Page 9

dengan bunyi akhir pada larik keempat. Parang pada larik kedua tersebut memiliki kesinambungan dengan kata dibantun pada larik pertama. Kedua kata akhir tersebut memiliki pengertian bahwa untuk membantun buah ara tersebut ditarik agar lepas dengan menggunakan bantuan parang. Keempat bunyi akhir tersebut disesuaikan dengan larik sebelum dan sesudahnya pada bait tersebut, sehingga bunyi akhir memiliki arti tersendiri. Kupu-kupu terbang melintang, Terbang di laut di hujung karang. Hati di dalam menaruh bimbang, Dari dahulu sampai sekarang. Bunyi akhir pada bait pertama puisi lama yang berjudul “Kupu-Kupu” tersebut adalah ‘ang’. Semua larik yang terdapat pada bait tersebut memiliki bunyi akhir yang sama. Keempat bunyi akhir tersebut disesuaikan dengan konvensi bahasa pada masa itu. Bunyi akhir tersebut disusun sedemikian rupa, sehingga menimbulkan arti. Mari dibantun dengan parang, Berangan besar di dalam padi. Pantun tidak mengata orang, Janganlah syak di dalam hati. Pada bait kedua, bunyi akhir larik pertama adalah “ang”. Bunyi akhir tersebut sama dengan bunyi akhir pada larik ketiga. Larik pertama memiliki kata akhir yaitu orang, dan pada larik ketiga memiliki kata akhir orang. Persamaan bunyi akhir pada kedua kata tersebut berarti adanya kesesuaian antara kedua larik tersebut. Persamaan bunyi akhir pada larik kedua dan keempat adalah “i” pada kata “padi” dan “hati”. Kedua

kata tersebut bunyi akhirnya disesuaikan agar membentuk suatu arti. Terbang di laut di hujung karang, Burung besar terbang ke Banda. Dari dahulu hingga sekarang, Banyak muda sudah kupandang Bunyi akhir pada bait kedua “KupuKupu” tersebut memiliki bunyi akhir “ang”, “a”, “ang”, dan “ang”. Bunyi akhir pada larik kedua berbeda dengan dengan bunyi akhir pada larik yang lainnya. Perbedaan bunyi akhir tesebut menimbulkan kurangnya estetik atau keindahan pada pantun tersebut. Selain itu, perbedaan bunyi kahir tersebut menimbulkan arti yang sukar untu ditebak karena dirasa tidak berkesinambungan. Berangan besar di dalam padi, Rumpun buluh dibuat pagar. Pantun tidak mengata orang, Maklumlah pantun saya baru belajar. Pada bait ketiga puisi lama tersebut memiliki bunyi akhir ‘i’, ‘ar’, ‘ang’, ‘ar’. Berbeda dengan bait-bait sebelumnya yang memiliki kesamaan bunyi akhir pada setiap larik, antara sampiran dan isi. Pada bait ketiga tersebut memiliki bunyi akhir yang agak kacau. Larik ketiga pada bait tersebut memiliki keterkaitan dengan larik ketiga pada bait kedua, sehingga isi yang terdapat pada pantun bait ketiga tersebut memiliki kesinambungan dengan isi pada bait kedua. Bunyi akhir yang terdapat pada bait tersebut tidak terlalu berpengaruh terhadap isi yang ingin disampaikan oleh pentun tersebut, meskipun dari segi keindahan bunyi akhir sangat kurang karena tidak memiliki kesamaan pada bunyi akhir.

halaman 7

Profile for Majalah sagang

Edisi207  

Edisi207  

Advertisement