dan Ayu Anggraini ,Spd Hatiku kembali ditusuk seribu duri, kali ini lebih perih dibandingkan tiga tahun yang lalu.*** Ematul Hasanah merupakan nama pena dari Jasmawati. Alumni Mahasiswa Ekonomi Islam Fakultas Syari’ah dan Ilmu Hukum UIN SUSKA Riau. Memulai karir menulisnya sejak menjadi anggota FLP Pekanbaru . Beberapa cerpen dan puisinya pernah terbit di beberapa media Riau dan media Kampus. Juga pernah memenangkan lomba menulis tingkat Universitas, Provinsi, dan Nasional. Dan masih aktif bergiat di organisasi di organisasi internal maupun eksternal kampus di antaranya di bidang syiar dan pelayanan kampus Fkii Asysayams dan juga koordinator kajian sastra dan FLP Pekanbaru. Bisa disapa lewat FB Ematul Hasanah/ No Hp: 085365100824.

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]


HAL

24

PUISI Thoni Mukarrom I.A

DI KACA JENDELA RUMAH KACA

DI JALAN SUATU KETIKA

kitalah awan yang mencari angin untuk pulang membeku di atap kamar lelaki sepi lalu dengan terpaksa memakan udara yang menghembus dari satu langit ke langit lain mencari pohon mana yang butuh dihamili

Aku masih tersesat di kota ini dikerubungi pekat asap dan bising knalpot Merayap di tiap detik napas Menarik ulur mata yang enggan diteteskan Jalan memang begitu memuakkan Ketika kita tak pernah menemu ujung dari penantian Ke arah mana kita akan berlari Atau tersesat di antara kerinduan yang rasanya telah basi

jalan memang begitu indah, sayang matilah tapi jangan saat kesepian. Mei 2012

SETELAH TIDUR SIANG ;kepada kawan

Lama sudah. Tubuh teronggok di atas kasur. Kepala terasa hilang. Keringat menyengat hidung. Kepadamu tak pernah tahu. Panas itu adalah hati. Yang menjadi kata pada setiap mimpi. Membakar diri, menanak tubuh dalam tungku rindu. Meramu kamu. Haruskah perpisahan menjadi aroma sangit. Yang dibakar nenek menjelang tubuhnya menggaram. Jika pernah ada tubuh teraduk di saat perih. Menjadi adalah rahasia. Kepada jalan bengkok di depan dan lalu di belakang. Kau menjadi aku, jatuh satu-satu di kamar masingmasing. Saling menata diri menjadi duri dan saling menyakiti. Begitulah kenangan membentukmu. Semacam pahit, merasuk dalam busuk kamar. Mengakrabinya sepanjang jalan malam panjang. Dan jalan menjadi ah!

Di sini semua berkumpul saling berdesakan Berebut tempat agar bisa hidup nyaman Di saat semua sunyi menari sendiri Seperti mainan murahan yang dibelikan ibu di pasar malam Begitulah kawan, kita hendak lari namun harus ke mana Udara terlalu panas dan angin terlalu hempas Kita berjalan saja, siapa tahu di depan ada halte Atau stasiun atau kantor polisi Mungkin kita bisa bertanya; -Ke mana arah hidup? Ke mana tubuh tak saling bunuh?Lalu kita terus saja berjalan Menapaki kerikil yang betah sekali memeluk kaki Ceceran putung rokok yang kita kumpulkan Ya, kita akan terus berjalan Menelusuri hari Menghabiskan mimpi TBJT, 16052012

Mei 2012

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]

Frasa


Zidni Arfia Rahman PUISI

SAAT DUDUK DI DEPAN KAMAR OPERASI Bau obat dan bunyi ranjang yang diseret membawa pasien. Membawaku pada dua puluh tahun lalu. Aroma obat bius dan daging terpanggang. Bau keringat ibu tiada lelah menggerakkan sobekan kardus ke tubuh ayah. Sebulan lamanya. Dan kini kuterpatung. Menunggu detak-detak waktu untuk menghilangkan rasa sakit. Menyekat nikmat yang datang. Segumpal daging dibungkus plastik keluar dari tangan dokter. “Sudah kucabut kecemasan. Buanglah ke laut. Biar ikan-ikan memakannya.” Sebentar kemudian dengan ranjang beroda, keluar seorang dengan mata berkunang. “Telah dicabut kecemasanku. Buanglah ke laut. Biar ombak menghempaskannya.” Jam bergerak sempoyongan. Kamar menyimpan panas siang. Aku rebah. Tertidur sejenak. Ternyata hari masih terang. Oktober 2012 Thoni Mukarrom I.A., Lahir pada 15 Agustus di Tuban, Jawa Timur. Beberapa karyanya diumumkan media lokal dan nasional (Akbar, Warta Tuban, Surabaya Post, Jawa Pos, Bali Post, Sumut Pos, Radar Bojonegoro, Sagang, Mayara, dan lainnya), beberapa antologi; Bulan Kebabian (Belistra 2011), antologi pelajar Mimpi Kecil (2011) Nyanyian Kesetiaan (STAIN Purwokerto 2012). Igau Danau (Sanggar Imaji, Jambi, 2012) Woman In the Mist (Diva Press 2011) Dari Sragen Memandang Indonesia (Dewan Kesenian Sragen. 2012) serta antologi tunggalnya “Kisah Seekor Kupukupu” terbit di Shell-jagat Tempurung (2012)

Frasa

HAL

25

Di Bawah Bulan Purnama Kita pernah mencintai malam yang sama bulan yang sama. Di sebuah kota yang mencatat percakapan kita. Terminal sepi telah berkali tersinggahi keasingan yang kita padatkan dalam pelukan. Ketika purnama di atas kepala kita kemesraan berderai seperti lagu sejumput rindu tertanam: malam jadi pertemuan paling kasmaran. Suara-suara mengisi kekosongan celah-celah subuh sementara angin membisikkan dingin pada tubuh. Di sinilah, kita pernah sama-sama menjadi pengantin mengeluh pada ranjang yang bergetar. 2012 Zidni Arfia Rahman. Lahir di Bandung, 07 Oktober 1989. Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia. Beberapa karyanya pernah dimuat di Radar Tasikmalaya, Kabar Priangan, Pikiran Rakyat, Majalah Cakra, dan Buletin Langkah. Juga dalam antologi puisi bersama, diantaranya Bersama Gerimis (MSB, 2011), Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan (Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto, 2010), Jejak Sajak (BPSM, 2012), dan Di Kamar Mandi (2012). Bergiat di Majelis Sastra Bandung (MSB), Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS), dan Sanggar Seni dan Kreatifitas Banjaran (SSKB).

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]


HAL

26

SASTRADUKASI

Memahami “Sastra” Oleh: Tangkisan Letug

Mengapa ada “sastra”? Sebab, menurut para filsuf,manusia adalah “animal simbolorum” (mahluk yangmembutuhkan simbol-simbol). Dan simbol menjadi gumpalan ekspresi atau ungkapan yang tercetuskan untukkebutuhan ada bersama dengan yang lain, atau sekedar memenuhi kelahiran citarasa jiwa manusia. Simbolitulah bahasa. Tetapi itu pun belum menjawab pertanyaan di atas. Penulis mencoba bertanya lagi, mulai dengan menukik pada apa itu hakekat “sastra”. Sastra adalah ungkapan jiwa dalam wujud bahasa, entah lisan entah tertulis. Dalam wujudnya yang paling kasar adalah kata-kata. Dalam wujudnya yang lebih tertata adalah cerita sebagai rangkaian kata-kata. Lalu, dalam wujudnya yang lebih terkhususkan lagi adalah karya sastra dengan ukuran-ukuran estetikanya. Sebab tidak Semua kata dan cerita adalah sastra. Sastra sebagai sebuah karya tulis dan olah bahasa mengand-

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]

ung daya kreatif dan daya pelahir imajinasi yang multidimensional. Ketika seorang ibu mengatakan kepada anaknya, “Tangkap tikus-tikus itu!”, tentu saja itu hanya memiliki satu kandungan arti tentang perintah untuk menangkap binatang yang disebutnya tikus. Akan tetapi, bila seorang penyair mengatakan yang sama, “Tangkap tikus-tikus itu!”, artinya akan lebih kaya daripada sekedar sebuah referensi pada binatang tikus. Dan juga kata “tangkap” pun bisa jauh lebih mengundang multi-interpretasi. Jadi, mengapanya sebuah kelahiran sastra itu melibatkan seluruh kekuatan yang ada diri pelahirnya. Itulah kekuatan daya imajinasi. Imajinasi sebagai sebuah daya itu bagaikan lingkaran yang bergasing menciptakan sebuah cermin kebenaran (mungkin lebih baik disebut “kasunyatan”). Mengapa lahir “sastra” lalu dapat ditemukan jawabannya dalam kekuatan daya jiwa manusia menyampaikan laku-gulatnya dengan

Frasa


SASTRADUKASI “sunyata”. Dalam pergulatan jiwa manusia dengan realitas (sunyata) adanya di dunia itulah rahim sastra berada. Lalu, jika demikian, memahami sastra itu tak lain adalah memahami suatu pergulatan manusia dengan sunyata. Dalam filsafat bahasa kita bisa belajar bahwa apa yang dimaksudkan dengan “memahami” itu adalah “bertemunya dua pengalaman yang serupa”. Atau dalam bahasa klasiknya sering dikatakan “yang sama mengenal yang sama”. Tidaklah mengherankan apabila sastra belum tentu bisa dipahami oleh seseorang, karena pergulatan dalam dirinya sendiri tentang kasunyatan belumlah setara. Seorang anak akan memahami kisah Mahabarata dalam kacamata dunia anakanak. Mungkin yang ditangkap hanyalah “baik dan buruk” saja. Namun, makin orang menjadi dewasa sebagai manusia yang bergulat dengan realitas hidupnya sehari-hari, makin kaya pula ia memahami sebuah sastra. Tetapi, tidak jarang, orang-orang dewasa pun masih berjalan di tempat dalam memahami sastra. Kiranya, sebabnya adalah jauhnya kesadaran akan pergulatan dirinya sendiri. Kesadaran sebagai sebuah “laku” sering dirasa berat. Sehingga banyak orang cenderung “membunuh” kesadaran dalam kesibukan. Atau, kesadaran sebagai laku dianggap hanya membuang energi dan waktu saja. Lalu orang enggan melakukan refleksi, menjaga jarak barang sejenak, untuk melihat hidup dan kerjanya sehari-hari. Orang enggan melihat realitas. Memahami “sastra” adalah sebuah olah kesadaran, dimana kita bercermin pada kisah yang tertulis di sana, dan menemukan pengalaman kita sendiri. Memahami “sastra” itu membutuhkan kebesaran jiwa. Dan, pada gilirannya, memahami “sastra” itu sekaligus memacu manusia untuk memiliki kebesaran dan keluasan jiwa atau kesadaran (magnanimity). Membaca dan menikmati sastra lalu bisa disebut juga sebagai laku-olah kesadaran, yang pada gilirannya memacu jiwa bergulat sendiri dengan kenyataan. Bergaul dengan sastra itu lalu bisa berarti mendidik kebesaran jiwa. Dalam sejarah, telah banyak terbukti bahwa para pemimpin-pemimpin besar dunia memiliki kebesaran jiwa lewat sastra. Tak kalah pula, para mistikus dari berbagai agama, mampu mencapai kehidupan mulia meski kadang tragedi ditemuinya, karena mampu ber-olah sastra. Sastra telah menjadi pengasah jiwa mereka.(www.publiksastra.net)

Frasa

HAL

27

Memahami “sastra” adalah sebuah olah kesadaran, dimana kita bercermin pada kisah yang tertulis di sana, dan menemukan pengalaman kita sendiri. Memahami “sastra” itu membutuhkan kebesaran jiwa. Dan, pada gilirannya, memahami “sastra” itu sekaligus memacu manusia untuk memiliki kebesaran dan keluasan jiwa atau kesadaran (magnanimity). Membaca dan menikmati sastra lalu bisa disebut juga sebagai laku-olah kesadaran, yang pada gilirannya memacu jiwa bergulat sendiri dengan kenyataan.

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]


HAL

28

LENTERA BUDAYA

Ritual Kehamilan

M

Masyarakat Dayak

asyarakat Dayak di Kalimantan Tengah meyakini bahwa masa kehamilan memerlukan upacara khusus. Ritual tersebut dilakukan ketika seorang ibu positif hamil dan ketika usia kandungan berumur tiga bulan, tujuh bulan, dan sembilan bulan. Ritual untuk usia kandungan tiga bulan disebut Paleteng Kalangkang Sawang. Ritual ini bertujan agar ibu yang hamil tidak diganggu oleh roh jahat dari dalam air. Ritual usia kandungan tujuh bulan disebut Nyaki Ehet atau Nyaki Dirit. yang hakikatnya untuk memilih leluhur mana yang akan meny-

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]

ertai dan melindungi ibu dan anak yang dikandung. Kemudian, ritual pada usia kandungan sembilan bulan disebut Mangkang Kahang Badak, bertujuan agar bayinya tidak lahir prematur. Sebagai tanda permohonan agar persalinan berjalan normal, dipasanglah lilitan seperti stagen dari kuningan berisi manik-manik dan dilingkarkan di pinggang ibu. Syarat-syarat ritual untuk semua usia kandungan adalah hewan kurban (ayam dan babi) manik-manik untuk ehet, tambak, behas tawur, sesajen, dan manik-manik lilis dan manas untuk dipasang pada ibu yang hamil.(www.budaya-indonesia.org)

Frasa


LENTERA BUDAYA

HAL

29

Permainan Tradisional

Cublak-cublak Suweng Cara Bermain Cublak-cublak Suweng Permainan ini dimainkan olehbeberapa anak/orang, tetapi minimal tiga orang. Akan tetapi lebih baik antara 6 sampai delapan orang. Tujuan dari permainan ini adalah Pak Empo menemukan anting (suweng) yang disembunyikan seseorang. Pada awal permaianan beberapa orang berkumpul dan mengundi/ menentukan salah satu dari mereka untuk menjadi Pak Empo. Biasanya pengundiannya melalui pingsut/encon/undian biasa. Setelah ada yang berperan sebagai pak Empo. Maka mereka semua duduk melingkar. Sedangkan Pak Empo berbaring telungkup di tengah-tengah mereka. Masing-masing orang menaruh telapak tangannya menghadap ke atas di punggung pak Empo. Salah seorang dari mereka mengambil kerikil atau benda (benda ini dianggap sebagai anting). Lalu mereka semua bersama-sama menyanyikan cublak-cublak suweng sambil memutar kerikil dari telapak tangan yang satu ke yang lainnya. begitu terus sampai lagu tersebut dinyanyikan beberapa kali (biasanya 2-3 kali). Setelah sampai di bait terakhir ...Sir-sir pong dele gosong pak Empo Bangun dan pemain lainnya pura-pura memegang kerikil. Tangan kanan dan kiri mereka tertutup rapat seperti menggenggam sesuatu. Hal ini untuk mengecoh pak Empo yang sedang mencari “suwengnya�. Masing-masing pemain mengacungkan jari telunjuk dan menggesek-gesekkan telunjuk kanan dan kiri (gerakannya) persis seperti orang mengiris cabe. Mereka semua tetap menyanyikan Sir-sir pong dele gosong secara berulang-ulang sampai pak Empo menunjuk salah seorang yang dianggap menyembunyikan anting. Ketika pak Empo salah menunjuk maka permainan dimulai dari awal lagi (pak Empo berbaring). Dan ketika pak Empo berhasil menemukan orang yang menyembunyikan antingnya maka orang tersebut berganti peran menjadi pak Empo. Permainan selesai ketika mereka sepakat menyelesaikannya. (www.budaya-indonesia.org)

Frasa

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]


HAL

30

TEENLIT CERPEN

Oleh: Muhammad Asqalani eNeSTe

Jangan meng-sms siapa pun. Tulisan itu terpampang gajah di dinding kamarku. Beuh! Begitu susahkah untuk tidak meng-sms. Hingga tulisan itu kutulis di dindingku?

JANGAN MENG-SMS

SIAPAPUN

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]

Frasa


TEENLIT CERPEN Namaku Gegana. Tadi malam aku dapat sms dari Rama “Hei bro, berhentilah untuk meng-smsku” hh,,, Bagaiman bisa? Dia adalah orang paling kurindu setelah Mama dan Rina. Tapi baiklah, akan kucoba. “Kamu sms apa sih Gana? Bingung Mama.” Aduh! Mama juga berkata hal yang senada. “Beb, jangan meng-sms aku dulu!” hah Rina, benarkah apa yang kau katakan barusan? Ya sudah, aku tidak akan meng-sms kalian. Aku masih punya Risah, Bobi, Marle, Pion dan lain-lain. “Pion, kamu cantik deh!” sent message …. “ Hello Gana…,jangan meng-sms aku lagi ya. Pusing tahu gak sih? “ “ Bob, main ke rumah ya.” Sent message 35 menit kemudian… “ Sorry, rulez, gue sibuk buanget neh. No Reply ya” huh! Pake dilarang balas lagi. Marle, Risah dan yang lain-lain tak perlu kujelaskan apa yang kukirim dan apa yang kuterima dari mereka. Oho, ada sih yang slalu standby membalas smsku. Makhluk yang punya motto “Kukan slalu ada untukmu” Dina Dino, manusia tak berjenis kelamin ini akan selalu mereply smsku. Bahkan tanpa disms pun dia akan meng-sms aku. Pernah suatu ketika inboxku penuh. Hampir semua sms itu dari Dina Dino. Aku sengaja tak menghapusnya. Kata-katanya bagus. “Dina Dino siapa sih Beb? “ Rina memasang muka cuka “O, Dino…” jawabku tanpa perasaan. “ Iya,inboxmu penuh dengan sms dari dia semua. Sebel! Huh!” (CUT! CUT! CUT!) Back to point story “Gana ge ngap’s?” “Ge bawa pisau, mau bunuh kamu!” Dina Dino diam telak. Aku tak percaya. D I N A D I N O si raja/ratu sms itu akan hening.

Frasa

HAL

31

“Aku ge mz kamu” sent to Dino “Ge ma-em” sent to Dino “Hi….” Sent to Dino “Balez doooong!” sent to Dino BETE! KENAPA TAK ADA YANG MAU MENG-SMS AKU??? Maka terpampang gajahlah “jangan mengSMS siapa pun!” di dinding kamarku. Pembaca dapat bayangkan betapa kesalnya aku. Betapa dalam rasa kecewaku. Semua kontak di HP kuDELETE. Inbox, sent item kuDELETE. Hanya draft yang tersisa. Karena di sanalah file rasa kesalku berdiam. Jumlahnya 95 teks. Tidak hanya itu, aku pun melepas batrai HPku. Dan membuka beberapa baut. Obeng jadi saksi. 3 hari berlalu…. 26 Mei 2012 Sehari selepas ulang tahunku, aku benarbenar rindu HPku. “Honey, tadi malam aku meng-sms kamu. Sepuluh kali dengan kata-kata yang sama. Tapi tak satu pun yang kau balas” Rina mendaratkan ciuman mautnya di pipiku. Sejurus kemudian dia berbalik pulang. Dia tampak berbunga. Bahagia. (CUT! CUT! CUT!) Back to point srory Aku cari-cari obeng… “Heapi beirt Dei Gegana!” satu-satunya sms yang sempat kubaca. Ada 283 sms lainnya di HPku. Tak satu pun tertera namanya. Amnesiaku kambuh. Tibakepalaku berputar. Aoleng! Muhammad Asqalani eNeSTe, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Islam Riau (UIR). Pernah belajar menulis cerpen. Lebih giat berproses pada puisi. Tapi kecintaannya pada sastra menjadikan ia penikmat huruf demi huruf pada lembaran Novel dan Esai. Suka memasak dan Hobi mengkoleksi foto bayi lelaki dari internet (Baby Boy Fanatic). Buku puisi tunggal ke-3 nya yang akan terbit ia sebut “ABUSIA”

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]


HAL

32

TEENLIT PUISI

Aku Dia Kamu Aku dia kamu kita beda Aku dia kamu kita beda raga Tapi... Aku dia kamu kita satu jiwa Aku dia kamu, kita bagai hujan Pohon dan tanah saling berkaitan Aku dia kamu memang beda Tapi rasa kita sama Bersama kita kuat Bersama kita hebat Aku dia kamu jangan lepas dari ikat Ruang Hati, 16-01-2013

Kucing

Manja dan nakal tapi tak mengeong Doraemon tak berkantung ajaib Pusing, bingung saat ‘ku di dekatnya Ekspresif, unik tingkahnya Kucingku bukan kucing biasa Kau cerdas serba bisa Mojokert0, 17-01-13 Muhammad Yusuf Abdillah, Puisinya dimuat Linggau Pos, Al-Bratva dan Metro Riau. Menulis puisi baginya seperti melukis diari. Sudah bertinta sejak SMP. Masih setia bermukin di kota ondeonde (Mojokerto-Jatim)

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]

Tarian Anak Desa serumpun padi yang kau tanam tergenggam erat pada waktu, sementara waktu berseteru menderu haru hingga biru biru hilang luka berdendang dendang luruh abdikan rindu rindu rimbun rerumpun suara, yang kini mengendap tiada lagi tertatap tarimentari menarik seluruh cuaca anakmenanak gelisah mendesah, luruhkan sejenak keabadian pada sunyi, bumikan sepi panjatkan kami Canditunggal’12 Moh. Fauzan, masih setia mendengarkan ceramah puisi dari orang-orang terdekatnya. Begitulah semangat ia bertinta. Suatu kala puisinya terbit di sebuah koran Malaysia.

Frasa


TEENLIT PUISI

HAL

33

Remuk03 Serasa remuk balutan ini Nyaris mati hati Benar keras lara Menghampir di kerut-kerut batok Adzan teriak acuh Sudahlah.

Remuk04 Grog grog grog Rentak meremuk Napas tersedak Kuat memberat Napas tersedak, lagi Terserak menjadi-jadi Terpenggal, tersenggal

Frasa

Remuk05 Kukatakan berulang Kulakukan berulang Berulang pula menyerdang Rampas renggut mendulang Hak melang-lang Rindu buih-buih melayang Biarkan saja terbang Lewati kandang Yang remuk serampang Syahara Niyya, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris semester 3. Pernah meraih jaura 1 dalam Lomba Cipta Puisi di FLP Riau. Ia suka berpose di depan kamera.

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]


HAL

34

FIKSIMINI Yoan Fa

Mawar-mawar Merah Bunga mawar memang sangat indah. Merekah merah wanginya pun semerbak. Pastinya akan menarik hati siapa saja yang menghirup aromanya. Seperti gadis yang memetiknya dari kebun sebelah. Rambut pirangnya yang terlihat ikal natural ditambah cahaya matanya pastinya membuat pria jatuh cinta. Akupun memandangnya dari kejauhan. Gadis sederhana itu begitu lugu. Yang ia tahu adalah memelihara mawar-mawar cantik itu dan memetiknya. Dia juga terlihat rajin membersihkan rumah. Tak heran bila Domingus anak si tuan tanah begitu tertarik padanya. Akh, aku pun sedikit patah hati. Aku cuma anak tetangga gadis itu. Tentunya pasti kalah saingan dengan Domingus yang punya limusin mewah setiap kali datang pada gadis itu. Tapi tidak, aku sangat tahu kalau Scarlett bukan wanita yang mata duitan. Ia selalu ramah padaku. Hari itu Tuan Roberto memesan bunga mawar 300 ikat. Diantar akhir pekan nanti segar dan dibuat menjadi beberapa bagian. Tuan Roberto orang kaya di desa ini. Si Tuan tanah , ayahnya Domingus. Mungkin tuan itu punya acara jamuan seperti biasanya. Sabtu itu, gadis itu begitu bersemangat menyiapkan pesanan si Tuan. Sebagai tetangga yang baik akupun ikut membantunya. Gaun biru pucat itu modelnya sedikit kuno , tapi gadis pirangku ini tetap cantik. Bandana putih di kepalanya membuatnya terlihat makin anggun. Dengan motor bututku kami mengantarkan bunga ke Villa Primavera milik tuan Roberto. Sangat

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]

ramai undangan yang datang tampaknya. Mobil yang sangat mewah berjejeran. Sejenak gadis pirangku terpana. Ia tampak deg-degan. Bunga itu untuk dibagikan. Nyonya rumah sangat ramah mempersilakan kami masuk. Walaupun baju kami tak semewah tamu lainnya. Aku lega Scarlett sedikit lebih percaya diri. Aku pun membantu membawa ikat besar bunga. Hingga ke bagian depan. Tampak Domingus tampan sekali. Diiringi gadis bergaun putih mahal. Pengantinnya. Tak jauh dari itu gadis pirangku membagikan bun ga dan sejurus ia bertatapan dengan Domingus yang sedikit terkejut. Aku diam tanpa kata. Tak bergeming. Aku takut gadisku terluka. Selama ini bajingan itu mempermainkan gadisku. Pria paling bajingan yang pernah kukenal. Sekarang sampailah Scarlett di hadapan pengantin. Ia grogi. Akupun akan membiarkan Domingus ditamparnya. Pria yang tidak jantan. Cahaya mata gadisku berkurang. Seraya ia memberikan seikat mawar merah pada pengantin wanita dan tersenyum kecil. Dibalas dengan senyum pengantin wanita. Persetan kau Domingus. Aku tak mau melihat mukamu. Kau menyakiti gadisku. Perlahan air mataku berlinang. Tak sanggup lagi kupandangi gadis pirangku. Ia masih bisa tersenyum yang tanpa sandiwara.*** Yoan Fa, Januari 2013

Frasa


PUISIMINI

HAL

35

Kepada Ietha blues TENTANG CINTA

Sebab aku memahamimu,tangis-tangis pecah dalam doa.

Manggis

10-11-2012

Kamar Cinta, 1999-2012

TENTANG PENGAMEN Raung aksara Bocah cari surga Guyur hujan di langit mata Merdeka sebatas kata Kamar Cinta, 1996-2012

DOA AKHIR TAHUN BUAT INDONESIA Semoga merdeka semekar bunga Kamar Cinta, 31 Desember 2012 Moh. Ghufron Cholid, penyuka puisi, cerpen dan aneka tulisan lain, tinggal di Madura.

Frasa

Inunk el-asta lahir di Sumenep-Madura 1991. Mantan pimred mading Detak OSIS MA Muba. Karya-karyanya sering dimuat KOMPAS.com dan di majalah lokal. Suka bermetaforaria tapi lebih rajin memakannya sendiri ketimbang berbagi.

The first alone Elangelang mengisi awang awan Ramai dan sahaja Tak serupa Tak berupa Nyawanyawa kehilangan darah di peredaran waktunya 2o11 Wahyu Wibowo, selain menyukai puisi ia juga menyukai kata dan berkata motivasi. Puisinya termuat di sejumlah media lokal dan tersuhuf di sejumlah Amtologi.

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]


HAL

36

INSPIRING

Kahlil Gibran

Cinta Tak Pernah Bersua

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]

Frasa


INSPIRING

HAL

37

KISAHKU Dengarkan kisahku... . Dengarkan, tetapi jangan menaruh belas kasihan padaku: kerana belas kasihan menyebabkan kelemahan, padahal aku masih tegar dalam penderitaanku.. Jika kita mencintai, cinta kita bukan dari diri kita, juga bukan untuk diri kita. Jika kita bergembira, kegembiraan kita bukan berada dalam diri kita, tapi dalam Hidup itu sendiri. Jika kita menderita, kesakitan kita tidak terletak pada luka kita, tapi dalam hati nurani alam. Jangan kau anggap bahawa cinta itu datang kerana pergaulan yang lama atau rayuan yang terus menerus. Cinta adalah tunas pesona jiwa, dan jika tunas ini tak tercipta dalam sesaat, ia takkan tercipta bertahun-tahun atau bahkan dari generasi ke generasi. Wanita yang menghiasi tingkah lakunya dengan keindahan jiwa dan raga adalah sebuah kebenaran, yang terbuka namun rahsia; ia hanya dapat difahami melalui cinta, hanya dapat disentuh dengan kebaikan; dan ketika kita mencuba untuk menggambarkannya ia menghilang bagai segumpal wap. Siapa yang tak kenal dengan Kahlil Gibran. Puisinya yang romantis kerap jadi bahan rayuan pria untuk menggombal. Puisinya sangat cerdas, menyentuh tanpa terlihat dibuat-buat. Romantisme yang telah ia tebarkan sayangnya tak seindah kisah cintanya yang tak pernah bersua hingga akhir hayat. Kahlil Gibran atau Jubran Khalil Jubran adalah salah seorang sastrawan perantauan (Mahjar) beraliran romantik. Lahir 6 Januari 1883 di sebuah desa bernama Besharri, Lebanon Utara dan meninggal pada 1931 di usia 48 tahun. Gibran adalah salah seorang pengikut Gereja Katholik Maronit. Ia berasal dari keluarga terpandang kakeknya termasuk tokoh masyarakat di Besharri— namun hidup dalam kondisi kemiskinan secara ekonomis. Ayahnya bernama Khalil bin Gibran, seorang gembala yang memiliki kebiasaan memainkan Taoula, merokok narjille (pipa air), mengunjungi teman-temannya untuk sekedar mengobrol. Kadangkala ia juga minum arak dan berjalan-jalan di padang luas pegunungan Lebanon. Sedangkan ibunya, Kamila, adalah anak terakhir dari seorang pendeta Maronit, Estephanos Rahmi, yang berstatus janda sebelum menikah dengan Khalil. Pernikahan Kamila dengan suami pertamanya, Hanna Abdel Salam, dikaruniai seorang putra bernama Peter.

Frasa

Kahlil Gibran atau Jubran Khalil Jubran adalah salah seorang sastrawan perantauan (Mahjar) beraliran romantik. Lahir 6 Januari 1883 di sebuah desa bernama Besharri, Lebanon Utara dan meninggal pada 1931 di usia 48 tahun.

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]


HAL

38

INSPIRING

Sedangkan dari perkawinannya dengan suami kedua, yaitu Khalil bin Gibran, Kamila dianugerahi tiga anak. Selain Gibran diberi nama sama dengan nama ayahnya, Kamila juga melahirkan dua anak perempuan, yakni Mariana, dan Sultana. Akan tetapi, dalam kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan tidak menyurutkan gerak Gibran untuk mengenyam bangku sekolah. Mula-mula ia belajar banyak hal, terutama bahasa, musik, dan sedikit mengenal tentang seni lukis dari ibunya yang polyglot (menguasai bahasa Arab, Perancis, dan Inggris). Tatkala usianya masih terlalu kecil, si ibu memperkenalkan sebuah kisah dari negeri Arab yang cukup tersohor, Kisah Seribu Satu Malam, juga Tembang Perburuan (Hunting Song) karya Abu Nawas. Ini artinya, sejak kecil Gibran bergelut dengan pelajaran sastra. Didasari keinginan kuat untuk mengurangi beban kemiskinan keluarga, pada tahun 1894, Peter, saudara tiri Gibran yang saat itu berusia 18 tahun mengutarakan keinginan untuk berimigrasi ke Amerika. Semula ibunya menolak rencana itu. Namun akhirnya sang ibu menyetujui dengan syarat keluarganya dapat berangkat secara bersama-sama. Hanya saja sang ayah menolak dengan alasan memelihara sedikit harta yang mereka miliki. Tetapi penolakan sang ayah itu tidak mengurangi niat Kamila, Gibran dan kedua saudaranya dengan dimotori Peter untuk terus berangkat ke Amerika. Langkah tersebut memang lazim dilakukan oleh para penduduk Lebanon. Sebab, ada tiga alasan penting yang menjadi faktor pendorongnya, yaitu: Pertama, keinginan untuk melepaskan diri dari tindakan represif Turki Usmani. Kedua, untuk mencari modal atau memperbaiki perekonomian keluarga. Ketiga, untuk kedua tujuan tersebut sekaligus. Setelah menginjakkan kaki di Amerika, mereka menuju Boston di mana banyak penduduk asli Besharri dan Syiria membentuk koloni di Chinatown. Sang ibu, Peter, dan dua saudara perempuan Gibran bekerja mencari uang. Dia sendiri terpaksa

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]

masuk sekolah untuk memperoleh pendidikan lebih. Selama dua tahun bersekolah itulah, tampak kecerdasan dan kecemerlangan otak Gibran memukau gurunya. Ia selalu memperoleh nilai tertinggi di antara teman-teman “asing”nya di sana. Oleh sang guru, Gibran kemudian disarankan untuk menyingkat namanya menjadi “Kahlil Gibran” dari nama semula “Jubran Khalil Jubran”. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di Amerika, Gibran bermaksud kembali ke Lebanon guna mendalami bahasa aslinya (bahasa Arab) dan mengenal banyak karya pemikir dan sastrawan Arab terdahulu. Setelah keinginannya dikabulkan oleh ibunya, dalam rentang waktu antara tahun 1896–1901, Gibran menempuh pendidikan di sebuah sekolah terkemuka, Madrasah Al-Hikmah, yang terletak di Beirut sekarang. Di madrasah itu, Gibran belajar Hukum Internasional, ketabiban, musik dan sejarah Agama. Selama periode 1898 dia menjadi penyunting pada majalah sastra dan filsafat, Al Hakekat. Dengan bekal kemampuan Gibran dalam seni lukis dan didasari kekagumannya pada para pemikir besar Arab yang diketahuinya dalam kelas, pada 1900 Gibran membuat sketsa wajah penyair Islam periode awal seperti Abu Nawas, al-Mutanabbi, al-Farid dan Khansa (penyair besar perempuan dari Arab), juga wajah para filosof seperti Ibnu Khaldun dan Ibnu Sina. Selama itu pula ada sebuah kenangan indah yang mempengaruhi jiwanya secara mendalam, yaitu kisah cinta pertamanya dengan Hala Daher,

Frasa


INSPIRING seorang putri dari sebuah keluarga aistokrat di Lebanon. Oleh Gibran kisah itu lalu diabadikan dalam novelnya, The Broken Wings (1912) Tetapi ketidaksetaran status sosial telah menjadi tembok yang membatasi cinta keduanya. Sejak saat itu, Kahlil berubah secara drastis. Hati dan cintanya yang terluka telah menjadikan dirinya sebagai seseorang yang membenci seluruh kehidupan tradisi perkawinan ketimuran yang diatur dalam “kastakasta� sosial. Menginjak usianya ke-18 tahun, Gibran telah menyelesaikan studinya di Madrasah al-Hikmah dengan hasil sangat memuaskan. Namun, karena didorong keinginan memperluas ilmu dan wawasan serta mendalami seni lukis, dia memutuskan untuk berangkat ke Paris. Dalam perjalanannya itu, Gibran menyempatkan diri singgah di Yunani, Italia, dan Spanyol pada 1901. Di Paris, Kahlil Gibran tinggal selama dua tahun. di kota inilah dia menulis buku Spirits Rebellious, sebuah buku yang terkenal dengan kritikannya terhadap keadaan sosial, para pejabat tinggi, pengurus keagamaan, juga cintanya yang kandas. Karena bukunya itu, Gibran sempat dikucilkan pihak Gereja Maronit dan diasingkan oleh pemerintah Turki di Lebanon. Keduanya juga membakar karyanya di berbagai tempat di Beirut. Kemalangan Gibran tidak cukup sampai di sini. Tahun 1903 dia menerima surat dari saudaranya, Peter, yang memintanya untuk segera kembali ke Boston sebab adiknya, Sultana, meninggal akibat terserang penyakit Tuber Culosa (TBC) dan ibunya menderita sakit berat. Pada tahun yang sama di bulan Maret, P e t e r j u g a meninggal akibat

Frasa

HAL

39

wabah serupa. Kepedihan Gibran serasa bertumpuk setelah ibunya yang tercinta turut menyusul kedua saudaranya menghadap Yang Kuasa, tepat tiga bulan setelah kematian Peter. Kehilangan sang ibu yang dicintainya membuat Gibran amat terpukul dan patah arang. Baginya, kini hanya tinggal Mariana, adik sekaligus kawan yang setia menemani di negeri orang. Secara historis, tampak bahwa realitas kemalangan yang dialaminya di Boston telah mempengaruhi seluruh karyanya di kemudian hari. Ia mulai aktif menulis termasuk menulis beberapa artikel yang tersebar di berbagai media massa. Tulisan-tulisannya mampu mencengangkan pengagum sastra dunia, termasuk kritikus sastra Arab terkemuka, May Zaidah. Bermula dari polemik di media massa sejak 1912, ternyata sentuhan cinta keduanya mampu merekatkan jarak Amerika-Arab meski sampai akhir hayatnya, mereka tidak pernah saling bertemu. (www.dedisyaputra.wordpress.com)

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]


HAL

40

X-COVER

BACA DAN DOWNLOAD MAJALAH FRASA DI http://www.majalahfrasa.blogspot.com/ KIRIM KARYA ANDA KE majalahfrasa@yahoo.com

Edisi 8 Tahun I [Rabu, 30 Januari 2013]

Frasa


Majalah Frasa