Issuu on Google+

No. 176 MEI 2013 tahun XV www.majalahsagang.com Dari Sinilah Mengalir Sastra Dunia! (Henri Chambert-Loir)

Esei:

Desember Hitam Tonggak Hari “Perubahan Seni” oleh Dantje S Moeis

Cerita-Pendek:

- Golok Berdarah oleh Adriyan Yahya

- Penghuni Rumah Besar oleh Tony Indragiri

- Menulis Tanpa Dawat Sajak:

-

Alizar Tanjung Asrina Novianti R. Abdul Azis Mahi Idris

oleh Ahlul Hukmi

- Panjang Yang Memendek oleh Teguh Affandi

Rehal: - Ringkasan Novel

MUDA TERUNA

karya Muhammad Kasim - Tujuh Sastra Erotis Klasik Cina: Novel dan Ceritapendek Tokoh:

Natsume Sōseki

halaman KULITi


"SHOW OFF YOUR BUSINESS!" mari kami bantu untuk mencetak media informasi ANEKA RAGAM usaha anda

PAKET PENDIDIKAN - PAKET CSR - PAKET PROYEK PAKET INFO PRODUK - PAKET CETAKAN UMUM - PAKET SCJJ PAKET INFO PRODUK

Menginformasikan produk yang dijual tidak selalu memasang iklan saja, anda perlu memvariasikannya dengan brosur, katalog dan bentuk selebaran lainnya. Pastikan anda mencetak info produk tersebut di tempat kami, dapatkan kerjasama dalam bentuk penyebaran info tersebut dengan menyisipkan via koran-koran kami (Riau Pos / MX / Pekanbaru Pos / Dumai Pos) atau penyebaran di tempat khusus yang anda inginkan. Kami siap membantu, dapatkan juga paket-paket khusus lainnya berupa percetakan info produk + publikasinya di koran-koran kami. syarat dan ketentuan berlaku

MURAH, CEPAT, BERJARINGAN LUAS

Percetakan Riau Pos Grafika Divisi Komersial Printing Hubungi Kami: Gedung Riau Pos Jl.HR Soebrantas Km 10,5 Panam-Pekanbaru Office +62 761 - 566810 Fax +62 761 - 64636 Mobile 081268435929, 081365720503, 081378757569, 085265483504

Bank Riau KCP Panam 134-08-02010 Bank Mandiri Ahmad Yani-Pekanbaru 108-000-126-1990 An: PT Riau Graindo E-mail riauposgrafika@yahoo.com halaman KULITii


Penerbit: PT Sagang Intermedia Pers SIUPP No. 492/MENPEN/SIUP/1998 ISSN: 1410-8690 Alamat redaksi: Gedung Riau Pos, Jalan HR Soebrantas KM 10,5, Pekanbaru 28294, Riau, Indonesia Telepon Redaksi: (0761) 566810 Tata usaha dan Pemasaran: (0761) 566810, Faksimili (0761) 64636 www.majalahsagang.com e-magazine Harga (Edisi Cetak) Rp 50.000,No. 176 MEI 2013 tahun XV

Malam Pertunjukan Seni Dies Natalis Ke-1 Sekolah Tinggi Seni Riau Pekanbaru, Gedung Anjung Seni Idrus Tintin 7 April 2013

Daftar Isi Esei Desember Hitam Tonggak Hari “Perubahan Seni” oleh Dantje S Moeis ................................. 3 Cerita-Pendek - Golok Berdarah oleh Adriyan Yahya ................................. 5 - Penghuni Rumah Besar oleh Tony Indragiri ................................10 - Menulis Tanpa Dawat oleh Ahlul Hukmi ...................................14 - Panjang Yang Memendek oleh Teguh Affandi .................................19 Sajak - Alizar Tanjung ....................................... 26 - Asrina Novianti ..................................... 34 - R. Abdul Azis ..........................................41 - Mahi Idris .............................................. 46 Rehal - Ringkasan Novel MUDA TERUNA karya Muhammad Kasim .......................51 - Tujuh Sastra Erotis Klasik Cina: Novel dan Cerita-pendek ...................... 54 Tokoh Natsume Sōseki ....................................... 59 Illustrasi Halaman 5, 10, 15 dan 19 karya Purwanto

Perintis: Rida K Liamsi Pemimpin Umum: Armawi KH Wakil Pemimpin Umum: Kazzaini Ks, Sutrianto Pemimpin Perusahaan: Ngatenang Pemimpin Redaksi: Kazzaini Ks Wakil Pemimpin Redaksi: Zuarman Ahmad Redaktur: Dantje S Moeis, Zuarman Ahmad, Khazzaini Ks, Fedli Aziz, Sutrianto, Murparsaulian, Armawi KH Pra cetak: Rudi Yulisman Manager Keuangan: Sri Herliani. Redaksi menerima sumbangan tulisan berupa esei, kritik seni, resensi buku, laporan dan tulisan budaya. Foto seni, sketsa, karya puisi dan cerita-pendek asli atau terjemahan. Panjang tulisan maksimal 5 (lima) halaman spasi rangkap. Karya terjemahan harus menyertakan fotokopi aslinya. Pengiriman naskah harus menyertakan keterangan alamat yang jelas. Karya dikirim ke e-mail: puisisagang@yahoo.co.id, cerpensagang@yahoo.co.id, eseisagang@yahoo.co.id, umumsagang@yahoo.co.id. Karya termuat diberikan honorarium yang padan.

halaman 1


tajuk

Parade Tari Daerah Riau 2013:

Kehilangan Jatidiri JATIDIRI, menurut beberapa kamus dapat disimpulkan sebagai: sifat atau ciri tersendiri dari segi bahasa, adat-istiadat, agama, dan sebagainya, yang menjadi symbol atau lambang seseorang, kaum atau bangsa. Dalam bahasa Melayu Malaysia disebut juga dengan integriti, yakni perwatakan, kejujuran, ketulusan, kesmpurnaan dan keutuhan. Berasal dari bahasa Inggeris, integrity, yaitu sebuah konsep tindakan konsistensi, nilai, metode, langkah-langkah, prinsip, harapan, dan hasil. Dalam etika, integritas dianggap sebagai kejujuran dan kebenaran atau akurasi dari tindakan seseorang. Integritas dapat dianggap sebagai kebalikan dari kemunafikan, yang menganggap konsistensi internal sebagai suatu kebajikan. Apa hubungan pengertian jatidiri atau integritas dengan Parade Tari Daerah Riau? Berbual-bual (bahasa kerennya: diskusi) dengan beberapa orang seniman, dosen seni, di kedai “Jaluar” di satu sudut Bandar Serai, ketika selesai pertunjukan Parade Tari Daerah Riau, yang diadakan setiap sekali setahun itu, selalu saja banyak ‘persoalan’ yang muncul ke permukaan: dari penyelenggaraannya yang “tidak profesional” (misalnya, microphone atau

halaman 2

sound system yang tidak memadai @ tidak pernah nyaman bagi pemusik), persoalan juri yang menambah “rumit” masalah, yang selalu “berhubungan” dengan kepanitiaan dan politik kekuasaan, dan sebagainya dan sebagainya, yang kalau membaca tulisan ini seperti tak ada saja sisi yang elok dari event parade tari itu. Persoalannya bukanlah begitu. Parade Tari Daerah Riau ini bukanlah event pertunjukan seni murni, tetapi bersifat lomba. Apakah seni murni? Bahasa sederhananya adalah tidak ada di dalamnya persoalan di luar seni. Persoalan di luar seni itu misalnya, berbagai-bagai unsur di luar persoalan seni masuk di dalamnya, apalagi jika masuk unsur “politik”; sedangkan seni yang bersifat lomba, tentulah harus mempunyai syarat-syarat yang jelas dan teruji, oleh itu juga Amir Pasaribu ketika diwawancara Ananda Sukarlan (pianis) mengatakan bahwa, seni, jika ada unsur di luar seni masuk ke dalamnya bukanlah disebut seni (suatu pernyataan yang idialis sangat). Syaratsyarat yang jelas dan teruji itu misalnya: kriteria lomba yang jelas, dan sesuai dengan judul lomba yakni Parade Tari Daerah Riau, di-garis-bawahi yaitu “Riau” (Melayu Riau), bukan daerah Jawa, Turki


maupun Cina, atau daerah lain di luar Melayu Riau. Bahkan, hampir tidak ada koreografer maupun komposer pada Parade Tari Daerah Riau terlebih dahulu meneliti konsep tari dan musik tari yang mau dibuat, untuk menjadi dasar garapan sebagai sebuah karya tari baru, berdasarkan eksplorasi maupun elaborasi dari gerak maupun koreografi tari Melayu Riau yang terdapat di sejumlah etnis Melayu Riau yang lumayan kaya ragamnya; sehingga para juri sebelumnya, dari Riau maupun dari luar Riau, dapat mempelajari terlebih dahulu karya tari maupun musik tari yang diparadekan itu, apakah karya tari itu murni dari Melayu Riau, atau bahkan mungkin dari luar Riau, yang sekarang dengan mudah dapat diakses melalaui Youtube di internet. Bahwa, konsep jatidiri dalam tema tulisan ini sangatlah penting. Pertanyaannya, apakah disebut durian kalau kulitnya saja tidak berduri? Kulit yang berduri itu adalah satu dari jatidiri yang bernama buah durian, selain jatidirinya yang lain. Begitu juga halnya pada Parade Tari Daerah Riau itu, apakah bernama tari dan musik tari ‘Melayu Riau jika jatidiri kemelayu-riauannya tidak kelihatan, bahkan tidak ada? Bukanlah para penari dan pemain musik, koreografer dan komposer tari Melayu Riau sebelumnya, lebih hebat dari sekarang. Bahkan, para penari dan pemusik tari Melayu Riau sebelumnya (periode awal Parade Tari Nusantara TMII, atau sebelum event parade tari daerah, atau jauh sebelumnya) tidaklah harus dikatakan lebih hebat. Bahkan koreografer, komposer, penari, dan pemusik tari “waktu itu” dapat dihitung dengan jari jumlahnya. Untuk

lebih jelasnya, mari kita lihat tari “Rentak Bulian” karya Wasnuri Marza, yang semua sanggar tari Riau pernah menarikannya, bahkan tari ini telah berkelana sampai ke Perancis, Spanyol, Cina, Malaysia, Itali, dan Jerman; untuk dinamakan tari milik orang Melayu Riau, tari ini tentulah mempunyai jatidiri yang kental, dan patutlah tari disebut sebagai tari Melayu Riau atau salahsatu tari Melayu Riau, dan bukan atau tidak boleh disebut dengan tari Jawa, bahkan tari Melayu Malaysia. Jadi, untuk dikatakan sebagai tari yang memiliki jatidiri Melayu Riau, di dalamnya hendaklah terkandung “estetika” Melayu Riau, bukan “estetika” Turki, Cina, atau Bali, dan estetika etnis lain. Memang tak dapat disangkal, dalam penciptaan “seni” hal yang terpenting harus terkandung di dalamnya adalah estetika. Apakah estetika? Dalam bahasa sederhananya, adalah ‘nilai keindahan’. Walaupun kata ‘keindahan’ ini sendiri sulit untuk didefenisikan. Plato membuat rumusan keindahan dari proporsi, keharmonisan, dan kesatuan; sementara Aristoteles membuat nilai keindahan dari aturanaturan, kesimetrisan, dan keberadaan keindahan dari aspek jasmani dan rohani. Proporsi, keharmonisan, kesatuan, aturanaturan, kesimetrisan, keberadaan roh dan raga seni tari orang Melayu Riau itu, tentulah dirangkum ke dalam estetika atau keindahan roh dan raga jatidiri milik orang Melayu Riau itu sendiri. Karena itu, janganlah untuk sebuah kemenangan dalam parade tari itu, kita menjadi “orang lain”, sehingga kitapun kehilangan “jatidiri” kita sendiri.

halaman 3


esei

Desember Hitam Tonggak Hari “Perubahan Seni”

Oleh Dantje S Moeis

ernyataan ernyata gegap gempita sebagai benseakan mengemtuk yang mengejutkan, m balikan dunia kesenian kita pada wajah “tanda tanya”. Wajah yang membuat seniman pada posisi mapan, mengerutkan kening akibat deklarasi yang disampai oleh beberapa seniman yang mewakili senimanseniman yang sudah jenuh pada suasana stagnasi kreativitas dan suasana seperti ini seakan sengaja dipertahankan oleh para seniman elitis, serta dunia pendidikan yang patuh dan taat kepada konvensi-konvensi tak tersentuh pembaruan yang tertera dan melekat kuat pada teks dan minda sebahagian para guru. Sebuah pernyataan bertajuk, “Pernyataan Desember Hitam” ditandatangani pada 31 Desember 1974 oleh sekelompok seniman muda kala itu, di antaranya Juzwar, Fransiscus Xaverius Harsono, Bonyong Munni Ardhi, Hardi, M. Sulebar, Baharudin Marasutan, Siti Adiyati, D.A.

halaman 4

Peransi, Muryotohartoyo, Ikranegara, Abdul Hadi WM, dan lainnya. Itulah peristiwa budaya dengan subjek seni rupa yang kemudian menularkan virus penyemangat itu ke sana-sini, ke seni-seni lainnya yang bergaung keras hingga tahun-tahun setelah itu, bahkan sampai sekarang. Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) kemudian semakin menguatkan peristiwa budaya tersebut. Salah satu inti yang menggegarkan dari “Pernyataan Desember Hitam” itu, ada pada poin kelima atau poin terakhir disebutkan: “Bahwa yang menghambat perkembangan seni lukis Indonesia selama ini adalah konsep-konsep usang, yang masih dianut oleh establishment, pengusaha-pengusaha seni budaya dan seniman-seniman yang sudah mapan. Demi keselamatan seni lukis kita, maka kini sudah saatnya kita memberi


kehormatan pada establishment tersebut, yakni kehormatan purnawirawan budaya”. Hari-hari setelah itu dikatakan menjadi hari-hari yang cukup menguntungkan karena tahun-tahun itu menjadi kurun penting dari potongan sejarah seni Indonesia, dan merupakan hari terbuka mata, terbuka telinga dan terbuka rasa akibat peristiwa “Gempita Desember Hitam”. Pengingkaran terhadap konsep-konsep usang dan anti-establishment tersebut banyak mengemuka pada gejala munculnya karya-karya seni generasi muda setelah itu yang konseptual dan memberi perluasan gagasan seni yang termanifestasikan lewat karya dengan beragam medium. Conceptual art, seni instalasi, urban art hingga ke seni media baru (New Media art) dan berbagai variasi karya seni ekstrem, tidak konvensional tampak menggejala, dan kampus menjadi berubah anutan serta merupakan basis utama dari fenomena tersebut. Pada catatan terserak sejarah seni di negeri ini, bisa disimak bahwa yang pro ataupun kontra terhadap “Pernyataan Desember Hitam” dan Gerakan Seni Rupa Baru (yang menulari percabangan seni lainnya) dalam kampus relatif begitu riuh. Misalnya, ada perang tanggap yang keras antar sesama staf pengajar di lingkungan STSRI “ASRI”, yakni Koesnadi (yang dianggap konservatif) dan Soedarmadji (yang membela progresivitas anak muda) di harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta waktu itu. Semua itu dirasakan sebagai pemicu kreativitas seniman muda yang kemudian mempengaruhi konsep serta perlakuan seni, baik dalam kampus maupun seniman kreatif luar kampus di

berbagai wilayah negeri ini.. Karya-karya terlahir setelah itu menggejala pada pengingkaran atas konvensikonvensi dalam seni yang sekian lama semakin lapuk termakan hari. Namun yang paling penting diingat bagi para kreator muda bahwa pilihan kreatif semacam ini bukan merupakan output estetik yang tiba-tiba atau hadir begitu saja. Bukan hanya bermodal semangat asal beda dan bukan pula sesuatu yang given. Karya sebagai sebuah pertimbangan yang mengemuka adalah sebagai simpul sintesis atas berbagai tesis dan antitesis lewat pergulatan kreatif si seniman yang sudah melakukan intensitas berkarya dengan jam terbang serius serta perenungan panjang dan dengan beragam eksperimentasi estetik cukup banyak. Di dalamnya, bisa diduga, pola dan modus pencarian itu telah acap dilakukan dengan berbagai survei dan riset lewat metodologi yang khas seniman. Bukan seperti halnya ilmuwan atau peneliti yang berkutat di laboratorium ataupun di ruang-ruang perpustakaan yang senyap, melainkan dengan berbagai pengamatan lewat perbincangan, pencarian referensi, secara maksimal memanfaatkan rasa mata, rasa telinga, rasa hati dan berbagai cara lainnya. Maka, karya terlahir bisa kita saksikan, kita dengarkan dan kita baca berhasil menjadi titik simpul atas alur kreatif yang evolutif yang berlangsung dalam rentang waktu panjang untuk kemudian bertumpu pada satu titik yang dirasakan senimannya telah tepat. Karya terhasil yang konotatif atau asosiatif, sebuah gambaran karya yang berhasil melampaui fisik karya itu sendiri. Selamat berjalan di rel lain yang berbeda!***

halaman 5


cerita-pendek

Golok Berdarah Oleh Adriyan Yahya

halaman 6


atahari baru saja menguap. Kamar abah dan emakku ini seperti terpanggang di atas bara api, pengap dan gerah. Tak ada kipas angin. Peluhku menetes menuruni wajah. Sudah sejam yang lalu aku berkutat dengan setrika panas di tangan, menyetrika pakaian pelanggan-pelanggan emak yang menggunung. Sebenarnya aku letih. Tapi tentu lebih letih lagi emak yang setiap hari harus mencuci pakaian pelanggan-pelanggannya itu setiap hari. Dua tahun lalu kami hidup dalam kemewahan. Rumah yang kami tempati megah berlantai dua dengan taman yang luas, mobil ada dua, pembantu tiga orang. Dulu abahku bekerja sebagai pegawai di kantor DPRD. Jabatan yang ia sandang cukup penting. Abahku termasuk pekerja yang ulet dan disiplin. Sudah beberapa kali ia naik pangkat, dengan gaji yang juga semakin meningkat. Namun pada akhirnya abahku harus menerima kenyataan pahit. Ia dipecat dari jabatannya dengan tidak hormat! Ini berawal ketika salah seorang rekan kerjanya mengajaknya melakukan korupsi uang bantuan pembangunan daerah yang ditugaskan kepada abahku untuk segera mengalokasikannya ke beberapa daerah transmigrasi. Jumlah dana itu cukup besar, 18 miliar rupiah! Jumlah yang sangat menggiurkan! Pada awalnya abahku menolak. Namun rekan kerjanya itu terus merayunya. Ia juga telah menyiapkan berbagai strategi agar penggelapan dana itu tidak tercuim oleh pemerintah dan bisa dilakukan dengan mulus. Abahku akhirnya tergoda juga. Dua bulan pasca penggelapan dana itu, kedaan aman terkendali. Memasuki bulan ketiga mulai terdengar desas-desus yang tidak mengenakkan. Bulan berikutnya kantor DPRD gempar saat menerima sebuah surat tanpa pengirim. Dalam surat itu diterangkan dengan sangat jelas tentang rincian dana yang telah dan belum teralokasi. Ternyata dana yang belum teralokasi lebih banyak daripada dana yang sudah terasalurkan. Abahku lalu dipanggil dan diperiksa. Bukti-bukti yang berhasil ditemukan polisi menyebabkan abahku menjadi tersangka dan harus menjalani sidang. Namun yang sungguh sangat mengejutkan abahku, rekannya yang dulu mengajaknya melakukan penggelapan dana itu malah memberikan kesaksian dan keterangan palsu. Bahkan beberapa saksi yang lain juga turut ia kerahkan untuk memperjelas masalah itu. Rekannya itu ternyata berkhianat! Abahku akhirnya dipecat dari jabatannya karena bukti-bukti yang ada sangat jelas. Lengsernya abahku dari DPRD membuat kehidupan kami menurun drastis. Rumah kami disita untuk mengembalikan dana

halaman 7


yang digelapkan oleh abahku yang jumlahnya jauh lebih besar dari kenyataannya. Namun karena bukti yang ada sangat jelas, abahku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Selain itu abahku juga tak memiliki saksi yang dapat membantunya. Untuk mencukupi kebutuhan hidup dan mengontrak rumah baru, kami terpaksa menjual segala harta yang kami miliki. Sementara itu abahku tidak bisa bekerja apa-apa, karena ia harus mengikuti persidangan-persidangan lanjutan yang memakan waktu berbulan-bulan. Hhh‌ aku mendesah dengan nafas berat. Keringat di wajahku kian menggenang. Aku segera memasukkan pakaian-pakaian yang telah kusetrika itu ke dalam plastik-plastik besar lalu meletakkannya ke dalam lemari. Nanti selepas shalat dzuhur, emak akan mengantarkan pakaian-pakaian itu kepada para pelanggannya, sekaligus mengambil pakaian-pakaian kotor baru. Saat aku hendak menutup pintu lemari itu, tiba-tiba mataku melihat sesuatu menyembul dari bawah lipatan kain yang menumpuk. Aku segera meraih benda itu lalu mengeluarkannya dari lipatan kain yang menindihnya. Aku terperanjat. Ternyata itu adalah sebuah golok! Di ujung golok itu ada percik darah kering yang telah menghitam. Golok siapa ini? Aku menggumam dengan tubuh bergidik. Aku bergegas meletakkan golok itu kembali ke tempatnya semula. Beberapa saat kemudian abah masuk ke dalam kamar lalu bergegas menuju lemari untuk mengambil golok itu. Aku terhenyak saat melihat golok yang mengkilat itu tergenggam erat di tangan abah. Wajahnya kulihat sangat dingin dan menakutkan, menghembuskan hawa dendam yang bergejolak. “Abah hendak ke mana?â€? tanyaku takut-takut. Abah tak menyahut apa-apa. langkahnya yang lebar cepat sekali melesat keluar dari kamar. *** Jam di dinding ruang tamu menunjukkan pukul tiga sore. Emak telah pergi sejam yang lalu untuk mengantarkan pakaian-pakaian para pelanggan emak dan mengambil pakaian-pakaian kotor yang baru. Aku duduk di kursi ruang tamu sambil membaca majalah usang. Namun pikiranku terbang melayang memikirkan seseorang yang telah mengisi hari-hariku selama hampir satu smester ini. Dia adalah Heldy, kakak tingkatku di kampus. Dia laki-laki yang baik, ramah, dan sangat pengertian sekali terhadapku. Dia juga tidak sombong, padahal dia anak seorang pejabat. Banyak gadis-gadis yang sirik terhadapku. Mereka bilang aku dan Heldy tidak sepadan, namun Heldy tak pernah menghiraukan. Dia hanya bersikap masa

halaman 8


bodoh saja dengan semua itu. “Kau tahu kenapa aku sangat mencintaimu?” tanya Heldy beberapa waktu yang lalu. “Karena kamu sangat mirip sekali dengan almarhumah ibuku. Bila aku berada di sisimu, aku merasakan ketenangan dan kedamaian, seolah-olah ibuku ada di sampingku…” Tiga hari yang lalu Heldy mengutarakan keseriusannya untuk segera melamarku setelah dia menyelesaikan S1-nya nanti. Tentu saja aku senang sekali mendengarnya. Namun ternyata kedua orang tuaku menentangnya. Saat kutanya alasannya, abah dan emak hanya diam tak mau menjawab. Sampai hari ini pun hatiku masih diselimuti rasa penasaran. Beberapa saat kemudian emak tiba di rumah. Aku bergegas meraih plastik-plastik besar berisi pakaian-pakaian kotor yang memenuhi kedua tangan emak. Kulihat keringat membasah dari sekujur tubuhnya. Emak segera melangkah menuju dapur mengambil air minum. “Malam ini malam minggu. Apa Heldy akan menjemputmu untuk pergi jalan-jalan?” tanya emak dengan nada datar dan terkesan sangat dingin. Dari cara emak berbicara, aku dapat menangkap bahwa emak sangat membenci Heldy. “Entahlah…,” sahutku pelan sambil mendesah dengan nafas berat. “Semenjak Heldy tahu abah dan Emak tidak setuju dengan hubungan kami, Heldy mulai bersikap lain terhadapku. Saat kutanya, dia tak pernah mau banyak bicara. Dia akhir-akhir ini lebih banyak diam. Aku tidak mengerti kenapa abah dan Emak menentang hubungan kami…” “Andai saja kamu tahu siapa ayah Heldy yang sebenarnya…,” ucap Emak dengan suara pelan hampir tidak terdengar. “Ayah Heldy? Om Irfan? Apa sebenarnya yang telah terjadi?” tanyaku dengan nafas tak teratur. Dadaku mulai terasa berdebardebar. “Ayah Heldylah yang membuat abahmu seperti sekarang ini! Dialah orang yang telah mengkhianati abahmu, membuat abahmu dipecat dari jabatannya, membuat hidup kita miskin dan menderita seperti sekarang ini…!” ibu berkata dengan dada bergemuruh menahan rasa perih tak terperi di hatinya. Aku tercekat sangat, seakan tak percaya dengan apa yang kudengar barusan. Ternyata abahku dan ayah Heldy bermusuhan. Perasaanku tiba-tiba menjadi gelisah, teringat abah yang tadi pagi pergi keluar rumah dengan membawa sebilah golok. Wajah abah yang waktu itu tampak begitu dingin dengan sorot mata tajam penuh dengan hawa dendam membara. Jangan-jangan abah… Hah! Tidak! Semoga saja tidak terjadi apa-apa!

halaman 9


*** Waktu maghrib hampir tiba. Abah belum pulang-pulang juga. Kegelisahan di hatiku semakin bergelora. Ya Tuhan… semoga tidak terjadi apa-apa dengan abah… harapku membatin cemas. Kriiiing… kriiiiing…! Telepon di ruang tamu berdering. Aku yang masih gelisah duduk di kursi tamu menunggu abah terperanjat. Takut-takut segera kuraih gagang telepon itu. “Hallo, Assalamu‘alaikum…,” ucapku dengan suara serak. “Wa‘alaikum salam…, benar ini dengan keluarganya Pak Alif?” tanya bapak-bapak dari dalam telepon itu. “Ya, benar. Saya sendiri Desy, anaknya. Ada apa, Pak?” tanyaku dengan dada berdebar-debar kencang. “Pak Alif sekarang sedang ditahan di Kapolsek Tampan, karena telah melakukan pembunuhan terhadap Pak Irfan dan anaknya, Heldy…” “A…aaa…apaaaa??!!” Braaakk!!! Gagang telepon itu terbanting dengan keras. Emak yang baru naik dari mengambil wudhu terperanjat saat melihat tubuhku limbung jatuh ke lantai. ***

halaman 10


cerita-pendek

Penghuni Rumah Besar Oleh Tony Indragiri

Rumah besar berlantai dua ini terasa amat sepi. Seperti suasana kuburan tanpa penghuni. Senyap begitu kentara dengan kesan horor yang mengambang di setiap sudut rumah yang tak terawat dengan baik. halaman 11


Beberapa sarang laba-laba bahkan menggantung berseliweran, serupa lukisan abstrak yang menghiasi jendela kaca buram serta dipenuhi oleh debu-debu yang menempel. Telah dua hari aku menjadi penghuni baru di rumah ini. Semenjak Tante Mery memintaku menemaninya. Sepeninggal suaminya yang harus bekerja mengurus perusahaan yang baru didirikan di luar negeri, Tante Mery merasa amat kesepian. Ditambah lagi pasca kepergian Alicia yang meninggal setahun lalu akibat kecelakaan pesawat saat berlibur ke Ausralia, ke tempat perusahaan baru papanya. Tante Mery sungguh tertekan. Apalagi Alicia adalah anak semata wayang, satu-satunya. Kehadiranku di rumah ini seperti menggantikan sosok Alicia di mata Tante Mery. Walaupun sebenarnya aku aslinya sangat tomboy dan tak suka berdandan. Sangat bertolak belakang sekali dengan pembawaan Alicia yang manis dan feminin. Ah, seandainya saja Alicia ada di sini, tentu aku bisa belajar banyak darinya bagaimana menjadi wanita seutuhnya. Sungguh aku sangat merindukan Alicia ada di sisiku lagi, seperti empat tahun yang lalu. “Tante senang kau mau tinggal di sini. Tante berharap kau bisa betah tinggal bersama Tante. Anggap saja rumah ini rumahmu sendiri,” ucap Tante Mery waktu pertama kali aku menginjakkan kaki di rumah ini. Aku hanya mengangguk pelan. Aku benar-benar tak menyangka bila Alicia telah tiada. Keceriaan dan binar di mataku seketika surut saat aku mendengar berita mengejutkan itu. Padahal alasan kesediaanku menerima permintaan Tante Maya tidak lain karena ingin bertemu dengan Alicia kembali. Hampir enam tahun aku tak berjumpa dengannya. Selama itu pula aku harus memeram kerinduan mendalam di lubuk hatiku. Hingga akhirnya kerinduan itu pun kini menjadi luluh lantak diterpa badai kematian Alicia. “Bagaimana suasana kampus barumu, Jasmine?” tanya Tante Mery saat sarapan di meja makan. “Sedikit kurang nyaman saat pertama kali bergaul dengan mahasiwa-mahasiswa di Indonesia. Mungkin karena budaya baratku yang sudah melekat sejak lahir. Padahal aku aslinya orang Indonesia juga,” jawabku sambil menusuk potongan telur dadar dengan garpu lalu mengangsurkannya ke mulutku. “Itu hal biasa. Lama-lama kamu pasti bisa menyesuaikan diri.” Aku mengangguk. “Hari ini mungkin aku pulang agak sore, Tante. Ingin jalan-jalan ke mal dulu sepulang dari kampus mencari busana yang lebih tertutup.” “Tak apa. Nanti kamu bawa saja salah satu mobil Tante. Hari ini

halaman 12


Tante ada arisan di tempat teman Tante.” Aku mengangguk lalu mengambil tisuee mengelap bibirku yang berminyak. *** Sudah separoh jalan, tiba-tiba aku teringat handphone-ku ketinggalan di kamar. Terpaksa aku memutar stir kembali pulang. Beruntung aku selalu membawa kunci duplikat sehingga aku bisa membuka pintu saat Tante Mery bepergian. Saat kutemukan hanphone-ku, sebuah SMS masuk tertera di layar sentuhnya. Segera kubuka lalu membacanya. Mr. Jhody tidak masuk hari ini. Tapi ada tugas menyelesaikan exercise 5 English morphology, dikumpulkan pertemuan mendatang… Aku melangkah menuju dapur mengambil air minum. Kerongkonganku terasa kering usai menempuh perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan. Saat aku menuangkan air ke dalam gelas, tiba-tiba kulihat sebatang cokelat yang telah terbuka bungkusnya tergeletak di atas meja dapur. Kuteliti cokelat itu dengan penuh keheranan. Sepertinya baru saja dibuka. Seingatku tak ada yang suka cokelat di rumah ini, keculai… Astaga… ini kan, makanan kesukaan Alicia? Tiba-tiba bulu kudukku meremang. Bergegas aku pergi menjauh dengan kepala yang masih dipenuhi tanda tanya. Apa mungkin Alicia masih hidup? Tiba-tiba sebuah derit pintu terdengar mengejutkan. Instingku mengatakan suara itu berasal dari dalam gudang. Dengan jantung berdebar-debar kuberanikan melangkahkan kaki mendekati pintu gudang itu, lalu menggedornya. “Apakah ada orang di dalam?” teriakku. “Dorong saja, Jasmine… Pintunya tidak dikunci…” sahut suara dari dalam, terdengar sangat lirih. Detak jantungku seakan terhenti mendengar suara itu. Aku mendorong pintu gudang itu. Dan aku terkesiap saat mendapati seorang gadis berambut panjang tengah duduk di sebuah kursi roda dengan posisi membelakangiku. “Sss… siapa kau?” tanyaku tergeragap. “Aku… Alicia…” ucap gadis itu lalu membalikkan tubuhnya. Mataku membelalak. Kulihat wajah itu penuh dengan bekas luka bakar yang sangat mengerikan. Sebagian kepalanya bahkan tidak ditumbuhi rambut. “Kuharap kau percaya aku masih hidup…” “Bbb… bagaimana mungkin?” aku benar-benar tak mampu mempercayainya. “Bukankah Tante Mery bilang kalau kau…” “Semua cerita tentang kematianku itu semua hanya karangan mamaku saja. Mamaku tak kuat menanggung malu akibat wajahku

halaman 13


yang berubah menjadi layaknya monster setelah kompor gas yang meledak membakar tubuhku setahun yang lalu…” Jasmine sesengukkan. Segera kuraih tangannya lalu merangkul tubuhnya erat. “Tiga hari lagi papaku akan menjemputku ke Autralia untuk operasi pencangkokan kulit wajahku di sana…” bisiknya lirih di antara sedu sedannya yang pekat. “Kau jangan menangis lagi. Aku yakin segala penderitaanmu akan segera berakhir. Kau pasti bisa menikmati keceriaan dan kebahagiaan hidupmu seperti dulu lagi…” bisikku lembut. “Terima kasih, Jasmine. Semoga kau selalu mampu menguatkan hatiku…” ***

Tony Indragiri, Mendirikan Komunitas “Talang Bujang” di Rengat

halaman 14


cerita-pendek

Menulis Tanpa Dawat Oleh: Ahlul Hukmi

Kawan-kawanku sedang bergelora semangatnya dalam beberapa kali pertemuan untuk membahas sebuah agenda besar terkait berbagai masalah di kota tempat kami tinggal dan hidup. Malam itu sekitar pukul dua puluh waktu Indonesia bagian barat satu persatu kawan-kawan telah datang dan mengambil posisinya masingmasing. Duduk dibawah bersama-sama lebih enak palagi sambil duduk bersila. Tak perlu kursi empuk. Wak Tum dan Ngah Arun menghidangkan kopi dan goreng pisang. Pada awalnya ketika pertemuan itu hendak dimulai salah seorang kawan yang menjadi pimpinan rapat memintaku untuk menuliskan seluruh pokok pembicaraan sebagai hasil diskusi kawan-kawan yang datang. “Kamu tulis saja semuanya. Pertanyaan dan jawaban. Pro dan kontra. Jangan lupa tulis namanya masing-masing.� “Siap Bang�. Berubahlah sebentar jabatanku malam itu sebagai seorang notulen. Pada malam itu ada sekitar dua puluh orang pemuda yang datang menghadiri pertemuan. Ketua telah mengundang kawankawan untuk hadir. Awalnya diskusi akan dimulai pukul dua puluh wib namun entah mengapa baru dapat dimulai sekitar pukul dua puluh satu wib.

halaman 15


“Inilah salah satu kekurangan bangsa kita. Arloji yang dipakai merk luar negeri tapi tetap saja dianggap jam karet,� ucapnya sambil memandangi kawan-kawan yang hadir. Kawan-kawan yang lain ada yang tertawa, ada yang tak mengubris sambil menikmati kopinya. Diantara beberapa kawan yang hadir merupakan aktivis-aktivis pergerakan yang sudah berpengalaman dalam kerja-kerja sosial seperti agenda yang sedang dipersiapkan. Aku tak terlalu banyak berbicara malam itu. Aku menulis saja. Kalimat demi kalimat, kata demi kata yang keluar dari mulut kawankawan yang fasih dalam berdialektika, retorika dan berdinamika itu tak ada yang luput dalam pendengaranku. Kucatatlah seluruhnya sesuai permintaan Ketua. Tak terasa sudah hampir satu jam aku menulis. Dawat penaku sudah menipis. Terputus-putus dan akhirnya habis. Ini bukan pena baru yang kugunakan ini. Kupandangi

halaman 16


kawan-kawan yang hadir hanya tiga orang yang sedang memegang pena dan itupun sedang asyik menulis. Entah apa yang ditulisnya. Mungkin sedang mencatat berbagai topik yang didiskusikan dalam pertemuan. Namun mungkin juga sedang menulis puisi cinta untuk pacarnya atau menulis sebuah cerita pendek romantis untuk selingkuhannya. Ketua melihatku. Namun tak bertanya. Aku diam saja. Aku hendak membeli sebuah pena tapi pukul segini mana ada kedai terdekat yang buka dan menjual pena. Kalau kupergi membeli pena nanti ketinggalan aku mencatat topik-topik diskusinya. Aku tetap terus menulis saja meski penaku sudah kehabisan dawatnya. Entah kenapa aku ingat cerita bapakku yang pernah memarahiku sebab suka tidak hemat dan mau menyusun rapi pena-penaku saat sekolah. “Anak sekarang ini tidak mau bersyukur. Punya pena banyak tapi dihambur-hamburkan dan dibuat sebagai mainan. Nanti kalau sedang belajar menulis disekolah tidak pena pasti dimarah dengan gurunya. Tak malu kamu nanti minjam-minjam pena? Padahal bapakmu belikan pena untukmu meskipun Bapakmu ini miskin. Tak usahlah Bapak lanjutkan cerita Bapak ini. Kamu pasti bersungut-sungut dalam hatimu dan berkata jaman dulu berbeda dengan jaman sekarang Pak.” Aku tersenyum teringat Bapakku yang old school. Kawan-kawan yang disebelah kanan dan kiriku menatapku dengan keheranan. Sudah gila agaknya si Kidir ini. Menulis apa dia diatas kertasnya? Tidak ada tampak kata dan kalimat tertera di atas kertasnya. Bagaimana nanti mau melaporkan hasil diskusi dalam pertemuan malam ini kepada pihak-pihak lain agar mereka memahami agenda besar yang digagas oleh kawan-kawan yang masih muda-muda ini? Ketua dan Sekretaris melihat penuh tanda tanya. Ada apa dengan si Kidir? Menulis dengan pena tak berdawat. “Kalau penamu sudah habis tintanya. Kamu pinjam saja pena Bapak itu,” kata Ketua sambil menunjuk salah seroang kawan yang paling tua diantara kami. “Tak apa-apa. Beliau sedang menulis juga. Aku menulis dengan ini saja.” “Apa yang kamu tulis? Pena kamu sudah habis tintanya.” “Dawat penaku memang habis ketua namun kata dan kalimatnya masih dapat kutuliskan dan kubaca. Nanti kusalin lagi kalau sudah selesai pertemuan ini. Sayang kalau ada topik-topik diskusi yang terlewatkan.”

halaman 17


Padahal kulihat ada diantara kawan-kawan yang hadir telah mengaktifkan fitur rekaman video dan audionya dalam pertemuan ini sehingga takkan ada sedikitpun kata dan kalimat yang terlewatkan. Kawan-kawan yang lain memandangku. Sudah tidak waras lagi Kidir pikir mereka. Pena tak berdawat dipakainya untuk menulis. Kidir sudah gila ini bisik mereka. Masa menulis dengan pena tanpa dawat. “Apalah kau ini Kidir masa menulis dengan pena tanpa dawat? “Tidak apa-apa. Tulisannya masih dapat kubaca dan disalin lagi nanti.” “Bagaimana pula kau membaca tulisannya? Aku berani bertaruh kalau tulisannya tidak bisa dibaca Kidir.” “Kau mau taruhan pakai apa,” sela kawan yang lain. “Kutraktir kau, Kidir dan Ketua makan soto Bagan besok siang kalau Kidir bisa membuktikan yang ditulisnya malam ini dapat dibaca dan sesuai dengan diskusi kita malam ini.” ujarnya “Aku percaya Kidir pasti punya teknik tersendiri dalam menulisnya. Besok kau bawa kertas itu lagi ya.” “Tak usah pakai taruhan. Carikan aku pensil,” kata Kidir. Salah seorang kawan bergegas turun ke lantai pertama dan kemudian kembali membawa sebuah pensil. Dia memberikan pensil itu kepada Kidir. Kawan-kawan yang ada dengan rasa penasaran melihat ke arah Kidir yang tengah mengarsir seluruh permukaan kertas putih yang telah ditulisnya dengan pena tak berdawat. Setelah selesai mengarsirnya maka Kidir memperlihatkan tulisantulisan di kertas itu kepada kawan-kawannya. “Kreatif kau ini Kidir. Darimana pula kau belajar menulis tanpa dawat ini?” salah seorang kawannya bertanya. “Entahlah…Aku tak ingat,” jawab Kidir sambil membereskan kertas-kertas didepannya. Tak lama berselang setelah pertemuan malam itu ketua memberikan sebuah Buku Agenda dan beberapa pena untuk menulis setiap topik diskusi dan hasil pembicaraan pada pertemuan demi pertemuan dan rapat-rapat mulai dari pondok kayu di tepi laut sehingga ke ruang pertemuan di hotel yang mewah. Aku sekarang masih saja menulis dan menulis sebab dengan menulis aku dapat menambah cakrawala pemikiran dan horison harapan. Sekarang aku tidak menulis dengan pena tanpa dawat lagi, aku sudah menulis dengan pena-pena penuh terisi dawat yang berwarna-warni. Kalau dawatnya sudah habis cobalah pakai caraku untuk menulis dengan pena tanpa dawat. Tapi besok segera beli pena yang baru agar terbaca dengan keindahan tulisan-tulisan

halaman 18


dan maknanya. Sepulangnya dari pertemuan itu, Kidir dimarah istrinya sebab pulang larut malam lagi. “Rapat lagi, rapat lagi. Apa hasil rapat abang dan kawan-kawan? Buang-buang waktu saja. Kapal pecah, hiu kenyang. Tak jera-jera juga abang ikut rapat-rapat semacam itu,� istrinya bersungutsungut. “Tidak usah pot pet pot pet Dinda. Anggap saja pembelajaran dalam hidup. Kalau tidak dirapatkan tak jelas mana kawan dan lawan dalam pergerakan,� jawab Kidir. Tak lupa Kidir menceritakan tentang pengalamannya menulis dengan pena tanpa dawat kepada istrinya. Istrinya tertawa-tawa sebab dia bilang bahwa menulis seperti itu diajarkannya pada anak-anak usia dini di Taman Kanak-Kanak. Kidir lalu tersenyum sambil mencoba mengingat-ingat kapan dia melihat ada orang menulis tanpa dawat.

halaman 19


cerita-pendek

Panjang Yang Memendek oleh Teguh Affandi

Antrian Panjang Maklum saja, kalau wanita tak bisa mengelak dari keramaian. Aku masih menjinjing seplastik belanjaan. Ikut mengular bersama ratusan orang. Mereka menyeringai sambil membawa uang. Kutaksir sedang membagi-bagikan sumbangan. Tiba giliranku. “Mau bagian mana yang dijual?� Mereka mengambil mata dan kelingkingku. Aku jadi ingat, semalam suamiku mengiris hati dan susuku.

halaman 20


Apel Merah Bapak sedang mengupas apel merah di ruang tengah. Bapak kehilangan pisau di meja. Dilihatnya, dua anak lelakinya sedang berebut pisau. Mereka ingin mencoba bermain sulap dengan memotong leher ibunya usai seharian di hadapan acara magis televisi.

Pulang Istri sedang mengaduk kopi hangat. Suaminya duduk bertelanjang dada. Mereka baru saja usai berahi delapan kali. Berdua kelelahan. “Siapa tengah malam mengetuk pintu?” istri berusaha membuka pintu depan. “Dik, maaf tadi lembur di kantor.” Istri menengok ke kursi yang kosong. Hanya ada sisa bulu hitam panjang. Gatal merasuk ke badan.

Larangan Dilarang membawa pengantin baru menyeberang jembatan. Kalau tidak kerasukan setan, mati tenggelam, pisah perceraian. Larangan dan pantangan. Petang seorang petani menghadang sepasang pengantin anyar yang menyeberang bergandengan tangan. Dinasihati tetap tak mau berbalik badan pulang. Kesal. Mengumpatlah petani. Petani pulang dan berpapasan rombongan yang sedang mengusung jasad pengantin anyar.

Lahiran Seorang pelacur sedang hamil tua, sembilan bulan. Sebentar lagi buah hasil perzinaan akan lahir. Orang ketakutan, kalau sampai bayi itu membawa petaka. Ditunggu sampai sembilan bulan lebih sepuluh hari, tetap tak ada yang lahir dari rahimnya. Baru ketika dua puluh bulan, lahirlah seorang bayi besar sudah disunat, kelaminnya besar, bibirnya tebal. Ekornya menjuntai. Bulunya terlihat legam seperti tikus pasar. Banyak orang ketakutan. Dia melata menujuku dan menjilati duburku. Aku khawatir dia memanggilku “Bapak!”

halaman 21


Ayam Jantan “Ayam penyakitan!” si anak mengutuk ayam satu-satunya. Sudah tua memang. Taji sudah tumpul saat beradu tanding. Bulu emasnya tak lagi mengilap. Si anak ingin sekali memotong dan menyemur. Ayam kampung tua alot dagingnya. Si anak kesal meski membiarkan. “Ayam kampret!” si anak memaki karena ayam berak sembarang di lantai keramik. Dilempar dengan remote AC. Ayam kelenger. Si anak masih saja kesal. Dengan silet si anak menyanyat bulu dan memotong-motong sekerat demi sekerat dagingnya. “Rasakan, kau ayam tua bajingan.” “Kau apakan dia?” ibunya histeris ketakutan. Melihat anaknya mulai menguliti daging keriput kakeknya. “Aku bosan bau tahinya.”

Kucing Mendesis Janda tua mati sendirian. Tak punya anak. Tak punya sanak. Dagingnya sudah busuk saat para tetangga menemukannya. Matanya sudah meletus dan cairannya anyir. Belatung dan ulat saling sikat mendahului menuju otaknya. Juga anjing dan gagak yang siap-siap ikut menyantap. Hanya dua ekor kucing yang duduk mematung di pojokan kamar. Dua kucing dahulu selalu dirawat si janda. Usai dikuburkan, si Janda tua jalan-jalan bersama kucingnya. Mereka ingin menjemput para tetangga yang tega melahap tanah dan rumahnya.

Meringkuk Petricia seorang mahasiswa baru ditemukan meninggal meringkuk di kamar kos. Aneh, karena baru ditemukan meninggal oleh seniornya setelah dua hari tak bertemu di kampus. Meringkuk seperti trenggiling menghadap cermin. Setelah diotopsi baru dipastikan meninggal karena pecahnya pembuluh darah. Orang tuanya dari Jakarta mendatangi rumah sakit.”Ini bukan anakku, ini bukan Petricia!”Yang diotopsi adalah serigala berwarna hitam, berbulu panjang dan aroma busuk menguar.

halaman 22


Fenomena Seorang aktor peraih piala citra mengaku menyukai sesama pria. Semua orang tercengang. Bukan masalah apa-apa. Aktor yang memiliki kulit putih pualam, wajah campuran Indonesia-Jerman, rambut sedikit keriting, dan tubuh kekar menawan itu mengakui beberapa lawan mainnya adalah pasangan ranjangnya. “Pasangan paling heboh, hot saya adalah kuda! Burungnya besar!” Dia melakukan konferensi pers sambil menjilati lolipop berbentuk aneh.

Misa Natal Suara misa natal selalu menenangkan. Aku duduk di kursi gereja paling depan. Ada anakku di sampingku, sedang mengulum lolypop. Aku senang menyaksikan gereja ini ramai didatangi jemaat. Mereka melantunkan lagu kudus untuk Yesus. Aku meneteskan air mata. Setahun lalu misa natal gagal karena ledakan bom. Tubuhku dan tubuh anakku, tercacah menjadi serpihan.

Sirine Ambulan “Aku paling takut dengan ketinggian dan air, dulu pernah terjebak di Niagara” kata Juha sambil duduk di dampar. “Itu Hypsiphobia dan Hydrophobia. Wajar. Kalau kamu Kula dan Priwa?” tanya Derna seorang guru psikologi. Kula yang berkacamata besar, melepas rokok “Aku paling takut kaca. Setiap melihat kaca aku menemukan musuh terbesarku.” “Nelophobia! Kamu Priwa?” “Aku paling takut dengan sirine ambulan. Karena ambulan itulah yang membawa mayatku di kuburan.”

Es Goreng Penjual es goreng di Taman Lembah selalu laris. Berapapun batangan es yang dibawa, ludes ditelan perut-perut pembeli. Potongan es mambo berasa cokelat, kemudian dibalur dengan saus cokelat cair. Berjualan butuh variasi. Penjual itu ingin memberi rasa lain pada sausnya. Dipilihnya rasa keju, stroberi, dan vanilla. Dari semua rasa yang paling laris adalah rasa stroberi. Itu bukan stroberi? Itu darah. Penjual es goreng memotong tangannya. Es goreng rasa dadih.

halaman 23


Test Pack “Bilang ke Mama, Ilea! Siapa lelaki bejat yang telah menghamilimu?” Ilea terisak-isak. Air matanya basah di leher. Mamanya sama sekali tidak merendahkan amarah. “Pasti kucincang itu burung. Burung yang memerawani gadis manisku. Katakan kepadaku, Ilea!” “Ma?” Mamanya duduk merangkul Ilea. “Aku tahu kamu sedih. Tapi jujurlah. Agar semuanya terang.” Ilea menarik napas, “Dia Kimori Kawabata.” “Beritahu alamatnya, biar Mama yang menyelesaikannya.” Ilea terisak perlahan, “dia di sini.” Sambil menyurukkan bulu bersampul pelangi di kaki Mama.

Ngelindur Rasysam setiap malam pasti mengigau. Dia bercakap-cakap dengan suara kencang. Bahkan dia memaki nama-nama yang disebutkan dalam tidurnya. Rasysam pernah mengigau dengan suara ketakutan seperti dikejar setan. Dia terbangun terengahengah. “Sialan! Ular sialan, aku dikejar sampai tunggang langgang!” “Katanya, dikejar ular seperti dikejar jodoh.” “O begitu…” Rasysam agak ragu, karena ular itu bukan mengingatkan pada perawan. Tetapi ada Johan, Randy, Indra, Dion, Wikoyo, Diaz, Nicolas, dan Gauhati. Rasysam pernah memaksakan seekor ular besar masuk pada dubur kecil mereka.

Agonia Tiga orang pasutri sedang duduk mengantri menunggu putusan pengadilan atas perceraian yang mereka ajukan. Hakim bertanya ke pasutri pertama, “Mengapa kamu sedemikian ingin menceriakan istrimu?” “Istriku memiliki anak dari adikku. Bahkan pernah berkencan dengan ayahku.” “Kalian resmi bercerai.” Hakim bertanya ke pasutri kedua, “Mengapa kalian ingin berpisah?” “Suami adalah pecandu K-Jelly. Itu sakit!” halaman 24


“Kalian resmi bercerai.” Hakim bertanya ke pasutri ketiga, “Alasan apa yang mendasari perceraian ini?” “Aku ingin menceraikanmu karena kamu selalu berselingkuh dengan pekerjaanmu.”

Mengecar Copet Aku duduk-duduk di pasar sambil mencecap dawet ireng khas Purworejo. Ketika puluhan orang mengejar seseorang sambil menyerapahi anjing, maling, juling, copet. Aku ikut saja berlari dan mengejarnya. Napasku terengah-engah karena keseringan merokok satu bungkus satu hari. Baru di pojokan mal pencopet itu tertangkap. Langsung dipukuli dengan besi, linggis, dan clurit. Wajahnya sudah tidak berupa manusia. “Apa yang dicurinya, Pak?” “Lihat saja sendiri!” Aku mengamati tetapi tidak menemukan tas, dompet atau barang bawaan yang biasa dicopet. “Lihat saja, mereka sudah mencuri kepala kami.” Baru kusadari mereka sejak tadi lari tanpa kepala.

Sungai Guttah Aku pernah ‘jajan’ di pelacuran. Beberapa gadis kenes dan bernas di ranjang. Hanya saja satu gadis yang selalu kuingat dengan adegan ranjang paling menantang. Aku kelelahan kemudian aku mandi berdua di sungai guttah. Kau tahu sungai guttah itu apa? Aku senang, karena sungai itu dari cairan nanah yang membanjir dari selangkangan semua penjaja ketidaksusilaan.

Syuruq di Eden Adam terbangun. Lehernya begitu lelah semalaman melengkung di atas bantal. Bulir-bulir keringat bergerombolan tergiring ke pokok leher. Diusap dengan kain sulam yang melilit badan. Seberkas cahaya masih berpendar di tengah diafragma dan sisi kanan Adam. Rusuknya diraba. Masih utuh dua belas. Adam menengadahkan tangan, berdoa “Tuhan jadikan cahaya ini kekal. Jadikan sinar ini sinar untuk meniti tangga cahaya.”

halaman 25


Dolanan Malam Anak-anak paling senang bermain petak umpet ketika malam. Tidak terlihat dan tertutup bayangan kelam. Anakku pernah sekali bermain-main di bawah rembulan purnama. Tak ada yang aneh. Tentu dengan kuperhatikan sambil duduk jigang di lincak ronda. Ketika semua anak sudah menentukan tempat persembunyian, anakku masih bimbang. Kukedipkan mata agar bersembunyi di belakang ronda. Ketika semua sudah ditemukan, anakku tidak juga keluar. Anakku dihisap malam dan diterkam ular. Aku tidak bisa menolongnya. Istriku histeris menangis. Aku tidak bisa memberi pelukan hangat. Aku roh penasaran yang masih mengantri reinkarnasi.

Ababil Aku mentitah ababil mengantarkan butir-butir batu neraka dengan suhu ratusan celcius ke rumahku.

Menunggu Samba seorang anak jalanan urung menengadahkan tangan karena nenek satu-satunya sedang sakit paru-paru di rumah gubuknya. Samba selalu memijat kakinya. “Nenek ingin teh?” “Tidak usah. Gulanya habis kan?” “Samba buatkan air hangat ya?” “Dua gelas, karena ada tamu yang akan datang.”Samba langsung ke dapur. “Samba segera bukakan pintu, tamunya sudah datang.” Terdengar oleh Samba suara salam dari tamu dan nenek menjawab dengan lekas. Samba segera membawa air dan membuka pintu. “Tidak ada orang Nek.” Samba menutup kembali pintu depan dan neneknya sudah dijemput tamu pulang.

Teguh Affandi Lahir di Blora, 26 Juli 1990. Cerpennya terbit di Sumut Post, Padang Ekspres, Haluan Padang, dan sebagainya. Antologi bersama “Hadiah Kecil Untuk Orang Tua” (Penerbit Arias, 2011), “Bisik Rindu dari Celah Gingko” (Unsoed, 2012), “Sarkofagus” (Belistra, 2012), “Banten Suatu Ketika” (BMC, 2012) dll.

halaman 26


sajak

Alizar Tanjung KIBLAT EMPATPULUH KIBLAT EMPATPULUHSATU KIBLAT EMPATPULUHDUA KIBLAT EMPATPULUHTIGA KIBLAT EMPATPULUHEMPAT KIBLAT EMPATPULUHLIMA KIBLAT EMPATPULUHENAM

Alizar Tanjung Kelahiran Solok, 10 April 1987. Karyanya terbit di Harian Tempo, Horison, Padang Ekspress,dan sebagainya. cerpen dan puisi termaktub pada beberapa Antologi, Rendezvous di Tepi Serayu (Grafindo Litera Media, 2009), Bukan Perempuan (Grafindo Litera Media, 2010), Puisi Menolak Rupa (Unggun Religi, 2010). Kerdam Cinta Palestina (Felipenol, 2010), Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Triwulan 2010 (Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto, Oktober 2010). Antologi Cerpen Festival Bulan Purnama Majapahit Triwulan 2010 (Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto, Oktober 2010) .

halaman 27


KIBLAT EMPATPULUH

lalu arang di tungku, ini membakar minyak dan abu, lesap asap ke paraku, lesap minyak ke dalam daging lain. dari tungku ke tungku ini bulu kaki bulu rambut rumput, segudang tanah lumpur dalam sepatu, pakis ekor kuda, melengkung ke ekor di ekor ulat, melengkung ke pangkal dalam rimbunan bulu semak, kemudian mengakar ke abu jadi kayu api, terbakar itu abu, bergenang itu kenangan, api menyilap rumah-rumah tua dari rindu. dari tungku ke tungku yang tak sudah di bulu kaki, mengabu ke masa lalu yang hidup dalam mata api dan mendiang dalam bara kayu, menikmati harum kayu dari linglung batang rumput, ini batang rumput, kenangan yang mengakar di pelecut nyamuk dan cecap cicak dinding. dari tungku ke tungku yang menjalar ini rambut kaki di abu rumput, air minyak di bulu kayu, mendiang masa lalu, mendiang batu tungku, yang mengaliri air abu, yang mengaliri siraman biji cabe kuali, menyudahi pemasakan kenangan jadi tumbuhnya bulu kaki tungku. kenangan dalam tungku diri, tumbuh api, tumbuh abu, tumbu minyak, tumbuh arang, sekali lagi alamat berpulang.

halaman 28


KIBLAT EMPATPULUHSATU

yang memiliki tubuh di bulu kayu, masak di panas matahari, dingin di beku rukun hujan, lendirlah masa lalu bagi sarang siput jantan, humus masa depan dalam kelopak bunga batu, karanglah dalam diri aroma tubuh perempuan jantan belantara. yang menjalar di batang kayu meliar ke pangkal akar, lalu tumbuh satu, puluh, ratus, ribu, juta, triliuan bulu kaki siput betina, tumbuhnya dalam rukun panas jantan matahari, lembab hujan perempuan belantara. yang membenam ke dalam daging kayu, meliar sepanjang lengkung epidermis, meliar siput dalam dagingnya sendiri, lalu rukun matahari jantan, rukun matahari betina, biak dalam tubuh perempuan belantara, satu, puluh, ratus, ribu, juta, triliuan, tumbuh bulu kaki perempuan jantan.

halaman 29


KIBLAT EMPATPULUHDUA

pada sebuah rumah yang dibuat dari batang rumput, jurai akar langkisek, rumbai bunga kegersangan,

ia bangun rumah bagi dirinya, dirinya bagi tubuhnya, tubuhnya bagi jiwanya, jiwanya bagi apa yang ia punya dalam jalan darah, daging, tulang, lalu ia berujar diri, “kampung bagi alir aroma tubuh.” maka lahirlah ayam jantan dalam kandang rumahnya, seperti lahirnya seorang ibu dari lempung ibu dan ia berkata, “pada sebuah jalan panjang yang dilimpahi akar rumput, akan selalu ada yang tumbuh menjalar liar dalam tubuh sendiri.” meliarlah tubuhnya sendiri di akar langkisek, rumbai bunga kegersangan, meliar membumi. “mencakar ayam jantan di tubuh bumi.”

halaman 30


KIBLAT EMPATPULUHTIGA

seorang tumbuh dari tubuh batu, merangkak keluar cangkang, berdiri, berlari dengan tulang runut, melafazkan doa-doa yang rumput pada bulu tubuh, ia berujar dengan sangat lantang, “dari lempung batu aku adalah anak dan ibu, akan selamanya begitu, kembaliku ke lempung batu, akan selamanya begitu, ini adalah tubuh.” ia menari ke langit, menari ke bumi, ke dirinya sendiri, menarikan tarian batu yang lengkung di palung tubuhnya sendiri, merangkak, memanjat, melengkungi tubuh batu. berlesatan matanya yang matanya, bulunya yang bulunya, ke dalam tubuh batu, kembali ia ke perut batu, berujar sangat lantang, “dari lempung batu aku adalah anak dan ayah, akan selamanya begitu, kembaliku ke lempung batu, akan selamanya begitu, ini adalah tubuh, ini adalah subuh.”

halaman 31


KIBLAT EMPATPULUHEMPAT

pada pengembaraan tulang lalu ia temukan jalan pulang lorong-lorong kosong yang memungut rukun tepung, ia merapung di angkasa luar, ke bumi tak berpijak ke langit tak menjunjung, ah, ada palung begitu sempit dan luas dalam selubung keras dan lunak. ia janjikan dirinya pada sekumpulan lorong-lorong tulang berpulang melewati lorong panjang dan pendek, masuk lubang keluar lubang, akan bertemu ujung lorong dan ujung lubang, lalu ia temukan palung adalah danau kawah, tempat bebas menjadi sisip ikan, berasap ke langit, berpinak jadi lubang. ada yang begitu mengembara dalam dirinya, seperti pengembaraan yang tak akan usai pada sisip tulang, akan terus lebur menjadi tepung, melayang dan mengendap ke angkasa luar, ia bebas menjadi astronot bagi tulangnya, bernafas pada keluasan, mengapung pada kedalaman. ia pikirkan dirinya astronot dari himpunan tepung mengeras ke tulang melunak ke angin lorong, berjalan dan melayang pada sekumpulan dagingnya, bebas mengepakkan sayap ke puncak keras dan lunak, ia kabarkan dirinya lunak angkasa, keras landasan lubang, terbentang jalan pulang ia taburkan rukun lorong dan lubang, ia temukan ujung ke ujung lorong lunak dan keras.

halaman 32


KIBLAT EMPATPULUHLIMA

lalu apa yang ia pikirkan tentang api dan iblis hijau yang menjelma iblis biru, ia pikirkan mata kucing malam hari yang meliar di piring, kukunya mencakar-cakar, sungutnya mengendus setumpukan daging jemarinya mengeluarkan asam dan garam.

tentang mata pisau yang melait buah tomat di dapur, tentang buahnya yang menggantung tidak ke langit, mendarat tidak ke bumi.

sehari penuh ia pikirkan tentang iblis hijau yang meliar di tubuh tungku dalam dirinya, tentang pengembaraan iblis hijau itu menjelma iblis biru, lalu ia pulang kepada mata kucing hijau di lampu mata dagingnya.

mata kucing di laut daging jemarinya di piring, mencakar buahnya yang bertumpuk di kaca, menjelma iblis merah, yang menajamkan kuku pada seperangkat lalu lalang mata pisau, ia iris daging iblis hijau, iblis biru, iblis merah, ia pikirkan tentang api suci.

halaman 33


KIBLAT EMPATPULUHENAM

berenang dalam akar daging itu membuat ia mengerti makna merapung, maka ia apung dirinya pada akar daging, menjadi ikan, megap-megap di antara rimbun akar, ia telurkan puluh, ratus, ribu, juta, miliaran, triliunan telur, agar lekas ia membangun rumah dari jurai akar, berdiri rumah ia bangun kamar, dalam kamar ia ia merapung ke dalam rukun sisip ikan, mengepak ke laut daging, matanya seperangkat sayap malaikat merah.

maka pada runut daging ia berdiri di runut jalan, menjunjung ke langit daging, mendarat ke lempung daging, ia temukan tubuh ikan adalah daging seperangkat tubuhnya, berkelana ia ke daging ikan bagi lempung dagingnya, ada sesuatu yang begitu sama dan tak sama pada kedalaman daging, ia merupa duri pada jantung ikan dan jantungnya, ia menemu jantung akar daging, berdetak melempung bagi pulau.

halaman 34


sajak

Asrina Novianti Lengkung Usia Sepanjang Getar Genangan Barisan KataSetelah Ini Malam Di Tubuh Semacam Rindang Pagi Napas Rahim Sunyi Melebar Ritual

Asrina Novianti Lahir di Lahat, 11 Nopember 1980. Salah satu puisinya “Tenung Asmara Telukbetung� terpilih sebagai nominasi Krakatau Award 2006 yang ditaja Dewan Kesenian Lampung. Pernah dipercaya sebagai Pemimpin Usaha di tabloid mahasiswa Teknokra Unila. Tulisan berupa opini, tinjauan buku, dan puisi termuat di SKM Teknokra Unila, Lampung Post, Riau Pos, dll.

halaman 35


Lengkung Usia

kau adalah lengkung usia tak lengkap diraba di setiap simpang kenangan hanya getar air mata menyisa tak tamat dinding waktu membatu kau adalah lengkung usia tertahan di sebaris kerut wajah atau lembaran uban di rambut tersungut dan enggan dicabut

Sepanjang Getar

seperti lanskap yang tak lengkap getar suaramu berdebar di ujung telepon sinyal diri yang tersesat cahaya matahari rendah ujung retina membasah tak bisa kulintasi lelah percakapan dan engkau membatu betapa ingin kupagut bibirmu atau halaman tubuhmu seperti lalu

halaman 36


Genangan tengah malam hitam yang berdiam genangan tertahan di tubir mata tanpa tangis kita yang lelah bertahan dalam sesak tak bisa berteriak tengah malam di pangkal sedih genangan bertahan tapi bukan hujan

Barisan Kata seperti para serdadu yang tertata engkau terdiam di sana mengunci peluh kukuh membeku di lengang kata ingat saat surga melempar adam dan hawa

halaman 37


Setelah Ini setelah ini aku akan gegas menempuh sebagian kota yang hilang dalam sajakmu mungkin ada gerbong kereta yang masih setia pada setiap stasiun tapi kata-kata dalam sajakmu seperti sebuah penjara yang tak pernah tanak kubaca dan aku menjadi narapidana di sana setelah ini mungkin masih ada sedikit tanda untuk merenung pada barisan jalan di lain kota

Malam Di Tubuh malam di tubuh menelusup tak berkatup hanya bayangan angin pendar dirimu yang tersesat di selat tanpa nama aku menunggumu di rumah tanpa pintu menyimpan udapan hujan dari ganjil kelindan

halaman 38


Semacam Rindang Pagi semacam rindang pagi hangat puisi yang terus menguap dari tubuhmu seperti kelammu berhimpit di tubuhku peluhmu tetap sebatas keluh yang rapuh telah kurapikan selimut dan menyisir rambut agar rindang pagi mencuri sebagian sunyi yang lama kaupendam di ujung kelamin

Sunyi Melebar sunyi melebar di batas jalan kehilangan rambu semacam grafiti di tengah kota orang-orang linu di retina membaca akal yang terkepal di spanduk atau iklan murahan

halaman 39


Napas Rahim jejalan isak tangis kecambah detak yang retak aku memanggulnya di setiap batas kota dan orang-orang tanpa kelenjar tapi aku ibu menanggung serapah tubuh bagi setiap bayi juga ayah yang menjelma bangkai menyibak kerontang ilalang bagi setiap kelahiran yang terkepal

Ritual bersihkan tubuhmu, lelaki agar wangi itu abadi di ranjang sebab senggama ini bukan sekadar lelah engkau yang berenang dan menyibak segala remang mandilah dulu, lelaki aku rapikan ranjang agar engkau tak tergenang menyihirku jadi kekunang engkau yang bergetar di setiap himpitan jalar akan kubasuh engkau, lelaki bersama gigil sunyi

halaman 40


sajak

R. Abdul Azis Bulan Tanpa Bingkai : Riri Febrian

Pertemuan Bulan : Fajar M. F dan Willy F. A

Pertemuan Remaja : Riri F. dan S. Ariyanti

Kembang Ingatan Filantropi Anulir

R. Abdul Azis Lahir di Bandung, 21 Pebruari 1993. Bergiat di komunitas NBC Bandung, emPERAN dan ASAS UPI Beberapa puisi terbit di Pikiran Rakyat, Haluan Kepri, Sastra Digital, dan sebagainya. Beberapa puisi tergabung dalam Antologi Sihir Pesisir (2012), mengikuti pertemuan penyair lintas daerah dan antologinya masuk ke dalam antologi bersama “Indonesia dalam titik 13� (2013)

halaman 41


Bulan Tanpa Bingkai : Riri Febrian

Katakan padaku kau ingin seperti bulan memeluk bumi di kejauhan dengan jarak yang masih bisa kupandang Kadang purnama, bulat pucat, mengagumkan kadang gerhana, menutupi kepasrahan cahaya Lalu dua puluh enam puisi melahirkanmu dalam perasaan tak karuan, bimbang menimang bintang. Akulah pelukis yang beristrikan malam membiarkanmu sendirian tanpa bingkai sebebas langit, tak berbatas cita manusia biasa Dengan tinta pengakuan dan kuas kerinduan terlukis dirimu hampir sempurna Agar sesuatu yang terlanjur kuketahui akan tetap menjadi rahasia kita dan semuanya senantiasa luar biasa

halaman 42


Pertemuan Bulan : Fajar M. F dan Willy F. A

Bulan, kau adalah alasan mengapa kita harus dipertemukan dalam ritual peperangan bolpoin Sebab silau matahari dengan kopi bukan ramuan perenungan yang baik, untuk perangsang syahwat syair ada apa dalam kota dan cinta kita yang terlanjur porak-poranda? Seorang penyair berselisih dengan kekasih lantas mencipta bunga dari formasi kata Bukan itu bulan, syair bukan sisir untuk penyolek saja syair juga cermin pemikiran diri siapa yang belum benar-benar kotor yang rambut tenaganya belum rontok untuk memanjangkan kenangan dan melawan kutu penindasan

halaman 43


Pertemuan Remaja : Riri F. dan S. Ariyanti

Runtuhan siang, kelopak matahari tersungkur di wajahmu. Langsat mulia. Bersama sepotong roti, kita tak banyak mengunyah kata demi kata Malah kita mulai bangun kalimat curiga dari secangkir perasaan, dipesan seperti kopi. Berbatang rokok terisap, terisak pertemuan remaja saat seseorang kuhidupkan lagi di bawah bayang-bayang Kita menangkap gelisah di meja yang kehabisan usia dan sofa sudah tak ramah pada punggungku Rencana selanjutnya, menuduh bulan yang kekanakan sambil bergandeng tangan Kita lantas pergi untuk saling merindukan yang kau sebut itu pulang.

halaman 44


Kembang Ingatan Kembang ingatan, mekar di kapita semerah bibirmu yang membekas berjulai-julai. Daunnya menyongsong napas kesegaran, merambat dalam dada yang dingin. Kembang ingatan, jatuh pada bayang-bayang meninggalkanmu begitu terlepas.

Filantropi Anulir Tidak apa-apa, bila kau akan bersuami malam dengan kunangkunang kematian sebagai saksi pernikahan abad ini. Aku siap mencintaimu pagi hari, saat kokok menjawab mimpi buruk seseorang dengan mulut kesumatnya. Demi setan, siang pun siap berkobar cemburu melihat bibirmu yang mengulum seyumnya. Tidak apa-apa, bila kau siap mendaratkan pesawat surat di alamat yang pernah kau kenal sebagai pembual. Aku mampu merencanakan pembunuhan, saat tak ada satupun hadiah yang cocok. Agar tuhan mempertemukan kita di negeri bahaya, dengan senjata di hati masing-masing.

halaman 45


sajak

Mahdi Idris Takdir Bukit O.... Angin Ladang Sang Gila Jangan Lagi Kau Tanya

Mahdi Idris Sekretaris FLP Lhokseumawe dan Balai Sastra Samudera Pasai. Karya-karyanya dimuat beberapa media lokal dan nasional. Cerpen dan puisinya juga terhimpun dalam antologi Kerdam Cinta Palestina (2010), Munajat Sesayat Doa (2011), Ayat-Ayat Ramadhan (2012), Secangkir Kopi (2013) , dll. Naskah kumpulan puisinya Nyanyian Rimba memenangkan juara II pada sayembara Puskurbuk Kemendikbud 2011. Buku kumpulan cerpen tunggalnya yang telah terbit Lelaki Bermata Kabut (Cipta Media, 2011).

halaman 46


Takdir Bukit Lihatlah bukit yang mengeja senja terbenam dedaun rumbia dibalut cahaya sebilah bulan tenggelam menangisi kehilangan malam. Lihatlah bukit menghilang menjelma padang ilalang siul burung lenyap melindap dalam senyap. Lihatlah gersang tiba menerpa rimba raya puyuh kehilangan sarang dedebu terbang ke awang.

O.... O, aku tak ingin lagi kau pergi menangisi nisan tak bernama cahaya takkan kau temui sebab pagi telah beranjak tua. O, dukaku mata air mengalir jalanmu ke muara menuju gelombang tanah takdir mengukir senja nestapa. O, mana jalanmu ke sorga yang kau duga takdir melahirkan rindu melewati jembatan akhir.

halaman 47


Angin Ladang Angin menatapmu masih seperti dulu bagai bebatang bambu yang hijau sesekali mengigau ingin pulang menuju subur ladang. Angin senantiasa tahu rumah-rumah rambu berserakan tubuh-tubuh letih membisu di bawah cahaya matahari keperakan. Kau telah kukhitbah angin ladang menyeberang ladang-ladang tua menerpa tubuh-tubuh arang ketika siang meretakkan kepala.

halaman 48


Sang Gila Di stasiun itu aku temukan kau dalam kardus senja matamu menelanjang kubangan mimpi yang dulu kau pasrahkan orang-orang menyebutmu sang gila tak tahu diri. Betapa aku bersusah resah mencari kotak akalmu yang lenyap di tikungan jalan serupa sayap rayap meratap nasib bersalah; mengitari cahaya temaram kunang-kunang. Aku tahu, kau kini si gila tak sendiri di sekitarmu sang gila dalam balutan hujan resah; meratapi kotamu yang basah. Di sekitarmu gedung-gedung menggila jalan-jalan dipadati orang gila, berdatangan dari negeri sang gila.

halaman 49


Jangan Lagi Kau Tanya angan lagi kau tanya pada siapa luka kusembuhkan masa kanak-kanak telah pergi menepi pada liang ketuaan tinggallah sekeping senja pekat merekat dalam tubuh purba. Jangan lagi kau tanya pada siapa aku mengadu menempuh jalan empedu menjauh dari kemurkaan waktu menuju gua pertapaan, kesunyian telah menepi dalam detak jantung. Jangan lagi kau tanya ke mana arah tujuan menghilangkan jejak usia ketika diri tak mampu berdiri tegak mendaki puncak tertinggi. Ah, jangan lagi kau tanya pada siapa aku kembali bila diri dalam nestapa, sebab liang telah tergali sejak azali.

halaman 50


rehal

Ringkasan Novel

MUDA TERUNA karya Muhammad Kasim

Pengarang : Muhammad Kasim (1886) Penerbit : Balai Pustaka Tahun : 1922

MARAH KAMIL adalah seorang anak saudagar kaya. la disuruh ayahnya mengantarkan emas pesanan orang di Natal. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan orang yang berniat jahat mengambil emas yang dibawanya. Namun, Berkat kecerdikannya, pencuri itu dapat dikelabui. Kemudian, Marah Kamil juga bertemu dengan dua orang penipu yang mencoba membohonginya. Kedua penipu itu juga tak berhasil mengakali Marah Kamil. Akhirnya, Marah Kamil dapat kembali menemui orang tuanya dengan uang hasil penjualan emasnya yang masih utuh.

Sebagai layaknya anak muda, Marah Kamil juga jatuh hati kepada lawan jenisnya. Hatinya tertambat pada seorang gadis cantik bernama Anni, yang tinggal di kampung M. la lalu berusaha menarik perhatian Anni sesuai dengan adat yang berlaku di daerahnya. Ternyata, cinta kasih itu tak bertepuk sebelah tangan. Dua muda-mudi itu saling jatuh cinta. Dalam suatu kesempatan, Marah Kamil membantu Abdurrahman, sahabatnya, yang berniat melarikan seorang gadis. Menurut adat Mandailing, ada tiga cara yang biasa dipakai untuk menjemput anak halaman 51


gadis. Perrtama, dengan upacara kebesaran yang biasa di laksanan oleh bangsawan dan hartawan. Cara ini membutuhkan biaya yang besar dan pesta yang meriah. Kedua, dengan cara yang sederhana, namun tetap membutuhkan biaya meskipun pestanya sederhana. Ketiga, cara ini sesuai dengan keadaan abdurrahman, cara hulubalang; yakni melarikan gadis (hlm. 39). Namun, cara Ini meskipun biayanya enteng, juga tak mudah; karena biasanya para pemuda kampung tempat tinggal sang gadis, sesuai dengan adat Mandailing, ingin menunjukkan rasa sayang kepada sang gadis dengan jalan menjaga sang gadis agar tidak mudah dilarikan oleh pemuda lain. Berkat kecerdikan Marah Kamil dan kerja sama para pemuda kampungnya, Abdurrahman dapat memboyong gadis pujaannya. Berbeda dengan Abdurrahman, Marah Kamil tak dapat mempersunting Anni karena kedua orang tua Marah Kamil tak menyetujui hubungannya dengan gadis itu. Didorong oleh rasa patah hatinya, ia memutuskan pergi merantau. Di perantauan, ia bekerja pada seorang tuan pedagang emas. la diberi tugas sebagai juru tulis dan mandor kuli. Pada suatu perjalanan mencari emas, ia terpisah dari rombongannya. la tersesat di hutan belantara selama berhari-hari. Di hutan ia nyaris menjadi mangsa beruang yang kelaparan. Lalu, sesampainya di kampung pinggiran hutan, la disangka pelarian tahanan. Ternyata, tanpa diduga, kampung itu adalah kampungnya sendiri, tempat tinggal orang tuanya. Selamatlah Marah Kamil. Setelah bertemu dengan kedua orang tuanya, ia dinasihati ayahnya tentang bagaimana hidup itu berlaku. Setelah tinggal beberapa hari, Marah Kamil bermaksud mengembara lagi. Akan tetapi,

halaman 52

kali ini ayahnya tak berkeberatan karena beliau menganggap pengembaraan menambah pengalaman dan kematangan jiwanya. Ayahnya berpesan agar ia selalu berkelakuan baik. Dalam perjalanan, Marah Kamil berkenalan dengan Duakip. la menyaksikan nasib Duakip yang selalu ditipu orang karena kebodohannya. Kemudian, ia juga bertemu dengan mantan majikannya ketika ia dulu bekerja sebagai juru tulis. Mantan majikannya itu memberikan gaji Marah Kamil yang belum diterimanya waktu yang lalu ketika ia tersesat di hutan belantara. Di Bangkahulu, Marah Kamil menemukan sejumlah uang. Namun, uang itu dikembalikannya pada Zainul, si empunya. Setelah itu, mereka bersahabat karib, bahkan Zainul mengajak Marah Kamil berdagang barang kelontong bersama-sama. Berjualan lah mereka dari satu kampung ke kampung lain menjajakan dagangannya. Namun, Marah Kamil tak tahan dengan usaha itu. la berhenti berdagang. Kemudian ia melanjutkan pengembaraannya. Sampailah ia di Pasemah dan berkenalan dengan seorang lelaki tua yang memuji-muji kepintaran Belanda yang panjang akal. Dari Pasemah ia melanjutkan ke jambi. la ingin berniaga di tempat itu. Ketika menuju Jambi, perahunya karam karena diserang perompak. Marah Kamil dibawa dan kemudian diangkat anak oleh salah seorang perompak itu. Akan tetapi, Marah Kamil belum mengetahui bahwa sebenarnya orang tua angkatnya adalah perompak yang mendiami sebuah pulau. Marah Kamil tinggal berbulan-bulan di pulau itu dan diajari berbagai kepandaian yang dimiliki bangsa perompak Itu. Suatu hari, Marah Kamil menguntit ayah angkatnya pergi ke suatu gua yang dipakai


tempat penyimpanan barang-barang hasil rampokan. Pada saat itu syak wasangka terhadap orang tua angkatnya terbukti, ternyata ayah angkatnya bukan orang baikbaik. Ketika Marah Kamil mengintai, salah seorang perompak itu memergokinya. Perkelahian pun tak dapat dihindarkan. Marah Kamil dikejar perompak sampai ke tengah laut. la hampir putus asa ketika dua orang Belanda datang menolongnya. Selamatlah ia. Marah Kamil sangat berterima kasih kepada orang Belanda itu, yang ternyata adalah mantan majikannya ketika ia menjadi juru tulis. Marah Kamil kemudian ikut dengan tuan itu ke Singapura. “Sesampainya di Singapura Marah Kamil tiada pulang melainkan ia pergi ke Kelang mendapatkan bapak mudanya.� (hlm. 106). Sebenarnya Muhammad Kasim (lahir di Muara Sipongi, Tapanuli pada tahun 1886) lebih banyak dikenal sebagai pengarang cerita anak-anak . Pemandangan dalam Dunia Kanak-kanak (1924) misalnya, adalah pemenang pertama dalam lomba mengarang yang diselenggarakan Balai Pustaka pada waktu itu. Beberapa karya lainnya merupakan karya terjemahan. Muda Teruna boleh jadi merupakan novel satu-satunya yang dihasilkan Muhammad Kasim. Beberapa pengamat sastra yang menyinggung novel ini antara lain, Zuber Usman, HB. Jassin, Ajip Rosidi, dan Teeuw. Menurut Zuber Usman (1957), novel ini lebih banyak didasarkan pada pengalaman M. Kasim sebagai guru yang bertugas di berbagai daerah di Sumatra. Oleh karena itu, terkesan lebih banyak menggambarkan pengalaman seorang pemuda (Marah Kamil) dalam pengembaraannya. Beberapa unsur kedaerahan, cukup kuat digambarkan dalam novel ini. seperti adat

perkawinan Mandailing. Berbeda dengan novel-novel yang terbit sezamannya, novel ini tidak begitu menonjolkan soal percintaan, melainkan pada pengembaraan seorang pemuda Marah Kamil. Di akhir cerita, Marah Kamil yang sedang dalam keadaan bahaya, tiba tiba saja ditolong oleh orangorang Belanda yang dapat pula diartikan sebagal sebuah pesan yang sesuai dengan kebijaksanaan Balai Pustaka pada waktu itu. Jadi, sebagai dokumen sosial, novel ini tetap mempunyai arti penting.*** Sumber : red. 2 Mei 2013- tandakutip. com Catatan: Ringkasan Novel MUDA TERUNA karya Muhammad Kasim ini merupakan hasil ketik ulang dari buku Ringkasan dan Ulasan Novel Indonesia Modern oleh Maman S. Mahayana, Oyon Sofyan, Achmad Dian. Terbitan PT. Grasindo, tahun 1992. Dan ini hanya sebagai bentuk sharing

halaman 53


rehal

Lukisan China Klasik, int

Tujuh Sastra Erotis Klasik Cina: Novel dan Cerita-pendek

anyak orang telah mendengar atau membaca “Kama Sutra”, namun sedikit yang sadar akan tradisi Cina tentang sastra erotis. Orang barat sering melihat Asia sebagai orang yang sopan atau bahkan benar-benar aseksual. Dan pasti akan berpikir lagi dari mana asalnya

halaman 54

satu koma dua miliar penduduk Cina. Erotika hadir dalam bentuk fiksi (baik novel panjang serta cerpen) dan puisi, seni erotis dalam bentuk yang sangat praktis yaitu “buku bantal”, dan risalah Tao tentang teknik seksual yang efektif untuk “memaksimalkan energi kehidupan”.


Sayangnya, pemujaan yang mendalam akan kaki di jaman kuno juga ditemukan dan menjadi praktek yang menyakitkan dengan mengikat kaki wanita dalam usaha untuk membuat kaki “lotus” (seperti bunga teratai) yang “indah” berukuran kecil. Novel dan Cerpen Erotis Novel erotis terbaik yang dikenal umum sejauh ini, adalah “The Golden Lotus”, yang mana Pearl S. Buck menyebutnya sebagai “novel terbesar China dari cinta secara fisik”. Namun, novel erotis klasik Cina bukanlah pornografi. Jika kita menghilangkan bagian-bagian seksual eksplisit dalam “The Golden Lotus”, kita masih akan mendapati sebuah novel besar, yang salah satu ciri khas yang disandangnya adalah tingkat detail yang penulis suntikkan di dalam novel. Jadi ketika novel ini bercerita tentang transaksi keuangan, kita bisa mengetahui jumlah pasti pembayaran untuk item dari dolar sampai sen (atau lebih tepatnya tael

perak dan koin tembaga). Bagian seksual eksplisit hanyalah sebagian dari perhatian penulis terhadap detail. Novel-novel dan cerita pendek lainnya dalam kategori ini telah sama-sama “menebus” nilai-nilai itu. Novel-novel dan cerita pendek dari Li Yu kebetulan menjadi salah satu yang paling lucu dalam semua kategori.

1. The Golden Lotus Ditulis oleh Xiao xiao Lanling Sheng Diterjemahkan oleh Clement Egerton Tuttle Classics, 2011 Novel erotis Cina paling terkenal didasarkan pada perluasan atas cerita sampingan dari Water Margin. Bercerita tentang Hsi-men Ching, seorang pria kaya dengan empat istri yang menetapkan untuk mendapatkan istri ke 5 dan ke 6. Buku ini sering dilarang di China karena terlalu eksplisit secara seksual. Meskipun novel barat juga tak lepas dari sensor pemerintah. Ketika Clement Egerton yang

halaman 55


pertama kali menerbitkan terjemahannya, dia merubah semua adegan seksualnya ke dalam bahasa Latin. Untungnya, seluruh hasil karyanya sekarang tersedia dalam bahasa Inggris.

2. The Plum in the Golden Vase Diterjemahkan oleh David Tod Roy Dalam buku pertama dari lima jilid yang direncanakan, David Roy memberikan terjemahan lengkap dan penjelasan dari karya terkenal Chin p’ing Mei, novel anonim abad keenam belas Cina yang berfokus pada kehidupan rumah tangga dari Ximen Qing, sebuah kisah dari pedagang korup di sebuah kota provinsi, yang mengelola sebuah harem dengan enam istri dan beberapa selir. Karya ini, dikenal terutama untuk realisme erotis, adalah juga merupakan tonggak dalam pengembangan bentuk seni narasi - tidak

halaman 56

hanya dari perspektif khusus Cina tapi dalam konteks sejarah dunia. 3. The Fountainhead Chinese Erotica: The Lord of Perfect Satisfaction Diterjemahkan oleh Charles E. Stone University of Hawaii Press, 2003 271 halaman Novel pendek itu menceritakan kisah terkenal kaisar wanita dinasti Tang Wu Zetian, satu-satunya kaisar wanita Cina yang benar-benar memerintah Cina sendirian. (Ratu Lain juga memerintah tetapi seolah-olah hanya sebagai perwakilan dari kaisar anak.) Novel ini terkenal karena menjadi yang pertama dalam menggambarkan seksualitas dengan cara yang sangat grafis, sehingga berfungsi sebagai prototipe untuk semua karya sastra sesudahnya.


4. The Carnal Prayer Mat Ditulis oleh Li Yu tahun 1657 Diterjemahkan oleh Patrick Hanan University of Hawaii Press, 1996 336 halaman Ini adalah karya satir erotis yang disamarkan sebagai kisah moralistik. Bercerita tentang seorang sarjana yang ingin menjadi seorang biarawan tetapi tidak mau melakukannya sebelum dia menikah dengan gadis tercantik di daerahnya. Karena ingin merayu seorang wanita cantik yang kebetulan sudah menikah dengan pria perkasa, ia bertindak ekstrim untuk menyainginya. Dia menjalani operasi untuk menggantikan penisnya dengan milik binatang, sebuah peralihan plot yang menakjubkan mengingat cerita itu ditulis pada abad ke 17, jauh sebelum operasi plastik diciptakan. Cerita ini seksi, imajinatif, plot yang tak terduga dan hal terbaik dari

semua itu adalah ceritanya sangat lucu. Setiap bab diakhiri dengan kritik pendek yang mungkin ditulis oleh reviewer pihak ketiga tetapi sangat mungkin ditulis oleh penulis sendiri untuk menambah sisi humornya. Film Sex and Zen didasarkan pada buku ini. 5. A Tower for the Summer Heat Ditulis oleh Li Yu, 1657 Diterjemahkan oleh Patrick Hanan Columbia University Press, 1998 256 halaman Sebuah terjemahan dari setengah kisah Shi’er Lou, buku cerita pendek yang ditulis oleh pencipta The Carnal Prayer Mat. Terjemahan ini mengambil judul dari cerita pertama, di mana seorang sarjana menggunakan teknologi baru dari Barat, teleskop, untuk memata-matai tetangganya. Dengan pengetahuan barunya ia merayu gadis

halaman 57


itu dan meyakinkan ayah si gadis bahwa pernikahan mereka sudah ditakdirkan. Cerita-cerita lain sama-sama tidak konvensional tapi menghibur.

6. Chinese Ghost Stories for Adults: Sex, Love, and Murder Ditulis oleh Pu Sung-Ling (1640-1715) Diterjemahkan oleh Tom Ma Barricade Books, 2000 214 halaman Ini adalah terjemahan dari cerita pilihan dari Liao Tsai Chih Yi, karya klasik dari abad ke-18 yang mengandung lebih dari 400 cerita pendek. Pu SungLing adalah ahli pendongeng China yang mana cerita-ceritanya, biasanya berisi penuh dengan makhluk gaib dan kejadian-kejadian, mengungkapkan sikap nonkonformis Tao ditengah-tengah masyarakat Konfusian.

halaman 58

7. K: The Art of Love Ditulis oleh Hong Ying Diterjemahkan oleh Henry Zhao dan Nicky Harman Marion Boyars, 2002 252 halaman Tidak seperti buku-buku lain yang dilarang di China, yang satu ini tidak dilarang oleh sensor pemerintah tetapi dilarang karena gugatan pencemaran nama baik yang diajukan oleh putri Ling Shuhua, model untuk Lin, protagonis utama novel ini. Pada tahun 1930, Julian Bell, keponakan Virginia Wolf, sedang mengajar di sebuah universitas di Cina dan memiliki hubungan yang penuh gairah dengan Lin Cheng, seorang penulis dan istri dekan universitas. Buku ini telah disebut Lady Chatterley Lover versi China karena konten eksplisit seksualnya. (Red.05-2013, dari berbagai sumber)


tokoh

Natsume Sōseki (夏目 漱石) Lahir di Tokyo, 9 Februari 1867 – meninggal di Tokyo, 9 Desember 1916 pada umur 49 tahun) adalah nama pena untuk Natsume Kinnosuke (夏目金 之助?), novelis Jepang, ahli sastra Inggris, sekaligus penulis esai yang hidup di zaman Meiji hingga zaman Taisho. Sebagian besar novelnya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, termasuk Wagahai wa Neko de aru (I Am a Cat) dan Kokoro (Rahasia Hati). Dari tahun 1984 hingga 2004, potretnya menghiasi uang kertas pecahan 1000 yen. Alumnus sastra Inggris, School of Oriental and African Studies, Universitas London, namanya disejajarkan dengan Mori Ōgai sebagai sastrawan besar zaman Meiji. Di perguruan tinggi, Sōseki berteman

halaman 59


dengan Masaoka Shiki yang sekaligus menjadi gurunya menulis haiku. Setelah lulus Jurusan Bahasa Jepang, Universitas Kekaisaran Tokyo, Sōseki bekerja sebagai guru sekolah lanjutan pertama di Matsuyama sebelum melanjutkan kuliah ke Inggris. Sekembalinya di Jepang, Sōseki menjadi dosen di almamaternya, dan novel pendeknya, Wagahai wa Neko de aru dimuat majalah Hototogisu. Kesuksesan karya pertama dilanjutkan novel berjudul Botchan dan London Tō (London Tower). Karyanya dimuat bersambung di surat kabar Asahi Shimbun tempatnya bekerja, antara lain Gubijinsō (The Poppy) dan Sanshirō. Musim panas 1910, Sōseki sakit parah dan menyepi di kuil Shuzen-ji, Izu. Karyanya setelah sembuh adalah Kojin (The Wayfarer), Kokoro (Rahasia Hati), dan Garasudo no Uchi (Inside My Glass Doors). Kesehatannya terus menurun akibat tukak lambung. Karya terakhirnya, Meian (Light and Darkness) dimuat bersambung di

Biografi Masa kecil Sōseki lahir sebagai putra kelima (anak bungsu) keluarga Natsume yang terpandang di kawasan Ushigome, Babashita Yokomachi, kota Edo (sekarang Kikuichō, distrik Shinjuku, Tokyo). Ayahnya yang bernama Natsume Kohei Naokatsu menamainya Kinnosuke. Ibunya merasa malu karena masih hamil dan melahirkan Kinnosuke di usia lanjut. Keluarganya sedang mengalami masa-masa sulit akibat keadaan yang kacau setelah runtuhnya Keshogunan Tokugawa. Sewaktu masih bayi, Kinnosuke diberikan kepada pemilik toko barang bekas untuk dijadikan anak

halaman 60

angkat. Kisah lain mengatakan orang tua angkatnya adalah tukang sayur. Hingga tengah malam, bayi Kinnosuke tidur di toko, di samping barang dagangan. Iba melihat nasib adiknya, kakak perempuannya membawa Kinnosuke pulang ke rumah. Setelah berusia setahun, Kinnosuke diberikan kepada teman ayahnya, Masanosuke Shiohara untuk dijadikan anak angkat. Ayah angkatnya yang baru ternyata memiliki wanita simpanan hingga keluarga angkatnya menjadi berantakan. Kinnosuke tertular cacar di usia 3 tahun yang meninggalkan bekas di wajah. Sewaktu berusia 7 tahun, Kinnosuke dilarikan pulang ke rumah orang tua kandungnya oleh ibu angkatnya. Di sana, ayah dan ibu kandungnya sempat dikira kakek dan neneknya. Sewaktu berusia 9 tahun, Kinnosuke dikembalikan ke rumah orang tuanya setelah orang tua angkatnya bercerai. Akibat buruknya hubungan antara ayah kandung dan ayah angkatnya, status Kinnosuke secara resmi baru dikembalikan sebagai anak dari ayah kandungnya pada tahun 1888. Hubungan antara ayah kandung dan ayah angkatnya diangkat sebagai tema novel otobiografi Michikusa (Grass on the Wayside). Di tengah keadaan keluarga yang sulit, Kinnosuke sempat pindah ke sekolah dasar yang lebih baik agar bisa diterima di Sekolah Lanjutan 1 Prefektur Tokyo. Namun baru sampai di kelas 2 sekolah lanjutan, Kinnosuke memutuskan untuk berhenti. Alasannya di sekolah tidak diajarkan bahasa Inggris, padahal bahasa Inggris diujikan dalam tes masuk universitas. Lulusan sekolah tersebut memang tidak dipersiapkan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Keinginan mendalami sastra klasik Tionghoa menjadi alasan


lain dirinya berhenti sekolah. Walaupun sudah berhenti sekolah, Kinnosuke yang takut dimarahi kakak tertua, tetap berpurapura berangkat sekolah sambil tidak lupa membawa bekal makan siang. Selanjutnya pada tahun 1881, Kinnosuke mengikuti sekolah privat sastra klasik Tionghoa yang bernama Nishogakusha. Di sana didapatnya etika Konfusianisme dan apresiasi seni Asia Timur yang dimunculkan dalam karyanya di kemudian hari. Setelah belajar beberapa bulan, Kinnosuke kembali berhenti sekolah karena kakak tertuanya, Daisuke menentang keinginan adiknya belajar sastra. Setelah jatuh sakit, Daisuke berhenti dari kuliahnya di Universitas Nankō, dan bekerja sebagai penerjemah di kantor kepolisian. Setelah sadar adiknya lebih pintar darinya, Daisuke berubah pikiran dan mendukung adiknya untuk melanjutkan ke universitas hingga tamat. Dua tahun kemudian (1883), Kinnosuke mengikuti kursus bahasa Inggris Seiritsu Gakusha di Kandasurugadai. Bahasa Inggris merupakan satu mata pelajaran yang diujikan dalam tes masuk sekolah tingkat persiapan (daigaku yobimon) yang diadakan Universitas Kekaisaran Tokyo. Tahun berikutnya (1884), Kinnosuke lulus tes dan diterima sebagai siswa tingkat persiapan. Di antara teman seasrama terdapat Yoshikoto Nakamura yang di kemudian hari menjadi direktur utama Perusahaan Kereta Api Manchuria Selatan. Pada tahun 1886, sekolah yang diikutinya berubah nama menjadi Sekolah Lanjutan Atas 1 (Dai-ichi Kōtō Gakkō). Kinnosuke menderita apendisitis sehingga tidak dapat mengikuti ujian akhir dan tidak naik kelas. Setelah itu, pekerjaan sebagai guru di bimbingan masuk universitas dan sekolah swasta diterimanya untuk

mencari uang. Pengalaman sebagai guru mendorong dirinya semakin rajin belajar, dan mendapat nilai terbaik nomor satu di hampir semua mata pelajaran, terutama bahasa Inggris.

Pertemuan dengan Shiki Pada tahun 1889, Kinnosuke bertemu dengan Masaoka Shiki, teman satu sekolah yang memberinya pengaruh besar dalam bidang kesusastraan. Di kalangan temanteman sekolahnya, Shiki mengedarkan kumpulan tulisan tangan puisi Tionghoa dan haiku yang diberinya judul Nanakusashū. Di bagian belakang kumpulan puisi tersebut, Kinnosuke menuliskan ulasan dalam bentuk komposisi Tionghoa klasik (kanbun). Pada waktu itu, nama pena “Sōseki” digunakannya untuk pertama kali. Ulasan tersebut merupakan awal persahabatan antara dirinya dan Shiki. Pada bulan September 1889, Sōseki melakukan perjalanan ke Semenanjung Bōsō di Bōshū. Catatan perjalanan dituangkannya dalam komposisi Tionghoa klasik berjudul Bokusetsuroku, dan Shiki dimintanya untuk memberikan ulasan. Persahabatan di antara keduanya terus berlanjut hingga Shiki wafat pada tahun 1902. Pada tahun 1890, Sōseki diterima di jurusan sastra Inggris Universitas Kekaisaran (Teikoku Daigaku) yang baru saja didirikan. Universitas tersebut nantinya menjadi Universitas Kekaisaran Tokyo (Tokyo Teikoku Daigaku). Sejak itu pula, Sōseki menganut paham pesimisme sekaligus mengidap gangguan kejiwaan yang waktu itu populer dengan sebutan lemah syaraf (neurastenia). Kematian berturut turut orang yang dekat dengannya diduga menjadi salah satu penyebab. Kakak tertuanya, Daisuke meninggal dunia bulan

halaman 61


Maret 1887, disusul tiga bulan kemudian oleh Einosuke kakak nomor dua. Istri dari kakak nomor tiga yang bernama Toyo juga meninggal pada tahun 1891. Sōseki memang sering dikatakan menaruh hati pada Toyo, dan kematian Toyo membuat hatinya terluka. Perasaan terhadap Toyo ditumpahkannya menjadi puluhan haiku. Pada tahun berikutnya (1892), Sōseki menerima beasiswa, dan dipercayakan dosennya yang bernama J.M. Dixon untuk menerjemahkan Hōjōki ke dalam bahasa Inggris. Pada tahun yang sama, Sōseki mengelak dari wajib militer dengan mendirikan percabangan keluarga, sekaligus memindahkan alamat tempat tinggalnya ke Hokkaido. Setelah itu (Mei 1892), Soseki mulai bekerja sebagai pengajar di Tokyo Senmon Gakkō (sekarang Universitas Waseda) untuk membayar biaya kuliah. Pada waktu itu, Shiki sudah berhenti kuliah. Sewaktu mengunjungi rumah keluarga Shiki di Matsuyama, Sōseki bertemu dengan Kyoshi Takahama yang mendorongnya untuk terus menekuni pekerjaan sebagai penulis.

Belajar di Inggris Setelah lulus dari Universitas Kekaisaran Tokyo pada tahun 1893, Sōseki menjadi guru bahasa Inggris di Sekolah Tinggi Guru Tokyo. Pada waktu itu, Sōseki mulai berpendapat orang Jepang tidak cocok belajar sastra Inggris. Kesedihan ditinggal mati Toyo ditambah penyakit tuberkulosa pada tahun 1894 menjadikan lemah syaraf dan gangguan obsesif kompulsif yang dideritanya terlihat semakin parah. Pengobatan dengan meditase Zen di kuil Engaku-ji, Kamakura tidak juga membuahkan hasil. Pada tahun 1895, Sōseki mengundurkan diri dari Sekolah

halaman 62

Tinggi Guru Tokyo. Berkat rekomendasi Suga Torao, Sōseki diterima sebagai sebagai guru di Sekolah Lanjutan Pertama (Jinjō Chūgakko), Prefektur Ehime (sekarang Sekolah Lanjutan Atas Matsuyama) pada bulan April 1895. Di kampung halaman Shiki di Matsuyama, Sōseki beristirahat selama 2 bulan. Kesempatan tersebut digunakannya untuk mendalami haiku bersama Shiki. Tahun berikutnya (1896), Sōseki bekerja sebagai guru bahasa Inggris di Sekolah Lanjutan Atas 5 Prefektur Kumamoto (sekarang Universitas Kumamoto). Pada tahun yang sama, Sōseki menikah dengan Kyōko, putri sulung Nakane Shigekazu yang menjabat sekretaris dewan aristokrat (Kizoku-in Shokikan). Pada tahun 1900, Kementerian Pendidikan Jepang (Monbushō) memberinya beasiswa untuk belajar ke Inggris. Di London, Sōseki mendalami karya Charles Dickens dan George Meredith. Selain belajar teori kesusastraan, bimbingan pribadi diterimanya dari dari peneliti Shakespeare, Profesor W.J. Craig. Namun, Sōseki lagi-lagi merasakan dirinya tidak cocok belajar sastra Inggris, dan lemah syaraf yang dideritanya semakin parah. Hati Soseki terluka akibat sering mengalami diskriminasi ras karena dirinya orang Asia Timur. Studi yang berjalan tidak semulus perkiraan juga membuatnya jengkel, dan harus berkali-kali pindah tempat kos. Setelah tinggal selama 2 bulan pada tahun 1901 bersama dengan ahli kimia Ikeda Kikunae, Sōseki mendapat semangat baru dan mulai giat belajar sambil mengurung diri di kamar. Akibatnya, pergaulan dengan sesama mahasiswa menjadi semakin jarang. Kabar beredar di kalangan mahasiswa bahwa Sōseki sudah gila. Berita tersebut sampai ke Kementerian Pendidikan Jepang


yang segera memintanya untuk pulang. Setelah berada di Inggris selama 3 tahun, Soseki tiba kembali di Jepang pada tahun 1903. Setelah berada kembali di Jepang pada tahun 1903, Sōseki mengajar sekaligus di dua tempat, Sekolah Lanjutan Atas 1 (Dai-ichi Kōtō Gakkō) dan Universitas Kekaisaran Tokyo sebagai pengganti Koizumi Yakumo. Namun, mahasiswa melakukan aksi protes agar Yakumo dipertahankan. Mahasiswa tidak senang dengan cara Soseki memberikan kuliah. Di Sekolah Lanjutan Atas 1, Sōseki memiliki murid bernama Misao Fujimura. Setelah dimarahinya karena malas belajar, Fujimura bunuh diri di Air terjun Kegon. Peristiwa tersebut membuat lemah syaraf yang dideritanya kambuh dan Sōseki harus tinggal terpisah dari istri sekitar 2 bulan. Setelah pulih (1904), Sōseki bekerja sebagai staf pengajar Universitas Meiji. Akhir tahun 1904, Kyoshi Takahama menganjurkannya agar menulis untuk meringankan gangguan lemah syaraf. Hasilnya berupa karya pertama Sōseki, Wagahai wa Neko de aru (I Am a Cat). Karya tersebut menerima pujian saat pertama kali diedarkan di perkumpulan murid Shiki (Yama Kai). Bulan Januari tahun berikutnya, majalah Hototogisu memuat cerita tersebut hingga habis dalam sekali pemuatan. Sambutan yang baik dari pembaca menjadikan cerita tersebut ditulis kelanjutannya. Sejak itu pula Sōseki bermaksud mencari nafkah dari menulis. Dua karya selanjutnya, London Tō (London Tower) dan Botchan berhasil menempatkan Sōseki sebagai penulis terkenal. Karya Sōseki bagaikan melupakan dunia orang kebanyakan, dan memandang hidup dengan lebih santai. Berbeda

dengan aliran naturalisme) yang waktu itu merupakan aliran utama, Sōseki termasuk sastrawan Yoyū-ha (aliran berkecukupan). Pada tahun 1906, Toyotaka Komiya dan Shōhei Morita sering berkunjung ke rumah Sōseki. Miekichi Suzuki juga datang teratur sebagai muridnya setiap hari Kamis. Sejumlah muridnya menjadi sastrawan dan orang terkenal, misalnya Hyakken Uchida dan Nogami Yaeko. Selain itu, di antara murid Sōseki terdapat novelis Ryūnosuke Akutagawa dan Masao Kume, serta ilmuwan seperti Torahiko Terada, Jirō Abe, dan Yoshishige Abe. Atas undangan Ikebe Sanzan, Sōseki berhenti dari pekerjaan mengajar dan mulai bekerja untuk surat kabar Asahi Shimbun sejak tahun 1907. Awal kariernya sebagai penulis tetap ditandai dengan pemuatan Gubijinsō sebagai cerita bersambung di Asahi Shimbun, Juni 1907. Di tengah penulisan Gubijinsō, Sōseki terganggu oleh penyakit lemah syaraf dan sakit lambung. Perjalanan ke Manchuria dan Korea dilakukannya pada tahun 1909 atas undangan mantan teman seasrama Yoshikoto Nakamura yang menjabat direktur utama Perusahaan Kereta Api Manchuria Selatan. Catatan perjalanannya dimuat bersambung di Asahi Shimbun dengan judul Mansen Tokoro Dokoro (Tempat-tempat di Manchuria dan Korea).

Sakit parah di Shuzen-ji Sewaktu menulis Mon (The Gate) yang merupakan bagian terakhir trilogi Sanshirō, dan Sorekara (And Then), Sōseki masuk rumah sakit karena tukak lambung pada bulan Juni 1910. Bulan Agustus 1910, Sōseki pergi ke kuil Shuzen-ji di Izu setelah mengikuti saran seorang muridnya, Tōyōjō Matsune. Suasana di tempat baru ternyata

halaman 63


tidak membuat penyakitnya cepat sembuh melainkan bertambah parah. Keadaan Sōseki semakin kritis, sehingga rekan dan murid-muridnya datang menjenguk. Setelah sekitar 4 bulan di Shuzen-ji, Sōseki kembali masuk rumah sakit di Tokyo. Seusai memberi kuliah di Kansai pada bulan Agustus 1911, tukak lambungnya kambuh, dan Sōseki masuk rumah sakit di Osaka. Sekembalinya di Tokyo, penyakit wasir memaksanya berobat jalan, dan operasi wasir kembali dijalaninya bulan September 1912. Pada bulan Desember 1912, penulisan Kōjin terputus di tengah jalan karena sakit. Sampai bulan Juni 1913, Sōseki terus menderita lemah syaraf dan tukak lambung. Pada bulan September 1914, tukak lambung menyebabkan dirinya terbaring sakit untuk keempat kalinya. Pengalaman antara hidup dan mati menjadikan karya berikutnya sering menampilkan manusia yang mengejar kepentingan diri sendiri. Tema tersebut menjadi benang merah trilogi Higan Sugi Made, Kōjin, dan Kokoro (Rahasia Hati). Bulan Maret 1915, Sōseki pergi berwisata ke Kyoto, tapi jatuh sakit untuk kelima kalinya di sana. Bulan berikutnya (Juni 1915), Sōseki memulai cerita bersambung Michikusa (Grass on the Wayside) sambil berusaha menghidupkan kembali ingatan dan suasana sewaktu menulis Wagahai wa Neko de Aru. Tahun berikutnya (1916), Sōseki menderita diabetes, dan wafat akibat perdarahan dalam pada 9 Desember 1916. Novel berjudul Meian (Light and Darkness) tidak sempat diselesaikannya, dan Sōseki berusia 49 tahun sewaktu meninggal. Pesan terakhirnya, “Nanti mati membuat masalah saja” (“Shinu to komaru kara”).

halaman 64

Keesokan harinya, otopsi dilakukan dokter pribadinya, Matarō Nagayo di Fakultas Kedokteran, Universitas Kekaisaran Tokyo. Otak dan lambungnya disumbangkan ke Universitas Kekaisaran Tokyo. Sampai hari ini otaknya masih disimpan di dalam toples, beratnya 1,425 kg. Penerjemah karya Sōseki, Ikuo Tsunematsu membuka Museum Soseki di London pada tahun 1984. Museum tersebut menempati gedung yang berseberangan dengan tempat kos Sōseki di London. Di dalam museum dipamerkan keadaan tempat tinggal, foto kawan-kawan, dan buku-buku yang dibaca Sōseki di London. ***


www.tokobuku171.com www.tokobuku171.com

www.tokobuku171.com

www.tokobuku171.com

“...Nyalakan Imajinasi dengan Membaca Buku...“

Kantor Pusat

Pusat Penjualan Pekanbaru

: Jl. HR Soebrantas Km 10,5 Panam, Pekanbaru - Riau

: Kompleks Metropolitan City Giant, Blok A 19 & 20, Jl. HR Soebrantas Km 12

Dumai

: Jl. Jend. Sudirman No. 201, Dumai - Riau Telp (0765) 439 171

Batam

: Gedung Graha Pena Batam Jl. Raya Batam Centre Teluk Jering, Batam Kota Kode Pos 29461 Telp Graha Pena (0778) 462 996

Tanjung Pinang

: Jln Di. Panjaitan Km 9, Plaza Bintan Centre Blok M No. 15, Tanjung Pinang Kepri Telp (0771) 7447039

Padang Sidempuan : Jl. Medan Merdeka, Depan SMAN 2 Padang Sidempuan Telp.081260012768 Bukit Tinggi

halaman lxv : Ramayana Bukit Tinggi - Lantai Dasar


halaman lxvi


Majalah Sagang 176