Page 4

Tajuk

Leon l azhar menelepon. Leon Ag Agusta meninggal. Bagi seorang seniman yang berusia satu atau seni dua generasi di bawah almarhum, saya tidak begitu mengenal secara akrab, sebagaimana halnya almarhum Hasan Junus, Idrus Tintin, BM Syamsuddin, dan lain-lain. Kenapa begitu? Karna Leon setelah beberapa tahun tinggal di Riau, di Bengkalis sebagai guru di SGB Bengkalis (1958) kemudian di SMP 1 Pekanbaru, dan kemudian dikenal sebagai sastrawan Riau, dan akhirnya pergi hijrah ke Jakarta, dan seniman-seniman seperti saya dan apalagi di bawah saya tidak lagi berhubungan dengan beliau. Secara pribadi ketika beliau menikahkan anaknya di Pekanbaru saya dan beberapa orang kawan seniman musik bermain orkes Melayu pada kenduri anak beliau tersebut. Menurut Al azhar, semasa di Pekanbaru, Leon Agusta terlibat penuh dengan kegiatan sastra dan seni pertunjukkan, antara lain bersama Alm Tenas Effedy, bersama Alm Idrus Tintin, dan H. OK Nizami Jamil. Walaupun Leon Agusta sudah meniggalkan Pekanbaru, namun pada tahu tahun 1980-an almarhum sering berkunjung ke Pekanbaru untuk mementaskan puisi-puisi dari Antologi Hukla bersama Sanggar Taman Republik (1983) bersama Al azhar dan kawankawan. Kata para penulis seni dan kebudayan dan filsafat, bahwa karya akan panjang usianya jika senatiasa berbicara maupun dibicarakan. Jika tidak karya para seniman itu yang berbicara sehingga usianya panjang, maka orang yang masih hiduplah yang diharapkan untuk dapat senantiasa membicarakannya,

halaman 2

maka karya para seniman itu terus hidup dan bersipongang, biarpun sastrawan, musikus, teaterawan, dan para seniman pembuat karya seni sudah tiada. Dan tugas generasi sesudahnyalah yang akan berkarya dan kemudian dibicarakan oleh generasi sesudahnya pula, begitulah selayakya berketerusan. Sebagaimana karya-karya puisi sufi Al Halaj, Rumi, Hafis, dan banyak karya sastra para sufi lainnya ditulis dan dibicarakan oleh para muridnya dan generasi sesudahnya. Begitu pentingnya para murid dan generasi sesudah karya itu dibuat, sehingga karya seni itu akan senantiasa abadi, jika tidak maka karya seni itu akan musnah dan hilang bersama perginya sang kreator ke dunia keabadian. Sebagai halnya tukang cerita, jika tidak ada yang menulis dan mencatat ceritacerita lisan yang disampaikannya, maka cerita yang banyak nilai filsafat dan nilainilai kehidupan itu akan musnah, hilang dan mati bersama kepergian dan kematian tukang cerita itu. Karena itulah mungkin, penting, paling kurang mengenang para seniman pendahulu yang dalam hal tertentu membuat dasardasar (fundamental) seni dan berkesenian (paling kurang) di tanah Riau ini, sebagai halnya Leon Agusta (menurut Al azhar) dalam berbagai kesempatan sering menyatakan bahwa Pekanbaru (dan Riau) baginya adalah pelantar penting kesenimanan yang ada dalam dirinya. Selamat jalan Leon Agusta, suatu masa entah pabila nanti semua seniman akan pergi ke tempat keabadian itu, dan apakah kita masih dapat menciptakan seni? ***

Profile for Majalah sagang

Edisi207  

Edisi207  

Advertisement