Issuu on Google+

No. 178 JULI 2013 tahun XV www.majalahsagang.com Dari Sinilah Mengalir Sastra Dunia! (Henri Chambert-Loir)

Esei :

Cerita-Pendek :

- Puisi Hanya Tempat Pelarian

- Ya‌. Bebas Murni

Meneropong Kepenyairan Eko Rudi Sugiarto oleh Ahmad Moehdor al-Farisi

- Hingar Bingar Novel Religi (Perjuangan Ideologi dan Negosiasi) oleh Inung Setyami

oleh Dantje S Moeis

- Malam Terakhir Leni oleh Karisma Fami Y

Cerita-Pendek Terjemahan :

Gaun Perempuan di Musim Panas oleh Irwin Shaw Peristiwa :

Kolaborasi Puisi Dkr Berharap Lahirnya Genre Baru Rehal :

Jakarta! Sebuah Novel

Sajak

Asrina Novianti Tokoh

Wislawa Szymborska

halaman KULITi


"SHOW OFF YOUR BUSINESS!" mari kami bantu untuk mencetak media informasi ANEKA RAGAM usaha anda

PAKET PENDIDIKAN - PAKET CSR - PAKET PROYEK PAKET INFO PRODUK - PAKET CETAKAN UMUM - PAKET SCJJ PAKET INFO PRODUK

Menginformasikan produk yang dijual tidak selalu memasang iklan saja, anda perlu memvariasikannya dengan brosur, katalog dan bentuk selebaran lainnya. Pastikan anda mencetak info produk tersebut di tempat kami, dapatkan kerjasama dalam bentuk penyebaran info tersebut dengan menyisipkan via koran-koran kami (Riau Pos / MX / Pekanbaru Pos / Dumai Pos) atau penyebaran di tempat khusus yang anda inginkan. Kami siap membantu, dapatkan juga paket-paket khusus lainnya berupa percetakan info produk + publikasinya di koran-koran kami. syarat dan ketentuan berlaku

MURAH, CEPAT, BERJARINGAN LUAS

Percetakan Riau Pos Grafika Divisi Komersial Printing Hubungi Kami: Gedung Riau Pos Jl.HR Soebrantas Km 10,5 Panam-Pekanbaru Office +62 761 - 566810 Fax +62 761 - 64636 Mobile 081268435929, 081365720503, 081378757569, 085265483504

Bank Riau KCP Panam 134-08-02010 Bank Mandiri Ahmad Yani-Pekanbaru 108-000-126-1990 An: PT Riau Graindo E-mail riauposgrafika@yahoo.com halaman KULITii


Penerbit: PT Sagang Intermedia Pers SIUPP No. 492/MENPEN/SIUP/1998 ISSN: 1410-8690 Alamat redaksi: Gedung Riau Pos, Jalan HR Soebrantas KM 10,5, Pekanbaru 28294, Riau, Indonesia Telepon Redaksi: (0761) 566810 Tata usaha dan Pemasaran: (0761) 566810, Faksimili (0761) 64636 www.majalahsagang.com e-magazine Harga (Edisi Cetak) Rp 50.000,No. 178 JULI 2013 tahun XV

Mahasiswa jurusan Seni Teater sedang berteater di Gedung Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR)

Daftar Isi Seniman, Ramadhan, dan Hari Raya ..... 2 Esei - Puisi Hanya Tempat Pelarian Meneropong Kepenyairan Eko Rudi Sugiarto oleh Ahmad Moehdor al-Farisi .............. 3 - Hingar Bingar Novel Religi (Perjuangan Ideologi dan Negosiasi) oleh Inung Setyami ................................ 9 Cerita-Pendek - Ya‌. Bebas Murni oleh Dantje S Moeis .............................. 20 - Malam Terakhir Leni oleh Karisma Fami Y............................. 27 Cerita-Pendek Terjemahan - Gaun Perempuan di Musim Panas Oleh Irwin Shaw ....................................31 Sajak - Asrina Novianti .............................. 38 Tokoh - Wislawa Szymborska46 Peristiwa Kolaborasi Puisi Dkr Berharap Lahirnya Genre Baru ............ 55 Rehal - Jakarta! Sebuah Novel .......................... 58 Illustrasi Halaman 9, 20 dan 27 karya Purwanto

Perintis: Rida K Liamsi Pemimpin Umum: Armawi KH Wakil Pemimpin Umum: Kazzaini Ks, Sutrianto Pemimpin Perusahaan: Ngatenang Pemimpin Redaksi: Kazzaini Ks Wakil Pemimpin Redaksi: Zuarman Ahmad Redaktur: Dantje S Moeis, Zuarman Ahmad, Khazzaini Ks, Fedli Aziz, Sutrianto, Murparsaulian, Armawi KH Pra cetak: Rudi Yulisman Manager Keuangan: Sri Herliani. Redaksi menerima sumbangan tulisan berupa esei, kritik seni, resensi buku, laporan dan tulisan budaya. Foto seni, sketsa, karya puisi dan cerita-pendek asli atau terjemahan. Panjang tulisan maksimal 5 (lima) halaman spasi rangkap. Karya terjemahan harus menyertakan fotokopi aslinya. Pengiriman naskah harus menyertakan keterangan alamat yang jelas. Karya dikirim ke e-mail: puisisagang@yahoo.co.id, cerpensagang@yahoo.co.id, eseisagang@yahoo.co.id, umumsagang@yahoo.co.id. Karya termuat diberikan honorarium yang padan.

halaman 1


tajuk

Seniman, Ramadhan, dan Hari Raya IFEN Piul, kawan saya yang juga kawan Wahab yang kawan Taufik Ikram Jamil, mengeluh pening tujuh keliling dalam menghadapi hari raya. Ia menceracau sepanjang hari, betapa tidak, sebagai seorang seniman, mana ada job pada bulan puasa ini; kawan saya yang pemusik tradisional Melayu ini biasa dapat job main musik pada kenduri orang nikah-kawin, jadi mustahil ada orang nikah-kawin dalam bulan puasa, “Kalau oghang ‘kawin’ banyak,” seloroh kawan saya yang seniman ini, “Tengoklah oghang ‘kawin’ yang tetangkap di televisi, oghang ‘kawin’ yang tetangkap Satpol PP, oghang beduo jantan betino bergerakgerak dalam gelap di sudut-sudut kawasan Bandar Serai tu, apa tidak oghang ‘kawin’ namonyo tu?” kata Ifen Piul kawan saya ini yang mulutnya tidak juga berhenti menceracau. “Carilah job lain!”, kata Dantje kawan saya yang juga kawan Ifen Piul, yang juga berarti kawan Wahab yang kawan Taufik Ikram Jamil. “Job apo lagi, Pak?” kata Ifen Piul kawan saya ini. “Nak diharap kawan kito yang pejabat, banyak pulo yang bermasalah di KPK, nanti kito pulo tebawak endong dan masuk penjaro pulo, siapo yang nak memberi makan anak bini? “Iye tak iye pulak,” kata Wahab kawan Taufik Ikram Jamil yang tiba-tiba muncul macam hantu.

halaman 2

“Die begini tu Fen,” kata Dantje kawan saya yang juga kawan Ifen Piul. Seni, yang menyangkuti persoalan estetika, berkait-kelindan dengan “kemanusiaan”, yakni “keberdayaan dalam bertahan hidup”, pergulatan menghadapi kehidupan, lebih tepatnya “asap dapur” menurut orang Melayu. Jadi, seni adalah berbicara tentang kehidupan. Sering ada ucapan basa-basi: pemerintah semestinya memperhatikan kehidupan seniman; bangsa yang beradab adalah bangsa yang menghargai kebudayaan (tentu termasuk senimannya); dan ucapanucapan lainnya yang mungkin hanya untuk menyenang-nyenangkan seniman. Namun tak dapat dipungkiri, bahwa seniman sesungguhnya termasuk dalam ‘golongan’ fakir atau miskin. Dalam dialog tentang “kemanusiaan” seniman, ditanyakan “mengapa seorang pelukis miskin?” misalnya, “karena lukisan yang terjual hanya sesekali tidak menutupi modal kreativitas apalagi untuk keberdayaan hidup.” Padahal, seorang seniman harus berjuang antara beban manifestasi estetika di pundaknya, dengan perjuangan “asap dapur” keperluan rumah-tangganya yang tidak dapat diukur menurut ilmu pasti. Kalau kita tengok dari sudut pandang ilmu fiqih, nampaknya sesuailah pandangan bahwa seniman termasuk paling kurang golongan “fakir”. Menurut imam Malik, “fakir” adalah seseorang yang


memiliki harta namun tidak mencukupi untuk kebutuhan makan selama setahun, sementara pengertian “miskin” adalah seseorang yang tidak memiliki harta apapun. Sementara menurut Imam Abu Hanifah mengartikan “fakir” dengan seseorang yang memiliki harta dibawah nishab atau batas pemenuhan kebutuhan hidup dari harta yang berkembang, atau sebatas nishab dari harta yang tidak berkembang; dan pengertian “miskin” menurut Abu Hanifah sependapat dengan imam Malik, yaitu seseorang yang tidak memiliki harta apapun. Sedangkan menurut imam Syafi’i dan imam Ahmad “fakir” adalah seseorang yang sama sekali tidak memiliki harta, atau memiliki sedikit harta atau penghasilan dari suatu pekerjaan namun tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup; sedangkan “miskin”, menurut imam Syafi’i adalah seseorang yang memiliki harta atau penghasilan dari suatu pekerjaan namun tidak mencukupinya. Sementara menurut imam Ahmad, “miskin” adalah seseorang yang memperoleh harta atau penghasilan dari suatu pekerjaan yang dapat memenuhi sebagian besar atau setengah kebutuhan hidupnya. Jadi, seniman termasuk orang yang fakir, yakni paling kurang menurut Imam Malik penghasilannya tidak menentu, penghasilannya tidak dapat memenuhi keperluan makan selama setahun. “Iyo tu, Pak,” kata Ifen Piul tak sabar. Seniman, dalam strata ekonomi menurut saya setidaknya terbagi tiga: yaitu Seniman Job, Seniman Proposal, dan Seniman Elit. Seniman Job, yaitu seorang seniman yang hanya mengharapkan keperluan keuangan rumah-tangganya hanya dari job seni yang digelutinya, misalnya bermain musik mengiringi buda-budak besunat pun dilakukan, cuma yang tak tebuat mengiringi ratap kematian seperti “Oppari” di India, “Basing” dari suku

Kajang Sulawesi, “Andung Ni Namabalu” nyanyian ratap kematian masyarakat Batak Toba di Balige Toba Samosir Sumatera Utara. Strata ekonomi seniaman yang kedua, Seniman Proposal, yakni seniman yang mengharapkan keperluan rumahtangganya dari berhasil tidaknya proposal yang diajukan, berkualitas atau tidaknya event kesenian yang diajukannya dalam proposal itu tak pentinglah, yang penting hasil materi yang didapatkan dari proyek proposal yang diajukan, dan yang terbayang dalam pikirannya: nak mengganti sepeda dengan sepeda-motor, nak mengganti sepeda-motor dengan mobil, bagi yang punya mobil tak tahulah apa yang ada dalam benak mereka; dan yang ketiga strata ekonomi Seniman Elit, yakni seniman yang berada di ruang lingkup yang juga elit, misalnya SPN @ seniman pegawai negeri, SP yaitu seniman pejabat yang mengaku seniman, tokoh-tokoh yang pura-pura merangkul seniman dan menjadi pembina kesenian. Saya yang dengan khusuk mendengar semua celoteh dan ceracau Ifen Piul dan kawan-kawan saya itu, dan dengan hikmat menangkap dan merekam esensi semua pembicaraan, yang saya pikir muaranya kepada kesulitan financial atau ekonomi seniman dalam menghadapi keperluan hari raya, tentu untuk anak dan bini. Moment ini menjadi inspirasi bagi saya untuk membuat proposal kepada calon gubernur Riau untuk menangkap satu sisi persoalan seni dan seniman menjadi salah-satu bagian kampanye mereka berupa solusi pemecahan masalah yang dibicarakan panjang-lebar oleh kawan saya Ifen Piul, yang juga kawan Wahab yang kawan Taufik Ikram Jamil, biarpun saya akan disebut sebagai Seniman Proposal menurut pendapat Ifen Piul di atas. Lantaklah! ***

halaman 3


esei

Puisi Hanya Tempat Pelarian Meneropong Kepenyairan Eko Rudi Sugiarto Oleh: Ahmad Moehdor al-Farisi

dengan apa mengeja resah campur air mata kataku membiru mengalir pada jejak jejak membeku menanti matahari pada langit mendung tapi bagaimanapun, hapus sepimu aku akan membumi bersama darah pahlawan yang tak terhapuskan (Puisi “Kataku Membiru�, Eko Rudi Sugiarto)

halaman 4


EDAN,

virus puisi kini semakin meraja lela. Entah saya yang kurang wawasan untuk mengetahuinya atau memang baru berkembang dengan unsur kesengajaan. Entahlah, yang pasti saat ini saya seperti terkurung dalam rumah sakit jiwa yang dipenuhi oleh mereka-mereka yang ketagihan karya sastra (baca puisi). Akhir-akhir ini puisi seperti tempat pelarian paling aman dari bencana-bencana yang menggoncang jiwa. Seolah-olah puisi menjadi tempat paling tenang, menghibur, dan mampu melumat kegundahan yang mengerak, meski sebenarnya puisi sangatlah bahaya sebagai tempat pelarian. Hal ini miris, bahkan hampir tak dimengerti. Semua orang pastilah memiliki media tersendiri untuk merekam bencana yang terjadi. Yang hidupnya nyangkut di kuas dan kanvas pastilah memilih untuk melukis, mengabadikan dalam bentuk lukisan-lukisan. Yang nafasnya bersumber dari panggung dan pernak-pernik properti dan pelengkap lainnya pastilah memilih berteater, mengeksplorasikan tragedi dengan mimik, gesture, dan improvisasiimprovisasi yang tak jarang menampar kesadaran penonton. Yang hidupnya lebih sering dihabiskan berselingkuh dengan alat tulis pastilah akan memilih curhat bersama tulisan, baik itu cerpen, puisi, esei, ataupun tulisan-tulisan lainnya. Melalui mediamedia tersebut dapat dilihat dan dirasakan bahwa tragedi telah memamerkan kembali kemahirannya untuk mencungkil rasa sedih, menguras air mata, dan membuat haru mereka yang memandangi, melihat, dan merasakannya. Dari demikian banyak bidang seni, yang paling dominan dipilih untuk menuangkan perasaan adalah puisi. Disamping bentuknya yang sederhana, tak membutuhkan waktu lama untuk

menulisnya. Bukan hanya mereka yang berkecimpung di dunia kesenian, bahkan korban langsung dari bencana gempa, banjir yang merampas rumah, kebakaran yang meludes harta bisa dan sempat menulis yang terilhami bencana itu. Tak perlu mengetahui atau mempelajari terlebih dahulu bagaimana cara menuangkan perasaan pada bidangbidang kesenian—karena itu akan memakan waktu yang cukup lama—meskipun ada sisi lain yang harus bahkan mendekati perintah “wajib� untuk dimengerti. Bidang seni lukis, teater, maupun tulis adalah arena intelektualitas. Butuh waktu untuk menyinggahinya. Jika kita sembarangan menuangkan begitu saja, tanpa menghiraukan pemahaman, maka secara tidak langsung sebenarnya kita membuat lubang sedalam-dalamnya untuk mengubur bidang kesenian. Akibatnya, tak banyak mereka yang mencak-mencak ingin dipanggil sebagai seniman, apalagi penulis yang telah sukses menuangkan perasaan. Aneh bukan? Eko; Tersangka Puisi Pelarian Kejumudan wawasan perpuisian dan lemahnya empati terhadap kenyataan di sekeliling membuat perpuisian lebih sebagai keterampilan berbahasa ketimbang daya oleh kepekaan terhadap persoalan. Ori-entasi dan pertukangan bahasa lebih dominan ketimbang kemahiran mengolah nalar puitik saat menghadapi kenyataan. Maka, persoalan dan tragedi kemanusiaan yang banyak terjadi di sekeliling seakan tamu yang bebas keluar-masuk ruang puisi tanpa permisi. Intelektualitas pengendapan, estetik, maupun artifisialisasi bahasa nyaris tak dipentingkan. Eko Rudi Sugiarto, seorang yang tak

halaman 5


asing lagi namanya di dunia lukis, kini telah opname di ruang puisi. Dia yang biasanya merekam perasaan ke dalam lukisan, kini lebih khusuk meratapinya dalam ruang puisi. Banyak puisi-puisi yang diciptakan, bahkan sudah terjilid dalam buku antologi. Hebat bukan? Sebuah pelarian yang benarbenar kentara. Tragedi yang terjadi di sekeliling agaknya menimbulkan kecenderungan lain bagi daya rekam dan kepekaan si Eko. Blek-ketumplek lukisannya yang diilhami tragedi yang bermunculan dan berhasil menggedor-gedor jiwa. Misal, dalam lukisannya “Bangkit dan Lawan” tergambar Soekarno mengacungkan jari dan beberapa pion roboh diantara desakan ratusan pionpion menunjukkan kecerdasannya meng-eksplorasi tragedi meskipun tak banyak yang tahu maksud dari lukisannya tersebut. Tapi, kalau boleh jujur, lukisan itu berhasil dan sukses menyentuh jiwa saya. Hampir saja air mata menetes sia-sia ketika saya merenungi lukisan itu. Belum lagi lukisan “Ojo Dumeh, Cok”, “Menara Citra”, dan “Tumpang Tindih”. Ini semua menunjukkan betapa istimewanya ia dalam mengeksplorasi tragedi. Begitulah keadaan Eko, lukisannya begitu adiluhung dan juga anggun. Tetapi— semoga hanya saya yang merasa—Eko menterlantarkan lukisannya, ditinggal selingkuh dengan puisi begitu saja. Sembunyi-sembunyi dia meniduri puisi, menuangkan segenap keluh kesah yang disaring dari tragedi. Kuas dan kanvas yang sering digandrungi kini meringkuk karena ditinggal lari, selingkuh bersama puisi. Sepertinya Eko merasa puisi serupa tempat yang penuh rahasia dan memendam kemesraan yang begitu kuat dan mengikat di mana seluruh keluh-kesah

halaman 6

mampu dileburkan. Bahkan puisi mampu memonopoli kehidupan dengan semangat berimajinasi yang bergelora. Pelarian dalam puisi ini menjadi naluri yang hidup dalam diri Eko ketika daya kemanusiaannya lumpuh terhadap urusan-urusan yang tumpang-tindih, bobrok, dan bosok. Lihat saja puisinya “Pencipta Sampah” yang menggambarkan semua itu. Pencipta Sampah (surat pesakitan untuk penulis dan pelukis) Bertetes tinta habis terjilma kata dalam buku-buku tebalmu Berjuta warna lunas tergores pada bingkai-bingkai kanvasmu Buah pikir hasil bunga-bunga renungan ayat-ayat alam Indah, menggetarkan, membius, meyakinkan Tidakkah merasa bosan? Lentera-lentera kecerdas-pekaanmu menyala-nyala di sela kata, di balik warna Rangkuman rampasan rasa pesakitan Kefakiran Kemiskinan Kebodohan Kelemahan Ketakutan Kekalahan Hanya jadi armada para suka bicara Beradu konsep, teori, demi gengsi berebut julukan ahli Kau Kalian Membelenggu kaki-tangan, mengurung waktu untuk gagasan konsep teori berpayung pencerah hidup dan kehidupan Tak sekalipun menghilangkan lapar


mengakar di kolong-kolong jembatan, menghadirkan kesehatan, pendidikan penghuni gubuk-gubuk reot, apalagi mengganti rumah, tanah garapan, gunung, hutan dari aspal membentang, gedung dan pabrik menjulang Ada keinginan apa? Indonesia adalah gudang sampah Penulis sampah Pelukis sampah Ahli sampah Masih saja mencipta sampah, menggalih sampah, jual beli sampah Merenggut kenyang dari kelaparan Mencuri tenar dari ketertindasan Akan sampai kapan? Kau Kalian Lekas lepas-uraikan belenggu tangan, terbang-bebaskan waktu Pulang dan masuklah ke kamar Bercermin dan bacalah Kenapa? Siapa? Untuk apa berdiri di situ?

kaki-

Share House (sanggar nusantara), 23 Nopember 2012 Pelarian itu bahkan bisa begitu mutlak dan membabi buta menihilkan urusanurusan lain hingga baris paling ekstrim. Umpatan Awal Nopember cok, jancok! apa yang aku, kamu, kita guncingkan di sini? sedang di sana, istri-istri nelayan mengomel-ngomel

sebab suaminya menggulung layar tanpa ikan dibawa pulang akibat laut terlipat rapat dalam genggam cendikiawan-cendikiawan rakus. cok, jancok! apa yang aku, kamu, kita serakkan di sini? sedang di sana, sesak nafas anak-anak nelayan telanjang dada menggapai kesehatan dan pendidikan tak tergenggam harganya. cok, jancok! Surabaya, 03 Nopember 2012 Sejumlah puisi yang diciptakan Eko menunjukkan sebuah pengalaman mental kemanusiaan yang sakral yang tak mendapatkan ruang dalam lukisan. Ini mungkin sejenis ketundukkan yang berlebihan yang harus dijalani dan diimani untuk menyembuhkan keresahan dari segala urusan kemanusiaan, sehingga keberadaan puisi selalu diposisikan dalam sebuah tempat khusus yang sewaktu-waktu bisa dijadikan teman tidur. Memang tidak masalah, pelarianpelarian seperti itu bukan hanya Eko yang melakukan, banyak seniman lain yang berselingkuh dengan puisi. Akan tetapi, yang perlu dipermasalahkan adalah artifisialisasi bahasa yang digunakannya dalam berpuisi. Pudarnya kepekaan terhadap persoalan maupun tragedi di sekeliling bukan membuat Eko melakukan pengasingan terhadap kenyataan melainkan dia sendiri benar-benar terasing dari kenyataan akibat daya rekam dan daya kepekaan yang lemah. Dengan kata lain terjadi penumpukan masalah dalam puisi akibat beban artifisialisasi bahasa yang berlebihan sehingga dia gagal meraih

halaman 7


harga dirinya sendiri untuk meraih yang diinginkan. William Faulkner (Novelis 1897-1962) memiliki umpatan yang pas untuk masalah semacam ini: “Kita semua gagal untuk mencapai impian mengenai karya yang sempurna. Karena itu, kita berada pada kegagalan yang indah untuk mengerjakan sesuatu yang tak mungkin terjangkau. Seorang seniman percaya bahwa setiap kali berusaha dia akan berhasil. Tetapi, dia tak akan berhasil, dan itu justru sehat.” Puisi tidaklah selalu gagal menjadi puisi hanya karena terasing dari kenyataan yang mengelilinginya, tapi puisi akan punya daya tawar lebih besar secara kebudayaan jika juga mampu merekam kenyataan, membangun daya kepekaan, dan menemukan inti kenyataan di dalam ruang dan waktu yang melahirkannya, sehingga menawarkan kedalaman pengertian dan cara pandang yang lebih kaya. Tragedi kemerdekaan agaknya menimbulkan kecenderungan yang lain bagi daya rekam dan kepekaan Eko. Lihat saja puisi “Belum Satu Abad Merdeka” dan “Di Lantai Dua Gedung Unisda” berikut ini. Belum Satu Abad Merdeka Pada lembaran berdebu dan penuh noda Kutemukan bercak bercak darah Dengan teriakan yang sama Merdeka! Merdeka! Merdeka! Mengalir sampai nafas terakhir Belum sempat aku berdoa Lembar yang lain pererat tekat angkat senjata Menjemput maut di tengah banjir darah

halaman 8

Untuk satu alasan, demi hidup generasi Kini doaku beku bersama darah Tertiup dingin penerus kemerdekaan yang haus harta Share House, 25 Nopember 2012

Di Lantai dDua Gedung Unisda dari sini, bersama datangnya kereta kutangkap wajah wajah lusuh basah peluh kontai antara gedung-gedung gagah dan pohon-pohon gerah betapapun, kata-kata tetap meraungdi ruang-ruang murung karna cita tak terkurung dari sini, nafas nafas terlepas terbawa debu sisa kereta melaju Unisda Lamongan, 27 Nopember 2012 Puisi di atas bukan hanya mengabarkan kenyataan, tapi merekam kenyataan melalui kekuatan watak medium ruang dan waktu serta terhindar dari kefanaan akibat klise pijakan gagasan, keusangan cara pandang, maupun godaan artifisialisasi bahasa belaka. Puisi di atas menurut saya lebih baik dari pada puisi sebelumnya. Puisi yang baik dengan sendirinya bakal menebarkan ilham yang tak berkesudahan. Bukan sekedar kemahiran berbahasa yang dibutuhkan, tapi juga sikap kepenyairan yang memiliki cara pandang dan kepekaan terhadap realita di sekitarnya. Dapat dimaklumi jika Eko menderita penyakit


ini, karena dia sendiri seorang pelukis yang melakukan pelarian. Sikap yang dilakukan Eko ini bisa menjadi ancaman atau rayuan bagi kesungguhan sikap dan ketulusan tindakan, sehingga dapat menyesatkan arah dari tujuan yang sesungguhnya ingin dituju. Sikap pelarian ini juga sering melahirkan kelatahan atas nama kebebasan memilih ruang untuk berseni dan mengekspresikan tragedi yang terjadi, puisi-puisi yang dilahirkannya muncul seketika, tapi lengah terhadap kepenyairan dan kaidah perpuisian sehingga segera sirna dalam sekejap karena tak lebih dari sekedar susunan ratapan yang rapuh dan jauh dari kemahiran berbahasa mapun daya kepekaan persoalan. Maka, berhatihatilah…

Biodata: Eko Rudi Sugiarto, Ketua Umum KSR (Komunitas Seni Ronggolawe) periodi 2007/2008, lahir di Lamongan 04 April 1984. Puluhan lukisannya gentayangan dalam berbagai pameran seni rupa bersama; Tahun 2005 Pameran seni rupa “Kepala Yang Terbuka” di Kampus IKIP PGRI Tuban dan Pameran seni rupa “Rasaku” di Gudung Pujasera Tuban. Tahun 2006 Pameran seni rupa “Beda Ya” di Kampus IKIP PGRI Tuban, Pameran seni rupa III “Kisi-Kisi Tuban” di Komplek Wisata Goa Akbar Tuban, dan Pameran seni rupa “Kopi Pahit” di Kampus IKIP PGRI Tuban. Tahun 2007 Pameran seni rupa “Transisi” di Gudung Pujasera Tuban, Pameran seni rupa IV di Komplek Wisata Goa Akbar Tuban, dan Pameran seni rupa “Rupa Rupa-rupa” di Kampus IKIP PGRI Tuban. Tahun 2008 Pameran Drawing “Coretan Kita” di Kampus IKIP PGRI Tuban, Pameran Lukisan di WTC (Siola) Surabaya, Pameran seni rupa “Indonesia How Are You Today” di Gedung Budayaloka Tuban, dan Pameran seni rupa “Re-Kreasi” di Kampus UNIROW Tuban. Tahun 2009 Pameran Sketsa dan Drawing di Kampus UNIROW Tuban, dan Pameran foto dan gambar “Berita Dalam Gambar” di Gudung Pujasera Tuban. Tahun

2010 Pameran seni rupa di Kampus UNIROW Tuban, dan Pameran lukisan “Reborn” di Gedung Budayaloka Tuban. 2011 Pameran Seni Rupa “Rupa Seni Rupa”, di Gedung Biudaya Loka (April), dan Pameran Seni Rupa “Subyek Eksoterik” di Gedung Budaya Loka Tuban (November). Tak hanya pameran seni rupa yang digeluti, performance art pun menjadi makanan empuk untuk dijadikan media penyaluran jiwa seninya pada masyarakat. Tahun 2006 Performance Art “Merasa Yang Paling” di Kampus UNIROW Tuban. Selang beberapa bulan kemudian dilanjut denga tema “Dari Tanah Kembali ke Tanah” di Kampus UNIROW Tuban. Tahun2007 ”Jangan Salahkan Setan” di Kampus UNIROW Tuban. Tahun 2008 “Emansipasi Era Sekarang” di Kampus UNIROW Tuban. Tahun 2009 “Contreng Anget” di sepanjang jalan protokol Tuban. Dan yang terakhir tahun 2010 adalah performance art-nya yang menghebohkan kota Tuban dalam rangka memperingati hari Kebangkitan Nasional denga tema “Kebangetan Nasional” di sepanjang jalan protokol Tuban. Tak hanya medi Koran yang meliputnya, stasiun TV Nasional dan Lokal pun berebut meliputnya; TVRI dan Bone-TV menayangkannya selama berbulan-bulan, bahkan dijadikan iklan penayangan. “KAPRAH” adalah antologi Pusinya dalam 3 Penyair Lintas Kota.

Ahmad Moehdor al-Farisi, Presiden KOSTRA (Komunitas Sanggar Sastra) Tuban Jawa Timur. Beberapa Puisi dan eseinya nimbrung di media cetak nasionanl. “Malam pun Menyetubuhiku” adalah buku sekumpulan puisinya dan “Menyirat Cinta Haqiqi” antologi puisi bersama penyair Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunai Darussalam, adalah salah satu dari dua belas buku antologi puisinya.

halaman 9


esei

Hingar Bingar Novel Religi (Perjuangan Ideologi dan Negosiasi) Oleh Inung Setyami

araknya perkembangan media akan membawa dampak-dampak tertentu di berbagai bidang, baik dampak positif maupun dampak negatif. Perkembangan media ke tingkat global, menyentuh berbagai sisi kehidupan manusia. Hal ini secara tidak langsung memunculkan manusia-manusia dengan pola pikir modern yang canggih. Baik canggih secara pemikiran, akademik, dan kenyang akan kebutuhan intelektual hingga (kadang) lupa bahkan mengalpakan kebutuhan spiritual

halaman 10

tanpa kesadaran. Kehadiran media di tengah-tengah massa yang seakan menjanjikan masa depan kemodernan dan kecanggihan berbagai hal disegala bidang, ada kalanya menidurkan roh religius massa sehingga massa merasa mengalami kekeringan spiritualitas. Hal ini pada titik tertentu, kembali rindu pada “sesuatu yang hilang�, yakni nuansa sprititual. Penghadiran kembali ideologi-ideologi spiritualitas tersebut telah dinegosiasi dengan tendensi tertentu, salah-satunya daya tarik untuk


meraup keuntungan. Pada akhirnya akan terjadi penyilangan antara yang sakral (kerohanian) dan profan (keduniawian). Singkatnya dapat dikatakan bahwa, sesuatu yang ditarik dan ditolak akan menjadi tidak berjarak. Sesuatu yang ditarik tersebut, kadang didalamnya tanpa kesadaran telah menghadirkan sesuatu yang ditolak. Hal semacam ini, jelas terjadi kebersinggungan antara perjuangan ideology (religius) negosiasi dalam menarik massa. Dalam sastra, dapat dilihat dari munculnya novel-novel membawa penolakan terhadap terus-menerusnya ketergantungan media, kemodernan, keduaniawian, namun di dalamnya justru memunculkan ketergantungan terhadap hal-hal berbau keduniawian dan kemodernan yang disokong oleh peran media. Novel-novel Kebersinggungan ini muncul dalam novelnovel yang biasanya sangat mudah dikenali karakternya yakni diembel-embeli: inspirasi pembangun jiwa, penyegar jiwa, novel peneguh iman, dsb. Mengapa bukan diembeli: Novel pengguncang iman, pengering jiwa, dsb? Novel-novel bernuansa religi tersebut diantaranya, yaitu Dzikir-Dzikir Cinta, Mahabah Rindu, Sajadah Cinta, Kun Fayakun, Ketika Cinta Bertasbih, Dalam Mahrab Cinta, Di Atas Sajadah Cinta, Mahkota Cinta, Doa, Hafalan Salat Delisa, dsb. Novel berembel-embel pembangun jiwa yang lain, yaitu Negeri Lima Menara karya Ahmad Fuadi. Dalam novel ini menceritakan tokoh Alif yang hidup di Pesantren Madani, yang tidak diperkenankan bersentuhan secara bebas dengan media (radio, televisi, koran). Tayangan TV tertentu yang diperkenankan dilihat, siaran radio tertentu yang diperbolehkan didengar, dan hanya koran-koran tertentu yang boleh di baca.

Namun sebenarnya tokoh Alif justru sangat membutuhkan televisi untuk menyimak berbagai informasi yang ditayangkan, termasuk tayangan bola. Tokoh Alif merasa perlu melakukan penolakan dan pemberontakan terhadap gaya hidup di pesantren yang membatasi peran media. Alif merasa mampu mengenyangkan keintelektualannya saat ia mampu bebas bersinggungan dengan media. Bahkan Alif ingin menggapai dunia setinggi-tingginya, ingin bersekolah di sekolah umum, ingin almamaetr di ITB, dan menjadi seorang Habibie. Jelas bahwa, walaupun tokoh menimba ilmu di Madani yang lebih mengutamakan religiusitas, namun jiwanya ingin menggapai dunia (material dan finansial). Dalam hal ini, tokoh Alif) telah melakukan negosiasi antara kebutuhan spiritual dan materialnya. Saat menimba ilmu di Madani, ternyata bergantung pada media (TV, Radio, Koran) untuk mengenyangkan intelektualnya, walau mungkin hanya sekedar sebagai makanan camilan. Selain faktor keringnya nuansa religius dan tendensi keuntungan, maraknya novel religius tersebut tidak terlepas dari media sebagai pendukung, yakni perfilman. Setelah Ayat-Ayat Cinta “Best seller� dan difilmkan dengan jumlah penonton yang melebihi kapasitas, novel-novel religius lainnya bermunculan layaknya jamur. ***

Inung Setyami. Mahasiswi S-2 Ilmu Sastra, Fakultas Ilmu Budaya UGM

halaman 11


cerita-pendek

Burung Elang dan Seekor Tikus oleh Ahmad Ijazi H ia melepas seulas senyum hangat saat orang-orang yyang berpapasan dengannya menyapanya penuh hormat. Ada rasa kagum bercampur haru yang melebur memenuhi rongga dadanya. Keramah-tamahan penduduk Kampong Rupat yang konon tak pernah mengelupas sejak Kesultanan Siak bertakhta. Terus dikayuhnya langkah menapaki lereng bukit menjulang yang tampak menghijau memancang bubungan langit—sejuk terpandang bola mata dari kejauhan. Di pucuk awan seputih kapas, burung-burung elang terbang merentang sayap membentuk formasi

halaman 12


lingkaran sambil mengintai mangsa dengan mata setajam pedang. Andaikan aku seekor tikus lugu yang baru melesat dari tumpukan jerami, maka pada saat lengah, cakar elang dengan kuku-kuku seruncing ujung tombak itu pasti telah menyambar dan mencabik-cabik tubuhku! “Tapi aku aku bukan tikus bodoh yang kerap terancam hidupnya setiap kali akan melangkah. Aku juga bukan elang yang kejam dan tak kenal belas-kasihan membunuh binatang lemah hanya untuk menyumpal perutnya dari serangan busung lapar. Tapi aku adalah manusia yang memiliki hati nurani, yang mampu memberi senyum seindah bulan purnama saat orang-orang bahagia dan menitikkan air mata haru saat melihat orang-orang lemah tergulung dalam lumbung penderitaan,� begitu ucapnya saat menampilkan teater Darah Sang Sultan di Anjung Idrus Tintin beberapa tahun silam. Saat itulah awal ia bertemu dan langsung terpesona oleh kemolekan seorang gadis yang tampak anggun mengenakan Kurong Melayu dengan selempang tenun bercorak Pucok Rebung yang menghiasi dadanya. Malam itu, sang gadis yang lebih dikenal dengan sebutan Si Putri Bungsu dalam legenda Putri Tujuh—dan bernama asli Fatimah Kumala Dewi itu menghentak panggung dengan lantunan Dang Merdu yang melengking tinggi meliuk-liuk. Seluruh penonton berdecak penuh kekaguman dan applause pun membahana saat pertunjukan usai. Dan kini, ‘Si Putri Bungsu’ itu telah resmi menjadi permaisurinya setelah kurang lebih 2 tahun menjalin hubungan. Dia menarik nafas dalam-dalam lalu meng-hempaskannya kuatkuat. Hari ini adalah hari pertama ia mengenakan pakaian dinas. Garis setrika dan wangi yang menempel di serat baju masih tercium hangat di rongga hidungnya. Fatimah-lah yang menjahitkan pakaian dinasnya itu. Sepasang sepatu kulit yang membungkus kakinya tampak mengkilap, seolah-olah debu yang menyapanya sepanjang perjalanan enggan mendekat. Tiba-tiba petir menggelegar menyibak kesunyian. Seperti cerobong asap yang memuntahkan lahar jelaga, awan hitam merapat seperti tumpukan kelelawar tumpang tindih. Jarum-jarum hujan seperti anak panah yang dimuntahkan dari kawah langit. Dia menudung kepala dengan tas kulit yang tadi disandangnya di punggung. Dia melesat menembus hujan menuju teras sebuah bangunan. Dia mengibas-ngibas pakaiannya yang basah. Dipicingnya mata mendongak atap rapuh yang beberapa gentingnya terlepas. Nyeri mengeriap ulu hatinya saat mengenali dinding papan bangunan yang penuh lubang oleh kumbang yang berulah sarang. Beginikah bentuk bangunan Sekolah Dasar di Kampong Rupat? halaman 13


Begitu mirisnya ia kala menatap tiang-tiang penyangga bubungan yang meranggas digerogoti rayap. Patutlah Etek Maimunah sering mengeluh padanya. Pandi, anak bungsunya tak mau berangkat ke sekolah semalam. “Sekolah kami hampir roboh. Kalau hujan kami kehujanan. Buku-buku kami basah. Tintanya melebur hingga tak bisa lagi dibaca,� begitu Etek Maimunah menirukan keluhan anak bungsunya itu. “Burhan, segeralah kau urus dana ke pemerintah agar sekolah di kampong kita yang telah uzur itu bisa segera diperbaiki. Kasihan anak-anak, belajar tak tenang karena takut tertimpa genting setiap

halaman 14


hari saat angin ribut. Kau ‘kan Kepala Desa di sini.” Etek Maimunah menatapnya tajam waktu itu. Dia lemparkan pandangan kedua bola matanya ke seberang jalan. Disana tampak bangunan Puskesmas yang umurnya tak kalah uzur dengan usia sekolah yang berada di hadapannya saat ini. Hampir dua bulan ini, tak pernah lagi tampak bidan yang biasa melayani masyarakat yang ingin berobat. Rumah dinas di sampingnya pun sudah seperti kuburan, sepi dengan halaman penuh sampah serta rumput yang meninggi merayapi dinding. Atap seng bagian depannya terlepas. Bahkan beberapa jendela kaca pecah berhamburan di tanah. “Kasihan Pak Cik Jamal. Belum setahun menikah, sudah ditinggal mati istrinya yang susah melahirkan. Gara-gara Puskesmas tutup, Pak Cik Jamal terpaksa membawa istrinya yang terus merintih kesakitan ke rumah sakit umum di kecamatan. Tetapi, sesampainya di rumah sakit, nyawa istrinya tak tertolong,” Nada kekecewaan Etek Maimunah menyala di kedua bola matanya yang menikam Burhan tajam, seolah-olah dialah penjahat yang telah membunuh istri adik iparnya itu. Burhan terus melangkah melewati Masjid AlMu’minun yang diperbesar sejak setahun lalu agar bisa menampung jama’ah lebih banyak. Terutama pada saat perayaan Maulot1, Isra’miraj dan sembahyang hari raya. Jama’ah biasanya melimpah hingga ke teras-teras. Tapi sejak lima bulan terakhir, proyek pembangunan masjid itu terbengkalai. Belum tampak perubahan apa-apa. Padahal menurut Pak Imron, sekretaris kecamatan— memastikan bahwa dana yang telah dikucurkan mencapai 600 juta lebih. Lalu kemana raibnya uang sebanyak itu? Bukankah proyek pembangunan Masjid Al-Mu’minun itu telah dimulai sejak Pak Ilyas masih menjabat sebagai Kepala Desa Kampong Rupat?—sebelum akhirnya jabatan itu dipindahkan ke pundaknya oleh masyarakat melalui pemungutan suara secara demokratis. ***

1

Maulid Nabi halaman 15


Mata Burhan berbinar-binar menatap bangunan sekolah baru di hadapannya. Dinding papan yang penuh lubang telah berganti tembok semen dengan lantai keramik mengkilap. Puskesmas di sebarangnya pun telah dicat dan diganti jendelanya. Halamannya yang dulu penuh semak, kini telah disulap menjadi taman penghijauan. “Dua minggu lagi proyek pengaspalan jalan dari kecamatan ke kantor kelurahan akan segera terwujud sesuai harapan warga. Pemerintah pusat telah mengucurkan dana 500 juta dua hari lalu.” Burhan menyunggingkan senyum khasnya. “500 juta?” Mata Fatimah membelalak mendengarnya. “Wah, kebetulan, aku sudah menulis jadwal berlibur kita tahun baru ini ke Bali!” Fatimah mengerjap-ngerjapkan matanya. “Hah?!” “Lalu… kapan kau bayar DP Avanza biru yang kita tanyakan kemarin?” “Ya, Tuhan… kau ini bicara apa, Fatimah?” “Dana sebesar itu—apakah tak ada yang ditinggalkan di kantongmu?” “Astagfirullah, Fatimah! Itu uang rakyat. Hanya boleh dipergunakan untuk kesejahteraan masyarakat!” “Kita ‘kan juga bagian dari masyarakat? Dan kau sebagai Kepala Desa Kampong Rupat—sudah sepantasnya mendapatkan fasilitas yang lebih layak, bukan? Bosan aku naik motor bututmu itu terus!” Tiba-tiba saja Burhan merasakan kepalanya mau meledak. *** Di pagi yang masih dipermainkan embun, Fatimah telah duduk di depan mattakh2 untuk menenun kain songket melayu bercorak Pucok Rebung. Sepuluh jemarinya sangat cekatan memainkan belida, kusuran, serta apik yang memang sejak usia delapan tahun telah ia tekuni itu. Menjelang siang, Fatimah menggores kain berjenis katun dengan canting. Ia ingin membuat batik khas Melayu dengan motif bungo kenango atau mayang terurai. Selama ini, kain batik asli Melayu hanya bisa dipesan dari kota Solo atau Jogjakarta dengan kualitas eklusif dan harga selangit. Hanya bisa dijangkau oleh kalangan menengah ke atas. Beruntung sejak kecil ia dibesarkan dalam keluarga yang gemar menenun dan membatik. Ibunya dibesarkan dalam tradisi Jawa yang gemar membatik dan nembang. Sedangkan ayahnya tumbuh dalam lingkungan yang memegang erat adat istiadat Kesultanan Siak yang gemar menenun dan bersyair.

2

Mesin Tenun

halaman 16


“Jika batik Mayang Terurai ini telah usai, aku ingin membuatkan kau baju Teluk Belango-Cekak Musang,” ucap Fatimah sambil merentang kain dengan tekang3. “Kebetulan, minggu depan aku harus memberikan katasambutan pada pembukaan acara Madi Besafar. Aku ingin mengenakan baju batik Cekak Musang itu supaya penampilanku terlihat berwibawa.” “Tentu saja,” sahut Fatimah seraya mencomot lempuk duian4 di piring. “Tapi aku sendiri belum begitu paham dengan tradisi Mandi Besafar. Kau tahu, ‘kan aku baru dua tahun tinggal di Kampong Rupat ini. Hanya saja, karena aku orang berpendidikan—setelah menikahimu, orang-orang percaya kalau aku mampu memajukan kampong ini. Aku masih tak percaya kalau aku bisa menjabat Kepala Desa di kampong ini. Semua itu juga berkat dukungan keluarga besar ayahmu di sini. Padahal sejak kecil, aku dibesarkan di IndragiriHilir dalam keluarga dengan 2 suku berbeda—Melayu dan Banjo5. Aku malah lebih kenal tradisi Madihin6 daripada menyanyikan Surat Kapal, Serampang 12, atau Lancang Kuning. Apalagi tradisi Mandi Besafar, aku benar-benar baru mengenalnya.” “Tradisi Mandi Besafar itu awalnya diperkenalkan oleh nelayan Melake7. Ritual ini diawali dengan menggali sumur di sekitar pantai. Lalu sumur tersebut dijadikan sebagai tempat pemandian air wafak yang bertuliskan doa-doa. Kemudian dilakukan selamatan kecilkecilan di sekitar lokasi sumur. Prosesi Mandi Besafar selanjutnya dimulai dengan melakukan mandi bersama-sama di laut sembari membaca surah Al-Fatihah, surah Yasin, doa penolak balo8 dan diakhiri dengan mandi air sumur yang sudah diberi wafak,” terang Fatimah panjang lebar. “Mandi Besafar itu dilaksanakan pada bulan Safar9, ‘kan?” “Ya. Tepatnya pada hari Rabu terakhir bulan Safar. Masyarakat Kampong Rupat percaya bahwa hari itu sebagai hari nahas penuh musibah yang dikenal dengan sebutan Rabu Capuk atau bekas. Pada hari itu, masyarakat kampong dilarang melakukan kegiatan di luar rumah untuk menghindari berbagai bala dan musibah. Termasuk larangan melaut dan mengumpulkan kayu-kayuan di dalam hutan.

3 4 5 6 7 8 9

Alat perentang Sejenis dodol yang dibuat dari buah durian Banjar Tradisi bersyair Suku Banjar di Kabupaten Indagiri Hilir Riau Malaka Penolak Bala’ Bulan ke 2 penanggalan Arab halaman 17


Sebagai penggantinya, hari itu masyarakat kampong melakukan prosesi tolak bala yang disebut dengan Mandi Besafar.” Burhan mangut-mangut mendengar penjelasan Fatimah. “Hmm, aku kira tradisi Mandi Besafar ini bisa menjadi daya tarik wisatawan mancanegara jika terus dikembangkan.” *** Di sepanjang pantai putih terlihat atraksi Joget Lambak—tarian yang dilakukan secara beramai-ramai dengan berjambak-jambak untuk menyambut Rabu Capuk. Laki-laki dan perempuan bersamasama berjoget di bawah iringan musik khas Melayu seperti gambus, kecapi dan kumpang10. Joget Lambak berlangsung sepanjang satu malam. Masyarakat menikmati suguhan Joget Lambak yang dipadu dengan alunan tembang Melayu seperti Tanjung Katung, Serampang 12, Lancang Kuning dan Selayang Pandang. Sejak sore hari hingga malam menyingsing, beberapa wisatawan asing tampak asyik membidikkan kamera untuk mengabadikan beberapa tarian Mandi Besafar ini. Bahkan sebagian dari mereka tak malu-malu ikut berjoget mengiringi rentak kumpang yang ditabuh bertalu-talu. “Apa kau tak ingin ikut menari seperti wisatawan asing itu, Bang?” goda Fatimah sembari membuhul senyum simpul. Burhan tersenyum kecut. “Ah, kau ini ada-ada saja! Tapi, kupikir badanmu cukup gemulai menarikan tarian itu, Fatimah.” “Dulu sewaktu masih gadis aku sering menarikannya. Etek Maimunah adalah guru yang mengajari aku dulu.” “Etek Maimunah? Istri Pak Ilyas itu?” “Ya. Etek Maimunah itu tidak hanya pandai menari, tapi dia juga mahir bersyair dan melagukan Surat Kapal pada upacara adat pernikahan.” “Sepertinya kau tahu banyak tentang keluarga Etek Maimunah?” “Tentu saja. Dia ‘kan termasuk kerabat dekat ayahku. Sejak ibuku meninggal 10 tahun lalu, Etek Maimunah sudah kuanggap seperti ibu kandungku sendiri.” “Hmm, kalau dengan Pak Ilyas bagaimana? Seberapa besar kau sudah mengenalinya? Aku ingin tahu kepribadiannya lebih dalam, terutama saat ia menjabat sebagai Kepala Desa di kampong ini.” “Untuk apa?” “Aku ingin menyelidiki penyebab gagalnya proyek rehabilitasi Masjid Al- Mu’minun yang menurut catatan di kecamatan menghabiskan dana 600 juta.”

10

Gendang khas Melayu

halaman 18


“Ah, untuk apa kau urusi masalah yang tak penting itu? Membikin pusing kepala saja! Lebih baik kau pikirkan bagaimana motor bututmu itu bisa diganti mobil dinas oleh pemerintah. Pikirkan juga proyek pengaspalan jalan yang sudah cair dananya. Juga jadwal berlibur kita ke Bali—kau harus ingat itu!” “Hah, kau ini!” “Kapan kau bisa menyenangkan istrimu?” *** Burhan agak tersentak saat menerima telepon dari Pak Ilyas. Rupanya ia ingin mengunjunginya pagi ini. Ada yang ingin dirundingkan, katanya. Perundingan apa? Lama burhan tercenung. Hingga tiba-tiba saja sebuah ide gila meledak di kepalnya. “Aku harus mengatur siasat! Kecurigaanku atas raibnya dana proyek rehabilitasi Masjid Al-Mu’minun yang dilakukan Pak Ilyas harus kubuktikan hari ini juga!” Burhan masih gelisah saat deru mobil Pak Ilyas memasuki halaman rumahnya. Dengan keramah tamahan, Burhan menyambut kedatangan tamu agungnya itu dengan kehormatan penuh. “Apakah ada orang lain selain kita berdua di rumah ini?” Tanya Pak Ilyas tanpa basa-basi. “Kupastikan, hanya ada aku dan Anda,” sahut Burhan tenang. “Istriku sedang pergi arisan. Selepas Zuhur baru pulang.” Pak Ilyas memandang Burhan tajam. “Sudah seberapa jauh penyelidikanmu terhadapku?” Mata Burhan membulat seketika. “Sudah berapa banyak bukti-bukti yang kau kumpulkan?” “Eee…” “Jangan coba-coba bermain-main api denganku. Salah sedikit saja mematik api, kau bisa terbakar.” Tatapan tajam Pak Ilyas seperti hendak menelan tubuh Burhan hidup-hidup. Burhan diam membeku. “Kau pasti tahu, pemerintah tak kan pernah memfasilitasi Kepala Desa dengan apartemen mewah dan mobil mentereng, bukan? Jika kau menginginkan semua itu, kau tak boleh memertimbangkan halal haram. Kesempatanmu tidak banyak. Sekaranglah saatnya!” Burhan masih diam. Berpikir keras untuk memasang perangkap. Di depan musuh ia harus bisa memasang akting semeyakinkan mungkin. Seekor elang yang terserang busung lapar tidak akan membiarkan tikus gemuk di depan matanya lolos begitu saja! Bersiap-siaplah dengan kuku-kuku yang telah diasah setajam mungkin agar mangsa langsung mati dalam sekali terkam!

halaman 19


“Kau tak usah takut. Aku siap membantu kapan pun kau mau. Lagi pula hampir semua pejabat yang menduduki posisi penting di kecamatan dan kabupaten adalah kerabat dekat istriku. Aku bisa meminta mereka untuk membatu kita. Yang penting pembagian untukku tidak mengecewakan.” Pak Ilyas Melempar senyum. “Bagaimana?” Sudah Burhan duga sebelumnya, tak mungkin Pak Ilyas mampu bekeja sendiri. Dan kini sudah terbukti, banyak kaki tangan yang membantunya. Burhan masih memasang akting diam. Namun ketika Burhan akhirnya menganggukkan kepala, wajah Pak Ilyas seketika berbinarbinar penuh kegembiraan. Saat itu juga berluncuranlah sejuta pengakuan-pengakuan busuk dari mulut Pak Ilyas, termasuk jurusjurus jitu mencuci tangan setelah diceburkan ke kubangan lumpur. Ketika Pak Ilyas mohon diri, senyum Burhan pun mengembang. Ia gegas menghampiri lemari kaca dan meraih sebuah kamera mini yang terselip di antara tumpukan buku. Segala percakapannya dengan Pak Ilyas terekam rapi dalam kamera itu. Fatimah keluar dari persembunyiannya. Sejak tadi ia menguping pembicaraan suaminya dan Pak Ilyas dari balik pintu kamar. “Aku harus segera menyerahkan rekaman ini ke polisi. Kuharap kau mau mendukungku.” Burhan menepuk pundak istrinya. “Tentu saja. Aku pasti mendukungmu. Sudah semestinya kebenaran diungkap, bukan?” Senyum Fatimah merekah. Matanya berbinar-binar. *** Matahari terik menyemburkan pijar api dari kawah langit. Burung-burung elang tampak merentang sayap sembari mengintai mangsa dari kejauhan, persis seperti sepasang mata tajam yang tengah mengintai Burhan yang sedang memacu motornya di tikungan sepi. Dan Burhan seperti tersengat halilintar saat tibatiba melihat sebuah kijang yang melaju dari arah berlawanan melesat dengan kecepatan tinggi! Burhan terpekik, tak mampu lagi mengendalikan laju motornya! BRAAKKKK!!! Benturan dua kendaraan berbeda size itu terdengar begitu mengerikan! Tubuh Burhan terpelanting ke semak-semak. Darah segar menyembur dari kepalanya yang remuk. Sesosok pria bertopeng gegas keluar dari mobil kijang itu lalu menghampiri Burhan yang sekarat. Setelah memastikan Burhan tak bernyawa lagi dan menyelamatkan tas kulit berisi kamera yang dibawa Burhan, pria bertopeng itu kembali masuk ke dalam mobil kijangnya lalu

halaman 20


melesat pergi. Di tempat lain—di hamparan pasir putih, Pak Ilyas tak hentihentinya menyunggingkan senyum puas usai menerima telepon dari anak buahnya yang mengabarkan tewasnya Burhan. “Terimakasih, Fatimah. Untung kau cepat mengabariku. Kalau tidak, aku pasti sudah meringkuk di penjara,” ucap Pak Ilyas seraya mengecup bibir Fatimah dengan penuh kemesraan. Fatimah tesipu manja. Sungguh sangat menjijikkan! *** Pekanbaru, 2011

Ahmad Ijazi H, kelahiran Rengat Riau, 25 Agustus. Pernah menjadi pemenang 1 lomba menulis puisi Kado Untuk Guru 2011, Pemenang 2 sayembara menulis cerpen nasional Forum Sastra Bumi Pertiwi Jakarta 2011, Pemenang 1 lomba menulis puisi nasional majalah Story Jakarta 2010, Pemenang 2 LMCR nasional PT. Rohto Laboratories-Rayakultura Jakarta 2009, Pemenang 3 LMCR nasional PT. Rohto LaboratoriesRayakultura Jakarta 2010, dll. Novelnya “Metafora dan Alegori” terpilih sebagai pemenang harapan sayembara menulis novel Ganti Award se-Riau 2008. Sejumlah tulisannya dipublikasikan di beberapa media lokal maupun nasional sepeti: Riau Pos, Sumut Pos, Singgalang, Riau Mandiri, Metro Riau, Riau Tribune, Majalah Budaya Sagang, Majalah Sabili, Majalah Annida, Majalah Story, Ar-Royyan, Bahana, dan Gagasan. Cerpen dan puisinya termuat dalam antologi Negeri Anyaman, (cerpen pilihan Riau Pos 2010), Give Spirit for Indonesia, (antologi puisi Inspira Zone 2011), Dear Love, (Hasfa Publishing 2011), Selaksa Makna Ramadhan (Leutika Prio 2011), Mencari Wajah Ibu, (LMCR PT. Rohto Labrobatories 2009) Antologi Peraih Anugerah (LMCR PT. Rohto Labrobatories 2010), Tiga Biru Segi, (Antologi Puisi Hasfa Publishing 2010), Dua Warna (antologi cerpen dan puisi FLP Riau 2010) dll. Saat ini bekerja sebagai guru di SMP Islam Al-Uswah Pekanbaru. Bergiat di FLP Riau dan komunitas ALINEA Pekanbaru. Hp. 085664414801 email: aijazihasbullah@yahoo.com. Bank Mandiri : 108-00-0650978-1 cab. A. Yani Pekanbaru, a/n Ahmad Ijazi.

halaman 21


cerita-pendek

Ya‌. Bebas Murni oleh Dantje S Moeis

halaman 22


ejak pagi tadi. Sejak usai shalat subuh. Sejak naik mobil tahanan dan kemudian meninggalkan rumah tahanan ke pengadilan, hingga kini duduk seperti pesakitan sebagai terdakwa menunggu putusan majelis hakim. Sejak lama sebenarnya. Sejak tujuh bulan lalu, akhirnya ke jalan berliku jua langkah lurus di sisa-sisa hidup ini kutapaki. Keadaan yang membelokkan tanpa kehendakku, sungguh demi Tuhan, bukan buah dari salah dan silapku. Padahal pertengahan tahun depan aku dipastikan pensiun dari pekerjaan dengan jabatan akhir lumayan tinggi, berpengaruh dan menentukan dalam hampir segala keputusan. Rupanya jabatan tinggi juga menciptakan tantangan-tantangan yang sebenarnya tak ada dalam pikiranku sebelumnya. Tantangan yang terpikirkan dan lama kupersiapkan adalah kompleksitas beban yang harus kupikul. Di antaranya, meluangkan waktu lebih banyak untuk kepentingan pekerjaan daripada keluarga. Untunglah istri, anak-anak yang sudah dewasa dan terlihat sangat memahami akan beban tanggung jawab jabatan di pemerintahan Disengaja ataupun tidak, akhir-akhir ini ada sebuah fenomena yang terjadi di negara kita, menerima jabatan penting, sama dengan menjemput masalah yang bermuara pada petaka di diri pribadi. Dan itu sebuah kenyataan yang sekarang kuhadapi. Opini-opini yang dibangun oleh orang-orang yang tidak menyukaiku, orang-orang yang terhenti berkesempatan meraup kekayaan dengan cara yang tak halal dengan keputusan-keputusan dan kebijakan yang kubuat. Demikian gencarnya mereka secara sistematis membangun opini dan itu sangat mempengaruhi pikiran masyarakat yang bermuara pada kenyataan bahwa aku dicap sebagai koruptor besar dan sangat merugikan masyarakat. Terpuruk pada keadaan yang tak pernah kulakukan. Ironis, sebagai sebuah kenyataan dan aku hampir kehilangan kata-kata untuk menyampaikan kebenaran. “Saudara terdakwa.” “Ya..., yang mulia pak hakim.” “Apakah saudara cukup paham dan mengerti dengan tuntutan yang dibacakan oleh jaksa penuntut umum pada persidangan yang lalu?” Tersedak dan kerongkongan terasa tersumbat hingga aku kehilangan sama sekali kemampuan berkata-kata. Yang tampak jelas di saat ini, pada saat aku harus mendengarkan pembacaan putusan hakim adalah, gambaran kronologi penangkapan diriku siang itu. Beberapa orang petugas negara berkendaraan dinas,

halaman 23


menyalib dan menghentikan mobil yang kukendarai. Setelah memberi salam dan hormat, secara singkat mereka mengatakan bahwa mereka mendapat informasi bahwa aku telah melakukan transaksi ilegal dan meminta izin untuk melakukan penggeledahan awal pada mobil yang kukendarai. “Mohon maaf, berdasarkan laporan yang kami terima, kami terpaksa menggeledah bapak dan sekaligus mobil yang bapak kendarai.” “Silahkan,” aku menjawab enteng karena menurutku tak ada sesuatu perbuatan pelanggaran hukum yang kulakukan. Tak memerlukan waktu yang lama. Hasil dari penggeledahan mereka, ditemukan sebuah koper kecil tak berkunci. Keringat dingin mengucur dan lututku kontan menggeletar saat koper dibuka. Demi tuhan, aku sama sekali tidak mengetahui asal-muasal bahwa di bagasi mobilku ditemukan sebuah koper dan yang membuatku tak habis mengerti adalah, bahwa di dalam koper tersebut sarat dipenuhi dengan lembaran-lembaran uang seratus ribuan beserta secarik kertas bertuliskan, “terima-kasih pak, atas penunjukan bapak kepada kami sebagai pelaksana pekerjaan. Atas kerja sama yang baik dan berkelanjutan, kami ucapkan sekali lagiterima kasih.” Di bawahnya tertera tanda tangan dan nama yang sangat kukenal. “Ya…. Tuhan!” Bukankah dia yang berkali-kali mohon kepadaku minta pencairan dana akhir dari pekerjaan yang jauh dari kata selesai. Dan permohonannya sama-sekali tidak bisa kupenuhi hingga terakhir pagi tadi. “Saya harap anda tidak lagi datang ke sini dengan permintaan yang sama. Saya sudah memberikan keringanan dengan mengulur batas waktu penyelesaian dan itu tidak anda manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Saya harap anda keluar dari ruang ini dan bersiap diri menghadapi proses hukum yang akan saya ajukan. Selamat siang.” “Maaf pak.” Aku dikejutkan dan membuyarkan lamunanku saat salah seorang dari petugas menggamit lenganku. “Bapak terpaksa kami bawa kekantor berdasarkan bukti awal, untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, berikut mobil dan semua barang bukti.” “Saudara terdakwa, sekali lagi. Apakah saudara cukup paham dan mengerti dengan tuntutan yang dibacakan oleh jaksa penuntut umum pada persidangan yang lalu?” Aku tetap tak dapat menjawab pertanyaan hakim. Kesadaran dan orientasiku terhadap lingkungan seperti hilang, walau

halaman 24


pendengaranku masih tajam seperti biasa. Berkali-kali hakim ketua mengingatkanku untuk menjawab pertanyaannya dan berkali-kali pula ia mengancam dengan sangsi memberatkan, bagi aku yang menurutnya mempersulit jalannya persidangan. Tatapan kosong dan tak mampu berkata-kata karena aku sudah sampai pada kesimpulan bahwa kata-kataku tak lagi diperlukan di sini. Yang aku perlukan saat ini adalah uluran tangan Tuhan yang mampu mengeluarkan aku dari kemelut tekanan batin yang kurasa sudah mencapai titik puncak. Menggumam membaca sajak yang pernah kutulis:

Betapa dinginnya hari-hari kita Hingga beku di tanah ini terkasih Apalagi ku, kau dan kita Sedangkan anjing-anjing malas menyalak Dan bisu menjaga rumah Seperti ku, kau dan kita Terlalu gemuk memakan sesama Hingga ke tulang-tulang tak bersisa Betapa dinginnya hari-hari terakhir di tanah ini terkasih Karena air mata hangat enggan menetes ke lahat Terbujur jasad dari negeri Berisi ku, kau dan kita Yang tak pernah mau perduli Menghitung tasbih dan berzikir, hanya telinga yang mendengar dan otak tak lagi mau diajak berfikir, sedangkan hakim ketua terus membacakan amar putusan. Pasal demi pasal dibacakan berikut tuntutan demi tuntutan sebagai sangsi yang harus kujalani. Berbuih-buih mulut majelis hakim, berganti-ganti membacakan amar putusan dan aku tersedak, tak lagi mendengar, tak lagi berzikir, tak lagi menggumamkan sajak yang ada hanya gelap sekejap, lalu melayang. Hilang segala tekanan, hilang segala beban sedang majelis hakim terus berganti-ganti membaca amar putusan. Aku tersenyum memandang dari ketinggian langit-langit ruang sidang.

halaman 25


Jasadku terduduk kaku di kursi pesakitan ketika para hadirin mengucapkan “Inalillahi waina ilaihi rojiun,” hakim mengetuk palu memberikan keputusan “bebas murni” dan tidak memberlakukan semua amar putusan yang mereka bacakan hingga berbuih-buih. “Ya…. Aku bebas murni berkat tanganmu ya Allah.”

***

halaman 26


cerita-pendek

Malam Terakhir Leni Oleh: Karisma Fami Y

halaman 27


Aku

menjawab semua pertanyaan komisaris polisi itu dengan hati-hati. Aku menceritakan pembicaraanku dengan Leni malam itu. Pembicaraan yang aku sendiri tidak begitu jelas karena ia mabuk. Komisaris Polisi itu menyimak ceritaku dengan tatapan dingin. Sesekali ia menghela napas dalam sambil menatap mataku tajam penuh selidik. Aku adalah orang terakhir yang berbicara dengan Leni malam itu. Setelah itu Leni dinyatakan tewas karena mabuk dan over dosis. Polisi sedang mengusut kasus itu. Kematian Leni mengagetkanku. Aku pernah memusuhinya ketika ia merebut pacarku ketika SMA, dua belas tahun yang lalu. Sebelumnya kami tak begitu mengenal satu sama lain. Kami berbeda kelas dan tidak saling memerhatikan. Aku mulai memerhatikannya ketika Jana, pacarku saat itu diam-diam selingkuh dengannya. Sejak itulah aku mengenal namanya, dan mulai bermusuhan. Leni bukan orang yang asing bagiku. Reputasi Leni sebagai cewek yang suka menguber cowok menjadikanku naik pitam. Ia pun membalas dampratanku dan sama sekali tidak merasa bersalah karena telah menjadi pihak ketiga dalam hubungan kami. Aku memusuhinya. Jana pergi meninggalkan kami berdua dengan tanda koma. Tak ada penyelesaian apapun yang dilakukannya. Jana tak memilih siapapun di antara kami. Tak lama kemudian Leni pun menggandeng kakak kelas yang sudah lama diincar Santi, teman baik dan anggota gengku. Sejak saat itu resmilah dia sebagai musuh seluruh anggota geng kami. Aku juga harus membagi konsentrasi dengan ujian akhir dan ujian masuk universitas yang telah lama aku impikan. Kuabaikan perasaanku dan semua konflik asmara yang kuhadapi dan kembali belajar dengan sungguh-sungguh. Aku melupakan peristiwa itu dan fokus pada studi dan sekolahku. Aku diterima di jurusan dan universitas yang aku impikan. Aku pun sibuk dengan kuliahku dan mulai melupakan kejadian itu. Hingga kemudian aku bertemu lagi dengan Leni ketika aku mendapat pekerjaan di kantor ini. Memang kami berbeda perusahaan tapi pemilik dan bos kami adalah orang yang sama. Bos pemilik perusahaan kami memiliki sejumlah perusahaan yang secara administratif ditempatkan di satu atap. Leni berada di usaha pelayanan jasa pengadaan barang bangunan, sedang aku arsitek perancang dari usaha kontraktor. Hampir setiap hari aku bertemu dengan Leni, setidaknya berpapasan di lift atau di toilet. Dengan alasan sentimentil aku tak sudi melihat wajahnya. Namun dia seolah justru menjual tampangnya padaku. Sengaja ia sorongkan mukanya ketika bertemu, tapi tetap saja kami berpura-pura tidak

halaman 28


saling mengenal. Perang dingin itu masih berlangsung tanpa memengaruhi pekerjaan kami. Aku mengabaikannya dan konsentrasi dengan pekerjaanku.Sejak Iman, teman satu tim sekaligus teman dekatku mengundurkan diri, banyak pekerjaan Iman yang dilimpahkan padaku. Bos berjanji akan mencari pengganti posisi Iman tapi selama dua bulan belum juga ada orang yang tepat menjadi partnerku. Sejak saat itu aku selalu menyimpan obat sakit kepala, vitamin penambah stamina dan obat maag yang selalu kusiapkan di tas untuk berjaga-jaga. Dengan ritme kerja yang akhirnya dua kali lipat dari sebelumnya aku harus berjaga-jaga dari penyakit yang kerap datang. Suatu ketika bos mengadakan pesta ulang tahun pernikahan. Semua pegawai dan karyawan dari semua perusahaan yang dimilikinya diundang datang ke pesta yang diadakan di rumah bos yang mewah dan besar. Aku datang sendiri karena mas Bimo, tunanganku, sedang di luar kota. Mas Bimo adalah kekasihku sejak kuliah. Ia bekerja sebagai konsultan bangunan di sebuah perusahaan property ternama di kota ini. Pekerjaannya menuntut ia lebih banyak di lapangan dan bahkan harus berdinas beberapa hari di luar kota. Bulan lalu kami bertunangan. Beberapa waktu yang lalu mas Bimo mengatakan padaku bahwa ia tak bisa menemaniku ke pesta ulang tahun bosku karena ia mendapat tugas ke luar kota selama tiga hari. Akhirnya malam itu aku datang seorang diri. Pesta berlangsung meriah. Halaman dan kebun rumah bos dipenuhi tamu undangan. Aku melihat Leni duduk sendiri di pojok ruangan ditemani sebotol besar anggur. Ia melambaikan tangannya padaku, mengundangku ke mejanya. Ia peminum ulung. Ia menawariku minum. Aku menolaknya tapi ia memaksa. Ia tertawa saat aku terbatuk-batuk dan menyerah pada teguk pertama. Akhirnya aku hanya duduk diam menyimak ceritanya yang semakin ngawur. Artikulasinya mulai tak jelas. Botol anggurnya hampir tandas ketika aku pamit pulang padanya. Ia sudah telungkup di meja depannya dan tak menjawab. Pagi berikutnya aku tidak bertemu dengannya di lift, toilet atau di tempat manapun. Polisi mendatangi kantor dan membawaku ke kantor polisi. Aku dimintai berbagai macam keterangan dan pertanyaan tentang pesta dan kejadian semalam. Sepeninggalku dari sana Leni sudah tak bernyawa. Ia mabuk berat dan minum obat sakit kepala hingga over dosis. Kepala polisi itu terus mencecarku dengan berbagai pertanyaan.

halaman 29


Setelah tiga jam tanya jawab yang melelahkan itu, aku diperbolehkan pulang. Aku pulang dengan sedikit perasaan lega. Setidaknya beban berat sedikit terangkat dari punggungku. Aku pulang naik taksi. Aku memejamkan mata, mengarus taksi yang membawaku ke rumah. Perlahan aku mengingat kembali pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan komisaris polisi tadi dan mencatatnya dalam ingatan terbaik yang aku miliki. Tubuhku terlalu lelah untuk mencatat. Semalam aku pulang larut dan berkeras berangkat pagi-pagi ke kantor. *** Aku mencari kado untuk bosku saat jam istirahat. Ketika memarkir mobil, tiba-tiba jantungku berdetak keras. Sangat keras. Aku mengenal mobil itu. Mengapa mobil mas Bimo ada di sini? Bukankah ia tiga hari ke luar kota? tanyaku dalam hati. Ternyata mas Bimo tak sendiri, seorang perempuan keluar dari mobil dan menggandengnya mesra sekali. Mereka keluar dari mobil sambil tertawa-tawa. Aku tak dapat membendung perasaanku. Kulepas cincin yang melingkar di jari manisku. Sebulan sudah cincin itu bertengger di sana dan sekarang aku ingin melepasnya. Air mataku tak dapat kutahan demi melihat perempuan itu. Leni! Ya, lagi-lagi Leni! Kuurungkan niat mencari kado dan memutar mobil kembali ke kantor. Aku menangis sesenggukan di ruanganku. Aku tidak ingat makan siang dan malas beranjak pulang. Aku berangkat ke rumah bos dari kantor dan berdandan seadanya. Pesta sudah lama dimulai ketika aku tiba. Kulihat Leni duduk sendiri di pojok ruangan. Ia melambaikan tangan padaku. Di depannya sebotol besar minuman keras tinggal setengah. Ia mabuk. Aku menghampiri mejanya dan duduk di depannya. Aku hanya diam seperti anak kucing diguyur air meskipun hatiku terasa mengkal dan mendidih sekali pada perempuan ini. Ia berceloteh tak jelas ketika aku merogoh obat sakit kepala di tasku. Mulutnya beraroma alkohol. Matanya sudah setengah terpejam, namun mulutnya masih juga mengoceh. Aku tak tahu apa yang dibicarakannya. Ia menawariku minum, dan aku menolaknya. Ia memaksa dengan menuangkan minuman keras itu ke gelasku. Ia tertawa ketika aku terbatuk-batuk hebat saat cairan panas itu melewati tenggorokanku. Tubuhku menolak minuman yang memenuhi tenggorokan, tapi sebenarnya dirikulah yang menolak keberadaan perempuan itu dalam kehidupanku. Aku tidak ingin melanjutkan minumku sementara ia terus minum tanpa khawatir. Aku memasukkan beberapa obat sakit kepala ke gelasnya

halaman 30


dan menuangkan anggur dari botol di depan hidungnya. Ia menenggaknya hingga tandas. Ia terus mengoceh sementara aku hanya diam menatap gelasku yang masih utuh. Tak lama kemudian ia ambruk menelungkup meja. Aku bangkit dan mencari tuan rumah untuk mengucapkan selamat dan pamit pulang. Hatiku plong tapi perasaanku tak tenang malam itu. Aku pulang dan mandi di pancuran untuk menghilangkan rasa marah, salah, lemah dan dosa yang mungkin masih tersisa di kepalaku. Kuabaikan telepon yang berdering berkali-kali dari mas Bimo. Kutenggak pil tidur dan segera membaringkan tubuh, berharap semua ini hanya mimpi buruk. *** Aku berangkat lebih pagi dari biasanya. Aku ingin segera tiba di kantor. Tiba-tiba aku berharap bertemu dengan Leni di lift, toilet atau di manapun. Tapi tidak. Hampir tengah hari aku sudah bolakbalik ke kamar mandi, tak sedikitpun aku jumpai batang hidung Leni yang biasanya membenahi bedak, lipstik atau mascaranya di cermin toilet. Aku mulai cemas. Diam-diam perasaan takut menyerangku. Aku tetap mengabaikan telpon dari mas Bimo yang berkali-kali mengirim SMS menanyakan keadaanku. Lewat tengah hari, Ida, recepsionis kantor menelponku lewat intercom. Seorang polisi dan intel datang ke kantor dan mencariku. Dadaku berdegup kencang dan kukatakan pada Ida agar mempersilahkannya masuk ke ruanganku lima menit lagi. Aku membuka tasku dan meyakinkan diri bahwa tak ada obat sakit kepala disana. Seorang intel berjaket hitam masuk ke ruanganku. Aku mempersilahkannya. Ia duduk dengan sopan di depanku. Lama ia tidak memulai pembicaraan dan hanya menatapku. Aku berusaha tetap tenang menatapnya dan menanyakan maksud dan tujuannya. Tapi ia tetap diam menatapku tajam penuh selidik. “Jana?� pekikku kaget. Waktu seolah berhenti. “Ya� jawabnya pendek nyaris tanpa senyum... ***

halaman 31


cerita-pendek terjemahan

Gaun Perempuan di Musim Panas Oleh Irwin Shaw

(Terjemahan dari The Girls in Their Summer Dresses ke bahasa Indonesia oleh Beng Abdillah)

halaman 32


FIFTH AVENUE, mandi matahari yang memantulkan cahaya ke mana-mana, ketika mereka meninggalkan Brevoort. Siraman cahaya matahari terasa hangat meskipun bulan Februari, segalanya tampak sebagaimana biasanya pada hari Minggu pagi: bus angkutan dan orangorang yang lalu-lalang melangkah pelan bersama pasangannya masingmasing dengan pakaian yang indah, juga gedunggedung yang sepi dengan jendela tertutup. Michael menggandeng lengan Frances dengan erat saat mereka menelusuri jalan menuju Washington Square di bawah sireaman matahari. Mereka berjalan santai, menebar senyum, karena mereka telah memperoleh tidur yang yang pulas lengkap dengan sarapan pagi yang nikmat pada hari Minggu itu. Michael membiarkan mantelnya terdedah tak berkancing berkibar-kibar ditiup angin sejuk. “Eit…Awas!” seru Frances ketika mereka menyeberangi Eight Street. “Lehermu bisa terkilir.” Michael tertawa dan Frances pun tertawa, mereka gelak bersama. “Dia tak terlalu cantik lah,” sambung Frances. “Paling sedikit, tak cukup cantik untuk membuat lehermu terkilir.” Michael tergelak. “Darimana kau tahu kalau aku tadi meliriknya?” Frances memalingkan wajahnya dan tersenyum kepada suaminya dari bawah tepi topinya. “Mike sayang,” ujarnya. “Oke, oke,” sahut sang suami. “Maafkan aku.” Frances menepuk lengan suaminya dengan lembut kemudian menariknya lebih cepat menuju ke Washington Square. “Ayo kita jangan melirik ke orang lain di hari ini,” katanya. “Biarlah kita berdua pergi ke mana saja. Hanya kita berdua, tak usah pedulikan orang lain, mereka minum scotch mereka dan kita minum scotch kita. Di ranjangpun hanya kita berdua. Pokoknya sepanjang hari ini aku ingin kita berduaan saja dengan suamiku. Ku ingin kau berbicara dan mendengar hanya apa kataku.” “Apa yang menghentikan kita?” tanya Michael. “Keluarga Stevenson. Mereka ingin kita siap sekitar pukul satu dan akan mengantar kita ke desa.” “Keluarga Stevenson yang licik,” kata Mike. “Jelas mereka bisa bersiulsiul. Mereka bisa pergi ke desa sendiri.” “Apakah begitu janjinya?” “Ya, begitulah perjanjiannya.” Frances memiringkan tubuhnya dan mengecup ujung telinga suaminya. “Sayang,” ujar Michael memperingatkan. “Ini di Fifth Avenue.” “Biar aku yang merencanakan programnya,” kata Frances. “Sebuah rencana hurahura pada hari Minggu di New York untuk sepa-

halaman 33


sang suami istri muda yang berduit.” “Berhematlah.” “Langkah awal kita akan pergi ke Museum Seni Metropolitan,” Frances mengusulkan, karena Michael pernah mengatakan selama sepekan ini bahwa ia ingin pergi ke sana. “Aku sudah tiga tahun tidak ke sana dan di sana sedikitnya ada sepuluh lukisan yang ingin kulihat. Kemudian kita naik bis ke Radio City dan menonton permainan selancar. Lalu kita lanjutkan ke Cavanagh di mana kita bisa menikmati santapan steak sebesar celemeknya para tukang besi, dengan sebotol anggur, dan selanjutnya di sana ada film Prancis di Filmarte yang kata orangorang … Kau masih mendengarkan aku?” “Ya,” jawab suaminya. Pria itu mengalihkan pandangannya dari seorang gadis tak bertopi berambut hitam lebat yang dipotong seperti model penari, mirip sebuah helm, yang sedang berlalu di depannya. “Itulah program hari ini,” ujar Frances menandaskan. “Atau barangkali kau lebih suka kita hilir-mudik saja di Fifth Avenue ini.” “Aku seorang pria yang sudah berkeluarga dan berbahagia”. Michael menggamit siku istrinya dengan lembut. “Teladan untuk seluruh abad dua puluh: Tuan dan Nyonya Mike Loomis. Yuk, mari, kita minum,” ajaknya sambil berhenti. “Kan kita baru saja sarapan.” “Dengar, sayang,” ujar Mike, ia memilih katakata yang akan diucapkannya dengan hatihati. “Ini adalah hari yang indah dan kita berdua merasa senang dan tidak ada alasan untuk merusak suasana ini. Mari kita nikmati Minggu yang indah ini.” “Baiklah. Aku tak tahu kenapa aku memulainya. Lupakan saja. Mari bersenangsenang.” Mereka saling bergandengan tangan dan melangkah tanpa berkatakata di antara keretakereta dorong bayi dan orangorang Italia tua dalam pakaian hari Minggu mereka dan wanitawanita muda dengan pakaian ala Skotlandia di Washington Square Park. “Paling tidak setahun sekali tiap orang harus mengunjungi Museum Seni Metropolitan,” Frances berkata setelah beberapa saat, nada bicaranya dibuat persis seperti ketika mereka masih sarapan tadi dan waktu mulai berangkat jalanjalan. “Dan menyenangkan sekali di hari Minggu. Di sana banyak orang yang menonton lukisan dan kau akan merasakan bahwa seni masih dihargai di kota New York, akhirnya….” “Aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” ujar Michael dengan serius. “Aku tidak pernah menyentuh wanita lain. Tidak pernah sekalipun. Dalam lima tahun ini.”

halaman 34


“Oke lah,” kata Frances. Mereka berjalan di antara kursi-kursi yang penuh diduduki oleh orangorang di bawah kerindangan pepohonan taman yang teduh. “Aku berusaha untuk tidak memperhatikannya,” lanjutnya. “Tapi aku merasa tidak enak ketika berpapasan dengan seorang wanita dan kau menatap ke arahnya dan aku melihat dalam pandangan matamu itu seperti ketika kau memandangku pertama kali dulu. Di rumah Alice Maxwell. Kau berdiri di ruang tamu, di samping radio memakai topi hijau dan juga orangorang itu.” “Aku ingat topinya,” ujar Michael. “Seperti itu,” kata Frances. “Dan itu membuatku tidak enak. Membuat aku sakit.” “Ssst. Sudah, sayang. Ssst.” “Aku ingin minum sekarang,” kata Frances. Mereka berjalan ke sebuah bar di Eight Street, tanpa berkatakata. Michael secara otomatis menolong istrinya ketika melewati batubatu pinggir jalan dan menuntunnya menyeberang jalan di antara lalu-lalang kendaraan yang melintas. Mereka duduk di dalam bar dekat jendela. Seberkas sinar matahari menyapu menembus masuk ke dalam. Dan di sana juga ada api kecil yang menyalanyala di tungku perapian. Seorang pelayan bangsa Jepang yang bertubuh kecil datang dan meletakkan beberapa kue kering yang rasanya asin dan tersenyum cerah kepada mereka. “Engkau pesan apa setelah ini?” “Brandy,” jawab Frances. “Carvoisier,” kata Michael kepada pelayan itu, “dua Carvoisier.” Pelayan tadi datang kembali membawa gelas dan mereka berdua minum brandy sambil duduk di bawah sinaran matahari. Michael menghabiskan setengah isi gelasnya dan meneguk sedikit air. “Aku memandangi wanitawanita,” ujarnya. “Benar. Aku tidak mengatakan hal itu baik atau buruk. Aku memandangi mereka. Jika aku berpapasan dengan mereka di jalan dan aku tidak melirik mereka, aku membodohimu dan aku membodohi diriku sendiri.” “Kau memandangi mereka seakanakan kau hendak memiliki mereka,” kata Frances sambil memutar-mutar gelas brandynya. “Masing-masing dari mereka.” “Dari satu segi,” ujar Michael, berkata perlahan dan tidak ditujukan kepada istrinya, “dari satu segi itu memang benar. Aku tidak berbuat apaapa, tapi itu memang benar.” “Aku tahu. Itulah sebabnya mengapa aku merasa sakit.” “Brandy lagi!” seru Michael. “Pelayan, dua brandy lagi!” Ia kemudian mendesah dan memejamkan kedua kelopak mat-

halaman 35


anya dan menggosoknya dengan halus menggunakan ujung jarinya. “Aku menyukai penampilan seorang wanita. Salah satu yang paling kusukai di New York adalah kerumunan wanitanya. Ketika pertama kali aku tiba di New York dari Ohio itulah hal pertama yang menarik perhatianku, berjuta wanita cantik, di seluruh kota. Aku jalanjalan berkeliling dengan perasaan takjub.” “Anak ingusan,” komentar Frances. “Itu perasaan dari seorang anak ingusan.” “Coba tebak lagi,” ujar Michael. “Tebak lagi. Aku lebih tua sekarang. Aku seorang pria yang hampir separuh baya, mulai bertambah gemuk dan aku masih suka berjalan di sepanjang Fifth Avenue pada jam tiga sore di sebelah timur jalan antara Fiftieth dan Fiftyseventh Street. Mereka lalu keluar, berbelanja, memakai mantelmantel bulu dan topitopi yang meriah. Semuanya terhimpun dari seluruh dunia di dalam tujuh blok: mantel bulu terbaik, pakaian terbaik, wanitawanita tercantik yang keluar untuk membelanjakan uangnya dan merasa senang sesudah itu.” Pelayan Jepang tadi meletakkan dua gelas minuman sambil tersenyum dengan amat ceria. “Semuanya baikbaik saja?” tanyanya sekedar berbasabasi. “Segalanya beres!” sahut Michael. “Seandainya ada sepasang mantel bulu,” kata Frances, “dan topitopi seharga empat puluh dollar….” “Bukan mantel bulunya. Atau topinya. Tapi pemandangan istimewa dari para wanita itu. Mengerti,” potong suaminya. “Engkau tidak harus mendengarkannya.” “Aku ingin mendengarnya.” “Aku suka dengan gadisgadis di perkantoran. Rapi, berkaca mata, pintar, ceria, dan pandai mengurus segalanya. Aku suka pada gadisgadis di Fortyfourth Street pada waktu jam makan siang. Juga para aktris, semuanya melepas pakaian sepekan sekali. Aku pun suka pada para pelayan wanita di tokotoko, mereka melayanimu lebih dulu karena kau seorang lakilaki dan membiarkan para pembeli wanita menunggu. Semua ini telah kupendam selama sepuluh tahun dan sekarang baru kau tanyakan. Dan begitulah adanya.” “Teruskan,” kata Frances. “Ketika aku berpikir tentang kota New York, dalam benakku semua gadisgadis itu sedang berpawai di kota ini. Aku tak tahu apakah hanya aku sendiri ataukah semua pria yang lain juga memiliki perasaan yang sama, tapi aku merasa betulbetul sedang berdarma-wisata di kota ini. Aku suka duduk di dekat para wanita di gedung teater, wanitawanita cantik yang berdandan selama enam jam

halaman 36


hanya untuk pergi menonton. Dan gadisgadis remaja dalam pertandingan football, dengan pipipipi mereka yang kemerahan. Dan ketika cuaca sedang hangat, para gadis dengan pakaian musim panas mereka”. Iapun menghabiskan minumannya. “Begitulah ceritanya.” Frances menghabiskan minumannya pula dan meneguk lagi dua atau tiga kali. “Kau bilang bahwa kau mencintaiku?” “Aku mencintaimu.” “Aku juga cantik,” kata Frances lagi. “Tidak kalah cantik dengan mereka.” “Kau sangat manis,” timpal Michael. “Aku baik padamu,” ujar Frances menambahkan. “Aku telah menjadi istri yang baik, mengurus rumah tangga dengan baik, menjadi sahabat yang baik. Bahkan aku telah melakukan segalanya untukmu.” “Aku tahu itu,” Michael menimpali. Ia menggerakkan tangannya dan menggenggam telapak tangan istrinya. “Kau ingin bebas untuk….” “Ssst!” “Katakan yang sesungguhnya,” desak wanita itu dan melepaskan telapak tangannya dari genggaman suaminya. Michael menjentik gelasnya dengan jarinya. “Baiklah,” katanya dengan suara pelan. “Terkadang aku memang merasa ingin bebas.” “Kalau begitu,” kata Frances, “kau dapat melakukan kapan saja.” “Jangan bodoh,” Michael mengayunkan kursinya ke sisi istrinya di depan meja dan menepuk paha sang istri. Wanita itu mulai menangis perlahan ditutupi sapu tangannya, ia membungkuk sedemikian rupa sehingga tak ada orang lain yang tahu. “Suatu hari nanti,” katanya sambil menangis, “kau tampaknya akan meninggalkan aku.” Michael tidak berkata sepatahpun. Ia hanya duduk memperhatikan bertender yang sedang menguliti jeruk secara perlahan. “Iya, kan?” Frances mendesak. “Ayo katakan padaku. Bicaralah. Iya, kan?” “Mungkin,” ujar Michael. Ia mengayunkan kursinya kembali ke tempat semula. “Bagaimana aku bisa tahu?” “Kau tahu,” desak Frances lagi. “Iya, kan?” “Ya,” jawab Michael akhirnya setelah beberapa saat, “aku tahu.” Frances kemudian menghentikan tangisnya. Dua atau tiga tetes air mata jatuh di sapu tangannya lalu dijauhkannya sapu tangan itu. Kini wajahnya tampak biasa lagi. “Setidaknya penuhi satu permintaanku saja,” katanya.

halaman 37


“Apa itu?.” “Berhentilah berbicara betapa cantiknya wanita yang ini atau yang itu. Mata yang indah, tetek yang indah, tubuh yang sintal, suara yang merdu”. Mimik wajahnya menekankan katakatanya. “Simpan saja semua itu untuk dirimu sendiri. Aku tak tertarik.” Michael melambai kepada pelayan. “Akan ku simpan untuk diriku sendiri,” ujarnya. Frances mengusap kedua ujung matanya. “Brandy lagi!” serunya kepada pelayan. “Dua!” kata Michael menambahkan. “Baik, Pak. Baik, Bu,” sahut si pelayan dan iapun kembali. Frances memandang Michael dengan dingin dari seberang meja. “Bagaimana kalau aku menelpon keluarga Stevenson?” tanyanya. “Akan menyenangkan berada di desa nanti.” “Ya,” sahut Michael. “Telepon mereka.” Wanita itu beranjak dari mejanya dan berjalan melintasi ruangan bar menuju ke tempat telepon. Michael memperhatikannya ketika sedang berjalan begitu. Ia berpikir betapa cantiknya wanita itu, betapa indah sepasang kakinya.***

Irwin Shaw (27 Februari 1913 - 16 Mei 1984) Merupakan seorang dramawan produktif Amerika, penulis skenario, novelis, dan penulis cerita pendek yang ditulis karya telah terjual lebih dari 14 juta kopi. Dia terkenal karena novelnya The Young Lions (1948) tentang nasib tiga tentara selama Perang Dunia II yang dibuat menjadi sebuah film yang dibintangi Marlon Brando . Meskipun pekerjaan Shaw menerima pujian kritis luas, keberhasilan fiksi komersialnya pada akhirnya berkurang reputasi sastranya. Shaw terlahir dengan nama Irwin Gilbert Shamforoff di South Bronx, New York City, sebagai imigranYahudi Rusia. Orangtuanya Rose dan Will. Adiknya, David Shaw (meninggal 2007), tercatat sebagai produser di Hollywood. Tak lama setelah kelahiran Irwin, para Shamforoffs pindah ke Brooklyn. Irwin mengubah nama keluarga setelah memasuki perguruan tinggi. Dia menghabiskan sebagian besar masa mudanya di Brooklyn, di mana ia lulus dari Brooklyn College dengan gelar Bachelor of Arts gelar pada tahun 1934. Shaw meninggal di Davos, Swiss pada 16 Mei 1984, dalam usia 71tahun, setelah menjalani perawatan panjang untuk kanker prostat yang diidapnya. (Red. Dari berbagai sumber).

halaman 38


sajak

Asrina Novianti

Episode Banyak Kata Tanjungkarang Senja Kuning Di Jakarta Cuaca Sayap Hujan Mayat Sisifus Ujung Jalan Kidung Lelaki

ASRINA NOVIANTI Lahir di Lahat, 11 Nopember 1980. Salah satu puisinya “Tenung Asmara Telukbetung� terpilih sebagai nominasi Krakatau Award 2006 yang ditaja Dewan Kesenian Lampung. Tulisan berupa opini, tinjauan buku, dan puisi termuat di Lampung Post, Riau Pos, Kompas, dll.

halaman 39


Episode

berulang kau toreh aku dalam luka yang sunyi kenangan meradang tanpa kelip kunang-kunang berapa lama aku mesti menunggu? di punggung stasiun tanpa bayanganmu sedalam waktu aku mengerjap di kelammu

Banyak Kata banyak kata di tubir usia tak lelah membaca getar peristiwa sedang aku beku di musim cakap engkau tak kunjung lengkap hanya igau orang-orang tandang di setiap jeda iklan di televisi sampai kata membusuk dalam tidurmu

halaman 40


Tanjungkarang

selain masa kecil apa yang pernah tamat kau ukir buat kota ini? saat asmara melumat di lorong jalan kenangan seperti melintas di runcing malam ada kepak walet terbang rendah hujan yang rebah di asam cuka sebentar lagi kau akan bertemu getar sunyi di dada orang-orang dihuni radang jalanan satu arah lingkaran gajah harum kopi dan kampung halaman lintasan hujan malam dipenuhi angin meraba kantuk insomnia engkau tumbuh sebagai gadis yang gemar pesta selain kenangan apa yang pernah sesak di dadamu setiap kali berteduh di kota ini?

halaman 41


Senja Kuning Di Jakarta senja kuning di jakarta jalanan sesak berburu usia detak langkah tubuhku mengabur mencari masalalu tanpa cermin di kaca gedung daun waktu terasa jauh meluruh

Cuaca

adakah kau ingat sebuah tempat yang pernah kau tulis dalam puisi? bertahun aku terkurung dalam larat cuaca, membaca abjad namamu yang lama rebah di tubuh. kurungan luka di kelopak tubuhku hingga aku merekah sebagai perempuan di sebuah cuaca aku yang berkaca di setiap helai rambut dari usia yang memagut

halaman 42


Sayap Hujan

ia terbang, menembus igau. menerpa wajah kalah rimbun di tanah. gembur mengubur di lekuk tubuh padat menampar lalu menggelepar ia melayang, menyambut debu tergerai malas serupa rambut perempuan sehabis keramas ia meruncing, getar dalam dingin. merebut angin menghitung tubuh kuyup yang belum sempat dijemput

Mayat Sisifus

terperam makam, ia terbenam batu yang jadi bola mekar bersama cuaca menempuh jazirah malam ia menjelma jadi mayat kata menuruni liat tanah bukit sakitnya tanpa jerit mendaki bersam peluh yang tak kunjung luruh bertahan di antara dengung waktu bersama kenangan yang beku

halaman 43


Kidung Lelaki

berapa lama kau panjat jangat keringat di tubuhku? membenahi setiap kusut rambut dan menjerang air panas agar kau tak kuyup dihantui dingin selimut sudah kutebar saatnya kau istirahat cuaca di luar begitu liar meski mawar telah mekar di beranda lenguhmu adalah langkah tubuh setiap kali nadiku mengerang oleh jerit kamar remang tubuh terpagut napasmu menjelma kabut di sini, arah waktu berdiam seperti semediku mencumbumu di altarku

halaman 44


Ujung Jalan

mungkin kita pernah bertemu, lalu berciuman. tapi kecupanmu lebih serupa serapah hujan. yang deras memanggul kutuk, seperti langkah sisifus yang tersuruk. masuk ke lubang pengap. dan ujung jalan ini tak pernah tamat kau lewati. sebab di sana ada tersisa rahim masa laluku, yang pernah kautimba sumurnya. tapi tak kunjung kering. di sana, kau berpura-pura untuk akrab dengan matahari yang tumbuh di tubuh sendiri. menyimpan setiap dendam atau getar asmara yang tinggal lembayungnya. atau mungkin sebuah catatan tanda dari leluhur, yang terkubur umur. dan jalan itu selalu kau tempuh. sesekali engkau melukis matahari terik. sehingga yang tertinggal hanya fatamorgana. di ujung jalan itu... mungkin ada sebuah kafe dengan pendingin ruangan. sebuah tempat di mana engkau terbiasa menikmati raup wangi biduan, pula lagu-lagu cengeng murahan. sementara bayangan dirimu terus saja menjelma bukit, yang tak mampu menggapai kelenjar matahari. atau aku yang kau tinggalkan, di sebuah ujung jalan yang lain. betapa kita telah menciptakan sebuah siluet yang kembali berpendaran. tanpa sempat kau simpan sebagai oleh-oleh bagi silsilahmu. di ujung jalan itu... mungkin ada kamu dan aku. bayangan gedung yang lungkrah dan terbelah. dan orang-orang mencari kambing hitam tentang grafiti darah yang terpampang di kusam tembok.

halaman 45


tokoh

Wislawa Szymborska

Wisława Szymborska dan

Presiden Bronislaw Komorowski pada Orde

Eagle Putih upacara zymborska 1 Foto. int

halaman 46


Wisława Szymborska-Włodek (2 Juli 1923 - 1 Februari 2012) adalah seorang penyair, esais, penerjemah dan penerima Penghargaan Nobel dalam Sastra tahun 1996 asal Polandia. Lahir di Prowent, yang masa itu menjadi bagian dari Kórnik, ia kemudian tinggal di Kraków sampai akhir hidupnya. Dia digambarkan sebagai “Mozart of Poetry”. Di Polandia, buku Szymborska telah mencapai penjualan menyaingi penulis prosa yang menonjol: meskipun dia pernah mengatakan dalam sebuah puisi, “Beberapa Puisi suka” (“Niektórzy Lubia poezję”), bahwa hanya dua dari seribu orang yang peduli kepada seni. Szymborska dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Sastra1996, “untuk puisi bahwa dengan presisi ironis memungkinkan konteks sejarah dan biologi untuk datang ke cahaya dalam fragmen realitas manusia “. Dia menjadi lebih dikenal secara internasional tersebab dari hal ini. Karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan banyak bahasa Eropa, Arab, Ibrani , Jepang dan Cina. Ayah Wisława Szymborska pada masa itu berprofesi sebagai pelayan Count Władysław Zamoyski , seorang patriot pelindung sukarela Polandia. Setelah kematian Count Zamoyski pada tahun 1924, keluarganya pindah ke Toruń dan pada tahun 1931 ke Kraków, di mana dia tinggal dan bekerja sampai kematiannya pada

awal 2012. Ketika Perang Dunia II pecah pada tahun 1939, ia melanjutkan pendidikannya di kelas bawah tanah. Dari tahun 1943, ia bekerja sebagai karyawan kereta api dan berhasil menghindari dideportasi ke Jerman sebagai pekerja paksa. Selama waktu itu karirnya sebagai seorang seniman dimulai dengan membuat ilustrasi untuk buku berbahasa Inggris. Dia juga sesekali mulai menulis cerita dan puisi . Dimulai pada tahun 1945, ia mempelajari sastra Polandia sebelum beralih ke sosiologi di Universitas Jagiellonian di Kraków. Segera dia menjadi terlibat dalam adegan penulisan lokal, dan bertemu dan dipengaruhi oleh Czesław Milosz. Pada Maret 1945, ia menerbitkan puisi pertamanya “Szukam słowa” (“Mencari katakata”) di surat kabar harian, Dziennik Polski. Puisinya terus diterbitkan di berbagai surat kabar dan majalah untuk beberapa tahun. Pada tahun 1948, ia berhenti melanjutkan studinya dan berakhir tanpa gelar, karena keadaan keuangannya yang buruk dan di tahun yang sama, ia menikah dengan penyair Adam Włodek, kemudian bercerai pada 1954 (mereka tetap dekat sampai kematian Włodek pada tahun 1986). Hal yang membuat keterikatan adalah karena mereka adalah memiliki anak. Sekitar waktu pernikahannya dia bekerja sebagai sekretaris untuk sebuah majalah dwi-mingguan pada sektor pendidikan

halaman 47


merangkap sebagai ilustrator. Buku pertamanya rencana akan diterbitkan pada tahun 1949, tapi tidak lulus sensor karena “tidak memenuhi persyaratan sosialis”. Seperti banyak intelektual lain di pasca-perang Polandia, bagaimanapun, Szymborska berpegang pada Republik Rakyat Polandia (PRL) ideologi resmi di awal karirnya, menandatangani petisi politik terkenal dari 8 Februari 1953, mengutuk pemimpin Polandia yang dituduh melakukan pengkhianatan dalam persidangan. Karya awalnya didukung tema sosialis, seperti yang terlihat dalam koleksi debutnya Dlatego żyjemy (Itulah untuk yang kita hidup), yang berisi puisi “Lenin” dan “Mlodziezy budującej Nowa Hutę” (“Untuk Pemuda yang sedang membangun Nowa Huta “), tentang pembangunan kota industri Stalinis dekat Kraków. Dia menjadi anggota dari partai berkuasa Partai Polandia Amerika Buruh . Seperti banyak intelektual komunis awalnya resmi dekat dengan garis partai, Szymborska secara bertahap tumbuh terasing dari ideologi sosialis dan sebelum dia meninggalkan kerja politik. Meskipun ia tidak secara resmi meninggalkan pesta sampai 1966, dia mulai menjalin kontak dengan para pembangkang. Pada awal tahun 1957, ia berteman Jerzy Giedroyc, editor dari berpengaruh berbasis di Paris emigran jurnal Kultura, di mana ia juga berkontribusi. Pada tahun 1964, dia menentang protes Komunis yang didukung ke The Times terhadap intelektual independen, menuntut kebebasan berbicara. Pada tahun 1953, Szymborska bergabung dengan staf review majalah sastra Życie Literackie (Literary Life), di mana ia terus bekerja sampai 1981 dan dari tahun 1968 beralih ke kolom resensi

halaman 48

bukunya sendiri, yang disebut Lektury Nadobowiązkowe. Banyak esainya dari periode ini kemudian diterbitkan dalam bentuk buku. Dari 1981-1983, ia adalah editor dari majalah bulanan Kraków berbasis, NaGlos (outloud). Pada 1980-an, dia mengintensifkan kegiatan oposisi nya, memberikan kontribusi bagi samizdat Arka berkala dengan nama samaran “Stańczykówna”, yang berbasis di Paris Kultura . Koleksi akhir diterbitkan semasa Szymborska masih hidup, Dwukropek, terpilih sebagai buku terbaik tahun 2006 oleh pembaca Polandia Gazeta Wyborcza . Dia juga diterjemahkan sastra Prancis ke Polandia, khususnya Baroque puisi dan karya-karya Agrippa d’Aubigne. Di Jerman, Szymborska dikaitkan dengan penerjemah nya Karl Dedecius, yang melakukan banyak untuk mempopulerkan karya-karyanya di sana. Wisława Szymborska meninggal 1 Februari 2012 di rumah di Kraków, berusia 88. asisten pribadinya, Michał Rusinek, membenarkan informasi tersebut dan mengatakan bahwa ia “meninggal dengan tenang, dalam tidurnya”. Dia dikelilingi oleh teman dan kerabat pada saat itu. Menteri Luar Negeri Radek Sikorski menggambarkan kematian di Twitter sebagai “kerugian besar dari kebudayaan Polandia”. Pikiran Szymborska sering digunakan terkait dengan sastra seperti presisi ironis , paradoks , kontradiksi dan meremehkan , untuk menerangi tema filosofis dan obsesi. Banyak puisinya berfitur perang dan terorisme. Namun demikian, penting untuk dicatat ambiguitas puisi. Meskipun puisi dipengaruhi oleh pengalamannya, adalah relevan sepanjang waktu dan budaya. Dia menulis dari sudut pandang yang tidak


biasa, seperti keberadaan kucing di apartemen baru yang kosong karena pemilik yang mati. Reputasinya terletak pada badan yang relatif kecil bekerja, kurang dari 350 puisi. Ketika ditanya mengapa ia menerbitkan begitu sedikit puisi, dia berkata: “Saya memiliki tempat sampah di rumah saya”. Puisi Szymborska “Tidak ada dua kali” berubah menjadi sebuah lagu oleh komposer Andrzej Munkowski dilakukan oleh Lucja Prus pada tahun 1965 membuat puisinya itu lebih dikenal di Polandia, dibawakan penyanyi rock Kora dengan label sampul “Tidak ada dua kali” menjadi hit di tahun 1994. Puisi “Love At First Sight” digunakan dalam film Belok Kiri, Belok Kanan, dibintangi Takeshi Kaneshiro dan Gigi Leung . Tiga Warna: Merah , film yang disutradarai oleh Krzysztof Kieslowski, terinspirasi oleh puisi Szymborska itu, “Cinta Pada Pandangan Pertama”. Pada tahun-tahun terakhirnya Szymborska berkolaborasi dengan Polandia jazz Trompeter Tomasz Stanko yang mendedikasikan rekornya Wisława ( ECM , 2013) ke memori nya-mengambil inspirasi untuk komposisi dari kolaborasi mereka dan puisi nya Karya-karya besar : • 1952: Dlatego żyjemy (“Itulah Mengapa Kita Are Alive”) • 1954: Pytania zadawane Sobie (“Mempertanyakan Diri”) • 1957: Wołanie do Yeti (“Calling Out to Yeti”) • 1962: Sol (“Salt”) • 1966: 101 wierszy (“101 Puisi”) • 1967: Sto pociech (“Tidak ada Akhir Fun”)

• 1967: Poezje wybrane (“Selected Puisi”) • 1972: Wszelki wypadek (“Bisa • • • • • • • • • • • • •

Memiliki”) 1976: Wielka liczba (“Sebuah Jumlah Besar”) 1986: Ludzie na moście (“Orang-orang di Jembatan”) 1989: Poezje: Puisi, bilingual edisi Polandia-Inggris 1992: Lektury nadobowiązkowe (“Non-dibutuhkan Reading”) 1993: Koniec i początek (“The End dan Awal”) 1996: Widok z ziarnkiem Piasku (“Lihat dengan Grain of Sand”) 1997: Sto wierszy - sto pociech (“100 Puisi - 100 happinesses”) 2002: Chwila ( “Momen” ) 2003: Rymowanki dla dzieci dużych ( “Rhymes untuk Big Kids” ) 2005: Dwukropek ( “Colon” ) 2009: Tutaj ( “Di sini” ) 2012: Wystarczy ( “Cukup” ) 2013: Błysk rewolwru ( “The Secercah Revolver a” )

Hadiah dan penghargaan: • 1954: The City of Kraków Prize untuk Sastra • 1963: The Polish Departemen Kebudayaan Prize • 1991: The Prize Goethe • 1995: Herder Prize • 1995: Dokter Kehormatan Adam Mickiewicz University ( Poznań ) • 1996: Polandia PEN Klub hadiah • 1996: Penghargaan Nobel dalam Sastra • 2011: Orde Elang Putih. *** (Red.2013- Dari berbagai sumber)

halaman 49


Sajak Wislawa Szymborska

Roh pada Sekilas kata

Hanya pada setiap saat kita memiliki jiwa. Tak ada yang memilikinya terus menerus tak berjeda, . Hari demi hari, tahun demi tahun bisa dilalui tanpa itu. Terkadang itu hanya menetap untuk sementara itu hanya pada saat ketakutan dan keghaiban masa kanak-kanak. Terkadang membuat heran Ternyata kita sudah tua. Saat jarang memberi bantuan dalam tugas padat, seperti memindahkan perabot, atau mengangkat bagasi, atau pergi bermil-mil dengan sepatu yang menggigit. Lazimnya langkah keluar setiap kali daging perlu diiris atau bentuk harus diisi. Untuk setiap seribu percakapan ia punya hanya satu andil, bahkan jika yang, karena lebih memilih diam.

halaman 50


Hanya ketika tubuh kita pergi dari rasa sakit, selesailah tugas. Ini pilihan: tak suka melihat kami di keramaian, kami bergegas meraup keuntungan tak pasti dan berderit intrik membuatnya sakit. Suka dan duka bukanlah dua perasaan yang berbeda untuk itu. Ini menghadiri kita hanya ketika keduanya bergabung. Kita bisa mengandalkan itu ketika kita yakin tidak ada dan ingin tahu tentang segala sesuatu. Di antara objek material itu nikmat jam dengan pendulum dan cermin, yang terus bekerja bahkan ketika tidak ada yang melihat. Ini tidak akan mengatakan dari mana itu berasal atau kalau sudah lepas landas lagi, meskipun itu jelas mengharapkan pertanyaan seperti itu. Kita membutuhkannya tapi rupanya perlu kita untuk beberapa alasan juga.

halaman 51


Iklan

Aku penyuka ketenangan. Aku pas di rumah. Aku bekerja di kantor. Aku bisa mengikuti ujian di kursi saksi. Aku memperbaiki cangkir rusak dengan hati-hati. Yang harus anda lakukan adalah membawa ku, biarkan aku meleleh di bawah lidah anda, hanya menelan mie dengan segelas air. Aku tahu bagaimana menangani kemalangan, bagaimana memetik berita buruk. Aku bisa menekan ketidak adilan, meringankan ketidak hadiran Allah, atau memilih jilbab janda yang sesuai dengan wajah Anda. Apa yang anda nantimemiliki iman dalam kasih sayang ramuan ku. Kau masih seorang pria atau wanita muda. Ini tidak terlalu terlambat untuk belajar bagaimana untuk bersantai. Siapa bilang Anda harus mengambil di dagu? Biarkan aku memiliki masalah anda. Aku akan menguranginya dengan tidur. Anda akan berterima kasih untuk memberikan empat cakar jatuh pada anda . Menjual jiwa Anda. Tidak ada yang mengambil. Tidak ada lagi setan lain.

halaman 52


Rumah Orang Besar

Itu ditulis dalam huruf emas di marmer: di sini orang besar tinggal, bekerja dan meninggal. Dia meletakkan kerikil untuk jalan kesana secara pribadi. Bangku ini tak ada yang menangani dari batu dipahat oleh dirinya sendiri Dan -hati, tiga langkah kita masuk. Dia berhasil masuk ke dunia pada waktu yang tepat. Yang harus melewati Segala sesuatu, untuk lulus di rumah ini. Bukan di gedung yang tinggi, tidak dalam kaki persegi, dilengkapi namun kosong, di tengah-tengah tetangga diketahui, pada beberapa lantai lima belas, di mana sulit untuk menyertakan pendidikan dari perjalanan lapangan. Di ruangan ini ia merenung, di ruangan ini ia tidur, dan di sini ia menghibur tamu. Potret-potret, kursi, meja, pipa, bola dunia, seruling, karpet usang, ruang berjemur. Dari sini dia saling mengangguk dengan penjahit dan tukang sepatu yang bekerja khusus untuk dirinya.

halaman 53


Ini tidak sama dengan foto-foto dalam kotak, pena kering di sebuah cangkir plastik, yang dibeli di toko lemari, jendela, dari mana Anda dapat melihat awan yang lebih baik daripada orang. Bahagia? Tak bahagia? Itu tidak berkaitan di sini. Dia masih mengaku dalam surat-suratnya, mereka tanpa berpikir cara, akan dibuka pada mereka . Dia masih menyimpan catatan rinci dan jujur, tanpa takut bahwa ia akan kehilangan itu selama mencari. Pengesahan komet paling membuatnya khawatir. Kehancuran dunia itu hanya di tangan Allah. Dia masih berhasil untuk tidak mati di rumah sakit, dibalik layar putih, siapa tahu yang mana. Masih ada seseorang yang dia ingat padanya menggumamkan kata-kata. Ia mengambil kehidupan seolah-olah dapat digunakan kembali: untuk terikat ia mengirim buku-bukunya; ia tidak akan mencoret nama terakhir orang mati dari buku alamat. Dan pohon-pohon yang telah ditanam di kebun belakang rumah tumbuh untuk dia sebagai Juglans regia dan Quercus rubra dan Ulmus dan Larix dan Fraxinus excelsior.

Terjemahan ke bahasa Indonesia oleh Zacky ben Dulle,dari teks berbahasa Inggris. Terjemahan dari bahasa Polandia dikerjakan oleh Stanislaw Baranczak, Clare Cavanagh, Joanna Trzeciak dan Wislawa Szymborska. (Internet dan dari berbagai sumber)

halaman 54


peristiwa

Peristiwa

Kolaborasi Puisi Dkr

Berharap Lahirnya Genre Baru

halaman 55


BERMULA ingin menampilkan sesuatu yang berbeda dalam mengapresiasi karya puisi, Dewan Kesenian Riau (DKR) kemudian menggelar suatu helat bertajuk ‘’Kolaborasi Puisi’’. Helat yang ditaja pada 28 dan 29 Juni lalu, di Anjung Seni Idrus Tintin, Kompleks Bandar Seni Raja Ali Haji (Bandar Serai), Pekanbaru, merupakan bagian kegiatan sempena menyongsong Hari Puisi Indonesia, 26 Juli. Maka, tercatatlah 20 kelompok yang ikut serta dalam helat julung yang digelar DKR ini. Dari 20 kelompok tersebut,empat di antaranya berasal dari luar Kota Pekanbaru, yaitu SMAN 2 Tambang, perwakilan Dewan Kesenian Kuantan Singingi, Fakultas Ilmu Budaya Kelas Jauh Unilak Kuantan Singingi dan NLd Dance Teater Tembilahan. Sedang 16 kelompok lainnya berasal dari Kota Pekanbaru. Dari keseluruhan peserta, satu grup yaitu dari Sanggar Teater Batra, Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Unri tak tampil tanpa alasan. Jadi, terdapat 19 penampilan dalam dua hari helat tersebut. Sembilan kelompok tampil pada malam pertama, 10 lainnya tampil pada malam penamat. Dua malam menampilkan 19 pergelaran puisi dalam bentuk pertunjukan, termasuk angka yang lumayan banyak. Berbagai interpretasi terhadap karya-karya puisi terdedah beragam dalam rentang waktu/ durasi antara 15 hingga 30 menit untuk satu pertunjukan. Dari keseluruhan penampilan, memang tak kesemuanya mengena sebagaimana

halaman 56

yang diharapkan. Ada beberapa lari dari konsep yang diinginkan DKR sebagai penyelenggara kegiatan. Intinya, inti sari dari pertunjukkan itu adalah puisi, yang diinterpretasikan menjadi seni pertunjukan. Artinya, garapan pertunjukkannya tak boleh lari dari batang tubuh puisi itu sendiri. Seperti yang dikemukakan Ketua Umum DKR Kazzaini, Ks, kegiatan ini bermula dari keinginan DKR bagaimana ada sesuatu yang baru dalam menampilkan karya puisi di atas panggung. ‘’Lomba baca puisi sudah biasa. Visualisasi puisi, biasa. Dan musikalisasi puisi juga sering dibuat orang,’’ papar Kazzaini. Lalu, hasil runding pengurus DKR, bagaimana menampilkan seluruh pencabangan seni —sastra (yaitu karya puisi itu sendiri), musik, teater, tari dan seni rupa— yang dibancuh menjadi satu kesatuan pertunjukan. ‘’Untuk nama yang cocok, rapat DKR menyepakati namanya


‘kolaborasi puisi’,’’ jelas Kazzaini. Tawaran dari DKR ini, ternyata dapat sambutan positif. Paling tidak, hal ini dapat dilihat dari 20 peserta yang ambil bagian (walau satu kemudian tak tampil tanpa alasan). Bahkan, kendati lomba yang ditaja dua malam itu berlangsung hingga larut malam (selesai sekitar pukul 01.00 WIB), tapi para peserta tetap bersemangat. Bahkan, hingga penampilan peserta pada bagian-bagian akhir, tetap masih ada penontonnya, kendati jumlahnya jauh menyusut dibanding jumlah penonton pada penampilan-penampilan awal. Ketua Panitia Hang Kafrawi, menyangkut antusiasnya peserta mengikuti helat ini mengemukakan, sebenarnya teman-teman luar kota banyak yang mau ikut. ‘’Kalau saja panitia sanggup menyediakan akomodasi dan penginapan, peserta luar kota lebih banyak lagi. Hampir semua daerah menelepon kita, tapi karena kita tak menanggung penginapan atau biaya produksi, mereka tak jadi

ikut,’’ papar Kafrawi. Ke depan, menurut Kafrawi, patut dipikirkan dan diupayakan oleh DKR, helat seperti ini juga menanggung fasilitas penginapan atau bantuan produksi atau paling tidak bantuan produksi untuk peserta luar kota Pekanbaru. Selain itu, selaku panitia dan pengurus DKR juga berharap, dewan kesenian kabupaten/ kota atau mungkin pemerintah kabupaten/kota berpartisipasi mengirim peserta untuk helat semacam ini. ‘’DKR sendiri sudah berupaya maksimal. Hanya saja, setakat ini hanya sebatas itulah kemampuan kita. Ke depan, kita upayakan lebih baik, sehingga teman-teman dari luar Kota Pekanbaru bisa ikut lebih ramai. Kalau sekarang kan, baru ada empat kelompok yang dari luar Pekanbaru,’’ paparnya. Menyangkut penilaian, karena yang dinilai dari semua pencabangan seni, maka panitia juga menunjuk lima penilai, yang terdiri dari pencabangan seni yang berbeda. Mereka terdiri dari Seniman Pemangku Negeri (SPN) Dantje S Moeis (seni rupa), SPN Zuarman Ahmad (musik), SPN Musrial Mustafa (teater), Syaukani Alkarim (penyair/sastrawan) dan Syafmanefi Alamanda (koreografer/tari). Menyangkut kegiatan ini, kelima juri sepakat dan merekomendasikan agar DKR menyelenggarakan helat serupa untuk masa akan datang. Mereka melihat, perlu dicari penamaan yang pas, sehingga pertunjukan ini menjadi sesuatu yang baru atau genre seni pertunjukan baru di Indonesia. Untuk sementara, direkomendasikan untuk menggunakan

halaman 57


nama operasi puisi. Namun disarankan, untuk mencari nama yang lebih tepat sesuai semangat lokal Riau (Melayu). Catatan lainnya, sebaiknya DKR lebih serius, terutama mensosialisasi kegiatan ini, sehingga peserta tak merabaraba bentuk yang pertunjukan sebagaimana yang dimaksud DKR dengan penamaan “kolaborasi� puisi itu. Adapun secara lengkap catatan dewan juri; Pertama, pada ajang lomba ini yang paling penting bagi para peserta adalah pemahaman tentang makna kata kolaborasi puisi. Kolaborasi dalam konteks ini adalah, seni-seni di luar sastra (puisi). Diikutsertakan terlibat pada sebuah pertunjukan yang merupakan satu bentuk pemaknaan pada karya puisi yang dipilih untuk dibacakan. Secara lebih sederhana bahwa karya seni yang terlibat mendapat porsi untuk memaknai puisi yang dibacakan dan diterapkan ke bentuk seni masing-masing pada satu bingkai pertunjukan. Dari beberapa penampilan kelompok peserta, terlihat adanya proses segmentasi yang memberi porsi penampilan pencabangan seni tersendiri, bahkan tampak lepas dari makna puisi yang menjadi acuan pertunjukan, sehingga makna puisi sebagai patron kolaborasi terkesan diabaikan. Kedua, durasi atau running time atau rentang masa tampil dari beberapa penampil yang terlalu panjang, sedangkan sajak yang dibacakan tak menghendaki masa tampil dengan rentang waktu yang seakan-akan dipanjang - panjangkan. Hal

halaman 58

ini menyebabkan jelas tampak terlihat kurangnya, kualitas kemampuan pemaknaan atau pemahaman penampil pada teks puisi yang dibacakan. Ketiga, kemampuan menginterpretasi yang lemah, secara otomatis berakibat atau mempunyai andil menghilangkan atau menurunkan kekuatau makna kata demi kata yang terkandung pada teks puisi yang dibacakan. Sebagai contoh, sebuah puisi yang sarat makna makna magis, yang kemudian direspon oleh pencabangan seni lain dalam kolaborasi, namun tak menyumbangkan nilai magis, sehingga menghapus kekuatan teks magis yang menjadi unsur kekuatan pada puisi yang dibacakan. Keempat, unsur rupa-kias atau metafora rupa pada pemaknaan puisi, dalam konteks keterlibatan pencabangan


seni rupa pada pertunjukkan, terkesan minim eksplorasi atau minim pencarian, sehingga terlihat jelas dan tidak diwujudkan pada bahasa seni. Dari empat catatan itu disimpulkan, diperlukan pembacaan dan pemaknaan yang lebih akan kedalaman puisi yang ditonjolkan untuk merespon kebentukan karya kolaborasi berbagai pencabangan seni yang merupakan satu kesatuan dengan karya puisi yang dijadikan sentral pemikiran dan kreativitas. Untuk itu, kepada DKR sebagai penyelenggara diminta; Pertama, ke depan perlu diperkuat kemampuan para peserta tentang pemahaman makna atau deskripsi yang jelas dari apa yang disebut salah satu pencabangan seni pertunjukan yang lebih tepat dinamai dengan kolaborasi seni puisi.

Kedua, untuk itu, dipandang perlu dilakukan pembahasan menuju ke sebuah rumusan yang menjadi acuan dasar bagi pengkarya yang bergerak pada bidang pencabangan seni pertunjukan kolaborasi seni puisi. Selanjutnya dilakukan kepelatihan secara berkala kepada para seniman atau para siswa/pelajar yang berkeinginan berkreasi pada bidang seni ini. Dari catatan ini dapat itu disimpulkan, diperlukan pembacaan dan pemaknaan yang lebih akan kedalaman puisi yang ditonjolkan untuk merespon kebentukan karya kolaborasi berbagai pencabangan seni yang merupakan satu kesatuan dengan karya puisi yang dijadikan sentral pemikiran dan kreativitas. Memberi perhatian lebih terhadap helat ini. Bahkan, mereka berharap keseriusan DKR meningkatkan kualitas helat ini, sehingga kelak akan muncul genre baru dalam dunia seni pertunjukan. Dua malam pertunjukan jelas menguras energi para dewan juri. Apalagi, telah jejak pukul 01.00 WIB, pertunjukan baru usai. Dari dua penampilan itulah, akhirnya dewan juri menetapkan NLd Dance Theater dari Tembilahan sebagai penampil terakhir atau undian 20 yang membawakan puisi ‘’Orang Minyak’’ karya Kunni Masrohanti, ditetapkan sebagai Terbaik I. Atas prestasi itu, Nld Dance Theater yang diasuh Syafrinaldi berhak atas hadiah uang tunai Rp5 juta, trofi dan piagam. Terbaik II diraih Sanggar Matan, garapan Denni Afriadi yang membawa karya ‘’Reformasi’’ karya Ediruslan Pe Amanriza dan berhak atas uang tunai

halaman 59


Rp3,5 juta, trofi dan piagam. Sedangkan Terbaik III diperoleh Sanggar Pusaka SMKN I Pekanbaru, yang membawa puisi ‘’Batu Belah’’ karya Ibrahim Sattah garapan Mimi Sikumbang. Terbaik III mendapat hadiah Rp2,5 juta, trofi dan piagam. Selain menetapkan terbaik I, II, dan III, panitia juga menetapkan tujuh penyaji terbaik nonrangking. Ketujuh kelompok tujuh penampilan terbaik diberikan kepada Sanggar Latah Tuah yang membawa puisi ‘’Petuah untuk Gadis Pemalas’’ karya Kunni Masrohanti, Sanggar Rumah Sunting membawa puisi ‘’Orang Minyak’’ karya Kunni Masrohanti, Keletah Budah dengan puisi ‘’Ah’’ karya Sutardji Calzoum Bachri, Belacan Art Community (BAC) puisi ‘’Sembilu’’ karya Sutardji Calzoum Bachri, Komunitas Ketjik dengan puisi ‘’Ke Mana Nak Melenggang’’ karya Jefri Al Malay, SMAN 5 puisi ‘’Aku Sudah Menjawab’’ karya Taufik Ikram Jamil dan Fakultas Ilmu Budaya (FIB)

halaman 60

Unilak dengan puisi ‘’Kukirimkan Engkau ke Negeri Sunyi’’ karya Syaukani Alkarim. Untuk tujuh penyaji terbaik non-rangking berhak atas uang pembinaan masingmasing Rp1 juta dan piagam penghargaan. (eriyanto hady-Majalah Riau Pos-edisi 025. 4 - 10 Juli 2013/Seni-budaya. fotofoto: Teguh Prihatna/Riau Pos).


rehal

Judul:

Jakarta! Sebuah Novel Pengarang:

Christophe Dorigne-Thomson Penerjemah:

Caecilia Krismariana Penerbit:

GPU Tahun:

2012, Des Tebal:

367 hal

itulis dalam bentuk fiksi, Jakarta! menceritakan seorang pemuda Prancis lulusan sekolah bisnis elit yang mengalami shock setelah kematian adik laki-lakinya, sehingga kemudian mengubah haluan hidupnya, dengan melakukan profesi hampir seperti James Bond dan bertugas di Tokyo, California, Mumbai, Krakow, Marakesh,

Johannesburg, Shanghai, Abu Dhabi, Rio de Janeiro, Aberdeen, Havana, berlibur di empat negara Asia Tenggara, dan akhirnya jatuh cinta pada Indonesia. Meskipun demikian, mengharapkan novel Jakarta! mengisahkan banyak hal tentang kota Jakarta atau Indonesia akan berakibat pada kekecewaan, karena ternyata novel ini adalah tentang

halaman 61


kritik kepada Prancis dan perjalanan seorang pemuda Prancis dalam mencoba menemukan jati dirinya. Dari sisi fiksi, kisahnya agak membosankan, karena tidak ada dialog sama sekali dan batas antara pikiran tokoh utama (yang diceritakan sebagai pihak ketiga) dengan pengarang nyaris tidak ada, sehingga buku ini bisa dibilang setengah fiksi dan esai. Maksud pengarang sebenarnya adalah mengemukakan pendapat tentang keadaan di wilayah-wilayah di atas serta membandingkannya dengan benua Eropa, khususnya Prancis, yang baginya sangat mengecewakan karena tidak memberi kesempatan kepada generasi muda untuk berkembang dan membangun negerinya sebagaimana negeri-negeri lain, anti imigran sehingga menghambat kema-juannya sendiri, dan bersikap diskriminatif kepada kaum minoritas, yang sebenarnya adalah korban akibat penjajahan Prancis sendiri di masa lalu. Kritiknya yang cukup tajam terhadap generasi tua Prancis sangat terasa pada banyak bab. Buku ini membuat pembaca lebih memahami kondisi Eropa saat ini, yang menghadapi masalah penuaan penduduk, pengangguran generasi muda yang cukup tinggi, meningkatnya imigran, konflik nilai dan budaya dengan imigran muslim, disamping krisis ekonomi. Khusus di Prancis, masalah tersebut ditambah dengan dominannya generasi tua, birokrasi, kurangnya keberpihakan pada kaum miskin dan diskriminasi ras. Negara Eropa lainnya seperti Inggris dan Jerman lebih baik, karena memberikan kesempatan dan kebebasan lebih besar kepada generasi muda serta kaum minoritas.*** (Red. INT)

halaman 62

Tampaknya berdasarkan hal di atas maka pengarang merasa pesimis akan masa depan Eropa, apalagi Prancis, sebaliknya merasa sangat optimis bahwa Asialah yang akan menjadi harapan kemajuan di masa depan, disamping Amerika yang masih akan tetap penting. Dan salah satu negara Asia yang memiliki potensi untuk menjadi negara besar adalah Indonesia, karena orang Indonesia kreatif, memiliki kebebasan, dan suka teknologi. Namun kisah tentang Jakarta dan Indonesia hanya terdapat dalam 14 halaman terakhir, lebih sedikit dari negara-negara lain yang berkisar antara 21 s.d 36 halaman. Seseorang yang jatuh cinta pada umumnya memang tidak begitu memperhatikan kekurangan pada apa yang dicintainya. Penulis menyatakan cinta pada Jakarta dan Indonesia. Mungkin itu pula sebabnya ia tidak membahas atau menganggap penting kekurangan-kekurangan atau masalah yang dimiliki Jakarta dan Indonesia (di dalam kisah fiksinya, tokoh utama tidak mendukung upaya pencegahan perusakan hutan) yang membuat penduduknya merasa pesimis, sebagai mana halnya kebanyakan orang Indonesia juga tidak dapat melihat kekurangan Prancis dengan jelas - yang membuat pengarang merasa pesimis akan negerinya. ***


Anugerah Sagang

Anugerah Sagang 2013 Yayasan Sagang tahun 2013 ini kembali akan memberikan Anugerah untuk Seniman/Budayawan Pilihan, Buku pilihan, Karya Non-Buku Pilihan, Institusi/Lembaga Seni-Budaya Pilihan, Seniman/Budayawan Serantau Pilihan, Karya Jurnalistik Budaya Pilihan dan Karya Penelitian Budaya Pilihan. Bersempena dengan ini kami menjemput Tuan dan Puan untuk berpartisipasi ikut mengusulkan calon dengan kriteria sebagai berikut: I. Seniman/Budayawan pilihan Sagang 1. Berdomisili di daerah Riau 2. Memiliki karya yang dapat diandalkan (berkualitas) 3. Memiliki karya yang berpengaruh 4. Memiliki dedikasi (tunak) sebagai seniman/budayawan 5. Mengirimkan biodata riwayat hidup, khususnya sebagai Seniman/ Budayawan II. Buku pilihan Sagang 1. Penulis berdomisili di Riau 2. Berupa buku sastra maupun buku yang membahas tentang seni budaya melayu, diutamakan melayu riau 3. Mengirimkan biodata riwayat hidup, khususnya sebagai penulis. III. Karya Non-buku Pilihan Sagang 1. Karya seniman/budayawan yang berdomisili di Riau 2. Karya berhubungan dengan seni-budaya Melayu, diutamakan Melayu Riau. 3. Bentuk karya bisa berupa karya musik (dalam bentuk pita kaset atau piringan VCD/laser), teater, koreografi, seni rupa, dll. 4. Mengirimkan biodata riwayat berkesenian.

halaman 63


IV. Institusi atau Lembaga Seni Budaya Pilihan Sagang 1. Berada di daerah Riau 2. Bergerak di bidang seni budaya Melayu, diutamakan Melayu Riau 3. Karya pengabdiannya dinilai memperkaya kehidupan kesenian/ kebudayaan Melayu 4. Mengirimkan biodata riwayat aktivitas institusi/lembaga V. Seniman Serantau Pilihan Sagang 1. Berdomisili di luar daerah Riau 2. Sejak lama memiliki perhatian terhadap seni budaya Melayu, diutamakan Melayu Riau 3. Memiliki karya yang berhubungan dengan seni budaya Melayu, diutamakan Melayu Riau 4. Mengirimkan biodata riwayat hidup VI. Karya Jurnalistik Budaya Pilihan Sagang 1. Berbentuk laporan jurnalistik (feature) tentang Melayu riau, diutamakan Melayu Riau 2. Sudah diterbitkan/disiarkan di media cetak maupun elektronik (surat kabar harian, mingguan, tabloid, majalah, televisi dan media internet) yang diterbitkan/disiarkan dimanapun 3. Wartawan aktif yang dibuktikan dengan kartu pers yang masih berlaku atau surat keterangan dari pemimpin redaksi tempat yang bersangkutan bekerja. 4. Mengirimkan karya berupa bukti terbit (kliping) atau rekaman tayang untuk media elektronik 5. Mengirimkan biodata riwayat hidup VII. Karya penelitian Pilihan Sagang 1. Peneliti berdomisili di Riau 2. Hasil penelitian berkaitan dengan seni budaya Melayu, diutamakan Melayu Riau 3. Hasil penelitian sudah dipublikasikan 4. Mengirimkan biodata riwayat hidup, khususnya sebagai peneliti Para seniman/budayawan, buku, karya non-buku, institusi/lembaga, seniman/ budayawan serantau, karya jurnalistik budaya, dan karya penelitian budaya yang diusulkan atau yang mencalonkan diri, dapat segera mengirimkan usulan beserta data yang diperlukan ke panitia Anugerah Sagang 2013, paling lambat 31 Agustus 2013, dengan alamat: Gedung Riau Pos Group, Lantai 2, Jalan Soebrantas, Km 10.5, Pekanbaru.

Untuk konfirmasi hubungi Rike/Nirwana Telp (0761) 64633, 64631.

halaman 64


www.tokobuku171.com www.tokobuku171.com

www.tokobuku171.com

www.tokobuku171.com

“...Nyalakan Imajinasi dengan Membaca Buku...“

Kantor Pusat

Pusat Penjualan Pekanbaru

: Jl. HR Soebrantas Km 10,5 Panam, Pekanbaru - Riau

: Kompleks Metropolitan City Giant, Blok A 19 & 20, Jl. HR Soebrantas Km 12

Dumai

: Jl. Jend. Sudirman No. 201, Dumai - Riau Telp (0765) 439 171

Batam

: Gedung Graha Pena Batam Jl. Raya Batam Centre Teluk Jering, Batam Kota Kode Pos 29461 Telp Graha Pena (0778) 462 996

Tanjung Pinang

: Jln Di. Panjaitan Km 9, Plaza Bintan Centre Blok M No. 15, Tanjung Pinang Kepri Telp (0771) 7447039

Padang Sidempuan : Jl. Medan Merdeka, Depan SMAN 2 Padang Sidempuan Telp.081260012768 Bukit Tinggi

halaman lxv : Ramayana Bukit Tinggi - Lantai Dasar


halaman lxvi


Majalah Sagang Edisi178