Page 1


SURAT REDAKSI

Setengah Kosong atau Setengah Penuh?

A

nda pasti pernah mendengar pertanyaan, “Apakah gelas ini setengah penuh atau setengah kosong?” Kira-kira seperti itulah pertanyaannya ketika seseorang memperlihatkan gelas yang setengahnya berisi air. Jika anda menjawab, “Setengah penuh”, maka anda dianggap orang yang optimis, selalu berpikir positif. Begitu juga sebaliknya jika anda menjawab, “Setengah kosong.” Namun, ada juga pandangan lain, seperti yang disampaikan oleh Mark Victor Hansen dan Robert G Allen dalam bukunya “Crac­king the Millionaire C.O.D.E” (2006) yang mengatakan bahwa gelas itu pe­nuh, karena selain air yang tampak mata, ada juga udara yang tak terlihat oleh kita. Udara yang mengandung oksigen, yang membuat kita bernafas dan hidup. Bukan soal gelas setengah penuh, setengah kosong atau penuh yang hendak kami ulas disini. Apa yang kami sampaikan di atas hanyalah ilustrasi, atau cara kami memandang bulan Juni, sebagai bulan pertengahan di setiap tahunnya. Bulan Juni punya arti yang sangat penting, karena disitulah kita bisa menilai apakah usaha kita sudah berjalan setengah penuh, setengah kosong, sudah penuh atau justru masih kosong?. Tahun 2012 sudah berlalu setengahnya, jika usaha kita sudah berjalan penuh, sungguh indah sekali, kita tinggal memelihara dan melakukan

pengembangan hingga tutup tahun. Jika masih kosong atau belum terlaksana sama sekali, maka kita betul-betul harus introspeksi diri, apa yang mengganggu kita selama ini? Dalam kondisi setengah penuh, kita harus mampu melihatnya sebagai penuh, seperti yang disampaikan Hansen dan Allen diatas. Penuh dalam artian, hingga akhir tahun, kita telah memandang banyak peluang dan kesempatan. Peluang usaha yang akan menghidupkan mimpimimpi kita menjadi kenyataan. Jika sudah mema­hami filosifi itu, maka kita tak perlu lagi berpikir Juni sebagai gelas yang setengah kosong. Karena ternyata kita bisa isi yang kosong itu dengan berbagai harapan, doa dan tindakan kita yang positif. Semoga, siapapun yang telah menyadari waktu berjalan begitu cepat, semua diberikan kekuatan untuk mengisinya dengan berbagai tindakan tepat. Peluang tak pernah sepi jika kita melihat waktu ke depan. Tak lama lagi bulan puasa, lalu Lebaran, Natal, tahun baru dan lain sebagainya. Mari kita isi setengah yang masih kosong, hingga kita merasa tahun ini sudah penuh. Salam Takjub!

IWAN HARYONO

3

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


DAFTAR ISI JUNI 2012

PENERBIT: PT NUANSA KARYA BERITA SIUPP 1102/SK/MENPEN/ SIUPP/ 1999 PEMIMPIN REDAKSI. Iwan Haryono REDAKTUR PELAKSANA. Er Prianggodo REDAKTUR. Ahmad Setiawan Wendy Danoeatmadja SEKRETARIS REDAKSI. Natalia Risma REPORTER. Cucun Hendriana, Dody Handoko DESAIN GRAFIS. Abdul Kholis PRODUKSI. Matsani DISTRIBUSI/SIRKULASI. A. Sukarno, Budhi Sutisna, Yayat Supriyatna, Sugi Handono, Yosida B.A KEUANGAN: Susanti MARKETING: Arief Anditantyo, Dedy Setiadi AS Telp. (62-21) 584 2285 Fax: (62-21) 587 3750 Sam Saptono Telp. (62-21) 58359109 Fax. (62-21) 58359093

12 MAESTRO Agi Sugiyanto Menggembala kerbau, berladang sampai menjadi buruh bangunan. Berkat kerja keras dan keuletan kini Agi menjadi pengusaha sukses dengan mengelola 50 klinik herbal, advertising, publishing dan recording

ALAMAT REDAKSI/SIRKULASI/IKLAN Jl. Kedoya Duri Raya No. 36 Kebon Jeruk Jakarta Barat 11520 Telp. (62-21) 58359112, 58359108 Fax: (62-21)58359094 Email: majalahelshinta@gmail.com Hotline Berlangganan (62-21) 93938019 PERWAKILAN MAJALAH ELSHINTA JAWA TENGAH /DI YOGYAKARTA: Albert Marbun Jln Kelud Utara II/4 Semarang Telp: (024) 70116152 HP: 08174862781 Fax: (024)8313415 Rochmad Mujari (Yogyakarta) REKENING PEMBAYARAN: Bank BCA a.n PT NUANSA KARYA BERITA A/C. 459.30.21.958 Cabang Wisma Indocement

22PENCERAHAN Ikuti kisah sukses para pengusaha di bidang wisata arung jeram, kuliner sampai angklung dan hiburan yang diraih dengan kegigihan dan kerja keras!

/ JUNI 2012/ TAHUN IV

PERCETAKAN: PT. Gramedia (Isi diluar tanggung jawab percetakan)

4


Peluang dan Inspirasi Bisnis

84 INFO UKM

52 INFO FRANCHISE

Dari Hanger Jadi Milyader. Simak bagaimana bisnis yang terlihat sepele ini ternyata mengalirkan keuntungan ratusan juta!

Dalam dunia franchise, pendidikan merupakan pasar terkuat kedua setelah makanan. Come dirilis sejak 2008 lalu, kini setelah 5 tahun tetap eksis dengan 14 cabang di sekitar Jadetabek dan luar kota.

55 PROSPEK Industri kreatif dengan memanfaatkan kearifan budaya lokal, tetap menang di pasaran ekspor. Beberapa industri anak bangsa yang mampu berkiprah di pasar luar negeri memiliki pangsa tersendiri, mungkin bisa menjadi prospek bisnis Anda. Ikuti kiat bisnisnya‌

92 SENTRA BISNIS

Senapan Angin Cipacing Berawal dari kepandaian para pandai besi yang dipaksa memperbaiki senjata api milik penjajah. Kini, bisnis ini kembali berkembang setelah terus menerus tiarap saat masa Orde Baru

76 KOMUNITAS Putera Sampoerna Foundation Menjadi mitra bagi entrepreneur wanita dengan mendirikan Sahabat Wanita. Kurun waktu 1,5 tahun Sahabat Wanita sudah memiliki jumlah anggota 15 ribu orang.

80 BISNIS SELEB

Lukman “Lucky� Hakim Jalan-jalan keluar negeri berkat bisnis Kucing Maine Coon seharga Rp 25 juta.

Foto: Er Cover: Agi Sugiyanto

5

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


SURAT PEMBACA

Seminar Majalah Elshinta Halo Majalah Elshinta yang semakin perlente. Dari edisi awal tentu sudah banyak narasumber rubrik Pencerahan yang ditampilkan. Saya pengin usul bagaimana kalau mereka dipertemukan dengan pembaca (kopdar), mungkin lewat talkshow, beberapa orang saja. Semoga usul saya bermanfaat. Terimakasih. Prita Sita Bogor

Turut Berduka Tragedi Sukhoi Dulu waktu SMA saya pernah ikut mendaki ke Kawah Ratu dengan kemping tenda di Cipelang. Melihat tragedi pesawat Sukhoi saya sangat sedih, terlebih kondisi fisik pesawat yang luluh lantak. Bagaimana mengenang kegembiraan para penumpangnya, selang belasan menit setelah mengudara peristiwa itu terjadi. Semua itu mengingatkan kita agar selalu berserah padaNya, karena panggilanNya bisa datang tidak kita tahu. Semoga Tuhan selalu memberi perlindungan. Amin Mardhika Jakarta

Saudari Prita, kesempatan bertemu pe足 ngusaha sukses dengan pembaca akan segera terealisir, karena Majels akan menga足dakan seminar dan talkshow. Mudah-mudahan Anda menjadi pesertanya, silakan daftar supaya tidak ketinggalan..

Beserta kesempatan ini pula segenap staff Majalah Elshinta mengucapkan turut berdukacita. Semoga kita bisa memetik arti kehidupan yang terkandung di dalam peristiwa ini. Dan Tuhan menyertai kita semua. Amin

Bisnis Liburan

inspirasi, selain libur membuang uang juga menanggok uang. Terimakasih Prayitno Utomo

Sebentar lagi liburan bulan Juni-Juli tiba.

Batu Malang

Meski yang libur anak-anak sekolah tapi orangtua biasanya ikut cuti mengantar anak

Bung Prayitno rubrik Prospek biasanya

berlibur. Majels tolong dibuat artikel tentang

bertema sesuai sikon, kebetulan bulan tersebut

bisnis di hari libur. Siapa tahu menjadi

memang waktunya liburan. Mudah-mudahan kami bisa menampilkan bisnis di saat liburan, agar bermanfaat bagi pembaca termasuk Anda. Terimakasih / JUNI 2012/ TAHUN IV

6


TAMU

Julia Perez

Bisnis ‘Emas Hitam’ Batulicin

I

ngin membuat terobosan bisnis, Julia Perez, memilih ‘emas hitam’ atau batu bara sebagai obyeknya. Karena lahannya di Kalimantan, tepatnya daerah Batulicin, maka artis seksi ini kerap terbang ke lokasi. Ternyata investasi ini cukup mencengangkan, "Baru tiga bulan aku bisnis, sudah dikasih bonus BMW Z3, dua pintu. Aku bersyukur banget,” katanya, sambil terheran-heran mendapat mobil seharga 1 M ini. Ia ingin membuktikan, bahwa bisnis yang biasa ditekuni para pria dapat juga dilakukan perempuan. Namun begitu, mantan kekasih Gaston Castano tetap optimis, sebab keuntungan kemampuan fasih berbicara dalam 4 bahasa merupakan daya tarik bagi investor asing. "Jadi kalau ada investor asing, aku gampang sekali berkomunikasi," terang­nya. Tapi ada konsekuensi lain yang mesti Jupe tanggung, gara-gara terjun ke bisnis batu bara. "Sekarang aku kemana-mana ditemani pengacara. Habisnya banyak gosip kalau aku meeting selalu di hotel. Sudah begitu, oom-oomnya banyak yang tua dan serem," ungkap artis yang bernama asli Yuli Rachmawati. Teks: Imas, dari berbagai sumber/foto: ist

/ JUNI 2012/ TAHUN IV

8


Norman Kamaru

Usaha Pakaian Wanita N

orman Kamaru sempat menjadi fenomena. Namanya melejit setelah video lip sync-nya populer di Youtube. Pria kelahiran Gorontalo, 27 November 1985 ini belakangan tengah membidik bisnis baru yang disukainya. Ia mengaku, saat ini ia sedang merintis bisnis pakaian wanita di Manado, Sulawesi Utara. “Saya lagi menggarap bisnis baru. Skalanya masih kecil. Bisnisnya di dunia fashion terutama pakaian wanita,” ucap mantan anggota Brimob berpangkat Briptu ini. Anak bungsu dari pasangan Idris Kamaru dan Halimah Martinus ini memang lebih menyukai jenis pakaian wanita daripada pakaian pria. Menurutnya, pakaian wanita banyak desain dan modelnya. “Pakaian wanita lebih beragam ya. Jadi nanti si konsumen tidak akan bosan dengan model. Saya mengerjakan ini langsung. Saya sering mondarmandir antara Jakarta dan Manado untuk mengurus bisnis ini. Mudah-mudahan ke depannya semakin berkembang,” harapnya. Choen,dari berbagai sumber/Foto: Ist

Nuri Maulida

Fokus Fashion Muslimah G

adis kelahiran Bandung, 22 November 1985 ini selain masih menghiasi layar kaca, belakangan juga menggeluti dunia bisnis yang pernah dirintis orangtuanya. Adapun bisnis yang menjadi pilihannya itu adalah fashion khusus kaum muslimah. “Saya dan ibu sudah memulainya sejak 7 tahun lalu. Cabangnya pun sudah ada beberapa di Jakarta dan Depok. Bisnisnya lebih ke busana muslimah terutama jilbab,” katanya. Dia mengaku, aneka jilbabnya itu diproduksi sendiri. Ia serius menjalankan bisnis ini, karena ia sadar bahwa karirnya di dunia keartisan tidak akan selamanya jaya. “Sekarang ini saya meneruskan bisnis orangtua saja. Karena saya sibuk syuting, ibu juga sakit, bisnis ini jadi terlantar. Akhirnya saya coba kembali untuk memulainya. Kalau soal promosi, kan saya banyak teman artis lain yang juga memiliki bisnis,” pungkas Nuri yang memulai debutnya berakting lewat film layar lebar Me vs High Heels, ini. Choen, dari berbagai sumber/Foto: Ist

9

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


TAMU

Ikke Nurjanah

Tekuni Bisnis Restoran

P

elantun lagu Sun Sing Suwe akhir-akhir ini juga tak ketinggalan dengan para pedangdut lainnya yang sudah merintis bisnis. Wanita bernama asli Hartini Erpi Nurjanah ini mengaku, saat ini ia telah memiliki sebuah bisnis yang sesuai dengan kemampuan modalnya. “Maunya sih bisnis properti. Tapi itu kan modalnya besar. Jadi saya buat restoran saja yang modalnya masih terjangkau,” ujar Ikke sambil terbahak. Berkurangnya tensi manggung adalah salah satu alasan Ikke memilih jalan lain untuk membuka bisnis. Selain itu, prospek bisnis kuliner memang dirasanya masih sangat menjanjikan. “Saya mensyukuri saja akhirnya saya bisa menambah rejeki selain dari pekerjaan utama saya yang seorang penyanyi,” pungkas ibu satu anak kelahiran Jakarta, 18 Mei 1974 ini. Teks: Choen, dari berbagai sumber/Foto: Ist

Vidi Aldiano

Warisi Usaha Sound P

enyanyi pop, Vidi Aldiano rupanya sudah memiliki rencana lain untuk masa depannya. Selain berkiprah di dunia tarik suara, Vidi sudah bersiap memimpin perusahaan keluarga yakni bisnis sound system. Mengetahui akan mewariskan perusahaan orangtua, Vidi pun sengaja mengambil kuliah jurusan bisnis di Universitas Pelita Harapan. Ia bertekad menerapkan ilmu yang didapat untuk memajukan bisnis ayahnya, Harry Kiss. Harry Kiss pemilik usaha V8Sound ini yang mendorong anakanaknya untuk mempunyai bisnis. Demi mendalami bisnis yang akan digelutinya, Vidi akan berangkat ke Jerman untuk menghadiri undangan dalam rangka pameran audio dan teknologi bertema V8Sound Road to Messe Frankfurt. "Aku nanti ikut papa ke Frankfurt, ingin bisa menambah koneksi juga. Dan aku akan performance di sana. Insya Allah sebagai langkah awal go international untuk bisnis dan karier menyanyi aku," pungkas Vidi.Meski demikian, menurut Artis kelahiran Jakarta, 29 Maret 1990 itu mengaku tak akan meninggalkan kariernya di dunia tarik suara, karena baginya kedua hal tersebut dapat saling membantu. Diakuinya dunia tarik suara merupakan passion baginya. Teks: Imas Maslihah, dari berbagai sumber / Foto: ist / JUNI 2012/ TAHUN IV

10


MAESTRO

Agi Sugiyanto

Gembala Kerbau Kelola 50 Klinik / JUNI 2012/ TAHUN IV

12


Seperti mimpi, begitulah kehidupan pria yang akrab disapa Agi ini. Menggembala kerbau, berladang, menjadi buruh bangunan yang tinggal di bedeng pengap, merupakan pengalaman hidup Agi sejak usia tujuh tahun. Berkat kerja keras dan keuletan sebagai anak yatim piatu, kini Agi menjadi pengusaha sukses dengan mengelola 50 klinik herbal, advertising, publishing dan recording salah satu artisnya Trio Macan.

Rumah Totok, satu diantara klinik milik Agi Sugiyanto

13

Terapi di Rumah Totok / JUNI 2012/ TAHUN IV


MAESTRO

A

gi Sugiyanto awalnya dikenal sebagai raja pengobatan alternatif. Klinik-klinik pengobatan alternatifnya merambah ke seantero Indonesia. Dari situ, ia mengembangkan jaringan bisnis dengan merambah bidang bisnis lain seperti periklanan, rekaman dan publikasi. Agi pun meroket ke jajaran pengusaha sukses. Tapi, Agi mengawali kesuksesannya benarbenar dari titik nol. Lahir dan besar di lingkungan keluarga petani dengan kondisi ekonomi paspasan, membuat Agi tumbuh menjadi pribadi yang mandiri. Perekonomian keluarganya semakin terpuruk saat sang ayah, Suwito, meninggal dunia. Sejak itu, Agi yang baru berusia tujuh tahun tinggal bersama neneknya dan menjalani rutinitas sebagai penggembala kerbau, mencari rumput dan berladang, di sela-sela aktivitas belajar, sekolah dan mengaji, hingga lulus SD.

Bagaimana kehidupan masa kecil Anda? Saya dilahirkan di Desa Wonosegoro, Boyolali, Jawa Tengah tahun 1970-an. Dari kecil saya hidup dalam lingkungan keluarga besar petani. Penuh kesederhanaan. Umur tujuh tahun bapak saya meninggal. Saya tinggal bersama nenek. Praktis

Mengawali kesuksesan dari titik nol

/ JUNI 2012/ TAHUN IV

rutinitas yang saya jalani setelah sholat subuh adalah mengembala kerbau. Beranjak siang mulai berangkat sekolah, pulang sekolah cari rumput sambil membantu di ladang bercocok tanam. Malam dihabiskan di surau, selesai mengaji dilanjut belajar yang hanya ditemani sinar lampu minyak tanah.

Anda kehilangan orang tua dan nenek dalam waktu berdekatan? Ya, umur 11 tahun nenek saya, meninggal. Dua tahun kemudian ibu saya juga meninggal. Praktis saya hidup dalam keterbatasan. Saya lima bersaudara, sejak itu hidup terpisah satu sama lain. Kami tidak lagi memperdulikan saudara sekandung, karena masing-masing punya problem dan kehidupan sendiri ; harus mempertahankan hidup. Begitupun saya. Lulus SD tidak tahu lagi harus bagaimana. Yang saya lakukan adalah mencoba bertahan hidup. Maka lulus SD saya dibawa ke Jakarta, menjadi pekerja kasar, jadi buruh bangunan, tinggal di bedeng sempit dan pengap. Di Jakarta, saya numpang hidup supaya mampu bertahan hidup. Dua tahun kemudian ada kesempatan melanjutkan sekolah SMP di Jakarta,

Jumpa pers Trio Macan

14


berkat jasa baik seseorang. Pagi-pagi sekali saya sudah harus mencuci mobil, mengepel, menyiram tanaman sebagai tukang kebun. Selesai bersihbersih rumah, berangkat sekolah. Saya senang karena kesempatan hidup lebih baik. Ada impian, ada harapan, ada keinginan. Saya menyelesaikan pendidikan di SMP Villa Mas Jakarta dengan prestasi baik. Lulus SMP saya melanjutkan SMA 36 Jakarta Timur.

Nilai hidup apa yang bisa Anda petik dari pola asuh Bapak, Nenek dan Ibu Anda? Saya tidak pernah mendapatkan kasih sayang secara maksimal. Orangtua sibuk di sawah, sibuk di pasar, mencari nafkah buat keluarga yang memang hidup serba pas-pasan. Tetapi hal itu menanamkan kemandirian yang luar biasa kepada anak-anaknya. Kehidupan bersama alam dan mengikuti irama alam di pedesan dengan segala harmonisasinya, ditambah dengan pola asuh kemandirian dan kerja keras, membuat diri saya menjadi pribadi yang tidak cengeng, suka kerja keras, dan tidak sombong. Agi tak menyia-nyiakan kesempatan. Sambil bersekolah di SMA 36, ia menjadi penulis freelance di berbagai media massa nasional. Untuk

Agi di depan rumahnya

mencari bahan-bahan tulisan, dia rela berjalan kaki dari sekolahnya di Rawamangun, Jakarta Timur ke Pusat Dokumentasi dan Ilmiah, LIPI , di Jalan. Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Jarak tempuhnya sekitar 30 km. Bahan tulisan itu lantas diketik di kamarnya yang berukuran 2x2 meter, terletak di belakang garasi mobil. Honor tulisan pertamanya Rp 25.000,-. Baginya  jumlah yang sangat besar.

Rumah masa kecilnya di Boyolali

15

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


MAESTRO

Lulus SMA , dia terima sebagai editor di majalah Film dan Musik. Tahun 1989 dia pindah bekerja di grup Kompas – Gramedia. Tahun 2002 dia mulai merintis usaha sendiri di bidang konveksi. Namun usaha konveksinya itu mandeg di tengah jalan. Agi tak patah arang. Dia banting setir membuka klinik pengobatan tradisional.

Awal mulanya ide membuka usaha pengobatan alternatif? Bermula saya teringat saat sakit di desa. Waktu kecil kalau sakit saya hanya diberi ramuan atau jamu tradisional seperti kunyit, jahe dan air putih bisa sembuh. Kebetulan saya memiliki rumah kosong di kawasan Pondok Aren, Tangerang Selatan. Rumah itu lantas saya sulap menjadi klinik dengan modal Rp 1 juta. Itu pun menggadaikan gelang milik istri. Oh, ya sebelumnya saya juga sempat mengelola pengobatan Mak Erot. Bisnis  saya dimulai dari usaha keluarga. Dari usaha kecil-kecilan, awalnya saya buka usaha pengobatan tradisional, lalu berkembang lagi dengan membuka usaha refleksi, dan beberapa

usaha di bidang kesehatan. Bisnis ini memang basic-nya dari keluarga, makanya di bisnis ini saya melibatkan adik, kakak, dan saudara-saudara saya lainnya.

Suka dukanya mengelola bisnis pengobatan alternatif? Tak jarang ungkapan miring mampir ke telinga saya, menyepelekan usaha yang langka digeluti orang ini. Apalagi saya melepaskan karir sebagai wartawan di media ibukota yang cukup terkenal. Tapi saya yakin keputusan saya  tidak meleset. Saya ingin mengubah citra pengobatan tradi­ sional, mengubah stempel dari tukang pijit, kumuh menjadi sebuah balai pengobatan terapi yang representatif. Klinik saya memakai  jamu atau ramuan herbal yang telah diuji klinis. Promo saya lakukan di media cetak juga di televisi lokal dan televisi nasional.

Perkembangannya sekarang? Gerai klinik pengobatan tradisional saya dalam waktu sekitar 9 tahun telah berkembang menjadi

Berbahagia ditengah keluarga / JUNI 2012/ TAHUN IV

16


Saya ingin mengubah citra pengobatan tradisional, dari tukang pijit kumuh menjadi sebuah balai pengobatan terapi yang representatif

17

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


MAESTRO

Sang istri, Ati Wastuti turut mendukung kesuksesan usaha suami / JUNI 2012/ TAHUN IV

18


50 gerai di Indonesia. Klinik saya antara lain Rumah Totok, Jampi Spa & Herbal therapy, Klinik Pasak Bumi, Teh Mayang, Terapi Umi Latifah, dan lainnya. Klinik-klinik ini telah tersebar di 25 kota besar seperti Jakarta, Denpasar, Bandung, Bogor, Yogya, Surabaya, Batam,dll. Karyawan yang bekerja di klinik sekitar 200 orang. Belanja Iklan di media cetak dan televisi yang harus saya keluarkan  sekitar 1 miliar rupiah perbulan.

Bagaimana cara Anda menangani puluhan klinik tersebut? Manajemen yang kuat adalah pengelolaan

unit usaha yang berbasis profesionalisme dan transparansi. Biaya pengobatan arau perawatan juga relatif terjangkau berkisar ratusan ribu sampai jutaan. Tak puas berkutat di dunia pengobatan tradisional, Agi menjajal dunia lain ; hiburan, iklan dan event organizer. Beragam kendala kembali menghadangnya. Namun, Agi tak henti belajar dan terus berusaha. Artis andalannya, Trio Macan, akhirnya mendulang sukses. Berbekal itu, ia juga mencoba keberuntungannya di bidang periklanan. Bisnis yang penuh resiko inipun dijalaninya dengan yakin. Meski awalnya

hanya mencoba untuk lingkungan bisnisnya sendiri, akhirnya Agi pun dikenal sebagai pebisnis iklan yang cukup unik ; hanya menangani iklan-iklan untuk dunia pengobatan tradisional.

Anda membesarkan Trio Macan hingga melejit? Trio Macan salah satu produk potensial yang saya bangun dari nol. Awalnya posisi saya sebagai manajer yang hanya mengurus manajemen sampai empat ĂĄlbum. Ujian dan cobaan yang saya hadapi selama mengelola manajement Trio Macan sangat

berat ; hujatan, pendomplengan nama, sampai upaya-upaya persaingan tidak sehat. Ini susahnya mengelola produk yang begitu potensial seperti Trio Macan. Karena harus berpartner dengan pihak lain, membuat kita sulit mengontrol dan melakukan pengawasan. Tapi semua menjadi pelajaran. Single Iwak Peyek adalah sebuah tonggak baru bagi Trio Macan. Semua mata rantai bisnis kita urusi sendiri. Mulai dari publishing, produksi, digital content, sampai urusan manajemennya. Alhamdulillah single ini mencetak hits yang begitu fenomenal. Bahkan boleh dibilang melebihi dari lagu SMS tahun 2005, saat pertama kali Trio Macan muncul.

19

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


MAESTRO

Tapi saya merasa ini masih belum apa-apa. Ini adalah tonggak awal tapi saya sudah mendapatkan pengalaman luar biasa. Dan itu menjadi modal saya untuk terus maju.

Bagaimana dengan bisnis lain, advertising dan EO? Bicara soal advertising, saya memulai dengan hal yang paling simpel. Bermula dari placement media untuk produk internal, seperti Rumah Totok memerlukan material promo berikut placement media. Kita handle sendiri. Seiring berjalannya waktu, banyak produk sejenis minta kita urusi. Sampai saat ini advertising kami disebut sebagai biro iklan yang khusus menangani klien pengobatan tradisional atau pengobatan berbasic herbal. Advertising kami menangani usaha rakyat kecil. Dimulai dari mediamedia lokal akhirya beberapa klien atau produk mulai merambah ke media nasional. Kalau EO, untuk acara gathering, event khusus yang lingkupnya lebih kepada sinergi dengan

produk yang kita handle iklannya. Mereka sering minta dibuatkan acara.

Jadi, managemen bisnis apa yang Anda terapkan? Saya menyebutnya sebagai manajemen kekeluargaan yang profesional. Saya menganggap karyawan adalah bagian dari keluarga besar saya. Karena mereka adalah keluarga, tentu saja kita kedepankan pola penyelesaian kekeluargaan. Dalam konteks ini saya bukan mengutamakan keluarga. Saya fair saja, siapa yang memberi kontribusi yang baik terhadap perusahaan ini maka dialah yang saya percaya. Saya tidak ‘mengharamkan keluarga bekerja di perusahaan saya, asalkan dia harus kompetitif dan tidak mentang-mentang. Kepada semua karyawan saya perlakukan sama. Malah pada keluarga dekat saya, maka saya tekankan harus memberikan contoh yang baik bagi karyawan lain.

Strategi untuk menghadapi persaingan? Persaingan dalam bisnis adalah hal biasa. Kita tidak bisa menghindar dari persaingan, tetapi harus berani untuk bersaing. Era pasar bebas membuat kita dihadapkan pada pilihan-pilihan. Kita harus jeli dan punya strategi untuk menghadapinya. Saya kebetulan memulai usaha dari bawah kemudian merangkak naik dan setiap fase sudah saya lalui lika-likunya dan cara mengatasinya. Pengalaman mengajarkan kita untuk keluar dari masalah. Survive dengan dasar pengalaman, lebih penting dari sekedar sukses tiba-tiba.

Kebahagiaan rohani menjadi fokus utama

Berkat kerjakerasnya mimpi itu sedikit demi sedikit telah diraihnya. Di rumahnya di kawasan elit Raffles Hills Cibubur terparkir beberapa kendaraan kelas premium seperti Toyota Alphard, beberapa BMW dan Honda CRV. Tampaknya ia menjalani hidupnya penuh kebahagiaan bersama sang istri Ati Wasuti dan 5 buah hatinya Fajar Pratama (18), Novi B Agiyanti (15), Desya Ayu A (14), Avivah Nisaya M (9) dan Muhammad Ananda A (5). ď ŽTeks: Dody Handoko / Foto: Tarzan Foto, Er, Dody& Dok. Pribadi / JUNI 2012/ TAHUN IV

20


PENCERAHAN

LODY KORUA

Arus Liar Menjamu Seribu Tamu Dari sekedar ingin gagahgagahan, Lody Korua membuktikan kalau arung jeram mampu menjadi bisnis yang menguntungkan. Tak cuma menangguk untung dari 1000 tamu perbulan, ia juga membawa prestasi anak-anak desa Citarik mendunia lewat arung jeram.

Lomba yang diikuti peserta dalam dan luar negeri

Arung jeram dari amatir hingga profesional / JUNI 2012/ TAHUN IV

22


A

walnya Operation Raleigh yang digelar di Pulau Seram, Maluku. Operation Raleigh adalah ekspedisi bersifat petualangan, lingkungan hidup dan komunitas yang bertujuan menumbuhkan pembangunan berkelanjutan. Ekspedisi ini pernah digelar di Pulau Seram, Maluku. Lody salah satu pesertanya. Dari sini, pergulatannya dengan dunia ekspedisi berlanjut. Termasuk dengan Sobek International yang menggelar ekspedisi arung jeram di Aceh. Lody akhirnya kerap dipilih sebagai jungle expert karena

dianggap mampu memandu ekspedisi-ekspedisi di gunung dan hutan tropis. Tahun 1993, di Sungai Citarik, Sukabumi, bekerja sama dengan Sobek International, Lody mendirikan BJ’s Arung Jeram. Sasarannya adalah ekspatriat. Lody bukan tidak punya alasan. “Waktu itu, arung jeram dikenal sebagai kegiatannya orangorang gila!” paparnya. Terutama setelah tragedi Sungai Van der Wall di Papua yang menewaskan 7 anggota Wanadri dan Kopassus dari PPGAD. “Saat itu, wajar kalau pandangan masyarakat agak

geri

23

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


PENCERAHAN

Peralatan safety arung jeram

negatif. Gila aja, Wanadri sama Kopassus saja mati, masa mereka harus bayar untuk mati,” papar ayah Salsa, Kiham dan Kalif ini. Tahun-tahun berikutnya, Lody dihadang masalah. Sobek yang menjadi partnernya di Citarik ternyata bukan bagian dari Sobek International. “Saya tahu setelah permintaan bantuan kami ditolak Sobek International di Zambesi, Afrika,” paparnya. Selain itu memang banyak perbedaan yang menghadang keduanya. Dari situlah Lody memutuskan untuk berpisah.

Pemandu Lokal Yang menarik, saat mendirikan Arus Liar, Lody justru memakai tenaga pemandu lokal. Sesuatu yang bahkan tidak dilakukan oleh Sobek. Sebuah keberanian yang krusial. “Saya ingat, waktu pertama kali dipercaya menjadi pemandu, ada

Kantor pengelola Arus Liar di Jakarta / JUNI 2012/ TAHUN IV

24

orang Inggris yang menjadi manager ekspedisi yang percaya pada saya. Ia percaya pada saya sebagai tenaga lokal,” kenangnya. “Jadi wajar dong kalau saya juga bersikap sama. Saya harus percaya dan memberi kesempatan pada tenaga-tenaga lokal!” lanjutnya. Keputusan itu, bukan tanpa resiko. Lody sempat dimusuhi oleh teman-temannya sesama rafter yang sebelumnya kerap menjadi pemandu. Itu baru satu masalah. Masalah lain adalah dana. “Bisnis kami belum berjalan sementara gaji karyawan harus dibayarkan. Sebabnya, hampir semua karyawan BJ’s memilih ikut kami,” ujar Lody. Selain itu, Lody pun harus membayar pesanan perahu karet yang didatangkan dari Selandia Baru dan peralatan keselamatan yang didatangkan dari Amerika. Untunglah Lody dibantu Harry Mukti. “Saya pinjam uang dengan jaminan motor saya!” ujar kelahiran 19 April 1957 ini sambil tertawa. Kebetulan Harry memang sedang membutuhkan publikasi yang mengangkat citra sebagai penyanyi rocker. Jadilah mereka partner. Didukung oleh sahabat-sahabat Lody yang banyak bekerja sebagai wartawan, Arus Liar pun booming. Masyarakat mulai tertarik dan berbondongbondong datang. “Saya banyak dibantu temanteman media,” aku Lody. “Saingan kami saat itu memiliki kekuatan untuk menekan kami. Tapi kami punya kekuatan media!” lanjutnya. Setelah beberapa lama, Harry Mukti mengundurkan diri. Sebagai gantinya, almarhum Adjie Massaid mengajukan diri untuk bergabung. Untuk menjalankan bisnisnya, Lody pun harus menyusun strategi agar Arus Liar yang kini dijalankan


oleh 150 karyawan tidak mandeg.. “Arus Liar kami sebut sebagai one-stop-adventure,” ujarnya. Ide ini muncul untuk menyikapi kondisi dan kebutuhan. “Saat musim kemarau, bisnis ini terhenti karena debit air sungai yang tidak mencukupi,” terangnya. Untuk itu, Lody pun menyasar potensi lain. “Yang pertama dikembangkan adalah kebutuhan penginapan karena dulu jika ingin menginap, tamu-tamu kami harus menginap di Pelabuhan Ratu,” lanjutnya. Selain membangun penginapan bernuansa natural-etnis, Lody pun mengembangkan sarana hiburan lain seperti paint-ball, outbound, off road, family camp dan sebagainya. Untuk tarif full day rafting yang berjarak 17 km dengan waktu 5 jam, perpaket pengunjung bisa dikenai biaya Rp 425 ribu. Rata-rata sebulan, sekitar 1000 tamu menikmati jasa Arus Liar yang kini memiliki 50 perahu karet ini. Selain itu, Lody juga giat meningkatkan citra usahanya dengan rajin mengikuti turnamen arung jeram di tingkat nasional dan internasional. Untuk tingkat dunia, pamandu-pemandu Arus Liar sudah mencetak prestasi Juara Dunia 4 kali. Ini memang strategi marketing yang dirancang Lody. “Semua operator menganggap mereka yang terbaik. Tapi terbaik kan diukur lewat kompetisi. Nah, Arus

Setiap lomba selalu dipenuhi penonton

Liar bisa mengatakan bahwa di sini Anda dipandu oleh Juara Dunia,” paparnya. “Kami bangga juga melihat mereka, anak-anak desa bisa keliling dunia,” ujarnya lagi.

Ikatan Bathin Selain tingkat keselamatan yang tinggi, Arus Liar juga menerapkan pelayanan yang menumbuhkan ikatan bathin antara mereka dengan kliennya. “Soal keselamatan kami sangat concern. Di Arus Liar kalau ada pemandu yang membatalkan perjalanan, kami sangat hargai,” papar Lody. Baginya, pembatalan perjalanan bukan sebuah hal

Olah raga air memacu adrenalin

25

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


PENCERAHAN yang memalukan atau merendahkan kredibilitas bisnisnya jika memang untuk keselamatan klienkliennya. “Lagi pula, pembatalan perjalanan itu tidak terjadi setahun sekali kok!” ujarnya. Keyakinan untuk mengutamakan keselamatan dan pelayanan inilah yang membuat tamu-tamu Arus Liar memiliki ikatan bathin dengan para pemandu dan Arus Liar. Ini memang berhubungan dengan kondisi operator arung jeram Indonesia yang kerap cenderung mengabaikan faktor keselamatan justru karena tidak ingin mengecewakan tamu. “Kalau soal peduli pada keselamatan tamu, saya yakin kok semua operator arung jeram peduli pada keselamatan tamunya. Sekarang ini tidak ada operator arung jeram di Indonesia yang zeroaccident,” aku Lody. “Termasuk Arus Liar. Bedanya, kalau operator lain kehilangan tamu, Arus Liar kehilangan pemandu. Itu pun pemandu kami tewas karena berusaha menyelamatkan tamu!” Peristiwa yang terjadi tahun lalu itu membuat Lody makin yakin kalau mereka tidak bisa hanya mengandalkan peralatan. “Early warning system kami sekarang bukan hanya alat lagi karena sebenarnya saya juga kurang percaya pada alat saja. Sekarang selain alat, sekalian saya siapkan orang untuk memantau kondisi hulu sungai,” ujarnya sambil tertawa. Jadi apakah bisnis petualangan alam bebas masih berpotensi? “Mestinya sih masih sangat

Meraih berbagai penghargaan

berpotensi,” aku Lody. “Masalahnya, banyak pelaku bisnis ini terjun tanpa latarbelakang petualangan alam bebas. Jadi memang sentuhannya agak berbeda,” lanjutnya. Di bisnis arung jeram sendiri, Lody mengakui bahwa potensinya masih cukup besar. “Semuanya bisa dipelajari kok,” ujarnya. “Ikuti prosedurnya saja. Memang dilema juga ya, karena mahal. Kalau tidak mau repot, ambil saja dari luar negeri karena mereka lebih peduli soal keselamatan! Kalau soal keselamatan, kita harus konsisten!” papar Lody yang berobsesi yang membawa Indonesia menjadi Juara Dunia ini.Wendy Danoeatmadja/Foto:Okie A.Z., Dokumentasi Arus Liar

Lokasi Arus Liar yang dipadati tamu / JUNI 2012/ TAHUN IV

26


27

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


PENCERAHAN

Made Ngurah Bagiana

Kondektur Pemilik 4000 Edam Burger Ia tipikal pekerja keras. Lulus STM tahun 1975, dari Bali pergi ke Jakarta tanpa tujuan. Sempat terlunta-lunta menjadi tukang cuci pakaian, kuli bangunan, kondektur bis, preman jalanan, penjual telur dan terakhir menjadi sopir. Dengan modal jual kalung istri seharga 600 ribu, ia nekat berjualan burger keliling bernama Lovina. Kini, 20 tahun sudah berlalu ia telah memiliki 4000 gerai di seluruh Nusantara.

/ JUNI 2012/ TAHUN IV

28


N

amanya Made Ngurah Bagiana, pria kelahiran Bali 12 April 1956. Ia adalah anak keenam dari 12 bersaudara. Disiplin dan kerja keras merupakan petuah orangtua yang selalu dilakukannya. Merasa susah bukan hal baru dalam hidupnya. “Dulu, kalau pergi ke sekolah saya tak pernah dikasih uang jajan. Sepulangnya dari sekolah pun tak ada nasi yang siap dimakan, kalau mau makan saya harus masak sendiri,” kisah Made. Hal itu terus berlanjut hingga ia memasuki bangku STM. Setamat STM ia memutuskan untuk

meninggalkan kampung halamannya di Singaraja, Bali. Tujuannya ke Jakarta untuk mengadu nasib meski tak ada pekerjaan yang jelas. Untuk bertahan hidup terpaksa ia harus bekerja sebagai pencuci pakaian, kuli bangunan hingga menjadi kondektur bis. “Apapun saya jalani yang penting saya bisa bertahan hidup,” katanya. Pergaulan keras kota Metropolitan akhirnya mengantarnya menjadi seorang ‘berandal’. Ia menjadi preman jalanan. Tapi itu tak berlangsung lama, karena ia segera bertaubat dan memulai hidup sebagai penjual telur. “Akhirnya saya

29

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


PENCERAHAN

Made bersama Bob Sadino

Menyambut Pangeran Charles

memilih berjualan telur saja. Saya beli telur lalu diecer lagi ke para pedagang. Tapi itu pun tak lama, saya bangkrut. Kemudian saya beralih jadi sopir angkot,” kilahnya.

Menikah, Berbisnis Lagi Tahun 1985 ia memutuskan untuk mem­ persunting gadis pujaannya, Made Arsani Dewi. Setelah itu, mulai merintis bisnis baru yakni mobil omprengan di sekitar Pondok Kelapa. Hanya satu tahun bertahan kemudian luluh lantak. Mobilnya ia jual begitupun dengan tempat tinggal yang mereka diami. “Saya pindah ke kontrakan di daerah Klender,” ucapnya pendek. Suatu ketika di tahun 1990, ia melihat seorang penjual burger di tepi jalan yang dikerumuni banyak pembeli. Idenya pun muncul seketika. Niatnya bulat mau membuka bisnis burger. “Saya mengajukan pinjaman ke bank untuk modal awal, tapi ditolak. Akhirnya saya harus rela menjual perhiasan istri seharga Rp 600 untuk kemudian dibelikan 2 buah gerobak.”

Memasak burger / JUNI 2012/ TAHUN IV

Jualannya pun tak langsung laris. Tak jarang, meski seharian mengayuh gerobak, burgernya masih tetap utuh. Namun, daya juangnya tak berhenti. Malahan itu dijadikan pompaan semangat. “Kala itu saya bisa berjualan burger sampai Bogor dengan naik kereta api. Pelan tapi pasti, burger yang saya buat mulai digemari, sehari bisa laku hingga 20 buah. Saya semakin semangat. Dalam setahun, gerobak burger saya tumbuh menjadi 40 buah,” ujar Made, yang kala itu menamai bisnisnya dengan nama Lovina.

14 Pabrik 4000 Gerai Roda bisnisnya pun makin bergeliat. Setelah 20 tahun berlalu, kini ia telah memiliki jaringan 4000 gerai burger yang tersebar di seluruh daerah di Indonesia. Bukan hanya itu, untuk memasok kebutuhan ribuan gerainya itu, ia juga telah membangun 14 pabrik roti di beberapa daerah. “Sekarang saya sudah memiliki 14 pabrik untuk memenuhi kebutuhan seluruh gerai,” ungkap pria yang telah mempekerjakan 150 karyawan ini.

Proses produksi burger

30


Bersama istri dan beberapa karyawan

Dalam sehari ia mampu memproduksi hingga 20 ribu bungkus roti yang kemudian disebar ke seluruh gerai. Adapun kebutuhan bahan baku tepung untuk membuat roti, perharinya bisa menghabiskan sebanyak 2,25 ton tepung. Selain itu, setiap hari 2 ton saus dan mayonnaise sebagai bumbu burger pun diproduksinya. Juga daging segar yang ia ambil dengan bekerjasama dengan perusahaan Kem Chick milik Bob Sadino. “Atas usulan Bob Sadino pula, nama bisnisnya berubah menjadi Edam Burger. Kenapa Edam? Itu nama saya ‘Made’, kalau dibalik kan menjadi Edam,” tuturnya. Soal kualitas, burgernya tidak kalah dengan burger kelas atas yang dijual dengan harga super mahal. Ia menargetkan, ke depan, Edam Burger menjadi burgernya Indonesia. “Saya ingin menjadikan Edam ini sebagai imej burger Indonesia. Sebagai contoh, kalau air minum kemasan, ya Aqua. Begitu pula, kalau burger saya punya mimpi, harusnya Edam. Oya, soal harga meskipun kualitas bintang lima tapi harganya tetap kaki lima,” imbuhnya. Ia menitip pesan bahwa kalau mau berbisnis, jangan terlalu hitung-hitungan. Baginya, modal pun menjadi sesuatu yang tak penting. “Modal itu perlu tapi tak penting. Yang penting itu kemauan. Saya merintis ini benar-benar dari nol banget. Bukan sebuah warisan juga tak ada yang membantu. Tapi karena saya memiliki kemauan, maka saya boleh dibilang berhasil. Mulailah dari hal yang terkecil, jangan bermimpi memulai dari yang besar. Sesuai

hukum alam, tanaman itu tumbuh dari kecil lalu membesar, bukan sebaliknya. Begitu juga dalam soal bisnis,” ujar Made yang dikaruniai 2 orang anak ini. Terkait dengan persaingan bisnis, ia mengaku sebenarnya tak ada saingan. “Bagaimana ada persaingan kan dari segi rasa berbeda, Edam rasanya khas Indonesiawi. Harga juga berbeda, Edam jauh lebih merakyat. Lalu, kami memberikan peluang bisnis kemitraan yang terjangkau untuk membangun jiwa entrepreneurship di kalangan masyarakat. Kalaupun itu dikatakan sebagai persaingan, toh karena persaingan itulah Edam bisa menjadi besar,” sambung Made, yang membuka bisnis kemitraan dengan harga mulai 3,5 juta rupiah ini. Konsep bisnisnya terbilang unik. Ia adalah pebisnis yang mencari rugi, bukan untung. “Dalam bisnis saya mencari rugi. Kalau pengusaha lain kan mencari untung. Karena saya mencari rugi, saya jadi untung. Kalaupun saya benar-benar rugi, ya tak masalah memang saya mencari rugi. Jadi tak ada beban sama sekali meskipun saya merugi,” sahutnya. Kalau ditanya soal bagaimana cara menjadi pengusaha ia hanya menjawab, “Bebaskan pikiran Anda dari semua beban dan tekanan apapun. Itu jalan awalnya. Selebihnya banyak, tapi yang penting Anda lakukan saja dan fokus!” Cucun Hendriana/Foto: Mamat Rahmat

31

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


PENCERAHAN

Marius Widyarto Wiwied

600 Reseller Modal Kado Nikah / JUNI 2012/ TAHUN IV

32


Saat SMA ia sudah berjualan kaos, dengan uang pinjaman dari orangtua temannya. Berjalan hingga saat kuliah di UNPAR, Bandung, bisnis berkembang kuliahnya pun ia tinggalkan. Perbesar modal menjual kado pernikahan, untuk membeli mesin jahit dan sejumlah peralatan sablon. 30 tahun berlalu, usahanya mampu menghidupi 500 karyawannya. Kaos C59 pun menyebar ke seluruh pelosok negeri termasuk pasar Eropa.

Penghargaan Upakarti Presiden Soeharto

Bersama kerabatnya di Bandung

33

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


PENCERAHAN

K

ebiasaannya berbisnis dimulai sejak duduk di bangku SMA. Aktif berorganisasi dan cerdik menangkap peluang itulah masa remaja Marius Widyarto Wiwied. Didikan orangtua untuk selalu berlaku disiplin kerap ia lakukan. “Di sekolah kalau ada kebutuhan dengan urusan desain dan poster, saya selalu terlibat. Saya memang tak bisa menggambar tapi saya punya ide, saya cari teman yang bisa menggambarkan ide saya,” tegas pria kelahiran Banjarmasin 19 Januari 1956.

Mulanya ia meminjam 50 buah kaos polos pada orangtua temannya yang berbisnis konveksi. Ia pun mengutang uang sebanyak 10 ribu rupiah untuk menyablon gambar pada kaos tersebut. Lalu produknya itu ia jajakan di kelas-kelas. Tak butuh waktu lama, semua kaos itu langsung ludes terjual. “Mulainya dari 50 kaos itu. Lulus SMA di tahun 1974 terus saya kuliah di Universitas Parahyangan, Bandung. Nah disitulah saya benar-benar menjadi makelar kaos, penghubung antara si konsumen dengan tukang sablon,” ujar Wiwied.   Persaingan bisnis kaos di kota Bandung sangat ketat. Oleh karenanya ia harus pintarpintar membuat desain yang menarik. Tak pelak, otak bisnisnya selalu berputar untuk membuat ide-ide kreatif. “Isu harus dibuat atau mengikuti tema politik yang lagi hangat. Misalnya lagi marak pemberantasan korupsi, buatlah kaos bertemakan itu, dan lain-lain,” akunya.   Lama kelamaan skala bisnisnya kian membesar. Meski masih iseng-iseng, bisnis ini bisa memberikan kehidupan yang layak, walaupun harga kaosnya tak terlalu mahal. Tahun 1977-an omsetnya sudah mencapai 35 juta rupiah perbulan. Saking sibuknya, akhirnya ia harus menentukan sebuah pilihan. Ia memilih tak melanjutkan kuliahnya. “Keasyikan berbisnis, akhirnya kuliah saya kalah. Bagaimana tidak asyik dari bisnis itu saya sudah bisa membeli rumah sendiri. Padahal saat itu saya belum menikah,” ceritanya.  

Bermula dari Rp 5 Juta Tanggal 12 Oktober 1980 ia menikahi gadis pujaannya, Maria Goreti Murniati. Pasca menikah ia mulai serius berbisnis kaos. “Dari yang semula hanya iseng-iseng, kali ini tidak dibuat iseng-iseng lagi. Saya harus serius. Setelah menikah, saya datang ke setiap sekolah, bank, instansi dan lainlain untuk menawarkan kaos. Selain di kampus UNPAR, saya juga punya teman di ITB, UNPAD dan beberapa kampus lokal lainnya, saya buat itu sebagai jaringan penjualan. Dengan koneksi itu bisnis saya menjadi lancar,” kilahnya.  Soal modal untuk memulainya, ia harus rela menjual kado pernikahan. “Saat kuliah saya kan

Awal mulanya C59 di jalan Caladi

Rumah yang dijadikan nama C59 / JUNI 2012/ TAHUN IV

34


Menjahit kaos

Memotong kain untuk bahan kaos hanya sebagai calo saja. Saya belum punya alatalat. Setelah menikah saya ingin mempunyai alat seperti mesin jahit, mesin obras dan peralatan sablon. Akhirnya saya menjual kado-kado pernikahan. Terkumpullah uang sekitar Rp 5 juta. Saya pun bisa membeli mesin,” ungkap ayah dari Laurensius Teguh dan Andreas Budi P. Wiwied mulai mengoperasikan bisnisnya dari rumahnya di Jalan Caladi No. 59 Bandung yang kemudian nama tersebut dijadikan merknya, C59. Perlahan bisnis yang dinakhodainya makin berkembang pesat. Dalam perjalanannya, tahun 1986 sudah mampu membeli 20 mesin. Dan pada tahun 1990, C59 semakin berkembang dengan membangun pabrik dan fasilitas modern. Bersamaan dengan di bangunnya toko retail (showroom) yang pertama di jalan Tikukur No.10 Bandung. “Awalnya kesulitannya sama lah soal permodalan. Tapi itu bisa saja menjadi nomor 10 karena SDM yang utama. Market saya selalu tumbuh. Secara omset dan aset pun cukup baik,” cetusnya.   600 Reseller Hingga Eropa      Sekitar tahun 1993-1994, C59 pun berdiri secara sah sebagai perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT), dengan nama PT Caladi Lima Sembilan dan Marius Widyarto Wiwied sebagai Direktur Utama. Seiring dengan itu ekspansi pun terus dilakukannya ke seluruh pelosok negeri. Selain membuka toko sendiri ia juga sempat bekerjasama dengan beberapa department store

yang menyalurkan kaos produksinya hingga ke Jakarta, Balikpapan, Yogyakarta, Ujung Pandang, Lampung dan Malang. Sebagai titik puncaknya, di tahun 2000 penjualannya bahkan merambah hingga Eropa Tengah seperti Ceko Slovakia dan Jerman. “Ketika itu saya mempunyai 600 reseller, penjualan berupa toko di seluruh Nusantara dan Eropa,” tuturnya. Namun, ledakan bom Bali menjadi bencana. Juga krisis krisis ekonomi global turut berperan dalam memusnahkan toko-toko penjualannya. “Saat bom

Mengepres kaos

Di showroom C59

35

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


PENCERAHAN

Kaos C59 bertema daerah

Bali meledak, toko-toko saya di Eropa mendadak sepi. Imej Indonesia di mata dunia menjadi negatif. Imbasnya toko-toko itu kemudian tutup,” imbuhnya. Peran krisis ekonomi dunia memperlengkap penderitaannya. Sebagai sebuah bisnis yang memiliki risiko tinggi dan bergantung pada bahan baku impor, bisnisnya ikut tergoyang. “Bahan baku industri ini semuanya impor. Kapas impor bahkan jarum pun impor. Saya terkena dampak dari krisis ini. Akhirnya, saya menarik mundur dari penjualan dan beralih ke produksinya lagi saja. Sekarang cabangnya hanya ada di Bali, Yogyakarta

Pameran retail / JUNI 2012/ TAHUN IV

36

dan Jakarta. Reseller sudah tidak ada lagi, begitu juga dengan penitipan ke department store. Saya kembali lagi ke order. Lebih banyak memasarkannya ke instansi, sekolahan dan komunitas-komunitas, banyak orderan datang dari sana,” sambungnya. Ia berprinsip bahwa ke­suksesannya berbisnis se­lama 30 tahun harus juga dirasakan oleh orang lain. Karena itu, menurutnya, sukses itu harus berbagi. Tak aneh jika kini ia telah mempekerjakan 500 karyawan di pabriknya yang memiliki lahan seluas satu hektar. Agar manfaat itu turut dirasakan oleh orang lain, perusahaannya juga membuka koperasi simpan pinjam bagi karyawannya. Baginya, pasar Indonesia masih sangat menjanjikan. Dengan jumlah penduduk sekitar 220 juta jiwa, kalau disasar dengan serius, pasar itu begitu besar. “Satu persennya saja kita dapatkan dari 220 juta itu, niscaya kita makmur. Tak perlu lagi kita memperbesar pasar hingga mancanegara. Saat ini pun pasar saya 90 persennya dari lokal. Obsesi ke depannya, saya lebih tertarik dengan dunia pendidikan dan pelatihan,” tutup peraih penghargaan Upakarti di tahun 1996 ini. Teks: Dody Handoko / Foto: Dody, Dok. Pribadi   


37

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


PENCERAHAN

Masa lalunya cukup memprihatinkan. Sempat nyantri selama 2 tahun, lalu keluar ‘menggelandang’ di Yogyarakarta. MT Aroji AT pun menjadi pengamen, penunggu WC, pengangkut pasir dan tukang tambal ban. Kini ia sukses mengelola 3 bisnis; jual beli pabrik tertinggi Rp 20 M, pabrik sepatu dan membangun pesantren di tanah seluas 10 hektar.

Moh Tajudin Aroji Attamim

Penunggu WC Jual Beli Pabrik 20 Miliar / JUNI 2012/ TAHUN IV

38


M

asa kecil Aroji memang perih. Ia adalah seorang anak yang terlahir dari keluarga petani di Tangerang. Ayahnya menginginkannya menjadi seorang kiai, hingga akhirnya setamat SMP ia dikirim ke sebuah pesantren di Pabelan. Hanya bertahan dua tahun nyantri, kemudian ia keluar karena faktor biaya. “Orangtua saat itu sebulan mengirim uang Rp 16 ribu. Sebesar Rp.12 ribu dipakai untuk bayaran, sisanya untuk beli sabun dan peralatan sekolah lainnya. Karena tak cukup, saya memutuskan untuk keluar,� ucap pria kelahiran tahun 1965 ini.

Mesin bekas pabrik sepatu

39

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


PENCERAHAN

Pilihannya itu tentu berisiko. Untuk bertahan hidup ia harus menjadi pengamen dari bis ke bis di daerah Yogyakarta. Selain itu ia juga pernah menjadi penunggu WC di sekitar Candi Borobudur. Lalu menjadi tukang kuli angkut pasir untuk renovasi Borobudur. “Hasilnya lumayan bisa buat makan . Dapat uang Rp.50-100 rupiah saya sudah senang. Pikir saya, yang penting bisa bertahan hidup. Suatu ketika tak sengaja saya bertemu dengan tetangga yang tinggal di Tangerang, akhirnya saya dibawa ke rumahnya,” ujar Aroji.

Studi dan Bisnis Limbah Tiba di Tangerang, Aroji me­ne­r us­kan studi SMA-nya yang tertunda. Tamat SMA ia belajar bisnis dengan mengikuti jejak sang nenek yang menjual limbah plastik dari pabrik-pabrik sekitar tempat tinggalnya. “Saya kebetulan rada jago dalam hal menaksir harga, akhirnya saya diangkat menjadi karyawan di sebuah pabrik. Tapi hanya bertahan dua tahun kemudian keluar lagi,” katanya.

Sedang menggarap pesanan bordir perusahaan sepatu Tahun 1991 Aroji menikah. Bermula dari situlah ia ber­ komitmen untuk mulai mandiri. Beragam pencerahan pun mulai berdatangan. Dengan modal satu juta rupiah hasil meminjam, mulai berbisnis beli plastik yang kemudian dipacking dan dikirim ke pabrik pengolahan daur ulang. “Modalnya tidak banyak, itu pun memang hasil dari meminjam ke orang. Bisnis model itu terus saya jalankan hingga beberapa tahun. Perkembangannya cukup bagus,” ungkapnya. Komitmen mengantarnya menuju pintu kesuksesan. Nasib baik akhirnya berlabuh di tahun 2000, saat itu ia nekat

Jual Beli Pabrik Berawal di tahun 2000 itu, berkah terus melimpah. Tanpa memiliki uang, ia nekat memborong pabrik seharga Rp.8

Kegiatan di pabrik milik Aroji

Mesin - mesin pabrik hasil lelang / JUNI 2012/ TAHUN IV

memborong sebuah pabrik. “Bisnis itu kan soal kejujuran dan tanggungjawab. Selain itu penting juga kita meminta doa dari orangtua serta support dari teman-teman. Kemudian kita komitmen terhadap bisnis yang dijalankan. Dulu harga plastik perkilonya murah antara Rp.150,-sampai Rp.300,-. Tapi karena komitmen tadi, saya bisa bertahan dan berhasil,” tutur Aroji memberi kiat.

40


Aroji dengan para santrinya miliar rupiah. Sebuah harga yang fantastis! “Saya kan memang memiliki kelebihan dalam hal taksir menaksir harga. Kalau orang matematik mungkin butuh waktu lama untuk menghitung harga, saya cuma lihat sebentar, saya langsung bisa tentukan harganya. Pabrik itu pailit dan dijual seharga Rp.8 miliar. Saya lihat kondisi pabrik dan peralatan yang ada didalamnya. Seketika saya mau membeli pabrik itu. Untuk pembayaran saya minta jangka waktu selama satu bulan,” kisahnya. Namun ternyata, tak butuh waktu hingga satu bulan untuk melunasi Rp.8 miliar itu. Hanya satu minggu uang Rp.8

Radio pesantren

miliar sudah terkumpul. “Saya jual mesin-mesin pabrik itu. Banyak orang berdatangan ke pabrik untuk membeli mesin. Seminggu utang saya terbayar. Alhamdulillah ini sebuah anugerah,” ucapnya lagi. Kesuksesannya itu akhirnya membuat nyalinya semakin besar. Memang butuh keberanian tingkat tinggi untuk menjajal bisnis ini. Kemudian ia banyak mencari pabrik-pabrik pailit untuk dibeli. Pabrik kedua ia dapatkan di Karawang. Begitu selanjutnya hingga ia membukukan pernah membeli lebih dari 10 pabrik pailit dengan harga yang selangit. “Yang tertinggi yang pernah saya beli seharga Rp.20 miliar. Kasusnya hampir sama untuk pembayarannya ya dari penjualan alat-alat pabrik itu sendiri, karena saya tak punya banyak uang. Ratarata pabrik yang saya beli itu bekas pabrik sepatu. Lokasinya sekitar Jabotabek, Bandung dan Cirebon,” tandasnya. Namun diakui Aroji, berbisnis di bidang ini memang harus kuat dan berani karena banyak

41

tantangannya. Saingannya ke­ banyakan adalah orang-orang berkarakter keras. “Dulu, saling mengancam itu biasa. Penjualannya kan melalui sistem lelang. Terkadang diantara calon pembeli banyak terjadi adu gengsi. Misalnya saja dalam lelang terbuka, pabrik yang di­ lelang dibuka dengan harga Rp.2 miliar, ada yang menawar Rp.2,1 miliar sampai Rp.3 miliar. Padahal, pabrik itu kalau dijual lagi, harganya ya sekitar Rp.2 miliar itu, tapi karena adu gengsi kita bisa rugi besar,” sahutnya. Meski bisnis ini berisiko

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


PENCERAHAN

tinggi, Aroji mengaku tak pernah bangkrut. “Alhamdulillah ya selama ini bisnis saya tidak pernah jatuh. Dari dulu sampai sekarang naik terus. Saya rasa sih karena itu tadi, saya punya komitmen bisnis yang benar!” aku pria yang pernah menjabat sebagai Kepala Desa Sindangasih, Tangerang selama 10 tahun ini.

Bangun Pesantren 10 Hektar Setahun lalu Aroji resmi mendirikan pesantren plus jen­jang sekolah SMP-SMA. Di­ katakan­nya, ia sama sekali tak punya angan untuk mendirikan pesantren. “Mimpi pun tidak. Kalau saya ada niatan dirikan pesantren, dulu pasti saya nyantri sampai lulus. Biar ilmunya

Aroji bersama istri ketika menjabat Lurah / JUNI 2012/ TAHUN IV

Aroji sedang santai di atas ATV

cukup mumpuni untuk jadi seorang ‘kiai’. Saya terkadang ingin tertawa kalau sekarang banyak yang panggil saya dengan sebutan kiai,” celotehnya. Niatnya membangun pe­ santren banyak didorong dari anaknya yang juga lagi nyantri di Pabelan kemudian pindah ke Darul Qolam. “Saat saya berkunjung ke pesantren anak saya di Darul Qolam, banyak ayat suci terlantun. Hati saya bergetar seketika. Saya pesan ke anak saya, ‘Nak, mengaji yang benar nanti Papah buatkan pesantren yang lebih besar untuk kamu urus’. Eh, tak lama kemudian ucapan saya terkabulkan. Saya dapat borongan pabrik itu,” kilahnya. Pesantren modern yang di­namainya Bani Tamim pun dengan megah berdiri di Desa Sindang Asih, Tangerang. Di­ bangun di lahan seluas 10 hektar. “Yang sudah dimanfaatkan baru

42

sekitar 5 hektar. 5 hektar lagi masih dalam tahap perencanaan pembangunan. Karena baru se­tahun lalu dibukanya, saat ini santrinya baru mencapai 100 anak. Soal fasilitas cukup lengkap lah,” sambung Aroji. Saat ini, Aroji telah memiliki tiga perusahaan yang cukup besar. Pertama, Cahaya Limbah Abadi (CLA) yang bergerak dalam bidang jual beli pabrik. Kedua, Cahaya Laju Abadi (CLA), bidang garapannya seputar pembuatan sepatu dan bahan baku sepatu, mesin bordir dan laminating. Ketiga, Cahaya Air Sejati (CAS) yang ada di pesantren, kalau yang ini bergerak dalam bidang usaha air minum kemasan. “Untuk CAS ada 35 karyawan, CLA (Laju) ada 135 karyawan dan CLA (Limbah) baru sekitar 30 karyawan tetap. Semoga ke depannya semakin maju lagi,” pungkasnya. Teks/ Dody Handoko /Foto: Dody, Dok. Pribadi


43

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


PENCERAHAN

Taufik Hidayat Udjo

Saung Angklung Udjo

Rekor Dunia Angklung 5000 Orang di Amerika / JUNI 2012/ TAHUN IV

44


Awalnya hanya untuk melestari budaya Sunda, belakangan angklung menjadi lahan bisnis potensial. Angklung ternyata disukai sejumlah wisatawan lokal dan asing, bahkan telah mencetak rekor Guinness World Record dimainkan 5000 orang asing. Untuk bahan baku saja, sebulan ia harus berbelanja hingga Rp 200 juta. Meski begitu, bisnis ini tetap lestari dengan dibantu ratusan karyawan dan ribuan pemain.

Pak Udjo

T

ahun 2011, angklung Udjo berhasil menggalang orang untuk menciptakan rekor dunia “Guinness World Records”. Permainan angklung dengan peserta multibangsa terbanyak, lebih dari 5.000 orang mampu memainkan lagu “We Are the World” di Washington DC, Amerika Serikat. Lagu ciptaan Michael Jackson dan Lionel Richie itu berhasil dimainkan para peserta di bawah panduan yang diberikan oleh Daeng Udjo dari Saung Angklung “Udjo” Bandung, Jawa Barat. Pencetakan rekor dunia itu berlangsung di taman National Mall-Washington Monument, yang lokasinya

antara lain menghadap Capitol Hill (Gedung Kongres AS) serta berseberangan dengan Gedung Putih, yaitu kantor dan kediaman resmi Presiden AS. Para peserta yang masing-masing mendapatkan sebuah angklung serta syal batik atau ikat kepala khas Bali saat memasuki arena, mengikuti panduan Daeng Udjo dengan membunyikan angklung berdasarkan salah satu nama pulau di Indonesia yang tercantum pada angklung mereka. Nama-nama pulau tersebutSumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Sulawesi, Lom­bok, Maluku, Flores, Papua, Halmahera-- secara berurutan menggambarkan not; do-re-mi-fa-so-la-si-do-re (atas)-

45

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


PENCERAHAN

Main angklung acara 17 Agustus mi (atas). Peserta membunyikan angklung masingmasing saat Daeng Udjo memberikan tanda not-not tersebut dengan menggunakan tangan.

Budaya Warisan Dimulai di tahun 1966, saat orangtua Taufik Hidayat Udjo merintis membuat saung kecil untuk memproduksi alat musik angklung. Kerajinannya itu secara perlahan menarik beberapa pengunjung untuk melihat proses pembuatan sebuah angklung, juga cara memainkannya. “Ukuran saungnya sekitar saat itu 8X10 meter. Ternyata kegiatan orangtua saya itu menarik minat para wisatawan. Setiap hari selalu ada tamu yang berkunjung meskipun hanya beberapa orang saja,” ucap Taufik Hidayat Udjo, anak ke 9 dari

Performance art angklung Udjo / JUNI 2012/ TAHUN IV

46

10 bersaudara pasangan almarhum Udjo Ngalagena dan Uum Sumiyati ini. Saat itu dalam sehari orangtua Taufik hanya mampu memproduksi satu perangkat lengkap musik angklung. Sebagai perintis, kesulitan dalam menata irama musiknya menjadi kendala utamanya. “Menemukan kecocokan irama itu awalnya memang sulit. Karena itulah produksinya sangat terbatas. Kalau satu angklung sudah selesai dikerjakan, ia memamerkannya dengan berkeliling dari satu daerah ke daerah lainnya. Tapi itu bukan mengamen melainkan mempromosikan angklung agar lebih dikenal luas oleh masyarakat,” ujar pengelola angklung Udjo yang beralamat di kawasan Padasuka, Bandung ini. Saung Angklung Udjo dipilih oleh pak Udjo sebagai nama untuk mengibarkan benderanya. Usaha yang dilakukannya pun menuai keberhasilan. Tahun 1980an, Saung Udjo makin dikenal oleh masyarakat sekitar Bandung. Dalam perkembangannya, pengunjung makin banyak berdatangan. “Banyak diantara pengunjung yang tertarik dengan kerajinan angklung ini kemudian membelinya. Saat itu harganya memang tak mahal. Satuannya seharga Rp 1.000. Karena memang tujuan awalnya hanya untuk membudayakan angklung saja. Tapi akhirnya ayah saya bisa mengumpulkan modal untuk membeli tanah yang lebih luas lagi,” tutur Taufik. Tanah seluas 4.000 meter persegi pun berhasil dibeli. Berawal dari sana, beragam kemajuan pun


mulai terlihat. Udjo tidak pernah lagi mempromosikan angklungnya secara berkeliling. Untuk mendatangkan massa, setiap malamnya keluarga Udjo rajin memainkan musik angklung di saungnya. “Ternyata cara itu lebih efektif. Saung Udjo selalu ramai dikunjungi orang,” katanya.

5 Ribu Angklung Perbulan Pada tahun 1992, Saung Angklung Udjo mulai dikelola secara profesional. Hal itu dibuktikan dengan dibuat menjadi Perseroan Terbatas. Bahkan tahun 1995, produksi kerajinannya pun tidak hanya bergerak di angklung tapi juga merambah ke aneka souvenir khas Jawa Barat lainnya seperti wayang golek dan lain-lain. Profesionalitas itu menjadikan Saung Angklung profit oriented. Kini di setiap pertunjukan yang digelar, setiap penonton dikenakan tarif bervariatif. “Pertunjukan musik angklung hampir setiap sore ada, sekitar pukul 16.00 WIB. Bagi yang ingin menonton, saat ini tidak digratiskan. Untuk turis asing dikenakan biaya Rp 100 ribu, sementara wisatawan lokal Rp 80 ribu,” jelasnya. Selain itu, Saung Angklung Udjo juga memberikan fasilitas penginapan bagi wisatawan asing yang ingin belajar musik angklung. “Justru peminat yang mau belajar angklung ini lebih dominan turis asing. Supaya mahir memainkan alat ini setidaknya dibutuhkan waktu hingga 3 bulan belajar. Untuk itulah kami juga memfasilitasi penginapan dengan sewa perkamarnya sekitar 250 ribu rupiah. Ada juga yang mahal, disesuaikan dengan fasilitas kamar,” imbuhnya. Bahan baku dalam membuat angklung adalah bambu tua berumur sekitar 6 tahunan. Selama ini untuk bahan baku bambu berasal dari kawasan Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Kini dalam sebulan produksi angklungnya sudah bisa mencapai lebih dari 5.000 unit. Angklung-angklung tersebut kemudian dijual kembali dengan harga bervariatif. Mulai dari harga terkecil sekitar 39 ribu rupiah berupa angklung satu oktaf, hingga harga angklung komplit yang termahal berkisar 6 juta rupiah. “Untuk harga yang 6 juta rupiah itu, memang ukurannya besar. Suaranya pun lebih bagus,” sahutnya. Namun, ongkos produksi yang dikeluarkan setiap bulannya juga tak sedikit. Sekurang-kurangnya, dalam sebulan saung Udjo harus merogoh kocek antara 100 – 200 juta rupiah untuk pembelian bahan

Pengunjung di saung Angklung Udjo

Menciptakan rekor dunia “Guinness World Records” baku. Ditambah pula dengan ratusan karyawan yang harus ia gaji. Di lokasinya itu ada lebih dari 125 karyawan dan 200 pengrajin angklung, juga lebih dari 300 pemain musik angklung yang terus setia mendendangkan irama setiap hari tanpa henti. “Bahkan saya pernah dalam sebuah pertunjukan, memainkan lebih dari 1300 pemain angklung,” kata Taufik. Saat ini, Saung Angklung Udjo pun telah menjelma sebagai sebuah kawasan dimana banyak orang lain bergabung untuk mencari rejeki. Di sekitarnya, berdiri juga kios-kios wisata kuliner yang siap memuaskan para pengunjung. “Sudah menjadi sebuah komunitas yang menghasilkan nilai profit. Semoga Saung Udjo ini bisa menjadi percontohan bagi desa lain untuk membuat komunitas seperti ini. Usahanya tidak harus angklung tapi bisa apa saja. Agar semakin banyak lagi desa yang memiliki aset wisata yang mampu mendatangkan para wisatawan baik lokal maupun dunia,” tutup Taufik. Teks: Dody

47

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


PENCERAHAN

Pesawat pertama Boeing

Industri pesawat Boeing moderen

William Edward Boeing

Pedagang Kayu Rakit Ribuan Boeing W illiam Edward Boeing adalah seorang pelopor penerbangan Amerika yang mendirikan Perusahaan Boeing. Boeing lahir di Detroit, Jerman 1 Oktober 1881, yang pada mulanya bernama Wilhelm BĂśing, kemudian mengganti namanya agar lebih bercorak keinggrisan menjadi William.E.Boeing, dan merupakan insinyur pertambangan kaya yang memiliki usaha sampingan sebagai pedagang kayu. Boeing pernah mengenyam pendidikan di Yale University, Swiss, pada tahun 1900 dan menyelesaikan studi nya tahun 1903 untuk kembali mengurusi bisnis kayunya. / JUNI 2012/ TAHUN IV

48

Pada awalnya, Boieng melihat sebuah mesin terbang berawak untuk pertama kalinya yang membuatnya terpesona dengan pesawat. Dia segera membeli pesawat dari Glen Martin Co. sekaligus menerima pelajaran terbang dari Martin sendiri. Karena semangat Boeing pun langsung dapat mengemudikan pesawat. Namun ketika ia diberitahu oleh Martin bahwa spare-part tidak bisa tersedia selama berbulan-bulan, Boeing meledak marah. Dengan emosi Boieng memberitahukan temannya, G.C. Westervelt USN bahwa “Kita bisa membangun pesawat yang lebih baik sendiri dan


Ribuan pesawat Boeing dari berbagai type laris manis terjual. Sampai tercipta pameo “If it’s not Boeing, I’m not going.. “ (Bila bukan pesawat Boeing, saya tidak mau terbang...) Kesuksesan William Edward Boeing ternyata dirintis dari usahanya berdagang kayu… membangunnya lebih cepat!” Westervelt setuju. Mereka segera membuat dan menerbangkan B&W Flying Boat, sebuah biplan amfibi yang memiliki kinerja luar biasa. Boeing memutuskan untuk terjun ke bisnis pesawat dan membeli galangan kapal Heath di Seattle, Washington, di Sungai Duwamish, yang kemudian menjadi pabrik pesawat pertamanya. Pada 1916, Boeing terjun ke bisnis pembuatan pesawat dengan George Conrad Westervelt sebagai B & W dan mendirikan Pacific Aero Products Co. Pesawat pertama perusahaan adalah model Boeing 1. Saat Amerika memasuki Perang Dunia I pada bulan April 1917, Boeing mengganti nama Pacific Aero Products Co. menjadi Boeing Airplane Company dan memperoleh perintah dari Angkatan Laut Amerika Serikat untuk membuat 50 pesawat. Pada akhir perang, Boeing mulai berkonsentrasi pada kontrak pesawat komersial, untuk memasok jasa Pos dan membangun sebuah operasi udara yang sukses dan layanan penumpang. Perusahaan ini kemudian berkembang menjadi United Airlines.

Pada 1916, Boeing terjun ke bisnis pembuatan pesawat

Pada tahun 1921 William Boeing menikahi Bertha Paschall Marie. Bertha sebelumnya pernah menikah dengan Nathaniel Paschall, broker real estate dan melahirkan dua putra, Nathaniel “Nat” Paschall Jr. dan Paschall Cranston. Kedua anak tersebut menjadi anak tiri Boeing. Pasangan itu memiliki seorang putra dari pernikahan mereka sendiri, yaitu William E. Boeing Jr. Dan anak tirinya pergi untuk berkarir di perusahaan penerbangan, Nat Paschall adalah seorang manajer penjualan untuk Douglas Aircraft dan kemudian McDonnell Douglas, sedangkan William E. Boeing Jr. menjadi pilot pribadi dan pengembang industri real estate. Pada tahun 1934, pemerintah Amerika Serikat menuduh William Boeing melakukan praktek monopoli. Di tahun yang sama pula, UU Air Mail memaksa perusahaan pesawat untuk memisahkan operasi penerbangan dari pengembangan dan manufaktur. Akhirnya William Boeing melakukan divestasi kepemilikan sebagai perusahaan investasinya, United Aircraft dan Transportasi Corporation, pecah menjadi tiga entitas terpisah.

Bersama awak industri pesawat Boeing

49

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


PENCERAHAN

Boeing 787 siap dipasarkan United Aircraft Corporation, memegang manufaktur AS bagian Timur (sekarang United Technologies Corporation). Boeing Airplane Company, memegang manufaktur AS bagian Barat yang kemudian menjadi The Boieng Company. Dan United Air Lines untuk operasi-operasi penerbangan. Boieng mulai menghabiskan sebagian besar waktunya di penangkaran kuda-kuda yang dimilikinya pada tahun 1937. Boeing Airplane Company, meskipun produsen utama dalam industri yang terfragmentasi, tidak benar-benar lepas sampai awal Perang Dunia II. Boeing pensiun dari industri pesawat terbang, dia kemudian menghabiskan sisa waktunya dalam pengembangan properti dan penangkaran kuda pacuan, dan tanah kepemilikannya di sebelah timur laut dari Seattle disebut Aldarra. Aldarra ini kemudian dikembangkan oleh William E. Boeing Jr. sebagai perkembangan perumahan mewah pada tahun 2000. William Boeing meninggal pada tanggal 28 September 1956, pada usia 74, hanya tiga hari sebelum ulang tahun ke-75. Dia dinyatakan meninggal saat tiba di Yacht Club Seattle, setelah mengalami serangan jantung di atas kapal yachtnya. Abu-jenazahnya disebar di lepas pantai British Columbia, di mana ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berlayar.

Penguasa Pasar Kedirgantaraan Boeing adalah salah satu produsen pesawat terbesar global dengan pendapatan, pesanan, pengiriman, dan kedirgantaraan terbesar ketiga dan kontraktor pertahanan di dunia berdasarkan pendapatan yang terkait dengan pertahanan, dan Boeing adalah eksportir terbesar di Amerika Serikat. Superioritas Amerika Serikat memang terasa betul merasuki alam pikiran siapa saja, termasuk di dunia kedirgantaraan. Pesawat  terbang Boeingpun menguasai pasaran di dunia. Banyak maskapai penerbangan yang sebagian besar mempergunakan produk Boeing untuk memperkuat armadanya. Alasannya, karena after sales service-nya murah dan mudah. Boeing 737 adalah pesawat komersial untuk penerbangan jarak dekat dan sederhana. Pertama kali dibuat pada tahun 1967, Boeing 737 adalah produk Boeing yang paling laku dengan penjualan sebanyak 6000 buah.Boeing juga meraup banyak rejeki dari pesawat ini karena ini pesawat paling terlaris di dunia. Di Indonesia-pun sebagian besar  maskapai penerbangan mengoperasikan pesawat terbang produksi Boeing ini, bahkan pesawat kepresidenan Republik Indonesia yang kabarnya akan hadir Agustus 2013 mendatang keluaran dari produk Boeing Company ini. ď ŽTeks: IMAS MASLIHAH /Foto: dari berbagai sumber

/ JUNI 2012/ TAHUN IV

50


INFO FRANCHISE

COME

Franchise Pendidikan, 5 Tahun 14 Cabang

Ibnu Dwi Lesmono, General Manager PT Come Indonusa

/ JUNI 2012/ TAHUN IV

Peluang bisnis pendidikan memang tak pernah habis. Dalam dunia franchise, pendidikan merupakan pasar terkuat kedua setelah makanan. Seperti yang digagas oleh Come, sebuah perusahaan franchise yang dirilis sejak 2008 lalu. Kini, setelah 5 tahun tetap eksis dengan 14 cabang di sekitar Jadetabek dan luar kota.

52


M

akin sadarnya orang tua akan pentingnya pendidikan bagi sang anak adalah pasar yang tak akan pernah mati. Barangkali tak ada satu pun orangtua yang mengharapkan masa depan anaknya suram. Oleh karenanya, salah satu penentu keberhasilan anak di masa depan adalah soal pendidikan. Jika pendidikannya bagus maka masa depannya sudah bisa diprediksikan akan baik. Orangtua biasanya tak peduli seberapa besar biaya yang harus dikeluarkan. Yang terpenting anaknya bisa sukses di kemudian hari. Hal inilah yang dibidik PT Come Indonusa sejak 5 tahun silam. ”Kami memiliki konsep three in one. PT Come ini kan bergerak di bidang pendidikan, jasa yang ditawarkan adalah kursus bahasa Inggris, pelatihan komputer dan bimbingan belajar,” ucap Ibnu Dwi Lesmono, General Manager PT Come Indonusa. Come merupakan kependekan dari course make easy. Targetnya jelas, menawarkan kepada setiap siswa dengan belajar yang serba mudah. Dalam perjalanannya, Come tidak ser ta mer ta menawarkan konsep franchise pada konsumen. Namun setelah dilihat peluangnya sangat bagus, di bulan Maret 2011, Come memantapkan diri untuk merambah ke ranah waralaba. ”Kami memang sudah berdiri sejak tahun 2008 lalu. Tapi kalau untuk franchise baru kami buka di Maret 2011. Jadi masih sangat baru,” ujarnya. Meskipun menyasar pasar franchise terbilang masih baru, peminat yang mau bergabung sangatlah besar. Hal itu setidaknya dibuktikan dengan cepatnya jumlah cabang yang saat ini dimiliki. ”Kami sekarang ini sudah ada 14 cabang, baik itu yang milik sendiri maupun yang berstatus franchise. Respon pasar ternyata sangat bagus,” katanya. Berkantor di kawasan Bendungan Hilir, Jakar ta Pusat, cabang-cabangya itu sudah

Tempat belajar di lokasi strategis berdiri di beberapa tempat di sekitar area Jadetabek juga di luar kota seper ti Solo, Pur worejo, Karawang dan Yogyakar ta. Menurutnya, besarnya minat pasar terhadap Come banyak ditopang karena keunggulan yang ditawarkan. ”Seperti saya katakan tadi, Come itu menawarkan tiga paket sekaligus; bahasa Inggris, kursus komputer dan bimbingan belajar. Nah, itu semua investasinya cukup sekali saja, tapi mendapatkan hak tiga usaha,” jelas Ibnu. Bergerak di dunia pendidikan tentu bukan tanpa saingan. Persaingan ada dimanamana. Tapi yang jelas, yang membuat Come tetap optimis, meskipun banyak kompetitor lain, masyarakat sudah mulai jenuh dengan maraknya lembaga pendidikan non formal yang ada. ”Peluangnya masih ada dan kesempatan masih terbuka lebar, karena

53

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


INFO FRANCHISE

Suasana belajar siswa Come menawarkan sesuatu yang berbeda,” ungkapnya.

Dua Paket Investasi Dalam hal franchise, seper ti yang diterangkan Ibnu, Come memberikan peluang dua paket investasi kepada setiap calon franchisee. Paket per tama adalah paket investasi komplit senilai Rp 200 juta. ”Kalau mengambil paket ini, si franchisee mendapatkan semua peralatan pendidikan dari mulai komputer sebanyak 15 unit, kursi kelas 24 unit, meja dan tenaga pengajar. Ada juga LCD sebanyak 2 unit, billboard 2 unit, aktif speaker 2 unit, white board 3 unit, aneka spanduk, kaos seragam karyawan termasuk iklan bersama di harian terkemuka. Juga fasilitas-fasilitas lainnya,” kilahnya. Dikatakan Ibnu, dengan investasi Rp 200 juta itu, proses balik modalnya hanya sekitar

Staf pengajar COME

/ JUNI 2012/ TAHUN IV

54

2 tahun. Catatannya, setiap bulan cabang tersebut harus memiliki omset sekitar Rp 25-30 juta. Namun, omset itu bisa diperoleh hanya dari memiliki 50-60 siswa saja dengan bayaran Rp 500 ribu setiap bulannya. ”Untuk menarik 50 anak, seper tinya tak terlalu sulit. Ini adalah kesempatan emas untuk berinvestasi,” imbuhnya. Selain paket pertama tadi, Come juga menawarkan paket kedua. Investasinya cukup dengan Rp 50 juta dengan pola kemitraan. Bila mengambil paket ini mitra hanya mendapatkan kewenangan menggunakan merek Come, serta mendapatkan tenaga pengajar. Namun, selama ini yang banyak dipilih adalah peluang paket pertama. ”Dari empat mitra Come yang bergabung, tiga mitra diantaranya memilih investasi yang pertama,” kata Ibnu lagi. Bagi yang berminat mengambil franchise Come, ada beberapa prosedur yang harus diperhatikan. Diantaranya seper ti mengisi formulir dan memberikan info lokasi yang akan dijadikan tempat belajar. Lalu, tim dari Come akan melakukan survei tempat, jika lolos maka akan segera dilakukan penandatanganan MoU kemudian proses pembayaran. Setelah itu, bisnis Anda pun siap berjalan. Teks/Foto: Cucun Hendriana/Dok. Come


Prospek

BARANG LOKAL PASAR EKSPOR

Industri kreatif dengan memanfaatkan kearifan budaya lokal, tetap menang di pasaran ekspor. Sebuah contoh batik. Batik print atau cap, kemungkinan bisa dijiplak pelaku industri negara lain. Karena semua bisa dicopy mulai dari motif, warna sampai bahan. Tapi untuk Batik Tulis yang dibuat handmade dengan proses yang rumit, pastilah aman dari bajakan. Orang asing sangat menyukai, sehingga pasar ekspor peluangnya besar, harganya batik tulis pun tinggi. Beberapa industri anak bangsa yang mampu berkiprah di pasar luar negeri diantaranya; Banana Paper, Bunga Limbah, Lawe, Batik Tobal dan Barang Jadul. Masing-masing memiliki pangsa tersendiri, mungkin bisa menjadi prospek bisnis Anda. Ikuti kiat bisnisnya‌ Teks: Choen, Dody / Foto: Dody, Choen

55

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


PROSPEK

Bunga “Putri�

Safni Yeti pemilik Bunga Putri

Kulit Jagung Ekspor Italia

K

euletan menjadi penentu suksesnya sebuah bisnis. Apalagi kalau bisnis itu bergerak di bidang kerajinan yang rumit. Namun, hobi bisa mengalahkan kerumitan itu. Seper ti yang dialami oleh Safni Yeti, salah seorang pengrajin asal Surabaya, Jawa

/ JUNI 2012/ TAHUN IV

56

Timur. Sejak tahun 2008 ia sudah terjun ke dalam bisnis bunga. Hebatnya, bunga-bunga yang dirangkainya itu semuanya berasal dari limbah. “Banyaknya dari limbah kulit jagung yang dibuang. Kulit jagung biasanya hanya untuk


pakan ternak. Rasanya sayang kalau tidak dimanfaatkan, saya menjadi terinspirasi untuk membuat bunga dari kulit jagung itu. Dan ternyata ide saya berhasil. Kebetulan saya sejak lama memang suka dengan kerajinan,” ucap Safni. Di tanah kelahirannya, Surabaya, ia mulai membangun mimpi. Dari desa ke desa ia telusuri untuk mencari jejak kulit jagung. Dengan dibantu tiga orang pekerja, ia mulai merangkai kulit jagung yang terserak menjadi bunga indah yang memiliki nilai jual tinggi. Misinya, selain memanfaatkan limbah tapi juga memberdayakan warga sekitar. Saat ini, dari tiga pekerja sudah menjadi 15 orang yang terdiri dari anak-anak putus sekolah dan pengangguran. Modal awalnya tentu tidaklah besar. Diakuinya, ongkos terbesar bahkan ada di produksi, karena semuanya handmade. Dalam sebulan, produksi bunganya bisa mencapai antara lima ribu sampai enam ribu tangkai. “Rata-rata dalam sebulan saya bisa produksi hingga enam ribu tangkai,” akunya. Pr oduk-pr oduknya itu telah ia distribusikan ke pasar nasional seper ti Jakar ta dan Bali. Responnya luar biasa. Bahkan, pasar internasional pun telah ia singgahi. Setahun tiga kali, ia juga rutin ekspor

ke Eropa terutama Italia. “Alhamdulillah, produk saya juga sudah sampai ke Italia. Bunga yang saya buat itu sebagai pelengkap dari ekspor furnitur. Sekali ekspor senilai Rp 25 juta,” ujar wanita berusia 42 tahun ini. Menurutnya, bergerak di bidang kerajinan terutama bunga kering terbilang masih sangat bagus. Apalagi saat ini pemerintah sangat mendorong program go green. “Trend saat ini yang natural yang lebih laku. Namun, bukan berar ti bisnis saya ini lancar-lancar saja. Saya malahan

Aneka bunga dari kulit jagung

57

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


PROSPEK

sering kekurangan bahan baku. Mencari kulit jagung terkadang susahnya bukan main. Apalagi kalau saat musim hujan tiba, hampir semua kulit jagung membusuk, sementara orderan lagi banyak. Akhirnya, saya sering menggunakan bahan lain juga seper ti kain kassa dan aneka limbah lainnya yang sekiranya bisa dimanfaatkan,” tuturnya. Adapun harga jual dari bunga hasil kreasinya itu ia patok dari mulai yang termurah sebesar Rp 5 ribu hingga Rp 45 ribu. Agar bisnisnya tetap lancar, Safni juga rajin dalam dua bulan sekali mengorder kulit jagung. Sekali order bisa capai dua truk yang dibelinya dari para petani jagung senilai Rp 2,5 juta. “Semoga saja bisnis ini bisa tetap ber tahan. Saya sih menginginkan agar banyak orang yang mampu memanfaatkan limbah menjadi bernilai jual yang ada di sekitar daerahnya,” harap ibu satu anak ini.

/ JUNI 2012/ TAHUN IV

Produk hasil kreasi Safni Yeti

TIPS: 1. Jeli melihat peluang 2. Kreatif memanfaatkan barang terbuang. 3. Pasarkan produk Anda dan ikuti berbagai pameran. 4. Jual dengan harga kompetitif

58


Jika Anda tidak berlangganan atau koleksi Anda kurang lengkap, maka Anda wajib memiliki BUNDEL MAJELS

Silakan hubungi :

iaan d e s r Pe atas! b r e T

Hot Line :

021-93938019

Email: majalahelshinta@gmail.com

Telah tersedia Bundel Majalah Elshinta masing-masing berisi 6 edisi: Januari hingga Juni 2011 dan Juli hingga Desember 2011 Harga @ Rp 90.000 plus Ongkos Kirim

59

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


PROSPEK

Banana Paper

Kertas Pisang Tembus Jepang

J

ika kreatif, apapun bisa dilakukan. Seper ti yang dilakukan M Syafiq, pria asal Boyolali, Jawa Tengah, kreatifitasnya mengantarnya menjadi pengusaha cukup sukses. Produksi ker tas adalah bisnis yang diliriknya. Hebatnya, untuk menemukan ilmu pembuatan ker tas, ia berguru di internet. “Tahun 1995, saya berniat ingin membuat mushaf al-Qur’an dari ker tas yang saya buat sendiri. Setelah ilmu buat ker tasnya

/ JUNI 2012/ TAHUN IV

60

M. Syafiq

ketemu, ternyata saya dan beberapa teman lainnya pecah. Ada perbedaan visi dan misi. Akhirnya, ide untuk buat al-Qur’an itu berantakan, tidak jadi,” ucapnya. Hanya berbekal satu buku tentang warna, M Syafiq akhirnya nekat merintis bisnis sendiri. Tahun 2005, Banana Paper pun ia dirikan dengan penuh harapan. “Butuh waktu cukup lama untuk bisa membuat ker tas yang terbuat dari daun pisang


Produk jadi kertas pisang itu. Sebelum mendirikan Banana Paper saya memiliki 100 kar yawan untuk produksi ker tas. Karena saya berpisah dari teman lainnya, saya memulainya lagi hanya dengan 10 kar yawan. Tapi saya optimis pasti bisa,” ungkapnya. Adapun workshopnya ia bangun di Jalan Sadang Serang, Bandung. Walhasil, harapan itu pun terbukti sudah. Dalam perjalanannya, Syafiq tidak hanya kecil saja yang didaur ulang. Sebulan bisa habis 1,5 ton daun pisang untuk dijadikan ker tas,” jelas Syafiq, pria berusia 46 tahun. Hebatnya, untuk memulai bisnis ini, Syafiq hanya bermodalkan mesin pinjaman seorang teman yang kemudian ia cicil hingga lunas. Meski begitu, ker tas yang dibuatnya bukan hanya menyebar di Indonesia tapi juga sudah masuk pasar mancanegara.

memproduksi ker tas tapi membuatnya hingga menjadi sebuah produk jadi. Bentuknya beragam, ada yang dibuat untuk pembungkus sabun dan pasta gigi, box/packaging, undangan pernikahan, souvenir, buku tamu dan sejumlah produk berbahan dasar ker tas lainnya. “Saya berpikir, kalau hanya pembuatan material kertas saja tanpa adanya contoh jadi, kebanyakan orang menjadi tak ter tarik. Karena itulah, kertas-kertas itu saya salurkan juga menjadi sebuah produk yang memiliki nilai jual,” sebutnya. Soal produksi, Syafiq dalam sebulannya bisa memproduksi hingga 10 ribu lembar ker tas dengan ukuran variatif. Hampir semuanya berbahan dasar daun pisang, sebagian kecil lainnya daur ulang dari uang ker tas dan ker tas koran. “Sebetulnya, ini bukan daur ulang, tapi murni pembuatan ker tas. Hanya sebagian

Beragam Produk Banana Paper

61

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


PROSPEK

Produk Banana Paper disebuah pameran

Disaat ramai, orderan bahkan bisa melebihi dari kapasitas produksi. “Sebulan terkadang bisa terjual sampai 12 ribu lembar. Kalau lagi tidak bagusnya, ya minimal 5 ribu lembar yang terjual. Kalau soal harga, saya menjualnya dari mulai Rp 2500 sampai Rp 75 ribu perlembarnya. Yang harganya tinggi dilihat dari proses produksi yang lebih lama dan lebih rumit. Tapi umumnya, yang rumit sekalipun, dalam hal pengerjaannya, dalam sehari bisa diselesaikan,” terang ayah tiga anak ini.

M. Syafiq beserta istri

Jepang salah satunya. “Banyaknya masih diserap pasar domestik seperti Bali dan Jakarta. Beberapa kali ada orang Jepang juga yang membelinya, dia datang ke Bandung. Selain ke Jepang, kertas saya juga sudah masuk ke Malaysia,” akunya. Meski hanya berbahan daun pisang, minat konsumen ternyata begitu besar. Hal itu bisa dibuktikan dengan tingginya tingkat permintaan.

/ JUNI 2012/ TAHUN IV

62

TIPS: 1. Buat produk yang unik. 2. Mulailah dengan modal seadanya. 3. Cari peluang pasar luar negeri. 4. Jangan pernah berhenti untuk berusaha.


House of Lawe

Tenun Lurik Setahun Rp 420 Juta Fitria Werdiningsih

K

epedulian terhadap tenun lurik sebagai salah satu warisan budaya Indonesia, membuat lima orang perempuan bekerjasama membentuk sebuah bisnis bernama House of Lawe. Selain melestarikan tradisi, juga untuk memberdayakan kaum perempuan daerah sekitar. Fitria Werdiningsih selaku Manager Unit Bisnis menjelaskan, “Lawe menjalankan program sisterhood untuk membantu perempuan pengrajin yang ter tarik mengembangkan tenun tradisional,” katanya. Bermukim di Kota Gudeg Yogyakar ta, saat

ini kreasi lurik Lawe sudah menjalar seantero Nusantara. Pada awalnya mereka berlima hanya memproduksi selendang, tas, cover buku dengan modal seadanya. “Hanya produksi selendang dan stationer y seper ti cover buku untuk seminar dengan jumlah terbatas. Modalnya juga hasil patungan lima orang, sekitar Rp 5 juta-an. Itu dimulai tahun 2004,” ucap Fitria. Bisnis ini semakin bergeliat, merambah ke aneka produk seper ti pakaian, tas, dompet, sarung bantal, bed cover, parsel dan lain-lain dengan tetap diberi motif lurik tradisional. “Kami

63

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


PROSPEK

selalu berusaha menjaga mutu dari produk yang kami hasilkan. Karena segmen pasar yang diambil adalah middle up yang notabene mementingkan mutu produk. Dan kekhasan produk kami yang berdasar tradisional terus dikembangkan hingga sekarang,” ujarnya. Distribusi lurik Lawe saat ini sudah tersebar secara nasional. Bahkan, tidak sedikit pula pembeli dari luar negeri seperti Amerika, Eropa dan Australia. Mereka sengaja datang ke House of Lawe memborong produk-produknya untuk dijual kembali di pasar luar negeri. Tahun 2007, Lawe sudah eksis dengan memiliki banyak stok barang. Sejak itulah ia mulai rajin mengikuti berbagai pameran, salah satunya Inacraft di Jakar ta. “Di tahun itu, saat ikut pameran nyaris semua produk saya habis terjual. Tidak sekadar itu, pesanan pun banyak berdatangan,” ungkapnya. Agar bisnisnya semakin tercium konsumen, ia membuka showroom Lawe per tama di Amri Museum and Ar t Galler y, Yogyakar ta. Selain itu, Lawe juga dikenalkan dalam sebuah website usaha (www.houseoflawe.com). Peran website ternyata cukup besar untuk membangun imej bisnis yang

Kain tenun produksi Lawe

/ JUNI 2012/ TAHUN IV

64

lebih populer dan besar. Kini, setidaknya ia telah memiliki tujuh workshop yang tersebar di Kota Yogyakar ta. “Usaha yang dibangun dengan modal patungan ini sudah mulai bisa dirasakan hasilnya. Dalam sebulan, minimal mengantongi Rp 10 juta,” akunya. Adapun harga jual aneka jenis kreasi Lawe dipasarkan dari mulai yang termurah sekitar Rp 7 ribu berupa suvenir dan beberapa produk lainnya. Dan yang ter tinggi mencapai Rp 7,5 juta berupa


Pengunjung di stand Lawe

bad cover. Kalau untuk harga aneka jenis tas berkisar dari Rp 250-300 ribu. “Kuncinya hanya inovasi dalam membuat motif-motif lurik dengan aneka warna mencolok dan menarik. Selain produk itu terlihat cantik, juga har us fungsional. Karena percuma sebuah produk cantik dan anggun tapi tidak ada fungsinya,” terangnya. Dalam hal inovasi, Lawe memiliki target tersendiri. Dalam kurun waktu seminggu, paling tidak harus ada satu desain produk yang siap dilempar ke pasar. Bergerak dalam bisnis fashion, saingan adalah hal yang biasa dan pasti

terjadi. Tapi ia tak merasa khawatir. “Saya ingin banyak pihak terlibat dalam bisnis ini. Malahan persaingan yang saya cari. Biar Lawe tidak bergerak sendirian,” ungkapnya. Saat ini, House of lawe telah mempekerjaan puluhan pengrajin tenun lurik yang hampir semuanya kaum perempuan.

Tips : 1. Menjaga mutu dari produk 2. Mengembangkan produk yang khas tradisional 3. Selain produk itu terlihat cantik, juga harus fungsional

Tas dan dompet dari tenun kain

65

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


PROSPEK

Huwaidah Achmad, penerus Batik Tobal

Batik Tobal

Wujudkan Sukses ke Pasar Eropa & Amerika S ebagai salah satu warisan budaya dunia, batik adalah lahan bisnis yang cukup menjanjikan. Pangsa pasarnya cukup besar, bukan hanya domestik tapi hingga mancanegara. Seperti yang dialami Fatchiyah, pendiri Batik Tobal di Pekalongan, yang sudah 34 tahun produknya

/ JUNI 2012/ TAHUN IV

66

melanglang buana sampai ke benua Amerika dan Eropa. Fatchiyah memulai bisnis ini sejak tahun 1971. “Saya mendirikan Batik Tobal sejak tahun 1971. Dengan daya juang dan semangat tinggi, akhirnya batik saya mampu menembus pasar dunia. Pangsa


Berbagai motif batik Tobal

pasar terbesar ke Amerika. Selainnya, diserap juga oleh pasar Australia, Kanada sampai Perancis. Setelah 34 tahun ekspor batik, tahun 2007 saya berhenti karena hantaman krisis ekonomi global,” ucap Fatchiyah, ibu berusia 60 tahunan ini. Sebelum krisis global melanda, setiap tahunnya Fatchiyah memproduksi batik di pabriknya sebanyak 400 ribu potong pertahun. Untuk mengerjakan itu, ia sampai memiliki 500 orang karyawan. Sebelum membangun pabrik, ia juga pernah menjalin kerjasama dengan 1.000 pembatik di sekitar tempat tinggalnya. “Tapi itu dulu ya, karena saat ini kami harus berjuang lagi untuk bangkit. Karyawan pun sudah tidak sebanyak dulu, begitu juga dengan jumlah produksinya,” ungkapnya. Karena dedikasinya itu, pada tahun 1993 ia mendapat penghargaan Upakarti dari Presiden. Huwaida Achmad, sebagai anak dari Fatchiyah yang meneruskan bisnis sang ibu sejak 4 tahun lalu mengaku, jika saat ini Batik Tobal sudah mulai membaik. “Kalau dulu tenaga kerja sampai 500, tahun 2007 krisis datang lalu dirumahkan dan tersisa 30 karyawan saja. Sekarang ini kami sudah menambah jumlah karyawan sebanyak 130 orang,”

67

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


PROSPEK

Bersama kedua orangtua Keyakinannya itu bukan tanpa alasan. Karena Batik Tobal punya segudang kelebihan yang bisa diandalkan. Dengan memiliki pabrik sendiri dan tenaga terampil dalam membuat motif, mimpi itu

bukan sesuatu yang sulit untuk direalisasikan. “Batik Tobal tidak sama dengan batik lainnya. Kami memiliki nilai plus dari keunikan, kualitas, warna dan motif. Coraknya lebih ke semi kontemporer meski ada juga yang tradisional. Ketika masih ekspor, kami kombinasikan motif etnis Indian, Hawaian, dan Aborigin. Untuk batik cap, kami saat ini telah memiliki lebih dari 1.000 cap,” ujar wanita berusia 34 tahun ini. Adapun pasar yang ia bidik saat ini masih domestik. Dalam sebulan, ia baru mampu memproduksi 14 ribu - 20 ribu potong batik berupa pakaian jadi. “Kebanyakan pakaian jadi, meski ada juga dalam bentuk bahan belum jadi. Hal itu disesuaikan dengan keinginan pembeli. Kalau dilihat dari nilainya, jelas jauh lebih kecil dibanding ekspor,” pungkasnya. 

jelas Huwaida yang juga seorang peragawati. Ia juga menambahkan, target terbesarnya saat ini adalah kembali menembus pasar ekspor. “Sekarang ini beberapa orderan sih sudah ada dari Korea, tapi dalam jumlah yang masih kecil. Impian terbesar saya adalah memasarkan lagi batik ini ke pasar dunia. Tapi saya yakin, ke depan, semua itu bisa mewujud,” tuturnya.

/ JUNI 2012/ TAHUN IV

Tips : 1. Jalin kerjasama dengan berbagai pihak. 2. Produk harus unik dan menarik dengan kualitas bagus. Tidak pasaran. 3. Yakin bahwa bisnis yang dijalankan masih menjanjikan. Jangan lupa, pasang harga sekompetitif mungkin!

68


Ipung Purnomosidi

Koempoelan Barang Djadoel

500 Barang Jadul Buruan Para Turis

U

ntuk berbisnis, ternyata tidak har us selalu menjual barang-barang terbaru ber teknologi tinggi saja. Barang jaman dulu alias jadul pun ternyata bisa dimanfaatkan. Inilah bisnis Ipung Purnomosidi, bisnis barang jadul. Omsetnya ternyata mencapai jutaan. Ipung mengaku, ia menekuni bisnis ini berangkat dari hobi. Bahkan, awalnya ia berburu barang lawas hanya untuk koleksi saja. Belum terpikir untuk dijual kembali. Sebelumnya, ia sempat berbisnis di bidang meubel. “Saya bisnis ini sudah lama ya. Karena kan untuk mengumpulkan barangnya juga cukup menguras

waktu. “Karena hobi saja. Saya sering berkeliling ke pasar-pasar loak di sekitar Jawa Tengah. Ada

69

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


PROSPEK

barang yang menarik, ya saya beli. Kalau tidak, ya nggak. Ternyata, lama kelamaan barang-barang itu pun menjadi banyak,” ucap pria yang menamai bisnisnya dengan Koempoelan Barang Djadoel ini. Ia mulai berpikir untuk menjual kembali barang-barang koleksinya sejak barang loak naik daun dan m e n j a d i t r e n d . Te r k a i t b e r a p a rupiah modal yang dikeluarkan untuk mengumpulkan barang-barang tersebut, ia tak bisa menaksirnya. “Modal awalnya tidak bisa dihitung. Bukan karena kebanyakan tapi lebih karena durasi pembelian antar barang itu jedanya cukup lama. Tapi kalau mau dikira-kira investasi saya untuk ini sudah lebih dari Rp.10 juta,” aku Ipung yang menjalankan bisnisnya di Solo ini. Pengalamannya membeli barang jadul pun cukup beragam. “Saya harus hati-hati dalam membeli barang jadul itu agar tidak terjebak. Soal harga yang saya beli variatif juga. Antara ratusan

Barang-barang jadul yang dijual

Pengunjung di stand Koempoelan Barang Jadoel

rupiah sampai jutaan. Bahkan, saya pernah beli barang seharga 4 juta. Itu jenisnya papan iklan dari keramik. Yang termurah seper ti gambar-gambar dan perangko, saya beli hanya Rp.500 ,-. Tapi ratarata antara Rp.25 ribu sampai Rp.75 ribu untuk radio yang sudah tak bisa disetel. Kalau setrika lawas antara Rp.300-350 ribu,”jelasnya. Lebih lanjut, ia juga mengungkapkan untuk menaksir harga dikemudian hari agar tidak rugi, dibutuhkan beberapa kriteria barang yang harus ditetapkan. Memang tidak ada patokan baku mengenai hal ini. Tapi setidaknya ada tiga kriteria yang selalu diterapkannya; kelangkaan, keunikan dan keutuhan barang. “Suatu barang semakin

/ JUNI 2012/ TAHUN IV

70

langka dan unik, juga utuh, maka harganya semakin mahal. Saya rasa ini investasi bagus untuk masa-masa mendatang. Karena awalnya saya hobi, meski harus mengeluarkan banyak uang tapi terasa enjoy aja,” imbuhnya. Untuk melengkapi koleksinya, Ipung pun rela berkeliling di Jawa Tengah. Beberapa daerah dari mulai Tegal, Pekalongan, Semarang, Yogyakar ta, Magelang, Salatiga dan daerah lainnya ia singgahi. Selain itu, ia juga sering berburu ke komunitaskomunitas online barang jadul. Usahanya itu tak sia-sia, karena saat ini koleksinya sudah mencapai antara 400- 500 item barang. “Sekarang jenisnya sudah beraneka ragam dari mulai radio, alat dapur,


Kaca mata kuno

gambar-gambar dan lainnya. Semuanya ada sekitar 500 item,” sebutnya. Menurutnya, dari aneka barang yang ia jual kembali itu, yang paling diminati pembeli adalah poster-poster lama dan alat dapur lawas. Biasanya kebanyakan konsumen itu ingin mengenang masa lalu. Tak hanya pembeli dari dalam negeri, pembeli dari luar negeri juga kerap menyambangi showroom barang jadul milik Ipung yang di Solo. "Ada beberapa wisatawan asing dari Belanda yang mencari barang jadul jaman Hindia Belanda untuk dikoleksi," katanya. Dari sekian barang jadul koleksi Ipung, yang menjadi masterpiece adalah medali dari Pakubuwono X. Medali ini diperoleh dari seseorang yang masih trah bangsawan keraton Surakar ta. Kakek pemilik medali ini memiliki jasa pada keraton Surakarta sehingga dianugerahi medali dari PB X. “Medali ini sudah ditawar Rp.24 juta tapi belum saya berikan, mengingat medali ini istimewa dan barangnya cuma satusatunya,”ujarnya. Selama ini Ipung memang agak kesulitan mencari barang jadul

Medali dari PB IX

berkualitas. Berkeliling ke pasar loak pun sudah tak semudah jaman dulu lagi. Diakuinya, sekarang ini para penjual di pasar loak juga sudah mulai pintar, membanderol harga tinggi. Meski begitu, kalau bicara soal omset perbulannya Ipung bisa mengantongi sampai Rp10 juta. “Kalau soal penjualan, sebulan saya bisa dapat sekitar Rp10 juta-an. Mudah-mudahan ke depannya bisa lebih besar lagi. Jadi koleksi barang saya pun ber tambah lagi,” harapnya. 

Tips: 1. Bisnis bisa berawal dari hobi 2. Harus hati-hati dalam membeli barang jadul itu agar tidak terjebak 3. Berani investasi di bisnis barang jadul, karena yakin, orang-orang akan terus mencarinya untuk mengingat identitas lamanya

71

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


BISNIS UNIK

Fly Sky Indonesia

Promo Terbang Rp 10 Juta Promosi terbang dengan paralayang sangatlah effektif, karena semua mata tertuju ke langit melihat label produk tersebut. Bisnis ini cukup mahal sehingga Fly Sky Indonesia mematok harga 10 juta. Hening Paradigma, pengelola, juga melayani costumer yang ingin terbang dengan tarif 5 juta perjam.

O

lahraga paralayang dan paramotor belakangan memang menjadi salah satu olahraga populer di Indonesia. Namun, tidak semua orang bisa menikmati olahraga jenis ini. Selain membutuhkan skill individu yang terlatih, paralayang tergolong olahraga yang cukup mahal. Meski begitu, olahraga ini menciptakan peluang bisnis yang sangat menjanjikan. Seperti yang dilakukan Hening Paradigma, salah satu atlet paralayang yang membuka bisnis paralayang. “Saya memulainya tahun 2000. Sejak dulu saya memang senang terbang. Karena itu saya menjadi atlet di olahraga ini. Karena saya suka apa salahnya kalau saya buka bisnis di bidang ini,” ujar Hening. Dia mengaku, hobinya terbang di udara awalnya hanya untuk senang-senang saja. Ketika terbang, semua mata akan ter tuju

/ JUNI 2012/ TAHUN IV

72

kepadanya. “Apapun yang diterbangkan, pasti akan banyak dilihat orang. Saya sering terbang dan bagi-bagi per men dari atas. Responnya luar biasa. Karena itu olahraga ini saya jadikan bisnis yang dikerjakan secara profesional dengan konsep flying billboard,” imbuh pria yang memberikan nama Fly Sky Indonesia untuk bisnisnya ini. Untuk memulai bisnis ini memang dibutuhkan kocek yang tak sedikit. Begitu pula Hening yang mengaku untuk mengawali bisnisnya ia harus menginvestasikan dana pembelian alat sebesar 100 juta. Dengan modal sebesar itu tak banyak yang didapatkan. Hanya dapat satu paket paralayang komplit saja. “Modalnya 100 juta rupiah. Sudah dapat peralatan satu unit paralayang lengkap,” katanya. Alat-alat bisnisnya itu harus didatangkan dari Italia. “Saya masih impor dari Italia. Kalau paramotor harganya pun lebih tinggi. Mesinnya saja 100 juta rupiah belum lagi ditambah parasut seharga 30 juta rupiah. Jenis mesinnya 23 PK dengan bobot 20 kilogram. Karena menggunakan parasut, untuk terbang tidak harus di landasan. Satu lapangan sudah bisa diterbangkan.


Terbang diatas keramaian Jakarta

Lama terbang sekitar 3 jam dengan kecepatan ratarata 20 kilometer perjam. Itu pun dengan catatan, angin harus stabil,” jelasnya. Tapi menurutnya yang mahal justru bukan terletak di peralatan melainkan di pendidikan pilotnya. Ia juga menargetkan, untuk menjadi pilot setidaknya pernah 40 kali terbang. Saat ini, Fly Sky Indonesia baru memiliki 2 orang pilot terlatih. Ia mengaku, saat ini konsumen terbesarnya berasal dari perusahaan dan partai politik. Mengenai harga ia memasang tarif berbeda antara perusahaan atau individu dan parpol. Untuk merasakan sensasi terbang dengan paramotor atau paralayang cukup membayar lima juta rupiah perjam. “Itu kalau perusahaan non partai. Kalau parpol perjamnya saya kenakan tarif 10 juta rupiah. Kalau parpol biasanya menyewa untuk pengumpulan massa. Kami biasanya bergerak dengan mulai take off di Senayan terus bergerak ke Sarinah, Pancoran dan Taman Anggrek,” paparnya.

Terkait jumlah paramotor, kini Hening sudah mengoperasikan sebanyak 4 mesin. Dan untuk menyewa paramotor miliknya caranya tak sulit. Cukup menghubunginya lalu lihat situasi cuaca apa memungkinkan terbang atau tidak. “Kegiatannya pun bisa diatur sedemikian rupa. Apa dalam penerbangan itu akan menebar merchandise atau lainnya. Karena paramotor berbeda dengan paralayang, saat mendarat risiko baling-baling patah sangat besar. Kalau tidak menggunakan pilot kami dan itu terjadi, ya harus diganti,” tandasnya. Juga penting untuk diingat, dalam bisnis ini perizinan pun harus diurus dengan baik. Dan wilayah terbang tidak harus di pulau Jawa saja, peralatannya bisa di bawa ke luar Jawa. “Kami sudah pernah terbang di Papua, Palembang, Palu dan daerah lainnya. Kalau ada yang mau terbang di luar Jawa, alatnya bisa dibungkus dan ditenteng naik pesawat. Berat parasut hanya 6 kilogram,” pungkas peraih 4 medali di ajang Sea Games ini. Teks: Dody Handoko

73

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


KONSULTASI

Franchise Risiko Kecil Ir. Royandi Junus, MBA Royandi Junus adalah seorang arsitek yang meraih S2 di bidang finance. Berkat pengalaman puluhan tahun di bidang bisnis development, membuatnya paham segala hal seputar franchise. Ia bergabung dengan pioneer konsultan franchise di Indonesia, yaitu International Franchise Business Management (IFBM). Tekadnya adalah membantu para Franchisor asing maupun lokal untuk mengembangkan usahanya di Indonesia.

Pak Roy yang baik, Sebelum pensiun dini saya sudah menabung sedikit demi sedikit. Kebetulan tabungan saya ini akan saya gunakan sebagai modal usaha dengan tambahan pesangon. Karena takut gagal saya akan membeli franchise saja. Pak Roy bagaimana sistem franchise yang risikonya paling kecil? Sebelumnya saya ucapkan terimakasih. Anne Rifai Jakarta

Ibu Anne untuk risiko yang paling kecil dalam sistem franchise adalah mendapatkan bisnis yang sesuai minat, mendapatkan Franchisor yang reliable ser ta Anda dapat bekerjasama dengan baik dengan Franchisor. Mengenai Franchisor yang reliable adalah seper ti yang ter tera pada butir 1 di atas. Pada dasarnya, semua bisnis mempunyai resiko dan potensi bangkrut, tapi dengan sistem franchise, resiko tersebut dapat ditekan. Dari hasil konferensi franchise di Malaysia beberapa tahun yang lalu, didapat perbandingan bahwa dengan menjalankan usaha sendiri, kemungkinan kegagalan dalam 5 tahun per tama adalah sebesar 90%, sedangkan dengan sistem franchise (yang baik), kegagalan dalam 5 tahun per tama hanya 10%. Semua kembali kepada diri sendiri, apakah kita serius dan siap menjalankan bisnis, kemudian apakah kita mendapatkan bisnis yang sesuai dengan minat kita dari Franchisor yang reliable. Selamat berbisnisâ€Śď Ž

/ JUNI 2012/ TAHUN IV

74


Redaksi Majalah Elshinta menerima pertanyaan seputar konsultasi bisnis Franchise. Jika Anda memiliki keluhan dan problematika mengenai seputar bisnis Franchise yang akan atau sedang dijalankan, silakan kirimkan pertanyaan Anda ke alamat redaksi kami atau melalui e-mail: majalahelshinta@gmail.com.

Pilih Lokasi Strategis

Bapak Royandi Yth. Sekarang ini banyak tempat usaha yang notabene franchise tapi jaraknya saling berdekatan. Saya juga ingin membuka usaha, sebelumnya harus memilih lokasi karena takut salah pilih dan berpengaruh pada perkembangan bisnis saya kelak. Pak Royandi bagaimana cara menentukan lokasi untuk franchise yang strategis? Terimakasih. Â Haryo Adnan Yogyakarta

lokasi yang cocok bagi bisnisnya. Inilah yang menyebabkan keberhasilan berbisnis melalui sistem franchise mempunyai potensi keberhasilan yang lebih besar dibandingkan berusaha sendiri. Oleh sebab itu, tidak semua lokasi yang sudah dimiliki sebelumnya oleh calon Franchisee akan disetujui oleh Franchisor. Semoga pilihan lokasinya tepat sasaranâ€Śď Ž Â

Bapak Har yo penentuan lokasi bisnis untuk setiap jenis berbeda. Pada intinya, semua kriteria tersebut akan sangat bergantung dari ada tidaknya target market ser ta prasarana penunjang untuk bisnis tersebut. Dalam hal franchising, keuntungan yang akan didapat oleh calon Franchisee adalah bahwa Franchisor (yang tentunya sudah master y di bisnisnya) tahu dimana

Email: franchiseconsultant@ifbm.co.id www.konsultanwaralaba.com

75

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


KOMUNITAS BISNIS

Nenny Soemawinata

Putera Sampoerna Foundation

Sahabat Wanita 15 Ribu UKM Putera Sampoerna Foundation memiliki beberapa program sosial. Selain rutin dalam pemberian beasiswa pendidikan, saat ini juga menjadi mitra bagi entrepreneur wanita dengan mendirikan Sahabat Wanita. Kurun waktu 1,5 tahun Sahabat Wanita sudah memiliki jumlah anggota 15 ribu orang. Selain itu juga membantu para petani agar hasil panennya memiliki daya saing. / JUNI 2012/ TAHUN IV

76


Training pertanian organik yang diikuti oleh anggota Koperasi Sahabat Wanita Desa Mekarwangi Kec. Cisauk Kab. Tangerang

S

ahabat Wanita adalah salah satu program yang dirintis oleh Putera Sampoerna Foundation (PSF). PSF sudah 11 tahun lalu mengkhususkan diri bergerak dalam bidang sosial terutama pada awalnya bidang pendidikan. Dengan cara memberikan beasiswa bagi siswa-siswi lulusan SMA untuk melanjutkan studi di berbagai kampus terkemuka di luar negeri. “Enam tahun lalu fokus awal kami memang di pendidikan. Kami pikir Indonesia masih membutuhkan perbaikan dalam hal dunia pendidikan. Atas dasar itu kami kuliahkan siswa Indonesia ke luar negeri, dengan harapan sepulang studi bisa membantu yang lainnya juga untuk mencapai harapannya,” ucap Nenny Soemawinata, Managing Director PSF. Dalam perjalanannya ternyata program tersebut tak memberikan dampak berar ti. “Setelah mereka tamat kuliah, saya tidak melihat mereka berkontribusi pada yang lain. Selain itu juga kalau terus-terusan program ini dipertahankan, hanya sedikit siswa saja yang bisa kami bantu. Akhirnya kami berpikir untuk

memberikan beasiswanya di dalam negeri saja. Harapannya makin banyak siswa yang terbantu,” imbuh Nenny. PSF kemudian bekerjasama dengan 17 SMA dan 5 Madrasah Aliyah. Perkembangannya pun tidak sesuai dengan harapan, karena PSF ingin menggunakan kurikulum standar internasional. Lalu dibuatlah Sampoerna School Boarding di Palembang, Bali, Malang dan Bogor bekerjasama dengan Pemda setempat. “Sekolahnya milik Pemda tapi manajemen dan content termasuk kurikulum dan tenaga pengajar pihak kami yang mengatur,” ujarnya. Di jenjang perguruan tinggi, didirikan pula Sampoer na Akademi. “Kami juga mulai mencari donasi lain. Dan donasi yang kami terima semuanya kami alokasikan untuk kepentingan sosial. Bahkan sekarang sudah beralih ke sosial bisnis,” aku Nenny.

Dirikan Sahabat Wanita Satu setengah tahun lalu, PSF bergegas mendirikan Sahabat Wanita, sebuah wadah untuk pemberdayaan perempuan melalui

77

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


KOMUNITAS BISNIS

penggalakan entrepreneurship. “Selain di dunia pendidikan, kami juga melihat fungsi lain. Yaitu dalam pemberdayaan perempuan untuk berwirausaha.Mereka kami didik dan dibantu secara finansial serta kami berikan akses pasar pada mereka agar bisa lebih berdaya,” kilahnya. Saat ini Sahabat Wanita sudah memiliki jaringan di berbagai daerah di tanah air, seperti Tangerang dan Tulungagung dengan jumlah anggota sebanyak 15 ribu orang. “Kami berikan training soal bisnis. Diberikan modal usaha antara 1-5 juta tanpa agunan dan harus dikembalikan dalam jangka waktu antara 6 bulan hingga 1 tahun. Mereka itu ada yang membuat tas dari kantong plastik bekas, konveksi dan lain-lain. Saat ini kami juga tengah berupaya untuk memperbanyak lagi jumlah anggotanya. Karena mereka sudah menjadi bagian dari PSF, mereka juga bisa dapat akses network kami. Produknya dipasarkan di portal komunitas,” cetusnya. Selama ini daerah yang menjadi sasarannya adalah daerah-daerah yang memiliki potensi pasar cukup besar. Dan yang dibantu oleh PSF adalah mereka yang memiliki kemauan serius dalam berbisnis. “Lokasi jumlah anggota paling banyak sekarang ada di Jawa Timur dan DKI. Kami memang tidak sembarangan memberikan modal guna mengurangi risiko. Kami teliti dahulu daerah dan kelompoknya,

Sayuran muda hasil binaan Koperasi Sahabat Wanita

kalau sekiranya bisa diberdayakan maka kami akan bantu.” Selain Sahabat Wanita, PSF juga turut membidani usaha para petani di daerah. Salah satu kelompok tani yang dibantunya adalah Mekarwangi yang memproduksi aneka sayuran organik. “Produksinya saat ini sudah menyebar di pasar-pasar modern seperti di BSD City. Jenis sayurannya ada sawi, sayuran makanan bayi dan lain-lain. Kami bantu harapannya agar mereka bisa tumbuh dan berdaya guna bagi yang lainnya,” ungkapnya. Teks: Dody Handoko

Panen sayuran MOBY / JUNI 2012/ TAHUN IV

78


displayELSHINTA.indd 108

16/05/2012 16:20:33


BISNIS SELEB

Lukman “Lucky� Hakim

Kucing Maine Coon @ Rp 25 Juta Berawal dari kesukaannya pada berbagai jenis binatang, bintang sinetron dan iklan Lukman Hakim nekat membeli seekor kucing jantan Maine Coon, kucing ras asal Amerika Utara seharga 25 juta yang panjangnya bisa 1 meter. Berkat keuletannya kini ia mampu memiliki cattery yang mendatangkan omzet sangat menggiurkan.

/ JUNI 2012/ TAHUN IV

80


Bisnis kucing Maine Coon sangat menguntungkan

S

ejak kecil Lukman Hakim, biasa dipanggil Lucky, memang seorang pecinta binatang. Pesinetron yang memulai kariernya dari iklan ini, punya beragam hewan peliharaan eksotis di kediamannya di pinggiran selatan Jakar ta. Kecintaannya pada hewan ini, mendorong pria kelahiran 12 Januari 1979 itu membeli seekor Maine Coon jantan yang harganya saat itu cukup tinggi, yaitu Rp 25 juta perekor. “Maine Coon itu kucing ras dari Kanada. Kucing yang unik, tinggi dan ukuran tubuhnya sangat besar jika dibandingkan dengan kucing-kucing lainnya. Kucingnya juga termasuk aktif dan jinak, penurut. Tapi dibanding kucing lain, misalnya kucing Persia, kucing ini tidak suka digendong. Mungkin karena ukuran badannya yang besar berkisar 1 meter,” ungkap bapak beranak satu ini. Karena sekedar suka, keputusan Lucky sempat diragukan teman-temannya sesama artis. “Sempat heran juga sih, kok bisa ya

menghamburkan uang sebanyak itu. Belum lagi biaya untuk makanannya dan perawatannya. Masalah bertambah saat kucing saya ingin kawin,” papar Lucky. Tak ingin mengecewakan peliharaannya itu. Lucky pun membeli dua kucing Maine Coon betina. Harganya tidak main-main, 50 juta rupiah. Kali ini, Lucky bukan tidak punya alasan. Selain tidak mungkin dikawinkan dengan kucing lokal yang ukurannya jauh lebih kecil,

Lucky ingin mencoba mengembangkan kucing yang saat itu mulai beken di kalangan pencinta kucing tanah air. Setelah sang kucing melahirkan Lucky berhasil menjual anak-anak kucing Maine Coonnya. Harganya menggiurkan. Antara 1015 juta perekor! Jika kucing biasa kawin tiap empat bulan dan sekali melahirkan 5-8 ekor , bisa dipastikan dalam waktu setahun saja, bisnis jual-beli kucing ini sudah break-event point. “Saya sudah bisa jalan-jalan ke luar negeri dari keuntungan bisnis ini!” aku Lucky sambil tertawa.

Reseller Selanjutnya, Lucky memutuskan untuk lebih fokus pada bisnisnya ini. Ia bahkan mengambilalih izin cattery – bisnis pengembangbiakan kucing. “Tanpa cattery, kucing-kucing saya tidak bisa mendapat surat-surat resmi yang diperlukan dalam bisnis kucing ras seperti misalnya, sertifikat

Juga menyediakan binatang lain seperti buaya

81

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


BISNIS SELEB

keturunan,“ jelasnya. Jadi selain jelas asalusul keturunannya, kucing-kucing Maine Coon Lucky pun bisa dijamin kesehatannya karena diperiksa secara rutin oleh dokter hewan. “Kalau dibandingkan dengan catter y lain, jelas mereka lebih bagus karena mereka lebih berpengalaman,” aku Lucky. “Tapi di cattery saya, meski kucing Maine Coon-nya biasa saja, mereka lebih tahan penyakit dan lebih adaptif dengan kondisi lingkungan,” tambahnya lagi. Itu sebabnya, Lucky menjamin kalau kucingnya bisa dimiliki oleh siapapun. “Maine Coon itu kan asalnya dari Kanada, daerah dingin. Jadi idealnya dipelihara di rumah yang ber-AC,” terang bintang sinetron Mutiara Hati ini. “Tapi kucing-kucing Maine Coon saya sejak kecil sudah saya biasakan untuk tidak terlalu sering tinggal di ruang ber-AC. Jadi mereka bisa merasa nyaman juga tinggal di rumah biasa!” tambahnya. Untuk catter y-nya ini, Lucky sengaja menyewa rumah terpisah yang kemudian dilengkapi dengan kebutuhan cattery umumnya. Total, ia menghabiskan modal sekitar 100 juta untuk bisnisnya ini. Uniknya, meski disibukan dengan banyak kegiatan, Lucky terjun langsung mengurusi kucing-kucingnya. Bahkan selalu membidani kucing-kucingnya saat melahirkan. “Kalau mengandalkan orang lain kan kepeduliannya tidak mungkin sama,” paparnya. Di rumah catterynya, Lucky juga

Sertifikat hewan piaraan

/ JUNI 2012/ TAHUN IV

82

Koleksi hewan reptil memelihara beberapa hewan lain seperti ular, buaya, anjing pittbull, lintah sampai tomcat yang sempat menghebohkan itu. “Dulu sempat bisnis jual beli ular, tapi pasarnya ternyata sangat sempit!” Soal pemasaran yang menyasar pangsa pasar menengah ke atas, pengagum Hatta Rajasa ini mengaku hanya menggunakan media online, sosial media dan jejaring sosial seperti Blackberry Messenger. “Itu saja sudah sangat efektif kok!” terangnya. Menurutnya pemasaran Maine Coon sangat dinamis karena kucing jenis ini sangat banyak peminatnya. “Baru lahir saja sudah langsung dibeli!” tambahnya lagi. Untuk pemasaran ini, Lucky memberi peluang menjadi reseller. “Siapapun bisa menjual kucing Maine Coon hasil ternakan saya kalau mau. Fee-nya 10% dari harga penjualan. Caranya mudah kok. Meng-upload foto kucing Maine Coon lalu mendisplay-nya di BBM atau Facebook!” paparnya. Lucky juga mengaku saat ini ia hanya tinggal menangguk untung bisnis Drialz Cattery miliknya. Catterynya ini sudah memiliki sekitar 40 kucing Maine Coon. Sebagian sudah laku dijual dan hanya beberapa ekor yang dijadikan indukan. “Kunci bisnis ini harus ulet, fokus dan lebih penting lagi, suka!” papar pria yang bersiap mencalonkan diri sebagai Bupati Cilacap ini. Teks/Foto: Imas Maslihah/Wendy Danoeatmadja


@MajalahElshinta Youth Entrepreneur ‫‏‬ @Youth_ Preneur @MajalahElshinta Baca juga hasil liputan lengkap dari wisata bisnis InspiraTrip Bali yg penuh dengan foto2 ceria... http://bit.ly/JQRyZ1 Banyak inspirasi bisnis bisa diraup di InspiraTrip. Silakan ikuti InspiraTrip berikutnya…

okna wanto salim ‫‏‬ @okna_wu @MajalahElshinta majalah bulan ini emank blm terbit ya?? Kok sy cr2 diindomart blm ada sich? Infonya donk.. Majels terbit setiap tanggal 25, kalau belum ada di Indomaret harap tunggu sebentar. Terimakasih Portal Kesehatan ‫‏‬  @PortalKesehatan @MajalahElshinta Please promote us!Kami a/ portal yang memberikan informasi tentang kesehatan bagi masyarakat. Thank you!

Andremohha ‫‏‬ @Andremohha79 @majalahelshinta _infoy bln depan kira2 bahas apa y..! Untuk kejutan maka bulan depan langsung dilihat edisi terbaru. Pasti up to date!

Yoyo Suryo ‫‏‬ @erteyoyo Gampang wirausaha RT  @MajalahElshinta: Sejak baca Majels, beberapa kawan dah gak ikut demo buruh lagi, karena skrg sdh jadi wirausahawan Selamat menempuh bisnis baru…

Ajat S Junaedi Salim ‫‏‬ @ajatpos Ga bilang-bilang @ majalahelshinta memuat comment sy di Rubrik Majel MEI 2012. Skrg ga ke Indomaret, tp dikrm tiap bln ma Loper Koran :D Bagi yang ingin berlangganan silakan kontak hotline: 021-93938019

waskito muhsin ‫‏‬ @waskitomuhsin Pagi ini 26/4 Saya di Cilegon sudah dapat @MajalahElshinta edisi Mei 2012 Prospek Bisnis di Rumah inspiratif sekali. Thanks Info Peluangnya.

Cokelat Kocok ‫‏‬ @CokelatKocok @MajalahElshinta Majalah Keren nih, sangat Inspiratif & Bagus

Hans Virgianto Then ‫‏‬  @hansvt_1809 @MajalahElshinta untuk bln mei apa sdh bisa dibeli.. Di indomaret min. Tq:-) Untuk setiap bulannya terbit tanggal 25

/ JUNI 2012/ TAHUN IV

Twitter: @majalahelshinta Menerima saran-saran, kritik, opini dan lain-lain dari Anda yang akan di muat di rubrik ini.

83

/ FEBRUARI 2012/ TAHUN IV


INFO UKM

Joko Ibrahim

Berburu Keuntungan Dari Gantungan P er mintaan gantungan baju ter us meningkat seiring menjamurnya laundry, mal, distro, dan hotel. Setiap bulan, produsen gantungan baju bisa mengantongi omzet puluhan juta hingga ratusan juta rupiah. Tapi, persaingan usaha cukup ketat dengan banyaknya produsen yang jumlahnya terus bertambah dan juga banjir produk impor dari China yang tentunya harganya jauh lebih murah dan bervariasi bentuknya. Hal tersebut diungkapkan oleh sejumlah pelaku usaha gantungan baju yang ada di negeri ini. Salah satunya, Joko Ibrahim. Pengusaha hanger

/ JUNI 2012/ TAHUN IV

84

dengan nama Rajawali Hanger, yang berlokasi di Ngunut LK II RT 03 RW 01, Tulung Agung, Jawa Timur. Saat ini, produksi gantungan baju Joko mencapai 360.000 unit tiap bulannya. Gantungan baju yang diproduksi Joko merupakan hasil dari pengolahan logam. Ada 12 macam hanger yang diproduksinya ; hanger Suit dengan harga 560 rupiah perbuah, Bigman seharga 585 rupiah perbuah, Strut seharga 780 perbuah, Straw seharga 510 perbuah, Double Straw seharga 550 perbuah, Hanger Baju seharga 8000 perlusin, Hanger


Hanger atau gantungan baju kelihatannya sepele, tapi tanpa benda ini pakaian menjadi tidak rapi dan keriput. Semakin ramainya usaha laundry menguntungkan bagi produsen hanger. Belum lagi permintaan hotel, butik sampai garmen. Joko Ibrahim meraup omset 360 ribu unit hanger setiap bulannya. Celana seharga 8500 selusin, Hanger Jilbab Rp. 8000 selusin, Hanger Dinding seharga 3500 perbuah, Hanger Jeans seharga 5000 perbuah, Hanger Celana Dalam seharga 5000 perbuah. Joko Ibrahim memulai bisnis hanger sejak tahun 2009. Dimulai dari menjual hanger kawat hasil dari usaha calon mer tuanya. Dengan harga yang relatif murah, gantungan baju dari kawat ini dipasarkan 8000 rupiah perlusin. Barulah pada Mei 2009, dengan adanya pesanan 250 unit dari sebuah laudry di Nusa tenggara Barat, Joko mulai serius menggeluti bisnis hanger ini. Modal awalnya 2,5 juta rupiah untuk membeli mesin pencetak hanger yang didapat dari mertuanya. Selain itu ditambah 5 juta untuk membeli dua ton gulungan kawat dan bahan kimia untuk mewarnai hanger. Walaupun bisnis hangernya sempat mengalami sepi pesanan, tetapi setelah melakukan strategi jemput bola yaitu dengan mendatangi laundry lokal di Pati, Surabaya

dan kota-kota lain, akhirnya strateginya membuahkan hasil. Selain Simply Fresh, jaringan laundr y seper ti Mar tinizing Dr y Cleaning juga memesan hanger buatannya. Dalam waktu dua bulan, stok hanger di gudang yang berjumlah 30.000 buah hampir habis. Sampai kini, Simply Fresh yang berpusat di Yogyakarta secara teratur memesan hanger buatan Joko. Sejak saat itu, Joko memberi label Rajawali Hanger di hanger buatannya. Saat itu, Rajawali Hanger rutin memasok 8.000 hanger ke seluruh gerai Simply Fresh setiap bulan. Begitu juga dengan laundr y Mar tinizing Dr y Cleaning yang memesan 2.000 unit setiap bulan. Pesanannya juga datang dari puluhan laudry lain dan pembeli ritel dari berbagai kota yang ada di Indonesia. Tak hanya laundry, pemesan gantungan baju juga datang dari pengelola hotel, toko plastik hingga perusahaan garmen, maka tak heran jika tiap bulannya Joko bisa menjual sampai 360.000 unit.

Pengepakan hanger

Siap kirim ke berbagai daerah

85

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


INFO UKM

Berbagai jenis hanger

Proses pengerjaan hanger Joko juga membuat hanger yang lebih murah dengan menggunakan kawat yang lebih kecil. Biasanya, hanger jenis ini dipasarkan pada perusahaan-perusahaan jasa cuci pakaian. Melalui penjualhanger.multiply.com, ia mempromosikan dan memasarkan seluruh produk yang ia buat. Mulai hanger kelas bawah yang biasa digunakan perusahaan laundr y hingga gantungan baju.

/ JUNI 2012/ TAHUN IV

86

Sebagian transaksi yang dilakukan Joko saat ini melalui online. Pembeli melakukan pemesanan melalui email maupun telepon, lalu barang dikirimkan setelah pembeli melakukan pembayaran melalui transfer. Barang dikirim ke alamat pembeli tanpa dipungut ongkos kirim untuk penjualan tertentu. Sebelum melalui internet, Joko mengaku harus mendatangi calon pembeli satu per satu. Hasilnya pun tidak optimal. Karena dalam satu hari, Joko hanya mampu menjangkau 2-3 calon pembeli. Setelah melalui internet, dalam sehari, Joko bisa melayani belasan calon pembeli. "Pembeli internet biasanya memesan barang jauh lebih banyak dibandingkan dengan calon pembeli yang bertemu langsung," katanya. Lewat online pemasarannya menjangkau seluruh Indonesia tersebar di kota-kota di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan,Sulawesi, Bali, NTB,NTT, Maluku bahkan sampai ke Papua. Dia membandingkan, jika pembeli biasanya hanya sekitar 5.000 hanger, pesanan lewat internet biasanya hingga 10 ribu hanger. "Kalau lewat internet, saya mematok paling sedikit 1.000 hanger. Pembelian di bawah itu, saya tidak mau," katanya. Setiap bulan, ia menghabiskan 15 ton kawat. Padahal setiap 1 kg kawat bisa menghasilkan 3 lusin atau 36 hanger. Karena itu, dalam sebulan, Joko bisa menghasilkan 540 ribu hanger. Dengan modal kerja kira-kira 30 juta perbulan yang dialokasikan untuk pembelian kawat 2 ton/bulan, pembelian bahan plastik dan kertas tube serta biaya coating/ pencelupan. Joko yang sudah menggeluti usaha ini selama empat tahun mengungkapkan, walaupun harganya murah sekitar 500 rupiah perbuah, tapi dengan volume pesanan yang sangat banyak ia bisa memperoleh pendapatan hingga 400 juta per tahun dari bisnis gantungan tersebut. Teks: Imas/Dari Berbagai Sumber


MEDIASI

BISNIS ESTAFET

Peluang Meraup Untung Ada beberapa bisnis yang harus ditinggal pemiliknya karena pindah ke luar kota, keluar negeri, atau mungkin meninggal dunia. Jika bisnis ini memiliki managemen bagus, juga brand yang sudah cukup kuat di kalangan konsumen, bukankah merupakan peluang sangat potensial diteruskan? Anda ingin berinvestasi untuk estafet bisnis seperti ini? ď ŽTeks: Imas Maslihah

Menurut saya bisnis terusan itu lebih baik daripada harus membangun suatu bisnis dari awal, membangun bisnis bukanlah hal yang mudah, butuh dana, pemikiran dan kreativitas dalam membangunnya yang tidak mungkin asal-asalan, asalkan dalam bisnis terusan ini memang dipilih penerus bisnis yang mampu untuk meneruskannya. Biasanya bisnis terusan ini banyak terjadi dalam suatu bisnis keluarga, dimana bisnis terusan tersebut tidak langsung dibebankan mentah-mentah kepada si penerus bisnis tetapi melalui proses-proses pembelajaran, sehingga apabila si calon penerus mengalami kesalahan bisa dikoreksi oleh si pemilik bisnis sebelumnya yang bisa jadi orangtuanya. ARIF HIDAYAH SIREGAR, DEPOK

/ JUNI 2012/ TAHUN IV

88


Bisnis terusan itu bagus, karena lebih fleksibel dalam pengelolaan administrasinya, apalagi jika bisnis yang diteruskannya itu sudah besar, berupa perusahaan. Penerus bisnis tidak perlu repot membuat berkas awal perusahaan, juga pemilik perusahaan tersebut hanya tinggal memberikan manuver untuk memajukan perusahaan yang dimilikinya kepada si penerus bisnis. DEVIANI.S.TYAS, JAKARTA

Bisnis terusan bagi saya bisa memberi peluang kepada pengusaha atau pebisnis baru untuk mengembangkan usahanya, sangat disayangkan kalau usaha yang sudah mempunyai image di mata masyarakat terbengkalai karena kesibukan dari pengusaha tersebut. Lebih baik usaha tersebut dialihkan atau dijual kepada orang yang ingin mengelolanya, bagi pengusaha yang meneruskan usaha tersebut harus mengembangkan managemen dari usaha tersebut agar lebih berkembang dan maju. MAYRINI, JAKARTA

Saya pribadi memang belum pernah melakukannya, tapi menurut saya bisnis terusan cukup berpotensi dan simple, terlebih sebelumnya bisnis yang diteruskan tersebut sudah berjalan dengan lancar, ibaratnya sang penerus bisnis tinggal memutar roda yang sudah disiapkan dan dijalankan oleh sang pembuat bisnis. Dari segi islam bisnis dagang memang salah satu upaya mencari rizki yang dilakukan oleh nabi Muhammad SAW, di sebuah iklan menyebutkan ‘dengan bisnis maka anda telah menciptakan lapangan kerja’ kemudian salah seorang motivator otak kanan (Ippho Santosa) memberikan saran dalam berbisnis tak perlu mikir untuk besar dulu, yang penting laris dulu. Tentunya dibarengi dengan sedekah, dan shalat wajib maupun shalat sunnah. Sedang menurut Bob Sadino; Kalau mau bisnis, otak ditaruh di dengkul dulu. Karena jika di kepala nanti kebanyakan mikir, akhirnya bisnisnya tidak jadi-jadi. Apapun jenisnya, apakah itu bisnis terusan atau membangun dari awal,semuanya adalah cara yang mulia untuk mencari rizki. AZRIEL HERDIAN, BEKASI

89

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


KONSULTASI

Psikologi Bisnis Dr Andri SpKJ adalah seorang psikiater dengan kekhususan di bidang Psikosomatik dan Psikiatri Liaison. Kini ia sebagai wakil Indonesia satu-satunya di American Psychosomatic Society dan The Academy of Psychosomatic Medicine, organisasi Psikosomatik yang berkedudukan di Amerika. Aktif di World Psychiatric Association pada bidang Psychiatric, Medicine and Primary Care. Tugas rutinnya mengajar di FK UKRIDA dan dokter penanggung jawab Klinik Psikosomatik RS Omni, Alam Sutera, Tangerang.

Jaminan Surat Berharga Ketika usaha ayah saya bangkrut, maka ayah

tiap bulan mungkin sudah diprediksikan. Inilah yang

menggunakan surat sertifikat rumah untuk modal

akan menjadi dasar apakah dengan menambah

awal lagi. Keberaniannya membawa hasil, karena

modal akan menambah keuntungan, karena dengan

setelah setahun usahanya mampu bangkit kembali.

menambah modal dari hasil pinjaman maka perlu

Saya ingin mengembangkan usaha warnet saya,

dipikirkan cicilan yang harus dibayar ditambah

namun modal cekak. Saya punya mobil yang sudah

dengan biaya operasional dari usaha yang semakin

lunas angsurannya. Terpikir untuk menggunakan

besar. Kalau sudah ada hitungan yang jelas dan bisa

BPKBnya sebagai tambahan modal, tapi saya

diprediksikan maka sebenarnya meminjam uang

tidak berani takut tidak bisa mengembalikan. Dok

dengan agunan hanya suatu jalan untuk mencapai

bagaimana caranya agar jiwa usaha saya seberani

sukses yang lebih besar. Semoga bermanfaat.

jiwa usaha ayah saya?

Salam Sehat Jiwaď Ž

Terimakasih, Priyatna G Jakarta Pak Priyatna yang baik, Keberanian berjiwa usaha juga harus dibarengi dengan keterampilan dan kejelian melihat situasi. Jangan asal berani tetapi kemudian akhirnya malah terjer umus dalam hutang yang tidak selesai-selesai. Ketika memutuskan untuk mengembangkan usaha, pasti bapak sudah punya hitunghitungan tentang perjalanan kas yang bapak dapat dari usaha itu. Keuntungan per bulan sudah jelas berapa dan harapan kenaikan

/ JUNI 2012/ TAHUN IV

90


Bisnis Barang Diskon Ibu Nenny yang baik, Barang yang dijual diskon sudah jelas memang harga jualnya saat itu adalah harga yang ditawarkan sekaligus diskonnya. Ar tinya kalau diskon 80% memang harga barang itu saat dijual adalah hanya 20%-nya dan pedagang tetap untung (dalam berbagai ar tian). Kita tahu setiap barang yang dijual itu punya margin keuntungan sendiri. Beberapa barang misalnya bisa sampai 10-20x lipat harga produksinya. Artinya sebuah barang dengan ongkos produksi seharga 1000 rupiah, bisa dijual ke pasaran minimal dengan harga 10 ribu rupiah. Ini tentunya untuk menutupi biaya-biaya marketing, biaya operasional toko dan juga nilai barang yang menurun karena termakan usia. Jadi tidak usah heran kalau memang ada diskon barang sudah 50% masih ditambah 20% lagi, memang harga barang itu saat dibeli ibu memang segitu. Ada juga penjual yang ingin segera mengganti model barang yang dijual sehingga stok lama harus segera habis, mereka biasanya bisa menjual barang Setiap pergi ke mal saya jadi pusing, hampir di

tanpa perlu untung yang penting balik modal dan

setiap toko memasang diskon gede-gedean. Ada yang

barang habis daripada dimakan tikus. Tapi tentunya

nyaris 80% diskonnya. Secara nalar saja sepertinya

hal ini sudah diperhitungkan sejak awal berjualan.

tidak mungkin, masak harganya tinggal 20%. Apa

Usaha yang ingin ibu lakukan bisa saja tetapi ingat

mungkin harganya sudah dinaikkan dulu? Kadang

kalau usaha itu mengambil barang dari toko yang

saya suka tertarik, karena pikir saya barang tersebut

biasa dikunjungi publik, akan sulit rasanya bersaing.

bisa saya jual kembali dengan harga miring. Saya

Point positif ibu hanyalah bisa mencicil saja. Saya

akan tawarkan keuntungan lagi pada rekan-rekan

lebih menyarankan ibu belanja ke pusat grosir agar

dengan membayar cicil misal 4 kali. Apakah ini

mendapatkan harga yang murah dan barang model

sebagai peluang Dok? Terimakasih jawabannya.

terbaru, bukan model lama yang mungkin sudah

Nenny Tirana Bandung

tidak sedang in lagi. Selamat mencoba. Salam Sehat Jiwaď Ž

Bila Anda memiliki problematika psikologi dalam menjalankan usaha, Anda dapat menemukan solusinya pada Rubrik Konsultasi Psikologi ini. Dr Andri SpKJ akan memberikan sharing agar Anda terlepas dari belenggu permasalahan. Silakan kirim keluhan Anda ke Redaksi Majalah Elshinta atau email ke majalahelshinta@gmail.com.

91

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


SENTRA BISNIS

Produk senapan angin

Senapan angin yang siap dikirim

Sentra Senapan Angin JABAR

Usaha Warisan Jaman Kolonial M

Beberapa daerah di Jawa Barat, Bandung dan Sumedang yang sejak dulu terkenal sebagai sentra pembuatan senapan angin adalah Cipacing di Kabupaten Bandung dan Cikeruh di Kabupaten Sumedang. Letak kedua sentra ini tidak terlalu jauh karena Cikeruh memang daerah perbatasan kedua Kabupaten.

/ JUNI 2012/ TAHUN IV

enelusuri sejarahnya, industri senapan angin di Cipacing telah berlangsung lebih satu abad. Menurut catatan Raden Nata Dimadja adalah perintis pertama pembuatan senapan angin di Cipacing tahun 1854. Sampai awal 1960-an jumlah pengrajin senapan angin yang berada di desa Cikeruh dan Cipacing bisa dihitung dengan jari. Itu pun hanya terbatas pada jasa perbaikan atau bengkel senapan angin luar negeri. Karena hasil dari jasa perbaikan tidak mencukupi, para pengrajin memutuskan untuk membuat senapan angin sendiri. Raden Sa’ud – cucu Raden Nata Dimaja dan Raden Momon merupakan tokoh perintis pembuatan usaha senapan angin ini. Raden Saud dikenal masyarakat sebagai satu-satunya saksi sejarah industri Cipacing yang masih hidup hingga sekarang. Usahanya membuat senapan angin akhirnya diikuti warga Cikeruh. Hasilnya, antara tahun 1964 sampai 1967 jumlah pengrajin bertambah menjadi 12 orang. Kemudian dari tahun 1968 sampai 1970 pengrajin di Cikeruh menjadi 23

92


Ade Supriatno Pipik pemilik PD. PIPIK PUTRA orang dan di Cipacing mencapai sembilan orang. Puncak menjamurnya industri senapan di Cipacing terjadi antara tahun 1981 sampai 1992. Disebabkan adanya alih profesi yang dilakukan para buruh. Setelah desa Cikeruh masuk dalam kecamatan Jatinangor, banyak buruh kemudian berganti profesi menjadi pengrajin senjata. Bagi mereka, pekerjaan ini ternyata lebih menggiurkan dibanding pergi merantau ke luar kota. Produk senapan angin made in Cikeruh dan Cipacing banyak dijajakan di sepanjang jalan Cileunyi, Bandung. Tak cuma itu di Bandung, pemasarannya juga menyebar ke seluruh Indonesia. Namun, di Cikeruh dan Cipacing pun, para produsen senapan angin banyak menjual langsung produksinya. Satu diantara pengrajin senapan angin adalah Ade Supriatno Pipik. Usaha yang dikelolanya ini merupakan usaha turun-temurun dari keluarga. Ade - panggilan akrab laki-laki yang juga ahli merakit senjata api itu - adalah generasi ke 3 dalam usaha membuat senapan angin. Awalnya yang merintis usaha produksi senapan ini adalah kakeknya pada

jaman Hindia Belanda. Kemudian dilanjutkan oleh ayahnya. Baru pada tahun 1982 usaha membuat senapan angin diteruskan oleh Ade. Sekarang ini PD. PIPIK PUTRA yang dikelola Ade mempekerjakan 7 orang. Untuk masalah produksi, perbulan Ade bisa membuat 120 unit senapan angin. Harga perunitnya ada yang 500 ribu sampai 8 juta rupiah. “Untuk masalah keuntungan, ratarata dari berbagai tipe senapan tadi saya hanya mengambil keuntungan bersih antara 10 sampai 12 %. Kalo penghasilan perbulan,rahasia. Cukuplah untuk menyekolahkan anak,� ungkap Ade sambil tertawa.

Sempat Tiarap Menurut Ade, bisnis senapan angin ini sempat tiarap saat masa Orde Baru. Ketatnya peraturan dan regulasi yang ditetapkan pemerintah, membuat para produsen senapan angin selalu berhati-hati menjajakan dagangannya. Tapi itu belum seberapa dibanding kondisi sepi pembeli yang sempat dirasakan industri senapan angin beberapa tahun

93

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


SENTRA BISNIS

Kayu untuk gagang senapan

Saat proses bubut

belakangan ini. Begitupun, Ade mengaku, saat ini kondisi bisnisnya kembali membaik. Bahan utama membuat senapan angin adalah besi, kayu dan karet. Dijelaskan pula oleh Ade, kalau kategori senapan angin itu ada 3, yaitu senapan per (pegas), gas, dan pompa. Senapan angin yang mahal yang memakai gas. “Ini penemuan terbaru senapan angin memakai gas. Modelnya juga seperti senapan serbu di militer,� paparnya. Untuk masalah pasar, senapan angin produksi dalam negeri sudah banyak diminati orang asing. Sedang untuk pasar dalam negeri kadang mengalami kuwalahan melayani pesanan. Senapan produksi Ade banyak dijual di daerah Bandung,

Pengecekan tekanan angin senapan / JUNI 2012/ TAHUN IV

94

Besi bahan mentah untuk laras senapan karena Bandung merupakan tujuan wisata. Bila hari Sabtu dan Minggu, maka di daerah Bandung misalnya Cihampelas - tempat paling ramai dikunjungi oleh wisatawan - banyak pedang kaki lima yang menjajakan senapan angin. Untuk masalah merk, memang sengaja Ade yang punya naluri dagang tinggi ini, hampir semua senapan angin produksinya memakai merk-merk dari senapan produksi luar negeri. Juga tentang modifikasi bodi dari senapan angin tadi, Ade sengaja membuatnya beda dengan senapan angin produksi perusahaan lain. Meskipun secara fungsi kerjanya sama, ada yang memakai tenaga gas, pompa, dan juga per (pegas). Untuk masalah promosi, Ade merasa masih kesulitan terbentur dana. Harapannya adalah adanya kepedulian pemerintah daerah. Karena usaha yang dikelola oleh Ade termasuk usaha UKM, jadi harus dibantu untuk masalah permodalan. Sedangkan untuk masalah konsumen yang mengambil senapan angin produksi Ade adalah toko-toko senapan yang pernah ia kenal saat ikut pameran. ď ŽTeks/ Foto: Dody Handoko


SENTRA BISNIS INFO

Donny dan Ari pengelola Take Over Airsoft

TAKE OVER AIRSOFT

Modifikasi Harga Belasan Juta

B

erangkat dari hobi ber-airsoftgun, Donny Hendaris dan Ari Malik akhirnya memutuskan untuk berbisnis. Yang menjadi pilihan adalah bisnis seputaran hobi mereka. Seperti sudah umum diketahui, airsoft-gun memang makin marak peminatnya. Dan hobi yang satu ini, juga

Airsoft gun banyak peminat / JUNI 2012/ TAHUN IV

96

komunitasnya, menyediakan peluang yang cukup menggiurkan. Awalnya Donny dan Ari hanya sebatas berusaha memenuhi permintaan komunitas mereka soal pengadaan kebutuhan airsoft-gun. Lama-kelamaan, mereka memutuskan untuk menjadikan layanan mereka sebagai bisnis. “Kami berinisitif membuat workshop. Jadi awalnya workshop, untuk mendapatkan sesuatu atau mendevelope sesuatu, mem-provide kebutuhan temanteman, bukan murni bisnis,” ujar Donny. “Ada memang yang bisnis murni tapi kami berawal dari komunitas, jadi tidak benar-benar murni bisnis.” Donny juga mengakui, workshop-nya di Permata Hijau Mall bukan hanya untuk bisnis. “Jadi tempat ngumpul juga sih,” katanya sambil tertawa. Ini memungkinkan karena untuk peralatan airsoft-gun yang utama, belum ada produsen lokal.


Bisnis komunitas memang mengasyikan. Bisnis yang kerap berangkat dari hobi ini ternyata juga menyimpan potensi keuntungan hingga belasan juta. Contohnya, Take Over Airsoft, bisnis berbasis komunitas yang makin marak ini.

Perlengkapan dan aksesoris Sedangkan untuk asesoris tertentu, produk lokal sudah tersedia. Namun Donny dan Ari cenderung lebih memilih produk-produk luar, misalnya China. “Ada istilah ACM ; All China Made. Kalau dihitunghitung, harganya lebih murah dibanding jika kita, misalnya harus memproduksi sendiri. Kualitasnya juga lebih bagus dibanding lokal.” papar Ari. Begitupun untuk item-item tertentu yang spesifik – misalnya ukuran khusus, Donny dan Arry juga bersedia menyediakan dengan memproduksi sendiri. “Tapi itu untuk item yang memang sangat khusus ya,” tambah Donny. Jadi, Take Over Airsoft yang berdiri sejak 2007 ini, selain menyediakan beragam asesoris, memang khusus menyediakan layanan seperti umumnya workshop. “Kami menyediakan layanan tunning, servis, modifikasi dan menyediakan gear!” ujar Donny. “Kalaupun ada yang butuh unit atau senjata, ya kita sediakan juga. Tapi biasanya kita ambil dari teman-teman juga. Jadi kami semacam hub-lah!” Take Over juga melayani permintaan para newbie yang ingin memiliki peralatan airsoft-gun. Uniknya, Take Over tidak mematok harga. “Kami tidak ingin mematok para newbie, kami tidak mau begitu. Biasanya kami menanyakan dulu, budgetnya berapa. Sebab harga-harga airsoft-gun range-nya luas. Range untuk satu unit ada yang dua juta sampai 15 belas juta!” papar Donny. Selain itu, peralatan airsoft-gun juga beragam mutu dan jenis. “Ada yang lokal, ACM, ada yang buatan China tapi branded, ada buatan Taiwan atau Hongkong, ada yang secondary tapi dipakai oleh real-ops,

ada juga yang original, asli dipakai oleh real-ops,” lanjutnya. Uniknya, ada beberapa jenis airsofter ; mereka yang memang suka berperang-perangan, kolektor, geardo, atau hanya suka mengutak-atik bahkan atlet serius yang menekuni tembak reaksi. Perbedaan ini membuat bisnis airsoft-gun makin berkembang karena kebutuhan masing-masing airsofter ini relatif berbeda. Untuk modifikasi, Take Over pernah menangani modifikasi seharga 17 juta. Untuk memberi pelayanan lebih, Take Over juga selalu berusaha menyediakan gear atau peralatan yang diinginkan konsumennya. Selain itu, “Kami juga berusaha untuk menjadi trendsetter,” papar Donny. “Artinya, menciptakan trend yang kemudian diterima oleh kalangan airsofter. Tahun 2008-1009 kami menjadi trendsetter soal modifikasi unit!” lanjutnya. “Kita memang harus jeli melihat apa yang diinginkan pasar ya. Biasanya kami memantau lewat forum-forum komunitas airsofter di dalam atau luar negeri.” Kendala bisnis ini mungkin pada legalitas airsoft yang masih diperdebatkan. Untunglah kini sudah ada Federasi Airsoft-gun Indonesia (FAI) yang berusaha membuat airsoft-gun menjadi olahraga sendiri. “Federasi ini Pengurus Besarnya di Bandung dan kami berusaha agar kegiatan ini diakui sebagai olahraga sendiri,” papar Donny yang menjadi Ketua Pengurus Daerah DKI Jakarta. Anggota FAI adalah klub-klub airsoft-gun, bukan perorangan. Anda yang tertarik, bisa menyambangi workshop Take Over di ITC Permata Hijau. Wendy Danoeatmadja

97

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


FILE

AJI-NO-MOTO Goes to School Selama 40 tahun Ajinomoto telah menjadi bumbu masak andalan di dapur Ibu-Ibu Indonesia. Perusahaan ini terus berusaha untuk memenuhi komitmen dalam memberikan kontribusi yang berarti dalam bidang makanan dan kesehatan secara global guna mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Salah satu kegiatan yang diadakan oleh Ajinomoto dan Dapur Umami adalah mendatangi SMK-SMK diantaranya SMKN 27 Jakarta, untuk mensosialisasikan bahwa MSG itu aman. Dengan mengusung tema besar “Mari Tahu MSG”, Ajinomoto mengajak siswa SMK untuk lebih mengenal MSG, mulai dari bahan hingga fungsinya.Choen/Foto: Dok. Ajinomoto

Lantik RWK, Dirikan Koperasi Bupati Kabupaten Kuningan, H. Aang Hamid Suganda secara resmi melantik kepengurusan baru Rukun Wargi Kuningan (RWK) se-Jabodetabek masa bhakti 20122016 bertempat di auditorium gedung Cawang Kencana, Jakarta (11/05). Drs Sudar Siandes selaku Ketua Umum baru mengatakan, dalam waktu dekat ia akan membangun koperasi yang berfungsi untuk mengayomi masyarakat Kuningan khususnya para pedagang yang ada di wilayah Jabodetabek. “Mereka berwiraswasta seper ti pedagang indomie, bubur, ketoprak dan lainnya. Nantinya mereka akan mengambil bahan ke koperasi,” ujarnya. Choen/Foto: Dok. RWK

ACI Gelar Seminar Anak Keluarga besar Autism Care Indonesia (ACI) menggelar seminar bertemakan “Gangguan Tumbuh Kembang pada Anak” bertempat di Aula Pendidikan Widuri Jl. Gunung Balong 1 / 2 Lebak Bulus III Jakarta Selatan. Acara yang terselenggara oleh Yayasan Cinta Harapan Indonesia ini dihadiri oleh para orangtua dari anak – anak berkebutuhan khusus (ABK), relawan, therapist, pengurus dan para donator berjumlah sekitar 50 orang. Dalam kesempatan ini, hadir pula Dr. Anna Tjandrayani, SpA sebagai pembicara seminar. “Jumlah anak yang kami bantu, lebih 100 anak di 5 lokasi klinik kami. Kami berencana akan membangun 46 klinik di berbagai kota,” imbuh Aji Widowati, Ketua Pengurus ACI. Choen/Foto: Dok. ACI / MARET JUNI 2012/ 2012/ TAHUN TAHUN IV IV

92


Launching Fourties Resto Wine House KTV Kemang Perubahan dan tuntutan gaya hidup modern terlihat dalam hal menikmati sajian makanan dan minuman, perlu kualitas terbaik untuk memenuhi selera tinggi mereka. Oleh karenanya, hadir Fourties Resto Wine House KTV  Kemang sebagai restauran  high end  terlengkap yang memiliki  Hip Lounge, Wine House dan Karaoke KTV, dilaunching pada 27 April 2012. Resto ini merupakan tempat yang trendi dan seru untuk menikmati makanan dan minuman terbaik serta entertainment berkelas dengan suasana modern nan elegan.Teks & Foto :

Launching All New Mazda CX 5 Irit Bahan Bakar

Choen

PT. Mazda Motor Indonesia (MMI) resmi memperkenalkan varian crossover All New Mazda CX-5 di Indonesia dengan dua varian yaitu All New Mazda CX-5 Sport seharga Rp. 375 juta dan All New Mazda CX-5 Touring seharga Rp. 410 juta. “All New Mazda CX-5 diharapkan dapat memuaskan keinginan pelanggan Mazda Indonesia yang membutuhkan kendaraan tangguh, desain stylish dan irit bahan bakar,” kata Presiden Direktur PT Mazda Motor Indonesia Keizo Okue.

Sidomuncul

Mari Berwisata di Negeri Sendiri Sidomuncul melalui pr oduk unggulan Kuku Bima Energi meluncurkan iklan terbarunya dengan tiga versi yang ber temakan “Mari Ber wisata di Negeri Sendiri” Bertempat di XXI Club Djakarta Theater, Senin, (30/5) acara dibuka dengan menampilkan Tarian Cakalele dari Maluku dan akan diteruskan dengan pemutaran iklan terbaru Kuku Bima Energi dengan tiga versi yaitu Maluku, Sumatera Utara dan Labuan Bajo II. Acara ini menghadirkan pembicara diantaranya; Irwan Hidayat, Dirut PT Sidomuncul, Arswendo Atmowiloto dan Butet Kertaredjasa, Ben Mboi dan lain.

93

/ MARET JUNI 2012/ 2012/ TAHUN TAHUN IV IV


INFO FRANCHISE

Franchise Internasional Adalah Eksistensi B

ukan tanpa alasan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono mencanangkan stra­ tegi waralaba Indonesia go international. Ini adalah strategi yang bila dikaji lebih dalam mengarah pada soal eksistensi Indonesia sebagai bangsa, bukan hanya peningkatan ekonomi. Jika benar, ini tentu memiliki dasar pemikiran sendiri. Franchise, harus diakui, merupakan strategi bisnis paling sukses di dunia. Sebabnya sederhana. Bisnis bisa dimiliki tanpa susah payah dengan jaminan nama baik dan jaringan yang dimiliki si pemilik waralaba. Siapa sih, yang mau bersusah payah membangun istana pasir di tepaian pantai, jika bisa membangun istana bamboo di daratan? Tentu san ini hanya gambaran. Karena istana pasir – terutama yang indah, mampu mengundang decak kagum juga. Tapi bisnis memang bukan soal membangun istana pasir – yang meski indah tetap rentan terhadap air. Bisnis adalah soal masa depan dan pertaruhan di dalamnya. Jadi wajar jika pengusaha / JUNI 2012/ TAHUN IV

pemula, lebih suka meminimalisir kegagalan dengan memilih franchise yang notabene sudah terbayang – belum terlihat, masa depannya itu. Apakah franchise menjamin kesuksesan? Tidak juga. Tingkat kegagalan franchise di Indonesia mencapai 40%. Bandingkan dengan tingkat kegagalan franchise di Amerika yang hanya 10%. Sebabnya beragam. Bisa dari sisi pewaralaba (franchisor), bisa dari sisi terwaralaba (franchisee).

100


Mengapa franchise lokal merasa perlu bersaing di tingkat nasional disbanding terjun langsung ke pasar global? Apa keuntungan menyasar pasar global tanpa terbebani iming-iming pasar lokal? Nah, lalu mengapa di Indonesia franchise tetap berkembang pesat meski keberhasilannya hanya sedikit berbeda dari fifty-fifty? Jawabannya sederhana. Franchise yang disasar ternyata bukan franchise lokal, tapi franchise internasional. Masyarakat, ternyata masih tetap percaya pada kualitas franchise luar. Namun ini bukan patokan jika kita bicara mengenai muatan bisnisnya. Bila muatan bisnisnya memang muatan lokal – kuliner tradisional misalnya, maka masyarakat, tentu saja, memilih franchise lokal. Jadi, semua ini masih soal pilihan. Bisnis apa dan dari mana. Jika ada yang dari luar, ya pilihlah yang dari luar saja. Beberapa franchise nasional minimarket misalnya, sekarang digempur oleh franchise sejenis dari luar. Hal yang sama juga dialami oleh franchise-franchise di sektor lain. Di titik ini, kebutuhan franchise lokal untuk gointernasional menjadi penting. Apalagi lemahnya regulasi pemerintah soal franchise internasional, membuat franchise lokal tidak punya pilihan selain “balas� menjajah pasar luar. Dalam buku Creative Business Idea, Joewono menulis bahwa franchise lokal yang go international berada pada fase speeding-up. Franchise ini telah memenangkan lomba di tingkat lokal dan merasa harus ikut lomba di tingkat yang lebih luas dengan beberapa tujuan. Artinya, keuntungan ekonomi bukan satu-satunya alasan mengapa sebuah franchise membidik pasar luar negeri. Tidak sesederhana itu. Banyak motivasi lain, misalnya mencari tolok ukur kualitas yang lebih tinggi. Mampu menjawab tantangan ini, membuat franchise lokal tidak hanya akan membesar pundi-pundinya namun juga mendapat pengakuan global. Inilah yang diinginkan pemerintah. Artinya, jika sudah memenuhi standar sebagai franchise yang baik dan berkualitas, mengapa harus menunggu untuk punya puluhan atau ratusan franchisee di dalam negeri? Kenapa tidak menjajal pasar yang lebih luas di luar sana? Sebab, bukti menunjukan, banyak franchise luar yang masuk ke Indonesia ternyata tidak punya banyak franchisee di negera

asal mereka. Mereka menyasar pasar luar bukan karena mereka tidak mampu menyasar pasar dalam negeri, tapi karena keberhasilan berkompetisi dalam segi kualitas di tingkat global memberi mereka eksistensi global yang otomatis membuat mereka diterima di pasar manapun! Ini memang skenario ideal. Tapi bukan tidak mungkin dilakukan oleh wirausaha Indonesia jika mereka memang ingin mengubah paradigma. Sekali lagi, kualitas sebuah franchise tidak ditentukan oleh berapa banyak mereka mampu menjual franchise mereka di dalam negeri. Sebab, laku-tidaknya sebuah franchise juga ditentukan oleh jenis usaha. Franchise di bentuk usaha umum seperti minimarket, memang menarik banyak pembeli. Berbeda dengan franchise di bentuk usaha khusus yang berhubungan dengan minat atau hobi, misalnya. Padahal, kualitas keduanya bisa sama. Jadi, sekali lagi ini memang soal cara pandang terhadap pasar. Apakah usaha Anda bersiap untuk menjalankan strategi franchise? Apakah pasar luar negeri menerbitkan air liur Anda? Terjunlah ke sana. Jika gagal, Anda masih punya pasar lokal yang menanti untuk didatangi. Bedanya, Anda telah memiliki standra kualitas yang lebih di banding pesaingpesaing lokal Anda. Cukup masuk akal? Memang akan banyak kendala dan usaha. Tapi itulah inti dari wirausaha bukan? ď ŽWendy Danoeatmadja/Dari Berbagai Sumber

101

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


KONSULTASI

Niam Muiz, Msc, MPsi Ia adalah seorang inspirator handal dan konsultan bisnis, master trainer tamatan Amerika Serikat yang telah menelorkan lebih dari 8.000 eksekutif pada berbagai level jabatan dan fungsi di berbagai wilayah Indonesia. Pria berusia 49 tahun yang sudah malang melintang selama 20 tahun di dunia training ini, kini menjadi Presiden Direktur PT Inspira Consulting, Jakarta.

Subsidi Silang Bisnis

Tanya: Facebook, google adalah orang yang sukses mengibarkan bendera bisnisnya, meskipun produknya digratiskan. Omsetnya juga sangat besar. Pak Niam, mungkin tidak kalau kita menerapkan strategi ini di bisnis yang basisnya non internet? Terima kasih. Hendro, Bogor. Jawab: Di Indonesia ini ada ratusan koran dan majalah gratis – dengan strategi persis plekplek-plek dengan facebook dan google- yang gratis. Darimana income mereka?! Bukan dari jual majalah itu, tapi dari para pengiklan.

/ JUNI 2012/ TAHUN IV

Jadi konsumen sih gratis. Anda juga bisa bikin “pasar malam” gratis buat pengunjungnya, dengan disponsori oleh beberapa pihak. Sebutlah, Anda mau bikin Training NLP GRATIS (di Jakarta, biayanya bisa sampai 2 juta/ org), tapi sponsornya banyak dan sponsor itulah yang bayar Anda. Nah, Anda mau buka bisnis tambal ban gratis ?! Bisa saja, selama ada sponsor yang berminat. Syaratnya, sponsornya bisa tidak ada hubungan dengan tambal-menambal. Sebuah produk kopi instant misalnya, siapa tahu berminat mensponsori bisnis tambal ban Anda. Hehehe… Tapi ini serius loh! Foto: Ist

102


FILE

Pilih-Pilih Bisnis Tanya: Pak Niam, ide bisnis saya banyak. Melihat peluang kuliner, saya tertarik. Ketika ada bisnis baru yang non kuliner tapi prospeknya bagus, saya juga tertarik. Begitu seterusnya. Bisnis apa yang harus saya pilih? Bobi, Tegal Jawab: Yang harus Anda lakukan adalah cek kompetensi Anda. Di area mana Anda merasa lebih enjoy. Kalau Anda lebih mampu dan suka dalam bisnis kuliner, maka berarti itu yang harus dijalankan. Anda jangan melakukan sesuatu yang Anda sendiri tidak mampu melakukannya. Anda tak mengerti soal bisnis meubel dan Anda juga tak suka dengan dunia itu misalnya, maka saya sarankan Anda menjauhlah dari sana. Pilihlah bisnis yang menyenangkan, karena dengan itu Anda akan semakin kreatif. Kalau Anda sudah menemukan kecocokan antara kompetensi dan bisnis yang akan dijalankan, juga penting dilakukan adalah Anda harus fokus. Fokuslah dengan pilihan Anda! Foto: Ist

Donor Darah Majalah Story & The New You

B

ertajuk We Care Share For Indonesia – Ayo Gabung ke Donor Darah , Majalah Story bekerjasama dengan The New You menggelar aksi kamanusiaan berupa donor darah. Rencananya kegiatan ini akan dilakukan di beberapa daerah seperti Lampung, Pontianak, Bandung, Banjarmasin, Solo, Tangerang dan Jakarta. Pada tanggal 10 Mei 2012, dengan menggandeng Binus Center, acara ini pun telah sukses diselenggarakan di dua tempat sekaligus, Binus Center Syahdan Palmerah dan Binus Center Grogol. “Kegiatan ini merupakan salah satu program yang bertujuan untuk mencari donator untuk empat lembaga sosial, BPY, Semangat Maju Indonesia Baru, Yayasan Sepakat Kar ya Utama dan Autism Care Indonesia,” ujar Zulfikar Alimudin, selaku Ketua Pembina Yayasan Cinta Harapan Indonesia. Teks: Choen/ Foto: Dok. Mj. Story

Redaksi Majalah Elshinta menerima pertanyaan seputar konsultasi bisnis. Jika Anda memiliki keluhan dan problematika mengenai bisnis yang akan atau sedang dijalankan, silakan layangkan pertanyaan Anda ke alamat redaksi kami atau melalui e-mail: majalahelshinta@gmail.com. 103

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


POJOK ELSHINTA

Seminar - Talkshow Bisnis

BISNIS UNGGUL MODAL DENGKUL “Pindahkan otak ke dengkul!”

Inilah teori bisnis Bob Sadino. Maksudnya supaya tidak terlalu banyak berfikir dan bertimbang dalam memulai membuka bisnis. Kata kuncinya adalah ;

“Lakukan sekarang juga!”

Lalu bagaimana dengan modal? Ternyata passion plus semangat adalah urutan utama. Bukan modal. Banyak pengusaha sukses berawal dari nol, alias modal dengkul. Proses menjadi sukses, itulah yang terpenting. Majalah ELSHINTA menyelenggarakan Seminar – Talkshow Bisnis memaparkan rahasia sukses para pengusaha Peraih Anugerah Majels 2011

Brian Yaputra (Ezztu Glass Art) Henky Eko Sriyantono (Bakso Malang Cak Eko)

/ JUNI 2012/ TAHUN IV

Riezka Rahmatiana (Justmine Pisang Ijo)

104


Inspirasi berbagi sukses ini juga diperkuat dengan pencerahan motivasi oleh pakar bisnis

Niam Muiz, PresDir. PT. Inspira Consulting, Pengasuh Rubrik Konsultasi di Majalah ELSHINTA.

Zulfikar Alimudin, Motivator dan Penulis Buku ‘The New You’

Deddy Yudiant, Motivator dan Penulis Buku ‘Mabok Bisnis’

CATAT WAKTU dan TEMPATNYA! Tempat : Amos Cozy Hotel & Convention Hall Melawai Raya, Jakarta Selatan Waktu : Senin, 25 Juni 2012 Pukul : 09.00 - 17.00 Investasi : Peserta - Rp 500. 000 Stand - Rp 750.000. (Untuk memperkenalkan Bisnis /Produk Anda) Paket Peserta dan Stand - Rp 1.000.000. Peserta mendapat goody-bag, sertifikat dan berkesempatan meraih Door Prize menarik!

Pendaftaran dan Informasi : Natalia Risma 021- 94568007 /081282350407

Bergegaslah karena tempat sangat terbatas! 105

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


POJOK ELSHINTA

Nara Sumber Seminar Bisnis

Bisnis Unggul Modal Dengkul Tiga pengusaha sukses ini adalah penerima Anugerah Majels 2011. Sebagai favorit, tentu pembaca ingin mendapat bagian ilmu atau pengalamannya. Seminar Bisnis Majalah Elshinta menjadi ajang yang tepat untuk sharing. Kesempatan yang tak boleh disia-siakan!

Brian Yaputra-Kaca Patri

Bakso Cak Eko Membuka usaha sejak 2005, kini usaha Bakso Cak Eko, yang ia franchisekan telah tersebar di berbagai kota seperti, Jakarta, Bekasi, Bogor, Depok, Banda Aceh, hingga Kutai, Kalimantan, jumlah total outlet sebanyak 155 buah dengan pertumbuhan sekitar 3 cabang baru perbulannya. Sukses lulusan Teknil Sipil ini tak diukurnya lewat pundi-pundi uang yang ia dapatkan. Namun, ia menganggap bahwa lewat 155 outletnya tersebut, berarti ia sukses untuk membuka lapangan usaha dan memicu pertumbuhan wirausaha di tanah air. 

Di kalangan dunia property, nama Brian Yaputra sudah tak asing lagi. Pria kelahiran Semarang, 12 Agustus 1947 itu memang dikenal sebagai pionir dalam bisnis kaca patri di Indonesia. Sejak melancong ke kota Byzantium, Turki di tahun 1980, Brian terpesona dengan keindahan kota tersebut yang sarat dengan kaca-kaca patri. Brian yang berkecimpung di bisnis peralatan elektronik rumah tangga merk Orbit milik keluarganya, merasa menemukan  passion  pada bisnis kaca patri. 30 tahun dijalani telah membuahkan karya cipta dari Masjid AlMahri di kawasan Cinere hingga masjid di Cape Town, Afrika Selatan, termasuk gereja dan bangunan di berbagai daerah dan negara-negara lainnya.

Justmine Pisang Ijo – Riezka Rachmatiana

Menu makanan asal Makassar dengan bahan dasar pisang berbalut tepung berwarna hijau ini sukses dipasarkan Riezka Rahmatiana. Perempuan muda berusia 24 tahun ini sanggup meraup omzet mencapai Rp 850 juta dari hasil jualan pisang ijo dengan merek dagang JustMine. Padahal, saat memulai usaha pada 2007, dia hanya merogoh koceknya Rp 2 juta. Modal tersebut kemudian habis dibelanjakannya untuk membuat etalase kecil serta bahanbahan pembuat pisang ijo. Gerainya tak hanya tersebar dikawasan pulau Jawa, namun sudah merambah dari wilayah Sabang hingga Merauke.  / JUNI 2012/ TAHUN IV

106


POJOK ELSHINTA

/ MARET 2012/ TAHUN IV

94


POTENSI DAERAH

KABUPATEN TANAH BUMBU

Alam Kaya Rindu Kabupaten di ujung tenggara Pulau Kalimantan ini alamnya begitu kaya. Selain terkenal sebagai sentra tambang batubara, masih banyak potensi yang bisa digali di sini. Pilihannya beragam ; dari jagung, kelapa hingga ikan gabus. Belum lagi potensi wisata yang masih menunggu investasi. Seperti namanya, kabupaten ini menanti investasi untuk meraup lezatnya keuntungan.

/ JUNI 2012/ TAHUN IV

S

ecara geografis Kabupaten Tanah Bumbu terletak di antara: 2o52’ – 3o47’ Lintang Selatan dan 115o15’ – 116o04’ Bujur Timur. Kabupaten Tanah Bumbu adalah salah satu kabupaten dari 13 kabupaten dan kota di Provinsi Kalimantan Selatan. Terletak persis

108


Investasi di ujung tenggara Pulau Kalimantan, wilayah Kabupaten Tanah Bumbu berbatasan dengan Kabupaten Kotabaru di sebelah utara dan timur, Laut Jawa di sebelah selatan dan Kabupaten Banjar dan Kabupaten Tanah Laut di sebelah barat.

109

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


POTENSI DAERAH

Kabupaten yang beribukota di Batulicin ini memiliki 10 kecamatan yaitu Kecamatan Kusan Hilir, Sungai Loban, Satui, Kusan Hulu, Batulicin, Karang Bintang, Simpang Empat, Mantewe, Kuranji dan Angsana. Lima kecamatan terakhir merupakan kecamatan dari pemekaran pada per tengahan 2005 lalu. Kecamatan Kusan Hulu merupakan kecamatan terluas yang

mencakup 31,76 persen dari luas keseluruhan Kabupaten Tanah Bumbu. Sedangkan Kecamatan Kuranji memiliki luas wilayah terkecil sebesar 110,42 km2 atau hanya 2,18 persen dari wilayah Kabupaten Tanah Bumbu. Ber turutturut dari kecamatan terluas setelah Kusan Hulu adalah Mantewe, Satui, Kusan Hilir, Sungai Loban, Simpang Empat, Angsana, Batulicin, Karang Bintang dan Kuranji. Kabupaten Tanah Bumbu memiliki luas wilayah 5.066,96 km2 atau 13,50 persen dari total luas Provinsi Kalimantan Selatan. Hasil Sensus 2010 jumlah penduduknya mencapai. Angka 267.913 jiwa. Kabupaten ini merupakan pemekaran dari  Kabupaten Kotabaru. Berdiri dengan dasar Undang-undang Nomor 2 Tahun 1972 tanggal 20 Maret 1972 tentang Pembentukan Kabupaten Tanah Bumbu dan Kabupaten Balangan di Provinsi Kalimantan Selatan.

Dari Jagung Hingga Kelapa Bidang per tanian Kabupaten Tanah Bumbu menyediakan potensi dalam bentuk per tanian jagung dan ubi. Kedua komoditas ini merupakan

Jagung yang subur

Industri kopra / JUNI 2012/ TAHUN IV

110


Komoditas karet merupakan komoditas unggulan selain kelapa sawit di Kabupaten Tanah Bumbu. Di Tanah Bumbu terdapat kebun karet seluas 235.490 Ha, dengan komposisi Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) : 93.992 Ha, Tanaman Menghasilkan (TM) : 100.904 Ha dan Tanaman Tua/Rusak (TT/TR) : 31.094 Ha. Dari luas areal tanaman tua/rusak tersebut secara teknis diperkirakan jumlah tegakan 11.793.840 batang (rata-rata 360 batang/ha). Jumlah log kayu karet 1.107.1752 m2Â (1.818

Sari kelapa

produk unggulan yang makin dikembangkan. Komoditas kelapa memenuhi kriteria sebagai produk unggulan, terutama karena diperkirakan mampu menampung tenaga kerja dalam jumlah besar yaitu 9.776 orang, dengan volume produksi 7.480 ton senilai Rp. 1.735.000.000,-. Selain untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal, pemasaran kelapa telah menjangkau wilayah Kalimantan Selatan dan sekitarnya, sementara bibit yang digunakan berasal dari daerah lokal dengan jumlah ketersediaan cukup. Kecamatan yang sangat potensial adalah Kecamatan Kusai Hilir dan Satui Tingkat per tumbuhan produksi kelapa diper­kirakan rata-rata mencapai 9% per tahun. Komoditas kelapa memiliki kemanfaatan yang amat tinggi sehingga memiliki keterkaitan hulu hilir yang tinggi pula. Pemanfaatannya antara lain dipergunakan untuk membuat kopra sebagai bahan minyak goreng ser ta bumbu masak. Industri hilir yang bisa dikembangkan dari hasil perkebunan kelapa adalah industri Nata de Coco. Bahan sisa seper ti tempurung kelapa dipergunakan untuk memasok industri kerajinan. Lidi ber fungsi untuk membuat sapu lidi sedangkan sabut kelapa dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri kerajinan sapu.

batang ekivalen 1 M3 kayu karet), jumlah kayu gergajian 787.589 M3  (potensi kayu karet gergajian rata-rata 43.5 M3/hektar). Program peremajaan karet tua dikombinasikan dengan budaya setempat (berladang), tanaman sela padi/palawija dan atau tanaman kehutanan (sengon). Lahan masih tersedia dengan mencabut kembali ijin-ijin arahan/lokasi untuk perusahaan yang tidak serius ser ta melalui pola kemitraan guna mengakomodir lahan-lahan milik masyarakat sekitar perusahaan. Total Produksi selama tahun 2007 kedua komoditi ini mampu menghasilkan 10.434.18 Ton Karet Mentah. Kecamatan yang sangat potensial adalah Kecamatan Kusan Hulu, Sungai Loban dan Satui.

Ikan gabus

111

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


POTENSI DAERAH

Pemandangan laut yang indah

Perikanan dan Peternakan Peluang pengembangan investasi di sektor Kelautan dan Perikanan di Kabupaten Tanah Bumbu memiliki prospek yang sangat cerah, hal ini dikarenakan secara alami Kabupaten Tanah Bumbu memiliki wilayah pesisir dan laut yang cukup luas. Beberapa peluang pengembangan investasi yang layak dikembangkan antara lain usaha budidaya udang windu, budidaya rumput laut, budidaya ikan kerapu, industri pembekuan ikan dan cold storage, industri terasi udang, industri pengolahan ikan asin, dan industri konstruksi kapal penangkap ikan. / JUNI 2012/ TAHUN IV

112

Tradisi masyakat Tanah Bumbu, Kalimantan


Dengan ketersediaan SDM yang mencukupi, terutama untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja dan ketersediaan infrastruktur yang memadai seper ti jaringan jalan dan pelabuhan ser ta infrastruktur lainnya. Maka peluang keberhasilan investasi sektor kelautan dan perikanan di Kabupaten Tanah Bumbu menjadi sangat besar. Besarnya potensi perikanan Kabupaten Tanah Bumbu menjadikan subsektor perikanan, yang memiliki nilai cukup strategis dalam peta perekonomian daerah maupun antar kabupaten. Kecamatan-kecamatan di Kabupaten Tanah Bumbu paling tidak memiliki satu potensi perikanan- potensi perikanan perairan laut, perairan umum atau budidaya. Tahun 2007 saja, total produksi perikanan Tanah Bumbu sebesar 38.974.79 ton. Sebesar 96.20% merupakan produksi perairan laut. Kecamatan yang memiliki tingkat produksi perikanan terbanyak adalah Simpang Empat, sebesar 9.587.20 ton. Sementara itu, produksi perikanan umum paling besar dari jenis ikan gabus. Tahun 2006 produksinya mencapai 121.30 ton. Jenis ternak besar terbanyak di Kabupaten Tanah Bumbu pada tahun 2006 berupa ternak sapi yang mencapai 29.303 ekor, yang sebagian besar berada di Kecamatan Sungai Loban. Sedangkan jenis unggas terbesarnya berupa ternak ayam buras, ayam ras dan itik. Kecamatan Sungai Loban merupakan daerah potensial untuk kegiatan peternakan, dimana populasi sapi dan ayam buras terbesar berada di daerah tersebut.

Bukan Hanya Batubara

Acara adat di pantai

Kabupaten Tanah Bumbu memang masih identik dengan komoditas batubara. Usaha pengelolaan tambang batubara baik dalam skala kecil maupun besar, sangat diminati. Padahal selain batubara, Kabupaten Tanah Bumbu juga memiliki potensi bahan tambang lain yang sangat

113

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


POTENSI DAERAH

berpotensi untuk dikembangkan. Sebut saja kromit, batu gamping, kaolin, pasir kuarsa, marmer, posfat, peridotit, dan andesit. Untuk bahan-bahan tambang ini, peminatnya masih sedikit sehingga peluang investasi masih terbuka lebar. Apalagi permintaan bahan tambang untuk kebutuhan luar negeri cenderung naik setiap tahun. Secara umum, komoditas batu足 bara kandungan kalori tinggi dapat langsung dijual dalam bentuk bahan mentah. Permintaan bahan tambang ini memang masih sangat tinggi. Batubara kualitas rendah dapat ditingkatkan nilai tambahnya menjadi briket batubara. Ini merupakan peluang investasi lain yang bisa dikembangkan sebagai industr y hilir per tambangan.

Hotel penginapan bagi turis

S te p se S m Z k H ta

P C W S ta B M

L D m ju w S R

Tambang batu bara Tanah Bumbu / JUNI 2012/ TAHUN IV

114


Buku ini Berisi, eh lebih tepatnya BerisiK, banyak hal diungkapkan, antara lain : --BisNis yg awalnya Bisik-bisik manis.. --Rahasia mencari wangsit di lapangan, yakni wangsit sepakbola --makna yang dalam dan bikin malu dari kata-kata: Gadai Pasti Berlalu --Rahasia mesin 4 tak pada delman --Makanan Shakespeare yg membuatnya punya ide cemerlang --Memaknai Halangan dan Rem Tangan dalam berbisnis --Mengapa tiap orang wajib jualan kaos, karena beKaos. Manfaat: --menjadikan Senin tidak mboSenin --mengatasi Serangan Umum Sabtu Macet --mengatasi kesedihan dengan metode Keep Less Sad (kepleset) --Hidup penuh IDE never DIE

Saya Wahyu Liz Adaideaja, seorang Pakar. Lebih tepatnya pakar makan tanaman. Lahir 23 Juni. Hari pasaran Senin Kliwon, oleh karena itu julukannya seperti artis Korea, Coy Siwon (Cowok Yogya lahir Senin kliWon). Coy Siwon personil SuJu, saya sendiri memang termasuk Suju, Suka Jualan. Zodiak saya unik, Zodiak Payung Sebelum Hujan, itu karena saya lahir di Kota Plesetan, Zodiakarta Hadiningrat. CanCer, yg berarti Canda Ceria, Cantai tapi Cerius. Prestasi waktu TK adalah lulus dengan predikat Ciumlaugh, ketawa-ketawa diciumin.. Waktu SD juara Lompat Jauh.. jauh dari harapan. Saya meraih penghargaan Inspirasi Indonesia Sejati tahun 2011, dan ISMBEA (Indonesian Small Medium Business Entrepreneur Award) tahun 2012 dari Menteri Koperasi dan UKM Republik Indonesia.. Latar Belakang Buku Emperpreneur Dulu, Rafles menulis History of Java, dan hari ini saya merilis buku yang isinya Hi Hi Hi story of Java. judulnya emperpreneur. Buku Plesetan motivasi wirausaha. Saya bukan titisan Rafles. tapi bercita-cita jadi Rafles, Raja Flesetan.

Bagaimana cara menikmati buku ini: Anda bisa sambil menikmati camilan atau cepuluh, minum kopi. Dan menikmati tiap kata-kata dari buku ini. Bersiaplah, “akan COOKIESahkan pada dunia, KUEdarkan melalui berita, bahwa hidup ini CAKE and give, berBAKERY pada negeri jadikan ROTInitas sehari-hari..majulah maju, BROWNIS karena benar..! ringan sama dijinjing, BREAD sama dipikul..yakinlah kita PASTRY bisa!� Emperpreneur: From Emperan to Empire Penerbit: Tiga Serangkai, Solo, Mei 2012 Pemesanan untuk edisi perdana: Plus kaos dan tandatangan berikut salam manis dari penulisnya: Adaideaja Tbk (Tukang bikin kaos) adaideaja@gmail.com 085728309759 kalau anda ketawa, ajak adiknya, biar Ngakak Beraddict, keCanduan Canda. Semoga Mengharukan www.wahyuliz.com www.adaideaja.com @wahyuliz 115

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


POTENSI DAERAH

Sampai saat ini pemakaian briket batubara sebagai sumber energi alternatif masih relatif kecil. Padahal dengan cadangan batubara yang sangat besar, penggunaan briket batubara diperkirakan masih akan terus meningkat. Pangsa pasar briket batubara di Indonesia diperkirakan masih cukup potensial. Setidaknya untuk kawasan Jawa, Bali dan Nusa Tenggara terutama untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar pengganti untuk rumah tangga dan industri kecil.

Wisata Mempesona Salah satu sektor yang diharap memberi kontribusi besar, dalam upaya mendorong per tumbuhan wilayah Kabupaten Tanah Bumbu yang sedang tumbuh dan berkembang adalah sektor pariwisata. Peluang pengembangan sektor pariwisata di Kabupaten Tanah Bumbu masih sangat terbuka lebar dan dapat dijadikan sebagai salah satu unggulan. Terutama

karena potensi wisata di kabupaten ini cukup lengkap. Apalagi, sarana pendukung seper ti jalan darat yang makin baik membuat sektor wisata makin penting ar tinya bagi usaha pengembangan ekonomi. Di Kabupaten Tanah Bumbu investasi di sektor pariwisata diarahkan untuk pengembangan infrastruktur transpor tasi dan penyediaan fasilitas pendukung yang masih sangat kurang seper ti hotel dan restoran, biro perjalanan wisata hingga toko cinderamata. Ada sekitar 20 lebih lokasi yang sangat potensial dijadikan obyek wisata di Kabupaten Tanah Bumbu. Untuk wisata pantai, ada lebih dari 5 pantai yang siap menjadi tujuan wisata. Misalnya saja, Pantai Tanjung Petang, Pantai Pagatan, Pantai Sei Lembu, Pantai Cemara Indah dan Pantai Rindu Alam di Kecamatan Kusan Hilir. Di Kecamatan Salui ada Pantai Bunati dan di Kecamatan Sei Loban ada pantai Tanjung Batu. Hotel, restoran, pemancingan hingga toko souvenir merupakan peluang yang bisa diambil.

Pantai Pagatan kab. Tanah Bumbu

/ JUNI 2012/ TAHUN IV

116


Jembatan Romantic Angsana Beach

Masih seputar wisata air dan bahari, ada Pulau Burung, Pulau Swangi, Air Terjun Perbatasan Sei Dua Serongga dan Wisata Alam Batu Kemudi di Kecamatan Batulicin. Juga ada wisata air panas di Sei Loban. Obyek-obyek wisata ini cocok dikembangkan sebagai obyek wisata keluarga. Untuk penyuka petualangan, ada 4 gua menarik di Kecamatan Batulicin yang cocok dijadikan lokasi wisata semi-petualangan ; Goa Sugung, Goa Kodok, Goa Sedayau dan Goa Batu Kapur Lalu ada juga potensi wisata religius seper ti Upacara Ngaben di Desa Harapan Maju, Kecamatan Batulicin. Mappanretasi di Kusan Hilir dan Babalian Tandik di Batulicin. Beberapa obyek ziarah yang juga berpotensi adalah Situs Makam Pahlawan Mattone, Situs makam Muhammad Arsyad Al Banjari dan Situs Makam Raja Purang Aj Toa di Kusan Hilir. Di Kusan Hulu ada Situs Makam Pangeran Muhammad Nafiz. Sedangkan

Suasana sunset di pantai Pagatan

di Ansana dan Batulicin ada Situs Makam Syarif Ali dan Situs Makam Raja-Raja Batulicin. Dengan potensi beragam ini, Kabupaten Tanah Bumbu memang layak menjadi tujuan investasi. Apalagi Kalimantan merupakan pulau dengan laju peningkatan ekonomi yang cukup tinggi dan aman dari ancaman bencana alam. ď ŽWendy Danoeatmadja/Dari Berbagai Sumber

117

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


EXPO

Alat Keamanan Mandiri HP Senjata Listrik Senjata berbentuk handphone ini bisa memancarkan listrik sebesar 1.200.000 volt, tampak tidak berbahaya tapi dapat mengejutkan penyerang. Pistol setrum ini tujuannya untuk pertahanan diri, tidak mematikan sehingga memberikan Anda waktu untuk menyelamatkan diri. Sumber tegangan: 4,8 V dengan baterai charge isi ulang, namun output tegangannya 1200KV, ukurannya 110 × 50 × 22 (mm). Harga perunit berkisar Rp 720.000,-

Senter Setrum Bentuknya seperti senter, namun kegunaannya cukup meyakinkan. Sehingga dapat melindungi diri sendiri maupun orang lain yang membutuhkannya. Alat kejut bervoltase tinggi ini berkekuatan 3000 KV, input voltage 4.5 V DC dengan baterai internal re-chargeable mampu 1 minggu standby. Alat yang berukuran 185mmx33mm ini menggunakan super LED flash light, sehingga dapat berfungsi sebagai senter. Harga Berkisar Rp 270 ribu.

Pepper Spray Untuk melindungi diri, perangkat ini cukup efisien. Bentuknya kecil cocok untuk dibawa di tas terutama kaum wanita. Sediakan di mobil, jika diperlukan sebagai pengaman tindak kriminal. Semprotan merica di mata, setidaknya mampu mengusir penjahat. Harganya sangat terjangkau Rp 70 ribu

/ JUNI 2012/ TAHUN IV

118


Rawannya kriminalitas perlu diwaspadai oleh setiap individu, apa lagi di kota besar seperti Jakarta misal pencopetan, pencurian, pemerkosaan dan lain-lain. Perlu adanya proteksi diri yang dipersiapkan untuk mencegah insiden. Ada beberapa alat yang diperlukan untuk menjaga keamanan, mungkin bisa menjadi lahan usaha Anda? (Dari berbagai sumber)

Stun Gun Tongkat penyelamat ini memiliki daya kejut yang cukup besar karena dapat memancarkan voltage 8000 KV. Cukup aman karena jangkauannya bisa diperpanjang hingga 50 cm. Menggunakan Super LED flash light sehingga berfungsi sebagai senter, kelebihannya memiliki sirine sebagai pemanggil massa. Alat keamanan yang berbaterai internal re-chargeable ini dipatok harga Rp 380 ribu.

CCTV (Closed Circuit TeleVision) Kamera pengawas ini memang tergolong efektif dalam meminimalisir terjadinya tindak kriminalitas di area publik. Tidak saja dipasang di pusat perbelanjaan, hotel, tempat umum tapi juga di kediaman pribadi. Desain ini diperkuat dengan waterproof & vandalproof , juga berkwualitas Hi-Resolution video serta support mode Day/Night. Jangkauan kamera mencapai 300 m, bisa diawasi dari layar monitor. Harga satu unit kira-kira Rp 1, 5 juta.

GPS AutoTrack Banyaknya pencurian mobil membuat Anda harus super hati-hati. Alat keamanan GPS ini akan mendeteksi lokasi keberadaan kendaraan, sehingga mudah dilacak dalam pencarian. Selain itu juga mampu mengirim informasi pada pemilik jika kendaraan dibuka pintunya, menyalakan mesin dan pergerakannya. Pemilik bisa mematikan mesin dimana pun kendaraan berada melalui internet. Harga perangkat GPS seharga Rp 2, 5 juta.ď Ž

119

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


INFO

Dari 35 peserta InspiraTrip, sebagian besar adalah mereka yang telah membuka jalur usaha. Bagaimana sepak terjangnya di dunia bisnis, mari kita ikuti profilnya setidaknya menjadi inspirasi bagi Anda dalam berwirausaha.

Hanisah Pramsiska

Spesial Bisnis Busana Gamis

P

engusaha yang mengikuti kegiatan InspiraTrip Bali 2012 ini memang benar-benar kreatif, bisnisnya Palugada (Apa lu mau gua ada). Berbisnis baju mulai mendesign, menjahit hingga menjual dilakukan sendiri secara langsung. Lalu budidaya ternak ikan lele, wedding organizer, catering, kursus menyulam hingga membuat aksesoris. Bagi Hanisah Pramsiska, kelahiran 6 Januari 1980, mengikuti kegiatan InspiraTrip tujuannya semata-mata bukan hanya sekedar menambah teman, tetapi juga menambah ide bisnis dan memperluas jaringan bisnis yang sudah ia jalani. Sejak tahun 2006 produk fashion busana muslimnya dipasarkan di Mega Bekasi Hypermall dengan nama “Qory-Qory Collection”. Ide bisnis fashion tersebut berawal dari hobi nya berbelanja dan kegemarannya memadu - padankan baju dan aksesorinya. “Awalnya melihat teman-teman kuliah serta dosen-dosen berpakaian selalu senada. Hal ini menginspirasi saya untuk keluar dari jalur mode yang serasi, bukan berarti tabrak warna tidak bagus, malah terlihat lebih fresh dan eksotik…”papar wanita yang hobbi travelling ini. Modal awal sebesar 80 juta rupiah dengan rincian 20 juta untuk membeli perlengkapan kios, etalase, hanger, patung, ambalan kaca. 40 juta untuk mesin jahit, obras, neci border, bahan, benang dan lain-lain, dan 20 juta untuk membeli pakaian jadi. Dalam sehari baru bisa memproduksi 4 - 5 gamis saja. “ Untuk kualitas, insya Allah tidak mengecewakan, karena saya sudah mengirim barang ke teman-teman, saudara saya yang ada di berbagai wilayah seperti Palembang, KalSel, Purwokerto, Malang, Bandung, Banten, Jogja, Solo,” papar ibu dua anak ini. Promosi melalui bazar-bazar yang diadakan komunitas UKM, ataupun pameran Smesco, Jakarta. Dan biasanya melalui website, newsletter, banner. Saat ini barang yang diproduksi masih sebatas gamis dengan kisaran harga sekitar Rp 130 ribu sampai Rp 2,5 juta dengan keuntungan mencapai Rp 15 juta. Pengidola BJ.Habibi ini juga membuka bisnis budidaya ternak lele, di bidang ini ia mampu mempekerjakan banyak orang yang menganggur di lingkungannya. “Saya berpikir daripada saya kasih mereka ikan, lebih baik saya kasih kailnya, padahal saya tidak menger ti banyak bisnis lele,” ungkap Hanisah. Teks: Imas Maslihah

/ JUNI 2012/ TAHUN IV

120


Muhammad Arif Hidayat

Batik Pekalongan Omzet 200 Juta

P

engusaha kelahiran Pekalongan 23 Agustus 1979 ini, merupakan salah satu peserta InspiraTrip Majalah Elshinta ke 3 di Bali. Motivasi mengikuti program ini karena ingin mencari peluang untuk mengembangkan usahanya di Pulau Dewata. Baginya Bali merupakan etalase Indonesia untuk membuka peluang bisnis eksport. Bisnis garmen Batik Martha yang diproduksi di kota Pekalongan ini, merupakan usaha keluarga yang dimulai tahun 2002. Meski demikian bakat bisnisnya sudah terasah sejak duduk di bangku kuliah, ketika itu Muhammad Arif Hidayat menjual batik secara retail, menjadi suplier buah jeruk di pasar Cikampek sampai memboyong grup band Sheila on 7 konser di Pekalongan. “Lulus kuliah pada tahun 2001, saya bekerja kantoran di anak perusahaan SingTel Singapore. Saya tidak gabung di Batik Martha, saya tidak mau dianggap mengekor usaha yang dirintis Bapak. Saya ingin membuktikan bisa mewujudkan usaha dari nol, sayangnya tidak berlangsung lama. Namun ketika kondisi pabrik tidak stabil akibat krisis pasar global, sebagai putra pertama ya saya siap meneruskan usaha keluarga,â€? papar pengusaha yang hobi fotografi dan design grafis ini. Selain memproduksi garmen batik CV. Batik Martha, juga menerima pesanan souvenir berbahan dasar batik seperti tas batik. Kapasitas pabriknya sekitar 500 meter untuk meja sablon, kini sudah tersedia 6 meja sablon panjang masing-masing 30 meter. Proses sablon dikerjakan sendiri, sedangkan design yang masih mentah biasanya diperlukan waktu 3 minggu untuk pembuatan cetakan, penyablonan dan juga proses jahit. Promosi selain melalui website resminya di http://www. seragambatikmurah.com, Arif juga melakukan cara menjemput bola dengan menawarkan langsung kepada user di samping berniat mengikuti pameran. Perusahaan ini menitikberatkan pada job order, sedangkan penjualan secara retail baru 2 tahun ini dilakukan di pasar Tanah Abang – Jakarta. Menurut bapak dari dua orang anak ini, ia juga akan mencoba terjun di bisnis kaos distro. Konsumennya saat ini datang dari sekolah-sekolah, perusahaan swasta, dan instansi pemerintahan. Harga penjualan produknya berkisar antara 30 ribu sampai 150 ribu rupiah, jika pemesanannya dalam jumlah besar maka akan diberikan diskon. Walaupun harga relatif murah, Batik Martha tetap mengedepankan kualitas demi kepuasan konsumen. Wajar saja jika dari produk retailnya mampu mendatangkan omzet Rp 200 juta perbulannya. Teks: Imas Maslihah

121

/ JUNI 2012/ TAHUN IV


Peluang dan Inspirasi Bisnis

PERTANYAAN: MENDATAR 1. Berkurang. 4. Tidak dikenal. 7. Praja Muda Karana. 8.Kantor Berita Jerman Timur. 9. Olahraga dengan semedi. 11. Kakak Laki laki. 12. Amat,sekali. 14. Puasa. 16. Bagian muka yang bawah sekali. 19. Dasar. 21. Kepala Bagian(disingkat). 22.Serta. 25. Bola 26. Sedih hati. 27. Terkenal. 28. Rawat.

FORMULIR BERLANGGANAN MAJALAH ELSHINTA Untuk berlangganan

Rp 59.400 (6 Bulan)

Rp 112.200 (12Bulan)

Nama : ...................................................................................................................... Alamat : .......................................................................................................................

.............................................................................Kode Pos ..............................

Telp/ Hp : ...................................................................................................................... Transfer pada tanggal ............................................a/n PT. Nuansa Karya Berita, No rekening BCA 459.30.21.958 Cabang Wisma Indocement Mengirim Uang Sejumlah Rp ................................................................................................... Permintaan edisi .........................................s/d......................................................................... Untuk wilayah Jabodetabek harga sudah termasuk ongkos kirim Untuk wilayah lain harap hubungi Redaksi Majalah Elshinta Telp : (62-21) 58359108 (62-21) 58359112 Fax : (62-21) 58359094

Tanda Tangan

(

)

* Bukti transfer dan data diri bisa dikirim melalui fax : (62-21) 58359094-95 ** Konfirmasikan fax Anda ke Hotline Pelanggan

/ APRIL 2012/ TAHUN IV

122

MENURUN 1. Agar. 2. Lawan dari malam. 3.Hembus. 4. Nama tanaman/ bunga. 5. Sejenis rumput liar. 6. Sungai di india. 13. Hanya terdapat dalam angan-angan. 15. Hadiah sebagai tanda balas jasa. 17. Minuman penting bagi balita. 18. Hasil suatu perbuatan. 20. Tingkat. 23. Muara sungai. 24. Elus.


/ APRIL 2012/ TAHUN IV

124

Majalah Elshinta Edisi Juni 2012  

Majalah Elshinta Edisi Juni 2012