Issuu on Google+


SENARAI

PRAKATA

Aforisme………………1 Ulas………………4 Teroka………………6 Matra………………11 Plot………………12, 18 Pardika………………17 Pukau………………21

Selayaknya sebuah cerita, pasti memiliki awal. Sehingga mari kita sebut edisi September ini sebagai awal dari cerita. Sebuah pengenalan pertama tentang ide “gila” bernama AKAR. “Buah jiwa bersalin rupa” Edisi ini mengusung tema besar “Jati Diri”, yang mana tujuh orang pengusung ide AKAR masing-masing menelurkan tulisan serta karya yang mendefinisikan tema besar tersebut menurut perspektif masing-masing. Karena jati diri itu kita, dan setiap dari kita berbeda. Mari kita coba melihat terbitnya AKAR sebagai perwujudan dari kebebasan, ekspresi, dan perasaan yang tidak melulu dapat disampaikan melalui lidah dan kata. Mari kita coba melihat perspektif melalui aforisme, plot, teroka, pardika, matra, ulas, dan pukau. Semoga hadirnya AKAR dapat memberi kesegaran baru dalam dunia jurnalistik dan literasi kampus.

Pemimpin Redaksi Yasser Mandela Editor Faradha Layouting Nugi Wicaksono Ilustrasi Okti P. Zakaria Multimedia Waskitha W. Galih Dwas Syahbanu Gumai Akasiwi

Salam!

ilustrasi sampul: Okti P. Zakaria © 2013 Majalah AKAR.


aforisme

?

SIAPA KAMU, SIAPA MEREKA YASSER MANDELA

“Dek,

kalau udah gede mau jadi apa?” ”Aku mau jadi dokter, ma. Biar bisa nyembuhin temen-temenku kalau mereka sakit.” Masih ingatkah kita terhadap dialog seperti ini? Dialog klasik yang selalu diulang-ulang, dan seakan menjadi tolok ukur dari tanya-jawab klasik orangtua atau guru kepada anak atau muridnya yang masih kecil. Saat kecil dulu, ketika ditanya oleh orangtua kita ingin menjadi apa, hampir semua dari kita menjawab pekerjaan yang kita anggap keren atau pekerjaan yang digeluti oleh orang yang kita anggap keren juga. Anggapan “keren” ini benar-benar berpengaruh terhadap pola pikir anak-anak. Walaupun konteks “keren” disini mungkin agak berbeda dengan apa yang orang dewasa anggap keren. Anak-anak tersebut mengambil konsep keren secara tulus, secara murni. Tanpa terpengaruh hal-hal yang bersifat heteronom dari luar dirinya, mereka membuat keputusan akan masa depan sesuai dengan pikiran tak berpolusi. Dengan keinginan paling mendalam yang semakin dewasa semakin hilang ditelan realitas. Banyak orang yang bilang:

“Jadi anak-anak enak, ya. Enggak usah mikirin banyak masalah, cuma tinggal ngelakuin yang mereka suka aja.” Hidup sebagai seorang manusia pada hakikatnya memang bagaimana melakukan perubahan. Berubah dari anak-anak menjadi dewasa, dari bodoh menjadi pintar, atau berubah dari buruk menjadi baik. Pernyataan yang sering dikatakan oleh orang banyak tadi tidak dapat dibilang sebagai suatu yang bijaksana. Pernyataan tersebut hanyalah suatu penyesalan dari seorang yang telah dewasa. Suatu penyesalan yang terjadi karena ketidakpuasan seseorang akan keadaan yang dialaminya, karena perubahan yang dialaminya. Kembali pada pembahasan terkait impian. Impian murni si anak pada dialog di awal tulisan ini yang mengatakan kalau ia ingin menjadi dokter, apakah akan terus terjaga hingga dia dewasa dan benar-benar menjadi dokter? Bullshit. Bohong. Fana. “Apa-apaan? Gue waktu kecil memang pingin jadi dokter kok. Sekarang gue beneran jadi dokter.”

september 2013 akar. 1


AFORISME Mungkin banyak diantara kita yang berhasil bekerja sesuai dengan impian kita pada waktu kecil. Tapi, apakah itu sama dengan impian murni yang menjadi dasar kita ingin bekerja? Pada contoh kasus diatas, impian murni dari si anak dengan tujuan agar dia bisa menyembuhkan teman-temannya yang sakit. Apakah kita telah menjadi hal yang kita impikan sesuai dengan tujuan yang sama? Semakin kita dewasa, semakin kita mampu berpikir dengan baik, hal ini tentu diiringi dengan pengenalan masalah di lingkungan sekitar. Pengenalan masalah di lingkungan sekitar inilah yang sangat mempengaruhi impian serta tujuan hidup kedepannya. Ketika kita beranjak dewasa dan tiba waktu untuk memilih masa depan mana yang akan kita jalani, kebanyakan dari kita pasti lebih memilih suatu pekerjaan yang rasional. Kecenderungan untuk memilih suatu pekerjaan yang rasional ini dikarenakan kita telah mengalami proses pengenalan masalah tadi. Proses yang membawa kedewasaan kita, tetapi juga mengikiskan kemurnian tujuan hidup. Dari perjalanan hidup kita, semakin lama kita semakin mengetahui apa yang menjadi hambatan atau masalah hidup. Apakah itu karena hal-hal yang sifatnya materiil seperti harta kekayaan, yang sifatnya fisik seperti tinggi badan, yang sifatnya sosiologis seperti gaya hidup dan lingkungan pertemanan, atau mungkin yang bersifat psikis seperti kondisi mental. Kalau begitu, salahkah kita membuang tujuan murni demi kebahagiaan yang rasional tersebut?

2 akar. september 2013

Tidak, tentu saja tidak. Pada prinsipnya setiap manusia hidup untuk mengejar kebahagiaan. Namun, kebahagiaan seperti apa yang dikejar tentu sangat bergantung dengan baikburuknya sesuatu ditinjau dari sisi yang rasional tadi. Perbandingan baik-buruk ini yang pada akhirnya membuat kita tersadar mana jalan yang tepat untuk kita. Walaupun keputusan itu hanyalah klise. Klise layaknya fatamorgana di padang pasir yang luas. Lalu kita sampai pada pertanyaan terakhir, pertanyaan yang sering dilupakan oleh orang banyak ketika mencapai titik rasionalitas yang menentukan tujuan hidup: Apakah kamu bahagia? Kebahagiaan adalah salah satu konsep paling relatif yang ada di bumi. Semua orang memiliki takarannya sendiri tentang sesuatu yang membuatnya bahagia. Namun, semakin lama kita semakin dapat melihat mana kebahagiaan palsu dan mana kebahagiaan yang sebenarnya.

Pada prinsipnya setiap manusia hidup untuk mengejar kebahagiaan. Banyak sekali cerita tentang orang yang meninggalkan pekerjaan dengan status sosial yang tinggi dan pindah ke pekerjaan yang biasa saja hanya untuk mengejar suatu kebahagiaan. Disini, hati kecil merekalah yang bermain.


AFORISME Dengan membuang segala macam rasionalitas serta perbandingan baik-buruk, mereka memilih mengejar impian murni yang mampu memberikan kebahagiaan rohani. Jika ada yang bertanya kepada saya mengenai contoh idealisme paling tepat, orang-orang pengejar impian murni inilah orang dengan idealisme tak tergoyahkan meski melawan rasionalitas.

Kebahagiaan hidup adalah saat dimana kita merasa cukup akan hidup. Kebahagiaan hidup bukanlah suatu materi yang dapat diukur dengan hitungan matematis dari pythagoras. Kebahagiaan hidup bukanlah suatu kesimpulan dari gabungan perspektif mayoritas ahli filsafat. Kebahagiaan hidup bukanlah kebiasaan-kebiasaan mendarah daging yang harus diikuti karena tradisi. Kebahagiaan hidup adalah saat dimana kita merasa cukup akan hidup. Saat dimana kita mengerti esensi adanya kehidupan. Saat dimana kita dapat melihat dari berbagai perspektif tanpa meninggalkan jati diri. Saat dimana kita mulai bertanya kepada lingkungan sekitar kita: Siapa Kamu, Siapa Mereka? • • •

september 2013 akar. 3


ulas

BILLY ELLIOT (2000) Sutradara Produser Penulis Pemeran Tanggal Rilis Negara

: Stephen Daldry : Greg Brenman, Jon Finn : Lee Hall : Jamie Bell, Julie Walters, Gary Lewis, Jamie Draven : 29 September 2000 : Inggris

WASKITHA W. GALIH Seharusnya kata ‘normal’ tidak pernah ada di dunia ini. ‘Normal’ hanyalah sebuah standar, stereotype, yang menyebabkan orangorang yang tidak mengikuti standar itu disebut ‘tidak normal’. Mimpi atau tujuan hidup orangorang yang ‘tidak normal’ bertentangan dengan standar ke-‘normal’-an dunia. Orang-orang yang ‘tidak normal’ itu bukan orang-orang yang mendapatkan tempat istimewa dalam proses perjuangan meraih mimpi-mimpi mereka yang ‘tidak normal’. Orang-orang yang ‘tidak normal’ mempunyai mimpi yang melawan keseragaman, kewajaran, status quo, dan stereotipi. Bahkan, tidak sedikit dari orang-orang yang ‘tidak normal’ itu harus menipu dirinya sendiri untuk me‘normal’-kan diri, agar diterima dalam standar ‘normal’ dunia. Billy Elliot (2000) adalah sebuah cerita mengenai seseorang bernama sesuai judul, karakter berusia 11 tahun, yang berjuang meraih mimpinya yang ‘tidak normal’.

4 akar. september 2013

Billy hidup di sebuah desa di Inggris Utara pada tahun 1985-an dengan seorang nenek yang sakit-sakitan dan pikun, seorang ayah dan seorang kakak laki-laki yang keduanya bekerja sebagai penambang di sebuah perusahaan tambang batu bara. Sebuah pekerjaan yang ‘umum’ dijalani oleh laki-laki di desa Billy saat itu. Lingkungan desa Billy adalah lingkungan yang keras dan maskulin, apalagi di masa itu sedang terjadi aksi demo buruh tambang melawan perusahaan tambang yang mempekerjakan mereka. Di antara para buruh, pendemo yang paling vokal adalah ayah dan kakak Billy. Ayah Billy mendaftarkan Billy ke klub tinju junior sehingga Billy bisa berlatih tinju rutin di klub tersebut. Billy sendiri tidak begitu menyukai tinju dan ia payah dalam bertinju. Latihan tinju diadakan di sebuah sports hall yang juga dipakai untuk mengadakan les balet oleh Mrs. Wilkinson dengan jadwal latihan yang sama


ULAS

dengan tinju. Pada suatu saat, setelah sebuah sesi latihan tinju selesai, Billy mengamati latihan ballet yang dipimpin oleh Mrs. Wilkinson. Billy terkesima dengan gerakan-gerakan indah yang diperagakan murid-murid Mrs. Wilkinson. Seorang murid Mrs. Wilkinson mengajak Billy untuk bergabung latihan dan sejak itulah Billy mencintai balet. Pertentangan pun datang, tentu saja dari ayah Billy yang keras kepala. Ia menganggap balet hanya untuk perempuan dan bahkan ia khawatir balet akan mempengaruhi orientasi seksual Billy. Billy berpendapat bahwa penari balet laki-laki pun tidak kalah jantan dan atletis dari atlet-atlet kebanyakan. Terus menerus ditekan juga menyebabkan Billy meragukan kecintaannya akan balet, padahal Billy memiliki kesempatan untuk mendapatkan beasiswa masuk sekolah balet ternama di London. Film ini memiliki cerita yang menyentuh, mengharukan dan menginspirasi tentang bermimpi, menjadi diri sendiri dan bagaimana menerima perbedaan. Film ini adalah untuk kalian yang merasa berbeda. Ketika mimpimu tidak sama dengan orang lain dan dunia mencibirmu, selama apa yang kamu lakukan adalah benar-benar apa yang kamu cintai, tetap lakukan itu dan jawab dunia dengan berbagai kontribusi dan karya yang mengagumkan. •••

september 2013 akar. 5


teroka

GUMAI AKASIWI

Judul Gambar: Grasshopper’s Revenge Karya: Anis Ekowindu Foto: Jaya Lim

diambil dari :indonesiakreatif.net/news/liputan-event/balas-dendam-si-belalang-kisah-manusia-dan-alam-dalam-kanvas-anis-ekowindu/

Terbang ia terbang.

Mendekat ia menyapa tiga rekannya.

Lega, berkatnya pancung yang hendak menerbangkan pita suaraku dari asalnya tertunda; Aku aman sementara. Ketiganya tersenyum kecut kecuali si yang baru datang dengan raut keheranan. Aku terikat, disekap, masih. Ku simak percakapan mereka bak cucu

6 akar. september 2013

yang merasakan keriput bibir nenek membacakan dongeng sepatu kaca, “Mengapa kalian sekap dan hendak pancung dia?” si kecil itu mulai berbisik lengking. “Saya lelah dimanja dengan kemunafikan, tubuh ini haus akan jarak yang jauh, bukan rumah palsu, saya rindu mencari pangan dengan indera yang lihai, saya muak menyalin bahasa mereka dan itu merusak kerongkongan ini, saya dipaksa terlihat cantik”


TEROKA “Jangan secengeng itu, kau tidak seberapa. Lihat aku, aku memang setegar alam, tapi tidak kuat pula aku lihat mereka membakar dan menghancurkan tempat tinggal kami, bahkan istriku dikuliti untuk sandang baru istri mereka!” Keringatku ikut terhenti ketika kulihat dia tidak sabar mengayunkan sebuah parang ke arahku. Ingin aku memeluk rekan mereka yang ketiga karena berhasil mencegah parang itu terjun dari atas leherku dengan satu sisa tangannya. “Jangan gegabah, tolol! Kau tidak berhak mengayunkan itu sendirian, kalian berdua masih beruntung, lihat sebelah tanganku hilang entah kemana, ini pun karena berhasil kabur dari tanggapan gila mereka, entah kenapa keluarga kami menjadi buronan, istriku juga dikuliti hingga darahnya bercampur dengan airmata anak anakku, mengapa kami begitu dibenci?” Tunggu, apa itu? Air matakah itu? Tapi bagaimana bisa mereka…? Si kecil pun kemudian bersuara lagi, “Wahai rekan-rekanku, mungkin aku tidak sebesar kalian, tapi aku bisa lebih kuat dari kalian, lihat alat sengat ini. Maukah kalian menyerahkan sekapan ini untukku? Aku anggap diam berarti setuju. Burung, jangan kembali ke sangkarmu, jangan biarkan mereka memaksamu menyanyi lagi, terbanglah bebas diangkasa. Harimau, kembalilah ke hutan dan buatlah pasukan agar sewaktu-waktu kalian bisa menyerang mereka yang merusak jantun kota. Buaya, bergegaslah dan janganlah merengek disini , lindungilah dirimu, jangan gunakan dendam untuk membalas mereka. sekarang dia urusanku.”

Lebah itu meruncingkan sengatannya dan mendekati pori-poriku. “Aku baru tahu. Aku baru sadar, ternyata kau pintar bersandiwara, aku salut. Tapi setidaknya kau baik telah memberikan kami penangkaran untuk menghasilkan madu yang kami cintai. Aku punya satu alat sengat, kau punya segalanya tapi kaku terikat. hanya satu yang kutanya, apakah kamu mau melanjutkan perbuatan jahatmu pada teman-temanku? Meluncur atau tidaknya sengatanku tergantung pada jawabanmu, wahai yang kukagumi, manusia.” Lidahku kaku, otakku beradu gugup antara beban dan kenyataan bahwa aku telah mencuri banyak madunya. Apa yang harus kujawab? Bantulah aku menjawab lebah ini dengan aksimu, wahai rekan manusiaku. •••

september 2013 akar. 7


TEROKA OKTI PRIMURIANTI ZAKARIA

gambar: Okti P.Z.

SPOTLIGHT!

Aku mengernyitkan kening Menyipitkan mata

Kau terlalu menyilaukan sesungguhnya Kau disana begitu mengagumkan Begitu: SEGALANYA. Aku melambai pelan, tak sanggup mendekat Dan dari jarak ini kudengar, sayup-sayup renyah suaramu yang berkata riang namun menenangkan. Tunggu, kenapa ada rintih tajam disana? Wahai kau yang punya paket terlengkap kehidupan, kenapa gerangan suara parau itu terdengar? Kau tersenyum, dan bukan bahagia yang kutemukan.

8 akar. september 2013


TEROKA

Perlahan jarak mulai meretas, kini kau dan aku hanya terpisah satu lapisan tipis namun kokoh bernama kepercayaan. Milikku? Ya Masih tak yakin aku, Jadi kau bisa disentuh? Aku menggumam pelan Kau mengangguk, dan kala pertama epidermisku dan milikmu bertemu, sebuah cerita baru mulai menuturkan rasanya Rasa pertama tentang pagi-pagi yang bias karena sisa pesta tadi malam Tentang siang-siang penuh keceriaan yang tampaknya begitu membahagiakan Perasaan ketika senja-senja datang dengan cepat menyerbu hati yang belum sempat terhangatkan Dan rasa ketika malam-malam gulita menyergap begitu saja, menyergapmu. Dan setelah sekian lama kulihat kau bersinar di atas sana, dari jarak sedekat ini aku akhirnya menemukan sesuatu: DIRIMU.

Di tengah lautan manusia yang tiap detiknya mengagungkan namamu, Di tengah setiap wanita yang memohon namamu tercetak manis di kartu keluarganya, Dan di tengah hamparan dollar yang mengalir deras ke rekeningmu. YA, KAU SENDIRI. Mungkinkah karena kau terlalu tinggi dan menyilaukan? Dan semakin lama genggaman kita bertautan, rasa ini semakin kejam menghantam DINGIN, dingin yang penuh kehampaan. Sekian ratus sekon terlampaui, kutatap matamu penuh tanya Wahai kau yang kupikir begitu sempurna, sungguh SESAK ini menyakitkan. Begitukah rasanya berada di atas sana? Aku tak kuasa membendung tanya. Suara lembutmu yang lirih mulai menyapa membran timpaniku “Ketahuilah, aku juga manusia” Kemudian perlahan rengkuhanmu semakin kuat menenggelamkan tubuhku dalam rasamu. Ya, aku mengerti kini •••

Kau yang berkaus oblong dengan celana pendek selutut. Kau yang berjalan tanpa alas kaki dengan segelas air putih di tangan. Ya, kau yang tanpa jas dan dasi abu-abu lengkap dengan pantofel hitam nan mengkilat yang biasanya kau tunjukkan di hadapan semua orang Dan aku menemukan KAU SENDIRIAN.

september 2013 akar. 9


TEROKA NUGI WICAKSONO

“Nak, kamu jangan pernah merasa sendiri, ya.” “Harus begini biar lo enggak sendirian.” Apa boleh buat, hingga kini saya berusaha untuk tidak sendiri. Atau paling tidak merasa tidak sendiri. Tapi apapun juga, semua bermuara kepada satu titik; yakni kesendirian itu sendiri. Kesendirian bukannya nihil; kesendirian bukan ketiadaan. Kesendirian itu tempat berkaca paling baik di bumi! sen·di·ri adv 1 a seorang diri; tidak dng orang lain; 2 a tidak dibantu (dipengaruhi) orang lain.

Selama saya sendiri, pasti timbul pertanyaan-pertanyaan dan ide-ide yang nampaknya kurang ajar jika dilakukan. Namun itu semua buah kesendirian, segala proses berpikir, hingga sikap tindak sekalipun! Betapa ajaib kesendirian, bukan? Lalu bagaimana kita bisa mengenal diri sendiri; jika kita tidak pernah sendiri? Masih sedih dirundung kesendirian? Untuk menjadi sendiri memang menyedihkan, namun tentu saja (menjadi) sendiri tetap dinikmati bagaimanapun caranya. Banyak orang yang membayar berjuta-juta <<satuan bayar>> untuk sendiri!! Terlalu ramai pun tidak baik, bahkan kalau keramaian itu timbul karena seorang jua! Menjadi sendiri bukan berarti menyepi (retreat) dari alam kehidupan, hanya sekedar mencari kenyamanan yang tidak dapat dicari pada kegiatan apapun. Maka bersyukurlah menjadi (diri) sendiri! •••

10 akar. september 2013


matra

gambar: Olla

september 2013 akar. 11


plot

BELALANG WASKITHA W. GALIH

“Apakah kau percaya pada reinkarnasi?” Merupakan suatu hal yang tidak biasa ketika dua ekor belalang sembah melakukan perkawinan di musim dingin. Tapi itulah yang baru saja dilakukan oleh Si Jantan, Mantis, dan Si Betina, Mathilda, di sebuah pohon kamboja kecil yang ditanam di sebuah taman dalam ruang sebuah restoran sushi. Di bawah pohon itu, terdapat sebuah kolam kecil yang berisi terataiteratai yang mengapung, memenuhi permukaan air. Udara di restoran sushi yang hangat, membuat mereka bertahan hidup dari serangan udara dingin saat itu. Mathilda tidak segera menjawab pertanyaan Mantis, ia lebih memilih diam. Dua belalang itu sangat santai, menikmati musik klasik yang mengalun lamban dan mengamati orang-orang yang berada di restoran sushi itu. “Pertanyaan yang sangat melankolis. Kau tidak perlu bersedih, kau tahu itu. Malah seharusnya kita sudah mati di musim dingin seperti ini, Mantis,” Mathilda tersenyum menatap Mantis. “Aku tidak bersedih karena kita, Mathilda. Justru aku sangat bersyukur akhirnya aku bisa menemukanmu di tempat ini. Aku bahkan

12 akar. september 2013

sudah yakin hidupku akan sia-sia dan mati beku di musim dingin, hingga akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke restoran sushi ini—dan menemukanmu. Aku malahan sangat beruntung, Mathilda. Aku tidak perlu bersaing dengan belalang jantan lain untuk mendapatkanmu. Di luar sana aku melihat betapa brutalnya belalangbelalang jantan bertarung untuk mendapatkan seekor betina.” “Mengapa kau tidak ikut bersaing di luar sana?” Mantis terdiam. Ia memandangi seorang tua yang sedang berusaha mengambil sepotong sushi dengan sumpit yang ia genggam dengan tangannya yang gemetaran. Mantis kemudian menoleh ke arah Mathilda.


PLOT: BELALANG “Kau sendiri mengapa berada di sini, Mathilda?” Mereka berdua tergelak, tertawa ringan hingga terbahak. Menertawakan diri mereka sendiri, yang sedang bersantai di restoran sushi. “Sebutlah kita ini bukan belalang biasa,” ujar Mantis seraya menangkap seekor semut hitam yang berukuran agak besar yang berjalan di bawahnya, mengunyahnya sedikit dan memberikan setengah semut itu kepada Mathilda. “Setuju,” Mathilda tertawa kecil sambil menerima semut itu, kemudian mengunyahnya pelan. “Bahkan sekarang aku memakan semut ini. Jika saat ini musim gugur dan kita sedang di luar bersama belalang-belalang lain, aku harus segera memakanmu begitu tubuh kita terpisah, kau tahu itu kan?” “Bahkan tidak sempat berkenalan?” Mereka tergelak, sekali lagi. “Jadi, Mathilda, kau percaya pada reinkarnasi?” Mathilda menyelesaikan kunyahannya yang terakhir. “Dewi Belalang tidak pernah mengajarkan pada kita tentang reinkarnasi.” Mantis mendengus, menjawab dongkol, “Menurutku ia hanyalah sebuah dongeng yang diciptakan leluhur sebagai legitimasi mereka untuk menciptakan norma-norma yang diberlakukan pada seluruh umat belalang. Norma-norma yang konyol.” “Konyol?” “Konyol. Satu yang paling konyol adalah seekor betina yang harus memakan belalang jantan setelah mereka kawin dan si jantan harus rela untuk dimakan sebagai ekspresi cintanya pada si

betina. Itu hal terbodoh yang pernah kudengar.” “Dewi Belalang menyebut bahwa setelah si betina memakan si jantan, jiwa mereka akan bersatu. Itu memang terdengar romantis, Mantis. Hei, romantis dan Mantis berima!” Mathilda terkekeh. Mantis tidak menggubris kalimat terakhir Mathilda, ia lebih tertarik mengomentari kalimat pertamanya, “Jadi aku tidak akan menjadi diriku lagi? Kau juga tidak menjadi dirimu?” “Mungkin. Mungkin akan menjadi diri yang baru, jiwa yang baru. Atau mungkin menjadi salah satu dari kita. Kau benar, Mantis, memang tidak masuk akal.” “Aku lebih suka pada ide reinkarnasi, seperti yang kudengar dari para mamalia pengunyah rumput di padang rumputku dulu. Kita bukanlah kita di hidup yang lampau dan kita bukanlah kita di masa hidup selanjutnya. Bisa saja kau adalah seekor semut atau tanaman atau malah batuan di kehidupan yang terdahulu. Kini kau adalah belalang, setelah kau mati kau bisa menjadi seekor cicak atau malah menjadi seorang manusia.” “Kau sendiri ingin menjadi siapa, Mantis?” “Kita tidak bisa memutuskan untuk ingin jadi siapa, Mathilda. Menurut para mamalia itu, reinkarnasi bekerja secara acak.” “Kau memang bukan belalang biasa, Mantis. Kau bahkan berkawan dengan para mamalia pengunyah rumput.” Mantis tersenyum. Ia kemudian memutar kepalanya, berpikir sesaat, “Aku ingin menambahkan teoriku tentang reinkarnasi ini. Mung-

september 2013 akar. 13


PLOT: BELALANG kin reinkarnasi bekerja sesuai apa yang kita perbuat dalam kehidupan kita sekarang.” “Maksudmu?” “Mungkin lebih mirip seperti pengalihan energi, seperti yang terjadi pada rantai makanan. Misalnya terdapat sebuah batu yang lapuk, kemudian batu itu ditumbuhi lumut. Jiwa dalam batuan itu akan bertransformasi menjadi lumut dan rumput kecil, dan itu adalah fase kehidupan yang selanjutnya—yang berbeda. Rumput itu kemudian dimakan oleh seekor sapi yang sedang mengandung. Jiwa dalam rumput itu masuk ke dalam tubuh bayi sapi itu, yang kemudian akan lahir sebagai seekor sapi yang kuat. Sapi itu kemudian disembelih dan dimakan oleh manusia. Manusia akan mati dan diurai oleh cacing-cacing kecil. Cacing akan dimakan oleh para semut. Dan kita, baru saja memakan seekor semut. Jiwa semut itu ada dalam tubuh kita. Bukan sadar sebagai seekor semut, tapi sebagai seekor belalang atau bagian dari belalang.”

Aku curiga, bahwa kita sebenarnya adalah satu kesatuan energi, yang bertransformasi menjadi banyak bentuk dan individu. “Hei, itu konsep yang bagus, tetapi itu bukanlah reinkarnasi, Mantis.” “Ya, aku tahu dan aku baru menyadarinya sekarang. Dan konsep rantai makanan ini bahkan lebih masuk akal daripada reinkarnasi. Aku curiga, bahwa kita sebenarnya adalah satu kes-

14 akar. september 2013

atuan energi, yang bertransformasi menjadi banyak bentuk dan banyak individu.” “Jadi kita adalah jiwa yang satu?” “Ya, mungkin.” “Jadi setelah mati, kita akan ke mana, Mantis?” “Nah, aku mulai paham. Jadi begini, mungkin, setelah mati, aku akan sekedar menjadi tanah, bersatu dengan jiwa-jiwa lain, menjadi satu jiwa yang lebih besar. Atau, aku akan dimakan burung, atau dimakan serangga lain, seperti kau, Mathilda, dan menjadi bagian dari jiwa yang lain. Mungkin dalam bentuk yang lebih besar atau lebih kecil, atau berada lebih tinggi atau lebih rendah dalam rantai makanan.” Mantis menghela nafas panjang, kemudian melanjutkan, “Jadi kita ini sebenarnya tidak terdiri dari jiwa kita sendiri, melainkan terdiri dari jiwa-jiwa yang lain juga. Bisa jadi terdapat sedikit bagian dari jiwa seekor brontosaurus dalam tubuhku atau tubuhmu, Mathilda. Dan semua dari kita, termasuk brontosaurus itu, berasal dari sebuah satu kesatuan jiwa yang sangat besar, yang mana bertransformasi ke dalam bentuk individu-individu yang berbeda.” “Dan konsepmu itu menjelaskan bagaimana jiwa dua ekor belalang akan bersatu apabila seekor belalang betina memakan belalang jantannya. Dan ternyata itu masuk akal, Mantis.” Mantis tersenyum masam. Pemikirannya malah semakin membenarkan adanya Dewi Belalang, atau setidaknya, membenarkan pendapat tentang hubungan cinta dan kanibalisme belalang. Mantis melihat orang tua yang tadi dili-


PLOT: BELALANG hatnya. Orang tua itu rupanya telah menyelesaikan potongan sushi yang terakhir. Orang tua itu tampak puas, ia tersenyum ke arah cucunya di sebelahnya. Para manusia memakan apa saja, berarti jiwa-jiwa apa saja terkumpul dalam tubuh manusia-manusia itu, pantas mereka bertindak macam-macam, rumit, tidak konsisten, dan aneh, pikir Mantis. “Aku ingin tetap percaya pada reinkarnasi saja, Mathilda.” “Bilang saja, Mantis, kau tidak ingin kumakan saat ini.” Gelak tawa mereka mengalir untuk kesekian kalinya. Kali ini tawa mereka mengalir lamban, seperti alunan musik klasik yang masih diputar terus menerus dalam ruangan restoran itu. “Atau aku hanya tidak ingin bertransformasi menjadi seekor belalang lagi, Mathilda. Jangan salah sangka, kau betina yang luar biasa, tapi aku ingin berubah menjadi bentuk yang berbeda, Mathilda. Aku tidak ingin menjadi seekor belalang lagi.” “Bosan? Memangnya sudah berapa lama kau menjadi ‘seekor belalang’?” Mathilda tertawa ringan. “Hampir setahun aku hidup, Mathilda. Bukan bosan, lebih kepada penasaran. Ingin tahu saja rasanya menjadi bentuk yang lain.” “Kau memang bukan belalang biasa, Mantis.” Keheningan mendadak menyerang dua belalang sembah itu. Suasana canggung menghinggapi mereka. Suasana yang terasa sama seperti saat kau berjalan dengan seseorang dan ia meli-

hat seseorang yang ia tahu, lalu mereka memulai sebuah percakapan, sementara kau masih ada di sana berdiri di belakang mereka, dengan canggung. “Kau tahu, Mantis? Aku tidak akan memakanmu.” “Benarkah?” “Mungkin aku akan menjadi betina pertama yang tidak memakan jantannya. Persetan, mungkin kita adalah sepasang belalang pertama yang kawin di musim dingin di dalam restoran sushi.”

“...tapi aku ingin berubah menjadi bentuk yang berbeda, Mathilda. Aku tidak ingin menjadi seekor belalang lagi.” “Sudah kubilang, kita bukan belalang biasa, Mathilda.” “Pergilah sekarang, Mantis. Sebelum aku lapar dan memutus kepalamu,” Mathilda tersenyum, senyum yang paling lembut diantara senyum-senyum sebelumnya. Mantis melompat ke bawah, melompati dedaunan teratai di atas kolam. Ia melompatlompat seperti anak-anak beruang kutub di saat matahari menghangatkan kutub untuk pertama kali setelah musim dingin yang panjang. Mereka yang baru pertama kali keluar dari lubang yang digali induknya untuk tidur panjang di musim dingin. Sebelum mencapai pintu keluar restoran sushi, Mantis menghentikan langkahnya. Ia menoleh dan melemparkan senyum paling manis

september 2013 akar. 15


PLOT: BELALANG ke arah Mathilda. “Ada apa lagi, Mantis? Ada yang tertinggal?” Mantis, masih tersenyum, kemudian berseru, “Tidak ada yang tertinggal, Mathilda. Aku hanya ingin bilang, kau adalah belalang betina yang paling cerdas, tidak ada keraguan lagi.” Mathilda tersenyum memandang Mantis. Mantis melanjutkan, “Dan Mathilda, kau bukanlah belalang betina pertama yang tidak memakan jantannya.” Mathilda memandang Mantis keluar dari restoran sushi itu, hingga bayangannya menghilang. Ia sama sekali tidak merasa tertipu. Ia bahkan tahu, dengan ia memutuskan untuk tidak memakan Mantis, ia tidak akan memiliki cukup energi untuk merawat telur-telurnya, bahkan dirinya sendiri. Ia akan mati kelaparan, tidak lama lagi. Tapi ia bersyukur, ia akan mendapatkan kesempatan menjadi bentuk yang lain, tidak lagi menjadi belalang. Bahkan ia berharap akan bertemu Mantis, atau setidaknya, sebagian jiwanya, di kehidupannya yang selanjutnya. Musik klasik yang sama tetap diputar di restoran sushi itu. Orang-orang yang sama masih belum beranjak dari mejanya masingmasing, masih tetap dengan lahap, menyantap potongan-potongan sushi yang tiada henti mengalir dari dapur menuju meja-meja mereka. Dunia seakan tetap konstan berputar. Tetapi pada saat itu, ada satu detail kecil yang melawan ritme tersebut, ia adalah seekor belalang sembah betina sebesar cangkir teh cina, Mathilda. •••

16 akar. september 2013


pardika

BISING

NUGI WICAKSONO Di tengah aku berpijak dan membaca Dari sekeliling hingga ke dalam kancing Bising Orang-orang berkejaran, saling bertabrakan Lalu jatuh dan saling menyalahkan Bising Lalu diriku melihat ke kiri dan ke kanan; (Masih) banyak yang bicara Bising Tinggal aku yang sibuk–tenggelam Untuk mendengarkan •••

september 2013 akar. 17


plot

ZELA & LIO:

INI TENTANG KEINGINAN, BUKAN KEHARUSAN FARADHA

“Aku lelah sekarang.”

Tiga kata itu mengawali perbincangan Zela dan Lio di kantin kantor. Lio terheran, entah mengapa, beberapa hari ini Zela terlihat sangat kusut, matanya seperti merintih meminta bantuan tiap kali mereka berbincang dengan rekan kerja yang lain. “Lelah karena apa?” “Aku lelah beradaptasi, yo.” “Maksudnya?” “Dulu, aku tidak seperti ini. Aku tidak seceria ini dan tidak mudah untuk menegur orang lain. Aku tahu itu salah, aku tahu kalau aku terus begini aku akan sulit untuk dekat dengan orang lain. Lalu aku beradaptasi. Menjadi Zela yang… ya, kalian kenal sekarang. Terlihat ceria, ramah, dan selalu bersemangat. Dulu aku tak banyak berekspresi terhadap sesuatu, bahkan terhadap orang baru aku cenderung terlihat galak. Dilain sisi aku dianggap dewasa oleh teman-temanku, yang sudah cukup lama mengenalku, bahkan pola pikirku cenderung lebih tua dibanding usiaku. Aku punya banyak teman, banyak yang sering cerita tentang hidupnya kepadaku. Tapi teman-temanku yang mengenalku belakangan tidak ada yang tahu bagaimana aku sesungguhnya. Dan sekarang, aku lelah, yo. Sangat lelah.”

18 akar. september 2013

“Kenapa tiba-tiba kamu begini?” “Aku kemarin bertemu teman-teman sekolahku, teman dimana aku menjadi Zela yang seperti aku ceritakan. Aku merasa bebas, yo. Aku merasa.. Ah.. Aku tidak mampu mendeskripsikan. Tapi yang pasti, sangat melegakan, yo.” Lio seketika merasa tidak mengerti dengan wanita yang ada dihadapannya. Memang, baru sekitar sepuluh bulan mereka bersahabat, tapi Zela yang ia kenal, tak pernah seperti ini. Zela, wanita berkulit sawo, berambut hitam dan begelombang, dengan pribadi yang sangat menyenangkan bagi siapapun yang mengenalnya. Tapi, Zela yang sekarang di hadapannya terlihat sangat payah. “Lalu, apa yang akan kamu lakukan, la?” “Entahlah, yo. Rasanya aku ingin kembali menjadi seperti dulu, tapi aku takut, mereka yang mengenalku sekarang tidak bisa menerima.” “Tunggu, tunggu. Apa alasan kamu merubah image-mu, la?” “Aku merasa ada yang tidak benar dengan sifatku yang dulu. Aku senang menjadi orang kepercayaan untuk mendengarkan bahkan memberi nasihat bagi banyak temanku, tapi banyak juga yang tidak suka padaku. Aku sempat ter-


PLOT: ZELA & LIO pikir, rasanya akan lebih menyenangkan jika aku bisa berteman dengan banyak orang, walaupun sedikit teman dekatku.” “Jadi, kamu berubah hanya karena ingin mendapatkan teman yang banyak dan sekarang kamu merasa kelelahan sendiri?” “ Ya, tepat.“ “Kamu tidak benar-benar beradaptasi, Zela. Kamu merubah image tidak dari hati. Kamu hanya menggunakan otakmu ketika memutuskan untuk berubah. Dan kamu tahu apa dampaknya?” ujar Lio. Zela terhenyak. Tangannya yang dari tadi sibuk memainkan sedotan di gelasnya terhenti. “Mungkin beberapa orang temanmu sekarang menganggap kamu palsu, Zela,” lanjut Lio. Zela menghela nafas, menatap Lio untuk beberapa detik, “Kamu juga?” “Awalnya. Tapi semakin aku mengenalmu, aku menganggap semuanya baik-baik saja. Mungkin secara natural kamu menunjukkan dirimu yang sebenarnya,” Lio menjelaskan dengan mata dewasa yang biasa ia tunjukkan ketika pembicaraan mereka sudah tentang hal pribadi. “Lalu aku harus bagaimana?” Zela menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya. Dia tidak habis pikir akan dirinya sendiri. “Kamu tahu? Aku percaya pada dasarnya setiap manusia memiliki sifat yang sama. Hanya saja pengalaman dan penerimaan kita yang berbeda. Hmm… proses belajarnya yang berbeda. Oleh karena itu, sifat manusia berbeda. Bukan karena kita memang berbeda, tapi yang ingin kita tunjukkan berbeda.” Suasana sesaat hening. Lio terlihat sedang

menyusun kalimat selanjutnya dan Zela sedang berusaha untuk mencerna ucapan sahabat terbaiknya itu. “Kamu memiliki teman lama yang sekarang terlihat berbeda?” “Ya, ada. Bahkan hidupnya terlihat sangat menyenangkan dan sangat ringan untuk dia jalani.”

“Zela, hidup lebih dari sekedar berharga untuk dipenuhi dengan kepura-puraan…” “Kamu sekarang sangat lelah karena dalam beberapa hal kamu merasa harus terlihat ceria, harus terlihat ramah, dan harus-harus yang lain. Tau apa yang membedakan kamu dengan temanmu itu? Dia berubah bukan karena dia merasa harus berubah, tapi karena dia ingin berubah. Inilah yang aku katakan tadi bahwa kamu berubah tidak dari hatimu, Zela. Bukan berarti kamu lantas juga tidak dapat menjadi dirimu yang dulu, tapi ini tentang bagaimana kamu mengontrol dirimu.” Air mata mulai terlihat di mata Zela, bibirnya kelu. Hatinya setuju dengan apa yang diucapkan Lio. “Zela, hidup lebih dari sekedar berharga untuk dipenuhi dengan kepura-puraan. Dari tadi kamu menyebutkan istilah ‘dirimu yang dulu’. Bagiku, tidak ada ‘yang dulu’ dan ‘yang sekarang’. Yang ada hanya bagaimana kita tulus dan jujur menjadi sebuah pribadi.” “Lantas aku harus bagaimana?”

september 2013 akar. 19


PLOT: ZELA & LIO “Hanya kamu yang tahu jawabannya, kamu ingin seperti apa, yang baik untukmu yang bagaimana. Setiap orang berhak untuk memperbaiki diri. Tapi bukan dengan cara membohongi orang lain dan diri sendiri. Setiap manusia punya hati, Zela, hanya soal waktu untuk mereka dapat merasakannya. Aku, sebagai sahabatmu, hanya mampu memberi saran dan mengingatkan. Tapi semua kembali kepada dirimu sendiri.” Kepala Zela mulai pusing membayangkan reaksi yang akan timbul dari teman-teman tentang kepribadiannya jika dia menunjukkan yang sebenarnya. “Aku rindu menjadi aku yang dulu, Lio. Tapi aku juga ingin memiliki banyak teman.” Lio tersenyum dan menatap Zela lekat, “Lantas, apakah kamu bahagia ketika temantemanmu mencintaimu tapi bukan dirimu yang sebenarnya?” •••

20 akar. september 2013


pukau

september 2013 akar. 21



Akar Edisi 1 (September 2013)