Page 7

malah berada dalam satu kesatuan. Pertalian orang Melayu dengan alam nyata dan alam supernatural, mengakibatkan terwujudnya nilai menghargai, menghormati, dan menyayangi manusia dengan dirinya, dengan sesama manusia, dengan alam, dan denga alam supernatural atau alam metafisika. Segala nilai ini memang jelas terpancar dalam pantun Melayu dan sekaligus memperlihatkan keterkaitan manusia dengan unsur-unsur alam. Seperti pantun di bawah ini :

satu bentuk peniruan yang terjadi tanpa disadari”. Kedua jenis puisi tersebut dibandingkan karena telah memenuhi syarat yang harus dipenuhi dari segi genre dan tipe sudah sama, sehingga kedua jenis karya sastra tersebut dapat dibandingkan. Selain itu, ketiga syarat yang harus dipenuhi dalam pembandingan karya sastra adalah berbeda bahasanya, berbeda wilayahnya, dan berbeda politiknya telah dipenuhi oleh kedua karya sastra tersebut.

Anak ayam turun sepuluh, Mati seekor tinggal sembilan.

DENGARLAH PANTUN

Bangun pagi sembahyang Subuh, Minta ampun kepada Tuhan.

Buah ara batang dibantun Mari dibantun dengan parang.

Pantun itu menunjukkan hubungan tiga unsur sekaligus dalam satu kesatuan yaitu “anak ayam” (unsur alam), “bangun pagi” dan “minta ampun” (perbuatan manusia yang menunjukkan penglibatan diri), dan “Tuhan” (unsur alam metafisik). Hubungan ketiga unsur tersebut tidak sekadar menunjukkan terwujudnya satu kesatuan, tetapi malah memiliki keharmonisan yang bersifat intiutif. Jadi apabila “keistimewaan” ketimuran alam Melayu seperti ini dimunculkan oleh Victor Hugo, tentulah menarik minat penyair-penyair Romantisme Perancis yang sangat dahaga akan unsur dan nilai seperti ini. Tidak mengherankan jika penyair-penyair romantis Perancis tersebut terpengaruh oleh ciri dan bentuk pantun dalam karya puisi mereka. Hal ini dinyatakan sebagai pengaruh karena menurut J.T. Shaw: “Pengaruh adalah proses transmisi dan reorganisasi tanpa sadar” atau menurut Ulrich Weisstein: “Pengaruh merupakan

Hai saudara dengarlah pantun, Pantun tidak mengata orang. Mari dibantun dengan parang, Berangan besar di dalam padi. Pantun tidak mengata orang, Janganlah syak di dalam hati. Berangan besar di dalam padi, Rumpun buluh dibuat pagar. Pantun tidak mengata orang, Maklumlah pantun saya baru belajar. Rumpun bulu dibuat pagar, Cempedak dikerat-kerati. Maklum pantun tidak belajar, Saya budak belum mengerti. (dari “PUISI LAMA” oleh St. Takdir Alisyahbana)

halaman 5

Profile for Majalah sagang

Edisi207  

Edisi207  

Advertisement