Page 49

Hujan Kesekian

Di hujan kesekian, setiap rintiknya membawa pertanyaan tentang kepulanganku yang belum tercium beritanya. Dari balik jendela, angin mengabarkan rindu ibu yang terkapar di pelataran doa yang sebelumnya berenang di airmatanya sendiri mencari wajahku sampai ketidakberdayaan menguasai tubuhnya. Di hujan kesekian, kudengar bisik-bisik gapura dan jembatan Sungai Kuripan membicarakan kedurhakaanku yang lama tak mengunjungi tubuh peramu rindu. Ilalang di samping sungai sampai habis suara berteriak memanggil namaku Ikan-ikan sampai tak perduli ketika ada yang berbicara tentangku Semangatku seketika terkubur reruntuhan berita-berita itu . Di hujan kesekian, para padi di depan rumahku, air sungai yang dulu kuajak bermain, dan jalan-jalan yang merekam kisahku menginjak-injak namaku lalu dilempar ke langit dialamatkan rintik hujan kepadaku. Di hujan kesekian arus airmataku mengalir ke samudraNya membawa wajah ibu kubalut dengan doa keselamatan yang terjatuh dari bayang-bayang. Maataku hanya memandang dari jeruji sunyi sebab terikat kewajiban menuntut ilmu. Purbalingga , Maret 2015

halaman 47

Profile for Majalah sagang

Edisi207  

Edisi207  

Advertisement